Posts tagged ‘MUKJIZAT & PENYEMBUHAN’

YESUS MENYEMBUHKAN SEORANG KUSTA

YESUS MENYEMBUHKAN SEORANG KUSTA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Kamis, 16 Januari 2014)

Keluarga Fransiskan: Peringatan S. Berardus, Imam dkk., Protomartir Fransiskan

Jesus_heals_leper_1140-152Seseorang yang sakit kusta datang kepada Yesus, dan sambil berlutut di hadapan-Nya ia memohon bantuan-Nya, katanya, “Kalau Engkau mau, Engkau dapat menyembuhkan aku.” Lalu tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan. Ia mengulurkan tangan-Nya, menyentuh orang itu dan berkata kepadanya, “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu dan ia sembuh. Segera Ia menyuruh orang ini pergi dengan peringatan keras, “Ingat, jangan katakan sesuatu kepada siapa pun juga, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk upacara penyucianmu persembahan, yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka.” Tetapi orang itu pergi memberitakan peristiwa itu serta menyebarkannya ke mana-mana, sehingga Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota. Ia tinggal di luar di tempat-tempat yang terpencil; namun orang terus juga datang kepada-Nya dari segala penjuru. (Mrk 1:40-45)

Bacaan Pertama: 1Sam 4:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 44:10-11,14-15,24-25

Kapernaum adalah sebuah kota kecil yang terletak di pantai Laut (Danau) Galilea. Seperti diceritakan dalam Injil Markus, di sana Yesus mengajar pada hari Sabat, mengusir roh-roh jahat dari seorang laki-laki di sinagoga (rumah ibadat), bahkan Ia juga menyembuhkan begitu banyak orang sakit yang mencari Dia di rumah Petrus (Mrk 1:21-34). Hari itu adalah satu hari yang tidak akan terlupakan oleh penduduk Kapernaum, karena pada hari itu kota kecil Kapernaum dapat dicari dalam peta.

Pada waktu Yesus melayani di depan publik, Kapernaum hanyak sebuah kampung nelayan yang tidak ramai. Apa yang akan terjadi jika Yesus ke luar dari “kandang”-Nya di Nazaret dan kemudian berkiprah di tempat-tempat lain? Sama saja – itulah yang terjadi. Sejak awal Injil Markus, kita membaca tentang otoritas Yesus untuk menyembuhkan segala sakit penyakit, dan betapa banyak orang yang menjadi percaya kepada misi-Nya. Pada kenyataannya, begitu banyak orang datang mencari Yesus, sehingga Yesus tidak mampu untuk bergerak dengan bebas dari kota ke kota (Mrk 1:45).

Nah, peristiwa yang menandai permulaan dari pelayanan Yesus yang lebih luas adalah penyembuhan seorang kusta (Mrk 1:40 dsj.). Aspek pertama dari peristiwa ini adalah bahwa kita harus mengenali belarasa Yesus terhadap orang kusta ini. Seorang yang menderita penyakit kusta mempunyai kondisi kulit yang melarang kehadirannya di area-area publik. Ketika orang kusta yang satu ini melanggar peraturan yang berlaku dan muncul di depan Yesus, sang “Dokter Agung” malah menanggapi hal tersebut dengan menyentuh kulit orang itu, artinya Yesus membuat diri-Nya menjadi tidak bersih/tahir di mata hukum yang berlaku. Penyembuhan ini memberi tanda kepada orang banyak tentang kuat-kuasa ilahi yang dimiliki Yesus, namun kemauan-Nya untuk menyentuh orang ini merupakan suatu tanda tentang cintakasih dan belarasa-Nya yang demikian besar.

Akhir kejadian itu terasa sedikit aneh. Atas dasar alasan tertentu, Yesus mengatakan kepada orang itu untuk tidak menceritakan kepada siapa-siapa tentang kesembuhannya, jadi sebagai suatu kerahasiaan, namun orang itu tidak mematuhinya (Mrk 1:43-44). Para pakar Kitab Suci paling sedikit mengemukakan tiga penjelasan yang berbeda-beda untuk hal ini. Yang pertama adalah tafsir yang mengatakan bahwa orang kusta yang telah disembuhkan itu langsung saja tidak mematuhi sabda Yesus. Yang kedua adalah tafsir yang mengatakan bahwa yang dimaksudkan dengan “dia” (dalam teks bahasa Indonesia dikatakan “orang itu”) yang pergi memberitakan peristiwa itu serta menyebarkannya ke mana-mana, adalah Yesus sendiri, bukan si kusta (Mrk 1:45). Skenario ketiga adalah bahwa Yesus meminta agar orang kusta itu tidak mengungkapkan sarana yang digunakan untuk menyembuhkan dirinya, karena Yesus mengetahui benar bahwa mukjizat itu dengan sendirinya akan menjadi pengetahuan publik.

Bagaimana pun kita mau membaca cerita penyembuhan orang kusta ini atau apa pun tafsir kita, mukjizat-mukjizat Yesus menuntut kita untuk mematuhi kata-kata-Nya secara serius. Kerajaan Allah menerobos masuk ke dalam dunia dalam diri Yesus. Oleh karena itu, marilah kita senantiasa menanggapi perintah Yesus dengan kesetiaan, apakah kata-kata itu berbunyi “Pergilah, perlihatkanlah dirimu ……” (Mrk 1:44) atau “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk” (Mrk 16:15).

DOA: Bapa surgawi, ajarlah aku melakukan kehendak-Mu, sebab Engkaulah Allahku! Kiranya Roh-Mu yang baik itu menuntun aku (Mam 143:10). Terpujilah nama-Mu selalu! Anin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 1:40-45), bacalah tulisan yang berjudul “RAHASIA MESIANIS DAN KETEGANGAN-KETEGANGAN” (bacaan tanggal 16-1-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2014.

Cilandak, 14 Januari 2014 [Peringatan B. Odorikus dr Pordenone, Imam]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS DATANG UNTUK MEMBAWA KESELAMATAN

YESUS DATANG UNTUK MEMBAWA KESELAMATAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Rabu, 15 Januari 2014

JESUS HEALS THE SICK - 001Sekeluarnya dari rumah ibadat itu Yesus bersama Yakobus dan Yohanes pergi ke rumah Simon dan Andreas. Ibu mertua Simon terbaring karena sakit demam. Mereka segera memberitahukan keadaannya kepada Yesus. Ia pergi ke tempat perempuan itu, dan sambil memegang tangannya Ia membangunkan dia, lalu lenyaplah demamnya. Kemudian perempuan itu melayani mereka. Menjelang malam, sesudah matahari terbenam, dibawalah kepada Yesus semua orang yang menderita sakit dan yang kerasukan setan. Seluruh penduduk kota itu pun berkerumun di depan pintu. Ia menyembuhkan banyak orang yang menderita bermacam-macam penyakit dan mengusir banyak setan; Ia tidak memperbolehkan setan-setan itu berbicara, sebab mereka mengenal Dia.
Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang terpencil dan berdoa di sana. Tetapi Simon dan kawan-kawannya mencari-cari Dia. Ketika mereka menemukan-Nya, mereka berkata kepada-Nya, “Semua orang mencari Engkau.” Jawab-Nya, “Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota sekitar ini, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang.” Lalu pergilah Ia ke seluruh Galilea memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat mereka dan mengusir setan-setan. (Mrk 1:29-39)

Bacaan Pertama: 1Sam 3:1-10,19-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 40:2,5,7-10

Kapernaum yang terletak di pinggir danau mempunyai banyak pengalaman yang berkaitan dengan sakit-penyakit dan ketiadaan pengharapan yang menghimpit umat manusia. Pada suatu hari, Yesus sampai di kota pantai itu dan memproklamasikan kedatangan Kerajaan Allah. Lewat tindakan-tindakan-Nya dan kata-kata yang diucapkan-Nya, Yesus membuat kehadiran Kerajaan Allah (=Allah yang meraja) menjadi kelihatan dan kuasa-Nya menyadi nyata. Otoritas menentukan yang dipakai oleh Yesus untuk menyembuhkan orang sakit dan mengusir roh-roh jahat memperagakan belas kasihan Allah yang tak terhingga besarnya. Inilah saat-saat yang menandai terbitnya suatu era baru menyangkut penyelamatan dan keselamatan umat manusia. Pernyataan ilahi yang menyangkut keselamatan ini mengambil tempat dalam konteks kebutuhan umat manusia. Bagi anak manusia yang menanggapi semua ini dengan iman, maka Kerajaan Allah menjadi suatu pengalaman pribadi yang secara sekilas memberi gambaran dari transformasi mulia dari segala ciptaan dalam kepenuhan waktu.

THE MOTHER IN LAW OF PETER WAS HEALEDPemahaman para murid tentang kodrat Yesus yang sesungguhnya sangatlah terbatas. Walaupun dengan segala keterbatasan yang ada, hati para murid digerakkan untuk mempercayakan kepada Yesus keprihatinan mereka atas ibu mertua Petrus yang sedang menderita sakit demam. Yesus menanggapi keprihatinan para murid-Nya itu tanpa menunda-nunda, dan sakit demam ibu mertua Petrus pun disembuhkan, malah dia langsung melayani Yesus dan para murid-Nya (Mrk 1:29-31). Luar biasa! Frase “Ia ‘membangunkan’ dia” yang digunakan oleh Markus (Mrk 1:31), ditulis dalam bahasa Yunani: egeiro, yang juga dapat diartikan “membangkitkan dari mati”. Yesus datang sebagai Tuhan (Kyrios) untuk membawa keselamatan dan membangkitkan semua orang yang terbaring karena penyakit dosa. Diangkat kepada hidup baru, kita dipanggil untuk melayani dalam pembangunan Kerajaan-Nya.

Pada akhir hari yang dipenuhi dengan penyembuhan-penyembuhan dan pengusiran-pengusiran roh-roh jahat, Yesus tidak memperbolehkan roh-roh jahat itu berbicara, sebab mereka mengenal Dia (Mrk 1:34). Pagi-pagi benar Yesus mengundurkan diri dari orang banyak dan para murid-Nya yang belum memahami peranan-Nya sebagai Mesias. dan pergi ke tempat terpencil dan berdoa di sana. Ini adalah awal dari “rahasia Mesianis”. Banyak orang takjub dan terkagum-kagum menyaksikan perbuatan-perbuatan baik Yesus dan memandang diri-Nya sebagai seorang pembuat mukjizat (wonder worker), namun mereka belum mampu melihat sifat misi-Nya yang sesungguhnya. Ketika berdoa dalam keheningan di tempat terpencil tadi, Yesus dikuatkan untuk melakukan kehendak Bapa-Nya, bukan menuruti tuntutan orang banyak akan seorang Mesias seturut hasrat hati dan pandangan mereka sendiri (Mrk 1:35-39).

Mereka yang telah belajar untuk menerima Dia sebagai Anak Manusia yang menderita, disalibkan dan kemudian bangkit dalam kemuliaan mengalahkan dosa, dapat memproklamasikan Dia sebagai sang Mesias. Yang ditutupi oleh Yesus pada awalnya dinyatakan secara penuh dalam terang kebangkitan-Nya (Luk 24:26).

Bilamana kita mengundurkan diri ke tempat sunyi dan mencari keakraban dengan Bapa surgawi dalam doa, Roh Kudus akan menyatakan kepada kita siapa Yesus itu dan apakah misi-Nya. Yesus sungguh rindu untuk menyembuhkan kita semua dan dosa-dosa kita.

DOA: Tuhan Yesus, sentuhlah diriku yang sudah “berantakan” ini. Tolonglah aku agar mau menyerahkan diriku kepada kuat-kuasa penyembuhan-Mu. Terpujilah nama-Mu, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 1:29-39), bacalah tulisan yang berjudul “PADA HARI INI PUN YESUS MASIH MENYEMBUHKAN” (bacaan tanggal 15-1-14), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; 14-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2014.

Cilandak, 13 Januari 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KEBERADAAN RIIL DARI IBLIS DAN ROH-ROH JAHAT

KEBERADAAN RIIL DARI IBLIS DAN ROH-ROH JAHAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Selasa, 14 Januari 2014)

Keluarga Fransiskan: Peringatan B. Odorikus dr Pordenone, Imam

YESUS DI GEREJA ORTODOX SIRIAYesus dan murid-murid-Nya tiba di Kapernaum. Setelah hari Sabat mulai, Yesus segera masuk ke dalam rumah ibadat dan mengajar. Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat. Pada waktu itu di dalam rumah ibadat mereka, ada seorang yang kerasukan roh jahat. Orang itu berteriak, “Apa urusan-Mu dengan kami, hai Yesus orang Nazaret? Apakah Engkau datang untuk membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah.” Tetapi Yesus membentaknya, “Diam, keluarlah dari dia!” Roh jahat itu mengguncang-guncang orang itu, dan sambil menjerit dengan suara nyaring roh itu keluar dari dia. Mereka semua takjub, sehingga mereka memperbincangkannya, katanya, “Apa ini? Suatu ajaran baru disertai dengan kuasa! Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat dan mereka taat kepada-Nya!” Lalu segera tersebarlah kabar tentang Dia ke segala penjuru di seluruh Galilea. (Mrk 1:21-28)

Bacaan Pertama: 1Sam 1:9-20; Mazmur Tanggapan: 1Sam 2:1,4-5,6-8

Bayangkan di tengah-tengah keheningan Misa secara tiba-tiba terdengar teriakan seorang perempuan dan ia terlihat bergoyang-goyang sambil terus menangis dan berteriak-teriak. “Kesurupan”, kata orang. Misa sempat terhenti untuk beberapa menit. Umat di dekat perempuan itu banyak yang bingung, terheran-heran tidak mengerti, karena tidak tahu apa yang harus dilakukan…… sungguh keheningan yang mencekam. Namun tidak sedikit umat yang langsung berdoa. Kemudian datanglah beberapa umat anggota PDKK. Mereka membawa perempuan itu ke aula paroki. Dari kejauhan sayup-sayup terdengar lagu puji-pujian, kiranya sedang dilakukan doa pelepasan. Pada akhir Misa umat mendengar bahwa perempuan itu sudah kembali normal. Bagaimana dengan umat dalam sinagoga di Kapernaum pada waktu Yesus mengusir roh jahat yang merasuki orang itu? Umat di sana memang merasa takjub mendengar pengajaran Yesus (Mrk 1:21) dan mereka juga takjub melihat bagaimana dengan kuat-kuasa ilahi-Nya Yesus mengalahkan kuasa roh jahat (Mrk 1:27), tetapi kelihatannya orang-orang itu tidak menunjukkan rasa heran atau terkejut. jika seseorang dirasuki oleh roh jahat.

Sepanjang Perjanjian Baru memang hampir selalu diasumsikan bahwa orang-orang – dewasa maupun anak-anak – dapat “didiami” oleh roh-roh jahat (Mrk 7:25; Luk 8:2,27; Kis 8:7). Dalam perkembangan sejarah manusia, roh-roh jahat itu sempat dianggap sebagai bikinan manusia saja.

Namun adalah suatu kebenaran iman kita bahwa makhluk-makhluk spiritual, non-badani yang dinamakan malaikat, memang ada. Marilah kita baca Katekismus Gereja Katolik (KGK): “Bahwa ada makluk rohani tanpa badan, yang oleh Kitab Suci biasanya dinamakan ‘malaikat’, adalah satu kebenaran iman. Kesaksian Kitab Suci dan kesepakatan tradisi tentang itu bersifat sama jelas” (KGK 328). Kita tahu bahwa sebagian dari malaikat-malaikat itu memberontak melawan Allah, menolak Dia dan pemerintahan-Nya (KGK 391, 392). Yang paling tinggi dari para malaikat pemberontak itu adalah Iblis atau Setan. Iblis dan roh-roh jahat pengikutnya melampiaskan kebencian mereka kepada Allah di tengah-tengah umat manusia di dunia. Mereka membisikkan kebohongan-kebohongan dan kebenaran-kebenaran yang setengah-setengah guna menjerat kita dalam ketakutan atau ketidakpedulian terhadap kasih Allah. Mereka menggoda kita-manusia dengan pikiran-pikiran kotor, mengganggu perasaaan hati kita dengan rasa tidak puas terhadap hidup kita dan orang-orang yang kita kasihi, bahkan mendatangkan penyakit atas diri kita.

Kumpulan kebenaran ini dapat menghilangkan semangat. Iblis kelihatan begitu penuh kuasa dan menakutkan. Namun demikian, kita harus senantiasa mengingat bahwa Iblis tetap merupakan makhluk ciptaan, terbatas dalam kuasa-Nya dan terbatas dalam kemampuan-kemampuannya. Akhirnya, Iblis tidak mampu mengalahkan kasih Allah atau rencana-Nya untuk Kerajaan-Nya (KGK 395). Iblis dan roh-roh jahat pengikutnya sungguh riil. Jadi, kita jangan salah, mereka sungguh ada! Kita harus percaya bahwa mereka memang ada, bahkan selagi kita menaruh kepercayaan, bahwa Allah, dalam belas kasih-Nya akan dengan lemah lembut dan penuh kuasa membimbing kita – dan semua umat beriman sepanjang sejarah – sampai Yesus datang kembali dalam kemuliaan.

DOA: Tuhan Yesus, bebaskanlah setiap orang yang berada di bawah tekanan kuasa Iblis. Firmankanlah kebenaran-Mu kepada mereka yang percaya kepada kebohongan-kebohongan yang berasal dari Iblis si pendusta itu. Sembuhkanlah mereka yang menderita sakit penyakit karena pengaruh buruk yang disebabkan oleh roh-roh jahat. Lindungilah mereka yang digoda Iblis melalui nafsu seksual, kecanduan atau ketamakan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 1:21-28), bacalah tulisan yang berjudul “AJARAN BARU DISERTAI DENGAN KUASA” (bacaan tanggal 14-1-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2014.

Cilandak, 10 Januari 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS KRISTUS: SANG DOKTER AGUNG

YESUS KRISTUS: SANG DOKTER AGUNG

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa sesudah Penampakan Tuhan – Jumat, 10 Januari 2014)

RABI DARI NAZARET - 1Pada suatu kali Yesus berada dalam sebuah kota. Di situ ada seorang yang penuh kusta. Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia dan memohon, “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.” Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menyentuh orang itu, dan berkata, “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Seketika itu juga lenyaplah penyakit kustanya. Yesus melarang orang itu memberitahukannya kepada siapa pun juga dan berkata, “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk penyucianmu persembahan seperti yang diperintahkan Musa, sebagai bukti bagi mereka.” Tetapi kabar tentang Yesus makin jauh tersebar dan datanglah orang banyak berbondong-bondong kepada-Nya untuk mendengar Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka. Akan tetapi, Ia mengundurkan diri ke tempat-tempat yang terpencil dan berdoa. (Luk 5:12-16)

Bacaan Pertama: 1Yoh 5:5-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 147:12-15,19-20

Kita semua senang untuk melihat segala sesuatu menjadi normal kembali. Apabila kita menderita sakit demam, maka kita tentunya mengharapkan suhu badan kita kembali normal. Apabila kita merasa kelelahan karena bekerja terlalu berat, maka kita pun kiranya akan berkata seperti berikut ini: “Aduh sibuk sekali aku hari ini di kantor, aku akan memuji Tuhan bilamana segala sesuatu akan normal kembali di kantorku.” Demikian pula para mahasiswa yang tinggal di rumah kos-kosan di Jakarta atau Depok. Pada masa libur panjang anda pulang ke rumah anda masing-masing, ada yang cukup jauh, ada juga yang jauh sekali. Ketika anda pulang ke rumah anda, maka seisi rumah dengan gembira menyambut anda, dan anda akan sibuk menjawab pertanyaan dari adik, kakak dan para orang tua anda sendiri tentang pengalaman di tempat anda studi. Anda pun mempunyai segudang cerita tentang pengalaman anda. Satu-dua hari kemudian, ibu berkata, “Ayo bekerja, jangan ngobrol saja, engkau adalah bagian dari keluarga ini, bukan?” Anda pun merasa lega: semua kembali ke dalam keadaan normal!

Orang kusta dalam bacaan Injil hari ini memohon kepada Yesus untuk disembuhkan oleh-Nya, karena dia mau kembali normal. Selama ini keberadaannya sungguh menyedihkan dan dipandang sebagai sampah masyarakat. Penyakit kusta yang dideritanya telah membuat setiap orang menghindarinya. Dia tidak bisa hidup bersama keluarganya atau berkumpul bersama para sahabatnya, karena penyakit kusta itu menular dan sangat, sangat menakutkan orang-orang.

YESUS MENYEMBUHKAN ORANG KUSTA- 15Ketika membaca bacaan Injil ini, pernahkah anda berhenti untuk berpikir karya besar apa yang telah dilakukan oleh Yesus atas orang kusta ini? Yesus menyembuhkan dia, membuat dia kembali normal – sesuatu yang dia pikir tidak pernah akan terjadi lagi!

Apakah anda juga pernah berhenti untuk berpikir bahwa hal inilah yang begitu sering dilakukan oleh Yesus atas diri kita masing-masing. Yesus menyembuhkan luka-luka batin kita, berbagai penyakit yang kita derita, membuat kita kembali normal, memberikan kepada kita suatu awal yang baru. Orang kusta dalam bacaan Injil hari ini, tentunya akan senantiasa diingat sebagai seseorang yang menderita penyakit kusta, namun betapa penuh sukacitanya pada saat itu karena dia sepenuhnya telah disembuhkan oleh sang Dokter Agung.

Bagaimana dengan kita? Kita masing-masing pun mempunyai hari-hari buruk, kita telah membuat kesalahan-kesalahan bodoh, namun apabila kita memiliki iman yang sungguh-sungguh, maka Tuhan pun menyembuhkan kita, dan kita pun menjadi orang bebas sekali lagi.

Kita masing-masing memerlukan pertolongan dan kita pun perlu menolong orang-orang lain juga. Yesus menolong kita dengan cara-Nya: Dia memegang janji-Nya untuk mengampuni dan menyembuhkan kita dan membawa kita kepada status normal kembali. Namun Yesus juga menuntut, bahwa sebagai murid-murid-Nya, kita juga harus meneladan hidup-Nya dalam berurusan atau berelasi dengan orang-orang lain.

DOA: Yesus, kami percaya bahwa Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat kami. Engkau juga adalah sang Dokter Agung yang senantiasa menyertai kami, karena Engkau adalah Imanuel. Berikanlah kepada kami kesembuhan lahir-batin, pengharapan dan kuat kuasa agar mampu melawan segala godaan Iblis agar dengan demikian kami tidak sampai jatuh ke dalam jerat dosa. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 5:12-16), bacalah tulisan yang berjudul “AKU MAU, JADILAH ENGKAU TAHIR” (bacaan tanggal 10-1-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2014.

Cilandak, 8 Januari 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HATI YESUS TERGERAK OLEH BELAS KASIHAN

HATI YESUS TERGERAK OLEH BELAS KASIHAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa sesudah Penampakan Tuhan – Selasa, 7 Januari 2014)

Feeding_the_5000006Ketika mendarat, Yesus melihat orang banyak berkerumun, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka.Pada waktu hari mulai malam, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya dan berkata, “Tempat ini terpencil dan hari mulai malam. Suruhlah mereka pergi ke kampung-kampung dan desa-desa sekitar sini, supaya mereka dapat membeli makanan bagi diri mereka.” Tetapi jawab-Nya, “Kamu harus memberi mereka makan!” Kata mereka kepada-Nya, “Haruskah kami pergi membeli roti seharga dua ratus dinar untuk memberi mereka makan?” Tetapi Ia berkata kepada mereka, “Berapa banyak roti yang ada padamu? Cobalah periksa!” Sesudah mengetahuinya mereka berkata, “Lima roti dan dua ikan.” Lalu Ia menyuruh orang-orang itu, supaya semua duduk berkelompok-kelompok di atas rumput hijau. Mereka pun duduk berkelompok-kelompok, ada yang seratus, ada yang lima puluh orang. Setelah mengambil lima roti dan dua ikan itu, Ia menengadah ke langit dan mengucap syukur, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, supaya menyajikannya kepada orang-orang itu; begitu juga Ia membagikan kedua ikan itu kepada mereka semua. Lalu mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti sebanyak dua belas bakul penuh dan sisa-sisa ikan. Yang ikut makan roti itu ada lima ribu orang laki-laki. (Mrk 6:34-44)

Bacaan Pertama: 1Yoh 4:7-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 72:2-4,7-8

Bayangkanlah mukjizat yang dibuat Yesus oleh karena hati-Nya tergerak oleh belas kasihan (Mrk 6:34): Lima roti dan dua ekor ikan dilipat-gandakan menjadi makanan yang memuaskan ribuan orang! Penyediaan makanan oleh Yesus lewat sebuah mukjizat menunjukkan betapa tak terbatasnya segala kuat-kuasa yang dimiliki-Nya. Tidak ada batas sedikitpun yang menghalangi kapasitas Yesus untuk memelihara kita dengan penuh kasih sayang. Kehadiran-Nya dalam bentuk pemberian hidup-Nya sendiri dalam Ekaristi jauh lebih besar dan agung daripada yang kita dapat pahami, malah merupakan pemberian diri-Nya yang tanpa batas. Memang tidak ada batas dalam hal kemampuan-Nya menarik kita kepada diri-Nya melalui doa. Kuat-kuasa-Nya untuk menyembuhkan memori kita senantiasa jauh lebih besar daripada luka-luka (batin) yang kita derita. Apabila kita berbalik kepada-Nya guna memperoleh kekuatan untuk mengasihi orang-orang di sekeliling kita, Dia selalu memberikan apa yang kita butuhkan. Kita tidak perlu merasa khawatir atau takut. Ia tidak pernah akan meninggalkan atau membuang kita, dan kita pun dapat bersenandung, don’t worry, be happy! Allah yang kita sembah tidak pernah akan melupakan janji-janji-Nya; perjanjian-Nya berlaku untuk selama-lamanya.

5 LOAVES & 2 FISHDari setiap karunia ilahi yang kita kenali, tentunya ada banyak lagi yang barangkali keberadaannya masih luput dari perhatian kita. Terkesan oleh kasih Allah yang tanpa batas, tanpa syarat, tanpa pamrih, Yohanes mendeklarasikan bahwa kasih tidaklah berasal dari upaya-upaya kecil kita untuk mengasihi Allah, melainkan berasal dari kasih-Nya yang tak terhingga bagi kita semua: “Inilah Kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita” (1Yoh 4:10).

Namun Yohanes juga melanjutkan mengatakan kepada kita, “Saudara-saudaraku yang terkasih, jikalau Allah demikian mengasihi kita, maka kita juga harus saling mengasihi” (1Yoh 4:11). Kasih Allah akan menggerakkan suatu tanggapan kasih dari diri kita. Dia memenuhi diri kita dengan berkat-berkat-Nya agar pada gilirannya kita dapat membagi-bagikan berkat-berkat itu kepada orang-orang lain. Bahkan kalau berbagai sumber daya yang ada pada kita hanya sedikit saja, Allah akan melipat-gandakan semuanya selagi kita berbagi dengan orang-orang lain. Sesungguhnya syering kita akan menjadi suatu sumber berkat bagi kita sendiri juga selagi kita mencontoh para murid-Nya yang membagikan kepada orang banyak, roti dan ikan yang telah diberikan oleh Yesus kepada mereka (Mrk 6:41-43). Di lain pihak, apabila kita menimbun sendiri segala berkat yang diberikan Allah kepada kita, maka semuanya itu dapat menjadi basi, kadaluwarsa, tak berguna, dan kapasitas kita untuk menerima berkat-berkat selanjutnya dari Allah-pun akan menciut.

Oleh karena itu marilah kita mengasihi dengan cara-cara baru. Marilah kita bereksperimen dalam rupa melayani sesama kita dengan kasih Yesus. Hal paling buruk yang dapat terjadi adalah ketika kita berbuat sedikit kesalahan, dari kesalahan-kesalahan mana kita dapat belajar untuk tidak membuat kesalahan yang sama di masa depan. Sungguh indah-mengharukan bilamana kita menyadari bahwa Allah tidak pernah berhenti mengasihi kita dan menawarkan kepada kita berbagai kesempatan untuk melayani Allah dan sesama.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu untuk banyak berkat yang Kaulimpah-limpahkan kepada diriku, baik yang dapat kulihat maupun yang tidak kulihat. Penuhilah lagi dunia ini dengan banyak berkat-Mu, dan perkenankanlah kasih-Mu mengalir melalui diriku kepada semua orang yang kujumpai pada hari ini. Terpujilah Engkau, ya Allahku yang baik, sumber segala kebaikan, satu-satunya kebaikan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 6:34-44), bacalah tulisan yang berjudul “MEMBERI MAKAN” (bacaan tanggal 7-1-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2014.

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Yoh 4:7-10), bacalah tulisan yang berjudul “ALLAH ADALAH KASIH (1)” bacaan tanggal 8-1-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 5 Januari 2014 [HARI RAYA PENAMPAKAN TUHAN]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

JADILAH KEPADAMU MENURUT IMANMU

JADILAH KEPADAMU MENURUT IMANMU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Adven – Jumat, 6 Desember 2013)

Healing_the_Blind004Ketika Yesus meneruskan perjalanan-Nya dari sana, dua orang buta mengikuti-Nya sambil berseru-seru dan berkata, “Kasihanilah kami, hai Anak Daud.” Setelah Yesus masuk ke dalam sebuah rumah, datanglah kedua orang buta itu kepada-Nya dan Yesus berkata kepada mereka, “Percayakah kamu bahwa Aku dapat melakukannya?” Mereka menjawab, “Ya Tuhan, kami percaya.” Yesus pun menyentuh mata mereka sambil berkata, “Jadilah kepadamu menurut imanmu.” Lalu meleklah mata mereka. Kemudian Yesus dengan tegas berpesan kepada mereka, “Jagalah supaya jangan seorang pun mengetahui hal ini.” Tetapi mereka keluar dan memasyhurkan Dia ke seluruh daerah itu. (Mat 9:27-31)

Bacaan Pertama: Yes 29:17-24; Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1,4,13-14

“Jadilah kepadamu menurut imanmu” (Mat 9:29).

Dua orang buta mendekati Yesus dengan suatu permintaan yang sederhana: “Kasihanilah kami, hai Anak Daud” (Mat 9:27). Dengan mata iman, mereka dapat mengenali bahwa Yesus bukanlah rabi sembarang rabi, melainkan sang Mesias sendiri – ahli waris takhta Daud, Dia Yang Diurapi, yang telah datang untuk memenuhi janji-janji Allah kepada umat-Nya. Walaupun kebutaan fisik mereka telah menghalangi mereka untuk melihat Yesus, mereka biar bagaimana pun juga percaya kepada-Nya dari apa yang mereka dengar. Mereka berseru kepada Yesus karena mereka tahu betul bahwa Dia dapat menawarkan kepda mereka sesuatu yang tak dapat mereka menolaknya – kesembuhan dan suatu hidup baru. Menanggapi iman dua orang buta itu, Yesus menunjukkan kepada mereka kedalaman dari kasih Allah, memulihkan mereka tidak secara fisik saja, melainkan secara spiritual juga.

Yesus ingin kita mendekati diri-Nya dengan keyakinan yang sama seperti dua orang buta dalam bacaan Injil hari ini, yaitu dengan rendah hati memohon belas kasihan dan rahmat kepada-Nya. Apakah yang dapat menghalang-halangi diri kita untuk bertindak seperti dua orang buta tadi? Barangkali kemasabodohan, atau ketidakpercayaan, atau bahkan perasaan bahwa diri kita tidaklah pantas. Namun dalam hal ini Santo Paulus mengingatkan kita bahwa tidak ada sesuatu pun yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus, bahkan kematian (maut) sekali pun (lihat Rm 8:31-39).

Kadang-kadang kita dapat merasa bahwa kita tidak mempunyai iman yang cukup, iman yang menyebabkan Yesus ingin menjawab ketika kita berseru kepada-Nya. Kita menjadi semakin ciut-hati ketika kita mencoba mengerahkan iman yang lebih dan lebih lagi dengan mencoba berdoa secara lebih keras lagi. Untunglah Allah mengetahui kelemahan-kelemahan diri kita, malah lebih baik daripada kita sendiri mengenal semua itu. Dan, Allah senantiasa siap untuk memberikan kepada kita rahmat yang kita perlukan untuk menanggapi sabda-Nya dengan penuh kepercayaan dan ketaatan.

Bagaimana kita dapat bertumbuh dalam iman? Katekismus Gereja Katolik (KGK) mengatakan kepada kita bahwa iman adalah sepenuhnya satu anugerah rahmat yang diberikan Allah kepada manusia. “Supaya dapat hidup dalam iman, dapat tumbuh dan dapat bertahan sampai akhir, kita harus memupuknya dengan Sabda Allah dan minta kepada Tuhan supaya menumbuhkan iman itu” (KGK, 162). Jadi, iman tidak datang karena kita melihat, melainkan dengan mendengar sabda Allah, dengan dengan percaya bahwa sabda-Nya sungguh dapat diandalkan karena Allah-lah Pengarangnya yang asli.

Yesus ingin memberikan kepada kita jauh lebih banyak daripada yang kita dapat minta atau bayangkan. Yesus menginginkan keakraban atau keintiman dengan kita masing-masing. Ia ingin mencurahkan cintakasih-Nya dan bersahabat dengan kita semua. Santo Augustinus dari Hippo pernah berkata: “Allah mengasihi kita masing-masing seakan-akan hanya ada seorang saja dari kita untuk dikasihi”. Oleh karena itu, marilah kita semakin mendekat kepada Tuhan dalam masa Adven ini dengan ekspektasi penuh pengharapan bahwa Dia akan memenuhi janji-janji-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, aku mengasihi Engkau dan menyerahkan diriku sepenuhnya kepada-Mu. Jadikanlah hatiku seperti hati-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 9:27-31), bacalah tulisan yang berjudul “YA TUHAN, KAMI PERCAYA” (bacaan tanggal 6-12-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2013.
Bacalah juga tulisan yang berjudul “KASIHANILAH KAMI, HAI ANAK DAUD” (bacaan tanggal 2-12-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 1 Desember 2013 [HARI MINGGU ADVEN I – TAHUN A]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

IMANMU TELAH MENYELAMATKAN ENGKAU!

IMANMU TELAH MENYELAMATKAN ENGKAU!

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIII – Senin, 18 November 2013)

Keluarga OSCap., (Ordo II/Klaris): Peringatan B. Salomea, Perawan

Jesus_109Waktu Yesus hampir tiba di Yerikho, ada seorang buta yang duduk di pinggir jalan dan mengemis. Mendengar orang banyak lewat, ia bertanya, “Apa itu?” Kata orang kepadanya, “Yesus orang Nazaret lewat.” Lalu ia berseru, “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” Mereka yang berjalan di depan menegur dia supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru, “Anak Daud, kasihanilah aku!” Lalu Yesus berhenti dan menyuruh membawa orang itu kepada-Nya. Ketika ia telah berada di dekat-Nya, Yesus bertanya kepadanya, “Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?” Jawab orang itu, “Tuhan, supaya aku dapat melihat!” Lalu kata Yesus kepadanya, “Melihatlah sekarang, imanmu telah menyelamatkan engkau!” Seketika itu juga ia dapat melihat, lalu mengikuti Dia sambil memuliakan Allah, Melihat hal itu, seluruh rakyat memuji-muji Allah. (Luk 18:35-43)

Bacaan Pertama: 1Mak 1:10-15,41-43,54-57,62-64; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:53,61,134,150,155,158

“Melihatlah sekarang, imanmu telah menyelamatkan engkau!” (Luk 18:42).

Begitu sering kita membaca, bahwa ketika Dia menyembuhkan seorang buta atau lumpuh, atau yang menderita sakit-penyakit lainnya, Yesus mengatakan kepada orang itu, “Imanmu telah menyelamatkan engkau” , misalnya kepada seorang dari sepuluh orang kusta yang disembuhkannya (Luk 17:19); kepada perempuan berdosa yang mengurapinya (Luk 7:50).

Iman memberikan kepada kita visi batiniah mendalam, yang lebih penting daripada karunia kesembuhan itu sendiri, seperti membuat mata orang dapat melihat. Seorang yang memiliki iman memiliki mata terbuka yang dapat melihat jari-jari Allah bergerak menelusuri rencana hidupnya di dunia ini.

Dalam segala hal yang diamatinya, seorang insan beriman senantiasa memandang Allah dulu. Barangkali cara terbaik adalah menggambarkan dengan suatu kontras: seorang pribadi manusia yang mengikuti jalan Allah dan seorang baik, namun dari dunia ini – katakanlah bahwa dia adalah seorang yang percaya pada ilmu pengetahuan semata. Mengapa kita sampai membanding-bandingkan seperti itu. Karena ada kecenderungan di dunia modern untuk mencari kontradiksi-kontradiksi antara ilmu pengetahuan dan Allah, seakan-akan Allah sang Mahapencipta bukanlah penguasa, sumber dan motor dari ilmu pengetahuan itu. Mereka tidak melihat bahwa ilmu pengetahuan pun sebenarnya adalah ciptaan Allah. Mereka berpandangan seakan-akan ilmu pengetahuan dapat menghalangi pancaran dari sumber pengetahuan yang jauh lebih tinggi.

LEPER HEALEDPada dasarnya asumsi sedemikian dapat mengerucut pada pandangan bahwa benda-benda bukanlah pribadi-pribadi, maka kita tidak dapat mempunyai pribadi-pribadi; atau apabila kita menerima keberadaan pribadi-pribadi, maka kita tidak dapat percaya kepada benda-benda. Mengapa kita tidak mempunyai dua-duanya? Bukankah kita mempunyai bukti-bukti dari keberadaan pribadi-pribadi dan benda-benda? Apakah tidak mungkin bagi kita untuk mengenal baik ciptaan maupun sang Pencipta?

Bagaimana seorang ilmuwan memandang dunia ini? Ia mempelajari benda-benda dan hubungan antara benda-benda ini dan hukum yang mengatur hal-ikhwal benda-benda. Dunia kita memang terbuat dari benda-benda – unsur-unsur, kombinasi-kombinasi, dan hukum yang mengatur semua itu.

Di lain pihak seorang pendoa, yang melihat dunia yang sama, mencari seorang Pribadi: Orang itu mempelajari tindakan pribadi, tujuan, rencana dengan mana Pribadi termaksud menggerakkan dunia.

Mengapa hal-hal ini harus menjadi kontradiktif? Para ilmuwan mencari hukum, sedangkan seorang beriman berbicara dengan sang Pembuat Hukum itu. Sang ilmuwan mengejar pengetahuan: ia menyelidiki hal-hal yang dapat diamati, ia membuat klasifikasi atas benda-benda yang diselidiki, lalu mencari penyebab sekunder dari semua itu.

Seorang pendoa mencari suatu relasi pribadi, dia menanggapi sang Pribadi yang telah memberikan hukum-hukum dan sebab-sebab dari makna hukum-hukum itu. Dia juga mencari pengetahuan, namun demi Kasih. Inilah pribadi manusia yang dipuji oleh Yesus ketika mengatakan, “Imanmu telah menyelamatkan engkau!” Kita juga kiranya dapat mendengar seakan Yesus berkata: “Engkau telah melangkah melampaui benda-benda, sehingga sampai kepada suatu rasa percaya pada diri sang Pribadi yang sebenarnya adalah sumber dari segala sesuatu yang baik. Dan rasa percayamu, imanmu, kasihmu telah bekerja dengan penuh kuat-kuasa dalam hidupmu.”

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat kami. Kami datang menghadap hadirat-Mu seperti orang buta di dekat Yerikho, tanpa rasa ragu dan tanpa rasa takut. Bukalah mata hati kami sehingga dengan demikian kami dapat memandang diri-Mu dalam segala kemurnian, kasih, dan kesetiaan. Yesus, Putra Daud, kasihanilah kami! Amin

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 18:35-43), bacalah tulisan yang berjudul “IMAN YANG MENYELAMATKAN” (bacaan tanggal 18-11-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-11 BACAAN HARIAN NOVEMBER 2013.

Bacalah juga tulisan yang berjudul “YESUS MENYEMBUHKAN SEORANG BUTA DEKAT YERIKHO” (bacaan tanggal 14-11-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 14 November 2013 [Peringatan S. Nikolaus Tavelik, Imam dkk.-Martir]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 127 other followers