SURAT GEMBALA MENYAMBUT TAHUN EKARISTI 2012

SURAT GEMBALA MENYAMBUT TAHUN EKARISTI 2012 

(dibacakan sebagai pengganti kotbah, dalam setiap Misa, Sabtu/Minggu, [Adven I] 26/27 November 2011) 

Para Ibu dan Bapa, Para Suster, Bruder, Frater, Kaum muda, remaja dan anak-anak yang terkasih dalam Kristus, 

1.  Pada hari Minggu yang lalu, kita merayakan Hari Raya Tuhan Kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam. Perayaan itu menutup satu lingkaran tahun liturgi. Dengan merayakan pesta liturgi itu kita mengungkapkan kepastian iman kita bahwa Allah yang telah memulai karya-Nya, akan menyempurnakannya juga pada waktunya. Keyakinan iman inilah yang oleh Rasul Paulus dinyatakan dengan kata-kata ini, “Kalau segala sesuatu telah ditaklukkan di bawah Kristus, maka Ia sendiri sebagai Anak akan menaklukkan diri-Nya di bawah Dia, yang telah menaklukkan segala sesuatu di bawah-Nya, supaya Allah menjadi semua di dalam semua” (1Kor 15:28). 

2.  Hari ini kita memulai satu lingkaran liturgi yang baru dengan Minggu Adven I, yang pada tahun berikutnya juga akan ditutup dengan Hari Raya Tuhan Kita Yesus Kristus Raja Semesta Alam. Masa Adven dalam arti sempit mengundang kita untuk menyiapkan kedatangan Yesus yang akan kita rayakan pada Hari Natal. Dalam arti luas, Adven juga mengajak kita untuk memperkokoh harapan kita bahwa pada waktunya Tuhan akan menyempurnakan karya penyelamatan yang telah dimulai-Nya. Selama masa penantian dan pengharapan itu, menurut kata-kata Rasul Paulus yang kita dengarkan pada hari ini, “Allah juga akan meneguhkan kamu sampai kepada kesudahannya, sehingga kamu tak bercacat pada hari Tuhan kita Yesus Kristus” (1Kor 1:8). Begitulah dinamika iman dan harapan kita yang kita ungkapkan dalam lingkaran-lingkaran tahun liturgi. Dengan menempatkan diri kita ke dalam dinamika liturgi itu, karya penyelamatan Allah akan semakin kita alami: iman kita menjadi semakin dalam, harapan kita semakin kokoh dan kasih kita semakin menyala. 

3.  Sabda Tuhan yang diwartakan pada hari ini mengajak kita untuk selalu berjaga-jaga (Mrk 13:33.34.35.37)  menantikan kedatangan Tuhan itu. Pertanyaannya adalah, dengan cara apa kita berjaga-jaga menantikan kedatangan Tuhan? Jawabannya ada bermacam-macam. Salah satu jawaban diberikan kepada kita melalui Kitab Nabi Yesaya yang diwartakan pada hari ini yaitu dengan membiarkan diri kita – baik secara pribadi, keluarga, komunitas, paroki maupun keuskupan – dibentuk oleh Tuhan, karena kita semua adalah buatan tangan Tuhan (bdk. Yes 63:8). Dalam rangka membiarkan diri kita bersama-sama dibentuk oleh Tuhan itulah Keuskupan Agung Jakarta menetapkan Arah Dasar Pastoral dan setiap tahun menawarkan tema-tema pendalaman iman. Kalau bahan-bahan itu kita renungkan dan kita batinkan, kita boleh berharap hidup pribadi kita, keluarga, komunitas, paroki dan hidup kita bersama sebagai warga Keuskupan Agung Jakarta akan terus-menerus diperbarui dan dibentuk menjadi semakin serupa dengan Yesus Kristus, semakin sehati sepikir dan seperasaan dengan-Nya (bdk. Flp 2:5). 

4. Dalam rangka berusaha membiarkan diri kita dibentuk oleh Allah inilah, Keuskupan Agung Jakarta menetapkan Tahun 2012 sebagai Tahun Ekaristi dengan tema “Dipersatukan, Diteguhkan, Diutus”. Tema ini dipilih dengan berbagai pertimbangan. Antara lain kita ingin menempatkan diri kita dalam arus rohani Gereja se-dunia, yang pada tanggal 10-17 Juni 2012 yang akan datang mengadakan Kongres Ekaristi ke-50 di Dublin. Adapun tema yang diangkat adalah “Ekaristi: Bersatu dengan Kristus, Bersatu di antara kita”. Selanjutnya tema Tahun Ekaristi Keuskupan Agung Jakarta ini melanjutkan yang sudah kita dalami selama tahun 2011 yaitu “Mari Berbagi”. Dengan demikian kita berharap agar kerelaan kita berbagi tidak hanya didorong oleh motivasi kemanusiaan, melainkan kita landaskan pada iman yang kokoh. Dengan menerima roti Ekaristi yang diambil, diberkati, dipecah-pecah dan dibagi-bagikan, kita berharap juga dapat menjadi roti Ekaristi: seperti halnya roti Ekaristi, kita adalah pribadi-pribadi yang dipilih dan diberkati Tuhan, agar siap dipecah-pecah dan dibagi-bagikan bagi dunia. 

5.  Kekayaan Ekaristi dengan mudah dapat kita timba dari salah satu pernyataan Gereja sebagai berikut: “…… Setiap orang yang mengambil bagian dalam perayaan Ekaristi, seharusnya selalu ingin berbuat baik dengan penuh semangat, menyenangkan hati Allah dan hidup pantas sambil membaktikan diri kepada Gereja, melaksanakan apa yang diajarkan kepadanya, dan bertumbuh dalam kesalehan. Ia pun akan siap menjadi saksi Kristus di dalam segala hal, dalam menghadapi persoalan-persoalan hidup manusia, agar dunia diresapi dengan semangat Kristus. Sebab tidak ada satu umat Kristiani pun dapat dibentuk dan dibangun, kecuali kalau berakar dan berporos pada perayaan Ekaristi Mahakudus” (Eucharisticum Mysterium no. 13). 

6.  Melalui surat ini saya ingin mengajak seluruh umat Keuskupan Agung Jakarta untuk secara khusus memperdalam pengetahun dan penghayatan mengenai Ekaristi selama tahun 2012 yang akan datang. Sejarah panjang liturgi Ekaristi, kedalaman maknanya dan kekayaan lambang-lambangnya tidak bisa kita tangkap dengan baik selain dengan mempelajarinya. Dalam perayaan Ekaristi kita mengenangkan kembali wafat dan kebangkitan Kristus dan mensyukuri karya penyelamatan Allah bagi kita. Kita mendengarkan Sabda Tuhan yang menuntun langkah-langkah kita dan menerima roti kehidupan yang menjadi kekuatan dalam peziarahan iman kita. Janji Tuhan untuk selalu menyertai umat-Nya sampai akhir jaman tidak dapat kita alami kecuali dengan mengasah kepekaan batin kita akan kehadiran-Nya dalam Ekaristi. Semoga pertemuan-pertemuan yang sudah selalu kita adakan pada masa Adven, Prapaskah, bulan Liturgi, bulan Kitab Suci dan kesempatan-kesempatan lain dapat digunakan sebaik-baiknya untuk pendalaman Ekaristi itu. Sementara itu bahan-bahan yang diperlukan sudah dan akan disediakan oleh saudari-saudara kita yang dengan sepenuh hati menyiapkannya. 

7.  Akhirnya bersama para imam yang diutus untuk melayani umat di Keuskupan Agung Jakarta ini saya ingin menggunakan kesempatan ini untuk mengucapkan terima kasih kepada para Ibu/Bapak/Suster/Bruder/Frater/Kaum Muda, Remaja dan Anak-anak yang dengan satu dan lain cara ikut terlibat dalam karya kegembalaan kami. Keterlibatan Anda sekalian dalam pelayanan Gereja “ke dalam”, membuat Gereja menjadi semakin bermakna bagi umat sendiri. Sementara keterlibatan Anda sekalian dalam pelayanan Gereja “ke luar”, membuat Gereja menjadi semakin berarti di tengah-tengah masyarakat luas. Semoga Ekaristi yang setiap kali kita rayakan semakin mempersatukan kita dalam perutusan yang mulia. 

Salam dan Berkat Tuhan untuk seluruh keluarga dan komunitas Anda. 

       Ttd. 

+ I. Suharyo

Uskup Keuskupan Agung Jakarta  

Catatan: Disalin oleh Sdr. F.X. Indrapradja OFS dari edaran tercetak yang dibagikan di gereja-gereja dalam wilayah KAJ pada tanggal 26/27 November 2011.                           

IMAN SEBESAR INI TIDAK PERNAH AKU JUMPAI PADA SEORANG PUN DI ANTARA ORANG ISRAEL

IMAN SEBESAR INI TIDAK PERNAH AKU JUMPAI PADA SEORANG PUN DI ANTARA ORANG ISRAEL

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Adven, Senin 28-11-11)

OFM dan OFMConv.: Peringatan S. Yakobus dari Marka 

Ketika Yesus masuk ke Kapernaum, datanglah seorang perwira mendapatkan Dia dan memohon kepada-Nya, “Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita.” Yesus berkata kepadanya, “Aku akan datang menyembuhkannya.” Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya, “Tuhan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya.” Mendengar hal itu, Yesus pun heran dan berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel. Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan datang dari timur dan barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Surga. (Mat 8:5-11)

Bacaan Pertama: Yes 2:1-5 atau Yes 4:2-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 122:1-9 

“Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel” (Mat 8:10).

Apa yang hebat dalam iman sang perwira sehingga membuat Yesus tergerak untuk sangat menghargainya? Di atas segalanya, perwira Romawi ini menunjukkan suatu iman yang didasarkan rasa percaya pada seorang pribadi yang bernama Yesus dari Nazaret. Tidak terbatas pada tataran intelektual belaka, misalnya sehubungan dengan doktrin-doktrin tertentu, melainkan mencari suatu relasi pribadi dengan Yesus. Tentunya sang perwira dengan akal budinya telah mengambil kesimpulan bahwa Yesus memiliki otoritas untuk menyembuhkan, akan tetapi imannyalah yang menggerakkan dirinya untuk melakukan pendekatan kepada Yesus dengan permintaan/permohonannya yang berani itu.

Iman kita pun harus melampaui tataran intelektual agar dapat mencapai suatu relasi pribadi dengan Tuhan Yesus Kristus. Apabila iman kita itu sekadar berdasarkan doktrin-doktrin keagamaan, maka kita luput sesuatu yang sangat diperlukan dan mempunyai daya sebagai pemberi kehidupan.  Hanya apabila kita melangkah keluar sampai mengenal Yesus secara pribadi, maka kehidupan kita dapat ditransformasikan. Sebenarnya sang perwira dapat saja tinggal di rumah dengan hambanya dan berpikir bahwa Allah dapat menyembuhkan hambanya itu – dengan atau tanpa intervensi Yesus dari pihak Yesus. Namun, apakah yang terjadi? Sang perwira sendiri datang menghadap Yesus dan secara pribadi mohon pertolongan-Nya (bdk. Luk 7:1-10 yang ceritanya agak berbeda). Iman yang murni sepenuhnya berdasarkan logika disertai dengan sikap “ja-im” tidaklah cukup bagi sang perwira. Ingatlah bahwa sang perwira adalah seorang centurion  (komandan kompi) dari pasukan pendudukan yang sangat berkuasa. Inilah yang harus kita teladani dari sang perwira!

Sementara kita mengawali masa Adven ini, kita sungguh mempunyai suatu kesempatan riil untuk bertemu dengan Yesus dalam doa-doa kita, Kitab Suci dan sakramen-sakramen. Kontak regular dengan Yesus seperti ini dapat memperdalam iman kita dan mengembangkan dalam diri kita suatu relasi yang hidup dengan Yesus sendiri. Bilamana kita merasakan kekosongan, Yesus akan mengisinya. Bilamana rasa percaya kita lemah, Ia dapat menguatkan diri kita. Bilamana kita berpuas-puas diri, Yesus dapat memberikan kepada kita kerinduan mendalam akan kehidupan-Nya. Bilamana kita sedang berjuang untuk melangkah melampaui Kekristenan kita yang sekadar intelektual, maka Yesus akan meningkatkan iman kita riil dan berwujud.

“Mari, kita naik ke gunung TUHAN (YHWH), ke rumah Allah Yakub, supaya Ia mengajar kita tentang jalan-jalan-Nya” (Yes 2:3). Marilah kita menyediakan waktu yang cukup setiap hari untuk mencari kehadiran Tuhan Yesus. Semoga Yesus menghembuskan kehidupan ke dalam iman kita dan memberikan kepada kita segala rasa keyakinan akan diri-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, aku sungguh merindukan suatu perjumpaan pribadi yang mendalam dengan Engkau pada masa Adven ini. Aku mau bergerak maju mengatasi segala kelemahan yang ada dalam imanku untuk mengalami kehadiran-Mu yang riil dan menakjubkan. Oleh kuasa Roh Kudus-Mu bentuklah aku sehingga dapat mengenal-Mu dengan lebih baik. Aku percaya, ya Tuhan, tolonglah aku yang terkadang tidak percaya! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 8:5-11), bacalah tulisan berjudul “TIDAK ADA YANG TERLALU BESAR BAGI ALLAH” (bacaan untuk tanggal 28-11-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 11-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2011. 

Cilandak, 16 November 2011 [Peringatan S. Gertrudis, Perawan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HATI-HATILAH DAN BERJAGA-JAGALAH!

HATI-HATILAH DAN BERJAGA-JAGALAH!

Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU ADVEN I, 27 November 2011 

Hati-hatilah dan berjaga-jagalah! Sebab kamu tidak tahu kapan saatnya tiba. Keadaannya  sama seperti seorang yang bepergian, yang meninggalkan rumahnya dan menyerahkan tanggung jawab kepada hamba-hambanya, masing-masing dengan tugasnya, dan memerintahkan penjaga pintu supaya berjaga-jaga. Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu kapan tuan rumah itu pulang, menjelang malam, atau tengah malam, atau larut malam, atau pagi-pagi buta, supaya kalau ia tiba-tiba datang jangan kamu didapatinya sedang tidur. Apa yang Kukatakan kepada kamu, Kukatakan kepada semua orang: berjaga-jagalah! (Mrk 13:33-37)

Bacaan Pertama: Yes 63:16b-17; 64:1,3b-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 80:2-3,15-16,18-19; Bacaan Kedua: 1Kor 1:3-9 

“Berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu kapan tuan rumah itu pulang” (Mrk 13:35). Masa Adven adalah suatu masa sangat istimewa bagi umat Kristiani. Pada awal masa Adven ini, Gereja berseru kepada umatnya untuk menantikan dengan antisipasi besar kedatangan kembali Yesus Kristus yang ingin menarik kita kepada hati-Nya. Masa Adven sejatinya adalah masa penantian dan berjaga-jaga, masa pencurahan rahmat secara berlimpah dari takhta Allah. 

Sebagaimana seorang penjaga pintu tidak dapat berjaga-jaga sendirian untuk selamanya, maka demikian pula halnya dengan kita: kita membutuhkan pertolongan agar dapat terus berjaga-jaga menantikan kedatangan kembali Yesus Kristus. Untuk kedatangan kembali Yesus, kita harus berjaga-jaga bersama-sama, sebagai satu tubuh.  Kiranya sangat menyenangkan hati Bapa ketika  Ia melihat kita semua memusatkan perhatian untuk menjadi semakin dekat dengan Putera-Nya dan mempersiapkan hati kita untuk menyambut-Nya pada hari Natal! 

Sepanjang sejarah, Allah terus-menerus mendatangi dan menyapa umat-Nya, mula-mula diungkapkan dalam sabda-Nya dan Perjanjian-Nya, dan akhirnya dalam wujud kelahiran Putera-Nya terkasih. Karena kasih Allah yang sedemikian besar, Yesus datang masuk ke tengah dunia untuk memberikan hidup-Nya sendiri di atas kayu salib bagi kita semua. Sekarang, sudah dibangkitkan dalam kemuliaan, Yesus Kristus mengundang kita agar membuka hati kita bagi Roh Kudus-Nya sehingga dipenuhi dengan pengharapan dan sukacita akan kedatangan-Nya kembali kelak. 

Apa artinya semua ini? Yang pertama dan utama, hal ini berarti bahwa kita semua sangat, sangat, sangat dikasihi oleh Bapa di surga. Allah menciptakan kita untuk menjadi umat-Nya, untuk berjalan bersama Dia, dan untuk dipenuhi hidup dan kasih-Nya. Setelah Adam dan Hawa menolak Allah, Ia menyerahkan Putera-Nya yang tunggal agar merestorasi kita, agar tercipta rekonsiliasi dengan diri-Nya. Sekarang, melalui Yesus, kita telah menerima Roh Kudus yang berdiam dalam diri kita, hal mana memampukan kita untuk mengikuti jejak Kristus. Allah selalu dekat dengan diri kita masing-masing. Ia telah mempersiapkan sebuah tempat bagi kita di surga sehingga kita dapat tinggal bersama-Nya selama-lamanya. 

Masa Adven ini akan jauh berbeda apabila kita mengenal lebih mendalam lagi kasih Allah bagi kita semua! Kita akan mengalami kebebasan untuk hidup dengan suatu cara yang menarik kita untuk lebih dekat lagi dengan Allah; kita akan memiliki hasrat yang lebih besar untuk melakukan kehendak-Nya. Aman dalam kasih Bapa surgawi, kita dapat menghadap-Nya dengan penuh kepercayaan guna menerima hikmat-kebijaksanaan dalam menghadapi situasi sehari-hari. Apabila kita semakin dalam mengalami amannya berada di bawah perlindungan Bapa surgawi, maka kita pun diperlengkapi dengan keberanian, pengharapan dan kekuatan pada saat-saat kita menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan kita. Kita juga akan mengasihi orang-orang di sekeliling kita dengan kasih Allah yang ada dalam diri kita. 

Pada masa Adven ini, marilah kita mempersiapkan hati kita dengan menyambut Yesus ke dalam kehidupan kita setiap kali kita memulai hari kita. Marilah kita mohon kepada-Nya agar membuka mata (hati) kita untuk memampukan kita melihat betapa dekat Dia sebenarnya dengan kita dan betapa berharga kita semua bagi diri-Nya. Dalam masa yang sangat istimewa ini, sangat pantaslah bagi kita menyediakan waktu lebih banyak lagi untuk pembacaan dan permenungan sabda Allah yang ada dalam Kitab Suci, untuk melihat betapa besar kasih-Nya kepada kita. Semoga setiap hari kita dapat mengalami sukacita dalam menanti-nantikan kedatangan kembali Tuhan dan Juruselamat kita. 

DOA: Datanglah, ya Tuhan Yesus! Kejutkanlah diriku dengan berbagai anugerah-Mu dalam masa Adven ini. Buatlah aku mampu mengenali dan mengalami kehadiran-Mu dalam diri saudari-saudara yang kulayani, dalam Kitab Suci sebagaimana dialami oleh Fransiskus dari Assisi, dalam kegiatan-kegiatanku mempersiapkan hari Natal, dalam Sakramen Rekonsiliasi, dan teristimewa dalam Perayaan Ekaristi. Biarlah aku mensyeringkan anugerah-anugerah ini dengan saudari-saudaraku yang lain – termasuk mereka yang beriman lain, sehingga mereka semua pun dapat mengenal Engkau, Tuhan dan Juruselamat semua orang. Amin. 

Cilandak, 16 November 2011 [Peringatan S. Gertrudis, Perawan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BERJAGA-JAGALAH SENANTIASA SAMBIL BERDOA

BERJAGA-JAGALAH SENANTIASA SAMBIL BERDOA

(Bacaan Injil Misa, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIV, Sabtu, 26-11-09)

Keluarga Fransiskan: Pesta Semua Orang Kudus Tarekat 

“Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan dibebani oleh pesta pora dan kemabukan serta kekhawatiran hidup sehari-hari dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat. Sebab hari itu akan menimpa semua penduduk bumi ini. Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia.” (Luk 21:34-36)

Bacaan Pertama: Dan 7:15-27; Mazmur Tanggapan: Dan 3:82-87 

Hari ini adalah hari terakhir dari tahun liturgi (Tahun A/1). Apa lagi yang lebih cocok bagi kita daripada membaca dan merenungkan nasihat Yesus untuk berjaga-jaga senantiasa sambil berdoa, supaya kita beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kita tahan berdiri di hadapan Anak Manusia (lihat Luk 21:36).

Kita sekarang sudah berada pada tahun pertama dekade kedua dari milenium ketiga. Bagaimana kita dapat lebih menyerupai “bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat Allah sendiri” (1Ptr 2:9) yang dikatakan Kitab Suci kepada kita tentang jati diri kita yang sesungguhnya dan seharusnya? Masih jauhkah posisi kita dari apa yang digambarkan dalam surat Santo Petrus itu?

Barangkali yang muncul pertama dalam pikiran kita adalah untuk melakukan latihan rohani yang akan menjamin pertumbuhan spiritual kita. Sesungguhnya, Allah dapat memimpin kita untuk mengambil beberapa langkah praktis. Akan tetapi, janganlah sampai kita melupakan tujuan dari latihan rohani sedemikian, yaitu agar melalui latihan-latihan tersebut kita akan memperkenankan kasih Allah untuk meresapi kegelapan hati kita dan kegelapan dunia ini. Di atas segalanya, Dia ingin mengutus Roh Kudus-Nya untuk mengajar kita dan membentuk kita agar semakin seturut gambar dan rupa Kristus.

Setiap hari, Roh Kudus ingin membimbing kita satu langkah lebih dekat lagi kepada kekudusan. Setiap hari, sesuatu hal lain akan terjadi – apakah dalam hati kita, atau dalam keadaan-keadaan hari itu – itu adalah sebuah undangan lain lagi dari Roh Kudus agar kita menerima rahmat Allah. Selagi kita memperkenankan Yesus membebas-merdekakan kita dari dorongan-dorongan yang berasal dari kecenderungan kita untuk berdosa, sementara kita menyambut Roh Kudus masuk ke dalam kehidupan kita melalui doa-doa dan ketaatan, maka sedikit demi sedikit kita pun akan ditransformasikan. Pada akhirnya kita dapat mempersiapkan diri kita untuk hari di mana kita akhirnya akan “berdiri di hadapan Anak Manusia” (Luk 21:36).

Marilah sekarang kita bergegas menghadap Yesus dan menaruh hidup kita di hadapan-Nya. Hanya melalui bimbingan Roh Kudus kita dapat sungguh membuat diri kita siap bagi pencurahan rahmat ilahi. Oleh karena itu, marilah kita memohon kepada Roh Kudus untuk membimbing kita. Semoga kita semua akan berdiri di hadapan Putera Allah dan mempermaklumkan dengan penuh iman bahwa “Yesus adalah Tuhan!”

DOA: Tuhan Yesus, kerajaan-Mu dipenuhi dengan segala kekayaan surgawi – jauh lebih daripada yang dapat kubayangkan. Buatlah hatiku terbakar berkobar-kobar dengan realitas kasih dan kuasa-Mu! Biarlah kasih-Mu mengalir masuk ke dalam diriku. Siapkanlah aku untuk semua hal yang Engkau inginkan untuk kulakukan dalam hidupku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 21:34-36), bacalah tulisan berjudul”NASIHAT SUPAYA BERJAGA-JAGA” (bacaan untuk tanggal 26-11-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 11-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2011. 

Cilandak, 14 November 2011 [Peringatan S. Nikolaus Tavelic, imam dkk. & martir-martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERKATAAN-KU TIDAK AKAN BERLALU

PERKATAAN-KU TIDAK AKAN BERLALU

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Hari Biasa Pekan Biasa XXXIV, Jumat 25-11-11) 

Lalu Yesus mengatakan perumpamaan ini kepada mereka, “Perhatikanlah pohon ara atau pohon apa saja. Apabila kamu melihat pohon-pohon itu sudah bertunas, kamu tahu dengan sendirinya bahwa musim panas sudah dekat. Demikian juga, jika kamu melihat hal-hal itu terjadi, ketahuilah bahwa Kerajaan Allah sudah dekat. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Orang-orang zaman ini tidak akan berlalu, sebelum semuanya terjadi. Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu.” (Luk 21:29-33)

Bacaan Pertama: Dan 7:2-14; Mazmur Tanggapan: Dan 3:75-81 

Yesus mengatakan kepada para murid-Nya, bahwa sebagaimana pohon ara atau pohon-pohon lainnya yang sudah bertunas menandakan sudah dekatnya musim panas, demikian pula akan ada tanda-tanda yang pasti bahwa kerajaan Allah sudah dekat. Metafora yang digunakan Yesus dipahami dengan baik oleh para pendengar-Nya yang adalah orang-orang Yahudi. Mereka memahami bahwa pohon ara akan berbuah dua kali dalam satu tahun – pada awal musim semi dan pada musim gugur. Kitab Talmud mengatakan bahwa buah pertama dimaksudkan untuk datang pada hari setelah Paskah – saat di mana orang-orang Israel percaya bahwa Mesias akan melayani dalam kerajaan Allah.

Dengan mengajarkan perumpamaan ini, Yesus sebenarnya menjelaskan pentingnya bagi orang-orang untuk membaca “tanda-tanda zaman” seperti para petani harus mendengarkan dan memahami prakiraan cuaca agar berhasil dalam bercocok-tanam, maka kita pun harus mampu untuk mendengar dan mengerti tanda-tanda dari Allah dan karya-karya-Nya dalam kehidupan kita sehingga kita dapat siap untuk saat kedatangan kerajaan-Nya.

Allah berbicara dengan banyak cara: lewat pembacaan dan permenungan Kitab Suci, lewat ajaran-ajaran Gereja, lewat kata-kata yang diucapkan saudari-saudara Kristiani lainnya, dalam hati kita, bahkan dalam peristiwa-peristiwa yang terjadi di dunia. Akan tetapi, bagaimanakah kiranya kita dapat mengenali suara-Nya di tengah-tengah suara-suara lainnya yang menarik perhatian kita? Rasa percaya (trust) yang didasarkan pada kerendahan hati dan rasa sesal mendalam atas dosa-dosa kita dapat mulai membuka telinga-telinga kita. Mengambil risiko-risiko kecil, senantiasa memohon Roh Kudus agar mengajar kita, semua ini dapat menolong kita bertumbuh dalam keyakinan bahwa Allah tidak ingin meninggalkan kita dalam kegelapan. Jadi, selalu ada kemungkinan bagi kita untuk belajar bagaimana memandang dengan mata iman, mendengarkan dengan telinga-telinga pengharapan, dan memberi tanggapan dengan hati penuh cintakasih.

Kita tidak mengetahui kapan hari akhir itu akan datang, akan tetapi Yesus mengatakan kepada kita: “Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia” (Luk 21:36). Yesus juga memberikan kepada kita tanda-tanda untuk menolong kita agar berjaga-jaga dan dipenuhi hasrat mendalam akan kedatangan kerajaan-Nya. Setiap hari kita dapat menyambut Yesus masuk ke dalam hati kita dan mohon kepada-Nya untuk menunjukkan sedikit lagi rencana-Nya. Allah ingin memenuhi diri kita dengan antisipasi penuh gairah selagi kita menantikan kedatangan-Nya kembali. Marilah kita mendengarkan ketukan-Nya pada pintu hati kita dan menyambut kedatangan kerajaan-Nya dalam kepenuhannya. Peganglah senantiasa kata-kata-Nya: “Perkataan-Ku tidak akan berlalu” (Luk 21:33).

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku agar mampu mengenali tanda-tanda-Mu hari ini. Apakah yang Kauinginkan untuk kulihat? Bukalah pintu surga, ya Tuhan, agar aku dapat memperoleh pandangan sekilas dari kerajaan-Mu selagi aku berdiri siap untuk menyapa Engkau pada saat kedatangan-Mu kelak. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 21:29-33), bacalah tulisan berjudul “PERUMPAMAAN TENTANG POHON ARA” (bacaan untuk tanggal 25-11-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 11-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2011. 

Cilandak, 14 November 2011[Peringatan S. Nikolaus Tavelic, imam dkk. & martir-martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ANAK MANUSIA DATANG DALAM AWAN DENGAN SEGALA KEKUASAAN DAN KEMULIAAN-NYA

ANAK MANUSIA DATANG DALAM AWAN DENGAN SEGALA KEKUASAAN DAN KEMULIAAN-NYA

(Bacaan Injil Misa, Peringatan S. Andreas Dung Lac, Imam dkk. Martir-martir Vietnam, Kamis 24-11-11)

FSGM: Hari Berdirinya Tarekat; OSF Sibolga: Peringatan B. Elisabet dr Reute [+1420] 

“Apabila kamu melihat Yerusalem dikepung oleh tentara-tentara, ketahuilah bahwa keruntuhannya sudah dekat. Pada waktu itu orang-orang yang berada di Yudea harus melarikan diri ke pegunungan, dan orang-orang yang berada di dalam kota harus mengungsi, dan orang-orang yang berada di pedusunan jangan masuk lagi ke dalam kota, sebab itulah masa pembalasan ketika semua yang telah tertulis akan digenapi. Celakalah ibu-ibu yang sedang hamil atau menyusukan bayi pada masa itu! Sebab akan datang kesusahan yang dahsyat atas seluruh negeri dan murka atas bangsa ini, dan mereka akan tewas oleh mata pedang dan dibawa sebagai tawanan ke segala bangsa, dan Yerusalem akan diinjak-injak oleh bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, sampai genaplah zaman bangsa-bangsa itu.”

“Akan ada tanda-tanda pada matahari dan bulan dan bintang-bintang, dan di bumi bangsa-bangsa akan takut dan bingung menghadapi deru dan gelora laut. Orang akan mati ketakutan karena kecemasan berhubung dengan segala apa yang menimpa bumi ini, sebab kuasa-kuasa langit akan guncang. Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya. Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah kepalamu, sebab pembebasanmu sudah dekat.”  (Luk 21:20-28)

Bacaan Pertama: Dan 6:12-28; Mazmur Tanggapan: Dan 3:68-74 

“Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah kepalamu, sebab pembebasanmu sudah dekat”  (Luk 21:28).

Bagaimana Yesus dapat mengharapkan kita untuk memberi tanggapan terhadap pergolakan di akhir zaman dengan penuh keyakinan dan pengharapan? Dalam menghadapi penderitaan, peperangan, dan berbagai bencana alam yang digambarkan oleh Yesus, penarikan/pengunduran diri dengan penuh yang diliputi ketakutan kelihatannya merupakan suatu reaksi yang lebih cocok! Bagaimana pun juga, di manakah adanya pengharapan dalam segala kesusahan yang dinubuatkan oleh-Nya?

Yesus mengatakan kepada kita bahwa kita dapat mempunyai pengharapan pada waktu kita melihat tanda-tanda akhir ini karena tanda-tanda tersebut juga merupakan tanda-tanda dari penebusan yang telah lama kita nanti-nantikan. Kita akan melihat “Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya” (Luk 21:27)! Kita dapat yakin dan mempunyai pengharapan, karena kita tahu kita aman dalam Kristus. Darah-Nya adalah perlindungan kita terhadap si Jahat, dan Roh Kudus-Nya adalah down payment kita untuk tempat kita di surga kelak.

Kita harus mengetahui kebenaran ini sedalam-dalamnya sehingga hidup kita tidak dapat digoncangkan oleh berbagai gejolak yang berlangsung pada akhir zaman. Setiap hari Allah memberikan kepada kita kesempatan-kesempatan untuk “bereksperimen” dengan iman kita, situasi-situasi di mana kita dapat memegang sabda Allah seperti apa adanya dan memperhatikan Dia mengerjakan keajaiban-keajaiban bagi kita. Misalnya iman kita mengatakan, bahwa baptisan kita ke dalam Kristus telah membebaskan kita dari keterikatan pada dosa. Ketika godaan-godaan datang, kepada kita diberi kesempatan untuk datang ke kaki salib Yesus di Kalvari dan mempersatukan diri kita dengan Sang Tersalib sambil berkata “tidak” terhadap godaan-godaan tersebut. Apabila kita tidak tahu bagaimana seharusnya bereaksi dalam suatu situasi tertentu, kita dapat mencoba untuk memandang hal-hal yang kita hadapi dari perspektif surgawi dan memperkenankan Roh Kudus memberikan bimbingan serta hikmat-Nya kepada kita. Semakin sering kita melakukan praktek-praktek seperti ini, semakin yakin dan berpengharapan pula kita jadinya, apa pun situasi yang kita hadapi.

Pada saat Yesus datang kembali kelak, setiap hal akan diserahkan kepada-Nya sebagai Tuhan. Dalam doa-doa kita pada hari ini, marilah kita merenungkan karunia keselamatan yang telah kita terima dalam Kristus. Kita dapat memohon kepada Roh Kudus agar Ia meningkatkan kerinduan kita masing-masing untuk memandang Yesus muka-ketemu-muka. Semakin “aman” kita dalam rangkulan belas kasihan Allah, semakin keras pula kita akan berseru, “Datanglah, Tuhan Yesus!” (Why 22:20).

DOA: Bapa surgawi, Allah yang Mahabesar, Khalik langit dan bumi! Aku berterima kasih penuh syukur kepada-Mu untuk karunia keselamatan yang Kauanugerahkan kepadaku. Apa yang tidak dapat kulakukan sendiri bagi diriku, telah dilakukan oleh Putera-Mu terkasih, Yesus Kristus. Buanglah segala rasa takut dan kekuatiran yang masih ada dalam diriku. Tidak ada keyakinan dan pengharapan lebih besar yang kumiliki daripada fakta bahwa aku tersalib bersama Yesus dan akan bangkit bersama Dia pula. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 21:20-28), bacalah tulisan berjudul “TENTANG RUNTUHNYA YERUSALEM DAN KEDATANGAN KRISTUS” (bacaan untuk tanggal 24-11-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 11-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2011. 

Cilandak, 13 November 2011 [HARI MINGGU BIASA XXXIII] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KALAU KAMU TETAP BERTAHAN, KAMU AKAN MEMPEROLEH KEHIDUPAN

KALAU KAMU TETAP BERTAHAN, KAMU AKAN MEMPEROLEH KEHIDUPAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIV, Rabu 23-11-11) 

“Tetapi sebelum semuanya itu kamu akan ditangkap dan dianiaya; kamu akan diserahkan ke rumah-rumah ibadat dan penjara-penjara, dan kamu akan dihadapkan kepada raja-raja dan penguasa-penguasa oleh karena nama-Ku. Hal itu akan menjadi kesempatan bagimu untuk bersaksi. Sebab itu tetapkanlah di dalam hatimu, supaya kamu jangan memikirkan lebih dahulu pembelaanmu. Sebab Aku sendiri akan memberikan kepadamu kata-kata hikmat, sehingga kamu tidak dapat ditentang atau dibantah lawan-lawanmu. Kamu akan diserahkan juga oleh orang tuamu, saudara-saudaramu, kaum keluargamu dan sahabat-sahabatmu dan beberapa orang di antara kamu akan dibunuh dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku. Tetapi tidak sehelai pun dari rambut kepalamu akan hilang. Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh kehidupan.” (Luk 21:12-19)

Bacaan Pertama: Dan 5:1-6,13-14,16-17,23-28; Mazmur Tanggapan: Dan 3:62-67 

Betapa takut tentunya para murid ketika Yesus mengatakan kepada mereka akan menderita karena ditangkap dan dianiaya! Mereka belum menyaksikan penyaliban Yesus yang disusul oleh kebangkitan-Nya, sehingga mereka belum dapat memahami bahwa dalam kerajaan Allah, penderitaan sengsara adalah jalan menuju kemuliaan (Luk 18:31-34).

Yesus sebenarnya tidak mencoba untuk membuat para murid-Nya menjadi takut, melainkan untuk menawarkan kepada mereka pengharapan. Ia mengetahui bahwa pemandangan diri-Nya yang meregang nyawa dan kemudian mati di atas kayu salib akan sangat menghancurkan hati setiap orang yang melihatnya. Namun Yesus juga tahu bahwa pada hari ketiga mereka akan memahami bahwa penderitaan dan kematian-Nya memang diperlukan. Bapa surgawi tidak meninggalkan Dia yang sudah merendahkan diri-Nya serendah-rendahnya dan penuh ketaatan pada kehendak Bapa sampai mati di atas kayu salib. Santo Paulus menulis: “Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi dan segala lidah mengaku, ‘Yesus Kristus adalah Tuhan bagi kemuliaan Allah, Bapa!’” (Flp 2:9). Yesus juga meyakinkan para murid-Nya bahwa Dia tidak akan meninggalkan mereka pada saat-saat mereka membutuhkan bantuan, melainkan akan memberikan kepada mereka semua hikmat-kebijaksanaan dan perlindungan yang mereka butuhkan.

Selagi Yesus memperluas visi para murid-Nya dengan deskripsi-deskripsi tentang akhir zaman, Ia juga berjanji kepada mereka: “Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu” (Luk 21:19). Melalui “daya tahan” kita, visi kita tentang rencana kekal Allah dapat juga diperluas dan memberikan kepada pengharapan dalam situasi-situasi sulit. Mencari kehadiran Jesus melalui doa, pembacaan dan permenungan Kitab Suci, dan memperkenankan Roh Kudus untuk memberdayakan kita dalam situasi-situasi setiap hari akan membuat kita yakin bahwa Allah tidak akan pernah meninggalkan kita. Kita akan mampu untuk mendengar suara Roh Kudus yang mengingatkan kita akan janji-janji Yesus. Kita akan belajar mengenal tangan Allah dalam setiap situasi.

Selagi relasi kita dengan Yesus semakin mendalam dan matang, kita akan menjadi semakin serupa dengan karakter-Nya. Tuntutan-tuntutan sesaat dari situasi-situasi kita tidak akan mampu menguasai kita atau merampok kita dari pengharapan kita. Sebaliknya, kita akan mampu mengatasi semua itu dan bergerak maju dengan penuh keyakinan. Sekarang, apabila ada dari antara kita yang sedang menghadapi suatu situasi yang penuh tantangan, maka tetaplah berada dalam kehadiran Yesus. Peganglah teguh janji-janji Injil! Sambutlah Roh Kudus masuk ke hati anda untuk membimbing anda dan memperkuat anda! Biarlah Ia menyakinkan anda bahwa Allah yang memegang kendali! Ingatlah: Dengan daya-tahan anda, maka anda anda akan memenangkan jiwa anda!

DOA: Tuhan Yesus, buatlah diriku agar menjadi seperti Engkau sehingga aku dapat bertahan dalam segala pencobaan dan pengejaran. Aku ingin menerima “mahkota kehidupan” yang Kaujanjikan kepada orang-orang yang mengasihi Engkau (Yak 1:12). Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 21:12-19), bacalah tulisan berjudul “PERMULAAN PENDERITAAN” (bacaan untuk tanggal 23-11-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 11-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2011. 

Cilandak, 12 November 2011 [Peringatan S. Yosafat, Uskup & Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 133 other followers