SEDIKIT CERITA TENTANG SANTO HIERONIMUS, IMAM DAN PUJANGGA GEREJA

SEDIKIT CERITA TENTANG SANTO HIERONIMUS, IMAM DAN PUJANGGA GEREJA

saint_jerome_2

Pada hari ini, 30 September –  hari terakhir dalam Bulan Kitab Suci Nasional –, kita memperingati seorang kudus besar di bidang perkitabsucian, yaitu Santo Hieronimus, Imam dan Pujangga Gereja (c.342-420).

Dalam rangka peringatan 15 abad kematiannya, Paus Benedictus XV [pontifikat: 1914-1922] mengeluarkan surat Ensiklik SPIRITUS PARACLITUS (15 September 1920) di mana dikemukakan berbagai keutamaan Hieronimus, sumbangsihnya kepada Gereja dan lain sebagainya.

Kebanyakan orang kudus dikenang untuk berbagai keutamaan atau praktek devosional mereka, namun Hieronimus seringkali dikenang untuk sifat buruknya. Ia lekas panas, naik darah dan kadangkala menyakiti hati orang lain. Memang benar ia memiliki sifat buruk, namun cintakasihnya kepada Allah dan Putera-Nya, Yesus Kristus, luarbiasa intens. Siapa saja yang mengajarkan kesesatan bagi Hieronimus adalah musuh Allah dan kebenaran. Dalam situasi seperti itu, Hieronomus akan “menghantam” (katakanlah: “melabrak”) para pengajar sesat dengan tulisan-tulisannya yang penuh kuasa dan kadang-kadang sarkastis itu.

Hieronimus pertama-tama dan terutama adalah seorang pakar Kitab Suci. Ucapannya yang terkenal adalah: “Tidak kenal Kitab Suci, tidak kenal Kristus!” (Ignoratio Scripturarum, ignoratio Christi est!). Dia menulis banyak tafsir Kitab Suci yang sungguh merupakan sumber inspirasi bagi generasi-generasi kemudian. Dia juga sempat berfungsi sebagai penasihat para rahib, uskup maupun Sri Paus.

Agar mampu melakukan tugasnya ini, Hieronimus telah mempersiapkan diri dengan baik. Dia menguasai bahasa Latin, Yunani, Ibrani dan Khaldea. Karya utama Hieronimus adalah terjemahan Perjanjian Lama dari bahasa Ibrani ke bahasa Latin dan revisi Perjanjian Baru berbahasa Latin. Pekerjaan ini memakan waktu sekitar 15 tahun (c.390-405), namun hasil karyanya itu digunakan lebih dari seribu tahun lamanya di Gereja barat. “Kantor resmi” atau “posko” Hieronimus yang terakhir adalah sebuah gua di Betlehem.

Jalan Hieronimus menuju Betlehem yang mengikuti pola “zigzag” adalah sebuah pelajaran yang baik bagi setiap orang Kristiani yang mau menemukan cara terbaik untuk menanggapi dengan sepenuh hati panggilan Allah dalam dunia yang terus berubah. Hal ini benar teristimewa bagi kita kaum awam yang harus berjuang dengan pertanyaan tentang bagaimana seharusnya kita menanggapi panggilan kepada kehidupan doa di tengah-tengah kesibukan berbagai urusan keluarga, pekerjaan sosial dan lain-lainnya. Antara lain melalui upaya-upayanya dan kegagalan-kegagalannya, Allah terus-menerus membimbing Hieronimus selagi dia berjalan menuju suatu kehidupan yang dengan seimbang memasukkan ke dalamnya (1) panggilan untuk suatu hidup doa yang membutuhkan keheningan, maupun (2) panggilan untuk berinteraksi dengan dunia. Dengan demikian, kita juga dapat menaruh kepercayaan bahwa Roh Kudus akan membimbing kita melalui kompleksitas panggilan kita masing-masing.

Catatan: Disarikan dari berbagai sumber.

Jakarta, 30 September 2016

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENJADI SAKSI-SAKSI KABAR BAIK KERAJAAN ALLAH

MENJADI SAKSI-SAKSI KABAR BAIK KERAJAAN ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Hieronimus, Imam & Pujangga Gereja Jumat,  30 September 2016) 

c3606b07eb3e0f92bb5bfe8287005989“Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mukjizat-mukjizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung. Akan tetapi pada waktu penghakiman, tanggungan Tirus dan Sidon akan lebih ringan daripada tanggunganmu. Dan engkau Kepernaum, apakah engkau akan dinaikkan sampai ke langit? Tidak, engkau akan diturunkan sampai ke dunia orang mati!

Siapa saja yang mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku; dan siapa saja yang menolak kamu, ia menolak Aku; dan siapa saja yang menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku.” (Luk 10:13-16) 

Bacaan Pertama: Ayb 38:1,12-21; 39:36-38;  Mazmur Tanggapan: Mzm 139:1-3,7-10,13-14 

Dalam kuasa Roh, Yesus memulai pelayanan-Nya di depan publik di Galilea. Ia mengajar di rumah-rumah ibadat di situ dan semua orang memuji Dia (Luk 4:14-15). Sekarang, untuk terakhir kalinya mengunjungi kota-kota yang terletak di sepanjang pantai Danau Galilea, Yesus mengutus 70 orang murid-Nya untuk mempersiapkan orang-orang bagi kedatangan-Nya. Ia mengingatkan para murid-Nya tentang kemungkinan penolakan dari orang-orang terhadap mereka. Yesus mengajarkan kepada para murid-Nya apa yang harus dilakukan oleh mereka seandainya ditolak oleh para penduduk kota tertentu: “Jikalau kamu masuk ke dalam sebuah kota dan kamu tidak diterima di situ, pergilah ke jalan-jalan raya kota itu dan serukanlah: Juga debu kotamu yang melekat pada kaki kami, kami kebaskan di depanmu; tetapi ketahuilah ini: Kerajaan Allah sudah dekat. Aku berkata kepadamu: Pada hari itu Sodom akan lebih ringan tanggungannya daripada kota itu” (Luk 10:10-12).

Khorazin terletak sekitar 3 km sebelah utara Kapernaum, termasuk kota yang diuntungkan oleh kedekatannya dengan beberapa kota yang lebih makmur. Betsaida menopang industri perikanan yang relatif besar, sementara Kapernaum – titik sentral pelayanan Yesus di Galilea – telah menjadi saksi dari begitu banyak mukjizat dan pendengar dari pengajaran-pengajaran Yesus tentang kerajaan Allah.

Jadi, penduduk Galilea memiliki setiap alasan untuk menerima ajaran-ajaran Yesus dan mengakui Dia sebagai Mesias karena mereka merupakan bagian dari umat pilihan Allah. Akan tetapi, walaupun mereka pada awalnya mempunyai entuasiasme dan kemauan untuk mengikuti Yesus berkeliling di daerah itu, hati mereka tetaplah tertutup. Pada akhirnya, Yesus menegur mereka untuk ketidakpercayaan mereka (Luk 10:13,15). Ia membandingkan mereka dengan orang-orang kafir yang hidup di kota perdagangan ramai seperti Tirus dan Sidon. Orang-orang di dua kota ini kurang kadar dosanya apabila dibandingkan dengan orang-orang Galilea, karena orang-orang kafir memang tidak pernah mendengar pesan keselamatan yang disampaikan oleh Yesus.

Bagaimana dengan kita sendiri, yaitu anda dan saya?  Kita adalah umat pilihan Allah juga! Kita kenal Yesus dan mempunyai begitu banyak kesempatan untuk mendengar dan membaca sabda Allah dan untuk menyaksikan karya penyelamatan Allah di tengah-tengah kita. Akan tetapi, kita seringkali mengabaikan untuk menanggapi sabda Allah dengan serius, termasuk panggilan-Nya kepada kita untuk bertobat dan undangan-Nya yang penuh kasih agar kita mengubah kehidupan kita.

Tidak seorangpun yang telah berjumpa dengan Yesus dikecualikan dari tugas untuk menjadi saksi Kabar Baik Kerajaan Allah. Tidak semua kita diutus ke berbagai tempat (Luk 10:1 dsj.), seperti 12 (dua belas) rasul dan 70 (tujuh puluh) murid lainnya, akan tetapi kita dipanggil untuk memberikan testimoni di antara kita-kita sendiri – apakah di rumah, di tempat kerja, di sekolah, atau di paroki (wilayah, lingkungan). Kita harus menerima dan mengakui Yesus dan memperkenankan perubahan-perubahan bekerja di dalam kehidupan kita untuk menunjukkan kepada orang-orang lain tentang kebenaran Yesus dan cara-Nya untuk memanggil kita untuk menghayati kehidupan kita.

