YESUS BERJANJI UNTUK MENOLONG MEMIKUL BEBAN-BEBAN KITA

YESUS BERJANJI UNTUK MENOLONG MEMIKUL BEBAN-BEBAN KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XV –  Kamis, 19 Juli 2018)

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah gandar yang Kupasang dan belajarlah kepada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab gandar yang Kupasang itu menyenangkan dan beban-Ku pun ringan.” (Mat 11:28-30) 

Bacaan Pertama: Yes 26:7-9,12,16-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 102:13-21 

Terkadang beban-beban kehidupan terasa seperti tidak henti-hentinya …… tidak habis-habisnya membuat berat hidup kita. Kita harus menyediakan sandang, pangan dan papan bagi diri kita sendiri dan keluarga kita. Dinamika kehidupan berkeluarga dapat membawa kita kepada ketegangan. Membesarkan anak-anak dalam dunia yang kompleks sungguh dapat merupakan beban berat yang menindih para orangtua. Usia tua dan penyakit dapat mengkonfrontir kita dengan ketidakpastian, luka-luka batin dan tentunya biaya. Walaupun demikian, Yesus mengajak kita untuk memikul gandar/kuk yang dipasang-Nya …… dan pada akhirnya jiwa kita akan mendapat ketenangan (Mat 11:29).

Yesus berjanji untuk menolong kita memikul beban-beban kita selagi kita menerima salib-Nya dan belajar dari Dia. “Memikul gandar yang dipasang Yesus” berarti kita menjawab undangan-Nya kepada pemuridan/kemuridan … undangan untuk menjadi murid-murid-Nya. Mengikuti Yesus … menjadi seperti Dia, tidaklah berarti melakukan atau tidak melakukan hal-hal yang termuat dalam sebuah daftar panjang yang berisikan segala apa yang harus kita lakukan dan tidak boleh lakukan (do’s and don’ts). Mengikuti Yesus berarti kita memperkenankan diri-Nya memancarkan terang-Nya pada pikiran-pikiran dan motif-motif kita dan menggerakkan kita untuk taat pada perintah-perintah-Nya. Dalam kelemah-lembutan dan bela rasa, Dia akan menyatakan kasih-Nya dan menawarkan kesembuhan kepada kita. Perjumpaan dengan kasih sedemikian dapat mentransformasikan kita. Situasi-situasi yang sulit menjelma menjadi kesempatan-kesempatan bagi rahmat Allah untuk bergerak dalam diri kita dan melalui kita, kepada orang-orang lain.

Yesus mengundang setiap orang yang merasa letih dan berbeban berat, tidak hanya mereka yang “suci-suci” atau yang mempunyai kecenderungan untuk melibatkan diri dalam hal-hal yang “berbau” religius. Siapa saja dapat memberi tanggapan terhadap undangan-Nya karena siapakah Allah itu, bukan karena siapakah kita ini. Melalui Yesus, Allah telah membebaskan kita dari beban-beban kehidupan. Melalui kuat-kuasa-Nya dan syafaat-Nya (lihat Ibr 9:15), bahkan ketika Dia kelihatan jauh, Yesus senantiasa siap untuk menolong kita untuk memikul beban-beban kita. Yesus dapat dipercaya dan Ia akan dengan setia memenuhi segalanya yang telah dijanjikan-Nya kepada kita.

Kita dapat memperoleh ketenangan di hadapan hadirat Allah dengan mengheningkan hati dan pikiran kita. Kita dapat memeditasikan sebuah ayat Kitab Suci atau sebuah misteri Kristus. Kita dapat merenungkan anugerah besar yang kita terima pada saat Ekaristi. Kita dapat mencari hati Yesus dalam diri orang-orang di sekeliling kita, melihat dalam diri mereka sebagian dari kebesaran Allah, bukan sekadar seorang pribadi lain dengan siapa kita harus berelasi. Marilah kita memperkenankan Yesus mengisi kita dengan kehadiran-Nya. Yesus rindu sekali untuk mencurahkan kasih-Nya, menganugerahkan karunia hikmat, rahmat, karunia untuk menyembuhkan, bahkan karunia untuk membuat mukjizat. Yang perlu kita lakukan adalah untuk minta kepada-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, di hadapan hadirat-Mu jiwaku mendapat ketenangan. Datanglah, ya Tuhan Yesus, dan terangilah pikiranku dan transformasikanlah hatiku. Aku rindu akan kasih-Mu dan segala karunia yang ingin Kau anugerahkan kepadaku pada hari ini. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 11:28-30), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MENGUNDANG KITA” (bacaan tanggal 19-7-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 16 Juli 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

ALLAH TIDAK INGIN TETAP TERSEMBUNYI

ALLAH TIDAK INGIN TETAP TERSEMBUNYI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XV – Rabu, 18 Juli 2018)

Pada waktu itu berkatalah Yesus, “Aku bersyukur kepada-Mu, Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil. Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu. Semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku dan tidak seorang pun mengenal Anak selain Bapa, dan tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya.”(Mat 11:25-27) 

Bacaan Pertama: Yes 10:5-7,13-16; Mazmur Tanggapan: Mzm 94:5-10,14-15 

Dalam doa syukur-Nya kepada Bapa surgawi, Yesus mengakui bahwa hikmat ilahi disembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai (Mat 11:25). Mengapa Allah harus menyembunyikan diri-Nya seperti ini, teristimewa dari mereka yang memiliki reputasi sebagai orang-orang berhikmat? Bukankah merupakan strategi yang lebih baik apabila Dia menyatakan diri-Nya kepada mereka dahulu, lalu menggunakan mereka untuk meyakinkan orang-orang sederhana? Akan tetapi kalau kita melihat cara Allah bekerja sepanjang sejarah, maka kita dapat melihat bahwa yang terjadi terlebih-lebih merupakan kasus di mana orang-orang mencoba untuk menyembunyikan diri mereka dari Allah, bukannya Allah mencoba menyembunyikan diri dari mereka.

Allah tidak ingin tetap tersembunyi. Dia ingin menyatakan diri-Nya. Dia ingin menunjukkan kepada kita semua pikiran dan hati-Nya. Namun seperti dikatakan Yesus, Allah menyatakan diri-Nya kepada orang-orang yang seperti anak kecil. Hal ini merupakan tantangan bagi kita semua. Allah juga ingin menyatakan diri-Nya kepada kita secara bebas. Anugerah pernyataan diri Allah ini bukanlah imbalan atas kerja kita berdasarkan kekuatan kita sendiri. Anugerah Allah ini diberikan secara bebas oleh-Nya.

Namun dalam hal ini kita harus jelas juga. Menerima pernyataan diri Allah dapat menjadi “mahal” … menyangkut “biaya” tinggi. Mengapa? Karena hal itu pertama-tama menuntut dari diri kita pengakuan akan kebutuhan-kebutuhan kita. Kita tidak mempunyai segala jawaban berkaitan dengan kehidupan, tentang para sahabat dan keluarga kita, atau bahkan mengenai diri kita sendiri. Menerima kenyataan ini tidak selalu mudah karena menyangkut rasa harga diri kita … kebanggaan kita dan bahkan menempatkan kita dalam suatu posisi ketergantungan. Pernyataan diri Allah itu mahal juga karena berarti menyerahkan kendali atas hidup kita dan memperkenankan Yesus untuk memerintah dalam diri kita.

Teolog kondang Hans Urs von Balthasar sekali mengamati, bahwa ketika Yesus berkata, “jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini” (Mat 18:3), Ia tidak mengacu hanya kepada anak-anak kecil, melainkan kepada diri-Nya sendiri. Yesus, Putera Allah, tidak hanya menjadi anak yang aktual dari Bapa. Sepanjang hidup-Nya, Yesus mengosongkan diri-Nya dan mencari hikmat dan rencana Bapa-Nya dengan kesederhanaan dan kerendahan hati seorang anak kecil. Karena sifat-Nya yang seperti anak kecil, Yesus mampu untuk mendengar Bapa-Nya kapan saja dan di mana saja. Hati-Nya senantiasa terbuka bagi pernyataan dan hikmat Bapa-Nya. Semoga kita semua mengikuti teladan Yesus dan menjadi seperti anak-anak kecil di hadapan hadirat Bapa surgawi.

DOA: Bapa surgawi, tolonglah aku agar dapat menjadi seorang pribadi yang dapat diajar, senantiasa mencari kehendak-Mu dan memeditasikan sabda-Mu. Aku tidak hanya ingin menerima hikmat-Mu. Aku ingin hikmat-Mu itu mengubah hatiku dan menjadi cara hidupku sendiri. Semoga dari hari ke hari aku dapat menjadi semakin serupa dengan Putera-Mu terkasih, Tuhan dan Juruselamat kami semua. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 11:25-27), bacalah tulisan yang berjudul “ALLAH TIDAK DAPAT DIPAHAMI BERDASARKAN UKURAN-UKURAN MANUSIA” (bacaan tanggal 18-7-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 16 Juli 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS MENGECAM TIGA KOTA DI DAERAH GALILEA

YESUS MENGECAM TIGA KOTA DI DAERAH GALILEA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XV – Selasa, 17 Juli 2018)

FSGM: Peringatan wafat Pendiri Kongregasi

MISC: Hari Raya S. Maria Magdalena Postel, Pendiri Tarekat – anggota OFS 

Lalu Yesus mulai mengecam kota-kota yang tidak bertobat, sekalipun di sini Ia paling banyak melakukan mukjizat-mukjizat-Nya, “Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! Karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mukjizat-mukjizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung. Tetapi Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanggungan Tirus dan Sidon akan lebih ringan daripada tanggunganmu. Dan engkau Kapernaum, apakah engkau akan dinaikkan sampai ke langit? Tidak, engkau akan diturunkan sampai ke dunia orang mati! Karena jika di Sodom terjadi mukjizat-mukjizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, kota itu tentu masih berdiri sampai hari ini. Tetapi Aku berkata kepadamu: Pada hari penghakiman, tanggungan negeri Sodom akan lebih ringan daripada tanggunganmu.” (Mat 11:20-24) 

Bacaan Pertama: Yes 7:1-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 48:2-8 

Contoh-contoh dari tanggapan negatif terhadap karya pelayanan Yesus di depan publik adalah tiga kota di daerah Galilea: Khorazim, Betsaida dan Kapernaum di mana Dia melakukan karya pelayanan yang besar. Di sini Nazaret tidak disebut-sebut, namun akan datang gilirannya seperti diceritakan dalam Mat 13:53-58. Walaupun karya pelayanan Yesus yang paling berhasil adalah di Galilea, kita dapat mengatakan bahwa tanggapan masyarakat di sana pun tidaklah bersifat universal.

Kecaman Yesus terhadap tiga kota ini kiranya keluar dari sebuah hati yang menderita sakit-rindu …… rindu untuk melihat umat-Nya kembali kepada Allah dan percaya kepada keselamatan yang telah dibawa-Nya dari Bapa surgawi. Seruan Yesus ini mengingatkan kita pada ratapan Yesus sebelum memasuki kota Yerusalem untuk terakhir kali sebelum wafat di kayu salib: “Yerusalem, Yerusalem, engkau yang membunuh nabi-nabi dan melempari dengan batu orang-orang yang diutus kepadamu! Berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau” (Mat 23:37).

Kapernaum terletak dalam teritori Naftali dan Zebulon, dan Kapernaum inilah tempat Yesus memulai pelayanan-Nya di muka publik. Nabi Yesaya telah bernubuat tentang kedatangan sang Mesias ke tempat-tempat ini: “Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar. …… Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai. Besar kekuasaannya, dan damai sejahtera tidak akan berkesudahan di atas takhta daud dan di dalam kerajaannya, karena ia mendasarkan dan mengokohkannya dengan keadilan dan kebenaran dari sekarang sampai selama-lamanya” (Yes 9:1,5-6).

Nubuatan ini menjadi sebuah realitas dalam diri Yesus, namun orang-orang di kota-kota yang disebutkan di atas menolak untuk merangkul Yesus dan pesan kehidupan-Nya. Orang mati dibangkitkan; orang lumpuh dibuat berjalan kembali; orang buta dicelikkan matanya, dan pesan keselamatan diwartakan kepada mereka; namun telinga-telinga mereka tetap tertutup dan hati mereka tetap keras. “Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! Karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mukjizat-mukjizat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung” (Mat 11:21). Hal penting yang tersirat dalam pesan Yesus ini adalah: semakin besar pernyataan/perwahyuan yang diterima, semakin besar pula akuntabilitas, sebuah prinsip yang kita dapat lihat di bagian-bagian lain dalam Perjanjian Baru.

Kita ditantang untuk melihat ke dalam hati kita sendiri dan bertanya: “Bagaimana aku menanggapi harta-kekayaan besar yang telah diberikan kepadaku dalam Kristus?” Kita pantas berdoa kepada Roh Kudus agar Ia menunjukkan kepada kita pentingnya kehidupan kita dengan Yesus dan memperdalam hidup itu dalam diri kita. Marilah kita mendoakan doa itu setiap hari agar dapat mengenal kasih Allah yang besar bagi kita dan menghaturkan terima kasih penuh syukur kita atas keselamatan kita yang telah dimenangkan oleh Kristus Yesus.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau telah mengutus Putera-Mu, Yesus Kristus, untuk menyelamatkan dunia. Semoga Roh Kudus-Mu senantiasa mengingatkan kami tentang apa saja yang telah dilakukan oleh Yesus bagi kami. Semoga kami selalu terbuka bagi sabda kebenaran-Nya. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 11:20-24), bacalah tulisan dengan judul “BAGAIMANA DENGAN SIKAP KITA SENDIRI?” (bacaan tanggal 17-7-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2018. 

Cilandak, 15 Juli 2018 [HARI MINGGU BIASA XV – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENJADI DUTA-DUTA YESUS KRISTUS DI ZAMAN NOW

MENJADI DUTA-DUTA YESUS KRISTUS DI ZAMAN NOW

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XV – Senin, 16 Juli 2018)

“Jangan kamu menyangka bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang. Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya.

Siapa saja yang mengasihi bapa atau ibunya lebih daripada Aku, ia tidak layak bagi-Ku; dan siapa saja yang mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih daripada Aku, ia tidak layak bagi-Ku. Siapa saja yang tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak  bagi-Ku. Siapa saja yang mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan siapa saja yang kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya.

Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia yang mengutus Aku.  Barangsiapa menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan menerima upah nabi, dan barangsiapa menyambut  seorang benar sebagai orang benar, ia akan menerima upah orang benar. Siapa saja yang memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Ia tidak akan kehilangan upahnya.”

Setelah Yesus mengakhiri pesan-Nya kepada kedua belas murid-Nya, pergilah Ia dari sana untuk mengajar dan memberitakan Injil di dalam kota-kota mereka. (Mat 10:34-11:1) 

Bacaan Pertama: Yes 1:11-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 50:8-9,16-17,21,23 

“Barangsiapa menyambut kamu, ia menyambut Aku.” (Mat 10:40)

Bacaan Injil hari ini muncul pada akhir “diskursus misioner” – sejenis sesi pelatihan untuk para murid terdekat Yesus berkaitan dengan tugas pelaksanaan Misi-Nya. Seperti seorang kepala negara yang sedang memberi briefing kepada para duta dan duta besarnya sebelum mengutus mereka ke berbagai ibu kota negara asing, Yesus menginstruksikan para murid-Nya itu sebelum Ia melepas mereka untuk mewakili diri-Nya ke kota-kota di Galilea. Misi mereka itu serupa dengan misi-Nya sendiri.

Bayangkanlah betapa erat Yesus mengidentifikasikan diri-Nya dengan para murid-Nya. Dia mengatakan kepada mereka bahwa apabila orang-orang mau menyambut para murid-Nya dalam daging, maka hal itu berarti bahwa mereka pun siap untuk menerima diri-Nya dalam roh. Sebaliknya, apabila orang-orang itu menolak para murid-Nya, maka hal itu berarti bahwa orang-orang itu menolak tawaran-Nya akan pengampunan.

Sebagai perwakilan-perwakilan resmi dari negara mereka, para duta atau duta besar menjunjung tinggi kehormatan pemerintah mereka dan bangsa yang mereka wakili. Demikian pula di tengah-tengah masyarakat manusia, kehormatan Kristus juga ada di tangan kita karena kita adalah para utusan-Nya … para duta-Nya. Dapatkah kita (anda dan saya) percaya bahwa Yesus memandang kita dengan hormat sampai-sampai Dia mempercayakan kita dengan tugas panggilan yang sedemikian luhur? Kita mungkin adalah orang-orang biasa saja dan kita berpikir bahwa tidak banyak yang dapat kita berikan kepada Yesus. Namun pada kenyataannya Yesus seringkali memanggil orang-orang biasa-biasa saja untuk melakukan karya-karya yang luar biasa.

Pikirkanlah dan renungkanlah bagaimana Yesus memanggil 12 orang yang biasa-biasa saja untuk menjadi inti dari karya misioner-Nya ke ujung-ujung bumi. Pada awal abad ke-13 Yesus juga memanggil seorang anak muda yang berlatar belakang pendidikan sekolah rendah paroki saja – Fransiskus dari Assisi – untuk tugas memperbaharui Gereja yang memang dalam kondisi memprihatinkan pada masa itu. Tidak seperti sahabatnya – Santo Dominikus – Fransiskus tidak pernah menjadi seorang imam. Memang kemudian ia ditahbiskan sebagai seorang diakon untuk memungkinkan dirinya berkhotbah dalam gereja-gereja.

Ingatlah, Saudari dan Saudaraku terkasih, sebagai para awam dan klerus, kita bersama-sama membentuk Gereja Kristus. Bersama-sama pula kita dipanggil untuk menyebarkan Injil ke seluruh dunia. Kita seharusnya menanggapi panggilan itu dengan rendah hati, bukan menampiknya karena rendah-diri atau disebabkan kerendahan hati yang palsu!

Selagi kita menerima misi kita sebagai duta-duta Yesus Kristus pada zaman NOW, kita dapat menaruh kepercayaan bahwa Roh-Nya akan memberdayakan kita. Kita akan mengambil oper keprihatinan-keprihatinan dan rencana-rencana Yesus, bahkan karakter-Nya sendiri. Kehadiran-Nya akan memancar dari diri kita, dan kita pun akan menjadi “Kristus-Kristus kecil” – seorang Kristus yang lain – bagi keluarga kita masing-masing, bagi para sahabat, bagi para rekan kerja dan tetangga kita. Lalu, orang-orang yang menerima kita sesungguhnya akan menerima Yesus ke dalam hati mereka.

DOA: Tuhan Yesus, aku bersembah sujud di hadapan hadirat-Mu dalam kedinaan. Terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau telah memilih untuk berdiam dalam diriku. Aku menyerahkan hidupku kepada-Mu agar dengan demikian aku dapat menjadi terang keserupaan dengan-Mu  bagi dunia di sekelilingku. Amin. 

Catatan:  Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 10:34-11:1), bacalah tulisan yang berjudul “DIPANGGIL UNTUK MENJADI SAKSI KEHIDUPAN BARU” (bacaan tanggal 16-7-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 13 Juli 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TUGAS PARA MURID YESUS ADALAH MELANJUTKAN KARYA PELAYANAN-NYA

TUGAS PARA MURID YESUS ADALAH MELANJUTKAN KARYA PELAYANAN-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XV [TAHUN B] – 15 Juli 2018)

Ia memanggil kedua belas murid itu dan mulai mengutus mereka berdua-dua. Ia memberi mereka kuasa atas roh-roh jahat, dan berpesan kepada mereka supaya jangan membawa apa-apa dalam perjalanan mereka, kecuali tongkat saja, roti pun jangan, kantong perbekalan pun jangan, uang dalam ikat pinggang pun jangan, boleh memakai alas-kaki, tetapi jangan memakai dua baju. Kata-Nya selanjutnya kepada mereka, “Kalau di suatu tempat kamu masuk ke dalam suatu rumah, tinggallah di situ sampai kamu berangkat dari tempat itu. Kalau ada suatu tempat  yang tidak mau menerima kamu dan kalau mereka tidak mau mendengarkan kamu, keluarlah dari situ dan kebaskanlah debu yang di kakimu sebagai peringatan bagi mereka.” Lalu pergilah mereka memberitakan bahwa orang harus bertobat, dan mereka mengusir banyak setan, dan mengoles banyak orang sakit dengan minyak dan menyembuhkan mereka. (Mrk 6:7-13) 

Bacaan Pertama:  Am 7:12-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 85:9-14; Bacaan Kedua: Ef 1:3-14

Bacaan Injil hari ini berbicara mengenai pesan-pesan Yesus kepada kedua belas rasul/ murid-Nya berkaitan dengan pengutusan mereka. Tugas para murid adalah melanjutkan karya pelayanan Yesus. Oleh karena itu mereka diutus berdua-dua sebagai saudara-saudara dan saksi-saksi-Nya. Kepada mereka diberi kuasa untuk mengusir roh-roh jahat yang membelenggu manusia dalam rupa penyakit dlsb.

Kedua belas murid Yesus tersebut telah menyaksikan Guru mereka menghadapi berbagai situasi yang menyedihkan selama karya pelayanan-Nya di tengah masyarakat, dan dalam banyak kasus mereka melihat Yesus menarik kepada Allah orang-orang dengan bermacam-macam kebutuhan, lewat penyembuhan, pengampunan dan pelepasan dari roh-roh jahat. Di lain pihak mereka juga telah melihat bagaimana kuasa Yesus dapat terhalang oleh ketidak-percayaan, seperti yang terjadi di “kandang”-Nya sendiri, Nazaret (lihat Mrk 6:1-6a). Sekarang Yesus mengutus mereka melakukan tugas pelayanan kepada orang-orang lain. Mereka sungguh harus melangkah dalam iman dan menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada sang Guru.

Yesus datang untuk menghancurkan kekuatan Iblis dan roh-roh jahatnya, namun kekuatan jahat ini rupanya masih membelenggu manusia sehingga harus terus menerus dilawan. Tidak ada yang dapat mengalahkan kekuatan jahat ini kecuali Allah. Para murid dapat melakukannya hanya karena diberi kuasa untuk mengalahkannya (Mrk 6:7). Namun demikian, para murid harus ingat bahwa di tempat tertentu mereka bisa saja ditolak dan dilawan sebagaimana dialami Guru mereka. Mereka tidak boleh putus asa, tetapi harus berpaling  kepada Guru mereka untuk melihat teladan-Nya dan melanjutkan perutusan mereka di tempat lain.

