ANGGUR BARU DAN KANTONG KULIT BARU

ANGGUR BARU DAN KANTONG KULIT YANG BARU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa II, Senin 16-1-12)

Keluarga Fransiskan:  Peringatan S. Berardus, Imam dkk., Martir-martir Pertama Ordo Fransiskan

Pada suatu kali ketika murid-murid Yohanes dan orang-orang Farisi sedang berpuasa, datanglah orang-orang dan mengatakan kepada Yesus, “Mengapa murid-murid Yohanes dan murid-murid orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?”   Jawab Yesus kepada mereka, “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berpuasa sementara mempelai itu bersama mereka? Selama mempelai itu bersama mereka, mereka tidak dapat berpuasa. Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka, dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa. Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabiknya, yang baru mencabik yang tua, lalu makin besarlah koyaknya. Demikian juga tidak seorang pun menuang anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian anggur itu akan mengoyakkan kantong itu, sehingga anggur itu dan kantongnya dua-duanya terbuang. Tetapi anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula.”  (Mrk 2:18-22)

Bacaan Pertama: 1Sam 15:16-23; Mazmur Tanggapan: Mzm 50:8-9,16-17,21,23

Suatu perbedaan yang sangat nyata antara kantong kulit untuk anggur yang tua dan yang baru itu tidak hanya dalam umurnya, tetapi ada atau tidak-adanya minyak dalam kulit itu. Adanya unsur minyak dalam kulit kantong anggur yang baru membuatnya menjadi fleksibel dan mampu mengembang. Bilamana anggur baru dituang ke dalam kantong yang baru itu, maka kantong itu beradaptasi dengan tekanan yang ditimbulkan oleh anggur baru tersebut. Sebaliknya kulit yang sudah tua sudah menjadi keras dan kaku – tidak mampu lagi berkembang. Kantong tua yang diisi dengan anggur baru dapat rusak/robek atau malah meletup.

Apabila kita dibaptis dan diurapi dengan minyak keselamatan, kita pun telah diberikan suatu kemampuan baru untuk menanggapi tindakan Roh Kudus yang menggembirakan itu. Hati kita telah diubah, dibuat lembut oleh pengenalan dan pengalaman akan kasih Allah. Sekarang kita mempunyai kemampuan untuk menerima dari Dia suatu fleksibilitas baru yang dapat menjaga kita agar tetap terbuka bagi cara apa saja yang ditentukan oleh-Nya untuk kita kerjakan, walaupun kelihatannya tidak mungkin atau tidak biasa.

Akan tetapi, pertanyaan yang harus senantiasa kita tanyakan kepada diri kita sendiri, “Apakah aku tetap lembut dan lentur, siap untuk melakukan apa saja yang diminta oleh Roh Kudus dari diriku? Apakah diriku patuh terhadap dorongan Roh Kudus, atau aku semakin mengeraskan diri dan tidak fleksibel? Apakah aku terpaku pada ide-ide yang kaku, atau dapat menanggapi apa yang diinginkan Tuhan dari diriku pada hari ini – di rumah, di tempat kerjaku, di gerejaku, atau ke mana saja Dia memimpin aku?”

Allah memang kadang-kadang menantang ide-ide kita tentang Siapa diri-Nya dan bagaimana Dia bekerja dalam kehidupan kita. Jalan-jalan atau cara-cara-Nya dapat sangat berbeda dengan apa yang dapat kita bayangkan. Apakah kita mau membuka diri kita dan menerima Kerajaan-Nya seturut syarat-syarat yang ditetapkan-Nya? Marilah kita mengingat kembali apa yang telah terjadi dengan Abraham. Allah memanggilnya untuk meninggalkan tempat kediamannya dan pergi ke sebuah tempat yang baru samasekali – dan Abraham mematuhi panggilan Allah itu (lihat Kej 12:1 dsj.). Marilah kita mengingat apa yang terjadi dengan Maria: Perawan dari Nazaret ini sungguh merasa ketakutan ketika dikunjungi malaikat-agung Gabriel, namun ia mengatakan “Ya” kepada Allah, pada saat diminta untuk membawa Kristus ke tengah-tengah dunia (lihat Luk 1:26-38). Kita mengingat pula apa yang terjadi dengan Beata Bunda Teresa dari Kalkuta: Ketika Allah memanggil dirinya untuk melayani orang-orang yang paling miskin (the poorest of the poor), maka dia menukar rencananya sendiri dengan rencana Allah bagi dirinya. Kita pun harus siap untuk mengembang seperti kantong kulit anggur yang baru dan menerima panggilan Allah.

DOA: Roh Kudus Allah, penuhilah hatiku. Lebarkanlah mata hatiku ini agar dapat melihat kehendak-Mu untuk hidupku dan bagi Gereja Kristus di dunia. Ubahlah diriku agar dapat menjadi saksi Kristus yang sejati bagi dunia di sekelilingku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 2:18-22), bacalah tulisan dengan judul “ANGGUR BARU HENDAKNYA DISIMPAN DALAM KANTONG BARU” (bacaan untuk tanggal 16-1-12), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; 12-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2012. 

Cilandak, 7 Januari 2012 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MARILAH DAN KAMU AKAN MELIHATNYA

MARILAH DAN KAMU AKAN MELIHATNYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA II [Tahun B], 15-1-12) 

Keesokan harinya Yohanes berdiri di situ lagi dengan dua orang muridnya. Ketika ia melihat Yesus lewat, ia berkata, “Lihatlah Anak Domba Allah!” Kedua murid itu mendengar apa yang dikatakannya itu, lalu mereka pergi mengikut Yesus. Tetapi Yesus menoleh ke belakang. Ia melihat bahwa mereka mengikut Dia lalu berkata kepada mereka, “Apa yang kamu cari?” Kata mereka kepada-Nya, “Rabi (artinya: Guru), di manakah Engkau tinggal?” Ia berkata kepada mereka, “Marilah dan kamu akan melihatnya.” Mereka pun datang dan melihat di mana Ia tinggal, dan hari itu mereka tinggal bersama-sama dengan dia, waktu itu kira-kira pukul empat. Salah seorang dari keduanya yang mendengar perkataan Yohanes lalu mengikut Yesus adalah Andreas, saudara Simon Petrus. Andreas mula-mula menemui Simon, saudaranya, dan ia berkata kepadanya, “Kami telah menemukan Mesias (artinya: Kristus).” Ia membawanya kepada Yesus. Yesus memandang dia dan berkata, “Engkau Simon, anak Yohanes, engkau akan dinamakan Kefas (artinya: Petrus).” (Yoh 1:35-42)

Bacaan Pertama: 1Sam 3:3b-10,19; Mazmur Tanggapan: Mzm 40:2,4,7-10; Bacaan Kedua: 1Kor 6:13-15,17-20 

Andreas adalah seorang murid Yohanes Pembaptis, namun pada saat yang sama dia juga adalah seorang nelayan. Seperti kebanyakan dari kita, Andreas pun mempunyai banyak tugas dan tanggung-jawab, namun ia tetap menyediakan waktu untuk menumbuhkan hidup spiritualnya.  Dengan serius Andreas memandang kehidupannya di hadapan Allah dan dengan penuh gairah menantikan kedatangan Mesias yang dijanjikan itu. Itulah sebabnya mengapa dia begitu tertarik pada pribadi Yohanes Pembaptis. Walaupun banyak “menyita” waktu dan upayanya, Andreas merangkul ajaran Yohanes perihal pertobatan dalam mempersiapkan dirinya bagi suatu kunjungan Allah yang istimewa ke tengah-tengah dunia.

Pada saat Yohanes Pembaptis berkata, “Lihatlah Anak Domba Allah!” (Yoh 1:36), Andreas menyadari bahwa Pribadi yang selama itu dinanti-nantikannya sudah ada di depan matanya. Maka, dengan seorang murid Yohanes yang lain, Andreas pun pergi mengikut Yesus. Ia ingin untuk meluangkan waktu bersama Yesus sehingga dapat mengkonfirmasi apa yang telah dikatakan oleh Yohanes Pembaptis.

Kita dapat membayangkan Yesus bercakap-cakap dengan Andreas dan temannya itu sampai jauh malam tentang ajaran Yohanes Pembaptis. Andreas kelihatannya menjadi begitu yakin oleh kata-kata yang diucapkan Yesus, oleh sikap serta perilaku Yesus, dan oleh kuasa kehadiran Yesus di tengah-tengah mereka. Barangkali Andreas masih perlu banyak belajar lagi, namun ia telah mendengar cukup –  untuk diyakinkan bahwa Yesus sungguh pantas untuk diikuti. Dia langsung saja menceritakan pengalamannya tinggal bersama Yesus kepada Simon, saudaranya: “Kami telah menemukan Mesias” (Yoh 1:41), dan memperkenalkan saudaranya itu kepada Yesus (Yoh 1:42).

Sekarang, marilah kita membayangkan diri kita masing-masing berbicara dengan Yesus. Kita menyusun beberapa pertanyaan dan membayangkan Yesus menjawab pertanyaan-pertanyaan kita itu. Misalnya, bayangkanlah Yesus sedang menceritakan kepada kita tentang semua janji-janji Allah dalam Kitab Suci, tentang pembebasan dari dosa; atau tentang karunia Roh Kudus. Kita membuat pikiran kita menjadi hening dan mendengarkan dengan penuh perhatian apa yang dikatakan Yesus. Segalanya yang dialami Andreas pada waktu dia dan temannya diam bersama Yesus dapat juga kita alami ketika kita menanggapi ajakan Yesus, “Marilah dan kamu akan melihatnya” (Yoh 1:39). Allah ingin agar kita membuka hati kita bagi kasih-Nya sehingga – seperti Andreas – kita pun dapat bercerita kepada para saudari/saudara kita tentang pengalaman kita bersama Yesus dan membawa mereka kepada-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau bertanya kepadaku, mengapa aku mencari-Mu. Curahkanlah rahmat-Mu ke dalam diriku sekarang dan tunjukkanlah kepadaku apa jawaban yang keluar dari kedalaman hatiku. Sembuhkanlah aku di mana saja aku membutuhkan penyembuhan, sehingga dengan demikian aku dapat mengikuti Engkau dengan segenap hati, segenap jiwa dan segenap kekuatanku, dan membawa orang-orang lain kepada-Mu. Amin.

Cilandak, 2 Januari 2012 [Peringatan S. Basilius Agung dan Gregorius dari Nazianze, Uskup & Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BUKALAH HATI KITA BAGI KEHADIRAN ROH KUDUS

BUKALAH HATI KITA BAGI KEHADIRAN ROH KUDUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I, Sabtu 14-1-12)

Keluarga Fransiskan: Peringatan Beato Odorikus dari Pordenone, Imam

Ada seorang dari daerah Benyamin, namanya Kisy bin Abiel, bin Zeror, bin Bekhorat, bin Afiah, seorang suku Benyamin, seorang yang berada. Orang ini ada anaknya laki-laki, namanya Saul, seorang muda yang elok rupanya; tidak ada seorangpun dari antara orang Israel yang lebih elok dari padanya: dari bahu ke atas ia lebih tinggi dari pada setiap orang sebangsanya. Kisy, ayah Saul itu, kehilangan keledai-keledai betinanya. Sebab itu berkatalah Kisy kepada Saul, anaknya: “Ambillah salah seorang bujang, bersiaplah dan pergilah mencari keledai-keledai itu.” Lalu mereka berjalan melalui pegunungan Efraim; juga mereka berjalan melalui tanah Salisa, tetapi tidak menemuinya. Kemudian mereka berjalan melalui tanah Sahalim, tetapi keledai-keledai itu tidak ada; kemudian mereka berjalan melalui tanah Benyamin, tetapi tidak menemuinya.

Ketika Samuel melihat Saul, maka berfirmanlah TUHAN (YHWH) kepadanya: “Inilah orang yang Kusebutkan kepadamu itu; orang ini akan memegang tampuk pemerintahan atas umat-Ku.” Dalam pada itu itu Saul, datang mendekati Samuel di tengah pintu gerbang dan berkata: “Maaf, di mana rumah pelihat itu?” Jawab Samuel kepada Saul, katanya: “Akulah pelihat itu. Naiklah mendahului aku ke bukit. Hari ini kamu makan bersama-sama dengan daku; besok pagi aku membiarkan engkau pergi dan aku akan memberitahukan kepadamu segala sesuatu yang ada dalam hatimu.

Lalu Samuel mengambil buli-buli berisi minyak, dituangnyalah ke atas kepala Saul, diciumnyalah dia sambil berkata: “Bukankah YHWH telah mengurapi engkau menjadi raja atas umat-Nya Israel? Engkau akan memegang tampuk pemerintahan atas umat YHWH, dan engkau akan menyelamatkannya dari tangan musuh-musuh di  sekitarnya. Inilah tandanya bagimu, bahwa YHWH telah mengurapi engkau menjadi raja atas milik-Nya sendiri. (1Sam 9:1-4,17-19;10:1)

Mazmur Tanggapan: Mzm 21:2-7; Bacaan Injil: Mrk 2:13-17 

Saul – raja Israel yang pertama – dikedepankan dalam bacaan hari ini sebagai seorang pribadi yang “takut akan Allah” dan “memiliki kemampuan”. Ia dikirim oleh ayahnya untuk mencari keledai-keledai betina yang hilang entah ke mana. Bukannya mendapatkan keledai, Saul malah mendapatkan singgasana kerajaan. Apakah Saul dapat menjadi seorang raja Israel yang ideal? Tidak meragukan lagi, dia dapat menjadi seorang raja yang baik. Namun apabila kita membaca cerita selanjutnya dalam Kitab 1Samuel, maka satu persatu kelemahan atau kejelekan pribadinya akan bermunculan ke permukaan selagi Saul gagal memerintah Israel (umat Allah sendiri) dengan rasa penuh kepercayaan kepada kesetiaan Allah dan bimbingan-Nya.

Dalam artian tertentu kita dapat mengatakan, bahwa dalam tindakan mereka menuntut untuk mempunyai seorang raja tanpa peduli akan niat-niat Allah sendiri, orang-orang Israel sebenarnya  mengidap penyakit dalam jiwa mereka, walaupun mereka tidak menyadarinya. Mereka tidak melihat bahwa berbagai falsafah duniawi telah mengendap dalam pikiran mereka dan sekarang mempengaruhi pengambilan keputusan-keputusan mereka. Mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya mereka membutuhkan bimbingan dari YHWH-Allah.

Independensi dan kemandirian yang keliru ini menciptakan suatu jurang pemisah yang lebar antara Allah dan umat-Nya. Orang-orang yang tidak mengetahui kebutuhan mereka akan Allah akan menggantungkan diri pada berbagai falsafah duniawi, teristimewa penekanan falsafah-falsafah tersebut pada pemusatan (kepuasan/kepentingan) diri sendiri (self-centeredness). Sebaliknya, orang-orang yang mengetahui kebutuhan mereka akan berpaling kepada Tuhan agar supaya membimbing mereka dengan rendah hati menundukkan diri kepada kehendak-Nya.

Saul akan menjadi sebuah contoh yang sempurna tentang seorang yang gagal untuk menyadari kebutuhannya akan Allah. Sementara kita terus membaca Kitab 1Samuel, kita akan melihat upaya Saul untuk memimpin Israel secara bebas-lepas dari bimbingan Allah. Saul akan tidak mentaati instruksi-instruksi Allah yang diberikan melalui Samuel dan dengan demikian membawa bencana bagi dirinya sendiri dan juga bagi bangsa Israel secara keseluruhan. Saul dibutakan oleh falsafah-falsafah duniawi tentang kekuasaan, pengejaran kepentingan-diri sendiri akan kemuliaan, dan ketakutannya sendiri. Akibatnya adalah, bahwa raja pertama Israel ini luput melihat kebutuhannya yang mendalam akan rahmat Allah, dan ia secara berkelanjutan mengandalkan dirinya sendiri dalam menangani segala masalah yang dihadapinya.

Santo Paulus menulis, “semua orang telah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah” (Rm 3:23). Dengan lemah-lembut namun pasti, Bapa surgawi yang sangat mengasihi kita itu akan menyatakan hal ini kepada kita masing-masing. Selagi Dia melakukan hal ini, kita seharusnya merasa terhibur karena kenyataan bahwa Dia tidak ingin menyalahkan/menghukum kita, melainkan hanya menunjukkan kepada kita bela-rasa-Nya. Allah Bapa hanya ingin menolong kita untuk mengakui bahwa hanya Yesus lah yang dapat menyembuhkan segala sakit-penyakit yang kita derita dalam jiwa kita. Mengakui kebutuhan besar kita akan Allah tidak akan mengecilkan diri kita,  melainkan justru memperbaiki rasa percaya kita akan nilai berharga diri kita ini sebagai anak-anak Allah. Oleh karena itu, marilah kita selalu membuka hati kita bagi kehadiran Roh Allah dalam diri kita masing-masing.

DOA: Pancarkanlah sinar terang-Mu ke dalam hatiku, ya Roh Kudus Allah. Nyatakanlah kepadaku area-area yang membutuhkan sentuhan kasih-Mu. Datanglah, ya Dokter Ilahi, dan buatlah aku menjadi seorang pribadi yang utuh: roh, jiwa dan badan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 2:13-17), bacalah tulisan dengan judul “AKU DATANG BUKAN UNTUK MEMANGGIL ORANG BENAR, MELAINKAN ORANG BERDOSA” (bacaan untuk tanggal 14-1-12), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; 12-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2012. 

Cilandak, 2 Januari 2012 [Peringatan S. Basilius Agung dan Gregorius dari Nazianze, Uskup & Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

JANGANLAH “NGOTOT” DENGAN IDE-IDE KITA SENDIRI

JANGANLAH “NGOTOT” DENGAN IDE-IDE KITA SENDIRI

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I, Jumat 13-1-12) 

Sebab itu berkumpullah semua tua-tua Israel; mereka datang kepada Samuel di Rama dan berkata kepadanya: “Engkau sudah tua dan anak-anakmu tidak hidup seperti engkau; maka angkatlah seorang raja atas kami untuk memerintah kami, seperti pada segala bangsa-bangsa lain.” Waktu mereka berkata: “Berikanlah kepada kami seorang raja untuk memerintah kami,” perkataan itu mengesalkan Samuel, maka berdoalah Samuel kepada TUHAN (YHWH). YHWH berfirman kepada Samuel; “Dengarkanlah perkataan bangsa itu dalam segala hal yang dikatakan mereka kepadamu, sebab bukan engkau yang mereka tolak, tetapi Akulah yang mereka tolak, supaya jangan Aku menjadi raja atas mereka.

Dan Samuel menyampaikan segala firman YHWH kepada bangsa itu, yang meminta seorang raja kepadanya, katanya: “Inilah yang menjadi hak raja yang akan memerintah kamu itu: anak-anakmu laki-laki akan diambilnya dan dipekerjakannya: pada keretanya dan pada kudanya, dan mereka akan berlari di depan keretanya; ia akan menjadikan mereka kepala pasukan seribu dan kepala pasukan lima puluh, mereka akan membajak ladangnya dan mengerjakan penuaian baginya; senjata-senjatanya dan perkakas keretanya akan dibuat mereka. Anak-anakmu perempuan akan diambilnya sebagai juru campur rempah-rempah, juru masak dan juru makanan. Selanjutnya dari ladangmu, kebun anggurmu dan kebun zaitunmu akan diambilnya yang paling baik dan akan diberikannya kepada pegawai-pegawi istananya dan kepada pegawai-pegawainya yang lain. Budak-budakmu laki-laki dan budak-budakmu perempuan, ternakmu yang terbaik dan keledai-keledaimu akan diambilnya dan dipakainya untuk pekerjaannya. Dari kambing dombamu akan diambilnhya sepersepuluh, dan kamu sendiri akan menjadi budaknya. Pada waktu itu kamu akan berteriak karena rajamu yang kamu pilih itu, tetapi YHWH tidak akan menjawab kamu pada waktu itu.”

Tetapi bangsa itu menolak mendengarkan perkataan Samuel dan mereka berkata: “Tidak, harus ada raja atas kami; maka kamipun akan sama seperti segala bangsa-bangsa lain; raja kami akan menghakimi kami dan memimpin kami dalam perang.” Samuel mendengar segala perkataan bangsa itu, dan menyampaikannya kepada YHWH. YHWH berfirman kepada Samuel: “Dengarlah permintaan mereka dan angkatlah seorang raja bagi mereka.” (1Sam 8:4-7,10-22a)

Mazmur Tanggapan: Mzm 89:16-19; Bacaan Injil: Mrk 2:1-12 

Keluhan-keluhan orang-orang Israel tentang korupsi para pemimpin mereka dapat dinilai cukup legitim (Inggris: legitimate). Kedua anak Samuel – Yoel dan Abia – yang menjadi hakim di Bersyeba memang sangat korup, tidak seperti ayah mereka yang pada waktu itu sudah tua (lihat 1Sam 8:1-4). Kesalahan orang-orang Israel itu terletak pada anggapan mereka, bahwa solusi atas masalah mereka adalah seorang raja dunia. Mereka menderita di bawah pemerintahan hakim-hakim yang tidak adil dan korup dan mereka berpikir situasinya akan lebih baik apabila ada seorang raja yang memerintah seperti bangsa-bangsa lain. Samuel mengingatkan mereka bahwa situasinya akan menjadi lebih buruk apabila bangsa Israel bergerak ke depan tanpa YHWH, Allah. Ternyata orang-orang Israel “ngotot” untuk mempunyai seorang raja, dan mereka menolak uraian penjelasan yang diberikan oleh Samuel.

Sampai seberapa sering kita “ngotot” atau bersikukuh dengan ide-ide kita sendiri tentang bagaimana menyelesaikan masalah yang kita hadapi? Kita beranggapan bahwa kita tidak akan membuat kesalahan-kesalahan sama yang telah diperbuat oleh orang-orang lain. Kita memprediksi suatu hasil yang lebih indah, karena kita pikir kita tahu bagaimana menghadapi tekanan-tekanan yang telah menyebabkan banyak orang lain menjadi jatuh-gagal. Inilah kiranya sikap yang diperagakan oleh orang-orang Israel. Dengan demikian, pandangan pribadi mereka menggantikan rencana Allah bagi mereka. Ide mereka adalah, bahwa seorang raja akan memimpin mereka dalam berperang melawan bangsa lain, memerintah dengan adil dan mengelola segalanya yang begitu carut-marut dalam masyarakat. Seorang raja juga diharapkan akan memberikan alasan bagi mereka untuk berbangga. Akan tetapi, seperti diingatkan oleh Samuel, rumput di seberang pagar itu jarang lebih hijau sebagaimana dibayangkan.  Dengan tegas-gamblang Samuel mengingatkan mereka, bahwa raja akan memanfaatkan rakyatnya dan mengambil dari mereka, semuanya demi kepentingan dirinya sendiri. Namun karena mereka memang kepala batu, maka peringatan Samuel itu tidak digubris. Mereka tetap menginginkan seorang raja.

Pekan depan (Rabu, 18 Januari 2012), kita akan bergabung dengan saudari-saudara Kristiani lainnya dalam pembukaan “PEKAN DOA SEDUNIA UNTUK PERSATUAN UMAT KRISTIANI”. Dalam kesempatan ini kita dapat melihat dalam diri kita sesuatu sebagaimana yang telah ditunjukkan oleh bangsa Israel seperti dikisahkan dalam bacaan hari ini. Banyak umat Kristiani dari banyak denominasi yang berbeda-beda selama satu pekan lamanya akan berdoa untik persatuan umat Kristiani, dan kenyataannya adalah setiap komunitas gerejawi mempunyai pandangan masing-masing tentang bagaimana seharusnya persatuan itu dicapai. Argumentasi dari berbagai cabang ilmu Teologi (Eklesiologi, Kristologi dlsb.), sejarah Gereja dlsb. digunakan oleh para pakar gereja-gereja. Dengan demikian, mudahlah bagi kita untuk melupakan bahwa sesungguhnya kita harus mempercayakan situasi ini kepada Raja surgawi, Tuhan Yesus. Kita semua tentunya ingin melihat segala perpecahan yang ada dalam Tubuh Kristus itu disembuhkan, namun apabila kita hanya berpegang pada ide manusiawi kita sendiri tentang “persatuan dan kesatuan Kristiani”, maka dengan mudah kita membuat masalahnya menjadi semakin rumit dan lebih susah lagi. Kita tidak menjadi part of the solution, melainkan menjadi part of the problem. Semua ide dan gambaran harus disampaikan kepada Roh Kudus, yang bertanggung jawab untuk membimbing dan membangun TUBUH KRISTUS!!!

Oleh karena itu, baiklah kita menyingkirkan bias-bias pribadi kita dan berdoa untuk persatuan umat Kristiani seturut kehendak Allah. Menyerahkan ide-ide kita sendiri dapat menjadi katalis bagi rencana-rencana Allah yang indah untuk bergerak maju. Ingatlah firman YHWH berikut ini: “Rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku” (Yes 55:8). Selalu mungkin bagi Roh Allah untuk membuat mukjizat-mukjizat guna mempersatukan Gereja Kristus, hanya apabila kita memperkenankan-Nya bertindak seturut kehendak-Nya, bukan kehendak kita. Ingatlah, “Bagi Allah tidak ada yang mustahil” (Luk 1:37).

DOA: Tuhan Yesus, Engkau berdoa agar kami semua dapat menjadi satu seperti Engkau dan Bapa adalah satu. Oleh kehadiran-Mu dalam semua umat-Mu, bimbinglah dan giringlah kami kepada persatuan yang Kauinginkan bagi kami semua. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 2:1-12), bacalah tulisan dengan judul “HAI ANAKKU, DOSA-DOSAMU SUDAH DIAMPUNI” (bacaan untuk tanggal 13-1-12), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; 12-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2012. 

Cilandak, 29 Desember 2011 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TAAT KEPADA ALLAH DAN HIDUP SETURUT KEHENDAK-NYA

TAAT KEPADA ALLAH DAN HIDUP SETURUT KEHENDAK-NYA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I, Kamis 12-1-12)

Keluarga Fransiskan: Peringatan S. Bernardus dari Cordeone, Kapusin 

Orang Israel maju berperang melawan orang Filistin dan berkemah dekat Eben-Haezer, sedang orang Filistin berkemah di Afek. Orang Filistin mengatur barisannya berhadapan dengan orang Israel. Ketika pertempuran menghebat, terpukullah kalah orang Israel oleh orang Filistin, yang menewaskan kira-kira empat ribu orang di medan pertempuran itu. Ketika tentara itu kembali ke perkemahan, berkatalah para tua-tua Israel: “Mengapa  TUHAN (YHWH) membuat kita terpukul kalah oleh orang Filistin pada hari ini? Marilah kita mengambil dari Silo tabut perjanjian YHWH, supaya Ia datang ke tengah-tengah kita dan melepaskan kita dari tangan musuh kita.” Kemudian bangsa itu menyuruh orang ke Silo, lalu mereka mengangkat dari sana tabut perjanjian YHWH semesta alam, yang bersemayam di atas para kerub; kedua anak Eli, Hofni dan Pinehas, ada di sana dekat tabut perjanjian Allah itu. Segera setelah tabut perjanjian YHWH sampai ke perkemahan, bersoraklah seluruh orang Israel dengan nyaring, sehingga bumi bergetar. Dan orang Filistin yang mendengar bunyi sorak itu berkata: “Apakah bunyi sorak yang nyaring di perkemahan orang Ibrani itu?” Ketika diketahui mereka, bahwa tabut YHWH telah sampai ke perkemahan itu, ketakutanlah orang Filistin, sebab kata mereka: “Allah mereka telah datang ke perkemahan itu,” dan mereka berkata: “Celakalah kita, sebab seperti itu belum pernah terjadi dahulu. Celakalah kita! Siapakah yang menolong kita dari tangan Allah yang maha dahsyat ini? Inilah juga Allah, yang telah menghajar orang Mesir dengan berbagai-bagai tulah di padang gurun. Kuatkanlah hatimu dan berlakulah seperti laki-laki, hai orang Filistin, supaya kamu jangan menjadi budak orang Ibrani itu, seperti mereka dahulu menjadi budakmu. Berlakulah seperti laki-laki dan berperanglah!” Lalu berperanglah orang Filistin, sehingga orang Israel terpukul kalah. Mereka melarikan diri masing-masing ke kemahnya. Amatlah besar kekalahan itu: dari pihak Israel gugur tiga puluh ribu orang pasukan berjalan kaki. Lagipula tabut Allah dirampas dan kedua anak Eli, Hofni dan Pinehas, tewas. (1Sam 4:1-11)

Mazmur Tanggapan: Mzm 44:10-11,14-15,24-25; Bacaan Injil: Mrk 1:40-45 

Walaupun YHWH sungguh hadir di tengah-tengah pertempuran antara orang Israel dan orang Filistin, pasukan Israel tetap saja kalah dengan begitu banyak korban jiwa. Mengapa Allah membiarkan hal seperti itu sampai terjadi? Apakah Ia tidak cukup memiliki kuat-kuasa untuk melindungi orang Israel? Apakah Ia tidak lagi peduli pada orang Yahudi yang bertempur dan keluarga-keluarga mereka?

Apabila kita melihat ke belakang dalam Kitab 1Samuel kita akan menemukan sebuah pentunjuk. Bertahun-tahun lamanya, Hofni dan Pinehas – imam-iman yang memainkan suatu peranan utama dalam kekacauan itu – telah menjadikan bait suci YHWH di Silo menjadi sebuah tempat  berbagai tindakan korupsi dan tindakan a susila. Kitab Suci dengan jelas menyebut anak-anak Eli ini sebagai orang-orang dursila (bacalah keseluruhan 1Sam 2:12-36). Mereka menggunakan persembahan kurban kepada YHWH sebagai kesempatan untuk kenikmatan jasmani dlsb. Sebuah petunjuk lainnya terdapat dalam bacaan hari ini. Pada waktu orang Israel kalah dalam pertempuran pertama, mereka bertanya kepada diri sendiri mengapa Allah telah membiarkan hal itu terjadi – namun mereka tidak menanti sampai datang jawaban dari Allah. Barangkali melalui kekalahan mereka Allah mencoba untuk menarik perhatian mereka, untuk menunjukkan sejumlah ketidaksetiaan yang telah merusak hubungan dengan-Nya, seperti halnya yang terjadi dengan Hofni dan Pinehas. Namun, bukannya melakukan pemeriksaan batin, mereka malah menyuruh orang mengambil tabut perjanjian YHWH dari Silo: “Marilah kita mengambil dari Silo tabut perjanjian YHWH, supaya Ia datang ke tengah-tengah kita dan melepaskan kita dari tangan musuh kita” (1Sam 4:3).

Allah tidak akan mau digunakan oleh manusia, apalagi disalahgunakan! Tabut perjanjian bukanlah dimaksudkan sebagai sebuah jimat yang secara otomatis akan mengusir segala kejahatan. Orang Israel percaya akan kehadiran Allah dalam tabut perjanjian tanpa mau memeriksa dan melihat kehadiran Allah dalam hati dan tindakan-tindakan mereka sendiri. Mereka memperlakukan tabut perjanjian seperti sebuah benda magic namun mereka mengabaikan keharusan untuk menyatukan pemikiran-pemikiran dan tindakan-tindakan mereka dengan kehendak Allah. Itulah sebabnya, mengapa mereka dikalahkan oleh orang Filistin.

Inginkah kita menjadi pemenang dalam kehidupan kita? Untuk itu kita harus taat kepada Tuhan! Inginkah kita dibebaskan dari suatu pola dosa atau suatu penolakan yang menyakitkan terhadap seseorang? Untuk itu kita harus menaruh kehidupan kita sejalan dengan kehendak Allah. Dengan demikian kita dapat mengenal dan mengalami perlindungan-Nya dan kuasa-Nya, bukan karena kita melakukan segala sesuatu dengan benar, melainkan karena kita telah menyerahkan kendali atas hidup kita sendiri kepada Bapa surgawi yang sangat mengasihi kita semua. Allah kita itu bukan seperti seorang yang gila hormat, Ia tidak membutuhkan segala empty gestures dari pihak manusia. Allah senantiasa mencari kesempatan untuk mentransformasikan kita menjadi orang-orang yang telah direncanakan-Nya ketika diciptakan. Untuk itu yang diperlukan dari kita adalah hati yang terbuka bagi-Nya. Oleh karena itu marilah kita menghadap Dia dalam ketaatan kepada-Nya, untuk sepenuhnya mengandalkan diri kita pada kuasa Roh-Nya. Inilah jalan menuju kebebasan yang sejati.

DOA: Bapa surgawi, aku menempatkan hidupku dalam tangan-tangan-Mu, percaya sepenuhnya pada kasih-Mu. Semoga kehendak-Mu terjadi atas diriku. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 1:40-45), bacalah tulisan dengan judul “KALAU ENGKAU MAU, ENGKAU DAPAT MENYEMBUHKAN AKU” (bacaan untuk tanggal 12-1-12), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; 12-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2012. 

Cilandak, 29 Desember 2011 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BERBICARALAH TUHAN, SEBAB HAMBA-MU INI MENDENGARKAN

BERBICARALAH TUHAN, SEBAB HAMBA-MU INI MENDENGARKAN

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I, Rabu 11-1-12) 

Samuel yang muda itu menjadi pelayan TUHAN (YHWH) di bawah pengawasan Eli. Pada masa itu firman YHWH jarang; penglihatan-penglihatan tidak sering.

Pada suatu hari Eli, yang matanya mulai kabur dan tidak dapat melihat dengan baik, sedang berbaring di tempat tidurnya. Lampu rumah Allah belum lagi padam. Samuel telah tidur di dalam bait suci YHWH, tempat tabut Allah. Lalu YHWH memanggil: “Samuel! Samuel!”, dan ia menjawab: “Ya, bapa.” Lalu berlarilah ia kepada Eli, serta katanya: “Ya, bapa, bukankah bapa memanggil aku?” Tetapi Eli berkata: “Aku tidak memanggil; tidurlah kembali.” Lalu pergilah ia tidur. Dan YHWH memanggil Samuel sekali lagi. Samuel pun bangunlah, lalu pergi mendapatkan Eli serta berkata: “Ya, bapa, bukankah bapa memanggil aku?” tetapi Eli berkata berkata: “Aku tidak memanggil, anakku; tidurlah kembali.” Samuel belum mengenal YHWH; firman YHWH belum pernah dinyatakan kepadanya. Dan YHWH memanggil Samuel sekali lagi, untuk ketiga kalinya. Ia pun bangunlah, lalu pergi mendapatkan Eli serta katanya: “Ya, bapa, bukankah bapa memanggil aku?” Lalu mengertilah Eli, bahwa YHWH lah yang memanggil anak itu. Sebab itu berkatalah Eli kepada Samuel: “Pergilah tidur dan apabila Ia memanggil engkau, katakanlah: Berbicaralah, YHWH, sebab hamba-Mu ini mendengar.” Maka pergilah Samuel dan tidurlah ia di tempat tidurnya. Lalu datanglah YHWH, berdiri di sana dan memanggil seperti yang sudah-sudah: “Samuel! Samuel!” Dan Samuel menjawab: “Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar.”

Dan Samuel makin besar dan YHWH menyertai dia dan tidak ada satu pun dari firman-Nya itu yang dibiarkan-Nya gugur. Maka tahulah seluruh Israel dari Dan sampai Bersyeba, bahwa kepada Samuel telah dipercayakan jabatan nabi YHWH. (1Sam 3:1-10,19-20)

Mazmur Tanggapan: Mzm 40:2,5,7-10; Bacaan Injil: Mrk 1:29-39

Samuel muda sudah diserahkan oleh Hana kepada imam Eli untuk dibimbing oleh sang imam sebagai seorang pelayan YHWH, di tempat bait suci YHWH di Silo. Hana – ibu dari Samuel – menepati nazarnya kepada Allah, bahwa apabila kepadanya dikaruniai seorang anak laki-laki, maka dia akan mempersembahkan anak itu untuk bekerja melayani Allah. Pada bacaan hari ini kita melihat bagaimana Allah memanggil Samuel ke dalam sebuah tugas pelayanan yang lebih luas-mendalam lagi daripada yang dia atau ibunya telah bayangkan selama itu. Mengikuti nasihat yang diberikan oleh Eli – seorang yang dipenuhi hikmat dan sudah cukup umur – Samuel menanggapi sapaan Allah dengan sederhana: “Berbicaralah, ya YHWH, sebab hamba-Mu ini mendengarkan” (lihat 1Sam 3:9,10).

Kata-kata nasihat imam Eli kepada Samuel adalah hikmat-kebijaksanaan bagi kita juga yang hidup di abad ke-21 ini. Ketika kita memulai hidup spiritual kita, kebanyakan dari kita berada dalam situasi penuh takjub karena mengetahui bahwa kita dapat berbicara kepada Tuhan Allah – Sang Pencipta langit dan bumi – dan Ia mendengar dan menjawab doa-doa kita. Sungguh merupakan suatu berkat untuk datang menghadap hadirat-Nya dan menyampaikan segala kebutuhan, rasa takut, masalah, rasa syukur dan sukacita kita. Ketika untuk pertama kalinya kita sadar akan hal ini, kita cenderung untuk lebih banyak berbicara dan mengajukan permohonan-permohonan kita, seakan-akan kita berkata: “Dengarlah Tuhan, hamba-Mu ini sedang berbicara!” 

Namun dengan bertumbuhnya kehidupan doa kita, maka setahap demi setahap kita pun semakin kurang berbicara dan lebih banyak memakai waktu kita untuk mendengarkan suara Tuhan Allah. Kita memperkenankan Allah sebagai pihak yang membuat rencana kerja-Nya atau agenda-Nya bagi diri kita. Kita percaya bahwa Dia mengetahui berbagai kebutuhan kita, sehingga kita tidak lagi terus-menerus mengemukakan semua itu kepada-Nya. Kita akan bersukacita karena mengalami kehadiran-Nya dalam keheningan; kita merasa takjub dan mulai menyembah-Nya sebagaimana apa adanya Dia. Kita menikmati sabda-Nya dan merenungkannya di bagian terdalam hati kita. Kita memperkenankan Dia mengubah diri kita, bukannya mencoba agar Dia mengubah situasi yang sedang kita hadapi.

Marilah kita terus mencoba “bereksperimen” mendengarkan Yesus selagi kita berdoa, membaca dan merenungkan sabda Allah dalam Kitab Suci, memilih sebuah tempat yang hening di mana kita dapat menenangkan pikiran dan roh kita. Kita dapat membuat catatan apa saja yang kita dengar. Kemudian kita menentukan bagaimana seharusnya kita bertindak seturut sabda Allah kepada kita itu. Ingatlah bahwa Allah begitu rindu untuk berbicara kepada kita masing-masing, umat-Nya. Ia hanya menantikan kita untuk cukup mengheningkan diri agar dapat mendengarkan suara-Nya. “Berbahagialah orang, yang menaruh kepercayaannya pada YHWH” (Mzm 40:5).

DOA: Ya Tuhanku dan Allahku, aku akan hening di hadapan hadirat-Mu dan menanti dengan sabar untuk dapat mendengarkan panggilan-Mu. Berbicaralah, ya Tuhanku dan Allahku. Ucapkanlah sabda kebenaran-Mu kepadaku, sehingga aku sungguh dapat mengenal Engkau, melayani Engkau, dan berbuah demi Kerajaan Allah. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 1:29-39), bacalah tulisan dengan judul “SEMUA ORANG MENCARI ENGKAU” (bacaan untuk tanggal 11-1-12), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; 12-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2012. 

Cilandak, 28 Desember 2011 [Pesta Kanak-kanak Suci, Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

KEHIDUPAN ITU KARUNIA DARI ALLAH

KEHIDUPAN ITU KARUNIA DARI ALLAH

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I, Selasa 10-1-11) 

Pada suatu kali, setelah mereka habis makan dan minum di Silo, berdirilah Hana, sedang imam Eli duduk di kursi dekat tiang pintu bait suci TUHAN (YHWH), dan dengan hati pedih ia berdoa kepada YHWH sambil menangis tersedu-sedu. Kemudian bernazarlah ia, katanya: “YHWH semesta alam, jika sungguh-sungguh Engkau memperhatikan sengsara hamba-Mu ini dan mengingat kepadaku dan tidak melupakan hamba-Mu ini, tetapi memberikan kepada hamba-Mu ini seorang anak laki-laki, maka aku akan memberikan dia kepada YHWH untuk seumur hidupnya dan pisau cukur tidak akan menyentuh kepalanya.” Ketika perempuan itu terus-menerus berdoa di hadapan YHWH, maka Eli mengamat-amati mulut perempuan itu; dan karena Hana berkata-kata dalam hatinya dan hanya bibirnya saja bergerak-gerak, tetapi suaranya tidak kedengaran, maka Eli menyangka perempuan itu mabuk. Lalu kata Eli kepadanya: “Berapa lama lagi engkau berlaku sebagai orang mabuk? Lepaskanlah diri dari pada mabukmu.” Tetapi Hana menjawab: “Bukan, tuanku, aku seorang perempuan yang sangat bersusah hati; anggur atau pun minuman yang memabukkan tidak kuminum, melainkan aku mencurahkan isi hatiku di hadapan YHWH. Janganlah anggap hambamu ini seorang perempuan dursila; sebab karena besarnya cemas dan sakit hati aku berbicara demikian lama.” Jawab Eli: “Pergilah dengan selamat, dan Allah Israel akan memberikan kepadamu apa yang engkau minta dari pada-Nya.” Sesudah itu berkatalah perempuan itu: “Biarlah hambamu ini mendapat belas kasihan dari padamu.” Lalu keluarlah perempuan itu, ia mau makan dan mukanya tidak muram lagi.

Keesokan harinya bangunlah mereka itu pagi-pagi, lalu sujud menyembah di hadapan YHWH; kemudian pulanglah mereka ke rumahnya di Rama. Ketika Elkana bersetubuh dengan Hana, isterinya, YHWH ingat kepadanya. Maka setahun kemudian mengandunglah Hana dan melahirkan seorang anak laki-laki. Ia menamai anak itu Samuel, sebab katanya: “Aku telah memintanya dari pada YHWH.” (1Sam 1:9-20)

Mazmur Tangggapan: 1Sam 2:1,4-7; Bacaan Injil: Mrk 1:21-28 

Dalam sebuah dunia di mana anak-anak yang belum sempat dilahirkan diperlakukan sebagai “barang” yang dapat dibuang begitu saja dan di mana anak-anak yang tak diinginkan dibiarkan hidup tanpa rumah/tempat tinggal dan dibiarkan hidup sebagai anak-anak jalanan di kota-kota, maka kerinduan Hana untuk dapat mempunyai seorang anak laki-laki dapat terasa seakan suatu hembusan angin segar. Inilah seorang pribadi manusia yang begitu menghargai kehidupan sebagai suatu karunia yang sangat berharga dari Allah, sehingga dia berjanji untuk mengabdikan anaknya kembali kepada Allah, hanya apabila dia dapat memperoleh seorang anak laki-laki. Hasratnya untuk memperoleh seorang anak laki-laki begitu mendalam sehingga dia bersedia untuk tidak bersama anaknya itu lagi sepanjang hidupnya, agar supaya anaknya itu dapat melayani Allah dan umat-Nya secara purna-waktu.

Sekarang, marilah kita berpikir sejenak mengenai anak-anak di seluruh dunia yang dibuang, tidak diperhatikan, karena faktor kemiskinan maupun karena memang tidak diinginkan oleh para orangtua mereka. Pikirkanlah juga anak-anak yang terbunuh lewat tindakan aborsi atau yang menderita karena terjebak dalam rumah tangga yang suka melecehkan mereka, entah dalam bentuk KDRT atau pelecehan seksual oleh anggota keluarga yang lebih dewasa. Bukankah dunia kita ini akan sangat berbeda apabila anak-anak tidak dilecehkan, diabaikan, atau dieksploitasi, melainkan diajar tentang kasih Allah, diperhatikan dengan penuh afeksi, dan diperlakukan dengan respek dan hormat yang sepantasnya mereka terima? Dengan demikian berapa banyak lagi kita mempunyai hamba-hamba Allah pada hari ini! Berapa banyak lagi orang-orang – baik perempuan maupun laki-laki – yang produktif, berbela-rasa dan berkepribadian stabil yang akan memberikan kontribusi bagi kebaikan Gereja maupun keamanan masyarakat dunia!

Paus Yohanes Paulus II menulis: “Apabila keluarga begitu penting bagi peradaban kasih, maka hal itu disebabkan oleh kedekatan dan intensitas khusus dari ikatan-ikatan yang terwujud di antara pribadi-pribadi dan generasi-generasi di dalam keluarga” (Letters to Families, 1994). Allah menginginkan umat manusia menjadi sebuah keluarga dari keluarga-keluarga yang bersatu dalam diri-Nya. Sebaliknya, Iblis senantiasa berupaya untuk memecah-belah dan menghancurkan kesatuan dan persatuan umat manusia. Target/sasaran utama si Iblis adalah kehidupan keluarga. Iblis mengetahui, bahwa apabila dia dapat menyerang sebuah generasi anak-anak secara keseluruhan, maka dia akan secara serius membawa dampak buruk atas masa depan Gereja dan dunia.

Kita harus senantiasa mengingat, bahwa pertempuran guna melindungi generasi ini hanya dapat diperjuangkan melalui kuasa Roh Kudus.dengan menggunakan senjata-senjata spiritual (lihat Ef 6:10-18). Allah memanggil kita untuk secara berkelanjutan melakukan doa-doa pengantaraan (syafaat) untuk anak-anak yang tidak sempat dilahirkan karena aborsi, juga untuk anak-anak yang hidup sekarang, yang tidak diinginkan, yang ditelantarkan, atau korban berbagai macam pelecehan. Melalui doa-doa yang dilakukan dengan tekun –  seperti dicontohkan oleh Hana dalam bacaan hari ini – kita pun dapat melawan kegelapan yang begitu pekat ini, dan ikut ambil bagian dalam menyelamatkan suatu generasi secara keseluruhan.

DOA: Tuhan Allah, Engkau adalah pemberi seluruh kehidupan. Kami mohon, lindungilah semua anak-anak. Berkatilah dan kuatkanlah semua orangtua. Biarlah api Roh-Mu datang ke atas generasi ini sehingga mereka dapat bertumbuh dalam hikmat-kebijaksanaan dan semangat untuk mengikuti Putera-Mu terkasih, Tuhan dan Juruselamat kami. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 1:21-28), bacalah tulisan dengan judul “YANG KUDUS DARI ALLAH” (bacaan untuk tanggal 10-1-12), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; 12-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2012. 

Cilandak, 28 Desember 2011 [Pesta Kanak-kanak Suci, Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 140 other followers