Posts tagged ‘MUKJIZAT & PENYEMBUHAN’

SEORANG PEREMPUAN BERIMAN

SEORANG PEREMPUAN BERIMAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa V – Kamis, 13 Februari 2014)

YESUS DAN PEREMPUAN SIRO-FENISIALalu Yesus berangkat dari situ dan pergi ke daerah Tirus. Ia masuk ke sebuah rumah dan tidak ingin seorang pun mengetahuinya, tetapi kedatangan-Nya tidak dapat dirahasiakan. Malah seorang ibu, yang anak perempuannya kerasukan roh jahat, segera mendengar tentang Dia, lalu datang dan sujud di depan kaki-nya. Perempuan itu seorang Yunani keturunan Siro-Fenisia. Ia memohon kepada Yesus untuk mengusir setan itu dari anak perempuannya. Lalu Yesus berkata kepadanya, “Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak itu dan melemparkannya kepada anjing.” Tetapi perempuan itu menjawab, “Benar, Tuhan. Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak.” Lalu kata Yesus kepada perempuan itu, “Karena kata-katamu itu, pergilah, setan itu sudah keluar dari anakmu.” Perempuan itu pulang ke rumahnya, lalu didapatinya anak itu berbaring di tempat tidur dan setan itu sudah keluar. (Mrk 7:24-30)

Bacaan Pertama: 1Raj 11:4-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 106:3-4,35-37,40

“Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak itu dan melemparkannya kepada anjing” (Mrk 7:27).

Apakah tanggapan anda jika mendengar sendiri kata-kata Yesus kepada perempuan ini? Apakah anda berpikir bahwa Yesus – dengan nada menghina – menolak orang yang datang kepada-Nya memohon-mohon pertolongan-Nya, bahkan bukan untuk dirinya sendiri melainkan untuk anak perempuannya? Yesus samasekali tidak menolak permohonan perempuan Siro-Fenisia itu. Yesus menguji iman-kepercayaan perempuan itu, untuk mengajar kita kuasa dari iman. Yesus meminta iman-kepercayaan setiap kali kita memohon kepada-Nya untuk disembuhkan Perempuan itu telah mengajukan permohonannya kepada Yesus agar anak perempuannya yang dirasuki roh jahat itu disembuhkan. Namun sampai detik itu perempuan itu belum mengungkapkan iman-kepercayaannya. Kita hanya dapat sampai ke hadapan Allah melalui iman.

Sebelum peristiwa ini, Yesus telah menyembuhkan hamba seorang perwira di Kapernaum, seorang “kafir” juga (Mat 8:5-13; Luk 7:1-10). Sang perwira telah mengungkapkan imannya dengan kata-kata yang dapat kita dengar setiap hari dalam perayaan Ekaristi, “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh” (Mat 8:8).

jesus_the_christ_detail_bloch__93932_zoomKemudian Yesus berkata: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel” Mat 8:10). Sekarang, Yesus ingin menunjukkan lagi kepada para pengikut-Nya betapa besarnya iman seseorang, walaupun dia adalah seorang “kafir”. Yesus menguji iman dan ketekunan perempuan ini dengan berkata: “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel” (Mat 15:24). Bukankah kepada umat Israel saja Allah telah menganugerahkan karunia iman, karunia berkenan dengan kebenaran-Nya yang diwahyukan dalam Kitab Suci. Kepada umat Yahudilah Allah telah menjanjikan sang Juruselamat.

Dengan indah sekali perempuan Siro-Fenisia mengungkapkan iman dan ketekunan yang telah direkomendasikan oleh Yesus dalam beberapa perumpamaan tentang doa. Perempuan itu berkata: “Benar, Tuhan. Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak” (Mrk 7:28). Kerendahan hatinya dan rasa percayanya kepada kebaikan Yesus sungguh indah.

Yesus menjawab, “Karena kata-katamu itu, pergilah, setan itu sudah keluar dari anakmu” (Mrk 7:29). Iman adalah kuasa dengan mana kita menyentuh Yesus, kuasa dengan mana kita dapat menanggapi tindakan Allah dalam diri kita. Selama masa hidup-Nya di muka bumi, Yesus berkontak dengan banyak umat beriman dengan kehadiran-Nya yang bersifat fisik: Kata-kata-Nya, sentuhan-Nya, tindakan penuh kuasa-Nya dalam menyembuhkan orang-orang sakit. Dan, Yesus hendak melanjutkan kehadiran-Nya di tengah-tengah kita lewat kata-kata-Nya, sentuhan-Nya dan tindakan-tindakan-Nya. Ini semua dilakukan-Nya lewat Sakramen-sakramen: di sini Dia menyentuh kita dengan sabda dan tindakan-Nya, sesering kita datang menghadap-Nya dengan iman.

DOA: Tuhan Yesus, aku percaya bahwa hanya dengan iman yang kuat, sehat dan hidup aku dapat datang menhadap hadirat-Mu dan menyentuh-Mu. Iman adalah karunia istimewa yang Kauanugerahkan kepadaku dan saudari-saudaraku seiman, namun aku harus terus memelihara iman itu, merawatnya, menumbuh-kembangkannya dan memperhatikannya dengan penuh kasih. Hanya dengan cara begitulah kuat-kuasa penyembuhan-Mu dapat bekerja dalam diriku secara efektif. Terima kasih, ya Tuhan Yesus. Terpujilah nama-Mu selalu, Engkau yang hidup berkuasa bersama Bapa surgawi dalam persekutuan Roh Kudus, Allah sepanjang segala masa. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 7:24-30), bacalah tulisan dengan judul “IMAN SEORANG PEREMPUAN SIRO-FENISIA” (bacaan tanggal 13-2-14), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2014.

Cilandak, 11 Februari 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BERBAGAI PENYEMBUHAN OLEH YESUS DI GENESARET

BERBAGAI PENYEMBUHAN OLEH YESUS DI GENESARET

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Skolastika, Perawan – Senin, 10 Februari 2014)

pppas0118 JESUS HEALS THE LEPERSetibanya di seberang Yesus dan murid-murid-Nya mendarat di Genesaret dan berlabuh di situ. Ketika mereka keluar dari perahu, orang segera mengenal Yesus. Lalu berlari-larilah mereka ke seluruh daerah itu dan mulai mengusung orang-orang sakit di atas tikarnya kemana saja mereka dengar Yesus berada. Kemana pun Ia pergi, ke desa-desa, ke kota-kota, atau ke kampung-kampung, orang meletakkan orang-orang sakit di pasar dan memohon kepada-Nya, supaya mereka diperkenankan menyentuh walaupun jumbai jubah-Nya saja. Semua orang yang menyentuh-Nya menjadi sembuh. (Mrk 6:53-56)

Bacaan Pertama: 1Raj 8:1-7,9-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 132:6-10

Yesus senantiasa memiliki kerinduan untuk menyentuh dan menyelamatkan umat-Nya! Kita dapat membayangkan bagaimana Yesus berjalan berkeliling dari kota kecil atau kampung yang satu ke kota kecil atau kampung yang lain di Galilea. Pada saat Ia datang ke sebuah kota kecil, maka orang-orang akan mengenali-Nya dan langsung saja orang banyak berduyun-duyun berkumpul dengan membawa orang-orang sakit, orang lumpuh dlsb. untuk disembuhkan. Mereka “memohon kepada-Nya, supaya mereka diperkenankan menyentuh walaupun jumbai jubah-Nya saja. Semua orang yang menyentuh-Nya menjadi sembuh” (Mrk 6:56). Orang-orang ini mengetahui bahwa Yesus adalah sumber segala kesembuhan tersebut.

Kata dalam bahasa Yunani esozonto (Mrk 6:56) dapat berarti “menyembuhkan” atau “menyelamatkan”. Dalam bacaan hari ini kata ini digunakan dalam artian literalnya; orang sakit yang menyentuh Yesus menjadi sembuh. Kata yang sama dipakai dalam cerita tentang perempuan yang menderita penyakit pendarahan yang menjadi sembuh ketika dia menyentuh Yesus (lihat Mrk 5:34).

YESUS MENYEMBUHKAN BANYAK - 05ORANGYesus datang untuk membebaskan orang-orang dari segala kejahatan. Penyembuhan-penyembuhan fisik yang dilakukan-Nya harus dilihat dalam konteks hasrat-Nya untuk membawa keselamatan kepada semua orang. Hal ini jelas kelihatan dari pesan Injil secara keseluruhan. Pelayanan Yesus dipusatkan pada sengsara dan kematian-Nya pada kayu salib, di mana Dia menyerahkan hidup-Nya sendiri – demi kasih-Nya – guna menyelamatkan kita. Keselamatan bagi semua orang yang percaya adalah karya terbesar Yesus, dan banyak penyembuhan fisik yang dilakukan-Nya dalam pelayanan-Nya adalah tanda-tanda keselamatan.

Pesan hari ini adalah bagaimana cara-Nya Yesus bekerja dalam kehidupan kita, kita harus datang kepada-Nya seperti orang banyak di Genesaret. Kita harus memohon kepada Yesus agar supaya menyembuhkan kita dan menyelamatkan kita, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang yang mencari sentuhan kesembuhan-Nya. Kita juga harus melangkah ke luar untuk menerima sentuhan-Nya. Selagi kita datang kepada Yesus dengan segala kerendahan hati, maka Dia akan bekerja dengan penuh kuat-kuasa dalam hidup kita. Sentuhan Yesus adalah sentuhan yang menyembuhkan dan menyelamatkan.

Kadang-kadang kita dapat saja berpikir bahwa kita tidak boleh “mengganggu” Yesus dengan kebutuhan-kebutuhan kita, atau bahwa Yesus sudah mengetahui apa saja yang kita butuhkan. Namun apabila kita meneliti hati kita dengan cukup serius, maka kita akan menemukan bahwa sikap-sikap kita ini menunjukkan ketiadaan iman akan Yesus dan ketiadaan rasa percaya bahwa Dia sungguh mengasihi kita dan memiliki hasrat mendalam untuk menyelamatkan kita. Bukankah Ia sudah mengingatkan kita semua akan pentingnya “ketekunan” lewat pengajaran-Nya dalam “perumpamaan tentang hakim yang tidak adil” (Luk 18:1-8)? Yesus juga mengajarkan kepada kita: “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu” (Luk 11:9).

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan yang menyembuhkan dan menyelamatkan kami, umat manusia. Datanglah dan sentuhlah hidup kami. Tunjukkan kepada kami hasrat-Mu untuk menyelamatkan kami selagi kami memusatkan pandangan kami pada diri-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 6:53-56), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS ADALAH SANG PENYEMBUH AGUNG” (bacaan tanggal 10-2-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2014.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 11-2-13 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 7 Februari 2014 [Peingatan S. Koleta dr Corbie, Biarawati Ordo II/Klaris]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS INGIN MENYENTUH HIDUP KITA SEMUA

YESUS INGIN MENYENTUH HIDUP KITA SEMUA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa IV – Selasa, 4 Februari 2014)

Keluarga Fransiskan Kapusin: Peringatan S. Yosef dr Leonisa, Imam Biarawan

Jesus-Christ-3103 putri yairus

Sesudah Yesus menyeberang lagi dengan perahu, orang banyak berbondong-bondong datang lalu mengerumuni Dia. Sementara Ia berada di tepi danau, datanglah seorang kepala rumah ibadat yang bernama Yairus. Ketika ia melihat Yesus, sujudlah ia dI depan kaki-Nya dan memohon dengan sangat kepada-Nya, “Anak perempuanku sedang sakit, hampir mati, datanglah kiranya dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, supaya ia selamat dan tetap hidup.” Lalu pergilah Yesus dengan orang itu. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia dan berdesak-desakan di dekat-Nya.

Adalah di situ seorang perempuan yang sudah dua belas tahun menderita pendarahan. Ia telah berulang-ulang diobati oleh berbagai tabib, sehingga telah dihabiskannya semua yang ada padanya, namun sama sekali tidak ada faedahnya malah sebaliknya keadaannya makin memburuk. Dia sudah mendengar berita-berita tentang Yesus, maka di tengah-tengah orang banyak itu ia mendekati Yesus dari belakang dan menyentuh jubah-Nya. Sebab katanya, “Asal kusentuh saja jubah-Nya, aku akan sembuh.” Seketika itu juga berhentilah berhentilah pendarahannya dan ia merasa bahwa badannya sudah sembuh dari penyakitnya. Pada saat itu juga Yesus mengetahui bahwa ada tenaga yang keluar dari diri-Nya, lalu Ia berbalik di tengah orang banyak dan bertanya, “Siapa yang menyentuh jubah-Ku?” Murid-murid-Nya menjawab: “Engkau melihat bagaimana orang-orang ini berdesak-desakan dekat-Mu, dan Engkau bertanya: Siapa yang menyentuh Aku?” Lalu Ia memandang sekeliling-Nya untuk melihat siapa yang telah melakukan hal itu. Perempuan itu, yang menjadi takut dan gemetar ketika mengetahui apa yang telah terjadi atas dirinya, tampil dan sujud di depan Yesus dan memberitahukan kepada-Nya semua yang terjadi. Lalu kata-Nya kepada perempuan itu, “Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan damai dan tetaplah sembuh dari penyakitmu!”

Ketika Yesus masih berbicara datanglah orang dari keluarga kepala rumah ibadat itu dan berkata, “Anakmu sudah meninggal, untuk apa engkau masih menyusahkan Guru?” Tetapi Yesus tidak menghiraukan perkataan mereka dan berkata kepada kepala rumah ibadat, “Jangan takut, percaya saja!” Lalu Yesus tidak memperbolehkan seorang pun ikut serta, kecuali Petrus, Yakobus dan Yohanes, saudara Yakobus. Mereka tiba di rumah kepala rumah ibadat, dan di sana dilihat-Nya orang-orang ribut, menangis dan meratap dengan suara nyaring. Sesudah masuk Ia berkata kepada orang-orang itu, “Mengapa kamu ribut dan menangis? Anak ini tidak mati, tetapi tidur!” Tetapi mereka menertawakan Dia.

Semua orang itu disuruh-Nya keluar, lalu dibawa-Nya ayah dan ibu anak itu serta mereka yang bersama-sama dengan Dia masuk ke kamar anak itu. Lalu dipegang-Nya tangan anak itu, kata-Nya, “Talita kum,” yang berarti, “Hai anak perempuan, aku berkata kepadamu, bangunlah!” Seketika itu juga anak itu bangkit berdiri dan berjalan, sebab umurnya sudah dua belas tahun. Semua orang yang hadir sangat takjub. Dengan sangat Ia berpesan kepada mereka, supaya jangan seorang pun mengetahui hal itu, lalu Ia menyuruh mereka memberi anak itu makan. (Mrk 5:21-43)

Bacaan Pertama: 2Sam 18:9-10,14b,24-25a,30-19:3; Mazmur Tanggapan: Mzm 86:1-6

“Jangan takut, percaya saja!” (Mrk 5:36).

Markus menulis narasi ini untuk memperdalam iman umat Kristiani perdana, guna mempersiapkan mereka menghadapi pengejaran dan penganiayaan dan menolak godaan. Markus juga memikirkan kita semua karena pusat perhatiannya adalah Kerajaan Allah. Perumpamaan-perumpamaan Yesus dan penyembuhan-penyembuhan-Nya mengantisipasi seperti apa dan bagaimana Kerajaan Allah itu. Siapa saja yang ingin memahami Kerajaan Allah haruslah melihat diri Yesus, sang Penyembuh dan Guru, juga Dia yang disalibkan, wafat dan bangkit dari antara orang mati. Misi sesungguhnya dari Mesias menjadi jelas hanya dengan kematian Yesus dan kebangkitan-Nya, dan perutusan Roh Kudus.

YESUS MENYEMBUHKAN - WANITA YANG KENA PLAGUECerita tentang penyembuhan-penyembuhan ini menunjukkan otoritas Yesus dan juga kodrat-Nya sebagai seorang manusia. Semua itu memanggil kita kepada iman dan pengharapan. Karena mereka berdua mengakui kuat-kuasa penyembuhan-Nya; dan mereka adalah dua orang dengan latar belakang yang berlain-lainan datang kepada Yesus: Yairus (orang Yahudi terpandang karena dia adalah pejabat sinagoga) dan perempuan (yang secara ritual tidak bersih karena penyakit pendarahan). Dua orang ini melihat Yesus sebagai suatu instrumen kuasa Allah; dua orang itu percaya dan dua-duanya menerima hidup yang baru.

Markus membawa para pembacanya dari penyembuhan-penyembuhan Yesus kepada pengharapan. Iman perempuan itu menyembuhkan dan menyelamatkan dirinya, hal mana mengindikasikan kuat-kuasa penyembuhan dari Yesus dan kuasa penyelamatan dari iman yang melampaui hidup fisik. Dalam hal penyembuhan perempuan yang menderita penyakit pendarahan dan pembangkitan anak perempua Yairus, sebenarnya teks Injil menunjuk pada kuasa penyembuhan Yesus dan juga hidup kebangkitan-Nya. Teks ini penuh dengan makna: Penyembuhan menunjuk pada penyelamatan; sedangkan penyadaran anak perempuan Yairus menunjuk pada hidup kebangkitan. Hal itu menantang kita untuk merangkul Yesus sebagai Dia yang melayani kita dalam Kerajaan Allah.

Bacaan Injil hari ini juga menunjukkan sesuatu tentang kasih Yesus bagi semua orang. Dalam menyembuhkan perempuan yang menderita sakit pendarahan dan membangkitkan anak perempuan Yairus, Yesus menyentuh kehidupan orang-orang yang tidak dipandang dalam masyarakat orang Yahudi, yaitu perempuan dan anak-anak: mereka yang menduduki posisi paling bawah dalam struktur sosial pada zaman itu. Dalam menyentuh orang yang memiliki kuasa (pejabat sinagoga) dan orang-orang kecil (perempuan dan anak perempuan), Jesus menunjukkan bahwa siapa pun kita ini, Dia ingin menyentuh hidup kita. Hal ini seharusnya memberikan pengharapan kepada kita selagi kata-kata Yesus bergema dalam hati kita: “Jangan takut, percaya saja!” (Mrk 5:36).

DOA: Tuhan Yesus, berbicaralah kepada hatiku pada hari ini. Berikanlah kepadaku telinga untuk mendengar Engkau dan mengenali arahan dari-Mu. Tolonglah aku agar mampu bertumbuh dalam iman yang aktif, penuh keyakinan, dan berani mengambil risiko. Aku menaruh kepercayaan pada kebaikan dan belas kasih-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (2Sam 18:9-10,14b,24-25a,30-19:3), bacalah tulisan yang berjudul “MENDOAKAN KELUARGA-KELUARGA” (bacaan tanggal 4-2-14), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; 14-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2014.

Cilandak, 1 Februari 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BERSERULAH KEPADA-NYA !!!

BERSERULAH KEPADA-NYA !!!

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa III – Sabtu, 1 Februari 2014)

CHRIST STILLS THE TEMPESTPada hari itu, menjelang malam, Yesus berkata kepada mereka, “Marilah kita bertolak ke seberang.” Mereka meninggalkan orang banyak itu lalu bertolak dan membawa Yesus beserta dengan mereka dalam perahu di mana Yesus telah duduk dan perahu-perahu lain juga menyertai Dia. Lalu mengamuklah topan yang sangat dahsyat dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu, sehingga perahu itu mulai penuh dengan air. Pada waktu itu Yesus sedang tidur di buritan memakai bantal. Lalu murid-murid-Nya membangunkan Dia dan berkata kepada-Nya, “Guru, tidak pedulikah Engkau kalau kita binasa? Ia pun bangun, membentak angin itu dan berkata kepada danau itu, “Diam! Tenanglah!” Lalu angin itu reda dan danau itu menjadi teduh sekali. Lalu Ia berkata kepada mereka, “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” Mereka menjadi sangat takut dan berkata seorang kepada yang lain, “Siapa sebenarnya orang ini, sehingga angin dan danau pun taat kepada-Nya?” (Mrk 4:35-41)

Bacaan Pertama: 2Sam 12:1-7a,11-17l Mazmur Tanggapan: Mzm 51:12-17

“Guru, tidak pedulikah Engkau kalau kita binasa?” (Mrk 4:38).

Teriakan para murid karena ketakutan dan frustrasi sebenarnya menggemakan teriakan kita kepada Tuhan Yesus manakala situasi-situasi dalam kehidupan kita menggoncang iman kita. Namun sekarang, seperti juga pada saat terjadinya peristiwa yang diceritakan dalam Injil di atas, berbagai krisis sebenarnya memberikan kesempatan bagi kita untuk bertumbuh dalam rasa percaya kita kepada Tuhan Yesus selagi kita menyaksikan Dia bekerja dalam kehidupan kita. Memang kita sekali-kali dapat merasakan kesedihan mendalam, namun kita tidak pernah boleh melupakan fakta bahwa Yesus adalah Imanuel, Allah yang senantiasa menyertai kita.

Pengalaman-pengalaman para murid di tengah danau menunjukkan kepada kita bahwa Yesus menjunjung tinggi komitmen-Nya sebagai Tuhan (Kyrios) dan Juruselamat kita. Barangkali kita baru saja kehilangan seseorang yang sangat kita kasihi. Barangkali impian kita yang begitu lama tiba-tiba menjadi berantakan. Kita semua mengalami sakitnya patah hati dan setiap hari menghadapi berbagai tantangan hidup dalam dunia yang penuh kedosaan ini. Kadang-kadang rasa sakit kita begitu intens sehingga menutupi kasih besar dari Allah bagi kita. Kita dapat merasa ditinggalkan oleh-Nya dan merasa heran mengapa Yesus meninggalkan kita justru pada saat-saat kita sangat membutuhkan pertolongan-Nya.

Namun ini bukanlah apa yang dimaksudkan oleh Allah bagi kita. Bapa surgawi ingin menunjukkan kepada kita bahwa Dia ada bersama kita setiap saat, bahkan ketika angin topan dan ombak kehidupan sedang mengamuk dengan dahsyat dan sangat mengancam keberadaan kita. Melalui sakit kita, kelemahan kita, kekhawatiran dan keputus-asaan kita, Yesus ingin mengajar kita untuk mengandalkan diri kepada-Nya secara lebih total-lengkap lagi. Saat-saat penderitaan dan sakit adalah saat-saat di mana Allah menunjukkan kepada kita kasih-Nya kepada kita yang sejati dan bersifat mengikat.

Apabila anda merasakan kesepian, putus-asa, maka berserulah kepada Allah. Percayalah bahwa Dia akan menghibur anda dan menolong anda mengatasi kesulitan-kesulitan anda. Mohonlah kepada Roh Kudus untuk menghibur dan menyemangati anda setiap hari. Dia akan mengangkat diri anda dengan cara-cara yang tidak pernah anda harapkan. Kesampingkanlah masalah-masalah anda untuk waktu yang cukup lama agar anda dapat sepenuhnya memusatkan perhatian pada Tuhan selagi anda membawa berbagai masalah dan kebutuhan anda kepada-Nya. Dia adalah Tuhan yang berdaulat atas segenap ciptaan dan satu-satunya Allah bagi hidup anda. Apabila terjadi sesuatu yang menyakitkan hati, janganlah hal itu sampai memenjarakan kita sehingga kita tidak dapat berbuat apa-apa. Selagi anda menaruh rasa percaya anda kepada Yesus, maka kita pun akan dihibur menyaksikan bahwa Dia tidak pernah memungkiri janji-Nya kepada siapa pun dan Ia tidak pernah meninggalkan seorang pun.

DOA: Tuhan Yesus, Engkaulah andalanku. Aku menaruh segala sesuatu ke dalam tangan-tangan kasih-Mu. Berdirilah di sampingku, ya Yesus, selagi aku menghadapi kesulitan-kesulitan dan mengalami kepedihan. Aku sepenuhnya menaruh pengharapanku dalam diri-Mu, ya Yesus, karena aku mengetahui bahwa kasih-Mu kepadaku cukuplah untuk menolong aku keluar dari badai kehidupanku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 4:35-41), bacalah tulisan dengan judul “GURU, TIDAK PEDULIKAH ENGKAU?” (bacaan tanggal 1-1-14), dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; 14-02 BACAAN HARIAN JANUARI 2014.

Cilandak, 29 Januari 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

APAKAH KITA SEPERTI ORANG BANYAK ITU?

APAKAH KITA SEPERTI ORANG BANYAK ITU?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa II – Kamis, 23 Januari 2014)

HARI KEENAM PEKAN DOA SEDUNIA UNTUK PERSATUAN UMAT KRISTIANI

YESUS MENYEMBUHKANKemudian Yesus dengan murid-murid-Nya menyingkir ke danau, dan banyak orang dari Galilea mengikuti-Nya, juga dari Yudea, dari Yerusalem, dari Idumea, dari seberang Yordan, dan dari daerah Tirus dan Sidon. Mereka semua datang kepada-Nya, karena mendengar segala hal yang dilakukan-Nya. Ia menyuruh murid-murid-Nya menyediakan sebuah perahu bagi-Nya karena orang banyak itu, supaya mereka jangan sampai menghimpit-Nya. Sebab Ia menyembuhkan banyak orang, sehingga semua penderita penyakit berdesak-desakan kepada-Nya hendak menyentuh-Nya. Setiap kali roh-roh jahat melihat Dia, mereka sujud di hadapan-Nya dan berteriak, “Engkaulah Anak Allah.” Tetapi Ia dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia. (Mrk 3:7-12)

Bacaan Pertama: 1Sam 18:6-9;19:1-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 56:2-3,9-13

Di tengah cerita-cerita yang dipenuhi dengan tindakan-tindakan nyata yang menunjukkan siapa Yesus itu sebenarnya dan juga apa arti menjadi murid-Nya, Markus berhenti sejenak untuk memberikan waktu bagi para pembacanya untuk melakukan permenungan. Ia menggunakan kesempatan ini untuk meringkas apa yang telah dikatakannya sampai saat itu tentang Yesus, kedaulatan-Nya, kuasa-Nya atas roh-roh jahat, dan identitas-Nya sebagai Putera Allah. Ia ingin menunjukkan bahwa Yesus itu Pribadi yang menarik dan tetap begitu menarik, sehingga sampai menarik banyak orang dari segala penjuru untuk mengikuti-Nya.

Yesus tidak dapat pergi ke mana pun tanpa diikuti orang banyak. Apa yang dapat dilakukan Yesus adalah meninggalkan rumah ibadat (sinagoga) dan pergi menuju danau bersama para murid-Nya, dan benar saja …… orang banyak datang berkumpul di sekeliling diri-Nya, dan mereka datang dari mana-mana, malah dari beberapa tempat yang tempat yang letaknya jauh. Mereka melakukan perjalanan sekian ratus kilometer jauhnya karena mereka telah mendengar tentang segala mukjizat dan penyembuhan yang dilakukan oleh Yesus. Mereka semua ingin agar Yesus menyentuh mereka. Mereka tidak dapat berlama-lama menunggu agar dapat berada dekat dengan Yesus. Rasa haus dan lapar mereka akan kasih Allah begitu intens sehingga bagaimana pun juga mereka harus berada bersama-Nya.

YESUS MENGAJAR DARI ATAS PERAHUSekarang marilah kita bertanya kepada diri kita masing-masing. Apakah kita memiliki rasa haus dan lapar akan Allah seperti orang banyak pada zaman Yesus itu? Apakah kita merasa rindu untuk mengenal kasih-Nya dan kehadiran-Nya sedemikian sehingga kita tidak akan memperkenankan apa dan siapa pun menghalang-halangi diri kita untuk datang kepada Yesus? Marilah kita bertekad bulat untuk tidak memperkenankan berbagai penghalang seperti rasa tak pantas atau gagal yang merintangi kita untuk dapat datang kepada-Nya. Marilah kita mengambil orang banyak dalam bacaan Injil sebagai contoh dan terus berupaya agar kita dapat semakin dekat dengan Yesus. Santo Paulus menulis, “… aku yakin bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kiristus Yesus, Tuhan kita” (Rm 8:38-39).

Karena kita mempunyai “seorang” Allah yang sangat mengasihi kita, yang tidak akan pernah meninggalkan atau membuang kita, marilah kita pergi kepada-Nya dengan hati yang terbuka lebar-lebar untuk menerima apa saja yang diberikan oleh-Nya. Allah rindu untuk memberikan kepada kita masing-masing setiap berkat dan rahmat-Nya. Dia rindu untuk menarik orang-orang dari keempat penjuru dunia, untuk membawa mereka menghadap hadirat-Nya dan memberkati mereka dengan kasih-Nya yang tanpa batas.

DOA: Tuhan Yesus, kami tidak menginginkan apa pun kecuali Engkau sendiri. Tidak ada sesuatu pun lainnya yang dapat memuaskan hasrat hati kami. Tuhan, ajarlah kami agar dapat semakin dekat dengan diri-Mu, supaya dapat menerima kasih-Mu dan kuat-kuasa penyembuhan-Mu dalam hidup kami. Tuhan, peganglah kami erat-erat agar kami dapat terus berada di dekat hati-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Sam 18:6-9;19:1-7), bacalah tulisan yang berjudul “KECEMBURUAN ADALAH SUATU PENCERMINAN KETIDAKPERCAYAAN KEPADA ALLAH” (bacaan untuk tanggal 23-1-14), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; 14-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2014.

Cilandak, 21 Januari 2014[Peringatan S. Agnes, Perawan-Martir]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

JANGANLAH KITA MEMATUHI PERATURAN AGAMA TANPA KASIH

JANGANLAH KITA MEMATUHI PERATURAN AGAMA TANPA KASIH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa II – Rabu, 22 Januari 2014)

HARI KELIMA PEKAN DOA SEDUNIA UNTUK PERSATUAN UMAT KRISTIANI

YESUS -1MENYEMBUHKAN ORANG YANG MATI TANGAN KANANNYAKemudian Yesus masuk lagi ke rumah ibadat. Di situ ada seorang yang tangannya mati sebelah. Mereka mengamat-amati Yesus, kalau-kalau Ia menyembuhkan orang itu pada hari Sabat, supaya mereka dapat mempersalahkan Dia. Kata Yesus kepada orang yang tangannya mati sebelah itu, “Mari, berdirilah di tengah!” Kemudian kata-Nya kepada mereka, “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuhnya?” Tetapi mereka diam saja. Ia sangat berduka karena kekerasan hati mereka dan dengan marah Ia memandang orang-orang di sekeliling-Nya lalu Ia berkata kepada orang itu, “Ulurkanlah tanganmu!” Orang itu mengulurkannya, maka sembuhlah tangannya itu. Lalu keluarlah orang-orang Farisi dan segera membuat rencana bersama para pendukung Herodes untuk membunuh Dia. (Mrk 3:1-6)

Bacaan Pertama: 1Sam 17:32-33,37,40-51; Mazmur Tanggapan: Mzm 144:1-2,9-10

Allah memerintahkan orang-orang Yahudi untuk mengingat dan menguduskan hari
Sabat (Kel 20:8). Untuk menguduskan hari Sabat sesuai perintah Allah itu, orang-orang Yahudi menyusun suatu sistem hukum guna melindungi kesuciannya. Melakukan peraturan tentang hari Sabat penting karena hal itu membedakan mereka dengan bangsa-bangsa lain di dunia.

Yesus menguatkan klaim-Nya sebagai Tuhan (Kyrios) atas hari Sabat (Mrk 2:28) pada saat Ia menyembuhkan seorang yang mati satu tangannya. Yesus mengetahui bahwa orang-orang Farisi berharap akan menjebak diri-Nya sebagai seseorang yang melanggar hukum Sabat jikalau Ia menyembuhkan orang itu. Oleh karena itu Yesus mengkonfrontir orang-orang Farisi itu dengan bertanya: “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuhnya?” (Mrk 3:4). Ketika Yesus menyembuhkan orang itu, orang-orang Farisi secara murni legalistis memandang tindakan-Nya sebagai “kejahatan” karena Yesus telah membuat “profan” hari Sabat yang yang semestinya “sakral”, dengan melanggar hukum yang melarang penyembuhan pada hari Sabat, kecuali untuk menyelamatkan nyawa seseorang. Di sisi lain, orang-orang Farisi itu memandang tindakan-tindakan mereka untuk menghancurkan Yesus sebagai hal yang “baik”, karena Yesus merupakan ancaman terhadap pemahaman mereka akan Allah.

Yesus adalah pemenuhan janji-janji Allah, yang menghantar kita ke dalam Kerajaan Allah. Bapa surgawi memberikan kuasa kepada Yesus untuk menyembuhkan, mengajar, dan mengampuni dosa-dosa. Karena Yesus itu memiliki belarasa dan belas kasih (Mrk 3:4-5), Yesus menempatkan martabat dan nilai manusia di atas hukum Sabat. Dalam menyembuhkan orang itu, Yesus menyatakan diri-Nya sendiri sebagai pemberi kehidupan yang sejati – sang Mesias, Putera Allah. Cerita penyembuhan orang lumpuh yang diturunkan dari atas atap rumah (Mrk 2:1-12), panggilan Lewi (Mrk 2:13-17), pertanyaan mengenai puasa (Mrk 2:18-22), dan isu mengenai bekerja di hari Sabat (Mrk 2:23-28), semua menunjuk kepada Yesus sebagai Mesias dari Allah yang menghantar kita menuju Kerajaan Allah.

Karena Yesus memiliki hasrat mendalam agar semua orang mengalami penyelamatan-Nya, maka penolakan orang-orang Farisi atas dirinya sungguh membuat diri-Nya sedih. Jika kita memilih untuk percaya kepada ide-ide kita sendiri dan bukannya percaya kepada kebenaran tentang siapa Yesus ini, maka kita pun membuat hati Yesus sedih. Sebagai seorang gembala yang baik, Yesus sungguh sedih apabila ada domba-Nya yang mengabaikan panggilan-Nya dan berjalan semaunya sendiri. Yesus sungguh menyadari bahwa si Jahat – layaknya seekor serigala – senantiasa menunggu kesempatan untuk menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba gembalaan. Dengan wafat di kayu salib dan bangkit dari antara orang mati, Yesus memberikan hidup-Nya agar kita “mempunyai hidup, dan mempunyainya dengan berlimpah-limpah” (Yoh 10:10).

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat kami. Lewat bimbingan Roh Kudus-Mu, buatlah agar kami senantiasa mematuhi hukum kasih-Mu sepanjang hidup kami. Terpujilah nama-Mu yang kudus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Sam 17:32-33,37,40-51), bacalah tulisan dengan judul “BELAJAR DARI CERITA ‘DAUD VS GOLIAT’” (bacaan untuk tanggal 22-1-14), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; 14-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2014.

Cilandak, 20 Januari 2014 [Peringatan S. Yohanes Pembaptis dr Triquerie, Imam-Martir]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS MEMANG MEMPUNYAI KUASA UNTUK MENGAMPUNI DOSA

YESUS MEMANG MEMPUNYAI KUASA UNTUK MENGAMPUNI DOSA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Antonius, Abas – Jumat, 17 Januari 2014)

YESUS MENYEMBUHKAN - ORANG LUMPUH YANG DI TURUNKAN DARI LOTENGKemudian, sesudah lewat beberapa hari, waktu Yesus datang lagi ke Kapernaum, tersebarlah kabar bahwa Ia ada di rumah. Lalu datanglah orang-orang berkerumun sehingga tidak ada lagi tempat, bahkan di depan pintu pun tidak. Sementara Ia memberitakan firman kepada mereka, ada orang-orang datang membawa kepada-Nya seorang lumpuh, digotong oleh empat orang. Tetapi mereka tidak dapat membawanya kepada-Nya karena orang banyak itu, lalu mereka membuka atap di atas Yesus; sesudah terbuka mereka menurunkan tikar, tempat orang lumpuh itu terbaring. Ketika Yesus melihat iman mereka berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu, “Hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni!” Tetapi beberapa ahli Taurat sedang duduk di situ, dan mereka berpikir dalam hatinya, “Mengapa orang ini berkata begitu? Ia menghujat Allah. Siapa yang dapat mengampuni dosa selain Allah sendiri?” Tetapi Yesus segera mengetahui dalam hati-Nya bahwa mereka berpikir demikian, lalu Ia berkata kepada mereka, “Mengapa kamu berpikir begitu dalam hatimu? Manakah yang lebih mudah, mengatakan kepada orang lumpuh ini: Dosa-dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, angkatlah tikarmu dan berjalanlah? Tetapi supaya kamu tahu bahwa Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa di bumi ini” – berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu –, “Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tikarmu dan pulanglah ke rumahmu!” Orang itu pun bangun, segera mengangkat tikarnya dan pergi ke luar dari hadapan orang-orang itu, sehingga mereka semua takjub lalu memuliakan Allah, katanya, “Yang begini belum pernah kita lihat.” (Mrk 2:1-12)

Bacaan pertama: 1Sam 8:4-7,10-22a; Mazmur Tanggapan: Mzm 89:16-19<a

Narasi Injil yang cukup dramatis ini adalah mengenai bagaimana Yesus menyembuhkan seorang lumpuh yang diturunkan dari atap rumah oleh empat orang yang membawanya ke tempat itu. Cerita tentang penyembuhan orang lumpuh ini adalah yang pertama dari lima cerita konflik dalam Injil Markus (2:1-3:6), yang menyoroti perlawanan para pemuka agama Yahudi terhadap pernyataan siapa diri Yesus itu. Dengan berpegang teguh pada ide-ide kuno mereka sendiri, para ahli Taurat dan orang Farisi gagal mengalami bela rasa dan kasih Allah yang dimanifestasikan dalam diri Yesus.

Ada beberapa pokok konflik yang muncul antara Yesus dan para pemimpin agama Yahudi selama berlangsungnya proses penyembuhan. Yang pertama terjadi ketika Yesus mendeklarasikan bahwa dosa-dosa orang itu diampuni (Mrk 2:5). Dalam Perjanjian Lama, kuasa untuk mengampuni dosa hanya milik Allah saja (Kel 34:6-7; Yes 43:25). Lalu Yesus menyebut diri-Nya sebagai “Anak Manusia” yang memiliki kuasa untuk mengampuni dosa (Mrk 2:10). Tradisi Yahudi pada waktu itu memahami bahwa yang dimaksudkan dengan “anak manusia” (Dan 7:13-14) mengacu kepada sang Mesias yang akan membawa umat ke dalam Kerajaan Allah. Yesus mengidentifikasikan diri-Nya dengan tokoh mesianis ini untuk mulai menyatakan diri-Nya dan mempersiapkan umat bagi pekerjaan yang akan dilaksanakan-Nya melalui sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya.

Tanggapan umat yang hadir terhadap peristiwa penyembuhan orang lumpuh ini merupakan sebuah kontras yang tajam terhadap ketakutan yang melumpuhkan dari para ahli Taurat (Mrk 2:7). Orang banyak takjub dan memuliakan Allah, sambil berkata: “Yang begini belum pernah kita lihat” (Mrk 2:12). Mereka memberi tanggapan positif terhadap kebaikan dan belas kasih Allah. Kiranya tidak sedikit dari orang banyak itu kemudian menjadi murid-murid Yesus.

Sekarang pertanyaannya adalah, mengapa orang banyak dapat mengenali siapa Yesus itu, sementara para pemimpin agama Yahudi buta sehingga tidak mampu melihat siapa sebenarnya Yesus? Jawabnya terletak pada iman mereka. Yesus melihat iman dari mereka yang membawa orang lumpuh dan juga iman si lumpuh sendiri (Mrk 2:5). Walaupun kuat-kuasa dan belas kasih Yesus begitu terlihat oleh mereka yang percaya (beriman), ketidak-percayaan telah membutakan mata (terutama mata hati) para pemuka agama Yahudi tersebut. Para pemuka agama Yahudi itu tidak mau mengubah mindset mereka, juga tidak mempunyai keberanian untuk keluar dari comfort zone mereka. Bukankah implisit dalam pengertian apa iman itu, terdapat unsur-unsur keberanian dan perubahan diri?

DOA: Tuhan Yesus, oleh kuasa Roh Kudus-Mu, bukalah mata kami agar mampu melihat karya-Mu dengan lebih jelas dalam hidup kami. Sembuhkanlah kami dari berbagai cara berpikir kami yang membatasi – bahkan menghalangi – pemahaman kami tentang rencana penyelamatan Bapa surgawi atas segenap umat manusia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Sam 8:4-7,10-22a), bacalah tulisan yang berjudul “JANGANLAH ‘NGOTOT’ DENGAN IDE-IDE KITA SENDIRI” (bacaan tanggal 17-1-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2014.

Cilandak, 16 Januari 2014 [Peringatan S. Berardus, Imam dkk., Protomartir Fransiskan]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 140 other followers