Posts from the ‘STUDI ALKITAB’ Category

PERCAKAPAN DENGAN ALLAH LEWAT KITAB SUCI

PERCAKAPAN DENGAN ALLAH LEWAT KITAB SUCI

“Di dalam Kitab-kitab suci Bapa, yang ada di surga dengan penuh kasih sayang menjumpai putera-puteri-Nya dan berbicara dengan mereka” (Konstitusi Dogmatis DEI VERBUM tentang Wahyu Ilahi, 21)

Tidak ada yang lebih mulia bagi kita daripada melakukan percakapan dengan Allah yang Mahakuasa, Khalik langit dan bumi, bukankah begitu? Sungguh indahlah apabila kita mampu untuk mengetahui apa yang ada dalam hati-Nya dan memahami niat-niat dan hasrat-hasrat-Nya. Seperti yang dikatakan oleh para Bapak Konsili dalam petikan Dei Verbum [DV] di atas, kita mempunyai kesempatan seperti ini setiap kali kita membuka Kitab Suci (Alkitab).

Kitab Suci bukanlah sekadar sebuah koleksi kata-kata untuk dibaca, betapa pun penuh hikmat-kebijaksanaan dan menyentuh kata-kata itu. Kitab Suci adalah sabda Allah – suara-Nya yang penuh keakraban berbicara dengan kita, menyegarkan kita dan mengajar kita. Dalam Kitab Suci, Allah membuka hati-Nya, menganugerahkan suatu martabat tinggi kepada anak-anak-Nya sementara Dia membentuk mereka menjadi serupa dengan diri-Nya sendiri.

Tantangan yang seringkali kita hadapi dalam membaca Kitab Suci adalah memperkenankan kata-kata yang kita baca itu agar mempunyai dampak atas hati kita. Bayangkanlah seorang anak yang sedang bercakap-cakap dengan ayahnya, namun yang dicakup dalam percakapan itu jauh melampaui berbagai fakta dan tugas yang sederhana. Si anak merasa bebas untuk mensyeringkan dengan sang ayah apa saja keberhasilan yang telah dicapainya dan juga apa saja kegagalan yang dialaminya. Anak itu mengetahui bahwa ayahnya memahami harapan-harapannya, kekhawatiran serta ketakutannya, impian-impiannya, cita-citanya dst. Di lain pihak sang ayah juga mengenal anaknya dan dia merasa bahagia bekerja bersama dengan anaknya untuk menolongnya bertumbuh menjadi seorang manusia yang kuat, mengasihi dan bertanggung jawab. Demikian pula kiranya, Allah Bapa kita merindukan untuk mengajar kita dan membentuk kita, dan Ia melakukan hal ini selagi kita membuka hati kita bagi sabda-Nya.

Lectio Divina – Pembacaan Kitab Suci dalam Iman

Tradisi menyediakan suatu cara membaca Kitab Suci yang dikenal sebagai lectio divina (lectio = pembacaan; divina = ilahi). Menurut asal-usulnya lectio divina adalah pembacaan Kitab Suci oleh orang-orang Kristiani untuk memupuk iman, pengharapan dan kasih mereka, sehingga dengan demikian menjiwai jalan mereka. Lectio divina sudah setua Gereja yang hidup dari sabda Allah, yang menjadi tumpuan dan kekuatan bagi Gereja, dan kekuatan iman, santapan jiwa, serta sumber murni dan abadi kehidupan rohani putera-puteri Gereja (lihat DV, 21).

Lectio divina merupakan pembacaan sabda Allah penuh iman dan doa, yang berpangkal pada iman kepada Yesus Kristus yang telah bersabda: (1) “Penolong, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu” (Yoh 14:26); (2) “Apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang” (Yoh 16:13).

Perjanjian Baru sesungguhnya merupakan hasil pembacaan Perjanjian Lama umat Kristiani perdana dalam terang wahyu baru yang diberikan Allah dalam kebangkitan Yesus Kristus yang hidup di tengah jemaat. Pembacaan Kitab Suci penuh iman dan doa ini senantiasa memupuk Gereja dalam arti seluas-luasnya, religius maupun non-religius. Pada awalnya tidak ada pembacaan yang diorganisir dan sistematik, melainkan mengalir sebagai tradisi yang diteruskan dari generasi ke generasi, melalui praktek umat Kristiani.

Sejatinya, lectio divina dimaksudkan untuk menarik kita dari sabda Allah dalam Kitab Suci kepada Allah sang Sabda – Yesus Kristus sendiri, yang memberikan kepada kepada kita sebagian dari hikmat dan kasih-Nya.

Asal-usul istilah lectio divina. Istilah lectio divina berasal dari Origenes [+185-254]. Ia mengatakan bahwa agar pembacaan Kitab Suci membawa manfaat, maka diperlukanlah perhatian dan kerajinan yang besar. Ia mengatakan, bahwa setiap hari kita harus kembali ke sumber, yaitu Kitab Suci. Hal itu tidak dapat kita capai dengan kekuatan sendiri. Kita harus memohonnya dalam doa, karena adalah mutlak perlu untuk memohon agar kita mampu memahami perkara-perkara kecil. Dengan cara itu, kita akan dapat mengalami apa yang kita harapkan dan kita renungkan.

Empat langkah dalam Lectio Divina. Lectio divina mencakup 4 (empat) langkah atau jenjang, yaitu lectio (pembacaan), meditatio (meditasi), oratio (doa) dan contemplatio (kontemplasi). Sistematisasi lectio divina dalam empat langkah ini baru terjadi pada abad XII. Pada sekitar tahun 1150 Guigo, seorang rahib Kartusian – seorang penulis rohani zaman itu – menggambarkan langkah-langkah ini sebagai berikut: “Pembacaan berarti dengan berhati-hati mempelajari Kitab Suci dengan mengkonsentrasikan segenap kekuatan yang dimiliki. Meditasi adalah kegiatan budi yang sibuk untuk mencari – dengan bantuan akal masing-masing berusaha mengenal kebenaran yang tersembunyi. Doa berarti pembalikan penuh pengabdian hati orang kepada Allah dan memperoleh apa yang baik. Kontemplasi adalah pada waktu budi diangkat kepada Allah dan mengatasi dirinya, sehingga mencicipi sukacita dari kemanisan yang kekal. Katekismus Gereja Katolik (KGK) melanjutkan: “Kalau membaca, carilah dan kamu akan menemukan dalam meditasi; kalau berdoa, ketuklah dan bagimu akan dibukakan melalui kontemplasi” (KGK 2654 versi/terjemahan bahasa Inggris).

Pembacaan dan Meditasi: Sabda dalam Kitab Suci

Pembacaan dan meditasi terutama fokus pada kata-kata aktual yang tersurat dalam Kitab Suci dan maknanya.

Pembacaan. Tahapan yang dinamakan lectio ini menyangkut pembacaan sebuah potongan bacaan Kitab Suci dan memahami apa yang dikatakan di situ. Pada tahapan ini kita harus membaca potongan bacaan itu untuk beberapa kali. Kita harus mencoba membacanya dengan mengeluarkan suara, dan dengan memperhatikan cara kata-kata tersebut seharusnya diucapkan. Barangkali di sini kita ingin membuat garis besar dari butir-butir utama bacaan Kitab Suci itu, atau mencobanya untuk menulis serta mengatakannya dengan kata-kata kita sendiri. Siapakah yang sedang berbicara dan kepada siapa diah berbicara? Mengapa? Apakah berbagai peristiwa atau fakta yang sedang dikomunikasikan? Apa konteks dari potongan bacaan itu? Situasi apa yang menjadi sebab adanya kata-kata itu dalam teks Kitab Suci?

Dalam hal ini diperlukan beberapa sumber bantuan, yaitu buku pengantar dan tafsir kitab bersangkutan, kamus Alkitab, konkordansi Alkitab, Alkitab dalam bahasa asing yang kita kuasai dll., karena semua ini dapat sungguh dapat menolong kita menyingkap lebih banyak lagi dimensi dari kekayaan “terpendam” sabda Allah yang ada dalam Kitab Suci. Tantangan yang akan kita hadapi dalam tahapan ini adalah untuk tetap fokus pada “kata-kata” itu sendiri, bahkan ketika kita sedang merujuk pada pekerjaan-pekerjaan lain berkaitan dengan sabda Allah.

Meditasi. Dalam tahapan meditatio kita bergerak melampaui apa yang dikatakan dalam potongan bacaan yang sedang kita tekuni. Sekarang, kita harus mencoba untuk menyingkap apa maknanya. Kita bergerak dari masa lampau “sejarah” kepada “masa kini” hidup kita. Pada tahapan ini, baiklah kita untuk fokus pada bagian tertentu dari potongan bacaan kita – apakah sepatah kata atau sebuah frase yang menyentuh kita – dan merenungkan bagian tersebut dalam keheningan dan suasana penuh kedamaian.

Kita mulai membuka pikiran kita bagi Roh Kudus dan dimensi surgawi dari kata-kata yang telah kita pilih itu. Biarlah kata atau kata-kata itu berbicara kepada situasi kita sekarang, apakah menantang kita atau menghibur kita, mendorong kita untuk melakukan pertobatan atau memuji-muji dan menyembah Dia. Dalam meditasi, kata-kata yang telah kita baca memberi jalan kepada kebenaran-kebenaran abadi Injil yang memberikan kita kehidupan.

Doa dan Kontemplasi: Sabda dalam Hati kita

Janji indah bagi kita apabila mempelajari Kitab Suci adalah, bahwa studi kita itu tidak berhenti dengan upaya-upaya dari intelek manusiawi kita saja. Dalam doa dan kontemplasi, fokusnya bergerak dari sabda Allah ke Yesus sendiri. Sabda Allah tidaklah sekadar kata-kata tertulis yang terdapat dalam Kitab Suci, melainkan juga Pribadi Yesus sendiri, sang Sabda yang menjadi daging (Firman yang menjadi manusia; Yoh 1:14).

Doa. Dalam tahapan oratio kita menanggapi sabda Allah, memohon kepada Roh Kudus untuk menuliskan kata-kata ini pada hati kita masing-masing. Sebagai anak-anak Allah, kita mempunyai kebebasan untuk berdoa secara sederhana dan spontan, apakah dalam bentuk nyanyian, mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada Allah, atau “semata-mata” menyembah-Nya untuk segala kebaikan dan kesempurnaan-Nya. Kita dapat mengakui dosa-dosa kita kepada Tuhan dan mohon kepada-Nya agar mencurahkan rahmat-Nya kepada kita untuk hidup lebih setia lagi kepada sabda-Nya.

Di dalam doalah kita mulai melakukan percakapan dengan Bapa surgawi, percakapan yang terasa di hati. Para Bapak Konsili Vatikan II mengajar kita: “Hendaknya mereka mengingat bahwa doa harus menyertai pembacaan Kitab Suci, agar terjadi dialog antara Allah dan manusia; karena “kita berbicara dengan-Nya ketika kita berdoa, kita mendengarkan-Nya ketika membaca amanat-amanat ilahi” (DV, 25).

Kontemplasi. Dalam tahapan contemplatio kita mengheningkan hati kita di hadapan hadirat Yesus. Kita memperkenankan Dia menyentuh kita, menyembuhkan kita, dan menggerakkan kita. Setelah berjalan melalui pintu Kitab Suci, sekarang kita pun sampai ke ruang di mana Tuhan bertakhta, Dia yang adalah Raja dan Sahabat kita.

Dalam kontemplasi kita memandang-Nya, menatap keindahan dan kemuliaan-Nya, dan menerima dari Dia rahmat dan kekuatan untuk mewujudkan dalam kehidupan kita, sabda yang telah kita baca dan meditasikan. Seperti dua orang murid yang sedang dalam perjalanan ke Emaus, hati kita dapat berkobar-kobar dengan kasih akan Allah selagi Yesus membuka Kitab Suci kepada kita (baca Luk 24:13-32). Allah sangat mengetahui apa yang kita butuhkan, dan melalui kontemplasi kita dapat berada bersama-Nya sebentar dan disemangati dan dikuatkan oleh-Nya.

Hidup dalam Sabda

Dalam Kitab Suci, Allah telah menyediakan sebuah meja perjamuan dengan makanan terbaik dan terpilih bagi jiwa kita. Bagaimana kita dapat menanggapi undangan-Nya untuk datang dan makan bersama-Nya? Secara praktis, pentinglah bagi kita untuk merencanakan suatu waktu yang spesifik setiap harinya, pada waktu mana kita dapat mengabdikan perhatian kita sepenuh-penuhnya bagi sabda-Nya. Juga perlu bagi kita untuk memilih sebuah tempat yang cukup sunyi-hening dan bebas dari berbagai bentuk distraksi, sebuah tempat privat di mana kita dapat merasa nyaman dan damai.

Bagaimana kita dapat mempersiapkan hati kita guna mendengarkan Tuhan? Sebelum kita mulai membaca, kita dapat mengambil waktu sebentar untuk mengingat-ingat kebenaran-kebenaran iman kita: Allah menciptakan kita karena kasih; melalui pembaptisan ke dalam kematian Yesus dan kebangkitan-Nya kita telah menerima pengampunan dan kebebasan; kita semua diundang untuk mengenal Dia secara pribadi melalui Roh Kudus yang berdiam dalam diri kita masing-masing; Gereja adalah mempelai perempuan yang sangat dikasihi-Nya, tempat berkumpul umat-Nya; Yesus akan datang kembali pada akhir zaman untuk memanggil mempelai perempuan-Nya – Gereja – untuk datang kepada-Nya. Mengingat-ingat kebenaran-kebenaran ini sejak awal dapat membuat pikiran kita tenang dan memberi rasa percaya pada diri kita bahwa Allah sungguh ingin berbicara kepada kita.

Bagaimana kita menentukan potongan bacaan (bacaan singkat) mana yang harus kita baca setiap harinya? Kita bisa saja membaca satu kitab tertentu (misalnya Kitab Kejadian) sedikit demi sedikit. Kita juga bisa melakukan pembacaan sesuai tema alkitabiah tertentu, misalnya kasih, keadilan atau kerajaan Allah. Satu cara lain adalah mengikuti penanggalan liturgi agar dapat mengikuti bacaan-bacaan dalam Misa Kudus, walaupun tidak dapat mengikuti Misa itu secara fisik. Bagi mereka yang mendoakan Ibadat Harian, tentunya semua “bacaan singkat” sudah diatur dengan baik, baik untuk Ibadat Pagi, Ibadat Siang, Ibadat Sore dan Ibadat Penutup, walaupun untuk “Ibadat Bacaan” bacaannya tidaklah dapat dikatakan singkat. Cara apa pun yang kita gunakan, yang penting adalah bahwa kita harus terbuka bagi kuasa Roh Kudus yang akan membuat sabda Allah menjadi hidup dalam hati kita masing-masing.

Sekali kita telah menggunakan waktu kita dengan sabda Allah, sangatlah bijaksana untuk menulis apa yang telah kita pelajari. Hal ini tidak hanya akan membantu kita mengingat-ingat sabda secara lebih baik, melainkan juga akan memampukan kita untuk menoleh ke belakang dan melihat bagaimana Allah telah mengajar kita langkah demi langkah. Selagi kebenaran-kebenaran Tuhan dan karakter-Nya dituliskan dalam hati kita masing-masing, maka kita pun akan mempunyai sebuah khasanah besar yang penuh berisikan harta rohani yang sewaktu-waktu dapat kita “manfaatkan” ketika kita menghadapi godaan dan tantangan dalam kehidupan sehari-hari.

Catatan Penutup

Allah senang untuk mensyeringkan hati-Nya dengan kita semua. Dia menciptakan kita agar dapat hidup penuh keakraban dengan-Nya sebagai anak-anak-Nya dan juga sebagai mempelai perempuan-Nya. Setiap hari, Dia minta kepada kita untuk berada dekat dengan diri-Nya dan menerima sabda kehidupan. Selagi kita membuka diri kita bagi sabda-Nya, kita memperkenankan Allah menyegarkan diri kita dengan menuliskan kebenaran-kebenaran-Nya pada hati kita masing-masing. Setiap kali kita mengambil Kitab Suci, kita dapat memohon agar Roh Kudus mengajar kita bagaimana membaca sabda yang telah diberikan-Nya kepada kita.

Cilandak, 17 Agustus 2011 [Hari Raya Kemerdekaan Republik Indonesia]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ROH KUDUS SEBAGAI PARAKLETOS

ROH KUDUS SEBAGAI PARAKLETOS

Pada waktu orang-orang Kristiani memikirkan Roh Kudus, maka seringkali gema-gema jawaban Katekismus bermunculan dalam benak mereka: Pribadi Ketiga dari Tritunggal Mahakudus, satu dalam substansi ilahi dengan Bapa dan Putera. Namun kita harus ingat bahwa doktrin Tritunggal belum didefinisikan secara resmi sampai abad keempat, dan pada hari-hari pertama Kekristenan gambarannya pun masih jauh dari tepat, terutama sehubungan dengan kepribadian Roh Kudus itu.

Sehubungan dengan kesaksian Perjanjian Baru, bagian dari kesulitannya adalah bahwa konsep “roh” itu memiliki banyak segi; roh manusia, roh-roh malaikat, roh-roh jahat dan seterusnya. Sebagai tambahan, kata Yunani untuk “roh”, pneuma, juga dapat diartikan “angin, nafas”. Peran-peran Roh bervariasi: Seperti angin kencang yang menggerakkan para rasul untuk berkhotbah pada hari Pentakosta; memberikan hidup; berseru dalam hati kita, sumber karisma-karisma atau kuasa-kuasa istimewa.

Injil Yohanes banyak berbagi pemikiran dan pengungkapan Perjanjian Baru tentang Roh Kudus; namun Injil ini juga memberikan sumbangannya sendiri yang unik, dengan demikian meningkatkan penghargaan atas Roh dalam hidup orang-orang Kristiani dan gereja.

Hanya dalam Injil Yohanes, Roh Kudus mempunyai gelar Parakletos (Istilah ini muncul sekali lagi dalam 1Yoh 2:1, dan mengacu kepada Yesus). Roh Kudus sebagai Parakletos digambarkan dalam lima bagian, semuanya dalam pengajaran Yesus pada Perjamuan terakhir, cukup sering diiringi dengan gelar “Roh Kebenaran”, yang juga khas terdapat dalam Injil Yohanes.

Seperti kita akan lihat, kata Yunani parakletos mempunyai konotasi yang berbeda-beda, oleh karena itu sulit diterjemahkan. Karena menghadapi banyak terjemahan dalam bahasa Latin kuno untuk kata parakletos ini, maka dalam Kitab Suci Latin Vulgata, Santo Hieronimus menggunakan kata paracletus.

Aspek-aspek Parakletos. Secara literer parakletos berarti “seseorang yang diminta untuk mendampingi,” terutama seseorang yang dipanggil untuk menolong dalam suatu situasi yang menyangkut perkara hukum; seorang pengacara-pembela. Terasa aspek hukum ini kalau kita mendengar istilah lain yang dipakai, yaitu “Advokat” dan “Penasihat”, untuk menerjemahkan kata parakletos ini. Sebenarnya ada suatu nada hukum pada beberapa sabda Yesus dalam Injil Yohanes mengenai Parakletos; namun gambarannya yang lebih tepat adalah sebagai seorang pembela hukum. Yesus akan mati di kayu salib – di mata dunia Dia dinilai bersalah dan dihukum. Namun setelah kematian-Nya, sang Parakletos ini akan datang dan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman; akan dosa, karena dunia tetap tidak percaya kepada Yesus. Singkatnya sang Paracletos ini memutar-balikkan hukuman mati atas diri Yesus ini dan membuktikan bahwa Dia tidak bersalah (Yoh16:8-11). Parakletos ini akan menunjukkan bahwa Yesus tidak berdosa; melainkan dunialah yang berdosa karena tidak percaya kepada Yesus. Yesuslah yang adil atau benar, seperti ditunjukkan oleh fakta bahwa Dia tidak ada dalam kubur, tetapi telah bersama Bapa. Penghakiman yang dilakukan oleh musuh-musuh-Nya dengan menjatuhkan hukuman mati atas diri-Nya tidak mampu mengalahkan-Nya; malah ironisnya yang dikalahkan justru adalah lawan-Nya yang besar, yaitu Iblis sendiri.

Dalam satu bagian terkenal dari salah satu kitab Perjanjian Lama, yaitu Kitab Ayub (19:25), diceritakan bahwa Ayub tahu bahwa dia akan mati dengan tuduhan bersalah oleh semua orang karena penderitaan-penderitaan yang menimpanya; namun dia tahu bahwa yang membela nama baiknya hidup, yakni malaikat yang akan berdiri di kuburnya dan menunjukkan kepada semua orang bahwa Ayub tak bersalah. Roh yang membela itu mempunyai peran sebagai seorang parakletos, dan Yesus sekarang melihat Roh Kudus sebagai Parakletos-Nya.

Namun ada sebuah peranan lain lagi dari “Dia yang diminta untuk mendampingi” itu. Kadang-kadang mereka yang sedang menderita atau merasa sepi-sendiri memerlukan seseorang untuk menghibur mereka. Aspek dari sang Parakletos yang ini, diterjemahkan sebagai “Penghibur” (Inggris: Holy Comforter; Latin: Consolator optime dalam madah untuk Roh Kudus). Dalam konteks Perjamuan Terakhir murid-murid Yesus mengalami rasa sedih yang mendalam karena Dia akan berpisah; maka janji bahwa seseorang yang seperti Yesus akan datang menggantikan tempat-Nya sungguh menghibur mereka.

Walaupun demikian, Yesus dari Perjamuan Terakhir yang menyiapkan para murid-Nya akan kedatangan Roh Kudus, juga realistis. Dunia akan membenci para murid yang telah menerima Roh Kebenaran (Yoh 15:18-19) yang tak dapat diterima dunia, karena dunia tidak melihat atau tidak mengenal Roh itu (Yoh14:17). Para murid akan diusir keluar dari sinagoga-sinagoga dan bahkan dihukum mati (Yoh16:2-3). Namun karena Yesus bersama mereka, mereka pun dapat memperoleh damai sejahtera. “Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia” (Yoh16:33).

Parakletos sebagai Yesus yang lain. Penekanan utama dalam perkenalan Injil Yohanes mengenai Parakletos ini adalah keserupaan Roh dengan Yesus yang memampukan Roh itu untuk menggantikan-Nya. (Itulah mengapa Roh Kudus-Parakletos tidak dapat datang sebelum Yesus berpisah.) Baik Yesus maupun Roh Kudus datang dari Bapa; keduanya dianugerahkan atau diutus oleh Bapa; dan dua-duanya ditolak oleh dunia.

Yesus dari Injil Yohanes mengklaim tidak memiliki apa-apa dari diri-Nya sendiri; apa saja yang dikerjakan atau katakan oleh-Nya adalah apa yang didengar-Nya atau dilihat-Nya dari Bapa (Yoh 5:19; 8:28,38; 12:49). Parakletos tidak akan berbicara apa saja dari diri-Nya sendiri; Dia akan mengambil apa yang merupakan kepunyaan Yesus dan kemudian mendeklarasikannya; Dia hanya akan berbicara segala sesuatu yang didengar-Nya (Yoh16:13-15).

Pada waktu Yesus berada di bumi dan Bapa di surga, siapa saja yang melihat Yesus telah melihat Bapa (Yoh 14:9). Pada waktu Yesus telah pergi kepada Bapa, maka siapa saja yang mendengarkan Parakletos akan mendengarkan Yesus. Singkatnya, apa Yesus itu bagi Bapa, adalah apa Parakletos bagi Yesus. Jadi dalam banyak cara Parakletos memenuhi janji Yesus untuk kembali.

Dalam satu bagian bacaan yang bersifat luarbiasa (Yoh 16:7), Yesus mengatakan bahwa lebih baik bagi para murid jika Dia pergi, sebab jikalau Dia tidak pergi Parakletos tidak akan datang kepada mereka. Dalam kemungkinan yang mana sajakah kehadiran Parakletos lebih baik daripada kehadiran Yesus? Barangkali solusinya terletak dalam satu perbedaan besar antara dua kehadiran itu. Dalam Yesus, Sabda menjadi daging; Parakletos tidak menjadi daging. Dalam hidup kemanusiaan Yesus yang nyata-terlihat pada waktu tertentu dan tempat tertentu, kehadiran Allah secara unik dalam dunia, dan kemudian secara badaniah Yesus meninggalkan dunia ini dan pergi kepada Bapa. Kehadiran Parakletos tidak nyata-terlihat, tak dibatasi oleh waktu maupun tempat. Sebaliknya, Parakletos berdiam dalam setiap orang yang mengasihi Yesus dan menuruti perintah-perintah-Nya, sehingga dengan demikian tidak dibatasi oleh waktu (Yoh 14:15-17). Kehadiran Allah sebagai Parakletos berarti tidak ada warganegara kelas dua: Parakletos hadir, dalam diri murid-murid Yesus pada zaman modern sama seperti Dia hadir dalam diri murid-murid Yesus generasi pertama.

Kenyataan itu secara khusus penting apabila kita pertimbangkan satu dari beberapa kegiatan utama sang Parakletos. Parakletos adalah “Roh Kebenaran” yang memberikan bimbingan ke dalam seluruh kebenaran (Yoh 16:13), Yesus dari Injil Yohanes mempunyai banyak hal yang mau dikatakan-Nya, yang para murid-Nya tidak pernah memahami selagi mereka masih hidup (Yoh 16:12); namun kemudian sang Parakletos datang dan mengambil hal-hal itu dan mendeklarasikannya (Yoh 16:15).

Dengan perkataan lain, Parakletos memecahkan persoalan-persoalan dengan memberikan wawasan-wawasan baru ke dalam suatu perwahyuan yang dibawakan Yesus. Ketika Allah memberikan Anak-Nya, perwahyuan ilahi diperkenankan dalam segala kelengkapannya: Yesus adalah Sang Sabda Allah. Namun di muka bumi ini Sang Sabda berbicara dalam batasan-batasan budaya tertentu dan perangkat isu-isu tertentu. Bagaimana orang-orang Kristiani pada zaman yang berbeda memperoleh bimbingan Allah dalam menangani isu-isu yang sepenuhnya berbeda? Sang Parakletos yang hadir dalam setiap waktu dan budaya tidak membawa perwahyuan baru; melainkan dia mengambil perwahyuan Sang Sabda dan mendeklarasikannya secara baru, dalam menghadapi hal-hal yang akan datang.

Peranan Parakletos dalam Hidup Kristiani. Injil Yohanes selesai ditulis sekitar akhir abad pertama tahun Masehi. Ini adalah waktu di mana sejumlah gereja sedang mengembangkan kuasa mengajar (magisterium) eksternal untuk membimbing mereka yang berada di bawah pemeliharaan pastoral. Misalnya, pidato Paulus dalam Kis 20:28-31 menekankan peranan para penatua (presbiter) di Efesus dalam melindungi umat beriman terhadap penyimpangan-penyimpangan aneh dari kebenaran.

Surat-surat pastoral Paulus juga memimpikan para penatua-uskup yang berpegang pada doktrin yang benar yang mereka telah ajarkan (Tit 1:9) sebagai suatu tolok ukur dalam menilai apa yang absah dalam pendekatan-pendekatan baru yang mana saja.

Akan tetapi Yohanes menekankan berdiamnya Parakletos, pembimbing kepada segala kebenaran, yang dianugerahkan kepada setiap orang percaya, sehingga 1Yoh 2:27 dapat berkata mengenai Roh Kudus, “… di dalam diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima dari Dia. Karena itu, kamu tidak perlu diajar oleh orang lain.” Ada suatu kecenderungan dalam sejarah Kekristenan untuk memperkenankan salah satu dari pendekatan ini mendominir; namun sebagai pendekatan tunggal, masing-masing memiliki kekurangan.

Para pengajar yang kekuatan satu-satunya adalah berpegang pada tradisi, cenderung untuk memandang semua gagasan baru sebagai hal yang berbahaya. Roh Kudus adalah pembimbing yang penuh semangat dan lebih baik dalam menyesuaikan diri menghadapi hal-hal yang akan datang. Namun manakala dua orang percaya – yang mengklaim mereka dibimbing oleh Parakletos yang berdiam dalam diri mereka masing-masing – saling tidak bersetuju, maka seringkali kedua belah pihak tidak dapat mengakui kemungkinan adanya kesalahan pada pihak masing-masing, dengan demikian cenderung untuk pecah tanpa dapat direkonsiliasikan.

Dalam liturgi menjelang Hari Raya Pentakosta, Gereja membaca Kisah para Rasul bersama dengan Injil Yohanes, jadi secara implisit mengingatkan dirinya sendiri, bahwa bimbingan bagi umat Kristiani menyangkut suatu “proses saling mempengaruhi” antara instruksi eksternal dari para pengajar berpengalaman dan gerakan-gerakan internal dari Parakletos. Kedua faktor ini adalah hakiki untuk memampukan Gereja untuk mengkombinasikan tradisi yang absah dan wawasan-wawasan baru.

Satu isu lagi yang mempengaruhi hidup Kristiani pada akhir abad pertama adalah kesenjangan yang disebabkan oleh kematian generasi para saksi mata yang merupakan mata-rantai hidup antara gereja-gereja dan Yesus dari Nazaret. Bagi komunitas Yohanes, dampak penuh isu ini muncul serta terasa dengan kematian sang “Murid yang dikasihi Yesus”, saksi mata nan sempurna (par excellence) (Yoh 19:35; 21:24), suatu kematian yang kelihatannya terjadi pada saat-saat sebelum Injil-nya tersusun dalam bentuk final. Bagaimana komunitas Yohanes akan survive tanpa kehadiran “mata-rantai hidup utama” dengan Yesus itu?

Konsep Parakletos/Roh memberi jawaban atas persoalan ini. Kalau sang “Murid yang dikasihi” telah memberikan kesaksian tentang Yesus, itu bukanlah hanya disebabkan ingatannya. Bagaimana pun juga, para murid telah melihat Yesus dan tidak mengerti (Yoh 14:9). Hanya anugerah Roh pasca-kebangkitan-lah yang mengajar para murid tentang makna sepenuhnya dari segala sesuatu yang telah mereka lihat (Yoh 2:22; 12:16); dan kesaksian mereka adalah kesaksian sang Parakletos yang berbicara melalui mereka (Yoh 15:26-27).

Secara khusus, penafsiran kembali secara mendalam mengenai pelayanan dan sabda-sabda Yesus yang dilaksanakan di bawah bimbingan sang “Murid yang dikasihi” dan yang sekarang ditemukan dalam Injil Keempat adalah karya sang Parakletos. Sesungguhnya, sang “Murid yang dikasihi” dalam arti figuratif, adalah “inkarnasi” dari Parakletos. Dan sang Parakletos ini tidak akan menghentikan kegiatannya pada waktu para saksi mata telah “pergi”, karena Dia berdiam di dalam diri semua orang Kristiani yang mengasihi Yesus dan mengikuti perintah-perintah-Nya (Yoh 14:17). Sang Parakletos ini adalah mata- rantai yang menghubungi generasi-generasi mendatang dengan Yesus, sehingga secara hakiki orang-orang Kristiani pada berbagai zaman berada dekat dengan Yesus, sama seperti orang-orang Kristiani paling awal.

Isu ketiga adalah kesedihan mendalam yang disebabkan oleh tertundanya kedatangan Yesus untuk kedua kalinya. Dalam periode setelah 70 M, harapan akan kedatangan kembali Yesus mulai memudar. Hal ini telah diasosiasikan dengan penghakiman Allah yang penuh kemurkaan atas Yerusalem (Mrk 13), namun sekarang Yerusalem telah dihancurkan oleh tentara Romawi dan Yesus belum datang-datang juga. Secara khusus, kedatangan kembali Yesus telah diharapkan untuk terjadi dalam masa hidup dari mereka yang telah bersama-sama dengan Dia (Mrk 13:30; Mat 10:23). Ada orang-orang dalam komunitas Yohanes telah mengharapkan kedatangan-Nya kembali sebelum kematian dari sang “Murid yang dikasihi Yesus” (Yoh 21:23); namun sekarang kematian ini akan segera terjadi atau bahkan telah menjadi suatu realita, dan Yesus belum juga datang kembali. Bahwa penundaan ini menyebabkan skeptisisme terlihat dalam 2 Ptr 3:3-8, di mana jawabannya diberikan bahwa berapa lama pun jangka waktunya, kedatangan kembali Tuhan Yesus akan terjadi dalam waktu cepat, karena bagi Tuhan seribu tahun sama dengan satu hari.

Jawaban dari tradisi Yohanes lebih mendalam. Pengarang Injil Yohanes tidak kehilangan iman akan kedatangan Tuhan untuk kedua kalinya, akan tetapi menekankan bahwa banyak fitur yang diasosiasikan dengan itu sudah merupakan realitas hidup Kristiani (penghakiman, ke-anak-an ilahi, hidup kekal). Dan dengan satu cara yang riil telah datang kembali selama masa hidup para sahabat-Nya, karena Dia telah datang dalam dan melalui sang Parakletos. Orang-orang Kristiani dengan tradisi Yohanes (Johannine Christians) tidak perlu hidup dengan mata yang terus-menerus menatap langit dari mana Anak Manusia akan datang; karena sebagai Parakletos, Yesus hadir dalam diri semua orang percaya: sebagai Penolong mereka, Penghibur mereka, sebagai Pembimbing mereka kepada segala kebenaran.

AYAT-AYAT TENTANG PARAKLETOS

Yoh 14:15-17
“Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti perintah-perintah-Ku. Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong (Parakletos) yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu.”

Yoh 14:25-26
“Semuanya itu Kukatakan kepadamu, selagi Aku berada bersama-sama dengan kamu; tetapi Penolong (Parakletos), yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.”

Yoh 15:26-27
“Jikalau Penolong (Parakletos) yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku. Tetapi kamu juga harus bersaksi, karena kamu sejak semula bersama-sama dengan Aku.”

Yoh 16:7-11
“Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penolong (Parakletos) itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu. Kalau Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman; akan dosa, karena mereka tetap tidak percaya kepada-Ku; akan kebenaran, karena Aku pergi kepada Bapa dan kamu tidak melihat Aku lagi; akan penghakiman, karena penguasa dunia ini telah dihukum.”

Yoh 16:12-15
“Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya. Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari Aku. Segala sesuatu yang Bapa miliki adalah milik-Ku; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari Aku.”

Untuk direnungkan:
 Peran apa yang dimainkan oleh Roh Kudus dalam hidup anda? Bagaimana anda dapat menjadi lebih sadar akan kehadiran sang Parakletos yang membimbing dan menghibur anda?
 Diskusikanlah sikap yang diambil oleh komunitas Yohanes sehubungan dengan kedatangan Tuhan Yesus untuk kedua kalinya. Bagaimana hal ini mempengaruhi kepercayaan anda sendiri tentang kedatangan kembali Tuhan?

Sumber: “The Holy Spirit as Paraclete – The Gift of John’s Gospel”, SCRIPTURE FROM SCRATCH, May 1998 N0598. Terjemahan bebas dilakukan oleh Sdr. F.X. Indrapradja, OFS untuk keperluan Studi Alkitab dalam sebuah kelompok beberapa tahun lalu. Pada waktu menulis artikel ini Pater Raymond E. Brown, SS (almarhum) adalah Auburn Distinguished Professor Emeritus of Biblical Studies di Union Theological Seminary, New York. Beliau telah dua kali diangkat sebagai anggota “Komisi Kitab Suci Kepausan”, oleh Paus Paulus VI di tahun 1972 dan oleh Paus Yohanes Paulus II di tahun 1996.

Revisi terakhir: 24 Mei 2012 oleh Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KUASA ROH KUDUS DALAM GEREJA PERDANA

KUASA ROH KUDUS DALAM GEREJA PERDANA

Sepanjang “Kisah para Rasul”, pesan terus-menerus yang dapat disimpulkan adalah sangat sederhana: Manakala Roh Kudus turun, maka hidup orang pun diubah. Kita lihat ini dalam hal para rasul, yang bersama-sama dengan Bunda Maria berkumpul dalam ruang atas pada hari Pentakosta. Kita lihat hal yang sama terjadi di kota-kota Samaria, Antiokhia dan Efesus. Bahkan kita melihat itu dalam diri orang-orang yang jauh dari Kristus seperti Saulus dari Tarsus, yang menganiaya gereja. Dalam semua peristiwa ini – dan di banyak peristiwa lain – kita lihat Roh Kudus yang datang dengan kuasa dan menyalakan api yang menyapu dunia pada waktu itu. Dalam tulisan singkat ini kita ingin melihat apa yang dilakukan oleh Roh Kudus untuk mengubah orang-orang biasa menjadi orang-orang yang penuh sukacita, para pengikut Yesus yang penuh komitmen dan pewarta-pewarta Kabar Baik yang tak kenal takut.

Kuasa dari Pernyataan Kasih Allah. Santo Yohanes mengatakan kepada kita bahwa, pada perjamuan terakhir Yesus berjanji pada para murid-Nya, “Jika seseorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan tinggal bersama-sama dengan dia” (Yoh 14:23). Beberapa tahun kemudian, ketika merenungkan pengalamannya akan janji ini, Santo Paulus menulis, “… kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita” (Rm 5:5). Janji Yesus telah dipenuhi! Roh Kudus telah dicurahkan dan pencurahan itu telah memberikan kepada orang-orang Kristiani awal suatu kesadaran penuh kegembiraan yang meluap-luap akan kasih Allah.

Allah sungguh mengasihi mereka! Pernyataan kasih Allah ini mengubah seluruh hidup mereka. Tidak lagi sekadar merupakan suatu pernyataan fakta. Tidak hanya sesuatu yang Yesus telah katakan kepada mereka. Pernyataan kasih Allah begitu riil bagi mereka, sampai-sampai membuang rasa bersalah, membebaskan mereka dari rasa takut dan mengatasi dosa mereka. Kasih Allah menghangatkan hati mereka sehingga mampu menerima satu sama lain – bahkan orang-orang non-Yahudi sekali pun, yang tidak pernah dinilai pantas untuk diperhatikan Allah (lihat Kis 11:18). Begitu besar dan agung kasih Allah yang mereka alami, sehingga saling mengasihi antara mereka diwujudkan dalam tindakan nyata selagi mereka berdoa bersama dan mengurusi orang-orang miskin di tengah-tengah mereka (Kis 2:44-47).

Kasih Allah yang dicurahkan oleh Roh Kudus ini, merupakan fondasi dari seluruh pesan Injil. Ini adalah alasan paling mendasar bagi keberadaan gereja, kunci bagi segala pertanyaan teologis dan jawaban bagi setiap krisis yang dihadapi individu-individu dan bangsa-bangsa. Kasih ini bukan sebagai hasil dari kerja keras seseorang, melainkan suatu afeksi dari Bapa surgawi yang tak kunjung lelah, meski dalam situasi kedosaan dan pemberontakan kita. Seperti ditulis oleh Paulus, “… Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita dalam hal ini: Ketika masih berdosa, Kristus telah mati untuk kita” (Rm 5:8).

Kisah Para Rasul merupakan sebuah kesaksian tetap tentang fakta bahwa manakala Roh Kudus menyatakan kasih Allah, maka segala aspek kehidupan mengambil suatu perspektif yang baru. Dosa-dosa kita di masa lampau sepenuhnya diampuni. Masa depan kita terjamin. Dan kepada kita diberikan keberanian untuk bekerja melalui hari ini dengan segala keprihatinan dan masalahnya. Karena kita telah mengalami kasih ilahi yang berlimpah, kita “bergembira dengan rasa sukacita yang mulia dan tidak terkatakan” (1 Ptr 1:8), yang meliputi setiap aspek kehidupan kita.

Suatu Hidup Penyerahan Diri. Selagi mereka mengalami berdiamnya Roh dalam diri mereka, para murid dipaksa untuk menyerahkan hidup mereka kepada Yesus dan kepada misi gereja-Nya. Kehidupan batin mereka diubah sampai satu titik di mana mereka memutuskan “untuk tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka” (2 Kor 5:15). Jadi, tidak cukup hanya mengambil suatu gaya hidup yang baru, yang lebih idealistis. Roh Kudus telah “menyerbu” mereka, sehingga – betapa pun lemah dan berdosa mereka sebelumnya – mereka ingin menyediakan diri secara terpisah bagi Tuhan, mempersembahkan diri mereka sendiri sebagai “kurban persembahan yang hidup” bagi Allah(Rm 12:1).

Santo Paulus menjelaskan penyerahan diri kepada Yesus ini dengan membuat sebuah proklamasi yang masih dapat menyentuh hati kita hari ini: “… bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Hidup yang sekarang aku hidupi secara jasmani adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku” (Gal 2:20).

Bagi Paulus dan semua orang Kristiani awal, Roh Kudus yang meliputi mereka juga meyakinkan mereka untuk berserah diri kepada Yesus setiap hari. Roh Kudus telah menyatakan Yesus kepada mereka, tidak hanya sebagai seseorang yang mengasihi mereka secara mendalam, tetapi juga sebagai Tuhan segala ciptaan, yang memang layak dan pantas ditaati, dikasihi dan disembah. Paulus menggambarkan proses ketaatan itu sebagai berikut: “… apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia daripada semuanya. Karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus, dan berada dalam Dia …” (Flp 3:7-9).

Paulus, Petrus dan semua murid berusaha untuk membuka setiap aspek hidup mereka bagi Roh Kudus dan memperkenankan kasih yang mereka terima dalam hati mereka untuk memperbaharui pikiran-pikiran mereka, hasrat-hasrat mereka, keputusan-keputusan mereka dan relasi-relasi mereka. Mereka belajar untuk “menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus” (lihat 2 Kor 10:5), dan memperkenankan diri mereka sendiri diubah “oleh pembaruan budi mereka” (lihat Rm 12:2).

Sampai ke Ujung-ujung Bumi. Meski mereka ditangkap (Kis 4:1-4), dianiaya (Kis 5:40) dan diancam pembunuhan (Kis 9:1), orang-orang Kristiani awal terus melanjutkan permakluman bahwa Yesus Kristus disalibkan dan dibangkitkan dari antara orang mati. Sementara mereka terus membuka hidup mereka bagi kuasa Roh Kudus, mereka mengalami suatu hasrat yang membara untuk berbagi Injil dengan orang-orang lain. Tidak lebih dari dua bulan setelah melihat Guru mereka ditangkap dan disalibkan, dengan berani Petrus mengatakan kepada mereka yang bertanggung jawab atas penyaliban Yesus, “Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus” (Kis 2:36).

Demikian pula dengan para murid yang lain. Setelah melihat bagaimana saudara mereka Stefanus mati di tangan tua-tua Yahudi, semua murid yang melarikan diri dari Yerusalem samasekali tidak berpeluk tangan dan tidak melakukan apa-apa. “Mereka yang tersebar itu menjelajahi seluruh negeri itu sambil memberitakan Injil” (Kis 8:4). Di Samaria, “orang banyak itu mendengar pemberitaan Filipus dan melihat tanda-tanda yang diadakannya, mereka semua memperhatikan dengan sepenuh hati apa yang diberitakannya itu. Karena itu, sangatlah besar sukacita dalam kota itu” (Kis 8:6,8). Kemudian Lukas bercerita kepada kita, “Sementara itu saudara-saudara seiman yang tersebar karena penganiayaan yang timbul sesudah Stefanus, menyingkir sampai ke Fenisia, Siprus dan Antiokhia; namun mereka memberitakan Injil kepada orang Yahudi juga” (Kis 11:19). Karena sekelompok kecil laki-laki dan perempuan, api kebangunan baru menyebar ke seluruh Asia Kecil.

Mengapa para murid mengambil risiko begitu besar, risiko dianiaya dan maut? Sekali lagi Paulus memberi jawabannya: “… kasih Kristus menguasai kami, karena kami telah mengerti bahwa jika satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka semua sudah mati. Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka” (2 Kor 5:14-15). Pengalaman akan kasih Allah yang semakin mendalam dengan berjalannya waktu ditambah dengan sikap serta tindakan penyerahan hidup mereka kepada Kristus yang terus berlanjut, memimpin para murid untuk berkeinginan memberitakan kepada setiap orang semampu mungkin mengenai keselamatan yang tersedia bagi mereka dalam Yesus.

Datanglah, Tuhan Yesus! Roh Kudus menyentuh hati para murid dengan begitu mendalamnya sehingga mereka mengalami suatu kerinduan untuk dapat bersama Yesus dan memandang-Nya secara muka-ketemu-muka. Roh Kudus ini, yang adalah “jaminan warisan kita sampai kita memperoleh penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya” (Ef 1:14), memberikan kepada mereka suatu citarasa bagaimana kiranya hidup kekal bersama Yesus kelak, sehingga gereja awal pun berseru, “Amin, datanglah, Tuhan Yesus” (Why 22:20).

Orang-orang Kristiani awal mengerti bahwa hidup dalam dunia ini hanyalah bersifat sementara, dan bahwa rumah mereka yang benar dan akhir adalah dalam surga, bersatu dengan Tuhan. Pada kenyataannya, iman dan harapan akan kedatangan kembali Yesus inilah yang menopang gereja dalam waktu-waktu sulit dan pengejaran serta penganiayaan: “Jika kita bertekun, kita pun akan ikut memerintah dengan Dia” (2 Tim 2:12). Apa lagi yang dapat lebih memberikan harapan daripada janji akan hidup kekal dan mulia bersama dengan Dia yang telah mengasihi kita dengan begitu setia?

Orang-orang Biasa Diubah secara Luar Biasa. Sekarang kita mempunyai kesempatan indah untuk membuka hati kita secara lebih penuh lagi bagi kuasa-mengubah dari Roh Kudus. Tujuan-tujuan Allah tidak pernah berubah. Segalanya yang dialami oleh para murid Yesus sekitar 2000 tahun lalu masih tetap tersedia bagi kita hari ini. Sama seperti yang terjadi dengan mereka dulu dapat juga terjadi dengan kita.

Kalau kita ingin mengetahui karya Roh Kudus dalam hidup kita, kita harus memahami bahwa para murid Yesus yang awal bukanlah orang-orang yang luarbiasa. Mereka hanyalah mantan nelayan, mantan pemungut cukai, mantan anggota kaum pejuang zeloti dll. Mereka tidak datang berkumpul, lalu menyusun sebuah rencana untuk mengubah dunia. Mereka adalah orang-orang lemah dan berdosa, seperti kita juga, dan mereka tahu bahwa hanya Roh Kudus yang dapat melakukan pekerjaan yang telah dipercayakan oleh Yesus kepada mereka. Itulah mengapa mereka tidak langsung pergi menginjil ke mana-mana, tetapi mengikuti permintaan Yesus agar mereka tetap berdiam di Yerusalem, berdoa dan menantikan kedatangan Roh Kudus yang dijanjikan itu (lihat Luk 24:49).

Marilah kita mencontoh para murid Yesus dulu, dengan menyediakan waktu ekstra untuk berdoa. Marilah kita merenungkan sabda Allah dan mohon kepada-Nya untuk memenuhi kita lebih lagi dengan Roh Kudus. Marilah kita menantikan pemenuhan janji Yesus: “… kamu akan menerima kuasa bilamana Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi” (Kis 1:8).

Sumber: “The Power of the Spirit in the Early Church” , the WORD among us, Easter 1998, hal. 6-10. Terjemahan dengan sedikit perubahan oleh Sdr. Frans X. Indrapradja, OFS pada tahun 2004 untuk bahan rekoleksi dan studi Alkitab.

STUDI ALKITAB TENTANG KITAB WAHYU (7)

WAHYU KEPADA YOHANES 

Pertemuan ke-4: TUJUH GEREJA DAN MASALAH-MASALAH YANG DIHADAPI 

AWAL DAN PERKEMBANGAN KITAB WAHYU 

Seorang arsitek yang berpengalaman mampu untuk menarasikan sejarah sebuah rumah. Dari pengamatannya yang serius dia dapat mengetahui bahwa serambi di rumah itu adalah tambahan, dapur sudah diperluas dan seterusnya. Why adalah seperti sebuah rumah. Kitab ini telah diperluas secara bertahap, sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan ketujuh komunitas. Seperti sang arsitek berpengalaman di atas, ada juga sejumlah pakar tafsir Kitab Suci yang  setelah mempelajari Why berkesimpulan seperti akan diuraikan berikut ini. 

Yohanes mula-mula menyusun bab-bab 4-11, barangkali di tahun 64M pada waktu pengejaran/penganiayaan oleh kaisar Nero. Pada waktu pengejaran/penganiayaan semakin intensif terasalah bahwa bab-bab 4-11 itu menjadi tidak memadai. Oleh karena itu ‘rumah’ harus diperluas. Umat Kristiani membutuhkan suatu refleksi yang lebih mendalam atas pengejaran/penganiayaan, juga atas politik kekaisaran Roma. Untuk menghadapi masalah ini Yohanes menulis bab-bab 12-22, barangkali pada tahun 95M pada masa pengejaran/ penganiayaan oleh kaisar Domitianus. Akhirnya, Yohanes menambahkan bab-bab 1-3 dan juga membuat lengkap bab 22. 

Anda dapat bertanya bagaimana kita dapat mengetahui hal ini? Saya dapat balik bertanya kepada anda, “Bagaimana sang arsitek mengetahui perkembangan historis dari rumah tertentu?” Anda menjawab, “Karena arsitek itu seorang spesialis.”  Demikian pula halnya dengan Why! Kita mengetahui tentang perkembangan Why secara bertahap juga dari para spesialis di bidang tafsir Kitab Suci. 

Why 1-3 di mana kita dapat menemukan ‘surat-surat kepada tujuh komunitas’ seakan-akan merupakan pintu masuk utama ke dalam kitab ini secara keseluruhan. Ketiga bab pertama ini mengubah Why menjadi sepucuk surat yang hangat dan mengundang. Ketiga bab ini seperti serambi rumah, di mana Yohanes menyambut para anggota komunitas yang teraniaya. Marilah kita memasukinya. 

Judul dan Introduksi (1:1-3) 

Ikhtisar. Judul kitab ini adalah: “Inilah wahyu Yesus Kristus” (1:1). Introduksi (1:1-3) menunjuk pada asal-usul perwahyuan ini: datang dari Allah melalui Yesus (1:1). Di sini dijelaskan nilainya: firman Allah yang dikonfirmasi oleh Yesus (1:2). Diindikasikan juga tuntutannya: perwahyuan ini harus didengarkan dan dipraktekkan (1:3), imbalannya: kebahagiaan [1:3], dan urgensinya: “sebab waktunya sudah dekat” (1:3).

Ayat pertama Why berbunyi: “Inilah wahyu Yesus Kristus, yang dikaruniakan Allah kepada-Nya, supaya ditunjukkan-Nya kepada hamba-hamba-Nya apa yang harus segera terjadi. Ia telah menyatakannya kepada hamba-nya Yohanes dengan perantaraan malaikat-Nya yang diutus-Nya” [1:1]. Jadi, Yesus adalah sumber perwahyuan ini. Secara tradisional dalam sastra apokaliptis, malaikat adalah utusan Allah. Sebagai ungkapan rasa hormat mereka, orang-orang Yahudi tidak menyebutkan nama Ilahi. Pada awalnya mereka menyebut-Nya dengan nama Elohim, namun nama Allah adalah YHWH. Hanya satu orang saja, setahun sekali – pada hari suci tertinggi – yang diperkenankan untuk menyebut nama YHWH ini. Orang ini adalah Imam Besar, dan tempatnya adalah di dalam bagian  dalam Bait Allah, ‘yang Kudus dari yang Kudus’. Maka dalam literatur kuno Yahudi, malaikat-malaikatlah yang dipakai untuk menyampaikan pesan-pesan ilahi karena Allah dan nama-Nya begitu suci. Nah, Yohanes menggunakan bentuk penggambaran yang sama. 

Sapaan awal (1:4-8) 

Why 1:4-6. Yohanes memulai kitabnya dengan ucapan semoga karunia (anugerah) dan damai sejahtera Allah Tritunggal Mahakudus menyertai ketujuh komunitas Kristiani itu. Tujuh adalah angka simbolis dalam Why. Angka tujuh atau kelipatannya, atau kombinasinya, berarti kepenuhan atau kesempurnaan. Kadang-kadang angka kombinasinya adalah tiga atau empat, ditambahkan sehingga memberikan hasil angka tujuh, atau dikalikan sehingga memberikan hasil angka dua belas. Maka kalau kita melihat angka 7, 4, 3 atau 12, hal ini berarti kita memiliki lambang kepenuhan atau kesempurnaan. Hal ini berarti kepenuhan Roh Tuhan. 

Kalau kita berbicara mengenai Allah Tritunggal Mahakudus, maka kita mengatakan, “Bapa dan Putera dan Roh Kudus”. Namun Yohanes mengatakan yang sama dengan kata-kata yang berbeda: “Dari Yohanes kepada ketujuh jemaat yang di Asia Kecil: Anugerah dan damai sejahtera menyertai kamu, dari Dia, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, dan dari ketujuh roh yang ada di hadapan takhta-Nya, dan dari Yesus Kristus” [1:4-5]. Manakala kita menyebut nama seorang pribadi, kita sesungguhnya telah mengetahui tentang orang itu dan apa yang kita harapkan dari dia. Sekarang kita lihat apa yang dipikirkan Yohanes tentang Allah Tritunggal dan apa yang diharapkan olehnya dari-Nya. 

1.     Bapa: “Dia, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang”  

Pada awal Why Allah Bapa disebut sebagai “Dia, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang” [1:4; 4:8]. Di bagian belakang, nama-Nya adalah “yang ada dan yang sudah ada” [11:17], karena Dia tidak akan datang lagi sebab Dia sudah datang dan menggenapi rencana-nya. Memang Why menggambarkan kedatangan Allah ke dalam sejarah umat-Nya. Dia bukanlah Allah yang jauh, di luar sejarah, melainkan Allah yang ada/hadir dalam sejarah. Dia mempunyai masa lalu, masa kini dan masa mendatang. Dia sudah ada, Dia ada, dan Dia akan datang. Sejarah Allah adalah sejarah umat Allah. Dia selalu berada dan berjalan bersama umat-Nya. 

Nama panggilan Allah sebagai ‘yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang’ mengingatkan kita pada kata-kata yang digunakan oleh Allah ketika menjelaskan kepada Musa tentang arti dari nama-Nya, YHWH, yaitu “Aku adalah Aku yang ada” [Ibrani: ehyeh ašer ehyeh; Kel 3:14]. Bagi Yohanes, Allah dari komunitas-komunitas Kristiani adalah Allah yang sama dengan Allah yang membebaskan umat-Nya dari perbudakan Mesir, yang memperkenalkan diri kepada Musa sebagai YHWH. Allah yang selalu hadir, Allah sang Pembebas. Firman-Nya kepada Musa: “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel: YHWH, Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub, telah mengutus aku kepadamu: itulah nama-Ku untuk selama-lamanya dan itulah sebutan-Ku turun temurun” [Kel 3:15]. 

2.     Roh Kudus: “ketujuh roh yang ada di hadapan takhta-Nya” 

Roh-roh, artinya tindakan Allah yang tak terlihat dalam kehidupan dan sejarah umat manusia. “… Roh Tuhan memenuhi dunia semesta” [KebSal 1:7]. Mengapa tujuh roh? Karena menunjukkan kepenuhan tindakan Allah dalam dunia untuk melaksanakan rencana-Nya dalam praktek. Roh-roh itu ada ‘di hadapan takhta-Nya’, hal ini berarti bahwa roh-roh itu selalu siap untuk melaksanakan perintah dari Bapa [5:6]. 

3.     Putera: “Yesus Kristus, Saksi yang setia, yang pertama bangkit dari orang mati dan yang berkuasa atas raja-raja bumi ini” 

Dalam Why, kepada Yesus diberikan beberapa nama, masing-masing nama mengungkapkan satu ciri pribadi dari diri-Nya. Saksi yang setia: Yesus memberikan bukti bahwa Allah itu setia dalam memenuhi janji-janji-Nya. Yang pertama bangkit dari orang mati: Yesus – saudara kita yang sulung – telah mengalahkan kematian dan sekarang hidup. Dalam Dia telah dipenuhilah janji yang dibuat Bapa kepada kita semua [1:18]. Yang berkuasa atas raja-raja bumi ini: Yesus memiliki kuasa untuk memenuhi janji Bapa. Raja-raja di bumi, termasuk kaisar Roma, tidak mampu mencegah-Nya. Yesus adalah yang paling kuat, posisi-Nya adalah di atas raja-raja bumi itu, malah Dia menguasai mereka. ‘Gelar-gelar’ atau ‘julukan-julukan’ yang diberikan kepada Yesus ini, kemudian kalau digabung dengan frase ‘yang mengasihi kita dan telah melepaskan kita dari dosa kita oleh darah-Nya’ , sebenarnya berbicara mengenai Sengsara, Kebangkitan dan pengangkatan-Nya ke surga, semuanya menunjukkan superioritas-Nya atas raja-raja bumi. Ingatlah bahwa tujuan Why adalah mengingatkan para penguasa di bumi bahwa Yesus adalah sang Pemenang. Oleh karena itu Why sejak awal mengatakan bahwa Yesus-lah – bukan kaisar Roma – yang merupakan Penguasa seluruh dunia [JT, hal. 29]. 

Yesus yang perkasa dan setia ini adalah saudara kita, dan Dia mengasihi kita [1:5]. Sesungguhnya Dia begitu mengasihi kita sehingga menumpahkan darah-Nya guna memerdekakan kita [1:5] dan membuat kita ‘suatu kerajaan imam’ [1:6]. Yesus memiliki ‘kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya’ [1:6]. 

Why 1:7-8. Pada akhir zaman, Yesus akan datang kembali di atas awan-awan dan semua mata akan melihat Dia – bahkan mereka yang telah menyalibkan/menikam Dia dan semua bangsa di bumi akan meratapi Dia [1:7]. “Lihatlah, Ia datang dengan awan-awan” merupakan acuan langsung kepada sebuah ayat Perjanjian Lama: “Aku terus melihat dalam penglihatan malam itu, tampak datang dengan awan-awan dari langit seorang seperti anak manusia …” [Dan 7:13; bdk. Mat 24:30]. Datang ‘dengan awan-awan’ mengindikasikan kedatangan Mesias, Hakim dunia. 

Firman Tuhan Allah: “Akulah Alfa dan Omega”. Alfa dan Omega adalah huruf-huruf pertama dan terakhir dalam bahasa Yunani – yang melambangkan totalitas. Yesus adalah awal dan akhir. 

Catatan: Sapaan-awal/salam [1:4-8] sebenarnya merupakan ikhtisar singkat dari seluruh Kabar Baik yang mau disampaikan oleh Why

Awal dari Kitab Wahyu: berjumpa dengan Yesus dalam penglihatan [1:9-20] 

Why 1:9-16. Waktu itu hari Minggu, ‘pada hari Tuhan’ [1:10] di pulau Patmos [1:9]. Setelah menjelaskan bagaimana dia sampai ke pulau Patmos, Yohanes menggambarkan penglihatan pertamanya. Dalam penglihatan itu Yohanes bertemu dengan Yesus. Yesus memberi perintah kepada Yohanes sebelum dia berpaling kepada-Nya: “Apa yang engkau lihat, tuliskanlah di dalam sebuah kitab dan kirimkanlah kepada ketujuh jemaat ini: ke Efesus, ke Smirna, ke Pergamus, ke Tiatira, ke Sardis, ke Filadelfia dan ke Laodikia” [1:11] Yohanes melihat ‘seorang yang serupa Anak Manusia’ [1:13] dan menggambarkannya seperti yang dilakukan Daniel dalam Dan 7:9-15. ‘Jubah-Nya  yang panjang sampai di kaki’ melambangkan imamat’ [1:13]; ‘ikat pinggang dari emas’ melambangkan martabat-Nya sebagai raja [1:13]; ‘kepala dan rambut-Nya yang putih seperti bulu domba, seputih salju’ melambangkan keabadian [1:14]; ‘mata-Nya yang bagaikan nyala api’ melambangkan pengetahuan yang tanpa batas [1:14]; ‘kaki-Nya mengkilap bagaikan tembaga membara di dalam perapian’ melambangkan bahwa Dia tidak dapat diubah [1:15]; ‘suara-Nya bagaikan desau air bah’ melambangkan otoritas ilahi [1:15]; ‘sebilah pedang tajam bermata dua’ melambangkan sabda/firman Allah yang akan memberi imbalan dan menghukum pada hari Pengadilan Terakhir [1:16]; dan ‘wajah-Nya yang bersinar-sinar bagaikan matahari yang terik’ melambangkan keagungan ilahi [1:16]. 

Kita akan lihat, bahwa pada akhir penglihatan Yesus mengulangi perintah yang sama [1:19]. Ini adalah penglihatan yang penting. Oleh karena itu pentinglah untuk mempelajarinya dengan lebih mendalam. 

Why 1:17-18. Yohanes menulis: “Ketika aku melihat Dia, sujudlah aku di depan kaki-Nya.”  Kita pun harus melakukannya dengan penuh kerendahan-hati di hadapan Tuhan. Yesus meletakkan tangan kanan-Nya di atas Yohanes, lalu berkata: “Jangan takut! Akulah Yang Awal dan Yang Akhir, dan Yang Hidup. Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai selama-lamanya dan Aku memegang segala kunci maut dan kerajaan maut.”  Kata ‘kunci’ merupakan sebuah lambang. Jika kita memiliki kunci, maka kita dapat masuk dan keluar. Kita dapat mengunci dari dalam maupun dari luar. Kita menjadi tuan-tuan dari rumah-rumah kita sendiri karena kita mempunyai kunci yang diperlukan. Yesus adalah Tuan dari alam semesta karena Dia mempunyai kunci-kunci

Why 1:19-20. Yesus berkata lagi kepada Yohanes: “Karena itu, tuliskanlah apa yang telah kaulihat, baik yang terjadi sekarang maupun yang akan terjadi sesudah ini.” Ini adalah privilese para nabi. Tuhan menganugerahkan kepada mereka kuasa untuk memandang hal-hal yang terjadi sekarang dan hal-hal yang akan terjadi di masa mendatang. Akhirnya, pada ayat terakhir bab ini [1:20], Yesus menjelaskan kepada Yohanes arti rahasia dari ketujuh bintang yang dipegang dengan tangan kanan-Nya dan ketujuh kaki pelita emas itu: Ketujuh bintang itu ialah malaikat ketujuh jemaat dan ketujuh kaki pelita itu ialah ketujuh jemaat. Ketujuh bintang merupakan suatu allusi kepada kekuasan kekaisaran pada waktu itu – mahkota-mahkota para kaisar dihiasi dengan tujuh planet dunia, hal mana mengindikasikan bahwa para kaisar tersebut adalah penguasa jagad raya. Akan tetapi Yesus memegang tujuh bintang. Hal ini berarti bahwa Dia memegang kekuasaan penuh atas semua gereja dan juga memberikan perlindungan penuh atas berbagai komunitas Kristiani yang ada. Sesungguhnya Dia memegang seluruh dunia dalam tangan-Nya. 

BEBERAPA CATATAN  

1.     Kunci untuk memahami penglihatan dengan lebih baik menurut P. Carlos Meester 

Suatu penglihatan adalah seperti sebuah mimpi; artinya tidak dapat dipahami secara harfiah, kata demi kata. Di samping itu pemahaman secara harfiah atau literer itu tidaklah mungkin. Bagaimana kita memahami frase-frase seperti ‘kaki-Nya mengkilap bagaikan tembaga membara di dalam perapian’ [1:15], ‘wajah-Nya bersinar-sinar bagaikan matahari yang terik’ [1:16], ‘dari mulut-Nya keluar sebilah pedang tajam bermata dua’ [1:16]? Yohanes lebih merupakan seniman daripada seorang wartawan. Penglihatannya adalah ekspresi dari suatu pengalaman yang tidak dapat diekspresikan. Tentunya Yohanes mempunyai pengalaman mendalam akan kuasa, kasih dan kekudusan Yesus; dan dengan menggunakan gambaran-gambaran (imaji), dia mencoba untuk menyampaikan pengalaman pribadinya kepada orang lain. Yohanes menggunakan gambaran-gambaran yang sudah dikenal baik, yang dapat dimengerti oleh orang-orang biasa. Orang-orang itu dapat saja tidak memahami segala detil dari apa yang disampaikan, namun mereka dapat mengira-ngira arti dari keseluruhannya, karena mereka memiliki iman yang sama akan Yesus Kristus. 

Pater Carlos Meester menyimpulkan sebagai berikut: Untuk memahami penglihatan-penglihatan itu, studi saja tidak cukup. Seseorang harus memiliki iman yang sama dan pengalaman akan Allah dan Yesus yang sama pula. Penglihatan-penglihatan itu merupakan sebuah tantangan riil bagi kita [CM, hal. 56]. 

2.     Beberapa petunjuk untuk memahami dengan lebih baik detil-detil penglihatan menurut P. Carlos Meester[1] 

‘Tujuh kaki pelita dari emas’ [1:12] adalah tujuh komunitas Kristiani/ jemaat/ gereja. ‘Anak Manusia’ [1:13] adalah Yesus, sang Mesias. ‘Jubah panjang’ [1:13] adalah tanda imamat-Nya. ‘Ikat pinggang dari emas’ mengingatkan kita bahwa Dia adalah Raja. ‘Rambut putih’ [1:14] menunjukkan keabadian. ‘Mata-Nya bagaikan nyala api’ [1:14] menunjukkan pengetahuan ilahi-Nya. ‘Kaki-Nya mengkilap bagaikan tembaga membara di dalam perapian’ [1:15] adalah tanda-tanda stabilitas dan kekuatan. ‘Suara-Nya bagaikan desau air bah’ [1:15] mengungkapkan keagungan dan kuasa-Nya. ‘Ketujuh bintang di tangan-Nya [1:16] adalah tujuh koordinator, atau malaikat pelindung dari komunitas-komunitas Kristiani. ‘Sebilah pedang tajam bermata dua’ yang keluar dari mulut-Nya adalah Sabda/Firman yang memiliki Kuasa Allah. ‘Wajah-Nya bersinar-sinar bagaikan matahari yang terik’ [1:16] melambangkan kekuasaan/otoritas-Nya. Di hadapan Yesus, Yohanes ‘bersembah-sujud di depan kaki-Nya seperti orang yang mati’ [1:17]: gesture ini mencerminkan situasi dari komunitas-komunitas Kristiani, yang dicekam rasa takut akan penganiayaan dan kematian. 

Pada titik ini, dalam penglihatan Yohanes, Yesus mulai bertindak. Ia meletakkan tangan kanan-Nya di atas Yohanes, lalu berkata, “Jangan takut! Akulah Yang Awal dan Yang Akhir, dan Yang Hidup. Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai selama-lamanya dan Aku memegang segala kunci maut dan kerajaan maut” [1:17-18]. Carlos Meester mengatakan, bahwa gesture ini dan sabda Yesus ini mengekspresikan jauh lebih banyak daripada penjelasan yang telah diberikan olehnya sebelumnya [CM, hal. 56-57]. 

Tujuh surat kepada tujuh komunitas [2:1-3:22] 

Ini adalah surat-surat yang pendek, sederhana dan bersifat pribadi, yang dialamatkan kepada komunitas-komunitas di Efesus [2:1-7], Smirna [2:8-11], Pergamus [2:12-17], Tiatira [2:18-29], Sardis [3:1-6], Filadelfia [3:7-13] dan Laodikia [3:14-22]. 

Ketujuh surat ini mengambil format yang sama, meskipun dengan sedikit variasi. Ada perbedaan-perbedaan dalam pesan yang disampaikan, namun pada dasarnya surat-surat tersebut mempunyai bidang kepentingan yang serupa. Masing-masing komunitas mempunyai tujuh kekhususan: 

  1. Setiap surat mulai dengan sebuah perintah untuk menulis kepada ‘malaikat komunitas’ masing-masing [2:1.8.12.18; 3:1.7.14].
  2. Semua surat disajikan sebagai pesan Yesus: “Inilah firman dari ……” [2:1.8.12.18; 3:1.7.14].
  3. Pada setiap surat Yesus diberikan suatu gelar, misalnya ‘Dia, yang memegang ketujuh bintang itu di tangan kanan-Nya dan berjalan di antara ketujuh kaki pelita emas itu’ [2:1]; ‘Yang Awal dan Yang Akhir, yang telah mati dan hidup kembali’ [2:8] dan seterusnya [lihat juga 2:12.18; 3:1.7.14].
  4. Maksud Yohanes  melaporkan ‘pesan profetisnya’ (pesan kenabiannya) adalah untuk  “bersaksi tentang firman Allah dan tentang kesaksian yang diberikan oleh Yesus Kristus” [Why 1:2]. Ungkapan “Aku tahu” mempersonifikasikan  Yesus Kristus:
    1. Kepada jemaat di Efesus: “Aku tahu bahwa engkau tidak dapat sabar …” [2:2].
    2. Kepada jemaat di Smirna: “Aku tahu kesusahanmu dan kemiskinanmu … [2:9].
    3. Kepada jemaat di Pergamus: “Aku tahu di mana engkau tinggal …” [2:13].
    4. Kepada jemaat di Tiatira: “Aku tahu segala pekerjaanmu …” [2:19].
    5. Kepada jemaat di Sardis: “Aku tahu segala pekerjaanmu …” [3:1].
    6. Kepada jemaat di Filadelfia: “Aku tahu segala pekerjaanmu …” [3:8].
    7. Kepada jemaat di Laodikia: “Aku tahu segala pekerjaanmu …” [3:15].

Setelah mengatakan “Aku tahu” Yesus menggambarkan hal-hal yang positif dari komunitas bersangkutan [2:2-3.9.13.19; 3:8]. Kekecualian adalah komunitas di Sardis dan Laodikia.

  1. Kemudian Yesus menggambarkan hal-hal negatif dari masing-masing komunitas dan Ia pun memberikan peringatan kepada mereka [2:4-6. 14-16. 20-25; 3:2-3. 15-19]. Dua komunitas – Smirna dan Filadelfia – tidak menunjukkan sesuatu yang negatif; Yesus menyemangati dan mendorong mereka untuk bertekun [2:10; 3:11]. Dalam komunitas Sardis, hal-hal yang negatif lebih kuat daripada yang positif [3:1-4]. Oleh karena itu Yesus minta agar mereka mengubah way of life mereka: bertobat!
  2. Semua komunitas menerima perintah akhir yang sama, yaitu suatu seruan untuk mendengarkan: “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat” [2:7.11.17.29; 3:6.13.21]. Seruan ini ditujukan kepada semua gereja (semua umat).
  3. Ketujuh surat itu, semuanya berakhir dengan suatu nasihat untuk bertahan Setiap surat diakhiri dengan suatu janji kepada mereka yang akan mengatasi  situasi dan tetap setia bersama Tuhan, misalnya “Siapa yang menang, dia akan Kuberi makan dari pohon kehidupan yang ada di Taman Firdaus Allah” [2:7]; “Siapa yang menang, ia tidak akan menderita apa-apa oleh kematian yang kedua” [2:11] dan seterusnya [lihat juga 2:17.26-28; 3:5.12.21]. 

Lihatlah lagi butir 4 di atas. Sesungguhnya, apakah yang diketahui oleh Yesus Kristus? Ia menggambarkan situasi masing-masing dan menghargai/memuji atau mengecam/mencela sesuai dengan keadaan masing-masing. Bila perlu, Ia memerintahkan mereka untuk bertobat dan kemudian mengungkapkan kepada mereka apa yang akan terjadi. Dan setiap kali Ia mengatakan bahwa Tuhan akan datang segera, maka pentinglah untuk menempatkan kata-kata ini dalam konteks waktu. Misalnya ketika para murid/rasul mendengar Yesus mengatakan, “Ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman” [Mat 28:20], mereka menganggap bahwa Ia akan datang dalam waktu singkat. Mereka tidak  berpikir bahwa berabad-abad setelah itu, Yesus masih tetap dinanti-nantikan. 

Tujuh petunjuk untuk membaca dan mempelajari ketujuh surat 

1.       Bentuklah pendapat anda tentang berbagai situasi yang dihadapi oleh komunitas-komunitas Kristiani pada waktu itu. 

Hal-hal positif apa saja yang ada dalam masing-masing komunitas? Hal-hal negatif? Dalam hal apa saja masing-masing komunitas itu harus berupaya keras memperbaiki diri? Bahaya-bahaya apa saja yang mengancam? Bandingkanlah situasi masing-masing komunitas dengan situasi kita hari ini? 

2.       Hadapi situasi. 

Dengan cara apa Yohanes meminta kepada komunitas-komunitas itu untuk menghadapi situasi mereka? Berbagai sumber-daya apa saja yang dimiliki setiap komunitas untuk dipakai mengatasi masalah-masalah yang dihadapi? Bagaimana dengan kita sendiri? Bagaimana kita menghadapi masalah-masalah yang kita hadapi hari ini? 

3.       Diperkaya (diberi makan) oleh Perjanjian Lama. 

Bacaan-bacaan dan peristiwa-peristiwa Perjanjian Lama mana saja yang dipetik atau dibangkitkan dalam setiap surat? Untuk ini rajin-rajinlah melihat catatan kaki dalam Kitab Suci. Unsur-unsur masa lampau apa saja yang dihidupkan oleh Yohanes dalam diri umat? Bagaimana kita hari ini dapat mengingat-ingat memori masa lalu dan menemukan lagi kehadiran Allah dalam sejarah? 

4.       Perdalamlah iman anda kepada Yesus. 

Gelar apakah yang diberikan kepada Yesus dalam setiap surat? Kuasa dan makna apa yang terkandung dalam setiap gelar Yesus bagi kehidupan umat? Bandingkanlah gelar-gelar Yesus dalam Why dengan gelar-gelar Yesus yang biasa kita berikan kepada Yesus dalam zaman kita. 

5.       Nikmatilah berbagai gambaran (imaji) dan metafora yang terdapat dalam Why. 

Metafora dan imaji apa saja yang digunakan dalam masing-masing surat? Dari mana  berbagai metafora dan imaji tersebut diambil? Dari Perjanjian Lama, dari kehidupan, dari alam, dari budaya umat manusia? Dalam janji-janji kepada mereka yang setia sampai akhir, ketujuh surat itu mengindikasikan imaji/gambaran-gambaran seperti berikut: ‘pohon kehidupan’ [2:7], ‘Taman Firdaus Allah’ [2:7], ‘kematian yang kedua’ [2:11], ‘manna yang tersembunyi’ [2:17], ‘batu putih’ [2:17], ‘nama baru’ [2:17; 3:12], ‘tongkat besi’ [2:27], ‘tembikar tukang periuk’ [2:27], ‘bintang timur’ [2:28]. ‘pakaian/jubah putih’ [3:5], ‘tiang di dalam Bait Suci Allah’ [3:12], ‘Yerusalem baru’ [3:12], dan ‘duduk bersama dengan Yesus di atas takhta-Nya’ [3:21]. Beberapa contoh ini memberi suatu ide tentang begitu kayanya imaji/gambaran-gambaran yang termuat dalam ketujuh surat. 

6.       Jadikanlah diri anda berani berdasarkan janji-janji-Nya kepada mereka yang tak terkalahkan. 

Janji-janji apa saja yang dibuat dalam masing-masing surat bagi orang-orang yang setia sampai akhir? Dengan cara bagaimana sebuah janji menolong seseorang untuk melanjutkan perjuangannya dan menanggung beban penderitaan karena pengejaran dan penaniayaan? Janji mana yang mendorong anda hari ini dalam menghadapi situasimu sendiri?

7.       Teladani contoh yang diberikan oleh Yohanes 

Marilah kita mendapatkan informasi perihal situasi konkrit yang dihadapi komunitas-komunitas. Dari waktu ke waktu marilah kita berkumpul bersama dan menulis sepucuk surat pendek kepada sebuah komunitas yang lain yang memerlukan penghiburan. 

PERTANYAAN-PERTANYAAN 

  1. Dalam handout # STUDI ALKITAB/WAHYU KEPADA YOHANES/FXI/03 terdapat pernyataan sebagai berikut: “Why pada dasarnya merupakan sebuah pesan penghiburan dan pengharapan bagi umat Kristiani yang sedang mengalami krisis dan yang iman-kepercayaannya terancam oleh perubahan-perubahan dan pengejaran serta penganiayaan. Tujuan Why adalah untuk menolong umat Kristiani menemukan kembali Allah mereka dan misi mereka. Why dimaksudkan untuk mendorong umat agar tetap berjuang dan ‘mempersenjatai’ mereka guna menghadapi kemungkinan ‘pertempuran-pertempuran’ yang ada di depan mata” [hal. 1]. Setujukah anda dengan pernyataan ini? Jelaskan jawaban anda dengan uraian seperlunya!
  2. Dalam handout  yang sama terdapat juga pernyataan: “Setiap tafsir atas Why yang menabur atau menyebarkan rasa takut dalam hati umat atau melemahkan semangat harus ditepis, harus dinilai sebagai palsu dan keliru. Setujukah anda dengan pernyataan ini? Jelaskan jawaban anda dengan uraian seperlunya!
  3. Why 1:5 menyebutkan beberapa gelar Yesus. Sebutkanlah gelar-gelar itu disertai dengan arti simbolismenya:

a._____________________________________________

b._____________________________________________

c._____________________________________________

 4.  Mengapa surat-surat dalam Why ditujukan kepada tujuh komunitas/jemaat Kristiani (gereja). Apa yang dilambangkan oleh ketujuh jemaat Kristiani itu?

5.  Kepada setiap komunitas yang dikirimi surat, Yesus mengatakan “Aku tahu.”  Apakah sebenarnya yang diketahui Yesus?

6.  Apakah yang dimaksudkan dengan ‘sebilah pedang tajam bermata dua’ ?  Carilah dalam Surat Paulus kepada jemaat di Efesus, ayat yang menunjuk kepada hal yang sama! Istilah apa yang digunakan dalam surat Paulus tersebut?

7.  Sehubungan dengan kehidupan anda sendiri, tulislah tiga cara dengan mana Tuhan mewahyukan/menyatakan diri-Nya dan rencana-Nya kepada anda.

a.___________________________________________

b.___________________________________________

c.____________________________________________ 

DOA PENUTUP PERTEMUAN 

Tuhan Yesus, Engkau memenuhi hati kami dengan sukacita dan damai-sejahtera manakala kami menghayati cara cintakasih-Mu, pengampunan-Mu, belarasa-Mu, dan sikap hidup-Mu untuk saling-menerima satu sama lain. Tolonglah kami agar setiap hari kami dapat mempunyai kuasa untuk meluaskan Kerajaan-Mu melalui tindakan-tindakan kasih dan kebaikan kami. Semoga kami dapat menjadi saksi-saksi-Mu sampai ke ujung-ujung dunia. Kami memuji-muji Engkau selama-lamanya. Datanglah, Tuhan Yesus. Amin. 


[1] Beberapa dari pokok-pokok yang diuraikan di bagian ini sudah disinggung di atas, ketika membahas Why 1:9-16. Terlihat  ada nuansa perbedaan dalam beberapa pokok yang disoroti.

STUDI ALKITAB TENTANG KITAB WAHYU (6)

 WAHYU KEPADA YOHANES 

Pertemuan ke-3: TABIR YANG TERSINGKAP DAN WAJAH ALLAH PUN TAMPAK 

Satu cara lain yang digunakan oleh Why untuk menyingkap tabir yang menyelubungi peristiwa-peristiwa yang dihadapi umat, adalah dengan membagi-bagi sejarah ke dalam tahapan-tahapan, dan menyajikan hal-hal yang sebenarnya sudah terjadi di masa lalu sebagai peristiwa-peristiwa yang akan terjadi di masa depan. 

Membagi-bagi sejarah ke dalam tahapan-tahapan 

Pokok pertama. Sebuah perbandingan akan membantu kita untuk memahami pokok ini. Bayangkanlah diri anda sedang dalam perjalanan antar-provinsi di pulau Jawa ini. Bus anda telah berada di jalan untuk waktu yang cukup lama dan malam haripun tiba. Anda tidak tahu berapa lama perjalanan ini akan mengambil waktu dan rute mana yang diambil. Anda menjadi ingin tahu dan bertanya kepada supir bus itu. “Di mana kita sekarang, Pak? Berapa lama lagi kita akan sampai ke tempat tujuan kita?”  Jawab sang supir: “Kita baru saja menyeberangi jembatan, kurang lebih 30 menit lagi kita sampai ke kota tujuan.” Kalau begini halnya, maka anda pun akan merasa tenang dan mempunyai keyakinan. Di dalam hati anda berkata: “Baik, semuanya berjalan baik. Terima kasih Tuhan!” 

Peranan Why tidak ubahnya seperti Pak Supir tadi, yaitu menolong komunitas-komunitas Kristiani pada waktu itu untuk mensituasikan diri mereka dalam perjalanan panjang Rencana Allah, di mana mereka berjalan dengan susah-payah di tengah kegelapan penindasan dan penganiayaan. Mereka telah melakukan perjalanan yang panjang, namun tidak ada seorang pun mengetahui masih berapa jauh lagi jarak yang harus ditempuh dan rute mana yang harus diambil. Dengan penuh rasa ingin tahu umat bertanya: “Di mana kita sekarang? Berapa lama lagi kita masih harus berjalan? [lihat 6:10]. Yohanes, sang supir, menjelaskan kepada umat Kristiani tahap-tahap apa saja yang telah mereka lalui dan menunjukkan kepada mereka di tahap mana sekarang mereka berada. Bagaimana Yohanes melakukan hal ini? Jawaban atas pertanyaan ini merupakan pokok kedua. 

Pokok kedua. Penglihatan itu mengirim Yohanes (penulis Why) kembali ke masa lampau,  ke awal dari Rencana Allah. Dari tinjauannya ke belakang, Yohanes memandang ke masa depan dan ‘mengumumkan’ apa yang akan terjadi.  Sebagian dari ‘masa depan’ ini sudah menjadi masa lalu. Sebagian lagi dari ‘masa depan’ itu sedang dibuat dan dijalani. Tahapan terakhir masih akan datang. Dengan perkataan lain, dari tinjauannya ke belakang itu, Yohanes menggambarkan rute yang harus diikuti oleh orang-orang Kristiani dari awal untuk sampai kepada tujuan akhir yang penuh kemenangan. Why memberikan dua rute: 

Rute Pertama [4:1-11:19]. Pada tahun 95M, semasa pengejaran dan penganiayaan di bawah kaisar Domitianus, Yohanes mendapat suatu penglihatan. Ia melihat ada sebuah pintu terbuka di surga [4:1]; dikuasai oleh Roh dia masuk dan melihat takhta Allah [4:2-11]. Kemudian dia melihat seekor Anak Domba seperti telah disembelih [5:6] yang menerima dari Allah sebuah gulungan kitab yang bermeterai tujuh [5:7-12]. Kita berada pada waktu kebangkitan Yesus dan kenaikan-Nya  ke surga dalam kemuliaan untuk duduk di sebelah kanan Bapa surgawi. Jadi roh Yohanes telah diangkut balik ke tahun 33M, tahun kematian dan kebangkitan Yesus. Selagi dia berada dalam masa lampau, pada awal tahap paling akhir dari Rencana Allah, Yohanes memandang ke masa depan dan menggambarkan “apa yang harus terjadi sesudah ini” [4:1]. Ia menunjukkan rute umat Allah dari tahun 33M sampai kepada akhir sejarah umat manusia. Rute ini ditulis dalam sebuah gulungan kitab yang bermeterai tujuh [5:1]. Tujuh meterai ini adalah tujuh tahapan dalam rute. 

Empat tahapan pertama [6:1-8] menggambarkan peristiwa-peristiwa yang diketahui umat karena telah terjadi antara tahun 33M dan 95M. Tahapan kelima [6:9-11] menggambarkan pengejaran dan penganiayaan yang mengamuk pada tahun 95M. Pada saat pembukaan meterai kelima oleh Anak Domba, Yohanes berkata: “Aku melihat di bawah mezbah jiwa-jiwa mereka yang telah dibunuh oleh karena firman Allah dan oleh karena kesaksian yang mereka miliki” [6:9]. Kemudian Yohanes menambahkan bahwa hal ini akan berlangsung “sedikit waktu lagi” [6:11]. Meterai yang keenam [6:12-7:17] menunjukkan apa yang akan terjadi antara tahun 95M dan akhir zaman. Pembukaan meterai yang ketujuh [8:1-11:19] akan mengindikasikan bahwa perjalanan telah selesai: “Tidak akan ada penundaan lagi!” [10:6]. Itulah akhir! 

Rute kedua [12:1-22:21]. Bab 12 adalah awal yang baru. Yohanes mempunyai penglihatan yang baru. Dia melihat dua tanda di langit: seorang perempuan yang sedang mengandung yang berteriak kesakitan karena hendak melahirkan [12:1-2], dan seekor naga besar [12:3-4] yang menggambarkan Iblis, “si ular tua” [12:9]. Perempuan dan Naga itu berperang satu sama lain. Ini adalah perang yang telah diumumkan dalam firdaus, pada awal penciptaan (Kej 3:15]. Naga mau menelan Anak yang baru dilahirkan oleh perempuan itu [12:4], namun Anak itu dibawa lari kepada Allah dan ke takhta-Nya [12:5] dan Naga dikalahkan [12:7-9]. Ini adalah kemenangan Yesus, yang bangkit dari antara orang mati dan berjaya masuk ke dalam surga  [12:10-12]. Akan tetapi kita tidak boleh lupa, bahwa Yohanes masih hidup di tahun 95M. Oleh karena itu roh Yohanes secara simultan diangkut kepada awal penciptaan dunia dan awal ciptaan baru yang dimulai pada saat kebangkitan Yesus. 

Dari surga tinggi, di samping Yesus yang berjaya, Yohanes sekali lagi melihat ke masa depan dan menunjukkan rute kedua untuk perjalanan umat yang teraniaya. Pertama-tama Yohanes menggambarkan peristiwa-peristiwa yang terjadi antara tahun 33M dan 95M [12:13-17], dengan itu dijelaskan asal-mula pengejaran/penganiayaan yang sampai menggoncangkan komunitas-komunitas Kristiani. Kemudian Yohanes menggambarkan pengejaran/penganiayaan yang diderita oleh umat Kristiani di tahun 95M [13:1-14:5]. Di satu pihak ada kekaisaran Roma – Binatang (buas) yang menerima kuasa penuh dari Naga [13:1-18], dan di pihak yang lain ada Yesus – sang Anak Domba – yang menerima kuasa penuh dari Allah, dan pasukannya terdiri dari 144.000 orang yang murni seperti perawan [14:1-5]. Akhirnya Yohanes menerima pengumuman final yang harus dibuatnya atas peristiwa-peristiwa yang akan terjadi antara tahun 95M dan akhir sejarah manusia [14:6-13]. Kita akan lihat, bahwa apa saja yang menyusul hanyalah gambaran yang sangat terinci perihal pengumumam ini, yang menubuatkan penghukuman dan kekalahan total dari kekuatan-kekuatan jahat [14:14-22:21]. 

Lewat pemaparan dua peta rute ini, secara bertahap Yohanes menyingkap tabir yang menutupi peristiwa-peristiwa pengejaran/penganiayaan dan mengungkapkan bahwa dalam peristiwa-peristiwa itu hadirlah Kabar Baik Yesus Kristus. Peta-peta ini memberikan kepada umat visi menyeluruh dari Rencana Allah dan bekerjanya rencana itu dalam sejarah manusia. Yohanes menunjukkan bahwa pengejaran/penganiayaan adalah  bagian  dari Rencana Allah – dan itu hanya satu tahapan saja. Namun tahapan ini diperlukan sebelum mencapai titik akhir. Dengan membaca kedua peta itu, umat menemukan di tahapan yang mana mereka sedang berada. Kegelapan pengejaran/penganiyaan dicerahkan dari dalam, tabir disingkapkan secara perlahan-lahan dan wajah Allah sekali lagi dikenali dalam sejarah umat. 

Tujuh nasihat Yohanes 

Sebelum kita mulai membaca Why secara sistematik, baiklah untuk selalu mengingat-ingat tujuh nasihat yang telah diwariskan oleh Yohanes. Tujuh nasihat itu dapat ditemukan di sana-sini dalam Why. Nasihat-nasihat itu memberitahukan kepada kita bagaimana seharusnya kita membaca Why. 

1.       Bacalah dan dengarlah sebagai suatu komunitas 

Yohanes mengatakan: “Berbahagialah ia yang membacakan dan mereka yang mendengarkan kata-kata nubuat ini” [1:3]. Di sini dia berbicara mengenai seorang pembaca dan beberapa/sejumlah pendengar. Di samping itu Yohanes menganjurkan agar pembacaan dilakukan dalam sebuah komunitas. Pada kenyataannya, dia menulis Why untuk komunitas-komunitas [1:4.11]. 

2.       Jangan menambah atau mengurangi apa-apa 

Kalau seseorang belum mengenal teks Why, belum pernah membacanya atau hanya pernah mendengar tentang Why ini dari orang lain, maka semua ini tidaklah mencukupi. Kita harus membaca dengan baik apa saja yang ditulis dalam Why, tanpa menambah atau mengurangi apa pun juga. Tentang ini ada tertulis: “Jika seseorang menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis di dalam kitab ini. Jikalau seseorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dan dari kota kudus, seperti yang tertulis dalam di dalam kitab ini [22:1-19; bdk. Ul 4:2; 12:32]. 

3.       Gunakan inteligensia anda 

Yohanes menulis untuk orang-orang yang tidak terpelajar, namun dia mempunyai kepercayaan atas inteligensia mereka. Dua kali Yohanes minta kepada mereka untuk memakai inteligensia mereka dan menemukan arti dari apa yang digambarkannya [13:8; 17:9]. Inteligensia dan hikmat yang dimiliki umat ketika mereka berkumpul sebagai suatu komunitas akan menjaga imajinasi pada arah yang benar. 

4.       Hauslah akan kebenaran dan kehidupan 

Yohanes menulis: “Marilah! Siapa yang haus, hendaklah ia datang, dan siapa yang mau, hendaklah ia mengambil air kehidupan dengan cuma-cuma” [22:17]. Hal ini berarti bahwa seseorang yang membaca Why tidak boleh memperkenankan dirinya diseret oleh kepentingan-kepentingan manusiawi, namun berupaya keras untuk  semata-mata mencari kebenaran yang membantunya untuk hidup lebih baik. Barulah kemudian dapat ditemukan ‘air kehidupan’ tersebut. Menurut Yesus cinta akan kebenaran ini dapat ditemukan pada orang-orang kecil. Mereka mengerti dengan lebih baik [Mat 11:25-26].

5.       Bukalah diri anda agar Roh Kudus dapat bekerja dalam dirimu 

Why bukanlah kitab biasa. Why adalah suatu nubuatan yang berasal dari Roh Kudus [22:6.10; 1:3]. Dengan demikian komunitas harus secara submisif mendengarkan apa yang ingin disampaikan oleh Roh Kudus kepada mereka: “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat” [2:7.11.17.29; 3:6.13.22]. Intelek manusia saja tidak cukup untuk memahami Sabda Allah. Roh adalah suatu pemberian dari Allah. Kita akan menerima Roh itu hanya melalui doa permohonan yang khusus [Luk 11:13]. 

6.       Biarlah pesan itu memimpin anda ke dalam doa 

Roh dan pengantin perempuan itu berkata, “Marilah!” Siapa yang mendengarnya, hendaklah ia berkata, “Marilah!” [22:17]. Pengantin perempuan adalah Gereja, komunitas Kristiani. Dijiwai oleh Roh, Gereja/komunitas itu berdoa. Para anggota komunitas harus melakukan hal yang sama. Sesuai dengan pemahaman mereka akan pesan dari Why, maka mereka pun harus mengekspresikannya dalam doa-doa mereka. Artinya, mereka harus berdoa agar Yesus menggenapi dalam hidup mereka, pesan yang mereka terima dari Why. Tanpa pertolongan-Nya, mereka tidak dapat berbuat apa-apa [Yoh 15:5]. 

7.       Praktekkanlah Sabda yang anda telah dengar. 

Tidak cukup mendengar saja. Tidak cukup berdoa saja. Kita harus mempraktekkan Sabda yang kita baca/dengar itu. “Berbahagialah orang yang menuruti perkataan-perkataan nubuat kitab ini” [22:7]. Di awal Why ada tertulis: “Berbahagialah ia yang membacakan dan mereka yang mendengarkan kata-kata nubuat ini, dan yang menuruti apa yang ada tertulis di dalamnya” [1:3]. Pesan Allah tidak dapat tinggal menjadi rahasia yang tersimpan di kedalaman kesadaran – pesan itu harus disebar-luaskan ke seluruh dunia [22:10]. Hanya kalau komunitas-komunitas itu mempraktekkan pesan yang diterima, maka pesan itu dapat disebar-luaskan. 

Pintu utama untuk masuk ke dalam Kitab Wahyu 

Yohanes menulis Why dalam bentuk sepucuk surat dan mengirimkannya ke tujuh komunitas Kristiani yang sedang berada di bawah penganiayaan kekaisaran Roma [1:4.9.11]. Cara terbaik untuk memahami pesan dari sepucuk surat adalah berada dalam rumah si penerima, pada saat dia menerima surat itu dan membacanya. Mengapa? Karena hanya pada saat itulah kita dapat merasakan pertemanan/persahabatan yang ada antara si pengirim dan penerima surat, dan memahami dengan lebih baik kenyamanan yang diberikan surat itu. 

Inilah yang diminta oleh Yohanes. Ia ingin agar surat ini dibacakan dalam komunitas [1:3]. Tujuh nasihatnya hanya valid apabila anda membaca Why dalam rumah komunitas-komunitas yang berada di bawah pengejaran/penganiayaan. Artinya, kalau kita keluar untuk bertemu dengan mereka yang miskin dan tertindas dalam komunitas-komunitas kita hari ini dan apabila kita memahami dan membela perkara mereka yang dianiaya karena memperjuangkan keadilan. Inilah sarana yang terbaik untuk dapat masuk ke dalam Why. Siapa yang berpihak kepada para penindas dan penganiaya orang-orang kecil tidak akan dapat memahami apa pun yang dipesankan oleh Yohanes dalam Why.

Catatan: STUDI ALKITAB tentang KITAB WAHYU ini diselenggarakan oleh Wilayah I Santo Yohanes dari Salib, Gereja S. Stefanus, Cilandak, dalam empat pertemuan mingguan, yaitu mulai tanggal 23 Juli dan berakhir tanggal 27 Agustus 2009. Para peserta terdiri dari para warga Lingkungan-lingkungan S. Hubertus, S. Gregorius, S. Yohanes Pemandi dan S. Yudas Tadeus. Pembimbing: Sdr. F.X. Indrapradja, OFS. 

Bahan-bahan ini dapat dimanfaatkan oleh anda sekalian – kaum awam – yang memang mau lebih mendalami lagi tentang Kitab Wahyu.

STUDI ALKITAB TENTANG KITAB WAHYU (5)

 

WAHYU KEPADA YOHANES 

Pertemuan ke-3: PENGLIHATAN-PENGLIHATAN MENJADI LEBIH JELAS 

MACAM-MACAM CARA UNTUK MEWARTAKAN KABAR BAIK YESUS KRISTUS 

Kita dapat menyampaikan pesan kita melalui berbagai sarana. Dapat dengan mengarang novel, menggambar komik, membuat lagu, doa, syering-kelompok dan lain sebagainya. Pilihannya tergantung kepada masing-masing orang, terutama seturut talenta orang itu. Juga tergantung kepada situasi orang-orang kepada siapa pesan itu ingin disampaikan.

Demikian pula halnya dengan umat Kristiani perdana. Pada masa mereka juga digunakan cara-cara yang berbeda dalam memberitakan Kabar Baik Yesus: ada bentuk pemberitaan yang dinamakan Injil seperti digunakan oleh Matius, Markus, Lukas dan Yohanes; ada  bentuk narasi yang digunakan oleh Santo Lukas dalam ‘Kisah Para Rasul’ [Kis]; ada juga pemberitaan yang mengambil bentuk ‘epistola’ atau surat, terutama oleh Santo Paulus. Pribadi-pribadi yang lain, misalnya Maria [Luk 1:46-56] dan Zakharia [Luk 1:67-79] menggunakan ‘kidung’ atau ‘madah’ sebagai sarana pewartaan mereka. Nah, terdapat kemungkinan juga bagi seseorang untuk menyampaikan pesannya lewat suatu ‘wahyu’ atau apokalips. Gaya ‘wahyu’ ini digunakan untuk mewartakan Kabar Baik pada masa-masa pengejaran/penganiayaan dan perubahan. 

Di bawah bimbingan/pimpinan Roh Kudus, berbagai komunitas Kristiani setuju untuk memelihara/mempertahankan hanya 4 (empat) Injil saja. Tulisan-tulisan Injil lainnya dikesampingkan. Komunitas-komunitas Kristiani itu pun hanya mempertahankan satu pemberitaan gaya narasi-historis [Kis] dan 21 (dua puluh satu) surat dan satu saja ‘Kitab Wahyu’. 

Why pada dasarnya merupakan sebuah pesan penghiburan dan pengharapan bagi umat Kristiani yang sedang mengalami krisis dan yang iman-kepercayaannya terancam oleh perubahan-perubahan dan pengejaran serta penganiayaan. Tujuan Why adalah untuk menolong umat Kristiani menemukan kembali Allah mereka dan misi mereka. Why dimaksudkan untuk mendorong umat agar tetap berjuang dan ‘mempersenjatai’ mereka guna menghadapi kemungkinan ‘pertempuran-pertempuran’ yang ada di depan mata. 

Setiap tafsir atas Why yang menabur atau menyebarkan rasa takut dalam hati umat atau melemahkan semangat harus ditepis, harus dinilai sebagai palsu dan keliru. Airlah yang diperlukan untuk membasahi tanah gersang, bukan teriknya sinar matahari! 

Why mengkonfrontir krisis-iman yang mempengaruhi umat. Sesungguhnya ada dua penyebab krisis termaksud. Penyebab eksternal, yaitu penganiayaan dan perubahan-perubahan dalam masyarakat; dan penyebab internal, yaitu ketiadaan-visi di pihak umat: mereka ternyata tidak mampu untuk merasakan kehadiran Yesus dalam peristiwa-peristiwa yang mereka alami. Mereka merasa, bahwa Allah telah kehilangan kendali atas peristiwa-peristiwa yang sedang berlangsung. Para penindas justru kelihatan sebagai penguasa sejarah. Ada sejumlah anggota umat yang bertanya: “Apakah ada artinya melanjutkan keanggotaan kita dalam komunitas Kristiani ini?” Bagaimana Why menghadapi masalah-masalah seperti ini? 

Why menghadapi masalah-masalah yang dikemukakan di atas dengan mengungkapkan sisi lain dari peristiwa-peristiwa itu, yaitu sisi yang tersembunyi. Why menunjukkan kenyataan-kenyataan yang ada dalam terang iman, dan mengungkapkan bahwa: 

  1. Peristiwa-peristiwa yang dihadapi umat tidaklah berada di luar jangkauan tangan Allah. Meskipun kelihatan dan terasa Allah itu absen, Ia tetapi memegang kendali atas situasi. Yesus hadir dalam peristiwa-peristiwa itu sebagai Tuhan-sejarah yang mahakuasa. Sejarah berkembang dalam batas-batas yang ditetapkan Allah. 
  2. Kekuasaan para penguasa dunia hanyalah suatu ilusi. Kelihatannya mereka memegang kekuasaan atas rakyat/masyarakat, sedangkan kenyataan sebenarnya adalah bahwa mereka hanyalah pejabat-pejabat tingkat kedua. Di luar pengetahuan dan kesadaran mereka sendiri, mereka sebenarnya memainkan peranan dalam pemenuhan Rencana Allah. Bagaimana pun Kaisar Roma menggembar-gemborkan kekuasaannya, berapa pun banyaknya orang Kristiani yang dikejar-kejar, dianiaya dan dibunuh, sang kaisar tetaplah seorang biasa. Kekuasaannya dibatasi oleh Allah dan nasibnya akhirnya adalah kekalahan total.  

Itulah sisi lain (sisi tersembunyi) dari peristiwa-peristiwa yang dihadapi umat, yang hanya dapat dilihat dengan mata-iman. “… apa yang harus segera terjadi” [1:1]. Jadi pasti akan terjadi dan tidak seorang pun dapat mencegah pemenuhan Rencana Allah. 

Kabar Baik dari peristiwa-peristiwa yang dihadapi, jika dilihat dalam terang iman. Ketika Yohanes menyingkap tabir, dia menunjukkan kepada umat Kabar Baik yang sungguh ada dalam peristiwa-peristiwa yang mereka hadapi, namun yang luput dari pandangan mereka. Inilah Kabar Baik termaksud: 

Allah adalah Tuhan sejarah. Ia mempercayakan kepenuhan kuasa-Nya kepada Yesus. Tidak ada seorang pun, bagaimana pun kuatnya dia, yang akan pernah dapat mengubah tujuan Rencana Allah. Para penindas umat akan ditaklukkan dan dihukum. Kebangkitan Yesus adalah bukti yang menjamin semua ini [CM, hal. 20]. 

Melalui pernyataan tegas dan penuh keyakinan ini, Why mengubah berat dari timbangan kehidupan. Di satu sisi beratnya penindasan/penganiayaan dikurangi. Di sisi lain beratnya iman meningkat. Sebagai akibatnya, situasinya menjadi seimbang lagi. Dengan demikian penindasan/penganiayaan tidak mengurangi iman-kepercayaan umat, melainkan memperbaharui dan mencerahkannya, serta memperlemah kekuasaan otoritas sipil. Maka Wajah Allah sekali lagi menjadi terlihat dalam kehidupan umat. Umat berterima kasih penuh syukur, hal mana terungkap dalam berbagai kidung/madah penuh sukacita. Mereka pun siap mengambil posisi sebagai saksi iman. Seperti Miriam (adik perempuan Musa) yang memuji-muji YHWH setelah berhasil menyeberangi Laut Merah [Kel 15:20-21], umat yang menerima pesan Why juga mengumandangkan lagu kemenangan baru. 

Kabar Baik Yesus Kristus dapat dilihat di mana-mana dalam Why. Kabar Baik ini selalu sama, namun harus dilihat dari tiga sudut pandang yang berbeda-beda dalam ketiga bagian kitab ini: 

  1. Surat-surat kepada tujuh Gereja [1:1-3:22]. Di bagian ini Kabar Baik disajikan sebagai sebuah panggilan urgent kepada kesetiaan dan komitmen. Surat-surat ini ditulis atas perintah Allah [1:1] dan ditujukan kepada tujuh Gereja [2:1-3:22]. Ini didahului oleh suatu rumusan sapaan/salam agak panjang [1:4-20] yang digunakan, pada saat yang sama, sebagai suatu introduksi terhadap keseluruhan kitab. 
  2. Tafsir pertama dari peristiwa-peristiwa penganiayaan [4:1-11:19]. Kabar Baik Yesus di sini disajikan sebagai suatu proklamasi pembebasan orang-orang yang tertindas. Di sini kemajuan komunitas-komunitas Kristiani dipandang sebagai suatu Keluaran (Exodus) yang baru. Sekali lagi Allah membebaskan umat-Nya dari cengkeraman Firaun. Ada sejumlah pakar berpikir bahwa refleksi pertama atas penganiayaan ini disusun pada masa pemerintahan Kaisar Nero (-/+ tahun 65). 
  3. Tafsir kedua dari peristiwa-peristiwa yang sama [12:1-22:21]. Kabar Baik Yesus di sini disajikan sebagai penghakiman dan penghukuman oleh Allah atas para penindas umat. Sejarah umat manusia dipandang sebagai Penghakiman Allah. Tafsir kedua ini jauh lebih konkrit daripada tafsir sebelumnya. Semua rincian menunjukkan bahwa bagian Why ini disusun pada masa pemerintahan Kaisar Domitianus, yaitu sekitar tahun 95. 

Cara penyingkapan atas apa yang tersembunyi dalam suatu peristiwa. Siapa pun yang berniat untuk menyampaikan sebuah pesan dalam bentuk komik, misalnya, haruslah mahir dalam hal gambar-menggambar. Demikian pula dengan seseorang yang mau mewartakan Kabar Baik Yesus dalam bentuk suatu ‘wahyu’. Orang itu harus menggunakan peralatan-peralatan yang cocok dan dia harus mengambil langkah-langkah konkrit yang cocok pula, untuk menyatakan kehadiran Kabar Baik dalam sebuah peristiwa tertentu. 

Pada dasarnya orang termaksud harus menggunakan dua metode: (1) Dia mengungkapkan apa saya yang harus dikatakannya lewat penggunaan lambang-lambang dan penglihatan-penglihatan. Inilah sebabnya mengapa begitu sulit bagi kita untuk memahami Why. Dalam kitab ini Yohanes (penulis Why) tidak memakai bahasa yang biasa. Dia mengekspresikan dirinya lewat penglihatan-penglihatan ‘aneh’ yang dipenuhi dengan lambang-lambang. Tidak sedikit orang yang berkehendak baik untuk membaca/mempelajari Why akhirnya menyerah, karena mereka tidak memahami samasekali semua penglihatan-penglihatan yang digambarkan dalam Why. (2) Dia membagi sejarah ke dalam tahapan-tahapan dan dia membuat apa yang telah terjadi di masa lampau menjadi suatu nubuatan. Kadang-kadang pembaca Why tidak tahu apakah Yohanes sedang berbicara mengenai masa lampau, hari ini atau masa depan. Di samping itu sulitlah untuk mengetahui apakah semua itu merupakan tahapan-tahapan kronologis dalam sejarah umat, atau apakah Yohanes sekadar mau memberikan kepada mereka suatu makna simbolik. Dalam dua metode ini tersembunyilah kunci yang mampu membuka bagi kita pintu utama untuk masuk ke dalam Why. 

PENGLIHATAN-PENGLIHATAN ANEH MENJADI LEBIH JELAS 

Yohanes melihat hal-hal yang sungguh aneh, misalnya:

  • empat makhluk yang masing-masing bersayap enam, sekelilingnya dan di sebelah dalamnya penuh dengan mata [4:8];
  • seekor Anak Domba seperti telah disembelih, bertanduk tujuh dan bermata tujuh [5:6];
  • kuda-kuda yang berkepala sama seperti kepala singa dan dari mulutnya keluar api, asap dan belerang; kuda-kuda itu berekor seperti ular [9:17.19];
  • seekor binatang (buas) yang keluar dari dalam laut, bertanduk sepuluh dan berkepala tujuh; di atas tanduk-tanduknya terdapat sepuluh mahkota dan pada kepalanya tertulis nama-nama hujat [13:1];
  • binatang (buas) itu mempunyai bilangan 666 [13:18];
  • sebuah kota yang turun dari surga [21:2];
  • dan sebagainya. 

Bagaimana Yohanes memenuhi Why dengan perlambangan angka-angka telah kita bahas dalam pertemuan ke-2. Angka-angka 3, 4, 10, 1.000 dan kombinasi-kombinasi nya: 7 (3+4), 12 (3×4], 40 (4×10), 144.000 (12x12x1000), 3½ (½ x7); semuanya mengandung makna. 

Semua ini menyebabkan para pembaca merasa bahwa mereka sedang hidup di sebuah dunia yang lain: sebuah dunia aneh, tidak riil, yang sangat berbeda dengan dunia kita. Bagaimana penglihatan-penglihatan aneh seperti itu dapat membantu kita menjelaskan situasi yang dihadapi umat? Apakah yang ingin dicapai Yohanes dengan menggambarkan semua itu? Menurut Carlos Mesters, ada lima alasan [CM, hal. 26 dsj.]. Alasan-alasan lain tentunya dapat pula kita temukan selagi kita membaca/mempelajari Why. 

Mengapa Yohanes mengungkapkan pesannya melalui berbagai penglihatan dan simbol/lambang? 

Alasan pertama: Mendatangkan rasa nyaman dan keberanian umat untuk berjuang. Kalau kepada anda ditanya oleh seseorang, “Siapakah Yesus itu?”, maka anda akan menjawab dalam satu kalimat: “Yesus adalah Putera Allah, Mesias/Kristus, Imam Besar Agung, Hakim dan Tuhan sejarah, yang hadir dalam komunitas dan hidup selamanya.”  Yohanes pengarang Why menjawab pertanyaan yang sama dengan penglihatan

“… aku berpaling untuk melihat suara yang berbicara kepadaku. Setelah aku berpaling, tampaklah kepadaku tujuh kaki pelita dari emas. Di tengah-tengah kaki pelita itu ada seorang serupa Anak Manusia, berpakaian jubah yang panjangnya sampai di kaki, dan dada-Nya berlilitkan ikat pinggang dari emas. Kepala dan rambut-Nya putih seperti bulu domba, seputih salju dan mata-Nya bagaikan nyala api. Kaki-Nya mengkilap bagaikan tembaga membara di dalam perapian; suara-nya bagaikan desau air bah. Di tangan kanan-Nya Ia memegang tujuh bintang dan dari mulut-Nya keluar sebilah pedang tajam bermata dua, dan wajah-Nya bersinar-sinar bagaikan matahari yang terik. Ketika aku melihat Dia, sujudlah aku di depan kaki-Nya sama seperti orang yang mati; tetapi Ia meletakkan tangan kanan-nya di atasku, lalu berkata, “Jangan takut! Akulah Yang Awal dan Yang Akhir, dan Yang Hidup. Aku telah mati, namun lihatlah, Aku hidup, sampai selama-lamanya dan Aku memegang segala kunci maut dan kerayaan maut” [1:12-18]. 

Dua jawaban itu – dalam kalimat dan penglihatan – sebenarnya membicarakan hal yang sama, namun dalam bentuk pengungkapan yang berbeda. Dalam kalimat, anda berbicara, sedangkan dalam penglihatan, Yesus memperkenalkan diri-Nya sendiri. 

Dalam kalimat, Yesus tampil beku dalam sebuah wacana; sedangkan dalam penglihatan, Ia aktif sepenuhnya. Kalimat membuat gambaran dengan menggunakan kata-kata, sedangkan penglihatan melukiskan sebuah gambar. Kalimat memiliki daya-pikat bagi intelek manusia, sedangkan penglihatan melibatkan juga hati, sensibilitas dan imajinasi. Kalimat bertujuan untuk memberikan pemahaman, sedangkan penglihatan mengkomunikasikan kekuatan dan keberanian. Dalam kalimat, anda mengekspresikan suatu kebenaran penting, sedangkan dalam penglihatan Yohanes mewartakan Kabar Baik Yesus [lihat CM, hal. 27]. 

Selagi kita mendengarkan atau membaca penglihatan Yohanes [1:12-18] kita mungkin saja tidak memahami arti segala detil yang ditampilkan: jubah yang panjang, ikat pinggang dari emas, mata bagaikan nyala api, kaki bagaikan tembaga membara, sebilah pedang tajam  yang keluar dari mulut, dan lain sebagainya. Kendati pun kita tidak memahami segalanya, kita merasakan dan mengira-ngira tentang sesuatu. Mirip-mirip situasinya ketika musik yang indah dimainkan: semua orang merasa senang mendengarkannya, namun sedikit saja orang yang memahaminya. Musik dimaksudkan tidak hanya bagi orang-orang yang memahami, melainkan bagi siapa saja yang senang mendengarkannya. 

Ketika seorang anak kecil berjalan dengan ayahnya, dia tidak mengerti samasekali mengenai kekuatan dan perlindungan. Namun demikian, anak tersebut merasakan kekuatan dan perlindungan ayahnya bagi dirinya. Hal ini dapat kita lihat bagaimana dia berjalan dengan penuh damai tanpa rasa takut di samping ayahnya. Hal yang sama berlaku juga untuk penglihatan-penglihatan. Penglihatan-penglihatan tidak menceritakan kepada kita apa itu kekuatan dan apa itu perlindungan, akan tetapi membuat orang-orang Kristiani merasakan kekuatan dan perlindungan dari Yesus yang berjalan bersama mereka. Sikap yang diharapkan adalah seperti ini: “Saya tidak mengerti, pemahamanku tentang Kitab Wahyu sangatlah lemah. Namun aku suka membacanya, karena Kitab Wahyu memberikan rasa nyaman dan keberanian untuk berjuang.” 

Alasan kedua: Mengubah penolakan menjadi pengharapan. Penglihatan-penglihatan Why dipenuhi dengan berbagai gambaran (imaji) dan simbol (lambang) Perjanjian Lama, terutama dari Kitab Yehezkiel, Yesaya, Daniel dan Zakharia. Seluruh sejarah Israel diingat, seringkali dengan sepatah kata: ciptaan [3:14; 4:11; 21:1], firdaus [2:7; 21:4; 22:3], pohon kehidupan [2:7; 22:2], perempuan dan ular [12:1-4], pelangi [4:3],  keluaran dari Mesir [7:14], Anak Domba Paskah [5:6], tulah di Mesir [8:6-12; 16:1-21], madah kemenangan baru [5:9; 14:3; 15:3], dua belas suku [21:12], sensus [7:1-8], tinggal di padang gurun [7:16-17; 12:6.14], manna [2:17], perjanjian [21:3.7], Musa dan Elia [11:3.6], Yehuda [5:5], Daud [5:5], Yerusalem [3;12; 21:9-23], Bukit Sion [14:1], Izebel [2:20], Balaam [2:14], Bait Suci Allah [3:12; 7:15; 11:1; 21:22], janji agung [10:7], kejatuhan Babel [14:8; 18:2.10], akhir dari masa tahanan [18:4] dan kelahiran Mesias [12:5]. 

Di samping mengingat peristiwa-peristiwa dan pribadi-pribadi dalam Perjanjian Lama, Yohanes juga meminjam kata-kata dan frase-frase untuk mengungkapkan pemikirannya sendiri. Seperti telah kita ketahui dari pertemuan pertama, Why menggunakan Perjanjian Lama lebih sering daripada tulisan-tulisan Perjanjian Baru lainnya: 400 kali! Dalam artian tertentu, penglihatan-penglihatan dalam Why hanyalah konstruksi-konstruksi untuk mana batu-batu bata kuno dari Perjanjian Lama digunakan sebagai bahan. Apa arti semua ini? Mengapa penglihatan-penglihatan dalam Why begitu sering menggunakan Perjanjian Lama?  

Para anggota komunitas-komunitas Kristiani memiliki suatu pengetahuan yang baik tentang Perjanjian Lama. Satu patah kata saja sudah cukup untuk mengembalikan keseluruhan kalimat ke dalam ingatan mereka. Perjanjian Lama adalah masa lampau mereka – sebuah masa lalu yang baik, ketika Allah memanifestasikan Hadirat-Nya melalui tanda-tanda heran yang menakjubkan. Sayang sekali mereka sudah sampai kepada suatu tahap di mana kenangan akan masa lampau itu hanya mendorong timbulnya dalam diri mereka suatu kerinduan mendalam untuk kembali ke kampung halaman dan bahkan menyebabkan depresi. Situasi mereka seperti orang-orang Yahudi pada tembok ratapan di Yerusalem. Keluhannya kira-kira seperti ini: “Dulu memang. Tetapi hari ini … Allah tidak lagi menghadirkan diri-Nya bagi kami.” 

Dipenuhi dengan memori-memori Perjanjian Lama, penglihatan-penglihatan itu memampukan orang-orang untuk menyadari bahwa masa lampau bukanlah sebuah sarana untuk menyeka/menghapus airmata, melainkan sepotong roti yang akan memberikan suatu hidup baru kepada mereka [CM, hal. 30]. Penglihatan-penglihatan itu menghadirkan masa lampau sebagai sebuah cermin. Penglihatan-penglihatan itu membuat masa lampau menjadi masa kini. Energi masa lampau membangunkan orang-orang dari tidur mereka. Selubung telah tersingkap dan jalan pun menjadi jelas. Umat menjadi ingat kembali memori-memori akan masa lampau yang telah hilang, dan mereka menemukan Kabar Baik yang tersembunyi dalam jantung peristiwa-peristiwa yang sedang mereka hadapi: “Sekarang pun Allah masih aktif – Allah yang sama dengan Allah Perjanjian Lama, Allah yang tidak pernah berubah. Ia selalu bersama kita. Dia yang sudah ada di masa lampau, ada sekarang, dan yang akan datang” [1:4.8; 4:8]. Dengan cara ini penolakan berubah menjadi pengharapan. 

Alasan ketiga: Mengkomunikasikan damai sejahtera Allah kepada umat. Tidak sedikit orang yang mengatakan: “Saya tidak suka Kitab Wahyu. Kitab itu menceritakan kepada kita bahwa hanya Allah-lah yang melakukan segalanya, dan orang-orang tidak mempunyai apa-apa lagi untuk mereka lakukan. Tidak perlu lagi berjuang, karena kita menggantungkan diri sepenuhnya kepada Allah.” Pernyataan ini keliru. Komunitas-komunitas di Asia sudah terlibat dalam perjuangan selama bertahun-tahun. Masalah mereka bukanlah mencari jalan untuk menghindari konflik, melainkan menemukan suatu alasan baik agar tidak menjadi menciut-mundur, artinya tetap tegar. 

Sumber keberanian umat ini penting di mata Yohanes. Penglihatan-penglihatannya memimpin orang ke surga [4:1], di dekat takhta Allah [4:2-11] dan mengkomunikasikan kepada mereka damai sejahtera dengan mana Allah memimpin perlawanan terhadap ketidakadilan dan penindasan [11:14-18; 12:10-11]. Serdadu-serdadu anggota pasukan Anak Domba kalah di medan tempur [6:10]. Lewat penglihatan-penglihatan, Yohanes memimpin mereka ke markas besar Anak Domba yang memimpin pertempuran [14:1-15; 17:14; 7:9-17]. Dari atas, dari pusat operasi, mereka mengkontemplasikan pertempuran itu dengan mata Allah. Mereka melihat bahwa meski sulit, pertempuran itu sudah dimenangkan [14:9-12; 17:14]. Oleh karena itu mereka kembali berjuang dengan penuh keberanian. Berkat penglihatan-penglihatan, pohon komunitas-komunitas Kristiani kuat-berakar di dalam lahan/tanah Allah, dan angin ribut atau prahara pengejaran serta penganiayaan tidak mampu mencabut pohon tersebut. 

Alasan keempat: Menjaga diri terhadap para penindas. Pada masa penindasan, sikap arif-bijaksana adalah kata-kunci. Siapa saja yang terlalu banyak bicara akan membahayakan saudara-saudarinya seiman. Siapa saja yang mempunyai pesan untuk disampaikan kepada orang-orang lain, melakukannya sedemikian rupa sehingga para peserta-perang sajalah yang dapat memahaminya [14:3]. Untuk membuat deklarasi secara terbuka bahwa Kekaisaran Roma merupakan Musuh No. 1 yang harus dilawan, tidak pelak lagi akan menyeret orang yang membuat deklarasi itu ke dalam penjara. Yohanes menemukan cara untuk mengekspresikan dirinya: “Yang penting di sini ialah hikmat: Siapa yang bijaksana, baiklah ia menghitung bilangan binatang itu, karena bilangan itu adalah adalah bilangan seorang manusia, dan bilangannya ialah enam ratus enam puluh enam’ [13:18]. Kalau kita menggunakan gematria, ternyata yang dimaksudkan dengan angka 666 itu adalah bukan Paus atau yang lainnya, akan tetapi Kaisar Roma yang menganiaya umat Kristiani dan telah memerintahkan Santo Petrus (Paus pertama) untuk dihukum mati. 

Dengan cara yang sama Yohanes menjelaskan misteri pelacur yang duduk di atas seekor binatang yang merah ungu, yang penuh tertulis dengan nama-nama hujat dan mempunyai tujuh kepala serta sepuluh tanduk [17:3]. “Yang penting di sini ialah akal yang mengandung hikmat: Ketujuh kepala itu adalah tujuh gunung, yang di atasnya perempuan itu duduk” [17:9]. Ini cukup bagi seorang pendengar yang memiliki inteligensi: setiap orang tahu bahwa kota Roma, ibukota kekaisaran, dibangun di atas tujuh bukit. 

Penglihatan-penglihatan dan simbol-simbolnya adalah sarana untuk mencerahkan orang-orang dan pada saat sama membela mereka terhadap para penindas. Penglihatan-penglihatan itu mengungkapkan pesannya kepada pihak yang tertindas, tetapi tetap menyembunyikannya kepada para penindas. 

Alasan kelima: Agar dimengerti oleh orang-orang. Sebuah poster atau potret berbicara lebih baik daripada sekadar kata-kata. Sebuah drama-pendek jauh lebih instruktif daripada sebuah khotbah. Untuk mengekspresikan diri mereka, orang-orang lebih suka menggunakan isyarat/gerak tubuh (gestures), gambar, poster dan lain sebagainya. 

Why bukanlah seperti sebuah ruangan kuliah. Para mahasiswa masuk untuk secara pasif mendengarkan kuliah yang diberikan oleh seorang dosen. Why itu lebih mirip dengan sebuah ruangan pameran (exhibition) yang besar, yang dipenuhi dengan gambar-gambar, lukisan-lukisan dalam bingkai-bingkai. Para pengunjung dapat masuk dan mengamati obyek-obyek yang dipamerkan. Mereka berbicara satu sama lain dengan berbisik-bisik, pokoknya tidak  diperbolehkan ribut-ribut. Mereka dapat mengamati bingkai-bingkai yang ada sesuai urut-urutan yang telah disusun oleh Yohanes. Namun tidak selalu perlu dilakukan begitu. Mereka dapat menentukan untuk pergi ke mana saja mereka mau, karena setiap lukisan (dalam hal pameran) dan penglihatan (dalam hal Why) mempunyai pesannya sendiri. Namun demikian, kita akan memperoleh manfaat yang lebih besar kalau mengikuti urut-urutan penglihatan seperti dilakukan Yohanes. Bingkai yang satu dapat membuat jelas bingkai yang lain, dan dengan cara ini keseluruhannya dapat tercerahkan. Di lain pihak terang-cahaya seluruh bingkai dapat mencerahkan masing-masing bingkai. 

Yang ada hanyalah hitam atau putih. 

Dalam penglihatan-penglihatan Why, setiap hal itu putih atau setiap hal itu hitam. Tidak ada warna kelabu, tidak ada yang setengah-setengah. Setiap hal itu baik atau setiap hal itu jahat. Di satu sisi ada Naga dan Binatang [13:1-18]; di sisi lain ada Anak Domba dan para pengikut-Nya [14:1-5]. Di satu sisi ada Roma, pelacur besar [17:1-18]; di sisi lain ada Yerusalem, Pengantin perempuan [21:1-22:5] dan seterusnya. 

Yohanes sangat mengetahui bahwa realitas-realitas hidup berbeda: dia tahu bahwa kebaikan dan kejahatan berkoeksistensi dalam hidup komunitas-komunitas [2:1-3:22]. Dia juga tahu bahwa banyak hal-hal baik terjadi dalam kekaisaran Roma. Kalau begitu, mengapa Yohanes berbicara dalam penglihatan-penglihatan seakan-akan hanya ada kejahatan pada satu sisi dan hanya ada kebaikan pada sisi yang lain?  Berikut ini penjelasannya: 

1. Suatu situasi politik yang agak membingungkan.

Dalam ‘Kisah para Rasul’, Lukas telah memberikan gambaran yang baik tentang kekaisaran Roma dengan hubungannya dengan umat Kristiani [Kis 13:7; 18:12-15; 19:35-40; 25:13-27]. Santo Paulus juga telah menulis kepada umat Kristiani di Roma bahwa mereka harus taat kepada penguasa sipil [Rm 13:1]: “…siapa yang melawan pemerintah, ia melawan ketetapan Allah dan siapa yang melakukannya, akan mendatangkan hukuman atas dirinya” [Rm 13:2]. Akan tetapi situasinya sudah berubah: penguasa sipil yang sama sekarang malah menganiaya orang-orang Kristiani [Rm 13:7], memaksa umat untuk menyembah dewa-dewi palsu kekaisaran [2:14.20]. 

Apakah yang harus dilakukan oleh seorang Kristiani dalam situasi seperti itu? Siapakah yang bertanggung-jawab atas situasi yang baru ini? Kekaisaran itu sendiri atau hanya sejumlah kecil pejabat yang jahat dalam kekaisaran? Jawabannya tidak jelas. Ada pandangan yang berbeda-beda. Hal seperti ini tentunya telah menggiring komunitas-komunitas Kristiani pada waktu itu untuk mendiskusikannya dan bahkan mengakibatkan perbedaan-perbedaan dalam komunitas-komunitas tersebut. 

2. Terang yang diperoleh dari Why.

Yohanes dengan jelas mengungkapkan pandangannya. Menurut pemikirannya kesalahan yang ada bukanlah karena ulah beberapa pejabat jahat dalam kekaisaran Roma, melainkan kekaisaran itu sendiri. Sistem ekonomi dan politik serta klaim diri sebagai Tuan atas dunia [lihat 13:1-18]. Maka Yohanes menyalahkan kekaisaran Roma. Apakah yang menyebabkan dia mengambil sikap seperti itu? 

Yohanes menganilisis dan menilai situasi dari sudut-pandang masa depan. Dia melihat peranan yang dapat dimainkan lembaga-lembaga dalam kemenangan dari kebaikan dan keadilan di masa depan. Kemenangan itu sudah pasti terjadi, karena dijamin dengan kuasa Allah sendiri [11:17-18; 21:6-8.27; 22:3-5]. Apa saja yang membawa kita kepada kemenangan adalah baik dan datang dari Allah. Apa saja yang menghalangi adalah kejahatan dan datang dari Iblis. 

Organisasi kekaisaran Roma samasekali tidak menjamin kemenangan bagi kebaikan dan keadilan. Sebaliknya, organisasi kekaisaran ini merupakan halangan bagi kemenangan ini karena menganiaya dan menindas orang-orang yang justru ingin bekerja untuk kebaikan dan keadilan. Maka Yohanes tidak menyebut apapun yang baik ketika menggambarkan kekaisaran Roma [13:1-18] dan kota Roma [17:1-18]. Segalanya yang dikatakannya tentang kekaisaran Roma bersifat negatif. Kekaisaran adalah kerja Iblis, kerja si Naga [13:1-2]. Kota Roma, pusat yang megah dari kekaisaran dan ibukota dunia, hanyalah seorang pelacur besar yang mendorong seluruh dunia ke kehancurannya [17:1-2]. 

Berikut ini adalah yang dianjurkan oleh Yohanes: Orang-orang Kristiani tidak boleh menjadi mudah tertipu dan berpartisipasi dalam sebuah sistem pemerintahan yang diorganisasikan terutama untuk melawan Injil [18:4]. Umat Kristiani tidak boleh memperkenankan propaganda palsu menyusup ke dalam komunitas-komunitas mereka [2:14.20]. Sebaliknya mereka harus tetap tegar dalam perjuangan dan melakukan perlawanan sampai akhir hayat mereka [2:10], kendati pun mereka berada dalam situasi pengejaran dan penganiayaan [3:10-11]. Dalam pertempuran umat yang menyakitkan ini sebenarnya benih suatu kemenangan di masa depan sudah ada [2:7.11.17; 3:5.12.21]. Dengan melakukan perlawanan tanpa hitung-hitung dan tanpa kompromi, umat akan menjadi pengikut (anggota pasukan) sang Anak Domba yang menantang kekaisaran [14:1.4-5] dan mengalahkannya [17:14]. 

Itulah sebabnya mengapa kita tidak dapat menemukan hal-hal yang bersifat setengah-setengah dalam ilustrasi yang diberikan Yohanes dalam Why: segalanya adalah hitam atau putih, untuk menolong umat Kristiani melakukan discernment yang jernih atas politik kekaisaran Roma dan mengambil sikap yang tegar dalam situasi yang dihadapi. 

DOA PENUTUP PERTEMUAN 

Bapa surgawi, kami berterima kasih kepada-Mu untuk menyiapkan kami bagi kehidupan di dunia ini, lewat penyelenggaraan ilahi-Mu. Terima kasih untuk kenyataan, bahwa kasih-Mu dan kehendak-Mu atas diri kami selalu sempurna dan baik. Amin.

Catatan: STUDI ALKITAB tentang KITAB WAHYU ini diselenggarakan oleh Wilayah I Santo Yohanes dari Salib, Gereja S. Stefanus, Cilandak, dalam empat pertemuan mingguan, yaitu mulai tanggal 23 Juli dan berakhir tanggal 27 Agustus 2009. Para peserta terdiri dari para warga Lingkungan-lingkungan S. Hubertus, S. Gregorius, S. Yohanes Pemandi dan S. Yudas Tadeus. Pembimbing: Sdr. F.X. Indrapradja, OFS. 

Bahan-bahan ini dapat dimanfaatkan oleh anda sekalian – kaum awam – yang memang mau lebih mendalami lagi tentang Kitab Wahyu.

STUDI ALKITAB TENTANG KITAB WAHYU (4)

 

WAHYU KEPADA YOHANES 

Pertemuan ke-2: BEBERAPA ASPEK KITAB WAHYU 

Sebagai kelanjutan pertemuan ke-1 yang membahas latar belakang penulisan Why, maka pada pertemuan ke-2 ini akan dibahas beberapa aspek Why yang sangat perlu untuk dipahami sebelum kita mendalami pokok-pokok dalam kitab ini. Untuk itu kita akan menyoroti hal-ikhwal yang menyangkut kosa kata dan perlambangan yang digunakan dalam Why. Kemudian kita akan membahas aspek liturgis dari Why dilanjutkan dengan uraian mengenai teologi kitab ini. Akhirnya akan disajikan struktur Why yang akan digunakan sebagai panduan pembahasan selanjutnya tentang Why, khususnya dalam studi alkitab kita ini. 

KOSA KATA [1] 

Kosa kata dalam Why ini terdiri dari 870 kata Yunani yang umum dan 44 nama diri. Dari semuanya terdapat 107 kata-kata umum dan 18 nama diri yang hanya dapat ditemukan dalam Why dan tidak muncul pada kitab-kitab PB lainnya. Why membicarakan banyak sekali benda dan makhluk hidup yang kadang-kadang sulit dicari padanan katanya dalam banyak bahasa, misalnya: 

  1. Tumbuh-tumbuhan: pohon ara (6:13), daun-daun palem (7:9), pohon zaitun (11:4), menuai gandum (14:15), anggur (14:18), gandum dan jelai (6:6), minyak zaitun dan anggur (6:6).
  2. Binatang: singa (5:5), anak domba (5:6), burung nasar (8:13), macan tutul (13:2), beruang (13:2),  katak (16:13), lembu sapi dan domba (18:13), kuda (6:2; 18:13). Ada juga binatang atau makhluk khayalan seperti naga (12:3 dsj) dan binatang aneh yang muncul dari laut (13:1 dsj).
  3. Kejadian-kejadian alam: kilat dan bunyi guruh (4:5), gempa bumi (6:12), hujan es, api bercampur darah (8:7).
  4. Timbangan, ukuran dan uang: secupak gandum (6:6), sedinar (6:6), mil atau stadia (14:20), tingginya sampai ke kekang kuda (14:20),  pon/talenta (16:21).
  5. Benda-benda: kaki dian/pelita (1:12), lampu (18:23), takhta (4:2.5), gulungan kitab (5:1), tongkat besi (2:27), mahkota yang dipakai oleh raja atau seorang penakluk (4:4.10; 6:2; 9:7; 12:1; 14:14), mahkota pada makhluk aneh (12:3; 13:1; 19:12), mahkota kehidupan (2:10; 3:11), panah (6:2), pedang (1:16), kereta (9:9), baju zirah (9:9), timbangan (6:5), meterai (7:2), pendupaan emas (8:3), kunci (9:1), rantai (20:1), batu kilangan/gilingan (18:21), kilangan/gilingan besar tempat pemerasan anggur (14:19), tabut perjanjian (11:19), sabit (14:14), sehelai jubah putih (6:11), berkabung atau memakai kain kabung (11:3). Dan barang-barang yang tertulis dalam daftar yang panjang di 18:12-13.
  6. Alat-alat musik: harpa atau kecapi (5:8), seruling dan sangkakala (18:22).
  7. Batu-batuan: permata yaspis, sardis, dan zamrud (4:3), kristal (4:6), mutiara (17:4) dan permata-permata lain dalam daftar pada 21:19-20.
  8. Unsur-unsur lain: belerang (9:17), dupa/kemenyan (5:8), apsintus atau zat yang mengandung rasa pahit (8:11). 

LAMBANG-LAMBANG DAN ANGKA-ANGKA DALAM KITAB WAHYU 

Perlambangan sangat disukai dalam tulisan apokaliptik. Perlambangan memang sangat disukai dalam tulisan apokaliptik. Dalam hal Why, lambang-lambang ini dapat ditemukan dari bagian depan sampai bagian akhir kitab ini. Keberadaan lambang ini dinyatakan misalnya dalam 1:20 dan kadang-kadang maksudnya dijelaskan (5:6.8; 13:18; 17:9-18). Penggunaan lambang-lambang ini mengasosiasikan Why dengan tradisi Semit pada umumnya. Misalnya: 1Raj 11:30-32 à kain yang dikoyakkan; Yes 20:2-4 à telanjang dan tanpa kasut; Yer 13:1-11 à ikat pinggang yang menjadi lapuk; 19:1 dsj. 10 dsj à buli-buli. 

Dari sini juga tampak bahwa apokaliptik adalah kelanjutan dari tradisi kenabian dalam penggunaan lambang-lambang. Pada kenyataannya memang kebanyakan lambang yang digunakan dalam Why diambil dari tradisi kenabian yang diteruskan dalam apokaliptik. 

Sejumlah contoh lambang dalam Kitab Wahyu. Berikut ini adalah sejumlah (tidak semua) lambang yang terdapat dalam Why, baik lambang warna, lambang angka maupun lambang obyek: 

WARNA-WARNA  

  1. Pelangi (4:3) menunjukkan lambang Allah (symbol of God), kemuliaan surgawi (celestial  glory); tempat kediaman Allah (God’s dwelling).
  2. Putih melambangkan martabat (dignity) à kepala/rambut putih (1:14); kemenangan (victory) à batu putih (2:17), pakaian kain putih (3:4; 4:4), sehelai jubah putih (6:11; 7:9.13), kuda putih (19:11.14).
  3. Hitam melambangkan tragedi, fatalitas, kematian à kuda hitam (6:5), matahari menjadi hitam (6:12).
  4. Ungu dan merah tua melambangkan kemegahan/kebesaran kerajaan, kemewahan dan bahkan nafsu à 17:4. Kain ungu (18:12; 18:16).
  5. Merah melambangkan kekerasan (violence), darah (blood) dan peperangan (war) 

ANGKA-ANGKA 

  1. Angka 3 (tiga) melambangkan totalitas, Allah (kudus, kudus, kudus), Tritunggal; muncul 11 kali.
  2. Angka 4 (empat) melambangkan  universalitas (biasanya berhubungan dengan alam); muncul 29 kali.
  3. Angka 7 (tujuh) melambangkan totalitas, kesempurnaan, kepenuhan; muncul 54 kali.
  4. Angka 10 (sepuluh) (muncul 10 kali).
  5. Angka 12 (dua belas) melambangkan kesempurnaan dan mengingatkan kita akan kedua belas suku Israel dan mau mengatakan bahwa umat Allah sudah mencapai kesempurnaan akhirnya. Dalam konteks tertentu angka 12 ini mengacu kepada Gereja – Israel yang baru (dua belas rasul; lihat 21:12-14); muncul 23 kali.
  6. Angka 1.000 (seribu) muncul 6 kali pada Why 20; seringkali dalam kelipatannya.
  7. Angka 666. Ada Binatang (buas) yang diberi lambang angka 666 (13:8).
  8. Masa seribu tahun (20:2-7) adalah masa antara berakhirnya penganiayaan sampai akhir zaman. 
  9. 1260 hari (12:6), 42 bulan (11:2), satu masa dan dua masa dan setengah masa (12:14), semua menunjukkan separuh dari suatu masa tujuh tahun, dengan demikian berarti masa yang terbatas dan tidak sempurna. Allah membatasi masa para penganiaya.
  10. 144.000 orang yang murni seperti perawan (14:1-4) melambangkan jumlah yang lengkap à 12x12x1000: 12 anak Yakub, 12 suku Israel dalam Perjanjian Lama dan 12 Rasul dalam Perjanjian Baru. Dikatakan seperti perawan karena mereka tak pernah menyembah berhala-berhala kekaisaran Roma. 

OBYEK-OBYEK 

  1. Mata (1:14; 2:18; 4:6; 5:6) melambangkan pengetahuan.
  2. Mahkota (2:10; 3:11;4:10; 6:2; 12:1; 14:14) melambangkan kerajaan dan kekuasaan.
  3. Jubah putih (6:11; 7:9.13 dsj; 22:14) melambangkan dunia kemuliaan.
  4. Palem (7:9) adalah lambang kemenangan.
  5. Perempuan (12:1-2) melambangkan jemaat (umat Allah) dan juga Maria, yang membawa serta Mesias, sang Pembebas.
  6. Naga atau si ular tua (12:3.9) adalah si Iblis atau si Jahat, kuasa kejahatan yang bekerja di dunia.
  7. Tujuh kepala (12:3) adalah tujuh bukit kota Roma (17:9) atau tujuh raja (17:9-10).
  8. Tanduk (5:6; 12:3): tanduk adalah tanda kekuasaan raja (17:12); angka sepuluh menunjukkan kepenuhan kekuasaan ini.
  9. Sayap  (4:8) berbicara mengenai mobilitas; kapasitas untuk berada di mana saja.
  10. Kedua sayap dari burung nasar (12:14) menunjukkan perlindungan Allah atas umat-Nya (Ul 32:1; Kel 19:4).
  11. Binatang (buas) (13:1) melambangkan kekaisaran Roma, kekuatan yang mewujudkan kejahatan, dia yang mengurus urusan si Naga.
  12. Binatang yang bertanduk dua seperti anak domba dan berbicara seperti seekor naga (13:11) melambangkan nabi-nabi palsu yang mengabdikan diri pada kekaisaran Roma. Mereka memberi pengajaran yang membenarkan kekuasaan kekaisaran Roma, sehingga pengertian seperti itu tertanam dalam pikiran orang-orang.
  13. Macan tutul, beruang dan singa (13:2) adalah lambang-lambang kekejaman dan eksploitasi.
  14. Anak Domba (14:1) adalah Yesus, sang Anak Domba Paskah yang dengan darah-Nya membebaskan orang.
  15. Babel (14:8; 18:2) adalah Roma, yang mengeksploitasi rakyat untuk meningkatkan kekayaannya sendiri.
  16. Anak Manusia (14:14) adalah Yesus Kristus, diambil dari nabi Daniel (Dan 7:13).
  17. Harmagedon (16:16) melambangkan kekalahan pasukan musuh, diambil dari kitab Zakharia (12:11).
  18. Lautan api (20:14) melambangkan “nasib” dari siapa saja yang menentang Rencana Allah.
  19. Kematian yang kedua (20:14) adalah kematian dari kematian itu sendiri. Pada akhirnya yang tinggal hanyalah Kehidupan.
  20. Yerusalem yang baru (21:1) melambangkan umat Allah yang baru.
  21. Perjamuan kawin Anak Domba (19:9) melambangkan kemenangan dan pesta perjamuan kebersatuan semua manusia dengan Allah pada akhirnya.
  22. Alfa dan Omega (21:6) adalah huruf-huruf pertama dan terakhir dalam bahasa Yunani. Huruf-huruf itu melambangkan awal dan akhir. 

Perlambangan lain yang digunakan adalah jungkir baliknya alam: matahari, bulan, bintang berubah; bumi bergetar; di atas bumi terjadi hal-hal yang bertentangan dengan yang terjadi sehari-hari. Yang ingin dinyatakan dalam lambang-lambang ini adalah kehadiran Allah, khususnya dalam sejarah yang terus berjalan. 

Secara umum dapat dikatakan, bahwa perlambangan yang digunakan dalam PL juga dipakai dalam Why: langit adalah tempat kediaman Allah yang menyatakan transendensi-Nya; bumi adalah tempat tinggal manusia; dunia bawah adalah tempat berakarnya kejahatan, yaitu Iblis atau Satan sendiri. Perlambangan dalam apokaliptik dimaksudkan untuk menyatakan bahwa begitu dalam misteri  yang mau diungkapkan, sehingga tidak dapat didefinisikan. Kebenaran adikodrati yang ingin diungkapkan juga dikemukakan dengan cara-cara lain. Pewahyuannya (revelasinya) hanya dapat dilakukan melalui campur-tangan Roh Kudus, yang memenuhi diri (merasuki) Yohanes (1:10; 4:2). Segala sesuatu dinyatakan kepadanya melalui penglihatan (vision;visi) (54x). Kecuali itu juga malaikat (67x) akan selalu campur-tangan dan memberikan penjelasan-penjelasan kepada sang pelihat (visioner). Untuk itu sang pelihat dapat dibawa ke padang gurun (17:3) atau ke puncak sebuah gunung (21:10). 

ASPEK LITURGIS 

Awal dan akhir Why  membingkai kitab itu dalam suatu setting liturgis: Kata sapaan yang sangat Kristiani, charis dalam 1:4 “Anugerah dan damai sejahtera menyertai kamu dari dia, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang …”; diulang lagi dalam 22:21 “Anugerah Tuhan Yesus menyertai kamu sekalian!Amin”. Keseluruhan Why cukup banyak diserapi dengan acuan-acuan kepada liturgi. 

Liturgi Israel berpusat di sekitar peristiwa Keluaran dengan mana benih Abraham menjadi umat Allah, seperti kesaksian yang diberikan sang pemazmur  (Mzm 78; 80; 105; 106; 114; 136. Sejalan dengan itu liturgi Gereja Allah berpusat di sekitar peristiwa karya penebusan Kristus. Hal ini muncul sepanjang Why, dalam bentuk madah/kidung: 1:4-7; 4:8.11; 5:9-14; 7:9-17; 11:15-18; 12:10-12; 15:2-4; 19:1-8. Perhatikanlah juga seruan Amin yang mengiyakan semua itu (lihat 1:7; 5:14; 7:12; 19:4). “Haleluya” – seruan untuk memuji Allah – termuat dalam 19:1.3.4.6. Beberapa pengakuan iman yang standar  muncul kembali, misalnya bahwa Kristus telah menebus kita melalui darah-Nya. “Amin, datanglah, Tuhan Yesus!” (22:20) adalah seruan yang digunakan oleh komunitas ketika memulai kebaktiannya. Doa liturgis dari Gereja yang sujud menyembah Allah dan menderita di muka bumi diproyeksikan ke dalam liturgi surgawi, misalnya: 

“Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan karena kehendak-Mu, semuanya itu ada dan diciptakan” (4:1).

“Engkau layak menerima gulungan kitab itu dan membuka meterai-meterainya; karena Engkau telah disembelih dan dengan darah-Mu Engkau telah membeli mereka bagi Allah dari tiap-tiap suku dan bahasa dan umat dan bangsa…” (5:9). 

Pater John J. Scullion SJ mencatat, bahwa kedua liturgi tersebut diikat bersama dan keduanya bersifat kosmis (lihat keseluruhan Why 5). Menurutnya, perikop 21:22- 22:5  juga mengingatkan kita kepada liturgi Hari Raya Pondok Daun. Hari Raya Pondok Daun adalah perayaan pengucapan syukur bagi Israel atas hasil panen. Hari raya ini adalah satu dari tiga hari raya utama umat Israel; hari-hari raya lainnya adalah Hari Raya Roti Tidak Beragi dan Hari Raya Tujuh Minggu (Pentakosta). Perayaan Hari Raya Pondok Daun diselenggarakan selama tujuh hari, dimulai pada hari kelima belas bulan yang ketujuh sebagai peringatan akan zaman pengembaraan umat Israel di padang belantara (Im 23:33-44; bdk Ul 16:13-17). Dalam perayaan ini Bait Allah terang benderang karena korban api-apian kepada TUHAN. Ada tari-tarian oleh orang-orang saleh diiringi oleh bunyi-bunyian dari berbagai alat musik tradisional Israel. Sementara itu nyanyian-nyanyian ziarah dikidungkan oleh umat Israel (lihat Mzm 120-134). Di pagi hari umat berprosesi menuju kolam Siloam, menimba air dan membawa kembali air itu ke Bait Allah dan dituang ke atas mezbah (altar) bersama percikan air anggur. Dalam Yerusalem Baru seperti digambarkan dalam Why, Bait Allah adalah Allah sendiri dan Anak  Domba; Allah adalah terang, Anak Domba adalah lampu. Tidak hanya Israel, semua bangsa juga datang untuk menyembah. Air tidak ditimba dari kolam Siloam, melainkan mengalir dari takhta Allah dan Anak Domba ke jalan-jalan di kota. 

Surat-surat kepada ketujuh gereja, tanggapan-tanggapan liturgisnya serta madah/kidung yang terdapat dalam banyak bagian Why menunjukkan bahwa semua itu mungkin dimaksudkan sebagai bagian-bagian kitab untuk dibacakan dalam sidang-sidang (kebaktian) jemaat  (JJS, hal. 1270). Malah ada seorang pakar yang mengatakan, bahwa Why secara eksplisit dimaksudkan untuk dibacakan (secara publik) dalam suatu liturgi (1:3), mungkin sekali dalam suatu liturgi Ekaristi. Perayaan ibadat surgawi yang dapat dilihat oleh mata dan telinga Yohanes penulis Why, kemudian disusul oleh perayaan-perayaan liturgi lainnya sepanjang bukunya. Di sinilah dimensi transendensi yang merupakan salah satu ciri tulisan apokaliptik, mengambil bentuk ibadat surgawi. Hal ini merupakan suatu aspek eskatologi dari Why yang khas, karena Anak Domba dihadirkan dalam ibadat surgawi. Karena Anak Domba itu muncul dalam bagian Why yang menggambarkan ibadat surgawi, maka Dia menjadi bagian dari struktur dunia sekarang, karena selalu ada interaksi antara  yang bersifat surgawi dan hal-hal di dunia. Ibadat mempersatukan yang surgawi dan hal-hal yang di dunia, dan yang disembah dalam ibadat adalah Dia yang duduk di takhta, yaitu sang Anak Domba. Suara nyanyian dalam ibadat di  atas muka bumi bercampur indah-merdu dengan suara puji-pujian dalam ibadat surgawi. Yohanes penulis Why mengatakan: 

Lalu aku mendengar semua makhluk yang di surga dan di bumi dan di bawah bumi dan di laut dan semua yang ada di dalamnya, berkata, “Bagi Dia yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba, adalah puji-pujian dan hormat dan kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya!” (5:13). 

Jiwa-jiwa para martir berseru dengan suara nyaring kepada sang Penguasa yang kudus dan benar (6:9-10) 

TEOLOGI KITAB WAHYU 

Why membaca sejarah dunia nyata dalam terang pandangan iman. Artinya seluruh peristiwa yang terjadi itu ditempatkan dalam rencana penyelamatan Allah. Pada dasarnya yang ada di latar belakang adalah pandangan dualistik : sejarah dilihat sebagai peperangan antara kekuatan positif melawan kekuatan negatif. Peperangan itu sendiri terjadi di dunia dalam tingkat manusia. Dan sejarah umat manusia inilah yang menjadi perhatian utama Why. Namun sebenarnya realitas itu jauh mengatasi tingkat menusiawi: ada kekuatan jahat yang semakin muncul, dalam berbagai macam tingkatan wujudnya dan seringkali dikedepankan dengan lambang-lambang binatang; di pihak lain ada malaikat-malaikat yang ikut campur tangan dalam sejarah menjadi pengantara-pengantara antara Allah dan manusia dalam peperangan terus-menerus melawan kekuatan jahat. 

Peperangan antara dua kekuatan ini memunculkan peristiwa-peristiwa yang dramatis yang terus berlangsung dalam waktu yang tanpa batas. Peperangan ini akan berakhir dengan kemenangan yang tampaknya tiba-tiba bagi kekuatan baik. Inilah ciri apokaliptik yang hakiki. Kemenangan akhir dikaitkan dengan tokoh mesianis yang biasanya disebut “Anak Manusia”. Ide ini tidak dapat dipandang sebagai sesuatu yang baku, tetapi harus harus dibaca kembali, diperdalam dan diterapkan dalam kenyataan sekarang yang berubah-ubah. Pembaca harus pandai-pandai membuat jembatan dari lambang (teks) agar dapat sampai pada isi dan penerapan. Dengan demikian apokaliptik pada umumnya dan Why pada khususnya tetap penting dalam pengembangan teologi dan kehidupan Kristiani. 

Tema-tema teologi yang terkandung dalam Why sesungguhnya sama dengan yang terdapat dalam semua tulisan PB. Yang memberi ciri khusus kepada Why adalah pandangan-pandangan mengenai Allah, Kristus, Roh Kudus dan Gereja. Beberapa gagasan pokoknya adalah seperti berikut ini: 

Allah 

Dalam Why ada bermacam-macam gelar yang diberikan kepada Allah. Dari gelar-gelar itu, akan terlihatlah pandangan Why tentang Allah. 

  1. Allah. Gelar ini seringkali digunakan tanpa tambahan apa-apa (65x), mempunyai arti umum seperti Allah (TUHAN,[YHWH], Elohim) dalam PL. Harus dicatat, bahwa konteks bersangkutan mungkin juga memberi nuansa khusus (bdk 1:1.9; 2:7; 3:14; 5:6.9.10; 8:2.4;; 9:13; 11:16).
  2. Tuhan Allah, Yang Mahakuasa (1:8; 4:8; 11:17; 15:3; 16:7.14; 18:8; 19:6.15; 21:22; 22:5.6). Gelar ini juga berakar dalam PL walaupun tidak sama dengan gelar “Tuhan, Allah bala-tentara” (lihat IS, hal. 21). Yang mau diungkapkan di sini ialah kekuatan ilahi yang akan menghancurkan segala macam rintangan. Kekuatan ini ini dinyatakan oleh Allah dalam sejarah penyelamatan, khususnya pada saat-saat yang sulit.
  3. Kudus. Allah adalah kudus (4:8; 6:10), tetapi sifat ini juga dapat dikaitkan dengan yang lain. Kristus adalah kudus (3:7), demikian juga para malaikat (14:10), orang-orang Kristiani (8:3.4; 11:18; 13:7.10; 14:12), Yerusalem (11:2; 21:2.10). Namun ada kata lain yang hanya diperuntukkan bagi Allah, yaitu suci (Yunani: hosios, bukan hagios) dan hanya dipakai dua kali, yaitu dalam 15:4 dan 16:5. Yang diungkapkan adalah keadilan mutlak, kesetiaan dan ketetapan hati Allah yang tidak pernah berubah dalam rencana penyelamatan-Nya.
  4. Adil. Gelar ini berkaitan dengan pribadi Allah (16:5) atau jalan-jalan-Nya (15:3) dan penghakiman-Nya (16:7; 19:2). Keadilan ini menegakkan kembali keseimbangan yang goyah karena pergumulan antara kekuatan baik dan kekuatan jahat.
  5. Yang duduk di atas takhta. Gelar ini mengungkapkan kuasa-Nya atas segala sesuatu (6:16; 7:10 dsj).
  6. Bapa Kristus. Ini adalah ungkapan yang selalu diucapkan oleh Kristus (1:6; 2:28; 3:5.21; 14:1). Kristus adalah Anak (Putera) Bapa surgawi dalam arti yang paling dalam. Namun Allah, Bapa Kristus yang mempunyai hubungan dengan orang-orang Kristiani, yang adalah imam-imam bagi Allah, Bapa-Nya (1:6). Kristus akan mengakui nama mereka di hadapan Bapa-Nya (3:5). Pada dahi mereka tertulis nama Bapa-Nya (14:1).
  7. Allah-Ku. Ini diucapkan oleh Kristus (3:2.12) yang mengungkapkan adanya saling-berhubungan yang riil dan berdaya-cipta antara Bapa dan Kristus.
  8. Allah kita  (12:10; 19:1.6; 21:3). Ungkapan ini kiranya berhubungan dengan perjanjian, tetapi juga mengungkapkan kepemilikan pribadi orang-orang Kristiani oleh Allah yang mengatasi hubungan kontrak atau perjanjian (bdk 21:3).
  9. Hidup (4:9.10; 7:2; 10:6; 15:7). Ungkapan ini sejalan dengan pandangan PL, Allah yang hidup mengatasi tingkat manusiawi dan setiap keterbatasan waktu. 

Apabila semuanya dirangkum, maka dapat dikatakan bahwa Allah adalah Dia yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang (1:4; 4:8; 11:17 dan 16:5). Artinya, Allah yang berkuasa atas seluruh sejarah. Dengan demikian proses penyelamatan Allah sedang berjalan terus, berkembang dengan mengalahkan kekuatan jahat dalam segala macam bentuknya. Akhirnya, apabila segala musuh sudah dikalahkan, Allah akan membaharui segala-galanya dan akan menyertai jemaat yang sudah Ia selamatkan (Yerusalem) dang masing-masing orang yang percaya (bdk 21:7.22 dsj). 

Kristus 

Teologi tentang Kristus (Kristologi) dalam Why sangat kaya dan mendalam. Gelar-gelar yang digunakan untuk Kristus dalam Why banyak yang bersifat khas. 

  1. Yesus (1:9; 12:17; 14:12; 17:6; 19:10; 20:4; 22:16). Begitu seringnya nama ini digunakan menunjukkan perhatian besar akan Yesus historis, atau mungkin lebih baik penekanan hubungan dengan pribadi Yesus.
  2. Yesus Kristus (1:1.2.5; 22:21); Kristus (11:15; 12:10; 20:4-6). Gelar (2) ini digunakan untuk menunjukkan ke-mesias-an-Nya. Kadang-kadang konteks (bdk 11:15; 12:10) lebih menrincinya dan menunjukkan bahwa Kristus yang bersatu dengan Allah, memiliki kerajaan.
  3. Tuhan, Raja: Yesus Tuhan (22:20-21), Tuhan (11:8; 14:13), Tuan di atas segala Tuan dan Raja di atas segala raja (17:14; 19:16). Gelar-gelar ini seringkali mempunyai ciri liturgis (bdk 22:20.21) tetapi biasanya menyatakan kuat-kuasa Kristus yang tidak dapat ditahan melawan kekuatan-kekuatan musuh (bdk 17:14; 19:16).
  4. Anak Domba. Mungkin ungkapan ini diambil dari Kitab Keluaran (Kel) dan Kitab Yesaya (deutero-Yesaya). Kristus disebut Anak Domba Paskah yang dibunuh (5:6.12), dimuliakan (5:6) dan sesudah mengalahkan musuh-musuh-Nya Dia naik ke takhta Allah (6:1.16; 7:9.10.11.15.17). Gelar ini digunakan sebanyak 29 kali.
  5. Seperti Anak Manusia (1:13; 14:14). Walaupun pada dasarnya mirip dengan gelar Kristologis yang ada dalam kitab-kitab Injil, gelar yang terdapat dalam Why ini tidak berasal dari kitab-kitab Injil itu, melainkan langsung dari kitab Daniel (7:13) yang konteksnya adalah pemuliaan dan penghakiman. Ciri-ciri yang dimiliki Allah sekarang diterapkan pada diri Kristus.
  6. Firman Allah (19:13). Ini adalah nama yang menyatakan keagungan dan transendensi Kristus, khususnya ditempatkan dalam konteks dinamis pemenuhan sejarah penyelamatan Allah.
  7. Anak (Putera) Allah (2:18). Kristus disebut Anak Allah dalam arti yang sepenuhnya, seperti halnya Allah disebut Bapa Kristus.
  8. Yang Benar (3:7; 6:10; 19:11). Gelar ini yang paling jelas mengungkapkan peranan kesaksian Kristus.
  9. Yang Kudus (3:7). Gelar ini menunjukkan bahwa Kristus berasal dari Allah.
  10. Yang Hidup (1:18). Ini adalah sebutan yang khas untuk Allah, yang diberikan kepada Kristus karena kebangkitan-Nya.
  11. Yang Pertama dan Terakhir, Alfa dan Omega (1:17; 2:8; 22:13). Gelar yang dipakai untuk menyebut Allah ini (1:8; 21:6) diberikan kepada Kristus yang karena misteri Paskah ditunjukkan sebagai awal dan akhir sejarah penyelamatan.
  12. Saksi yang setia (1:5; 3:14 bdk 19:11). Kristus adalah Saksi yang setia akan rencana penyelamatan Allah. Dalam arti ini, Kristus juga disebut Amin (3:14).
  13. Yang Berkuasa atas raja-raja bumi (1:5). Gelar ini menunjukkan bahwa Kristus berada di atas segala kekuatan yang melawan Allah, yang memang tampil dalam yang disebut kerajaan-kerajaan bumi (1:15; 6:15; 17:2.18; 18:3.9; 19:19; 21:24). Lihat juga gelar Raja di atas segala raja (17:14; 19:16). Gelar-gelar ini untuk menunjukkan kuasa Kristus yang bersifat mutlak.
  14. Singa dari suku Yehuda (5:5). Gelar ini mengungkapkan kepenuhan harapan mesianis dalam garis Daud (bdk 3:7; 22:16). Kuasa mesianis ini berasal dari misteri Paskah.
  15. Yang pertama bangkit dari antara orang mati (1:5). Kristus adalah yang pertama bangkit dalam urutan anak-anak Allah yang bangkit.
  16. Yang memiliki ketujuh Roh Allah (3:1). Kata-kata keterangan ini mengkungkapkan keunggulan Kristus, bahkan atas malaikat-malaikat yang berada di hadapan takhta Allah (4:5). Keunggulan ini bersifat dinamis: Kristus mengutus ketujuh Roh Allah itu ke seluruh dunia (5:6). Mungkin lebih baik memahaminya sebagai Kristus yang mengutus Roh dalam berbagai karya yang berbeda-beda.
  17. Bintang Timur yang gilang-gemilang (22:16; 2:28). Yesus yang bangkit adalah bintang timur yang gilang-gemilang, yang bersinar dalam hati orang-orang yang percaya (bdk 2Ptr 1:19). 

Sintese Kristologi. Pengungkapan kristologi yang bersifat sintetis terutama terdapat dalam penglihatan awal (1:12-20):

  • Kristus yang wafat dan bangkit, memiliki semua sifat Allah (1:13 dsj),
  • Ia hidup dalam dan demi Gereja,
  • Ia memegang dan memimpin serta menuntun Gereja berjalan ke depan (1:12.16),
  • Ia menghakimi Gereja dengan firman-Nya,
  • Ia membersihkan Gereja dari dalam (Why 1-3),
  • Ia membantu Gereja untuk menentukan sikap dan hubungannya dengan berbagai kekuatan musuh dalam sejarah.
  • bersama-sama dengan Gereja, Ia mengalahkan kekuatan-kekuatan itu dan menjadikan Gereja mempelai (Why 4-21),
  • dengan demikian Kristus naik ke takhta Allah dan mewujudkan kemenangan yang  ia peroleh berkat kebangkitan-Nya dalam sejarah Gereja,
  • dalam arti ini Ia adalah Anak Domba, gelar yang khas digunakan dalam bagian kedua Why. 

Roh Kudus 

Teologi tentang Roh Kudus (pneumatologi) dalam Why kelihatannya tidak sangat teratur. Namun kalau berbagai data yang ada dikumpulkan, maka kiranya dapat disusun suatu gagasan yang menarik (lihat IS, hal. 25). 

Seperti dalam PL, Roh itu milik Allah. Roh itu ada di hadapan-Nya (tujuh roh yang ada di hadapan Allah; 1:4; 4:5). Roh Allah yang menyatakan diri dalam berbagai macam wajah merupakan kekuatan ilahi dan bekerja dalam panggung sejarah manusia (4:5; 5:6). Kekuatan ialhi itu merasuk ke dalam diri penulis Why (1:10; 17:3; 21:10), memberikan kehidupan sehingga orang-orang bangkit (11:11). 

Roh yang merupakan daya atau kekuatan ilahi yang bekerja dalam sejarah umat manusia itu milik Kristus. Kristus mempunyai tujuh roh (3:1), artinya roh dalam keutuhannya, dan mengutusnya ke dunia (5:6). 

Sebagai yang diutus ke dunia, Roh itu menyatakan diri dan bekarya sebagai pribadi dan disebut Roh (Kudus). Roh itu menjadi nyata dalam hubungannya dengan Gereja: Roh itu menyatakan (14:13), berbicara terus-menerus kepada gereja-gereja (2:7.11.17.29; 3:6.13.22), menjiwai Gereja sebagai mempelainya dan mendukungnya dalam penantian akan akhir zaman (22:6). 

Gereja 

Berikut ini adalah uraian mengenai teologi tentang Gereja (ekklesiologi) yang ada dalam Why: “Allah mewahyukan dan menyatakan diri-Nya dalam Kristus, saksi yang setia. Kristus mengutus Roh yang diterima dalam Gereja. Inilah karya penyelamatan Allah yang terus berlangsung (IS, hal. 26). 

Penulis Why mengenal kata “gereja” (Yunani: Ekklesia) yang diartikannya sebagai jemaat setempat, di tempat tertentu (lihat 2:1 dst.). Kata ini juga digunakan dalam bentuk jamak (lihat 22:16; jemaat-jemaat). Kalau demikian lingkupnya menjadi lebih umum. Ketujuh jemaat di Asia (1:4.11.20) sebenarnya adalah seluruh Gereja yang tidak mengenal batas-batas geografis tertentu (IS, hal. 26). Pater Edwin Daschbach SVD mengatakan, bahwa angka tujuh melambangkan totalitas atau kesempurnaan. Karena itu, kalau penulis Why mengatakan bahwa dia mengirimkan pesannya kepada tujuh gereja di provinsi Asia (1:4), maka sesungguhnya dia mengirimkan pesannya itu kepada seluruh Gereja (ED, hal. 10-11). Ilustrasi dari Romo John Tickle mendukung pendapat ini dengan baik: 

Tujuh jemaat (gereja) kepada siapa surat-surat ini dialamatkan membentuk sebuah lingkaran yang hampir sempurna di bagian dunia yang sekarang adalah Turki modern. Yohanes (sang penulis Why) dapat saja menulis kepada siapa saja di bawah matahari. Akan tetapi, karena secara geografis kota-kota ini membentuk sebuah lingkaran yang hampir sempurna, maka dia menggunakan fakta ini untuk melambangkan bahwa pesannya adalah untuk Gereja universal (JT, hal. 29). 

Pandangan yang berbeda, misalnya dari Raymond E. Brown (REB, hal. 782) akan dibahas dalam kesempatan lain. 

Ada beberapa lambang yang digunakan oleh penulis Why untuk mengungkapkan jati-diri Gereja:

  • Gereja adalah persekutuan liturgis dan Kristus hadir di tengah-tengahnya (lihat ungkapan “ketujuh kaki dian emas à 1:20; 2:1);
  • Gereja, yang berada di dunia, mempunyai dimensi adikodrati (ungkapan “malaikat dari ketujuh jemaat à 1:20);
  • Gereja, yang sekaligus adalah surgawi dan duniawi di tengah-tengah penganiayaan yang dialaminya, harus menyatakan Kristus (ungkapan “perempuan bermahkota matahari à 12:1 dsj);
  • Gereja adalah umat Allah dalam arti yang terdapat dalam PL baik dalam tahap peziarahannya maupun sampai titik terakhirnya.
  • Gereja adalah Yerusalem duniawi (Why 11) dan surgawi (21:1 – 22:5) yang didirikan di atas rasul-rasul Anak Domba (21:14).
  • Gereja itu dihubungkan dengan Kristus dalam ikatan kasih yang tidak dapat diputuskan karena Gereja adalah mempelai (21:2.9; 22:17). 

Dalam dua lambang ini – kota dan mempelai – kita temukan sintesis pandangan mengenai Gereja (21:2 à seperti pengatin perempuan; 21:9-10 à pengantin perempuan – kota): Gereja dihubungkan dengan Kristus oleh kasih yang tidak boleh ditinggalkan bdk 2:4) dan harus berkembang terus (3:20) dengan menghapuskan hal-hal yang negatif dalam hidupnya sendiri. Ini menyangkut hidup pribadi orang-orang beriman. Namun Gereja juga adalah kota: mempunyai ciri sosial yang harus terus berkembang dengan menyingkirkan halangan-halangan dari luar. 

Apabila proses ganda ini sampai pada  kesudahannya, pada waktu itu dan baru pada waktu itu akan terjadi sintesis di antara keduanya: Gereja “kudus”, “dicintai”, mempelai yang mampu mencintai, akan menjadi kota yang tidak dapat dicemarkan oleh apa pun. Inilah tahap sejarah yang paling akhir. 

STRUKTUR 

Sebagian besar buku/tulisan tentang tafsir Why membagi isi Why menjadi dua garis besar, yaitu surat-surat kepada tujuh gereja (jemaat) pada bab 2-3, dan penglihatan pada bab 4-22. Di bawah ini adalah garis besar Why yang agak singkat, namun dapat membantu pembaca melihat adanya serangkaian penglihatan yang semakin meningkat sampai mencapai klimaks atau puncaknya dalam penglihatan adanya langit yang baru, bumi yang baru dan Yerusalem yang baru. 

Pembukaan ………………………………………………………………………. 1:1-20 

  • Kata Pembukaan ………………………………………………………..   1:1-3
  • Salam …………………………………………………………………………   1:4-8
  • Penglihatan Permulaan ……………………………………………….. 1:9-20 

Surat kepada tujuh gereja (jemaat) ……………………………….. 2:1 – 3:22

 Pesan kepada Jemaat di Efesus …………………………………………..      2:1-7

  • Pesan kepada Jemaat di Smirna ………………………….………… 2:8-11
  • Pesan kepada Jemaat di Pergamus .…………………………….    2:12-17
  • Pesan kepada Jemaat di Tiatira …………………………………… 2:18-29
  • Pesan kepada Jemaat di Sardis …………………………………… 3:1-6
  • Pesan kepada Jemaat di Filadelfia …………………………….    3:7-13
  • Pesan kepada Jemaat di Laodikia ………………………..……    3:14-22 

Penglihatan tentang hal-hal yang akan terjadi ………….  4:1 – 22:5

  • Penampakan di Surga ………………………………………………  4:1-5 – 5:14
  • Tujuh Meterai …………………………………………………………    6:1 – 8:1
  • Tujuh Sangkakala …………………………………………………..    8:1 – 11:19
  • Naga dan Anak Domba ………………………………………….   12:1 – 14:20
  • Perempuan dan Naga ……………………..………………………  12:1-18
  • Dua binatang (buas) dari Dalam Laut .……………………..   13:1-18
  • Selingan: Tiga Penglihatan ………………………………………   14:1-20
  • Tujuh Cawan …….…………………………………………………….  15:1 – 16:21
  • Kehancuran Babel, Kekalahan Binatang (buas) dan Nabinya  dan kejatuhan Iblis ………………………………………………………    17:1 – 20:10
  • Penghakiman Terakhir, Langit yang Baru, Bumi yang Baru dan Yerusalem Yang Baru …………………………………………..     20:11 – 22:5 

Kesimpulan Akhir ………………………………………………………     22:6-21

 PERTANYAAN-PERTANYAAN 

  1. Jelaskan dengan singkat intisari dari teologi dalam Why!
  2. Jelaskan dengan singkat intisari dari kristologi dalam Why!
  3. Jelaskan dengan singkat intisari dari pneumatologi dalam Why!
  4. Jelaskan dengan singkat intisari dari ekklesiologi dalam Why!
  5. Dengan pengandaian bahwa anda sudah membaca Why secara menyeluruh sebelum pertemuan ke-2 ini, dapatkah anda memberikan konfirmasi bahwa memang terdapat unsur “harapan” dalam tulisan apokaliptik seperti Why?
  6. “Karena perbedaan waktu dan tempat serta pengalaman, besar kemungkinan pembaca zaman modern tidak dapat memahami arti semua penglihatan yang terdapat dalam Why. Sebagai manusia zaman modern kita biasanya tidak berpikir dengan cara berpikir orang-orang Kristiani abad pertama. Oleh karena itu kalau kita mau menemukan makna dalam Why, maka kita harus membacanya dengan menggunakan “mata orang-orang zaman kuno” itu. Kita harus membayangkan diri kita sendiri dalam dunia orang-orang Kristiani perdana, selagi kita mencoba untuk menggali “harta kekayaan” yang terpendam dalam kitab ini.”  Setujukah anda dengan pernyataan ini? Jelaskan jawaban anda!  

DOA PENUTUP PERTEMUAN 

Tuhan Yesus, berkatilah kami dengan kuasa-Mu yang mulia, agar kami dapat selalu memancarkan sinar terang kasih dan damai-Mu kepada dunia. Semoga semua orang datang sehingga mengenal-Mu dan jalan-Mu. Semoga melalui penyembahan dan puji-pujian kami kepada nama-Mu, Kaucurahkan rahmat dan sukacita ke dalam segenap ciptaan-Mu. Kami mempersembahkan kepada Dikau segala pujian dan hormat selama-lamanya. Datanglah, Tuhan Yesus. Amin. 

Catatan: Ada bermacam-macam penafsiran terhadap kitab Wahyu ini: sebagian mengatakan bahwa hal-hal yang dibicarakan di dalamnya menunjuk kepada kejadian-kejadian waktu lampau; sebagian lagi mengatakan bahwa kitab ini membicarakan hal-hal yang terjadi mulai dari saat kitab ini ditulis sampai akhir zaman. Tetapi ada juga yang berpendapat bahwa semuanya berkaitan dengan akhir zaman yaitu hari kiamat. Semua penafsiran ini tergantung pada bagaimana cara seseorang memahami apa yang tertulis dalam 1:19 dan 20:1-8. Di samping itu ada juga yang menganggap bahwa kitab Wahyu ini hanyalah berisi alegori atau lambang-lambang saja, tidak ada hubungannya dengan sejarah kehidupan manusia. Namun sekarang anggapan ini sudah tidak terlalu banyak didukung. Apapun anggapan yang muncul terhadap kitab ini, ………………………Yohanes sebagai penulis kitab ini, menekankan bahwa semua yang ia gambarkan di dalam kitabnya ini akan terjadi segera (1:4; 22:7.10.12.20). [ PEDOMAN PENAFSIRAN ALKITAB: WAHYU KEPADA YOHANES, hal. 2].


[1] Pembahasan tentang kosa kata ini menggunakan PPAWY sebagai sumber utamanya.

STUDI ALKITAB TENTANG KITAB WAHYU (3)

 

WAHYU KEPADA YOHANES 

Pertemuan ke-1: LATAR BELAKANG PENULISAN KITAB WAHYU 

Banyak orang mengatakan bahwa Kitab Wahyu (Why) adalah kitab yang paling tidak jelas di antara tulisan-tulisan Perjanjian Baru (PB), dengan demikian paling sulit untuk dipahami. Kesan sulit dipahami ini mengakibatkan orang menjadi “takut” untuk menyentuhnya. Di sisi lain malah terdapat bermacam-ragam tafsir sehingga menambah kebingungan pembaca biasa yang tidak mempelajari Kitab Suci secara khusus, seandainya dia berinisiatif untuk mendalami Why ini, baik secara pribadi maupun secara berkelompok. 

Seorang pakar Kitab Suci, Pater Raymond E. Brown SS, menulis bahwa Why itu populer sekali. Kepopulerannya itu menyebar ke mana-mana, namun berdasarkan alasan yang salah. Mengapa? Karena banyak sekali orang membaca Why sebagai suatu panduan tentang bagaimana dunia ini akan berakhir, berdasarkan pengandaian bahwa Kristus telah memberikan kepada penulis Why pengetahuan mendetil mengenai masa depan yang dikomunikasikan oleh-Nya lewat berbagai lambang bersandi. Misalnya para pengkhotbah dari zaman ke zaman telah mengidentifikasikan Binatang (buas) yang keluar dari dalam bumi dengan angka 666 itu sebagai Hitler, Stalin, Sri Paus dan Saddam Hussein. Pengkhotbah-pengkhotbah itu juga telah menghubung-hubungkan Why dengan Revolusi Komunis, bom atom, pembentukan negara Israel, Perang Teluk dan lain sebagainya. Abad ke-19 dan abad ke-20 telah menyaksikan adanya banyak penafsir nubuatan yang menggunakan kalkulasi dari Why untuk meramalkan hari dan tanggal pasti dari akhir dunia. Sampai saat ini ternyata bahwa mereka semua salah. Dasawarsa terakhir abad ke-20 masih sempat menyaksikan tragedi Branch Davidians di Waco, Texas, Amerika Serikat, yang mengambil banyak korban. Di lain pihak, ada banyak umat Kristiani yang tidak berpikir bahwa penulis Why mengetahui tentang masa depan dalam arti apa pun yang melampaui suatu keyakinan mutlak, bahwa Allah berjaya dengan menyelamatkan mereka yang tetap taat-setia, dan dengan mengalahkan kekuatan-kekuatan jahat (REB, hal. 773). 

Sebelum kita mendalami pokok-pokok dalam Why, baiklah kita terlebih dahulu menyoroti siapa penulisnya, dilanjutkan dengan pembahasan mengenai tempat dan waktu penulisannya, ciri-ciri sastranya, dan latar-belakang penulisannya. Semua ini diperlukan agar pendalaman kita atas pokok-pokok Why menjadi mantap dan (semoga) tidak salah arah. 

SIAPA PENULIS KITAB WAHYU? 

Yohanes. Penulis Why bernama Yohanes (1:1-2.4.9 dan 22:8). Gereja purba (perdana) mempunyai anggapan bahwa yang dimaksudkan ialah rasul Yohanes anak Zebedeus yang adalah saudara Yakobus, keduanya diberi nama Boanerges oleh Yesus, yang berarti “anak-anak guruh” (Mrk 3:17). Namun demikian sebutan rasul tidak tertulis dalam Why, kecuali pada ayat 21:14 yang menyebutkan “kedua belas rasul”. Penulis Why ini menyebut dirinya dengan sebutan-sebutan umum seperti “hamba-Nya” (1:1) dan “saudara seiman yang ikut serta dalam kesusahan” (1:9). Malaikat mengatakan bahwa dirinya nabi (22:9) dan tugasnya adalah bernubuat atau menyampaikan berita dari Allah (10:11); dan Why ini sendiri memang merupakan kitab nubuat (22:7.10.19). Surat-surat yang dikirimkan kepada tujuh jemaat atau gereja (2:1 – 3:22) menunjukkan bahwa penulis Why sangat dikenal oleh umat Kristiani di Asia dan diakui wibawanya. 

Hubungan antara Yohanes Rasul dan Yohanes sang penulis Kitab Wahyu. Sejak abad ke-2 ada dua pertanyaan yang selalu diajukan mengenai siapa penulis Why ini: apakah hubungan antara Yohanes penulis Why dengan Yohanes rasul?  Apakah sang “penglihat” dalam Why adalah juga pengarang Yoh, 1Yoh, 2Yoh dan 3Yoh? Pada paruhan pertama abad ke-2, Papias dan Yustinus Martir menghubungkan Why dengan rasul Yohanes. Pendapat ini memperoleh dukungan luas dari gereja Barat maupun Timur, misalnya Melito dari Sardis, Klemens dari Aleksandria dan Ireneus, Hipolitus, Prolog Anti Marcion dan Tertulianus. 

Sejak abad ke-3 tiba-tiba muncul berbagai pendapat yang berbeda-beda, khususnya di gereja Timur. Di wilayah Timur terdapat cukup banyak orang yang ragu-ragu terhadap asal-usul rasuli Why, dengan demikian kanonisitas-nya juga diragukan. Misalnya, Dionisius dari Aleksandria (c.264/265) yang melakukan penyelidikan secara teliti mengenai bahasa, gaya dan pikiran yang terdapat dalam Yoh dan 1Yoh, kemudian membandingkannya dengan bahasa, gaya serta pikiran yang terdapat dalam Why. Kesimpulan atas “studi-banding” itu adalah: hanya Yoh dan 1Yoh yang ditulis oleh rasul Yohanes. Why kiranya ditulis oleh Yohanes Presbyter (Eusebius, HE, 3.39; 7.25,16; dipetik dari IS, hal. 12). Sebagian besar uskup di Siria dan Asia Kecil menolak Why. Alasan penolakan tersebut adalah keresahan yang ditimbulkan oleh akibat-akibat buruk keyakinan khiliasme, yaitu bidaah yang mendasarkan ajarannya pada pemerintahan 1.000 tahun seperti disebutkan dalam Why 20:1-6. Sekolah Antiokhia menolak asal-usul rasuli Why. Gereja Siria tidak menerima samasekali Why. Banyak daftar kanon dari Timur tidak memuat Why dan manuskrip-manuskrip sebelum abad ke-9 juga tidak memuatnya. Akan tetapi di bawah pengaruh Athanasius, kesepakatan sampai kadar tertentu mulai tumbuh di gereja Timur. Di gereja Barat tidak pernah ada kesulitan yang signifikan. Di gereja Barat Yoh, 1Yoh, 2Yoh, 3Yoh dan Why diterima sebagai tulisan rasul Yohanes. 

Petunjuk-petunjuk intern. Di sisi lain terdapat beberapa petunjuk intern yang menghubungkan Why dan Yoh sampai kemungkinan adanya asal-usul yang sama. Menarik untuk diperhatikan adalah beberapa detil yang hanya ditemukan dalam kedua tulisan ini:

  1. Kristus disebut “Anak Domba” (Yoh 1:29.36; dalam Why digunakan 28x, dengan kata Yunani yang berbeda);
  2. nama-Nya adalah Firman Allah (Yoh 1:1.14; Why 19:13);
  3. gambaran “mempelai/pengantin” berarti umat Allah (Yoh 3:29; Why 21:2.9; 22:17);
  4. kehidupan dilambangkan dengan air seperti misalnya “air hidup” (Yoh 4:10 dsj; 7:38), dan “air kehidupan” (Why 7:17; 21:6; 22:1.17); Za 12:10 dikutip oleh keduanya (Yoh 19:37; Why 1:7) dalam bentuk yang berbeda dari Septuaginta (LXX); tidak ada kenisah di Yerusalem yang baru (Why 21:22; bdk Yoh 4:21). 

Perbedaan-perbedaan antara Injil Yohanes dan Wahyu. Dalam pada itu memang terdapat banyak hal yang membedakan Yoh dari Why. Yang acapkali disebut adalah perbedaan dalam hal bahasa dan perspektif eskatologis. Bahasa Yunani yang digunakan dalam Yoh adalah sederhana dan benar. Sebaliknya yang terjadi dengan Why. Rupanya penulis Why adalah seorang Yudeo-Kristiani yang berpikir dalam bahasa Aram dan mengungkapkan pikirannya dalam bahasa Yunani (yang tidak terlalu diketahuinya/dikuasainya). Eskatologi Why diwarnai oleh pandangan dan lambang-lambang dari tradisi apokaliptik. Pengharapan dalam tradisi apokaliptik ialah masa depan yang membawa keselamatan yang diberikan oleh Allah kepada umat-Nya. Di sisi lain kita lihat, bahwa Yoh tidak tergantung pada apokaliptik dan memandang keselamatan sebagai yang sudah dimiliki oleh orang yang percaya. Paham-paham yang sering ditemukan dalam Yoh, jarang ditemukan dalam Why; misalnya “percaya” (98x dalam Yoh, tidak sekali pun dalam Why); “iman” (4x dalam Why, tidak sekali pun dalam Yoh). 

Berpijak pada tradisi. Uraian di atas menunjukkan adanya berbagai pendapat yang berbeda-beda antara para penafsir. Namun bukti dari tradisi yang mengatakan bahwa semua tulisan yang menggunakan nama Yohanes berasal seorang rasul Yohanes yang satu dan sama, sudahlah sangat tua. Maka sangatlah sulit untuk begitu saja mengesampingkan atau mengabaikan pandangan sedemikian. Sulitlah bagi kita untuk membayangkan, bahwa seluruh kesaksian dari abad ke-2 itu keliru. Adanya kesamaan yang sedikit – namun berarti – antara Yoh dan Why  sekurang-kurangnya dapat menunjuk asal-usul yang sama. Sedangkan perbedaan besar yang ada di antara kedua tulisan itu mengandaikan penulis yang tidak sama. Mungkin pendapat yang diusulkan oleh beberapa penafsir Katolik dapat dikemukakan: menurut tradisi rasul Yohanes mempunyai wibawa yang kuat di Asia sampai akhir abad pertama. Rupanya dialah yang memberi inspirasi kepada semua “tulisan dengan label Yohanes”, mungkin lewat salah satu sekolah kateketik di Efesus. Akan tetapi kiranya penyuntingan dilakukan oleh beberapa murid, yang kurang lebih mengenal pikiran Yohanes. 

TEMPAT DAN WAKTU PENULISAN 

Tempat Penulisan. Why ditulis di sebuah pulau yang bernama Patmos, yaitu pulau tempat Yohanes diasingkan. Pulau ini terletak di bagian timur perairan Laut Tengah dan kira-kira 100 km di barat daya kota Efesus. Pada waktu itu pulau Patmos digunakan sebagai penjara oleh kekaisaran Roma dan Yohanes berdiam di sana, kemungkinan besar karena dibuang oleh penguasa kekaisaran Roma. Yohanes menulis: “Aku Yohanes, saudara seiman yang ikut serta dalam kesusahan, dalam Kerajaan dan dalam ketekunan menantikan Yesus, berada di pulau yang bernama Patmos karena firman Allah dan kesaksian yang diberikan oleh Yesus” (1:9). 

Waktu Penulisan. Banyak indikasi dalam Why yang membuat pembaca berpikir dan merasa bahwa Why ini ditulis dalam periode yang ditandai oleh pengejaran serta  penganiayaan atas umat Kristiani. Katakanlah ditulis dalam masa konflik, terutama konflik dengan paganisme (kekafiran) yang mengambil bentuk penyembahan berhala (dewa-dewi Romawi) dan/atau penyembahan kepada kaisar (the imperial cult). Namun tentang waktu penulisan Why itu sendiri terdapat bermacam-macam pendapat.  Ada  beberapa orang yang berpendapat bahwa Why ditulis pada masa pemerintahan kaisar Claudius (41-54M). Ada  pula pendapat bahwa Why ditulis menjelang akhir pemerintahan kaisar Nero (54-68M). Tetapi ada juga yang mengatakan pada tahun-tahun terakhir pemerintahan kaisar Domitianus (tahun 81-96M), masa pemerintahan kaisar Nerva (96-98M), bahkan pada masa pemerintahan kaisar Traianus (98-117M). 

Pada zaman pemerintahan kaisar Nero dan Domitianus, umat Kristiani mengalami banyak penganiayaan. Para sejarawan menulis bahwa paruhan kedua abad pertama dipenuhi dengan penindasan kejam atas orang-orang yang dinilai sebagai lawan dari agama negara, dengan penyembahan kepada kaisar sebagai intinya, disertai moralitas di kalangan penguasa yang pada umumnya mengalami kemerosotan. Komunitas-komunitas Kristiani yang ada pada waktu itu dengan mudah memenuhi persyaratan sebagai musuh agama negara, dengan demikian musuh negara. 

Pendapat yang lebih banyak diikuti adalah yang menghubungkan Why dengan pemerintahan kaisar Domitianus, yang menjelang akhir pemerintahannya menganiaya umat Kristiani. Pendapat ini didukung oleh sejumlah kesaksian yang diberikan oleh Ireneus,  mungkin juga oleh Klemens dari Aleksandria dan Origenes. Pada awal abad ke-4 Eusebius dan Victorinus menegaskan pendapat ini dan akhirnya juga diikuti oleh Hieronimus. 

Para penulis sejarah mencatat bahwa penganiaya orang Kristiani yang pertama adalah kaisar Nero. Akan tetapi penganiayaan yang melatar-belakangi Why tampaknya lebih dahsyat lagi. Kaisar Nero melakukan penganiayaan hanya terbatas di kota Roma dan sekitarnya karena umat Kristiani dituduh membakar kota Roma, bukan karena menolak penyembahan kepada kaisar. Sebaliknya penganiayaan yang dilakukan oleh kaisar Domitianus cocok dengan isi Why. Dominiatus sungguh-sungguh mau menegakkan dan memaksakan penyembahan kepada kaisar. Kaisar adalah Dominus et deus noster, artinya Tuhan dan Allah kami. 

Sampai saat ini, baik tradisi maupun ilmu tafsir Kitab Suci belum mampu memecahkan kebuntuan yang ada perihal waktu penulisan Why. 

CIRI-CIRI SASTRA KITAB WAHYU 

Kiranya Why tergolong genre sastra yang mana? Menurut Pater Wilfrid J. Harrington OP, Why adalah sebuah karya yang bersifat intertekstual, sebuah jejaring acuan pada teks-teks lain. Why tidak sepenuhnya memiliki konformitas dengan konvensi sastra kuno manapun yang dikenal (WJH I, hal. 6-7). Selain memiliki ciri-ciri tulisan apokaliptik, Yohanes sendiri menyebut dirinya sebagai seorang nabi. Untuk membuat isu ini menjadi lebih kompleks, sang penulis Why ini menulis Why dalam bentuk surat kepada komunitas-komunitas Kristiani tertentu. Dengan demikian, secara umum dapat dikatakan bahwa Why dipengaruhi oleh tiga bentuk sastra, yaitu apokaliptik, kenabian dan surat. Kita akan membahasnya secara singkat, satu persatu. 

APOKALIPTIK   

Tradisi Apokaliptik. Why 1:1-3 dengan jelas menghubungkan kitab ini dengan tradisi apokaliptik, sebuah bentuk sastra Yahudi yang berasal dari periode sekitar 200SM sampai 100M (WJH I, hal. 1). Tulisan ini disebut wahyu atau apokalips dan isinya merupakan pengungkapan misteri-misteri surgawi, yaitu berkenaan dengan apa yang harus segera terjadi. Yang dimaksudkan ialah penyelesaian/pemenuhan/penggenapan sejarah seperti ditentukan oleh Allah. Ia telah menyatakannya (mewahyukannya) kepada hamba-Nya Yohanes melalui penglihatan-penglihatan dan dengan perantaraan malaikat-Nya yang diutus-Nya. 

Sebuah kitab apokaliptik berisikan juga hal-hal atau peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan eskatologi (akhir zaman). Tulisan paling tua yang termasuk dalam jenis sastra apokaliptik ini terdapat dalam Perjanjian Lama (PL): apokaliptik besar (Yes 24-27) dan apokaliptik kecil (Yes 34-35); kitab nabi Zakharia (9-14). Daniel 7-12 jelas adalah sebuah tulisan apokaliptik, malah Mgr. I. Suharyo Pr. mengatakan bahwa keseluruhan kitab Daniel adalah tulisan PL yang seutuhnya dapat disebut apokaliptik (sekitar 165 SM: lihat IS, hal 9). Mrk 13:1-32; Mat 24:1-44; Luk 21:5-36; 1Tes 4:16-17 dan 2Tes 2:1-12 adalah contoh-contoh tulisan apokaliptik, namun hanya Why-lah satu-satunya kitab dalam PB yang secara keseluruhan bersifat apokaliptik. Bagian pertama Why merupakan pendahuluannya dan terdiri dari surat-surat kepada 7 (tujuh) gereja/jemaat. 

Martin Harun OFM memberi catatan tentang Why sebagai sastra apokaliptik kurang lebih seperti  berikut ini. Why adalah sebuah kisah tentang Yesus, tetapi sangat berbeda dengan kisah Yesus dalam keempat kitab Injil yang kita kenal. Tindakan-tindakan Yesus yang digambarkan dalam Why berdimensi kosmis, melibatkan-Nya dalam peperangan kosmis antara yang baik dan yang jahat. Cerita seperti ini tergolong sastra apokaliptik. Why bukanlah cerita tentang Yesus di bumi, tetapi cerita tentang Yesus surgawi melalui perantara-perantara yang berasal dari dunia ilahi dan menyangkut Yesus surgawi sendiri. Perwahyuan melalui perantara-perantara itu menunjuk kepada sebuah dunia yang hirarkis. Dunia dilihat sebagai bertingkat-tingkat (atas dan bawah, surga dan bumi) dengan adanya suatu penyesuaian antara tingkatan-tingkatan itu. Apa yang ada di dunia ada padanannya di surga; yang satu dapat menandai yang lain (MH, hal. 60). 

Pesan Why ini disajikan dalam serangkaian penglihatan yang meliputi peristiwa-peristiwa “aneh” dengan tempat-tempat dan benda-benda serta makhluk-makhluk (manusia atau binatang) yang melambangkan orang-orang atau peristiwa yang berhubungan dengan hidup dan nasib umat Kristiani di abad pertama. 

Kebanyakan dari kita tidak terbiasa dengan tulisan apokaliptik sehingga tidak mudah untuk memahami kitab yang terkesan susah ini. Tidak demikianlah halnya dengan orang-orang Kristiani awal: mereka boleh dikatakan sangat familiar dengan tulisan apokaliptik, sehingga ketika Why beredar mereka tahu bagaimana membacanya. Mereka tahu bahwa Why tidak dimaksudkan sebagai sebuah “ramalan” tentang bagaimana pastinya dunia akan berakhir, melainkan sebagai sebuah pesan-jaminan bagi semua orang yang tetap berada  di dekat Yesus. Sesungguhnya Why memang ditulis untuk memberikan semangat rohani langsung kepada pembacanya pada waktu itu. Hal ini berarti bahwa lambang-lambang dan kiasan-kiasan yang terdapat di dalam Why dapat dimengerti oleh pembacanya waktu itu. Uraian lebih mendetil tentang perlambangan terdapat dalam bahan bacaan dengan kode: STUDI ALKITAB/WAHYU KEPADA YOHANES/FXI/02. 

Perang antara Allah dan Iblis. Seperti halnya penulis apokaliptik yang lain, Yohanes memperkenalkan diri sebagai salah seorang dari kelompok yang dianiaya karena imannya (1:9). Penulis Why ini merasa perlu menguatkan iman saudara-saudarinya dengan menyatakan kepada mereka makna penganiayaan yang sedang mereka alami dan akhir mulia penderitaan mereka. Secara tampak, yang sedang bertentangan adalah pemerintahan Romawi dan Gereja. Namun sebenarnya di balik itu yang berperang adalah Iblis melawan Allah. Dengan demikian hasil akhir perang itu tidak dapat lain kecuali kemenangan di pihak Allah. Dengan kemenangan akhir yang diraih Kristus atas nama Allah terhadap Iblis dan para anteknya, Yerusalem surgawi yang merupakan satu dunia yang samasekali baru yang diciptakan oleh Allah akan menjadi kenyataan. Semua orang Kristiani yang setia akan menjadi warga kota ini. Pandangan terhadap sejarah seperti ini, yaitu memperlawankan dua kekuatan dan membagi sejarah menurut periode satu-sesudah-yang-lain, adalah ciri khas teologi apokaliptik. 

Teknik seorang peloncat jauh. Bagaimana seorang penulis apokaliptik dapat menerima perwahyuan semacam itu? Ia menggunakan teknik seorang peloncat jauh. Seorang peloncat jauh ingin meloncat ke depan sejauh-jauhnya. Untuk itu dia mundur lebih dahulu, lalu lari secepatnya sepanjang jalur ancang-ancang dan kalau sampai pada tempat pijak lompat, dia melompat ke depan. Pengarang apokaliptik demikian juga. Dia tidak mengerti masa depan. Namun satu hal dia yakini sungguh-sungguh, berdasarkan pengalaman di masa lampau, yaitu bahwa Allah setia. Untuk mengerti yang akan dikerjakan oleh Allah pada akhir sejarah, cukup baginya melihat yang telah dikerjakan oleh Allah dahulu. Maka penulis mengundurkan diri. Seolah-olah dia menulis tiga atau empat abad sebelum saat dia hidup. Lalu dia lari cepat sepanjang sejarah dan waktu dia sampai pada masa dia sendiri hidup, dia meloncat ke depan sambil menempatkan keyakinan-keyakinan yang dia temukan dalam penafsiran sejarah, ke depan yaitu ke saat akhir dunia (IS, hal 18-19).

Kitab Wahyu tidak dapat seluruhnya dikembalikan pada bentuk sastra apokaliptik. Penulis-penulis apokaliptik biasanya menyatakan diri mau mewahyukan misteri-misteri kosmogoni, astronomi, berjalannya sejarah kuno sejak awal dunia. Yohanes memusatkan perhatian ada situasi sekarang dan pemenuhan akhirnya (eskatologi). Ia juga tidak menyembunyikan nama dirinya dengan mengaitkan tulisannya dengan tokoh terkenal dari masa lampau. Ia menyebut namanya, dengan demikian juga jelas bahwa dia sangat dikenal oleh jemaat-jemaat untuk siapa dia menujukan tulisannya. Why juga tidak berisi bermacam-macam pengetahuan rahasia yang hanya diperuntukkan bagi kelompok kecil dan khusus. Tulisannya ditujukan kepada tujuh jemaat (gereja) di Asia Kecil (Minor) yang (sangat mungkin) mewakili Gereja universal (bdk 1:4). Kecuali itu Why tidak sama dengan apokaliptik Yahudi dalam hal pandangan Kristologis atas sejarah: Kristus sangat erat berhubungan dengan Allah yang menguasai segala sesuatu. Ia adalah Anak Domba yang telah menebus umat-Nya (5:9 dsj) dan memimpinnya menuju kemenangan akhir (19:11 dsj). 

Yang menarik untuk diperhatikan adalah, bahwa Yohanes (penulis Why) yang sangat familiar dengan arus pemikiran apokaliptik tidak mengutip satu pun tulisan apokaliptik yang dikenalnya. Dalam Why memang tidak ada kutipan langsung dari PL, tetapi dapatlah dikatakan bahwa Why merupakan sebuah mosaik teks PL. Dari 404 ayat yang terdapat dalam Why, terdapat 278 ayat yang memuat sekurang-kurangnya satu gagasan PL. Eduardo Arens Kuckerlkorn et al., mengatakan bahwa tidak ada tulisan lain dalam PB yang dapat dibandingkan dengan Why dalam hal penggunaan (pemanfaatan) PL. Di samping memuat lusinan tema PL, gambaran (images) PL, kenang-kenangan (reminiscence) PL, hampir dua-pertiga dari ayat-ayat dalam Why jelas merupakan allusi kepada PL. PL jelas merupakan sumber dasar dari inspirasi tulisan Yohanes (penulis Why). Yohanes penulis Why ini menjalin bahan-bahan dari PL dalam tulisannya tanpa pernah menyebutkannya secara eksplisit; sehingga dia mengatakannya sebagai semacam plagiarisme (penjiplakan/plagiat; lihat EAK, hal. 1849). 

Tulisan-tulisan PL yang paling besar pengaruhnya atas Why adalah kitab Daniel (Dan), kitab Yehezkiel (Yeh), kitab Yesaya (Yes), kitab Zakharia (Za), kitab Mazmur (Mzm) dan kitab Keluaran (Kel)(IS, hal. 19). 

KENABIAN 

Yohanes penulis Why memandang tugas perutusannya seperti para nabi di masa lampau (10:11).  Seperti para nabi itu, Yohanes dipanggil dan diberi tugas perutusan melalui penampakan awal (1:9-20). Ia mendengar sabda Allah (1:2) dan diminta untuk meneruskannya kepada saudara-saudarinya. Perintah untuk menuliskan diulang sampai 11 (sebelas) kali. Seringkali dia menyebut tulisannya sebagai nubuat (1:3; 19:10; 22:7. 10.18 dsj), sementara kata wahyu hanya digunakan satu kali saja (1:1). Ungkapan seperti nabi-nabi hanya muncul dua kali dalam apokaliptik Yahudi, sedang dalam Why muncul sampai tujuh kali (10:7; 11:8; 16:6; 18:20.24; 22:6.9). Petunjuk-petunjuk ini membuktikan, bahwa Yohanes sadar dirinya termasuk dalam arus tradisi kenabian. Dengan perkataan lain Why adalah contoh tulisan kenabian Perjanjian yang sangat baik (IS,  hal. 20). 

SURAT 

Secara selayang pandang kelihatanlah bahwa penulis Why bermaksud untuk menulis surat pastoral kepada tujuh komunitas Kristiani di Asia Kecil. Maksudnya ini dengan jelas diungkapkan pada awal Why. Why dibuka dan ditutup dengan gaya sebuah surat yang biasa ditulis dalam kalangan jemaat Kristiani (1:4-6; 22:21). Demikian pula pesan yang disampaikan kepada ketujuh gereja (2:1 – 3:22) berbentuk surat juga. Nadanya yang langsung, bentuknya yang seperti surat menunjukkan bahwa antara Yohanes sang penulis Why dan orang-orang yang menerima tulisannya ada hubungan batin yang sangat erat. 

Pandangan tradisional yang memandang Why sebagai sebuah buku bahkan dapat menyesatkan karena Why merupakan sebuah tulisan yang pendek, tidak memenuhi syarat sebagai sebuah buku. Namun demikian siapa pun tidak dapat menyangkal kenyataan, bahwa Why adalah tulisan dalam PB – malah keseluruhan Kitab Suci – yang paling memberi tantangan, penuh intrik, tetapi pada saat yang sama memberi harapan-harapan kepada pembacanya. 

LATAR BELAKANG PENULISAN KITAB WAHYU 

Latar belakang yang hidup. Semua tulisan Kitab Suci muncul dari suatu latar belakang yang hidup. Ada suatu realitas sosial dan politik di dalam mana Allah menyatakan diri-Nya. Perwahyuan Tuhan datang kepada orang-orang yang berada dalam suatu lingkup budaya tertentu. Mereka merasakan bahwa Tuhan sedang berbicara kepada mereka. Ini selalu merupakan jalan Tuhan – sejak awal waktu. Dia mewahyukan diri-Nya kepada umat-Nya di tempat dan waktu di mana mereka hidup. Maka untuk dapat menghargai Why sepenuhnya, kita harus memahami apa yang sedang terjadi pada abad pertama menyusul kematian Yesus; karena hanya dengan demikianlah Why dapat dimengerti pada zaman kita. Kita harus mengetahui konteks dalam mana kitab ini disusun, dibicarakan, disyeringkan dan akhirnya ditulis. Pertanyaan-pertanyaan yang harus terjawab adalah kondisi-kondisi sosial-politis apa saja yang ada pada abad pertama ketika Why ditulis?  Juga tema-tema teologis dan tema-tema etis apa saja yang ada dalam Why? 

KONDISI SOSIAL DAN POLITIS 

Kristus telah wafat, Kristus telah bangkit, Kristus akan kembali. Abad pertama setelah kematian Yesus Kristus merupakan suatu masa penganiayaan atas komunitas Kristiani perdana. Orang-orang ini hidup dalam suasana penuh ketegangan yang luarbiasa. Mereka mempunyai keyakinan mendalam bahwa Yesus, yang dilahirkan di Betlehem, telah menderita sengsara, wafat dan bangkit dari antara orang mati, dan hadir bersama mereka dalam Roh. Pesan mendasar para rasul ini dinamakan “kerygma”. Umat Kristiani dalam abad pertama memproklamasikan bahwa Yesus, yang telah disalib, bangkit dan akan kembali pada akhir zaman. Pesan yang sama diulangi dalam Misa Kudus hari ini,  di abad ke-21 ini, ketika kita memproklamasikan dalam anamnesis: “Kristus telah wafat, Kristus telah bangkit, Kristus akan kembali” atau “Wafat Kristus kita maklumkan, kebangkitan-Nya kita muliakan, kedatangan-Nya kita rindukan”. Umat Kristiani perdana yakin bahwa Yesus telah menyelamatkan mereka dan pada akhirnya mereka akan mencapai kemenangan. Ia telah mengalami kematian mengerikan di kayu salib, namun Dia kemudian bangkit dari antara orang mati, dan akhirnya hadir bersama mereka melalui kuasa Roh Kudus. Umat Kristiani perdana memang sungguh merasakan kuasa Roh Kudus tersebut dalam kehidupan mereka. 

Sekarang – mungkin disebabkan oleh keyakinan yang intens ini – mulailah serangkaian penganiayaan yang hampir tidak dapat dipercaya ini, justru karena mereka hidup sebagai “tanda-lawan” dalam masyarakat dan dengan demikian dipandang sebagai “ancaman” terhadap status-quo yang ada. Sebagai umat Kristiani, sepanjang hari mereka harus menghadapi kenyataan pengalaman-pengalaman luarbiasa, namun bersifat negatif: penindasan, pengejaran, penganiayaan, penjatuhan hukuman berat, bahkan sampai mati. Karena iman-kepercayaan mereka, ribuan orang Kristiani – kadang-kadang seluruh komunitas Kristiani – menjadi martir. Seperti nenek-moyang Yahudi mereka, yang tidak meragukan bahwa TUHAN (YHWH) hadir di tengah-tengah mereka dan melindungi mereka, demikian pula orang-orang Kristiani awal, yang memiliki keyakinan teguh akan Yesus Kristus. Bertumpu pada keyakinan seperti itulah mereka menanggung penderitaan yang disebabkan oleh berbagai bentuk penganiayaan, dari generasi ke generasi. Keyakinan seperti inilah yang kita – sebagai umat Kristiani di Indonesia – harus teladani dan miliki. 

Tidak berkompromi. Orang-orang Kristiani perdana adalah minoritas dalam masyarakat di mana mereka tinggal. Mereka dikepung oleh suatu sistem masif yang bukan hanya tidak percaya kepada Allah yang Esa, melainkan juga menyembah dewa-dewi (berhala-berhala) yang begitu banyak, termasuk kaisar-kaisar mereka. Orang-orang Kristiani awal ini sungguh menghadapi godaan kuat untuk berkompromi dengan kekuatan paganisme yang mengepung mereka itu. 

Dalam situasi seperti itulah Why ditulis. Dalam Why umat Kristiani diyakinkan, bahwa Yesus telah merebut kemenangan, melalui kebangkitan-Nya, atas semua dosa, atas semua kejahatan; namun orang-orang Kristiani itu harus hidup dalam sebuah masyarakat yang menganiaya mereka demi kepercayaan dan keyakinan mereka. Ini memang baik bagi umat, tetapi di sisi lain mereka masih dapat tergoda untuk berkompromi. Mereka seakan berkata: “Kita telah dimenangkan dan ditebus oleh-Nya, oleh karena apa salahnya berkompromi sedikit dengan masyarakat ini. Apa bedanya?” Godaan serupa juga suka kita alami dalam zaman modern ini, bukan?” Kita juga menghadapi nilai-nilai materialistis dan sekularistis dalam masyarakat kita, yang terus menggoda kita untuk mengambil langkah-langkah kompromistis. Pesan pokok dalam Why bagi kita para murid Yesus adalah untuk tidak mengkompromikan ajaran-ajaran dan/atau nilai-nilai non-Kristiani dengan sistem nilai yang bersumber pada Yesus Kristus sendiri. 

Penyebab pengejaran dan penganiayaan. Pengejaran dan penganiayaan terhadap umat Kristiani perdana dimulai oleh para kaisar Romawi yang memerintah dalam abad pertama menyusul kematian Yesus Kristus. Kaisar Nero yang kejam memulai penganiayaan umat Kristiani dengan alasan orang-orang Kristiani membakar kota Roma. Nero mendeklarasikan dirinya seorang “Allah” (Yang Ilahi), bertindak-tanduk seperti Tuhan yang menguasai dunia. Maka dimulailah apa yang dinamakan “penyembahan kepada kaisar” (Inggris: the imperial cult). Kaisar-kaisar yang setelah Nero juga memproklamasikan diri mereka masing-masing sebagai pribadi-pribadi yang “ilahi”. Mereka mendirikan kuil-kuil di seluruh Kekaisaran Roma untuk orang-orang menghormati serta menyembah mereka. 

Hal ini merupakan kabar buruk bagi orang-orang Yahudi yang memang beragama monotheis, baik mereka yang mempertahankan iman lama (agama Yahudi) maupun mereka yang menjadi Kristiani. Situasi ini “membingungkan” kedua kelompok Yahudi tersebut. Kaisar memiliki wewenang kekaisaran; dia menguasai angkatan bersenjata; dia mempunyai kekuasan untuk memungut pajak; dan dia dapat menghukum sampai mati siapa saja yang tidak menyembahnya sebagai pribadi ilahi. Situasi seperti inilah yang dihadapi oleh komunitas-komunitas Kristiani dalam kekaisaran Romawi pada waktu itu. 

Di sini ada catatan penting: Apabila kekaisaran Roma menaklukkan  suatu bangsa tertentu, maka orang-orang Romawi ini mempunyai suatu cara yang cerdik dalam melaksanakan pemerintahan atas tanah/negara/bangsa yang baru ditaklukkan. “Kelihaian” seperti ini merupakan salah satu alasan mengapa orang-orang Romawi mampu meluaskan kekaisaran mereka dan memampukan mereka untuk jumlah penduduk yang banyak dan beraneka ragam, terutama dalam hal budaya dan agama. Pemerintah Romawi memperkenankan penduduk lokal tanah jajahan untuk mempertahankan budaya mereka selama orang-orang itu membayar pajak kepada para kaisar. Dalam kasus orang-orang Yahudi, Roma memperkenankan mereka – lewat peraturan hukum resmi – untuk menyembah Allah Abraham, Ishak dan Yakub. 

Dengan demikian orang-orang Yahudi – di bawah hukum Roma – berhak untuk melaksanakan praktek agama Yahudi mereka. Hanya pada masa pemerintahan kaisar Caligula saja hak ini dilanggar, tetapi hanya untuk suatu periode yang relatif singkat. Kalau orang-orang Yahudi dapat menunjukkan bahwa mereka masih mempraktekkan agama Yahudi, maka mereka pun tidak dapat dipaksa untuk ikut-serta dalam penyembahan kaisar yang dimulai oleh kaisar Nero dan kemudian dilanjutkan oleh para kaisar setelah dia. 

Untuk memahami apakah yang terjadi selanjutnya, kita harus mengingat-ingat apa yang dicatat dalam Kisah para Rasul (Kis). Orang-orang Yahudi yang menjadi Kristiani – para rasul dan para pengikut yang lain – sebenarnya tidak sampai putus hubungan samasekali dengan tradisi Yahudi. Mereka pergi berdoa ke Bait Allah dan menyembah Allah bersama orang-orang Yahudi lainnya yang bukan Kristiani. Kemudian mereka pulang ke rumah masing-masing untuk memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergiliran, artinya merayakan Ekaristi (lihat Kis 2:46). Dapat dikatakan kurang lebih begini: satu kaki masih berpijak pada Yudaisme dan satu kaki lagi berpijak pada Yudaisme Baru, yaitu pemenuhan Yudaisme, yaitu Kristianitas. Tidak pernah terpikir oleh orang-orang Yahudi yang menjadi Kristiani itu untuk menolak/menyangkal asal-usul nenek-moyang atau ke-Yahudi-an mereka karena mereka mengikuti Yesus dari Nazaret. 

Nah, orang-orang Yahudi yang bukan Kristiani terus melakukan ibadat mereka dalam sinagoga-sinagoga Yahudi, khususnya dalam kota-kota yang disebutkan dalam awal Why. Apabila orang-orang Yahudi itu dapat menunjukkan bahwa mereka tidak ternodai dengan Kristianitas, maka mereka diberi izin untuk melakukan ibadat mereka tanpa “gangguan” dari pihak Romawi. Untuk membuktikan hal ini kepada penguasa Romawi, maka orang-orang Yahudi ini mulai “mendepak” orang-orang Yahudi yang Kristiani keluar dari tempat-tempat ibadat mereka. Dengan demikian komunitas-komunitas Kristiani awal (kebanyakan Yahudi) menghadapi serangan-serangan dari dua front. Mereka dianiaya oleh para penguasa Romawi yang mencoba untuk memaksa mereka melakukan penyembahan kepada kaisar dan dewa-dewi Romawi. Di sisi lain mereka juga ditolak dan dikejar-kejar oleh orang-orang Yahudi non-Kristiani. Inilah latar belakang sosial penulisan Why. Why memandang kekaisaran Roma dan Yudaisme lama sebagai eksploitatif, destruktif dan membuat Tubuh Kristus menjadi tidak manusiawi (JT, hal. 14). 

TEMA-TEMA TEOLOGIS DAN ETIS 

Tema teologis. Tema teologis Why dinyatakan dalam konflik antara kekaisaran Roma yang kafir dan komunitas Kristiani yang percaya akan satu Allah dalam Yesus Kristus. Roma mengatakan: “Kamilah yang paling hebat”. Kaisar mengatakan: “Bangunlah sebuah kuil dan sembahlah aku. Aku adalah penguasa dunia. Aku adalah penguasa alam semesta. Tanpa Roma, tidak ada alam semesta”. Dengan jelas Roma menyatakan: “Kalau kamu tidak setuju dengan ini, kamu akan mati”. Hal ini memang menjadi kenyataan, teristimewa dalam masa pemerintahan kaisar Domitianus. Ribuan orang dibunuh karena mereka tidak menerima pandangan Roma tersebut (lihat JT, hal. 14). 

Ajaran Kristiani mengatakan – dalam Why – bahwa kekuasaan dan keadilan milik Yesus Kristus, bukan Roma. Satu-satunya kekuasaan dan satu-satunya keadilan ada pada Tuhan yang bangkit. Kekuasan dan keadilan tidak ada pada ( atau berasal dari) sekelompok orang, atau ada pada pemerintah. Yesus adalah sang Pemimpin. Dia adalah penakluk dan pemenang sesungguhnya, sekarang pun Dia sedang menaklukkan, dan akan tetap terus menaklukkan. Bukan Kaisar yang pemenang, melainkan Yesus Kristus adalah pemenang. Inilah yang menjadi tolok ukur bagi semua orang kalau mau melakukan penilaian (judgment)  atas nilai-nilai (values)  yang mereka anut. Hal ini berlaku juga dengan nilai-nilai yang dianut oleh semua bangsa dan segala komunitas manusia lainnya. “YESUS KRISTUS YANG BANGKIT ADALAH PEMENANG”. Seluruh dunia adalah milik-Nya sepanjang segala masa (lihat JT, hal. 14-15). Pembahasan yang lebih lengkap mengenai tema teologi dari Why akan dilakukan dalam pertemuan ke-2. 

Tema etis. Apakah tema etis atau pandangan-pandangan moral yang ditekankan dalam Why? Why yang ditujukan kepada komunitas Kristiani perdana dan juga kepada kita hari ini, memanggil kita untuk memadamkan kejahatan dalam komunitas kita sendiri dan tidak pernah boleh berkompromi dengannya. Kita harus mempraktekkan perlawanan-loyal – melalui kuat-kuasa Tuhan kita yang sudah bangkit – terhadap  nilai-nilai non-Kristiani yang setiap hari mengepung kita. Tidak ada ruang untuk kompromi! Hal seperti ini menuntut komitmen moral untuk melawan kejahatan. 

Why mendesak umat beriman untuk dengan taat-setia menolak serta melawan godaan apa saja untuk berkompromi dengan dunia dan nilai-nilai kekafirannya. Why juga menyatakan dengan jelas kecaman-kecaman kepada orang-orang atau komunitas-komunitas yang gagal melakukan apa yang disebutkan di atas. 

Ada bacaan kunci yang terdapat dalam Why: “Lalu malaikat yang ketujuh meniup sangkakalanya, dan terdengarlah suara-suara nyaring di dalam surga, katanya, ‘Pemerintahan atas dunia dipegang oleh Tuhan kita dan Dia yang diurapi-Nya, dan Ia akan memerintah sebagai raja sampai selama-lamanya’ ” (Why 11:15). Yesus adalah Tuhan alam semesta. Dan, kalau kita mau mengikuti tema etis seperti diuraikan di atas, maka kita tidak boleh melupakan petikan bacaan tadi. 

Dengan demikian, Why memanggil seluruh dunia – Kristiani maupun non-Kristiani – kepada pertobatan dan komitmen. Yesus bukanlah sekedar Tuhan dunia Kristiani. Dia adalah Tuhan seluruh alam semesta. Dia memanggil semua orang untuk melakukan pertobatan dan perlawanan secara damai terhadap pengaruh-pengaruh dan nilai-nilai kekafiran. 

Sekarang patut kita catat pula, bahwa meskipun Why dimaksudkan untuk semua orang pada umumnya, kita tidak pernah boleh lupa bahwa pesan Why juga dimaksudkan untuk kita masing-masing sebagai individual. Kita juga harus ingat bahwa tujuan kita bukanlah untuk menghitung-hitung angka agar dapat mendapat jawaban apa atau siapakah gerangan yang dilambangkan dalam angka 666. Juga bukan urusan kita yang paling utama untuk mengetahui siapa yang dimaksudkan dengan anti-Kristus, apakah negara atau individu tertentu. Kita akan fokus pada pesan dasar dari Why. Why mendesak kita untuk melawan pengaruh-pengaruh kekafiran yang sudah menyebar ke seluruh dunia dan juga sikap-sikap tidak Kristiani dalam hubungan-hubungan kita – antara suami dan istri, orangtua dan anak-anak, diri kita sendiri dengan orang-orang lain. Kalau nilai-nilai dalam kehidupan kita sehari-hari tidak cocok dengan sistem nilai yang ditunjukkan oleh ajaran dan hidup Yesus Kristus, maka Why mengingatkan kita untuk menolak dan melawan nilai-nilai non-Kristiani tersebut, baik secara individu maupun sebagai sebuah komunitas. 

Why dimulai dengan surat-surat yang dialamatkan kepada tujuh jemaat (gereja) di kawasan Asia. Sementara kita melakukan perjalanan dari kota yang satu ke kota yang lain, kita dapat menemukan diri kita tinggal dalam salah satu kota itu. Situasi yang dihadapi umat Kristiani pada waktu itu mungkin serupa dengan situasi yang kita hadapi sekarang. Keadaan rumah tangga mereka mungkin serupa dengan keadaan rumah tangga kita sekarang. Seperti umat Kristiani awal yang dipanggil untuk menolak dan melawan, maka pada zaman modern ini kita dipanggil untuk menolak dan melawan segala nilai non-Kristiani. 

PERTANYAAN-PERTANYAN 

  1. Sebelum pertemuan kedua, sediakanlah waktu yang cukup bagi anda untuk membaca keseluruhan Why tanpa interupsi bacaan-bacaan lain. Apakah kesan yang anda peroleh dari bacaan itu?
  2. Karena perbedaan waktu dan tempat serta pengalaman, besar kemungkinan pembaca zaman sekarang tidak dapat memahami arti semua penglihatan yang terdapat dalam Why. Jelaskan pernyataan ini!
  3. Bagaimana hubungan pengarang Injil Yohanes dan penulis Why?
  4. Apakah arti “kanonik” bagi sebuah tulisan Kitab Suci? Bagaimana sikap gereja-gereja di Barat dan Timur terhadap Why pada zaman para Bapa Gereja?
  5. Menurut anda, apakah kiranya ciri-ciri utama sebuah tulisan apokaliptik? Sejauh manakah pengetahuan mengenai cara berkias dengan menggunakan berbagai perlambangan sangat mendukung upaya untuk memahami Why?
  6. Apakah para nabi sama dengan peramal-peramal nasib? Diskusikanlah definisi yang berikut: Para nabi adalah orang-orang yang memproklamasikan masa depan berdasarkan janji-janji masa lalu dan peristiwa-peristiwa masa kini.
  7. Why mendesak umat Kristiani untuk tidak berkompromi dengan dunia dan nilai-nilai kekafiran yang ada di dalamnya. Dapatkah anda memberikan contoh-contoh dari berbagai nilai kekafiran yang dimaksud pada zaman modern ini? Apakah anda pernah mengkompromikan nilai-nilai Kristiani yang anda peluk dengan nilai-nilai yang non-Kristiani, misalnya di tempat kerja, di dalam keluarga besar anda, dan/atau dalam kehidupan masyarakat lainnya? 

BAHAN PERMENUNGAN 

  1. Bacalah secara khusus Why 15:3-4
  2. Renungkanlah betapa Tuhan Yesus pantas untuk anda kasihi, anda muliakan, dan anda puji-puji untuk segalanya yang Dia telah lakukan bagi anda! 

DOA PENUTUP PERTEMUAN:  

Tuhan Yesus, kami sungguh merasakan diri kami dipenuhi dengan kekuatan, kuasa dan rasa nyaman ketika menempatkan hidup kami dalam kemuliaan dan kuasa-Mu. Semoga kami setiap hari diinspirasikan untuk datang kepada-Mu dengan segala masalah dan kesulitan kami. Kemudian, dijiwai dengan Roh-Mu yang penuh kuasa, kami berdoa agar diberikan keberanian untuk menolak serta melawan kejahatan dan dengan giat mempromosikan nilai-nilai Kerajaan-Mu. Kami memuji-Mu, memuliakan-Mu dan mengasihi-Mu, karena Engkaulah Tuhan kami sepanjang segala masa. Datanglah, Tuhan Yesus, Amin. 

Catatan: STUDI ALKITAB tentang KITAB WAHYU ini diselenggarakan oleh Wilayah I Santo Yohanes dari Salib, Gereja S. Stefanus, Cilandak, dalam empat pertemuan mingguan, yaitu mulai tanggal 23 Juli dan berakhir tanggal 27 Agustus 2009. Para peserta terdiri dari para warga Lingkungan-lingkungan S. Hubertus, S. Gregorius, S. Yohanes Pemandi dan S. Yudas Tadeus. Pembimbing: Sdr. F.X. Indrapradja, OFS. 

Bahan-bahan ini dapat dimanfaatkan oleh anda sekalian – kaum awam – yang memang mau lebih mendalami lagi tentang Kitab Wahyu.

 

STUDI ALKITAB TENTANG KITAB WAHYU (2)

 

WAHYU KEPADA YOHANES 

Semua Pertemuan: KIDUNG-KIDUNG DARI KITAB WAHYU 

Doa Pembukaan dalam setiap pertemuan Studi Alkitab tentang Kitab Wahyu ini menggunakan kidung-kidung yang diambil dari Kitab Wahyu. Teks diambil dari Ofisi Ilahi atau Ibadat Harian. 

1.     PUJIAN ORANG YANG DITEBUS (Why 4:11; 5:9.10.12) 

ANTIFON: Tuhan, Engkau telah menganugerahi kami martabat raja dan imam di hadapan Allah kita. 

Sudah sepatutnyalah, ya Tuhan dan Allah kami, *

   Engkau menerima puji-pujian, hormat dan kuasa.

Sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; *

   dan karena kehendak-Mu semua yang ada dijadikan. 

Layaklah Anak Domba menerima gulungan kitab *

   dan membuka ketujuh meterainya.

Sebab Engkau telah disembelih, +

dan dengan darah-Mu Engkau telah menebus kami bagi Allah *

   dari setiap suku, bahasa, kaum dan bangsa. 

Engkau telah menganugerahi kami +

martabat raja dan imam di hadapan Allah kita, *

   dan kami akan merajai dunia.

Layaklah Anak Domba yang disembelih itu +

Menerima kuasa dan kekayaan, *

   hikmat dan kekuatan, hormat kemuliaan dan puji-pujian. 

Kemuliaan …… 

2.     PENGADILAN ALLAH (Why 11:17-18; 12:10b-12a) 

ANTIFON:  Allah memberi Kristus kekuasaan, kehormatan dan kerajaan, dan semua bangsa mengabdi kepada-Nya. 

Kami mengucap syukur kepada-Mu, ya Tuhan, *

   Allah yang mahakuasa, yang ada dahulu dan sekarang.

Sebab Engkau telah memangku kekuasaan-Mu yang besar *

   dan mulai memerintah sebagai raja. 

Semua  bangsa marah, + maka tibalah kemurkaan-Mu, *

   Tibalah saat orang mati dihakimi.

Dan tibalah saat memberi ganjaran kepada para hamba-Mu, +

yaitu para nabi, para kudus dan semua orang takwa, *

   baik yang kecil maupun yang besar. 

Sekarang telah tiba keselamatan, + kekuatan dan pemerintahan Allah kita, *

   telah tiba kekuasaan raja yang diurapi-Nya.

Karena si pendakwa, saudara-saudari kita telah dijatuhkan, *

   yang mendakwa mereka siang malam di hadapan Allah kita. 

Tetapi mereka mengalahkan dia berkat darah Anak Domba *

   dan berkat kesaksian mereka.

Mereka tidak segan-segan mempertaruhkan nyawanya, *

   oleh karena itu bersukacitalah, hai surga dan para penghuninya. 

Kemuliaan …… 

3.     PUJIAN PENYEMBAHAN (Why 15:3-4) 

ANTIFON:  Semua bangsa akan datang dan sujud menyembah di hadapan-Mu, ya Tuhan. 

Agung dan mengagumkan segala karya-Mu, *

   ya Tuhan, Allah, yang mahakuasa!

Adil dan benar segala tindakan-Mu, *

   ya raja segala bangsa! 

Siapakah yang tidak takut, ya Tuhan, *

   dan tidak memuliakan nama-Mu?

Sebab hanya Engkaulah kudus, +

semua bangsa akan datang dan sujud menyembah di hadapan-Mu, *

   sebab telah nyatalah segala keputusan-Mu. 

Kemuliaan …… 

4.     PERNIKAHAN ANAK DOMBA (Why 19:1-7) 

ANTIFON:  Pujilah Allah kita, hai kamu para hamba-Nya, baik kecil maupun besar, alleluya. 

Alleluya. Pokok keselamatan, kemuliaan dan kekuasaan ialah Allah kita, *

   Karena benar dan adillah segala keputusan-Nya. Alleluya. 

Alleluya. Pujilah Allah kita, hai sekalian hamba-Nya, *

   semua yang takwa, baik kecil maupun besar. Alleluya. 

Alleluya. Sebab Tuhan, Allah kita yang mahakuasa, *

   sudah menjadi raja. Alleluya. 

Alleluya. Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai, *

   marilah kita memuliakan Tuhan. Alleluya. 

Alleluya. Hari pernikahan Anak Domba telah tiba, *

   dan mempelai-Nya sudah siap berhias. Alleluya. 

Kemuliaan ……

Catatan: STUDI ALKITAB tentang KITAB WAHYU ini diselenggarakan oleh Wilayah I Santo Yohanes dari Salib, Gereja S. Stefanus, Cilandak, dalam empat pertemuan mingguan, yaitu mulai tanggal 23 Juli dan berakhir tanggal 27 Agustus 2009. Para peserta terdiri dari para warga Lingkungan-lingkungan S. Hubertus, S. Gregorius, S. Yohanes Pemandi dan S. Yudas Tadeus. Pembimbing: Sdr. F.X. Indrapradja, OFS. 

Bahan-bahan ini dapat dimanfaatkan oleh anda sekalian – kaum awam – yang memang mau lebih mendalami lagi tentang Kitab Wahyu.

STUDI ALKITAB TENTANG WAHYU KEPADA YOHANES (1)

WAHYU KEPADA YOHANES 

DAFTAR PUSTAKA 

Berikut ini adalah daftar pustaka yang digunakan dalam bahan-bahan bacaan yang digunakan dalam Studi Alkitab – Wahyu kepada Yohanes: 

  1. Paul J. Achtemeier (General Editor, with the Society or Biblical Literature), HARPER COLLINS BIBLE DICTIONARY (Revised Edition), San Francisco: Harper San Francisco, 1996 [PJA]
  2. Jean-Louis D’Aragon SJ, THE APOCALYPSE, dalam Raymond E. Brown SS, Joseph A. Fitzmyer SJ and Roland E. Murphy O.Carm (Editors), THE JEROME BIBLICAL COMMENTARY, London: Geoffrey Chapman, 1969 (Sixteenth impression, 1988), hal. 467-493. [JLDA]
  3. Raymond E. Brown SS, AN INTRODUCTION TO THE NEW TESTAMENT, teristimewa chapter 37 yang berjudul The Book of Revelation (The Apocalypse), New York, NY: Doubleday, 1997, hal. 773-813. [REB]
  4. Adela Yarbro Collins, THE APOCALYPSE (REVELATION), dalam Raymond E. Brown SS, Joseph A. Fitzmyer SJ (emeritus) and Roland E. Murphy O.Carm (emeritus) (Editors), THE NEW JEROME BIBLICAL COMMENTARY, Englewood Cliffs, NJ: Prentice-Hall, 1990, hal. 996-1016. [AYC]
  5. Edwin Daschbach SVD, THE BOOK OF REVELATION – HOW TO UNDERSTAND IT, Liguori, Missouri: Liguori Publications, 1983. [ED]
  6. Xavier Leon-Dufour (Editor), DICTIONARY OF BIBLICAL THEOLOGY, London: Geoffrey Chapman, 1973 [XLD]
  7. Elisabeth Schuessler Fiorenza, THE APOCALYPSE, Chicago, Illinois: Franciscan Herald Press, 1976. [ESF]
  8. S. MacLean Gilmour, THE REVELATION TO JOHN, dalam Charles M. Laymon (Editor), THE INTERPRETER’S ONE-VOLUME COMMENTARY ON THE BIBLE, Nashville and New York: Abingdon Press, 1971, hal. 945-968. [SMG]
  9. Christian Gossweiler, APOKALIPTIK KONTEMPORER, dalam Y.M. Seto Marsunu (Editor), APOKALIPTIK – Kumpulan Karangan Simposium Ikatan Sarjana Biblika Indonesia 2006, Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 2007, hal. 110-137. [CG]
  10. Wilfrid J. Harrington OP, REVELATION  (Daniel J.Harrington SJ [Editor]SACRA PAGINA, No. 16), Collegeville, Minnesota: The Liturgical Press,  1993. [WJH I]
  11. Wilfrid J. Harrington OP, UNDERSTANDING THE APOCALYPSE, Scripture from Scratch – November 1999 N1199, Cincinnati, Ohio: St. Anthony Messenger Press, 1999. [WJH II]
  12. Martin Harun OFM, KITAB WAHYU SEBAGAI NARASI, dalam Y.M. Seto Marsunu (Editor), APOKALIPTIK – Kumpulan Karangan Simposium Ikatan Sarjana Biblika Indonesia 2006, Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 2007, hal. 57-87 dan 138-142. [MH]
  13. William G. Heidt, The New Testament Reading Guide, The Book of the Apocalypse, saduran oleh Drs. S.S. Hadiwiyata (Lembaga Biblika Indonesia) dengan judul KITAB WAHYU  (Tafsir Perjanjian Baru 10), Yogyakarta, Penerbit Yayasan Kanisius,  1983. [WGH]
  14. Rev. Herman Bernard Kramer (Pr.), THE BOOK OF DESTINY, Rockford, Illinois: TAN Books and Publishers, Inc., 1955 (Reprinted in 1972 by Apostolate of Christian Action, Fresno, California). [HBK]
  15. Eduardo Arens Kuckerlkorn, Manuel Dίaz Mateos and Tomás Kraft, REVELATION, dalam William R. Farmer (Editor), THE INTERNATIONAL BIBLE COMMENTARY – A Catholic and Ecumenical Commentary for the Twenty-First Century, Collegeville, Minnesota: The Liturgical Press, 1998, hal. 1843-1879. [EAK]
  16. Tertius Yunias Lantigimo, KITAB WAHYU: SEBUAH KAJIAN SOSIAL, dalam Y.M. Seto Marsunu (Editor), APOKALIPTIK – Kumpulan Karangan Simposium Ikatan Sarjana Biblika Indonesia 2006, Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 2007, hal. 88-109. [TYL]
  17. Carlos Mesters (Karmelit), THE BOOK OF REVELATION – The Hope of a Struggling People (Asli: Esperanca de um povo que luta), Bombay, India: Pauline Publications, 1985; English Edition 1994. [CM]
  18. Fr. Joseph Mindling OFMCap., The End is Near! (Or is it?) – “Decoding the Book of Revelation, dalam the WORD among us, Edisi November 2004. [JM I]
  19. Fr. Joseph Mindling OFMCap., Victory Now! How to Read Revelation in the Light of Faith, dalam WORD among us, Edisi November 2004. [JM II]
  20. Y. Bambang Mulyono STh, TEOLOGI KETABAHAN – Ulasan Atas Kitab Wahyu Yohanes, Jakarta: PT BPK Gunung Mulia, 1993. [YBM]
  21. PEDOMAN PENAFSIRAN ALKITAB: WAHYU KEPADA YOHANES  (Adaptasi dari A Handbook on The Revelation to John oleh Rolbert G. Bratcher & Howard A. Hatton), Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia bekerja sama dengan Yayasan Karunia Bakti Budaya Indonesia, 2000. [PPAWY]
  22. Pheme Perkins, READING THE NEW TESTAMENT, teristimewa chapter 21 yang berjudul Revelation: Christianity and the Empire, New York, NY: PAULIST PRESS, 1988 (Revised Edition), hal. 312-328. [PP I]
  23. Pheme Perkins, REVELATION, dalam Robert J. Karris OFM (General Editor), THE COLLEGEVILLE BIBLE COMMENTARY – New Testament, Collegeville, Minnesota: The Liturgical Press, 1992, hal. 1265-1300. [PP II]
  24. John J. Scullion SJ, REVELATION (THE APOCALYPSE), dalam Rev. Reginald C. Fuller D.D., PhD., L.S.S. (General Editor), A NEW CATHOLIC COMMENTARY ON HOLY SCRIPTURE, Nashville and New York: Thomas Nelson Inc. Publishers, 1975 (Revised and updated), hal. 1266-1283. [JJS]
  25. I. Suharyo Pr., KITAB WAHYU – PAHAM DAN MAKNANYA BAGI HIDUP KRISTEN, LEMBAGA BIBLIKA INDONESIA, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1993. [IS]
  26. Caroll Stuhlmueller CP (General Editor), THE COLLEGEVILLE PASTORAL DICTIONARY OF BIBLICAL THEOLOGY, Collegeville, Minnesota: The Liturgical Press, 1996 [CS]
  27. Rev. John Tickle (Pr.), THE BOOK OF REVELATION – A CATHOLIC INTERPRETATION OF THE APOCALYPSE, Liguori, Missouri: Liguori Publications, 1983. [JT] 

Catatan: STUDI ALKITAB tentang KITAB WAHYU ini diselenggarakan oleh Wilayah I Santo Yohanes dari Salib, Gereja S. Stefanus, Cilandak, dalam empat pertemuan mingguan, yaitu mulai tanggal 23 Juli dan berakhir tanggal 27 Agustus 2009. Para peserta terdiri dari para warga Lingkungan-lingkungan Santo Hubertus, Santo Gregorius, Santo Yohanes Pemandi dan Santo Yudas Tadeus. Pembimbing: Sdr. F.X. Indrapradja, OFS [warga lingkungan Santo Yudas Tadeus].

 

Bahan-bahan ini dapat dimanfaatkan oleh anda sekalian – kaum awam – yang memang mau lebih mendalami lagi tentang Kitab Wahyu.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 126 other followers