KUNCI MASUK KE DALAM KEBAHAGIAAN KEKAL

KUNCI MASUK KE DALAM KEBAHAGIAAN KEKAL

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VIII Senin, 27 Februari 2017) 

kemuridan-orang-muda-kaya-dan-penguasa-mau-ikut-yesusPada waktu Yesus meneruskan perjalanan-Nya, datanglah seseorang berlari-lari mendapatkan Dia dan sambil bertelut di hadapan-Nya ia bertanya, “Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus, “Mengapa kaukatakan Aku baik?” Tak seorang pun yang baik selain Allah saja. Engkau tentu mengetahui perintah-perintah ini: Jangan membunuh, jangan berzina, jangan mencuri, jangan memberi kesaksian palsu, jangan menipu orang, hormatilah ayahmu dan ibumu!” Lalu kata orang itu kepada-Nya, “Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku.” Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya, “Hanya satu lagi kekuranganmu: Pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku.” Mendengar perkataan itu mukanya muram, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya.

Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya di sekeliling-Nya dan berkata kepada mereka, “Alangkah sukarnya orang yang banyak harta masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Murid-murid-Nya tercengang mendengar perkataan-Nya itu. Tetapi Yesus berkata lagi, “Anak-anak-Ku, alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah. Lebih mudah seekor unta melewati lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Mereka makin tercengang dan berkata seorang kepada yang lain, “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” Yesus memandang mereka dan berkata, “Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu mungkin bagi Allah.” (Mrk 10:17-27) 

Bacaan Pertama: Sir 17:24-29; Mazmur Tanggapan: Mzm 32:1-2,5-7 

Ini adalah paradoks yang mengambil tempat sentral dalam Kekristenan (Kristianitas): Kita kehilangan yang kita miliki dan malah memperoleh keuntungan dari apa yang kita berikan! Ketika seorang anak muda yang sudah memiliki segala kenyamanan materiil bertanya kepada Yesus tentang kunci masuk ke dalam kebahagiaan kekal, inilah kebenaran yang harus dia hadapi. Orang ini memiliki segalanya yang diperlukan, kecuali satu: “kemurahan hati” (lihat Mrk 10:21).

Sayang sekali, anak muda ini takut melepaskan apa yang dimilikinya. Jelas-nyata di sini, dia belum pernah belajar rahasia besar bahwa memberi itu lebih baik daripada menerima. Dia tidak pernah belajar, bahwa setiap kita bermurah hati, maka kita malah lebih bersyukur untuk berkat-berkat yang telah dicurahkan Allah atas diri kita. Setiap kali kita memberi tanpa pamrih, artinya bersumber dari kebaikan hati, menunjukkan kepada kita betapa diperkayanya kita dalam hal-hal yang justru patut dimiliki: bela rasa, kerendahanhati (kedinaan), dan kebaikan. Kemurahan hati juga menunjukkan kepada kita bahwa semua orang diciptakan setara, dalam hal martabat dan nilai, tanpa melihat status sosial, latar belakang ras, atau status ekonomi dalam masyrakat. Akhirnya, kalau kita keluar untuk menolong “wong cilik” ciptaan Allah, maka kita menyentuh jantung-hati Allah.

Inilah yang terjadi dengan Santo Martinus dari Tours [316-397], seorang perwira tentara Romawi kelahiran Hungaria yang dibesarkan di Italia. Pada suatu malam dalam musim dingin, Martinus disertai pasukannya sedang dalam perjalanan dinas. Di tengah jalan ia bertemu dengan seorang pengemis yang sedang menggigil kedinginan. Ia tidak membawa uang, lalu dia melepas mantolnya dan dengan pedangnya dibelahnya mantol itu menjadi dua. Yang separuh diberikannya kepada pengemis itu. Martinus sudah lama tertarik untuk menjadi seorang Kristiani, tetapi sampai saat itu dia masih magang (katekumen). Pada malam harinya Martinus – dalam mimpinya – melihat Yesus di surga bersama para malaikat. Yesus mengenakan mantol yang telah diberikannya kepada pengemis tadi. Seorang malaikat bertanya: “Mengapa Engkau mengenakan mantol yang sudah rusak itu?” Yesus berkata kepada malaikat itu: “Dia seorang magang, tetapi sudah memberikan separuh mantolnya kepada-Ku”. Apa yang dilihatnya dalam mimpi membuat sadar Martinus, bahwa dengan memberi mantolnya kepada seorang pengemis yang kedinginan, sebenarnya dia memperhatikan Yesus sendiri (baca: Mat 25:31-46). Niatnya untuk menjadi seorang Kristiani sungguh diteguhkan oleh penglihatan dalam mimpinya. Tak lama kemudian ia pun dibaptis.

Bagaimana kita dapat bertumbuh dalam kemurahan hati? Pertama-tama  berterima kasihlah kepada Allah untuk kemurahan hati-Nya. Kedua, kita senantiasa harus berdoa untuk mereka yang membutuhkan. Ketiga, kita harus jeli melihat kesempatan-kesempatan untuk menolong seseorang yang sedang berjuang; turut serta dalam berbagai kegiatan karitatif dll. Marilah kita mohon kepada Allah agar memenuhi diri kita dengan kemurahan hati dan bela rasa terhadap sesama kita, sehingga dengan demikian kita akan menemukan kekayaan-kekayaan yang tidak dapat dibeli dengan uang.

DOA: Tuhan Yesus, siapa yang dapat mengalahkan kemurahan hati-Mu? Berikanlah kepadaku sebuah hati yang penuh kemurahan dan bela rasa. Terima kasih, ya Tuhan. Terpujilah nama-Mu selama-lamanya. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 10:17-27), bacalah tulisan yang berjudul “TIDAK MUNGKIN BAGI MANUSIA” (bacaan tanggal 27-2-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2017. 

(Tulisan ini besumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak, 24 Februari 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS  

BAPA SURGAWI

BAPA SURGAWI

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA VIII [TAHUN A], 26 Februari 2017  

560jesus“Tak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.

Karena itu, Aku berkata kepadamu: Janganlah khawatir tentang hidupmu, mengenai apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah khawatir pula tentang tubuhmu, mengenai apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting daripada makanan dan tubuh itu lebih penting daripada pakaian? Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu di surga. Bukankah kamu jauh lebih berharga daripada burung-burung itu? Siapakah di antara kamu yang karena kekhawatirannya dapat menambah sehasta saja pada jalan hidupnya? Mengapa kamu khawatir mengenai pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan memintal, namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannya pun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. Jadi, jika demikian Allah mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya? Karena itu, janganlah kamu khawatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di surga tahu bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kehendak-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Karena itu, janganlah kamu khawatir tentang hari esok, karena hari esok mempunyai kekhawatirannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” (Mat 6:24-34) 

Bacaan Pertama: Yes 49:14-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 62:2-3,6-9; Bacaan Kedua: 1Kor 4:1-5

Betapa sering Yesus mengatakan kepada para murid-Nya (termasuk kita) bahwa kita mempunyai seorang Bapa yang mahatahu dan mahakasih. Malah Yesus melangkah lebih jauh lagi dengan mengatakan, bahwa kita tidak perlu merasa khawatir tentang apa yang hendak kita makan, minum atau pakai, karena “Bapamu yang di surga tahu bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kehendak-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Mat 6:32-33).

Pada waktu belajar di sekolah dahulu, barangkali kita diajarkan bahwa “Allah adalah Pengada tertinggi” dan “Roh murni” dan “Pencipta yang mahakuasa.” Yang paling sulit dicerna adalah bahwa Allah adalah “Bapa” kita, yang sungguh-sungguh adalah ‘seorang’ ayah dalam artiannya yang paling riil dan indah. Artinya, Dia – yang adalah Khalik langit dan bumi itu – mengenal diriku dan mengasihiku secara total-lengkap, setiap aspek keberadaanku dan segalanya yang kubutuhkan, jauh lebih baik daripada yang aku sendiri ketahui serta pahami.

Yesus mendesak terus bahwa Bapa-Nya itu adalah Bapa kita semua, “yang ada di surga”. Yesus ingin meyakinkan kita bahwa Bapa surgawi sangat mengasihi kita, seperti Yesus sendiri mengasihi kita (Yoh 17:23). Putera datang untuk menyatakan Bapa-Nya (Yoh 17:6). Ketika mengajar di Bait Allah, Yesus menanggapi salah satu pertanyaan orang-orang Farisi: “Baik Aku, maupun Bapa-Ku tidak kamu kenal. Sekiranya kamu mengenal Aku, kamu mengenal juga Bapa-Ku” (Yoh 8:19). Dalam salah satu kesempatan Yesus bersabda: “Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya (Mat 11:27). Dalam doa-Nya kepada Bapa surgawi sebelum sengsara dan kematian-Nya, Yesus berkata: “Segala firman yang Engkau sampaikan kepada-Ku telah Kusampaikan kepada mereka dan mereka telah menerimanya. Mereka tahu benar-benar bahwa Aku datang dari Engkau dan mereka percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku” (Yoh 17:8). Kepada para pemuka Yahudi, Yesus bersabda: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang mendengar perkataan-Ku dan percaya kepada Dia yang mengutus Aku, ia mempunyai hidup yang kekal dan tidak turut dihukum, sebab ia sudah pindah dari dalam maut ke dalam hidup” (Yoh 5:24).

Dalam kasih Bapa dan Yesus bagi kita, kita memang dapat menemukan kehidupan yang sejati. “Bapa mengasihi Anak dan Ia menunjukkan kepada-Nya segala sesuatu yang dikerjakan-Nya sendiri,  bahkan Ia akan menunjukkan kepada-Nya pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar lagi daripada pekerjaan-pekerjaan itu, sehingga kamu menjadi heran. Sebab sama seperti Bapa membangkitkan orang-orang mati dan menghidupkannya, demikian juga Anak menghidupkan siapa saja yang dikehendaki-Nya” (Yoh 5:20-21). Ke dalam kehidupan dan kasih inilah Yesus telah menerima kita: “Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu” (Yoh 15:9).

DOA: Bapa surgawi, kasih dan perhatian-Mu terhadap kami sungguh tak terhingga; sungguh total-lengkap, intim dan mempribadi bagi kami masing-masing – anak-anak-Mu dalam Yesus Kristus. Dosa-dosa kami telah Kaubersihkan, dan Engkau telah melakukan semua dengan kasih-sayang yang hanya dapat diberikan oleh seorang ayah yang sejati. Pulihkanlah kami kepada kehidupan yang sejati – yang benar di mata-Mu, ya Bapa. Jagalah kami agar jangan pernah lupa bahwa dengan kekuatan kami sendiri, kami tidak berarti apa-apa. Kami sungguh membutuhkan tangan-Mu yang kuat untuk menuntun kami berjalan setiap hari. Amin.   

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 6:24-34), bacalah tulisan yang berjudul “BERDOA, BEKERJA DAN BEREKREASI” (bacaan tanggal 26-2-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak, 23 Februari 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

YESUS INGIN AGAR ANAK-ANAK ITU DATANG KEPADA-NYA

YESUS INGIN AGAR ANAK-ANAK ITU DATANG KEPADA-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VII – Sabtu, 25 Februari 2017) 

yesus-dan-anak-anak-jesus-and-childrenLalu orang membawa anak-anak kecil kepada Yesus, supaya Ia menyentuh mereka; akan tetapi murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu. Melihat hal itu, Yesus marah dan berkata kepada mereka, “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan halang-halangi mereka, sebab orang-orang seperti inilah yang memiliki Kerajaan Allah. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya.” Lalu Ia memeluk anak-anak itu dan sambil meletakkan tangan-Nya di atas mereka ia memberkati mereka. (Mrk 10:13-16) 

Bacaan Pertama: Sir 17:1-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:13-18 

“Ayah, ke sini donk dan betulin mobil-mobilanku yang rusak.” “Ayah, aku baru saja jatuh dari sepedaku dan lututku berdarah, kasih obat merah donk.” Pendekatan anak-anak terhadap kehidupan adalah seperti ini. Orangtua mereka adalah keamanan, pelindung dan penghiburan mereka. Mereka berharap bahwa semua kebutuhan mereka akan dipenuhi, dan mereka pun percaya bahwa mereka dapat bergerak secara bebas, tak terhalangi dalam lingkaran cinta yang telah diciptakan orangtua bagi mereka.

Menerima kerajaan Allah adalah seperti ini. Bapa surgawi yang sangat mengasihi kita menempatkan kita dalam sebuah dunia yang diciptakan-Nya dan dilihat-Nya baik. Ia mendengar kita apabila kita berseru kepada-Nya dan Ia sungguh ingin memenuhi segala kebutuhan kita. Ini adalah beberapa dari kebenaran-kebenaran yang diajarkan Yesus kepada kita. Apa saja yang dilakukan Yesus adalah sebuah pelajaran tentang kasih Allah kepada umat-Nya. Lebih dari segalanya, Dia ingin agar kita mengetahui betapa amannya kita berada di bawah pemeliharaan-Nya yang penuh kasih. Dalam bacaan singkat Injil hari ini yang menggambarkan Yesus memberkati anak-anak kecil, Ia mengajar kita bagaimana seharusnya kita melakukan pendekatan kepada kerajaan Allah, “Datanglah seperti seorang anak kecil dan terimalah cintakasih-Ku.” 

Namun para murid belum juga memahami hal ini dan mereka mencoba menghalang-halangi orang-orang yang membawa anak-anak mereka kepada Yesus. Barangkali maksud para murid “baik” juga, yaitu menjaga agar Guru mereka tidak kehabisan energi, sehingga dapat sepenuhnya melakukan pelayanan-Nya yang dilihat mereka “lebih penting” daripada melayani anak-anak, misalnya menyembuhkan orang-orang sakit, menghadapi perlawanan dari orang-orang Farisi dan para pemuka agama Yahudi, atau meluangkan waktu yang cukup dengan para murid-Nya. Pada waktu anak bungsu kami masih kecil (catatan: sekarang dia sudah menikah dan bekerja sebagai seorang manager di sebuah perusahaan asuransi asing), kami menghadiri Misa di sebuah gereja di luar Jakarta. Banyak orangtua lain yang juga membawa anak-anak mereka. Pada suatu saat ada seorang anak yang menangis. Rasanya tidak begitu mengganggu, namun imam selebran (kebetulan di tengah-tengah homili-nya) langsung menghardik dengan kerasnya dan meminta semua anak-anak dibawa keluar. Para orangtua pun dengan taat membawa anak-anak mereka ke luar gereja. Rasanya kalau Yesus yang berdiri di depan itu, tidak akan terjadilah peristiwa tidak mengenakkan itu. Mari kita renungkan, betapa sering kita bersikap dan berperilaku seperti para murid Yesus itu, yang tidak memahami apa yang penting di mata Allah. Oleh karena itu baiklah bagi kita untuk secara tetap berdoa, “Tuhan, baharuilah pikiran-pikiran kami sehingga kami dapat belajar dari sabda-Mu dan contoh-contoh dari kehidupan-Mu!”

Yesus ingin berjumpa dengan kita masing-masing secara pribadi. Tidak ada orang yang terlalu kecil atau tidak berarti di mata-Nya. Yesus ingin mengajar kita masing-masing secara pribadi mengenai kasih Bapa-Nya. Inilah sebenarnya hal-ikhwal kerajaan Allah atau kerajaan Surga. Para murid secara salah berpikir bahwa anak-anak menghalang-halangi jalan mereka guna mencapai hal-hal yang lebih besar. Pandangan Yesus berbeda sekali: “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan halang-halangi mereka” (Mrk 10:14). Marilah kita dengan bebas datang kepada Bapa surgawi dalam doa, dengan keyakinan bahwa Dia akan menyambut kita dengan tangan-tangan terbuka. Kalau kita melakukannya, kita akan memiliki bela rasa terhadap orang-orang lain, seperti Dia terhadap kita.

DOA: Bapa surgawi, aku mengasihi Engkau dan ingin semakin dekat pada-Mu setiap hari. Jagalah agar aku tetap aman berada di bawah perlindungan dan pemeliharaan-Mu lewat kehadiran-Mu. Ajarlah aku agar dapat menjadi seperti seorang anak kecil dalam Kerajaan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 10:13-16), bacalah tulisan yang berjudul “SEPERTI SEORANG ANAK KECIL” (bacaan tanggal 25-2-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak, 23 Februari 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PENCERMINAN KASIH ALLAH DAN KOMITMEN-NYA KEPADA UMAT-NYA

PENCERMINAN KASIH ALLAH DAN KOMITMEN-NYA KEPADA UMAT-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VII – Jumat, 24 Februari 2017)

Stained Glass Depicting Jesus Christ March 4, 2004

 

Dari situ Yesus berangkat ke daerah Yudea dan ke daerah seberang Sungai Yordan dan orang banyak datang lagi berkerumun di sekeliling Dia; dan seperti biasa Ia mengajar mereka lagi. Lalu datanglah orang-orang Farisi, dan untuk mencobai Yesus mereka bertanya kepada-Nya, “Apakah seorang suami diperbolehkan menceraikan istrinya?” Tetapi jawab-Nya kepada mereka, “Apa perintah Musa kepada kamu?” Jawab mereka, “Musa memberi izin untuk menceraikannya dengan membuat surat cerai.” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Justru karena kekerasan hatimulah maka Musa menuliskan perintah ini untuk kamu. Padahal pada awal dunia, Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan, sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan dua lagi, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.”

Ketika mereka sudah di rumah, murid-murid itu bertanya lagi kepada Yesus tentang hal itu. Lalu kata-Nya kepada mereka, “Siapa saja yang menceraikan istrinya lalu kawin dengan perempuan lain, Ia berzina terhadap istrinya itu. Jika si istri menceraikan suaminya dan kawin dengan laki-laiki lain, ia berzina.” (Mrk 10:1-12) 

Bacaan Pertama: Sir 6:5-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:12,16,18,27,34-35 

Ketika Yesus mengatakan kepada orang-orang Farisi bahwa Allah menginginkan agar manusia dipersatukan sebagai “satu daging”, maka maksud-Nya di sini bukanlah untuk memberi suatu peraturan tidak fleksibel yang akan membuat dua orang tetap bersama tanpa memperhitungkan situasi-situasi yang mereka hadapi. Di sini sebenarnya Yesus berbicara mengenai hasrat Bapa surgawi bahwa hidup perkawinan merupakan suatu pencerminan kasih Allah dan komitmen-Nya kepada umat-Nya.

Barangkali salah satu dari ilustrasi yang paling menyentuh hati adalah Kitab Hosea (Perjanjian Lama). Dalam Kitab ini, YHWH Allah memerintahkan nabi Hosea untuk menikahi seorang PSK yang bernama Gomer. Setelah setia untuk sementara waktu dan melahirkan tiga orang anak bagi sang nabi, Gomer kembali hobi atau cara-cara hidup penuh kedosaan yang lama. Bayangkan betapa dalam penderitaan dari luka-luka batin yang dialami Hosea, pertama-tama terhadap Gomer yang telah mengkhianatinya, dan kedua juga terhadap YHWH Allah yang memerintahkannya untuk menikahi Gomer.

Dalam keadaan terluka itu, betapa berat rasanya hati Hosea ketika lagi-lagi diperintahkan YHWH Allah untuk tetap mengambil Gomer sebagai istrinya? Akan tetapi, setia dan taat kepada perintah Allah, Hosea berdamai kembali dengan Gomer. Kebanyakan kita tentunya melihat tindakan Hosea itu sebagai sesuatu yang hampir tidak mungkin. Mungkin akan lebih mudah kiranya apabila Gomer yang datang untuk berdamai, namun YHWH Allah memerintahkan agar Hosea-lah yang melakukan inisiatif rekonsiliasi dengan istrinya itu.

YHWH Allah berfirman kepada Hosea untuk mengasihi Gomer seperti Dia mengasihi Israel: “Pergilah lagi, cintailah perempuan yang suka bersundal dan berzinah, seperti YHWH juga mencintai orang Israel sekalipun mereka berpaling kepada allah-allah lain dan menyukai kue kismis” (Hos 3:1). Berabad-abad kemudian, ketika Yesus menebus umat manusia lewat kematian-Nya di kayu salib, maka firman YHWH kepada Hosea digenapi. Yesus mengetahui benar, bahwa dengan lebih memilih berhala-berhala ketimbang diri-Nya – apakah itu uang, status, atau kemandirian – kita dapat bertindak layaknya si Gomer. Seperti juga Hosea, Yesus taat kepada Allah dan membayar biaya yang tinggi untuk menebus kita-manusia dan membawa kita kembali kepada-Nya. Yesus adalah mempelai laki-laki kita. Dia berkomitmen kepada kita dengan cintakasih yang bersifat kekal dan penuh kesetiaan. “Perkawinan”-Nya dengan kita (Umat-Nya = Gereja) adalah persatuan akhir yang dirancang oleh Allah, dan yang tidak dapat dipisahkian lagi.

Sekarang, baiklah kita bertanya kepada diri kita masing-masing.  “Apakah ada ‘berhala-berhala’ yang ada di antara diriku dan Yesus?” “Adakah ‘kekasih-kekasih’ lain yang Allah minta kepadaku untuk dibuang?” Saudari dan Saudaraku, janganlah menunda-nunda. Mempelai laki-laki sedang memanggilmu dengan tangan-tangan yang terbuka lebar!

DOA: Tuhan Yesus, terpujilah Engkau selama-lamanya karena penebusan-Mu. Terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau adalah mempelai laki-laki bagi kami semua. Semoga kami tetap setia kepada-Mu sebagaimana Engkau selalu setia kepada kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 10:1-12), bacalah tulisan yang berjudul “TENTANG PERCERAIAN” (bacaan tanggal 24-2-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak, 21 Februari 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KATA-KATA KERAS YESUS

KATA-KATA KERAS YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Polikarpus, Uskup Martir – Kamis, 23 Februari 2017) 

560jesusSesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang memberi kamu minum secangkir air oleh karena kamu adalah pengikut Kristus, ia tidak akan kehilangan upahnya.”

“Siapa saja yang menyebabkan salah satu dari anak-anak kecil yang percaya kepada-Ku ini berbuat dosa, lebih baik baginya jika sebuah batu giling diikatkan pada lehernya lalu ia dibuang ke dalam laut. Jika tanganmu menyebabkan engkau berbuat dosa, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan tangan buntung daripada dengan utuh kedua tanganmu dibuang ke dalam neraka, ke dalam api yang tak terpadamkan; [di tempat itu ulat-ulatnya tidak mati, dan api tidak terpadamkan.] Jika kakimu menyebabkan engkau berbuat dosa, penggallah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam hidup dengan timpang, daripada dengan utuh kedua kakimu dicampakkan ke dalam neraka; [di tempat itu ulat-ulatnya tidak mati, dan api tidak terpadamkan.] Jika matamu menyebabkan engkau berdosa, cungkillah, karena lebih baik engkau masuk ke dalam Kerajaan Allah dengan bermata satu daripada dengan bermata dua dicampakkan ke dalam neraka, di mana ulat-ulatnya tidak mati dan api tidak terpadamkan.

Karena setiap orang akan digarami dengan api.

Garam memang baik, tetapi jika garam menjadi hambar, dengan apakah kamu mengasinkannya?

Hendaklah kamu senantiasa mempunyai garam dalam dirimu dan hidup berdamai seorang dengan yang lain.” (Mrk 9:41-50) 

Bacaan Pertama: Sir 5:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 1:1-4,6

Dalam bacaan hari ini kita melihat sebuah koleksi dari kata-kata keras Yesus, yang satu sama lain terhubung secara lepas. Sebagian besar kata-kata keras ini merupakan peringatan-peringatan terkait skandal, menyebabkan orang lain berdosa, dan sebab-sebab dari dosa yang melibatkan diri kita. Kelompok ketiga dari kata-kata keras ini mengacu kepada berbagai macam penderitaan dan penganiayaan yang harus dilalui/dialami oleh para murid Yesus dalam hidup mereka di dunia.

Apa yang dikatakan Yesus adalah bahwa kita harus memegang prioritas-prioritas kita dengan tegas. Kita harus mempunyai nilai keselamatan jika kita mau menghindari segala sesuatu yang menyebabkan nilai keselamatan tersebut menjadi berantakan, baik dalam kehidupan orang-orang lain maupun dalam kehidupan kita sendiri.

Untuk menanamkan hal ini dalam diri para murid-Nya (termasuk anda dan saya di abad ke-21 ini), Yesus menggunakan beberapa imaji yang sangat kuat. Misalnya, “Siapa saja yang menyebabkan salah satu dari anak-anak kecil yang percaya kepada-Ku ini berbuat dosa, lebih baik baginya jika sebuah batu giling diikatkan pada lehernya lalu ia dibuang ke dalam laut” (Mrk 9:42). “… setiap orang akan digarami dengan api” (Mrk 9:49). Murid-murid Yesus yang sejati akan ditempa dan dikuatkan melalui pengejaran dan penganiayaan. Ketika Markus mencatat kata-kata Yesus ini, sangat mungkin bahwa umat Kristiani telah mengalami berbagai pengejaran dan penganiayaan. Inilah yang membuat kata-kata Yesus sungguh relevan bagi kita semua, para murid-Nya.

Apakah kita menyadari bahwa ada kemungkinan kata-kata kita atau tindakan-tindakan kita menggiring seseorang ke dalam jurang dosa? Yesus menginginkan agar kita melihat dengan sungguh-sungguh peri kehidupan kita. Apakah kita senantiasa memberikan pengaruh positif atas diri orang-orang lain?

Bagaimana dengan prioritas-prioritas kita? Kita mengetahui bahwa hal-hal tertentu, kegiatan-kegiatan tertentu adalah dosa. Apakah kita cukup memberi nilai atas relasi kita dengan Tuhan guna menghindari hal-hal dan kegiatan-kegiatan dimaksud dengan penuh kesadaran?

Memang kini kita di Indonesia tidak sedang berada di tengah gelombang pengejaran dan penganiayaan seperti yang dialami oleh para Saudari dan Saudara kita di tempat-tempat lain di dunia, namun dalam artian tertentu tanda-tanda yang mengarah ke situ sudah terasa. Walaupun seandainya tidak ada pengejaran dan penganiayaan yang mengancam kita, keselamatan kita berada dalam bahaya disebabkan oleh nilai-nilai duniawi yang terus saja mengganggu kita. Apakah kita sudah cukup ditempa dengan disiplin, dengan Sabda Allah untuk tetap hidup di dunia sebagai murid-murid Yesus yang setia?

DOA: Bapa surgawi, Engkau mengutus Putera-Mu, Yesus, guna menyelamatkan kami semua. Kami mengakui bahwa Ia adalah Tuhan dan Juruselamat kami. Oleh Roh Kudus, bentuklah kami menjadi murid-murid Yesus yang setia. Buatlah hati kami seperti hati-Nya. Kemuliaan kepada Bapa dan Putera dan Roh Kudus, seperti pada permulaan, sekarang, selalu, dan sepanjang segala abad. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 9:38-40), bacalah tulisan yang berjudul “MEMPUNYAI GARAM DALAM DIRI KITA” (bacaan tanggal 23-2-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2017. 

Cilandak, 20 Februari 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PETRUS YANG DIPILIH OLEH YESUS – PESTA TAKHTA SANTO PETRUS, RASUL – RABU, 22 FEBRUARI 2017

PETRUS YANG DIPILIH OLEH YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, PESTA TAKHTA SANTO PETRUS, RASUL – Rabu, 22 Februari 2017) 

pengakuan-petrus-siapa-yesusSetelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya, “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” Jawab mereka, “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, yang lain mengatakan: Elia dan yang lain lagi mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi.” Lalu Yesus bertanya kepada mereka, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Jawab Simon Petrus, “Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Kata Yesus kepadanya, “Berbahagialah engkau Simon anak Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di surga. Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya, kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di surga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di surga.” (Mat 16:13-19) 

Bacaan Pertama: 1 Ptr 5:1-4; Mazmur Tanggapan: Mzm 23:1-6

Di dekat kota Kaisarea Filipi yang terletak di bagian utara sekali dari Israel, Yesus mengajukan sebuah pertanyaan yang bersifat sangat fundamental kepada para murid-Nya sehubungan pendapat orang tentang diri-Nya: “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” (Mat 16:13). Pendapat umum tentang Yesus itu sudah tinggi pada saat itu, namun tidak seorang pun mengakui Dia sebagai sang Mesias. Yesus sudah dikait-kaitkan dengan Yohanes Pembaptis dan para nabi besar Perjanjian Lama, a.l. Elia, Yeremia, dll.

Lalu Yesus bertanya  kepada para murid-Nya: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” (Mat 16:15). Sekarang giliran para muridlah untuk menjawab apa pendapat mereka sendiri tentang Yesus yang telah mereka ikuti untuk kurun waktu yang cukup lama. Seperti biasanya, Petrus mengambil fungsi sebagai “jubir” para murid (rasul), Petrus menjawab: “Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup!” (Mat 16:16). Jawaban Petrus ini adalah pengakuan penuh akan Yesus sebagai Mesias – utusan Allah yang sudah lama dinanti-nantikan – dan Anak (Putera) Allah yang hidup – artinya seorang Pribadi yang memiliki relasi intim dan istimewa dengan Allah Bapa dan menyatakan kasih Allah kepada orang-orang di dunia.

Pengakuan Petrus ini mempunyai tempat istimewa dalam Injil Matius. Ayat-ayat Mat 16:17-19 hanya terdapat dalam Injil Matius ini. Pengakuan Petrus ini adalah akibat dari pernyataan dari Allah Bapa sendiri (Mat 16:17), dan Yesus menjanjikan kepada sang pemimpin para rasul ini suatu peranan penting dalam pembentukan komunitas Kristiani yang kita sebut Gereja (Mat 16:18). Yesus akan memberikan kepada Petrus kunci Kerajaan Surga: Apa yang kauikat akan terikat di surga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di surga” (Mat 16:19; suatu kemungkinan alusi dengan Yes 22:15-25).  

Orang biasa mengatakan, bahwa kepada Petrus diberikan kunci-kunci kepada Kerajaan Surga dan otoritas untuk menggembalakan Gereja yang masih muda usia itu. Walaupun begitu, kita tidak boleh mengandaikan bahwa Petrus hanyalah seorang administrator. Petrus juga mewartakan Injil dan bekerja untuk memperkuat gereja-gereja lokal. Yang utama dalam hati Petrus ini adalah keprihatinan pembentukan Tubuh Kristus serta kesejahteraannya.

Yesus mengatakan kepada Petrus bahwa alam maut tidak akan menguasai Gereja (Mat 16:18). Hal ini telah terbukti kebenarannya. Tidak ada satu kekuatan pun, betapa jahat atau gelapnya, yang pernah berhasil menghancurkan Gereja yang didirikan oleh Kristus. Meskipun begitu, Gereja dapat diperlemah, teristimewa apabila umatnya tidak mengenal kebenaran Injil. Apabila hal ini terjadi, maka orang-orang Kristiani tidak dapat menghayati kehidupan yang sudah menjadi warisan mereka. Dan dunia pun mendapat kesan bahwa Allah itu jauh, mungkin hanya sekadar ide abstrak yang tidak atau sedikit saja memiliki nilai praktis.

Bilamana orang-orang tidak mengenal kuasa Injil, maka apa yang dapat mereka lakukan adalah meratapi kondisi dunia; mereka tidak dapat datang dengan solusi. Dengan berbicara mengenai dosa-dosa di dunia namun tidak mampu untuk mencerminkan kemuliaan Kristus, maka kita mencabut dunia dari kepenuhan firman Allah. Dengan memberikan solusi-solusi atas penyakit-penyakit sosial tanpa memproklamasikan kebenaran dan kasih Kristus, kita mencabut orang dari solusi-solusi yang berlaku untuk waktu lama. Gereja dimaksudkan sebagai kehadiran Kristus di dalam dunia. Kita semua dipanggil untuk menjadi Tubuh Kristus hari ini; kita melakukannya dengan mewartakan Injil dan menghayati kehidupan yang saleh dan suci. Oleh karena itu baiklah kita mewartakan Kabar Baik Yesus Kristus sedemikian sehingga orang-orang memandang Gereja sebagaimana semula diniatkan oleh Allah.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau mengingatkanku lagi ketika membaca Injil hari ini bahwa Engkau juga mengajukan pertanyaan yang sama kepadaku: “Siapakah Aku ini?” Aku percaya bahwa Engkau adalah Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamatku. Utuslah Roh Kudus-Mu untuk bekerja di dalam hatiku dan mengubah diriku seperti Engkau telah mengubah Petrus. Bangkitkanlah para pelayan Sabda seperti rasul agung ini, untuk pergi mewartakan Kabar Baik-Mu dan menjadi saksi-saksi dari kuasa-Mu yang mampu mengubah manusia. Terpujilah nama-Mu selalu, ya Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 16:13-19), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MEMILIH SEORANG NELAYAN BIASA-BIASA SAJA” (bacaan tanggal 22-2-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan tulisan saya pada tahun 2011)  

Cilandak, 20 Februari 2017  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS ?

PELAYAN DARI SEMUANYA

PELAYAN DARI SEMUANYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VII – Selasa, 21 Februari 2017) 

yesus-dan-anak-anak-jesus-with-little-oneYesus dan murid-murid-Nya berangkat dari situ dan melewati Galilea, dan Yesus tidak mau hal itu diketahui orang; sebab Ia sedang mengajar murid-murid-Nya. Ia berkata kepada mereka, “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari sesudah Ia dibunuh Ia akan bangkit.” Mereka tidak mengerti perkataan itu, namun segan menanyakannya kepada-Nya.

Kemudian tibalah Yesus dan murid-murid-nya di Kapernaum. Ketika Yesus sudah di rumah, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya, “Apa yang kamu perbincangkan tadi di tengah jalan?” Tetapi mereka diam, sebab di tengah jalan tadi mereka bertengkar tentang siapa yang terbesar di antara mereka. Lalu Yesus duduk dan memanggil kedua belas murid itu. Kata-Nya kepada mereka, “Jika seseorang ingin menjadi yang pertama, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.”  Lalu Yesus mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, kemudian Ia memeluk anak itu dan berkata kepada mereka, “Siapa saja yang menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Siapa yang menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku.” (Mrk 9:30-37) 

Bacaan Pertama: Sir 2:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 37:3-4,18-19,27-28,39-40 

Yesus bersabda: “Jika seseorang ingin menjadi yang pertama, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya” (Mrk 9:35). Yesus mengungkapkan disposisi hatinya yang fundamental dengan menggambarkan diri-Nya dan hidup-Nya sendiri sebagai seorang pelayan dari semuanya (lihat Luk 22:27; bdk. Yoh 13:4-15). Sebagai Putera Allah yang setia dan taat, Ia mau melayani Bapa-Nya dengan memenuhi semua tujuan dan rencana Bapa. Oleh karena itu, dengan penuh kemauan Ia menanggalkan kemuliaan-Nya dan merendahkan diri-Nya untuk menjadi seorang manusia (Flp 2:6-7). Dalam kondisi seperti itulah Yesus dengan sangat senang hati melayani Bapa-Nya – dengan ketaatan seorang hamba – bahkan sampai satu titik di mana Dia menyerahkan hidup-Nya demi keselamatan umat Allah (Flp 2:8). Sabda Yesus: “… Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mrk 10:45).

Dengan mengesampingkan kehendak-Nya sendiri dan memilih hidup sebagai seorang abdi yang taat kepada Bapa-Nya, Yesus tahu benar bahwa semuanya akan membawa-Nya kepada sengsara dan kematian-Nya (lihat Mrk 9:35). Namun demikian, Yesus dengan penuh kemauan memilih “jalan susah” ini demi sukacita yang disediakan bagi Dia (lihat Ibr 12:2), yaitu ketika Bapa akan membangkitkan-Nya dari alam maut dan membawa-Nya masuk ke dalam kemuliaan di surga. Sebagai seorang abdi paling sempurna (par excellence), Yesus menaruh hidup-Nya secara lengkap dan total ke dalam tangan Bapa-Nya.

Dalam khotbahnya di hari Pentakosta Kristiani yang pertama, Petrus mengatakan: “Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh melalui tangan bangsa-bangsa durhaka” (Kis 2:23). Jadi, Yesus dengan bebas setuju agar diri-Nya diserahkan Bapa-Nya ke dalam tangan orang-orang jahat, karena Dia menaruh kepercayaan penuh bahwa Bapa-Nya akan menyelamatkan Dia dari kematian (baca: Keb 2:18-20).

Seseorang yang dipilih Yesus dan bersedia mengikuti-Nya juga membuat hatinya menjadi serupa dengan hati-seorang-abdi yang dimiliki Guru dan Tuhan-nya, meneladani kedinaan serta ketaatan-Nya, mengesampingkan kehendaknya sendiri dan membuang segala kecenderungan untuk membuat dirinya menjadi pusat segalanya (self-centeredness). Seorang murid Yesus yang sejati haruslah seseorang yang hidupnya berpusat pada Allah (God-centered). Dalam menanggapi pertengkaran di antara para murid-Nya tentang siapa yang terbesar di antara mereka, Yesus mengajarkan kepada mereka bagaimana menerapkan prinsip ini dalam kehidupan mereka (lihat Mrk 9:33-34). Yesus mengajarkan bahwa  pikiran para murid, sikap dan perilaku mereka tidak menunjukkan hati seorang abdi/pelayan. Hati mereka penuh dengan ambisi dan rasa-iri serta kedengkian, hal mana menimbulkan perpecahan dan ketidak-teraturan (bdk. Yak 3:16). Ia mengajarkan para murid-Nya begini: “Jika seseorang ingin menjadi yang pertama, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya”  (lihat Mrk 9:35). Menjadi besar berarti memperhatikan kepentingan orang lain terlebih dahulu, tanpa merasa khawatir akan keadaan diri sendiri.

Untuk menjadi abdi atau pelayan Allah yang rendah hati, para murid harus berbalik dari hidup lama mereka yang mementingkan diri sendiri (dalam bahasa Inggris ada ungkapan begini: self-glorification dan self-serving ambitions). Menjadi abdi Allah juga berarti bahwa mereka harus menjadi abdi setiap orang – menerima semua orang, apa pun status dan posisi orang-orang itu dalam masyarakat – seperti orang menyambut dan menerima seorang anak yang tidak dapat berbuat apa-apa kepada mereka sebagai balasan (lihat Mrk 9:37).

Sebagai seorang Abdi yang sempurna, Yesus sangat senang-hati kalau ada kesempatan menolong orang-orang yang ada di sekelilingnya. Dipenuhi cintakasih Bapa, Dia hanya menginginkan untuk menyalurkan kasih Bapa itu kepada siapa saja yang ditemui-Nya. Dengan setiap penyembuhan yang dilakukan-Nya dan setiap kata yang disabdakan-Nya, Yesus berupaya untuk menarik orang-orang agar lebih dekat lagi dengan Bapa-Nya. Meskipun sudah mendekati jam kematian-Nya sendiri, hasrat utama Yesus adalah untuk berada bersama dengan para murid-Nya (lihat Luk 22:14-15), mengasihi mereka dan menolong mereka agar mampu menaruh kepercayaan kepada Bapa surgawi. Yesus juga mengajar bahwa manakala kita melayani orang lain, kita sesungguhnya melayani Dia (lihat Mat 25:40).

Pada malam sebelum sengsara dan wafat-Nya, setelah acara pembasuhan kaki, Yesus bersabda kepada para murid: “Aku telah memberikan memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu” (Yoh 13:15). Yesus meminta kita – para murid-Nya – untuk memiliki hati seorang abdi/pelayan. Artinya kita tidak boleh berupaya menguasai atau mengendalikan orang-orang lain, atau menginginkan agar orang lain melayani kita. Kita juga tidak boleh mengejar-ngejar status, posisi, kehormatan dan lain sebagainya. Sebaliknya kita harus rendah hati dan mengambil jalan perendahan Yesus, memperhatikan kepentingan orang lain terlebih dahulu (Flp 2:4) serta melayani kebutuhan mereka sebelum kebutuhan kita sendiri. Karunia yang dianugerahkan Yesus kepada para murid-Nya adalah hati seorang abdi/pelayan. Maukah saudari-saudara mohon kepada-Nya untuk menjadikan hati anda seperti hati-Nya?

Sampai hari ini Yesus dengan rendah hati masih mengetuk-ngetuk pintu hati kita. Dia begitu ingin melayani kita dengan masuk ke dalam kehidupan kita yang penuh luka ini, agar dapat menyembuhkan luka-luka kita serta membersihkan kita, dan akhirnya memperbaharui kita. Betapa rindu hati Yesus untuk melihat kita menyambut-Nya masuk.

DOA: Tuhan Yesus, Terima kasih untuk cintakasih-Mu yang tak bersyarat sehingga aku pun dapat dicurahi dengan kebaikan dan belaskasih-Mu. Aku sungguh ingin menyambut-Mu ke dalam hatiku. Bentuklah hatiku agar aku dapat melayani sesamaku dengan penuh sukacita, seperti Engkau juga memeliharaku dengan penuh sukacita ilahi. Ya Tuhan Yesus, buatlah agar hatiku menjadi seperti hati-Mu. Buatlah aku menjadi saluran berkat-Mu bagi sesamaku di mana saja. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 9:30-37), bacalah tulisan yang berjudul “HIDUP PELAYANAN” (bacaan tanggal 21-2-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan pada sebuah tulisan saya di tahun 2009) 

Cilandak,  20 Februari 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS