Posts from the ‘PERUMPAMAAN-PERUMPAMAAN YESUS’ Category

PERGILAH, DAN PERBUATLAH DEMIKIAN!

PERGILAH, DAN PERBUATLAH DEMIKIAN!

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XV [Tahun C] – 14 JULI 2013)

Master_of_the_Good_Samaritan_001

Kemudian berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya, “Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus kepadanya, “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di dalamnya?” Jawab orang itu, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Kata Yesus kepadanya, “Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.” Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus, “Dan siapakah sesamaku manusia?” Jawab Yesus, “Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi juga memukulnya dan sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati. Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Keesokan harinya ia mengeluarkan dua dinar dan memberikannya kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali. Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun?” Jawab orang itu, “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” Kata Yesus kepadanya, “Pergilah, dan perbuatlah demikian!” (Luk 10:25-37)

Bacaan Pertama: Ul 30:10-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 69:14,17,30-31,33-34,36-37 atau Mzm 19:8-11; Bacaan Kedua: Kol 1:15-20

Injil hari ini mencatat bahwa maksud si ahli Taurat mengajukan pertanyaan kepada Yesus adalah untuk mencobai-Nya (Luk 10:25). Namun ketika bertanya-jawab dengan Yesus, ahli Taurat ini mengungkapkan suatu kepekaan yang jarang terjadi terhadap kata-kata yang diucapkan oleh Yesus dan terhadap panggilan Allah dalam hatinya. Tidak seperti para ahli lainnya dalam hal Hukum Musa – biasanya mereka merupakan lawan-lawan Yesus yang sangat membenci Dia dan ajaran-Nya – ahli Taurat yang satu ini – ketika ditanya balik oleh Yesus – mampu sampai kepada inti dari keseluruhan rencana Allah dengan dua perintah sederhana: “Mengasihi Allah dan mengasihi sesamamu!” (Luk 10:27). Dalam jawabannya kepada Yesus, ahli Taurat itu menunjukkan apa yang telah dikatakan oleh Musa kepada umat Israel berabad-abad sebelumnya: “… firman ini sangat dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu, untuk dilakukan” (Ul 30:14). Ahli Taurat itu menunjukkan bahwa jalan Allah ditulis hampir secara genetika, di dalam impuls-impuls kodrat manusiawi kita, dan untuk jawabannya ini dia memperoleh persetujuan dari Yesus.

Seperti ditunjukkan dalam percakapan Yesus dengan ahli Taurat itu, Injil tidaklah sulit untuk dimengerti. Injil bukanlah seperangkat rumusan teologis yang kompleks, dan kita tidak memerlukan pendidikan bertahun-tahun lamanya hanya untuk sampai kepada inti pesan Injil itu. Dengan penuh belas kasih Allah telah menulis dalam hati kita, dan dalam kedalaman nurani kita masing-masing kita semua mengetahui dan mengenal kebenaran itu. Akan tetapi ada sesuatu yang lebih dalam bacaan Injil hari ini daripada sekadar cerita seorang ahli Taurat yang menunjukkan kesalehan. Yesus tidak hanya mengatakan kepada ahli Taurat itu bahwa dia benar, melainkan juga mengatakan kepadanya: “Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup” (Luk 10:28).

HATI KUDUS YESUS - 099Dengan hati yang lega kita dapat menutup “episode” ini. Tetapi ternyata untuk membenarkan dirinya ahli Taurat itu bertanya lagi kepada Yesus: “Dan siapakah sesamaku manusia?” (Luk 10:29). Sebuah “kalimat tanya tak bertanya” … sudah tahu jawabnya namun masih bertanya juga! Ataukah memang hanya orang Yahudi sajakah yang merupakan sesamanya? Tanggapan Yesus terhadap pertanyaan ini berupa sebuah perumpaman yang sangat indah dan tidak akan mudah untuk kita lupakan, yaitu “perumpamaan tentang orang Samaria yang murah hati” (Luk 10:30-35). Untuk memahami dengan lebih tepat perumpamaan ini, kita harus mengingat bagaimana mendalamnya orang Yahudi dan Samaria itu saling membenci satu sama lain, disebabkan oleh perbedaan ras, politik dan agama. Pada zaman ini dapatkah kita membayangkan seorang Kristiani Katolik Irlandia menolong seorang Kristiani Protestan dari Ulster, Irlandia Utara; atau seorang Amerika kulit hitam membantu anggota Ku Klux Klan?

Tidak seperti orang Samaria yang murah hati itu, imam dan orang Lewi dua-duanya melihat orang yang tergeletak setengah mati itu, namun melewatinya … lanjut saja! Seandainya orang orang yang menjadi korban keganasan penyamun itu telah mati, maka jika mereka menyentuhnya, … mereka menjadi tidak murni secara rituale untuk acara penyembahan di bait Allah. Jadi, kelihatannya mereka lebih merasa prihatin tentang abc-nya liturgi daripada mengambil risiko menolong seseorang yang sungguh-sungguh membutuhkan pertolongan serius.

Marilah sekarang kita bertanya kepada diri sendiri: Apabila kita menempatkan diri kita dalam perumpamaan Yesus itu, maka kita (anda dan saya) tergolong kategori yang mana? Imam? Orang Lewi? Orang Samaria? Korban perampokan yang tergeletak setengah mati? Selagi kita melakukan perjalanan dari Yerikho kita masing-masing menuju Yerusalem, bagaimanakah kita bereaksi terhadap orang-orang yang membutuhkan pertolongan kita di sepanjang jalan? Katakanlah mereka bukan orang-orang yang jauh-jauh, mereka adalah para tetangga kita, anggota lingkungan [wilayah, paroki] kita, rekan kerja kita, anggota keluarga kita, karena jarak antara Yerikho dan Yerusalem bisa saja hanya berkisar sejauh kamar tidur dan dapur kita dalam rumah yang sama. Bilamana kita berjumpa dengan orang-orang yang menderita karena berbagai hal, hanya ada dua alternatif pilihan bagi kita: Kita melihat mereka tanpa bela rasa dan kemudian melanjutkan perjalanan kita, atau kita tergerak oleh kasih dan belas kasih-Nya dan kemudian memberikan pertolongan. Muncul kembali dalil klasik, bahwa “hidup adalah pilihan”!

Mengapa Injil ini merupakan sebuah tantangan besar? Mengapa hanya ada sedikit saja “orang Samaria yang murah hati” yang dapat ditemukan di dunia ini? Karena Injil di samping sederhana, juga banyak menuntut. Tidak cukuplah bagi kita untuk memahami kebenaran. Seperti ditunjukkan oleh tanggapan Yesus terhadap si ahli Taurat, pemahaman kita akan kebenaran harus menggiring kita kepada tindakan melakukan kebenaran itu sebaik-baiknya seturut kemampuan kita masing-masing.

Apabila kita membaca Kitab Suci – dan teristimewa pada saat kita mendengarnya dibacakan dalam Misa – maka Yesus mengatakan kepada kita: “Pergilah, dan perbuatlah demikian!” (Luk 10:37). Yesus minta kepada kita untuk merangkul kesederhanaan pesan-Nya dan untuk membungkam suara-suara penolakan dalam batin kita yang mencoba untuk membuat sabda-Nya menjadi semakin rumit dan membuat dalih-dalih pembenaran diri mengapa sabda-Nya itu terlalu keras untuk kita praktekkan Musa ternyata benar: sabda itu sama sekali tidak jauh dari kita. Roh Kudus – cintakasih dan kuat-kuasa Allah sendiri – senantiasa ada bersama kita.

Catatan tambahan untuk direnungkan: Pada akhir perumpamaan ini Yesus bertanya kepada si ahli Taurat: “Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu? (Luk 10:36). Jawab orang itu, “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” (Luk 10:37). Sebuah jawaban yang samasekali tidak salah, namun lebih elok kiranya kalau dia menambahkan jawabannya dengan kata-kata berikut: “yaitu si orang Samaria!”

DOA: Tuhan Yesus, aku berterima kasih penuh syukur kepada-Mu karena Engkau telah menuliskan sabda-Mu pada hatiku. Oleh kuat-kuasa Roh Kudus-Mu, berikanlah kepadaku keberanian dan kerendahan-hati, agar aku dapat pergi dan melakukan pekerjaan-pekerjaan Injil-Mu. Yesus, buatlah hatiku semakin serupa dengan hati-Mu. Amin.

Cilandak, 9 Juli 2013 [Peringatan martir-martir Tiongkok]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ANGGUR BARU BUKAN UNTUK KANTONG KULIT TUA

ANGGUR BARU BUKAN UNTUK KANTONG KULIT TUA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIII – Sabtu, 6 Juli 2013)

YESUS SEORANG PEMIMPIN YANG TEGASKemudian datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata, “Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?” Jawab Yesus kepada mereka, “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa. Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada yang baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabik baju itu, lalu makin besarlah koyaknya. Begitu pula anggur yang baru tidak dituang ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian kantong itu akan koyak sehingga anggur itu terbuang dan kantong itu pun hancur. Tetapi anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru pula, dan dengan demikian terpeliharalah kedua-duanya.” (Mat 9:14-17)

Bacaan Pertama: Kej 27:1-5,15-29; Mazmur Tanggapan: Mzm 135:1-6

Yohanes Pembaptis dan para muridnya menghayati kehidupan spiritual yang sangat asketis. Ia memanggil semua orang untuk bertobat, melakukan pertobatan atas dosa-dosa mereka. Dengan demikian pantaslah bagi mereka jika mereka harus berpuasa secara teratur. Akan tetapi para muridnya merasa bingung mengapa para murid Yesus tidak berpuasa.

Pada waktu menjawab pertanyaan para murid Yohanes Pembaptis kepada-Nya, Yesus menggunakan bahasa yang bersifat figuratif, namun maknanya jelas. Puasa adalah sebuah tanda orang bersedih, tanda pertobatan. Dengan demikian, tentunya bukan pada tempatnya apabila orang berpuasa pada suatu pesta kawin. Selagi Yesus – sang mempelai laki-laki – sedang bersama milik-Nya, yang ada haruslah sukacita, dan suasananya pun adalah suasana kebebasan dan kasih.

Puasa itu baik. Namun puasa haruslah dilakukan secara bebas dan cocok dengan waktu, tempat dan cara melaksanakannya. Puasa tidak boleh menjadi tujuan bagi dirinya sendiri.

KANTONG ANGGUR YANG BARUYesus terus berbicara mengenai seluruh way of life baru yang sedang diperkenalkan-Nya. Yesus membuat jelas bahwa Dia tidak hanya menyelipkan beberapa ide baru, tafsir baru dari Hukum Lama. Dia bersabda: “Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada yang baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabik baju itu, lalu makin besarlah koyaknya. Begitu pula anggur yang baru tidak dituang ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian kantong itu akan koyak sehingga anggur itu terbuang dan kantong itu pun hancur. Tetapi anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru pula, dan dengan demikian terpeliharalah kedua-duanya” (Mat 9:16-17). Pesan-Nya juga tidak boleh dicampur-adukkan dengan Hukum Lama. Injil-Nya, adalah kabar yang baru. Yesus menempatkan kita semua dalam suatu relasi dengan dengan Allah yang sepenuhnya baru, suatu relasi persahabatan dan cintakasih, bukan berdasarkan rasa takut.

Kita semua juga dipanggil kepada suatu hidup baru. Melalui pembaptisan kita dilahirkan kembali. Barangkali Allah telah memberikan kepada kita suatu roh yang diperbaharui dalam iman kita, suatu relasi cintakasih baru dengan Dia. Mengapa kita harus bertahan dengan yang lama? Mengapa kita mencoba untuk merekonsiliasikan cara-cara kita yang lama, kepentingan-kepentingan diri sendiri dan duniawi dengan panggilan Allah kepada hidup yang baru ini? Kita harus mati terhadap diri kita yang lama dan tidak mencoba untuk berkompromi.

DOA: Tuhan Yesus, oleh kuasa Roh Kudus-Mu, buatlah baptisan kami menjadi hidup. Jadikanlah segala sesuatu baru selagi kami hidup di bawah hukum cintakasih. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 9:14-17), bacalah tulisan yang berjudul “ANGGUR BARU DALAM KANTONG BARU” (bacaan tanggal 6-7-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2013.
Bacalah juga tulisan yang berjudul “ANGGUR YANG BARU” (bacaan tanggal 2-7-11) dalam situs/blog SANG SABDA.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 7-7-12 dalam situs/blog PAX ET BONUM)

Cilandak, 3 Juli 2013 [Pesta Santo Tomas, Rasul]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DUA MACAM DASAR

DUA MACAM DASAR

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XII – Kamis, 27 Juni 2012)

Jesus_109Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan orang yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mukjizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari hadapan-Ku, kamu sekalian yang melakukan kejahatan!

Jadi, setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu bertiuplah angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu bertiuplah angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.

Setelah Yesus mengakhiri perkataan ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka. (Mat 7:21-29)

Bacaan Pertama: Kej 16:1-12,15-16; Mazmur Tanggapan: Mzm 106:1-5

Bacaan Injil hari ini adalah ayat-ayat terakhir yang tercatat dalam bagian Injil yang dikenal sebagai “Khotbah di Bukit” (Mat 5:1 – 7:29). Kita telah sampai kepada puncak khotbah, klimaksnya yang kuat-mengesan di hati dan sungguh menantang, dan sekarang pula sampailah kita pada akhirnya.

Di sini Yesus mengatakan kepada kita untuk tidak menipu diri sendiri atau mencoba untuk menipu Dia. Janganlah kita pernah berpikir bahwa dengan memproklamasikan diri-Nya sebagai Tuhan dengan ucapan kita semata – tanpa mengisinya dengan tindakan-tindakan nyata dalam hal melakukan kehendak Bapa-Nya – akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Bahkan ketika kita telah menerima berbagai karunia Roh, misalnya karunia-karunia untuk bernubuat atau menyembuhkan, hal ini bukanlah jaminan terhadap kekudusan atau kesucian kita. Santo Paulus mengatakan hal yang sama: “… tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna” (1Kor 13: 2; bdk. 13:1,3).

Sekadar mendengar dan memahami pesan-pesan Yesus bukanlah tanggapan yang cukup. Kita harus menjadi “pelaku sabda” (bdk. Yak 1:22-25; 2:14-26). Yesus dengan jelas memberikan sebuah tantangan serius bagi kita. Kegagalan dalam melaksanakan sabda-Nya tidak ubahnya dengan upaya membangun sebuah rumah di atas pasir. Ujung-ujungnya kita akan mengalami bencana, segalanya berantakan secara total.

Tes sesungguhnya adalah melakukan kehendak Bapa. Yesus mengklaim dan menerima seorang pribadi sebagai seorang saudara dan seorang sahabat-Nya hanya dia yang taat, yang melakukan kehendak Bapa-Nya, yang mempraktekkan sabda-Nya dalam hidup sehari-harinya. Apabila anda atau saya tidak melakukannya, maka janganlah kaget apabila mendengar Ia berkata: “Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari hadapan-Ku, kamu sekalian yang melakukan kejahatan!” (Mat 7:23).

Ini adalah kata-kata Yesus yang sungguh keras! Memang keras, namun kata-kata itu diterima oleh orang banyak karena Dia mengajar mereka dengan kuasa dan penuh wibawa, tidak seperti para ahli Taurat.

Kita sekarang mempunyai sebuah pelajaran dari orang banyak itu. Apakah kita menerima para pemimpin Gereja yang dengan otoritas dan berwibawa mengajarkan sabda-sabda Yesus yang keras demi kebenaran? Atau apakah kita lebih suka atau lebih cenderung menerima ajaran-ajaran penuh kompromi, tidak ada salib dan enak didengar telinga, yang kurang memberi tantangan bagi kita?

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Engkau mengatakan, “Siapa saja yang memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Siapa saja yang mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Aku pun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya” (Yoh 14:21). Terima kasih Tuhan Yesus. Terpujilah nama-Mu selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 7:21-29), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS KRISTUS ADALAH FONDASI UNTUK MEMBANGUN KEHIDUPAN KITA” (bacaan tanggal 27-6-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2013. Bacalah juga tulisan yang berjudul “APAKAH KEHENDAK ALLAH BAGI KITA?” (bacaan tanggal 28-6-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 24 Juni 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERKENANKANLAH ALLAH MEMELIHARA KITA

PERKENANKANLAH ALLAH MEMELIHARA KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari biasa Pekan Biasa XI – Sabtu, 22 Juni 2013)

KHOTBAH DI BUKIT - 500“Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.

Karena itu, Aku berkata kepadamu: Janganlah khawatir tentang hidupmu, mengenai apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah khawatir pula tentang tubuhmu, mengenai apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting daripada makanan dan tubuh itu lebih penting daripada pakaian? Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu di surga. Bukankah kamu jauh lebih berharga daripada burung-burung itu? Siapakah di antara kamu yang karena kekhawatirannya dapat menambah sehasta saja pada jalan hidupnya? Mengapa kamu khawatir mengenai pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan memintal, namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannya pun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. Jadi, jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih dahulu mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya? Karena itu, janganlah kamu khawatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di surga tahu bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kehendak-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Karena itu, janganlah kamu khawatir tentang hari esok, karena hari esok mempunyai kekhawatirannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” (Mat 6:24-34)

Bacaan Pertama: 2Kor 12:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 34:8-13

Dalam bacaan Injil hari ini kita mendengar sebuah janji indah dari Tuhan Yesus kepada kita. Dia ingin meyakinkan kembali kepada kita tentang kasih-Nya dan berkat-Nya yang berlimpah yang disediakan-Nya bagi kita. Jadi, sesungguhnya kita tidak perlu merasa khawatir tentang apa pun. Yesus ingin agar kita mengetahui, mengenal dan mengalami kasih Bapa surgawi seperti yang diketahui-Nya, dikenal-Nya dan dialami-Nya sendiri. Selagi kita melakukannya, maka kita akan melihat bahwa kita dapat mengandalkan diri pada Tuhan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita. Tentu saja selalu ada tantangan-tantangan – besar atau kecil – namun Yesus menunjukkan kepada kita bahwa tidak ada sesuatu pun yang lebih penting daripada berjalan dalam kehadiran Bapa surgawi yang sangat mengasihi kita.

Sampai seberapa pasti kasih Bapa itu bagi kita? Sepasti pengorbanan Putera-Nya di kayu salib sekitar 2.000 tahun lalu. Sepasti kehadiran Roh Kudus yang berdiam dengan setia dalam diri kita masing-masing. Lebih pasti daripada makanan untuk memuaskan kelaparan badani kita, atau pemberian pakaian guna menghangatkan tubuh kita. YHWH-Allah mengatakan kepada kita, “… kasihsetia-Ku tidak akan Kujauhkan dari padanya dan Aku tidak akan berlaku cuang dalam hal kesetiaan-Ku. Aku tidak akan melanggar perjanjian-Ku, dan apa yang keluar dari bibir-Ku tidak akan Kuubah” (Mzm 89:34-35). “Aku berkata kepadamu: Janganlah khawatir tentang hidupmu …” (Mat 6:25). Tidak ada apa pun yang lebih besar daripada Kerajaan Allah dan kehendak-Nya (lihat Mat 6:33).

Jadi, marilah kita memberi makan diri kita dengan sabda Allah. Marilah kita mengenakan pakaian diri kita dengan kasih-Nya. Marilah kita mencari Dia di atas segalanya dan memperkenankan Dia membimbing langkah-langkah yang kita ambil. Tantangan paling besar yang kita hadapi bukanlah berurusan dengan keprihatinan-keprihatinan kehidupan duniawi, melainkan mengenakan baju zirah Allah secara penuh dan berjalan dalam kehadiran-Nya setiap hari – inilah tantangan riil yang kita hadapi. Bapa surgawi sangat mengasihi kita dan sungguh berkeinginan untuk memberkati kita secara berlimpah. Allah tidak pernah berhenti memperhatikan kita dengan penuh kasih. Kita dapat mengandalkan diri kepada-Nya untuk memimpin kita setiap hari.

Oleh karena itu, marilah kita menyerahkan segala urusan kita kepada Bapa surgawi dan perkenankanlah Dia memelihara kita dengan penuh kasih sayang. Kita berada di telapak tangan-Nya dan Ia tidak pernah membuang diri kita. Yesus, sang Sabda yang menjadi daging, mati untuk kita di atas kayu salib!

Saudari dan Saudara yang dikasihi Kristus, percayalah kepada-Nya dalam segala hal, baik besar maupun kecil. Singkirkanlah segala kekhawatiran dan rasa susah anda. Peganglah erat-erat tangan-Nya dan biarlah Ia menjadi Pemandu anda. Dalam setiap situasi yang anda temui, ketahuilah bahwa Bapa yang sangat mengasihi senantiasa berdiri di samping anda, siap untuk menunjukkan jalan kepada anda. Kita semua (anda dan saya) adalah makhluk-makhluk ciptaan-Nya dan Ia sangat mengasihi kita.

DOA: Roh Kudus Allah, aku menaruh setiap urusanku di hadapan-Mu dan memohon berkat atas diriku dan setiap orang yang kutemui. Pimpinlah aku dalam mengikuti jejak langkah Yesus, dan tariklah aku agar semakin jauh dari dosa dan anugerahkanlah kepadaku damai-sejahtera-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 6:24-34), bacalah tulisan yang berjudul “CARILAH DAHULU KERAJAAN ALLAH DAN KEHENDAK-NYA” (bacaan tanggal 22-6-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2013. Bacalah juga tulisan yang berjudul “BAPA SURGAWI YANG SANGAT MENGASIHI KITA SEMUA” (bacaan tanggal 23-6-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 16 Juni 2013 [HARI MINGGU BIASA XI]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KITA ADALAH KEBUN ANGGUR YESUS

KITA ADALAH KEBUN ANGGUR YESUS!

(Bacaan Injil Misa, Peringatan S. Karolus Lwanga dkk. Martir – Senin, 3 Juni 2013)

PERUMPAMAAN - WICKED HUSBANDMENLalu Yesus mulai berbicara kepada mereka dalam perumpamaan, “Ada seseorang membuka kebun anggur dan membuat pagar sekelilingnya. Ia menggali lubang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga. Kemudian Ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain. Ketika sudah tiba musimnya, ia menyuruh seorang hamba kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima sebagian dari hasil kebun itu dari mereka. Tetapi mereka menangkap hamba itu dan memukulnya, lalu menyuruhnya pergi dengan tangan hampa. Kemudian ia menyuruh lagi seorang hamba lain kepada mereka. Orang ini mereka pukul sampai luka kepalanya dan sangat mereka permalukan. Lalu ia menyuruh seorang lagi seorang hamba lain, dan orang ini mereka bunuh. Demikian juga dengan banyak lagi yang lain, ada yang mereka pukul dan ada yang mereka bunuh. Masih ada satu orang lagi padanya, yakni anaknya yang terkasih. Akhirnya ia menyuruh dia kepada mereka, katanya: Anakku akan mereka segani. Tetapi penggarap-penggarap itu berkata seorang kepada yang lain: Inilah ahli waris, mari kita bunuh dia, maka warisan ini menjadi milik kita. Mereka menangkapnya dan membunuhnya, lalu melemparkannya ke luar kebun anggur itu. Sekarang apa yang akan dilakukan oleh tuan kebun anggur itu? Ia akan datang dan membinasakan penggarap-penggarap itu, lalu mempercayakan kebun anggur itu kepada orang-orang lain. Tidak pernahkah kamu membaca nas ini: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi baru penjuru: Hal ini terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita.” Lalu mereka berusaha untuk menangkap Yesus, karena tahu bahwa merekalah yang dimaksudkan-Nya dengan perumpamaan itu. Tetapi mereka takut kepada orang banyak. Mereka membiarkan Dia, lalu mereka pergi. (Mrk 12:1-12)

Bacaan Pertama: Tb 1:3;2:1a-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 112:1-6

Tidak seorang pun dapat menyangkal betapa kaya perumpamaan-perumpamaan Yesus itu. Cerita-cerita singkat yang diceritakan-Nya sekitar 2.000 tahun lalu, tetap saja berbicara kepada kita pada zaman modern ini – tetap aktual dan dengan begitu banyak cara!

VINEYARDPada tingkatan tertentu, “kebun anggur” dalam perumpamaan ini melambangkan umat Allah (lihat Yes 5:1-7), dan para penggarap melambangkan orang-orang yang dalam kedosaan mereka menolak Tuhan dan perintah-perintah-Nya – malah termasuk mereka yang menyalibkan Yesus. Pada tingkatan yang lain, kitalah “kebun anggur” itu, dan para penggarap adalah kekuatan-kekuatan di dalam diri kita – dosa, Iblis, sikap dan perilaku keduniawian kita – yang mencoba untuk merampas kita dari rahmat yang telah dicurahkan Allah ke dalam kehidupan kita.

vineyards_ranch2Apabila kita membaca perumpamaan ini sekilas lintas, maka baris-baris terakhir dapat cukup menakutkan, teristimewa jika kita mengingat-ingat dosa kita dan berbagai cara yang berbeda-beda bagaimana kita tidak/kurang memenuhi syarat dan tidak mentaati perintah-perintah Allah. Biar bagaimana pun juga siapa sih yang ingin menderita karena kutuk Allah? Namun apabila kita membaca lagi perumpamaan Yesus itu, maka akhir dari perumpamaan itu dapat menjadi pendorong dan penyemangat, hal-hal yang membebaskan, yang mungkin tidak pernah kita dengar sebelumnya. Kita adalah “kebun anggur” Yesus! Allah begitu mengasihi kita sehingga Dia mengutus Putera-Nya sendiri untuk membebaskan kita dari para lawan yang memusuhi kita! (bdk. Yoh 3:16).

Yesus minta kepada kita untuk melihat dengan mendalam ke dalam hati kita masing-masing dan memperkenankan-Nya untuk melanjutkan karya salib-Nya. Allah ingin mentransformasikan diri kita. Dia ingin tidak ada sesuatu pun yang menghalangi diri-Nya untuk memeluk diri kita dengan penuh kasih kebapaan. Ia sungguh ingin memerdekakan kita dari setiap musuh yang senantiasa mau menjatuhkan anak-anak-Nya.

ROHHULKUDUSMarilah kita senantiasa menyediakan saat-saat hening di mana kita dapat menghaturkan permohonan kepada Roh Kudus untuk mengungkapkan dosa-dosa kita agar – dalam semangat penyesalan dan pertobatan – kita dapat membawa dosa-dosa itu ke bawah kaki salib Kristus. Di situlah, di hadapan sang Tersalib, dosa-dosa kita diampuni. Pada saat-saat kita, menghadapi godaan, maka senantiasa baik jika kita berdoa agar darah Yesus menyelimuti kita dan melindungi kita. Dengan demikian, marilah kita memenuhi hati dan pikiran kita dengan sabda-Nya yang ada dalam Kitab Suci agar mampu menolak godaan Iblis dan/atau roh-roh jahat dengan menggunakan kebenaran Allah sebagaimana dilakukan oleh Yesus ketika digoda di padang gurun (lihat Luk 4:4,8,12). Kita pun tidak boleh lupa untuk selalu memohon kepada Roh Kudus untuk menolong kita mengenali dan melawan janji-janji palsu dari berbagai falsafah duniawi, termasuk “pepesan kosong” yang sering diajarkan oleh sebagian dari mereka yang menamakan diri “motivator”, yang tidak jarang bermunculan akhir-akhir ini.

DOA: Yesus, aku ingin salib-Mu menumpas habis sehabis-habisnya segala sesuatu yang dapat merampas diriku dari kehadiran-Mu. Engkau adalah sang Pembebas umat manusia, termasuk diriku. Engkau adalah pengharapanku dan kekuatanku. Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku pribadi. Aku sungguh mengasihi-Mu dan berketetapan hati untuk mengasihi-Mu lebih dan lebih lagi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 12:1-12), bacalah tulisan yang berjudul “PARA PENGGARAP KEBUN ANGGUR YANG JAHAT” (bacaan tanggal 3-6-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2013. Bacalah juga tulisan yang berjudul “SEMOGA KELAK KITA DIDAPATI OLEH-NYA SEBAGAI PENGGARAP KEBUN ANGGUR YANG BAIK” (bacaan tanggal 4-6-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 4-6-12 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 22 Mei 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KESATUAN ANTARA BAPA SURGAWI DAN ANAK-NYA

KESATUAN ANTARA BAPA SURGAWI DAN ANAK-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PASKAH IV – 21 April 2013)

HARI MINGGU PANGGILAN

TRITUNGGAL MAHAKUDUS - 1Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku. Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar daripada siapa pun, dan seorang pun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa. Aku dan Bapa adalah satu.” (Yoh 10:27-30)

Bacaan Pertama: Kis 13:14.43-52; Mazmur Tanggapan: Mzm 100:2-3,5; Bacaan Kedua: Why 7:9.14-17

“Aku dan Bapa adalah satu” (Yoh 10:30). Ini adalah sebuah pernyataan yang bukan main-main dan sangat mendalam! Kita dapat membayangkan bagaimana reaksi yang bermunculan di kalangan para pendengar sabda Yesus ini. Bagaimana tanggapan mereka terhadap kebenaran hakiki ini! Sejumlah orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus yang mengklaim diri-Nya setara dengan Allah (Yoh 10:31; bdk. Yoh 5:18). Di lain pihak barangkali ada juga orang-orang yang begitu terkejut sehingga mereka mulai merenungkan apa yang baru saja dikatakan dan dilakukan oleh Yesus dalam terang klaim tersebut.

Tidak ada seorang pun dari para pendengar Yesus yang dapat membayangkan untuk berjumpa dengan Allah sendiri secara “muka ketemu muka” (face-to-face). Namun Yesus memegang janji akan terjalinnya relasi yang akan berdampak atas kehidupan mereka selamanya. Dia berkata kepada Filipus murid-Nya: “Siapa saja yang telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa” (Yoh 14:9). Dalam setiap hal yang dikatakan-Nya dan dilakukan-Nya, Yesus menyatakan satu lagi dimensi Allah – Bapa yang ada di surga, Bapa kita semua.

gb-7Setiap kali Yesus menyembuhkan penyakit seorang manusia, Dia menyatakan/ mengungkapkan bela-rasa Bapa surgawi (Mat 9:2-8; Mrk 10:46-52; Luk 7:11-15). Yesus mengungkapkan belas-kasih atau kerahiman Bapa surgawi yang tak mengenal batas ketika Dia mengampuni perempuan yang tertangkap basah sedang berzinah (Yoh 8:1-11) and menawarkan air hidup kepada seorang perempuan Samaria (Yoh 4:1-42). Yesus menunjukkan kuat-kuat Allah yang mahadahsyat ketika Dia membuat tenang amukan angin topan yang mengancam dan membuat takut para murid-Nya ketika mereka berada dalam perahu (Mrk 4:36-41). Yesus berada di atas hukum alam, ketika dia berjalan di atas air mendekati perahu yang ditumpangi para murid-Nya dan sedang terombang-ambing oleh gelombang karena angin sakal (Mat 14:25-27). Ia juga melewati tembok kokoh ketika menemui para murid setelah kebangkitan-Nya (Yoh 20:19). Yesus menunjukkan kebenaran Allah ketika Dia membalikkan meja-meja para penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati dalam Bait Allah di Yerusalem (Mrk 11:15-17). Yesus juga senantiasa mengungkapkan hikmat Allah selagi Dia menjawab/menanggapi upaya-upaya para pemimpin agama Yahudi untuk menjebak diri-Nya (Mat 22:23-32; Mrk 12:14-17; Luk 5:20-25).

Dengan kebenaran-kebenaran indah demikian di hadapan kita, kita dapat merasa nyaman. Melalui Yesus, tidak hanya kita dapat mengenal Bapa surgawi secara pribadi, kita dapat menjadi milik-Nya pribadi – sekarang dan selamanya. Marilah sekarang kita mendengarkan janji Yesus berikut ini: “Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar daripada siapa pun, dan seorang pun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa” (Yoh 10:29).

DOA: Bapa surgawi, kami membuka hati kami bagi-Mu. Ajarlah kami apa artinya menjadi anak-anak-Mu, yang dilindungi dan dipelihara serta dirawat oleh Putera-Mu terkasih, sang “Gembala yang Baik”. Tolonglah kami agar senantiasa dekat dengan Yesus karena memang Dialah satu-satunya andalan kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 10:27-30), bacalah tulisan yang berjudul “GEMBALA BAIK YANG SETIA” (bacaan tanggal 21-4-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2013.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan yang berjudul “AKU DAN BAPA ADALAH SATU” untuk bacaan tanggal 1-5-12)

Cilandak, 12 April 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BAPA YANG SUNGGUH MENGASIHI

BAPA YANG SUNGGUH MENGASIHI

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PRAPASKAH IV – 10 Maret 2013)

ANAK YANG HILANG - 01Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa, semuanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Lalu bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya, “Orang ini menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka. Lalu Ia menyampaikan perumpamaan ini kepada mereka, “Ada seseorang mempunyai dua anak laki-laki. Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka. Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya. Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan ia pun mulai melarat. Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang warga negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya. Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorang pun yang memberikan sesuatu kepadanya. Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebut anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa. Lalu bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebut anak bapa. Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa kemari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. Ambillah anak lembu yang gemuk itu, sembelihlah dan marilah kita makan dan bersukacita. Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Lalu mulailah mereka bersukaria. Tetapi anaknya yang sulung berada di ladang dan ketika ia pulang dan dekat ke rumah, ia mendengar suara musik dan nyanyian tari-tarian. Lalu ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa arti semuanya itu. Jawab hamba itu: Adikmu telah kembali dan ayahmu telah menyembelih anak lembu yang gemuk, karena ia mendapatnya kembali dalam keadaan sehat. Anak sulung itu marah ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan membujuknya. Tetapi ia menjawab ayahnya, Lihatlah, telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu yang gemuk itu untuk dia. Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala milikku adalah milikmu. Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.” (Luk 15:1-3,11-32)

Bacaan Pertama: Yos 5:9a,10-12; Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2-7; Bacaan Kedua: 2Kor 5:17-21

PERUMPAMAAN - ANAK YANG HILANG - 5 OLEH CARAVAGGIOCerita yang ada dalam bacaan Injil hari ini telah lama dikenal sebagai “perumpamaan anak yang hilang”. Sebenarnya cerita ini dimaksudkan bagi para pembacanya untuk memfokuskan perhatian mereka pada sang ayah/bapak, bukan pada salah satu anak bapak itu, dan barangkali secara lebih akurat lagi dinamakan “perumpamaan seorang bapak yang mengasihi”.

Latar belakang cerita ini adalah bahwa para ahli Taurat dan orang Farisi marah ketika melihat Yesus yang mengasosiasikan dirinya dengan orang-orang yang dikenal sebagai para pendosa. Yesus menceritakan perumpamaan ini untuk mengungkapkan ide bahwa Allah menghendaki keselamatan bagi para pendosa dan berhasrat untuk mengampuni dosa-dosa mereka. Yesus ingin meyakinkan para pendengar-Nya tentang kebenaran bahwa Allah adalah ‘seorang’ Bapa yang mengasihi dan memahami anak-anak-Nya.

Yesus menggambarkan anak yang bungsu begitu rupa realistisnya sehingga berabad-abad lamanya gambaran inilah yang menarik perhatian kebanyakan orang. Gambaran ini adalah tipikal bagi seorang anak muda yang ingin menjadi independen, bebas dari kontrol orangtua, untuk pergi dalam suatu petualangan pribadi … untuk melihat dan melakukan semua hal yang tidak pernah merupakan bagian dari kehidupannya di dalam rumahnya. Akibat-akibat dari petualangan seperti ini juga tipikal: yang bersangkutan menemukan nilai sesungguhnya dari uang, kebutuhan akan teman-teman sejati, pentingnya sense of belonging.

Kita tahu apa dan bagaimana yang dirasakan oleh si anak bungsu. Kita tahu bahwa apa artinya hidup sendiri, merasa bersalah, dirundung rasa takut. Setelah dia menghambur-hamburkan uangnya, semua teman-temannya (hanya pada waktu senang saja) meninggalkan dirinya. Si anak bungsu ditinggalkan sendirian dengan kesusahan hidupnya, rasa bersalahnya dan ketakutannya. Dia mulai menyadari betapa buruk kesalahan yang telah dibuatnya ketika meninggalkan ayahnya.

Anak yang sulung dalam perumpamaan ini juga seorang pribadi yang dapat kita pahami. Ketika dia pulang dari kerjanya di ladang milik ayahnya, dia marah ketika mengetahui berlangsungnya pesta bagi saudara laki-lakinya “yang tak berguna” itu. Sekilas lintas kelihatannya si anak sulung ini seakan dikhianati, namun sedikit ruang saja bagi kita untuk membenarkan sikap dan perilakunya yang dipenuhi kecemburuan. Seyogianya dia merasa berbahagia karena adiknya sudah menyadari kekeliruan yang dibuatnya. Marilah kita lihat lagi protes si anak sulung kepada ayahnya: “Lihatlah, telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku” (Luk 15:29). Terasa bahwa anak sulung itu memandang bekerja untuk ayahnya sebagai suatu bentuk perbudakan dan ketaatannya adalah ketaatan seorang pekerja bayaran, bukan karena relasi antara anak dan ayahnya. Jelas kelihatan bahwa dia melakukan pekerjaan dengan ekspektasi pada suatu hari dia dapat memperoleh ganjaran besar dari ayahnya. Pekerjaannya dimotivasi oleh kepentingan diri, bukan cintakasih. Si anak sulung ini dapat dikatakan mewakilkan para ahli Taurat dan orang Farisi yang mengeluh dan memprotes perlakuan penuh belas kasih Yesus terhadap para pendosa.

Apabila kita sudah mengetahui kebenaran tentang kedua anak laki-laki bersaudara itu, maka kita dapat mengambil kesimpulan bahwa sesungguhnya cerita ini dimaksudkan bagi kita untuk memfokuskan perhatian kita pada sang ayah agar dapat dapat memperoleh sesuatu gambaran tentang Allah. Ketika si anak bungsu mengungkapkan ide untuk meninggalkan rumah, sang ayah sungguh merasa susah-hati. Ia tahu bahaya-bahaya apa saja yang akan dihadapi anaknya. Namun pada saat bersamaan dia juga memahami kebutuhan anaknya dan adalah hak si anak untuk menjadi seorang bebas. Keputusan sang ayah untuk tidak mau mendominir atau mengontrol anaknya pada saat itu dalam kehidupan anaknya karena dia sadar bahwa cintakasih untuk menjadi sejati harus diberikan secara bebas, artinya tidak dapat dipaksakan. Jadi, ketika si anak “ngotot” untuk memperoleh kebebasannya, sang ayah dalam kebaikannya yang penuh kasih dengan hati sedih memberikan persetujuannya.

PARABLE OF THE LOST SONSetelah si anak bungsu meninggalkan rumah, sang ayah berharap bahwa pengalaman dalam petualangannya akan mengajar dia tentang nilai-nilai sejati, karena kelihatannya kata-kata sang ayah tidak didengarkan. Setiap hari sang ayah naik ke atas bukit dan melihat jalan yang membentang sejauh matanya memandang dengan pengharapan bahwa siapa tahu dia akan melihat dari kejauhan anak bungsunya yang sedang berjalan pulang. Pada suatu hari pengharapannya dipenuhi. Dia berlari menjemput anak bungsunya, lalu dia merangkulnya dan dengan ketidaksabaran yang mengungkapkan emosinya secara mendalam. Bahkan dia tidak memberi kesempatan kepada anaknya menyelesaikan permohonan ampunnya yang sudah dihafalkan baik-baik olehnya. Si anak bungsu mengetahui bahwa dia pantas mendengar ayahnya mengucapkan kata-kata keras, namun apa yang didengarnya adalah penerimaan penuh kasih dari sang ayah. Sang ayah memang tidak menikmati penghinaan atas diri anak-Nya sendiri.

O, betapa besar kasih sang ayah bagi si anak bungsu. Namun kasihnya kepada anaknya yang sulung pun tidak berkurang sedikitpun. Sang ayah menolak untuk dipaksa berpihak kepada salah satu anaknya. Dua-dua anaknya telah menunjukkan kesalahan mereka, namun sang ayah tidak pernah berhenti mengasihi kedua-duanya. Dengan segala kelemahan dan kekurangan masing-masing, sang ayah mengasihi kedua-duanya karena mereka memang adalah anak-anaknya.

Dalam artian tertentu, kita adalah seperti si anak bungsu, namun kita juga seperti si anak sulung. Di mana pun kita berdiri, Yesus ingin agar kita mengetahui bahwa Allah memberikan kepada kita kebebasan karena Dia ingin suatu kasih yang diberikan secara bebas, tidak dipaksakan. Yesus juga menginginkan kita mengetahui bahwa bahkan setelah melakukan kesalahan yang paling tolol dan dosa-dosa yang paling tragis sekali pun, Allah akan tetap mencari kita dengan tangan-tangan terbuka agar dapat mengambil kita kembali sebagai anak-anak-Nya. Allah kita adalah sungguh-sungguh ‘seorang’ Bapa yang mengasihi dan memahami kita, anak-anak-Nya.

DOA: Bapa surgawi, aku berterima kasih penuh syukur kepada-Mu karena kasih-Mu kepadaku. Jagalah agar aku tidak akan pernah melupakan belas kasih-Mu terhadap diriku atau kuat-kuasa-Mu untuk membuat diriku menjadi ciptaan baru. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 15:1-3,11-32), bacalah tulisan yang berjudul “RAHMAT DAN BELAS KASIH ALLAH” (bacaan tanggal 10-3-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2013.
Bacalah juga tulisan “KASIH BAPA SURGAWI YANG BEGITU BESAR” (bacaan tanggal 2-3-13) dalam situs/blog SANG SABDA dan juga tulisan yang berjudul “PERKENANKANLAH DIA MERANGKUL ANDA ERAT-ERAT DENGAN BELAS KASIH-NYA” (bacaan tanggal 2-3-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 3 Maret 2013 [HARI MINGGU PRAPASKAH III]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 131 other followers