Posts from the ‘PERUMPAMAAN-PERUMPAMAAN YESUS’ Category

JANGANLAH KITA SEPERTI HAMBA YANG JAHAT DAN MALAS

JANGANLAH KITA SEPERTI HAMBA YANG JAHAT DAN MALAS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXI – Sabtu, 31 Agustus 2013)

PERUMPAMAAN TENTANG TALENTA

“Sebab hal Kerajaan Surga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka. Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat. Segera pergilah hamba yang menerima lima talenta itu. Ia menjalankan uang itu lalu beroleh laba lima talenta. Hamba yang menerima dua talenta itu pun berbuat demikian juga dan berlaba dua talenta. Tetapi hamba yang menerima satu talenta itu pergi dan menggali lubang di dalam tanah lalu menyembunyikan uang tuannya. Lama sesudah itu pulanglah tuan hamba-hamba itu lalu mengadakan perhitungan dengan mereka. Hamba yang menerima lima talenta itu datang dan ia membawa laba lima talenta, katanya: Tuan, lima talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba lima talenta. Lalu kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam hal kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam hal yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. Sesudah itu, datanglah hamba yang menerima dua talenta itu, katanya: Tuan, dua talenta tuan percayakan; lihat, aku telah beroleh laba dua talenta. Lalu kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam hal yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam hal yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. Kini datanglah juga hamba yang menerima satu talenta itu dan berkata: Tuan, aku tahu bahwa Tuan adalah orang yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan memungut dari tempat di mana Tuan tidak menanam. Karena itu, aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah: Ini, terimalah kepunyaan tuan! Tuannya itu menjawab, Hai kamu, hamba yang jahat dan malas, jadi kamu sudah tahu bahwa aku menuai di tempat di mana aku tidak menabur dan memungut dari tempat di mana aku tidak menanam? Karena itu, seharusnya uangku itu kauberikan kepada orang yang menjalankan uang, supaya pada waktu aku kembali, aku menerimanya serta dengan bunganya. Sebab itu, ambillah talenta itu dari dia dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh talenta itu. Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari dia. Sedangkan hamba yang yang tidak berguna itu, campakkanlah dia ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratapan dan kertak gigi.” (Mat 25:14-30)

Bacaan Pertama: 1Tes 4:9-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1,7-9

PERUMPAMAAN TENTANG TALENTA - 01Riset-riset ilmiah yang dilakukan, dari sidik jari sampai DNA, dari identifikasi suara sampai profil psikologis, membuat para ahli semakin merasa diyakinkan akan kebenaran Kitab Suci yang telah diketahui berabad-abad lamanya: Setiap pribadi adalah unik, bagian yang tidak dapat digantikan dalam alam ciptaan. Kita mengetahui bahwa Allah telah memberikan kepada kita seperangkat karunia alamiah dan talenta yang khusus untuk kita masing-masing, misalnya keterampilan di bidang atletik, di bidang musik, di bidang tulis-menulis, di bidang seni lukis dlsb. Bagian dari tantangan kita selagi kita bertumbuh semakin matang adalah untuk mengidentifikasikan talenta-talenta kita dan mengembangkan semua itu dengan cara yang akan membantu kita dan menguntungkan orang-orang di sekeliling kita.

Namun kita juga harus menyadari bahwa kepada kita masing-masing Allah telah menganugerahkan karunia-karunia spiritual – berbagai talenta yang menolong kita untuk bekerja sama dengan Allah dalam membangun Kerajaan-Nya. Karunia-karunia ini dapat berupa karunia untuk menasihati, karunia untuk melayani, karunia untuk mengajar, karunia untuk membagi-bagikan dengan dengan hati yang ikhlas, karunia untuk berbela rasa, dlsb. Barangkali kita (anda dan saya) dianugerahi iman yang kuat, karunia untuk menyembuhkan, dlsb (1Kor 12:8-11). Allah menganugerahkan karunia-karunia ini, dan Ia mengundang kita untuk bekerja bersama diri-Nya dengan cara-cara yang jauh melampaui kapasitas-kapasitas ilmiah yang kita miliki.

Marilah kita melihat perumpamaan Yesus tentang talenta ini sebagai suatu dorongan untuk bertanya kepada Tuhan, karunia-karunia apakah yang telah dianugerahkan-Nya kepada kita dan bagaimana seharusnya kita menggunakan semua karunia-karunia itu. Yesus ingin agar kita mengetahui bahwa Gereja, tubuh-Nya di atas bumi, hanya dapat bertumbuh apabila kita masing-masing menanggapi panggilan-Nya. Yesus tidak ingin kita seperti hamba yang jahat dan malas, yang menyembunytikan talentanya dalam tanah.

Ada baiknya bagi kita masing-masing untuk mengambil waktu pada hari ini membuat daftar dari karunia-karunia yang kita pikir Allah telah anugerahkan kepada kita, baik yang bersifat alamiah (natural) maupun yang spiritual. Apakah kita memiliki keprihatinan terhadap orang-orang miskin dan membutuhkan pertolongan? Apakah ada dorongan keras dalam hati kita untuk mengunjungi orang-orang yang menderita sakit-penyakit? Apakah mudah bagi kita untuk syering dengan orang-orang lain tentang Yesus? Ini adalah contoh-contoh yang dapat menjadi indikasi dari karunia-karunia dari Allah sedang menanti-nanti untuk dikembangkan. Oleh karena itu, marilah kita membuka pintu hati kita masing-masing bagi-Nya dan lihatlah ke mana Dia akan memimpin kita.

DOA: Tuhan Yesus, bukalah mata hatiku agar dapat melihat karunia-karunia yang telah dianugerahkan Bapa surgawi bagiku. Oleh Roh Kudus-Mu, berikanlah keberanian kepadaku untuk mengambil langkah guna mengikuti ke mana Engkau memimpinku. Dengan penuh syukur aku ingin kembali kepada-Mu, ya Tuhan, demi segala kebaikan yang Engkau telah lakukan atas diriku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Mat 25:14-30), bacalah tulisan yang berjudul “KASIH KRISTIANI ADALAH KASIH PERSAUDARAAN” (bacaan tanggal 31-8-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2013.

Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 25:14-30), bacalah juga tulisan yang berjudul “PERLIPAT-GANDAKANLAH TALENTAMU” (bacaan tanggal 1-9-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 29 Agustus 2013 [Peringatan Wafatnya S. Yohanes Pembaptis, Martir]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BERJAGA-JAGA DALAM MENANTIKAN KEDATANGAN-NYA

BERJAGA-JAGA DALAM MENANTIKAN KEDATANGAN-NYA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXI – Jumat, 30 Agustus 2013)

PERUMPAMAAN TTG SEPULUH GADIS - 003“Pada waktu itu hal Kerajaan Surga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyambut mempela laki-laki. Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana. Gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak, sedang gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam botol mereka. Tetapi karena mempelai itu lama tidak datang-datang juga, mengantuklah mereka semua lalu tertidur. Waktu tengah malam terdengarlah suara orang berseru: Mempelai datang! Sambutlah dia! Gadis-gadis itu pun bangun semuanya lalu membereskan pelita mereka. Gadis-gadis yang bodoh berkata kepada gadis-gadis yang bijaksana: Berikanlah kami sedikit dari minyakmu itu, sebab pelita kami hampir padam. Tetapi jawab gadis-gadis yang bijaksana itu: Tidak, nanti tidak cukup untuk kami dan untuk kamu. Lebih baik kamu pergi kepada penjual minyak dan beli di situ. Akan tetapi, waktu mereka sedang pergi untuk membelinya, datanglah mempelai itu dan mereka yang telah siap sedia masuk bersama-sama dengan dia ke ruang perjamuan kawin, lalu pintu ditutup. Kemudian datang juga gadis-gadis yang lain itu dan berkata: Tuan, Tuan, bukakanlah pintu bagi kami! Tetapi ia menjawab: Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, aku tidak mengenal kamu. Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu hari maupun saatnya. (Mat 25:1-13)

Bacaan Pertama: 1Tes 4:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 97:1-2,5-6,10-12

Pada saat parousia dan penghakiman terakhir, maka situasi menanti-nantikan Kerajaan Surga kiranya serupa atau mirip dengan cerita perumpamaan Yesus ini. Karena peristiwa-peristiwa yang digambarkan dalam perumpamaan ini sejalan dengan praktek perkawinan yang dikenal di Timur Tengah, hampir semua ahli Kitab Suci berpendapat bahwa perumpamaan ini adalah sebuah alegoria yang diciptakan oleh pengarangnya di mana detil-detil yang ada bersifat simbolik.

Sepuluh gadis itu barangkali sedang menunggu di rumah mempelai laki-laki. Mereka menanti-nantikan kedatangan sang mempelai laki-laki yang telah pergi menjemput mempelai perempuan dari rumah orangtuanya. Hal ini tidak hanya cocok dengan imaji Perjanjian Baru tentang Kerajaan Surga sebagai sebuah pesta perjamuan nikah (lihat Mat 22:1-14; Why 19:9), tetapi juga dengan Yesus sebagai sang mempelai laki-laki (Mat 9:15) dan Gereja sebagai mempelai perempuan (Why 21:2,9; Ef 5:25-26). Sepuluh gadis itu menanti-nantikan sang mempelai laki-laki, namun tidak semua siap dalam menghadapi situasi seandainya terjadi keterlambatan kedatangannya.

Lima orang gadis yang “bodoh” itu berbeda dengan “hamba yang jahat” dalam perumpamaan sebelumnya (Mat 24:45-51). Dalam perumpamaan itu – ketika melihat tuannya belum pulang-pulang juga, dia malah melakukan hal-hal yang tidak baik, yaitu memukul hamba-hamba yang lain, dan makan minum bersama-sama para pemabuk (Mat 24:49). Sebaliknya, “kesalahan” lima orang gadis yang “bodoh” adalah, bahwa mereka tidak memperhitungkan dengan serius adanya kemungkinan keterlambatan. Lima gadis yang “bijaksana” memperhitungkan kemungkinan terjadinya keterlambatan kedatangan sang mempelai laki-laki dengan sikap serius, dengan demikian mereka membawa minyak ekstra dalam botol untuk berjaga-jaga (Mat 25:4). Waktu berjalan terus dan hari pun semakin malam dan sang mempelai laki-laki tidak datang-datang juga, maka gadis-gadis itu pun tertidur.

PERUMPAMAAN - SEPULUH PERAWANKetika lima gadis yang “bodoh” menyadari bahwa mereka tidak memiliki cukup minyak, maka mereka memintanya dari lima gadis yang “bijaksana”. Kelima gadis yang “bijaksana” dengan bijaksana pula menunjuk pada kenyataan bahwa berbagi minyak mereka pada titik itu malah akan menimbulkan risiko tidak akan ada pelita yang menyala samasekali karena semuanya akan kehabisan minyak (Mat 25:9), jadi malah merusak acara pesta. Selagi gadis-gadis yang “bodoh” pergi membeli minyak, gadis-gadis yang “bijaksana” pergi menyambut dan ikut serta dalam prosesi untuk mengiringi rombongan pengantin ke dalam ruang pesta. Kemudian pintu rumah ditutup dan digembok, ini adalah perlambangan penghakiman terakhir. Masuk melalui pintu tidak hanya sulit (Mat 7:13-14), tetapi sudah tidak mungkin lagi pada saat yang crucial itu. Lima gadis “bodoh” yang baru kembali dari membeli minyak berseru: “Tuan, Tuan, bukakanlah pintu bagi kami!” (Mat 25:11), Ini adalah juga seruan para murid yang digambarkan Yesus dalam Mat 7:21-22; mereka mengharapkan diperbolehkan masuk ke dalam Kerajaan Surga karena nubuatan-nubuatan dan mukjizat-mukjizat yang mereka buat dalam nama Yesus. Namun, kepada mereka – seperti juga kepada lima orang gadis yang “bodoh” – Tuhan berkata: “Aku berkata kepadamu, aku tidak mengenal kamu” (Mat 25:12; bdk. Mat 7:23).

Dalam “Khotbah di Bukit” itu Yesus pada dasarnya mencap mereka sebagai murid-murid “palsu” karena tidak menghasilkan buah yang baik (lihat Mat 7:15-20), artinya tidak melakukan kehendak Bapa-Nya, yaitu melakukan pekerjaan belas kasih (lihat Mat 25:31-46). Seperti juga para ahli Taurat dan Farisi yang berkhotbah namun tidak mempraktekkan sendiri apa yang mereka khotbahkan (Mat 23:3); dan orang bodoh yang mendirikan rumahnya di atas pasir, yang mendengarkan sabda Yesus, tetapi tidak melakukan apa-apa atas sabda itu (Mat 7:26-27); maka lima orang gadis yang “bodoh” itu tidak melakukan “agenda” yang telah ditetapkan oleh Yesus bagi para murid-Nya. Dalam “Khotbah di Bukit”, “pelita yang diletakkan di atas kaki pelita sehingga menerangi semua orang” (Mat 5:14-16) adalah gambaran (imaji) dari pekerjaan-pekerjaan baik yang dilakukan oleh para murid-Nya di mata dunia. Minyak dalam perumpamaan sepuluh gadis ini digunakan untuk pelita agar apinya tetap menyala, artinya pekerjaan-pekerjaan baik. Perintah yang terakhir dari Yesus dalam perumpamaan ini adalah agar kita senantiasa berjaga-jaga, bersiap-siap lewat pekerjaan-pekerjaan baik kita dalam menantikan kedatangan-Nya untuk kedua kali, yang kita tidak pernah tahu kapan akan terjadi.

DOA: Tuhan Yesus, selagi aku menanti-nantikan kedatangan-Mu, aku hanya dapat melakukan hal-hal yang biasa saja, kadang-kadang hal-hal yang monoton yang tersedia dalam hidupku ini. Akan tetapi, ya Tuhanku dan Allahku, aku dapat melakukan hal-hal kecil tersebut secara istimewa demi cintakasihku kepada-Mu. Terpujilah nama-Mu yang kudus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Tes 4:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “NASIHAT SUPAYA HIDUP KUDUS” (bacaan tanggal 30-8-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2013.

Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 25:1-13), bacalah tulisan yang berjudul “PERUMPAMAAN TENTANG SEPULUH GADIS” (bacaan tanggal 31-8-12) dalam situs/blog SANG SABDA.

Cilandak, 23 Agustus 2013 [Peringatan S. Monika]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BANYAK YANG DIPANGGIL, TETAPI SEDIKIT YANG DIPILIH

BANYAK YANG DIPANGGIL, TETAPI SEDIKIT YANG DIPILIH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan SP Maria, Ratu – Kamis, 22 Agustus 2013)

PERUMPAMAAN TTG PERJAMUAN KAWIN - TANPA BAJU PESTALalu Yesus berbicara lagi dalam perumpamaan kepada mereka, “Hal Kerajaan Surga seumpama seorang raja yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya. Ia menyuruh hamba-hambanya memanggil orang-orang yang telah diundang ke perjamuan kawin itu, tetapi orang-orang itu tidak mau datang. Ia menyuruh lagi hamba-hamba lain, pesannya: Katakanlah kepada orang-orang yang diundang itu: Sesungguhnya, hidangan telah kusediakan, lembu-lembu jantan dan ternak piaraanku telah disembelih; semuanya telah tersedia, datanglah ke perjamuan kawin ini. Tetapi orang-orang yang diundang itu tidak mengindahkannya; ada yang pergi ke ladangnya, ada yang pergi mengurus usahanya, dan yang lain menangkap hamba-hambanya itu, menyiksanya dan membunuhnya. Maka murkalah raja itu, lalu menyuruh pasukannya ke sana untuk membinasakan pembunuh-pembunuh itu dan membakar kota mereka. Sesudah itu ia berkata kepada hamba-hambanya: Perjamuan kawin telah tersedia, tetapi orang-orang yang diundang tadi tidak layak untuk itu. Karena itu, pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan kawin itu. Lalu pergilah hamba-hamba itu dan mereka mengumpulkan semua orang yang dijumpainya di jalan-jalan, orang-orang jahat dan orang-orang baik, sehingga penuhlah ruangan perjamuan kawin itu dengan tamu. Ketika raja itu masuk untuk bertemu dengan tamu-tamu itu, ia melihat seorang yang tidak berpakaian pesta. Ia berkata kepadanya: Hai Saudara, bagaimana engkau masuk ke mari tanpa mengenakan pakaian pesta? Tetapi orang itu diam saja. Lalu kata raja itu kepada hamba-hambanya: Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratapan dan kertak gigi.
Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.” (Mat 22:1-14)

Bacaan Pertama: Hak 11:29-39a; Mazmur Tanggapan: Mzm 40:5-10

Pada hari itu diselenggarakan resepsi pernikahan anak laki-laki anda yang tunggal dan anda sungguh penuh dengan sukacita. Anda memperhatikan pesta yang sedang berlangsung dan para tamu yang hadir. Mereka semua mengenakan pakaian pesta mereka yang terbaik – kecuali seorang tamu yang mengenakan pakaian yang kurang layak. Bagaimana anda menanggapi hal seperti itu? Merasa tidak enak? Merasa tersinggung? Merasa dihina? Barangkali anda ingin melakukan hal yang dilakukan oleh sang raja dalam perumpamaan Yesus dalam bacaan Injil hari ini: mengusir si tamu “kurang ajar” itu ke dalam kegelapan yang paling gelap (Mat 22:13)!

Dalam perumpamaan ini, orang-orang yang hadir dalam perjamuan kawin tersebut adalah mereka yang menjadi “substitut”, para pengganti saja. Orang-orang yang pertama-tama diundang menolak untuk datang, bahkan ada yang menangkap, menyiksa, bahkan sampai membunuh para hamba raja yang membawa undangan (Mat 22:5-6)! Tamu-tamu “ronde kedua” ini – setiap orang yang dapat ditemukan oleh para hamba raja – melakukan tindakan benar ketika menanggapi undangan raja secara positif, yaitu datang ke perjamuan kawin. Namun tetap tidak dapat dimaafkan untuk datang dengan berpakaian “semau gue” …… acak-acakan dan barangkali kotor juga.

“Banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih” (Mat 22:14). Apa maksudnya? Pernyataan keras Yesus ini dapat kita artikan bahwa banyak orang yang diundang ke dalam perjamuan surgawi tidak dapat masuk. Mengapa? Karena walaupun undangan itu merupakan perwujudan kemurahan-hati Allah, banyak orang yang diundang memilih untuk tidak mengenakan “jubah putih” kebenaran Kristus – atau mereka memperkenankan jubah mereka menjadi ternoda dengan dosa yang belum disesali dan dimohonkan ampun dari Allah. Itulah sebabnya mengapa pertobatan – dan lebih spesifik lagi Sakramen Rekonsiliasi – merupakan sebuah anugerah yang sangat berharga. Kita yang tadinya bergelimpangan dalam lumpur dosa, diampuni oleh Allah dan sekali lagi dibuat bersih-murni sebagaimana pada waktu kita dibaptis.

Menjaga agar jubah kita putih-bersih tanpa noda jauh lebih berarti daripada sebuah polis asuransi jiwa. Mengapa sampai begitu? Karena “keuntungan-keuntungan” atau manfaat-manfaat dari pertobatan datang pada masa hidup kita di dunia juga, tidak hanya dalam kehidupan yang baka. Jika kita bertobat, Yesus membuang rantai-rantai dosa yang selama ini membelenggu kita. O, inilah kemerdekaan dalam artian yang sesungguhnya! Kita tidak lagi diperbudak oleh dosa, dengan demikian kita dapat mengalami kebahagiaan dan damai sejahtera yang sejati; dan kita pun dapat bertumbuh dalam cintakasih kita kepada Allah. Oleh karena itu, marilah kita senantiasa menjauhi dosa, dan cepat melakukan pertobatan bilamana kita jatuh ke dalam dosa. Dengan berpakaian jubah kebenaran Kristus itu, marilah kita menikmati “icip-icip” awal dari perjamuan kawin yang akan kita rayakan dalam kehidupan kekal kelak.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu untuk kasih dan kerahiman-Mu. Terima kasih untuk pengampunan-Mu yang tidak mengenal batas. Terima kasih untuk pengorbanan-Mu di kayu salib, yang membuat diriku bersih dan utuh. Tolonglah diriku, ya Tuhan Yesus, agar senantiasa datang menghadap hadirat-Mu setiap saat aku harus bertobat dan diperbaharui. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 22:1-14), bacalah tulisan yang berjudul “MEMPERSIAPKAN DIRI UNTUK PESTA PERKAWINAN” dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2013.

Bacalah juga tulisan yang berjudul “PERUMPAMAAN TENTANG PERJAMUAN KAWIN” (bacaan tanggal 18-8-11) dalam situs/blog SANG SABDA; kategori: 11-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2011.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 23-8-12 dalam situs/blog PAX ET BONUM)

Cilandak, 16 Agustus 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MELAYANI DI DALAM KEBUN ANGGUR TUHAN

MELAYANI DI DALAM KEBUN ANGGUR TUHAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Pius X, Paus – Rabu, 21 Agustus 2013)

LABORERS IN THE VINEYARD“Adapun hal Kerajaan Allah sama seperti seorang pemilik kebun anggur yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya. Setelah ia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya. Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar lagi dan dilihatnya ada lagi orang-orang lain menganggur di pasar. Katanya kepada mereka: Pergilah juga kamu ke kebun anggurku dan apa yang pantas akan kuberikan kepadamu. Lalu mereka pun pergi. Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga petang ia keluar dan melakukan sama seperti tadi. Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan melakukan sama seperti tadi. Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan mendapati orang-orang lain pula, lalu katanya kepada mereka: Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari? Kata mereka kepadanya: Karena tidak ada orang mengupah kami. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku. Ketika hari malam pemilik kebun itu berkata kepada mandornya: Panggillah pekerja-pekerja itu dan bayarkan upah mereka, mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk pertama. Lalu datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul kira-kira pukul lima dan mereka menerima masing-masing satu dinar. Kemudian datanglah mereka yang masuk pertama, sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi mereka pun menerima masing-masing satu dinar juga. Ketika mereka menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada pemilik kebun itu, katanya: Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari. Tetapi pemilik kebun itu menjawab seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari? Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk gterakhir ini sama seperti kepadamu. Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?

Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang pertama dan yang pertama akan menjadi yang terakhir. (Mat 20:1-16)

Bacaan Pertama: Hak 9:6-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 21:2-7

Bayangkanlah seseorang bekerja sepanjang hari untuk upah yang berjumlah sama dengan seorang lainnya yang bekerja hanya untuk satu jam lamanya. Rasa keadilan kita akan sungguh terusik. Dilihat dari kacamata dunia – keprihatinan-keprihatinan dan peraturan-peraturannya berkaitan dengan keadilan – tidak sulitlah bagi orang untuk berpihak pada para pekerja yang berpikir bahwa karena mereka bekerja untuk waktu yang lebih lama, maka mereka harus menerima upah yang lebih banyak daripada para pekerja yang bekerja untuk waktu yang lebih sedikit. Hal inilah yang dinilai adil dan benar! Kelompok pekerja yang pertama mulai bekerja pada jam 6 pagi. Mereka bekerja di kebun anggur sekitar 12 jam lamanya dan menjelang tengah hari dan di siang hari mereka sungguh bekerja di bawah terik matahari yang panasnya sungguh menyengat tubuh. Mereka semua bekerja untuk upah sebesar 1 denarius, sebuah uang logam Romawi yang bernilai satu hari kerja. Kelompok pekerja yang terakhir datang ke kebun anggur pada jam 5 sore dan bekerja untuk satu jam saja – mereka juga menerima upah dalam jumlah yang sama.

Sungguh alamiah bagi kita untuk berpikir seperti itu, namun yang kita luput pertimbangkan adalah bahwa Yesus sedang menceritakan sebuah perumpamaan tentang Kerajaan Allah. Keadilan bukan merupakan isu di sini. Tidak seorang pun dari kita pantas menerima sesuatu dari Allah karena perbuatan baik atau jasa kita. Tidak ada seorang pun dari kita yang berhak membuat Allah berhutang kepada kita. Segala sesuatu yang kita miliki – bahkan hidup kita sendiri – adalah karunia atau anugerah dari Allah, pemberian “gratis” dari Dia. Kita tidak pernah dapat memperoleh hak untuk berelasi secara pribadi dengan Allah disebabkan oleh pekerjaan baik kita. Dalam melayani Allah, kita menerima jauh lebih banyak daripada apa yang pernah kita berikan kepada-Nya. Bekerja di kebun anggur, di dalam Kerajaan Allah, bukanlah sebuah beban, melainkan sebuah privilese! Jika kita menanggapi panggilan Allah sejak dini, hal itu tidaklah berarti kita disalah-gunakan melainkan dikaruniai. Apabila kita menanggapi panggilan Allah di kala hari sudah sore menjelang senja, kita pun dikaruniai!

st-theresa-of-avila1Santa Teresa dari Avila [1515-1582] mengungkapkannya seperti berikut ini: “Kita harus melupakan jumlah tahun kita telah melayani Dia, karena jumlah dari semua yang dapat kita lakukan tidaklah bernilai apabila dibandingkan dengan setetes darah yang telah ditumpahkan oleh Tuhan bagi kita. … Semakin banyak kita melayani Dia, semakin dalam pula kita jatuh ke dalam hutang (kepada)-Nya.”

Yesus menceritakan perumpamaan tentang para pekerja di kebun anggur selagi Dia melakukan perjalanan ke Yerusalem. Kematian dan kebangkitan-Nya telah mentransformasikan dunia, memenuhinya dengan kasih-Nya. Pada waktu kita mengenal dan mengikut Yesus, kita juga akan mengenal privilese melayani tanpa reserve dalam kebun anggur-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, nyalakanlah dalam hatiku api cintakasih-Mu yang mendorong Engkau memikul salib sampai ke bukit Golgota dan wafat di atas kayu salib di tempat itu. Kobarkanlah hatiku dengan hasrat guna melayani di kebun anggur-Mu untuk waktu yang lama dan dengan penuh pengabdian. Bebaskan diriku dari kesalahan membanding-bandingkan pelayananku dengan orang-orang lain yang Engkau telah panggil juga untuk bekerja di kebun anggur-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 20:1-16), bacalah tulisan-tulisan yang berjudul “TIDAK ADA PENGANGGURAN DALAM TUBUH KRISTUS” (bacaan tanggal 18-9-11) dan “ATAU IRI HATIKAH ENGKAU, KARENA AKU MURAH HATI? (bacaan tanggal 22-8-12), keduanya dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 16 Agustus 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HASRAT YESUS HANYALAH AGAR KITA MENERIMA BELAS KASIH BAPA-NYA

HASRAT YESUS HANYALAH AGAR KITA MENERIMA BELAS KASIH BAPA-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIX – Kamis, 15 Agustus 2013)

Mengampuni-245x300Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus, “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Yesus berkata kepadanya, “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.

Sebab hal Kerajaan Surga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta. Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak istrinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya. Lalu sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunasi. Tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.

Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu! Lalu sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunasi. Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai ia melunasi hutangnya.

Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka. Kemudian raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohon kepadaku. Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? Tuannya itu pun marah dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunasi seluruh hutangnya.

Demikian juga yang akan diperbuat oleh Bapa-Ku yang di surga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.”
Setelah Yesus mengakhiri perkataan itu, berangkatlah Ia dari Galilea dan tiba di daerah Yudea yang di seberang Sungai Yordan. (Mat 18:21-19:1)

Bacaan Pertama: Yos 3:7-11,13-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 114:1-6

Kita hampir tidak dapat membayangkan kesedihan yang ditanggung oleh Yesus ketika mengetahui bahwa orang-orang yang membutuhkan-Nya justru adalah orang-orang yang menghukum diri-Nya sampai mati di kayu salib. Namun bukan hanya orang-orang Yahudi dan Romawi zaman dahulu yang bertanggung-jawab terhadap kematian-Nya. Yesus wafat untuk dosa-dosa seluruh umat manusia segala zaman. Selagi Dia memikul salib-Nya menuju bukit Kalvari, Yesus tidak tidak hanya merasakan betapa beratnya kayu salib yang menekan diri-Nya. Selagi diri-Nya tergantung di kayu salib dan kemudian wafat, tidak hanya tusukan paku dan duri di kepala-Nya yang menyebabkan rasa sakit luarbiasa. Yesus merasakan beratnya dosa dari setiap orang orang yang pernah lahir di dunia ini … tanpa kecuali.

THE UNFORGIVING SERVANTNamun demikian, kasih Yesus begitu besar sehingga walaupun pada saat-saat Ia menanggung rasa sakit ini, Dia berdoa untuk pengampunan kita (Luk 23:34). Hasrat Yesus hanyalah agar kita menerima belas kasih Bapa-Nya yang hanya dapat datang kepada kita jika Dia menanggung hukuman yang pantas bagi kita.

Nah, apabila kita menerima belas kasih Allah sedemikian, bukankah kita harus saling menunjukkan belas kasih yang sama kepada sesama kita? Inilah pertanyaan dari perumpamaan tentang hamba yang tidak berterima kasih yang ditujukan kepada kita masing-masing. Untuk menjawab pertanyaan ini kita harus pertama-tama menyadari bahwa Yesus wafat untuk semua orang. Yesus tidak mengenal “anak emas” atau favorit! Kita diampuni secara sama, dikasihi oleh Allah secara sama, dan secara sama pula kita menjadi penerima Roh Kudus-Nya. Selagi kuat-kuasa kebenaran ini masuk menyerap ke dalam hati kita, maka kita akan memahami panggilan Yesus untuk menunjukkan kepada setiap orang bela rasa yang sama dan cintakasih yang sama seperti yang telah ditunjukkan oleh-Nya. Walaupun terdengar sangat menantang, biar bagaimana pun juga adalah suatu kebenaran, bahwa sampai di mana kita bersikap “selektif” (artinya pilih-pilih atau diskriminatif) dalam soal berbelas kasih kepada sesama, sampai di situ pula kita masih membutuhkan pemahaman tentang belas kasih yang kita terima dari diri-Nya.

Begitu banyak yang harus diampuni di mana-mana di seluruh dunia ini. Allah ingin membawa kasih-Nya menjadi sempurna dalam diri kita masing-masing agar kita memperlakukan setiap orang dengan respek dan bela rasa yang sama pula. Allah ingin memampukan kita untuk memandang setiap orang – bagaimana pun jauhnya mereka telah terbuang dari kebaikan – sebagai seorang anak Allah yang sangat dikasihi-Nya, yang dipilih oleh-Nya untuk menerima kasih yang sama seperti yang secara bebas telah diberikan-Nya kepada kita. Semoga Allah membuka mata kita terhadap belas-kasih-Nya agar supaya melalui kasih kita Dia dapat mentransformasikan dunia.

DOA: Ya Tuhanku dan Allahku, Engkau telah menunjukkan kepada diriku belas kasih-Mu. Berdayakanlah diriku agar mau dan mampu berbelas kasih kepada orang-orang lain di sekelilingku. Tolonglah aku agar dapat memandang setiap orang dengan penghargaan yang sama seperti Engkau telah lakukan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 18:21-19:1), bacalah tulisan dengan judul “AJARAN YESUS TENTANG PENGAMPUNAN” (bacaan tanggal 15-8-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs..wordpress.com; kategori: 13-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2013.

Cilandak, 8 Agustus 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ALLAH BUKANLAH SEORANG TIRAN

ALLAH BUKANLAH SEORANG TIRAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan BiasaXIX – Selasa, 13 Agustus 2013)

Keluarga Fransiskan Kapusin: Peringatan B. Markus dr Aviano, Imam

YESUS DAN ANAK-ANAK - JESUS AND CHILDRENPada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya, “Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Surga?” Lalu Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka dan berkata, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Sedangkan siapa saja yang merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga. Siapa saja yang menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku.”

“Ingatlah, jangan menganggap rendah salah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di surga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di surga.”

“Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Jika ia berhasil menemukannya, lebih besar kegembiraannya atas yang seekor itu daripada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat. Demikan juga Bapamu yang di surga tidak menghendaki salah seorang dari anak-anak ini hilang.” (Mat 18:1-5,10,12-14)

Bacaan Pertama: Ul 31:1-8; Mazmur Tanggapan: Ul 32:3-4,7-9,12

Pada saat anak pertama dari pasutri tertentu itu dikandung, maka secara langsung mereka berdua menjadi orangtua. Namun setiap hari, selagi anak itu bertumbuh, pasutri tersebut belajar lebih banyak dan banyak lagi apa artinya menjadi orangtua. Dengan berjalannya waktu mereka bertumbuh semakin matang dalam menjalani peranan masing-masing sebagai bapak dan ibu.

Ada suatu dinamika serupa dalam proses menjadi anak-anak Allah. Kita menjadi anak-anak Allah karena kehendak-Nya dan rahmat-Nya – karena darah Yesus dan air baptisan. Hal ini adalah suatu karunia, dan kita tetap adalah anak-anak-Nya walaupun suka mbalelo, tidak taat dst. Pada saat yang sama, kita masing-masing harus belajar bagaimana berpikir dan bertindak sebagai anggota keluarga Allah. Kita harus menyesuaikan pandangan dan nilai-nilai kita dengan pandangan dan nilai-nilai Bapa surgawi agar dengan demikian kita memiliki keserupaan sebagai anggota keluarga-Nya. Di sinilah awal keseriusan upaya kita, yaitu ketika kita belajar, bahwa tergantung kita sendirilah, apakah kita mau (atau tidak mau) menempatkan diri kita di bawah otoritas Bapa surgawi.

Pentinglah bagi kita untuk mengingat bahwa dalam proses formasi ini, Bapa adalah memang untuk kita. Dia berada di pihak kita! Allah bukanlah “seorang tiran”. Ia adalah orangtua yang berbelas-kasih dan penuh pengertian. Seperti orangtua baik lainnya, Allah senang mengambil waktu untuk mengajar dan melatih anak-anak-Nya, bahkan menemukan cara untuk bergembira dengan mereka.

dmtas0055Orangtua mana yang sungguh menyusahkan anak-anak mereka untuk datang kepada mereka? Apakah mereka sungguh mencoba untuk menjadi kejam dan merasa curiga serta menjaga jarak? Tentu saja tidak! Bapa di surga jauh lebih baik dalam melakukian fungsi-Nya sebagai orangtua daripada manusia yang mana saja. Oleh karena itu marilah kita datang ke hadirat Bapa, dan mohon diberikan pengajaran dari Dia. Allah memiliki hikmat dan kuat-kuasa untuk menolong kita menjadi matang, dan Ia mengasihi kita dengan sempurna. Tidak ada urusan yang terlalu kecil dan juga tidak ada halangan yang terlalu besar bagi Allah!

Allah menciptakan kita karena kasih dan Ia ingin berbagi hidup-Nya sendiri dengan kita. Dia tidak memusatkan perhatian-Nya pada kesalahan-kesalahan kita, dan Ia tidak sekadar berharap bahwa kita akan tetap berjalan di atas rel yang benar sehingga kita tidak akan dilempar ke neraka. Allah ingin melihat kita mengembangkan semua talenta dan keterampilan yang kita miliki. Allah juga sangat senang melatih kita. Bayangkan: Walaupun ketika Allah mendisiplinkan kita, Dia mengasihi kita!

DOA: Bapa surgawi, tidak ada siapa pun yang kukenal seperti Engkau, ya Allahku. Engkau melihat segalanya yang terdapat dalam pikiranku, hatiku dan tindakanku, dan Engkau tetap mengasihiku secara lengkap-total. Aku menyerahkan diriku kepada tangan-tangan-Mu yang penuh kasih. Ajarlah aku hidup sebagai anak-Mu yang taat. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 18:1-5,10,12-14), bacalah tulisan-tulisan yang berjudul “MENJADI INOSENS KEMBALI SEPERTI ANAK KECIL” (bacaan tanggal 14-8-12) dan “MENJADI SEPERTI ANAK KECIL???” (bacaan tanggal 9-8-11), keduanya dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 5 Agustus 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BIJI GANDUM YANG JATUH KE DALAM TANAH DAN MATI

BIJI GANDUM YANG JATUH KE DALAM TANAH DAN MATI

(Bacaan Injil Misa Kudus, PESTA S. LAURENSIUS, DIAKON-MARTIR – Sabtu, 10 Agustus 2013)

YESUS DI GEREJA ORTODOX SIRIASesungguhnya Aku berkata berkata kepadamu: Jika biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah. Siapa saja yang mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi siapa saja yang membenci nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal. Siapa saja yang melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situ pun pelayan-Ku akan berada. Siapa saja yang melayani Aku, ia akan dihormati Bapa. (Yoh 12:24-26)

Bacaan Pertama: 2Kor 9:6-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 112:1-2,5-9

“Jika biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah” (Yoh 12:24).

Imaji tentang biji gandum tentunya berlaku untuk Santo Laurensius, seorang diakon Gereja awal yang dibunuh sebagai martir Kristus pada masa pengejaran Kaisar Valerian pada tahun 258 M. Memang ayat ini berlaku untuk para martir, namun tidak kurang berlakunya bagi kita semua.

Catatan-catatan tradisi abad ke-4 menceritakan tentang tanggapan berani dari Santo Laurensius terhadap permintaan antek-antek Valerian untuk memberikan harta-kekayaan Gereja. Keesokan harinya, Laurensius muncul dengan banyak sekali orang miskin dan cacat dari kota Roma – semua yang dilayani oleh diakon Laurensius. Di hadapan para pejabat kekaisaran, Laurensius menyatakan: “Inilah harta-kekayaan Gereja”. Untuk “keberanian” (kekurangajaran?) ini, Laurensius dibakar hidup-hidup.

Jika darah para martir merupakan benih bagi Gereja, di mana tempat kita sekarang? Tidak terlalu banyak dari kita akan dipanggil oleh-Nya untuk menumpahkan darah sebagai martir Kristus. Dengan demikian, bagaimana kita dapat membantu Gereja untuk berakar dan bertumbuh? Jawabannya: Dengan sukarela merangkul “kemartiran” kecil-kecilan sebagai bagian dari kehidupan kita sehari-hari.

RANIERO CANTALAMESSAP. Raniero Cantalamessa OFMCap. sekali menjelaskan begini: “Seorang ibu … pulang ke rumah dan memulai harinya yang terdiri dari seribu hal-hal kecil. Hidupnya praktis direduksi menjadi remah-remah, tetapi apa yang dilakukannya bukanlah hal yang kecil: Itu adalah Ekaristi bersama Yesus! Seorang biarawati … di pagi hari pergi untuk melakukan tugas pekerjaannya sehari-hari di tengah-tengah orang-orang tua, orang-orang sakit, dan anak-anak. Hidupnya juga kelihatan dapat dipecah-pecah oleh banyak hal yang kecil sehingga pada malam hari seakan tidak berbekas – terasa seperti satu hari lagi yang sia-sia. Akan tetapi hidup sang biarawati juga adalah Ekaristi; dia telah “menyelamatkan” hidupnya sendiri … Tidak ada seorang pun boleh mengatakan: “Apa gunanya hidupku ini? Kita ada di dunia untuk alasan yang paling agung, yaitu menjadi suatu kurban yang hidup. Artinya menjadi Ekaristi bersama Yesus.”

Apabila kita memilih untuk menyangkal atau mengesampingkan diri kita sendiri untuk menolong orang-orang lain, atau ketika kita memutuskan untuk berdiri tegak demi Injil Yesus Kristus, maka kita pun dapat dikatakan bergabung dengan para martir seperti Laurensius pada waktu kita ikut ambil bagian dalam kurban Yesus bagi dunia. Kita sungguh dapat berbuah bagi Kerajaan Allah!

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku agar mau dan mampu untuk memilih mengikuti Engkau dengan sepenuh hidupku. Aku ingin untuk mengosongkan diriku sendiri agar dengan demikian aku dapat melayani orang-orang lain. Aku mau berbuah banyak bagi Kerajaan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (2Kor 9:6-10), bacalah tulisan yang berjudul “ALLAH MENGASIHI ORANG YANG MEMBERI DENGAN SUKACITA” (bacaan tanggal 10-8-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-08 PERMENUNGAN ALKITABAIAH AGUSTUS 2013.

Cilandak, 3 Agustus 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 135 other followers