ALLAH SUNGGUH INGIN MEMBEBAS-MERDEKAKAN KITA

ALLAH SUNGGUH INGIN MEMBEBAS-MERDEKAKAN KITA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XV – Jumat, 19 Juli 2019

Musa dan Harun telah melakukan segala mukjizat ini di depan Firaun. Tetapi TUHAN (YHWH) mengeraskan hati Firaun, sehingga tidak membiarkan orang Israel pergi dari negerinya.

Berfirmanlah YHWH kepada Musa dan Harun di tanah Mesir: “Bulan inilah akan menjadi permulaan segala bulan bagimu; itu akan menjadi bulan pertama bagimu tiap-tiap tahun. Katakanlah kepada segenap jemaah Israel: Pada tanggal sepuluh bulan ini diambillah oleh masing-masing seekor anak domba, menurut kaum keluarga, seekor anak domba untuk tiap-tiap rumah tangga. Tetapi jika rumah tangga itu terlalu kecil jumlahnya untuk mengambil seekor anak domba, maka ia bersama-sama dengan tetangganya yang terdekat ke rumahnya haruslah mengambil seekor, menurut jumlah jiwa; tentang anak domba itu, kamu buatlah perkiraan menurut keperluan tiap-tiap orang. Anak dombamu itu harus jantan, tidak bercela, berumur setahun; kamu boleh ambil domba atau kambing. Kamu harus mengurungnya sampai hari yang keempat belas bulan ini; lalu seluruh jemaah Israel yang berkumpul, harus menyembelihnya pada waktu senja. Kemudian dari darahnya haruslah diambil sedikit dan dibubuhkan pada kedua tiang pintu dan ambang atas, pada rumah-rumah di mana orang memakannya. Dagingnya harus dimakan mereka pada malam itu juga; yang dipanggang mereka harus makan dengan roti yang tidak beragi beserta sayur pahit. Janganlah kamu memakannya mentah atau direbus dalam air; hanya dipanggang di api, lengkap dengan kepalanya dan betisnya dan isi perutnya. Janganlah kamu tinggalkan apa-apa dari daging itu sampai pagi: apa yang tinggal sampai pagi kamu bakarlah habis dengan api. Dan beginilah kamu memakannya: pinggangmu berikat, kasut pada kakimu dan tongkat di tanganmu; buru-burulah kamu memakannya; itu Paskah bagi YHWH.

Sebab pada malam ini Aku akan menjalani tanah Mesir, dan semua anak sulung, dari anak manusia sampai anak binatang, akan Kubunuh, dan kepada semua allah di Mesir akan Kujatuhkan hukuman. Akulah, YHWH. Dan darah itu menjadi tanda bagimu pada rumah-rumah di mana kamu tinggal: Apabila aku melihat darah itu, maka Aku akan lewat dari pada kamu. Jadi tidak akan ada tulah kemusnahan di tengah-tengah kamu, apabila aku menghukum tanah Mesir. Hari ini akan menjadi hari peringatan bagimu. Kamu harus merayakannya sebagai hari raya bagi YHWH turun-temurun. Kamu harus merayakannya sebagai ketetapan untuk selamanya. (Kel 11:10-12:14)  

Mazmur Tanggapan: Mzm 116:12-13,15-18; Bacaan Injil: Mat 12:1-8 

Dapatkah Saudari dan Saudara mempercayai betapa baik Allah itu, betapa dalam Ia ingin melakukan kebaikan bagi umat-Nya? Budak-budak Ibrani di Mesir dibebaskan oleh-Nya, bukan dengan menggunakan kekuatan mereka sendiri atau karena mereka telah melakukan segalanya dengan benar dan untuk itu Allah memberi ganjaran kepada mereka. Sama sekali bukan! Allah membebaskan mereka karena Dia mengasihi umat-Nya dan sungguh ingin memerdekakan mereka, agar mengenal-Nya dan mengikuti-Nya. Yang penting di sini adalah belas kasih Allah, bukan kurban persembahan mereka, yang memerdekakan mereka dari cengkeraman Firaun.MUSA

Sekali lagi, Allah tidak menyelamatkan orang-orang Ibrani itu karena mereka telah melaksanakan instruksi-instruksi-Nya berkaitan dengan makan Paskah. Ia telah memerintahkan mereka untuk memotong seekor anak domba dan membubuhkan darah anak domba itu pada kedua tiang pintu dan ambang atas rumah mereka, sebagai tanda persahabatan dengan Allah yang telah diberikan oleh Allah kepada mereka.

Berabad-abad kemudian, Yesus – Anak Domba Allah yang sejati – menumpahkan darah-Nya guna membebaskan kita-manusia dari perbudakan dosa. Seperti Bapa surgawi, Yesus tidak menetapkan berbagai prakondisi atas pengorbanan-Nya di kayu salib. Yesus tidak berkata, “Aku akan mati bagimu jika kamu berjanji untuk mulai saat ini taat kepadaku.” Kita dibebaskan bukan oleh kekuatan kita sendiri atau karena kita melakukan segala sesuatu dengan benar. Kita dibebas-merdekakan karena Allah mengasihi kita dan ingin agar kita hidup bersama-Nya selama-lamanya. Ini adalah kasih dan belas-kasih yang berkelimpahan, yang menggerakkan Tuhan Yesus untuk memikul salib-Nya sampai wafat di kayu salib.

