Posts tagged ‘YOHANES PEMBAPTIS’

SAHABAT SANG MEMPELAI LAKI-LAKI

SAHABAT SANG MEMPELAI LAKI-LAKI

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA KELAHIRAN S. YOHANES PEMBAPTIS – Selasa, 24 Juni 2014)

YOHANES PEMBAPTIS DIBERI NAMA - 000Kemudian tibalah waktunya bagi Elisabet untuk bersalin dan ia pun melahirkan seorang anak laki-laki. Ketika tetangga-tetangganya serta sanak saudaranya mendengar bahwa Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepadanya, bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia. Lalu datanglah mereka pada hari yang ke delapan untuk menyunatkan anak itu dan mereka hendak menamai dia Zakharia menurut nama bapaknya, tetapi ibunya berkata, “Jangan, ia harus dinamai Yohanes.” Kata mereka kepadanya, “Tidak ada di antara sanak saudaramu yang bernama demikian.” Lalu mereka memberi isyarat kepada bapaknya untuk bertanya nama apa yang hendak diberikannya kepada anaknya itu. Ia meminta batu tulis, lalu menuliskan kata-kata ini, “Namanya adalah Yohanes.” Mereka pun heran semuanya. Seketika itu juga terbukalah mulutnya dan terlepaslah lidahnya, lalu ia berkata-kata dan memuji Allah.

Lalu ketakutanlah semua orang yang tinggal di sekitarnya, dan segala peristiwa itu menjadi buah pembicaraan di seluruh pegunungan Yudea. Semua orang yang mendengarnya, merenungkannya dalam hati dan berkata, “Menjadi apakah anak ini nanti?” Sebab tangan Tuhan menyertai dia.
Adapun anak itu bertambah besar dan makin kuat rohnya. Ia tinggal di padang gurun sampai hari ketika ia harus menampakkan diri kepada Israel. (Luk 1:57-66,80)

Bacaan pertama: Yes 49:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 139:1-3,13-15; Bacaan Kedua: Kis 13:22-26

Yohanes Pembaptis adalah yang terbesar dari para nabi yang datang ke dunia sebelum Yesus. Orang ini berkonfrontasi dengan para pemimpin Yahudi, baik yang sekular maupun yang berasal dari lingkup keagamaan. Yohanes juga menghibur serta memberi pengharapan kepada para pemungut cukai dan para PSK, dan ia menghayati suatu kehidupan yang didedikasikan kepada doa dan puasa. Namun yang lebih penting lagi adalah, bahwa Yohanes menjadi bentara sang Mesias dan mengakui dirinya sebagai “sahabat sang mempelai laki-laki” (lihat Yoh 3:29).

Sekarang pertanyaannya adalah apakah Allah mempunyai sebuah rencana bagi kita yang paling sedikit sama indahnya seperti yang dimiliki-Nya bagi Yohanes Pembaptis? Sungguh sulitkah untuk dipercaya bahwa bahkan sebelum kita melihat matahari terbit, Allah sudah menetapkan suatu jalan di mana kita akan turut serta memajukan Kerajaan-Nya? Barangkali kita (anda dan saya) merasa bahwa kita bukanlah orang-orang penting, namun Allah tidak begitulah Allah memandang diri kita. Pernahkah kita membayangkan bahwa doa-doa syafaat kita merupakan kekuatan di belakang sebuah karya besar Allah di bagian lain dunia ini, misalnya membawa perdamaian di Afrika Utara, misalnya di Nigeria atau di Sudan? Bagaimana pula jika kita dipanggil untuk membesarkan anak-anak yang pada suatu hari akan menjadi suara-suara profetis (kenabian) dalam Gereja atau dalam dunia?

Zechariah and ElizabethKita harus belajar dan membiasakan diri melihat segala sesuatu dari sudut pandang Allah. Renungkanlah betapa tidak jelasnya atau tidak keruannya kehidupan Yohanes Pembaptis, paling sedikit dari sudut pandang manusia. Sampai saat dia muncul di tengah publik, Yohanes hidup dalam kesendirian di padang gurun. Kita juga dapat berada dalam keadaan menanti-nanti di padang belantara, namun kita tidak boleh berputus-asa. Kita harus menghargai waktu kita dalam ketersembunyian ini sebagai sebuah kesempatan bagi Allah untuk mengajar dan membentuk diri kita – suatu masa bagi Dia untuk mengembangkan karunia-karunia dalam diri kita guna melakukan syafaat, evangelisasi, bahkan untuk menyembuhkan segala sakit-penyakit. Pada waktu yang tepat, Allah akan mencapai kedalaman hati orang-orang yang berkenan pada-Nya dan menyentuh mereka melalui diri kita.

Kebanyakan dari kita adalah seperti “anak-anak panah” yang menunggu saat yang tepat untuk dilepaskan dari busur sang pemanah. Kita harus tidak pernah berhenti memohon kepada Tuhan untuk mencapai tujuan-tujuan-Nya melalui diri kita. Bayangkanlah bagaimana hebatnya Gereja kita apabila kita semua memperkenankan Allah bekerja dalam hati kita masing-masing sejauh yang dilakukan-Nya dalam diri Yohanes Pembaptis. Sebagaimana ribuan orang berduyun-duyun datang ke Yohanes untuk dibaptis-tobat olehnya, maka kesaksian kita, doa kita, langkah kita mendekati orang banyak dalam kasih dapat melembutkan dan mengubah hati ribuan orang. Semoga kita tidak pernah menganggap remeh kemampuan Allah atau memandang sebelah mata kuat-kuasa Roh Kudus-Nya yang berdiam dalam diri kita!

DOA: Bapa surgawi, Allah Yang Mahakasih, semoga Engkau menyelesaikan rencana-Mu bagi diriku. Tunjukkanlah kepadaku arah mana yang Engkau inginkan aku ambil dan ajarlah aku untuk menghargai waktu-waktu ketersembunyian yang Kautetapkan bagi diriku. Oleh kuat-kuasa Roh Kudus-Mu, bentuklah diriku untuk menjadi murid-murid Yesus Kristus yang baik, sehingga dengan demikian aku pun pantas untuk dinamakan anak-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 1:57-66,80), bacalah tulisan yang berjudul “YOHANES PEMBAPTIS BELAJAR DARI ZAKHARIA DAN ELISABET” (bacaan tanggal 24-6-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2014.

Bacalah juga tulisan-tulisan yang berjudul “ALLAH JUGA MEMPUNYAI SEBUAH RENCANA INDAH BAGI KITA” (bacaan tanggal 24-6-13) dan “NAMANYA ADALAH YOHANES”, keduanya dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 23 Juni 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

AKU DAN BAPA ADALAH SATU

AKU DAN BAPA ADALAH SATU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Prapaskah – Jumat, 11 April 2014)

jesus_the_christ_detail_bloch__93932_zoomSekali lagi orang-orang Yahudi mengambil batu untuk melempari Yesus. Kata Yesus kepada mereka, “Banyak pekerjaan baik yang berasal dari Bapa-Ku yang Kuperlihatkan kepadamu; pekerjaan manakah di antaranya yang menyebabkan kamu mau melempari Aku?” Jawab orang-orang Yahudi itu, “Bukan karena suatu pekerjaan baik maka kami mau melempari Engkau, melainkan karena Engkau menghujat Allah dan karena Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menjadikan diri-Mu Allah. Kata Yesus kepada mereka, “Bukankah ada tertulis dalam kitab Tauratmu: Aku telah berfirman: Kamu adalah ilah? Jikalau mereka, kepada siapa firman itu disampaikan, disebut ilah – sedangkan Kitab Suci tidak dapat dibatalkan – masihkah kamu berkata kepada Dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutus-Nya ke dalam dunia: Engkau menghujat Allah! Karena Aku telah berkata: Aku Anak Allah? Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa-Ku, janganlah percaya kepada-Ku, tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepada-Ku, percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa.” Sekali-kali mereka mencoba menangkap Dia, tetapi Ia luput dari tangan mereka.

Kemudian Yesus pergi lagi ke seberang Yordan, ke tempat Yohanes membaptis dahulu, lalu Ia tinggal di situ. Banyak orang datang kepada-Nya dan berkata, “Yohanes memang tidak membuat satu tanda mukjizat pun, tetapi semua yang pernah dikatakan Yohanes tentang orang ini memang benar.” Lalu banyak orang di situ percaya kepada-Nya. (Yoh 10:31-42)

Bacaan Pertama: Yer 20:10-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 18:2-7

Orang-orang Yahudi saleh pada zaman Yesus begitu menghormati Allah sehingga mereka tidak akan memetik atau mengambil kata-kata dari Kitab Suci tanpa berkata, “Demikianlah firman TUHAN.” Mereka begitu berhati-hati untuk tidak mengambil “kredit” bagi mereka sendiri atas sesuatu yang milik YHWH. Jadi kiranya kita dapat memahami (memaklumi?) bagaimana mereka menjadi begitu kaget ketika mendengar Yesus mengatakan kepada mereka, “Aku dan Bapa adalah satu” (Yoh 10:30). Hujaaaaaaat !!!!!

bible lagi dengan lilinDalam menjawab tuduhan mereka bahwa Yesus melakukan hujat, maka Dia menggunakan Kitab Suci untuk menunjukkan bagaimana diri-Nya telah dikuduskan dan diutus oleh Allah untuk melakukan segala pekerjaan yang selama ini telah dilakukan-Nya. Yesus menantang mereka untuk melihat pada berbagai mukjizat dan tanda heran yang diperbuat-Nya sebagai bukti bahwa Allah sungguh ada di dalam Dia dan Dia sungguh ada di dalam Bapa (Yoh 10:38). Ketika orang-orang itu tidak juga mau percaya kepada-Nya, apa yang dapat dilakukan Yesus adalah kembali pergi ke tempat di mana Yohanes Pembaptis dahulu membaptis; untuk menguatkan diri-Nya dan mengingat kata-kata Allah pada saat pembaptisan-Nya: “Engkaulah Anak-Ku, yang terkasih, kepada-Mulah Aku berkenan” (Luk 3:22).

Walaupun tidak mudah untuk dicerna, kebenaran bahwa Yesus ada dalam Bapa dan Bapa dalam Dia terletak pada jantung penebusan kita. Hal ini berarti bahwa bilamana kita memandang salib-Nya, kita tidak sekadar memandang seorang pribadi yang bernama Yesus dari Nazaret yang sedang tergantung sekarat di kayu salib. Yang kita lihat adalah Putera Allah yang kekal, Sabda/Firman Bapa yang Mahatinggi dan Mahakuasa, yang menyerahkan hidup-Nya untuk kita – manusia berdosa. Pengorbanan sedemikian membuat penebusan kita lengkap dan abadi. Kita telah ditebus oleh Allah sendiri! Tidak ada pekerjaan lain lagi yang diperlukan, dan tidak ada apa pun dan siapapun yang dapat mengambilnya dari diri kita.

Dengan kebenaran yang besar dan agung ini di dalam pikiran kita, kita dapat memiliki rasa percaya yang tinggi di hadapan hadirat Allah. Bahkan ketika kita berdosa, kita tetap dapat berbalik kepada-Nya dalam pertobatan dan mengalami pengampunan karena hal ini telah diberikan dari atas kayu salib. Kita tidak perlu menyembunyikan diri dari Allah atau merasa takut akan hukuman-Nya. Sejak awal waktu, Ia mengetahui semua pikiran kita dan berbagai kelemahan kita, dan Ia tetap mengutus Putera-Nya. Santo Paulus menulis, “Di dalam Kristus, Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya tanpa memperhitungkan pelanggaran mereka …” (2Kor 5:19). Dengan suatu penebusan yang begitu besar, bagaimana mungkin kita sampai pernah meragukan kebaikan Allah kita? Benarlah kata seorang mistikus, Santo Fransiskus dari Assisi, yang menulis bahwa “Dia adalah satu-satunya Allah yang benar; Dialah kebaikan yang sempurna, segenap kebaikan, seluruhnya baik, kebaikan yang benar dan tertinggi; Dialah satu-satunya yang baik, penyayang, pemurah, manis dan lembut; Dialah satu-satunya yang kudus, adil, benar, suci dan tulus, satu-satunya yang pemurah, tak bersalah dan murni; dari Dia, oleh Dia dan dalam Dialah segala pengampunan, segala rahmat dan kemuliaan untuk semua orang yang bertobat dan yang benar, untuk semua orang kudus yang bersukacita bersama-sama di surga” (AngTBul XXIII:9).

DOA: Terpujilah Engkau, ya Tuhan Yesus Kristus! Engkau adalah Putera Allah yang tunggal dan tanda belas kasih (kerahiman) Allah Bapa. Terpujilah Engkau karena Engkau sudi wafat di kayu salib untuk menyelamatkan kami dan terus saja membebaskan kami dari yang jahat. Terpujilah Engkau karena Engkau telah mengutus Roh Kudus-Mu untuk senantiasa membimbing kami dalam menjalani hidup ini. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 10:31-42), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS DAN ORANG-ORANG YAHUDI” (bacaan tanggal 11-4-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori 14-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2014.
Bacalah juga tulisan-tulisan yang berjudul “YESUS MENGHUJAT ALLAH?” (bacaan tanggal 22-3-13) dan “JIKALAU AKU TIDAK MELAKUKAN PEKERJAAN-PEKERJAAN BAPAKU, JANGANLAH PERCAYA KEPADA-KU” (bacaan tanggal 30-3-12), keduanya dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 8 April 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

APAKAH KITA SEPERTI HERODES ANTIPAS?

APAKAH KITA SEPERTI HERODES ANTIPAS?

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa IV – Jumat, 7 Februari 2014)

Keluarga Fransiskan: S. Koleta dr Corbie, Biarawati Ordo II-Klaris

SALOME SEDANG MENARI DI DEPAN HERODESRaja Herodes juga mendengar tentang Yesus, sebab nama-Nya sudah terkenal dan orang mengatakan, “Yohanes Pembaptis sudah bangkit dari antara orang mati dan itulah sebabnya kuasa-kuasa itu bekerja di dalam Dia.” Yang lain mengatakan, “Dia itu Elia!” Yang lain lagi mengatakan, “Dia itu seorang nabi sama seperti nabi-nabi yang dahulu.” Waktu Herodes mendengar hal itu, ia berkata, “Bukan, dia itu Yohanes yang sudah kupenggal kepalanya, dan yang bangkit lagi.”

Sebab Herodeslah yang menyuruh orang menangkap Yohanes dan membelenggunya di penjara berhubung dengan peristiwa Herodias, istri Filipus saudaranya, karena Herodes telah mengambilnya sebagai istri. Memang Yohanes berkali-kali menegur Herodes, “Tidak boleh engkau mengambil istri saudaramu!” Karena itu Herodias menaruh dendam pada Yohanes dan bermaksud untuk membunuh dia, tetapi tidak dapat, sebab Herodes segan kepada Yohanes karena ia tahu bahwa Yohanes orang yang benar dan suci, jadi ia melindunginya. Setiap kali ia mendengarkan Yohanes, hatinya selalu terombang-ambing, namun ia merasa senang juga mendengarkan dia.

Akhirnya tiba juga kesempatan yang baik bagi Herodias, ketika Herodes pada ulang tahunnya mengadakan perjamuan untuk pembesar-pembesarnya, perwira-perwiranya dan orang-orang terkemuka Galilea. Pada waktu itu anak perempuan Herodias tampil lalu menari, dan ia menyenangkan hati Herodes dan tamu-tamunya. Raja berkata kepada gadis itu, “Mintalah apa saja yang kauingini, maka akan kuberikan kepadamu!”, lalu bersumpah kepadanya, “Apa saja yang kauminta akan kuberikan kepadamu, sekalipun setengah dari kerajaanku!” Anak itu pergi dan menanyakan ibunya, “Apa yang harus kuminta?” Jawabnya, “Kepala Yohanes Pembaptis!” Lalu ia cepat-cepat masuk menghadap raja dan meminta, “Aku mau, supaya sekarang juga engkau berikan kepadaku kepala Yohanes Pembaptis di atas piring!” Lalu sangat sedihlah hati raja, tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya ia tidak mau menolaknya. Raja segera menyuruh seorang algojo dengan perintah supaya mengambil kepala Yohanes di penjara. Ia membawa kepala itu di sebuah piring besar dan memberikannya kepada gadis itu dan gadis itu memberikannya pula kepada ibunya.

Ketika murid-murid Yohanes mendengar hal itu mereka datang dan mengambil mayatnya, lalu membaringkannya dalam kuburan. (Mrk 6:14-29)

Bacaan Pertama: Sir 47:2-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 18:31,47,50-51

YOHANES PEMBAPTIS DALAM PENJARA - MAT 11 1-2Cerita Injil hari ini merupakan pelajaran yang sangat penting untuk kita semua, sebuah pelajaran tentang keberanian mengungkapkan kebenaran, tentang seorang Yohanes Pembaptis yang memiliki integritas pribadi yang tak meragukan samasekali.

Herodes mengagumi Yohanes Pembaptis. Raja ini merasa tertarik pada kesucian Yohanes dan dia senang juga mendengarkan dia. Namun demikian, Herodes tidak pernah menanggapi seruan Yohanes Pembaptis agar dia bertobat. Kelekatan kuat Herodes pada harta-kekayaan, kekuasaan dan status mematahkan setiap hasrat yang muncul dalam dirinya untuk meluruskan hubungannya dengan Allah. Akhirnya, pada pesta perjamuan ulang tahunnya dia terjebak oleh nafsunya sendiri yang menggelora karena tarian eksotis puteri tirinya. Gengsinya mencegahnya untuk melanggar sumpahnya di depan puteri tirinya seusai menari, sebuah ucapan sumpah yang memang terasa bodoh itu. Sungguh sok ja-im raja ini! Herodes mengatakan kepada puteri tirinya itu: “Mintalah apa saja yang kauingini, maka akan kuberikan kepadamu! Apa saja yang kauminta akan kuberikan kepadamu, sekalipun setengah dari kerajaanku!” (Mrk 6:22,23). Dengan demikian Herodes pun dengan terpaksa memerintahkan algojo untuk memenggal kepala Yohanes Pembaptis, sesuai permintaan puteri tirinya, yang dalam tradisi dikenal dengan nama Salome itu.

Dalam banyak hal, tanggapan Herodes terhadap seruan Yohanes Pembaptis mencirikan reaksi sejumlah orang terhadap seruan Yesus. Mereka tertarik pada Yesus dan menemukan bagian-bagian dari ajaran-Nya atau berbagai mukjizat dan tanda-heran yang diperbuat-Nya sebagai hal-hal yang menarik sekali. Namun seruan Yesus agar mereka meninggalkan kehidupan penuh dosa, dan menyerahkan hidup mereka kepada Allah masih terasa sangat berat untuk diikuti. Jadi, mereka tidak pernah menerima undangan Yesus untuk menjadi murid-murid-Nya. Bahkan kita yang telah memutuskan untuk mengikuti-Nya pun masih mengalami pergolakan dan konflik batin. Kita ingin menjadi murid-murid-Nya, namun kadang-kadang terasa seakan Dia menuntut terlalu banyak dari kita. Seperti Herodes, kita pun menjadi objek dari dua kekuatan yang saling tarik-menarik. Kita pun seringkali tidak dapat lepas dari pergumulan pribadi yang melibatkan pertempuran spiritual.

Apa yang dapat kita lakukan bila kita mengalami konflik dalam hati kita? Langkah pertama adalah membuat telinga rohani kita jernih dalam mendengarkan suara-suara dalam batin kita. Suara si Jahat itu licin terselubung, namun dapat dikenali. Dia memunculkan dengan jelas perintah-perintah Allah ketika perintah-perintah tersebut terasa tidak menyenangkan kita; dia memberikan pembenaran-pembenaran yang diperlukan bagi kita untuk membuat suatu kekecualian terhadap kehendak Allah dalam kasus kita (Misalnya: “Kamu sesungguhnya tidak perlu mengampuni saudaramu yang telah membuatmu susah itu”). Akan tetapi suara Roh Kudus selalu mendorong kita untuk memilih jalan pendamaian (rekonsiliasi) dan penyembuhan serta mendorong terciptanya kesejahteraan orang-orang lain, walaupun pada awalnya menyakitkan kita.

YOHANES PEMBAPTIS - SALOME AND THE HEAD OF JOHN THE BAPTISTKita dapat memproklamasikan kebenaran-kebenaran iman untuk melawan kebohongan-kebohongan Iblis (Misalnya: “Aku tahu bahwa kalau aku mengampuni, maka dosa-dosaku pun akan diampuni. Aku mungkin tidak mempunyai kuasa untuk mengampuni, tetapi Kristus dalam diriku cukup berkuasa untuk mengampuniku sekarang juga!”). Kebenaran-kebenaran iman itu juga dapat kita ungkapkan seturut teladan Yesus pada waktu dicoba oleh Iblis di padang gurun, khususnya seperti yang terdapat dalam Injil Lukas (Luk 4:1-13). Setiap godaan dari si Jahat dapat kita patahkan dengan dengan ayat-ayat Kitab Suci: “Ada tertulis: Jika jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu” (Mat 6:14-15).

Herodes adalah seorang pengagum-jarak-jauh Yohanes Pembaptis yang akhirnya bertanggung jawab atas kematian orang yang dikaguminya. Kita tidak perlu seperti Herodes: kita mengagumi Yesus dari kejauhan juga, karena tidak sanggup mengambil sikap positif terhadap panggilan Yesus kepada kita untuk menjadi murid-murid-Nya. Kita hanya perlu mendengarkan Roh Kudus selagi Dia berbicara melalui batin kita, agar kita dapat mengetahui jalan mana yang harus kita tempuh. Oleh karena marilah kita mohon kepada Roh Kudus untuk membimbing kita dan memberdayakan kita untuk sepenuhnya mematuhi kehendak Allah.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku agar memilih Engkau dalam segala keputusanku hari ini dan selamanya. Aku ingin Engkau menjadi pusat kehidupanku. Selamatkanlah aku dari berbagai godaan kenikmatan duniawi yang menghalangi aku untuk memilih-Mu. Bimbinglah aku dalam kebenaran-Mu dan pimpinlah aku di jalan-Mu selamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injilhari ini (Mrk 6:14-29), bacalah tulisan yang berjudul “KEBERANIAN SEORANG MARTIR” (bacaan tanggal 7-2-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2014.

Cilandak, 5 Februari 2014 [Peringatan S. Agata, Perawan-Martir]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ANAK DOMBA ALLAH

ANAK DOMBA ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA II [Tahun A] – 19 Januari 2014)

HARI KEDUA PEKAN DOA SEDUNIA

BAPTISAN YESUS - 1Keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata, “Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia. Dialah yang kumaksudkan ketika kukatakan: Kemudian daripada aku akan datang seorang yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku. Aku sendiri pun dulu tidak mengenal Dia, tetapi untuk itulah aku datang dan membaptis dengan air, supaya Ia dinyatakan kepada Israel.”
Selanjutnya Yohanes bersaksi, katanya, “Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Ia tinggal di atas-Nya. Dan aku pun dulu tidak mengenal-Nya, tetapi Dia, yang mengutus aku untuk membaptis dengan air, telah berfirman kepadaku: Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atas-Nya, Dialah yang akan membaptis dengan Roh Kudus. Aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian: Ia inilah Anak Allah.” (Yoh 1:29-34)
Bacaan Pertama: Yes 49:3,5-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 40:2,4,7-10; Bacaan Kedua: 1Kor 1:1-3

Setiap kali kita merayakan Ekaristi Kudus, maka kata-kata Yohanes Pembaptis ini diingat kembali: “Inilah Anak Domba Allah yang telah menghapus dosa dunia. Berbahagialah kita yang diundang ke perjamuan-Nya!” Para penulis Kitab Suci tidak merasa ragu untuk mencampur-aduk metafora mereka. Kadang-kadang Yesus adalah gembala dari kawanan domba dan kadang-kadang Ia sendiri dilihat sebagai anak domba.

Gambaran Yesus sebagai anak domba bertumbuh dari pemikiran Yahudi yang kaya serta kompleks namun terselubung. Darah anak domba yang dibubuhkan pada kedua tiang pintu dan ambang atas pintu setiap rumah orang Yahudi (Kel 12:7,22) menjelang “keluaran” bangsa Yahudi dari perbudakan di tanah Mesir merupakan tanda untuk menyelamatkan mereka dari tulah TUHAN atas keluarga-keluarga Mesir. Peringatan tahunan atas pembebasan ini menjadi apa yang dinamakan Pesta Paskah, klimaks dari penanggalan Yahudi. Anak domba berumur satu tahun yang berjumlah besar disembelih dan kelompok-kelompok keluarga makan daging anak domba dalam perjamuan suci yang mengikat mereka bersama dalam persekutuan sangat erat satu sama lain dan dengan Allah sendiri. Mereka makan bersama sambil berdiri, dan berpakaian seperti hendak melakukan perjalanan.

Dalam kronologi Injil Yohanes, kematian Yesus mengambil tempat tepat pada saat ketika anak-anak domba Paskah sedang disembelih. Dan rituale instruksi mengenai kurban anak domba yang dipersembahkan berlaku juga untuk Yesus: “Tidak ada tulang-Nya yang akan dipatahkan” (Yoh 19:36).

Komunitas Kristiani sangat menyukai lambang anak domba sejak awal sejarah Gereja. Lebih dari 20 tahun sejak kematian Yesus Kristus, suatu acuan kepada sepucuk surat Paulus menyarankan bahwa para pembacanya sudah familiar dengan lambang ini: “Sebab anak domba Paskah kita, yaitu Kristus, juga telah disembelih” (1Kor 5:7).

LAMB OF GOD - 13Satu lagi gagasan penting di belakang lambang anak domba ini adalah praktek mempersembahkan kurban berupa hewan sebagai ganti apa yang menjadi utang orang kepada Allah. Melalui persembahan kurban hewan, rasa terima kasih penuh syukur dikembalikan kepada Allah untuk kelahiran dari anak sulung. Melalui persembahan kurban itu dibayarlah tebusan atas nama seorang pendosa. Ide pembayaran melalui substitusi berasal dari kata-kata di dalam surat Petrus yang pertama: “Sebab kamu tahu bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat” (1Ptr 1:18-19).

Pilihan Yesaya 49 untuk bacaan pertama hari ini mengundang kita untuk menafsirkan bacaan Injil hari dalam terang gambaran Yesaya tentang Hamba YHWH. Sesungguhnya, para ahli Kitab Suci mengatakan kepada kita bahwa kata “Anak Domba Allah” dapat diartikan juga sebagai “Hamba YHWH (Allah)”. Dalam terang “Nyanyian Hamba YHWH yang menderita” dalam kitab Yesaya, Yesus dipahami sebagai seekor anak domba lemah lembut dan tidak bersalah yang dibawa ke tempat pembantaian sebagai ganti orang-orang lain: “Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kitapun dia tidak masuk hitungan. Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaaran kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi YHWH telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian. Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa kepembantaian……” (Yes 53:4-7).

Ketika Hosti Suci diangkat di depan mata kita pada waktu Misa Kudus, maka kata-kata Yohanes Pembaptis terdengar lagi untuk mengungkapkan iman-kepercayaan kita: “Inilah Anak Domba Allah yang menghapus dosa-dosa dunia.” Sungguh terberkati dan berbahagilah mereka yang dipanggil ke perjamuan ini. Dalam Ekaristi Yesus adalah sang Anak Domba Paskah yang daging-Nya dimakan oleh mereka yang siap untuk melakukan perjalanan guna meninggalkan perbudakan dosa.

Yesus adalah sang Anak Domba Allah yang menggantikan kita dan dalam darah-Nya pakaian baptis kita dicuci bersih lagi. Yesus adalah Anak Domba Allah yang lemah lembut dan tak bersalah, kepada diri-Nya kuasa Roh Kudus dan burung merpati perdamaian datang berdiam.

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat kami. Engkau adalah Anak Domba Allah yang menghapus dosa-dosa dunia. Engkau wafat di kayu salib guna menebus dosa-dosa kami. Kasihanilah kami, ya Kristus. Jadikanlah kami murid-murid-Mu yang setia sehingga dengan demikian kami dapat syering cintakasih-Mu kepada orang-orang lain. Amin.

Catatan: Untuk mendalam Bacaan Injil hari ini (Yoh 1:29-34), bacalah tulisan yang berjudul “KITA ADALAH UMAT PILIHAN ALLAH YANG BARU” (bacaan tanggal 19-1-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2014.

Cilandak, 16 Januari 2014 [Peringatan S. Berardus, Imam dkk., Protomartir Fransiskan]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS DIBAPTIS OLEH YOHANES

YESUS DIBAPTIS OLEH YOHANES

(Bacaan Pertama Misa Kudus, PESTA PEMBAPTISAN TUHAN – Minggu, 12 Januari 2014)

BAPTISAN YESUS - YESUS DIPERMANDIKAN OLEH YOHANES PEMBAPTISKemudian datanglah Yesus dari Galilea ke Yordan kepada Yohanes untuk dibaptis olehnya. Tetapi Yohanes mencegah Dia, katanya, “Akulah yang perlu dibaptis oleh-Mu, namun Engkau yang datang kepadaku?” Lalu jawab Yesus kepadanya, “Biarlah hal itu terjadi sekarang, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah.” Yohanes pun menuruti-Nya. Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, lalu terdengarlah suara dari surga yang mengatakan, “Inilah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan.” (Mat 3:13-17)

Bacaan Pertama: Yes 42:1-4,6-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 29:1-4,9-10; Bacaan Kedua: Kis 10:34-38

Setelah bertahun-tahun menanti dan mempersiapkan diri-Nya, tibalah saatnya bagi Yesus untuk memulai pelaksanaan misi-Nya. Dia tidak lagi tetap tersembunyi di Nazaret, berprofesi sebagai seorang tukang kayu. Sekarang, tibalah saatnya bagi Yesus untuk melaksanakan peran yang merupakan bagian-Nya dalam rencana Allah, saat untuk mengumumkan dan meresmikan Kerajaan Allah. Sekarang adalah saat untuk penyembuhan-penyembuhan atas diri orang-orang yang menderita berbagai penyakit, pengusiran roh-roh jahat atas diri orang-orang yang dirasuki, berkhotbah tentang Kerajaan Allah serta ajaran-ajaran-Nya dan menyerukan pertobatan.

Kerajaan besar dan agung ini tidak dimulai dengan suara terompet atau bunyi sangkakala dan tidak juga dengan pembuktian besar-besaran lewat mukjizat-mukjizat dan berbagai tanda heran lainnya yang dibuat oleh Yesus, melainkan dengan humilitas, yaitu kerendahan atau kedinaan, yaitu selagi Yesus merendahkan diri-Nya dan meminta kepada Yohanes untuk dibaptis-tobat untuk pengampunan dosa. Yesus yang tanpa dosa begitu menghargai panggilan Yohanes kepada para pendosa untuk bertobat. Ia yang di “atas” sana senantiasa berjubah kemuliaan harus menundukkan kepala-Nya kepada dia yang berbaju kasar (jubah bulu unta dst., lihat Mrk 1:6). Dia yang benar, mengidentifikasikan diri-Nya dengan orang-orang berdosa untuk memenuhi diri mereka dengan segala kebenaran.

ROH KUDUS MELAYANG-LAYANG - 2Matius mengatakan bahwa ketika Yesus keluar dari air, Roh Kudus turun atas diri-Nya dan Allah Bapa memberi kesaksian tentang Putera-Nya: “Inilah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan” (Mat 3:16-17). Dengan menceritakan baptisan Yesus secara begini, Matius menekankan peranan Yesus sebagai seorang hamba YHWH sebagaimana diperkenalkan dalam kitab Yesaya (Yes 42:1-7). Seperti hamba yang menderita dalam kitab Yesaya itu, Yesus telah datang guna “menjadi terang untuk bangsa-bangsa, untuk membuka mata yang buta, untuk mengeluarkan orang-orang hukuman dari tempat tahanan dan mengeluarkan orang-orang yang duduk dalam gelap dari rumah penjara” (Yes 42:6-7). Yang bahkan lebih penting lagi, seperti sang hamba YHWH, Dia (Yesus) harus mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai kurban tebusan dosa bagi orang-orang lain dan Ia juga berdoa syafaat bagi mereka guna mendapatkan pengampunan (lihat Yes 53:10-12).

Santo Paulus mengatakan bahwa pada saat baptisan kita, kita dibaptis ke dalam Kristus (Rm 6:3; Gal 3:27). Baptisan Yesus adalah baptisan kita juga. Jika pada baptisan Yesus, Roh Kudus turun atas diri-Nya maka demikian pula Roh Kudus turun atas diri kita masing-masing pada saat kita dibaptis. Seperti Bapa surgawi yang mendeklarasikan bahwa Yesus adalah “Anak-Nya yang terkasih” (Mat 3:17), kita pun – pada saat dibaptis – menjadi anak-anak Allah yang sangat dikasihi-Nya. Sebagaimana Yesus melaksanakan amanat-Nya sebagai seorang Hamba, maka kita pun harus menghayati hidup sebagai hamba yang melayani Allah dalam upaya membangun Kerajaan-Nya di dunia ini.

Dengan penuh keyakinan karena pengurapan Roh Kudus, dan dengan kerendahan hati serta kedinaan dalam Kristus, marilah kita bertekad bulat untuk melayani Bapa surgawi dengan penuh sukacita dan penyangkalan diri, sebagai anak-anak yang sangat dikasihi oleh-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, penuhilah diriku dengan Roh Kudus-Mu. Semoga aku memperoleh sukacita sejati ketika aku berupaya untuk menyenangkan-Mu, sebagaimana Engkau bersukacita dalam hidup-Mu yang sepenuhnya adalah untuk menyenangkan Bapa-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Mat 3:13-17), bacalah tulisan yang berjudul “KEPADA-NYA AKU BERKENAN” (bacaan tanggal 12-1-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs..wordpress.com; kategori: 14-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2014.

Cilandak, 9 Januari 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

IA HARUS MAKIN BESAR, TETAPI AKU HARUS MAKIN KECIL

IA HARUS MAKIN BESAR, TETAPI AKU HARUS MAKIN KECIL

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa sesudah Penampakan Tuhan – Sabtu, 11 Januari 2014)

YOHANES PEMBAPTIS - 3Sesudah itu Yesus pergi dengan murid-murid-Nya ke tanah Yudea dan Ia tinggal di sana bersama-sama mereka dan membaptis. Akan tetapi, Yohanes pun membaptis juga di Ainon, dekat Salim, sebab di situ banyak air. Orang-orang datang ke situ untuk dibaptis, sebab pada waktu itu Yohanes belum dimasukkan ke dalam penjara.

Lalu timbullah perselisihan di antara murid-murid Yohanes dengan seorang Yahudi tentang penyucian. Mereka datang kepada Yohanes dan berkata kepadanya, “Rabi, orang yang bersama dengan engkau di seberang Sungai Yordan dan yang tentang Dia engkau telah bersaksi, Dia membaptis juga dan semua orang pergi kepada-Nya.” Jawab Yohanes, “Tidak ada seorang pun yang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya, kalau tidak dikaruniakan kepadanya dari surga. Kamu sendiri dapat bersaksi bahwa aku telah berkata: Aku bukan Mesias, tetapi aku diutus untuk mendahului-Nya. Yang punya mempelai perempuan, ialah mempelai laki-laki; tetapi sahabat mempelai laki-laki, yang berdiri dekat dia dan yang mendengarkannya, sangat bersukacita mendengar suara mempelai laki-laki itu. Itulah sukacitaku, dan sekarang sukacitaku itu penuh. Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil. (Yoh 3:22-30)

Bacaan Pertama: 1Yoh 5:14-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 149:1-6,9

Kitab-kitab Injil memberikan informasi yang cukup memadai tentang Yohanes Pembaptis. Dalam bacaan Injil hari ini kita menyaksikan munculnya kontroversi antara para murid Yohanes Pembaptis dan seorang Yahudi tentang penyucian. Murid-murid Yohanes juga menjadi iri hati karena Yesus, yang dibaptis oleh Yohanes, justru menarik orang banyak yang besar jumlahnya. Mereka takut reputasi guru mereka, Yohanes, akan dirusak dengan penampilan rabi baru dari Nazaret itu.

YOHANES PEMBAPTISBagi Yohanes Pembaptis seluruh affair ini samasekali tidak relevan. Ia menjawab: “Tidak ada seorang pun yang dapat mengambil sesuatu bagi dirinya, kalau tidak dikaruniakan kepadanya dari surga” (Yoh 3:27). Yohanes mengindikasikan dengan jelas bahwa misinya sendiri tidak berarti kalau tidak memiliki tujuan ilahi. Dia hanya mengatakan bahwa dirinya bukanlah Dia, bukan sang Mesias yang dinanti-nantikan umat Yahudi. Yohanes mengaku bahwa dirinya hanyalah pendahulu, seorang pembuka jalan, seorang bentara. Yohanes berbicara blak-blakan dan langsung tanpa tedeng aling-aling. Yohanes tahu dan menyadari relasinya yang sesungguhnya dengan Yesus. Yohanes menyukai hal itu, menerima tugasnya dengan gembira. Dengan rendah hati Yohanes berkata, “Aku bukan Mesias, tetapi aku diutus untuk mendahului-Nya. Yang punya mempelai perempuan, ialah mempelai laki-laki; tetapi sahabat mempelai laki-laki, yang berdiri dekat dia dan yang mendengarkannya, sangat bersukacita mendengar suara mempelai laki-laki itu. Itulah sukacitaku, dan sekarang sukacitaku itu penuh. Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil” (Yoh 3:28-30).

Nasihat Yohanes memang unggul! Kita harus mengenal Yesus. Ia adalah Tuhan dan Juruselamat kita! Mengenal Dia adalah kehidupan, Kehidupan Spiritual. Tidak mengenal Yesus berarti kematian atau maut. Ia harus makin besar. Yesus harus menjadi semakin penting dalam hidup kita. Dia harus menjadi Tuhan atas hidup kita. Kita harus makin kecil. Kita harus memberikan kepada Yesus segala kemuliaan. Seperti Yohanes kita harus mengetahui tempat kita dalam hubungan kita dengan Tuhan. Kita dapat memberi kesaksian dengan penuh kuasa, seperti yang dilakukan Yohanes, namun kita harus menarik perhatian orang-orang kepada Tuhan, bukan kepada diri kita sendiri.

DOA: Yesus, aku ingin lebih mengenal Engkau lagi, lebih dan lebih lagi dengan berjalannya waktu. Aku ingin mengkomit diriku kepada-Mu saja, karena Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Terpujilah nama-Mu selalu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 3:22-30), bacalah tulisan yang berjudul “KESAKSIAN YOHANES TENTANG YESUS” (bacaan tanggal 11-1-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2013.

Cilandak, 8 Januari 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MURID YANG DIKASIHI YESUS

MURID YANG DIKASIHI YESUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, PESTA YOHANES RASUL-PENULIS INJIL, Oktaf Natal – Jumat, 27 Desember 2013)

st-john-the-evangelist-1620 (1)

Ia berlari-lari mendapatkan Simon Petrus dan murid yang lain yang dikasihi Yesus dan berkata kepada mereka, “Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan.”

Lalu berangkatlah Petrus dan murid yang lain itu ke kubur. Keduanya berlari bersama-sama, tetapi murid yang lain itu berlari lebih cepat daripada Petrus sehingga lebih dahulu sampai ke kubur. Ia menjenguk ke dalam, dan melihat kain kafan terletak di tanah; akan tetapi, ia tidak masuk ke dalam. Kemudian datanglah Simon Petrus juga menyusul dia dan masuk ke dalam kubur itu. Ia melihat kain kafan terletak di tanah, sedangkan kain peluh yang tadinya ada di kepala Yesus tidak terletak dekat kain kafan itu, tetapi terlipat tersendiri di tempat yang lain. Sesudah itu, masuklah juga murid yang lain, yang lebih dahulu sampai di kubur itu dan ia melihatnya dan percaya. (Yoh 20:2-8)

Bacaan Pertama: 1Yoh 1:1-4; Mazmur Tanggapan: Mzm 97:1-2,5-6.11-12

Seorang imam muda telah beberapa tahun melayani sebagai pastor pembantu di sebuah paroki. Untuk kurun waktu yang cukup lama, imam yang memang berwajah muda belia (katakanlah, baby face) itu membuat sejumlah warga paroki cenderung untuk “menghakimi” dia sebagai naif dan tidak berpengalaman. Barangkali mis-persepsi serupa mempengaruhi bagaimana sebagian dari kita memandang Santo Yohanes Penginjil yang pestanya dirayakan oleh Gereja pada hari ini.

Menurut tradisi, Yohanes disebut sebagai “murid yang dikasihi Yesus” (lihat Yoh 20:2). Orang kudus ini juga dilukiskan sebagai seorang rasul muda-usia yang menaruh kepalanya di atas punggung Yesus pada waktu Perjamuan Terakhir. Namun gambaran seperti ini tentang Yohanes dapat saja menutupi kekuatan pribadi sang rasul yang datang dari relasi penuh keintiman sedemikian dengan diri Yesus.

PETRUS AND YOHANES BERLARI KE KUBURInjil mencatat, “… ia melihatnya dan percaya” (Yoh 20:8). Ini adalah dasar dari kedekatan Yohanes dengan Yesus, yaitu kasihnya dan imannya bahwa Yesus wafat dan bangkit untuk kita-manusia. Kasih yang ditunjukkan oleh Yohanes di kubur pada hari Minggu Paskah tidak bersifat statis, melainkan terus membawanya sepanjang masa hidupnya yang diperkirakan sangat panjang. Karena Yohanes cukup rendah hati untuk memperkenankan keakrabannya dengan Yesus bertumbuh, maka dikatakan bahwa dia telah menunjukkan kekuatan yang luarbiasa ketika mengalami pencobaan-pencobaan berat dalam hidupnya. Memang kita tidak memiliki kepastian mengenai kehidupan Yohanes, namun beberapa tulisan yang berasal dari abad kedua dan ketiga kelihatannya memberi kesaksian yang mendukung komitmen tak-tergoyahkan dari sang rasul terhadap Yesus walaupun pada saat-saat dia menanggung penderitaan: dipenjara, percobaan pembunuhan atas dirinya dengan memasukkannya ke dalam sebuah ketel yang berisikan minyak mendidih, dan pengasingan sementara dirinya dari kota Efesus. Melalui itu semua, Yohanes memberi contoh tentang iman yang tak tergoyahkan dalam kuat-kuasa Tuhan Yesus yang telah bangkit.

Dari abab ke abad, berbagai tradisi menyangkut Yohanes Penginjil disampaikan dari generasi ke generasi berikutnya: dari Santo Ireneus (c.125-c.201) yang mengenal Santo Polykarpus (c.69-c.155) yang adalah seorang murid dari Santo Yohanes. Inilah bagaimana Injilnya sampai kepada kita juga. Selama 2.000 tahun, umat Kristiani yang setia telah menyampaikan kabar-kabar bahwa Yesus datang untuk menyatakan kasih Bapa surgawi yang bersifat intim. Sekarang, kita harus mengambil peranan dalam rangkaian komunikasi tersebut. Marilah kita masing-masing meneladan Santo Yohanes dengan bertumbuh dalam keintiman dengan Yesus dan memperkenankan Kabar Baik tentang Kasih Allah disampaikan melalui kita kepada generasi yang akan datang.

DOA: Bapa surgawi, aku ingin terhitung sebagai salah seorang murid Yesus Kristus yang dikasihi oleh-Nya. Aku ingin bertumbuh dalam keintiman relasi dengan Yesus, untuk lebih mengenal lagi Allah Tritunggal Mahakudus, dan dengan kasih dalam hidupku …… untuk syering Injil dengan generasi-generasi yang akan datang. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Yoh 1:1-4), bacalah tulisan berjudul “BAGI YOHANES, YESUS ADALAH HIKMAT ALLAH” (bacaan tanggal 27-12-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2013.

Cilandak, 26 Desember 2013 [Pesta S. Stefanus, Martir Pertama]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

UNTUK MEMPERSIAPKAN JALAN BAGI-NYA

UNTUK MEMPERSIAPKAN JALAN BAGI-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Selasa, 24 Desember 2013)

BENEDICTUS - UKURAN BESAR

Zakharia, ayahnya, penuh dengan Roh Kudus, lalu bernubuat, “Terpujilah Tuhan, Allah Israel, sebab Ia datang untuk menyelamatkan umat-Nya dan membawa kelepasan baginya, Ia menumbuhkan sebuah tanduk keselamatan bagi kita di dalam keturunan Daud, hamba-Nya itu, – seperti yang telah difirmankan-Nya sejak purbakala oleh mulut nabi-nabi-Nya yang kudus – untuk melepaskan kita dari musuh-musuh kita dan dari tangan semua orang yang membenci kita, untuk menunjukkan rahmat-Nya kepada nenek moyang kita dan mengingat perjanjian-Nya yang kudus, yaitu sumpah yang diucapkan-Nya kepada Abraham, bapak leluhur kita bahwa ia mengaruniai kita, supaya kita, terlepas dari tangan musuh, dapat beribadah kepada-Nya tanpa takut, dalam kekudusan dan kebenaran di dihadapan-Nya seumur hidup kita. Dan engkau, hai anakku, akan disebut nabi Allah Yang Mahatinggi; karena engkau akan berjalan mendahului Tuhan untuk mempersiapkan jalan bagi-Nya, untuk memberikan kepada umat-Nya pengertian akan keselamatan yang berdasarkan pengampunan dosa-dosa mereka, oleh rahmat dan belas kasihan dari Allah kita, yang dengannya Ia akan datang untuk menyelamatkan kita, Surya pagi dari tempat yang tinggi, untuk menyinari mereka yang tinggal dalam kegelapan dan dalam naungan maut untuk mengarahkan kaki kita kepada jalan damai sejahtera.” (Luk 1:67-79)

Bacaan pertama: 2Sam 7:1-5,8b-12,16; Mazmur Tanggapan: Mzm 89:2-5,27,29

Zakharia menyembah YHWH-Allah sambil memuji-muji-Nya, Allah yang mahasetia yang datang untuk menyelamatkan umat-Nya. Zakharia memproklamasikan bahwa Allah “menumbuhkan sebuah tanduk keselamatan bagi kita di dalam keturunan Daud, hamba-Nya itu” (Luk 1:69), seorang Juruselamat yang akan “melepaskan kita dari musuh-musuh kita dan dari tangan semua orang yang membenci kita” (Luk 1:71). Putera Zakharia akan menjadi bentara sang Juruselamat, yang “akan disebut nabi Allah Yang Mahatinggi; karena … akan berjalan mendahului Tuhan untuk mempersiapkan jalan bagi-Nya” (Luk 1:76) Ia akan mengumumkan bahwa waktunya telah genap bagi penghancuran atas musuh-musuh Israel.

Berabad-abad sebelumnya, Raja Daud telah memimpin bangsa Israel mengalahkan musuh-musuh mereka, bangsa Filistin. Dalam masa damai, Daud memindahkan perhatiannya atas upaya pembangunan sebuah Bait bagi YHWH – di tempat suci mana umat Israel dapat menyembah Allah dan mengalami kehadiran-Nya di tengah mereka. Sekarang, di depan mata Zakharia, Allah sedang menyiapkan jalan bagi seorang “anak Daud” yang akan membawa suatu kemerdekaan baru bagi anak-anak Allah. Sekarang, bukanlah para musuh politik, melainkan para musuh spiritual-lah yang akan ditaklukkan oleh “Anak Daud” sang Raja. Oleh salib-Nya, Yesus telah mengalahkan setiap dosa dan segala “karya” Iblis serta para pengikutnya.

BENEDICTUSLihat, betapa indahnya rencana Allah! Sebagaimana Daud harus mengalahkan para musuh Israel sebelum anaknya Salomo dapat membangun sebuah Bait Suci, demikian pula Yesus harus menaklukkan musuh-musuh kita sebelum Ia dapat membangun Gereja. Yesus tidak hanya memerdekakan kita dari musuh-musuh kita; Dia membebaskan kita agar dapat mengalami kehidupan bersama-Nya. Dengan dibebaskannya kita dari segala sesuatu yang selama ini menindas kita, sekarang kita dapat menjalin hubungan pribadi dengan Allah sebagai Bapa kita dan dibimbing oleh-Nya ke dalam suatu hidup penuh damai-sejahtera.

Yesus memiliki kemampuan untuk membawa kepada kita suatu rasa yang mendalam berkaitan dengan kedamaian hati, keutuhan pribadi, dan rasa aman. Ia mampu untuk membuat kita menjadi suatu umat yang menyadari bahwa kita dipilih dan dikasihi oleh Allah. Dia dapat membuat kita menjadi suatu umat yang mengenal perlindungan yang disebabkan oleh ketaatan kita kepada kehendak Allah. Selagi kita mempersiapkan perayaan kelahiran sang Penebus mulai malam ini, marilah kita menyediakan waktu untuk berdoa. Marilah kita bawa kepada Yesus hal-hal yang selama ini membuat kita gelisah, galau dan was-was, dan marilah kita mohon kepada-Nya untuk membebaskan kita. Biarlah terang-Nya menyinari diri kita dan membawa kedamaian mendalam bagi diri kita masing-masing.

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Engkau adalah Penebusku. Aku menyerahkan hidupku kepada Engkau saja. Biarlah terang-Mu dan damai-sejahtera-Mu datang kepada orang-orang yang kukasihi dan diriku, selagi kami merayakan peristiwa agung kelahiran-Mu di Betlehem dahulu kala. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (2Sam 7:1-5,8b-12,16), bacalah tulisan yang berjudul “MEMPERKENANKAN JANJI ALLAH MEMENUHI DIRI KITA” (bacaan tanggal 24-12-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2013. Bacalah juta tulisan yang berjudul “ISRAEL SELALU ADA DALAM HATI ALLAH” (bacaan untuk tanggal 24-12-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 21 Desember 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

IA HARUS DINAMAI YOHANES [2]

IA HARUS DINAMAI YOHANES [2]

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Senin, 23 Desember 2013)

YOHANES PEMBAPTIS DIBERI NAMAKemudian tibalah waktunya bagi Elisabet untuk bersalin dan ia pun melahirkan seorang anak laki-laki. Ketika tetangga-tetangganya serta sanak saudaranya mendengar bahwa Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepadanya, bersukacitalah mereka bersama-sama dengan dia. Lalu datanglah mereka pada hari yang ke delapan untuk menyunatkan anak itu dan mereka hendak menamai dia Zakharia menurut nama bapaknya, tetapi ibunya berkata, “Jangan, ia harus dinamai Yohanes.” Kata mereka kepadanya, “Tidak ada di antara sanak saudaramu yang bernama demikian.” Lalu mereka memberi isyarat kepada bapaknya untuk bertanya nama apa yang hendak diberikannya kepada anaknya itu. Ia meminta batu tulis, lalu menuliskan kata-kata ini, “Namanya adalah Yohanes.” Mereka pun heran semuanya. Seketika itu juga terbukalah mulutnya dan terlepaslah lidahnya, lalu ia berkata-kata dan memuji Allah.

Lalu ketakutanlah semua orang yang tinggal di sekitarnya, dan segala peristiwa itu menjadi buah pembicaraan di seluruh pegunungan Yudea. Semua orang yang mendengarnya, merenungkannya dalam hati dan berkata, “Menjadi apakah anak ini nanti?” Sebab tangan Tuhan menyertai dia. (Luk 1:57-66)

Bacaan pertama: Mal 3:1-4; 4:5-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 25:4-5,8-10,14

Nama “Yohanes” (bahasa Yunani: Iôannès) menunjukkan suatu kebenaran penting tentang kedatangan Tuhan ke dalam dunia. Kata Ibrani-nya dapat diterjemahkan sebagai: “YHWH memberikan karunia”.(Xavier Léon-Dufour, ENSIKLOPEDI PERJANJIAN BARU, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1991, hal. 602). Dengan kelahiran Yohanes dari Pak Zakharia dan Ibu Elisabet, rahmat dicurahkan ke atas umat-Nya. Allah itu mahabaik karena rencana yang diumumkan-Nya melalui para nabi dipenuhi – sebuah rencana untuk memulihkan umat-Nya, untuk membawa kehidupan kepada mereka, untuk membiarkan kasih-Nya mengalir dengan bebas di atas mereka. Yohanes dimaksudkan untuk bertugas sebagai bentara Kabar Baik, bahwa semua orang dapat memperoleh hidup baru; bahwa tidak ada sesuatu pun yang baik dapat diperoleh dengan mengandalkan kekuatan sendiri.

Orang-orang yang menanti-nantikan kedatangan sang Mesias harus menyiapkan diri berkaitan dengan pesan rahmat – pemberian gratis ini. Perjanjian dengan Musa telah mengajarkan kepada mereka bahwa Allah yang Mahakuasa telah mengajarkan kepada mereka bahwa sang Mahakuasa menginginkan suatu umat yang benar dan patuh kepada hukum. Yohanes Pembaptis dipanggil untuk mengajar orang-orang tentang seorang Juruselamat yang akan mengangkat ke atas mereka yang percaya, untuk sampai kepada kebaikan-Nya yang sempurna.

ZAKHARIA MENULIS NAMA ANAKNYA YPAllah mengutus Yohanes Pembaptis untuk menolong “menyiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagi-Nya” (Luk 1:17). Kelahiran Yohanes Pembaptis mempersiapkan hati Zakharia guna menyambut kedatangan Kristus. Karena keterbatasan-keterbatasan dirinya sendiri, Zakharia telah meragukan malaikat yang diutuas Allah. Pada saat anaknya siap untuk diberi nama, hati Zakharia telah berubah seluruhnya. Sebelumnya Zakharia sangat mandiri dengan mengandalkan diri sepenuhnya kepada kekuatannya sendiri, namun sekarang ia menggantungkan dirinya hanya kepada Allah. Hal ini dengan jelas dalam pemberian nama “Yohanes” sesuai dengan pesan sang malaikat yang menampakkan diri kepadanya di Bait Suci (Luk 1:63; bdk. Luk 1:13), padahal ketika Elisabet memberitahukan bahwa nama “Yohanes” itulah yang harus diberikan kepada anaknya, mereka yang hadir mengatakan bahwa “tidak ada di antara sanak-saudara keluarga Zakharia yang bernama Yohanes” (lihat Luk 1:61).

Apa yang terjadi dengan Zakharia dapt juga terjadi dengan diri kita apabila kita membuka hati kita bagi rencana Allah untuk membangkitkan kita ke alam surgawi. Ketika Yohanes berseru, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!” (Mat 3:2), sebenarnya dia meminta agar orang-orang mengubah arah. Yohanes “memohon” orang-orang agar mengubah pikiran mereka tentang bagaimana menyenangkan Allah. Bahkan ada di antara kita yang percaya kepada Kristus dan tergoda untuk mencari solusi atas masalah-masalah yang kita hadapi dengan hanya mengandalkan kekuatan-kekuatan kita sendiri (determinasi sendiri, talenta sendiri dlsb.)

Allah kita adalah yang mahabaik, sumber segala kebaikan, satu-satunya yang baik. Ia ingin menyelamatkan diri kita, mengangkat kita ke atas untuk sampai ke hadirat-Nya. Dia akan syering segalanya dengan kita, hanya apabila kita percaya.

DOA: Datanglah, ya Imanuel, Raja Damai, Hakim Agung: Selamatkanlah kami, Tuhan dan Allah kami. Terpujilah nama-Mu yang kudus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Mal 3:1-4;4:5-6), bacalah tulisan yang berjudul “MENYAMBUT KEDATANGAN YESUS KE DALAM HATI HATI KITA” (bacaan tanggal 23-12-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2013.

Cilandak, 19 Desember 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MARIA: PERAWAN DAN IBU


MARIA: PERAWAN DAN IBU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Sabtu, 21 Desember 2013)

VISITASI - MARIA MENGUNJUNGI ELISABET - 1

Beberapa waktu kemudian berangkatlah Maria dan bergegas menuju sebuah kota di pegunungan Yehuda. Di situ ia masuk ke rumah Zakharia dan memberi salam kepada Elisabet. Ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring, “Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu. Siapakah aku ini sampai ibu Tuhanku datang mengunjungi aku? Sebab sesungguhnya, ketika salammu sampai di telingaku, anak yang di dalam rahimku melonjak kegirangan. Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana” (Luk 1:39-45).

Bacaan pertama: Kid 2:8-14 atau Zef 3:14-18a; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:2-3,11-12,20-21

Dalam kedalaman hati setiap perempuan yang baik terdapat suatu hasrat untuk kualitas-kualitas baik sebagai seorang perawan maupun seorang ibu. Dia ingin suatu hidup kemurnian yang bermakna, baik secara fisik maupun spiritual: suatu kemurnian pikiran, hati, dan kehendak. Ia juga memiliki hasrat menjadi seorang ibu, artinya memberikan hidup. Seorang ibu memberikan hidup secara fisik, malah secara spiritual, dengan memberikan nilai kepada kehidupan, dengan memberikan makna dan tujuan dan dorongan kepada orang-orang lain.

Dua imaji (gambar) atau cita-cita ini, perawan maupun ibu, tidaklah bertentangan satu sama lain, melainkan bersifat komplementer – saling mengisi/melengkapi – dalam karakter perempuan. Kedua hal tersebut memanifestasikan dua kecenderungan pribadi manusia: (1) penahanan/ pengurungan diri – menahan diri kita sendiri untuk menjadi setia terhadap orang lain, dan (2) pengosongan diri (Inggris: self-abandonment) – memberikan diri sendiri kepada banyak orang. Dua kualitas ini bersama-sama membentuk perempuan yang ideal.

Allah menyadari ideal ini secara sempurna terdapat dalam diri seorang pribadi: Ibunda-Nya, Maria. Maria ini adalah seorang perawan dan seorang ibu dalam artian yang sesungguhnya, baik secara fisik maupun spiritual. Allah memanggil setiap perempuan untuk secara spiritual menjadi perawan dan seorang ibu, tanpa peduli status kehidupannya: apakah menikah, tidak menikah, atau sebagai religus.

Baiklah kita melihat dua keutamaan indah perempuan ini, baik dalam diri Maria maupun Elisabet selagi mereka berjumpa di tempat kediaman Elisabet dan Zakharia di Ain Karem. Lihatlah bagaimana mereka membuka diri masing-masing bagi Allah. Bagaimana dengan penuh sukacita mereka telah menerima kesempatan-kesempatan dalam hidup mereka. Bagaimana mereka melihat dengan penuh penghargaan inspirasi-inspirasi ilahi dalam keheningan batin mereka dan bagaimana mereka telah memberikan yang terbaik bagi orang-orang lain.

Betapa indahlah seeorang perempuan yang mengkombinasikan dengan baik dan seimbang kedua kualitas berharga ini! Berbahagialah seorang perempuan yang menjaga baik-baik karunia hikmat dan kesehatan rohaninya, rasa percayanya, kemampuannya untuk memahami dan untuk menaruh simpati. Dengan demikian dia siap untuk menaruh hormat/respek kepada orang-orang lain, mendukung mereka, untuk berbela-rasa. Perempuan seperti itu memiliki kecerdikan untuk membawa segala sesuatu kepada tujuannya yang paling berguna, paling berbuah, paling indah dan paling berharga.

DOA: Bapa surgawi, Allah yang baik, sumber segala kebaikan, satu-satunya yang baik. Kata-kata berikut ini diucapkan oleh Elisabet kepada Maria. “Berbahagialah ia yang percaya, sebab apa yang dikatakan kepadanya dari Tuhan, akan terlaksana.” Ya Tuhanku dan Allahku, jadikanlah diriku anak-Mu yang baik dengan meneladan iman-kepercayaan sejati yang telah ditunjukkan oleh Bunda Maria. Terpujilah nama-Mu yang kudus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 1:39-45), bacalah tulisan yang berjudul “MELONJAK KEGIRANGAN” (bacaan tanggal 21-12-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 13-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2013.

Cilandak, 16 Desember 2013

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 126 other followers