TINGGALLAH DI DALAM AKU DAN AKU DI DALAM KAMU

TINGGALLAH DI DALAM AKU DAN AKU DI DALAM KAMU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Paskah – Rabu, 18 Mei 2022)

Peringatan Fakultatif S. Yohanes I, Paus Martir

Keluarga Besar Fransiskan: Pesta/Pw S. Feliks dr Cantalice, Biarawan Kapusin

“Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya. Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah. Kamu memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu. Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar. Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya. Dalam hal inilah Bapa-Ku dimuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku.” (Yoh 15:1-8)

Bacaan Pertama: Kis 15:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 122:1-5

“Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat  berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku.”  (Yoh 15:4)

Cobalah gerak-gerakkan kedua lengan anda dengan cepat layaknya seekor unggas yang siap terbang. Apakan anda berpikir dengan begitu anda sungguh dapat terbang? Tentu saja tidak, bukan? Hal tersebut adalah ketidakmungkinan secara fisik bagi setiap manusia (Kekecualian barangkali adalah superman dalam cerita fiksi). Namun demikian, sebuah pesawat terbang besar yang berpenumpang ratusan orang dapat terbang melayang  di angkasa mengangkut orang-orang  dari kota yang satu ke kota yang lain atau bahkan dari negeri yang satu ke negeri yang lain. Dan apabila anda akan pergi ke Amsterdam dengan pesawat terbang, anda mengatakan bahwa anda akan “terbang” ke Amsterdam. Bukankah begitu? Padahal, upaya yang dituntut dari diri anda adalah sekadar untuk naik/masuk pesawat terbang itu dan “tinggal” (duduk manis) dalam pesawat itu sampai mendarat di tempat tujuan. Dengan “tinggal” dalam pesawat, “terbang” tidak saja menjadi mungkin, melainkan juga menjadi suatu hal yang sederhana. Hal yang sama benar jika kita tinggal dalam Kristus dan berbuah banyak.

Dalam salah satu suratnya, Santo Paulus mengatakan bahwa buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri” (Gal 5:22-23). Seperti halnya dengan pohon yang berbuah banyak sampai ukuran tertentu tergantung pada kesuburan tanah di mana pohon itu berakar, maka kita pun akan berbuah banyak apabila kita berakar dalam Kristus.

Dengan perkataan lain, kita akan memanifestasikan buah-buah Roh ini selagi kita belajar untuk tinggal dalam kasih dan kuasa Yesus. Kita akan mengasihi selagi kita mengalami kasih Allah. Kegelisahan kita akan berubah menjadi kesabaran karena kita mengalami kesabaran Allah sewaktu berurusan dengan kita. Belarasa kita akan bertumbuh selagi kita menghargai betapa penuhnya Yesus telah mengampuni kita. Secara sederhana, tinggal dalam Kristus berarti mempersembahkan hati kita kepada Tuhan dan membiarkan Roh-Nya dalam diri kita melayani orang-orang  lain melalui diri kita.

Santo Yohanes menerima perwahyuan karena dia memperkenankan Yesus untuk mengisi pikiran dan hatinya. Santo Fransiskus dari Assisi mentransformasikan Gereja tidak melalui penyusunan batu-batu bangunan gereja seperti dipikirnya pada awal dia memperoleh pesan dari Yesus pada Salib di gereja San Damiano, namun ketika Yesus mengisi dirinya dan dia pun menjadi sebuah bejana rahmat dan kuasa ilahi. Bunda Teresa dari Kalkuta adalah seorang perempuan yang berperawakan relatif kecil dan lemah, namun melalui dia banyak sekali orang lapar diberi makan, orang yang sakit dirawat, diberi obat dan disembuhkan dst.

Di mana-mana di muka bumi ini dan pada setiap zaman, banyak sekali mukjizat, kesembuhan, pertobatan dll. terjadi melalui orang-orang Kristiani “biasa-biasa saja” yang tinggal dalam kasih Allah. Janji sehubungan dengan “berbuah banyak” adalah untuk masing-masing dan setiap kita Dan, itu adalah sebuah akibat langsung  dari keberadaan kita di hadapan hadirat Allah dalam doa sehingga dengan demikian Dia dapat memenuhi diri kita dan mentranformasikan diri kita. Tinggallah dekat kesempurnaan-Nya, dan anda  pun akan melihat bahwa diri anda sendiri disempurnakan.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau berbagi kehidupan ilahi-Mu denganku. Pada saat ini, di hadapan hadirat-Mu, aku menenangkan jiwaku. Aku menempatkan segala harapanku pada diri-Mu, yang mengetahui segala sesuatu, melihat segala sesuatu, mengasihi segala sesuatu kecuali dosa. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 15:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “AKULAH POKOK ANGGUR YANG BENAR” (bacaan tanggal 18-5-22) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 22-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2022.

Cilandak, 17 Mei 2022 [Pw/Pfak S. Paskalis Baylon, Biarawan OFM]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DAMAI SEJAHTERA KUTINGGALKAN BAGIMU

DAMAI SEJAHTERA KUTINGGALKAN BAGIMU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Paskah – Selasa, 17 Mei 2022)

Keluarga Besar Fransiskan: Pw/Pfak S. Paskalis Baylon, Biarawan [Bruder] OFM

Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu, Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu. Kamu telah mendengar bahwa Aku telah berkata kepadamu: Aku pergi, tetapi aku datang kembali kepadamu. Sekiranya kamu mengasihi Aku, kamu tentu akan bersukacita karena Aku pergi kepada Bapa-Ku, sebab Bapa lebih besar daripada Aku. Sekarang juga Aku mengatakannya kepadamu sebelum hal itu terjadi, supaya kamu percaya, apabila hal itu terjadi. Tidak banyak lagi Aku berkata-kata dengan kamu, sebab penguasa dunia ini datang. Ia tidak berkuasa sedikit pun atas diri-Ku, tetapi dunia harus tahu bahwa aku mengasihi Bapa dan bahwa Aku melakukan segala sesuatu seperti yang diperintahkan Bapa kepada-Ku. (Yoh 14:27-31a)

Bacaan Pertama: Kis 14:19-28; Mazmur Tanggapan: 145:10-13,21

“Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan dan gentar hatimu.(Yoh 14:27)

Selama hidup-Nya di muka bumi, Yesus menyatakan damai sejahtera dari Allah sendiri – suatu damai sejahtera yang melampaui segala pemahaman. Menjelang awal pelayanan-Nya, Yesus dipimpin oleh Roh Kudus ke padang gurun di mana Dia digoda oleh Iblis. Walaupun menghadapi serangan-serangan dari si Jahat, Yesus tetap teguh berpegang pada kasih dan kebenaran Bapa-Nya (Luk 4:1-13).

Seringkali Yesus pergi ke tempat yang sunyi untuk berdoa dan mendengarkan suara Bapa-Nya. Selama saat-saat yang istimewa ini, Yesus akan menerima rahmat dan damai-sejahtera yang dicurahkan oleh Bapa atas diri-Nya. Ketika bersama para murid/rasul-Nya di dalam perahu dan kemudian badai mengamuk dengan hebatnya, Yesus tetap tidur di buritan, seakan tak terganggu dengan apa yang terjadi. Ketika Dia dibangunkan oleh para murid yang sudah ketakutan itu,  Yesus membentak angin itu agar menjadi reda dan tenang. Hal tersebut mengingatkan para murid pada Allah dan kuat-kuasa-Nya (Mrk  4:35-41).

Ke mana saja Yesus pergi, orang banyak berdesak-desakan mengikuti-Nya agar dapat menerima kesembuhan dan pelepasan/pembebasan dari kuasa roh-roh jahat, namun Yesus tidak pernah merasa kewalahan. Ia selalu kembali berpaling kepada Bapa-Nya, mengandalkan diri-Nya pada hikmat dan kekuatan Allah Bapa. Yesus menunjukkan ketaatan, memberi respons hanya seturut apa yang diperintahkan oleh Bapa-Nya, maka Dia mampu untuk tetap berada dalam damai sejahtera Allah.

Hati Yesus penuh dengan kasih-Nya kepada Bapa, menaruh kepercayaan pada diri-Nya, dan mengandalkan sepenuhnya kepada kuat-kuasa-Nya. Bahkan ketika Dia meninggalkan/memberikan damai sejahtera-Nya kepada para murid-Nya, Yesus mengetahui bahwa saat-Nya Dia memanggul salib sudah semakin dekat.
Walaupun begitu, Yesus mendeklarasikan bahwa kebesaran/keagungan Bapa-Nya: “Bapa lebih besar daripada Aku” (Yoh 14:28); “Aku pergi kepada Bapa-Ku” (Yoh 14:28); “Aku mengasihi Bapa” (Yoh 14:31).

Kita semua tentunya menghadapi pencobaan, mengalami kekecewaan-kekecewaan dan rasa takut. Namun ingatlah bahwa Yesus bersabda: “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu” (Yoh 14:27). Walaupun pada saat-saat kita tidak mengalami banyak kesusahan, Yesus terus saja mengucapkan kata-kata ini kepada kita. Dia ingin memenuhi hati kita dengan kehadiran-Nya. Dia rindu untuk menarik kita semua kepada Bapa sehingga kita dapat mengenal damai sejahtera yang tidak tergantung pada situasi-situasi di sekeliling kita.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, Engkau adalah sang Raja Damai. Datanglah memerintah dalam hati kami. Ingatkanlah kami akan kasih dan kerahiman sempurna Bapa. Roh Kudus, kuatkanlah rasa percaya kami akan Bapa surgawi,  sehingga dengan demikian kami akan berjalan setiap hari dalam damai sejahtera dan kehadiran Allah Tritunggal Mahakudus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 14:27-31a), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MEMBERIKAN DAMAI SEJAHTERA-NYA KEPADA PARA MURID” (bacaan tanggal 17-5-22) dalam  situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 22-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2022.

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013)

Cilandak, 16 Mei 2022 [Keluarga Besar Fransiskan: Pw S. Margareta dr Cortona, OFS]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TUGAS ROH KUDUS SEBAGAI SANG PENOLONG

TUGAS ROH KUDUS SEBAGAI SANG PENOLONG

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Paskah – Senin, 16 Mei 2022)

Keluarga Besar Fransiskan: Pw S. Margareta dr Cortona, OFS – Wanita Kudus

“Siapa saja yang memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Siapa saja yang mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Aku pun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya.” Yudas, yang bukan Iskariot, berkata kepada-Nya, “Tuhan, apa sebabnya Engkau hendak menyatakan diri-Mu kepada kami, dan bukan kepada dunia?”Jawab Yesus “Jika seseorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan tinggal bersama-sama dengan dia. Siapa saja yang tidak mengasihi Aku, ia tidak menuruti firman-Ku; dan firman yang kamu dengar itu bukanlah dari Aku, melainkan dari Bapa yang mengutus Aku. Semuanya itu Kukatakan kepadamu, selagi aku berada bersama-sama dengan kamu; tetapi Penolong, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.  (Yoh 14:21-26)

Bacaan Pertama: Kis 14:5-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 115:1-4,15-16 

“… Penolong, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu”  (Yoh 14:26).

Ini adalah untuk kedua kalinya Yohanes berbicara mengenai sang Penolong (Roh Kebenaran; lihat Yoh 14:16-17). Dalam ayat Yoh 14:26 ini Yohanes mulai mengidentifikasikan sang Penolong dengan Roh Kudus. Sang Penolong (Yunani: Parakletos), seperti juga Anak (Putera) diutus oleh Bapa, namun dalam nama Yesus (lihat petikan ayat di atas). Sang Penolong akan menggantikan peranan Yesus dalam komunitas orang beriman. Sang Penolong inilah yang menjamin perwahyuan yang bersifat permanen di dalam dunia. Sang Penolong atau Roh Kudus ini merupakan satu-satunya jawaban yang tersedia bagi mereka yang ingin tetap berada bersama Yesus dan mau melihat Bapa surgawi.

Sang Penolong diutus oleh Bapa surgawi dalam nama Yesus untuk “mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu” (Yoh 14:26). Dengan demikian, peranan sang Penolong adalah melanjutkan pekerjaan Yesus dengan menjamin adanya perwahyuan yang bersifat permanen di dalam dunia. Namun tugas ini dilaksanakan dalam komunitas orang beriman di mana dan pada saat mana sabda Yesus diproklamasikan dan didengar, di mana dan pada saat mana perintah-perintah-Nya didengar dan ditaati.

Inilah sebabnya mengapa sang Penolong ini diidentifikasikan dengan Roh Kudus. Ia adalah kuasa dari kehadiran Yesus yang bangkit dalam komunitas mereka yang percaya kepada-Nya. Komunitas orang beriman adalah komunitas di mana sabda Yesus diproklamasikan. Proklamasi termaksud adalah pekerjaan sang “Penolong, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku” (Yoh 14: 26).

Jadi, para pembaca Injil tidak dapat mengabaikan fakta bahwa hal ini adalah yang dilakukan oleh Yohanes ketika dia menulis Injilnya. Ini adalah yang dilakukan oleh setiap pewarta Injil. Ini adalah yang dilakukan oleh komunitas orang beriman bilamana mereka mendengar, mendengarkan dan sampai kepada pemahaman Injil. Mengajar dan mengingatkan tidak pernah merupakan suatu tindakan yang berdiri sendiri. Mereka yang diajar, yang diingatkan “akan semua yang telah Kukatakan kepadamu” (Yoh 14:26), adalah bagian dari operasi seperti orang-orang yang mengajar mereka dan mengingatkan mereka apa yang dikatakan oleh Yesus. Itulah sebabnya kita mengacu kepada mereka sebagai “komunitas orang beriman”.

Operasi gabungan dari “mengajarkan dan mengingatkan” adalah pekerjaan “sang Penolong, Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku” (Yoh 14:25). Sang Penolong diutus oleh Bapa “dalam nama-Ku” karena “Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterima-Nya dari Aku” (Yoh 16:14). Tugas sang Penolong bukanlah untuk menyingkap sesuatu yang baru, melainkan untuk melestarikan/memelihara kebaharuan dari perwahyuan di dalam komunitas umat beriman.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau telah mengutus Roh Kudus dalam nama Yesus kepada kami, untuk mengajarkan segala sesuatu kepada kami dan mengingatkan kami kami akan semua yang telah dikatakan Yesus kepada kami semua di sepanjang masa. Terpujilah Allah Tritunggal Mahakudus, Bapa, Putera dan Roh Kudus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 14:21-26), bacalah tulisan yang berjudul “KASIH KITA KEPADA KRISTUS HARUS DIBUKTIKAN DENGAN KETAATAN DALAM MENURUTI FIRMAN-NYA” (bacaan tanggal 16-5-22) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 22-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2022.

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2015)

Cilandak, 15 Mei 2022 [HARI MINGGU PASKAH V – TAHUN C]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERINTAH YESUS KEPADA PARA MURID-NYA SUPAYA SALING MENGASIHI

PERINTAH YESUS KEPADA PARA MURID-NYA SUPAYA SALING MENGASIHI

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PASKAH V [TAHUN C] – 15 Mei 2022)

Sesudah Yudas pergi, berkatalah Yesus, “Sekarang anak Manusia dimuliakan dan Allah dimuliakan di dalam Dia. Jikalau Allah dimuliakan di dalam Dia, Allah akan memuliakan dia juga dalam diri-Nya, dan akan memuliakan Dia dengan segera. Hai anak-anak-Ku, hanya seketika saja lagi aku ada bersama kamu.

Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi (Yoh 13:31-33a,34-35). 

Bacaan pertama: Kis 14:21b-27; Mazmur tanggapan: Mzm 145:8-13; Bacaan kedua: Why 21:1-5a. 

“Saya tidak pernah mampu berterima kasih kepadanya secara pribadi, namun kami saling memandang – mata ketemu mata – sebelum ia dibawa pergi.”  (Francizek Gajowniczek)

Perjumpaan yang dramatis pada bulan Juli 1941 ini adalah antara seorang tahanan politik di kamp konsentrasi Auschwitz (Polandia) yang berumur 40 tahun yang telah dijatuhi hukuman mati, dan seorang imam Fransiskan konventual yang sukarela untuk mati menggantikan sang terhukum. Sang terhukum bernama Francizek Gajowniczek, seorang sersan, dan sang imam adalah P. Maximilian Kolbe yang meninggal dua minggu kemudian pada usianya yang ke-47 tahun …… sebuah kematian yang tidak sia-sia!

Pada bulan Oktober 1982, sekitar 150.000 umat berkumpul di Piazza Santo Petrus untuk menyaksikan Paus Yohanes Paulus II (yang mengatakan bahwa panggilannya sendiri diinspirasikan oleh P. Maximilian Kolbe) mengkanonisasikan saudara sebangsanya sebagai orang kudus Gereja. Sri Paus pada kesempatan itu a.l. memetik dari Injil Yohanes sabda Yesus yang berikut ini: “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada ini, yakni seseorang memberikan nyawanya demi sahabat-sahabatnya” (Yoh 15:13). Yesus sangat mengetahui arti dari kata-kata yang diucapkan-Nya itu, karena Dia sendiri pun akan melakukannya di bukit Kalvari, pada keesokan hari setelah mengucapkan kata-kata itu.

Dunia terpesona oleh tindakan heroik yang dilakukan oleh P. Maximilian Kolbe, namun apa yang telah dilakukannya sebenarnya juga diharapkan dari setiap orang Kristiani yang sungguh serius dalam sikap dan perilakunya terhadap sabda Yesus, Tuhan dan Juruselamatnya. Dalam bacaan Injil hari ini, Yohanes Penginjil memproklamasikan cintakasih tanpa batas yang diajarkan oleh Yesus: “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi” (Yoh 13:34).

Perintah itu baru dalam artian bahwa perintah itu “memanggil” (sekiranya kata “menuntut” dirasakan terlalu keras) seorang pribadi kepada suatu cintakasih universal dengan intensitas yang terdalam – cintakasih dengan mana Dia mengasihi kita. Perintah lama: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Im 19:18) memang sangat menantang, namun tidak sebanyak tantangan yang diberikan oleh perintah yang baru dari Yesus ini. Misalnya kata “sesama” dapat dikatakan sedikit  banyak terbatas dalam ruang lingkupnya dan orang-orang Yahudi berdebat terus tentang siapa saja yang termasuk dalam istilah “sesama”. Perintah baru untuk “saling mengasihi” tidak mempunyai batas. Intensitasnya pun berbeda. Perintah yang lama mengharapkan kita untuk mengasihi orang-orang lain seperti kita mengasihi diri kita sendiri. Perintah yang baru mengatakan bahwa kita harus mengasihi orang-orang lain sama seperti Yesus mengasihi kita. Kita tentu mengasihi diri kita secara intens, namun kasih Tuhan Yesus kepada kita jauh lebih intens.

Suatu bukti yang pasti dari cintakasih sejati adalah memberikan hidup kita sendiri bagi orang lain, sebagaimana yang dilakukan oleh Yesus Kristus, dan di abad ke-20 oleh P. Maximilian Kolbe, OFMConv. Santo Petrus berbicara mengenai “siap mati” untuk Yesus sebelum penyaliban-Nya, namun ternyata itu “omong/pepesan kosong” belaka. Akan tetapi, kemudian setelah dia menjadi lebih dewasa dalam iman, Petrus memenuhi janjinya dan mati sebagai seorang martir Kristus yang sejati …… disalib terbalik dengan kepala di bawah, karena dia merasa tidak pantas untuk mati disalib seperti Yesus, Tuhan dan Juruselamatnya.

Dalam dunia yang penuh kekacauan, kebencian, kekerasan dan kekejaman yang tak terbayangkan, P. Maximilian Kolbe menunjukkan bahwa dirinya adalah seorang murid Yesus sejati lewat sikap dan tindakannya; yaitu mengasihi sesamanya seturut perintah Yesus sendiri. Itu pulalah yang diharapkan dari kita semua, para murid Kristus di abad ke-21 ini.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, ajarlah kami untuk mau dan mampu mengasihi orang-orang lain dengan kasih yang sama yang Kauberikan kepada kami. Kasih-Mu tanpa syarat, penuh dengan janji akan kehidupan baru, dan setia. Semoga kami menerima kasih-Mu melalui pencurahan Roh Kudus-Mu, kemudian melakukan segalanya yang kami dapat lakukan untuk membawa kasih ini kepada orang-orang lain. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 13:31-33a,34-35), bacalah tulisan yang berjudul “SEBUAH PERINTAH YANG BARU DARI SANG GURU” (bacaan tanggal 15-5-22) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 22-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2022.

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013)

Cilandak, 14 Mei 2022 [Pesta S. Matias, Rasul]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MATIAS DIPILIH SEBAGAI PENGGANTI SI RASUL-PENGKHIANAT: YUDAS ISKARIOT

MATIAS DIPILIH SEBAGAI PENGGANTI SI RASUL-PENGKHIANAT: YUDAS ISKARIOT

(Bacaan Pertama Misa Kudus, PESTA SANTO MATIAS, RASUL – Sabtu, 14 Mei 2022)

Pada suatu hari berdirilah Petrus di tengah-tengah saudara-saudara seiman yang sedang berkumpul itu, kira-kira seratus dua puluh orang banyaknya, lalu berkata, “Hai Saudara-saudara, haruslah digenapi nas Kitab Suci, yang disampaikan lebih dahulu oleh Roh Kudus dengan perantaraan Daud tentang Yudas, pemimpin orang-orang yang menangkap Yesus. Dahulu ia termasuk salah seorang dari kami dan mengambil bagian di dalam pelayanan ini.”

“Sebab ada tertulis dalam kitab Mazmur: ‘Biarlah perkemahannya menjadi sunyi, dan biarlah tidak ada penghuni di dalamnya,’ dan: ‘Biarlah jabatannya diambil orang lain.’ Jadi, harus ditambahkan kepada kami seorang dari mereka yang senantiasa datang berkumpul dengan kami selama Tuhan Yesus bersama-sama dengan kami, yaitu mulai dari baptisan Yohanes sampai hari Yesus diangkat ke surga meninggalkan kami, untuk menjadi saksi dengan kami tentang kebangkitan-Nya.”

Lalu mereka mengusulkan dua orang: Yusuf yang disebut Barsabas dan juga bernama Yustus, dan Matias. Mereka semua berdoa dan berkata, “Ya Tuhan, Engkaulah yang mengenal hati semua orang, tunjukkanlah kiranya siapa yang Engkau pilih dari kedua orang ini, untuk menerima jabatan pelayanan, yaitu kerasulan yang ditinggalkan Yudas yang telah pergi ke tempat yang wajar baginya.” Lalu mereka membuang undi bagi kedua orang itu dan yang kena undi adalah Matias dan dengan demikian ia ditambahkan kepada kesebelas rasul itu. (Kis 1:15-17,20-26)

Mazmur Tanggapan: Mzm 113:1-8; Bacaan Injil: Yoh 15:9-17 

Pada Pesta Santo Matias Rasul hari ini, baiklah kita menyoroti beberapa dari kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh Yudas Iskariot. Biar bagaimana pun juga, karena kejatuhan Yudas-lah maka Matias diangkat menjadi seorang rasul.

Sungguh terasa tak dapat dipercayai, kelihatannya Yudas menjadi begitu buta – dia tidak mampu melihat bahwa jalan yang ditempuhnya secara pribadi ketika ke sana ke mari mengikuti Yesus bersama para murid lain adalah jalan menuju kehancuran. Bukannya membuka dirinya dan mengekspos pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam benaknya serta motif-motif pribadinya kepada Yesus, Yudas malah tetap menyembunyikan pemikiran-pemikiran yang ada dalam dirinya. Sebagai akibatnya, dia menjadi terobsesi dengan apa yang baik menurut pemikirannya, bukannya memasukkan kata-kata Yesus ke dalam hati dan pikirannya. Bahkan kelihatannya Yudas – seperti diceritakan oleh Yohanes Penginjil – juga membenarkan pencurian uang atau korupsi atas perbendaharaan kelompok Yesus untuk keuntungan sendiri (lihat Yoh 12:6).

Seperti Yudas, kita pun kadang-kadang dapat menjadi buta terhadap motif-motif dan hasrat-hasrat pribadi kita sendiri. Tanpa memeriksa dengan cermat motif-motif hati kita, maka kita pun ujung-ujungnya dapat saja memilih jalan sesat yang dapat membawa kita kepada kebingungan dan kehancuran. Oleh karena itu, sangat baiklah untuk mempunyai seorang bapak pengakuan atau pembimbing rohani yang baik dengan siapa kita dapat membuka hati dan bersikap jujur. Kita (anda dan saya) pun dapat mensyeringkan apa yang terjadi dalam diri dan kehidupan kita masing-masing dengan pasangan hidup kita atau saudari-saudara dalam Kristus yang dekat dengan kita. Tidak ada masukan yang lebih baik daripada masukan hasil pemikiran jernih dari seorang pribadi yang mengasihi kita dan memiliki keprihatinan atas kondisi rohaniah kita.

Yesus menginginkan agar kita berjalan dalam terang-Nya. Memeriksa motif-motif dan hasrat-hasrat pribadi kita di hadapan Allah dalam doa adalah salah satu cara terbaik untuk membuang kegelapan dalam hati kita. Pada saat Roh Kudus menunjukkan kepada kita dosa-dosa dan kegelapan dalam hidup kita – apakah dalam doa atau melalui nasihat-nasihat bijaksana dari orang-orang lain – maka kita harus bersukacita. Kita juga harus cepat tanggap dengan melakukan pertobatan dan kembali ke jalan kasih Tuhan. Kita harus mengingat bahwa Yesus tidak datang untuk menghakimi/menghukum, melainkan untuk menyelamatkan kita (lihat Yoh 3:17). Ia selalu hadir untuk menolong kita guna melangkah maju dengan-Nya di jalan keselamatan dan damai-sejahtera.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, Engkau telah menyelidiki hatiku dan mengenal diriku. Buanglah jauh-jauh kegelapan dalam hidupku dengan terang-Mu. Tolonglah aku agar senantiasa dapat berjalan di dalam jalan kebenaran-Mu dan kasih-Mu. Terima kasih, ya Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 15:9-17), bacalah tulisan yang berjudul “BUKAN KAMU YANG MEMILIH AKU, TETAPI AKULAH YANG MEMILIH KAMU” (bacaan tanggal 14-5-22) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 22-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2022.

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013)

Cilandak, 13 Mei 2022 [Peringatan Fakultatif SP Maria dr Fatima]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KATA YESUS KEPADA RASUL TOMAS: AKULAH JALAN DAN KEBENARAN DAN HIDUP

KATA YESUS KEPADA RASUL TOMAS: AKULAH JALAN DAN KEBENARAN DAN HIDUP

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Paskah – Jumat, 13 Mei 2022)

Peringatan Fakultatif SP Maria dr Fatima

 “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Apabila aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada.

Kemana Aku pergi, kamu tahu jalan ke situ.” Kata Tomas kepada-Nya, “Tuhan, kami tidak tahu ke mana Engkau pergi; jadi bagaimana kami tahu jalan ke situ?” Kata Yesus kepadanya, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yoh 14:1-6)

Bacaan Pertama: Kis 13:26-33; Mazmur Tanggapan: Mzm 2:6-11

“Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.” (Yoh 14:6)

Yohanes menggunakan kata-kata ini untuk menggambarkan sentralitas dari peranan Yesus dalam penyelamatan. Ajaran-ajaran Yesus ini berada pada pusat niat Allah bagi para murid-Nya dan fondasi dari kehidupan mereka sebagai murid-murid-Nya. Kata-kata ini sungguh memberi pengharapan kepada para murid-Nya dahulu dan juga kita sekarang sebagai umat yang percaya!

Yesus mengungkapkan hasrat paling besar dari Allah, yaitu bahwa kita akan berdiam bersama dengan Dia selamanya dan bahwa Yesus sendirilah yang akan berjalan di depan kita guna menyiapkan sebuah tempat bagi kita dan membawa kita ke sana (Yoh 14:3-4). Pertanyaan yang diajukan oleh Tomas berkaitan dengan “jalan” (Yoh 14:5) menyediakan konteks bagi Yesus untuk menjelaskan tujuan dari hidup manusia dan sarana-sarana yang diperlukan untuk mencapai tujuan itu. Tujuan manusia adalah “datang kepada Bapa”; jalan untuk mencapai tujuan ini adalah melalui Yesus … hanya Yesus! (Yoh 14:6).

Yesus tidak hanya sekadar “sebuah jalan”, atau hanyalah “seorang pemandu” sepanjang jalan. Ia adalah “sarana” melaluinya kita datang kepada Bapa; … melalui iman kepada Yesus dan mengikuti jejak-Nya, maka kepada orang diberikan hidup kekal. Yesus melipat-gandakan peranan-Nya sebagai “jalan” dengan mengatakan bahwa Dia adalah “kebenaran” dan “hidup”. Arti dari kata-kata Yunani dari kata-kata ini dapat memberi pencerahan atas kepenuhan maknanya.

Kata “kebenaran” mengacu pada hakekat aktual dari sesuatu, dan diperlawankan dengan “penampilan” (Inggris: appearance) dan “lambang-lambang” (Inggris: symbols). Yesuslah satu-satunya jalan yang benar kepada Bapa surgawi, jalan yang memimpin kepada kehidupan. “Hidup” tidak hanya mengacu pada hidup-fisik, melainkan juga “hidup spiritual”, kebahagiaan penuh-berkat yang tertinggi, yang dimaksudkan oleh Allah bagi umat-Nya. Selagi kita merangkul erat-erat sabda Yesus dalam iman, kita melihat bahwa kebenaran ini akan membawa kepada kita kehidupan dan menarik kita kepada Bapa surgawi.

Datang kepada Bapa surgawi memerlukan upaya dari pihak kita selagi kita menanggapi rahmat-Nya. Dalam hal ini kita perlu berdoa dan meditasi atas kebenaran-kebenaran iman-kepercayaan kita; kita juga membutuhkan “persekutuan” (Latin: Communio) dengan saudari-saudara yang lain dalam Tubuh Kristus, yaitu Gereja,  dan tidak kalah pentingnya adalah bagi kita untuk terlibat secara positif dalam mengasihi orang miskin dan menderita dalam masyarakat kita. Mengapa? Karena Allah menyatakan diri-Nya dalam diri orang-orang lain, teristimewa dalam diri “wong cilik”. Ini adalah upaya yang akan memampukan kita untuk mengikuti “jalan” itu. Inilah alasannya mengapa senantiasa baik bagi kita untuk membuat resolusi spiritual setiap bulan dalam rangka mengikuti jejak Yesus untuk sampai kepada Bapa di surga.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, kami percaya dengan sepenuh hati bahwa Engkau adalah “jalan dan kebenaran dan hidup”, dan tidak ada seorang pun dapat datang kepada Bapa di surga tanpa melalui Engkau. Terpujilah nama-Mu yang mahakudus, sekarang dan selamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 14:1-6), bacalah tulisan yang berjudul “JANGANLAH GELISAH HATIMU, PERCAYALAH KEPADA ALLAH, PERCAYALAH JUGA KEPADA-KU” (bacaan tanggal 13-5-22) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 22-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2022.

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012)

Cilandak, 12 Mei 2022 [Pw/Pfak S.Leopoldus Mandic, Imam Kapusin]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TIDAK ADA HAMBA YANG LEBIH TINGGI DARIPADA TUANNYA

TIDAK ADA HAMBA YANG LEBIH TINGGI DARIPADA TUANNYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Paskah – Kamis, 12 Mei 2022)

Peringatan Fakultatif S. Nereus dan Akhilleus, Martir

Peringatan Fakultatif S. Pankrasius, Martir

Keluarga Besar Fransiskan: Pw/Pfak S. Leopoldus Mandic, Imam Kapusin

OSF Sibolga: HR Margareta Bloching, Pendiri Tarekat, Perawan

Sesungguhnya aku berkata kepadamu: Seorang hamba tidaklah lebih tinggi daripada tuannya, ataupun seorang utusan daripada orang yang mengurusnya. Jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya.

Bukan tentang kamu semua Aku berkata. Aku tahu, siapa yang telah Kupilih. Tetapi haruslah digenapi nas ini: Orang yang makan roti-Ku, telah mengangkat tumitnya terhadap Aku. Aku mengatakannya kepadamu sekarang juga sebelum hal itu terjadi, supaya jika hal itu terjadi, kamu percaya bahwa Akulah Dia. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa saja yang menerima orang yang Kuutus, ia menerima Aku, dan siapa saja yang menerima Aku, ia menerima Dia yang mengutus Aku.” (Yoh 13:16-20)

Bacaan Pertama: Kis 13:13-25; Mazmur Tanggapan: Mzm 89:2-3,21-22,25,27

Kerendahan-hati atau kedinaan Allah itu begitu besar. Sebagai Trinitas [Tritunggal Mahakudus], Allah diam dalam keamanan sempurna kasih ilahi. Dia tidak perlu membangga-banggakan atau mendominasi. Dia juga tidak memerlukan pelayanan kita samasekali. Namun, Dia tetap memilih untuk menciptakan kita dan berbagi kehidupan ilahi-Nya dengan kita manusia. 

Allah itu bisa saja rendah hati, tetapi pada awal keberadaan manusia, kita umat-Nya jatuh ke dalam dosa kesombongan dengan memisahkan diri dari Dia. Tanggapan apa yang diberikan oleh Allah terhadap pemberontakan tak-tahu-diri dari manusia itu? Dia mengutus Putera-Nya yang tunggal untuk membasuh kaki kita (Yoh 13:3-15)!  Kita telah menembusi dan melukai kaki-kaki Yesus di kayu salib, namun setiap hari Dia dengan rendah hati menawarkan diri untuk membasuh kaki kita. 

Tidak ada hamba yang lebih tinggi daripada tuannya (lihat Yoh 13:16). Apabila kita ingin memberi tanggapan terhadap kasih Allah bagi kita, maka hal terbaik yang kita dapat lakukan adalah untuk meneladan Dia, yaitu dengan rendah-hati melayani orang-orang lain. Apa pun profesi atau pekerjaan kita, kita semua dipanggil untuk membasuh kaki. Kita semua dipanggil untuk merendahkan diri kita agar mengangkat dan menyegarkan kembali orang-orang dengan siapa kita bekerja. Bukankah ini yang dialami para ayah dan ibu dalam menghadapi berbagai tantangan sehari-hari berkaitan dengan pemeliharaan anak-anak mereka? Apakah para imam yang mempunyai kuasa untuk mendengar pengakuan dosa umat dan memberikan pengampunan Allah dikecualikan dari panggilan untuk menjadi serupa dengan Kristus dalam hal kerendahan hati atau kedinaan? Bukankah para suami-istri yang dipanggil untuk saling memelihara satu sama lain tidak diundang juga untuk mengikuti teladan yang diberikan oleh Yesus. Kita dapat merendahkan diri kita dalam banyak sekali situasi, dan dalam setiap kasus Yesus hadir. 

Roh Kudus berdiam dalam hati kita dengan kedinaan, selalu berusaha untuk meyakinkan kita bahwa kita ini sangat dikasihi. Dia juga selalu memanggil kita untuk mengasihi dengan sempurna pula. Dia selalu berusaha untuk membimbing tindakan-tindakan kita dan membentuk sikap-sikap kita sehingga kita dapat melaksanakan prioritas-prioritas Kristus sendiri.. Jika kita dapat belajar untuk menyerahkan diri kepada Roh Allah dan mengikuti cara Yesus melayani, maka kita tidak hanya menjadi aman berdiam dalam kasih Allah, tetapi juga dapat pergi keluar untuk melakukan hal-hal yang besar – yaitu tindakan-tindakan pelayanan yang dilakukan dengan rendah hati. 

DOA: Roh Kudus, buatlah aku mampu untuk membasuh kaki orang-orang lain dalam hidupku seturut teladan yang diberikan oleh Yesus, Tuhan dan Guru-ku. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 13:16-20), bacalah tulisan yang berjudul “MENERIMA YANG DIUTUS BERARTI MENERIMA YANG MENGUTUS” (bacaan tanggal 12-5-22) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 22-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2022.

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2010)

Cilandak, 11 Mei 2022 [Pw/Pfak S. Ignasius dr Laconi, Biarawan Kapusin]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

AKU TELAH DATANG KE DALAM DUNIA SEBAGAI TERANG

AKU TELAH DATANG KE DALAM DUNIA SEBAGAI TERANG

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Paskah – Rabu, 11 Mei 2022)

Keluarga Besar Fransiskan: Pw/Pfak S. Ignasius dr Laconi, Biarawan Kapusin

Lalu Yesus berseru, “Siapa saja yang percaya kepada-Ku, ia bukan percaya kepada-Ku, tetapi kepada Dia, yang telah mengutus Aku; dan siapa saja yang melihat Aku, ia melihat Dia, yang telah mengutus Aku. Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku jangan tinggal di dalam kegelapan. Jikalau seseorang mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, aku tidak menghakiminya, sebab Aku datang bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya. Siapa saja yang menolak Aku, dan tidak menerima perkataan-Ku, ia sudah ada hakimnya, yaitu firman yang telah Kukatakan, itulah yang akan menghakiminya pada akhir zaman. Sebab Aku berkata-kata bukan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang mengutus Aku, Dialah yang memerintahkan Aku untuk mengatakan apa yang harus Aku katakan dan Aku sampaikan. Aku tahu bahwa perintah-Nya itu adalah hidup yang kekal. Karena itu, apa yang Aku katakan, Aku sampaikan sebagaimana difirmankan oleh Bapa kepada-Ku.” (Yoh 12:44-50)

Bacaan Pertama: Kis 12:24-13:5a;  Mazmur Tanggapan: Mzm  67:2-3,5,6,8

“Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku jangan tinggal di dalam kegelapan.(Yoh 12:46)

Dalam bacaan Injil hari ini Yohanes Penginjil menyajikan sebuah ikhtisar atau ringkasan dari ajaran Yesus sebelum dia mulai dengan narasi sengsara Yesus, kematian-Nya dan kebangkitan-Nya. Ikhtisar itu mencakup: (1) “persatuan antara Bapa dan Putera” (Yoh 12:44-45; (2) Yesus sebagai terang dunia, yang datang untuk menyelamatkan dunia, bukan untuk menghakiminya (Yoh 12:47);  (3) pesan bahwa kata-kata yang diucapkan oleh Yesus akan menjadi hakim di akhir zaman (Yoh 12:48); dan (4) Identifikasi kata-kata Yesus dengan firman Bapa dan kehidupan kekal yang mengalir dari perintah Bapa (Yoh 12:49-50). 

Secara konsisten Yohanes Penginjil mengulang-ulang semua tema sepanjang duabelas bab Injilnya karena dia sungguh bergairah untuk mengatakan kepada kita siapa sebenarnya Yesus itu, agar dengan mengenal Yesus kita pun dapat mengenal Bapa. Dengan mengenal Bapa, kita akan mengenal terang dan kehidupan. Itulah sebabnya mengapa Yesus menyerukan pesan ini (Yoh 12:44). 

Kata-kata ini mengundang kita “memeriksa” diri kita sendiri untuk melihat apakah kita bertumbuh dalam pemahaman dan penerimaan kita akan hidup dan ajaran Yesus. Apakah kita sungguh melihat Dia sebagai terang dunia yang datang untuk menyelamatkan kita? Apakah kita mengakui bahwa kata-kata-Nya akan menghakimi diri kita? Apakah kita mengenali bahwa kata-kata-Nya adalah sama dengan kata-kata Bapa dan perintah-perintah Bapa merupakan sumber dari kehidupan kekal? 

Sementara kita menerima, merangkul dan menghayati kebenaran-kebenaran itu dalam hidup kita, maka kehidupan yang dimaksudkan Allah bagi kita (dan semua orang) dapat menjadi hidup dalam diri kita. Apabila kita sungguh menginginkan hidup ini, kita harus minta kepada Roh Kudus agar menolong kita memahami dan menerima Yesus. Karena kasih yang mengalir dari hati-Nya, Yesus mengundang kita untuk datang kepada-Nya. Apabila kita menerima tawaran-Nya untuk meminum air yang hidup, maka Yesus akan bekerja di dalam kita sebagaimana yang terjadi dalam kehidupan perempuan Samaria (Yoh 4:1-42). 

DOA: Bapa surgawi, kami mengakui bahwa sabda-Mu memberikan kehidupan kepada kami. Pancarkanlah sinar terang-Mu ke dalam kegelapan kehidupan kami.  Kami mengakui Yesus sebagai terang dan kehidupan dunia dan merangkul segala niat dan rencana-Mu bagi kami. Kasihanilah kami orang-orang berdosa ini yang mau berjalan sebagai anak-anak terang. Oleh kuasa Roh Kudus, tolonglah kami untuk  memuji-muji dan memuliakan nama-Mu, sekarang dan selama-lamanya. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 12:44-50), bacalah tulisan yang berjudul “APA YANG AKU KATAKAN, AKU SAMPAIKAN SEBAGAIMANA DIFIRMANKAN OLEH BAPA KEPADA-KU” (bacaan tanggal 11-5-22) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.worpress.com; kategori 22-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2022.

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011)

Cilandak, 10 Mei 2022 [Pfak S. Yohanes dr Avila, Imam Pujangga Gereja]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ALLAH YANG KITA SEMBAH ADALAH ALLAH YANG MAHALAIN

ALLAH YANG KITA SEMBAH ADALAH ALLAH YANG MAHALAIN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Paskah – Selasa, 10 Mei 2022

Peringatan Fakultatif S. Yohanes dr Avila, Imam Pujangga Gereja

OSF: Hari Berdiri Tarekat

Tidak lama kemudian tibalah hari raya Penahbisan Bait Allah di Yerusalem; ketika itu musim dingin. Yesus berjalan-jalan di Bait Allah, di serambi Salomo, Lalu orang-orang Yahudi mengelilingi Dia dan berkata kepada-Nya, “Berapa lama lagi Engkau membiarkan kami dalam kebimbangan? Jikalau Engkau Mesias, katakanlah terus terang kepada kami.” Yesus menjawab mereka, “Aku telah mengatakannya kepada kamu, tetapi kamu tidak percaya; pekerjaan-pekerjaan yang Kulakakukan dalam nama Bapa-Ku, itulah yang memberi kesaksian tentang Aku, tetapi kamu tidak percaya, karena kamu tidak termasuk domba-domba-Ku. Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku. Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar daripada siapa pun, dan seorang pun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa. Aku dan Bapa adalah satu.” (Yoh 10:22-30)

Bacaan Pertama: Kis 11:19-26;  Mazmur Tanggapan: Mzm  87:1-7

“… Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku.” (Yoh 10:28)

Bayangkanlah begitu terjamin keamanan kita sehingga tidak ada apa atau siapa pun yang mampu untuk menggoncangkan kita, apakah itu bencana alam, wabah penyakit, berbagai krisis, penderitaan, atau bahkan kematian dll. Rasanya sulit untuk dipercaya – too good to be true – namun ini memang janji Yesus kepada kita sebagai domba-domba-Nya. Kita mungkin telah sangat sering mendengar pernyataan-pernyataan seperti ini, sehingga kita tidak memandangnya terlalu serius. Akan tetapi, baiklah kita ingat bahwa implikasi dari sabda Yesus ini menyentuh tidak saja isu-isu kecil, melainan juga isu-isu besar dalam kehidupan kita.

Dengan pernyataan sederhana ini, Yesus mengungkapkan kebesaran Allah. Yesus menunjukkan bahwa Bapa surgawi jauh lebih besar dan agung dari apa saja dan siapa saja. Dia memiliki kuat-kuasa yang tak tertandingi oleh apa saja atau siapa saja. Bencana alam yang paling dahsyat, pergolakan/kegaduhan dalam masyarakat yang disebabkan kondisi “poleksosbud” yang sangat carut marut, wabah penyakit yang sangat serius – semua itu tidak dapat menggoncangkan apalagi mengalahkan kuat-kuasa Allah, karena Dia Mahakuasa, Mahaperkasa. Bapa surgawi juga adalah Allah Yang Mahatahu. Tidak ada yang luput dari pengamatan-Nya yang penuh kasih. Ia ada di mana-mana. Walau pun kita merasakan kesendirian yang mencekam (sunyi sepi sendiri), Dia tidak pernah meninggalkan kita. Masalah kita yang bagaimana pun beratnya senantiasa dapat dipecahkan-Nya. Memang Allah yang kita sembah adalah Allah Yang Mahalain!

Yesus Kristus – Gembala kita yang baik – telah memberikan kepada kita hidup kekal melalui kematian dan kebangkitan-Nya. Dia telah menempatkan kita dalam suatu posisi yang indah dan menakjubkan – dalam tangan-tangan-Nya, dan tidak akan dipindahkan. Realitas dari apa yang dilakukan Yesus di atas kayu salib tidak pernah boleh dianggap remeh. Iblis tentu selalu ingin meyakinkan kita semua bahwa penyaliban Yesus di bukit Kalvari hanyalah merupakan suatu peristiwa simbolis yang tidak relevan dalam hal perjuangan hidup kita sehari-hari dan tentunya tidak mampu mempunyai efek terhadap berbagai situasi kesulitan hidup di mana kita mengalami rasa khawatir, takut dll.

Yesus mengatakan kepada kita bahwa Dia memberikan hidup kekal kepada kita – suatu hidup yang tidak lagi terikat oleh dosa, tidak lagi di bawah dominasi dusta Iblis, tidak lagi subjek dari ketakutan. Melalui pertobatan dan iman-kepercayaan kepada Kristus, kita dapat mengatasi setiap godaan, ketakutan, kekhawatiran yang muncul.

Tentu saja posisi kita dalam tangan-tangan Yesus dapat bergeser kalau kita tidak membuat keputusan-keputusan yang membuat kita senantiasa dekat dengan Dia. Setiap hari, kita harus memohon kepada Yesus untuk meyakinkan kita secara lebih mendalam tentang pengampunan-Nya, kasih-Nya, dan kuat-kuasa-Nya untuk mengalahkan musuh-musuh kita, yaitu Iblis (dan roh-roh jahat pengikutnya) yang senantiasa berniat menjatuhkan kita ke dalam jurang dosa (lihat 1Ptr 5:8-9). Selagi kita melakukan semua itu, maka rasa takut kita, godaan-godaan, dan rasa bersalah kita pun akan menghilang.

DOA: Terpujilah Engkau, ya Tuhan Yesus karena Engkau adalah Gembala yang baik bagi kami domba-domba-Mu. Melalui kematian dan kebangkitan-Mu, kami memperoleh hidup kekal dan diperdamaikan dengan Bapa surgawi. Engkau juga berjanji bahwa tidak ada seorang pun yang dapat merenggut kami dari tangan-tangan kasih-Mu. Terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu, ya Yesus, Tuhan dan Juruselamat kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 10:22-30), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MENYATAKAN DIRI-NYA LEWAT PEKERJAAN-PEKERJAAN BAIK YANG DILAKUKAN-NYA DALAM NAMA BAPA SURGAWI” (bacaan tanggal 10-5-22) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 22-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2022.

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2015)

Cilandak, 9 Mei 2022

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

GEMBALA YANG BAIK RELA MATI UNTUK KAWANAN DOMBA-NYA

GEMBALA YANG BAIK RELA MATI UNTUK KAWANAN DOMBA-NYA  

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Paskah – Senin, 9 Mei 2022)

Keluarga Besar Fransiskan: Pw/Pfak S. Katarina dr Bologna, Perawan

“Sesungguhnya aku berkata kepadamu: Siapa yang masuk ke dalam kandang domba tanpa melalui pintu, tetapi dengan memanjat dari tempat lain, ia adalah seorang pencuri dan seorang perampok; tetapi siapa yang masuk melalui pintu, ia adalah gembala domba. Untuk dia penjaga membuka pintu dan domba-domba mendengarkan suaranya dan ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya dan menuntunnya ke luar. Jika semua dombanya telah dibawanya ke luar, ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya. Tetapi seorang asing pasti tidak mereka ikuti, malah mereka akan lari dari orang itu, karena suara orang-orang asing tidak mereka kenal.”

Yesus mengatakan kiasan ini kepada mereka, tetapi mereka tidak mengerti apa maksudnya Ia berkata demikian kepada mereka.

Karena itu Yesus berkata lagi, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, Akulah pintu bagi domba-domba itu. Semua orang yang datang sebelum Aku, adalah pencuri dan perampok, dan domba-domba itu tidak mendengarkan mereka. Akulah pintu; siapa saja yang masuk melalui Aku, ia akan diselamatkan dan Ia akan masuk dan keluar serta menemukan padang rumput. Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang supaya mereka mempunyai hidup, mempunyainya dengan berlimpah-limpah.  (Yoh 10:1-10)

Bacaan Pertama: Kis 11:1-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 42:2-3;43:3-4

Mungkin saja orang-orang “modern” tidak setuju, namun para gembala dan kawanan domba mereka adalah gambaran yang familiar di tengah daerah perbukitan atau dataran tinggi di Yudea. Seperti para penulis Perjanjian Lama (lihat Mzm 23,  Yes 40:11; Yeh 34:16), Yesus melihat bahwa alamiah-lah untuk menggunakan imaji gembala yang memelihara kawanan dombanya sebagai ilustrasi tentang cara Allah memperhatikan serta memelihara umat-Nya.

Domba-domba teristimewa dipelihara untuk dicukur bulunya (wool) dan baru kemudian untuk dagingnya, dan domba-domba itu dipelihara untuk bertahun-tahun lamanya, sehingga dapat mengenali suara gembala mereka dengan akrab. Apabila karena sesuatu hal sang gembala absen, maka domba-domba peliharaannya dapat menjadi ketakutan dan bingung. Hanya setelah mendengar suara gembala mereka, maka domba-domba itu dapat menjadi tenang kembali. Atas dasar kenyataan inilah maka tugas penggembalaan dari seorang gembala secara tetap menuntut kewaspadaan, keberanian dan kesabaran dalam memperhatikan serta memelihara kawanan dombanya. Jadi tidak mengherankanlah apabila Yesus mengibaratkan diri-Nya sebagai seorang gembala baik, yang rela mati untuk kawanan domba-Nya (lihat Yoh 10:11).

Apakah anda mengenal serta mengalami Yesus sebagai gembalamu yang baik? Apakah anda telah memutuskan untuk menyediakan waktu bersama-Nya, belajar cara-cara-Nya dan menjadi familiar dengan suara-Nya? Apabila kita memiliki kemampuan untuk mendengar suara-Nya ketika Dia berbicara, maka kita pun akan terlindungi dari daya pikat banyak suara lainnya yang mengaburkan pemusatan perhatian kita. Walaupun penting bagi kita untuk mempelajari doktrin Kristiani – sabda Yesus – hal ini tidaklah cukup. Kata-kata Yesus dapat dimanipulasi, disalahtafsirkan dengan sengaja maupun tidak, dengan demikian disalahpahami. Kita juga perlu sekali menjadi familiar dengan suara Yesus selagi Dia berbicara kepada hati kita. Hanya dengan begitu pengenalan kita menjadi kasih. Hanya setelah mengalami-Nya seperti itu maka kita akan mampu mengasihi orang-orang lain dengan cara yang sungguh mencerminkan kasih-tanpa batas dari Yesus kepada mereka.

Sebagai anak-anak Allah yang dibaptis, maka keakraban dengan Yesus seperti ini adalah hak kita sejak lahir. Yesus menginginkan kita untuk mengenal-Nya sebagaimana Dia mengenal kita – secara pribadi dan mendalam. Dalam doa-doa pada hari ini, baik di dalam gereja maupun di rumah dan di mana saja, marilah kita menenangkan hati kita. Dalam keheningan baiklah kita mendengar suara Tuhan Yesus. Anda mungkin mencoba mendengarkan musik untuk mengiringi meditasi atau membaca mazmur dengan bersuara agar dapat menyingkiran segala pelanturan yang ada. Marilah kita mohon kepada Roh Kudus agar menarik kita lebih dekat lagi kepada  Yesus. Semoga suara Yesus menghangatkan hati kita masing-masing.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, tolonglah aku mengenal suara-Mu sehingga aku dapat tetap berada dengan aman di tengah kawanan domba-Mu, yaitu umat-Mu sendiri. Terima kasih penuh syukur  kuhaturkan kepada-Mu untuk kasih-Mu yang senantiasa penuh kesetiaan. Terpujilah nama-Mu yang kudus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 10:1-10), bacalah tulisan yang berjudul “SEBAGAI PINTU BAGI DOMBA-DOMBA ITU” (bacaan tanggal 9522) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 22-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2022.

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2015)

Cilandak, 8 Mei 2022 [HARI MINGGU PASKAH IV – TAHUN C]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS