Posts tagged ‘ORANG-ORANG FARISI’

WARGA NEGARA DI DUNIA DAN JUGA WARGA SURGA

WARGA NEGARA DI DUNIA DAN JUGA WARGA SURGA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA – Minggu, 17 Agustus 2014)

ROMAN COIN - 001Kemudian pergilah orang-orang Farisi dan membuat rencana bagaimana mereka dapat menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan. Mereka menyuruh murid-murid mereka bersama-sama para pendukung Herodes bertanya kepada-Nya, “Guru, kami tahu, Engkau seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka. Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?” Tetapi Yesus mengetahui kejahatan hati mereka itu lalu berkata, “Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik? Tunjukkanlah kepada-Ku mata uang untuk pajak itu.” Mereka membawa satu dinar kepada-Nya. Lalu Ia bertanya kepada mereka, “Gambar dan tulisan siapakah ini?” Jawab mereka, “Gambar dan tulisan Kaisar.” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.” (Mat 22:15-21)

Bacaan Pertama: Sir 10:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 101:1-3,6-7; Bacaan Kedua: 1Ptr 2:13-17

Pertanyaan yang diajukan oleh para murid Farisi dan para pendukung Herodus kepada Yesus benar-benar menempatkan Yesus pada posisi yang sungguh dilematis. Apabila Yesus mengatakan bahwa membayar pajak kepada pemerintah Roma itu tidak diperbolehkan, maka dengan cepat mereka akan melaporkan Yesus ke perwakilan pemerintah Roma sebagai seorang penghasut anti-Roma sehingga harus ditangkap. Sebaliknya, apabila Yesus mengatakan boleh, maka Dia akan didiskreditkan di mata banyak orang dalam masyarakat Yahudi.

Penolakan orang Yahudi terhadap pembayaran pajak kepada pemerintah Roma teristimewa disebabkan oleh alasan-alasan keagamaan. Bagi orang Yahudi, Allah adalah satu-satunya Raja. Negara mereka adalah sebuah teokrasi, dengan demikian membayar pajak kepada seorang raja di bumi ini berarti mengakui keabsahan martabatnya sebagai raja. Hal ini berarti menghina Allah. Oleh karena itu, orang-orang Yahudi yang lebih fanatik bersikukuh bahwa pajak yang dibayar kepada seorang raja asing itu adalah sebuah kesalahan besar. Jadi, apa pun jawaban Yesus terhadap pertanyaan mereka yang bersifat menjebak itu – menurut para penanya tersebut – Yesus tetap berada dalam posisi yang sulit.

Keseriusan serangan terhadap Yesus ini ditunjukkan oleh kenyataan bahwa orang-orang Farisi dan para pendukung Herodes bergabung untuk menyerang secara bersama-sama, karena biasanya dua partai ini saling beroposisi dengan kuatnya. Orang-orang Farisi dikenal sebagai sebuah kelompok yang sangat ortodoks, yang menentang pembayaran pajak kepada seorang raja asing karena menilai tindakan itu menghalangi hak ilahi dari Allah. Para pendukung Herodes adalah partai dari Herodes, raja Galilea, yang memperoleh kekuasaannya dari pemerintahan Roma, dan tentunya sangat erat bekerja sama dengan pihak Roma itu. Hal sama yang dimiliki dua kelompok ini adalah kebencian mereka kepada Yesus dan hasrat sama untuk “menghabiskan” Yesus. Setiap orang yang bersikukuh dengan cara-caranya sendiri, apa pun itu, akan membenci Yesus.

Namun Yesus adalah seorang pribadi yang penuh hikmat ilahi. Dia minta ditunjukkan uang satu denarius di mana tertera gambar kepala Kaisar. Pada zaman kuno dulu uang logam dengan gambar kepala orang merupakan sebuah tanda dari sang raja yang berkuasa. Begitu seorang raja naik takhta maka membuat uang logam dengan gambar kepalanya. Uang logam itu dipandang sebagai milik sang raja yang gambar kepalanya tertera pada uang logam tersebut. Yesus bertanya, “Gambar dan tulisan siapakah ini?” (Mat 22:20). Jawab mereka, “Gambar dan tulisan Kaisar” (Mat 22:21). Kita semua sudah mengetahui apa yang diperintahkan oleh Yesus kepada mereka (lihat Mat 22:21).

BERIKAN KEPADA KAISARDengan hikmat-Nya yang sungguh unik Yesus tidak pernah menetapkan peraturan-peraturan. Itulah sebabnya mengapa ajaran Yesus tidak mengenal batas waktu dan tidak pernah out of date. Yesus senantiasa menetapkan prinsip-prinsip. Dalam kasus hari ini, Dia menetapkan sebuah prinsip yang sangat besar dan sangat penting artinya, yang sangat relevan pula dengan pesta kemerdekaan Republik Indonesia ke-69 yang kita rayakan pada hari ini.

