Posts from the ‘PERUMPAMAAN-PERUMPAMAAN YESUS’ Category

BIJI GANDUM YANG JATUH KE DALAM TANAH DAN MATI

BIJI GANDUM YANG JATUH KE DALAM TANAH DAN MATI

(Bacaan Injil Misa Kudus, PESTA S. LAURENSIUS, DIAKON-MARTIR – Sabtu, 10 Agustus 2013)

YESUS DI GEREJA ORTODOX SIRIASesungguhnya Aku berkata berkata kepadamu: Jika biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah. Siapa saja yang mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi siapa saja yang membenci nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal. Siapa saja yang melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situ pun pelayan-Ku akan berada. Siapa saja yang melayani Aku, ia akan dihormati Bapa. (Yoh 12:24-26)

Bacaan Pertama: 2Kor 9:6-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 112:1-2,5-9

“Jika biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah” (Yoh 12:24).

Imaji tentang biji gandum tentunya berlaku untuk Santo Laurensius, seorang diakon Gereja awal yang dibunuh sebagai martir Kristus pada masa pengejaran Kaisar Valerian pada tahun 258 M. Memang ayat ini berlaku untuk para martir, namun tidak kurang berlakunya bagi kita semua.

Catatan-catatan tradisi abad ke-4 menceritakan tentang tanggapan berani dari Santo Laurensius terhadap permintaan antek-antek Valerian untuk memberikan harta-kekayaan Gereja. Keesokan harinya, Laurensius muncul dengan banyak sekali orang miskin dan cacat dari kota Roma – semua yang dilayani oleh diakon Laurensius. Di hadapan para pejabat kekaisaran, Laurensius menyatakan: “Inilah harta-kekayaan Gereja”. Untuk “keberanian” (kekurangajaran?) ini, Laurensius dibakar hidup-hidup.

Jika darah para martir merupakan benih bagi Gereja, di mana tempat kita sekarang? Tidak terlalu banyak dari kita akan dipanggil oleh-Nya untuk menumpahkan darah sebagai martir Kristus. Dengan demikian, bagaimana kita dapat membantu Gereja untuk berakar dan bertumbuh? Jawabannya: Dengan sukarela merangkul “kemartiran” kecil-kecilan sebagai bagian dari kehidupan kita sehari-hari.

RANIERO CANTALAMESSAP. Raniero Cantalamessa OFMCap. sekali menjelaskan begini: “Seorang ibu … pulang ke rumah dan memulai harinya yang terdiri dari seribu hal-hal kecil. Hidupnya praktis direduksi menjadi remah-remah, tetapi apa yang dilakukannya bukanlah hal yang kecil: Itu adalah Ekaristi bersama Yesus! Seorang biarawati … di pagi hari pergi untuk melakukan tugas pekerjaannya sehari-hari di tengah-tengah orang-orang tua, orang-orang sakit, dan anak-anak. Hidupnya juga kelihatan dapat dipecah-pecah oleh banyak hal yang kecil sehingga pada malam hari seakan tidak berbekas – terasa seperti satu hari lagi yang sia-sia. Akan tetapi hidup sang biarawati juga adalah Ekaristi; dia telah “menyelamatkan” hidupnya sendiri … Tidak ada seorang pun boleh mengatakan: “Apa gunanya hidupku ini? Kita ada di dunia untuk alasan yang paling agung, yaitu menjadi suatu kurban yang hidup. Artinya menjadi Ekaristi bersama Yesus.”

Apabila kita memilih untuk menyangkal atau mengesampingkan diri kita sendiri untuk menolong orang-orang lain, atau ketika kita memutuskan untuk berdiri tegak demi Injil Yesus Kristus, maka kita pun dapat dikatakan bergabung dengan para martir seperti Laurensius pada waktu kita ikut ambil bagian dalam kurban Yesus bagi dunia. Kita sungguh dapat berbuah bagi Kerajaan Allah!

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku agar mau dan mampu untuk memilih mengikuti Engkau dengan sepenuh hidupku. Aku ingin untuk mengosongkan diriku sendiri agar dengan demikian aku dapat melayani orang-orang lain. Aku mau berbuah banyak bagi Kerajaan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (2Kor 9:6-10), bacalah tulisan yang berjudul “ALLAH MENGASIHI ORANG YANG MEMBERI DENGAN SUKACITA” (bacaan tanggal 10-8-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-08 PERMENUNGAN ALKITABAIAH AGUSTUS 2013.

Cilandak, 3 Agustus 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KAYA DI HADAPAN ALLAH

KAYA DI HADAPAN ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XVIII [Tahun C], 4 Agustus 2013)

www-St-Takla-org--Foolrchman

Seorang dari orang banyak itu berkata kepada Yesus, “Guru, katakanlah kepada saudaraku supaya ia berbagi warisan dengan aku.” Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Saudara, siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas kamu?” Kata-Nya lagi kepada mereka, “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung pada kekayaannya itu.” Kemudian Ia menyampaikan kepada mereka suatu perumpamaan, “Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya. Ia bertanya dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku. Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan akan menyimpan di dalamnya semua gandum dan barang-barangku. Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, engkau memiliki banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah! Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau yang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil daripadamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti? Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah” (Luk 12:13-21).

