PENJELASAN SANTO PAULUS

PENJELASAN SANTO PAULUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Karolus Borromeus, Uskup, Jumat 4-11-11)

Saudara-saudaraku, aku sendiri memang yakin tentang kamu bahwa kamu juga telah penuh dengan kebaikan dan dengan segala pengetahuan dan sanggup untuk menasihati. Namun, karena anugerah yang telah diberikan Allah kepadaku, aku di sana sini dengan agak berani telah menulis kepadamu untuk mengingatkan kamu, yaitu bahwa aku boleh menjadi pelayan Kristus Yesus bagi bangsa-bangsa lain dapat diterima oleh Allah sebagai persembahan yang berkenan kepada-Nya, yang disucikan oleh Roh Kudus. Jadi, dalam Kristus aku boleh bermegah tentang pelayananku bagi Allah. Sebab aku tidak akan berani berkata-kata tentang sesuatu yang lain, kecuali tentang apa yang telah dikerjakan Kristus melalui aku, yaitu untuk memimpin bangsa-bangsa lain kepada ketaatan, dengan perkataan dan perbuatan, dengan kuasa tanda-tanda ajaib dan mukjizat-mukjizat dan dengan kuasa Roh Allah. Demikianlah dalam perjalanan keliling dari Yerusalem sampai ke Ilirikum aku telah memberitakan sepenuhnya Injil Kristus. Dalam pemberitaan itu aku menganggap sebagai kehormatanku bahwa aku tidak melakukannya di tempat-tempat, di mana nama Kristus telah dikenal orang, supaya aku jangan membangun di atas dasar yang telah diletakkan orang lain, tetapi sesuai dengan yang tertulis: “Mereka, yang belum pernah menerima berita tentang Dia, akan melihat Dia, dan mereka yang belum pernah mendengarnya, akan mengertinya.” (Rm 15:14-21)

Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1-4;  Bacaan Injil: Luk 16:1-8 

“Aku tidak akan berani berkata-kata tentang sesuatu yang lain, kecuali tentang apa yang telah dikerjakan Kristus melalui aku” (Rm 15:18).

Pemberitaan Injil atau Evangelisasi seringkali membuat banyak dari kita tidak merasa nyaman. Pada dasarnya, sebagai pribadi-pribadi kita ingin agar diri kita disenangi orang-orang yang kita temui dan kita pun tidak ingin dipandang sebagai orang-orang yang suka memaksa-maksa agama kita kepada orang-orang lain. Kita mungkin merasa canggung untuk bercerita kepada orang-orang lain tentang Yesus, karena kita melihat agama sebagai masalah pribadi. Hal ini menjadi lebih rumit lagi apabila kita mempertimbangkan bahwa kedudukan kita dalam masyarakat Indonesia yang plural ini adalah sebagai minoritas. Dengan demikian kita mungkin saja memandang pewartaan/pemberitaan Injil dan orang-orang dengan siapa kita syering Injil sebagai sebuah proyek atau sebuah tugas – sesuatu yang kita lakukan karena harus kita lakukan, bukan karena kita memiliki hasrat untuk melakukannya.

Santo Paulus mempunyai pandangan lain. Setelah mengalami sendiri kasih Allah atas dirinya, secara pribadi dan intim, maka dia ingin menceritakan kepada setiap orang bahwa dia telah berjumpa dengan Yesus. Sang Rasul mengalami sukacita dan pengharapan melalui relasinya dengan Tuhan, dan tidak ada apapun yang mampu menghalangi dorongan dalam dirinya untuk memberitakan Injil kepada setiap orang yang dijumpainya. Oleh karena itu dia menulis kepada jemaat di Korintus bahwa kasih Kristus terus mendorong dirinya dalam karya evangelisasi ini (lihat 2Kor 5:14; Latin: caritas enim Christi urget nos – Vulgata). Inilah juga yang merupakan pegangan Santo Vincentius de Paul dan para anak rohaninya dalam melakukan karya kerasulan mereka yang mendunia itu.

Paulus menunjukkan kepada kita bahwa semakin dekat kita dengan Yesus, maka semakin efektif pula kita dalam melakukan fungsi kita sebagai saksi-saksi-Nya. Tidak ada yang lebih memikat hati orang-orang daripada pribadi-pribadi yang kehidupannya menunjukkan dampak yang dapat dibuat oleh kasih Allah. Orang-orang (saksi-saksi Kristus) seperti ini tidak sekadar mewartakan Injil dengan kata-kata; kasih Allah sungguh memancar melalui diri mereka masing-masing. Cara mereka melakukan tugas mereka, bahkan tugas sehari-hari yang biasa-biasa sungguh menarik perhatian, katakanlah memikat hati orang-orang yang dijumpai. Orang dapat merasakan bahwa ada sesuatu yang berbeda dalam diri seorang pribadi yang sedang in love dengan Allah. Orang seperti itu menampakkan keseimbangan pribadi, bela rasa dan kasih, bahkan ketika dia sedang mengalami saat-saat sulit dalam kehidupannya.

Di tahun 1980’an, ketika gereja di Megamendung masih kecil, perayaan Ekaristi hari Minggu sering dilayani oleh seorang imam Fransiskan asal Belanda yang sudah tua-usia, yang khusus datang dari Bogor. Homilinya atau khotbahnya kurang menarik, walaupun pokok-pokok penting selalu disinggungnya. Caranya berbicara sudah tidak lancar lagi. Namun demikian, dengan berdiri di depan umat di gereja kecil itu saja, saya melihat bahwa imam itu sungguh memancarkan kasih Kristus. Berpuluh tahun dia meninggalkan negeri asalnya dan bekerja sebagai misionaris di tengah-tengah bangsa Indonesia. Dirinya yang terlihat cukup lemah dan rentan sudah merupakan sebuah kesaksian Injili. Ini memang pandangan pribadi saya, namun inilah yang saya yakini sampai hari ini. Imam itu bersama Paulus dan sang Pemazmur dapat bermadah: “Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN (YHWH), sebab Ia telah melakukan perbuatan-perbuatan yang ajaib” (Mzm 98:1).

Kita semua mempunyai teman, sahabat, anggota keluarga dan rekan-kerja yang membutuhkan Yesus Kristus. Semakin dekat kita dengan Yesus, semakin banyak pula kita memperkenankan Dia memegang kendali atas hati kita, semakin lebih lagi orang-orang melihat Yesus dalam diri kita. Dengan demikian kita akan mendapatkan diri kita dengan lebih banyak kesempatan untuk ikut ambil bagian dalam kasih Yesus dengan cara yang sangat alamiah. Hal ini akan merupakan sesuatu yang sungguh menyenangkan hati bagi kita dan kesembuhan bagi orang-orang yang kita jumpai.

DOA: Tuhan Yesus, perkenankanlah aku untuk lebih mengenal Engkau. Kuingin dipenuhi dengan kasih-Mu yang akan mengalir juga kepada orang-orang lain lewat diriku. Oleh Roh Kudus-Mu, pimpinlah orang-orang di mana  saja kepada diri-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 16:1-8), bacalah tulisan berjudul “PERUMPAMAAN TENTANG BENDAHARA YANG TIDAK JUJUR” (bacaan untuk tanggal 4-11-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 11-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2011. 

Cilandak, 28 September 2011 [Peringatan B. Inosensius dari Bertio, Imam Kapusin] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEMUA ORANG AKAN BERTEKUK LUTUT DI HADAPAN-KU

SEMUA ORANG AKAN BERTEKUK LUTUT DI HADAPAN-KU

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXI, Kamis 3-11-11) 

Sebab tidak ada seorang pun di antara kita yang hidup untuk dirinya sendiri, dan tidak ada seorang pun yang mati untuk dirinya sendiri. Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi, baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan. Sebab untuk itulah Kristus telah mati dan hidup kembali, supaya Ia menjadi Tuhan, baik atas orang-orang mati, maupun atas orang-orang hidup. Tetapi engkau, mengapa engkau menghakimi saudara seimanmu? Atau mengapa engkau menghina saudara seimanmu? Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Allah. Karena ada tertulis: “Demi Aku hidup,’ demikianlah firman Tuhan, ‘semua orang akan bertekuk lutut di hadapan-Ku dan semua orang akan memuliakan Allah’.” Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungjawaban tentang dirinya sendiri kepada Allah. (Rm 14:7-12)

Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1,4,13-14;  Bacaan Injil: Luk 15:1-10 

“Tidak ada seorang pun di antara kita yang hidup untuk dirinya sendiri, dan tidak ada seorang pun yang mati untuk dirinya sendiri” (Rm 14:7).

Santo Paulus telah mencium adanya perseteruan antara para anggota jemaat di Roma. Memang ada selisih pendapat antara mereka. Yang seorang menganggap hari tertentu lebih penting daripada hari yang lain, tetapi yang lain menganggap semua hari sama saja (menyangkut hari-hari yang dipandang suci atau hari-hari berpantang; lihat Rm 14:5-6). Sifat sesungguhnya dari masalah yang dihadapi memang kurang jelas karena demikian singkatnya disinggung dalam surat Paulus ini. Akan tetapi yang harus kita soroti adalah prinsip-prinsip pengajaran Paulus. Paulus tidak mendukung salah satu pihak yang bersengketa melainkan mengedepankan pentingnya kejujuran dalam motif seseorang yang terlibat dalam konflik sedemikian. Semuanya adalah milik Tuhan dan semuanya akan dihakimi (lihat Rm 14:8-10,12). Di sini Paulus menggunakan dukungan dari Kitab Suci Perjanjian Lama, yaitu dengan mengkombinasikan Yes 49:18 dan 45:23 (lihat Rm 14:11).

Sebagian dari jemaat di Roma memandang diri mereka sebagai pribadi-pribadi yang lebih baik – lebih hebat – daripada para warga jemaat lainnya. Oleh karena itu Paulus bertanya kepada mereka: “Mengapa engkau menghakimi saudara seimanmu?” (Rm 14:10). Argumentasi Paulus adalah, bahwa semua orang Kristiani telah mempersembahkan hidup mereka kepada Tuhan, dengan demikian menjadi milik-Nya (lihat Rm 14:7-9). Kemudian dengan cukup keras Paulus mengatakan, “Kita semua harus menghadap takhta pengadilan Allah” (Rm 14:10). Karena Allah adalah sang Hakim, maka Paulus menekankan bahwa setiap anggota jemaat untuk berhenti menghakimi saudari dan saudaranya seiman! Sang Rasul menulis: “Tetapi engkau, mengapa engkau menghakimi saudara seimanmu? Atau mengapa engkau menghina saudara seimanmu? (Rm 14:10). Yang penting bagi kita adalah menilik dan menyelidiki relasi kita sendiri dengan Allah: “Setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungjawaban tentang dirinya sendiri kepada Allah” (Rm 14:12).

Kata-kata Paulus mendorong kita tidak hanya untuk berhenti menghakimi saudari dan saudara kita seiman dalam Kristus melainkan juga berpikir secara lain tentang diri kita sendiri: siapakah kita ini, dari mana kita berasal, dan ke mana kita sedang pergi? Potongan informasi yang paling hakiki di sini adalah, bahwa kita adalah milik ‘seorang’ Allah yang menyediakan diri-Nya bagi kita semua, yang adalah ‘seorang’ Bapa yang sangat mengasihi kita semua. Janganlah kita pernah lupa, bahwa kita adalah milik ‘seorang’ Allah yang ingin agar kita mengenal, mengasihi, dan melayani Dia, dan hidup bersama dengan-Nya sepanjang masa. Untuk tujuan itu, Allah mengundang kita untuk memandang diri kita sendiri bukan sebagai hamba-hamba milik seorang tuan, melainkan sebagai anak-anak dari seorang ayah yang sangat mengasihi anak-anaknya.

Kita semua mengetahui bagaimana anak-anak menyerupai para orangtua mereka dan memiliki karakteristik-karakteristik bawaan dari keluarga mereka selagi mereka bertumbuh menjadi dewasa. Hal ini juga dimaksudkan untuk terjadi dalam keluarga Allah. Sementara kita mempasrahkan diri dan hidup kita kepada otoritas Allah, maka imaji-Nya pun berkembang dalam diri kita, sehingga tidak kelirulah kalau orang memandang kita sebagai citra Allah. Hal ini bukanlah sekadar teori. Hal ini mempunyai konsekuensi-konsekuensi praktis atas kehidupan dan keputusan-keputusan kita sehari-hari. Bagaimana kita menggunakan waktu kita? Bagaimana kita menggunakan segala sumber daya yang telah dianugerahkan Allah kepada kita masing-masing? Bagaimana kita menjalin relasi dengan orang-orang lain dalam kehidupan kita? Dalam setiap area kehidupan, Allah mempunyai cara berpikir dan bertindak yang Ia ingin kita teladani.

Bagi umat Kristiani yang Katolik, bulan November secara tradisional merupakan masa untuk mengenang saudari dan saudara kita yang telah meninggal dunia, merenungkan makna kematian. Bukankah cocok pula bagi kita pada bulan ini untuk memeriksa dengan lebih teliti lagi relasi kita dengan Tuhan? Apakah kita menghayati hidup Kristiani kita seakan kita memang milik-Nya? Adakah area-area dalam kehidupan kita yang tidak kita letakkan di bawah otoritas-Nya? Tataplah Dia senantiasa! Bapa surgawi sungguh ingin menolong kita. Pada saat kita membutuhkan, Dia senantiasa berada di dekat kita untuk menolong kita.

DOA: Bapa surgawi, Khalik langit dan bumi, sumber segala kebaikan, kuduslah nama-Mu. Bapa, dengan rendah hati aku menghadap hadirat-Mu. Engkau adalah Tuhan, dan aku hanyalah manusia biasa. Tolonglah aku, khususnya di area-area kehidupanku di mana aku peling membutuhkan bimbingan-Mu yang penuh kasih. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 15:1-10), bacalah tulisan berjudul “PERUMPAMAAN TENTANG DOMBA DAN DIRHAM YANG HILANG” (bacaan untuk tanggal 3-11-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: PERMENUNGAN ALKITABIAH. 

Cilandak, 28 September 2011 [Peringatan B. Inosensius dari Bertio, Imam Kapusin] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SURAT KEPADA PARA PENGUNJUNG BLOG “SANG SABDA” DAN “PAX ET BONUM”

Saudari dan Saudara yang dikasihi Kristus,                                      

Pax et Bonum !!! 

Setelah lebih dari satu pekan lamanya tidak berjumpa, perkenankanlah saya sebagai pengasuh kedua situs/blog, yaitu SANG SABDA dan PAX ET BONUM ini untuk menyampaikan kepada Saudari-Saudara sekalian: SELAMAT BERJUMPA LAGI !!! 

Dengan hati penuh syukur kepada Allah Tritunggal Mahakudus, bersama ini saya menyampaikan terima kasih saya kepada Saudari dan Saudara sekalian yang telah begitu setia mengunjungi kedua situs/blog ini selama saya absen. 

Sekadar informasi, absen saya selama ini adalah karena saya harus mengikuti Kapitel Umum Ordo Franciscanus Saecularis (OFS) yang ke-13 [22-29 Oktober] yang diselenggarakan di Centro Pastoral Santa Fe (sebuah pusat pastoral yang dikelola para biarawan Yesuit) yang terletak sekian puluh kilometer dari kota Sao Paolo, Brazil. Tema utama dari Kapitel Umum OFS kali ini adalah Evangelizzati per evangelizzare (Inggris: Evangelized to evangelize). Kapitel umum ini dibuka pada hari Sabtu sore tanggal 22 Oktober dengan perayaan [konselebrasi] Ekaristi dengan menggunakan bacaan Kitab Suci untuk Misa Kudus HARI MINGGU BIASA XXX – HARI MINGGU EVANGELISASI. Selebran utama dan pemberi homili adalah Kardinal Uskup Agung San Paolo, D. Omilio Pedro Scherer. Saya sendiri baru menginjakkan kaki lagi di tanah air tercinta kemarin sore/malam tanggal 1 November 2011, yaitu HARI RAYA SEMUA ORANG KUDUS. 

Apabila ada dari antara anda sekalian yang berminat untuk mengetahui kegiatan-kegiatan yang ada selama kapitel umum itu berlangsung, maka anda dapat mengunjungi website www.ciofs.org yang berkenan dengan informasi tentang ORDO FRANCISCANUS SAECULARIS XIII CAPITOLO GENERALE – EVANGELIZZATI PER EVANGELIZZARE, Brasile, 22-29 Ottobre 2011. 

Mulai hari ini saya akan melanjutkan pelayanan pewartaan Injil Yesus Kristus di dua buah situs/blog ini. Khususnya mengenai pokok-pokok penting dari kapitel umum OFS tersebut, secara bertahap saya akan memuatnya di situs/blog PAX ET BONUM. 

Terima kasih untuk doa-doa Saudari dan Saudara sekalian! Berkat Allah Tritunggal Mahakudus senantiasa menyertai Saudari-Saudara sekalian, di mana pun anda berada! 

Jakarta, 2 November 2011 [PERINGATAN ARWAH SEMUA ORANG BERIMAN] 

Salam persaudaraan, 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERINGATAN ARWAH SEMUA ORANG BERIMAN (3)

PERINGATAN ARWAH SEMUA  ORANG BERIMAN (3)

(Bacaan Injil Misa Kudus, PERINGATAN ARWAH SEMUA ORANG BERIMAN, Rabu 2-11-11) 

Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan siapa saja yang datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang. Sebab Aku telah turun dari surga bukan untuk melakukan kehendak-Ku melainkan kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman. Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman. (Yoh 6:37-40)

Bacaan Pertama: 2Mak 12:43-46; Mazmur Tanggapan: Mzm 130:1-8; Bacaan Kedua: 1Kor 15:12-34 

Ada sebuah pertanyaan hakiki yang harus mampu kita jawab dengan penuh keyakinan: “Apakah kita sungguh percaya bahwa keselamatan datang dari Kristus?”  Iblis sangat ingin melihat bahwa kita menjalani seluruh kehidupan kita dengan pandangan ke bawah terus, dihinggapi rasa ketidakpastian akan kasih Allah, dipisahkan dari diri-Nya, tidak yakin akan tempat kita dalam hati-Nya. Namun, memang kehendak Bapalah bahwa setiap orang akan melihat dan percaya kepada Putera-Nya (lihat Yoh 6:40), sehingga dengan demikian kita tidak pernah perlu takut akan akhir zaman pada saat mana Yesus datang kembali ke dunia untuk menghakimi orang yang hidup dan mati.

Syukur kepada Allah, keselamatan kita itu tidak ditentukan oleh perasaan kita melainkan apa yang telah dilakukan Allah bagi kita melalui kematian dan kebangkitan Putera-Nya! Kita mungkin saja dapat menjadi kecil hati melihat diri kita bergumul melawan pola-pola perilaku penuh dosa yang kita pikir telah kita tinggalkan selamanya. Kita dapat saja marah kepada Allah untuk kematian pasangan hidup kita yang begitu mendadak. Kita mungkin saja merasa kering secara spiritual, secara rutin mempraktekkan iman kita tetapi tidak mengalami kehadiran Allah seperti yang pernah kita alami. Namun faktanya tetap, bahwa melalui Salib Kristus, semua dosa dan maut telah dikalahkan. Sekarang, setiap orang yang merangkul Yesus melalui hidup pertobatan, iman dan ketaatan dapat merasa yakin akan memperoleh kehidupan kekal. Itulah fondasi dari sukacita dan pengharapan kita.

Itulah sebabnya mengapa peringatan hari ini dapat menjadi suatu saat untuk bersukacita untuk kita semua. Yesus yang sama, yang telah menghancurkan kuasa dosa dan maut dengan salib-Nya sekarang ada bersama kita untuk memimpin kita semakin dekat lagi kepada Bapa surgawi. Dia memberikan kepada kita rahmat pertobatan dan pengampunan pada hari ini, sehingga dengan demikian kita dapat bersama Dia pada akhir zaman, bilamana seluruh bumi akan menghadapi penghakiman terakhir.

Allah memenuhi setiap saat dengan rahmat-Nya. Pertanyaannya adalah apakah kita mempunyai keinginan untuk menanggapi. Maukah kita memperkenankan Roh-Nya untuk memurnikan diri kita dari segala sesuatu yang tidak dapat berdiri tegak di dalam terang kekudusan-Nya? Maukah kita memperkenankan baptisan kita ke dalam Kristus menjadi  semakin berakar dalam diri kita pada hari ini (Rm 6:3-11)? Salib Yesus adalah penghakiman Allah atas setiap motif dalam hati manusia yang tidak murni, mementingkan diri sendiri, dan angkuh. Oleh karena itu, marilah kita memperkenankan salib-Nya terus-menerus menghakimi dosa kita, bahkan ketika salib-Nya itu menghibur kita dengan janji belas kasihan dan penyelamatan-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, pimpinlah diriku selalu. Tolonglah aku agar mempercayai-Mu lebih dan lebih lagi. Ingatkanlah aku, ya Tuhan, akan segala apa yang Engkau telah perbuat bagiku, sehingga dengan demikian iman-kepercayaanku kepada-Mu dapat menular juga kepada orang-orang di sekelilingku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Kedua hari ini (1Kor 15:12-34), bacalah tulisan berjudul “PERINGATAN ARWAH SEMUA ORANG BERIMAN (2)” (bacaan untuk tanggal 2-11-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: PERMENUNGAN ALKITABIAH. 

Cilandak,  27 September 2011 [Peringatan S. Vincentius de Paul, Imam & Pendiri Tarekat] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SURAT KEPADA PARA PENGUNJUNG SITUS/BLOG “SANG SABDA”

Saudari dan Saudara yang dikasihi Kristus,                                     

Pax et Bonum !!! 

Dengan hati penuh syukur kepada Allah Tritunggal Mahakudus, bersama ini saya menyampaikan terima kasih saya kepada Saudari dan Saudara sekalian yang telah begitu setia mengunjungi situs/blog SANG SABDA ini sejak dibentuknya pada tanggal 13 Januari 2010. 

Blog ini merupakan situs/blog pewartaan Injil sederhana yang diasuh oleh seorang awam yang memiliki hasrat mendalam untuk mengajak saudari dan saudaranya agar lebih mencintai sabda Allah yang ada dalam Kitab Suci; untuk lebih mengenal lebih dekat lagi Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita semua! 

Pada kesempatan ini saya memberitahukan kepada Saudari dan Saudara sekalian, bahwa perjalanan situs/blog ini sampai tahun keduanya ini bukanlah tanpa mengalami gangguan. Pada hari kedua saja sudah datang sebuah komentar yang menantang dan terasa dimaksudkan untuk memicu suatu perdebatan. Gangguan ini terus berdatangan – walaupun tidak banyak sekali – yang berasal dari berbagai pihak, termasuk dari saudari-saudara yang Kristen fundamentalis. Karena situs/blog ini bukanlah dimaksudkan untuk karya “apologetika”, maka biasanya “komentar-komentar dan/atau kritik-kritik yang negatif” sedemikian tidak saya layani (kritik-kritik positif selalu dilayani). Saya mohon maaf kepada para pengirim – siapa pun anda –, karena anda memang salah alamat. 

Sebagaimana Saudari dan Saudara melihat sendiri, jumlah pengunjung sampai dengan hari ini ketika saya menulis surat ini sudah melampaui angka 100.000 (100.277). Untuk itu saya menghaturkan banyak terima kasih kepada Saudari-Saudara sekalian, teristimewa untuk doa-doa anda. Saya berterima kasih penuh syukur kepada Allah yang Mahakuasa, Khalik langit dan bumi, Sumber segala kebaikan dan satu-satunya Kebaikan, apabila ada pengunjung situs/blog ini yang menjadi lebih dekat dan akrab dengan Yesus Kristus, SANG SABDA. 

Boleh Saudari-Saudari ketahui, disamping anda sekalian sebagai -pengunjung-pengunjung situs/blog SANG SABDA ini, saya juga secara rutin mengirim e-mails kepada lebih dari 300 pribadi yang berisikan bacaan-bacaan harian yang terdapat dalam situs/blog SANG SABDA. Biasanya ada beberapa (kurang dari 10) yang ditolak karena “overquota”. 

Ada satu ayat Kitab Suci yang pada kesempatan ini saya ajak Saudari-Saudara sekalian untuk merenungkannya, yaitu yang diambil dari Surat Santo Paulus kepada jemaat di Roma: “Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesengsaraan, dan bertekunlah dalam doa” (Rm 12:12). 

Berkat Allah Tritunggal Mahakudus senantiasa menyertai Saudari-Saudara sekalian, di mana pun anda berada! 

Jakarta, 19 Oktober 2011 

Salam persaudaraan, 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HARI RAYA SEMUA ORANG KUDUS (3)

HARI RAYA SEMUA ORANG KUDUS (3)

(Bacaan Pertama Misa Kudus, HARI RAYA SEMUA ORANG KUDUS, Selasa 1-11-11) 

Lalu aku melihat seorang malaikat lain muncul dari tempat matahari terbit. Ia membawa meterai Allah yang hidup; dan ia berseru dengan suara nyaring kepada keempat malaikat yang ditugaskan untuk merusakkan bumi dan laut, “Janganlah merusak bumi atau laut atau pohon-pohon sebelum kami memeteraikan hamba-hamba Allah kami pada dahi mereka!”

Aku mendengar jumlah mereka yang dimeteraikan itu: Seratus empat puluh empat ribu yang telah dimeteraikan dari semua suku keturunan Israel.

Setelah itu aku melihat: Sesungguhnya, suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat dihitung jumlahnya, dari segala bangsa dan suku dan umat dan bahasa, berdiri di hadapan Anak Domba, memakai jubah putih dan memegang daun-daun palem di tangan mereka. Dengan suara nyaring mereka berseru, “Keselamatan ada pada Allah kami yang duduk di atas takhta dan bagi Anak Domba!” Semua malaikat berdiri mengelilingi takhta dan tua-tua dan keempat makhluk itu; mereka sujud di hadapan takhta itu dan menyembah Allah, sambil berkata, “Amin! Puji-pujian dan kemuliaan, dan hikmat dan syukur, dan hormat dan kekuasaan dan kekuatan bagi Allah kita sampai selama-lamanya! Amin!” Lalu salah seorang dari antara tua-tua itu berkata kepadaku, “Siapakah mereka yang memakai jubah putih itu dan dari manakah mereka datang?” Aku berkata kepadanya, “Tuanku, Tuhan mengetahuinya.” Lalu ia berkata kepadaku, “Mereka ini orang-orang yang keluar dari kesusahan yang besar; dan mereka telah mencuci jubah mereka dan membuatnya putih di dalam darah Anak Domba. (Why 7:2-4,9-14)

Mazmur Tanggapan: Mzm 24:1-6; Bacaan Kedua: 1Yoh 3:1-3; Bacaan Injil: Mat 5:1-12a. 

Pada hari ini kita merayakan semua saudari dan saudara kita yang telah berada di surga dan sekarang berdiri di hadapan takhta Allah. Banyak dari cerita kehidupan mereka telah menyentuh hati sanubari kita dan terus saja menggerakkan hati kita itu. Akan tetapi, lebih banyak lagi orang-orang kudus yang hanya diketahui dan dikenal oleh Allah, karena mereka tidak pernah mengalami proses beatifikasi/kanonisasi secara resmi oleh hierarkhi Gereja. Namun demikian, betapa pun terkenal atau tersembunyinya mereka, orang-orang kudus itu memberikan pelayanan yang tak ternilai harganya selagi kita menjalani kehidupan di dunia ini – suatu pelayanan yang digambarkan dengan lebih lengkap dan jelas dalam ‘Surat kepada Orang Ibrani’. 

Yohanes penulis kitab Wahyu menceritakan visinya tentang suatu “kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat dihitung jumlahnya”, berkumpul di hadapan Anak Domba (Why 7:9). Penulis ‘Surat kepada Orang Ibrani’ menceritakan kepada kita bahwa “orang banyak” ini juga berperan sebagai saksi-saksi bagaikan awan yang mengelilingi kita (Ibr 12:1). 

Saudari dan Saudaraku yang dikasihi Kristus. Ingatkah anda akan apa yang ditulis oleh Santo Paulus kepada Timotius: “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman” (2Tim 4:7)? Nah, sekarang bayangkanlah diri anda sedang berada dalam stadion olahraga yang besar dalam rangka mengikuti pertandingan atletik lari-cepat untuk sebuah jarak tertentu. Bayangkan pula bahwa semua orang kudus duduk menonton dan menyemangati anda. Bayangkanlah pula bahwa di garis akhir Allah sendiri duduk di atas takhta, menikmati penyembahan yang dilakukan para kudus dan bergabung dengan dengan mereka memberikan kata-kata pengharapan yang menyemangati anda. Dengan begitu banyak penggemar (fans) dan begitu banyak kuat-kuasa spiritual yang mendukung anda, bagaimana anda dapat kalah dalam perlombaan lari-cepat itu? 

Setiap hari, para kudus mengelilingi kita, mendorong dan menyemangati kita dalam pertandingan iman. Santo Paulus menulis, “Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal” (1Tim 6:12). Para kudus memang senantiasa berada di pihak kita, menunjukkan kepada kita apa jadinya kelak, apabila kita – seperti mereka – mewarisi janji Allah akan kehidupan kekal. Setiap hari para kudus mengingatkan kita bahwa kita pun sungguh dapat menerima segalanya yang telah mereka terima dari Allah. Tindakan yang diperlukan dari pihak kita hanyalah memfokuskan pandangan kita pada Yesus, sebagaimana yang telah mereka lakukan! 

Selagi kita berjalan di atas muka bumi ini, masing-masing kita dapat mengalami sekilas cerminan dari kemuliaan penuh yang Yesus ingin berikan kepada kita. Setiap hari kita dapat membuat sekilas cerminan tersebut menjadi sedikit lebih jelas, sampai akhirnya kita melewati garis akhir (finish line). Dengan rahmat Allah dan atas dorongan para kudus, kita pun dapat mengenal dan mengalami kemulian dan kasih yang dialami oleh para kudus. 

DOA: Tuhan Yesus, pada hari ini kami ingin bergabung dengan para kudus memproklamasikan bahwa keselamatan sejati adalah milik-Mu dan kami bersukacita bahwa Engkau telah memberikan keselamatan ini kepada kami, murid-murid-Mu. Datanglah, ya Tuhan Yesus, dan dirikanlah takhta-Mu dalam hati kami. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:1-12a), bacalah tulisan berjudul “HARI RAYA SEMUA ORANG KUDUS” (bacaan untuk tanggal 1-11-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: PERMENUNGAN ALKITABIAH. 

Cilandak, 27 September 2011 [Peringatan S. Vincentius de Paul, Imam pendiri
Tarekat]
 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

ALLAH TIDAK MENYESALI KARUNIA-KARUNIA DAN PANGGILAN-NYA

ALLAH TIDAK MENYESALI KARUNIA-KARUNIA DAN PANGGILAN-NYA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXI, Senin 31-10-11) 

Sebab Allah tidak menyesali karunia-karunia dan panggilan-Nya. Sebab sama seperti kamu dahulu tidak taat kepada Allah, tetapi sekarang beroleh belas kasihan oleh karena ketidaktaatan mereka, demikian juga mereka sekarang tidak taat, supaya oleh belas kasihan yang telah kamu peroleh, mereka juga akan beroleh belas kasihan. Sebab Allah telah mengurung semua orang dalam ketidaktaatan, supaya Ia dapat menunjukkan belas kasihan-Nya atas mereka semua.

O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya! Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya? Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya, sehingga Ia harus menggantikannya? Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! Amin. (Rm 11:29-36)

Mazmur Tanggapan: Mzm 69:30-31,33-34,36-37; Bacaan Injil: Luk 14:12-14 

Mendekati kesimpulan dari argumentasinya berkaitan dengan masalah ketidakpercayaan Israel, akhirnya Paulus mengungkapkan suatu wawasan yang bersifat klimaks dan meringkasnya ke dalam misteri tujuan penyelamatan Allah yang indah, suatu wawasan istimewa yang ditujukan untuk menyebabkan para pembaca suratnya bergabung dengan dirinya dalam pengharapan akan penyelamatan Allah yang bersifat universal. Peranan unik yang dimainkan oleh Israel di dalam rencana penyelamatan Allah membuat pengharapan bahwa seluruh Israel akan diselamatkan menjadi semakin pasti bagi para pembaca suratnya.

Paulus menginginkan agar jemaat di Roma dan para pembaca suratnya di segala zaman untuk menyadari dan menghargai kenyataan, bahwa dari sudut tujuan penyelamatan Allah, ketidakpercayaan Israel sangat bermanfaat untuk penyebarluasan kepercayaan dalam Injil, teristimewa kepada orang-orang non-Yahudi. Namun, sehubungan dengan pemilihan Allah sebelumnya, bangsa Israel tetap menjadi “kekasih” Allah karena secara jasmani mereka tetap merupakan keturunan para Bapak bangsa. Karunia-karunia yang telah dianugerahkan atas bangsa Israel (lihat Rm 9:4-5) dan pilihan yang dijatuhkan Allah atas bangsa itu melalui nenek moyang mereka, para Bapak bangsa (lihat Rm 9:6-13) bersifat permanen, jadi tidak bisa diubah (Inggris: irrevocable), dengan demikian tetap menjadi fondasi kokoh dari pengharapan bagi Israel (Rm 11:29).

Belas kasihan yang telah diberikan oleh Allah kepada orang-orang non-Yahudi menstimulir pengharapan akan datangnya belas kasihan Allah bagi bangsa Israel. Maksudnya, Allah telah memberikan belas kasihan-Nya kepada orang-orang Kristiani non-Yahudi justru karena ketidakpercayaan orang-orang Yahudi. Pada akhirnya Allah akan menunjukkan belas kasihan-Nya juga atas bangsa Yahudi seperti yang telah diwujudkan-Nya atas orang-orang Kristiani non-Yahudi itu. Hal ini menggambarkan mengapa orang-orang Kristiani tidak boleh menggantungkan diri pada pengharapan sempit dan terbatas yang ditopang hanya oleh hikmat-manusiawi mereka sendiri, melainkan harus memperluas jangkauan tujuan pengharapan di masa depan yang menyangkut pengharapan mereka untuk merangkul belas kasihan Allah dan penyelamatan-Nya bagi semua orang – baik orang-orang non-Yahudi maupun orang-orang Yahudi.

Paulus menulis, “… sama seperti kamu dahulu tidak taat kepada Allah, tetapi sekarang beroleh belas kasihan oleh karena ketidaktaatan mereka, demikian juga mereka sekarang tidak taat, supaya oleh belas kasihan yang telah kamu peroleh, mereka juga akan beroleh belas kasihan” (Rm 11:30-31). Karena peranan penyelamatan-historis dari orang-orang non-Yahudi dan Israel saling dikaitkan satu sama lain secara “rumit” oleh Allah, maka pantaslah bagi kita semua untuk meyakini bahwa sebagaimana belas kasihan Allah telah mulai mengatasi ketidaktaatan/ ketidakpercayaan orang-orang non-Yahudi (seperti dengan mudah dapat dibenarkan oleh jemaat di Roma atau para pembaca suratnya pada umumnya dengan memandang diri mereka sendiri), maka sekarang pada masa yang terbuka bagi masa depan eskatologis Allah yang telah dimulai, belas kasihan Allah itu tentunya akan mengatasi ketidaktaatan/ketidakpercayaan Israel.

Sebelum menyalin sebuah madah lagi (Rm 11:33-36) dalam suratnya, Paulus telah membuat orang-orang Kristiani yang membaca suratnya sadar bahwa karena berdasarkan belas kasihan Allah yang bebas dan universal, maka pengharapan Kristiani yang otentik dapat dan secara radikal harus tetap bagi masa depan Allah – bagi masa depan manifestasi belas kasih dan penyelamatan-Nya bagi semua orang, termasuk seluruh Israel. Beberapa kali Paulus mengungkapkan belas kasihan dalam rencana Allah bagi keselamatan universal (lihat Rm 11:30, 31). Satu lagi sebagai penutup bagian ini: “Sebab Allah telah mengurung semua orang dalam ketidaktaatan, supaya Ia dapat menunjukkan belas kasihan-Nya atas mereka semua” (Rm 11:32). 

Paulus menutup diskusinya dengan sebuah madah pujian liturgis (Rm 11:33-36) seperti yang telah dilakukannya sebelumnya (lihat Rm 9:5). Frase pembukaan madah itu menggemakan kualitas yang indah dari Kitab Ayub yang menyampaikan pesan betapa kecilnya manusia di hadapan keagungan Allah. Rekonsiliasi Allah atas orang-orang Yahudi dan non-Yahudi dalam kematian dan kebangkitan Yesus sungguh bertentangan dengan segala logika manusia. Paulus percaya bahwa tidak seorang pun harus terkejut oleh pilihan apa yang dilakukan oleh Allah. Ia memetik dari Yes 40:13 dengan beberapa bagian dari ayat-ayat dari Ay 35:7 dan 41:11. Allah yang telah menjadi begitu terlibat dalam sejarah manusia berdiri di awal dan di akhir segala ciptaan dan gerakannya.

Ayat-ayat dalam madah ini mempunyai kualitas yang bersifat magnetis, yang hanya sebagian saja dapat dideskripsikan dalam gambaran-gambaran. Ayat demi ayat menarik para pembaca dari dunia yang dapat diprediksi ke dalam dunia yang tanpa akhir. Dalam visi mendalam tentang dunia seperti itu, kita mengalami suatu rasa keutuhan bersama dengan segalanya yang ada karena kita tertangkap dalam persatuan dengan Allah yang adalah sang Pencipta dan Tuhan segala sesuatu yang ada.

Lewat madah ini, Paulus:

(1) mengundang orang-orang Kristiani untuk berdiri penuh rasa takjub akan rencana Allah yang indah untuk keselamatan universal.

(2) mengingatkan para pembaca suratnya, bahwa tidak ada seorang pun yang dapat memahami sepenuhnya hikmat yang indah dari rencana Allah bagi keselamatan semua orang.

(3) mengajak orang-orang Kristiani untuk memuji-muji Allah pengharapan yang tanpa batas.

DOA: Allah, Bapa kami yang ada di surga. Kuduslah nama-Mu, ya Khalik langit dan bumi! Engkau adalah Allah mahapencipta, dan jalan-jalan-Mu bukanlah jalan-jalan kami. Rencana-Mu tetap tersembunyi bagi kami. Kami menaruh kepercayaan sepenuhnya pada kebaikan-Mu dan kasih-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 14:12-14), bacalah tulisan yang berjudul “SIAPA YANG HARUS DIUNDANG?” (bacaan untuk tanggal 31-10-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 11-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2011. 

Cilandak, 18 September 2011 [HARI MINGGU BIASA XXV] 

Sdr.F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 132 other followers