Posts from the ‘HATI YESUS YANG MAHAKUDUS’ Category

PERKEMBANGAN DEVOSI KEPADA HATI KUDUS YESUS DARI ABAD KE ABAD (8)

PERKEMBANGAN DEVOSI KEPADA HATI KUDUS YESUS DARI ABAD KE ABAD (8)

 Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Beata Julian dari Norwich (c.1342-setelah 1413).[1] Kurang lebih pada era yang sama dengan Santa Katarina dari Siena, hiduplah seorang mistikus Inggris yang dikenang Gereja sepanjang masa; namanya Julian (Juliana) dari Norwich. Our Sunday Visitor’s Encyclopedia of Catholic History menyebutnya sebagai salah seorang yang mempunyai andil dalam perkembangan devosi kepada Hati Kudus Yesus. Julian menulis sebuah karya terkenal yang berjudul Pewahyuan Kasih Ilahi. [MB, hal. 481, 741].

Tidak terdapat banyak informasi terinci tentang orang kudus yang satu ini, namun diketahui bahwa dia sangat terdidik, dan tidak bertumbuh besar bahagia.  Malah tercatat Julian pernah berdoa memohon agar supaya dapat mati dalam usia muda. Sehari-harinya adalah dedikasi dalam hidup doa tanpa henti. Sejak bulan Mei 1373, Julian mengalami serangkaian penglihatan berkaitan dengan Tritunggal Mahakudus dan Sengsara Kristus. Pewahyuan Kasih Ilahi berisikan informasi rinci tentang apa yang dilihat oleh Julian, namun ditulis sekitar dua puluh tahun kemudian. Sasaran dari tulisan ini adalah menekankan Kasih Ilahi sebagai sumber dari penyelesaian segala masalah tentang keberadaan. Tulisan ini dinilai sebagai karya di bidang mistisisme yang luar biasa dan mendalam.

Woodeene Koenig-Bricker dalam bukunya, 365 SAINTS – YOUR DAILY GUIDE TO THE WISDOM AND WONDER OF THEIR LIVES, mencatat sebagai berikut: “Manakala kita sedang merasa tertekan dan letih, maka kata-kata Julian dari Norwich itu bekerja seperti obat pelipur bagi jiwa” [hal. May 8].  Julian, misalnya pernah berkata:

Aku melihat bahwa bagi kita Dia adalah segalanya yang baik, menyenangkan dan siap menolong; Dia adalah pakaian kita, yang demi cinta membungkus kita, memegang kita dekat-dekat; Dia menutup kita sepenuhnya karena cinta yang lembah lembut, agar Dia tidak akan pernah meninggalkan kita, karena Dia adalah sumber segalanya yang baik bagi kita, seperti yang aku pahami [Ronda de Sola Chervin, Quotable Saints,  hal. 75-76].

Jiwa kita begitu dikasihi oleh-Nya yang adalah Sang Mahatinggi, sehingga menjangkau jauh melampaui kemampuan makhluk mana saja untuk menyadarinya. … Tidak ada makhluk yang diciptakan, yang dapat menyadari betapa besar, betapa manis dan betapa lemah lembut Pencipta kita mengasihi kita. Oleh karena itu kita dapat, dengan rahmat-Nya dan pertolongan-Nya, berdiri dalam Roh, menatap – dengan rasa takjub yang tak terbatas – kepada kasih yang agung dan tak dapat diukur ini, yang melampaui ruang lingkup manusia, yang dipunyai Allah yang mahakuasa bagi kita dari kebaikan-Nya [Quotable Saints, hal. 42].

Dalam salah satu penglihatannya, Julian melihat mahkota duri dan darah yang mengalir di kepala Yesus. Orang kudus ini menulis:

Dan dalam penglihatan yang sama tiba-tiba Tritunggal memenuhi hatiku dengan sukacita besar, dan dengan begitu aku mengerti bahwa hatiku akan berada di surga tanpa akhir bagi semua yang akan datang ke sana. Karena Tritunggal adalah Allah, Allah adalah Tritunggal. Tritunggal adalah Pencipta kita. Tritunggal adalah Pemelihara kita. Tritunggal adalah Pencinta kita yang kekal-abadi. Tritunggal adalah sukacita dan kebahagiaan kita yang tak berkesudahan, oleh Tuhan Yesus Kristus kita  dan dalam Tuhan Yesus Kristus kita. … di mana Yesus muncul, Tritunggal Mahakudus dipahami …[Quotable Saints,  hal. 87; Robert Llewelyn (Editor), Julian Woman of Our Day, hal. 33].

Penglihatan tentang mahkota duri mengatakan kepada Julian bahwa dalam Yesus, Allah dan manusia telah menderita bagi dirinya. Pengetahuan tentang hal ini membawanya kepada pengetahuan bahwa dalam Yesus Allah berkarya, ‘di mana Yesus muncul, Tritunggal Mahakudus dipahami’. Dalam potongan kalimat ini terkandung sebuah ringkasan dari ajaran-ajaran Yesus yang tercakup dalam Yoh 14-16, bab-bab yang berbicara mengenai Yesus sebagai Dia yang datang dari Bapa dan pergi ke Bapa, Dia yang menjadi tempat kediaman Roh secara penuh dan oleh karena itu adalah Dia yang mengutus atau memberikan Roh. Jantung dan pusat pemahaman Kristiani tentang Allah, yang telah mengartikulasikan dirinya dalam doktrin-doktrin Tritunggal dan inkarnasi, dilihat dan dipahami. Dan inilah pengetahuan, tetapi samasekali bukan suatu jenis pengetahuan yang abstrak atau teoritis [A.M. Allchin, Julian of Norwich and the Continuity of Tradition dalam Julian Woman of Our Day, hal. 33].

Julian dari Norwich masih sempat mengalami juga dasawarsa pertama dan sebagian dasawarsa kedua dari abad ke 15; tetapi dia adalah anak segala zaman. Herbert O’Driscoll dari majalah The Mystics Quarterly mengatakan: “Julian bukan hanya seorang perempuan besar masa lampau, dia adalah juga seorang perempuan besar masa depan kita” (sebuah catatan dalam Julian Woman of Our Day).

ABAD KE LIMA BELAS SAMPAI DENGAN ABAD KE TUJUH BELAS

Santa Fransiska dari Roma (1384-1440). Menurut Our Sunday Visitor’s ENCYCLOPEDIA OF CATHOLIC HISTORY, Fransiska dari Roma adalah salah seorang yang membantu mengembangkan devosi kepada Hati Kudus Yesus [MB, hal. 741]. Santa Fransiska dari Roma atau (Santa Francesca Romana) dinilai sebagai model (contoh) seorang istri dan janda yang ideal.

Denys (Dionysius) sang Kartusian dan para rahib Kartusian lainnya

Denys sang Kartusian (1402-1471). Dalam serie (4) tulisan ini telah disinggung bahwa di bawah pengaruh tulisan tentang hidup Kristus oleh Ludolph dari Ordo Kartusian (1259-1378), yang secara istimewa menyebut Hati Kristus, maka devosi kepada Hati Kristus mulai menyebar khusus di kalangan para penulis dari Ordo Kartusian  [Dictionary of Catholic Devotions,  hal. 226]. Salah satunya adalah Denys sang Kartusian.

Denys van Leeuwen adalah seorang teolog dan mistik dari Belgia. Dia dilahirkan di Rychel, oleh karena itu banyak penulis menyebutnya Denys Rychel. Dia sekolah di Cologne, lalu masuk biara di Roermund pada tahun 1423. Pada tahun 1451 di pergi ke Jerman dengan Kardinal Nicholas dari Cusa untuk berkhotbah menyemangati perang salib melawan bangsa Turki dan untuk mendorong reformasi dalam Gereja. Denys adalah seorang mistikus terkemuka, oleh karena itu diberi gelar  Doctor Ecstaticus (Doktor Ekstase). Dia menarik banyak pengunjung datang ke selnya di biara untuk memperoleh berbagai nasihatnya, di tengah-tengah kehidupan doanya yang aktif dan tugas-tugasnya sebagai seorang rahib Kartusian. Denys juga banyak menulis, termasuk serangkaian tafsir Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru [lihat MB, hal. 260].

Marilah kita bersama-sama membaca dan merenungkan sebuah petikan tulisan Denys:

Hati dari orang-orang terpilih, hati manusia yang tidak dapat menemukan ketenangan di luar Dikau, di dalam surga akan menjadi serupa dengan Hati-Mu. Di sana mereka akan menikmati rasa aman yang tak terubahkan dan tak kunjung akhir. Mereka akan beristirahat dalam Dikau. Mereka telah menghargai dan mengasihi Dikau di atas segalanya; dan sebagai balasannya Dikau memberikan diri-Mu sendiri kepada mereka; Dikau menyatakan diri-Mu sendiri dengan jelas; Dikau menunjukkan kepada mereka keindahan dan segala kekayaan dari kemuliaan-Mu; Dikau membawa mereka kepada Hati-Mu dan memasukkan mereka ke dalam pusatnya, yaitu dada kasih-Mu, ke dalam kedalaman yang tak dapat diduga dari kerahiman-Mu. Di sana, dalam Hati-Mu, Dikau akan memberitahukan dengan jelas betapa lemah lembutnya Dikau telah mengasihi mereka dari segala kekekalan [The Saviour’s Heart, no. 72, hal. 78-79].

Menurut Dictionary of Catholic Devotions, dari para anggota Ordo Kartusian, yang paling dikenal adalah Jan Gereecht (Yohanes Lanspergius, 1489-1535/1539), yang dalam tulisannya berjudul Pharetra divini amoris (Getaran Kasih Ilahi), menganjurkan para rahib dari Rumah (biara) di Cologne untuk memasang sebuah gambar Hati Kristus dalam sel mereka masing-masing. Gambar ini menunjukkan suatu hati yang ditikam tombak dan dikelilingi gambar-gambar tangan dan kaki yang menyerupai, dengan kata lain, devosi Lima Luka-luka. Inilah sedikit petikan dari “kata-kata Kristus” yang ditulis oleh Yohanes Lanspergius ini:

Pertimbangkanlah lebih lanjut, O anak-Ku, O jiwa Kristiani, bahwa ada dua aliran bermanfaat yang keluar dari Hati-Ku yang mengasihi. Yang pertama adalah suatu aliran darah, sedangkan yang kedua adalah suatu aliran air. Aliran darah membawa kepadamu segala kekayaan kasih-Ku yang berkobar-kobar; sumber air memurnikanmu, menyegarkan jiwamu, dan melenyapkan api nafsu-nafsu kejahatan yang ada dalam dirimu.

Luka-luka-Ku, semuanya berbicara mengenai kelemah-lembutan-Ku, kebaikan Hati-Ku, kehalusan-Ku dan cinta kasih-Ku. Semua itu akan menceritakan kepadamu betapa manis, ramah tamah, dan lembutnya Aku. Luka-luka itu akan mengajar kamu betapa agung cinta dengannya Aku tertelan. Tidak akan cukuplah bagi Hati-Ku terbakar dengan kasih di bagian dalam. Kobaran api perlu mempunyai jalan keluar dan menyebar ke mana-mana. Api ilahi membuat suatu terobosan untuk keluar dengan kekuatan dan kecepatan besar dan merasuki hati manusia.

Datanglah, bangkitlah, puteri-Ku, burung merpati-Ku. Taruhlah hatimu pada luka di lambung-Ku. Kecaplah manisnya Aku yang tak terkatakan, dan timbalah dari Hati-Ku air rahmat yang menyembuhkan [The Saviour’s Heart,  no. 85, hal. 88-89].

Dom Yohanes dari Torralba (+ 1578). Pada abad ke 16 hiduplah seorang Kartusian juga – Dom Yohanes dari Torralba – yang devosinya kepada Hati Kudus Yesus sangat inspiratif bagi mereka yang membaca tulisannya;

O Yesus yang baik, aku memuji Dikau, menyembah Dikau, dan memuliakan Dikau untuk cinta kasih-Mu yang tanpa batas, dan untuk kelemah-lembutan Hati-Mu yang sangat mengasihi. Karena dari altar salib-Mu Dikau telah mencurahkan Darah-Mu yang mulia bagiku, maka curahkanlah juga ke atas diriku Roh Kudus-Mu agar aku dapat belajar untuk tidak menerima keuntungan begitu besar dengan sia-sia. Apa gunanya bagiku dicuci dalam Darah-Mu, kalau aku tidak dimeriahkan dengan Roh-Mu, dengan demikian dimampukan untuk menjaga jubah yang dicuci dalam Darah itu agar tak bernoda!

O Yesus, Dikau adalah kebaikan hati penuh kasih itu sendiri. Dari takhta rahmat dan pengampunan ini, yaitu Salib, pada salib mana aku melihat Dikau terpaku, utuslah Roh Kudus-Mu. Dia akan mengajarku untuk memberikan bukti rasa syukurku, untuk membuat hidupku seperti hidup-Mu, untuk mengambil bagian dalam penderitaan-penderitaan dan kematian-Mu. Dia akan menunjukkan kepadaku bagaimana membalas cinta-Mu dengan cinta, dan bagaimana untuk selalu tetap setia kepada-Mu, yang menebusku dengan biaya yang begitu besar [Prayers to the SACRED HEART,  hal. 33].

Dom John Michael (+ 1600). Pada masa yang bersamaan, ada seorang rahib Kartusian yang patut dicatat, yaitu Dom John Michael. Di bawah ini adalah sebuah doa penyerahan diri dari rahib ini, doa mana menunjukkan betapa tinggi devosi rahib Kartusian ini kepada Hati Kudus Yesus.

Dikau memerintahkanku untuk mengasihi Dikau, O Allahku, yang adalah kasih itu sendiri dan pantas dikasihi tanpa batas; dan aku mau melakukan hal itu agar dapat menanggapi kasih-Mu yang sangat besar bagiku. Tetapi bagaimana aku dapat cukup mengasihi-Mu? Aku tidak mampu melakukannya. Engkau begitu mengasihi dengan kasih-Mu yang Dikau berikan kepadaku untuk mengasihi dengan segenap hatiku, dengan segenap jiwaku, dan dengan segenap kekuatanku. Dan, sesungguhnya, Dikau telah memberikan kepadaku sarana-sarana guna memenuhi itu melalui Putera-Mu yang tunggal, kekal seperti Dikau sendiri, dan dalam segala hal sama dengan Dikau. Lalu aku akan mengasihi Dikau, O Allahku, melalui Hati Putera-Mu, yang kumiliki; dan karena Hati ini dapat mengasihi-Mu secara tak terbatas, maka melalui Hati itulah aku akan mengasihi Dikau seperti Dikau pantas menerimanya [Prayers to the SACRED HEART,  hal. 27].

Dom Anthony de Molina (c. 1605). Ada lagi seorang rahib Kartusian lain yang pantas untuk dikedepankan, yaitu Dom Anthony de Molina. Berikut ini adalah doanya yang menunjukkan dengan jelas cinta kasihnya kepada Hati Kudus Yesus dan Bunda Maria.

O Yesus, Juruselamatku, betapa besar aku berhutang kepada-Mu karena Dikau memperkenankan lambung-Mu dibuka dengan sebatang tombak, bahwa di dalam lubuk hati-Mu kami dapat melihat cinta kasih-Mu yang agung bagi kami, dan yang telah memperkenankan Tubuh-Mu yang suci, ketika diturunkan dari Salib, diletakkan pada tangan-tangan Ibunda-Mu yang terberkati, yang menerima Tubuh-Mu dengan banjir air mata dan dengan hati yang patah dan tertikam dengan kesedihan yang paling pahit. Aku mohon kepada-Mu, O Tuhan, untuk menikam hatiku dengan sebuah luka cinta yang sejati, untuk membersihkan jiwaku dari segala noda dengan air yang keluar dari lambung-Mu, dan untuk menyembuhkan kelemahan-kelemahan dengan obat dari Darah-Mu. Berikanlah kepadaku rahmat untuk ikut ambil bagian dalam kepedihan-kepedihan Ibunda-Mu pada waktu Sengsara dan  kematian-Mu. Buatlah aku menjadi seorang dari pelayan-pelayannya yang setia dan berdedikasi, agar dia dapat menempatkanku di bawah perlindungannya dan menolongku dalam pencobaan-pencobaan dan keperluan-keperluanku, teristimewa pada jam kematianku (Prayers to the SACRED HEART, hal. 15-16).

CATATAN: Kutipan-kutipan di atas baiklah digunakan oleh pembaca yang mau mendalami devosinya kepada Hati Kudus Yesus. Tidaklah salah samasekali kalau kita belajar dari para pendahulu kita.

(Bersambung)


[1] Tahun-tahun ini adalah seturut catatan yang ada dalam OUR SUNDAY VISITOR’S ENCYCLOPEDIA OF CATHOLIC HISTORY [MB, hal. 481, 741] yang berbeda dengan catatan dalam buku 365 SAINTS, yaitu 1343-1423  [hal. May 8].

PERKEMBANGAN DEVOSI KEPADA HATI KUDUS YESUS DARI ABAD KE ABAD (7)

PERKEMBANGAN DEVOSI KEPADA HATI KUDUS YESUS DARI ABAD KE ABAD (7)

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ABAD KE EMPAT BELAS SAMPAI DENGAN AWAL ABAD KE LIMA BELAS

Dictionary of Catholic Devotions mencatat bahwa hanya ada satu doa resmi Hati Kudus Yesus yang berasal dari abad keempat belas, meskipun terdapat banyak doa yang bersifat lokal atau privat. Barangkali di bawah pengaruh tulisan tentang hidup Kristus yang ditulis oleh Ludolph dari Ordo Kartusian, yang secara istimewa menyebut Hati Kristus, maka devosi kepada Hati Kristus mulai menyebar khusus di kalangan para penulis dari Ordo Kartusian [hal. 226]. Tetapi sebelum menyoroti Ludolph dari Saxony, marilah kita secara singkat membahas Santa Birgitta dari Swedia, karena sejarah Gereja abad ke 14 tidak lengkap tanpa menyinggung orang kudus dari Swedia ini.

Santa Birgitta dari Swedia (c. 1301-1373). Birgitta (Birgida) adalah seorang mistikus dan kemudian menjadi pendiri ordo religius dan orang kudus pelindung Swedia. Puteri seorang gubernur dan suami dari Ulf Gudmarsson, Birgitta adalah seorang ibu dari 8 (delapan) orang anak, termasuk seorang puteri yang kelak menjadi seorang kudus Gereja pula, yaitu, Santa Katarina dari Swedia (1332-1380). Tahun 1341-1343 suami istri Gudmarsson berziarah ke Compostela. Dalam perjalanan pulang, mereka mampir dan Ulf kemudian menetap di sebuah biara Cistercian sendiri memilih untuk menghayati hidup religius di sebuah biara yang terletak dekat biara Cistercian tadi. Dalam biara inilah dia mendiktekan kepada Petrus Olafsson penglihatan-penglihatan dan pesan-pesan ilahi yang diterimanya dari Yesus, untuk kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Salah satu perintah yang diterimanya dari Yesus adalah untuk mendirikan sebuah ordo religius. Marilah kita renungkan petikan-petikan dari tulisan Santa Birgitta:

Terpujilah Dikau selamanya, Tuhanku Yesus Kristus, yang untuk setiap jam di atas kayu salib, Dikau memikul kepedihan-kepedihan dan ekstrimitas bagi kami para pendosa. Sakit luarbiasa dari luka-luka-Mu meresapi pikiran-Mu yang terpuji dan dengan kejam menikam Hati-Mu yang terkudus sampai Hati-Mu itu tercabik, dan Dikau dengan bahagia menyerahkan nyawa(roh)-Mu. Dengan kepala terkulai ke bawah, Dikau dengan rendah hati mempercayakan diri-Mu ke dalam tangan-tangan Allah Bapa-Mu dan tubuh-Mu tergantung dingin dalam kematian. Terpujilah Dikau, Tuhanku Yesus Kristus, yang oleh darah-Mu yang berharga (mulia) dan kematian-Mu yang paling suci menebus jiwa-jiwa dan dengan penuh belaskasih memimpin mereka dari pembuangan ke dalam hidup kekal. Terpujilah Dikau, Tuhanku Yesus Kristus, yang untuk keselamatan kami memperkenankan Hati-Mu dan lambung-Mu ditikam tombak dan dari sana keluarlah darah-Mu yang mulia bersama dengan air untuk menebus kami [The Saviour’s Heart, no. 6, hal. 19-20].

O Yesus!  Putera tunggal Bapa, Kemegahan dan Tokoh dari Substansi-Nya, ingatlah rekomendasi yang sederhana dan rendah hati yang Dikau buat untuk jiwa-Mu kepada Bapa-Mu yang kekal, dengan berkata, “Ya Bapa, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku”, dan ketika, tubuh-Mu seluruhnya dirobek dan Hati-Mu dipatahkan dan isi perut kerahiman-Mu terbuka untuk menebus kami, Dikau pun wafat. Oleh kematian yang berharga ini, aku mohon kepada-Mu, O Raja Para Kudus, untuk menghiburku dan menolongku melawan setan, daging, dan dunia, dengan demikian, dengan mati terhadap dunia aku dapat hidup untuk Dikau semata-mata. Aku mohon agar Dikau menerima aku pada jam kematianku, seorang peziarah dan seorang pembuangan, untuk kembali kepada-Mu. Amin [The Magnificent Prayers of Saint Bridget of Sweden, Fourteeenth Prayer, hal. 19].

Ludolph dari Saxony (c. 1295-1378). Ludolph adalah seorang rahib Kartusian. Ordo Kartusian (O.Cart.) adalah sebuah ordo laki-laki dan perempuan yang kehidupan rohaninya menekankan keheningan dalam mencari Allah dalam konteks komunitas monastik. Ordo ini didirikan pada tahun 1084 oleh Santo Bruno (+ 1101). Sejak pendiriannya, ordo ini dikenal sebagai yang paling ketat dan paling kontemplatif dalam Gereja. Ludolph adalah seorang penulis rohani. Tidak banyak informasi yang tersedia mengenai masa kecil Ludolph, bahkan tempat kelahirannya pun tidak jelas, meskipun ada embel-embel ‘dari Saxony’ di belakang namanya. Sesuai sebuah cerita yang berasal pada abad ke 16, Ludolph mula-mula masuk ordo Dominikan dan kemudian, di tahun 1340 bergabung dengan rahib-rahib Kartusian di Strasbourg. Pada tahun 1343 Ludolph diangkat menjadi prior (kepala) dari biara di Coblenz dan mengundurkan diri lima tahun kemudian. Sisa hidupnya dijalaninya sebagai seorang rahib biasa yang juga penulis rohani. Ludolph pernah salah ditebak sebagai pengarang buku renungan yang terkenal berjudul Mengikuti Jejak Kristus. Dua karya tulis Ludolph yang penting, yaitu Sebuah Komentar (Tafsir) atas Mazmur-mazmur dan Vita Christi yang terjemahannya adalah Hidup Kristus. Namun buku yang disebutkan belakangan ini bukanlah sebuah riwayat hidup Yesus Kristus, melainkan serangkaian disertasi atau meditasi atas hidup Kristus, dari kelahiran kekal dalam Bapa sampai pada Kenaikan-Nya ke surga [lihat MB, hal. 519-520]. Berikut ini adalah sebuah petikan dari tulisan Ludoph sang Kartusian ini:

Oleh karena itu, marilah kita masukkan dalam pikiran kita cinta kasih yang sangat besar yang telah ditunjukkan oleh Yesus kepada kita dengan memperkenankan lambung-Nya dibuka lebar agar memudahkan kita memperoleh akses kepada Hati-Nya. Marilah kita bergegas masuk ke dalam Hati Yesus dengan membawa semua cinta kita dan menyatukan cinta kita itu dengan cinta ilahi-Nya.

Kumohon kepada-Mu, lukailah hatiku dengan tombak cinta-Mu agar aku dapat menerima – dengan disposisi baik – Sakramen-sakramen yang mengalir keluar dari lambung-Mu yang tersuci. Dengan membuka Hati-Mu Dikau membiarkan pintu kehidupan kekal-abadi menjadi sedikit terbuka; dan Dikau, ya Tuhanku, adalah pintu itu, lewat mana orang-orang benar akan masuk [The Saviour’s Heart, no.74, hal. 80]. 

Para Dominikan dan Dominikanes

Setelah Santo Albertus Agung yang sudah diceritakan di atas, pada paruhan kedua abad ke 13 sampai dengan abad ke-14 ada tiga mistikus anggota Ordo Pengkhotbah yang perlu dikedepankan, yaitu Meister Eckhart (1260-1327), Yohanes Tauler (1300-1361)[1] dan Henri Suso (1295-1366). Mereka adalah tokoh-tokoh devosi kepada Hati Kudus Yesus. Sengsara Yesus khususnya dilihat mereka sebagai tanda cinta kasih-Nya. Kesatuan dengan Kristus berarti kesatuan dengan Hati-Nya [lihat Tom Jacobs SJ, hal. 35].

Beato Henri Suso OP. Marilah kita bersama-sama  merenungkan beberapa petikan tulisan Beato Henri Suso:

Tidak saja Dikau menderita kematian demi aku tetapi juga mencari apa saja yang paling terdalam dari kasih, apa saja yang paling intim dan tersembunyi, di dalamnya penderitaan dapat atau boleh dialami.  Dikau sungguh melakukan itu – seakan-akan Dikau telah berkata,

Lihatlah, semua hati, apakah pernah ada suatu Hati yang begitu penuh dengan kasih. Pandanglah segala bagian tubuh-Ku; bagian tubuh paling mulia yang kumiliki adalah Hati-Ku.  Hati-Ku ini telah Ku-izinkan ditikam, untuk dibunuh dan ditelan serta memar-memar menjadi potongan-potongan kecil sehingga tidak ada dalam diriku atau atas diriku yang tidak dilimpahi potongan-potongan kecil itu –dengan demikian kamu dapat mengenal cinta kasih-Ku [The Saviour’s Heart, no. 38, hal. 45-46].

Kamu harus tempatkan dirimu sendiri pada bagian terbuka di dalam Hati-Ku yang terluka demi cinta, dan berdiam di sana, dan mencari tempat peristirahatan di sana. Lalu Aku akan mencucimu dengan air kehidupan dan mendandanimu berpakaian warna merah lembayung dengan darah-Ku yang mulia [The Saviour’s Heart, no. 45, hal. 49-50].

Dan pada saat Aku telah menyelesaikan pekerjaan penebusan umat manusia, Aku berseru, selesailah sudah. Aku sepenuhnya taat kepada Bapa-Ku, bahkan sampai mati. Kuserahkan nyawa-Ku ke dalam tangan-Nya sambil berkata, ke dalam tangan-Mu Kuserahkan nyawa-Ku. Kemudian jiwa-Ku yang mulia melepaskan diri dari tubuh-Ku, namun keduanya tetap tak terpisahkan dari keilahian-Ku. Setelah ini sebatang tombak tajam ditikamkan ke lambung-Ku. Dengan segera suatu aliran darah mulia memancar ke luar, dan dengan itu sebuah sumber air yang hidup. Lihatlah, anak-Ku, dalam suatu ekstrimitas yang patut dikasihani seperti ini Aku menebusmu dan semua orang terpilih, dan menyelamatkanmu dari kematian kekal, oleh kurban hidup dari darah-Ku yang tak bersalah [The Saviour’s Heart,  no. 47, hal. 54-55].

Tuhan yang lemah lembut, tubuh-Mu yang tumbuh subur menjadi merana dan bertambah buruk di atas kayu salib, punggung-Mu yang letih dan lemah bersandar tak nyaman pada batang kayu yanag keras, tubuh-Mu yang besar dan berat dengan penuh kesakitan mengalah, semua bagian tubuh-Mu ditutupi luka-luka dan Hati-Mu memikul semuanya itu dengan penuh cinta kasih. Tuhan, semoga perlakuan yang meremukkan-Mu selamanya menjadi suatu penyuburan kembali bagi diriku, ketidaknyamanan bersandar-Mu menjadi tempat peristirahatan spiritualku, sifat mengalah-Mu menjadi dukungan penuh kekuatan bagiku. Semua luka-Mu harus menyembuhkan luka-lukaku dan Hati-Mu yang penuh cinta kasih membakar hatiku dengan penuh kegairahan [The Saviour’s Heart,  no. 56, hal. 63].

Ah, Tuhanku, ingatlah bagaimana tombak yang tajam ditikamkan ke dalam lambung-Mu yang ilahi, bagaimana darah yang berwarna merah lembayung mengalir ke luar, bagaimana air hidup memancar ke luar, dengan kerja keras-Mu yang dipenuhi kepahitan Dikau mengumpulkan aku dan betapa bermurah hati Dikau menebus aku. Tuhan yang terkasih, semoga luka-luka-Mu yang dalam melindungi aku dari semua musuhku, air hidup-Mu membersihkan aku dari segala dosaku, darah-Mu yang berwarna merah bak bunga mawar menghiasi diriku dengan segala rahmat dan keutamaan. Tuhan yang lemah lembut, semoga hadiah yang telah dimenangkan oleh-Mu dengan begitu pahit mengikat aku kepada-Mu, tebusan yang telah Dikau bayar dengan begitu bebas mempersatukan aku dengan-Mu secara kekal-abadi [The Saviour’s Heart, no. 57, hal. 64].

Para suster Dominikanes abad 14 juga menjalankan devosi  besar kepada Hati Kudus Yesus, khususnya karena renungan atas kisah Yoh 19:34. Dalam hal ini secara khusus haruslah disebut nama Santa Katarina dari Siena, seorang anggota Ordo Ketiga Dominikan, yang boleh memberikan hatinya sendiri kepada Hati Yesus dan hidup bersatu dengan-Nya [Tom Jacobs SJ, hal. 35].

Santa Katarina dari Siena (1347-1380). Dari tulisan saya yang berjudul “Kartini-Kartini dalam Gereja” (MediaPASS Edisi April 2009) pembaca pasti masih mengingat, bahwa Santa Katarina dari Siena adalah seorang dari dua orang perempuan yang bergelar Pujangga Gereja. Dalam tulisan itu juga sudah diuraikan mengenai orang kudus ini, sehingga tidak perlulah untuk berpanjang lebar bercerita mengenai dirinya..

Katarina adalah seorang mistikus dan Allah/Yesus sering ‘berbicara’ dengan dirinya. Berikut ini adalah beberapa kutipan yang berkaitan dengan relasinya dengan Hati Kudus Yesus:

Di mana jiwa mengetahui hal ini, martabatnya – diadoni dan disatukan dengan darah Anak Domba, menerima rahmat Baptisan suci karena darah? Pada lambung – di mana dia mengetahui api cinta kasih ilahi. Jadi, kalau engkau mengingatnya dengan baik, Kebenaran-Ku yang dimanifestasikan kepadamu ketika engkau bertanya: ‘Anak Domba yang manis dan tak bernoda, Engkau sudah wafat  ketika lambung-Mu dibuka (catatan: ditikam tombak). Jadi, mengapa Engkau mau ditikam dan membiarkan Hati-Mu dibelah?’  Dan Ia menjawab kamu, mengatakan kepadamu bahwa ada cukup alasan untuk itu; tetapi bagian utama alasan itu akan Kukatakan kepadamu. Ia berkata,

…………… Aku telah menyelesaikan kerja sesungguhnya menanggung sakit dan siksaan, namun Aku tidak dapat menunjukkannya dengan hal-hal yang terhingga, karena cinta kasih-Ku adalah tak terhingga, betapa lebih banyak lagi cinta kasih yang Kumiliki, Aku ingin kamu melihat rahasia Hati itu, menunjukkannya kepadamu dalam keadaan terbuka agar kamu dapat melihat bagaimana lebih banyak lagi Aku mengasihi daripada yang dapat Kutunjukkan dengan sakit yang terhingga. Aku mencurahkan dari situ darah dan air, untuk menunjukkan kepadamu baptisan air yang diterima atas dasar darah [The Saviour’s Heart,  no. 31, hal. 40-41].

Kaki-kaki yang ditikam ini adalah langkah-langkah yang memampukanmu sampai pada lambung-Nya yang memanifestasikan kepadamu rahasia-rahasia Hati-Nya; karena jiwa, yang bangkit di atas langkah-langkah afeksinya, mulai mencicipi cinta-kasih Hati-Nya, seraya dengan mata intelek dia (catatan: jiwa itu) memandang ke dalam Hati Putera-Ku yang terbuka dan menemukan Hati itu ditelan dengan cinta kasih yang tak terlukiskan. Aku mengatakan ditelan, karena Dia tidak mengasihimu demi keuntungan-Nya sendiri karena kamu tidak dapat menjadi keuntungan bagi-Nya, Dia yang satu dan sama dengan Aku. Maka jiwa yang dipenuhi dengan cinta kasih, melihat dirinya begitu banyak dikasihi [The Saviour’s Heart,  no. 22, hal. 32].

Santa Katarina dari Sienna memang seorang mistikus yang mendalam. Petikan di atas merupakan salah satu bukti bahwa orang kudus ini penuh dengan banyak pengalaman spiritual semasa hidupnya. Dia juga seorang penerima stigmata, suatu stigmata yang tak terlihat dengan mata [The Saviour’s Heart, hal. 178-179].

(Berambung)

 


[1] Sekadar untuk informasi tambahan bagi para pembaca: Pencetus reformasi (protestan) Martin Luther adalah seorang mantan imam tarekat O.S.A. Luther sangat menghargai khotbah-khotbah Pater Johannes Tauler, O.P. dan karena pandangan-pandangannya tidak berada di jalur mainstream pada zamannya, maka Tauler dinilai sebagai pendahulu dari Luther; cuma perbedaannya adalah, bahwa Tauler tetap setia kepada Gereja Katolik [MB, hal. 813].

PERKEMBANGAN DEVOSI KEPADA HATI KUDUS YESUS DARI ABAD KE ABAD (6)

PERKEMBANGAN DEVOSI KEPADA HATI KUDUS YESUS DARI ABAD KE ABAD (6)

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Di bawah ini, secara berturut-turut akan diceritakan secara singkat apa yang perlu kita ketahui tentang tiga orang ‘srikandi’ Helfta tersebut, sedikitnya untuk mengetahui secara sekilas kehidupan spiritual mereka masing-masing.

Santa Mechtilde dari Magdeburg (1207-1282).[1] Mechtilde (Mechtild atau Mechtildis) berasal dari keluarga bangsawan Jerman, berpendidikan tinggi. Dia pertama kali disentuh Roh Kudus ketika baru berusia dua belas tahun. Ketika berumur dua puluh tahun dia meninggalkan keluarganya dan bergabung dengan orang-orang Beguin, yaitu sekelompok perempuan suci yang terdiri dari para janda dan yang tidak menikah, yang hidup bersama tanpa kaul. Para Beguin membaktikan hidup mereka sepenuhnya untuk doa dan karya-karya karitatif.

Atas perintah bapak pengakuannya, Mechtilde mulai menulis pengalaman-pengalaman mistiknya yang kemudian dibukukan dengan judul Terang Allah yang Berlimpah-ruah. Buku ini berisikan pewahyuan-pewahyuan indah yang ditulis dengan nada puji-pujian penuh sukacita. Akan tetapi seorang mistikus seperti Mechtilde juga sempat melontarkan kritik-kritik terhadap kelemahan-kelemahan Gereja pada waktu itu, sehingga meresahkan dan menggusarkan mereka yang terkena. Pada tahun 1270, ketika melarikan diri dari musuh-musuhnya yang marah karena kritik-kritiknya, Mechtilde masuk ke biara di Helfta dan kemudian menjadi anggota komunitas suster-suster di sana.

Mechtilde menulis bahwa Allah menjadi begitu riil baginya pada waktu dia masih seorang gadis muda sehingga dia tidak dapat pernah menyerahkan diri kepada jenis dosa apa pun, karena begitu besar kasih Allah dalam hatinya. Dia berumur panjang dan hidupnya penuh berbuah. Pada hari tuanya Mechtilde mengalami penurunan dalam kesehatan fisiknya dan akhirnya menjadi buta.

Satu petikan dari tulisan Santa Mechtilde: “Keilahian-Nya tidak pernah asing bagiku. Karena selalu dan tanpa adanya belenggu, aku merasakannya pada setiap anggota tubuhku. … Sejatinya, jiwa berasal dari Hati Allah dan harus kembali ke sana” [Treasury of Women Saints, hal. 262].

Santa Mechtilde dari Helfta (1241-1298). Orang yang dikenal sebagai Mechtilde dari biara Helfta berasal dari Hackeborn. Dia adalah guru dan sahabat dari orang kudus yang akan menyusul, yaitu Santa Gertrude. Mechtilde adalah seorang mistikus dan sangat berdevosi kepada Hati Kudus Yesus. Tentang Mechtilde ini, muridnya itu mengatakan: “Belum pernah seorang pun menyerupai dia dalam biara kami, dan mungkin tak pernah akan ada”   [A. Heuken SJ, hal. 135]. Baiklah kita mengutip beberapa bagian dari tulisan Mechtilde dari Helfta:

Tuhan, sebagai silih atas semua kelalaianku, aku memberi hormat kepada Hati-Mu dalam segala kebaikan ilahi-Nya, karena Hati-Mu itu adalah sumber dari segala yang baik. Aku memberi hormat kepada Hati-Mu dalam kelimpahan rahmat yang telah, sedang, dan akan dicurahkan ke atas semua orang kudus dan atas semua jiwa orang-orang benar. Aku memberi hormat kepada banjir kemanisan yang memancar keluar dari Hati-Mu yang paling berbelaskasih, dan yang sering mengalir, dicurahkan ke dalam hatiku untuk memabukkannya dari semburan kesukaan-kesukaan ilahi-Mu [The Saviour’s Heart, no. 16, hal. 27].

O Sahabat manis di atas segala sahabat, rasa terima kasih yang bagaimana harus kutunjukkan kepada-Mu untuk luka cinta yang  demi keselamatan manusia Kauterima di atas kayu salib, ketika cinta kasih yang tak terkalahkan membuka Hati-Mu yang termanis dengan tikaman sebatang tombak, Hati cinta kasih-Mu yang demi kesembuhan kami, daripadanya mengalir keluar darah dan air. Pada saat itulah, dikalahkan oleh keagungan cinta kasih-Mu kepada kami, Dikau mati suatu kematian cinta (catatan: mengalami kematian demi cinta). Kekasih hatiku yang tunggal, sudilah kiranya menguburkan diri-Mu di dalam aku dan ikatlah aku sehingga tak terpisakan daripada-Mu [The Saviour’s Heart, no. 17, hal. 28].

Aku memuji, aku meluhurkan, aku memuliakan dan memberi hormat kepada Hati-Mu, O Yesus Kristus yang paling manis dan paling baik, Pencinta setia jiwaku. Aku berterima kasih kepada-Mu karena telah menjaga dan melindungiku dengan ketat selama malam ini. Sebagai balasannya, O Sahabatku di atas segala sahabat, aku mempersembahkan kepada-Mu hatiku, seperti sekuntum bunga mawar yang baru mekar, yang semoga keindahannya sepanjang hari menyenangkan mata-Mu dan keharumannya dapat menyenangkan Hati ilahi-Mu [The Saviour’s Heart, no. 24, hal. 33-34].

Tuhan, bersihkan dan murnikanlah hatiku dalam kasih Hati ilahi-Mu. Tuhan, berikanlah kepadaku Hati-Mu sebagai sebuah tempat pengungsianku. Semoga pada jam kematianku, tidak ada lorong lain menuju tempat peristirahatan-kekalku yang terbuka di hadapanku selain Hati-Mu. Tuhan, semoga keilahian-Mu memberkatiku, kemanusiaan-Mu menguatkan aku, kelembutan-Mu mengobarkan aku, dan cinta kasih-Mu melindungi aku [The Saviour’s Heart, no. 32, hal. 41-42].

Aku memuji Dikau, O Cinta kasih yang paling kuat; aku meluhurkan Dikau, O Cinta kasih yang paling bijaksana; aku memuliakan Dikau, O Cinta kasih yang paling menyenangkan; aku mengagungkan Dikau, O Cinta kasih yang maharahim – dalam semua dan melalui semua efek baik yang telah ditempa dalam diri kami oleh keilahian-Mu yang termulia dan kemanusiaan-Mu yang terpuji. Aku memuji, meluhurkan dan memuliakan Dikau melalui alat-Mu yang paling mulia, Hati-Mu, untuk semua hal baik dan untuk semua yang akan diwariskannya ke abad ke abad mendatang. Amin. [The Saviour’s Heart, no. 28, hal. 39].

Dengan demikian, ini adalah rancangan penuh kerahiman dari Yesus dalam menghasrati agar kita melihat Hati-Nya yang mengenakan lencana sengsara-Nya dan berkobar-kobar dengan cinta – bahwa setelah belajar dari situ tentang kejahatan tak terbatas dari dosa, kita menjadi terpesona dan dalam diri kita pun timbul rasa hormat luar biasa terhadap cinta kasih tak terbatas dari Juruselamat kita, membenci dosa secara lebih berapi-api lagi, dan membalas cinta kasih-Nya dengan mengasihi-Nya lebih bergairah lagi. [The Saviour’s Heart, no. 41, hal. 47].

Kita lihat dari petikan-petikan ini betapa mendalam devosi Santa Mechtilde dari Hefta kepada Hati Kudus Yesus. Di samping itu, petikan-petikan tersebut sangat memiliki manfaat rohani, sehingga pantas untuk dibawa ke dalam permenungan-permenungan kita dalam rangka mendalami devosi kita kepada Hati Kudus Yesus.

Santa Gertrude (1256-1302). Devosi kepada Hati Kudus Yesus, dalam arti devosi kepada Kristus di mana Hati-Nya dimengerti sebagai sebuah lambang cinta kasih-Nya kepada umat manusia, untuk pertama kali secara eksplisit muncul pada abad ke tiga belas, khususnya dalam tulisan-tulisan yang menceritakan penampakan-penampakan kepada Santa Gertrude (Gertrud, Gertrudis), juga dari biara di Helfta, Saxony, Jerman Utara.

Gertrude mengalami penampakan Kristus pada waktu dia berumur dua puluh tahun. Sejak saat itu dia mencurahkan segala jiwa raga pada hidup kontemplatif karena baginya segala daya tarik pengetahuan duniawi sudah terkubur dalam-dalam. Gertrude mencurahkan seluruh perhatiannya pada Kitab Suci, karya para pujangga Gereja dan perayaan ibadat. Hidup Gertrude dipenuhi berbagai pengalaman rohani yang berturut-turut dikaruniakan Tuhan kepadanya. Banyak diantaranya dapat dibaca dalam kumpulan karangan, yang sebagian ditulis berdasarkan catatan, diktat dan hasil tulisan Gertrude sendiri. Buku ini banyak memberikan sumbangan kepada  kehidupan rohani di Abad Pertengahan. Buah pena itu amat menarik. Sebab, orang akan melihat bagaimana Gertrude merintis penghormatan kepada Hati Kudus Yesus, yang sekarang ini sangat merata dan lazim dilakukan oleh umat Katolik di mana-mana. Itulah sebabnya kadang-kadang orang kudus ini diberi gelar atau dijuluki “Gertrude Agung”. Ada sebuah doa orang kudus ini yang didoakan pada waktu baru bangun tidur, yang tentunya dapat kita doakan juga:

Aku menyembah, memuji dan memberi hormat kepada-Mu, O Hati Yesus Kristus yang termanis. Aku berterima kasih kepada-Mu karena Dikau telah memeliharaku sepanjang malam tadi, dan telah mempersembahkan puji-pujian dan syukur kepada Allah Bapa atas namaku. Dan, sekarang aku mempersembahkan kepada-Mu hatiku sebagai sebuah kurban persembahan di pagi hari; aku menaruhnya dalam Hati-Mu yang paling lembut dan mempercayakannya ke dalam pemeliharaan-Mu; semoga Dikau berkenan mencurahkan ke dalamnya inspirasi ilahi-Mu, dan untuk mengobarkannya dengan cinta kasih ilahi-Mu [Prayers to the SACRED HEART, hal. 39].

Lihatlah beberapa petikan lagi dari tulisannya yang sangat jelas menunjukkan besarnya cinta kasih dan penghormatan orang kudus ini kepada Hati Kudus Yesus:

Berkatilah aku, Yesus yang paling lemah lembut, berkatilah aku dan kasihanilah aku sesuai dengan karunia Hati-Mu yang paling lemah lembut [Prayers to SACRED HEART, hal. 26].

Bapa, aku mempersembahkan kepada-Mu Hati Putera-Mu, Harpa yang paling merdu dari Tritunggal yang patut disembah, memintanya, dengan penuh kepercayaan, untuk memperbaiki – sebagai penggantiku –  semua hal yang aku sendiri tidak dapat menebusnya [The Saviour’s Heart, no. 18, hal. 28].

O Yesus, yang selalu berdiri di hadirat Allah Bapa dalam pengantaraan demi keselamatan manusia, kalau aku melalui kelemahan manusiawi telah bersalah dalam hatiku, persembahkanlah atas namaku hati-Mu sendiri yang tanpa dosa, sebagai silih kepada Allah Bapa [The Saviour’s Heart, No. 29, hal. 39-40].

Bapa, aku mempersembahkan kepada-Mu semua yang dialami  oleh Hati terkudus Putera-Mu di atas bumi demi keselamatan umat manusia. Hati itu menelan dirinya sendiri – dalam puji dan syukur serta dalam keluh kesah – permohonan-permohonan dan hasrat-hasrat cinta, sebagai silih atas segala kesenangan duniawi dan kedagingan dan segala hasrat jahat yang sekarang menjerat setiap hati manusia [The Saviour’s Heart, no. 33, hal. 42].

O Guru yang terkasih, oleh Hati-Mu yang tertikam, aku berdoa agar Dikau menikam hatiku dengan anak-anak panah kasih-Mu sehingga hatiku tidak lagi menghargai hal duniawi apa saja, melainkan dipenuhi hanya dengan kuasa Allah, Bapa-Mu [The Saviour’s Heart, no. 34, hal 42-43]

“Tuhan, aku mempersembahkan kepada-Mu airmataku, yang dipersatukan dengan airmata-Mu, dalam puji-pujian kepada Bapa-Mu. Tuhan, dalam segala pencobaanku aku berhasrat untuk datang kepada-Mu dan membuat diriku dekat kepada Hati ilahi-Mu, untuk mencari penghiburanku. Jangan pernah tinggalkan aku! Aku berdoa kepada-Mu, ya Tuhan, demi cinta kasih kepada Hati ilahi-Mu, Engkau yang menanggung sendiri beban-beban semua orang, buatlah aku mampu memikul beratnya kepedihanku sekarang dengan cinta kasih dan rasa penuh syukur. Tuhan, lindungilah aku dalam penderitaanku, tariklah kepada diri-Mu segala kepedihanku, yang dipersatukan dengan sengsara-Mu. Semoga Engkau akan bersamaku sampai nafasku yang terakhir, sehingga pada saat ajalku tiba, nafasku terakhir, O Yesus, dapat kuhembuskan hanya kepada Hati-Mu [The Saviour’s Heart, No. 42, hal. 47-48].

Dalam Michael Walsh, Dictionary of Catholics Devotions terdapat catatan bahwa Gertrude menerima stigmata, dan hatinya ditikam oleh suatu sinar yang datang dari Hati Kristus. Dalam kasus Gertrude dan para suster lain dalam biaranya, devosi kepada Hati Kudus Yesus erat dikaitkan dengan sengsara Kristus, secara khusus kepada luka yang disebabkan oleh tikaman tombak pada lambung-Nya. Setelah Gertrude, sejumlah mistikus dan penulis spiritual lain juga menulis tentang Hati Kristus,  biasanya – namun tidak selalu – mengkaitkannya dengan luka-luka Yesus, dan dengan luka yang disebabkan oleh tikaman tombak pada lambung-Nya, tetapi tanpa mengembangkan secara nyata suatu devosi khusus kepada Hati Kristus itu sendiri [hal. 226].

CATATAN: Petikan tulisan-tulisan dan/atau doa-doa ketiga srikandi dari Helfta di atas pantas dan sangat baik untuk kita gunakan sebagai bahan permenungan. Khususnya dalam hal doa-doa mereka, bahkan dapat dimanfaatkan sebagai doa-doa kita sendiri dalam mengambil langkah-langkah awal untuk menjadi lebih akrab dengan Hati Kudus Yesus.

(Bersambung) 


[1] Tahun kelahiran yang digunakan di sini adalah berdasarkan Ronda De Sola Chervin, Treasury of Women Saints, [hal. 261],  yang sedikit berbeda dengan tulisan dalam tulisan Pater Tom Jacobs, S.J. yang menyebutkan tahun 1212. Tidak ada perbedaan antara kedua tulisan dalam hal tahun kematian orang kudus ini, yaitu tahun 1282 [lihat Tom Jacobs SJ, hal. 34]. Mathew Benson, dalam Our Sunday Visitor’s Encyclopedia of Catholic History  menyebut tahun-tahun yang berbeda lagi, yaitu 1210-c.1285 [hal. 548].

PERKEMBANGAN DEVOSI KEPADA HATI KUDUS YESUS DARI ABAD KE ABAD (5)

PERKEMBANGAN DEVOSI KEPADA HATI KUDUS YESUS DARI ABAD KE ABAD (5)

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Dalam abad ke-13, Santo Bonaventura mulai menghubungkan kebaktian kepada Hati Kudus Yesus dengan sengsara-Nya. Namun sebelum kita menyoroti Santo Bonaventura, ada baiknya terlebih dahulu kita melihat Santo Albertus Agung. 

Santo Albertus Agung (1206-1280). Santo Albertus Magnus atau Albert Agung dari negeri Jerman adalah seorang biarawan Dominikan (O.P.), pengkhotbah ulung, uskup, juru damai dalam pertikaian besar maupun kecil, dan seorang pujangga Gereja dengan  gelar Doctor Universalis. Albertus sangat mencintai Tuhan Yesus dalam komuni kudus. Ia menggubah syair dan madah indah untuk memuji-muji Tuhan Yesus dalam Sakramen Mahakudus dan juga menulis buku yang indah tentang Bunda Maria. Albertus menghasilkan buah pena yang banyak sekali dan praktis meliputi segala cabang ilmu. Dia seperti ensiklopedi berjalan. Hasil karyanya berjumlah lebih dari 50 buku yang tebal-tebal [A. Heuken SJ, hal. 45]. Dia adalah guru dari seorang Dominikan lain, yaitu Santo Thomas Aquinas (1225-1274), teolog besar yang kemudian diangkat menjadi Pujangga Gereja juga. Gereja mengangkat Albertus sebagai pelindung kaum ilmiawan dan mahasiswa. Albertus menulis, bahwa Hati Yesus sudah dilukai oleh kasih-Nya sendiri, sebelum ditikam oleh tombak; dan Yesus terus memperlihatkan Hati-Nya yang terluka itu, supaya kita insyaf akan kasih-Nya [Tom Jacobs SJ, hal. 35].

Santo Bonaventura (1221-1274). Dalam Ensiklopedi Orang Kudus, ada tertulis bahwa “Santo Bonaventura itu bak permata juwitanya Gereja, karena jarang ada orang yang dikaruniai keserasian sedemikian antara pengetahuan dan kesucian dalam dirinya” (A. Heuken SJ, hal. 83). Alkisah, di Italia semasa kecilnya dia menderita sakit parah. Ibunya menggendong anak itu dan bertemu dengan  ‘si kecil miskin’ Fransiskus dari Assisi. Pada pertemuan itu Fransiskus bernubuat, bahwa akan terjadi hal-hal besar pada anak itu. Fransiskus memberikan berkatnya dan berseru, “O bona ventura”, artinya “Betapa baik kejadian ini”. Kata ini kemudian diabadikan sebagai nama anak ini. Ia belajar teologi di Universitas Paris dan kemudian bergabung dengan para Saudara Dina (Ordo Fransiskan) yang didirikan oleh Santo Fransiskus dari Assisi itu. Manakala orang bertanya dari mana Bonaventura mendapatkan kepandaiannya, dia menunjuk salib lalu menjawab: “Dari Dia!” Yesus yang tersalib adalah guru besarnya! 

Pada usia 36 tahun Bonaventura diangkat menjadi Minister Jenderal Ordo Fransiskan. Minister Jenderal yang masih berusia relatif muda ini berjuang keras memperdamaikan para saudara dina yang suka berkonflik satu sama lain karena tafsir yang berbeda-beda atas penghayatan hidup kemiskinan. Dia menerima utusan Paus yang datang khusus untuk memberitahukan pengangkatannya menjadi seorang kardinal ketika dia sedang mencuci piring. Bonaventura terus mencuci piring dan menggantungkan topi kardinal yang baru diterimanya pada dahan pohon. Dia menjadi Uskup-Kardinal dari Albano.

Pada tahun 1274 Bonaventura bersama Thomas Aquinas menghadiri Konsili Lyon. Konsili ini untuk jangka waktu yang relatif singkat berhasil menyatukan kembali Gereja Yunani dan Gereja Latin. Bonaventura mendadak jatuh sakit dan meninggal dunia di tengah berlangsungnya konsili. Ia dimakamkan di Lyon. Seorang pencatat tawarikh tak dikenal memberikan kesannya tentang Romo Kardinal ini: “Seorang yang sangat berpengetahuan dan fasih serta lancar berbicara dan sangat suci, beliau dikenal untuk kebaikan hatinya, mudah didekati orang, kelemah-lembutannya dan belarasanya. Dipenuhi dengan kebajikan, beliau adalah kekasih Allah dan manusia. Pada Misa pemakamannya, banyak orang menangis, karena Tuhan telah memberikan kepadanya rahmat ini, bahwa siapa saja yang mengenal beliau ditarik ke dalam cinta kasih yang mendalam kepadanya”.

Bonaventura dikanonisasikan oleh Paus Sixtus IV pada tahun 1482 dan diangkat menjadi Pujangga Gereja oleh Paus Sixtus V pada tahun 1588 dengan gelar Doctor Seraphicus (Doktor Serafik). Dia adalah pengikut yang baik dari “si kecil miskin” Fransiskus dari Asisi, Bapak Serafik para Fransiskan. Bonaventura juga banyak menulis buku, risalah dan lain sebagainya. Penghormatan Bonaventura kepada Hati Kudus Yesus terutama dapat dilihat dalam dua risalahnya, yaitu Vitis mystica dan De ligno vitae.

Bagi semua anggota keluarga besar Fransiskan, yang terdiri dari Ordo I, Ordo II dan Ordo III regular maupun sekular, keluarga rohani terbesar dalam Gereja Katolik, Santo Bonaventura dipandang sebagai Pendiri Ordo Fransiskan yang kedua, setelah Santo Fransiskus dari Assisi sendiri. Kearifannya dalam berfilsafat, berteologi, dan terutama kehidupan spiritual orang kudus ini merupakan inspirasi yang tak berkesudahan bagi para Fransiskan. Semoga demikian juga dengan para pembaca tulisan ini.

Berikut ini ada beberapa petikan menyangkut Hati Kudus Yesus, yang berasal dari berbagai tulisan orang kudus ini:

Agar supaya dari lambung Kristus, selagi Dia terpaku di kayu salib, Gereja dapat dibentuk dan Kitab Suci digenapi, yaitu yang berbunyi, ‘Mereka akan memandang Dia yang telah mereka tikam’, adalah takdir ilahi bahwa salah seorang serdadu harus membuka lambung suci itu dengan suatu tikaman tombak.

Dalam aliran darah dan air, harga dari penebusan kita dicurahkan, yang ditumpahkan dari sumber tersembunyi di Hati, memberikan kepada Sakramen-sakramen Gereja kekuatan untuk menganugerahkan hidup rahmat, dan bagi mereka yang sudah hidup dalam Kristus, pada dirinya adalah seteguk air dari sumber hidup yang muncul ke dalam hidup kekal. Oleh karena itu, bangkitlah, ya jiwa yang terpikat oleh Kristus. Janganlah berhenti berjaga. Taruhlah di sana mulutmu dan timbalah air dari sumber-sumber Sang Penyelamat [The Saviour’s Heart, no. 4, hal. 17].

Karena sekali kita pernah datang ke Hati Tuhan Yesus yang paling manis (dan ‘baik bagi kita untuk berada di sini’), marilah kita tidak mudah disingkirkan dari Hati itu. O betapa baik dan menyenangkan hidup dalam Hati itu! Hati-Mu, ya Yesus yang baik, adalah harta yang sangat indah, ‘sebutir mutiara yang sangat mahal’, yang kami temukan dalam ladang yang telah dibajak di tubuh-Mu. Siapakah yang hendak membuang mutiara ini? Sebaliknya, aku akan memberikan setiap mutiara yang kumiliki, segala pemikiran-pemikiran dan perasaan-perasaan akan kujual dan membeli bagi diriku sendiri sebutir mutiara ini, memberikan seluruh perhatianku kepada Hati dari Yesus yang baik – dan Hati itu, tak diragukan lagi, akan menopang aku.

Oleh karena itu, Yesusku yang termanis, setelah menemukan Hati-Mu dan hatiku, aku berdoa kepada-Mu, ya Allahku, ‘Izinkanlah doa-doaku masuk ke tempat di mana doa-doa didengar. Sesungguhnya, tariklah aku sepenuhnya ke dalam Hati-Mu’. Karena lambung-Mu ditikam untuk alasan ini – bahwa ada sebuah pintu masuk yang dibuka bagi kami. Untuk alasan ini Hati-Mu terluka – agar kami dapat berdiam di dalamnya, aman dari angin badai yang berkecamuk di luar. Untuk ini juga Hati itu terluka – bahwa melalui luka yang kelihatan kami dapat melihat luka cinta yang tak kelihatan.

Bagaimana cinta kasih ini dibuat menjadi terlihat dengan cara lebih baik daripada dengan cara ini – yaitu bahwa Dia mengizinkan tidak hanya tubuh-Nya, melainkan juga Hati-Nya sendiri untuk dilukai dengan sebatang tombak. Oleh karena itu luka  di dalam daging membuat luka spiritual menjadi terlihat. Siapakah yang tidak akan mencintai Hati yang terluka itu? Siapakah Sang Pencinta yang tidak akan membalas cinta itu? Siapakah yang tidak akan merangkul Dia yang begitu murni? Oleh karena itu, marilah kita, selagi kita masih hidup, mencintai sang Pencinta  sebanyak mungkin, sebagai balasan atas cinta kasih-Nya kepada kita. Marilah kita merangkul Dia yang terluka bagi kita, yang  tangan-tangan-Nya, kaki-kaki-Nya, lambung-Nya dan Hati-Nya digaruk oleh para pembajak yang jahat. Dan marilah kita berdoa semoga Dia akan senang untuk mendesak dengan ikatan cinta kasih-Nya dan melukai dengan anak panah cinta kasih-Nya, hati kita yang masih keras dan belum bertobat [The Saviour’s Heart, no. 5, hal. 18-19].

Karena kita telah sampai kepada Hati Yesus, dan adalah baik bagi kita untuk berdiam di dalamnya, maka janganlah kita cepat-cepat pergi dari situ. … Daud berkata: “Aku telah menemukan hatiku untuk berdoa kepada Allahku”.  Aku juga telah menemukan Hati Tuhan Rajaku, Saudaraku dan Sahabatku, Yesusku yang baik. Dan tidak akankah aku berdoa? Ya, aku akan berdoa. Karena Hati-Nya adalah milikku; dengan berani kukatakan begitu. Hati ini, Yesusku yang termanis, yang adalah milikku dan milik-Mu, telah kutemukan … dan setelah menemukannya, aku akan berdoa kepada Allahku. … O Yesus, yang terindah dari semua yang indah, cucilah aku lebih dan lebih lagi dari perbuatan salahku dan bersihkanlah aku dari dosaku, yang setelah dimurnikan oleh-Mu,  aku dapat mendekati-Mu, Sang Murni, dan dapat menjadi pantas untuk berdiam di dalam Hati-Mu sepanjang hidupku, sehingga aku dapat melihat dan melakukan kehendak-Mu. Untuk tujuan inilah lambung-Mu ditikam tombak, sehingga ada celah yang terbuka bagi kami. … Mengapa Engkau dilukai lagi? Agar melalui luka yang kelihatan kami dapat melihat luka cinta yang tak kelihatan. … Siapakah yang tidak akan mencintai Hati yang terlukai ini? Siapa yang tidak membalas cinta kasih dengan cinta kepada-Nya yang telah mengasihi dengan begitu baiknya? Amin. [Prayers to the Sacred Heart, hal. 32-33].

‘Kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih supaya tidak ada yang terbuang’ (Yoh 6:12). Lihatlah di bagian mana dari tubuh-Nya Dia menderita, kemudian kumpulkan tiga fragmen sesuai dengan dimensi-lapis-tiga diri-Nya dalam tubuh itu – yakni panjangnya, lebarnya dan kedalamannya. Dari panjangnya kumpulkan semua yang diderita-Nya dari kepala sampai ke kaki-Nya. Bernardus mengatakan, ‘Lihatlah dari tapak kaki sampai ke ujung kepala-Nya: di mana-mana kesedihan; di mana-mana sakit’. Pertimbangkanlah gerakan tubuh itu, dari kanan ke kiri, dan kemudian kumpulkan semua yang diderita-Nya pada tangan-tangan-Nya, lengan-lengan-Nya dan pundak-pundak-Nya – tembusan-tembusan paku, perenggangan tubuh, penelanjangan, penyiksaan-penyiksaan. Dalam kedalaman tubuh, pertimbangkanlah betapa dalam paku-paku dan tombak masuk ke dalam tubuh; pertimbangkanlah dari tempat dalam yang mana darah dan air mengalir ke luar. Bernardus berkata, ‘O dengan pelukan begitu bergairah Engkau merangkul aku di kayu salib, Yesus yang baik, ketika darah memancar keluar dari Hati-Mu, air dari lambung-Mu, jiwa dari tubuh-Mu’  [The Saviour’s Heart, no. 7, hal. 20-21).

Di atas dikatakan, bahwa Bonaventura mulai menghubungkan devosi kepada Hati Kudus Yesus dengan sengsara-Nya. Renungan sengsara mempersatukan orang dengan Hati Yesus. Tidak lagi disebut luka lambung, melainkan luka Hati. Hati Yesus ditusuk tombak. Luka Hati memperlihatkan luka jiwa. Menurut Pater Tom Jacobs SJ, kelihatan sekali bahwa renungan tetap terpusat pada peristiwa salib, seperti digambarkan dalam Yoh 19:34. Tetapi semakin ditekankan bahwa Hati Yesus sendiri merupakan pusat kasih-Nya. Hal itu menjadi bahan kontemplasi mistik dalam biara para suster Cistercian di Helfta di Jerman. Ada tiga orang tokoh yang harus disebut, yaitu Santa Mechtilde dari Magdeburg, Santa Mechtilde dari Helfta dan Santa Gertrude. Ketiga orang kudus ini dikaruniai rahmat mistik untuk benar-benar melihat luka Hati Yesus, yang menyatakan penderitaan batin Yesus. Darah yang mengalir dari Hati Yesus menebus umat manusia dari dosanya. Tetapi luka Hati-Nya itu sekaligus mewahyukan kepada kita cinta kasih-Nya yang tak terhingga. Hati Yesus yang terluka adalah lambang kasih-Nya yang diberikan kepada manusia. Oleh karena itu bagi para suster di biara Helfta, Hati Yesus menjadi sumber kehidupan dan penghiburan. Hati Yesus mulai dikenal sebagai wadah kasih. Devosi kepada Hati Kudus Yesus menjadi sarana untuk hidup menyatu dengan Tuhan Yesus. Patut dicatat bahwa pembaharuan dan perkembangan devosi kepada Hati Kudus Yesus di biara Helfta sebetulnya berasal dari pengaruh para imam Dominikan.[1] Dengan demikian jelaslah bahwa oleh kegiatan mereka Hati Yesus mulai dihormati dan dicintai di banyak tempat yang lain juga di Jerman Selatan (Tom Jacobs SJ, hal. 34-35].

(Bersambung)

 


[1] Ordo Pengkhotbah (Latin: Ordo Praedicatorum; O.P.) ini didirikan oleh Santo Dominikus, tergolong ordo mendikan atau ordo pengemis (Inggris: Mendicant Orders), seperti juga tiga Ordo I Fransiskan (O.F.M., O.F.M.Conv. dan O.F.M.Cap.), dua Ordo I Karmelit (O.Carm. dan O.C.D.), disusul oleh Ordo Agustinian (O.S.A.). Kata mendikan ini berasal dari kata Latin medicare yang berarti mengemis. Anggota ordo-ordo pengemis disebut Fra (Italia) atau Friar (Inggris) dari kata Latin: Frater, atau Saudara dalam bahasa Indonesia yang mau menunjukkan bahwa mereka dekat dengan rakyat kecil dan kerendahan status sosial-ekonomi mereka.

PERKEMBANGAN DEVOSI KEPADA HATI KUDUS YESUS DARI ABAD KE ABAD (4)

PERKEMBANGAN DEVOSI KEPADA HATI KUDUS YESUS DARI ABAD KE ABAD (4)

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

William dari Thierry (c.1085-1148). William dari Thierry adalah seorang filsuf skolastik, teolog dan mistikus. Dia lahir di Liège dalam keluarga bangsawan. Dia bergabung dengan Ordo Benediktin (O.S.B.) di biara S. Nicasius di Reims dan dipilih menjadi abbas biara S. Nicholas-aux-Bois[1] pada tahun 1119 untuk menggantikan saudara laki-lakinya Simon. William memiliki kecenderungan pribadi untuk hidup kontemplatif. William menerima keputusan untuk dirinya dipilih menjadi abbas dan tetap di jabatan itu untuk beberapa tahun lamanya, terutama karena pengaruh sahabatnya yang baik, Santo Bernardus dari Clairvaux, yang menasihati William untuk melanjutkan pekerjaannya sebagai abbas. Secara khusus William berkeinginan untuk bergabung dengan biara Clairvaux. Pada tahun 1135 dia mengundurkan diri sebagai abbas biara S. Nicasius, tetapi karena takut pengunduran dirinya tidak disetujui oleh Bernardus, maka pergilah dia ke biara Cistercian di Signy, Ardennes, dan mendevosikan diri pada studi dan doa ……… sebagai seorang rahib biasa.

Meskipun William seorang mistikus, minatnya pada topik-topik teologi tidak berkurang samasekali. Dia adalah teolog pertama yang berkonfrontasi dengan Petrus Abelard, seorang tokoh bidaah. Kemudian William memberitahukan semua kekeliruan-kekeliruan Petrus Abelard kepada sahabatnya, Bernardus. William menulis sejumlah risalah yang isinya melawan pokok-pokok pemikiran Petrus Abelard. Dia juga menulis banyak risalah teologis dan mistis, tafsir Surat Santo Paulus kepada jemaat di Roma, tafsir atas Kidung Agung dan riwayat hidup Santo Bernardus dari Clairvaux (bab-bab pertama). Buku-buku karangan William dinilai tinggi dalam hal kedalaman spiritual dan teologisnya, pengetahuan Bahasa Yunani dan Latin, dan keakrabannya dengan para Bapak Gereja dan Kitab Suci [MB, hal. 917].

Marilah kita melihat petikan tulisan dari sahabat Santo Bernardus ini:

Dengan penuh gairah aku rindu untuk mendekati Dia, bahkan seperti yang dilakukan oleh perempuan yang sakit pendarahan itu, dan oleh sentuhan menyembuhkan bahkan dari jumbai jubah-Nya aku rindu untuk mencuri, katakanlah, restorasi jiwaku yang sakit untuk menjadi sehat kembali; atau seperti Tomas, orang yang memiliki banyak hasrat, aku rindu untuk melihat dan menyentuh-Nya, dan tidak hanya itu tetapi juga untuk menjadi lebih dekat dengan luka dalam lambung-Nya yang tersuci, pintu itu yang terbuka di bagian sisi Tabut, agar tidak hanya untuk menaruh jariku, atau bahkan seluruh tanganku, akan tetapi agar masuk sepenuhnya dan datang kepada Hati Yesus, Yang Kudus dari yang kudus, Tabut Perjanjian, jambangan besar emas, jiwa dari kemanusiaan yang mengandung manna keilahian [The Saviour’s Heart, no. 64, hal. 70-71].

Santa Lutgardis (1182-1246). Orang kudus dari negeri Belanda ini perlu diketahui, kalau kita mau berbicara mengenai Hati Kudus Yesus. Ensiklopedi Orang Kudus memuat keterangan singkat-padat tentang Lutgardis: “Suster Sistersien ini banyak menyangkal diri dan bermatiraga untuk mentobatkan dan menyembuhkan jiwa raga orang lain. Ia berupaya keras memajukan penghormatan terhadap Hati Kudus Jesus” [A. Heuken SJ, hal. 201].

Lutgardis masuk biara bukan karena mempunyai niat yang suci-murni untuk melayani Tuhan, namun siapakah yang dapat menyelami Hati Allah sehingga sungguh mengetahui semua cara yang digunakan Allah untuk memanggil seseorang? Pada suatu hari Tuhan Yesus menampakkan diri-Nya kepada Lutgardis dan meminta kepadanya untuk mengasihi-Nya, terutama dalam luka-luka-Nya yang suci. Dapat dipastikan bahwa tidak akan ada orang yang tidak berubah setelah bertemu dengan Yesus. Demikianlah pula halnya dengan Lutgardis.

Setelah penampakan ini, Lutgardis berubah total. Ia berbicara dengan Yesus sepanjang hari dan mengalami kehadiran-Nya secara tetap. Ia juga bertemu dengan Bunda Maria dan orang-orang kudus yang lain dalam penampakan-penampakan. Orang-orang dapat menyaksikan Lutgardis dalam ekstase terangkat dari lantai dan di sekeliling kepalanya terlihat sebuah lingkaran (halo). Kadang-kadang darah dari mahkota duri Yesus dapat terlihat di dahinya. Seringkali dia berdoa untuk jiwa-jiwa yang berada dalam bahaya. Baru setelah itu Lutgardis merasa tertarik untuk bergabung dengan jenis biara yang lebih ketat, dan dia pun bergabung dengan suster-suster Cistercian. Dalam biara Cistercian inilah Tuhan menganugerahkan kepada Lutgardis karunia-karunia penyembuhan dan nubuat serta pengetahuan atas makna nas-nas dalam Kitab Suci. Satu dasawarsa sebelum kematiannya Lutgardis menjadi buta. Dia memahami peristiwa penderitaan karena kebutaan ini sebagai suatu cara untuk lebih jauh lagi lepas dari dunia yang serba kelihatan.

Ronda De Sola Chervin, dalam Treasury of Women Saints, berkomentar tentang orang kudus ini seperti berikut: “Yang kelihatan paling impresif bagi sejumlah orang mengenai hidup S. Lutgardis adalah cara Allah yang dapat mengambil seorang pribadi yang sama sekali tak memiliki motivasi, dan merayunya dengan kasih-Nya untuk menjadikankannya seorang kudus” [hal. 265]

Marilah kita renungkan sebuah tulisan yang memuat dialog antara Santa Lutgardis dan Tuhan-nya:

Allah berkata kepadanya, ‘Jadi, apakah yang kamu inginkan?’ Ia menjawab, ‘Apa yang kuinginkan adalah Hati-Mu’. Dan Tuhan menjawab, ‘Bahkan lebih lagi, Akulah yang menginginkan hatimu’. Lalu dia menjawab, ‘Kehendak-Mu terjadi, ya Tuhan, selama Dikau memberikan kepada hatiku cinta kasih Hati-Mu dan bahwa aku boleh mempunyai hatiku di dalam Dikau, dinaungi dengan baik dan selalu di bawah tatapan-Mu’. Lalu di sana terjadilah pertukaran hati [The Saviour’s Heart,  no. 62, hal. 68-69].

Santa Klara dari Assisi (1194-1253). Dalam tulisan saya yang berjudul “Kartini-Kartini dalam Gereja” (MediaPass Edisi April 2009) telah diuraikan secukupnya tentang hidup orang kudus ini. Di bawah ini adalah sebuah doa Santa Klara yang menyinggung juga Hati Kudus Yesus:

Puji dan kemuliaan bagi-Mu, Yesus Kristus yang terkasih. Demi luka tersuci pada lambung-Mu dan oleh luka-Mu yang manis itu, dan oleh kerahiman-Mu yang tak terbatas, yang Engkau ungkapkan dalam terbukanya dada-Mu bagi serdadu yang bernama Longinus, dan demikian juga kepada kami semua, maka aku berdoa kepada-Mu, O Yesus yang paling lemah lembut, bahwa setelah menebusku dari dosa asal oleh baptisan, maka sekarang oleh darah-Mu yang mulia, yang dipersembahkan dan diterima di seluruh dunia, bebaskanlah aku dari semua kejahatan, pada masa lampau, kini dan yang akan datang. Oleh kematian-Mu yang paling pahit berikanlah kepadaku suatu iman yang hidup, harapan yang teguh dan cinta kasih yang sempurna, sehingga dengan demikian aku dapat mengasihi-Mu dengan segenap hatiku, segenap jiwaku, dan segenap kekuatanku; buatlah aku teguh dan tabah-setia dalam pekerjaan-pekerjaan baik, dan berikanlah kepadaku ketekunan dalam melayani-Mu, dengan demikian aku mampu untuk menyenangkan-Mu selalu. Amin [Prayers to the SACRED HEART, hal. 16].

Orang kudus ini begitu mengasihi Hati Kudus Yesus dan Kristus dalam Sakramen Mahakudus. Sekitar tahun 1230, bersama-sama para suster Klaris yang lain, sambil membawa-dengan-penuh hormat Sakramen Mahakudus dalam piksis, dengan penuh keberanian Klara menghadapi pasukan-pasukan muslim antek Kaisar Frederick II yang menyerbu kota Assisi dan berhasil membuat mereka mundur dari kota itu.

Hal yang mirip dilakukan juga oleh para suster Klaris di Rwanda-Afrika lebih dari tujuh abad kemudian pada waktu pecah konflik antar-suku yang merebak di negeri itu. Ironisnya adalah, bahwa konflik itu terjadi antara dua suku yang sama-sama beragama Katolik. Di bawah ancaman maut atas orang-orang dari suku Tutsi oleh milisi-milisi liar suku Hutu, dengan berjalan kaki para suster Klaris dari suku Hutu mengawal dengan ketat para saudari mereka dari suku Tutsi. Yang terdepan membawa Sakramen Mahakudus dalam monstrans. Dalam pengungsian ini mereka semua selamat sampai ke tempat tujuan karena mempraktekkan persaudaraan-sejati dalam Kristus, bukan sekedar teori dalam tingkat ucapan bibir. Bagi puteri-puteri Santa Klara ini tidak ada orang Hutu, tidak ada orang Tutsi, semua adalah saudari dari Ibu Klara dan Bapak Fransiskus … semua adalah saudari Yesus, semua anak Bapa surgawi! Beranikah kita seperti mereka dalam menghadapi ancaman dari luar? Tidak ada Katolik yang Jawa, yang Batak, yang Kawanua, yang Flores, yang keturunan Cina dan sebagainya? Sebuah lagu anak sekolah minggu (bina-iman anak-anak) yang berjudul “Dalam Yesus kita bersaudara”, kalau dihayati dengan bersungguh-sungguh akan membantu membentuk kita masing-masing – yang sudah tua-tua ini sekalipun – menjadi murid Kristus yang baik, yang mengasihi saudara-saudari seiman seturut ajaran Tuhan dan Guru kita, Yesus Kristus.

(Bersambung)

 

 


[1] Encyclopedia of Catholicism (Richard P. McBrien, General Editor) menyebut biara Saint-Thierry, di Champagne, Perancis [ hal 1328].

PERKEMBANGAN DEVOSI KEPADA HATI KUDUS YESUS DARI ABAD KE ABAD (3)

PERKEMBANGAN DEVOSI KEPADA HATI KUDUS YESUS DARI ABAD KE ABAD (3)

 Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

 ABAD KE 11 SAMPAI DENGAN ABAD KE 13

Berabad-abad lamanya devosi kepada Hati Kudus Yesus ini tidak mengalami perubahan lagi. Baru pada abad ke 11 Santo Anselmus dari Canterbury (c.1033-1109) dengan jelas mengajarkan, bahwa ‘pembukaan lambung Kristus memperlihatkan kepada kita kekayaan cinta-Nya, kasih Hati-Nya untuk kita’. Di sini secara khusus dan jelas Hati disebut [Tom Jacobs SJ, hal. 34].

Setelah itu ada sejumlah mistikus yang memainkan peranan dalam mengembangkan devosi ini, termasuk Santo Bernardus dari Clairvaux, Santo Bonaventura dan lain-lainnya. Kita akan melihat beberapa dari para kudus ini seturut jalannya sejarah masa itu dan mencoba untuk sedikit merasakan betapa besar cinta kasih mereka masing-masing kepada Hati Kudus Yesus.

Santo Bernardus dari Clairvaux (1090-1153). Santo Bernardus menemukan jalan kepada Hati Yesus melalui luka lambung-Nya (Tom Jacobs SJ, hal 34). Dalam rangka mencari kehidupan biara yang keras, sekitar Paskah tahun 1112 sebagai seorang bangsawan muda, Bernardus dan 30 (tiga puluh) orang rekannya[1] bergabung dengan biara Cistercian di Citeaux yang terletak di tengah-tengah hutan lebat di negeri Perancis. Biara yang peraturan hidupnya berdasarkan tafsir ketat dari Peraturan Santo  Benediktus (c.480-c.550) itu didirikan oleh Santo Stephen Harding  (+ 1134) dan beberapa rekannya beberapa tahun sebelumnya. Santo Stephen (Stefanus) adalah abbas biara itu dan dia menerima dengan tangan terbuka kedatangan rombongan baru ini.

Setelah tiga tahun hidup sebagai rahib dengan kemajuan rohani yang cepat, pada tahun 1115 Bernardus dengan dua belas rahib lainnya ditugaskan untuk mendirikan sebuah biara baru. Dia memilih lokasi di Clairvaux, yang berarti ‘Lembah Cerah’, yang pada waktu itu juga masih berupa hutan belukar. Biara baru ini berada dalam Keuskupan Langres di Champagne dan disahkan oleh Paus Callistus pada tahun 1119. Biara Clairvaux dengan cepat menjadi ‘pusat’ Ordo Cistercian dan Bernardus pun menjadi terkenal sebagai seorang abbas yang cemerlang dan seorang mistikus yang sangat dihargai dan nasihat-nasihat dan bimbingan-bimbingannya dicari banyak orang dari kalangan Gereja dan pemerintahan. Pada tahun 1128 Bernardus ditunjuk sebagai sekretaris Sinode di Troyes. Di tahun 1130 dia menjadi asisten Paus Innocentius II dalam menghadapi ancaman dari Antipaus Anicletus. Dengan berjalannya waktu, biara Clairvaux kemudian berkembang dan melebarkan sayapnya, bahkan sampai ke Inggris dan Irlandia.

Sejarah mencatat bahwa Bernardus pernah terlibat dalam pemilihan paus baru, menjadi penasihat paus, raja-raja dan uskup-uskup, abbas, pujangga Gereja dan pendiri kedua dari Ordo Citercian (O.C.S.O. atau dikenal di Indonesia sebagai Ordo Trapis). Dengan khotbah-khotbah yang berapi-api dia berjuang melawan berbagai ajaran sesat dan bidaah. Dia juga aktif mempropagandakan Perang Salib kedua.

Bernardus adalah seorang penulis yang sangat berpengaruh. Ketika Bernardo Pignatelli, abbas dari biara Cistercian S.S. Vincenzo dan Anastasio dipilih menjadi Paus Eugenius III (memerintah 1145-1153), Bernardus mengirimkan sebuah risalah berjudul De Consideratione, yang berisikan  uraian mengenai tugas-tugas yang layak dari seorang paus dan masalah-masalah yang akan dihadapi dalam pemerintahan kepausan. Dia menulis lebih dari 300 (tiga ratus) surat dan khotbah serta pelbagai risalah dibidang mistik seperti De Diligendo Deo (Tentang Ketekunan Allah). Dia juga menulis khotbah-khotbah indah sehubungan dengan Kidung Agung.

Bernardus sangat mengasihi Tuhan Yesus, antara lain lewat devosinya kepada Hati Kudus-Nya. “Kita bukan anak malam dan kegelapan! Hiduplah sebagai anak cahaya!”, itulah pesan terakhir Bernardus sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir. Berikut ini adalah sedikit petikan dari khotbah Bernardus tentang Kidung Agung:

Di manakah sebuah benteng yang aman untuk tempat peristirahatan orang lemah, kalau bukan dalam luka-luka sang Juruselamat? Di sana keamanan diukur dengan kuasa-Nya untuk menyelamatkan. Dunia mengamuk, tubuh memberatkanku, setan memasang jerat, namun aku tidak jatuh karena aku didirikan di atas batu karang yang kokoh. Aku telah berdosa secara menyedihkan, hati nuraniku terganggu namun tidak berputus asa karena aku akan mengingat luka-luka Tuhan. Karena sesungguhnya, ‘Ia dilukai untuk pelanggaran-pelanggaran kita’. Dosa apakah yang begitu mematikan sehingga tidak dapat diampuni oleh kematian Kristus? Kemudian kalau aku mengingat suatu obat yang kuat dan mujarab sedemikian, maka aku tidak lagi akan merasa takut terhadap penyakit apa saja, betapa jahat pun penyakit itu.

Jadi, jelas bahwa salahlah dia yang mengatakan, ‘Dosaku terlalu besar untuk dapat diampuni’. Kecuali kalau dia tidak termasuk anggota-anggota Kristus dan tidak mempunyai andil dalam kebaikan-kebaikan Kristus, sehingga dia dapat menetapkan hak dan klaim sebagai miliknya sendiri apa yang dimiliki orang lain, seperti seorang anggota mengklaim atas apa yang dimiliki kepalanya.

Bagiku, apa yang tidak kumiliki sendiri, dengan penuh percaya akan kuambil untuk diriku sendiri dari hati Tuhan  yang berbelarasa, yang mengalir dengan belaskasih, dan disediakan dengan saluran-saluran keluar melaluinya kerahiman dapat mengalir. Mereka menikam tangan-tangan-Nya dan kaki-kaki-Nya dan dengan sebatang tombak mereka merobek hati-Nya, dan dari luka yang terbuka aku dapat minum madu dari batu karang dan mentega dari batu keras – yaitu ‘untuk mencicipi dan melihat bahwa Tuhan itu baik’.

Pemikiran-pemikiran-Nya adalah pemikiran-pemikiran kedamaian, dan aku tidak mengetahui hal itu. ‘Karena, siapa yang mengetahui pikiran Tuhan, atau siapa yang pernah menjadi penasihat-Nya?’ Namun paku yang menembus, bagiku menjadi kunci yang membuka pintu agar aku dapat melihat kehendak Tuhan. Dan apakah yang aku lihat melalui luka yang terbuka itu? Paku itu berseru, luka itu membuka mulutnya untuk menyerukan bahwa sungguh benar ‘Allah ada dalam Kristus, mendamaikan dunia dengan diri-Nya’. Ujung tombak besi menikam jiwa-Nya dan menghampiri Hati-Nya sehingga aku tidak dapat lagi bersikap masa bodoh bahwa Dia memiliki belarasa atas kelemahan-kelemahanku.

Rahasia Hati-Nya dinyatakan melalui lubang-lubang luka dalam tubuh-Nya;  misteri cinta kasih yang agung menjadi terbuka; kerahiman yang lemah lembut dari Allah dinyatakan, ‘dalam mana Ia mengunjungi kita laksana fajar cermerlang’. Tetapi dalam apa lagi yang lebih jelas selain dalam luka-luka-Mu, dinyatakan bahwa Dikau adalah baik hati dan lemah lembut serta penuh dengan kerahiman? Tidak ada belaskasih yang lebih besar daripada seseorang yang memberikan nyawanya demi mereka yang telah dihukum mati dan kutuk.

Dengan demikian kerahiman Tuhan adalah kebaikan bagiku. Aku tidak akan kehilangan kebaikan selama Dia tidak kehilangan kerahiman. Karena kalau kerahiman Tuhan itu banyak, banyak pula kebaikan bagiku, Tetapi bagaimana kalau aku sadar akan begitu banyak dosaku? Kalau begitu, di mana dosa bertambah, rahmat akan semakin berlimpah. Dan apabila kasih setia Tuhan adalah dari kekal sampai kekal, maka aku pun akan menyanyikan madah pujian atas kasih setia Tuhan selamanya. Dan bagaimana dengan kebenaranku sendiri? ‘Tuhan, aku akan menyadari hanya kebenaran-Mu’. Sebab kebenaran-Mu juga adalah kebenaran bagiku sejak Dikau dibuat menjadi kebenaran bagiku oleh Allah [The Divine Office – The Liturgy of the Hours According to the Roman Rite as Renewed by Decree of the Second Vatican Council dan Promulgated by the Pope Paul VI – Volume I, hal. 451-452; juga The Saviour’s Heart, no. 65, hal. 71-72].

Menurut pengamatan saya, biasanya kalau devosi seseorang kepada Yesus Kristus itu berjalan secara wajar, maka devosinya kepada Bunda Maria pun akan berjalan di rel yang benar. Demikian pula dengan devosi Bernardus kepada Bunda Allah yang sangat mendalam. Dia menulis seperti berikut tentang Bunda Maria, yang saya kutip dari buku tulisan Lawrence G. Lovasik, S.V.D., BEST – LOVED SAINTS :

Dalam berbagai bahaya, dalam keragu-raguan, dalam berbagai kesulitan, pikirkanlah Maria, panggillah Maria. Janganlah sampai namanya menjauh dari bibirmu, janganlah pernah nama itu menderita sehingga meninggalkan hatimu. Dan agar anda lebih yakin untuk memperoleh pertolongan doanya, maka janganlah pernah abaikan untuk mengikuti jejak langkahnya. Dengan Maria sebagai pembimbingmu, maka anda pun tidak akan pernah kesasar. Selagi memanjatkan permohonan kepadanya, anda tidak pernah boleh putus asa. Selama dia ada dalam pikiranmu, anda pun aman dari penipuan. Sementara dia memegang tanganmu, anda tidak dapat jatuh. Di bawah perlindungannya anda tidak perlu takut. Apabila dia berjalan di depan anda, maka anda tidak akan menjadi lelah. Apabila dia menunjukkan kebaikan kepadamu, anda pun akan mencapai sasaran [hal. 69-70].

Bernardus mendirikan banyak biara, namun dia lebih dikenal karena tulisan-tulisannya yang menjadi alasan utama Gereja menetapkannya sebagai seorang Pujangga Gereja. Bernardus dikanonisasikan oleh Gereja pada tahun 1174, dan pada tahun 1830 secara resmi dideklarasikan sebagai Pujangga Gereja oleh Paus Pius VIII dengan gelar Doctor mellifluus, artinya Doktor yang manis seperti madu.

(Bersambung)


[1] Termasuk empat orang saudara kandungnya dan seorang pamannya, Hugh dari Mậcon, yang di kemudian hari mendirikan biara di Pontigny dan meninggal dunia sebagai Uskup di Auxerre. Lihat  Michael Walsh (Editor), BUTLER’S LIVES OF THE SAINTS (NEW CONCISE EDITION), hal. 256.

PERKEMBANGAN DEVOSI KEPADA HATI KUDUS YESUS DARI ABAD KE ABAD (2)

PERKEMBANGAN DEVOSI KEPADA HATI KUDUS YESUS DARI ABAD KE ABAD (2)

 Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Santo Yohanes Krisostomos (c.347-407). Yohanes dilahirkan di Antiokia, belajar hukum dari seorang orator non-Kristiani yang bernama Libanius di sana. Di bidang teologi dia berguru pada Diodore dari Tarsus, kepala Sekolah Alexandria. Sejak masih muda Yohanes tertarik untuk hidup membiara sebagai rahib, namun tak kesampaian karena kesehatan ibunya yang hidup menjanda dan kesehatannya sendiri yang semakin memburuk, yang disebabkan gaya hidupnya yang keras sebagai seorang pertapa (c.373-381). Pada tahun 381 Yohanes ditahbiskan sebagai diakon dan pada tahun 386 ditahbiskan menjadi imam di Antiokia oleh Uskup Flavianus. Ternyata Yohanes adalah seorang pengkhotbah ulung sehingga khotbah-khotbahnya yang bagus itu menyebabkan dia digelari Krisostomos yang berarti ‘mulut emas’. Topik-topik homilinya berkisar dari ulasan Kitab Suci sampai pada komentar-komentar yang berkaitan dengan reformasi moral yang diperlukan dalam masyarakat. Semua ini membuat Yohanes Krisostomos menjadi seorang orator terkemuka pada zamannya.

Pada tahun 398 Yohanes diangkat menjadi Uskup Konstantinopel. Umat menyenangi khotbah-khotbahnya, namun tidak demikian halnya para aristokrat, terutama Ratu Eudoxia, yang memandang khotbah-khotbah Yohanes sebagai serangan-serangan pribadi terhadap dirinya. Uskup Alexandria, Teofilus, bentrok dengan Yohanes. Teofilus pun didukung oleh Ratu Eudoxia. Pada tahun 403 Ratu Eudoxia menyelenggarakan sebuah konsili yang mengutuk dan menyingkirkan Yohanes dari jabatannya. Setahun kemudian dia kembali menjadi Uskup Alexandria, tetapi di‘habis’kan lagi di bulan Juni 404. Yohanes kemudian dibuang ke Isauria di pegunungan Taurus. Surat-surat Yohanes mohon pertolongan hampir semuanya tidak ditanggapi oleh warga Gereja, kecuali Paus Innocentius I yang mencoba dengan berani untuk menyelamatkan dia, namun tidak berhasil. Tidak sesuai dengan harapan musuh-musuhnya, Yohanes mampu bertahan hidup lebih lama daripada yang diperkirakan banyak orang. Maka dia pun dipindahkan ke Pontus dan dipaksa untuk melakukan perjalanannya dalam cuaca buruk. Yohanes jatuh sakit dan meninggal dunia pada tanggal 14 September 407. Dia digelari Pujangga Gereja dan Doktor Ekaristi untuk kesaksiannya yang indah tentang Kehadiran Nyata Kristus dalam Ekaristi [The Saviour’s Heart, hal. 469-470].

Berikut ini adalah sebagian kecil dari tulisan orang kudus ini:

Apakah anda ingin belajar dari sebuah sumber lain tentang kuasa darah ini? Lihatlah dari mana darah itu mulai mengalir, dari Sumber yang mana darah itu dicurahkan dari atas kayu salib – dari lambung Sang Guru. Injil menceritakan bahwa ketika Kristus telah wafat dan masih tergantung di kayu salib, serdadu itu mendekati-Nya dan menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera keluarlah air dan darah. Yang satu adalah sebuah lambang baptisan; yang lainnya adalah lambang Misteri-misteri. Serdadu itu kemudian menikam lambung-Nya: dia menerobos tembok Bait Suci dan aku menemukan harta dan memperoleh kekayaan.

Dari lambung-Nya keluarlah air dan darah. Dari dua hal inilah Gereja kudus dilahirkan oleh ‘pencucian regenerasi dan pembaharuan Roh Kudus’, oleh baptisan dan oleh Misteri-misteri. Sekarang lambang-lambang baptisan dan Misteri-misteri keluar dari lambung-Nya. Maka dari lambung-Nyalah Kristus membentuk Gereja, seperti dari bagian tubuh Adam Ia membentuk Hawa [The Saviour’s Heart, no.90, hal. 92].

Santo Augustinus dari Hippo (354-430). Orang Kristiani Katolik mana yang tidak mengenal Santo Augustinus? Umat Kristen Protestan saja sangat menghormatinya. Our Sunday Visitor’s ENCYCLOPEDIA OF CATHOLIC HISTORY mencatat, bahwa Uskup dari Hippo ini adalah Bapa Gereja Barat yang paling besar yang mempunyai pengaruh sangat luar biasa atas pembentukan teologi Kristiani dan peradaban Barat [MB, hal. 89]. Augustinus dilahirkan di kota Tagaste, Afrika Utara. Ayahnya yang bernama Patricius adalah seorang seorang tuan tanah dan pemimpin politik lokal. Dia juga adalah seorang non-Kristiani untuk sebagian besar masa hidupnya. Ibu Augustinus bernama Monika; kemudian juga ditetapkan Gereja sebagai seorang Santa. Usaha dan doa-doa Monika merupakan salah satu faktor kunci  dalam hal pembentukan Augustinus sebagai seorang tokoh Gereja yang besar. Dia belajar tata bahasa dan retorika di kota Madauros yang tidak jauh dari Tagaste. Masa muda Augustinus sempat diwarnai dengan kehidupan dosa yang kemudian hari sangat disesalinya. Dia hidup ‘kumpul kebo’ dengan seorang perempuan dan hubungan mereka membuahkan seorang anak yang tidak sah secara hukum, yang diber nama Adeodatus.

Di tahun 373 Augustinus membaca buku karangan Cicero yang berjudul Hortensius dan mulai berminat pada bidang filsafat. Dia meninggalkan hidup kenikmatan dan mulai mempelajari Manikeisme, sebuah aliran keagamaan dari Persia. Namun keterlibatannya dalam Manikeisme berakhir pada tahun 383, setelah pertanyaan-pertanyaannya tidak dijawab secara memuaskan oleh Faustus (seorang guru Manikeisme terkenal). Pada tahun 383 Augustinus pergi ke Roma di mana dia tinggal untuk beberapa bulan lamanya, sebelum menetap di Milano dan bekerja sebagai guru retorika di sana. Studinya di bidang filsafat membawanya kepada Neoplatonisme, namun Augustinus juga banyak dipengaruhi oleh Santo Ambrosius (c.340-397),  Uskup Agung Milano, yang  berhasil menjawab semua pertanyaan dan keragu-raguannya. Santo Ambrosius adalah salah satu dari empat orang Bapak Gereja di Barat. Yang lainnya adalah Augustinus, Hieronimus dan Gregorius [A. Heuken SJ, hal 53]. Setelah menjalani retret pribadi yang berlangsung berbulan-bulan lamanya di Cassiciacum, maka Augustinus dibaptis pada Hari Sabtu Suci tahun 387.

Setahun kemudian Augustinus pulang ke Tagaste, dan di kota itu dia membentuk sejenis komunitas monastik. Augustinus menjadi terkenal di banyak tempat. Pada tahun 391, ketika Augustinus mengunjungi kota Hippo Regius (sebuah kota di Afrika Utara), dia ‘ditangkap’ oleh segerombolan orang dan dibawa menghadap Uskup Valerius yang sudah tua, dan di situ dia pun ditahbis sebagai seorang imam. Empat tahun kemudian, Augustinus diangkat menjadi koadjutor di keuskupan Hippo. Tidak lama kemudian, dia pun diangkat menjadi pengganti Uskup Valerius. Augustinus menjadi Uskup Hippo sejak sekitar tahun 395 sampai saat kematiannya di tahun 430. Waktunya digunakan untuk banyak menulis dan berkonfrontasi dengan banyak gerakan bidaah pada masa itu, yaitu para penganut Donatisme, Pelagianisme, Semi-Pelagianisme dan Manikeisme. Orang kudus ini banyak sekali menulis, yaitu sebanyak 113 (seratus tiga belas) judul buku, 218 (dua ratus delapan belas) pucuk surat dan sekitar 500 (lima ratus) khotbah. Tulisan-tulisannya mencakup seluruh bidang pemikiran yang dikenal pada waktu itu. Ada dua buku karangannya yang sangat terkenal, yaitu ‘Pengakuan’ dan ‘Kota Allah. Dia juga menulis peraturan hidup membiara. Augustinus wafat pada tanggal 28 Agustus 430, di tengah-tengah suasana kota Hippo yang sedang dikepung oleh Bangsa Vandal (Orang Arian Jerman).

Memang biasanya Augustinus tidak dihubungkan dengan devosi kepada Hati Kudus Yesus, namun berikut ini adalah contoh yang baik betapa mesra hubungan cinta-kasihnya dengan Yesus. Saya memetiknya dari Catholic Truth Society (Compiler), Prayers to the SACRED HEART (Revised Edition):

Melalui lubang-lubang dalam Tubuh-Nya terbukalah bagiku, rahasia-rahasia Hati-Nya; janji agung kasih-Nya dinyatakan. Oleh celah-celah ini aku dapat mencicipi betapa manis Tuhan Allahku itu; betapa manis dan lemah lembutnya Dia, dan betapa berbelaskasih Dia kepada semua orang yang datang kepada-Nya dalam kebenaran, kepada semua orang yang mencari-Nya, dan di atas segalanya, kepada semua orang yang mengasihi-Nya.

Aku tidak dapat merasa takut terhadap dosa-dosaku yang begitu banyaknya manakala aku memikirkan kematian Tuhanku, karena dosa-dosaku tidak dapat mengalahkan-Nya. Paku-paku-Nya dan tombak-Nya berseru kepadaku bahwa aku sudah sepenuhnya berdamai dengan Kristus, apabila aku akan mengasihi-Nya saja. Longinus telah membuka bagiku lambung Kristus dengan tombak, dan aku telah masuk ke dalamnya dan di sana aku beristirahat dengan aman. Barangsiapa merasa takut, biarlah dia mengasihi, karena kasih mengusir rasa takut.

Aku mengasihi-Mu, ya Allahku, aku mengasihi-Mu; dan aku akan mengasihi-Mu lebih dan lebih lagi. Ya Tuhan Allahku, yang paling cantik/tampan dari semua anak-anak manusia, perkenankanlah agar aku dapat merindukan-Mu dan mengasihi-Mu seturut kemampuanku dan seturut apa yang seharusnya kulakukan. Dikau tidak dapat diukur dan harus dikasihi tanpa ukuran pula, terutama oleh kami yang telah demikian Kaukasihi, yang Dikau telah demikian lindungi, dan untuk siapa Dikau telah melakukan hal-hal yang sedemikian besar dan baik [Prayers to the SACRED HEART,  hal. 13-14].

Santo Petrus Krisologus  (406-450). Petrus lahir di Imola, belajar di situ dan diangkat sebagai Uskup Ravenna pada tahun 433. Dia dikenal untuk kesucian pribadinya dan keterampilannya dalam berkhotbah. Petrus juga dihormati oleh Kaisar Leo I Agung dan Ratu Galla Placidia. Dia dijuluki Krisologus, artinya ‘kata-katanya seperti emas’, untuk membuat dia sejajar dengan Yohanes Krisostomos di gereja Barat. Felix, uskup Ravenna di abad ke delapan mengumpulkan homili-homili Petrus Krisologos yang berjumlah 176 (seratus tujuh puluh enam), yang mencakup teks-teks berkaitan dengan Kitab Suci, Syahadat Para Rasul dan Santa Perawan Maria. Sumber utama riwayat hidupnya adalah tulisan Agnellus yang berjudul Liber Pontificalis Ecclesiae Ravennatis yang ditulis pada abad ke sembilan. Pada tahun 1729 Paus Benediktus XIII mengangkatnya menjadi Pujangga Gereja.

Berikut ini sedikit cuplikan dari tulisan Petrus Krisologus yang memuat dialognya dengan Tuhan Yesus. Tuhan Yesus berkata kepada Petrus Krisologus, antara lain seperti berikut:

Barangkali kamu malu karena begitu besarnya sengsara yang kamu timpakan atas diri-Ku. Janganlah kamu takut. Salib ini bukanlah milik-Ku; itu adalah sengatan maut. Paku-paku ini tidak menembus (tangan dan kaki)-Ku dengan rasa sakit; paku-paku itu menembus-Ku lebih dalam lagi dengan kasih bagimu. Luka-luka ini tidak menyebabkan rintihan-rintihan dari-Ku; melainkan menarikmu ke dalam Hati-Ku. Tubuh-Ku yang terentang menyediakan ruangan bagimu dalam Hati-Ku; tidaklah menambah rasa sakit-Ku. Darah-Ku bukanlah kerugian bagi-Ku; itu dibayar dimuka sebagai tebusan. Maka itu kembalilah, dan datanglah kepada-Ku, untuk mengenal-Ku sebagai seorang bapak; karena lihatlah: Aku membalas kejahatan dengan kebaikan, luka-luka dengan cinta kasih, dan untuk luka-luka yang dalam Aku membalasnya dengan cinta kasih yang lebih mendalam. [The Saviour’s Heart, no. 91, hal. 93].

Pada masa pontifikat Paus Bonifasius VIII (1294-1303) gelar Pujangga Gereja diberikan secara resmi oleh Paus (Gereja) kepada seseorang yang sudah lama wafat, yang dinilai penuh hikmat, kudus dan terpelajar, dengan demikian menjadi satu sumber ajaran Gereja yang benar. Pada abad-abad awal, pemberian gelar itu lebih spontan sifatnya. Pada masa pontifikat Paus Benediktus XIV (1740-1758) ditetapkanlah beberapa norma spesifik, yaitu ortodoxy, kesucian pribadi, terpelajar dan diusulkan secara eksplisit oleh otoritas tertinggi Gereja. Dalam diskusi teologis, rasa hormat ditunjukkan secara khusus kepada para Pujangga Gereja, karena mereka dinilai mewakili Tradisi pada tingkat yang pantas. Santo Petrus Krisologus, meskipun hidup di abad ke-5, diangkat menjadi Pujangga Gereja oleh Paus Benediktus XIII pada tahun 1729, yaitu ketika syarat-syarat ketat Paus Bonifasius VIII sudah diberlakukan. (Sumber: Monika K. Hellwig, dalam Michael Glazier & Monika K. Hellwig (Editors), The Modern Catholic Encyclopedia, hal. 244; dan MB, hal. 115-116, 136-137, 650). Petikan di atas menunjukkan betapa sucinya Santo Petrus Krisologus.

(Bersambung)

PERKEMBANGAN DEVOSI KEPADA HATI KUDUS YESUS DARI ABAD KE ABAD (1)

PERKEMBANGAN DEVOSI KEPADA HATI KUDUS YESUS DARI ABAD KE ABAD (1)

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Devosi kepada Hati Kudus Yesus – dalam berbagai bentuk pengungkapannya yang secara bertahap mengalami perkembangan – sudah hidup di tengah-tengah umat Katolik sejak abad-abad pertama sejarah Gereja. Hati Kudus Yesus adalah sebuah tanda dan lambang cinta kasih dan kerahiman yang dilimpahkan atas umat manusia oleh Allah melalui Hati Putera-Nya yang tertikam.

Setiap kali orang membicarakan atau menyinggung devosi kepada Hati Kudus Yesus, hampir selalu mencuat nama Santa Margareta Maria Alacoque (1647-1690). Ini tidak salah sama sekali karena devosi kepada Hati Kudus Yesus seperti yang sekarang kita hayati memang mengambil bentuknya sejak Tuhan Yesus Kristus menampakkan diri kepada orang kudus ini. Namun kita akan melihat dalam tulisan ini, bahwa sebelum Santa Margareta Maria Alacoque sudah ada sejumlah orang kudus/ mistikus yang mempraktekkan devosi kepada Hati Kudus Yesus. Dengan membaca dan merenungkan sejumlah uraian singkat tentang para kudus/mistikus dari zaman ke zaman yang ada hubungannya dengan devosi Hati Kudus Yesus, disertai petikan dari warisan tulisan dan/atau doa-doa mereka, para pembaca diharapkan dapat lebih mendekatkan serta menyatukan diri dengan para kudus itu, dan akhirnya – berkat rahmat Tuhan – dengan Hati Kudus-Nya sendiri.

Tulisan ini sendiri adalah satu dari serangkaian tulisan yang dimaksudkan sebagai semacam bahan perkenalan bagi siapa saja yang secara serius ingin mengenal secara lebih mendalam lagi perihal devosi kepada Hati Kudus Yesus ini. Bukankah ‘tidak kenal, tidak sayang’? Dengan demikian diharapkan bahwa devosinya pun akan dapat bertumbuh subur di rel yang digariskan oleh Gereja, sehingga sungguh menghasilkan buah-buah Roh. Dalam tulisan ini, secara garis besar akan dipaparkan asal-usul dan perkembangan dari devosi kepada Hati Kudus Yesus sampai dengan abad ke 17, dengan Santo Yohanes Eudes sebagai tokoh terakhir yang akan disoroti. Semoga Santa Margareta Maria Alacoque dan penampakan-penampakan Yesus kepadanya akan dapat dibahas dalam tulisan tersendiri.

PERKEMBANGAN AWAL

Devosi kepada Hati Kudus Yesus bertumbuh-kembang dari rasa hormat kepada kemanusiaan Kristus dan pengakuan akan sifat manusiawi dari cinta kasih Allah bagi semua orang. Devosi ini muncul pada abad pertengahan, meskipun secara teologis baru didefinisikan pada tahun 1700-an. Pada awal sejarah hidup rohani devosi kepada Hati Kudus Yesus terutama bersifat kontemplasi. Orang beriman merasa kagum dan haru karena misteri kasih yang tersembunyi dalam Hati Yesus. Perhatian diarahkan kepada lambung Yesus yang terbuka (Yoh 19:34), … yang memancarkan air kehidupan (Yoh 7:37-38). Hati Yesus dilihat sebagai sumber kehidupan. Dalam pandangan ini sebetulnya tekanan belum ada pada Hati sendiri. Lambung yang tertikam tombak dipandang sebagai suatu lambang pemberian diri Yesus sendiri, tanpa secara khusus memikirkan Hati-Nya. Misalnya, pada masa awal sejarah Gereja Santo Yustinus martir (100-165) memandang lambung Yesus seperti batu karang rohani yang  daripadanya kita semua minum (lihat 1 Kor 10:4). Santo Hippolitus martir (c.170-236) mengatakan, bahwa Injil hidup Yesus mengalir dari lambung-Nya ke seluruh dunia. Tertullianus (c.160-c.222) mengatakan bahwa dari lambung Yesus keluarlah Gereja seluruhnya.

Santo Siprianus dari Kartago (200-258). Pada abad ketiga, hiduplah Santo Cyprian (Siprianus) dari Kartago, yang pemikiran-pemikiran teologisnya banyak dipengaruhi oleh Tertullianus yang disebutkan di atas. Thrascius Caecilius Cyprianus lahir di Tunisia. Dia belajar hukum dan menjadi ahli pidato sebelum dibaptis menjadi seorang Kristiani di sekitar tahun 246. Pada tahun 248 Siprianus ditahbiskan sebagai Uskup Kartago. Karena pengejaran dan penganiayaan yang mulai dilakukan oleh Kaisar Trajanus Decius, pada tahun 249 Siprianus – di bawah kecaman banyak orang – melarikan diri dan bersembunyi. Belakangan kelihatanlah bahwa ini adalah suatu taktik Siprianus yang brilian, karena dengan demikian dia masih tetap dapat  memelihara komunikasi dengan umatnya lewat surat-suratnya. Hal ini berarti bahwa dari tempat persembunyiannya Siprianus tetap menggembalakan umatnya. Dia kembali ke Kartago pada tahun 251 dan bekerja lagi sebagai uskup.

Pada masa pengejaran dan penganiayaan umat Kristiani, banyak umat yang sungguh-sungguh murtad, dalam arti mereka meninggalkan Gereja. Ada juga yang membeli libelli pacis, yakni sertifikat yang menyatakan bahwa seseorang telah memberikan kurban persembahan kepada dewa-dewi Romawi, meskipun pada kenyataannya mereka tidak melakukan hal tersebut. Gereja kemudian menerima kembali mereka ke pangkuannya, setelah orang-orang itu melakukan laku-tobat seperti dipersyaratkan. Siprianus tidak menerima hal seperti ini. Dia juga tidak mendukung bidaah Novasian yang tidak menyetujui ide pembaptisan kembali. Dia membantu Paus Kornelius (memerintah 251-253) dalam berkonfrontasi dengan kaum bidaah Novasian termaksud. Posisinya ini menyebabkan Siprianus kelak ‘bertabrakan’ dengan Paus Stefanus I. (Our Sunday Visitor’s ENCYCLOPEDIA OF CATHOLIC HISTORY [MB], hal. 244-245).

Bidaah Novasian adalah sebuah aliran bidaah seturut ajaran dari Novasian (+ c. 257-258), seorang teolog dan imam di Roma yang pernah mengarang sebuah risalah (yang masih ortodoks, artinya masih ‘benar’ dari sudut Gereja Katolik) mengenai kodrat Tritunggal. Namun pada tahun 251 Santo Kornelius terpilih menjadi Paus menggantikan Paus Santo Fabianus, dan pada saat itu Novasian memperkenankan dirinya dipilih menjadi Uskup Roma sebagai saingan. Dengan demikian dia adalah orang pertama yang menjadi antipaus. Novasian mati selama terjadi pengejaran dan penganiayaan oleh Kaisar Valerianus (memerintah 253-260). Para pengikut Novasian bersikukuh pada kepercayaan mereka, bahwa seorang yang sudah murtad tidak pernah dapat diperkenankan untuk melakukan pertobatan karena menurut mereka dosa-dosa orang murtad di mata Allah tidak dapat diampuni. Aliran bidaah ini dengan resmi dikutuk oleh Konsili Nikea (325), namun masih ada sampai abad ke lima (MB, hal. 595).

Dalam fungsinya sebagai seorang uskup di Afrika Utara, Siprianus mengambil kebijaksanaan terhadap orang yang telah dibaptis oleh kaum bidaah, untuk dibaptis lagi dalam Gereja Katolik, apabila orang itu masuk ke dalam Gereja Katolik. Namun Paus Stefanus I (memerintah 254-257) memandang kebijaksanaan Siprianus itu keliru, karena Paus ini berpendapat, bahwa sakramen baptis, meskipun dilaksanakan oleh orang sesat, akan tetap sah. Dalam hal ini Siprianus didukung oleh uskup-uskup Afrika, namun kontroversi ini tidak berlanjut karena ada pengejaran dan penganiayaan lagi yang kali ini dilakukan oleh Kaisar Valerianus. Kali ini Siprianus tidak melarikan diri. Ketika dirinya diinterogasi, dengan gagah orang suci ini tidak mau menyebutkan nama-nama para imam yang berada di bawah wewenangnya. Ia menolak untuk melakukan ritus penyembahan kepada dewa-dewi Romawi. Sebelum kepalanya dipenggal, dia berdoa di hadapan para algojo dan banyak penonton. Dia menutup sendiri kepalanya. Siprianus mati sebagai seorang martir di Kartago pada tanggal 14 September 258.

Santo Siprianus adalah seorang teolog jago yang menulis banyak surat dan risalah. Berbagai korespondensinya memberikan gambaran yang jelas mengenai kejahatan-kejahatan yang terjadi pada masa pengejaran dan penganiayaan umat Kristiani oleh Kekaisaran Romawi. Sebuah risalahnya berjudul De Catholicae Ecclesiae Unitate membahas sifat kesatuan dalam Gereja dan cita-cita kesetaraan kedudukan di antara para uskup. Sebuah risalah lain berjudul De Lapsis, yang secara terinci memuat syarat-syarat kembalinya orang yang sempat ‘murtad’ ke pangkuan Gereja.

Ada sebuah ucapan Siprianus yang terkenal: “Kamu tidak dapat mempunyai Allah sebagai Bapa-mu, apabila kamu tidak dapat mempunyai Gereja sebagai ibumu” [MB, hal. 244-245]. Berikut ini adalah sebuah petikan dari tulisan orang kudus ini yang saya ambil dari tulisan Brian Moore SJ, (Compiler), The Saviour’s Heart – An Anthology:

Hukum orang-orang Kristiani adalah salib suci Kristus, Putera Allah yang hidup, seperti nabi juga berkata: Hukum-Mu di dalam dadaku. Ketika Dia dilukai pada bagian lambung di dada-Nya, dari lambung-Nya itu mengalirlah keluar darah bercampur air, darimana Dia membuat bagi diri-Nya sendiri sebuah Gereja di dalamnya Dia menulis hukum sengsara-Nya, seperti dikatakan-Nya sendiri: Apabila seseorang haus biarlah dia datang kepada-Ku dan minum dan percaya pada-Ku. Seperti ada tertulis, aliran air kehidupan mengalir dari dada-Nya [The Saviour’s Heart, no. 52, hal. 61].

Pada abad ke empat, Santo Ambrosius (c.340-397) seakan-akan mempersatukan semua pandangan yang disebutkan di atas itu dalam sebuah doanya:

Minumlah dari Kristus, sebab Dialah batu karang yang memancarkan air;

Minumlah dari Kristus, sebab Dialah sumber kehidupan;

Minumlah dari Kristus, sebab Dialah sungai yang menggembirakan kota;

Minumlah dari Kristus, sebab Dialah perdamaian;

Minumlah dari Kristus, sebab dari dalam-Nya mengalir aliran-aliran air hidup

Seruan Santo Ambrosius ini dipetik dari tulisan almarhum PaterTom Jacobs SJ,  KEBAKTIAN KEPADA HATI YESUS – FUNGSINYA DALAM HIDUP ROHANI, dalam Sekretariat Nasional Kerasulan Doa (Penyusun), HATI KRISTUS – KEBAKTIAN KEPADA HATI YESUS, hal. 34.

(Bersambung)

 

 

 

DEVOSI KEPADA HATI KUDUS YESUS – SEBUAH PENGANTAR

DEVOSI KEPADA HATI KUDUS YESUS – SEBUAH PENGANTAR

Maksud dan tujuan tulisan ini sangat sederhana, yaitu memperkenalkan “Devosi kepada Hati Kudus Yesus”.

Arti Devosi [1]

Khusus dalam budaya Romawi istilah atau kata “devosi” sebetulnya mempunyai bermacam-macam arti: pertama berarti persembahan, penyerahan atau pengorbanan diri, hidup atau barang sebagai tanda hormat kepada para dewa, entah itu untuk mohon pembebasan dari malapetaka atau keselamatan; kedua dapat berarti pula suatu seruan atau permohonan agar orang lain dihukum oleh dewata; ketiga berarti suatu mantra dengan rumus-rumus tertentu; keempat  berarti penyerahan diri untuk setia dan menyeluruh kepada seseorang, kepada suatu hal tertentu atau kepada suatu jabatan. Dalam arti keempat ini devosi sudah menyangkut soal kewajiban moral atau agama dan telah menuju kepada sikap jiwa.

Dalam arti yang keempat itu, orang dapat juga berdevosi kepada raja, tanah air dan lain sebagainya, seperti guru, keluarga atau orangtua. Orang Romawi terkenal dengan Pietas familiaris, yakni hormat pada keluarga dan dewa keluarga. Maka dalam arti yang keempat inilah, menurut Romo J. Darminta S.J., hidup devosional dapat kita terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai hidup bakti  (JD, hal. 63).

Hidup bakti atau hidup devosional ini berlandaskan pada suatu hubungan yang sifatnya kurang lebih personal, dan hubungan yang personal itu mempunyai nilai tinggi dalam hidup devosional. Selanjutnya dapat dikatakan, bahwa hubungan termaksud bercirikan kebaktian, artinya sasaran kebaktian itu diterima sebagai yang lebih tinggi, sehingga pantas diberi penghormatan. Menurut Romo J. Darminta S.J., itulah yang disebut cinta bakti.  Cinta bakti bukanlah hubungan cinta antara dua pihak yang setaraf atau setingkat, meskipun diandaikan dari kedua belah pihak dituntut sama-sama untuk setia satu sama lain. Sasaran dari cinta bakti selalu dipandang lebih luhur, lebih tinggi, lebih terhormat. Maka dari pihak manusia dituntut adanya suatu penyerahan diri, yang disebut pengabdian, bahkan pengorbanan bagi yang diberi kebaktian (lihat JD, hal. 64).

Di sisi lain, dari pihak yang berbakti, di samping dituntut penyerahan diri, juga dirasa perlu adanya suatu selebrasi hubungan itu dalam suatu ritus atau upacara kebaktian. Ibadat merupakan bagian dari hidup kebaktian. Hidup devosional terwujud baik dalam hidup moral maupun dalam hidup peribadatan. Namun lebih dalam lagi hidup devosional berarti suatu intensitas hubungan personal. Maka ada istilah a devout person dalam bahasa Inggris, seorang saleh, dalam arti hidup orang itu sungguh-sungguh diperuntukkan bagi yang diberi kebaktian dan segala implikasi dan konsekuensinya merupakan nomor satu bagi hidupnya. Hidup devosional merupakan hidup yang berkaitan dengan pihak yang diberi kebaktian. Devosi selalu dilihat dari sudut pihak yang lebih rendah dalam hubungan itu, artinya dari sudut manusia. Di lain pihak, dari pihak yang lebih tinggi dituntut perlindungan atau penyelenggaraan (lihat JD, hal. 64).

Sebagai bahan perbandingan, apa kata pakar lain tentang arti devosi (Inggris: Devotion)? Marilah kita lihat apa yang dikatakan oleh seorang Yesuit dari Amerika Serikat, Pater F.J. Power, S.J. Dalam bukunya yang berjudul HEART OF JESUS.[2] Terjemahan bebas dari tulisannya kurang lebih berbunyi seperti berikut ini: Istilah “devosi” memiliki beberapa arti. Pertama-tama “devosi” dapat diartikan sebagai pemberian diri tanpa reserve kepada seorang pribadi lain atau maksud tertentu. Dalam pengertian seperti ini kita dapat mengatakan bahwa seorang ibu mendevosikan dirinya  bagi anak-anaknya yang masih kecil-kecil, atau seorang aktivis sosial mendevosikan dirinya untuk tercapainya keadilan sosial dalam masyarakat. Kedua, istilah “devosi” ini dapat berarti sembah-bakti, kebaktian, penyembahan (worship). Kita mengungkapkan “devosi” keagamaan kita dalam sembah-bakti kita kepada Allah. Kita melakukannya terutama dalam liturgi yang adalah penyembahan publik di dalam Gereja. Ketiga, sebagai tambahan, istilah “devosi” digunakan juga untuk praktek-praktek keagamaan khusus, antara lain: doa rosario, pelbagai novena, jalan salib, kebaktian kepada Sakramen Mahakudus dan lain-lain (lihat FJP, hal. 5). Kita lihat bahwa apa yang dikatakan Pater F.J. Power, S.J. mendukung uraian di atas yang bersumberkan pada tulisan Rm. J. Darminta, S.J.

Guna memperluas wawasan kita semua, marilah kita melihat apa yang ditulis oleh Michael Walsh tentang “devosi” ini.[3] Menurutnya, kata devosi memiliki arti yang berbeda, meskipun kedua arti tersebut sangat berhubungan erat satu sama lain. Yang pertama, dan lebih sering digunakan, adalah bahwa kata ini menggambarkan kualitas pengabdian seseorang pada suatu tugas, mungkin dengan menyampingkan semua hal lainnya. Ini menunjukkan sebuah komitmen atau pengabdian terhadap masalah yang dihadapi, dan seringkali – meskipun tidak eksklusif – berlaku pada pengabdian kepada suatu tujuan keagamaan. Hal inilah yang memunculkan pengertian kedua. Tujuan keagamaan atau obyek dari pemberian perhatian yang penuh pengabdian ini biasanya dinamakan “suatu devosi”, paling sedikit dalam penggunaannya di kalangan umat Katolik. Michael Walsh mengingatkan bahwa devosi-devosi dalam pengertian seperti ini harus dengan tegas dibedakan dari bentuk-bentuk penyembahan liturgis Gereja, yaitu Misa Kudus dan Ofisi Ilahi (Ibadat Harian). Kedua hal ini merupakan tindakan penyembahan (worship) yang bersifat publik. Artinya tidak hanya diotorisasi (disahkan) oleh Gereja tetapi juga dituntut oleh Gereja dari para anggotanya, atau dari sebagian anggotanya dalam hal Ofisi Ilahi.

Devosi-devosi biasanya harus mendapatkan pengesahan dari Gereja sampai titik tertentu, paling sedikit kalau hendak digunakan di luar paroki atau keuskupan di mana untuk suatu masa devosi-devosi itu ditoleransi secara informal, namun tidak dituntut oleh statuta gerejawi. Dalam arti sedemikian devosi-devosi merupakan kegiatan-kegiatan yang bersifat privat, meskipun dalam banyak hal devosi-devosi tersebut dalam dilakukan secara bersama-sama. Sebuah perbedaan lebih lanjut dapat dilihat, paling sedikit sampai pada saat pembaharuan-pembaharuan yang diperkenalkan oleh Konsili Vatikan II (1962-1965): devosi-devosi biasanya dilakukan dengan menggunakan bahasa lokal, sedangkan liturgi, yaitu penyembahan Gereja Katolik yang bersifat publik, menggunakan bahasa Latin. Juga harus dilakukan pembedaan satu lagi. Tindakan penyembahan sentral dalam Gereja Kristiani, paling sedikit dalam tradisi Katolik, selalu dan tetap adalah Misa Kudus, yaitu perayaan Ekaristi. Yang hakiki dalam tindakan penyembahan ini, lagi-lagi dalam tradisi Katolik meskipun tidak perlu dalam semua tradisi Kristiani lainnya, adalah seorang pelayan tertahbis: Tidak ada Misa kalau tidak ada imam! Sebaliknyalah yang ada dalam hal devosi-devosi. Meskipun dalam hal devosi-devosi yang pertama kalinya diilhami atau dipimpin oleh anggota klerus,[4] tindakan-tindakan dalam devosi-devosi itu biasanya dapat dilakukan tanpa bantuan seorang anggota Klerus. Misalnya “Jalan Salib” yang dilakukan dalam sebuah gereja biasanya dipimpin oleh seorang klerus, tetapi tidak harus. Individu-individu yang melakukan “Jalan Salib” sendiri secara teratur dari perhentian yang satu ke perhentian yang lain, tetap akan memperoleh indulgensi seperti ditetapkan Gereja karena melakukan devosi ini.

Pada abad ke sembilan belas, devosi yang paling menjamur adalah devosi kepada Hati Kudus Yesus dan devosi kepada Sakramen Mahakudus yang berakar pada Abad-abad Pertengahan. Pada tahun-tahun pasca Konsili Vatikan II, devosi-devosi mengalami penurunan karena perhatian yang lebih dipusatkan pada penyembahan liturgis, bukan pada penyembahan yang bersifat ekstra-liturgis dalam Gereja. Sebagian penurunan ini juga merupakan tanggapan terhadap keinginan Gereja Roma Katolik untuk semakin mendekat dengan Gereja-gereja Kristiani lainnya, yang secara keseluruhan tidak memiliki rasa simpati terhadap bentuk-bentuk devosi dalam Gereja Katolik. Misalnya, baik selama berlangsungnya konsili maupun setelah itu, terasa nyata adanya upaya untuk memperkecil peranan Perawan Maria dalam praksis keagamaan Katolik. Paus Yohanes Paulus II telah berupaya untuk membalikkan trend ini dengan devosi pribadi beliau yang bebas dari beban “rasa malu” dan juga seringnya beliau melakukan kunjungan-kunjungan ke tempat-tempat peziarahan Maria. Pada saat yang bersamaan, barangkali khususnya di Amerika Latin, ada upaya untuk menghidupkan kembali devosi populer dalam usaha untuk menyediakan “diet” kebaktian yang lebih bervariasi, dengan demikian menetralkan pengaruh sekte-sekte Kristiani non-Katolik, yang mempunyai bentuk-bentuk pertemuan keagamaan lebih hidup dan lebih populer, sehingga mampu menarik umat Katolik untuk bergabung dengan mereka.

DEVOSI KEPADA HATI KUDUS YESUS

Makna “Devosi kepada Hati Kudus Yesus”. Kalau begitu, apa arti “devosi” ketika kita berbicara mengenai “Devosi kepada Hati Kudus Yesus” atau “hati Yesus Yang Mahakudus”? Dengan mengacu kepada tiga arti “devosi” menurut tulisan Pater F.J. Power SJ di atas, maka “Devosi kepada Hati Kudus Yesus” dapat dikatakan menyangkut ketiga-tiganya. Dalam devosi ini kita memberikan diri kita tanpa reserve kepada Kristus karena kita menghargai kasih-Nya kepada kita; kita menyembah-Nya karena Dia adalah Allah, dan kita mewujudkan praktek-praktek keagamaan tertentu untuk mengungkapkan komitmen sembah sujud kita.

Hati Kudus Yesus. Kata “kudus” disini berarti “harus dihormati”, mendapatkan respek dan adorasi karena “hati” yang dimaksud adalah hati Yesus Kristus sendiri yang adalah Allah. Tubuh Kristus dan segala bagiannya pantas disembah karena milik seorang Pribadi Ilahi. Perlulah bagi kita untuk menjalin/memelihara hubungan dengan Pribadi Ilahi itu. Jadi, apabila kita berbicara tentang “Hati Kudus”, yang kita maksudkan adalah pribadi Yesus Kristus dengan penekanan istimewa pada kasih-Nya sebagaimana dilambangkan oleh hati-Nya. Maka “Hati Kudus” berarti Kristus yang mengasihi kita (FJP, hal.6).

Mengapa hati? Bukankah “kasih” sudah cukup, mengapa harus berbicara tentang “hati”? “Hati” bukanlah sepatah kata, melainkan sebuah tanda kasih. Tanda atau lambang sebuah hati tidak memerlukan penjelasan kepada kita tentang apa yang dimaksudkan. Kita semua melihatnya sebagai sebuah tanda cinta kasih di kartu-kartu pemberian selamat, pada kue taart, pada kotak-kota coklat di hari Valentine, pada intan permata, pada iklan-iklan dan barang-barang yang dipromosikan lewat iklan-iklan itu.[5] Sebaliknya “cintakasih” hanyalah kata – bukan sebuah tanda atau lambang.

Hati Kudus Yesus adalah sebuah tanda dan lambang yang memiliki kekuatan dari cinta kasih dan kerahiman yang dilimpahkan atas umat manusia oleh Allah melalui Hati Putera-Nya yang tertikam. Dalam “Devosi kepada Hati Kudus Yesus”, Hati fisik Yesus menjadi objek material dan inderawi devosi dan cinta kasih-Nya menjadi objek rohani devosi. Yang menjadi isi ialah iman kepada cinta kasih Yesus kepada Bapa. Cinta Hati Yesus kepada manusia menjadi perwujudan cinta kasih-Nya kepada Bapa (JD, hal. 80).

CATATAN PENUTUP

“Devosi kepada Hati Kudus Yesus’” bertumbuh-kembang dari rasa hormat kepada kemanusiaan Kristus dan pengakuan akan sifat manusiawi dari cinta kasih Allah bagi semua orang. Devosi ini muncul pada abad pertengahan, meskipun secara teologis baru didefinisikan pada tahun 1700-an. Barangkali berasal-usul dari penghormatan kepada luka-luka pada lambung Kristus. Ada sejumlah mistikus yang membantu mengembangkan devosi ini, antara lain Santo Bernardus dari Clairvaux dan Santo Bonaventura.

Perkembangan “Devosi kepada Hati Kudus Yesus” dari abad ke abad akan diuraikan dalam serangkaian tulisan terpisah.

Cilandak, 21 Januari 2008 [Hari Peringatan Santa Agnes, Perawan dan Martir]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS


[1] Pembahasan singkat mengenai “devosi” disini banyak mengandalkan tulisan Rm. J. Darminta SJ, KEHIDUPAN DEVOSIONAL – SEBUAH SKETSA PERJALANAN, dalam Frans Harjawiyata OCSO (Editor), KEHIDUPAN DEVOSIONAL [JD], Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1993, hal. 61-90.

[2] F.J. Power SJ, HEART OF JESUS – QUESTIONS AND ANSWERS ON DEVOTION TO THE SACRED HEART TODAY  (FJP), Dublin, Ireland, Irish Messenger Publications.

[3] Dalam DICTIONARY OF CATHOLIC DEVOTIONS, San Francisco: HarperSanFrancisco, 1993.

[4] Dalam Gereja Katolik, warga Gereja yang tergolong kaum Klerus adalah Uskup, Imam dan Diakon. Mereka semua tertahbis.

[5] Suster Annice Callahan RSCJ mengatakan, bahwa hati tidak selalu harus melambangkan cinta kasih karena hati pun dapat hampa atau dipenuhi cinta kasih. Lihat tulisannya yang berjudul HEART dalam Michael Downey (Editor), THE NEW DICTIONARY OF CATHOLIC SPIRITUALITY, Collegeville, Minnesota: The Liturgical Press, 1993, hal. 469.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 122 other followers