Bacaan Pertama: Pkh 1:2; 2:21-23; Mazmur Tanggapan: Mzm 90:3-6.12-14.17; Bacaan Kedua: Kol 3:1-5.9-11

Salah satu kerinduan yang dirasakan setiap orang adalah hasrat untuk mendapatkan rasa aman. Apabila kita melihat ke masa depan dan melihat tua-usia sedang mendatangi dengan langkah dan derap yang tetap sebagai suatu keniscayaan, dan takut barangkali tidak akan ada keamanan untuk hari tua kita, sungguh merupakan pikiran yang menakutkan. Bukanlah suatu surprise bahwa cepat atau lambat kita menghadapi kebutuhan akan perencanaan masa depan kita, mencoba untuk meyakinkan diri kita bahwa kita akan mempunyai rasa aman, teristimewa pada saat kita telah melampaui usia yang masih mampu melakukan pekerjaan dengan penghasilan yang sepadan.

Yesus memahami sekali kerinduan kita akan rasa aman, dan dalam perumpamaan “orang kaya yang bodoh” Ia ingin menempatkan kerinduan kita itu dalam perspektif yang layak dan pantas. Orang kaya dalam perumpamaan itu bisa saja seorang petani jagung di Iowa atau petani gandum di Kansas. Dapat saja orang kaya ini adalah pengusaha kaya di mana saja, termasuk di negara kita tercinta, Indonesia. Dengan terus menimbun persediaan hasil pertaniannya, orang kaya ini dapat memberi selamat kepada dirinya sendiri, karena kerja kerasnya berhasil dan rasa amannya pun terasa pasti. Dia telah membuktikan bahwa dia adalah CEO yang efektif, organisator yang hebat, seorang perencana profesional, seorang pribadi yang sangat dihormati dalam komunitasnya. Tetapi …… Allah menyebutnya sebagai seorang bodoh! Sekali lagi: BODOH !!!

PERUMPAMAAN TTG ORANG KAYA YANG BODOHApakah sebenarnya yang dilakukan oleh orang kaya itu? Tidak ada tanda-tanda bahwa dirinya adalah seorang yang tidak jujur atau dia telah menipu orang lain atau memperlakukan orang lain dengan tidak adil. Jadi, apakah kesalahan orang kaya ini? Jawabannya: Dia serakah … tamak! Sebelum mengajar dengan menggunakan perumpamaan ini, Yesus telah mengingatkan para pendengarnya: “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung pada kekayaannya itu” (Luk 12:15). Ketamakan menggiring seseorang untuk menggantungkan diri sepenuhnya pada kepemilikan materiil guna mendapatkan rasa aman bagi dirinya. Inilah kesalahan dari “self-made man” yang mengira bahwa dirinyalah yang mengendalikan masa depannya. Dia menggantungkan diri pada dirinya sendiri guna mencapai rasa aman. Hal ini membuat dirinya “lupa akan Allah” walaupun bisa saja dia pergi ke gereja secara teratur setiap hari Minggu. Dia menginginkan keamanan di masa depan, namun dia tidak memandang cukup jauh ke masa depan yang melampaui kenyataan kematian yang tidak dapat dihindari, kepada suatu keamanan yang hanya dapat diberikan oleh Allah sendiri.

Ketamakan seperti ini tidak terbatas pada orang-orang kaya. Kita semua dapat bersalah karena ketamakan. Masyarakat kita (terutama di kota-kota besar seperti Jakarta) adalah sedemikian sehingga terasa hampir memaksa kita untuk terus sibuk dengan kebutuhan akan uang dan kepemilikan materiil, tidak peduli bagaimana pun kita melawan pengaruhnya. Perjuangan kita sehari-hari agar tetap survive sebagai orang benar di mata Allah dalam masyarakat yang begitu korup dan tidak berkeadilan sungguh tidak mudah. Tentu saja kita harus bekerja, menyimpan uang dslb., namun sangatlah salah apabila kita berpikir bahwa kepemilikan harta akan memberikan kepada kita rasa aman sejati yang sungguh kita butuhkan. Berapa besar pun kekayaan yang berhasil kita tumpuk, akan tiba waktunya Allah berkata kepada kita: “Pada malam ini nyawamu akan diambil”. The moment of truth telah tiba! Apa rasa aman apa yang kita miliki pada saat seperti itu?

Tulisan Santo Paulus dalam Bacaan Kedua mengisi ajaran dalam Injil. Santo Paulus mengatakan, “Pikirkanlah hal-hal yang di atas, bukan yang di bumi” (Kol 3:2). Sebuah nasihat yang baik, namun bagaimana kita mempraktekkan hal ini di hadapan kebutuhan sehari-hari? Apakah kita harus berhenti mencari nafkah dan menabung untuk masa depan? Itu bukan jawabannya. Sikap kitalah yang membuat perbedaan. Ingatlah bahwa orang kaya dalam perumpamaan itu samasekali telah melupakan Allah dan makna sesungguhnya dari kehidupan. Satu-satunya tujuan yang ingin dicapai oleh si orang kaya adalah rasa aman dalam kehidupan di dunia ini. Dia tidak melihat cukup jauh ke masa depan untuk rasa amannya, yaitu kehidupan kekal.

Yesus ingin agar kita menanggapi naluri kita untuk memperoleh rasa aman. Namun Ia ingin agar kita menggunakannya untuk bekerja mencapai hidup kekal dengan menjadi “kaya di hadapan Allah”. Yesus ingin agar kita berdiri di hadapan Allah dan mengakui bahwa kita miskin dalam arti bahwa setiap hal baik berasal dari Dia, bahwa tanpa Allah kita praktis bangkrut secara spiritual. Salah satu hal yang paling penting tentang doa adalah mengatakan kepada Allah: “Aku tidak dapat berjalan sendiri. Tanpa Engkau, aku tidak dapat melakukan apa pun. Tolonglah aku.” Inilah yang kita ungkapkan dalam Doa Syukur Agung: “Sungguh kuduslah Engkau, ya Bapa, dan sungguh wajarlah bahwa segala ciptaan memuji Dikau, sebab Engkaulah yang memberi hidup dan menyucikan segala sesuatu ……” (DSA III). Kita harus benar-benar memaknai kata-kata dalam doa syukur agung ini. Kita harus memohon kepada Allah agar memimpin kita melalui hidup sementara ini ke hidup yang kekal. Jadi, pada waktu menghadapi maut kita pun dapat mempunyai keyakinan bahwa Allah akan berkata, “Engkau sungguh bijaksana, karena engkau bertumbuh menjadi kaya di hadapanku.” Inilah yang dinamakan keamanan kekal-abadi.

DOA: Roh Kudus Allah, datanglah memasuki hidup kami dengan lebih penuh lagi. Ajarlah kami untuk menghargai kekayaan kerajaan Allah dan kemudian memilikinya. Jagalah agar kami senantiasa bekerja untuk mencapai hidup kekal dengan menjadi kaya dihadapan Allah. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 12:13-21), bacalah tulisan yang berjudul “BERJAGA-JAGALAH DAN WASPADALAH TERHADAP SEGALA KETAMAKAN” (bacaan tanggal 4-8-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2013.
Bacalah juga tulisan yang berjudul “ORANG KAYA YANG BODOH” (bacaan tanggal 19-10-09) dalam situs/blog SANG SABDA.

Cilandak, 30 Juli 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DUA PERUMPAMAAN YESUS TENTANG KERAJAAN SURGA

DUA PERUMPAMAAN YESUS TENTANG KERAJAAN SURGA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVII – Kamis, 1 Agustus 2013)

(Peringatan S. Alfonsus Maria de Liguori, Uskup-Pujangga Gereja – pendiri Tarekat CSsR – Redemptoris)

PARABLE OF THE NET - 01“Demikianlah pula hal Kerajaan Surga itu seumpama jala yang ditebarkan di laut lalu mengumpulkan berbagai jenis ikan. Setelah penuh, jala itu diseret orang ke pantai, lalu duduklah mereka dan mengumpulkan ikan yang baik ke dalam tempayan dan ikan yang tidak baik mereka buang. Demikianlah juga pada akhir zaman: Malaikat-malaikat akan datang memisahkan orang jahat dari orang benar, lalu mencampakkan orang jahat ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertak gigi.

Mengertikan kamu semuanya itu?” Mereka menjawab, “Ya, kami mengerti.” Lalu berkatalah Yesus kepada mereka, “Karena itu, setiap ahli Taurat yang menerima pelajaran tentang Kerajaan Surga itu seumpama tuan rumah yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya.”
Setelah Yesus selesai menceritakan perumpamaan-perumpamaan itu, Ia pun pergi dari situ. (Mat 13:47-53)

Bacaan Pertama: Kel 40:16-21,34-38 atau Rm 8:1-4; Mazmur Tanggapan: Mzm 84:3-6,8,11

Dua perumpamaan Yesus dalam Bacaan Injil hari ini merupakan perumpamaan-perumpamaan terakhir yang disajikan oleh Matius dalam serangkaian ajaran tentang Kerajaan Allah (Mat 13:1-52). Dalam perumpamaan ini, Yesus mengajar tentang akhir zaman di mana yang baik akan dipisahkan dari yang jahat. Implikasinya adalah bahwa yang baik dan yang buruk akan ada bersama dalam Gereja atau komunitas iman sampai dilakukannya suatu pekerjaan pemisahan yang bersifat final. Para pengikut Yesus berpartisipasi dalam pekerjaan memajukan Kerajaan Surga. Mereka menjadi para “penjala manusia” yang berarti “penginjil” (lihat Mat 4:19). Kendati demikian, pekerjaan final untuk memisah-misahkan diserahkan kepada Allah (dilambangkan dalam perumpamaan ini oleh para malaikat). Orang-orang jahat akan dihakimi dan akan dicampakkan ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertak gigi (lihat Mat 13:49-50). Mereka akan mengalami rasa penyesalan yang tak henti-hentinya.

Catatan Matius perihal kata-kata Yesus sehubungan dengan “tuan rumah yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya” (Mat 13:52), digunakan sebagai ikhtisar ajaran-ajaran-Nya tentang Kerajaan Surga seperti termuat dalam berbagai perumpamaan-Nya. Para pengikut Yesus, khususnya mereka yang berfungsi sebagai para pemimpin Gereja “yang menerima pelajaran tentang Kerajaan Surga” (Mat 13:52) harus melakukan discernment manakah yang mempunyai nilai di antara harta yang baru dan yang lama. Istilah-istilah “baru” dan “lama” dapat ditafsirkan secara simbolis sebagai acuan kepada perjanjian baru dan perjanjian lama.

Sang tuan rumah adalah seorang ahli dalam memahami nilai dari hartanya yang baru maupun nilai dari hartanya yang lama. Dengan cara serupa, setiap ahli Taurat (yang memperoleh pendidikan dalam hal-hal yang spiritual) juga harus ahli dalam membeda-bedakan nilai spiritual dari ajaran perjanjian baru maupun perjanjian lama. Yesus datang untuk menggenapi hukum Taurat dan kitab-kitab para nabi dan bukan untuk meniadakannya (Mat 5:17). Jadi seorang ahli Taurat yang bijak harus melakukan discernment bagaimana Yesus – sang Penggenap hukum Taurat – adalah jawaban terhadap berbagai nubuat yang terdapat dalam Kitab Suci Ibrani.

Ketika Yesus selesai mengajar dengan perumpamaan-perumpamaan itu, Ia pun pergi dari situ (Mat 13:53) dan melanjutkan misi-Nya untuk mengajar, terus bekerja mempersiapkan orang banyak untuk menerima Dia dalam penderitaan sengsara-Nya, kematian-Nya dan kebangkitan-Nya. Dia meninggalkan para murid-Nya yang akan lebih memahami tantangan yang harus dihadapi oleh mereka yang akan merangkul Kerajaan Allah.

DOA: Tuhan Yesus, semoga Roh Kudus-Mu memberikan kepada kami hikmat untuk merangkul Kerajaan Allah dengan lebih erat lagi. Terima kasih, ya Tuhan Yesus. Terpujilah nama-Mu selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:47-53), bacalah tulisan-tulisan yang berjudul “PERUMPAMAAN TENTANG JALA BESAR” (bacaan tanggal 28-7-11) dan “SEUMPAMA JALA YANG DITEBARKAN DI LAUT” (bacaan tanggal 2-8-12), keduanya dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 30 Juli 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HARTA YANG TAK TERNILAI DI MATA YESUS

HARTA YANG TAK TERNILAI DI MATA YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Ignasius dr. Loyola, Imam – Rabu, 31 Juli 2013)

PERUMPAMAAN MUTIARA - MAT 13“Hal Kerajaan Surga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamnya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu.
Demikian pula halnya Kerajaan Surga itu seumpama seorang seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, ia pun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu.” (Mat 13:44-46)

Bacaan Pertama: Kel 34:29-35; Mazmur Tanggapan: Mzm 99:5-7,9

Adalah suatu praktek umum dalam dunia kuno bagi orang-orang untuk menyembunyikan barang-barang berharga milik mereka di dalam tanah. Teristimewa dalam masa-masa peperangan, keluarga-keluarga seringkali “menanam” barang-barang berharga mereka sebelum mereka meninggalkan tempat mereka untuk melarikan diri (mengungsi) ke tempat lain, dengan harapan dapat kembali ke tempat tinggal mereka dan mengambil kembali harta mereka yang ditanam itu, apabila keadaan sudah pulih kembali. Yesus tahu bahwa para pendengar-Nya familiar dengan praktek-praktek yang disebutkan di atas. Dengan demikian Ia mengetahui bahwa para pendengar-Nya itu akan memahami sukacita besar dan excitement yang dirasakan seseorang yang menemukan harta-benda yang telah lama terpendam itu.

Lagi-lagi, dalam menggunakan ilustrasi “mutiara”, Yesus yakin bahwa para pendengar-Nya mengetahui bahwa mutiara dinilai sebagai benda yang sangat berharga dan relatif mahal. Di samping nilainya secara moneter, orang-orang juga melihat keindahannya. Dalam menggunakan contoh-contoh ini, Yesus mengilustrasikan nilai dan keindahan Kerajaan Allah yang luarbiasa tingginya, di samping itu juga Dia mengilustrasikan sukacita besar yang dialami seseorang karena mengenal dan mengalami kasih Allah.

Sekarang, baiklah kita (anda dan saya) membayangkan diri kita sebagai harta kekayaan atau mutiara yang tak ternilai harganya itu. Bayangkan Allah sangat menghargai kita karena Dia tahu sekali nilai kita yang sebenarnya dan Ia ingin memiliki diri kita. Bagi banyak dari kita, hal ini dapat menjadi sulit. Kita dapat memandang diri kita sebagai barang “BS” …… damaged goods …… “nggak mulus lagi” …… karena dosa-dosa dan segala kesalahan dan kegagalan dalam mematuhi perintah-perintah-Nya. Kita dapat merasa bahwa kita telah melakukan sesuatu yang menjadikan diri kita tidak pantas, bahkan tak dapat diampuni lagi, pokoknya …… penuh noda!

Tetapi kebenarannya adalah bahwa Yesus sudah sedemikian lama mencari-cari kita; Dia ingin berjumpa dengan kita. Dia telah memberikan segalanya, diri-Nya sendiri, bahkan sampai mati kayu salib, agar kita dapat menjadi anak-anak Bapa-Nya dan bersama-sama dengan-Nya menjadi pewaris-pewaris harta kekayaan Kerajaan Allah. O, kita sungguh mempunyai “seorang” Allah luarbiasa. “Dialah kebaikan yang sempurna, segenap kebaikan, seluruhnya baik, kebaikan yang benar dan tertinggi. Dialah satu-satunya yang baik, penyayang, pemurah, manis dan lembut ……” (Santo Fransiskus dari Assisi, Anggaran Dasar Tanpa Bulla, XXIII:9). Di mata-Nya kita adalah anak-anak-Nya yang sangat dikasihi-Nya, sangat berharga, bahkan bisa jadi jauh lebih berharga daripada “harta” dan “mutiara” dalam dua perumpamaan di atas.

Saudari dan Saudaraku, marilah kita membuat diri kita agar dapat dijumpai oleh Yesus pada hari ini. Janganlah kita menyembunyikan dosa-dosa kita, termasuk kesombongan kita. Janganlah kita mencoba-coba untuk membuat diri kita kelihatan baik di mata-Nya. Dia telah memanggil kita masing-masing sebagai harta-kekayaan-Nya sendiri. Dia rindu untuk datang masuk ke dalam hati kita dan membuat kita masing-masing ikut ambil bagian dalam kehidupan-Nya – suatu kehidupan sukacita, penuh damai-sejahtera dan pelayanan bagi orang-orang lain. Marilah kita menyambut Dia dalam doa kita masing-masing.

DOA: Tuhan Yesus, aku menyerahkan diriku sepenuhnya kepada-Mu, agar dengan demikian aku menjadi harta kesayangan-Mu. Aku adalah milik-Mu sepenuhnya! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kel 34:29-35), bacalah tulisan dengan judul “POLA PENGALAMAN SEORANG HAMBA ALLAH YANG SEJATI” (bacaan tanggal 31-7-13) dalam situs/blog http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2013.

Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:44-46), bacalah juga tulisan yang berjudul “KITA ADALAH HARTA YANG SANGAT BERNILAI DI MATA YESUS” (bacaan tanggal 1-8-12) dalam situs/blog SANG SABDA.

Cilandak, 29 Juli 2013 [Peringatan S. Marta]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KITA ADALAH KEDUA-DUANYA: GANDUM DAN LALANG

KITA ADALAH KEDUA-DUANYA: GANDUM DAN LALANG

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVII – Selasa, 30 Juli 2013)

gandum dan ilalang - mat 13 24-43Sesudah itu Yesus meninggalkan orang banyak itu, lalu pulang. Murid-murid-Nya datang dan berkata kepada-Nya, “Jelaskanlah kepada kami perumpamaan tentang lalang di ladang itu.” Ia menjawab, “Orang yang menaburkan benih baik ialah Anak Manusia; ladang ialah dunia. Benih yang baik itu anak-anak Kerajaan sedangkan lalang anak-anak si jahat. Musuh yang menaburkan benih lalang ialah Iblis. Waktu menuai ialah akhir zaman dan para penuai itu malaikat. Jadi, seperti lalang itu dikumpulkan dan dibakar dalam api, demikian juga pada akhir zaman. Anak Manusia akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan mengumpulkan segala sesuatu yang menyebabkan orang berdosa dan semua orang yang melakukan kejahatan dari dalam Kerajaan-Nya. Semuanya akan dicampakkan ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi. Pada waktu itulah orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka. Siapa yang bertelinga, hendaklah ia mendengar!” (Mat 13:36-43)

Bacaan Pertama: Kel 33:7-11;34:5-9,28; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:6-13

Banyak dari perumpamaan-perumpamaan Yesus tentang Kerajaan Surga menyangkut persoalan “kebaikan dan kejahatan”, dan bagaimana Allah ingin agar keduanya (baik dan jahat) ada dalam kehidupan kita, namun pada akhirnya harus dipisahkan. Dalam perumpamaan ini gandum harus diselamatkan karena satu-satunya yang bernilai. Di lain pihak lalang harus dicabut dan dibakar. Waktu panen/tuain adalah waktu untuk mengambil keputusan, waktu penghakiman, pada waktu mana yang baik harus dipisahkan dari yang jahat.

Dapatkah kita memandang masalah ini secara sempit: gandum itu adalah orang-orang baik, sedangkan lalang adalah orang-orang jahat? Apakah pandangan ini sejalan dengan kebanyakan pengalaman kita? Apakah memang kita menemukan orang-orang yang sepenuhnya baik dan di sisi lain orang-orang yang sepenuhnya jahat? Atau, apakah kita melihat dalam diri kita masing-masing, bahwa kita adalah kedua-duanya: gandum dan lalang, baik dan jahat? Kalau memang demikian halnya, maka cepat atau lambat – sebelum kita menikmati kebahagiaan sejati dan ganjaran surgawi – maka semua lalang atau apa saja yang jahat harus dicabut dari diri kita dan kemudian dibakar habis!

PERUMPAMAAN GANDUM DAN ILALANG MAT 13 24-43Sayangnya, memang kita masing-masing bertumbuh sebagai tumbuhan mendua, tumbuhan ganda yang terdiri dari gandum yang baik yang bercampur dengan lalang yang jahat. Lalang harus dibakar sebelum gandum itu menjadi cukup baik agar dapat disimpan dalam lumbung kebahagiaan di masa mendatang. Itulah sebabnya mengapa Allah memperkenankan kita menderita, itulah sebabnya mengapa kita harus banyak berkorban, menyangkal diri kita, dan memperbaiki diri dari berbagai kesalahan yang kita buat, termasuk kelalaian kita untuk mematuhi perintah-perintah-Nya. Lalang bertumbuh dan berkembang-biak dalam kebun atau ladang yang tak terurus. Jadi, lalang yang dimaksudkan oleh Yesus dalam perumpamaan ini adalah kejahatan-kejahatan yang bertumbuh-kembang dalam sebuah jiwa yang tak terurus, tak karuan arahnya.

Satu lagi realitas yang kita lihat: banyak dari kita, sayangnya tidak menyelesaikan pekerjaan memotong lalang sebelum Allah memanggil kita dan berkata: “Waktumu sudah habis!” Itulah sebabnya kita percaya akan keberadaan purgatorio – api pencucian – sebuah “tempat” pemurnian. Kita berharap akan adanya sebuah cara di mana sisa lalang yang belum dicabut dapat dibakar habis, agar hanya gandum yang baik sajalah yang tertinggal. Kebahagiaan sempurna adalah bagi orang-orang yang sempurna, sehingga dengan demikian tidak tersisa apa pun yang jahat.

Jadi, ada kebutuhan yang mendesak bagi kita untuk melakukan kebaikan; agar kita dapat mengalami proses pemurnian itu sebanyak mungkin selama kita masih hidup di dunia. Allah menciptakan kita untuk saling menolong. Orang-orang lain juga adalah anak-anak Allah, jadi mereka adalah saudari-saudara kita yang harus ditolong ketika mereka mengalami kesusahan. “Model” sempurna bagaimana caranya melakukan kebaikan adalah Yesus Kristus sendiri, Saudara tua kita semua. Dengan demikian janganlah kita pernah lupa – teristimewa pada waktu kita berada dalam posisi nyaman – untuk bermurah hati, lemah-lembut, dan tidak “mikiran diri sendiri melulu”. Janganlah kita lupa juga untuk mendoakan orang-orang lain …… termasuk mereka yang telah mendzolimi diri kita. Hidup yang terselamatkan lewat perbuatan baik kita boleh jadi adalah hidup kita sendiri!

DOA: Tuhan Yesus, selagi kami berjalan kembali kepada-Mu, sembuhkanlah hati kami dan perbaharuilah hidup kami. Terpujilah nama-Mu selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kel 33:7-11;34:5-9,28), bacalah tulisan yang berjudul “SUATU PERTUKARAN YANG INDAH” (bacaan tanggal 30-7-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2013.

Cilandak, 25 Juli 2013 [Pesta S. Yakobus, Rasul]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KERAJAAN ALLAH TERBUKA BAGI SEMUA ORANG

KERAJAAN ALLAH TERBUKA BAGI SEMUA ORANG

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan Santa Marta – Senin, 29 Juli 2013)

PERUMPAMAAN RAGI - MAT 13Yesus menyampaikan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya, “Hal Kerajaan Surga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya. Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar daripada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya.”

Ia menceritakan perumpamaan ini juga kepada mereka, “Hal Kerajaan Surga itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu sebanyak empat puluh liter sampai mengembang seluruhnya.”

Semuanya itu disampaikan Yesus kepada orang banyak dalam perumpamaan, dan tanpa perumpamaan suatu pun tidak disampaikan-Nya kepada mereka, supaya digenapi firman yang disampaikan oleh nabi, “Aku mau membuka mulut-Ku menyampaikan perumpamaan, Aku mau mengucapkan hal yang tersembunyi sejak dunia dijadikan.” (Mat 13:31-35)

Bacaan Pertama: Kel 32:15-24,30-34; Mazmur Tanggapan: Mzm 106:19-23

Yesus memilih perumpamaan-perumpamaan-Nya dengan hati-hati sekali. Ia ingin orang banyak yang mengikuti-Nya ke mana-mana itu agar memahami pesan-Nya yang hakiki, yaitu bahwa “Kerajaan Allah adalah untuk setiap orang!” Kerajaan Allah bukanlah hanya untuk orang-orang Farisi atau anggota Sanhedrin, orang-orang berkuasa dalam sistem pemerintahan dan agama Yahudi. Kerajaan Allah yang diinaugurasikan oleh Yesus itu dimaksudkan untuk setiap orang yang ada. Tidak ada seorang pun yang terlalu kecil atau tidak signifikan di mata Allah.

Matius menempatkan perumpamaan-perumpamaan Yesus pada pusat Injilnya. Hal itu dibuatnya bukan tanpa maksud. Puncak Injil, kebenaran yang dinyatakan oleh Yesus, bersandar pada satu hal ini, yaitu bahwa Kerajaan Allah terbuka bagi semua orang. Kerajaan itu dimulai di salah sudut dunia yang tidak dikenal, di tengah sebuah bangsa kecil, pada titik waktu dalam sejarah di mana belum dikenal apa yang dinamakan komunikasi gloval. Ini adalah sebuah misteri, tanda heran dari karya Allah di tengah umat-Nya. Namun apa yang pada awalnya kelihatan tidak berarti dapat memberikan hasil yang besar dan sungguh luar biasa.

PERUMPAMAAN BIJI SESAWI - 1Dalam rumah atau tempat pekerjaan kita yang kadang-kadang terasa sibuk dengan urusan dunia, dalam tugas-tugas rutin kita, kita tidak boleh memandang rendah apa yang dapat dilakukan oleh Tuhan melalui diri kita selagi kita terus menanggapi dengan penuh ketaatan bisikan suara-Nya. Kebanyakan dari kita, dalam hati, memandang diri kita sebagai orang-orang biasa saja, dan apa yang kita lakukan relatif tidak signifikan dalam keseluruhan rancangan besar kekal-abadi dari Allah. Namun bagi Allah kita sangatlah berharga, pribadi lepas pribadi, dan kita masing-masing merupakan bagian hakiki dari tubuh Kristus. Dengan mempersamakan signifikansi dengan pengakuan, kita jatuh ke dalam perangkap pemikiran bahwa apa yang kita lakukan tidaklah begitu penting.

Ini bukanlah cara Allah berpikir! Bayangkan saja bagaimana Dia melayani dalam Kerajaan-Nya di atas bumi, melalui seorang tukang kayu miskin dari sebuah negeri kecil di Timur Tengah. Bayangkanlah juga bagaimana Dia membentuk orang-orang kudus besar, a.l. Santa Teresa dari Lisieux, seorang biarawati kontemplatif yang tersembunyi dalam sebuah biara Karmelites; atau bagaimana Dia membuat mercu suar kasih-Nya menyinari dunia lewat Bunda Teresa dari Kalkuta, seorang biarawati yang berusia tidak muda lagi. Banyak orang kudus pada kenyataannya berasal dari keluarga-keluarga sederhana yang menaruh kepercayaan mereka kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat mereka. Oleh karena itu kita pun harus bertekun dan membiarkan biji sesawi dan ragi dalam dan dari hidup kita bertumbuh dan menjadi daya transformasi yang dahsyat dalam memajukan Kerajaan-Nya.

DOA: Ya Tuhanku dan Allahku, tidak ada pribadi yang terlalu kecil bagi-Mu untuk dibentuk. Pertumbuhan hidup-Mu dalam diriku dan Kerajaan-Mu di atas bumi adalah seluruhnya karya-Mu. Berikanlah rahmat-Mu kepadaku agar aku percaya bahwa Engkau senantiasa bekerja, bahkan pada saat-saat aku tidak dapat melihatnya sendiri. Berikanlah juga kepadaku iman dan visi untuk percaya bahwa apabila aku senantiasa taat kepada-Mu, maka tidak ada yang tidak dapat Kaulakukan atas diriku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kel 32:15-24,30-34), bacalah tulisan yang berjudul “ALLAH MENGETAHUI BETAPA RENTANNYA MANUSIA TERHADAP DOSA” (bacaan tanggal 29-7-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2013.

Cilandak, 25 Juli 2013 [Pesta S. Yakobus, Rasul]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DAPATKAH DAN MAUKAH KITA BERDOA SEPERTI YESUS?

DAPATKAH DAN MAUKAH KITA BERDOA SEPERTI YESUS?

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XVII [Tahun C] – 28 Juli 2013

LUKE 11 5-13Pada suatu kali Yesus berdoa di suatu tempat. Ketika Ia selesai berdoa, berkatalah seorang dari murid-murid-Nya kepada-Nya, “Tuhan, ajarlah kami berdoa, sama seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya. Jawab Yesus kepada mereka, “Apabila kamu berdoa, katakanlah: Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; datanglah Kerajaan-Mu. Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan dosa-dosa kami sebab kami pun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan.” Lalu kata-Nya kepada mereka, “Jika seorang di antara kamu mempunyai seorang sahabat dan pada tengah malam pergi kepadanya dan berkata kepadanya: Sahabat, pinjamkanlah kepadaku tiga roti, sebab seorang sahabatku yang sedang berada dalam perjalanan singgah ke rumahku dan aku tidak mempunyai apa-apa untuk dihidangkan kepadanya; masakan ia yang di dalam rumah itu akan menjawab: Jangan mengganggu aku, pintu sudah tertutup dan aku serta anak-anakku sudah tidur; aku tidak dapat bangun dan memberikannya kepadamu. Aku berkata kepadamu: Sekalipun ia tidak mau bangun dan memberikannya kepadanya karena orang itu adalah sahabatnya, namun karena sikapnya yang tidak malu itu, ia akan bangun juga dan memberikan kepadanya apa yang diperlukannya. Karena itu, Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetuk, baginya pintu dibukakan. Bapak manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan, akan memberikan ular kepada anaknya itu sebagai ganti ikan? Atau, jika ia minta telur, akan memberikan kepadanya kalajengking? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di surga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” (Luk 11:1-13)

Bacaan Pertama: Kej 18:20-33; Mazmur Tanggapan: Mzm 138:1-3,6-8; Bacaan Kedua: Kol 2:12-14

Bacaan Pertama pada hari ini menunjukkan bahwa Allah tidak pernah menyembunyikan diri dari kita atau meninggalkan kita karena merasa ragu terhadap relasi-Nya dengan kita. Roh Allah bekerja dalam hati Abraham, memberikan kepadanya pandangan sekilas berkaitan dengan bela rasa-Nya dan hasrat-Nya untuk mengampuni dan menyelamatkan. Selagi kita membaca tentang Abraham yang melakukan tawar-menawar dengan Allah berkaitan dengan kehidupan para pendosa di Sodom dan Gomora, kita merasakan seruan dari seorang anak yang menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada “seorang” Bapa yang baik, yang berbela rasa dan senantiasa memperhatikan umat-Nya (Kej 18:23-32).

Benih kepercayaan antara seorang anak dan Bapa-nya ini digemakan oleh sang pemazmur, yang mendeklarasikan kasih kekal-abadi dari Allah. Ia mengetahui bahwa Allah begitu menghargai ciptaan-Nya sehingga Dia tidak akan meninggalkan karya tangan-Nya: “Jika aku berada dalam kesesakan, Engkau mempertahankan hidupku; terhadap amarah musuhku Engkau mengulurkan tangan-Mu, dan tangan kanan-Mu menyelamatkan aku” (Mzm 138:7)

DOA PRIBADIYesus menyapa Allah sebagai “Bapa” (Luk 11:2). Bagi para murid-Nya, ini adalah suatu momen yang sangat berharga, ketika mereka melihat “hati yang mengasihi” dari seorang Anak yang sempurna, yang secara total terbuka bagi hasrat-hasrat Bapa-Nya dan secara total berkomitmen bahwa rencana penyelamatan Bapa dapat diwujudkan di atas bumi ini. Ketika Yesus berdoa “dikuduskan nama-Mu” (Luk 11:2), Dia mengakui dan memuji kekudusan kodrat Bapa-Nya.

Apabila kita berdoa seperti ini, maka maksudnya bukanlah bahwa doa kita membuat Allah menjadi kudus, melainkan kekudusan-Nya akan memancar melalui diri kita dan selagi hal itu terjadi, maka Kerajaan-Nya pun akan dibangun di atas bumi ini. Isu sentral dari kehidupan Yesus adalah menghasrati didirikannya Kerajaan Allah di muka bumi ini. Kita pun dapat ikut ambil bagian dalam hasrat ini dan melanjutkan kerinduan kita akan tercapainya hal ini secara lengkap sampai saat Yesus datang kembali dalam kemuliaan.

Sekarang masalahnya adalah, apakah kita dapat keluar atau “membebaskan diri” dari kesibukan-kesibukan kita sehari-hari yang mementingkan diri sendiri? Kita semua tentu sudah hafal “Doa Bapa Kami” yang diajarkan oleh Yesus sendiri ini, namun dapatkah kita berdoa seperti Dia? Tentu saja dapat! Dalam bacaan kedua hari ini kita membaca Santo Paulus mengatakan bahwa berkat pembaptisan ke dalam kematian dan kebangkitan Yesus, kita telah keluar dari kematian spiritual dan dibuat hidup kembali dalam Yesus (Kol 2:12-13). Dengan demikian kita dapat berpikir, mengasihi dan menghasrati dengan hati-Nya. Yesus adalah “roti” yang kita butuhkan untuk makanan kita setiap hari. Yesus adalah anugerah Bapa surgawi agar kita tetap eksis.

Dengan demikian, marilah kita menaruh kepercayaan kepada Bapa surgawi, bahwa Dia akan melakukan dalam diri kita hal-hal baik yang jauh melampaui apa saja yang dapat kita bayangkan selagi kita berdoa seturut pola yang diajarkan oleh Yesus itu.

DOA: Bapa surgawi, aku memuji-Mu karena Engkau telah memberikan kepadaku karunia agung, yaitu Roh Kudus-Mu sendiri. Kuatkanlah rasa percayaku kepada-Mu, teristimewa pada saat-saat aku mengalami kesulitan dan penderitaan, agar dengan demikian aku dapat melanjutkan penyerahan diriku sepenuhnya kepada karya Roh Kudus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 11:1-13), bacalah tulisan yang berjudul “BERDOA BAGI ORANG-ORANG LAIN” (bacaan tanggal 28-7-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2013.

Cilandak, 24 Juli 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 135 other followers