Setiap orang Kristiani mempunyai dua kewarganegaraan. Ia adalah warga negara di mana dia hidup/tinggal. Kepada negaranya itu dia berutang banyak hal, misalnya keamanan, pelayanan publik a.l. pendidikan, pelayanan medis dlsb. Karena seorang Kristiani seharusnya adalah seorang terhormat, maka dia harus menjadi warganegara yang bertanggung-jawab. Gagal menjadi warganegara yang baik juga berarti gagal dalam menjalankan kewajiban Kristiani-nya. Sungguh mendatangkan tragedi-lah apabila orang-orang Kristiani menolak atau melarikan diri dari panggilan mereka untuk berkarya di berbagai cabang pemerintahan, apalagi kalau kesempatan memungkinkan. Seorang Kristiani mempunyai tugas memberi kepada pemerintah sebagai balasan untuk segala privilese yang diterimanya dari pemerintah.

Di lain pihak seorang Kristiani adalah juga seorang warga surga. Adalah masalah keagamaan dan prinsip di dalam mana tanggung jawab seorang Kristiani adalah kepada Allah. Mungkin saja dua kewarganegaraan itu tidak pernah akan bentrok karena memang dua hal itu tidak perlu bentrok. Namun apabila seorang Kristiani yakin bahwa adalah kehendak Allah bahwa sesuatu harus dilakukan, maka hal itu harus dilakukan olehnya. Atau, apabila dia yakin bahwa sesuatu bertentangan dengan kehendak Allah, maka dia harus menentangnya dan tidak ikut ambil bagian dalam hal itu. Di mana tepatnya letak batasan-batasan antara dua tugas ini, Yesus tidak mengatakannya. Ini adalah masalah nurani orang bersangkutan yang harus diujinya sendiri (tentunya dengan pertolongan Roh Kudus dalam discernment).

Namun seorang Kristiani yang sejati adalah seorang warga yang baik dari negaranya, dan pada saat yang sama adalah warga Kerajaan Surga yang baik pula. Dia tidak akan gagal dalam melaksanakan tugasnya, baik kepada Allah maupun kepada negara. Dia akan mengikuti apa yang dikatakan Santo Petrus, “… takutlah kepada Allah, hormatilah raja!” (1Ptr 2:17).

DOA: Bapa surgawi, Engkau memanggil setiap orang kepada kemerdekaan dalam Yesus Kristus, Putera-Mu. Maka pada hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia ini kami mohon kepada-Mu: lindungilah tanah air kami, agar tetap bebas merdeka dan aman sentosa. Anugerahkanlah kepada bangsa kami kemerdekaan sejati, agar di seluruh wilayahnya berkuasalah keadilan dan damai sejahtera, perikemanusiaan, kerukunan dan cintakasih yang sejati. Ya Tuhan Allahku, jadikanlah aku seorang Kristiani sejati. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 22:15-21), bacalah tulisan yang berjudul “KEKUASAAN MUTLAK ALLAH DALAM SEGALA BIDANG KEHIDUPAN” (bacaan tanggal 17-8-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2014

Cilandak, 14 Agustus 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KITA MEMBUTUHKAN YESUS

KITA MEMBUTUHKAN YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XV – Sabtu, 19 Juli 2014)

YESUS MENYEMBUHKAN BANYAK - 05ORANGLalu keluarlah orang-orang Farisi itu dan membuat rencana untuk membunuh Dia. Tetapi Yesus mengetahui maksud mereka lalu menyingkir dari sana.

Banyak orang mengikuti Yesus dan Ia menyembuhkan mereka semuanya. Ia dengan keras melarang mereka memberitahukan siapa Dia, supaya digenapi firman yang disampaikan oleh Nabi Yesaya, “Lihatlah, itu Hamba-Ku yang Kupilih, yang Kukasihi, yang kepada-Nya jiwa-Ku berkenan; Aku akan menaruh roh-Ku ke atas-Nya dan Ia akan menyatakan keadilan kepada bangsa-bangsa. Ia tidak akan berbantah dan tidak akan berteriak dan orang tidak akan mendengar suara-Nya di jalan-jalan. Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang. Dan pada-Nyalah bangsa-bangsa akan berharap.” (Mat 12:14-21)

Bacaan Pertama: Mi 32:1-5; Mazmur Tanggapan: Mzm 10:1-4,7-8,14

Dalam bacaan Injil hari ini kita melihat bahwa Yesus berurusan dengan dua jenis manusia: (1) orang-orang Farisi yang berpikir bahwa mereka tidak membutuhkan Yesus, bahkan mereka membenci-Nya dan lalu membuat rencana untuk membunuh Dia. (2) anggota masyarakat pinggiran, mereka yang termarginalisasi, para “pendosa” yang sadar bahwa mereka membutuhkan Yesus dan menginginkan-Nya. Injil mencatat seperti berikut: “Banyak orang mengikuti Yesus dan Ia menyembuhkan mereka semuanya” (Mat 12:15).

Ketika mengajarkan perumpamaan tentang domba yang hilang, Yesus bersabda, “Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di surga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih daripada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan” (Luk 15:7). Jadi, kata kuncinya di sini adalah “bertobat”. Yesus juga datang bagi orang-orang yang sadar bahwa mereka membutuhkan kuat-kuasa-Nya untuk menyembuhkan, bukan bagi mereka yang sudah “sedemikian baik” sehingga mereka merasa tidak lagi membutuhkan-Nya. Oleh karena itu Yesus mengatakan, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. …… Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa” (Mat 9:12,13). Yesus datang agar supaya orang-orang sakit dan orang-orang berdosa dapat menikmati hidup baru dan kekuatan baru.

Pada masa lampau seringkali orang-orang Kristiani tidak memakai kuat-kuasa Yesus untuk menyembuhkan. Sebenarnya Yesus menghendaki agar kita melakukannya. Di mana-mana dalam kitab-kitab Injil, kita sering melihat Yesus melakukan penyembuhan atas diri seseorang atau dalam perjalanan untuk menyembuhkan seseorang, atau baru saja pulang dari menyembuhkan seseorang. Orang-orang sakit dibawa kepada Yesus dan “Ia menyembuhkan mereka semua” (Mat 12:15b). Orang banyak mengetahui bahwa Yesus adalah seorang nabi besar yang memiliki kuasa ilahi. Dia menyembuhkan orang lumpuh, buta, tuli serta berbagai penyakit lainnya, juga para pendosa yang bertobat. Yesus membuat para pendosa menjadi orang-orang kudus!

Kita lihat dalam kitab-kitab Injil bahwa Jesus ingin para pengikut-Nya juga melakukan hal yang sama. Yesus berkata kepada 12 murid-Nya, “Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Allah sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; sembuhkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah dengan cuma-cuma” (Mat 10:7-8). Yesus ingin agar Gereja-Nya melakukan pekerjaan penyembuhan ini – melalui Sadramen-sakramen, melalui doa mohon kesembuhan, melalui komunitas-komunitas iman.

Akan tetapi hal ini dapat menuntut suatu iman dan rasa percaya yang lebih besar daripada yang kita miliki sebelumnya, dan suatu relasi yang dekat dengan Yesus, sehingga dengan demikian hidup dalam Dia dan dengan Dia dari hari ke hari, kita dapat mengalami kuasa-Nya yang besar dalam hidup kita dan dalam hidup orang-orang di sekeliling kita.

DOA: Tuhan Yesus, tanah-tanah kering membutuhkan air hujan. Engkaulah air hujan itu (Hos 6:3). Seorang petani menyambut turunnya hujan dengan penuh sukacita karena dia mengetahui bahwa hal itu adalah kebutuhan pokok agar tanamannya bertumbuh. Kami juga sangat membutuhkan Engkau, ya Tuhan. Terpujilah nama-Mu selalu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 12:14-21), bacalah tulisan yang berjudul “MOTIF YESUS ITU SEDERHANA: KASIH!” (bacaan tanggal 19-7-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-07 BACAAN HARIAN JULI 2014.

D’Agape, Gadog, Jawa Barat, 16 Juli 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

UNTUK MEMANGGIL ORANG BERDOSA

UNTUK MEMANGGIL ORANG BERDOSA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIII – Jumat, 4 Juli 2014)

Ordo Fransiskan Sekular: Peringatan S. Elisabet dari Portugal, Ratu

KEMURIDAN - YESUS MEMANGGIL MATIUSSetelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di tempat pemungutan cukai, lalu Ia berkata kepadanya, “Ikutlah Aku.” Matius pun bangkit dan mengikut Dia. Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya. Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus, “Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Yesus mendengarnya dan berkata, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi, pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” (Mat 9:9-13)

Bacaan Pertama: Am 8:4-6,9-12; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:2,10,20.30,40,131

Bayangkan betapa sulitnya bagi seorang pemungut cukai Yahudi di tanah Palestina (Israel) pada zaman Yesus. Matius telah berkolaborasi dengan pihak penjajah (Romawi) untuk memperoleh keuntungan-keuntungan dalam pemungutan cukai dengan memeras bangsanya sendiri, dan memenuhi kantongnya dengan kelebihan-kelebihan pungutan cukai. Untuk pekerjaannya sebagai antek penjajah dan dimusuhi oleh bangsanya sendiri, sangat mungkinlah bahwa Matius itu menjadi seorang pribadi yang sungguh terisolasi dari masyarakat. Barangkali persahabatannya dengan orang-orang lain hanyalah berdasarkan uang dan kepentingan-diri.

Ke dalam dunia semacam inilah Yesus melangkah masuk. Memandang Matius dengan penuh kasih, Yesus hanya mengatakan kepadanya, “Ikutlah Aku” (Mat 9:9). Apakah yang dilihat Matius dalam diri Yesus sehingga menyebabkan dia sudi meninggalkan segala sesuatu guna mengikut-Nya? Untuk pertama kali dalam hidupnya, Matius bertemu dengan “kasih tanpa syarat” dan “penerimaan lengkap-total” dari Yesus. Matius tidak melakukan apapun untuk memperoleh kebaikan dari Yesus, namun dia tetap dipanggil-Nya.

Kemauan Yesus untuk berpartisipasi dalam acara makan-makan di rumah Matius juga sama-sama luar biasanya – suatu tanda keselamatan bagi sementara orang dan suatu skandal bagi orang-orang yang lain. Pada zaman Yesus, duduk pada meja perjamuan dengan seorang lain merupakan sebuah tanda keakraban (keintiman) dan kesatuan dan persatuan. Bagi orang Farisi, makan dengan seorang pendosa adalah peristiwa yang tak terbayangkan dan tak terpikirkan. Rumah Matius, bagaimana pun juga dilihat sebagai sebuah sarang penyamun.

Di lain pihak, Yesus bersedia untuk mengambil risiko atas reputasi pribadi-Nya, karena/demi cintakasih-Nya kepada Matius. Jelaslah, bahwa orang-orang Farisi tidak memahami cintakasih sedemikian. Jadi, tanpa sekalipun pernah mengabaikan kesempatan yang ada, Yesus berkata kepada mereka, “Pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa” (Mat 9:13).

Sebenarnya kita semua tidak pantas untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah. Kita semua membutuhkan pengampunan. Seringkali orang-orang “benar” di antara kita dapat menjadi keras-hati ketimbang orang-orang “tidak-benar” yang acapkali dihina dan disingkirkan dari masyarakat. Jadi, tidak mengherankanlah apabila Yesus dalam kesempatan lain mengatakan, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan pelacur akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah” (Mat 21:31). Kita harus senantiasa mengingat kebenaran bahwa keselamatan datang kepada siapa saja dengan cara yang sama, yaitu melalui pertobatan dan iman. Sekarang pertanyaannya adalah, apakah kita mau menanggapi undangan Yesus untuk mengikut Dia? Maukah kita menerima undangan-Nya untuk ikut serta dalam persekutuan pada meja perjamuan-Nya? Ataukah kita akan tetap menjauhkan diri karena kita mengukur kepantasan atau ketidakpantasan diri kita sendiri?

DOA: Tuhan Yesus, aku tidak pantas untuk menerima Engkau, namun aku merasa terhormat karena Engkau bersedia untuk meluangkan waktu denganku. Aku membuka hatiku kepada-Mu dan menerima kasih-Mu dan penyembuhan-Mu atas diriku. Terpujilah nama-Mu, ya Yesus, Tuhan dan Juruselamatku, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 9:9-13), bacalah tulisan yang berjudul “PANGGILAN MATIUS UNTUK MENGIKUT YESUS” (bacaan tanggal 4-7-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2014.

Bacalah juga tulisan-tulisan yang berjudul “IKUTLAH AKU!!!” (bacaan tanggal 5-7-13) dan “BUKAN ORANG SEHAT YANG MEMERLUKAN TABIB” (bacaan tanggal 6-7-12), keduanya dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 28 Juli 2014 [Peringatan Hati Tersuci SP Maria]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS MENGAJAR KITA AGAR TIDAK MENJADI ORANG MUNAFIK

YESUS MENGAJAR KITA AGAR TIDAK MENJADI ORANG MUNAFIK

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Prapaskah – Selasa, 18 Maret 2014)

YESUS  DI NAZARETLalu berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, “Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksudkan untuk dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang; mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terbaik di rumah ibadat; mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil orang ‘Rabi.’ Tetapi kamu, janganlah kamu disebut ‘Rabi’; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. Janganlah kamu menyebut siapa pun ‘bapak’ di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di surga. Janganlah kamu disebut pemimpin, karena hanya satu pemimpinmu, yaitu Mesias. Siapa saja yang terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Siapa saja yang meninggikan diri, ia akan direndahkan dan siapa saja yang merendahkan diri, ia akan ditinggikan. (Mat 23:1-12)

Bacaan Pertama: Yes 1:10,16-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 50:8-9,16-17,21,23

Para ahli Taurat dan orang-orang Farisi duduk di atas kursi Musa dan memandang diri mereka sebagai para pewaris ajaran-ajarannya dan mengklaim diri mereka sebagai pelestari ajaran-ajaran Musa tersebut. Memang banyak ajaran mereka adalah demi kemuliaan Allah dan seturut semangat Perjanjian Lama, namun sayangnya (celakanya?) tidak ditunjukkan dalam praktek kehidupan mereka.

CELAKALAH ENGKAU KATA YESUSYesus mengkritisi hasrat mereka akan kehormatan, seperti gelar “rabi” atau “guru”, juga kecintaan mereka untuk “pamer diri” (pencitraan diri?) di pasar dan di tempat-tempat umum lainnya. Salah satu praktek “gila hormat” atau “pamer diri” orang-orang munafik ini adalah memperbesar kotak yang berisikan ayat-ayat suci yang digunakan selagi mereka berdoa (diikatkan pada kepala dan kotaknya ditaruh di dahi). Mereka juga biasa saling berebut tempat kehormatan pada pertemuan-pertemuan sosial dan keagamaan. Yesus “mengutuk” kemunafikan seperti itu dan mengkontraskannya dengan ideal kepemimpinan Kristiani yang tidak lain tidak bukan adalah untuk melayani. Pada suatu hari Yesus bersabda kepada para murid-Nya: “Kamu tahu bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa bertindak sebagai tuan atas rakyatnya, dan para pembesarnya bertindak sewenang-wenang atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Siapa saja yang ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani …” (Mat 20:25-28; bdk. Mat 23:11).

Yesus samasekali bukanlah seperti seorang “rabi” atau “guru” yang tidak mempraktekkan apa yang diajarkannya (lihat Mat 23:3). Yesus mempraktekkan apa yang diajarkan-Nya secara sempurna. Tidak ada contoh nyata yang lebih jelas daripada contoh yang ditunjukkan oleh Yesus dalam hal ini, yaitu ketika merendahkan diri-Nya di atas kayu salib (Flp 2:6-11). “Pelayan-Raja” kita ini sekarang sudah ditinggikan di surga, dan Dia sendiri memang telah mengatakan, “Siapa saja yang meninggikan diri, ia akan direndahkan dan siapa saja yang merendahkan diri, ia akan ditinggikan” (Mat 23:12).

Dari hidup-Nya, Yesus menunjukkan diri-Nya sebagai seorang servant-leader (pemimpin yang melayani) yang sempurna. Oleh karena itu, pantaslah bahwa kita menyapa-Nya sebagai Guru. Yesus tidaklah seperti mereka yang mengklaim berbagai gelar agar mendapat pujian, penghormatan dlsb. yang bersifat keduniaan. Lewat peri kehidupan-Nya Yesus memimpin kita semua menuju Surga, dan kita adalah murid-murid yang baik jika kita mendengarkan dan mematuhi perintah-perintah-Nya dan mengikut Dia. Untuk melakukan hal ini kita dapat memohon kepada Yesus agar Dia memimpin kita. Kita dapat mendengarkan sabda-Nya melalui bacaan dan permenungan Kitab Suci, menerima tubuh-Nya (dan darah-Nya) dalam Ekaristi dan mengikuti ajaran-Nya dengan menaruh kepercayaan kepada-Nya dalam kasih yang sejati.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah kami agar dapat menyediakan waktu yang cukup setiap harinya guna mendengarkan sabda-Mu. Kuatkanlah kami agar mampu mempraktekkan sabda-Mu dalam kehidupan kami sehari-hari. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 23:1-12), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS SANG MESIAS ADALAH GURU KITA YANG SEJATI” (bacaan tanggal 18-3-14) dalam dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2014.
Bacalah juga tulisan yang berjudul “SEBUAH PERINGATAN KERAS” (bacaan tanggal 26-2-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yes 1:10,16-20), bacalah tulisan yang berjudul “BASUHLAH, BERSIHKANLAH DIRIMU” (bacaan tanggal 6-3-12), dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 15 Maret 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS TIDAK MEMAKSA SIAPA PUN UNTUK MENJADI PERCAYA

YESUS TIDAK MEMAKSA SIAPA PUN UNTUK MENJADI PERCAYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VI – Senin, 17 Februari 2014)

JESUS CONFRONTING THE SCRIBES AND PHARISEESKemudian muncullah orang-orang Farisi dan mulai berdebat dengan Yesus. Untuk mencobai Dia mereka meminta dari Dia suatu tanda dari surga. Lalu mendesahlah Ia dalam hati-Nya dan berkata, “Mengapa orang-orang zaman ini meminta tanda? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, kepada orang-orang ini sekali-kali tidak akan diberi tanda.” Ia meninggalkan mereka, lalu Ia naik lagi ke perahu dan bertolak ke seberang. (Mrk 8:11-13)

Bacaan Pertama: Yak 1:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:67-68,71-72,75,76

Memang agak mengherankan ketika kita membaca bahwa orang-orang Farisi meminta tanda dari surga untuk membuktikan tentang kedatangan Kerajaan Allah melalui Yesus Kristus. Kita telah melihat dari bagian-bagian lain kitab-kitab Injil bahwa Yesus telah membuat banyak mukjizat dan tanda-tanda heran lainnya, hal mana sebenarnya sudah merupakan bukti yang cukup bahwa Dia berasal dari Allah. Namun bagi orang-orang Farisi tanda-tanda ini tidaklah memuaskan. Kelihatannya pada waktu itu ada pemikiran dalam Yudaisme bahwa pada saat sang Mesias datang, maka Dia akan membuat mukjizat yang bersifat unik. Tidak ada tulisan apa pun dalam Kitab Suci Perjanjian Lama yang mendukung pandangan ini. Akan tetapi, seperti begitu banyak hal lainnya, orang-orang Farisi telah membangun suatu tradisi mereka sendiri yang dipertimbangkan oleh mereka sebagai sama pentingnya dengan Kitab Suci.

Jadi, ketika mereka meminta tanda yang sangat istimewa, Yesus menjadi agak kecewa terhadap ketiadaan iman-kepercayaan mereka, lalu berkata: “Mengapa orang-orang zaman ini meminta tanda? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, kepada orang-orang ini sekali-kali tidak akan diberi tanda” (Mrk 8:12). Hal ini berarti bahwa tidak ada mukjizat yang istimewa dan unik akan dibuat-Nya untuk memuaskan kepercayaan mereka, bahwa mukjizat yang sungguh luarbiasa akan mendahului kedatangan sang Mesias.

CELAKALAH ENGKAU KATA YESUSSecara sederhana, yang dimaksudkan oleh Yesus di sini adalah, bahwa permintaan akan suatu tanda yang bersumber pada ketidakpercayaan manusia tidak akan diladeni oleh-Nya.

Iman menuntut adanya suatu keterbukaan, suatu kemauan untuk menerima alasan-alasan yang biasa untuk percaya. Jika penyembuhan orang-orang sakit, pengusiran roh-roh jahat, penggandaan roti dan mukjizar-mukjizat lainnya yang jelas tidak lepas dari kuat-kuasa ilahi tidak cukup untuk meyakinkan orang-orang Farisi itu, maka hal ini berarti tidak ada respons dari pihak mereka. Iman harus merupakan suatu tindakan bebas. Yesus tidak akan memaksa siapa pun untuk percaya. Tanggapan atau respons harus datang secara bebas, dibantu oleh berbagai mukjizat dan tanda heran yang sudah dibuat oleh-Nya.

Kita sendiri memang tidak pernah menyaksikan Yesus membuat mukjizat, menyembuhkan orang sakit dlsb. Yang mungkin pernah kita lihat adalah hal-hal sedemikian yang dilakukan oleh orang-orang beriman dalam nama-Nya, namun kita percaya bahwa Yesus-lah Pelaku utamanya. “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya” (Ibr 13:8). Yesus Kristus ini menganugerahkan kepada kita karunia iman untuk menerima Injil sebagai benar. Keempat kitab Injil memuat catatan-catatan akurat tentang kehidupan Yesus dan tindak-tanduk-Nya selama hidup di muka bumi. Oleh karena itu kita percaya! Kita percaya bahwa Yesus telah membuktikan keilahian-Nya, martabat-Nya sebagai sang Mesias yang dinanti-nantikan oleh umat Yahudi, lewat mukjizat-mukjizat dan berbagai tanda heran lainnya yang dibuat-Nya, dan memuncak pada kebangkitan-Nya dari antara orang mati.

DOA: Tuhan Yesus, kami merasa terberkati secara istimewa karena Engkau pernah bersabda, “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya” (Yoh 20:29). Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yak 1:1-11), bacalah tulisan yang berjudul “BIARLAH MEREKA MELIHAT APA YANG KITA LAKUKAN” (bacaan tanggal 17-2-14), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2014.

Cilandak, 14 Februari 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

LEGALISME YANG MENYESATKAN

LEGALISME YANG MENYESATKAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa V – Selasa, 11 Februari 2014)

CELAKALAH ENGKAU KATA YESUSOrang-orang Farisi dan beberapa ahli Taurat dari Yerusalem datang menemui Yesus. Mereka melihat bahwa beberapa orang murid-Nya makan dengan tangan yang najis, yaitu dengan tangan yang tidak dibasuh. Sebab orang-orang Farisi seperti orang-orang Yahudi lainnya tidak makan kalau tidak membasuh tangan dengan cara tertentu, karena mereka berpegang pada adat istiadat nenek moyang mereka; dan kalau pulang dari pasar mereka juga tidak makan kalau tidak lebih dahulu membasuh dirinya. Banyak warisan lain lagi yang mereka pegang, umpamanya hal mencuci cawan, kendi dan perkakas-perkakas tembaga serta tempat pembaringan. Karena itu orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu bertanya kepada-Nya, “Mengapa murid-murid-Mu tidak hidup menurut adat istiadat nenek moyang kita, tetapi makan dengan tangan najis?” Jawab-Nya kepada mereka, “Tepatlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik, seperti ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya tetap jauh dari Aku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, karena ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan dan adat istiadat manusia kamu pegang.” Lalu Yesus berkata kepada mereka, “Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat istiadat sendiri. Karena Musa telah berkata: Hormatilah ayahmu dan ibumu! dan: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya harus mati. Tetapi kamu berkata: Kalau seseorang berkata kepada ayahnya atau ibunya: Segala bantuan yang seharusnya engkau terima dariku adalah Kurban, – yaitu persembahan kepada Allah – , maka kamu tidak membiarkannya lagi berbuat sesuatu pun untuk ayahnya atau ibunya. Jadi, dengan adat istiadat yang kamu teruskan itu, firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku. Banyak lagi hal lain seperti itu yang kamu lakukan.” (Mrk 7:1-13)

Bacaan Pertama: 1Raj 8:22-23,27-30; Mazmur Tanggapan: Mzm 84:3-5,10-11

Orang-orang Farisi dan para pemuka agama Yahudi pada umumnya begitu takut dan iri-hati melihat popularitas Yesus sehingga mereka terus saja mencoba menemukan kesalahan Yesus dalam kata-kata maupun tindakan-tindakan-Nya. Dalam bacaan Injil hari ini disoroti “upacara” cuci tangan sebelum makan. Beberapa murid Yesus mengabaikan “upacara” yang tidak kurang/penting ini. Langsung saja orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang datang dari Yerusalem itu melihat hal tersebut. Mereka mengkonfrontir Yesus seakan hal ini merupakan kelalaian yang sangat berat.

Jesus_w_PharYesus mengkritisi keprihatinan berlebihan mereka pada tradisi-tradisi manusia yang lebih dipentingkan daripada pengabaian perintah-perintah Allah yang terdapat dalam Kitab Suci dengan mengutip dari Kitab nabi Yesaya: “Tepatlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik, seperti ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya tetap jauh dari Aku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, karena ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan dan adat istiadat manusia kamu pegang.” Lalu Yesus berkata kepada mereka, “Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat istiadat sendiri” (Mrk 7:6-9).

Inilah kata-kata keras Yesus yang ditujukan kepada orang-orang Farisi dan beberapa ahli Taurat yang datang dari Yerusalem itu. Pada dasarnya yang dikatakan oleh Yesus ini adalah bahwa mereka adalah orang-orang bodoh, munafik dan tidak jujur. Mereka memelihara tradisi-tradisi mereka bukan disebabkan oleh kasih kepada Allah dan sesama, melainkan untuk melestarikan posisi mereka sebagai para pemuka agama yang kelihatan suci di mata umat Yahudi, kaum elite …… orang-orang terhormat dalam masyarakat.

Namun, sebelum kita menjadi begitu marah dan merasa terdorong untuk menghakimi orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu, marilah kita melihat diri kita sendiri. Apakah kita selalu bersikap jujur terhadap diri kita sendiri, terhadap Allah dan sesama? Jika kita mematuhi perintah-perintah atau peraturan-peraturan, apakah kita melakukannya karena semua itu adalah kehendak Allah atau agar sekadar kelihatan baik di mata orang-orang lain? Apakah kita sebenarnya hanya ingin agar orang-orang lain memandang kita sebagai orang-orang Kristiani saleh yang mematuhi perintah-perintah agama demi kebanggaan pribadi dan juga pertimbangan dari sudut pandang sosial pada umumnya? Ataukah kita – secara jujur sesungguh-sungguhnya – hendak melaksanakan hukum kasih kepada Allah dan sesama, dan kita memandang dan menyikapi setiap perintah dan mematuhinya sedemikian rupa sehingga tindakan-tindakan kita, kata-kata yang kita ucapkan, pikiran-pikiran kita semuanya sungguh merupakan ungkapan kasih Kristiani kita?

DOA: Tuhan Yesus, jadikanlah kami murid-murid-Mu yang setia. Jauhkanlah kami dari sikap munafik dan suka membohongi diri sendiri. Terima kasih Tuhan. Terpujilah nama-Mu selalu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 7:1-13), bacalah tulisan yang berjudul “JANGANLAH MEMULIAKAN ALLAH HANYA DENGAN BIBIR” (bacaan tanggal 11-2-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2014.

Cilandak, 10 Februari 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MEMETIK BULIR GANDUM PADA HARI SABAT

MEMETIK BULIR GANDUM PADA HARI SABAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Agnes, Perawan-Martir – Selasa, 21 Januari 2014)

HARI KEEMPAT PEKAN DOA SEDUNIA UNTUK PERSATUAN KRISTIANI

MURID-MURID YESUS MEMETIK GANDUM PADA HARI SABATPada suatu hari Sabat, Yesus berjalan di ladang gandum, dan sementara berjalan murid-murid-Nya memetik bulir gandum. Lalu kata orang-orang Farisi kepada-Nya, “Lihat! Mengapa mereka berbuat sesuatu yang tidak diperbolehkan pada hari Sabat?” Jawab-Nya kepada mereka, “Belum pernahkah kamu baca apa yang dilakukan Daud, ketika ia dan orang-orang yang mengikutinya kekurangan dan kelaparan, bagaimana ia masuk ke dalam Rumah Allah waktu Abyatar menjabat sebagai Imam Besar lalu makan roti sajian itu – yang tidak boleh dimakan kecuali oleh imam-imam – dan memberinya juga kepada pengikut-pengikutnya?” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat. Karena itu Anak Manusia adalah Tuhan, bahkan atas hari Sabat.” (Mrk 2:23-28)

Bacaan Pertama: 1Sam 16:1-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 89:20-22,27-28

“Anak Manusia adalah Tuhan, bahkan atas hari Sabat” (Mrk 2:28). Kata-kata Yesus ini merupakan tantangan bagi orang-orang Farisi. Mereka mengajukan pertanyaan yang kelihatan legitim (Inggris: legitimate) berkaitan dengan tindakan-tindakan para murid Yesus yang jelas bertentangan dengan hukum Sabat. Yesus menanggapi pertanyaan orang-orang Farisi itu dengan mengkonfrontir kekerdilan pemikiran mereka tentang diri-Nya dan karya pelayanan-Nya. Yesus juga mengidentifikasikan diri-Nya sebagai Tuhan (Kyrios) atas hari Sabat.

Tindakan para murid memetik bulir gandum di hari Sabat jelas merupakan suatu pelanggaran peraturan-peraturan Yahudi berkaitan dengan hari Sabat. Ketika orang-orang Farisi itu mempertanyakan tindakan-tindakan para murid-Nya, Yesus menanggapinya dengan menyatakan otoritas-Nya dengan dua cara. Pertama, Ia memberi contoh dari Perjanjian Lama, yaitu pada waktu Daud dan para pengikutnya memakan roti suci yang ada di Rumah Allah. Dalam hal ini Yesus mengidentifikasikan diri-Nya dengan Daud. Sebagaimana Daud mengizinkan para pengikutnya memuaskan rasa lapar mereka dengan mengorbankan kepatuhan yang ketat terhadap hukum, demikian pula Yesus dapat memperkenankan para murid-Nya untuk memuaskan rasa lapar mereka dengan memetik bulir gandum pada hari Sabat. Daud adalah pralambang dari Mesias yang dinanti-nantikan. Sudah diterima secara umum dalam masyarakat Yahudi bahwa sang Mesias yang dinanti-nantikan itu adalah seorang keturunan Daud. Jadi, Yesus mempunyai semacam hak prerogatif untuk mengupayakan agar kebutuhan-kebutuhan para murid-Nya terpenuhi; mereka yang telah meninggalkan segala milik mereka untuk mengikuti sang Rabi dari Nazaret dalam pelayanan-Nya kepada orang banyak.

Kedua, Yesus memproklamasikan bahwa Allah menciptakan hari Sabat agar dapat bermanfaat bagi kesejahteraan umat manusia. Barangkali juga Yesus sedang memikirkan Kel 20:8-11 ketika Dia berkata: “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat” (Mrk 2:27). Oleh karena itu hukum harus ditafsirkan dan diamati dalam terang dwi-perintah untuk mengasihi Allah dan mengasihi sesama. Yesus meringkas otoritas-Nya dalam pernyataan final-Nya bahwa Dia adalah Tuhan atas hari Sabat (Mrk 2:28). Dengan melakukan itu, Yesus tidak membatalkan hukum Sabat, melainkan menafsirkannya dalam terang karya penyelamatan-Nya.

Cerita tentang konfrontasi ini mengundang kita untuk melihat terobosan dari Kerajaan Allah. Sebagaimana pra-konsepsi orang-orang Farisi tentang karya pelayanan Yesus dan hukum dipertanyakan, maka kita pun ditantang untuk memahami bahwa Yesus jauh lebih daripada sekadar seorang manusia atau seorang guru yang baik. Anak Manusia adalah Tuhan atas segala sesuatu, bahkan atas hari Sabat!

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah kami agar mampu melihat dengan jelas otoritas dan martabat-Mu sebagai Tuhan. Engkau harus makin besar, tetapi kami harus makin kecil (bdk. Yoh 3:30). Kami ingin hidup seturut hukum kasih-Mu dan di bawah kekuasan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Sam 16:1-13), bacalah tulisan dengan judul “DAUD DIURAPI MENJADI RAJA” (bacaan tanggal 21-1-14), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; 14-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2014.

Cilandak, 19 Januari 2014 [HARI MINGGU BIASA II – TAHUN A]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 127 other followers