KERAGU-RAGUAN MENANTANG IMAN KITA

KERAGU-RAGUAN MENANTANG IMAN KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VIII – Jumat, 29 Mei 2015)

Ordo Fransiskan Sekular: Peringatan S. Maria Anna dr Paredes, Perawan Ordo III 

JESUS CURSING THE FIG TREE

Sesampainya di Yerusalem Ia masuk ke Bait Allah. Di sana Ia meninjau semuanya, tetapi karena hari hampir malam, Ia keluar ke Betania bersama dengan kedua belas murid-Nya.

Keesokan harinya sesudah Yesus dan kedua belas murid-Nya meninggalkan Betania, Yesus merasa lapar. Dari jauh Ia melihat pohon ara yang sudah berdaun. Ia mendekatinya untuk melihat kalau-kalau Ia menemukan sesuatu pada pohon itu. Tetapi waktu tiba di situ, Ia tidak menemukan apa-apa selain daun-daun saja, sebab memang bukan musim buah ara. Kata-Nya kepada pohon itu, “Jangan lagi seorang pun makan buahmu selama-lamanya!”  Murid-murid-Nya pun mendengarnya.

Lalu tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Yerusalem. Sesudah Yesus masuk ke Bait Allah, mulailah Ia mengusir orang-orang yang berjual beli di halaman Bait Allah. Ia membalikkan meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati, dan Ia tidak memperbolehkan orang membawa barang-barang melintasi halaman Bait Allah. Lalu Ia mengajar mereka, kata-Nya, “Bukankah ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa? Tetapi kamu ini telah menjadikannya sarang penyamun!” Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat mendengar tentang peristiwa itu, dan mereka mencari jalan untuk membinasakan Dia, sebab mereka takut kepada-Nya, karena seluruh orang banyak takjub kepada pengajaran-Nya. Menjelang malam mereka keluar lagi dari kota.

Pagi-pagi ketika Yesus dan murid-murid-Nya lewat, mereka melihat pohon ara tadi sudah kering sampai ke akar-akarnya. Lalu teringatlah Petrus dan berkata kepada Yesus, “Rabi, lihatlah, pohon ara yang Kaukutuk itu sudah kering.” Yesus menjawab mereka, “Percayalah kepada Allah! Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa pun berkata kepada gunung ini: Terangkatlah dan terbuanglah ke dalam laut! Asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya. Karena itu Aku berkata kepadamu: Apa saja yang kamu doakan dan minta, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu. Jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya seseorang bersalah terhadap kamu, supaya juga Bapamu yang di surga mengampuni kamu akan kesalahan-kesalahanmu.” [Tetapi jika kamu tidak mengampuni, maka Bapamu yang di surga juga tidak akan mengampuni kamu akan kesalahan-kesalahanmu.] (Mrk 11:11-26) 

Bacaan Pertama: Sir 44:1,9-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 149:1-6 

jesus christ super starSemuanya terlihat begitu sederhana bagi Yesus. Ia mengutuk pohon ara yang tidak berbuah, dan pada keesokan paginya pohon itu sudah kering-mati. Yesus kemudian mengajar para murid-Nya bahwa apabila mereka mempunyai iman akan Allah, maka mereka dapat berkata kepada sebuah gunung agar terangkat dan terbuang ke dalam laut, dan hal itu akan terjadi. Apakah Yesus terlalu dramatis dalam hal ini? Apakah Dia dapat memandang kehidupan dengan cara seperti kita lakukan – dengan kesulitan-kesulitan, halangan-halangan, dan kelemahan-kelemahan yang menyebabkan kita tidak dapat mengetahui dan mengenal damai-sejahtera dan kuat-kuasa seperti yang diketahui dan dikenal-Nya?

Setiap hari kita (anda dan saya) menghadapi keragu-raguan yang menantang iman-kepercayaan kita. Dan kita dapat mempunyai alsaan-alasan yang sangat dapat dimengerti atas keragu-raguan kita itu. Barangkali di masa lampau kita belum merasakan kehadiran Allah pada saat-saat pencobaan atau kesulitan yang menimpa diri kita, atau belum pernah dikejutkan dengan tragedi yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Barangkali kita merasa bahwa kita telah mengecewakan Allah dan tidak mempunyai alasan untuk mengharapkan apa-apa dari Dia. Barangkali kita tidak memiliki pengalaman atau kemauan untuk mempraktekkan iman kita. Apa pun alasannya, keragu-raguan dapat melumpuhkan kita dan membiarkan kita diperlemah dalam menjalani kehidupan kita sehari-hari.

Keragu-raguan berarti pikiran kita mendua, ada dua perasaan tentang satu hal khusus. Double-mindedness  atau keragu-raguan antara memilih janji-janji Allah dan menerima dunia seperti yang kita ketahui – inilah yang menjadi penghalang terhadap iman kita dan pertumbuhannya. Perspektif kita yang terbatas membuat kabur sabda Allah dan kesetiaan-Nya kepada kita dan membuat ekspektasi Yesus berkenan dengan iman kita menjadi tidak masuk akal.

Bagaimana seharusnya kita membuat terobosan? Bagaimana kiranya kita harus mematahkan lingkaran keragu-raguan yang ada? Semakin kita merangkul pikiran Allah dengan memperdalam permenungan kita atas sabda Allah dalam Kitab Suci, memperoleh kekuatan dari Sakramen-sakramen, dan mengembangkan suatu hidup doa pribadi kita, semakin penuh keyakinan kita akan kasih Allah kepada kita. Selagi kita memperkenankan Roh Kudus meyakinkan diri kita akan realitas hal-hal yang tidak kelihatan dan membuat pemikiran-pemikiran kita tertangkap oleh kebenaran sejati, maka damai sejahtera akan memerintah dalam pikiran kita dan keragu-raguan pun akan terusir pergi. Marilah kita menempatkan iman-kepercayaan kita tidak hanya pada apa yang Allah telah lakukan, melainkan juga pada apa saja yang telah dijanjikan untuk dilakukan-Nya bagi kita dan bagi Gereja.

DOA: Tuhan Yesus, aku percaya akan janji-janji-Mu. Aku percaya bahwa Engkau sangat realistis dalam ekspektasi-ekspektasi-Mu, karena Engkau sendirilah yang telah membuat fondasi dari kebenaran yang tak tergoyahkan untuk ekspektasi-ekspektasi-Mu itu. Aku akan memusatkan pandanganku pada perspektif-Mu dan akan berjalan bersama-Mu dalam iman. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 11:11-26), bacalah tulisan yang berjudul “RUMAH DOA BAGI SEGALA BANGSA” (bacaan tanggal 29-5-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2015. 

Cilandak, 26 Mei 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BARTIMEUS MENYERUKAN NAMA YESUS

BARTIMEUS MENYERUKAN NAMA YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VIII – Kamis, 28 Mei 2015) 

Jesus Healing the Blind El Greco

Jesus Healing the Blind
El Greco

Lalu tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Yerikho. Ketika Yesus keluar dari Yerikho bersama-sama murid-murid-Nya dan orang banyak yang berbondong-bondong ada seorang pengemis yang buta, bernama Bartimeus, anak Timeus, duduk di pinggir jalan. Ketika didengarnya bahwa itu adalah Yesus orang Nazaret, mulailah ia berseru, “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” Banyak orang menegurnya supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru, “Anak Daud, kasihanilah aku!” Yesus berhenti dan berkata, “Panggillah dia!” Mereka memanggil orang buta itu dan berkata kepadanya, “Teguhkanlah hatimu, berdirilah, ia memanggil engkau.” Orang buta itu menanggalkan jubahnya, lalu segera berdiri dan pergi kepada Yesus. Tanya Yesus kepadanya, “Apa yang kaukehendaki Kuperbuat bagimu?”  Jawab orang buta itu, “Rabuni, aku ingin dapat melihat!”  Lalu kata Yesus kepadanya, “Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau!” Saat itu juga ia dapat melihat, lalu ia mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. (Mrk 10:46-52) 

Bacaan Pertama: Sir 42:15-25; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:2-9

Bartimeus (anak Timeus) menyerukan nama Yesus dan kedua matanya yang tadinya buta menjadi sembuh. Nama Yesus sungguh memiliki kuat-kuasa. Yesus dengan ketaatan sempurna menerima kematian di kayu salib, dan “itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku ‘Yesus Kristus adalah Tuhan’, bagi kemuliaan Allah, Bapa!” (Flp 2:8,9-11).

Ini adalah NAMA yang dikatakan oleh Santo Petrus ketika dia dan Santo Yohanes berada di hadapan Mahkamah Agama di Yerusalem: “Tidak ada keselamatan di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan”  (Kis 4:12).

Nama Yesus adalah nama yang amat-sangat berharga bagi setiap orang Kristiani yang sejati. Nama Yesus menurut Santo Bernardus dari Clairvaux [1090-1153], adalah “madu bagi mulut, musik bagi telinga, suatu sorak kegembiraaan dalam hati. Lihatlah, dengan terbitnya nama itu awan tersebar ke sana-sini dan hari akan cerah kembali. Apakah ada orang yang telah jatuh ke dalam dosa, dan apakah dia berlari dengan keputusasaan menuju kematian? Jika dia menyebut saja nama Kehidupan, bukankah hidupnya diubah dalam dirinya?” (Sermon 15 tentang Kidung-kidung).

Ketika Bartimeus yang buta mendengar bahwa Yesus ada di tengah rombongan orang banyak, ia mulai berseru, “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!”  (Mrk 10:47,48). Perhatikan tanggapan Yesus terhadap seruan Bartimeus tersebut yang lain dengan reaksi banyak orang (lihat Mrk 10:48). Yesus berkata kepada orang-orang: “Panggillah dia!” Mereka memanggil orang buta itu dan berkata kepadanya, “Teguhkanlah hatimu, berdirilah, Ia memanggil engkau” (Mrk 10:49). Apakah arti semua ini bagi kita (anda dan saya)? Ini adalah sebuah undangan kepada kita masing-masing untuk menyerukan nama Yesus setiap saat kita membutuhkan pertolongan-Nya!

Hanya sedikit orang yang pernah menulis dengan begitu indahnya tentang kuat-kuasa penyembuhan dari Nama Yesus seperti Santo Bernardus dari Clairvaux. Ketika memeditasikan kidung pujian kepada Nama Yesus, Bernardus mengatakan, “Bukan tanpa alasan Roh Kudus membandingkan nama sang Mempelai laki-laki dengan minyak, ketika Dia menginspirasikan mempelai perempuan untuk berkata kepada sang Mempelai laki-laki: Nama-Mu adalah minyak yang dicurahkan. Karena minyak memberikan terang, minyak memberi makan, minyak mengurapi. Minyak menyulut api; minyak memperbaharui daging; minyak meredakan/mengurangkan rasa sakit. Minyak adalah terang, makanan, dan obat. Lihatlah bagaimana seperti ini nama dari Mempelai laki-laki yang sejati. Nama Yesus adalah terang ketika dikhotbahkan, adalah makanan dalam meditasi; adalah balsam dan penyembuhan ketika diminta bantuannya.

Seorang kudus lainnya yang sangat mencintai Nama Yesus Yang Mahakudus dan Bunda Maria adalah seorang imam Fransiskan yang bernama Santo Bernardinus dari Siena [1380-1444]; seorang pengkhotbah ulung yang pada masa hidupnya sudah dikenal sebagai orang kudus yang penuh hikmat. Paus Pius II [pontifikat: 1458-1464] menyebutnya sebagai Paulus kedua. Umat di beberapa tempat di Italia mendaulatnya sebagai uskup, namun dia selalu menolak dengan rendah hati.

DOA: Terpujilah Nama Yesus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 10:46-52), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MENCELIKKAN MATA BARTIMEUS YANG BUTA” (bacaan tanggal 28-5-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2015. 

Cilandak, 25 Mei 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

JALAN YESUS ADALAH JALAN SALIB

JALAN YESUS ADALAH JALAN SALIB

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VIII – Rabu, 27 Mei 2015) 

the-crucifixion-with-witnessesYesus dan murid-murid-Nya sedang dalam perjalanan ke Yerusalem dan Yesus berjalan di depan. Murid-murid merasa cemas dan juga orang-orang yang mengikuti Dia dari belakang merasa takut. Sekali lagi Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan Ia mulai mengatakan kepada mereka apa yang akan terjadi atas diri-Nya. “Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhkan hukuman mati kepada-Nya. Mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa lain, dan Ia akan diolok-olok, diludahi, dicambuk dan dibunuh, tetapi sesudah tiga hari Ia akan bangkit.”  

Lalu Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, mendekati Yesus dan berkata kepada-Nya, “Guru, kami harap Engkau melakukan apa pun yang kami minta dari Engkau!” Jawab-Nya kepada mereka, “Apa yang kamu kehendaki Kuperbuat bagimu?”  Lalu kata mereka, “Perkenankanlah kami duduk dalam kemuliaan-Mu kelak, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu.”  Tetapi kata Yesus kepada mereka, “Kamu tidak tahu apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan yang harus Kuminum atau dibaptis dengan baptisan yang harus kuterima?”  Jawab mereka, “Kami dapat.” Yesus berkata kepada mereka, “Memang, kamu akan meminum cawan yang harus Kuminum dan akan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima. Tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang yang baginya hal itu telah disediakan.”  Mendengar itu kesepuluh murid yang lain menjadi marah kepada Yakobus dan Yohanes. Lalu Yesus memanggil mereka dan berkata, “Kamu tahu bahwa mereka yang diakui sebagai pemerintah bangsa-bangsa bertindak sewenang-wenang atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Siapa saja yang ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan siapa saja yang ingin menjadi yang pertama di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”  (Mrk 10:32-45) 

Bacaan Pertama: Sir 36:1,4-5,10-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 79:8-9,11,13 

Apakah yang timbul dalam pikiran anda apabila berpikir tentang seorang pemimpin? Seseorang yang memiliki banyak kekuasaan? Ataukah seorang pelayan yang rendah hati? Seperti yang diajarkan Yesus kepada Yakobus dan Yohanes, Ia ingin mengajar kita  bahwa cara-Nya bukanlah cara dengan cara/jalan dominansi, melainkan cara/jalan pelayanan kepada mereka yang hendak diselamatkan-Nya. Yesus ingin mengajar kita Jalan Salib, yaitu sebuah jalan yang sangat kontras dengan cara/jalan yang kita cenderung pikirkan.

KEMURIDAN - SIAPA YANG MAU MENJADI MURIDKUSayang seribu sayang, pada titik ini, Yakobus dan Yohanes masih belum memahaminya, walaupun mereka telah segalang-segulung dengan Yesus sekitar tiga tahun lamanya. Sesungguhnya, walaupun setelah Yesus telah mengatakan kepada pada murid-Nya bahwa diri-Nya akan ditolak dan dihukum mati, dua orang bersaudara anak-anak Pak Zebedeus itu ingin mengabaikan penderitaan Yesus dan mau langsung berbicara mengenai bagian penuh kemuliaan dari misi-Nya. Dengan lembah lembut Yesus mengingatkan mereka bahwa apabila mereka mau mengikuti jejak-Nya, maka mereka juga harus mengalami penderitaan dan kesulitan lain seperti yang Ia alami. Apabila orang-orang yang sudah cukup lama hidup sehari-hari bersama Yesus masih saja disibukkan dengan pemikiran tentang pencapaian kemuliaan dan kekuasaan yang mereka harap-harapkan, kiranya lebih parah kasusnya dengan kita pada zaman sekarang. Kita harus senantiasa mengingat dalil ini, yaitu bahwa tidak ada kebangkitan tanpa didahului oleh kematian. Tidak ada peninggian tanpa didahului oleh perendahan. Tidak ada hari Paskah tanpa didahului oleh hari Jumat Agung.

Seperti Yakobus dan Yohanes, kebanyakan dari dari kita akan berbahagia untuk langsung mengalami “kebangkitan” tanpa harus mengalami “kematian lewat Salib”. Kita lebih senang untuk menghindari berbagai pencobaan dan penderitaan Salib. Kita lebih menyukai menghindari berbagai pencobaan dan penderitaan yang diminta Allah kepada kita dan melalui pencobaan/penderitaan mana Dia mengembangkan karakter Yesus dalam diri kita. Akan tetapi, apabila Tuhan Yesus telah memikuil salib-Nya, dan kita adalah para murid-Nya, mengapa kita harus berpikir bahwa kita harus mengalami hal yang berbeda? Memang tetap ada pengharapan. Dalam segala pencobaan kita,  kita dapat melihat karakter Kristus dibentuk dalam diri kita. Kita dibuat serupa dengan Juruselamat kita yang tersalib dan bangkit! Untuk setiap kematian yang kita alami, juga ada suatu “kebangkitan” yang menantikan kita – baik sekarang maupun di surga sana.

Pada waktu Roh Kudus turun atas para rasul/murid pada hari Pentakosta Kristiani yang pertama, Dia mulai menyatakan kebenaran-kebenaran ini kepada mereka, kebenaran-kebenaran sama yang ingin dinyatakan oleh Roh kepada para murid Yesus pada segala zaman. Allah ingin mentransformasikan kita menjadi serupa dengan Yesus. Ia ingin membuat kita serupa dengan Dia yang tidak memikirkan diri sendiri, yang datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani. Marilh kita mohon Yesus untuk merobek hati kita masing –masing dengan kasih-Nya sehingga dengan demikian kita dapat memanggul salib kita seperti Dia memanggul salib-Nya, dengan demikian kita dapat bangkit bersama-Nya ke dalam hidup baru.

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Ampuni aku, ya Tuhan Yesus, karena aku seringkali mencoba untuk menghindari salib yang harus kupikul. Transformasikanlah diriku dan berikanlah sebuah hati yang sungguh ingin mengikut Engkau tanpa syarat. Ajarlah aku agar dapat menjadi pelayan/hamba seperti Engkau. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 10:32-45), bacalah tulisan yang berjudul “UNTUK MELAYANI, BUKAN DILAYANI” (bacaan tanggal 27-5-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2015. 

Cilandak, 21 Mei 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENERIMA KEMBALI SERATUS KALI LIPAT

MENERIMA KEMBALI SERATUS KALI LIPAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Filipus Neri [1515-1595], Imam – Selasa, 26 Mei 2015) 

KEMURIDAN - YESUS MEMANGGIL PARA MURIDNYALalu Petrus berkata kepada Yesus, “Kami telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau!” Jawab Yesus, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, setiap orang yang karena aku dan karena Injil meninggalkan rumahnya, atau saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, atau ibunya atau bapanya, atau anak-anaknya atau ladangnya, orang itu pada zaman ini juga akan menerima kembali seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan ladang, sekalipun disertai berbagai penganiayaan, dan pada zaman yang akan datang ia akan menerima hidup yang kekal. Tetapi banyak orang yang pertama akan menjadi yang terakhir dan yang terakhir akan menjadi yang pertama.” (Mrk 10:28-31) 

Bacaan Pertama: Sir 35:1-12; Mazmur Tanggapan: Mzm 50:5-8,14,23 

Bacaan hari ini dapat dipandang sebagai sebuah penghiburan yang memberikan rasa lega, apabila dibandingkan dengan kata-kata Yesus yang keras (the hard sayings of Jesus) yang baru saja diucapkan-Nya kepada para pengikutnya. Yesus memang seorang radikal yang sering membuat kata-kata serta tindakan-tindakan-Nya menggoncang hati mereka yang mendengar atau melihat-Nya. Ketika si orang muda-kaya datang mendekati Yesus, ada rasa bangga atas dirinya sendiri karena sebagai seorang Yahudi dia selama itu telah berhasil mematuhi perintah-perintah Allah. Namun Yesus menanggapi pertanyaan orang muda-kaya itu dengan menetapkan beberapa tuntutan yang sungguh mengagetkan bagi seluruh dunia dari abad ke abad.

Tuntutan-tuntutan Yesus yang keras ini telah “melahirkan” para anggota Gereja yang menjadi tokoh-tokoh pembaharuan penuh dedikasi seperti Santo Benediktus [480-547], Santo Dominikus [1170-1221], Santo Fransiskus dari Assisi [1181-1226], Santo Ignatius dari Loyola [1491-1556], Santa Teresa dari Avila [1515-1582], dll., juga sekian banyak anggota yang berdedikasi dari berbagai tarekat religius atau katakanlah “keluarga rohani” dalam Gereja. Para perempuan dan laki-laki kudus ini praktis mengikuti secara hurufiah kata-kata yang diucapkan oleh Yesus ketika Dia menanggapi pertanyaan si orang-muda kaya itu: “Hanya satu lagi kekuranganmu: Pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku” (Mrk 10:21).

YESUS DAN KEDUABELAS MURID-NYAPerihal kata-kata Yesus ini tidak ada “kalau begini” atau “kalau begitu”. Seorang murid Yesus adalah dia yang sepenuhnya melepaskan diri dari setiap hal dan setiap orang. Dalam kata-kata Yesus, seorang murid “melepaskan rumahnya, saudari dan saudaranya, ibu dan ayahnya, anak-anaknya atau harta-kekayaannya” bagi Yesus dan bagi Injil. Yesus memang seorang pemimpin yang radikal! Seorang murid Yesus yang sejati adalah seseorang yang secara total-penuh melekat pada Yesus dan Kerajaan-Nya yang baru. Orang itu harus mengistimewakan Yesus di atas segala sesuatu yang dicintai dunia. Seorang murid Yesus yang “awam” boleh-boleh saja diberkati oleh Allah dengan harta-kekayaan, kekuasaan dll. namun semua itu tidak boleh menjadi berhalanya (idola-nya). Yang boleh dikejar-kejar dan disembah olehnya hanyalah  Tuhan saja!

Tuntutan radikal dari Yesus sungguh mengejutkan para murid-Nya, apalagi ketika Dia mengatakan: “Alangkah sukarnya orang yang banyak harta masuk ke dalam Kerajaan Allah.” (Mat 10:23). Yesus melanjutkan: “Anak-anak-Ku, alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah. Lebih mudah seekor unta melewati lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah” (Mrk 10:24-25). Para murid semakin tercengang dan berkata seorang kepada yang lain, “Jika demikian, siapakah yang akan diselamatkan?” Yesus memandang mereka dan berkata, “Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab sregala sesuatu mungkin bagi Allah” (Mrk 10:26-27).

Sejarah para kudus, para anggota Gereja Kristus yang penuh dedikasi dari segala tempat dan masa, menunjukkan kepada kita bahwa Allah sungguh dapat memberi anak-anak-Nya kuat-kuasa untuk melakukan dedikasi secara total kepada-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau telah menjanjikan para murid-Mu ganjaran sebanyak seratus kali lipat pada masa ini, masa yang akan datang dan akan menerima kehidupan kekal, apabila mereka setia dalam mengikuti jejak-Mu. Oleh Roh Kudus-Mu jagalah kami agar senantiasa menjadi murid-Mu yang patuh dan setia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 10:28-31); bacalah tulisan yang berjudul “MENGIKUT YESUS” (bacaan tanggal 26-5-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2015.  

Cilandak, 21 Mei 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

JANGANLAH HARTA-KEKAYAAN KITA MENJADI PENGHALANG

JANGANLAH HARTA-KEKAYAAN KITA MENJADI PENGHALANG

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VIII – Senin, 25 Mei 2015) 

KEMURIDAN - ORANG MUDA KAYA DAN PENGUASA MAU IKUT YESUSPada waktu Yesus meneruskan perjalanan-Nya, datanglah seseorang berlari-lari mendapatkan Dia dan sambil bertelut di hadapan-Nya ia bertanya, “Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus, “Mengapa kaukatakan Aku baik?” Tak seorang pun yang baik selain Allah saja. Engkau tentu mengetahui perintah-perintah ini: Jangan membunuh, jangan berzina, jangan mencuri, jangan memberi kesaksian palsu, jangan menipu orang, hormatilah ayahmu dan ibumu!” Lalu kata orang itu kepada-Nya, “Guru, semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku.” Tetapi Yesus memandang dia dan menaruh kasih kepadanya, lalu berkata kepadanya, “Hanya satu lagi kekuranganmu: Pergilah, juallah apa yang kaumiliki dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah kemari dan ikutlah Aku.” Mendengar perkataan itu mukanya muram, lalu pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya.

Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya di sekeliling-Nya dan berkata kepada mereka, “Alangkah sukarnya orang yang banyak harta masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Murid-murid-Nya tercengang mendengar perkataan-Nya itu. Tetapi Yesus berkata lagi, “Anak-anak-Ku, alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah. Lebih mudah seekor unta melewati lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Mereka makin tercengang dan berkata seorang kepada yang lain, “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” Yesus memandang mereka dan berkata, “Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu mungkin bagi Allah.” (Mrk 10:17-27) 

Bacaan Pertama: Sir 17:24-29; Mazmur Tanggapan: Mzm 32:1-2,5-7 

Dari bacaan Injil di atas kita dapat mengatakan bahwa orang yang mendatangi Yesus itu adalah seorang yang mempunyai banyak harta-kekayaan (Mrk 10:22). Namun kalau kita melihat juga bacaan-bacaan sejajar yang terdapat dalam Mat 19:16-26 dan Luk 18:18-27, maka kita dapat mengambil kesimpulan bahwa orang yang mendatangi Yesus itu adalah seorang yang kaya (Mat 19:22, Luk 18:24), masih muda-usia (Mat 19:20), memegang kuasa kepemimpinan (Luk 18:18), dan hidup kerohaniannya juga baik (Mrk 10:20; Mat 19:20; Luk 18:21). Sekilas lintas, kelihatannya orang itu sudah mempunyai segalanya.

Perhitungan kita-manusia bukanlah tandingan dari perhitungan Allah, betapa pun akuratnya perhitungan kita itu. Dalam suratnya, Yakobus mendesak pembacanya (termasuk kita semua) untuk menganggap sebagai kebahagiaan apabila kita jatuh ke dalam berbagai pencobaan karena hal-hal tersebut sebenarnya merupakan kesempatan-kesempatan untuk mempercepat perjalanan kita menuju Kerajaan Allah (lihat Yak 1:2 dsj.). Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus mengatakan kepada laki-laki kaya itu bahwa “berkat-berkat” yang diterimanya dalam hidupnya justru dapat menjadi penghalang dalam upayanya memperoleh hidup yang kekal.

Cara berpikir Yesus ini sungguh mengejutkan orang-orang yang mendengarkan-Nya. Orang-orang Yahudi menyamakan kemakmuran materiil dengan berkat ilahi dan memandang kemiskinan sebagai hukuman Allah atas dosa seseorang. Jika seseorang mematuhi atau taat kepada hukum Allah, maka dia akan memperoleh ganjaran positif dalam hidup ini. Apabila seseorang berdosa, maka konsekuensi-konsekuensinya dapat terlihat jelas.

jesus christ super starYesus dapat mengatakan kepada laki-laki kaya ini bahwa kekayaannya sebagai berkat dari Allah. Namun pada saat bersamaan, Yesus juga mengetahui bahwa kekayaan itu telah menjadi “berhala”-nya. Hal ini merupakan sebuah penghalang baginya untuk memperoleh hidup kekal, satu-satunya kelekatan yang menghalang-halangi dirinya untuk mengikuti Yesus dengan sepenuh hati.

Sekarang, marilah kita bertanya kepada diri kita masing-masing: Apakah kekuranganku? Apakah yang menghalangiku untuk sepenuhnya menyerahkan diri kepada Allah? Bisa saja suatu hal yang jahat, suatu dosa yang belum mau kita akui, atau relasi tidak sehat yang mengikat diri kita selama ini. Akan tetapi lebih mungkin suatu berkat, sesuatu yang kita tahu Allah telah berikan kepada kita, namun belum memenuhi tempat sentral dalam hati kita yang sebenarnya harus disediakan bagi Dia saja. Barangkali ini menyangkut suatu pelayanan atau peranan kepemimpinan yang kita yakin tidak ada orang lain yang dapat melakukannya. Barangkali juga suatu kelekatan pada keluarga kita yang tidak menyisakan ruang untuk mengasihi orang-orang lain. Atau barangkali suatu masalah keluarga yang kita merasa bertanggung jawab untuk selesaikan dahulu sebelum kita dapat menolong orang lain. Barangkali masalah talenta yang membuat diri kita sulit bekerja dengan orang-orang lain yang menurut pandangan kita memiliki talenta yang kurang dibandingkan dengan talenta kita sendiri, atau untuk membiarkan mereka melakukan kesalahan yang membuat mereka bertumbuh. Barangkali peranan penting kita dalam organisasi yang membuat diri kita tidak bersedia melepaskan kendali yang selama ini ada di tangan kita.

Apa pun jawaban kita, marilah kita (anda dan saya) mendekat kepada Yesus dan biarlah Dia memandang diri kita dengan mata-Nya yang memancarkan kasih. Selagi kita melakukannya, maka berkat-berat ini akan jatuh pada tempatnya yang layak, dan Yesus sekali lagi akan mengambil tempat sentral dalam diri kita.

DOA: Tuhan Yesus, aku percaya bahwa Engkau mengasihiku. Tolonglah, ya Tuhan, agar Engkau bersedia menunjukkan satu hal yang menghalangi diriku untuk mengikuti Engkau dengan sepenuh hatiku. Tolonglah aku untuk melepaskan hal itu agar supaya diriku menjadi milik-Mu sepenuhnya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 10:17-27), bacalah tulisan yang berjudul “TIDAK MUNGKIN BAGI MANUSIA” (bacaan tanggal 25-5-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2015. 

Cilandak, 21 Mei 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERANAN SANG PENOLONG

PERANAN SANG PENOLONG

 (Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA PENTAKOSTA – Minggu, 24 Mei 2015) 

pentecosti-kosmos

“… Jikalau Penolong yang akan Kuutus dari Bapa datang, yaitu Roh Kebenaran yang keluar dari Bapa, Ia akan bersaksi tentang Aku. Tetapi kamu juga harus bersaksi, karena kamu sejak semula bersama-sama dengan Aku.” 

“Masih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya. Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya  dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang. Ia akan memuliakan Aku, sebab Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari Aku. Segala sesuatu yang Bapa miliki adalah milik-Ku; sebab itu Aku berkata: Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari Aku.” (Yoh 15:26-27; 16:12-15) 

Bacaan Pertama: Kis 2:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 104:1,24,29-31,34; Bacaan Kedua: Gal 5:16-25  

Roh Kudus disebut sebagai Penolong (Yunani: Parakletos) sebanyak lima kali dalam Perjanjian Baru (Yoh 15:26; 14:16,26; 16:7; 1Yoh 2:1). Dengan menggunakan nama itu Yohanes hendak menggarisbawahi peranan Roh Kudus sebagai seorang penasihat – suatu sumber pendorong, penghiburan, pertolongan dan kebenaran.

ROHHULKUDUSPada waktu Yesus hidup di muka bumi ini sebagai seorang manusia, para murid-Nya mempunyai akses yang bebas dan mudah untuk datang kepada-Nya. Mereka dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan mohon nasihat kapan saja mereka inginkan. Namun pada  Perjamuan Terakhir, tahu bahwa diri-Nya tidak akan selalu dapat diakses secara fisik, Yesus mempersiapkan para murid-Nya untuk menyambut kedatangan seorang penolong/penasihat yang lain, yaitu Roh Kudus (Yoh 14:16). Walaupun Yesus tidak akan bersama mereka lagi dalam daging, Roh Kudus – Roh Yesus – akan berdiam di dalam diri mereka. Satu-satunya hal yang lebih baik daripada “Yesus ada bersama dengan kita” adalah “Yesus berada dalam diri kita”.

Dari segala tugas Roh Kudus, satu dari yang paling penting adalah membawa Kitab Suci ke kehidupan di dalam hati kita sehingga diri kita dapat ditransformasikan. Apakah kita pernah berpikir untuk memanggil Dia untuk duduk di samping kita ketika kita duduk membaca Kitab Suci? Dengan Dia sebagai pemandu dan penasihat, kita tentunya dapat melakukan navigasi melalui bagian-bagian bacaan sulit dalam Kitab Suci dan menemukan kedalaman-kedalaman baru dalam hidup Kristiani yang sebelumnya kita pikir tidak mungkin.

Pada Hari Raya Pentakosta ini, baiklah kita (anda dan saya) datang kepada Roh Kudus dengan sebuah hati yang terbuka. Marilah kita memohon kepada-Nya untuk menolong kita dalam kelemahan-kelemahan kita. Sementara kita membaca Kitab Suci dalam keheningan dan suasana doa, biarlah Dia mencerahkan kata-kata yang ada dalam Kitab Suci dan menolong kita menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Roh Kudus akan mengambil pesan dari Kitab Suci, mengikatnya dengan kehidupan Gereja, dan mencelupkannya dalam-dalam di hati kita masing-masing, di mana kehendak kita dimotivasi untuk bertindak. Lalu perhatikanlah bahwa kehidupan kita pun berubah.

jeromeSanto Hieronimus [347-420] berkata: “Ignoratio Scripturarum, Ignoratio Christi est.”  (Inggris: “Ignorance of Scripture is ignorance of Christ.”), yang artinya kira-kira “Tidak kenal/tahu Kitab Suci, tidak kenal/tahu Kristus. Apakah anda mau mengenal Jesus, sang Sabda Allah? Cobalah kenal dengan Roh Kudus, Penolong anda!

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau telah mengutus Putera-Mu untuk memulihkan relasi kami dengan Dikau. Terima kasih karena Engkau telah mengirimkan Roh Kudus untuk hidup dalam diri kami dan menolong kami dalam segala kelemahan kami. Datanglah, ya Roh Kudus, penuhilah hati kami umat-Mu dan nyalakanlah api cintakasih-Mu dalam hati kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 2:1-11), bacalah tulisan yang berjudul “SETIAP SAAT KITA DAPAT BERPALING KEPADA ROH KUDUS” (bacaan tanggal 24-5-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2015. 

Cilandak,  19 Mei 2015 [Peringatan S. Krispinus dari Viterbo] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ITU BUKAN URUSANMU !!! [2]

ITU BUKAN URUSANMU !!! [2]

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VII Paskah – Sabtu, 23 Mei 2015) 

YESUS DI GEREJA ORTODOX SIRIAKetika Petrus berpaling, ia melihat bahwa murid yang dikasihi Yesus sedang mengikuti mereka, yaitu murid yang pada waktu mereka sedang makan bersama duduk dekat Yesus dan yang berkata, “Tuhan, siapakah dia yang akan menyerahkan Engkau?” Ketika Petrus melihat murid itu, ia berkata kepada Yesus, “Tuhan, bagaimana dengan dia ini?” Jawab Yesus, “Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: Ikutlah Aku.” Lalu tersebarlah kabar di antara saudara-saudara itu bahwa murid itu tidak akan mati. Tetapi Yesus tidak mengatakan kepada Petrus bahwa murid itu tidak akan mati, melainkan, “Jikalau Aku menghendaki supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu.”

Dialah murid yang bersaksi tentang semuanya ini dan yang telah menuliskannya dan kita tahu bahwa kesaksiannya itu benar.

Masih banyak lagi hal-hal lain yang diperbuat oleh Yesus, tetapi jikalau semuanya itu harus dituliskan satu per satu, kupikir dunia ini tidak dapat memuat semua kitab yang harus ditulis itu. (Yoh 21:20-25) 

Bacaan Pertama: Kis 28:16-20,30-31; Mazmur Tanggapan: Mzm 11:4-5,7 

Selagi kita mendekati penghujung Masa Paskah, kita membaca enam ayat terakhir dari Injil Yohanes yang berisikan sebuah pelajaran yang indah bagi kita.

Dalam penampilan-Nya sebagai Tuhan yang bangkit, Yesus baru saja mengatakan kepada Petrus bagaimana rasul-Nya itu akan menderita penganiayaan dan mengalami kematiannya sebagai martir Kristus. Karena Yesus tidak mengatakan apa-apa tentang kematian Yohanes, Petrus menjadi ingin tahu dan bertanya kepada Yesus, “Tuhan, bagaimana dengan dia ini?” (Yoh 21:21).

Yesus tidak pernah memberi jawaban langsung terhadap pertanyaan-pertanyaan “kosong” yang diajukan demi memenuhi rasa ingin tahu seseorang. Dalam Injil Lukas, misalnya, ada seseorang yang tertanya kepada Yesus, “Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?” Jawab Yesus kepada orang-orang di situ, “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sempit itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat ……” (Luk 13:23 dsj.). Jadi, dalam kasus kita kali ini, Yesus juga memberikan jawaban yang seakan mengandung “teka-teki”, “Jikalau Aku menghendaki, supaya ia tinggal hidup sampai Aku datang, itu bukan urusanmu. Tetapi engkau: Ikutlah Aku” (Yoh 21:22). Yesus tidak memberi kepuasan terhadap rasa ingin tahu Petrus. Yesus hanya mengatakan kepada Petrus agar dia benar-benar mengikuti jejak-Nya, sampai kepada penyalibannya. Itulah yang penting!

Mengapa kita begitu ingin tahu tentang perkara-perkara orang-orang lain? Mengapa kita bertanya mengenai cara-cara Allah dalam mengasihi masing-masing kita sebagai individu. Yesus seakan berkata kepada Petrus: “Engkau adalah Petrus dan Yohanes adalah Yohanes. Aku tidak dapat memperlakukan kamu berdua secara sama. Aku harus menghargai individualitasmu masing-masing, karunia-karuniamu yang istimewa.” Patut dicatat bahwa kebenaran ini tidak hanya berlaku di kalangan kaum awam dalam Gereja, melainkan juga berlaku di kalangan para anggota pimpinan Gereja.

Seringkali kita merasa iri hati dan kesal karena Allah kelihatannya memperlakukan orang-orang lain dengan kasih yang melebihi kasih-Nya kepada kita sendiri. Bagaimana hal ini sampai terjadi? Allah adalah kasih. Kasih Allah itu tanpa batas kepada setiap orang tanpa kecuali. Kita harus belajar untuk menerima kasih-Nya bagi kita dan cara Dia mengasihi kita, walaupun kadang-kadang kita tidak memahaminya. Mulai saat ini, janganlah sampai kita merasa kurang dikasihi ketimbang orang-orang lain.

Allah kita adalah “Allah yang cemburu” (lihat Kel 34:14). Ia menginginkan setiap relasi-Nya dengan anak-anak-Nya merupakan relasi yang sepenuhnya personal dan unik.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau mengasihiku secara sangat mempribadi. Aku sungguh berbahagia karena di mata-Mu aku adalah seorang pribadi yang istimewa. Terpujilah nama-Mu selalu, ya Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamatku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 21:20-25), bacalah tulisan dengan judul “BERKONSENTRASI PADA RENCANA-RENCANA ALLAH UNTUK HIDUP KITA” (bacaan tanggal 23-5-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH 2015. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 26-5-12 dalam situs/blog PAX ET BONUM) 

Cilandak, 18 Mei 2015 [Peringatan/Pesta S. Feliks dr Cantalice] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 144 other followers