Posts tagged ‘MUKJIZAT & PENYEMBUHAN’

YESUS MENCELIKKAN MATA BARTIMEUS YANG BUTA

YESUS MENCELIKKAN MATA BARTIMEUS YANG BUTA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VIII – Kamis, 30 Mei 2013)

Jesus heals blind Bartimaeus Mark 10:46-52

Lalu tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Yerikho. Ketika Yesus keluar dari Yerikho bersama-sama murid-murid-Nya dan orang banyak yang berbondong-bondong ada seorang pengemis yang buta, bernama Bartimeus, anak Timeus, duduk di pinggir jalan. Ketika didengarnya bahwa itu adalah Yesus orang Nazaret, mulailah ia berseru, “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” Banyak orang menegurnya supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru, “Anak Daud, kasihanilah aku!” Yesus berhenti dan berkata, “Panggillah dia!” Mereka memanggil orang buta itu dan berkata kepadanya, “Teguhkanlah hatimu, berdirilah, ia memanggil engkau.” Orang buta itu menanggalkan jubahnya, lalu segera berdiri dan pergi kepada Yesus. Tanya Yesus kepadanya, “Apa yang kaukehendaki Kuperbuat bagimu?” Jawab orang buta itu, “Rabuni, aku ingin dapat melihat!” Lalu kata Yesus kepadanya, “Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau!” Saat itu juga ia dapat melihat, lalu ia mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. (Mrk 10:46-52)

Bacaan Pertama: Sir 42:15-25; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:2-9

Apakah yang dilakukan oleh si buta Bartimeus (anak Timeus) yang sedang duduk di pinggir jalan ketika rombongan Yesus baru saja ke luar dari kota Yerikho? Apakah dia hanya berseru keras-keras: “Yesus, apa kabar?” Bayangkanlah situasi ketika itu. Ingatlah bahwa Yesus dikelilingi oleh orang banyak yang berbondong-bondong mengiringi-Nya, dan Bartimeus sedang duduk di pinggir jalan. Tidak mudahlah bagi orang buta ini untuk berteriak agar suaranya dapat didengar di tengah “hiruk-pikuk” yang terjadi. Jelas kelihatan bahwa Bartimeus sangat menginginkan untuk memperoleh sesuatu dari Yesus sehingga dia terus saja berteriak, malah setiap kali semakin keras, walaupun ditegur oleh banyak orang supaya dia tutup mulut. Hal ini mengingatkan kita pada cara anak-anak melakukan pendekatan kepada orangtua mereka, jika mereka menginginkan sesuatu.

Perhatikanlah juga tanggapan Bartimeus ketika Yesus menyuruh orang memanggilnya. Dia menanggalkan jubahnya, lalu segera berdiri dan pergi kepada Yesus (Mrk 10:50). Arti jubah penting bagi seorang pengemis. Biasanya si pengemis menggelar jubahnya di atas tanah dan dia duduk di atasnya ketika meminta-minta sedekah dari orang-orang yang lewat. Orang-orang yang lewat akan melemparkan kepingan uang logam dan/atau makanan ke atas jubah yang digelar itu. Jubah juga mempunyai arti sangat penting bagi orang miskin, karena menanggalkan jubah atau mantol berarti meninggalkan segalanya. Mari kita baca salah satu kitab Taurat:

“Jika engkau meminjamkan uang kepada salah seorang dari umat-Ku, orang yang miskin di antaramu, maka janganlah engkau berlaku sebagai seorang penagih hutang terhadap dia: janganlah kamu bebankan bunga uang kepadanya. Jika engkau sampai mengambil jubah temanmu sebagai gadai, maka haruslah engkau mengembalikannya kepadanya sebelum matahari terbenam, sebab hanya itu saja penutup tubuhnya, itulah pemalut kulitnya – pakai apakah ia pergi tidur? Maka apabila ia berseru-seru kepada-Ku, Aku akan mendengarkannya, sebab Aku ini pengasih.” (Kel 22:25-27)

“Dalam kebutaannya, Bartimeus hanya melihat Yesus dan dalam kemiskinannya dia hanya menginginkan Tuhan”, tulis Pater van Breemen, SJ (CERTAIN AS THE DAWN, MENUNGGU FAJAR MEREKAH, hal. 83). Tindakan Bartimeus menanggalkan jubahnya juga mempunyai arti penting. Tindakan ini mengingatkan orang kepada praktek pembaptisan dalam Gereja, di mana si calon baptis menanggalkan bajunya sebelum mengenakan baju berwarna putih bersih.

Yang jelas, dengan menanggalkan jubahnya Bartimeus menunjukkan bahwa dirinya tidak merasa ragu sedikit pun bahwa Yesus akan melakukan apa yang dimohonkannya, paling sedikit ia tidak merasa khawatir Yesus akan mengatakan “tidak” terhadap permintaannya. Dapat saya katakan di sini bahwa bahwa Bartimeus mempunyai keyakinan bahwa Yesus mengasihi-Nya. Seperti seorang anak, dia bertindak dengan “agresif”, yakin akan kasih Yesus kepadanya itu. Yesus mengajukan pertanyaan yang sama kepada Bartimeus seperti yang pernah ditanyakan oleh-Nya kepada dua orang murid-Nya, anak-anak Zebedeus: “Apa yang kamu kehendaki Kuperbuat bagimu?” (Mrk 10:36; bdk. 10:51). Jawaban Yakobus dan Yohanes ngawur karena motivasi yang keliru, namun jawaban Bartimeus sangat berkenan di mata Yesus: “Rabuni, aku ingin dapat melihat” (Mrk 10:51). Sebuah doa permohonan yang tidak bertele-tele, doa seorang miskin (bdk. Luk 23:42). Pada akhirnya kita melihat suatu happy-ending. Iman Bartimeus telah menyelamatkan dirinya dan ia pun mengikuti Yesus sebagai seorang murid dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem (Mrk 10:52).

Kebenaran yang kita dapatkan dari narasi Injil ini adalah bahwa Yesus ingin agar kita masing-masing – para murid-Nya – mempunyai suatu sikap iman dan rasa percaya pada kasih-Nya yang serupa dengan apa yang telah ditunjukkan oleh Bartimeus. Pertanyaan-Nya kepada Bartimeus ditanyakan-Nya juga kepada kita masing-masing. Ia ingin agar kita tidak hanya membawa kepada-Nya hal-hal besar, melainkan juga hal-hal kecil yang suka mengganggu kita sehari-hari.

Yesus memanggil kita (anda dan saya), bahkan pada saat ini. Ia mengetahui isi hati kita masing-masing dan memahami keberadaan kita yang terdalam (lihat Sir 42:18). Janganlah kita takut untuk membuang segalanya yang menghalangi kita dalam mendekati-Nya. Marilah kita menghadap hadirat-Nya dengan penuh rasa percaya pada belas-kasih-Nya dan cintakasih-Nya. Jikalau kita berpikir Dia tidak mendengar suara kita, maka baiklah kita mengeraskan suara kita. Apabila kita berpikir bahwa kita harus hening dan tidak mengganggu-Nya, maka berserulah dengan lebih keras lagi.

Yesus ingin agar kita membawa isi terdalam hati kita kepada-Nya: harapan-harapan dan hasrat-hasrat kita, rasa takut dan kegagalan-kegagalan kita, keinginan-keinginan kita serta kebutuhan-kebutuhan kita. Seperti orangtua yang mengasihi anak-anaknya, Dia pun akan memberikan kepada kita segala sesuatu yang kita butuhkan.

DOA: Yesus, Putera Daud, kasihanilah aku. Aku percaya akan kasih-Mu dan akan kuat-kuasa-Mu untuk menyembuhkan. Datanglah, ya Tuhan, dan curahkanlah kuat-kuasa penyembuhan-Mu atas diri siapa saja yang berseru kepada-Mu pada saat ini juga. Tuhan Yesus, aku percaya bahwa sekarang pun Engkau dapat menyembuhkan segala penyakit. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 10:46-52), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MASIH MENYEMBUHKAN PADA HARI INI” (bacaan tanggal 30-5-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-05 BACAAN HARIAN MEI 2013.

Bacalah juga tulisan-tulisan berkenan dengan bacaan Injil hari ini dalam situs/blog SANG SABDA: (1) “RABUNI, AKU INGIN DAPAT MELIHAT” (bacaan tanggal 25-10-09), dan (2) “YESUS, ANAK DAUD, KASIHANILAH AKU” (bacaan tanggal 27-5-10).

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 3-3-11 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 20 Mei 2013 [Pesta/Peringatan S. Bernardinus dr Sienna, Imam Ordo I]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

AKU PERCAYA. TOLONGLAH AKU YANG TIDAK PERCAYA INI!

AKU PERCAYA. TOLONGLAH AKU YANG TIDAK PERCAYA INI!

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VII – Senin, 20 Mei 2013)

Keluarga Fransiskan: Peringatan/Pesta S. Bernardinus dr Siena, Imam Ordo I

CHRIST HEALS EPILEPTIC BOYKetika Yesus, Petrus, Yakobus dan Yohanes kembali pada murid-murid lain, mereka melihat orang banyak mengerumuni murid-murid itu, dan beberapa ahli Taurat sedang bersoal jawab dengan mereka. Pada saat orang banyak itu melihat Yesus, tercenganglah mereka semua dan bergegas menyambut Dia. Lalu Yesus bertanya kepada mereka, “Apa yang kamu persoalkan dengan mereka?” Jawab seorang dari orang banyak itu, “Guru, anakku ini kubawa kepada-Mu, karena ia kerasukan roh yang membisukan dia. Setiap kali roh itu menyerang dia, roh itu membantingkannya ke tanah; lalu mulutnya berbusa, giginya berkertak dan tubuhnya menjadi kejang. Aku sudah meminta kepada murid-murid-Mu, supaya mereka mengusir roh itu, tetapi mereka tidak dapat.” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Hai kamu orang-orang yang tidak percaya, sampai kapan Aku harus tinggal di antara kamu? Sampai kapan aku harus sabar terhadap kamu? Bawalah anak itu ke mari!”

Lalu mereka membawanya kepada-Nya. Waktu roh itu melihat Yesus, ia segera mengguncang-guncangkan anak itu, dan anak itu terpelanting ke tanah dan terguling-guling, sedang mulutnya berbusa. Lalu Yesus bertanya kepada kepada ayah anak itu, “Sudah berapa lama ia mengalami ini?” Jawabnya, “Sejak masa kecilnya. Dan seringkali roh itu menyeretnya ke dalam api untuk membinasakannya. Tetapi jika Engkau dapat berbuat sesuatu, tolonglah kami dan kasihanilah kami.” Jawab Yesus, “Katamu: Jika Engkau dapat? Segala sesuatu mungkin bagi orang yang percaya!” Segera ayah anak itu berteriak, “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!” Ketika Yesus melihat orang banyak makin datang berkerumun, Ia menegur roh jahat itu dengan keras, “Hai kau roh yang menyebabkan orang menjadi bisu dan tuli, Aku memerintahkan engkau, keluarlah daripada anak ini dan jangan merasukinya lagi!” Lalu keluarlah roh itu sambil berteriak dan mengguncang-guncang anak itu dengan hebat. Anak itu kelihatannya seperti orang mati, sehingga banyak orang yang berkata, “Ia sudah mati.” Tetapi Yesus memegang tangan anak itu dan membangunkannya, lalu ia berdiri.

Ketika Yesus masuk ke rumah, dan murid-murid-Nya sendirian dengan Dia, bertanyalah mereka kepada-Nya, “Mengapa kami tidak dapat mengusir roh itu?” Jawab-Nya kepada mereka, “Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan doa.” (Mrk 9:14-29)

Bacaan Pertama: Sir 1:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 93:1-2,5

Bacaan Injil di atas mencatat: “Pada saat orang banyak itu melihat Yesus, tercenganglah mereka semua dan bergegas menyambut Dia” (Mrk 9:15). Mengapa sampai begitu? Mungkinkah penampilan-Nya masih meninggalkan sisa-sisa kemuliaan dari transfigurasi-Nya di atas gunung? Mungkinkah sisa-sisa kemuliaan ilahi ini yang memberikan ayah dari anak yang dirasuki roh jahat itu secercah harapan sehingga berani datang menghadap Yesus dan mengungkapkan kebutuhannya.

Yesus dapat mengatakan bahwa orang ini memiliki iman, namun Ia menantang dia untuk masuk lebih dalam lagi: “Segala sesuatu mungkin bagi orang yang percaya!” (Mrk 9:23). Orang itu menanggapi pernyataan Yesus secara menakjubkan dan dia pun dengan rendah hati membuat pengakuan: “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!” (Mrk 9:24). Orang ini mengakui pergumulan-pergumulannya sendiri dan pada saat yang sama dia membuat langkah iman yang lebih mendalam. Untuk itu dia pun diberi ganjaran luarbiasa oleh Yesus.

Seberapa seringkah kita mengalami situasi serupa? Kita ingin percaya, dan barangkali mengalami Allah yang bekerja dalam hidup kita, namun realitas kebutuhan kita menyebabkan bangkitnya bisikan-bisikan ketidakpercayaan. Kita dapat membungkam bisikan-bisikan ini dengan menyatakan iman yang kita miliki: “Aku percaya bahwa Allah mengasihiku. Aku percaya bahwa Dia memberikan Putera-Nya untuk menyelamatkan aku dari dosa. Aku percaya bahwa Dia telah mencurahkan Roh Kudus-Nya ke dalam diriku guna membuat diriku semakin serupa dengan Dia.” Kita dapat mengumpulkan segala pernyataan iman kepercayaan kita dan bertanya kepada diri kita sendiri: “Jika ini adalah Allah, bagaimana aku mungkin percaya bahwa Dia tidak ingin memenuhi kebutuhanku, menyembuhkan diriku, dan membebaskan aku dari yang jahat?” Allah jauh lebih mampu untuk memperdalam iman kita dan menjawab doa kita!

Yesus juga mengatakan kepada para murid bahwa kemampuan mereka untuk mengusir roh jahat perlu didukung oleh doa (dan puasa). Dia mengetahui bahwa semakin banyak waktu yang dipakai seseorang untuk menyangkal diri, dan menahan diri dari nafsu serta lebih memakainya untuk mendengarkan Allah dalam doa, maka akan semakin mampu pula orang itu membuat langkah iman. Hal itu juga benar bagi kita. Oleh karena itu, marilah kita semua membuat pengakuan iman: “Tuhan, kami percaya, tolonglah ketidakpercayaan kami.” Marilah kita semua juga pergi menghadap Yesus dengan kejujuran dan menerima kasih-Nya bagi kita, walaupun kenyataan menunjukkan bahwa iman kita seringkali goyah.

DOA: Tuhan Yesus, aku mengasihi Engkau. Aku percaya bahwa Engkau akan selalu bersamaku. Engkau adalah kota bentengku, dan dalam Engkau aku tidak pernah akan dikalahkan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 9:14-29), bacalah tulisan yang berjudul “KITA DIPANGGIL UNTUK MENGEMBANGKAN IMAN YANG MATANG” (bacaan tanggal 20-5-13) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 13-05 BACAAN HARIAN MEI 2013. Bacalah juga tulisan yang berjudul “IMAN DAN DOA” (bacaan untuk tanggal 20-2-12), dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 13 Mei 2013 [Peringatan Fakultatif SP Maria dr Fatima]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SETURUT DORONGAN ROH KUDUS

SETURUT DORONGAN ROH KUDUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Paskah – Sabtu, 20 April 2013)

718px-Raising_of_Tabitha

Selama beberapa waktu jemaat di seluruh Yudea, Galilea dan Samaria berada dalam keadaan damai. Jemaat itu dibangun dan hidup dalam takut akan Tuhan dan jumlahnya bertambah besar oleh pertolongan Roh Kudus.

Pada waktu itu Petrus berjalan keliling, mengadakan kunjungan ke mana-mana. Ia singgah juga kepada orang-orang kudus yang tinggal di Lida. Di situ didapatinya seorang bernama Eneas, yang telah delapan tahun terbaring di tempat tidur karena lumpuh. Kata Petrus kepadanya, “Eneas, Yesus Kristus menyembuhkan engkau; bangkitlah dan bereskanlah tempat tidurmu!” Seketika itu juga bangkitlah orang itu. Semua penduduk Lida dan Saron melihat dia, lalu mereka berbalik kepada Tuhan.

Di Yope ada seorang murid perempuan bernama Tabita – dalam bahasa Yunani Dorkas. Perempuan itu banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah. Tetapi pada waktu itu ia sakit lalu meninggal. Setelah dimandikan, mayatnya dibaringkan di ruang atas. Karena Lida dekat dengan Yope, murid-murid yang mendengar bahwa Petrus ada di Lida, menyuruh dua orang kepadanya dengan permintaan, “Segeralah datang ke tempat kami.” Lalu berkemaslah Petrus dan berangkat bersama-sama dengan mereka. Setibanya di sana, ia dibawa ke ruang atas. Semua janda datang berdiri dekatnya dan sambil menangis mereka menunjukkan kepadanya semua baju dan pakaian yang dibuat Dorkas waktu ia masih bersama mereka. Tetapi Petrus menyuruh mereka semua keluar, lalu ia berlutut dan berdoa. Kemudian ia berpaling ke mayat itu dan berkata, “Tabita, bangkitlah!” Lalu Tabita membuka matanya dan ketika melihat Petrus, ia bangun lalu duduk. Petrus memegang tangannya dan membantu dia berdiri. Kemudian ia memanggil orang-orang kudus beserta janda-janda, lalu menunjukkan kepada mereka bahwa perempuan itu hidup. Peristiwa itu tersebar di seluruh Yope dan banyak orang menjadi percaya kepada Tuhan. (Kis 9:31-42)

Mazmur Tanggapan: Mzm 116: 12-17; Bacaan Injil: Yoh 6:60-69

Pada bagian yang awal dari “Kisah para Rasul”, Lukas menggambarkan pengejaran dan penganiayaan terhadap Gereja di Yerusalem (Kis 8:1-3). Akan tetapi pada hari ini kita membaca Gereja “berada dalam keadaan damai”, …. “dibangun”(Kis 9:31). Mengapa terjadi perubahan seperti itu? Bagian akhir dari ayat ini memberikan alasannya: “hidup dalam takut akan Tuhan dan bertambah besar oleh pertolongan Roh Kudus” (Yoh 9:31). Bilamana kita (anda dan saya) disentuh Roh Kudus, maka kita akan bergerak dalam hidup kita secara bebas dan dengan penuh keyakinan.

Kita melihat kebebasan ini dalam diri Petrus, seorang mantan nelayan biasa yang membuat mukjizat-mukjizat yang serupa dengan mukjizat-mukjizat Yesus sendiri. Apakah Petrus merasa gugup ketika menghadapi kelumpuhan yang diderita Eneas dan/atau kematian Tabita (Dorkas)? Dari bacaan di atas, tidak nampak adanya tanda-tanda kegugupan dalam diri Petrus dalam situasi-situasi yang dihadapinya. Daripada membiarkan dirinya dihinggapi rasa bingung apa yang harus dikatakannya atau bagaimana mengatakannya, rasa percaya Petrus pada Yesus memampukannya untuk bertindak secara bebas dan dengan kesederhanaan yang besar dan mengagumkan. Petrus menggunakan kata-kata sehari-hari yang tidak muluk-muluk. Kepada Eneas yang sudah 8 tahun lamanya terbaring di tempat karena lumpuh, Petrus berkata: “Eneas, Yesus Kristus menyembuhkan engkau; bangkitlah dan bereskanlah tempat tidurmu!” (Kis 9:34). Kepada Tabita yang sudah menjadi mayat, Petrus berkata; “Tabita, bangkitlah!” (Kis 9:40). Tentu Petrus berdoa sebelum melakukan mukjizat, seperti dalam kasus Tabita di mana tercatat Petrus menyuruh semua orang ke luar, lalu ia berlutut dan berdoa (Kis 9:40). Petrus membuat banyak mukjizat yang memimpin orang banyak berbalik kepada Tuhan (Kis 9:35,42).

KIS - ENEAS DISEMBUHKAN OLEH PETRUSMengamati bagaimana Yesus bertindak melalui Petrus seharusnya membuat kita berpikir. Petrus ini bukanlah seseorang yang mempunyai reputasi sebagai seorang yang fasih berbicara atau berpidato dan juga bukanlah orang yang dapat mengontrol diri. Sebaliknya dia dikenal sebagai orang yang suka berbicara tanpa pikir-pikir terlebih dahulu, seorang yang suka bertindak secara impulsif. Apabila seseorang yang jauh dari sempurna itu dipanggil untuk melakukan pekerjaan Tuhan, maka apakah tidak mungkin apabila Yesus pun ingin menggunakan kita juga? Bukankah tetap ada kemungkinan bagi kita untuk dapat melayani Dia tanpa harus menjadi sempurna atau sepenuhnya yakin bagaimana harus melangkah selanjutnya?

Kita dapat mencoba mengikuti arahan/pimpinan dari Roh Kudus, namun bagaimana kalau hasilnya tidak positif? Contoh-contoh dari Petrus menunjukkan bahwa Kristus hidup dalam diri kita masing-masing. Secara tetap Dia menawarkan keberanian dan pengharapan. Jadi, kalau memang diperlukan, kita bertobat dan mengakui dosa-dosa kita, kemudian mendengarkan suara Yesus yang lemah-lembut yang akan menolong kita kembali ke rel ….. membangun Kerajaan-Nya. Melalui Petrus, Yesus mengulurkan tangan-Nya sendiri kepada Tabita dan membantunya untuk bangkit berdiri. Demikian pula, melalui Roh Kudus-Nya, Yesus mengulurkan tangan-Nya kepada kita. Oleh karena itu marilah kita bangkit dalam setiap peristiwa, kita berbicara bebas tentang Kabar Baik kepada setiap orang yang kita jumpai, tentunya seturut dorongan Roh Kudus.

DOA: Tuhan Yesus, dengan kekuatanku sendiri aku tidak akan pernah mampu melakukan hal-hal yang Kaulakukan. Namun demikian Engkau sangat bermurah-hati. Engkau telah membagikan Roh Kudus-Mu sendiri dengan diriku dan memberdayakanku untuk melakukan pekerjaan-Mu. Terima kasih, ya Tuhan Yesus. Bentuklah hatiku. Aku sungguh ingin menjadi seperti Engkau. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:60-69), bacalah tulisan dengan judul “TUHAN, KEPADA SIAPAKAH KAMI AKAN PERGI?” (bacaan untuk tanggal 20-4-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2012.

Untuk mendalami Bacaan Pertama (Kis 9:31-42), bacalah tulisan yang berjudul “ENEAS, YESUS MENYEMBUHKAN ENGKAU. TABITA, BANGKITLAH!” (bacaan tanggal 28-4-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 12 April 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MELANGKAH KELUAR DARI ZONA KENYAMANAN KITA

MELANGKAH KELUAR DARI ZONA KENYAMANAN KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan Santa Agata, Perawan-Martir – Selasa, 5 Januari 2013)

JAIRUS' DAUGHTER RESTORED TO LIFESesudah Yesus menyeberang lagi dengan perahu, orang banyak berbondong-bondong datang lalu mengerumuni Dia. Sementara Ia berada di tepi danau, datanglah seorang kepala rumah ibadat yang bernama Yairus. Ketika ia melihat Yesus, sujudlah ia dI depan kaki-Nya dan memohon dengan sangat kepada-Nya, “Anak perempuanku sedang sakit, hampir mati, datanglah kiranya dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, supaya ia selamat dan tetap hidup.” Lalu pergilah Yesus dengan orang itu. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia dan berdesak-desakan di dekat-Nya.

Adalah di situ seorang perempuan yang sudah dua belas tahun menderita pendarahan. Ia telah berulang-ulang diobati oleh berbagai tabib, sehingga telah dihabiskannya semua yang ada padanya, namun sama sekali tidak ada faedahnya malah sebaliknya keadaannya makin memburuk. Dia sudah mendengar berita-berita tentang Yesus, maka di tengah-tengah orang banyak itu ia mendekati Yesus dari belakang dan menyentuh jubah-Nya. Sebab katanya, “Asal kusentuh saja jubah-Nya, aku akan sembuh.” Seketika itu juga berhentilah berhentilah pendarahannya dan ia merasa bahwa badannya sudah sembuh dari penyakitnya. Pada saat itu juga Yesus mengetahui bahwa ada tenaga yang keluar dari diri-Nya, lalu Ia berbalik di tengah orang banyak dan bertanya, “Siapa yang menyentuh jubah-Ku?” Murid-murid-Nya menjawab: “Engkau melihat bagaimana orang-orang ini berdesak-desakan dekat-Mu, dan Engkau bertanya: Siapa yang menyentuh Aku?” Lalu Ia memandang sekeliling-Nya untuk melihat siapa yang telah melakukan hal itu. Perempuan itu, yang menjadi takut dan gemetar ketika mengetahui apa yang telah terjadi atas dirinya, tampil dan sujud di depan Yesus dan memberitahukan kepada-Nya semua yang terjadi. Lalu kata-Nya kepada perempuan itu, “Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan damai dan tetaplah sembuh dari penyakitmu!”

Ketika Yesus masih berbicara datanglah orang dari keluarga kepala rumah ibadat itu dan berkata, “Anakmu sudah meninggal, untuk apa engkau masih menyusahkan Guru?” Tetapi Yesus tidak menghiraukan perkataan mereka dan berkata kepada kepala rumah ibadat, “Jangan takut, percaya saja!” Lalu Yesus tidak memperbolehkan seorang pun ikut serta, kecuali Petrus, Yakobus dan Yohanes, saudara Yakobus. Mereka tiba di rumah kepala rumah ibadat, dan di sana dilihat-Nya orang-orang ribut, menangis dan meratap dengan suara nyaring. Sesudah masuk Ia berkata kepada orang-orang itu, “Mengapa kamu ribut dan menangis? Anak ini tidak mati, tetapi tidur!” Tetapi mereka menertawakan Dia.

Semua orang itu disuruh-Nya keluar, lalu dibawa-Nya ayah dan ibu anak itu serta mereka yang bersama-sama dengan Dia masuk ke kamar anak itu. Lalu dipegang-Nya tangan anak itu, kata-Nya, “Talita kum,” yang berarti, “Hai anak perempuan, aku berkata kepadamu, bangunlah!” Seketika itu juga anak itu bangkit berdiri dan berjalan, sebab umurnya sudah dua belas tahun. Semua orang yang hadir sangat takjub. Dengan sangat Ia berpesan kepada mereka, supaya jangan seorang pun mengetahui hal itu, lalu Ia menyuruh mereka memberi anak itu makan. (Mrk 5:21-43)

Bacaan Pertama: Ibr 12:1-4; Mazmur Tanggapan: Mzm 86:1-6

Bayangkanlah sejenak apa yang kiranya terjadi dalam pikiran si pemimpin sinagoga yang bernama Yairus itu, sebelum dia akhirnya menemui Yesus untuk memohon pertolongan-Nya. Sebagai seorang pemimpin sinagoga, posisinya cukup penting dalam komunitas lokal Yahudi. Mungkin dia telah sekian lama bergumul dengan pemikiran-pemikiran seperti berikut: “Seseorang dengan posisiku tidak dapat meminta-minta pertolongan kepada seorang tukang kayu dari Nazaret yang sekarang menjadi pengkhotbah keliling! Bukankah aku harus ja-im (jaga image)?” Bagaimana dengan perempuan yang menderita pendarahan? Setelah 12 tahun lamanya menderita penyakit, bagaimana kiranya dia harus mengatasi ketiadaan harapan dan rasa takut sebelum “meneroboskan” dirinya melalui orang banyak yang berdesak-desakan di sekeliling Yesus yang sedang berjalan menuju rumah Yairus, kemudian mengambil kesempatan yang ada untuk menyentuh jubah Yesus?

YESUS MENYEMBUHKAN - WANITA YANG KENA PLAGUEApa pun tantangan-tantangan yang mereka hadapi, baik Yairus maupun perempuan yang menderita pendarahan itu telah memilih untuk percaya kepada Yesus dengan membuat langkah iman yang berani. Karena mereka percaya pada sesuatu yang belum mereka lihat (lihat Ibr 11:1), maka mereka pun menerima ganjarannya: Yairus melihat anak perempuannya dibangkitkan dari kematian oleh Yesus, dan perempuan yang menderita pendarahan itu pun secara instan disembuhkan dan disuruh pergi dengan iringan berkat dari Putera Allah sendiri! Sungguh indah semuanya ini!

Kedua pribadi manusia ini, Yairus dan perempuan yang menderita pendarahan, memberikan kepada kita dua contoh dari iman yang diminta oleh Yesus untuk kita tumbuh-kembangkan dalam diri kita masing-masing. Bukankah kita semua telah mengalami situasi-situasi di mana sebelumnya kita begitu merasa ragu-ragu atau takut mengambil tindakan karena hal itu berarti mengambil risiko? Barangkali kita memang belum siap untuk melangkah keluar dari “zona kenyamanan” (comfort zone) kita. Barangkali kita merasa khawatir apa yang ada dalam pikiran orang-orang tentang diri kita. Barangkali kita takut gagal. Bagaimana dengan menawarkan diri untuk mendoakan doa kesembuhan untuk seorang tetangga yang sedang sakit? Apakah kita akan melakukannya bila kita menyadari bahwa Yesus-lah yang meminta kita untuk melakukannya? Dari waktu ke waktu Yesus memberikan inspirasi kepada kita lewat sentuhan-sentuhan-Nya pada hati kita masing-masing! Apabila kita membuat langkah-iman sambil menghadapi risiko yang ada, maka kita sering menemukan bahwa orang-orang menerima pencurahan cintakasih Tuhan lewat diri kita ini dengan gembira dan terbuka. Apabila kita memperkenankan Roh Kudus bekerja dalam diri kita, maka kita akan menyaksikan bahwa Allah menyentuh orang-orang lain melalui doa-doa kita dan kesaksian hidup kita dalam Yesus.

Hari ini, perkenankanlah Yesus mengetahui bahwa Saudari-Saudara sedang mencari inspirasi apa yang dikehendaki-Nya untuk diberikan kepada anda. Katakanlah kepada Tuhan Yesus bahwa anda sungguh ingin mengatasi rasa takut dan ragu-ragu yang selama ini menekan diri anda, dan sungguh mau bertindak mengatasinya. Mohonlah rahmat untuk melangkah dalam iman sebagaimana ditunjukkan oleh-Nya. Ketuklah, maka pintu pun akan dibuka untuk anda – pintu yang akan memimpin anda ke dalam iman yang lebih mendalam dan intim dengan Yesus, supaya menjadi berkat bagi orang-orang lain juga.

DOA: Tuhan Yesus, berbicaralah kepada hatiku pada hari ini. Berikanlah kepadaku telinga untuk mendengar Engkau dan mengenali arahan dari-Mu. Tolonglah aku agar mampu bertumbuh dalam iman yang aktif, penuh keyakinan, dan berani mengambil risiko. Aku menaruh kepercayaan pada kebaikan dan belas kasihan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Ibr 12:1-4), bacalah tulisan dengan judul “JIKA KITA MENGANDALKAN DIRI PADA KEBENARAN YESUS” (bacaan tanggal 5-2-13), dalam situs/blog PAX EET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; 12-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2013.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 31-1-12 dalam situs/blog PAX ET BONUM)

Cilandak, 11 Januari 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MUKJIZAT-MUKJIZAT DAN KERAJAAN ALLAH

MUKJIZAT-MUKJIZAT DAN KERAJAAN ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Fransiskus dr Sales, Uskup & Pujangga Gereja – Kamis, 24 Januari 2013)

HARI KETUJUH PEKAN DOA SEDUNIA

YESUS MENGAJAR DARI DALAM PERAHU - 505

Kemudian Yesus dengan murid-murid-Nya menyingkir ke danau, dan banyak orang dari Galilea mengikuti-Nya, juga dari Yudea, dari Yerusalem, dari Idumea, dari seberang Yordan, dan dari daerah Tirus dan Sidon. Mereka semua datang kepada-Nya, karena mendengar segala hal yang dilakukan-Nya. Ia menyuruh murid-murid-Nya menyediakan sebuah perahu bagi-Nya karena orang banyak itu, supaya mereka jangan sampai menghimpit-Nya. Sebab Ia menyembuhkan banyak orang, sehingga semua penderita penyakit berdesak-desakan kepada-Nya hendak menyentuh-Nya. Setiap kali roh-roh jahat melihat Dia, mereka sujud di hadapan-Nya dan berteriak, “Engkaulah Anak Allah.” Tetapi Ia dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia. (Mrk 3:7-12)

Bacaan Pertama: Ibr 7:25-8:6; Mazmur Tanggapan: Mzm 40:7-10,17

Bacaan Injil hari ini menceritakan kepada kita tentang banyak orang yang mengikuti Yesus, dari Galilea di mana Dia telah membuat banyak mukjizat; juga dari Yudea, Yerusalem, Idumea, Transyordan dan dari daerah Tirus dan Sidon. Mereka semua datang kepada-Nya karena mendengar segala hal yang dilakukan oleh-Nya.

Kadang-kadang Yesus mencoba untuk menghindar dari orang banyak. Bagi-Nya perlulah untuk sekali-sekali mengundurkan diri untuk sementara (ingat retret!). Ia ingin menyediakan waktu untuk berdoa, sendiri saja dengan para murid-Nya. Yesus harus menyegarkan diri-Nya secara spiritual, dan juga memberikan contoh kepada kita tentang perlunya doa dalam kehidupan kita.

Akan tetapi Yesus menyadari bahwa kebanyakan orang yang berduyun-duyun datang kepada-Nya untuk memperoleh sesuatu dari perjumpaan dengan-Nya, misalnya kesembuhan dari penyakit untuk diri sendiri atau orang sakit yang dibawa. Ada juga yang datang untuk memuaskan rasa ingin tahu mereka tentang berbagai mukjizat dan tanda heran yang dibuat-Nya. Tentu juga ada yang mengikuti Yesus sekadar untuk mampu mengatakan bahwa dirinya telah berhasil menyentuh-Nya.

YESUS MENGAJAR DARI DALAM PERAHUYesus mempunyai ide-ide yang lain. Mukjizat-mukjizat-Nya hanyalah sarana untuk mencapai hal-hal yang lebih tinggi. Sebuah cara untuk memberikan bukti tentang belas kasih (kerahiman) Allah. Bahkan sebagai sebuah cara dalam mempersiapkan orang-orang untuk mendengarkan Kabar Baik-Nya tentang Kerajaan Allah. Oleh karena itu Yesus menyuruh para murid-Nya untuk menyediakan sebuah perahu di pinggir pantai. Dengan demikian, Yesus dapat menghindarkan diri dari himpitan orang banyak dan barangkali untuk berkhotbah kepada orang banyak itu dari dalam perahu itu.

Seperti Yesus Kristus, Gereja sebagai tubuh-Nya di atas bumi ini juga senantiasa perlu melibatkan diri dalam karya-karya karitatif, guna menunjukkan belas kasih Allah yang diwujudkan dalam tindakan. Gereja harus senantiasa mempunyai cintakasih besar bagi orang-orang miskin. Sebagai umat Kristiani, kita masing-masing harus memiliki cintakasih sejati terhadap orang-orang tertindas dan menderita. Namun cintakasih kita tidak boleh berhenti di sana. Kita juga harus membawa pesan Kerajaan Allah kepada mereka ……; kalau tidak memungkinkan untuk dilakukan dengan menggunakan kata-kata, paling sedikit kita dapat membawa pesan tersebut lewat contoh hidup kita sehari-hari sebagai para murid-Nya. Kita semua sebenarnya dapat memberitakan Kerajaan Allah lewat teladan hidup kita.

DOA: Tuhan Yesus, mukjizat-mukjizat dan berbagai tanda heran yang Kaubuat bahkan pada zaman ini mempersiapkan kami untuk mendengarkan Kabar Baik-Mu tentang Kerajaan Allah. Terima kasih Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Ibr 7:25-8:6), bacalah tulisan yang berjudul “IA SANGGUP MENYELAMATKAN DENGAN SEMPURNA SEMUA ORANG YANG MELALUI DIA DATANG KEPADA ALLAH” (bacaan untuk tanggal 24-1-13), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; 13-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2013.
Berkaitan dengan Bacaan Injil hari ini, bacalah juga tulisan yang berjudul “YESUS MEMANG ANAK ALLAH” (bacaan tanggal 19-1-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 5 Januari 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HUKUM TERTINGGI

HUKUM TERTINGGI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa II – Rabu, 23 Januari 2013)

HARI KEENAM PEKAN DOA SEDUNIA

Jesus_hlng_wthrd_hnd_1-115

Kemudian Yesus masuk lagi ke rumah ibadat. Di situ ada seorang yang tangannya mati sebelah. Mereka mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang itu pada hari Sabat, supaya mereka dapat mempersalahkan Dia. Kata Yesus kepada orang yang tangannya mati sebelah itu, “Mari, berdirilah di tengah!” Kemudian kata-Nya kepada mereka, “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuhnya?” Tetapi mereka diam saja. Ia sangat berduka karena kekerasan hati mereka dan dengan marah Ia memandang orang-orang di sekeliling-Nya lalu Ia berkata kepada orang itu, “Ulurkanlah tanganmu!” Orang itu mengulurkannya, maka sembuhlah tangannya itu. Lalu keluarlah orang-orang Farisi dan segera membuat rencana bersama para pendukung Herodes untuk membunuh Dia. (Mrk 3:1-6)

Bacaan Pertama: Ibr 7:1-3,15-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 110:1-4

“Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuhnya?” (Mrk 3:4).

Yesus menyembuhkan orang sakit pada hari Sabat merupakan peristiwa yang cukup sering terjadi dan merupakan salah satu isu konflik dengan orang-orang Farisi, hal mana kelihatannya telah menyebabkan ketegangan yang serius antara diri-Nya dengan para petinggi agama Yahudi. Di samping tindakan penyembuhan aktual yang memang secara keras dilarang oleh hukum Sabat, penyembuhan-penyembuhan Yesus itu membuat orang berduyun-duyun datang menyaksikan dan juga membawa orang-orang sakit untuk disembuhkan, semua itu sangat mengganggu istirahat Sabat.

Akan tetapi, di sini Yesus mengajar satu pelajaran penting. Hukum itu baik, dalam hal ini hukum Sabat. Namun hukum ini tidak boleh mengobok-obok pelayanan karitatif (Latin: caritas = kasih), artinya melakukan perbuatan baik bagi sesama. Jadi, terkadang Yesus memang dipandang melakukan tindakan melawan hukum Sabat dan menantang para ahli Taurat dan Farisi. Tetapi, di sini hanya ada dua pilihan: mengikuti Hukum cintakasih-Nya atau tidak!

Kita juga harus menentukan sikap tegas berkaitan dengan cintakasih Kristiani. Apakah kita mau mengubah cara-cara kita yang lama, rutinitas yang biasa untuk melakukan suatu tindakan cintakasih? Maukah kita menolong seorang insan yang sungguh membutuhkan pertolongan karena berada dalam situasi kritis pada suatu pagi, walaupun hal ini berarti tidak dapat menghadiri Misa harian yang sudah merupakan kebiasaan kita?

Bagaimana sikap dan tindakan kita dalam menghadapi kelompok-kelompok yang beriman lain. Apakah tindakan cintakasih senantiasa merupakan keharusan bagi kita, walaupun tidak/kurang populer di mata sahabat-sahabat terdekat kita? Bagaimana sikap kita menghadapi orang-orang miskin, apakah miskin dalam hal keuangan, miskin dalam hal latar belakang pendidikan, atau miskin dalam hal personalitas dan penampilan? Apakah kita bersikap baik dan ramah terhadap mereka seperti kita baik dan ramah terhadap orang-orang yang berada, yang berlatar pendidikan baik, dan yang berpenampilan menarik?

Singkatnya, apakah nilai-nilai yang kita anut senantiasa lurus? Hukum-hukum adalah baik. Hukum-hukum itu adalah semacam rambu-rambu bagi kita dalam menjalani jalan kehidupan kita. Namun hukum cintakasih Kristiani berada di atas rambu-rambu jalanan kehidupan kita, artinya di atas hukum apa pun. Hukum cintakasih Kristiani merupakan tolok ukur akhir dari suatu kehidupan Kristiani yang otentik.

DOA: Yesus Kristus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat kami. Terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu untuk hukum cintakasih yang Kauberikan kepada kami. Semoga hukum cintakasih-Mu ini senantiasa mengatur hidup kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Ibr 7:1-3,15-17), bacalah tulisan dengan judul “YESUS ADALAH IMAM UNTUK SELAMA-LAMANYA, MENURUT ATURAN MELKISEDEK’” (bacaan untuk tanggal 23-1-13), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; 13-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2013.
Berkaitan dengan Bacaan Injil hari ini, bacalah juga tulisan yang berjudul “MANAKAH YANG DIPERBOLEHKAN PADA HARI SABAT?” (bacaan tanggal 18-1-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 5 Januari 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PENYEMBUHAN OLEH YESUS

PENYEMBUHAN OLEH YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Jumat, 18 Januari 2013)

PEMBUKAAN PEKAN DOA SEDUNIA UNTUK PERSATUAN UMAT KRISTIANI

YESUS MENYEMBUHKAN - ORANG LUMPUH YANG DI TURUNKAN DARI LOTENGKemudian, sesudah lewat beberapa hari, waktu Yesus datang lagi ke Kapernaum, tersebarlah kabar bahwa Ia ada di rumah. Lalu datanglah orang-orang berkerumun sehingga tidak ada lagi tempat, bahkan di depan pintu pun tidak. Sementara Ia memberitakan firman kepada mereka, ada orang-orang datang membawa kepada-Nya seorang lumpuh, digotong oleh empat orang. Tetapi mereka tidak dapat membawanya kepada-Nya karena orang banyak itu, lalu mereka membuka atap di atas Yesus; sesudah terbuka mereka menurunkan tikar, tempat orang lumpuh itu terbaring. Ketika Yesus melihat iman mereka berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu, “Hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni!” Tetapi beberapa ahli Taurat sedang duduk di situ, dan mereka berpikir dalam hatinya, “Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain Allah sendiri?” Tetapi Yesus segera mengetahui dalam hati-Nya bahwa mereka berpikir demikian, lalu Ia berkata kepada mereka, “Mengapa kamu berpikir begitu dalam hatimu? Manakah yang lebih mudah, mengatakan kepada orang lumpuh ini: Dosa-dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, angkatlah tikarmu dan berjalanlah? Tetapi supaya kamu tahu bahwa Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa di bumi ini” – berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu –, “Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tikarmu dan pulanglah ke rumahmu!” Orang itu pun bangun, segera mengangkat tikarnya dan pergi ke luar dari hadapan orang-orang itu, sehingga mereka semua takjub lalu memuliakan Allah, katanya, “Yang begini belum pernah kita lihat.” (Mrk 2:1-12)

Bacaan pertama: Ibr 4:1-5,11; Mazmur Tanggapan: Mzm 78:3-4,6-8

Bayangkanlah diri anda sebagai orang lumpuh dalam bacaan Injil hari ini. Anda baru saja diturunkan dari atap rumah yang penuh sesak itu …… di atas tikar…… ke dalam ruangan yang dipadati dengan orang-orang …… tepat di depan Yesus. Tiba-tiba Yesus menaruh tangan-Nya atas diri anda seraya berkata: “Hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni!” (Mrk 2:5). Anda merasa lega sampai derajat tertentu, namun ketika anda melihat beberapa ahli Taurat yang duduk di situ menunjukkan wajah yang mencerminkan ketidaksenangan mereka, maka anda juga berkata dalam hati, “Aku masih lumpuh!” Namun anda memang beruntung, karena Mesias datang bukan hanya untuk mengampuni dosa-dosa anda, melainkan juga untuk menyembuhkan sakit-penyakit dalam tubuh anda. Oleh karena itu, Yesus mendekati anda lagi sambil berkata, “Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tikarmu dan pulanglah ke rumahmu!” (Mrk 2:11). Anda pun bangun, segera mengangkat tikar anda dan pergi keluar dari hadapan orang-orang itu dengan penuh sukacita. Hari itu adalah hari yang paling membahagiakan dalam hidup anda!

Dari kehidupan-Nya dan pelayanan-Nya di depan umum, Yesus senantiasa memiliki keprihatinan untuk menyembuhkan seluruh pribadi manusia – roh, jiwa dan raga – dari cengkeraman dosa, supaya menjadi utuh lagi. Perempuan yang menderita pendarahan datang kepada Yesus dalam iman, lalu dia pun mengalami kesembuhan secara fisik (Mrk 5:25-34). Orang yang buta sejak lahirnya disembuhkan fisiknya, lalu bertemu dengan Yesus dan menerima serta mengakui Dia sebagai Tuhan-nya (Yoh 9:1-38). Orang-orang yang semula tidak percaya seringkali beriman kepada Yesus karena menyaksikan sendiri satu atau lebih mukjizat penyembuhan yang dilakukan oleh Yesus.

Ketika Yesus mengutus 70 (tujuh puluh) murid-Nya, Dia memerintahkan mereka untuk memberitakan Kabar Baik dan menyembuhkan orang sakit (Luk 10:1-9). ‘Kisah para Rasul’ dipenuhi dengan cerita-cerita tentang penyembuhan dan mukjizat yang dilakukan oleh orang-orang Kristiani yang baru saja dipenuhi dengan Roh Kudus.

Sesungguhnya, Allah memiliki kuat-kuasa untuk menyembuhkan orang sakit dan membuat mukjizat-mukjizat – bahkan melalui diri kita (anda dan saya). Oleh karena itu, dalam upaya kita membawa terang Yesus Kristus kepada orang-orang lain, kita harus senantiasa waspada dan siap menghadapi situasi-situasi di mana kita didorong oleh Roh-Nya untuk menyembuhkan orang-orang sakit. Dengan demikian, bila ada anggota keluarga kita – dekat dan/atau jauh – , kerabat kerja yang sedang sakit dan tentunya membutuhkan kesembuhan fisik, baiklah kita menawarkan diri untuk berdoa bersama orang itu. Kita tidak memerlukan rumusan doa yang istimewa; kita hanya perlu berdoa dalam iman sambil mengharapkan Allah melakukan hal-hal besar.

Kebanyakan kita pada umumnya merasa nyaman untuk percaya bahwa Allah dapat menyembuhkan roh kita dan mengampuni dosa kita, akan tetapi kita kurang merasa yakin bahwa Dia juga dapat menyembuhkan kita secara fisik. Oleh karena itu, janganlah kita membiarkan “rasa takut bahwa tidak ada yang akan terjadi” menghentikan upaya kita untuk mendoakan orang sakit.

DOA: Tuhan Yesus, berikanlah kepadaku suatu roh keberanian untuk mendoakan orang-orang sakit sehingga dengan demikian aku dapat sungguh percaya dalam kuat-kuasa penyembuhan-Mu. Bawalah kepadaku orang-orang dengan siapa aku dapat bersama mereka dan bercerita tentang Engkau. Tunjukkanlah kuat-kuasa-Mu, ya Tuhan, dan dimuliakanlah nama-Mu selalu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Ibr 4:1-5,11), bacalah tulisan yang berjudul “BAIKLAH KITA BERUSAHA MASUK KE DALAM PERHENTIAN ITU” (bacaan tanggal 19-1-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH 2013.
Berkaitan dengan Bacaan Injil hari ini (Mrk 2:1-12), bacalah tulisan yang berjudul “HAI ANAK-KU, DOSA-DOSAMU SUDAH DIAMPUNI” (bacaan tanggal 13-1-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM. Bacalah juga tulisan yang berjudul “YANG BEGINI BELUM PERNAH KITA LIHAT” (bacaan tanggal 19-2-12) dalam situs/blog SANG SABDA.
Berkaitan dengan Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani yang dimulai pada hari ini, bacalah tulisan-tulisan dalam kategori: “EKUMENISME”.

Cilandak, 2 Januari 2013 [Peringatan S. Basilius Agung dan Gregorius dr Nazianze]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

RAHASIA MESIANIS DAN KETEGANGAN-KETEGANGAN

RAHASIA MESIANIS DAN KETEGANGAN-KETEGANGAN

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Antonius, Abas – Kamis, 17 Januari 2013)

JESUS HEALS THE LEPERSeseorang yang sakit kusta datang kepada Yesus, dan sambil berlutut di hadapan-Nya ia memohon bantuan-Nya, katanya, “Kalau Engkau mau, Engkau dapat menyembuhkan aku.” Lalu tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan. Ia mengulurkan tangan-Nya, menyentuh orang itu dan berkata kepadanya, “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu dan ia sembuh. Segera Ia menyuruh orang ini pergi dengan peringatan keras, “Ingat, jangan katakan sesuatu kepada siapa pun juga, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk upacara penyucianmu persembahan, yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka.” Tetapi orang itu pergi memberitakan peristiwa itu serta menyebarkannya ke mana-mana, sehingga Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota. Ia tinggal di luar di tempat-tempat yang terpencil; namun orang terus juga datang kepada-Nya dari segala penjuru. (Mrk 1:40-45)

Bacaan Pertama: Ibr 3:7-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 95:6-11

Kita dapat/boleh saja berspekulasi tentang apa yang dipikirkan oleh orang kusta itu ketika dia sudah disembuhkan oleh Yesus dan Ia mengatakan kepadanya untuk tidak menceritakan mukjizat itu kepada siapa pun (Mrk 1:44). Apakah orang kusta yang disembuhkan Yesus itu begitu dipenuhi antusiasme karena rasa gembira sehingga merasa bahwa dia sungguh harus bercerita kepada setiap orang tentang mukjizat yang baru saja terjadi atas dirinya? Bukankah dengan kesembuhannya orang itu dibebaskan dari keterasingannya dalam masyarakat (lihat Im 13:45-46)? Ataukah orang itu berpikir, “Aku akan melakukan suatu kebaikan bagi Yesus dengan menceritakan mukjizat penyembuhan ini kepada semua orang!” Apa pun kasusnya, Markus menggunakan cerita ini untuk memperkenalkan dua tema yang akan kita temui di sana-sini dalam Injilnya: Pertama-tama, Yesus bersikukuh untuk menjaga “rahasia Mesianis” berkaitan dengan diri-Nya, dan kedua adalah ketegangan yang akan menyertai Yesus selama Dia melaksanakan misi-Nya, yaitu mewartakan Kerajaan Surga dan menyerukan pertobatan.

Sepanjang Injilnya, Markus menggambarkan Yesus yang enggan untuk menyandang gelar “Mesias” (lihat Mrk 1:34; 3:12; 5:43; 7:36; 8:26; 9:9). Markus menekankan keengganan ini agar ia dapat menunjukkan bahwa mukjizat-mukjizat saja tidaklah cukup untuk menyatakan Yesus sebagai Mesias. Mukjizat-mukjizat itu menunjuk pada suatu pernyataan/perwahyuan yang lebih penuh: Dia yang diurapi Allah akan membebas-merdekakan umat manusia dari dosa lewat kematian-Nya di atas kayu salib. Oleh karena itu, siapa saja yang mau menjadi seorang murid dari sang Mesias, harus memanggul salib dan mengikuti Dia (lihat Luk 9:23; bdk. Mat 10:38; Luk 14:27).

Dengan mengabaikan perintah Yesus untuk menutup mulutnya, dengan tak sengaja orang kusta yang disembuhkan itu membawa ketegangan yang membawa dampak atas pelayanan Yesus selanjutnya. Sampai saat-saat sebelum penyembuhan orang kusta itu, semuanya berjalan baik-baik dan lancar-lancar saja. Namun tiba-tiba timbullah komplikasi yang dengan sederhana dicatat oleh Markus: “… Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota” (Mrk 1:45). Perubahan atmosfir ini merupakan sinyal kemunculan konfrontasi yang akan dialami Yesus dengan banyak pemimpin agama Yahudi – konfrontasi yang akhirnya menggiring diri-Nya ke kayu salib (Mrk 2:6-7; 3:6).

Yesus mengetahui bahwa pelayanan-Nya di depan umum akan menyebabkan timbulnya konflik. Seperti orang kusta yang tidak kooperatif atau tidak taat tadi, yang mengabaikan perintah Yesus atau berpikir ia dapat “memperbaiki” rencana Allah, maka sisi buruk dari kodrat manusiawi kita juga akan – mau tidak mau – membawa kita kepada situasi konflik dengan Kerajaan Allah. Walaupun demikian Yesus tidak pernah membiarkan pergumulan ini mencegah diri-Nya untuk menyembuhkan, memberitakan Kabar Baik dan memanggil orang-orang kepada diri-Nya. Yesus menerima biaya/harga dari konflik betapa pun mahalnya demi membebaskan kita, bahkan sampai mati di kayu salib.

Marilah kita mengikuti jejak sang Mesias, yang dengan penuh kerendahan hati taat pada Bapa surgawi dalam segala hal (bacalah Flp 2:6-11; lihat juga Luk 22:42 dan padanannya). Janganlah kita hanya taat pada perintah-perintah-Nya yang kita sukai saja. Sebaliknya, marilah kita berikan segenap hati kita kepada Yesus. Maka, kita pun akan mengalami betapa berbahagianya diri kita karena terjalinnya suatu relasi yang lebih mendalam dengan-Nya.

DOA: Bapa surgawi, ajarlah aku melakukan kehendak-Mu, sebab Engkaulah Allahku! Kiranya Roh-Mu yang baik itu menuntun aku (Mzm 143:10). Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Ibr 3:7-14), bacalah tulisan yang berjudul “HARI INI, JIKA KAMU MENDENGAR SUARA-NYA” (bacaan tanggal 17-1-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2013.
Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 1:40-45), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MENGHINDARKAN DIRI DARI PUBLISITAS” (bacaan tanggal 12-2-12) dalam situs/blog SANG SABDA dan tulisan dengan judul “KALAU ENGKAU MAU, ENGKAU DAPAT MENYEMBUHKAN AKU” (bacaan untuk tanggal 12-2-12), dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 2 Januari 2013 [Peringatan S. Basilius Agund dan Gregorius dr Nazianse]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PADA HARI INI PUN YESUS MASIH MENYEMBUHKAN

PADA HARI INI PUN YESUS MASIH MENYEMBUHKAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Rabu, 16 Januari 2013

BANYAK ORANG DISEMBUHKANSekeluarnya dari rumah ibadat itu Yesus bersama Yakobus dan Yohanes pergi ke rumah Simon dan Andreas. Ibu mertua Simon terbaring karena sakit demam. Mereka segera memberitahukan keadaannya kepada Yesus. Ia pergi ke tempat perempuan itu, dan sambil memegang tangannya Ia membangunkan dia, lalu lenyaplah demamnya. Kemudian perempuan itu melayani mereka. Menjelang malam, sesudah matahari terbenam, dibawalah kepada Yesus semua orang yang menderita sakit dan yang kerasukan setan. Seluruh penduduk kota itu pun berkerumun di depan pintu. Ia menyembuhkan banyak orang yang menderita bermacam-macam penyakit dan mengusir banyak setan; Ia tidak memperbolehkan setan-setan itu berbicara, sebab mereka mengenal Dia.

Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang terpencil dan berdoa di sana. Tetapi Simon dan kawan-kawannya mencari-cari Dia. Ketika mereka menemukan-Nya, mereka berkata kepada-Nya, “Semua orang mencari Engkau.” Jawab-Nya, “Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota sekitar ini, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang.” Lalu pergilah Ia ke seluruh Galilea memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat mereka dan mengusir setan-setan. (Mrk 1:29-39)

Bacaan Pertama: Ibr 2:14-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:1-4,6-9

Dalam artian tertentu kita dapat mengatakan, bahwa Injil Markus adalah Injil mukjizat-mukjizat Yesus. Dalam bab 1 yang telah kita baca dua hari ini saja kepada kita telah disuguhkan cerita-cerita tentang mukjizat-mukjizat Yesus. Mukjizat pertama dalam Injil Markus diceritakan dalam bacaan Injil kemarin, peristiwa pengusiran roh jahat yang pertama. Pada bacaan Injil hari ini kita membaca narasi singkat tentang penyembuhan atas diri ibu mertua Petrus yang menderita sakit demam. Mukjizat ini disusul dengan catatan-catatan seperti berikut: “Menjelang malam, sesudah matahari terbenam, dibawalah kepada Yesus semua orang yang menderita sakit dan yang kerasukan setan. Seluruh penduduk kota itu pun berkerumun di depan pintu. Ia menyembuhkan banyak orang yang menderita bermacam-macam penyakit dan mengusir banyak setan ……” (Mrk 1:32-34). Catatan-catatan dalam Injil ini tentunya mengindikasikan bahwa mukjizat penyembuhan dan pengusiran roh jahat oleh Yesus sungguh banyak.

IBU MERTUA PETRUS DISEMBUHKANSelagi kita membaca narasi Injil seperti ini, sadarkah kita bahwa Yesus yang berkarya di Kapernaum dan banyak tempat ini adalah Yesus yang sama yang kita jumpai pada perayaan Ekaristi, teristimewa ketika kita menerima Komuni Kudus? Tidakkah kita memikirkan fakta bahwa Yesus dalam Injil ini, Allah-Manusia yang telah bangkit dari antara orang mati, kini hidup sebagai Allah dan sebagai manusia di antara kita? Apabila kita mengatakan “ya” sebagai jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut, maka mengapa kita sering merasa kesepian, takut, sedih, galau, seakan-akan tidak ada siapa pun yang memperhatikan berbagai kesusahan kita, sakit-penyakit yang kita derita, dan keprihatinan-keprihatinan kita? Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat kita! Tentu saja Dia memperhatikan kita hari ini tidak kurang daripada Dia memperhatikan dengan penuh belarasa dan belaskasih orang-orang yang hidup di tanah Palestina pada zaman-Nya.

Sungguh agak aneh dan mengherankan apabila kita, yang telah diberikan karunia iman oleh-Nya, malah kehilangan rasa percaya akan kebaikan dan kuasa Yesus Kristus sesuai dengan iman kita itu. Kita tidak perlu mengharapkan terjadinya mukjizat untuk semua masalah kita. Namun kita tentunya harus mempunyai rasa percaya dan yakin bahwa dengan pertolongan Yesus Kristus, berbagai upaya kita akan mengangkat beban masalah-masalah kita. Seandainya upaya kita itu tidak seturut kehendak Allah, maka rahmat Kristus akan membawa pencerahan bagi pemahaman kita, menolong kita untuk dapat melihat kehendak-Nya dalam pencobaan-pencobaan yang kita hadapi, dan memberikan damai-sejahtera serta ketenangan yang tidak dapat dirampas oleh krisis duniawi yang mana pun. Oleh karena itu, marilah kita membawa segala sakit-penyakit kita kepada Yesus Kristus, sang Tabib Penyembuh, Dokter Agung, seperti yang dilakukan oleh para pendahulu kita di tanah Palestina dan juga para penerus mereka dari masa ke masa.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, kami percaya bahwa pada hari ini pun Engkau masih menyembuhkan banyak orang yang menderita berbagai sakit-penyakit, karena Engkau tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya (Ibr 13:8). Terima kasih Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Ibr 2:14-18), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS ADALAH IMAM BESAR AGUNG KITA” (bacaan untuk tanggal 16-1-13), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; 13-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2013.

Cilandak, 1 Januari 2013 [HARI RAYA SANTA PERAWAN MARIA BUNDA ALLAH]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

AJARAN BARU DISERTAI DENGAN KUASA

AJARAN BARU DISERTAI DENGAN KUASA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Selasa, 15 Januari 2013)

YESUS SEORANG PEMIMPIN YANG TEGASYesus dan murid-murid-Nya tiba di Kapernaum. Setelah hari Sabat mulai, Yesus segera masuk ke dalam rumah ibadat dan mengajar. Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat. Pada waktu itu di dalam rumah ibadat mereka, ada seorang yang kerasukan roh jahat. Orang itu berteriak, “Apa urusan-Mu dengan kami, hai Yesus orang Nazaret? Apakah Engkau datang untuk membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah.” Tetapi Yesus membentaknya, “Diam, keluarlah dari dia!” Roh jahat itu mengguncang-guncang orang itu, dan sambil menjerit dengan suara nyaring roh itu keluar dari dia. Mereka semua takjub, sehingga mereka memperbincangkannya, katanya, “Apa ini? Suatu ajaran baru disertai dengan kuasa! Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat dan mereka taat kepada-Nya!” Lalu segera tersebarlah kabar tentang Dia ke segala penjuru di seluruh Galilea. (Mrk 1:21-28)

Bacaan Pertama: Ibr 2:5-12; Mazmur Tanggapan: Mzm 8:2,5-9

Bacaan Injil hari ini adalah catatan pertama mengenai pengusiran roh-roh jahat oleh Yesus dalam Injil Markus. Ada empat narasi serupa dalam Injil Markus. Yang menarik untuk dicatat adalah, bahwa narasi ini dilengkapi dengan pernyataan-pernyataan mengenai otoritas Yesus dalam mengajar. “Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat” (Mrk 1:22). Ini pernyataan pertama dan dikemukakan sebelum narasi pengusiran roh jahat.

Dalam rumah ibadat itu ada seorang yang kerasukan roh jahat dan mulai “ngoceh” dengan Yesus. Lalu Yesus membentak roh jahat itu: “Diam, keluarlah dari dia!” Roh jahat itu mengguncang-guncang orang itu, dan sambil menjerit dengan suara nyaring roh itu keluar dari dia. Injil kemudian mengatakan bahwa semua orang menjadi takjub dan mulai memperbincangkannya: “Apa ini? Suatu ajaran baru disertai dengan kuasa! Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat dan mereka taat kepada-Nya!” (Mrk 1:23-27). Reputasi Yesus dalam hal mengajar disertai otoritas atas roh-roh jahat pun menyebar ke segala penjuru di Galilea (Mrk 1:28). Ini pernyataan kedua.

Dengan kuasa dan kewenangan, Yesus berbicara kepada hati orang-orang dan mengusir roh jahat di depan orang-orang. Semua orang yang menyaksikan peristiwa ini menjadi takjub dan kagum. Ini bukan sekedar khotbah. Ini mengingatkan kita kepada apa yang ditulis oleh Santo Paulus, “Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan bukti bahwa Roh berkuasa” (1Kor 2:4).

Begitu sering kita memandang diri kita sebagai orang-orang Kristiani pada saat-saat semuanya berjalan mudah dan lancar, ketika ajaran Kristus “cocok” dengan cara hidup kita yang enak-mudah, ketika tidak mengganggu kenyamanan kita. Namun apabila ajaran-Nya terasa keras, ketika mengenai diri kita sendiri, maka kita cenderung mengabaikannya, serta menilainya sebagai “kuno”. Kita gagal mengenali serta mengakui otoritas ilahi tertinggi yang digunakan oleh Yesus ketika berbicara sebagaimana dicatat dalam Injil. Apabila Dia berbicara mengenai kasih, tentang keadilan, tentang orang miskin, tentang memberikan satu potong jubah kepada sesama kita yang tidak memilikinya apabila kita memiliki dua potong jubah, maka kita mundur …… kita tidak mau melakukannya. Pada saat itu kita menerapkan nilai-nilai yang berbeda. Kita pun gagal bertindak sebagai orang Kristiani sejati. Kita tidak mau/rela mengorbankan kenyamanan kita agar dapat hidup oleh otoritas Injil Kristus. Kita lupa akan sabda-Nya: “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (Yoh 3:31-32).

Bukankah sabda Yesus mempunyai kuasa untuk menghukum kita, menghibur kita, menyembuhkan kita dan bahkan membebaskan kita? Kata-kata Yesus memang mencakup pemahaman manusiawi, akan tetapi tidak terbatas sampai di situ saja.

Apakah kita mengetahui kebenaran Injil sedemikian rupa sehingga kita dapat mengalami kuasanya untuk memerdekakan kita? Apakah kita mengalami kemerdekaan, sukacita dan keakraban dengan Yesus sebagai akibat dari kita mendengarkan sabda-Nya yang diproklamasikan dalam liturgi Gereja, pada pertemuan kelompok doa dan/atau Kitab Suci, pada saat-saat berdoa secara pribadi, atau pada pada pembacaan dan permenungan Kitab Suci secara pribadi? Ini adalah warisan kita sebagai anak-anak Allah yang telah dibaptis. Selagi kita mengalami kasih ilahi-Nya, kita pun akan menyerahkan diri kita lebih penuh lagi kepada sabda-Nya. Kita akan mengenal, mengakui serta mematuhi kewenangan dan kuasa-Nya dalam hidup kita; dan keluarga dan teman-teman kita pun akan mengenali adanya perbedaan dalam diri kita.

Yesus merindukan kita masing-masing untuk mengundang Dia ke dalam hati kita – pusat terdalam dari keberadaan kita – tidak hanya ke dalam pikiran kita. Hati adalah tempat keputusan di mana kita bertemu dengan Allah dan digerakkan secara mendalam oleh kasih-Nya. “Hati adalah ….. pusat kita yang tersembunyi, yang tidak dapat dimengerti baik oleh akal budi kita maupun oleh orang lain” (Katekismus Gereja Katolik, 2563). Marilah sekarang kita membuka hati kita lebih penuh lagi bagi Yesus dan memperkenankan kuasa-Nya mengubah kita.

DOA: Tuhan Yesus, kami mencintai semua ajaran-Mu karena Engkau mengajar dengan otoritas ilahi. Terima kasih, ya Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Ibr 2:5-12), bacalah tulisan yangt berjudul “IA TIDAK MALU MENYEBUT KITA SAUDARA” (bacaan tanggal 15-1-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2013.

Cilandak, 1 Januari 2013 [HARI RAYA SANTA PERAWAN MARIA BUNDA ALLAH]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 126 other followers