Posts tagged ‘ROH KUDUS’

ALLAH INGIN MEMBANGUN KEMBALI BAIT-NYA DALAM DIRI KITA

ALLAH INGIN MEMBANGUN KEMBALI BAIT-NYA DALAM DIRI KITA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Vincentius a Paulo, Imam – Jumat, 27 September 2013)

Haggai-1

Pada hari yang kedua puluh empat dalam bulan yang keenam, pada tahun yang kedua zaman raja Darius, dalam bulan yang ketujuh, pada tanggal dua puluh satu bulan itu, datanglah firman TUHAN (YHWH) dengan perantaraan nabi Hagai, bunyinya: “Katakanlah kepada Zerubabel bin Sealtiel, bupati Yehuda, dan kepada Yosua bin Yozadak, imam besar, dan kepada selebihnya dari bangsa itu, demikian: Masih adakah di antara kamu yang telah melihat Rumah ini dalam kemegahannya semula? Dan bagaimanakah kamu lihat keadaannya sekarang? Bukankah keadaannya di matamu seperti tidak ada artinya? Tetapi sekarang, kuatkanlah hatimu, hai Zerubabel, demikianlah firman YHWH; kuatkanlah hatimu, hai Yosua bin Yozadak, imam besar; kuatkanlah hatimu, hai segala rakyat negeri, demikian firman YHWH; bekerjalah, sebab Aku ini menyertai kamu, demikianlah firman YHWH semesta alam, sesuai dengan janji yang telah Kuikat dengan kamu pada waktu kamu keluar dari Mesir. Dan Roh-Ku tetap tinggal di tengah-tengahmu. Janganlah takut! Sebab beginilah firman YHWH semesta alam: Sedikit waktu lagi maka Aku akan menggoncangkan langit dan bumi, laut dan darat; Aku akan menggoncangkan segala bangsa, sehingga barang yang indah-indah kepunyaan segala bangsa datang mengalir, maka Aku akan memenuhi Rumah ini dengan kemegahan, firman YHWH semesta alam. Kepunyaan-Kulah perak dan kepunyaan-Kulah emas, demikianlah firman YHWH semesta alam. (Hag 2:1-9)

Mazmur Tanggapan: Mzm 43:1-4; Bacaan Injil: Luk 9:18-22

Allah berjanji kepada orang-orang Yahudi yang kembali dari pembuangan bahwa kemegahan Bait Suci yang dibangun kembali akan jauh melampaui kemegahan Bait Suci yang dibangun oleh raja Salomo – sebuah keindahan arsitektur zaman kuno. Ironisnya adalah bahwa Bait Suci yang dibangun kembali oleh orang-orang itu hanyalah merupakan bayangan dari Bait Suci yang didirikan oleh raja Salomo, artinya tidak ada apa-apanya apabila dibandingkan dengan Bait Suci sebelumnya. Baru beberapa abad kemudian – beberapa dekade sebelum kelahiran Yesus – Herodus Agung menyuruh melakukan perbaikan di sana-sini untuk memulihkan kemegahan Bait Suci seperti sebelumnya (yang dibangun oleh raja Salomo). Struktur yang baru dan telah diperbaiki ini kemudian dinamakan “Bait Suci kedua” seakan-akan bangunan pada zaman Hagai tidak termasuk hitungan.

Mengapa Allah menjanjikan kemegahan sedemikian untuk sebuah Bait Suci yang jauh dari memadai ketimbang Bait Suci sebelumnya (Salomo) maupun setelahnya (Herodus Agung)? Karena Allah melihat dengan cara yang lain daripada cara kita. Allah tidak berbicara mengenai kemegahan sebuah bangunan fisik, melainkan mengenai hati manusia yang dengan penuh pengorbanan membangunnya. Allah berjanji bahwa apabila mereka tetap setia kepada-Nya, maka mereka akan mengalami masa damai dan penuh berkat. Bukannya bangunan fisik yang membuat Allah merasa bahagia, melainkan suatu umat yang bergembira dalam Dia sebagai kekuatan mereka.

Pada hari ini pun Allah ingin membangun kembali Bait-Nya dalam diri kita masing-masing. Ia tidak mencari bangunan-bangunan fisik yang indah, melainkan umat dengan hati yang berkobar-kobar dengan kasih-Nya. Apa yang megah di mata dunia mungkin saja tidak sedikit pun menarik perhatian Bapa di surga. Apakah sebenarnya yang dinilai berharga oleh Allah? Kerendahan hati …… kedinaan! Ketaatan! Allah sangat menghargai sikap-sikap yang membuat hati kita terbuka bagi sabda-Nya, terbuka bagi koreksi-koreksi-Nya, dan terbuka bagi penghiburan-Nya. Allah menghargai setiap hal yang kita lakukan yang membawa satu langkah lagi lebih dekat untuk menjadi Kristus di tengah dunia.

Untuk melihat kemuliaan Bait Suci atau Bait Allah – sebuah bait yang kemegahannya jauh melampaui bait-bait yang lain – kita harus memperkenankan Roh Kudus untuk melanjutkan menyentuh hati kita serta mengubah hidup kita. Dia ingin mentransformasikan diri kita menjadi pencerminan kehadiran-Nya. Marilah kita memperkenankan Yesus merobohkan struktur-struktur lama berupa kesombongan, kemandirian yang keliru, dan independensi dalam diri kita. Marilah kita memperkenankan Yesus membangun kembali diri kita masing di atas batu karang Kristus yang sungguh kokoh-kuat. Selagi Dia mengerjakan hal tersebut dalam diri kita, janganlah sampai kita pergi meninggalkan-Nya. Sebaliknya, kita sepatutnya mohon untuk diberikan lebih lagi.

DOA: Bapa surgawi, oleh kuasa Roh Kudus Engkaulah yang membangun kehidupanku. Ciptakanlah dalam diriku hati yang Engkau ingin aku miliki, sebuah hati yang sepenuhnya diperuntukkan bagimu. Biarlah orang-orang lain melihat karya-Mu dalam hatiku, dan jagalah diriku agar tidak sampai bermegah kecuali dalam kuat-kuasa penyelamatan Yesus, Tuhan dan Juruselamatku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 9:18-22), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS, ENGKAU ADALAH SEGALANYA YANG BAIK BAGIKU” (bacaan tanggal 27-9-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2013.

Bacalah juga tulisan-tulisan yang berjudul “MENURUT KAMU, SIAPAKAH AKU INI ???” (bacaan untuk tanggal 28-9-12) dan “YESUS ADALAH MESIAS DARI ALLAH” (bacaan tanggal 23-9-11), keduanya dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 23 September 2013 [Peringatan S. Padre Pio dr Pietrelcina, Imam]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

JEMAAT ALLAH, DASAR DAN PENOPANG KEBENARAN

JEMAAT ALLAH, DASAR DAN PENOPANG KEBENARAN

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIV – Rabu, 18 September 2013)

Keluarga Fransiskan: Peringatan S. Yosef dr Copertino, Imam Fransiskan Conventual

ST. PAUL - 020Semuanya itu kutuliskan kepadamu, walaupun kuharap segera dapat mengunjungi engkau. Jadi, jika aku terlambat, engkau sudah tahu bagaimana orang harus hidup sebagai keluarga Allah, yakni jemaat dari Allah yang hidup, tiang penopang dan dasar kebenaran. Sesungguhnya agunglah rahasia ibadah kita, “Dia, yang telah menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia, dibenarkan dalam Roh; yang menampakkan diri-Nya kepada malaikat-malaikat, diberitakan di antara bangsa-bangsa; yang dipercayai di dalam dunia, diangkat dalam kemuliaan.” (1Tim 3:14-16)

Mazmur Tanggapan: Mzm 111:1-6; Bacaan Injil: Luk 7:31-35

“Sesungguhnya agunglah rahasia ibadah kita” (1Tim 3:16). Dengan demikian mulailah suatu pernyataan iman-kepercayaan dari Gereja awal. Dilihat apa adanya, kata-kata ini mencerminkan yang telah disaksikan oleh umat Kristiani awal, dialami oleh mereka dan dipahami sebagai inti dari relasi mereka dengan Yesus: realitas kebangkitan-Nya, pencurahan Roh Kudus-Nya dan hal-hal ajaib lainnya seperti penyembuhan-penyembuhan dan pertobatan dari banyak orang secara dramatis. “Kredo” ini dan lain-lainnya seperti itu adalah upaya-upaya pertama dari umat Kristiani untuk mengungkapkan dengan kata-kata segala “keajaiban” yang menakjubkan itu (1Kor 15:3-7; Rm 10:9-10).

Allah kita sungguh mahabesar dan teramat menakjubkan! Pada zaman ini dan dalam dalam kehidupan kita, Dia telah melakukan berbagai hal yang sama menakjubkannya. Dia menjawab doa-doa kita, walaupun begitu tidak pantasnya diri kita. Dia mencurahkan kebaikan dan belas kasih secara berkelimpahan, jauh melebihi segala kebaikan dan belas kasih yang telah kita telah tunjukkan. Ia menyembuhkan, melindungi, campur tangan, menerangi, dan menarik kita lebih dekat lagi kepada diri-Nya. Dia terus memenuhi janji-janji yang telah dibuat-Nya beberapa ribu tahun lalu kepada Abraham, Musa dan Daud. Ia tetap bekerja untuk membawa sebanyak mungkin orang ke dalam Kerajaan-Nya.

Pasti kita masing-masing dapat menceritakan tindakan Allah yang telah membuat kita terkesima penuh kekaguman dan menggerakkan kita untuk mendeklarasikan keagungan-Nya. Oleh karena itu, marilah pada hari ini kita menulis suatu pernyataan pribadi menyangkut misteri iman-kepercayaan kita masing-masing. Janganlah berpikir bahwa dengan melakukan hal itu kita telah menemukan kembali Kekristenan atau datang dengan kebenaran baru tentang Allah. Secara sederhana, marilah kita mendeklarasikan apa yang kita ketahui tentang siapa Allah itu, tentang apa yang telah dilakukan-Nya atas diri kita masing-masing. Marilah kita menjadi kreatif: kita dapat menulisnya sebagai sebuah lagu, sebuah doa, sebuah sajak, bahkan sebuah pernyataan iman-kepercayaan yang bersifat straight forward.

Jangan merasa susah apabila pernyataan iman-kepercayaan kita terasa terlalu singkat atau tidak memadai. Tujuannya bukanlah untuk datang dengan suatu pernyataan iman-kepercayaan yang sempurna. Gereja telah memiliki pernyataan iman-kepercayaan yang sempurna. Maksud praktek ini adalah terlebih-lebih untuk mengundang Roh Kudus menunjukkan kepada kita berapa banyak yang kita sungguh ketahui dan memperkenankan Roh Kudus untuk membawa kita kepada pemahaman yang lebih mendalam. Sungguh agung rahasia/misteri ibadah kita: Selagi kita memohon kepada Tuhan Yesus untuk mengajar lewat pikiran kita, hati kita pun akan mengikuti dalam cintakasih!

DOA: Bapa surgawi, Allah yang Mahaagung, Pencipta langit dan bumi. Terpujilah Engkau karena kasih-Mu kepada kami. Begitu besar belas kasih-Mu, kebaikan-Mu, pengertian-Mu, pengampunan-Mu – semua cara yang telah Kautunjukkan untuk menunjukkan kasih-Mu kepada kami semua. Kami memuji Engkau untuk pencurahan kasih-Mu yang menakjubkan dalam hidup kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 7:31-35), bacalah tulisan yang berjudul “HIKMAT ALLAH DIBENARKAN OLEH SEMUA ORANG YANG MENERIMANYA” dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2013.
Bacalah juga tulisan yang berjudul “KAMI MENIUP SERULING BAGIMU” (bacaan tanggal 16-9-09) dalam situs/blog SANG SABDA.

Cilandak, 14 September 2013 [Pesta Salib Suci]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS MASIH TETAP MELANJUTKAN KARYA-NYA

YESUS MASIH TETAP MELANJUTKAN KARYA-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXII – Rabu, 4 September 2013)

Ordo Franciscanus Saecularis: Santa Rosa dr Viterbo, Perawan Ordo III

JESUS HEALS THE SICKKemudian Yesus meninggalkan rumah ibadat itu dan pergi ke rumah Simon. Adapun ibu mertua Simon demam keras dan mereka meminta kepada Yesus supaya menolong dia. Lalu Ia berdiri di sisi perempuan itu dan mengusir demam itu, maka penyakit itu pun meninggalkan dia. Perempuan itu segera bangun dan melayani mereka.
Ketika matahari terbenam, semua orang membawa kepada-Nya orang-orang sakitnya, yang menderita bermacam-macam penyakit. Ia pun meletakkan tangan-Nya ke atas mereka masing-masing dan menyembuhkan mereka. Dari banyak orang keluar juga setan-setan sambil berteriak, “Engkaulah Anak Allah.” Lalu Ia dengan keras melarang mereka dan tidak memperbolehkan mereka berbicara, karena mereka tahu bahwa Dialah Mesias.
Ketika hari siang, Yesus berangkat dan pergi ke suatu tempat yang terpencil. Tetapi orang banyak mencari Dia, lalu menemukan-Nya dan berusaha menahan Dia supaya jangan meninggalkan mereka. Tetapi Ia berkata kepada mereka, “Di kota-kota lain juga Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah, sebab untuk itulah Aku diutus.” Lalu Ia memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat di Yudea. (Luk 4:38-44)

Bacaan Pertama: Kol 1:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 52:10-11

Hari itu tentunya merupakan Hari Kemenangan bagi Yesus! Ia memulai hari sabat itu dengan menanamkan kesan mendalam di hati orang-orang Kapernaum, mengajar di sinagoga dengan penuh kuasa (Luk 4:31-32) dan mengusir roh jahat (Luk 4:33-37). Kemudian Yesus kembali ke rumah Simon Petrus di mana Dia menyembuhkan ibu mertua Simon dari demam keras (Luk 4:38-39). Pada malam harinya, banyak orang sakit dan orang yang kerasukan roh-roh jahat dibawa kepada-Nya. Yesus melayani mereka satu-persatu; sakit-penyakit disembuhkan dan roh-roh jahat diusir pergi (Luk 4:40-41). Inilah bukti nyata bahwa Yesus telah datang dan melakukan segala hal yang dinubuatkan oleh nabi Yesaya, yaitu “untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin, memberitakan pembebasan kepada orang orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang” (Luk 4:18-19; bdk. Yes 61:1-2).

Dengan demikian, tidaklah mengejutkan apabila orang-orang Kapernaum berusaha menahan Dia supaya jangan meninggalkan mereka (Luk 4:42). Yesus memang lain: Di Kapernaum Ia diterima dan dapat melanjutkan karya pelayanan-Nya dengan penuh kenyamanan, namun Ia memilih untuk meninggalkan kota itu agar dapat melanjutkan pewartaan tentang Kerajaan Allah dan menyerukan pertobatan di tempat-tempat lain. Sebagai Dia yang diurapi Allah dengan Roh Kudus dan diutus untuk mewartakan Kabar Baik kepada semua orang, Yesus tidak mau berhenti hanya karena diakui sebagai seorang pembuat mukjizat. Ia didorong oleh Roh Kudus yang hidup dalam diri-Nya untuk melakukan sesuatu yang jauh lebih besar, yaitu mendirikan Kerajaan Allah di atas bumi ini.

YESUS DI GEREJA ORTODOX SIRIADengan menyajikan cerita-cerita penyembuhan orang-orang sakit dan pembebasan orang-orang yang dirasuki roh-roh jahat yang semakin banyak jumlahnya, Lukas menunjukkan bagaimana Yesus terus bekerja. Selama pelayanan-Nya, Yesus tidak pernah berhenti bekerja – tidak hanya membuat berbagai mukjizat dan tanda heran lainnya, melainkan juga mengampuni dosa orang-orang dan menyatakan Allah Bapa kepada mereka. Yesus senantiasa mencari semakin banyak orang, memanggil mereka untuk melakukan pertobatan batin dan menjalin relasi dengan Allah Bapa secara lebih mendalam.

Sekarang Yesus berada di surga dalam kemuliaan dan duduk di sebelah kanan Allah Bapa, namun Yesus tetap melanjutkan karya untuk memajukan Kerajaan-Nya di tengah dunia. Sebagai para anggota tubuh Kristus di dunia, kita terus menerima dari Yesus pelayanan-Nya untuk dalam hal penyembuhan, pembebasan dari ikatan/pengaruh roh-roh jahat, dan juga pengampunan dosa. Yesus tidak pernah berhenti memanggil kita untuk masuk ke dalam kehidupan dengan diri-Nya dan oleh kuasa Roh Kudus-Nya terus membentuk diri kita agar mengalami pertumbuhan progresif dalam hal kekudusan, kuat-kuasa untuk mengalahkan dosa, dan mengasihi sesama kita. Oleh karena itu marilah kita mengikuti Yesus Kristus dengan sepenuh hati. Marilah kita membuka hati kita bagi kuat-kuasa-Nya yang memberi kehidupan dan cintakasih.

DOA: Tuhan Yesus, bukalah diri kami agar dapat mengalami kepenuhan berkat-berkat Kerajaan Surga. Perkenankanlah sabda-Mu membawa kehidupan bagi kami dan menyatakan tujuan-tujuan-Mu bagi kami-manusia yang masih hidup di dunia. Kami ingin menanggapi rahmat-Mu secara mendalam. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 4:38-44), bacalah tulisan yang berjudul “PADA HARI INI YESUS MASIH MENYEMBUHKAN” dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2013. Bacalah juga tulisan yang berjudul “HARUS MENYEDIAKAN WAKTU UNTUK BERDOA” (bacaan tanggal 31-8-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM; kategori: 11-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2011.

Cilandak, 31 Agustus 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

APAKAH GUNANYA SESEORANG MEMPEROLEH SELURUH DUNIA?

APAKAH GUNANYA SESEORANG MEMPEROLEH SELURUH DUNIA?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVIII – Jumat, 9 Agustus 2013)

KEMURIDAN - SIAPA YANG MAU MENJADI MURIDKULalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Jika seseorang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi siapa yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya. Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya? Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Di antara orang yang di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat Anak Manusia datang sebagai Raja dalam Kerajaan-Nya.” (Mat 16:24-28)

Bacaan Pertama: Ul 4:32-40; Mazmur Tanggapan: Mzm 77:12-16,21

“Siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi siapa yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya” (Mat 16:25). Pernyataan Yesus ini dapat menimbulkan rasa takut kita atau dapat juga menimbulkan penyangkalan, bahwa Yesus dalam hal ini tidak memaksudkan “kehilangan nyawa” secara harfiah. Hal itu cukup radikal dan kebanyakan dari kita telah bekerja keras untuk apa yang kita miliki sekarang. Rumah, kendaraan roda empat maupun roda dua, pendidikan yang baik, pekerjaan/karir yang baik, dan makanan-minuman lezat yang dihidangkan di atas meja makan setiap hari. Sedikit saja dari kita yang memperoleh ini semua tanpa upaya, dan kebanyakan dari kita ingin “bertahan” pada apa yang kita telah miliki, lakukan dan kasihi.

Namun inilah justru apa yang dimaksudkan oleh Yesus. “Siapa yang mau menyelamatkan nyawanya” berarti “siapa saja menghasrati pembebasan – materiil, pembebasan dunia ini – dari bahaya, penderitaan, sakit-penyakit, dlsb., akan kehilangan semua itu. Hal itu berarti bahwa siapa saja yang hidup demi kenyamanan hidup, kepemilikan, dan capaian-capaian duniawi akan berakhir dengan kehilangan semua itu.

Akan tetapi … bukankah tidak salah untuk menginginkan hal-hal tersebut? Apakah salahnya dengan hidup yang nyaman, makmur-sejahtera, dan “sukses”? Sama sekali tidak salah! Pertanyaan yang harus ditimbulkan oleh kata-kata Yesus dalam diri kita adalah, apakah itu saja yang kita ingin capai secara mati-matian? Apakah kegairahan hidup kita? Allah menginginkan banyak lagi dari diri kita masing-masing daripada sekadar mempertahankan status quo atau membuat sedikit perbaikan di sana-sini dalam kehidupan kita. Allah mengetahui sekali apa yang kita butuhkan dan Dia akan memperhatikan serta memenuhi kebutuhan kita itu (Luk 12:22-34), dengan demikian membebaskan diri kita agar dapat mengurus diri kita sendiri dengan apa yang diinginkan-Nya – hidup untuk Kerajaan-Nya.

Bagaimana kita dapat sampai ke sana? Pertama-tama kita dapat menggunakan pikiran kita. Marilah kita membuat daftar dari segala hal yang kita ketahui tentang Bapa surgawi, yang mahapengasih, mahatahu, mahakuasa, mahabijaksana, penuh bela rasa, penuh belas kasih dan mahapengampun. Apabila ingatan kita sudah mulai memudar, marilah kita membuka Kitab Suci untuk menemukan lebih banyak lagi. Kemudian, baiklah kita membuat daftar dari apa saja yang telah dilakukan oleh-Nya, misalnya menciptakan dunia dari ketiadaan, membebaskan bangsa Yahudi dari perbudakan Mesir dan membangkitkan Yesus dari alam maut. Lalu, marilah kita menggunakan hati kita. Kita menyediakan saat-saat tenang untuk mengingat-ingat apa yang telah dilakukan Allah bagi kita secara pribadi, dan kita mohon kepada Roh Kudus untuk memberikan kepada kita rasa syukur yang mendalam untuk semua itu. Kita harus seringkali mengingat-ingat tindakan-tindakan Allah yang penuh kuasa dalam kehidupan kita dan perkenankanlah semua itu menggerakan hati kita dengan kasih. Kita sungguh tidak dapat mengatakan bahwa terlalu seringlah kita mengingat-ingat apa yang telah dilakukan oleh Allah atas diri kita, dan marilah kita masing-masing sekarang juga mengatakan bahwa “untuk Dialah aku rela kehilangan nyawaku!”

DOA: Tuhan Yesus, aku percaya pada kasih-Mu, kebaikan hati-Mu, dan hikmat-Mu bagiku. Ingatkanlah aku senantiasa siapa Engkau sebenarnya dan apa yang telah Kaulakukan untuk umat manusia. Aku ingin memberikan hidupku kepada-Mu, agar aku dapat memperoleh hidup kekal bersama-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 16:24-28), bacalah tulisan yang berjudul “ADA BIAYA YANG HARUS DIBAYAR UNTUK MENGIKUTI-NYA” dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2013.

Cilandak, 3 Agustus 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MERANGKUL YESUS DAN AJARAN-NYA

MERANGKUL YESUS DAN AJARAN-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVII – Sabtu, 3 Agustus 2013)

YOHANES PEMBAPTIS - 4Pada masa itu sampailah berita-berita tentang Yesus kepada Herodes, raja wilayah. Lalu ia berkata kepada pegawai-pegawainya, “Inilah Yohanes Pembaptis; ia sudah bangkit dari antara orang mati dan itulah sebabnya kuasa-kuasa itu bekerja di dalam-Nya.” Memang Herodes telah menyuruh menangkap Yohanes, membelenggunya dan memenjarakannya, berhubung dengan peristiwa Herodias, istri Filipus saudaranya. Karena Yohanes berkali-kali menegurnya, katanya, “Tidak boleh engkau mengambil Herodias!” Walaupun Herodes ingin membunuhnya, ia takut akan orang banyak yang memandang Yohanes sebagai nabi. Tetapi pada hari ulang tahun Herodes, menarilah anak perempuan Herodias di tengah-tengah mereka dan menyenangkan hati Herodes, sehingga Herodes bersumpah akan memberikan kepadanya apa saja yang dimintanya. Setelah dihasut oleh ibunya, anak perempuan itu berkata, “Berikanlah aku di sini kepala Yohanes Pembaptis di atas sebuah piring.” Lalu sedihlah hati raja, tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya diperintahkannya juga untuk memberikannya. Disuruhnya memenggal kepala Yohanes di penjara dan kepala itu pun dibawa orang di sebuah piring besar, lalu diberikan kepada gadis itu dan ia membawanya kepada ibunya. Kemudian datanglah murid-murid Yohanes Pembaptis mengambil mayatnya dan menguburkannya. Lalu pergilah mereka memberitahukannya kepada Yesus. (Mat 14:1-12)

Bacaan Pertama: Im 25:1,8-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 67:2-3,5,7-8

Yosefus Flavius [c. 37-100], sejarawan Yahudi, menyajikan cerita mengenai pertengkaran yang terjadi antara Aretas, raja Arabia Perea, dan Herodus Antipas (putera raja Herodus Agung). Herodus Antipas telah menikah dengan puteri raja Aretas, namun menceraikannya ketika dia jatuh cinta dengan Herodias, istri dari saudaranya Filipus. Aretas menggunakan peristiwa menyedihkan yang menimpa puterinya dan suatu konflik perbatasan sebagai alasan untuk membangun pasukan tentaranya guna melawan Herodus. Ketika berhadapan dalam pertempuran, seluruh pasukan Herodus berhasil dihancurkan. Yosefus menulis bahwa sejumlah orang Yahudi percaya bahwa pasukan tentara Herodus dihancurkan oleh Allah sebagai hukuman karena dia menyuruh pemenggalan kepala Yohanes Pembaptis (Antiquities, 18.5.1-2).

YESUS MENGAJAR ORANG-ORANGMatius tidak membahas konsekuensi-konsekuensi politis dari kematian Yohanes Pembaptis, namun ia menceritakan kisah kematian Yohanes Pembaptis yang mengerikan dalam konteks kegiatan Yesus di Nazaret dan tempat-tempat yang terletak di sekitar Nazaret. Herodus mempunyai rasa ingin tahu tentang Yesus (seperti dia juga mempunyai rasa ingin tahu tentang Yohanes Pembaptis) dan malah bertanya-tanya dalam hatinya siapakah Yesus ini, jangan-jangan Ia adalah Yohanes Pembaptis yang sudah bangkit dari antara orang mati (Mat 14:2).

Catatan dalam Injil Matius tentang pemenjaraan dan eksekusi atas diri Yohanes Pembaptis merupakan tanda pendahulu dari “nasib” serupa yang akan dialami oleh Yesus. Dua orang ini dinilai sebagai nabi-nabi oleh para pengikut/murid mereka. Dua orang ini ditahan atas dasar bukti yang tidak jelas dan dihukum mati karena kebejatan moral para pejabat pemerintahan dan lembaga keagamaan. Dua orang ini juga dikuburkan oleh para murid mereka dan kemudian dipercayai telah bangkit dari maut.

Selagi kita datang semakin dekat kepada Allah dan mempelajari jalan-jalan-Nya, maka kita pun menjadi semakin berkemungkinan untuk merangkul Yesus dan ajaran-Nya. Di lain pihak, Herodus (walaupun ia merasa kagum pada apa yang diajarkan oleh Yohanes Pembaptis) tidak memiliki hasrat yang cukup untuk mengikut jalan Allah dan taat kepada sabda-Nya.

YOHANES PEMBAPTIS - HEAD OF JOHN THE BAPTIST AND SALOMEWalaupun bukan satu-satunya, satu cara bagi kita untuk datang lebih dekat kepada Allah dan jalan-Nya adalah dengan melakukan hal-hal seperti diuraikan berikut ini:
 Kita menyediakan waktu paling sedikit 10 menit setiap hari untuk doa pribadi memuji-memuji dan menyembah Allah.
 Setiap hari kita melakukan pemeriksaan batin dan melakukan pertobatan atas dosa-dosa kita, mohon kepada Roh Kudus untuk mengubah hati dan pikiran kita.
 Kita menyediakan waktu 10 menit atau lebih setiap hari untuk membaca dan merenungkan sabda Allah dalam Kitab Suci, mohon kepada Roh Kudus untuk menerangi pikiran dan hati kita tentang apa yang kita baca itu.
 Kita mempersiapkan sebuah rencana untuk pertumbuhan spiritual yang mencakup pembacaan rohani dan partisipasi aktif dalam kehidupan Gereja.

Komitmen-komitmen mendasar ini menolong kita untuk mengingat Allah, memusatkan perhatian kita kepada-Nya dan memperkenankan Dia untuk memperkuat diri kita. Di samping itu, semua itu membantu kita bertumbuh dalam kemampuan kita untuk mengasihi dan melayani Allah dan untuk menjalani kehidupan kita sebagai para murid Yesus yang baik.

DOA: Bapa surgawi, dikuduskanlah nama-Mu. Biarlah Roh Kudus-Mu membentuk hati dan pikiran kami agar senantiasa dapat bersikap dan berperilaku sebagai murid-murid Yesus yang baik, yang membawa kasih-Mu ke tengah-tengah dunia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 14:1-12), bacalah tulisan yang berjudul “BILA ALLAH MEMANG UNTUK KITA, MAKA BAGAIMANA MUNGKIN KITA MERASA TANPA HARAPAN?” (bacaan tanggal 3-8-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2013.

Bacalah juga tulisan yang berjudul “KECONGKAKAN MENDAHULUI KEHANCURAN” (bacaan tanggal 4-8-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 30 Juli 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DAPATKAH DAN MAUKAH KITA BERDOA SEPERTI YESUS?

DAPATKAH DAN MAUKAH KITA BERDOA SEPERTI YESUS?

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XVII [Tahun C] – 28 Juli 2013

LUKE 11 5-13Pada suatu kali Yesus berdoa di suatu tempat. Ketika Ia selesai berdoa, berkatalah seorang dari murid-murid-Nya kepada-Nya, “Tuhan, ajarlah kami berdoa, sama seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya. Jawab Yesus kepada mereka, “Apabila kamu berdoa, katakanlah: Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; datanglah Kerajaan-Mu. Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan dosa-dosa kami sebab kami pun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan.” Lalu kata-Nya kepada mereka, “Jika seorang di antara kamu mempunyai seorang sahabat dan pada tengah malam pergi kepadanya dan berkata kepadanya: Sahabat, pinjamkanlah kepadaku tiga roti, sebab seorang sahabatku yang sedang berada dalam perjalanan singgah ke rumahku dan aku tidak mempunyai apa-apa untuk dihidangkan kepadanya; masakan ia yang di dalam rumah itu akan menjawab: Jangan mengganggu aku, pintu sudah tertutup dan aku serta anak-anakku sudah tidur; aku tidak dapat bangun dan memberikannya kepadamu. Aku berkata kepadamu: Sekalipun ia tidak mau bangun dan memberikannya kepadanya karena orang itu adalah sahabatnya, namun karena sikapnya yang tidak malu itu, ia akan bangun juga dan memberikan kepadanya apa yang diperlukannya. Karena itu, Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetuk, baginya pintu dibukakan. Bapak manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan, akan memberikan ular kepada anaknya itu sebagai ganti ikan? Atau, jika ia minta telur, akan memberikan kepadanya kalajengking? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di surga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” (Luk 11:1-13)

Bacaan Pertama: Kej 18:20-33; Mazmur Tanggapan: Mzm 138:1-3,6-8; Bacaan Kedua: Kol 2:12-14

Bacaan Pertama pada hari ini menunjukkan bahwa Allah tidak pernah menyembunyikan diri dari kita atau meninggalkan kita karena merasa ragu terhadap relasi-Nya dengan kita. Roh Allah bekerja dalam hati Abraham, memberikan kepadanya pandangan sekilas berkaitan dengan bela rasa-Nya dan hasrat-Nya untuk mengampuni dan menyelamatkan. Selagi kita membaca tentang Abraham yang melakukan tawar-menawar dengan Allah berkaitan dengan kehidupan para pendosa di Sodom dan Gomora, kita merasakan seruan dari seorang anak yang menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada “seorang” Bapa yang baik, yang berbela rasa dan senantiasa memperhatikan umat-Nya (Kej 18:23-32).

Benih kepercayaan antara seorang anak dan Bapa-nya ini digemakan oleh sang pemazmur, yang mendeklarasikan kasih kekal-abadi dari Allah. Ia mengetahui bahwa Allah begitu menghargai ciptaan-Nya sehingga Dia tidak akan meninggalkan karya tangan-Nya: “Jika aku berada dalam kesesakan, Engkau mempertahankan hidupku; terhadap amarah musuhku Engkau mengulurkan tangan-Mu, dan tangan kanan-Mu menyelamatkan aku” (Mzm 138:7)

DOA PRIBADIYesus menyapa Allah sebagai “Bapa” (Luk 11:2). Bagi para murid-Nya, ini adalah suatu momen yang sangat berharga, ketika mereka melihat “hati yang mengasihi” dari seorang Anak yang sempurna, yang secara total terbuka bagi hasrat-hasrat Bapa-Nya dan secara total berkomitmen bahwa rencana penyelamatan Bapa dapat diwujudkan di atas bumi ini. Ketika Yesus berdoa “dikuduskan nama-Mu” (Luk 11:2), Dia mengakui dan memuji kekudusan kodrat Bapa-Nya.

Apabila kita berdoa seperti ini, maka maksudnya bukanlah bahwa doa kita membuat Allah menjadi kudus, melainkan kekudusan-Nya akan memancar melalui diri kita dan selagi hal itu terjadi, maka Kerajaan-Nya pun akan dibangun di atas bumi ini. Isu sentral dari kehidupan Yesus adalah menghasrati didirikannya Kerajaan Allah di muka bumi ini. Kita pun dapat ikut ambil bagian dalam hasrat ini dan melanjutkan kerinduan kita akan tercapainya hal ini secara lengkap sampai saat Yesus datang kembali dalam kemuliaan.

Sekarang masalahnya adalah, apakah kita dapat keluar atau “membebaskan diri” dari kesibukan-kesibukan kita sehari-hari yang mementingkan diri sendiri? Kita semua tentu sudah hafal “Doa Bapa Kami” yang diajarkan oleh Yesus sendiri ini, namun dapatkah kita berdoa seperti Dia? Tentu saja dapat! Dalam bacaan kedua hari ini kita membaca Santo Paulus mengatakan bahwa berkat pembaptisan ke dalam kematian dan kebangkitan Yesus, kita telah keluar dari kematian spiritual dan dibuat hidup kembali dalam Yesus (Kol 2:12-13). Dengan demikian kita dapat berpikir, mengasihi dan menghasrati dengan hati-Nya. Yesus adalah “roti” yang kita butuhkan untuk makanan kita setiap hari. Yesus adalah anugerah Bapa surgawi agar kita tetap eksis.

Dengan demikian, marilah kita menaruh kepercayaan kepada Bapa surgawi, bahwa Dia akan melakukan dalam diri kita hal-hal baik yang jauh melampaui apa saja yang dapat kita bayangkan selagi kita berdoa seturut pola yang diajarkan oleh Yesus itu.

DOA: Bapa surgawi, aku memuji-Mu karena Engkau telah memberikan kepadaku karunia agung, yaitu Roh Kudus-Mu sendiri. Kuatkanlah rasa percayaku kepada-Mu, teristimewa pada saat-saat aku mengalami kesulitan dan penderitaan, agar dengan demikian aku dapat melanjutkan penyerahan diriku sepenuhnya kepada karya Roh Kudus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 11:1-13), bacalah tulisan yang berjudul “BERDOA BAGI ORANG-ORANG LAIN” (bacaan tanggal 28-7-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2013.

Cilandak, 24 Juli 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ALLAH MEMERINTAH DALAM HATI YANG KUAT BERAKAR DALAM FIRMAN-NYA

ALLAH MEMERINTAH DALAM HATI YANG KUAT BERAKAR DALAM FIRMAN-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVI – Rabu, 24 Juli 2013)

YESUS MENGAJAR DARI ATAS PERAHUPada hari itu keluarlah Yesus dari rumah itu dan duduk di tepi danau. Lalu datanglah orang banyak berbondong-bondong dan mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke perahu dan duduk di situ, sedangkan orang banyak semuanya berdiri di pantai. Ia mengucapkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka. Kata-Nya, “Adalah seorang penabur keluar untuk menabur. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itu pun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. Tetapi sesudah matahari terbit, layulah tanaman-tanaman itu dan menjadi kering karena tidak berakar. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati. Sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat. Siapa yang bertelinga, hendaklah ia mendengar!” (Mat 13:1-9)

Bacaan Pertama: Kel 16:1-5,9-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 78:18-19,23-28

Perumpamaan ini sungguh merupakan sebuah tantangan besar. Sekali sabda Allah ditanam dalam hati kita, kita mempunyai pilihan bagaimana kita akan menanggapi sabda tersebut. Yesus mengajar dengan jelas: Apabila benih gagal berakar dalam diri kita, maka kita tidak akan mampu bertahan ketika menghadapi kesulitan. Tanah yang baik adalah “orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah” (Mat 13:23). Perumpamaan ini menunjukkan bahwa kita dapat memupuk hati kita sehingga, ketika sang penabur menaburkan benihnya ke dalam diri kita, maka kita akan siap untuk menerima benih (sabda/firman) itu dan memahaminya agar dengan demikian dapat berbuah.

Bagaimana kita dapat menjadi tanah yang baik dan subur? Kita dapat mulai dengan memohon kepada Roh Kudus untuk mengisi diri kita dengan suatu hasrat yang tulus akan sabda Allah dan suatu keterbukaan terhadap kuasa sabda Allah itu guna mentransformasikan kita. Kita juga dapat membuat diri kita tersedia bagi Allah sehingga “benih” di dalam diri kita dapat menghasilkan akar yang dalam serta kuat, dan dapat menghasilkan buah secara berlimpah-limpah. Melalui doa-doa harian, bacaan dan studi Kitab Suci serta partisipasi aktif dalam Misa Kudus, kita dapat membawa makanan bagi diri kita secara konstan, menciptakan suatu keadaan di mana benih sabda Allah dapat bertumbuh dan menjadi produktif.

parable of the sower - 02Disamping hati yang baik, jujur dan taat, kita juga membutuhkan kesabaran kalau mau melihat tanaman itu tumbuh dan berbuah seratus kali lipat. Selagi kita berjalan melalui kehidupan kita ini, pastilah kita mengalami berbagai godaan, masalah dan kesulitan. Barangkali kekhawatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit sabda itu sehingga tidak berbuah (Mat 13:22). Namun Allah memerintah dalam hati yang kuat berakar pada sabda-Nya. Allah akan melihat kita melalui waktu-waktu di mana kita tergoda untuk mengambil jalan-mudah, atau ketika kita mengalami distraksi (pelanturan) yang disebabkan oleh berbagai tuntutan atas waktu dan perhatian kita. Yesus, sang Firman/Sabda Allah, akan menjaga hati kita agar tetap lembut dan lunak. Kalau kita menantikan-Nya dengan sabar, maka Dia tidak akan mengecewakan kita.

Marilah kita menerima sabda Allah dengan kesabaran dan penuh kepercayaan. Marilah kita minta kepada Roh Kudus untuk menanam sabda-Nya dalam-dalam pada diri kita, sehingga tidak ada yang dapat mencabutnya, apakah Iblis, atau godaan-godaan, atau kekayaan, atau kenikmatan-kenikmatan yang ditawarkan dunia. Baiklah kita memusatkan pikiran dan hati kita pada sabda-Nya, mohon kepada Roh Kudus untuk membawa sabda-Nya itu ke dalam diri kita. Baiklah kita membuat Kitab Suci sebagai fondasi kita yang kokoh-kuat.

DOA: Bapa surgawi, berkat rahmat-Mu buatlah agar hidup kami berbuah demi kemuliaan-Mu. Tumbuhkanlah dalam hati kami suatu hasrat untuk menerima sabda-Mu. Ubahlah hati kami supaya menjadi tanah yang baik dan subur bagi sabda-Mu untuk tumbuh dan berbuah. Amin.

Catatan: Bagi anda yang berniat untuk mendalami bacaan Pertama pada hari ini (Kel 16:1-5,9-15), bacalah tulisan yang berjudul “ALLAH MEMBERIKAN YESUS KRISTUS: ROTI KEHIDUPAN” (bacaan tanggal 24-7-13), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2013.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 20-7-11 dalam situs/blog PAX ET BONUM)

Cilandak, 15 Juli 2011 [Pesta St. Bonaventura, Uskup-Kardinal & Pujangga Gereja]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KATAKANLAH ITU DALAM TERANG DAN BERITAKANLAH DARI ATAS RUMAH

KATAKANLAH ITU DALAM TERANG DAN BERITAKANLAH DARI ATAS RUMAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIV – Sabtu, 13 Juli 2013)

ROHHULKUDUS“Seorang murid tidak lebih daripada gurunya, atau seorang hamba daripada tuannya. Cukuplah bagi seorang murid jika ia menjadi sama seperti gurunya dan bagi seorang hamba jika ia menjadi sama seperti tuannya. Jika tuan rumah disebut Beelzebul, apalagi seisi rumahnya.

Jadi, janganlah kamu takut terhadap mereka, karena tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka, dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang; dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas rumah. Janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.

Bukankah burung pipit dijual dua ekor seharga satu receh terkecil? Namun, seekor pun tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Karena itu, janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga daripada banyak burung pipit.

Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang disurga. Tetapi siapa saja yang menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di surga.” (Mat 10:24-33)

Bacaan Pertama: Kej 49:29-32;50:15-24; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:1-4,6-7

“Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang” (Mat 10:27).

Selagi Dia menyiapkan para murid-Nya untuk pekerjaan misioner, Yesus dengan berhati-hati menguatkan mereka untuk sebuah tugas yang memang mudah terbuka untuk diserang, dikritik, bahkan dijadikan objek kebencian. Apa kiranya strategi Yesus dalam hal ini? Apakah yang dikatakan-Nya kepada mereka? “… apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas rumah” (Mat 10:27). Apa yang diharapkan Yesus dari mereka untuk mendengar “dalam gelap”? Siapakah yang akan membisikkan kata-kata kepada mereka? Bagaimana seharusnya mereka mengatakannya dalam terang?

Ada banyak cara yang berbeda-beda untuk dapat memahami sabda Yesus ini, namun ada satu tafsir yang membawa dampak tidak hanya pada karya misioner melainkan juga pada setiap relasi di mana kita terlibat. Adalah “dalam gelap” – dalam keheningan hati kita – Yesus menunjukkan kepada kita betapa kuat kodrat manusiawi kita yang cenderung untuk berdosa itu dan betapa dalam kita membutuhkan penyembuhan dan penebusan dari Dia. Kita semua telah mengetahui saat-saat di mana Roh Kudus telah membawa kita berhadapan-hadapan – muka ketemu muka – dengan kegelapan dalam diri kita, dan kita semua juga telah mengetahui saat-saat di mana kita menerima penghiburan dari Roh yang sama – penghiburan dan jaminan akan belas kasih-Nya dan pengampunan-Nya. Hal-hal inilah yang dimaksudkan bagi kita untuk diwartakan dari atas rumah: kasih Bapa yang melimpah-melimpah atas semua pendosa!

MARIA DAN YOHANES DI KAKI SALIB YESUSKetika kita berhadapan dengan “Sang Tersalib”, maka pandangan mata kita harus diarahkan ke atas karena posisi salib itu lebih tinggi daripada kita semua yang berdiri di dekat kaki salib. Apabila kita sungguh ingin menjadi saksi Kristus yang memiliki kredibilitas, maka kita harus jujur perihal ketergantungan kita kepada-Nya. Lalu kita dapat menyatakan, “Aku sakit dan Yesus menyembuhkan diriku. Aku tuli dan Ia membuka telingaku. Aku terikat dan Ia membebaskan diriku.” Tidak ada seorang pun ingin mendengar tentang bagaimana menjadi “baik” bilamana mereka mengetahui betapa sulitnya hal itu. Akan tetapi setiap orang ingin mendengar tentang kuat-kuasa Allah untuk menyembuhkan dan mengubah para pendosa. Setiap orang ingin mendengar bahwa mereka juga dapat menjadi pengikut-pengikut Yesus.

Kabar baik dari Injil adalah bahwa Yesus itu lebih besar daripada apa saja yang kita lihat ada di dalam diri kita. Yesus dapat membebaskan, menyembuhkan dan menyelamatkan kita! Ia ingin melakukan hal itu! Oleh karena itu marilah kita memperkenankan Yesus untuk menunjukkan kepada kita segala kegelapan diri/hati kita, bukan hanya untuk kebaikan kita, melainkan demi pemberian kesaksian kita tentang Yesus kepada orang-orang lain.

DOA: Roh Kudus Allah, selidikilah hatiku. Berbisiklah kepadaku tentang kegelapan yang ada di dalam hatiku. Semoga terang-Mu menyinari kegelapan hatiku itu dan membebaskan aku, sehingga dengan demikian aku dapat berbagi dengan orang-orang lain tentang kabar baik rekonsiliasi diriku dengan Bapa surgawi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 10:24-33), bacalah tulisan yang berjudul “MENJADI SERUPA DENGAN YESUS” (bacaan tanggal 13-7-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2013.
Bacalah juga tulisan-tulisan yang berjudul “KITA HANYALAH ALAT-NYA” (bacaan tanggal 14-7-12) dan “JANGANLAH KAMU TAKUT !!!” (bacaan tanggal 9-7-11), keduanya dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 9 Juli 2013 [Peringatan martir-martir Tiongkok]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENDENGARKAN SUARA ROH KUDUS

MENDENGARKAN SUARA ROH KUDUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIV – Jumat, 12 Juli 2013)

Keluarga OFM dan OFMConv.: Peringatan S. John Jones & S. John Wall, Martir

YESUS GURU KITA“Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.

Tetapi waspadalah terhadap semua orang; karena ada yang akan menyerahkan kamu kepada majelis agama dan mereka akan mencambuk kamu di rumah ibadatnya. Karena Aku, kamu akan digiring ke hadapan penguasa-penguasa dan raja-raja sebagai suatu kesaksian bagi mereka dan bagi bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu khawatir tentang bagaimana dan apa yang kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga. Karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu.

Seorang saudara akan menyerahkan saudaranya untuk dibunuh, demikian juga seorang ayah terhadap orangtuanya dan akan membunuh mereka. Kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat. Apabila mereka menganiaya mereka kamu dalam kota yang satu, larilah ke kota yang lain; karena sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sebelum kamu selesai mengunjungi kota-kota Israel, Anak Manusia sudah datang. (Mat 10:16-23)

Bacaan Pertama: Kej 46:1-7,28-30; Mazmur Tanggapan: Mzm 37:3-4,18-19,27-28,39-40

“… bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu” (Mat 10:20).

Seperti yang diingatkan oleh Yesus kepada para murid-Nya 2.000 tahun lalu, maka pada hari ini pun Ia mengingatkan bahwa kita – para murid-Nya pada zaman sekarang – menghadapi risiko penolakan, kesalahpahaman, bahkan pengejaran dan penganiayaan, bilamana kita mencoba untuk mewartakan Injil. Dari zaman ke zaman pesan pertobatan dan ketundukan serta penyerahan diri kepada Allah telah menemui penolakan dari berbagai penjuru.

ROH KUDUS MELAYANG-LAYANG - 2Walaupun terasa suram, Yesus juga berjanji bahwa Dia tidak akan memberikan kepada kita tugas lebih daripada apa yang dapat kita emban dan Ia akan datang menolong apabila kita mengalami berbagai kesulitan. Ia menjanjikan Roh Kudus yang akan memberikan kepada kita hikmat dan bimbingan agar dengan demikian kita dapat menjawab dengan jelas namun dengan rendah hati, mereka yang menentang kita.

Kata-kata Yesus dapat terdengar begitu sederhana, dan dalam artian tertentu memang demikianlah halnya. Kita dapat selalu percaya bahwa apabila Yesus menjanjikan sesuatu, maka Dia akan memenuhinya. Namun kita perlu bertanya bagaimana kita akan mampu mengenali suara Roh Kudus pada waktu kita mengalami kesulitan. Jelaslah bahwa perubahan sedemikian tidak terjadi dalam satu malam. Mendengar suara Roh Kudus bukanlah suatu kemampuan ajaib yang terbuka bagi kita hanya pada saat yang tepat dan kemudian “menghilang” lagi. Mendengarkan suara Roh Kudus adalah suatu keterampilan yang menuntut praktek, eksperimentasi dan ketekunan. Hal ini menuntut kita menghadap hadirat Allah dalam doa setiap hari, menjadi akrab dengan suara-Nya dalam Kitab Suci, dan menjaga hati kita agar tetap terbuka sepanjang hari. Selagi kita mengambil langkah-langkah praktis ini, kita akan menemukan kenyataan bahwa mendengar suara Roh Kudus yang lemah-lembut dan tidak ribut-ribut telah menjadi sesuatu yang alamiah bagi kita.

Praktek dan eksperimentasi secara harian selama saat-saat penuh kedamaian dan menyenangkan adalah kunci untuk melakukan upaya discernment terhadap suara Roh Kudus dalam masa pencobaan dan penganiayaan. Jika kita membuat proses ini menjadi kebiasaan, maka hal ini akan mempersiapkan diri kita dalam menghadapi tekanan-tekanan dan intensitas yang lebih besar, di mana lebih banyak lagi yang dipertaruhkan. Setiap hari, marilah kita berupaya untuk mentaati Tuhan dan mendengarkan Roh Kudus. Setiap hari, marilah kita menukar “kemandirian” (dalam artinya yang jelek) kita dengan “hikmat dari Allah” yang akan “mengagetkan” dunia dan menghasilkan karya-karya yang akan membuat takjub raja-raja.

DOA: Roh Kudus Allah, datang dan masuklah ke dalam hidupku dan tetaplah berdiam bersamaku selalu. Buatlah aku agar dapat mengenali suara-Mu. Biarlah kata-kata-Mu dapat menjadi penghiburan, sukacita dan kehidupan bagiku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 10:16-23), bacalah tulisan yang berjudul “ORANG YANG BERTAHAN SAMPAI PADA KESUDAHANNYA AKAN SELAMAT” (bacaan tanggal 12-7-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-07 JULI 2013.
Bacalah juga tulisan berjudul “AKU MENGUTUS KAMU SEPERTI DOMBA KE TENGAH-TENGAH SERIGALA” (bacaan tanggal 8-7-11) dalam situs/blog SANG SABDA.

Cilandak, 8 Juli 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KITA SEMUA DIBERI MINUM DARI SATU ROH

KITA SEMUA DIBERI MINUM DARI SATU ROH

(Bacaan Kedua Misa Kudus, HARI RAYA PENTAKOSTA – Minggu, 19 Mei 2013)

PENTAKOSTA - 2

Karena itu, aku mau meyakinkan kamu bahwa tidak ada seorang pun yang berkata-kata- oleh Roh Allah, dapat berkata, “Terkutuklah Yesus!” dan tidak ada seorang pun yang dapat mengaku: “Yesus adalah Tuhan”, selain oleh Roh Kudus.

Ada berbagai karunia, tetapi satu Roh. Ada berbagai pelayanan, tetapi satu Tuhan. Ada pula berbagai perbuatan ajaib, tetapi Allah yang sama juga yang mengerjakan semuanya dalam semua orang.

Kepada tiap-tiap orang dikaruniakan pernyataan Roh untuk kepentingan bersama.

Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan semua anggota tubuh itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus. Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh. (1Kor 12:3-7,12-13)

Bacaan Pertama: Kis 2:1-11); Mazmur Tanggapan: Mzm 104:1,24,29-31,34; Bacaan Kedua alternatif: Rm 8:8-17; Bacaan Injil: Yoh 14:15-16,23-26

“Kita semua diberi minum dari satu Roh” (1Kor 12:13).

Lima puluh hari yang lalu kita merayakan kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati. Namun perbedaan apa yang dibuat oleh kebangkitan ini apabila Yesus tidak mencurahkan Roh Kudus-Nya? Roh Kudus-lah yang menyatakan Yesus kepada kita dan membuat penebusan kita menjadi suatu realitas yang hidup dalam hati kita. Adalah Roh Kudus juga yang membuat kita ikut ambil bagian dalam hidup Allah dan memberdayakan kita untuk hidup sebagai anak-anak-Nya.

Siapa sebenarnya Roh Kudus ini? Sebagian besar kita cukup familiar dengan kata-kata berikut ini: Penasihat, Advokat, Penolong, Penghibur, Pribadi Ketiga dari Tritunggal Mahakudus. Akan tetapi Allah ingin agar kita mengenal “Pribadi” di belakang nama-nama itu. Pada hari raya pencurahan Roh Kudus ini, marilah kita menyoroti cara-cara yang diinginkan Allah agar kita mengalami karya Roh Kudus dalam kehidupan kita.

Ketika Santo Paulus menulis bahwa Roh Kudus mencurahkan kasih Allah ke dalam hati kita (Rm 5:5), maka di sini dia tidak sekadar membuat suatu pernyataan teologis. Paulus menunjuk kepada suatu realitas bahwa kita semua sebenarnya diundang untuk mengalami kasih Allah tersebut. Marilah kita mengingat-ingat kembali perumpamaan Yesus tentang “anak yang hilang”, bagaimana ayah dari anak muda itu berlari menyongsong anaknya dan memeluknya ketika anak itu sedang berjalan pulang menuju rumah ayahnya (Luk 15:20). Dengan cara yang sama, Allah – Bapa surgawi – kita juga dengan penuh kerinduan membuka tangan-tangan-Nya lebar-lebar guna menyambut dan memeluk kita. Dan, oleh Roh Kudus-lah kita mengalami pelukan/rangkulan Allah seperti ini.

ROH KUDUS MELAYANG-LAYANG - 2Roh Kudus ingin membuat hidup segala hal yang diajarkan Yesus tentang kasih Bapa itu; Dia ingin membuat janji-janji Yesus menjadi pembangkit semangat, yang menjiwai dan dengan penuh kuat-kuasa bergerak dalam diri kita. Oleh Roh Kudus, kata-kata dalam Kitab Suci menjadi hidup. “Lihat, Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku” (Yes 49:16). “Dalam kasih setia abadi Aku telah mengasihani engkau” (Yes 54:8). “Anakku telah mati dan menjadi hidup kembali, Ia telah hilang dan didapat kembali” (Luk 15:24). “Kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat Allah sendiri” (1Ptr 2:9).

Allah mengasihi kita dengan begitu mendalam sehingga walaupun kita mati dalam dosa-dosa, Dia membuat kita hidup dalam Kristus (Ef 2:4-5). Ini adalah belas kasih-Nya yang tak terbandingkan. Setiap hari kita dapat mengalami hal itu secara baru, yaitu melalui doa-doa kita yang dijawab, penyembuhan batin, perlindungan dari segala hal yang membahayakan, dan pengampunan. Roh Kudus menolong kita untuk mengenali serta mengakui kebaikan Allah, yang mungkin saya luput dari pandangan manusiawi kita. Roh Kudus mengingatkan kita akan saat-saat kita menerima kebaikan dari Allah, bahkan barangkali saat-saat ketika kita masih kecil. Dengan membuka mata kita terhadap rahmat Allah dengan cara-cara ini, maka Roh Kudus meyakinkan kita betapa baik dan murah hati Allah kita itu. Demikian pula, Roh Kudus menggerakkan kita untuk syering/berbagi belas kasih yang sama dengan orang-orang lain. Kita menjadi berbelas kasih karena Allah telah berbelas kasih kepada kita, dan belas kasih ini yang disyeringkan antara kita dan saudari-saudara kita dalam Kristus, menyatukan kita semua dalam satu tubuh dalam Kristus.

Kita pernah mengalami hidup terpisah dari Allah, tanpa pengharapan untuk pernah mengenal Dia dan kasih-Nya yang besar bagi diri kita secara pribadi. Sekarang, karena kita telah menerima Roh Kudus, kasih Allah pun hidup dalam diri kita. Kita pernah terjerat dalam dosa, tak mampu mengalami perubahan, walaupun kita menginginkannya. Sekarang, Roh Kudus memberikan kepada kita kuasa dan bahkan motivasi untuk berubah. Kita pernah tidak mampu melihat bagaimana menjalani kehidupan kita dengan cara yang menyenangkan Allah. Sekarang, Roh Kudus membawa kepada kita pemikiran-pemikiran Allah sendiri. Kita tidak perlu lagi menebak-nebak bagaimana mengasihi dan melayani Allah karena Roh Kudus memberikan kepada kita “pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian” (Flp 1:9).

Sekarang, bayangkanlah: Kita tidak perlu merasa heran apabila kita akan hidup selamanya dengan Yesus di surga; kita dapat mempunyai keyakinan bahwa kita mengalami hal tersebut. Pengharapan ini mentransformasikan segalanya yang menyangkut diri kita: cara kita memandang diri kita sendiri dan orang-orang lain, ekspektasi-ekspektasi kita, relasi-relasi kita. Sikap negatif berubah menjadi rasa penuh percaya. Kejauhan berubah menjadi kedekatan. Semua ini adalah karya Roh Kudus yang diutus Yesus, … Roh Allah sendiri yang kita rayakan pada hari ini.

DOA: Terpujilah Engkau, ya Roh Kudus. Engkau adalah kasih antara Bapa dan Putera. Datanglah, ya Roh Kudus, dan hiduplah dalam diri kami. Tunjukkanlah kepada kami belas kasih Allah. Engkau adalah alasan mengapa hidup kami dipenuhi dengan pengharapan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 2:1-11), bacalah tulisan yang berjudul “DATANGLAH, ROH KUDUS!” (bacaan tanggal 19-5-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2013. Bacalah juga tulisan yang berjudul “TUJUH KARUNIA ROH KUDUS” (bacaan tanggal 27-5-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 27-5-12 dalam situs/blog SANG SABDA)

Cilandak, 13 Mei 2013 [Peringatan Fakultatif SP Maria dr Fatima]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 121 other followers