Dalam melanjutkan karya pelayanan Yesus “memberitakan Kerajaan Allah dan menyerukan pertobatan”, para murid harus senantiasa mengingat satu fakta: Kerajaan Allah atau Kerajaan Surga hanya dapat dialami apabila orang bertobat. Bertobat adalah tuntutan dasar untuk menerima Kerajaan Allah (bdk. Mrk 1:15). Pengusiran setan-setan atau pelepasan dari penguasaan roh-roh jahat terhadap diri seseorang bukanlah untuk pamer kekuasaan, melainkan untuk keselamatan manusia. Keselamatan ini dimulai dengan pertobatan. Artinya, dengan mengakui kekuasaan Yesus dan menerima Dia dalam iman. Roh-roh jahat diusir agar manusia menerima Yesus dan mengikuti Dia. Juga seruan pertobatan pasti tidak akan selalu diterima dengan segenap hati.

Tugas perutusan yang  mulia ini harus dilaksanakan dalam sikap iman dan penyerahan diri yang utuh kepada Allah. Keamanan dan kepastian hidup seorang utusan terdapat pada Allah dan bukan pada barang-barang. Ketidaktergantungan pada kebutuhan duniawi membuat pikiran manusia terarah hanya pada Allah dan ke mana pun seorang utusan pergi dia harus membawa damai.

Yesus mengerti sekali kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh orang-orang yang melakukan perjalanan. Ia sendiri telah berjalan kaki berkilometer-kilometer jauhnya, dari satu tempat ke tempat lainnya untuk mewartakan Kerajaan Allah dan menyerukan pertobatan. Jadi, Yesus tahu benar apa saja yang dibutuhkan bagi seseorang kalau mau melakukan perjalanan jauh. Namun demikian, ketika mengutus para murid-Nya Yesus malah memberi instruksi kepada mereka untuk praktis tidak membawa apa-apa kecuali tongkat, dan seterusnya (Mrk 6:8-9). Bukankah hal-hal tersebut justru dibutuhkan dalam sebuah perjalanan jauh? Memang Ia memberikan kekuatan dan kuasa untuk menguasai roh-roh jahat, untuk menyembuhkan penyakit-penyakit serta untuk mewartakan Kerajaan Allah sambil menyerukan pertobatan. Namun demikian, bukankah berbagai kebutuhan sehari-hari yang bersifat praktis tetap harus diperhatikan? Sungguh tidak dapat diterima oleh akal-sehat manusia. Namun kenyataannya adalah, bahwa sekitar 800 tahun lampau ayat-ayat padanan dari Mrk 6:8-9 (Mat 10:9-10; Luk 9:3) ini merupakan salah satu nas Kitab Suci yang memberi petunjuk kepada Santo Fransiskus dari Assisi di awal-awal pertobatannya, bagaimana dia dan saudara-saudaranya harus melakukan tugas pelayanan mereka. Tidak lama kemudian lahirlah sebuah keluarga rohani yang sekarang merupakan keluarga rohani terbesar dalam Gereja.

Tuhan Yesus telah memberi kuasa kepada para murid untuk dapat melanjutkan karya pelayanan-Nya, namun berbagai kegagalan tetap terjadi. Kegagalan kita pada zaman NOW ini mungkin disebabkan karena kita kurang memiliki keberanian untuk menghayati pesan-pesan-Nya dengan sepenuh-penuhnya. Kita mungkin saja terlalu sibuk dengan diri kita sendiri dan dengan hal-hal duniawi. Kita kurang sadar bahwa kita semua – para murid Yesus – dipanggil untuk membangun dunia baru yang bebas dari berbagai kuasa jahat. Kerajaan Allah atau Kerajaan Surga itu sudah dekat jika kuasa jahat diusir pergi dan orang-orang yang menderita sakit – fisik dan batin – dll. diperhatikan dan dilayani dengan kasih yang datang daripada-Nya saja. 

DOA: Bapa surgawi, terangilah mata hati kami, agar kami dapat melihat betapa besar dan mulia tugas-pelayanan yang dipercayakan kepada kami masing-masing sebagai para rasul Kristus pada zaman modern ini. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 6:7-13), bacalah tulisan dengan judul “TANGAN-TANGAN KRISTUS” (bacaan tanggal 15-7-12 dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2018. 

Cilandak, 12 Juli 2018 [Peringatan S. John Jones & John Wall, Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS ITU LEBIH BESAR DARIPADA APA SAJA YANG KITA LIHAT ADA DALAM DIRI KITA

YESUS ITU LEBIH BESAR DARIPADA APA SAJA YANG KITA LIHAT ADA DALAM DIRI KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIV – Sabtu, 14 Juli 2018)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Fransiskus Solanus, Imam

“Seorang murid tidak lebih daripada gurunya, atau seorang hamba daripada tuannya. Cukuplah bagi seorang murid jika ia menjadi sama seperti gurunya dan bagi seorang hamba jika ia menjadi sama seperti tuannya. Jika tuan rumah disebut Beelzebul, apalagi seisi rumahnya.

Jadi, janganlah kamu takut terhadap mereka, karena tidak ada sesuatu pun yang tertutup yang tidak akan dibuka, dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui. Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang; dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas rumah. Janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.

Bukankah burung pipit dijual dua ekor seharga satu receh terkecil? Namun, seekor pun tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu. Dan kamu, rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Karena itu, janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga daripada banyak burung pipit.

Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang disurga. Tetapi siapa saja yang menyangkal Aku di depan manusia, Aku juga akan menyangkalnya di depan Bapa-Ku yang di surga.” (Mat 10:24-33) 

Bacaan Pertama: Yes 6:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 93:1-2,5 

“Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang.” (Mat 10:27) 

Selagi Dia menyiapkan para murid-Nya untuk pekerjaan misioner, Yesus dengan berhati-hati menguatkan mereka untuk sebuah tugas yang memang mudah terbuka untuk diserang, dikritik, bahkan dijadikan objek kebencian. Apa kiranya strategi Yesus dalam hal ini? Apakah yang dikatakan-Nya kepada mereka? “… apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas rumah” (Mat 10:27). Apa yang diharapkan Yesus dari mereka untuk mendengar “dalam gelap”? Siapakah yang akan membisikkan kata-kata kepada mereka? Bagaimana seharusnya mereka mengatakannya dalam terang?

Ada banyak cara yang berbeda-beda untuk dapat memahami sabda Yesus ini, namun ada satu tafsir yang membawa dampak tidak hanya pada karya misioner melainkan juga pada setiap relasi di mana kita terlibat. Adalah “dalam gelap” – dalam keheningan hati kita –  Yesus menunjukkan kepada kita betapa kuat kodrat manusiawi kita yang cenderung untuk berdosa itu dan betapa dalam kita membutuhkan penyembuhan dan penebusan dari Dia. Kita semua telah mengetahui saat-saat di mana Roh Kudus telah membawa kita berhadapan-hadapan – muka ketemu muka – dengan kegelapan dalam diri kita, dan kita semua juga telah mengetahui saat-saat di mana kita menerima penghiburan dari Roh yang sama – penghiburan dan jaminan akan belas kasih-Nya dan pengampunan-Nya. Hal-hal inilah yang dimaksudkan bagi kita untuk diwartakan dari atas rumah: kasih Bapa yang melimpah-melimpah atas semua pendosa!

Ketika kita berhadapan dengan “Sang Tersalib”, maka pandangan mata kita harus diarahkan ke atas karena posisi salib itu lebih tinggi daripada kita semua yang berdiri di dekat kaki salib. Apabila kita sungguh ingin menjadi saksi Kristus yang memiliki kredibilitas, maka kita harus jujur perihal ketergantungan kita kepada-Nya. Lalu kita dapat menyatakan, “Aku sakit dan Yesus menyembuhkan diriku. Aku tuli dan Ia membuka telingaku. Aku terikat dan Ia membebaskan diriku.” Tidak ada seorang pun ingin mendengar tentang bagaimana menjadi “baik” bilamana mereka mengetahui betapa sulitnya hal itu. Akan tetapi setiap orang ingin mendengar tentang kuat-kuasa Allah untuk menyembuhkan dan mengubah para pendosa. Setiap orang ingin mendengar bahwa mereka juga dapat menjadi pengikut-pengikut Yesus.

Kabar baik dari Injil adalah bahwa Yesus itu lebih besar daripada apa saja yang kita lihat ada di dalam diri kita. Yesus dapat membebaskan, menyembuhkan dan menyelamatkan kita! Ia ingin melakukan hal itu! Oleh karena itu marilah kita memperkenankan Yesus untuk menunjukkan kepada kita segala kegelapan diri/hati kita, bukan hanya untuk kebaikan kita, melainkan demi pemberian kesaksian kita tentang Yesus kepada orang-orang lain.

DOA: Roh Kudus, selidikilah hatiku. Berbisiklah kepadaku tentang kegelapan yang ada di dalam hatiku. Semoga terang-Mu menyinari kegelapan hatiku itu dan membebaskan aku, sehingga dengan demikian aku dapat berbagi dengan orang-orang lain tentang kabar baik rekonsiliasi diriku dengan Bapa surgawi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 10:24-33), bacalah tulisan yang berjudul “SEORANG MURID MENJADI SAMA SEPERTI GURUNYA, ……” (bacaan tanggal 14-7-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan pada sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 11 Juli  2018 [Peringatan S. Benediktus, Abas] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KEHADIRAN ROH KUDUS DALAM DIRI PARA MURID YESUS

KEHADIRAN ROH KUDUS DALAM DIRI PARA MURID YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XIV – Jumat, 13 Juli 2018)

“Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.

Tetapi waspadalah terhadap semua orang; karena ada yang akan menyerahkan kamu kepada majelis agama dan mereka akan mencambuk kamu di rumah ibadatnya. Karena Aku, kamu akan digiring ke hadapan penguasa-penguasa dan raja-raja sebagai suatu kesaksian bagi mereka dan bagi bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu khawatir tentang bagaimana dan apa yang kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga. Karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu.

Seorang saudara akan menyerahkan saudaranya untuk dibunuh, demikian juga seorang ayah terhadap orangtuanya dan akan membunuh mereka. Kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat. Apabila mereka menganiaya mereka kamu dalam kota yang satu, larilah ke kota yang lain; karena sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sebelum kamu selesai mengunjungi kota-kota Israel, Anak Manusia sudah datang. (Mat 10:16-23) 

Bacaan Pertama: Hos 14:2-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-4,8-9,12-14,17 

Yesus melanjutkan pemberian instruksi-instruksi-Nya kepada para rasul/murid dalam rangka mempersiapkan mereka untuk karya misioner di masa depan. Ia menceritakan kepada para murid-Nya itu tentang pengejaran dan penganiayaan serta penderitaan yang dapat/akan menimpa mereka selagi mereka mewartakan Injil kepada dunia. Yesus juga mengintruksikan mereka perihal sikap yang harus mereka ambil terhadap orang-orang yang melawan mereka. Pada saat yang sama, Yesus menjamin lagi kepada mereka tentang kehadiran Roh Kudus untuk menolong mereka menghadapi pencobaan-pencobaan dengan keberanian dan pengharapan (Mat 10:20). Perintah Yesus diikuti dengan sebuah janji: “… orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat” (Mat 10:22).

Barangkali para murid-Nya merasa sangat terkejut ketika Yesus menggambarkan perlawanan yang akan mereka alami – tidak hanya di tangan para penguasa, melainkan juga dari para anggota keluarga mereka sendiri. Setiap murid yang sejati akan ikut ambil bagian dalam penderitaan Kristus dalam kehidupan ini agar supaya ikut serta dalam sukacita keselamatan kekal. Santo Paulus mengalami penderitaan yang berat dan menghadapi oposisi dalam perjalanan-perjalanan misionernya, namun dia menulis: “Aku yakin bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita” (Rm 8:18). Sikap sedemikian hanya dapat dicapai apabila kita mengingat kebenaran bahwa Yesus Kristus telah memberi amanat kepada kita dan berjanji untuk menguatkan kita pada saat kita mengalami penderitaan. Pada malam sebelum sengsara dan wafat-Nya Dia bersabda: “Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkan hatimu, Aku telah mengalahkan dunia” (Yoh 16:33).

Melalui Yesus, Allah memberikan Roh Kudus kepada kita guna memampukan kita melaksanakan amanat yang telah kita terima untuk mewartakan Injil kepada sebuah dunia yang sangat membutuhkan kasih Kristus. Roh Kudus adalah buah pertama dari Kerajaan yang akan datang, yang berbicara kepada kita kata-kata Kristus sendiri. Santo Augustinus mengatakan bahwa ketika kita menderita, maka Roh Kudus berbicara, “Daging menderita dan Roh berbicara; ketika Roh berbicara, tidak hanya kejahatan terkutuk melainkan juga kelemahan diperkuat” (Sermons, 276).

Kita mendengar kata-kata Roh dalam doa-doa kita, dalam Kitab Suci, dan dalam Misa Kudus, ketika kita mendengar sabda Allah. Pada akhir perjalanan misionernya, Yesus berkata kepada Pilatus: “Setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengar suara-Ku” (Yoh 18:37). Di tengah-tengah kehidupan kita yang penuh kesibukan ini, kita perlu menyediakan waktu untuk penuh perhatian pada Roh Kudus yang dalam diri kita berbicara kepada kita. Hanya dengan demikian kita penuh keyakinan bahwa walaupun kita sedang menghadapi situasi-situasi sulit, Roh Kudus akan memberikan kepada kita kata-kata untuk diucapkan.

DOA: Yesus, Engkaulah Tuhan dan Juruselamat kami. Terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu untuk Roh Kudus yang senantiasa membimbing kami. Tolonglah agar kami tanpa lelah mau dan mampu mewartakan Injil-Mu tanpa rasa takut, sebagai garam bumi dan terang dunia. Terpujilah nama-Mu, ya Yesus, yang bersama Bapa dan Roh Kudus hidup dan memerintah, Allah, sepanjang segala masa. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 10:16-23), bacalah tulisan yang berjudul “SEPERTI DOMBA KE TENGAH-TENGAH SERIGALA” (bacaan tanggal 13-7-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 10 Juli 2018 [Peringatan S. Nikolaus Pick dkk Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS