SEORANG PENOLONG YANG LAIN

SEORANG PENOLONG YANG LAIN

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PASKAH VI [Tahun A], 29-5-11) 

“Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti perintah-perintah-Ku. Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu.

Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu. Sesaat lagi dunia tidak akan melihat Aku lagi, tetapi kamu akan melihat Aku, sebab Aku hidup dan kamu pun akan hidup. Pada waktu itulah kamu akan tahu bahwa Aku di dalam Bapa-Ku dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu.

Siapa saja yang memegang perintah-Ku dan melakukan-Nya, dialah yang mengasihi Aku. Siapa saja yang mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Aku pun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya.” (Yoh 14:15-21)

Bacaan Pertama: Kis 8:5-8,14-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 66:1-7,16-20; Bacaan Kedua: 1Ptr 3:15-18 

“Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain” (Yoh 14:16). 

Pada bacaan Injil hari Minggu yang lalu (Hari Minggu Paskah V-Tahun A; Yoh 14:1-12), Yesus mengatakan kepada para murid-Nya, bahwa Dia akan pergi dan mati guna mempersiapkan tempat tinggal bagi kita para murid-Nya, bahwa Dia juga akan membentuk suatu persatuan kehidupan yang terdalam antara Allah dan kita. Namun persatuan ini sudah dimulai di sini di muka bumi ini, teristimewa karena perpisahan-Nya dengan kita, Tuhan Yesus akan mengutus Roh Kudus kepada kita. Roh Kudus ini dinamakan Penolong (Yunani: Paracletos). Sampai saat itu Yesuslah yang menjadi Paracletos bagi para murid, namun karena Dia harus pergi dan mati, maka Dia akan minta kepada Bapa-Nya untuk mengirim ‘seorang’ Penolong yang lain (Yoh 14:14).  Roh Kuduslah yang akan menjadi Penolong yang lain itu. Apakah kita mohon pertolongan kepada-Nya sebagai sang Penolong (Roh Kudus)? Barangkali Dia akan berkata kepada kita: “Engkau menamakan aku Penolong, tetapi engkau tidak mohon pertolongan daripadaku. Jangan salahkan aku jikalau ada masalah.” 

Ingatlah, bahwa Roh Kudus akan senantiasa ada bersama kita. Dia adalah Roh Kebenaran yang akan memimpin kita ke dalam seluruh kebenaran (Yoh 16:13), seluruh kebenaran Injil. Kebenaran berarti kepenuhan penyelamatan, pribadi Kristus sendiri. Bagi Yohanes Penginjil, kebenaran adalah sabda Bapa. Hal ini terungkap dalam salah satu ayat doa Yesus untuk para murid-Nya: “Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu itulah kebenaran” (Yoh 17:17). Sabda yang didengar Kristus dari Bapa-Nya adalah kebenaran: “Sekarang kamu berusaha membunuh Aku, seorang yang mengatakan kebenaran kepadamu, yaitu kebenaran yang Kudengar dari Allah” (Yoh 8:40). Kristus sendiri mendeklarasikan kebenaran itu: “Karena Aku mengatakan kebenaran kepadamu, kamu tidak percaya kepada-Ku” (Yoh 8:45). Sebagai Putera Tunggal Bapa, Yesus Kristus  “penuh anugerah dan kebenaran” (Yoh 1:14). Dalam kenyataannya, Yesus Kristus sendiri adalah kebenaran (Yoh 14:6). Sebagai Sabda yang menjadi daging, maka sebenarnya Yesus Kristus adalah kepenuhan wahyu, dan Dialah yang menyatakan Allah Bapa kepada kita (Yoh 1:18). Yesus Kristus adalah “jalan dan kebenaran dan hidup” (Yoh 14:6). Ia adalah “jalan” karena dia – manusia  Yesus – sebagai “kebenaran” menyampaikan kepada kita – dalam diri-Nya – pernyataan Bapa (lihat Yoh 17:8,14,17), sehingga dengan cara ini mengkomunikasikan kehidupan ilahi kepada kita. 

Sekarang, Yesus sedang siap-siap untuk meninggalkan para murid-Nya, Roh Kudus akan memberi kesaksian tentang Kristus (Yoh 15:26), memimpin para murid kepada kebenaran secara keseluruhan (Yoh 16:13), dan mengingatkan mereka kembali akan segalanya yang telah dikatakan Yesus kepada mereka sehingga mereka dapat memahaminya (Yoh 14:26). Karena peran Roh Kudus adalah membuat orang memahami kebenaran Kristus dalam iman, maka Roh Kudus sendiri dinamakan kebenaran (1Yoh 5:6). 

Dunia tidak dapat menerima Dia karena dunia memang tidak menghendaki-Nya. Dunia hanya melihat hal-hal yang bersifat badaniah, bukan yang  bersifat rohaniah (spiritual). Namun demikian para murid “melihat” Dia dengan iman. Pada hari Pentakosta Dia akan turun dan berdiam secara permanen dalam diri para rasul. Kita – para murid Kristus – dapat mengenali-Nya karena Dia tetap berada bersama kita dan berdiam dalam diri kita (Yoh 14:1). Dia, dan Bapa, dan Putera akan datang dan diam dalam diri kita masing-masing (Yoh 14:23). Tidak seorang pun dapat menemukan Kristus yang berdiri sendiri dalam isolasi. Keseluruhan Tritunggal Mahakudus hidup dalam diri kita. 

Roh Kebenaran diberikan kepada kita oleh kemurahan hati Kristus dengan mana Dia mati bagi kita di atas kayu salib: kebenaran yang memerdekakan kita (Yoh 8:32)! Dengan demikian berarti bahwa kita juga harus bermurah hati dalam membuat beberapa pengorbanan dalam membuang apa saja yang tidak riil, dan bahwa kita taat dan melakukan perintah-perintah Allah (Yoh 14:21). Inilah yang dinamakan cintakasih yang sejati. 

Jadi, Yesus tidak akan meninggalkan para murid-Nya sebagai yatim-piatu, namun Ia akan datang kembali, tidak hanya selama kurun waktu Dia menampakkan diri-Nya kepada mereka dalam sejumlah peristiwa (misalnya di jalan ke Emaus [Luk 24:13-35]), melainkan  berdiamnya Dia dalam hati umat Kristiani sepanjang masa. Kita mengakui bahwa (1) Bapa, Putera dan Roh Kudus akan hidup dalam diri kita. Kita akan melihat bahwa Putera dan Bapa adalah satu, yang hidup dalam persatuan paling erat; (2) ada persatuan serupa antara Yesus dan para murid-Nya. Syaratnya hanyalah kita taat kepada perintah-perintah Kristus dan merangkul Dia dengan segenap hati kita. Persatuan mistis bukan sesuatu yang bersifat sentimental. Sebaliknya kepatuhan pada perintah-perintah Allah merupakan tanda dari kasih kepada Kristus dan berdiamnya Tritunggal Mahakudus dalam diri seseorang. 

DOA: Datanglah Roh Kudus, kobarkanlah hatiku supaya aku dapat mengasihi sesamaku seperti Yesus mengasihiku. Terangilah akal budiku agar aku dapat memahami apa yang diajarkan Yesus kepadaku. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan  Pertama hari ini (Kis 8:5-8,14-17), bacalah tulisan yang berjudul “PENTAKOSTA BAGI ORANG-ORANG SAMARIA”, tanggal yang sama dalam blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: PERMENUNGAN ALKITABIAH. 

Cilandak, 23 Mei 2011  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DUNIA TELAH LEBIH DAHULU MEMBENCI AKU DARIPADA KAMU

DUNIA TELAH LEBIH DAHULU MEMBENCI AKU DARIPADA KAMU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Paskah, Sabtu 28-5-11) 

“Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku daripada kamu. Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu. Ingatlah apa yang telah Kukatakan kepadamu: Seorang hamba tidaklah lebih tinggi daripada tuannya. Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu; jikalau mereka telah menuruti firman-Ku, mereka juga akan menuruti perkataanmu. Tetapi semuanya itu akan mereka lakukan terhadap kamu karena nama-Ku, sebab mereka tidak mengenal Dia yang telah mengutus Aku.” (Yoh 15:18-21)

Bacaan Pertama: Kis 16:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 100:1-3,5 

Cukup sering Yesus menyebut kata ‘dunia’: “Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku daripada kau”  (Yoh 15:18). Di sini Yesus tidak memaksudkan ‘dunia’ dalam artiannya yang konkret sebagai tempat tinggal manusia, melainkan sebagai kemanusiaan yang telah jatuh ke dalam dosa. Dalam tulisan-tulisan Yohanes, ‘dunia’ mewakilkan suatu sistem dari yang jahat, yang dikendalikan oleh kuasa-kuasa kegelapan. Setiap hal yang ada di dalam sistem itu bertentangan/berlawanan dengan pemerintahan Allah. Dengan tegas Yesus mengatakan kepada para murid-Nya: “Karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu” (Yoh 15:19). 

Yesus mengalami sendiri apa artinya kebencian itu. Oleh karena itu Dia wanti-wanti mengingatkan para murid-Nya: “Seorang hamba tidaklah lebih tinggi daripada tuannya. Jikalau mereka telah menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu” (Yoh 15:20). Nubuatan Yesus ini telah terbukti benar pada segala zaman melalui kisah hidup para kudus. 

Yohanes (Don) Bosco [1815-1888] adalah seorang imam praja anggota Ordo III sekular St. Fransiskus yang kemudian mendirikan Serikat Salesian (SDB). Ia dikenal di seluruh Italia untuk karya pelayanannya bagi anak-anak miskin dan yatim-piatu. Namun kebaikan dan kemurahan hatinya samasekali tidak membebaskan dirinya dari penganiayaan. Situasi politik Italia pada zaman Don Bosco sangatlah anti Katolik, dan imam ini seringkali difitnah oleh media surat kabar. Don Bosco juta selamat dari beberapa kali serangan fisik yang dilakukan oleh preman bayaran. Pada suatu hari dia ditembak oleh seorang pembunuh bayaran, namun selamat. Peluru yang ditembakkan nyaris mengenai dirinya, hanya membuat bolong jubah luar yang sedang dikenakannya. Ada catatan tentang orang kudus ini sebagai berikut: Don Bosco tidak pernah memperkenankan kemalangan merusak sukacitanya dalam melayani Kristus. 

Maximilian Kolbe [1894-1941] adalah seorang imam Fransiskan Konventual Polandia. Imam ini barangkali menghadapi salah satu bentuk kejahatan yang paling sistematik di abad ke-20: Naziisme dari Hitler. Dengan berani dia menolak paham Naziisme pada tahun-tahun menjelang pecahnya Perang Dunia II. Pada waktu pasukan Nazi Jerman berhasil menduduki Polandia, mereka pun menjebloskan Pater Kolbe ke kamp konsentrasi Auschwitz. Para saksi mata memberi kesaksian bahwa para penjaga kamp konsetrasi seringkali memperlakukan imam yang lemah fisik ini secara di luar perikemanusiaan, namun mereka tidak pernah dapat menghancurkan damai-sejahtera yang ada dalam batin Pater Kolbe, atau mencegah dia menolong para tahanan lainnya yang membutuhkan pertolongan. Kasihnya kepada Kristus begitu besar sehingga secara sukarela imam ini menggantikan seorang tahanan lain yang akan dihukum mati karena dia mempunyai keluarga. Para pejabat dan petugas Nazi kemudian menghukum mati orang Kristiani ‘kepala batu’ yang bernama Maximilian Kolbe ini, pada tanggal 14 Agustus 1941. 

Putera Allah datang ke dalam dunia tepatnya karena dunia merupakan sebuah tempat yang dipenuhi kegelapan. Ia datang untuk membebaskan semua orang yang berada dalam cengkeraman si Jahat dan tidak tahu sedikit pun tentang kasih Allah: “Mereka tidak mengenal Dia yang telah mengutus Aku” (Yoh 15:21). Ia memilih para pengikut-Nya dari dunia ini untuk menjadi terang dalam kegelapan. Dengan melakukan hal itu, Yesus mengatakan bahwa mereka akan mengalami penganiayaan; namun Ia juga menjamin bahwa mereka akan menyaksikan ‘kasih mengalahkan kebencian’, ‘kehidupan akan menang atas kematian’. 

DOA: Tuhan Yesus, dengan mencontoh pengorbanan diri-Mu, kami para murid-Mu, menjadikan diri kami suatu sakramen hidup dari ‘Tuhan Kehidupan’ yang sungguh bangkit dan telah mengalahkan kegelapan dunia. Terpujilah nama-Mu selalu! Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 16:1-10), silahkan membaca tulisan yang berjudul “PEWARTA KABAR BAIK YANG SEJATI SELALU DIPIMPIN ROH KUDUS”, tanggal 8 Mei 2010 dalam blog  SANG SABDA ini; kategori: 10-05 BACAAN HARIAN MEI 2010. 

Cilandak, 21 Mei 2011

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

RESOLUSI KONFLIK DALAM GEREJA AWAL – LANJUTAN

RESOLUSI KONFLIK DALAM GEREJA AWAL – LANJUTAN

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Paskah, Jumat 27-5-11) 

Kemudian rasul-rasul dan penatua-penatua beserta seluruh jemaat itu mengambil keputusan untuk memilih dari antara mereka beberapa orang yang akan diutus ke Antiokhia bersama-sama dengan Paulus dan Barnabas, yaitu Yudas yang disebut Barsabas dan Silas. Keduanya adalah orang terpandang di antara saudara-saudara seiman itu. Kepada mereka diserahkan surat yang bunyinya: “Salam dari rasul-rasul dan penatua-penatua, dari saudara-saudaramu kepada saudara-saudara di Antiokhia, Siria dan Kilikia yang berasal dari bangsa-bangsa lain. Kami telah mendengar bahwa ada beberapa orang di antara kami, yang tanpa mendapat pesan dari kami, telah menggelisahkan dan menggoyahkan hatimu dengan ajaran mereka. Sebab itu dengan bulat hati kami telah memutuskan untuk memilih dan mengutus beberapa orang kepada kamu bersama-sama dengan Barnabas dan Paulus yang kami kasihi, yaitu orang yang telah mempertaruhkan nyawanya karena nama Tuhan kita Yesus Kristus. Jadi, kami telah mengutus Yudas dan Silas yang secara lisan akan menyampaikan sendiri hal-hal ini kepada kamu. Sebab adalah keputusan Roh Kudus dan keputusan kami, supaya kepada kamu jangan ditanggungkan lebih banyak bebab daripada yang perlu ini: Kamu harus menjauhkan diri makanan yang dipersembahkan kepada berhala, dari darah, dari daging binatang yang mati dicekik dan dari percabulan. Jikalau kamu menjaga diri terhadap hal-hal ini, kamu berbuat baik. Sekianlah, selamat.”

Setelah berpamitan, Yudas dan Silas berangkat ke Antiokhia. Di situ mereka memanggil seluruh jemaat berkumpul, lalu menyerahkan surat itu kepada mereka. Setelah membaca surat itu, jemaat bersukacita karena isinya yang memberi penghiburan. (Kis 15:22-31)

Mazmur Tanggapan: Mzm 57:8-12; Bacaan Injil: Yoh 15:12-17 

Jikalau kita perhatikan baik-baik, “Kisah Para Rasul” memiliki segala unsur yang dimiliki sebuah novel modern: intrik, skandal, excitement, dll. “Kisah Para Rasul” bukanlah hanya sebuah catatan historis, melainkan juga kisah atau cerita mengenai orang-orang seperti kita sendiri yang memperkenankan Allah untuk bekerja dengan penuh kuat-kuasa melalui diri mereka. Dalam “Kisah Para Rasul” kita melihat kasih Allah bagi Gereja-Nya – suatu kasih yang sampai hari ini terus membawa anak-anak Allah secara aman ke dalam kebebasan Injili. 

Dalam perjalanan misioner mereka, Paulus dan Barnabas mulai mendapatkan orang-orang yang menerima menjadi murid Kristus. Ke mana saja mereka pergi, di tempat-tempat itu mereka mendirikan gereja. Kedua rasul ini menyemangati dan memperkuat murid-murid Kristus yang baru itu agar tetap setia kepada Yesus, walau di tengah-tengah kesulitan hidup sekali pun. Dengan penuh kegairahan, dari tempat yang satu ke tempat yang lain, mereka mewartakan KABAR BAIK Yesus Kristus, juga tentang segala mukjizat dan tanda heran yang dilakukan Allah di tengah-tengah orang-orang non-Yahudi (baca: kafir). Kasih mereka yang besar terlihat jelas di mata banyak orang. Namun demikian, pada masa itu mereka pun menghadapi berbagai kesulitan, baik di bidang legalitas (hukum), kekuasaan dan posisi. 

Penulis “Kisah Para Rasul” (Lukas) menceritakan tentang suatu kontroversi yang timbul ketika beberapa orang tertentu mulai mengajarkan bahwa sebelum seorang non-Yahudi dapat menjadi seorang Kristiani sejati, maka dia harus disunat terlebih dahulu dan juga mentaati Hukum Musa. Paulus dan Barnabas dengan lantang menyuarakan ketidaksetujuan mereka terhadap ajaran keliru ini. Mereka pergi ke Yerusalem di mana mereka berkumpul dalam sebuah pertemuan (konsili) para rasul dan penatua Gereja. Di situ para pemuka Gereja di Yerusalem itu menulis sepucuk surat yang menjelaskan kebenaran Injil dan kebebasan umat (yang berasal dari orang-orang non-Yahudi) dari legalisme Yahudi. Setelah membaca surat itu umat Kristiani non-Yahudi di Antiokhia bersukacita karena isi surat yang memberikan semangat. 

Seperti biasanya, pada hari ini Allah ingin membawa kita ke dalam kebebasan melalui Yesus. Ia tidak mengutus Sabda-Nya (Yesus) kepada kita untuk mengikat kita dengan segala macam peraturan dan hukum. Pada kesempatan ini marilah kita berdoa bagi semua pemimpin dan individu-individu dalam Gereja – yang tertahbis maupun awam kebanyakan – yang melakukan pelayanan pewartaan Injil kepada orang-orang lain. Kita mohon kepada Allah agar melindungi mereka terhadap berbagai godaan akan legalisme, dominansi dan cinta akan kekuasaan. Kita mohon juga agar Bapa surga menyegarkan orang-orang yang kita doakan itu dan memenuhi diri mereka dengan Roh Kudus-Nya, sehingga dengan demikian mereka dapat berjalan dengan sukacita sejati yang datang dari Tuhan sendiri dan mewartakan Kabar Baik Yesus Kristus dengan penuh semangat dan keberanian. 

DOA: Bapa surgawi, kami mempersembahkan kepada-Mu semua anak-Mu yang bekerja tanpa mengenal lelah mewartakan Injil Tuhan Yesus Kristus kepada orang-orang lain. Kami mohon, ya Bapa, agar Engkau melindungi mereka dari segala godaan. Berilah mereka penyegaran dalam kasih akan kehadiran-Mu, sehingga setiap orang yang mendengar pewartaan mereka akan memuliakan nama-Mu dengan penuh sukacita. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yohs 15:7-21), silahkan membaca tulisan yang berjudul “PERINTAH DARI SEORANG SAHABAT: SUPAYA KAMU SALING MENGASIHI, SEPERTI AKU TELAH MENGASIHIMU”, tanggal 7 Mei 2010 dalam blog SANG SABDA ini; kategori: 10-05 BACAAN HARIAN MEI 2010. 

Cilandak, 21 Mei 2011  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KASIH, KETAATAN DAN SUKACITA !!!

KASIH, KETAATAN DAN SUKACITA !!!

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Filipus Neri [1515-1595], Imam, Kamis 26-5-11) 

“Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu. Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya sukacitamu menjadi penuh.” (Yoh 15:9-11) 

Bacaan Pertama: Kis 15:7-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 96:1-3,10 

Kasih, Ketaatan dan Sukacita!!! Pertimbangkanlah konteks kata-kata Yesus yang ditujukan-Nya kepada para murid-Nya. Dia baru saja menyelesaikan perjamuan terakhir dengan orang-orang yang sangat dikasihi-Nya. Tidak lama lagi Dia akan menyelesaikan pekerjaan Bapa di atas bumi. Hati-Nya penuh, demikian juga hati para murid. Kata-kata Yesus ini dimaksudkan untuk memberikan dorongan dan menyemangati para murid dengan kehidupan dan pengharapan. 

Yesus baru saja mengajar dan menjelaskan “perumpamaan tentang pokok anggur yang benar”: Aku menginginkan kehidupan bagimu semua; inilah caranya untuk memperoleh kehidupan itu; peganglah kata-kata-Ku ini dan hiduplah seturut kata-kata yang kuucapkan itu. 

Sebenarnya Injil Yohanes menunjukkan kepada kita lebih daripada sekadar ‘Yesus historis’. Injil ini mengedepankan Allah-manusia yang dalam diri-Nya kita memiliki kehidupan. Kehidupan kekal tidak digambarkan sebagai suatu kejadian di masa depan, melainkan sebagai sebuah realitas yang kita cicipi, bahkan sekarang juga ketika kita percaya kepada Yesus dan hidup sesuai dengan kepercayaan itu. Kata-kata kasih, ketaatan dan sukacita memanggil kita kepada kehidupan tersebut dan memampukan kita untuk menghayatinya. Inilah pesan dari Santo Petrus: “Karena kamu telah menyucikan dirimu oleh ketaatan kepada kebenaran, sehingga kamu dapat mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas, hendaklah kamu bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hatimu” (1Ptr 1:22). 

Yesus berbicara kepada para murid-Nya tentang kasih dan mengkaitkan kasih itu dengan ketaatan. Yesus mengalami kasih Bapa-Nya secara kekal dan Dia mengasihi para murid-Nya dengan kasih yang sama. Yesus jelas dan singkat tentang bagaimana kita seharusnya mengasihi Dia dan Bapa-Nya, dan bagaimana kita seharusnya mengalami kasih-Nya: “Jikalau kamu menuruti perintah-Ku” (Yoh 15:10). Sementara kita taat kepada-Nya, kita akan tinggal dalam Dia dan kasih-Nya akan mengalir kepada orang-orang lain melalui kehidupan kita. Posisi Yohanes tegas dan tanpa keraguan sedikit pun mengenai hubungan antara kasih dan ketaatan. Buah ketaatan bagi kita adalah kasih dan kehidupan baru. 

Apa yang mencirikan kehidupan baru ini? Sukacita! Ini adalah buah Roh Kudus (lihat Gal 5:22), bukan hasil kerja daging, dan tidak dapat muncul dengan sendirinya. Selagi kita tinggal dalam Yesus melalui ketaatan, kita menjadi turut serta dalam sukacita ini. Sukacita ini mengisi diri kita dan mentransformasikan diri kita dan memberikan kita kesempatan untuk mencicipi kepenuhan hidup surgawi, bahkan sekarang juga. 

DOA: Tuhan Yesus, kami berterima kasih penuh syukur kepada-Mu karena Engkau telah mengurapi kami dengan minyak sukacita. Kami yakin sekali bahwa Engkau saja yang dapat memuaskan setiap kebutuhan kami. Sungguh penuh sukacita kami. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 15:7-21), silahkan membaca tulisan yang berjudul “RESOLUSI KONFLIK DALAM GEREJA AWAL”, tanggal 6 Mei 2010 dalam blog SANG SABDA ini; kategori: 10-05 BACAAN HARIAN MEI 2010. 

Cilandak, 20 Mei 2011 [Pesta/Peringatan Santo Bernadinus dari Siena, Imam Ordo I] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BAPA SURGAWI DIMULIAKAN JIKA KITA BERBUAH BANYAK

BAPA SURGAWI DIMULIAKAN JIKA KITA BERBUAH BANYAK

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Paskah, Rabu 25-5-11) 

“Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya. Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah. Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu. Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar. Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. Dalam hal inilah Bapa-Ku dimuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku.” (Yoh 15:1-8). 

Bacaan Pertama: Kis 15:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 122:1-5 

Dalam Perjanjian Lama, Israel seringkali diibaratkan sebagai pohon anggur. Allah menanam pohon anggur itu dan memeliharanya, namun pohon anggur itu menjadi jelek dan akhirnya diinjak-injak: “Aku telah membuat engkau tumbuh sebagai pokok anggur pilihan, sebagai benih yang sungguh murni. Betapa engkau berubah menjadi pohon berbau busuk, pohon anggur liar!” (Yer 2:21). Sebagai perbandingan, bacalah juga Mzm 80:8-15; Yes 5:1-7; Yeh 19:10-14. 

Yesus menyatakan diri-Nya bahwa Dialah “pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya” (Yoh 15:1). Dalam diri Yesus dan para pengikut-Nya, Bapa akan menemukan jenis buah anggur yang dihasrati-Nya. Tugas kita adalah untuk tetap terhubungkan dengan pokok anggur yang merupakan sumber makanan dari Kristus sendiri. Adalah tugas Bapa surgawi untuk memelihara pokok anggur agar dapat berbuah banyak. Pernyataan ini terdengar begitu eksplisit sehingga kita dapat luput melihat kebesaran dari tantangan dan janji yang diberikannya. 

Dalam mengikuti Kristus, kecenderungan kita adalah mengambil tindakan yang bersifat pre-emptive terhadap pekerjaan Allah dengan mengambil gunting besar pemotong tangkai anggur dan melakukan pengguntingan sendiri; dengan demikian kita menggantikan pekerjaan ilahi-Nya dengan sesuatu yang kita rancang berdasarkan pemikiran kita sendiri. Kita merancang proyek-proyek menolong diri-sendiri (self-help projects) yang cenderung memusatkan perhatian pada kekurangan-kekurangan dalam kehidupan pribadi yang memalukan kita (dilihat dari mata dunia). Jadi, kita tidak pernah sampai kepada perubahan hati yang lebih mendalam yang Allah inginkan bekerja dalam diri kita. Ini adalah justru perubahan-perubahan yang kita perlukan guna mengalami kehidupan baru; sebagai buah tindakan Allah dan kerja sama kita, tidak sekadar tindakan kita sendiri. 

Apabila Allah bekerja dalam kehidupan seseorang, maka orang tersebut bercahaya seperti sebuah bintang di tengah-tengah dunia yang menggelap ini. Dengan menggunakan kata-kata Paulus: “anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah orang yang jahat dan sesat ini, sehingga …… bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia” (Flp 2:15). Pada kenyataannya kita kadang-kadang dapat menghadapi berbagai pencobaan dan kesulitan hidup yang disebabkan oleh keterlekatan-keterlekatan pada hal-hal yang bukan berasal dari Allah; namun apabila semuanya itu diserahkan ke dalam tangan Allah, maka kelekatan-kelekatan ini dapat dipangkas sehingga kita dapat berbuah. Tidak ada upaya berdasarkan kekuatan sendiri, juga studi atau devosi yang dapat di bandingkan dengan sentuhan-pangkasan halus dari Allah sendiri. 

Jesus berjanji bahwa Bapa surgawi sendirilah yang akan memangkas setiap ranting pohon anggur yang tidak berbuah dan membersihkan setiap ranting yang berbuah, agar pohon anggur itu berbuah lebih banyak lagi. Apabila kita mengakui kebenaran ini, maka kita pun memiliki keyakinan yang luarbiasa besarnya. Siapa lagi yang lebih dapat diandalkan, lebih sabar, lebih mengasihi dan lebih memiliki hasrat akan pertumbuhan kita daripada Bapa kita sendiri yang begitu mengasihi kita, anak-anak-Nya? 

DOA: Bapa surgawi, pangkaslah dari diri kami carang-carang kelekatan duniawi kami dan kuatkanlah kami agar dapat menghasilkan panen berlimpah. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 15:1-8), silahkan membaca tulisan yang berjudul “YESUS POKOK DAN KITA CARANGNYA” tanggal 5 Mei 2010 dalam blog SANG SABDA ini; kategori: 10-05 BACAAN HARIAN MEI 2010. 

Cilandak, 20 Mei 2011 [Pesta/Peringatan Santo Bernadinus dari Siena, Imam Ordo I] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

UNTUK MASUK KE DALAM KERAJAAN ALLAH KITA HARUS MENGALAMI BANYAK SENGSARA

UNTUK MASUK KE DALAM KERAJAAN ALLAH KITA HARUS MENGALAMI BANYAK SENGSARA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Paskah, Selasa 24-5-11)

Keluarga Fransiskan: Pemberkatan Basilik S. Fransiskus di Assisi 

Tetapi datanglah orang-orang Yahudi dari Antiokhia dan Ikonium dan mereka mempengaruhi orang banyak itu sehingga berpihak kepada mereka. Lalu mereka melempari Paulus dengan batu dan menyeretnya ke luar kota, karena mereka menyangka bahwa ia telah mati. Akan tetapi ketika murid-murid itu berdiri mengelilingi dia, bangkitlah ia lalu masuk ke dalam kota. Keesokan harinya berangkatlah ia bersama-sama dengan Barnabas ke Derbe.

Paulus dan Barnabas memberitakan Injil di kota itu dan memperoleh banyak murid. Lalu kembalilah mereka ke Listra, Ikonium dan Antiokhia. Di tempat itu mereka menguatkan hati murid-murid itu dan menasihati mereka supaya bertekun di dalam iman, dan mengatakan bahwa untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara. Di tiap-tiap jemaat rasul-rasul itu menetapkan penatua-penatua bagi jemaat itu dan setelah berdoa dan berpuasa mereka menyerahkan penatua-penatua itu kepada Tuhan yang kepada-Nya mereka percaya. Mereka menjelajahi seluruh Pisidia dan tiba di Pamfilia. Di situ mereka memberitakan firman di Perga, lalu pergi ke Atalia. Dari situ berlayarlah mereka ke Antiokhia; di tempat itulah mereka dahulu diserahkan kepada anugerah Allah untuk memulai pekerjaan yang telah mereka selesaikan. Setibanya di situ mereka memanggil jemaat berkumpul, lalu mereka menceritakan segala sesuatu yang Allah lakukan dengan perantaraan mereka, dan bahwa Ia telah membuka pintu bagi bangsa-bangsa lain kepada iman. Di situ mereka lama tinggal bersama-sama dengan murid-murid itu. (Kis  14:19-28). 

Mazmur Tanggapan: Mzm 145:10-13,21; Bacaan Injil: Yoh 14:27-31a 

Sejak hari pertama pertobatannya dalam perjalanannya ke Damsyik sampai akhir hayatnya, Paulus banyak menanggung penderitaan dalam perjuangannya membangun Kerajaan Allah di atas muka bumi ini. Bagi Paulus yang mantan Farisi ini, salib sempat menjadi batu sandungan, namun sekarang dia mengabdikan dirinya untuk “menguatkan hati murid-murid itu dan menasihati mereka supaya bertekun di dalam iman, dan mengatakan bahwa untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara” (Kis 14:22). 

Kita membaca tentang perjalanan misioner Paulus yang pertama untuk mewartakan Injil di Antiokhia; sekali di sana dia diminta untuk meninggalkan tempat. Kita baca tentang dia yang pergi ke Ikonium di mana dia diperlakukan dengan buruk, lalu ke Listra di mana dia dilempari batu dan diseret ke luar kota. Akan tetapi, keesokan harinya dia pergi ke Derbe untuk mewartakan Kerajaan Allah. Suatu ketekunan tak tergoyahkan yang ada dalam diri seseorang yang banyak menderita dan lelah. Dari pencobaan yang satu ke pencobaan lain, Paulus terus saja memberi dorongan, menyemangati dan menghibur orang-orang lain. Tindakan-tindakan Paulus jelas merupakan suatu manifestasi realitas agung dan mendalam dari Tuhan yang ada dalam hatinya

Kegagalan mempunyai tendensi untuk membuat kebanyakan orang jatuh dalam kesedihan dan depresi. Akan tetapi, di tengah-tengah kegagalan Allah ingin mengingatkan kita bahwa salib sekali pun – yang semula kelihatan sebagai suatu tanda kegagalan – malah dapat menjadi instrumen kemenangan lebih besar yang pernah dikenal dunia. Sebagaimana yang telah dilakukan Paulus, kita juga dapat belajar bertumbuh ke dalam suatu relasi pribadi dengan Yesus melalui kesulitan-kesulitan dan pencobaan-pencobaan yang kita alami. 

Oleh karena itu janganlah kita menjadi down-hearted apabila kita mengalami kegagalan-kegagalan dalam pekerjaan kita bagi Allah. Setiap hari kita dapat mohon kepada Allah untuk membawa kita lebih dekat lagi kepada Kerajaan-Nya, untuk membuat kita lebih serupa lagi dengan Yesus. Allah selalu menyertai kita untuk menghibur kita dan memberikan kepada kita bela rasanya. Marilah kita berterima kasih penuh syukur kepada Allah untuk Santo Paulus; karena kata-kata yang diucapkan rasul ini 2.000 tahun lalu masih memberi kuasa dan kehidupan kepada kita pada hari ini. Marilah kita mohon kepada Tuhan untuk menolong kita berjalan di jalan-Nya, tetap tulus-jujur, dan tetap berani dalam menghadapi kesulitan-kesulitan hidup. 

DOA: Bapa surgawi, kadang-kadang aku merasa seperti yang kiranya telah dirasakan Paulus: dipukuli, disiksa, dilempari batu dan sangat lelah. Gunakanlah keadaan-keadaan dalam hidupku seperti ini untuk memuliakan nama-Mu yang kudus dan membawa Yesus kepada semua orang yang kujumpai. Biarlah aku menolong orang-orang lain agar supaya tak terkalahkan dalam pencobaan-pencobaan mereka. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 14:27-31a), silahkan membaca tulisan yang berjudul “MANUSIA HARUS TAHU BAHWA AKU MENGASIHI BAPA” tanggal 4 Mei 2010 dalam blog SANG SABDA ini; kategori: 10-05 BACAAN HARIAN MEI 2010. 

Cilandak, 18 Mei 2011 [Pesta/Peringatan Santo Feliks dari Cantalice] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SENANTIASA BERPEGANG TEGUH PADA PANGGILAN ALLAH

SENANTIASA BERPEGANG TEGUH PADA PANGGILAN ALLAH

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Paskah, Senin 23-5-11) 

Tetapi orang banyak di kota itu terpecah menjadi dua: Ada yang memihak kepada orang Yahudi, ada pula yang memihak kepada rasul-rasul itu. Lalu mulailah orang-orang bukan Yahudi dan orang-orang Yahudi bersama-sama dengan pemimpin-pemimpin mereka berusaha untuk menyiksa dan melempari mereka dengan batu. Mengetahui hal itu, menyingkirlah rasul-rasul itu ke kota-kota di Likaonia, yaitu Listra dan Derbe dan daerah sekitarnya. Di situ mereka memberitakan Injil.

Di Listra ada seorang laki-laki yang duduk saja, karena kakinya lemah dan lumpuh sejak lahir dan belum pernah dapat berjalan. Ia mendengarkan Paulus yang sedang berbicara. Paulus menatap dia dan melihat bahwa ia beriman dan dapat disembuhkan. Lalu kata Paulus dengan suara nyaring, “Berdirilah tegak!” Orang itu pun melonjak berdiri, lalu mulai berjalan kian ke mari. Ketika orang banyak melihat apa yang telah diperbuat Paulus, mereka itu berteriak dalam bahasa Likaonia, “Dewa-dewa telah turun ke tengah-tengah kita dalam rupa manusia.” Barnabas mereka sebut Zeus dan Paulus mereka sebut Hermes, karena dialah yang berbicara. Lalu datanglah imam dewa Zeus, yang kuilnya terletak di luar kota, membawa lembu-lembu jantan dan karangan-karangan bunga ke pintu gerbang kota untuk mempersembahkan kurban bersama-sama dengan orang banyak kepada rasul-rasul itu. Mendengar itu rasul-rasul itu, yaitu Barnabas dan Paulus, mengoyakkan pakaian mereka, lalu menerobos ke tengah-tengah orang banyak itu sambil berseru, “Hai kamu sekalian, mengapa kamu berbuat demikian? Kami ini manusia biasa sama seperti kamu. Kami ada di sini untuk memberitakan Injil kepada kamu, supaya kamu meninggalkan perbuatan sia-sia ini dan berbalik kepada Allah yang hidup, yang telah menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya. Pada zaman yang lampau Allah membiarkan semua bangsa menuruti jalannya masing-masing, namun Ia bukan tidak menyatakan diri-Nya dengan berbagai-bagai perbuatan baik, yaitu dengan menurunkan hujan dari langit dan dengan memberikan musim-musim subur bagi kamu. Ia memuaskan hatimu dengan makanan dan kegembiraan.” Walaupun rasul-rasul itu berkata demikian, mereka hampir-hampir tidak dapat mencegah orang banyak mempersembahkan kurban kepada mereka. (Kis  14:5-18).

Mazmur Tanggapan: Mzm 115:1-4,15-16; Bacaan Injil: Yoh 14:21-26 

Adalah satu hal yang baik bahwa entusiasme Paulus dan Barnabas untuk mewartakan Kabar Baik secara kokoh telah didasarkan pada Kristus sendiri, bukannya tergantung bagaimana pesan mereka itu diterima oleh orang banyak. Bayangkanlah bagaimana perubahan suasana hati yang akan mereka alami, seandainya mereka menaruh kepercayaan serta mengandalkan diri pada opini publik ketika mereka membawa Injil ke Listra (lihat Kis 14:6). Pujian kepada mereka disusul dengan cepat oleh sikap permusuhan yang dipenuhi dengan ide kekerasan. Perpecahan di antara orang banyak di Ikonium karena pewartaan dan berbagai mukjizat dan tanda heran yang mereka lakukan telah mengakibatkan timbulnya usaha untuk menyiksa dan melempari mereka dengan batu (lihat Kis 14:3-6). Dengan demikian kedua rasul itu harus menyingkir ke kota-kota di Likaonia, yaitu Listra dan Derbe dan daerah sekitarnya. Di situ mereka memberitakan Injil (lihat Kis 14:6-7). 

Di Listra inilah terjadi sebuah peristiwa yang menarik. Misi Paulus dan Barnabas adalah untuk mendesak orang banyak agar kembali kepada jalan Allah. Kedua rasul itu tidak pernah bermaksud untuk menarik perhatian orang banyak kepada diri mereka sendiri. Suatu sikap yang benar sebagai pewarta! Inilah yang terjadi, meskipun setelah Paulus memandang orang lumpuh yang mendengarkan khotbahnya itu sungguh memiliki iman untuk dapat disembuhkan. Kiranya cukup mengejutkan bagi Paulus dan Barnabas ketika orang banyak memandang kesembuhan orang lumpuh itu bukan sebagai tanda konfirmasi atas kuasa Allah, melainkan bukti bahwa mereka adalah dua sosok dewa yang menjelma menjadi manusia (lihat Kis 14:11-13). 

Kita, orang zaman modern ini, mungkin saja tertawa terpingkal-pingkal apabila kita menyaksikan bahwa  imam dewa Zeus pun sampai-sampai mengambil keputusan untuk mempersembahkan kurban persembahan kepada dua orang misionaris perdana ini. Akan tetapi bagi Paulus dan Barnabas hal itu samasekali bukanlah sesuatu yang lucu-menggelikan. Diidolakan (idola=berhala) sangat lah bertentangan dengan yang mereka cari dan cita-citakan. Ingatlah apa yang ditulis sang pemazmur: “Bukan kepada kami, ya TUHAN (YHWH), bukan kepada kami, tetapi kepada nama-Mulah beri kemuliaan, oleh karena kasih-Mu, oleh karena setia-Mu” (Mzm 115:1). Itulah kiranya juga yang menjadi pegangan kedua rasul Yesus Kristus itu. Tidak lama kemudian, suasana hati orang banyak memang menjadi berubah. Karena dihasut oleh orang-orang Yahudi dari Antiokhia dan Ikonium, maka orang banyak itu pun berpihak kepada para penghasut itu. Lalu mereka melempari Paulus dengan batu dan menyeretnya ke luar kota, karena mereka menyangka dia telah mati. Keesokan harinya Paulus dan Barnabas berangkat ke Derbe (lihat Kis 14:19). Semua itu terjadi hanya dalam satu hari. Pagi hari mereka menerima pujian, siang hari mereka menerima cacian dan siksaan! Bukankah Yesus, Tuhan dan Juruselamat kita, juga telah mengalami hal yang sama? Hari ini ‘mubarak’ (Minggu Palma), besok ‘salibkan Dia’ (Jumat Agung) [Ingat pembelaan Mr. Yap Thiam Hien pada perkara Dr. Soebandrio berkaitan dengan peristiwa Gestapu, di tahun 1966] 

Sebagai seorang Kristiani kita masing-masing tentunya juga mengalami naik-turunnya kehidupan, namun tidak sampai begitu ekstrim sebagaimana yang dialami oleh Paulus dan Barnabas. Dua rasul ini memberikan contoh bagus tentang kesetiaan secara ‘kepala-batu’ (keras kepala) terhadap panggilan mereka, yang menurut mata dunia mungkin saja dipandang sebagai suatu kebodohan. Patutlah kita catat bahwa tidak ada seorang pun dari kita yang dapat mengendalikan berbagai macam reaksi yang akan kita terima ketika kita memberi kesaksian tentang Tuhan. Ada yang akan mengasihi kita dan tidak sedikit pula yang akan membenci kita, dan tentunya ada juga yang akan mendewa-dewakan kita. Hal yang disebutkan terakhir ini penting dicamkan oleh setiap orang Kristiani yang melakukan pelayanan dalam bidang pewartaan, apakah imam, pendeta atau kaum awam. Ingatlah bahwa kita hanyalah seperti keledai yang ditunggangi Yesus ketika memasuki Yerusalem pada hari Minggu Palma dan mendengar orang banyak mengelu-elukan-Nya. Kalau kita “gila hormat” karena merasakan bahwa kitalah yang dielu-elukan dan tiba-tiba mengangkat kaki depan karena kegirangan, maka Yesus bisa-bisa menjadi terjatuh ke tanah. 

Sehubungan dengan naik-turunnya apa yang kita alami sebagai pelayan sabda-Nya, yang penting bagi kita adalah untuk senantiasa berpegang teguh pada panggilan Allah kepada kita. Percayalah, bahwa Allah akan dan dapat membereskan hal-hal lainnya. 

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku agar dapat selalu berada pada kaki-kaki-Mu dan secara kokoh-kuat berakar dalam diri-Mu. Kapan pun, ya Tuhan Yesus, semoga aku dapat menerima sabda kehidupan kekal dari-Mu dan menyampaikannya juga kepada orang-orang lain. Amin. 

Catatan: Bagi anda yang ingin mendalami bacaan Injil hari ini (Yoh 14:21-26), silahkan baca tulisan yang berjudul “ROH KUDUS AKAN DIUTUS OLEH BAPA DALAM NAMA YESUS” tanggal yang sama, di blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: PERMENUNGAN ALKITABIAH. 

Cilandak, 18 Mei 2011 [Pesta/Peringatan Santo Feliks dari Cantalice] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 122 other followers