DOA: Tuhan Yesus, berikanlah kepadaku sebuah hati yang terbuka untuk mendengar sabda-Mu yang menyelamatkan. Buatlah diriku menjadi seorang pribadi yang mau dan mampu untuk berterima kasih penuh syukur untuk sabda-Mu dan taat kepada sabda-Mu itu. Berikanlah juga kepadaku keberanian untuk memberitakan pesan keselamatan-Mu kepada orang-orang yang kujumpai. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 10:13-15), bacalah tulisan yang berjudul “TIGA KOTA YANG DIKUTUK OLEH YESUS” (bacaan untuk tanggal 30-9-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak, 25 September 2016 [HARI MINGGU BIASA XXVI – TAHUN C]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TIGA PELAYAN DAN PESURUH ALLAH YANG AGUNG

TIGA PELAYAN DAN PESURUH ALLAH YANG AGUNG

(Bacaan Misa Kudus Pesta S. Mikael, Gabriel, dan Rafael, Malaikat Agung – Kamis, 29 September 2016)

 angels

Kemudian timbullah peperangan di surga. Mikael dan malaikat-malaikatnya berperang melawan naga itu, dan naga itu dibantu oleh malaikat-malaikatnya, tetapi tidak dapat bertahan; mereka tidak mendapat tempat lagi di surga.  Naga besar itu, si ular tua, yang disebut Iblis atau Satan, yang menyesatkan seluruh dunia, dilemparkan ke bawah; ia dilemparkan ke bumi, bersama-sama dengan malaikat-malaikatnya.

Lalu aku mendengar suara yang nyaring di surga berkata, “Sekarang telah tiba keselamatan dan kuasa dan pemerintahan Allah kita, dan kekuasaan Dia yang diurapi-Nya, karena telah dilemparkan ke bawah pendakwa saudara-saudara seiman kita, yang mendakwa mereka siang dan malam di hadapan Allah kita. Mereka mengalahkan dia oleh darah Anak Domba, dan oleh perkataan kesaksian mereka. Karena mereka tidak mengasihi nyawa mereka sampai harus menghadapi maut. Karena itu, bersukacitalah, hai surga dan hai kamu sekalian yang diam di dalamnya, celakalah kamu, hai bumi dan laut! karena Iblis telah turun kepadamu, dalam geramnya yang dahsyat, karena ia tahu bahwa waktunya sudah singkat.” (Why 12:7-12) 

Bacaan Pertama alternatif: Dan 7:9-10,13-14;  Mazmur Tanggapan: Mzm 138:1-5; Bacaan Injil: Yoh 1:47-51 

Yohanes (penulis Why) melaporkan sebuah peperangan di surga, antara Mikhael yang dibantu oleh para malaikat lainnya di satu pihak dengan Iblis yang dibantu oleh para malaikat pemberontak. Iblis dan para malaikat jahat akhirnya dikalahkan oleh darah Anak Domba (Why 12:7-11).

Hari ini kita merayakan “Pesta S. Mikael, Gabriel, dan Rafael, Malaikat Agung”. Gereja selalu menegaskan keberadaan para malaikat. Katekismus Gereja Katolik (KGK) mengatakan bahwa malaikat adalah makhluk rohani tanpa badan yang mempunyai akal budi dan kehendak. Malaikat adalah pelayan dan pesuruh Allah. Mereka adalah wujud pribadi dan tidak dapat mati. Mereka melampaui segala makhluk yang kelihatan dalam kesempurnaan (KGK 328-330). Pada hari yang khusus ini baiklah kita masing-masing merenungkan pertanyaan-pertanyaan berikut: Peranan apakah yang dimainkan para malaikat dalam rencana Allah bagi umat-Nya? Mengapa mereka penting? Apakah mereka mempunyai arti bagi kita dewasa ini? Bagaimana seharusnya kita memandang para malaikat itu dalam terang Yesus?

Injil Matius mencatat tiga peristiwa di mana Yesus berbicara mengenai para malaikat dan apa yang dilakukan mereka (Mat 4:11; 18:10; 26:53). Saya petik salah satu saja sabda Yesus: “Ingatlah, jangan menganggap rendah salah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di surga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di surga” (Mat 18:10). Kata-kata Yesus ini menjadi latar-belakang dari kepercayaan banyak orang Kristiani bahwa sebagai “agen kasih Allah”, para malaikat memperhatikan setiap manusia di muka bumi ini. Semoga anda tidak melupakan ayat-ayat dalam mazmur yang kita selalu baca pada Ibadat Penutup setiap Minggu malam: “Sebab TUHAN (YHWH) ialah tempat perlindunganmu, Yang Mahatinggi telah kaubuat tempat perteduhanmu, malapetaka tidak akan menimpa kamu, dan tulah tidak akan mendekat kepada kemahmu; sebab malaikat-malaikat-Nya akan diperintahkan-Nya kepadamu untuk menjaga engkau di segala jalanmu. Mereka akan menatang engkau di atas tangannya, supaya kakimu jangan terantuk kepada batu” (Mzm 91:9-12). 1]

Fungsi-fungsi ketiga malaikat agung ini sejalan dengan pelayanan Yesus, yaitu mewartakan kabar baik, menyembuhkan orang sakit dan membebaskan orang-orang yang tertindas. Gabriel (= Allah berkuasa) adalah pesuruh utama Allah untuk membawa kabar baik kepada umat-Nya. Dia membawa kabar kepada Maria bahwa dirinya akan melahirkan sang Juruselamat. Rafael (= Allah menyembuhkan) diasosiasikan dengan pelayanan kesembuhan yang dilakukan Yesus (lihat Kitab Tobit). Mikael (= yang menyerupai Allah) membebaskan umat Allah dari penindasan dengan melakukan pertempuran melawan Iblis (Why 12:7). Iblis dan malaikat-malaikat jahat di surga memberontak terhadap Allah (Why 12:3-9) karena kedengkian si Iblis terhadap manusia (lihat KebSal 2:23-24) yang seturut kehendak-Nya menjadi “anak sulung di antara semua ciptaan-Nya” (Yak 1:18). Jadi, kalau kita mau melindungi diri kita sendiri, kita perlu mengingat bahwa “perang rohani” atau “perang roh” (spiritual warfare atau spiritual battle [pertempuran rohani]) yang kita hadapi itu adalah sungguh riil. Yesus memang telah mengalahkan Iblis dan para malaikat pemberontak, tetapi mereka masih bebas untuk menggoda dan mencobai kita sampai Yesus datang dalam kemuliaan-Nya kelak.

Pada saat kita melibatkan diri dalam “perang roh” dari hari ke hari, ingatlah akan peperangan yang dilakukan antara kekuatan baik dan kekuatan jahat. Dengan memahami keseriusan peperangan atau pertempuran rohani dan bagaimana hal itu dapat membawa dampak pada kehidupan kita, maka kita dapat mempersenjatai diri kita dengan keyakinan, bahwa melalui Yesus kita “dimasukkan” ke dalam komunitas Tritunggal. Dalam Kristus, tidak ada sesuatu pun yang dapat mengalahkan kita; kita bahkan dapat mengatasi setiap serangan. Para malaikat Allah selalu ada untuk membantu kita.  Kitab Suci mengatakan: “Bukankah mereka semua adalah roh-roh yang melayani, yang diutus untuk melayani mereka yang akan mewarisi keselamatan?” (Ibr 1:14).

Selagi kita merayakan Pesta ketiga malaikat agung hari ini, marilah kita menghadap Yesus dengan segala kerendahan hati. Marilah kita bersyukur dan berterima kasih kepada Yesus karena kasih-Nya yang  begitu besar kepada kita dan segala berkat yang dilimpah-limpahkan-Nya kepada kita. Kita mohon kepada Yesus agar Dia mengutus para malaikat-Nya untuk menolong kita dalam “perang roh” hari demi hari.

DOA: Bapa surgawi, aku bersyukur kepada-Mu untuk kemuliaan dan keagungan para malaikat-Mu, meskipun hanya ada tiga malaikat agung saja yang kuketahui namanya dari Kitab Suci. Perkenankanlah mereka menolong aku dalam ziarahku di dunia ini, yaitu dalam perjalanan pulangku kepada-Mu. Semoga selalu ada malaikat-Mu yang mendampingiku dalam “perang roh” yang harus aku jalani setiap hari. Dengan penuh rasa syukur dan hati yang terbuka-lebar aku menyambut kedatangan para malaikat-Mu ke dalam tugas pelayananku, keluargaku serta Gereja, dan kehadiran mereka dalam masyarakat luas guna menolong siapa saja yang berkehendak baik. Amin.

1] Teks diambil dari ALKITAB (TB) terbitan Lembaga Alkitab Indonesia yang mempunyai nuansa/ perbedaan-halus dengan teks  yang digunakan dalam buku Ibadat Harian. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini [Why 12:7-12], bacalah tulisan yang berjudul “PESTA TIGA MALAIKAT AGUNG [6]” dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2009) 

Cilandak, 25 September 2016 [HARI MINGGU BIASA XXVI – TAHUN C] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MERANGKUL SEPENUHNYA JALAN TUHAN

MERANGKUL SEPENUHNYA JALAN TUHAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVI – Rabu, 28 September 2016)

OFMCap.: Peringatan Beato Inosensius dr Bertio, Imam Biarawan 

jesus_christ_picture_013Ketika Yesus dan murid-murid-Nya melanjutkan perjalanan mereka, berkatalah seseorang di tengah jalan kepada Yesus, “Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi.” Yesus berkata kepadanya, “Rubah mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Lalu Ia berkata kepada seorang yang lain, “Ikutlah Aku!”  Tetapi orang itu berkata, “Tuhan, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapakku.” Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana.” Lalu seorang yang lain lagi berkata, “Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku.” Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.” (Luk 9:57-62) 

Bacaan Pertama: Ayb 9:1-112,14-16; Mazmur Tanggapan: Mzm 88:10-15 

Allah kita penuh “cemburu” dalam kasih-Nya kepada kita (lihat Kel 34:14). Apabila kita mengambil keputusan untuk mengikuti-Nya, maka Dia meminta kepada kita untuk meninggalkan segala rencana kita dan ide-ide kita sendiri, kemudian merangkul sepenuhnya “jalan Tuhan”. Tujuan Yesus adalah untuk memperbaiki pikiran kita dan mengajar kita jalan kepada Bapa. Kita tidak dapat belajar “jalan” itu apabila kita masih tetap terikat pada adat-kebiasaan dan nilai-nilai duniawi – walaupun nilai-nilai yang paling agung sekalipun. Allah adalah Pribadi yang menentukan standar-standar bagi kita, bahwa kita harus tidak lagi terikat pada apa saja selain Allah sendiri selagi kita mengikuti-Nya.

Bagi banyak dari kita, kata-kata Yesus kepada “calon-calon murid” ini terdengar terlalu keras dan ekstrim, sehingga sulit untuk dipercaya sungguh keluar dari mulut seorang Yesus yang penuh kasih. Secara hampir instinktif kita mulai mereka-reka apakah di sini Yesus sekadar bersikap “lebay” … “berlebihan” untuk menjelaskan suatu masalah penting. Untunglah bagi kita, Yesus itu serius dan tidak pernah “lebay” seperti pengkhotbah murahan. Yesus tahu bahwa karena kasih Bapa mengutus-Nya ke tengah dunia untuk menebus kita dari kita dari kehidupan dosa, sehingga kita dapat dipenuhi secara lengkap dengan kehidupan Allah sendiri. Transformasi yang ditawarkan-Nya tidak bersifat parsial – artinya mutlak dan lengkap!

Tuntutan-tuntutan Yesus kepada kita – para pengikut/murid-Nya – dimaksudkan untuk menantang sikap-sikap hati kita. Yesus tidak menuntut kita untuk menepati praktek-praktek keagamaan, melainkan menyampaikan pesan tentang isu sentralnya: “Sampai berapa dalam Engkau mempercayaiku? Jika Aku adalah Tuhan alam semesta, maukah kamu mempercayai hikmat-kebijaksanaan-Ku lebih daripada hikmat-kebijaksanaan dunia? Maukah kamu mentaati perintah-perintah-Ku di atas pengharapan-pengharapan dunia? Maukah kamu mempercayai-Ku lebih daripada kamu mempercayai bahkan dirimu sendiri?”

Dengan demikian, alangkah baiknya apabila kita pada hari ini mengundang Roh Kudus masuk ke dalam hati kita masing-masing. Ia ingin menolong kita membuang segala cara yang mementingkan diri sendiri dan kecintaan akan hal-hal duniawi. Roh Kudus ingin memberikan kepada kita iman yang cukup kuat untuk mempercayai bahwa Allah akan setia kepada kita dan memenuhi segala kebutuhan kita. Dia ingin meyakinkan kita tentang kemampuan-Nya – dan hasrat-Nya – untuk memenuhi diri kita dengan sukacita dan damai-sejahtera yang jauh melampaui apa yang dapat kita capai dengan kekuatan kita sendiri.

DOA: Tuhan Yesus, kami menyerahkan hidup kami kepada –Mu. Penuhilah diri kami masing-masing dengan Roh-Mu. Tunjukkanlah kepada kami sikap kemandirian kami yang salah, sehingga kami dapat ditransformasikan menjadi murid-murid-Mu yang sejati. Tolonglah kami memusatkan hati kami pada-Mu saja selagi kami memuliakan Engkau dengan rasa percaya dan ketaatan kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 9:57-62), bacalah  tulisan yang berjudul “YA TUHAN, AKU AKAN MENGIKUT ENGKAU” (bacaan untuk tanggal 28-9-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak, 24 September 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SELALU ADA OPSI LAIN KETIMBANG JALAN KEKERASAN

SELALU ADA OPSI LAIN KETIMBANG JALAN KEKERASAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Vinsensius a Paulo – Selasa, 27 September 2016) 

YESUS DAN KEDUABELAS MURID-NYAKetika hampir tiba waktunya Yesus diangkat ke surga, Ia mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem, dan Ia mengirim beberapa utusan mendahului Dia. Mereka itu pergi, lalu masuk ke suatu desa orang Samaria untuk mempersiapkan segala sesuatu bagi-Nya. Tetapi orang-orang Samaria itu tidak mau menerima Dia, karena perjalanan-Nya menuju Yerusalem. Ketika dua murid-Nya, yaitu Yakobus dan Yohanes, melihat hal itu, mereka berkata, “Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?” Akan tetapi, Ia berpaling dan menegur mereka. Lalu mereka pergi ke desa yang lain. (Luk 9:51-56) 

Bacaan Pertama: Ayb 3:1-3,11-17,20-23; Mazmur Tanggapan: Mzm 88:2-8 

Pelangi dari zamrud, tua-tua yang mengenakan mahkota emas, para kudus yang mengenakan pakaian putih, sebuah kota yang terbuat dari emas murni, sungai yang memberikan air kehidupan begitu jernih seperti kristal (bdk. Why 4). Dengan bayangan akan rumah surgawi-Nya yang sedemikian, tidak mengherankanlah apabila Yesus “mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem” (Luk 9:51)! Dia tahu jalan ke sana akan menyakiti, namun Dia juga tahu bahwa Dia akan pulang dan akan membuka rumah-Nya bagi kita semua.

Kalau kita coba membaca keteguhan hati Yesus, kita dapat membayangkan bahwa Dia cuma menggertakkan gigi-Nya dan kemudian mengundurkan diri ke tujuan-Nya. Namun ketika Yesus mengarahkan pandangan-Nya ke Yerusalem, Ia tidak hanya melihat kematian dan kebangkitan. Ia juga melihat kenaikan-Nya ke surga dan kita yang bergabung dengan-Nya di sana.

Dalam jalan-Nya, Yesus tidak menunjukkan toleransi samasekali terhadap sikap dan perilaku yang menyangkut kekerasan. Kakak beradik putera-putera Zebedeus, yang keduanya diberi-Nya nama Boanerges atau “anak-anak guruh” (lihat Mrk 3:17) menanggapi penolakan orang-orang Samaria, lalu minta izin kepada Yesus untuk membinasakan desa Samaria itu dengan menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka. Yesus dengan tegas menolak “usulan” kedua murid-Nya itu dan malah menegur mereka. Selalu ada alternatif lain dari “jalan kekerasan”! ……… dalam kasus ini: pergi ke desa yang lain (lihat Luk 9:53-56).

Yakobus dan Yohanes bersama Petrus adalah tiga orang murid Yesus yang tergolong “lingkaran dalam”. Jika yang termasuk “lingkaran dalam” saja masih belum juga memahami serta menghayati segala pengajaran-Nya, bagaimana dengan para murid yang lain? Yerusalem sudah di depan mata! Itulah sebabnya mengapa pada waktu melanjutkan perjalanan mereka, Yesus melanjutkan pengajaran-Nya kepada mereka tentang pemuridan/kemuridan dalam hal mengikut Dia (lihat Luk 9:57-62). Yesus menyerukan kepada para murid-Nya itu untuk meninggalkan segala sesuatu di belakang dan mengikut Dia. Dia ingin membakar hati kita dengan hasrat akan “hadiah panggilan surgawi dari Allah dalam Kristus Yesus” (Flp 3:14). Kita bukanlah sekadar warga dunia ini. “… kewargaan kita terdapat di dalam surga dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat, yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia”  (Flp 3:20-21). Dengan surga dalam hati kita, kita pun dapat mengarahkan pandangan kita kepada Allah dengan penuh pengharapan.

Dalam perjalanan keliling-Nya untuk melayani orang-orang (bukan untuk tebar pesona), Yesus menghadapi begitu banyak tentangan, perlawanan, sengsara dan bahkan kematian di kayu salib layaknya seorang penjahat kelas berat, namun Dia tidak pernah mundur. Ia tahu bahwa sebagai murid-murid-Nya kita pun menghadapi banyak tentangan dan halangan dalam kehidupan kita. Oleh karena itu Dia ingin membuka mata hati kita terhadap pancaran warisan kekal kita dan membuatnya menjadi kekuatan pendorong di belakang ketetapan hati kita. Allah selalu siap untuk menunjukkan kepada kita bahwa kita sangat berharga di mata-Nya, sudah ditentukan (“ditakdirkan”) untuk mengambil bagian dalam kemuliaan kerajaan-Nya. Melalui doa-doa harian, perhatian serius atas sabda Allah dalam Kitab Suci, rahmat sakramen-sakramen, kita semua dapat diperkuat dalam perjalanan kita. Marilah kita menghadap Yesus hari ini dan membuka hati kita bagi-Nya.

DOA: Bapa surgawi, bukalah hati kami terhadap kemuliaan rumah surgawi kami. Semoga visi ini mendorong kami melangkah ke depan selagi kami mencari Yesus, Putera-Mu terkasih, mutiara yang begitu berharga. Yesus, kami ingin bersama-Mu selama-selamanya. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 9:51-56), bacalah tulisan berjudul “TINDAKAN BALAS DENDAM TIDAK ADA DALAM HATI YESUS” (bacaan untuk tanggal 27-9-16) dalam situs PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010) 

Cilandak, 22 September 2016 [Peringatan S. Ignatius dr Santhi, Imam Biarawan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

YANG TERKECIL, DIALAH YANG TERBESAR

YANG TERKECIL, DIALAH YANG TERBESAR

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVI – Senin, 26 September 2016)

OFS: Peringatan S. Elzear dan Delfina, Ordo III S. Fransiskus Sekular 

c3606b07eb3e0f92bb5bfe8287005989Kemudian timbullah pertengkaran di antara murid-murid Yesus tentang siapakah yang terbesar di antara mereka. Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka. Karena itu Ia mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di samping-Nya , dan berkata kepada mereka, “Siapa saja yang menyambut anak ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku, ia menyambut Dia, yang mengutus Aku. Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar.”

Yohanes berkata, “Guru, kami lihat seseorang mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita.” Yesus berkata kepadanya, “Jangan kamu cegah, sebab barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu.” (Luk 9:46-50) 

Bacaan Pertama: Ayb 1:6-22; Mazmur Tanggapan: Mzm 17:1-3,6-7 

Para murid Yesus telah melihat Ia berkhotbah tentang Kerajaan Allah dan menyerukan pertobatan, menyembuhkan orang-orang sakit, mengusir roh-roh jahat yang merasuki orang-orang, membuat berbagai mukjizat dan tanda heran lainnya. Setelah memberikan kepada mereka otoritas di atas roh-roh jahat dan kuasa untuk menyembuhkan berbagai penyakit, Yesus juga telah mengutus para murid untuk memberitakan Kerajaan Allah dan menyembuhkan orang-orang sakit (Luk 9:1-2). Kecenderungan manusia adalah memperkenankan kuasa masuk ke dalam kepala kita. Dengan demikian, herankah anda kalau membaca bahwa belum apa-apa para murid Yesus sudah saling bertengkar tentang siapa yang paling besar di antara mereka?

Kenyataan bahwa para murid yang sudah begitu dekat dengan Sang Guru, sekarang jatuh ke dalam situasi “persaingan tidak sehat” satu dengan lainnya dapat menyebabkan kita bertanya-tanya apakah mungkin bagi kita bersikap dan berperilaku rendah hati seorang anak dan sepenuhnya tergantung kepada Allah sebagaimana diajarkan oleh Yesus? “Yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar” (Luk 9:48). Namun pengalaman para murid Yesus pertama itu sebenarnya dapat mengajarkan kepada kita pelajaran sebaliknya. Mereka belajar dari kegagalan-kegagalan mereka. Oleh kuasa Roh Kudus, mereka bertumbuh dalam kerendahan hati yang mereka butuhkan untuk peranan pelayanan bagi Kerajaan Allah.

yesus-dan-anak-anak-yesus-sedang-mengajar-seorang-anak-kecilSejak terkandung-Nya dalam rahim Perawan Maria, Yesus menjalani suatu kehidupan yang rendah hati secara lengkap. Santo Paulus menulis, bahwa Kristus Yesus, “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa  seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia” (Flp 2:6-7). Dengan rendah hati Yesus memperkenankan Bapa menjadi segalanya dalam apa yang dilakukan-nya (lihat Yoh 5:19). Dalam kerendahan hati penuh ketaatan sebagai manusia, Yesus sampai mati di kayu salib (lihat Flp 2:8).

Rahasia untuk menjadi rendah hati terletak pada Yesus sendiri. Kepada siapa di antara kita yang merasa dibebani dengan kesombongan dan sikap serta perilaku mementingkan diri sendiri, Yesus bersabda, “Pikullah gandar yang Kupasang dan belajarlah kepada-Ku” (Mat 11:29). Dengan demikian, kita berada di jalan menuju kerendahan hati sementara kita memeditasikan Yesus dan semakin dekat dengan kasih-Nya kepada kita. Kunci terhadap kerendahan hati terletak pada kehadiran Yesus yang rendah hati untuk diam dalam hati kita. Baiklah kita seringkali berpaling kepada-Nya, terutama pada hari ini dan berkata, “Buatlah diriku menjadi seperti Engkau, ya Yesus.”

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah kami berdiam  dalam persekutuan dengan Bapa surgawi, hal mana telah hilang melalui dosa kami namun diperbaharui bagi kami melalui kematian-Mu yang penuh kedinaan dan juga kebangkitan-Mu. Melalui persekutuan ini, semoga kami memperoleh kerendahan hati yang Engkau hasrati untuk kami miliki. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 9:46-50), bacalah tulisan yang berjudul “YANG TERKECIL DI ANTARA KAMU SEKALIAN, DIALAH YANG TERBESAR” (bacaan tanggal 26-9-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010) 

Cilandak, 21 September 2016 [Pesta S. Matius, Rasul Penulis Injil] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PERUMPAMAAN TENTANG ORANG KAYA DAN LAZARUS YANG MISKIN

PERUMPAMAAN TENTANG ORANG KAYA DAN LAZARUS YANG MISKIN

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXVI [Tahun C] – 25 September 2016)

 painting1

“Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan. Ada pula seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu, dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya. Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham. Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya. Lalu ia berseru, Bapak Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyjukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini. Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang di sini ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita. Selain itu, di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang. Kata orang itu: Kalau demikian, aku minta kepadamu, Bapak, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku, sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar maereka jangan masuk ke dalam tempat penderitaan ini. Tetapi kata Abraham: Mereka memiliki kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkannya. Jawab orang itu: Tidak, Bapak Abraham, tetapi jika seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat. Kata Abraham kepada-Nya Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati.” (Luk 16:19-31) 

Bacaan Pertama: Am 6:1a,4-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 146:7-10; Bacaan Kedua 1Tim 6:11-16 

Yesus rindu untuk membebas-merdekakan hati kita dari perbudakan dosa dan memulihkan persatuan kita dengan Bapa surgawi. Dalam “Perumpamaan tentang Orang kaya dan Lazarus yang miskin” yang ditulis hanya oleh Lukas ini, Yesus tidak saja mengilustrasikan kasih Allah bagi orang miskin, melainkan juga Dia mengungkapkan hasrat Bapa surgawi untuk membebaskan kita dari tipu muslihat dan perbudakan dosa.

Dosa orang kaya itu tidak hanya cintanya akan uang, melainkan juga cinta-diri. Dari kedalaman alam maut, si kaya masih saja dikuasai oleh dorongan hatinya untuk memuaskan kebutuhan diri sendiri: “Bapak Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini” (Luk 16:24). Dia tidak menunjukkan sedikit pun tanda-tanda bahwa dirinya menyesali dosa ketamakannya; dia masih menginginkan agar orang-orang lain melayani dirinya.

Di sisi lain, si kaya mencari suatu kesempatan untuk melayani saudara-saudaranya yang masih hidup di dunia, dengan meminta agar Lazarus memperingatkan mereka tentang “tempat penderitaan” di mana dia sekarang berada (lihat Luk 16:28). Apakah hal ini mencerminkan suatu perubahan hati? Tidak sampai begitu! Hal ini hanya menunjukkan bahwa selama hidupnya di dunia, si kaya sadar akan kehendak Allah, namun telah memilih untuk mengabaikannya. Sadar bahwa saudara-saudaranya juga mengabaikan sabda Allah, dia menginginkan terjadinya suatu peristiwa yang bersifat supernatural agar dapat menggoncangkan hati mereka sehingga akhirnya menjadi percaya. Jawaban Abraham mematahkan harapan hampanya itu: “Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati” (Mat 16:31).

Perumpamaan sederhana Yesus ini menunjukkan wawasan sesungguhnya betapa hati manusia dapat mendua atau “salah arah”. Dalam “perjuangan” kita untuk mencapai “kebahagiaan”, kita bekerja dan berjuang; kita akan melakukan hampir segalanya untuk meraih kekayaan, popularitas, atau sukses. Akan tetapi, ketika menyangkut pelaksanaan hal-hal yang berurusan dengan Allah kita dapat berpikir bahwa hampir tidak mungkinlah untuk mentaati-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, biarkanlah Roh-Mu menyelidiki hati kami dan mencabut segala kecintaan kami akan segala hal yang bertentangan dengan kehendak-Mu. Tolonglah kami agar dapat berbuah dan hidup dalam Engkau dan menempatkan hal-hal Kerajaan-Mu di atas segala hal yang lain. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 16:19-31), bacalah tulisan yang berjudul “TIDAK HANYA KESAKSIAN MUSA DAN PARA NABI” (bacaan tanggal 25-9-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak, 21 September 2016 [Pesta S. Matius, Rasul Penulis Injil] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS