SENANTIASA BERPEGANG TEGUH PADA PANGGILAN ALLAH

SENANTIASA BERPEGANG TEGUH PADA PANGGILAN ALLAH

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Paskah, Senin 23-5-11) 

Tetapi orang banyak di kota itu terpecah menjadi dua: Ada yang memihak kepada orang Yahudi, ada pula yang memihak kepada rasul-rasul itu. Lalu mulailah orang-orang bukan Yahudi dan orang-orang Yahudi bersama-sama dengan pemimpin-pemimpin mereka berusaha untuk menyiksa dan melempari mereka dengan batu. Mengetahui hal itu, menyingkirlah rasul-rasul itu ke kota-kota di Likaonia, yaitu Listra dan Derbe dan daerah sekitarnya. Di situ mereka memberitakan Injil.

Di Listra ada seorang laki-laki yang duduk saja, karena kakinya lemah dan lumpuh sejak lahir dan belum pernah dapat berjalan. Ia mendengarkan Paulus yang sedang berbicara. Paulus menatap dia dan melihat bahwa ia beriman dan dapat disembuhkan. Lalu kata Paulus dengan suara nyaring, “Berdirilah tegak!” Orang itu pun melonjak berdiri, lalu mulai berjalan kian ke mari. Ketika orang banyak melihat apa yang telah diperbuat Paulus, mereka itu berteriak dalam bahasa Likaonia, “Dewa-dewa telah turun ke tengah-tengah kita dalam rupa manusia.” Barnabas mereka sebut Zeus dan Paulus mereka sebut Hermes, karena dialah yang berbicara. Lalu datanglah imam dewa Zeus, yang kuilnya terletak di luar kota, membawa lembu-lembu jantan dan karangan-karangan bunga ke pintu gerbang kota untuk mempersembahkan kurban bersama-sama dengan orang banyak kepada rasul-rasul itu. Mendengar itu rasul-rasul itu, yaitu Barnabas dan Paulus, mengoyakkan pakaian mereka, lalu menerobos ke tengah-tengah orang banyak itu sambil berseru, “Hai kamu sekalian, mengapa kamu berbuat demikian? Kami ini manusia biasa sama seperti kamu. Kami ada di sini untuk memberitakan Injil kepada kamu, supaya kamu meninggalkan perbuatan sia-sia ini dan berbalik kepada Allah yang hidup, yang telah menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya. Pada zaman yang lampau Allah membiarkan semua bangsa menuruti jalannya masing-masing, namun Ia bukan tidak menyatakan diri-Nya dengan berbagai-bagai perbuatan baik, yaitu dengan menurunkan hujan dari langit dan dengan memberikan musim-musim subur bagi kamu. Ia memuaskan hatimu dengan makanan dan kegembiraan.” Walaupun rasul-rasul itu berkata demikian, mereka hampir-hampir tidak dapat mencegah orang banyak mempersembahkan kurban kepada mereka. (Kis  14:5-18).

Mazmur Tanggapan: Mzm 115:1-4,15-16; Bacaan Injil: Yoh 14:21-26 

Adalah satu hal yang baik bahwa entusiasme Paulus dan Barnabas untuk mewartakan Kabar Baik secara kokoh telah didasarkan pada Kristus sendiri, bukannya tergantung bagaimana pesan mereka itu diterima oleh orang banyak. Bayangkanlah bagaimana perubahan suasana hati yang akan mereka alami, seandainya mereka menaruh kepercayaan serta mengandalkan diri pada opini publik ketika mereka membawa Injil ke Listra (lihat Kis 14:6). Pujian kepada mereka disusul dengan cepat oleh sikap permusuhan yang dipenuhi dengan ide kekerasan. Perpecahan di antara orang banyak di Ikonium karena pewartaan dan berbagai mukjizat dan tanda heran yang mereka lakukan telah mengakibatkan timbulnya usaha untuk menyiksa dan melempari mereka dengan batu (lihat Kis 14:3-6). Dengan demikian kedua rasul itu harus menyingkir ke kota-kota di Likaonia, yaitu Listra dan Derbe dan daerah sekitarnya. Di situ mereka memberitakan Injil (lihat Kis 14:6-7). 

Di Listra inilah terjadi sebuah peristiwa yang menarik. Misi Paulus dan Barnabas adalah untuk mendesak orang banyak agar kembali kepada jalan Allah. Kedua rasul itu tidak pernah bermaksud untuk menarik perhatian orang banyak kepada diri mereka sendiri. Suatu sikap yang benar sebagai pewarta! Inilah yang terjadi, meskipun setelah Paulus memandang orang lumpuh yang mendengarkan khotbahnya itu sungguh memiliki iman untuk dapat disembuhkan. Kiranya cukup mengejutkan bagi Paulus dan Barnabas ketika orang banyak memandang kesembuhan orang lumpuh itu bukan sebagai tanda konfirmasi atas kuasa Allah, melainkan bukti bahwa mereka adalah dua sosok dewa yang menjelma menjadi manusia (lihat Kis 14:11-13). 

Kita, orang zaman modern ini, mungkin saja tertawa terpingkal-pingkal apabila kita menyaksikan bahwa  imam dewa Zeus pun sampai-sampai mengambil keputusan untuk mempersembahkan kurban persembahan kepada dua orang misionaris perdana ini. Akan tetapi bagi Paulus dan Barnabas hal itu samasekali bukanlah sesuatu yang lucu-menggelikan. Diidolakan (idola=berhala) sangat lah bertentangan dengan yang mereka cari dan cita-citakan. Ingatlah apa yang ditulis sang pemazmur: “Bukan kepada kami, ya TUHAN (YHWH), bukan kepada kami, tetapi kepada nama-Mulah beri kemuliaan, oleh karena kasih-Mu, oleh karena setia-Mu” (Mzm 115:1). Itulah kiranya juga yang menjadi pegangan kedua rasul Yesus Kristus itu. Tidak lama kemudian, suasana hati orang banyak memang menjadi berubah. Karena dihasut oleh orang-orang Yahudi dari Antiokhia dan Ikonium, maka orang banyak itu pun berpihak kepada para penghasut itu. Lalu mereka melempari Paulus dengan batu dan menyeretnya ke luar kota, karena mereka menyangka dia telah mati. Keesokan harinya Paulus dan Barnabas berangkat ke Derbe (lihat Kis 14:19). Semua itu terjadi hanya dalam satu hari. Pagi hari mereka menerima pujian, siang hari mereka menerima cacian dan siksaan! Bukankah Yesus, Tuhan dan Juruselamat kita, juga telah mengalami hal yang sama? Hari ini ‘mubarak’ (Minggu Palma), besok ‘salibkan Dia’ (Jumat Agung) [Ingat pembelaan Mr. Yap Thiam Hien pada perkara Dr. Soebandrio berkaitan dengan peristiwa Gestapu, di tahun 1966] 

Sebagai seorang Kristiani kita masing-masing tentunya juga mengalami naik-turunnya kehidupan, namun tidak sampai begitu ekstrim sebagaimana yang dialami oleh Paulus dan Barnabas. Dua rasul ini memberikan contoh bagus tentang kesetiaan secara ‘kepala-batu’ (keras kepala) terhadap panggilan mereka, yang menurut mata dunia mungkin saja dipandang sebagai suatu kebodohan. Patutlah kita catat bahwa tidak ada seorang pun dari kita yang dapat mengendalikan berbagai macam reaksi yang akan kita terima ketika kita memberi kesaksian tentang Tuhan. Ada yang akan mengasihi kita dan tidak sedikit pula yang akan membenci kita, dan tentunya ada juga yang akan mendewa-dewakan kita. Hal yang disebutkan terakhir ini penting dicamkan oleh setiap orang Kristiani yang melakukan pelayanan dalam bidang pewartaan, apakah imam, pendeta atau kaum awam. Ingatlah bahwa kita hanyalah seperti keledai yang ditunggangi Yesus ketika memasuki Yerusalem pada hari Minggu Palma dan mendengar orang banyak mengelu-elukan-Nya. Kalau kita “gila hormat” karena merasakan bahwa kitalah yang dielu-elukan dan tiba-tiba mengangkat kaki depan karena kegirangan, maka Yesus bisa-bisa menjadi terjatuh ke tanah. 

Sehubungan dengan naik-turunnya apa yang kita alami sebagai pelayan sabda-Nya, yang penting bagi kita adalah untuk senantiasa berpegang teguh pada panggilan Allah kepada kita. Percayalah, bahwa Allah akan dan dapat membereskan hal-hal lainnya. 

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku agar dapat selalu berada pada kaki-kaki-Mu dan secara kokoh-kuat berakar dalam diri-Mu. Kapan pun, ya Tuhan Yesus, semoga aku dapat menerima sabda kehidupan kekal dari-Mu dan menyampaikannya juga kepada orang-orang lain. Amin. 

Catatan: Bagi anda yang ingin mendalami bacaan Injil hari ini (Yoh 14:21-26), silahkan baca tulisan yang berjudul “ROH KUDUS AKAN DIUTUS OLEH BAPA DALAM NAMA YESUS” tanggal yang sama, di blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: PERMENUNGAN ALKITABIAH. 

Cilandak, 18 Mei 2011 [Pesta/Peringatan Santo Feliks dari Cantalice] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DIA MEMANGGIL KITA KELUAR DARI KEGELAPAN KEPADA TERANG-NYA YANG AJAIB

DIA MEMANGGIL KITA KELUAR DARI KEGELAPAN KEPADA TERANG-NYA YANG AJAIB

(Bacaan Kedua Misa Kudus, HARI MINGGU PASKAH V [Tahun A], 22-5-11) 

Datanglah kepada-Nya, batu yang hidup itu, yang memang dibuang oleh manusia, tetapi dipilih dan dihormati di hadirat Allah. Biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah. Sebab ada tertulis dalam Kitab Suci: “Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebuah batu, sebuah batu penjuru yang terpilih dan mahal dan siapa yang percaya kepada-Nya tidak akan dipermalukan” [1]. Karena itu, bagi kamu yang percaya, ia mahal, tetapi bagi mereka yang tidak percaya: “Batu yang telah dibuang oleh tukang-tukang bangunan, telah menjadi batu penjuru, juga telah menjadi batu sentuhan dan suatu batu sandungan” [2]. Mereka tersandung padanya, karena mereka tidak taat kepada Firman Allah; dan mereka juga telah ditentukan untuk itu [3]. Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib [4]. (1Ptr 2:4-9)

Catatan: [1] Ayat 6, bdk. Yes 28:16]; [2] Ayat 7, bdk. Mzm 118:22; [3] Ayat 8, bdk. Yes 8:14-15]; Ayat 9, bdk. Kel 19:5-6, Ul 4:20, 7-6, 14:2, Yes 9:1, 43:20-21, Tit 2:14

Bacaan Pertama: Kis 6:1-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:1-2,4-5,18-19; Bacaan Injil: Yoh 14:1-12 

Bacaan kedua Misa Kudus hari ini diambil dari bagian pertama Surat Pertama Santo Petrus yang berisikan wejangan-wejangan yang bersifat umum. Sebagai orang Kristiani, secara tulus kita harus mempraktekkan kasih persaudaraan yang sejalan dengan kehidupan baru ke dalam mana kita telah dilahirkan kembali, sehingga dengan demikian kita dapat menjadi lebih sempurna lagi dipersatukan ke dalam ‘rumah rohani’ baru yang batu penjurunya adalah Kristus sendiri. Bacaan ini adalah salah satu bacaan dalam Kitab Suci yang terbaik berkaitan dengan imamat umum

Bagi orang Yahudi Kristus adalah batu sandungan yang mereka tolak, namun Ia telah menjadi batu penjuru Gereja melalui penolakan terhadap diri-Nya, yaitu yang diwujudkan dalam kematian dan kebangkitan-Nya. Pada waktu mengajar ‘perumpamaan tentang penggarap-penggarap kebun anggur’ (Mat 21:33-46), Yesus menyebutkan kata-kata ‘batu penjuru’ itu (lihat Mat 21:42). Di sini Yesus menerapkan pada diri-Nya sendiri perumpamaan yang diajarkan-Nya, yaitu sebagai anak tuan tanah pemilik kebun anggur yang dibunuh oleh para penggarap yang jahat. Yesus menggunakan kata-kata yang digunakan oleh sang pemazmur: “Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru. Hal itu terjadi dari pihak TUHAN (YHWH), suatu perbuatan ajaib di mata kita” (Mzm 118:22-23). 

Kita – orang-orang Kristiani – telah menjadi batu-batu penjuru, yang dibangun sebagai sebuah bangunan besar rohani. Kekristenan atau Kristianitas adalah komunitas. Sebuah batu hanya menjadi berguna apabila dibangun menjadi sebuah bangunan. Jadi, kita adalah batu-batu penjuru yang dibangun menjadi Gereja. Seorang Kristiani tidak boleh hidup sendirian atau menyendiri, karena dia harus senantiasa hidup bersekutu dengan saudari dan/atau saudaranya seiman. 

Kita adalah sebuah ‘bangsa terpilih’, suatu ‘imamat kudus’ yang mempersembahkan persembahan rohani yang berkenan kepada Allah melalui Yesus Kristus (lihat 1Ptr 2:5,9). Petrus mengambil oper kata-kata ini dari Kitab Keluaran di mana dalam rangka perjanjian-Nya dengan bangsa Israel YHWH berkata kepada Musa agar disampaikan kepada bangsa Israel yang sedang dalam perjalanan menuju tanah terjanji: “Kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan imam dan bangsa yang kudus” (Kel 19:6). Melalui perjanjian ini YHWH adalah Allah bangsa Israel dan mereka adalah umat-Nya. Semua ini akan digenapi dalam perjanjian baru, melalui kematian Kristus dan kebangkitan-Nya. 

Seorang imam mempunyai akses kepada Allah dan membawa orang-orang lain kepada Allah. Dahulu hal ini adalah hak istimewa segelintir orang, khususnya Imam Besar yang sekali setahun dapat sendirian memasuki tempat ‘Yang Kudus dari segala yang kudus’ di Bait Allah. Sekarang setiap orang Kristiani mempunyai akses kepada Allah. Dan dia mempersembahkan kurban persembahan kepada Allah. Setiap hal yang dilakukannya, dilakukannya untuk Allah, bahkan tugasnya yang paling kecil sekali pun. Maka orang Kristiani membuat dirinya suatu persembahan bagi Allah. Santo Paulus menulis: “Karena itu, Saudara-saudara, oleh kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: Itulah ibadahmu yang sejati” (Rm 12:1). 

Dengan demikian kurban persembahan sebuah komunitas Kristiani bukan bersifat kultis, melainkan bersifat etis: penghayatan suatu hidup Kristiani di dalam dunia. Namun kelihatannya lebih dari itu, tanpa kita harus menyangkal perbedaan yang ada antara imamat khusus bagi para imam tertahbis dan imamat umum dari umat yang percaya. Imam tertahbis mempersembahkan kurban persembahan bersama Kristus, sang Kepala Gereja. Para imam tertahbis ikut ambil bagian dalam imamat-Nya sebagai Kepala. Umat yang sudah dibaptis dan menerima sakramen krisma juga ikut mempersembahkan kurban persembahan yang menghadirkan-Nya, melakukan tugas imamat mereka sebagai anggota-anggota Gereja. Sebagai “imamat rajawi” (lihat 1Ptr 2:9) – komunitas imam-imam dan keturunan raja-raja – kita dipanggil untuk mempersembahkan diri dalam ibadat, dan pelayanan untuk mewartakan Tuhan di dunia. 

DOA: Tuhan Yesus, Engkau telah memanggilku dari kegelapan menuju terang-Mu yang mengagumkan. Biarlah terang-Mu bersinar lebih cerah dalam diriku, mengusir segala kegelapan dan memancarkan kebaikan kepada orang-orang yang Kauberikan kepadaku untuk kukasihi. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 6:1-7), saya menganjurkan anda untuk membaca lagi tulisan yang berjudul “PENGANGKATAN TUJUH ORANG DIAKON YANG PERTAMA”, tanggal 17 April 2010 dalam blog SANG SABDA ini; kategori: 10-04 BACAAN HARIAN APRIL 2010. 

Cilandak, 17 Mei 2011 [Peringatan Santo Paskalis Baylon]  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SIAPA SAJA YANG TELAH MELIHAT AKU, IA TELAH MELIHAT BAPA

SIAPA SAJA YANG TELAH MELIHAT AKU, IA TELAH MELIHAT BAPA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Paskah, Sabtu 21-5-11) 

“Sekiranya kamu mengenal aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat dia.” Kata Filipus kepada-Nya, “Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami.” Kata Yesus kepadanya, “Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Siapa saja yang telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami. Tidak percayakah engkau bahwa aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang tinggal di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-pekerjaan-Nya.

Percayalah kepada-Ku bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku; atau setidak-tidaknya, percayalah karena pekerjaan-pekerjaan itu sendiri. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar daripada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa; dan apa pun yang kamu minta dalam nama-Ku, aku akan melakukannya, supaya Bapa dimuliakan di dalam anak. Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya” (Yoh 14:7-14). 

Bacaan Pertama: Kis 13:44-52; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1-4 

Yesus mengatakan bahwa siapa saja yang melihat Dia, orang itu telah melihat Bapa. Tentunya hal itu merupakan kabar yang sangat baik bagi Filipus dan para rasul lainnya. Mereka dapat memandang Yesus dan melihat Allah sendiri. Akan tetapi, bagaimana halnya sekarang? Bagaimana orang-orang zaman sekarang dapat melihat Allah? Jawabnya: Dalam diri kita! Yesus hidup di dalam diri kita, yaitu para pengikut-Nya (para murid-Nya). Dengan demikian, apabila orang-orang melihat kita, seharusnya mereka  melihat Yesus dan Bapa. 

Kebenaran yang sedemikian dapat membuat diri kita menjadi keder. Kita bertanya: Bagaimana kita dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan oleh Yesus? Bagaimana saya dapat mengajar dengan penuh kuasa seperti ditunjukkan oleh Yesus? Namun kita lupa bahwa seringkali dalam hal-hal yang paling sederhanalah orang-orang dapat melihat Yesus dalam diri kita. Misalnya, kata-kata ramah yang diucapkan bibir kita, sebuah senyum persaudaraan, suatu isyarat bahasa tubuh kita yang menunjukkan sikap mendorong serta menyemangati, suatu tindakan kasih pada waktu orang membutuhkan bantuan, sebuah doa syafaat – pokoknya tindakan-tindakan kecil dapat memberi dampak yang lebih jauh daripada yang sering kita pikirkan atau bayangkan. Kalau saja secara sederhana kita mau menghayati suatu kehidupan Kristiani seperti dikehendaki oleh Yesus dan seturut panduan serta bimbingan Gereja, maka sesungguhnya kita dapat menyatakan Yesus dan Bapa kepada orang-orang lain. 

Pada suatu ketika, seorang istri yang masih muda (serta ibunya) membawa suaminya dari Manhattan, New York City ke Italia, dengan harapan perubahan iklim akan membuat kondisi kesehatan sang suami menjadi semakin baik. Akan tetapi, tidak lama setelah kedatangan mereka di Italia, sang suami justru meninggal dunia. Sebagai seorang janda, perempuan muda ini berdiam di rumah sebuah keluarga sahabat. Dengan berjalannya waktu, kehidupan keluarga tempat mereka menumpang semakin terlihat olehnya. Suatu kehidupan yang mencerminkan kasih dan kebaikan hati Yesus melalui doa-doa mereka, hospitalitas, dan inter-aksi sehari-hari. Perempuan muda Amerika yang bernama Elizabeth Ann Seton ini begitu terkesan dengan kesaksian hidup yang ditunjukkan keluarga tersebut, sehingga dia memutuskan untuk menjadi Katolik ketika kembali ke Amerika Serikat. Pada tahun-tahun berikutnya, kesaksian hidup perempuan muda ini membawa perempuan-perempuan lain kepada Kristus. Bersama-sama mereka mendirikan sekolah Katolik yang pertama di Amerika Serikat. Semua ini gara-gara Elizabeth Ann Seton [1774-1821] melihat Yesus hidup dalam sebuah keluarga di Italia. Elizabeth Ann Seton dibeatifikasikan pada tanggal 17 Maret 1963 oleh Paus Yohanes XXIII, dan dikanonisasikan pada tanggal 14 September 1975 oleh Paus Paulus VI. Santa Elizabeth Ann Seton adalah orang kudus pertama kelahiran Amerika Serikat. 

Kesaksian yang sederhana tentang kasih Kristiani dan kebaikan hati kepada orang-orang lain dapat begitu penuh kuat-kuasa! Ada saat-saat di mana mukjizat dan berbagai tanda heran berfungsi untuk menunjukkan kuasa Allah, dan Yesus dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan ajaib ini melalui kita juga. Namun demikian, hampir selalu ungkapan-ungkapan kasih dan kebaikan hati “biasa-biasa” saja yang justru memperkenankan orang-orang lain melihat Allah dalam diri kita. Dan apabila mereka melihat Allah, mereka melihat ‘seorang’ Bapa yang sangat mengasihi mereka dengan kasih yang kekal-abadi. 

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau sudi hidup dalam diriku. Tolonglah aku agar mampu menunjukkan kehadiran-Mu kepada orang-orang lain dalam segala hal yang kulakukan dan kukatakan. Bekerjalah lewat diriku untuk menunjukkan kasih Allah kepada semua orang. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 14:7-14), bacalah tulisan yang berjudul “SIAPA SAJA YANG PERCAYA KEPADA-KU ……” tanggal 1 Mei 2010, dalam blog SANG SABDA ini; kategori: 10-05 BACAAN HARIAN MEI 2010. 

Cilandak, 10 Mei 2011 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

JANGANLAH GELISAH HATIMU

JANGANLAH GELISAH HATIMU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Paskah, Jumat 20-5-11)

Keluarga  Besar Fransiskan: Pesta/Peringatan S. Bernardinus dari Siena, Ordo I  

 “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Apabila aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada.

Kemana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ.” Kata Tomas kepada-Nya, “Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?” Kata Yesus kepadanya, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yoh 14:1-6)

Bacaan Pertama: Kis 13:26-33; Mazmur Tanggapan: Mzm 2:6-11

“Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku” (Yoh 14:1). Yesus baru saja mengatakan kepada para murid-Nya, bahwa salah seorang dari mereka akan berkhianat (lihat Yoh 13:21). Disaksikan oleh para murid yang lain, Yesus juga memperingati Petrus, bahwa murid-Nya itu akan menyangkal diri-Nya sampai tiga kali (lihat Yoh 13:38). Sebelumnya, Dia juga mengatakan akan pergi meninggalkan murid-murid-Nya. Sesudah sekian lama segalang-segulung dengan sang Rabi dari Nazaret itu, bagaimana hati para murid-Nya tidak gelisah? Mereka telah menaruh segala pengharapan mereka pada diri Yesus, dan sekarang rasa kepercayaan mereka kepada-Nya serasa salah sasaran, serasa musnah. Kita semua tentunya mempunyai pengalaman yang akan membantu memahami bagaimana kiranya perasaan yang melanda para murid dalam situasi yang mereka sedang hadapi itu. Dalam situasi seperti itu Yesus menyemangati mereka: “Janganlah gelisah hatimu……” (Yoh 14:1). 

Untuk memperburuk atau mempersuram gambaran situasi yang dihadapi para murid Yesus, kita dapat mempertimbangkan bahwa mereka hidup di tengah situasi menegangkan di bawah pendudukan Romawi yang kejam di kota Yerusalem. Setiap hari mereka menghadapi ancaman diseret ke dalam penjara oleh para tua-tua dan pemuka agama Israel. Bahkan beberapa dari murid Yesus itu mengharap-harapkan terjadinya suatu revolusi politik yang akan membuat Yesus raja bangsa Israel. Sekarang, Yesus ini, yang telah menjadi pemimpin spiritual mereka dan yang telah sekian lama mereka ikuti, memberitahukan kepada mereka bahwa Dia akan pergi meninggalkan mereka. Mana boleh tahan??? 

Para murid Yesus yang telah diangkat menjadi rasul itu telah meninggalkan segalanya untuk mengikuti Yesus. Barangkali keluarga-keluarga mereka mempunyai pemikiran lain tentang stabilitas mental mereka. Sekarang mereka mendengar bahwa Yesus akan pergi meninggalkan mereka – bahwa Dia akan dibunuh. Betapa sukar untuk menggambarkan situasi mereka dengan kata-kata kita yang penuh keterbatasan ini! Yesus menceritakan berita yang menghancur-luluhkan hati ini karena Dia mengetahui bahwa di kemudian hari mereka akan sampai kepada pemahaman tentang kepenuhan hidup yang dibawa-Nya ke dalam dunia. 

Yesus datang ke dunia untuk “membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis” (lihat 1Yoh 3:8). Orang-orang yang percaya kepada-Nya dan memiliki iman akan diselamatkan. Dengan demikian kita tidak perlu sedemikian tertekannya oleh karena keadaan dunia yang tidak begitu cerah-menggembirakan. Sukacita, damai sejahtera dan kasih yang kita rindukan dalam kita temukan dalam diri Yesus. Jalan ke surga bukanlah suatu metode atau prosedur yang harus dipahami betul-betul dan dijalankan. Bukan begitu, Saudari dan Saudaraku! Jalan ke surga adalah Yesus sendiri, yang akan menolong kita dalam setiap langkah kita. Dia telah menebus kita dan mendirikan sebuah tempat di surga bagi semua orang yang memilih mengikuti-Nya. 

Inilah Kabar Baik-Nya. Oleh karena itu janganlah kita sampai kehilangan semangat. Penderitaan hari ini bersifat sementara saja; sukacita dan kemuliaan yang akan datang adalah untuk selama-lamanya! Apapun yang sedang anda derita sekarang, Allah mempunyai komitmen terhadap anda. Jadi, marilah kita menyerahkan diri dengan penuh kasih kepada Allah dan saksikanlah Dia membawa kepada kita hal-hal baik, bahkan dalam situasi yang paling berat sekalipun. Marilah kita memperkenankan Roh-Nya membentuk anda secara lebih lengkap lagi sehingga menjadi semakin serupa dengan Yesus, yang adalah kepenuhan hidup. 

DOA: Tuhan Yesus, kami sedang menanti-nantikan kedatangan-Mu kembali. Terangilah pikiran kami agar kami dapat mewartakan Kabar Baik-Mu. Nyalakanlah api cinta-Mu dalam hati kami masing-masing sehingga yang kami ucapkan adalah kata-kata yang menyembuhkan. Berdayakanlah kami juga agar mampu mengusir Iblis dan roh-roh jahat dalam nama-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 14:1-6), bacalah tulisan yang berjudul “AKULAH JALAN DAN KEBENARAN DAN HIDUP” tanggal 30 April 2010, dalam blog SANG SABDA ini; kategori: 10-04 BACAAN HARIAN APRIL 2010. Bagi yang berminta untuk lebih mengenal S. Bernardinus dari Siena yang kita rayakan pestanya hari ini, silahkan mengunjungi blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; tanggal 20 Mei 2010; kategori: ORANG-ORANG KUDUS FRANSISKAN. 

Cilandak, 5 Mei 2011

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ALLAH SELALU SETIA DENGAN JANJI-JANJI-NYA

ALLAH SELALU SETIA DENGAN JANJI-JANJI-NYA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Paskah, Kamis 19-5-11)

Keluarga Fransiskan Kapusin: Peringatan S. Krispinus dari Viterbo [+1750], Ordo I  

Lalu Paulus dan kawan-kawannya meninggalkan Pafos dan berlayar ke Perga di Pamfilia; tetapi Yohanes meninggalkan mereka lalu kembali ke Yerusalem. Dari Perga mereka melanjutkan perjalanan mereka, lalu tiba di Antiokhia di Pisidia. Pada hari Sabat mereka pergi ke rumah ibadat, lalu duduk di situ. Setelah selesai pembacaan dari hukum Taurat dan kitab nabi-nabi, pejabat-pejabat rumah ibadat menyuruh bertanya kepada mereka, “Saudara-saudara, jika ada di antara kamu mempunyai pesan untuk menguatkan umat ini, sampaikanlah!” Lalu bangkitlah Paulus. Ia memberi isyarat dengan tangannya, lalu berkata, “Hai orang-orang Israel dan kamu yang takut akan Allah, dengarkanlah! Allah umat Israel ini telah memilih nenek moyang kita dan membuat umat itu menjadi besar, ketika mereka tinggal di Mesir sebagai orang asing. Dengan tangan-Nya yang teracung Ia telah memimpin mereka keluar dari negeri itu. Empat puluh tahun lamanya Ia bersabar terhadap tingkah laku mereka di padang gurun. Setelah membinasakan tujuh bangsa di tanah Kanaan, Ia membagi-bagikan tanah itu kepada mereka untuk menjadi warisan mereka selama kira-kira empat ratus lima puluh tahun. Sesudah itu Ia memberikan mereka hakim-hakim sampai pada zaman Nabi Samuel. Kemudian mereka meminta seorang raja dan Allah memberikan kepada mereka Saul anak Kish dari suku Benyamin, empat puluh tahun lamanya. Setelah Saul disingkirkan, Allah mengangkat Daud menjadi raja mereka. Tentang Daud Allah telah bersaksi, “Aku telah mendapat Daud anak Isai, seorang yang berkenan di hati-Ku dan yang melakukan segala kehendak-Ku.’ Sesuai dengan yang telah dijanjikan-Nya, dari keturunnyalah Allah telah membangkitkan Juruselamat bagi orang Israel, yaitu Yesus. Menjelang kedatangan-Nya Yohanes telah menyerukan baptisan tobat kepada seluruh bangsa Israel. Ketika Yohanes hampir selesai menunaikan tugasnya, ia berkata, ‘Sangkamu aku ini siapa? Aku bukan Dia. Sesungguhnya Ia akan datang kemudian daripada aku. Membuka kasut dari kaki-Nya pun aku tidak layak.’ (Kis 13:13-25)

Mazmur Tanggapan: Mzm  89:2-3,21-22,25,27; Bacaan Injil: Yoh 13:16-20 

Apakah yang anda akan lakukan apabila anda dipanggil untuk memberitakan Injil Yesus Kristus kepada orang-orang yang anda belum pernah temui sebelumnya? Apakah hal paling penting yang anda ingin katakan kepada mereka? Pesan Injil sebenarnya jelas. Allah begitu mengasihi kita dan ingin agar kita ada bersama Dia. Dia selalu setia dengan janji-janji-Nya. Inilah pesan yang diwartakan oleh Paulus kepada orang-orang Yahudi di Antiokhia di Pisidia. Inilah juga pesan yang harus kita beritakan pada zaman modern ini. 

Pada waktu Paulus dan Barnabas diutus untuk perjalanan misioner mereka yang pertama, mereka berkhotbah dalam sinagoga. Paulus menggunakan kesempatan ini untuk berbicara kepada orang-orang yang hadir tentang kesetiaan Allah dalam memenuhi janji-janji yang telah dibuat-Nya melalui para nabi. Secara singkat memaparkan jalan sejarah bangsa Yahudi sambil menggambarkan betapa Bapa di surga tetap setia kepada umat-Nya dari zaman ke zaman – bahkan pada saat-saat di mana mereka meninggalkan-Nya. Pada akhirnya, Allah memberikan Yesus kepada mereka, sebagai Dia yang melalui-Nya mereka dapat menerima keselamatan seperti yang dimaksudkan-Nya. 

Apabila Allah tetap komit kepada umat-Nya dari abad ke abad, kita dapat mempercayai-Nya untuk kesetiaan-Nya kepada kita juga. Apalagi kita tahu bahwa kita adalah orang-orang pendosa yang sungguh membutuhkan penebusan. Yesus menyerahkan hidup-Nya sendiri agar kita dapat memperoleh suatu kehidupan baru. Yang kita perlukan hanyalah menerima kehidupan baru tersebut. Dalam Yesus kita mempunyai harta kekayaan yang terkira nilainya. Suatu jaminan dan pengharapan yang penuh berkat! 

Kita dapat bertanya kepada diri kita masing-masing: Apakah aku telah mengalami kebenaran yang indah ini? Kita juga dapat mengambil waktu untuk memandang kehidupan kita di masa lampau dan mohon kepada Roh Kudus untuk menunjukkan kepada kita jalan-jalan yang telah kita tempuh di bawah bimbingan-Nya dan perlindungan-Nya. Kita mohon kepada-Nya agar menunjukkan kepada kita saat-saat di mana tangan-tangan Allah terlihat campur tangan dalam kehidupan kita, bahkan ketika kita sedang berada jauh dari diri-Nya. Baiklah kita mengingat juga kapan saja Dia menjawab doa-doa kita dan setia pada janji-janji-Nya. Marilah kita berterima kasih penuh syukur kepada-Nya untuk saat-saat itu dan biarlah kebenaran-kebenaran-Nya mencairkan hati kita masing-masing. Biarlah Dia merangkul diri kita dengan penuh kasih. 

DOA: Terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu, ya Bapa, karena Engkau senantiasa beserta kami dan tidak pernah membuang kami. Terima kasih karena Engkau telah memberikan Putera-Mu yang tunggal kepada kami dan berbagi/syering hidup-Mu dengan kami. Kami juga berterima kasih karena Engkau menginginkan kami agar bersama-Mu sepanjang segala masa dan mengasihi kami dengan suatu kasih yang kekal. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 13:16-20), bacalah tulisan yang berjudul “SEORANG HAMBA TIDAKLAH LEBIH TINGGI DARI TUANNYA” tanggal 29 April 2010, dalam blog SANG SABDA ini; kategori: 10-04 BACAAN HARIAN APRIL 2010. Bagi yang berminta untuk lebih mengenal S. Krispinus dari Viterbo yang kita peringati hari ini, silahkan mengunjungi blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; tanggal 19 Mei 2010; kategori: ORANG-ORANG KUDUS FRANSISKAN. 

Cilandak, 5 Mei 2011

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS DATANG KE DALAM DUNIA SEBAGAI TERANG

YESUS DATANG KE DALAM DUNIA SEBAGAI TERANG  

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Paskah, Rabu 18-5-11)

Keluarga Fransiskan: Peringatan S. Feliks dari Cantalice [+1587], Bruder Ordo I Kapusin 

Lalu Yesus berseru, “Siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia bukan percaya kepada-Ku, tetapi kepada Dia, yang telah mengutus Aku; dan siapa saja yang melihat Aku, ia melihat Dia, yang telah mengutus Aku. Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku jangan tinggal di dalam kegelapan. Jikalau seseorang mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, aku tidak menghakiminya, sebab Aku datang bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya. Siapa saja yang menolak Aku, dan tidak menerima perkataan-Ku, ia sudah ada hakimnya, yaitu firman yang telah Kukatakan, itulah yang akan menghakiminya pada akhir zaman. Sebab Aku berkata-kata bukan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang mengutus Aku, Dialah yang memerintahkan Aku untuk mengatakan apa yang harus Aku katakan dan Aku sampaikan. Aku tahu bahwa perintah-Nya itu adalah hidup yang kekal. Karena itu, apa yang Aku katakan, Aku sampaikan sebagaimana difirmankan oleh Bapa kepada-Ku.” (Yoh 12:44-50)

Bacaan Pertama: Kis 12:24-13:5a;  Mazmur Tanggapan: Mzm  67:2-3,5,6,8 

“Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku jangan tinggal di dalam kegelapan” (Yoh 12:46). Dalam bacaan Injil hari ini Yohanes Penginjil menyajikan sebuah ikhtisar atau ringkasan dari ajaran Yesus sebelum dia mulai dengan narasi sengsara Yesus, kematian-Nya dan kebangkitan-Nya. Ikhtisar itu mencakup: (1) ‘persatuan antara Bapa dan Putera’ (Yoh 12:44-45; (2) Yesus sebagai terang dunia, yang datang untuk menyelamatkan dunia, bukan untuk menghakiminya (Yoh 12:47);  (3) pesan bahwa kata-kata yang diucapkan oleh Yesus akan menjadi hakim di akhir zaman (Yoh 12:48); dan (4) Identifikasi kata-kata Yesus dengan firman Bapa dan kehidupan kekal yang mengalir dari perintah Bapa (Yoh 12:49-50). 

Secara konsisten Yohanes Penginjil mengulang-ulang semua tema sepanjang duabelas bab Injilnya karena dia sungguh bergairah untuk mengatakan kepada kita siapa sebenarnya Yesus itu, agar dengan mengenal Yesus kita pun dapat mengenal Bapa. Dengan mengenal Bapa, kita akan mengenal terang dan kehidupan. Itulah sebabnya mengapa Yesus menyerukan pesan ini (Yoh 12:44). 

Kata-kata ini mengundang kita ‘memeriksa’ diri kita sendiri untuk melihat apakah kita bertumbuh dalam pemahaman dan penerimaan kita akan hidup dan ajaran Yesus. Apakah kita sungguh melihat Dia sebagai terang dunia yang datang untuk menyelamatkan kita? Apakah kita mengakui bahwa kata-kata-Nya akan menghakimi diri kita? Apakah kita mengenali bahwa kata-kata-Nya adalah sama dengan kata-kata Bapa dan perintah-perintah Bapa merupakan sumber dari kehidupan kekal? 

Sementara kita menerima, merangkul dan menghayati kebenaran-kebenaran itu dalam hidup kita, maka kehidupan yang dimaksudkan Allah bagi kita (dan semua orang) dapat menjadi hidup dalam diri kita. Apabila kita sungguh menginginkan hidup ini, kita harus minta kepada Roh Kudus agar menolong kita memahami dan menerima Yesus. Karena kasih yang mengalir dari hati-Nya, Yesus mengundang kita untuk datang kepada-Nya. Apabila kita menerima tawaran-Nya untuk meminum air yang hidup, maka Yesus akan bekerja di dalam kita sebagaimana yang terjadi dalam kehidupan perempuan Samaria (Yoh 4:1-42). 

DOA: Bapa surgawi, kami mengakui bahwa sabda-Mu memberikan kehidupan kepada kami. Pancarkanlah sinar terang-Mu ke dalam kegelapan kehidupan kami.  Kami mengakui Yesus sebagai terang dan kehidupan dunia dan merangkul segala niat dan rencana-Mu bagi kami. Kasihanilah kami orang-orang berdosa ini yang mau berjalan sebagai anak-anak terang. Oleh kuasa Roh Kudus, tolonglah kami untuk  memuji-muji dan memuliakan nama-Mu, sekarang dan selama-lamanya. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 12:24-13:5a), bacalah tulisan yang berjudul “ROH KUDUS YANG MENGATUR SEGALANYA” tanggal 28 April 2010, dalam blog SANG SABDA; kategori: 10-04 BACAAN HARIAN APRIL 2010. Bacalah juga riwayat dari Santo Feliks dari Cantalice dalam blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.worpress.com; kategori ORANG-ORANG KUDUS FRANSISKAN, tanggal 18 Mei 2010. 

Cilandak, 4 Mei 2011  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS SANG GEMBALA BAIK AKAN MENJAGA KITA

YESUS SANG GEMBALA BAIK AKAN MENJAGA KITA  

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Paskah, Selasa 17-5-11)

Keluarga Fransiskan: Peringatan S. Paskalis Baylon [+1592], bruder Ordo I (Observanti tak berkasut) 

Tidak lama kemudian tibalah hari raya Penahbisan Bait Allah di Yerusalem; ketika itu musim dingin. Yesus berjalan-jalan di Bait Allah, di serambi Salomo, Lalu orang-orang Yahudi mengelilingi Dia dan berkata kepada-Nya, “Berapa lama lagi Engkau membiarkan kami dalam kebimbangan? Jikalau Engkau Mesias, katakanlah terus terang kepada kami.” Yesus menjawab mereka, “Aku telah mengatakannya kepada kamu, tetapi kamu tidak percaya; pekerjaan-pekerjaan yang Kulakakukan dalam nama Bapa-Ku, itulah yang memberi kesaksian tentang Aku, tetapi kamu tidak percaya, karena kamu tidak termasuk domba-tomba-Ku. Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku. Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar daripada siapa pun, dan seorang pun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa. Aku dan Bapa adalah satu.” (Yoh 10:22-30)

Bacaan Pertama: Kis 11:19-26;  Mazmur Tanggapan: Mzm  87:1-7 

Beberapa hari terakhir ini kita terus membicarakan mengenai perumpamaan Yesus tentang “Gembala yang Baik”, dan pada hari ini pun kita akan membahasnya lagi. Walaupun terasa seakan mengulang-ulang, tetaplah berharga bagi kita untuk merenungkan gambaran-gambaran tentang seorang gembala yang baik karena kemampuan gambaran-gambaran ini mengungkapkan banyak dimensi tentang siapa Yesus itu dan betapa dalam Ia mengasihi kita. 

Karena tidak sedikit jumlah waktu yang digunakan oleh para gembala dengan kawanan domba mereka, maka bukanlah hal yang aneh apabila seorang gembala untuk mengenal  setiap detil dari masing-masing domba yang dipelihara olehnya – tanda-tanda khas masing-masing domba, kebiasaan-kebiasaannya, bahkan katakanlah ‘kepribadian’-nya. Di lain pihak domba-domba peliharaannya juga mengenal sang gembala dan menjadi sangat akrab dengan suaranya. Sedikit saja suara dari seorang yang asing dapat mengejutkan mereka dan membuat mereka berlari-lari kian kemari. 

Selama musim semi dan musim panas, pada waktu sebuah kawanan domba dapat digembalakan di daerah luar kota untuk berbulan-bulan lamanya, maka seorang gembala akan mengumpulkan domba-dombanya dalam sebuah “kandang domba” yang terletak di lereng gunung untuk beristirahat di malam hari. “Kandang domba” ini mempunyai “tembok” (biasanya dari bebatuan) namun tidak mempunyai gerbang atau pintu. Yang ada hanyalah suatu bagian yang lowong-terbuka untuk domba-domba itu masuk-keluar. Begitu domba-domba itu sudah terkumpul di dalam “kandang”, maka sang gembala akan menjadi pintu kandang tersebut. Dia merebahkan diri di bagian yang lowong-terbuka itu untuk menjaga kawanan dombanya. Dengan perkataan lain, pada dasarnya dia “memberikan nyawanya untuk domba-dombanya”. 

Yesus mengetahui  bahwa perumpamaan-perumpamaan seperti ‘perumpamaan tentang gembala yang baik’ akan menolong para pendengar-Nya (termasuk kita semua pada zaman modern ini) untuk memahami kasih-Nya secara lebih penuh lagi. Yesus mengetahui bahwa imaji-imaji yang hidup akan membantu mentransformir konsep-konsep abstrak ke dalam hal-hal yang konkret yang dapat dipahami orang-orang. Yesus bersabda: “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut dari tangan-Ku” (Yoh 10:27-28). Artinya, Yesus menyerahkan hidup-Nya bagi kita, dan tidak ada seorang pun yang dapat merampas kita dari tangan-Nya. Janji-janji-Nya sama dapat dipercaya seperti komitmen sang gembala baik kepada kawanan dombanya di dalam perumpamaan-Nya. Bilamana kita memasuki “kandang domba”-nya, maka Yesus sang Gembala Baik akan menjaga kita untuk selalu dekat pada-Nya dan Ia akan melindungi kita dari segala macam bahaya. 

Lain kali, apabila kita bertemu dengan sebuah perumpamaan Yesus, maka kita harus berketetapan hati mempelajari secara lebih mendalam lagi tentang imaji-imaji yang digunakan oleh Yesus. Sebaiknya kita juga mempelajari beberapa bacaan pengantar atau tafsir yang dapat dimanfaatkan oleh orang awam seperti kita. Kita harus memperkenankan kata-kata Yesus meresap ke dalam hati kita. Kita gunakan imajinasi untuk membuat gambar dalam pikiran kita. Melalui studi seperti ini, doa dan kontemplasi, Roh Kudus dapat membuka jalan-jalan pemahaman yang baru untuk memperkuat iman dan membuat kasih kita kepada Yesus menjadi semakin berkobar-kobar. 

DOA: Roh Kudus Allah, Engkau membuat terang hati semua orang beriman. Terangilah imajinasi ku sehingga aku dapat mengalami secara lebih mendalam kasih Allah Tritunggal Mahakudus yang tak terbatas itu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 11:19-26), bacalah tulisan yang berjudul “UNTUK PERTAMA KALINYA PARA MURID DISEBUT KRISTEN” tanggal 27 April 2010, dalam blog SANG SABDA ini; kategori: 10-04 BACAAN HARIAN APRIL 2010. Bagi anda yang berminat untuk mengenal Santo Paskalis Baylon yang kita peringati pada tanggal 17 Mei ini, saya persilahkan untuk membaca riwayat singkatnya dalam blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori ORANG-ORANG KUDUS FRANSISKAN, tanggal 17 Mei 2010. 

Cilandak, 5 Mei 2011

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 121 other followers