KITA HARUS MEMAHAMI PENTINGNYA KEMATIAN DAN KEBANGKITAN YESUS BAGI DIRI KITA SENDIRI JUGA

KITA HARUS MEMAHAMI PENTINGNYA KEMATIAN DAN KEBANGKITAN YESUS BAGI DIRI KITA SENDIRI JUGA

 (Bacaan Kitab Suci Misa Kudus, TRI HARI PASKAH: MALAM PASKAH – Sabtu, 11 April 2020)

Atau tidak tahukah kamu bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis  dalam kematian-Nya? Dengan demikian, kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia melalui baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus  telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.

Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya. Karena kita tahu bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa. Sebab siapa yang telah mati, ia telah bebas dari dosa. Jadi, jika kita telah mati dengan Kristus, kita percaya bahwa kita akan hidup juga dengan Dia. Karena kita tahu bahwa sesudah bangkit dari antara orang mati, Kristus tidak mati lagi: Maut tidak berkuasa lagi atas Dia. Sebab Ia mati, yakni mati terhadap dosa, satu kali untuk selama-lamanya; namun ia hidup, yakni hidup bagi Allah. Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: Bahwa kamu  telah mati terhadap dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus. (Rm 6:3-11) 

Bacaan Injil dan bacaan lainnya cukup banyak. 

Umat Kristiani percaya bahwa antara saat kematian-Nya dan kebangkitan-Nya, Yesus berada bersama orang-orang benar yang hidup dan mati sebelum pintu gerbang surga dibuka oleh kemenangan-Nya yang penuh dengan kemuliaan. Orang-orang benar ini telah merindukan kedatangan sang Mesias pada masa mereka hidup di dunia, dan sekarang mereka merindukan saat di mana mereka dapat memasuki kerajaan surgawi. Tanpa sengsara Yesus, kematian dan kebangkitan-Nya, mereka tidak mempunyai pengharapan untuk masuk menghadap hadirat Allah di surga. Jadi, kita dapat membayangkan kegembiraan yang mereka alami ketika menyadari bahwa janji keselamatan yang diberikan kepada mereka dahulu kala, akan dipenuhi dalam diri Yesus Kristus.

Kita harus memahami pentingnya kematian dan kebangkitan Yesus bagi diri kita sendiri juga, karena tanpa pemahaman itu kita pun tidak mempunyai pengharapan untuk masuk ke dalam surga. Yesus tidak hanya wafat untuk menebus dosa-dosa kita, melainkan juga Dia mati terhadap dosa. Kemenangan-Nya atas maut memisahkan diri-Nya secara lengkap dan total dari dosa. Dosa tidak lagi memiliki kuasa untuk menggoda atau menyakiti diri-Nya. Kita ikut ambil bagian dalam kematian Yesus untuk dosa-dosa kita, demikian pula kita ambil bagian dalam kematian-Nya terhadap dosa. “Kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia melalui baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru” (Rm 6:4). Ini adalah kebenaran mulia; artinya bahwa kita sekarang tidak lagi menjadi budak-budak dosa …… “tidak menghambakan diri lagi kepada dosa” (Rm 6:6). Dosa tidak lagi dapat menguasai diri kita. Kepada kita telah diberikan hidup baru dalam Kristus (Rm 6:8).

Manfaat-manfaat dari karunia/anugerah hidup baru menciptakan suatu kewajiban di pihak kita: “Bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya? …… Sebab siapa yang telah mati, ia telah bebas dari dosa” (Rm 6:2,7). Sebagai orang-orang yang telah dibebaskan dari kuasa dosa, kita dapat tetap mati terhadap dosa secara permanen. Jika melalui keteledoran atau ketidakpercayaan, kita membiarkan dosa mendirikan kembali “tempat berpijak”-nya dalam kehidupan kita, maka ingatlah bahwa kita tetap mempunyai kesempatan – bahkan hari ini – untuk kembali kepada Tuhan dan menyatakan kembali kepercayaan kita pada kebenaran bahwa kita telah mati terhadap dosa dalam Yesus Kristus. Kita telah menerima kuat-kuasa yang sama, dengan kuat-kuasa mana Yesus mengalahkan kuasa neraka dan menaklukkan kerajaan kegelapan.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu untuk kuat-kuasa yang Kauanugerahkan kepada kami. Kami pun dengan penuh pengharapan siap untuk ikut ambil bagian secara lebih penuh lagi dalam kebangkitan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan ini (Rm 6:3-11), bacalah tulisan yang berjudul “ADA KEMATIAN TERLEBIH DAHULU, BARU ADA KEBANGKITAN” (bacaan tanggal 11420) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 20-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2020. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 10 April 2020 [HARI JUMAT AGUNG] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HARI JUMAT AGUNG MERUPAKAN TITIK SENTRAL DALAM SEJARAH MANUSIA

HARI JUMAT AGUNG MERUPAKAN TITIK SENTRAL DALAM SEJARAH MANUSIA

(Bacaan Injil dalam Liturgi Sabda, HARI JUMAT AGUNG – 10 April 2020)

Dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, istri Klopas dan Maria Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya, “Ibu, inilah anakmu!”  Kemudian kata-Nya kepada murid-Nya, “Inilah ibumu!”  Sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.

