Posts from the ‘HATI YESUS YANG MAHAKUDUS’ Category

DOA-DOA KEPADA HATI YESUS YANG MAHAKUDUS (1)

DOA-DOA KEPADA HATI YESUS YANG MAHAKUDUS (1)

 JANJI KRISTUS

Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu. Sesaat lagi dunia tidak akan melihat Aku lagi, tetapi kamu akan melihat Aku, sebab Aku hidup dan kamu pun akan hidup. Pada waktu itulah kamu akan tahu bahwa Aku di dalam Bapa-Ku dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Siapa saja yang memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Siapa saja yang mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Aku pun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya(Yoh 14:18-21).

Hati Yesus, Engkau mengasihi aku; perkenankanlah agar aku dapat mengasihi Dikau.

Hati Yesus, Engkau selalu memikirkan aku; perkenankanlah agar aku dapat selalu memikirkan Dikau.

Hati Yesus, Engkau memberikan diri-Mu kepadaku; perkenankanlah agar aku dapat memberikan diriku kepada-Mu.

Hati Yesus, milikilah dan kuasailah indra-indraku.

Hati Yesus, milikilah dan kuasailah imajinasiku.

Hati Yesus, milikilah dan kuasailah ingatanku.

Hati Yesus, milikilah dan kuasailah pikiranku.

Hati Yesus, milikilah dan kuasailah kehendakku.

Hati Yesus, perkenankanlah agar aku dapat mencari Dikau saja dalam segala hal.

Hati Yesus, perkenankanlah agar aku dapat menemukan Dikau  dalam segala hal.

Hati Yesus, perkenankanlah agar aku dapat menaruh kepercayaan pada-Mu dalam segala hal.

Hati Yesus, perkenankanlah agar aku dapat menyenangkan Dikau dalam segala hal.

Hati Yesus, semoga kerajaan-Mu datang ke dalam hati setiap insan.

(Terjemahan bebas dengan sedikit perubahan oleh Sdr. F.X. Indrapradja OFS dari “Christ’s promise”, dalam Catholic Truth Society [Compiler], PRAYERS TO THE SACRED HEART (Revised Edition), London: Catholic Truth Society,  1984,  hal. 6-7).

DIA DATANG UNTUK MENYELAMATKAN, BUKAN UNTUK MENGHAKIMI

Karena Allah begitu mengasihi dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan supaya dunia diselamatkan melalui Dia (Yoh 3:16-17).

Hati Pencipta-ku, sempurnakanlah aku.

Hati Penebus-ku, jadilah jawaban bagiku.

Hati Bapa-ku, kuasailah aku.

Hati Hakim-ku, ampunilah aku.

Hati Penasihat-ku, belalah aku.

Hati Guru-ku, ajarlah aku.

Hati Gembala-ku, jagalah aku.

Hati Sahabat-ku yang setia, berdiamlah dalam diriku.

Hati yang dilukai demi cintakasih kepadaku, terimalah aku.

Hati Kudus Yesus yang wafat di kayu salib, selamatkanlah aku.

(Terjemahan bebas dengan sedikit perubahan oleh Sdr. F.X. Indrapradja OFS dari “To save, not to condemn”, dalam Catholic Truth Society [Compiler], PRAYERS TO THE SACRED HEART (Revised Edition), London: Catholic Truth Society,  1984,  hal. 10).

SERUAN  TOBAT

Hati Yesus, ungkapan cinta kasih ilahi kepada manusia.

Tuhan, kasihanilah kami.

Hati Yesus, puncak cinta kasih insani kepada Allah.

Kristus, kasihanilah kami.

Hati Yesus, sumber kehidupan dan kesucian.

Tuhan, kasihanilah kami.

Diambil dari: MISA HARI MINGGU DAN HARI RAYA, Yogyakarta: Penerbit Yayasan Kanisius,  1983, hal. 1755.

TUHAN ADALAH GEMBALAKU

TUHAN ADALAH GEMBALAKU

(Bacaan Pertama Misa, HARI RAYA HATI YESUS YANG MAHAKUDUS, Jumat 11-6-10)

Sebab beginilah firman Tuhan ALLAH: Dengan sesungguhnya Aku sendiri akan memperhatikan domba-domba-Ku dan akan mencarinya. Seperti seorang gembala mencari dombanya pada waktu domba itu tercerai dari kawanan dombanya, begitulah Aku akan mencari domba-domba-Ku dan Aku akan menyelamatkan mereka dari segala tempat, ke mana mereka diserahkan pada hari berkabut dan hari kegelapan. Aku akan membawa mereka keluar dari tengah bangsa-bangsa dan mengumpulkan mereka dari negeri-negeri dan membawa mereka ke tanahnya; Aku akan menggembalakan mereka dan di atas gunung-gunung Israel, di alur-alur sungainya dan di semua tempat kediaman orang di tanah itu. Di padang rumput yang baik akan Kugembalakan mereka dan diatas gunung-gunung Israel yang tinggi disitulah tempat penggembalaannya; di sana di tempat penggembalaan yang baik mereka akan berbaring dan rumput yang subur menjadi makanannya di atas gunung-gunung Israel. Aku sendiri akan menggembalakan domba-domba-Ku dan Aku akan akan membiarkan mereka berbaring, demikianlah firman Tuhan ALLAH. Yng hilang akan Kucari, yang tersesat akan Kubawa pulang, yang luka akan Kubalut, yang sakit akan Kukuatkan, serta yang gemuk dan yang kuat akan Kulindungi; Aku akan menggembalakan mereka sebagaimana seharusnya (Yeh 34:11-16).

Mazmur Tanggapan: Mzm 23:1-6; Bacaan Kedua: Rm 5:5b-11; Bacaan Injil: Luk 15:3-7.

Pada hari raya yang istimewa ini, hati penuh cintakasih yang dimiliki Yesus bagi para pengikut-Nya diletakkan di hadapan kita, untuk kita kontemplasikan dan untuk membuat diri kita bersukacita di dalam HATI-NYA itu. Gambaran tentang seorang gembala yang menjaga dan memelihara kawanan dombanya dalam petikan Kitab Nabi Yehezkiel di atas, sangat cocok untuk menggambarkan hati Yesus, sang Gembala Baik. Kita dapat merenungkan belas kasihan yang ada dalam hati Yesus selagi kita membaca-ulang gambaran seorang gembala yang diberikan oleh nabi Yehezkiel.

Bacaan di atas menunjukkan bahwa sang gembala mencari dombanya sendiri pada waktu domba itu tercerai dari kawanannya. Dia tidak mengirimkan pekerja bayaran atau asistennya untuk mencari domba yang hilang, melainkan dia sendirilah yang pergi mencari. Dia bahkan bersedia untuk pergi ke tempat-tempat yang gelap sekali pun agar bisa mendapatkan kembali dombanya yang hilang.

Bagaimana dengan Yesus? Ia begitu mengasihi kita, sehingga sampai berapa dalam pun kita sudah terjatuh ke dalam lembah dosa, betapa gelap pun tempat kita berada, Dia akan tetap mencari kita dan membawa kita pulang. Kalau pun sudah sedemikian parahnya kita, Dia akan tetap menggendong/membopong kita pulang ke rumah. Bayangkanlah ‘rumah’ yang disediakan-Nya bagi kita: sebuah tempat bagi kita untuk beristirahat secara sempurna dan mengalami kedamaian, sebuah tempat di mana semua kebutuhan kita terpenuhi, tempat di mana setiap luka kita – baik luka fisik, luka emosional, maupun luka spiritual – disembuhkan. Dan janji-janji-Nya tidak terbatas hanya untuk surga di masa depan. Setiap hari kita dapat mengenal dan mengalami lebih lagi cintakasih dan perhatian-Nya. Bahkan selagi masih berada di dunia ini, kita dapat sedikit mengecap damai-sejahtera sempurna yang menantikan kita pada akhir hayat kita.

Yesus menjanjikan bahwa Dia sendiri akan menjadi Gembala kita. Dia sendirilah yang akan merangkul mereka yang menderita luka-luka dan menguatkan mereka yang lemah. Walaupun kita merasa kuat dan kompeten, Yesus akan tetap mengawasi kita dan melindungi kita. Dengan sebuah imaji (gambaran) yang begitu indah tentang Juruselamat kita, bagaimana kita dapat merasa takut? Bagaimana kita dapat mengabaikan, tidak peduli terhadap sebuah hati yang begitu lembah-lembut? Sebaliknya, bukankah kita seyogianya dipenuhi hasrat kuat untuk bergegas mendapatkan Dia sambil membawa serta segala luka, rasa takut kita, dan mohon kepada-Nya untuk menyembuhkan diri kita? Bersama dengan sang pemazmur kita dapat berkata: “TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku” (Mzm 23:1).

Pesan sederhana Injil adalah, bahwa Yesus datang untuk meringankan beban-beban kita dan menguatkan kita agar dapat melayani Bapa dengan mantap-hati. Dapatkah kita percaya bahwa Hati Yesus adalah hati cintakasih dan belaskasihan? Dapatkah kita menerima kenyataan bahwa Dia tidak akan meninggalkan atau membuang kita, atau memandang remeh pencobaan-pencobaan yang sedang kita hadapi?

Perayaan besar hari ini sungguh merupakan sebuah undangan bagi kita semua untuk datang kepada Yesus dan menerima penyembuhan dan pemulihan sesuai dengan yang telah dijanjikan-Nya. Jangan sampai satu pun dari kita yang gagal memenuhi undangan-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, bagiku Engkau adalah sang Gembala Baik. Pada saat ini aku bersembah-sujud di hadapan hati-Mu yang penuh belas kasihan. Tolonglah aku untuk percaya akan cintakasih-Mu bagi diriku. Amin.

Cilandak, 7 Juni 2010

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERKEMBANGAN DEVOSI KEPADA HATI KUDUS YESUS DARI ABAD KE ABAD (10)

PERKEMBANGAN DEVOSI KEPADA HATI KUDUS YESUS DARI ABAD KE ABAD (10)

 Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Santo Fransiskus de Sales (1567-1622). Fransiskus adalah Uskup Jenewa, penulis rohani, Pujangga Gereja dan pelindung pers Katolik. Orang kudus ini dilahirkan di Savoy, dalam sebuah istana kaum bangsawan, Château de Sales. Satu hari kemudian dia dibaptis dengan nama baptis Fransiskus Bonaventura (Fransiskusnya diambil dari Fransiskus dari Assisi). Karena kelahiran prematur, pada masa kecilnya Fransiskus lemah dan rentan penyakit, namun karena pemeliharaan dalam keluarga yang baik dia pun dapat bertumbuh dewasa sebagai seorang yang sehat. Ketika  berumur delapan tahun Fransiskus dikirim ke Kolese Anacy, di mana dia menerima komuni pertama dan sakramen penguatan.

Kemudian dia menuntut ilmu di Kolese Universitas Paris (1581-1588) yang pada waktu itu merupakan pusat pembelajaran terkemuka dengan 54 kolesenya. Niat awal Fransiskus adalah untuk masuk Collège de Navarre karena banyak anak bangsawan Savoy kuliah di situ. Dia membatalkan niatnya karena takut suasana di kolese itu akan merusak panggilan yang sudah mulai dirasakannya. Oleh karena itu Fransiskus atas izin ayahnya masuk Collège de Clermont yang dijalankan oleh para Yesuit, yang dikenal bagus sebagai tempat studi maupun pembinaan menuju kehidupan saleh. Fransiskus memperoleh nilai bagus untuk mata kuliah Filsafat dan Retorika. Sementara itu hatinya semakin mendorongnya untuk menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah. Setelah itu Fransiskus melanjutkan studi di Universitas Padua (1588-1592). Di sana dia berhasil meraih gelar Doktor Hukum, kemudian setelah itu kembali ke keluarganya di Château de Thuille di danau Annecy.

Fransiskus memilih kehidupan sebagai rohaniwan ketimbang tawaran jabatan duniawi yang lebih menggiurkan. Meskipun menghadapi tentangan keras dari ayahnya, Fransiskus ditahbiskan imam pada akhir tahun 1593 dan langsung ditugaskan ke Jenewa. Pada bulan September tahun 1594, dengan ditemani oleh saudara sepupunya, Kanon Louis de Sales – tetapi tanpa restu dari ayahnya – Fransiskus mulai melaksanakan misi utamanya yang pertama, yaitu pergi ke Chablais untuk berkhotbah di tengah-tengah kaum Protestan Kalvinis. Setelah bekerja selama empat tahun, di bawah ancaman bahaya fisik dan tantangan-tantangan lain, secara umum dia berhasil ‘mempertobatkan’ (catatan: artinya kembali ke pangkuan Gereja Katolik) hampir seluruh penduduk di sana. Dalam waktu-waktu luangnya, Fransiskus mulai menulis bacaan-bacaan yang bersifat devosional.

Pada tahun 1599 Fransiskus diangkat menjadi Uskup Koadjutor Jenewa, disusul pengangkatan sebagai Uskup Jenewa pada tahun 1602. Sebagai seorang uskup, dengan penuh semangat dia mempelopori reformasi dalam keuskupannya. Tanpa mengenal lelah dia berkhotbah dari paroki yang satu ke paroki yang lain, layaknya sebagai seorang pengaku iman sejati dan mempromosikan penyebaran katekismus.

Pada tahun 1604, ketika berkhotbah Masa Prapaskah di Dijon,  Fransiskus bertemu dengan Jeanne-Francoise de Chantal, seorang janda kaya dengan empat orang anak, dan kemudian menjadi pembimbing rohani perempuan itu untuk beberapa tahun lamanya. Perempuan kudus ini (1572-1641) selama hidupnya berhasil mendirikan 86 biara Suster-suster Salesian, dan dia seorang mistikus juga. Dikanonisasikan pada tahun 1767 oleh Paus Clement XIII. Santo Vincentius a Paulo berkata tentang Santa Jeanne-Francoise de Chantal, bahwa dia adalah “salah seorang paling suci yang pernah kutemui di atas bumi” [MB, hal. 448].

Pada tahun 1608/1609 terbitlah buku karangannya yang berjudul Introduksi kepada Hidup Devosional yang begitu bagus sehingga masih dibaca pada jaman moderen kita ini. Sebenarnya buku ini adalah penyempurnaan dari sebuah buku pedoman kecil untuk digunakan oleh Madame de Charmoisy, istri dari saudara sepupunya dan dimaksudkan untuk mendorong hidup doa dan devosi. Buku itu dihormati oleh banyak kalangan dalam budaya Eropa, termasuk Raja James I dari Inggris.

Pada tahun 1610, bersama dengan Jeanne-Francoise de Chantal, Fransiskus mendirikan Ordo Visitasi  (Suster-suster Salesian). Kepada para suster Salesian itu Fransiskus de Sales menekankan pentingnya devosi kepada Hati Kudus Yesus [Matthew Bunson, Encyclopedia of Catholic History, hal.741]. Suster Annice Callahan, R.S.C.J. menulis, bahwa Fransiskus dan Jeanne-Francoise de Chantal seringkali menulis tentang Hati Yesus [Michael Downey (Editor),The New Dictionary of Catholic Sprituality, hal. 470].

Tulisan terkenal lainnya dari Fransiskus berjudul Risalah tentang Kasih Allah yang diterbitkan pada tahun 1616. Fransiskus dikanonisasikan sebagai orang kudus oleh Paus Alexander VII pada tahun 1665 dan ditetapkan sebagai Pujangga Gereja oleh Paus Leo XIII pada tahun 1887, kemudian pada tahun 1923 diangkat oleh Paus Pius XI menjadi  Orang Kudus pelindung Pers Katolik dan para penulis Katolik.

Di bawah ini satu kutipan dari tulisan Santo Fransiskus dari Sales:

O, bahwa Juruselamat kita akan mengambil hati kita dan menggantikannya dengan Hati-Nya sendiri. Namun, bukankah dengan demikian membuat hati kita sepenuhnya menjadi Hati-Nya – milik Hati-Nya secara murni dan tak dapat diubah? O semoga Yesus kita yang manis melakukan ini! Aku menyebabkan timbulnya pikiran Yesus untuk melakukan ini oleh Hati-Nya dan oleh kasih yang ada dalam Hati-Nya itu, yaitu kasih di atas segala kasih. Seandainya Dia tidak melakukannya (tetapi tanpa ragu Dia akan melakukannya karena kita minta kepada-Nya), maka sedikitnya Dia tidak akan dapat mencegah kita untuk mengambil Hati-Nya, karena Dia masih mempunyai dada-Nya yang terbuka untuk ini; dan apabila kita harus merobek dada kita sendiri untuk menaruh Hati-Nya di dalamnya dan bukan hati kita, tidakkah kita akan melakukannya? Semoga Nama-Nya yang Kudus selamanya dipuji [The Saviour’s Heart,  no. 80, hal. 84].

Santo Yohanes Eudes (1601-1680). Devosi kepada Hati Kudus Yesus dalam abad ke 11 sampai ke 14 mempunyai kekhasan, yaitu pemberian tekanan pada tatapan (kontemplasi) penuh cinta kasih dan syukur, yang menarik orang kepada kontemplasi kasih ilahi. Kontemplasi ini lama-kelamaan mengubah hati orang, menjadikannya serupa dengan Hati Yesus. Dalam perkembangan selanjutnya devosi  kepada Hati Kudus Yesus mengambil bentuk yang lain dengan ciri khasnya sebagai pemberian silih. Penekanan devosi ini adalah pada Hati Yesus yang  terluka karena dosa manusia. Devosi ini dimulai oleh Santo Yohanes Eudes, seorang imam Perancis dan memuncak dengan Santa Margareta Maria Alacoque, juga dari negeri Perancis.

Semenjak usia remajanya, Yohanes Eudes sudah menunjukkan tanda-tanda kesalehan hidup yang tinggi dan ketaatan pada kehendak Allah. Ketika berusia 14 tahun, dia sudah berjanji untuk hidup murni bagi Tuhan. Pendidikannya di Kolese Yesuit di Caen berhasil menanamkan dalam dirinya panggilan hidup seorang imam. Pada tahun 1625 Yohanes pun ditahbiskan menjadi imam. Ia lalu menggabungkan diri dengan para imam lain dalam gerakan mistik Oratorium di Paris yang didirikan oleh Kardinal Pierre de Bérulle (1575-1629). Di sana Yohanes menjadi seorang pencinta Kitab Suci dan kegiatan pewartaan Sabda. Pelbagai khotbah serta retret yang diberikannya selalu menyenangkan umat. Pengajarannya diteguhkan Tuhan dengan banyak mukjizat sehingga umat benar-benar yakin akan kebenaran kata-katanya. Setelah selama satu dasawarsa giat sebagai anggota gerakan mistik Oratorium, Yohanes mengabdikan dirinya pada usaha pendidikan imam. Ia mendirikan seminari-seminari di beberapa tempat di Perancis.

Pada tahun 1641 Yohanes Eudes mendirikan kongregasi ‘Suster-suster Tuan Puteri Karitas Tempat Perlindungan’ (Inggris: Sisters of Our Lady of Charity of Refuge)[1] untuk menolong para perempuan yang jatuh ke dalam dosa; pada tahun 1644 kongregasi ini dipercayakan penangannya kepada Suster-suster Visitasi di Caen. Pada tahun 1643, Yohanes Eudes mendirikan ‘Kongregasi Yesus dan Maria’ (Eudists),[2] sebuah asosiasi imam-imam praja yang berkarya dalam hal pemberian bimbingan di seminari-seminari. Dia menetapkan kedua kongregasinya untuk melakukan devosi kepada Hati Kudus Yesus dan Maria, dan semua gereja serta kapel mereka harus didedikasikan kepada Hati Kudus. Pada tahun 1637 Yohanes Eudes menulis buku yang berjudul La Vie et royaume de Jésus  (Kehidupan dan Kerajaan Yesus). Dia memperkenalkan kepada kongregasinya satu pesta untuk menghormati Hati Kudus Maria pada tahun 1648. Pada tahun 1670 Yohanes Eudes menulis lagi sebuah buku yang berjudul Le Coeur admirable de la Mère.  

Yohanes Eudes adalah orang pertama yang menyusun suatu liturgi Hati Kudus (Ofisi susunan Pater Druzbicki hanya diperuntukkan bagi devosi yang bersifat privat). Yohanes Eudes menyusun suatu teks Ofisi Harian dan Misa Hati Kudus yang mendapatkan persetujuan Uskup dari Rouen, kemudian oleh para uskup lain di seluruh negeri Perancis. Pada tahun 1670 dia menyusun teks Misa untuk Hati Kudus Yesus (dia telah menyusun satu untuk Hati Maria). Penggunaan teks Misa itu menyebar dengan lambat dan baru disetujui oleh Roma pada tahun 1681, namun semasa hidupnya sejumlah konfraternitas Hati Kudus telah menerima pengakuan dari Paus.

Di tengah berbagai kesibukannya, Yohanes Eudes tetap memperhatikan kehidupan rohaninya sendiri dengan doa-doa, mati raga dan puasa. Menurut Mgr. Schneiders, jasa Yohanes Eudes yang terbesar ialah kegiatannya menyebarkan devosi kepada Hati Kudus Yesus dan Hati Suci Maria. Ia dikenal sebagai pemrakarsa dan promotor devosi itu. Buku-buku yang ditulisnya mengenai kedua kebaktian itu, antara lain ‘Devosi kepada Hati Kudus Yesus’, diterbitkannya lama sebelum peristiwa penampakan Yesus kepada Suster Margareta Maria Alacoque. Memang dalam Gereja, Yohanes Eudes tidak dipandang sebagai penganjur devosi kepada Hati Kudus Yesus, namun kegiatan-kegiatannya untuk memajukan devosi itu sangat besar [Orang Kudus Sepanjang Tahun,, hal. 412]. Berikut ini adalah beberapa petikan dari tulisan Santo Yohanes Eudes:

Hati setiap orang melekat pada apa saja hartanya. Maka marilah kita mengarahkan hidup kita sedemikian rupa sehingga segala afeksi hati kita dapat dipusatkan pada yang terbesar dari segala harta – Hati Yesus yang paling mengasihi [The Saviour’s Heart,  no. 99, hal. 100].

O kemanisan kekal jiwaku, O kekasih hatiku, yang wajah suci-Nya penuh dengan pesona dan rahmat, yang Hati-Nya dipenuhi dengan kemanisan untuk membuatnya menjadi patut dikasihi tanpa batas, haruskah pikiran-pikiranku pergi dari-Mu? O Allah hatiku, kumpulkanlah ke dalam diri-Mu segala ketidakteraturan pikiranku. O kekasihku, cuci dan sapu bersihlah, oleh kemurnian dan kesucian afeksi ilahi-Mu dan oleh cinta berkobar dari Hati-Mu yang tertikam, semua noda dari hatiku yang bersalah dan segala ketidakteraturan imajinasiku, sehingga Sengsara-Mu yang paling pahit dapat melayaniku sebagai benteng pelindung pada jam kematianku dan Hati yang lemah lembut itu, yang terpatahkan demi cinta kepadaku, dapat menjadi tempat diamku yang kekal, karena aku hanya mencintai Dikau saja, melebihi segala makhluk di dunia [The Saviour’s Heart,  no. 97, hal. 97-98].

O Yesus, Hati-Mu terbakar dengan cinta paling murni bagiku; biarlah juga aku mencintai-Mu, bukan untuk kepentingan duniawi atau pun abadi, melainkan murni dan hanya untuk mencintai-Mu. ……

O Hati yang paling mengasihi, betapa mahal harga yang Engkau bayar untukku, melihat bahwa Engkau telah membeli aku dengan tetesan darah-Mu yang terakhir. Betapa hatiku akan bersukacita untuk memberikan kepada-Mu tetesnya yang terakhir. ……

O Hati yang begitu agung, yang mengasihi aku di setiap tempat dalam kehadiran-Mu di mana-mana, biarlah aku juga mengasihi-Mu di setiap tempat dan dalam segala hal [The Saviour’s Heart, no. 98, hal. 99]. 

Seorang Kristiani memiliki suatu kesatuan dengan Yesus Kristus yang lebih mulia, lebih intim dan lebih sempurna daripada kesatuan anggota-anggota sesosok tubuh dengan kepalanya.

Ia rindu untuk berdiam dalam diri-Mu, Dia ingin nafas-Nya menjadi nafasmu, Hati-Nya menjadi hatimu, dan Jiwa-Nya dalam jiwamu [Quotable Saints,  hal. 77].

Yohanes Eudes menempatkan kemanusiaan Yesus dalam pusat perhatian hidup spiritual. Dengan demikian dia memang meletakkan dasar untuk suatu perkembangan baru dalam devosi kepada Hati Kudus Yesus. Karena selanjutnya orang semakin memperhatikan apa yang dialami dan dirasakan oleh Tuhan Yesus pada waktu masih di dunia, khususnya dalam sengsara dan salib-Nya. Semua hal ini dikembangkan terutama oleh orang kudus ini. Menurut Pater Tom Jacobs SJ, orang kudus ini adalah orang yang pertama kalinya menciptakan suatu kebaktian sungguh untuk Hati Kudus. Yohanes Eudes tidak hanya mencoba menerangkan secara teologis arti dan dasar kebaktian itu, tetapi juga membuat suatu liturgi khusus, dan memperjuangkan perayaan istimewa. Semua itu membuka jalan bagi Santa Margareta Maria Alacoque untuk menyebarkan luaskan devosi ini [Tom Jacobs SJ, hal. 35-36]. Yohanes Eudes dikanonisasikan sebagai orang kudus oleh Paus Pius XI pada tahun 1925.

CATATAN PENUTUP

Kisah-kisah para kudus/mistikus di atas sebenarnya sudah jelas memperlihatkan kepada kita bahwa pengabdian seseorang kepada Allah lewat hidup spiritual yang mana pun dapat diwujudkan, antara lain, dengan hidup devosional yang benar, devosi apa pun namanya itu.  Namun hal itu saja tidak cukup kalau tidak disertai dengan hidup di dunia yang nyata-nyata mewujudkan kasih orang itu kepada sesamanya, entah dalam bentuk doa-doa syafat untuk kepentingan sesama, entah dalam bentuk pekerjaan-pekerjaan karitatif. Misalnya, seorang rahib atau rubiah Benediktin atau Ciscertian sekali pun – yang mengikuti peraturan hidup Santo Benediktus – tetap bersemboyan Ora et Labora! Tidak cukup hanya berdoa saja, perlu bekerja juga! Tentunya dalam arti melakukan pekerjaan yang akan membawa manfaat bagi sesama!

Sebagai umat Kristiani, yang berarti pengikut/murid Kristus, kita harus selalu mengingat ‘Yesus yang menampakkan kemuliaan-Nya’ (Mat 17:1-13; Mrk 9:2-13; Luk 9:28-36).[3]  Menurut tradisi, gunung tempat Yesus dimuliakan itu adalah Gunung Tabor. Oleh karena itu pengalaman ketiga murid – Petrus, Yakobus dan Yohanes – yang hadir pada peristiwa itu dijuluki Tabor Experience, atau ‘Pengalaman Tabor’. Dalam pengalaman rohani yang begitu menakjubkan, Petrus cepat berkata: “Tuhan, alangkah baiknya kita berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia” (Mat 17:5; bdk. Mrk 9:5; Luk 9:33). Yesus tidak menanggapi permintaan Petrus itu, katakanlah ‘permintaan Petrus itu tidak digubris’. Malah Markus mengatakan dalam ayat berikutnya, “Ia (Petrus) tidak tahu apa yang harus dikatakannya, karena mereka sangat ketakutan” (9:6) dan Lukas mencatat dalam ayat yang sama: “Tetapi Petrus tidak tahu apa yang dikatakannya itu” (9:33). Setelah peristiwa itu selesai, Yesus dan ketiga murid-Nya itu pun turun gunung ……… untuk berkarya lagi di dalam ‘dunia’.

Ayat-ayat ini mengandung pelajaran bagi kita semua. Dalam penghayatan iman Kristiani setiap orang, tentunya yang dituju adalah ‘pengalaman akan Allah’, ‘pengalaman akan Kristus’, ‘pengalaman Tabor’, ‘menyatu dengan Allah’, ‘beatific vision’  atau apa saja namanya. Pengalaman mistik ini dapat dialami dalam banyak cara seturut kehendak Allah, bukan kehendak kita. Beginilah yang dialami seseorang dan begitulah yang dialami oleh orang lain. Bisa sama, bisa serupa, bisa lain! Yang dialami Santo Fransiskus dari Assisi tidak sama dengan yang dialami oleh Santo Ignatius dari Loyola. Ada yang mengalami kasih mendalam Allah lewat keikutsertaannya dalam novena-novena atau bentuk-bentuk devosi lainnya, tetapi ada pula yang mengalaminya lewat pertemuan-pertemuan doa kelompok Karismatik Katolik. Tidak ada masalah samasekali! Maka kalau pun penghayatan iman seseorang itu tidak sama dengan orang lain, maka sebagai seorang Katolik yang baik, dia tidak pernah boleh bersikap anti-karismatik atau pun anti-novena, anti devosi ini atau itu. Seseorang yang sudah ‘in’ dalam cara penghayatan iman tertentu tidak boleh menafikkan cara penghayatan yang lain, karena itu ‘mau menang sendiri’ namanya. Namun, dari semua itu, ada satu hal sama yang dapat dipandang sebagai sebuah pedoman: Allah tentunya tidak mau kita berhenti sampai pada tahap merasakan suci-suci sendiri dan lalu berhenti di situ. Kita semua ‘harus turun gunung’ untuk kembali ke tengah-tengah masyarakat dan berkarya kasih di tengah-tengah sesama kita. Kekudusan seseorang dapat dilihat dari buah-buah yang dihasilkannya.

Sebagai akhir tulisan ini, dapatlah dikatakan bahwa daya pendorong sesungguhnya dari penyebaran devosi kepada Hati Kudus Yesus datang dari seorang suster Salesian di Paray-le-Monial, Perancis Selatan, yaitu Suster Margareta Maria Alacoque. Devosi ini mengalami pertumbuhan yang pesat sejak penampakan-penampakan Yesus Kristus kepada orang kudus ini di kapel biara di kota Paray-le-Monial. Itulah sebabnya kenapa nama Santa Margareta Maria seringkali disebut dalam tulisan-tulisan yang menyangkutl devosi kepada Hati Kudus Yesus.

Setelah menghadapi banyak kesulitan dan oposisi, suster Margareta Maria Alacoque – dengan  semakin banyak orang yang mengikuti jejaknya – berhasil membawa suatu kehidupan baru bagi devosi ini melampaui apa saja yang dikenal pada masanya. Memang sebagian besar keberhasilan devosi ini terwujud setelah kematiannya pada tahun 1690. Namun pada kenyataannya, nama Santa Margareta Maria Alocoque sudah begitu melekat pada dan tak terpisahkan dari devosi kepada Hati Kudus Yesus, sehingga banyak sekali orang percaya bahwa dialah yang sebenarnya mengawali devosi ini. Semoga cerita tentang orang kudus ini dan kegiatan-kegiatannya yang menyangkut devosi kepada Hati Kudus Yesus akan diungkapkan secara terpisah dalam tulisan lain.


[1] Mgr. Nicolaas Martinus Schneiders, C.I.C.M., dalam bukunya, Orang Kudus Sepanjang Tahun, mengatakan bahwa cabang yang terkenal dari tarekat ini ialah tarekat ‘Suster-suster Gembala Baik’, yang juga bekerja di Jatinegara, Jakarta [hal. 411].

[2] Kongregasi Eudists ini hampir musnah pada waktu meletus Revolusi Perancis, namun direkonstitusi pada tahun 1826 dan melanjutkan fungsi para anggotanya sebagai pendidik di Afrika Selatan, Eropa, Amerika Serikat dan Kanada [MB, hal. 471].

[3] Ingat peristiwa ‘terang’ (‘cahaya’) ke empat dalam Rosario peristiwa Terang yang biasanya didoakan pada hari Kamis, seturut  yang ditetapkan oleh Paus Yohanes Paulus II.

PERKEMBANGAN DEVOSI KEPADA HATI KUDUS YESUS DARI ABAD KE ABAD (9)

PERKEMBANGAN DEVOSI KEPADA HATI KUDUS YESUS DARI ABAD KE ABAD (9)

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Pada abad keenam belas devosi kepada Hati Kudus Yesus seperti ini tidak menyebar lebih jauh dari Rhineland, yaitu tempat pertama kali devosi ini terkandung, meskipun kemudian dari Jerman inilah devosi ini menyebar kepada sejumlah religius saleh anggota berbagai tarekat dan kepada Serikat Yesus yang para anggotanya membawanya ke negeri-negeri misi [lihat MW I, hal. 226].

Santo Petrus Kanisius dan para anggota Serikat Yesus

Petrus Kanisius SJ. Sebagai bagian akhir pembahasan mengenai abad ke enam belas, maka harus dicatat Santo Petrus Kanisius (1521-1597) yang lahir di Nijmegen, Belanda sebagai anak seorang wali kota. Dia belajar teologi, bertemu dengan Petrus Faber, S.J. (Pierre Lefevre), mengikuti retretnya (latihan rohani Ignatian untuk selama satu bulan), kemudian masuk Serikat Yesus ketika dia berumur 22 tahun. Petrus Kanisius mendirikan rumah S.J. pertama di Jerman dan kemudian menjadi pengkhotbah termasyhur; ikut aktif dalam Konsili Trente; sempat hidup bersama Santo Ignatius dari Loyola di Roma.

Banyak lagi kegiatan Petrus Kanisius, antara lain adalah dengan gigih mengembalikan orang-orang kembali dari Protestan ke pangkuan Gereja Katolik. Tidak mengherankanlah bahwa Yesuit yang satu ini sangat dimusuhi para pendeta Protestan. Petrus Kanisius menunjukkan bahwa cara terbaik memperjuangkan iman ialah bukan dengan sikap mencemoohkan atau membenci lawan, melainkan dengan dengan berdoa dan bekerja keras. Dia mendirikan sekolah-sekolah dasar, kolese, seminari; dia juga mengajar, berkhotbah dan menguatkan iman para imam dan uskup yang mengalami krisis panggilan dan hidup rohani. Pendapatnya tentang evangelisasi adalah, bahwa membela Gereja di tanah air sendiri sama pentingnya dengan melebarkan sayap Gereja di tanah misi. Petrus Kanisius banyak menulis, antara lain tiga buku Katekismus, yang paling utama adalah Doctrinae Christianae (Catechismus Major) yang diterbitkan pada tahun 1555, kemudian diterbitkan sebanyak ebih dari 400 edisi untuk selama dua abad. Petrus Kanisius meninggal dunia di Fribourg, Swiss. Dia dikenal sebagai ‘Rasul Jerman yang kedua’. Petrus Kanisius dikanonisasikan oleh Paus Pius XI pada tahun 1925 dan karena tulisan-tulisannya sangat bermutu, maka kemudian Dia pun diangkat menjadi Pujangga Gereja pada tahun yang sama, dan hal ini tidak ada presedennya (lihat MB, hal. 649 dan AH, hal. 250-251).
Di bawah ini adalah sebuah petikan dari tulisan Santo Petrus Kanisius:

Akhirnya, ya Juruselamatku, aku kelihatannya sedang menatap Hati dari tubuh-Mu yang suci dengan mataku sendiri. Seakan-akan Dikau membukanya bagiku dan mengatakan kepadaku untuk minum daripadanya seperti dari sumber air, mengundangku untuk menimba air keselamatan dari sumber-sumber-Mu. Aku dipenuhi dengan kerinduan bahwa air iman, air harapan dan air kasih akan mengalir dari Hati-Mu ke dalam diriku. Aku haus akan kemiskinan, kemurnian dan ketaatan. Aku mohon kepada-Mu untuk mencuciku seluruhnya dan mengenakan pakaian baik padaku.
Kemudian aku memberanikan diri untuk menyentuh Hati-Mu yang terkasih dan menguburkan rasa hausku di dalamnya; dan Dikau menjanjikan aku satu jubah yang dirajut dalam tiga bagian untuk menutupi jiwaku yang telanjang  dan sangat menolong aku dalam pekerjaanku.  Aman di balik perlindungan jubah ini, aku percaya bahwa aku tak akan kekurangan sesuatu pun, dan bahwa segalanya akan terjadi demi kemuliaan-Mu [The Saviour’s Heart,  no. 8, hal. 21-22].

Alfonsus Rodriguez SJ. Ada lagi seorang Yesuit lain yang bernama Alfonsus Rodriguez (1532-1617), orang kudus pelindung Majorca. Dia lahir di Segovia, menikah ketika berumur dua puluh enam tahun. Lima tahun kemudian dia sudah menjadi seorang duda dengan seorang anak yang hidup (dari tiga orang anak). Ketika anak ketiga ini pun meninggal dunia, Alfonsus memilih hidup sebagai biarawan. Karena dinilai kurang dalam latar belakang pendidikannya, Alfonsus tidak dapat diterima sebagai calon imam Yesuit, tetapi boleh diterima sebagai seorang bruder pada tahun 1571. Dia menjadi penjaga gerbang kolese di Majorca untuk selama empat puluh tahun lamanya. Kerendahan hatinya menunjukkan spiritualitasnya yang mendalam. Pada tahun 1887 dia dikanonisasikan sebagai orang kudus, suatu bukti lagi bahwa kekudusan seseorang jauh lebih penting daripada ketajaman berpikirnya. Petikan dari tulisannya berikut ini menunjukkan cinta orang kudus ini kepada Hati Kudus Yesus:
Oleh kontemplasi, jiwa berdiam dalam Hati Yesus; dan Yesus, karena cinta kasih-Nya yang besar  menanggung jiwa, menaruh jiwa sepenuhnya dalam Hati-Nya. Kristus sendiri menarik jiwa ke dalam Hati-Nya sendiri; dan jiwa, begitu berada di dalam Hati ini, di tengah laut penderitaan dan kesedihan yang mendalam, tetap dekat pada-Nya. Dan karena Hati kudus ini adalah suatu api cinta; demikian juga jiwa tetap berada di sana sepenuhnya bercahayakan api cinta; dan semangat dengan apa Yesus berkomunikasi dengan jiwa begitu aktifnya sehingga mengubah jiwa masuk ke dalam Hati-Nya – seperti api, apabila besar dapat mengubah biji besi [The Saviour’s Heart, no. 10, hal. 23].

Untuk masa dari abad ke enam belas sampai pada abad ke tujuh belas tercatat beberapa nama anggota Serikat Yesus yang meninggalkan tulisan berkaitan dengan devosi kepada Hati Kudus Yesus. Mereka, antara lain, adalah Luis de la Puente, S.J. (+1624). Berikut ini adalah doa yang sangat inspiratif dari Pater Luis, yang hidup di tempat lain namun pada waktu tidak banyak berbeda dengan Santo Petrus Kanisius:

O Allahku, perkenankanlah aku masuk ke dalam Hati-Mu oleh celah dalam lambung-Mu, dan dalam tungku api ini aku terbakar selamanya dengan kasih-Mu. O mempelai ilahi jiwa-jiwa kami, karena Dikau membuka luka-luka-Mu kepadaku, aku ingin dengan pertolongan-Mu membangun bagi diriku sendiri tiga tabernakel: yang pertama dalam luka-luka pada tangan-tangan-Mu; yang kedua dalam luka-luka pada kaki-kaki-Mu; dan ketiga dalam luka di Hati-Mu, di dalam Hati itulah aku tanpa henti akan mengkontemplasikan kasih-Mu yang telah Dikau tunjukkan kepadaku [The Saviour’s Heart,  no. 93, hal. 94].

Yakobus Pinto SJ. Seorang Yesuit lagi adalah Yakobus Pinto SJ. (+1650). Imam ini pernah menulis yang berikut:
Dari semua perbuatan yang diinspirasikan oleh kerahiman, dilakukan di atas kayu salib, yang paling agung dan paling mulia adalah, bahwa Yesus Kristus merelakan Hati-Nya dikoyak sehingga terbuka, seakan-akan tidak cukuplah bahwa tubuh-Nya harus dirobek oleh paku-paku dan dipenuhi luka-luka. Ia ingin menunjukkan, tidak hanya oleh luka-luka tubuh-Nya, tetapi juga oleh celah terbuka dari Hati-Nya, betapa agung belarasa-Nya terhadap kesengsaraan-kesengsaraan. Yesus Kristus, sungguh Imam Agung penuh kerahiman, demi kita Dia menunjukkan Hati-Nya sendiri kepada Bapa-Nya, Hati yang mencair dengan api cinta sekaligus api kepedihan, dan Ia pantas menggunakan kata-kata sang Nabi, ‘… hatiku menjadi seperti lilin, hancur luluh di dalam dadaku’ (Mzm 22:15) [The Saviour’s Heart,  no. 94, hal. 95].

Yohanes Nieremberg SJ. Seorang Yesuit lain, Yohanes Nieremberg, S.J. (+1658), menulis seperti berikut:
Bagian dari manusia yang paling kurang diatur adalah hati: untuk alasan inilah, agar supaya hati itu dimurnikan, pantas dada Yesus dilukai dengan sebatang tombak, menikam Hati-Nya yang dipenuhi cinta kasih kepada Allah dan manusia.
O Juruselamatku, Hati-Mu sudah dilukai dengan anak-anak panah cinta: apakah perlunya sehingga Hati itu harus menerima luka untuk kedua kalinya? O cinta kasih Yesus Kristus yang tanpa batas, untuk mana kehidupan tidaklah cukup, tetapi dengannya Dia berhasrat untuk menunjukkan kepada kita – bahkan setelah kematian-Nya – dengan membuka Hati-Nya kepada kita.
Ah, jiwaku, karena pintu terbuka masuklah ke dalam ruangan cinta yang tersembunyi. Murid yang dikasihi telah berkata kepada kita, bahwa Yesus mengasihi kita ‘bahkan sampai akhir’. Ia telah melakukan hal itu bahkan melampaui akhir itu sendiri, dengan memberikan Hati-Nya kepada kita setelah kematian itu sendiri terjadi. Lihatlah, dada Yesus terbuka, Hati-Nya telah dirobek sampai hancur remuk, namun kita akan mempertahankan kehendak kita agar tidak patah! [The Saviour’s Heart,  no. 95, hal. 96].

Druzbicki SJ. Dictionary of Catholic Devotions mencatat, bahwa Pater Druzbicki, S.J. (1590-1662) adalah orang yang menyusun “Ofisi (Ibadat Harian) Hati Kudus” untuk pertama kalinya. Pada tahun 1617 di Poitiers, Perancis didirikan ordo Suster-suster Benediktin Tuan Puteri dari Kalvari (Inggris: Benedictines of Our Lady of Calvary). Pendirinya adalah Pater Joseph dari Paris (1577-1638) yang menetapkan bagi para susternya sejumlah praktek kesalehan, seperti “Latihan Lima Luka” dan “Latihan Belarasa Santa Perawan” yang merupakan bentuk-bentuk kontemplasi yang berpusat pada Hati Kristus, meskipun didekati melalui Sengsara Kristus   [hal. 226].
CATATAN: Saya menghimbau lagi kepada pembaca yang bertekad memperdalam devosinya kepada Hati Kudus Yesus, agar mengakrabkan diri dengan berbagai petikan doa dan/atau permenungan para pendahulu kita ini. Dalami satu saja untuk setiap kesempatan!
(Bersambung)

PERKEMBANGAN DEVOSI KEPADA HATI KUDUS YESUS DARI ABAD KE ABAD (8)

PERKEMBANGAN DEVOSI KEPADA HATI KUDUS YESUS DARI ABAD KE ABAD (8)

 Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Beata Julian dari Norwich (c.1342-setelah 1413).[1] Kurang lebih pada era yang sama dengan Santa Katarina dari Siena, hiduplah seorang mistikus Inggris yang dikenang Gereja sepanjang masa; namanya Julian (Juliana) dari Norwich. Our Sunday Visitor’s Encyclopedia of Catholic History menyebutnya sebagai salah seorang yang mempunyai andil dalam perkembangan devosi kepada Hati Kudus Yesus. Julian menulis sebuah karya terkenal yang berjudul Pewahyuan Kasih Ilahi. [MB, hal. 481, 741].

Tidak terdapat banyak informasi terinci tentang orang kudus yang satu ini, namun diketahui bahwa dia sangat terdidik, dan tidak bertumbuh besar bahagia.  Malah tercatat Julian pernah berdoa memohon agar supaya dapat mati dalam usia muda. Sehari-harinya adalah dedikasi dalam hidup doa tanpa henti. Sejak bulan Mei 1373, Julian mengalami serangkaian penglihatan berkaitan dengan Tritunggal Mahakudus dan Sengsara Kristus. Pewahyuan Kasih Ilahi berisikan informasi rinci tentang apa yang dilihat oleh Julian, namun ditulis sekitar dua puluh tahun kemudian. Sasaran dari tulisan ini adalah menekankan Kasih Ilahi sebagai sumber dari penyelesaian segala masalah tentang keberadaan. Tulisan ini dinilai sebagai karya di bidang mistisisme yang luar biasa dan mendalam.

Woodeene Koenig-Bricker dalam bukunya, 365 SAINTS – YOUR DAILY GUIDE TO THE WISDOM AND WONDER OF THEIR LIVES, mencatat sebagai berikut: “Manakala kita sedang merasa tertekan dan letih, maka kata-kata Julian dari Norwich itu bekerja seperti obat pelipur bagi jiwa” [hal. May 8].  Julian, misalnya pernah berkata:

Aku melihat bahwa bagi kita Dia adalah segalanya yang baik, menyenangkan dan siap menolong; Dia adalah pakaian kita, yang demi cinta membungkus kita, memegang kita dekat-dekat; Dia menutup kita sepenuhnya karena cinta yang lembah lembut, agar Dia tidak akan pernah meninggalkan kita, karena Dia adalah sumber segalanya yang baik bagi kita, seperti yang aku pahami [Ronda de Sola Chervin, Quotable Saints,  hal. 75-76].

Jiwa kita begitu dikasihi oleh-Nya yang adalah Sang Mahatinggi, sehingga menjangkau jauh melampaui kemampuan makhluk mana saja untuk menyadarinya. … Tidak ada makhluk yang diciptakan, yang dapat menyadari betapa besar, betapa manis dan betapa lemah lembut Pencipta kita mengasihi kita. Oleh karena itu kita dapat, dengan rahmat-Nya dan pertolongan-Nya, berdiri dalam Roh, menatap – dengan rasa takjub yang tak terbatas – kepada kasih yang agung dan tak dapat diukur ini, yang melampaui ruang lingkup manusia, yang dipunyai Allah yang mahakuasa bagi kita dari kebaikan-Nya [Quotable Saints, hal. 42].

Dalam salah satu penglihatannya, Julian melihat mahkota duri dan darah yang mengalir di kepala Yesus. Orang kudus ini menulis:

Dan dalam penglihatan yang sama tiba-tiba Tritunggal memenuhi hatiku dengan sukacita besar, dan dengan begitu aku mengerti bahwa hatiku akan berada di surga tanpa akhir bagi semua yang akan datang ke sana. Karena Tritunggal adalah Allah, Allah adalah Tritunggal. Tritunggal adalah Pencipta kita. Tritunggal adalah Pemelihara kita. Tritunggal adalah Pencinta kita yang kekal-abadi. Tritunggal adalah sukacita dan kebahagiaan kita yang tak berkesudahan, oleh Tuhan Yesus Kristus kita  dan dalam Tuhan Yesus Kristus kita. … di mana Yesus muncul, Tritunggal Mahakudus dipahami …[Quotable Saints,  hal. 87; Robert Llewelyn (Editor), Julian Woman of Our Day, hal. 33].

Penglihatan tentang mahkota duri mengatakan kepada Julian bahwa dalam Yesus, Allah dan manusia telah menderita bagi dirinya. Pengetahuan tentang hal ini membawanya kepada pengetahuan bahwa dalam Yesus Allah berkarya, ‘di mana Yesus muncul, Tritunggal Mahakudus dipahami’. Dalam potongan kalimat ini terkandung sebuah ringkasan dari ajaran-ajaran Yesus yang tercakup dalam Yoh 14-16, bab-bab yang berbicara mengenai Yesus sebagai Dia yang datang dari Bapa dan pergi ke Bapa, Dia yang menjadi tempat kediaman Roh secara penuh dan oleh karena itu adalah Dia yang mengutus atau memberikan Roh. Jantung dan pusat pemahaman Kristiani tentang Allah, yang telah mengartikulasikan dirinya dalam doktrin-doktrin Tritunggal dan inkarnasi, dilihat dan dipahami. Dan inilah pengetahuan, tetapi samasekali bukan suatu jenis pengetahuan yang abstrak atau teoritis [A.M. Allchin, Julian of Norwich and the Continuity of Tradition dalam Julian Woman of Our Day, hal. 33].

Julian dari Norwich masih sempat mengalami juga dasawarsa pertama dan sebagian dasawarsa kedua dari abad ke 15; tetapi dia adalah anak segala zaman. Herbert O’Driscoll dari majalah The Mystics Quarterly mengatakan: “Julian bukan hanya seorang perempuan besar masa lampau, dia adalah juga seorang perempuan besar masa depan kita” (sebuah catatan dalam Julian Woman of Our Day).

ABAD KE LIMA BELAS SAMPAI DENGAN ABAD KE TUJUH BELAS

Santa Fransiska dari Roma (1384-1440). Menurut Our Sunday Visitor’s ENCYCLOPEDIA OF CATHOLIC HISTORY, Fransiska dari Roma adalah salah seorang yang membantu mengembangkan devosi kepada Hati Kudus Yesus [MB, hal. 741]. Santa Fransiska dari Roma atau (Santa Francesca Romana) dinilai sebagai model (contoh) seorang istri dan janda yang ideal.

Denys (Dionysius) sang Kartusian dan para rahib Kartusian lainnya

Denys sang Kartusian (1402-1471). Dalam serie (4) tulisan ini telah disinggung bahwa di bawah pengaruh tulisan tentang hidup Kristus oleh Ludolph dari Ordo Kartusian (1259-1378), yang secara istimewa menyebut Hati Kristus, maka devosi kepada Hati Kristus mulai menyebar khusus di kalangan para penulis dari Ordo Kartusian  [Dictionary of Catholic Devotions,  hal. 226]. Salah satunya adalah Denys sang Kartusian.

Denys van Leeuwen adalah seorang teolog dan mistik dari Belgia. Dia dilahirkan di Rychel, oleh karena itu banyak penulis menyebutnya Denys Rychel. Dia sekolah di Cologne, lalu masuk biara di Roermund pada tahun 1423. Pada tahun 1451 di pergi ke Jerman dengan Kardinal Nicholas dari Cusa untuk berkhotbah menyemangati perang salib melawan bangsa Turki dan untuk mendorong reformasi dalam Gereja. Denys adalah seorang mistikus terkemuka, oleh karena itu diberi gelar  Doctor Ecstaticus (Doktor Ekstase). Dia menarik banyak pengunjung datang ke selnya di biara untuk memperoleh berbagai nasihatnya, di tengah-tengah kehidupan doanya yang aktif dan tugas-tugasnya sebagai seorang rahib Kartusian. Denys juga banyak menulis, termasuk serangkaian tafsir Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru [lihat MB, hal. 260].

Marilah kita bersama-sama membaca dan merenungkan sebuah petikan tulisan Denys:

Hati dari orang-orang terpilih, hati manusia yang tidak dapat menemukan ketenangan di luar Dikau, di dalam surga akan menjadi serupa dengan Hati-Mu. Di sana mereka akan menikmati rasa aman yang tak terubahkan dan tak kunjung akhir. Mereka akan beristirahat dalam Dikau. Mereka telah menghargai dan mengasihi Dikau di atas segalanya; dan sebagai balasannya Dikau memberikan diri-Mu sendiri kepada mereka; Dikau menyatakan diri-Mu sendiri dengan jelas; Dikau menunjukkan kepada mereka keindahan dan segala kekayaan dari kemuliaan-Mu; Dikau membawa mereka kepada Hati-Mu dan memasukkan mereka ke dalam pusatnya, yaitu dada kasih-Mu, ke dalam kedalaman yang tak dapat diduga dari kerahiman-Mu. Di sana, dalam Hati-Mu, Dikau akan memberitahukan dengan jelas betapa lemah lembutnya Dikau telah mengasihi mereka dari segala kekekalan [The Saviour’s Heart, no. 72, hal. 78-79].

Menurut Dictionary of Catholic Devotions, dari para anggota Ordo Kartusian, yang paling dikenal adalah Jan Gereecht (Yohanes Lanspergius, 1489-1535/1539), yang dalam tulisannya berjudul Pharetra divini amoris (Getaran Kasih Ilahi), menganjurkan para rahib dari Rumah (biara) di Cologne untuk memasang sebuah gambar Hati Kristus dalam sel mereka masing-masing. Gambar ini menunjukkan suatu hati yang ditikam tombak dan dikelilingi gambar-gambar tangan dan kaki yang menyerupai, dengan kata lain, devosi Lima Luka-luka. Inilah sedikit petikan dari “kata-kata Kristus” yang ditulis oleh Yohanes Lanspergius ini:

Pertimbangkanlah lebih lanjut, O anak-Ku, O jiwa Kristiani, bahwa ada dua aliran bermanfaat yang keluar dari Hati-Ku yang mengasihi. Yang pertama adalah suatu aliran darah, sedangkan yang kedua adalah suatu aliran air. Aliran darah membawa kepadamu segala kekayaan kasih-Ku yang berkobar-kobar; sumber air memurnikanmu, menyegarkan jiwamu, dan melenyapkan api nafsu-nafsu kejahatan yang ada dalam dirimu.

Luka-luka-Ku, semuanya berbicara mengenai kelemah-lembutan-Ku, kebaikan Hati-Ku, kehalusan-Ku dan cinta kasih-Ku. Semua itu akan menceritakan kepadamu betapa manis, ramah tamah, dan lembutnya Aku. Luka-luka itu akan mengajar kamu betapa agung cinta dengannya Aku tertelan. Tidak akan cukuplah bagi Hati-Ku terbakar dengan kasih di bagian dalam. Kobaran api perlu mempunyai jalan keluar dan menyebar ke mana-mana. Api ilahi membuat suatu terobosan untuk keluar dengan kekuatan dan kecepatan besar dan merasuki hati manusia.

Datanglah, bangkitlah, puteri-Ku, burung merpati-Ku. Taruhlah hatimu pada luka di lambung-Ku. Kecaplah manisnya Aku yang tak terkatakan, dan timbalah dari Hati-Ku air rahmat yang menyembuhkan [The Saviour’s Heart,  no. 85, hal. 88-89].

Dom Yohanes dari Torralba (+ 1578). Pada abad ke 16 hiduplah seorang Kartusian juga – Dom Yohanes dari Torralba – yang devosinya kepada Hati Kudus Yesus sangat inspiratif bagi mereka yang membaca tulisannya;

O Yesus yang baik, aku memuji Dikau, menyembah Dikau, dan memuliakan Dikau untuk cinta kasih-Mu yang tanpa batas, dan untuk kelemah-lembutan Hati-Mu yang sangat mengasihi. Karena dari altar salib-Mu Dikau telah mencurahkan Darah-Mu yang mulia bagiku, maka curahkanlah juga ke atas diriku Roh Kudus-Mu agar aku dapat belajar untuk tidak menerima keuntungan begitu besar dengan sia-sia. Apa gunanya bagiku dicuci dalam Darah-Mu, kalau aku tidak dimeriahkan dengan Roh-Mu, dengan demikian dimampukan untuk menjaga jubah yang dicuci dalam Darah itu agar tak bernoda!

O Yesus, Dikau adalah kebaikan hati penuh kasih itu sendiri. Dari takhta rahmat dan pengampunan ini, yaitu Salib, pada salib mana aku melihat Dikau terpaku, utuslah Roh Kudus-Mu. Dia akan mengajarku untuk memberikan bukti rasa syukurku, untuk membuat hidupku seperti hidup-Mu, untuk mengambil bagian dalam penderitaan-penderitaan dan kematian-Mu. Dia akan menunjukkan kepadaku bagaimana membalas cinta-Mu dengan cinta, dan bagaimana untuk selalu tetap setia kepada-Mu, yang menebusku dengan biaya yang begitu besar [Prayers to the SACRED HEART,  hal. 33].

Dom John Michael (+ 1600). Pada masa yang bersamaan, ada seorang rahib Kartusian yang patut dicatat, yaitu Dom John Michael. Di bawah ini adalah sebuah doa penyerahan diri dari rahib ini, doa mana menunjukkan betapa tinggi devosi rahib Kartusian ini kepada Hati Kudus Yesus.

Dikau memerintahkanku untuk mengasihi Dikau, O Allahku, yang adalah kasih itu sendiri dan pantas dikasihi tanpa batas; dan aku mau melakukan hal itu agar dapat menanggapi kasih-Mu yang sangat besar bagiku. Tetapi bagaimana aku dapat cukup mengasihi-Mu? Aku tidak mampu melakukannya. Engkau begitu mengasihi dengan kasih-Mu yang Dikau berikan kepadaku untuk mengasihi dengan segenap hatiku, dengan segenap jiwaku, dan dengan segenap kekuatanku. Dan, sesungguhnya, Dikau telah memberikan kepadaku sarana-sarana guna memenuhi itu melalui Putera-Mu yang tunggal, kekal seperti Dikau sendiri, dan dalam segala hal sama dengan Dikau. Lalu aku akan mengasihi Dikau, O Allahku, melalui Hati Putera-Mu, yang kumiliki; dan karena Hati ini dapat mengasihi-Mu secara tak terbatas, maka melalui Hati itulah aku akan mengasihi Dikau seperti Dikau pantas menerimanya [Prayers to the SACRED HEART,  hal. 27].

Dom Anthony de Molina (c. 1605). Ada lagi seorang rahib Kartusian lain yang pantas untuk dikedepankan, yaitu Dom Anthony de Molina. Berikut ini adalah doanya yang menunjukkan dengan jelas cinta kasihnya kepada Hati Kudus Yesus dan Bunda Maria.

O Yesus, Juruselamatku, betapa besar aku berhutang kepada-Mu karena Dikau memperkenankan lambung-Mu dibuka dengan sebatang tombak, bahwa di dalam lubuk hati-Mu kami dapat melihat cinta kasih-Mu yang agung bagi kami, dan yang telah memperkenankan Tubuh-Mu yang suci, ketika diturunkan dari Salib, diletakkan pada tangan-tangan Ibunda-Mu yang terberkati, yang menerima Tubuh-Mu dengan banjir air mata dan dengan hati yang patah dan tertikam dengan kesedihan yang paling pahit. Aku mohon kepada-Mu, O Tuhan, untuk menikam hatiku dengan sebuah luka cinta yang sejati, untuk membersihkan jiwaku dari segala noda dengan air yang keluar dari lambung-Mu, dan untuk menyembuhkan kelemahan-kelemahan dengan obat dari Darah-Mu. Berikanlah kepadaku rahmat untuk ikut ambil bagian dalam kepedihan-kepedihan Ibunda-Mu pada waktu Sengsara dan  kematian-Mu. Buatlah aku menjadi seorang dari pelayan-pelayannya yang setia dan berdedikasi, agar dia dapat menempatkanku di bawah perlindungannya dan menolongku dalam pencobaan-pencobaan dan keperluan-keperluanku, teristimewa pada jam kematianku (Prayers to the SACRED HEART, hal. 15-16).

CATATAN: Kutipan-kutipan di atas baiklah digunakan oleh pembaca yang mau mendalami devosinya kepada Hati Kudus Yesus. Tidaklah salah samasekali kalau kita belajar dari para pendahulu kita.

(Bersambung)


[1] Tahun-tahun ini adalah seturut catatan yang ada dalam OUR SUNDAY VISITOR’S ENCYCLOPEDIA OF CATHOLIC HISTORY [MB, hal. 481, 741] yang berbeda dengan catatan dalam buku 365 SAINTS, yaitu 1343-1423  [hal. May 8].

PERKEMBANGAN DEVOSI KEPADA HATI KUDUS YESUS DARI ABAD KE ABAD (7)

PERKEMBANGAN DEVOSI KEPADA HATI KUDUS YESUS DARI ABAD KE ABAD (7)

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ABAD KE EMPAT BELAS SAMPAI DENGAN AWAL ABAD KE LIMA BELAS

Dictionary of Catholic Devotions mencatat bahwa hanya ada satu doa resmi Hati Kudus Yesus yang berasal dari abad keempat belas, meskipun terdapat banyak doa yang bersifat lokal atau privat. Barangkali di bawah pengaruh tulisan tentang hidup Kristus yang ditulis oleh Ludolph dari Ordo Kartusian, yang secara istimewa menyebut Hati Kristus, maka devosi kepada Hati Kristus mulai menyebar khusus di kalangan para penulis dari Ordo Kartusian [hal. 226]. Tetapi sebelum menyoroti Ludolph dari Saxony, marilah kita secara singkat membahas Santa Birgitta dari Swedia, karena sejarah Gereja abad ke 14 tidak lengkap tanpa menyinggung orang kudus dari Swedia ini.

Santa Birgitta dari Swedia (c. 1301-1373). Birgitta (Birgida) adalah seorang mistikus dan kemudian menjadi pendiri ordo religius dan orang kudus pelindung Swedia. Puteri seorang gubernur dan suami dari Ulf Gudmarsson, Birgitta adalah seorang ibu dari 8 (delapan) orang anak, termasuk seorang puteri yang kelak menjadi seorang kudus Gereja pula, yaitu, Santa Katarina dari Swedia (1332-1380). Tahun 1341-1343 suami istri Gudmarsson berziarah ke Compostela. Dalam perjalanan pulang, mereka mampir dan Ulf kemudian menetap di sebuah biara Cistercian sendiri memilih untuk menghayati hidup religius di sebuah biara yang terletak dekat biara Cistercian tadi. Dalam biara inilah dia mendiktekan kepada Petrus Olafsson penglihatan-penglihatan dan pesan-pesan ilahi yang diterimanya dari Yesus, untuk kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Salah satu perintah yang diterimanya dari Yesus adalah untuk mendirikan sebuah ordo religius. Marilah kita renungkan petikan-petikan dari tulisan Santa Birgitta:

Terpujilah Dikau selamanya, Tuhanku Yesus Kristus, yang untuk setiap jam di atas kayu salib, Dikau memikul kepedihan-kepedihan dan ekstrimitas bagi kami para pendosa. Sakit luarbiasa dari luka-luka-Mu meresapi pikiran-Mu yang terpuji dan dengan kejam menikam Hati-Mu yang terkudus sampai Hati-Mu itu tercabik, dan Dikau dengan bahagia menyerahkan nyawa(roh)-Mu. Dengan kepala terkulai ke bawah, Dikau dengan rendah hati mempercayakan diri-Mu ke dalam tangan-tangan Allah Bapa-Mu dan tubuh-Mu tergantung dingin dalam kematian. Terpujilah Dikau, Tuhanku Yesus Kristus, yang oleh darah-Mu yang berharga (mulia) dan kematian-Mu yang paling suci menebus jiwa-jiwa dan dengan penuh belaskasih memimpin mereka dari pembuangan ke dalam hidup kekal. Terpujilah Dikau, Tuhanku Yesus Kristus, yang untuk keselamatan kami memperkenankan Hati-Mu dan lambung-Mu ditikam tombak dan dari sana keluarlah darah-Mu yang mulia bersama dengan air untuk menebus kami [The Saviour’s Heart, no. 6, hal. 19-20].

O Yesus!  Putera tunggal Bapa, Kemegahan dan Tokoh dari Substansi-Nya, ingatlah rekomendasi yang sederhana dan rendah hati yang Dikau buat untuk jiwa-Mu kepada Bapa-Mu yang kekal, dengan berkata, “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku”, dan ketika, tubuh-Mu seluruhnya dirobek dan Hati-Mu dipatahkan dan isi perut kerahiman-Mu terbuka untuk menebus kami, Dikau pun wafat. Oleh kematian yang berharga ini, aku mohon kepada-Mu, O Raja Para Kudus, untuk menghiburku dan menolongku melawan setan, daging, dan dunia, dengan demikian, dengan mati terhadap dunia aku dapat hidup untuk Dikau semata-mata. Aku mohon agar Dikau menerima aku pada jam kematianku, seorang peziarah dan seorang pembuangan, untuk kembali kepada-Mu. Amin [The Magnificent Prayers of Saint Bridget of Sweden, Fourteeenth Prayer, hal. 19].

Ludolph dari Saxony (c. 1295-1378). Ludolph adalah seorang rahib Kartusian. Ordo Kartusian (O.Cart.) adalah sebuah ordo laki-laki dan perempuan yang kehidupan rohaninya menekankan keheningan dalam mencari Allah dalam konteks komunitas monastik. Ordo ini didirikan pada tahun 1084 oleh Santo Bruno (+ 1101). Sejak pendiriannya, ordo ini dikenal sebagai yang paling ketat dan paling kontemplatif dalam Gereja. Ludolph adalah seorang penulis rohani. Tidak banyak informasi yang tersedia mengenai masa kecil Ludolph, bahkan tempat kelahirannya pun tidak jelas, meskipun ada embel-embel ‘dari Saxony’ di belakang namanya. Sesuai sebuah cerita yang berasal pada abad ke 16, Ludolph mula-mula masuk ordo Dominikan dan kemudian, di tahun 1340 bergabung dengan rahib-rahib Kartusian di Strasbourg. Pada tahun 1343 Ludolph diangkat menjadi prior (kepala) dari biara di Coblenz dan mengundurkan diri lima tahun kemudian. Sisa hidupnya dijalaninya sebagai seorang rahib biasa yang juga penulis rohani. Ludolph pernah salah ditebak sebagai pengarang buku renungan yang terkenal berjudul Mengikuti Jejak Kristus. Dua karya tulis Ludolph yang penting, yaitu Sebuah Komentar (Tafsir) atas Mazmur-mazmur dan Vita Christi yang terjemahannya adalah Hidup Kristus. Namun buku yang disebutkan belakangan ini bukanlah sebuah riwayat hidup Yesus Kristus, melainkan serangkaian disertasi atau meditasi atas hidup Kristus, dari kelahiran kekal dalam Bapa sampai pada Kenaikan-Nya ke surga [lihat MB, hal. 519-520]. Berikut ini adalah sebuah petikan dari tulisan Ludoph sang Kartusian ini:

Oleh karena itu, marilah kita masukkan dalam pikiran kita cinta kasih yang sangat besar yang telah ditunjukkan oleh Yesus kepada kita dengan memperkenankan lambung-Nya dibuka lebar agar memudahkan kita memperoleh akses kepada Hati-Nya. Marilah kita bergegas masuk ke dalam Hati Yesus dengan membawa semua cinta kita dan menyatukan cinta kita itu dengan cinta ilahi-Nya.

Kumohon kepada-Mu, lukailah hatiku dengan tombak cinta-Mu agar aku dapat menerima – dengan disposisi baik – Sakramen-sakramen yang mengalir keluar dari lambung-Mu yang tersuci. Dengan membuka Hati-Mu Dikau membiarkan pintu kehidupan kekal-abadi menjadi sedikit terbuka; dan Dikau, ya Tuhanku, adalah pintu itu, lewat mana orang-orang benar akan masuk [The Saviour’s Heart, no.74, hal. 80]. 

Para Dominikan dan Dominikanes

Setelah Santo Albertus Agung yang sudah diceritakan di atas, pada paruhan kedua abad ke 13 sampai dengan abad ke-14 ada tiga mistikus anggota Ordo Pengkhotbah yang perlu dikedepankan, yaitu Meister Eckhart (1260-1327), Yohanes Tauler (1300-1361)[1] dan Henri Suso (1295-1366). Mereka adalah tokoh-tokoh devosi kepada Hati Kudus Yesus. Sengsara Yesus khususnya dilihat mereka sebagai tanda cinta kasih-Nya. Kesatuan dengan Kristus berarti kesatuan dengan Hati-Nya [lihat Tom Jacobs SJ, hal. 35].

Beato Henri Suso OP. Marilah kita bersama-sama  merenungkan beberapa petikan tulisan Beato Henri Suso:

Tidak saja Dikau menderita kematian demi aku tetapi juga mencari apa saja yang paling terdalam dari kasih, apa saja yang paling intim dan tersembunyi, di dalamnya penderitaan dapat atau boleh dialami.  Dikau sungguh melakukan itu – seakan-akan Dikau telah berkata,

Lihatlah, semua hati, apakah pernah ada suatu Hati yang begitu penuh dengan kasih. Pandanglah segala bagian tubuh-Ku; bagian tubuh paling mulia yang kumiliki adalah Hati-Ku.  Hati-Ku ini telah Ku-izinkan ditikam, untuk dibunuh dan ditelan serta memar-memar menjadi potongan-potongan kecil sehingga tidak ada dalam diriku atau atas diriku yang tidak dilimpahi potongan-potongan kecil itu –dengan demikian kamu dapat mengenal cinta kasih-Ku [The Saviour’s Heart, no. 38, hal. 45-46].

Kamu harus tempatkan dirimu sendiri pada bagian terbuka di dalam Hati-Ku yang terluka demi cinta, dan berdiam di sana, dan mencari tempat peristirahatan di sana. Lalu Aku akan mencucimu dengan air kehidupan dan mendandanimu berpakaian warna merah lembayung dengan darah-Ku yang mulia [The Saviour’s Heart, no. 45, hal. 49-50].

Dan pada saat Aku telah menyelesaikan pekerjaan penebusan umat manusia, Aku berseru, selesailah sudah. Aku sepenuhnya taat kepada Bapa-Ku, bahkan sampai mati. Kuserahkan nyawa-Ku ke dalam tangan-Nya sambil berkata, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku. Kemudian jiwa-Ku yang mulia melepaskan diri dari tubuh-Ku, namun keduanya tetap tak terpisahkan dari keilahian-Ku. Setelah ini sebatang tombak tajam ditikamkan ke lambung-Ku. Dengan segera suatu aliran darah mulia memancar ke luar, dan dengan itu sebuah sumber air yang hidup. Lihatlah, anak-Ku, dalam suatu ekstrimitas yang patut dikasihani seperti ini Aku menebusmu dan semua orang terpilih, dan menyelamatkanmu dari kematian kekal, oleh kurban hidup dari darah-Ku yang tak bersalah [The Saviour’s Heart,  no. 47, hal. 54-55].

Tuhan yang lemah lembut, tubuh-Mu yang tumbuh subur menjadi merana dan bertambah buruk di atas kayu salib, punggung-Mu yang letih dan lemah bersandar tak nyaman pada batang kayu yanag keras, tubuh-Mu yang besar dan berat dengan penuh kesakitan mengalah, semua bagian tubuh-Mu ditutupi luka-luka dan Hati-Mu memikul semuanya itu dengan penuh cinta kasih. Tuhan, semoga perlakuan yang meremukkan-Mu selamanya menjadi suatu penyuburan kembali bagi diriku, ketidaknyamanan bersandar-Mu menjadi tempat peristirahatan spiritualku, sifat mengalah-Mu menjadi dukungan penuh kekuatan bagiku. Semua luka-Mu harus menyembuhkan luka-lukaku dan Hati-Mu yang penuh cinta kasih membakar hatiku dengan penuh kegairahan [The Saviour’s Heart,  no. 56, hal. 63].

Ah, Tuhanku, ingatlah bagaimana tombak yang tajam ditikamkan ke dalam lambung-Mu yang ilahi, bagaimana darah yang berwarna merah lembayung mengalir ke luar, bagaimana air hidup memancar ke luar, dengan kerja keras-Mu yang dipenuhi kepahitan Dikau mengumpulkan aku dan betapa bermurah hati Dikau menebus aku. Tuhan yang terkasih, semoga luka-luka-Mu yang dalam melindungi aku dari semua musuhku, air hidup-Mu membersihkan aku dari segala dosaku, darah-Mu yang berwarna merah bak bunga mawar menghiasi diriku dengan segala rahmat dan keutamaan. Tuhan yang lemah lembut, semoga hadiah yang telah dimenangkan oleh-Mu dengan begitu pahit mengikat aku kepada-Mu, tebusan yang telah Dikau bayar dengan begitu bebas mempersatukan aku dengan-Mu secara kekal-abadi [The Saviour’s Heart, no. 57, hal. 64].

Para suster Dominikanes abad 14 juga menjalankan devosi  besar kepada Hati Kudus Yesus, khususnya karena renungan atas kisah Yoh 19:34. Dalam hal ini secara khusus haruslah disebut nama Santa Katarina dari Siena, seorang anggota Ordo Ketiga Dominikan, yang boleh memberikan hatinya sendiri kepada Hati Yesus dan hidup bersatu dengan-Nya [Tom Jacobs SJ, hal. 35].

Santa Katarina dari Siena (1347-1380). Dari tulisan saya yang berjudul “Kartini-Kartini dalam Gereja” (MediaPASS Edisi April 2009) pembaca pasti masih mengingat, bahwa Santa Katarina dari Siena adalah seorang dari dua orang perempuan yang bergelar Pujangga Gereja. Dalam tulisan itu juga sudah diuraikan mengenai orang kudus ini, sehingga tidak perlulah untuk berpanjang lebar bercerita mengenai dirinya..

Katarina adalah seorang mistikus dan Allah/Yesus sering ‘berbicara’ dengan dirinya. Berikut ini adalah beberapa kutipan yang berkaitan dengan relasinya dengan Hati Kudus Yesus:

Di mana jiwa mengetahui hal ini, martabatnya – diadoni dan disatukan dengan darah Anak Domba, menerima rahmat Baptisan suci karena darah? Pada lambung – di mana dia mengetahui api cinta kasih ilahi. Jadi, kalau engkau mengingatnya dengan baik, Kebenaran-Ku yang dimanifestasikan kepadamu ketika engkau bertanya: ‘Anak Domba yang manis dan tak bernoda, Engkau sudah wafat  ketika lambung-Mu dibuka (catatan: ditikam tombak). Jadi, mengapa Engkau mau ditikam dan membiarkan Hati-Mu dibelah?’  Dan Ia menjawab kamu, mengatakan kepadamu bahwa ada cukup alasan untuk itu; tetapi bagian utama alasan itu akan Kukatakan kepadamu. Ia berkata,

…………… Aku telah menyelesaikan kerja sesungguhnya menanggung sakit dan siksaan, namun Aku tidak dapat menunjukkannya dengan hal-hal yang terhingga, karena cinta kasih-Ku adalah tak terhingga, betapa lebih banyak lagi cinta kasih yang Kumiliki, Aku ingin kamu melihat rahasia Hati itu, menunjukkannya kepadamu dalam keadaan terbuka agar kamu dapat melihat bagaimana lebih banyak lagi Aku mengasihi daripada yang dapat Kutunjukkan dengan sakit yang terhingga. Aku mencurahkan dari situ darah dan air, untuk menunjukkan kepadamu baptisan air yang diterima atas dasar darah [The Saviour’s Heart,  no. 31, hal. 40-41].

Kaki-kaki yang ditikam ini adalah langkah-langkah yang memampukanmu sampai pada lambung-Nya yang memanifestasikan kepadamu rahasia-rahasia Hati-Nya; karena jiwa, yang bangkit di atas langkah-langkah afeksinya, mulai mencicipi cinta-kasih Hati-Nya, seraya dengan mata intelek dia (catatan: jiwa itu) memandang ke dalam Hati Putera-Ku yang terbuka dan menemukan Hati itu ditelan dengan cinta kasih yang tak terlukiskan. Aku mengatakan ditelan, karena Dia tidak mengasihimu demi keuntungan-Nya sendiri karena kamu tidak dapat menjadi keuntungan bagi-Nya, Dia yang satu dan sama dengan Aku. Maka jiwa yang dipenuhi dengan cinta kasih, melihat dirinya begitu banyak dikasihi [The Saviour’s Heart,  no. 22, hal. 32].

Santa Katarina dari Sienna memang seorang mistikus yang mendalam. Petikan di atas merupakan salah satu bukti bahwa orang kudus ini penuh dengan banyak pengalaman spiritual semasa hidupnya. Dia juga seorang penerima stigmata, suatu stigmata yang tak terlihat dengan mata [The Saviour’s Heart, hal. 178-179].

(Berambung)

 


[1] Sekadar untuk informasi tambahan bagi para pembaca: Pencetus reformasi (protestan) Martin Luther adalah seorang mantan imam tarekat O.S.A. Luther sangat menghargai khotbah-khotbah Pater Johannes Tauler, O.P. dan karena pandangan-pandangannya tidak berada di jalur mainstream pada zamannya, maka Tauler dinilai sebagai pendahulu dari Luther; cuma perbedaannya adalah, bahwa Tauler tetap setia kepada Gereja Katolik [MB, hal. 813].

PERKEMBANGAN DEVOSI KEPADA HATI KUDUS YESUS DARI ABAD KE ABAD (6)

PERKEMBANGAN DEVOSI KEPADA HATI KUDUS YESUS DARI ABAD KE ABAD (6)

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Di bawah ini, secara berturut-turut akan diceritakan secara singkat apa yang perlu kita ketahui tentang tiga orang ‘srikandi’ Helfta tersebut, sedikitnya untuk mengetahui secara sekilas kehidupan spiritual mereka masing-masing.

Santa Mechtilde dari Magdeburg (1207-1282).[1] Mechtilde (Mechtild atau Mechtildis) berasal dari keluarga bangsawan Jerman, berpendidikan tinggi. Dia pertama kali disentuh Roh Kudus ketika baru berusia dua belas tahun. Ketika berumur dua puluh tahun dia meninggalkan keluarganya dan bergabung dengan orang-orang Beguin, yaitu sekelompok perempuan suci yang terdiri dari para janda dan yang tidak menikah, yang hidup bersama tanpa kaul. Para Beguin membaktikan hidup mereka sepenuhnya untuk doa dan karya-karya karitatif.

Atas perintah bapak pengakuannya, Mechtilde mulai menulis pengalaman-pengalaman mistiknya yang kemudian dibukukan dengan judul Terang Allah yang Berlimpah-ruah. Buku ini berisikan pewahyuan-pewahyuan indah yang ditulis dengan nada puji-pujian penuh sukacita. Akan tetapi seorang mistikus seperti Mechtilde juga sempat melontarkan kritik-kritik terhadap kelemahan-kelemahan Gereja pada waktu itu, sehingga meresahkan dan menggusarkan mereka yang terkena. Pada tahun 1270, ketika melarikan diri dari musuh-musuhnya yang marah karena kritik-kritiknya, Mechtilde masuk ke biara di Helfta dan kemudian menjadi anggota komunitas suster-suster di sana.

Mechtilde menulis bahwa Allah menjadi begitu riil baginya pada waktu dia masih seorang gadis muda sehingga dia tidak dapat pernah menyerahkan diri kepada jenis dosa apa pun, karena begitu besar kasih Allah dalam hatinya. Dia berumur panjang dan hidupnya penuh berbuah. Pada hari tuanya Mechtilde mengalami penurunan dalam kesehatan fisiknya dan akhirnya menjadi buta.

Satu petikan dari tulisan Santa Mechtilde: “Keilahian-Nya tidak pernah asing bagiku. Karena selalu dan tanpa adanya belenggu, aku merasakannya pada setiap anggota tubuhku. … Sejatinya, jiwa berasal dari Hati Allah dan harus kembali ke sana” [Treasury of Women Saints, hal. 262].

Santa Mechtilde dari Helfta (1241-1298). Orang yang dikenal sebagai Mechtilde dari biara Helfta berasal dari Hackeborn. Dia adalah guru dan sahabat dari orang kudus yang akan menyusul, yaitu Santa Gertrude. Mechtilde adalah seorang mistikus dan sangat berdevosi kepada Hati Kudus Yesus. Tentang Mechtilde ini, muridnya itu mengatakan: “Belum pernah seorang pun menyerupai dia dalam biara kami, dan mungkin tak pernah akan ada”   [A. Heuken SJ, hal. 135]. Baiklah kita mengutip beberapa bagian dari tulisan Mechtilde dari Helfta:

Tuhan, sebagai silih atas semua kelalaianku, aku memberi hormat kepada Hati-Mu dalam segala kebaikan ilahi-Nya, karena Hati-Mu itu adalah sumber dari segala yang baik. Aku memberi hormat kepada Hati-Mu dalam kelimpahan rahmat yang telah, sedang, dan akan dicurahkan ke atas semua orang kudus dan atas semua jiwa orang-orang benar. Aku memberi hormat kepada banjir kemanisan yang memancar keluar dari Hati-Mu yang paling berbelaskasih, dan yang sering mengalir, dicurahkan ke dalam hatiku untuk memabukkannya dari semburan kesukaan-kesukaan ilahi-Mu [The Saviour’s Heart, no. 16, hal. 27].

O Sahabat manis di atas segala sahabat, rasa terima kasih yang bagaimana harus kutunjukkan kepada-Mu untuk luka cinta yang  demi keselamatan manusia Kauterima di atas kayu salib, ketika cinta kasih yang tak terkalahkan membuka Hati-Mu yang termanis dengan tikaman sebatang tombak, Hati cinta kasih-Mu yang demi kesembuhan kami, daripadanya mengalir keluar darah dan air. Pada saat itulah, dikalahkan oleh keagungan cinta kasih-Mu kepada kami, Dikau mati suatu kematian cinta (catatan: mengalami kematian demi cinta). Kekasih hatiku yang tunggal, sudilah kiranya menguburkan diri-Mu di dalam aku dan ikatlah aku sehingga tak terpisakan daripada-Mu [The Saviour’s Heart, no. 17, hal. 28].

Aku memuji, aku meluhurkan, aku memuliakan dan memberi hormat kepada Hati-Mu, O Yesus Kristus yang paling manis dan paling baik, Pencinta setia jiwaku. Aku berterima kasih kepada-Mu karena telah menjaga dan melindungiku dengan ketat selama malam ini. Sebagai balasannya, O Sahabatku di atas segala sahabat, aku mempersembahkan kepada-Mu hatiku, seperti sekuntum bunga mawar yang baru mekar, yang semoga keindahannya sepanjang hari menyenangkan mata-Mu dan keharumannya dapat menyenangkan Hati ilahi-Mu [The Saviour’s Heart, no. 24, hal. 33-34].

Tuhan, bersihkan dan murnikanlah hatiku dalam kasih Hati ilahi-Mu. Tuhan, berikanlah kepadaku Hati-Mu sebagai sebuah tempat pengungsianku. Semoga pada jam kematianku, tidak ada lorong lain menuju tempat peristirahatan-kekalku yang terbuka di hadapanku selain Hati-Mu. Tuhan, semoga keilahian-Mu memberkatiku, kemanusiaan-Mu menguatkan aku, kelembutan-Mu mengobarkan aku, dan cinta kasih-Mu melindungi aku [The Saviour’s Heart, no. 32, hal. 41-42].

Aku memuji Dikau, O Cinta kasih yang paling kuat; aku meluhurkan Dikau, O Cinta kasih yang paling bijaksana; aku memuliakan Dikau, O Cinta kasih yang paling menyenangkan; aku mengagungkan Dikau, O Cinta kasih yang maharahim – dalam semua dan melalui semua efek baik yang telah ditempa dalam diri kami oleh keilahian-Mu yang termulia dan kemanusiaan-Mu yang terpuji. Aku memuji, meluhurkan dan memuliakan Dikau melalui alat-Mu yang paling mulia, Hati-Mu, untuk semua hal baik dan untuk semua yang akan diwariskannya ke abad ke abad mendatang. Amin. [The Saviour’s Heart, no. 28, hal. 39].

Dengan demikian, ini adalah rancangan penuh kerahiman dari Yesus dalam menghasrati agar kita melihat Hati-Nya yang mengenakan lencana sengsara-Nya dan berkobar-kobar dengan cinta – bahwa setelah belajar dari situ tentang kejahatan tak terbatas dari dosa, kita menjadi terpesona dan dalam diri kita pun timbul rasa hormat luar biasa terhadap cinta kasih tak terbatas dari Juruselamat kita, membenci dosa secara lebih berapi-api lagi, dan membalas cinta kasih-Nya dengan mengasihi-Nya lebih bergairah lagi. [The Saviour’s Heart, no. 41, hal. 47].

Kita lihat dari petikan-petikan ini betapa mendalam devosi Santa Mechtilde dari Hefta kepada Hati Kudus Yesus. Di samping itu, petikan-petikan tersebut sangat memiliki manfaat rohani, sehingga pantas untuk dibawa ke dalam permenungan-permenungan kita dalam rangka mendalami devosi kita kepada Hati Kudus Yesus.

Santa Gertrude (1256-1302). Devosi kepada Hati Kudus Yesus, dalam arti devosi kepada Kristus di mana Hati-Nya dimengerti sebagai sebuah lambang cinta kasih-Nya kepada umat manusia, untuk pertama kali secara eksplisit muncul pada abad ke tiga belas, khususnya dalam tulisan-tulisan yang menceritakan penampakan-penampakan kepada Santa Gertrude (Gertrud, Gertrudis), juga dari biara di Helfta, Saxony, Jerman Utara.

Gertrude mengalami penampakan Kristus pada waktu dia berumur dua puluh tahun. Sejak saat itu dia mencurahkan segala jiwa raga pada hidup kontemplatif karena baginya segala daya tarik pengetahuan duniawi sudah terkubur dalam-dalam. Gertrude mencurahkan seluruh perhatiannya pada Kitab Suci, karya para pujangga Gereja dan perayaan ibadat. Hidup Gertrude dipenuhi berbagai pengalaman rohani yang berturut-turut dikaruniakan Tuhan kepadanya. Banyak diantaranya dapat dibaca dalam kumpulan karangan, yang sebagian ditulis berdasarkan catatan, diktat dan hasil tulisan Gertrude sendiri. Buku ini banyak memberikan sumbangan kepada  kehidupan rohani di Abad Pertengahan. Buah pena itu amat menarik. Sebab, orang akan melihat bagaimana Gertrude merintis penghormatan kepada Hati Kudus Yesus, yang sekarang ini sangat merata dan lazim dilakukan oleh umat Katolik di mana-mana. Itulah sebabnya kadang-kadang orang kudus ini diberi gelar atau dijuluki “Gertrude Agung”. Ada sebuah doa orang kudus ini yang didoakan pada waktu baru bangun tidur, yang tentunya dapat kita doakan juga:

Aku menyembah, memuji dan memberi hormat kepada-Mu, O Hati Yesus Kristus yang termanis. Aku berterima kasih kepada-Mu karena Dikau telah memeliharaku sepanjang malam tadi, dan telah mempersembahkan puji-pujian dan syukur kepada Allah Bapa atas namaku. Dan, sekarang aku mempersembahkan kepada-Mu hatiku sebagai sebuah kurban persembahan di pagi hari; aku menaruhnya dalam Hati-Mu yang paling lembut dan mempercayakannya ke dalam pemeliharaan-Mu; semoga Dikau berkenan mencurahkan ke dalamnya inspirasi ilahi-Mu, dan untuk mengobarkannya dengan cinta kasih ilahi-Mu [Prayers to the SACRED HEART, hal. 39].

Lihatlah beberapa petikan lagi dari tulisannya yang sangat jelas menunjukkan besarnya cinta kasih dan penghormatan orang kudus ini kepada Hati Kudus Yesus:

Berkatilah aku, Yesus yang paling lemah lembut, berkatilah aku dan kasihanilah aku sesuai dengan karunia Hati-Mu yang paling lemah lembut [Prayers to SACRED HEART, hal. 26].

Bapa, aku mempersembahkan kepada-Mu Hati Putera-Mu, Harpa yang paling merdu dari Tritunggal yang patut disembah, memintanya, dengan penuh kepercayaan, untuk memperbaiki – sebagai penggantiku –  semua hal yang aku sendiri tidak dapat menebusnya [The Saviour’s Heart, no. 18, hal. 28].

O Yesus, yang selalu berdiri di hadirat Allah Bapa dalam pengantaraan demi keselamatan manusia, kalau aku melalui kelemahan manusiawi telah bersalah dalam hatiku, persembahkanlah atas namaku hati-Mu sendiri yang tanpa dosa, sebagai silih kepada Allah Bapa [The Saviour’s Heart, No. 29, hal. 39-40].

Bapa, aku mempersembahkan kepada-Mu semua yang dialami  oleh Hati terkudus Putera-Mu di atas bumi demi keselamatan umat manusia. Hati itu menelan dirinya sendiri – dalam puji dan syukur serta dalam keluh kesah – permohonan-permohonan dan hasrat-hasrat cinta, sebagai silih atas segala kesenangan duniawi dan kedagingan dan segala hasrat jahat yang sekarang menjerat setiap hati manusia [The Saviour’s Heart, no. 33, hal. 42].

O Guru yang terkasih, oleh Hati-Mu yang tertikam, aku berdoa agar Dikau menikam hatiku dengan anak-anak panah kasih-Mu sehingga hatiku tidak lagi menghargai hal duniawi apa saja, melainkan dipenuhi hanya dengan kuasa Allah, Bapa-Mu [The Saviour’s Heart, no. 34, hal 42-43]

“Tuhan, aku mempersembahkan kepada-Mu airmataku, yang dipersatukan dengan airmata-Mu, dalam puji-pujian kepada Bapa-Mu. Tuhan, dalam segala pencobaanku aku berhasrat untuk datang kepada-Mu dan membuat diriku dekat kepada Hati ilahi-Mu, untuk mencari penghiburanku. Jangan pernah tinggalkan aku! Aku berdoa kepada-Mu, ya Tuhan, demi cinta kasih kepada Hati ilahi-Mu, Engkau yang menanggung sendiri beban-beban semua orang, buatlah aku mampu memikul beratnya kepedihanku sekarang dengan cinta kasih dan rasa penuh syukur. Tuhan, lindungilah aku dalam penderitaanku, tariklah kepada diri-Mu segala kepedihanku, yang dipersatukan dengan sengsara-Mu. Semoga Engkau akan bersamaku sampai nafasku yang terakhir, sehingga pada saat ajalku tiba, nafasku terakhir, O Yesus, dapat kuhembuskan hanya kepada Hati-Mu [The Saviour’s Heart, No. 42, hal. 47-48].

Dalam Michael Walsh, Dictionary of Catholics Devotions terdapat catatan bahwa Gertrude menerima stigmata, dan hatinya ditikam oleh suatu sinar yang datang dari Hati Kristus. Dalam kasus Gertrude dan para suster lain dalam biaranya, devosi kepada Hati Kudus Yesus erat dikaitkan dengan sengsara Kristus, secara khusus kepada luka yang disebabkan oleh tikaman tombak pada lambung-Nya. Setelah Gertrude, sejumlah mistikus dan penulis spiritual lain juga menulis tentang Hati Kristus,  biasanya – namun tidak selalu – mengkaitkannya dengan luka-luka Yesus, dan dengan luka yang disebabkan oleh tikaman tombak pada lambung-Nya, tetapi tanpa mengembangkan secara nyata suatu devosi khusus kepada Hati Kristus itu sendiri [hal. 226].

CATATAN: Petikan tulisan-tulisan dan/atau doa-doa ketiga srikandi dari Helfta di atas pantas dan sangat baik untuk kita gunakan sebagai bahan permenungan. Khususnya dalam hal doa-doa mereka, bahkan dapat dimanfaatkan sebagai doa-doa kita sendiri dalam mengambil langkah-langkah awal untuk menjadi lebih akrab dengan Hati Kudus Yesus.

(Bersambung) 


[1] Tahun kelahiran yang digunakan di sini adalah berdasarkan Ronda De Sola Chervin, Treasury of Women Saints, [hal. 261],  yang sedikit berbeda dengan tulisan dalam tulisan Pater Tom Jacobs, S.J. yang menyebutkan tahun 1212. Tidak ada perbedaan antara kedua tulisan dalam hal tahun kematian orang kudus ini, yaitu tahun 1282 [lihat Tom Jacobs SJ, hal. 34]. Mathew Benson, dalam Our Sunday Visitor’s Encyclopedia of Catholic History  menyebut tahun-tahun yang berbeda lagi, yaitu 1210-c.1285 [hal. 548].

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 127 other followers