SEBAB KITA TIDAK TAHU, BAGAIMANA SEBENARNYA HARUS BERDOA

SEBAB KITA TIDAK TAHU, BAGAIMANA SEBENARNYA HARUS BERDOA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXX, Rabu 26-10-11) 

Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri menyampaikan permohonan kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Dan Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, memohon untuk orang-orang kudus. Kita tahu sekarang bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya , supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya. (Rm 8:26-30)

Mazmur Tanggapan: Mzm 13:4-6; Bacaan Injil: Luk 13:22-30 

Mengapa Santo Paulus membahas pokok tentang doa di tengah-tengah pengajarannya tentang kuasa salib? Agak keluar rel-kah? Namun demikian, bagian ini dari suratnya merupakan salah satu sumber yang terbaik untuk membahas tentang doa. Mengapa? Karena salib Kristus sangat berurusan dengan hidup doa kita. Kita diminta untuk mati bersama Yesus terhadap cara-cara berpikir kita yang lama. Demikian pula Roh Kudus mengundang kita untuk mati terhadap cara-cara berdoa kita yang lama. Sungguh menakjubkan, Roh Kudus – Allah sendiri – ingin menjadi pembimbing rohani kita, bukankah begitu?

Seringkali doa-doa kita dapat begitu berpusat pada diri kita sendiri (self-centered), berkisar di sekitar apa saja yang telah lakukan secara salah atau apa saja yang orang-orang lain lakukan secara salah atas diri kita. Namun Roh Kudus ingin agar kita mengangkat akal-budi kita kepada Bapa surgawi sehingga dengan demikian kita dapat memandang-Nya dan merasa sangat senang dalam Dia, sama seperti Dia sangat senang dalam kita. Allah menginginkan agar doa kita dapat mengubah kehidupan, baik diri kita sendiri maupun diri orang-orang lain. Ia ingin mengutus kita ke tengah orang-orang yang membutuhkan kesembuhan, pertobatan,dan pengharapan sehingga mereka semua dapat menerima segala hal baik yang disediakan Allah bagi mereka.

Saudari dan Saudaraku yang dikasihi Kristus. Tahukah anda bahwa sang Guru Doa berdiam dalam diri anda masing-masing? Ia adalah sumber setiap niat baik yang bergejolak dalam hatimu.Cobalah untuk lebih memperhatikan keberadaan /kehadiran Roh Kudus ini. Carilah tahu tentang cara-cara-Nya Dia mendorong anda untuk berdoa, untuk menyembah, untuk berdoa syafaat bagi orang-orang lain, tentunya melampaui apa yang biasanya anda lakukan.

Oleh karena itu, manakala kita berdoa, marilah kita mencoba untuk mengheningkan pikiran kita dan membiarkannya “beristirahat” pada sepotong bacaan dalam Kitab Suci. Kita memohon kepada Roh Kudus untuk menyalakan api-cinta kepada Allah dalam diri kita masing-masing atau suatu pengenalan serta pengalaman akan kasih-Nya yang melampaui apa yang selama ini kita telah ketahui. Selagi kita melakukannya, sangat mungkinlah bahwa kita akan berdoa dengan cara-cara yang tidak pernah kita alami atau bayangkan sebelumnya. Misalnya, tidak seperti biasanya secara otomatis memohon kepada Allah untuk membuang situasi sulit yang sedang dihadapi, kita malah dapat diberikan wawasan perihal bagaimana Allah menggunakan situasi untuk tujuan-Nya yang baik. Paulus menulis, “Kita tahu sekarang bahwa Allah turut bekerja dalam sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah” (Rm 8:28).

Saudari dan Saudariku yang dikasihi Kristus, kemana pun Ia memimpin kita, yakinilah bahwa Roh Kudus mempunyai rencana yang jauh lebih besar dan mulia bagi doa-doa kita daripada apa yang dapat kita bayangkan!

DOA: Roh Kudus Allah, ajarlah aku bagaimana berdoa. Angkatlah pikiran dan hatiku agar dapat melihat pemikiran-pemikiran dan keprihatinan-keprihatinan-Mu. Berikanlah kasih-Mu lebih lagi kepadaku agar apapun yang terjadi atas diriku pada hari ini, hatiku tetap berpusat pada-Mu, ya Allahku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 13:22-30), bacalah tulisan yang berjudul “BERJUANGLAH UNTUK MASUK MELALUI PINTU YANG SEMPIT” (bacaan untuk tanggal 26-10-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: PERMENUNGAN ALKITABIAH. 

Cilandak, 17 September 2011 [Peringatan S. Robertus Bellarminus, Uskup-Pujangga Gereja (Yesuit)] 

Sdr.F.X. Indrapradja, OFS

PENGHARAPAN ANAK-ANAK ALLAH

PENGHARAPAN ANAK-ANAK ALLAH

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXX, Selasa 25-10-11)

Sebab aku yakin bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.

Sebab dengan sangat rindu seluruh makhluk menantikan saat anak-anak Allah akan dinyatakan. Karena seluruh makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan, bukan oleh kehendaknya sendiri, tetapi oleh kehendak Dia, yang telah menaklukkannya, tetapi dalam pengharapan, karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan dan kemuliaan anak-anak Allah. Sebab kita tahu bahwa sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin. Bukan hanya mereka  saja, tetapi kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yuaitu pembebasan tubuh kita. Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya? Tetapi, jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun. (Rm 8:18-25)

Mazmur Tanggapan: Mzm 126:1-6; Bacaan Injil: Luk 13:18-21 

Dalam percakapan sehari-hari betapa sering kita mendengar orang mengatakan, “Saya harap ……” , namun dalam artian yang justru bertentangan dengan makna sebelumnya. Ada aroma fatalisme dan sikap menyerah yang terkandung dalam kata-kata itu ketika diucapkan!  Seakan-akan pesan yang ingin disampaikan dengan kata-kata itu adalah seperti berikut ini: “Dalam hatiku, aku tahu bahwa hal ini sangat tidak mungkin sampai terjadi, namun aku terus berharap – siapa tahu, kan?”

Pentinglah bagi kita untuk tidak membiarkan sikap ini mengurangi (bahkan menghancurkan) pemahaman kita yang benar akan pengharapan Kristiani. Bagi mereka yang percaya dan telah dibaptis ke dalam Kristus, maka pengharapan adalah suatu keutamaan/kebajikan dan suatu karunia ilahi dari Roh Kudus. Pengharapan Kristiani berarti menantikan apa yang telah dijanjikan Allah dengan penuh keyakinan bahwa Dia akan memenuhi janji tersebut. Hal itu berarti percaya kepada Allah walaupun segala faktor pertimbangan yang ada mengatakan “tidak”. Seperti yang ditulis oleh Paulus: “Kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat” (Rm 8:25). Ditopang oleh pengharapan, kita dapat menaruh kepercayaan bahwa Allah akan memenuhi janji-janji-Nya pada saat yang tepat, meskipun tidak selalu harus sama dengan waktu dan cara seperti yang kita harap-harapkan.

Kita telah menerima Roh Kudus dalam hati kita. Kita adalah anak-anak Allah dan par warga kerajaan-Nya. Kita adalah “ciptaan baru” dalam Kristus. Namun semua ini adalah seperti suatu benih yang ditanam dalam diri kita, yang harus bertumbuh dan matang. Oleh karena itu, inilah dasarnya dari pengharapan kita: bahwa benih kehidupan baru tidak akan mati, tidak akan menjadi busuk. Waktu-waktu kesusahan, kesulitan dan pencobaan tentu akan datang. Akan tetapi melalui semua itu, kita dapat berharap pada  Allah, yang berkomitmen penuh pada diri kita masing-masing dan telah berjanji untuk tidak meninggalkan kita. Karena kita percaya kepada-Nya, maka Allah akan bekerja dalam diri kita untuk membentuk diri kita dan memenuhi janji-janji-Nya.

Apakah anda sedang berada di tengah kesulitan? Apakah anda sedang mengalami godaan yang semakin intens? Apakah ada seseorang dalam hidup anda yang sungguh menyusahkan dan menyebalkan? Janganlah menyerah, Saudari dan Saudariku! Ingatlah akan benih-iman! Dari titik awal yang kelihatan kecil dan tidak berarti – bahkan dari tindakan-tindakan iman kecil-sederhana – hal-hal besar akan terjadi. Allah akan memiliki kerajaan-Nya, dan Ia akan berkemenangan dalam hati semua orang yang menaruh diri mereka ditangan-tangan-Nya yang penuh kasih. Oleh karena itu, Saudari dan Saudaraku, janganlah pernah kita kehilangan pengharapan!

DOA: Bapa surgawi. Kuduslah Engkau, ya Allah yang Mahabaik. Aku percaya, tolonglah aku yang kurang percaya ini. Aku menaruh kepercayaanku pada tangan-tangan kasih-Mu. Aku percaya sepenuhnya akan janji-janji-Mu. Tolonglah aku agar dapat menunggu dengan sabar pemenuhan dari segala hal baik dari-Mu yang aku belum melihatnya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 13:18-21), bacalah tulisan yang berjudul “PERUMPAMAAN TENTANG BIJI SESAWI DAN RAGI” (bacaan untuk tanggal 25-10-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: PERMENUNGAN ALKITABIAH. 

Cilandak, 17 September 2011 [Peringatan S. Robertus Bellarminus, Uskup-Pujangga Gereja (Yesuit)]

Sdr.F.X. Indrapradja, OFS

KAMU TELAH MENERIMA ROH KUDUS YANG MENJADIKAN KAMU ANAK ALLAH

KAMU TELAH MENERIMA ROH KUDUS YANG MENJADIKAN KAMU ANAK ALLAH

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXX, Senin 24-10-11)

Kongregasi Misionaris Claretian: Hari Raya S. Antonius Maria Claret, Uskup & Pendiri Tarekat

Jadi, Saudara-saudara, kita adalah orang berhutang, tetapi bukan kepada daging, supaya hidup menurut daging. Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup. Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah. Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru, “Ya Abba, ya Bapa!” Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita bahwa kita adalah anak-anak Allah. Jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia. (Rm 8:12-17)

Mazmur Tanggapan: Mzm 68:2,6-7,20-21; Bacaan Injil: Luk 13:10-17 

Ketika kita dibaptis ke dalam Kristus, kepada kita sebenarnya diberikan awal kehidupan yang baru. Allah membebaskan kita dari perbudakan dosa dan membasuh kita menjadi bersih. Ia membuka jalan bagi Roh Kudus untuk menjadi pemimbing kita yang tetap. Dalam Roh, kita dapat menindak-lanjuti langkah awal ini, mengatasi segala kecenderungan dan godaan untuk berdosa dan memenuhi hukum kasih ilahi. Kedengarannya semua ini begitu menjanjikan, namun ada satu hal yang tidak pernah boleh kita lupakan: Semua ini tidak akan terjadi apabila kita (anda dan saya) tidak bekerja sama dengan Allah dan membiarkan diri kita “dipimpin oleh Roh Allah” (Rm 8:14).

Siapakah dari kita yang tidak mempunyai kekurangan? Kita semua mempunyai kekurangan! Walaupun demikian, dalam segala kekurangan kita Roh Kudus tampil dan memanggil kita untuk melakukan pertobatan dan tidak berdosa lagi. Dengan berjalannya waktu selagi kita belajar menanggapi bimbingan serta pimpinan dari Roh Kudus, maka rencana Allah bagi kita dipenuhi. Sungguh sebuah rencana yang sangat indah!

Marilah sekarang kita merenungkan sejenak hal berikut ini: Sejak awal mula, Bapa surgawi berniat agar kita-manusia turut ambil bagian dalam kehidupan-Nya sendiri. Sebelum kita mampu bernafas untuk pertama kalinya, sudah menjadi rencana-Nyalah untuk memenuhi diri kita dengan Roh-Nya. Dia bahkan menciptakan kita dengan suatu kapasitas untuk mengalami kehidupan ilahi. Sekarang, marilah kita bertanya kepada diri kita masing-masing: “Apabila aku tidak memenuhi kapasitas, apakah aku sungguh mengalami semua hal baik yang disediakan Allah bagi diriku? Atau apakah kiranya aku sedikit-banyak tidak mengenai sasaran?” Apakah kita sungguh dapat mengatakan bahwa kita memiliki semua sumber daya dalam diri kita yang dibutuhkan untuk mampu hidup dalam dunia ini, malah sampai ke surga kelak? Tanpa bimbingan Roh Kudus, akan mampukah kita untuk sungguh memahami arti penderitaan dan kematian?

Saudari-Saudaraku yang dikasihi Kristus, janganlah kita maju separuh-separuh atau mundur-maju atau bahkan “berjalan di tempat”, atau barangkali seperti orang yang suka berjalan sambil tidur (sleepwalking)! Allah mempunyai banyak sekali anugerah yang indah-baik untuk diberikan kepada kita masing-masing! Jangan membiarkan segala anugerah atau karunia dari Allah itu dikalahkan oleh daya-tarik kuat dari hal-hal duniawi! Bukankah dari pengalaman hidup kita masing-masing, kita sudah melihat betapa cepatnya sikap dan perilaku mementingkan diri-sendiri dan pemikiran-pemikiran angkuh menguasai diri kita, jikalau kita mengabaikan ketekunan kita dalam mencari kehendak Allah dalam hidup kita sehari-hari? Bukankah kita harus meneladan sang Guru yang mengatakan dengan begitu jelas: “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya” (Yoh 4:34)? Oleh karena itulah kita sangat memerlukan bimbingan atau pimpinan Roh Kudus setiap saat setiap harinya. Marilah kita mohon kepada Roh Kudus agar kita mau dan mampu untuk berjalan seturut bimbingan-Nya, dalam kepenuhan kasih-Nya.

DOA: Ya Allah Tritunggal Mahakudus, kuduslah nama-Mu! Engkau adalah sang Pemberi kehidupan! Begitu indah segala karya-Mu – jauh lebih indah daripada yang dapat kubayangkan! Bimbinglah aku, pimpinlah aku agar dapat menjadi seorang pribadi seturut maksud-Mu semula menciptakan diriku. Amin

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 13:10-17), bacalah tulisan yang berjudul “MENYEMBUHKAN ORANG SAKIT PADA HARI SABAT” (bacaan untuk tanggal 24-10-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: PERMENUNGAN ALKITABIAH. 

Cilandak, 17 September 2011 [Peringatan S. Robertus Bellarminus, Uskup-Pujangga Gereja (Yesuit)] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PESAN-PESAN SANTO PAULUS KEPADA JEMAAT DI TESALONIKA

PESAN-PESAN SANTO PAULUS KEPADA JEMAAT DI TESALONIKA

(Bacaan Kedua Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXX, 23 Oktober 2011)

HARI MINGGU EVANGELISASI 

Kamu semua adalah anak-anak terang dan anak-anak siang. Kita bukanlah orang-orang malam atau orang-orang kegelapan. Sebab itu baiklah jangan kita tidur seperti orang-orang lain, tetapi berjaga-jaga dan sadar. Sebab mereka yang tidur, tidur waktu malam dan mereka yang mabuk, mabuk waktu malam. Tetapi kita, yang adalah orang-orang siang, baiklah kita sadar, berbaju-zirahkan iman dan kasih, dan berketopongkan pengharapan keselamatan. Karena Allah tidak menetapkan kita untuk ditimpa murka, tetapi untuk beroleh keselamatan melalui Yesus Kristus, Tuhan kita, yang sudah mati untuk kita, supaya entah kita berjaga-jaga, entah kita tidur, kita hidup bersama-sama dengan Dia. (1Tes 5:5-10)

Bacaan Pertama: Kel 22:21-27; Mazmur Tanggapan: Mzm 18:2-4,47,51; Bacaan Injil: Mat 22:34-40 

Dalam bagian ucapan syukurnya yang panjang dalam surat ini, tiga kali Santo Paulus mengacu pada kedatangan kembali Putera Allah, Tuhan kita Yesus Kristus (lihat 1Tes 1:10; 2:19, 3:13). Masalah pertama menyangkut kematian para anggota komunitas secara tidak diharap-harapkan (lihat 1Tes 4:13-18). Jelas kelihatan, bahwa jemaat di Tesalonika pada awalnya tidak mengantisipasi ada anggotanya yang akan mati sebelum kedatangan Tuhan Yesus untuk kedua kalinya, dan kenyataan bahwa sebaliknyalah yang terjadi menyebabkan iman mereka akan keseluruhan pesan Injil menjadi tergoncang. Menanggapi hal tersebut, Paulus mengembangkan aspek-aspek Injil yang tidak sempat dicakupnya dalam kunjungannya terdahulu ke Tesalonika, agar memampukan jemaat di Tesalonika itu mengintegrasikan kematian Kristiani dalam pemahaman mereka akan Injil Yesus Kristus.

Seperti perjuangan jemaat dan pengejaran serta penganiayaan yang mereka alami sendiri (1Tes 2:14-15), kematian orang-orang Kristiani sangat erat berhubungan dengan kematian Yesus sendiri. Kematian Yesus telah memimpin kepada kebangkitan; demikian pula mereka yang telah mati dalam Dia (1Tes 4:14). Mati dalam Yesus berarti mati selagi kita berhubungan dengan Dia dalam sebuah kehidupan yang terancam bahkan oleh risiko kematian dalam melayani Injil (1Tes 2:8). Dengan mengacu pada ajaran Tuhan Yesus sendiri, Paulus kemudian menggambarkan suatu skenario yang dimaksudkan untuk menunjukkan bagaimana mereka yang akan tetap hidup pada hari kedatangan Tuhan tidak akan mempunyai keuntungan atas mereka yang meninggal dunia terlebih dahulu (1Tes 4:15-17). Itulah dasar dari pengharapan Kristiani (1Tes 4:13) dan tindakan saling menghibur (1Tes 4:18). Dalam deskripsinya tentang suatu momen yang mentransenden sejarah dan realitas-realitas dunia, Paulus mengacu pada lambang-lambang Apokalips Yahudi dan menafsirkan semuanya itu dalam terang Kristus. Dengan demikian Paulus menemukan bahasa yang layak untuk mempresentasikan sesuatu yang secara manusiawi sebenarnya tidak dapat digambarkan.

Masalah kedua berkaitan dengan waktu yang tepat dari kedatangan Kristus untuk kedua kalinya (1Tes 5:1-11). Gereja tidak boleh berpikir bahwa pengejaran dan penganiayaan yang dideritanya itu berhubungan secara kronologis dengan akhir zaman dan kedatangan kembali Kristus. Segala spekulasi sedemikian tidak berdasar. Jemaat Tesalonika seharusnya sudah mengetahui bahwa kedatangan kembali Kristus akan terjadi pada saat yang paling tak disangka-sangka (1Tes 5:1-3). Hal ini bukan berarti bahwa mereka berada dalam kegelapan. Sebaliknya, sebagai umat Kristiani mereka berjalan dalam terang iman, kasih dan pengharapan, dan dalam kesempatan ini Paulus wanti-wanti mengingatkan mereka untuk tetap berada dalam terang itu (1Tes 5:4-8). Allah berniat bahwa mereka (jemaat di Tesalonika) memperoleh keselamatan, bukan pembalasan (1Tes 5:9;1:10) yang hanya diperuntukkan bagi mereka yang mengejar dan menganiaya umat-Nya (1Tes 2:16). Paulus mengakhiri bagian ini dengan menyerukan hidup yang saling mendukung dan saling menguatkan (1Tes 5:10-11) seperti dia telah menyerukan perlunya tindakan saling-menghibur antara warga jemaat (1Tes 4:18). Berikut ini adalah pokok-pokok yang perlu kita dalami sehubungan dengan kedatangan Kristus untuk kedua kalinya kelak.

(1) Surat pertama dari Paulus kepada jemaat di Tesalonika ini adalah tulisan Perjanjian Baru yang paling kuno dan karya literatur Kristiani yang paling tua. Dia menulis suratnya ini menjelang akhir tahun 51, sepucuk surat yang ditujukan kepada sebuah komunitas Kristiani yang masih muda di ibukota Makedonia. Apabila anda seorang perempuan hamil tua, anda tentunya mengetahui betapa cepat saat kelahiran itu akan datang. Akan tetapi, bagaimana pun detilnya persiapan anda, saat kelahiran itu tentunya masih saja merupakan suatu shock (di sini saya berbicara mengenai kelahiran yang bersifat natural, bukan kelahiran yang dilakukan lewat bedah cesar seturut petunjuk ahli nujum).

Shock adalah kata yang kiranya tepat untuk menggambarkan keadaan ketika Kristus datang kembali ke dunia dan membawa kita semua kepada kelahiran baru. Para dokter terbaik tidak dapat memprediksi saat kelahiran yang tepat. Namun dengan berjalannya waktu, perempuan hamil itu semakin siap untuk saat melahirkan. Demikian pula halnya dengan parousia Yesus. Tidak ada yang tahu kapan hal itu akan terjadi. Akan tetapi, sebagai seorang perempuan hamil, selalu penuh antisipasi, kita dapat mempersiapkan diri untuk peristiwa mahapenting itu. Apabila ada pengkhotbah-pengkhotbah yang mengklaim diri mereka mengetahui saat yang tepat kedatangan kembali Yesus itu, maka mereka sebenarnya telah menempatkan diri mereka di atas Yesus, yang pernah bersabda bahwa “tidak ada seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di surga tidak dan Anak pun tidak, hanya Bapa saja” (lihat Mrk 13:32). Saat yang tepat bukanlah hal yang penting. Yang penting adalah cara kita mempersiapkan hari kedatangan kembali Yesus itu.

(2) Sekali Kristus datang kembali ke dunia, Dia adalah terang dunia. Tidak ada lagi orang yang meraba-raba seperti seorang buta atau orang yang berada dalam ruangan gelap. Karena Yesus, kita bukanlah para pemabuk kecanduan yang membuat kita berada dalam suatu dunia tidak riil. Apabila kita sungguh menerima terang Kristus, maka kita dibuat siuman dari keadaan “pingsan” (semaput) kita sebelumnya. Tidak ada lagi kegelapan. Sekarang apabila kita harus bertempur melawan kuasa-kuasa kegelapan, maka kita tidak perlu kuatir lagi. Kita tahu bagaimana hasilnya. Sekarang kita tidak lagi tanpa pertahanan. Kita telah diperlengkapi dengan senjata rohani yang diperlukan: berbaju-zirahkan iman dan kasih, dan berketopongkan pengharapan keselamatan (1Tes 5:8; bdk. Ef 6:14-17). Pertempuran-pertempuran bisa saja pecah, namun bersama Yesus kita akan memenangkan pertempuran itu, bahkan seluruh peperangan melawan si Jahat.

Paulus menggunakan gambaran seorang serdadu yang diperlengkapi dengan perlengkapan perang yang diperlukan. Maksud Paulus adalah agar kita mengetahui benar bagaimana kiranya menghayati kehidupan Kristiani kita. Hal ini membuat kita selalu sadar dan waspada, bahwa apabila kita ingin hidup bersama Yesus, kadang-kadang kita harus berkonfrontasi dan menanggapi tantangan dari pihak-pihak yang tidak menyukai praktek kehidupan Kristiani kita itu.

(3) Kemudian Paulus memberikan suatu versi ringkasan Kabar Baik, INJIL! Di mana agama hampir sepenuhnya diidentifikasikan dengan hukum-hukum yang harus ditaati, maka gambaran Allah yang muncul adalah Allah yang marah dan murka. Allah ditampilkan sebagai seorang polisi yang menanti-nanti di belakang pohon untuk menilang kalau-kalau ada pengendara sepeda motor yang salah jalan. Itu bukanlah kabar baik! Karena pertobatannya Paulus telah mengalami perubahan, demikian pula gambarannya tentang Allah yang disembahnya mengalami perubahan. Sekarang Paulus berelasi dengan ‘seorang’ Allah yang teramat mengasihi kita-manusia, sehingga Dia mengutus Putera-Nya yang tunggal untuk kehidupan kepada kita. Inilah Kabar Baik! Kita sekarang dapat hidup bersama-Nya dan mensyeringkan kabar baik itu satu sama lain. Gereja bertumbuh-kembang apabila kita mensyeringkan Injil dengan orang-orang lain, sehingga membuat satu sama lain menjadi hidup.

Gambaran dari banyak orang tentang Allah masih saja seperti seorang polisi Ilahi atau hakim yang pemarah. Oleh karena itu, mereka hidup dalam ketakutan kalau pun kita masih dapat mengatakannya sebagai kehidupan. Mereka tidak dapat mendorong atau menyemangati orang-orang lain karena mereka sendiri tidak didorong/disemangati. Mereka tidak mengenal kasih yang datang kepada kita dari Bapa di surga melalui diri Yesus. Sekarang, yang penting adalah apa gambaran kita sendiri tentang Allah yang kita sembah? Kabar Baik atau Kabar Buruk?

DOA: Bapa surgawi, aku tidak ingin mengetahu hari dan saat yang tepat dari kedatangan kembali Yesus Kristus. Tolonglah aku agar senantiasa siap-siaga dalam menyambut hari itu. Jadilah kekuatanku pada saat aku harus menghadapi kuasa-kuasa kegelapan. Oleh kuasa Roh Kudus-Mu, perkenankanlah aku lebih lagi mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar dan Putera-Mu, Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamatku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 22:34-40), bacalah tulisan yang berjudul “GURU, PERINTAH MANAKAH YANG PALING UTAMA DALAM HUKUM TAURAT?” (bacaan untuk tanggal 23-10-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: PERMENUNGAN ALKITABIAH; juga tulisan berjudul “PADA KEDUA PERINTAH INILAH TERGANTUNG SELURUH HUKUM TAURAT DAN KITAB PARA NABI” (bacaan untuk tanggal 19-8-11) dalam situs/blog SANG SABDA  ini; kategori 11-08 BACAAN HARIAN AGUSTUS 2011. 

Cilandak, 15 September 2011 [Peringatan SP Maria Berdukacita] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HIDUP OLEH ROH

HIDUP OLEH ROH

Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIX, Sabtu 22-10-11) 

Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus. Sebab Roh yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut. Sebab apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tidak berdaya oleh daging, telah dilakukan oleh Allah. Dengan mengutus Anak-Nya sendiri sebagai manusia yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa dan untuk menghapuskan dosa, Ia telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging. Supaya tuntutan hukum Taurat digenapi di dalam hati kita yang tidak hidup menurut daang, tetapi menurut Roh. Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging; mereka yang menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh. Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera. Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena keinginan itu tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya. Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah.

Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah tinggal di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus. Tetapi jika Kristus ada di dalam kamu, maka tubuh memang mati karena dosa, tetapi roh adalah kehidupan oleh karena pembenaran. Jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, tinggal di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya yang tinggal di dalam kamu. (Rm 8:1-11)

Mazmur Tanggapan: Mzm 24:1-6; Bacaan Injil: Luk 13:1-9 

Dari bacaan Kitab Suci kita menjadi mengerti bahwa “kita telah mati terhadap dosa, tetapi kita hidup lagi bagi Allah dalam Kristus Yesus” (lihat Rm 6:11). Kepada kita juga diberikan “Amanat Agung” oleh Yesus untuk menjadikan segala bangsa menjadi murid Yesus (Mat 28:19). Kita adalah “garam bumi” dan “terang dunia” (Mat 5:13,14; bdk. Flp 2:15),  untuk menjadi “sempurna” (Mat 5:48),  dan “hidup berdamai seorang dengan yang lain” (Mrk 9:50). Kita harus mengasihi Allah dengan segenap hati kita, segenap jiwa kita, segenap kekuatan kita, dan segenap akal-budi kita; untuk mengasihi sesama kita – bahkan musuh-musuh kita – seperti diri kita sendiri (lihat Luk 6:27; 10:27). 

Adakah panggilan yang mungkin lebih menakutkan atau mengecilkan hati kita? Terpujilah Allah karena masih ada pengharapan, karena sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus” (Rm 8:1). – tidak ada penghakiman atas diri kita, tidak ada penghukuman, tidak ada kutukan menantikan kita. Karena mereka yang dalam dirinya berdiam Roh Kudus, semuanya yang pantas kita terima di bawah hukum Taurat disingkirkan oleh kematian dan kebangkitan Yesus (lihat Rm 8:3-4). 

Melalui Roh Kudus yang diam dalam hati dan akal-budi kita, kita dapat melakukan lebih banyak lagi daripada sekadar belajar bagaimana menyenangkan Allah. Kita juga dapat menerima kuasa ilahi untuk memenuhi panggilan kita! Inilah yang dimaksudkan oleh Santo Paulus ketika dia mengatakan bahwa Roh Kudus akan membawa kehidupan, baik untuk roh kita maupun tubuh kita (lihat Rm 8:10-11). Paulus mengetahui  bahwa selagi kita memakai akal-budi kita untuk hal-hal yang menyangkut Tuhan (yang ilahi) – melalui doa, pembacaan sabda Allah dalam Kitab Suci, dan senantiasa waspada terhadap suara Roh – maka kita akan mulai mengalami Allah yang menggerakkan diri kita dengan cara-cara yang berbeda, dan kita pun akan menemukan diri kita hidup dengan suatu pengharapan yang lebih besar, demikian pula halnya dengan entusiasme kita dan ekspektasi-ekspektasi kita. 

Apabila kita “hidup dalam Roh” secara ini, maka kita berada dalam suatu posisi yang indah! Kita mengalami kebenaran agung seperti ditulis Paulus: “… aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal 2:20). Ya, kita akan berjuang. Bahkan kadang-kadang kita akan gagal juga. Akan tetapi kita juga akan mengetahui bahwa kita tidak akan dikalahkan oleh maut. Kita semua dapat mempunyai pengharapan, karena kuasa Roh yang bekerja dalam diri kita itu tanpa batas kapasitas. Bersama para kudus kita dapat mengetahui lebar, panjang, tinggi dan kedalaman kasih Kristus. Dengan demikian diri kita pun dapat dipenuhi oleh Roh-Nya. 

DOA: Roh Kudus Allah, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau sudi hidup dalam diriku. Terima kasih, karena aku tidak perlu lagi mengandalkan kekuatanku sendiri. Sekarang aku dapat mengetahui pikiran dan hati Bapa, dan melalui kuasa-Mu dan bimbingan-Mu, menghayati suatu kehidupan yang menyenangkan-Nya. Amin. 

Catatan: Untuk melihat uraian tentang bacaan Injil hari ini (Luk 12:54-59), bacalah tulisan yang berjudul “DOSA MANUSIA, KASIH ALLAH DAN PERTOBATAN” (bacaan untuk tanggal 22-10-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: PERMENUNGAN ALKITABIAH. 

Cilandak, 15 September 2011 [Peringatan SP Maria Berdukacita] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SYUKUR KEPADA ALLAH MELALUI YESUS KRISTUS, TUHAN KITA!

SYUKUR KEPADA ALLAH MELALUI YESUS KRISTUS, TUHAN KITA!

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIX, Jumat 21-10-11)

Ordo Santa Ursula [OSU]: HARI RAYA S. URSULA, Pelindung Tarekat 

Sebab aku tahu bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai yang bersifat daging, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab menghendaki yang baik memang ada padaku, tetapi melakukan apa yang baik, tidak. Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik,  yang aku lakukan, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku lakukan. Jadi, jika aku melakukan apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang melakukannya, tetapi dosa yang tinggal di dalam aku.

Demikianlah aku dapati hukum ini: Jika aku ingin melakukan apa yang baik, yang jahat itu ada padaku. Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah, tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku. Aku, manusia celaka! Siapa yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini? Syukur kepada Allah melalui Yesus Kristus, Tuhan kita! Jadi, dengan akal budiku aku melayani hukum Allah, tetapi sebagai manusia yang bersifat daging aku melayani hukum dosa. (Rm 7:18-25)

Mazmur Tanggapan: Mzm 19:66,68,76-77,93-94; Bacaan Injil: Luk 12:54-59 

“Syukur kepada Allah melalui Yesus Kristus, Tuhan kita!” (Rm 7:25). Ia telah menang-berjaya atas dosa dan maut! Kita telah ditebus oleh darah Kristus, dan sekarang kita adalah anak-anak Allah! Kita tidak lagi dilumpuhkan oleh kuasa dosa. Kita dapat menolak kejahatan. Kita sekarang dapat melakukan hal-hal baik yang ingin kita lakukan – hal-hal baik yang harus kita lakukan menurut nurani kita. Kita pernah lemah, namun sekarang – dalam Kristus – kita dibuat menjadi kuat. Kita dapat bangkit dan berjalan di atas jalan kebenaran, seturut jejak langkah-Nya. 

“Syukur kepada Allah melalui Yesus Kristus, Tuhan kita!” Kita tidak lagi menjadi tawanan di bawah hukum dosa dan maut. Kecaman-kecaman yang bersifat opresif dan penuh kebencian telah digulingkan oleh kasih yang diberikan secara bebas, suatu kasih yang jauh melampaui kasih apa saja yang dapat kita bayangkan. Kita pernah tidak mempunyai jalan lain kecuali mengikuti jalan dosa, namun sekarang kita mempunyai akses kepada kuasa ilahi. Kita dapat mengatakan “tidak” kepada setiap kecenderungan jahat dan menolak agar tidak lagi dikuasai kecenderungan-kecenderungan itu. 

“Syukur kepada Allah melalui Yesus Kristus, Tuhan kita!” Kerinduan kita yang terdalam akan hukum Allah dan kehadiran-Nya sekarang dapat dipenuhi. Niat-niat Allah bagi kita dapat diwujudkan selagi kita menikmati kebaikan-Nya dan dalam persatuan kita dengan diri-Nya. Tanda kehadiran-Nya dalam diri kita dapat muncul dan bersinar terang  bagi orang-orang untuk melihatnya. Dosa yang selama ini membuat kabur pandangan orang dicuci bersih, dan kita pun menjadi cerminan Kristus yang lebih jelas. Hasrat-hasrat-Nya memenuhi hati kita dengan sukacita. 

“Syukur kepada Allah melalui Yesus Kristus, Tuhan kita!” Kita telah dibebaskan! Yesus telah berkemenangan atas setiap bentuk ikatan! Kuasa kegelapan tidak dapat lagi menguasai dan membuat kita merasa takut atau bergetar. Rantai yang selama ini membelenggu kita telah dipatahkan dan disingkirkan, dan kita dapat berjalan dengan bebas menuju ruangan di mana Allah bertakhta. Karena kita tidak lagi merupakan budak/hamba dosa, maka kita dapat mempersembahkan diri kita dalam ketaatan penuh kasih kepada Bapa surgawi, tidak lagi sebagai para budak/hamba melainkan sebagai anak-anak-Nya yang teramat dikasihi-Nya. 

“Syukur kepada Allah melalui Yesus Kristus, Tuhan kita!” Maut telah dikalahkan sekali dan selama-lamanya! Kutukan maut telah disingkirkan! Apa yang kita-manusia tidak pernah dapat lakukan, Kristus telah melakukannya. Pintu surga sekarang terbuka bagi kita, dan kita dapat hidup bersama-Nya untuk selama-lamanya! 

DOA: Segala puji dan kemuliaan bagi-Mu, ya Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Apakah yang dapat kukembalikan kepada Engkau, ya Allah Tritunggal Mahakudus, sebagai tanda terima kasihku yang dipenuhi rasa syukur, atas segalanya yang telah Kaulakukan atas diriku? 

Catatan: Untuk melihat uraian tentang bacaan Injil hari ini (Luk 12:54-59), bacalah tulisan yang berjudul “MENILAI ZAMAN” (bacaan untuk tanggal 21-10-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: PERMENUNGAN ALKITABIAH. 

Cilandak, 15 September 2011 [Peringatan SP Maria Berdukacita] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KARUNIA ALLAH IALAH HIDUP KEKAL DALAM KRISTUS YESUS, TUHAN KITA

KARUNIA ALLAH IALAH HIDUP KEKAL DALAM KRISTUS YESUS, TUHAN KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIX, Kamis 20-10-11)

Keluarga Fransiskanes Misionaris Maria [FMM]: Peringatan beatifikasi B. Marie de la Passion, Pendiri Tarekat 

Secara manusia aku mengatakan hal ini karena kelemahan kamu sebagai manusia. Sebab sama seperti kamu telah menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kecemaran dan kedurhakaan yang membawa kamu kepada kedurhakaan, demikian pula kamu sekarang harus menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kebenaran yang membawa kamu kepada pengudusan.

Sebab waktu kamu hamba dosa, kamu bebas dari kebenaran. Buah apakah yang kamu petik dari semuanya itu yang menyebabkan kamu merasa malu sekarang? Kesudahan semuanya itu ialah kematian. Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal. Sebab upah dosa ialah maut, tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. (Rm 6:19-23)

Mazmur Tanggapan: Mzm 1:1-4,6; Bacaan Injil: Luk 12:49-53 

“Kamu sekarang harus menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kebenaran yang membawa kamu kepada pengudusan”  (Rm 6:19).

Bayangkanlah ketika anda sedang berada di tengah diskusi hangat mengenai peperangan melawan dosa dan godaan, dan tiba-tiba Santo Paulus datang dengan nasihatnya agar kita menyerahkan diri kita masing-masing. Bagaimana dengan peperangan yang telah kita canangkan? Apa jadinya dengan niat kuat kita untuk mengibarkan bendera dan pataka perang melawan dosa? Jangan-jangan – kita mungkin saja berpikir – nasihat Pak Paulus rasa-rasanya kurang mengenai sasaran kali ini!

Samasekali tidak! Dengan mengajar para pembaca suratnya untuk menyerahkan diri, Paulus menunjukkan kepada kita jalan menuju kemenangan yang sejati. Daripada langsung saja maju melibatkan diri dalam konflik dan mencoba untuk melawan serta mengatasi berbagai godaan dengan kekuatan kita sendiri, lebih bijaksanalah untuk  pertama-tama mundur satu langkah dan menyerahkan hati kita kepada beberapa kebenaran yang menurut Paulus bersifat sentral bagi kehidupan kita sebagai umat Kristiani.

Pertama, kita harus menyerahkan diri kepada penghakiman Allah atas dosa. Dalam kematian Yesus, Bapa surgawi telah menghukum kodrat manusia yang cenderung berdosa dan mematikannya. Dengan melangkah mundur dari godaan penolakan, kecemburuan, hawa nafsu, kita pun dapat bersekutu dengan penghakiman Allah tersebut dan mengklaim dalam iman bahwa kekuatan dosa telah berakhir dan kita telah dibebas-merdekakan oleh-Nya.

Kedua, kita harus menyerahkan diri kepada kehadiran dan kuasa Roh Kudus. Roh dari Allah yang hidup sudah ada dalam diri kita masing-masing. Ia tidak pernah meninggalkan kita. Dia selalu memperhatikan kita dan senantiasa siap untuk menolong kita dan bertempur untuk kita kapan saja kita memohon pertolongan-Nya. Penyerahan diri kepada kuat-kuasa-Nya dapat memenuhi diri kita dengan penuh kepercayaan dan keberanian.

Ketiga, kita harus menyerahkan diri kepada “ciptaan baru” yang telah dibuat Allah bagi diri kita masing-masing sebagai tujuan-Nya. Paulus menulis, “Kita tahu bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan …… Kamu telah mati terhadap dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus” (Rm 6:6,11). Oleh pembatisan kita dijadikan “baru”. Kita tidak lagi merupakan hamba-hamba kecemaran dosa. Kita menjadi anak-anak Allah, yang mempunyai segala hak dan privilese sebagai anak-anak terkasih dari Bapa surgawi.

Dalam artian tertentu, penyerahan diri itu adalah seperti berpegang pada tangan-tangan penuh kasih dari Bapa surgawi, walaupun kita belum melihat-Nya. Inilah sebabnya mengapa iman itu penting sekali! Dapatkah anda percaya akan kebaikan Bapamu yang di surga? Dapatkah anda percaya bahwa Dia cukup mengasihimu dengan memberikan begitu banyak kepadamu? Dengan demikian, dalam pertempuran spiritual mendatang, mundurlah satu langkah, tariklah napas dalam-dalam, dan cocokkanlah pemikiran-pemikiran anda dengan tindakan-tindakan Allah. Selagi kita semua mempraktekkan hal ini, kita akan takjub mendapati diri kita manusia sebagai pribadi-pribadi yang sungguh bebas-merdeka.

DOA: Bapa surgawi, aku menyerahkan diriku kepada-Mu sepenuhnya. Aku menaruh iman-kepercayaanku dalam segala hal yang telah Engkau lakukan bagi diriku melalui Salib Kristus, Putera-Mu terkasih. Ajarlah aku bagaimana menyerahkan diriku kepada-Mu dalam setiap situasi penuh tantangan yang kuhadapi. Amin.

Catatan: Untuk melihat uraian tentang bacaan Injil hari ini (Luk 12:49-53), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MEMBAWA PEMISAHAN” (bacaan untuk tanggal 20-10-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: PERMENUNGAN ALKITABIAH. 

Cilandak, 13 September 2011 [Peringatan Santo Yohanes Krisostomos, Uskup & Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 131 other followers