Sesudah itu, karena Yesus tahu bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia – supaya digenapi yang tertulis dalam Kitab Suci – , “Aku haus!” Di situ ada suatu bejana penuh anggur asam. Lalu mereka melilitkan suatu spons, yang telah dicelupkan dalam anggur asam, pada sebatang hisop lalu mengulurkannya ke mulut Yesus. Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia, “Sudah selesai.” Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-nya. (Yoh 19:25-30) 

Bacaan Pertama: Yes 52:13-53:12; Mazmur Tanggapan: Mzm 31:2,6,12-13,15-17,25; Bacaan Kedua: Ibr 4:14-16;5:7-9; Bacaan Injil: Yoh 18:1-19:42 

Bagi umat Kristiani, hari Jumat Agung akan selamanya menjadi titik sentral dalam sejarah manusia – suatu hari duka mendalam namun pada saat bersamaan merupakan suatu hari yang penuh dengan sukacita. Mengapa? Karena pada hari kita memperingati tindakan kasih yang paling agung dalam sejarah: salib Yesus Kristus. Salib merupakan klimaks dari segala sesuatu yang dikatakan dan dilakukan oleh Yesus selama Dia hidup di dunia sebagai Yesus dari Nazaret – sumber segala hikmat, permenungan, dan puji-pujian yang tidak pernah akan mengering.

Hari Jumat Agung adalah pusat kisaran kepadanya semua hal-ikhwal sejarah ditarik, dan dari mana semua sejarah yang telah ditransformasikan selamanya mengalir ke luar. Ciptaan yang baik dari Allah disapu sampai kepada titiknya yang paling rendah pada saat kematian Yesus – hanya untuk menemukan kebaikannya yang sempurna di seberang sana, ketika Yesus bangkit dari alam maut. Allah tidak pernah begitu dekat dengan umat manusia daripada apa yang dilakukan-Nya dengan inkarnasi Yesus dan segala sesuatu yang merupakan konsekuensi dari misteri inkarnasi tersebut. Namun justru karena manusia begitu dekat dengan Yesus, maka penolakan manusia dan perlawanan mereka terhadap diri-Nya menjadi sesuatu yang jauh lebih menyakitkan. Penderitaan sengsara dan kematian Yesus  merupakan ilustrasi paling jelas dari kasih-Nya yang tanpa batas bagi kita semua.

Yesus samasekali tidak bersalah, sepenuhnya bebas dari dosa. Namun Ia menanggung semua dosa kita dan segala ketidakadilan yang menimpa diri-Nya, selagi Dia tergantung pada kayu salib. Kemenangan berjaya dari Yesus mengungkapkan tujuan perjalanan kita yang terletak bukan di dunia ini, melainkan di surga. Dia yang paling dapat membuat dunia ini sebuah tempat yang indah dan dipenuhi cintakasih justru tidak pernah diberikan tempat yang penting dalam sistem-dunia. Akan tetapi, pada hari ketiga Yesus bangkit. Di sini Dia menunjukkan bahwa peristiwa ini adalah kemenangan-Nya atas dosa dan maut – dan memberdayakan semua umat beriman untuk melakukan hal yang sama. Ada contoh-contoh yang tak terbilang banyaknya terkait dengan perubahan permanen yang disebabkan oleh hari Jumat Agung. Bahkan cara kita membagi sejarah – S.M. dan A.D. –  pun mengalir dari kedatangan sang Juruselamat ke tengah dunia!

Pada hari ini marilah kita secara istimewa bermeditasi di depan Salib Kristus. Pandanglah Yesus dalam segala kerendahan-Nya – babak belur berdarah-darah karena disiksa. Lihatlah Dia, yang menderita, ditolak dan sendiri(an) tanpa kawan. Dengarlah seruan doa-Nya yang terakhir “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Mat 27:46; Mrk 15::34; bdk. Mzm 22:2). Rasakanlah cintakasih-Nya kepada kita semua, bahkan pada saat Ia sekarat tergantung di kayu salib untuk menebus dosa-dosa kita: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23:34).

Marilah kita memandang Dia yang telanjang di kayu salib itu dengan tangan dan kaki terpaku, dan yang ditikam lambung-Nya dengan tombak, sehingga mengalir keluar darah dan air, semua ini untuk menebus ketidak-taatan kita kepada kehendak Allah – dosa-dosa kita yang merusak relasi kita dengan sang Pencipta. Bersembah-sujudlah dengan penuh hormat selagi kita mengkontemplasikan makna lengkap hari yang suci ini, suatu hari di mana Putera Allah merendahkan diri-Nya sedemikian rupa sehingga menjadi begitu miskin, agar kita semua dapat menjadi kaya secara luarbiasa. Santo Paulus menulis: “Yesus Kristus … sekalipun Ia kaya, oleh karena kamu Ia menjadi miskin, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya” (2Kor 8:9). Terpujilah Dia yang sekarang mengisyaratkan kita untuk “menghampiri takhta anugerah, supaya kita menerima rahmat dan menemukan anugerah untuk mendapat pertolongan pada waktunya (Ibr 4:16).

Salib Kristus mengungkapkan kasih yang agung! Ini adalah “kasih perjanjian” (Inggris: covenant love), kasih yang bersumberkan pada janji abadi Yesus sendiri untuk mengasihi dan melindungi kita. Kasih perjanjian selalu bersifat setia, siap untuk mati agar orang-orang lain dapat hidup. Suatu kasih abadi, yang ditulis dalam/dengan darah Kristus sendiri.

Selagi kita melakukan meditasi di depan “Anak Domba yang disembelih”, renungkanlah “betapa besarnya” Salib Kristus. Bukan dalam arti besarnya ukuran Salib Kristus secara fisik, namun betapa besar dampak kematian Kristus di kayu salib sebagai kurban persembahan sehingga mampu mendatangkan kerahiman dan rahmat Allah yang tidak mampu tertandingi oleh tindakan-kasih yang mana pun. Apakah ada kurban persembahan lain yang mampu mencuci-bersih setiap dosa manusia, baik sudah maupun yang akan datang? Adakah tindakan-kasih lain yang mampu mengalahkan semua kerja Iblis yang penuh kebencian dan kejahatan dalam dunia?

Dalam meditasi kita, marilah kita merenungkan implikasi-implikasi dari kematian Yesus. Renungkanlah kenyataan bahwa Putera Allah yang kekal sesungguhnya datang ke tengah dunia guna membawa kita kembali kepada Bapa-Nya – dan hal itu itu dilakukan-Nya lewat kekejian salib. Oleh karena itu, Saudari dan Saudaraku, janganlah kita pernah menolak Yesus Kristus dengan cara dan alasan apapun. Kasih-Nya adalah kasih yang penuh kesetiaan dan sejati.

Bagaimana kita dapat membuat Salib Kristus menjadi riil dalam kehidupan kita? Tentunya dengan menunjukkan kepada orang-orang yang kita kasihi, “kasih perjanjian” sama sebagaimana yang telah ditunjukkan Yesus kepada kita. Kiranya Yesus akan sangat bersukacita melihat buah-buah manis keluar dari Salib-Nya. Ada kebenaran tak terbantahkan bagi kita semua dalam hal ini: “Setiap kali anda dan saya mengasihi orang-orang lain seperti Yesus Kristus mengasihi, maka kita menghadirkan Yesus Kristus ke dalam dunia!”

DOA: Tuhan Yesus Kristus, kami berterima kasih penuh syukur untuk segala sesuatu yang telah Kau capai – lewat kata-kata dan tindakan-tindakan-Mu – selama hidup-Mu di atas bumi ini, teristimewa pada hari terakhir hidup-Mu. Di atas kayu salib Engkau merasa ditinggalkan oleh Bapa [Mzm 22:2; Mzm 31:23], namun Engkau mengumpulkan nafas-Mu yang terakhir dan menyerahkan nyawa-Mu kepada Bapa [Mzm 31:6]. Engkau tetap yakin bahwa persembahan kurban-Mu memiliki nilai tak terbatas bagi kami semua. Oleh Roh Kudus-Mu buatlah agar kami lebih memahami lagi makna dari kematian-Mu. Terpujilah nama-Mu yang kudus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 18:1-19:42; versi pendek: Yoh 19:25-30), bacalah tulisan yang berjudul “KITA MENJADI MANUSIA BEBAS-MERDEKA KARENA KASIH KRISTUS BAGI KITA” (bacaan tanggal 18-4-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2014. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2014) 

Cilandak, 9 April 2020 [HARI KAMIS DALAM PEKAN SUCI] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BELAJAR DARI YESUS TENTANG HAKEKAT UPACARA PEMBASUHAN KAKI

