YESUS MEMINTA AGAR KITA TERUS BERJAGA-JAGA

YESUS MEMINTA AGAR KITA TERUS BERJAGA-JAGA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXI – Kamis, 25 Agustus 2016)

Keluarga Fransiskan: Peringatan/Pesta S. Ludovikus IX [1214-1270], Raja – Orang Kudus Pelindung OFS 

KESIAPSIAGAAN - LUK 12 35-40“Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang.

Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pada waktu mana pada malam hari pencuri akan datang, sudahlah pasti ia berjaga-jaga, dan tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar. Karena itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.”

“Siapakah hamba yang setia dan bijaksana, yang diangkat oleh tuannya atas orang-orangnya untuk memberikan mereka makanan pada waktunya? Berbahagialah hamba yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu ketika tuannya itu datang. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu Tuannya itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala miliknya. Akan tetapi, apabila hamba itu jahat dan berkata di dalam hatinya: Tuanku tidak datang-datang, lalu ia mulai memukul hamba-hamba lain, dan makan minum bersama-sama pemabuk-pemabuk, maka tuan hamba itu akan datang pada hari yang tidak disangkanya, dan pada saat yang tidak diketahuinya, dan akan membunuh dia dan membuat dia senasib dengan orang-orang munafik. Di sanalah akan terdapat ratapan dan kertak gigi.” (Mat 24:42-51) 

Bacaan Pertama: 1Kor 1:1-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 145:2-7 

Yesus meminta kita terus berjaga-jaga dan siap sedia karena kita sungguh tidak akan mengetahui saat kedatangan-Nya dalam kemuliaan kelak. (Mat 24:42-44). Yesus juga mendorong kita semua untuk terus melayani-Nya, meski dihadapkan dengan berbagai kesulitan dan godaan yang seberat apa pun juga. Dia mengatakan: “Berbahagialah hamba yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu ketika tuannya itu datang” (Mat 24:46). Memang perintah Yesus ini tidaklah mudah untuk dilaksanakan. Seperti hal-hal lainnya dalam kehidupan kita, kita pun dapat merasa lelah, kita ingin agar ada orang-orang lain yang menggantikan kita, atau hati kita menjadi ciut manakala hasil kerja itu tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Namun Yesus berjanji, apabila kita terus menekuni pekerjaan kita sebagai pelayan-Nya, maka kita semua akan diberkati.

Yesus tergantung kepada kita masing-masing untuk melanjutkan misi-Nya. Dia tidak lagi hadir di tengah-tengah kita secara fisik dan harus menggantungkan diri pada kita sebagai perpanjangan kaki dan tangan-Nya dalam dunia. Bukankah kita disebut ‘tubuh Kristus’? Tanpa keterlibatan kita yang aktif, kerajaan-Nya tidak akan bertumbuh-kembang secara optimal. Allah telah menganugerahkan kepada kita masing-masing seperangkat karunia dan talenta untuk kita gunakan dalam melakukan tugas pelayanan kita, namun kita tetap masih dapat memilih sendiri bagaimana akan menggunakan berbagai karunia dan talenta tersebut. Kita dapat saja menggunakan karunia dan talenta yang dianugerahkan kepada kita itu sebagaimana yang dilakukan “hamba yang jahat” (lihat Mat 24:48), yaitu untuk memuaskan diri-sendiri, atau kita dapat seperti “hamba yang setia dan bijaksana” (lihat Mat 24:45), yang bekerja sama dengan Roh Kudus dalam tugas besar membuat dunia ini siap untuk kedatangan kembali Yesus dalam kemuliaan-Nya pada akhir zaman.

jesus-christ-super-starAllah memanggil kita kepada suatu cara atau gaya hidup yang unik. Dunia mengagung-agungkan sukses dan kenikmatan duniawi tentunya, sehingga fokus perhatian orang-orang adalah pada sukses dan kenikmatan duniawi itu. Akan tetapi, Dia memanggil kita untuk memfokuskan perhatian kita kepada keberadaan kita sebagai “garam bumi” dan “terang dunia”. Yesus mengingatkan kita untuk tetap berjaga-jaga dan siap sedia untuk melayani, menghayati kehidupan kita seakan inilah hari terakhir, bukan karena rasa takut kita sedang tidak siap pada waktu Dia datang kembali, melainkan karena cintakasih kita dan hasrat mendalam untuk mengalami hidup kekal bersama Dia. Selama hidup-Nya di dunia Yesus banyak sekali membuat mukjizat dan tanda heran dan Ia mengatakan bahwa kita akan mampu melakukan bahkan hal-hal yang lebih besar daripada apa yang dilakukan-Nya (lihat Yoh 14:12). Yang harus kita lakukan cukup sederhana, yaitu belajar untuk bekerja sama dengan Roh Kudus dan memperkenankan-Nya membimbing kita dalam perjalanan hidup sehari-hari.

Anda mau pilih menjadi hamba yang seperti apa? Menjadi “hamba yang setia dan bijaksana” atau “hamba yang jahat”? Menjadi “hamba yang setia dan bijaksana” berarti menjadi seorang pribadi yang menyebarkan kebaikan Yesus kepada orang-orang lain. Anda telah dianugerahi kehendak bebas oleh Allah, sehingga sungguh bebas untuk memilih. Namun, ingatlah kata-kata Yesus, bahwa hamba yang didapatinya sedang melakukan pekerjaannya pada waktu Dia datang kembali, akan diberkati-Nya. Oleh karena itu, berjaga-jagalah selalu dan siap sedia. Carilah selalu kesempatan-kesempatan untuk melayani Tuhan kita!

DOA: Tuhan Yesus, aku telah mendengar seruan-Mu untuk tetap berjaga-jaga dan menjadi hamba yang baik dan bijaksana. Dengan pertolongan Roh Kudus-Mu, aku percaya bahwa aku tidak akan mengecewakan Engkau. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 24:42-51), bacalah tulisan yang berjudul “HAMBA YANG SETIA DAN BIJAKSANA” (bacaan tanggal 25-8-16), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak, 23 Agustus 2016 [Peringatan B. Berardus dari Offida, Biarawan Kapusin] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

AKAN MELIHAT HAL-HAL YANG LEBIH BESAR

AKAN MELIHAT HAL-HAL YANG LEBIH BESAR

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta S. Bartolomeus, Rasul – Rabu, 24 Agustus 2016) 

FILIPUS DAN NATANAEL - 001Filipus menemui Natanael dan berkata kepadanya, “Kami telah menemukan Dia yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret.”  Kata Natanael kepadanya, “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?”  Kata Filipus kepadanya, “Mari dan lihatlah!”  Yesus melihat Natanael datang kepada-Nya, lalu berkata tentang dia, “Lihat, inilah seorang Israel sejati, tidak ada kepalsuan di dalamnya!”  Kata Natanael kepada-Nya, “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!”  Yesus berkata, “Apakah karena Aku berkata kepadamu, ‘Aku melihat engkau di bawah pohon ara,’ maka engkau percaya? Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar daripada itu.”  Lalu kata Yesus kepadanya, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah naik turun kepada Anak Manusia.”  (Yoh 1:45-51) 

Bacaan Pertama: Why 21:9b-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 145:10-13,17-18   

Yesus menjanjikan Natanael (yang dalam tradisi disamakan dengan Bartolomeus), “Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar daripada itu” (Yoh 1:50) setelah ucapan pujian Natanael kepada-Nya, “Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!” (Yoh 1:49). Sesungguhnya, sementara dia mengikuti Yesus sampai akhir hidupnya, Natanael memang melihat banyak hal-hal yang lebih besar. Ia melihat Yesus membuat begitu banyak mukjizat dan tanda heran. Ia sendiri bersama para rasul yang lain mempunyai pengalaman menyembuhkan orang-orang sakit, mengusir roh-roh jahat dan berkhotbah di depan orang banyak. Kita dapat mengatakan, bahwa bagi Natanael, bagian dari tindakan mengikuti Yesus berarti pernyataan terus-menerus dari misteri-misteri surgawi dan suatu penyingkapan yang berkesinambungan dari kuasa Allah untuk melepaskan dan memulihkan.

Kata-kata Yesus di sini menunjuk pada suatu dimensi yang sangat penting dalam kehidupan iman kita sendiri. Seperti Natanael, kita juga mampu melihat dan mengalami “hal-hal yang lebih besar” dari tahun ke tahun sejalan dengan pertumbuhan kehidupan Kristiani kita di bawah naungan rahmat Allah.

Teristimewa dalam doa lah – hubungan paling akrab dengan Yesus yang kita dapat ketahui – kita dapat mengharapkan Yesus untuk menunjukkan hal-hal besar kepada kita. Sebuah dunia tanpa batas dari kemuliaan surgawi menantikan kita setiap setiap saat kita mengangkat hati kita ke surga untuk menyembah Yesus dan menerima cintakasih-Nya. dan kemuliaan itu mencakup pemahaman akan kasih dan hikmat Allah serta dalam hasrat-Nya untuk mentransformasikan dunia. Kita dapat “memindahkan gunung” dalam kehidupan orang-orang di sekeliling kita tidak hanya melalui kerja aktif, melainkan juga melalui doa-doa kita. Dan menyaksikan hati orang-orang yang berubah menjadi lebih baik, barangkali merupakan “hal-hal yang lebih besar” yang dapat kita lihat.

Yesus menginginkan diri-Nya dikenal dan dikasihi dalam dunia ini. Dia ingin menunjukkan kepada orang-orang realita siapa sesungguhnya Dia. Seringkali, Dia akan menggunakan kita (anda dan saya) sebagai para pengikut-Nya, untuk melakukan hal ini. Dengan demikian janganlah kaget, apabila hal-hal yang menakjubkan terjadi di sekeliling kita sebagai akibat doa-doa dan ketaatan kita pada Roh Kudus. Yesus mengasihi kita masing-masing dan ingin menggunakan kita untuk menyatakan diri-Nya kepada orang-orang lain. Ia mempunyai suatu masa depan yang direncanakan-Nya bagi kita yang hanya menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Oleh karena itu seharusnyalah kita mengatakan “ya” kepada-Nya, dan kemudian memperhatikan perjalanan masa depan kita masing-masing yang akan dipenuhi dengan “hal-hal yang lebih besar”.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau membukakan surga bagiku melalui doa-doaku dan pernyataan diri-Mu. Tuhan, tolonglah aku agar dapat melihat Engkau melakukan hal-hal yang lebih besar melalui diriku selagi aku tetap dekat pada-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalam Bacaan Injil hari ini (Yoh 1:45-51), bacalah tulisan yang berjudul “SEPERTI NATANAEL, MARILAH KITA BERBALIK KEPADA YESUS” (bacaan tanggal 24-8-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan pada sebuah tulisan saya di tahun 2010) 

Cilandak, 22 Agustus 2016 [Peringatan SP Maria, Ratu] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

HANYA ALLAH-LAH YANG DAPAT MEMBERSIHKAN HATI KITA

HANYA ALLAH-LAH YANG DAPAT MEMBERSIHKAN HATI KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXI – Selasa, 23 Agustus 2016)

jesus_christ_picture_013Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu memberi persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. Hai kamu pemimpin pemimpin buta, nyamuk kamu saring dari dalam minumanmu, tetapi unta yang di dalamnya kamu telan.

Celakalah kamu, hai ahli-hali Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab cawan dan pinggan kamu bersihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan dan kerakusan. Hai orang Farisi yang buta, bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan bersih. (Mat 23:23-26) 

Bacaan Pertama: 2Tes 2:1-3a,13b-17; Mazmur Tanggapan: 96:10-13

“Bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan bersih” (Mat 23:26).

Kita masing-masing (anda dan saya) adalah cawan yang dimaksud! “Sebelah dalam” cawan adalah hati kita, inti terdalam keberadaan kita. “Sebelah luar” cawan adalah apa yang dapat dilihat dan diamati oleh orang lain – kata-kata kita, tindakan-tindakan kita, dan perilaku kita pada umumnya. Kata-kata Yesus ini menunjukkan kepada kita bahwa Dia ingin kita masing-masing memiliki sebuah hati yang bersih, yang kebaikannya memancar ke luar, sehingga setiap hal tentang diri kita menyenangkan Allah.

Sekarang muncullah sebuah pertanyaan, “Bagaimana aku membersihkan hatiku? Kebenarannya adalah bahwa kita tidak akan pernah dapat membersihkan hati kita sendiri! Hal ini hanya Allah-lah yang dapat melakukannya. Adalah benar bahwa kita harus bekerja sama dengan Roh Kudus yang bekerja dalam diri kita. Walaupun begitu, akhirnya, hati kita dapat dibuat bersih dan murni hanya melalui kegiatan Roh Kudus, Allah sendiri.

Baptism-of-the-Holy-SpiritKalau begitu halnya, bagaimana kita dapat menjadi lebih sensitif terhadap Roh Kudus sehingga kita dapat mendeteksi gerakan-gerakan-Nya dalam hati kita dan bekerja sama dengan Dia? Dengan/melalui doa-doa, pembacaan dan permenungan sabda Allah dalam Kitab Suci, sering menerima Sakramen-sakramen, dan menggunakan kharisma, atau karunia/anugerah yang telah diberikan kepada kita oleh-Nya. Kita juga dapat belajar banyak tentang karya Roh Kudus dengan/melalui sebuah rencana yang baik untuk studi atas ajaran-ajaran Gereja dan pembacaan dan permenungan atas riwayat orang-orang kudus. Di atas segalanya, secara sederhana kita dapat mohon Roh Kudus untuk masuk ke dalam hati kita semakin dalam lagi. Selagi relasi kita dengan Roh Kudus itu semakin bertumbuh-kembang, kita mun akan menjadi semakin sensitif terhadap bimbingan-Nya. Kita akan mengalami Dia memurnikan hati kita, yang pada gilirannya akan mempunyai suatu efek pembersihan atas kata-kata dan tindakan-tindakan kita.

Akhirnya sebuah catatan dari saya: selagi anda bekerja membangun/memperbaiki relasi anda dengan Roh Kudus, ambillah Ibu Maria, ibunda Yesus sebagai “model” yang anda dapat teladani. Sejak saat pemberitahuan oleh malaikat agung Gabriel, ketika dia dinaungi oleh Roh Kudus sampai pada hari Pentakosta Kristiani yang pertama, di mana dia pun hadir bersama para rasul pada saat pencurahan Roh Kudus, Bunda Maria menunjukkan kepada kita apa dan bagaimana kerendahan hati, ketaatan, dan rasa percaya (trust) dapat membuat diri kita tetap terbuka bagi Roh Kudus. Bilamana kita ingin hati kita – “sebelah dalam cawan” – menjadi bersih dan murni, perkenankanlah Bunda Maria menunjukkan jalannya bagaimana kita menjadi lebih terbuka bagi karya Roh Allah dalam diri kita.

DOA: Roh Kudus Allah, bukalah mata dan telinga hatiku terhadap tindakan-Mu dan bimbingan-Mu. Datanglah, ya Roh Kudus, dan penuhilah diriku sehingga – seperti Bunda Maria – aku pun dapat memiliki sebuah hati yang bersih-murni. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 19:23-30), bacalah tulisan berjudul “BERSIH DI DALAM” (bacaan tanggal 23-8-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2012) 

Cilandak, 21 Agustus 2016 [HARI MINGGU BIASA XXI – TAHUN C] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DITUJUKAN KEPADA PARA AHLI TAURAT DAN ORANG FARISI

DITUJUKAN KEPADA PARA AHLI TAURAT DAN ORANG FARISI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan SP Maria, Ratu – Senin, 22 Agustus 2016) 

KONFLIK DGN ORANG FARISI DLL. - YESUS MENGECAM - MAT 23Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, karena kamu mentutup pintu-pintu Kerajaan Surga di depan orang. Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu merintangi mereka yang berusaha untuk masuk.

Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu menelan rumah janda-janda dan kamu mengelabui mat orang dengan doa yang panjang-panjang. Karena itu, kamu pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.

Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu mengarungi lautan dan menjelajahi daratan, untuk membuat satu orang saja saja menjadi penganut agamamu  dan sesudah hal itu terjadi, kamu menjadikan dia calon penghuni neraka, yang dua kali lebih jahat daripada kamu sendiri.

Celakalah kamu, hai pemimpin-pemimpin buta, yang berkata: Bersumpah demi Bait Suci, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi emas Bait Suci, sumpah itu mengikat. Hai kamu orang-orang bodoh dan orang-orang buta, manakah yang lebih penting, emas atau Bait Suci yang menguduskan emas itu? Bersumpah demi mezbah, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi persembahan yang ada di atasnya, sumpah itu mengikat. Hai kamu orang-orang buta, manakah yang lebih penting, persembahan atau mezbah yang menguduskan persembahan itu? Karena itu, siapa saja yang bersumpah demi mezbah, ia bersumpah demi mezbah dan juga demi segala sesuatu yang terletak di atasnya. Siapa saja yang bersumpah demi Bait Suci dan juga demi Dia, yang tinggal di situ. Siapa saja yang bersumpah demi surga, ia bersumpah demi takhta Allah dan juga demi Dia, yang bersemayam di atasnya. (Mat 23:13-22) 

Bacaan Pertama: 2Tes 1:1-5,11b-12; Mazmur Tanggapan: Mzm 96:1-5 

“Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi!” (Mat 23:13). Kata-kata Yesus yang ditujukan kepada para ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang menentang diri-Nya barangkali kedengaran  sangat keras bagi telinga kita, meskipun kita dapat saja membayangkan bahwa pantas juga mereka ditegur seperti itu. Kiranya kata “celakalah” yang diserukan oleh Yesus itu bukanlah dimaksudkan untuk “mengutuk”, melainkan pengungkapan keluh kesah hati-Nya, yang terluka karena orang-orang ini telah menolak Dia. Dalam potongan-potongan kalimat yang diulang-ulang ini, kita hampir dapat mendengar suara Yesus yang diwarnai emosi selagi Dia meratapi kekerasan hati orang-orang yang sesungguhnya sangat dikasihi-Nya itu.

Dari kedalaman hati-Nya yang sangat mengasihi kita, Yesus juga meratap sedih, manakala kita – seperti juga para ahli Taurat dan orang-orang Farisi – lebih menyukai tafsir kita sendiri tentang Kristianitas. Apabila kita mendengarkan dengan baik-baik, kita pun dapat mendengar suara-Nya: “Celakalah kamu, yang melihat iman sebagai kewajiban-kewajiban untuk dipenuhi, dan keselamatan sebagai masalah tuntutan yang harus kamu penuhi.” Atau lagi: “Celakalah kamu, yang mengabaikan hukumku, dan membenarkan setiap kesalahanmu dengan memakai kasih-Ku sebagai alasan.”

sanhedrin-021Hakekat dari kata “celakalah” ini bukanlah bagaimana sempurna atau tidak sempurnanya diri kita. Kita semua telah dan masih suka menyedihkan hati Yesus dengan berbagai cara. Oleh karena itu, sebaiknyalah apabila kita kita memandang atau mengartikan kata “celakalah” Yesus ini sebagai undangan kepada kita semua untuk melakukan pertobatan dan dibebaskan dari hal-hal yang membuat hati-Nya bersedih. Ia ingin melakukan kebaikan yang jauh lebih besar daripada sekadar menyatakan ketidaksempurnaan manusiawi kita, jauh lebih daripada sekadar melepaskan kesedihan-Nya. Dia ingin mengubah kita menjadi serupa dengan diri-Nya sendiri! Dia ingin membuka hati kita bagi kuat-kuasa dan hikmat-Nya. Dia merindukan hari pada saat mana kita akan dipenuhi dengan pengenalan akan kasih-Nya bagi kita dan menjadi pelayan-pelayan kasih-Nya kepada orang-orang di sekeliling kita.

Banyak ahli Taurat  dan orang Farisi menolak undangan Yesus. Akan tetapi, penolakan mereka itu tidak berarti bahwa kita sekarang diabaikan. Kita dapat menerima undangan itu. Apa yang harus kita lakukan adalah mengakui bahwa kita perlu disembuhkan dan dibebaskan (lihat Hos 14:2-4), untuk diajar mengikuti pikiran dan cara-cara Allah (Yes 55:8-9), untuk dipimpin oleh Roh Kudus-Nya (Yoh 16:13).

Saudari dan Saudariku, marilah kita memperkenankan Tuhan menyembuhkan diri kita masing-masing. Biarlah darah-Nya membersihkan diri kita masing-masing. Ingatlah apa yang tertulis dalam Kitab Nabi Zefanya: “TUHAN (YHWH) Allahmu ada di antaramu sebagai pahlawan yang memberi kemenangan. Ia bergirang karena engkau dengan sukacita, Ia membaharui engkau dalam kasih-Nya” (Zef  3:17).

DOA: Tuhan Yesus, aku menaruh kepercayaan penuh pada-Mu. Tolonglah aku melihat di mana saja aku membenarkan kesalahan-kesalahan dan kelemahan-kelemahanku dengan memakai kasih-Mu sebagai alasan bagiku untuk berdalih. Lunakkanlah hatiku dan ampunilah aku. Bersihkanlah diriku dengan darah-Mu, dengan demikian membawa sukacita kepada-Mu pada hari ini. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 23:13-22), bacalah tulisan yang berjudul “SERUAN-SERUAN CELAKA DARI YESUS” (bacaan tanggal 22-8-16 dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak, 19 Agustus 2016 [Peringatan S. Ludovikus, Uskup] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BANYAK ORANG YANG BERUSAHA AKAN MASUK, TETAPI TIDAK AKAN DAPAT

BANYAK ORANG YANG BERUSAHA AKAN MASUK, TETAPI TIDAK AKAN DAPAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXI [Tahun C] – 21 Agustus 2016) 

YESUS DAN KEDUABELAS MURID-NYAKemudian Yesus berjalan keliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa sambil mengajar dan meneruskan perjalanan-Nya ke Yerusalem. Lalu ada seseorang yang berkata kepada-Nya, “Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?” Jawab Yesus kepada orang-orang di situ, “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sempit itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat. Jika tuan rumah telah bangkit dan telah menutup pintu, kamu akan berdiri di luar dan mengetuk-ngetuk pintu sambil berkata, ‘Tuan, bukakanlah pintu bagi kami!’ dan Ia akan menjawab dan berkata kepadamu, ‘Aku tidak tahu dari mana kamu datang.’ Lalu kamu akan berkata: Kami telah makan dan minum di hadapan-Mu dan Engkau  telah mengajar di jalan-jalan kota kami. Tetapi Ia akan berkata kepadamu: Aku tidak tahu dari mana kamu datang, enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu sekalian yang melakukan kejahatan! Di sana akan terdapat ratapan dan kertak gigi, ketika kamu melihat Abraham dan Ishak dan Yakub dan semua nabi di  dalam Kerajaan Allah, tetapi kamu sendiri dicampakkan ke luar. Orang akan datang dari Timur dan Barat dan dari Utara dan Selatan dan mereka akan duduk makan di dalam Kerajaan Allah. Sesungguhnya ada orang yang terakhir yang akan menjadi orang yang pertama dan ada orang yang pertama yang akan menjadi orang yang terakhir. (Luk 13:22-30) 

Bacaan Pertama: Yes 66:18-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 117:1-2; Bacaan Kedua: Ibr 12:5-7,11-13

Lukas melanjutkan narasi perjalanan Yesus dengan mengingatkan para pembaca Injilnya bahwa Yesus dan rombongan-Nya masih sedang dalam perjalanan ke Yerusalem, tempat di mana misi-Nya akan diselesaikan secara tuntas.  Lukas tidak menggambarkan perjalanan Yesus ini secara detil dari sudut geografis, yang memang tidak menarik perhatiannya  atau para pembaca Injilnya, melainkan melalui pengajaran-pengajaran Yesus sendiri, melalui tanda-tanda yang dibuat-Nya, melalui cerita-cerita yang diceritakan oleh-Nya, melalui kesadaran-Nya yang semakin bertumbuh tentang misi-Nya dan apa-apa yang terlibat dalam misi-Nya itu, serta melalui semakin banyak oposisi yang harus dihadapi-Nya. Nah, selagi Yesus berada dalam perjalanan menuju salib-Nya, seseorang bertanya kepada-Nya, apakah sedikit saja orang yang diselamatkan (Luk 13:23).

Dalam jawaban-Nya, Yesus menolak untuk terlibat dalam perdebatan teologis yang disertai dengan angka-angka statistik yang menyangkut “spekulasi” tentang jumlah dari orang-orang yang diselamatkan, melainkan Ia menggiring diskusi sampai bagian paling dasar dengan fokus pada kebutuhan setiap orang untuk berjuang secara pribadi, sesuatu yang harus dialami/dihadapi oleh setiap orang untuk masuk lewat pintu yang sempit guna mencapai keselamatan.

Tema Injil hari ini memang tidak populer karena termasuk salah satu dari “kata-kata keras Yesus” …… tidak setiap orang dapat berhasil masuk melalui pintu yang sempit itu. Terasa seakan-akan Yesus telah menetapkan standar-standar yang ketat, karena Dia bersabda: “Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat” (Luk 13:24). “Sesungguhnya ada orang yang terakhir yang akan menjadi orang yang pertama dan ada orang yang pertama yang akan menjadi orang yang terakhir” (Luk 13:30).

c3606b07eb3e0f92bb5bfe8287005989Dengan kata lain, seakan Yesus mengatakan, “Bagaimana pun juga, kami para penghuni surga mempunyai standar-standar kami sendiri! Kami adalah kelompok elit, namun ke-elit-an kami bukanlah berdasarkan standar-standar dunia! Di dunia anda memandang orang menurut tinggi-rendah status sosial-ekonominya dlsb. Di sini kami memandang ukuran kebesaran hati anda, cintakasih anda, kemurahan-hati anda, kualitas karakter anda. Di dalam surga kami tidak memiliki prasangka dan praduga dunia yang memuakkan. Kami di surga akan menerima siapa saja tanpa melihat warna kulitnya, sukubangsanya, kaya-miskinnya dlsb., selama anda lulus melewati standar-standar kami yang telah kami sebutkan tadi. Di sini yang penting adalah apakah yang anda telah lakukan selama hidup di dunia: memberi makan kepada mereka yang lapar, memberi minum kepada yang haus, memberi tumpangan kepada mereka yang tidak mempunyai rumah, memberi baju kepada mereka yang telanjang, mengunjungi mereka yang sakit …… (lihat Mat 25:31-46).

Bagi para orangtua, pendidikan bagi anak-anak mereka berarti membimbing anak-anak di atas jalan yang sempit. Para orangtua harus dapat menunjukkan kepada anak-anak mereka bagaimana agar tetap dapat berjalan di jalan sempit itu sehingga dapat mencapai tujuan yang benar. Pendidikan yang  baik menentukan batas-batas, dan di dalam batas-batas ini para orangtua memberi kesempatan bagi anak-anak mereka menggunakan talenta dan energi mereka, dengan demikian dapat bertumbuh dengan keyakinan-diri. Namun di luar batas-batas yang ditentukan oleh peraturan-peraturan yang bijaksana, anak-anak kita tidak dapat melangkah lagi. Sejumlah anak kecil berkumpul di dapur sambil memukul-mukul pintu dapur, tembok, panci dan alat-alat dapur lainnya … seperti “rock-band” yang penuh hingar-bingar dan kebisingan yang menyakitkan telinga. Akhirnya salah seorang dari mereka berkata, “Saya harap Ibu akan datang dan menghentikan kita! Saya sudah tidak tahan lagi dengan kebisingan ini!” Banyak orang menyadari bahwa suasana yang membingungkan dan ribut-ribut sungguh mematikan, dan bahwa mereka sungguh membutuhkan seseorang untuk membawa keteraturan ke dalam situasi hiruk-pikuk itu.

Kita belajar banyak dari kehidupan Yesus sendiri. Yesus sangat memperhatikan dan patuh pada perintah-perintah Bapa-Nya. “Aku senantiasa melakukan kehendak Bapa-Ku.” Disiplin-diri adalah cara kita mengembangkan karakter agar mampu melalui pintu yang sempit yang memimpin kita ke dalam Kerajaan Allah. Menurut Yesus, orang-orang yang membuat diri mereka yang pertama dengan sikap sombong, “menyelak-nyelak” secara tak terkendali akan menjadi yang terakhir. Dan yang terakhir akan menjadi yang pertama dalam Kerajaan Allah.

DOA: Tuhan Yesus, perkenankanlah aku untuk berdoa seperti Engkau sendiri berdoa kepada Bapa pada saat mengalami penderitaan yang mendalam di taman Getsemani: “… jangan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang jadi” (Luk 22:42). Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 13:22-30), bacalah tulisan yang berjudul “SIAPAKAH YANG DISELAMATKAN?” (bacaan tanggal 21-8-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-08  PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2016. 

Cilandak, 19 Agustus 2016 [Peringatan S. Ludovikus, Uskup] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KERENDAHAN HATILAH YANG DIINGINKAN YESUS DARI KITA


KERENDAHAN HATILAH YANG DIINGINKAN YESUS DARI KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Bernardus, Abas Pujangga Gereja – Sabtu, 20 Agustus 2016) 

NAMA YESUS YANG KUDUS - 555Lalu berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, “Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksudkan untuk dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang; mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terbaik di rumah ibadat; mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil orang ‘Rabi.’  Tetapi kamu, janganlah kamu disebut ‘Rabi’; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. Janganlah kamu menyebut siapa pun ‘bapak’ di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di surga. Janganlah kamu disebut pemimpin, karena hanya satu pemimpinmu, yaitu Mesias. Siapa saja yang terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Siapa saja yang meninggikan diri, ia akan direndahkan dan siapa saja yang merendahkan diri, ia akan ditinggikan. (Mat 23:1-12) 

Bacaan Pertama: Yeh 43:1-7a; Mazmur Tangggapan: Mzm 85:9-14 

Mengapa Yesus kelihatan begitu “sewot” dengan para ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang selalu saja menentangnya dan dengan menggunakan berbagai cara ingin menjebak serta menjatuhkan-Nya? Apakah kecemburuan dan iri hati mereka itu disebabkan karena Yesus ingin mengubah hal-hal yang ‘tidak pas’ dalam masyarakat Yahudi, teristimewa yang berhubungan dengan adat-istiadat dan praktek keagamaan mereka? Atau, apakah karena mereka adalah contoh dari para religius ultra-konservatif, yang terus mau berpegang pada ide-ide “Perjanjian Lama” yang sudah “kuno”? Samasekali bukan! Justru karena orang-orang inilah yang memegang peranan penting dalam masyarakat, maka Yesus menegur mereka dengan keras sekali! Kepada mereka dipercayakan Hukum Musa, batu penjuru bagi Israel sebagai bangsa dan umat. Mereka telah membaktikan seluruh hidup mereka untuk itu, dan rakyat memandang mereka sebagai orang-orang yang sungguh memahami tradisi suci Israel.

Namun sungguh sayang sekali, para ahli Taurat dan Farisi ini telah salah jalan dalam mengemban tugas mereka. Barangkali kekuasaan telah membutakan mata mereka sehingga berpikir bahwa mereka “superior” ketimbang orang-orang lain. Barangkali para ahli Taurat dan Farisi itu tidak melihat bahwa mereka sebenarnya telah mulai menempatkan posisi mereka yang terhormat sebagai “yang lebih utama” daripada tanggung jawab mereka untuk melayani umat Allah. Yesus tidak bermaksud memojokkan mereka karena mereka mengajar Hukum Taurat, melainkan karena kehidupan mereka sama sekali tidak mencerminkan kerendahan hati yang justru coba diajarkan oleh Hukum Taurat.

KONFLIK DGN ORANG FARISI DLL. - ORANG FARISI YANG SOMBONGHampir semua yang diajarkan Yesus berkisar pada hal-ikhwal kerendahan hati. Dia ingin agar para murid-Nya (termasuk kita sekarang) memahami betapa pentingnya menjadi jujur di hadapan Allah. Seperti unta yang tidak dapat melewati pintu gerbang kota, kita juga tidak akan bisa masuk ke dalam kerajaan-Nya, kalau kita tidak menolak “kekayaan” berupa “kesombongan” atau “kebanggaan palsu” kita (lihat Mat 19:24). Kalau kita tidak mengakui kelemahan-kelemahan dan dosa-dosa kita, maka kita pun akan berjalan dalam kegelapan rohani (Mat 6:23), dan kita tidak akan mampu menolong para saudari dan saudara kita yang patut ditolong (lihat Mat 7:5).

Alasan sesungguhnya mengapa Yesus sangat menginginkan kita menjadi rendah hati adalah karena kita juga penting! Ia mempunyai suatu pekerjaan penting untuk kita lakukan. Santo Paulus menulis, “Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula melalui Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya” (Ef 1:5), sehingga ……“boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya” (Ef 1:12). Apabila kita merangkul kerendahan-hati Yesus, maka kita akan mencerminkan rahmat-Nya dan menjadi bejana-bejana kuasa-Nya. Apabila kita memuji-muji dan menyembah Yesus dengan ketulusan hati, maka Dia pun akan memenuhi diri kita dengan cintakasih-Nya dan akan menarik orang-orang kepada-Nya melalui diri kita. Ganjaran terbesar bagi kita bukanlah memperoleh pengakuan dunia, melainkan untuk “duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa” (Mzm 91:1), untuk mengenal dan mengalami cintakasih-Nya, serta mensyeringkan cintakasih-Nya itu dengan orang-orang lain.

DOA: Tuhan Yesus, aku datang ke hadapan hadirat-Mu sebagai aku apa adanya, tidak sebagaimana orang-orang lain memandang diriku. Tolonglah aku untuk mengenali serta mengakui kebesaran-Mu, sehingga Engkau menjadi semakin besar, tetapi aku menjadi semakin kecil. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini bacalah juga tulisan yang berjudul “YESUS ANTI KEMUNAFIKAN” (bacaan tanggal 20-8-16)  dalam situs/blog PAX ET BONUM http:/catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010) 

Cilandak, 17 Agustus 2016 [HARI RAYA KEMERDEKAAN R.I. KE-71] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERINTAH YANG TERUTAMA DALAM HUKUM TAURAT

PERINTAH YANG TERUTAMA DALAM HUKUM TAURAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XX – Jumat, 19 Agustus 2016)

Keluarga Fransiskan Konventual: Peringatan S. Ludovikus, Uskup

560jesusKetika orang-orang Farisi mendengar bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia, “Guru, perintah manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” Jawab Yesus kepadanya, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah perintah yang terutama dan yang pertama. Perintah yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua perintah inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” (Mat 22:34-40)

Bacaan Pertama: Yeh 37:1-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 107:2-9

“Guru, perintah manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” (Mat 22:36).

Kelihatannya ahli Taurat yang melontarkan pertanyaan ini ingin mengetahui pendapat Yesus mengenai kewajiban-kewajiban yang harus dilakukan. Dari 613 perintah yang ada dalam Perjanjian Lama, yang manakah yang pantas untuk ditaati secara paling ketat? Perintah mana, kalau dilanggar, akan membuat sulit orang bersangkutan? Mungkin saja si penanya mencari lubang dari mana dia dapat menjebak Yesus. Mungkin sah-sah saja untuk mengajukan pertanyaan seperti ini dengan pengharapan akan memperoleh jawaban terinci, langkah demi langkah dst. Namun Yesus mempunyai cara yang lebih baik!

Kesederhanaan tanggapan Yesus menunjukkan betapa vitalnya untuk memperkenankan Roh Kudus menggerakkan “tulang-tulang kering” kita (lihat bacaan pertama dari kitab Yehezkiel) sehingga dengan demikian hukum-hukum Allah dapat menjadi sumber kehidupan bagi kita, bukan suatu sumber frustrasi. Dalam bacaan pertama Misa Kudus hari ini, Yehezkiel memberi gambaran yang hidup tentang kondisi yang akan kita alami apabila kita mencoba untuk hidup tanpa kuasa surgawi. Namun sekali kita memperkenankan Roh Kudus untuk menghembuskan nafas hidup ke dalam diri kita, supaya kita hidup kembali. Dia akan memberi urat-urat syaraf, menumbuhkan daging dan menutupi diri kita dengan kulit, sehingga kita tidak lagi berupa tulang-tulang kering belaka (lihat Yeh 37:4-6). Roh Kudus tidak hadir untuk menekankan keterbatasan-keterbatasan kita, melainkan untuk membuat kita bebas mengasihi Allah dan sesama secara total-lengkap. Melalui Dia kuasa dosa dipatahkan, dan kita dapat menjadi bagian dari “tentara yang sangat besar” (Yeh 37:10).

Dengan membuka diri kepada kehadiran Roh Kudus, kita dapat menerima urat-urat syaraf dari kekuatan ilahi, yang memampukan kita untuk bergerak dalam kuasa-Nya. Jiwa kita akan dipenuhi dengan kasih-Nya – sebuah kasih yang mendaging (mewujudkan diri) dalam tindakan-tindakan kita sehari-hari. Bahkan pikiran-pikiran kita akan dilindungi oleh “baju zirah rohani” sebagaimana kulit melindungi organ-organ kita.

Tanpa Roh Kudus, kita hanya mempunyai hukum. Namun dengan Roh Kudus, hukum yang sama dapat membawa kita ke dalam kehidupan yang kekal. Daripada menanggapi pertanyaan-pertanyaan si ahli Taurat dengan memberikan sebuah daftar yang berisikan hal-hal yang bersifat mengikat, harus ini dan itu, Yesus justru mengingatkan kita akan keharusan untuk mengantisipasi tindakan cintakasih kepada Allah dan sesama yang bersifat tanpa batas. Dengan Roh Kudus dalam kehidupan kita, tidak perlulah untuk menanyakan berapa banyak yang harus kita lakukan. Roh Kudus ada bersama kita justru untuk menunjukkan kepada kita segalanya yang harus dan dapat kita lakukan. Bersama sang pemazmur kita pun dapat mengatakan: “Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya” (Mzm 107:1).

DOA: Roh Kudus Allah, hembuskanlah nafas hidup-Mu ke dalam diriku. Ambillah tulang-tulangku yang kering dan letih lesu dan penuhilah dengan hidup-Mu sendiri. Berdayakanlah aku untuk mengasihi-Mu dan sesamaku dengan segenap hatiku, pikiranku dan jiwaku. Datanglah, ya Roh Kudus dan curahkanlah kasih-Mu yang tanpa batas itu ke dalam hatiku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini, bacalah tulisan yang  berjudul “HUKUM KASIH” (bacaan tanggal 19-8-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010) 

Cilandak, 16 Agustus 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 157 other followers