Posts from the ‘MASA ADVEN, NATAL & TAHUN BARU’ Category

EVANGELISASI DALAM MASA ADVEN?

EVANGELISASI DALAM MASA ADVEN?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Ambrosius, Uskup-Pujangga Gereja – Sabtu, 7 Desember 2013)

YESUS MENGUTUS PARA MURID-NYADemikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat mereka dan membertakan Injil Kerajaan Surga serta menyembuhkan orang-orang dari segala penyakit dan kelemahan. Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu kata-Nya kepada murid-murid-Nya, “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu, mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.”

Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan memberi kuasa kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk menyembuhkan orang-orang dari segala penyakit dan kelemahan. (Perintah-Nya:) Pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel. Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Surga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; sembuhkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kami telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma. (Mat 9:35-10:1,6-8)

Bacaan Pertama: Yes 30:19-21,23-26; Mazmur Tanggapan: Mzm 147:1-6

Apakah Saudari dan Saudara pernah berpikir bahwa masa Adven adalah suatu masa untuk evangelisasi? Biar bagaimana pun juga bacaan Injil hari ini mengingatkan kita akan kebutuhan yang mendesak (bahasa kerennya: urgent needs) untuk mensyeringkan Kabar Baik Yesus Kristus dengan orang-orang lain – dan Gereja menempatkannya sebagai Bacaan Injil untuk masa Adven. Jelaslah, bahwa masa Adven ini tidak hanya berkaitan dengan urusan menantikan saat kita merayakan kelahiran Yesus pada hari Natal!

Lihatlah apa yang ada di sekeliling anda pada waktu anda jalan-jalan berkeliling di tempat-tempat perbelanjaan. Para penjual tiket parkir dan para petugas penjualan sudah mengenakan topi Santa Klaus yang berwarna merah itu. Kita juga dapat melihat dekorasi yang hanya ada dalam bulan Desember/masa Natal – namun apakah tujuan semua itu, …… apakah yang ingin dicapai? Gejala ini lebih mencolok dalam negeri-negeri maju. Renungkanlah bagaimana berjuta-juta orang yang dibuat tertarik – bahkan dibuat terkecoh – oleh pandangan sekular yang secara eksklusif mendominasi masa Natal? “Perayaan dan lagu-lagu Natal” yang terasa profan, jauh dari yang “sakral”, jauh dari makna sebenarnya dari peristiwa kedatangan bayi Yesus ke tengah dunia. Pernahkah Saudari-Saudara mempertimbangkan kemungkinan bahwa Allah mungkin ingin memakai anda untuk memberikan sesuatu yang dapat membuat seimbang semua ini? Jadi, kita tidak perlu merasa kaget. Allah ingin agar kita semua terlibat dalam kegiatan evangelisasi. Kabar Baik dari Yesus Kristus dan mukjizat kedatangan-Nya di tengah-tengah kita-manusia – misteri inkarnasi – sungguh merupakan sesuatu yang mendesak untuk disyeringkan dengan dunia, dengan cara yang menarik dan inspiratif.

Namun demikian, ada satu hal yang harus kita sadari, yaitu bahwa sebelum kita mensyeringkan Injil, pertama-tama Injil itu harus sudah “merasuki” pikiran dan hati kita. Dengan kata-kata anda sendiri, bagaimana anda akan menggambarkan Kabar Baik yang kita rayakan selama masa Adven dan Natal? Pada akhir pekan ini, cobalah anda mengambil sedikit waktu untuk menulis jawaban atas pertanyaan ini. Bilamana anda menghadapi kesulitan dalam menuliskan jawaban anda, maka barangkali anda dapat minta kepada seorang saudari/saudara Kristiani yang dapat dipercaya atau pastor anda untuk menolong anda. Sekarang tersedia banyak sekali bahan-bahan bacaan tentang evangelisasi Katolik. Gunakanlah bahan-bahan (tidak usah semuanya) itu apabila anda pikir baik untuk dipakai. Anda mungkin juga ingin mengingat-ingat kembali saat-saat dalam kehidupan anda – barangkali pada masa Adven dan Natal – pada saat-saat mana anda mengalami Allah secara istimewa. Itulah cerita anda – pengalaman anda akan Kabar Baik Yesus Kristus – jadi janganlah berpikir bahwa pengalaman tersebut tidaklah cukup baik untuk disyeringkan dengan orang-orang lain.

Yesus ingin agar semua orang datang kepada-Nya dengan cara yang lebih besar selama masa istimewa ini, oleh karena itu marilah kita bertanya kepada-Nya agar kita masing-masing dapat berfungsi sebagai seorang “Penginjil Masa Adven” yang efektif. Kemudian, kita harus bertanya kepada Roh Kudus untuk menolong kita mengenali situasi yang kita hadapi dan bertindak dalam kesempatan yang terbuka untuk berbicara mengenai Yesus Kristus. Dengan cara begitu, kita pun akan menyadari bahwa kita telah berkontribusi – walaupun kecil – terhadap misi membawa damai ke atas muka bumi dan kehendak baik bagi semua orang.

St_AmbroseSanto Ambrosius [c. 334-397]. Pada hari ini, tanggal 7 Desember, kita memperingati Santo Ambrosius, uskup agung Milano dan salah seorang dari empat orang Bapak Gereja di Barat (Augustinus, Hieronimus, Gregrorius Agung). Sebelum diangkat menjadi uskup, Ambrosius pernah menjadi gubernur provinsi Liguria dan Emilia. Ketika dipilih menjadi uskup, Ambrosius belum dibaptis. Namun sejak dia memangku jabatan uskup, seluruh hidupnya diabdikan demi umatnya: Ia tekun mempelajari Kitab Suci; memberikan khotbah setiap hari Minggu dan hari raya gerejawi serta menjaga persatuan dan kemurnian ajaran Katolik. Dengan penuh hikmat-kebijaksanaan dia membimbing kehidupan rohani umat; mengatur ibadah hari Minggu dengan menarik, sehingga umat dapat berpartisipasi secara aktif; mengatur dan mengusahakan bantuan bagi pemeliharaan kaum miskin-papa dan mempertobatkan orang-orang berdosa. Ambrosius adalah seorang uskup yang sangat baik dalam melayani umatnya. Ambrosius memang seorang gembala baik, yang dengan tulus-hati mencoba berusaha meniru sang Gembala Agung, Yesus Kristus. Sebagai seorang pemimpin Gereja, Ambrosius berhasil menyurutkan pengaruh kaum bid’ah Arianisme. Ketika Kaisar Theodosius menumpas pemberontakan dan melakukan pembantaian besar-besaran (genosida), Kaisar dikucilkan dari umat (diekskomunikasikan). Untuk diterima kembali ke dalam Gereja, Kaisar harus bertobat dan mengungkapkan penyesalannya di depan umat. Ambrosius tak peduli kaisar atau wong cilik, apabila berdosa harus bertobat. “Kalau Yang Mulia meneladan Raja Daud ketika berdosa, maka Yang Mulia harus mencontoh dia pula ketika bertobat!” – “Kepala Negara adalah anggota Gereja, bukan tuannya”, itulah kata-katanya kepada Kaisar.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, utuslah kami dalam masa Adven ini, sebagaimana Engkau dahulu mengutus kedua belas rasul-Mu. Penuhilah diri kami dengan kasih-Mu, dan biarlah kasih-Mu itu mengalir ke luar secara berlimpah kepada orang-orang lain, seperti yang terjadi dengan Santo Ambrosius yang kami peringati hari ini. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari (Mat 9:35-10:1,6-8), bacalah tulisan yang berjudul “ADVEN: MASA UNTUK MENERIMA DAN MEMBERI” (bacaan tanggal 7-12-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2013.

Cilandak, 4 Desember 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENDENGAR SABDA YESUS DAN MELAKUKANNYA

MENDENGAR SABDA YESUS DAN MELAKUKANNYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Adven – Kamis, 5 Desember 2013)

KHOTBAH DI BUKIT - 11Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan orang yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga.

Jadi, setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu bertiuplah angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu bertiuplah angin melanda rumah itu itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya. (Mat 7:21,24-27)

Bacaan Pertama: Yes 26:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 118:1,8-9,19-21,25-27

Sekilas lintas masa Adven ini kelihatannya memusatkan perhatian pada sikap dan tindakan kita “menantikan” dan “berjaga-jaga”, atau menerima bayi Yesus dengan segala kerendahan hati. Semua itu sebenarnya sah-sah saja dan memang baik! Tetapi walaupun selama masa “persiapan” ini, Injil tetap memanggil orang-orang untuk bertindak. Keberadaan kita sebagai murid-murid Yesus berarti dengan penuh kesadaran mengambil keputusan setiap bangun di pagi hari untuk turut serta membangun Kerajaan Allah di atas muka bumi ini. Jadi, tidak heranlah apabila amanat agung Yesus kepada para murid sebelum kenaikan-Nya ke surga dimulai dengan kata, “Pergilah” (Mat 28:19). Yesus memanggil kita untuk mewartakan Kabar Baik, kapan saja dan di mana saja; apakah pada saat-saat yang menyenangkan atau tidak menyenangkan; apakah ketika menghadapi banyak tantangan dan tentangan atau ketika semuanya lancar-lancar saja; apakah selama masa Adven atau masa-masa lainnya dalam penanggalan liturgi Gereja!

HOUSES ON THE ROCK AND SANDYesus mengatakan bahwa kita adalah bijaksana bilamana kita tidak sekadar mendengar sabda-Nya, tetapi juga melaksanakannya. Inilah yang dimaksudkan dengan bagaimana kita membangun rumah di atas batu yang kokoh (lihat Mat 7:24-24). Pengalaman akan kasih Yesus bagi kitalah yang akan mendesak kita untuk bertindak. “Mendengar” sabda Yesus berarti memperkenankan ajaran-ajaran-Nya menembus hati kita dan membuat kita bertekuk lutut di hadapan hadirat-Nya dalam pertobatan dan penyembahan. Hal ini berarti memperkenankan sabda-Nya merasuki roh kita dan menyatakan Allah sebagai “seorang” Bapa yang sangat mengasihi kita dan Dia-lah Penguasa dan Hakim – suatu pernyataan yang akan memenuhi diri kita dengan suatu hasrat untuk menceritakan kepada orang-orang lain tentang Allah kita.

Tentu saja di sini ada panggilan untuk bertindak, namun kita tidak ingin memusatkan perhatian pada pekerjaan kita yang akan membuat kita kekurangan asupan makanan secara spiritual. Rahasianya adalah “keseimbangan”. Kita diciptakan untuk keseimbangan (bahasa ekonominya: equilibrium). Kodrat kita menunjuk kepada realitas ini. Diri kita terdiri dari tubuh, jiwa dan roh. Kita dipanggil kepada kekudusan dan juga tindakan/karya kerasulan. Kita masing-masing dipanggil, baik untuk menjadi seorang kontemplatif maupun pejuang lapangan.

Spiritualitas yang seimbang ini diungkapkan pertama-tama oleh suatu hidup penuh penyerahan diri kepada Roh Yesus (=Roh Kudus). Roh Kudus inilah yang membawa kita lebih dalam lagi ke dalam misteri-misteri suci dengan menghembuskan kehidupan ke dalam meditasi dan doa kita. Roh Kudus yang sama pula yang akan mendorong kita untuk bertindak, menyemangati kita untuk berani melangkah ke luar dari “zona kenyamanan” (comfort zone) kita, rutinitas kita yang serba nyaman, untuk memproklamasikan Yesus Kristus ke tengah dunia. Paus Yohanes Paulus II pernah mengatakan: “Iman itu dikuatkan ketika disyeringkan!”

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah kami agar dapat menjadi tangan-tangan dan kaki-kaki-Mu bagi sebuah dunia yang sedang sakit ini. Buatlah diri kami menjadi suara-suara-Mu yang memberi dorongan, yang menyemangati orang-orang yang tersisihkan dalam masyarakat, mereka yang kesepian, dan menjadi kehadiran-Mu yang membawa sukacita bagi mereka yang sedang dirundung malang dan tertimpa kesedihan. Oleh kuat-kuasa Roh Kudus-Mu, bentuklah diri kami menjadi pribadi-pribadi seperti yang Engkau rencanakan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami lagi Bacaan Injil hari ini (Mat 7:21,24-27), bacalah tulisan yang berjudul “BEKERJA SAMA DENGAN YESUS, SANG ARSITEK AGUNG” (bacaan tanggal 5-12-13)dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2013.

Bacalah juga tulisan yang berjudul “MARILAH KITA MENDIRIKAN RUMAH DI ATAS BATU” (bacaan tanggal 1-12-11) dalam situs/blog SANG SABDA.

Cilandak, 1 Desember 2013 [HARI MINGGU ADVEN I – TAHUN A]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KEDATANGAN-NYA KAMI RINDUKAN

KEDATANGAN-NYA KAMI RINDUKAN!

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Adven – Rabu, 4 Desember 2013)

YESUS MEMBERI MAKAN 5000 ORANG LAKI-LAKI - 203Setelah meninggalkan daerah itu, Yesus menyusur pantai Danau Galilea dan naik ke atas bukit lalu duduk di situ. Kemudian orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya membawa orang lumpuh, orang buta, orang timpang, orang bisu dan banyak lagi yang lain, lalu meletakkan mereka pada kaki Yesus dan Ia menyembuhkan mereka semuanya. Orang banyak itu pun takjub melihat orang bisu berkata-kata, orang timpang sembuh, orang lumpuh berjalan, orang buta melihat, dan mereka memuliakan Allah Israel.

Lalu Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata, “Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak itu. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Aku tidak mau menyuruh mereka pulang dengan lapar, nanti mereka pingsan di jalan.” Kata murid-murid-Nya kepada-Nya, “Bagaimana di tempat terpencil ini kita mendapat roti untuk mengenyangkan orang banyak yang begitu besar jumlahnya?” Kata Yesus kepada mereka, “Kamu punya berapa roti?” “Tujuh,” jawab mereka, “dan ada lagi beberapa ikan kecil.” Lalu Yesus menyuruh orang banyak itu duduk di tanah. Sesudah itu Ia mengambil ketujuh roti dan ikan-ikan itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, lalu murid-murid-Nya memberikannya kepada orang banyak. Mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti yang lebih, sebanyak tujuh bakul penuh. (Mat 15:29-37)

Bacaan Pertama: Yes 25:6-10; Mazmur Tanggapan: 23:1-6

Di dekat Danau Galilea, Yesus naik ke atas sebuah bukit dan di sana Dia menyembuhkan semua orang sakit yang datang kepada-Nya. Orang lumpuh dapat berjalan kembali, orang bisu dapat berbicara, orang buta dapat melihat, dan menderita luka-luka dibuat-Nya menjadi utuh kembali. Dan, dengan bela-rasa yang besar, Yesus melihat rasa lapar yang diderita orang banyak dan melalui sebuah mukjizat, Ia memuaskan rasa lapar mereka dengan roti dan ikan yang dipergandakan (Mat 15:32-37).

Mukjizat lepas mukjizat, perumpamaan yang satu disusul dengan perumpamaan yang lain, pengajaran demi pengajaran, Yesus menunjukkan kepada kita bahwa Dia datang ke tengah dunia untuk mengampuni dosa-dosa kita dan untuk menyembuhkan segala kerusakan dosa dalam hati kita, pikiran kita, dan tubuh kita. Dia datang untuk menyembuhkan luka-luka kita dan memuaskan segala luka-luka kita dan untuk memenuhi rasa harus dan lapar kita akan kasih-Nya yang tanpa syarat. Ia menyembuhkan kita tidak sekadar agar kita dapat melanjutkan kehidupan kita, melainkan agar kita akan mengasihi-Nya secara penuh dan mendedikasikan diri kita dalam upaya membangun Kerajaan-Nya di atas muka bumi ini.

Yesus memiliki hasrat dan kuat-kuasa untuk menyembuhkan semua penderitaan kita. Dia ingin untuk menarik kita ke dalam suatu relasi dengan diri-Nya yang lebih mendalam dan lebih akrab. Ia ingin agar kita mengalami kasih-Nya dan pengampunan-Nya, sehingga dengan demikian pada giliran-Nya Dia akan memanifestasikan kasih-Nya dan kuat-kuasa-Nya terhadap sebuah dunia yang terluka dan penuh kegelapan ini. Selagi kita mencurahkan isi hati kita kepada-Nya, menyesali serta bertobat atas dosa-dosa kita, dan memperkenankan belas kasih-Nya memerdekakan kita, maka kita pun akan diubah menjadi semakin serupa dengan gambar dan rupa-Nya. Kita akan menjadi semakin yakin akan kasih-Nya bagi kita, kita akan beristirahat dalam kehadiran-Nya dan menaruh kepercayaan kepada-Nya. Bagaimana para sahabat kita, orang-orang lain yang dekat kepada kita tidak akan merasa tersentuh oleh kesaksian orang-orang yang dipenuhi dengan kehadirian Allah dalam diri mereka?

BETLEHEMKedatangan Yesus pada hari Natal hanyalah awal dari pemenuhan janji-Nya untuk menebus dan menyembuhkan kita-manusia. Pemenuhan janji yang total-lengkap akan terjadi kelak, yaitu pada saat kedatangan-Nya kembali untuk kedua kalinya (parousia), pada saat mana kita akan berjumpa dengan Yesus secara “muka ketemu muka” (Inggris: face to face) (1Kor 13:12). Pada hari itu, segala air mata kita akan dihapus-Nya (Why 21:4), dan “dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku, ‘Yesus Kristus adalah Tuhan (Kyrios)’, bagi kemuliaan Allah, Bapa!” (Flp 2:10-11).

Selama pekan I Adven ini, marilah kita mencari Yesus, sang Dokter Agung bagi jiwa dan tubuh kita. Marilah kita juga merindukan kedatangan-Nya untuk kedua kali pada akhir zaman, pada saat mana kita akan menyaksikan sendiri kemuliaan-Nya dan kita pun mengalami penyembuhan secara total, menerima tubuh-tubuh yang dibangkitkan secara baru, dan hidup bersama dengan-Nya untuk selama-lamanya.

DOA: Tuhan Yesus, bela-rasa-Mu dan hasrat-Mu untuk menyembuhkan kami sama pada hari ini seperti 2.000 tahun lalu. Engkau sangat mengetahui, ya Yesus, betapa orang-orang di seluruh dunia memendam rasa rindu akan kehadiran-Mu yang menyembuhkan, yang membuat kenyang rasa lapar dan haus. Nyatakanlah kasih-Mu dan belas-kasih-Mu kepada seluruh dunia. Terima kasih, ya Yesus. Terpujilah nama-Mu yang kudus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 15:29-37), bacalah tulisan yang berjudul “MARILAH KITA MULAI SAJA: SATU, SATU, SATU!” (bacaan tanggal 4-12-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2013.

Bacalah juga tulisan yang berjudul “HATI-KU TERGERAK OLEH BELAS KASIHAN” (bacaan tanggal 5-12-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 30 November 2013 [Pesta S.Andreas, Rasul-Martir]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

NASIHAT SUPAYA BERJAGA-JAGA

NASIHAT SUPAYA BERJAGA-JAGA

KRISTUS RAJA - Jesus_on_throne_(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU ADVEN I [Th. A] – 1 Desember 2013)

“Sebab sebagaimana halnya pada zaman Nuh, demikian pula halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia. Sebagaimana mereka pada zaman sebelum air bah itu makan dan minum, kawin dan mengawinkan, sampai pada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, dan mereka tidak tahu apa-apa, sebelum air bah itu datang dan melenyapkan mereka semua, demikian pulalah halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia. Pada waktu itu kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan; kalau ada dua orang perempuan sedang memutar batu giling, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan. Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang.

Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pada waktu mana pada malam hari pencuri akan datang, sudahlah pasti ia berjaga-jaga, dan tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar. Karena itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.” (Mat 24:37-44)

Bacaan Pertama Yes 2:1-5; Mazmur Tanggapan: Mzm 122:1-9; Bacaan Kedua : Rm 13:11-14

Kata-kata Yesus dapat terdengar tidak menyenangkan: air bah datang dan melenyapkan orang-orang; orang-orang yang sedang melakukan pekerjaan sehari-hari ketika secara tiba-tiba yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan; seorang pencuri datang untuk membongkar rumah. Namun pesan Yesus sebenarnya untuk mendorong dan menyemangati orang-orang yang mendengar, malah cukup exciting. Kita sebenarnya berdiri di ambang batas hidup baru yang sedang mendatang. Suatu rahmat yang indah sedang menantikan kita. Oleh karena itu, bersiaplah!

Walaupun Yesus telah menjanjikan hidup baru manakala Dia datang kembali, pada akhir zaman banyak orang yang hidup tanpa pengharapan, seolah-olah tidak ada sesuatu yang baru akan terjadi. Akan tetapi, orang-orang lain yang merindukan kedatangan-Nya, akan mempersiapkan hati mereka. Inilah yang terjadi juga 2.000 tahun lalu, Hanya sedikit orang yang menantikan kemunculan sang Mesias. Namun mereka yang sungguh menanti-nantikan kedatangan-Nya – Maria, Elisabet, Yusuf, Hana dan Simeon, misalnya – mampu untuk menerima Yesus ketika Dia datang dan mereka pun memperoleh ganjaran yang melampaui ekspektasi mereka sendiri.

THE HOLY BIBLE IN MY LIFESebuah gelombang rahmat yang dahsyat juga menantikan Gereja pada milenium ketiga ini. Masa Adven yang dimulai pada hari ini adalah waktu yang sempurna bagi kita untuk menyiapkan diri guna menyambut rahmat yang akan dicurahkan oleh Allah pada hari Natal dan untuk rahmat berlimpah bagi kita manakala Yesus datang kembali pada akhir zaman.

Bagaimana seharusnya kita melakukan persiapan dimaksud? Kesiap-siagaan dan sikap berjaga-jaga macam apa yang kita perlukan pada masa Adven ini? Bukan rasa siap yang tidak jelas, melainkan suatu penghayatan eksplisit dari hidup kita bagi Allah. Setiap hari, selagi kita berdoa, membaca dan merenungkan sabda Allah dalam Kitab Suci, dan menyesali dan bertobat atas dosa-dosa kita, maka kita membuka pintu bagi rahmat-Nya. Selagi kita mengosongkan diri kita dari berbagai motif yang mementingkan diri-sendiri dan berupaya untuk memberikan cintakasih lebih daripada cintakasih yang kita sendiri terima, maka Bapa surgawi akan menyiapkan diri kita untuk menerima seluruh hidup yang telah dijanjikan-Nya kepada kita. Pada kenyataannya, dalam tindakan-tindakan ini, Bapa surgawi yang sangat menghasihi kita akan memenuhi diri kita, lebih dan lebih lagi.

DOA: Bapa surgawi, aku menyerahkan hidupku kepada-Mu. Bukalah hatiku bagi rahmat-Mu, sehingga dengan demikian aku akan siap menerima segala sesuatu yang Yesus ingin berikan kepada para murid-Nya pada hari Natal tahun ini. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Kedua hari ini (Rm 13:11-14), bacalah tulisan yang berjudul “KENAKANLAH TUHAN YESUS KRISTUS !!!” (bacaan tanggal 1-12-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2013.

Cilandak, 28 November 2013 [Peringatan S. Yakobus dr Marka, Imam]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PENGHARAPAN KRISTIANI

ATT0001611 (1)

PENGHARAPAN KRISTIANI

“Sesungguhnya, mata TUHAN (YHWH) tertuju kepada mereka yang takut akan Dia, kepada mereka yang berharap akan kasih setia-Nya” (Mzm 33:18).
“Sebab Engkaulah harapanku, ya Tuhan, kepercayaanku sejak masa muda, ya ALLAH” (Mzm 71:5).

Apakah saudari-saudara pernah memikirkan peranan pengharapan dalam kehidupan anda? Apakah saudari-saudara pernah memikirkan tentang atau barangkali bahkan mengalami sendiri kehidupan tanpa pengharapan? Kita semua mengharapkan hal-hal yang baik dalam hidup kita, dan kita telah mengetahui, sampai derajat tertentu, tantangan-tantangan terhadap pengharapan kita. Agak anehlah memang apabila ada seseorang yang tidak memiliki hasrat untuk mempunyai masa depan yang lebih baik! Namun demikian, dari tiga keutamaan (kebajikan) mendasar kehidupan Kristiani (iman, pengharapan dan kasih) – maka pengharapan dapat menjadi yang paling kurang diperhatikan dan paling sedikit dimengerti oleh umat.

Kita akan melihat apa arti dari ungkapan “bersukacita dalam pengharapan”.Dalam tulisan ini diuraikan secara umum karakteristik-karakteristik umum dari pengharapan Kristiani.

Catatan Awal. Barangkali “pengharapan” merupakan hal yang paling banyak menimbulkan tanda-tanya di kalangan umat Kristiani. Santo Paulus menasihati para pembaca suratnya kepada jemaat di Roma untuk “bersukacita dalam pengharapan” (Rm 12:12). Dalam suratnya yang sama, sang rasul mengingatkan kita bahwa “pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi” (Rm 8:24). Pengharapan ini – yang diisi dengan ekspektasi penuh sukacita sementara kita belum memiliki objek dari pengharapan kita – menandakan hidup kita sebagai umat Kristiani yang sedang menantikan kedatangan Kristus untuk kedua kalinya.

Pengharapan ini dimaksudkan untuk memainkan peranan sentral dalam kehidupan sehari-hari umat Kristiani. Allah telah banyak berjanji kepada kita, baik sebagai individu-individu maupun sebagai Gereja-Nya; dan setiap janji-Nya dapat menjadi suatu sumber pengharapan bagi kita. Dan pengharapan ini tidak terbatas pada kehidupan kita di atas muka bumi ini. Karena Yesus telah bangkit, kita pun dapat berharap untuk bangkit bersama Dia – artinya kita “ditakdirkan” untuk mengalami suatu kemuliaan kekal! Sementara kita melakukan pekerjaan rutin kita sehari-hari, masih mungkinlah bagi satu mata kita memusatkan pandangan pada janji Yesus untuk datang kembali, dan pada kehidupan surgawi yang menantikan kita. Pengharapan ini, baik akan apa yang telah dijanjikan Allah dalam hidup kita maupun akan kedatangan Kristus kelak, dapat memberi semangat kepada kita, memberi inspirasi dan sukacita kepada kita setiap hari.

Diawali oleh agama Yahudi. Baiklah kita ketahui bahwa di dalam dunia kuno, “agama” bukanlah suatu sumber pengharapan. Santo Paulus mengingatkan kepada jemaat di Efesus, “Pada waktu itu kamu tanpa Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia” (Ef 2:12). Pada kenyataannya, memang agama Yahudi-lah yang mengajarkan umatnya untuk berharap kepada “seorang” Allah yang mengasihi, Allah yang seluruhnya baik. Kitab Suci Perjanjian Lama berulang kali memberikan contoh-contoh umat Allah yang didorong untuk berpengharapan dalam Dia dan testimoni-testimoni bagaimana pengharapan-pengharapan tersebut dipenuhi (lihat Mzm 33:18, 71:5; Yes 8:17), sehingga Perjanjian Baru menyebut ayat-ayat tersebut sebagai dasar pengharapan Kristiani: “Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita, supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci” (Rm 15:4).

Dengan kebangkitan Yesus Kristus dari alam maut, perkembangan penuh dari pengharapan Kristiani muncul. Kristus menderita kematian dan bangkit penuh kemenangan dari kubur-Nya. Dalam Yesus kita telah mati dan bangkit – melalui iman kepada-Nya kita akan ikut ambil bagian dalam kebangkitan-Nya. Umat Kristiani mengetahui dalam hati mereka bahwa walaupun harus mengalami penderitaan dan halangan untuk berpengharapan di dunia ini, janji hidup baru yang diberikan kepada kita melalui kebangkitan Kristus berada dalam inti pengharapan kita.

Dasar pengharapan Kristiani. Katekismus Gereja Katolik (KGK) mendefinisikan pengharapan sebagai berikut: “Harapan adalah kebajikan ilahi yang olehnya kita rindukan Kerajaan surga dan kehidupan abadi sebagai kebahagiaan kita, dengan berharap kepada janji-janji Kristus dan tidak mengandalkan kekuatan kita, tetapi bantuan rahmat Roh Kudus: (KGK, 1817).

Definisi ini menolong kita memusatkan perhatian kita pada dua sikap yang merupakan fondasi dari pengharapan kita: Pertama, pengharapan didasarkan pada janji-janji ilahi Kristus; ini adalah realitas-realitas kekal-abadi, bukan duniawi. Kedua, pengharapan kita diperkuat oleh rahmat Roh Kudus.

Kita sudah terbiasa untuk mencari hal-hal di sekeliling diri kita untuk memperoleh sukacita – suatu relasi khusus, pakaian baru, acara televisi favorit kita, bahkan kesempatan untuk main sepak bola di sore hari, dan banyak lagi. Semua ini adalah bagian “fun” dari hidup kita dan menjadi sukacita sungguhan apabila seimbang dalam kehidupan kita. Akan tetapi, umat Kristiani menjadi semakin menyadari akan adanya sebuah sumber sukacita yang tidak akan hilang: relasi mereka dengan Kristus dan janji hidup kekal-abadi dengan Dia. Selagi kita membuka diri kita bagi rahmat-Nya, maka realitas dan kesukaan surgawi dapat “menyerbu” kehidupan kita, bahkan selagi kita masih berada di atas bumi.

Di tengah sebuah dunia yang seringkali mendorong kita untuk menempatkan pengharapan kita dalam hal-hal yang tidak abadi, maka sangatlah baik untuk memandang para kudus yang kita kenal. Para kudus Allah memandang segala hal dalam kehidupan dalam terang rencana kekal-abadi Allah bagi kita, dan hasrat-Nya untuk membawa kita kepada kekekalan. Perspektif ini mempengaruhi segala hal. Bahkan penderitaan-penderitaan dipandang sebagai sebuah sarana untuk mencapai pemurnian yang lebih besar dan persatuan dengan Kristus. Ingatlah nasihat Paulus dan Barnabas: “…… untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara” (Kis 14:22). Kemudian Kristus sendiri menjadi sumber sukacita dan pengharapan bagi seseorang, sementara peranan hal-hal dunia ini menjadi semakin berkurang dalam hidupnya.

Banyak orang kudus, khususnya ketika mendekati saat kematian, menunjukkan suatu kepastian dalam hal pengharapan akan kehidupan kekal. Santa Teresia dari Lisieux, misalnya, yang walaupun berada dalam kegelapan total pada bulan-bulan terakhir menjelang kematiannya, tetap mempertahankan cintakasihnya kepada Yesus dan suatu rasa haus untuk menyelamatkan jiwa-jiwa. Bahkan ketika dia menderita dengan intens, baik secara spiritual maupun dari penyakit TBC yang akhirnya membunuh dirinya, dia terus berfungsi sebagai sumber penghiburan dan penyemangat untuk suster-suster yang lain.

Pengharapan kita diperkuat dengan rahmat Roh Kudus. Pengharapan memang banyak berurusan dengan masa depan, namun pengharapan banyak juga bertumpu pada apa yang telah kita terima. Santo Paulus berbicara mengenai Roh Kudus, yang kita terima pada waktu dibaptis dan dalam iman, sebagai garansi terhadap apa yang akan datang (2Kor 5:5). “… pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita” (Rm 5:5). Karya Roh Kudus dalam kehidupan kita sekarang menciptakan suatu ekspektasi yang hidup akan apa yang Allah akan terus lakukan bagi kita di masa depan. Misalnya, iman kita mengatakan bahwa sukacita yang kita cicipi dalam kehadiran Allah sekarang akan berlipat ganda manakala kita bertemu dengan Dia kelak, muka ketemu muka.

Roh Kudus tidak hanya merupakan jaminan dari pengharapan kita; Roh Kudus juga menolong kita mencapai apa yang kita harapkan. Tidak sulit untuk memahami bagaimana tidak memadainya sumber daya kita sendiri untuk membawa kita kepada kehidupan kekal! Namun Roh Kudus setiap hari siap menolong ketika kita berupaya untuk bertumbuh dalam kekudusan. Ia akan memberikan inspirasi kepada kita dan menggerakkan kita untuk mengasihi Yesus secara lebih mendalam, untuk mematuhi perintah-perintah Allah dan memegang teguh janji-janji besar-Nya bagi kita, dan menaruh kepercayaan pada kasih Allah bagi kita pada saat kita digoda untuk “mundur” atau “menyimpang” dari jalan-Nya.

Suatu pengharapan yang tidak mengecewakan. Kita semua telah mengalami melihat ke depan untuk memperoleh sesuatu dengan penuh antisipasi, hanya kemudian merasa kecewa ketika sesuatu itu sampai ke tangan kita. Karena satu dan lain hal, pengharapan kita seringkali berakhir pada kekecewaan, barangkali karena objek pengharapan kita itu tidak dapat dipercaya, atau telah dinilai berlebihan dalam kemampuannya untuk memuaskan diri kita. Pengalaman ini begitu biasa, sehingga ada ungkapan: “Janganlah terlalu cepat percaya!”

Sebagai umat Kristiani, kita didorong untuk percaya. Yesus bersabda: “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya” (Yoh 20:29). Penulis Surat kepada Orang Ibrani juga mengatakan, “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang diharapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak dilihat” (Ibr 11:1). Karena pengharapan kita didasarkan pada rencana kekal-abadi dari Allah sendiri bagi kita, bahkan dapat dikatakan didasarkan pada Allah sendiri, maka tidak ada kemungkinan untuk terjadinya kekecewaan. Rencana Allah yang kita syering dalam kehidupan ilahi-Nya dibangun bahkan sebelum Ia menciptakan dunia; itulah tujuan Ia menciptakan kita manusia. Rencana kekal-abadi dari “seorang” Allah yang sangat mengasihi serta dijamin secara berulang-ulang oleh janji-janji-Nya dan kuat-kuasa-Nya; sungguh memberikan kepada kita suatu dasar pengharapan yang dapat diandalkan.

Sementara penghargaan kita kepada rencana Allah bertumbuh, maka kita semakin menyadari bahwa hal-hal kecil, berbagai kesulitan dan halangan yang kita hadapi tidaklah ada artinya bilamana dibandingkan dengan niat Allah yang teguh bahwa kita ikut ambil bagian dalam kehidupan surgawi-Nya. Selagi iman kita akan rencana Allah bertumbuh, maka kita dimampukan untuk melihat segala sesuatu dalam terang rencana itu. Yang dulunya mungkin menciutkan hati kita dan menyebabkan kita meragukan kasih Allah, sekarang menjadi suatu kesempatan untuk menaruh pengharapan kita akan Allah ke dalam praktek.

Apakah yang dapat menjadi tumpuan pengharapan kita selain Allah sendiri? Jaminan apakah yang lebih pasti daripada janji-janji-Nya yang telah diberikan kepada kita? Apa lagi yang dapat lebih menghibur hati kita daripada pengetahuan bahwa Allah sendiri adalah jaminan dari segala pengharapan kita? “Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita” (Rm 5:5).

Catatan penutup. Baiklah kita sekarang berdoa, memohon agar kita dapat memahami kebenaran apa yang ditulis oleh Santo Paulus: “Semoga Allah, sumber segala pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan” (Rm 15:13).

Sebuah pertanyaan untuk permenungan pribadi dan/atau diskusi kelompok kecil:
Kehidupan Paulus sebagai seorang rasul dan pelayan Kristus bertumpu pada keyakinannya pada janji-janji Allah, termasuk pengharapan akan kehidupan kekal. Apakah kiranya sumber keyakinan sang rasul? Jelaskan! Untuk membantu, bacalah Gal 1:11-17; Flp 3:7-14; dan 2Tim 4:6-8.

Cilandak, 26 November 2013 [Peringatan S. Leonardus dr Porto Mauritio, Imam]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MOMENTUM YANG MENENTUKAN

MOMENTUM YANG MENENTUKAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA PENAMPAKAN TUHAN – Minggu, 6 Januari 2013)

HARI ANAK MISIONER SEDUNIA

Adoration-of-the-Magi

Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman Raja Herodes, datanglah orang-orang majus dari Timur ke Yerusalem dan bertanya-tanya, “Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.” Ketika Raja Herodes mendengar hal itu terkejutlah ia beserta seluruh Yerusalem. Lalu dikumpulkannya semua imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi, kemudian dimintanya keterangan dari mereka, di mana Mesias akan dilahirkan. Mereka berkata kepadanya, “Di Betlehem di tanah Yudea, karena demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi: Dan engkau Betlehem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari engkaulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat-Ku Israel.” Lalu dengan diam-diam Herodes memanggil orang-orang majus itu dan dengan teliti bertanya kepada mereka kapan bintang itu tampak. Kemudian ia menyuruh mereka ke Betlehem, katanya, “Pergi dan carilah Anak itu dengan teliti dan segera sesudah kamu menemukan Dia, kabarkanlah kepadaku supaya aku pun datang menyembah Dia. Setelah mendengar kata-kata raja itu, berangkatlah mereka. Lihatlah, bintang yang mereka lihat di Timur itu mendahului mereka hingga tiba dan berhenti di atas tempat, di mana Anak itu berada. Ketika melihat bintang itu, mereka sangat bersukacita. Mereka masuk ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Mereka pun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, dupa dan mur. Kemudian karena diperingatkan dalam mimpi, supaya jangan kembali kepada Herodes, pulanglah mereka ke negerinya melalui jalan lain. (Mat 12:1-12)

Bacaan Pertama: Yes 60:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 72:1-2,7-8,10-13; Bacaan Kedua: Ef 3:2-3a,5-6

Pada Hari Raya Penampakan Tuhan (Epifani) ini, kita merayakan suatu momentum yang menentukan dalam sejarah penyelamatan Allah, yakni perwahyuan Putera-Nya kepada orang-orang bukan Yahudi, orang-orang yang berada di luar perjanjian Allah dengan umat Israel. “Orang-orang kafir” itu digerakkan oleh Allah sendiri untuk mencari dan kemudian bertemu dengan raja yang baru ini, Yesus. Sejak saat itu segala privilese atau hak-hak istimewa yang tadinya diperuntukkan hanya bagi umat Israel, menjadi tersedia bagi siapa saja. Melalui bintang istimewa dari Allah itu, terang Kristus memancar ke seluruh penjuru dunia sehingga dapat dilihat oleh semua orang.

Orang-orang majus melihat sebuah bintang dari negeri-negeri mereka yang jauh, dan hati mereka begitu tergerak dengan penuh antisipasi sehingga langsung mereka berangkat untuk mengikuti bintang itu. Pada titik ujung perjalanan-pencarian mereka, mereka menemukan manifestasi Allah dalam rupa seorang bayi manusia kecil-mungil. Walaupun mereka belum dapat menangkap sepenuhnya makna sesungguhnya dari kelahiran Anak Bayi itu di dalam sebuah keluarga Galilea yang sederhana, lewat karunia iman yang penuh misteri orang-orang majus ini mampu menemukan manifestasi Allah dalam seorang bayi manusia. Mereka tidak saja tergerak untuk memberikan persembahan-persembahan rajawi yang mahal-mahal berupa emas, dupa dan mur, tetapi juga langsung sujud menyembah Yesus. Kesederhanaan tempat tinggal keluarga kecil ini dan kerendahan hati yang sederhana kedua orang tua Bayi ini menyelubungi martabat-raja-Nya, namun orang-orang majus ini berhasil ‘menangkap’ kebenaran yang mereka hadapi. Dengan begitu mulailah arus besar orang-orang dari berbagai penjuru dunia – dari masa ke masa – yang terus berdatangan menghadap takhta Allah lewat Yesus, sang Jalan, Kebenaran dan Hidup (Yoh 14:6). Sekarang semua bangsa (tidak hanya bangsa Yahudi) dapat ditarik kepada terang seorang Raja yang memerintah dalam kasih dan kebenaran.

Kerinduan Allah untuk menarik semua orang kepada diri-Nya sungguh mendalam. Ia menarik orang-orang Majus kepada Putera-Nya dengan sebuah tanda yang penuh kuat-kuasa. Allah tidak menunggu sampai kata-kata diucapkan atau evangelisasi yang dilakukan oleh umat Kristiani perdana guna menyebarkan Kabar Baik. Sebaliknya, Dia membuat sebuah tanda di langit yang akan menarik perhatian para majus itu. Allah sungguh ingin memanggil umat-Nya. Bahkan pada hari ini pun Ia menarik kita masing-masing untuk kembali kepada-Nya dengan cara-cara-Nya yang tidak pernah akan dapat kita tebak.

Selagi kita datang menghadap hadirat Allah dalam doa setiap hari, seakan kita diundang dari “tanah yang jauh hidup duniawi” ke dalam suatu realitas kerajaan surgawi Yesus sebagai Raja segala raja. Hati kita dapat tergetar selagi kita mengambil kesempatan yang tersedia untuk mengasihi dan menyembah Yesus. Sejak sediakala, Allah telah memanggil kita untuk ikut ambil bagian dalam hidup-Nya. Marilah kita membuka hati kita bagi-Nya dan menanggapi undangan-undangan yang diberikan-Nya kepada kita.

DOA: Tuhan Yesus, aku memberikan hatiku sambil sujud menyembah-Mu. Engkau adalah Rajaku, dan hanya dalam Engkau aku menemukan kasih, keadilan, dan kebenaran. Aku akan mengikuti terang-Mu dalam hatiku. Aku akan mengakui martabat-Mu sebagai seorang Raja dalam segala hal yang kulakukan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yes 60:1-6), bacalah tulisan dengan judul “KEMULIAAN SION YANG AKAN DATANG” (bacaan untuk tanggal 6-1-13), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2013.

Cilandak, 28 Desember 2012 [Pesta Kanak-kanak Suci, Martir]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

JANGANLAH KITA SAMPAI BUTA SEPERTI HERODES

JANGANLAH KITA SAMPAI BUTA SEPERTI HERODUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, PESTA KANAK-KANAK SUCI, MARTIR, Oktaf Natal- Jumat, 28 Desember 2012)

holy_innocents_pic

Setelah orang-orang majus itu berangkat, tampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi dan berkata, “Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia.” Yusuf pun bangun, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya malam itu juga, lalu menyingkir ke Mesir, dan tinggal di sana hingga Herodes mati. Hal itu terjadi supaya digenapi apa yang difirmankan Tuhan melalui nabi, “Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku.” [1]

Ketika Herodes tahu bahwa ia telah diperdaya oleh orang-orang majus itu, ia sangat marah. Lalu ia menyuruh membunuh semua anak di Betlehem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah, sesuai dengan waktu yang ditanyakannya dengan teliti kepada orang-orang majus itu. Dengan demikian digenapi firman yang disampaikan melalui Nabi Yeremia, “Terdengarlah suara di Rama, tangis dan ratap yang amat sedih; Rahel menangisi anak-anaknya dan ia tidak mau dihibur, sebab mereka tidak ada lagi .” [2] (Mat 2:13-18)
[1] bdk. Hos 11:1; [2] Lihat Yer 31:15

Bacaan Pertama: 1Yoh 1:5-2:2; Mazmur Tanggapan: Mzm 124:2-5,7-8

Pernahkah anda memperhatikan bagaimana berbedanya orang-orang menanggapi peristiwa yang terjadi atau orang tertentu? Orang-orang yang berbeda-beda dapat memberikan reaksi-reaksi yang sangat berbeda satu sama lain atas suatu peristiwa yang terjadi, bahkan juga atas seorang pribadi, baik seorang tokoh masyarakat maupun seorang biasa-biasa saja. Ketika kita berkumpul dalam sebuah pertemuan reuni misalnya, ucapkan saja tiga huruf latin, misalnya SBY, maka bermacam-macam reaksi akan bermunculan. Yang satu akan berkomentar “begini”, dan yang lain akan berkomentar “begitu”. Lihat berbagai “pemilukada” di banyak tempat di Indonesia: Begitu seorang calon terpilih menjadi bupati, maka banyak pemilih yang mendukungnya akan bergembira, namun mereka yang menjagokan calon yang lain akan menjadi tidak puas, malah ketidakpuasan tersebut dapat saja diungkapkan dalam berbagai macam aksi kekerasan.

Kelahiran Yesus – inkarnasi Putera Allah – adalah peristiwa paling indah dalam sejarah umat manusia. Walaupun demikian, orang-orang yang berbeda memberikan tanggapan yang berbeda-beda pula atas peristiwa agung tersebut. Maria menanggapi “misteri inkarnasi” ini dengan kerendahan hati dan ketaatan; para malaikat dan gembala di padang Efrata menanggapi peristiwa agung ini dengan penuh rasa takjub dan sukacita. Akan tetapi, Raja Herodes Agung melihat peristiwa indah ini dengan kacamata yang berbeda. Walaupun kedatangan Yesus membawa janji besar bagi dirinya dan bagi semua orang, raja tua ini menanggapinya dengan rasa takut, iri dan kemurkaan. Seorang pengkhotbah dalam Gereja kuno – Santo Quodvultdeus (+ 453), Uskup Kartago [Tunisia] – mengatakan: “Mengapa engkau takut, hai Herodus, ketika engkau mendengar tentang kelahiran seorang raja? Ia datang bukan untuk mendepak engkau, melainkan untuk mengalahkan Iblis. Namun karena engkau tidak memahami hal ini maka engkau merasa terganggu dan menjadi murka, dan untuk menghancurkan seorang anak yang engkau cari-cari, engkau menunjukkan kekejamanmu yang mengakibatkan kematian begitu banyak anak-anak … Engkau menghancurkan mereka yang kecil dalam tubuh karena engkau takut menghancurkan hatimu sendiri.”

Giotto-innocentsHerodus merasa terancam oleh pemikiran bahwa Yesus akan menjadi Raja Israel. Rasa takut ini dan hasrat untuk melindungi dirinya sendiri telah menggiring raja tua ini kepada perbuatan sangat jahat dalam bentuk pembunuhan anak-anak kecil yang tak berdaya. Herodes telah dibutakan sehingga luput melihat siapa Yesus itu dan rencana agung Allah untuk setiap orang pada saat kedatangan-Nya. Sayang sekali, rasa takut Herodes dan pikiran yang cupat-sempit menjadi penghalang yang begitu besar, sehingga dia tidak dapat menerima hidup baru dari Allah yang dibawa oleh Yesus ke tengah dunia.

Sesungguhnya, Allah itu senantiasa dekat dengan kita …. artinya setiap detik, setiap menit, setiap jam, setiap hari, dst. Allah menunggu kita untuk datang kepada-Nya dan dikasihi oleh-Nya, dihibur oleh-Nya dan ditolong oleh-Nya. Yesus yang datang ke tengah dunia sebagai seorang bayi tak berdaya telah naik ke surga. Walaupun demikian, Ia tetap hadir dalam sakramen-sakramen dan Ia berdiam dalam diri kita melalui Roh Kudus. Pada hari yang penuh kenangan ini, marilah kita menghadapi berbagai tantangan berupa rintangan-rintangan seperti rasa takut, luka batin, pikiran sempit dlsb. – berbagai rintangan yang menghalangi diri kita untuk menerima semuanya yang Allah ingin berikan kepada kita. Apabila kita melihat rintangan-rintangan ini, baiklah kita menanggapi semua itu dengan berpaling kepada Allah dan dengan rendah hati memohon pertolongan-Nya. Dia yang sang mengasihi kita semua tentunya tidak akan menolak permohonan kita.

DOA: Tuhan Yesus, dengan tulus dan rendah hati aku menyerahkan hidupku kepada-Mu. Bebaskanlah aku dari setiap hasrat yang akan membutakan diriku sehingga tidak dapat melihat-Mu. Yesus, Engkau adalah raja hatiku, penguasa atas segala pemikiran dan tindakanku. Terpujilah nama-Mu selalu, ya Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 2:13-18) bacalah tulisan yang berjudul “ANAK-ANAK BETLEHEM MARTIR KRISTUS” (bacaan tanggal 28-12-12), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori 12-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2012.
Bacalah juga tulisan berjudul “PROTO MARTIR DI BETLEHEM 2.000 TAHUN LALU” (bacaan tanggal 28-12-10) dalam situs/blog SANG SABDA dan tulisan yang berjudul “PEMBUNUHAN ANAK-ANAK DI BETLEHEM” (bacaan tanggal 28-12-11 dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 20 Desember 2012

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 133 other followers