ANGGUR BARU

ANGGUR BARU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIII – Sabtu, 4 Juli 2015)

Ordo Franciscanus Saecularis (OFS): Peringatan S. Elisabet dari Portugal, Ratu

YESUS DI GEREJA ORTODOX SIRIAKemudian datanglah murid-murid Yohanes kepada Yesus dan berkata, “Mengapa kami dan orang Farisi berpuasa, tetapi murid-murid-Mu tidak?” Jawab Yesus kepada mereka, “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka akan berpuasa. Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada yang baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabik baju itu, lalu makin besarlah koyaknya. Begitu pula anggur yang baru tidak dituang ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian kantong itu akan koyak sehingga anggur itu terbuang dan kantong itu pun hancur. Tetapi anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru pula, dan dengan demikian terpeliharalah kedua-duanya.” (Mat 9:14-17) 

Bacaan Pertama: Kej 27:1-5,15-29; Mazmur Tanggapan: Mzm 135:1-6 

Yohanes Pembaptis dan murid-murid-Nya menjalani suatu kehidupan asketis. Ia datang ke tengah-tengah masyarakat untuk memanggil banyak orang untuk menyesali dosa-dosa mereka  dan melakukan pertobatan. Oleh karena sangatlah pantas bahwa mereka harus melakukan puasa. Akan tetapi, para murid Yohanes seakan menghadapi sebuah teka-teki mengapa para murid Yesus tidak berpuasa.

Dalam jawaban-Nya, Yesus menggunakan bahasa figuratif namun maknanya jelas. Berpuasa adalah sebuah tanda berduka-cita, kesedihan, atau pertobatan. Tentunya hal sedemikian tidak cocok atau layak pada sebuah pesta pernikahan. Sementara Yesus – sang mempelai laki-laki – bersama dengan para undangan-Nya, maka yang ada haruslah sukacita, suatu suasana penuh kebebasan dan cintakasih.

Berpuasa adalah sebuah tindakan yang baik, namun harus dilakukan secara bebas dan layak dari sudut waktu, tempat dan cara puasa itu dilaksanakan. Berpuasa tidak pernah boleh menjadi tujuan, berpuasa hanyalah sarana atau alat guna mencapai tujuan.

KANTONG ANGGUR YANG BARUYesus terus berbicara tentang keseluruhan cara hidup baru yang sedang diperkenalkan-Nya. Yesus membuat jelas bahwa Dia bukanlah sekadar menyelipkan di sana-sini ide-ide baru, interpretasi-interpretasi baru dari Hukum Lama. Yesus berkata, “Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua. … Begitu pula anggur yang baru tidak dituang ke dalam kantong kulit yang tua” (Mat 9:16,17). Dengan cara yang sama, Pesan Yesus tidak boleh kita campur-adukkan dengan Hukum Lama. Injil-Nya, Kabar Baik-Nya adalah berita atau kabar yang seluruhnya baru. Yesus ingin untuk menempatkan kita ke dalam suatu relasi dengan Allah yang seluruhnhya baru, suatu relasi persahabatan dan cintakasih dan bukannya relasi yang dipenuhi dengan rasa takut.

Kita juga telah dipanggil ke dalam suatu hidup baru. Melalui pembatisan kita dilahirkan kembali. Kiranya Allah telah memberikan kepada kita suatu semangat yang diperbaharui dalam iman kita, suatu relasi cintakasih dengan Dia. Oleh karena itu mengapa kita harus terus berpegang erat-erat pada hal-hal yang lama? Mengapa kita harus mencoba untuk merekonsiliasikan cara-cara kita yang lama – kepentingan-kepentingan diri sendiri dan bersifat duniawi – dengan panggilan Tuhan kepada hidup baru? Kita harus mati terhadap diri kita yang lama dan tidak mencoba untuk berkompromi.

DOA: Yesus Kristus, oleh kuat-kuasa Roh Kudus-Mu buatlah baptisan kami menjadi hidup. Buatlah segala sesuatu baru karena kami hidup di bawah hukum cintakasih yang Kauajarkan kepada kami para murid-Mu. Terpujilah nama-Mu, ya Yesus Kristus, sekarang dan selama-lamanya. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 9:14-17), bacalah tulisan yang berjudul “MENGAPA MURID-MURID-MU TIDAK BERPUASA?” (bacaan tanggal 4-7-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 5-7-14 dalam situs/blog PAX ET BONUM) 

Cilandak, 28 Juni 2015 [HARI MINGGU BIASA XIII] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YA TUHANKU DAN ALLAHKU !!! [2]

YA TUHANKU DAN ALLAHKU !!! [2]

(Bacaan Misa Kudus, PESTA S. TOMAS RASUL – Jumat, 3 Juli 2015) 

thomas2Tetapi Tomas, salah seorang dari kedua belas murid itu, yang disebut Didimus, tidak ada bersama-sama mereka, ketika Yesus datang ke situ. Jadi, kata murid-murid yang lain itu kepadanya, “Kami telah melihat Tuhan!”  Tetapi Tomas berkata kepada mereka, “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku menaruh jariku ke dalam bekas paku itu dan menaruh tanganku ke lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya.” Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata, “Damai sejahtera bagi kamu!” Kemudian Ia berkata kepada Tomas, “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan taruhlah ke lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.” Tomas menjawab Dia, “Ya Tuhanku dan Allahku!” Kata Yesus kepadanya, “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” (Yoh 20:24-29) 

Bacaan Pertama: Ef 2:19-22; Mazmur Tanggapan: Mzm 117:1-2

Ketika para murid mengatakan kepada Tomas bahwa mereka telah melihat Tuhan, ketidakpercayaan Tomas dan keragu-raguannya menghalangi dia dari suatu sikap keterbukaan, sikap mana sungguh diperlukan untuk memperkenankan Roh Kudus menyatakan Kristus kepadanya. Reaksi Tomas terasa keras sekali, “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-nya dan sebelum aku menaruh jariku ke dalam bekas paku itu dan menaruh tanganku ke lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya” (Yoh 20:25). Tentu pengungkapan ketidak-percayaan Tomas itu mengejutkan para murid yang lain. Artinya, kesaksian mereka ditolak mentah-mentah oleh Tomas.

Tuntutan Tomas untuk melihat bekas paku pada tangan Yesus  dan menaruh jarinya ke dalam bekas paku itu tentu terasa sebagai suatu hujatan di mata rekan-rekannya. Namun, supaya adil kita juga harus dapat menilai sikap Tomas dari sisi lain. Tomas – sendirian – menentang kesepakatan kesaksian dari rekan-rekannya, suatu kesaksian yang bertentangan dengan logikanya. Jelas dia bukan seorang pribadi yang mudah ikut-ikutan, dan sikap ini tidak buruk sama sekali. Harus kita akui bahwa untuk menjadi “tanda lawan” diperlukan keberanian, tidak terkecuali dalam kasus Tomas ini. Dilihat dari sisi ini, sikap Tomas  seperti itu seharusnya dihargai!  “Seeing is believing,” bukankah ini paradigma yang berlaku di dunia? Itulah sebabnya Tomas merasa perlu bertemu sendiri dengan Yesus.

Kita lihat sekarang apa yang terjadi delapan hari kemudian: Yesus muncul lagi di tengah-tengah para murid-Nya, dan kali ini Tomas hadir. Ketika Yesus mengundang dia untuk melangkah maju dalam iman, kebutaan Tomas menjadi tersingkir dan pada saat itu juga secara spontan dia mempermaklumkan kata-kata iman-kepercayaan yang agung, “Ya Tuhanku dan Allahku!” Kata-kata inilah yang kita ucapkan dengan suara lemah lembut sebagai ungkapan kepercayaan dan syukur kita pada saat Doa Syukur Agung (konsekrasi), ketika imam selebran mengangkat hosti atau piala yang berisi air anggur. Tomas si peragu bertemu face-to-face dengan Yesus, dengan cinta kasih-Nya yang tak bersyarat dan berkelimpahan …… Tanpa reserve, Tomas pun melepaskan sikap skeptis yang membentenginya, lalu sujud menyembah Yesus sebagai Tuhannya dan Allahnya.

stthomastheapostleSeruan Tomas ini mengungkapkan suatu keunggulan iman yang murni. Pada saat rahmat seperti itu, tentunya Tomas mengingat lagi apa yang telah Yesus ramalkan tentang sengsara, kematian dan kebangkitan-Nya dalam perjalanan mereka menuju Yerusalem. Sekarang dia percaya penuh, sepenuh-penuhnya. Ia membuktikan dalam karya misinya kelak … setelah dipenuhi Roh Kudus pada hari Pentakosta, diutus oleh Tuhan dan Gurunya pada waktu Dia naik ke surga, Tomas berubah total menjadi seorang misionaris tangguh yang kemudian berhasil mewartakan Kabar Baik ke ujung-ujung dunia …… sampai ke India. Dan, dia pun mati sebagai martir, demi cinta kasih penuh ketaatan kepada Tuhan dan Gurunya.

Sekarang marilah kita kembali kepada penolakan dan ketidak-percayaan Tomas tadi. Ada dua hal yang perlu kita soroti dan renungkan. Pertama-tama, tuntutan Tomas untuk memperoleh bukti obyektif kelihatannya seperti suatu keangkuhan atau ketiadaan iman dalam dirinya. Namun kalau kita memandangnya dari sudut yang lain, hal itu menunjukkan kepada kita sebuah model atau contoh dari hidup kita sendiri. Seorang anak muda yang sedang mengalami pergumulan batin berkaitan dengan imannya, sekali peristiwa berdoa, “Ya Allah, kalau Engkau sungguh riil, buktikanlah kepadaku.”  Sekilas doa ini terasa tidak menunjukkan rasa hormat sedikit pun kepada Allah, namun sesungguhnya merupakan suatu ungkapan dari kerinduan mendalam yang ada dalam hati anak muda itu. Pada kenyataannya Allah memang senang sekali kalau kita mencari-Nya dengan “agresif” seperti itu. Allah senang menjawab doa-doa seperti itu karena di belakang semua itu Dia melihat ada hati yang terbuka, yang dengan penuh kerinduan mohon agar Dia menyatakan diri-Nya.

Kedua, apa yang membuat Tomas menjadi ragu? Apakah dia sekadar mau mengobati kekecewaannya karena tidak hadir pada waktu kedatangan Yesus? Apakah kekecewaan Tomas ini telah membuatnya tidak mau turut bersukacita dengan para murid lainnya? Apakah barangkali karena Tomas merasa takut jangan-jangan apa yang diceritakan oleh rekan-rekannya sekadar isapan jempol saja? Ada yang berpendapat, bahwa apa pun alasan Tomas, jelaslah bahwa emosi-emosinya telah mempengaruhi pemikirannya, sehingga telah menggiring dia sampai kepada sikap keras kepala tidak-mau-percaya. Apa pelajaran yang dapat kita ambil dari kasus Tomas ini?

Kita masing-masing memiliki  berbagai emosi yang praktis menyusupi semua yang kita pikirkan, kita nilai, kita katakan dan kita lakukan. Kebutuhan seseorang untuk berdamai dengan dirinya sendiri dapat membuat orang itu berkompetisi … artinya bersaing dengan orang-orang lain dengan begitu banyak cara dan dalam begitu banyak bentuknya yang tersembunyi. Misalnya, hasrat seseorang untuk merasa setingkat atau superior ketimbang orang-orang lain dapat membuat orang itu menjadi penuh prasangka buruk terhadap orang-orang lain itu. Tidak hanya prasangka buruk terhadap mereka sebagai pribadi-pribadi, tetapi juga atas apa yang dikatakan mereka dan apa yang telah berhasil mereka capai. Orang yang berprasangka buruk dapat begitu intensnya mencari berbagai kesalahan dan kekurangan orang lain yang menjadi sasarannya, sehingga dia dapat tidak mendengar kebenaran apa pun dalam kata-kata yang diucapkan oleh orang itu, atau melihat apapun yang baik yang dilakukan orang itu.

ST. J0HN MARY VIANNEY - 06Yesus minta kepada kita untuk percaya akan kebenaran-Nya dan sabda-Nya, kendati pun dibawakan kepada kita oleh utusan-utusan-Nya, entah seorang imam atau seorang pegawai rendahan di tempat kita bekerja. Dia mau agar kita mendengar suara-Nya dan melihat kehadiran-Nya dengan telinga dan mata iman. Akan tetapi rahmat-Nya dapat terhalang kalau kita tidak belajar puas terhadap diri kita sendiri secara wajar, dan apabila kita tidak memiliki kemauan untuk menerima orang-orang lain apa adanya.  Hanya apabila kita sudah bebas dari persaingan yang tidak dewasa dengan orang-orang lain, maka mudahlah bagi kita untuk ‘memanfaatkan’ karunia iman yang diberikan Yesus kepada kita.

Tomas sangat beruntung boleh hidup di zaman Yesus dan menjadi salah seorang murid-Nya. Bagaimana dengan kita yang hidup pada zaman modern ini dengan dengan segala perangkat high-tech di bidang informasi, mass media, kompleksitas dalam cara berorganisasi, dan lain-lainnya? Terdapat kesenjangan selama dua millenia! Tidak ada masalah, karena “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya” (Ibr 13:8). Kita semua, anda dan saya, dapat mengalami Yesus sekuat dan se-intens yang dialami Tomas dan para rasul atau murid yang hidup satu zaman dengan Yesus. Yang harus kita lakukan hanyalah meng-komit diri kita pada doa yang keluar dari hati kita yang jujur, dan penuh kerendahan hati. Selagi kita berdoa dengan khidmat/khusyuk dan mohon kepada Yesus agar Dia menyatakan diri-nya kepada kita, Dia akan menunjukkan diri-Nya kepada kita dengan cara-cara yang akan meyakinkan kita tanpa keraguan sedikit pun, bahwa Dia hidup dan dipenuhi dengan kasih bagi kita. Maka kita pun dapat menggemakan juga seruan cinta dan iman dari Tomas: “Ya Tuhanku dan Allahku!” 

Ada satu lagi yang perlu direnungkan dari bacaan di atas: untuk melihat Tuhan seperti apa adanya, Dia mensyaratkan adanya iman-kepercayaan, dan inilah tujuan dari Yohanes menulis Injilnya, “… supaya kamu percaya bahwa Yesus-lah Mesias, Anak Allah, dan supaya karena percaya, kamu memperoleh hidup dalam nama-Nya” (Yoh 20:31).

DOA: Yesus, Engkaulah Tuhan dan Juruselamatku yang penuh kasih. Aku sungguh rindu untuk melihat wajah-Mu, ya Tuhan. Nyatakanlah diri-Mu kepadaku secara lebih mendalam lagi. Sembuhkanlah segala ketidak-percayaanku, agar dengan demikian aku dapat bersembah sujud penuh hormat kepada-Mu seraya mengatakan, “Tuhanku dan Allahku!” Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 20:24-29), bacalah tulisan yang berjudul “DIDIMUS YANG PERLU BUKTI” (bacaan tanggal 3-7-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan yang berjudul “YA TUHANKU DAN ALLAHKU !!! [2]” untuk bacaan tanggal 3-7-14 dalam situs/blog PAX ET BONUM) 

Cilandak, 27 Juni 2015

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KUASA ATAS DOSA

KUASA ATAS DOSA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIII – Kamis, 2 Juli 2015)

YESUS MENYEMBUHKAN ORANG LUMPUH YANG DIBAWA DARI LOTENG - 650Sesudah itu naiklah Yesus ke dalam perahu lalu menyeberang. Kemudian sampailah Ia ke kota-Nya sendiri. Lalu dibawalah kepada-Nya seorang lumpuh yang terbaring di tempat tidurnya. Ketika Yesus melihat iman mereka berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu, “Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni.” Mendengar itu, berkatalah beberapa orang ahli Taurat dalam hatinya, “Orang ini menghujat Allah.” Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka, lalu berkata, “Mengapa kamu memikirkan hal-hal yang jahat di dalam hatimu? Manakah yang lebih mudah, mengatakan: Dosa-dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah dan berjalanlah? Tetapi supaya kamu tahu bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa” – lalu berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu –, “Bangunlah, angkat tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!” Orang itu pun bangun lalu pulang. Melihat hal itu, orang banyak itu takut lalu memuliakan Allah yang telah memberikan kuasa seperti itu kepada manusia. (Mat 9:1-8) 

Bacaan Pertama: Kej 22:1-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 116:1-6,8-9

Sepanjang kehidupan-Nya di depan publik, Yesus terus mencari kesempatan untuk mengajarkan pesan dan misi-Nya kepada umat manusia. Dalam banyak peristiwa,  Yesus menunjukkan keilahian-Nya dengan memanifestasikan kuat-kuasa-Nya atas sakit-penyakit tubuh manusia, artinya penyakit fisik. Namun seringkali secara bersamaan Dia juga menunjukkan kuasa-Nya dan keprihatinan-Nya atas sakit-penyakit yang bukan fisik, artinya yang menyangkut jiwa dan roh.

Yesus memakai setiap kesempatan untuk menunjukkan kepada para pengikut-Nya bahwa Dia memiliki kuasa ilahi atas dosa. Yesus ingin agar para murid-Nya itu mengetahui bahwa Dia dapat mengampuni dosa-dosa dari diri-Nya sendiri.

Salah satu peristiwa itu tercatat dalam bacaan Injil hari ini. Seorang lumpuh dibawa ke hadapan-Nya. Yesus melihat iman orang itu dan iman mereka yang membawa dia, dan langsung saja Dia berkata, “Teguhkanlah hatimu, hai anak-Ku, dosa-dosamu sudah diampuni” (Mat 9:2).

Mendengar kata-kata Yesus itu, beberapa orang ahli Taurat – dalam hati mereka – menuduh Yesus menghujat Allah (Mat 9:3). Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka, lalu berkata: “Mengapa kamu memikirkan hal-hal yang jahat di dalam hatimu? Manakah yang lebih mudah, mengatakan: Dosa-dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah dan berjalanlah? Tetapi sypaya kamu tahu bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa” (Mat 9:4-6). Lalu berkatalah Yesus kepada orang lumpuh itu, “Bangunlah, angkat tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!” (Mat 9:6). Yesus menunjukkan kepada orang-orang yang hadir bahwa diri-Nya memiliki kuasa ilahi untuk menyembuhkan orang lumpuh itu secara instan, dan bahwa Dia juga memiliki kuasa untuk mengampuni dosa-dosa manusia. Keduanya membutuhkan kuasa ilahi.

Sesungguhnya adalah sesuatu yang menghibur ketika kita mengetahui bahwa Yesus Kristus memiliki kuasa untuk mengampuni dan Ia memberikan kuasa (mendelegasikan wewenang) ini kepada Petrus dan para Rasul-Nya yang lain serta para penerus mereka. Pada hari Minggu Paskah pertama, Yesus menampakkan diri-Nya di tengah-tengah para murid dalam sebuah ruang terkunci, dan Ia berkata, “Damai sejahtera bagi kamu”, kemudian menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada. Perjumpaan dengan Tuhan Yesus yang telah bangkit ini mendatangkan sukacita bagi para murid-Nya (lihat Yoh 20:19-20). Lalu kata Yesus sekali lagi, “Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.” Sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata, “Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.” (Yoh 20:21-23). Sejak hari itu, sampai hari ini dan selanjutnya, Gereja mempraktekkan kuasa yang indah ini melalui pelayanan para imam tertahbis dalam Sakramen Rekonsiliasi.

Sekarang, kita harus bertanya kepada diri kita sendiri, apakah kita sungguh menghargai Sakramen Rekonsiliasi atau Sakramen Tobat ini. Apakah kita tidak melihat sakramen ini sebagai suatu peristiwa di mana Tuhan Yesus Kristus menggunakan kuasa-Nya untuk melakukan penyembuhan spiritual?

DOA: Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih-setia-Nya (Mzm 136:1). Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 9:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “YANG DIMINTA OLEH YESUS HANYALAH AGAR KITA PERCAYA KEPADA-NYA” (bacaan tanggal 2-7-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 5-7-12 dalam situs/blog PAX ET BONUM) 

Cilandak, 27 Juni 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS SUNGGUH INGIN MEMBEBAS-MERDEKAKAN KITA

YESUS SUNGGUH INGIN MEMBEBAS-MERDEKAKAN KITA

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIII – Rabu, 1 Juli 2015) 

Ketika Yesus tiba di seberang, yaitu di daerah orang Gadara, datanglah dari pekuburan dua orang yang GADARA - 1kerasukan setan menemui-Nya. Mereka sangat berbahaya, sehingga tidak seorang pun yang berani melalui jalan itu. Mereka pun berteriak, “Apa urusan-Mu dengan kami, hai Anak Allah? Apakah Engkau ke mari untuk menyiksa kami sebelum waktunya?” Tidak jauh dari mereka itu banyak sekali babi sedang mencari makan. Lalu setan-setan itu meminta kepada-Nya, “Jika Engkau mengusir kami, suruhlah kami pindah ke dalam kawanan babi itu.” Yesus berkata kepada mereka, “Pergilah!” Lalu keluarlah mereka dan masuk ke dalam babi-babi itu. Seluruh kawanan babi itu pun terjun dari tebing yang curam ke dalam danau dan mati di dalam air. Lalu larilah penjaga-penjaga babi itu dan setibanya di kota, mereka menceritakan segala sesuatu, juga tentang orang-orang yang kerasukan setan itu. Seluruh kota itu keluar mendapatkan Yesus dan setelah berjumpa dengan Dia, mereka pun mendesak, supaya Ia meninggalkan daerah mereka. (Mat 8:28-34) 

Bacaan Pertama: Kej 21:5,8-20; Mazmur Tanggapan: Mzm  34:7-8,10-13 

Yesus baru saja meredakan angin ribut di Danau Galilea dan sekarang datang ke daerah orang Gadara yang terletak di bagian seberang danau itu. Setelah menunjukkan kuat-kuasa-Nya atas sakit-penyakit dan atas alam, maka sekarang Ia menunjukkan bahwa kuat-kuasa-Nya lengkaplah sudah. Yesus dapat mengalahkan bahwa hal-hal yang paling jahat dalam kehidupan ini.

Dua orang yang ke luar dari pekuburan digambaran sebagai orang-orang yang sangat berbahaya karena kerasukan roh-roh jahat, sehingga tidak seorang pun yang berani melalui jalan itu. Namun kuasa Yesus langsung dirasakan oleh roh-roh jahat tersebut. Mereka minta kepada Yesus untuk dipindahkan ke dalam kawanan babi. Permintaan itu cocok juga, karena babi-babi dinilai sebagai hewan-hewan yang sangat jorok dan kotor. Ekspektasi kita adalah bahwa bahwa roh-roh jahat berkaitan dengan segala sesuatu yang tidak bersih, yang kotor, yang tidak murni.

gadarene-swine2Yesus hanya perlu mengucapkan sepatah kata: “Pergilah!”. Pengusiran roh-roh jahat oleh Yesus dalam bacaan Injil hari ini menunjukkan kepada kita bahwa kita dapat memperoleh perlindungan Yesus dari kejahatan, jika kita mengingininya. Terlebih lagi, bacaan Injil hari ini mengatakan kepada kita bahwa Yesus juga ingin untuk membebas-merdekakan kita dari rasa takut akan roh-roh jahat dengan menunjukkan kepada kita bahwa mereka tidak memiliki kuasa yang riil. Sepatah kata saja telah membuat mereka diusir pergi. Kita dapat mengusir dan mengalahkan roh-roh jahat dengan menyebut nama Yesus. Mengapa? Karena ada kuasa dalam nama Yesus itu!

Satu hal menarik dari bacaan Injil hari ini adalah kenyataan bahwa justru penduduk Gadara tidak terkesan dengan apa yang mereka dengar dan/atau lihat terkait peristiwa ini. Ini adalah sebuah contoh tentang mukjizat yang gagal untuk menginspirasi iman-kepercayaan. Injil secara sederhana menyebutkan fakta ini tanpa tambahan komentar apa pun. Orang-orang Gadara tidak percaya, mereka hanya merasa takut.

Nah, sekarang bagaimana dengan kita? Bukankah benar bahwa seringkali dalam hidup kita tangan-tangan Allah bekerja, namun tanpa ada penjelasan lain? Allah menunjukkan kepada kita kuasa-Nya dan kasih-Nya. Apakah kita terkesan? Apakah mukjizat yang dibuat-Nya menguatkan iman-kepercayaan kita, kasih kita, kepercayaan kita dalam Tuhan? Atau, apakah kita tetap menanggapinya dengan sikap dingin? Atau suam-suam kuku?

DOA: Ya Allah, dengarlah suaraku pada waktu aku mengaduh, jagalah nyawaku terhadap musuh yang dahsyat (Mzm 64:2). Terpujilah Allah, selama-lamanya. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 8:28-34), bacalah tulisan yang berjudul “PERGILAH! [2]” (bacaan tanggal 1-7-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2014. 

Cilandak, 26 Juni 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DANAU ITU MENJADI TEDUH SEKALI

DANAU ITU MENJADI TEDUH SEKALI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIII – Selasa, 30 Juni 2015)

Keluarga Besar Fransiskan: B. Raymundus Lullus, Martir – OFS 

MUKJIZAT -  YESUS MENENANGKAN BADAILalu Yesus naik ke dalam perahu dan murid-murid-Nya pun mengikuti-Nya. Sekonyong-konyong mengamuklah angin ribut di danau itu, sehingga perahu itu ditelan gelombang, tetapi Yesus tidur. Lalu datanglah murid-murid-Nya membangunkan Dia, katanya, “Tuhan, tolonglah, kita binasa.” Ia berkata kepada mereka, “Mengapa kamu takut, hai kamu yang kurang percaya?” Lalu bangunlah Yesus membentak angin dan danau itu, sehingga danau itu menjadi teduh sekali. Orang-orang itu pun heran dan berkata, “Orang seperti apa Dia ini, sehingga angin dan danau pun taat pada-Nya?” (Mat 8:23-27) 

Bacaan Pertama: Kej 19:15-29; Mazmur Tanggapan: Mzm 26:2-3,9-12

Dalam bacaan Injil hari ini kita membaca dan membayangkan bagaimana Yesus membentak angin ribut yang sedang mengamuk di Danau Galilea, dan danau pun menjadi teduh sekali. Sangat luar biasa! Kita dapat membayangkan betapa besarnya kuat-kuasa yang dimiliki oleh Yesus atas alam semesta. Peristiwa yang terjadi sekitar 2000 tahun lalu memang merupakan sebuah kejadian yang hebat sekali, namun merupakan keajaiban yang terisolasi, dan tidak atau sedikit saja mempunyai relevansi bagi kita yang hidup di abad ke-21. Apabila makna dari peristiwa tersebut hanya terbatas untuk menunjukkan kuat-kuasa Yesus atas alam semesta dan teguran terhadap kekurangan kepercayaan para murid-Nya, maka kita boleh-boleh saja bertanya: “Mengapa Dia tidak melakukan hal serupa sekarang? Mengapa Dia membiarkan orang-orang yang mengasihi-Nya pada zaman ini mati tenggelam dalam kecelakaan kapal laut, pesawat udara dan berbagai bencana alam?

Kita juga diingatkan akan satu ayat dalam “Surat kepada Orang Ibrani”: Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya” (Ibr 13:8). Kalau demikian halnya, maka makna cerita ini bagi kita sekarang bukanlah Yesus yang meredakan angin ribut di Danau Galilea, melainkan “di mana saja Yesus berada, maka badai-badai kehidupan menjadi reda/teduh. Artinya, dalam kehadiran Yesus, maka angin badai yang paling hebat pun akan diubah menjadi suasana penuh kedamaian.

Manakala angin kencang kedinginan hati, atau angin kesedihan bertiup, maka ada ketenangan dan rasa nyaman dalam kehadiran Yesus Kristus. Ketika angin panas penderitaan sengsara bertiup kencang, maka ada damai-sejahtera dan rasa aman dalam kehadiran Yesus Kristus. Ketika angin badai keragu-raguan berupaya untuk mencabut akar atau fondasi iman-kepercayaan kita, maka ada  rasa aman yang tetap dalam kehadiran Yesus Kristus. Dalam setiap badai atau angin ribut yang menggoncang hati manusia, maka ada kedamaian bersama Yesus Kristus.

Saudari dan Saudaraku yang dikasihi Kristus,

Janganlah kita (anda dan saya) melupakan pelajaran dari peristiwa yang terjadi sekitar 2000 tahun lalu di Danau Galilea bagi kita yang hidup di abad ke-21 ini, yaitu  bahwa apabila berbagai badai kehidupan menggoncang jiwa kita, maka Yesus Kristus ada di sana, dan dalam kehadiran-Nya amukan badai diubah-Nya menjadi damai-sejahtera yang  tidak dapat diambil oleh badai serupa.

DOA:  Tuhan Yesus, sebagai murid-murid-Mu kami tidak akan pernah merasa takut lagi, karena setiap kali badai kehidupan datang mengancam, Engkau senantiasa hadir. Engkau adalah sang Imanuel, Allah yang senantiasa bersama kami. Terpujilah nama-Mu, ya Tuhan Yesus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 8:23-27), bacalah tulisan yang berjudul “TAKUT DAN KURANG PERCAYA” (bacaan tanggal 30-6-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-06  PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2015. 

Cilandak, 26 Juni 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HIDUP PETRUS DAN PAULUS YANG DITRANSFORMASIKAN

HIDUP PETRUS DAN PAULUS YANG DITRANSFORMASIKAN

(Bacaan Pertama Misa Kudus, HARI RAYA S. PETRUS DAN S. PAULUS, RASUL – Senin, 29 Juni 2015)

Peter_Paul_El_Greco

Kira-kira pada waktu itu Raja Herodes mulai bertindak keras terhadap beberapa orang dari jemaat. Ia menyuruh membunuh Yakobus, saudara Yohanes, dengan pedang. Ketika ia melihat bahwa hal itu menyenangkan hati orang Yahudi, ia selanjutnya menyuruh menahan Petrus juga. Waktu itu hari raya Roti Tidak Beragi. Setelah Petrus ditangkap, Herodes menyuruh memenjarakannya di bawah penjagaan empat regu, masing-masing terdiri dari empat prajurit. Maksudnya ialah, supaya sehabis Paskah ia menghadapkannya ke depan orang banyak. Demikianlah Petrus ditahan di dalam penjara. Tetapi jemaat dengan tekun mendoakannya kepada Allah.

Pada malam sebelum Herodes hendak menghadapkannya kepada orang banyak, Petrus tidur di antara dua orang prajurit, terbelenggu dengan dua rantai, sedangkan di depan pintu, para pengawal sedang menjaga penjara itu. Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan dekat Petrus dan cahaya bersinar dalam kamar penjara itu. Malaikat itu menepuk Petrus untuk membangunkannya, katanya, “Bangunlah segera!” Lalu gugurlah rantai itu dari tangan Petrus. Kemudian kata malaikat itu kepadanya, “Ikatlah pinggangmu dan kenakanlah sepatumu!” Ia pun berbuat demikian. Setelah itu, malaikat itu berkata kepadanya, “Kenakanlah jubahmu dan ikutlah aku!” Lalu ia mengikuti malaikat itu ke luar dan ia tidak tahu bahwa apa yang dilakukan malaikat itu sungguh-sungguh terjadi, sangkanya ia melihat suatu penglihatan. Setelah mereka melalui tempat penjagaan pertama dan tempat penjagaan kedua, sampailah mereka ke pintu gerbang besi yang menuju ke kota. Pintu itu terbuka dengan sendirinya bagi mereka. Sesudah tiba di luar mereka berjalan sampai ke ujung jalan, dan tiba-tiba malaikat itu meninggalkan dia. Setelah sadar akan dirinya, Petrus berkata, “Sekarang tahulah aku benar-benar bahwa Tuhan telah menyuruh malaikat-Nya dan menyelamatkan aku dari tangan Herodes dan dari segala sesuatu yang diharapakan orang Yahudi.” (Kis 12:1-11) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2-9; Bacaan Kedua: 2Tim 4:6-8,17-18; Bacaan Injil: Mat 16:13-19

Apabila ada orang yang bertanya kepada kita (anda dan saya) apakah perbedaan yang diakibatkan oleh kematian Yesus, maka apakah jawaban yang dapat kita berikan kepada orang yang bertanya tersebut? Bahwa kita sekarang sudah ditransformasikan menjadi ciptaan baru? Bahwa kita dapat dipenuhi dengan karakter-karakter Kristus sendiri? Nah, “Hari Raya S. Petrus dan Paulus – Rasul” pada hari ini adalah untuk merayakan “hidup yang ditransformasikan” dari kedua orang kudus ini.

Mari kita bersama-sama merenungkan hal-hal berikut ini:  Petrus diubah dari seorang nelayan Galilea yang impulsif dan meledak-ledak menjadi seorang gembala yang penuh belarasa dan seorang hamba/pelayan yang setia. Dilain pihak, Paulus ditransformasikan dari seorang pemimpin agama aliran Farisi yang penuh dedikasi untuk menghancurkan agama (sekte agama) Kristiani habis-habisan menjadi seorang pengkhotbah/pelayan sabda keliling yang mendedikasikan hidupnya secara penuh untuk pewartaan Injil Yesus Kristus.

Apakah pengalaman kedua orang kudus ini normal? Jawabnya adalah “YA”. Kita masing-masing dapat mengalami transformasi radikal yang sama seperti yang dialami oleh Petrus dan Paulus. Allah mungkin saja tidak memanggil kita untuk berkonfrontasi dengan para pemimpin dunia atau membangkitkan orang mati, namun pengalaman dasar yang sama, yang mendorong kegiatan pelayanan mereka adalah warisan bagi setiap anak Allah. Kita tidak hanya dapat mengalami transformasi seperti ini, melainkan kita pun harus mengharapkan transformasi ini sebagai sebuah bagian vital dari warisan kita dalam Kristus. Ketetapan hati, keberanian, atau talenta tidak mengubah Petrus dan Paulus. Lihat saja bagaimana Kitab Suci menggambarkan berbagai kelemahan dan kesalahan dua orang kudus besar ini. Transformasi mereka bergantung pada Yesus sendiri.

Allah ingin agar kita mengetahui bahwa Roh Kudus-lah yang mengubah dua orang kudus ini. Roh Kudus yang sama inilah yang dapat dan ingin mengubah kita. Allah tidak mengutus Putera-Nya yang tunggal untuk menghakimi kita, melainkan untuk menyelamatkan kita (Yoh 3:17). Yesus datang ke tengah dunia untuk membebas-merdekakan kita dari segala hal yang mengikat kita dengan dosa dan godaan. Roh Kudus ingin mengajar kita siapa Yesus sebenarnya, dengan membuat-Nya hidup dalam hati dan pikiran kita. Roh Kudus ingin menjelaskan kepada kita misteri-misteri Allah sehingga dengan demikian kita dapat bertumbuh dalam pengetahuan dan pengenalan kita akan Injil.

Pada setiap saat doa, pada setiap Misa Kudus, dalam setiap perjumpaan kita dengan orang lain, kejarlah Yesus. Ia ingin bertemu dengan kita masing-masing, bahkan keinginan-Nya ini lebih daripada keinginan kita sendiri untuk bertemu dengan Dia. Melalui kuat-kuasa Roh Kudus, Ia dapat membuat kita menjadi hamba-hamba atau pelayan-pelayan-Nya yang setia, sebagaimana yang telah dilakukan-Nya atas diri Petrus dan Paulus.

DOA: Bapa surgawi, Engkau mengutus Roh Kudus dalam nama Yesus untuk mengajarku dan mengingatkanku akan segala sesuatu tentang Yesus. Pada hari ini, perkenankanlah diriku untuk bangkit dan mengklaim warisan yang tersedia bagiku dalam Kristus. Terpujilah Allah Tritunggal Mahakudus, Bapa, Putera, dan Roh Kudus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 16:13-19), bacalah tulisan yang berjudul  “MERAYAKAN DUA ORANG RASUL KRISTUS YANG BESAR” (bacaan tanggal 29-6-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2015. 

Cilandak, 24 Juni 2015 [HARI RAYA KELAHIRAN S. YOHANES PEMBAPTIS] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PENYEMBUHAN-PENYEMBUHAN OLEH YESUS

PENYEMBUHAN-PENYEMBUHAN OLEH YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XIII – 28 Juni 2015) 

stdas0280Sesudah Yesus menyeberang lagi dengan perahu, orang banyak berbodong-bondong datang lalu mengerumuni Dia. Sementara Ia berada di tepi danau, datanglah seorang kepala rumah ibadat yang bernama Yairus. Ketika ia melihat Yesus, sujudlah ia di depan kaki-Nya dan memohon dengan sangat kepada-Nya, “Anak perempuanku sedang sakit, hampir mati, datanglah kiranya dan letakkanlah tangan-Mu atasnya, supaya ia selamat dan tetap hidup.” Lalu pergilah Yesus dengan orang itu. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia dan berdesak-desakan di dekat-Nya.

Adalah di situ seorang perempuan yang sudah dua belas tahun menderita pendarahan. Ia telah berulang-ulang diobati oleh berbagai tabib, sehingga telah dihabiskannya semua yang ada padanya, namun sama sekali tidak ada faedahnya malah sebaliknya keadaannya makin memburuk. Dia sudah mendengar berita-berita tentang Yesus, maka di tengah-tengah orang banyak itu ia mendekati Yesus dari belakang dan menyentuh jubah-Nya. Sebab katanya, “asal kusentuh saja jubah-Nya, aku akan sembuh.” Seketika itu juga berhentilah pendarahan-Nya dan ia merasa bahwa badannya sudah sembuh dari penyakitnya. Pada saat itu juga Yesus mengetahui bahwa ada tenaga yang keluar dari diri-Nya, lalu Ia berbalik di tengah orang banyak dan bertanya, “Siapa yang menyentuh jubah-Ku?” Murid-murid-Nya menjawab, “Engkau melihat bagaimana orang-orang ini berdesak-desakan dekat-Mu, dan Engkau bertanya: Siapa yang menyentuh Aku?” Lalu Ia memandang sekeliling-Nya untuk melihat siapa yang telah melakukan hal itu. Perempuan itu, yang menjadi takut dan gemetar ketika mengetahui apa yang telah terjadi atas dirinya, tampil dan sujud di depan Yesus dan memberitahukan kepada-Nya semua yang terjadi. Lalu kata-Nya kepada perempuan itu, “Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau. Pergilah dengan damai dan tetaplah sembuh dari penyakitmu!”

Ketika Yesus masih berbicara datanglah orang dari keluarga kepala rumah ibadat itu dan berkata,”Anakmu sudah meninggal, untuk apa engkau masih menyusahkan Guru?” Tetapi Yesus tidak menghiraukan perkataan mereka dan berkata kepada kepala rumah ibadat, “Jangan takut, percaya saja!” Lalu Yesus tidak memperbolehkan seorang pun ikut serta, kecuali Petrus, Yakobuts dan Yohanes, saudara Yakobus. Mereka tiba di rumah kepala rumah ibadat, dan di sana dilihat-Nya orang-orang ribut, menangis dan meratap dengan suara nyaring. Sesudah masuk Ia berkata kepada orang-orang itu, “Mengapa kamu ribut dan menangis? Anak ini tidak mati, tetapi tidur!” Tetapi mereka menertawakan Dia.

Semua orang itu disuruh-Nya keluar, lalu dibawa-Nya ayah dan ibu anak itu serta mereka yang bersama-sama dengan Dia masuk ke kamar anak itu. Lalu dipegang-Nya tangan anak itu, kata-Nya, “Talita kum,” yang berarti, “Hai anak perempuan, Aku berkata kepadamu, bangunlah!” Seketika itu juga anak itu bangkit berdiri dan berjalan, sebab umurnya sudah dua belas tahun. Semua orang yang hadir sangat takjub. Dengan sangat Ia berpesan kepada mereka, supaya jangan seorang pun mengethui hal itu, lalu Ia menyuruh mereka memberi anak itu makan. (Mrk 5:21-43) 

Bacaan Pertama: Keb 1:13-15;2:23-24; Mazmur Tanggapan: Mzm 30:2,4-6,11-13; Bacaan Kedua: 2Kor 8:7,9,13-15 

YESUS MENYEMBUHKAN - WANITA YANG KENA PLAGUEKesehatan yang baik seorang manusia mempunyai arti yang begitu vital, sehingga kita sangat menghargai profesi kedokteran dan orang-orang yang mempunyai talenta atau karunia istimewa untuk menyembuhkan orang yang menderita penyakit. Dalam pelayanan-Nya di depan publik, Yesus banyak menggunakan waktu-Nya untuk menyembuhkan orang-orang yang menderita berbagai jenis penyakit. Yesus tidak berpraktek sebagai seorang tabib, namun dia benar-benar melakukan penyembuhan yang sesungguhnya. Reputasi-Nya sebagai seorang penyembuh penyakit dan pembuat mukjizat dengan cepat menyebar-luas dan banyak orang yang mengikuti-Nya.

Dalam bacaan Injil hari ini, seorang kepala rumah ibadat yang bernama Yairus memohon kepada Yesus untuk datang ke rumahnya dan “meletakkan tangan-Nya” atas anak perempuannya “supaya dia selamat dan tetap hidup”. Di tengah jalan, seorang perempuan – yang telah menderita sakit pendarahan selama 12 tahun – mendesak-desak di tengah-tengah kerumunan orang banyak hanya untuk menyentuh jubah-Nya. Perempuan itu yakin bahwa dengan menyentuh jubah Yesus, penyakit pendarahannya pun akan sembuh. Ia memperoleh kesembuhannya di tempat itu juga (on the spot), karena imannya akan kuat-kuasa penyembuhan yang dimiliki Yesus.

Ketika datang kabar bahwa anak perempuan Yairus telah meninggal dunia, Yesus tidak membatalkan perjalanan-Nya menuju rumah sang kepala rumah ibadat. Di rumah itu Yesus mengembalikan kehidupan anak perempuan tersebut. Agama yang sejati dan “obat-obatan” penyembuh yang baik bergabung dalam pribadi seorang Yesus. Pada hari ini kedua hal tersebut masih hadir dan terus bekerja sama dalam tubuh-Nya – yaitu Gereja – demi kebaikan masyarakat.

Melalui sakramen-sakramen, Gereja melangkah ke luar untuk menyembuhkan. Rekonsiliasi dimaksudkan untuk membuat seorang pribadi merasa lebih baik dan lebih kuat, siap untuk memulai hidup yang baru dengan pandangan ke depan yang baik. Sakramen orang sakit, kalau didekati dengan iman, akan menghibur, memperkuat dan menyembuhkan orang yang selama ini banyak disakiti dan ditekan dengan rasa takut. Inilah sebuah contoh dari penyembuhan berdasarkan iman.

Dalam Gereja kita berdoa untuk orang yang sedang sakit, melakukan syafaat/doa pengantaraan untuk kesembuhan orang lain. Banyak kesembuhan tergantung bukan hanya pada disposisi orang yang sakit, melainkan juga pada iman dari orang yang meminta/melakukan pengantaraan. Anak perempuan Yairus tidak memohon kepada Yesus agar dirinya disembuhkan; ayahnyalah yang memohon kepada Yesus. Barangkali anak perempuan itu sendiri tidak mengenal Yesus, namun ayahnya sungguh percaya, dan Yesus datang serta membuat mukjizat karena iman sang ayah (bdk. Mrk 2:5 dalam kasus orang lumpuh yang disembuhkan).

pppas0267 - talikumiSaudari dan Saudara yang terkasih,

Kita juga tidak boleh berpikir bahwa semua penyembuhan terkait agama/iman terjadi di atas panggung dalam sebuah auditorium yang luas atau di depan kamera televisi. Penyembuhan sejati terjadi secara privat dan tersembunyi. Dalam bacaan Injil di atas tidak seorang pun mengetahui bahwa perempuan yang menderita sakit pendarahan telah disembuhkan, kecuali perempuan itu sendiri. Sebelum Ia memberkati anak perempuan Yairus dengan hidup baru, Yesus menyuruh orang-orang pergi ke luar dulu. Yesus memang tidak mencari puji-pujian dari publik.

Kesembuhan-kesembuhan dari Yesus tidak bersifat magis atau otomatis.  Kesembuhan-kesembuhan tersebut mengalir langsung dari keyakinan iman. Oleh karena itu, iman harus ada/hadir sebelum setiap doa yang kita doakan; sebelum setiap sakramen yang kita terima; sebelum setiap kesembuhan yang kita cari.

DOA: Tuhan Yesus, aku menyadari bahwa dalam hidup ini aku tidak akan pernah memahami sepenuhnya misteri penderitaan, sakit-penyakit, dan kematian dari orang-orang yang sangat kukasihi. Dalam hidup-Mu di dunia, ya Yesus, ada orang-orang yang Kausembuhkan, bahkan yang Engkau tidak lihat  sendiri, mereka yang jauh, mereka yang Kausentuh, mereka yang Engkau bangkitkan dari kematian. Aku bertanya: Mengapa mereka? Mengapa bukan orang-orang lain? Mengapa bukan Santo Yusuf, ayah-Mu di dunia? Aku tahu bahwa sekarang aku tidak akan memperoleh jawabannya. Namun aku hanya dapat menerima keindahan dan keagungan kuat-kuasa-Mu dan tanggapan-Mu yang penuh kasih terhadap orang-orang yang sungguh membutuhkan pertolongan-Mu. Sekarang aku mau berdoa, ya Yesus, bagi mereka yang menderita di dunia dan yang mati pada usia-muda. Engkau sudah melihat apa yang sedang terjadi di Timur Tengah, di Afrika dan banyak tempat lain. Aku berdoa agar supaya mereka yang sedang menderita sungguh memiliki kekuatan untuk menanggung beban penderitaan apa saja yang mereka harus tanggung, untuk mengenal kehadiran-Mu di tengah penderitaan mereka. Semoga mereka semua memperoleh keselamatan yang Kaujanjikan, berdiam bersama Bapa, Putera dan Roh Kudus dalam Kerajaan Surga. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 5:21-43), bacalah tulisan dengan judul “KUASA ATAS MAUT” (bacaan  tanggal 28-6-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-06 PERMENUNGAN ALKITABIAH JUNI 2015. 

Cilandak, 23 Juni 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 148 other followers