Posts from the ‘PERUMPAMAAN-PERUMPAMAAN YESUS’ Category

PERUMPAMAAN TENTANG BIJI MUSTAR DAN RAGI

PERUMPAMAAN TENTANG BIJI MUSTAR DAN RAGI

Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVII – Senin, 30 Juli 2012)

Yesus menyampaikan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya, “Hal Kerajaan Surga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya. Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar daripada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya.”
Ia menceritakan perumpamaan ini juga kepada mereka, “Hal Kerajaan Surga itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu sebanyak empat puluh liter sampai mengembang seluruhnya.”

Semuanya itu disampaikan Yesus kepada orang banyak dalam perumpamaan, dan tanpa perumpamaan suatu pun tidak disampaikan-Nya kepada mereka, supaya digenapi firman yang disampaikan oleh nabi, “Aku mau membuka mulut-Ku menyampaikan perumpamaan, Aku mau mengucapkan hal yang tersembunyi sejak dunia dijadikan.” (Mat 13:31-35)

Bacaan Pertama: Yer 13:1-11; Mazmur Tanggapan Ul 32:18-21

Biji mustar yang bundar dan sangat kecil memang dapat dikatakan sebagai benih terkecil dari segala benih tumbuhan. Biji mustar ini dapat dengan mudah terlepas dari jari-jari kita dan hilang jatuh di tanah. Bayangkanlah satu biji kecil ini yang ditanam dalam tanah secara perlahan-lahan bertumbuh menjadi pohon yang cukup besar dan dapat menampung burung-burung untuk bersarang. Awal yang dikecil, akhir yang besar! Bukankah ini gambaran dari Kerajaan Allah?

Yesus mengkontraskan mukjizat yang biasa terjadi dalam alam ini dengan transformasi yang terjadi bilamana benih dari sabda Allah mulai berakar dalam hati kita. Pada waktu dibaptis kita menerima anugerah yang paling agung yang dapat kita bayangkan – Kerajaan Allah – masih dalam bentuk benih. Benih Kerajaan dimaksudkan untuk bertumbuh di dalam diri kita setiap hari selagi kita menyuburkannya dengan iman dan ketaatan.

Kemudian Yesus menceritakan sebuah perumpamaan lain yang merupakan pengalaman abad pertama yang biasa-biasa juga, yaitu tentang seorang perempuan yang memanggang roti harian. Tepung terigu tetap saja berupa tepung terigu, namun akan berubah secara menakjubkan apabila diaduk dengan ragi. Menjadi mengembang sehingga akhirnya menjadi roti – bahan makanan untuk kehidupan sehari-hari. Tepung terigu harus diaduk agar supaya ragi itu mempunyai efek. Kita pun harus mengalami tempaan oleh Roh Kudus apabila cara-cara berpikir dan bertindak kita mau diubah dan diperbaharui. Sekali lagi, pelajarannya dalam hal ini adalah sama dengan pelajaran dari perumpamaan tentang biji mustar: Kerajaan Allah akan bertumbuh-kembang bilamana kita memperkenankan sabda-Nya untuk kuat berakar dalam hati dan pikiran kita.

Santo Paulus mengingatkan kita bahwa kita adalah “ciptaan baru” dalam Kristus (2Kor 5:17). Allah telah menanamkan dalam hati kita setiap rahmat dan berkat yang dimungkinkan (Ef 1:3). Dalam Roh, kita mempunyai suatu “kuasa transenden” yang “berasal dari Allah, bukan dari diri kita” (lihat 2Kor 4:7). Yang diminta oleh Allah hanyalah agar supaya kita melempar benih Kerajaan ini ke dalam tanah iman yang aktif. Lalu kita akan menerima energi spiritual dinamik yahng kita butuhkan untuk menjadi seperti Yesus.

DOA: Bapa surgawi, penuhilah diriku dengan Roh-Mu dan transformasikanlah diriku ke dalam kekudusan seperti Yesus, sebagaimana Kauhasrati. Semoga Kerajaan-Mu kian bertumbuh dalam diriku. Amin.

Cilandak, 20 Juli 2012

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS KRISTUS ADALAH FONDASI UNTUK MEMBANGUN KEHIDUPAN KITA

YESUS KRISTUS ADALAH FONDASI UNTUK MEMBANGUN KEHIDUPAN KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Ireneus, Uskup-Martir – Kamis, 28 Juni 2012)

Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan orang yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mukjizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari hadapan-Ku, kamu sekalian yang melakukan kejahatan!

Jadi, setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu bertiuplah angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu bertiuplah angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.

Setelah Yesus mengakhiri perkataan ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka. (Mat 7:21-29)

Bacaan Pertama: 2Raj 24:8-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 37:3-6,30-31

Yesus mengakhiri “Khotbah di Bukit”-Nya dengan memberi petuah-petuah kepada para pendengar-Nya agar mereka mencari fondasi yang layak untuk membangun kehidupan mereka. Yesus mengilustrasikan konsekuensi-konsekuensi dari pilihan-pilihan baik atau buruk dengan menceritakan sebuah perumpamaan tentang dua orang yang masing-masing mendirikan rumah. Orang yang bodoh membangun rumahnya di atas pasir, sedangkan yang bijaksana mendirikan rumahnya di atas batu. Pada waktu hujan lebat turun dan datang lah banjir, dengan mudah kita dapat mengira-ngira rumah mana yang survive, yang mampu tetap berdiri, dan rumah mana yang runtuh berkeping-keping. Pesan Yesus jelas: Apabila kamu mendirikan kehidupanmu di atas suatu fondasi berupa asap atau udara, maka bangunanmu akan runtuh.

Yesus sendiri adalah kekal, Sabda Allah yang hidup (Yoh 1:1). Ia adalah sang Sabda yang telah diucapkan oleh Allah sejak awal waktu. Dia adalah “gunung batu yang kekal” (Yes 26:4). Santo Paulus menulis kepada jemaat di Korintus: “Sesuai dengan anugerah Allah, yang diberikan kepadaku, aku sebagai seorang ahli bangunan yang terampil telah meletakkan dasar, dan orang lain membangun terus di atasnya. Tetapi tiap-tiap orang harus memperhatikan, bagaimana ia harus membangun di atasnya. Karena tidak ada seorang pun yang dapat meletakkan dasar lain daripada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus” (1Kor 3:10-11). Setiap hal yang ilahi, dan setiap hal yang dihasrati Allah, menjadi masuk akal dalam terang Yesus dan kasih-Nya. Oleh karena itu, apabila kita ingin mengetahui bagaimana caranya membangun kehidupan kita, maka kita tidak dapat melakukannya secara lebih baik selain mengambil waktu bersama Yesus dan menjadi mengenal Dia secara intim.

Itulah sebabnya sangat penting bagi kita untuk menyediakan waktu yang teratur setiap hari untuk membaca dan merenungkan sabda Allah di dalam Kitab Suci – teristimewa kitab-kitab Injil yang adalah “jantung hati” segenap Kitab Suci (lihat “Katekismus Gereja Katolik, 125). Di dalam kitab-kitab Injil ini kita berjumpa dengan Yesus, “sang Sabda yang menjadi daging” (Yoh 1:14). Dalam kitab-kitab Injil inilah Yesus dapat berbicara secara paling langsung kepada hati kita. Dibimbing oleh Roh Kudus selagi kita membaca Kitab Suci, teristimewa kitab-kitab Injil, kurun waktu berabad-abad yang memisahkan kita dengan Yesus dari Nazaret seakan dikompres sampai kita bertemu dengan-Nya secara muka ketemu muka dalam suasana doa.

Kitab Suci jauh lebih luas daripada sekadar kumpulan potongan-potongan informasi. Kitab Suci tidak hanya mengajar kehendak Allah, melainkan juga memberdayakan kita untuk mengikuti jejak Yesus Kristus. Dalam mengikuti jejak-Nya kita akan mengenal dan mengalami kebahagiaan sejati dan pemenuhan hasrat-hasrat kita yang terdalam. Dengan mengenal Yesus secara pribadi dan menyerupakan kehidupan kita dengan kehendak-Nya, kita menjadi seperti orang yang bijaksana yang membangun suatu fondasi yang kokoh. Apapun yang menghalangi jalan kita kita, fondasi ini cukup kuat untuk menangani segala halangan yang menghadang kita. Marilah kita menaruh kepercayaan kepada Yesus, tanpa reserve.

Santo Ireneus [130-202] yang kita peringati pada hari ini termasuk bilangan para Bapa Gereja dan teolog terpenting pada abad ke-2. Ketika masih muda, S. Ireneus adalah anak didik dari S. Polikarpus [+ 156] dan pengaruh S. Polikarpus terlihat dalam ajaran-ajarannya. Buah penanya yang terpenting adalah bantahan terhadap ajaran bid’ah Gnostik yang berjudul Adversus Haereses. Ia diangkat menjadi uskup Lyon, menggantikan Uskup Pothinus yang mati sebagai martir Kristus. Ada tradisi yang mengisahkan, bahwa S. Ireneus meninggal dunia sebagai martir pula, tetapi hal ini kurang didukung dengan bukti yang lengkap. Yang penting adalah, bahwa sebagai murid Yesus Kristus yang baik, S. Ireneus bukanlah seorang Kristiani yang hidup kesehariannya dibebani dengan rasa takut yang kecil-kecil dan tolol. Ia hidup dalam masa pengejaran dan penganiayaan oleh musuh-musuh Gereja; sebagai gembala umat dan teolog hebat, dengan berani dia berdiri tegak membela Gereja Kristus, tidak plintat-plintut dalam mendengarkan suara hati, dalam sikap dan perilaku.

DOA: Tuhan Yesus, nyatakanlah diri-Mu kepadaku melalui sabda-Mu. Aku ingin mengenal-Mu mengasihi-Mu lebih lagi agar dengan demikian aku dapat membangun kehidupanku di atas fondasi kokoh, yang adalah Engkau sendiri. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 7:21-29), bacalah tulisan yang berjudul “APAKAH KEHENDAK ALLAH BAGI KITA?” dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori 12-06 BACAAN HARIAN JUNI 2012.

Cilandak, 4 Juni 2012

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ALLAH JUGA DAPAT MELAKUKANNYA MELALUI DIRI KITA

ALLAH JUGA DAPAT MELAKUKANNYA MELALUI DIRI KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XI – 17 Juni 2012)

Lalu kata Yesus, “Beginilah hal Kerajaan Allah itu: Seumpama orang yang menaburkan benih di tanah, lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu bertunas dan tumbuh, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu. Bumi dengan sendirinya mengeluarkan buah, mula-mula tangkainya, lalu bulirnya, kemudian butir-butir yang penuh isinya dalam bulir itu. Apabila buah itu sudah cukup masak, orang itu segera menyabit, sebab musim menuai sudah tiba.”

Kata-Nya lagi, “Dengan apa kita hendak membandingkan Kerajaan Allah itu, atau dengan perumpamaan manakah kita hendak menggambarkannya? Hal Kerajaan itu seumpama biji sesawi yang ditaburkan di tanah. Memang biji itu yang paling kecil daripada segala jenis benih yang ada di bumi. Tetapi apabila ditaburkan, benih itu tumbuh dan menjadi lebih besar daripada segala sayuran yang lain dan mengeluarkan cabang-cabang yang besar, sehingga burung-burung di udara dapat bersarang dalam naungannya.”

Dalam banyak perumpamaan yang semacam itu Ia memberitakan firman kepada mereka sesuai dengan kemampuan mereka untuk mengerti, dan tanpa perumpamaan Ia tidak berkata-kata kepada mereka, tetapi kepada murid-murid-Nya Ia menguraikan segala sesuatu secara tersendiri. (Mark 4:26-34)

Bacaan Pertama: Yeh 17:22-24; Mazmur Tanggapan: Mzm 92:2-3,13-16; Bacaan Kedua: 2Kor 5:6-10

Pada suatu hari di bulan Desember yang dingin tahun 1955, seorang perempuan pekerja binatu yang bernama Rosa Parks (Rosa Louise McCauley Parks) naik ke dalam sebuah bis umum yang penuh di Montgomery, negara bagian Alabama, Amerika Serikat. Dalam bis ini berlaku peraturan segregasi, orang-orang dengan kulit berwarna tidak boleh duduk di kursi yang dikhususkan untuk orang-orang berkulit putih. Rosa Parks mengambil tempat duduk yang diperuntukkan bagi orang-orang kulit putih. Ketika supir bis “memerintahkan” Rosa Parks untuk pindah tempat, dia mengatakan: “Tidak!”. Sebagai akibat tindakannya itu, Rosa ditahan, tangan-tangannya diborgol dan ia pun dijebloskan ke dalam penjara.

Insiden ini memicu Gerakan Hak-Hak Sipil (Civil Rights Movement). Di bawah kepemimpinan Ralph Abernathy dan Martin Luther King, Jr., diorganisasikanlah suatu pemboikotan bis dan demonstrasi-demonstrasi tanpa kekerasan, yang kita tahu kemudian membuahkan hasil, yaitu dihapuskannya hukum berkaitan dengan segregasi (boleh dibaca: diskriminasi) rasial dalam bidang transportasi, perumahan, sekolah, rumah makan dan bidang-bidang lainnya. Pada saat Rosa Parks secara lugas dan lugu menjawab “tidak” kepada Pak Supir bis, sebenarnya dia memulai sesuatu yang jauh lebih signifikan daripada apa yang mungkin dapat dibayangkan orang pada tahun 1955. Pada Freedom Festival di tahun 1965, Rosa Parks diperkenalkan sebagai First Lady of the Civil Rights Movement.

Cerita mengenai Rosa Parks ini dan keadaan yang menyedihkan dari orang-orang berkulit hitam di Amerika Serikat (terutama di negara-negara bagian di sebelah selatan yang justru terkenal dengan julukan the Bible belt) sangat serupa dengan situasi umat Allah dalam bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini. Baik nabi Yehezkiel maupun penulis Injil Markus menulis untuk sebuah komunitas yang sedang berada di bawah pengejaran dan penganiayaan, sebuah umat yang kalah dalam jumlah dan ditindas oleh orang-orang di sekeliling mereka yang tidak percaya.

Baik Yehezkiel maupun Markus menulis untuk meyakinkan para anggota komunitas termaksud, menguatkan iman-kepercayaan mereka pada kuat-kuasa Allah untuk menanamkan benih dan membuatnya bertumbuh menjadi sebatang pohon yang besar, tinggi dan kuat. Hal ini tidak banyak bedanya pada zaman modern ini. Dalam isu-isu tertentu kita, umat Kristiani, juga kalah dalam jumlah ketimbang lawan-lawan kita, misalnya dalam soal aborsi, perceraian, kesopan-santunan dalam entertainment di muka publik, dlsb. Seperti orang-orang Yahudi Perjanjian Lama yang berada dalam pembuangan dan orang-orang Kristiani awal di Roma, kita juga perlu diyakinkan, perlu dikuatkan, disemangati dalam iman-kepercayaan kita akan kuat-kuasa Allah untuk mengambil upaya-upaya kita yang kecil dan membuatnya bertumbuh menjadi suatu gerakan yang kuat-perkasa.

