BENEDICTUS: NYANYIAN PUJIAN ZAKHARIA [2]

BENEDICTUS: NYANYIAN PUJIAN ZAKHARIA [2]

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven, Sabtu 24-12-11)

Zakharia, ayahnya, penuh dengan Roh Kudus, lalu bernubuat, “Terpujilah Tuhan, Allah Israel, sebab Ia datang untuk menyelamatkan umat-Nya dan membawa kelepasan baginya, Ia menumbuhkan sebuah tanduk keselamatan bagi kita di dalam keturunan Daud, hamba-Nya itu,  – seperti yang telah difirmankan-Nya sejak purbakala oleh mulut nabi-nabi-Nya yang kudus – untuk melepaskan kita dari musuh-musuh kita dan dari tangan semua orang yang membenci kita, untuk menunjukkan rahmat-Nya kepada nenek moyang kita dan mengingat perjanjian-Nya yang kudus, yaitu sumpah yang diucapkan-Nya kepada Abraham, bapak leluhur kita bahwa ia mengaruniai kita, supaya kita, terlepas dari tangan musuh, dapat beribadah kepada-Nya tanpa takut, dalam kekudusan dan kebenaran di dihadapan-Nya seumur hidup kita. Dan engkau, hai anakku, akan disebut nabi Allah Yang Mahatinggi; karena engkau akan berjalan mendahului Tuhan untuk mempersiapkan jalan bagi-Nya, untuk memberikan kepada umat-Nya pengertian akan keselamatan yang berdasarkan pengampunan dosa-dosa mereka, oleh rahmat dan belas kasihan dari Allah kita, yang dengannya Ia akan datang untuk menyelamatkan kita, Surya pagi dari tempat yang tinggi, untuk menyinari mereka yang tinggal dalam kegelapan dan dalam naungan maut untuk mengarahkan kaki kita kepada jalan damai sejahtera.” (Luk 1:67-79)

Bacaan pertama: 2Sam 7:1-5,8b-12,16; Mazmur Tanggapan: Mzm 89:2-5,27,29

“Terpujilah Tuhan, Allah Israel, sebab Ia datang untuk menyelamatkan umat-Nya dan membawa kelepasan baginya” (Luk 1:68).

Keragu-raguan Zakharia pada kata-kata malaikat membuat dirinya bisu – keheningan yang dipaksakan oleh Yang Ilahi – untuk sembilan bulan lamanya (Luk 1:18-20). Zakharia tidak mempunyai pilihan – dia dibuat bisu! Akan tetapi Zakharia membuat pilihan, yakni untuk menjalani kurun waktu selama sembilan bulan kebisuan ini dengan melakukan permenungan janji-janji dan rencana-rencana Allah. Karena dia duduk hening dalam doa, Zakharia memperkenankan Allah untuk mengajar dirinya tentang anaknya yang akan dilahirkan, Yohanes, dan peranan yang akan dimainkannya dalam sejarah keselamatan. Doa-doa telah membuka hati Zakharia sehinga dia dapat dengan penuh gairah menerima rencana Allah.

Petikan ayat Kitab Suci di atas adalah awal dari kidungnya yang dikenal dengan nama Benedictus atau “Kidung Zakharia” yang setiap hari didoakan/dinyanyikan dalam “Ibadat Pagi”. Dengan kalimat ini Zakharia memuji sejarah keselamatan Allah pada umumnya. Dalam kidung ini, Zakharia menempatkan kehidupan puteranya dalam hubungannya dengan karya Allah untuk menyelamatkan bangsanya sendiri dan segala bangsa.  Dia merasa bersyukur dalam hati, karena kanak-kanak yang disanjungnya dalam kidung ini menjadi perintis jalan bagi Tuhan, bentara Mesias yang bertugas mempersiapkan sebuah bangsa yang sempurna bagi Allah.

Dengan cara yang khas, hal ini juga berlaku bagi kita masing-masing. Kita pun dapat melambungkan sebuah madah pujian-syukur atas kehidupan kita sendiri. Mengapa? Karena kita juga termasuk dalam bangsa terpilih, yang dipanggil oleh Allah untuk mengikuti sang Penebus dan mempersiapkan sebuah jalan menuju masa depan yang menjadi milik.

Allah itu kekal. Ia yang memberikan kepada kita kehidupan tanpa menanyakan terlebih dahulu kepada kita. Sebab, dengan menghidupkan kita, Dia menunjukkan kerahiman-Nya kepada kita. Sejak saat orang dipanggil Allah, dia dikuasai oleh suatu misteri ilahi yang menakutkan namun pada saat yang sama juga membahagiakan.

Allah telah menjadi misteri bagi hidup kita. Walaupun demikian, kita senantiasa masih dapat melambungkan puji-pujian kepada-Nya: “Terpujilah Allah yang telah memanggil kita kepada persekutuan dengan Putera-Nya. Terpujilah Allah yang telah mengasihi, menyelamatkan dan memanggil kita kepada Terang-Nya yang tak terperikan. Terpujilah Allah yang telah menjadikan kita anak-anak-Nya. Terpujilah Allah yang sebagai manusia telah ikut serta menempuh liku-liku kehidupan kita agar kita mengikuti dan merintis jalan bagi-Nya, hingga kerahiman Allah dinyatakan kepada kita, yang memberikan arti terdalam dalam kehidupan kita. Terpujilah Allah hingga saat di mana kita diperbolehkan mengucapkan doa syukur abadi, yang tidak pernah akan berhenti lagi. 

DOA: Ya Allah, Engkau sungguh baik hati. Terimalah persembahan pujian kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 1:67-79), bacalah tulisan yang berjudul “BENEDICTUS: NYANYIAN PUJIAN ZAKHARIA” (bacaan untuk tanggal 24-12-09) dalam situs/blog SANG SABDA ini; kategori: 09-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2009. Untuk mendalami Bacaan Pertama (2Sam 7:1-5,8b-12,16), bacalah tulisan yang berjudul “ISRAEL SELALU ADA DALAM HATI ALLAH” (bacaan untuk tanggal 24-12-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 11-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2011. 

Cilandak, 14 Desember 2011 [Peringatan S. Yohanes dari Salib, Imam & Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

IA HARUS DINAMAI YOHANES

IA HARUS DINAMAI YOHANES

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven, Jumat 23-12-11)

Kemudian tibalah waktunya bagi Elisabet untuk bersalin dan ia pun melahirkan seorang anak laki-laki. Ketika tetangga-tetangganya serta sanak saudaranya mendengar bahwa Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepadanya, bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia. Lalu datanglah mereka pada hari yang ke delapan untuk menyunatkan anak itu dan mereka hendak menamai dia Zakharia menurut nama bapaknya, tetapi ibunya berkata, “Jangan, ia harus dinamai Yohanes.” Kata mereka kepadanya, “Tidak ada di antara sanak saudaramu yang bernama demikian.” Lalu mereka memberi isyarat kepada bapaknya untuk bertanya nama apa yang hendak diberikannya kepada anaknya itu. Ia meminta batu tulis, lalu menuliskan kata-kata ini, “Namanya adalah Yohanes.” Mereka pun heran semuanya. Seketika itu juga terbukalah mulutnya dan terlepaslah lidahnya, lalu ia berkata-kata dan memuji Allah.

Lalu ketakutanlah semua orang yang tinggal di sekitarnya, dan segala peristiwa itu menjadi buah pembicaraan di seluruh pegunungan Yudea. Semua orang yang mendengarnya, merenungkannya dalam hati dan berkata, “Menjadi apakah anak ini nanti?” Sebab tangan Tuhan menyertai dia. (Luk 1:57-66)

Bacaan pertama: Mal 3:1-4; 4:5-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 25:4-5,8-10,14

Para orang tua tentunya mempunyai banyak alasan mengapa mereka memilih sendiri nama anak mereka. Dalam kasus Yohanes Pembaptis, yang menentukan nama sang anak bukanlah orangtuanya, melainkan Allah sendirilah yang menentukan namanya sebagai bagian dari perwahyuan atas makna Natal. Nama “Yohanes” (bahasa Yunani: Iôannès) menunjukkan suatu kebenaran penting tentang kedatangan Tuhan ke dalam dunia.  Kata Ibrani-nya dapat diterjemahkan sebagai:  “YHWH memberikan karunia”. Ingatlah apa yang dikatakan malaikat Gabriel kepada Maria: “Salam, hai engkau yang dikaruniai” (catatan: dalam doa ‘Salam Maria’ kita mengatakan “penuh rahmat”). Salam malaikat ini mencerminkan  perwahyuan yang ada dalam kata “Yohanes”. Salam malaikat agung Gabriel ini mengandung makna, bahwa Maria adalah puteri Allah yang paling terberkati.

Maria dipilih menjadi ibunda Yesus bukan karena usahanya sendiri, melainkan sepenuhnya karena kehendak Allah. Demikian pula halnya dengan kita. Natal adalah pemberian dari Allah bagi kita yang bersifat gratis (catatan: kata bahasa Latin gratia atau grace dalam bahasa Inggris berarti “rahmat”), murni karunia. Tanpa upaya apapun dari pihak manusia, Allah memberikan kepada kita karunia-Nya yang terbesar, yaitu Putera-Nya sendiri.

Pada zaman nabi Maleakhi, orang-orang Yahudi baru pulang kembali ke tanah terjanji setelah hidup dalam pembuangan di Babel. Mereka berjuang melawan kemiskinan yang selama itu telah membelenggu mereka. Mereka mengeluh kepada Allah mengapa hanya orang-orang jahat saja yang hidup makmur. Kendati mereka sendiri juga tidak setia kepada Allah, mereka mau tahu bilamana Allah akan memenuhi janji-Nya untuk menurunkan berkat-berkat kepada mereka.

Pada zaman modern ini pun kita terkadang (atau seringkali?) masih bertanya mengenai kemakmuran dan kenikmatan hidup orang-orang yang kelihatan tidak peduli pada Allah maupun perintah-perintah-Nya, misalnya para pejabat pemerintahan yang korup dan/atau para pengusaha yang tidak pernah mempedulikan etika bisnis. Dalam hal ini kita harus ingat perwahyuan bahwa tidak ada seorang pun yang dikecualikan dari cintakasih Kristus. Mereka yang kaya dan berkuasa juga termasuk, misalnya para majus. Namun orang-orang miskin, bersahaja dan berderajat sosial/ekonomi rendah sungguh menerima karunia-Nya secara istimewa. Yang pertama datang menyambut kedatangan bayi Yesus adalah para gembala. Mereka mewakili “wong cilik”, orang-orang bersahaja yang menggantungkan “nasib” mereka sepenuhnya kepada Allah, bukannya harta kekayaan atau kekuasaan yang dimiliki.

Dalam Magnificat-nya Maria memuji-muji Allah karena “Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah” (Luk 1:52). Kita akan menerima berkat-berkat Natal selama kita bersikap rendah hati di hadapan Allah, dan  bahwa kita tidak menggantungkan diri pada kekayaan dunia ini, melainkan hanya pada kekayaan belas kasih Allah.

DOA: Bapa surgawi, nama “Yohanes” mengingatkan kami, bahwa Engkau-lah Sang Pemberi karunia kepada umat manusia. Biarlah Roh Kudus-Mu mempersiapkan hati kami agar sungguh siap menerima kedatangan karunia-Mu yang terbesar, Yesus Putera-Mu, pada hari Natal ini. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Mal 3:1-4;4:5-6), bacalah tulisan yang berjudul “SIAPAKAH YANG DAPAT TAHAN AKAN HARI KEDATANGAN-NYA (bacaan tanggal 23-12-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 11-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2011.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 23-12-09). 

Cilandak, 14 Desember 2011 [Peringatan S. Yohanes dari Salib, Imam & Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

JIWAKU MEMULIAKAN TUHAN

JIWAKU MEMULIAKAN TUHAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven, Kamis 22-12-11)

Lalu kata Maria, “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya. Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan kuduslah nama-Nya. Rahmat-Nya turun-temurun atas orang yang takut akan Dia. Ia memperlihatkan kuasa-Nya dengan perbuatan tangan-Nya dan mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya; Ia menurunkan orang-orang yang berkuasa dari takhtanya dan meninggikan orang-orang yang rendah; Ia melimpahkan segala yang baik kepada orang yang lapar, dan menyuruh orang yang kaya pergi dengan tangan hampa; Ia menolong Israel, hamba-Nya, karena Ia mengingat rahmat-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang kita, kepada Abraham dan keturunannya untuk selama-lamanya.”  Maria tinggal kira-kira tiga bulan lamanya bersama dengan Elisabet, lalu pulang kembali ke rumahnya. (Luk 1:46-56)

Bacaan pertama: 1Sam 1:24-28; Mazmur Tanggapan: 1Sam 2:1.4-8 

Kidung Maria dalam bacaan Injil hari ini dikenal dalam bahasa Latin dengan nama Magnificat. Kidung Maria ini sangat mirip dengan kidung yang dinyanyikan oleh Hana (1Sam 2:1-10), ibunda dari nabi Samuel. Kidung Maria juga mencerminkan sejumlah nas dalam Perjanjian Lama.

Magnificat sangat indah karena kidung ini mengungkapkan perasaan terdalam Maria, dan pada saat yang sama mencerminkan suatu tradisi lama yang menyangkut praktek hidup saleh dalam Perjanjian Lama. Ketika Elisabet memuji Maria sebagai yang terberkati di antara semua perempuan, Maria menanggapinya sesuai dengan tradisi lama tersebut. Pada hakekatnya Maria berkata kepada Elisabet: “Janganlah memujiku. Akan tetapi bergabunglah dengan aku dalam memproklamasikan keagungan Tuhan; bersama-sama kita dapat menemukan sukacita dalam Allah Penyelamat kita.” Sesungguhnya Maria memang adalah seorang pribadi yang paling diberkati di antara para perempuan karena “Buah Rahimnya”. Bagaimana dengan kita? Kita pun sangat terberkati, karena Anaknya yang adalah Putera ilahi Allah telah menjadi Juruselamat kita.

Magnificat ini sangat bernilai dalam Gereja, karena didaraskan/dinyanyikan setiap hari sepanjang tahun dalam Ibadat Sore oleh mereka yang secara rutin mendoakan Ibadat Harian (Ofisi Ilahi). Kenyataan ini merupakan suatu undangan kepada kita semua untuk mendoakan Kidung Maria, apakah kita mendoakan Ibadat Harian atau tidak! Maria ingin agar kita semua bergabung dengan dirinya, kemudian bersama-sama berkata: “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku” (Luk 1:46).

Semangat Natal adalah semangat memberi dengan penuh kemurahan hati. Semangat ini mengalir dari Allah sendiri dan dicerminkan dalam bacaan-bacaan liturgi hari ini. Hana sudah lama mandul. Perempuan ini bernazar: “YHWH semesta alam, jika sungguh-sungguh Engkau memperhatikan sengsara hamba-Mu ini dan mengingat kepadaku dan tidak melupakan hamba-Mu ini, tetapi memberikan kepada hamba-Mu ini seorang anak laki-laki, maka aku akan memberikan dia kepada YHWH untuk seumur hidupnya dan pisau cukur tidak akan menyentuh kepalanya” (1Sam 1:11). Anaknya dinamakan Samuel. Hana dan suaminya kemudian membawa anak yang masih kecil sekali itu ke rumah YHWH di Silo untuk dipelihara dan dididik oleh imam Eli.

Kiranya pada waktu Maria mulai hidup menjanda karena kematian Yusuf, ia memperkenankan (= memberi izin) Anaknya yang tunggal itu mulai melakukan karya pelayanan di tengah masyarakat. Tindakan Maria tersebut merupakan contoh tindakan yang tidak mementingkan diri sendiri dan dipenuhi dengan semangat untuk melihat dan mengalami terlaksananya karya penyelamatan Allah bagi umat manusia.

Anak laki-laki Hana, Samuel, yang telah dibina dan ditempa oleh imam Eli menjadi seorang nabi besar yang mengurapi Saul sebagai raja Israel yang pertama, dan kemudian mengurapi Daud sebagai raja Israel yang paling agung. Anak laki-laki Maria, Yesus, Nabi dan Raja, adalah Imam yang mempersembahkan kurban salib bagi keselamatan kita semua. Kedua perempuan itu mencerminkan kebaikan Allah. Kita hanya dapat membayangkan betapa berharganya Samuel di mata Hana dan betapa besar arti Yesus bagi Maria. Kedua perempuan itu menyerahkan/memberikan anak laki-laki mereka untuk kepentingan rencana Allah, bukan untuk kepentingan mereka sendiri. Tindakan mereka itu adalah tindakan yang benar-benar berani dan lepas-total dari motif mementingkan diri sendiri (tanpa pamrih). Memang tidak mudahlah bagi kita untuk merenungkan betapa besar cintakasih Bapa surgawi kepada Putera-Nya. Namun kita telah melihat bahwa Bapa surgawi sangat mengasihi kita manusia, sampai-sampai Dia memberikan kepada kita Putera-Nya yang tunggal itu sebagai Juruselamat kita (lihat Yoh 3:16).

Dengan demikian, Natal bagi kita masing-masing tidaklah lengkap tanpa tindakan kita untuk memberi. Pemberian yang terbaik dan terindah bukanlah sebuah benda, akan tetapi cintakasih yang kita berikan kepada Allah dan juga umat-Nya, artinya sesama kita.

DOA: Roh Kudus Allah, berikanlah kepadaku hikmat agar sungguh dapat memahami makna sejati dari tindakan memberi cintakasih kepada Allah dan juga sesamaku. Bentuklah aku menjadi murid Kristus yang sejati. Tanamkanlah keyakinan dalam diriku, bahwa dengan memberi aku menerima, dengan memberi pengampunan aku diampuni. Amin.

Catatan: Untuk mendalam Bacaan Pertama hari ini (1Sam 1:24-28), bacalah tulisan yang berjudul “HANA, SAMUEL, MARIA DAN YESUS” (bacaan tanggal 22-12-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori 11-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2011. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan 22-12-09) 

Cilandak, 14 Desember 2011 [Peringatan S. Yohanes dari Salib, Imam dan Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

IMAN SEORANG PERAWAN DARI NAZARET – SEBUAH PERMENUNGAN MASA ADVEN-NATAL

IMAN SEORANG PERAWAN DARI NAZARET – SEBUAH PERMENUNGAN MASA ADVEN-NATAL

Bacaan Injil: Luk 1:39-45 – Hari Biasa Khusus Adven (Tahun II), 21 Desember 2011 

Bapa surgawi yang maharahim telah merencanakan, bahwa “inkarnasi” Putera-Nya harus didahului oleh persetujuan sang perawan yang akan menjadi bunda-Nya. Dengan demikian perempuan yang melalui Hawa telah turut menyebabkan kematian, melalui Maria juga akan memberi sumbangan kepada kehidupan baru.

Hal ini telah berlangsung secara sangat mengesankan pada diri Maria yang akan melahirkan Kristus, yaitu sang Kehidupan itu sendiri. Dialah yang akan memperbaharui seluruh dunia. Karena itu Maria dianugerahi rahmat sesuai dengan tugasnya yang demikian besar. Jadi, bukanlah suatu yang mengherankan apabila para Bapak Gereja berkesimpulan, bahwa Bunda Allah bebas dari noda dosa, seakan Roh Kudus telah menempanya menjadi makhluk ciptaan yang baru samasekali.

Sejak saat dikandungnya, Maria telah dianugerahi dengan kekudusan yang luarbiasa. Maka atas perintah dan pesan Allah, perawan dari Nazaret itu diberi salam dan disapa oleh malaikat agung Gabriel yang membawa kabar baik, sebagai “yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau” (Luk 1:28).

Kepada sang malaikat agung yang menyampaikan pesan Allah, Maria menjawab: “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38). Begitulah Maria, puteri Adam, karena memberi persetujuan (fiat)-nya atas pesan yang dibawakan oleh malaikat agung Gabriel, telah menjadi ibu Yesus. Dengan segenap hati dan dengan kebebasan yang penuh, Maria menerima kehendak Allah yang membawa keselamatan itu. Sebagai seorang hamba Tuhan, Maria membaktikan diri sepenuhnya kepada karya Puteranya. Dan berkat rahmat Allah, Maria bersama dengan Puteranya mengabdi kepada karya penebusan.

Dengan demikian tepatlah para Bapak Gereja, bahwa Allah mempergunakan Maria bukan sebagai alat yang pasif belaka melainkan bahwa dia turut serta secara aktif dalam misteri penebusan melalui iman dan kepatuhannya, yang bebas dari segala macam tekanan. Santo Ireneus [130-202] mengatakan, bahwa karena kepatuhannya Maria menjadikan dirinya pokok keselamatan umat manusia dan dirinya sendiri. Tentang kebenaran ini beberapa Bapak Gereja dengan kontras membandingkan peranan Hawa yang membawa maut dan peranan Maria yang menebus: berkat kepatuhannya, Maria telah melepaskan simpul ketidakpatuhan Hawa. Berkat imannya, Maria telah melepaskan ikatan yang disebabkan oleh Hawa yang tak percaya. Dan mereka menamakan Maria sebagai “ibu semua yang hidup” (bdk. Kej 3:20).

Kerjasamanya ini diawali pada saat Maria bangkit dengan bergegas pergi ke Ain Karem untuk mengunjungi Elisabet. Elisabet menyambutnya sebagai orang yang berbahagia, karena telah percaya akan keselamatan yang telah dijanjikan: “Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana”  (Luk 1:45). Beberapa saat sebelumnya, ketika Elisabet mendengar salam yang diucapkan Maria, melonjaklah anak yang dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus (lihat Luk 1:41).

Iman Maria ini sangat jelas kelihatan pada saat kelahiran Yesus, ketika dia dengan gembira memperlihatkan Puteranya yang sulung kepada para gembala dan orang-orang Majus yang mengunjungi mereka. Pada waktu para gembala melihat bayi Yesus yang sedang berbaring di dalam palungan, mereka memberi kesaksianmengenai apa yang telah dikatakan malaikat tentang Yesus, sehingga membuat semua orang yang mendengar kesaksian itu menjadi heran dan takjub. Lukas mencatat: “Tetapi Maria menyimpan segala perkataan itu di dalam hatinya dan merenungkannya” (Luk 2:19). Seorang kontemplatif sejati! Kita juga percaya bahwa kelahiran Yesus ini samasekali tidak mencemarkan keperawanan Maria, malah menguduskannya.

Iman yang mantap dari Maria kemudian kelihatan ketika dia membawa Yesus ke Bait Suci di Yerusalem untuk disunat dan dipersembahkan kepada Allah sambil mempersembahkan kurban orang-orang miskin berupa sepasang burung tekukur atau dua ekor burung merpati (Luk 2:22-24). Di Bait Suci itu Maria mendengar nubuat Simeon bahwa Puteranya akan menjadi tanda pertentangan dan bahwa suatu pedang akan menembus jiwanya, “supaya  menjadi nyata pikiran hati banyak orang” (lihat Luk 2:34-35). Iman Maria juga nampak jelas ketika Yesus yang masih berusia 12 tahun ketika itu “hilang” di Yerusalem dan orangtua-Nya dengan sedih mencari-Nya dan kemudian menemukan-Nya di dalam Bait Allah, sedang sibuk dalam perkara-perkara Bapa-Nya. Kedua orangtua-Nya tidak mengerti akan perkataan Putera mereka. Injil Lukas hanya mencatat seperti berikut: “Ibu-Nya pun menyimpan semua hal itu dalam hatinya” (Luk 2:51).

Iman Maria bertumbuh terus dengan berjalannya hari-hari kehidupannya. Imannya secara definitif ikut mengambil bagian pada “Peristiwa Perkawinan di Kana”  di mana Yesus membuat mukjizat atau “tanda” yang pertama dari tanda-tanda-Nya (Yoh 2:1-11). Petunjuk abadi Maria jelas bagi semua murid Yesus sepanjang masa: “Apa yang dikatakan-Nya kepadamu, lakukanlah itu” (Yoh 2:5). Injil Yohanes juga menggambarkan Maria sebagai seorang dari sangat sedikit pengikut/murid Yesus yang berdiri dekat kayu salib Yesus pada saat wafat-Nya (lihat Yoh 19:25-27). Ia juga ada bersama para murid Yesus yang lain dan saudara-saudara-Nya dalam persekutuan doa di ruang atas tempat mereka menumpang di Yerusalem (Kis 1:12-14). Tentunya Maria juga ada bersama para murid pada hari Pentakosta Kristiani yang pertama. Sampai pada hari ini pun Maria tetap aktif melayani Gereja (Tubuh Kristus) dan melakukan syafaat bagi mereka sambil mengatakan: “Apa yang dikatakan-Nya (Yesus) kepadamu, lakukanlah itu!”

DOA: Salam, Tuan Puteri, Ratu Suci, Santa Bunda Allah, Maria; Engkau adalah perawan yang dijadikan Gereja, dipilih oleh Bapa Yang Mahakudus di surga, dan dikuduskan oleh Dia bersama dengan Putera terkasih-Nya Yang Mahakudus serta Roh Kudus Penghibur. Dalam dirimu dahulu dan sekarang ada segala kepenuhan rahmat dan segalanya yang baik. Salam, istana-Nya; salam, kemah-Nya; salam, rumah-Nya. Salam, pakaian-Nya; salam, hamba-Nya; salam, bunda-Nya (Santo Fransiskus dari Assisi: “Salam kepada Santa Perawan Maria”)

Cilandak, 21 Desember 2011

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BERBAHAGIALAH IA YANG PERCAYA

BERBAHAGIALAH IA YANG PERCAYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven, Rabu 21-12-11)

Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan bergegas menuju sebuah kota di pegunungan Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring, “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai di telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana” (Luk 1:39-45).

Bacaan pertama: Kid 2:8-14 atau Zef 3:14-18a; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:2-3,11-12,20-21

“Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana” (Luk 1:45).

Apakah sebenarnya yang dipercayai oleh Maria? Tidak meragukan lagi, Maria percaya akan janji-janji khusus Tuhan kepada dirinya. Bahkan, secara lebih luas ia percaya segala hal yang dikatakan Allah mengenai dirinya dan apa yang harus dilakukannya. Pemikiran Maria sederhana, yaitu karena Allah telah terbukti setia di masa lampau, maka Dia akan tetap setia di masa depan juga. Allah tidak berubah, Dia adalah Allah Yang Mahasetia! Inilah yang menjadi fondasi tak tergoyahkan dari kehidupan Maria. Selagi dia percaya pada Allah di atas segalanya, dia pun menerima kekuatan untuk berdiri tegak dalam situasi-situasi sulit yang dihadapinya. Itulah sebabnya, mengapa umat Kristiani (khususnya Katolik) memandang Maria sebagai “model iman” dan “model seorang murid Kristus” yang patut diteladani.

Seperti Maria, kita pun dipanggil untuk untuk membangun kehidupan kita di atas fondasi yang kokoh dari Allah dan janji-janji-Nya. “Aku akan menjadi kota bentengmu”, Tuhan meyakinkan kita. “Taruhlah pengharapanmu dalam Aku.” Inilah yang diproklamasikan oleh sang pemazmur ketika dia berseru: “Jiwa kita menanti-nantikan TUHAN (YHWH), Dialah penolong kita dan perisai kita! Ya, karena Dia hati kita bersukacita, sebab kepada nama-Nya yang kudus kita percaya” (Mzm 33:20-21). Allah kita mahasetia, dan orang-orang yang percaya kepada-Nya sungguh mengenal “kegembiraan hati” yang sejati, yang dapat menggoncang dunia.

Dalam perhatiannya terhadap sabda Allah, Maria itu seperti perempuan dalam kitab “Kidung Agung” yang selalu mendengarkan suara dari kekasihnya (Kid 2:8). Nah, Allah adalah “Kekasih” kita juga. Apakah kita (anda dan saya) melihat-Nya dan percaya bahwa janji-janji-Nya yang terdapat dalam Kitab Suci merupakan janji-janji yang dibuat oleh-Nya bagi kita secara pribadi? Dia yang bersabda bahwa diri-Nya tidak pernah akan membiarkan kita terlantar – Dia itu mahasetia dalam membimbing langkah-langkah kita dan memberikan kekuatan kepada kita. Apakah kita berada dalam situasi yang berkemungkinan besar kehilangan pekerjaan kita, pindah ke rumah baru yang jauh dari tempat kerja dan sekolah yang baik bagi anak-anak, memasuki hidup perkawinan, menderita sakit-penyakit, mengatasi ketidakmampuan, atau berbagai macam kesulitan lainnya, kita tetap dapat mengingat kesetiaan Allah dan mohon pertolongan-Nya, bersama Bunda Maria dan dalam nama Yesus Kristus. Dalam setiap keadaan hidup, kita dapat mempermaklumkan bahwa Allah tidak hanya berada di samping kita, melainkan Dia menggendong kita senantiasa.

Teristimewa dalam masa Adven yang penuh rahmat ini, dalam doa marilah kita memohon kepada Allah untuk meyakinkan diri kita masing-masing tentang kesetiaan-Nya. Dia akan memberikan kepada kita damai-sejahtera yang mampu mengatasi godaan, rasa takut dan cemas kita. Kita harus percaya bahwa Allah akan melakukan segala sesuatu yang dikatakan-Nya akan dilakukan-Nya. Pax et Bonum bagi anda semua!

DOA: Bapa surgawi, Engkau adalah Allah yang Mahasetia. Aku percaya segala janji-Mu karena Engkau memang senantiasa setia pada sabda-Mu. Engkau adalah pengharapanku dan perisaiku. Aku sangat bersukacita karena menaruh kepercayaan pada-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 1:39-45), bacalah tulisan yang berjudul “MEMBAWA KRISTUS KEPADA ORANG LAIN” (bacaan tanggal 21-12-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 11-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2011. 

Cilandak, 12 Desember 2011

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEORANG PEREMPUAN YAHUDI YANG DIPILIH ALLAH

SEORANG PEREMPUAN YAHUDI YANG DIPILIH ALLAH  

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven, Selasa 20-12-11) 

Dalam bulan yang keenam malaikat Gabriel disuruh Allah pergi ke sebuah kota yang bernama Nazaret,kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. Ketika malaikat itu datang kepada Maria, ia berkata, “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.”  Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya, “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh anugerah di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapak leluhur-Nya, dan Ia akan memerintah atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-nya tidak akan berkesudahan.”  Kata Maria kepada malaikat itu, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” Jawab malaikat itu kepadanya, “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.”  Kata Maria, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia (Luk 1:26-38).

Bacaan Pertama: Yes 7:10-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 24:1-6 

Maria adalah seorang perempuan Yahudi yang setia, salah seorang anggota sejati dari umat Allah, seorang pewaris janji-janji yang telah dibuat Allah dengan umat pilihan-Nya. Allah tidak sekadar memilih sembarang perempuan untuk menjadi ibu Yesus; Ia memilih seorang perempuan muda dari antara orang-orang yang dikasihi-Nya. Jadi, melalui Maria – seorang perwakilan Israel – Allah memenuhi semua janji-Nya yang diberikan di bawah perjanjian (Inggris: covenant), mengutus Yesus ke tengah dunia sebagai sang Mesias dan Pembebas semua orang. Allah menggunakan Maria dalam rencana abadi-Nya untuk mencurahkan kasih-Nya ke dalam diri kita.

Allah membuat banyak janji kepada umat-Nya dalam Perjanjian Lama. Allah memberi sebuah tanda kepada raja Ahas, walaupun Ahas tidak mau karena dia tidak ingin mencobai TUHAN (YHWH): “Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel” (Yes 7:14). Imanuel berarti “Allah beserta/menyertai kita” (lihat Mat 1:23), dan janji ini dipenuhi melalui Maria dalam diri Yesus, Putera Allah yang datang dan “tinggal di antara kita” (Yoh 1:14).

Banyak bacaan Perjanjian Lama pada masa Adven mempermaklumkan kedatangan Mesias sebagai Pribadi yang akan membebaskan umat Allah dari belenggu dosa dan membawa mereka kepada kehidupan dan kedamaian. Walaupun orang-orang Israel berulang-kali memberontak melawan-Nya, YHWH tetap setia kepada  perjanjian-Nya dan berjanji untuk memimpin mereka ke luar dari kegelapan dan penindasan. Melalui kelahiran Yesus, kehidupan, kematian dan kebangkitan-Nya, Allah mencapai pekerjaan pembebasan ini, yakni menyatakan kasih-Nya kepada semua orang.

Marilah kita ingat selalu, bahwa pekerjaan Allah dalam diri Maria-lah yang membawa kita semua kepada peristiwa kelahiran Tuhan Yesus: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau” (Luk 1:35). Mukjizat ini terjadi dalam kerangka rencana kekal-abadi Allah yang lebih besar, yang mulai sebelum penciptaan dan akhirnya akan dipenuhi pada saat kedatangan kembali Yesus kelak. Kita seharusnya bergembira selagi kita menyaksikan rencana agung Allah ini bekerja dalam kehidupan kita, ketika kita mengalami Yesus yang adalah Imanuel.

Kelahiran Yesus dari Bunda Maria membawa kasih Allah ke tengah dunia dengan cara yang baru dan kekal. Marilah kita berdoa agar dapat mengalami kasih dan kuat-kuasa Ilahi ini pada masa Natal ini secara lebih mendalam lagi. Kita juga akan berdoa bagi negeri kita tercinta Indonesia ini, bagi dunia; agar kuasa-kuasa kegelapan dipatahkan dan kasih Allah dalam Kristus Yesus akan mengalir ke dalam hati semua orang.

Bersama seluruh Gereja, baiklah kita berdoa: “Datanglah, hai Kunci Daud, bukalah pintu-pintu gerbang kerajaan Allah yang kekal: Bebaskanlah para tawanan dari kegelapan.” 

DOA: Allah, Bapa kami, kuduslah nama-Mu. Pada waktu menerima pesan-Mu lewat malaikat agung Gabriel, Maria Kaujadikan Bait Suci-Mu, dan dirinya pun dipenuhi dengan terang Roh Kudus. Semoga melalui contoh Maria, dengan kerendahan hati dan kesetiaan, kami dapat mengikuti kehendak-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 1:26-38), bacalah tulisan yang berjudul “SALAM, HAI ENGKAU YANG DIKARUNIAI” (bacaan untuk tanggal 20-12-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 11-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2011. 

Cilandak, 14 Desember 2011 [Peringatan S. Yohanes dari Salib, Imam & Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TIDAK ADA YANG MUSTAHIL BAGI ALLAH

TIDAK ADA YANG MUSTAHIL BAGI ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven, Senin 19-12-11)

Pada zaman Herodes, raja Yudea, ada seorang imam yang bernama Zakharia dari rombongan Abia. Istrinya juga berasal dari keturunan Harun, namanya Elisabet. Keduanya hidup benar di hadapan Allah dan menuruti segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat. Tetapi mereka tidak mempunyai anak, sebab Elisabet mandul dan keduanya telah lanjut umurnya.

Pada suatu kali, waktu tiba giliran kelompoknya, Zakharia melakukan tugas keimaman di hadapan Tuhan. Sebab ketika diundi, sebagaimana lazimnya, untuk menentukan imam yang bertugas, dialah yang ditunjuk untuk masuk  ke dalam Bait Suci dan membakar dupa di situ. Pada waktu pembakaran dupa, seluruh umat berkumpul di luar dan sembahyang. Lalu tampaklah kepada Zakharia seorang malaikat Tuhan berdiri di sebelah kanan mezbah pembakaran dupa. Melihat hal itu ia terkejut dan menjadi takut. Tetapi malaikat itu berkata kepadanya, “Jangan takut, hai Zakharia, sebab doamu telah dikabulkan. Elisabet, istrimu, akan melahirkan seorang anak laki-laki bagimu dan haruslah engkau menamai dia Yohanes. Engkau akan bersukacita dan bergembira, bahkan banyak orang akan bersukacita atas kelahirannya itu. Sebab ia akan besar di hadapan Tuhan dan dia tidak akan minum anggur atau minuman keras dan ia akan penuh dengan Roh Kudus sejak dari rahim ibunya dan ia akan membuat banyak orang Israel berbalik kepada Tuhan, Allah mereka. Ia akan berjalan mendahului Tuhan dalam roh dan kuasa Elia untuk membuat hati para bapak berbalik kepada anak-anaknya dan hati orang-orang durhaka kepada pikiran orang-orang benar. Dengan demikian ia menyiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagi-Nya.” Lalu kata Zakharia kepada malaikat itu, “Bagaimanakah aku tahu bahwa hal ini akan terjadi? Sebab aku sudah tua dan istriku sudah lanjut umurnya.” Jawab malaikat itu kepadanya, “Akulah Gabriel yang melayani Allah dan aku telah diutus untuk berbicara kepadamu untuk menyampaikan kabar baik ini kepadamu. Sesungguhnya engkau akan menjadi bisu dan tidak dapat berkata-kata sampai hari ketika semuanya ini terjadi, karena engkau tidak percaya kepada perkataanku yang akan dipenuhi pada waktunya.” Sementara itu orang banyak menanti-nantikan Zakharia. Mereka menjadi heran bahwa ia begitu lama berada dalam Bait Suci. Ketika ia keluar, ia tidak dapat berkata-kata kepada mereka dan mengertilah mereka bahwa ia telah melihat suatu penglihatan di dalam Bait Suci. Lalu ia memberi isyarat kepada mereka, dan ia tetap bisu. Ketika selesai masa pelayanannya, ia pulang ke rumah.

Beberapa lama kemudian Elisabet, istrinya, mengandung dan selama lima bulan ia tidak menampakkan diri, katanya, “Inilah suatu perbuatan Tuhan bagiku, dan sekarang Ia berkenan menghapuskan aibku di depan orang.” (Luk 1:5-25)

Bacaan pertama: Hak 13:2-7.24-25; Mazmur Tanggapan: Mzm 71:5-6,16-17

Pada saat Zakharia mendengar malaikat agung Gabriel memberitahukan kepadanya tentang janji Allah baginya untuk memberinya seorang anak laki-laki, dia meminta bukti bagaimana kiranya hal itu akan menjadi kenyataan karena dia dan istrinya – Elisabet – sudah tua. Karena ketiadaan imannya, Zakharia dibuat menjadi bisu sampai janji itu dipenuhi. Sembilan bulan kemudian, Allah menganugerahi Zakharia dan Elisabet seorang anak laki-laki. Dalam hal ini Allah lagi-lagi melakukan pekerjaan ajaib seperti yang telah dilakukan-Nya atas diri para pasutri lainnya dalam Kitab Suci: Abraham dan Sara (Kej 18:9-10;21:1-2), Elkana dan Hana (1Sam 1:2,19-20), dan Manoa dan istrinya (Hak 13:2,24). Ketika bayi dalam kandungan Elisabet berumur 6 bulan, kepada seorang perawan di Nazaret malaikat agung Gabriel membuat pernyataan: “Bagi Allah tidak ada yang mustahil” (Luk 1:37).

Jadi, untuk kesekian kalinya Tuhan membuktikan bahwa segalanya mungkin bagi-Nya. Ketika Sara tertawa mendengar bahwa kepadanya dijanjikan seorang anak laki-laki, Allah berkata kepada Abraham: “Adakah sesuatu apapun yang mustahil untuk TUHAN (YHWH)?” (Kej 18:14). Iman Abraham akan janji Allah tidak pernah menyusut. Ia “berkeyakinan penuh bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan” (Rm 4:21).

Pada waktu YHWH menyatakan diri-Nya kepada Ayub, ia juga diyakinkan akan kuat-kuasa Allah, sehingga dia menyatakan: “Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal” (Ayb 42:2). Dalam sebuah doanya, nabi Yeremia tercatat mengatakan: “Ah Tuhan ALLAH! Sesungguhnya, Engkaulah yang telah menjadikan langit dan bumi dengan kekuatan-Mu yang besar dan dengan lengan-Mu yang terentang. Tiada suatu apapun yang mustahil untuki-Mu!” (Yer 32:17). YHWH menanggapi doa yang cukup panjang dari Yeremia itu dan mengawali sabda-Nya sebagai berikut: “Sesungguhnya, Akulah YHWH, Allah segala makhluk; adakah sesuatu apapun yang mustahil untuk-Ku?” (Yer 32:27).

“Kemustahilan” tertinggi diwujudkan oleh Allah melalui Putera-Nya. Yesus dilahirkan dari seorang perempuan, walaupun Ia adalah Allah; Ia menderita sengsara dan mati karena cintakasih-Nya kepada kita walaupun kita – manusia – menolak-Nya. Ia bangkit dari antara orang mati, menghancurkan kuasa dosa, Iblis dan dunia; dan Ia membuat kita menjadi anak-anak Allah, para pewaris kehidupan kekal bersama-Nya.

Karena Allah telah mengerjakan segala sesuatu yang “mustahil” di mata manusia melalui Yesus (misalnya membuat mukjizat penyembuhan dan tanda-tanda heran lainnya seperti menghidupkan kembali orang yang sudah mati), maka kita harus percaya bahwa pada masa Adven ini pun Yesus Kristus akan melakukan “kemustahilan” dalam kehidupan kita dan keluarga kita. Ingatlah, bahwa “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamnya” (Ibr 13:8). Barangkali kita sedang menghadapi masalah perpecahan dalam keluarga, memerlukan penyembuhan atas salah seorang anggota keluarga yang sedang menderita sakit, memerlukan solusi untuk mengatasi masalah keuangan yang menindih, mencari pekerjaan atau merestorasi perdamaian antara pihak-pihak yang bersengketa dalam keluarga dlsb. Kita sungguh membutuhkan iman bahwa Allah dapat melakukan segala hal dalam kehidupan kita yang kita pandang sebagai “kemustahilan”.

DOA: Tuhan Yesus, aku percaya bahwa semua hal mungkin bagi-Mu dan Engkau dapat melakukan “kemustahilan” dalam hidupku. Tolonglah aku agar dapat sungguh percaya bahwa kehendak-Mu atas diriku dapat terjadi. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Hak 13:2-7,24-25), bacalah tulisan yang berjudul “SIMSON MEMBANTU KITA UNTUK MENGHARGAI KEAGUNGAN YESUS SEBAGAI JURUSELAMAT KITA” (bacaan untuk tanggal 19-12-11) dalam blog/situs PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori 11-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2011. 

Cilandak, 13 Desember 2011 [Peringatan Santa Lusia, Perawan & Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 136 other followers