Posts tagged ‘MUKJIZAT & PENYEMBUHAN’

MUKJIZAT-MUKJIZAT DAN KERAJAAN ALLAH

MUKJIZAT-MUKJIZAT DAN KERAJAAN ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Fransiskus dr Sales, Uskup & Pujangga Gereja – Kamis, 24 Januari 2013)

HARI KETUJUH PEKAN DOA SEDUNIA

YESUS MENGAJAR DARI DALAM PERAHU - 505

Kemudian Yesus dengan murid-murid-Nya menyingkir ke danau, dan banyak orang dari Galilea mengikuti-Nya, juga dari Yudea, dari Yerusalem, dari Idumea, dari seberang Yordan, dan dari daerah Tirus dan Sidon. Mereka semua datang kepada-Nya, karena mendengar segala hal yang dilakukan-Nya. Ia menyuruh murid-murid-Nya menyediakan sebuah perahu bagi-Nya karena orang banyak itu, supaya mereka jangan sampai menghimpit-Nya. Sebab Ia menyembuhkan banyak orang, sehingga semua penderita penyakit berdesak-desakan kepada-Nya hendak menyentuh-Nya. Setiap kali roh-roh jahat melihat Dia, mereka sujud di hadapan-Nya dan berteriak, “Engkaulah Anak Allah.” Tetapi Ia dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia. (Mrk 3:7-12)

Bacaan Pertama: Ibr 7:25-8:6; Mazmur Tanggapan: Mzm 40:7-10,17

Bacaan Injil hari ini menceritakan kepada kita tentang banyak orang yang mengikuti Yesus, dari Galilea di mana Dia telah membuat banyak mukjizat; juga dari Yudea, Yerusalem, Idumea, Transyordan dan dari daerah Tirus dan Sidon. Mereka semua datang kepada-Nya karena mendengar segala hal yang dilakukan oleh-Nya.

Kadang-kadang Yesus mencoba untuk menghindar dari orang banyak. Bagi-Nya perlulah untuk sekali-sekali mengundurkan diri untuk sementara (ingat retret!). Ia ingin menyediakan waktu untuk berdoa, sendiri saja dengan para murid-Nya. Yesus harus menyegarkan diri-Nya secara spiritual, dan juga memberikan contoh kepada kita tentang perlunya doa dalam kehidupan kita.

Akan tetapi Yesus menyadari bahwa kebanyakan orang yang berduyun-duyun datang kepada-Nya untuk memperoleh sesuatu dari perjumpaan dengan-Nya, misalnya kesembuhan dari penyakit untuk diri sendiri atau orang sakit yang dibawa. Ada juga yang datang untuk memuaskan rasa ingin tahu mereka tentang berbagai mukjizat dan tanda heran yang dibuat-Nya. Tentu juga ada yang mengikuti Yesus sekadar untuk mampu mengatakan bahwa dirinya telah berhasil menyentuh-Nya.

YESUS MENGAJAR DARI DALAM PERAHUYesus mempunyai ide-ide yang lain. Mukjizat-mukjizat-Nya hanyalah sarana untuk mencapai hal-hal yang lebih tinggi. Sebuah cara untuk memberikan bukti tentang belas kasih (kerahiman) Allah. Bahkan sebagai sebuah cara dalam mempersiapkan orang-orang untuk mendengarkan Kabar Baik-Nya tentang Kerajaan Allah. Oleh karena itu Yesus menyuruh para murid-Nya untuk menyediakan sebuah perahu di pinggir pantai. Dengan demikian, Yesus dapat menghindarkan diri dari himpitan orang banyak dan barangkali untuk berkhotbah kepada orang banyak itu dari dalam perahu itu.

Seperti Yesus Kristus, Gereja sebagai tubuh-Nya di atas bumi ini juga senantiasa perlu melibatkan diri dalam karya-karya karitatif, guna menunjukkan belas kasih Allah yang diwujudkan dalam tindakan. Gereja harus senantiasa mempunyai cintakasih besar bagi orang-orang miskin. Sebagai umat Kristiani, kita masing-masing harus memiliki cintakasih sejati terhadap orang-orang tertindas dan menderita. Namun cintakasih kita tidak boleh berhenti di sana. Kita juga harus membawa pesan Kerajaan Allah kepada mereka ……; kalau tidak memungkinkan untuk dilakukan dengan menggunakan kata-kata, paling sedikit kita dapat membawa pesan tersebut lewat contoh hidup kita sehari-hari sebagai para murid-Nya. Kita semua sebenarnya dapat memberitakan Kerajaan Allah lewat teladan hidup kita.

DOA: Tuhan Yesus, mukjizat-mukjizat dan berbagai tanda heran yang Kaubuat bahkan pada zaman ini mempersiapkan kami untuk mendengarkan Kabar Baik-Mu tentang Kerajaan Allah. Terima kasih Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Ibr 7:25-8:6), bacalah tulisan yang berjudul “IA SANGGUP MENYELAMATKAN DENGAN SEMPURNA SEMUA ORANG YANG MELALUI DIA DATANG KEPADA ALLAH” (bacaan untuk tanggal 24-1-13), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; 13-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2013.
Berkaitan dengan Bacaan Injil hari ini, bacalah juga tulisan yang berjudul “YESUS MEMANG ANAK ALLAH” (bacaan tanggal 19-1-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 5 Januari 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HUKUM TERTINGGI

HUKUM TERTINGGI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa II – Rabu, 23 Januari 2013)

HARI KEENAM PEKAN DOA SEDUNIA

Jesus_hlng_wthrd_hnd_1-115

Kemudian Yesus masuk lagi ke rumah ibadat. Di situ ada seorang yang tangannya mati sebelah. Mereka mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang itu pada hari Sabat, supaya mereka dapat mempersalahkan Dia. Kata Yesus kepada orang yang tangannya mati sebelah itu, “Mari, berdirilah di tengah!” Kemudian kata-Nya kepada mereka, “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuhnya?” Tetapi mereka diam saja. Ia sangat berduka karena kekerasan hati mereka dan dengan marah Ia memandang orang-orang di sekeliling-Nya lalu Ia berkata kepada orang itu, “Ulurkanlah tanganmu!” Orang itu mengulurkannya, maka sembuhlah tangannya itu. Lalu keluarlah orang-orang Farisi dan segera membuat rencana bersama para pendukung Herodes untuk membunuh Dia. (Mrk 3:1-6)

Bacaan Pertama: Ibr 7:1-3,15-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 110:1-4

“Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuhnya?” (Mrk 3:4).

Yesus menyembuhkan orang sakit pada hari Sabat merupakan peristiwa yang cukup sering terjadi dan merupakan salah satu isu konflik dengan orang-orang Farisi, hal mana kelihatannya telah menyebabkan ketegangan yang serius antara diri-Nya dengan para petinggi agama Yahudi. Di samping tindakan penyembuhan aktual yang memang secara keras dilarang oleh hukum Sabat, penyembuhan-penyembuhan Yesus itu membuat orang berduyun-duyun datang menyaksikan dan juga membawa orang-orang sakit untuk disembuhkan, semua itu sangat mengganggu istirahat Sabat.

Akan tetapi, di sini Yesus mengajar satu pelajaran penting. Hukum itu baik, dalam hal ini hukum Sabat. Namun hukum ini tidak boleh mengobok-obok pelayanan karitatif (Latin: caritas = kasih), artinya melakukan perbuatan baik bagi sesama. Jadi, terkadang Yesus memang dipandang melakukan tindakan melawan hukum Sabat dan menantang para ahli Taurat dan Farisi. Tetapi, di sini hanya ada dua pilihan: mengikuti Hukum cintakasih-Nya atau tidak!

Kita juga harus menentukan sikap tegas berkaitan dengan cintakasih Kristiani. Apakah kita mau mengubah cara-cara kita yang lama, rutinitas yang biasa untuk melakukan suatu tindakan cintakasih? Maukah kita menolong seorang insan yang sungguh membutuhkan pertolongan karena berada dalam situasi kritis pada suatu pagi, walaupun hal ini berarti tidak dapat menghadiri Misa harian yang sudah merupakan kebiasaan kita?

Bagaimana sikap dan tindakan kita dalam menghadapi kelompok-kelompok yang beriman lain. Apakah tindakan cintakasih senantiasa merupakan keharusan bagi kita, walaupun tidak/kurang populer di mata sahabat-sahabat terdekat kita? Bagaimana sikap kita menghadapi orang-orang miskin, apakah miskin dalam hal keuangan, miskin dalam hal latar belakang pendidikan, atau miskin dalam hal personalitas dan penampilan? Apakah kita bersikap baik dan ramah terhadap mereka seperti kita baik dan ramah terhadap orang-orang yang berada, yang berlatar pendidikan baik, dan yang berpenampilan menarik?

Singkatnya, apakah nilai-nilai yang kita anut senantiasa lurus? Hukum-hukum adalah baik. Hukum-hukum itu adalah semacam rambu-rambu bagi kita dalam menjalani jalan kehidupan kita. Namun hukum cintakasih Kristiani berada di atas rambu-rambu jalanan kehidupan kita, artinya di atas hukum apa pun. Hukum cintakasih Kristiani merupakan tolok ukur akhir dari suatu kehidupan Kristiani yang otentik.

DOA: Yesus Kristus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat kami. Terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu untuk hukum cintakasih yang Kauberikan kepada kami. Semoga hukum cintakasih-Mu ini senantiasa mengatur hidup kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Ibr 7:1-3,15-17), bacalah tulisan dengan judul “YESUS ADALAH IMAM UNTUK SELAMA-LAMANYA, MENURUT ATURAN MELKISEDEK’” (bacaan untuk tanggal 23-1-13), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; 13-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2013.
Berkaitan dengan Bacaan Injil hari ini, bacalah juga tulisan yang berjudul “MANAKAH YANG DIPERBOLEHKAN PADA HARI SABAT?” (bacaan tanggal 18-1-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 5 Januari 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PENYEMBUHAN OLEH YESUS

PENYEMBUHAN OLEH YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Jumat, 18 Januari 2013)

PEMBUKAAN PEKAN DOA SEDUNIA UNTUK PERSATUAN UMAT KRISTIANI

YESUS MENYEMBUHKAN - ORANG LUMPUH YANG DI TURUNKAN DARI LOTENGKemudian, sesudah lewat beberapa hari, waktu Yesus datang lagi ke Kapernaum, tersebarlah kabar bahwa Ia ada di rumah. Lalu datanglah orang-orang berkerumun sehingga tidak ada lagi tempat, bahkan di depan pintu pun tidak. Sementara Ia memberitakan firman kepada mereka, ada orang-orang datang membawa kepada-Nya seorang lumpuh, digotong oleh empat orang. Tetapi mereka tidak dapat membawanya kepada-Nya karena orang banyak itu, lalu mereka membuka atap di atas Yesus; sesudah terbuka mereka menurunkan tikar, tempat orang lumpuh itu terbaring. Ketika Yesus melihat iman mereka berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu, “Hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni!” Tetapi beberapa ahli Taurat sedang duduk di situ, dan mereka berpikir dalam hatinya, “Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain Allah sendiri?” Tetapi Yesus segera mengetahui dalam hati-Nya bahwa mereka berpikir demikian, lalu Ia berkata kepada mereka, “Mengapa kamu berpikir begitu dalam hatimu? Manakah yang lebih mudah, mengatakan kepada orang lumpuh ini: Dosa-dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, angkatlah tikarmu dan berjalanlah? Tetapi supaya kamu tahu bahwa Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa di bumi ini” – berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu –, “Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tikarmu dan pulanglah ke rumahmu!” Orang itu pun bangun, segera mengangkat tikarnya dan pergi ke luar dari hadapan orang-orang itu, sehingga mereka semua takjub lalu memuliakan Allah, katanya, “Yang begini belum pernah kita lihat.” (Mrk 2:1-12)

Bacaan pertama: Ibr 4:1-5,11; Mazmur Tanggapan: Mzm 78:3-4,6-8

Bayangkanlah diri anda sebagai orang lumpuh dalam bacaan Injil hari ini. Anda baru saja diturunkan dari atap rumah yang penuh sesak itu …… di atas tikar…… ke dalam ruangan yang dipadati dengan orang-orang …… tepat di depan Yesus. Tiba-tiba Yesus menaruh tangan-Nya atas diri anda seraya berkata: “Hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni!” (Mrk 2:5). Anda merasa lega sampai derajat tertentu, namun ketika anda melihat beberapa ahli Taurat yang duduk di situ menunjukkan wajah yang mencerminkan ketidaksenangan mereka, maka anda juga berkata dalam hati, “Aku masih lumpuh!” Namun anda memang beruntung, karena Mesias datang bukan hanya untuk mengampuni dosa-dosa anda, melainkan juga untuk menyembuhkan sakit-penyakit dalam tubuh anda. Oleh karena itu, Yesus mendekati anda lagi sambil berkata, “Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tikarmu dan pulanglah ke rumahmu!” (Mrk 2:11). Anda pun bangun, segera mengangkat tikar anda dan pergi keluar dari hadapan orang-orang itu dengan penuh sukacita. Hari itu adalah hari yang paling membahagiakan dalam hidup anda!

Dari kehidupan-Nya dan pelayanan-Nya di depan umum, Yesus senantiasa memiliki keprihatinan untuk menyembuhkan seluruh pribadi manusia – roh, jiwa dan raga – dari cengkeraman dosa, supaya menjadi utuh lagi. Perempuan yang menderita pendarahan datang kepada Yesus dalam iman, lalu dia pun mengalami kesembuhan secara fisik (Mrk 5:25-34). Orang yang buta sejak lahirnya disembuhkan fisiknya, lalu bertemu dengan Yesus dan menerima serta mengakui Dia sebagai Tuhan-nya (Yoh 9:1-38). Orang-orang yang semula tidak percaya seringkali beriman kepada Yesus karena menyaksikan sendiri satu atau lebih mukjizat penyembuhan yang dilakukan oleh Yesus.

Ketika Yesus mengutus 70 (tujuh puluh) murid-Nya, Dia memerintahkan mereka untuk memberitakan Kabar Baik dan menyembuhkan orang sakit (Luk 10:1-9). ‘Kisah para Rasul’ dipenuhi dengan cerita-cerita tentang penyembuhan dan mukjizat yang dilakukan oleh orang-orang Kristiani yang baru saja dipenuhi dengan Roh Kudus.

Sesungguhnya, Allah memiliki kuat-kuasa untuk menyembuhkan orang sakit dan membuat mukjizat-mukjizat – bahkan melalui diri kita (anda dan saya). Oleh karena itu, dalam upaya kita membawa terang Yesus Kristus kepada orang-orang lain, kita harus senantiasa waspada dan siap menghadapi situasi-situasi di mana kita didorong oleh Roh-Nya untuk menyembuhkan orang-orang sakit. Dengan demikian, bila ada anggota keluarga kita – dekat dan/atau jauh – , kerabat kerja yang sedang sakit dan tentunya membutuhkan kesembuhan fisik, baiklah kita menawarkan diri untuk berdoa bersama orang itu. Kita tidak memerlukan rumusan doa yang istimewa; kita hanya perlu berdoa dalam iman sambil mengharapkan Allah melakukan hal-hal besar.

Kebanyakan kita pada umumnya merasa nyaman untuk percaya bahwa Allah dapat menyembuhkan roh kita dan mengampuni dosa kita, akan tetapi kita kurang merasa yakin bahwa Dia juga dapat menyembuhkan kita secara fisik. Oleh karena itu, janganlah kita membiarkan “rasa takut bahwa tidak ada yang akan terjadi” menghentikan upaya kita untuk mendoakan orang sakit.

DOA: Tuhan Yesus, berikanlah kepadaku suatu roh keberanian untuk mendoakan orang-orang sakit sehingga dengan demikian aku dapat sungguh percaya dalam kuat-kuasa penyembuhan-Mu. Bawalah kepadaku orang-orang dengan siapa aku dapat bersama mereka dan bercerita tentang Engkau. Tunjukkanlah kuat-kuasa-Mu, ya Tuhan, dan dimuliakanlah nama-Mu selalu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Ibr 4:1-5,11), bacalah tulisan yang berjudul “BAIKLAH KITA BERUSAHA MASUK KE DALAM PERHENTIAN ITU” (bacaan tanggal 19-1-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH 2013.
Berkaitan dengan Bacaan Injil hari ini (Mrk 2:1-12), bacalah tulisan yang berjudul “HAI ANAK-KU, DOSA-DOSAMU SUDAH DIAMPUNI” (bacaan tanggal 13-1-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM. Bacalah juga tulisan yang berjudul “YANG BEGINI BELUM PERNAH KITA LIHAT” (bacaan tanggal 19-2-12) dalam situs/blog SANG SABDA.
Berkaitan dengan Pekan Doa Sedunia untuk Persatuan Umat Kristiani yang dimulai pada hari ini, bacalah tulisan-tulisan dalam kategori: “EKUMENISME”.

Cilandak, 2 Januari 2013 [Peringatan S. Basilius Agung dan Gregorius dr Nazianze]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

RAHASIA MESIANIS DAN KETEGANGAN-KETEGANGAN

RAHASIA MESIANIS DAN KETEGANGAN-KETEGANGAN

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Antonius, Abas – Kamis, 17 Januari 2013)

JESUS HEALS THE LEPERSeseorang yang sakit kusta datang kepada Yesus, dan sambil berlutut di hadapan-Nya ia memohon bantuan-Nya, katanya, “Kalau Engkau mau, Engkau dapat menyembuhkan aku.” Lalu tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan. Ia mengulurkan tangan-Nya, menyentuh orang itu dan berkata kepadanya, “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu dan ia sembuh. Segera Ia menyuruh orang ini pergi dengan peringatan keras, “Ingat, jangan katakan sesuatu kepada siapa pun juga, tetapi pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk upacara penyucianmu persembahan, yang diperintahkan oleh Musa, sebagai bukti bagi mereka.” Tetapi orang itu pergi memberitakan peristiwa itu serta menyebarkannya ke mana-mana, sehingga Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota. Ia tinggal di luar di tempat-tempat yang terpencil; namun orang terus juga datang kepada-Nya dari segala penjuru. (Mrk 1:40-45)

Bacaan Pertama: Ibr 3:7-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 95:6-11

Kita dapat/boleh saja berspekulasi tentang apa yang dipikirkan oleh orang kusta itu ketika dia sudah disembuhkan oleh Yesus dan Ia mengatakan kepadanya untuk tidak menceritakan mukjizat itu kepada siapa pun (Mrk 1:44). Apakah orang kusta yang disembuhkan Yesus itu begitu dipenuhi antusiasme karena rasa gembira sehingga merasa bahwa dia sungguh harus bercerita kepada setiap orang tentang mukjizat yang baru saja terjadi atas dirinya? Bukankah dengan kesembuhannya orang itu dibebaskan dari keterasingannya dalam masyarakat (lihat Im 13:45-46)? Ataukah orang itu berpikir, “Aku akan melakukan suatu kebaikan bagi Yesus dengan menceritakan mukjizat penyembuhan ini kepada semua orang!” Apa pun kasusnya, Markus menggunakan cerita ini untuk memperkenalkan dua tema yang akan kita temui di sana-sini dalam Injilnya: Pertama-tama, Yesus bersikukuh untuk menjaga “rahasia Mesianis” berkaitan dengan diri-Nya, dan kedua adalah ketegangan yang akan menyertai Yesus selama Dia melaksanakan misi-Nya, yaitu mewartakan Kerajaan Surga dan menyerukan pertobatan.

Sepanjang Injilnya, Markus menggambarkan Yesus yang enggan untuk menyandang gelar “Mesias” (lihat Mrk 1:34; 3:12; 5:43; 7:36; 8:26; 9:9). Markus menekankan keengganan ini agar ia dapat menunjukkan bahwa mukjizat-mukjizat saja tidaklah cukup untuk menyatakan Yesus sebagai Mesias. Mukjizat-mukjizat itu menunjuk pada suatu pernyataan/perwahyuan yang lebih penuh: Dia yang diurapi Allah akan membebas-merdekakan umat manusia dari dosa lewat kematian-Nya di atas kayu salib. Oleh karena itu, siapa saja yang mau menjadi seorang murid dari sang Mesias, harus memanggul salib dan mengikuti Dia (lihat Luk 9:23; bdk. Mat 10:38; Luk 14:27).

Dengan mengabaikan perintah Yesus untuk menutup mulutnya, dengan tak sengaja orang kusta yang disembuhkan itu membawa ketegangan yang membawa dampak atas pelayanan Yesus selanjutnya. Sampai saat-saat sebelum penyembuhan orang kusta itu, semuanya berjalan baik-baik dan lancar-lancar saja. Namun tiba-tiba timbullah komplikasi yang dengan sederhana dicatat oleh Markus: “… Yesus tidak dapat lagi terang-terangan masuk ke dalam kota” (Mrk 1:45). Perubahan atmosfir ini merupakan sinyal kemunculan konfrontasi yang akan dialami Yesus dengan banyak pemimpin agama Yahudi – konfrontasi yang akhirnya menggiring diri-Nya ke kayu salib (Mrk 2:6-7; 3:6).

Yesus mengetahui bahwa pelayanan-Nya di depan umum akan menyebabkan timbulnya konflik. Seperti orang kusta yang tidak kooperatif atau tidak taat tadi, yang mengabaikan perintah Yesus atau berpikir ia dapat “memperbaiki” rencana Allah, maka sisi buruk dari kodrat manusiawi kita juga akan – mau tidak mau – membawa kita kepada situasi konflik dengan Kerajaan Allah. Walaupun demikian Yesus tidak pernah membiarkan pergumulan ini mencegah diri-Nya untuk menyembuhkan, memberitakan Kabar Baik dan memanggil orang-orang kepada diri-Nya. Yesus menerima biaya/harga dari konflik betapa pun mahalnya demi membebaskan kita, bahkan sampai mati di kayu salib.

Marilah kita mengikuti jejak sang Mesias, yang dengan penuh kerendahan hati taat pada Bapa surgawi dalam segala hal (bacalah Flp 2:6-11; lihat juga Luk 22:42 dan padanannya). Janganlah kita hanya taat pada perintah-perintah-Nya yang kita sukai saja. Sebaliknya, marilah kita berikan segenap hati kita kepada Yesus. Maka, kita pun akan mengalami betapa berbahagianya diri kita karena terjalinnya suatu relasi yang lebih mendalam dengan-Nya.

DOA: Bapa surgawi, ajarlah aku melakukan kehendak-Mu, sebab Engkaulah Allahku! Kiranya Roh-Mu yang baik itu menuntun aku (Mzm 143:10). Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Ibr 3:7-14), bacalah tulisan yang berjudul “HARI INI, JIKA KAMU MENDENGAR SUARA-NYA” (bacaan tanggal 17-1-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2013.
Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 1:40-45), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MENGHINDARKAN DIRI DARI PUBLISITAS” (bacaan tanggal 12-2-12) dalam situs/blog SANG SABDA dan tulisan dengan judul “KALAU ENGKAU MAU, ENGKAU DAPAT MENYEMBUHKAN AKU” (bacaan untuk tanggal 12-2-12), dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 2 Januari 2013 [Peringatan S. Basilius Agund dan Gregorius dr Nazianse]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PADA HARI INI PUN YESUS MASIH MENYEMBUHKAN

PADA HARI INI PUN YESUS MASIH MENYEMBUHKAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Rabu, 16 Januari 2013

BANYAK ORANG DISEMBUHKANSekeluarnya dari rumah ibadat itu Yesus bersama Yakobus dan Yohanes pergi ke rumah Simon dan Andreas. Ibu mertua Simon terbaring karena sakit demam. Mereka segera memberitahukan keadaannya kepada Yesus. Ia pergi ke tempat perempuan itu, dan sambil memegang tangannya Ia membangunkan dia, lalu lenyaplah demamnya. Kemudian perempuan itu melayani mereka. Menjelang malam, sesudah matahari terbenam, dibawalah kepada Yesus semua orang yang menderita sakit dan yang kerasukan setan. Seluruh penduduk kota itu pun berkerumun di depan pintu. Ia menyembuhkan banyak orang yang menderita bermacam-macam penyakit dan mengusir banyak setan; Ia tidak memperbolehkan setan-setan itu berbicara, sebab mereka mengenal Dia.

Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang terpencil dan berdoa di sana. Tetapi Simon dan kawan-kawannya mencari-cari Dia. Ketika mereka menemukan-Nya, mereka berkata kepada-Nya, “Semua orang mencari Engkau.” Jawab-Nya, “Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota sekitar ini, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang.” Lalu pergilah Ia ke seluruh Galilea memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat mereka dan mengusir setan-setan. (Mrk 1:29-39)

Bacaan Pertama: Ibr 2:14-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:1-4,6-9

Dalam artian tertentu kita dapat mengatakan, bahwa Injil Markus adalah Injil mukjizat-mukjizat Yesus. Dalam bab 1 yang telah kita baca dua hari ini saja kepada kita telah disuguhkan cerita-cerita tentang mukjizat-mukjizat Yesus. Mukjizat pertama dalam Injil Markus diceritakan dalam bacaan Injil kemarin, peristiwa pengusiran roh jahat yang pertama. Pada bacaan Injil hari ini kita membaca narasi singkat tentang penyembuhan atas diri ibu mertua Petrus yang menderita sakit demam. Mukjizat ini disusul dengan catatan-catatan seperti berikut: “Menjelang malam, sesudah matahari terbenam, dibawalah kepada Yesus semua orang yang menderita sakit dan yang kerasukan setan. Seluruh penduduk kota itu pun berkerumun di depan pintu. Ia menyembuhkan banyak orang yang menderita bermacam-macam penyakit dan mengusir banyak setan ……” (Mrk 1:32-34). Catatan-catatan dalam Injil ini tentunya mengindikasikan bahwa mukjizat penyembuhan dan pengusiran roh jahat oleh Yesus sungguh banyak.

IBU MERTUA PETRUS DISEMBUHKANSelagi kita membaca narasi Injil seperti ini, sadarkah kita bahwa Yesus yang berkarya di Kapernaum dan banyak tempat ini adalah Yesus yang sama yang kita jumpai pada perayaan Ekaristi, teristimewa ketika kita menerima Komuni Kudus? Tidakkah kita memikirkan fakta bahwa Yesus dalam Injil ini, Allah-Manusia yang telah bangkit dari antara orang mati, kini hidup sebagai Allah dan sebagai manusia di antara kita? Apabila kita mengatakan “ya” sebagai jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut, maka mengapa kita sering merasa kesepian, takut, sedih, galau, seakan-akan tidak ada siapa pun yang memperhatikan berbagai kesusahan kita, sakit-penyakit yang kita derita, dan keprihatinan-keprihatinan kita? Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat kita! Tentu saja Dia memperhatikan kita hari ini tidak kurang daripada Dia memperhatikan dengan penuh belarasa dan belaskasih orang-orang yang hidup di tanah Palestina pada zaman-Nya.

Sungguh agak aneh dan mengherankan apabila kita, yang telah diberikan karunia iman oleh-Nya, malah kehilangan rasa percaya akan kebaikan dan kuasa Yesus Kristus sesuai dengan iman kita itu. Kita tidak perlu mengharapkan terjadinya mukjizat untuk semua masalah kita. Namun kita tentunya harus mempunyai rasa percaya dan yakin bahwa dengan pertolongan Yesus Kristus, berbagai upaya kita akan mengangkat beban masalah-masalah kita. Seandainya upaya kita itu tidak seturut kehendak Allah, maka rahmat Kristus akan membawa pencerahan bagi pemahaman kita, menolong kita untuk dapat melihat kehendak-Nya dalam pencobaan-pencobaan yang kita hadapi, dan memberikan damai-sejahtera serta ketenangan yang tidak dapat dirampas oleh krisis duniawi yang mana pun. Oleh karena itu, marilah kita membawa segala sakit-penyakit kita kepada Yesus Kristus, sang Tabib Penyembuh, Dokter Agung, seperti yang dilakukan oleh para pendahulu kita di tanah Palestina dan juga para penerus mereka dari masa ke masa.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, kami percaya bahwa pada hari ini pun Engkau masih menyembuhkan banyak orang yang menderita berbagai sakit-penyakit, karena Engkau tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya (Ibr 13:8). Terima kasih Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Ibr 2:14-18), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS ADALAH IMAM BESAR AGUNG KITA” (bacaan untuk tanggal 16-1-13), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; 13-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2013.

Cilandak, 1 Januari 2013 [HARI RAYA SANTA PERAWAN MARIA BUNDA ALLAH]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

AJARAN BARU DISERTAI DENGAN KUASA

AJARAN BARU DISERTAI DENGAN KUASA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Selasa, 15 Januari 2013)

YESUS SEORANG PEMIMPIN YANG TEGASYesus dan murid-murid-Nya tiba di Kapernaum. Setelah hari Sabat mulai, Yesus segera masuk ke dalam rumah ibadat dan mengajar. Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat. Pada waktu itu di dalam rumah ibadat mereka, ada seorang yang kerasukan roh jahat. Orang itu berteriak, “Apa urusan-Mu dengan kami, hai Yesus orang Nazaret? Apakah Engkau datang untuk membinasakan kami? Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah.” Tetapi Yesus membentaknya, “Diam, keluarlah dari dia!” Roh jahat itu mengguncang-guncang orang itu, dan sambil menjerit dengan suara nyaring roh itu keluar dari dia. Mereka semua takjub, sehingga mereka memperbincangkannya, katanya, “Apa ini? Suatu ajaran baru disertai dengan kuasa! Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat dan mereka taat kepada-Nya!” Lalu segera tersebarlah kabar tentang Dia ke segala penjuru di seluruh Galilea. (Mrk 1:21-28)

Bacaan Pertama: Ibr 2:5-12; Mazmur Tanggapan: Mzm 8:2,5-9

Bacaan Injil hari ini adalah catatan pertama mengenai pengusiran roh-roh jahat oleh Yesus dalam Injil Markus. Ada empat narasi serupa dalam Injil Markus. Yang menarik untuk dicatat adalah, bahwa narasi ini dilengkapi dengan pernyataan-pernyataan mengenai otoritas Yesus dalam mengajar. “Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat” (Mrk 1:22). Ini pernyataan pertama dan dikemukakan sebelum narasi pengusiran roh jahat.

Dalam rumah ibadat itu ada seorang yang kerasukan roh jahat dan mulai “ngoceh” dengan Yesus. Lalu Yesus membentak roh jahat itu: “Diam, keluarlah dari dia!” Roh jahat itu mengguncang-guncang orang itu, dan sambil menjerit dengan suara nyaring roh itu keluar dari dia. Injil kemudian mengatakan bahwa semua orang menjadi takjub dan mulai memperbincangkannya: “Apa ini? Suatu ajaran baru disertai dengan kuasa! Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat dan mereka taat kepada-Nya!” (Mrk 1:23-27). Reputasi Yesus dalam hal mengajar disertai otoritas atas roh-roh jahat pun menyebar ke segala penjuru di Galilea (Mrk 1:28). Ini pernyataan kedua.

Dengan kuasa dan kewenangan, Yesus berbicara kepada hati orang-orang dan mengusir roh jahat di depan orang-orang. Semua orang yang menyaksikan peristiwa ini menjadi takjub dan kagum. Ini bukan sekedar khotbah. Ini mengingatkan kita kepada apa yang ditulis oleh Santo Paulus, “Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan bukti bahwa Roh berkuasa” (1Kor 2:4).

Begitu sering kita memandang diri kita sebagai orang-orang Kristiani pada saat-saat semuanya berjalan mudah dan lancar, ketika ajaran Kristus “cocok” dengan cara hidup kita yang enak-mudah, ketika tidak mengganggu kenyamanan kita. Namun apabila ajaran-Nya terasa keras, ketika mengenai diri kita sendiri, maka kita cenderung mengabaikannya, serta menilainya sebagai “kuno”. Kita gagal mengenali serta mengakui otoritas ilahi tertinggi yang digunakan oleh Yesus ketika berbicara sebagaimana dicatat dalam Injil. Apabila Dia berbicara mengenai kasih, tentang keadilan, tentang orang miskin, tentang memberikan satu potong jubah kepada sesama kita yang tidak memilikinya apabila kita memiliki dua potong jubah, maka kita mundur …… kita tidak mau melakukannya. Pada saat itu kita menerapkan nilai-nilai yang berbeda. Kita pun gagal bertindak sebagai orang Kristiani sejati. Kita tidak mau/rela mengorbankan kenyamanan kita agar dapat hidup oleh otoritas Injil Kristus. Kita lupa akan sabda-Nya: “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (Yoh 3:31-32).

Bukankah sabda Yesus mempunyai kuasa untuk menghukum kita, menghibur kita, menyembuhkan kita dan bahkan membebaskan kita? Kata-kata Yesus memang mencakup pemahaman manusiawi, akan tetapi tidak terbatas sampai di situ saja.

Apakah kita mengetahui kebenaran Injil sedemikian rupa sehingga kita dapat mengalami kuasanya untuk memerdekakan kita? Apakah kita mengalami kemerdekaan, sukacita dan keakraban dengan Yesus sebagai akibat dari kita mendengarkan sabda-Nya yang diproklamasikan dalam liturgi Gereja, pada pertemuan kelompok doa dan/atau Kitab Suci, pada saat-saat berdoa secara pribadi, atau pada pada pembacaan dan permenungan Kitab Suci secara pribadi? Ini adalah warisan kita sebagai anak-anak Allah yang telah dibaptis. Selagi kita mengalami kasih ilahi-Nya, kita pun akan menyerahkan diri kita lebih penuh lagi kepada sabda-Nya. Kita akan mengenal, mengakui serta mematuhi kewenangan dan kuasa-Nya dalam hidup kita; dan keluarga dan teman-teman kita pun akan mengenali adanya perbedaan dalam diri kita.

Yesus merindukan kita masing-masing untuk mengundang Dia ke dalam hati kita – pusat terdalam dari keberadaan kita – tidak hanya ke dalam pikiran kita. Hati adalah tempat keputusan di mana kita bertemu dengan Allah dan digerakkan secara mendalam oleh kasih-Nya. “Hati adalah ….. pusat kita yang tersembunyi, yang tidak dapat dimengerti baik oleh akal budi kita maupun oleh orang lain” (Katekismus Gereja Katolik, 2563). Marilah sekarang kita membuka hati kita lebih penuh lagi bagi Yesus dan memperkenankan kuasa-Nya mengubah kita.

DOA: Tuhan Yesus, kami mencintai semua ajaran-Mu karena Engkau mengajar dengan otoritas ilahi. Terima kasih, ya Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Ibr 2:5-12), bacalah tulisan yangt berjudul “IA TIDAK MALU MENYEBUT KITA SAUDARA” (bacaan tanggal 15-1-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2013.

Cilandak, 1 Januari 2013 [HARI RAYA SANTA PERAWAN MARIA BUNDA ALLAH]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

AKU MAU, JADILAH ENGKAU TAHIR

AKU MAU, JADILAH ENGKAU TAHIR

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa sesudah Penampakan Tuhan – Jumat, 11 Januari 2013)

Jesus_heals_leper_1140-152

Pada suatu kali Yesus berada dalam sebuah kota. Di situ ada seorang yang penuh kusta. Ketika ia melihat Yesus, tersungkurlah ia dan memohon, “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku.” Lalu Yesus mengulurkan tangan-Nya, menyentuh orang itu, dan berkata, “Aku mau, jadilah engkau tahir.” Seketika itu juga lenyaplah penyakit kustanya. Yesus melarang orang itu memberitahukannya kepada siapa pun juga dan berkata, “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam dan persembahkanlah untuk penyucianmu persembahan seperti yang diperintahkan Musa, sebagai bukti bagi mereka.” Tetapi kabar tentang Yesus makin jauh tersebar dan datanglah orang banyak berbondong-bondong kepada-Nya untuk mendengar Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka. Akan tetapi, Ia mengundurkan diri ke tempat-tempat yang terpencil dan berdoa. (Luk 5:12-16)

Bacaan Pertama: 1Yoh 5:5-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 147:12-15,19-20

Para penderita kusta dan sakit-penyakit kulit lainnya membawa dalam diri mereka stigma “najis” dilihat dari sudut rituale keagamaan. Pada zaman Yesus mereka dipaksa untuk hidup dalam semacam “karantina”. yang kondisinya buruk, kotor dan jorok. Kita hanya dapat membayangkan beban berat psikologis dan emosional sehari-hari yang harus dipikul oleh orang-orang kusta ini.

Dosa adalah sebuah penyakit spiritual yang juga mengakibatkan penderitanya hidup dalam semacam “karantina”. Dosa memisahkan kita satu sama lain dan membuat kita teralienasi/terasing dari Allah. Seperti penyakit fisik, dosa juga mempengaruhi kondisi tubuh dan pikiran kita. Seperti penyakit menular, dosa juga dapat membawa pengaruh buruk atas diri para anggota Tubuh Kristus yang lain. Akhirnya, apabila tidak diurus dengan baik, kondisi pribadi seseorang yang disebabkan oleh dosa dapat menggiringnya kepada kematian kekal.

Dengan belarasa dan kasih yang besar, Yesus datang ke tengah dunia untuk menawarkan sentuhan-Nya yang menyembuhkan segala sakit-penyakit. Dengan risiko “ketularan” penyakit dan kenajisan, Yesus tetap menemui orang-orang sakit, orang-orang yang tersisihkan dlsb., kemudian membersihkan/mentahirkan mereka. Setiap kali Yesus menyentuh seseorang dan membuang penyakit atau beban berat seseorang, sebenarnya ini adalah pratanda dari saat-saat di mana Dia akan “menanggung penyakit dan kesengsaraan kita” di atas kayu salib, dengan demikian memenangkan penebusan bagi umat Allah (lihat Yes 53:4,10-12).

Dalam Yesus, kita pun dapat diubah dari kondisi tidak tahir menjadi tahir, dari sakit menjadi sehat, dari kematian berpindah ke dalam kehidupan, dari dalam kegelapan dosa berpindah ke dalam pancaran cahaya terang kehadiran Allah. Yesus datang untuk menyembuhkan kita dengan “rahmat-Nya melalui permandian kelahiran kembali dan melalui pembaruan yang dikerjakan oleh Roh Kudus” (Tit 3:5). Darah Kristus yang memancar ke luar dari lambung-Nya memiliki kuat-kuasa untuk menyembuhkan kita bahkan pada hari ini, sementara kita berseru kepada-Nya: “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku” (Luk 5:12).

Dalam Kristus kita tidak lagi perlu menderita luka-luka kebencian, kemurkaan dan kecemburuan. Kita pun dapat disembuhkan dari berbagai dosa yang menular. Kita tidak perlu lagi hidup dikemudikan oleh rasa takut dan dikendalikan oleh rasa bersalah. Yesus mengampuni kita, menawarkan kepada kita damai sejahtera dan suatu hidup baru dalam Dia. Apabila kita mengenakan kebenaran-Nya, maka kita pun dapat berjalan dalam terang-Nya, bahkan dengan orang-orang dari siapa kita dahulu telah teralienasi. Semua ini sungguh merupakan pesan pengharapan!

Berbicara dalam nama TUHAN (YHWH), nabi Yehezkiel bernubuat: “Aku akan mencurahkan kepadamu air jernih, yang akan mentahirkan kamu; dari segala kenajisanmu …… Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu …” (Yeh 36:25-26). Saudari dan Saudara yang dikasihi Kristus, marilah sekarang kita berpaling kepada Yesus dalam iman dan memperkenankan Dia membersihkan kita.

DOA: Tuhan Yesus, jika Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku. Terima kasih, ya Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Yoh 5:5-13), bacalah tulisan yang berjudul “KESAKSIAN TENTANG ANAK ALLAH” (bacaan tanggal 11-1-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2013.

Cilandak, 31 Desember 2012

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TENANGLAH! INILAH AKU, JANGAN TAKUT!

“TENANGLAH! INILAH AKU, JANGAN TAKUT!”

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa sesudah Penampakan Tuhan – Rabu, 9 Januari 2013)

YESUS BERJALAN DI ATAS AIR - 600Sesudah itu Yesus segera mendesak murid-murid-Nya naik ke perahu dan berangkat lebih dahulu ke seberang, ke Betsaida, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang. Setelah berpisah dari mereka, Ia pergi ke bukit untuk berdoa. Menjelang malam perahu itu sudah di tengah danau, sementara Yesus tinggal sendirian di darat. Ketika Ia melihat betapa payahnya mereka mendayung karena angin sakal, maka kira-kira jam tiga malam Ia datang kepada mereka berjalan diatas air dan hendak melewati mereka. Ketika mereka melihat Dia berjalan di atas air, mereka mengira bahwa Ia hantu, lalu mereka berteriak-teriak, sebab mereka semua melihat Dia dan mereka pun sangat terkejut. Tetapi segera Ia berkata kepada mereka, “Tenanglah! Inilah Aku, jangan takut!” Lalu Ia naik ke perahu mendapatkan mereka, dan angin pun reda. Mereka sangat tercengang, sebab mereka belum juga mengerti walaupun sudah mengalami peristiwa roti itu, dan hati mereka tetap tidak peka. (Mrk 6:45-52)

Bacaan Pertama: 1Yoh 4:11-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 72:1-210-13

Dalam beberapa hari ini, liturgi Gereja terus memberikan bukti kepada kita guna menunjukkan siapa Kristus sebenarnya. Kemarin kita melihat kuasa Yesus untuk melipat-gandakan roti dan ikan. Namun demikian, para murid-Nya “belum juga mengerti walaupun sudah mengalami peristiwa roti itu, dan hati mereka tetap tidak peka” (Mrk 6:52). Pada hari ini kita menyaksikan kuasa Yesus atas kekuatan alam selagi Dia berjalan di atas air dan meredakan angin sakal. Ini adalah Yesus yang sama, yang dua pekan lalu dalam liturgi digambarkan sebagai seorang anak kecil tak berdaya di dalam palungan.

“Berjalan di atas air” yang dilakukan oleh Yesus dalam peristiwa ini bukanlah sekadar suatu pertunjukan kekuasaan (Inggris: show of power). Perjanjian Lama memandang “berjalan di atas air” sebagai suatu fungsi ilahi. Dalam Kitab Ayub misalnya, Ayub mendeklarasikan bahwa Allah “seorang diri membentangkan langit, dan melangkah di atas gelombang-gelombang laut” (Ayb 9:8). Dengan “berjalan di atas air” Yesus menunjukkan bahwa Dia adalah Allah. Manifestasi ini dipertinggi/ditingkatkan dengan pernyataan Markus yang penuh misteri: “Ia …… hendak melewati mereka” (Mrk 6:48). Ketika YHWH menyatakan kemuliaan-Nya kepada Musa, Dia pertama-tama “melewati”-nya sehingga Musa hanya dapat melihat Dia dari belakang dan Musa pun selamat karena tidak ada orang yang melihat YHWH dapat hidup (lihat Kel 33:19-23). Akan tetapi, kepada para murid-Nya, Yesus menunjukkan wajah-Nya.

Dengan demikian, tidak mengherankanlah bila kita membaca betapa terkejutnya para murid Yesus ketika melihat-Nya, mereka berteriak-teriak ketakutan karena mengira Dia hantu. Kata-kata Yesus kepada mereka sangat menyejukkan dan membuat tenang: “Tenanglah! Inilah Aku, jangan takut!” (Mrk 6:50). Yesus membawa pesan yang sama kepada semua orang yang sedang dikuasai oleh rasa takut. Ketika kita dilanda rasa takut, apakah kita berpaling kepada Yesus dan memperkenankan Dia menghibur kita? Bayi Yesus dalam palungan di Betlehem tidak berakhir di situ karena selanjutnya kita dipimpin kepada perwahyuan-perwahyuan yang lebih besar sepanjang kehidupan Yesus, kematian-Nya dan kebangkitan-Nya. Demikian pula, selagi kita menyerahkan hidup kita kepada Dia dan menaruh kepercayaan kepada-Nya, Ia akan menyatakan hal-hal yang lebih besar lagi kepada kita.

Apakah berbagai manifestasi kekerasan dalam masyarakat kita maupun di dunia menakutkan kita? Apakah kita mengalami kebingungan sehubungan dengan masalah keuangan? Apakah kesehatan tubuh kita merupakan masalah yang serius akhir-akhir ini? Dalam semua hal ini, marilah kita mengingat kata-kata Yesus: “Tenanglah! Inilah Aku, jangan takut!” Mengomentari Yesus yang berjalan di atas air, Santo Augustinus dari Hippo [354-430] menulis: “Dia datang melangkahi ombak-ombak; dengan demikian Ia menaruh semua gelombang huruhara kehidupan di bawah kaki-Nya. Hai umat Kristiani – mengapa harus takut?”

DOA: Tuhan Yesus, pada saat-saat aku dibebani oleh rasa takut, perkenankanlah Roh Kudus-Mu mengingatkan aku akan sabda-Mu yang menyejukkan: “Tenanglah! Inilah Aku, jangan takut!” Terima kasih Tuhan Yesus, Engkau adalah sungguh Imanuel yang senantiasa menyertai umat-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Yoh 4:11-18), bacalah tulisan yang berjudul “ALLAH ADALAH KASIH (2)” (bacaan tanggal 9-1-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2013.

Cilandak, 30 Desember 2012 [Pesta Keluarga Kudus, Yesus, Maria, Yusuf]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MEMBERI MAKAN

MEMBERI MAKAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa sesudah Penampakan Tuhan – Selasa, 8 Januari 2013)

YOH 6  1-15Ketika mendarat, Yesus melihat orang banyak berkerumun, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka.

Pada waktu hari mulai malam, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya dan berkata, “Tempat ini terpencil dan hari mulai malam. Suruhlah mereka pergi ke kampung-kampung dan desa-desa sekitar sini, supaya mereka dapat membeli makanan bagi diri mereka.” Tetapi jawab-Nya, “Kamu harus memberi mereka makan!” Kata mereka kepada-Nya, “Haruskah kami pergi membeli roti seharga dua ratus dinar untuk memberi mereka makan?” Tetapi Ia berkata kepada mereka, “Berapa banyak roti yang ada padamu? Cobalah periksa!” Sesudah mengetahuinya mereka berkata, “Lima roti dan dua ikan.” Lalu Ia menyuruh orang-orang itu, supaya semua duduk berkelompok-kelompok di atas rumput hijau. Mereka pun duduk berkelompok-kelompok, ada yang seratus, ada yang lima puluh orang. Setelah mengambil lima roti dan dua ikan itu, Ia menengadah ke langit dan mengucap syukur, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, supaya menyajikannya kepada orang-orang itu; begitu juga Ia membagikan kedua ikan itu kepada mereka semua. Lalu mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti sebanyak dua belas bakul penuh dan sisa-sisa ikan. Yang ikut makan roti itu ada lima ribu orang laki-laki. (Mrk 6:34-44)

Bacaan Pertama: 1Yoh 4:7-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 72:1-4,7-8

Hari-hari yang sungguh melelahkan. Kedua belas rasul baru saja kembali dari perjalanan misioner mereka dan memberitahukan kepada-Nya semua yang mereka kerjakan dan ajarkan (Mrk 6:30), dan selama absen mereka Yesus sendiri pun tanpa mengenal lelah terus mewartakan Injil Kerajaan Allah kepada orang banyak dan berbuat kebaikan seperti biasanya. Sementara itu Yesus juga telah menerima kabar tentang kematian Yohanes Pembaptis (Mrk 6:14-29). Maka, ketika berkumpul kembali dengan 12 orang murid-Nya itu, Yesus ingin membawa mereka ke tempat yang terpencil untuk beristirahat dan berdoa berdoa bersama, karena saking sibuk melayani orang banyak sampai-sampai makan pun mereka tidak sempat. Lalu berangkatlah mereka mereka dengan perahu menyendiri ke tempat yang terpencil (Mrk 6:31-32).

Akan tetapi, upaya mereka untuk mengundurkan diri (retret) dari kesibukan sehari-hari itu ketahuan oleh banyak orang. Injil Markus menggambarkannya dengan singkat-jelas: “Tetapi pada waktu mereka bertolak banyak orang melihat mereka dan mengetahui tujuan mereka. Dengan mengambil jalan darat bergegas-gegaslah orang dari semua kota ke tempat itu sehingga mendahului mereka” (Mrk 6:33). Orang-orang itu memiliki kerinduam mendalam untuk dapat melihat sang “pembuat mukjizat” dan para murid-Nya, sehingga tanpa menyadarinya mereka telah mengganggu rencana Yesus untuk melakukan “retret” bersama para murid-Nya yang terdekat itu. Bagaimana dengan Yesus? Melihat orang banyak itu, maka “tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka” (Mrk 6:34). Yesus tidak hanya memberi pengajaran kepada orang banyak itu, karena seperti kita akan lihat, Dia juga memberi mereka makan – secara ajaib lewat sebuah mukjizat pergandaan roti dan ikan – dalam sebuah lokasi terpencil, jauh dari keramaian kota.

Bagaimana Yesus memberi orang banyak yang berjumlah lebih dari 5000 orang itu? Dengan memerintahkan para murid-Nya untuk memberi makan kepada mereka: “Kamu harus memberi mereka makan!” (Mrk 6:37). Yesus memanggil para murid-Nya (pengikut-Nya) supaya meneladan diri-Nya dalam hal memberikan waktu dan energi untuk menolong orang-orang yang membutuhkan. Bahkan ketika para murid-Nya “memprotes” karena merasa tidak mampu, Yesus sendiri memberdayakan mereka. Yesus sebenarnya dapat secara langsung melakukan sendiri pemberian makanan tersebut, namun Ia mengundang para murid-Nya untuk ikut ambil bagian.

fishandloavesSebagaimana yang terjadi sekitar 2000 tahun itu dengan para murid-Nya yang pertama, Yesus juga ingin memberdayakan kita masing-masing untuk melakukan pekerjaan Kerajaan-Nya pada hari ini – dengan cara-cara biasa sehari-hari atau pun lewat mukjizat dan berbagai tanda heran. Walaupun kita berpikir bahwa diri kita tidak mempunyai apa-apa untuk diberikan, Yesus memanggil kita untuk melayani para anggota keluarga kita, para sahabat kita, para kerabat kerja kita, bahkan para “musuh” atau “lawan” kita. Yesus ingin agar kita membawa “roti pemberi hidup”-Nya kepada semua orang yang kita jumpai.

Saudari-Saudara yang dikasihi Kristus, sekarang masalahnya adalah apakah kita melihat diri kita sendiri memberikan kasih Kristus ketika kita melayani orang-orang lain? Apakah kita melihat tugas-tugas kewajiban kita sehari-hari sebagai kesempatan-kesempatan memberikan kepada orang-orang yang kita layani itu “sesuatu untuk dimakan”? Apakah kita anda senantiasa mencari peluang-peluang untuk mewartakan tentang Yesus kepada para sahabat kita, atau mengajak mereka untuk berdoa bersama? Marilah kita memohon kepada Yesus untuk bekerja melalui diri kita. Perkenankanlah hidup-Nya dan kasih-Nya bertumbuh dalam diri kita masing-masing agar kita dapat menjadi sebuah instrumen Kerajaan Allah bagi-bagi orang-orang di sekeliling kita.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah “roti” satu-satunya yang akan memuaskan kebutuhan umat-Mu. Oleh Roh Kudus-Mu, sediakanlah bagiku berbagai sumber-daya yang kubutuhkan untuk memberi makanan kepada semua orang yang kujumpai. Tuhan Yesus, aku ingin menjadi murid-Mu yang baik. Terima kasih Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Pertama hari ini (1Yoh 4:7-10), bacalah tulisan yang berjudul “ALLAH ADALAH KASIH (1)” dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2013.

Cilandak, 30 Desember 2012 [Pesta Keluarga Kudus, Yesus, Maria, Yusuf]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BUNDA MARIA DARI GUADALUPE

BUNDA MARIA DARI GUADALUPE

guadalupe_cuadro

Pada hari ini, tanggal 12 Desember, para saudari kita dari Kongregasi “Misionaris Claris dari Sakramen Yang Mahakudus [MC]” (Sorores Missionariae Clarissae a SS Sacramento) merayakan “HARI RAYA SP MARIA YANG TETAP PERAWAN, BUNDA ALLAH PENCIPTA SURGA DAN BUMI GUADALUPE”, Pelindung Utama tarekat mereka.

SUSTER-SUSTER MISIONARIS CLARISSuster-suster MC. Kongregasi MC ini didirikan di Guarnavaca, Mexico pada tahun 1945 oleh Madre Maria Ines Teresa Arias Espinosa. Madre Maria ini adalah biarawati Mexico yang selama 16 tahun menjalani hidup kontemplatif di biara Ave Maria dari Ordo Santa Clara (OSC), Ordo II Santo Fransiskus dari Assisi.

Madre Maria sangat mencintai hidup doa, korban dan penyerahan setia dan ingin tetap menjalani hidup sedemikian sampai akhir hidupnya. Namun ternyata melalui dirinya Allah menginginkan sebuah kongregasi suster-suster yang bersifat misioner. Ide ini didukung oleh pemimpin biara dan sesama susternya. Pada tahun 1945 permohonan pendirian kongregasi baru yang bersifat kontemplatif-aktif dikabulkan oleh Paus Pius XII. Enam tahun kemudian jumlah anggotanya mencapai 92 orang.

maria-ines - PENDIRI MISIONARIS CLARISPada tanggal 22 Juni 1951, dalam sebuah dekrit Takhta Suci, kongregasi MC secara resmi terdaftar dalam Kongregasi biarawati di Vatikan dengan nama: Misioneras Clarisas Del Santisimo Sacramento (Misionaris Claris dari Sakramen Mahakudus) dengan hak Kepausan. Madre Maria diangkat sebagai Ibu Jendral Pertama. Tugas pelayanan ni dilaksanakan oleh Madre Maria dengan sederhana dan rendah hati sampai hari wafatnya, tanggal 22 Juli 1981.

Para Suster Misionaris Claris mulai berkarya di Indonesia pada zaman Bung Karno, yaitu sejak tanggal 15 September 1960 dan dikenal sebagai Suster-suster Mexico. Kalau anda berminat mengenal para suster MC lebih mendalam, hubungilah mereka di WISMA ST. MARIA DARI GUADALUPE, Perumahan Duren Sawit Baru Blok A-10 No. 10, Jakarta Timur 13440. Telpon: (021) 8618071.

Bunda Maria dari Guadalupe. Dalam bahasa aslinya, bahasa Aztec, kata ini berarti “dia yang menginjak ular”. Pada tanggal 12 Desember 1531, seorang petani miskin Indian yang bernama Juan Diego melapor kepada Bapak Uskup Agung bahwa dia telah melihat Santa Perawan Maria di sebuah bukit yang terletak di luar kota. Bapak Uskup Agung minta sebuah tanda, dan Juan Diego datang kembali dengan mantol yang dipenuhi dengan bunga-bunga mawar yang indah yang telah diberikan kepadanya oleh seorang tuan puteri yang misterius – suatu ketidakmungkinan pada bulan Desember. Pada mantolnya ada sebuah gambar indah dari sang tuan puteri. Perempuan (anak gadis) yang telah menampakkan diri kepada Juan Diego telah menggambar dirinya, dan dia adalah Santa Maria. Sampai hari ini unsur-unsur fisik dari gambar ini tidak dapat dijelaskan secara ilmiah. Ketiga hal ini mengingatkan orang pada waktu Christopher Columbus dan orang-orangnya berlayar menuju benua Amerika pada tahun 1492, yaitu dengan menggunakan tiga kapal layar, yaitu NINA (gadis), PINTA (gambar) dan SANTA MARIA (Santa Maria).

juandiego_tilma_400Begitu berita tentang peristiwa penampakan ini menyebar, ribuan orang Indian menjadi percaya kepada Yesus dan menerima baptisan. Juga ada pembaharuan iman di antara ribuan orang-orang Spanyol yang telah dibaptis. Cerita tentang “Bunda Maria dari Guadalupe” adalah sebuah cerita “evangelisasi” yang telah berwujud dalam pertobatan jutaan orang asli Indian di benua Amerika.

Pesan dari gambar ajaib dalam mantol Juan Diego adalah, bahwa Allah itu hidup dan memelihara masing-masing dan setiap diri umat-Nya. Allah menggunakan sarana-sarana yang luarbiasa untuk mencapai umat-Nya di benua Amerika. Tentunya Allah juga sangat berhasrat untuk membebaskan kita semua dari belenggu dosa, menyembuhkan hati kita yang patah, mendamaikan kita yang telah memisahkan diri dari-Nya. Dia begitu berhasrat sehingga kadang-kadang bersedia bahkan untuk “melanggar” hukum alam agar mendapatkan perhatian kita.

juandiego_walkingAllah tidak hanya ingin agar orang-orang yang tidak beriman Kristiani untuk percaya kepada-Nya, melainkan juga agar mereka yang telah percaya untuk mengenal diri-Nya secara lebih mendalam. Itulah sebabnya, mengapa Dia terus mengirimkan sabda-Nya kepada kita untuk mengingatkan kita bahwa Dia ada bersama kita. Setiap hari Dia menyemangati kita, mendorong kita untuk berjuang dalam menekuni iman kita. Allah menjamin bahwa Dia mengasihi kita dengan kasih yang tidak berubah.

Cilandak, 12 Desember 2012

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 122 other followers