Mungkin saja sulit bagi kita untuk percaya bagaimana Allah dapat begitu berbelas kasih. Itulah sebabnya mengapa Allah tidak pernah lelah untuk menceritakan kepada kita tentang Kabar Baik-Nya. Itulah sebabnya mengapa Dia mengundang kita untuk mengenang penyelamatan-Nya dengan cara berulang-ulang selagi kita merayakan Misa Kudus. Dalam Misa Kudus, kita berterima kasih penuh syukur kepada Allah untuk segala keajaiban yang telah dilakukan-Nya bagi kita, teristimewa karunia hidup Putera-Nya bagi kita, dan kita pun mengakui kembali keajaiban kehadiran-Nya.

Selagi kita berkumpul bersama dalam perayaan Ekaristi, marilah kita memperkenankan kasih Allah memenuhi hati kita masing-masing, mengangkat beban-beban kita, dan memperbaharui visi kita berkaitan dengan kehidupan kita. Apabila kita membiarkan Allah mengisi diri kita dengan kasih-Nya yang bebas – bukan karena jasa kita sendiri – maka kita pun akan diubah. Kita tidak akan pernah sama lagi seperti sebelum saat itu.

DOA: Tuhan Yesus, aku akan berbicara mengenai kebaikan-Mu membebaskan diriku dari dosa dan mengajar aku agar senantiasa bergantung pada-Mu sebagai satu-satunya andalanku. Kuatkanlah aku agar senantiasa melakukan pertobatan dan berani menolak godaan untuk kembali kepada hidupku yang lama. Jauhkanlah juga diriku dari rasa ragu akan kasih-Mu kepadaku. Terima kasih, ya Tuhan, untuk segalanya yang telah Engkau lakukan bagi diriku, keluargaku dan dunia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 12:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “KARENA ANAK MANUSIA ADALAH TUHAN ATAS HARI SABAT” (bacaan tanggal 19-7-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2019. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 17 Juli 2019 [HR S. Maria Magdalena Postel, Pendiri Tarekat MISC] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

MARILAH KEPADA-KU, SEMUA YANG LETIH LESU DAN BERBEBAN BERAT

MARILAH KEPADA-KU, SEMUA YANG LETIH LESU DAN BERBEBAN BERAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XV –  Kamis, 18 Juli 2019)

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah gandar yang Kupasang dan belajarlah kepada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab gandar yang Kupasang itu menyenangkan dan beban-Ku pun ringan.” (Mat 11:28-30) 

Bacaan Pertama: Kel 3:13-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:1,5,8-9,24-27

“Marilah kepada-Ku.”  Seruan Yesus ini terdengar  gemanya dari zaman ke zaman. Hati-Nya yang penuh kasih dan terluka sangat rindu untuk melihat kita semua datang kepada-Nya dan meletakkan hidup kita pada kaki-Nya. Yesus ingin agar kita memikul gandar yang dipasang-Nya sehingga dengan demikian kita akan senantiasa berjalan di samping-Nya, dan pada akhirnya jiwa kita pun akan mendapat ketenangan yang kita butuhkan.

Ada begitu banyak halangan yang memperlambat perjalanan hidup kita. Kita menyaksikan begitu banyak penderitaan di dunia, dalam keluarga kita, bahkan dalam kehidupan kita sendiri. Kemiskinan, perceraian, persahabatan yang retak, anak-anak yang semakin menjauh dari kita, sakit-penyakit, kematian dari mereka yang kita kasihi – semua ini dan banyak lagi dapat menjadi penghalang bagi kita untuk berjalan mendapati Yesus, jalannya terasa jauh dan tidak jelas.

Kita ingin datang kepada Yesus dalam doa. Namun tidak adanya iman menghalangi kita. Santo Alfonsus Liguori [1696-1787] mengatakan: “Kadang-kadang kita merasa kering secara rohani … kita barangkali tidak merasakan adanya keyakinan-dalam-doa yang kita ingin alami. Namun demikian, marilah kita memaksa diri kita untuk berdoa dan berdoa tanpa kenal menyerah, karena Allah tidak akan lalai mendengar doa kita.”  Datang kepada Yesus sebenarnya tidaklah merupakan perjalanan yang panjang dan sulit, karena yang dibutuhkan hanyalah memulainya dengan sebuah langkah awal yang diarahkan kepada-Nya.

Jika kita berbalik kepada Yesus, maka kita akan mengalami betapa kaya rahmat-Nya yang telah disediakan oleh-Nya bagi kita. Manakala Yesus memperkenankan terjadinya penderitaan pahit atas diri kita, maka hal itu dimaksudkan agar hati kita dipenuhi hasrat untuk semakin dekat-bersatu dengan diri-Nya. Bilamana kita menanggapi panggilan penuh-kasih dari Yesus, bahkan di tengah-tengah kesulitan, maka Dia akan mampu menganugerahi kita tidak hanya kenyamanan dan ketenangan, melainkan juga hikmat dan kekuatan. Yesus mampu untuk membentuk diri kita menjadi semakin serupa dengan diri-Nya, sehingga kita sungguh dapat menjadi cahaya yang menerangi dunia.

