LAGI-LAGI ALLAH MEMBUKTIKAN BAHWA SEGALANYA MUNGKIN BAGI-NYA

LAGI-LAGI ALLAH MEMBUKTIKAN BAHWA SEGALANYA MUNGKIN BAGI-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Rabu, 19 Desember 2018)

Pada zaman Herodes, raja Yudea, ada seorang imam yang bernama Zakharia dari rombongan Abia. Istrinya juga berasal dari keturunan Harun, namanya Elisabet. Keduanya hidup benar di hadapan Allah dan menuruti segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak bercacat. Tetapi mereka tidak mempunyai anak, sebab Elisabet mandul dan keduanya telah lanjut umurnya.

Pada suatu kali, waktu tiba giliran kelompoknya, Zakharia melakukan tugas keimaman di hadapan Tuhan. Sebab ketika diundi, sebagaimana lazimnya, untuk menentukan imam yang bertugas, dialah yang ditunjuk untuk masuk  ke dalam Bait Suci dan membakar dupa di situ. Pada waktu pembakaran dupa, seluruh umat berkumpul di luar dan sembahyang. Lalu tampaklah kepada Zakharia seorang malaikat Tuhan berdiri di sebelah kanan mezbah pembakaran dupa. Melihat hal itu ia terkejut dan menjadi takut. Tetapi malaikat itu berkata kepadanya, “Jangan takut, hai Zakharia, sebab doamu telah dikabulkan. Elisabet, istrimu, akan melahirkan seorang anak laki-laki bagimu dan haruslah engkau menamai dia Yohanes. Engkau akan bersukacita dan bergembira, bahkan banyak orang akan bersukacita atas kelahirannya itu. Sebab ia akan besar di hadapan Tuhan dan dia tidak akan minum anggur atau minuman keras dan ia akan penuh dengan Roh Kudus sejak dari rahim ibunya dan ia akan membuat banyak orang Israel berbalik kepada Tuhan, Allah mereka. Ia akan berjalan mendahului Tuhan dalam roh dan kuasa Elia untuk membuat hati para bapak berbalik kepada anak-anaknya dan hati orang-orang durhaka kepada pikiran orang-orang benar. Dengan demikian ia menyiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagi-Nya.” Lalu kata Zakharia kepada malaikat itu, “Bagaimanakah aku tahu bahwa hal ini akan terjadi? Sebab aku sudah tua dan istriku sudah lanjut umurnya.” Jawab malaikat itu kepadanya, “Akulah Gabriel yang melayani Allah dan aku telah diutus untuk berbicara kepadamu untuk menyampaikan kabar baik ini kepadamu. Sesungguhnya engkau akan menjadi bisu dan tidak dapat berkata-kata sampai hari ketika semuanya ini terjadi, karena engkau tidak percaya kepada perkataanku yang akan dipenuhi pada waktunya.” Sementara itu orang banyak menanti-nantikan Zakharia. Mereka menjadi heran bahwa ia begitu lama berada dalam Bait Suci. Ketika ia keluar, ia tidak dapat berkata-kata kepada mereka dan mengertilah mereka bahwa ia telah melihat suatu penglihatan di dalam Bait Suci. Lalu ia memberi isyarat kepada mereka, dan ia tetap bisu. Ketika selesai masa pelayanannya, ia pulang ke rumah.

Beberapa lama kemudian Elisabet, istrinya, mengandung dan selama lima bulan ia tidak menampakkan diri, katanya, “Inilah suatu perbuatan Tuhan bagiku, dan sekarang Ia berkenan menghapuskan aibku di depan orang.” (Luk 1:5-25)

Bacaan Pertama: Hak 13:2-7.24-25; Mazmur Tanggapan: Mzm 71:5-6,16-17

Pada saat Zakharia mendengar malaikat agung Gabriel memberitahukan kepadanya tentang janji Allah baginya untuk memberinya seorang anak laki-laki, dia meminta bukti bagaimana kiranya hal itu akan menjadi kenyataan karena dia dan istrinya – Elisabet – sudah tua. Karena ketiadaan imannya, Zakharia dibuat menjadi bisu sampai janji itu dipenuhi. Sembilan bulan kemudian, Allah menganugerahi Zakharia dan Elisabet seorang anak laki-laki. Dalam hal ini Allah lagi-lagi melakukan pekerjaan ajaib seperti yang telah dilakukan-Nya atas diri para pasutri lainnya dalam Kitab Suci: Abraham dan Sara (Kej 18:9-10;21:1-2), Elkana dan Hana (1Sam 1:2,19-20), dan Manoa dan istrinya (Hak 13:2,24). Ketika bayi dalam kandungan Elisabet berumur 6 bulan, kepada seorang perawan di Nazaret malaikat agung Gabriel membuat pernyataan: “Bagi Allah tidak ada yang mustahil” (Luk 1:37).

Jadi, untuk kesekian kalinya Tuhan membuktikan bahwa segalanya mungkin bagi-Nya. Ketika Sara tertawa mendengar bahwa kepadanya dijanjikan seorang anak laki-laki, Allah berkata kepada Abraham: “Adakah sesuatu apapun yang mustahil untuk TUHAN (YHWH)?” (Kej 18:14). Iman Abraham akan janji Allah tidak pernah menyusut. Ia “berkeyakinan penuh bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan” (Rm 4:21).

Pada waktu YHWH menyatakan diri-Nya kepada Ayub, ia juga diyakinkan akan kuat-kuasa Allah, sehingga dia menyatakan: “Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal” (Ayb 42:2). Dalam sebuah doanya, nabi Yeremia tercatat mengatakan: “Ah Tuhan ALLAH! Sesungguhnya, Engkaulah yang telah menjadikan langit dan bumi dengan kekuatan-Mu yang besar dan dengan lengan-Mu yang terentang. Tiada suatu apapun yang mustahil untuki-Mu!” (Yer 32:17). YHWH menanggapi doa yang cukup panjang dari Yeremia itu dan mengawali sabda-Nya sebagai berikut: “Sesungguhnya, Akulah YHWH, Allah segala makhluk; adakah sesuatu apapun yang mustahil untuk-Ku?” (Yer 32:27).

“Kemustahilan” tertinggi diwujudkan oleh Allah melalui Putera-Nya. Yesus dilahirkan dari seorang perempuan, walaupun Ia adalah Allah; Ia menderita sengsara dan mati karena cintakasih-Nya kepada kita walaupun kita – manusia – menolak-Nya. Ia bangkit dari antara orang mati, menghancurkan kuasa dosa, Iblis dan dunia; dan Ia membuat kita menjadi anak-anak Allah, para pewaris kehidupan kekal bersama-Nya.

Karena Allah telah mengerjakan segala sesuatu yang “mustahil” di mata manusia melalui Yesus (misalnya membuat mukjizat penyembuhan dan tanda-tanda heran lainnya seperti menghidupkan kembali orang yang sudah mati), maka kita harus percaya bahwa pada masa Adven ini pun Yesus Kristus akan melakukan “kemustahilan” dalam kehidupan kita dan keluarga kita. Ingatlah, bahwa “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamnya” (Ibr 13:8). Barangkali kita sedang menghadapi masalah perpecahan dalam keluarga, memerlukan penyembuhan atas salah seorang anggota keluarga yang sedang menderita sakit, memerlukan solusi untuk mengatasi masalah keuangan yang menindih, mencari pekerjaan atau merestorasi perdamaian antara pihak-pihak yang bersengketa dalam keluarga dlsb. Kita sungguh membutuhkan iman bahwa Allah dapat melakukan segala hal dalam kehidupan kita yang kita pandang sebagai “kemustahilan”.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, aku percaya bahwa semua hal mungkin bagi-Mu dan Engkau dapat melakukan “kemustahilan” dalam hidupku. Tolonglah aku agar dapat sungguh percaya bahwa kehendak-Mu atas diriku dapat terjadi. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 1:5-25), bacalah tulisan yang berjudul “BAGAIMANA TANGGAPAN KITA SECARA ROHANIAH TERHADAP KELAHIRAN PUTERA ALLAH?” (bacaan untuk tanggal 19-12-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 17 Desember 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

TUNAS DAUD YANG ADIL ADALAH YESUS KRISTUS

TUNAS DAUD YANG ADIL ADALAH YESUS KRISTUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Selasa, 18 Desember 2018)

Sesungguhnya, waktunya akan datang, demikianlah firman TUHAN (YHWH), bahwa Aku akan menumbuhkan Tunas adil bagi Daud. Ia akan memerintah sebagai raja yang bijaksana dan akan melakukan keadilan dan kebenaran di negeri. Dalam zamannya Yehuda akan dibebaskan, dan Israel akan hidup dengan tenteram; dan inilah namanya yang diberikan orang kepadanya: YHWH – keadilan kita.

Sebab itu, demikianlah firman YHWH, sesungguhnya, waktunya akan datang, bahwa orang tidak lagi mengatakan: Demi YHWH yang hidup yang menuntun orang Israel keluar dari tanah Mesir!, melainkan; Demi YHWH yang hidup yang menuntun dan membawa pulang keturunan kaum Israel keluar dari tanah utara dan dari segala negeri ke mana Ia telah menceraiberraikan mereka!, maka mereka akan tinggal di tanahnya sendiri (Yer 23:5-8). 

Mazmur Tanggapan: Mzm 72:2,12-13,18-19; Bacaan Injil: Mat 1:18-24 

Injil Lukas mengungkapkan kepada kita, bahwa ketika Yesus dilahirkan, para malaikat bersukacita dan bernyanyi memuji-muji Allah: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya” (Luk 2:14). Apa sebabnya? Karena bala tentara surga yang banyak itu melihat bahwa rencana penyelamatan Allah berbuah menjadi sebuah kenyataan. Dalam misteri inkarnasi Yesus (Sabda menjadi daging atau Firman telah menjadi manusia [Yoh 1:14]), Kerajaan Allah turun ke bumi membawa bagi kita pengampunan dan menarik kita ke dalam persatuan dengan Bapa surgawi.

Dengan cara yang serupa, bacaan pertama hari ini yang diambil dari Kitab Yeremia mengarahkan perhatian kita pada hal-hal indah yang dicapai Yesus dengan kedatangan-Nya ke tengah-tengah dunia. Melalui mulut nabi Yeremia, Allah menjanjikan kedatangan satu hari di mana umat-Nya akan mendeklarasikan, “TUHAN (YHWH) – keadilan kita” (Yer 23:6). Yesus rela tidak hanya untuk dilahirkan di sebuah gua atau kandang hewan yang hina bagi kita manusia, melainkan juga untuk menyerahkan hidup-Nya di atas kayu salib bagi kita. Dengan  mengambil kodrat insani, Dia mengalami kematian seorang manusia demi kita agar dengan demikian mematahkan cengkeraman kejahatan (tepatnya: si Jahat) yang selama ini menguasai kita. Dia yang adalah “keadilan kita”, menderita kematian sebagai seorang pendosa, agar dapat membuat kita – para pendosa – menjadi orang-orang benar. Ia telah menjadi kebenaran dan keadilan kita. Jalan-Nya adalah jalan perendahan atau jalan kedinaan!

Kita seringkali berpikir, bahwa tergantung pada diri kita sendirilah untuk membuat diri kita benar dan dapat diterima oleh Allah. Namun Allah telah menempatkan diri kita dekat pada-Nya. Dia telah memberikan kepada kita kebenaran-Nya melalui kematian Putera-Nya yang tunggal, Yesus Kristus. Oleh karena salib Kristus, kita tidak lagi terikat kepada kodrat kita yang cenderung untuk jatuh ke dalam dosa. Yesus, sang Adam baru telah membuat suatu kodrat yang baru bagi kita. Kematian-Nya dan kebangkitan-Nya mentransformasikan kita. Yesus adalah sang “TUNAS ADIL”  (Yer 23:5), “Yang Mahakudus, Allah Israel” (Yes 48:17). Dia adalah kepenuhan dari setiap janji Allah yang telah dibuat-Nya dengan umat-Nya.

Allah tidak ingin kita memperoleh keselamatan kita sekali lagi lewat upaya kita sendiri. Dia ingin agar kita menerima keselamatan baru yang telah diberikan-Nya kepada kita. Dia mengundang kita agar menjadikan-Nya kebenaran serta keadilan kita, untuk memperkenankan rahmat mengatur hidup kita. Selagi kita menyerahkan diri kepada-Nya, maka berbagai upaya kita untuk melakukan hal-hal yang baik – misalnya, menjaga lidah kita, mengasihi sesama kita – akan menjadi suatu bagian yang alami dari diri kita, karena Yesus bertindak di dalam diri kita. Dan, setiap kali kita jatuh, kita dapat bertobat dan berdiri tegak lagi, karena Juruselamat kita sungguh mengasihi kita dan telah menebus kita.

DOA: Terima kasih Tuhan Yesus karena Engkau sudi hidup di tengah-tengah kami – manusia. Engkau bahkan rela mati bagi kami. Kami terima pengampunan-Mu dan kebenaran serta keadilan-Mu, ya Tuhan Yesus. Tolonglah kami agar dapat hidup bagi-Mu dan bersama-Mu pada hari ini. Engkau adalah sukacita dan hidupku, ya Tuhan. Terpujilah nama-Mu yang terkudus! Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 1:18-24), bacalah tulisan yang berjudul “TURUT AMBIL BAGIAN DALAM MISTERI AGUNG” (bacaan tanggal 18 Desember 2018) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2010) 

Cilandak, 16 Desember 2018 [HARI MINGGU ADVEN III – TAHUN C] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SILSILAH YESUS KRISTUS, ANAK DAUD, ANAK ABRAHAM

SILSILAH YESUS KRISTUS, ANAK DAUD, ANAK ABRAHAM

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Khusus Adven – Senin, 17 Desember 2018)

Inilah daftar nenek moyang Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham. Abraham mempunyai anak, Ishak; Ishak memunyai anak, Yakub; Yakub mempunyai anak, Yehuda dan saudara-saudaranya, Yehuda mempunyai anak, Peres dan Zerah dari Tamar, Peres mempunyai anak, Hezron; Hezron mempunyai anak, Ram; Ram mempunyai anak, Aminadab; Aminadab mempunyai anak, Nahason; Nahason mempunyai anak, Salmon; Salmon mempunyai anak, Boas dari Rahab, Boas mempunyai anak, Obed dari Rut, Obed mempunyai anak, Isai; Isai mempunyai anak, Raja Daud. Daud mempunyai anak, Salomo dari istri Uria, Salomo mempunyai anak Rehabeam; Rehabeam mempunyai anak, Abia; Abia mempunyai anak, Asa; Asa mempunyai anak, Yosafat; Yosafat mempunyai anak, Yoram; Yoram mempunyai anak, Uzia; Uzia mempunyai anak, Yotam; Yotam mempunyai anak, Ahas; Ahas mempunyai anak, Hizkia; Hiskia mempunyai anak, Manasye; Manasye mempunyai anak, Amon; Amon mempunyai anak, Yosia; Yosia mempunyai anak, Yekhonya dan saudara-saudaranya pada waktu pembungan ke Babel. Sesudah pembuangan ke Babel, Yekhonya mempunyai anak, Sealtiel; Sealtiel mempunyai anak Zerubabel; Zerubabel mempunyai anak, Abihud; Abihud mempunyai anak, Elyakim; Elyakim mempunyai anak, Azor; Azor mempunyai anak, Zadok; Zadok mempunyai anak, Akhim; Akhim mempunyai anak, Eliud; Eliud mempunyai anak, Eleazar; Eleazar mempunyai anak, Matan; Matan mempunyai anak, Yakub; Yakub mempunyai anak, Yusuf suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus.

Jadi, seluruhnya ada empat belas keturunan dari Abraham sampai Daud, empat belas keturunan dari Daud sampai pembuangan ke Babel, dan empat belas keturunan dari pembuangan ke Babel sampai Kristus. (Mat 1:1-17) 

Bacaan Pertama: Kej 49:2,8-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 72:3-4,7-8,17 

Mulai tanggal 17 Desember pada masa Adven bacaan-bacaan liturgis dipusatkan pada kedatangan Putera Allah sebagai anak manusia di tengah dunia, …… Natal. Hari ini kita merenungkan silsilah Yesus Kristus.

Karena bacaan Injil hari ini adalah sebuah silsilah, maka kemungkinan besar dilewatkan begitu saja atau dibaca secara sepintas lalu karena dipandang tidak relevan. Namun kita haruslah menyadari, bahwa di sini Matius bukanlah sekadar mencatat lagi garis keturunan Yesus di dunia. Matius di sini menantang berbagai asumsi kita.

Dengan menelusuri garis keturunan Yesus sampai kepada Abraham, Matius memberi akar asal-mula Yesus dalam warisan sejarah orang Yahudi dan menyoroti kelangsungan garis keturunan-Nya yang berhubungan dengan semua tokoh besar Israel. Namun demikian, Matius juga tidak selalu mengikuti tradisi garis-ayah saja dan menyebutkan dalam silsilah itu empat nama perempuan Perjanjian Lama dalam pohon keluarga Yesus: Tamar, Rahab, Rut dan Batsyeba (istri Uria). Dua dari mereka adalah pelacur, tiga dari mereka adalah orang asing, dan satu dari mereka adalah seorang korban nafsu laki-laki atau consenting partner (mitra yang sama-sama mau) dalam suatu perselingkuhan dan konspirasi. Kemudian disebut perempuan yang kelima: “Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus” (Mat 1:16).

Walaupun adalah “tipikal” untuk menyajikan suatu silsilah dari tokoh-tokoh besar Yahudi, munculnya nama-nama perempuan seperti diuraikan di atas dalam silsilah Yesus sungguh di luar ekspektasi kita. Hal ini memberi sinyal suatu “penyimpangan” yang radikal. Yesus memang tidak datang untuk menjaga status quo, namun untuk membawa perubahan radikal.

Dalam masa persiapan Adven, biarlah silsilah Yesus ini mengundang kita masing-masing untuk merenungkan cara-cara Allah yang “menyimpang” dari ekspektasi-ekspektasi kita berkaitan dnegan kehidupan Kristiani. Apakah Yesus telah menggoncang diri kita? Apakah ada orang-orang atau situasi-situasi yang sungguh menantang kita? Dalam hal ini kita tidak perlu terlalu terkejut atau merasa surprise. Marilah kita memperkenankan Allah mengubah diri kita. Percayalah kita dapat dimampukan untuk mengasihi orang-orang yang selama ini kita nilai sebagai pribadi-pribadi yang “sulit”. Marilah kita lihat, bahwa lewat doa-doa kita Allah dapat membuat mukjizat-mukjizat penyembuhan, baik fisik maupun spiritual. Kita masing-masing dapat menjadi instrumen damai-sejahtera Allah di mana ada perselisihan, perseteruan, kekacauan, dlsb.

Dengan demikian, marilah kita mempersiapkan Natal dengan memikirkan situasi-situasi yang paling sulit, dan membawa semua itu ke hadapan hadirat Allah dalam masa Adven ini. Perkenankanlah Dia untuk memberikan kepada kita pemikiran-pemikiran dan sikap-sikap baru. Kita sepantasnya mempunyai ekspektasi bahwa Allah akan memanifestasikan diri-Nya tidak hanya pada saat kita berdoa dan menghadiri Misa Kudus, tetapi sepanjang kehidupan sehari-hari kita. Percayalah, bahwa dengan begitu Dia akan membuat kita sungguh mengalami surprise. 

DOA: Aku menyembah Engkau, Tuhan Yesus Kristus, dan memuji-muji-Mu. Aku mengasihi-Mu, ya Yesus, karena Engkau adalah andalanku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 1:1-17), bacalah tulisan yang berjudul “SILSILAH YESUS KRISTUS DALAM INJIL MATIUS” (bacaan tanggal 17-12-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 14 Desember 2018 [Peringatan S. Yohanes dr Salib, Imam Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KEHIDUPAN KITA PUN DAPAT DIUBAH AGAR SEMAKIN MENCERMINKAN KESERUPAAN DENGAN KRISTUS

KEHIDUPAN KITA PUN DAPAT DIUBAH AGAR SEMAKIN MENCERMINKAN KESERUPAAN DENGAN KRISTUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU ADVEN III [Tahun C] – 16 Desember 2018)

Orang banyak bertanya kepadanya, “Jika demikian, apakah yang harus kami perbuat?” Jawabnya kepada mereka, “Siapa saja yang mempunyai dua helai baju, hendaklah ia membaginya dengan yang tidak punya, dan siapa saja yang mempunyai makanan, hendaklah ia berbuat juga demikian.”  Pemungut-pemungut cukai juga datang untuk dibaptis dan mereka bertanya kepadanya, “Guru, apakah yang harus kami perbuat?”  Jawabnya, “Jangan menagih lebih banyak daripada yang telah ditentukan bagimu.”  Prajurit-prajurit juga bertanya kepadanya, “Dan kami, apakah yang harus kami perbuat?”  Jawab Yohanes kepada mereka, “Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu.”  Tetapi karena orang banyak sedang menanti dan berharap, dan semuanya bertanya dalam hatinya tentang Yohanes, kalau-kalau ia adalah Mesias, Yohanes menjawab dan berkata kepada semua orang itu, “Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia yang lebih berkuasa daripada aku akan datang dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan dengan api. Alat penampi sudah di tangan-Nya untuk membersihkan tempat pengirikan-Nya dan untuk mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung-Nya, tetapi sekam akan dibakar-Nya dalam api yang tidak terpadamkan.”  Dengan banyak nasihat lain Yohanes memberitakan Injil kepada orang banyak. (Luk 3:10-18)

Bacaan Pertama: Zef 3:14-18; Mazmur Tanggapan: Yes 12:2-6; Bacaan Kedua: Flp 4:4-7 

Bayangkanlah diri anda sebagai salah seorang yang datang untuk dibaptis oleh Yohanes Pembaptis. Anda bergembira karena dosa-dosamu diampuni dan anda pun mempunyai arahan baru bagi kehidupanmu. Seperti juga orang-orang lain, anda dipenuhi dengan berbagai harapan dan rasa heran apakah orang ini sungguh sang Mesias (Luk 3:15). Yohanes menanggapi dengan mengatakan bahwa membuka tali kasut-Nya pun dia tidak layak dan hampir bersamaan dia berbicara mengenai suatu baptisan yang lain – dengan Roh Kudus dan dengan api (Luk 3:15-17). Anda tentu merasa heran apa makna dari semua ini.

Beberapa tahun kemudian anda berada di Yerusalem untuk merayakan hari Pentakosta. Anda mendengar seorang yang bernama Simon Petrus berkhotbah mengenai seorang pribadi yang bernama Yesus yang belum lama mati di kayu salib. Petrus memproklamasikan bahwa Yesus telah bangkit dari kematian dan telah mencurahkan Roh Kudus Allah. Hati anda tersentuh dan bersama orang-orang lain anda berseru: “Apa yang kami harus perbuat, Saudara-saudara?” (Kis 2:37). Petrus menjawab: ”Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia, yaitu Roh Kudus” (Kis 2:38). Penuh dengan harapan, anda pun dibaptis. Selagi Roh Kudus memenuhi diri anda dengan rasa mendalam akan cintakasih dan kehadiran Allah, anda sadar bahwa baptisan Yohanes Pembaptis hanyalah suatu persiapan untuk baptisan ini.

Melalui baptisan, kita semua telah menerima karunia Roh Kudus yang tak ternilai harganya ini. Sekarang kita mengalami kehadiran Allah yang sesungguhnya dalam diri kita. Kita menjadi puteri dan putera-Nya. Kita memiliki kebenaran ilahi, kuasa ilahi dan cinta kasih ilahi dalam diri kita masing-masing. Selagi kita mendengarkan Roh Kudus dan berjalan dalam jalan-Nya, kehidupan kita pun dapat diubah agar semakin mencerminkan keserupaan dengan Kristus.

Selagi kita melakukan persiapan-persiapan untuk merayakan inkarnasi Yesus (Natal), baiklah kita menghadap Allah dengan hati yang penuh rasa syukur dan memohon kepada-Nya agar memberikan kepada kita lebih lagi Roh Kudus – suatu relasi dengan Allah yang lebih mendalam lagi; kesadaran yang lebih kuat lagi akan Bapa, Putera dan Roh Kudus dalam hati kita; dan suatu hasrat yang lebih besar akan penyembahan kepada Allah, pewartaan Kabar Baik Yesus Kristus dan pelayanan bagi Gereja.

DOA: Datanglah Roh Kudus, dan penuhi diri kami dengan lebih mendalam lagi. Kami membutuhkan Engkau, kami menginginkan Engkay, kami mengasihi Engkau. Ampunilah kami kaarena tidak memperhatikan Engkau dalam hidup kami sehari-hari. Sembuhkanlah luka-luka kami. Bangkitkanlah kami agar dapat menjadi puteri dan putera Bapa di surga lewat hidup kami sebagai murid-murid Yesus Kristus yang sejati. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 3:10-18), bacalah tulisan yang berjudul “APAKAH YANG HARUS KAMI PERBUAT? [2]” (bacaan tanggal 16-12-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 13 Desember 2018 [Peringatan S. Lusia, Perawan Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BENTARA SANG MESIAS SUDAH DATANG

BENTARA SANG MESIAS SUDAH DATANG

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Adven – Sabtu, 15 Desember 2018)

Lalu murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya, “Kalau demikian, mengapa ahli-ahli Taurat berkata bahwa Elia harus datang dahulu?” Jawab Yesus, “Memang Elia akan datang dan memulihkan segala sesuatu dan Aku berkata kepadamu: Elia sudah datang, tetapi orang tidak mengenal dia, dan memperlakukannya menurut kehendak mereka. Demikian juga Anak Manusia akan menderita oleh mereka.” Pada waktu itu mengertilah murid-murid Yesus bahwa Ia berbicara tentang Yohanes Pembaptis. (Mat 17:10-13) 

Bacaan pertama: Sir 48:1-4.9-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 80:2-3,15-16,18-19 

Bertahun-tahun lamanya sebelum kelahiran Yesus Kristus, nabi Maleakhi mempermaklumkan bahwa nabi Elia akan datang kembali ke dunia sebelum kedatangan hari YHWH: “Sesungguhnya Aku akan mengutus nabi Elia kepadamu menjelang datangnya hari TUHAN (YHWH) yang besar dan dahsyat itu” (Mal 4:5). Sekitar 400 (empat ratus) tahun kemudian, Simon Petrus memproklamasikan bahwa “Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup” (Mat 16:16). Dalam Yesus, “hari TUHAN” sudah dekat. Namun tidak kembali-kembalinya Elia membingungkan para murid. Bukankah Elia harus datang dulu sebelum kedatangan sang Mesias?

Yesus menjelaskan kepada para murid-Nya bahwa Elia telah datang dan menderita di tangan orang-orang yang tidak percaya (Mat 17:12). Dari kata-kata Yesus, para murid memahami bahwa yang dimaksudkan oleh-Nya adalah Yohanes Pembaptis, bentara Tuhan yang dipenggal kepalanya atas perintah Herodus Antipas (lihat Mat 14:1-12).

Baik Yohanes Pembaptis maupun Elia dipandang sebagai pribadi-pribadi yang “radikal”. Dua-duanya tinggal di padang gurun; menghayati suatu kehidupan yang ekstrim dan keras; tidak memiliki apa-apa, jauh dari hiruk-pikuknya kehidupan kota (lihat Mat 3:4; 1Raj 17:1-7). Dua-duanya adalah nabi-nabi yang berapi-api, yang menolak dengan tegas ketidakadilan dan dosa yang ada dalam kehidupan mereka yang berkuasa. Yohanes Pembaptis melihat dosa Herodes Antipas karena mengambil istri saudaranya sebagai “isteri”, dan Yohanes Pembaptis kemudian mengkonfrontir sang raja (Mat 14:3-5). Di sisi lain Elia mengenali tipu-muslihat para nabi Baal dan sendirian ia menantang para nabi Baal itu dalam sebuah “duel mati-hidup ilahi” (1Raj 18:17-39). Ia juga mengkonfrontir raja Ahab dan istrinya yang bernama Izebel karena pembunuhan atas diri Nabot agar supaya mendapatkan kebun anggurnya (1Raj 21:17-29).

Yohanes Pembaptis dan Elia adalah pribadi-pribadi yang heroik, yang menempatkan diri mereka dalam risiko (Yohanes Pembaptis sampai kehilangan nyawanya) dengan secara setia memproklamirkan sabda Allah. Di atas segalanya, taat kepada Allah adalah hal yang terpenting bagi mereka.

Pada hari ini memang kita tidak makan belalang dan madu, hidup menyendiri di padang gurun, atau sendirian berdiri melawan para penguasa jahat seperti yang dilakukan oleh Elia dan Yohanes Pembaptis. Namun demikian, kita semua dipanggil untuk mengasihi Tuhan Allah dengan segenap hati kita, seperti kedua nabi itu. Dalam kehidupan kita yang lebih “biasa-biasa/normal”, kita dapat mohon kepada Allah agar memberikan kepada kita suatu visi yang lebih besar tentang apa artinya melayani Tuhan dalam situasi kita sehari-hari. Seringkali kita membatasi diri kita karena pandangan yang keliru seperti berikut ini. Kita berpikir, karena kita tidak dapat sehebat atau sebesar para kudus di masa lampau, maka tidak banyaklah yang dapat kita persembahkan. Akan tetapi, apabila kita membuka diri bagi kehendak Bapa, maka Dia dapat bekerja melalui kita sehebat yang telah dilakukan-Nya melalui Elia dan Yohanes Pembaptis.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, aku menyerahkan pikiranku, kata-kataku, dan perbuatan-perbuatanku kepada-Mu. Aku mengakui bahwa tanpa Engkau aku tidak dapat melakukan sesuatu pun, namun dengan Engkau aku dapat melakukan apa saja yang baik. Biarlah kuasa-Mu mengalir melalui diriku sehingga Engkau dimuliakan pada hari ini dan selamanya. Amin.

Catatan: Bagi anda yang ingin mendalami lagi Bacaan Injil hari ini (Mat 17:10-13),  bacalah  tulisan yang berjudul “YANG DIMAKSUDKAN DENGAN ELIA ADALAH YOHANES PEMBAPTIS” (bacaan tanggal 15-12-18) dalam situs/blog  PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori 18-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011)

Cilandak, 13 Desember 2018 [Peringatan S. Lusia, Perawan Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MEREKA MENOLAK YOHANES PEMBAPTIS DAN JUGA YESUS

MEREKA MENOLAK YOHANES PEMBAPTIS DAN JUGA YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Peringatan S. Yohanes dr Salib, Imam Pujangga Gereja – Jumat, 14 Desember 2018)

Dengan apakah akan Kuumpamakan orang-orang zaman ini? Mereka seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan berseru kepada teman-temannya: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak berkabung. Karena Yohanes datang, ia tidak makan, tidak minum, dan mereka berkata: Ia kerasukan setan. Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan mereka berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Tetapi hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatannya.” (Mat 11:16-19) 

Bacaan Pertama: Yes 48:17-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 1:1-6

Kita hampir dapat membayangkan suara yang keluar dari mulut Yesus ketika mengucapkan kata-kata di atas, teristimewa dengan mengingat orang banyak yang menolak untuk menerima kebenaran, tidak peduli siapa yang mengumumkan kebenaran itu. Orang-orang yang tidak percaya adalah seperti anak-anak yang keras kepala, menolak apa saja yang ditawarkan kepada mereka …… serba salah!

Baik Yohanes Pembaptis maupun Yesus datang ke tengah orang-orang Yahudi untuk mengumumkan apa yang mereka (sebagai umat) selama berabad-abad telah merindukannya, yaitu kedatangan sang Mesias, Putera Daud, Raja Israel! Seperti anak-anak yang disebutkan di atas, ada saja orang-orang Yahudi yang menghina Yohanes Pembaptis dan pesannya dan menuduhnya sebagai seorang yang kerasukan setan. Ketika Yesus datang – seorang yang datang setelah Yohanes dan lebih besar daripada Yohanes (lihat Mat 3:11-12) – mereka menolaknya pula, mencapnya sebagai seorang visioner yang risau, yang bersahabat dengan para pendosa.

Begitu sering kita mendengar orang-orang menolak pesan Kristus/Kristiani dengan berbagai alasan yang tidak rasional, misalnya: “Aku mengenal terlalu banyak anggota gereja yang munafik, yang duduk di bangku bagian depan setiap hari Minggu!” Atau komentar seperti ini: “Gereja ada di dalam hatiku; aku tidak membutuhkan siapa pun untuk mengajarku tentang apa yang harus kulakukan!” Lagi: “Jika Allah adalah kasih, maka Dia tidak akan menghukum orang yang melakukan yang terbaik yang dapat dilakukannya!”  Kita telah mendengar rasionalisasi-rasionalisasi atau pembenaran-pembenaran yang diungkapkan oleh orang-orang itu. Kalau mau jujur, sekali-sekali kita pun – dalam perjalanan hidup kita – suka juga melakukan hal yang sama dalam situasi-situasi di mana tidak nyamanlah bagi kita untuk bersikap jujur dan benar terhadap pesan Injil Yesus Kristus.

Matius mencatat bahwa sejarah akan menjadi hakim atas siapa yang benar dan siapa yang salah: “Tetapi hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatannya” (Mat 11:19). Kata-kata sang pemazmur itu benar pada hari ini seperti juga benar pada zaman Yesus mewartakan Kerajaan Surga dan menyerukan pertobatan ketika masih hidup di atas muka bumi: “Orang fasik tidak akan tahan dalam penghakiman …” (Mzm 1:5).

Allah adalah Allah yang Mahasetia; Dia tidak akan membuang orang-orang yang tetap setia kepada-Nya. Dalam Yesus, kita mempunyai seorang Pengantara yang duduk di sebelah kanan Allah Bapa, yang tak henti-hentinya melakukan doa syafaat bagi mereka yang menyerukan nama-Nya. Kita harus memperkenankan rahmat dan kasih Allah dicurahkan atas diri kita untuk bekerja dalam hidup kita, jikalau kita mau mengalami sukacita dan memperoleh pemenuhan janji menyangkut keanggotaan kita dalam keluarga Allah.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, Engkau sungguh indah! Aku ingin lebih mengenal Engkau lagi. Aku ingin memberikan kepada-Mu seluruh hidupku. Aku ingin agar Engkau menolongku untuk berjalan bersama-Mu dan menjaga aku untuk senantiasa kembali kepada-Mu, bila karena sesuatu sebab aku menjadi tersesat. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan  Injil hari ini (Mat 11:16-19), bacalah tulisan yang berjudul “HIKMAT ALLAH DIBENARKAN OLEH PERBUATANNYA” (bacaan tanggal 14-12-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 11 Desember 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ALLAH TIDAK AKAN MENINGGALKAN UMAT-NYA

ALLAH TIDAK AKAN MENINGGALKAN UMAT-NYA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Lusia, Perawan Martir – Kamis, 13 Desember 2018)

Sebab Aku ini, TUHAN (YHWH), Allahmu, memegang tangan kananmu dan berkata kepadamu: “Janganlah takut, Akulah yang menolong engkau.” Janganlah takut, hai si cacing Yakub, hai si ulat Israel! Akulah yang menolong engkau, demikianlah firman YHWH, dan yang menebus engkau ialah Yang Mahakudus, Allah Israel. Sesungguhnya, aku membuat engkau menjadi papan pengirik yang tajam dan baru, dengan gigi dua jajar; engkau akan mengirik gunung-gunung dan menghancurkannya, dan bukit-bukitpun akan kaubuat seperti sekam. Engkau akan menampi mereka, lalu angin akan menerbangkan mereka, dan badai akan menyerakkan mereka. Tetapi engkau ini akan bersorak-sorak di dalam YHWH dan bermegah di dalam Yang Mahakudus, Allah Israel.

Orang-orang sengsara dan orang-orang miskin sedang mencari air,  tetapi tidak  ada, lidah mereka kering kehausan; tetapi Aku, YHWH, akan menjawab mereka, dan sebagai Allah orang Israel Aku tidak akan meninggalkan mereka. Aku akan membuat sungai-sungai memancar di atas bukit-bukit yang gundul, dan membuat mata-mata air membual di tengah dataran; Aku akan membuat padang gurun menjadi telaga dan memancarkan air dari tanah kering. Aku akan menanam pohon aras di padang gurun, pohon penaga, pohon murad dan pohon minyak; Aku akan menumbuhkan pohon sanobar di padang belantara dan pohon berangan serta pohon cemara di sampingnya, supaya semua oraag melihat dan mengetahui, memperhatikan dan memahami, bahwa tangan YHWH yang membuat semuanya ini dan Yang Mahakudus, Allah Israel, yang menciptakannya. (Yes 41:13-20) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 145:9-13; Bacaan Injil: Mat 11:11-15

Orang-orang Israel tahu bahwa YHWH adalah Tuhan dari seluruh sejarah, namun Ia juga memperhatikan setiap hidup orang sebagai individu. Oleh karena itu tidak sulitlah bagi orang-orang Israel yang sedang berada dalam pembuangan di Babel untuk memahami kata-kata nubuatan yang diucapkan lewat mulut sang nabi untuk mencari tanda-tanda intervensi YHWH: “Aku tidak akan meninggalkan mereka. Aku akan membuat sungai-sungai memancar di atas bukit-bukit yang gundul. …… dan membuat mata-mata air membual di tengah dataran; Aku akan membuat padang gurun menjadi telaga dan memancarkan  air dari tanah kering” (Yes 41:17-18). Melalui tanda-tanda pembaharuan ini, setiap orang “melihat dan mengetahui, memperhatikan dan memahami, bahwa tangan YHWH yang membuat semuanya ini” (Yes 41:20). Dengan perkataan lain, tidak meragukan lagi bahwa Allah memang bekerja pada waktu para orang buangan ini kembali ke Yerusalem.

Bagaimana dengan zaman modern ini? Pada abad ke-21 ini pun Allah ingin diri-Nya dikenali. Di mana kita dapat mencari manifestasi dari pembaharuan yang dilakukan Allah? Marilah kita “memperhatikan dan memahami” tanda-tanda ini: Uskup Agung Oscar Romero [15/8/1917-24/3/80] dari San Salvador, El Salvador, ditembak mati ketika merayakan Misa Kudus. Mengapa? Karena dia berbicara lantang melawan ketidakadilan dan penindasan serta teror yang dilakukan oleh pihak penguasa. Dia dihormati, bahkan di luar Gereja Katolik juga. Gereja Anglikan, misalnya, menempatkan Mgr. Romero sebagai satu dari sepuluh orang martir abad ke-20 yang hari peringatannya ada dalam kalender di buku Common Worship, juga patungnya ada di Great West Door dari Westminster Abbey di London. Pada tahun 2008, Majalah A DIFFERENT VIEW  yang berdomisili di Eropa menempatkan Mgr. Oscar Romero sebagai salah seorang dari 15 Champions of World Democracy. Mgr. Oscar Romero dikanonisasikan sebagai seorang Santo dalam Gereja Katolik pada tanggal 14 Oktober 2018. 

Kiranya juga masih segar dalam ingatan kita semua kiprah Santa Bunda Teresa dari Kalkuta dalam menolong orang-orang yang miskin dan menderita di banyak tempat di dunia. Karya tarekat religius yang didirikan olehnya masih berlangsung terus sampai hari ini. Masih banyak lagi contoh yang dapat diberikan. Tanda-tanda seperti ini ada di mana-mana, yaitu tanda-tanda bahwa Allah masih bekerja!

Dalam hidup umat Allah sejak sekitar 2.000 tahun lampau, kita terus-menerus melihat kehadiran Tuhan Allah dalam urusan-urusan manusia. Seorang Farisi murid Guru Gamaliel di Yerusalem yang sedang giat mengejar dan menganiaya umat Kristiani perdana – Saulus – ditransformasikan oleh-Nya menjadi Paulus, seorang rasul dan pewarta Kabar Baik Yesus Kristus yang kiranya paling ulung.

Pada zaman yang berbeda, seorang anak muda suka pesta-pora yang berasal dari keluarga pedagang kaya ditransformasikan oleh-Nya menjadi seorang pengemis untuk Kerajaan Allah dan pendiri keluarga rohani terbesar dalam Gereja. Itulah Santo Fransiskus dari Assisi [c. 1181-1226]. Pada abad ke-16 muncullah Santo Ignatius dari Loyola [1491-1556] – seorang mantan perwira dari Basque, Spanyol – yang  mendirikan sebuah tarekat religus yang baru dalam sistem organisasi, karakter dan peraturan hidupnya; yang cocok untuk menghadapi situasi sebagai akibat reformasi Protestan pada waktu itu.

Riwayat hidup Santa Teresa dari Lisieux [1873-1897], Santo Maximilian Kolbe [1894-1941] dan sangat banyak lagi yang lain, merupakan testimoni-testimoni, bahwa Yesus Kristus telah datang untuk menyelamatkan kita. Mereka juga membentuk sumber air hidup yang merupakan testimoni tentang kemampuan Allah memuaskan rasa haus-dahaga banyak orang akan diri-Nya.

Dengan semakin dekatnya kita kepada Tuhan, kita pun dapat memberikan kesaksian bahwa Allah (Putera) sungguh telah menjadi menjadi manusia dan mengalahkan dosa serta maut. Kita juga janganlah sampai lupa menghadap-Nya dan mohon Dia untuk mentransformasikan kita. Marilah kita mohon kepada Yesus agar membuat diri kita menjadi saksi-saksi-Nya yang sungguh memiliki kuasa sehingga membuat banyak orang mencari Dia juga.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat kami. Terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena mendatangkan banyak orang kudus di dunia justru ketika situasi-kondisi di dalam dunia membutuhkan orang-orang seperti mereka. Ajarlah kami untuk menyerahkan diri kami kepada-Mu secara lebih penuh lagi, sehingga kamipun dapat menjadi pemimpin-pemimpin dan contoh-contoh bagi anggota-anggota Gereja-Mu yang lain, sekarang dan di masa mendatang. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 11:11-15), bacalah tulisan yang berjudul “PALUNGAN DAN SALIB” (bacaan tanggal 13-12-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2010) 

Cilandak, 10 Desember 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS