YANG BERBAHAGIA IALAH MEREKA YANG MENDENGARKAN FIRMAN ALLAH DAN YANG MEMELIHARANYA

YANG BERBAHAGIA IALAH MEREKA YANG MENDENGARKAN FIRMAN ALLAH DAN YANG MEMELIHARANYA

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVII, Sabtu 8-10-11) 

Ketika Yesus masih berbicara tentang hal-hal itu, berserulah seorang perempuan dari antara orang banyak dan berkata kepada-Nya, “Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau.” Tetapi Ia berkata, “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya.” (Luk 11:27-28)

Bacaan Pertama: Yl 3:12-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 97:1-2,5-6.11-12 

Cerita berikut ini adalah cerita sesungguhnya terjadi, tetapi bukan di Indonesia. Ada seorang perempuan di salah satu kota di Amerika Serikat yang sungguh hidup dalam Roh, seorang yang tidak hanya spirit filled, tetapi juga spirit led …… dipimpin oleh Roh Kudus, namun masih tetap melakukan kesalahan karena menolak perintah Allah. … dia tidak taat kepada perintah-Nya. Katakanlah nama perempuan itu Tante Betty.

Pada suatu hari Tante Betty mengunjungi sebuah rumah sakit untuk menengok seorang teman yang sedang dirawat di situ. Selagi dia berdiri di salah lorong rumah sakit itu, seorang perempuan yang terbaring di atas kereta-dorong melewati dirinya menuju ke kamar bedah. Tante Betty kemudian menceritakan peristiwa yang dialaminya pada waktu itu kepada keponakannya, seorang penulis ternama, “Roh Tuhan berkata kepadaku, ‘peganglah tangan perempuan itu’”. Namun Tante Betty menjawab, “Aku tidak bisa melakukannya, aku tidak mengenal dia.” Terjadi kontak mata sejenak antara kedua perempuan itu. Kemudian Tante Betty memperoleh berita bahwa perempuan yang sakit itu telah meninggal. Baru setelah itu Tante Betty sadar, bahwa Allah baru saja memberikan kesempatan kepadanya untuk menjadi orang terakhir di atas muka bumi  untuk menyentuh perempuan sakit itu dengan kasih-Nya, namun dirinya telah menolak perintah Allah tersebut. Sekarang, kata Tante Betty, apabila Roh Kudus menginstruksikan kepadanya untuk memegang tangan seorang perempuan, maka dia akan memegang tangan perempuan itu dst. Mengapa? Jawabnya: “Aku tidak mau lagi dihajar oleh Tuhan.”

Yesus mengatakan kepada para pengikut-Nya: “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya” (Luk 11:28). Janganlah kita melihat sebagai sesuatu yang luarbiasa sekali bilamana kita dimampukan untuk mendengar suara Roh Kudus yang berbicara kepada kita, sejelas seperti yang dialami oleh Tante Betty – dan sejelas seperti yang dialami oleh para kudus ternama.

Misalnya, secara tiba-tiba anda merasa perlu menelpon seseorang, atau merasakan adanya dorongan kuat untuk langsung mendoakan seseorang. Kemudian, anda memperoleh informasi bahwa orang yang ada dalam pikiran anda itu sedang mengalami depresi pada saat itu atau nyaris mengalami kecelakaan “la-lin” yang fatal. Saudari dan Saudaraku, hal seperti itu bukanlah sesuatu yang kebetulan, walaupun kita sering mengatakannya begitu (Kita bukan orang yang percaya takhyul, kan?). Sebenarnya, itu adalah Allah yang berbicara kepada anda! Atau, pernahkah anda membaca Kitab Suci, dan sebuah potongan kalimat atau ayat begitu kuatnya menyentuh hati anda sehingga anda harus berhenti membaca, lalu merenungkannya dan mengambil tindakan seturut sabda Allah itu? Mendengar sabda-Nya tidak begitu penuh mistiknya seperti dibayangkan oleh banyak orang. Pada kenyataannya, Allah selalu berbicara kepada kita. Yang kita perlukan adalah belajar bagaimana mengenali suara-Nya.

Oleh karena itu, Saudari dan Saudaraku yang dikasihi Kristus, marilah kita senantiasa bersikap waspada agar dapat mendengar suara Allah. Kita mohon kepada-Nya agar membuka “telinga rohani” kita masing-masing. Kemudian kita mengambil keputusan untuk taat apabila kita mendengar suara-Nya. Maka, berkat-berkat-Nya akan mengalir seperti air sungai yang dengan deras mengalir dari sumbernya.

DOA: Bapa surgawi, tolonglah aku untuk lebih sadar dan peka terhadap suara Roh-Mu. Aku ingin mendengarkan dan taat, sehingga aku dapat mengenal dan mengalami berkat-berkat-Mu dalam hidupku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 11:27-28), silahkan membaca juga tulisan yang berjudul “SIAPA YANG BERBAHAGIA?” (bacaan untuk tanggal 8-10-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: PERMENUNGAN ALKITABIAH. 

Cilandak, 7 September 2011 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS DAN ROH-ROH JAHAT [2]

YESUS DAN ROH-ROH JAHAT [2]

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan SP Maria Ratu Rosario, Jumat 7-10-11) 

Tetapi ada di antara mereka yang berkata, “Ia mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, pemimpin setan.” Ada pula yang meminta suatu tanda dari surga kepada-Nya, untuk mencobai Dia. Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka lalu berkata, “Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa, dan setiap rumah tangga yang terpecah-pecah, pasti runtuh. Jikalau Iblis itu juga terbagi-bagi dan melawan dirinya sendiri, bagaimanakah kerajaannya dapat bertahan? Sebab kamu berkata bahwa Aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul. Jadi, jika aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, dengan kuasa apakah pengikut-pengikutmu mengusirnya? Karena itu, merekalah yang akan menjadi hakimmu. Tetapi jika aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu. Apabila seorang yang kuat dan bersenjata lengkap menjaga rumahnya sendiri, maka amanlah segala miliknya. Tetapi jika seorang yang lebih kuat daripadanya menyerang dan mengalahkannya, maka orang itu akan merampas perlengkapan senjata yang diandalkannya, dan akan membagi-bagikan rampasannya. Siapa yang tidak bersama Aku, ia melawan aku dan siapa yang tidak mengumpulkan bersama Aku, ia menceraiberaikan.”  Apabila roh jahat keluar dari seseorang, ia mengembara ke tempat-tempat yang tandus mencari perhentian, dan karena ia tidak mendapatnya, ia berkata: Aku akan kembali ke rumah yang telah kutinggalkan itu. Ia pun pergi dan mendapati rumah itu bersih tersapu dan rapi teratur. Lalu ia keluar dan mengajak tujuh roh lain yang lebih jahat daripadanya, dan mereka masuk dan berdiam di situ. Akhirnya keadaan orang itu lebih buruk daripada keadaannya semula.” (Luk 11:15-26)

Bacaan Pertama: Yl 1:13-15;2:1-2; Mazmur Tanggapan: Mzm 9:2-3,6,8-9,16

Pernahkah anda tergoda untuk berpikir bahwa anda dapat menjalani kehidupan ini tanpa Allah? Pada saat-saat seperti itulah Iblis datang dan menggoda kita. Dia dapat membuat kita berpikir yang tidak-tidak tentang orang lain atau melakukan sesuatu yang tidak baik terhadap orang lain itu. Dia juga dapat membujuk kita untuk berhenti berdoa; dengan memberikan alasan sinetron tertentu atau acara “infotainment”di televisi lebih mengasyikkan daripada berdoa, yang tokh tak pernah dikabulkan oleh Allah dll. Salah satu taktik favorit Iblis adalah menyulut konflik di antara umat Allah, teristimewa di dalam keluarga-keluarga kita.

Akan tetapi, percayalah bahwa apabila kita sungguh bersatu dengan Yesus, Iblis tidak akan menang! Pada waktu Yesus mencurahkan darah-Nya dari atas kayu salib, Ia menjembatani kesenjangan yang selama itu memisahkan antara kita-manusia dengan Allah Bapa di surga. Yesus mempersatukan kita dengan diri-Nya dan memberdayakan kita agar mampu mengatasi dosa, kematian, dan Iblis serta roh-roh jahat pengikutnya. Yesus meneguhkan – artinya mengkonfirmasi – tempat kekal yang ‘ditakdirkan’ bagi kita di hadirat-Nya di surga. Dia mencabut dosa dari hati kita sehingga kebenaran-Nya dapat berakar-kuat dalam diri kita masing-masing. Allah, Bapa kita di surga mengklaim kita sebagai anak-anak-Nya. Inilah kuat-kuasa dari Injil: Iblis tidak lagi berkuasa atas diri kita. Kita dibebaskan dari cengkeraman si Jahat dan sekarang dipegang oleh tangan-tangan penuh kasih dari Bapa surgawi.

Saudari dan Saudaraku yang dikasihi Kristus, ingatlah siapa sebenarnya diri anda dan apa yang telah diberikan kepada anda masing-masing. Yesus merasa senang  apabila kita menempatkan diri kita lebih kokoh lagi dalam penebusan yang dimenangkan oleh-Nya bagi kita. Oleh karena itu, baiklah kita mempersembahkan diri kita dan semua anggota keluarga kita kepada Yesus setiap hari. Baiklah kita menempatkan rasa percaya kita dalam otoritas lengkap dari darah-Nya. Kuat-kuasa dari darah Yesus jauh melebihi wacana perdebatan para teolog. Umat Kristiani yang biasa-biasa saja dapat mengalami kuat-kuasa darah Yesus itu dalam kehidupan mereka sehari-hari. Marilah kita berdoa memohon agar darah-Nya melindungi seluruh keberadaan kita dan mereka yang kita kasihi. Di rumah, di sekolah, di tempat kerja, di dalam mobil angkot, pokoknya di mana saja, kita dapat berdoa mohon perlindungan oleh darah Yesus, dan Iblis dan roh-roh jahat pun akan lari.

Ketika kita mohon kepada Yesus untuk menyembuhkan kita dan memulihkan relasi yang telah dirusak oleh dosa dan oleh Iblis dkk., maka Dia memenuhi diri kita dengan kasih dan bela rasa. Yesus akan menunjukkan kepada kita bagaimana perjuangan kita bukanlah melawan orang-orang lain yang kelihatan, melainkan melawan kuasa-kuasa kejahatan yang bersifat spiritual. Ia juga akan menunjukkan kepada kita bahwa dalam pertempuran melawan kejahatan, kepada kita telah diberikan perlengkapan-perlengkapan senjata kebenaran, keadilan, kerelaan untuk memberitakan Injil damai-sejahtera, iman, keselamatan,  dan sabda-Nya (Ef 6:14-17). Marilah kita terjun ke dalam pertempuran spiritual ini pada hari ini, percaya penuh bahwa dalam Kristus kita mempunyai segalanya yang diperlukan.

DOA: Roh Kudus Allah, kami percaya akan kuat-kuasa-Mu untuk menyembuhkan apa yang telah dirusak dan mengumpulkan serta menyatukan kembali apa saja yang telah dicerai-beraikan. Lingkupilah kami dengan darah Yesus dan ikatlah kami bersama dalam kasih Bapa. Kami tidak percaya pada diri kami sendiri, melainkan percaya kepada-Mu saja. Amin.

 

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 11:15-26), silahkan membaca juga tulisan yang berjudul “YESUS DAN ROH-ROH JAHAT” (bacaan untuk tanggal 7-10-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: PERMENUNGAN ALKITABIAH. 

Cilandak, 7 September 2011 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

IA AKAN MEMBERIKAN ROH KUDUS KEPADA MEREKA YANG MEMINTA KEPADA-NYA

IA AKAN MEMBERIKAN ROH KUDUS KEPADA MEREKA YANG MEMINTA KEPADA-NYA

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVII. Kamis 6-10-11) 

Ordo Fransiskan Sekular: Peringatan S. Maria Fransiska dari ke-5 luka Yesus

Lalu kata-Nya kepada mereka, “Jika seorang di antara kamu mempunyai seorang sahabat dan pada tengah malam pergi kepadanya dan berkata kepadanya: Sahabat, pinjamkanlah kepadaku tiga roti, sebab seorang sahabatku yang sedang berada dalam perjalanan singgah ke rumahku dan aku tidak mempunyai apa-apa untuk dihidangkan kepadanya; masakan ia yang di dalam rumah itu akan menjawab: Jangan mengganggu aku, pintu sudah tertutup dan aku serta anak-anakku sudah tidur; aku tidak dapat bangun dan memberikannya kepadamu. Aku berkata kepadamu: Sekalipun ia tidak mau bangun dan memberikannya kepadanya karena orang itu adalah sahabatnya, namun karena sikapnya yang tidak malu itu, ia akan bangun juga dan memberikan kepadanya apa yang diperlukannya. Karena itu, Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetuk, baginya pintu dibukakan. Bapak manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan, akan memberikan ular kepada anaknya itu sebagai ganti ikan? Atau, jika ia minta telur, akan memberikan kepadanya  kalajengking? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di surga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya” (Luk 11:5-13).

Bacaan Pertama: Mal 3:13-4:32a; Mazmur Tanggapan: Mzm 1:1-4,6 

Apakah artinya iman apabila tidak diiringi dengan rasa percaya (trust) dan ketekunan? Allah menginginkan kita untuk menjadi orang yang tidak bergeming sampai sahabat-tetangganya memberikan kepadanya semua yang dibutuhkannya. Allah ingin agar kita datang kepada-Nya dengan penuh gairah serta menghasrati berkat-Nya dan mempunyai harapan Ia akan memberikan segala sesuatu yang kita butuhkan. Jika Ia tidak langsung memberikan apa yang kita mohonkan, maka hal itu tidak disebabkan Ia terlalu sibuk dengan hal-hal lain atau memang tidak cukup memperhatikan kita. Seringkali, Ia ingin agar kita menunggu karena Dia mengetahui bagaimana ketekunan yang mendalam dapat mengubah kita. Santo Paulus menulis: “…… kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan” (Rm 5:3-4).

Seperti halnya orang-orang tertentu, kita bisa saja merasa cepat putus-asa apabila kita tidak langsung menerima sebuah jawaban dari Yang Ilahi. Kita dapat merasa seperti menyerah berharap kepada Allah dan mulai mengandalkan diri kepada kekuatan kita sendiri.  Akan tetapi Allah mendesak kita agar supaya tetap mengetuk pintu; Ia berjanji akan membukakan pintu dan mencurahkan Roh Kudus-Nya. Kita tidak pernah boleh melupakan, bahwa Dia adalah ‘seorang’ Bapa yang hikmat-Nya mentransenden (melampaui) pemahaman manusiawi yang kita miliki.

Bilamana Allah menunda pemberian jawaban-Nya terhadap doa kita, maka hal itu seringkali disebabkan karena Dia sedang mengajar kita untuk takut kepada-Nya secara layak dan pantas. Dia adalah Allah dan kita hanyalah makhluk ciptaan-Nya. Allah selalu baik, kudus dan benar. Dia selalu pantas bagi rasa percaya kita dan Dia taat-setia apakah kehidupan kita lurus di jalan-Nya atau suka melenceng kesana-kemari. Fondasi batu-karang kita yang kokoh adalah perwahyuan Allah sendiri tentang diri-Nya dalam Yesus Kristus, bukan turun-naiknya kehidupan kita sehari-hari. Apabila kita mendasarkan kehidupan kita atas kenyataan siapa Allah itu  dan kasih-Nya yang tak pernah gagal, maka kita dapat melihat bahwa doa-doa kita dijawab oleh-Nya. Sama seperti orang yang dengan tekunnya meminta bantuan sahabat-tetangganya dan akhirnya sang sahabat-tetangganya itu memberikan apa saja yang dibutuhkan olehnya, maka kita pun akan menerima berkat-berkat yang Allah inginkan untuk dicurahkan atas diri kita.

Melalui kesetiaan dan ketekunan, kita dapat memperkenankan Allah untuk membentuk diri kita menjadi bejana-bejana bagi kemuliaan-Nya. Selagi kita menanti-nanti-Nya, kita pun belajar untuk menaruh kepercayaan kepada diri-Nya, dan dalam menaruh rasa percaya itu pada-Nya, kita pun bertumbuh semakin kuat dan lebih mampu untuk menolong orang-orang lain. Itulah saatnya di mana Dia dapat memakai kita sebagai instrumen-instrumen untuk mewujudkan kasih dan kuat-kuasa-Nya ke tengah-tengah dunia.

DOA: Bapa surgawi, aku berterima kssih penuh syukur kepada-Mu karena Engkau penuh kasih dan baik hati. Aku percaya bahwa sementara aku bertekun dalam doa dan ketaatan, maka Engkau akan mencurahkan Roh Kudus-Mu ke atas diriku, untuk membuat diriku seorang ‘ciptaan baru’ seturut karakter Putera-Mu terkasih, Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamatku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 11:5-13), silahkan membaca juga tulisan yang berjudul “MINTALAH, CARILAH, KETUKLAH!!!” (bacaan untuk tanggal 6-10-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: PERMENUNGAN ALKITABIAH. 

Cilandak, 7 September 2011 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DOA BAPA KAMI [2]

DOA BAPA KAMI [2]

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVII, Rabu 5-10-11)

Keluarga Fransiskan: Peringatan Arwah Semua saudara, sanak saudara dan penderma 

Pada suatu kali Yesus berdoa di suatu tempat. Ketika Ia selesai berdoa, berkatalah seorang dari murid-murid-Nya kepada-Nya, “Tuhan, ajarlah kami berdoa, sama seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya. Jawab Yesus kepada mereka, “Apabila kamu berdoa, katakanlah: Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; datanglah Kerajaan-Mu. Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan dosa-dosa kami sebab kami pun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan.” (Luk 11:1-4)

Bacaan Pertama: Yun 4:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 86:3-6,9-10 

Bayangkanlah diri anda sekarang sebagai salah seorang dari kedua belas murid Yesus dan anda telah cukup lama memperhatikan Yesus yang sedang berdoa.  Tidak sulitlah kiranya untuk mencatat berapa banyak kekuatan dan pemberdayaan yang diterima oleh-Nya dalam doa, dan dalam hati anda timbullah rasa lapar untuk mendapatkan berkat-berkat yang sama. Pada akhirnya anda dan beberapa murid yang lain mengumpulkan keberanian untuk mengajukan permohonan kepada Dia, “Tuhan, ajarlah kami berdoa” (Luk 11:1). Lalu ketika Yesus mengajarkan kepada anda “Doa Bapa Kami”, anda menyadari bahwa sebenarnya Dia sedang mengungkapkan hati-Nya kepada anda, tidak hanya memberikan kepada anda “kata-kata yang benar” yang akan menjamin berkat Allah. Dibuat menjadi merasa rendah hati, anda sungguh memperhatikan dan mohon kepada Allah agar memberikan kepada anda sebuah hati seperti hati Yesus.

Bagian pertama dari doa ini berbicara mengenai rasa lapar yang sangat mendalam akan Allah. Kita semua tentunya ingin mengenal siapa Allah yang mahakuasa namun pada saat yang sama mahapengasih itu, sehingga penyebutan nama-Nya saja akan menggerakkan hati kita menjadi penuh hormat. Kita juga dapat dipenuhi hasrat bahwa kerajaan-Nya sungguh akan datang dan akan membuang segala rasa kesepian, kesedihan, dan kegelapan hidup dalam dunia. Dan, sebagaimana kita ingin melihat dunia yang telah ditebus, kita pun terdorong oleh rasa lapar akan kehadiran Allah – roti kehidupan – di bagian terdalam hati kita sendiri.

Bagian kedua dari doa ini mencerminkan suatu pemahaman yang penuh kerendahan-hati akan kelemahan dan kebutuhan kita sendiri di hadapan Bapa surgawi. Kita memohon pengampunan-Nya karena kita mengetahui bahwa kita tidak dapat membuat diri kita sendiri benar di hadapan-Nya dan kita membebaskan diri kita dari dosa yang begitu cepat menjerat kita. Demikian pula, kita memutuskan untuk mengampuni mereka yang telah bersalah kepada kita karena kita tahu benar betapa mudahnya kita tergelincir ke dalam sikap penolakan dan kepahitan. Akhirnya, kita berdoa agar memperoleh perlindungan-Nya terhadap pencobaan-pencobaan karena kita tahu bahwa Iblis selalu mencari kelemahan atau kerentanan kita agar dia dapat menabur benih-benih “ketidak-percayaan” dan “ketiadaan-doa” dalam hidup kita.

Yesus menginginkan agar kita semua sungguh mengasihi Bapa-Nya yang di surga sama sebagaimana Dia mengasihi-Nya. Yesus ingin agar kita semua merasa lapar dan haus akan kehidupan dalam Roh yang diberikan-Nya seiring dengan kedatangan-Nya di dunia, suatu kehidupan yang dicerminkan dalam setiap permohonan yang ada dalam doa BAPA KAMI. Oleh karena itu Saudari dan Saudaraku, marilah kita mohon kepada Roh Kudus agar membentuk hati kita semua menjadi semakin menyerupai hati Yesus, yang begitu indahnya terungkap dalam doa sempurna ini.

DOA: Bapa surgawi, Engkau kudus, baik dan sungguh mengasihi. Terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau mengaruniakan Putera-Mu sendiri untuk mengajarku berdoa kepada-Mu. Buatlah aku agar selalu memuliakan Engkau didalam kata-kata yang kuucapkan dan tindakan-tindakanku. Amin. 

Catatan: Bacalah juga tulisan yang berjudul “DOA BAPA KAMI” (bacaan untuk tanggal 5-10-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: PERMENUNGAN ALKITABIAH. Kepada saudari dan saudara anggota keluarga besar Fransiskan, saya menganjurkan agar dalam kesempatan ini membaca dan merenungkan kembali tulisan Santo Fransiskus dari Assisi: “URAIAN DOA BAPA KAMI” yang terdapat dalam Leo Laba Ladjar OFM, KARYA-KARYA FRANSISKUS DARI ASISI”, hal. 280-283. 

Cilandak, 7 September 2011 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERTOBATAN KOTA NINIWE

PERTOBATAN KOTA NINIWE

Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Fransiskus dari Assisi, 4-10-11

Keluarga Fransiskan: Hari Raya Bapa S. Fransiskus dari Assisi, Pendiri Ordo 

Datanglah firman TUHAN (YHWH) kepada Yunus untuk kedua kalinya, demikian: “Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, dan sampaikanlah kepadanya seruan yang Kufirmankan kepadamu.” Bersiaplah Yunus, lalu pergi ke Niniwe, sesuai dengan firman Allah.

Niniwe adalah sebuah kota yang mengagumkan besarnya, tiga hari perjalanan luasnya.

Mulailah Yunus masuk ke dalam kota itu sehari perjalanan jauhnya, lalu berseru: “Empat puluh hari lagi, maka Niniwe akan ditunggangbalikkan.” Orang Niniwe percaya kepada Allah, lalu mereka mengumumkan puasa dan mereka, baik orang dewasa maupun anak-anak, mengenakan kain kabung. Setelah sampai kabar itu kepada raja kota Niniwe, turunlah ia dari singgasananya, ditanggalkannya jubahnya, diselubungkannya kain kabung, lalu duduklah ia di abu. Lalu atas perintah raja dan para pembesarnya orang memaklumkan dan mengatakan di Niniwe demikian: “Manusia dan ternak, lembu sapi dan kambing domba tidak boleh makan apa-apa, tidak boleh makan rumput dan tidak boleh minum air. Haruslah semuanya, manusia dan ternak, berselubung kain kabung dan berseru dengan keras kepada Allah serta haruslah masing-masing berbalik dari tingkah lakunya yang jahat dan dari kekerasan yang  dilakukannya. Siapa tahu, mungkin Allah akan berbalik dan menyesal serta berpaling dari murka-Nya yang bernyala-nyala itu, sehingga kita tidak binasa.” Ketika Allah melihat perbuatan mereka itu, yakni bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, maka menyesallah Allah karena malapetaka yang telah dirancangkan-Nya terhadap mereka, dan Iapun tidak jadi melakukannya. (Yun 3:1-10)

Mazmur Tanggapan: Mzm 130:1-4,7-8; Bacaan Injil: Luk 10:38-42 

Yunus melarikan diri pada waktu YHWH memerintahkan kepadanya untuk mengingatkan penduduk Niniwe tentang penghukuman atas kota itu. Ada banyak kemungkinan bahwa Yunus membenci orang Niniwe karena ancaman militer mereka terhadap kerajaan Israel sebelah utara. Mudahlah untuk membayangkan bahwa seorang Israel akan bergembira menyambut penghukuman Allah atas kota Niniwe dan penduduknya dan mereka tidak ingin berdiri di tengah menghalangi terjadinya peristiwa yang menggembirakan itu. Mengetahui bahwa Allah itu penuh belas kasihan (lihat Yun 4:2), Yunus menolak untuk mengingatkan musuh-musuhnya tentang penghakiman Allah yang akan datang. Lebih suka melihat orang-orang Niniwe itu ditimpa murka Allah, Yunus melarikan diri ke laut guna menghindarkan diri dari panggilannya. Namun Allah terus mengejarnya sampai Yunus akhirnya mau juga pergi dan mengumumkan firman Allah itu kepada orang-orang Niniwe, “Empat puluh hari lagi, maka Niniwe akan ditunggangbalikkan” (Yun 3:4).

Niniwe diberi waktu 40 hari untuk melakukan pertobatan, namun akhirnya hanya memerlukan satu hari saja. Begitu para penduduk kota itu diperingati, mereka berbalik kepada YHWH. Semuanya, bahkan hewan peliharaan pun tidak makan-minum sebagai suatu tanda penyesalan mereka atas dosa-dosa mereka. Menanggapi pertobatan penduduk Niniwe, Allah mengampuni kesalahan penduduk Niniwe dan Ia pun membatalkan rencana penghukuman-Nya atas kota Niniwe dan penduduknya.

Cerita Yunus ini melukiskan kuat-kuasa sabda Allah untuk menembus hati-hati manusia yang yang sudah keras-membatu. Kita dapat memakai pembalikan secara mendadak dari Niniwe sebagai sebuah contoh bagi kita dan suatu sumber pengharapan berkaitan dengan kemungkinan dampak dari sabda-Nya atas diri kita dan sesama kita. Cerita Yunus ini juga dapat mendorong kita untuk berdoa bagi mereka yang belum mengenal Tuhan dan menceritakan kepada mereka tentang Dia. Selagi kita memperkenankan Roh Kudus mengajar kita bagaimana melakukan doa-doa syafaat (doa-doa pengantaraan demi orang lain), maka doa-doa kita pun akan  membuat perbedaan! Melalui doa-doa itu Tuhan akan memungkinkan orang-orang menerima sabda-Nya, bertobat dari dosa-dosa mereka, dan menerima keselamatan. Sabda Allah yang penuh kuat-kuasa akan memampukan orang-orang pada hari ini, seperti orang-orang Niniwe, untuk sungguh bertobat dan menerima belas kasihan Allah yang berlimpah.

Sebagaimana yang ditunjukkan oleh Yunus, kita pun mungkin tidak mau mendoakan atau syering iman kita dengan orang-orang yang pernah menyakiti hati kita. Akan tetapi, apabila kita mentaati perintah Yesus untuk mengasihi musuh-musuh kita, dalam kerahiman-Nya Allah akan membuat hati kita lunak dan menolong kita untuk mengampuni yang bersalah kepada kita. Kemudian, doa-doa syafaat akan terangkat tanpa halangan sampai kepada-Nya dan melepaskan aliran rahmat penyembuhan dari singgasana Allah.

DOA: Bapa surgawi, sulit bagi diriku untuk mengampuni orang-orang yang telah menyakiti hatiku. Tolonglah aku agar mau dan mampu membuka hatiku dan mengampuni mereka. Jadikanlah hatiku seperti hati Putera-Mu terkasih, Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamatku. Amin. 

Catatan: Bagi anda yang ingin mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 10:38-42), bacalah tulisan yang berjudul “MARIA DAN MARTA” dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: PERMENUNGAN ALKITABIAH. 

Cilandak, 6 September 2011 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERUMPAMAAN TENTANG ORANG SAMARIA YANG BAIK HATI

PERUMPAMAAN TENTANG ORANG SAMARIA YANG BAIK HATI

Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVII, Senin 3-10-11

Kemudian berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya, “Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus kepadanya, “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di dalamnya?” Jawab orang itu, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Kata Yesus kepadanya, “Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.” Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus, “Dan siapakah sesamaku manusia?” Jawab Yesus, “Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi juga memukulnya dan sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati. Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Keesokan harinya ia mengeluarkan dua dinar dan memberikannya kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali. Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun?” Jawab orang itu, “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” Kata Yesus kepadanya, “Pergilah, dan perbuatlah demikian!” (Luk 10:25-37)

Bacaan Pertama: Yun 1:1-17;2:10; Mazmur Tanggapan: Yun 2:2-5,8 

Dengan bertanya, “Siapakah sesamaku manusia?” ahli Taurat itu mencoba untuk mengetahui  sampai berapa jauh kewajiban-kewajiban (hukum)-nya. Apakah “sesamaku” hanya terbatas pada sahabat-sahabatku yang terdekat? Bagaimana dengan penduduk kotaku yang lain? Bagaimana dengan musuh-musuhku? Bagaimana dengan orang-orang gelandangan yang tergeletak di pinggir jalan? Apakah aku diharapkan untuk mengasihi orang-orang seperti itu juga? Yesus menjawab ahli Taurat itu dengan sebuah perumpamaan, yaitu ‘perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati’. Lewat perumpamaan termaksud, Yesus menunjukkan bahwa segala sesuatu berpusat pada kasih, bukan kewajiban-kewajiban hukum. Santo Paulus memahami hal inti benar, ketika dia menulis, “Kasih adalah kegenapan hukum Taurat” (Rm 13:10). 

Orang yang tergeletak babak belur setengah mati di jalan antara Yerusalem dan Yerikho karena habis dirampok dan dipukuli adalah seorang Yahudi, sedangkan yang datang menolongnya adalah seorang Samaria. Pada zaman itu hubungan antara orang Yahudi dan orang Samaria sangatlah buruk, termasuk di dalamnya ketegangan rasial. Orang Samaria adalah orang-orang yang tidak asli lagi. Yang ingin dikemukakan Yesus adalah bahwa kasih yang sejati tidak mengenal batas-batas yang disebabkan perbedaan dalam suku, ras, status sosial dlsb. Perintah untuk mengasih sesama mengacu pada semua orang, termasuk orang-orang asing yang tinggal di tengah-tengah kita, mereka yang termajinalisasi dalam masyarakat, orang-orang miskin, yang lapar, …… wong cilik! 

Allah Bapa menunjukkan kasih-Nya kepada umat-Nya ketika Dia mengirim Putera-Nya yang tunggal untuk membawa pengampunan dan rekonsiliasi. Yesus mempunyai kasih yang sama ketika Dia mengatakan “ya” terhadap rencana Bapa, walaupun hal itu berarti meninggalkan kemuliaan surgawi dan memperkenankan orang-orang yang diciptakan dan dikasihi-Nya dengan begitu intens malah membunuh-Nya di kayu salib. Seperti cintakasih yang ditunjukkan oleh orang Samaria itu, kasih Yesus juga tanpa batas-batas yang bersifat diskriminatif. Kita – murid-murid-Nya – juga harus mengasihi tanpa diskriminasi macam apa pun. 

Menunjukkan cintakasih dan belas kasihan dapat mengubah hati kita. Hal itu dapat mengajar kita untuk memandang setiap pribadi sebagai anak yang sangat dikasihi Allah, pantas dan layak sebagai pribadi yang bermartabat – batasan apa pun yang ada. 

Dalam pekan ini kita dapat mencoba melakukan dua hal. Pertama, marilah kita keluar untuk bertemu dengan orang-orang lain, siapa pun mereka itu. Perhatian penuh cintakasih dari kita kepada orang-orang yang kita jumpai dapat membantu “menggairahkan” kembali kehidupan seseorang yang hampir mencapai titik terendah. Kedua, marilah kita membuat diri kita semakin dekat dengan Allah dan menerima kasih dan kerahiman-Nya. Roh-Nya dapat memberdayakan kita untuk melanjutkan sikap dan tindakan cintakasih kita manakala kita merasa sudah tidak mempunyai apa-apa lagi untuk diberikan kepada orang-orang lain. 

DOA: Yesus, tunjukkan diri-Mu kepada semua orang yang berada dalam kesendirian di dunia ini. Penuhilah diri mereka dengan Roh-Mu dan tolonglah kami keluar menemui orang-orang yang tidak mempunyai  siapa-siapa lagi yang memperhatikan mereka. Bangkitkanlah ‘orang-orang Samaria yang baik hati’ di seluruh dunia. Amin.           

Cilandak, 6 September 2011 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERUMPAMAAN TENTANG PENGGARAP-PENGGARAP KEBUN ANGGUR

PERUMPAMAAN TENTANG PENGGARAP-PENGGARAP KEBUN ANGGUR

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXVII, 2-10-11)

“Dengarkanlah suatu perumpamaan yang lain. Adalah seorang tuan tanah membuka kebun anggur dan membuat pagar sekelilingnya. Ia menggali lubang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga di dalam kebun itu. Kemudian ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain. Ketika hampir tiba musim petik, ia menyuruh hamba-hambanya kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima hasil yang menjadi bagiannya. Tetapi penggarap-penggarap itu menangkap hamba-hambanya itu: mereka memukul yang seorang, membunuh yang lain dan melempari yang lain lagi dengan batu. Kemudian tuan itu menyuruh pula hamba-hamba yang lain, lebih banyak daripada yang semula, tetapi mereka pun diperlakukan sama seperti kawan-kawan mereka. Akhirnya ia menyuruh anaknya kepada mereka, katanya: Anakku akan mereka segani. Tetapi ketika penggarap-penggarap itu melihat anaknya itu, mereka berkata seorang kepada yang lain: Inilah ahli warisnya, mari kita bunuh dia, supaya warisannya menjadi milik kita. Mereka menangkapnya dan melemparkannya ke luar kebun anggur itu, lalu membunuhnya. Apabila tuan kebun anggur itu datang, apakah yang akan dilakukannya dengan penggarap-penggarap itu?” Kata mereka kepada-Nya, “Ia akan membinasakan orang-orang jahat itu dan kebun anggurnya akan disewakannya kepada penggarap-penggarap lain, yang akan menyerahkan hasilnya kepadanya pada waktkunya.” Kata Yesus kepada mereka, “Belum pernahkah kamu baca dalam Kitab Suci: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita. Sebab itu, Aku berkata kepadamu bahwa Kerajaan Allah akan diambil dari kamu dan akan diberikan kepada suatu bangsa yang akan menghasilkan buah Kerajaan itu. (Mat 21:33-43)

Bacaan Pertama: Yes 5:1-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 80:9,12-16,19-20; Bacaan Kedua: Flp 4:6-9 

Dalam perumpamaan ini Yesus menggunakan gambaran kebun anggur seperti yang digunakan oleh Yesaya sebelumnya (Yes 5:1-7). Sasaran Yesus dengan perumpamaan ini adalah para pemimpin atau pemuka agama Yahudi. Mereka membimbing umat Allah (kebun anggur) untuk keuntungan mereka sendiri, bukan untuk Allah (pemilik kebun anggur). Dengan demikian Allah tidak menerima tanggapan (buah) yang diharap-harapkannya. Yang lebih “parah” lagi adalah, bahwa mereka menutup umat dari Yesus, sang Putera Allah.

Kita dapat menggunakan gambaran (imaji) kebun anggur ini untuk mencerminkan cara sikap-sikap yang keliru dapat menguasai pikiran kita dan mencegah kita menghasilkan buah baik berupa kasih dan belas kasihan. Harapan-harapan sang tuan tanah pemilik kebun anggur hancur  karena kebun anggur miliknya itu dikuasai oleh para penggarap yang bersikap memusuhi. Sesuatu yang serupa terjadi dalam relasi kita dengan Allah ketika kita memperkenankan filsafat-filsafat (katakanlah dalam hal ini falsafah-falsafah) dunia mengkontaminasi pemikiran kita. Barangkali kita telah mengambil oper relativisme moral atau “yang buruk-buruk di bidang seks” dari film, buku atau dari “dunia maya” (internet). Barangkali kita telah melibatkan diri dalam praktek-praktek okultisme atau “new age”. Sebagai akibatnya, kehidupan rahmat dalam diri kita menjadi rusak.

Kabar baiknya adalah bahwa Allah itu tanpa reserve dan tidak menghitung-hitung biaya dalam upaya-Nya untuk membebaskan diri kita dari pengaruh-pengaruh yang tidak baik seperti disebut di atas. Yesus datang untuk membuang segala hal yang mengganggu membawa dampak buruk atas pikiran kita, kemudian mendirikan kerajaan-Nya di dalam diri kita – namun Ia tidak akan melakukan hal tersebut sendiri. Setiap hari, Dia memanggil kita untuk menaruh iman kita dalam kemenangan-Nya atas dosa dan kematian dan taat kepada perintah-perintah-Nya. Tindakan menyerahkan diri kita kepada kita bukanlah suatu kehilangan kendali yang tidak sehat, melainkan memperoleh kembali kendali kita. Mengapa? Karena dengan demikian kita dipulihkan kepada pikiran kita yang benar. Selagi sabda Allah meresap dalam kehidupan kita, kita pun dibebaskan dari tirani dosa dan pikiran kita dipenuhi dengan “semua yang benar, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedang didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji” (Flp 4:8).

DOA: Yesus Kristus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Aku menyerahkan diriku sepenuhnya ke bawah pengendalian kasih-Mu. Tuhan, usirlah apa saja dalam diriku yang bertentangan dengan Engkau dan nilai-nilai kerajaan-Mu. Aku sungguh ingin berbuah seturut rencana-Mu menciptakanku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 21:33-43), bacalah juga tulisan sehubungan dengan perikop padanannya dalam Injil Markus (Mrk 12:1-12) yang berjudul “SEMOGA KELAK KITA DIDAPATI OLEH-NYA SEBAGAI PENGGARAP KEBUN ANGGUR YANG BAIK” (bacaan untuk tanggal 7-3-11) dalam situs/blog SANG SABDA ini; kategori: 11-03 BACAAN HARIAN MARET 2011.

Cilandak, 5 September 2011 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 127 other followers