HANYA MELALUI SALIB YESUS

HANYA MELALUI SALIB YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXII, 28-8-11) 

Sejak itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahl-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan mulai menegur Dia dengan keras, “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali tidak akan menimpa Engkau.” Lalu Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus, “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.”

Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Jika seseorang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanhya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi siapa yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya. (Mat 16:21-27)

Bacaan Pertama: Yer 20:7-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 63:2-6,8-9; Bacaan Kedua: Rm 12:1-2 

Selagi Dia berbicara kepada para murid-Nya, Yesus membuat jelas bahwa hanya melalui salib-Nya-lah kita akan mampu menerima kehidupan-Nya di dalam diri kita. Mengapa? Karena ada suatu perbedaan besar antara pemahaman manusiawi tentang tingkah laku yang baik dan standar kekudusan ilahi. Dalam bacaan Injil hari ini, misalnya Petrus memahami sebagian pemikiran Allah ketika dia berkata: “Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup!” (Mat 16:16), namun di sisi lain dia masih tidak mampu menerima aspek kehendak Allah lebih lanjut ketika dia “menegur” Yesus yang baru saja bernubuat tentang kematian-Nya di atas kayu salib. 

Santo Paulus sering berbicara mengenai ajaran Yesus bagi para murid-Nya untuk memikul salib mereka. Dalam suratnya kepada jemaat di Roma yang menjadi bacaan kedua hari ini, rasul ini menulis: “Saudara-saudara, oleh kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: Itulah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaruan budimu, sehingga kamu dapat membedakan mana kehendak Allah: Apa yang baik, yang berkenan kepada-Nya dan sempurna” (Rm 12:1-2). 

Sebagaimana Petrus, Paulus juga belajar melalui pengalaman-pengalaman praktis bahwa akal budinya dan tindakan-tindakannya harus diselaraskan dengan kerendahan hati atau kedinaan, ketaatan, dan rasa percaya yang dimanifestasikan oleh Yesus di bukit Kalvari. 

Setiap hari Roh Kudus mencari peluang untuk mengubah diri kita sedikit demi sedikit, dengan mengangkat pemikiran-pemikiran natural dan manusiawi kita agar sampai kepada suatu cara pemikiran dan bertindak-tanduk secara ilahi. Ia tidak hanya hadir dan bekerja serta mendorong kita pada saat-saat kita berdoa. Ia juga mendorong kita agar dapat terus maju, teristimewa melalui pencobaan-pencobaan hidup. Segala pencobaan dan konflik sebenarnya mengungkapkan di area-area mana saja kita tidak mampu untuk mengasihi dan melayani, atau mengampuni sebagaimana telah dicontohkan oleh Yesus sendiri. Ada dalil sederhana yang tidak pernah boleh kita lupakan: Kita tidak akan pernah dapat mencerminkan kehidupan dan kepribadian Yesus tanpa pertolongan dari Roh Kudus

Ketika anda dan saya siap untuk melawan serta mengalahkan kelemahan-kelemahan kita masing-masing, janganlah takut atau berkecil hati. Ini adalah kesempatan bagi kita untuk bergegas menghadap Allah dan mohon pertolongan-Nya. Pada kesempatan itu kita dapat mohon kepada-Nya untuk mematikan segala sesuatu dalam diri kita yang bertentangan dengan Yesus, setiap oposisi terhadap panggilan-Nya bagi untuk mengasihi tanpa pamrih. Kemudian, apabila kita melihat terjadi perubahan dalam hati kita – betapa kecil pun perubahan itu, marilah kita bersukacita! Dengan mempersatukan diri kita dengan kematian Yesus, maka kita pun akan menyerupai Dia dalam kehidupan-Nya yang dibangkitkan dan kekal. 

DOA: Tuhan Yesus, pada hari ini aku mempersembahkan kepada-Mu situasi-situasi di mana aku merasa sulit sekali untuk bersikap dan berperilaku yang mencerminkan kehendak-Mu. Matikanlah perlawanan diriku dalam bentuk apa saja terhadap cara-cara atau jalan-jalan-Mu. Aku ingin agar hidup kebangkitan-Mu ada dalam diriku. Tolonglah aku, ya Tuhan. Amin. 

Cilandak, 12 Agustus 2011   

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KASIH KRISTIANI ADALAH KASIH PERSAUDARAAN

KASIH KRISTIANI ADALAH KASIH PERSAUDARAAN

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan Santa Monika [331-387], Sabtu 27-8-11 

Tentang kasih persaudaraan tidak perlu dituliskan kepadamu, karena kamu sendiri telah belajar kasih mengasihi dari Allah. Hal itu kamu lakukan juga terhadap semua saudara seiman di seluruh wilayah Makedonia. Tetapi kami menasihati kamu, Saudara-saudara, supaya kamu lebih bersungguh-sungguh lagi melakukannya. Dan anggaplah sebagai suatu kehormatan untuk hidup tenang, untuk mengurus persoalan-persoalan sendiri dan bekerja dengan tangan, seperti yang telah kami pesankan kepadamu, sehingga kamu hidup sebagai orang-orang yang sopan di mata orang luar dan tidak bergantung pada mereka. (1Tes 4:9-12)

Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1,7-9; Bacaan Injil: Luk 7:1-17   

Allah tidak berniat melihat kita hidup sendiri, tetapi hidup dengan orang-orang lain, dan Ia memberikan  begitu banyak kesempatan/peluang bagi kita untuk mengembangkan relasi-relasi – dengan anggota-anggota keluarga, para sahabat, tetangga dan mitra kerja kita. Pertanyaan yang harus kita ajukan adalah, apakah relasi-relasi kita tersebut menolong atau malah menjadi penghalang terhadap kehidupan Kristiani kita? Allah menciptakan kita dalam kasih untuk kasih. Kodrat Allah adalah kasih, dan kita semua dipanggil ke dalam persekutuan dengan diri-Nya dan dengan anak-anak-Nya. 

Dalam baptisan, kita digabungkan ke dalam keluarga Allah. Yesus telah bersabda,  bahwa tanda yang membedakan para murid-Nya adalah kasih mereka satu sama lain. Berkaitan dengan perjamuan terakhir, Yesus mengajar: “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi” (Yoh 13:34-35). 

Santo Paulus menyapa semua orang Kristiani sebagai “saudara-saudara”, yang berarti “saudari dan saudara dari satu keluarga yang sama.” Itulah sebabnya mengapa Santo Paulus menasihati kita untuk semakin saling mengasihi satu sama lain. Sejatinya kita adalah anggota-anggota dari keluarga yang sama, dan cintakasih kita satu dengan lainnya bukanlah sekadar suatu hal yang menyenangkan; melainkan sesungguhnya membangun kerajaan Allah! 

Para kudus memberikan kepada kita banyak contoh dari kasih Kristiani. Misalnya, Santo Thomas More adalah seorang negarawan terkemuka Inggris pada abad ke-16, namun dia mengasihi orang-orang miskin dan Raja dengan kadar yang sama. Para musuhnya tidak dapat menemukan kesalahan dalam dirinya karena Thomas More memperlakukan semua orang dengan penuh kebaikan hati. Bunda Teresa dari Kalkuta adalah  contoh yang lain lagi. Setiap orang menemukan cintakasih, penerimaan dan persahabatan dengan hamba Allah yang rendah hati ini. Cintakasihnya yang tanpa pamrih dan bela rasanya terhadap orang-orang miskin dan tersingkirkan dalam masyarakat terus menantang kita untuk memeriksa serta menguji bagaimana diri kita sendiri mengasihi orang-orang lain. 

Sangat besarlah “manfaatnya” bagi kita mempunyai relasi dengan satu atau lebih “saudari atau saudara dalam Tuhan” dengan siapa kita dapat berdoa bersama dan saling berbagi tentang karya Allah dalam kehidupan kita. Kita bahkan dapat saling mengingatkan tentang hal-hal yang ditaruh Allah pada hati kita untuk kita lakukan bagi-Nya. 

Marilah kita mencari sahabat-sahabat yang ingin bertumbuh dalam iman, pengharapan dan kasih serta dikuatkan pada saat-saat yang sulit. Marilah kita mohon agar Tuhan sudi menunjukkan kepada kita bagaimana mengasihi setiap orang, dan memberikan kepada kita sahabat-sahabat pribadi dan dekat, yang dapat memperkuat iman kita. 

Santa Monika yang kita peringati pada hari ini adalah ibunda dari Santo Augustinus dari Hippo [354-430], salah seorang Pujangga Gereja dan juga salah seorang Bapak Gereja Latin. Ia lahir di Thagaste (Afrika) dan meninggal di Ostia (Italia). Ia dihormati sebagai pelindung para ibu rumah tangga. Dengan hati yang pedih karena dicemooh dan ditertawakan oleh suaminya sendiri – Patrisius – yang kafir, Monika dengan tekun berdoa untuk suaminya itu agar bertobat. Dia juga mendoakan dengan intens puteranya yang bernama Augustinus agar menjadi pemuda Kristiani yang baik. Augustinus mengikuti kaum bid’ah. Augustinus juga berkawan dengan orang-orang yang tidak bermoral dan hidup berfoya-foya. Segala nasihat ibunya tidak digubris. Monika tidak pernah berputus asa. Dia menggunakan segala peluang yang ada untuk berdoa agar Allah yang Mahabaik melindungi dan membimbing suami dan puteranya, Augustinus ke jalan yang benar. Setelah bertahun-tahun lamanya hal ini berlangsung, doa-doanya pun memperoleh jawaban. Beberapa saat sebelum meninggal dunia, Patrisius bertobat dan mohon dibaptis. Beberapa tahun kemudian, Augustinus dibaptis oleh Uskup Milano pada waktu itu, Santo Ambrosius [c.334-397], salah seorang Bapak Gereja di Gereja Barat (Latin) dan juga salah seorang Pujangga Gereja. Dari tulisan Augustinus sendiri kita mengetahui, bahwa bagi Monika saat itulah yang merupakan puncak dari segala kebahagiaan hidupnya.  Monika memang seorang ibu dan seorang istri yang luarbiasa. Seorang pendoa yang tekun dan tentunya pribadi yang suci. Dia sadar bahwa dia tidak hidup sendiri di dalam dunia ini, dan kesuciannya bukanlah untuk dirinya sendiri. Kasih persaudaraan yang berasal dari Allah sendiri ada dalam dirinya dan dilakukannya dengan sungguh-sungguh seperti dinasihatkan Santo Paulus dalam bacaan hari ini, sehingga dengan demikian menyebar ke luar dirinya dengan sangat efektif. 

DOA: Bapa surgawi, Engkau menciptakan kami dalam kasih untuk kasih. Robohkanlah tembok-tembok permusuhan dan perpecahan yang memisahkan kita. Persatukanlah kami dalam Yesus agar kami dapat menjadi sebuah tanda persatuan yang Kauinginkan bagi kami semua. Amin. 

Cilandak, 12 Agustus 2011   

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

NASIHAT SUPAYA HIDUP KUDUS

NASIHAT SUPAYA HIDUP KUDUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXI, Jumat 26-8-11 

Akhirnya, Saudara-saudara, kami minta dan nasihatkan kamu dalam Tuhan Yesus: Kamu telah mendengar dari kami bagaimana kamu harus hidup supaya berkenan kepada Allah. Hal itu memang telah kamu turuti, tetapi baiklah kamu melakukannya lebih bersungguh-sungguh lagi. Kamu tahu juga petunjuk-petunjuk mana yang telah kami berikan kepadamu atas nama Tuhan Yesus. Karena inilah kehendak Allah: Pengudusanmu, yaitu supaya kamu menjauhi percabulan, supaya kamu masing-masing mengambil seorang perempuan menjadi istrimu sendiri dan hidup di dalam kekudusan dan kehormatan, bukan di dalam keinginan hawa nafsu, seperti yang dibuat oleh bangsa-bangsa yang mengenal Allah, dan supaya dalam hal-hal ini orang jangan merugikan saudara seimannya atau memperdayakannya. Karena Tuhan adalah pembalas dari semuanya ini, seperti yang telah kami katakan dan tegaskan dahulu kepada. Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus. Karena itu, siapa yang menolak ini bukanlah menolak manusia, melainkan menolak Allah yang telah memberikan juga Roh-Nya yang kudus kepada kamu. (1Tes 4:1-8)

Mazmur Tanggapan: Mzm 97:1-2,5-6,10-12; Bacaan Injil: Mat 25:1-13   

Digerakkan oleh afeksinya terhadap mereka, Paulus mendesak jemat Tesalonika untuk berpegang teguh pada segala sesuatu yang telah diajarkan olehnya kepada mereka, bukan saja mengenai iman akan Yesus Kristus, melainkan juga mengenai bagaimana hidup dalam cara atau jalan yang menyenangkan Allah (1Tes 4:1). Akan tetapi, dia telah dipaksa meninggalkan Tesalonika dengan cepat-cepat padahal komunitas yang didirikannya di sana baru saja berada dalam tahapan awal (lihat Kis 17:1-13). Paulus tahu, bahwa umat Kristiani yang baru – kebanyakan dari mereka berasal dari latar belakang bukan Yahudi (baca: kafir) – masih banyak membutuhkan bina iman yang berkelanjutan (katakanlah semacam mestagogia). 

Memang mereka kuat dalam iman dan kasih (1Tes 3:6), namun ada dari mereka yang baru menjadi Kristiani ini yang belum memahami secara penuh pesan keselamatan dan implikasi-implikasinya dalam kehidupan sehari-hari, termasuk hal-hal yang menyangkut perilaku seksual. Oleh karena itu Paulus mengingatkan mereka akan rancangan Allah untuk seksualitas manusiawi dan menasihati mereka agar menghindari perilaku tak bermoral. Allah itu kudus adanya dan Ia ingin agar umat-Nya menjadi kudus juga, sebab ada tertulis: “Kuduslah kamu, sebab Aku kudus” (1Ptr 1:16; bdk. Im 11:44-45; Im 19:2, Ul 14:21). 

Jalan untuk menjadi kudus tidak selalu mudah, bukan? Umat Kristiani di Tesalonika hidup di tengah-tengah kota kosmopolitan di Makedonia pada masa itu. Setiap hari mereka menghadapi berbagai godaan menyangkut soal kemurnian dan kekudusan seturut kehendak Allah atas diri mereka. Dalam hal ini ajaran Paulus kepada mereka jelas-gamblang: “Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus” (1Tes 4:7). Kita yang hidup di awal abad ke-21 ini juga mengalami situasi yang serupa. Hubungan seksual bukan dengan pasangan hidup kita sendiri kiranya sudah merupakan hal yang biasa, teristimewa di kota-kota besar. Dalilnya: asal jangan ketahuan atau sial tertangkap basah. Juga pornografi, aborsi, korupsi yang tidak habis-habisnya dst.! Dalam suasana seperti ini kita sungguh dikepung oleh godaan-godaan – baik kelas berat, kelas bantam atau pun kelas bulu, sehingga memang tidak mudahlah untuk menahan kecenderungan-kecenderungan ke arah pemikiran-pemikiran penuh nafsu, berbicara secara provokatif, mengucapkan kata-kata kotor dan seringkali menyakitkan, serta berperilaku tidak senonoh. 

Terpujilah Allah! Ternyata kita belum ditinggalkan oleh-Nya. Ia telah memberikan kepada kita Roh Kudus-Nya untuk memberdayakan kita agar mampu melawan dosa dan menjaga kemurnian kita. Dan melalui Roh-Nya, Bapa surgawi mencurahkan kerahiman-Nya dan kesembuhan seandainya kita jatuh. Selagi kita bertumbuh dalam iman dan cintakasih kita kepada Allah, kita pun menjadi semakin peka terhadap gerakan-gerakan Roh-Nya di dalam diri kita. Kita belajar mengenali dengan lebih cepat kapan kiranya kita telah menyakiti Dia dan dengan demikian kita lebih bergairah untuk mengakui dosa-dosa kita dan dibebaskan oleh-Nya. Dengan demikian, baiklah kita selalu berada dekat dengan Tuhan, agar supaya kehendak-Nya bagi kita, pengudusan kita akan tercapai secara lebih penuh (1Tes 4:6). 

DOA: Roh Kudus Allah, murnikanlah hati dan pikiranku, agar supaya aku dapat menghayati suatu kehidupan yang menyenangkan Allah. Tolonglah aku agar dapat menghindar dari dosa dan kuatkanlah segala sesuatu yang baik yang ada pada diriku.  Berikanlah aku rahmat agar dapat hidup dalam kemurnian-Mu sekarang, sehingga dengan demikian aku dapat hidup bersama-Mu selama-lamanya. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 25:1-13), silahkan membaca tulisan yang berjudul “PERUMPAMAAN TENTANG SEPULUH GADIS” (bacaan tanggal 26-8-11), dalam situs/ blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: PERMENUNGAN ALKITABIAH.  

Cilandak, 8 Agustus 2011 [Peringatan Santo Dominikus]  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEMANGAT SEORANG MISIONARIS SEJATI

SEMANGAT SEORANG MISIONARIS SEJATI

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXI, Kamis 25-8-11

Keluarga Fransiskan: Peringatan/Pesta S. Ludovikus IX [1214-1270], Raja – OFS 

Saudara-saudara, dalam segala kesusahan dan kesukaran kami menjadi terhibur oleh kamu dan oleh imanmu. Sekarang kami hidup kembali, asal saja kamu teguh berdiri di dalam Tuhan. Sebab ucapan syukur apakah yang dapat kami persembahkan kepada Allah atas segala sukacita, yang kami peroleh karena kamu, di hadapan Allah kita? Siang malam kami berdoa dengan sungguh-sungguh, supaya kita bertemu muka dengan muka dan menambahkan apa yang masih kurang pada imanmu. Kiranya Dia, Allah dan Bapa kita, dan Yesus, Tuhan kita, membukakan bagi kami jalan kepadamu. Kiranya Tuhan menjadikan kamu bertambah-tambah dan  berkelimpahan dalam kasih seorang terhadap yang lain dan terhadap semua orang, sama seperti kami juga mengasihi kamu. Kiranya Dia menguatkan hatimu, supaya tak bercacat dan kudus, di hadapan Allah dan Bapa kita pada waktu kedatangan Yesus, Tuhan kita, dengan semua orang kudus-Nya. (1Tes 3:7-13)

Mazmur Tanggapan: Mzm 90:3-4,12-14,17; Bacaan Injil: Mat 24:42-51   

Santo Paulus sangat mengasihi umat di Tesalonika. Mereka adalah bagian dari orang-orang yang “dipertobatkan” lewat pelayanannya dalam perjalanan misionernya yang kedua dan Paulus mengalami penganiayaan demi mereka (lihat Kis 17:1-13). Paulus ingin sekali mengetahui tentang perkembangan komunitas yang telah dibangunnya, dibinanya selama periode tertentu dan kemudian ditinggalkannya itu. Oleh karena itu, tidak mengherankanlah apabila Rasul kita ini gembira sekali ketika menerima laporan yang baik dari Timotius. Marilah kita ikut merasakan kegembiraan penuh syukur dari Paulus: “Tetapi sekarang, setelah Timotius datang kembali dari kamu dan membawa kabar yang menggembirakan tentang imanmu dan kasihmu, dan bahwa kamu selalu menaruh kenang-kenangan yang baik akan kami dan ingin untuk berjumpa dengan kami, seperti kami juga ingin untuk berjumpa dengan kamu, maka kami juga, Saudara-saudara, dalam segala kesusahan dan kesukaran kami menjadi terhibur oleh kamu dan oleh imanmu” (1Tes 3:6-7). Ini adalah sebuah contoh ungkapan hati seorang misionaris sejati! Sangat patut untuk ditiru oleh siapa saja yang dipenuhi oleh semangat misioner, katakanlah semangat untuk melakukan evangelisasi! Dengan afeksi yang sangat besar, Paulus menulis dan mengatakan kepada jemaat Tesalonika bahwa dia sungguh rindu untuk bertemu kembali dengan mreka (1Tes 3:9-10). 

Tak terbilang banyaknya misionaris-misionaris dan gembala-gembala yang telah mengikuti jejak Paulus, menyebarkan Injil Yesus Kristus dan mendirikan komunitas-komunitas umat beriman di seluruh muka bumi. Dalam abad ke-16 Santo Fransiskus Xaverius memberitakan Kabar Baik Yesus Kristus a.l. di India, Jepang dan kepulauan Maluku. Pada abad ke-19, Theophane Vénard hanyalah salah seorang dari banyak sekali imam yang menjadi martir Kristus di Vietnam. 

Ketika Romo Nguyen Van Thuan diangkat menjadi uskup Saigon (Ho Chi Minh City) pada tahun 1975, dirinya ditangkap dan menjadi tahanan rumah oleh rezim komunis yang berkuasa. Selagi disekap dalam tahanan, pemikiran-pemikiran Mgr. Nguyen Van Thuan terus bergema di tengah-tengah umat: “Umatku yang sangat kukasihi; sebuah kawanan tanpa gembala! Bagaimana aku dapat mengkontak umatku pada saat di mana mereka sangat membutuhkan gembala mereka?” Kemudian Mgr. Nguyen Van Thuan sadar bahwa dia sebenarnya dapat menulis surat-surat kepada jemaatnya seperti yang telah dilakukan oleh Paulus. Dia menulis: “Keesokan paginya, sementara masih gelap, saya memberi isyarat kepada Quang, seorang anak laki-laki yang ketika itu berusia tujuh tahun. Saya berkata kepadanya: ‘Beritahukan ibumu untuk membeli kalender-kalender tua bagiku.’ …… Setiap hari dalam bulan Oktober dan November 1975, saya menuliskan pesan-pesan bagi umat saya dari dalam tempat tahanan. Setiap pagi Quang datang mengambil kertas-kertas yang sudah saya tulisi dan membawanya ke rumah sehingga para saudari dan saudara seiman dapat menyalin kembali pesan-pesan itu.” (Testimony of Hope). 

Gereja Katolik di Republik Sosialis Vietnam (berjumlah sekitar 8 juta orang) sekarang berada di bawah pengawasan ketat pemerintahan Komunis, namun tetap bertumbuh-kembang dan memberi kesaksian tentang Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat umat manusia. Sekarang, marilah kita berdoa bagi para misionaris dan gembala umat yang berkarya di sana dan juga di seluruh penjuru muka bumi, yang tanpa pamrih dan tanpa mengenal lelah menyebarkan Kabar Baik Yesus Kristus. 

DOA: Bapa surgawi, semoga sabda-Mu dapat mencapai setiap bangsa yang ada di bumi ini. Berkatilah dan lindungilah semua anak-Mu yang memberitakan Injil, karena ‘iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus’ (Rm 10:17). Amin. 

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 24:42-51), silahkan membaca tulisan yang berjudul “HAMBA YANG SETIA DAN BIJAKSANA AKAN DIBERKATI OLEH-NYA” (bacaan tanggal 25-8-11), dalam situs/ blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: PERMENUNGAN ALKITABIAH. Cerita tentang S. Ludovikus IX juga dapat dibaca dalam blog PAX ET BONUM; kategori: ORANG-ORANG KUDUS FRANSISKAN.  

Cilandak, 8 Agustus 2011 [Peringatan Santo Dominikus]  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TIDAK ADA KEPALSUAN DI DALAM DIRI BARTOLOMEUS !!!

TIDAK ADA KEPALSUAN DI DALAM DIRI BARTOLOMEUS !!!

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta S. Bartolomeus, Rasul, Rabu 24-8-11 

Filipus menemui Natanael dan berkata kepadanya, “Kami telah menemukan Dia yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret.”  Kata Natanael kepadanya, “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?”  Kata Filipus kepadanya, “Mari dan lihatlah!”  Yesus melihat Natanael datang kepada-Nya, lalu berkata tentang dia, “Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!”  Kata Natanael kepada-Nya, “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!”  Yesus berkata, “Apakah karena Aku berkata kepadamu, ‘Aku melihat engkau di bawah pohon ara,’ maka engkau percaya? Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar daripada itu.”  Lalu kata Yesus kepadanya, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah naik turun kepada Anak Manusia”  (Yoh 1:45-51)

Bacaan Pertama: Why 21:9b-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 145:10-13,17-18    

Rasul Bartolomeus – dalam Injil hari ini dipanggil dengan namanya yang lain, Natanael -  memutuskan bahwa dia harus mengikut seorang pribadi yang bernama Yesus dari Nazaret ini karena Dia mengenal dirinya, luar dan dalam. Bagaimana Yesus sampai dapat menunjukkan bahwa diri-Nya mengenal Natanael secara begitu mendalam? 

Pada waktu Natanael  duduk bermeditasi, kita dapat membayangkan dirinya mencatat di mana dia sedang berada: di bawah sebatang pohon ara. Terasa bahwa Natanael adalah seorang pribadi yang memahami Kitab Suci dengan baik. Tidak mengherankanlah apabila dia mulai merefleksikan beberapa nubuatan Perjanjian Lama berkaitan dengan pohon ara. Dalam Kitab Zakharia, ada tercatat bahwa Iblis mendakwa imam besar Yosua, akan tetapi Allah memberikan pakaian pesta kepada Yosua. Kepada Yosua juga diberitahukan, bahwa apabila dia berjalan dalam jalan Allah, maka dia dapat memerintah umat dan mengurus pelataran-Nya. Kemudian YHWH Allah berjanji akan mendatangkan hamba-Nya, yakni SANG TUNAS. YHWH  semesta alam akan menghapuskan kesalahan Israel dalam satu hari saja. Pada hari itu, demikianlah firman YHWH semesta alam, “setiap orang dari padamu akan mengundang temannya duduk di bawah pohon anggur dan di bawah pohon ara” (Za 3:10). 

Bagi nabi Mikha pun, pohon ara melambangkan pemulihan (restorasi). Walaupun Ia meratapi tidak adanya buah awal (orang-orang baik dan saleh), Ia juga menjanjikan bahwa Bait Allah akan direstorasi sebagai gunung tertinggi, tempat pengadilan yang adil; perang akan berhenti, dan setiap orang akan duduk tanpa takut di bawah pohon anggur dan pohon ara (Mi 4:1-4; 7:1-2). Kita dapat membayangkan betapa Natanael merindukan saat dipenuhinya nubuatan tersebut. 

Maka, ketika Yesus berkata, “Aku melihat engkau di bawah pohon ara” (Yoh 1:48), Natanael tentunya menyadari bahwa semua permenungannya dan kerinduannya ternyata merupakan “sebuah buku yang terbuka” bagi Yesus. Artinya tidak ada rahasia yang tidak diketahui Yesus tentang isi hatinya. Jadi, Yesus mestinya adalah Mesias yang dijanjikan dan dinanti-nantikan itu! Namun kemudian, Yesus dengan lemah lembut mengundang dia untuk memperluas visinya. Ada lebih banyak lagi yang harus diketahui seseorang tentang kerajaan Allah daripada dia sekadar menikmati keteduhan karena berada di bawah pohon aranya. Tangga Yakub (Yoh 1:51; Kej 28:10-17) menunjukkan bahwa rencana Allah itu bersifat kosmik, mampu mengalahkan maut dan kuasa-kuasa kegelapan. Apabila dia memilihnya, maka Bartolomeus (Natanael) pun dapat ikut ambil bagian dalam mendirikan kerajaan Allah. 

Sampai seberapa sering kita menyadari bahwa Allah sesungguhnya melihat/membaca segala pikiran kita? Sampai berapa serius kemauan kita mengundang Dia agar mendengarkan pikiran-pikiran kita, menolong kita dalam membuat jelas pikiran-pikiran kita itu, dan membentuk pikiran-pikiran yang benar selagi kita mengenakan pikiran-Nya? Oleh karena itu, baiklah pada hari kita mencoba untuk tidak mendengarkan radio, menonton televisi untuk setengah jam saja dan memakai waktu setengah jam itu untuk bersimpuh di hadapan hadirat-Nya. Selama setengah jam itu, baiklah kita benar-benar membuat suasana menjadi sungguh hening (lahir dan batin) sehingga kita dapat mendengarkan “suara Tuhan”. Insya Allah! 

DOA: Tuhan Yesus, Engkau sungguh mengenalku luar-dalam. Aku mengundang Engkau untuk berpikir bersamaku dan menarik aku ke dalam visi-Mu tentang bagaimana seharusnya membangun kerajaan Allah. Amin. 

Cilandak, 8 Agustus 2011 [Peringatan Santo Dominikus]  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERKENANKANLAH ALLAH MEMERIKSA HATI KITA !!!

PERKENANKANLAH ALLAH MEMERIKSA HATI KITA !!!

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXI, Selasa 23-8-11) 

Kamu sendiri pun memang tahu, Saudara-saudara bahwa kedatangan kami di antara kamu tidaklah sia-sia. Tetapi sungguh pun kami sebelumnya, seperti kamu tahu, telah dianiaya dan dihina di Filipi, namun dengan pertolongan Allah kita, kami beroleh keberanian untuk  memberitakan Injil Allah kepada kamu dalam perjuangan yang berat. Sebab nasihat kami tidak lahir dari kesesatan atau dari maksud yang tidak murni dan juga tidak disertai tipu daya. Sebaliknya, karena Allah telah menganggap kami layak sehingga Ia mempercayakan Injil kepada kami, maka kami berbicara, bukan untuk menyenangkan manusia, melainkan untuk menyenangkan Allah yang menguji hati kita. Karena seperti yang kamu ketahui, kami tidak bermuljut manis dan tidak pernah mempunyai maksud serakah yang tersembunyi – Allah adalah saksi. Juga tidak pernah kami mencari pujian dari manusia, baik dari kamu, maupun dari orang-orang lain, sekalipun kami dapat berbuat demikian sebagai rasul-rasul Kristus. Tetapi kamu berlaku ramah di antara kamu, sama seperti seorang ibu mengasuh dan merawat anaknya. Demikianlah kami, dalam kasih sayang yang besar terhadap kamu, bukan saja rela membagi Injil Allah dengan kamu, tetapi juga hidup kami sendiri dengan kamu, karena kamu telah kami kasihi. (1Tes 2:1-8)

Bacaan Pertama: 1Tes 2:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 139:1-6; Bacaan Injil: Mat 23:23-26 

Banyak dari surat-surat Paulus berisikan bagian yang memuat ungkapan syukur singkat di mana dia memuji-muji Allah untuk iman umat dan situasi saling mengasihi satu sama lain yang terjadi dalam umat (lihat Rm 1:8-15; Kol 1:3-8). Afeksi Paulus dan rasa syukurnya kepada jemaat di Tesalonika terasa tanpa batas. Ia menulis tidak kurang dari tiga bab/pasal dalam suratnya ini berterima kasih penuh syukur kepada Allah untuk jemaat Tesalonika ini! Di tengah-tengah bagian panjang yang memuat ungkapan syukur ini, Paulus dan para mitra kerjanya mengingatkan para pembaca suratnya tentang cara/jalan yang mereka lakukan di hadapan Allah. Dengan melakukan hal itu, mereka memberikan kesaksian atas karya Allah dalam kehidupan mereka. Sebuah gambaran yang indah tentang pelayan-pelayan atau hamba-hamba Allah yang rendah hati. 

Paulus menulis, “Kami berbicara, bukan untuk menyenangkan manusia, melainkan untuk menyenangkan Allah yang menguji hati kita” (1Tes 2:4). Pernyataan sederhana ini mengungkapkan bagaimana transparannya Paulus dan kawan-kawannya menempatkan diri mereka di hadapan Tuhan Allah. Mereka tidak mau kesombongan atau sikap serta perilaku yang mementingkan diri sendiri menjadi penghalang terhadap relasi mereka dengan Allah. Mereka mohon Allah memeriksa hati mereka dan mengungkapkan apa saja yang menjadi penghalang terhadap kemurnian Injil. Mereka mengerti bahwa dosa yang belum dimohonkan pengampunannya dari Allah dapat mengaburkan pengenalan dan pengalaman mereka akan kasih Allah dan hal tersebut sangat memperlemah kemampuan mereka untuk melayani sesama yang juga umat-Nya. Lebih dari segalanya, mereka ingin menghindari kemungkinan ini, dengan memberikan jemaat Tesalonika setiap kesempatan untuk menerima Injil dengan kuat-kuasa dan keyakinan. 

Karena kerendahan hati mereka, Paulus dkk. menjadi imaji (gambar) Allah sendiri bagi umat; mereka mengasihi umat sebagaimana Allah sendiri mengasihi mereka. Keterbukaan sedemikian memampukan mereka untuk tahan menanggung penganiayaan, ditahan dalam penjara, namun dapat melanjutkan evangelisasi mereka dengan penuh kasih. Dari hari ke hari, mereka memperkenankan Allah untuk membebaskan mereka dari “kemarahan”  atau “keputusasaan” dalam menghadapi para lawan mereka. Dari hari ke hari, mereka belajar untuk mengampuni para penganiaya mereka sebagaimana Allah telah mengampuni mereka. 

Hal ini juga benar bagi kita semua! Memperkenankan Allah untuk memeriksa hati kita dan memurnikan kita dari dosa adalah cara yang paling pasti untuk membuat kita menjadi pelayan-pelayan Injil yang efektif. Segala upaya dan jerih payah kita yang dilakukan terpisah dari kuat-kuasa Roh Kudus, tidak akan mampu menghasilkan – bahkan sebagian kecil saja – apa yang dapat terjadi apabila kita membuka hati kita bagi sentuhan-penyelidikan Allah yang begitu lemah lembut dan penuh kasih. 

DOA: Bapa surgawi, murnikanlah kami sebagaimana Engkau memurnikan para rasul Putera-Mu terkasih, Yesus Kristus. Oleh Roh Kudus-Mu periksa dan selidikilah hati kami dan bimbimglah kami kepada kerendahan-hati atau kedinaan yang sejati, agar kami dapat menjadi saksi-saksi kasih-Mu dan menjadi duta-duta-Mu  dalam dunia ini. Amin. 

Cilandak, 7 Agustus 2011 [HARI MINGGU BIASA XIX] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

CELAKALAH KAMU, HAI AHLI-AHLI TAURAT DAN ORANG-ORANG FARISI !!!

CELAKALAH KAMU, HAI AHLI-AHLI TAURAT DAN ORANG-ORANG FARISI !!!

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan SP Maria, Ratu, Senin 22-8-11) 

Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, karena kamu mentutup pintu-pintu Kerajaan Surga di depan orang. Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu merintangi mereka yang berusaha untuk masuk.

Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu menelan rumah janda-janda dan kamu mengelabui mat orang dengan doa yang panjang-panjang. Karena itu, kamu pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.

Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu mengarungi lautan dan menjelajahi daratan, untuk membuat satu orang saja saja menjadi penganut agamamu  dan sesudah hal itu terjadi, kamu menjadikan dia calon penghuni neraka, yang dua kali lebih jahat daripada kamu sendiri.

Celakalah kamu, hai pemimpin-pemimpin buta, yang berkata: Bersumpah demi Bait Suci, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi emas Bait Suci, sumpah itu mengikat. Hai kamu orang-orang bodoh dan orang-orang buta, manakah yang lebih penting, emas atau Bait Suci yang menguduskan emas itu? Bersumpah demi mezbah, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi persembahan yang ada di atasnya, sumpah itu mengikat. Hai kamu orang-orang buta, manakah yang lebih penting, persembahan atau mezbah yang menguduskan persembahan itu? Karena itu, siapa saja yang bersumpah demi mezbah, ia bersumpah demi mezbah dan juga demi segala sesuatu yang terletak di atasnya. Siapa saja yang bersumpah demi Bait Suci dan juga demi Dia, yang tinggal di situ. Siapa saja yang bersumpah demi surga, ia bersumpah demi takhta Allah dan juga demi Dia, yang bersemayam di atasnya. (Mat 23:13-22)

Bacaan Pertama: 1Tes 1:2b-5. 8b-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 149:1-6,9 

“Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi!” (Mat 23:13). Kata-kata Yesus yang ditujukan kepada para ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang menentang diri-Nya barangkali kedengaran  sangat keras bagi telinga kita, meskipun kita dapat saja membayangkan bahwa pantas juga mereka ditegur seperti itu. Kiranya kata “celakalah” yang diserukan oleh Yesus itu bukanlah dimaksudkan untuk “mengutuk”, melainkan pengungkapan keluh kesah hati-Nya, yang terluka karena orang-orang ini telah menolak Dia. Dalam potongan-potongan kalimat yang diulang-ulang ini, kita hampir dapat mendengar suara Yesus yang diwarnai emosi selagi Dia meratapi kekerasan hati orang-orang yang sesungguhnya sangat dikasihi-Nya itu. 

Dari kedalaman hati-Nya yang sangat mengasihi kita, Yesus juga meratap sedih, manakala kita – seperti juga para ahli Taurat dan orang-orang Farisi – lebih menyukai tafsir kita sendiri tentang Kristianitas. Apabila kita mendengarkan dengan baik-baik, kita pun dapat mendengar suara-Nya: “Celakalah kamu, yang melihat iman sebagai kewajiban-kewajiban untuk dipenuhi, dan keselamatan sebagai masalah tuntutan yang harus kamu penuhi.” Atau lagi: “Celakalah kamu, yang mengabaikan hukumku, dan membenarkan setiap kesalahanmu dengan memakai kasih-Ku sebagai alasan.” 

Hakekat dari kata “celakalah” ini bukanlah bagaimana sempurna atau tidak sempurnanya diri kita. Kita semua telah dan masih suka menyedihkan hati Yesus dengan berbagai cara. Oleh karena itu, sebaiknyalah apabila kita kita memandang atau mengartikan kata “celakalah” Yesus ini sebagai undangan kepada kita semua untuk melakukan pertobatan dan dibebaskan dari hal-hal yang membuat hati-Nya bersedih. Ia ingin melakukan kebaikan yang jauh lebih besar daripada sekadar menyatakan ketidaksempurnaan manusiawi kita, jauh lebih daripada sekadar melepaskan kesedihan-Nya. Dia ingin mengubah kita menjadi serupa dengan diri-Nya sendiri! Dia ingin membuka hati kita bagi kuat-kuasa dan hikmat-Nya. Dia merindukan hari pada saat mana kita akan dipenuhi dengan pengenalan akan kasih-Nya bagi kita dan menjadi pelayan-pelayan kasih-Nya kepada orang-orang di sekeliling kita. 

Banyak ahli Taurat  dan orang Farisi menolak undangan Yesus. Akan tetapi, penolakan mereka itu tidak berarti bahwa kita sekarang diabaikan. Kita dapat menerima undangan itu. Apa yang harus kita lakukan adalah mengakui bahwa kita perlu disembuhkan dan dibebaskan (lihat Hos 14:2-4), untuk diajar mengikuti pikiran dan cara-cara Allah (Yes 55:8-9), untuk dipimpin oleh Roh Kudus-Nya (Yoh 16:13). 

Saudari dan Saudariku, marilah kita memperkenankan Tuhan menyembuhkan diri kita masing-masing. Biarlah darah-Nya membersihkan diri kita masing-masing. Ingatlah apa yang tertulis dalam Kitab Nabi Zefanya: “TUHAN (YHWH) Allahmu ada di antaramu sebagai pahlawan yang memberi kemenangan. Ia bergirang karena engkau dengan sukacita, Ia membaharui engkau dalam kasih-Nya” (Zef  3:17). 

DOA: Tuhan Yesus, aku menaruh kepercayaan penuh pada-Mu. Tolonglah aku melihat di mana saja aku membenarkan kesalahan-kesalahan dan kelemahan-kelemahanku dengan memakai kasih-Mu sebagai alasan bagiku untuk berdalih. Lunakknlah hatiku dan ampunilah aku. Bersihkanlah diriku dengan darah-Mu, dengan demikian membawa sukacita kepada-Mu pada hari ini. Amin. 

Cilandak, 6 Agustus 2011 [Pesta Yesus Menampakkan Kemuliaan-Nya]  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 126 other followers