Posts from the ‘MASA ADVEN, NATAL & TAHUN BARU’ Category

IA HARUS DINAMAI YOHANES [2]

IA HARUS DINAMAI YOHANES [2]

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Senin, 23 Desember 2013)

YOHANES PEMBAPTIS DIBERI NAMAKemudian tibalah waktunya bagi Elisabet untuk bersalin dan ia pun melahirkan seorang anak laki-laki. Ketika tetangga-tetangganya serta sanak saudaranya mendengar bahwa Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepadanya, bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia. Lalu datanglah mereka pada hari yang ke delapan untuk menyunatkan anak itu dan mereka hendak menamai dia Zakharia menurut nama bapaknya, tetapi ibunya berkata, “Jangan, ia harus dinamai Yohanes.” Kata mereka kepadanya, “Tidak ada di antara sanak saudaramu yang bernama demikian.” Lalu mereka memberi isyarat kepada bapaknya untuk bertanya nama apa yang hendak diberikannya kepada anaknya itu. Ia meminta batu tulis, lalu menuliskan kata-kata ini, “Namanya adalah Yohanes.” Mereka pun heran semuanya. Seketika itu juga terbukalah mulutnya dan terlepaslah lidahnya, lalu ia berkata-kata dan memuji Allah.

Lalu ketakutanlah semua orang yang tinggal di sekitarnya, dan segala peristiwa itu menjadi buah pembicaraan di seluruh pegunungan Yudea. Semua orang yang mendengarnya, merenungkannya dalam hati dan berkata, “Menjadi apakah anak ini nanti?” Sebab tangan Tuhan menyertai dia. (Luk 1:57-66)

Bacaan pertama: Mal 3:1-4; 4:5-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 25:4-5,8-10,14

Nama “Yohanes” (bahasa Yunani: Iôannès) menunjukkan suatu kebenaran penting tentang kedatangan Tuhan ke dalam dunia. Kata Ibrani-nya dapat diterjemahkan sebagai: “YHWH memberikan karunia”.(Xavier Léon-Dufour, ENSIKLOPEDI PERJANJIAN BARU, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1991, hal. 602). Dengan kelahiran Yohanes dari Pak Zakharia dan Ibu Elisabet, rahmat dicurahkan ke atas umat-Nya. Allah itu mahabaik karena rencana yang diumumkan-Nya melalui para nabi dipenuhi – sebuah rencana untuk memulihkan umat-Nya, untuk membawa kehidupan kepada mereka, untuk membiarkan kasih-Nya mengalir dengan bebas di atas mereka. Yohanes dimaksudkan untuk bertugas sebagai bentara Kabar Baik, bahwa semua orang dapat memperoleh hidup baru; bahwa tidak ada sesuatu pun yang baik dapat diperoleh dengan mengandalkan kekuatan sendiri.

Orang-orang yang menanti-nantikan kedatangan sang Mesias harus menyiapkan diri berkaitan dengan pesan rahmat – pemberian gratis ini. Perjanjian dengan Musa telah mengajarkan kepada mereka bahwa Allah yang Mahakuasa telah mengajarkan kepada mereka bahwa sang Mahakuasa menginginkan suatu umat yang benar dan patuh kepada hukum. Yohanes Pembaptis dipanggil untuk mengajar orang-orang tentang seorang Juruselamat yang akan mengangkat ke atas mereka yang percaya, untuk sampai kepada kebaikan-Nya yang sempurna.

ZAKHARIA MENULIS NAMA ANAKNYA YPAllah mengutus Yohanes Pembaptis untuk menolong “menyiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagi-Nya” (Luk 1:17). Kelahiran Yohanes Pembaptis mempersiapkan hati Zakharia guna menyambut kedatangan Kristus. Karena keterbatasan-keterbatasan dirinya sendiri, Zakharia telah meragukan malaikat yang diutuas Allah. Pada saat anaknya siap untuk diberi nama, hati Zakharia telah berubah seluruhnya. Sebelumnya Zakharia sangat mandiri dengan mengandalkan diri sepenuhnya kepada kekuatannya sendiri, namun sekarang ia menggantungkan dirinya hanya kepada Allah. Hal ini dengan jelas dalam pemberian nama “Yohanes” sesuai dengan pesan sang malaikat yang menampakkan diri kepadanya di Bait Suci (Luk 1:63; bdk. Luk 1:13), padahal ketika Elisabet memberitahukan bahwa nama “Yohanes” itulah yang harus diberikan kepada anaknya, mereka yang hadir mengatakan bahwa “tidak ada di antara sanak-saudara keluarga Zakharia yang bernama Yohanes” (lihat Luk 1:61).

Apa yang terjadi dengan Zakharia dapt juga terjadi dengan diri kita apabila kita membuka hati kita bagi rencana Allah untuk membangkitkan kita ke alam surgawi. Ketika Yohanes berseru, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!” (Mat 3:2), sebenarnya dia meminta agar orang-orang mengubah arah. Yohanes “memohon” orang-orang agar mengubah pikiran mereka tentang bagaimana menyenangkan Allah. Bahkan ada di antara kita yang percaya kepada Kristus dan tergoda untuk mencari solusi atas masalah-masalah yang kita hadapi dengan hanya mengandalkan kekuatan-kekuatan kita sendiri (determinasi sendiri, talenta sendiri dlsb.)

Allah kita adalah yang mahabaik, sumber segala kebaikan, satu-satunya yang baik. Ia ingin menyelamatkan diri kita, mengangkat kita ke atas untuk sampai ke hadirat-Nya. Dia akan syering segalanya dengan kita, hanya apabila kita percaya.

DOA: Datanglah, ya Imanuel, Raja Damai, Hakim Agung: Selamatkanlah kami, Tuhan dan Allah kami. Terpujilah nama-Mu yang kudus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Mal 3:1-4;4:5-6), bacalah tulisan yang berjudul “MENYAMBUT KEDATANGAN YESUS KE DALAM HATI HATI KITA” (bacaan tanggal 23-12-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2013.

Cilandak, 19 Desember 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

IMANUEL, YANG BERARTI ALLAH MENYERTAI KITA

IMANUEL, YANG BERARTI ALLAH MENYERTAI KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU ADVEN IV [Tahun A] – 22 Desember 2013)

YUSUF BERMIMPI BERTEMU DENGAN MALAIKAT TUHANKelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus sebelum mereka hidup sebagai suami istri. Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama istrinya di depan umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam. Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan tampak kepadanya dalam mimpi dan berkata, “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai istrimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka.” Hal itu terjadi supaya digenapi yang difirmankan Tuhan melalui nabi, “Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel.” (Yang berarti: Allah menyertai kita.) Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai istrinya (Mat 1:18-24).

Bacaan Pertama: Yes 7:10-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 24:1-6; Bacaan Kedua: Rm:1:1-7

“Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel.” (Yang berarti: Allah menyertai kita.)” (Mat 1:23).

Sungguh suatu mukjizat – “Allah menyertai kita!” Hal ini berarti lebih daripada sekadar Yesus datang ke tengah-tengah kita dan mengajar kita suatu cara hidup yang lebih baik. Tentunya ini sudah hebat. Akan tetapi, dalam inkarnasi, Allah sendiri sesungguhnya menjadi seorang dari kita! Dia bersama kita, bukan hanya secara fisik, melainkan juga dalam pikiran dan roh juga. Dia mengetahui dengan tepat bagaimana rasanya hidup sebagai manusia. Dia sama dengan manusia lainnya, kecuali dalam hal dosa (Ibr 4:15).

Dengan penuh gairah Yesus meninggalkan takhta surgawi-Nya untuk dapat dilahirkan sebagai seorang manusia di tengah dunia. Tentunya Dia excited ketika datang ke tengah-tengah kita-manusia. Dia ingin menarik kita kembali secara penuh – roh, pikiran, dan tubuh – kepada Bapa surgawi. Karena Dia adalah Imanuel – Allah menyertai kita – maka Yesus memahami sepenuhnya segala perjuangan dan rasa takut kita. Dia bukanlah orang asing apabila kita berbicara mengenai kesulitan-kesulitan hidup kita. Dia menderita dan mengalami berbagai pencobaan dan mengetahui, mengenal dan juga mengalami rasa sakit dan takut kita. Dia menghadapi semuanya yang kita akan jumpai dalam kehidupan kita.

BETLEHEMSebelum Yesus datang, Allah menganugerahkan hikmat dan kekuatan kepada umat-Nya melalui para nabi. Namun karena kasih-Nya dan untuk menjamin kita kembali sepenuhnya kepada Dia, Allah mengutus Putera-Nya yang tunggal untuk menjadi salah seorang seperti kita-manusia. Oleh karena Yesus ada bersama kita, maka sekarang kita mempunyai pengharapan akan kehidupan kekal! Pada hari ini, oleh kuasa Roh Kudus yang dicurahkan ke dalam hati kita, maka Yesus masih merupakan Imanuel – Allah yang menyertai kita!

Saudari dan Saudara yang dikasihi Kristus, sekarang masalahnya apakah kita (anda dan saya) percaya bahwa Yesus adalah seorang pribadi? Ini adalah janji Injil! Selagi kita membuat persiapan-persiapan terakhir dalam rangka menyongsong hari Natal, Yesus mengundang kita semua untuk meluangkan waktu berada bersama dia dalam doa. Yesus ingin agar kita membuka hati kita dan menerima kasih-Nya dan kesembuhan dari-Nya. Dia ingin mencurahkan kepada kita dengan pengharapan dan kemerdekaan. Selagi kita mengheningkan diri kita di hadapan hadirat-Nya, maka kita dapat menerima sukacita mendalam karena boleh mengenal Yesus secara pribadi – suatu sukacita yang akan mentranformasikan diri kita menjadi semakin rupa dengan diri-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, aku meletakkan hatiku di hadapan-Mu dan mohon kepada-Mu untuk memenuhi diriku dengan kehadiran-Mu. Aku ingin berjalan bersama Engkau dan mengenal Engkau sebagai Imanuel – Allah yang menyertai diriku. Oleh kuasa Roh Kudus-Mu, mampukanlah diriku agar dapat mengenal Engkau secara pribadi. Terpujilah nama-Mu yang kudus, ya Yesus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalam Bacaan Injil hari ini (Mat 1:18-24), bacalah tulisan yang berjudul “MARI KITA TELADANI SANTO YOSEF, SANG HAMBA TUHAN !!!” (bacaan tanggal 22-12-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori 13-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2013.

Cilandak, 18 Desember 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MARIA: PERAWAN DAN IBU


MARIA: PERAWAN DAN IBU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Sabtu, 21 Desember 2013)

VISITASI - MARIA MENGUNJUNGI ELISABET - 1

Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan bergegas menuju sebuah kota di pegunungan Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring, “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai di telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana” (Luk 1:39-45).

Bacaan pertama: Kid 2:8-14 atau Zef 3:14-18a; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:2-3,11-12,20-21

Dalam kedalaman hati setiap perempuan yang baik terdapat suatu hasrat untuk kualitas-kualitas baik sebagai seorang perawan maupun seorang ibu. Dia ingin suatu hidup kemurnian yang bermakna, baik secara fisik maupun spiritual: suatu kemurnian pikiran, hati, dan kehendak. Ia juga memiliki hasrat menjadi seorang ibu, artinya memberikan hidup. Seorang ibu memberikan hidup secara fisik, malah secara spiritual, dengan memberikan nilai kepada kehidupan, dengan memberikan makna dan tujuan dan dorongan kepada orang-orang lain.

Dua imaji (gambar) atau cita-cita ini, perawan maupun ibu, tidaklah bertentangan satu sama lain, melainkan bersifat komplementer – saling mengisi/melengkapi – dalam karakter perempuan. Kedua hal tersebut memanifestasikan dua kecenderungan pribadi manusia: (1) penahanan/ pengurungan diri – menahan diri kita sendiri untuk menjadi setia terhadap orang lain, dan (2) pengosongan diri (Inggris: self-abandonment) – memberikan diri sendiri kepada banyak orang. Dua kualitas ini bersama-sama membentuk perempuan yang ideal.

Allah menyadari ideal ini secara sempurna terdapat dalam diri seorang pribadi: Ibunda-Nya, Maria. Maria ini adalah seorang perawan dan seorang ibu dalam artian yang sesungguhnya, baik secara fisik maupun spiritual. Allah memanggil setiap perempuan untuk secara spiritual menjadi perawan dan seorang ibu, tanpa peduli status kehidupannya: apakah menikah, tidak menikah, atau sebagai religus.

Baiklah kita melihat dua keutamaan indah perempuan ini, baik dalam diri Maria maupun Elisabet selagi mereka berjumpa di tempat kediaman Elisabet dan Zakharia di Ain Karem. Lihatlah bagaimana mereka membuka diri masing-masing bagi Allah. Bagaimana dengan penuh sukacita mereka telah menerima kesempatan-kesempatan dalam hidup mereka. Bagaimana mereka melihat dengan penuh penghargaan inspirasi-inspirasi ilahi dalam keheningan batin mereka dan bagaimana mereka telah memberikan yang terbaik bagi orang-orang lain.

Betapa indahlah seeorang perempuan yang mengkombinasikan dengan baik dan seimbang kedua kualitas berharga ini! Berbahagialah seorang perempuan yang menjaga baik-baik karunia hikmat dan kesehatan rohaninya, rasa percayanya, kemampuannya untuk memahami dan untuk menaruh simpati. Dengan demikian dia siap untuk menaruh hormat/respek kepada orang-orang lain, mendukung mereka, untuk berbela-rasa. Perempuan seperti itu memiliki kecerdikan untuk membawa segala sesuatu kepada tujuannya yang paling berguna, paling berbuah, paling indah dan paling berharga.

DOA: Bapa surgawi, Allah yang baik, sumber segala kebaikan, satu-satunya yang baik. Kata-kata berikut ini diucapkan oleh Elisabet kepada Maria. “Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.” Ya Tuhanku dan Allahku, jadikanlah diriku anak-Mu yang baik dengan meneladan iman-kepercayaan sejati yang telah ditunjukkan oleh Bunda Maria. Terpujilah nama-Mu yang kudus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 1:39-45), bacalah tulisan yang berjudul “MELONJAK KEGIRANGAN” (bacaan tanggal 21-12-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2013.

Cilandak, 16 Desember 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MARIA MEMANG DIPILIH OLEH ALLAH SENDIRI

MARIA MEMANG DIPILIH OLEH ALLAH SENDIRI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Jumat, 20 Desember 2013)

the-annunciation

Dalam bulan yang keenam malaikat Gabriel disuruh Allah pergi ke sebuah kota yang bernama Nazaret,kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. Ketika malaikat itu datang kepada Maria, ia berkata, “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.” Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya, “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh anugerah di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapak leluhur-Nya, dan Ia akan memerintah atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-nya tidak akan berkesudahan.” Kata Maria kepada malaikat itu, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” Jawab malaikat itu kepadanya, “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.” Kata Maria, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia (Luk 1:26-38).

Bacaan Pertama: Yes 7:10-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 24:1-6

Banyak dari kita berpikir bahwa kita mempunyai hak untuk dibuat bahagia, seakan-akan tugas-kewajiban setiap orang lainlah untuk membuat hari kita terang-benderang dan cerah sekali, dengan melakukan hal-hal yang tepat sama seperti dihasrati oleh perasaan kita.

Jikalau ada pesan yang sangat jelas di dalam Kitab Suci, maka beginilah bunyinya: mereka yang paling dikasihi Allah sebenarnya dikelilingi oleh berbagai kesedihan, kesulitan dan pencobaan hidup, bahkan tragedi-tragedi yang lebih hebat lagi. Namun mereka tetap berbahagia secara mendalam, dan mereka berbicara dan menyanyikan lagu pujian kepada Allah dengan penuh sukacita. Mereka memuji-muji Allah karena kebaikan hati-Nya, dan mereka berterima kasih penuh syukur kepada-Nya untuk hal-hal yang malah akan menyebabkan banyak dari kita melontarkan keluhan-keluhan yang penuh dengan kepahitan.

Maria, ibunda Yesus, hidup dalam kemiskinan yang jauh dari “wah-wahnya” gaya hidup orang-orang kalangan atas dalam masyarakat Yahudi. Allah – lewat malaikat agung Gabriel – telah menjanjikan rahmat-Nya kepada sang perawan, bahwa dia akan menjadi ibunda dari sang Penebus dunia, namun hal ini tidak akan membuatnya bertambah kaya dalam bentuk harta-benda pribadi atau penghargaan serta puji-pujian dari manusia di dunia ini, juga tidak ada jaminan bahwa dia akan menerima berbagai penghormatan dan perhatian dunia. Sesungguhnya, ketika dia membawa anaknya ke Bait Suci, seorang tua yang bernama Simeon bernubuat di hadapan Maria: “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan – dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri – supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang” (Luk 2:34-35).

Ketika kabar suka-cita dari sang malaikat sampai ke telinga Maria, “Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus ……”; memang Maria sejenak merasa terkejut karena status keperawanannya, namun setelah dijelaskan oleh sang malaikat bahwa “bagi Allah tidak ada yang mustahil”, maka Maria berkata: “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38). Lalu Maria tidak membuang-buang waktu untuk memberi selamat kepada dirinya sendiri sambil menuntut sesuatu kepada Allah dan/atau berlari ke sana ke mari menceritakan status istimewa yang baru diterimanya dari Allah, kepada para tetangganya di Nazaret. Sebaliknya, Maria justru dipenuhi keprihatinan memikirkan orang-orang lain. Saudara sepupunya yang tinggal di Ain-Karem di pegunungan Yehuda – Elisabet, istri Zakharia – sedang mengandung tua pada usianya yang jauh dari muda. Oleh karena itu Maria melakukan perjalanan jauh dari Nazaret di Galilea menuju Ain-Karim di pegunungan Yehuda. Tiga bulan lamanya Maria dengan penuh sukacita melayani kedua anggota keluarganya yang sudah tua-tua itu dan yang baru mendapatkan seorang bayi laki-laki, Yohanes!

Sebagaimana Maria, siapa saja dari kita yang mau mengalami sukacita sejati harus menemukannya dalam diri kita sendiri. Tidak ada orang yang mampu memberikan sukacita sejati kepada kita! Namun apabila kita (anda dan saya) sungguh ingin memperolehnya, maka kita harus senantiasa mengingat bahwa sukacita sejati hanya dapat diberikan oleh Allah sendiri, yang menjanjikannya kepada siapa saja yang mencarinya:

DOA: Aku bersukaria di dalam TUHAN, jiwaku bersorak-sorai di dalam Allahku, sebab Ia mengenakan pakaian keselamatan kepadaku dan menyelubungi aku dengan jubah kebenaran, seperti pengantin laki-laki yang mengenakan perhiasan kepala dan seperti pengantian perempuan yang memakai perhiasannya. Sebab seperti bumi memancarkan tumbuh-tumbuhan, dan seperti kebun menumbuhkan benih yang ditaburkan, demikianlah Tuhan ALLAH akan menumbuhkan kebenaran dan puji-pujian di depan semua bangsa-bangsa (Mzm 61:10-11). Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 1:26-38), bacalah tulisan yang berjudul “JADILAH PADAKU MENURUT PERKATAANMU ITU” (bacaan tanggal 20-12-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2013.

Cilandak, 16 Desember 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENARUH KEPERCAYAAN SEPENUHNYA KEPADA ALLAH

MENARUH KEPERCAYAAN SEPENUHNYA KEPADA ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Kamis, 19 Desember 2013)

zechariah at the temple - 01 Pada zaman Herodes, raja Yudea, ada seorang imam yang bernama Zakharia dari rombongan Abia. Istrinya juga berasal dari keturunan Harun, namanya Elisabet. Keduanya hidup benar di hadapan Allah dan menuruti segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat. Tetapi mereka tidak mempunyai anak, sebab Elisabet mandul dan keduanya telah lanjut umurnya.

Pada suatu kali, waktu tiba giliran kelompoknya, Zakharia melakukan tugas keimaman di hadapan Tuhan. Sebab ketika diundi, sebagaimana lazimnya, untuk menentukan imam yang bertugas, dialah yang ditunjuk untuk masuk ke dalam Bait Suci dan membakar dupa di situ. Pada waktu pembakaran dupa, seluruh umat berkumpul di luar dan sembahyang. Lalu tampaklah kepada Zakharia seorang malaikat Tuhan berdiri di sebelah kanan mezbah pembakaran dupa. Melihat hal itu ia terkejut dan menjadi takut. Tetapi malaikat itu berkata kepadanya, “Jangan takut, hai Zakharia, sebab doamu telah dikabulkan. Elisabet, istrimu, akan melahirkan seorang anak laki-laki bagimu dan haruslah engkau menamai dia Yohanes. Engkau akan bersukacita dan bergembira, bahkan banyak orang akan bersukacita atas kelahirannya itu. Sebab ia akan besar di hadapan Tuhan dan dia tidak akan minum anggur atau minuman keras dan ia akan penuh dengan Roh Kudus sejak dari rahim ibunya dan ia akan membuat banyak orang Israel berbalik kepada Tuhan, Allah mereka. Ia akan berjalan mendahului Tuhan dalam roh dan kuasa Elia untuk membuat hati para bapak berbalik kepada anak-anaknya dan hati orang-orang durhaka kepada pikiran orang-orang benar. Dengan demikian ia menyiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagi-Nya.” Lalu kata Zakharia kepada malaikat itu, “Bagaimanakah aku tahu bahwa hal ini akan terjadi? Sebab aku sudah tua dan istriku sudah lanjut umurnya.” Jawab malaikat itu kepadanya, “Akulah Gabriel yang melayani Allah dan aku telah diutus untuk berbicara kepadamu untuk menyampaikan kabar baik ini kepadamu. Sesungguhnya engkau akan menjadi bisu dan tidak dapat berkata-kata sampai hari ketika semuanya ini terjadi, karena engkau tidak percaya kepada perkataanku yang akan dipenuhi pada waktunya.” Sementara itu orang banyak menanti-nantikan Zakharia. Mereka menjadi heran bahwa ia begitu lama berada dalam Bait Suci. Ketika ia keluar, ia tidak dapat berkata-kata kepada mereka dan mengertilah mereka bahwa ia telah melihat suatu penglihatan di dalam Bait Suci. Lalu ia memberi isyarat kepada mereka, dan ia tetap bisu. Ketika selesai masa pelayanannya, ia pulang ke rumah.

Beberapa lama kemudian Elisabet, istrinya, mengandung dan selama lima bulan ia tidak menampakkan diri, katanya, “Inilah suatu perbuatan Tuhan bagiku, dan sekarang Ia berkenan menghapuskan aibku di depan orang.” (Luk 1:5-25)

Bacaan pertama: Hak 13:2-7.24-25; Mazmur Tanggapan: Mzm 71:5-6,16-17

Malaikat Agung Gabriel datang kepada Zakharia untuk mengumumkan kelahiran yang akan datang dari seorang anak laki-laki, dan hal itu disambut oleh Zakharia dengan keragu-raguan, karena baik dirinya maupun Elisabet, istrinya, sudah lanjut usia. Ketika malaikat yang sama memberi kabar baik kepada Maria tentang seorang anak laki-laki yang akan dikandungnya dari Roh Kudus dan dilahirkannya, dia (Maria) juga terkejut, karena dia adalah seorang perawan.

Namun demikian, ternyata ada perbedaan antara kedua peristiwa tersebut. Zakharia akan tetap bisu sampai kelahiran anaknya; kata sangat malaikat: “Sesungguhnya engkau akan menjadi bisu dan tidak dapat berkata-kata sampai hari ketika semuanya ini terjadi, karena engkau tidak percaya kepada perkataanku yang akan dipenuhi pada waktunya” (Luk 1:20).

ANNUNCIATION - 1Kita tentunya mengingat bahwa Maria tidak pernah menerima teguran dari malaikat agung Gabriel seperti yang dialami oleh Zakharia sebelumnya. Sebaliknya, Maria dipuji-puji oleh Elisabet, “Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana” (Luk 1:45).

Sejak dari awal Injil-nya, Lukas sudah mengatakan kepada kita bagaimana kita harus menanggapi pesan indah kasih Allah, yaitu dengan menaruh kepercayaan sepenuhnya pada Allah. Sekarang, sampai berapa riil-kah rasa percaya kita pada Allah? Sampai berapa besar keyakinan kita akan kasih-Nya bagi kita dalam segala keadaan? Apakah kita harus menanti sampai janji Allah dipenuhi dulu, sebelum kita berterima kasih penuh syukur seperti yang dilakukan oleh Zakharia? Orang tua ini akhirnya sampai kepada iman dan suatu semangat syukur yang penuh sukacita, namun kelihatannya dia harus menantikan dan melihat dulu apa yang dilakukan oleh Allah (bacalah “Kidung Zakharia” dalam Luk 1:68-79).

Maria adalah seorang puteri yang sempurna, model/teladan bagi orang Kristiani, dia tidak memerlukan pembuktian. Rasa percayanya kepada Allah tidak perlu dipertanyakan lagi. Maria memuji Allah – Penyelamatnya – sebelum janji sang malaikat agung terwujud menjadi suatu kenyataan, karena iman-Nya kepada kasih Allah yang tanpa batas bersifat tetap dan total (bacalah “Kidung Maria” dalam Luk 1:46-55).

DOA: Ya TUHAN, Engkaulah bagian warisanku dan pialaku, Engkau sendirilah yang meneguhkan bagian yang diundikan kepadaku. Tali pengukur jatuh bagiku di tempat-tempat yang permai; ya, milik pusakaku menyenangkan hatiku. Aku memuji TUHAN, yang telah memberi nasihat kepadaku, ya, pada waktu malam hati nuraniku mengajari aku. Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah (Mzm 16:5-8). Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 1:5-25), bacalah tulisan yang berjudul “KITA SEMUA DIPANGGIL OLEH ALLAH” (bacaan tanggal 19-12-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori 13-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2013.

Cilandak, 16 Desember 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ALLAH MEMPUNYAI SUATU RENCANA YANG TEPAT DAN SEMPURNA BAGI KITA MASING-MASING

ALLAH MEMPUNYAI SUATU RENCANA YANG TEPAT DAN SEMPURNA BAGI KITA MASING-MASING

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Rabu, 18 Desember 2013)

YUSUF BERMIMPI BERTEMU DENGAN MALAIKAT TUHANKelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus sebelum mereka hidup sebagai suami istri. Karena Yusuf suaminya, seorang yang tulus hati dan tidak mau mencemarkan nama istrinya di depan umum, ia bermaksud menceraikannya dengan diam-diam. Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan tampak kepadanya dalam mimpi dan berkata, “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai istrimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa-dosa mereka.” Hal itu terjadi supaya digenapi yang difirmankan Tuhan melalui nabi, “Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel.” (Yang berarti: Allah menyertai kita.) Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai istrinya. (Mat 1:18-24)

Bacaan pertama: Yer 23:5-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 72:2,12-13,18-19

Setelah selesai dengan Maria (Luk 1:31), Allah mengutus seorang malaikat untuk menyatakan rencana penyelamatan-Nya kepada Yusuf juga. Kita dapat membayangkan kiranya sang malaikat berkata kepada Yusuf begini: “Jangan takut, Yusuf. Allah telah memilih engkau untuk menjadi ayah di dunia dari Putera-Nya sendiri. Dia akan membimbing engkau dan memimpin engkau. Bawalah Maria ke rumah sebagai istrimu dan percayalah kepada Tuhan.” Yusuf kiranya tidak mungkin mampu untuk memenuhi peranannya jika dia tidak dibuat yakin bahwa Allah adalah “seorang” Bapa yang sangat mengasihi, yang rencana-rencana-Nya bagi dirinya adalah baik dan tidak akan mencelakakan dirinya.

Allah mempunyai suatu rencana yang tepat dan sempurna bagi kita masing-masing. Ia telah mengenal kita dari sejak sediakala dana Ia telah memilih kita untuk dijadikan anak-anak angkat melalui Kristus (Ef 1:5). Ia mempunyai kasih yang istimewa bagi kita masing-masing dan suatu cara khusus dengan mana Dia mau kita masing-masing melayani-Nya. Kita mungkin tidak selalu jelas tentang rencana Allah bagi kita, namun kita dapat menaruh kepercayaan bahwa Dia tidak pernah mengabaikan rencana-Nya, dan Ia selalu bekerja untuk merealisasikan rencana-Nya itu.

Sebagaimana Maria yang bertanya kepada sang malaikat bagaimana dia – yang masih perawan – akan melahirkan anak, maka pentinglah bagi kita untuk menyediakan waktu dan bertanya kepada Allah agar menyatakan rencana-Nya kepada kita. Kita tidak boleh takut untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat spesifik kepada Allah. Apabila kita pikir bahwa Dia memimpin kita ke arah tertentu, kita dapat berdoa begini: “Tuhan, tunjukkanlah kepadaku bagaimana ini cocok dengan rencana-Mu bagi diriku.” Kita harus mau mengambil langkah-langkah kecil untuk mencoba taat kepada apa yang kita pikir Allah perintahkan kepada kita. Kita semua dapat belajar banyak melalui suatu eksperimentansi dalam suasana doa yang sedemikian.

Kadang-kadang sukarlah bagi kita untuk menaruh kepercayaan pada rencana Allah, teristimewa pada saat-saat kita sakit dan menderita kesusahan. Barangkali ada peristiwa-peristiwa yang terjadi pada diri kita yang kita pikir bukan merupakan bagian dari rencana Allah yang penuh kasih. Ketika kita menyadari bahwa kita berada dalam situasi-situasi seperti itu, maka kita dapat berseru kepada Bapa surgawi agar diberi kekuatan dan berpaling kepada keluarga kita dan para sahabat kita untuk penghiburan dan doa-doa. Allah mengasihi kita dan telah memilih kita menjadi milik-Nya sendiri, menjadi keluarga-Nya sendiri. Ia mempunyai sebuah rencana tentang bagaimana kita akan melayani-Nya dan orang-orang lain, dan Ia akan menyatakan rencana-Nya kepada kita apabila kita bertanya kepada-Nya.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau telah menyatakan rencana penyelamatan-Mu dalam Yesus. Terima juga untuk kasih-Mu dan rencana-Mu bagi diri kami masing-masing. Selagi kami merayakan kelahiran sang Juruselamat, tolonglah kami memberi tanggapan kepada-Mu dengan hati yang penuh iman dan rasa percaya seperti yang telah ditunjukkan oleh Yusuf dan Maria. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 1:18-24), bacalah tulisan yang berjudul “DIKANDUNG DARI ROH KUDUS” (bacaan tanggal 18-12-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2013.
Bacalah juga tulisan yang berjudul “JANGANLAH ENGKAU TAKUT MENGAMBIL MARIA SEBAGAI ISTRIMU” (bacaan tanggal 18-12-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Untuk mendalami Bacaan Pertama (Yer 23:5-8), bacalah tulisan yang berjudul “JANJI TENTANG TUNAS DAUD YANG ADIL” (bacaan tanggal 18-12-10) dalam situs/blog SANG SABDA.

Cilandak, 14 Desember 2013 [Peringatan S. Yohanes dari Salib]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SILSILAH YESUS KRISTUS (3)

SILSILAH YESUS KRISTUS (3)

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Selasa, 17 Desember 2013)

800px-Genealogy_of_Jesus_mosaic_at_Chora_(1)

Inilah daftar nenek moyang Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham. Abraham mempunyai anak, Ishak; Ishak mempunyai anak, Yakub; Yakub mempunyai anak, Yehuda dan saudara-saudaranya, Yehuda mempunyai anak, Peres dan Zerah dari Tamar, Peres mempunyai anak, Hezron; Hezron mempunyai anak, Ram; Ram mempunyai anak, Aminadab; Aminadab mempunyai anak, Nahason; Nahason mempunyai anak, Salmon; Salmon mempunyai anak, Boas dari Rahab, Boas mempunyai anak, Obed dari Rut, Obed mempunyai anak, Isai; Isai mempunyai anak, Raja Daud. Daud mempunyai anak, Salomo dari istri Uria, Salomo mempunyai anak Rehabeam; Rehabeam mempunyai anak, Abia; Abia mempunyai anak, Asa; Asa mempunyai anak, Yosafat; Yosafat mempunyai anak, Yoram; Yoram mempunyai anak, Uzia; Uzia mempunyai anak, Yotam; Yotam mempunyai anak, Ahas; Ahas mempunyai anak, Hizkia; Hiskia mempunyai anak, Manasye; Manasye mempunyai anak, Amon; Amon mempunyai anak, Yosia; Yosia mempunyai anak, Yekhonya dan saudara-saudaranya pada waktu pembuangan ke Babel. Sesudah pembuangan ke Babel, Yekhonya mempunyai anak, Sealtiel; Sealtiel mempunyai anak Zerubabel; Zerubabel mempunyai anak, Abihud; Abihud mempunyai anak, Elyakim; Elyakim mempunyai anak, Azor; Azor mempunyai anak, Zadok; Zadok mempunyai anak, Akhim; Akhim mempunyai anak, Eliud; Eliud mempunyai anak, Eleazar; Eleazar mempunyai anak, Matan; Matan mempunyai anak, Yakub; Yakub mempunyai anak, Yusuf suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus.

Jadi, seluruhnya ada empat belas keturunan dari Abraham sampai Daud, empat belas keturunan dari Daud sampai pembuangan ke Babel, dan empat belas keturunan dari pembuangan ke Babel sampai Kristus. (Mat 1:1-17)

Bacaan Pertama: Kej 49:2,8-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 72:3-4,7-8,17

Mulai tanggal 17 Desember pada masa Adven bacaan-bacaan liturgis dipusatkan pada kedatangan Putera Allah sebagai anak manusia di tengah dunia, …… Natal. Hari ini kita merenungkan silsilah Yesus Kristus.

Sampai berapa seringkah kita, kalau menjumpai suatu silsilah dalam Kitab Suci, kita mengabaikannya atau membacanya secara sekilas lintas saja, kemudian membaca cerita-cerita yang lebih menarik? Akan tetapi, dengan bertindak seperti itu kita dapat kehilangan kesempatan untuk melihat wawasan yang berkenaan dengan rencana Allah. Silsilah Injil Matius tentang Yesus tidak hanya memperluas pemahaman kita tentang persiapan Allah berkaitan dengan kelahiran Putera-Nya, melainkan juga membuka pikiran kita bagi kemampuan indah dari Allah untuk mendatangkan kebaikan dalam segala macam situasi yang dihadapi.

Silsilah seturut Injil Matius – yang dimulai dengan Abraham – mengokohkan posisi Yesus dalam tradisi Yahudi. Sebaliknya, silsilah seturut Injil Lukas (lihat Luk 3:23-38) melacak asal-usul Yesus – mundur ke belakang – sampai Adam dan menekankan signifikansi Yesus secara universal. Matius membagi nama-nama dan sejarah Israel ke dalam tiga kelompok, dan ia mengakhiri setiap kelompok dengan suatu klimaks: Daud sebagai raja (Mat 1:6), pembuangan di Babel (Mat 1:11), dan kelahiran Yesus (Mat 1:16). Dengan menulis secara begini, Matius menunjukkan betapa hati-hati Allah mempersiapkan umat-Nya untuk kedatangan sang Mesias. Tidak ada sedikit pun detil yang luput dari perhatian-Nya.

Bila kita memperhatikan persiapan yang sangat cermat, kita dapat menjadi terkejut ketika menemukan bahwa tidak semua nenek moyang Yesus adalah orang-orang yang hidupnya patut dikagumi. Di samping menyebutkan nama-nama beberapa raja Yehuda yang jauh dari hidup saleh, Matius juga menyoroti beberapa insiden buruk-menjijikan dalam sejarah Israel: tipuan Tamar agar dapat mengandung anak dari bapak mertuanya Yehuda (lihat Kej 38), dan perselingkuhan Daud dengan istri Uria yang bernama Batsyeba (lihat 2Sam 11). Matius ingin membuat jelas bahwa rencana Allah tidak dapat diganggu oleh kelemahan manusia. Pada kenyataannya, Allah memang sering mengejutkan umat-Nya dengan menggunakan orang-orang yang dipandang lemah, miskin, atau tidak diinginkan.

Dimasukkannya individu-individu ini dalam silsilah Yesus seharusnya menyemangati kita. Ada sebuah tempat untuk setiap pribadi dalam rencana penyelamatan Allah. Kita tidak perlu menjadi manusia yang sempurna atau kudus secara khusus agar dapat digunakan oleh Allah! Kita masing-masing mempunyai peranan yang penting seturut siapa diri kita sebagai anak-anak yang dikasihi Allah, yang telah ditebus oleh Yesus. Marilah kita memegang kebenaran ini dalam hati kita. Yesus ingin memberikan kepada kita martabat besar dan rasa percaya dalam pelayanan kita bagi-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, aku mengkomit hidupku kepada-Mu. Ambillah setiap bagian dari hidupku – baik yang pantas maupun tidak pantas – dan gunakanlah diriku bagi kemuliaan-Mu untuk membawa Kerajaan-Mu ke tengah dunia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 1:1-17), bacalah tulisan yang berjudul “SILSILAH YESUS KRISTUS (2)” (bacaan tanggal 17-12-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2013.

Cilandak, 14 Desember 2013 [Peringatan S. Yohanes dari Salib]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 140 other followers