RAGI ORANG FARISI DAN RAGI HERODES

RAGI ORANG FARISI DAN RAGI HERODES

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VI – Selasa, 18 Februari 2020)

Murid-murid Yesus lupa membawa roti, kecuali satu roti saja yang ada pada mereka dalam perahu. Lalu Yesus memperingatkan mereka, “Berjaga-jagalah dan awaslah terhadap ragi orang Farisi dan ragi Herodes.”  Mereka pun memperbincangkan di antara mereka bahwa mereka tidak mempunyai roti. Ketika Yesus mengetahui hal itu, Ia berkata, “Mengapa kamu memperbincangkan soal tidak ada roti? Belum jugakah kamu paham dan mengerti? Belum pekakah hatimu? Kamu mempunyai mata, tidakkah kamu melihat dan kamu mempunyai telinga, tidakkah kamu mendengar? Tidakkah kamu ingat lagi, pada waktu Aku memecah-mecahkan lima roti untuk lima ribu orang itu, berapa bakul penuh potongan-potongan roti kamu kumpulkan?”  Jawab mereka, “Dua belas bakul.”  “Pada waktu tujuh roti untuk empat ribu orang itu, berapa bakul penuh potongan-potongan roti kamu kumpulkan?”  Jawab mereka, “Tujuh bakul.”  Lalu kata-Nya kepada mereka, “Belum mengertikah kamu?”  (Mrk 8:14-21) 

Bacaan Pertama: Yak 1:12-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 94:12-13a,14-15,18-19

Dalam bacaan Injil hari Senin kemarin ditunjukkan bahwa setelah banyak mukjizat/ penyembuhan, para pemuka/pemimpin agama Yahudi – dalam hal ini: orang-orang Farisi – masih belum percaya bahwa kuat-kuasa Yesus berasal dari Allah (lihat Mrk 8:11-13).

Fokus dari Bacaan Injil hari ini (Mrk 8:14-21) adalah para murid Yesus yang belum juga “ngerti-ngerti”. Mereka tidak dapat memahami Yesus, tidak dapat menarik pelajaran apa pun (kalau pun ada, sedikit sekali) dari apa yang mereka lihat sendiri dilakukan/dikatakan oleh Guru mereka (Mrk 1:37-38; 4:13,38-41; 5:30-32; 6:35-38; 8:1-4). Ayat terakhir bacaan Injil hari ini adalah kata-kata Yesus sendiri: “Belum mengertikah kamu?” (Mrk 8:21). Kiranya kata-kata itu dapat membantu kita memaknai situasi yang ada.

Bacaan Injil hari ini kiranya menggambarkan absennya daya lihat spiritual. Orang-orang Farisi menginginkan sebuah tanda, tetapi mereka tidak menerimanya. Para murid manerima sebuah tanda, yaitu mukjizat penggandaan roti dan ikan, namun mereka gagal untuk melihat makna mukjizat itu. Kehadiran atau ketidakhadiran Allah tidak secara langsung dapat terhubung dengan adanya atau tidak adanya mukjizat. Masih diperlukan penglihatan secara spiritual untuk memampukan kita melihat Allah yang tengah bekerja.

Yesus memperingatkan kita untuk melawan sinisme atau ragi beracun orang-orang Farisi yang mencoba menjelaskan segalanya dengan mereduksinya menjadi faktor-faktor politis ataupun psikologis. Tidak dapatlah sumber dari, maupun solusi dari kejahatan di dalam dunia direduksi menjadi faktor-faktor empiris saja. Yesus memperingatkan para murid-Nya  agar tidak sampai terinfeksi oleh skeptisisme dan sinisme orang-orang Farisi yang seenaknya menjadikan agama sebagai semacam game. 

Yesus menggunakan rasa lapar fisik para murid untuk berbicara mengenai suatu rasa lebih mendalam dalam hal spiritual yang dapat dipuaskan dengan Ekaristi. Perayaan Ekaristi yang memberikan asupan makanan spiritual sebenarnya lebih daripada sekadar menyambut komuni. Tidak boleh dilupakan bahwa di dalam perayaan Ekaristi ada Ibadat Sabda, berkumpul bersama orang-orang Kristiani yang lain, memperbaharui perjanjian kita bersama dengan TUHAN, mengidentifikasikan hidup kita dengan kematian dan kebangkitan Yesus, dlsb. yang memberikan kekuatan yang kita perlukan untuk perjalanan spiritual kita.

DOA: Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau telah mengingatkanku akan bahaya ragi orang Farisi dan ragi Herodes, sehingga aku dapat senantiasa waspada. Aku tidak ingin memusatkan perhatianku pada diriku sendiri, melainkan pada Engkau saja. Yesus, aku menyerahkan hidupku kepada-Mu, karena Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 8:14-21), bacalah tulisan yang berjudul “RAGI ROH KUDUS-LAH YANG KITA PERLUKAN” (bacaan tanggal 18-2-20) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 20-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2020.

Cilandak, 17 Februari 2020 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERMINTAAN AKAN SUATU TANDA YANG BERSUMBER PADA KETIDAKPERCAYAAN MANUSIA TIDAK AKAN DILADENI OLEH YESUS

PERMINTAAN AKAN SUATU TANDA YANG BERSUMBER PADA KETIDAKPERCAYAAN MANUSIA TIDAK AKAN DILADENI OLEH YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VI – Senin, 17 Februari 2020)

Peringatan Fakultatif Tujuh Saudara Suci Pendiri Tarekat Hamba-hamba SP Maria

Kemudian muncullah orang-orang Farisi dan mulai berdebat dengan Yesus. Untuk mencobai Dia mereka meminta dari Dia suatu tanda dari surga. Lalu mendesahlah Ia dalam hati-Nya dan berkata, “Mengapa orang-orang zaman ini meminta tanda? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, kepada orang-orang ini sekali-kali tidak akan diberi tanda.”  Ia meninggalkan mereka, lalu Ia naik lagi ke perahu dan bertolak ke seberang. (Mrk 8:11-13) 

Bacaan Pertama: Yak 1:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:67-68,71-72,75,76

Memang agak mengherankan ketika kita membaca bahwa orang-orang Farisi meminta tanda dari surga untuk membuktikan tentang kedatangan Kerajaan Allah melalui Yesus Kristus. Kita telah melihat dari bagian-bagian lain kitab-kitab Injil bahwa Yesus telah membuat banyak mukjizat dan tanda-tanda heran lainnya, hal mana sebenarnya sudah merupakan bukti yang cukup bahwa Dia berasal dari Allah. Namun bagi orang-orang Farisi tanda-tanda ini tidaklah memuaskan. Kelihatannya pada waktu itu ada pemikiran dalam Yudaisme bahwa pada saat sang Mesias datang, maka Dia akan membuat mukjizat yang bersifat unik. Tidak ada tulisan apa pun dalam Kitab Suci Perjanjian Lama yang mendukung pandangan ini. Akan tetapi, seperti begitu banyak hal lainnya, orang-orang Farisi telah membangun suatu tradisi mereka sendiri yang dipertimbangkan oleh mereka sebagai sama pentingnya dengan Kitab Suci.

Jadi, ketika mereka meminta tanda yang sangat istimewa, Yesus menjadi agak kecewa terhadap ketiadaan iman-kepercayaan mereka, lalu berkata: “Mengapa orang-orang zaman ini meminta tanda? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, kepada orang-orang ini sekali-kali tidak akan diberi tanda” (Mrk 8:12). Hal ini berarti bahwa tidak ada mukjizat yang istimewa dan unik akan dibuat-Nya untuk memuaskan kepercayaan mereka, bahwa mukjizat yang sungguh luarbiasa akan mendahului kedatangan sang Mesias.

Secara sederhana, yang dimaksudkan oleh Yesus di sini adalah, bahwa permintaan akan suatu tanda yang bersumber pada ketidakpercayaan manusia tidak akan diladeni oleh-Nya.

Iman menuntut adanya suatu keterbukaan, suatu kemauan untuk menerima alasan-alasan yang biasa untuk percaya. Jika penyembuhan orang-orang sakit, pengusiran roh-roh jahat, penggandaan roti dan mukjizar-mukjizat lainnya yang jelas tidak lepas dari kuat-kuasa ilahi tidak cukup untuk meyakinkan orang-orang Farisi itu, maka hal ini berarti tidak ada respons dari pihak mereka. Iman harus merupakan suatu tindakan bebas. Yesus tidak akan memaksa siapa pun untuk percaya. Tanggapan atau respons harus datang secara bebas, dibantu oleh berbagai mukjizat dan tanda heran yang sudah dibuat oleh-Nya.

Kita sendiri memang tidak pernah menyaksikan Yesus membuat mukjizat, menyembuhkan orang sakit dlsb. Yang mungkin pernah kita lihat adalah hal-hal sedemikian yang dilakukan oleh orang-orang beriman dalam nama-Nya, namun kita percaya bahwa Yesus-lah Pelaku utamanya. “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya” (Ibr 13:8). Yesus Kristus ini menganugerahkan kepada kita karunia iman untuk menerima Injil sebagai benar. Keempat kitab Injil memuat catatan-catatan akurat tentang kehidupan Yesus dan tindak-tanduk-Nya selama hidup di muka bumi. Oleh karena itu kita percaya!

Kita percaya bahwa Yesus telah membuktikan keilahian-Nya, martabat-Nya sebagai sang Mesias yang dinanti-nantikan oleh umat Yahudi, lewat mukjizat-mukjizat dan berbagai tanda heran lainnya yang dibuat-Nya, dan memuncak pada kebangkitan-Nya dari antara orang mati.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, kami merasa terberkati secara istimewa karena Engkau pernah bersabda, “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya” (Yoh 20:29). Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 8:11-13), bacalah tulisan yang berjudul “TANDA DARI SURGA” (bacaan tanggal 17-2-20), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 20-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2020. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2014) 

Cilandak, 14 Februari 2020 [Peringatan Wajib S. Sirilus, Pertapa dan Metodius, Uskup] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS KRISTUS DATANG BUKAN UNTUK MENIADAKAN HUKUM TAURAT, MELAINKAN UNTUK MENGGENAPINYA

YESUS KRISTUS DATANG BUKAN UNTUK MENIADAKAN HUKUM TAURAT, MELAINKAN UNTUK MENGGENAPINYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA VI [TAHUN A] – 16 Februari 2020)

“Janganlah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu huruf kecil atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat,  sebelum semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Surga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkannya, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Surga. Aku berkata kepada: Jika kamu tidak melakukan kehendak Allah melebihi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.

Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang mencaci maki saudaranya harus dihadapkan ke Mahkamah Agama, dan siapa yang berkata: Jahil! Harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.

Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.

Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pengawal dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Sesungguhnya Aku  berkatamu: Engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.

Kamu telah mendengar yang difirmankan: Jangan berzina. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzina dengan dia di dalam hatinya. Jika matamu yang kanan menyebabkan engkau berdosa, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, daripada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka. Jika tanganmu yang kanan menyebabkan engkau berdosa, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa daripada tubuhmu dengan utuh masuk neraka.

Telah difirmankan juga: Siapa yang menceraikan istrinya harus memberi surat cerai kepadanya. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang menceraikan istrinya kecuali karena zina, ia menjadikan istrinya berzina; dan siapa yang kawin dengan perempuan yang diceraikan, ia berzina.

Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu kepada Tuhan. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah takhta Allah, maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, ataupun demi Yerusalem, karena Yerusalem adalah kota Raja Besar; janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambut pun. Jika ya, hendaklah kamu katakan: Ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: Tidak. Apa yang lebih daripada itu berasal  dari si jahat. (Mat 5:17-37) 

Bacaan Pertama: Sir 15:15-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:1-2,4-5,17-18,33-34; Bacaan Kedua: 1Kor 2:6-10

Dalam Khotbah di Bukit dikumpulkanlah berbagai sabda/pengajaran Yesus yang sebenarnya diucapkan dalam berbagai kesempatan yang berbeda-beda. Matius, dengan caranya yang sistematik telah mengumpulkan berbagai sabda/pengajaran itu  menjadi suatu diskursus yang berkelanjutan. Hal ini membuat para pembaca Injil Matius – yang merupakan ex-agama Yahudi – untuk memahami orde baru keselamatan seperti diinaugurasikan oleh oleh Yesus Kristus. Mereka (jemaat Matius) tahu dan sungguh mengenal Sepuluh Perintah Allah, akan tetapi pengetahuan/pengenalan mereka akan Sepuluh  Perintah Allah itu seturut yang diajarkan para rabi mereka. Rabi-rabi ini – sebagian besar adalah kaum Farisi – menekankan hukum seperti apa yang tertulis dan ketaatan yang kasat-mata atas perintah-perintah Allah.

Yesus bersabda: “Jika kamu tidak melakukan kehendak Allah melebihi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga” (Mat 5:20). Di sini Yesus mau mengatakan sikap para pengikut-Nya haruslah berbeda dan lebih baik daripada apa yang diajarkan oleh para rabi mereka yang disebutkan di atas. Dengan jelas hal ini menunjukkan bagaimana Kekristenan (Kristianitas) harus berbeda dengan Yudaisme, bahkan menggantikan Yudaisme itu sendiri.

Yesus Kristus tidak meniadakan Sepuluh Perintah Allah, tetapi Dia menuntut dari para pengikut-Nya untuk memenuhi perintah-perintah itu secara lebih sempurna dan lebih tulus. Nilai moral dari ketaatan terhadap hukum (termasuk hukum Musa) datang dari disposisi batiniah orang yang memegang hukum itu. Tidak ada seorang pun melayani Allah atau memuliakan Allah dengan tindakan-tindakan yang bersifat luar (exterior acts) walaupun dilakukan secara kontinue, kalau tindakan-tindakan itu tidak datang dari suatu niat dan suatu kehendak untuk memuliakan dan menyenangkan Allah. Inilah kekristenan. Hukum lama tidak ditiadakan, melainkan diperdalam dan diberikan suatu hidup yang baru.

Ada perintah: “Jangan membunuh” (Kel 20:13). Karena alasan di atas, maka menghindari pembunuhan tidaklah cukup, seorang Kristiani sejati harus membuang inklinasi apa saja untuk membunuh. Bagaimana? Dengan membangun kasih persaudaraan sejati dengan semua orang dari dalam hati. Kita tidak boleh hanya tidak melukai sesama kita, pribadinya atau dalam karakternya, tetapi kita juga harus selalu siap untuk menolongnya dan mencegah melukai dirinya kapan dan di mana saja.

Ada perintah: “Jangan berzinah” (Kel 20:14). Kita tidak hanya harus tidak terlibat dalam perzinahan, tetapi juga harus mengembangkan sikap hormat Kristiani akan kemurnian, keutamaan yang akan menjaga kita tidak hanya dari perzinahan tetapi bahkan dari pemikiran-pemikiran sekitar perzinahan, atau apa saja penyalahgunaan anugerah di bidang seksualitas yang diberikan oleh Allah untuk tujuan yang sangat baik.

Ada delapan perintah lainnya yang dapat disoroti, namun keterbatasan ruang dan waktu tidak mengizinkan hal itu dilakukan. Yang patut kita pegang adalah bahwa kita harus selalu berpikir, bersikap, berkata dan bertindak benar (truthful) (tindakan kita harus selalu sesuai dengan kata-kata kita: “walk the talk”). Melayani Allah secara benar dan setia dimulai dari hati kita, dan bernilai dari disposisi batiniah. Taat kepada “Sepuluh Perintah Allah” adalah cara kita membuktikan kepada Allah bahwa kita berterima kasih penuh syukur, taat dan setia kepada-Nya yang memberikan kepada  kita segalanya yang kita miliki dan yang telah menjanjikan berbagai anugerah di masa depan yang jauh lebih besar/hebat. Kasih kita kepada Allah harus dibuktikan dengan kasih sejati kepada sesama. Dengan demikian kalau kita memang benar dalam memenuhi tujuh perintah terakhir dari “Sepuluh Perintah Allah”, maka kita dapat memenuhi tiga perintah yang pertama, yang mengatur hubungan kita dengan Allah.

Kebenaran dari yang baru dikatakan ini terdapat dalam “Khotbah di Bukit”: “Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu” (Mat 5:23-34).

DOA: Terima kasih Tuhan Yesus Kristus, karena Engkau telah memberikan kepadaku Roh Kudus-Mu. Penuhilah hatiku dengan kasih-Mu yang tak terbatas dan membuat diriku kudus sebagaimana Engkau kudus adanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:17-37), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS KRISTUS MENGGENAPI HUKUM TAURAT” (bacaan tanggal 16-2-20) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 20-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2020. 

Cilandak, 13 Februari 2020 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

JUMLAH MEREKA KIRA-KIRA EMPAT RIBU ORANG

JUMLAH MEREKA KIRA-KIRA EMPAT RIBU ORANG

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa V – Sabtu, 15 Februari 2020)

Pada waktu itu ada lagi orang banyak di situ yang besar jumlahnya, dan karena mereka tidak mempunyai makanan, Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata, “Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini, karena sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Jika mereka Kusuruh pulang ke rumahnya dengan lapar, mereka akan rebah di jalan, sebab ada yang datang dari jauh.” Murid-murid-Nya menjawab, “Bagaimana di tempat yang terpencil ini orang dapat memberi mereka roti sampai kenyang?” Yesus bertanya kepada mereka, “Kamu punya berapa roti?” Jawab mereka, “Tujuh.” Lalu Ia menyuruh orang banyak itu duduk di tanah. Sesudah itu Ia mengambil ketujuh roti itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya supaya mereka menyajikannya, dan mereka pun menyajikannya kepada orang banyak. Mereka juga mempunyai beberapa ikan kecil, dan sesudah mengucap syukur atasnya, Ia menyuruh menyajikannya pula. Mereka pun makan sampai kenyang. Kemudian mereka mengumpulkan potongan-potongan roti yang lebih, sebanyak tujuh bakul. Jumlah mereka kira-kira empat ribu orang. Lalu Yesus menyuruh mereka pergi. Ia segera naik ke perahu bersama murid-murid-Nya dan bertolak ke daerah Dalmanuta. (Mrk 8:1-10) 

Bacaan Pertama: 1Raj 12:26-32; 13:33-34; Mazmur Tanggapan: Mzm 106:6-7a,19-22

Yesus memberi makan kira-kira empat ribu orang. Markus menggunakan mukjizat pada bagian akhir pelayanan-Nya di wilayah Galilea untuk menunjukkan karunia Ekaristi itu tersedia bagi orang-orang Kafir dan juga bagi orang-orang Yahudi. Penggandaan roti adalah lambang-lambang klasik daripada Ekaristi. Injil Markus menggambarkan dua mukjizat sedemikian: satu untuk orang-orang Yahudi (Mrk 6:30-44) dan satu untuk orang-orang Kafir (Mrk 8:1-10). Apa yang dilakukan oleh Yesus di sini secara simbolis kemudian akan dilakukan-Nya dalam bentuk tindakan: tubuh-Nya hancur penuh luka dan darah-Nya tercurah kepada semua orang: orang-orang komunis, ateis dll. Yesus hidup dan mati bagi setiap orang.

Mukjizat penggandaan roti dan ikan kali ini – seperti disebutkan di atas adalah bagi orang-orang kafir. Peristiwa ini melambangkan Ekaristi sebagai suatu Paskah yang baru; tidak lagi untuk merayakan orang Yahudi yang keluar dari perbudakan di Mesir, melainkan pembebasan umat manusia dari dosa. Ini adalah pemenuhan dari janji yang ada dalam Kitab Kejadian. TUHAN memberikan kepada kita dalam Ekaristi suatu cara untuk mengatasi efek degeneratif yang disebabkan dosa yang berulang-ulang, suatu sarana untuk merestorasikan kita sebagai anak-anak Allah dan sebagai suatu katalisator untuk regenerasi lembaga-lembaga keagamaan dan sipil kita.

Baik kita pusatkan perhatian kita sekarang pada kenyataan bahwa dalam dua peristiwa penggandaan roti dan ikan, nampak bahwa ada perhatian terhadap makanan. Soal makan dan/atau makanan sering disinggung dalam Injil. Kepada kita yang membaca Injil diberitahukan apa yang dimakan oleh Yohanes Pembaptis (Mrk 1:6), Kita membaca perdebatan-perdebatan tentang soal makan vs puasa (Mrk 2:18-20); rituale membasuh tangan sebelum makan (Mrk 7:1-5); makanan yang tidak najis (Mrk 7:14-23); makan bersama dengan orang lain (Mrk 2:15-17); memetik bulir gandum pada hari Sabat (Mrk 2:23-28). Yesus menyuruh Yairus dan istrinya untuk memberi makanan kepada anak perempuan mereka yang baru dibangkitkan; Ia melarang murid-murid membawa makanan (Mrk 6:8). Yesus dan para murid-Nya disibukkan oleh orang banyak sehingga mereka tidak sempat makan (Mrk 6:31). Pertolongan Allah disamakan dengan makanan (Mrk 7:27-28).

Dari perhatian khusus Injil ini tentang makanan dapatlah kita menarik kesimpulan bahwa Yesus berhubungan dengan orang-orang yang senantiasa dikuatirkan oleh makanan, orang-orang yang hampir selalu merasa lapar, besok makan apa ya? Di balik peristiwa mukjizat penggandaan roti dan ikan ini kita dapat melihat kemiskinan orang banyak itu. Peristiwa mukjizat penggandaan roti dan ikan itu sendiri perumpamaan dalam aksi: sebagaimana perumpamaan tentang seorang penabur, keajaiban dalam hal makanan menggambarkan Kerajaan Allah sebagai anugerah di mana orang memperoleh makanan yang lebih dari cukup. Itulah pesan yang disampaikan bagi orang-orang lapar.

Dengan menggandakan roti dan ikan, Yesus memperlihatkan bahwa Dia mempedulikan keadaan jasmani manusia. Seperti yang telah kita lihat, Dia meminta kepada para murid-Nya untuk meninggalkan segala bentuk kemapanan ekonomi dan pergi ke tengah-tengah orang lapar. Yesus memanggil para murid untuk mempedulikan apakah orang-orang lapar sudah kenyang.

Marilah sekarang kita bertanya kepada diri kita sendiri. Kebutuhan dan rasa lapar yang bagaimana yang mendorong aku untuk meminta pertolongan dari Allah? Kelimpahan yang bagaimana yang dapat menggambarkan Kerajaan Allah kepadaku?  Apakah aku mementingkan kesejahteraan ekonomiku sendiri daripada menolong orang lain untuk hidup lebih layak?

DOA: Tuhan Yesus Kristus, tariklah diriku agar mendekat pada-Mu dan segarkanlah diriku dengan makanan surgawi dari-Mu. Lipat-gandakanlah rahmat-Mu dalam diriku dan para murid-Mu yang  lain sehingga kami diberdayakan untuk berbagi kasih-Mu dengan orang-orang di sekeliling kami masing-masing. Tuhan Yesus Kristus, jadikanlah hati kami seperti hati-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 8:1-10), bacalah tulisan dengan judul “YESUS MEMBERI MAKAN EMPAT RIBU ORANG NON-YAHUDI” (bacaan tanggal 15-2-20) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 20-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2020. 

Cilandak, 13 Februari 2020 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

TIDAK ADA YANG MUSTAHIL BAGI ALLAH

TIDAK ADA YANG MUSTAHIL BAGI ALLAH

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan Wajib S. Sirilus, Pertapa dan Metodius, Uskup –  Jumat, 14 Februari 2020)

Kemudian Yesus meninggalkan lagi daerah Tirus dan melalui Sidon pergi ke Danau Galilea, melintasi daerah Dekapolis. Di situ orang membawa kepada-Nya seorang yang tuli dan yang gagap dan memohon kepada-Nya, supaya Ia meletakkan tangan-Nya di atas orang itu. Sesudah Yesus memisahkan dia dari orang orang banyak, sehingga mereka sendirian, Ia memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu, lalu Ia meludah dan meraba lidah orang itu. Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus mendesah dan berkata kepadanya, “Efata!”, artinya: Terbukalah! Seketika itu terbukalah telinga orang itu dan pulihlah lidahnya, lalu ia berkata-kata dengan baik. Yesus berpesan kepada mereka supaya jangan menceritakannya kepada siapa pun juga. Tetapi makin dilarang-Nya, makin luas mereka memberitakannya. Mereka teramat takjub dan berkata, “Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata.” (Mrk 7:31-37) 

Bacaan Pertama: 1Raj 11:29-32;12:19; Mazmur Tanggapan: Mzm 81:10-15 

“Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata.” (Mrk 7:37)

Seperti juga perempuan Siro-Fenisia yang mencari kuasa penyembuhan Yesus bagi anak perempuannya, orang tuli-gagap ini datang dari suatu wilayah non-Yahudi. Dua orang itu tergolong “orang luar” – mereka berada di luar perjanjian yang telah dibuat oleh Allah dengan umat pilihan-Nya. Namun demikian, Yesus memilih untuk menyembuhkan anak perempuan dari perempuan Siro-Fenisia dan juga orang yang tuli-gagap tersebut. “Mereka teramat takjub” (Mrk 7:37), barangkali bukan hanya karena penyembuhan-penyembuhan ajaib yang dilakukan Yesus, melainkan juga karena kenyataan bahwa Yesus memberikan berkat-berkat-Nya kepada orang-orang “kafir” juga.

Akan tetapi, di samping apa yang disebutkan di atas, kiranya yang paling penting adalah karena orang-orang di TKP melihat bahwa Yesus adalah penggenapan dari nubuat nabi Yesaya (bdk. Yes 35:5).Sesungguhnya arti yang lebih mendalam dari nubuat nabi Yesaya tersebut adalah lebih daripada sekadar suatu prediksi dari penyelesaian masalah-masalah pendengaran/telinga. Sang Mesias akan memampukan orang-orang untuk berurusan satu sama lain pada tingkatan yang lebih sensitif dan memberi kesadaran kepada kita rentan jejaring relasi dan respek yang mengikat sebuah komunitas bersama. Mendengar dan berbicara pada tingkatan ini adalah suatu tanda dari era Mesias.

Kembali kepada mukjizat penyembuhan yang terjadi, mengapa kita sering “merasa teramat takjub” ketika melihat karya Tuhan? Barangkali kita telah mendengar berita tentang seorang kriminal kelas berat yang bertobat, atau kesembuhan ajaib yang dialami seseorang dari penyakit kanker yang ganas. Barangkali kita telah melihat bagaimana seorang anggota keluarga besar kita yang bertahun-tahun lamanya “jauh” dari Tuhan, kemudian kembali ke jalan-Nya. Manifestasi-manifestasi dari kuasa Allah memang indah, dan sepantasnyalah kita bergembira untuk itu semua. Sekarang, apakah manifestasi-manifestasi itu mengejutkan kita? Barangkali. Namun semua itu mengingatkan kita akan sebuah kebenaran yang sudah kita ketahui: “Bagi Allah tidak ada yang mustahil” (Luk 1:37).

Melampaui mukjizat-mukjizat yang sudah bersifat sangat luarbiasa, Allah dapat melakukan hal-hal yang mengagumkan dalam hati kita dan membuka telinga kita agar mampu mendengar sabda-Nya dengan satu cara yang baru. Sampai berapa sering kita mendengar Allah Bapa berbicara kepada kita dalam doa, mengingatkan kita akan suatu petikan bacaan khusus dalam Kitab Suci yang mengubah cara kita bertindak dan cara kita memandang hidup kita? Seperti apa yang dilakukan-Nya dengan orang tuli-gagap, Allah ingin kita membuka hati kita untuk mendengar kehendak-Nya bagi kita; Dia ingin melancarkan lidah kita guna memproklamasikan kemuliaan-Nya. Kita harus mengharapkan bahwa Allah dapat dan mau mewujudkan karya-Nya ini dalam diri kita – barangkali, seperti halnya dengan orang yang tuli-gagap, dengan pertolongan para sahabat kita (lihat Mrk 7:32).

Yesus seringkali membuat orang terkejut – menyembuhkan orang “kafir”, bersantap dalam perjamuan makan dengan para pemungut cukai, mengampuni para PSK. Ia juga dapat mengejutkan kita dengan memanggil kita kepada-Nya dan menggunakan kita untuk turut memajukan Kerajaan-Nya di atas bumi. Para murid-Nya pertama terdiri dari para mantan nelayan, mantan pemungut cukai, mantan pejuang militan Zeloti.

Saudari dan Saudara yang terkasih, marilah kita tidak membatasi Tuhan. Kita dapat berpikir bahwa kita tidak siap dan tidak mempunyai peralatan yang mencukupi guna menerima tugas dari Tuhan, namun terus membuka sepasang telinga kita agar dapat mendengar suara-Nya dan hati kita juga siap untuk melakukan apa saja yang diperintahkan-Nya  kepada kita (lihat Yoh 2:5).

DOA: Yesus, Engkau adalah Yang Kudus dari Allah, oleh karenanya layak dipuji. Segala kemuliaan dan kehormatan adalah milik-Mu saja. Dalam belas kasih-Mu yang besar, Engkau datang ke dunia untuk menyelamatkan kami. Terima kasih Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 7:31-37), bacalah tulisan yang berjudul “PENGGENAPAN NUBUAT NABI YESAYA” (bacaan tanggal 14-2-20), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 20-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2020. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 15-2-19 dalam situs/blog PAX ET BONUM) 

Cilandak, 12 Februari 2020 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MELALUI YESUS KITA SAMPAI KEPADA BAPA SURGAWI

MELALUI YESUS KITA SAMPAI KEPADA BAPA SURGAWI

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Hari Biasa Pekan Biasa V – Kamis, 13 Februari 2020)

Lalu Yesus berangkat dari situ dan pergi ke daerah Tirus. Ia masuk ke sebuah rumah dan tidak ingin seorang pun mengetahuinya, tetapi kedatangan-Nya tidak dapat dirahasiakan. Malah seorang ibu, yang anak perempuannya kerasukan roh jahat, segera mendengar tentang Dia, lalu datang dan sujud di depan kaki-nya. Perempuan itu seorang Yunani keturunan Siro-Fenisia. Ia memohon kepada Yesus untuk mengusir setan itu dari anak perempuannya. Lalu Yesus berkata kepadanya, “Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak itu dan melemparkannya kepada anjing.” Tetapi perempuan itu menjawab, “Benar, Tuhan. Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak.” Lalu kata Yesus kepada perempuan itu, “Karena kata-katamu itu, pergilah, setan itu sudah keluar dari anakmu.” Perempuan itu pulang ke rumahnya, lalu didapatinya anak itu berbaring di tempat tidur dan  setan itu sudah keluar. (Mrk 7:24-30) 

Bacaan Pertama: 1Raj 11:4-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 106:3-4,35-37,40

Taboo untuk berhubungan dengan orang kafir menambah makna dari bacaan Injil hari ini. Episode yang menggambarkan pertemuan Yesus dengan seorang perempuan Yunani keturuan Siro-Fenisia itu (Mrk 7:26) menjadi luarbiasa dalam beberapa hal. Pertama, dia adalah seorang kafir (non-Yahudi). Kedua, dia adalah seorang perempuan. Tanpa ragu Yesus berbicara kepadanya walaupun dia kafir dan perempuan. Ketiga, perempuan itu mohon kepada Yesus suatu penyembuhan dari jarak jauh, yang sungguh dilakukan oleh Yesus tanpa susah-susah dan untuk pertama kali dinarasikan dalam Injil Markus. Kuat-kuasa Yesus tidak berkurang walaupun ada hal-hal  yang kelihatan sebagai kendala tersebut.

Kota-kota Tirus dan Sidon terletak di luar perbatasan Israel, namun demikian orang-orang di sana mendengar tentang mukjizat-mukjizat dan tanda-tanda heran yang dibuat oleh Yesus. Di kota Tirus ini Yesus didekati oleh seorang perempuan non-Yahudi yang tinggal di situ. Anak perempuan itu kerasukan roh jahat dan pengharapan satu-satunya adalah sang rabi Yahudi dari Nazaret ini yang “ahli” membuat mukjizat. Tindakan perempuan “kafir” ini dilakukan tanpa rasa malu dan dengan berani pula. Perempuan pada zaman itu tidak diperbolehkan untuk berbicara dengan orang-orang asing. Lagipula, dia adalah seorang Yunani keturunan Siro-Fenisia, artinya dipandang sebagai orang kafir yang tidak bersih oleh orang Yahudi.

Dengan maksud menguji iman perempuan itu, Yesus menanggapi permohonan perempuan itu dengan berkata: Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak itu dan melemparkannya kepada anjing” (Mrk 7:27). Kata-kata Yesus ini terasa pedas-menyakitkan bagi telinga yang cukup sensitif, namun kelihatannya tidak mengejutkan bagi telinga perempuan itu. Kiranya kata-kata Yesus itu malah menguatkan ketetapan hatinya untuk mengandalkan diri sepenuhnya pada Yesus. Menanggapi secara positif sekali tantangan yang diberikan Yesus di hadapannya, perempuan itu bertekun dalam iman dan menolak untuk mundur. Bahkan dengan kerendahan hati dan keberanian yang sama bobotnya, dia menanggapi kata-kata Yesus: “Benar, Tuhan. Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak” (Mrk 7:28).

Ini adalah suatu “model iman” yang berlaku sepanjang masa!  Perempuan itu tidak memperkenankan apa atau siapa pun menghalangi dirinya untuk mendekat kepada sang Mesias – bukan status sosialnya yang rendah, bukan pula kondisi dirinya yang tidak bersih sebagai seorang “kafir”, bahkan bukan komentar awal dari Yesus yang terasa menghinanya. Perempuan itu dengan sadar mengetahui bahwa ada pembedaan historis dalam rencana Allah antara orang Yahudi dan Kafir yang sekarang sudah ditransenden (diatasi) oleh Yesus. Kenyataan ini membenarkan Gereja yang bertumbuh-kembang sampai ke Antiokhia dan Roma ke tengah orang kafir juga.

Iman-kepercayaan yang dimiliki perempuan itu samasekali tidak mengecewakan dirinya, karena akhirnya dia pulang ke rumahnya, lalu didapatinya anak itu berbaring di tempat tidur dan roh jahat yang mengganggunya juga sudah pergi (lihat Mrk 7:30). Sikap dan perilaku perempuan Sino-Fenisia itu sungguh bertentangan dengan kekerasan hati yang ditunjukkan oleh orang-orang Farisi dan beberapa ahli Taurat yang mengecam Yesus dan para murid-Nya yang tidak mengindahkan adat istiadat Yahudi yang berlaku (lihat Mrk 7:1-13). Dengan caranya sendiri, perempuan Siro-Fenisia itu telah menantang asumsi-asumi buatan manusia – sebagaimana Yesus telah berkonfrontasi dengan para pemimpin Israel yang sangat terikat pada tradisi, kemudian membuktikan iman manakah yang benar.

Siapa diantara kita yang kiranya merasa tak pantas untuk mendekat kepada Yesus? Di mata Allah, kita bukanlah bersih atau murni, demikian pula perempuan Siro-Fenisia itu. Terima kasih penuh syukur seharusnya kita haturkan kepada Yesus, karena berkat pengantaraan-Nya kita mempunyai akses kepada takhta Allah. Yesus hidup di tengah-tengah kita, menanggung sendiri segala dosa manusia sepanjang masa, dan membebaskan kita dari dosa dan maut. Tidak ada seorang pun yang berada di luar kuat-kuasa-Nya. Oleh karena itu, marilah kita menjalani hidup kita sehari-hari penuh kepercayaan akan kasih-Nya dan hasrat-Nya untuk membebaskan kita.

Sebagai penutup baiklah kita catat bahwa sepanjang Injil Markus, kita lihat Yesus mematahkan berbagai macam taboo – terhadap  orang-orang kusta, seorang perempuan yang menderita sakit pendarahan, makanan yang najis dan sekarang seorang perempuan kafir.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau telah datang ke tengah dunia guna menyembuhkan jiwa-jiwa umat manusia. Terpujilah nama-Mu selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil  hari ini (Mrk 7:24-30), bacalah tulisan dengan judul “SEORANG PEREMPUAN NON-YAHUDI DENGAN IMAN YANG MENGAGUMKAN” (bacaan tanggal 13-2-20), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 20-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2020. 

Cilandak,  11 Februari 2020 [Peringatan Fakultatif SP Maria di Lourdes 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

HAL-HAL YANG KELUAR DARI DALAM DIRI SESEORANG

HAL-HAL YANG KELUAR DARI DALAM DIRI SESEORANG

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa V – Rabu, 12 Februari 2020)

Lalu Yesus memanggil lagi orang banyak dan berkata kepada mereka, “Kamu semua, dengarkanlah Aku dan perhatikanlah. Tidak ada sesuatu pun dari luar, yang masuk ke dalam diri seseorang, dapat menajiskannya; tetapi hal-hal yang keluar dari dalam diri seseorang, itulah yang menajiskannya. Siapa saja yang bertelinga untuk mendengar hendaklah ia mendengar! Sesudah Ia masuk ke sebuah rumah untuk menyingkir dari orang banyak, murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya tentang arti perumpamaan itu. Lalu jawab-Nya, “Apakah kamu juga tidak dapat memahaminya? Tidak tahukah kamu bahwa segala sesuatu dari luar yang masuk ke dalam diri seseorang tidak dapat menajiskannya, karena bukan masuk ke dalam hati tetapi ke dalam perutnya, lalu keluar ke jamban?” Dengan demikian Ia menyatakan semua makanan halal. Kata-Nya lagi, “Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya, sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinaan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, perbuatan tidak senonoh, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang.”  (Mrk 7:14-23)

Bacaan Pertama: 1Raj 10:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 37:5-6,30-31,39-40

“Tidak ada sesuatu pun dari luar, yang masuk ke dalam diri seseorang, dapat menajiskannya; tetapi hal-hal yang keluar dari dalam diri seseorang, itulah yang menajiskannya.” (Mrk 7:15)

Seorang imam Amerika Serikat [Romo Joseph Krempa] pernah mengatakan “Cleanness and uncleanness are affairs of the soul and not of the body”, bersih dan tidak bersihnya diri seseorang adalah urusan jiwa dan bukan urusan raganya. Tuhan Yesus mengajar kita bahwa barang-barang (ini atau itu) tidak membuat seseorang menjadi berdosa. Buah terlarang tidak membuat Adam dan Hawa berdosa. Ketidaktaatan kepada Allah adalah gara-garanya. Apabila seseorang memendam kebencian terhadap saudaranya sampai tidak sudi mengampuninya, maka seribu berkat dari Sri Paus pun tak akan dapat menolongnya. Namun apabila diri seseorang, dipenuhi dengan kasih Yesus, maka sejuta kutukan pun tidak akan mampu menyakitinya. Tidak ada sesuatu pun yang dapat memisahkan kita dari kasih Tuhan Yesus. Santo Paulus menulis: “Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesengsaraan atau penganiayaan atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang?” (Rm 8:35). Jadi, jikalau tidak ada makanan dll. dari luar yang dapat membuat kita berdosa, maka tidak ada sesuatu pun dari luar yang membuat kita suci. Pembaharuan spiritual harus dari dalam diri kita masing-masing. “Kesalehan” yang dapat dilihat dengan mata tidak dapat mengkompensasi ketiadaan transformasi batiniah.

Agama bukanlah terdiri hanya dari regulasi-regulasi eksternal dan bagaimana umat mematuhi segala regulasi yang ada. Kalau demikian halnya, maka penghayatan ajaran agama menuju kekudusan menjadi sangat mudah. Jauh lebih mudahlah untuk menahan diri tidak memakan dan/atau meminum makanan/minuman tertentu dan mencuci tangan dengan cara-cara tertentu daripada tindakan nyata mengasihi orang-orang yang tidak mengasihi kita, bahkan membenci kita, juga orang-orang yang “tak pantas” untuk dikasihi menurut pandangan masyarakat pada umumnya, dan/atau menolong orang-orang yang memerlukan bantuan dengan pengorbanan (katakanlah “biaya”) berupa waktu kita, uang kita, kenyamanan serta kesenangan kita.

Memang terasa mengagetkan bila kita menyadari bahwa diri kita sendiri pun belum memahami sepenuhnya tujuan hidup kita sebagai orang yang “beragama” atau lebih tepatnya “beriman” Kristiani. Kita pergi ke gereja untuk mengikuti Misa Kudus atau Kebaktian secara teratur, mengikuti acara paroki/wilayah dan lingkungan secara teratur pula. Namun segala hal itu adalah hal-hal yang bersifat eksternal. Semua itu hanyalah sarana guna mencapai tujuan kita, yaitu memenuhi panggilan Allah kepada kekudusan lewat proses kemuridan yang berkesinambungan, artinya juga melakukan pertobatan terus-menerus. Hidup beriman sebagai seorang Kristiani menyangkut relasi dan suatu sikap dalam menghadapi Allah dan sesama kita.

Apabila kehidupan beragama hanya terdiri dari praktek-praktek guna mematuhi peraturan-peraturan eksternal, maka kenyataan tersebut dapat menyesatkan (misleading). Banyak orang menghayati/menjalani kehidupan yang nyaris tanpa cela dilihat dari hal-hal eksternal, namun orang-orang itu menyimpan hal-hal yang paling buruk dan jahat dalam hati dan pikiran mereka. Yesus mengajar bahwa apa yang dilakukan seseorang secara eksternal tidaklah dapat menghapuskan segala yang kotor dan jahat dalam hati dan pikirannya. Yesus mengajarkan: “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah” (Mat 5:8).

Yang penting di mata Allah bukanlah “bagaimana” kita bertindak, melainkan “mengapa” kita melakukan tindakan tertentu; bukan pula apa “yang sesungguhnya” kita lakukan, melainkan apa “yang menurut hati kita ingin lakukan”. Menurut Santo Thomas Aquinas: “Manusia melihat tindakan, namun Allah melihat niat/intensi.”

Inilah ajaran Yesus bagi kita semua. Janganlah kita menamakan diri kita “baik” karena kita mematuhi segala peraturan agama yang berlaku. Dalam sebuah doanya, Santo Fransiskus dari Assisi mengatakan bahwa Allah-lah segala kebaikan, paling baik, seluruhnya baik, hanya Allah sendiri yang baik (Pujian yang Diucapkan pada Semua Waktu Ibadat, 11).

Namun dengan rendah-hati kita dapat mengatakan diri kita baik, “hanya” apabila kita yakin benar bahwa hati kita suci-murni sebagaimana dikatakan oleh Yesus dalam “Khotbah di Bukit” seperti dipetik di atas (Mat 5:8). Hal ini berarti akhir dari kesombongan, yang seringkali masih melekat pada diri banyak umat beriman karena kecenderungan manusia untuk berdosa. Inilah juga alasan sangat mendasar, mengapa kita masing-masing layak dan pantas untuk berdoa kepada-Nya: “Tuhan, kasihanilah aku orang yang berdosa! (bdk. Mrk 10:47,49).

DOA: Bapa surgawi, Allah Pencipta langit dan bumi, kuduslah nama-Mu. Bapa, seturut ajaran Yesus dan oleh kuasa Roh Kudus-Mu, jagalah agar hati kami senantiasa suci-murni agar supaya kelak kami dapat melihat Engkau. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 7:14-23), bacalah tulisan yang berjudul “APA YANG KELUAR DARI SESEORANG, ITULAH YANG MENAJISKANNYA” (bacaan tanggal 12-2-20) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 20-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2020.

Cilandak, 10 Februari 2020 [Peringatan Wajib S. Skolastika, Perawan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS