MERASA LAPAR AKAN MAKANAN SEJATI YANG DITAWARKAN OLEH ALLAH

MERASA LAPAR AKAN MAKANAN SEJATI YANG DITAWARKAN OLEH ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Paskah – Senin, 20 April 2015)

KONFLIK DGN ORANG FARISI DLL. - YESUS MENGECAM - MAT 23Keesokan harinya orang banyak, yang masih tinggal di seberang, melihat bahwa di situ tidak ada perahu selain yang satu tadi dan bahwa Yesus tidak turut naik ke perahu itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya, dan bahwa murid-murid-Nya saja yang berangkat. Sementara itu beberapa perahu lain datang dari Tiberias dekat ke tempat mereka makan roti, sesudah Tuhan mengucapkan syukur atasnya. Ketika orang banyak melihat bahwa Yesus tidak ada di situ dan murid-murid-Nya juga tidak, mereka naik ke perahu-perahu itu lalu berangkat ke Kapernaum untuk mencari Yesus.

Ketika orang banyak menemukan Yesus di seberang laut itu, mereka berkata kepada-Nya, “Rabi, kapan Engkau tiba di sini?” Yesus menjawab mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kenyang. Bekerjalah, bukan untuk makanan yang dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang telah dimeteraikan Allah Bapa.” Lalu kata mereka kepada-Nya, “Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang dikehendaki Allah?” Jawab Yesus kepada mereka, “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.” (Yoh 6:22-29) 

Bacaan Pertama: Kis 6:8-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:23-24,26-27,29-30

Orang-orang pada umumnya mempertimbangkan selera makan sebagai semacam ukuran dari kondisi kesehatan kita. Apabila kita tidak nafsu makan, maka ada sesuatu yang salah. Apabila selera makan kita berkurang, tentu saja kekuatan fisik kita pun akan berkurang. Di lain pihak para ibu mengetahui bahwa apabila anak-anak mereka menghabiskan semua makanan di atas meja makan, maka kemungkinan besar mereka sangat sehat, paling sedikit pada saat itu.

Dalam Injil Yohanes kita melihat bahwa orang banyak yang lebih dari 5.000 jumlahnya, yang telah diberi makan oleh Yesus kiranya berada dalam kondisi fisik yang sehat. Walaupun mereka telah dikenyangkan dengan roti yang telah dilipatgandakan oleh Yesus bagi mereka, mereka belum juga merasa puas. Mereka menginginkan lebih. Yesus harus pergi dengan diam-diam, namun mereka mengikuti Dia ke seberang danau ke kota yang bernama Kapernaum.

KOMUNI KUDUS - 111Di sana Yesus memaparkan kebenaran kepada orang banyak itu. Pada dasarnya apa yang dikatakan Yesus adalah sebagai berikut: “Kamu semua merasa lapar secara fisik, namun kamu sebenarnya tidak sungguh-sungguh lapar. Rasa lapar spiritual-lah yang membuat perbedaan sesungguhnya dalam hidupmu! Kamu tidak boleh bekerja untuk makanan yang dapat binasa, namun untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang telah dimeteraikan Allah Bapa” (lihat Yoh 6:27-28). Ini adalah pernyataan keras yang dibuat oleh Yesus. Apabila kita (anda dan saya) ingin menjadi lebih daripada sekadar “daging”, jika  kita ingin diperhitungkan sebagai seorang pribadi yang sungguh, maka kita harus merasa lapar akan makanan sejati yang ditawarkan oleh Allah.

Sejak saat Yesus membuat pernyataan keras seperti ini dalam Injil, maka anda dan saya mengetahui bagaimana mengukur kondisi kita, kemajuan kita, atau tingkat kesehatan kita masing-masing sebagai seorang pribadi manusia. Kita diukur dengan rasa lapar yang kita miliki akan karunia Allah yang paling pribadi bagi kita, yaitu rasa lapar kita akan Putera-Nya yang tunggal: Yesus. Dalam lingkaran ilahi, keluarga ilahi, semakin kita sungguh-sungguh merasa lapar untuk secara pribadi dipersatukan dengan Yesus, maka semakin efektiflah Roti Ekaristi yang kita terima dalam perayaan Ekaristi. Semakin dalam pengalaman kita akan Tuhan Yesus dalam Komuni Kudus, maka semakin kuat pula iman kita jadinya, dan semakin seringpula kita mencari Yesus sang Roti Kehidupan.

DOA: Bapa surgawi, oleh Roh Kudus-Mu buatlah agar dari hari ke hari kami semakin merasa lapar untuk secara pribadi dipersatukan dengan Putera-Mu terkasih, Yesus Kristus. Terpujilah Allah Tritunggal Mahakudus, Bapa dan Putera dan Roh Kudus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:22-29), bacalah tulisan yang berjudul “MENUNTUT UPAYA YANG RIIL DAN SERIUS DARI DIRI KITA” (bacaan tanggal 20-4-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2015. 

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 6:8-15), bacalah tulisan yang berjudul  “TUDUHAN TERHADAP STEFANUS” (bacaan tanggal 9-5-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 15 April 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DUA CARA UNTUK MENGETAHUI DAN MENGENAL

DUA CARA UNTUK MENGETAHUI DAN MENGENAL

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PASKAH III [TAHUN B], 19 April 2015) 

2008_03_30_risen

Lalu kedua orang itu pun menceritakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenali Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti. Sementara mereka bercakap-cakap tentang hal-hal itu, Yesus tiba-tiba berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata kepada mereka, “Damai sejahtera bagi kamu!” Mereka terkejut dan takut dan menyangka bahwa mereka melihat hantu. Akan tetapi, Ia berkata kepada mereka, “Mengapa kamu terkejut dan apa sebabnya timbul keragu-raguan di dalam hati kamu? Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku.” Sambil berkata demikian, Ia memperlihatkan tangan dan kaki-Nya kepada mereka. Ketika mereka belum percaya karena girangnya dan masih heran, berkatalah Ia kepada mereka, “Apakah kamu punya makanan di sini?” Lalu mereka memberikan kepada-Nya sepotong ikan goreng. Ia mengambilnya dan memakannya di depan mata mereka. Ia berkata kepada mereka, “Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kita nabi-nabi dan kitab Mazmur.”  Lalu Ia membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci. Kata-Nya kepada mereka, “Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga, dan lagi: Dalam nama-Nya berita tentang pertobatan untuk pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem. Kamulah saksi-saksi dari semuanya ini. (Luk 24:35-48) 

Bacaan Pertama: Kis 3:13-15,17-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 4:2,4,7,9; Bacaan Kedua: 1Yoh 2:1-5a

ST. THOMAS AQUINAS - 11Santo Tomas Acquinas [1225-1274] mengatakan bahwa kita dapat mengetahui dan mengenal suatu hal dengan dua cara: cara seorang filsuf dan cara seorang kudus. Cara seorang filsuf adalah di mana pengetahuan diperoleh tentang suatu hal. Kita sampai kepada pengetahuan tersebut lewat analisis. Kita memecah-mecah (memilah-milah) suatu hal menjadi beberapa bagian. Kita akhirnya mengetahui bagaimana hal itu bekerja. Kita akhirnya mengetahui apakah tujuan atau fungsinya. Pengetahuan sedemikian diperoleh dari jarak tertentu. Kita menaruh hal itu dalam jarak tertentu agar kita mendapatkan perspektif yang diperlukan. Pengetahuan yang objektif datang dengan sedapat mungkin memisahkan diri kita dalam jarak tertentu dari hal yang kita tekuni itu.

Cara kedua adalah cara seorang kudus. Kita sampai kepada pengetahuan tentang suatu hal dengan berpartisipasi dalam keberadaannya. Ini adalah cara kasih. Cara ini menuntut keterlibatan, komitmen dan perhatian serius. Dengan cara ini, kita tidak menjaga jarak atau memecah-mecah (memilah-milah) sesuatu menjadi bagian-bagian. Sebaliknya, kita berupaya untuk mempelajarinya secara utuh. Hal itu disebabkan karena secara keseluruhan dan utuh sesuatu itu menjadi lebih besar daripada penjumlahan dari bagian-bagiannya. Kita tidak berupaya untuk memperoleh pengetahuan lewat manipulasi atau analisis.  Kita menunjukkan rasa hormat kita guna memperkenankan sesuatu menunjukkan dirinya seperti apa adanya. Hal ini menuntut kesabaran. Pengetahuan yang diperoleh dengan kasih menciptakan atmosfir yang memperkenankan sesuatu mengungkapkan diri sendiri dan diterima sebagai apa adanya. Dengan kata lain: pengetahuan orang kudus yang penuh kasih tidak bersifat manipulatif.

Semua ini mungkin terdengar agak abstrak walaupun sebenarnya sangat konkret. Dua cara untuk memperoleh pengetahuan ini adalah bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Misalnya ada dua cara untuk mengetahui seorang sahabat atau anggota keluarga. Kita dapat mengetahui tentang mereka. Kita dapat mengetahui apa yang menyebabkan mereka hebat. Kita berdiam pada jarak tertentu dan mencoba memperhatikan bagaimana berbagai bagian mereka saling bekerja sama. Kita semua mengalami cara sedemikian untuk sampai kepada suatu pengetahuan tentang sesuatu. Namun selalu ada sebagian penting yang tidak pernah kita ketahui. Kita sendiri menolak menjadi objek cara-cara untuk mengetahui yang sedemikian. Kita merasa diri kita diperiksa. Kita merasa seperti suatu spesimen yang sedang diperiksa di bawah sebuah mikroskop.

Sebaliknya ada pengetahuan yang diungkapkan melalui kasih. Kita tidak berupaya untuk memanipulasi atau mengendalikan pihak lain. Kita memperkenankan pihak yang lain mengungkapkan dirinya sebagaimana apa adanya dia. Kasih menciptakan suatu suasana di mana pihak lain merasakan bahwa dia dapat dilihat sebagaimana apa dirinya dan tidak akan ditolak, dipermalukan, atau merasa tidak ada artinya. Kasih mencurahkan “rahmat penerimaan” atas relasi kemanusiaan. Dengan penerimaan itu kita sungguh menjadi diri kita sendiri. Relasi penuh kasih menghasilkan yang terbaik bagi manusia.

YESUS KRISTUS - 0000Semua yang di atas dapat dikatakan tentang relasi kita dengan Yesus Kristus juga. Kita dapat mengetahui banyak tentang Yesus. Kita dapat membaca (bahkan menulis) buku-buku dan mengikuti kursus-kursus mengenai teologi dan spiritualitas. Kita dapat mempelajari etika dan pewahyuan Kristiani. Pengetahuan kita tentang sejarah bisa saja membuat kita qualified untuk mengikuti berbagai kontes kecil-kecilan. Namun semua pengetahuan ini tidak menjamin bahwa kita akan mengenal Yesus seturut cara para kudus. Relasi kita dengan Yesus menuntut dari kita lebih daripada sekadar pengetahuan seorang teolog dan/atau filsuf. Hal ini bukan berarti ekspresi sikap anti-intelektualisme. Cintakasih kita kepada Allah dapat jauh diperkaya dengan pengetahuan dan studi intelektual. Namun, pengetahuan inteletual belaka tidak pernah akan cukup pada dirinya. Kita seharusnya menghasrati kedua macam pengetahuan agar mampu untuk sungguh-sungguh mengasihi Allah secara utuh sebagai seorang pribadi.

Surat Yohanes yang pertama mengindikasikan satu dari bahaya-bahaya yang disebabkan karena sekadar mempunyai pengetahuan tentang Allah. Ada anggota komunitas-komunitas yang mengklaim bahwa mereka “mengenal” Yesus. Akan tetapi, mereka tidak mematuhi perintah-perintah-Nya.  Yohanes menulis, “Siapa yang berkata, ‘Aku mengenal Dia,’ tetapi ia tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran. Tetapi siapa yang menuruti firman-Nya, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah; dengan itulah kita ketahui bahwa kita ada didalam Dia” (1Yoh 2:4-5). Ada ilusi bahwa seseorang yang mengetahui isi dari perintah-perintah-Nya sudahlah aman. Tidak ada lagi yang dituntut dari dirinya. Dalam hal ini ingatlah bahwa tidak ada kasih dan kejujuran yang sejati tanpa adanya suatu kemauan untuk mewujudkan sabda Allah ke dalam praktek iman. “Siapa yang mengatakan bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup” (1Yoh 2:6). Pengetahuan dan pengenalan akan Allah harus bergerak dari kepala ke pusat kehidupan seseorang.

Bacaan Injil hari ini menunjukkan bahwa sungguh tidak memadai apabila kita sekadar mengetahui banyak hal tentang Yesus. Pada saat kita mengalami stres dan rasa takut, maka pengetahuan tentang Yesus berperan sedikit saja sebagai pegangan, panduan dan dukungan. Kita menjadi panik dan mulai dibingungkan oleh kerancuan antara kehadiran riil Yesus dengan segala macam imaji dan cerita palsu. Injil mencatat: “Mereka terkejut dan takut dan menyangka bahwa mereka melihat hantu” (Luk 24:37). Hanya apabila relasi kita dengan Yesus didasarkan atas kasih yang sejati, maka pikiran kita dapat terbuka bagi Kitab Suci. Hanya apabila pengetahuan kita dimatangkan oleh kasih, maka kita pun dapat menjadi saksi-saksi dari kematian dan kebangkitan Yesus Kristus.

Agar supaya kita dapat bertumbuh dalam pengenalan akan Yesus yang didasarkan pada kasih, maka kita harus mengikuti khotbah Petrus di Serambi Salomo: “Karena itu sadarlah dan bertobatlah, supaya dosamu dihapuskan!”  (Kis 3:19). Tanpa reformasi sedemikian dan pengetahuan yang disempurnakan melalui kasih, maka kita melakukan segala hal yang bersifat destruktif dan tragis atas diri kita sendiri dan orang-orang lain. Yesus mengetahui hal ini, maka Dia berdoa menjelang kematian-Nya di atas kayu salib: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”  (Luk 23:34). Yesus mengetahui apa yang dilakukan-Nya karena pengetahuan dan pengenalan-Nya akan Bapa surgawi dan kita masing-masing adalah “kasih yang total”.

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat kami. Terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena dalam bacaan Kitab Suci hari ini – di bawah bimbingan Roh Kudus – kami diingatkan kembali, bahwa sekadar mengetahui tentang Allah Bapa dan Engkau dan Roh Kudus tidaklah cukup. Pengetahuan kami ternyata harus dimatangkan oleh kasih. Terpujilah Allah Tritunggal Mahakudus, Bapa dan Putera dan Roh Kudus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 24:35-48), bacalah tulisan yang berjudul “MENJADI SAKSI-SAKSI KRISTUS” (bacaan untuk tangga 19-4-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2015. 

Cilandak, 15 April 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

JANGAN TAKUT!

JANGAN TAKUT!

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Paskah – Sabtu, 18 April 2015) 

YESUS BERJALAN DI ATAS AIR - 600Ketika hari mulai malam, murid-murid Yesus pergi ke danau, lalu naik ke perahu dan menyeberang ke Kapernaum. Hari sudah gelap dan Yesus belum juga datang mendapatkan mereka, sementara laut bergelora karena tiupan angin kencang. Sesudah mereka mendayung kira-kira lima atau enam kilometer jauhnya, mereka melihat Yesus berjalan di atas air mendekati perahu itu. Mereka pun ketakutan. Tetapi Ia berkata kepada mereka, “Inilah Aku, jangan takut!” Karena itu, mereka mau menaikkan Dia ke dalam perahu, dan seketika itu juga perahu itu sampai ke pantai yang mereka tuju. (Yoh 6:16-21) 

Bacaan Pertama: Kis 6:1-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:1-2,4-5,18-19 

Selagi Yesus mendekati perahu para murid sambil berjalan di atas air, Ia berkata, “Inilah Aku, jangan  takut!”  (Yoh 6:20). Begitu sering Tuhan berkata kepada umat-Nya, “Jangan takut! Aku selalu besertamu!” Lebih dari 300 kali dalam keseluruhan Kitab Suci kita mendengar pesan tersebut dari Allah: “Jangan takut!” Karena Aku besertamu; Aku, Tuhan, akan menyelamatkan engkau! Jangan takut: ini Tuhan.”

Dalam kehidupan Yesus, Tuhan dapat dikenali lewat kata-kata ini. Malaikat Gabriel berkata kepada Maria, “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh anugerah di hadapan Allah” (Luk 1:30). Malaikat Tuhan tampak kepada Yusuf dalam mimpi dan berkata, “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai istrimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus” (Mat 1:20). Ketika para gembala datang untuk menyembah Anak Allah yang baru lahir, barangkali mereka mengatakan kepada Maria dan Yusuf apa yang dikatakan malaikat kepada mereka sebelumnya: “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan kain lampin dan terbaring di dalam palungan” (Luk 2:10-12). Kita dapat membayangkan bahwa ketika mereka memberitahukan kepada Maria dan Yusuf apa yang dikatakan malaikat kepada mereka, pasutri kudus itu mengangguk setuju. Ya, memang itulah Tuhan yang berbicara! Dia selalu memulai percakapan dengan ungkapan sedemikian!

Pada akhir kehidupan-Nya di atas bumi, pada hari kebangkitan-Nya yang penuh kemuliaan, para perempuan kudus pergi ke kubur-Nya, seorang malaikat berkata kepada mereka, “Janganlah kamu takut; sebab aku tahu mencari Yesus yang disalibkan itu. Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit, sama seperti yang telah dikatakan-Nya ……” Mereka segera pergi dari kubur itu, dengan takut dan dengan sukacita yang besar dan berlari cepat-cepat untuk memberitahukan kepada murid-murid Yesus. Tiba-tiba Yesus menjumpai mereka dan berkata, “Salam bagimu”. Mereka mendekati-Nya dan memeluk kaki-Nya serta menyembah-Nya. Lalu kata Yesus kepada mereka, “Jangan takut. Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku, supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku” (Mat 28:1-10).

YESUS KRISTUS - 11Betapa sering Tuhan merasa perlu untuk mengingatkan kita, “Jangan takut. Percayalah kepada-Ku. Apakah ada seseorang di seluruh bumi mengasihi Engkau lebih dari Tuhan sendiri?” Dalam Kitab Yesaya kita dapat membaca: “Sion berkata: ‘TUHAN (YHWH) telah meninggalkan aku dan Tuhanku telah melupakan aku.’ Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau. Lihat, Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku; tembok-tembokmu tetap di ruang mata-Ku” (Yes 49:14-16). Ini adalah sebuah gambaran yang lemah lembut dan indah dari kasih Allah kepada manusia yang tidak pernah dibatalkan oleh-Nya.

Akan tetapi, rasa percaya kita kepada-Nya sungguhlah kecil! Matius dan Markus dalam menggambarkan adegan Yesus berjalan di atas air, menceritakan kepada kita betapa terkesannya Petrus melihat Yesus berjalan di atas air di tengah badai yang sedang mengamuk. Petrus berseru kepada Yesus: “Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air.” Kata Yesus, “Datanglah!” Petrus kemudian turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus. Namun ketika dirasanya tiupan angin, takutlah Petrus dan mulai tenggelam. Petrus berseru: “Tuhan, tolonglah aku!” Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata, “Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang? (baca: Mat 14:22-33; Mrk 6:45-52).

DOA: Tuhan Yesus, kami percaya bahwa Engkau adalah Imanuel yang senantiasa mendampingi kami dan siap menolong kami. Engkau selalu mengingatkan kami untuk tidak menjadi takut dalam menghadapi berbagai situasi kehidupan ini. Tuhan, tolonglah kami yang seringkali tidak/kurang percaya kepada-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 6:16-21), bacalah tulisan yang berjudul “ALLAH SENANTIASA MENYERTAI KITA” (bacaan tanggal 18-4-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2015. 

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 6:1-7), bacalah tulisan yang berjudul “PENGANGKATAN TUJUH ORANG DIAKON YANG PERTAMA” (bacaan tanggal 7-5-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 14 April 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ROTI DAN IKAN KITA

ROTI DAN IKAN KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Paskah – Jumat, 17 April 2015) 

MUKJIZAT - YESUS MEMBERI MAKAN 5000 ORANGSesudah itu Yesus berangkat ke seberang Danau Galilea, yaitu Danau Tiberias. Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia, karena mereka melihat mukjizat-mukjizat yang diadakan-Nya terhadap orang-orang sakit. Lalu Yesus naik ke atas gunung dan duduk di situ dengan murid-murid-Nya. Dan Paskah, hari raya orang Yahudi, sudah dekat. Ketika Yesus memandang sekeliling-Nya dan melihat bahwa orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya, berkatalah Ia kepada Filipus, “Di mana kita dapat membeli roti, supaya mereka dapat makan?” Hal itu dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab Ia sendiri tahu apa yang hendak dilakukan-Nya. Jawab Filipus kepada-Nya, “Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja.” Salah seorang dari murid-murid-Nya, yaitu Andreas, saudara Simon Petrus, berkata kepada-Nya, Di sini ada seorang anak yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apa artinya itu untuk orang sebanyak ini?” Kata Yesus, “Suruhlah orang-orang itu duduk.” Adapun di tempat itu banyak rumput. Lalu duduklah orang-orang itu, kira-kira lima ribu laki-laki banyaknya. Sesudah itu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dilakukan-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki. Setelah mereka kenyang Ia berkata kepada murid-murid-Nya, “Kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih supaya tidak ada yang terbuang.” Mereka pun mengumpulkannya, dan mengisi dua belas bakul penuh dengan potongan-potongan dari kelima roti jelai yang lebih setelah orang makan. Ketika orang-orang itu melihat tanda mukjizat yang telah diperbuat-Nya, mereka berkata, “Dia ini benar-benar nabi yang akan datang ke dalam dunia.”

Karena Yesus tahu bahwa mereka hendak datang dan hendak membawa Dia dengan paksa untuk menjadikan Dia raja, Ia menyingkir lagi ke gunung, seorang diri. (Yoh 6:1-15) 

Bacaan Pertama: Kis 5:34-42; Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1,4,13-14 

Mukjizat penggandaan roti dan ikan oleh Yesus tentunya merupakan peristiwa yang impresif bagi orang banyak yang hadir. Besarlah janji Yesus yang diperkenalkan oleh peristiwa itu. Namun hari ini baiklah kita pada hari ini menggumuli sebuah elemen yang lain dari peristiwa tersebut. Pernahkah kita berpikir tentang keterlibatan seorang anak yang membawa lima roti jelai dan dua ikan? Perhatikanlah dia. Anak itu telah membawa makanan siangnya dalam bungkusan. Ia telah membawa-bawa bungkusan tersebut ke sana ke mari sepanjang hari. Roti jelai yang dimaksud barangkali sudah tidak kelihatan segar dan ikan-ikannya pun kemungkinan sudah mulai berbau. Makanan siangnya kiranya sudah acak-acakan dan tidak menarik pada waktu itu.

Akan tetapi Yesus menerima makanan siang anak tersebut. Yesus mengambil roti dan ikan dari anak itu dan berterima kasih kepadanya. Sebagaimana terjadi dengan anak itu, kita (anda dan saya) suka membawa hidup kita yang sedang acak-acakan ke sana ke mari – sedikit iman dan pengharapan, sedikit upaya, tidak mengesankan. Acak-acakan dalam diri kita sudah mulai “berbau” tidak baik, namun Yesus tetap menerima kita; jika kita mempersembahkan kepada-Nya apa yang kita miliki dan melihat apa yang Ia dapat lakukan dengan diri kita.

Jesus feeds five thousandSekarang, perhatikanlah apa yang dilakukan oleh Yesus: Ia mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dilakukan-Nya dengan ikan-ikan itu … dan orang-orang makan sampai kenyang. Setelah sisa makanan dikumpulkan ternyata masih ada sisa sebanyak 12 bakul (Yoh 6:11-13). Bayangkanlah kebahagiaan yang timbul dalam diri anak itu setelah menyaksikan peristiwa mukjizat penggandaan roti dan ikan oleh Yesus.  Tentu saja anak itu harus menaruh kepercayaannya pada Yesus. Ia harus percaya kepada kebaikan dan kuat-kuasa Yesus. Imannya tetap dibutuhkan.

Yesus yang sama mampu dan ingin untuk menggunakan apa yang kita persembahkan kepada-Nya. Kadang-kadang memang Ia harus menggoncang diri kita dulu sebelum membuat diri kita menjadi orang Kristiani yang ingin mengikuti jejak-Nya dengan tulus hati. Namun apabila kita memperkenankan Yesus untuk melakukan hal seperti itu terhadap diri kita, jika kita menaruh kepercayaan kepada-Nya untuk membawa kita dan apa yang kita miliki, maka selalu akan ada sisa-sisa yang berlimpah: 12 bakul dari sedikit sekali apa yang kita punya.

Kita harus akui, bahwa apa dan siapa pun kita, sesungguhnya kita tidak mempunyai apa pun yang cukup berarti untuk dipersembahkan kepada Allah. Seringkali kita mempunyai sedikit saja untuk dipersembahkan selain kesombongan bodoh kita, kesalahan-kesalahan tolol kita, rasa takut kita dan berbagai masalah kita, namun lagi-lagi Yesus mau menerima semua itu. Jika Yesus mengambil dosa-dosa kita dan menanggung semuanya itu sendiri, maka pasti Dia akan mengambil dan menerima apa saja yang kita percayakan ke dalam tangan-tangan kasih-Nya.

Tentu saja kita harus mempersembahkan kepada-Nya lebih daripada sekadar hal-hal buruk yang kita punya. Bagaimana dengan hal-hal yang baik? Talenta-talenta kita, sukacita kita, orang-orang yang kita kasihi, pekerjaan kita, waktu kita. Bacaan Injil hari ini akan menceritakan kepada kita apa yang dapat menjadi ekspektasi kita – lebih daripada yang pernah kita mimpikan sebelumnya.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau tidak pernah bersikap dan bertindak murahan dengan kami. Engkau membayar kembali seratus kali lipat hal kecil yang kami persembahkan kepada-Mu. Terpujilah nama-Mu selalu, ya Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 5:34-42), bacalah tulisan yang berjudul “KUAT-KUASA NAMA YESUS” (bacaan tanggal 17-4-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2015. 

Cilandak, 14 April 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KITA JUGA DIPANGGIL UNTUK MENJADI SAKSI-SAKSI KRISTUS

KITA JUGA DIPANGGIL UNTUK MENJADI SAKSI-SAKSI KRISTUS

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Paskah – Kamis, 16 April 2015) 

YESUS DI GEREJA ORTODOX SIRIASiapa yang datang dari atas adalah di atas semuanya; siapa yang berasal dari bumi, termasuk pada bumi dan berkata-kata tentang hal-hal di bumi. Siapa yang datang dari surga adalah di atas semuanya. Ia bersaksi tentang apa yang dilihat-Nya dan yang didengar-Nya, tetapi tidak seorang pun yang menerima kesaksian-Nya itu. Siapa yang menerima kesaksian-Nya itu, ia mengaku bahwa Allah adalah benar. Sebab siapa yang diutus Allah, Dialah yang menyampaikan firman Allah, karena Allah mengaruniakan Roh-Nya dengan tidak terbatas. Bapa mengasihi Anak dan telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya. Siapa saja yang percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi siapa saja yang tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap tinggal di atasnya.” (Yoh 3:31-36) 

Bacaan Pertama: Kis 5:27-33; Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2-9,17-20 

“… siapa yang diutus Allah, Dialah yang menyampaikan firman Allah, karena Allah mengaruniakan Roh-Nya dengan tidak terbatas”  (Yoh 3:34).

Budaya populer seakan merupakan hakim yang bersikap skeptis apabila orang berbicara mengenai agama. Walaupun begitu, hakim yang skeptis sekali pun dapat terbuai oleh kesaksian seorang saksi ahli. Katakanlah pada awalnya hakim itu memandang kesaksian sang ahli dengan keragu-raguan, namun pada akhirnya dia menyerah juga pada kenyataan bahwa saksi ahli tersebut sungguh menguasai masalahnya.

Sebagai umat Kristiani kita dipanggil untuk menjadi saksi-saksi ahli juga …… untuk Yesus! Allah mengutus kita ke tengah dunia untuk memberikan bukti yang akan menghanyutkan “para hakim” dalam masyarakat kita, dan kemudian memimpin mereka kepada Yesus. Bagaimana seharusnya kita menanggapi tantangan ini? Untuk itu, baiklah kita senantiasa mengingat ayat-ayat Kitab Suci yang menyatakan jantung dari iman-kepercayaan kita, misalnya Yoh 3:16 atau Mrk 10:45.

Kita harus sungguh mengenal dan menghayati ajaran-ajaran alkitabiah mengenai isu-isu kunci seperti kehidupan kekal, kasih Allah, dan makna salib Kristus. Yang lebih penting lagi adalah bahwa kita harus mendukung apa yang kita katakan dengan mencoba secara serius untuk hidup sebagai seorang murid-Nya setiap hari. Ingatlah: “Actions really do speak louder than words”, …… jangan “omdo” atau “nato”!

Selagi kita (anda dan saya) membangun persahabatan dengan orang-orang, maka kita akan menemukan pintu-pintu yang terbuka bagi kita untuk memberi kesaksian tentang Yesus juga. Dalam hal seperti itu kita dapat memperoleh suatu kesempatan untuk syering potongan bacaan Kitab Suci yang sangat berarti bagi kita, atau syering sebuah cerita tentang bagaimana kita merasa terhibur oleh Dia pada situasi yang sulit dalam hidup kita. Bijaksanalah kita untuk senantiasa mempersiapkan diri bagi kesempatan-kesempatan sedemikian.

Misalnya, kita ingin mempunyai sebuah jawaban yang siap untuk menanggapi pertanyaan-pertanyaan yang biasa ditanyakan tentang iman-kepercayaan kita. Lalu, jika seseorang bertanya kepada kita, “Apakah yang anda percayai tentang Allah?”, maka kita akan mampu menanggapi pertanyaan tersebut dengan sejumlah pernyataan yang jelas tentang kasih Allah bagi setiap orang dan tentang keputusan-Nya untuk mengutus Anak-Nya ke tengah dunia guna mendamaikan kita dengan Dia dan membuka jalan kita ke surga.

Yesus adalah saksi Allah yang tertinggi karena Dia mengenal Allah secara intim dan mempunyai Roh Kudus sebagai tali kasih-Nya dengan Bapa (lihat Yoh 3:31-32,34). Sekarang Ia memberikan kepada kita Roh-Nya tersebut sehingga kita pun dapat memberi kesaksian tentang kasih Allah.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau telah berjanji bahwa Engkau akan mengutus Roh-Mu – yaitu Roh Kebenaran – yang  akan bersaksi kepada kami tentang Engkau. Namun Engkau juga meminta kami untuk menjadi saksi-saksi-Mu. Bukalah hati dan pikiran kami lebar-lebar agar dapat memahami isi Kitab Suci dan berbicara secara efektif tentang diri-Mu dan misi-Mu kepada orang-orang yang kami jumpai. Terpujilah nama-Mu selalu, ya Tuhan Yesus. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 5:27-33), bacalah tulisan yang berjudul “ALLAH SANGAT BERKEINGINAN UNTUK MENGAMPUNI KITA” (bacaan tanggal 16-4-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2015. 

Cilandak, 14 April 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KASIH ALLAH, BAPA KITA

KASIH ALLAH, BAPA KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Paskah – Rabu, 15 April 2015) 

Nicodemus009

Karena Allah begitu mengasihi dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan supaya dunia diselamatkan melalui Dia. Siapa saja yang percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; siapa saja yang tidak percaya, ia telah berada  di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah. Inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan daripada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat. Sebab siapa saja yang berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak tampak; tetapi siapa saja yang melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah.” (Yoh 3:16-21) 

Bacaan Pertama: Kis 5:17-26; Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2-9 

“… Allah begitu mengasihi dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal” (Yoh 3:16). “Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal, sebab itu Aku melanjutkan kasih setia-Ku kepadamu” (Yer 31:3). “Air yang banyak tak dapat memadamkan cinta, sungai-sungai tak dapat melanjutkannya. Tidak ada suara di dalam dunia, tidak ada kata dalam alam semesta yang lebih dekat daripada Cinta atau Kasih.

Kasih adalah sepatah kata yang sangat kuat, sepatah kata yang mempesona ketimbang kilat yang sambar-menyambar, sepatah kata dengan lebih banyak makna daripada semua buku yang pernah ditulis, sepatah kata yang selamanya berasal dari bibir Allah.

Kita mendengar kata-kata bernada sedih dari Yesus yang diucapkan-Nya berkenan dengan “semakin mendinginnya kasih” pada hari-hari ketika orang-orang akan melupakan  perjuangan-Nya (Bait Allah akan diruntuhkan): “Kamu melihat semuanya itu? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, tidak satu batu pun di sini akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain; semuanya akan diruntuhkan” (Mat 24:2).

Kita juga membaca dalam salah satu surat Santo Paulus: “Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing” (1Kor 13:1). Dalam bab 13 surat Santo Paulus ini, “kasih” digambarkan seorang pribadi yang tak mampu mati, menderita/menahan segala sesuatu, percaya segala sesuatu. Sebagai pembaca surat tersebut, kita diperingatkan bahwa tanpa kasih segalanya akan sia-sia; bahwa tidak artinya menjadi seorang martir kalau kita tidak mempunyai kasih (1Kor 13:3); bahwa kasih itu sabar dan baik hati dst. (1Kor 13:4 dsj.). Dengan perkataan lain di sini Paulus mau mengatakan bahwa kasih adalah Allah sendiri.

Santo Yohanes menulis, “Allah adalah kasih, dan siapa yang tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia”  (1Yoh 4:16). Benarlah sang pemazmur ketika dia berkata: “… bumi penuh dengan kasih setia TUHAN (YHWH)”  (Mzm 33:5).

DOA: Bapa surgawi, kami berterima kasih penuh syukur kepada-Mu karena Engkau telah mengutus Putera-Mu yang tunggal ke tengah dunia. Melalui Putera-Mu ini, Engkau telah memberikan kepada kami akses ke surga dan menyambut kami ke dalam hidup kekal bersama-Mu – walaupun kami pantas dihukum karena dosa-dosa dan pemberontakaan kami. Siapakah kami, ya Allah yang baik, sehingga Engkau begitu berbelas kasih kepada kami? Ya Tuhan dan Allah kami, kobarkanlah kerinduan kami untuk hidup dalam hadirat-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 3:16-21), bacalah tulisan yang  berjudul “ALLAH, BAPA YANG SANGAT MENGASIHI KITA” (bacaan tanggal 15-4-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2015. 

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 5:17-26), bacalah tulisan berjudul “KALAU KUAT-KUASA ROH KUDUS ADA DALAM DIRI KITA, MAKA ……” (bacaan tanggal 4-5-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

Cilandak, 13 April 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

GERAKAN TURUN-NAIK ANAK ALLAH

GERAKAN TURUN-NAIK ANAK ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Paskah – Selasa, 14 April 2015)

chua-giesu-noi-chuyen-voi-ong-nicodemo
Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali. Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh.” Kata Nikodemus kepada-Nya, “Bagaimanakah mungkin hal itu terjadi?” Jawab Yesus, “Engkau guru orang Israel, dan engkau tidak mengerti hal-hal itu? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, kami berkata-kata tentang apa yang kami ketahui dan kami bersaksi tentang apa yang kami lihat, tetapi kamu tidak menerima kesaksian kami. Kamu tidak percaya, waktu Aku berkata-kata kepadamu tentang hal-hal duniawi, bagaimana kamu akan percaya, kalau Aku berkata-kata kepadamu tentang hal-hal surgawi? Tidak ada seorang pun yang telah naik ke surga selain dia yang telah turun dari surga, yaitu Anak Manusia.

Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal. (Yoh 3:7-15) 

Bacaan Pertama: Kis 4:32-37; Mazmur Tanggapan: Mzm 93: 1-2,5  

“Tidak ada seorang pun yang telah naik ke surga selain dia yang telah turun dari surga, yaitu Anak Manusia” (Yoh 3:13).

Injil Yohanes – seperti juga tulisan-tulisan lain dalam Perjanjian Baru – jelas ditulis dalam terang kebangkitan Kristus atau dengan kata lain “dalam terang Paskah”. Setiap hal yang dikatakan tentang Yesus, dan juga setiap hal yang dikatakan oleh Yesus harus dipahami dalam terang itu.

Untuk membuat acuan kepada “peninggian” Anak  Manusia menjadi lebih jelas, Yohanes menunjuk kepada lambang/simbol standar berkenan dengan keselamatan/ penyelamatan, yaitu “ular tembaga” di padang gurun dalam Kitab Bilangan. Dalam kitab tersebut terdapat catatan sebagai berikut:

Maka berfirmanlah TUHAN (YHWH) kepada Musa: “Buatlah ular tedung dan taruhlah itu pada sebuah tiang; maka setiap orang yang terpagut, jika ia melihatnya, akan tetap hidup.” Lalu Musa membuat ular tembaga dan menaruhnya pada sebuah tiang; maka jika seseorang dipagut ular, dan ia memandang kepada ular tembaga itu, tetaplah ia hidup.

Dengan mengambil peristiwa di padang gurun dalam rangka “keluaran” orang-orang Yahudi dari perbudakan Mesir menuju tanah terjanji serta menerapkan peristiwa tersebut pada Anak Manusia, maka Yohanes memberikan suatu dimensi yang hampir samasekali baru pada bagian akhir dari prolog Injilnya yang berbunyi: “Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya” (Yoh 1:18).

MUSA DALAN ULAR TEMBAGA - BIL 21Kemudian Yesus melanjutkan penjelasan-Nya kepada Nikodemus: “Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan …” (Yoh 3:14). Seperti telah kita ketahui, peninggian Anak Manusia mengacu kepada peristiwa penyaliban yang dalam Injil Yohanes merupakan bagian integral dari peristiwa “peninggian dan pemuliaan” Yesus Kristus. Peristiwa ini mencakup “salib” yang tidak kurang daripada “kebangkitan”, “kenaikan ke surga dan duduk di sebelah kanan Allah Bapa”, dan juga Pentakosta (lihat Yoh 8:28;12:32). 

Tujuan dari gerakan turun-naik Anak Manusia adalah “supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal” (Yoh 3:15). Jadi, maksud dan tujuan inkarnasi-Nya: “Firman telah menjadi manusia” atau “Sabda menjadi daging”(Yoh 1:14) menyangkut hidup, kematian, kebangkitan dan peninggian Yesus dari Nazaret, sebenarnya sederhana saja, yaitu memberikan “hidup kekal” kepada orang-orang yang percaya kepada-Nya. Pertanyaan mendasar yang diajukan oleh Yesus pada bagian awal Injil Yohanes: “Apa yang kamu cari?” (Yoh 1:38) sungguh penting dalam hal kemuridan kita. Maka jawaban yang tepat dari kita para murid-Nya kepada Yesus adalah “kehidupan kekal”. Siapa saja yang mencari Yesus, siapa saja yang menghadap Dia, haruslah mempunyai “kehidupan kekal” sebagai satu-satunya tujuan. Kalau kita (anda dan saya) ingin mencari hal-hal selain “kehidupan kekal”, maka kita dapat mencarinya di tempat-tempat lain dengan risiko kehilangan kesempatan untuk memperoleh hidup yang kekal tersebut.

Itulah sebabnya mengapa Yohanes melanjutkan uraian tentang “hidup kekal” ini. Pada akhir dari bab 3, tercatat Yesus bersabda: “Siapa saja yang percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal, tetapi siapa saja yang tidak taat kepada Anak, ia tidak akan melihat hidup, melainkan murka Allah tetap tinggal di atasnya” (Yoh 3:36). Jadi, percaya kepada Yesus, Tuhan dan Juruselamat kita! 

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Terima kasih penuh syukur kusampaikan kepada-Mu, karena Engkau mengingatkan diriku bahwa “hidup yang kekal” adalah seharusnya merupakan maksud-tujuan mengapa aku mengikuti jejak-Mu sebagai seorang murid. Bukalah telingaku agar dapat mendengar suara-Mu. Tolonglah aku agar dapat mendengar suara-Mu lewat pembacaan Kitab Suci, dalam Misa Kudus, dan selagi aku menjalani hidupku sehari-hari di tengah dunia ini. Aku sungguh ingin mengetahui kehendak-Mu dalam setiap situasi yang kuhadapi. Terpujilah nama-Mu selama-lamanya, ya Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 3:7-15), bacalah tulisan yang berjudul “KAMU HARUS DILAHIRKAN KEMBALI” (bacaan tanggal 14-4-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2015. 

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Kis 4:32-37), bacalah tulisan yang berjudul “SEHATI DAN SEJIWA” (bacaan tanggal 17-4-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

Cilandak, 12 April 2015 [HARI MINGGU PASKAH II – MINGGU KERAHIMAN ILAHI] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 143 other followers