BAPA SENDIRI MENGASIHI KAMU

BAPA SENDIRI MENGASIHI KAMU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VI – Sabtu, 7 Mei 2016)

NAMA YESUS YANG KUDUS - 555Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku. Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatu pun dalam nama-Ku. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu.

Semuanya ini Kukatakan kepadamu dengan kiasan. Akan tiba saatnya Aku tidak lagi berkata-kata kepadamu dengan kiasan, tetapi terus terang memberitakan Bapa kepadamu. Pada hari itu kamu akan berdoa dalam nama-Ku. Tidak Aku katakan kepadamu bahwa Aku meminta bagimu kepada Bapa, sebab Bapa sendiri mengasihi kamu, karena kamu telah mengasihi Aku dan percaya bahwa Aku datang dari Allah. Aku datang dari Bapa dan Aku datang ke dalam dunia; aku meninggalkan dunia pula dan pergi kepada Bapa.” (Yoh 16:23b-28) 

Bacaan Pertama: Kis 18:23-28; Mazmur Tanggapan: Mzm 47:2-3,8-10 

“Bapa sendiri mengasihi kamu” (Yoh 16:27).

Oh betapa beruntungnya kita semua sebagai anak-anak dari “seorang” Allah yang begitu mengasihi kita! Yesus bersabda kepada para murid-Nya – dan tentunya kepada kita semua – bahwa segala sesuatu yang kita minta kepada Bapa dalam nama-Nya, akan diberikan oleh Bapa kepada kita. Mengapa? Karena Bapa mengasihi kita semua. Sebagai “seorang” pemasok segala kebutuhan kita, Bapa surgawi sungguh  berhasrat untuk memberikan kepada kita pemberian-pemberian yang baik. Ia ingin menyembuhkan hati kita yang meradang kesakitan, memegang kita dengan tangan-Nya sendiri dan menuntun kita di jalan yang lurus, juga memberikan segala berkat-Nya kepada kita. Bagi Allah, mengasihi adalah suatu prioritas. Pater Henri Nouwen pernah menulis: “Allah mengasihi kita sebelum manusia mana pun dapat menunjukkan cintakasih kepada kita. Dia mengasihi kita dengan ‘cinta pertama’, suatu cintakasih yang tanpa batas dan tanpa syarat.”

Membangun dan mengembangkan suatu relasi cintakasih dengan Allah adalah hal terpenting yang kita dapat lakukan dalam hidup kita. Namun demikian, berapa banyak dari kita ini yang masih berpikir bahwa kita harus melakukan sesuatu dulu agar pantas menerima kasih Allah? Berapa banyak dari kita menyamakan tindakan “melayani Allah” dengan “mengasihi Allah”? Dunia kita sangat berorientasi pada tujuan. Dalam dunia manajemen, misalnya kita diajar dan mengajar tentang management by objectives, goals program dst., hal mana juga biasanya diintegrasikan ke dalam proses penilaian prestasi kerja (performance appraisal) orang-orang yang bekerja untuk kita. Semua itu baik! Namun salah satu pengaruhnya adalah, bahwa dengan demikian mudah sekali kita berpikir bahwa Allah juga (seperti para atasan dalam perusahaan) menghendaki kita menunjukkan prestasi yang memuaskan sebelum memberikan imbalan (reward), seakan Dia berkata, “Performance dulu, baru dapat reward; menangkan pertandingan dulu, baru dapat piala.”

Baptism-of-the-Holy-SpiritIngatlah bahwa tidak demikianlah halnya dengan Allah kita. Ingatlah apa yang disabdakan oleh Yesus sendiri: “Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat …” (Yoh 15:15). Ia ingin agar Gereja-Nya dipenuhi dengan orang-orang yang mengasihi-Nya dengan penuh gairah, sama seperti Dia mengasihi mereka. Seperti seorang mempelai perempuan yang menyenangkan hati mempelai laki-laki, kita dipanggil untuk melakukan hal-hal bagi Yesus karena kita mengasihi Dia, bukan karena kita ingin membuktikan diri kita  kepada-Nya atau membuat diri kita “pantas” menerima cintakasih-Nya.

Bagaimana kiranya kasih Allah ini? Kelihatannya seperti apa? Bagaimana rasanya? Pada waktu-waktu tertentu kasih Allah itu mungkin saja mengambil bentuk rasa sukacita yang berlimpah, meski di tengah keadaan yang sulit. Pada waktu-waktu yang lain, mungkin mengambil bentuk suatu rasa damai yang mendalam dalam hati kita. Dapat juga mengambil bentuk keyakinan yang datang dari pengetahuan bahwa kita tidak pernah ditinggal sendirian.

Kalau kita ingin mengalami kasih Allah ini, maka kita harus mulai dengan menjadi riil dengan Dia. Akuilah kepada Allah dan kepada diri kita sendiri bahwa sebenarnya kita sangat, dan sangat membutuhkan Dia. Kita mohon kepada-Nya agar memenuhi diri kita dengan Roh-Nya dan untuk menyatakan kasih-Nya kepada kita. Allah Bapa memiliki kerinduan yang lebih besar untuk bertemu dengan kita daripada keinginan kita untuk bertemu dengan Dia.

DOA: Bapa di surga, Allah yang Mahapengasih dan Maharahim. Terima kasih penuh syukur kupanjatkan ke hadirat-Mu karena Engkau mengasihiku dengan suatu kegairahan tanpa batas. Aku sendiri malah tidak dapat memperkirakan sampai berapa dalam kasih-Mu bagi diriku. Terima kasih, ya Bapa, Engkau telah menyerahkan Putera-Mu yang tunggal sampai wafat di kayu salib, demi keselamatan kami, anak-anak-Mu. Kasih-Mu seperti sungai yang mengalir tanpa henti. Terpujilah Engkau selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Yoh 16:23b-28), bacalah tulisan yang berjudul  “PERTUMBUHAN” (bacaan tanggal 7-5-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2016.

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010) 

Cilandak, 5 Mei 2016 [HARI RAYA KENAIKAN TUHAN] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

AKU AKAN MELIHAT KAMU LAGI

AKU AKAN MELIHAT KAMU LAGI

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VI Paskah – Jumat, 6 Mei 2016)

HARI PERTAMA NOVENA PENTAKOSTA 

LAST SUPPER AFTER JUDAS LEFT

Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira; kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita. Seorang perempuan berdukacita pada saat ia melahirkan, tetapi sesudah ia melahirkan anaknya, ia tidak ingat lagi akan penderitaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah dilahirkan ke dunia. Demikian juga kamu sekarang diliputi dukacita, tetapi aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira dan tidak ada seorang pun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari kamu. Pada hari itu kamu tidak akan menanyakan apa-apa kepada-Ku. (Yoh 16:20-23a) 

Bacaan Pertama: Kis 18:9-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 47:2-7

Sementara Yesus sudah semakin dekat dengan saat kematian-Nya, Dia masih terus mempersiapkan para murid-Nya agar dapat menghadapi saat perpisahan dengan-Nya dan untuk mensyeringkan pengharapan besar yang tersimpan dalam hati-Nya. Sebagaimana seorang perempuan yang menanggung rasa sakit demi melahirkan bayinya ke tengah dunia, Yesus pun mengetahui bahwa penderitaan sengsara-Nya dan kematian-Nya akan membawa kehidupan baru ke tengah dunia. Ketika seorang perempuan memandang anak yang baru dilahirkannya, maka rasa sakit karena melahirkan itu pun menjadi tidak signifikan. Hati sang ibu dipenuhi dengan ketakjuban ketika memandangi bayi yang baru dilahirkannya itu. Hal serupa – namun tak sama tentunya – terjadi dengan Yesus. Yesus menyadari bahwa salib-Nya akan membawa karunia kehidupan baru yang penuh keajaiban, maka dengan cintakasih-Nya dan antisipasi-Nya yang besarlah Ia bergerak maju untuk wafat di kayu salib.

Para murid sungguh menanggung rasa sedih luarbiasa yang disertai dengan kebingungan selagi mereka menyaksikan Yesus ditangkap, diadili dalam pengadilan “dagelan”, dijatuhi hukuman mati dan mati di kayu salib di bukit Kalvari. Namun Yesus telah berjanji kepada mereka: “Demikian juga kamu sekarang diliputi dukacita, tetapi Aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira dan tidak ada seorang pun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari kamu” (Yoh 16:22). Yesus berjanji kepada para murid-Nya bahwa Ia akan bertemu dengan mereka lagi; dan para murid akan bergembira karena mereka akan mengenal pandangan penuh kasih dari Yesus kepada mereka. Mereka akan mengenal dan mengalami damai-sejahtera dan aman bilamana terus berada di bawah pandangan penuh siaga dari Yesus, tidak pernah dilupakan atau dibuang. Pengetahuan seperti ini sungguh membawa sukacita besar kepada para murid.

Yesus sangat mengetahui berbagai pergumulan dan pencobaan yang kita alami dan hadapi. Dia mengetahui rasa takut yang sudah cukup lama merasuki diri kita, kekhawatiran yang sudah sekian lama menindih kita, namun juga segala pengharapan dan impian yang selama ini kita simpan sendiri dalam hati. Tidak ada yang luput dari pandangan Yesus. Ia berjanji kepada para murid-Nya bahwa Ia akan bertemu dengan mereka lagi, demikian pula mata-Nya yang memancarkan kasih akan terus memperhatikan kita. Selagi Dia berdiri di hadapan Bapa untuk melakukan syafaat bagi kita, Dia mampu untuk memenuhi diri kita dengan sukacita akan kehadiran-Nya, membalikkan rasa sedih kita menjadi sukacita karena kita mengenal bela-rasa dan kekuatan-Nya.

Yesus senantiasa siap untuk memberikan hikmat-Nya yang kita memang perlukan untuk menghadapi situasi apa saja. Yang harus kita lakukan adalah dengan rendah hati memanjatkan permohonan kita dan mentaati perintah-perintah-Nya. Kuat-kuasa-Nya yang mahadahsyat dapat membuat keajaiban-keajaiban dalam hati kita yang jauh lebih besar daripada yang kita pernah bayangkan!

DOA: Datanglah, ya Roh Kudus, berikanlah kepada kami mata-iman agar dapat melihat karya Bapa dan Putera dalam kehidupan kami. Lahirkanlah dalam diri kami suatu pengalaman lebih mendalam akan kasih-Mu dan kemauan yang lebih besar untuk dibentuk lke dalam keserupaan dengan Yesus, Tuhan dan Juruselamat kami. Kami bersukacita dalam hidup baru yang telah Kau berikan kepada kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 16:20-23a), bacalah tulisan yang berjudul “HUMOR ILAHI” (bacaan tanggal 6-5-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2016.

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 5 Mei 2016 [HARI RAYA KENAIKAN TUHAN]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

REINKARNASI YESUS DAN GEREJA

INKARNASI YESUS DAN GEREJA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, HARI RAYA KENAIKAN TUHAN [Tahun C] – Kamis, 5 Mei 2016)

 jesus_christ_image_075

Hai Teofilus, dalam bukuku yang pertama aku menulis tentang segala sesuatu yang dikerjakan dan diajarkan Yesus, sampai pada hari Ia diangkat ke surga. Sebelum itu Ia telah memberi perintah-Nya melalui Roh Kudus kepada rasul-rasul yang dipilih-Nya. Kepada mereka Ia menunjukkan diri-Nya setelah penderitaan-Nya selesai, dan dengan banyak bukti Ia menunjukkan bahwa Ia hidup. Sebab selama empat puluh hari Ia berulang-ulang menampakkan diri dan berbicara kepada mereka tentang Kerajaan Allah.

Pada suatu hari ketika Ia makan bersama-sama dengan mereka, Ia melarang mereka meninggalkan Yerusalem, dan menyuruh mereka tinggal di situ menantikan janji Bapa, yang sebagaimana dikatakan-Nya, “telah kamu dengar dari Aku. Sebab Yohanes membaptis dengan air, tetapi tidak lama lagi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus.” 

Lalu ketika berkumpul, mereka bertanya kepada-Nya, “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?” Jawab-Nya kepada mereka, “Engkau tidak perlu mengetahui masa dan waktu, yang ditetapkan Bapa sendiri menurut kuasa-Nya. Tetapi kamu akan menerima kuasa bilamana Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.”

Sesudah Ia mengatakan demikian, Ia diangkat ke surga disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka. Ketika mereka sedang menatap ke langit waktu Ia naik itu, tiba-tiba berdirilah dua orang yang berpakaian putih di dekat mereka, dan berkata kepada mereka, “Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang diangkat ke surga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke surga.” (Kis 1:1-11) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 47:2-3,6-9; Bacaan Kedua: Ef 1:17-23 atau Ibr 9:24-28; 10:19-23; Bacaan Injil: Luk 24:46-53

“Sesudah Ia mengatakan demikian, Ia diangkat ke surga disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya” (Kis 1:9).

Kenaikan Yesus ke surga tampaknya telah mengakhiri saat-saat para murid-Nya untuk mengambil manfaat dari Inkarnasi-Nya. Mereka tidak dapat lagi memandang wajah Allah, mendengarkan-Nya dan menyentuh-Nya. Namun demikian Yesus telah berjanji bahwa Dia tidak akan meninggalkan para murid-Nya di segala zaman sebagai yatim piatu (Yoh 14:8). Ia akan senantiasa menyertai kita (Mat 28:20), dan adalah lebih berguna bagi para murid jika Ia pergi (Yoh 16:7).

Yesus menyadari bahwa para murid-Nya tidak akan mengerti tentang kenaikan-Nya ke surga, maka Dia mengatakan kepada mereka untuk tetap tinggal di Yerusalem. Dalam beberapa hari lagi mereka akan dibaptis dalam Roh Kudus (Kis 1:5). Mereka mematuhi Tuhan setelah kenaikan-Nya ke surga dan kemudian “kembali ke Yerusalem dengan sukacita”. Di Yerusalem mereka senantiasa berada di dalam Bait Allah dan memuliakan Allah (Luk 24:52-53). Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama (Kis 1:14).

Setelah berdoa selama sembilan hari, 120 dari pengikut Tuhan Yesus dipenuhi dengan Roh Kudus (Kis 1:15; 2:4). Pada hari itu juga (hari Pentakosta Kristiani yang pertama) telah dibaptis kira-kira sebanyak 3000 orang (Kis 2:41), dan dengan demikian lahirlah Gereja. Gereja akhirnya menjadi dikenal sebagai Tubuh Kristus, sebagai kelanjutan dan perkembangan dari inkarnasi Tuhan Yesus (lihat misalnya 1 Kor 12:12: Ef 1:23).

Saudari dan Saudaraku, marilah kita berdoa selama sembilan hari (Novena) kepada Roh Kudus agar hadir dan membimbing kita kekpada seluruh kebenaran (Yoh 16:13), khususnya kebenaran tentang Inkarnasi dan Gereja-Nya.

DOA: Datanglah, ya Roh Kudus, dan bersemayamlah di dalam diri kami. Semoga Engkau senantiasa menjadi terang hati kami dan kehidupan jiwa kami. Penuhilah diri kami dengan kekudusan dan hikmat-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Kedua hari ini (Ef 1:17-23), bacalah tulisan yan berjudul “MENGAPA KENAIKAN TUHAN YESUS BEGITU PENTING BAGI KITA?” (bacaan tanggal 5 Mei 2016) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2016. 

Cilandak, 4 Mei 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

JANGAN LUPA PERANAN SALIB

JANGAN LUPA PERANAN SALIB

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan VI Paskah – Rabu, 4 Mei 2016)

PAULUS DI AEROPAGUSOrang-orang yang mengiringi Paulus mengantarnya sampai di Atena, lalu kembali dengan pesan kepada Silas dan Timotius, supaya mereka selekas mungkin datang kepadanya.

Paulus berdiri di hadapan sidang Aeropagus dan berkata, “Hai orang-orang Atena, aku lihat bahwa dalam segala hal kamu sangat beribadah kepada dewa-dewa. Sebab ketika aku berjalan-jalan di kotamu dan melihat-lihat barang-barang pujaanmu, aku menjumpai sebuah mezbah dengan tulisan: Kepada Allah yang tidak dikenal. Apa yang kamu sembah tanpa mengenalnya, itulah yang kuberitakan kepada kamu. Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi, tidak tinggal dalam kuil-kuil buatan tangan manusia, dan juga tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan napas dan segala sesuatu kepada semua orang. Dari satu orang saja Ia telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia untuk mendiami seluruh muka bumi dan Ia telah menentukan musim-musim bagi mereka dan batas-batas kediaman mereka, supaya mereka mencari Allah dan mudah-mudahan mencari-cari dan menemukan Dia, walaupun Ia tidak jauh dari kita masing-masing. Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada, seperti yang telah juga dikatakan oleh pujangga-pujanggamu: Sebab kita ini keturunan-Nya juga. Karena kita berasal dari keturunan Allah, kita tidak boleh berpikir dalam keadaan ilahi serupa dengan emas atau perak atau batu, ciptaan kesenian dan keahlian manusia. Tanpa memandang lagi zaman kebodohan, sekarang Allah memerintahkan semua orang di mana saja untuk bertobat. Karena Ia telah menetapkan suatu hari ketika Ia dengan adil akan menghakimi dunia oleh seorang yang telah ditentukan-Nya, sesudah Ia memberikan kepada semua orang suatu jaminan tentang hal itu dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati.” Ketika mereka mendengar tentang kebangkitan orang mati, maka ada yang mengejek, dan yang lain berkata, “Lain kali saja kami mendengar engkau berbicara tentang hal itu.” Lalu Paulus meninggalkan mereka. Tetapi beberapa orang menggabungkan diri dengan dia dan menjadi percaya, di antaranya juga Dionidius, anggota majelis Areopagus, dan seorang perempuan bernama Damaris, dan juga orang-orang lain bersama-sama dengan mereka.

Kemudian Paulus meninggalkan Atena, lalu pergi ke Korintus. (Kis 17:15,22-18:1) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 148:1-2,11-14; Bacaan Injil: Yoh 16:12-15

Pada waktu Paulus berbicara tentang Yesus dan tentang kebangkitan-Nya kepada orang-orang Atena, mereka mengejeknya sebagai “si pembual” (Kis 17:18), malah mengusirnya (Kis 17:32). Namun demikian ada beberapa orang yang menjadi percaya (Kis 17:34).

Ketika kita membaca “Kisah para Rasul” pada masa Paskah ini, banyak orang Kristiani lebih mudah memahami kesulitan-kesultan Paulus di Atena daripada bagian-bagian lain dalam Kisah tersebut. Budaya “kematian” pada zaman modern ini sama saja dengan yang terdapat di Atena pada masa itu. Di sini juga kita dapat mengenali kelemahan-kelemahan Paus di Atena. Sang Rasul ingin memulai tugas misinya di Atena sendirian karena ketidaksabarannya menunggu kedatangan Silas dan Timotius (Kis 17:15-16).

Individualisme kita yang keterlaluan dan kurangnya rasa kebersamaan dalam komunitas sangatlah melemahkan karya pewartaan kita. Di Atena, Paulus juga tidak berkeliling untuk mewartakan Yesus yang tersalib. Kita sering gagal dalam pewartaan kita karena lupa menggarisbawahi peranan salib dalam karya keselamatan Allah. Oleh karena itu janganlah terkejut apabila kita gagal – seperti halnya Paulus di Atena – untuk menarik orang-orang kepada Yesus.

Akan tetapi Paulus belajar dari pengalaman di Atena tersebut. Sewaktu dia pergi dalam perjalanan missioner berikutnya di Korintus, Paulus bertekad untuk tidak mewartakan apa-apa, “selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan” (1 Kor 2:2). Dengan demikian marilah kita mengikuti contoh yang telah diberikan oleh Paulus. Marilah kita mencoba, walaupun kita mungkin gagal. Marilah kita belajar dari kesalahan-kesalahan kita dan akhirnya kita tentu membawa banyak orang kepada Yesus.

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku, aku bersedia menjadi saksi-Mu (Kis 1:8). Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan  Injil hari ini (Yoh 16:12-15), bacalah tulisan yang berjudul “ROH KUDUS MEMBERI KEHIDUPAN” (bacaan tanggal 4-5-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2016. 

Cilandak, 2 Mei 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

RASUL FILIPUS DAN RASUL YAKOBUS

RASUL FILIPUS DAN RASUL YAKOBUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Pesta S. Filipus dan Yakobus, Rasul – Selasa, 3 Mei 2016)

SAINTS PHILIP AND JAMES - APOSTLES

Dan sekarang, Saudara-saudara, aku mau mengingatkan kamu kepada Injil yang aku beritakan kepadamu dan yang kamu terima, dan yang di dalamnya kamu teguh berdiri. Melalui Injil itu kamu diselamatkan, seperti yang telah kuberitakan kepadamu, asal kamu teguh berpegang padanya, kecuali kalau kamu telah sia-sia saja menjadi percaya. Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya. Sesudah itu Ia menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus; kebanyakan dari mereka masih hidup sampai sekarang, tetapi beberapa di antaranya telah meninggal. Selanjutnya Ia menampakkan diri kepada Yakobus, kemudian kepada semua rasul. Yang paling akhir dari semuanya Ia menampakkan diri juga kepadaku, sama seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya. (1 Kor 15:1-8) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 19:2-5; Bacaan Injil: Yoh 14:6-14

Filipus dan Yakobus (bukan anak Pak Zebedeus) bukanlah rasul-rasul yang menonjol sekali, namun kuasa kebangkitan Yesus telah mengubah mereka menjadi rasul-rasul yang penuh semangat, keberanian dan iman yang hidup akan Kristus. Pada akhirnya mereka menjadi begitu yakin siapa Yesus itu sebenarnya sehingga dua-duanya mengalami kematian sebagai martir-martir Yesus yang sejati. Mengapa? Memang benar tidak ada  banyak bukti kuat tentang kedua orang ini, namun ada satu hal yang pasti: Selama tiga tahun mereka mengikuti sang Rabi dari Nazaret yang bernama Yesus, yang berkeliling dari satu tempat ke tempat lain mewartakan kerajaan Allah dan menyerukan pertobatan. Mereka belajar banyak dari sang Guru, mereka menjadi saksi mata dari banyak penyembuhan, mukjizat dan tanda heran lain yang dibuat Yesus. Hidup dekat dengan Yesus selama tiga tahun tentunya mengubah hidup mereka secara luarbiasa. Mereka belajar dari tangan pertama tentang kebenaran-kebenaran yang tersembunyi dalam Kitab Suci. Hidup bersama Yesus mengakibatkan asumsi-asumsi awal mereka tentang banyak hal kehidupan ini menjadi tertantang dan mimpi-mimpi mereka pun tentang kehidupan surgawi yang kekal-abadi dan lain-lain hal yang ilahi menjadi terwujud dalam kenyataan.

Tadi saya katakan, bahwa mereka hidup bersama Yesus untuk kurun waktu yang cukup lama, namun semua itu belumlah cukup. Filipus dan Yakobus – bersama para rasul lain tentunya – masih tetap harus melakukan PR mereka dengan tekun dan serius. Bahkan setelah kenaikan Yesus ke surga dan mengutus Roh Kudus-Nya, para murid-Nya yang pertama ini tetap menggunakan waktu mereka  – entah berapa lama – untuk membanding-bandingkan pengalaman mereka dengan pengajaran Yesus. Mereka mempelajari Kitab Suci Ibrani (= Perjanjian Lama = Perjanjian Pertama), dan memohon agar diberikan perwahyuan lebih lanjut dari Allah. Dan hasil dari semua kerja keras yang penuh ketekunan ini adalah bacaan di atas. Yang ditulis Paulus di sini adalah pengungkapan paling awal dari ajaran dasar Gereja, yaitu credo atau pernyataan iman pertama yang sampai hari ini diketahui: “Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya….” (1 Kor 15:3 dsj.).

Filipus dan Yakobus mengetahui sekali, bahwa dalam hidup ini tidak dimungkinkanlah untuk mempelajari dan mengetahui segalanya tentang Allah dan Yesus Kristus. Kebenaran ini juga berlaku bagi kita – manusia zaman modern ini. Oleh karena itu kita harus terus bersimpuh pada kaki Tuhan Yesus dan belajar dari Dia. Hanya Yesus-lah yang dapat memimpin kita kepada Bapa surgawi. Hanya Roh Kudus-Nya yang dapat menanamkan misteri-misteri iman yang besar dan agung ke dalam diri kita. Jadi, selalu ada saja yang harus kita pelajari, karena memang tidak ada akhir dari “eksperimen-eksperimen dalam iman” yang dapat kita lakukan. Para kudus Gereja – orang-orang yang disebut Santo atau Santa – pun mengalami hal yang sama dalam perkembangan iman-kepercayaan mereka masing-masing.

Marilah setiap hari kita terus menggumuli sabda Allah yang terdapat dalam Kitab Suci. Marilah kita memohon kepada Roh Kudus agar membuka “kekayaan” Injil secara lebih penuh lagi. Selagi kita melakukan ini, maka kita pun akan bertumbuh dalam pemahaman kita, dan seperti kepada Filipus dahulu kita pun dapat mendengar Ia bersabda kepada kita masing-masing: “Tidak percayakah engkau bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang tinggal di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-pekerjaan-Nya. Percayalah kepada-Ku bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku; atau setidak-tidaknya, percayalah karena pekerjaan-pekerjaan itu sendiri. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia akan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar daripada itu” (Yoh 14:10-12). Dengan demikian keefektifan kita di dalam dunia pun akan meningkat.

DOA: Terima kasih Tuhan Yesus untuk kehadiran-Mu yang terus-menerus tanpa henti. Pimpinlah aku agar menjadi lebih dekat lagi dengan Bapa surgawi. Biarlah Roh Kudus-Mu membentuk diriku senantiasa agar dapat mengalami dengan lebih mendalam segala perwahyuan, kebenaran dan pemahaman akan segalanya yang ilahi. Terima kasih, ya Tuhan Yesus. Terpujilah nama-Mu selalu! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 14:6-14), bacalah tulisan yang berjudul “SANTO FILIPUS DAN YAKOBUS, RASUL [4]” (bacaan tanggal 3-5-16), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2016. 

(Tulisan ini adalah bersumberkan tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak,  2 Mei 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MEMBUKA HATI KITA BAGI SEMUA ANGGOTA TUBUH KRISTUS

MEMBUKA HATI KITA BAGI SEMUA ANGGOTA TUBUH KRISTUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Atanasius, Uskup Pujangga Gereja – Senin, 2 Mei 2016)

paulus-mengajar-lidia-dkk-di-pinggir-sungaiLalu kami bertolak dari Troas dan langsung berlayar ke Samotrake, dan keesokan harinya tibalah kami di Neapolis; dari situ kami ke Filipi, kota pertama di bagian Makedonia ini, suatu kota perantauan orang Roma. Di kota itu kami tinggal beberapa hari.

Pada hari Sabat kami ke luar pintu gerbang kota. Kami menyusur tepi sungai dan menemukan tempat sembahyang Yahudi, yang sudah kami duga ada di situ; setelah duduk, kami bebicara kepada perempuan-perempuan yang berkumpul di situ. Salah seorang dari perempuan-perempuan itu yang bernama Lidia turut mendengarkan. Ia berasal dari kota Tiatira dan ia seorang penjual kain ungu yang beribadah kepada Allah. Tuhan membuka hatinya, sehingga ia memperhatikan apa yang dikatakan oleh Paulus. Sesudah ia dibaptis bersama-sama dengan seisi rumahnya , ia mengajak kami, katanya, “Jika kamu berpendapat bahwa aku sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan, marilah menumpang di rumahku.” Ia mendesak sampai kami menerimanya. (Kis 16:11-15)

Mazmur Tanggapan: Mzm 149:1-6,9; Bacaan Injil: Yoh 15:26-16:4a

“Sesudah ia dibaptis bersama-sama dengan seisi rumahnya , ia mengajak kami, katanya, ‘Jika kamu berpendapat bahwa aku sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan, marilah menumpang di rumahku.’ Ia mendesak sampai kami menerimanya” (Kis 16:15).

Sebagai seorang Yahudi yang baik – apalagi dirinya adalah seorang mantan Farisi – Paulus selama hidupnya tidak pernah tinggal/menginap/menumpang di rumah seorang kafir. Namun Yesus membimbing Paulus untuk mengajarkan “bahwa orang-orang bukan Yahudi, karena Injil, turut menjadi ahli-ahli waris dan anggota-anggota tubuh dan peserta dalam janji yang diberikan dalam Kristus Yesus,  dan turut menerima apa yang dijanjikan Allah melalui Kristus Yesus” (Ef 3:6).

Pesan ajaran Paulus itu membangkitkan oposisi keras dari kalangan orang Yahudi, sehingga rasul ex Farisi ini berulang-kali diserang dan dipenjara karena menghayati ajarannya sendiri dengan memperlakukan orang Kristiani bukan Yahudi (atau “kafir” di mata orang Yahudi) sebagai saudari dan saudaranya sendiri – bahkan menumpang di rumah mereka.

Apa yang dilakukan Paulus itu justru membuat orang Kristiani ex Yahudi merasa lebih tidak enak lagi. Mengapa? Karena hal ini dapat menimbulkan pegejaran dan penganiayaan berat dari pihak orang Yahudi lainnya. Orang-orang Kristiani ex Yahudi menghadapi risiko yang berat jika mereka berani tinggal di rumah-rumah saudari-saudara mereka walaupun sama-sama Kristiani tetapi berasal dari orang-orang non-Yahudi. Maka sewaktu Paulus dan teman-teman seperjalanannya tinggal di rumah Lidia dan makan-minum di rumah penjaga penjara (Kis 16:15,34), benar-benar mereka menderita dan hampir kehilangan nyawa mereka (lihat Luk 9:23-24).

Sekarang, marilah kita bertanya kepada diri kita masing-masing: “Siapa-siapa sajakah anggota masyarakat yang tersisih yang harus kita (anda dan saya) dekati dan tolong, karena kita menamakan diri kita orang Kristiani? Siapa-siapa saja yang seharusnya kita undang ke rumah kita dan ke komunitas kita sebab kita adalah saudari-saudara mereka dalam Kristus?

DOA: Bapa surgawi, tolonglah kami untuk menjadi terbuka bagi segala sesuatu yang Kauminta dari kami. Kami ingin melakukan pekerjaan yang Kauberikan kepada kami untuk membangun Kerajaan-Mu di atas bumi, sehingga dengan demikian kemuliaan-Mu dapat terlihat oleh semua orang. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 15:26-16:4a), bacalah tulisan yang berjudul “PENOLONG YANG DIUTUS YESUS” (bacaan tanggal 2-5-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2016. 

Cilandak, 30 April 2016 [Peringatan B. Benediktus dr Urbino, Biarawan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

JANGANLAH GELISAH DAN GENTAR HATIMU

JANGANLAH GELISAH DAN GENTAR HATIMU

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PASKAH VI [TAHUN C] – 1 Mei 2016) 

c3606b07eb3e0f92bb5bfe8287005989Jawab Yesus “Jika seseorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan tinggal bersama-sama dengan dia. Siapa saja yang tidak mengasihi Aku, ia tidak menuruti firman-Ku; dan firman yang kamu dengar itu bukanlah dari Aku, melainkan dari Bapa yang mengutus Aku. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, selagi aku berada bersama-sama dengan kamu; tetapi Penolong, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu. Kamu telah mendengar bahwa Aku telah berkata kepadamu: Aku pergi, tetapi Aku datang kembali kepadamu. Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada Bapa-Ku, sebab Bapa lebih besar daripada Aku. Sekarang juga Aku mengatakannya kepadamu sebelum hal itu terjadi, supaya kamu percaya, apabila hal itu terjadi. (Yoh 14:23-29) 

Bacaan Pertama: Kis 15:1-2,22-29; Mazmur Tanggapan: Mzm 67:2-3,5-6,8; Bacaan Kedua: Why 21:10-14,22-23 

“Janganlah gelisah dan gentar hatimu” (Yoh 14:27).

Ketika Yesus berkata kepada para murid-Nya untuk tidak gelisah dan gentar, mereka tidak menyadari bahwa mereka akan segera merasa sangat gelisah. Demikian juga ketika Yesus berkata kepada kita untuk tidak gelisah dalam Injil hari ini, kita mungkin tidak menyadari kata-kata-Nya hendaknya diterima secara pribadi dan dengan segera.

Kita sering kali berpikir bahwa pesan Yesus ini tidak secara khusus ditujukan kepada kita masing-masing, melainkan secara umum saja ditujukan untuk setiap orang. Selain itu, kita mungkin berpikir bahwa segala sesuatu berjalan dengan baik dalam hidup kita, dengan demikian kita tidak mengharapkan segera timbulnya kegelisahan. Pada waktu itu para murid Yesus yang  pertama salah, dan kita pun – para murid Yesus pada abad ke-21 ini – mungkin saja dapat berbuat kesalahan yang sama.

ROHHULKUDUSPara murid Yesus pada waktu itu berada di ambang waktu kegelisahan yang paling dalam dalam hidup mereka. Walaupun kita mungkin tidak mengetahuinya, kita mungkin sungguh-sungguh membutuhkan bantuan Roh Kudus (lihat Yoh 14:26).

Anggaplah bahwa dua pekan dari hari ini kita akan memerlukan pencurahan Roh Kudus – suatu Pentakosta baru – atau kalau tidak, kita akan dirundung oleh kegelisahan. Apakah hal itu akan terjadi atau tidak, kiranya yang paling bijaksana ialah siap untuk segala sesuatu yang akan terjadi, dengan dipenuhi Roh Kudus.

Mungkinkah kita (anda dan saya) menghendaki suatu Pentakosta baru yang melebihi keinginan kita yang lain? Yesus telah berjanji: Semuanya itu Kukatakan kepadamu, selagi aku berada bersama-sama dengan kamu; tetapi Penolong, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu” (Yoh 14-25-26). Datanglah, ya Roh Kudus !!!

DOA: Bapa surgawi, perkenankanlah aku untuk menginginkan kepenuhan Roh Kudus dalam diriku lebih daripada keinginanku untuk bernapas. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 14:23-29), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS INGIN MEMBANGUN RUMAH DALAM DIRI KITA” (bacaan tanggal 1-5-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2016. 

Cilandak, 29 April 2016 [Peringatan S. Katarina dr Siena]  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 153 other followers