DI MANA DUA ATAU TIGA ORANG BERKUMPUL DALAM NAMA-KU

DI MANA DUA ATAU TIGA ORANG BERKUMPUL DALAM NAMA-KU

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXIII, Hari Minggu Kitab Suci Nasional, 4-9-11) 

“Apabila saudaramu berbuat dosa, tegurlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali. Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan. Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di surga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di surga. Lagi pula aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari antara kamu di dunia ini sepakat meminta apa pun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di surga. Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ aku ada di tengah-tengah mereka.” (Mat 18:15-20)

Bacaan Pertama: Yeh 33:7-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 95:1-2,6-7,8-9; Bacaan Kedua: Rm 13:8-10 

“Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ aku ada di tengah-tengah mereka” (Mat 18:20). Sungguh sebuah gambaran yang indah: Yesus sendiri akan hadir bersama kita apabila kita berkumpul bersama dalam Nama-Nya, syering iman kita kepada-Nya dengan saudari-saudara kita lainnya. Akan tetapi, sesungguhnya yang menghibur hati kita adalah lebih daripada sekadar gambaran yang indah.  Ini adalah suatu kebenaran mendalam yang menantang kita. Apabila Yesus berada di tengah-tengah kita, pesan apa yang tersirat dari peristiwa itu berkaitan dengan cara yang seharusnya kita pakai dalam memperlakukan saudari-saudara kita satu sama lain? 

Berkumpul “dalam nama Yesus Kristus” tidak sekadar berarti berkumpul bersama seperti menghadiri reuni keluarga atau makan bersama keluarga yang dilakukan secara mingguan. Allah ingin agar kita memandang semua orang dalam Gereja sebagai anggota-anggota keluarga kita sendiri, saudari dan saudara yang telah ditebus oleh Yesus Kristus. Inilah makna sebenarnya dari keberadaan Gereja Universal, juga makna sesungguhnya dari sebuah paroki. Dengan mensyeringkan kehidupan kita bersama dengan Yesus di tengah-tengah kita, kita dipanggil untuk mengasihi dan melayani satu sama lain, untuk saling memperhatikan kesejahteraan satu sama lain. 

Fokus pada relasi kekeluargaan ini berada pada jantung ajaran-ajaran Yesus  tentang bagaimana menolong seorang saudari atau saudara yang telah menjauhkan diri dari Tuhan Yesus. Yesus tidak memberikan kepada kita seperangkat SOP, aturan-aturan prosedural dan sejenisnya tentang bagaimana berurusan dengan “domba-domba yang hilang”. Yesus menggambarkan suatu falsafah, suatu sikap (kata kerennya: attitude) yang diperlukan dalam kita berhubungan satu sama lain. Falsafah yang dimaksud adalah memandang setiap anggota Gereja sebagai bagian dari keluarga kita sendiri. 

Dari waktu ke waktu kita berada dalam suatu situasi di mana kita dapat membantu seseorang yang sudah meninggalkan Allah untuk kembali. Dalam situasi-situasi seperti ini, Allah ingin agar kita memandang orang lain itu sebagai seseorang yang telah diciptakan untuk akrab dengan diri-Nya – dan dengan keluarga-Nya. Ia ingin memberikan kepada kita hati-Nya sendiri yang penuh kasih kepada orang itu sehingga kita pun akan memperlakukan mereka dengan belas kasih yang sama seperti yang kita telah terima daripada-Nya. Hanya kasih Allah-lah yang dapat membimbing kita dalam berelasi satu sama lain dengan sesama kita. Hanya kasih-Nyalah yang dapat mengubah kehidupan kita, lingkungan kita, komunitas kita, paroki kita, dan seluruh Gereja sedemikian rupa sehingga mengisi dunia dengan rasa takjub akan kuat-kuasa kasih Kristiani. 

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau telah memanggil kami menjadi anggota keluarga-Mu sendiri. Ajarlah kami masing-masing untuk menemui keluarga-keluarga kami, rekan-rekan kerja kami, teman-teman kami, kerabat-kerabat kami, tetangga-tetangga kami dan anggota-anggota komunitas kami, warga-warga lingkungan dan paroki kami dengan cara yang mempersatukan kami semua dalam kasih, rasa hormat dan damai-sejahtera. Amin. 

Cilandak, 14 Agustus 2011 [HARI RAYA SP MARIA DIANGKAT KE SURGA] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SABAT: HARI KEBEBASAN DAN SUKACITA

SABAT: HARI KEBEBASAN DAN SUKACITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Gregorius Agung [540-604], Paus-Pujangga Gereja, Sabtu 3-9-11) 

Pada suatu hari Sabat, ketika Yesus berjalan di ladang gandum, murid-murid-Nya memetik bulir gandum, menggosoknya dengan tangan mereka dan memakannya. Tetapi beberapa orang Farisi berkata, “Mengapa kamu berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?” Lalu Yesus menjawab mereka, “Tidakkah kamu baca apa yang dilakukan oleh Daud, ketika ia dan mereka yang mengikutinya lapar, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah dan mengambil roti sajian, lalu memakannya dan memberikannya kepada pengikut-pengikutnya, padahal roti itu tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam? Kata Yesus lagi kepada mereka, “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat.” (Luk 6:1-5)

Bacaan Pertama: Kol 1:21-23; Mazmur Tanggapan: Mzm 54:3-4,6,8 

Lukas menulis Injilnya teristimewa bagi orang-orang dengan latar belakang Yunani, yang tidak memiliki pemahaman atau sedikit saja memiliki pemahaman tentang tradisi Yahudi. Oleh karena itu, tidak mengherankanlah apabila Lukas sering menekankan konfrontasi-konfrontasi Yesus dengan orang-orang Farisi dan para pemuka agama Yahudi lainnya yang pada umumnya berlawanan paham dengan sang Rabi dari Nazaret. Dengan demikian ketika orang-orang Farisi menuduh para murid Yesus melanggar peraturan hari Sabat, maka dengan cepat Yesus membela para murid-Nya dan menunjukkan bahwa tindakan-tindakan mereka masih tetap berada dalam batas-batas hukum. Di sini, dan juga dalam peristiwa-peristiwa lain, Yesus menunjukkan bahwa Dia datang bukan untuk menghapuskan hukum, melainkan untuk menggenapinya. Dengan tegas Yesus menyatakan kepada para lawan-Nya: “Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat” (Luk 6:5). 

Yesus dapat melihat  bagaimana orang-orang Farisi berupaya untuk memegang kendali atas Allah (yang benar kebalikannya, bukan?) dengan menyusun peraturan-peraturan dan panduan-panduan ketat yang seringkali bahkan melampaui tuntutan-tuntutan hukum itu sendiri. Misalnya, tafsiran mereka atas hukum Sabat memusatkan perhatian pada hal-hal yang tidak boleh dilakukan pada hari Sabat itu. Sebaliknya, Yesus ingin mengindentifikasikan hakekat dari hukum itu dan mengundang umat-Nya untuk mengalami kebebasan yang dimungkinkan apabila mereka memahami tujuan sentral dari setiap hukum Allah. Allah menetapkan hari Sabat karena cintakasih-Nya, untuk memberikan kepada umat-Nya kebebasan dari beban-beban kehidupan sehari-hari sehingga mereka dapat datang menghadap hadirat-Nya dan menyembah-Nya. Memusatkan perhatian pada hal-hal yang tidak boleh dilakukan berarti salah sasaran. Artinya, kita kehilangan kesempatan menerima undangan untuk beristirahat dan disegarkan kembali. 

Selagi mereka berjalan di ladang gandum, murid-murid Yesus mempunyai kesempatan menikmati jalan bersama dengan Yesus tanpa “gangguan” dari orang banyak. Ini adalah peluang bagi para murid untuk berada dekat Yesus. Mereka dapat berdoa bersama dengan Dia dan menyaksikan serta mengalami betapa dekat Yesus dengan Bapa-Nya. Waktu Sabat untuk beristirahat dalam keheningan merupakan suatu bagian penting dari relasi mereka dengan Yesus. Disegarkan kembali dengan Dia; dengan cara ini akan memampukan mereka untuk menjawab berbagai tuntutan pelayanan yang Yesus ingin percayakan kepada mereka. 

Bahkan hari ini pun, Allah ingin agar Sabat merupakan hari di mana kita dapat mengalami kebebasan-Nya yang menyelamatkan dan sukacita. Sebagaimana orang-orang Farisi, kita dapat berhenti bekerja guna memuaskan huruf-huruf yang tersurat dalam Hukum, atau  kita dapat membuat hening hati kita dan beristirahat di depan Yesus. Hari ini, selagi kita mempersiapkan Sabat, marilah kita memohon kepada Yesus agar menyatakan hati-Nya yang penuh kasih dan menyegarkan kita kembali dalam persiapan untuk pekan mendatang. 

Santo Gregorius Agung. Hari ini Gereja Katolik memperingati Santo Gregorius Agung, seorang paus dan pujangga Gereja yang memegang tampuk pimpinan Gereja tahun 590-604. Dia adalah putera seorang senator Roma dan hal ini berarti bahwa dia berasal dari keluarga bangsawan (atau patrisian). Dia memulai karir sekularnya di bidang pemerintahan. Pada tahun 573 Gregorius diangkat menjadi prefek (praefectus urbi) kota Roma, namun karir yang kelihatannya bagus sekali ini diakhirinya dengan cepat. Mengapa? Karena tidak lama kemudian Gregorius memutuskan untuk ‘meninggalkan dunia’ dan menggunakan warisannya yang besar jumlahnya untuk mendirikan tujuh biara monastik bagi para rahib: enam buah di Sisilia dan satu di Roma di atas tanah miliknya sendiri. Gregorius melepaskan segalanya demi Allah. Dia mengikuti ‘jalan perendahan’ yang telah dicontohkan sendiri oleh Tuhan dan Gurunya, Yesus Kristus. 

Gregorius bergabung dengan komunitas biara Roma ini si sekitar tahun 574. Pada tahun 578 Paus Benediktus I mengangkatnya menjadi diakon. Satu tahun kemudian Paus Pelagius II mengutusnya ke Konstantinopel (sekarang: Istambul) sebagai apochrisarius atau duta, dengan harapan memperoleh bantuan dari kekaisaran Byzantium (Timur) dalam melawan serangan orang-orang Lombard. Selama berada di Konstantinopel, dia memperoleh pengalaman berharga dalam hal berurusan dengan Kekaisaran Timur, namun dia merasakan bahwa Kekaisaran Timur tidak akan menolong Kekaisaran di Barat (Latin). Gregorius pulang ke Roma sekitar tahun 585, kemudian menjabat sebagai abbas dari Biara S. Andreas di Roma, biara yang didirikannya lebih dari sepuluh tahun sebelumnya. Paus Pelagius II wafat pada tahun 590, dan Gregorius terpilih sebagai penggantinya dengan suara bulat. Dia mencoba untuk menghindarkan diri dari pengangkatan dirinya menjadi paus, namun tidak berhasil. Dengan hati enggan, dia diangkat sebagai paus Gregorius I pada tanggal 3 September 590. 

Sebagai seorang Gembala tertinggi Gereja Katolik, Gregorius membuktikan bahwa dirinya adalah seorang negarawan ulung. Dia melakukan banyak hal yang menyangkut kelangsungan hidup Gereja. Dia juga menulis banyak buku dalam bidang pastoral, tafsir Kitab Suci dan 40 homili/khotbah dan lebih dari 850 pucuk surat. Dia adalah pemimpin Gereja yang rendah hati secara benar-benar tulus, dan menamakan dirinya Servus Servorum Dei (Abdi para abdi Allah). Julukan ini tidak pernah ditinggalkan oleh para paus sampai hari ini.

Gregorius wafat pada tanggal 12 Maret 604 dan dia diangkat secara popular sebagai orang kudus Gereja setelah kematiannya. Gereja mengangkatnya menjadi seorang Pujangga Gereja. Bersama Paus Santo Leo I [memerintah tahun 440-461], Gregorius I merupakan dua orang pengganti Santo Petrus yang diberi gelar ‘Agung’. Santo Gregorius Agung dihormati sebagai pelindung para penyanyi gereja (Ingat istilah “lagu-lagu Gregorian”?).

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau menyediakan satu hari setiap pekan agar kami dapat bersama-Mu. Terima kasih untuk Roh Kudus yang Kauutus, yang memampukan kami untuk menjadi semakin dekat dengan diri-Mu. Amin.

Cilandak, 14 Agustus 2011 [HARI RAYA SP MARIA DIANGKAT KE SURGA] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KEUTAMAAN KRISTUS

KEUTAMAAN KRISTUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXII, Jumat 2-9-11)

Keluarga Fransiskan: Peringatan B. Yohanes Fransiskus Burte, Severinus Girault, Apolinaris Morel, dkk. Martir Revolusi Perancis

Dialah gambar Allah yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan, karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di surga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu menyatu di dalam Dia. Dialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Dialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga Dialah yang lebih utama dalam segala sesuatu. Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan tinggal di dalam Dia, dan melalui Dialah Allah memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di surga, sesudah Ia mengadakan pendamaian dengan darah salib Kristus. (Kol 1:15-20)

Mazmur Tanggapan: Mzm 100:2-5; Bacaan Injil: Luk 5:33-39 

Bacaan pertama hari ini adalah sebuah madah Gereja Perdana yang dimasukkan oleh Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Kolose. Madah yang indah ini mengingatkan kita betapa mempesona dan mengagumkan Tuhan Yesus itu. Di dalam Dia telah diciptakan segala sesuatu; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Yesus ditinggikan di atas segala sesuatu dan Dia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan (visible image of the invisible God; Kol 1:15). Yesus-lah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga Dialah yang lebih utama dalam segala sesuatu (Kol 1:15). Tidak ada sesuatu pun dalam ciptaan yang dapat dibandingkan dengan Yesus Kristus. 

Paulus tidak menulis hal-hal ini tentang Yesus untuk menggambarkan Dia sebagai seorang dewa atau tokoh ilahi yang jauh (sangat transenden) dari kita dan tidak dapat didekati (unapproachable), dan malah tidak berminat untuk memperhatikan kita. Sesungguhnya, Paulus di sini membicarakan kebesaran, kehebatan, keagungan, keutamaan Yesus Kristus agar supaya kita memperoleh rasa aman berkaitan dengan kehidupan yang telah warisi dalam Dia. Apabila Yesus benar-benar Dia yang di dalam diri-Nya kepenuhan Allah berkenan tinggal, maka tanpa keraguan sedikit pun Ia mampu memberikan kepada kita “bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang kudus di dalam terang” (Kol 1:12). 

Sesungguhnya, semakin kita mengenal dan mengalami Yesus sebagai Putera Allah yang kudus dan penuh kuat-kuasa, maka kita pun akan semakin dipenuhi rasa percaya dan damai-sejahtera dalam setiap situasi yang kita hadapi. Sekarang, apa yang anda lihat ketika membayangkan Yesus? Apakah anda membayangkan diri-Nya sebagai Putera Allah yang kekal, yang dipenuhi dengan kuat-kuasa dan kewibawaan, yang membuka jalan menuju kehidupan bagi anda lewat kematian-Nya? Apakah dalam diri Yesus anda melihat seorang pribadi yang “di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu (Kol 1:16), namun bersedia mempersembahkan diri-Nya kepada Bapa surgawi karena perjanjian-Nya dengan anda? Jadi, Yesus Kristus adalah yang utama di atas segalanya. Segalanya berpusat pada Yesus Kristus. Ia senantiasa setia pada janji-janji-Nya, dan Ia tidak akan meninggalkan anda pada saat-saat membutuhkan diri-Nya. Yesus juga menyapa kita masing-masing sebagai saudari dan saudara-Nya, dan Dia mengundang kita untuk saling berbagi kehidupan-Nya dengan saudari-saudara kita sebagai para anggota yang setara dari keluarga-Nya. 

Budaya modern cenderung untuk mendorong suatu gaya hidup yang terisolasi. Lihatlah rumah-rumah orang kaya – teristimewa di kota-kota besar – dengan pagarnya yang menjulang tinggi, tidak ubahnya sebuah benteng pertahanan. Banyak lagi yang dilakukan orang untuk mengisolasi diri, semuanya seiring dengan perkembangan teknologi. Semuanya ini bertujuan untuk menghidari kontak yang diinginkan dengan orang-orang lain. Kita cenderung berhati-hati (penuh curiga?) terhadap orang-orang yang akan berkontak dengan kita dan juga tidak mau diganggu oleh orang-orang lain. 

Sikap atau pendekatan sedemikian sangatlah bertentangan dengan kehidupan dalam kerajaan Allah. Sebagaimana ditunjukkan oleh ayat-ayat di atas, apabila kita mencoba hanya untuk fokus pada relasi yang personal dengan Yesus tetapi tidak terbuka bagi orang-orang lain, maka kita mengambil risiko mengurangi arti relasi kita sendiri dengan Dia. Ada banyak hal bagi kehidupan dengan Allah daripada isolasi dan relasi-relasi yang bersifat selektif. Melalui Yesus, kita direkonsiliasikan dengan Allah bukan saja sebagai individu-individu, melainkan juga sebagai sebuah komunitas, sebagai anggota dari Tubuh-Nya. Seperti seorang laki-laki dan seorang perempuan menjadi satu dalam perkawinan, maka kita menjadi satu dalam Kristus melalui pembaptisan. Dan seperti seorang laki-laki dan seorang perempuan dipanggil untuk memperdalaman persatuan dan kesatuan mereka, maka demikian pula dengan kita semua sebagai anggota-anggota Gereja. 

Yesus memanggil para murid di sekeliling diri-Nya yang ikut ambil bagian dalam kehidupan-Nya. Kita pun sangat diberkati karena pada zaman modern ini pun kita boleh mengalami hal yang sama. Pada hari ini kita dapat melihat cara kita menghayati kehidupan kita dan membandingkannya dengan apa yang sesungguhnya dikehendaki Allah. Ia memanggil kita semua untuk meninggalkan segala cara isolasi yang terdapat dalam dunia, dengan membangun Tubuh Kristus. Oleh karena itu, marilah kita bersama berjalan di jalan transformasi, dengan saling mendukung, saling berbagi kemenangan-kemenangan dan kekecewaan-kekecewaan kita, dan menemukan kasih Yesus seorang dengan yang lainnya. Kita dapat mengubah dunia! 

DOA: Terpujilah Engkau, Putera Allah, Tuhan Yesus Kristus! Aku menyembah engkau untuk kuat-kuasa dan kemuliaan-Mu, namun aku juga bersukacita dalam kasih-Mu yang intim kepadaku. Apa lagi yang dapat kulakukan, selain bersembah sujud di hadapan hadirat-Mu. Amin. 

Cilandak, 14 Agustus 2011 [HARI RAYA SP MARIA DIANGKAT KE SURGA] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PENJALA IKAN MENJADI PENJALA MANUSIA

PENJALA IKAN MENJADI PENJALA MANUSIA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXII, Kamis 1-9-11) 

Pada suatu kali Yesus berdiri di pantai Danau Genesaret, sementara orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan firman Allah. Ia melihat dua perahu di tepi pantai. Nelayan-nelayannya telah turun dan sedang membasuh jalanya. Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia mendorong perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu. Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon, “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.”  Simon menjawab, “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena perkataan-Mu itu, aku akan menebarkan jala juga.”  Setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak. Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain supaya mereka datang membantunya. Mereka pun datang, lalu bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam. Ketika Simon Petrus melihat hal itu ia pun sujud di depan Yesus dan berkata, “Tuhan, pergilah dari hadapanku, karena aku ini seorang berdosa.”  Sebab ia dan semua orang yang bersama-sama dengan dia takjub oleh karena banyaknya ikan yang mereka tangkap; demikian juga Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, yang menjadi teman Simon. Kata Yesus kepada Simon, “Jangan takut, mulai sekarang engkau akan menjala manusia.”  Sesudah menarik perahu-perahunya ke darat, mereka pun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus. (Luk 5:1-11)

Bacaan Pertama: Kol 1:9-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:2-6 

Sebelum terjun ke dalam karya pelayanan-Nya di depan publik, Yesus relatif tidak dikenal. Namun setelah Ia kembali dari puasa-Nya di padang gurun, dengan cepat Yesus menarik perhatian orang banyak lewat karya-karya-Nya dalam pengusiran roh-roh jahat, penyembuhan dan mukjizat-mukjizat lainnya. Setelah menentukan misi-Nya, Yesus langsung mulai memanggil beberapa orang untuk menjadi murid-murid-Nya – mereka yang dapat diajar-Nya dan dibentuk-Nya supaya dapat menjadi duta-duta-Nya kelak. 

Injil Lukas menceritakan bahwa murid-murid pertama yang dipanggil oleh Yesus adalah Simon Petrus, seorang nelayan yang kelak akan memimpin Gereja-Nya yang kelak berekspansi keluar Israel mencapai dunia yang dikenal pada waktu itu. 

Sekarang, marilah kita membayangkan betapa Yesus memiliki wibawa dan kuat-kuasa, seorang yang penuh kharisma. Kitab Suci dan tradisi menggambarkan Simon Petrus sebagai seorang pribadi yang emosional, cepat marah, namun ketika Yesus muncul untuk mengajar orang banyak, Petrus langsung saja mengiyakan permintaan Yesus untuk meminjamkan perahunya sebagai “mimbar khotbah”. Kemudian, setelah selesai berkhotbah, Yesus berkata kepada Petrus untuk bertolak ke tempat yang dalam dan menebarkan jalanya untuk menangkap ikan. Ia berkata: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena perkataan-Mu, aku akan menebarkan jala juga” (Luk 5:5). Tentunya Petrus telah dibuat terpesona/takjub atas pengajaran yang baru saja diberikan oleh Yesus kepada orang banyak, sehingga dia tidak saja mematuhi keinginan Yesus, dia juga menyapa Yesus sebagai GURU, suatu gelar yang mengandung respek mendalam seseorang terhadap wibawa dan kuasa yang dimiliki orang  yang disapanya. 

Alhasil, Petrus dkk. di dalam perahunya berhasil menjala ikan-ikan dalam jumlah besar, sehingga jala yang dipakai pun menjadi koyak dan mereka pun harus minta bantuan para nelayan lain yang ada di perahu lain. Bayangkan, kedua perahu itu pun hampir tenggelam karena sarat muatan ikannya. Mukjizat penangkapan ikan ini sungguh membuat Simon Petrus menjadi rendah hati dan melihat dirinya sedemikian kecil di hadapan Yesus. Sesuatu yang penuh kuat-kuasa telah terjadi di dalam dirinya, mendorongnya untuk meninggalkan segalanya di belakang guna mengikuti sang Guru. Sejak saat itu tentunya Petrus tidak lagi memandang Yesus sebagai seorang guru seperti guru-guru yang lain, juga bukan sebagai seorang bijaksana yang pantas dihargai serta dihormati. 

Pernyataan diri (perwahyuan) Yesus lewat mukjizat ini membuat Petrus sujud di depan Yesus dan berkata: “Tuhan, pergilah dari hadapanku, karena aku ini seorang berdosa.” (Luk 5:8). Kata Tuhan ini adalah terjemahan dari kata Yunani Kyrios, adalah kata yang sama yang digunakan dalam menerjemahkan kata YHWH dalam Perjanjian Lama bahasa Yunani, artinya ALLAH sendiri. Lewat perwahyuan, Petrus mampu memandang bahwa Yesus berada di atas segala orang lain. 

Nah, pengalaman Petrus ini adalah suatu pengalaman yang Yesus ingin agar kita alami juga: suatu perwahyuan yang tidak hanya membukan pikiran kita, melainkan juga menembus hati kita juga. Yesus ingin menyatakan kemuliaan-Nya kepada kita masing-masing, dengan demikian mendesak kita untuk mengikuti jejak-Nya sama radikalnya dengan apa yang telah dilakukan oleh Petrus. Tuhan berjanji, apabila kita melakukannya, maka kita pun akan mengalami kehidupan-Nya yang sangat indah. 

DOA: Roh Kudus Allah, tolonglah kami untuk memandang Yesus tidak hanya sebagai seorang Guru yang pantas dihormati, melainkan teristimewa sebagai Kyrios langit dan bumi, yang pantas kami percayai, kasihi dan taati perintah-perintah-Nya. Roh Allah, tanamkanlah pengetahuan ini ke dalam hati kami masinjg-masing. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 5:1-11), bacalah tulisan yang berjudul “MULAI SEKARANG ENGKAU AKAN MENJALA MANUSIA” (bacaan untuk tanggal 1-9-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: PERMENUNGAN ALKITABIAH. 

Cilandak, 13 Agustus 2011 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HARUS MENYEDIAKAN WAKTU UNTUK BERDOA

HARUS MENYEDIAKAN WAKTU UNTUK BERDOA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXII, Rabu 31-8-11) 

Kemudian Yesus meninggalkan rumah ibadat itu dan pergi ke rumah Simon. Adapun ibu mertua Simon demam keras dan mereka meminta kepada Yesus supaya menolong dia. Lalu Ia berdiri di sisi perempuan itu dan mengusir demam itu, maka penyakit itu pun meninggalkan dia. Perempuan itu segera bangun dan melayani mereka.

Ketika matahari terbenam, semua orang membawa kepada-Nya orang-orang sakitnya, yang menderita bermacam-macam penyakit. Ia pun meletakkan tangan-Nya ke atas mereka masing-masing dan menyembuhkan mereka. Dari banyak orang keluar juga setan-setan sambil berteriak, “Engkaulah Anak Allah.” Lalu Ia dengan keras melarang mereka dan tidak memperbolehkan mereka berbicara, karena mereka tahu bahwa Dialah Mesias.

Ketika hari siang, Yesus berangkat dan pergi ke suatu tempat yang terpencil. Tetapi orang banyak mencari Dia, lalu menemukan-Nya dan berusaha menahan Dia supaya jangan meninggalkan mereka. Tetapi Ia berkata kepada mereka, “Di kota-kota lain juga Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah, sebab untuk itulah Aku diutus.” Lalu Ia memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat di Yudea. (Luk 4:38-44)

Bacaan Pertama: Kol 1:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 52:10-11 

Kita dapat selalu berdalih dan mengemukakan seribu satu macam alasan untuk mempersingkat waktu yang kita sediakan untuk berdoa: “Aduh, saya sangat sibuk nih!”, “Wah, saya sedang lelah sekali setelah seharian macet di jalanan!”, “Anda tahu nggak, saya selalu berdoa kapan saja dan di mana saja. Bukankah, apa yang saya lakukan adalah doa saya? Saya sudah tahu apa yang dikehendaki Allah untuk saya lakukan. Andaikan saja anda tahu betapa sibuknya saya ini!” 

Kalau siapa saja berhak untuk mengemukakan berbagai macam alasan seperti di atas, maka orang yang memang sesungguhnya pantas berkata begitu adalah Yesus! Bacaan Injil hari ini menunjukkan kepada kita bahwa Yesus bekerja sampai malam menyembuhkan setiap orang sakit yang datang kepada-Nya, juga mengusir jauh-jauh segala roh jahat yang mengganggu orang-orang. Sungguh suatu pekerjaan yang penuh kesibukan dan melelahkan! Ia telah hidup dalam persatuan yang paripurna dengan Bapa-Nya di surga, sehingga Dia telah memahami dengan jelas kepenuhan rencana ilahi dan peranan sentral yang harus dimainkan oleh diri-Nya. Namun ketika hari siang, Yesus berangkat dan pergi ke suatu tempat yang terpencil, agar Dia dapat memusatkan segenap perhatian-Nya kepada Allah, untuk berdoa! 

Dalam keheningan itu, Yesus mengambil sebuah keputusan penting. Walaupun ada banyak orang di tempat itu yang membutuhkan pelayanan-Nya (catatan: orang-orang mencari Dia terus sampai ditemukan di tempat terpencil itu), Yesus memutuskan bahwa itulah saat bagi-Nya untuk bergerak terus, karena Allah mengutus diri-Nya untuk mewartakan Injil di kota-kota lain juga. 

Pada titik ini, Yesus mungkin saja belum memperoleh suatu gambaran jelas tentang bagaimana pelayanan-Nya akan berkembang. Yang diketahui oleh-Nya hanyalah bahwa langkah selanjutnya adalah “meninggalkan Kapernaum”. Di bab/pasal berikutnya dalam Injil Lukas, kita akan melihat Yesus memberikan pengampunan Allah sendiri sebagai suatu saluran kesembuhan, Dia melayani kebutuhan-kebutuhan spiritual dan fisik orang-orang. Ia memanggil para murid-Nya untuk mengikuti jejak-Nya. Memang hal ini merupakan sebuah proses yang lambat dan sering menimbulkan frustrasi, namun bersifat hakiki apabila pesan-Nya sungguh ingin berlanjut setelah kematian-Nya. Konflik dengan para pemuka agama Yahudi pun mulai timbul (lihatlah Mat 5:20-25,30,33-34). 

Di tempat kerja, di rumah, di gereja dan di komunitas-komunitas di mana kita adalah anggotanya, kita pun seringkali menghadapi begitu banyak tuntutan untuk melayani berbagai kebutuhan orang-orang lain. Kebutuhan-kebutuhan itu sungguh riil, dan Allah mungkin saja mengundang kita untuk mengambil tindakan guna memenuhi berbagai kebutuhan tersebut. Akan tetapi, kita harus ingat bahwa diri kita mungkin saja bukan jawaban Allah untuk setiap kebutuhan yang ada. Kadang-kadang tuntutan-tuntutan ini merupakan distraksi dari apa yang Allah sungguh inginkan untuk kita lakukan. Nah, di sinilah perlunya proses discernment (membeda-bedakan roh) agar kita mengenal kehendak Allah yang sebenarnya. Dan, discernment dalam suasana doa ini membutuhkan keheningan dan proses mendengarkan dalam kesunyian. 

DOA: Bapa surgawi, Engkau adalah Khalik langit dan bumi, Allah yang mahapengasih. Aku mengetahui bahwa Engkau mengundangku untuk datang menghadap hadirat-Mu dalam keheningan, setiap hari. Hal itu adalah panggilan yang sungguh berharga, namun juga sulit untuk dilaksanakan, karena kesibukanku melayani. Tolonglah aku untuk mempercayai bahwa Engkau dapat mengurus dunia tanpa aku. Tolonglah aku mendengarkan dengan hatiku mengenai apa yang sesungguhnya Kaukehendaki agar kulakukan. Amin. 

Cilandak, 13 Agustus 2011 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KATA-KATA-NYA PENUH WIBAWA DAN KUASA

KATA-KATA-NYA PENUH WIBAWA DAN KUASA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXII, Selasa 30-8-11) 

Kemudian Yesus pergi ke Kapernaum, sebuah kota di Galilea, lalu mengajar di situ pada hari-hari Sabat. Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab perkataan-Nya penuh kuasa. Di dalam rumah ibadat itu ada seorang yang kerasukan setan dan ia berteriak dengan suara keras, “Hai Engkau, Yesus orang Nazaret, apa urusan-Mu dengan kami? Apakah engkau datang untuk membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah.” Tetapi Yesus membentaknya, “Diam, keluarlah dari dia!” Setan itu pun menghempaskan orang itu ke tengah-tengah orang banyak, lalu keluar dari dia dan sama sekali tidak menyakitinya. Semua orang takjub, lalu berkata seorang kepada yang lain, “Alangkah hebatnya perkataan ini! Sebab dengan penuh wibawa dan kuasa Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat dan mereka pun keluar.” Lalu tersebarlah berita tentang Dia ke mana-mana di daerah itu. (Luk 4:31-37)

Bacaan Pertama: 1Tes 5:1-6,9-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1,4,13-14 

Pelayanan Yesus telah dimulai. Tidak pernah kelihatan yang seperti itu sebelumnya. Orang-orang heran dan bertanya-tanya, “Apa ini? Suatu ajaran baru disertai dengan kuasa! Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat dan mereka taat kepada-Nya!”  (Luk 4:36). Dengan kuasa dan kewenangan, Yesus berbicara kepada hati orang-orang dan mengusir roh jahat di depan orang-orang. Semua orang yang menyaksikan peristiwa ini menjadi takjub dan kagum. Ini bukan sekedar khotbah. Ini mengingatkan kita kepada apa yang ditulis oleh Santo Paulus, “Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan bukti bahwa Roh berkuasa”  (1 Kor 2:4). 

Setiap kebenaran Injil dapat dipilah-pilah dan dianalisis dengan kekuatan intelek dan hal itu samasekali tidak salah, asal saja tidak jadi membingungkan kita atau malah membuat kita tertipu oleh si Jahat. Tetapi ada sesuatu yang lebih penting dan lebih memiliki kuasa, yang diberikan oleh Yesus kepada kita. Dia datang untuk memproklamasikan kebenaran sedemikian rupa, sehingga akan memerdekakan kita. Yesus berfirman: “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (Yoh 3:31-32). 

Kata-kata Yesus mempunyai kuasa untuk menghukum kita, menghibur kita, menyembuhkan kita dan bahkan membebaskan kita. Kata-kata Yesus mencakup pemahaman manusiawi, akan tetapi tidak terbatas sampai di situ saja. 

Apakah kita mengetahui kebenaran Injil sedemikian rupa, sehingga kita dapat mengalami kuasanya untuk memerdekakan kita? Apakah kita mengalami kemerdekaan, sukacita dan keakraban dengan Yesus sebagai akibat dari tindakan kita mendengarkan firman-Nya yang diproklamasikan dalam liturgi Gereja, pada pertemuan kelompok doa dan/atau kelompok Kitab Suci, pada saat-saat berdoa secara pribadi, atau pada pada pembacaan dan permenungan Kitab Suci secara pribadi? Ini adalah warisan kita sebagai anak-anak Allah yang telah dibaptis. Selagi kita mengalami kasih ilahi-Nya, kita pun akan menyerahkan diri kita lebih penuh lagi kepada firman-Nya. Kita akan mengenal, mengakui serta mematuhi kewenangan dan kuasa-Nya dalam hidup kita; dan keluarga dan teman-teman kita pun akan mengenali adanya perbedaan dalam diri kita. 

Yesus merindukan supaya kita mengundang Dia ke dalam hati kita masing-masing – pusat terdalam dari keberadaan kita – tidak hanya ke dalam pikiran kita. Hati adalah tempat keputusan di mana kita bertemu dengan Allah dan digerakkan secara mendalam oleh kasih-Nya. Katekismus Gereja Katolik (KGK) mencatat, “Hati adalah ….. pusat kita yang tersembunyi, yang tidak dapat dimengerti baik oleh akal budi kita maupun oleh orang lain”  (KGK, 2563). Marilah sekarang kita membuka hati kita lebih penuh lagi bagi Yesus dan memperkenankan kuasa-Nya mengubah kita. 

DOA: Tuhan Yesus, Engkau saja yang mengetahui hati kami dan hasrat yang ada dalam hati kami itu. Pada saat ini kami mengundang-Mu untuk memasuki bagian terdalam dari keberadaan kami dan mengikat kami pada hati-Mu. Bebaskanlah kami, ya Tuhan, dari segala kejahatan dan ajarlah kami bagaimana seharusnya hidup untuk-Mu. Amin.

Cilandak, 13 Agustus 2011 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YOHANES PEMBAPTIS DIPENGGAL KEPALANYA

YOHANES PEMBAPTIS DIPENGGAL KEPALANYA

(Bacaan Injil Misa, Peringatan Wafatnya S. Yohanes Pembaptis, Martir, Senin 29-8-11) 

Sebab Herodeslah yang menyuruh orang menangkap Yohanes dan membelenggunya di penjara berhubung dengan peristiwa Herodias, istri Filipus saudaranya, karena Herodes telah mengambilnya sebagai istri. Memang Yohanes berkali-kali menegur Herodes, “Tidak boleh engkau mengambil istri saudaramu!” Karena itu Herodias menaruh dendam pada Yohanes dan bermaksud untuk membunuh dia, tetapi tidak dapat, sebab Herodes segan kepada Yohanes karena ia tahu bahwa Yohanes orang yang benar dan suci, jadi ia melindunginya. Setiap kali ia mendengarkan Yohanes, hatinya selalu terombang-ambing, namun ia merasa senang juga mendengarkan dia.

Akhirnya tiba juga kesempatan yang baik bagi Herodias, ketika Herodes pada ulang tahunnya mengadakan perjamuan untuk pembesar-pembesarnya, perwira-perwiranya dan orang-orang terkemuka Galilea. Pada waktu itu anak perempuan Herodias tampil lalu menari, dan ia menyenangkan hati Herodes dan tamu-tamunya. Raja berkata kepada gadis itu, “Mintalah apa saja yang kauingini, maka akan kuberikan kepadamu!”, lalu bersumpah kepadanya, “Apa saja yang kauminta akan kuberikan kepadamu, sekalipun setengah dari kerajaanku!” Anak itu pergi dan menanyakan ibunya, “Apa yang harus kuminta?” Jawabnya, “Kepala Yohanes Pembaptis!” Lalu ia cepat-cepat masuk menghadap raja dan meminta, “Aku mau, supaya sekarang juga engkau berikan kepadaku kepala Yohanes Pembaptis di atas piring!” Lalu sangat sedihlah hati raja, tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya ia tidak mau menolaknya. Raja segera menyuruh seorang algojo dengan perintah supaya mengambil kepala Yohanes di penjara. Ia membawa kepala itu di sebuah piring besar dan memberikannya kepada gadis itu dan gadis itu memberikannya pula kepada ibunya.

Ketika murid-murid Yohanes mendengar hal itu mereka datang dan mengambil mayatnya, lalu membaringkannya dalam kuburan. (Mrk 6:17-29)

Bacaan Pertama: Yer 1:17-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 71:1-6,15,17 

Pada hari ini Gereja memperingati pemenggalan kepala Santo Yohanes Pembaptis (The Beheading of Saint John the Baptist); secara lebih halus dan sopan tentunya diungkapkan sebagai “Peringatan Wafatnya S. Yohanes Pembaptis”. Dari bacaan Kitab Suci, tulisan-tulisan rohani, lukisan-lukisan, film-film, banyak orang mempunyai persepsi tertentu tentang sosok orang kudus ini yang tampil “aneh” dan khotbah-khotbahnya yang penuh kuasa. Yohanes Pembaptis yang muncul di padang gurun Yudea dan memakai jubah bulu unta, mengingatkan orang kepada nabi Elia. Dia memberitakan baptisan tobat untuk pengampunan dosa (baca Mrk 1:1-8). Cara pewartaan yang ditunjukkan oleh Yohanes Pembaptis memberi kesan kuat adanya urgency, karena dia tahu benar bahwa dirinya diutus oleh Allah sendiri untuk menjadi saksi mengenai TERANG sesungguhnya yang sedang datang ke dalam dunia (Yoh 1:9). 

Dengan banyak nasihat lain Yohanes memberitakan Injil kepada orang banyak. Namun setelah raja Herodes ditegur olehnya karena perselingkuhannya dengan Herodias, istri saudaranya, dan karena segala kejahatan lain yang dilakukannya, maka raja Herodes menambah kejahatannya dengan menjebloskian Yohanes Pembaptis ke dalam penjara (Luk 3:18-19). Pada dasarnya, Herodes mengagumi Yohanes Pembaptis. Raja ini merasa tertarik pada kesucian Yohanes dan dia senang juga mendengarkan dia. Namun demikian, Herodes tidak pernah menanggapi seruan Yohanes Pembaptis agar dia bertobat. 

Kelekatan kuat Herodes pada harta-kekayaan, kekuasaan dan status mematahkan setiap hasrat yang muncul dalam dirinya untuk meluruskan hubungannya dengan Allah. Akhirnya, pada pesta perjamuan ulang tahunnya dia terjebak oleh nafsunya sendiri yang menggelora karena tarian eksotis puteri tirinya. Gengsinya mencegahnya untuk melanggar sumpahnya di depan puteri tirinya seusai menari, sebuah ucapan sumpah yang memang terasa bodoh itu: “Apa saja yang kauminta akan kuberikan kepadamu, sekalipun setengah dari kerajaanku!” (Mrk 6:23). Dengan demikian Herodes pun dengan terpaksa memerintahkan algojo untuk memenggal kepala Yohanes Pembaptis, sesuai permintaan puteri tirinya, yang dalam tradisi dikenal dengan nama Salome itu. 

Dalam banyak hal, tanggapan Herodes terhadap seruan Yohanes Pembaptis mencirikan reaksi sejumlah orang terhadap seruan Yesus. Mereka tertarik pada Yesus dan menemukan bagian-bagian dari ajaran-Nya atau berbagai mukjizat dan tanda-heran yang diperbuat-Nya sebagai hal-hal yang menarik sekali. Namun seruan Yesus agar mereka meninggalkan kehidupan dosa, dan menyerahkan hidup mereka kepada Allah masih terasa sangat berat untuk diikuti. Jadi, mereka tidak pernah menerima ‘undangan Yesus kepada pemuridan’. Bahkan kita yang telah memutuskan untuk mengikuti-Nya pun masih mengalami pergolakan dan konflik batin. Kita ingin menjadi murid-murid-Nya, namun kadang-kadang terasa seakan Dia menuntut terlalu banyak dari kita. Seperti Herodes, kita pun menjadi objek dari dua kekuatan yang saling tarik-menarik. Kita pun seringkali tidak dapat lepas dari pergumulan pribadi yang melibatkan pertempuran spiritual. 

Apa yang dapat kita lakukan bilamana kita mengalami konflik dalam hati kita? Langkah pertama adalah membuat telinga rohani kita jernih dalam mendengarkan suara-suara dalam batin kita. Suara si Jahat itu licin terselubung, namun dapat dikenali. Dia memunculkan dengan jelas perintah-perintah Allah ketika perintah-perintah tersebut terasa tidak menyenangkan kita; dia memberikan pembenaran-pembenaran yang diperlukan bagi kita untuk membuat suatu kekecualian terhadap kehendak Allah dalam kasus kita (Misalnya: “Kamu sesungguhnya tidak perlu mengampuni saudaramu yang telah membuatmu susah itu”). Akan tetapi suara Roh Kudus selalu mendorong kita untuk memilih jalan yang menuju perdamaian (rekonsiliasi) dan penyembuhan dan mendorong terciptanya kesejahteraan orang-orang lain, meskipun pada awalnya menyakitkan kita. 

Kita dapat memproklamasikan kebenaran-kebenaran iman untuk melawan kebohongan-kebohongan Iblis (Misalnya: “Aku tahu bahwa kalau aku mengampuni, maka dosa-dosaku pun akan diampuni. Aku mungkin tidak mempunyai kuasa untuk mengampuni, tetapi Kristus dalam diriku cukup berkuasa untuk mengampuniku sekarang juga!”). Kebenaran-kebenaran iman itu juga dapat kita ungkapkan seturut teladan Yesus pada waktu dicoba oleh Iblis di padang gurun, khususnya seperti yang terdapat dalam Injil Lukas (Luk 4:1-13). Setiap cobaan dari si Jahat kita patahkan dengan dengan ayat-ayat Kitab Suci: “Ada tertulis: Jika jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu” (Mat 6:14-15). 

Herodes adalah seorang pengagum-jarak-jauh Yohanes Pembaptis yang akhirnya bertanggung jawab atas kematian orang yang dikaguminya. Kita tidak perlu seperti Herodes: kita mengagumi Yesus dari kejauhan juga, karena tidak sanggup mengambil sikap positif terhadap panggilan Yesus kepada kita untuk menjadi murid-murid-Nya. Kita perlu mendengarkan Roh Kudus selagi Dia berbicara melalui batin kita, agar kita dapat mengetahui jalan mana yang harus kita tempuh. Oleh karena marilah kita mohon kepada Roh Kudus untuk membimbing kita dan memberdayakan kita untuk merangkul sepenuhnya kehendak Allah. 

DOA: Allah, Bapa kami. Engkau mengutus Santo Yohanes Pembaptis sebagai bentara kelahiran dan kematian Putera-Mu terkasih, Yesus Kristus. Semoga berkat kematiannya sebagai martir dalam membela keadilan dan kebenaran, kami dapat menjadi pribadi-pribadi yang berani sebagai pelayan-pelayan sabda-Mu. Amin. 

Cilandak, 13 Agustus 2011 [Peringatan B. Markus dari Aviano, Imam Ordo I-Kapusin] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 126 other followers