KUASA ROH KUDUS DALAM GEREJA PERDANA

Sepanjang “Kisah para Rasul”, pesan terus-menerus yang dapat disimpulkan adalah sangat sederhana: Manakala Roh Kudus turun, maka hidup orang pun diubah. Kita lihat ini dalam hal para rasul, yang bersama-sama dengan Bunda Maria berkumpul dalam ruang atas pada hari Pentakosta. Kita lihat hal yang sama terjadi di kota-kota Samaria, Antiokhia dan Efesus. Bahkan kita melihat itu dalam diri orang-orang yang jauh dari Kristus seperti Saulus dari Tarsus, yang menganiaya gereja. Dalam semua peristiwa ini – dan di banyak peristiwa lain – kita lihat Roh Kudus yang datang dengan kuasa dan menyalakan api yang menyapu dunia pada waktu itu. Dalam tulisan singkat ini kita ingin melihat apa yang dilakukan oleh Roh Kudus untuk mengubah orang-orang biasa menjadi orang-orang yang penuh sukacita, para pengikut Yesus yang penuh komitmen dan pewarta-pewarta Kabar Baik yang tak kenal takut.
Kuasa dari Pernyataan Kasih Allah. Santo Yohanes mengatakan kepada kita bahwa, pada perjamuan terakhir Yesus berjanji pada para murid-Nya, “Jika seseorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan tinggal bersama-sama dengan dia” (Yoh 14:23). Beberapa tahun kemudian, ketika merenungkan pengalamannya akan janji ini, Santo Paulus menulis, “… kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita” (Rm 5:5). Janji Yesus telah dipenuhi! Roh Kudus telah dicurahkan dan pencurahan itu telah memberikan kepada orang-orang Kristiani awal suatu kesadaran penuh kegembiraan yang meluap-luap akan kasih Allah.
Allah sungguh mengasihi mereka! Pernyataan kasih Allah ini mengubah seluruh hidup mereka. Tidak lagi sekadar merupakan suatu pernyataan fakta. Tidak hanya sesuatu yang Yesus telah katakan kepada mereka. Pernyataan kasih Allah begitu riil bagi mereka, sampai-sampai membuang rasa bersalah, membebaskan mereka dari rasa takut dan mengatasi dosa mereka. Kasih Allah menghangatkan hati mereka sehingga mampu menerima satu sama lain – bahkan orang-orang non-Yahudi sekali pun, yang tidak pernah dinilai pantas untuk diperhatikan Allah (lihat Kis 11:18). Begitu besar dan agung kasih Allah yang mereka alami, sehingga saling mengasihi antara mereka diwujudkan dalam tindakan nyata selagi mereka berdoa bersama dan mengurusi orang-orang miskin di tengah-tengah mereka (Kis 2:44-47).
Kasih Allah yang dicurahkan oleh Roh Kudus ini, merupakan fondasi dari seluruh pesan Injil. Ini adalah alasan paling mendasar bagi keberadaan gereja, kunci bagi segala pertanyaan teologis dan jawaban bagi setiap krisis yang dihadapi individu-individu dan bangsa-bangsa. Kasih ini bukan sebagai hasil dari kerja keras seseorang, melainkan suatu afeksi dari Bapa surgawi yang tak kunjung lelah, meski dalam situasi kedosaan dan pemberontakan kita. Seperti ditulis oleh Paulus, “… Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita dalam hal ini: Ketika masih berdosa, Kristus telah mati untuk kita” (Rm 5:8).
Kisah Para Rasul merupakan sebuah kesaksian tetap tentang fakta bahwa manakala Roh Kudus menyatakan kasih Allah, maka segala aspek kehidupan mengambil suatu perspektif yang baru. Dosa-dosa kita di masa lampau sepenuhnya diampuni. Masa depan kita terjamin. Dan kepada kita diberikan keberanian untuk bekerja melalui hari ini dengan segala keprihatinan dan masalahnya. Karena kita telah mengalami kasih ilahi yang berlimpah, kita “bergembira dengan rasa sukacita yang mulia dan tidak terkatakan” (1 Ptr 1:8), yang meliputi setiap aspek kehidupan kita.
Suatu Hidup Penyerahan Diri. Selagi mereka mengalami berdiamnya Roh dalam diri mereka, para murid dipaksa untuk menyerahkan hidup mereka kepada Yesus dan kepada misi gereja-Nya. Kehidupan batin mereka diubah sampai satu titik di mana mereka memutuskan “untuk tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka” (2 Kor 5:15). Jadi, tidak cukup hanya mengambil suatu gaya hidup yang baru, yang lebih idealistis. Roh Kudus telah “menyerbu” mereka, sehingga – betapa pun lemah dan berdosa mereka sebelumnya – mereka ingin menyediakan diri secara terpisah bagi Tuhan, mempersembahkan diri mereka sendiri sebagai “kurban persembahan yang hidup” bagi Allah(Rm 12:1).
Santo Paulus menjelaskan penyerahan diri kepada Yesus ini dengan membuat sebuah proklamasi yang masih dapat menyentuh hati kita hari ini: “… bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Hidup yang sekarang aku hidupi secara jasmani adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku” (Gal 2:20).
Bagi Paulus dan semua orang Kristiani awal, Roh Kudus yang meliputi mereka juga meyakinkan mereka untuk berserah diri kepada Yesus setiap hari. Roh Kudus telah menyatakan Yesus kepada mereka, tidak hanya sebagai seseorang yang mengasihi mereka secara mendalam, tetapi juga sebagai Tuhan segala ciptaan, yang memang layak dan pantas ditaati, dikasihi dan disembah. Paulus menggambarkan proses ketaatan itu sebagai berikut: “… apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia daripada semuanya. Karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus, dan berada dalam Dia …” (Flp 3:7-9).
Paulus, Petrus dan semua murid berusaha untuk membuka setiap aspek hidup mereka bagi Roh Kudus dan memperkenankan kasih yang mereka terima dalam hati mereka untuk memperbaharui pikiran-pikiran mereka, hasrat-hasrat mereka, keputusan-keputusan mereka dan relasi-relasi mereka. Mereka belajar untuk “menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus” (lihat 2 Kor 10:5), dan memperkenankan diri mereka sendiri diubah “oleh pembaruan budi mereka” (lihat Rm 12:2).
Sampai ke Ujung-ujung Bumi. Meski mereka ditangkap (Kis 4:1-4), dianiaya (Kis 5:40) dan diancam pembunuhan (Kis 9:1), orang-orang Kristiani awal terus melanjutkan permakluman bahwa Yesus Kristus disalibkan dan dibangkitkan dari antara orang mati. Sementara mereka terus membuka hidup mereka bagi kuasa Roh Kudus, mereka mengalami suatu hasrat yang membara untuk berbagi Injil dengan orang-orang lain. Tidak lebih dari dua bulan setelah melihat Guru mereka ditangkap dan disalibkan, dengan berani Petrus mengatakan kepada mereka yang bertanggung jawab atas penyaliban Yesus, “Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus” (Kis 2:36).
Demikian pula dengan para murid yang lain. Setelah melihat bagaimana saudara mereka Stefanus mati di tangan tua-tua Yahudi, semua murid yang melarikan diri dari Yerusalem samasekali tidak berpeluk tangan dan tidak melakukan apa-apa. “Mereka yang tersebar itu menjelajahi seluruh negeri itu sambil memberitakan Injil” (Kis 8:4). Di Samaria, “orang banyak itu mendengar pemberitaan Filipus dan melihat tanda-tanda yang diadakannya, mereka semua memperhatikan dengan sepenuh hati apa yang diberitakannya itu. Karena itu, sangatlah besar sukacita dalam kota itu” (Kis 8:6,8). Kemudian Lukas bercerita kepada kita, “Sementara itu saudara-saudara seiman yang tersebar karena penganiayaan yang timbul sesudah Stefanus, menyingkir sampai ke Fenisia, Siprus dan Antiokhia; namun mereka memberitakan Injil kepada orang Yahudi juga” (Kis 11:19). Karena sekelompok kecil laki-laki dan perempuan, api kebangunan baru menyebar ke seluruh Asia Kecil.
Mengapa para murid mengambil risiko begitu besar, risiko dianiaya dan maut? Sekali lagi Paulus memberi jawabannya: “… kasih Kristus menguasai kami, karena kami telah mengerti bahwa jika satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka semua sudah mati. Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka” (2 Kor 5:14-15). Pengalaman akan kasih Allah yang semakin mendalam dengan berjalannya waktu ditambah dengan sikap serta tindakan penyerahan hidup mereka kepada Kristus yang terus berlanjut, memimpin para murid untuk berkeinginan memberitakan kepada setiap orang semampu mungkin mengenai keselamatan yang tersedia bagi mereka dalam Yesus.
Datanglah, Tuhan Yesus! Roh Kudus menyentuh hati para murid dengan begitu mendalamnya sehingga mereka mengalami suatu kerinduan untuk dapat bersama Yesus dan memandang-Nya secara muka-ketemu-muka. Roh Kudus ini, yang adalah “jaminan warisan kita sampai kita memperoleh penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya” (Ef 1:14), memberikan kepada mereka suatu citarasa bagaimana kiranya hidup kekal bersama Yesus kelak, sehingga gereja awal pun berseru, “Amin, datanglah, Tuhan Yesus” (Why 22:20).
Orang-orang Kristiani awal mengerti bahwa hidup dalam dunia ini hanyalah bersifat sementara, dan bahwa rumah mereka yang benar dan akhir adalah dalam surga, bersatu dengan Tuhan. Pada kenyataannya, iman dan harapan akan kedatangan kembali Yesus inilah yang menopang gereja dalam waktu-waktu sulit dan pengejaran serta penganiayaan: “Jika kita bertekun, kita pun akan ikut memerintah dengan Dia” (2 Tim 2:12). Apa lagi yang dapat lebih memberikan harapan daripada janji akan hidup kekal dan mulia bersama dengan Dia yang telah mengasihi kita dengan begitu setia?
Orang-orang Biasa Diubah secara Luar Biasa. Sekarang kita mempunyai kesempatan indah untuk membuka hati kita secara lebih penuh lagi bagi kuasa-mengubah dari Roh Kudus. Tujuan-tujuan Allah tidak pernah berubah. Segalanya yang dialami oleh para murid Yesus sekitar 2000 tahun lalu masih tetap tersedia bagi kita hari ini. Sama seperti yang terjadi dengan mereka dulu dapat juga terjadi dengan kita.
Kalau kita ingin mengetahui karya Roh Kudus dalam hidup kita, kita harus memahami bahwa para murid Yesus yang awal bukanlah orang-orang yang luarbiasa. Mereka hanyalah mantan nelayan, mantan pemungut cukai, mantan anggota kaum pejuang zeloti dll. Mereka tidak datang berkumpul, lalu menyusun sebuah rencana untuk mengubah dunia. Mereka adalah orang-orang lemah dan berdosa, seperti kita juga, dan mereka tahu bahwa hanya Roh Kudus yang dapat melakukan pekerjaan yang telah dipercayakan oleh Yesus kepada mereka. Itulah mengapa mereka tidak langsung pergi menginjil ke mana-mana, tetapi mengikuti permintaan Yesus agar mereka tetap berdiam di Yerusalem, berdoa dan menantikan kedatangan Roh Kudus yang dijanjikan itu (lihat Luk 24:49).
Marilah kita mencontoh para murid Yesus dulu, dengan menyediakan waktu ekstra untuk berdoa. Marilah kita merenungkan sabda Allah dan mohon kepada-Nya untuk memenuhi kita lebih lagi dengan Roh Kudus. Marilah kita menantikan pemenuhan janji Yesus: “… kamu akan menerima kuasa bilamana Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi” (Kis 1:8).
Sumber: “The Power of the Spirit in the Early Church” , the WORD among us, Easter 1998, hal. 6-10. Terjemahan dengan sedikit perubahan oleh Sdr. Frans X. Indrapradja, OFS pada tahun 2004 untuk bahan rekoleksi dan studi Alkitab.