Posts from the ‘PERUMPAMAAN-PERUMPAMAAN YESUS’ Category

DUA MACAM DASAR

DUA MACAM DASAR

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XII – Kamis, 27 Juni 2012)

Jesus_109Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan orang yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mukjizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari hadapan-Ku, kamu sekalian yang melakukan kejahatan!

Jadi, setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu bertiuplah angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu bertiuplah angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.

Setelah Yesus mengakhiri perkataan ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka. (Mat 7:21-29)

Bacaan Pertama: Kej 16:1-12,15-16; Mazmur Tanggapan: Mzm 106:1-5

Bacaan Injil hari ini adalah ayat-ayat terakhir yang tercatat dalam bagian Injil yang dikenal sebagai “Khotbah di Bukit” (Mat 5:1 – 7:29). Kita telah sampai kepada puncak khotbah, klimaksnya yang kuat-mengesan di hati dan sungguh menantang, dan sekarang pula sampailah kita pada akhirnya.

Di sini Yesus mengatakan kepada kita untuk tidak menipu diri sendiri atau mencoba untuk menipu Dia. Janganlah kita pernah berpikir bahwa dengan memproklamasikan diri-Nya sebagai Tuhan dengan ucapan kita semata – tanpa mengisinya dengan tindakan-tindakan nyata dalam hal melakukan kehendak Bapa-Nya – akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Bahkan ketika kita telah menerima berbagai karunia Roh, misalnya karunia-karunia untuk bernubuat atau menyembuhkan, hal ini bukanlah jaminan terhadap kekudusan atau kesucian kita. Santo Paulus mengatakan hal yang sama: “… tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna” (1Kor 13: 2; bdk. 13:1,3).

Sekadar mendengar dan memahami pesan-pesan Yesus bukanlah tanggapan yang cukup. Kita harus menjadi “pelaku sabda” (bdk. Yak 1:22-25; 2:14-26). Yesus dengan jelas memberikan sebuah tantangan serius bagi kita. Kegagalan dalam melaksanakan sabda-Nya tidak ubahnya dengan upaya membangun sebuah rumah di atas pasir. Ujung-ujungnya kita akan mengalami bencana, segalanya berantakan secara total.

Tes sesungguhnya adalah melakukan kehendak Bapa. Yesus mengklaim dan menerima seorang pribadi sebagai seorang saudara dan seorang sahabat-Nya hanya dia yang taat, yang melakukan kehendak Bapa-Nya, yang mempraktekkan sabda-Nya dalam hidup sehari-harinya. Apabila anda atau saya tidak melakukannya, maka janganlah kaget apabila mendengar Ia berkata: “Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari hadapan-Ku, kamu sekalian yang melakukan kejahatan!” (Mat 7:23).

Ini adalah kata-kata Yesus yang sungguh keras! Memang keras, namun kata-kata itu diterima oleh orang banyak karena Dia mengajar mereka dengan kuasa dan penuh wibawa, tidak seperti para ahli Taurat.

Kita sekarang mempunyai sebuah pelajaran dari orang banyak itu. Apakah kita menerima para pemimpin Gereja yang dengan otoritas dan berwibawa mengajarkan sabda-sabda Yesus yang keras demi kebenaran? Atau apakah kita lebih suka atau lebih cenderung menerima ajaran-ajaran penuh kompromi, tidak ada salib dan enak didengar telinga, yang kurang memberi tantangan bagi kita?

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Engkau mengatakan, “Siapa saja yang memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Siapa saja yang mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Aku pun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya” (Yoh 14:21). Terima kasih Tuhan Yesus. Terpujilah nama-Mu selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 7:21-29), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS KRISTUS ADALAH FONDASI UNTUK MEMBANGUN KEHIDUPAN KITA” (bacaan tanggal 27-6-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2013. Bacalah juga tulisan yang berjudul “APAKAH KEHENDAK ALLAH BAGI KITA?” (bacaan tanggal 28-6-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 24 Juni 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERKENANKANLAH ALLAH MEMELIHARA KITA

PERKENANKANLAH ALLAH MEMELIHARA KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari biasa Pekan Biasa XI – Sabtu, 22 Juni 2013)

KHOTBAH DI BUKIT - 500“Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.

Karena itu, Aku berkata kepadamu: Janganlah khawatir tentang hidupmu, mengenai apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah khawatir pula tentang tubuhmu, mengenai apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting daripada makanan dan tubuh itu lebih penting daripada pakaian? Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu di surga. Bukankah kamu jauh lebih berharga daripada burung-burung itu? Siapakah di antara kamu yang karena kekhawatirannya dapat menambah sehasta saja pada jalan hidupnya? Mengapa kamu khawatir mengenai pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan memintal, namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannya pun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. Jadi, jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih dahulu mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya? Karena itu, janganlah kamu khawatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di surga tahu bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kehendak-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Karena itu, janganlah kamu khawatir tentang hari esok, karena hari esok mempunyai kekhawatirannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” (Mat 6:24-34)

Bacaan Pertama: 2Kor 12:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 34:8-13

Dalam bacaan Injil hari ini kita mendengar sebuah janji indah dari Tuhan Yesus kepada kita. Dia ingin meyakinkan kembali kepada kita tentang kasih-Nya dan berkat-Nya yang berlimpah yang disediakan-Nya bagi kita. Jadi, sesungguhnya kita tidak perlu merasa khawatir tentang apa pun. Yesus ingin agar kita mengetahui, mengenal dan mengalami kasih Bapa surgawi seperti yang diketahui-Nya, dikenal-Nya dan dialami-Nya sendiri. Selagi kita melakukannya, maka kita akan melihat bahwa kita dapat mengandalkan diri pada Tuhan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita. Tentu saja selalu ada tantangan-tantangan – besar atau kecil – namun Yesus menunjukkan kepada kita bahwa tidak ada sesuatu pun yang lebih penting daripada berjalan dalam kehadiran Bapa surgawi yang sangat mengasihi kita.

Sampai seberapa pasti kasih Bapa itu bagi kita? Sepasti pengorbanan Putera-Nya di kayu salib sekitar 2.000 tahun lalu. Sepasti kehadiran Roh Kudus yang berdiam dengan setia dalam diri kita masing-masing. Lebih pasti daripada makanan untuk memuaskan kelaparan badani kita, atau pemberian pakaian guna menghangatkan tubuh kita. YHWH-Allah mengatakan kepada kita, “… kasihsetia-Ku tidak akan Kujauhkan dari padanya dan Aku tidak akan berlaku cuang dalam hal kesetiaan-Ku. Aku tidak akan melanggar perjanjian-Ku, dan apa yang keluar dari bibir-Ku tidak akan Kuubah” (Mzm 89:34-35). “Aku berkata kepadamu: Janganlah khawatir tentang hidupmu …” (Mat 6:25). Tidak ada apa pun yang lebih besar daripada Kerajaan Allah dan kehendak-Nya (lihat Mat 6:33).

Jadi, marilah kita memberi makan diri kita dengan sabda Allah. Marilah kita mengenakan pakaian diri kita dengan kasih-Nya. Marilah kita mencari Dia di atas segalanya dan memperkenankan Dia membimbing langkah-langkah yang kita ambil. Tantangan paling besar yang kita hadapi bukanlah berurusan dengan keprihatinan-keprihatinan kehidupan duniawi, melainkan mengenakan baju zirah Allah secara penuh dan berjalan dalam kehadiran-Nya setiap hari – inilah tantangan riil yang kita hadapi. Bapa surgawi sangat mengasihi kita dan sungguh berkeinginan untuk memberkati kita secara berlimpah. Allah tidak pernah berhenti memperhatikan kita dengan penuh kasih. Kita dapat mengandalkan diri kepada-Nya untuk memimpin kita setiap hari.

Oleh karena itu, marilah kita menyerahkan segala urusan kita kepada Bapa surgawi dan perkenankanlah Dia memelihara kita dengan penuh kasih sayang. Kita berada di telapak tangan-Nya dan Ia tidak pernah membuang diri kita. Yesus, sang Sabda yang menjadi daging, mati untuk kita di atas kayu salib!

Saudari dan Saudara yang dikasihi Kristus, percayalah kepada-Nya dalam segala hal, baik besar maupun kecil. Singkirkanlah segala kekhawatiran dan rasa susah anda. Peganglah erat-erat tangan-Nya dan biarlah Ia menjadi Pemandu anda. Dalam setiap situasi yang anda temui, ketahuilah bahwa Bapa yang sangat mengasihi senantiasa berdiri di samping anda, siap untuk menunjukkan jalan kepada anda. Kita semua (anda dan saya) adalah makhluk-makhluk ciptaan-Nya dan Ia sangat mengasihi kita.

DOA: Roh Kudus Allah, aku menaruh setiap urusanku di hadapan-Mu dan memohon berkat atas diriku dan setiap orang yang kutemui. Pimpinlah aku dalam mengikuti jejak langkah Yesus, dan tariklah aku agar semakin jauh dari dosa dan anugerahkanlah kepadaku damai-sejahtera-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 6:24-34), bacalah tulisan yang berjudul “CARILAH DAHULU KERAJAAN ALLAH DAN KEHENDAK-NYA” (bacaan tanggal 22-6-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2013. Bacalah juga tulisan yang berjudul “BAPA SURGAWI YANG SANGAT MENGASIHI KITA SEMUA” (bacaan tanggal 23-6-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 16 Juni 2013 [HARI MINGGU BIASA XI]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KITA ADALAH KEBUN ANGGUR YESUS

KITA ADALAH KEBUN ANGGUR YESUS!

(Bacaan Injil Misa, Peringatan S. Karolus Lwanga dkk. Martir – Senin, 3 Juni 2013)

PERUMPAMAAN - WICKED HUSBANDMENLalu Yesus mulai berbicara kepada mereka dalam perumpamaan, “Ada seseorang membuka kebun anggur dan membuat pagar sekelilingnya. Ia menggali lubang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga. Kemudian Ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain. Ketika sudah tiba musimnya, ia menyuruh seorang hamba kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima sebagian dari hasil kebun itu dari mereka. Tetapi mereka menangkap hamba itu dan memukulnya, lalu menyuruhnya pergi dengan tangan hampa. Kemudian ia menyuruh lagi seorang hamba lain kepada mereka. Orang ini mereka pukul sampai luka kepalanya dan sangat mereka permalukan. Lalu ia menyuruh seorang lagi seorang hamba lain, dan orang ini mereka bunuh. Demikian juga dengan banyak lagi yang lain, ada yang mereka pukul dan ada yang mereka bunuh. Masih ada satu orang lagi padanya, yakni anaknya yang terkasih. Akhirnya ia menyuruh dia kepada mereka, katanya: Anakku akan mereka segani. Tetapi penggarap-penggarap itu berkata seorang kepada yang lain: Inilah ahli waris, mari kita bunuh dia, maka warisan ini menjadi milik kita. Mereka menangkapnya dan membunuhnya, lalu melemparkannya ke luar kebun anggur itu. Sekarang apa yang akan dilakukan oleh tuan kebun anggur itu? Ia akan datang dan membinasakan penggarap-penggarap itu, lalu mempercayakan kebun anggur itu kepada orang-orang lain. Tidak pernahkah kamu membaca nas ini: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi baru penjuru: Hal ini terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita.” Lalu mereka berusaha untuk menangkap Yesus, karena tahu bahwa merekalah yang dimaksudkan-Nya dengan perumpamaan itu. Tetapi mereka takut kepada orang banyak. Mereka membiarkan Dia, lalu mereka pergi. (Mrk 12:1-12)

Bacaan Pertama: Tb 1:3;2:1a-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 112:1-6

Tidak seorang pun dapat menyangkal betapa kaya perumpamaan-perumpamaan Yesus itu. Cerita-cerita singkat yang diceritakan-Nya sekitar 2.000 tahun lalu, tetap saja berbicara kepada kita pada zaman modern ini – tetap aktual dan dengan begitu banyak cara!

VINEYARDPada tingkatan tertentu, “kebun anggur” dalam perumpamaan ini melambangkan umat Allah (lihat Yes 5:1-7), dan para penggarap melambangkan orang-orang yang dalam kedosaan mereka menolak Tuhan dan perintah-perintah-Nya – malah termasuk mereka yang menyalibkan Yesus. Pada tingkatan yang lain, kitalah “kebun anggur” itu, dan para penggarap adalah kekuatan-kekuatan di dalam diri kita – dosa, Iblis, sikap dan perilaku keduniawian kita – yang mencoba untuk merampas kita dari rahmat yang telah dicurahkan Allah ke dalam kehidupan kita.

vineyards_ranch2Apabila kita membaca perumpamaan ini sekilas lintas, maka baris-baris terakhir dapat cukup menakutkan, teristimewa jika kita mengingat-ingat dosa kita dan berbagai cara yang berbeda-beda bagaimana kita tidak/kurang memenuhi syarat dan tidak mentaati perintah-perintah Allah. Biar bagaimana pun juga siapa sih yang ingin menderita karena kutuk Allah? Namun apabila kita membaca lagi perumpamaan Yesus itu, maka akhir dari perumpamaan itu dapat menjadi pendorong dan penyemangat, hal-hal yang membebaskan, yang mungkin tidak pernah kita dengar sebelumnya. Kita adalah “kebun anggur” Yesus! Allah begitu mengasihi kita sehingga Dia mengutus Putera-Nya sendiri untuk membebaskan kita dari para lawan yang memusuhi kita! (bdk. Yoh 3:16).

Yesus minta kepada kita untuk melihat dengan mendalam ke dalam hati kita masing-masing dan memperkenankan-Nya untuk melanjutkan karya salib-Nya. Allah ingin mentransformasikan diri kita. Dia ingin tidak ada sesuatu pun yang menghalangi diri-Nya untuk memeluk diri kita dengan penuh kasih kebapaan. Ia sungguh ingin memerdekakan kita dari setiap musuh yang senantiasa mau menjatuhkan anak-anak-Nya.

ROHHULKUDUSMarilah kita senantiasa menyediakan saat-saat hening di mana kita dapat menghaturkan permohonan kepada Roh Kudus untuk mengungkapkan dosa-dosa kita agar – dalam semangat penyesalan dan pertobatan – kita dapat membawa dosa-dosa itu ke bawah kaki salib Kristus. Di situlah, di hadapan sang Tersalib, dosa-dosa kita diampuni. Pada saat-saat kita, menghadapi godaan, maka senantiasa baik jika kita berdoa agar darah Yesus menyelimuti kita dan melindungi kita. Dengan demikian, marilah kita memenuhi hati dan pikiran kita dengan sabda-Nya yang ada dalam Kitab Suci agar mampu menolak godaan Iblis dan/atau roh-roh jahat dengan menggunakan kebenaran Allah sebagaimana dilakukan oleh Yesus ketika digoda di padang gurun (lihat Luk 4:4,8,12). Kita pun tidak boleh lupa untuk selalu memohon kepada Roh Kudus untuk menolong kita mengenali dan melawan janji-janji palsu dari berbagai falsafah duniawi, termasuk “pepesan kosong” yang sering diajarkan oleh sebagian dari mereka yang menamakan diri “motivator”, yang tidak jarang bermunculan akhir-akhir ini.

DOA: Yesus, aku ingin salib-Mu menumpas habis sehabis-habisnya segala sesuatu yang dapat merampas diriku dari kehadiran-Mu. Engkau adalah sang Pembebas umat manusia, termasuk diriku. Engkau adalah pengharapanku dan kekuatanku. Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku pribadi. Aku sungguh mengasihi-Mu dan berketetapan hati untuk mengasihi-Mu lebih dan lebih lagi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 12:1-12), bacalah tulisan yang berjudul “PARA PENGGARAP KEBUN ANGGUR YANG JAHAT” (bacaan tanggal 3-6-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2013. Bacalah juga tulisan yang berjudul “SEMOGA KELAK KITA DIDAPATI OLEH-NYA SEBAGAI PENGGARAP KEBUN ANGGUR YANG BAIK” (bacaan tanggal 4-6-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 4-6-12 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 22 Mei 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KESATUAN ANTARA BAPA SURGAWI DAN ANAK-NYA

KESATUAN ANTARA BAPA SURGAWI DAN ANAK-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PASKAH IV – 21 April 2013)

HARI MINGGU PANGGILAN

TRITUNGGAL MAHAKUDUS - 1Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku. Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar daripada siapa pun, dan seorang pun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa. Aku dan Bapa adalah satu.” (Yoh 10:27-30)

Bacaan Pertama: Kis 13:14.43-52; Mazmur Tanggapan: Mzm 100:2-3,5; Bacaan Kedua: Why 7:9.14-17

“Aku dan Bapa adalah satu” (Yoh 10:30). Ini adalah sebuah pernyataan yang bukan main-main dan sangat mendalam! Kita dapat membayangkan bagaimana reaksi yang bermunculan di kalangan para pendengar sabda Yesus ini. Bagaimana tanggapan mereka terhadap kebenaran hakiki ini! Sejumlah orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus yang mengklaim diri-Nya setara dengan Allah (Yoh 10:31; bdk. Yoh 5:18). Di lain pihak barangkali ada juga orang-orang yang begitu terkejut sehingga mereka mulai merenungkan apa yang baru saja dikatakan dan dilakukan oleh Yesus dalam terang klaim tersebut.

Tidak ada seorang pun dari para pendengar Yesus yang dapat membayangkan untuk berjumpa dengan Allah sendiri secara “muka ketemu muka” (face-to-face). Namun Yesus memegang janji akan terjalinnya relasi yang akan berdampak atas kehidupan mereka selamanya. Dia berkata kepada Filipus murid-Nya: “Siapa saja yang telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa” (Yoh 14:9). Dalam setiap hal yang dikatakan-Nya dan dilakukan-Nya, Yesus menyatakan satu lagi dimensi Allah – Bapa yang ada di surga, Bapa kita semua.

gb-7Setiap kali Yesus menyembuhkan penyakit seorang manusia, Dia menyatakan/ mengungkapkan bela-rasa Bapa surgawi (Mat 9:2-8; Mrk 10:46-52; Luk 7:11-15). Yesus mengungkapkan belas-kasih atau kerahiman Bapa surgawi yang tak mengenal batas ketika Dia mengampuni perempuan yang tertangkap basah sedang berzinah (Yoh 8:1-11) and menawarkan air hidup kepada seorang perempuan Samaria (Yoh 4:1-42). Yesus menunjukkan kuat-kuat Allah yang mahadahsyat ketika Dia membuat tenang amukan angin topan yang mengancam dan membuat takut para murid-Nya ketika mereka berada dalam perahu (Mrk 4:36-41). Yesus berada di atas hukum alam, ketika dia berjalan di atas air mendekati perahu yang ditumpangi para murid-Nya dan sedang terombang-ambing oleh gelombang karena angin sakal (Mat 14:25-27). Ia juga melewati tembok kokoh ketika menemui para murid setelah kebangkitan-Nya (Yoh 20:19). Yesus menunjukkan kebenaran Allah ketika Dia membalikkan meja-meja para penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati dalam Bait Allah di Yerusalem (Mrk 11:15-17). Yesus juga senantiasa mengungkapkan hikmat Allah selagi Dia menjawab/menanggapi upaya-upaya para pemimpin agama Yahudi untuk menjebak diri-Nya (Mat 22:23-32; Mrk 12:14-17; Luk 5:20-25).

Dengan kebenaran-kebenaran indah demikian di hadapan kita, kita dapat merasa nyaman. Melalui Yesus, tidak hanya kita dapat mengenal Bapa surgawi secara pribadi, kita dapat menjadi milik-Nya pribadi – sekarang dan selamanya. Marilah sekarang kita mendengarkan janji Yesus berikut ini: “Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar daripada siapa pun, dan seorang pun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa” (Yoh 10:29).

DOA: Bapa surgawi, kami membuka hati kami bagi-Mu. Ajarlah kami apa artinya menjadi anak-anak-Mu, yang dilindungi dan dipelihara serta dirawat oleh Putera-Mu terkasih, sang “Gembala yang Baik”. Tolonglah kami agar senantiasa dekat dengan Yesus karena memang Dialah satu-satunya andalan kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 10:27-30), bacalah tulisan yang berjudul “GEMBALA BAIK YANG SETIA” (bacaan tanggal 21-4-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2013.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan yang berjudul “AKU DAN BAPA ADALAH SATU” untuk bacaan tanggal 1-5-12)

Cilandak, 12 April 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BAPA YANG SUNGGUH MENGASIHI

BAPA YANG SUNGGUH MENGASIHI

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PRAPASKAH IV – 10 Maret 2013)

ANAK YANG HILANG - 01Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa, semuanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Lalu bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya, “Orang ini menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka. Lalu Ia menyampaikan perumpamaan ini kepada mereka, “Ada seseorang mempunyai dua anak laki-laki. Kata yang bungsu kepada ayahnya: Bapa, berikanlah kepadaku bagian harta milik yang menjadi hakku. Lalu ayahnya membagi-bagikan harta kekayaan itu di antara mereka. Beberapa hari kemudian anak bungsu itu menjual seluruh bagiannya itu lalu pergi ke negeri yang jauh. Di sana ia memboroskan harta miliknya itu dengan hidup berfoya-foya. Setelah dihabiskannya semuanya, timbullah bencana kelaparan di dalam negeri itu dan ia pun mulai melarat. Lalu ia pergi dan bekerja pada seorang warga negeri itu. Orang itu menyuruhnya ke ladang untuk menjaga babinya. Lalu ia ingin mengisi perutnya dengan ampas yang menjadi makanan babi itu, tetapi tidak seorang pun yang memberikan sesuatu kepadanya. Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebut anak bapa; jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa. Lalu bangkitlah ia dan pergi kepada bapanya. Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia. Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebut anak bapa. Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa kemari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. Ambillah anak lembu yang gemuk itu, sembelihlah dan marilah kita makan dan bersukacita. Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali. Lalu mulailah mereka bersukaria. Tetapi anaknya yang sulung berada di ladang dan ketika ia pulang dan dekat ke rumah, ia mendengar suara musik dan nyanyian tari-tarian. Lalu ia memanggil salah seorang hamba dan bertanya kepadanya apa arti semuanya itu. Jawab hamba itu: Adikmu telah kembali dan ayahmu telah menyembelih anak lembu yang gemuk, karena ia mendapatnya kembali dalam keadaan sehat. Anak sulung itu marah ia tidak mau masuk. Lalu ayahnya keluar dan membujuknya. Tetapi ia menjawab ayahnya, Lihatlah, telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku. Tetapi baru saja datang anak bapa yang telah memboroskan harta kekayaan bapa bersama-sama dengan pelacur-pelacur, maka bapa menyembelih anak lembu yang gemuk itu untuk dia. Kata ayahnya kepadanya: Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala milikku adalah milikmu. Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali.” (Luk 15:1-3,11-32)

Bacaan Pertama: Yos 5:9a,10-12; Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2-7; Bacaan Kedua: 2Kor 5:17-21

PERUMPAMAAN - ANAK YANG HILANG - 5 OLEH CARAVAGGIOCerita yang ada dalam bacaan Injil hari ini telah lama dikenal sebagai “perumpamaan anak yang hilang”. Sebenarnya cerita ini dimaksudkan bagi para pembacanya untuk memfokuskan perhatian mereka pada sang ayah/bapak, bukan pada salah satu anak bapak itu, dan barangkali secara lebih akurat lagi dinamakan “perumpamaan seorang bapak yang mengasihi”.

Latar belakang cerita ini adalah bahwa para ahli Taurat dan orang Farisi marah ketika melihat Yesus yang mengasosiasikan dirinya dengan orang-orang yang dikenal sebagai para pendosa. Yesus menceritakan perumpamaan ini untuk mengungkapkan ide bahwa Allah menghendaki keselamatan bagi para pendosa dan berhasrat untuk mengampuni dosa-dosa mereka. Yesus ingin meyakinkan para pendengar-Nya tentang kebenaran bahwa Allah adalah ‘seorang’ Bapa yang mengasihi dan memahami anak-anak-Nya.

Yesus menggambarkan anak yang bungsu begitu rupa realistisnya sehingga berabad-abad lamanya gambaran inilah yang menarik perhatian kebanyakan orang. Gambaran ini adalah tipikal bagi seorang anak muda yang ingin menjadi independen, bebas dari kontrol orangtua, untuk pergi dalam suatu petualangan pribadi … untuk melihat dan melakukan semua hal yang tidak pernah merupakan bagian dari kehidupannya di dalam rumahnya. Akibat-akibat dari petualangan seperti ini juga tipikal: yang bersangkutan menemukan nilai sesungguhnya dari uang, kebutuhan akan teman-teman sejati, pentingnya sense of belonging.

Kita tahu apa dan bagaimana yang dirasakan oleh si anak bungsu. Kita tahu bahwa apa artinya hidup sendiri, merasa bersalah, dirundung rasa takut. Setelah dia menghambur-hamburkan uangnya, semua teman-temannya (hanya pada waktu senang saja) meninggalkan dirinya. Si anak bungsu ditinggalkan sendirian dengan kesusahan hidupnya, rasa bersalahnya dan ketakutannya. Dia mulai menyadari betapa buruk kesalahan yang telah dibuatnya ketika meninggalkan ayahnya.

Anak yang sulung dalam perumpamaan ini juga seorang pribadi yang dapat kita pahami. Ketika dia pulang dari kerjanya di ladang milik ayahnya, dia marah ketika mengetahui berlangsungnya pesta bagi saudara laki-lakinya “yang tak berguna” itu. Sekilas lintas kelihatannya si anak sulung ini seakan dikhianati, namun sedikit ruang saja bagi kita untuk membenarkan sikap dan perilakunya yang dipenuhi kecemburuan. Seyogianya dia merasa berbahagia karena adiknya sudah menyadari kekeliruan yang dibuatnya. Marilah kita lihat lagi protes si anak sulung kepada ayahnya: “Lihatlah, telah bertahun-tahun aku melayani bapa dan belum pernah aku melanggar perintah bapa, tetapi kepadaku belum pernah bapa memberikan seekor anak kambing untuk bersukacita dengan sahabat-sahabatku” (Luk 15:29). Terasa bahwa anak sulung itu memandang bekerja untuk ayahnya sebagai suatu bentuk perbudakan dan ketaatannya adalah ketaatan seorang pekerja bayaran, bukan karena relasi antara anak dan ayahnya. Jelas kelihatan bahwa dia melakukan pekerjaan dengan ekspektasi pada suatu hari dia dapat memperoleh ganjaran besar dari ayahnya. Pekerjaannya dimotivasi oleh kepentingan diri, bukan cintakasih. Si anak sulung ini dapat dikatakan mewakilkan para ahli Taurat dan orang Farisi yang mengeluh dan memprotes perlakuan penuh belas kasih Yesus terhadap para pendosa.

Apabila kita sudah mengetahui kebenaran tentang kedua anak laki-laki bersaudara itu, maka kita dapat mengambil kesimpulan bahwa sesungguhnya cerita ini dimaksudkan bagi kita untuk memfokuskan perhatian kita pada sang ayah agar dapat dapat memperoleh sesuatu gambaran tentang Allah. Ketika si anak bungsu mengungkapkan ide untuk meninggalkan rumah, sang ayah sungguh merasa susah-hati. Ia tahu bahaya-bahaya apa saja yang akan dihadapi anaknya. Namun pada saat bersamaan dia juga memahami kebutuhan anaknya dan adalah hak si anak untuk menjadi seorang bebas. Keputusan sang ayah untuk tidak mau mendominir atau mengontrol anaknya pada saat itu dalam kehidupan anaknya karena dia sadar bahwa cintakasih untuk menjadi sejati harus diberikan secara bebas, artinya tidak dapat dipaksakan. Jadi, ketika si anak “ngotot” untuk memperoleh kebebasannya, sang ayah dalam kebaikannya yang penuh kasih dengan hati sedih memberikan persetujuannya.

PARABLE OF THE LOST SONSetelah si anak bungsu meninggalkan rumah, sang ayah berharap bahwa pengalaman dalam petualangannya akan mengajar dia tentang nilai-nilai sejati, karena kelihatannya kata-kata sang ayah tidak didengarkan. Setiap hari sang ayah naik ke atas bukit dan melihat jalan yang membentang sejauh matanya memandang dengan pengharapan bahwa siapa tahu dia akan melihat dari kejauhan anak bungsunya yang sedang berjalan pulang. Pada suatu hari pengharapannya dipenuhi. Dia berlari menjemput anak bungsunya, lalu dia merangkulnya dan dengan ketidaksabaran yang mengungkapkan emosinya secara mendalam. Bahkan dia tidak memberi kesempatan kepada anaknya menyelesaikan permohonan ampunnya yang sudah dihafalkan baik-baik olehnya. Si anak bungsu mengetahui bahwa dia pantas mendengar ayahnya mengucapkan kata-kata keras, namun apa yang didengarnya adalah penerimaan penuh kasih dari sang ayah. Sang ayah memang tidak menikmati penghinaan atas diri anak-Nya sendiri.

O, betapa besar kasih sang ayah bagi si anak bungsu. Namun kasihnya kepada anaknya yang sulung pun tidak berkurang sedikitpun. Sang ayah menolak untuk dipaksa berpihak kepada salah satu anaknya. Dua-dua anaknya telah menunjukkan kesalahan mereka, namun sang ayah tidak pernah berhenti mengasihi kedua-duanya. Dengan segala kelemahan dan kekurangan masing-masing, sang ayah mengasihi kedua-duanya karena mereka memang adalah anak-anaknya.

Dalam artian tertentu, kita adalah seperti si anak bungsu, namun kita juga seperti si anak sulung. Di mana pun kita berdiri, Yesus ingin agar kita mengetahui bahwa Allah memberikan kepada kita kebebasan karena Dia ingin suatu kasih yang diberikan secara bebas, tidak dipaksakan. Yesus juga menginginkan kita mengetahui bahwa bahkan setelah melakukan kesalahan yang paling tolol dan dosa-dosa yang paling tragis sekali pun, Allah akan tetap mencari kita dengan tangan-tangan terbuka agar dapat mengambil kita kembali sebagai anak-anak-Nya. Allah kita adalah sungguh-sungguh ‘seorang’ Bapa yang mengasihi dan memahami kita, anak-anak-Nya.

DOA: Bapa surgawi, aku berterima kasih penuh syukur kepada-Mu karena kasih-Mu kepadaku. Jagalah agar aku tidak akan pernah melupakan belas kasih-Mu terhadap diriku atau kuat-kuasa-Mu untuk membuat diriku menjadi ciptaan baru. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 15:1-3,11-32), bacalah tulisan yang berjudul “RAHMAT DAN BELAS KASIH ALLAH” (bacaan tanggal 10-3-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2013.
Bacalah juga tulisan “KASIH BAPA SURGAWI YANG BEGITU BESAR” (bacaan tanggal 2-3-13) dalam situs/blog SANG SABDA dan juga tulisan yang berjudul “PERKENANKANLAH DIA MERANGKUL ANDA ERAT-ERAT DENGAN BELAS KASIH-NYA” (bacaan tanggal 2-3-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 3 Maret 2013 [HARI MINGGU PRAPASKAH III]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DUA SIKAP YANG SANGAT BERBEDA

DUA SIKAP YANG SANGAT BERBEDA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Prapaskah – Sabtu, 9 Maret 2013)

Pharisee_and_Publican_1061-171 (1)

Kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus menyampaikan perumpamaan ini. “Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai. Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezina dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku. Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul dirinya dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah sedangkan orang lain itu tidak. Sebab siapa saja yang meninggikan diri, ia akan direndahkan dan siapa saja yang merendahkan diri, ia akan ditinggikan. (Luk 18:9-14)

Bacaan Pertama: Hos 6:6:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-4,18-21

Sangat pentinglah bagi kita semua untuk memahami bahwa kita diselamatkan oleh rahmat melalui iman. Hal ini adalah perbedaan fundamental antara orang Farisi dan si pemungut cukai dalam perumpamaan Yesus ini. Orang Farisi itu percaya bahwa dirinya akan dibenarkan oleh hasil kerjanya sendiri, sementara si pemungut cukai menyadari bahwa dirinya adalah seorang pendosa dan bahwa pengharapan satu-satunya bagi dirinya adalah belas kasih Allah. Dua sikap yang saling berbeda ini sungguh dapat membawa dampak atas cara hidup kita.

Apabila kita mengikuti jalan pemikiran orang Farisi itu, kita akan secara konstan mengingatkan Allah betapa keras kita telah bekerja untuk menyenangkan hati-Nya; dengan demikian kita akan mengharapkan Dia untuk memberikan ganjaran kepada kita untuk segala jerih payah kita itu. Perhatikanlah dari bacaan Injil di atas, bahwa orang Farisi itu samasekali tidak mohon belas kasih (kerahiman) Allah bagi dirinya. Di lain pihak, jika kita mengikuti teladan yang diberikan oleh si pemungut cukai, maka kita akan menyadari bahwa kita tidak dapat memperoleh kebenaran berdasarkan kekuatan kita sendiri. Kita hanya dibenarkan oleh rahmat Allah melalui kebaikan-kebaikan Yesus. Fondasi kita akan terjamin karena Yesus telah membayar harga dosa kita, dan kita tidak akan merasakan seakan kita harus membuat deals ini-itu dengan Allah.

Apabila kita dapat memperoleh kebenaran berdasarkan kebaikan kita sendiri, maka Yesus tidak perlu mati di kayu salib. Akan tetapi, karena kita sudah hidup terpisah dari Allah gara-gara dosa dan tidak mempu menyelamatkan diri sendiri, maka Allah mengaruniakan Putera-Nya yang tunggal guna membayar denda-denda atas dosa kita. Hanya melalui penderitaan sengsara-Nya yang sempurna, maka kita dapat diampuni dan dibawa kembali ke hadapan hadirat Allah.

Bagaimana kiranya kebenaran-kebenaran sedemikian membawa dampak atas tindak-tanduk kita dalam kehidupan kita? Pengetahuan bahwa Yesus telah memenangkan keselamatan kita dapat meringankan kita dari banyak beban. Kita telah diterima oleh Bapa surgawi apabila kita berpaling kepada-Nya dan menggantungkan diri pada rahmat-Nya guna membebaskan kita dari dosa. Hal ini sangatlah berbeda dengan upaya keras kita untuk memenangkan surga dengan menggunakan segala kekuatan kita sendiri, di mana setiap kegagalan berakibat pada rasa takut dihukum, dan setiap keberhasilan mengakibatkan kesombongan dan pembenaran diri sendiri. Terpujilah Allah bahwa setiap kali kita mempraktekkan iman kita berkaitan dengan keselamatan kita, maka kita kian bertumbuh dalam rasa percaya dan lebih mentaati Allah lagi, dan kita pun menjadi lebih penuh semangat untuk mensyeringkan Kabar Baik dengan setiap orang yang kita jumpai. Oleh karena itu marilah kita meneladan si pemungut cukai dan terus membuat belas kasih (kerahiman) Allah dan kasih-Nya sebagai fondasi hidup kita.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, melalui kematian dan kebangkitan-Mu Engkau telah menebus kami bagi Allah. Kasih-Mu yang tanpa batas bagi kami memang melampaui segala ukuran. Tolonglah kami agar dapat hidup dalam iman pada hari dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Hos 6:1-6), bacalah tulisan yang berjudul “MENANGGAPI KASIH ALLAH KEPADA KITA” (bacaan tanggal 9-3-13), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2013.

Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 18:9-14), bacalah tulisan yang berjudul “YA ALLAH, KASIHANILAH AKU ORANG YANG BERDOSA INI” (bacaan tanggal 17-3-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM. Bacalah juga tulisan yang berjudul “ORANG YANG DIBENARKAN ALLAH” (bacaan tanggal 17-3-12) dalam situs/blog SANG SABDA.

Cilandak, 3 Maret 2012 [HARI MINGGU PRAPASKAH III]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SELASA PEKAN KETIGA PRAPASKA

SELASA PEKAN KETIGA PRAPASKA

(Renungan Harian Dalam Masa Prapaska dari Henri J.M. Nouwen)

HENRI J.M. NOUWEN - 03Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku. Bukankah engkaupun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya. Maka Bapa-Ku yang di surga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan seganap hatimu. (Mat 18:32-35)

Kemurahan hati Allah bukanlah sesuatu yang mengawang atau tak berwujud melainkan suatu sikap nyata dan tertentu dari Allah yang mendatangi kita. Dalam Yesus Kristus kita melihat kepenuhan kemurahan hati Allah. Kepada kita, yang dari jurang kehancuran mendambakan uluran tangan yang mau menyentuh, lengan yang mau merangkul, bibir yang mau mencium, kata yang menyapa dalam keadaan hidup kita yang nyata, dan hati yang tidak gentar akan ketakutan dan kecemasan kita; kepada kita yang mengalami penderitaan yang belum, tidak dan tidak akan pernah dialami oleh orang lain; kepada kita yang selalu menunggu seseorang yang berani datang mendekat, seseorang yang dapat sungguh-sungguh berkata “aku menyertaimu” telah datang. Yesus Kristus, yang adalah Allah-beserta-kita, telah datang kepada kita dalam kebebasan cinta, tidak karena butuh mengalami keadaan manusiawi kita, tetapi dengan bebas memilih melaksanakannya karena cinta.

* * * * *

Dalam Yesus Kristus hamba yang taat, yang tidak mempertahankan kesetaraan ilahi-Nya tetapi mengosongkan diri dan menjadi seperti kita, Allah telah mewahyukan kepenuhan kemurahan hati-Nya. Dia adalah Immanuel, Allah-beserta-kita. Panggilan mulia yang telah kita terima ialah untuk menghayati kehidupan yang murah hati …

Selama kita hidup di dunia ini, hidup kita sebagai orang Kristiani harus ditandai oleh kemurahan hati. Tetapi kita tidak dapat mengakhiri permenungan kita mengenai kemurahan hati tanpa menyadari bahwa hidup dengan semangat itu bukanlah tujuan yang terakhir. Sesungguhnya kita hanya dapat menghayati hidup seperti itu sampai pada kepenuhannya kalau kita mengetahui bahwa hidup itu menunjuk pada sesuatu yang mengatasinya. Kita mengetahui bahwa Dia yang telah mengosongkan diri dan merendahkan diri-Nya telah ditinggikan dan telah diberi nama yang mengatasi segala nama, dan kita juga mengetahui bahwa Dia meninggalkan kita untuk menyiapkan tempat bagi kita. Di situ penderitaan akan dikalahkan dan kemurahan hati tidak lagi diperlukan. Itulah langit dan bumi baru yang kita harapkan dengan penantian penuh kesabaran. Santo Yohanes menggambarkannya dalam Kitab Wahyu sebagai berikut:

Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan laut pun tidak ada lagi. Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari surga, dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya. Lalu aku mendengar suara yang nyaring dari tahta itu berkata, “Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka. Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu.” (Why 21:1-4)

Inilah penglihatan yang menuntun kita. Penglihatan ini membuat kita saling berbagi beban satu sama lain, memanggul salib kita bersama-sama dan bersatu untuk membangun dunia yang lebih baik. Penglihatan ini menyingkirkan keputusasaan dari kematian dan kepahitan dari penderitaan, serta membuka cakrawala kehidupan yang baru. Penglihatan ini juga memberikan kepada kita daya untuk menampakkan wujud awal dunia baru itu di tengah keruwetan hidup ini. Penglihatan ini berhubungan dengan dunia di masa depan. Tetapi ini bukanlah suatu khayalan. Masa depan itu sudah mulai dan telah dinyatakan setiap kali ada orang asing diberi tumpangan, orang telanjang diberi pakaian, orang sakit dan para tawanan dikunjungi dan penindasan dikalahkan. Melalui tindakan-tindakan seperti itu wujud awal langit baru dan bumi baru dapat terlihat.

DOA: Tuhan, bantulah aku agar dapat mengarahkan mataku kepada-Mu. Engkau mengejawantahkan cinta ilahi, Engkau menyatakan kemurahan hati Bapa yang tanpa batas, Engkau menampakkan kekudusan Bapa. Dalam diri-Mu menjadi nyatalah kebaikan, kelembutan, kemurahan dan pengampunan. Kepada-Mu kuserahkan seluruh diriku. Buatlah agar aku pun murah hati, tidak ragu-ragu dan tanggung-tanggung memberikan diri. Amin.

Diambil dari Henri J.M. Nouwen, TUHAN TUNTUNLAH AKU – Renungan Harian Dalam Masa Prapaska, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1994, hal. 68-70.

Cilandak, 5 Maret 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 127 other followers