Yang diminta Allah dari diri kita adalah bahwa kita menaruh kepercayaan kepada-Nya dan mencoba. Dia akan menyelesaikan sisanya tanpa ribut-ribut namun dengan tekun, sehingga dengan demikian sikap dan perilaku mementingkan diri sendiri akan dikalahkan oleh sikap dan perilaku untuk berbagi, kejahatan akan dikalahkan oleh kebaikan, kebencian akan dikalahkan oleh kasih. Apabila kita memiliki kesabaran dan pengharapan, maka pada akhirnya panenan dari apa yang kita tanam akan bermunculan: bangsa-bangsa akan berdamai satu sama lain, hak-hak azasi manusia direstorasikan, anak-anak dan para perempuan akan terlindungi dari tindakan kekerasan, orang-orang lapar akan memperoleh makanan secukupnya, dlsb.

Jadi, betapa kecil pun upaya-upaya kita untuk memajukan cita-cita Kristiani, Allah akan melipat-gandakannya dengan kuat-kuasa yang tersembunyi untuk mendatangkan hasil-hasil yang luar biasa. Allah melakukannya bagi Yehezkiel dan Markus dan Rosa Parks. Kita harus percaya bahwa Dia dapat melakukannya lagi melalui diri kita.

DOA: Tuhan Yesus, ajarlah kami untuk menaruh kepercayaan kepada-Mu, dalam situasi apa pun yang kami hadapi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 4:26-34), bacalah tulisan dengan judul “PERUMPAMAAN TENTANG BIJI MUSTAR” (bacaan tanggal 17-6-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori 12-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2012. Bacalah juga tulisan yang berjudul “PERUMPAMAAN TENTANG BENIH YANG TUMBUH & BIJI SESAWI” (bacaan tanggal 27-1-12), dalam situs/blog PAX ET BONUM; kategori 12-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2012.

Cilandak, 28 Mei 2012

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PARA PENGGARAP KEBUN ANGGUR YANG JAHAT

PARA PENGGARAP KEBUN ANGGUR YANG JAHAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa IX – Senin, 4 Juni 2012)

Kongregasi Suster Fransiskanes dr Santo Georgius Martir: Peringatan Kedatangan Suster-suster FSGM di Indonesia

Lalu Yesus mulai berbicara kepada mereka dalam perumpamaan, “Ada seseorang membuka kebun anggur dan membuat pagar sekelilingnya. Ia menggali lubang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga. Kemudian Ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain. Ketika sudah tiba musimnya, ia menyuruh seorang hamba kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima sebagian dari hasil kebun itu dari mereka. Tetapi mereka menangkap hamba itu dan memukulnya, lalu menyuruhnya pergi dengan tangan hampa.

Kemudian ia menyuruh lagi seorang hamba lain kepada mereka. Orang ini mereka pukul sampai luka kepalanya dan sangat mereka permalukan. Lalu ia menyuruh seorang lagi seorang hamba lain, dan orang ini mereka bunuh. Demikian juga dengan banyak lagi yang lain, ada yang mereka pukul dan ada yang mereka bunuh. Masih ada satu orang lagi padanya, yakni anaknya yang terkasih. Akhirnya ia menyuruh dia kepada mereka, katanya: Anakku akan mereka segani. Tetapi penggarap-penggarap itu berkata seorang kepada yang lain: Inilah ahli waris, mari kita bunuh dia, maka warisan ini menjadi milik kita. Mereka menangkapnya dan membunuhnya, lalu melemparkannya ke luar kebun anggur itu. Sekarang apa yang akan dilakukan oleh tuan kebun anggur itu? Ia akan datang dan membinasakan penggarap-penggarap itu, lalu mempercayakan kebun anggur itu kepada orang-orang lain. Tidak pernahkah kamu membaca nas ini: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi baru penjuru: Hal ini terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita.” Lalu mereka berusaha untuk menangkap Yesus, karena tahu bahwa merekalah yang dimaksudkan-Nya dengan perumpamaan itu. Tetapi mereka takut kepada orang banyak. Mereka membiarkan Dia, lalu mereka pergi. (Mrk 12:1-12)

Bacaan Pertama: 2Ptr 1:1-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 91:1-2,14-16

Dalam perumpamaan ini Yesus menggunakan gambaran kebun anggur seperti yang digunakan oleh Yesaya sebelumnya (Yes 5:1-7). Sasaran Yesus dengan perumpamaan ini adalah para pemimpin atau pemuka agama Yahudi. Mereka membimbing umat Allah (kebun anggur) untuk keuntungan mereka sendiri, bukan untuk Allah (pemilik kebun anggur). Dengan demikian Allah tidak menerima tanggapan (buah) yang diharap-harapkannya. Yang lebih “parah” lagi adalah, bahwa mereka menutup umat dari Yesus, sang Putera Allah.

Kita dapat menggunakan gambaran (imaji) kebun anggur ini untuk mencerminkan bagaimana cara sikap-sikap yang keliru dapat menguasai pikiran kita dan menghalang-halangi kita menghasilkan buah baik berupa kasih dan kemurahan hati dlsb. Harapan-harapan sang tuan tanah pemilik kebun anggur hancur karena kebun anggur miliknya itu dikuasai oleh para penggarap yang bersikap memusuhi. Sesuatu yang serupa terjadi dalam relasi kita dengan Allah ketika kita memperkenankan filsafat-filsafat (katakanlah dalam hal ini falsafah-falsafah) dunia mengkontaminasi pemikiran kita. Barangkali kita telah mengambil oper relativisme moral atau “yang buruk-buruk di bidang seks” dari film, buku atau dari “dunia maya” (internet). Barangkali kita telah melibatkan diri dalam praktek-praktek okultisme atau “new age”. Sebagai akibatnya, kehidupan rahmat dalam diri kita menjadi rusak.

Kabar baiknya adalah bahwa Allah itu tanpa reserve dan tidak menghitung-hitung biaya dalam upaya-Nya untuk membebaskan diri kita dari pengaruh-pengaruh yang tidak baik seperti disebut di atas. Yesus datang untuk membuang segala hal yang mengganggu membawa dampak buruk atas pikiran kita, kemudian mendirikan kerajaan-Nya di dalam diri kita – namun Ia tidak akan melakukan hal tersebut sendiri. Setiap hari, Dia memanggil kita untuk menaruh iman kita dalam kemenangan-Nya atas dosa dan kematian dan taat kepada perintah-perintah-Nya. Tindakan menyerahkan diri kita kepada-Nya bukanlah suatu kehilangan kendali yang tidak sehat, melainkan memperoleh kembali kendali kita. Mengapa? Karena dengan demikian kita dipulihkan kepada pikiran kita yang benar. Selagi sabda Allah meresap dalam kehidupan kita, kita pun dibebaskan dari tirani dosa dan pikiran kita dipenuhi dengan “semua yang benar, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedang didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji” (Flp 4:8).

DOA: Yesus Kristus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Aku menyerahkan diriku sepenuhnya ke bawah pengendalian kasih-Mu. Tuhan, usirlah apa saja dalam diriku yang bertentangan dengan Engkau dan nilai-nilai kerajaan-Mu. Aku sungguh ingin berbuah seturut rencana-Mu menciptakanku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 12:1-12), bacalah tulisan yang berjudul “SEMOGA KELAK KITA DIDAPATI OLEH-NYA SEBAGAI PENGGARAP KEBUN ANGGUR YANG BAIK” (bacaan tanggal 4-6-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2012.

Cilandak, 18 Mei 2012 [S. Feliks dari Cantalice, Biarawan Kapusin]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

POKOK ANGGUR DAN RANTING-RANTINGNYA

POKOK ANGGUR DAN RANTING-RANTINGNYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Paskah, Rabu 9-5-12)

Keluarga Fransiskan: Peringatan S. Katarina dari Bologna, Perawan – Ordo II/Klaris

“Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya. Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah. Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu. Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar. Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. Dalam hal inilah Bapa-Ku dimuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku.” (Yoh 15:1-8).

Bacaan Pertama: Kis 15:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 122:1-5

Di negara-negara Barat seperti Amerika Serikat, teristimewa di kalangan orang-orang muda sudah cukup lama ada gejala yang mengekspresikan pandangan berikut ini: “Yesus ya, tetapi Gereja tidak!” Saya yakin dalam masyarakat kita pun ada hal yang serupa kalau pun tidak sama.

Bagi banyak orang memang terdapat pemisahan yang sungguh riil antara mengikuti Yesus dan menjadi anggota Gereja. Motif-motif mereka cukup banyak. Beberapa yang cukup sering terdengar a.l. adalah: (1) Gereja terlalu besar, formal dan impersonal; (2) Kami pergi ke gereja dan merasa seakan kami berdiri dalam sebuah toserba atau stasiun kereta. Sedikit saja terasa adanya kehangatan, kasih atau persekutuan; (3) Yang kami lakukan dalam gereja hanyalah duduk, berdiri, berlutut dan sekali-kali turut bernyanyi dan menyerukan aklamasi bersama orang-orang lain; (4) Homili atau khotbah-khotbahnya seringkali tidak membumi, jauh dari kenyataan hidup kami sehari-hari; (5) Bacaan-bacaan terasa aneh atau sudah kami kenal baik; (6) Kami merasa sulit mengasosiasikan iman dan cintakasih kami kepada Yesus Kristus dengan Gereja yang begitu melembaga.

Sebaliknya, kami merasa tertarik kepada pribadi Yesus: (1) Pesan kasih Yesus, pelayanan-Nya dalam menyembuhkan serta mengampuni, dan keakraban-Nya dengan Bapa di surga sungguh berkesan di hati kami; (2) Kami ingin menjadi anggota sebuah komunitas di mana kami dikasihi dan diterima; (3) Kami tidak mau dianggap sekadar sebagai satu wajah lain lagi dalam jemaat; (4) Kami ingin merasakan iman kami sebagai suatu kekuatan vital dalam hidup kami sehari-hari: (5) Bukan struktur atau organisasi yang penting, melainkan relasi kami dengan Yesus dan kasih antara kami satu sama lain; (6) Bagi banyak dari kami, struktur adalah batu sandungan bagi pertumbuhan spritualitas.

Suatu pemisahan antara Yesus dan Gereja institusional sungguh ironis. Konsili Vatikan II memakai banyak tenaga dan wawasan dalam mempertimbangkan sifat dan misi Gereja. Pengharapan dari Konsili adalah untuk melibatkan umat beriman dalam kehidupan Gereja. “Umat adalah Gereja” tidak dimaksudkan sebagai sekadar slogan. Diharapkan bahwa umat Allah akan memainkan peranan yang aktif dan bertanggung-jawab dalam kehidupan gereja lokal. Rasa memiliki (sense of belonging) yang lebih besar dan identitas umat sebagai Gereja juga diperkokoh. Visi Konsili Vatikan II masih harus terus diwujudkan. Walaupun begitu, tidak ada orang yang dapat menyangkal bahwa berbagai kemajuan telah berhasil diwujudkan.

Bacaan Injil hari ini memberikan kepada kita sebuah gambaran yang indah dan kuat tentang Gereja sebagai sebuah komunitas iman dan persekutuan (Latin: communio) dengan Yesus. Bukannya memisahkan Gereja dari Yesus, gambaran yang diberikan justru mengasosiasikan para anggota komunitas dengan Pribadi Yesus. Yesus bersabda: “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya” (Yoh 15:5). Gambaran tentang pokok anggur dapat kita lihat dalam Perjanjian Lama (Yes 5:2; Yer 2:21). Pokok anggur dipahami sebagai umat pilihan Allah. Allah mengasihi dan merawat pokok anggur itu agar menghasilkan banyak buah. Hal ini hanya mungkin apabila komunitas itu hidup dalam relasi yang intim dengan Yesus. Yesus berdiam dalam hati para murid-Nya, memberikan kepada mereka rahmat yang diperlukan untuk mendatangkan karya-karya Roh (teristimewa kasih persaudaraan). Di luar Yesus tidak akan ada pertumbuhan yang langgeng dan/atau tahan lama. Tanpa Yesus segala upaya baik yang dilakukan – cepat atau lambat – dapat menjadi rusak disebabkan oleh egoisme dan perpecahan-perpecahan.

Gambaran pokok anggur dan ranting-rantingnya tidaklah bertentangan dengan Gereja sebagai lembaga (institusi). Gambaran ini dapat dipakai sebagai suatu upaya indah untuk mendorong (juga mengoreksi) pertumbuhan lebih lanjut dalam Yesus. Manakala struktur-struktur institusional menjadi tujuan dalam dirinya, maka hal ini sama saja dengan penyembahan berhala (Inggris: idolatry). Struktur-struktur gerejawi tetap diperlukan untuk menjaga ajaran Gereja, penyembahan/tata ibadat, dan nilai-nilai moral. Gereja hari ini jauh lebih besar dan jauh lebih kompleks daripada Gereja Perdana pada abad pertama. Kita membutuhkan struktur-struktur untuk menangani jumlah anggota jemaat yang memang tidak sedikit. Akan tetapi, kita tidak pernah boleh memperkenankan struktur-struktur menjadi begitu dominan sehingga merusak persekutuan dan relasi kita dengan Yesus.

Gambaran pokok anggur dan ranting-rantingnya mendorong serta menyemangati kita untuk mempererat persekutuan dalam komunitas iman. Sebuah komunitas iman yang dipenuhi Roh Kudus adalah sebuah komunitas yang memperkenankan anggotanya untuk mengenal Yesus dengan lebih baik dan untuk para anggotanya saling mengasihi sebagai saudari dan saudara dalam Yesus Kristus. Apabila kita sungguh mengenal Yesus (bukan Yesus sebagai ide, melainkan sebagai seorang Pribadi yang hidup dalam kehidupan kita) dan ada saling mengasihi antara kita, maka karya-karya Roh Kudus menjadi terbukti-nyata.

Kelirulah kalau kita berpandangan “Yesus ya, tetapi Gereja tidak!” Gereja dipanggil untuk menjadi “pengingat” historis-konkret akan kasih Allah yang tanpa syarat kepada semua orang dan ciptaan-Nya. Gereja dipanggil untuk semakin dalam bersatu dengan Yesus dan menghasilkan buah Roh: “kasih, sukacita, damai-sejahtera, persekutuan dan integritas” (bdk. Gal 5:22-23). Kita semua dipanggil untuk membantu membuat Gereja menjadi sebuah komunitas di mana Roh Kudus berdiam dan Yesus dikenal serta dikasihi. Panggilan ilahi sedemikian sungguh sangat menantang dan tidak pernah membosankan.

DOA: Tuhan Yesus, tanpa Engkau kami, para murid-Mu, tidak dapat berbuat apa-apa. Ajarlah kami bagaimana seharusnya kami berdiam dalam Engkau. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 15:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “JIKALAU KAMU TINGGAL DI DALAM AKU” (bacaan tanggal 9-5-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2012.

Cilandak, 19 April 2012

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

AKULAH POKOK ANGGUR YANG BENAR

AKULAH POKOK ANGGUR YANG BENAR

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PASKAH V, 6-5-12)

“Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya. Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah. Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu. Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar. Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. Dalam hal inilah Bapa-Ku dimuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku.” (Yoh 15:1-8).

Bacaan Pertama: Kis 9:26-31; Mazmur Tanggapan: Mzm 22:26-28,30-32; Bacaan Kedua: 1Yoh 3:18-24

Yesus bersabda, “Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya” (Yoh 15:1). Sebagai pokok anggur yang benar, Yesus adalah penggenapan dari segala sesuatu yang dikatakan tentang Israel sebagai kebun anggur pilihan Allah. Semua hal ini hanyalah bayangan dari realitas yang kita kenal sebagai Yesus Kristus. Yesus Kristus adalah sungguh Putera terkasih dari Bapa di surga, Sang Terpilih dalam artian yang sangat unik. Relasi intim yang terjalin antara Bapa dan Yesus kemudian “diperpanjang” sampai kepada para murid-Nya: “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya” (Yoh 15:5).

Ini adalah sebuah alegori yang agak berbeda dengan perumpamaan dalam arti parabel (Inggris: parable). Dalam sebuah parabel, hanya poin utama sajalah yang dimaksudkan untuk diterapkan dalam kehidupan. Sebaliknya, dalam sebuah alegori semua detil diterapkan. Selagi alegori pokok anggur diceritakan, para murid mendengar banyak aspek relasi Kristus dengan mereka. Tema-tema seluruh diskursus dalam Perjamuan Terakhir dapat diringkaskan sebagai berikut: (1) Walaupun Yesus sedang berada pada titik siap untuk berpisah secara fisik, pekerjaan-Nya akan berlanjut; (2) para murid akan diberi amanat untuk melanjutkan tugas-Nya; (3) mereka akan menerima energi ilahi untuk melaksanakan tugas itu.

Pekerjaan Bapa sebagai pengusaha adalah memotong ranting yang tidak berbuah dan membersihkan ranting yang berbuah, juga diterapkan pada kehidupan. Pohon anggur adalah sebatang tetumbuhan yang bertumbuh dengan cepat dan harus dipotong, dipangkas secara drastis apabila ingin menghasilkan buah secara berlimpah. Pemangkasan ranting yang tidak berbuah mengingatkan kita bahwa komunitas orang yang sungguh percaya itu dipisahkan dari mereka yang telah “dipangkas” dari Kristus melalui/karena ketidak-percayaan mereka. Pembersihan ranting yang berbuah mengingatkan kita pada proses pemurnian atau pembersihan. Jadi, mengingatkan kita pada peristiwa pembasuhan kaki para murid oleh Yesus sebelum Perjamuan Terakhir, ketika Yesus berkata kepada Petrus: “Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku” (Yoh 13:8). Akan tetapi, sekarang Yesus meyakinkan mereka kembali para murid bahwa mereka telah dibersihkan oleh ajaran-ajaran-Nya …… “karena firman yang telah Kukatakan kepadamu” (Yoh 15:3).

Poin berikutnya dalam alegori ini adalah kebenaran yang indah bahwa para murid merasa nyaman dalam Kristus, seperti ranting dengan pokok anggurnya. Rumah adalah tempat di mana kita berdiam dan di mana kita kembali dan kembali lagi setiap kali kita di luar. Inilah bagaimana seorang murid menemukan bahwa hidup-Nya berakar dan bertumpu pada Kristus dan dia selalu kembali kepada Kristus untuk arti, terang dan makanan. Yesus bersabda: “Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yoh 15:5). Yang dimaksudkan itu buah macam apa? Kita memperoleh jawabannya dalam Bacaan Pertama: “Dan inilah perintah-Nya: supaya kita percaya kepada nama Yesus Kristus, Anak-Nya, dan saling mengasihi sesuai dengan perintah yang diberikan Kristus kepada kita” (1Yoh 3:23).

Percaya berarti membuat pikiran (akal budi) kita dicerahkan oleh ajaran Yesus, untuk mempunyai kepercayaan kita yang sepenuhnya berakar pada diri-Nya, dan memperoleh damai-sejahtera kita dalam pengampunan ilahi-Nya. Ketika kita begitu berakar dalam Yesus, maka kita dengan sukarela akan membuka hidup kita dalam cinta kasih praktis bagi orang-orang lain dengan kasih Yesus sendiri.

“Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya” (Yoh 15:7). Jawaban atas doa dijamin … namun catatlah syaratnya: “jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu”. Kenyataannya adalah bahwa siapa saja yang begitu kokoh berakar dan bertumpu dalam Kristus hanya akan meminta apa saja yang merupakan kehendak Allah.

Poin terakhir berurusan dengan perpanjangan kemuliaan Bapa. Ada perasaan bahwa di mana karya Allah belum lengkap sampai kita meluaskan Kerajaan-Nya ke setiap bagian masyarakat.

“Alegori tentang pokok anggur dan ranting-rantingnya” ini mengajar kita bahwa menjadi seorang murid Yesus Kristus merupakan suatu panggilan yang agung. Kita ditantang untuk menjadi pelayan-Nya yang menghasilkan buah di tengah dunia dewasa ini. Dengan indah kita dijamin kembali bahwa sukses dalam tugas ini adalah karena energi ilahi yang ada dalam diri kita apabila kita hidup dalam Kristus.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau berbagi kehidupan ilahi-Mu dengan kami masing-masing. Biarlah segala sesuatu yang kami lakukan dipimpin oleh pengenalan akan kebenaran-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 15:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “BAPA SURGAWI DIMULIAKAN JIKA KITA BERBUAH BANYAK” (bacaan tanggal 6-5-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2012.

Cilandak, 17 April 2012

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BUKALAH TELINGA KITA BAGI SUARA YESUS !!!

BUKALAH TELINGA KITA BAGI SUARA YESUS !!!

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Paskah, Senin 30-4-12)

Keluarga Fransiskan Kapusin: Peringatan Beato Benediktus dari Urbino, Biarawan

“Sesungguhnya aku berkata kepadamu: Siapa yang masuk ke dalam kandang domba tanpa melalui pintu, tetapi dengan memanjat dari tempat lain, ia adalah seorang pencuri dan seorang perampok; tetapi siapa yang masuk melalui pintu, ia adalah gembala domba. Untuk dia penjaga membuka pintu dan domba-domba mendengarkan suaranya dan ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya dan menuntunnya ke luar. Jika semua dombanya telah dibawanya ke luar, ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya. Tetapi seorang asing pasti tidak mereka ikuti, malah mereka akan lari dari orang itu, karena suara orang-orang asing tidak mereka kenal.”

Yesus mengatakan kiasan ini kepada mereka, tetapi mereka tidak mengerti apa maksudnya Ia berkata demikian kepada mereka.

Karena itu Yesus berkata lagi, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, Akulah pintu bagi domba-domba itu. Semua orang yang datang sebelum Aku, adalah pencuri dan perampok, dan domba-domba itu tidak mendengarkan mereka. Akulah pintu; siapa saja yang masuk melalui Aku, ia akan diselamatkan dan Ia akan masuk dan keluar serta menemukan padang rumput. Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, mempunyainya dengan berlimpah-limpah.(Yoh 10:1-10)

Bacaan Pertama: Kis 11:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 42:2-3;43:3-4

Yesus adalah sang “Gembala yang Baik” yang datang untuk memelihara dan memimpin umat-Nya. Seperti anak-anak atau domba-domba yang hilang dalam semak belukar di padang gurun, kita sering merasa bingung dan dibuat takut oleh dunia di sekeliling kita. Kita bertanya-tanya kepada diri kita sendiri, di mana sih rumah kediaman kita yang sejati? Di tengah-tengah berbagai pertanyaan kita itu, Yesus memanggil kita agar mendengarkan suara-Nya yang akan membimbing serta menuntun kita. Bilamana Dia melihat kita mencoba dengan keras untuk melakukan yang terbaik, namun tetap saja jatuh tersandung, Ia tidak menghukum kita. Sebaliknya, Yesus memanggil kita dan memimpin kita ke luar dari rasa takut yang melanda kita, perjuangan kita yang dipenuhi kesalahan-kesalahan, untuk menuju kehangatan kehadiran-Nya.

Karena kita diciptakan oleh Allah yang Mahakasih, maka kita masing-masing dianugerahi kemampuan untuk dapat mengenali suara Yesus. Kadang-kadang suara-Nya “nyaring, seperti bunyi sangkakala” (Why 1:10), atau “bagaikan desau air bah” (Why 1:15). Namun seringkali suara-Nya datang dengan lemah-lembut berupa “bunyi angin sepoi-sepoi basa”, seperti dialami oleh Elia (1Raj 19:12-13); dengan lemah-lembut menyentuh hati kita dan menggerakkan kita untuk menyerahkan diri kepada-Nya secara lebih mendalam lagi. Dia mengucapkan sabda-Nya yang mendorong serta menyemangati, menyembuhkan dan mengampuni kita (Yes 40:1-3; Yer 31:3). Pada saat Ia mengoreksi kita, Allah bersabda tanpa menghukum (Yeh 18:31). Selagi kita mendengar suara-Nya, kita ditarik untuk mengikuti-Nya.

Kita juga tentunya telah mendengar suara-suara lain yang berusaha untuk “mengacaukan” suara Yesus. Suara Iblis selalu negatif, betapa banyaknya pun kebenaran yang mungkin digunakan olehnya sebagai kamuflase. Kebohongan-kebohongannya menyebabkan kegelisahan, kecemasan, rasa was-was dan sejenisnya. Sebaliknya, suara Allah selalu positif, bahkan ketika Dia menunjukkan dosa-dosa kita. Kadang-kadang, pemikiran-pemikiran kita sendiri pun dapat menjadi penghalang bagi kita untuk mendengar suara Yesus; kita dapat menjadi sedemikian sibuknya dengan berbagai tugas-kewajiban sehari-hari kita (baik dalam dunia sekular maupun dalam lingkup gerejawi), sehingga kita luput mendengar suara-Nya.

Akan tetapi, sekali kita mendengar suara Yesus, kita akan mengalami rasa dahaga untuk lebih banyak lagi mendengar suara-Nya, kita dipenuhi kerinduan untuk mengalami kehadiran-Nya setiap saat. Kita dapat mendengar suara-Nya dalam liturgi, selagi Dia mendorong kita untuk bergabung dengan diri-Nya dalam kasih penuh pengorbanan diri-Nya (Ekaristi). Dia mengajar kita dalam Kitab Suci, menantang cara kita berpikir karena “begitu ‘tinggi’ tingkat pendidikan kita di dunia ini”. Melalui sahabat-sahabat yang sungguh “caring”, Tuhan juga mengucapkan kata-kata penghiburan bagi kita yang sedang dilanda kesedihan karena berbagai kesusahan hidup. Bahkan dalam keindahan dan keteraturan alam ciptaan-Nya, suara-Nya dapat didengar, memanggil-manggil kita untuk mengangkat hati kita kepada Sang Pencipta langit dan bumi. Oh, betapa berbahagialah kita mempunyai ‘seorang’ Allah yang selalu siap untuk berbicara dengan kita!

DOA: Tuhan Yesus, Engkau datang supaya kami mempunyai hidup, dan mempunyainya dengan berlimpah-limpah. Tuhan, kami sungguh ingin kehidupan berlimpah seperti yang Engkau janjikan itu. Bukalah telinga kami agar mampu mendengar suara-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 10:1-10), bacalah tulisan yang berjudul “MENDENGAR SUARA YESUS SANG GEMBALA BAIK” (bacaan tanggal 30-4-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2012.

Cilandak, 15 April 2012 [HARI MINGGU PASKAH II – MINGGU KERAHIMAN ILAHI]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

GEMBALA YANG BAIK MEMBERIKAN NYAWANYA BAGI DOMBA-DOMBANYA

GEMBALA YANG BAIK MEMBERIKAN NYAWANYA BAGI DOMBA-DOMBANYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PASKAH IV, 29-4-12)

Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya; sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan menceraiberaikan domba-domba itu. Ia lari karena ia seorang upahan dan tidak memperhatikan domba-domba itu. Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku. Tetapi Aku juga mempunyai domba-domba lain yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala. Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku agar Aku menerimanya kembali. Tidak seorang pun mengambilnya dari Aku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah perintah yang Kuterima dari Bapa-Ku.” (Yoh 10:11-18)
Bacaan Pertama: Kis 4:8-12; Mazmur Tanggapan: Mzm 118:1,8-9,21-23,26,28-29; Bacaan Kedua: 1Yoh 3:1-2

Semua bacaan Kitab Suci dalam Misa hari ini secara bersama mengungkapkan dan mempermaklumkan pengorbanan Yesus yang penuh kasih bagi kita. Yesus mengatakan kepada orang-orang Yahudi bahwa Dia adalah “Gembala yang Baik”, yang akan memberikan nyawa-Nya bagi kita, domba-domba-Nya (Yoh 10:11). Kemudian, pada malam sebelum sengsara-Nya, Ia akan mengatakan kepada para murid-Nya: “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada ini, yakni seseorang memberikan nyawanya demi sahabat-sahabatnya” (Yoh 15:13). Dengan sempurna Yesus menunjukkan kasih-Nya itu pada waktu Dia mati di kayu salib, menyerahkan nyawa-Nya sendiri untuk menebus kita masing-masing.

Bukankah mengejutkan untuk berpikir bahwa sekiranya anda adalah orang satu-satunya yang tinggal di dalam dunia, Yesus tetap akan dengan sukarela memberikan hidup-Nya untuk menyelamatkan anda? Kesadaran akan hal inilah yang kiranya memberikan kepada Petrus keberanian untuk mengatakan kepada para imam umat dan tua-tua Yahudi: “Tidak ada keselamatan di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan” (Kis 4:12).

Inilah alasan besar bagi kita untuk bersukacita! Hikmat Allah, walaupun kelihatan bodoh bagi pikiran manusia, berjaya bahkan di momen-momen paling gelap dalam kehidupan kita. Siapa lagi selain Allah yang dapat “mentakdirkan” bahwa Yesus, Putera-Nya terkasih, akan ditolak oleh umat-Nya sendiri, ditinggalkan oleh para pengikut-Nya yang terdekat? Ia bahkan diabaikan dan ditinggalkan oleh Allah, Bapa-Nya sendiri! Namun demikian, inilah hikmat Allah yang tak dapat diduga-duga oleh akal-budi manusia. Allah begitu mengasihi kita sehingga Dia bersedia mengorbankan anak-Nya yang tunggal, yang dikasihi-Nya di atas siapa saja dan apa saja, hanya untuk membawa kita kembali ke dalam pelukan-Nya. Hal ini digaris-bawahi dalam bacaan kedua hari ini: “Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah” (1Yoh 3:1).

Pada masa-masa ketika segala sesuatu terasa gelap dan tanpa harapan, kita harus melihat tangan-tangan Allah yang siap menolong kita. Bahkan di dalam peristiwa-peristiwa yang tidak diharapkan samasekali, Allah bekerja. Ada saat-saat di mana hikmat-Nya sungguh melampaui segala akal-budi kita sehingga tanggapan kita hanyalah dapat berupa iman dan kepercayaan. Pada saat-saat seperti itu Dia mengundang kita untuk berdoa: “Yesus, Engkaulah andalanku.” Ketika berbagai kesusahan dan kegelapan mengepung diri kita dari segala penjuru kehidupan kita, kita dapat berdoa: “Bapa surgawi, biarlah tangan-tangan kasih-Mu memegang dan menuntun aku.” Ketika kita merasakan beban hidup ini begitu berat, kita dapat memandang salib Kristus dan berkata: “Tuhan, Engkau mati untuk aku secara pribadi. Aku percaya, ya Tuhan, tolonglah ketidakpercayaanku.”

DOA: Roh Kudus Allah, jadilah penghiburku. Jadilah kekuatanku pada hari ini dan nyatakanlah kepadaku Injil Yesus Kristus yang penuh kemuliaan. Aku menyerahkan diriku kepada-Mu dan percaya kepada-Mu dengan segala keberadaan diriku dan segalanya yang kumiliki. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 10:11-18), bacalah tulisan dengan judul “GEMBALA YANG BAIK” dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2012.

Cilandak, 14 April 2012

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEPERTI BIJI GANDUM YANG JATUH KE DALAM TANAH, MATI DAN MENGHASILKAN BANYAK BUAH

SEPERTI BIJI GANDUM YANG JATUH KE DALAM TANAH, MATI DAN MENGHASILKAN BANYAK BUAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PRAPASKAH V [Tahun B], 25-3-12) 

Di antara mereka yang berangkat untuk beribadah pada hari raya itu, terdapat beberapa orang Yunani. Orang-orang itu pergi kepada Filipus, yang berasal dari Betsaida di Galilea, lalu berkata kepadanya, “Tuan, kami ingin bertemu dengan Yesus.” Filipus pergi memberitahukannya kepada Andreas; lalu Andreas dan Filipus menyampaikannya kepada Yesus. Kata Yesus kepada mereka, “Telah tiba saat Anak Manusia dimuliakan. Sesungguhnya Aku berkata berkata kepadamu: Jika biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah. Siapa saja yang mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi siapa saja yang membenci nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal. Siapa saja yang melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situ pun pelayan-Ku akan berada. Siapa saja yang melayani Aku, ia akan dihormati Bapa. Sekarang jiwa-Ku terharu dan apakah yang akan Kukatakan? Bapa, selamatkanlah Aku dari saat ini? Tidak, sebab untuk itulah Aku datang ke dalam saat ini. Bapa, muliakanlah nama-Mu!” Lalu terdengarlah suara dari surga, “Aku telah memuliakannya, dan Aku akan memuliakannya lagi!” Orang banyak yang berdiri di situ dan mendengarkannya berkata bahwa itu bunyi guntur. Ada pula yang berkata, “Seorang malaikat telah berbicara dengan Dia.” Jawab Yesus, “Suara itu telah terdengar bukan oleh karena Aku, melainkan oleh karena kamu. Sekarang berlangsung penghakiman atas dunia ini: Sekarang juga penguasa dunia ini akan dilemparkan ke luar; dan Aku, apabila Aku ditinggikan dari bumi, aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku.” Ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana caranya Ia akan mati.  (Yoh 12:20-33)

Bacaan Pertama: Yer 31:31-34; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-4,12-15; Bacaan Kedua: Ibr 5:7-9

“Jika biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah” (Yoh 12:24).

Yesus memilih untuk mati di kayu salib agar supaya kita dapat hidup. Ini adalah hakekat terdalam pesan Injil. Ia adalah sang “biji gandum” yang jatuh ke dalam tanah dan mati, yang menhasilkan banyak buah. Sekarang, kita yang telah dibaptis ke dalam kematian dan kebangkitan-Nya dipanggil untuk menyerahkan hidup kita kepada-Nya – untuk mati terhadap hidup kedosaan – agar supaya kita pun banyak menghasilkan buah.

Pemikiran tentang mati seperti sebutir biji gandum terkadang dapat menjadi menakutkan. Kita takut terhadap “biaya kemuridan/pemuridan” (cost of discipleship). Bahkan Yesus, Putera Bapa sendiri, “Sekarang jiwa-Ku terharu dan apakah yang akan Kukatakan?” (Yoh 12:27 LAI-TB II). Beberapa contoh terjemahan bahasa Inggrisnya adalah: “Now is My soul troubled. And what shall I say?” (RSV); “My soul is troubled now, yet what should I say?” (NAB); “Now My heart is troubled – and what shall I say?” (TEV); “Now My soul is troubled. What I shall I say?” (NJB). Jadi, jiwa Yesus lebih daripada sekadar “terharu” (mungkin kata “galau” atau “merasa susah” lebih tepat), dan ini dikatakan-Nya tidak lama sebelum mengalami sengsara di taman Getsemani. Namun demikian, Yesus mengetahui sekali bahwa kematian dan kebangkitan-Nya akan mampu menarik banyak orang ke dalam kerajaan Bapa-Nya (lihat Yoh 12:32).

Penulis “Surat kepada Orang Ibrani” mengungkapkan pergumulan Yesus dengan  mengatakan: “Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis and air mata kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan. Sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar taat dari apa yang telah diderita-Nya dan sesudah Ia disempurnakan, Ia menjadi sumber keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya” (Ibr 5:7-9).

Ini adalah buah dari penyaliban Yesus, “saat” untuk mana Dia telah datang. Oleh kematian-Nya, Yesus membatalkan hutang dosa kita dan memenangkan kehidupan kekal bagi kita. Allah Bapa menunjukkan kedalaman kasih-Nya bagi kita dalam hasrat-Nya untuk membuat suatu perjanjian baru dengan kita, suatu perjanjian yang ditulis dalam hati kita (lihat Yer 31:33). Tidak seperti perjanjian yang lama, yang dipatahkan oleh orang-orang Israel, perjanjian baru ini tidak dapat dipatahkan karena memang tidak tergantung pada kelemahan hati manusia. Perjanjian yang baru adalah berdasarkan pada kuat-kuasa Roh Kudus, yang akan memberikan rahmat kepada siapa saja yang berbalik kepada-Nya dengan rendah hati dan penuh kepercayaan.

DOA: Tuhan Yesus, oleh Roh Kudus-Mu, mampukanlah kami mengatasi rasa takut kami akan kematian. Seperti sebutir biji gandum, mampukanlah kami untuk mati terhadap diri kami sendiri, sehingga dengan demikian kami dapat menghasilkan banyak buah bagi-Mu selagi kami membangun kerajaan-Mu di atas muka bumi ini.  Seperti Engkau memuliakan Bapa-Mu oleh ketaatan-Mu pada kehendak-Nya, semoga kehendak kami untuk taat kepada-Nya dapat membawa kemuliaan dan kehormatan bagi-Nya. Amin.

Catatan: Untuk mendalam Bacaan Injil hari ini (Yoh 12:20-33), bacalah tulisan dengan judul “JIKA BIJI GANDUM TIDAK JATUH KE DALAM TANAH DAN MATI” (tulisan untuk tanggal 25-3-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2012. 

Cilandak, 16 Maret 2012 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PEMIKIRAN-PEMIKIRAN ORANG-ORANG JAHAT

PEMIKIRAN-PEMIKIRAN ORANG-ORANG JAHAT

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV, Jumat 23-3-12)

Karena angan-angannya tidak tepat maka berkatalah mereka satu sama lain: “Pendek dan menyedihkan hidup kita ini, dan pada akhir hidup manusia tidak ada obat mujarab. Marilah kita menghadang orang yang baik, sebab bagi kita ia menjadi gangguan serta menentang pekerjaan kita. Pelanggaran-pelanggaran hukum dituduhkannya kepada kita, dan kepada kita dipersalahkannya dosa-dosa terhadap pendidikan kita. Ia membanggakan mempunyai pengetahuan tentang Allah, dan menyebut dirinya anak Tuhan, Bagi kita ia merupakan celaan atas anggapan kita, hanya melihat dia saja sudah berat rasanya bagi kita. Sebab hidupnya sungguh berlainan dari kehidupan orang lain, dan lain dari lainlah langkah lakunya. Kita dianggap olehnya sebagai yang tidak sejati, dan langkah laku kita dijauhinya seolah-olah najis adanya. Akhir hidup orang benar dipujinya bahagia, dan ia bermegah-megah bahwa bapanya ialah Allah. Coba kita lihat apakah perkataannya benar dan ujilah apa yang terjadi waktu ia berpulang. Jika orang yang  benar itu sungguh anak Allah, niscaya Ia akan menolong dia serta melepaskannya dari tangan para lawannya. Mari, kita mencobainya dengan aniaya dan siksa, agar kita mengenal kelembutannya serta menguji kesabaran hatinya. Hendaklah kita menjatuhkan hukuman mati keji terhadapnya, sebab menurut katanya ia pasti mendapat pertolongan.”

Demikianlah mereka berangan-angan, tapi mereka sesat, karena telah dibutakan oleh kejahatan mereka. Maka mereka tidak tahu akan rahasia-rahasia Allah, tidak yakin akan ganjaran kesucian, dan tidak menghargakan kemuliaan bagi jiwa yang murni. (Keb 2:1a,12-22)

Mazmur Tanggapan: Mzm 34:17-21,23; Bacaan Injil: Yoh 7:1-2,10,25-30 

Sekitar satu abad sebelum kelahiran Kristus, seorang cendikiawan Yahudi menulis sebuah kitab dalam tradisi Raja Salomo (malah mengatas namakan Salomo), raja Israel yang penuh hikmat itu. Penulis ini adalah seorang yang terdidik baik dalam hikmat alkitabiah dan juga filsafat Yunani. Dia menulis Kitab Kebijaksanaan (Salomo) ini untuk menolong komunitas Yahudi memahami iman-kepercayaan mereka di bawah tekanan untuk berkompromi dengan pandangan-pandangan kafir tentang kehidupan. Penulis ini menyalahkan orang-orang yang membuang iman-kepercayaan mereka dan kemudian memeluk budaya Yunani.

Dalam diskursus imajiner yang mengungkapkan pemikiran-pemikiran orang-orang jahat sedemikian selagi mereka membuat rancangan untuk mencelakakan seorang Yahudi yang saleh, sang penulis mengamati kesalahan dan ketidakpercayaan yang melatarbelakangi kemurtadan mereka: mereka buta terhadap kebenaran mendasar bahwa Allah memberi ganjaran kepada “jiwa yang murni” (Keb 2:22).

Tradisi masa puasa atau Prapaskah Kristiani menafsirkan bacaan ini sebagai suatu meditasi kenabian (profetis) atas rencana jahat orang-orang Yahudi untuk membunuh Yesus. Mereka yang berkomplot untuk membunuh Yesus merasakan bahwa ajaran-ajaran-Nya sungguh menantang cara-cara atau jalan-jalan mereka yang bersifat legalistik: “Pelanggaran-pelanggaran hukum dituduhkannya kepada kita” (Keb 2:12). Mereka marah ketika mendengar Yesus menyapa/memanggil Allah sebagai Bapa-Nya (Keb 2:13). Otoritas mereka terancam oleh sikap dan perilaku terbuka Yesus yang anti kemunafikan (Keb 2:16).

Biar bagaimana pun juga, ketulusan dan kebenaran pesan Yesus membuat diri-Nya sebagai suatu teguran/celaan terhadap nurani mereka yang tidak beres. Pikiran mereka sendiri yang menuduh diri mereka, kapan dan di mana saja mereka bertemu dengan Yesus (Keb 2:14,15). Mereka “ngotot” untuk menolak kebenaran Yesus, malah memandang Yesus sebagai “gangguan dan menentang pekerjaan mereka” (lihat Keb 2:12). Dengan memelintir atau memutar-balikkan ayat-ayat Kitab Suci, para lawan/musuh Yesus mencobai-Nya dan berkata: “Jika orang yang benar itu sungguh anak Allah, niscaya Ia akan menolong dia serta melepaskannya dari tangan para lawannya” (Keb 2:18). Mereka mencobai kelembutan hati dan daya tahan Yesus, dan akhirnya menyiksa Dia sampai mati di kayu salib.

Pada tataran yang berbeda, diskursus ini dapat juga membimbing kita dalam memeriksa hati kita sendiri. Apakah kita menghakimi atau memperlakukan orang-orang lain dengan kekerasan, lalu merasionalisasikannya untuk membenarkan tindakan kita itu? Apakah bagi kita ajaran-ajaran Yesus itu sebagai teguran/celaan terhadap diri kita? Apakah Kristus yang berdiam dalam diri kita membuat kita menjadi tidak nyaman? Apakah wejangan/nasihat-Nya terasa sebagai teguran/celaan, sesuatu yang kita abaikan ketika tidak menyenangkan hati kita? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini harus timbul selagi kita berjuang untuk menangkap setiap pemikiran akan Kristus. Kebenaran tentang kecenderungan-kecenderungan kita untuk berdosa tidak seharusnya membuat kita menjadi tertekan dan berdaya, karena kita mengetahui benar bahwa Yesus mati di kayu salib untuk setiap orang, bahkan untuk para lawan/musuh-Nya juga.

Marilah kita dalam masa Prapaskah ini secara khusus membawa segala pikiran dan perbuatan kita ke hadapan “sang Kebenaran” (lihat Yoh 14:6) dan 100% percaya akan apa yang pernah disabdakan-Nya: “Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat” (Luk 15:10).

DOA: Tuhan Yesus, ampunilah segala dosaku karena kemunafikan diriku, kesombongan pribadi dan ke-sok-suci-an-ku. Terima kasih Tuhan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 7:1-2,10,25-30), bacalah tulisan yang berjudul “AKU DIUTUS OLEH DIA YANG BENAR YANG TIDAK KAMU KENAL” (bacaan  tanggal 23-3-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2012. 

Cilandak, 9 Maret 2012 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 126 other followers