YANG BERGUNA ATAU YANG TIDAK BERGUNA

YANG BERGUNA ATAU YANG TIDAK BERGUNA

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVII – Kamis, 30  Juli  2015) 

PARABLE OF THE NET - 01“Demikianlah pula hal Kerajaan Surga itu seumpama jala yang ditebarkan di laut lalu mengumpulkan berbagai jenis ikan. Setelah penuh, jala itu diseret orang ke pantai, lalu duduklah mereka dan mengumpulkan ikan yang baik ke dalam tempayan dan ikan yang tidak baik mereka buang. Demikianlah juga pada akhir zaman: Malaikat-malaikat akan datang memisahkan orang jahat dari orang benar, lalu mencampakkan orang jahat ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertak gigi.

Mengertikan kamu semuanya itu?” Mereka menjawab, “Ya, kami mengerti.” Lalu berkatalah Yesus kepada mereka, “Karena itu, setiap ahli Taurat yang menerima pelajaran tentang Kerajaan Surga itu seumpama tuan rumah yang mengeluarkan harta yang baru dan yang lama dari perbendaharaannya.”

Setelah Yesus selesai menceritakan perumpamaan-perumpamaan itu, Ia pun pergi dari situ. (Mat 13:47-53) 

Bacaan Pertama: Kel 40:16-21,34-38; Mazmur Tanggapan: Mzm 84:3-6.8,11

“Perumpamaan tentang jala besar” (Mat 13:47-52) adalah yang terakhir dari serangkaian pengajaran oleh Yesus dengan menggunakan perumpamaan dalam Injil Matius. Perumpamaan ini serupa dengan “perumpamaan tentang lalang di antara gandum” (Mat 13:24-30; lihat penjelasannya dalam Mat 13:36-43).

Dalam perumpamaan ini Kerajaan Surga (Kerajaan Allah) diumpamakan sebagai sebuah jala besar yang penuh berisi dengan segala jenis ikan, ada yang dapat dimakan dan ada yang tidak dapat dimakan. Yang baik – artinya ikan yang dapat dimakan – disimpan. Sisanya, yang tidak baik – artinya yang tidak dapat dimakan – dibuang. Begitu pula halnya dengan Kerajaan Allah di atas bumi, baik dilihat sebagai Gereja secara keseluruhan, atau satu bagiannya yang kecil, misalnya sebuah paroki atau sebuah komunitas Kristiani, mengumpulkan segala jenis orang. Orang-orang itu dikumpulkan sampai datangnya hari penghakiman ketika “yang baik” akan dipisahkan dari “yang jahat” (Mat 13:49; bdk. Mat 25:31-46).

Sebagai individu-individu kita merupakan warga Kerajaan Surga. Kita adalah bagian dari Gereja, sebuah paroki, atau sebuah komunitas Kristiani. Sekarang masalahnya, kita berada di sebelah mana? Apakah kita merupakan anggota-anggota yang berarti, yang berguna? Tidak ada yang “setengah-setengah” dalam hal ini. Jadi, apakah kita merupakan orang-orang Kristiani yang berkomitmen atau orang-orang yang tidak berguna dalam Kerajaan.

PARABLE OF THE DRAGNETBaik “perumpamaan tentang lalang di antara gandum” maupun “perumpamaan tentang jala besar” dengan cukup jelas mengajar kita bahwa tidak dapat dicapai kedamaian lengkap dalam hidup ini. Yesus mengatakan dengan sangat jelas bahwa kedamaian lengkap hanya mungkin terjadi pada hari penghakiman akhir. Namun Ia bersabda: “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah”  (Mat 5:9). Dengan demikian, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mencoba membawa lebih banyak orang kepada suatu komitmen yang sejati kepada Kristus, untuk menjadi anggota-anggota Kerajaan yang berarti.

Apakah kita memahami semua ini? Apabila jawab kita terhadap pertanyaan ini adalah “ya”, maka Yesus berkata bahwa kita akan mampu untuk merekonsiliasikan hal-hal yang lama dengan hal-hal yang baru. Kita akan mampu untuk melihat bahwa dalam Kerajaan Allah segalanya yang memiliki nilai sejati mempunyai tempat, apakah Perjanjian Lama atau Perjanjian Baru, apakah yang tradisional dalam Gereja atau wawasan-wawasan baru. Apakah pikiran dan hati kita terbuka kepada hal-hal yang berarti, entah di mana ditemukannya? Atau, kita cenderung untuk mendiskreditkan apa saja hanya karena hal itu merupakan sesuatu yang baru, atau hanya karena hal itu merupakan sesuatu yang lama/kuno?

DOA: Ya Bapa, Allah Yang Mahapengasih, sampaikanlah kasih-Mu kepada semua anggota Kerajaan-Mu. Bahkan kepada para anggota yang Engkau pandang tidak berguna sekali pun, berikanlah juga kepada mereka rahmat agar dapat berubah. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:47-53), bacalah tulisan-tulisan yang berjudul  “SUNGGUH RIIL” (bacaan tanggal 30-7-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2015.

Cilandak, 27 Juli 2015 [Peringatan B. Maria Magdalena Martinengo, Biarawati Klaris] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MARTA DARI BETANIA

MARTA DARI BETANIA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Marta – Rabu, 29 Juli 2015) 

MARIA DAN MARTA - 001Ketika Yesus dan murid-murid-Nya dalam perjalanan, tibalah Ia di sebuah desa. Seorang perempuan yang bernama Marta menerima Dia di rumahnya. Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya, sedangkan Marta sibuk sekali melayani. Ia mendekati Yesus dan berkata, “Tuhan, tidakkah Engkau peduli bahwa saudaraku membiarkan aku melayani seorang diri? Suruhlah dia membantu aku.” Tetapi Tuhan menjawabnya, “Marta, Marta, engkau khawatir dan menyusahkan diri dengan banyak hal, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian terbaik yang tidak akan diambil dari dia.” (Luk 10:38-42) 

Bacaan Pertama: Kel 34:29-35; Mazmur Tanggapan: Mzm 99:5-7,9; Bacaan Injil Alternatif: Yoh 11:19-27

Apakah Marta salah karena dia begitu menyibukkan dirinya guna mempersiapkan makanan bagi Yesus dan para murid-Nya? Tentu saja tidak! Ingatkah kita betapa sering Yesus mengajar tentang pentingnya memperhatikan berbagai kebutuhan fisik orang-orang yang kita jumpai – memberi makan orang-orang yang lapar, memberi secangkir air kepada mereka yang merasa dahaga, memberi pakaian kepada yang telanjang, dan menyembuhkan yang sakit. Marta pasti diberkati untuk kebaikan hatinya melayani rombongan Yesus yang sedang dalam perjalanan menuju Yerusalem ini.

Namun Yesus mengoreksi Marta, bukan untuk kerja kerasnya, melainkan atas kekhawatiran/kecemasan dirinya – dan kita dapat membayangkan betapa sibuknya Marta, menyiapkan ini-itu bagi tamu-tamu yang datang secara mendadak dan tidak diharap-harapkan. Namun Yesus membuat tenang Marta dan memberi kedamaian yang dibutuhkan oleh Marta: “Marta, Marta, engkau khawatir dan menyusahkan diri dengan banyak hal, tetapi hanya satu saja yang perlu”  (Luk 10:42). Apakah yang dimaksud dengan satu hal ini? Hal ini bukanlah isu “dan/atau”, melainkan bagaimana kita melaksanakan tugas-tugas kita.  Saudara perempuan Marta, Maria, dengan penuh damai mendengarkan Yesus, dan memusatkan perhatiannya pada diri-Nya. Marta juga dapat mengalami kedamaian jika dia mengakui privilese dari kerja pelayanannya dan menyadari dengan penuh syukur bahwa dia pun sedang membuat Tuhan senang.

Setiap orang dipanggil untuk melayani Allah dalam salah satu caranya, dan hal itu biasanya menyangkut kerja. Tahukah kita bahwa Yesus senantiasa bersama kita? Apakah kita merasa cemas ketika kita bekerja? Apakah kita percaya bahwa Yesus ingin agar kita merasakan kedamaian, dan Ia akan memberikan damai-Nya apabila kita memintanya?

ST. AUGUSTINE 01Santo Augustinus dari Hippo (354-430) dalam salah satu khotbahnya mengatakan: “Marta, yang mengatur dan mempersiapkan segala sesuatu bagi Tuhan, banyak disibukkan untuk melayani. Saudara perempuannya, Maria, memilih untuk diberi makanan oleh Tuhan. … Telinganya yang setia telah mendengar suara: “Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah!” (Mzm 46:11). Marta susah hati; sedangkan Maria berpesta. Maria mengatur banyak hal, sedangkan Maria memusatkan perhatiannya pada Dia. Dua-duanya baik; namun tentang mana yang lebih baik, apa yang dapat kita katakan? … ‘Maria telah memilih bagian terbaik.’

Ya, Marta, … sekarang engkau disibukkan dengan banyak melayani; engkau senang dalam memberi makan tubuh yang bersifat fana, walaupun tubuh-tubuh itu adalah tubuh-tubuh para kudus; namun apabila engkau telah sampai ke negeri itu (surga), akankah engkau menemukan di sana orang asing yang akan kauterima dalam rumahmu? Apakah engkau akan menemukan orang lapar, kepada siapa engkau akan berbagi rotimu? … Tidak ada satu pun dari hal-hal ini akan ada di sana, namun  apakah yang akan ada di sana? Apa yang dipilih oleh Maria; di sana kita akan diberi makan, dan tidak akan memberi makan kepada orang lain. Oleh karena itu apa yang dipilih Maria di sini akan mengalami kepenuhan dan kesempurnaan di sana” (terjemahan bebas dari Sermons on New Testament Lessons 103.3,6).

Hampir semua orang, yang harus berjuang dalam menghadapi tuntutan sehari-hari dalam pekerjaannya dan/atau keluarganya dapat memahami kejengkelan Marta terhadap Maria. Namun semua orang Kristiani perlu memahami kebenaran yang dimiliki Maria: Waktu kita berada bersama Tuhan memiliki nilai yang kekal-abadi; segalanya yang lain akan hilang, cepat atau lambat. Kita butuh untuk diberi makan oleh Dia sebelum kita dapat melayani siapa saja. Waktu yang kita pakai dalam doa-lah yang akan memampukan kita untuk melaksanakan tanggung jawab selebihnya dengan cara yang dikehendaki Allah.

DOA: Tuhan Yesus, perhatikan dan awasi kami selagi kami melakukan pekerjaan kami pada hari ini. Berikanlah kepada kami damai-Mu, yang mengusir segala kecemasan dan rasa khawatir, dan tolonglah kami untuk memfokuskan perhatian kami pada-Mu. Terpujilah nama-Mu selalu! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil Alternatif hari ini (Yoh 11:19-27), bacalah tulisan yang berjudul “AKU PERCAYA” (bacaan tanggal 29-7-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2015.  

Cilandak, 27 Juli 2015 [B. Maria Magdalena Martinengo, Biarawati Klaris]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PENJELASAN YESUS ATAS PERUMPAMAAN TENTANG LALANG DI ANTARA GANDUM

PENJELASAN YESUS ATAS PERUMPAMAAN TENTANG LALANG DI ANTARA GANDUM

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVII – Selasa, 28 Juli 2015)

PERUMPAMAAN GANDUM DAN ILALANG MAT 13 24-43Sesudah itu Yesus meninggalkan orang banyak itu, lalu pulang. Murid-murid-Nya datang dan berkata kepada-Nya, “Jelaskanlah kepada kami perumpamaan tentang lalang di ladang itu.” Ia menjawab, “Orang yang menaburkan benih baik ialah Anak Manusia; ladang ialah dunia. Benih yang baik itu anak-anak Kerajaan sedangkan lalang anak-anak si jahat. Musuh yang menaburkan benih lalang ialah Iblis. Waktu menuai ialah akhir zaman  dan para penuai itu malaikat. Jadi, seperti lalang itu dikumpulkan dan dibakar dalam api, demikian juga pada akhir zaman. Anak Manusia akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan mengumpulkan segala sesuatu yang menyebabkan orang berdosa dan semua orang yang melakukan kejahatan dari dalam Kerajaan-Nya. Semuanya akan dicampakkan ke dalam dapur api; di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi. Pada waktu itulah orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka. Siapa yang bertelinga, hendaklah ia mendengar!” (Mat 13:36-43) 

Bacaan Pertama: Kel 33:7-11;34:5-9,28; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:6-13

Bacaan Injil hari ini adalah penjelasan Yesus atas “perumpamaan tentang lalang di antara gandum” (Mat 13:24-30). Perumpamaan ini hanya terdapat dalam Injil Matius. Menurut Dr. William Barclay (THE DAILY STUDY BIBLE – The Gospel of Matthew – Volume 2 – Chapters 11-28, Edinburgh: The Saint Andrew Press, 1975 [Revised Edition], hal. 74), dalam hal pelajaran-pelajaran yang diberikan maka ini adalah salah satu perumpamaan yang paling praktis yang pernah diajarkan oleh Yesus. Berikut ini adalah saduran bebas saya dari pemikiran Dr. William Barclay yang tertuang dalam buku termaksud, hal. 74-75.

  1. Perumpamaan ini mengajar kita bahwa selalu akan ada suatu kekuasaan jahat di dalam dunia, yang berupaya dan menantikan saatnya untuk menghancurkan benih yang baik. Dari pengalaman dapat dilihat adanya dua jenis pengaruh yang bekerja dalam kehidupan kita. Yang pertama adalah pengaruh yang menolong benih-benih dunia menjadi subur dan bertumbuh, dan yang kedua adalah pengaruh yang berupaya untuk menghancurkan benih yang baik, bahkan sebelum benih itu dapat menghasilkan buah.
  1. Perumpamaan ini mengajar kita betapa sulit untuk membedakan antara mereka yang ada dalam Kerajaan dan mereka yang tidak. Seorang pribadi manusia dapat kelihatan baik namun faktanya dia buruk. Sebaliknya, seseorang dapat kelihatan jelek/buruk namun pada kenyataannya dia baik. Kita terlalu cepat mengklasifikasikan orang-orang dan memberi mereka “label” baik atau buruk tanpa mengetahui semua fakta.
  1. Perumpamaan ini mengajar kita untuk tidak cepat-cepat menilai/menghakimi orang. Apabila para penuai bekerja menurut kehendak mereka sendiri, maka mereka akan langsung saja mencoba untuk mencabut lalang, dengan demikian mereka akan mencabut juga gandum yang ada. Penghakiman harus menanti saat tuaian. Seorang pribadi manusia pada akhirnya akan dihakimi, tidak oleh satu-dua tindakannya semasa hidupnya, melainkan oleh keseluruhan hidupnya. Penghakiman baru dapat terlaksana pada titik akhir. Seseorang dapat saja membuat suatu kesalahan besar, kemudian menyesali perbuatannya itu, dan oleh rahmat Allah dia melakukan pertobatan yang membuat sisa hidupnya menjadi sebuah persembahan yang indah bagi Allah. Sebaliknya, seseorang dapat saja menjalani hidup saleh, namun kemudian mengalami kehancuran hidup disebaban keruntuhan akhlak serta kejatuhannya ke dalam jurang dosa. Tidak ada seorang pun yang hanya melihat sebagian saja dari satu keseluruhan dapat memberi penilaian atas keseluruhan tersebut. Tidak ada seorang pun yang mengetahui hanya sebagian saja dari kehidupan seseorang dapat memberi penilaian atas keseluruhan pribadi orang tersebut.
  1. Perumpamaan ini mengajar bahwa penghakiman datang pada titik akhir. Penghakiman tidak datang dengan tergesa-gesa, tetapi pasti datang. Berbicara secara manusiawi, seseorang dapat saja seorang pendosa menghindari konsekuensi-konsekuensi dosanya, namun ada kehidupan yang akan datang. Berbicara secara manusiawi, kebaikan tidak pernah kelihatan akan memperoleh ganjarannya, tetapi ada sebuah dunia baru untuk memperbaiki ketidakseimbangan di masa lampau.
  1. Perumpamaan ini mengajar bahwa satu-satunya Pribadi yang berhak untuk menghakimi adalah Allah. Allah saja-lah yang dapat menentukan mana yang baik dan mana yang buruk. Hanya Allah-lah yang melihat semua aspek/bagian dari seorang manusia dan seluruh kehidupannya. Hanya Allah-lah yang dapat menghakimi.

Dengan demikian, pada akhirnya dapat dikatakan bahwa perumpamaan ini mempunyai dwifungsi: (1) sebagai peringatan agar kita tidak menghakimi orang lain; dan (2) sebagai peringatan bahwa pada akhirnya datanglah penghakiman dari Allah sendiri.

DOA:  Tuhan Yesus, kami berterima kasih penuh syukur kepada-Mu karena Engkau mengingatkan lagi kepada kami ajaran-Mu yang menekankan bahwa kami tidak boleh menghakimi orang lain. Penghakiman adalah hak Bapa surgawi semata. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:36-43), bacalah tulisan yang berjudul “KITA ADALAH KEDUA-DUANYA: GANDUM DAN LALANG” (bacaan tanggal 28-7-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2015. 

Cilandak, 25 Juli 2015 [Pesta S. Yakobus, Rasul] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ADONAN RAHMAT

ADONAN RAHMAT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVII – Senin, 27 Juli 2015)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan B. Maria Magdalena Martinengo [+1737], Biarawati Ordo II (Klaris) 

PERUMPAMAAN RAGI - MAT 13Yesus menyampaikan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya, “Hal Kerajaan Surga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya. Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar daripada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya.”

Ia menceritakan perumpamaan ini juga kepada mereka, “Hal Kerajaan Surga itu seumpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diadukkan ke dalam tepung terigu sebanyak empat puluh liter sampai mengembang seluruhnya.”

Semuanya itu disampaikan Yesus kepada orang banyak dalam perumpamaan, dan tanpa perumpamaan suatu pun tidak disampaikan-Nya kepada mereka, supaya digenapi firman yang disampaikan oleh nabi, “Aku mau membuka mulut-Ku menyampaikan perumpamaan, Aku mau mengucapkan hal yang tersembunyi sejak dunia dijadikan.” (Mat 13:31-35) 

Bacaan Pertama: Kel 32:15-24,30-34; Mazmur Tanggapan: Mzm 106:19-23 

Tentu sebagian besar dari kita mempunyai wéker (Inggris: alarm clock) dalam salah satu bentuknya, apalagi dengan tersedianya berbagai peralatan yang semakin modern ini (smart phones dlsb.). Kita memang membutuhkan peralatan seperti itu, karena pada waktu yang ditetapkan oleh kita, alat itu akan berbunyi dan membuat kita “keluar” dari tidur kita. Namun alat itu tidak akan mampu membangkitkan kita dari tempat tidur kita. Banyak dari kita tentunya dikagetkan oleh bunyi wéker pada jam 4 pagi, namun langsung tidur lagi setelah mematikannya.

Semoga contoh wéker ini dapat menggambarkan “ragi” yang diceritakan dalam bacaan Injil hari ini, “adonan” Kerajaan Allah yang adalah “rahmat”, adonan sesungguhnya dalam hidup seorang Kristiani. Rahmat sesungguhnya dapat menyentuh kita setiap saat dalam satu hari kehidupan kita, seperti tiupan angin sepoi-sepoi basa di musim panas, atau seperti hujan badai yang disertai sambaran kilat yang sambung menyambung. Atau, rahmat itu datang kepada kita melalui kata-kata penuh hikmat yang diucapkan oleh seorang sahabat, atau sebuah gambar, dlsb.

Jadi, apakah yang dimaksudkan dengan “adonan indah” atau rahmat ini? Rahmat sesungguhnya adalah pertolongan dari Allah untuk kita agar dapat hidup sebagai orang-orang Kristiani yang sejati. Kita menerima rahmat ini banyak kali dalam sehari. Ini adalah bantuan batiniah yang diberikan Allah untuk memperkuat diri kita ketika kekuatan memang dibutuhkan oleh kita, untuk memberikan sukacita, keberanian, pengharapan kepada kita yang melampaui kemampuan manusiawi kita. Jadi, seperti bunyi wéker yang bordering-dering di dalam diri kita, Tetapi lebih dari wéker biasa, karena rahmat tidak saja mengingatkan kita untuk bangun dari tidur, melainkan juga memberikan dorongan kepada kita, rahmat menolong kita untuk bangkit ke luar dari kedosaan kita, untuk bangkit dari hal-hal yang sekadar natural.

Santo Paulus menulis kepada jemaat di Filipi, “…… Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya” (Flp 2:13). Inilah rahmat yang sesungguhnya. Rahmat tidak hanya menginspirasikan kita akan hal yang baik, melainkan juga menolong kita untuk mewujudkannya. Kita hanya akan menghasrati hal-hal yang baik apabila pikiran kita dicerahkan. Kita harus mengetahui terlebih dahulu apa yang dimaksudkan dengan “baik”. Jadi kita tidak dapat menutup diri terhadap rahmat pengetahuan. Kita harus membuka diri terhadap sang Terang, berkemauan untuk melakukan pembacaan bacaan yang baik (Kitab Suci dlsb.), untuk berpikir dan memikirkan hal-hal yang baik, untuk berdoa. Kita harus senantiasa memohon kepada Allah untuk menerangi kegelapan hati kita.

Namun demikian, walaupun kita telah dicerahkan untuk mengenal mana yang benar ketimbang mana yang salah, kita membutuhkan “adonan rahmat” guna membangkitkan kita agar melakukan hal-hal yang baik. Allah memberikan pertolongan ini, kekuatan ini, dorongan dan hasrat untuk melakukan apa yang dikehendaki-Nya. Kita semua pasti pernah mengalami desakan-desakan dalam batin kita untuk memikirkan, mengambil sikap dan/atau melakukan hal-hal tertentu yang baik, namun seringkali kita tidak mempedulikan desakan-desakan batiniah tersebut.

DOA: Bapa surgawi, Engkau adalah Allah Yang Mahatahu. Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situpun Engkau. Jika aku terang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut, juga di sana tangan-Mu akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku (Mzm 139:8-10). Terpujilah nama-Mu selalu, ya Tuhanku dan Allahku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:31-35), bacalah tulisan yang berjudul “BIJI YANG PALING KECIL DAN KERAJAAN ALLAH” (bacaan tanggal 27-7-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2015. 

Cilandak, 24 Juli 2015 [Peringatan B. Luisa dr Savoyen, Biarawati Klaris] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS ADALAH PRIBADI SATU-SATUNYA YANG KITA BUTUHKAN

YESUS ADALAH PRIBADI SATU-SATUNYA YANG KITA BUTUHKAN

 (Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XVII [TAHUN B] – 26 Juli 2015) 

Feeding_the_5000006Sesudah itu Yesus berangkat ke seberang Danau Galilea, yaitu Danau Tiberias. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia, karena mereka melihat mukjizat-mukjizat yang diadakan-Nya terhadap orang-orang sakit. Lalu Yesus naik ke atas gunung dan duduk di situ dengan murid-murid-Nya. Dan Paskah, hari raya orang Yahudi, sudah dekat. Ketika Yesus memandang sekeliling-Nya dan melihat bahwa orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya, berkatalah Ia kepada Filipus, “Di mana kita dapat membeli roti, supaya mereka dapat makan?” Hal itu dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab Ia sendiri tahu apa yang hendak dilakukan-Nya. Jawab Filipus kepada-Nya, “Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja.” Salah seorang dari murid-murid-Nya, yaitu Andreas, saudara Simon Petrus, berkata kepada-Nya, Di sini ada seorang anak yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apa artinya itu untuk orang sebanyak ini?” Kata Yesus, “Suruhlah orang-orang itu duduk.” Adapun di tempat itu banyak rumput. Lalu duduklah orang-orang itu, kira-kira lima ribu laki-laki banyaknya. Sesudah itu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dilakukan-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki. Setelah mereka kenyang Ia berkata kepada murid-murid-Nya, “Kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih supaya tidak ada yang terbuang.” Mereka pun mengumpulkannya, dan mengisi dua belas bakul penuh dengan potongan-potongan dari kelima roti jelai yang lebih setelah orang makan. Ketika orang-orang itu melihat tanda mukjizat yang telah diperbuat-Nya, mereka berkata, “Dia ini benar-benar nabi yang akan datang ke dalam dunia.”

Karena Yesus tahu bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja, Ia menyingkir lagi ke gunung, seorang diri. (Yoh 6:1-15) 

Bacaan Pertama: 2Raj 4:42-44; Mazmur Tanggapan: Mzm 145:10-11,15-18; Bacaan Kedua: Ef 4:1-6 

5 LOAVES & 2 FISHSementara Hari Raya Paskah sudah semakin dekat, Yesus membawa para murid-Nya ke kawasan perbukitan di Galilea. Ketika Dia melihat orang banyak yang mendatangi rombongan-Nya, keprihatinan utama Yesus adalah sehubungan dengan kebutuhan-kebutuhan orang banyak itu, teristimewa rasa lapar mereka. Jadi tidak mengherankanlah apabila Yesus memutuskan untuk memberi makan orang banyak itu dengan membuat mukjizat pergandaan roti dan ikan.

Dari narasi-narasi yang menyangkut peristiwa ini dalam berbagai kitab Injil, hanya Injil Yohanes-lah yang menyebut hari raya Paskah yang sudah dekat (Yoh 6:4). Hari raya Paskah ini adalah pesta besar orang Yahudi untuk mengenang bagaimana Allah menyelamatkan umat-Nya dari perbudakan di tanah Mesir dan memberi makan mereka dengan manna yang turun dari surga di padang gurun. YHWH-Allah menurunkan roti dari surga sebagai makanan sehari-hari umat-Nya guna menopang hidup mereka selama perjalanan menuju tanah terjanji. Bahkan ketika umat-Nya yang tidak tahu diri itu menggerutu, manna tetap dicurahkan dari atas sana. “Tiada hari tanpa manna!”. Walaupun umat Yahudi memberontak, Allah tetap setia dalam komitmen-Nya untuk mengajar umat-Nya tersebut untuk sepenuhnya bergantung pada-Nya untuk pemenuhan berbagai kebutuhan mereka.

Dengan cara yang serupa, Yesus merasa prihatin atas diri Filipus dan Andreas dan juga beribu-ribu orang yang telah datang untuk mendengarkan Dia berkhotbah tentang Kerajaan Allah. Apakah artinya bagi kedua murid Yesus itu dan juga orang banyak untuk menggantungkan diri sepenuhnya kepada diri-Nya? Andreas dan Filipus telah bersama Yesus dalam perjalanan missioner-Nya, dan telah menyaksikan sendiri berbagai mukjizat dan tanda heran yang diperbuat oleh sang Rabi. Akan tetapi, ketika Yesus menguji mereka dengan pertanyaan tentang di mana kiranya mereka dapat membeli roti, Filipus (kelihatannya dia adalah seorang ahli cost accounting) tidak sanggup memahami bahwa kehadiran Yesus sendiri di dekat atau di tengah mereka adalah satu-satunya yang mereka butuhkan. Andreas mengakui bahwa Yesus mampu untuk membuat mukjizat, namun masih merasa ragu atas kuat-kuasa Yesus yang tanpa batas itu: “Di sini ada seorang anak yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apa artinya itu untuk orang sebanyak itu?” (Yoh 6:8-9).

YESUS MEMBERKATI ROTISaudari dan Saudaraku, Yesus sangat mengetahui bahwa Dia dapat menyediakan makanan dengan berlimpah untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan fisik dan spiritual dari semua orang yang datang kepada-Nya. Bahkan pada hari ini pun Yesus masih merupakan satu-satunya Pribadi yang dibutuhkan untuk memberikan kepenuhan hidup bagi mereka yang datang kepada-Nya. Allah masih bekerja dalam setiap situasi kehidupan kita agar kita menjadi semakin dekat dengan Putera-Nya. Yesus masih tetap mengajar kita untuk menaruh kepercayaan kepada-Nya; Dia meminta kita untuk taat kepada-Nya dan mempercayakan kebutuhan-kebutuhan kita ke dalam tangan-tangan kasih-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah roti kehidupan yang turun dari surga, dan Engkau tidak pernah mengecewakan kami. Kami menaruh kepercayaan kepada-Mu untuk memimpin kami menuju kehidupan kekal. Ajarlah kami, ya Yesus, agar tetap tenang dalam menggantungkan diri kami sepenuhnya kepada-Mu guna menopang setiap aspek kehidupan kami melalui iman. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:1-15), bacalah tulisan yang berjudul “LIMA ROTI JELAI DAN DUA EKOR IKAN” (bacaan tanggal 26-7-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2015. 

Cilandak, 23 Juli 2015 [Peringatan B. Kunigunda, Biarawati Klaris]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YAKOBUS MEMENUHI JANJINYA KEPADA YESUS

YAKOBUS MEMENUHI JANJINYA KEPADA YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta Santo Yakobus, Rasul – Sabtu, 25 Juli 2015) 

james-elder
Kemudian datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya. Kata Yesus, “Apa yang kaukehendaki?” Jawabnya, “Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu.” Tetapi Yesus menjawab, kata-Nya, “Kamu tidak tahu apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum? Kata mereka kepada-Nya, “Kami dapat.” Yesus berkata kepada mereka, “Cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang yang baginya Bapa-Ku telah menyediakannya.” Mendengar itu marahlah kesepuluh murid yang lain kepada kedua saudara itu. Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata, “Kamu tahu bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa bertindak sebagai tuan atas rakyatnya, dan para pembesarnya bertindak sewenang-wenang atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Siapa saja yang ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan siapa saja yang ingin menjadi yang pertama di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Mat 20:20-28)
 

Bacaan Pertama: 2Kor 4:7-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 126:1-6

Boanerges, atau “anak-anak guruh, menggambarkan dengan baik dua orang murid Yesus yang tidak sabaran, Yakobus dan Yohanes, kakak beradik anak dari Bapak dan Ibu Zebedeus (lihat Mrk 3:17; juga Luk 9:53-55). Yakobus dan Yohanes sedang melakukan pekerjaan mereka sebagai nelayan bersama ayah mereka ketika Yesus memanggil mereka Injil mencatat bahwa mereka segera meninggalkan perahu serta ayahnya, lalu mengikut Dia (lihat Mat 4:21-22). Bersama Simon Petrus, mereka menjadi murid-murid Yesus lingkar-dalam Yesus. Mereka hadir pada momen-momen penting selama karya pelayanan Yesus: Ketika Yesus membangkitkan anak perempuan Yairus (Mrk 5:37-43); ketika transfigurasi Yesus di atas gunung (Mat 17:1-2), dan pada saat-saat kegelapan ketika Yesus berada di taman Getsemani (Mat 26:36-37).

KEMURIDAN - IBUNDA YAKOBUS DAN YOHANES MENGHADAP YESUSIbunda dua orang bersaudara itu melihat peranan penting anak-anaknya dalam karya pelayanan Yesus, dan ia minta kepada Yesus untuk memberikan kepada mereka kedudukan terhormat dalam Kerajaan Surga kelak. Kelihatannya sampai saat itu dia dan kedua anaknya mencari kebesaran dalam hal-hal yang menyangkut “Yang Ilahi”, namun seturut ukuran-ukuran dunia. Ketika Ibu Zebedeus datang kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya. Yesus bertanya: “Apa yang kaukehendaki?” (Mat 20:20-21). Inilah jawaban Ibu Zebedeus: “Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu” (Mat 20:21).

Wah, kata-kata Ibu Zebedeus di atas terdengar lebih berupa perintah daripada sebuah permohonan. Tidak heranlah apabila Yesus menjawab: “Kamu tidak tahu apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum?” (Mat 20:22). Bersama adiknya, Yakobus dengan penuh percaya-diri menyatakan bahwa dia dapat meminum cawan seperti dimaksudkan oleh Yesus (Mat 20:22).

Yesus mengajarkan kepada Yakobus bahwa pemuridan/kemuridan sejati tidak dicapai lewat kekuasaan, otoritas, atau pengakuan, melainkan melalui kerendahan hati, rasa percaya, ketaatan, dan pelayanan. Walaupun Yesus pantas memperoleh perlakuan sebagai bangsawan kerajaan ketika Dia masuk ke tengah dunia, kenyataannya adalah bahwa Dia dilahirkan sebagai seorang anak bayi tak berdaya di tengah kemiskinan. Sepanjang hidup-Nya di atas bumi, Yesus menaruh kepercayaan kepada Bapa-Nya untuk segala kebutuhan-Nya dan tidak sekali pun pernah bersikap dan berperilaku agar supaya perhatian orang-orang terpusat pada diri-Nya. Yesus diakui, bukan karena Dia dilayani, melainkan karena Dia melaksanakan pelayanan sampai ke titik puncak – memberikan hidup-Nya guna menebus dosa-dosa kita.

Yakobus belajar dengan baik. Sebagai seorang pemimpin gereja di Yerusalem, dia menjadi terang yang bercahaya bagi Kristus, memberi kesaksian tidak hanya tentang kuasanya sendiri, melainkan juga tentang kuasa transenden dari Allah (lihat 2Kor 4:7). Yakobus juga melaksanakan pelayanan sampai titik puncak – mati sebagai seorang martir atas perintah Raja Herodes Agripa (Kis 12:1-2).

Karena kematianNya di atas bukit Kalvari dan kebangkitan-Nya, Yesus membuka jalan bagi kita untuk mengenal kehadiran-Nya. Kita adalah bejana-bejana terbuat dari tanah liat yang dipenuhi dengan kemuliaan Allah. Selagi kita menyatukan diri kita dengan kematian Yesus, maka kemuliaan kebangkitan-Nya akan memancar melalui diri kita, membuat diri kita saksi-saksi kasih-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, penuhilah diri kami masing-masing dengan kehadiran-Mu. Ajarlah kami untuk mempersembahkan diri kami bagi-Mu sehingga kami pun dapat membawa kasih-Mu dan kesembuhan-Mu kepada orang-orang lain. Tidak ada satu pun di dunia ini yang dapat dibandingkan dengan hidup baru yang telah Engkau menangkan bagi kami. Terpujilah nama-Mu selalu! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (2Kor 4:7-15), bacalah tulisan yang berjudul “PERKENANKANLAH DIRI KITA DILUCUTI” (bacaan tanggal 25-7-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-07 BACAAN HARIAN JULI 2015. 

Cilandak, 23 Juli 2015 [Peringatan B. Kunigunda, Biarawati Klaris] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MEMPERSIAPKAN DIRI KITA MENJADI TANAH YANG BAIK

MEMPERSIAPKAN DIRI KITA MENJADI TANAH YANG BAIK

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVI –  Jumat, 24 Juli 2015)

Ordo Santa Klara (OSC): Peringatan B. Luisa dr Savoyen (Louise dr Savoy: 1461-1503), Janda dan anggota Ordo II S. Fransiskus

n80Karena itu, dengarlah arti perumpamaan penabur itu. Kepada setiap orang yang mendengar firman tentang Kerajaan Surga, tetapi tidak mengertinya, datanglah si jahat dan merampas yang ditaburkan dalam hati orang itu; itulah benih yang ditaburkan di pinggir jalan. Benih yang ditaburkan di  tanah yang berbatu-batu ialah orang yang  mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira. Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang ini pun segera murtad. Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu, lalu kekhawatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah. Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat.” (Mat 13:18-23)

Bacaan Pertama: Kel 20:1-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:8-11

Marilah kita membayangkan perumpamaan tentang seorang penabur yang diajarkan Yesus (Mat 13:1-9). Ada sejumlah imaji yang langsung bermunculan dalam pikiran kita: benih-benih yang tersebar di beberapa tempat sepanjang jalan yang dilalui sang penabur, ada benih-benih yang jatuh di tanah di pinggir jalan, ada benih-benih yang jatuh di tanah yang berbatu-batu, ada benih-benih yang jatuh di tengah semak duri, dan ada pula benih-benih yang jatuh di tanah yang baik. Kita bahkan dapat membayangkan diri kita mengangguk-anggukkan kepala sebagai tanda bahwa kita memahami apa yang dijelaskan tentang makna perumpamaan ini: “Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat” (Mat 13:23).

Ini adalah sebuah kesaksian tentang keterampilan atau katakanlah kepiawaian Yesus sebagai seorang pengkhotbah, sehingga berbagai imaji ini tetap begitu hidup dan mengesankan bagi kita. Namun demikian, dapatkah kita “memindahkan” berbagai simbol familiar dari perumpamaan ini ke dalam hidup kita? Bagaimana kita dapat mempersiapkan diri kita menjadi “tanah yang baik” bagi sabda Allah? Bagaimana kita dapat menjadi bagian dari mereka yang mendengar sabda Allah dan menghasilkan buah?

perumpamaan-parable-of-the-sower-3Sebuah petunjuk terdapat dalam bacaan pertama (Kel 20:1-17). Dalam mengumumkan “Sepuluh Perintah”-Nya, Allah menetapkan bagi kita masing-masing suatu panggilan untuk menjadi kudus: “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku. …… Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri.” Hukum-hukum ini membentuk suatu garis pembatas yang tak dapat kita langgar. Apabila kita melanggarnya, kita tahu bahwa kita telah berdosa dan tidak memenuhi panggilan kita untuk menjadi kudus tersebut. Atau, menggunakan penggambaran dari perumpamaan Yesus, kita dapat mengidentifikasikan berbagai rintangan yang menghalangi pertumbuhan sabda (firman) Allah dalam diri kita.

Namun ada satu hal lagi sehubungan dengan pesan Yesus tentang pentingnya tanah yang baik. Tanah yang paling subur pun butuh dipelihara dan dikelola dengan seksama oleh petani. Tanah yang baik butuh dibajak dlsb. Batu-batu yang ada di sana-sini harus dibuang. Untuk mendalami perumpamaan ini lebih lanjut, kita dapat bertanya, Peralatan apakah yang  harus kita gunakan untuk mengerjakan “tanah” yang menjadi dasar hati kita? Bagaimana kita dapat menyuburkan dan memperkaya “dasar batiniah” kita? Tentu saja, kita menyuburkan hati kita melalui doa dan bacaan Kitab Suci, namun kita juga harus melakukan pemeriksaan batin dan pertobatan guna membuang berbagai rintangan dan mengerjakan tanah dasar hati kita itu agar dapat ditanami secara baru.

Semakin kita melakukan pertobatan, kita pun menjadi semakin menjadi reseptif terhadap sabda Allah dan semakin berlimpah pula tuaian dari kebaikan-Nya dalam hidup kita. Oleh karena itu, marilah kita tidak mengabaikan atau menghindari upaya untuk melihat dosa-dosa kita, melainkan menerima pertobatan sebagai suatu karunia. Allah kita penuh belas kasih. Jika kita membuka hati kita bagi-Nya, maka kita akan melihat buah-buah-Nya dalam hidup kita.

DOA: Bapa surgawi, sejak sediakala Engkau adalah Allah yang berbelas kasih. Dan, belas kasih-Mu ini tanpa batas. Anugerahkanlah kepadaku rahmat agar mau dan mampu membuka hatiku lebih lebar lagi bagi sabda-Mu, hari demi hari. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:18-23), bacalah tulisan yang berjudul “KARYA TRANSFORMASI DARI KEMATIAN DAN KEBANGKITAN-NYA” (bacaan tanggal 24-7-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori 15-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2015. 

Cilandak, 22 Juli 2015 [S. Maria Magdalena]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 148 other followers