MENJADI YANG TERAKHIR DARI SEMUANYA DAN PELAYAN DARI SEMUANYA

MENJADI YANG TERAKHIR DARI SEMUANYA DAN PELAYAN DARI SEMUANYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VII – Selasa, 22 Mei, 2018) 

Yesus dan murid-murid-Nya berangkat dari situ dan melewati Galilea, dan Yesus tidak mau hal itu diketahui orang; sebab Ia sedang mengajar murid-murid-Nya. Ia berkata kepada mereka, “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari sesudah Ia dibunuh Ia akan bangkit.” Mereka tidak mengerti perkataan itu, namun segan menanyakannya kepada-Nya.

Kemudian tibalah Yesus dan murid-murid-nya di Kapernaum. Ketika Yesus sudah di rumah, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya, “Apa yang kamu perbincangkan tadi di tengah jalan?” Tetapi mereka diam, sebab di tengah jalan tadi mereka bertengkar tentang siapa yang terbesar di antara mereka. Lalu Yesus duduk dan memanggil kedua belas murid itu. Kata-Nya kepada mereka, “Jika seseorang ingin menjadi yang pertama, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.”  Lalu Yesus mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, kemudian Ia memeluk anak itu dan berkata kepada mereka, “Siapa saja yang menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Siapa yang menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku.” (Mrk 9:30-37) 

Bacaan Pertama: Yak 4:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 55:7-11,23 

“Jika seseorang ingin menjadi yang pertama, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya” (Mrk 9:35).

Petikan sabda Yesus ini barangkali merupakan sabda yang paling menantang dalam Injil. Kita semua mengetahui bahwa kita dimaksudkan untuk melayani, …… namun menjadi pelayan dari semuanya? Mudahlah untuk kita menjadi penuh keutamaan/kebajikan ketika menghadapi seseorang yang nyaman/enak bagi kita berelasi dengannya. Akan tetapi bagaimana kalau kita harus berurusan dengan orang-orang yang “berbeda” dengan kita? Mungkin saja mereka berasal dari budaya yang berbeda, memiliki tradisi iman yang berbeda, atau menganut nilai-nilai yang berbeda. Bisa juga mereka adalah orang-orang yang cacat fisik dan/atau menderita penyakit yang menakutkan kita. Atau mungkin saja karena mereka adalah orang-orang tidak mengenakkan untuk menjadi teman bergaul. Jika kita cukup lama memikirkan hal ini, maka kita dapat bertanya kepada diri kita sendiri, “Bagaimana aku harus melakukannya dengan baik seturut kehendak Allah?”

Sebenarnya kita tidak perlu mencari jauh-jauh untuk memperoleh jawabannya. Yesus, sang Guru agung, memberikan kepada kita visual aid guna membantu kita memahami diri-Nya. Dia menggunakan seorang anak kecil untuk mengingatkan kita bahwa mereka yang biasa kita sepelekan, yang kita pikir tidak ada artinya, paling akhir, atau “berbeda” sesungguhnya sangat dekat dengan diri-Nya. Pada kenyataannya, orang-orang kecil (wong cilik) ini sesungguhnya adalah Yesus yang menyamar: “Siapa saja yang menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku” (Mrk 9:37). Yesus dapat saja menggunakan seseorang yang sudah tua dalam usia, seorang pengemis, atau seseorang yang sedang mengalami pergumulan pribadi dalam batinnya, namun hakekat pesan-Nya adalah sama: “Segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku”  (Mat 25:40).

Yesus dapat saja tidak mengatakan kepada kita untuk pergi keluar melayani setiap orang yang kita temui. Namun jelaslah bahwa Dia menantang kita untuk mengubah cara kita memandang orang-orang lain. Apabila kita melihat wajah-Nya dalam wajah orang-orang yang kita temui, apakah dia kaya atau miskin, sehat wal’afiat atau sedang sakit-sakitan – maka kita tidak akan merasa gundah apakah kita  “besar” atau “kecil” dalam Kerajaan Surga. Kita tidak akan melihat pelayanan sebagai suatu beban melainkan sebagai sesuatu untuk dinikmati dengan penuh sukacita.

Apabila kita (anda dan saya) mempunyai kesulitan untuk menemukan Tuhan Yesus dalam diri seseorang yang kita temui, barangkali kita perlu menemukannya dalam diri kita sendiri dulu. Jika kita merasa lelah untuk mengasihi dengan kekuatan kita sendiri, marilah kita memohon kepada Tuhan Yesus untuk mengisi diri kita dengan kekuatan-Nya dan belas kasih-Nya. Terang Roh Kudus yang menyinari kita akan mentransformasikan visi kita. Orang-orang yang tadinya susah/tidak cocok menurut pandangan kita akan menjadi lebih mudah untuk kita kasihi. Tidak seperti sebelum-sebelumnya, kita pun akan mempunyai suatu bela-rasa terhadap mereka. Ada lagu barat yang liriknya a.l. berbunyi: “Nothing looks the same through the eyes of love” – Tidak ada sesuatu pun yang kelihatan sama melalui mata cinta.

DOA: Tuhan Yesus, berikanlah mata-Mu kepadaku, agar aku dapat melihat sesamaku seperti Engkau melihat mereka. Berikanlah hati-Mu kepadaku, agar aku dapat mengasihi mereka dengan kasih-Mu.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 9:30-37), bacalah tulisan yang berjudul “PELAYAN DARI SEMUANYA” (bacaan tanggal 22-5-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak,  20 Mei 2018 [HARI RAYA PENTAKOSTA] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

MENGEMBANGKAN IMAN YANG MATANG

MENGEMBANGKAN IMAN YANG MATANG

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VII – Senin, 21 Mei 2018)

Ketika Yesus, Petrus, Yakobus dan Yohanes kembali pada murid-murid lain, mereka melihat orang banyak mengerumuni murid-murid itu, dan beberapa ahli Taurat sedang bersoal jawab dengan mereka. Pada saat orang banyak itu melihat Yesus, tercenganglah mereka semua dan bergegas menyambut Dia. Lalu Yesus bertanya kepada mereka, “Apa yang kamu persoalkan dengan mereka?” Jawab seorang dari orang banyak itu, “Guru, anakku ini kubawa kepada-Mu, karena ia kerasukan roh yang membisukan dia. Setiap kali roh itu menyerang dia, roh itu membantingkannya ke tanah; lalu mulutnya berbusa, giginya berkertak dan tubuhnya menjadi kejang. Aku sudah meminta kepada murid-murid-Mu, supaya mereka mengusir roh itu, tetapi mereka tidak dapat.” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Hai kamu orang-orang yang tidak percaya, sampai kapan Aku harus tinggal di antara kamu? Sampai kapan aku harus sabar terhadap kamu? Bawalah anak itu ke mari!”

Lalu mereka membawanya kepada-Nya. Waktu roh itu melihat Yesus, ia segera mengguncang-guncangkan anak itu, dan anak itu terpelanting ke tanah dan terguling-guling, sedang mulutnya berbusa. Lalu Yesus bertanya kepada kepada ayah anak itu, “Sudah berapa lama ia mengalami ini?” Jawabnya, “Sejak masa kecilnya. Dan seringkali roh itu menyeretnya ke dalam api untuk membinasakannya. Tetapi jika Engkau dapat berbuat sesuatu, tolonglah kami dan kasihanilah kami.” Jawab Yesus, “Katamu: Jika Engkau dapat? Segala sesuatu mungkin bagi orang yang percaya!” Segera ayah anak itu berteriak, “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!” Ketika Yesus melihat orang banyak makin datang berkerumun, Ia menegur roh jahat itu dengan keras, “Hai kau roh yang menyebabkan orang menjadi bisu dan tuli, Aku memerintahkan engkau, keluarlah daripada anak ini dan jangan merasukinya lagi!” Lalu keluarlah roh itu sambil berteriak dan mengguncang-guncang anak itu dengan hebat. Anak itu kelihatannya seperti orang mati, sehingga banyak orang yang berkata, “Ia sudah mati.” Tetapi Yesus memegang tangan anak itu dan membangunkannya, lalu ia berdiri.

Ketika Yesus masuk ke rumah, dan murid-murid-Nya sendirian dengan Dia, bertanyalah mereka kepada-Nya, “Mengapa kami tidak dapat mengusir roh itu?” Jawab-Nya kepada mereka, “Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan doa.” (Mrk 9:14-29) 

Bacaan Pertama: Yak 3:13-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:8-10,15

Setiap saat dalam kehidupan-Nya, Yesus menaruh kepercayaan kepada Bapa di surga seperti anak-anak, dan ini dilakukan-Nya secara radikal. Ketergantungan-Nya kepada Bapa memberikan kepada-Nya kuasa untuk senantiasa melakukan kehendak Bapa.

Markus menempatkan mukjizat (yang dibuat oleh Yesus atas diri anak yang dirasuki roh jahat) itu dalam konteks yang lebih luas perjalanan-Nya ke Yerusalem, suatu “perjalanan kemuridan/pemuridan” (journey of discipleship: Mrk 8:31-10:52) yang sarat dengan pengajaran-pengajaran Yesus bagi para murid-Nya pada waktu itu dan hari ini juga. Peristiwa itu tidak hanya menunjukkan otoritas Yesus, melainkan juga mengungkapkan satu dimensi yang lain lagi dari kemuridan/pemuridan. Tatkala ayah dari anak yang dirasuki roh jahat itu mendekati Yesus, ia mengungkapkan pengharapannya yang sudah tergoncang dan hampir habis, “Jika Engkau dapat berbuat sesuatu, tolonglah kami dan kasihanilah kami” (Mrk 9:22). Yesus menantang sikap orang itu dengan sebuah janji: “Segala sesuatu mungkin bagi orang yang percaya!” (Mrk 9:23). Ini merupakan sebuah undangan untuk ikut ambil bagian dalam rasa percaya Yesus sendiri kepada Bapa surgawi. Tanggapan orang itu merupakan sebuah contoh bagi semua orang Kristiani yang sedang bergumul dengan iman: “Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!” (Mrk 9:24). Karena orang itu dengan jujur menanggapi sabda Yesus, maka Yesus pun menyembuhkan anaknya.

Sebagai tambahan dari pelajarannya mengenai iman, cerita ini juga menggemakan sesuatu yang bernuansa eskatologis. Dalam cerita ini diindikasikan adanya ketegangan antara dua aspek kerajaan Allah, yaitu aspek kerajaan Allah yang “sudah ada sekarang” dan aspek kerajaan Allah “yang belum/akan datang”. Kita masih ingat, bahwa sebelum itu kedua belas murid-Nya telah diberi amanat oleh Yesus untuk mewartakan kerajaan Allah dan mereka telah berhasil mengusir roh-roh jahat (lihat Mrk 6:13). Akan tetapi, kali ini mereka gagal dalam upaya mereka untuk mengusir roh jahat keluar dari anak itu (Mrk 9:18). Yesus menjelaskan: “Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan doa” (Mrk 9:29). Jadi, di sini Yesus mengindikasikan bahwa para murid perlu bertumbuh dalam kepercayaan, walaupun mereka telah mengalami sebagian dari pemerintahan Allah. Markus menginginkan para pembaca Injilnya untuk menyadari, bahwa seperti kedua belas murid, mereka dipanggil untuk mengembangkan suatu iman yang matang (dewasa) selagi mereka menantikan kedatangan kerajaan Allah dalam kepenuhannya.

Tulisan Markus ini juga menggemakan kebangkitan Yesus. Setelah dibebaskan dari kuasa roh jahat, anak itu kelihatan seperti orang mati (lihat Mrk 9:26). Kemudian Yesus memegang tangan anak itu dan membangunkannya (lihat Mrk 9:27). Para pakar Kitab Suci mengatakan, bahwa terminologi dalam bahasa Yunani yang digunakan oleh Markus merupakan suatu pertanda dari kebangkitan Yesus dan merujuk kepada satu aspek lagi dari kemuridan/pemuridan: Orang-orang Kristiani kadang-kadang dapat merasa tak berdaya (Inggris: powerless) dan seakan sudah kehilangan kehidupan (lifeless), tetapi bahkan mulai sekarang juga, Yesus membebaskan kita dan mengangkat kita kepada hidup baru, suatu pekerjaan yang akan dipenuhi pada hari terakhir kelak.

DOA: Tuhan Yesus, kami rindu untuk mencicipi kepenuhan kerajaan-Mu. Tolonglah kami agar dapat percaya kepada-Mu secara lebih mendalam lagi, sehingga dengan demikian kami dapat berdiri di atas iman yang matang dan mampu untuk memberi kesaksian tentang kenyataan kehadiran-Mu di tengah-tengah kami. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 9:14-29), bacalah tulisan dengan judul “TIDAK DAPAT DIUSIR KECUALI DENGAN DOA” (bacaan untuk tanggal 21-5-18), dalam situs/blog  http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak,  17 Mei 2018 [Peringatan S. Paskalis Baylon, Bruder Fransiskan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MENYAMBUT KEDATANGAN ROH KUDUS

MENYAMBUT KEDATANGAN ROH KUDUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, HARI RAYA PENTAKOSTA – Minggu, 20 Mei 2018)

Ketika tiba hari Pentakosta, mereka semua berkumpul di satu tempat. Tiba-tiba terdengarlah bunyi dari langit seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti lidah api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Lalu mereka semua dipenuhi dengan Roh Kudus dan mulai berbicara dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk dikatakan. Waktu itu di Yerusalem tinggal orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit. Ketika terdengar bunyi itu, berkerumunlah orang banyak. Mereka terkejut karena mereka masing-masing mendengar orang-orang percaya itu berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri. Mereka semua tercengang-cengang dan heran, lalu berkata, “Bukankah mereka semua yang berkata-kata itu orang Galilea? Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berbicara dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa tempat kita dilahirkan; kita orang Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia, Prigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah Libia yang berdekatan dengan Kirene, pendatang-pendatang dari Roma, baik orang Yahudi maupun penganut agama Yahudi, orang Kreta dan orang Arab, kita mendengar mereka berbicara dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah.” (Kis 2:1-11) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 104:1ab.24ac.29bc-30.31.34; Bacaan Kedua: Gal 5:16-25; Bacaan Injil: Yoh 15:26-27;16:12-15 

“Datanglah, Roh Kudus!”  Seringkah anda pernah mendengar doa ini? Barangkali begitu seringnya, sehingga anda tidak merasakan lagi bahwa anda sesungguhnya sedang berbicara kepada Allah. Akan tetapi, pada hari raya yang agung ini, marilah kita berani untuk menemukan kembali betapa beraninya doa permohonan ini!

Apakah ada yang lebih layak dan pantas pada Hari Raya Pentakosta ini daripada menyambut kedatangan Roh Kudus secara sederhana dan penuh kerendahan hati seperti yang dilakukan oleh para rasul sekitar 2.000 tahun lalu di Yerusalem? Apakah ada cara yang lebih layak dan pantas untuk berdoa pada hari ini daripada secara sederhana mengulang-ulang doa singkat tadi: “Datanglah, Roh Kudus!”, percaya bahwa Allah mendengar dan menjawab doa kita itu. Walaupun kelihatannya “tolol” dan repetitif, “don’t worry, be happy!” Permohonan-permohonan sederhana seperti ini dapat menjadi sangat penuh kuat-kuasa. Teruslah berdoa, “Datanglah, Roh Kudus”, dan lihatlah pemikiran-pemikiran, imaji-imaji, atau emosi-emosi apa yang mengalir ke dalam hati anda. Kita dapat merasa yakin bahwa apabila semua itu adalah pemikiran-pemikiran yang baik dan menyangkut hal-hal yang Ilahi, maka Roh Kudus berada di belakangnya.

Pendekatan Yesus terhadap anak-anak sangatlah sederhana. Dia bersabda: “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan halang-halangi mereka, sebab orang-orang seperti inilah yang memiliki Kerajaan Allah. Siapa saja yang tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya.” Lalu Ia memeluk anak-anak itu dan sambil meletakkan-Nya di atas mereka Ia memberkati mereka (Mrk 10:14-16). Semua itu jauh dari komplikasi, namun sungguh menyentuh hati – baik bagi anak-anak itu dan para orangtua mereka. Demikian pula, ketika kita berdoa dengan kata-kata sederhana, “Datanglah, Roh Kudus!”, kita sebenarnya berperilaku seperti anak-anak kecil. Kita percaya kepada Allah, menaruh pengharapan dalam diri-Nya, dan menghadap hadirat-Nya untuk berkat-berkat-Nya.

Pencurahan Roh seperti apa yang akan Allah berikan kepada kita (anda dan saya) apabila kita menyambut Roh Kudus secara sederhana? Dia dapat memenuhi diri kita dengan pemahaman mendalam tentang kasih Allah sehingga kita mengenal serta mengalami bahwa Dia sungguh nyata dalam suatu cara yang baru. Dia dapat menunjukkan kepada kita belas kasih yang begitu mendalam sehingga kita pun sampai bertelut penuh syukur dan bersembah sujud kepada-Nya. Roh Kudus yang sama dapat membawa kita kepada air mata pertobatan, atau menggerakkan kita untuk menari penuh sukacita dan kebebasan. Roh Kudus juga dapat melakukan sesuatu yang samasekali tidak diharap-harapkan – namun tetap indah-menakjubkan. Oleh karena itu, marilah kita masing-masing pada hari ini datang menghadap Allah sebagai seorang anak kecil: murni, sederhana, dan terbuka. Kita tidak tahu apa yang telah dipersiapkan oleh Allah untuk dilakukan-Nya bagi anak-anak-Nya pada hari yang penuh dengan rahmat dan kuasa surgawi?

DOA: Datanglah, Roh Kudus! 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 15:26-27; 16:12-15), bacalah tulisan yang berjudul “PERANAN SANG PENOLONG” (bacaan tanggal 20-5-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 17 Mei 2018 [Peringatan S. Paskalis Baylon] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS MELAKUKAN BANYAK KEBAIKAN LAIN JUGA DI LUAR YANG TERCATAT DALAM INJIL

 YESUS MELAKUKAN BANYAK KEBAIKAN LAIN JUGA DI LUAR YANG TERCATAT DALAM INJIL

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VII Paskah – Sabtu, 19 Mei 2018)

OSCCap and OSCCap: Peringatan S. Krispinus dr Viterbo, Bruder Kapusin

 

Ketika Petrus berpaling, ia melihat bahwa murid yang dikasihi Yesus sedang mengikuti mereka, yaitu murid yang pada waktu mereka sedang makan bersama duduk dekat Yesus dan yang berkata, “Tuhan, siapakah dia yang akan menyerahkan Engkau?” Ketika Petrus melihat murid itu, ia berkata kepada Yesus, “Tuhan, bagaimana dengan dia ini?” Jawab Yesus, “Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: Ikutlah Aku.” Lalu tersebarlah kabar di antara saudara-saudara itu bahwa murid itu tidak akan mati. Tetapi Yesus tidak mengatakan kepada Petrus bahwa murid itu tidak akan mati, melainkan, “Jikalau Aku menghendaki supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu.”

Dialah murid yang bersaksi tentang semuanya ini dan yang telah menuliskannya dan kita tahu bahwa kesaksiannya itu benar.

Masih banyak lagi hal-hal lain yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, kupikir dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu. (Yoh 21:20-25) 

Bacaan Pertama: Kis 28:16-20,30-31; Mazmur Tanggapan: Mzm 11:4-5,7 

Kitab-kitab Injil adalah anugerah dari Allah bagi kita semua, diinspirasikan oleh Roh   Kudus dan ditulis pada masa Gereja awal, agar kita dapat percaya bahwa Yesus adalah Putera Allah dan Juruselamat dunia (Yoh 20:31). Kitab-kitab Injil ini tidak memuat semua mukjizat Yesus, melainkan memberi kesaksian tentang kedatangan Yesus sebagai seorang manusia, tentang ajaran-ajaran-Nya dan mukjizat-mukjizat yang dibuat-Nya, dan akhirnya tentang kematian dan kebangkitan-Nya, semuanya itu dengan satu  tujuan: Agar kita dapat ikut ambil bagian dalam hidup-Nya. Karena itu kita membaca bahwa Yesus melakukan banyak hal lain juga, hal-hal yang tidak termasuk/tercatat dalam kitab-kitab Injil itu (Yoh 21:25).

Yesus melakukan banyak lagi hal-hal lain di luar yang diceritakan dalam kitab-kitab Injil, dan oleh Roh Kudus-Nya, Dia terus melakukan banyak hal lagi setelah kematian, kebangkitan dan kenaikan-Nya ke surga. Yesus tidak pernah berhenti bekerja, bahkan sampai sekarang. Umat Kristiani dari abad ke abad – melalui kuat-kuasa Roh Kudus – telah memberi kesaksian tentang kekuatan-Nya, kasih-Nya dan kemuliaan-Nya. Misalnya, khotbah-khotbah Santo Yohanes Krisostomos [c. 345-407] di Konstantinopel menghidupkan kembali isi kitab-kitab Injil, sehingga menarik umat semakin dekat dengan Kristus. Pada saat Santo Fransiskus dari Assisi [1182-1226] merangkul kemiskinan dan menolak potensi warisan besar dari ayahnya, sebenarnya dia mengikuti bimbingan Roh Kudus dan memberi kesaksian tentang kuat-kuasa Allah untuk membawa sukacita, bahkan dalam keadaan yang paling miskin dan sulit sekali pun.

Santa Elizabeth Ann Setton [1774-1821] memberi kesaksian tentang Yesus ketika dia mengajar anak-anak miskin dan mengubah status sosialnya menjadi insan yang hidup dalam kedinaan dan kesederhanaan. Karena karya Roh Kudus dalam dirinya, dia diberdayakan untuk memberikan kesaksian yang dinamis tentang Kristus dalam peranannya sebagai seorang ibu rumah tangga, sebagai seorang ibu, seorang janda dan seorang pendidik di Amerika Serikat yang baru saja merebut kemerdekaannya dari penjajah Inggris.

Setiap hari, selagi kita menyerahkan diri kita kepada pimpinan Roh Kudus, maka kita pun dapat menambah bab-bab baru dalam cerita-cerita Injil. Yesus berjanji bahwa melalui Roh Kudus, kita akan mampu untuk melakukan hal-hal yang bahkan lebih besar daripada yang telah dilakukan oleh-Nya, apabila kita percaya dan mentaati-Nya (Yoh 14:12). Melalui diri kita, Roh Kudus  akan memampukan Yesus untuk melayani dan menyatakan kemuliaan Bapa kepada dunia pada zaman kita ini. Benarlah apa yang ditulis oleh Santo Yohanes Penginjil: “Masih banyak lagi hal-hal lain yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, kupikir dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu” (Yoh 21:25). Memang tidak mungkinlah dunia ini dapat memuat seluruh kitab yang memberi kesaksian tentang karya mulia Allah dalam kehidupan umat-Nya!

DOA: Roh Kudus, hembuskanlah nafas kehidupan-Mu ke dalam diri kami agar kami dapat memberi kesaksian Injil. Berdayakanlah kami agar dapat melakukan karya-karya yang dilakukan oleh Yesus. Semoga hidup kami dapat menjadi bab-bab baru dalam tawarikh keselamatan dari Allah. Terpujilah Allah Tritunggal Mahakudus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 21:20-25), bacalah tulisan yang berjudul “MENGASIHI YESUS DAN TETAP SETIA PADA SABDA-NYA” (bacaan tanggal 19-5-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 16 Mei 2018 [Peringatan S. Margareta dr Cortona] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

YESUS JUGA MENGAJUKAN PERTANYAAN YANG SAMA KEPADA KITA MASING-MASING

YESUS JUGA MENGAJUKAN PERTANYAAN YANG SAMA KEPADA KITA MASING-MASING

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VII Paskah – Jumat, 18 Mei 2018)

Keluarga Besar Fransiskan: Pesta/Peringatan S. Feliks dr Cantalice, Bruder Kapusin

Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih daripada mereka ini?” Jawab Petrus kepada-Nya, “Benar Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya, “Peliharalah anak-anak domba-Ku.” Kata Yesus lagi kepadanya untuk kedua kalinya, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku? Jawab Petrus kepada-Nya, “Benar Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya, “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Petrus pun merasa sedih karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya, “Apakah engkau mengasihi Aku?” Dan ia berkata kepada-Nya, “Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya, “Peliharalah domba-domba-Ku. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi kalau engkau sudah tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki.” Hal ini dikatakan-Nya untuk menyatakan bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah. Sesudah mengatakan demikian Ia berkata kepada Petrus, “Ikutlah Aku”. (Yoh 21:15-19) 

Bacaan Pertama: Kis 25:13-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-2,11-12,19-20

Apabila kita mau berempati dengan Petrus, mencoba untuk menempatkan diri kita dalam posisinya, barangkali kita dapat memahami rasa sedih yang dirasakan olehnya ketika Yesus yang sudah bangkit itu bertanya kepada dirinya sebanyak tiga kali, “Apakah engkau mengasihi Aku?” (Yoh 21:15-17). Pertanyaan yang diajukan Yesus sebanyak tiga kali itu sungguh membuat Petrus merasa kecil dan tentunya pedih-sakit dalam hati, namun pertanyaan-pertanyaan Yesus ini juga memberi sinyal bahwa Yesus menerima Petrus sebagai kepala para rasul (Latin: primus inter pares; yang utama dari yang sama). Afirmasi Petrus sebanyak tiga kali mengimbangi penyangkalannya sebanyak tiga kali pula terhadap Yesus sebelum penyaliban-Nya.

Inilah hasil dari pengamatan kita, namun inti masalahnya adalah bahwa Yesus menginginkan kasih dari Petrus, sebagaimana Dia menginginkan kasih kita. Setiap hari, dengan bela rasa yang sama tulusnya, Yesus bertanya kepada diri kita masing-masing, “Apakah engkau mengasihi Aku?” 

Kehidupan kita dapat dengan mudah menjadi penuh dengan rasa cemas, rasa takut dan kekurangan-kekurangan lainnya. Kita dapat begitu disibukkan dengan upaya-upaya untuk menghadapi tantangan-tantangan hidup sampai-sampai kita kehilangan fokus pada apa yang sesungguhnya merupakan persoalan yang paling penting untuk dipecahkan. Di tengah setiap kegiatan, kita harus mohon kepada Roh Kudus untuk mengingatkan kita, bahwa hal yang paling penting adalah apakah kita sungguh mengasihi Yesus.

“Kasih menutupi banyak sekali dosa” (1Ptr 4:8).  Kata-kata ini dipandang sebagai kata-kata Petrus sendiri, tentunya dengan alasan yang baik. Yesus menantang dan membujuk Petrus kembali ke dalam suatu relasi dengan diri-Nya melalui pertanyaan sederhana, “Apakah engkau mengasihi Aku?” Kasih adalah suatu kharisma ilahi yang memiliki kuasa untuk membuka hati orang-orang agar mampu menerima bahkan kasih yang lebih banyak lagi. Semakin banyak kita mengasihi Allah, semakin banyak pula kita dimurnikan dari kecenderungan-kecenderungan gelap kodrat kedosaan kita. Kasih memperluas perspektif kita dan mengangkat pikiran kita sampai kepada tataran realitas Allah. Kasih bahkan memberikan kepada kita kuasa untuk membebaskan mereka yang diperbudak oleh rasa takut.

Yesus wafat di kayu salib untuk memenangkan kasih kita, bukan ketaatan buta kita. Allah yang sama – yang menciptakan kita masing-masing dengan suatu kehendak bebas – akan mengundang kita menghadap hadirat-Nya dengan suatu pertanyaan yang bersifat terbuka (open-ended question): “Apakah engkau mengasihi Aku?” Jika kita menjawab “ya”, Dia pun mengutus Roh-Nya secara berlimpah. Kita memasuki suatu relasi yang sebenarnya direncanakan Allah sejak awal dunia ini. Jalannya tidak selalu mulus. Pada kenyataannya, Yesus mengingatkan sebelumnya kepada Petrus “bagaimana Petrus akan mati dan memuliakan Allah” (Yoh 21:19). Namun demikian kita dapat mengenal dan mengalami suatu sukacita yang istimewa kalau tinggal bersama dengan Tuhan sepanjang hidup kita.

DOA: Tuhan Yesus, aku mengasihi Engkau. Tolonglah aku bertumbuh semakin dekat dengan diri-Mu, sehingga aku dapat menerima apa saja yang Engkau minta untuk kukerjakan. Aku ingin menjadi pelayan-Mu dan sahabat-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 21:15-19), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS BERSABDA KEPADA PETRUS: GEMBALAKANLAH DOMBA-DOMBA-KU” (bacaan tanggal 18-5-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 15 Mei 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DOA YANG MENGUNGKAPKAN KASIH YESUS KEPADA PARA MURID-NYA

DOA YANG MENGUNGKAPKAN KASIH YESUS KEPADA PARA MURID-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VII Paskah – Kamis, 17 Mei 2018)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Paskalis Baylon, Biarawan (Bruder)

“Bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku melalui pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu: Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka menjadi satu dengan sempurna, agar dunia tahu bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku.

Ya Bapa, Aku mau supaya, di mana pun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku, agar mereka memandang kemuliaan-Ku yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan. Ya Bapa yang adil, memang dunia tidak mengenal Engkau, tetapi Aku mengenal Engkau, dan mereka ini tahu bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku; dan Aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka dan Aku akan memberitahukannya, supaya kasih yang Engkau berikan kepada-Ku ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka.” (Yoh 17:20-26)

Bacaan Pertama: Kis 22:30;23:6-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 16:1-2,5,7-11 

Sampai berapa jauh seseorang dapat bersikap tidak mementingkan diri sendiri? Yesus tahu bahwa tidak lama lagi tibalah saat bagi-Nya untuk menderita sengsara dan mengalami kematian yang mengerikan, namun Ia mohon kepada Bapa-Nya untuk mencurahkan kasih ilahi-Nya ke atas diri kita para murid-Nya – kasih sama yang Bapa sendiri yang berikan bagi Yesus dari sejak kekal. Dalam doa-Nya, Yesus berkata: “Aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka …… supaya kasih yang Engkau berikan kepada-Ku ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka” (Yoh 17:26). Sungguh mengharukan dan membuat diri kita merasa “kecil” tatkala merenungkan bahwa Yesus sungguh mengasihi kita, lebih mementingkan diri kita daripada diri-Nya sendiri pada malam sebelum sengsara dan wafat-Nya itu.

Sekarang, marilah kita mengambil waktu sejenak untuk merenungkan betapa dalam Allah mengasihi Putera-Nya. Karena kasih kepada Putera-Nya itulah Allah menyerahkan seluruh ciptaan kepada Kristus: “segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia” (Kol 1:16). Allah sangat mengasihi-Nya sehingga pada hari baptisan Yesus oleh Yohanes Pembaptis, dengan penuh sukacita Ia membuat pengumuman: “Inilah anak-Ku yang terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan” (Mat 3:17).

Pengalaman Yesus yang berkelanjutan dan intim akan kasih Bapa yang memotivasi setiap tindakan-Nya selagi Dia berada bersama para murid-Nya: “Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau Ia tidak melihat Bapa mengerjakannya; …… Bapa mengasihi Anak dan Ia menunjukkan kepada-Nya segala sesuatu yang dikerjakan-Nya sendiri” (Yoh 5:19-20). Yesus begitu dipenuhi dengan kasih Bapa sehingga Dia mampu merangkul segala kekejaman dan kepedihan salib untuk memenangkan keselamatan kekal bagi kita.

Oleh kuat-kuasa salib-Nya, Yesus telah menyalibkan kodrat kedosaan kita dan membebaskan kita agar dapat dipenuhi dengan kasih Allah sama yang Dia sendiri alami. Ini adalah suatu kasih yang penuh gairah, yang cukup memiliki kuasa untuk membuat lunak hati yang paling keras sekali pun dan mentransformasikan setiap orang menjadi seorang pencinta Allah. Ini adalah kasih yang bersifat all-inclusive, yang mampu mematahkan setiap penghalang berupa prasangka, penolakan dan rasa curiga yang membuat kita terpisah satu sama lain. Ini adalah kasih yang kekal yang tidak pernah gagal: Allah senantiasa tersenyum memandangi kita, Ia hanya ingin memberkati dan memperkuat diri kita apabila kita kembali kepada-Nya.

DOA: Roh Kudus, pada hari-hari menjelang Hari Raya Pentakosta, penuhilah diri setiap umat Allah dengan pengalaman akan kasih-Nya. Gantikanlah rasa takut dan keserakahan kami dengan kasih kepada Allah Tritunggal Mahakudus, sehingga kami dapat menjadi satu dengan Allah dan satu dengan semua saudari dan saudara kami. Bangkitkanlah kami sebagai saksi-saksi bagi dunia, mengundang setiap orang untuk menemukan kasih yang memiliki daya transformasi dalam diri Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 17:20-26), bacalah tulisan yang berjudul “AGAR SUPAYA MEREKA SEMUA MENJADI SATU” (bacaan tanggal 17-5-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 15 Mei 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TETAP KUAT BERAKAR DALAM YESUS

TETAP KUAT BERAKAR DALAM YESUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VII Paskah – Rabu, 16 Mei 2018)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Margareta dr Cortona, OFS

 “Jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi pengawas untuk menggembalakan jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan darah-Nya sendiri. Aku tahu bahwa sesudah aku pergi, serigala-serigala yang ganas akan masuk ke tengah-tengah kamu dan tidak akan menyayangkan kawanan itu. Bahkan dari antara kamu sendiri akan muncul beberapa orang, yang dengan ajaran palsu berusaha menarik murid-murid dari jalan yang benar supaya mengikut mereka. Sebab itu berjaga-jagalah dan ingatlah bahwa selama tiga tahun, siang malam, aku tanpa henti-hentinya menasihati kamu masing-masing dengan mencucurkan air mata. Sekarang aku menyerahkan kamu kepada Tuhan dan kepada firman anugerah-Nya yang berkuasa membangun kamu dan menganugerahkan kepada kamu warisan yang ditentukan bagi semua orang yang telah dikuduskan-Nya. Perak atau emas atau pakaian tidak pernah aku ingini dari siapa pun juga. Kamu sendiri tahu bahwa dengan tanganku sendiri aku telah bekerja untuk memenuhi keperluanku dan keperluan kawan-kawan seperjalananku. Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Lebih berbahagia memberi daripada menerima.” Sesudah mengucapkan kata-kata itu Paulus berlutut dan berdoa bersama-sama dengan mereka semua. Lalu menangislah mereka semua tersedu-sedu dan sambil memeluk Paulus, mereka berulang-ulang mencium dia. Mereka sangat berdukacita terlebih-lebih karena ia mengatakan bahwa mereka tidak akan melihat mukanya lagi. Kemudian mereka mengantar dia ke kapal. (Kis 20:28-38)

Bacaan Injil: Yoh 17:11b-19; Mazmur Tanggapan:68:29-30.33-36

Kis 20:28-35 merupakan bagian dari kata-kata perpisahan Paulus dengan para penatua di Efesus (Kis 20:18-35). Paulus sedang dalam perjalanannya menuju Yerusalem, meskipun dia tahu sekali bahwa perjalanannya kali ini dapat berakibat pada pemenjaraan dirinya demi pewartaan Kabar Baik Yesus Kristus yang selama ini dilakukannya. Karena perjalanan ini melintas juga ke dekat kota Efesus, maka Paulus memutuskan untuk bertemu dengan para penatua Gereja di sana, agar dia dapat mengucapkan satu-dua patah kata perpisahan kepada mereka. Memang menakjubkanlah untuk melihat Paulus, yang walaupun pada waktu itu sedang menghadapi ancaman riil terhadap hidupnya sendiri, tokh dia masih saja memperhatikan orang-orang yang telah diinjili olehnya daripada kebutuhan dan hasratnya sendiri.

Paulus adalah evangelist sejati! Jelas rasul Kristus ini tidak hanya mengajarkan bahwa lebih berbahagialah memberi daripada menerima, melainkan juga mempraktekkan sendiri apa yang diajarkannya. Inilah leadership by example yang langka terlihat di hampir segala bidang, termasuk bidang keagamaan, dan yang sangat didambakan oleh ‘orang-orang biasa’ di bawah, bahkan pada zaman kita ini. Gaya kepemimpinan ini harus dimiliki oleh setiap pelayan Sabda, tanpa kecuali.

Sejak saat pertobatannya yang dramatis itu, Paulus – tentunya dengan bantuan Roh Kudus yang berdiam dalam dirinya dan selalu bertindak-tanduk di bawah bimbingan-Nya – terus-menerus berupaya  untuk memajukan kerajaan Allah. Cintakasihnya kepada Yesus merupakan motivasinya guna melakukan perjalanan ke banyak tempat untuk mewartakan Kabar Baik, sambil membuat banyak penyembuhan dan mukjizat serta tanda-heran lainnya, dan … membangun jemaat, yaitu Gereja Kristus. Perjalanan-perjalanan misionernya tidaklah selalu mudah. Berbagai kontroversi dan penganiayaan kelihatannya selalu menyertainya ke mana saja dia pergi – namun bukanlah Paulus kalau dia menjadi gentar.

Dengan penuh iman, Paulus pernah menulis: “Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesengsaraan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Seperti ada tertulis: ‘Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan’  [Mzm 44:23]. Tetapi dalam semuanya itu kita lebih daripada orang-orang yang menang, melalui Dia yang telah mengasihi kita. Sebab aku yakin bahwa baik maut, maupun hidup, baik melaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita” (Rm 8:35-39). Bagi Santo Paulus, demi pewartaan Kabar Baik Yesus Kristus, segala sakit-penyakit dan penderitaan yang dialaminya memang pantas diterimanya. Bagi Paulus sangat pentinglah dan urgent-lah untuk sharing dengan orang-orang lain perihal kuasa Allah yang telah mengubah hidupnya.

Yesus berjanji bahwa apabila kita melakukan apa saja dalam melayani-Nya, maka kita akan diberikan ganjaran yang luar biasa, baik sekarang maupun di masa depan kelak. Ia malah  telah membangun dalam hati kita suatu hasrat untuk mengasihi dan melayani. Kalau begitu halnya, bagaimana seharusnya kita melayani? Tidak banyak dari kita yang dapat menjadi misionaris-misionaris keliling seperti Paulus. Namun, setiap hari menawarkan kepada kita kesempatan-kesempatan untuk membuang hasrat-hasrat pribadi kita sendiri, dan mulai melayani berbagai kebutuhan orang-orang lain di sekitar kita. Barangkali anda dapat melayani Allah dengan doa-doa syafaat untuk mereka yang sedang sakit, para pemimpin Gereja dlsb.  Mungkin anda dapat menggunakan waktu anda untuk mengunjungi anggota keluarga atau teman yang sedang berbaring sakit di Rumah Sakit.

Di mana pun – seturut petunjuk Roh-Nya – anda melihat ada suatu kebutuhan, penuhilah kebutuhan itu. Kita harus selalu ingat, bahwa pelayanan dapat merupakan manifestasi kasih Allah sendiri. Itulah sebabnya mengapa sangat vital-lah bagi kita semua untuk tetap kuat-berakar dalam Yesus melalui doa dan liturgi. Yakinlah, bahwa dengan Dia berdiam dalam diri kita, kita sungguh dapat ikut membangun kerajaan-Nya di atas bumi ini!

DOA: Tuhan Yesus, berikanlah kepadaku sebuah hati yang berbela rasa dan penuh kasih untuk melayani orang-orang lain. Terima kasih, ya Tuhan! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 17:11b-19), bacalah tulisan yang berjudul “MENANTIKAN KEDATANGAN ROH KUDUS” (bacaan tanggal 16-5-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2010) 

Cilandak, 14 Mei 2018

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS