KITA MEMPUNYAI ROH KUDUS DALAM DIRI KITA

 KITA MEMPUNYAI ROH KUDUS DALAM DIRI KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Hari Biasa Pekan II Prapaskah – Selasa, 3 Maret 2015) 

YESUS GURU KITALalu berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, “Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksudkan untuk dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang; mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terbaik di rumah ibadat; mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil orang ‘Rabi.’  Tetapi kamu, janganlah kamu disebut ‘Rabi’; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara. Janganlah kamu menyebut siapa pun ‘bapak’ di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di surga. Janganlah kamu disebut pemimpin, karena hanya satu pemimpinmu, yaitu Mesias. Siapa saja yang terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Siapa saja yang meninggikan diri, ia akan direndahkan dan siapa saja yang merendahkan diri, ia akan ditinggikan. (Mat 23:1-12) 

Bacaan Pertama: Yes 1:10,16-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 50:8-9,16-17,21,23 

Kalau kita memperhatikan kenyataan dalam masyarakat dewasa ini, maka kelihatannya kerendahan hati merupakan suatu keutamaan yang sedang mengalami kemerosotan. Hampir di segala bidang kita melihat sikap mau menang sendiri, angkuh dlsb. Kelihatannya hanya yang kaya-raya, gagah-ganteng, yang kuat, yang memegang kuasa, yang cantik dan “yang kelihatan suci” sajalah yang “berhasil” maju dalam kehidupan ini.

Dengan demikian sungguh mengejutkan jika orang-orang mendengar apa yang dikatakan oleh Yesus seperti tercatat dalam bacaan Injil di atas. Semuanya adalah kebalikan dari kenyataan yang ada. Yesus memerintahkan: Jadilah rendah hati. Jadilah seorang hamba/pelayan. Rendahkanlah dirimu dan kamu akan ditinggikan. Reaksi alamiah dari kita ketika mendengar perintah-perintah Yesus ini adalah menggeliat di tempat duduk kita sambil berkata: “Semua itu terlalu sulit untuk dilakukan!” Rasa sombong datang kepada kita jauh lebih alamiah daripada kerendahan hati. Sekarang pikirkanlah pengalaman kita sendiri. Ketika seseorang mendzolimi kita (anda dan saya), apakah kecenderungan kita yang pertama adalah mengampuni orang yang menjahati kita itu? Atau apakah kita menyadari bahwa hasrat untuk membalas dendam menumpuk dengan cepat dalam diri kita – bahkan tanpa kita harus memikirkannya?

ROH KUDUS MELAYANG-LAYANG - 2Syukurlah bahwa kita tidak perlu menggantungkan diri pada upaya-upaya kita sendiri untuk bersikap dan bertindak dengan rendah hati. Kita mempunyai Roh Kudus di dalam diri kita masing-masing, yang menolong kita mengatasi kecenderungan-kecenderungan untuk mementingkan diri sendiri dan menggantikan semua itu dengan sifat Yesus sendiri. Roh Kudus menolong kita menolak hasrat untuk pertama-tama mementingkan diri sendiri sehingga dengan demikian kita dapat menjadi pelayan-pelayan yang penuh kasih dalam rumahtangga kita, di tempat kerja kita dan dalam komunitas kita masing-masing. Bagaimana Roh Kudus melakukan hal ini? Dengan menempatkan imaji Yesus di depan mata kita. Yesus adalah contoh sempurna dari kerendahan hati; Dia meninggalkan takhta-Nya di surga dan menggantikan kita dengan menerima kematian di kayu salib. Ia merendahkan diri-Nya sampai mengalami kematian. Yesus memenangkan bagi kita kemuliaan hidup kekal. Demi sukacita melihat diri kita dibersihkan dan ditebus, Yesus menjadi pelayan bagi kita semua

Pada hari ini, marilah kita memohon agar Roh Kudus membuka mata kita agar dapat melihat kesempatan-kesempatan bagi kita untuk melayani, bukan untuk dilayani. Kita mohon agar Roh Kudus juga menolong kita memutuskan untuk mengasihi, bukan dikasihi. Selagi kita melakukan hal ini, kita tidak saja mengenakan kerendahan hati Yesus, melainkan juga menemukan damai-sejahtera memenuhi hati kita; dengan cara yang melampaui pemahaman kita. Damai-sejahtera tersebut akan meninggikan kita sampai kepada sukacita surgawi. 

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena teladan-Mu dalam hal kerendahan hati dan pengorbanan-diri. Oleh kuasa Roh Kudus, berilah kepadaku rahmat untuk mengasihi dan melayani sesamaku, sehingga dengan demikian akupun dapat semakin serupa dengan Engkau. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 23:1-12), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MENGAJAR KITA AGAR TIDAK MENJADI ORANG MUNAFIK” (bacaan tanggal 3-3-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2015. 

Bacalah juga tulisan yang berjudul “SEBUAH PERINGATAN KERAS” (bacaan tanggal 26-2-13) dan “YESUS SANG MESIAS ADALAH GURU KITA YANG SEJATI” (bacaan tanggal 18-3-14), keduanya dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yes 1:10,16-20), bacalah tulisan yang berjudul “BASUHLAH, BERSIHKANLAH DIRIMU” (bacaan tanggal 6-3-12), dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

Cilandak, 1 Maret 2015 [HARI MINGGU PRAPASKAH II] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SENIN PEKAN KEDUA PRAPASKA – HENRI J.M. NOUWEN

SENIN PEKAN KEDUA PRAPASKA

(Renungan Harian Dalam Masa Prapaska dari Henri J.M. Nouwen) 

HENRI J.M. NOUWEN - 01“Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati. Janganlah kamu menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamupun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni”  (Luk 6:36-37).

Perintah Yesus, “Hendaklah kamu murah hati, seperti Bapamu murah hati” adalah suatu perintah untuk ambil bagian dalam kemurahan hati Allah sendiri. (Kemurahan hati, menerjemahkan kata compassion, yang berasal dari dua kata Latin pati dan cum yang berarti menderita bersama, berbela rasa, murah hati). Ia menuntut kita untuk membuka topeng ilusi pribadi kita yang diwarnai persaingan, untuk melepaskan cengkeraman kita terhadap keistimewaan-keistimewaan semu yang kita pakai untuk membangun jati-diri kita, dan untuk dimasukkan ke dalam persekutuan hidup dengan Allah yang hanya Ia kenal sendiri. Inilah rahasia kehidupan Kristen: menerima pribadi yang baru, identitas baru, yang tidak tergantung pada apa yang dapat kita capai, tetapi pada apa yang kita terima dengan rendah hati. Pribadi baru ini adalah buah dari keikutsertaan kita dalam kehidupan ilahi, dalam dan melalui Kristus. Yesus menghendaki agar kita menjadi milik Allah seperti Ia adalah milik Allah. Ia ingin agar kita menjadi anak-anak Allah seperti Ia adalah milik Allah. Ia ingin agar kita menjadi anak-anak Allah seperti Ia sendiri adalah Anak Allah. Ia ingin agar kita meninggalkan kehidupan yang lama, yang begitu penuh dengan ketakutan dan keraguan, serta menerima kehidupan baru, kehidupan dari Allah sendiri. Dalam dan melalui Kristus kita menerima identitas baru yang memungkinkan kita berkata, “Aku tidak sama dengan penghargaan yang dapat kukumpulkan melalui persaingan. Diriku adalah cinta yang telah kuterima dengan bebas dari Allah”. Ini membuat kita dapat berkata bersama Santo Paulus, “Aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal 2:20). 

Pribadi yang baru ini, yaitu pribadi Yesus Kristus, memungkinkan kita untuk bermurah hati seperti Bapa. Melalui kesatuan dengan-Nya, kita diangkat keluar dari suasana dan semangat bersaing dan dimasukkan ke dalam keutuhan ilahi. Dengan ikut ambil bagian dalam keutuhan pribadi yang tidak mengenal persaingan, kita dapat masuk ke dalam hubungan-hubungan yang baru dan penuh hati dengan sesama. Dengan menerima identitas dari Dia yang adalah pemberi segala kehidupan, kita dapat berada bersama dengan yang lain tanpa jarak atau ketakutan. Identitas yang baru ini, yang bebas dari keserakahan dan keinginan berkuasa, memungkinkan kita untuk masuk sepenuhnya dan tanpa syarat ke dalam penderitaan orang-orang lain sehingga kita dapat menyembuhkan orang sakit dan membawa yang mati kepada kehidupan. Kalau kita ambil bagian dalam kemurahan hati Allah, suatu cara hidup yang sama sekali baru terbuka bagi kita, yaitu cara hidup yang dapat kita lihat dalam kehidupan para rasul dan orang-orang Kristen yang terkenal, yang telah memberi kesaksian tentang Kristus selama berabad-abad. Kemurahan hati bukanlah bagian dari persaingan, seperti kemurahan hati yang kita ciptakan sendiri. Kemurahan hati adalah wujud dari suatu cara hidup baru, di mana membanding-bandingkan pribadi, permusuhan dan persaingan ditinggalkan secara bertahap.

+++++++

Kemurahan hati menuntut kita untuk pergi ke tempat ada luka, masuk ke tempat-tempat ada penderitaan, ikut serta dalam keterpecahan, ketakutan, kebingungan dan kecemasan. Kemurahan hati menantang kita untuk berteriak bersama mereka yang berada dalam penderitaan, berkabung bersama mereka yang kesepian, menangis bersama mereka yang mencucurkan air mata. Kemurahan hati menuntut kita untuk menjadi lemah bersama yang lemah, ringkih bersama dengan yang ringkih, tak berdaya bersama dengan yang tak berdaya. Murah hati berarti terlibat penuh dalam keadaan hidup manusia. Kalau kita memandang kemurahan hati dengan cara ini, menjadi jelas bahwa di dalamnya terkandung lebih daripada sekedar keramahan atau kelemah-lembutan yang biasa. Tidak mengherankan bahwa kemurahan hati yang dimengerti sebagai menderita bersama, seringkali menimbulkan penolakan yang mendalam atau bahkan protes dalam diri kita. Kita cenderung untuk mengatakan: Ini adalah penyiksaan diri, ini masokisme, ini kesenangan yang tidak wajar akan rasa sakit, ini keinginan yang tidak sehat. Kita perlu mengakui penolakan ini untuk menyadari bahwa penderitaan bukanlah sesuatu yang kita inginkan atau menarik bagi kita. Sebaliknya penderitaan adalah hal yang ingin kita hindari. Karena itu, kemurahan hati tidak terdapat di antara jawaban-jawaban kita yang paling wajar. Kita adalah orang-orang yang menghindari penderitaan dan kita memandang orang yang merasa tertarik akan penderitaan sebagai orang yang tidak normal, atau paling sedikit tidak biasa.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, Engkau datang kepada kami untuk menyatakan kemurahan hati dan kasih Bapa-Mu. Buatlah kami umat-Mu mampu memahaminya dengan seluruh hati, budi dan jiwa kami. Dan kepadaku ya Tuhan, hamba-Mu yang tiap-tiap kali jatuh, tunjukkanlah belas-kasihan-Mu yang tanpa batas. Amin.

Diambil dari Henri J.M. Nouwen, TUHAN TUNTUNLAH AKU – Renungan Harian Dalam Masa Prapaska, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1994, hal. 44-46. 

Cilandak, 2 Maret 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MARILAH KITA MENCONTOH DANIEL DALAM BERDOA

MARILAH KITA MENCONTOH DANIEL DALAM BERDOA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Prapaskah – Senin, 2 Maret 2015) 

danielMaka aku memohon kepada TUHAN (YHWH), Allahku, dan mengaku dosaku demikian: “Ah Tuhan, Allah yang maha besar dan dahsyat, yang memegang Perjanjian dan kasih setia terhadap mereka yang mengasihi Engkau serta berpegang pada perintah-Mu! Kami telah berbuat dosa dan salaALLAHh, kami telah berlaku fasik dan telah memberontak, kami telah menyimpang dari perintah dan peraturan-Mu, dan kami tidak taat kepada hamba-hamba-Mu , para nabi, yang telah berbicara atas nama-Mu kepada raja-raja kami, kepada pemimpin-pemimpin kami, kepada bapa-bapa kami dan kepada segenap rakyat negeri. Ya Tuhan, Engkaulah yang benar, tetapi patutlah kami malu seperti pada hari ini, kami orang-orang Yehuda, penduduk kota Yerusalem dan segenap orang Israel, mereka yang dekat dan mereka yang jauh, di segala negeri kemana Engkau telah membuang mereka oleh karena berlaku murtad terhadap Engkau. Ya YHWH, kami, raja-raja kami, pemimpin-pemimpin kami dan bapa-bapa kami patutlah malu, sebab kami telah berbuat dosa terhadap Engkau. Pada Tuhan, Allah kami, ada kesayangan dan keampunan, walaupun kami telah memberontak terhadap Dia, dan tidak mendengarkan suara YHWH, Allah kami, yang menyuruh kami hidup menurut hukum yang telah diberikan-Nya kepada kami dengan perantaraan para nabi, hamba-hamba-Nya. (Dan 9:4b-10)  

Mazmur Tanggapan: Mzm 79:8-9,11,13; Bacaan Injil: Luk 6:36-38

Pemikiran-pemikiran seperti apakah yang timbul dalam kepala kita (anda dan saya) ketika kita melihat seseorang bertindak salah atau terlibat dalam dosa yang sangat serius? Apakah kita dengan begitu memutuskan untuk menghentikan segala hubungan kita dengan orang itu atau tindakannya? Ini adalah tanggapan biasa dari kebanyakan kita, namun perhatikanlah reaksi Daniel. Ketika Daniel melihat umat pilihan Allah dijatuhi hukuman pembuangan karena ketidaktaatan mereka kepada hukum perjanjian Allah, maka hatinya tergerak untuk mendoakan suatu doa pengakuan dosa dan syafaat untuk kepentingan seluruh Israel, termasuk dirinya sendiri.

Teks bacaan di atas menggambarkan Daniel yang menyadari bahwa dia juga – seorang anggota umat perjanjian – telah melanggar hukum Allah. Dia juga dapat melihat bahwa dirinya bersalah dengan mentoleransi dosa dalam kehidupan saudari-saudaranya sendiri orang-orang Israel, dan dosa ini telah menyebabkan banyak penderitaan. Dalam doanya itu Daniel mengakui bahwa “kami telah berbuat dosa dan salah, kami telah berlaku fasik dan telah memberontak, kami telah menyimpang dari perintah dan peraturan-Mu” (Dan 9:5).

Kebanyakan umat Kristiani barangkali akan setuju bahwa masyarakat dewasa ini sangat menderita sebagai akibat ketidaktaatan mereka kepada perintah-perintah Allah. Akan tetapi agak sulitlah bagi kita untuk mengakui bahwa kita adalah bagian dari masalahnya, baik melalui dosa kita sendiri atau melalui ketidakpedulian kita terhadap dosa dan penderitaan yang berlangsung di sekitar kita. Jadi, sangat bergunalah apabila pada hari ini kita menyediakan waktu secukupnya untuk memeriksa sikap kita selama ini terhadap perintah-perintah Allah yang berkaitan dengan diri kita sendiri dan masyarakat kita.

Misalnya, apakah kita menjunjung tinggi kesucian perkawinan dan keutamaan-keutamaan keadilan, kehormatan, dan kejujuran? Bagaimana dengan sikap kita (anda dan saya) terhadap orang-orang yang diabaikan dalam masyarakat: orang-orang miskin, para tunawisma, para penderita sakit HIV-Aids, para lansia? Apakah kita telah melangkah keluar dari zona nyaman kita untuk menjumpai mereka sebagaimana diajarkan oleh Yesus (Mat 25:31-46), atau apakah kita tidak mau tahu apa yang terjadi atas diri mereka? Apakah kita peka atau buta terhadap berbagai macam bentuk ketidakadilan yang terjadi di sekeliling kita? Apakah kita secara konstan memohon agar Allah mengubah hati mereka yang menindas kaum miskin, dan mengampuni kita semua sebagai umat, atas dosa-dosa kita?

Saudari dan Saudaraku yang dikasihi Kristus. Masa Prapaskah adalah suatu masa yang sungguh baik untuk mendoakan doa syafaat bagi dunia. Marilah kita baca dengan serius  Dan 9:4-19 dan menjadikannya doa syafaat dan doa tobat kita sendiri.

DOA: Bapa surgawi, Allah yang berbelas kasih dan Mahapengampun. Aku menyesali segala dosaku dan mohon pengampunan-Mu. Oleh kuasa Roh Kudus-Mu, bentuklah aku agar menjadi murid Yesus yang setia sehingga dengan demikian dapat bekerja sebagai instrumen-Mu yang efektif dalam dunia ini. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 6:36-38), bacalah tulisan yang berjudul “MEMBUKA HATI KITA BAGI PENGARUH KASIH ILAHI” (bacaan tanggal 2-3-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2015. 

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Dan 9:4b-10) bacalah tulisan yang berjudul “DOA DANIEL” (bacaan tanggal 21-3-11) dalam situs/blog SANG SABDA. Bacalah juga tulisan yang berjudul “MENELADAN HIKMAT DAN KERENDAHAN-HATI DANIEL” (bacaan tanggal 17-3-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

Cilandak, 26 Februari 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TUJUAN AKHIR KITA BUKANLAH UNTUK MATI

TUJUAN AKHIR KITA BUKANLAH UNTUK MATI

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PRAPASKAH II [Tahun B] – 1 Maret 2015) 

Transfiguration by Giovanni Gerolamo Savoldo, 16th century

Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendirian saja. Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka, dan pakaian-Nya sangat putih berkilauan. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat memutihkan pakaian seperti itu. Lalu tampaklah kepada mereka Elia bersama dengan Musa, keduanya sedang berbicara dengan Yesus. Kata Petrus kepada Yesus, “Rabi, alangkah baiknya kita berada di tempat ini. Biarlah kami dirikan tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.” Ia tidak tahu apa yang harus dikatakannya, karena mereka sangat ketakutan. Lalu datanglah awan menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara, “Inilah Anak-Ku yang terkasih, dengarkanlah Dia.” Tiba-tiba sewaktu memandang sekeliling, mereka tidak melihat seorang pun lagi bersama mereka, kecuali Yesus seorang diri.

Pada waktu turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka, supaya mereka tidak menceritakan kepada siapa pun apa yang telah mereka lihat itu, sebelum Anak Manusia bangkit dari antara orang mati. Mereka memegang pesan itu sambil mempersoalkan di antara mereka apa yang dimaksud dengan “bangkit dari antara orang mati”. (Mrk 9:2-10) 

Bacaan Pertama: Kej 22:1-2,9a,10-13,15-18; Mazmur Tanggapan: 116:10,15-19; Bacaan Kedua: Rm 8:31b-34 

Ketiga rasul “lingkaran dalam” Yesus ini mengalami suatu penglihatan yang luarbiasa. Yesus, sahabat dan Guru mereka, terlihat sedang berdiri di depan mereka dalam kemuliaan ilahi, dan Ia didampingi oleh dua orang pahlawan terbesar bangsa Israel, yaitu Musa dan Elia. Tidak begitu mengherankanlah kalau dalam situasi seperi itu Petrus menjadi tidak tahu apa yang harus dikatakannya.

Hanya satu pekan sebelum peristiwa transfigurasi yang penuh kemuliaan ini terjadi, Yesus memberitahukan untuk pertama kalinya bahwa Dia harus pergi ke Yerusalem dan di sana menanggung banyak penderitaan dari para pemuka agama Israel, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari  (lihat Mrk 8:31). Sekarang Yesus mengajak ketiga orang rasul-Nya yang paling dekat untuk naik ke atas gunung dan memberikan kepada mereka bertiga kesempatan mencicipi alasan mengapa Dia harus menanggung penderitaan sedemikian. Untuk sekejab saja Yesus menunjukkan kepada mereka bagaimana kemanusiaan-Nya akan terlihat setelah ditransformasikan dalam kemuliaan.

Sebagai orang-orang yang berjuang menghayati hidup Injili secara radikal seturut teladan St. Fransiskus dari Assisi, kita cenderung untuk memfokuskan diri pada upaya melakukan pertobatan, puasa, doa, pemberian derma dan sejenisnya. Kita mencoba mengkontemplasikan “Sang Tersalib” sesering mungkin. Kita berbicara mengenai “memikul salib kita” atau “mati terhadap kedosaan manusia kita”. Akan tetapi, sebagaimana Petrus, Yakobus dan Yohanes, yang melihat kemuliaan Yesus sebelum mereka mengalami salib-Nya dan salib mereka sendiri, maka kita pun perlu juga mengarahkan pandangan kita ke surga “di atas sana” agar dapat melihat pancaran cahaya Yesus yang bangkit dalam kemenangan dan ditransformasikan dalam kemuliaan.

Allah ingin agar kita merasa yakin, bahwa tujuan akhir kita bukanlah untuk mati, melainkan untuk hidup! Kita tidak eksis untuk sekadar menjalani hidup  pertobatan, melainkan juga untuk hidup dengan Yesus dalam suatu ikatan kasih yang tak terpatahkan! Melalui transfigurasi-Nya, Yesus ingin memberikan kepada kita pandangan secara sekilas lintas tentang transfigurasi kita di masa depan, ketika kita akan hidup bersama-Nya dalam kemuliaan, tidak lagi di bawah beban dosa, melainkan ditinggikan oleh Roh Kudus.

Saudari-Saudara terkasih, selagi kita mendengarkan pembacaan Kitab Suci dalam Misa Kudus hari ini, baiklah kita memejamkan mata. Bayangkan diri kita bersama ketiga rasul di atas gunung itu. Biarlah Roh Kudus menunjukkan kemuliaan Yesus kepada kita. Marilah membayangkan apa yang dibicarakan Yesus dengan Musa dan Elia di atas gunung itu. Apakah Yesus sendiri menarik kekuatan dari pengalaman transfigurasi-Nya untuk hari-hari terakhir-Nya di atas bumi? Marilah sekarang kita bertanya kepada Yesus bagaimana seharusnya kita menjaga mata hati  kita agar tetap fokus pada kemuliaan yang dijanjikan-Nya, bukan pada segala kesulitan hari ini. Perkenankanlah Allah untuk syering dengan kita pemikiran surgawi apa saja yang Ia akan masukkan ke dalam pikiran dan hati kita masing-masing. Biarlah kebangkitan-Nya memberdayakan kita pada hari ini.

DOA: Segala kemuliaan dan pujian bagi-Mu, ya Yesus! Semoga kebangkitan-Mu senantiasa memberdayakan kami. Amin.  

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mrk 9:2-10), bacalah tulisan yang berjudul “INILAH ANAK-KU YANG TERKASIH, DENGARKANLAH DIA” (bacaan tanggal 1-3-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2015. 

Cilandak, 26 Februari  2015

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SABTU PEKAN PERTAMA PRAPASKA – HENRI J.M. NOUWEN

SABTU PEKAN PERTAMA PRAPASKA

(Renungan Harian Dalam Masa Prapaska dari Henri J.M. Nouwen) 

HENRI J.M. NOUWEN - 07“Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar” (Mat 5:44-46).

Orang-orang Kristen saling mengingat dalam doa-doa mereka (Rm 1:9; 2Kor 1:11; Ef 6:8; Kol 4:3) dan dengan demikian mereka membantu dan bahkan membawa keselamatan bagi orang-orang yang mereka doakan (Rm 15:30; Flp 1:19). Namun doa yang mengungkapkan kesetiakawanan sejati adalah doa yang tidak hanya diperuntukkan bagi sesama orang Kristen warga jemaat, kawan atau sanak-saudara. Yesus menyatakannya dengan sangat jelas, “Berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Mat 5:44); dan ketika menderita sengsara dan tergantung di kayu salib Yesus berdoa bagi orang-orang yang menyalibkan-Nya, “Ya Bapa ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23:34). Di sini buah-buah kehidupan doa tampak sangat jelas. Doa membuat kita mampu untuk membawa masuk ke dalam pusat kehidupan kita, bukan saja orang-orang yang mencintai kita tetapi juga orang-orang yang membenci kita. Ini hanya mungkin kalau kita rela menjadikan musuh-musuh kita bagian dari diri kita sendiri dan dengan demikian mengubah mereka pertama-tama dalam hati kita sendiri.

Hal pertama yang harus kita lakukan kalau kita berpikir mengenai orang lain sebagai musuh kita adalah berdoa untuk mereka. Ini pasti tidak mudah. Ini menuntut suatu disiplin yang dapat membiarkan mereka yang membenci kita atau yang tidak kita senangi, masuk ke dalam pusat batin kita. Sulit untuk memberi tempat kepada orang yang membuat sulit hidup kita atau yang membuat kita kecewa atau sakit. Namun setiap kali kita mengalahkan perasaan terhadap musuh-musuh kita ini dan rela untuk mendengarkan jeritan orang-orang yang membenci kita, kita akan mengenal mereka sebagai sesama juga. Berdoa bagi musuh-musuh kita adalah saat di mana rekonsiliasi terjadi. Tidak mungkin membawa musuh-musuh kita ke hadapan Allah sementara kita masih terus membenci mereka. Kalau dilihat dalam terang doa, seorang diktator yang bengis atau seorang penganiaya yang jahat dapat dilihat bukan lagi sebagai sumber ketakutan, kebencian atau balas dendam; karena kalau kita berdoa kita berdiri di hadirat misteri agung Kebaikan Hati Ilahi. Doa mengubah musuh menjadi kawan dan dengan demikian menciptakan hubungan yang baru. Mungkin tidak ada doa yang lebih kuat daripada doa untuk musuh. Namun doa itu juga paling sulit karena paling bertentangan dengan kecenderungan hati kita. Inilah sebabnya tdak sedikit orang suci yang melihat doa bagi musuh sebagai ukuran kesucian seseorang.

Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kami (Luk 6:27-28).

Sabda ini tidak hanya mengungkapkan makna hakiki dari tindak bukan kekerasan, tetapi juga inti pewartaan Yesus. Seandainya ada orang yang bertanya, manakah kata-kata dalam Injil yang paling radikal, jelas jawabannya adalah, “Kasihilah musuhmu”. Kata-kata inilah yang dengan paling jelas menyatakan corak kasih yang diwartakan oleh Yesus. Dalam kata-kata ini dinyatakan jati-diri kehidupan sebagai murid Yesus. Kasih kepada musuh adalah ukuran hidup sebagai seorang Kristen.

DOA: Tuhan, pandanglah umat-Mu dengan penuh belaskasihan, dan nyatakanlah cinta-Mu kepada kami bukan sebatas pikiran dan gagasan, tetapi dalam pengalaman hidup kami. Kami dapat saling mencintai karena Engkau telah mencintai kami terlebih dahulu. Biarlah kami mengalami kasih-Mu itu sehingga kami mampu melihat berbagai macam cinta manusiawi sebagai pantulan cinta yang lebih agung, cinta yang tanpa syarat dan tanpa batas. Amin. 

Diambil dari Henri J.M. Nouwen, TUHAN TUNTUNLAH AKU – Renungan Harian Dalam Masa Prapaska, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1994, hal. 38-40. 

Cilandak, 28 Februari 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENGAMPUNI, MENGAMPUNI, MENGAMPUNI !!!

MENGAMPUNI, MENGAMPUNI, MENGAMPUNI !!!

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Prapaskah – Sabtu, 28 Februari 2015)

sermon-on-the-mount-valerian-ruppertKamu telah mendengar yang difirmankan, Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu: Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga, yang menerbitkan matahari  bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian? Karena itu, haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga sempurna.” (Mat 5:43-48) 

Bacaan Pertama: Ul 26:16-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 119:1-2,4-5,7-8  

“Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu” (Mat 5:44). 

Jika mengampuni orang-orang lain begitu penting artinya, mengapa koq begitu sulit untuk dipraktekkan? Sekali-kali kita mendengar cerita berkaitan dengan pengampunan yang mengharukan. Seorang ayah mengampuni seorang laki-laki yang memperkosa anak perempuannya yang masih remaja. Seorang perempuan mengampuni suaminya yang tidak setia. Seorang anak laki-laki remaja mengampuni ayahnya yang pemabuk dan suka melakukan KDRT. Cerita-cerita seperti ini dapat menyentuh hati kita secara mendalam dan dapat memberikan inspirasi kepada kita untuk mengampuni mereka yang telah menyakiti hati kita. Namun di kedalaman hati kita bisa saja kita masih berpikir: “Ya, sedikit penolakan sah-sah saja dan dapat dipahami. Boleh saja untuk memendam rasa dongkol dan kesal kita terhadap seseorang yang menyebabkan sakit mendalam dalam diri kita.”

Rupanya pada masa Yesus ada pemimpin-pemimpin agama yang mengajarkan bahwa pada sikon-sikon tertentu diperbolehkanlah bagi seseorang untuk menolak pemberian pengampunan kepada orang-orang yang bersalah kepada orang itu. Dengan perkataan lain diperbolehkanlah bagi orang untuk membenci musuhnya. Namun yang menarik adalah bahwa perintah untuk mengasihi sesama kita ditemukan dalam Hukum Musa (Im 19:18), sedangkan “membenci musuh-musuhmu” tidak ada samasekali. Dari sejak awal rencana Allah memang tetaplah pencurahan kasih dan pengampunan-Nya bagi semua orang.

images (25)Dalam hal Yesus sendiri sudah jelas, karena Dia adalah seorang pemimpin yang walk the talk, tidak “omdo”. Ketika tergantung di kayu salib, Ia berdoa: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23:34). Demikian pula dengan kesaksian para kudus. Berikut ini adalah beberapa contoh: Santo Stefanus mendoakan mereka yang menganiaya dirinya dan akhirnya menyebabkan kematiannya. Beberapa saat sebelum kematiannya sebagai martir Kristiani yang pertama, orang kudus ini berdoa: “Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!” (Kis 7:60). Santo Yohanes dari Salib [1542-1591], pembaharu ordo Karmelit dijebloskan oleh para biarawan Karmelit ke dalam “penjara biara” dan diperlakukan dengan kejam, namun ia berhasil melarikan diri. Usahanya untuk membaharui ordonya disalahtafsirkan oleh para Karmelit yang lain. Karena itu orang kudus ini diperlakukan dengan semena-mena sampai wafatnya. Orang kudus ini mengampuni para biarawan Karmelit yang mendzoliminya. Karena tulisan-tulisan rohaninya, Santo Yohanes dari Salib dihormati sebagai pujangga Gereja. Santa Maria Goretti [1890-1902] mengampuni seorang laki-laki yang menusuknya hingga mati karena percobaan pemerkosaan atas dirinya. Remaja puteri yang suci ini pernah berkata kepada ibundanya: “Lebih baik mati seribu kali daripada berbuat dosa satu kali.” Pada abad ke-20, Santo Paus Yohanes Paulus II mengampuni orang yang mencoba membunuhnya dan kemudian menerima pengakuan orang itu.

Saudari dan Saudaraku terkasih. Bilamana kita mengampuni orang yang bersalah kepada kita, maka kita pun bebas untuk mengalami belas kasih Allah, bahkan selagi kita menjadi saluran-saluran hidup dari belas kasih Allah.

Stoning_of_Saint_StephenSekarang, apakah kita (anda dan saya) masih mempunyai ganjalan-ganjalan dalam hati terhadap orang lain? Apakah kita masih saja berulang-ulang “menghidupkan kembali” luka-luka (batin) kita di masa lampau – dengan demikian membangun penolakan yang yang kuat lagi? Apakah kita sungguh ingin menghentikan “lingkaran setan” ini? Barangkali sekarang adalah saatnya untuk memohon kepada Allah untuk menolong kita mengambil satu langkah lagi menuju tindakan mengampuni orang yang telah bersalah kepada kita. Masa Prapaskah adalah suatu masa yang sempurna guna membuat kemajuan-kemajuan! Marilah kita mengambil langkah pada hari ini juga, dengan penuh kepercayaan bahwa Allah akan menolong kita!

DOA: Bapa surgawi, aku mengaku bahwa diriku masih memendam rasa kesal dan penolakan. Aku ingin bebas dari luka-luka batinku dan lingkaran setan yang disebabkan oleh luka-luka lama. Berikanlah kepadaku rahmat agar mau dan mampu mengampuni orang-orang yang telah mendzolimi diriku. Semoga aku berbelas kasih seperti Engkau senantiasa berbelas kasih kepada umat-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami bacaan Pertama hari ini (Ul 26:16-19), bacalah tulisan yang berjudul “MENJADI UMAT YANG KUDUS BAGI ALLAH” (bacaan tanggal 28-2-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2015. 

Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:43-48), bacalah tulisan-tulisan yang berjudul “PUNCAK KHOTBAH DI BUKIT” (bacaan tanggal 23-2-13),  “KASIHILAH MUSUHMU DAN BERDOALAH BAGI MEREKA YANG MENGANIAYA KAMU” (bacaan tanggal 3-3-12), dan “SAMA SEPERTI BAPAMU YANG DI SURGA SEMPURNA” (bacaan tanggal 15-3-14), ketiganya  dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

Cilandak, 25 Februari 2015

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HIDUP BERSAUDARA DALAM KASIH

HIDUP BERSAUDARA DALAM KASIH

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Prapaskah – Jumat, 27 Februari 2015)

YESUS DI GEREJA ORTODOX SIRIAAku berkata kepadamu: Jika kamu tidak melakukan kehendak Allah melebihi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga.

Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang mencaci-maki saudaranya harus dihadapkan ke Mahkamah Agama, dan siapa yang berkata: Jahil! Harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.

Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.

Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu ini jangan menyerahkan engkau kepada pengawal dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai habis. (Mat 5:20-26) 

Bacaan Pertama: Yeh 18:21-28; Mazmur Tanggapan: Mzm 130:1-8 

“Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang mencaci maki saudaranya harus diserahkan ke Mahkamah Agama” (Mat 5:22).

Selagi orang banyak mendengarkan kata-kata yang diucapkan oleh Yesus ini, hati mereka tentunya terasa menciut. Siapa sih di antara mereka yang tidak pernah mempunyai perasaan benci terhadap seseorang, atau memandang orang-orang tertentu sebagai orang-orang bodoh dan tak berguna? Yang lebih parah lagi, mereka yang berbangga sebagai orang-orang yang mematuhi hukum sekarang menghadapi tantangan yang lebih mendalam yang langsung masuk ke hati mereka yang terdalam. Bagaimana mereka akan pernah menjadi kudus apabila standar-standar yang ditetapkan begitu tinggi? Jawabannya berdiri di hadapan mereka dalam wujud diri Yesus sendiri.

Yesus mengingatkan para pendengar-Nya akan hal-hal yang telah menyebabkan rusaknya persaudaraan anak-anak Allah. Sepanjang Perjanjian Lama kita dapat membaca tentang kebencian dan kecemburuan yang telah merusak perdamaian dan persatuan umat Allah. Misalnya, Kain memang telah membunuh Habel, namun dosa sesungguhnya mulai di dalam hatinya yang dipenuhi dengan kecemburuan (lihat Kej 4:6-7).

JESUS PREACHING TO THE PEOPLEAkan tetapi semua itu telah berubah sekarang. Yesus datang untuk memungkinkan kita mencabut semua penyebab perseteruan dan perpecahan di antara kita. Yesus mengatakan bahwa kita sungguh dapat mengasihi satu sama lain, bahkan sampai mengampunan tujuh puluh kali tujuh kali (Matius 18:21-22). Yesus bersabda, “Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu” (Yoh 15:12).  Dalam suratnya, Paulus menulis sebagai berikut: “Kasih itu sabar; kasih itu baik hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menahan segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu” (1Kor 13:4-7).

Penghayatan dengan setia ajaran ini barangkali merupakan tantangan yang paling besar bagi kehidupan Kristiani kita, namun bersama Kristus semua itu mungkin. Allah ingin agar kita melihat bagaimana banyaknya kebutuhan manusiawi dan kebutuhan spiritual kita dapat dipenuhi selagi kita saling menolong dan saling mendukung satu sama lain dalam kasih. Allah ingin menunjukkan kepada kita bagaimana saling mengasihi adalah  salah satu cara yang paling memiliki kuat-kuasa bagi kita untuk mengalami hati-Nya yang penuh kasih. Kecenderungan untuk marah, bersikap serakah serta mementingkan diri sendiri mungkin masih ada dalam diri kita masing-masing, namun kita mempunyai seorang Juruselamat yang jauh lebih besar! Dengan rahmat-Nya kita dapat mengatasi segala masalah kita.

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Berkatilah semua orang yang merasa kesepian di dunia ini. Utuslah kepada mereka masing-masing seorang sahabat sejati. Sembuhkanlah segala luka yang disebabkan oleh kata-kata yang keras- menyakitkan atau penuh kemarahan. Bangunlah dalam diriku rahmat persaudaraan sehingga dengan demikian aku juga dapat menjadi seorang sahabat yang sejati, baik pada masa-masa baik maupun masa-masa buruk. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:20-26), bacalah tulisan yang berjudul “MENERIMA DAN MEMBERI PENGAMPUNAN” (bacaan tanggal 27-2-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2015. 

Cilandak, 24 Februari 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 141 other followers