PUJI SYUKUR

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Adven – Selasa, 4 Desember 2012)

With_His_Disciples005Pada waktu itu juga bergembiralah Yesus dalam Roh Kudus dan berkata, “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak ada seorang pun yang tahu siapakah Anak selain Bapa, dan siapakah Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakan hal itu.” Sesudah itu berpalinglah Yesus kepada murid-murid-Nya secara tersendiri dan berkata, “Berbahagialah mata yang melihat apa yang kamu lihat. Karena Aku berkata kepada kamu: Banyak nabi dan raja ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya.” (Luk 10:21-24)

Bacaan Pertama: Yes 11:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 72:2,7-8,12-13,17

Yesus dari Nazaret adalah seorang yang senantiasa memuji-muji Allah dan kebesaran-Nya – Dia adalah seorang man of praise. Hal ini ditunjukkan dengan baik dan indah sekali oleh Lukas dalam bacaan Injil hari ini.

Setelah ketujuh puluh murid-Nya kembali dengan gembira menceritakan sukses misi mereka kepada Yesus (lihat Luk 10:17-20), Dia pun bergembira dalam Roh Kudus dan memanjatkan puji syukur-Nya kepada Bapa di surga: “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak ada seorang pun yang tahu siapakah Anak selain Bapa, dan siapakah Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakan hal itu” (Luk 10:21).

Sejatinya doa yang paling benar adalah pengungkapan pujian/syukur, karena doa pujian adalah bentuk komunikasi yang paling berjangkau jauh. Hal ini benar dalam hal relasi antar-pribadi manusia. Suatu sikap memuji, menghargai, memberikan cintakasih adalah yang paling sehat bagi kedua pihak dalam suatu proses komunikasi. Seorang kudus, Santo Fransiskus dari Assisi [1181-1226] mewariskan sejumlah doa-doanya bagi kita. Hanya satu saja dari doa-doanya yang murni merupakan sebuah “doa permohonan”. Renungkanlah salah satu doanya berikut ini: “Allah yang Mahakuasa, Mahakudus, Mahatinggi dan Mahaluhur, Engkaulah segala kebaikan, paling baik, seluruhnya baik, hanya Engkau sendiri yang baik; kepada-Mu kami kembalikan segala pujian (Inggris: praise), segala kemuliaan, segala rahmat, segala kehormatan, segala pujian (Inggris: blessing) serta segalanya yang baik, semoga, semoga, ya amin” (bagian akhir dari “Pujian yang Diucapkan pada Semua Waktu Ibadat” (Karya-karya Fransiskus dari Asisi, hal. 288). Kita memang berkomunikasi dengan cara terbaik apabila kita mengenal siapa orang yang sedang kita hadapi, dan siapa diri kita sendiri sebenarnya.

Allah adalah segalanya yang besar, baik, agung, indah, luhur dlsb. Yesus adalah yang terbesar! Dengan demikian puji-pujian adalah bentuk komunikasi yang paling nyata dan natural dengan diri-Nya. Doa pujian/syukur mengungkapkan secara paling akurat perasaan-perasaan kita yang benar dalam berbicara dengan Dia dan dalam mendengarkan Dia (artinya dalam komunikasi dengan Dia). Kita tidak pernah boleh melupakan bahwa “mendengarkan” adalah paruhan lebih baik dari komunikasi kita dengan diri-Nya, yaitu “mendengarkan dengan sikap syukur penuh terima kasih kepada-Nya”.

Puji syukur dapat mengambil banyak bentuk, bahkan “keheningan” atau “lagu pujian”. Lagu pujian membuka diri kita bagi Allah dan perasaan-perasaan terdalam tentang diri-Nya. Ada banyak doa pujian yang terdapat dalam Kitab Suci, dan banyak dari doa-doa pujian tersebut berupa lagu-lagu.

70 MURID YESUS YANG DIUTUSAdalah baik bagi kita untuk menikmati indahnya lagu-lagu, baik dengan ikut serta bernyanyi atau mendengarkannya, karena nyanyian adalah ciptaan Allah yang indah. Akan tetapi berdoa sambil bernyanyi adalah berkomunikasi dengan Tuhan, kita mengatakan kepada-Nya apa sesungguhnya perasaan kita terhadap diri-Nya, mengatakan kepada-Nya apa yang menyebabkan kita mengasihi diri-Nya dan berterima kasih kepada-Nya, menaruh kepercayaan kepada-Nya dan membuat Dia pusat dari kehidupan kita. Doa yang berupa lagu, apabila kita masuk ke dalamnya dengan sikap seperti ini, akan membuat kita bertumbuh secara spiritual. Juga akan “menyelamatkan” kita dari jenis-jenis doa permohonan yang sempit dan memandang Allah sebagai seorang Sinterklas atau sugar-Daddy yang akan memberikan apa saja yang kita minta dengan merengek-rengek.

Doa permohonan memang samasekali tidak salah, asal saja disampaikan dengan kerendahan hati dan kepercayaan penuh bahwa kehendak-Nyalah yang terjadi, bukan kehendak kita (bdk. Luk 22:42). Namun puji-syukur jauh lebih bijaksana, karena apabila kita senantiasa memuji-muji Allah, maka segalanya dapat menjadi berkat bagi kehidupan kita. Walaupun pada saat mendoakan sebuah “doa permohonan”, kita harus senantiasa menyapa Allah yang langsung disertai dengan pujian, seperti diajarkan oleh Yesus sendiri dalam “DOA BAPA KAMI” (lihat Mat 6:9 dan Luk 11:2).

DOA: Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, menyanyilah bagi TUHAN, hai segenap bumi! Menyanyilah bagi TUHAN, pujilah nama-Nya, kabarkanlah keselamatan yang dari pada-Nya dari hari ke hari. (Mzm 96:1-2)

Catatan: Bagi anda yang ingin mendalami lagi Bacaan Pertama hari ini (Yes 11:1-10), bacalah tulisan yang berjudul “GAMBARAN SEBUAH DUNIA YANG DAMAI DAN ADIL” (bacaan tanggal 4-12-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori 12-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2012.

Bacalah juga tulisan yang berjudul “AKU BERSYUKUR KEPADA-MU, BAPA” (bacaan tanggal 28-11-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 30 November 2012 [Pesta S. Andreas, Rasul]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS