SETIAP HARI YESUS BERTANYA KEPADA KITA MASING-MASING: “APAKAH ENGKAU MENGASIHI AKU?”

SETIAP HARI YESUS BERTANYA KEPADA KITA MASING-MASING: “APAKAH ENGKAU MENGASIHI AKU?”

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VII Paskah, Jumat 25 Mei 2012)

Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka ini?” Jawab Petrus kepada-Nya, “Benar Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya, “Peliharalah anak-anak domba-Ku.” Kata Yesus lagi kepadanya untuk kedua kalinya, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku? Jawab Petrus kepada-Nya, “Benar Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya, “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Petrus pun merasa sedih karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya, “Apakah engkau mengasihi Aku?” Dan ia berkata kepada-Nya, “Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya, “Peliharalah domba-domba-Ku. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi kalau engkau sudah tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki.” Hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus, “Ikutlah Aku”. (Yoh 21:15-19)

Bacaan Pertama: Kis 25:13-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-2,11-12,19-20

Apabila kita mau berempati dengan Petrus, mencoba untuk menempatkan diri kita dalam posisinya, barangkali kita dapat memahami rasa sedih yang dirasakan olehnya ketika Yesus yang sudah bangkit itu bertanya kepada dirinya sebanyak tiga kali, “Apakah engkau mengasihi Aku?” (Yoh 21:15-17). Pertanyaan yang diajukan Yesus sebanyak tiga kali itu sungguh membuat Petrus merasa kecil dan tentunya pedih-sakit dalam hati, namun pertanyaan-pertanyaan Yesus ini juga memberi sinyal bahwa Yesus menerima Petrus sebagai kepala (yang utama dari yang sama) para rasul. Afirmasi Petrus sebanyak tiga kali mengimbangi penyangkalannya sebanyak tiga kali pula terhadap Yesus sebelum penyaliban-Nya.

Inilah hasil dari pengamatan kita, namun inti masalahnya adalah bahwa Yesus menginginkan kasih dari Petrus, sebagaimana Dia menginginkan kasih kita. Setiap hari, dengan bela rasa yang sama tulusnya, Yesus bertanya kepada diri kita masing-masing, “Apakah engkau mengasihi Aku?”

Kehidupan kita dapat dengan mudah menjadi penuh dengan rasa cemas, rasa takut dan kekurangan-kekurangan lainnya. Kita dapat begitu disibukkan dengan upaya-upaya untuk menghadapi tantangan-tantangan hidup sampai-sampai kita kehilangan fokus pada apa yang sesungguhnya merupakan persoalan yang paling penting untuk dipecahkan. Di tengah setiap kegiatan, kita harus mohon kepada Roh Kudus untuk mengingatkan kita, bahwa hal yang paling penting adalah apakah kita sungguh mengasihi Yesus.

“Kasih menutupi banyak sekali dosa” (1Ptr 4:8). Kata-kata ini dipandang sebagai kata-kata Petrus sendiri, tentunya dengan alasan yang baik. Yesus menantang dan membujuk Petrus kembali ke dalam suatu relasi dengan diri-Nya melalui pertanyaan sederhana, “Apakah engkau mengasihi Aku?” Kasih adalah suatu kharisma ilahi yang memiliki kuasa untuk membuka hati orang-orang agar mampu menerima bahkan kasih yang lebih banyak lagi. Semakin banyak kita mengasihi Allah, semakin banyak pula kita dimurnikan dari kecenderungan-kecenderungan gelap kodrat kedosaan kita. Kasih memperluas perspektif kita dan mengangkat pikiran kita sampai kepada tataran realitas Allah. Kasih bahkan memberikan kepada kita kuasa untuk membebaskan mereka yang diperbudak oleh rasa takut.

Yesus wafat di kayu salib untuk memenangkan kasih kita, bukan ketaatan buta kita. Allah yang sama – yang menciptakan kita masing-masing dengan suatu kehendak bebas – akan mengundang kita menghadap hadirat-Nya dengan suatu pertanyaan yang bersifat terbuka (open-ended question): “Apakah engkau mengasihi Aku?” Jika kita menjawab “ya”, Dia pun mengutus Roh-Nya secara berlimpah. Kita memasuki suatu relasi yang sebenarnya direncanakan Allah sejak awal dunia ini. Jalannya tidak selalu mulus. Pada kenyataannya, Yesus mengingatkan sebelumnya kepada Petrus “bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah” (Yoh 21:19). Namun demikian kita dapat mengenal dan mengalami suatu sukacita yang istimewa kalau tinggal bersama dengan Tuhan sepanjang hidup kita.

DOA: Tuhan Yesus, aku mengasihi Engkau. Tolonglah aku bertumbuh semakin dekat dengan diri-Mu, sehingga aku dapat menerima apa saja yang Engkau minta untuk kukerjakan. Aku ingin menjadi pelayan-Mu dan sahabat-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 21:15-19), bacalah tulisan yang berjudul “GEMBALAKANLAH DOMBA-DOMBA-KU” (bacaan tanggal 25-5-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2012. Bacalah juga tulisan yang berjudul “APAKAH ENGKAU MENGASIHI AKU?” (bacaan tanggal 10-6-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM; kategori 11-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2011.

Cilandak, 6 Mei 2011 [HARI MINGGU PASKAH V]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KUASA ROH KUDUS DALAM GEREJA PERDANA

KUASA ROH KUDUS DALAM GEREJA PERDANA

Sepanjang “Kisah para Rasul”, pesan terus-menerus yang dapat disimpulkan adalah sangat sederhana: Manakala Roh Kudus turun, maka hidup orang pun diubah. Kita lihat ini dalam hal para rasul, yang bersama-sama dengan Bunda Maria berkumpul dalam ruang atas pada hari Pentakosta. Kita lihat hal yang sama terjadi di kota-kota Samaria, Antiokhia dan Efesus. Bahkan kita melihat itu dalam diri orang-orang yang jauh dari Kristus seperti Saulus dari Tarsus, yang menganiaya gereja. Dalam semua peristiwa ini – dan di banyak peristiwa lain – kita lihat Roh Kudus yang datang dengan kuasa dan menyalakan api yang menyapu dunia pada waktu itu. Dalam tulisan singkat ini kita ingin melihat apa yang dilakukan oleh Roh Kudus untuk mengubah orang-orang biasa menjadi orang-orang yang penuh sukacita, para pengikut Yesus yang penuh komitmen dan pewarta-pewarta Kabar Baik yang tak kenal takut.

Kuasa dari Pernyataan Kasih Allah. Santo Yohanes mengatakan kepada kita bahwa, pada perjamuan terakhir Yesus berjanji pada para murid-Nya, “Jika seseorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan tinggal bersama-sama dengan dia” (Yoh 14:23). Beberapa tahun kemudian, ketika merenungkan pengalamannya akan janji ini, Santo Paulus menulis, “… kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita” (Rm 5:5). Janji Yesus telah dipenuhi! Roh Kudus telah dicurahkan dan pencurahan itu telah memberikan kepada orang-orang Kristiani awal suatu kesadaran penuh kegembiraan yang meluap-luap akan kasih Allah.

Allah sungguh mengasihi mereka! Pernyataan kasih Allah ini mengubah seluruh hidup mereka. Tidak lagi sekadar merupakan suatu pernyataan fakta. Tidak hanya sesuatu yang Yesus telah katakan kepada mereka. Pernyataan kasih Allah begitu riil bagi mereka, sampai-sampai membuang rasa bersalah, membebaskan mereka dari rasa takut dan mengatasi dosa mereka. Kasih Allah menghangatkan hati mereka sehingga mampu menerima satu sama lain – bahkan orang-orang non-Yahudi sekali pun, yang tidak pernah dinilai pantas untuk diperhatikan Allah (lihat Kis 11:18). Begitu besar dan agung kasih Allah yang mereka alami, sehingga saling mengasihi antara mereka diwujudkan dalam tindakan nyata selagi mereka berdoa bersama dan mengurusi orang-orang miskin di tengah-tengah mereka (Kis 2:44-47).

Kasih Allah yang dicurahkan oleh Roh Kudus ini, merupakan fondasi dari seluruh pesan Injil. Ini adalah alasan paling mendasar bagi keberadaan gereja, kunci bagi segala pertanyaan teologis dan jawaban bagi setiap krisis yang dihadapi individu-individu dan bangsa-bangsa. Kasih ini bukan sebagai hasil dari kerja keras seseorang, melainkan suatu afeksi dari Bapa surgawi yang tak kunjung lelah, meski dalam situasi kedosaan dan pemberontakan kita. Seperti ditulis oleh Paulus, “… Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita dalam hal ini: Ketika masih berdosa, Kristus telah mati untuk kita” (Rm 5:8).

Kisah Para Rasul merupakan sebuah kesaksian tetap tentang fakta bahwa manakala Roh Kudus menyatakan kasih Allah, maka segala aspek kehidupan mengambil suatu perspektif yang baru. Dosa-dosa kita di masa lampau sepenuhnya diampuni. Masa depan kita terjamin. Dan kepada kita diberikan keberanian untuk bekerja melalui hari ini dengan segala keprihatinan dan masalahnya. Karena kita telah mengalami kasih ilahi yang berlimpah, kita “bergembira dengan rasa sukacita yang mulia dan tidak terkatakan” (1 Ptr 1:8), yang meliputi setiap aspek kehidupan kita.

Suatu Hidup Penyerahan Diri. Selagi mereka mengalami berdiamnya Roh dalam diri mereka, para murid dipaksa untuk menyerahkan hidup mereka kepada Yesus dan kepada misi gereja-Nya. Kehidupan batin mereka diubah sampai satu titik di mana mereka memutuskan “untuk tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka” (2 Kor 5:15). Jadi, tidak cukup hanya mengambil suatu gaya hidup yang baru, yang lebih idealistis. Roh Kudus telah “menyerbu” mereka, sehingga – betapa pun lemah dan berdosa mereka sebelumnya – mereka ingin menyediakan diri secara terpisah bagi Tuhan, mempersembahkan diri mereka sendiri sebagai “kurban persembahan yang hidup” bagi Allah(Rm 12:1).

Santo Paulus menjelaskan penyerahan diri kepada Yesus ini dengan membuat sebuah proklamasi yang masih dapat menyentuh hati kita hari ini: “… bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Hidup yang sekarang aku hidupi secara jasmani adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku” (Gal 2:20).

Bagi Paulus dan semua orang Kristiani awal, Roh Kudus yang meliputi mereka juga meyakinkan mereka untuk berserah diri kepada Yesus setiap hari. Roh Kudus telah menyatakan Yesus kepada mereka, tidak hanya sebagai seseorang yang mengasihi mereka secara mendalam, tetapi juga sebagai Tuhan segala ciptaan, yang memang layak dan pantas ditaati, dikasihi dan disembah. Paulus menggambarkan proses ketaatan itu sebagai berikut: “… apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia daripada semuanya. Karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus, dan berada dalam Dia …” (Flp 3:7-9).

Paulus, Petrus dan semua murid berusaha untuk membuka setiap aspek hidup mereka bagi Roh Kudus dan memperkenankan kasih yang mereka terima dalam hati mereka untuk memperbaharui pikiran-pikiran mereka, hasrat-hasrat mereka, keputusan-keputusan mereka dan relasi-relasi mereka. Mereka belajar untuk “menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus” (lihat 2 Kor 10:5), dan memperkenankan diri mereka sendiri diubah “oleh pembaruan budi mereka” (lihat Rm 12:2).

Sampai ke Ujung-ujung Bumi. Meski mereka ditangkap (Kis 4:1-4), dianiaya (Kis 5:40) dan diancam pembunuhan (Kis 9:1), orang-orang Kristiani awal terus melanjutkan permakluman bahwa Yesus Kristus disalibkan dan dibangkitkan dari antara orang mati. Sementara mereka terus membuka hidup mereka bagi kuasa Roh Kudus, mereka mengalami suatu hasrat yang membara untuk berbagi Injil dengan orang-orang lain. Tidak lebih dari dua bulan setelah melihat Guru mereka ditangkap dan disalibkan, dengan berani Petrus mengatakan kepada mereka yang bertanggung jawab atas penyaliban Yesus, “Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus” (Kis 2:36).

Demikian pula dengan para murid yang lain. Setelah melihat bagaimana saudara mereka Stefanus mati di tangan tua-tua Yahudi, semua murid yang melarikan diri dari Yerusalem samasekali tidak berpeluk tangan dan tidak melakukan apa-apa. “Mereka yang tersebar itu menjelajahi seluruh negeri itu sambil memberitakan Injil” (Kis 8:4). Di Samaria, “orang banyak itu mendengar pemberitaan Filipus dan melihat tanda-tanda yang diadakannya, mereka semua memperhatikan dengan sepenuh hati apa yang diberitakannya itu. Karena itu, sangatlah besar sukacita dalam kota itu” (Kis 8:6,8). Kemudian Lukas bercerita kepada kita, “Sementara itu saudara-saudara seiman yang tersebar karena penganiayaan yang timbul sesudah Stefanus, menyingkir sampai ke Fenisia, Siprus dan Antiokhia; namun mereka memberitakan Injil kepada orang Yahudi juga” (Kis 11:19). Karena sekelompok kecil laki-laki dan perempuan, api kebangunan baru menyebar ke seluruh Asia Kecil.

Mengapa para murid mengambil risiko begitu besar, risiko dianiaya dan maut? Sekali lagi Paulus memberi jawabannya: “… kasih Kristus menguasai kami, karena kami telah mengerti bahwa jika satu orang sudah mati untuk semua orang, maka mereka semua sudah mati. Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka” (2 Kor 5:14-15). Pengalaman akan kasih Allah yang semakin mendalam dengan berjalannya waktu ditambah dengan sikap serta tindakan penyerahan hidup mereka kepada Kristus yang terus berlanjut, memimpin para murid untuk berkeinginan memberitakan kepada setiap orang semampu mungkin mengenai keselamatan yang tersedia bagi mereka dalam Yesus.

Datanglah, Tuhan Yesus! Roh Kudus menyentuh hati para murid dengan begitu mendalamnya sehingga mereka mengalami suatu kerinduan untuk dapat bersama Yesus dan memandang-Nya secara muka-ketemu-muka. Roh Kudus ini, yang adalah “jaminan warisan kita sampai kita memperoleh penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya” (Ef 1:14), memberikan kepada mereka suatu citarasa bagaimana kiranya hidup kekal bersama Yesus kelak, sehingga gereja awal pun berseru, “Amin, datanglah, Tuhan Yesus” (Why 22:20).

Orang-orang Kristiani awal mengerti bahwa hidup dalam dunia ini hanyalah bersifat sementara, dan bahwa rumah mereka yang benar dan akhir adalah dalam surga, bersatu dengan Tuhan. Pada kenyataannya, iman dan harapan akan kedatangan kembali Yesus inilah yang menopang gereja dalam waktu-waktu sulit dan pengejaran serta penganiayaan: “Jika kita bertekun, kita pun akan ikut memerintah dengan Dia” (2 Tim 2:12). Apa lagi yang dapat lebih memberikan harapan daripada janji akan hidup kekal dan mulia bersama dengan Dia yang telah mengasihi kita dengan begitu setia?

Orang-orang Biasa Diubah secara Luar Biasa. Sekarang kita mempunyai kesempatan indah untuk membuka hati kita secara lebih penuh lagi bagi kuasa-mengubah dari Roh Kudus. Tujuan-tujuan Allah tidak pernah berubah. Segalanya yang dialami oleh para murid Yesus sekitar 2000 tahun lalu masih tetap tersedia bagi kita hari ini. Sama seperti yang terjadi dengan mereka dulu dapat juga terjadi dengan kita.

Kalau kita ingin mengetahui karya Roh Kudus dalam hidup kita, kita harus memahami bahwa para murid Yesus yang awal bukanlah orang-orang yang luarbiasa. Mereka hanyalah mantan nelayan, mantan pemungut cukai, mantan anggota kaum pejuang zeloti dll. Mereka tidak datang berkumpul, lalu menyusun sebuah rencana untuk mengubah dunia. Mereka adalah orang-orang lemah dan berdosa, seperti kita juga, dan mereka tahu bahwa hanya Roh Kudus yang dapat melakukan pekerjaan yang telah dipercayakan oleh Yesus kepada mereka. Itulah mengapa mereka tidak langsung pergi menginjil ke mana-mana, tetapi mengikuti permintaan Yesus agar mereka tetap berdiam di Yerusalem, berdoa dan menantikan kedatangan Roh Kudus yang dijanjikan itu (lihat Luk 24:49).

Marilah kita mencontoh para murid Yesus dulu, dengan menyediakan waktu ekstra untuk berdoa. Marilah kita merenungkan sabda Allah dan mohon kepada-Nya untuk memenuhi kita lebih lagi dengan Roh Kudus. Marilah kita menantikan pemenuhan janji Yesus: “… kamu akan menerima kuasa bilamana Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi” (Kis 1:8).

Sumber: “The Power of the Spirit in the Early Church” , the WORD among us, Easter 1998, hal. 6-10. Terjemahan dengan sedikit perubahan oleh Sdr. Frans X. Indrapradja, OFS pada tahun 2004 untuk bahan rekoleksi dan studi Alkitab.

MERENUNGKAN KASIH YESUS KEPADA KITA LEWAT DOA-NYA

MERENUNGKAN KASIH YESUS KEPADA KITA LEWAT DOA-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VII Paskah, Kamis 24 Mei 2012)

Keluarga Fransiskan: Pesta Pemberkatan Basilika S. Fransiskus di Assisi

Bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku melalui pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu: Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka menjadi satu dengan sempurna, agar dunia tahu bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku.
Ya Bapa, Aku mau supaya, di mana pun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku, agar mereka memandang kemuliaan-Ku yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan. Ya Bapa yang adil, memang dunia tidak mengenal Engkau, tetapi Aku mengenal Engkau, dan mereka ini tahu bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku; dan Aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka dan Aku akan memberitahukannya, supaya kasih yang Engkau berikan kepada-Ku ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka.” (Yoh 17:20-26)

Bacaan Pertama: Kis 22:30;23:6-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 16:1-2,5,7-11

Sampai berapa jauh seseorang dapat bersikap tidak mementingkan diri sendiri? Yesus tahu bahwa tidak lama lagi tibalah saat bagi-Nya untuk menderita sengsara dan mengalami kematian yang mengerikan, namun Ia mohon kepada Bapa-Nya untuk mencurahkan kasih ilahi-Nya ke atas diri kita para murid-Nya – kasih sama yang Bapa sendiri yang berikan bagi Yesus dari sejak kekal. Dalam doa-Nya, Yesus berkata: “Aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka …… supaya kasih yang Engkau berikan kepada-Ku ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka” (Yoh 17:26). Sungguh mengharukan dan membuat diri kita merasa “kecil” tatkala merenungkan bahwa Yesus sungguh mengasihi kita, lebih mementingkan diri kita daripada diri-Nya sendiri pada malam sebelum sengsara dan wafat-Nya itu.

Sekarang, marilah kita mengambil waktu sejenak untuk merenungkan betapa dalam Allah mengasihi Putera-Nya. Karena kasih kepada Putera-Nya itulah Allah menyerahkan seluruh ciptaan kepada Kristus: “segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia” (Kol 1:16). Allah sangat mengasihi-Nya sehingga pada hari baptisan Yesus oleh Yohanes Pembaptis, dengan penuh sukacita Ia membuat pengumuman: “Inilah anak-Ku yang terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan” (Mat 3:17).

Pengalaman Yesus yang berkelanjutan dan intim akan kasih Bapa yang memotivasi setiap tindakan-Nya selagi Dia berada bersama para murid-Nya: “Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau Ia tidak melihat Bapa mengerjakannya; …… Bapa mengasihi Anak dan Ia menunjukkan kepada-Nya segala sesuatu yang dikerjakan-Nya sendiri” (Yoh 5:19-20). Yesus begitu dipenuhi dengan kasih Bapa sehingga Dia mampu merangkul segala kekejaman dan kepedihan salib untuk memenangkan keselamatan kekal bagi kita.

Oleh kuat-kuasa salib-Nya, Yesus telah menyalibkan kodrat kedosaan kita dan membebaskan kita agar dapat dipenuhi dengan kasih Allah sama yang Dia sendiri alami. Ini adalah suatu kasih yang penuh gairah, yang cukup memiliki kuasa untuk membuat lunak hati yang paling keras sekali pun dan mentransformasikan setiap orang menjadi seorang pencinta Allah. Ini adalah kasih yang bersifat all-inclusive, yang mampu mematahkan setiap penghalang berupa prasangka, penolakan dan rasa curiga yang membuat kita terpisah satu sama lain. Ini adalah kasih yang kekal yang tidak pernah gagal: Allah senantiasa tersenyum memandangi kita, Ia hanya ingin memberkati dan memperkuat diri kita apabila kita kembali kepada-Nya.

DOA: Roh Kudus Allah, pada hari-hari menjelang Hari Raya Pentakosta, penuhilah diri setiap umat Allah dengan pengalaman akan kasih-Nya. Gantikanlah rasa takut dan keserakahan kami dengan kasih kepada Allah Tritunggal Mahakudus, sehingga kami dapat menjadi satu dengan Allah dan satu dengan semua saudari dan saudara kami. Bangkitkanlah kami sebagai saksi-saksi bagi dunia, mengundang setiap orang untuk menemukan kasih yang memiliki daya transformasi dalam diri Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 17:20-26), bacalah tulisan yang berjudul “SUPAYA MEREKA MENJADI SATU” (bacaan tanggal 24-5-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori 12-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2012. Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 22:30;23:6-11), bacalah tulisan yang berjudul “KUATKANLAH HATIMU” (bacaan tanggal 9-6-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM; kategori: 11-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2011.

Cilandak, 5 Mei 2012

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERPISAHAN PAULUS DENGAN PARA PENATUA DI EFESUS [SAMBUNGAN]

PERPISAHAN PAULUS DENGAN PARA PENATUA DI EFESUS [SAMBUNGAN]

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VII Paskah, Rabu 23 Mei 2012)

“Jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi pengawas untuk menggembalakan jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan darah-Nya sendiri. Aku tahu bahwa sesudah aku pergi, serigala-serigala yang ganas akan masuk ke tengah-tengah kamu dan tidak akan menyayangkan kawanan itu. Bahkan dari antara kamu sendiri akan muncul beberapa orang, yang dengan ajaran palsu berusaha menarik murid-murid dari jalan yang benar supaya mengikut mereka. Sebab itu berjaga-jagalah dan ingatlah bahwa selama tiga tahun, siang malam, aku tanpa henti-hentinya menasihati kamu masing-masing dengan mencucurkan air mata. Sekarang aku menyerahkan kamu kepada Tuhan dan kepada firman anugerah-Nya yang berkuasa membangun kamu dan menganugerahkan kepada kamu warisan yang ditentukan bagi semua orang yang telah dikuduskan-Nya. Perak atau emas atau pakaian tidak pernah aku ingini dari siapa pun juga. Kamu sendiri tahu bahwa dengan tanganku sendiri aku telah bekerja untuk memenuhi keperluanku dan keperluan kawan-kawan seperjalananku. Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Lebih berbahagia memberi daripada menerima.” Sesudah mengucapkan kata-kata itu Paulus berlutut dan berdoa bersama-sama dengan mereka semua. Lalu menangislah mereka semua tersedu-sedu dan sambil memeluk Paulus, mereka berulang-ulang mencium dia. Mereka sangat berdukacita terlebih-lebih karena ia mengatakan bahwa mereka tidak akan melihat mukanya lagi. Kemudian mereka mengantar dia ke kapal. (Kis 20:28-38)

Mazmur Tanggapan:68:29-30.33-36; Bacaan Injil: Yoh 17:11b-19

Sungguh suatu saat yang mengharukan! Ini adalah kata-kata perpisahan dari rasul Paulus, yang tidak hanya mendirikan gereja di Efesus, melainkan juga hidup di tengah umat Kristiani yang baru itu untuk selama tiga tahun. Selama kurun waktu tiga tahun itu, “melalui tangan Paulus Allah mengadakan mukjizat-mukjizat yang luar biasa” (Kis 19:11). Sebagai akibatnya, “makin tersebarlah firman Tuhan dan makin berkuasa” (Kis 19:20).

Para penatua Efesus tidak menangis karena capaian-capaian Paulus, akan tetapi air mata mereka itu adalah air mata afeksi bagi seorang saudara. Di sisi lain, Paulus merasa prihatin, bukan atas kelanjutan pelayanannya melainkan survival dari “seluruh kawanan … jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan darah-Nya sendiri” (Kis 20:28), teristimewa “orang-orang yang lemah” (Kis 20:35).

Gereja di Efesus mempunyai pemimpin-pemimpin hebat seperti Apolos yang berasal dari Aleksandria (Kis 18:24-28) yang mampu dengan cepat menangkap signifikansi pesan-pesan Paulus. Mengajar orang-orang sedemikian tentunya membuat Paulus pantas bersyukur penuh bahagia. Akan tetapi, di sini Paulus tidak menyinggung orang-orang “hebat” itu. Kelihatannya perhatian Paulus tertuju pada orang-orang dina dan rendah, para “wong cilik” yang mempunyai relasi istimewa dengan Tuhan.

Setiap komunitas, setiap jemaat (Inggris: congregation), bahkan setiap keluarga mempunyai anggota-anggota yang “lemah”. Melalui berbagai kombinasi dari faktor-faktor genetika, pendidikan dari kecil sampai dewasa, dosa, dan/atau ketidakberuntungan, kelihatannya susahlah bagi orang-orang seperti ini untuk mampu mengurus diri mereka sendiri secara memadai. Dan merekalah yang khusus dikedepankan oleh Paulus untuk diperhatikan secara istimewa, karena rasul ini mengetahui pesan fundamental Injil bahwa mereka yang lebih diberkati harus memperhatikan mereka yang membutuhkan … mereka yang kurang beruntung – bukan untuk mengambil keuntungan dari mereka dan bukan juga dengan mengabaikan mereka.

Falsafah sedemikian bertentangan dengan kodrat manusiawi kita. Mereka yang maju cepat dalam masyarakat merasa sangat terganggu untuk memperlambat langkah maju mereka demi menunggu orang-orang lain yang bergerak lebih lambat di belakang mereka. Seseorang yang memiliki jalan pikiran cepat biasanya merasa berat untuk menjelaskan kembali sesuatu hal kepada orang lain yang belum memahami pokok persoalan yang sedang dihadapi. Bukannya berempati (memposisikan diri kita di tempat mereka), kita malah cenderung membayangkan orang-orang itu di tempat kita” “Ah, seandainya hal itu terjadi pada diriku, tentunya aku akan menangani masalahnya dengan lebih baik.” Akan tetapi, apabila kita melakukan ini, maka sebenarnya kita membuat penilaian yang milik Allah saja dan kita gagal menjadi penyalur belas kasih Allah – belas kasih yang adalah sama-sama milik si kuat maupun si lemah.

DOA: Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamatku. Pada hari ini curahkanlah rahmat-Mu atas diri saudari dan saudara-Mu yang membutuhkan pertolongan. Biarlah tangisan mereka menyayat hatiku. Tunjukkanlah bagaimana aku dapat menjadi tangan-tangan-Mu yang dapat menyemangati, mendorong dan mengangkat mereka. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 17:11b-19), bacalah tulisan yang berjudul “SUPAYA MEREKA PUN DIKUDUSKAN DALAM KEBENARAN” (bacaan tanggal 23-5-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2012. Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 20:28-38), bacalah tulisan yang berjudul “LEBIH BERBAHAGIA MEMBERI DARIPADA MENERIMA” (bacaan tanggal 8-6-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM; kategori 12-06 BACAAN HARIAN JUNI 2011.

Cilandak, 4 Mei 2012

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BUAH ROH: BEBERAPA CATATAN

BUAH ROH: BEBERAPA CATATAN

Kita (anda dan saya) tentunya pernah atau masih merasakan bahwa buah yang kita hasilkan untuk Kerajaan Allah masih sangat sedikit dan kecil, padahal Kitab Suci mencatat dengan jelas bahwa “Roh Kudus ingin agar menghasilkan buah melalui diri kita!” Yesus mengatakan kepada para murid-Nya – termasuk kita semua – “Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap” (Yoh 15:16). Bagaimana kelihatannya “buah” yang dimaksud, dan apakah yang dapat kita harapkan sementara kita menyerahkan diri kita secara lebih penuh kepada Roh Kudus?

Tempat pertama yang harus kita perhatikan terletak di dalam hati dan pikiran kita sendiri. Apakah kita telah melihat bahwa Roh Kudus sedang mengubah diri kita dari dalam? Apakah ada damai-sejahtera dalam diri kita? Apakah kita lebih yakin akan kasih Allah? Apakah kita lebih berkemauan untuk kembali kepada-Nya dalam pertobatan? Ini semua adalah tanda-tanda dari hidup yang baru. Semuanya menunjuk kepada Roh yang membuat kita semakin serupa dengan Yesus dan mempersiapkan kita untuk melayani Dia secara lebih mendalam.

Pada hari Pentakosta Kristiani yang pertama, para rasul Kristus diubah dari dalam dan mulai memanifestasikan buah-buah Roh yang sama. Sebagai akibat dari transformasi, mereka diberdayakan untuk menyembuhkan orang-orang sakit, mewartakan Injil, dan mendirikan gereja (jemaat) di banyak tempat. Ingatlah, bagaimana sebelum pencurahan Roh Kudus, Petrus menangisi imannya yang lemah dan penyangkalannya terhadap Yesus. Namun setelah pengalamannya di Ruang Atas, murid/rasul yang dilanda rasa takut dan ketidakpastian itu diubah menjadi seorang saksi Kristus yang tangguh dan berani, dan suatu instrumen Roh Kudus yang penuh kuat-kuasa.

Hal yang sama dapat terjadi dalam kehidupan kita. Selagi kita membuka diri kita bagi karya Roh Kudus yang mentransformasikan, kita akan melihat tanda-tanda kehadiran-Nya dalam diri kita. Tidak hanya kita akan memiliki suatu damai di hati, kita juga akan mempunyai kuasa untuk mengasihi orang yang berlainan dengan kita – bahkan mereka yang mungkin telah menyakiti kita di masa lalu. Kita akan mengenal sukacita Kristus di tengah penderitaan dan mampu untuk mengkomunikasikan sukacita itu kepada orang-orang lain yang sedang menderita juga.

“Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya” (1Kor 12:27). Allah mempunyai suatu panggilan yang unik untuk setiap pribadi yang telah dibaptis – suatu cara spesifik bagi kita untuk turut serta memajukan Kerajaan-Nya dan menghasilkan buah dalam Gereja. Apa yang diminta oleh-Nya hanyalah agar kita datang kepada-Nya dengan hati yang terbuka dan mengatakan kepada-Nya bahwa kita ingin menjadi instrumen-Nya dalam Gereja dan di tengah dunia.

Santo Paulus menulis kepada jemaat di Korintus: “Dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh” (1Kor 12:13). Tubuh manusia terdiri dari banyak anggota/bagian seperti tangan, kaki, mulut dan mata, demikian pula dengan tubuh Kristus, yaitu Gereja. Apabila salah satu dari kita meminimalisir atau mengabaikan martabat kita dan panggilan kita sebagai anggota tubuh-Nya, maka keseluruhan Gereja menjadi diperlemah.

Mungkinkah Roh Kudus sedang memanggil anda untuk melayani dalam penyembuhan orang-orang sakit, mengajar, atau mengunjungi orang sakit dan/atau yang sedang meringkuk dalam penjara? Apakah Dia sedang mengundang anda untuk melayani dalam melakukan doa-doa syafaat (pengantaraan), evangelisasi, atau untuk memberi makan-minum orang yang lapar-haus dan memberi pakaian kepada mereka yang telanjang (Mat 25:31-46)? Gereja membutuhkan begitu banyak karunia dewasa ini: a.l. karunia untuk berkata-kata dengan hikmat, karunia sabda pengetahuan, karunia iman, karunia untuk menyembuhkan, karunia untuk membuat mukjizat, karunia untuk bernubuat dan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh (1Kor 12:8-11) dll. Allah ingin menganugerahkan berbagai karunia ini kepada orang-orang biasa seperti anda dan saya. Namun seringkali kita membuat diri kita disqualified (tidak memenuhi syarat) berdasarkan pemikiran bahwa kita tidak pantas untuk menerima pemberian Allah yang penuh kebaikan seperti itu. Kita seringkali berpikir bahwa diri kita tidak signifikan sehingga dengan demikian tidak seharusnya mengharapkan Allah akan pernah berpikir untuk mempercayakan kita dengan sesuatu yang begitu penuh dengan kuat-kuasa.

Namun ini bukanlah cara Allah berpikir. “Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN (YHWH) melihat hati” (1Sam 16:7). Santo Paulus menulis kepada jemaat di Korintus – kebanyakan dari mereka adalah “wong cilik”: “Ingat saja, Saudara-saudara, bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil: Menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang-orang terpandang. Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahwa apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti, supaya jangan ada seorang manusia pun yang memegahkan diri di hadapan Allah” (1Kor 1:26-29). Bahkan para rasul Kristus sendiri adalah orang-orang biasa yang hidup sehari-harinya adalah membuat seimbang antara karya dan keluarga (Kis 4:13).

Marilah kita melihat Santo Yusuf. Yusuf adalah seorang tukang kayu sederhana di Nazaret, namun dirinya dipanggil untuk selama sekian tahun mengurus Yesus yang adalah Putera Allah yang kekal! Bapa surgawi tidak memilih seorang rabi yang terkenal atau seorang anggota Sanhedrin (mirip dengan MUI dalam hal Indonesia dewasa ini). Allah melihat bahwa Yusuf-lah yang memiliki kualitas-kualitas pribadi yang diperlukan-Nya: kerendahan-hati dan ketaatan kepada Roh Kudus.

Ketaatan kepada Roh Kudus. Allah memanggil kita untuk menghasilkan buah Roh bagi-Nya. Apakah ada penghalang-penghalang yang merintangi kita untuk menghasilkan buah untuk Tuhan? Apakah kita merasa terlalu lemah dan berdosa? Marilah kita mohon kepada Roh Kudus untuk memberikan kepada kita pemahaman yang lebih mendalam mengenai belas kasih Allah. Marilah kita mohon kepada Roh Kudus untuk menunjukkan kepada kita betapa dalamnya Bapa surgawi mengasihi kita. Kita memang tidak boleh puas dengan “pengalaman setengah-setengah” (mediocre experience) akan Allah. Juga janganlah kita cepat puas dengan visi setengah-setengah tentang bagaimana Roh Kudus mungkin menginginkan untuk menggunakan diri kita (anda dan saya). Yesus bersabda: “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit” (Mat 9:37). Ingatlah bahwa kebutuhan memang besar sekali, namun kuasa Tuhan jauh lebih besar lagi. Yang dibutuhkan-Nya adalah umat yang menyerahkan diri kepada-Nya, siap untuk dipakai oleh-Nya.

Bagaimana kiranya menurut kita Roh ingin memberdayakan kita dan menggunakan kita dalam memajukan Kerajaan-Nya? Di bawah ini ada beberapa contoh kemungkinan yang dapat kita pertimbangkan.

Mewartakan Kabar Baik Tuhan Yesus Kristus. Lewat Paus Yohanes Paulus II, Roh Kudus telah memanggil Gereja kepada EVANGELISASI BARU. Kita tidak perlu dan tidak boleh membebani pelayanan ini sepenuhnya kepada para imam dan para biarawati-biarawan, karena evangelisasi adalah tugas setiap anggota tubuh Kristus. Evangelisasi tidak selalu harus dilakukan melalui mimbar khotbah karena tidak semua orang dapat/diperbolehkan melakukannya, melainkan teristimewa melalui kehidupan kita sehari-hari, apakah kita sudah mengikuti Kursus Evangelisasi Pribadi (KEP) atau tidak. Kita juga harus senantiasa mengingat bahwa Roh Kudus-lah yang memegang peranan utama dalam evangelisasi. Kita hanyalah sarana untuk Roh Allah bekerja dalam evangelisasi.

Melayani orang sakit. Apabila seseorang mengatakan kepada kita bahwa dirinya sedang menderita sakit, kita harus mencoba bertanya kepadanya apakah dapat berdoa bersama dengan dia untuk beberapa menit lamanya. Banyak orang yang berterima kasih penuh syukur atas tawaran kita itu. Selagi kita mendoakan sebuah doa penyembuhan sederhana kepada Tuhan, perkenankanlah Roh Kudus dalam diri kita untuk mengalir kepada orang tersebut. Baiklah kita menumpangkan tangan kita di pundaknya, atau memegang tangannya selagi kita berdoa. Apakah kita memiliki karunia istimewa sebagai seorang penyembuh atau tidak, kita akan melihat bahwa sedikit demi sedikit orang akan datang kepada kita untuk didoakan.

Sebuah catatan kecil: Jika kita sudah mengetahui benar bahwa kita tidak dianugerahkan karunia untuk menyembuhkan (1Kor 12:9), maka hal itu tidak berarti kita tidak boleh mendoakan seseorang yang sedang sakit dalam sebuah pertemuan yang secara relatif dihadiri banyak orang, namun janganlah ikut ramai-ramai menumpangkan tangan di atas pundak atau kepala si sakit. Berdirilah di bagian belakang ketika berdoa dan perkenankanlah saudari-saudara yang memiliki karunia istimewa tersebut yang menumpangi tangan.

Doa syafaat (pengantaraan). Doa syafaat adalah pelayanan tersembunyi namun sangat berpotensi dalam tubuh Kristus. Dari sebutannya saja doa syafaat ini berarti bukanlah doa untuk diri sendiri. Kita dapat mengundang anggota keluarga kita atau anggota komunitas kita untuk berdoa bersama, misalnya seminggu sekali untuk intensi/ujud yang kita rasakan telah ditaruh Allah dalam hati kita, misalnya mendoakan agar tercipta suasana damai antara para rohaniwan dalam paroki kita masing-masing, agar Gereja Indonesia tetap tegar, teguh dan jujur dalam misi-Nya di tengah hiruk-pikuknya suasana sosial-politik negara kita, dlsb. Dalam hal ini ingatlah janji Yesus: “Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situAku ada di tengah-tengah mereka” (Mat 18:20).

Menjadi sarana Allah untuk melayani sesama kita berdasarkan kehendak-Nya. Seringkali kita merasakan bahwa Allah mengatakan sesuatu, namun kita mengabaikan atau menyepelekannya sebagai sesuatu yang bukan apa-apa, mungkin hanya sekadar khayalan. Ingatlah bahwa Allah mungkin sedang memberikan kepada kita kata-kata penghiburan bagi seseorang yang sedang kesepian dan sedih karena baru ditinggalkan pasangan hidupnya, atau sedang merasa sakit hati dlsb. Jadi, apabila kita merasakan adanya kata-kata yang tidak biasa dari diri kita sendiri, baiklah kita tulis dan mendengarkan dengan serius untuk melihat apakah Allah masih ingin mengatakan lebih banyak lagi kepada kita. Seringkali Roh Kudus berbicara dengan bisikan halus kepada kita (bdk. 1Raj 19:12). Akan tetapi semakin kita mencoba mempraktekkan apa yang kita dengar, maka kita akan mengalami bahwa suara Allah pun menjadi semakin jelas.

Semua yang disebutkan di atas adalah sekadar beberapa contoh untuk menunjukkan karya Roh Kudus dalam diri kita masing-masing dengan segala variasinya.

Sebuah doa: Datanglah, Roh Kudus! Roh Kudus Allah, kami mempersembahkan diri kami, waktu kami dan karunia-karunia yang ada pada diri kami masing-masing. Dengan segala kerendahan hati kami memperkenankan Engkau untuk memimpin dan membimbing kami seturut kehendak-Mu, bukan kehendak kami sendiri. Kami menyerahkan setiap area dari kehidupan kami agar Engkau dapat menghasilkan buah di dalam dan melalui diri kami. Roh Allah yang kami sembah, kami tidak dapat hidup tanpa Engkau. Kami tidak dapat dapat ikut serta memajukan Kerajaan Surga apabila kami tidak patuh kepada-Mu. Teristimewa menjelang Hari Raya Pentakosta yang tinggal beberapa hari ini, sekali lagi kami berikrar bahwa kami dengan ikhlas memberikan segalanya kepada-Mu. Amin.

Cilandak, 22 Mei 2012

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERPISAHAN PAULUS DENGAN PARA PENATUA DI EFESUS

PERPISAHAN PAULUS DENGAN PARA PENATUA DI EFESUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VII Paskah, Selasa 22 Mei 2012)

Karena itu ia menyuruh seorang dari Miletus ke Efesus dengan pesan supaya para penatua jemaat datang ke Miletus. Sesudah mereka datang, berkatalah ia kepada mereka, “Kamu tahu, bagaimana aku hidup senantiasa di antara kamu sejak hari pertama aku tiba di Asia ini: Dengan segala kerendahan hati aku melayani Tuhan. Dalam pelayanan itu aku banyak mencucurkan air mata dan banyak mengalami pencobaan dari pihak orang Yahudi yang mau membunuh aku. Sungguh pun demikian aku tidak pernal lalai melakukan apa yang berguna bagi kamu. Semua kuberitakan dan kuajarkan kepada kamu, baik di depan umum maupun dalam perkumpulan di rumah-rumah; aku senantiasa bersaksi kepada orang-orang Yahudi dan orang-orang Yunani, supaya mereka bertobat kepada Allah dan percaya kepada Tuhan kita, Yesus. Tetapi sekarang sebagai tawanan Roh aku pergi ke Yerusalem dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi atas diriku di situ selain yang dinyatakan Roh Kudus dari kota ke kota kepadaku bahwa penjara dan sengsara menunggu aku. Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikit pun, asalkan aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk bersaksi tentang Injil anugerah Allah. Sekarang aku tahu bahwa kamu tidak akan melihat mukaku lagi, kamu sekalian yang telah kukunjungi untuk memberitakan Kerajaan Allah. Sebab itu pada hari ini aku bersaksi kepadamu bahwa aku bersih dari darah siapa pun juga. Sebab aku tidak lalai memberitakan seluruh maksud Allah kepadamu. (Kis 20:17-27)

Mazmur Tanggapan: Mzm 68:10-11,20-21; Bacaan Injil: Yoh 17:1-11a

Dalam pesan perpisahannya dengan para penatua di Efesus, Paulus menunjukkan tiga karakteristik atau ciri pribadi yang dibutuhkan oleh setiap orang Kristiani terbaptis untuk ikut ambil bagian dalam karya Allah memperbaharui muka bumi. Pertama, Paulus adalah seorang yang memiliki keberanian. Ia berkata: “Sebagai tawanan Roh aku pergi ke Yerusalem dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi atas diriku di situ selain yang dinyatakan Roh Kudus dari kota ke kota kepadaku bahwa penjara dan sengsara menunggu aku” (Kis 20:22-23). Paulus sangat menyadari bahaya apa saja yang menantikan dirinya di Yerusalem, dan ia memang merasa sedikit takut juga bilamana dia memikirkan hal itu. Namun Paulus mengkonfrontir rasa takutnya dan terus bergerak maju dalam iman.

Kedua, Paulus itu fokus. Katanya, “Aku tidak menghiraukan nyawaku sedikit pun, asalkan aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk bersaksi tentang Injil anugerah Allah” (Kis 20:24). Winston Churchill pernah mengatakan, “Seorang fanatik adalah orang yang tidak dapat mengubah pikirannya dan tidak akan mengubah subyeknya.” Berdasarkan definisi ini, Paulus adalah eorang fanatik dalam arti sesungguh-sungguhnya dan pantas ditiru. Dia mengetahui panggilan Allah bagi hidupnya, dan ia ingin memenuhi panggilan Allah dengan setia. Dapatkah anda membayangkan apa yang kiranya yang terjadi apabila Paulus kehilangan fokus? Begitu banyak orang tidak akan merangkul Kabar Baik Yesus Kristus yang diwartakannya!

Akhirnya, Paulus tidak ragu-ragu untuk mewartakan Injil. Dia berkata: “Aku tidak pernal lalai melakukan apa yang berguna bagi kamu. Semua kuberitakan dan kuajarkan kepada kamu, baik di depan umum maupun dalam perkumpulan di rumah-rumah” (Kis 20:20). Paulus mengetahui bahwa dalam Kristus, setiap orang dapat menemukan hidup baru dan suatu relasi dengan Allah yang dipulihkan. Ia juga mengetahui bahwa tidak seorang pun akan mendengar tentang Yesus apabila tidak ada orang yang mau memproklamasikan nama-Nya. Kepada jemaat di Roma, Paulus menulis begini: “Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia? Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis: ‘Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!’ Tetapi tidak semua orang telah menerima kabar baik itu. Yesaya sendiri berkata, ‘Tuhan, siapakah yang percaya kepada pemberitaan kami?’ Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus” (Rm 10:10:14-17).

Sudah lebih dari 30 dasawarsa, para pemimpin gereja menyerukan perlunya “Evangelisasi Baru”. Siapa yang akan menjawab panggilan agung ini? Allah tidak membutuhkan orang-orang yang sangat berbakat atau mereka yang memiliki gelar-gelar akademis hebat-hebat. Allah membutuhkan orang-orang yang sungguh mengasihi Yesus! Allah membutuhkan orang-orang yang memiliki keberanian untuk menghadapi rasa takut mereka, mereka yang fokus pada Yesus, dan orang-orang yang tidak malu berbicara tentang Injil Yesus Kristus dan menjadi saksi-saksi-Nya. Allah membutuhkan kita (anda dan saya), Saudari dan Saudaraku!

DOA: Tuhan Yesus, penuhilah diriku dengan semangat penuh gairah seperti telah Kautanamkan ke dalam diri Santo Paulus. Buatlah rasa takutku menjadi tenang dan penuhilah diriku dengan keberanian sejati. Tolonglah aku agar tetap fokus atas kebutuhan-kebutuhan spiritual orang-orang di sekitarku – teristimewa mereka yang dekat padaku. Tuhan Yesus, berikanlah juga kepadaku rahmat untuk berbagi Injil-Mu kepada setiap orang yang kujumpai. Tuhan Yesus, aku sungguh mengasihi-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 17:1-11a), bacalah tulisan yang berjudul “DOA SYAFAAT YESUS UNTUK PARA MURID-NYA” (bacaan tanggal 22-5-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2012. Bacalah juga tulisan yang berjudul “ALLAH DIMULIAKAN DI BUMI KALAU KITA MENYELESAIKAN TUGAS PEKERJAAN YANG DIBERIKAN-NYA KEPADA KITA” (bacaan tanggal 7-6-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM; kategori: 11-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2011.

Cilandak, 4 Mei 2012

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENJADI YESUS DI DALAM DUNIA

MENJADI YESUS DI DALAM DUNIA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VII Paskah, Senin 21 Mei 2012)

Ketika Apolos masih di Korintus, Paulus sudah menjelajahi daerah-daerah pedalaman dan tiba di Efesus. Di situ didapatinya beberapa orang murid. Katanya kepada mereka, “Sudahkah kamu menerima Roh Kudus, ketika kamu percaya?” Akan tetapi, mereka menjawab dia, “Belum, bahkan kami belum pernah mendengar bahwa ada Roh Kudus.” Lalu kata Paulus kepada mereka, “Kalau begitu, dengan baptisan mana kamu telah dibaptis?” Jawab mereka, “Dengan baptisan Yohanes.” Kata Paulus, “Baptisan Yohanes adalah baptisan tobat dan ia berkata kepada orang banyak bahwa mereka harus percaya kepada Dia yang datang kemudian daripadanya, yaitu Yesus.” Ketika mereka mendengar hal itu mereka dibaptis dalam nama Tuhan Yesus. Ketika Paulus menumpangkan tangan di atas mereka, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, dan mulailah mereka berkata-kata dalam bahasa lidah dan bernubuat. Mereka semua berjumlah kira-kira dua belas orang.
Selama tiga bulan Paulus mengunjungi rumah ibadat di situ dan berbicara dengan berani serta berdebat dengan mereka untuk meyakinkan mereka tentang Kerajaan Allah. (Kis 19:1-8)

Mazmur Tanggapan: Mzm 68:2-7; Bacaan Injil: Yoh 16:29-33

Di mata Paulus, ada sesuatu yang kiranya salah dengan umat di Efesus. Mereka memang murid-murid dan ia pun tidak memberi nasihat dan menyapa mereka sebagai para pendosa. Namun ada sesuatu yang hilang! Mungkin mereka sudah kehilangan gairah, kehilangan sukacita dan energi. Barangkali persaingan dan konflik kecil-kecilan antara mereka di sana-sini telah memecah-belah umat. Barangkali mereka telah mencoba dengan segela kekuatan manusiawi mereka untuk menghindari dosa tanpa hasil nyata. Apa pun hasil pengamatan Paulus, pertanyaan yang diajukannya kepada beberapa orang murid yang ditemuinya langsung tertuju kepada inti permasalahannya: “Sudahkah kamu menerima Roh Kudus, ketika kamu percaya?” (Kis 19:2).

Jawaban mereka memberi konfirmasi kepada Paulus apa yang diperkirakan oleh Paulus sebelumnya: “Belum, bahkan kami belum pernah mendengar bahwa ada Roh Kudus” (Kis 19:2). Mereka telah mendengar pesan pertobatan dari Yohanes Pembaptis dan menerima pembaptisan tobat dari nabi besar ini, namun tidak pernah berhubungan dengan Yesus, “Anak Domba Allah” kepada Siapa pelayanan Yohanes Pembaptis sebenarnya ditujukan (Kis 19:3-4).

Begitu Paulus mengatakan kepada mereka tentang tujuan Allah yang lebih besar, maka mereka pun menginginkannya. Dengan demikian, pada saat Paulus berdoa bersama mereka dan membaptis mereka dalam nama Tuhan Yesus, Roh Kudus turun atas diri mereka, dan mereka pun ditransformasikan; mereka berkata-kata dalam bahasa lidah dan bernubuat (Kis 19:5-6). Para murid itu berjumlah kira-kira dua belas orang (Kis 19:7).

Sekarang, bagaimana dengan pengalaman kita masing-masing selama ini? Apakah kita juga telah kehilangan tujuan Allah yang sejati? Bagaimana? Apakah selama ini kita telah mereduksi hidup kita sebagai umat Kristiani sekadar berupa penghindaran diri dari dosa? Allah ada bagi kita untuk hal-hal yang lebih besar daripada sekadar menghindarkan diri dari kedosaan! Andaikanlah Adam dan Hawa hanya mendengar Allah bersabda: “Jangan makan buah dari pohon itu.” Andaikan mereka duduk sepanjang hari, mengumpulkan ketabahan moral mereka untuk menghindari godaan, bukannya melakukan eksplorasi di taman firdaus dan belajar memperhatikan dan memelihara serta merawat seluruh ciptaan Allah. Kalau begitu halnya, bayangkan betapa banyak kehilangan mereka!

Allah ingin agar kita menjadi cocreator dengan Dia. Seperti halnya dengan para murid di Efesus, Allah sungguh rindu untuk memenuhi diri kita dengan hidup-Nya sendiri sehingga kita dapat menjadi Yesus di dalam dunia, menyentuh mereka yang kita temui dengan cintakasih tanpa syarat, pengampunan yang membebaskan, penyembuhan yang penuh kuasa, dan pengangkatan pengharapan dan keberanian.

Bilamana kita telah sampai pada suatu akhir hari, pemeriksaan batin adalah praktek yang indah, namun janganlah kita hanya mengingat dosa-dosa kita melalui pikiran, perkataan, perbuatan dan kelalaian pada hari itu, dan merasa lega untuk dosa-dosa yang berhasil kita hindari. Marilah kita juga memeriksa bagaimana Allah mencoba melakukan sesuatu lewat diri kita pada hari itu: Apakah itu dalam rangka memenuhi kebutuhan orang-orang lain? Dalam peristiwa-peristiwa yang tidak diharap-harapkan yang menginterupsi rencana-rencana kita? Dalam inspirasi yang datang melalui sebuah buku, seorang sahabat, sebuah lagu yang penuh kenangan, atau suara seperti angin-angin sepoi-sepoi basa? Dan apakah kita mampu untuk mengatakan, “Ya! Aku melihat bahwa Engkau berniat lebih bagiku, dan aku mengingininya”?

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena rencana-Mu yang besar bagi diriku. Perkenankanlah aku melihat seperti Engkau melihat dan menghasrati sesuatu seperti Engkau hasrati. Tolonglah aku agar mau dan mampu membuka diriku pada hari ini terhadap satu langkah yang Engkau undang aku untuk membuatnya bersama-Mu sambil bergandengan tangan guna mentransformasikan dunia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 16:29-33), bacalah tulisan yang berjudul “SUPAYA KAMU BEROLEH DAMAI SEJAHTERA DALAM AKU” (bacaan untuk tanggal 21-5-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2012. Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 19:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “SUDAHKAH KAMU MENERIMA ROH KUDUS, KETIKA KAMU PERCAYA?” ( bacaan tanggal 6-6-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM; kategori: 11-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2011.

Cilandak, 4 Mei 2012

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DALAM NAMA-NYA PARA MURID DIUTUS

DALAM NAMA-NYA PARA MURID DIUTUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PASKAH VII, 20 Mei 2012)

HARI KOMUNIKASI SEDUNIA

Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita. Selama Aku bersama mereka, Aku memelihara mereka dalam nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku; Aku telah menjaga mereka dan tidak ada seorang pun dari mereka yang binasa selain dia yang telah ditentukan untuk binasa, supaya digenapi yang tertulis dalam Kitab Suci. Tetapi sekarang, Aku datang kepada-Mu dan Aku mengatakan semuanya ini sementara Aku masih ada di dalam dunia, supaya penuhlah sukacita-Ku di dalam diri mereka. Aku telah memberikan firman-Mu kepada mereka dan dunia membenci mereka, karena mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia. Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari yang jahat. Mereka bukan dari dunia, sama seperti Aku bukan dari dunia. Kuduskanlah mereka dalam kebenaran; firman-Mu itulah kebenaran. Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia; dan Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka, supaya mereka pun dikuduskan dalam kebenaran. (Yoh 17:11b-19)

Bacaan Pertama: Kis 1:15-17,20a,20c-26; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-2,11-12,19-20; Bacaan Kedua: 1Yoh 4:11-16

Kata kunci dari ketiga bacaan Kitab Suci pada hari ini kiranya adalah “perutusan”. Dalam bacaan pertama yang diambil dari “Kisah para Rasul”, dari dua orang calon, Matias terpilih lewat undi untuk menggantikan Yudas Iskariot, dan ia pun ditambahkan kepada sebelas orang rasul. Kita dapat mengatakan di sini bahwa Matias telah berhasil lulus dari tingkat seorang pengikut biasa dan sekarang menjadi anggota kelompok terpilih, yang terdiri dari 12 orang rasul – mereka yang diutus Kristus sendiri untuk menggantikan-Nya (Kis 1:26).

Dalam bacaan kedua, Yohanes menulis dengan jelas: “Kami telah melihat dan bersaksi bahwa Bapa telah mengutus Anak-Nya menjadi Juruselamat dunia” (1Yoh 4:14). Dalam bacaan Injil yang menjadi setting-nya adalah Perjamuan Terakhir sebelum kematian Kristus. Sampai saat itu, para rasul telah diajar oleh Tuhan Yesus. Akan tetapi, setelah kenaikan-Nya ke surga adalah giliran para rasul untuk pergi ke luar dan mengajar orang-orang lain. “Doa Imam Agung” Yesus Kristus pada Perjamuan Terakhir antara lain berbunyi sebagai berikut: “Kuduskanlah mereka dalam kebenaran, firman-Mu itulah kebenaran. Sama seperti Engkau telah mengutus Aku ke dalam dunia, demikian pula Aku telah mengutus mereka ke dalam dunia” (Yoh 17:17-18).

Seperti Matias dan para rasul lainnya, kita pun diutus ke tengah dunia. Untuk inilah kita telah dikuduskan lewat baptisan dan diberi amanat lewat sakramen penguatan. Kita pun diutus untuk menghadapi tantangan-tantangan masa depan. Untuk inilah kita diajar Tuhan setiap hari Minggu lewat bacaan-bacaan Kitab Suci dan diperkuat dengan Ekaristi (bahkan setiap hari bagi mereka yang menghadiri perayaan Ekaristi harian).

Semua ini merupakan sumber keyakinan bagi kita semua! Dalam Perjamuan Terakhir Yesus mengetahui sekali betapa lemah dan rentannya para rasul. Namun demikian, Ia membuat tindakan iman yang berani dalam kemampuan mereka untuk memproklamasikan Injil-Nya. Demikian pula, Yesus mengetahui betapa lemah kita ini. Namun demikian Ia membuat suatu tindakan iman yang berani atas diri kita. Dalam doa-Nya, seakan-akan Ia berkata: “Bapa, Aku tahu bahwa mereka dapat melakukannya. Janganlah mengambil mereka dari tanggung jawab mereka di rumah atau dari kesempatan-kesempatan untuk berkarya. Sebaliknya, utuslah mereka ke tengah dunia guna menghadapi isu-isu hari ini dan untuk mentransformasikan alam semesta.”

Ini sungguh merupakan tugas yang besar – kita diutus ke tengah dunia untuk mengubahnya! Bukan untuk melarikan diri dari masalah-masalah kemiskinan, penindasan, ketidakadilan, kekerasan dlsb. dalam masyarakat, melainkan untuk menerjunkan diri kedalamnya dan melibatkan diri dalam perbaikan “nasib” orang-orang kecil pada umumnya serta ikut memberikan solusi atas masalah-masalah yang ada dengan cara-cara sesuai karunia yang diberikan Allah kepada kita masing-masing. Tugas kita sebagai utusan Kristus bukanlah untuk menghakimi dunia karena dosa-dosanya, melainkan untuk menyelamatkannya; bukan untuk meninggalkan orang-orang berdosa, melainkan untuk menebus mereka; bukan untuk menolak lembaga-lembaga yang ada, melainkan untuk ikut memperbaharuinya. Untuk tugas besar inilah kita diutus ke tengah dunia – untuk menghadapinya, untuk mempengaruhinya lewat kepimpinan yang melayani, dan untuk mengubahnya menjadi lebih baik. Yesus mengingatkan kita bahwa tujuan kita dalam kehidupan ini bukanlah sekadar suatu private affair – pengudusan kita sendiri; melainkan juga suatu masalah sosial, yaitu transformasi dunia.

Pada akhir Perayaan Ekaristi, kita juga akan diutus ke tengah dunia – untuk menantangnya dan mengubahnya menjadi lebih baik. Apabila Kristus percaya kepada kita, apa lagi yang harus kita lakukan selain pergi dengan penuh keyakinan atas individualitas dan kemampuan kita yang unik?

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau sungguh memiliki rasa percaya untuk mengutus kami ke tengah dunia untuk mewartakan Kabar Baik-Mu. Dengan ini kami mengikat diri kami kepada-Mu dan rencana-Mu bagi kami. Kami percaya bahwa Engkau senantiasa bersama kami dalam setiap situasi yang kami hadapi. Tuhan Yesus, lindungilah kami dengan nama-Mu dan darah-Mu yang Mahakudus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 17:11b-19), bacalah tulisan yang berjudul “SUPAYA MEREKA PUN DIKUDUSKAN DALAM KEBENARAN” (bacaan tanggal 20-5-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2012.

Cilandak, 3 Mei 2012

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEGALA SESUATU YANG KAMU MINTA KEPADA BAPA, AKAN DIBERIKAN-NYA KEPADAMU DALAM NAMA-KU

SEGALA SESUATU YANG KAMU MINTA KEPADA BAPA, AKAN DIBERIKAN-NYA KEPADAMU DALAM NAMA-KU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VI, Sabtu 19 Mei 2012)

Keluarga Fransiskan dan Klaris Kapusin: Peringatan S. Krispinus dari Viterbo, Biarawan

Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku. Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatu pun dalam nama-Ku. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu.
Semuanya ini Kukatakan kepadamu dengan kiasan. Akan tiba saatnya Aku tidak lagi berkata-kata kepadamu dengan kiasan, tetapi terus terang memberitakan Bapa kepadamu. Pada hari itu kamu akan berdoa dalam nama-Ku. Tidak Aku katakan kepadamu bahwa Aku meminta bagimu kepada Bapa, sebab Bapa sendiri mengasihi kamu, karena kamu telah mengasihi Aku dan percaya bahwa Aku datang dari Allah. Aku datang dari Bapa dan Aku datang ke dalam dunia; aku meninggalkan dunia pula dan pergi kepada Bapa.” (Yoh 16:23b-28)

Bacaan Pertama: Kis 18:9-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 47:2-3,8-10

“Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu” (Yoh 16:24).

Yesus, yang adalah satu dengan Bapa; mengenal hati Allah secara intim. Setiap hari, Dia ingin berbicara kepada kita tentang kasih Bapa yang begitu besar bagi kita. Dia ingin mengatakan kepada kita tentang hasrat Bapa untuk memberikan kita rahmat dan kekuatan-Nya, dan memberikan kita kebebasan, sebagai anak-anak-Nya, untuk langsung pergi kepada-Nya dengan segala permintaan kita. Oh, kita sungguh mempunyai Allah yang begitu mengasihi kita dan mahamurah. Allah tidak menempatkan penghalang apa pun bagi orang-orang untuk menemui-Nya. Dia telah melakukan segalanya untuk membuka jalan bagi kita untuk datang menghadap hadirat-Nya. Dia bahkan memberikan Anak-Nya sendiri, Yesus, agar kita dapat direkonsiliasikan dengan diri-Nya.

Walaupun demikian, kadang-kadang sikap skeptis manusiawi kita atau keragu-raguan kita untuk melenturkan sikap waspada/siap-siaga kita yang kaku akan menghalang-halangi kemampuan kita untuk menerima kasih-Nya. Kita cenderung berpikir bahwa kita perlu melakukan hal yang benar dan menyenangkan Allah sebelum Ia mengasihi kita. Dalam hal ini kita harus senantiasa mengingat kebenaran sederhana, bahwa Allah mengasihi karena Dia membuat/menciptakan kita dan mempermaklumkan kita sebagai “sangat baik” (Kej 1:31). Barangkali kita berpikir: “Allah tidak mengasihi diriku karena dosa-dosaku yang sudah segudang banyaknya ini.” Di sini kita harus mempercayai sepenuhnya apa yang ditulis oleh Santo Paulus: “Akan tetapi, Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita dalam hal ini: Ketika kita masih berdosa, Kristus telah mati untuk kita” (Rm 5:8). Kasih-Nya kepada kita tidak pernah luntur, apa pun yang telah kita perbuat. Thomas Hobbes mengatakan “homo homini lupus”, artinya “manusia adalah serigala bagi manusia lainnya”. Dalam dunia di mana serigala makan serigala seperti ini, maka mengakui kebutuhan kita menunjukkan bahwa kita lemah. Dengan demikian, kita menolak pikiran untuk menceritakan kepada Allah – atau bahkan mengaku kepada diri kita sendiri – betapa banyak kita membutuhkan kasih-Nya. Meskipun begitu, sesungguhnya kita semua lemah dalam banyak hal, maka kita sungguh membutuhkan kasih-Nya.

Allah rindu untuk menarik kita untuk berada dekat dengan hati-Nya, untuk mendengar pengakuan kita bahwa kita sungguh membutuhkan Dia. Setiap hari kita dapat berpaling kepada-Nya dalam doa dan mohon kepada-Nya untuk menanamkan realitas kasih-Nya ke dalam hati kita. Kita dapat mendekati Dia setiap saat dan mohon pengampunan-Nya dan sentuhan kesembuhan-Nya. Mengalami kasih-Nya akan mendorong kita untuk mengikuti Dia secara lebih dekat lagi. Marilah kita membuka hati kita bagi Dia pada hari ini dalam doa dan memperkenankan Dia untuk mengisi diri kita dengan kehadiran-Nya.

DOA: Bapa surgawi, lelehkanlah apa saja dalam diri kami yang menghalangi kami menerima kasih-Mu. Kami tidak merasa malu untuk mengakui kebutuhan kami akan Dikau. Datanglah, ya Roh Kudus, dan penuhilah diri kami dengan curahan kasih-Mu pada hari Pentakosta. Semoga kami menjadi sumber air kasih-Mu bagi orang-orang di sekeliling kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami perikop Injil hari ini (Yoh 16:23b-28), bacalah tulisan yang berjudul “BERDOA DALAM NAMA YESUS” (bacaan tanggal 19-5-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2012. Bacalah juga tulisan yang berjudul “BAPA SENDIRI MENGASIHI KAMU” (bacaan tanggal 4-6-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM, kategori 11-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2011.

Cilandak, 2 Mei 2012

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS BERJANJI KEPADA PARA MURID-NYA BAHWA DIA AKAN BERTEMU KEMBALI DENGAN MEREKA

YESUS BERJANJI KEPADA PARA MURID-NYA BAHWA DIA AKAN BERTEMU KEMBALI DENGAN MEREKA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VI Paskah, Jumat 18-5-12)

Keluarga Fransiskan: Peringatan/Pesta S. Feliks dari Cantalice, Biarawan Kapusin

Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira; kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita. Seorang perempuan berdukacita pada saat ia melahirkan, tetapi sesudah ia melahirkan anaknya, ia tidak ingat lagi akan penderitaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah dilahirkan ke dunia. Demikian juga kamu sekarang diliputi dukacita, tetapi aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira dan tidak ada seorang pun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari kamu. Pada hari itu kamu tidak akan menanyakan apa-apa kepada-Ku. (Yoh 16:20-23a)

Bacaan Pertama: Kis 18:9-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 47:2-7

Sementara Yesus sudah semakin dekat dengan saat kematian-Nya, Dia masih terus mempersiapkan para murid-Nya agar dapat menghadapi saat perpisahan dengan-Nya dan untuk mensyeringkan pengharapan besar yang tersimpan dalam hati-Nya. Sebagaimana seorang perempuan yang menanggung rasa sakit demi melahirkan bayinya ke tengah dunia, Yesus pun mengetahui bahwa penderitaan sengsara-Nya dan kematian-Nya akan membawa kehidupan baru ke tengah dunia. Ketika seorang perempuan memandang anak yang baru dilahirkannya, maka rasa sakit karena melahirkan itu pun menjadi tidak signifikan. Hati sang ibu dipenuhi dengan ketakjuban ketika memandangi bayi yang baru dilahirkannya itu. Hal serupa – namun tak sama tentunya – terjadi dengan Yesus. Yesus menyadari bahwa salib-Nya akan membawa karunia kehidupan baru yang penuh keajaiban, maka dengan cintakasih-Nya dan antisipasi-Nya yang besarlah Ia bergerak maju untuk wafat di kayu salib.

Para murid sungguh menanggung rasa sedih luarbiasa yang disertai dengan kebingungan selagi mereka menyaksikan Yesus ditangkap, diadili dalam pengadilan “dagelan”, dijatuhi hukuman mati dan mati di kayu salib di bukit Kalvari. Namun Yesus telah berjanji kepada mereka: “Demikian juga kamu sekarang diliputi dukacita, tetapi Aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira dan tidak ada seorang pun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari kamu” (Yoh 16:22). Yesus berjanji kepada para murid-Nya bahwa Ia akan bertemu dengan mereka lagi; dan para murid akan bergembira karena mereka akan mengenal pandangan penuh kasih dari Yesus kepada mereka. Mereka akan mengenal dan mengalami damai-sejahtera dan aman bilamana terus berada di bawah pandangan penuh siaga dari Yesus, tidak pernah dilupakan atau dibuang. Pengetahuan seperti ini sungguh membawa sukacita besar kepada para murid.

Yesus sangat mengetahui berbagai pergumulan dan pencobaan yang kita alami dan hadapi. Dia mengetahui rasa takut yang sudah cukup lama merasuki diri kita, kekhawatiran yang sudah sekian lama menindih kita, namun juga segala pengharapan dan impian yang selama ini kita simpan sendiri dalam hati. Tidak ada yang luput dari pandangan Yesus. Ia berjanji kepada para murid-Nya bahwa Ia akan bertemu dengan mereka lagi, demikian pula mata-Nya yang memancarkan kasih akan terus memperhatikan kita. Selagi Dia berdiri di hadapan Bapa untuk melakukan syafaat bagi kita, Dia mampu untuk memenuhi diri kita dengan sukacita akan kehadiran-Nya, membalikkan rasa sedih kita menjadi sukacita karena kita mengenal bela-rasa dan kekuatan-Nya.

Yesus senantiasa siap untuk memberikan hikmat-Nya yang kita memang perlukan untuk menghadapi situasi apa saja. Yang harus kita lakukan adalah dengan rendah hati memanjatkan permohonan kita dan mentaati perintah-perintah-Nya. Kuat-kuasa-Nya yang mahadahsyat dapat membuat keajaiban-keajaiban dalam hati kita yang jauh lebih besar daripada yang kita pernah bayangkan!

DOA: Datanglah, ya Roh Kudus, berikanlah kepada kami mata-iman agar dapat melihat karya Bapa dan Putera dalam kehidupan kami. Lahirkanlah dalam diri kami suatu pengalaman lebih mendalam akan kasih-Mu dan kemauan yang lebih besar untuk dibentuk lke dalam keserupaan dengan Yesus, Tuhan dan Juruselamat kami. Kami bersukacita dalam hidup baru yang telah Kau berikan kepada kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 16:20-23a), bacalah tulisan yang berjudul “KAMU AKAN MENANGIS DAN MERATAP” (bacaan tanggal 18-5-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2012. Untuk mendalami bacaan pertama hari ini (Kis 18:9-18), bacalah tulisan yang berjudul “PELAYANAN PAULUS DI KORINTUS” (bacaan tanggal 3-6-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM; kategori: 11-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2011.

Cilandak, 2 Mei 2012

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 29 other followers