Posts from the ‘PERUMPAMAAN-PERUMPAMAAN YESUS’ Category

SATU-SATUNYA ORANG YANG QUALIFIED

SATU-SATUNYA ORANG YANG QUALIFIED

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Yohanes Krisostomos, Uskup-Pujangga Gereja – Jumat, 13 September 2013)

YESUS SEORANG PEMIMPIN YANG TEGASYesus menyampaikan lagi suatu perumpamaan kepada mereka, “Dapatkah orang buta menuntun orang buta? Bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lubang? Seorang murid tidak lebih daripada gurunya, tetapi siapa saja yang telah tamat pelajarannya akan sama dengan gurunya. Mengapa engkau melihat serpihan kayu di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Saudara, biarlah aku mengeluarkan serpihan kayu yang ada di dalam matamu, padahal balok yang di dalam matamu tidak engkau lihat? Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan serpihan kayu itu dari mata saudaramu.” (Luk 6:39-42)

Bacaan Pertama: 1Tim 1:1-2,12-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 16:1,2,5,7-8,11

Terutama dalam masa ketidakpastian seperti sekarang ini, tidak mengherankanlah apabila jumlah “guru-guru kebijaksanaan”, “guru-guru spiritual” dan teristimewa para “motivator” menjadi semakin banyak saja yang beroperasi dalam masyarakat kita untuk menawarkan jasa-jasa “baik” dan mengajarkan “kiat-kiat” menuju “sukses” kehidupan, menurut versi mereka masing-masing tentunya. Di Pulau Dewata, misalnya, ada seorang guru spiritual yang berasal dari India yang mengajar dan mempunyai sekelompok murid.

Di lain pihak, ada juga iklan-iklan di TV dan media massa lainnya dan tulisan-tulisan dalam berbagai surat-kabar yang mencoba mempengaruhi kita, tidak hanya berkaitan dengan barang/jasa apa yang harus kita beli melainkan juga bagaimana seharusnya kita berpikir, memilih dan berelasi satu sama lain. Dalam keadaan hiruk-pikuk seperti ini siapakah yang dapat kita percayai? Di manakah kita dapat menemukan bimbingan spiritual yang sejati? Guru manakah yang sungguh qualified? Yesus melontarkan sebuah pertanyaan sangat relevan yang harus membuat kita berpikir dan menanggapinya: “Dapatkah orang buta menuntun orang buta? Bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lubang?” (Luk 6:39).

PAULUS - 2Dalam hal ini Santo Paulus memberikan sebuah petunjuk penting. Ia menyebut dirinya sendiri sebagai seorang “rasul Kristus Yesus menurut perintah Allah” (1Tim 1:1), namun kualifikasi dirinya yang ditulisnya untuk pelayanannya sebagai rasul mengejutkan juga. Bukannya suatu “litani” dari berbagai gelar akademis yang berhasil diraihnya dan juga berbagai capaian lainnya selama hidupnya, Paulus memberi gelar kepada dirinya sebagai seorang penghujat, penganiaya dan ganas yang telah menerima belas kasih dan rahmat dari Tuhan (1Tim 1:13-14). Sebagaimana Paulus melihatnya, satu-satunya orang yang qualified sebagai seorang pengurus (steward) dari belas kasih Allah adalah orang yang telah mengalami belas kasih itu. Pengalaman akan Allah/Yesus (experience of God/Jesus) memang merupakan suatu hal yang bersifat hakiki dalam hidup Kekristenan yang sejati. Lihatlah riwayat hidup para kudus seperti S. Augustinus dari Hippo [354-430], S. Fransiskus dari Assisi [1181-1226], S. Bonaventura [1221-1274], S. Thomas More [1478-1535], S. Ignatius dari Loyola [1491-1556], S. Teresa dari Lisieux [1873-1897] dan begitu banyak lagi para kudus lainnya.

Hal-hal yang membuat orang banyak merasa tertarik kepada Paulus adalah dedikasinya, kejujurannya, integritasnya, dan kemampuannya untuk menjadi segalanya bagi semua orang. Bukankah pembimbing spiritual seperti ini yang menarik dan sungguh kita butuhkan? Bukannya mereka yang pergi ke sana ke mari hanya untuk tebar pesona dan membingungkan kita dengan rupa-rupa gelar akademis serta janji-janji yang tidak realistis, atau menyerang orang-orang lain dengan kata-kata tajam yang tidak membangun. Kita ditarik untuk mendekat kepada mereka yang berjalan bersama-sama dalam perjalanan kita, mereka yang menyemangati dan mendorong kita untuk bertekun, dan mengatakan kepada kita bagaimana sang Gembala Baik telah mendampingi mereka melalui “lembah-lembah kekelaman” (lihat Mzm 23). Pemberian semangat dan dorongan positif ini lebih meyakinkan lagi, teristimewa jika Allah juga belum selesai dengan perkara mereka sendiri, namun mereka sangat menyadari bahwa Allah belum menyerah dalam perkara mereka dan terus menyembuhkan, mengampuni dan mentransformasikan mereka dalam Kristus. Inilah orang-orang yang dinamakan oleh P. Henri Nouwen sebagai wounded healer, “penyembuh yang terluka”.

Orang-orang seperti ini tidak akan banyak berbicara mengenai kelemahan-kelemahan kita (“serpihan kayu”; Luk 6:41-42). Sebaliknya, mereka akan banyak syering tentang bagaimana Allah sedang bekerja mengampuni dan mengatasi “balok-balok” dalam hidup mereka. Mereka tidak menunjuk-nunjuk dosa kita, melainkan dengan lemah lembut berbicara berkaitan dengan hal-hal yang berada di bawah permukaan, yaitu rasa haus dan lapar kita akan Allah, kerinduan kita akan kasih-Nya yang tanpa syarat, pengampunan-Nya, serta suatu awal yang baru dan menyegarkan. Orang-orang itu adalah pemimpin-pemimpin sejati dalam Tubuh Kristus, dan pemimpin-pemimpin seperti itulah yang menjadi murid-murid Kristus “yang sama dengan Gurunya” (lihat Luk 6:40).

DOA: Bapa surgawi, Engkau adalah Allah yang berbelas kasih. Kami telah menerima bela-rasa dan pengampunan dari-Mu. Buatlah kami kembali menjadi seturut citra-Mu. Apabila kami tergoda untuk mengkritisi atau menghakimi orang-orang lain, bukalah mata kami agar mampu melihat kedalaman cintakasih-Mu – bagi mereka dan bagi kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 5:39-42), bacalah tulisan yang berjudul “AJARAN TENTANG KASIH” (bacaan tanggal 13-9-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpdress.com; kategori: 13-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2013.

Cilandak, 9 September 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ADA BIAYA YANG HARUS DIPERHITUNGKAN

ADA BIAYA YANG HARUS DIPERHITUNGKAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXIII [Tahun C] – 8 September 2013)

BIAYA PEMURIDANPada suatu kali ada banyak orang berduyun-duyun mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. Sambil berpaling Ia berkata kepada mereka, “Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapaknya, ibunya, istrinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Siapa saja yang tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.

Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, apakah uangnya cukup untuk menyelesaikan pekerjaan itu? Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia, dan berkata: Orang ini mulai mendirikan, tetapi ia tidak sanggup menyelesaikannya.

Atau, raja manakah yang kalian mau pergi berperang melawan raja lain tidak duduk dahulu untuk mempertimbangkan apakah dengan sepuluh ribu orang ia sanggup menghadapi lawan yang mendatanginya dengan dua puluh ribu orang? Jikalau tidak, ia akan mengirim utusan selama musuh itu masih jauh untuk menanyakan syarat-syarat perdamaian. Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku. (Luk 14:25-33)

Bacaan Pertama: KebSal 9:13-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 90:3-6.12-14.17; Bacaan Kedua: Flm 9b-10.12-17

Membenci bapaknya dan ibunya, istrinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan (Luk 14:26)? Bukankah Yesus mewartakan tentang kasih, bukan kebencian?

Tentu saja, Yesus memanggil kita untuk mengasihi setiap orang seperti dilakukan-Nya, termasuk keluarga kita sendiri. Namun Yesus juga dengan jelas menyatakan bahwa “keterikatan atau kelekatan” – walaupun pada keluarga sendiri – tidak dapat menjadi preseden terhadap pengabdian penuh kepada diri-Nya. Seperti telah dicontohkan oleh kehidupan banyak orang kudus, menjadi murid Yesus kadang kala menghadapi oposisi dari seorang atau lebih anggota keluarga. Apabila hal seperti ini terjadi, kita harus menolak tekanan-tekanan dari pihak yang menentang, walaupun kita harus terus mengasihi mereka.

Yesus menjanjikan kehidupan kekal dalam kerajaan-Nya bagi mereka yang mengikuti-Nya. Namun apabila kita ingin berhasil dalam mengikuti Yesus sampai akhir, kita harus secara realistis melakukan “kalkulasi biaya”. Bayangkanlah kita sedang membangun sebuah rumah idaman. Berapa biaya konstruksinya? Apakah kita memiliki berbagai sumber daya yang diperlukan? Kemungkinan besar kita harus mengorbankan pengeluaran-pengeluaran uang untuk keperluan lain, agar tersedia cukup dana untuk pembangunan rumah idaman kita ini. Penyusunan anggaran dan pengawasannya menjadi hakiki dalam hal ini, kalau kita tidak ingin keteteran dalam hal keuangan sehingga jangan-jangan memaksa kita untuk menjual rumah yang baru setengah jadi, dengan merugi lagi!

Croke_Transition_Team2Kita mengetahui pentingnya perencanaan untuk masa depan kita di dunia ini. Ada beberapa ungkapan dalam dunia bisnis yang menekankan pentingnya perencanaan, misalnya “Failing to plan, you are planning to fail!” dan “Plan ahead, it wasn’t raining when Noah built the Ark”. Sekarang masalahnya adalah, apakah kita melakukan perencanaan masa depan kita di dalam Kerajaan Allah? Apakah kita melakukan investasi dalam surga atau hanya dalam hal-hal yang bersifat sementara saja? Kita harus mempertimbangkan faktor waktu, berbagai karunia dan talenta, serta segala sesuatu yang lain yang telah diberikan Allah kepada kita. Apakah kita (anda dan saya) menggunakan semua hadiah “gratis” dari Allah itu untuk melayani-Nya, …… untuk mengumpulkan bagi kita harta di surga (Mat 6:19-20)? Apakah kita (anda dan saya) bersedia menyerahkan/melepaskan apa saja yang diminta Allah dari kita demi cintakasih kita kepada-Nya?

Jikalau menjadi seorang murid Kristus mendatangkan kesusahan bagi kita dari waktu ke waktu, barangkali hal itu justru mengindikasikan bahwa kita berada di jalan yang benar. Ini adalah jalan yang sama yang dijalani oleh Yesus ketika menuju bukit Kalvari. Seperti juga Kristus, kita tidak perlu takut. Kita sungguh tidak memerlukan suatu polis asuransi atau “Plan B” atau suatu “exit strategy” apabila urusan pemuridan/kemuridan ini gagal di tengah jalan. Kita harus senantiasa ingat bahwa Allah kita adalah Allah yang Mahasetia. Dia tidak pernah akan meninggalkan kita sendiri selagi kita menghadapi tantangan-tantangan hidup sebagai pengikut Kristus. Bahkan ketika mengikuti Kristus ini menjadi “mahal”, kita tetap harus mengingat bahwa Yesus adalah “Imanuel” yang senantiasa menyertai kita (Mat 1:23; 28:20). Kita dibantu oleh Roh Kudus-Nya, dan segala sumber daya yang dimiliki-Nya tidak akan pernah habis.

DOA: Bapa surgawi, tolonglah aku agar menjadi murid Kristus yang sejati, walaupun pada saat-saat biayanya kelihatan mahal. Melalui pertolongan Roh Kudus-Mu, aku memilih untuk mengikuti Kristus setiap hari dalam hidupku di dunia ini. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 14:25-33), bacalah tulisan yang berjudul “SIAPA SAJA YANG TIDAK MEMIKUL SALIBNYA DAN MENGIKUT AKU, IA TIDAK DAPAT MENJADI MURID-KU” (bacaan tanggal 8-9-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori:13-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2013.

Cilandak, 3 September 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERENDAHAN DIRI YESUS KRISTUS DAN KEMULIAAN-NYA

PERENDAHAN DIRI YESUS KRISTUS DAN KEMULIAAN-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXII – 1 September 2013)

HARI MINGGU KITAB SUCI NASIONAL

YESUS DI MEJA PERJAMUAN DENGAN ORANG FARISIPada suatu hari Sabat Yesus datang ke rumah salah seorang pemimpin orang-orang Farisi untuk makan di situ. Semua yang hadir mengamat-amati Dia dengan saksama.

Karena Yesus melihat bagaimana para undangan memilih tempat-tempat kehormatan, Ia menyampaikan perumpamaan ini kepada mereka, “Kalau seorang mengundang engkau ke pesta perkawinan, janganlah duduk di tempat kehormatan, sebab mungkin orang itu telah mengundang seorang yang lebih terhormat daripada engkau, supaya orang itu, yang mengundang engkau dan dia, jangan datang dan berkata kepadamu: Berilah tempat ini kepada orang itu. Lalu engkau dengan malu harus pergi duduk di tempat yang paling rendah. Tetapi, apabila engkau diundang, pergilah duduk di tempat yang paling rendah. Mungkin tuan rumah akan datang dan berkata kepadamu: Sahabat, silakan duduk di tempat yang lebih terhormat. Dengan demikian, engkau akan menerima hormat di depan mata semua orang yang makan bersamamu. Sebab siapa saja yang meninggikan diri, ia akan direndahkan dan siapa saja yang merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

Lalu Yesus berkata juga orang yang mengundang Dia, “Apabila engkau mengadakan perjamuan siang atau perjamuan malam, janganlah engkau mengundang sahabat-sahabatmu atau saudara-saudaramu atau kaum keluargamu atau tetangga-tetanggamu yang kaya, karena mereka akan membalasnya dengan mengundang engkau lagi dan dengan demikian engkau mendapat balasannya. Tetapi apabila engkau mengadakan perjamuan, undanglah orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang lumpuh dan orang-orang buta. Engkau akan berbahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu. Sebab engkau akan mendapat balasannya pada hari kebangkitan orang-orang benar.” (Luk 14:1.7-14)

Bacaan Pertama: Sir 3:17-18,20,28-29; Mazmur Tanggapan: Mzm 68:4-7,10-11; Bacaan Kedua: Ibr 12:18-19,22-24

“Besarlah kekuasaan Tuhan, dan oleh yang hina-dina Ia dihormati” (Sir 3:20).

Di mana pun tidak ada bukti yang lebih jelas tentang pengungkapan kebesaran Allah, kecuali dalam SALIB KRISTUS. Yesus, Raja Alam Ciptaan (lihat Yoh 1:3), yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan-Nya dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan-Nya sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Jadi Pribadi Kedua dari Allah Tritunggal mengambil “jalan menurun” untuk masuk ke dalam dunia ciptaan-Nya sendiri sebagai seorang anak manusia. Bukankah terasa ironis namun menakjubkan bahwa inilah cara bagaimana Yesus memuliakan Allah Bapa? Bukankah menakjubkan bilamana kita menyadari bahwa karena perendahan diri Yesus itu, maka Allah Bapa mengaruniakan kepada-Nya NAMA di atas segala nama? …… supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi, dan segala lidah mengaku, “Yesus Kristus adalah Tuhan”, bagi kemuliaan Allah, Bapa!” (lihat Flp 2:6-11).

KOMUNI KUDUS - 111Saudari dan Saudaraku yang dikasihi Kristus, setiap kali kita menghadiri Misa Kudus, sebenarnya kita memperingati dua hal: “perendahan diri” (kedinaan) Yesus Kristus dan pada saat yang sama “kemuliaan”-Nya. Kita diundang untuk datang ke meja perjamuan Tuhan dengan segala kerendahan hati untuk melambungkan puji-pujian bagi nama-Nya – dan dalam prosesnya kita sendiri pun diangkat ke surga. Sang pemazmur mengatakan bahwa Allah adalah “Bapa bagi anak yatim dan Pelindung bagi para janda” dan …… Ia memberi tempat tinggal-Nya sendiri kepada orang-orang yang sebatang kara. Ia mengeluarkan orang-orang tahanan, sehingga mereka bahagia …” (Mzm 68:6,7); bagi kita hal ini dapat diartikan mencapai kebebasan suatu hidup baru dalam Kristus.

Allah kita adalah Allah yang sangat menakjubkan. Allah kita jauh lebih besar daripada sebuah gunung yang menyemburkan api yang menyala-nyala disertai angin badai, bunyi suara sangkakala yang menakutkan (lihat Ibr 12:18-19). Namun demikian Allah memanggil kita yang lemah dan berdosa ini ke dalam hati-Nya. Dalam Misa Kudus kita dapat menghadap hadirat-Nya, bergabung dengan para malaikat yang sangat banyak, yang memuji-muji kemuliaan Allah dan bersuka-ria dalam kasih-Nya – semua karena Dia merendahkan diri-Nya dan menawarkan kepada kita bagian dari warisan-Nya.

Apakah kita (anda dan saya) percaya bahwa Kerajaan Allah, dalam segala kemuliaan dan kuasanya itu hadir pada setiap perayaan Ekaristi? Hidup-Nya, rahmat-Nya, belas kasih-Nya, dan kasih-Nya, semuanya terkandung dalam hosti kudus yang kita sambut. Bagaimana kemuliaan ilahi yang tak dapat digambarkan dengan kata-kata itu dapat terkandung dalam roti yang begitu sederhana, baik dalam bentuk maupun substansi fisiknya? Apa lagi yang dapat dihasrati oleh kita selain Yesus yang berdiam dalam diri kita dan mengangkat kita bersama-Nya?

DOA: Tuhan Yesus, sekarang dan di tempat ini, aku bersembah sujud di hadapan hadirat-Mu karena kenyataan bahwa Engkau wafat dan bangkit untuk diriku dan sesamaku. Aku ingin menaruh hidupku dan segala sesuatu yang berharga di mataku di dekat kaki-Mu, agar dengan demikian aku dapat menyembah Engkau, satu-satunya yang pantas menerima kemuliaan dan kehormatan dan kuasa. Terpujilah nama-Mu selama-lamanya. Amin.

Cilandak, 30 Agustus 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

JANGANLAH KITA SEPERTI HAMBA YANG JAHAT DAN MALAS

JANGANLAH KITA SEPERTI HAMBA YANG JAHAT DAN MALAS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXI – Sabtu, 31 Agustus 2013)

PERUMPAMAAN TENTANG TALENTA

“Sebab hal Kerajaan Surga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka. Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat. Segera pergilah hamba yang menerima lima talenta itu. Ia menjalankan uang itu lalu beroleh laba lima talenta. Hamba yang menerima dua talenta itu pun berbuat demikian juga dan berlaba dua talenta. Tetapi hamba yang menerima satu talenta itu pergi dan menggali lubang di dalam tanah lalu menyembunyikan uang tuannya. Lama sesudah itu pulanglah tuan hamba-hamba itu lalu mengadakan perhitungan dengan mereka. Hamba yang menerima lima talenta itu datang dan ia membawa laba lima talenta, katanya: Tuan, lima talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba lima talenta. Lalu kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam hal kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam hal yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. Sesudah itu, datanglah hamba yang menerima dua talenta itu, katanya: Tuan, dua talenta tuan percayakan; lihat, aku telah beroleh laba dua talenta. Lalu kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam hal yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam hal yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. Kini datanglah juga hamba yang menerima satu talenta itu dan berkata: Tuan, aku tahu bahwa Tuan adalah orang yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan memungut dari tempat di mana Tuan tidak menanam. Karena itu, aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah: Ini, terimalah kepunyaan tuan! Tuannya itu menjawab, Hai kamu, hamba yang jahat dan malas, jadi kamu sudah tahu bahwa aku menuai di tempat di mana aku tidak menabur dan memungut dari tempat di mana aku tidak menanam? Karena itu, seharusnya uangku itu kauberikan kepada orang yang menjalankan uang, supaya pada waktu aku kembali, aku menerimanya serta dengan bunganya. Sebab itu, ambillah talenta itu dari dia dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh talenta itu. Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil dari dia. Sedangkan hamba yang yang tidak berguna itu, campakkanlah dia ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratapan dan kertak gigi.” (Mat 25:14-30)

Bacaan Pertama: 1Tes 4:9-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1,7-9

PERUMPAMAAN TENTANG TALENTA - 01Riset-riset ilmiah yang dilakukan, dari sidik jari sampai DNA, dari identifikasi suara sampai profil psikologis, membuat para ahli semakin merasa diyakinkan akan kebenaran Kitab Suci yang telah diketahui berabad-abad lamanya: Setiap pribadi adalah unik, bagian yang tidak dapat digantikan dalam alam ciptaan. Kita mengetahui bahwa Allah telah memberikan kepada kita seperangkat karunia alamiah dan talenta yang khusus untuk kita masing-masing, misalnya keterampilan di bidang atletik, di bidang musik, di bidang tulis-menulis, di bidang seni lukis dlsb. Bagian dari tantangan kita selagi kita bertumbuh semakin matang adalah untuk mengidentifikasikan talenta-talenta kita dan mengembangkan semua itu dengan cara yang akan membantu kita dan menguntungkan orang-orang di sekeliling kita.

Namun kita juga harus menyadari bahwa kepada kita masing-masing Allah telah menganugerahkan karunia-karunia spiritual – berbagai talenta yang menolong kita untuk bekerja sama dengan Allah dalam membangun Kerajaan-Nya. Karunia-karunia ini dapat berupa karunia untuk menasihati, karunia untuk melayani, karunia untuk mengajar, karunia untuk membagi-bagikan dengan dengan hati yang ikhlas, karunia untuk berbela rasa, dlsb. Barangkali kita (anda dan saya) dianugerahi iman yang kuat, karunia untuk menyembuhkan, dlsb (1Kor 12:8-11). Allah menganugerahkan karunia-karunia ini, dan Ia mengundang kita untuk bekerja bersama diri-Nya dengan cara-cara yang jauh melampaui kapasitas-kapasitas ilmiah yang kita miliki.

Marilah kita melihat perumpamaan Yesus tentang talenta ini sebagai suatu dorongan untuk bertanya kepada Tuhan, karunia-karunia apakah yang telah dianugerahkan-Nya kepada kita dan bagaimana seharusnya kita menggunakan semua karunia-karunia itu. Yesus ingin agar kita mengetahui bahwa Gereja, tubuh-Nya di atas bumi, hanya dapat bertumbuh apabila kita masing-masing menanggapi panggilan-Nya. Yesus tidak ingin kita seperti hamba yang jahat dan malas, yang menyembunytikan talentanya dalam tanah.

Ada baiknya bagi kita masing-masing untuk mengambil waktu pada hari ini membuat daftar dari karunia-karunia yang kita pikir Allah telah anugerahkan kepada kita, baik yang bersifat alamiah (natural) maupun yang spiritual. Apakah kita memiliki keprihatinan terhadap orang-orang miskin dan membutuhkan pertolongan? Apakah ada dorongan keras dalam hati kita untuk mengunjungi orang-orang yang menderita sakit-penyakit? Apakah mudah bagi kita untuk syering dengan orang-orang lain tentang Yesus? Ini adalah contoh-contoh yang dapat menjadi indikasi dari karunia-karunia dari Allah sedang menanti-nanti untuk dikembangkan. Oleh karena itu, marilah kita membuka pintu hati kita masing-masing bagi-Nya dan lihatlah ke mana Dia akan memimpin kita.

DOA: Tuhan Yesus, bukalah mata hatiku agar dapat melihat karunia-karunia yang telah dianugerahkan Bapa surgawi bagiku. Oleh Roh Kudus-Mu, berikanlah keberanian kepadaku untuk mengambil langkah guna mengikuti ke mana Engkau memimpinku. Dengan penuh syukur aku ingin kembali kepada-Mu, ya Tuhan, demi segala kebaikan yang Engkau telah lakukan atas diriku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Mat 25:14-30), bacalah tulisan yang berjudul “KASIH KRISTIANI ADALAH KASIH PERSAUDARAAN” (bacaan tanggal 31-8-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2013.

Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 25:14-30), bacalah juga tulisan yang berjudul “PERLIPAT-GANDAKANLAH TALENTAMU” (bacaan tanggal 1-9-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 29 Agustus 2013 [Peringatan Wafatnya S. Yohanes Pembaptis, Martir]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BERJAGA-JAGA DALAM MENANTIKAN KEDATANGAN-NYA

BERJAGA-JAGA DALAM MENANTIKAN KEDATANGAN-NYA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXI – Jumat, 30 Agustus 2013)

PERUMPAMAAN TTG SEPULUH GADIS - 003“Pada waktu itu hal Kerajaan Surga seumpama sepuluh gadis, yang mengambil pelitanya dan pergi menyambut mempela laki-laki. Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana. Gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya, tetapi tidak membawa minyak, sedang gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam botol mereka. Tetapi karena mempelai itu lama tidak datang-datang juga, mengantuklah mereka semua lalu tertidur. Waktu tengah malam terdengarlah suara orang berseru: Mempelai datang! Sambutlah dia! Gadis-gadis itu pun bangun semuanya lalu membereskan pelita mereka. Gadis-gadis yang bodoh berkata kepada gadis-gadis yang bijaksana: Berikanlah kami sedikit dari minyakmu itu, sebab pelita kami hampir padam. Tetapi jawab gadis-gadis yang bijaksana itu: Tidak, nanti tidak cukup untuk kami dan untuk kamu. Lebih baik kamu pergi kepada penjual minyak dan beli di situ. Akan tetapi, waktu mereka sedang pergi untuk membelinya, datanglah mempelai itu dan mereka yang telah siap sedia masuk bersama-sama dengan dia ke ruang perjamuan kawin, lalu pintu ditutup. Kemudian datang juga gadis-gadis yang lain itu dan berkata: Tuan, Tuan, bukakanlah pintu bagi kami! Tetapi ia menjawab: Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, aku tidak mengenal kamu. Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu hari maupun saatnya. (Mat 25:1-13)

Bacaan Pertama: 1Tes 4:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 97:1-2,5-6,10-12

Pada saat parousia dan penghakiman terakhir, maka situasi menanti-nantikan Kerajaan Surga kiranya serupa atau mirip dengan cerita perumpamaan Yesus ini. Karena peristiwa-peristiwa yang digambarkan dalam perumpamaan ini sejalan dengan praktek perkawinan yang dikenal di Timur Tengah, hampir semua ahli Kitab Suci berpendapat bahwa perumpamaan ini adalah sebuah alegoria yang diciptakan oleh pengarangnya di mana detil-detil yang ada bersifat simbolik.

Sepuluh gadis itu barangkali sedang menunggu di rumah mempelai laki-laki. Mereka menanti-nantikan kedatangan sang mempelai laki-laki yang telah pergi menjemput mempelai perempuan dari rumah orangtuanya. Hal ini tidak hanya cocok dengan imaji Perjanjian Baru tentang Kerajaan Surga sebagai sebuah pesta perjamuan nikah (lihat Mat 22:1-14; Why 19:9), tetapi juga dengan Yesus sebagai sang mempelai laki-laki (Mat 9:15) dan Gereja sebagai mempelai perempuan (Why 21:2,9; Ef 5:25-26). Sepuluh gadis itu menanti-nantikan sang mempelai laki-laki, namun tidak semua siap dalam menghadapi situasi seandainya terjadi keterlambatan kedatangannya.

Lima orang gadis yang “bodoh” itu berbeda dengan “hamba yang jahat” dalam perumpamaan sebelumnya (Mat 24:45-51). Dalam perumpamaan itu – ketika melihat tuannya belum pulang-pulang juga, dia malah melakukan hal-hal yang tidak baik, yaitu memukul hamba-hamba yang lain, dan makan minum bersama-sama para pemabuk (Mat 24:49). Sebaliknya, “kesalahan” lima orang gadis yang “bodoh” adalah, bahwa mereka tidak memperhitungkan dengan serius adanya kemungkinan keterlambatan. Lima gadis yang “bijaksana” memperhitungkan kemungkinan terjadinya keterlambatan kedatangan sang mempelai laki-laki dengan sikap serius, dengan demikian mereka membawa minyak ekstra dalam botol untuk berjaga-jaga (Mat 25:4). Waktu berjalan terus dan hari pun semakin malam dan sang mempelai laki-laki tidak datang-datang juga, maka gadis-gadis itu pun tertidur.

PERUMPAMAAN - SEPULUH PERAWANKetika lima gadis yang “bodoh” menyadari bahwa mereka tidak memiliki cukup minyak, maka mereka memintanya dari lima gadis yang “bijaksana”. Kelima gadis yang “bijaksana” dengan bijaksana pula menunjuk pada kenyataan bahwa berbagi minyak mereka pada titik itu malah akan menimbulkan risiko tidak akan ada pelita yang menyala samasekali karena semuanya akan kehabisan minyak (Mat 25:9), jadi malah merusak acara pesta. Selagi gadis-gadis yang “bodoh” pergi membeli minyak, gadis-gadis yang “bijaksana” pergi menyambut dan ikut serta dalam prosesi untuk mengiringi rombongan pengantin ke dalam ruang pesta. Kemudian pintu rumah ditutup dan digembok, ini adalah perlambangan penghakiman terakhir. Masuk melalui pintu tidak hanya sulit (Mat 7:13-14), tetapi sudah tidak mungkin lagi pada saat yang crucial itu. Lima gadis “bodoh” yang baru kembali dari membeli minyak berseru: “Tuan, Tuan, bukakanlah pintu bagi kami!” (Mat 25:11), Ini adalah juga seruan para murid yang digambarkan Yesus dalam Mat 7:21-22; mereka mengharapkan diperbolehkan masuk ke dalam Kerajaan Surga karena nubuatan-nubuatan dan mukjizat-mukjizat yang mereka buat dalam nama Yesus. Namun, kepada mereka – seperti juga kepada lima orang gadis yang “bodoh” – Tuhan berkata: “Aku berkata kepadamu, aku tidak mengenal kamu” (Mat 25:12; bdk. Mat 7:23).

Dalam “Khotbah di Bukit” itu Yesus pada dasarnya mencap mereka sebagai murid-murid “palsu” karena tidak menghasilkan buah yang baik (lihat Mat 7:15-20), artinya tidak melakukan kehendak Bapa-Nya, yaitu melakukan pekerjaan belas kasih (lihat Mat 25:31-46). Seperti juga para ahli Taurat dan Farisi yang berkhotbah namun tidak mempraktekkan sendiri apa yang mereka khotbahkan (Mat 23:3); dan orang bodoh yang mendirikan rumahnya di atas pasir, yang mendengarkan sabda Yesus, tetapi tidak melakukan apa-apa atas sabda itu (Mat 7:26-27); maka lima orang gadis yang “bodoh” itu tidak melakukan “agenda” yang telah ditetapkan oleh Yesus bagi para murid-Nya. Dalam “Khotbah di Bukit”, “pelita yang diletakkan di atas kaki pelita sehingga menerangi semua orang” (Mat 5:14-16) adalah gambaran (imaji) dari pekerjaan-pekerjaan baik yang dilakukan oleh para murid-Nya di mata dunia. Minyak dalam perumpamaan sepuluh gadis ini digunakan untuk pelita agar apinya tetap menyala, artinya pekerjaan-pekerjaan baik. Perintah yang terakhir dari Yesus dalam perumpamaan ini adalah agar kita senantiasa berjaga-jaga, bersiap-siap lewat pekerjaan-pekerjaan baik kita dalam menantikan kedatangan-Nya untuk kedua kali, yang kita tidak pernah tahu kapan akan terjadi.

DOA: Tuhan Yesus, selagi aku menanti-nantikan kedatangan-Mu, aku hanya dapat melakukan hal-hal yang biasa saja, kadang-kadang hal-hal yang monoton yang tersedia dalam hidupku ini. Akan tetapi, ya Tuhanku dan Allahku, aku dapat melakukan hal-hal kecil tersebut secara istimewa demi cintakasihku kepada-Mu. Terpujilah nama-Mu yang kudus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Tes 4:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “NASIHAT SUPAYA HIDUP KUDUS” (bacaan tanggal 30-8-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2013.

Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 25:1-13), bacalah tulisan yang berjudul “PERUMPAMAAN TENTANG SEPULUH GADIS” (bacaan tanggal 31-8-12) dalam situs/blog SANG SABDA.

Cilandak, 23 Agustus 2013 [Peringatan S. Monika]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BANYAK YANG DIPANGGIL, TETAPI SEDIKIT YANG DIPILIH

BANYAK YANG DIPANGGIL, TETAPI SEDIKIT YANG DIPILIH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan SP Maria, Ratu – Kamis, 22 Agustus 2013)

PERUMPAMAAN TTG PERJAMUAN KAWIN - TANPA BAJU PESTALalu Yesus berbicara lagi dalam perumpamaan kepada mereka, “Hal Kerajaan Surga seumpama seorang raja yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya. Ia menyuruh hamba-hambanya memanggil orang-orang yang telah diundang ke perjamuan kawin itu, tetapi orang-orang itu tidak mau datang. Ia menyuruh lagi hamba-hamba lain, pesannya: Katakanlah kepada orang-orang yang diundang itu: Sesungguhnya, hidangan telah kusediakan, lembu-lembu jantan dan ternak piaraanku telah disembelih; semuanya telah tersedia, datanglah ke perjamuan kawin ini. Tetapi orang-orang yang diundang itu tidak mengindahkannya; ada yang pergi ke ladangnya, ada yang pergi mengurus usahanya, dan yang lain menangkap hamba-hambanya itu, menyiksanya dan membunuhnya. Maka murkalah raja itu, lalu menyuruh pasukannya ke sana untuk membinasakan pembunuh-pembunuh itu dan membakar kota mereka. Sesudah itu ia berkata kepada hamba-hambanya: Perjamuan kawin telah tersedia, tetapi orang-orang yang diundang tadi tidak layak untuk itu. Karena itu, pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan kawin itu. Lalu pergilah hamba-hamba itu dan mereka mengumpulkan semua orang yang dijumpainya di jalan-jalan, orang-orang jahat dan orang-orang baik, sehingga penuhlah ruangan perjamuan kawin itu dengan tamu. Ketika raja itu masuk untuk bertemu dengan tamu-tamu itu, ia melihat seorang yang tidak berpakaian pesta. Ia berkata kepadanya: Hai Saudara, bagaimana engkau masuk ke mari tanpa mengenakan pakaian pesta? Tetapi orang itu diam saja. Lalu kata raja itu kepada hamba-hambanya: Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratapan dan kertak gigi.
Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.” (Mat 22:1-14)

Bacaan Pertama: Hak 11:29-39a; Mazmur Tanggapan: Mzm 40:5-10

Pada hari itu diselenggarakan resepsi pernikahan anak laki-laki anda yang tunggal dan anda sungguh penuh dengan sukacita. Anda memperhatikan pesta yang sedang berlangsung dan para tamu yang hadir. Mereka semua mengenakan pakaian pesta mereka yang terbaik – kecuali seorang tamu yang mengenakan pakaian yang kurang layak. Bagaimana anda menanggapi hal seperti itu? Merasa tidak enak? Merasa tersinggung? Merasa dihina? Barangkali anda ingin melakukan hal yang dilakukan oleh sang raja dalam perumpamaan Yesus dalam bacaan Injil hari ini: mengusir si tamu “kurang ajar” itu ke dalam kegelapan yang paling gelap (Mat 22:13)!

Dalam perumpamaan ini, orang-orang yang hadir dalam perjamuan kawin tersebut adalah mereka yang menjadi “substitut”, para pengganti saja. Orang-orang yang pertama-tama diundang menolak untuk datang, bahkan ada yang menangkap, menyiksa, bahkan sampai membunuh para hamba raja yang membawa undangan (Mat 22:5-6)! Tamu-tamu “ronde kedua” ini – setiap orang yang dapat ditemukan oleh para hamba raja – melakukan tindakan benar ketika menanggapi undangan raja secara positif, yaitu datang ke perjamuan kawin. Namun tetap tidak dapat dimaafkan untuk datang dengan berpakaian “semau gue” …… acak-acakan dan barangkali kotor juga.

“Banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih” (Mat 22:14). Apa maksudnya? Pernyataan keras Yesus ini dapat kita artikan bahwa banyak orang yang diundang ke dalam perjamuan surgawi tidak dapat masuk. Mengapa? Karena walaupun undangan itu merupakan perwujudan kemurahan-hati Allah, banyak orang yang diundang memilih untuk tidak mengenakan “jubah putih” kebenaran Kristus – atau mereka memperkenankan jubah mereka menjadi ternoda dengan dosa yang belum disesali dan dimohonkan ampun dari Allah. Itulah sebabnya mengapa pertobatan – dan lebih spesifik lagi Sakramen Rekonsiliasi – merupakan sebuah anugerah yang sangat berharga. Kita yang tadinya bergelimpangan dalam lumpur dosa, diampuni oleh Allah dan sekali lagi dibuat bersih-murni sebagaimana pada waktu kita dibaptis.

Menjaga agar jubah kita putih-bersih tanpa noda jauh lebih berarti daripada sebuah polis asuransi jiwa. Mengapa sampai begitu? Karena “keuntungan-keuntungan” atau manfaat-manfaat dari pertobatan datang pada masa hidup kita di dunia juga, tidak hanya dalam kehidupan yang baka. Jika kita bertobat, Yesus membuang rantai-rantai dosa yang selama ini membelenggu kita. O, inilah kemerdekaan dalam artian yang sesungguhnya! Kita tidak lagi diperbudak oleh dosa, dengan demikian kita dapat mengalami kebahagiaan dan damai sejahtera yang sejati; dan kita pun dapat bertumbuh dalam cintakasih kita kepada Allah. Oleh karena itu, marilah kita senantiasa menjauhi dosa, dan cepat melakukan pertobatan bilamana kita jatuh ke dalam dosa. Dengan berpakaian jubah kebenaran Kristus itu, marilah kita menikmati “icip-icip” awal dari perjamuan kawin yang akan kita rayakan dalam kehidupan kekal kelak.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu untuk kasih dan kerahiman-Mu. Terima kasih untuk pengampunan-Mu yang tidak mengenal batas. Terima kasih untuk pengorbanan-Mu di kayu salib, yang membuat diriku bersih dan utuh. Tolonglah diriku, ya Tuhan Yesus, agar senantiasa datang menghadap hadirat-Mu setiap saat aku harus bertobat dan diperbaharui. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 22:1-14), bacalah tulisan yang berjudul “MEMPERSIAPKAN DIRI UNTUK PESTA PERKAWINAN” dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2013.

Bacalah juga tulisan yang berjudul “PERUMPAMAAN TENTANG PERJAMUAN KAWIN” (bacaan tanggal 18-8-11) dalam situs/blog SANG SABDA; kategori: 11-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2011.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 23-8-12 dalam situs/blog PAX ET BONUM)

Cilandak, 16 Agustus 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MELAYANI DI DALAM KEBUN ANGGUR TUHAN

MELAYANI DI DALAM KEBUN ANGGUR TUHAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Pius X, Paus – Rabu, 21 Agustus 2013)

LABORERS IN THE VINEYARD“Adapun hal Kerajaan Allah sama seperti seorang pemilik kebun anggur yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya. Setelah ia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya. Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar lagi dan dilihatnya ada lagi orang-orang lain menganggur di pasar. Katanya kepada mereka: Pergilah juga kamu ke kebun anggurku dan apa yang pantas akan kuberikan kepadamu. Lalu mereka pun pergi. Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga petang ia keluar dan melakukan sama seperti tadi. Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan melakukan sama seperti tadi. Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan mendapati orang-orang lain pula, lalu katanya kepada mereka: Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari? Kata mereka kepadanya: Karena tidak ada orang mengupah kami. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku. Ketika hari malam pemilik kebun itu berkata kepada mandornya: Panggillah pekerja-pekerja itu dan bayarkan upah mereka, mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk pertama. Lalu datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul kira-kira pukul lima dan mereka menerima masing-masing satu dinar. Kemudian datanglah mereka yang masuk pertama, sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi mereka pun menerima masing-masing satu dinar juga. Ketika mereka menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada pemilik kebun itu, katanya: Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari. Tetapi pemilik kebun itu menjawab seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari? Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk gterakhir ini sama seperti kepadamu. Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?

Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang pertama dan yang pertama akan menjadi yang terakhir. (Mat 20:1-16)

Bacaan Pertama: Hak 9:6-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 21:2-7

Bayangkanlah seseorang bekerja sepanjang hari untuk upah yang berjumlah sama dengan seorang lainnya yang bekerja hanya untuk satu jam lamanya. Rasa keadilan kita akan sungguh terusik. Dilihat dari kacamata dunia – keprihatinan-keprihatinan dan peraturan-peraturannya berkaitan dengan keadilan – tidak sulitlah bagi orang untuk berpihak pada para pekerja yang berpikir bahwa karena mereka bekerja untuk waktu yang lebih lama, maka mereka harus menerima upah yang lebih banyak daripada para pekerja yang bekerja untuk waktu yang lebih sedikit. Hal inilah yang dinilai adil dan benar! Kelompok pekerja yang pertama mulai bekerja pada jam 6 pagi. Mereka bekerja di kebun anggur sekitar 12 jam lamanya dan menjelang tengah hari dan di siang hari mereka sungguh bekerja di bawah terik matahari yang panasnya sungguh menyengat tubuh. Mereka semua bekerja untuk upah sebesar 1 denarius, sebuah uang logam Romawi yang bernilai satu hari kerja. Kelompok pekerja yang terakhir datang ke kebun anggur pada jam 5 sore dan bekerja untuk satu jam saja – mereka juga menerima upah dalam jumlah yang sama.

Sungguh alamiah bagi kita untuk berpikir seperti itu, namun yang kita luput pertimbangkan adalah bahwa Yesus sedang menceritakan sebuah perumpamaan tentang Kerajaan Allah. Keadilan bukan merupakan isu di sini. Tidak seorang pun dari kita pantas menerima sesuatu dari Allah karena perbuatan baik atau jasa kita. Tidak ada seorang pun dari kita yang berhak membuat Allah berhutang kepada kita. Segala sesuatu yang kita miliki – bahkan hidup kita sendiri – adalah karunia atau anugerah dari Allah, pemberian “gratis” dari Dia. Kita tidak pernah dapat memperoleh hak untuk berelasi secara pribadi dengan Allah disebabkan oleh pekerjaan baik kita. Dalam melayani Allah, kita menerima jauh lebih banyak daripada apa yang pernah kita berikan kepada-Nya. Bekerja di kebun anggur, di dalam Kerajaan Allah, bukanlah sebuah beban, melainkan sebuah privilese! Jika kita menanggapi panggilan Allah sejak dini, hal itu tidaklah berarti kita disalah-gunakan melainkan dikaruniai. Apabila kita menanggapi panggilan Allah di kala hari sudah sore menjelang senja, kita pun dikaruniai!

st-theresa-of-avila1Santa Teresa dari Avila [1515-1582] mengungkapkannya seperti berikut ini: “Kita harus melupakan jumlah tahun kita telah melayani Dia, karena jumlah dari semua yang dapat kita lakukan tidaklah bernilai apabila dibandingkan dengan setetes darah yang telah ditumpahkan oleh Tuhan bagi kita. … Semakin banyak kita melayani Dia, semakin dalam pula kita jatuh ke dalam hutang (kepada)-Nya.”

Yesus menceritakan perumpamaan tentang para pekerja di kebun anggur selagi Dia melakukan perjalanan ke Yerusalem. Kematian dan kebangkitan-Nya telah mentransformasikan dunia, memenuhinya dengan kasih-Nya. Pada waktu kita mengenal dan mengikut Yesus, kita juga akan mengenal privilese melayani tanpa reserve dalam kebun anggur-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, nyalakanlah dalam hatiku api cintakasih-Mu yang mendorong Engkau memikul salib sampai ke bukit Golgota dan wafat di atas kayu salib di tempat itu. Kobarkanlah hatiku dengan hasrat guna melayani di kebun anggur-Mu untuk waktu yang lama dan dengan penuh pengabdian. Bebaskan diriku dari kesalahan membanding-bandingkan pelayananku dengan orang-orang lain yang Engkau telah panggil juga untuk bekerja di kebun anggur-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 20:1-16), bacalah tulisan-tulisan yang berjudul “TIDAK ADA PENGANGGURAN DALAM TUBUH KRISTUS” (bacaan tanggal 18-9-11) dan “ATAU IRI HATIKAH ENGKAU, KARENA AKU MURAH HATI? (bacaan tanggal 22-8-12), keduanya dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 16 Agustus 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 140 other followers