Posts tagged ‘ROH KUDUS’

DENGAN CARA-CARA BIASA MAUPUN CARA-CARA LUARBIASA

DENGAN CARA-CARA BIASA MAUPUN CARA-CARA LUARBIASA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Paskah – Sabtu, 24 Mei 2014)

Keluarga Besar Fransiskan: Pesta Pemberkatan Basilika S. Fransiskus di Assisi

TIMOTIUS MENINGGALKAN RUMAH MEREKAPaulus datang juga ke Derbe dan ke Listra. Di situ ada seorang murid bernama Timotius; ibunya seorang Yahudi dan telah percaya, sedangkan ayahnya seorang Yunani. Timotius ini dikenal baik oleh saudara-saudara seiman di Listra dan di Ikonium, dan Paulus mau, supaya dia menyertainya dalam perjalanan. Paulus menyuruh menyunatkan dia karena orang-orang Yahudi di daerah itu, sebab setiap orang tahu ayahnya orang Yunani.

Dalam perjalanan keliling dari kota ke kota Paulus dan Silas menyampaikan keputusan-keputusan yang diambil para rasul dan para penatua di Yerusalem dengan pesan, supaya jemaat-jemaat menurutinya. Demikianlah jemaat-jemaat diteguhkan dalam iman dan dari hari ke hari bertambah besar jumlahnya.

Mereka melintasi tanah Frigia dan tanah Galatia, karena Roh Kudus mencegah mereka untuk memberitakan Injil di Asia. Setibanya di Misia mereka mencoba masuk ke daerah Bitinia, tetapi Roh Yesus tidak mengizinkan mereka. Setelah melintasi Misia mereka sampai di Troas. Pada malam harinya tampaklah oleh Paulus suatu penglihatan. Ada seorang Makedonia berdiri di situ dan memohon kepadanya, “Menyeberanglah kemari dan tolonglah kami!” Setelah Paulus melihat penglihatan itu, segeralah kami mencari kesempatan untuk berangkat ke Makedonia, karena dari penglihatan kami menarik kesimpulan bahwa Allah telah memanggil kami untuk memberitakan Injil kepada orang-orang di sana. (Kis 16:1-10)

Mazmur Tanggapan: Mzm 100: 1-3,5; Bacaan Injil: Yoh 15:18-21

Dari waktu ke waktu, Allah berbicara kepada Paulus dengan cara-cara yang luarbiasa untuk memberikan bimbingan dan arahan bagi misinya untuk menyebarkan-luaskan pewartaan Injil. Bacaan hari ini dari “Kisah para Rasul” adalah sebuah contoh klasik. Melalui suatu penglihatan (visi), Allah menolong Paulus menentukan untuk pergi ke Makedonia, dengan demikian membawa pesan Injil ke Eropa. Sepanjang “Kisah para Rasul”, kita dapat membaca bagaimana Allah menunjukkan kehendak-Nya kepada umat-Nya melalui banyak sarana atau cara, baik yang biasa maupun yang luarbiasa.

Bagaimana kiranya Allah menyatakan kehendak-Nya kepada kita pada zaman modern ini? Apakah Dia membatasi diri-Nya hanya pada berbagai cara atau sarana yang biasa-biasa? Atau, apakah Dia kadang-kadang mengejutkan kita dengan pernyataan-pernyataan diri-Nya yang bersifat dramatis seperti halnya dengan para murid/rasul-Nya yang pertama? Bagi jutaan orang Kristiani di seluruh dunia, jawabnya adalah “Ya, Yesus menggunakan setiap cara yang mungkin!”

ROHHULKUDUSAllah itu memiliki kuat-kuasa yang mahadahsyat dan juga sangat kreatif, dan cara-cara yang digunakan-Nya untuk berkomunikasi dengan kita ada banyak dan bervariasi. Allah dapat membuka pikiran kita selagi kita membaca dan merenungkan sabda-Nya dalam Kitab Suci, melalui sentuhan-sentuhan batiniah dari Roh Kudus dalam doa kita, atau melalui suatu pencerahan secara mendadak selagi kita menikmati pemandangan indah terbitnya matahari, dlsb. Namun Ia tidak berhenti di situ. Allah juga berbicara kepada kita dengan cara-cara yang tidak biasa, teristimewa pada saat-saat kritis dalam kehidupan kita. Dia masih menggunakan mimpi-mimpi dan penglihatan-penglihatan untuk menyatakan rencana-Nya bagi kita. Dia masih menggunakan karunia Roh Kudus untuk bernubuat guna berbicara dengan umat-Nya, dlsb.

Jika kita ingin hidup dalam kepenuhan rencana Allah, maka kita harus terbuka bagi segala cara yang Allah gunakan untuk berbicara kepada kita. Sebagai patokan umum, kita harus tetap mencari-Nya lewat cara-cara biasa seperti pembacaan dan permenungan Kitab Suci dan ajaran-ajaran Gereja, namun pada saat yang sama kita harus selalu terbuka bagi cara-cara-Nya yang luarbiasa. Allah akan melakukan apa saja yang diperlukan untuk menyatakan belas kasih-Nya, untuk mengekspos kelemahan yang ada dalam diri kita yang membutuhkan perbaikan, untuk menyiapkan jalan baru untuk hidup kita, dan untuk mengajar kita bagaimana hidup dalam kasih-Nya dan damai sejahtera-Nya.

Pada hari ini, marilah kita mohon kepada Allah agar Ia menyatakan kehendak-Nya dalam hidup kita, baik dengan cara-cara biasa maupun cara-cara yang luarbiasa. Lalu, baiklah kita melihat bagaimana Dia melakukannya. Dengan penuh perhatian kita mendengarkan Dia. Kita harus mempunyai iman yang penuh pengharapan. Kemudian, ambillah waktu pada malam ini untuk merenungkan apakah yang telah dilakukan Allah pada diri kita. Kita dapat merasa terkejut namun dengan hati yang gembira.

DOA: Roh Kudus, bukanlah kedua telingaku agar aku dapat mendengar suara Allah. Bukalah kedua mataku, agar aku dapat melihat rencana Allah bagi hidupku. Bukalah hatiku, agar aku hidup dengan iman yang penuh pengharapan pada hari ini dan di hari-hari selanjutnya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 15:18-21), bacalah tulisan yang berjudul “DUNIA MEMBENCI PARA SAKSI KRISTUS” (bacaan tanggal 24-5-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2014.
Bacalah juga tulisan yang berjudul “DUNIA TELAH LEBIH DAHULU MEMBENCI AKU DARIPADA KAMU” (bacaan tanggal 12-5-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Untuk mendalami Bacaan Pertama (Kis 16:1-10), bacalah tulisan-tulisan yang berjudul “PEWARTA KABAR BAIK YANG SEJATI SELALU DIPIMPIN ROH KUDUS” (bacaan tanggal 28-5-11) dan “SETIAP HARI KITA HARUS MEMOHON BIMBINGAN ROH KUDUS” (bacaan tanggal 4-5-13), keduanya dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 20 Mei 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KETAATAN ADALAH BUKTI CINTAKASIH

KETAATAN ADALAH BUKTI CINTAKASIH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Paskah – Senin, 19 Mei 2014)

Keluarga Fransiskan Kapusin: Peringatan S. Krispinus dari Viterbo, Bruder

the-last-supper-master-of-portillo

“Siapa saja yang memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Siapa saja yang mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Aku pun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya.” Yudas, yang bukan Iskariot, berkata kepada-Nya, “Tuhan, apa sebabnya Engkau hendak menyatakan diri-Mu kepada kami, dan bukan kepada dunia?”Jawab Yesus “Jika seseorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan tinggal bersama-sama dengan dia. Siapa saja yang tidak mengasihi Aku, ia tidak menuruti firman-Ku; dan firman yang kamu dengar itu bukanlah dari Aku, melainkan dari Bapa yang mengutus Aku. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, selagi aku berada bersama-sama dengan kamu; tetapi Penolong, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu. (Yoh 14:21-26)

Bacaan Pertama: Kis 14:5-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 115:1-4,15-16

Pada hari ini kita melanjutkan bacaan Injil dan permenungan tentang pesan-pesan perpisahan Yesus pada Perjamuan Terakhir. Selagi kita membacanya, kita akan merasakan kehadiran-Nya yang penuh kelemah-lembutan. Yesus mengatakan kepada para rasul-Nya bagaimana mereka dapat turut ambil bagian dalam kehidupan dengan-Nya, walaupun Ia telah meninggalkan dunia ini. Yesus juga menjanjikan kepada mereka Roh Kudus-Nya yang akan berdiam dalam diri mereka masing-masing, untuk menghibur dan mengajarkan segala sesuatu kepada mereka dan akan mengingatkan mereka akan semua yang telah dikatakan-Nya kepada mereka (Yoh 14:26).

ROH KUDUS MELAYANG-LAYANG - 2Di sini Yesus menegaskan syarat-syarat yang diperlukan agar dapat turut ambil bagian dalam kehidupan bersama-Nya, dengan Bapa surgawi. Hanya apabila kita mentaati perintah-perintah yang telah diberikan-Nya kepada kita maka kita sungguh mengasihi-Nya. Namun sekali kita telah membuktikan cintakasih kita lewat ketaatan kita, maka kita pun akan dikasihi oleh Bapa. Maka, Yesus akan mengasihi kita sampai-sampai Dia menyatakan diri-Nya kepada kita (Yoh 14:21).

Ketaatan adalah bukti cintakasih. Jika kita mengasihi seseorang, maka kita memiliki hasrat untuk melakukan kehendaknya, menyesuaikan diri kita dengan rencana-rencananya dan keinginan-keinginannya dengan sebaik-baiknya. Demikian pula halnya dengan relasi kita dengan Tuhan. Kita harus menjadi para murid yang setia. Yesus bersabda, “Jika seseorang mengasihi Aku, Ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan tinggal bersama-sama dengan dia” (Yoh 14:23).

Apakah kita mendapat kesulitan waktu berdoa? Apakah Tuhan terasa sangat jauh atau bahkan absen samasekali? Ragu-ragukah kita apakah Dia sungguh berdiam dalam diri kita atau tidak? Memang ada saat-saat di mana Dia seakan tidak berada dekat dengan kita – tidak terasa kehadiran-Nya – namun ini hanyalah untuk membangun iman dan rasa percaya kita. Alasan lain mengapa kita tidak menemukan Tuhan dalam doa kita mungkin disebabkan oleh fakta bahwa kita selama ini tidak setia kepada sabda-Nya, tidak melakukan kehendak-Nya dalam kehidupan kita. Barangkali kita tidak menghayati dan melaksanakan hukum cintakasih yang diberikan-Nya kepada kita. Kalau begitu halnya, maka kita tahu apa yang harus kita lakukan agar Tuhan mau mendirikan kembali kediaman-Nya dalam diri kita dan sekali lagi menyatakan diri-Nya kepada kita.

DOA: Tuhan Yesus, dengan rahmat-Mu tolonglah kami agar senantiasa taat kepada-Mu sebagaimana Engkau taat kepada Bapa di surga. Semoga Roh Kudus-Mu selalu memenuhi diri kami masing-masing dengan hidup-Nya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 14:5-18), bacalah tulisan yang berjudul “TETAP MAU DAN MAMPU UNTUK DIAJAR OLEH ALLAH” (bacaan tanggal 19-5-14) dalam situs/blog SANG SABDA http://sangsabda.wordpress.com; kategori: 14-05 BACAAN HARIAN MEI 2014.
Bacalah juga tulisan yang berjudul “SENANTIASA BERPEGANG TEGUH PADA PANGGILAN ALLAH” (bacaan tanggal 7-5-12), dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 14:21-26), bacalah tulisan-tulisan yang berjudul “ROH KUDUS AKAN DIUTUS OLEH BAPA DALAM NAMA YESUS” (bacaan tanggal 23-5-11) dan “UNTUK DIPENUHI ROH KUDUS, KITA HARUS TAAT KEPADA ALLAH DAN PERINTAH-PERINTAH-NYA” (bacaan tanggal 29-4-13), keduanya dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 16 Mei 2014 [Peringatan S. Margareta dr Cortona]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ALLAH SENANTIASA MEMANGGIL KITA

ALLAH SENANTIASA MEMANGGIL KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Prapaskah – Kamis, 3 April 2014)

YESUS DI GEREJA ORTODOX SIRIAKalau Aku bersaksi tentang diri-Ku sendiri, maka kesaksian-Ku tidak benar; ada yang lain yang bersaksi tentang Aku dan Aku tahu bahwa kesaksian yang diberikan-Nya tentang Aku adalah benar. Kamu telah mengirim utusan kepada Yohanes dan ia telah bersaksi tentang kebenaran; tetapi Aku tidak memerlukan kesaksian dari manusia, namun Aku mengatakan hal ini, supaya kamu diselamatkan. Ia adalah pelita yang menyala dan bercahaya dan kamu hanya mau menikmati seketika saja cahayanya itu. Tetapi Aku mempunyai suatu kesaksian yang lebih penting daripada kesaksian Yohanes, yaitu segala pekerjaan yang diserahkan Bapa kepada-Ku, supaya Aku melaksanakannya. Pekerjaan itu juga yang Kukerjakan sekarang, dan itulah yang memberi kesaksian tentang Aku bahwa Bapa telah mengutus Aku. Bapa yang mengutus Aku, Dialah yang bersaksi tentang Aku. Kamu tidak pernah mendengar suara-Nya, rupa-Nya pun tidak pernah kamu lihat, dan firman-Nya tidak menetap di dalam dirimu, sebab kamu tidak percaya kepada Dia yang diutus-Nya. Kamu menyelidiki Kitab-kitab Suci, sebab kamu menyangka bahwa di dalamnya kamu temukan hidup yang kekal, tetapi walaupun Kitab-kitab Suci itu memberi kesaksian tentang Aku, namun kamu tidak mau datang kepada-Ku untuk memperoleh hidup itu.

Aku tidak memerlukan hormat dari manusia. Tetapi tentang kamu, memang Aku tahu bahwa di dalam hatimu kamu tidak mempunyai kasih terhadap Allah. Aku datang dalam nama Bapa-Ku dan kamu tidak menerima Aku; jikalau orang lain datang atas namanya sendiri, kamu akan menerima dia. Bagaimana kamu dapat percaya, kamu yang menerima hormat seorang dari yang lain dan tidak mencari hormat yang datang dari Allah yang Esa? Jangan kamu menyangka bahwa Aku akan mendakwa kamu di hadapan Bapa; yang mendakwa kamu adalah Musa yang kepadanya kamu menaruh pengharapan. Sebab jikalau kamu percaya kepada Musa, tentu akan percaya juga kepada-Ku, sebab ia telah menulis tentang Aku. Tetapi jikalau kamu tidak percaya kepada apa yang ditulisnya, bagaimana kamu akan percaya kepada apa yang Kukatakan?” (Yoh 5:31-47)

Bacaan Pertama: Kel 32:7-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 106:19-23

ROHHULKUDUSDengan begitu banyak cara, Allah terus-menerus memberi kesaksian kepada kita tentang Putera-Nya – Yesus – agar supaya kita dapat datang kepada-Nya untuk menerima kepenuhan hidup. Allah mengetahui bahwa jika kita tidak datang kepada Yesus, maka kita akan tetap buta, bersikap masa bodoh, dan berjalan menuju kehancuran diri kita sendiri. Oleh karena itu Yesus berseru, “Datanglah kepadaku” (bdk. Yoh 5:40; Yes 55:3). Yesus memanggil kita melalui Gereja dan dalam Kitab Suci. Suara-Nya terdengar berulang-ulang melalui berbagai penyembuhan ajaib dan pewartaan penuh inspirasi dari para pelayan-Nya. Melalui bisikan Roh Kudus-Nya dalam batin kita, Yesus menyatakan kerinduan-Nya untuk berbicara kepada pikiran kita dan juga menembus hati kita dengan kesadaran akan kedosaan kita dan pengampunan dari Allah.

Allah senantiasa memanggil kita, dan Ia meminta agar kita menanggapi panggilan-Nya dengan iman, yang adalah “dasar dari segala sesuatu yang diharapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak dilihat” (Ibr 11:1). Iman bersifat hakiki karena kehidupan yang ingin diberikan Allah tidaklah datang dari dunia ini – suatu kehidupan yang dapat kita lihat, kita rasakan dan kita sentuh. Kalau begitu, kehidupan dari mana? Kehidupan dari atas sana! Yesus bersabda: “Kamu berasal dari bawah, Aku dari atas; kamu dari dunia ini, Aku bukan dari dunia ini” (Yoh 8:23). Artinya, hal ini melampaui pemahaman manusia. Mengapa? Karena hati mereka tertuju pada hal-hal yang kelihatan, maka sulitlah bagi orang-orang Farisi untuk menerima kesaksian Allah tentang Yesus (lihat Yoh 5:43). Akan tetapi, apabila kita mempersiapkan hati kita untuk menerima kehidupan dari “atas”, maka kesaksian Allah tersebut akan bercahaya dalam diri kita.

CAIJSPMBDalam upaya mereka untuk memahami hukum-hukum Allah, orang-orang Farisi mempelajari Kitab Suci secara intens (Yoh 5:39-40). Kadang-kadang kita dapat tergoda untuk mempelajari Kitab Suci dengan cara serupa, yaitu mengandalkan pada kekuatan intelektual dengan harapan bahwa melalui pemahaman kita, maka kita dapat memiliki kuasa Allah. Sebenarnya Allah meminta kita untuk cukup mengheningkan jiwa kita untuk memperkenankan sabda-Nya menembus hati kita. Allah ingin agar kita menerima hidup-Nya, tidak hanya memahami-Nya, karena jika kita menerima dari Dia sendiri, Dia akan memberdayakan kita untuk menyampaikan sabda-Nya kepada orang-orang lain.

Saudari dan Saudaraku, sekarang marilah kita memohon kepada Roh Kudus untuk membuka hati kita bagi semua hal yang memberi kesaksian tentang kemuliaan Yesus Kristus. Marilah kita belajar untuk mengheningkan pikiran kita, selagi kita berdoa agar kita dapat menerima “hal-hal yang tidak kelihatan” yang datang dari takhta Allah.

DOA: Yesus, kami datang menghadap hadirat-Mu dan mohon diberikan kehidupan. Transformasikanlah setiap aspek kehidupan kami dengan kehidupan ilahi-Mu sehingga dengan demikian kami dapat menyembah-Mu dan juga memuliakan Bapa surgawi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 5:31-47), bacalah tulisan yang berjudul “MEMBUKA DIRI BAGI ALLAH” (bacaan tanggal 3-4-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2014.

Untuk mendalami Bacaan Pertama (Kel 32:7-14), bacalah tulisan yang berjudul “AKU HANYALAH YANG KETIGA!” (bacaan tanggal 7-4-11) dalam situs/blog SANG SABDA.

Cilandak, 31 Maret 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEPERTI HALNYA DENGAN MARIA, KITA PUN DIPANGGIL

SEPERTI HALNYA DENGAN MARIA, KITA PUN DIPANGGIL

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA KABAR SUKACITA – Selasa, 25 Maret 2014)

annunciation-1450

Dalam bulan yang keenam malaikat Gabriel disuruh Allah pergi ke sebuah kota yang bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. Ketika malaikat itu datang kepada Maria, ia berkata, “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.” Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya, “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh anugerah di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapak leluhur-Nya, dan Ia akan memerintah atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.” Kata Maria kepada malaikat itu, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” Jawab malaikat itu kepadanya, “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.” Kata Maria, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia. (Luk 1:26-38)

Bacaan Pertama: Yes 7:10-14;8:10; Mazmur Tanggapan: Mzm 40:7-11; Bacaan Kedua: Ibr 10:4-10

Pada saat memberi kabar sukacita, malaikat Gabriel mengundang Maria untuk bekerja-sama dalam rencana penyelamatan Allah. Dalam keterkejutannya, Maria diberitahukan oleh Gabriel bahwa dia akan mengandung, bukan karena pengungkapan cinta seorang laki-laki kepadanya, melainkan oleh Roh Kudus (Luk 1:35).

Bayangkanlah iman yang diperlukan oleh Maria untuk menjawab selagi dia dengan kebebasan penuh menyerahkan dirinya kepada apa yang diminta Allah dari dirinya. Maria berkata, “Ya!” “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38). Rasa percaya, iman, pengharapan, kerendahan-hati, ketaatan, dan kasih, semuanya menyatu-padu dalam kata-kata yang diucapkan Maria, dan sejak saat mahapenting itu, dunia dan sejarah umat manusia pun berubah, … untuk selamanya.

Cerita dari Injil Lukas ini yang memimpin Santo Fransiskus dari Assisi – satu dari banyak orang kudus lainnya dengan pengalaman serupa – untuk menyapa Maria sebagai “mempelai Roh Kudus” (Ibadat Sengsara Tuhan; Antifon Santa Perawan Maria, 2). Akan tetapi kita tidak boleh membatasi gambaran ini sekadar pada saat terkandungnya Yesus. Roh Kudus menaungi Maria tidak hanya pada saat itu, melainkan juga pada setiap langkah yang diambilnya pada perjalanan ziarahnya selama hidup di atas bumi ini. Banyak sekali hidup iman Maria yang patut dicatat disamping saat ia diperkandung oleh Roh Kudus. Sepanjang hidupnya Maria bertumbuh dalam ketergantungannya kepada Roh Kudus dan menjadi seorang saksi yang lebih besar (daripada saksi-saksi lain) terkait dengan hidup baru yang telah dibawa oleh Yesus bagi kita semua.

Seperti juga Maria, kita pun dipanggil untuk mengatakan “ya” kepada Allah, tidak sekali saja, tapi lagi dan lagi. Seperti Maria, kita pun telah diundang ke dalam suatu relasi akrab dengan Roh Kudus – untuk menjadi tempat kediaman-Nya, untuk mendengarkan Dia, untuk bertindak di bawah bimbingan-Nya, untuk membawa Kristus ke tengah dunia. Seperti Maria, kita pun dapat bertanya-tanya dalam hati kita, “Bagaimans hal itu mungkin terjadi?” (bdk. Luk 1:34).

Santo Augustinus dari Hippo [354-430] menulis, “Ibunda Kristus membawa Dia dalam rahimnya. Semoga kita membawa Dia dalam hati kita. Sang perawan menjadi hamil dengan inkarnasi Kristus. Semoga hati kita pun mengandung dengan iman kepada Kristus. Dia (Maria) membawa sang Juruselamat. Semoga jiwa kita membawa keselamatan dan puji-pujian.”

DOA: Bapa surgawi, tolonglah aku agar dapat mendengar panggilan-Mu untuk mengasihi dan melayani. Tolonglah diriku agar dapat mengatakan “ya” kepada Engkau. Utuslah Roh Kudus-Mu kepadaku, sehingga dengan demikian Yesus dapat dilahirkan dalam hatiku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 1:26-38), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS SELALU MENYERTAI KITA DALAM SETIAP SITUASI” (bacaan tangggal 25-3-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2014.

Cilandak, 24 Maret 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS DIBAPTIS OLEH YOHANES

YESUS DIBAPTIS OLEH YOHANES

(Bacaan Pertama Misa Kudus, PESTA PEMBAPTISAN TUHAN – Minggu, 12 Januari 2014)

BAPTISAN YESUS - YESUS DIPERMANDIKAN OLEH YOHANES PEMBAPTISKemudian datanglah Yesus dari Galilea ke Yordan kepada Yohanes untuk dibaptis olehnya. Tetapi Yohanes mencegah Dia, katanya, “Akulah yang perlu dibaptis oleh-Mu, namun Engkau yang datang kepadaku?” Lalu jawab Yesus kepadanya, “Biarlah hal itu terjadi sekarang, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah.” Yohanes pun menuruti-Nya. Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, lalu terdengarlah suara dari surga yang mengatakan, “Inilah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan.” (Mat 3:13-17)

Bacaan Pertama: Yes 42:1-4,6-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 29:1-4,9-10; Bacaan Kedua: Kis 10:34-38

Setelah bertahun-tahun menanti dan mempersiapkan diri-Nya, tibalah saatnya bagi Yesus untuk memulai pelaksanaan misi-Nya. Dia tidak lagi tetap tersembunyi di Nazaret, berprofesi sebagai seorang tukang kayu. Sekarang, tibalah saatnya bagi Yesus untuk melaksanakan peran yang merupakan bagian-Nya dalam rencana Allah, saat untuk mengumumkan dan meresmikan Kerajaan Allah. Sekarang adalah saat untuk penyembuhan-penyembuhan atas diri orang-orang yang menderita berbagai penyakit, pengusiran roh-roh jahat atas diri orang-orang yang dirasuki, berkhotbah tentang Kerajaan Allah serta ajaran-ajaran-Nya dan menyerukan pertobatan.

Kerajaan besar dan agung ini tidak dimulai dengan suara terompet atau bunyi sangkakala dan tidak juga dengan pembuktian besar-besaran lewat mukjizat-mukjizat dan berbagai tanda heran lainnya yang dibuat oleh Yesus, melainkan dengan humilitas, yaitu kerendahan atau kedinaan, yaitu selagi Yesus merendahkan diri-Nya dan meminta kepada Yohanes untuk dibaptis-tobat untuk pengampunan dosa. Yesus yang tanpa dosa begitu menghargai panggilan Yohanes kepada para pendosa untuk bertobat. Ia yang di “atas” sana senantiasa berjubah kemuliaan harus menundukkan kepala-Nya kepada dia yang berbaju kasar (jubah bulu unta dst., lihat Mrk 1:6). Dia yang benar, mengidentifikasikan diri-Nya dengan orang-orang berdosa untuk memenuhi diri mereka dengan segala kebenaran.

ROH KUDUS MELAYANG-LAYANG - 2Matius mengatakan bahwa ketika Yesus keluar dari air, Roh Kudus turun atas diri-Nya dan Allah Bapa memberi kesaksian tentang Putera-Nya: “Inilah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan” (Mat 3:16-17). Dengan menceritakan baptisan Yesus secara begini, Matius menekankan peranan Yesus sebagai seorang hamba YHWH sebagaimana diperkenalkan dalam kitab Yesaya (Yes 42:1-7). Seperti hamba yang menderita dalam kitab Yesaya itu, Yesus telah datang guna “menjadi terang untuk bangsa-bangsa, untuk membuka mata yang buta, untuk mengeluarkan orang-orang hukuman dari tempat tahanan dan mengeluarkan orang-orang yang duduk dalam gelap dari rumah penjara” (Yes 42:6-7). Yang bahkan lebih penting lagi, seperti sang hamba YHWH, Dia (Yesus) harus mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai kurban tebusan dosa bagi orang-orang lain dan Ia juga berdoa syafaat bagi mereka guna mendapatkan pengampunan (lihat Yes 53:10-12).

Santo Paulus mengatakan bahwa pada saat baptisan kita, kita dibaptis ke dalam Kristus (Rm 6:3; Gal 3:27). Baptisan Yesus adalah baptisan kita juga. Jika pada baptisan Yesus, Roh Kudus turun atas diri-Nya maka demikian pula Roh Kudus turun atas diri kita masing-masing pada saat kita dibaptis. Seperti Bapa surgawi yang mendeklarasikan bahwa Yesus adalah “Anak-Nya yang terkasih” (Mat 3:17), kita pun – pada saat dibaptis – menjadi anak-anak Allah yang sangat dikasihi-Nya. Sebagaimana Yesus melaksanakan amanat-Nya sebagai seorang Hamba, maka kita pun harus menghayati hidup sebagai hamba yang melayani Allah dalam upaya membangun Kerajaan-Nya di dunia ini.

Dengan penuh keyakinan karena pengurapan Roh Kudus, dan dengan kerendahan hati serta kedinaan dalam Kristus, marilah kita bertekad bulat untuk melayani Bapa surgawi dengan penuh sukacita dan penyangkalan diri, sebagai anak-anak yang sangat dikasihi oleh-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, penuhilah diriku dengan Roh Kudus-Mu. Semoga aku memperoleh sukacita sejati ketika aku berupaya untuk menyenangkan-Mu, sebagaimana Engkau bersukacita dalam hidup-Mu yang sepenuhnya adalah untuk menyenangkan Bapa-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Mat 3:13-17), bacalah tulisan yang berjudul “KEPADA-NYA AKU BERKENAN” (bacaan tanggal 12-1-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs..wordpress.com; kategori: 14-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2014.

Cilandak, 9 Januari 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KETERGANTUNGAN KITA PADA KASIH ALLAH

KETERGANTUNGAN KITA PADA KASIH ALLAH

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa sesudah Penampakan Tuhan – Rabu, 8 Januari 2014)

LECTIO DIVINASaudara-saudaraku yang terkasih, jikalau Allah demikian mengasihi kita, maka kita juga harus saling mengasihi. Tidak ada seorang pun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita.

Demikianlah kita ketahui bahwa kita tetap berada di dalam Allah dan dia di dalam kita, karena Ia telah mengaruniakan Roh-Nya kepada kita. Dan kami telah melihat dan bersaksi bahwa Bapa telah mengutus Anak-Nya menjadi Juruselamat dunia. Siapa yang mengaku bahwa Yesus adalah Anak Allah, Allah tetap berada di dalam dia dan dia di dalam Allah. Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan siapa yang tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.

Dalam hal inilah kasih Allah sempurna di dalam kita, yaitu kalau kita mempunyai keberanian percaya pada hari penghakiman, karena sama seperti Dia, kita juga ada di dunia ini. Di dalam kasih tidak ada ketakutan: Kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan siapa yang takut, ia tidak sempurna di dalam kasih. (1Yoh 4:11-18)

Mazmur Tanggapan: Mzm 72:1-2,10-13; Bacaan Injil: Mrk 6:45-52

“Saudara-saudaraku yang terkasih, jikalau Allah demikian mengasihi kita, maka kita juga harus saling mengasihi” (1Yoh 4:11).

Marilah kita menyediakan waktu sejenak untuk merenungkan kasih Allah kepada kita, anak-anak-Nya. Allah menciptakan kita semua karena kasih-Nya, dan karena kasih-Nya pula Dia mengutus Putera-Nya yang tunggal ke tengah dunia, dan kemudian wafat untuk dosa-dosa kita. Kitab Suci melukiskan kasih Allah sebagai kasih yang hangat dan lemah lembut (lihat Hos 11:8-9), suatu kombinasi antara kasih sayang seorang bapak serta pemberian semangat (lihat Mzm 103:13) dan pelukan penuh penghiburan dari seorang ibu (Yes 66:13). Kasih Allah juga penuh gairah dan sukacita: Seperti seorang mempelai laki-laki bergirang hati karena mempelai perempuan, maka Allah juga bergirang hati karena keberadaan kita (Yes 62:5). Kasih Allah tidak didasarkan pada apa saja yang kita telah lakukan, melainkan karena kodrat-Nya sendiri, yang adalah KASIH. (1Yoh 4:16).

Marilah kita memperkenankan kebenaran-kebenaran ini meresap di dalam hati dan pikiran kita (anda dan saya). Kita juga memperkenankan kasih Allah memperlunak hati kita semua. Selagi kita melakukannya, maka kita pun akan mendapatkan suatu kemampuan baru untuk mengasihi orang-orang lain. Kasih Allah dalam diri kita akan mengalir kepada orang-orang lain, bahkan kepada mereka yang tidak mengasihi diri kita, bahkan juga kepada orang-orang yang telah menyakiti diri kita. Inilah sifat dari kasih ilahi – kasih yang ditunjukkan oleh Yesus, sang Tersalib.

DOA PRIBADISaudari-saudara sekalian, rasa percaya dan ketergantungan kita pada kasih Allah juga akan memberikan kepada kita suatu keyakinan bahwa kita aman dari penghakiman Allah (lihat 1Yoh 4:17-18). Apabila kita beriman kepada Yesus Kristus dan pengorbanan-Nya di kayu salib yang telah menebus kita, maka kita tidak perlu merasa takut akan hukuman dari Allah. Dengan mengesampingkan rasa takut kita, maka kita dapat bertumbuh dalam kasih kepada Allah dan memusatkan perhatian kita dalam tindakan-tindakan yang menyenangkan hati-Nya. Apa pun situasi dan kondisi yang kita hadapi, kita dapat menjalani kehidupan yang bebas dari rasa takut dan kecemasan yang tidak ada gunanya, karena kita senantiasa dihibur serta dikuatkan oleh firman-Nya: “Lihat, Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku; tembok-tembokmu tetap di ruang mata-Ku” (Yes 49:16).

Saudari dan saudara, pada hari ini dan setiap hari, marilah kita berupaya untuk mengenal dengan lebih mendalam lagi kasih Allah serta mengalaminya. Allah mengasihi kita agar dapat membuat kehadiran-Nya nyata kepada kita semua selagi kita berdoa, membaca dan merenungkan sabda-Nya yang terdapat dalam Kitab Suci, juga selagi kita ikut ambil bagian dalam kehidupan gerejawi. Selagi kita melakukan semua hal ini, baiklah bagi kita untuk memperkenankan kasih Allah menyegarkan kembali diri kita supaya kita memperoleh kekuatan untuk memberikan kita sendiri kepada orang-orang lain. Marilah kita berseru kepada-Nya dengan segenap hati kita, dan kita pun akan mendengar Dia berbicara di batin kita yang terdalam, “Tenanglah! Inilah Aku, jangan takut!” (Mrk 6:50).

DOA: Roh Kudus Allah, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena
Engkau telah mencurahkan kasih Allah ke dalam hati kami masing-masing. Kami tahu bahwa kasih yang Kaucurahkan itu adalah kasih yang sama, dengan mana Bapa surgawi senantiasa mengasihi Putera-Nya, Yesus Kristus, yaitu Tuhan dan Juruselamat kami. Tolonglah kami agar dapat mengekspresikan kasih-Mu kepada orang-orang di sekeliling kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 6:45-52), bacalah tulisan yang berjudul “TENANGLAH! INILAH AKU, JANGAN TAKUT!” (bacaan tanggal 8-1-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2014.

Cilandak, 6 Januari 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERCAYA KEPADA NAMA YESUS KRISTUS DAN SALING MENGASIHI SETURUT PERINTAH-NYA

PERCAYA KEPADA NAMA YESUS KRISTUS DAN SALING MENGASIHI SETURUT PERINTAH-NYA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa sesudah Penampakan Tuhan – Senin, 6 Januari 2014)

st-john-the-evangelist-1620 (1)Apa saja yang kita minta, kita memperolehnya dari Dia, karena kita menuruti segala perintah-Nya dan melakukan apa yang berkenan kepada-Nya. Dan inilah perintah-Nya: Supaya kita percaya kepada nama Yesus Kristus, Anak-Nya, dan saling mengasihi sesuai dengan perintah yang diberikan Kristus kepada kita. Siapa yang menuruti segala perintah-Nya, ia ada di dalam Allah dan Allah di dalam dia. Dengan inilah kita ketahui bahwa Allah ada di dalam kita, yaitu dengan Roh yang telah Ia karuniakan kepada kita.

Saudara-saudaraku yang terkasih, janganlah percaya kepada setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia. Dengan inilah kita mengenal Roh Allah: Setiap roh yang mengaku bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia, berasal dari Allah, dan setiap roh yang tidak mengaku Yesus, tidak berasal dari Allah. Roh itu adalah roh antikristus dan tentang dia telah kamu dengar bahwa ia akan datang dan sekarang ia sudah di dalam dunia. Kamu berasal dari Allah, anak-anakku, dan kamu telah mengalahkan nabi-nabi palsu itu; sebab roh yang ada di dalam kamu, lebih besar daripada roh yang ada di dalam dunia. Mereka berasal dari dunia; sebab itu mereka berbicara tentang hal-hal duniawi dan dunia mendengarkan mereka. Kami berasal dari Allah: Siapa yang mengenal Allah, ia mendengarkan kami; siapa yang tidak berasal dari Allah, ia tidak mendengarkan kami. Itulah tandanya Roh kebenaran dan roh yang menyesatkan (1Yoh 3:22-4:6)

Mazmur Tanggapan: Mzm 2:7-8,10-11; Bacaan Injil: Mat 4:12-17,23-25

Di abad pertama era Kekristenan, muncul suatu ajaran sesat yang menyangkal kemanusiaan Yesus Kristus. Ada pendapat bahwa pengarang surat pertama Yohanes menuliskan suratnya dalam rangka melawan jenis pemikiran seperti ini. Pandangan seperti ini memecah belah komunitas Kristiani di mana dia menjadi penatuanya. Yohanes merasakan kepedihan yang mendalam dan merasa agak tersinggung disebabkan oleh perpecahan yang terjadi karena ajaran sesat tersebut. Suratnya yang pertama ini berupaya untuk menyingkap desepsi/tipuan/muslihat para guru palsu dan untuk membawa kembali umat kepada persatuan dan kasih – hakekat dari Kekritenan/Kristianitas.

CAIJSPMBPercaya kepada Nama Yesus Kristus, Anak-Nya, dan saling mengasihi sesuai dengan perintah yang diberikan Kristus (1Yoh 3:23). Apabila umat Allahj hidup bersama dalam kasih Yesus, maka mereka pun mengenal dan mengalami berkat-berkat dari kehadiran-Nya. Mereka mengalami damai-sejahtera dan keyakinan dalam Kristus; mereka tahu bahwa mereka dapat mengatasi tantangan apa saja yang ada di hadapan mereka, termasuk ancaman perpecahan. Yohanes berupaya untuk menyemangati mereka yang tetap setia berada dalam komunitas, dengan mengingatkan mereka tentang kebenaran-kebenaran sentral pesan Injil. Ia ingin menyakinkan mereka bahwa mereka akan tetap berada dalam Yesus jika mereka mentaati sabda-Nya dan tetap saling mengasihi.

Yohanes juga mengakuinya adanya kebutuhan untuk menolong para anggota komunitasnya untuk melakukan discernment, artinya membeda-bedakan roh: (1) apa yang datang dari Roh Kudus, (2) apa yang datang dari roh jahat yang diwakili oleh nabi-nabi/guru-guru palsu, atau (3) apa saja yang berasal dari ide-ide mereka sendiri. Tes-nya sebenaranya sederhana: Setiap sabda profetis (kenabian) yang meninggikan Yesus Kristus yang lahir sebagai seorang anak manusia dapat dipercaya. Segala bisikan atau ajaran yang menyangkal Yesus adalah palsu, artinya roh antikristus (1Yoh 4:1-3). Dengan menerapkan tes ini dan menjaga hati mereka agar tetap berakar dalam kasih Alah, maka merka tidak perlu merasa takut. Mereka akan mampu mengatasi halangan apa saja.

Surat ini, yang ditulis dan ditujukan kepada orang-orang Kristiani perdana, tetap dipenuhi kebenaran bagi siapa saja yang membacanya. Dengan begitu banyak isu yang beredar dan terbuka untuk perdebatan – bahkan di dalam Gereja sendiri – kita dapat merasa bingung. Namun dengan percaya kepada Yesus sebagai Allah dan manusia, dan mengasihi satu sama lain, tetap merupakan kebenaran-kebenaran iman-kepercayaan kita. Allah mengasihi kita dan tidak akan membuang atau meninggalkan kita. Allah akan melindungi Gereja-Nya dan membuat kita sebagai pemenang-pemenang selagi kita berupaya mencari kasih Yesus dan kuat-kuasa Roh Kudus.

DOA: Bapa surgawi, Engkau adalah Allah yang sungguh baik, satu-satunya kebaikan. Terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena sabda-Mu yang mengajarkan kepada kami dan menyemangati kami. Lindungilah kami dari tipu-daya Iblis dan para pengikutnya, dan tolonglah kami agar senantiasa berada dalam Kristus dan saling mengasihi dengan saudara-saudara kami seturut perintah Yesus Kristus sendiri, Dia yang adalah Tuhan dan Juruselamat kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 4:12-17,23-25), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MEWARTAKAN KERAJAAN SURGA DAN MENYERUKAN PERTOBATAN” (bacaan tanggal 6-1-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2014.

Cilandak, 4 Januari 2014 [Peringatan S. Angela dr Foligno, Perawan, Ordo III Sekular S. Fransiskus]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 135 other followers