KARENA KITA MENERIMA SEGALANYA YANG BAIK DARI ALLAH

KARENA KITA MENERIMA SEGALANYA YANG BAIK DARI ALLAH

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Adven, Jumat 2-12-11)

Keluarga Kapusin: Peringatan B. Maria Angela Astorch, Ordo II/Klaris Kap. 

Bukankah hanya sedikit waktu lagi, Libanon akan berubah menjadi kebun buah-buahan, dan kebun buah-buahan itu akan dianggap hutan? Pada waktu itu orang-orang tuli akan mendengar perkataan-perkataan sebuah kitab, dan lepas dari kekelaman dan kegelapan mata orang-orang buta akan melihat. Orang-orang yang sengsara akan tambah bersukaria di dalam TUHAN (YHWH), dan orang-orang miskin di antara manusia akan bersorak-sorak di dalam Yang Mahakudus, Allah Israel! Sebab orang yang gagah sombong akan berakhir dan orang pencemooh akan habis, dan semua orang yang berniat jahat akan dilenyapkan, yaitu mereka yang begitu saja menyatakan seseorang berdosa di dalam suatu perkara, dan yang memasang jerat terhadap orang yang menegor mereka di pintu gerbang, dan yang mendesak orang benar dengan alasan yang tidak-tidak. Sebab itu beginilah firman YHWH, Allah kaum keturunan Yakub, Dia yang telah membebaskan Abraham: “Mulai sekarang Yakub tidak lagi mendapat malu, dan mukanya tidak lagi pucat. Sebab pada waktu mereka, keturunan Yakub itu, melihat apa yang dibuat tangan-Ku di tengah-tengahnya, mereka akan menguduskan nama-Ku; mereka akan menguduskan Yang Kudus, Allah Yakub, dan mereka akan gentar kepada Allah Israel; orang-orang yang sesat pikiran akan mendapat pengertian, dan orang-orang yang bersungut-sungut akan menerima pengajaran.” (Yes 29:17-24)

Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1,4,13-14; Bacaan Injil: Mat 9:27-31 

“Orang-orang yang sengsara akan tambah bersukaria di dalam TUHAN (YHWH), dan orang-orang miskin di antara manusia akan bersorak-sorak di dalam Yang Mahakudus, Allah Israel!” (Yes 29:19).

Siapa yang dimaksudkan dengan orang-orang ini? Siapakah mereka sebenarnya? Apakah mereka segerombolan orang-orang pengecut, orang-orang lembek yang tidak mempunyai nyali untuk turut serta berpetualang dalam dunia yang keras dan penuh tipu-daya ini? Sama sekali bukan! Orang-orang yang dikatakan “lembek” ini adalah orang-orang yang mengakui ketergantungan mereka pada Allah dan tidak memperlakukan orang-orang lain secara angkuh-sombong. Mereka adalah pribadi-pribadi yang memiliki disposisi batin “kedinaan” / “kerendahan” di hadapan Allah. Seseorang yang sungguh rendah hati (dina) mengakui kenyataan bahwa dia menerima segalanya yang baik dari Allah.

Rendah atau dina di hadapan Allah samasekali tidak berarti “lembek”. Yesus adalah yang paling rendah hati di antara manusia, namun Ia juga memiliki karakter yang paling kuat di antara semua orang. Santo Paulus dengan baik menggambarkan hal itu seperti berikut: “Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku, ‘Yesus Kristus  adalah Tuhan’, bagi kemuliaan Allah, Bapa!” (Flp 2:511). Dengan demikian, barangsiapa merendahkan diri mereka dengan mengalami pencobaan-pencobaan di bawah tangan Allah dan bersekutu dengan Yesus yang tersalib, maka orang itu pada akhirnya akan ditinggikan dan ikut ambil bagian dalam kemuliaan Allah. Tindakan merendahkan diri kita sendiri dan mengalami pencobaan-pencobaan dengan cara begini membutuhkan kekuatan yang datang dari Allah sendiri, hal mana sangat bertentangan dengan kepengecutan atau kelembekan pribadi.

Namun demikian, apa artinya kerendahan-hati atau kedinaan tanpa disertai iman? Sebaliknya, apa artinya iman tanpa kerendahan-hati atau kedinaan? Kedua hal itu terkait satu sama lain dengan intimnya, karena keduanya adalah sikap-sikap keterbukaan kepada Allah dan penundukkan diri penuh keyakinan kepada rahmat-Nya. Orang yang angkuh tidak akan menunggu Allah untuk membangkitkannya. Mereka sepenuhnya menggantungkan diri pada kekuatan mereka sendiri, juga segala sumber-daya yang mereka miliki. Mereka berkata: “God only helps those people who help themselves!”, dan mereka tidak menyukai kata-kata indah dalam lagu “YOU RAISE ME UP” dari Josh Groban.

Bagaimana dengan orang-orang yang rendah-hati atau dina? Mereka memiliki kekuatan untuk menantikan tindakan Allah mendatangi mereka. Mereka menaruh kepercayaan pada Yesus seperti orang-orang buta berteriak memohon belas kasihan. Yesus bertanya kepada mereka, “Percayakah kamu bahwa Aku dapat melakukannya?” Mereka menjawab: “Ya Tuhan, kami percaya.” (lihat Mat 9:28; dari bacaan Injil hari ini), lalu mereka pun menjadi sembuh.

Pada masa Adven ini, ketika kita mendekati Yesus dalam doa, ingatlah SIAPA Dia sesungguhnya dan siapa kita di hadapan diri-Nya. Manakala peristiwa-peristiwa buruk menimpa diri kita pada saat-saat di mana kita tidak siap – ketika orang-orang yang kita kasihi membuat diri kita kecewa dan sedih, ketika kita digoda untuk terjebak dalam berbagai urusan dunia – marilah kita mengingat bahwa kita dikasihi oleh Allah dengan teramat sangat. Pada saat Yesus datang kepada orang-orang buta, maka kegelapan mereka dilenyapkan. Pada saat Ia masuk ke dalam hati kita, maka kegelapan hati kita pun akan hilang lenyap.

DOA: Bapa surgawi, Engkau telah memenuhi setiap kebutuhanku melalui Putera-Mu terkasih, Yesus Kristus! Aku membuka lebar-lebar pintu hatiku bagi kuasa rahmat-Mu. Kasih-Mu dan kerahiman-Mu adalah sukacita dan kekuatanku. Amin.

Catatan: Bagi anda yang ingin mendalami lagi Bacaan Injil hari ini (Mat 9:27-31),  bacalah  tulisan yang berjudul “KASIHANILAH KAMI, HAI ANAK DAUD” (bacaan tanggal 2-12-11) dalam situs/blog  PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori 11-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2011. 

Cilandak, 29 November 2011

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KEDATANGAN YESUS – SEBUAH PERMENUNGAN MASA ADVEN

KEDATANGAN YESUS – SEBUAH PERMENUNGAN MASA ADVEN 

Setiap kali kita merayakan Ekaristi, kita mengenangkan kedatangan Yesus untuk pertama kalinya ke tengah-tengah umat manusia sebagai seorang manusia, dan kita juga mempermaklumkan iman-kepercayaan kita akan kedatangan-Nya untuk kedua kalinya sebagai Raja dan Hakim. Akan tetapi, seorang Pujangga Gereja dan juga seorang mistikus yang terkenal, Santo Bernardus dari Clairvaux [+ 1090-1153], menyatakan ada “kedatangan ketiga” Yesus juga.

Bacaan Kedua dalam “Ibadat Bacaan” hari Rabu Pekan I Adven, merupakan kutipan dari sebuah khotbah Santo Bernardus berkaitan dengan topik “kedatangan ketiga” dari Yesus ini (The Word of God will come within us – THE DIVINE OFFICE – ADVENT, CHRISTMASTIDE & WEEKS 1-9 OF THE YEAR, hal. 61-62). Dalam teks khotbah itu, Santo Bernardus mengatakan, bahwa ada tiga kedatangan Tuhan. Kedatangan yang ketiga terjadi di antara kedatangan-Nya yang pertama dan kedatangan-Nya yang kedua. Kedatangan (ketiga) itu tak terlihat, sementara dua kedatangan-Nya yang lain terlihat. Dalam kedatangan-Nya pertama kali, Yesus terlihat di bumi; Dia hidup di tengah-tengah masyarakat manusia …… Dalam kedatangan-Nya untuk kedua kali, semua orang akan menyaksikan keselamatan dari Allah kita, dan mereka akan memandang Dia yang dahulu mereka bunuh. Kedatangan-Nya di tengah-tengah antara yang yang pertama dan terakhir merupakan suatu kedatangan yang tersembunyi. Hanya orang-orang terpilih saja yang dapat melihat Tuhan di dalam diri mereka sendiri, dan mereka diselamatkan.

Santo Bernardus juga mengajak kita untuk mendengarkan apa yang dikatakan Tuhan sendiri: “Siapa saja yang memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Siapa saja yang mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Aku pun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya” (lihat Yoh 14:21). Orang kudus ini juga menasihati kita  untuk menjaga sabda Allah dengan cara ini dan memperkenankan sabda itu masuk ke dalam diri kita dan menguasai hasrat-hasrat dan seluruh cara hidup kita. Apabila kita taat kepada sabda Allah dengan cara ini, maka kita pun akan dijaga oleh sabda Allah itu. Putera dan Bapa akan datang kepada kita. Karena kedatangan ketiga ini terjadi antara dua kedatangan yang lain, maka kedatangan ini bagaikan sebuah jalanan di atas mana kita berangkat untuk bepergian dari titik kedatangan-Nya yang pertama ke titik kedatangan-Nya kelak pada akhir zaman.

Masa Adven senantiasa merupakan masa di mana kita dapat merenungkan dan melihat bagaimana kedatangan-kedatangan Yesus itu dimaksudkan untuk mengubah kehidupan kita dan mengangkatnya kepada Allah di sini dan sekarang. Kita ingin mempertanyakan bagaimana persiapan kita untuk Natal nanti dapat menggerakkan kita melampaui sekadar kenangan penuh syukur akan kelahiran Yesus, namun juga kepada suatu transformasi penuh kuasa dari cara kita hidup setiap hari. Oleh karena itu, selagi kita berdoa pada masa Adven ini, kita dapat memohon agar Roh Kudus mengangkat kita kepada suatu pengalaman yang baru dan lebih mendalam akan Yesus – sang Putera Allah yang kekal, yang menjadi manusia agar dapat membawa kita semua ke hadapan hadirat-Nya selamanya.

Pada kesempatan ini saya akan menyoroti apa yang dikemukakan oleh Santo Bernardus tentang kedatangan Yesus secara tersembunyi seperti telah disebutkan di atas. Kedatangan ini dapat terjadi hari ini selagi kita melakukan perjalanan menuju ke masa depan guna menyongsong kedatangan Yesus dalam kemuliaan-Nya pada akhir zaman. Setiap hari, selagi kita mempersiapkan diri untuk berada bersama Yesus (dalam doa dll.), maka sebenarnya kita mempunyai sebuah peluang emas untuk menerima Dia ke dalam hati kita secara lebih penuh lagi.

Bagaimana seharusnya kita melakukan persiapan-persiapan itu? Berbagai tantangan yang kita hadapi pada hari ini serupa dengan tantangan-tantangan yang dihadapi oleh komunitas-komunitas Kristiani perdana. Sejak kenaikan Yesus Kristus ke surga, para pengikut-Nya telah menanti-nantikan kedatangan-Nya kembali dengan penuh ekspektasi. Sementara itu – karena kerja keras Santo Paulus dan para Rasul lainnya yang semuanya dipenuhi oleh Roh Kudus – komunitas- komunitas (baca: gereja-gereja) bertumbuh-kembang di seluruh Asia Kecil dan Eropa.

Akan tetapi, pada akhir abad pertama, sebagian besar dari murid-murid Yesus yang awal ini telah menghadap Bapa surgawi – hampir semua mati sebagai martir Kristus. Sepeninggal para murid Yesus yang awal ini, komunitas-komunitas Kristiani yang mereka dirikan/bentuk bertanya-tanya kapan sebenarnya kedatangan Yesus Kristus pada akhir zaman itu. Sebagai akibatnya, banyak anggota komunitas yang mulai dihinggapi keraguan dan putus-asa, apalagi pada masa itu mereka menghadapi pengejaran dan penganiayaan serta tantangan untuk hidup dalam sebuah dunia yang didominasi oleh penyembahan berhala, termasuk kekayaan materiil.
Di tengah-tengah situasi seperti ini, Yohanes – seorang penatua yang sedang dalam pengasingan – menulis kepada tujuh Gereja di Asia Kecil dengan pesan yang telah diberikan oleh Tuhan Yesus kepada dirinya. Walaupun surat-surat itu (Why 2:1- 3:22) sudah tua di mata kita yang hidup dalam abad ke-21 ini, surat-surat tersebut sungguh dapat menolong kita memahami bagaimana Yesus memandang setiap generasi umat-Nya. Secara bersama-sama, surat-surat itu secara sekilas lintas memberikan gambaran tentang perjuangan-perjuangan dan tantangan-tantangan yang kita hadapi pada hari ini sementara kita menantikan kedatangan Yesus untuk kedua kalinya. Melalui surat-surat itu, Allah ingin mendorong serta menyemangati kita agar tetap setia walaupun dalam masa-masa sulit dan membingungkan yang kita alami dalam kehidupan kita.

Bangunlah! Yohanes mengharapkan umat Kristiani di Asia Kecil menerima pesan-pesannya secara serius. Dilihat dari caranya, surat-surat ini berbeda dengan pesan-pesan kenabian (profetis) lainnya yang ada dalam Kitab Suci. Sementara berbagai nubuatan diberikan melalui pribadi-pribadi nabi seperti Yesaya atau Yeremia, maka surat-surat yang dimaksudkan di sini ditulis seakan keluar dari mulut Yesus sendiri. Yohanes tidak sekadar menggunakan gaya sastra yang khas, namun dia juga yakin bahwa kata-kata ini adalah sungguh-sungguh kata-kata Yesus sendiri untuk Gereja-Nya.

Setiap surat diawali dengan Yesus yang mengacu kepada diri-Nya sendiri dengan nama atau imaji yang berbeda. Kepada jemaat di Smirna, Dia adalah “Yang Awal dan Yang Akhir, yang telah mati dan hidup kembali” (Why 2:8). Kepada jemaat di Pergamus, Ia adalah “yang memakai pedang yang tajam dan bermata dua” (Why 2:12). Kepada jemaat di Laodikia, Dia adalah “Saksi yang setia dam benar. Sumber dari ciptaan Allah” (Why 3:14).

Kita dapat saja bertanya, apa maksudnya penggunaan nama-nama yang berbeda itu? Barangkali Allah ingin membangunkan umat beriman ini dengan memberikan kepada mereka suatu gambaran yang lebih lengkap tentang siapa Yesus sebenarnya. Misalnya, pada hari ini, kita hampir dapat mendengar Yesus berbicara kepada kita: “Bangkitlah dari hidupmu yang menjemukan itu. Aku memiliki mata yang sangat tajam, yang sanggup menembus hatimu dan melihat apa saja yang ada dalam pikiranmu, apa saja niat-niatmu! Aku adalah Dia yang membuka pintu surga yang tidak dapat ditutup oleh siapa pun juga. Akulah juga yang menutup pintu surga yang tidak dapat dibuka oleh siapa saja. Bangunlah umat-Ku! Sadarlah bahwa Akulah, Yesus, yang berbicara kepadamu!”

Marilah sekarang kita melihat beberapa pesan kepada jemaat-jemaat dimaksud, dan mencoba untuk memahami apakah pesan Tuhan kepada kita pada zaman sekarang ini.

Efesus. Seperti juga halnya dengan Laodikia, Efesus pun  telah dikunjungi oleh Paulus dalam perjalanan misionernya. Dalam banyak hal, jemaat di Efesus merupakan sebuah “gereja teladan”: Mereka telah sanggup  bertahan untuk beberapa dasawarsa lamanya dan tidak menjadi letih-lesu dalam menantikan kedatangan Yesus kembali. Yesus tidak akan pernah melupakan ketaatan dan kesetiaan mereka (lihat Why 2:2-3). Akan tetapi, Dia mencela jemaat di Efesus ini: “Engkau  telah meninggalkan kasihmu yang semula” (Why 2:4).

Mungkinkah Yesus mengucapkan kata-kata yang sama kepada kita pada hari ini? Bagi kita yang berstatus menikah tentunya masih mengingat seperti apa rasanya ketika kita jatuh cinta dengan calon-pasangan kita masing-masing, bagaimana segenap pikiran kita terasa bertumpu padanya! Demikian pula halnya dengan Yesus – sampai berapa pun tingkat kematangan iman kita – yang menginginkan agar diri-Nya menjadi cinta kita yang pertama.

Kita mengetahui bahwa Yesus adalah cinta kita yang pertama bilamana kita mendapatkan diri kita bertanya-tanya kepada diri sendiri, “Apakah yang Tuhan Yesus inginkan bagi diriku? Bagi keluargaku? Bagi pelayananku kepada Dia dan umat-Nya? Bagaimana aku dapat menyenangkan hati-Nya?” Jikalau Yesus sungguh adalah cinta kita yang pertama, maka banyak sekali aspek kehidupan kita yang ditransformir – termasuk pandangan kita tentang Gereja dan dunia.

Yesus memperingatkan jemaat di Efesus betapa dalamnya mereka telah jatuh, sehingga  harus bertobat dan kembali kepada jalan-Nya. “Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu, dan Aku akan mengambil kaki pelitamu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat” (Why 2:5). Hal ini menunjukkan betapa serius Yesus menilai situasi yang dihadapi jemaat Efesus: Ia mengatakan bahwa jemaat sedang menuju kehancuran karena kehilangan terang-Nya, namun belum terlambat bagi mereka – juga bagi setiap umat Kristiani lainnya, “Siapa yang menang, dia akan Kuberi makan dari pohon kehidupan yang ada di Taman Firdaus Allah” (Why 2:7).

Sardis dan Filadelfia. Setelah diporak-porandakan oleh gempa bumi yang dahsyat satu abad sebelumnya, Sardis menjadi sebuah kota pelabuhan terkenal yang berspesialisasi dalam industri kain. Pada permukaannya, gereja di sana menunjukkan iman yang hidup, namun Yesus dapat melihat bahwa di belakang yang kelihatan tersebut sebenarnya gereja di Sardis sedang menuju kematiannya. Barangkali umat Kristiani di Sardis begitu dipenuh entusiasme dalam mempraktekkan karunia-karunia spiritual yang dianugerahkan atas diri mereka, namun mereka memiliki sedikit sekali hasrat untuk taat kepada Injil. Barangkali juga mereka telah menjadi sedemikian sombong akan segala karya pelayanan mereka. Apapun kasusnya, hidup mereka tidaklah merupakan kesaksian dari kehadiran Kristus di tengah-tengah mereka. Itulah sebabnya mengapa Yesus berkata kepada mereka: “Aku tahu segala pekerjaanmu: Engkau dikatakan hidup, padahal engkau mati” (Why 3:1).

Apakah yang membuat sebuah komunitas gerejawi sungguh-sungguh hidup? Jawabnya: Kehadiran dan kuat-kuasa Roh Kudus! Kita hidup apabila kita dengan tulus hati mengakui Yesus sebagai Tuhan (Kyrios) atas segala ciptaan (lihat Flp 2:9-10), artinya memperkenankan martabat “ke-Tuhan-an-Nya” sungguh berdampak tidak saja pada doa-doa kita, melainkan setiap aspek dari kehidupan kita, relasi-relasi kita, hasrat-hasrat kita, pekerjaan kita, dan pelayanan kita. Kita dapat membayangkan Yesus berkata kepada kita, “Ingatlah bahwa kamu mempunyai Roh Allah! Berpegang teguhlah pada karya Roh dan dalamilah! Maka, kamu tidak perlu merasa takut mati atau takut akan kedatangan-Ku kembali kelak” (lihat Why 3:3).

Jemaat di Filadelfia adalah sebuah komunitas yang kecil dan lemah, yang sedang mengalami penganiayaan. Sangat mungkin bahwa umat Kristiani ex-Yahudi atau orang-orang Yahudi lokal berbicara buruk mengenai jemaat di Filadelfia ini  dan mengganggu mereka. Yesus melihat bahwa jemaat di Filadelfia ini hampir menyerah, oleh karena itu Yesus memberikan pesan penuh pengharapan kepada mereka: “Aku datang segera. Peganglah terus apa yang ada padamu, supaya tidak seorang pun mengambil mahkotamu” (Why 3:11).

“Aku datang segera!” Ini adalah kata-kata Yesus sendiri. Percayakah anda akan kata-kata Yesus ini? Apakah Yesus datang kembali pada hari ini atau seribu tahun lagi, kita perlu dipenuhi dengan pengharapan selagi kita menanggung berbagai pencobaan dan bertekun dalam ketaatan kepada-Nya. Janji akan kedatangan kembali Yesus harus memenuhi diri kita dengan keyakinan dan membuat kita merasa rindu akan kedatangan hari di mana kita akan bertemu dengan Dia. Hal tersebut harus menggerakkan kita untuk berdoa, “Datanglah, Tuhan Yesus!” (Why 20:20) setiap hari dengan penuh pengharapan.

Laodikia. Dari ketujuh gereja yang disebutkan, Laodikia menerima peringatan yang paling keras. Laodikia adalah pusat bisnis pembuatan pakaian dan juga perbankan yang kuat, dengan demikian merupakan tempat yang makmur. Di situ juga ada sebuah sekolah kedokteran yang berspesialisasi dalam bidang penyakit-penyakit mata. Namun Yesus memperingatkan perihal iman mereka yang suam-suam kuku: “Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku” (Why 3:16). Umat Kristiani di Laodikia yang pernah digembalai oleh Paulus dan para muridnya, sekarang sangat membutuhkan pertobatan lagi, suatu penyalaan kembali rahmat yang telah mereka terima satu generasi sebelumnya.

Kata-kata Yesus kepada jemaat di Laodikia mengungkapkan kepada kita bahwa setiap generasi umat Kristiani harus memiliki iman yang hidup. Namun demikian, walaupun para orangtua kita dapat mengajar kita (dan kita harus bersyukur untuk itu), kita masing-masing tetap harus sampai kepada pengalaman pribadi kita sendiri akan Yesus. Kita menjadi suam-suam kuku apabila kita tidak yakin mengapa Yesus mati, atau bilamana salib-Nya tidak mengubah hati kita secara teratur.

Akan tetapi, biar bagaimana pun Yesus adalah Yesus. Kepada komunitas yang suam-suam kuku inipun Ia masih memberikan  pengharapan: “Siapa yang Kukasihi, ia Kutegur dan Kuhajar; sebab itu, bersungguh-sungguhlah dan bertobatlah! Lihat, Aku berdiri di depan pintu dan mengetuk; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk menemui dia dan makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku” (Why 3:19-20). Tidak ada kata “terlambat” untuk bertobat! Yesus sedang mengetuk pintu hati kita di masa Adven ini, minta kepada kita agar diri-Nya diperkenankan masuk.

Sebuah masa pengharapan. Pribadi Yesus memang penuh tantangan! Akan tetapi, walaupun Ia memberi tantangan, Ia juga menawarkan pengharapan untuk hari ini dan janji-janji untuk masa depan. Apakah Saudari/Saudara seorang pendosa yang paling buruk, yang tersuci dari orang-orang kudus, atau berada dalam posisi di tengah-tengahnya, Yesus sedang memanggil anda agar menerima diri-Nya secara lebih penuh ke dalam hati anda pada masa Adven ini. Perkenankanlah Dia berbicara kepada anda melalui ketujuh surat ini. Mohonlah kepada-Nya untuk menyatakan diri-Nya kepada anda dan mengatakan kepada anda betapa Dia menginginkan diri anda bertahan dan mengikuti jejak-Nya dengan lebih setia. Kemudian, dengarkanlah baik-baik selagi Dia mengucapkan kata-kata janji-Nya kepada anda.

DOA: Tuhan Yesus, begitu banyak kata-kata-Mu yang Kausampaikan kepada ketujuh gereja ini yang juga berlaku untuk diriku. Begitu sering aku telah bertumbuh menjadi nyaman dan tidak menginginkan untuk terus bergerak maju bersama-Mu. Ampunilah aku, ya Yesus, untuk suam-suam kuku dalam hatiku. Pada masa Adven yang istimewa ini, aku bertobat untuk area-area dalam kehidupanku yang selama ini kusembunyikan dari pandangan-Mu. Aku menyesal sekali karena lebih mempercayai diriku sendiri daripada mempercayai kasih-Mu. Dengan ini aku memberikan izin kepada-Mu untuk memerintah atas diriku. Yesus, aku adalah milik-Mu sepenuhnya dan aku percaya dengan sepenuh hati bahwa Engkau akan menyembuhkan diriku dan membebas-merdekakan aku!. Terima kasih, ya Tuhanku dan Allahku. Amin.

Cilandak, 30 November 2011 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENJADI SAKSI-SAKSI HIDUP DARI KUASA DAN RAHMAT ALLAH

MENJADI SAKSI-SAKSI HIDUP DARI KUASA DAN RAHMAT ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan B. Dionisius dan Redemptus, Biarawan Martir Indonesia, Kamis 1-12-11) 

Pada waktu itu nyanyian ini akan dinyanyikan di tanah Yehuda: “Pada kita ada kota yang kuat, untuk keselamatan kita TUHAN (YHWH) telah memasang tembok dan benteng. Bukalah pintu-pintu gerbang, supaya masuk bangsa yang benar dan yang tetap setia! Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya. Percayalah kepada YHWH selama-lamanya, sebab YHWH ALLAH adalah gunung batu yang kekal. Sebab Ia sudah menundukkan penduduk tempat tinggi; kota yang berbenteng telah direndahkan-Nya, direndahkan-Nya sampai ke tanah dan dicampakkan-Nya sampai ke debu. Kaki orang-orang sengsara, telapak kaki orang-orang lemah akan menginjak-injaknya.” (Yes 26:1-6)

Mazmur Tanggapan: Mzm 118:1,8-9,19-21,25-27; Bacaan Injil: Mat 7:21,24-27 

Dalam visinya tentang zaman mesianis, Yesaya melihat sebuah kerajaan yang dihuni oleh “bangsa-bangsa yang benar, yang tetap setia pada iman” – orang-orang miskin dan membutuhkan – sementara yang angkuh dan ditinggikan direndahkan-Nya sampai ke tanah dan dicampakkan-Nya sampai ke debu (lihat Yes 26:2-6). Banyak sekali ayat-ayat dalam Kitab Suci yang berbicara mengenai kasih Allah terhadap orang-orang lemah dan rendah hati dan penghakiman-Nya atas orang-orang yang angkuh-sombong, seperti yang ditulis oleh sang pemazmur: “YHWH itu tinggi, namun Ia melihat orang yang hina, dan mengenal orang yang sombong dari jauh” (Mzm 138:6). Seperti yang dikatakan Maria dalam kidungnya: “Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa” (Luk 1:53). Juga seperti yang disabdakan-Nya sendiri: “Siapa saja yang meninggikan diri, ia akan direndahkan dan siapa saja yang merendahkan diri, ia akan ditinggikan” (Mat 23:12).

Allah lebih menyukai orang-orang yang rendah hati, bukannya karena mereka lebih baik, melainkan karena mereka lebih terbuka kepada-Nya. Disposisi hati mereka memperkenankan Allah bekerja dalam diri mereka sebagaimana Dia ingin bekerja dalam diri setiap orang – baik yang angkuh-sombong maupun yang rendah hati. Karena mereka mengetahui bahwa kasih Allah merupakan suatu anugerah yang diberikan secara bebas-gratis, maka orang-orang rendah hati ini tidak merasa terdorong untuk memperoleh kasih Allah melalui capaian-capaian besar berdasarkan upaya mereka sendiri. Sebaliknya, mereka sepenuhnya menggantungkan diri pada Allah untuk segala kebutuhan mereka (dan kebutuhan-kebutuhan itu dipenuhi), dengan demikian secara alamiah mereka pun menjadi saksi-saksi hidup dari kuasa dan rahmat Allah.
Sebuah contoh kerendahan hati (kedinaan) sedemikian adalah Santa Jeanne Jugan [1792-1879] yang melakukan pelayanan kasih terhadap orang-orang miskin dan lansia di Perancis pada masa pasca revolusi. Digerakkan oleh Roh Kudus, Jeanne mendirikan komunitas “Suster-suster Kecil dari Orang Miskin”. Jeanne sering berkata kepada para susternya: “Perkenankanlah dirimu dibentuk oleh ‘Roh kekecilan’ …… Kita tidak memiliki apa pun dan menantikan semuanya dari Allah.” Jeanne memahami bahwa nilai dirinya tidak tergantung kepada seberapa berhasil pekerjaannya, melainkan hanya karena melakukan apa yang diminta Allah dari dirinya.

Sementara komunitas suster-suster kecilnya semakin bertumbuh-kembang dan popular, seorang imam dengan ambisi berlebihan yang berafiliasi dengan mereka mulai mengambil semakin banyak kredit atas karya kasih Jeanne dan para susternya. Pada akhirnya si imam itu berhasil mendesak Jeanne untuk “pensiun dini”, sedangkan dia sendiri bertumbuh menjadi semakin populer. Selama masa susah ini Jeanne tidak pernah protes di muka publik. Ia tahu sekali, bahwa “Suster-suster kecil dari Orang Miskin” adalah karya Allah sendiri – bukan karyanya – sehingga dengan demikian Jeanne mampu menyerahkannya dan melanjutkan pemusatan perhatiannya pada tujuan tertinggi, yaitu mengasihi Tuhan Allah dalam segala situasi. Jeanne Jugan dibeatifikasikan oleh Paus Yohanes Paulus II pada tanggal 3 Oktober 1982     dan dikanonisasikan sebagai seorang Santa oleh Paus Benediktus XVI pada tanggal 11 Oktober 2009.

DOA: Bapa surgawi, rahmat-Mu cukuplah bagiku dalam segala situasi yang kuhadapi dalam hidup ini. Ajarlah aku untuk tetap berdiri tegak dalam segala kelemahanku dan bergembira untuk rahmat berlimpah dari-Mu yang ada dalam diriku. Bapa, aku sungguh rindu untuk bertemu dengan-Mu – muka ketemu muka – dan melihat sendiri segala kebesaran-Mu. Tolonglah aku agar tetap setia pada hal-hal yang akan membawaku lebih dekat lagi kepada-Mu, sehingga pengenalan dan kasihku kepada-Mu menjadi semakin dalam pula. Amin.

Catatan: Bagi anda yang ingin mendalami lagi Bacaan Injil hari ini (Mat 7:21,24-27),  bacalah  tulisan yang berjudul “MARILAH KITA MENDIRIKAN RUMAH DI ATAS BATU” (bacaan tanggal 1-12-11) dalam situs/blog  PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori 11-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2011. 

Cilandak, 22 November 2011 [Peringatan S. Sesilia, Perawan & Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

ANDREAS DIPANGGIL MENJADI MURID YESUS

ANDREAS DIPANGGIL MENJADI MURID YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta S. Andreas, Rasul, Rabu, 30-11-11) 

Ketika Yesus sedang berjalan menyusur Danau Galilea, Ia melihat dua orang bersaudara, yaitu Simon yang disebut Petrus, dan Andreas, saudaranya. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. Yesus berkata kepada mereka, “Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. Setelah Yesus pergi dari sana, dilihat-Nya dua orang bersaudara yang lain lagi, yaitu Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, bersama ayah mereka, Zebedeus, sedang membereskan jala di dalam perahu. Yesus memanggil mereka dan mereka segera meninggalkan perahu ayahnya, lalu mengikuti Dia. (Mat 4:18-22)

Bacaan Pertama: Rm 10:9-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:2-5 

Santo Andreas adalah salah seorang murid Yesus yang pertama. Sebagai seorang murid dari Yohanes Pembaptis yang dekat dengan gurunya, Andreas sungguh serius dalam memandang hal-hal yang berhubungan dengan Allah. Pengabdiannya yang sedemikian menunjukkan bahwa untuk waktu yang lama dia barangkali telah memiliki hasrat mendalam untuk mengenal Allah secara pribadi. Kita dapat membayangkan betapa penuh sukacita yang dialami Andreas ketika dia berjumpa dengan Yesus untuk pertama kalinya.

Ketika Yesus menyaksikan Andreas bersama saudaranya – Simon Petrus – menebarkan jala di danau Galilea, Ia mengundang mereka menjadi “penjala manusia”, artinya menarik orang-orang ke dalam kerajaan dengan menggunakan jala Injil (lihat Mat 4:19). Andreas langsung saja menunjukkan ketaatannya, dengan senang hati dia menukar keuntungan materiil dengan ganjaran spiritual. Kisah panggilan Andreas di atas memang agak berbeda dengan penuturan yang terdapat dalam Injil Yohanes, namun perbedaan tersebut tidaklah bersifat hakiki. Injil Yohanes mengungkapkan bahwa Andreas adalah satu dari dua orang murid Yohanes Pembaptis yang mengikut Yesus, menjadi dua orang murid pertama yang menanggapi panggilan Yesus. Kedua murid itu berdiam bersama-sama dengan Yesus pada hari pertama perjumpamaan mereka. Keyakinan Andreas kepada diri Yesus bertumbuh dengan cepat. Hal ini dapat kita rasakan ketika dia bertemu dengan Simon, saudaranya: “Kami telah menemukan Mesias (artinya: Kristus)”, lalu Andreas membawa saudaranya itu kepada Yesus (lihat Yoh 1:35-42). Jadi, kelihatannya Andreas lah yang memperkenalkan Simon Petrus, Yakobus, Yohanes (entah berapa banyak lagi) kepada Yesus.

Pada waktu Yesus memanggil para murid-Nya, Ia memilih orang-orang biasa seperti Andreas, orang-orang yang tidak memiliki kekayaan berlebih, tidak memiliki status, latar belakang pendidikan, apalagi status sosial. Yesus tidak memilih karya-karya mereka atau berbagai karunia atau talenta yang mereka miliki. Yesus memilih hati mereka! Yesus tidak memilih para murid-Nya siapa dan apa mereka dulunya, melainkan akan menjadi apa mereka di bawah pengarahan dan kuasa-Nya. Hal yang sama berlaku untuk kita. Yesus terus memanggil setiap dan masing-masing kita untuk masuk ke dalam suatu relasi yang intim dengan diri-Nya dan Ia mengundang kita untuk ke dalam jalan kekudusan-Nya. Yesus ingin mentransformasikan diri kita melalui kuasa Roh Kudus agar kita dapat meniru Andreas dan orang-orang sepanjang segala masa yang dengan penuh dedikasi mengikuti jejak-Nya. Mereka yang memberikan segalanya demi cintakasih mereka kepada Kristus. Banyak dari orang kudus ini hidup tersembunyi dan sehari-harinya membuat mukjizat-mukjizat lewat cintakasih mereka yang penuh pengorbanan. Yesus mengundang kita untuk menjadi seperti mereka, selagi kita mengikuti-nya semakin dekat dan dekat lagi.

Apakah ada biayanya dalam upaya kita mengikuti jejak Tuhan Yesus? Kalau ada, berapa besar biayanya? Santo Gregorius Agung pernah berkata: “Kerajaan Surga tidak mempunyai tanda harga. Nilai atau harganya adalah sebanyak apa yang anda miliki. Bagi Zakheus harganya adalah separuh dari harta miliknya, karena separuhnya lagi yang telah diperolehnya lewat praktek “haram” yang tidak adil akan diganti olehnya empat kali lipat. Bagi Simon dan Andreas harganya adalah jala-jala dan perahu yang mereka tinggalkan; bagi si janda miskin dua keping uang tembaga, bagi orang lain mungkin segelas air putih.” Bagaimana dengan kita masing-masing? Mungkin kehilangan posisi top management, mungkin ejekan, cercaan dan caci-maki dari orang-orang yang mengenal anda.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu untuk kasih-Mu yang tanpa batas kepadaku. Penuhilah hatiku dengan rasa syukur dan sukacita karena menjadi murid-Mu. Amin.

Catatan: Bagi anda yang ingin mendalami lagi bacaan Injil hari ini [Mat 4:18-22],  bacalah  tulisan yang berjudul “YESUS MEMANGGIL MURID-MURID YANG PERTAMA” (bacaan tanggal 30-11-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori 11-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2011. Bacalah juga tulisan yang berjudul “ANDREAS, SALAH SATU DARI DUA ORANG MURID YESUS YANG PERTAMA” (bacaan tanggal 30-11-10) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 10-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2010.

Cilandak, 17 November 2011 [Peringatan S. Elisabet dari Hungaria – Pelindung OFS]  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

GAMBARAN SEBUAH DUNIA YANG DAMAI DAN ADIL

GAMBARAN SEBUAH DUNIA YANG DAMAI DAN ADIL

(Bacaan Pertama, Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Adven, Selasa 29-11-11)

Suatu tunas akan keluar dari tunggul Isai, dan taruk yang akan tumbuh dari pangkalnya akan berbuah. Roh TUHAN (YHWH) akan ada padanya, roh hikmat dan pengertian, roh hikmat dan pengertian, roh nasihat dan keperkasaan, roh pengenalan dan takut akan YHWH; ya, kesenangannya ialah takut akan YHWH. Ia tidak akan menghakimi dengan sekilas pandang saja atau menjatuhkan keputusan menurut kata orang. Tetapi ia akan menghakimi orang-orang lemah dengan keadilan, dan akan menjatuhkan keputusan terhadap orang-orang yang tertindas di  negeri dengan kejujuran; ia akan menghajar bumi dengan perkataannya seperti dengan tongkat, dan dengan nafas mulutnya ia akan membunuh orang fasik. Ia tidak akan menyimpang dari kebenaran dan kesetiaan, seperti ikat pinggang tetap terikat pada pinggang.

Serigala akan tinggal bersama domba dan macan tutul akan berbaring di samping kambing. Anak lembu dan anak singa akan makan rumput bersama-sama, dan seorang anak kecil akan menggiringnya. Lembu dan beruang akan sama-sama makan rumput dan anaknya akan sama-sama berbaring, sedang singa akan makan jerami seperti lembu. Anak yang menyusu akan bermain-main dekat liang ular tedung dan anak yang cerai susu akan mengulurkan tangannya ke sarang ular berludak. Tidak ada yang akan berbuat jahat atau yang berlaku busuk di seluruh gunung-Ku yang kudus, sebab seluruh bumi penuh dengan pengenalan akan YHWH, seperti air laut yang menutupi dasarnya. Maka pada waktu itu taruk dari pangkal Isai akan berdiri sebagai panji-panji bagi bangsa-bangsa; dia akan dicari oleh suku-suku bangsa dan tempat kediamannya akan menjadi mulia (Yes 11:1-10)

Mazmur Tanggapan: Mzm 72:2,7-8,12-13,17; Bacaan Injil: Luk 10:21-24 

Penggambaran Yesaya tentang pemerintahan raja yang dijanjikan dari garis keturunan Isai mempunyai appeal terhadap suatu kerinduan mendalam dalam hati manusia – kerinduan akan terciptanya perdamaian dan keadilan selama-lamanya. Sang Nabi di sini berbicara mengenai seorang Penguasa, yang dipenuhi dengan Roh Allah, yang membuat keputusan-keputusan yang adil. Yang ditransformasikan di bawah pemerintahannya bukan saja hubungan kemanusiaan (human relationships), melainkan juga dunia alamiah (natural world); hukum konflik dan kekerasan – yang biasanya kita anggap sebagai sesuatu yang biasa – akan diputar-balikkan. “Serigala akan tinggal bersama domba dan macan tutul akan berbaring di samping kambing. Anak lembu dan anak singa akan makan rumput bersama-sama, dan seorang anak kecil akan menggiringnya” (Yes 11:6).

Akan tetapi, bagaimana sebuah dunia seperti digambarkan itu dapat menjadi suatu kenyataan? Begitu banyak upaya untuk mencapai perdamaian dan keadilan (ingatlah istilah kerannya: peace and justice) hampir selalu kandas dan kiranya berakhir dalam kekecewaan dan kegagalan. Apakah yang dapat membuat perbedaan? Yesaya mendeklarasikan bahwa keharmonisan penuh hanya akan terjadi bilamana “seluruh bumi penuh dengan pengenalan akan YHWH, seperti air laut yang menutupi dasarnya” (Yes 11:9). Pengenalan akan akan TUHAN – persekutuan yang erat dengan Dia – adalah hal yang memampukan kita untuk hidup damai-sejahtera, seturut rencana Allah sendiri. Sebaliknya ketiadaan pengenalan akan Allah hanya akan menggiring manusia kepada dosa, alienasi, dan penghancuran (lihat Hos 4:1-6).

Yesus datang untuk memberikan kepada kita pengenalan akan Allah: “Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya” (Yoh 1:18). “Pengenalan akan Allah” yang diberikan oleh Yesus bukanlah sekadar informasi. Ini adalah pernyataan (perwahyuan) yang intim-batiniah, tentang kasih Allah yang menggerakkan kita untuk mengasihi-Nya dan mengikuti jejak-Nya. Yesus membuat relasi ini menjadi mungkin pada saat Ia wafat di atas kayu salib dan mengalahkan dosa dan maut bagi kita. Sekarang, melalui Roh Kudus-Nya yang telah dicurahkan-Nya ke atas Gereja, hati manusia dapat disentuh dan distransformasiksn oleh kasih Allah. Kita dapat sampai mengenal Allah dengan semakin intim dan mulai mengalami – bahkan sekarang juga – damai sejahtera dan tatanan yang ada dalam visi Yesaya. Sukacita kita adalah dalam mengenal bahwa hidup kita berada di tangan-tangan Bapa surgawi yang sangat mengasihi kita semua.

DOA: Roh Kudus Allah, penuhilah hati kami masing-masing dengan pengenalan akan Allah, agar kami dapat menjadi saksi-saksi Kristus yang tangguh. Biarlah orang-orang melihat dalam diri kami keadilan dan damai sejahtera yang mereka rindukan, sehingga mereka pun tertarik untuk mencari Engkau, mengenal Engkau dan mengasihi Engkau. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 10;21-24), bacalah tulisan berjudul “AKU BERSYUKUR KEPADA-MU, BAPA” (bacaan untuk tanggal 28-11-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 11-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2011. 

Cilandak, 17 November 2011 [Pesta S. Elisabet dari Hungaria] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SURAT GEMBALA MENYAMBUT TAHUN EKARISTI 2012

SURAT GEMBALA MENYAMBUT TAHUN EKARISTI 2012 

(dibacakan sebagai pengganti kotbah, dalam setiap Misa, Sabtu/Minggu, [Adven I] 26/27 November 2011) 

Para Ibu dan Bapa, Para Suster, Bruder, Frater, Kaum muda, remaja dan anak-anak yang terkasih dalam Kristus, 

1.  Pada hari Minggu yang lalu, kita merayakan Hari Raya Tuhan Kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam. Perayaan itu menutup satu lingkaran tahun liturgi. Dengan merayakan pesta liturgi itu kita mengungkapkan kepastian iman kita bahwa Allah yang telah memulai karya-Nya, akan menyempurnakannya juga pada waktunya. Keyakinan iman inilah yang oleh Rasul Paulus dinyatakan dengan kata-kata ini, “Kalau segala sesuatu telah ditaklukkan di bawah Kristus, maka Ia sendiri sebagai Anak akan menaklukkan diri-Nya di bawah Dia, yang telah menaklukkan segala sesuatu di bawah-Nya, supaya Allah menjadi semua di dalam semua” (1Kor 15:28). 

2.  Hari ini kita memulai satu lingkaran liturgi yang baru dengan Minggu Adven I, yang pada tahun berikutnya juga akan ditutup dengan Hari Raya Tuhan Kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam. Masa Adven dalam arti sempit mengundang kita untuk menyiapkan kedatangan Yesus yang akan kita rayakan pada Hari Natal. Dalam arti luas, Adven juga mengajak kita untuk memperkokoh harapan kita bahwa pada waktunya Tuhan akan menyempurnakan karya penyelamatan yang telah dimulai-Nya. Selama masa penantian dan pengharapan itu, menurut kata-kata Rasul Paulus yang kita dengarkan pada hari ini, “Allah juga akan meneguhkan kamu sampai kepada kesudahannya, sehingga kamu tak bercacat pada hari Tuhan kita Yesus Kristus” (1Kor 1:8). Begitulah dinamika iman dan harapan kita yang kita ungkapkan dalam lingkaran-lingkaran tahun liturgi. Dengan menempatkan diri kita ke dalam dinamika liturgi itu, karya penyelamatan Allah akan semakin kita alami: iman kita menjadi semakin dalam, harapan kita semakin kokoh dan kasih kita semakin menyala. 

3.  Sabda Tuhan yang diwartakan pada hari ini mengajak kita untuk selalu berjaga-jaga (Mrk 13:33.34.35.37)  menantikan kedatangan Tuhan itu. Pertanyaannya adalah, dengan cara apa kita berjaga-jaga menantikan kedatangan Tuhan? Jawabannya ada bermacam-macam. Salah satu jawaban diberikan kepada kita melalui Kitab Nabi Yesaya yang diwartakan pada hari ini yaitu dengan membiarkan diri kita – baik secara pribadi, keluarga, komunitas, paroki maupun keuskupan – dibentuk oleh Tuhan, karena kita semua adalah buatan tangan Tuhan (bdk. Yes 63:8). Dalam rangka membiarkan diri kita bersama-sama dibentuk oleh Tuhan itulah Keuskupan Agung Jakarta menetapkan Arah Dasar Pastoral dan setiap tahun menawarkan tema-tema pendalaman iman. Kalau bahan-bahan itu kita renungkan dan kita batinkan, kita boleh berharap hidup pribadi kita, keluarga, komunitas, paroki dan hidup kita bersama sebagai warga Keuskupan Agung Jakarta akan terus-menerus diperbarui dan dibentuk menjadi semakin serupa dengan Yesus Kristus, semakin sehati sepikir dan seperasaan dengan-Nya (bdk. Flp 2:5). 

4. Dalam rangka berusaha membiarkan diri kita dibentuk oleh Allah inilah, Keuskupan Agung Jakarta menetapkan Tahun 2012 sebagai Tahun Ekaristi dengan tema “Dipersatukan, Diteguhkan, Diutus”. Tema ini dipilih dengan berbagai pertimbangan. Antara lain kita ingin menempatkan diri kita dalam arus rohani Gereja se-dunia, yang pada tanggal 10-17 Juni 2012 yang akan datang mengadakan Kongres Ekaristi ke-50 di Dublin. Adapun tema yang diangkat adalah “Ekaristi: Bersatu dengan Kristus, Bersatu di antara kita”. Selanjutnya tema Tahun Ekaristi Keuskupan Agung Jakarta ini melanjutkan yang sudah kita dalami selama tahun 2011 yaitu “Mari Berbagi”. Dengan demikian kita berharap agar kerelaan kita berbagi tidak hanya didorong oleh motivasi kemanusiaan, melainkan kita landaskan pada iman yang kokoh. Dengan menerima roti Ekaristi yang diambil, diberkati, dipecah-pecah dan dibagi-bagikan, kita berharap juga dapat menjadi roti Ekaristi: seperti halnya roti Ekaristi, kita adalah pribadi-pribadi yang dipilih dan diberkati Tuhan, agar siap dipecah-pecah dan dibagi-bagikan bagi dunia. 

5.  Kekayaan Ekaristi dengan mudah dapat kita timba dari salah satu pernyataan Gereja sebagai berikut: “…… Setiap orang yang mengambil bagian dalam perayaan Ekaristi, seharusnya selalu ingin berbuat baik dengan penuh semangat, menyenangkan hati Allah dan hidup pantas sambil membaktikan diri kepada Gereja, melaksanakan apa yang diajarkan kepadanya, dan bertumbuh dalam kesalehan. Ia pun akan siap menjadi saksi Kristus di dalam segala hal, dalam menghadapi persoalan-persoalan hidup manusia, agar dunia diresapi dengan semangat Kristus. Sebab tidak ada satu umat Kristiani pun dapat dibentuk dan dibangun, kecuali kalau berakar dan berporos pada perayaan Ekaristi Mahakudus” (Eucharisticum Mysterium no. 13). 

6.  Melalui surat ini saya ingin mengajak seluruh umat Keuskupan Agung Jakarta untuk secara khusus memperdalam pengetahun dan penghayatan mengenai Ekaristi selama tahun 2012 yang akan datang. Sejarah panjang liturgi Ekaristi, kedalaman maknanya dan kekayaan lambang-lambangnya tidak bisa kita tangkap dengan baik selain dengan mempelajarinya. Dalam perayaan Ekaristi kita mengenangkan kembali wafat dan kebangkitan Kristus dan mensyukuri karya penyelamatan Allah bagi kita. Kita mendengarkan Sabda Tuhan yang menuntun langkah-langkah kita dan menerima roti kehidupan yang menjadi kekuatan dalam peziarahan iman kita. Janji Tuhan untuk selalu menyertai umat-Nya sampai akhir jaman tidak dapat kita alami kecuali dengan mengasah kepekaan batin kita akan kehadiran-Nya dalam Ekaristi. Semoga pertemuan-pertemuan yang sudah selalu kita adakan pada masa Adven, Prapaskah, bulan Liturgi, bulan Kitab Suci dan kesempatan-kesempatan lain dapat digunakan sebaik-baiknya untuk pendalaman Ekaristi itu. Sementara itu bahan-bahan yang diperlukan sudah dan akan disediakan oleh saudari-saudara kita yang dengan sepenuh hati menyiapkannya. 

7.  Akhirnya bersama para imam yang diutus untuk melayani umat di Keuskupan Agung Jakarta ini saya ingin menggunakan kesempatan ini untuk mengucapkan terima kasih kepada para Ibu/Bapak/Suster/Bruder/Frater/Kaum Muda, Remaja dan Anak-anak yang dengan satu dan lain cara ikut terlibat dalam karya kegembalaan kami. Keterlibatan Anda sekalian dalam pelayanan Gereja “ke dalam”, membuat Gereja menjadi semakin bermakna bagi umat sendiri. Sementara keterlibatan Anda sekalian dalam pelayanan Gereja “ke luar”, membuat Gereja menjadi semakin berarti di tengah-tengah masyarakat luas. Semoga Ekaristi yang setiap kali kita rayakan semakin mempersatukan kita dalam perutusan yang mulia. 

Salam dan Berkat Tuhan untuk seluruh keluarga dan komunitas Anda. 

       Ttd. 

+ I. Suharyo

Uskup Keuskupan Agung Jakarta  

Catatan: Disalin oleh Sdr. F.X. Indrapradja OFS dari edaran tercetak yang dibagikan di gereja-gereja dalam wilayah KAJ pada tanggal 26/27 November 2011.                           

IMAN SEBESAR INI TIDAK PERNAH AKU JUMPAI PADA SEORANG PUN DI ANTARA ORANG ISRAEL

IMAN SEBESAR INI TIDAK PERNAH AKU JUMPAI PADA SEORANG PUN DI ANTARA ORANG ISRAEL

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Adven, Senin 28-11-11)

OFM dan OFMConv.: Peringatan S. Yakobus dari Marka 

Ketika Yesus masuk ke Kapernaum, datanglah seorang perwira mendapatkan Dia dan memohon kepada-Nya, “Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita.” Yesus berkata kepadanya, “Aku akan datang menyembuhkannya.” Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya, “Tuhan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya.” Mendengar hal itu, Yesus pun heran dan berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel. Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan datang dari timur dan barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Surga. (Mat 8:5-11)

Bacaan Pertama: Yes 2:1-5 atau Yes 4:2-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 122:1-9 

“Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel” (Mat 8:10).

Apa yang hebat dalam iman sang perwira sehingga membuat Yesus tergerak untuk sangat menghargainya? Di atas segalanya, perwira Romawi ini menunjukkan suatu iman yang didasarkan rasa percaya pada seorang pribadi yang bernama Yesus dari Nazaret. Tidak terbatas pada tataran intelektual belaka, misalnya sehubungan dengan doktrin-doktrin tertentu, melainkan mencari suatu relasi pribadi dengan Yesus. Tentunya sang perwira dengan akal budinya telah mengambil kesimpulan bahwa Yesus memiliki otoritas untuk menyembuhkan, akan tetapi imannyalah yang menggerakkan dirinya untuk melakukan pendekatan kepada Yesus dengan permintaan/permohonannya yang berani itu.

Iman kita pun harus melampaui tataran intelektual agar dapat mencapai suatu relasi pribadi dengan Tuhan Yesus Kristus. Apabila iman kita itu sekadar berdasarkan doktrin-doktrin keagamaan, maka kita luput sesuatu yang sangat diperlukan dan mempunyai daya sebagai pemberi kehidupan.  Hanya apabila kita melangkah keluar sampai mengenal Yesus secara pribadi, maka kehidupan kita dapat ditransformasikan. Sebenarnya sang perwira dapat saja tinggal di rumah dengan hambanya dan berpikir bahwa Allah dapat menyembuhkan hambanya itu – dengan atau tanpa intervensi Yesus dari pihak Yesus. Namun, apakah yang terjadi? Sang perwira sendiri datang menghadap Yesus dan secara pribadi mohon pertolongan-Nya (bdk. Luk 7:1-10 yang ceritanya agak berbeda). Iman yang murni sepenuhnya berdasarkan logika disertai dengan sikap “ja-im” tidaklah cukup bagi sang perwira. Ingatlah bahwa sang perwira adalah seorang centurion  (komandan kompi) dari pasukan pendudukan yang sangat berkuasa. Inilah yang harus kita teladani dari sang perwira!

Sementara kita mengawali masa Adven ini, kita sungguh mempunyai suatu kesempatan riil untuk bertemu dengan Yesus dalam doa-doa kita, Kitab Suci dan sakramen-sakramen. Kontak regular dengan Yesus seperti ini dapat memperdalam iman kita dan mengembangkan dalam diri kita suatu relasi yang hidup dengan Yesus sendiri. Bilamana kita merasakan kekosongan, Yesus akan mengisinya. Bilamana rasa percaya kita lemah, Ia dapat menguatkan diri kita. Bilamana kita berpuas-puas diri, Yesus dapat memberikan kepada kita kerinduan mendalam akan kehidupan-Nya. Bilamana kita sedang berjuang untuk melangkah melampaui Kekristenan kita yang sekadar intelektual, maka Yesus akan meningkatkan iman kita riil dan berwujud.

“Mari, kita naik ke gunung TUHAN (YHWH), ke rumah Allah Yakub, supaya Ia mengajar kita tentang jalan-jalan-Nya” (Yes 2:3). Marilah kita menyediakan waktu yang cukup setiap hari untuk mencari kehadiran Tuhan Yesus. Semoga Yesus menghembuskan kehidupan ke dalam iman kita dan memberikan kepada kita segala rasa keyakinan akan diri-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, aku sungguh merindukan suatu perjumpaan pribadi yang mendalam dengan Engkau pada masa Adven ini. Aku mau bergerak maju mengatasi segala kelemahan yang ada dalam imanku untuk mengalami kehadiran-Mu yang riil dan menakjubkan. Oleh kuasa Roh Kudus-Mu bentuklah aku sehingga dapat mengenal-Mu dengan lebih baik. Aku percaya, ya Tuhan, tolonglah aku yang terkadang tidak percaya! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 8:5-11), bacalah tulisan berjudul “TIDAK ADA YANG TERLALU BESAR BAGI ALLAH” (bacaan untuk tanggal 28-11-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 11-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2011. 

Cilandak, 16 November 2011 [Peringatan S. Gertrudis, Perawan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 135 other followers