Segalanya akan hilang jika kita menjauhkan diri dari Yesus. Dengan demikian, sungguh layak dan pantas jika kita kembali kepada-Nya dalam Sakramen Rekonsiliasi guna membersihkan hati kita dari dosa dan dari sikap serta perilaku kita selama ini yang menentang diri-Nya. Kita akan datang kepada-Nya dalam perayaan Ekaristi untuk menyembah-Nya dalam kemuliaan dan menerima hidup-Nya dalam diri kita. Kita akan datang kepada Yesus dalam bacaan dan permenungan Kitab Suci untuk belajar jalan-jalan-Nya. Kita akan datang kepada Yesus sepanjang hari untuk mensyeringkan hidup kita dengan-Nya dan memperkenankan Dia membentuk kita seturut gambar dan rupa-Nya.

DOA: Tuhan Yesus. Aku mengalami sendiri betapa Engkau sangat mengasihiku. Aku menyerahkan hidupku kepada Engkau. Terimalah diriku sebagai apa adanya aku, bahkan dalam saat-saat penderitaanku, dan bentuklah diriku seturut gambar dan rupa-Mu sendiri. Terima kasih, ya Tuhan Yesus. Terpujilah nama-Mu selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 11:28-30), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS BERJANJI UNTUK MENOLONG MEMIKUL BEBAN-BEBAN KITA” (bacaan tanggal 18-7-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2019. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2014) 

Cilandak, 16 Juli 2019 [Peringatan S. Maria dr Gunung Karmel] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

…… TETAPI ENGKAU NYATAKAN KEPADA ORANG KECIL

…… TETAPI ENGKAU NYATAKAN KEPADA ORANG KECIL

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XV – Rabu, 17 Juli 2019)

MISC: HR S. Maria Magdalena Postel – Pendiri Tarekat

Pada waktu itu berkatalah Yesus, “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya.”(Mat 11:25-27) 

Bacaan Pertama: Kel 3:1-6,9-12; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-4,6-7 

Yesus memuji dengan penuh syukur Bapa-Nya di surga karena menyatakan misteri keselamatan kepada anak-anak melalui Putera-Nya – “Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil” (Mat 11:25). Kata-kata Yesus ini dapat menjadi suatu penghiburan dan sekaligus suatu misteri bagi kita. Kita merasa terhibur bahwa Yesus ingin agar kita datang kepada-Nya dengan hati seorang anak. Akan tetapi kita sebagian dari kita yang sudah cukup “matang” barangkali masih bertanya-tanya apakah kita masih dapat mengingat apa sih artinya menjadi seorang anak. Bagaimana kita dapat menangkap kembali kesederhanaan dan rasa percaya ketika kita masih anak-anak? Kita dapat merasa dinodai oleh berbagai falsafah duniawi sampai sampai kita bertanya-tanya apakah sebuah mobil baru atau tambahan uang akan membuat kita merasa lebih aman daripada mengetahui dan yakin bahwa kita sangat dikasihi dan dihargai oleh Bapa surgawi.

Namun baiklah kita sekarang melihat bacaan Injil ini dari sudut pandang yang lain. Memang benar bahwa anak-anak dapat sedemikian menaruh kepercayaan, akan tetapi mereka juga secara alamiah dapat menjadi begitu kekanak-kanakan (Inggris: childish). Cobalah pikirkan para orangtua yang  harus belajar bagaimana berurusan dengan kemarahan anak mereka atau kebiasaan makan yang rewel. Kita mengetahui apa yang terbaik bagi anak-anak kita, namun ada waktu-waktu di mana mereka kelihatan tidak mempercayai kita. Tentu saja ini bukan jenis “anak kecil” yang dimaksudkan oleh Yesus.

Banyak bapak dan ibu sangat senang melihat anak-anak mereka mencoba untuk mencontoh mereka. Misalnya, bahkan seorang anak perempuan yang masih kecil sekalipun mencoba untuk mencuci piring seperti ibunya, dan malah membuat proses pencucian itu menjadi acak-acakan dan berantakan. Akan tetapi, upaya seperti itu dari pihak sang anak adalah sesuatu yang sungguh menggembirakan. Demikian juga dengan Yesus. Ia senang bilamana kita mencoba sebaik-baiknya untuk mencontoh-Nya –  bahkan jika kita salah dalam melakukan-Nya. Mengapa begitu? Karena dengan meniru dan  memakai gaya anak kecil (Inggris: childlike), kita dapat mengatasi cara-cara yang kekanak-kanakan dari dosa. Allah sangat senang apabila kita meninggalkan ketidakpercayaan kita dan kemudian merangkul suatu sistem kepercayaan yang sederhana, yang akan menyempurnakan apa saja yang tidak ada dalam hidup kita.

Kita dapat memperoleh kembali rasa percaya dan kemauan untuk mencoba hal-hal baru seperti anak kecil. Yang harus kita lakukan hanyalah memilih arah mana saja yang benar bagi kita, walaupun tentunya dengan rendah hati dan terbuka. Kemudian, kita hanya perlu memperhatikan janji-janji Roh untuk menyatakan diri-Nya kepada mereka yang mencoba – walau pun mereka salah.

DOA: Yesus, tolonglah aku menjadi anak yang berjalan bersama dengan-Mu dan berbicara dengan-Mu dan mengikut-Mu kemana pun Engkau pergi. Penuhi diriku dengan kasih-Mu sehingga dengan demikian satu-satunya hal yang kuinginkan adalah Engkau saja, ya Yesusku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 11:25-27), bacalah tulisan yang berjudul “ALLAH TIDAK INGIN TETAP TERSEMBUNYI” (bacaan tanggal 17-7-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2019. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2014) 

Cilandak, 16 Juli 2019 [Peringatan SP Maria dr Gunung Karmel] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BAGAIMANA DENGAN SIKAP KITA SENDIRI?

BAGAIMANA DENGAN SIKAP KITA SENDIRI?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XV – Selasa, 16 Juli 2019)

Peringatan (Fakultatif) Santa Maria dr Gunung Karmel

Lalu Yesus mulai mengecam kota-kota yang tidak bertobat, sekalipun di sini Ia paling banyak melakukan mukjizat-mukjizat-Nya, “Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! Karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mukjizat-mukjizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung. Tetapi Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanggungan Tirus dan Sidon akan lebih ringan daripada tanggunganmu. Dan engkau Kapernaum, apakah engkau akan dinaikkan sampai ke langit? Tidak, engkau akan diturunkan sampai ke dunia orang mati! Karena jika di Sodom terjadi mukjizat-mukjizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, kota itu tentu masih berdiri sampai hari ini. Tetapi Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanggungan negeri Sodom akan lebih ringan daripada tanggunganmu.” (Mat 11:20-24) 

Bacaan Pertama: Kel 2:1-15a; Mazmur Tanggapan: Mzm 69:3,14,30-31 

Mungkin agak mengejutkan bahwa mukjizat-mukjizat dan berbagai “tanda heran” yang dibuat oleh Yesus tidak membuat banyak orang bertobat dan berbalik kepada Allah (lihat Mrk 11:20), bahkan mengundang perlawanan dari pihak-pihak yang membenci Yesus dengan tindakan ekstrim seperti merencanakan pembunuhan diri-Nya (lihat Mat 12:13-14).

Mungkin anda pernah mendengar seseorang berkata: “Kalau saja saya hidup pada masa Yesus hidup di atas bumi ini! Alangkah jauh lebih mudah bagi saya untuk memiliki iman, apabila saya dapat melihat-Nya sendiri.” Barangkali anda sendiri pernah mempunyai perasaan seperti itu. Namun pertanyaannya sekarang, apakah betul lebih mudah bagi orang-orang untuk beriman apabila Yesus berada di tengah-tengah mereka?

Lihatlah para penduduk Khorasim, Betsaida dan Kapernaum. Mereka mendengar Yesus berbicara/berkhotbah dan mereka menyaksikan diri-Nya membuat banyak mukjizat dan tanda heran lainnya, akan tetapi mereka tetap tidak mau bertobat, sedemikian sampai yesus membandingkan mereka secara negatif dengan kota Perjanjian Lama Sodom yang terkena kutukan Allah (Mat 11:22-23). Yesus mengingatkan, karena menolak diri-Nya dan pesan kasih dan belas-kasih-Nya, orang-orang Galilea yang tidak percaya ini akan dihukum dengan keras pada Hari Penghakiman.

Seperti banyak orang lain yang menolak Yesus pada masa hidup-Nya di bumi, orang-orang ini mencari Mesias macam lain. Mereka tidak melihat rencana Allah – bahkan ketika cahaya kuasa kasih-Nya memancar keluar dari mukjizat-mukjizat yang dibuat Yesus. Sekarang pertanyaan untuk diri kita masing-masing: Seandainya kitalah yang berada di sana, apakah kita akan bertindak berbeda?

Barangkali pertanyaan yang lebih baik adalah, apakah kita bertindak secara berbeda sekarang ini? Kita harus menyadari bahwa mukjizat-mukjizat Yesus tidak berhenti pada saat Yesus naik ke surga. Yesus masih bersama kita, dan karya-karya dan berbagai mukjizat-Nya masih berlanjut sampai hari ini. Penulis “Surat kepada Orang Ibrani” menulis: “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya” (Ibr 13:8). Mukjizat-mukjizat Yesus terjadi di sekeliling kita, menanti-nantikan pengakuan kita. Namun untuk dapat mengenali mukjizat-mukjizat-Nya kita harus menolak/membuang sikap apapun yang menghalangi Yesus masuk ke dalam hati kita.

Marilah kita lihat sekeliling kita dan berharap pada hari ini kita akan menjadi bagian dari mukjizat-mukjizat Yesus. Ia senantiasa terlibat dalam kehidupan kita, baik dalam perkara besar maupun perkara kecil. Kita mohon kepada-Nya untuk membuka mata kita agar dapat melihat berbagai mukjizat dan tanda heran yang dibuat-Nya. Apabila kita mendapat kesempatan untuk menyaksikan hal-hal ajaib tersebut, walaupun sekejab saja – kita sepantasnya dengan penuh syukur memuji-muji dan memuliakan sang Pembuat segala Mukjizat, …… Yesus Kristus!

Apabila kita menemukan satu-satunya ruang parkir yang kosong dalam tempat parkir yang penuh sesak, bilamana negosiasi bisnis kita berlangsung alot tetapi secara tak diharap-harapkan menghasilkan buah yang baik, ketika sebuah proyek yang kita tangani dapat diselesaikan tepat waktu walaupun banyak faktor tidak menunjang; dalam hal-hal seperti itu kita tidak pernah boleh lupa untuk memuji-muji-Nya dengan penuh rasa syukur. Kita juga dapat bergabung dengan mukjizat-mukjizat penyembuhan Yesus dengan berdoa bagi seseorang yang sedang menderita sakit serius. Kita bersukacita ketika kesembuhan sungguh terjadi. Karena Yesus itu hidup, setiap hari yang biasa-biasa saja sebenarnya memiliki suatu dimensi kekal-abadi, dengan catatan kita mempunyai mata yang mampu melihat.

DOA: Bapa surgawi, alangkah baik dan berbela-rasa Engkau! Terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau menarikku ke dalam kasih-Mu. Bukalah mataku agar mampu melihat berbagai mukjizat dan tanda heran-Mu, baik besar maupun kecil. Bukalah bibirku agar aku dapat memuji-muji kehadiran dan kuasa-Mu dengan kidung pujian yang ke luar dari hatiku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 11:20-24), bacalah tulisan dengan judul “YESUS MENGECAM TIGA KOTA DI DAERAH GALILEA” (bacaan tanggal 16-7-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2019.  

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 17-7-18 dalam situs/blog SANG SABDA) 

Cilandak, 14 Juli 2019 [HARI MINGGU BIASA XV – TAHUN C] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

AGAR SUPAYA KITA MENGGANTUNGKAN DIRI PADA ROH KUDUS

AGAR SUPAYA KITA MENGGANTUNGKAN DIRI PADA ROH KUDUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Bonaventura, Uskup Pujangga Gereja – Senin, 15 Juli 2019)

Keluarga Besar Fransiskan: Pesta S. Bonaventura, Uskup Pujangga Gereja

“Jangan kamu menyangka bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya.

Siapa saja yang mengasihi bapa atau ibunya lebih daripada Aku, ia tidak layak bagi-Ku; dan siapa saja yang mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih daripada Aku, ia tidak layak bagi-Ku. Siapa saja yang tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak  bagi-Ku. Siapa saja yang mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan siapa saja yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.

Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku.  Barangsiapa menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi, dan barangsiapa menyambut  seorang benar sebagai orang benar, ia akan menerima upah orang benar. Siapa saja yang memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Ia tidak akan kehilangan upahnya.”

Setelah Yesus mengakhiri pesan-Nya kepada kedua belas murid-Nya, pergilah Ia dari sana untuk mengajar dan memberitakan Injil di dalam kota-kota mereka. (Mat 10:34-11:1) 

Bacaan Pertama: Kel 1:8-14,22; Mazmur Tanggapan: Mzm 124:1-8 

“Siapa saja yang mengasihi bapa atau ibunya lebih daripada Aku, ia tidak layak bagi-Ku.(Mat 10:37)

Yesus menantang kita untuk memeriksa status dari relasi-relasi kekeluargaan kita. Mengapa? Keluar dari hasrat-Nya supaya kita semua bergabung dengan Dia pada meja perjamuan Bapa-Nya, Yesus memperingatkan kita untuk menaruh cintakasih kita pada diri-Nya lebih daripada cintakasih kita kepada keluarga kita. Yesus mengatakan ini bukan supaya kita mengabaikan keluarga kita, melainkan agar dengan demikian cintakasih kita kepada keluarga kita dimurnikan untuk mencerminkan kasih-Nya kepada mereka.

O, betapa menggodanya untuk “menyenangkan” atau “membahagiakan” keluarga kita dengan mengorbankan pesan-pesan Injil Yesus Kristus. Betapa menggodanya bagi kita untuk melarikan diri dari aspek-aspek cintakasih yang lebih sulit dan lebih banyak tuntutan-tuntutannya. Secara tidak sadar kita seringkali didorong oleh hasrat-hasrat yang didasarkan pandangan sempit, oleh dosa-dosa yang kita tidak ingin akui, dan oleh nilai-nilai duniawi dan sikap-sikap yang menyertainya. Pengaruh-pengaruh ini dapat memperkenalkan motif-motif yang berpusat pada diri sendiri ke dalam relasi-relasi kita, dan sebagai akibatnya kita mengalami frustrasi karena suatu kehidupan keluarga yang jauh lebih buruk daripada yang kita harap-harapkan.

Allah sungguh ingin memurnikan cintakasih kita bagi mereka yang terdekat dengan diri kita dengan mengajar kita agar supaya menggantungkan diri pada Roh Kudus untuk hikmat-kebijaksanaan dan bimbingan dalam relasi kita. Dengan cara ini, kita akan mampu untuk mengasihi dan menghargai mereka sebagai anugerah dari Allah, tanpa mempertimbangkan apa yang telah mereka berikan kepada kita atau tidak berikan. Selagi kita memperkenankan warisan kita sebagai anak-anak Allah menjadi fondasi kita yang sejati, maka kita akan menjadi bebas mengasihi dan melayani keluarga kita dan orang-orang lain, dengan sepenuh hati dan tanpa pamrih.

Yesus adalah contoh kita yang sempurna. Dia mengasihi kita bukan untuk apa saja yang kita berikan kepada-Nya, melainkan untuk pencerminan dari gambaran Allah untuk mana kita dimaksudkan sejak semula. Yesus mengasihi Bapa di atas segalanya, dan melalui cintakasih itu Dia memberikan hidup-Nya sendiri bagi kita. Dalam keluarga, cintakasih macam ini akan membawa suatu respek, kerjasama, sukacita dan damai-sejahtera yang akan tegak berdiri menghadapi pencobaan apa saja. Oleh karena itu, marilah kita memohon kepada Roh Kudus untuk mengajar kita bagaimana pertama-tama mengasihi Yesus sehingga dengan demikian kita dapat mengasihi keluarga kita sepenuh-penuhnya seperti Dia mengasihi kita

DOA: Bapa surgawi, utuslah Roh Kudus-Mu kepada kami untuk menyembuhkan luka-luka dosa yang menyebabkan kami secara tidak pantas menggantungkan diri pada orang-orang yang paling dekat dengan diri kami. Dirikanlah kasih ilahi-Mu di dalam diri kami, sehingga dengan demikian semua relasi kami dapat disembuhkan dan ditransformasikan. Amin.

Catatan:  Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 10:34-11:1), bacalah tulisan yang berjudul “MENJADI DUTA-DUTA YESUS KRISTUS DI ZAMAN NOW” (bacaan tanggal 15-7-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2019. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2014) 

Cilandak, 12 Juli 2019 [Peringatan S. John Jones & S. John Wall, Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DAN SIAPAKAH SESAMAKU MANUSIA?

DAN SIAPAKAH SESAMAKU MANUSIA?

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XV [Tahun C] – 14 Juli 2019)

Kemudian berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya, “Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus kepadanya, “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di dalamnya?” Jawab orang itu, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Kata Yesus kepadanya, “Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.” Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus, “Dan siapakah sesamaku manusia?” Jawab Yesus, “Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi juga memukulnya dan sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati. Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Keesokan harinya ia mengeluarkan dua dinar dan memberikannya kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali. Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun?” Jawab orang itu, “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” Kata Yesus kepadanya, “Pergilah, dan perbuatlah demikian!” (Luk 10:25-37) 

Bacaan Pertama: Ul 30:10-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 69:14,17,30-31,33-34,36-37 atau Mzm 19:8-11; Bacaan Kedua: Kol 1:15-20 

Injil hari ini mencatat bahwa maksud si ahli Taurat mengajukan pertanyaan kepada Yesus adalah untuk mencobai-Nya (Luk 10:25). Namun ketika bertanya-jawab dengan Yesus, ahli Taurat ini mengungkapkan suatu kepekaan yang jarang terjadi terhadap kata-kata yang diucapkan oleh Yesus dan terhadap panggilan Allah dalam hatinya. Tidak seperti para ahli lainnya dalam hal Hukum Musa – biasanya mereka merupakan lawan-lawan Yesus yang sangat membenci Dia dan ajaran-Nya – ahli Taurat yang satu ini – ketika ditanya balik oleh Yesus – mampu sampai kepada inti dari keseluruhan rencana Allah dengan dua perintah sederhana: “Mengasihi Allah dan mengasihi sesamamu!” (Luk 10:27). Dalam jawabannya kepada Yesus, ahli Taurat itu menunjukkan apa yang telah dikatakan oleh Musa kepada umat Israel berabad-abad sebelumnya: “… firman ini sangat dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu, untuk dilakukan” (Ul 30:14). Ahli Taurat itu menunjukkan bahwa jalan Allah ditulis hampir secara genetika, di dalam impuls-impuls kodrat manusiawi kita, dan untuk jawabannya ini dia memperoleh persetujuan dari Yesus.

Seperti ditunjukkan dalam percakapan Yesus dengan ahli Taurat itu, Injil tidaklah sulit untuk dimengerti. Injil bukanlah seperangkat rumusan teologis yang kompleks, dan kita tidak memerlukan pendidikan bertahun-tahun lamanya hanya untuk sampai kepada inti pesan Injil itu. Dengan penuh belas kasih Allah telah menulis dalam hati kita, dan dalam kedalaman nurani kita masing-masing kita semua mengetahui dan mengenal kebenaran itu. Akan tetapi ada sesuatu yang lebih dalam bacaan Injil hari ini daripada sekadar cerita seorang ahli Taurat yang menunjukkan kesalehan. Yesus tidak hanya mengatakan kepada ahli Taurat itu bahwa dia benar, melainkan juga mengatakan kepadanya: “Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup” (Luk 10:28).

Dengan hati yang lega kita dapat menutup “episode” ini. Tetapi ternyata untuk membenarkan dirinya ahli Taurat itu bertanya lagi kepada Yesus: “Dan siapakah sesamaku manusia?” (Luk 10:29). Sebuah “kalimat tanya tak bertanya” … sudah tahu jawabnya namun masih bertanya juga! Ataukah memang hanya orang Yahudi sajakah yang merupakan sesamanya? Tanggapan Yesus terhadap pertanyaan ini berupa sebuah perumpamaan yang sangat indah dan tidak akan mudah untuk kita lupakan, yaitu “perumpamaan tentang orang Samaria yang murah hati” (Luk 10:30-35). Untuk memahami dengan lebih tepat perumpamaan ini, kita harus mengingat bagaimana mendalamnya orang Yahudi dan Samaria itu saling membenci satu sama lain, disebabkan oleh perbedaan ras, politik dan agama. Pada zaman ini dapatkah kita membayangkan seorang Kristiani Katolik Irlandia menolong seorang Kristiani Protestan dari Ulster, Irlandia Utara; atau seorang Amerika kulit hitam membantu anggota Ku Klux Klan?

Tidak seperti orang Samaria yang murah hati itu, imam dan orang Lewi dua-duanya melihat orang yang tergeletak setengah mati itu, namun melewatinya … lanjut saja! Seandainya orang orang yang menjadi korban keganasan penyamun itu telah mati, maka jika mereka menyentuhnya, … mereka menjadi tidak murni secara rituale untuk upacara penyembahan di bait Allah. Jadi, kelihatannya mereka lebih merasa prihatin tentang abc-nya liturgi daripada mengambil risiko menolong seseorang yang sungguh-sungguh membutuhkan pertolongan serius.

Marilah kita sekarang kita bertanya kepada diri sendiri: Apabila kita menempatkan diri kita dalam perumpamaan Yesus itu, maka kita (anda dan saya) tergolong kategori yang mana? Imam? Orang Lewi? Orang Samaria? Korban perampokan yang tergeletak setengah mati? Selagi kita melakukan perjalanan dari Yerikho kita masing-masing menuju Yerusalem, bagaimanakah kita bereaksi terhadap orang-orang yang membutuhkan pertolongan kita di sepanjang jalan? Katakanlah mereka bukan orang-orang yang jauh-jauh, mereka adalah para tetangga kita, anggota lingkungan [wilayah, paroki] kita, rekan kerja kita, anggota keluarga kita, karena jarak antara Yerikho dan Yerusalem bisa saja hanya berkisar sejauh kamar tidur dan dapur kita dalam rumah yang sama. Bilamana kita berjumpa dengan orang-orang yang menderita karena berbagai hal, hanya ada dua alternatif pilihan bagi kita: Kita melihat mereka tanpa bela rasa dan kemudian melanjutkan perjalanan kita, atau kita tergerak oleh kasih dan belas kasih-Nya dan kemudian memberikan pertolongan. Muncul kembali dalil klasik, bahwa “hidup adalah pilihan”!

Mengapa Injil ini merupakan sebuah tantangan besar? Mengapa hanya ada sedikit  saja “orang Samaria yang murah hati” yang dapat ditemukan di dunia ini? Karena Injil di samping sederhana, juga banyak menuntut. Tidak cukuplah bagi kita untuk memahami kebenaran. Seperti ditunjukkan oleh tanggapan Yesus terhadap si ahli Taurat, pemahaman kita akan kebenaran harus menggiring kita kepada tindakan melakukan kebenaran itu sebaik-baiknya seturut kemampuan kita masing-masing.

Apabila kita membaca Kitab Suci – dan teristimewa pada saat kita mendengarnya dibacakan dalam Misa – maka Yesus mengatakan kepada kita: “Pergilah, dan perbuatlah demikian!” (Luk 10:37). Yesus minta kepada kita untuk merangkul kesederhanaan pesan-Nya dan untuk membungkam suara-suara penolakan dalam batin kita yang mecoba untuk membuat sabda-Nya menjadi semakin rumit dan membuat dalih-dalih pembenaran diri mengapa sabda-Nya itu terlalu keras untuk kita praktekkan Musa ternyata benar: sabda itu sama sekali tidak jauh dari kita. Roh Kudus – cintakasih dan kuat-kuasa Allah sendiri – senantiasa ada bersama kita.

Catatan tambahan untuk direnungkan: Pada akhir perumpamaan ini Yesus bertanya kepada si ahli Taurat: “Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu? (Luk 10:36). Jawab orang itu, “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” (Luk 10:37). Sebuah jawaban yang samasekali tidak salah, namun lebih elok kiranya kalau dia menambahkan jawabannya dengan kata-kata berikut: “yaitu si orang Samaria!”

DOA: Tuhan Yesus, aku berterima kasih penuh syukur kepada-Mu karena Engkau telah menuliskan sabda-Mu pada hatiku. Oleh kuat-kuasa Roh Kudus-Mu, berikanlah  kepadaku keberanian dan kerendahan-hati, agar aku dapat pergi dan melakukan pekerjaan-pekerjaan Injil-Mu. Yesus, buatlah hatiku semakin serupa dengan hati-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 10:25-37), bacalah tulisan yang berjudul “ORANG SAMARIA YANG MURAH HATI” (bacaan tanggal 14-7-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2019. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 11 Juli 2019 [Peringatan S. Benediktus, Abas] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

JANGANLAH KAMU TAKUT NAMUN TAKUTLAH KEPADA ……

JANGANLAH KAMU TAKUT NAMUN TAKUTLAH KEPADA ……

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIV – Sabtu, 13 Juli 2019)

“Seorang murid tidak lebih daripada gurunya, atau seorang hamba daripada tuannya. Cukuplah bagi seorang murid jika ia menjadi sama seperti gurunya dan bagi seorang hamba jika ia menjadi sama seperti tuannya. Jika tuan rumah disebut Beelzebul, apalagi seisi rumahnya.

Jadi, janganlah kamu takut terhadap mereka, karena tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka, dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang; dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas rumah. Janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.

Bukankah burung pipit dijual dua ekor seharga satu receh terkecil? Namun, seekor pun tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Karena itu, janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga daripada banyak burung pipit.

Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang disurga. Tetapi siapa saja yang menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di surga.” (Mat 10:24-33) 

Bacaan Pertama: Kej 49:29-32; 50:15-26a; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:1-4,6-7 

Dalam ajaran-Nya, Yesus mengemukakan banyak paradoks yang menarik. Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus berkata, “Janganlah kamu takut” (Mat 10:26,28), lalu Dia berkata, “Takutlah” (Mat 10:28). Janganlah takut menghadapi para pendengarmu; janganlah takut akan apa yang akan dikatakan orang-orang; janganlah takut bahkan kepada orang-orang yang akan membunuh kamu, kata Yesus. Namun takutlah kepada Dia yang dapat mengirim jiwamu ke dalam api! Takutlah kepada apa yang bergerak dalam hatimu: takutlah akan bagian dari dirimu sendiri yang lebih lemah, dan takutlah kepada si Jahat yang bekerja sama dengan bagian dirimu yang lebih lemah tadi untuk menghancurkanmu.

Pernahkah anda memperhatikan bagaimana orang-orang dapat menjadi besar dan mulia justru pada saat-saat mereka menghadapi situasi hidup atau mati; pada saat-saat terjadinya tragedi secara mendadak misalnya bencana alam, seperti halnya ketika banjir besar menghantam dan orang-orang menghadapi bahaya kematian? Banyak orang, baik tua maupun muda sedang berlari demi keselamatan diri mereka, namun mereka memutuskan untuk kembali guna menolong orang-orang lain. Banyak orang mati pada saat mereka berupaya menyelamatkan orang-orang lain. Dalam menghadapi maut, ketika menghadap hadirat Allah, secara tiba-tiba semua kebencian dan prasangka serta praduga menghilang, dan orang-orang menjadi tidak mementingkan diri sendiri, menjadi lebih bijaksana, menjadi lebih mengasihi dan siap untuk memberikan dirinya sendiri. Semakin kita merasa dekat dengan Allah, semakin baiklah kita. Hal tersebut mengubah kita menjadi seorang pribadi yang lebih baik.

Yesus berkata: “… takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka” (Mat 10:28), artinya takut kepada Allah. Kita harus memiliki keprihatinan atas apa yang dipikirkan Allah tentang diri kita, namun kita tidak perlu merasa susah tentang gosip-gosip karena mereka tokh berbicara tanpa berpikir terlebih dahulu.

Namun ketika Yesus bahwa kita harus takut kepada Allah, Dia juga mengatakan bahwa kita tidak usah takut kepada Bapa surgawi karena Dia adalah “seorang” Bapa yang sangat mengasihi kita anak-anak-Nya. Dia akan memperhatikan kita secara lengkap dan total, begitu lengkapnya seperti Dia menghitung semua rambut kepala kita.

Dengan demikian kita harus menarik suatu garis keseimbangan yang baik antara rasa takut dan cintakasih. Apabila cintakasih itu riil, maka jelas hal itu berarti kurangnya hal-hal yang ditakuti, kita tidak merasa takut ketahuan dan tertangkap basah,  kita jujur dengan dengan pribadi yang sungguh kita kasihi. Namun kita juga takut: takut untuk menyakiti orang yang kita kasihi, takut untuk menjadi egois atau tidak jujur atau tidak setia. Cintakasih yang sejati mengandung suatu rasa takut di dalamnya: rasa takut bahwa pada suatu hari saya dapat mengabaikan orang yang sangat saya kasihi.

DOA: Tuhan Yesus, biarlah kami merasa prihatin, bahkan takut akan apa yang terjadi dalam hati kami yang terdalam karena dalam hati kamilah cintakasih harus nyata, bukan sekadar dalam ucapan kata kami. Jadikanlah hati kami seperti hati-Mu, ya Tuhan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 10:24-33), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS ITU LEBIH BESAR DARIPADA APA SAJA YANG KITA LIHAT ADA DALAM DIRI KITA” (bacaan tanggal 13-7-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2019. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2014) 

Cilandak, 11 Juli  2019 [Peringatan S. Benediktus, Abas] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS