Posts from the ‘PERUMPAMAAN-PERUMPAMAAN YESUS’ Category

PERUMPAMAAN TENTANG SEPULUH GADIS

PERUMPAMAAN TENTANG SEPULUH GADIS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXI – Jumat, 31 Agustus 2012)

“Pada waktu itu hal Kerajaan Surga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyambut mempela laki-laki. Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana. Gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak, sedang gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam botol mereka. Tetapi karena mempelai itu lama tidak datang-datang juga, mengantuklah mereka semua lalu tertidur. Waktu tengah malam terdengarlah suara orang berseru: Mempelai datang! Sambutlah dia! Gadis-gadis itu pun bangun semuanya lalu membereskan pelita mereka. Gadis-gadis yang bodoh berkata kepada gadis-gadis yang bijaksana: Berikanlah kami sedikit dari minyakmu itu, sebab pelita kami hampir padam. Tetapi jawab gadis-gadis yang bijaksana itu: Tidak, nanti tidak cukup untuk kami dan untuk kamu. Lebih baik kamu pergi kepada penjual minyak dan beli di situ. Akan tetapi, waktu mereka sedang pergi untuk membelinya, datanglah mempelai itu dan mereka yang telah siap sedia masuk bersama-sama dengan dia ke ruang perjamuan kawin, lalu pintu ditutup. Kemudian datang juga gadis-gadis yang lain itu dan berkata: Tuan, Tuan, bukakanlah pintu bagi kami! Tetapi ia menjawab: Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, aku tidak mengenal kamu. Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu hari maupun saatnya. (Mat 25:1-13)

Bacaan Pertama: 1Kor 1:17-25; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:1-2,4-5,10-11

“Perumpamaan tentang sepuluh gadis” ini hanya terdapat dalam Injil Matius. Perumpamaan ini menekankan lagi pentingnya sikap berjaga-jaga atau kesiap-siagaan dalam masa yang penuh dengan ketidakpastian sebelum kedatangan akhir zaman (bdk. Mat 24:37-44). Dalam merenungkan perumpamaan ini sangatlah baik bagi kita untuk tidak terjebak dalam mencoba mengartikan arti simbolis yang mendetil dari hal-hal yang ada dalam perumpamaan ini, misalnya “apa arti dari 10 gadis”, mengapa tidak “20 gadis”? Apa signifikansi dari minyak dalam perumpamaan ini? Dst. Yang penting adalah menangkap pesan keseluruhan dari perumpamaan itu.

Kesepuluh gadis itu adalah para pendamping pengantin yang sedang menanti-nantikan kedatangan mempelai laki-laki di rumah keluarga bapak mertuanya. Sangat realistis dan sungguh membumi, karena praktek ini masih dapat diketemukan pada zaman modern ini. Di rumah itulah akan diselenggarakan pesta perjamuan kawin. Para gadis itu akan menjadi bagian dari rombongan mempelai laki dan ikut serta dalam pesta. Lima orang dari mereka tidak membawa minyak dalam jumlah yang cukup untuk pelita atau “obor” yang digunakan dalam prosesi. Tidak adanya persiapan pada akhirnya menyebabkan mereka tidak dapat mengikuti acara pesta. Inilah “nasib” mereka yang tidak siap! Tragis!

Seperti juga perumpamaan-perumpamaan Yesus lainnya, perumpamaan tentang sepuluh gadis ini mempunyai makna langsung dan bersifat lokal, di sisi lain juga memiliki arti yang lebih luas dan universal. Signifikansinya yang langsung terarah pada orang-orang Yahudi. Mereka adalah umat terpilih; keseluruhan sejarah mereka seyogianya merupakan suatu persiapan bagi kedatangan Putera Allah; mereka harus dalam kesiapsiagaan guna menyambut diri-Nya apabila Dia datang. Kenyataannya adalah bahwa orang-orang Israel tidak siap menyambut-Nya. Inilah kiranya tragedi yang dialami orang-orang Yahudi karena ketidaksiapan mereka.

Sudah lama dalam Perjanjian Lama hubungan antara TUHAN (YHWH) dan Israel digambarkan sebagai hubungan suami-istri. Kasih YHWH terhadap Israel sebagai mempelai perempuan-Nya dan kasih Israel terhadap YHWH dapat kita jumpai dalam “Kidung Agung”. Yehezkiel menyatakan yang sama, ketika dia menyebut kemurtadan Yerusalem sebagai zinah (baca Yeh 16:1-63). Ketika pemazmur dalam Mzm 45 melambungkan lagu bagi Raja dan Ratu, maka orang-orang memahami bahwa yang dimaksudkan di situ adalah YHWH dan umat-Nya.

Namun demikian, semua itu hanyalah persiapan belaka. Pada kedatangan Yesus Kristus, Israel baru saja memasuki suatu hubungan perkawinan Perjanjian Baru. Kristus adalah sang Mempelai laki-laki dan Gereja sebagai mempelai perempuan. Yohanes Pembaptis menyebut dirinya sebagai sahabat Mempelai laki-laki (Yoh 3:29). Namun sekarang ini masih merupakan pertunangan. Apabila Kristus datang kembali pada akhir zaman (parousia), Ia akan menjemput mempelai perempuan-Nya dan akan mulailah pesta perkawinan yang sesungguhnya. Itulah kiranya mengapa Yesus memakai perumpamaan tentang perjamuan nikah surgawi. Itulah pula sebabnya, mengapa Kitab Wahyu juga menyebut peristiwa yang menyusul akhir zaman sebagai “Perjamuan kawin Anak Domba (baca: Why 19:6-10). Gereja yang telah dibersihkan dan dikuduskan akan berhias untuk menyambut kedatangan sang Mempelai laki-laki. Beberapa kali Santo Paulus menulis mengenai gagasan tersebut. Baginya pertunangan serta perkawinan insani hanyalah gambaran samar-samar saja dari pertunangan serta perkawinan antara Kristus dan Gereja-Nya. Gagasan itu dapat kita jumpai misalnya dalam Surat kepada jemaat di Efesus (lihat Ef 5:22-33).

Kesiapsiagaan adalah yang pertama dan utama. Orang-orang di rumah keluarga mempelai perempuan, termasuk ke sepuluh gadis itu tahu bahwa sang mempelai laki-laki akan datang, namun tidak seorangpun tahu jam berapa tepatnya sang mempelai laki akan tiba. Demikian pula manusia tidak tahu kapan tepatnya Tuhan akan datang menjemputnya pada saat kematian. Manusia juga tidak tahu kapan Tuhan Yesus akan datang dalam kemuliaan-Nya untuk menjemput Gereja dan menjadikannya Gereja yang Berjaya. Namun, karena seluruh pikiran dan perbuatan ditujukan pada saat yang didamba-dambakan kedatangannya itu, maka masuk akallah apabila dibutuhkan kesiapsiagaan dalam artiannya yang paling serius. Pelita (atau obor) saja tidak cukup, persediaan minyak juga harus selalu mencukupi. Jadi, secara lahiriah seseorang masuk menjadi anggota Gereja belumlah cukup, karena harus pula ada padanya iman yang hidup, rahmat pengudusan dan cintakasih sejati sebagai isinya. Tempat dan perhiasan yang indah-indah tidak ada gunanya, apabila isinya tidak ada. Maka, hanya manusia rohani, yang memiliki kekayaan ilahilah yang benar-benar dapat dinilai siap-siaga. Percumalah tubuh yang sehat, kuat dan indah, akal budi yang tajam dan dipenuhi ilmu pengetahuan, kehendak yang kuat dan giat, serta hati yang bernyala-nyala, apabila semua itu tidak diisi oleh rahmat Allah. Lampu yang terbuat dari emas dan diperlengkapi dengan ukiran-ukiran yang indah-indah tak ada gunanya di dalam tempat gelap, jikalau tidak sekaligus diisi dengan minyak yang memberi terang. “Aku tidak mengenal kamu”, demikianlah bunyi jawaban yang akan diberikan Tuhan kepada mereka yang percaya kepada kekuatan, kecantikan, ketajaman budinya, kegiatan, perasaan hati, dan wataknya sendiri, tetapi tidak mempedulikan Allah, sabda-Nya, cintakasih serta rahmat-Nya. Memang orang-orang seperti ini mempunyai pelita (atau obor), tetapi mereka tidak mempunyai persediaan minyak yang diperlukan.

Perumpamaan ini mengingatkan kita bahwa ada hal-hal tertentu yang tidak dapat diperoleh pada menit-menit terakhir. Terlambatlah bagi seorang mahasiswa untuk mulai belajar pada hari terakhir menjelang ujian akhir. Juga tidak mungkinlah bagi seseorang untuk memperoleh suatu keterampilan tertentu secara mendadak ketika tugas yang membutuhkan keterampilan tersebut sudah ada di hadapannya. Demikian pula dalam hal mempersiapkan diri kita untuk bertemu dengan Allah. Dari perumpamaan di atas kita juga melihat bahwa ada hal-hal tertentu yang tidak dapat dipinjam dari orang lain. Gadis-gadis yang bodoh dalam perumpamaan mengalami bahwa tidaklah mungkin untuk meminjam minyak pada waktu mereka membutuhkannya. Demikian pula, seseorang tidak dapat meminjam suatu relasi dengan Allah; dia harus memiliki relasi dengan Allah bagi dirinya sendiri. Jadi ada hal-hal yang harus kita peroleh bagi diri kita sendiri, karena kita tidak dapat meminjamnya dari orang lain.

Kesiapsiagaan harus diperagakan dengan penuh ketekunan. Sebagai Gereja (Tubuh Mistik Kristus), kita berada dalam masa pertunangan dan perkawinan. Sebagai Gereja, kita adalah mempelai perempuan sendiri yang sedang menantikan kedatangan sang Mempelai laki-laki. Maka setiap orang anggota Gereja dan Gereja seluruhnya harus siap sedia menanti-nanti dengan gembira. Memang menurut koderatnya manusia itu takut terhadap kematian dan karenanya berupaya menghindarinya sedapat mungkin. Akan tetapi berdasarkan iman, seseorang mempunyai pandangan lain samasekali terhadap kematian itu. Dalam iman, kematian bukanlah akhir dari segala sesuatu, melainkan justru merupakah awal sukacita yang besar. Itulah iman Kristiani! Misalnya, bagi Santo Fransiskus dari Assisi dan para anggota ketiga ordonya, kematian adalah seorang Saudari, Saudari Maut (Badani).

Bagi seorang Kristiani sejati, sabda Tuhan Yesus, “Berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu hari maupun saatnya”, tidak lagi merupakan kesiapsiagaan yang dipenuhi rasa khawatir dan takut seperti dengan Nuh yang melihat air bah mendatang, atau seperti tuan rumah yang menantikan kedatangan pencuri. Bagi seorang Kristiani sejati, kesiapsiagaannya merupakan penantian yang penuh kegembiraan. Penantian itu akan merupakan Kabar Baik, Rahasia Cintakasih, sukacita karena pelukan mesra, persatuan antara Allah dan manusia, dan karenanya merupakan pemenuhan segala kerinduan umat yang terpendam selama ini. Mempelai perempuan mengungkapkan kerinduan terdalam itu dengan seruan: “Datanglah, Tuhan Yesus!” Sang Mempelai laki-laki berkata: “Ya, Aku datang segera!” (Why 22:20).

DOA: Tuhan Yesus, apa yang dapat kulakukan untuk mempersiapkan kedatangan Kerajaan-Mu? Aku belum pernah melakukan sebuah karya besar atau sesuatu apa pun yang spektakuler selama hidupku. Aku juga belum pernah melakukan sesuatu hal layaknya seorang kudus. Selagi aku menanti-nantikan kedatangan-Mu, aku hanya dapat melakukan hal-hal yang biasa saja, kadang-kadang hal-hal yang monoton yang tersedia dalam hidupku ini. Akan tetapi, Tuhan, aku dapat melakukan hal-hal kecil tersebut secara istimewa demi cintakasihku kepada-Mu. Terpujilah nama-Mu yang kudus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Kor 1:17-25), bacalah tulisan yang berjudul “KRISTUS YANG TERSALIB: BATU SANDUNGAN ATAU KEBODOHAN?” (bacaan tanggal 31-8-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2012.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 26-8-11 dalam situs/blog PAX ET BONUM)

Cilandak, 23 Agustus 2012 [Peringatan B. Berardus dari Offida, Biarawan Kapusin]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

AJARAN YESUS TENTANG PENGAMPUNAN

AJARAN YESUS TENTANG PENGAMPUNAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIX – Kamis, 16 Agustus 2012)

Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus, “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Yesus berkata kepadanya, “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.

Sebab hal Kerajaan Surga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta. Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak istrinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya. Lalu sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunasi. Tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.

Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu! Lalu sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunasi. Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai ia melunasi hutangnya.

Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka. Kemudian raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohon kepadaku. Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? Tuannya itu pun marah dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunasi seluruh hutangnya.

Demikian juga yang akan diperbuat oleh Bapa-Ku yang di surga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.”

Setelah Yesus mengakhiri perkataan itu, berangkatlah Ia dari Galilea dan tiba di daerah Yudea yang di seberang Sungai Yordan. (Mat 18:21-19:1)

Bacaan Pertama: Yeh 12:1-12; Mazmur Tanggapan: Mzm 78:56-59,61-62

“Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali” (Mat 18:22).

Petrus bertanya kepada Yesus tentang batas pemberian pengampunan dan dia juga menyebut, sampai tujuh kali-kah? Angka “tujuh” yang disebut oleh Petrus adalah angka kemurahan-hati karena ajaran para rabi Yahudi mengindikasikan batas kesabaran adalah sampai empat kali didzolimi (sumber: Donald Senior C.P., Read and Pray – Gospel of St. Matthew, Chicago, Illinois; Franciscan Herald Press, 1974, hal. 63). Namun kita lihat di sini, Yesus menolak untuk menetapkan batasan sama sekali, malah menyebut angka simbolis yang menggambarkan ketidakterbatasan, hal mana merupakan penjungkir-balikan seruan Lamekh untuk melakukan pembalasan dendam berdarah (lihat Kej 4:24). Seruan untuk melakukan rekonsiliasi digambarkan dalam sebuah perumpamaan (Mat 18:21-35) yang merupakan bacaan Injil kita hari ini, dan perumpamaan ini hanya ada dalam Injil Matius. Perumpamaan itu mengidentifikasikan mengapa pengampunan itu harus menjadi satu karakteristik kehidupan dalam Kerajaan Allah. Setiap anggota komunitas adalah seperti hamba telah banyak diampuni oleh Allah, yang didorong oleh bela rasa yang murni (Mat 18:27). Karena kita telah diampuni, kita harus cukup peka untuk mau dan mampu berekonsiliasi dengan seorang saudara kita (Mat 18:33,35).

Karena Allah itu adalah kasih dan Ia sempurna, maka pengampunan-Nya langsung dan permanen. Sayang sekali, tidak begitu halnya dengan kita! Karena kita manusia yang tidak sempurna, pengampunan menjadi sangat sulit bagi kita. Barangkali itulah mengapa Yesus mengatakan kepada Petrus bahwa dia harus mengampuni tujuh puluh kali tujuh kali. Cobalah kita pikirkan hal berikut ini: Apabila kita berhasil berekonsiliasi dengan seorang saudara atas satu isu setelah proses pemecahan masalah sebanyak dua atau tidak kali pertemuan, maka kita pun akan merasakan bahwa relasi kita dengan orang itu akan jauh lebih mudah terjalin dan terpelihara.

Mengampuni seseorang yang telah menyakiti kita seringkali merupakan sebuah proses yang berlangsung secara bertahap. Misalnya, pada awalnya kita dapat saja mengampuni seseorang, namun beberapa hari kemudian muncul lagi rasa kesal dan marah. Jadi, kita harus “membangun” kembali pengampunan kita. Ada juga kasus-kasus di mana kita sungguh mengampuni seseorang, namun kita tidak mau lagi berada dekat orang itu. Akan tetapi, setelah berjalannya waktu – cepat atau lambat – perlahan-lahan kita pun mampu “mengusir” rasa sakit-hati yang kita alami sehingga kita dapat berinteraksi lagi dengan orang tersebut. Dalam situasi apa pun, yang paling penting adalah untuk maju terus menuju pengampunan yang lengkap dan total.

Apa saja yang dapat kita (anda dan saya) lakukan dalam hal berekonsiliasi dengan orang yang bersalah kepada kita? Pertama-tama tentunya kita harus mendoakan orang itu. Kita bayangkan bahwa kita telah berekonsiliasi dengannya … sudah berdamai. Kedua, kita harus mengambil keputusan untuk mengampuni orang tersebut, dan tetap mengambil keputusan untuk mengampuni selama diperlukan. Kita harus senantiasa mengingat, bahwa kita harus melakukannya sampai sebanyak “tujuh puluh kali tujuh kali”. Ketiga, kita harus melihat bahwa Yesus mengasihi orang itu seperti Dia mengasihi kita masing-masing. Kalau kita menjadi semakin pahit atau marah, maka kita masih membutuhkan waktu yang lebih banyak. Kalau begitu halnya, maka yang harus kita lakukan adalah melanjutkan pemberian pengampunan dalam hati kita sebaik-baiknya sambil terus memohon pertolongan dari Yesus.

Apapun yang kita lakukan, kita tidak pernah boleh menyerah. Yesus akan memberkati setiap langkah yang kita ambil guna tercapainya rekonsiliasi dengan orang yang bersalah kepada kita – walaupun langkah itu kecil saja. Yang terakhir: Kita harus senantiasa mengingat dan menyadari bahwa pengampunan bukanlah sekadar suatu tindakan manusia. Kita memerlukan rahmat Roh Kudus guna menolong kita mengampuni orang lain.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau mengampuni dosa-dosaku. Tolonglah aku untuk mau dan mampu mengampuni mereka yang telah berbuat salah kepadaku. Aku menyadari bahwa aku pun harus mengampuni mereka agar diriku dapat diampuni oleh-Mu. Tolonglah aku untuk senantiasa menghayati sabda bahagia-Mu: “Berbahagialah orang yang berbelaskasihan, karena mereka akan berolah belas kasihan” (Mat 5:7). Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 18:21-19:1), bacalah tulisan dengan judul “SAMPAI TUJUH PULUH KALI TUJUH KALI !!!” dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2012. Bacalah juga tulisan berjudul “SAMPAI BERAPA KALI AKU HARUS MENGAMPUNI SAUDARAKU?” (bacaan tanggal 11-8-11), dalam situs/blog PAX ET BONUM; kategori: 11-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2011.

Cilandak, 7 Agustus 2012 [Peringatan B. Agatangelus dan Kasianus, Imam-Martir]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEUMPAMA JALA YANG DITEBARKAN DI LAUT

SEUMPAMA JALA YANG DITEBARKAN DI LAUT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVII – Kamis, 2 Agustus 2012)

Keluarga Fransiskan: Pesta S. Maria Ratu para Malaikat, Portiunkula

“Demikianlah pula hal Kerajaan Surga itu seumpama jala yang ditebarkan di laut lalu mengumpulkan berbagai jenis ikan. Setelah penuh, jala itu diseret orang ke pantai, lalu duduklah mereka dan mengumpulkan ikan yang baik ke dalam tempayan dan ikan yang tidak baik mereka buang. Demikianlah juga pada akhir zaman: Malaikat-malaikat akan datang memisahkan orang jahat dari orang benar, lalu mencampakkan orang jahat ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertak gigi.

Mengertikan kamu semuanya itu?” Mereka menjawab, “Ya, kami mengerti.” Lalu berkatalah Yesus kepada mereka, “Karena itu, setiap ahli Taurat yang menerima pelajaran tentang Kerajaan Surga itu seumpama tuan rumah yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya.”

Setelah Yesus selesai menceritakan perumpamaan-perumpamaan itu, Ia pun pergi dari situ. (Mat 13:47-53)

Bacaan Pertama:Yer 18:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 146:2-6

Apa kiranya yang akan kita rasakan pada saat ajal kita tiba? Apakah kita dibebani dengan rasa takut tak terhingga berkaitan dengan apa yang akan kita terjadi dengan diri kita? Atau akankah kita penuh dengan antisipasi pada pemikiran bahwa sebentar lagi kita bertemu dengan Tuhan secara face to face, muka ketemu muka? Nah, jawaban kita akan banyak mengungkapkan status atau kondisi iman kita. Tanpa iman yang kuat pada kasih Allah dan kerahiman-Nya, kita dapat menjadi takut. Kita dapat merasa takut tidak ada apa-apa lagi setelah kematian kita, atau lebih buruk lagi …… akan terjadi penghakiman yang keras atas kehidupan kita.

Yesus mengakhiri rangkaian pengajaran yang terdiri dari tujuh perumpamaan dengan kalimat tentang “akhir zaman” (Mat 13:49-50). Kata-kata Yesus tidak meninggalkan rasa ragu sedikit pun bahwa akan ada pengadilan terakhir kelak, ketika Dia datang kembali dalam kemuliaan. “Katekismus Gereja Katolik” mengatakan, bahwa “pengadilan terakhir akan membuka sampai ke akibat-akibat yang paling jauh, kebaikan apa yang dilakukan atau tidak dilakukan oleh setiap orang selama hidupnya di dunia ini” (KGK, 1039). Walaupun terdengar menakutkan, kita harus ingat juga bahwa “pengadilan terakhir akan membuktikan bahwa keadilan Allah akan menang atas segala ketidakadilan yang dilakukan oleh makhluk ciptaan-Nya, dan bahwa cintakasih-Nya lebih besar daripada kematian” (KGK, 1040).

Kematian dan penghakiman adalah topik-topik yang biasanya dihindari oleh sebagian besar orang. Namun kita pun kiranya memahami bahwa dua hal tersebut akan terjadi atas diri kita masing-masing. Jadi, kembali di sini muncul masalah pilihan. Life is a choice, hidup adalah pilihan! Kita dapat menghayati suatu kehidupan yang mempersiapkan tujuan kekal kita, atau kita dapat memperkenankan tuntutan-tuntutan sehari-hari kehidupan kita menjadi pusat perhatian kita sehingga dengan demikian mengaburkan masa depan kita. Pengadilan/penghakiman terakhir pada hakikatnya adalah suatu panggilan untuk melakukan pertobatan. Allah ingin agar kita termasuk golongan orang-orang benar, dan untuk itu Dia memberikan kepada kita segala kesempatan/peluang untuk datang kepada-Nya dalam doa dan pertobatan. Ia mengutus Putera-Nya yang tunggal untuk mati di kayu salib bagi kita sehingga kita dapat menikmati kehidupan kekal-abadi.

Apabila kita telah mengalami kehadiran Allah dalam kehidupan kita di dunia dan kita sungguh telah bertobat dari dosa-dosa kita, maka kita dapat percaya bahwa kerahiman atau belas-kasih Allah akan membawa kita ke dalam kehadiran-Nya yang abadi di surga. Selagi kita mencari Yesus dalam doa, Dia akan memberikan kepada kita suatu perspektif ilahi dan menolong kita untuk memusatkan pandangan kita pada akhir zaman, pada saat mana kita akan dipersatukan dengan diri-Nya untuk selama-lamanya. Oleh karena itu, marilah kita mohon kepada Tuhan untuk meningkatkan iman kita agar pada saat kematian kita, kita akan sungguh menyadari tanpa ragu sedikit pun, bahwa Tuhan Yesus sedang menanti-nanti untuk menyambut kita.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah jalan, kebenaran dan hidup. Usirlah rasa takut kami akan kematian dan penghakiman/pengadilan terakhir. Kami menyadari bahwa Engkau adalah Tuhan Allah yang penuh kasih dan kami sungguh rindu untuk memandang-Mu muka ketemu muka. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:47-53), bacalah tulisan yang berjudul “PERUMPAMAAN TENTANG JALA BESAR” (bacaan tanggal 28-7-11) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 11-07 BACAAN HARIAN JULI 2011.

Cilandak, 21 Juli 2012

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KITA ADALAH HARTA YANG SANGAT BERNILAI DI MATA YESUS

KITA ADALAH HARTA YANG SANGAT BERNILAI DI MATA YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Alfonsus Maria de Liguori, Uskup & Pujangga Gereja – Rabu, 1 Agustus 2012)

“Hal Kerajaan Surga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamnya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu.

Demikian pula halnya Kerajaan Surga itu seumpama seorang seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, ia pun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu.” (Mat 13:44-46)

Bacaan Pertama: Yer 15:10,16-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 59:2-5,10-11,17-18

Ah, begitu seringnya kita mendengar perumpamaan ini! Setiap kali kita mendengar dua perumpamaan yang dikemas menjadi satu paket ini, maka kita membayangkan diri kita sebagai pemburu harta-karun, yang setelah berjumpa dengan Yesus, menyerahkan segalanya yang kita miliki lalu mengikut Dia. Hal ini tentunya sah-sah saja … tidak salah! Namun demikian, pernahkah kita membayangkan bahwa diri kita sendirilah harta yang ditemukan oleh Yesus? Seperti harta yang terpendam di dalam tanah, kita pun berlumuran kotoran berupa dosa-dosa dan juga diliputi kegelapan. Begitu menemukan kita – si manusia pendosa – Yesus melepaskan segala kekayaan-Nya yang dipenuhi kemuliaan untuk membuat kita milik-Nya sendiri. Begitu berharga kita ini bagi Yesus!

Kita dapat merasa “kikuk dan nggak enak” bila melihat diri kita sendiri sebagai harta sangat bernilai, teristimewa apabila mengingat segala dosa dan kelemahan serta kekurangan kita. Bagaimana seseorang – apalagi sang Putera Allah yang maha sempurna – mengasihi kita dengan intensitas sedemikian? Mengapa Dia, yang dapat melihat hati manusia yang terdalam, mau-maunya menyusahkan diri untuk menolong, untuk menyelamatkan kita?

Seorang imam-teolog besar abad ke-20, Romano Guardini [1885-1968] menulis: “Allah mungkin saja adalah ‘Dia yang melihat’, namun tindakan-Nya untuk melihat adalah suatu tindakan kasih. Dengan tindakan melihat-Nya, Dia merangkul ciptaan-Nya, menegaskan (memberikan afirmasi) kepada mereka, dan mendorong serta menyemangati mereka, karena Dia tidak membenci satu pun dari yang telah diciptakan-Nya … Kegiatan melihat-Nya … menyelamatkan mereka dari degenerasi dan pembusukan” (The Living God, hal. 41-42).

Selagi kita terkubur dalam gundukan tanah dosa-dosa kita, diselubungi dengan kekerasan hati kita, Yesus memandang kita dan melihat harta yang tak ternilai harganya. Ia melihat kebaikan dari yang diciptakan-Nya, dan Ia melihat kebutuhan-kebutuhan kita yang lebih sejati dan lebih mendalam. Inilah yang menarik diri-Nya kepada kita dan menggerakkan diri-Nya untuk mengasihi kita. Apabila kita menanggapi dengan memindahkan arah pandangan kita kepada-Nya, maka kasih-Nya kepada kita akan berkobar-kobar (bdk. Kid 4:9).

Oleh karena itu, janganlah kita menahan diri dari kasih Allah. Kasih Allah adalah kasih yang bergembira dalam kebaikan kita. Kasih Allah adalah kasih yang memanggil kita kepada kekudusan yang lebih lagi dan ingin menganugerahkan segala hal yang baik kepada kita. Bapa surgawi sesungguhnya rindu untuk melihat restorasi terwujud sepenuhnya dalam diri kita masing-masing. Itulah sebabnya mengapa Dia memanggil kita untuk berada di samping-Nya dan Ia pun dengan tak henti-hentinya akan memurnikan kita semua dalam api kasih-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, aku menyerahkan diriku kepada-Mu, Aku sungguh merasa tak pantas untuk menerima cintakasih-Mu kepadaku, namun aku ingin menjadi milik-Mu. Satukanlah diriku dengan diri-Mu, ya Tuhan, agar dengan demikian aku menjadi serupa dengan diri-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:44-46), bacalah tulisan dengan judul “HARTA TERPENDAM ATAU MUTIARA INDAH ADALAH YESUS SENDIRI” (bacaan tanggal 28-7-10) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 10-07 BACAAN HARIAN JULI 2010.

Cilandak, 21 Juli 2012

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERUMPAMAAN TENTANG BIJI MUSTAR DAN RAGI

PERUMPAMAAN TENTANG BIJI MUSTAR DAN RAGI

Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVII – Senin, 30 Juli 2012)

Yesus menyampaikan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya, “Hal Kerajaan Surga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya. Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar daripada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya.”
Ia menceritakan perumpamaan ini juga kepada mereka, “Hal Kerajaan Surga itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu sebanyak empat puluh liter sampai mengembang seluruhnya.”

Semuanya itu disampaikan Yesus kepada orang banyak dalam perumpamaan, dan tanpa perumpamaan suatu pun tidak disampaikan-Nya kepada mereka, supaya digenapi firman yang disampaikan oleh nabi, “Aku mau membuka mulut-Ku menyampaikan perumpamaan, Aku mau mengucapkan hal yang tersembunyi sejak dunia dijadikan.” (Mat 13:31-35)

Bacaan Pertama: Yer 13:1-11; Mazmur Tanggapan Ul 32:18-21

Biji mustar yang bundar dan sangat kecil memang dapat dikatakan sebagai benih terkecil dari segala benih tumbuhan. Biji mustar ini dapat dengan mudah terlepas dari jari-jari kita dan hilang jatuh di tanah. Bayangkanlah satu biji kecil ini yang ditanam dalam tanah secara perlahan-lahan bertumbuh menjadi pohon yang cukup besar dan dapat menampung burung-burung untuk bersarang. Awal yang dikecil, akhir yang besar! Bukankah ini gambaran dari Kerajaan Allah?

Yesus mengkontraskan mukjizat yang biasa terjadi dalam alam ini dengan transformasi yang terjadi bilamana benih dari sabda Allah mulai berakar dalam hati kita. Pada waktu dibaptis kita menerima anugerah yang paling agung yang dapat kita bayangkan – Kerajaan Allah – masih dalam bentuk benih. Benih Kerajaan dimaksudkan untuk bertumbuh di dalam diri kita setiap hari selagi kita menyuburkannya dengan iman dan ketaatan.

Kemudian Yesus menceritakan sebuah perumpamaan lain yang merupakan pengalaman abad pertama yang biasa-biasa juga, yaitu tentang seorang perempuan yang memanggang roti harian. Tepung terigu tetap saja berupa tepung terigu, namun akan berubah secara menakjubkan apabila diaduk dengan ragi. Menjadi mengembang sehingga akhirnya menjadi roti – bahan makanan untuk kehidupan sehari-hari. Tepung terigu harus diaduk agar supaya ragi itu mempunyai efek. Kita pun harus mengalami tempaan oleh Roh Kudus apabila cara-cara berpikir dan bertindak kita mau diubah dan diperbaharui. Sekali lagi, pelajarannya dalam hal ini adalah sama dengan pelajaran dari perumpamaan tentang biji mustar: Kerajaan Allah akan bertumbuh-kembang bilamana kita memperkenankan sabda-Nya untuk kuat berakar dalam hati dan pikiran kita.

Santo Paulus mengingatkan kita bahwa kita adalah “ciptaan baru” dalam Kristus (2Kor 5:17). Allah telah menanamkan dalam hati kita setiap rahmat dan berkat yang dimungkinkan (Ef 1:3). Dalam Roh, kita mempunyai suatu “kuasa transenden” yang “berasal dari Allah, bukan dari diri kita” (lihat 2Kor 4:7). Yang diminta oleh Allah hanyalah agar supaya kita melempar benih Kerajaan ini ke dalam tanah iman yang aktif. Lalu kita akan menerima energi spiritual dinamik yahng kita butuhkan untuk menjadi seperti Yesus.

DOA: Bapa surgawi, penuhilah diriku dengan Roh-Mu dan transformasikanlah diriku ke dalam kekudusan seperti Yesus, sebagaimana Kauhasrati. Semoga Kerajaan-Mu kian bertumbuh dalam diriku. Amin.

Cilandak, 20 Juli 2012

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS KRISTUS ADALAH FONDASI UNTUK MEMBANGUN KEHIDUPAN KITA

YESUS KRISTUS ADALAH FONDASI UNTUK MEMBANGUN KEHIDUPAN KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Ireneus, Uskup-Martir – Kamis, 28 Juni 2012)

Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan orang yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mukjizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari hadapan-Ku, kamu sekalian yang melakukan kejahatan!

Jadi, setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu bertiuplah angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu bertiuplah angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.

Setelah Yesus mengakhiri perkataan ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka. (Mat 7:21-29)

Bacaan Pertama: 2Raj 24:8-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 37:3-6,30-31

Yesus mengakhiri “Khotbah di Bukit”-Nya dengan memberi petuah-petuah kepada para pendengar-Nya agar mereka mencari fondasi yang layak untuk membangun kehidupan mereka. Yesus mengilustrasikan konsekuensi-konsekuensi dari pilihan-pilihan baik atau buruk dengan menceritakan sebuah perumpamaan tentang dua orang yang masing-masing mendirikan rumah. Orang yang bodoh membangun rumahnya di atas pasir, sedangkan yang bijaksana mendirikan rumahnya di atas batu. Pada waktu hujan lebat turun dan datang lah banjir, dengan mudah kita dapat mengira-ngira rumah mana yang survive, yang mampu tetap berdiri, dan rumah mana yang runtuh berkeping-keping. Pesan Yesus jelas: Apabila kamu mendirikan kehidupanmu di atas suatu fondasi berupa asap atau udara, maka bangunanmu akan runtuh.

Yesus sendiri adalah kekal, Sabda Allah yang hidup (Yoh 1:1). Ia adalah sang Sabda yang telah diucapkan oleh Allah sejak awal waktu. Dia adalah “gunung batu yang kekal” (Yes 26:4). Santo Paulus menulis kepada jemaat di Korintus: “Sesuai dengan anugerah Allah, yang diberikan kepadaku, aku sebagai seorang ahli bangunan yang terampil telah meletakkan dasar, dan orang lain membangun terus di atasnya. Tetapi tiap-tiap orang harus memperhatikan, bagaimana ia harus membangun di atasnya. Karena tidak ada seorang pun yang dapat meletakkan dasar lain daripada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus” (1Kor 3:10-11). Setiap hal yang ilahi, dan setiap hal yang dihasrati Allah, menjadi masuk akal dalam terang Yesus dan kasih-Nya. Oleh karena itu, apabila kita ingin mengetahui bagaimana caranya membangun kehidupan kita, maka kita tidak dapat melakukannya secara lebih baik selain mengambil waktu bersama Yesus dan menjadi mengenal Dia secara intim.

Itulah sebabnya sangat penting bagi kita untuk menyediakan waktu yang teratur setiap hari untuk membaca dan merenungkan sabda Allah di dalam Kitab Suci – teristimewa kitab-kitab Injil yang adalah “jantung hati” segenap Kitab Suci (lihat “Katekismus Gereja Katolik, 125). Di dalam kitab-kitab Injil ini kita berjumpa dengan Yesus, “sang Sabda yang menjadi daging” (Yoh 1:14). Dalam kitab-kitab Injil inilah Yesus dapat berbicara secara paling langsung kepada hati kita. Dibimbing oleh Roh Kudus selagi kita membaca Kitab Suci, teristimewa kitab-kitab Injil, kurun waktu berabad-abad yang memisahkan kita dengan Yesus dari Nazaret seakan dikompres sampai kita bertemu dengan-Nya secara muka ketemu muka dalam suasana doa.

Kitab Suci jauh lebih luas daripada sekadar kumpulan potongan-potongan informasi. Kitab Suci tidak hanya mengajar kehendak Allah, melainkan juga memberdayakan kita untuk mengikuti jejak Yesus Kristus. Dalam mengikuti jejak-Nya kita akan mengenal dan mengalami kebahagiaan sejati dan pemenuhan hasrat-hasrat kita yang terdalam. Dengan mengenal Yesus secara pribadi dan menyerupakan kehidupan kita dengan kehendak-Nya, kita menjadi seperti orang yang bijaksana yang membangun suatu fondasi yang kokoh. Apapun yang menghalangi jalan kita kita, fondasi ini cukup kuat untuk menangani segala halangan yang menghadang kita. Marilah kita menaruh kepercayaan kepada Yesus, tanpa reserve.

Santo Ireneus [130-202] yang kita peringati pada hari ini termasuk bilangan para Bapa Gereja dan teolog terpenting pada abad ke-2. Ketika masih muda, S. Ireneus adalah anak didik dari S. Polikarpus [+ 156] dan pengaruh S. Polikarpus terlihat dalam ajaran-ajarannya. Buah penanya yang terpenting adalah bantahan terhadap ajaran bid’ah Gnostik yang berjudul Adversus Haereses. Ia diangkat menjadi uskup Lyon, menggantikan Uskup Pothinus yang mati sebagai martir Kristus. Ada tradisi yang mengisahkan, bahwa S. Ireneus meninggal dunia sebagai martir pula, tetapi hal ini kurang didukung dengan bukti yang lengkap. Yang penting adalah, bahwa sebagai murid Yesus Kristus yang baik, S. Ireneus bukanlah seorang Kristiani yang hidup kesehariannya dibebani dengan rasa takut yang kecil-kecil dan tolol. Ia hidup dalam masa pengejaran dan penganiayaan oleh musuh-musuh Gereja; sebagai gembala umat dan teolog hebat, dengan berani dia berdiri tegak membela Gereja Kristus, tidak plintat-plintut dalam mendengarkan suara hati, dalam sikap dan perilaku.

DOA: Tuhan Yesus, nyatakanlah diri-Mu kepadaku melalui sabda-Mu. Aku ingin mengenal-Mu mengasihi-Mu lebih lagi agar dengan demikian aku dapat membangun kehidupanku di atas fondasi kokoh, yang adalah Engkau sendiri. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 7:21-29), bacalah tulisan yang berjudul “APAKAH KEHENDAK ALLAH BAGI KITA?” dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori 12-06 BACAAN HARIAN JUNI 2012.

Cilandak, 4 Juni 2012

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ALLAH JUGA DAPAT MELAKUKANNYA MELALUI DIRI KITA

ALLAH JUGA DAPAT MELAKUKANNYA MELALUI DIRI KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XI – 17 Juni 2012)

Lalu kata Yesus, “Beginilah hal Kerajaan Allah itu: Seumpama orang yang menaburkan benih di tanah, lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu bertunas dan tumbuh, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu. Bumi dengan sendirinya mengeluarkan buah, mula-mula tangkainya, lalu bulirnya, kemudian butir-butir yang penuh isinya dalam bulir itu. Apabila buah itu sudah cukup masak, orang itu segera menyabit, sebab musim menuai sudah tiba.”

Kata-Nya lagi, “Dengan apa kita hendak membandingkan Kerajaan Allah itu, atau dengan perumpamaan manakah kita hendak menggambarkannya? Hal Kerajaan itu seumpama biji sesawi yang ditaburkan di tanah. Memang biji itu yang paling kecil daripada segala jenis benih yang ada di bumi. Tetapi apabila ditaburkan, benih itu tumbuh dan menjadi lebih besar daripada segala sayuran yang lain dan mengeluarkan cabang-cabang yang besar, sehingga burung-burung di udara dapat bersarang dalam naungannya.”

Dalam banyak perumpamaan yang semacam itu Ia memberitakan firman kepada mereka sesuai dengan kemampuan mereka untuk mengerti, dan tanpa perumpamaan Ia tidak berkata-kata kepada mereka, tetapi kepada murid-murid-Nya Ia menguraikan segala sesuatu secara tersendiri. (Mark 4:26-34)

Bacaan Pertama: Yeh 17:22-24; Mazmur Tanggapan: Mzm 92:2-3,13-16; Bacaan Kedua: 2Kor 5:6-10

Pada suatu hari di bulan Desember yang dingin tahun 1955, seorang perempuan pekerja binatu yang bernama Rosa Parks (Rosa Louise McCauley Parks) naik ke dalam sebuah bis umum yang penuh di Montgomery, negara bagian Alabama, Amerika Serikat. Dalam bis ini berlaku peraturan segregasi, orang-orang dengan kulit berwarna tidak boleh duduk di kursi yang dikhususkan untuk orang-orang berkulit putih. Rosa Parks mengambil tempat duduk yang diperuntukkan bagi orang-orang kulit putih. Ketika supir bis “memerintahkan” Rosa Parks untuk pindah tempat, dia mengatakan: “Tidak!”. Sebagai akibat tindakannya itu, Rosa ditahan, tangan-tangannya diborgol dan ia pun dijebloskan ke dalam penjara.

Insiden ini memicu Gerakan Hak-Hak Sipil (Civil Rights Movement). Di bawah kepemimpinan Ralph Abernathy dan Martin Luther King, Jr., diorganisasikanlah suatu pemboikotan bis dan demonstrasi-demonstrasi tanpa kekerasan, yang kita tahu kemudian membuahkan hasil, yaitu dihapuskannya hukum berkaitan dengan segregasi (boleh dibaca: diskriminasi) rasial dalam bidang transportasi, perumahan, sekolah, rumah makan dan bidang-bidang lainnya. Pada saat Rosa Parks secara lugas dan lugu menjawab “tidak” kepada Pak Supir bis, sebenarnya dia memulai sesuatu yang jauh lebih signifikan daripada apa yang mungkin dapat dibayangkan orang pada tahun 1955. Pada Freedom Festival di tahun 1965, Rosa Parks diperkenalkan sebagai First Lady of the Civil Rights Movement.

Cerita mengenai Rosa Parks ini dan keadaan yang menyedihkan dari orang-orang berkulit hitam di Amerika Serikat (terutama di negara-negara bagian di sebelah selatan yang justru terkenal dengan julukan the Bible belt) sangat serupa dengan situasi umat Allah dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini. Baik nabi Yehezkiel maupun penulis Injil Markus menulis untuk sebuah komunitas yang sedang berada di bawah pengejaran dan penganiayaan, sebuah umat yang kalah dalam jumlah dan ditindas oleh orang-orang di sekeliling mereka yang tidak percaya.

Baik Yehezkiel maupun Markus menulis untuk meyakinkan para anggota komunitas termaksud, menguatkan iman-kepercayaan mereka pada kuat-kuasa Allah untuk menanamkan benih dan membuatnya bertumbuh menjadi sebatang pohon yang besar, tinggi dan kuat. Hal ini tidak banyak bedanya pada zaman modern ini. Dalam isu-isu tertentu kita, umat Kristiani, juga kalah dalam jumlah ketimbang lawan-lawan kita, misalnya dalam soal aborsi, perceraian, kesopan-santunan dalam entertainment di muka publik, dlsb. Seperti orang-orang Yahudi Perjanjian Lama yang berada dalam pembuangan dan orang-orang Kristiani awal di Roma, kita juga perlu diyakinkan, perlu dikuatkan, disemangati dalam iman-kepercayaan kita akan kuat-kuasa Allah untuk mengambil upaya-upaya kita yang kecil dan membuatnya bertumbuh menjadi suatu gerakan yang kuat-perkasa.

Yang diminta Allah dari diri kita adalah bahwa kita menaruh kepercayaan kepada-Nya dan mencoba. Dia akan menyelesaikan sisanya tanpa ribut-ribut namun dengan tekun, sehingga dengan demikian sikap dan perilaku mementingkan diri sendiri akan dikalahkan oleh sikap dan perilaku untuk berbagi, kejahatan akan dikalahkan oleh kebaikan, kebencian akan dikalahkan oleh kasih. Apabila kita memiliki kesabaran dan pengharapan, maka pada akhirnya panenan dari apa yang kita tanam akan bermunculan: bangsa-bangsa akan berdamai satu sama lain, hak-hak azasi manusia direstorasikan, anak-anak dan para perempuan akan terlindungi dari tindakan kekerasan, orang-orang lapar akan memperoleh makanan secukupnya, dlsb.

Jadi, betapa kecil pun upaya-upaya kita untuk memajukan cita-cita Kristiani, Allah akan melipat-gandakannya dengan kuat-kuasa yang tersembunyi untuk mendatangkan hasil-hasil yang luar biasa. Allah melakukannya bagi Yehezkiel dan Markus dan Rosa Parks. Kita harus percaya bahwa Dia dapat melakukannya lagi melalui diri kita.

DOA: Tuhan Yesus, ajarlah kami untuk menaruh kepercayaan kepada-Mu, dalam situasi apa pun yang kami hadapi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 4:26-34), bacalah tulisan dengan judul “PERUMPAMAAN TENTANG BIJI MUSTAR” (bacaan tanggal 17-6-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori 12-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2012. Bacalah juga tulisan yang berjudul “PERUMPAMAAN TENTANG BENIH YANG TUMBUH & BIJI SESAWI” (bacaan tanggal 27-1-12), dalam situs/blog PAX ET BONUM; kategori 12-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2012.

Cilandak, 28 Mei 2012

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PARA PENGGARAP KEBUN ANGGUR YANG JAHAT

PARA PENGGARAP KEBUN ANGGUR YANG JAHAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa IX – Senin, 4 Juni 2012)

Kongregasi Suster Fransiskanes dr Santo Georgius Martir: Peringatan Kedatangan Suster-suster FSGM di Indonesia

Lalu Yesus mulai berbicara kepada mereka dalam perumpamaan, “Ada seseorang membuka kebun anggur dan membuat pagar sekelilingnya. Ia menggali lubang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga. Kemudian Ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain. Ketika sudah tiba musimnya, ia menyuruh seorang hamba kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima sebagian dari hasil kebun itu dari mereka. Tetapi mereka menangkap hamba itu dan memukulnya, lalu menyuruhnya pergi dengan tangan hampa.

Kemudian ia menyuruh lagi seorang hamba lain kepada mereka. Orang ini mereka pukul sampai luka kepalanya dan sangat mereka permalukan. Lalu ia menyuruh seorang lagi seorang hamba lain, dan orang ini mereka bunuh. Demikian juga dengan banyak lagi yang lain, ada yang mereka pukul dan ada yang mereka bunuh. Masih ada satu orang lagi padanya, yakni anaknya yang terkasih. Akhirnya ia menyuruh dia kepada mereka, katanya: Anakku akan mereka segani. Tetapi penggarap-penggarap itu berkata seorang kepada yang lain: Inilah ahli waris, mari kita bunuh dia, maka warisan ini menjadi milik kita. Mereka menangkapnya dan membunuhnya, lalu melemparkannya ke luar kebun anggur itu. Sekarang apa yang akan dilakukan oleh tuan kebun anggur itu? Ia akan datang dan membinasakan penggarap-penggarap itu, lalu mempercayakan kebun anggur itu kepada orang-orang lain. Tidak pernahkah kamu membaca nas ini: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi baru penjuru: Hal ini terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita.” Lalu mereka berusaha untuk menangkap Yesus, karena tahu bahwa merekalah yang dimaksudkan-Nya dengan perumpamaan itu. Tetapi mereka takut kepada orang banyak. Mereka membiarkan Dia, lalu mereka pergi. (Mrk 12:1-12)

Bacaan Pertama: 2Ptr 1:1-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 91:1-2,14-16

Dalam perumpamaan ini Yesus menggunakan gambaran kebun anggur seperti yang digunakan oleh Yesaya sebelumnya (Yes 5:1-7). Sasaran Yesus dengan perumpamaan ini adalah para pemimpin atau pemuka agama Yahudi. Mereka membimbing umat Allah (kebun anggur) untuk keuntungan mereka sendiri, bukan untuk Allah (pemilik kebun anggur). Dengan demikian Allah tidak menerima tanggapan (buah) yang diharap-harapkannya. Yang lebih “parah” lagi adalah, bahwa mereka menutup umat dari Yesus, sang Putera Allah.

Kita dapat menggunakan gambaran (imaji) kebun anggur ini untuk mencerminkan bagaimana cara sikap-sikap yang keliru dapat menguasai pikiran kita dan menghalang-halangi kita menghasilkan buah baik berupa kasih dan kemurahan hati dlsb. Harapan-harapan sang tuan tanah pemilik kebun anggur hancur karena kebun anggur miliknya itu dikuasai oleh para penggarap yang bersikap memusuhi. Sesuatu yang serupa terjadi dalam relasi kita dengan Allah ketika kita memperkenankan filsafat-filsafat (katakanlah dalam hal ini falsafah-falsafah) dunia mengkontaminasi pemikiran kita. Barangkali kita telah mengambil oper relativisme moral atau “yang buruk-buruk di bidang seks” dari film, buku atau dari “dunia maya” (internet). Barangkali kita telah melibatkan diri dalam praktek-praktek okultisme atau “new age”. Sebagai akibatnya, kehidupan rahmat dalam diri kita menjadi rusak.

Kabar baiknya adalah bahwa Allah itu tanpa reserve dan tidak menghitung-hitung biaya dalam upaya-Nya untuk membebaskan diri kita dari pengaruh-pengaruh yang tidak baik seperti disebut di atas. Yesus datang untuk membuang segala hal yang mengganggu membawa dampak buruk atas pikiran kita, kemudian mendirikan kerajaan-Nya di dalam diri kita – namun Ia tidak akan melakukan hal tersebut sendiri. Setiap hari, Dia memanggil kita untuk menaruh iman kita dalam kemenangan-Nya atas dosa dan kematian dan taat kepada perintah-perintah-Nya. Tindakan menyerahkan diri kita kepada-Nya bukanlah suatu kehilangan kendali yang tidak sehat, melainkan memperoleh kembali kendali kita. Mengapa? Karena dengan demikian kita dipulihkan kepada pikiran kita yang benar. Selagi sabda Allah meresap dalam kehidupan kita, kita pun dibebaskan dari tirani dosa dan pikiran kita dipenuhi dengan “semua yang benar, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedang didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji” (Flp 4:8).

DOA: Yesus Kristus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Aku menyerahkan diriku sepenuhnya ke bawah pengendalian kasih-Mu. Tuhan, usirlah apa saja dalam diriku yang bertentangan dengan Engkau dan nilai-nilai kerajaan-Mu. Aku sungguh ingin berbuah seturut rencana-Mu menciptakanku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 12:1-12), bacalah tulisan yang berjudul “SEMOGA KELAK KITA DIDAPATI OLEH-NYA SEBAGAI PENGGARAP KEBUN ANGGUR YANG BAIK” (bacaan tanggal 4-6-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2012.

Cilandak, 18 Mei 2012 [S. Feliks dari Cantalice, Biarawan Kapusin]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

POKOK ANGGUR DAN RANTING-RANTINGNYA

POKOK ANGGUR DAN RANTING-RANTINGNYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Paskah, Rabu 9-5-12)

Keluarga Fransiskan: Peringatan S. Katarina dari Bologna, Perawan – Ordo II/Klaris

“Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya. Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah. Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu. Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar. Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. Dalam hal inilah Bapa-Ku dimuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku.” (Yoh 15:1-8).

Bacaan Pertama: Kis 15:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 122:1-5

Di negara-negara Barat seperti Amerika Serikat, teristimewa di kalangan orang-orang muda sudah cukup lama ada gejala yang mengekspresikan pandangan berikut ini: “Yesus ya, tetapi Gereja tidak!” Saya yakin dalam masyarakat kita pun ada hal yang serupa kalau pun tidak sama.

Bagi banyak orang memang terdapat pemisahan yang sungguh riil antara mengikuti Yesus dan menjadi anggota Gereja. Motif-motif mereka cukup banyak. Beberapa yang cukup sering terdengar a.l. adalah: (1) Gereja terlalu besar, formal dan impersonal; (2) Kami pergi ke gereja dan merasa seakan kami berdiri dalam sebuah toserba atau stasiun kereta. Sedikit saja terasa adanya kehangatan, kasih atau persekutuan; (3) Yang kami lakukan dalam gereja hanyalah duduk, berdiri, berlutut dan sekali-kali turut bernyanyi dan menyerukan aklamasi bersama orang-orang lain; (4) Homili atau khotbah-khotbahnya seringkali tidak membumi, jauh dari kenyataan hidup kami sehari-hari; (5) Bacaan-bacaan terasa aneh atau sudah kami kenal baik; (6) Kami merasa sulit mengasosiasikan iman dan cintakasih kami kepada Yesus Kristus dengan Gereja yang begitu melembaga.

Sebaliknya, kami merasa tertarik kepada pribadi Yesus: (1) Pesan kasih Yesus, pelayanan-Nya dalam menyembuhkan serta mengampuni, dan keakraban-Nya dengan Bapa di surga sungguh berkesan di hati kami; (2) Kami ingin menjadi anggota sebuah komunitas di mana kami dikasihi dan diterima; (3) Kami tidak mau dianggap sekadar sebagai satu wajah lain lagi dalam jemaat; (4) Kami ingin merasakan iman kami sebagai suatu kekuatan vital dalam hidup kami sehari-hari: (5) Bukan struktur atau organisasi yang penting, melainkan relasi kami dengan Yesus dan kasih antara kami satu sama lain; (6) Bagi banyak dari kami, struktur adalah batu sandungan bagi pertumbuhan spritualitas.

Suatu pemisahan antara Yesus dan Gereja institusional sungguh ironis. Konsili Vatikan II memakai banyak tenaga dan wawasan dalam mempertimbangkan sifat dan misi Gereja. Pengharapan dari Konsili adalah untuk melibatkan umat beriman dalam kehidupan Gereja. “Umat adalah Gereja” tidak dimaksudkan sebagai sekadar slogan. Diharapkan bahwa umat Allah akan memainkan peranan yang aktif dan bertanggung-jawab dalam kehidupan gereja lokal. Rasa memiliki (sense of belonging) yang lebih besar dan identitas umat sebagai Gereja juga diperkokoh. Visi Konsili Vatikan II masih harus terus diwujudkan. Walaupun begitu, tidak ada orang yang dapat menyangkal bahwa berbagai kemajuan telah berhasil diwujudkan.

Bacaan Injil hari ini memberikan kepada kita sebuah gambaran yang indah dan kuat tentang Gereja sebagai sebuah komunitas iman dan persekutuan (Latin: communio) dengan Yesus. Bukannya memisahkan Gereja dari Yesus, gambaran yang diberikan justru mengasosiasikan para anggota komunitas dengan Pribadi Yesus. Yesus bersabda: “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya” (Yoh 15:5). Gambaran tentang pokok anggur dapat kita lihat dalam Perjanjian Lama (Yes 5:2; Yer 2:21). Pokok anggur dipahami sebagai umat pilihan Allah. Allah mengasihi dan merawat pokok anggur itu agar menghasilkan banyak buah. Hal ini hanya mungkin apabila komunitas itu hidup dalam relasi yang intim dengan Yesus. Yesus berdiam dalam hati para murid-Nya, memberikan kepada mereka rahmat yang diperlukan untuk mendatangkan karya-karya Roh (teristimewa kasih persaudaraan). Di luar Yesus tidak akan ada pertumbuhan yang langgeng dan/atau tahan lama. Tanpa Yesus segala upaya baik yang dilakukan – cepat atau lambat – dapat menjadi rusak disebabkan oleh egoisme dan perpecahan-perpecahan.

Gambaran pokok anggur dan ranting-rantingnya tidaklah bertentangan dengan Gereja sebagai lembaga (institusi). Gambaran ini dapat dipakai sebagai suatu upaya indah untuk mendorong (juga mengoreksi) pertumbuhan lebih lanjut dalam Yesus. Manakala struktur-struktur institusional menjadi tujuan dalam dirinya, maka hal ini sama saja dengan penyembahan berhala (Inggris: idolatry). Struktur-struktur gerejawi tetap diperlukan untuk menjaga ajaran Gereja, penyembahan/tata ibadat, dan nilai-nilai moral. Gereja hari ini jauh lebih besar dan jauh lebih kompleks daripada Gereja Perdana pada abad pertama. Kita membutuhkan struktur-struktur untuk menangani jumlah anggota jemaat yang memang tidak sedikit. Akan tetapi, kita tidak pernah boleh memperkenankan struktur-struktur menjadi begitu dominan sehingga merusak persekutuan dan relasi kita dengan Yesus.

Gambaran pokok anggur dan ranting-rantingnya mendorong serta menyemangati kita untuk mempererat persekutuan dalam komunitas iman. Sebuah komunitas iman yang dipenuhi Roh Kudus adalah sebuah komunitas yang memperkenankan anggotanya untuk mengenal Yesus dengan lebih baik dan untuk para anggotanya saling mengasihi sebagai saudari dan saudara dalam Yesus Kristus. Apabila kita sungguh mengenal Yesus (bukan Yesus sebagai ide, melainkan sebagai seorang Pribadi yang hidup dalam kehidupan kita) dan ada saling mengasihi antara kita, maka karya-karya Roh Kudus menjadi terbukti-nyata.

Kelirulah kalau kita berpandangan “Yesus ya, tetapi Gereja tidak!” Gereja dipanggil untuk menjadi “pengingat” historis-konkret akan kasih Allah yang tanpa syarat kepada semua orang dan ciptaan-Nya. Gereja dipanggil untuk semakin dalam bersatu dengan Yesus dan menghasilkan buah Roh: “kasih, sukacita, damai-sejahtera, persekutuan dan integritas” (bdk. Gal 5:22-23). Kita semua dipanggil untuk membantu membuat Gereja menjadi sebuah komunitas di mana Roh Kudus berdiam dan Yesus dikenal serta dikasihi. Panggilan ilahi sedemikian sungguh sangat menantang dan tidak pernah membosankan.

DOA: Tuhan Yesus, tanpa Engkau kami, para murid-Mu, tidak dapat berbuat apa-apa. Ajarlah kami bagaimana seharusnya kami berdiam dalam Engkau. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 15:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “JIKALAU KAMU TINGGAL DI DALAM AKU” (bacaan tanggal 9-5-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2012.

Cilandak, 19 April 2012

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

AKULAH POKOK ANGGUR YANG BENAR

AKULAH POKOK ANGGUR YANG BENAR

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PASKAH V, 6-5-12)

“Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya. Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah. Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu. Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar. Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. Dalam hal inilah Bapa-Ku dimuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku.” (Yoh 15:1-8).

Bacaan Pertama: Kis 9:26-31; Mazmur Tanggapan: Mzm 22:26-28,30-32; Bacaan Kedua: 1Yoh 3:18-24

Yesus bersabda, “Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya” (Yoh 15:1). Sebagai pokok anggur yang benar, Yesus adalah penggenapan dari segala sesuatu yang dikatakan tentang Israel sebagai kebun anggur pilihan Allah. Semua hal ini hanyalah bayangan dari realitas yang kita kenal sebagai Yesus Kristus. Yesus Kristus adalah sungguh Putera terkasih dari Bapa di surga, Sang Terpilih dalam artian yang sangat unik. Relasi intim yang terjalin antara Bapa dan Yesus kemudian “diperpanjang” sampai kepada para murid-Nya: “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya” (Yoh 15:5).

Ini adalah sebuah alegori yang agak berbeda dengan perumpamaan dalam arti parabel (Inggris: parable). Dalam sebuah parabel, hanya poin utama sajalah yang dimaksudkan untuk diterapkan dalam kehidupan. Sebaliknya, dalam sebuah alegori semua detil diterapkan. Selagi alegori pokok anggur diceritakan, para murid mendengar banyak aspek relasi Kristus dengan mereka. Tema-tema seluruh diskursus dalam Perjamuan Terakhir dapat diringkaskan sebagai berikut: (1) Walaupun Yesus sedang berada pada titik siap untuk berpisah secara fisik, pekerjaan-Nya akan berlanjut; (2) para murid akan diberi amanat untuk melanjutkan tugas-Nya; (3) mereka akan menerima energi ilahi untuk melaksanakan tugas itu.

Pekerjaan Bapa sebagai pengusaha adalah memotong ranting yang tidak berbuah dan membersihkan ranting yang berbuah, juga diterapkan pada kehidupan. Pohon anggur adalah sebatang tetumbuhan yang bertumbuh dengan cepat dan harus dipotong, dipangkas secara drastis apabila ingin menghasilkan buah secara berlimpah. Pemangkasan ranting yang tidak berbuah mengingatkan kita bahwa komunitas orang yang sungguh percaya itu dipisahkan dari mereka yang telah “dipangkas” dari Kristus melalui/karena ketidak-percayaan mereka. Pembersihan ranting yang berbuah mengingatkan kita pada proses pemurnian atau pembersihan. Jadi, mengingatkan kita pada peristiwa pembasuhan kaki para murid oleh Yesus sebelum Perjamuan Terakhir, ketika Yesus berkata kepada Petrus: “Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku” (Yoh 13:8). Akan tetapi, sekarang Yesus meyakinkan mereka kembali para murid bahwa mereka telah dibersihkan oleh ajaran-ajaran-Nya …… “karena firman yang telah Kukatakan kepadamu” (Yoh 15:3).

Poin berikutnya dalam alegori ini adalah kebenaran yang indah bahwa para murid merasa nyaman dalam Kristus, seperti ranting dengan pokok anggurnya. Rumah adalah tempat di mana kita berdiam dan di mana kita kembali dan kembali lagi setiap kali kita di luar. Inilah bagaimana seorang murid menemukan bahwa hidup-Nya berakar dan bertumpu pada Kristus dan dia selalu kembali kepada Kristus untuk arti, terang dan makanan. Yesus bersabda: “Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yoh 15:5). Yang dimaksudkan itu buah macam apa? Kita memperoleh jawabannya dalam Bacaan Pertama: “Dan inilah perintah-Nya: supaya kita percaya kepada nama Yesus Kristus, Anak-Nya, dan saling mengasihi sesuai dengan perintah yang diberikan Kristus kepada kita” (1Yoh 3:23).

Percaya berarti membuat pikiran (akal budi) kita dicerahkan oleh ajaran Yesus, untuk mempunyai kepercayaan kita yang sepenuhnya berakar pada diri-Nya, dan memperoleh damai-sejahtera kita dalam pengampunan ilahi-Nya. Ketika kita begitu berakar dalam Yesus, maka kita dengan sukarela akan membuka hidup kita dalam cinta kasih praktis bagi orang-orang lain dengan kasih Yesus sendiri.

“Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya” (Yoh 15:7). Jawaban atas doa dijamin … namun catatlah syaratnya: “jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu”. Kenyataannya adalah bahwa siapa saja yang begitu kokoh berakar dan bertumpu dalam Kristus hanya akan meminta apa saja yang merupakan kehendak Allah.

Poin terakhir berurusan dengan perpanjangan kemuliaan Bapa. Ada perasaan bahwa di mana karya Allah belum lengkap sampai kita meluaskan Kerajaan-Nya ke setiap bagian masyarakat.

“Alegori tentang pokok anggur dan ranting-rantingnya” ini mengajar kita bahwa menjadi seorang murid Yesus Kristus merupakan suatu panggilan yang agung. Kita ditantang untuk menjadi pelayan-Nya yang menghasilkan buah di tengah dunia dewasa ini. Dengan indah kita dijamin kembali bahwa sukses dalam tugas ini adalah karena energi ilahi yang ada dalam diri kita apabila kita hidup dalam Kristus.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau berbagi kehidupan ilahi-Mu dengan kami masing-masing. Biarlah segala sesuatu yang kami lakukan dipimpin oleh pengenalan akan kebenaran-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 15:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “BAPA SURGAWI DIMULIAKAN JIKA KITA BERBUAH BANYAK” (bacaan tanggal 6-5-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2012.

Cilandak, 17 April 2012

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 126 other followers