BELAJAR DARI YESUS TENTANG HAKEKAT UPACARA PEMBASUHAN KAKI

(Bacaan Injil Misa Kudus, TRI HARI PASKAH: KAMIS PUTIH – 9 April 2020)

Sementara itu sebelum hari raya Paskah mulai, Yesus telah tahu bahwa saat-Nya sudah tiba untuk pergi dari dunia ini kepada Bapa. Ia mengasihi orang-orang milik-Nya yang di dunia ini, dan Ia mengasihi mereka sampai pada kesudahannya. Ketika mereka sedang makan bersama, Iblis telah membisikkan rencana dalam hati Yudas Iskariot, anak Simon, untuk mengkhianati Dia. Yesus  tahu bahwa Bapa telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya dan bahwa Ia datang dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Lalu bangunlah Yesus dan menanggalkan jubah-Nya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggang-Nya, kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah baskom dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu. Lalu sampailah Ia kepada Simon Petrus. Kata Petrus kepada-Nya, “Tuhan, Engkau hendak membasuh kakiku?” Jawab Yesus kepadanya, “Apa yang Kuperbuat, engkau tidak tahu sekarang, tetapi engkau akan mengertinya kelak.” Kata Petrus kepada-Nya, “Engkau tidak akan pernah membasuh kakiku sampai selama-lamanya.” Jawab Yesus, “Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku.” Kata Simon Petrus kepada-Nya, “Tuhan, jangan hanya kakiku saja, tetapi juga tangan dan kepalaku!” Kata Yesus kepadanya, “Siapa saja yang telah mandi, ia tidak usah membasuh diri lagi selain membasuh kakinya, karena ia sudah bersih seluruhnya. Juga kamu sudah bersih, hanya tidak semua.” Sebab Ia tahu, siapa yang akan menyerahkan Dia. Karena itu Ia berkata, “Tidak semua kamu bersih.”

Sesudah Ia membasuh kaki mereka, Ia mengenakan pakaian-Nya dan kembali ke tempat-Nya. Lalu Ia berkata kepada mereka, “Mengertikah kamu apa yang telah Kuperbuat kepadamu? Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi jikalau aku, Tuhan dan Gurumu, membasuh kakimu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu. (Yoh 13:1-15) 

Bacaan Pertama: Kel 12:1-8.11-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 116:12-13,15-18; Bacaan Kedua: 1Kor 11:23-26

Untuk memahami episode yang kita rayakan hari ini – pembasuhan kaki para murid oleh Yesus – kita harus membaca Injil Lukas guna memperoleh petunjuk. Dalam Injil Lukas kita membaca: “Terjadilah juga pertengkaran di antara murid-murid Yesus, siapakah yang dapat dianggap terbesar di antara mereka” (Luk 22:24). Apabila kita mengingat hal ini, maka kita dapat memahami apa yang terjadi dan apa yang menyebabkan peristiwa ini sampai terjadi.

Kita mengetahui bahwa jalan-jalan di Palestina pada masa itu tidak diratakan dengan baik seperti zaman sekarang, misalnya diaspal. Jalan-jalan itu juga dikotori dengan kotoran hewan, debu, kotoran lainnya, kotoran dari padang gurun. Itulah sebabnya mengapa di depan pintu setiap rumah disediakan tempat khusus berisikan air dan juga seorang pelayan yang akan membersihkan serta mengeringkan kaki seorang tamu.

Karena tidak ada seorang pun yang khusus berfungsi sebagai pelayan/hamba dalam kelompok/rombongan Yesus, maka para murid-Nya secara bergiliran melakukan tugas ini. Namun seperti kita dapat lihat sendiri, mereka sudah sampai pada tingkat persaingan tidak sehat satu sama lain yang disebabkan oleh  ambisi dan kesombongan pribadi masing-masing, sehingga tidak ada seorang pun yang melakukan tugas tersebut. Dengan demikian, mereka masuk ke dalam rumah itu, masing-masing dengan sombongnya, kemudian duduk dengan kaki yang belum dibasuh, dan tidak seorang pun melakukan tugas itu sampai Yesus sendiri melakukannya.

Sebagaimana biasanya, apa yang dilakukan oleh Yesus, dilakukan-Nya dengan dua tujuan. Tujuan pertama – tentunya – adalah untuk mengajar para pengikut-Nya cara penghayatan iman seorang Kristiani. Yesus mengatakan, bahwa di kalangan orang kafir, pribadi yang menggunakan otoritas adalah yang menjadi tuan atas orang-orang lain, dia yang menuntut perlakuan istimewa, menanti untuk menjadi orang yang dinanti-nantikan oleh orang lain. Tidak demikian halnya dengan para murid Yesus: Siapa yang mau menjadi tuan harus menjadi hamba/pelayan. Yesus bersabda: “Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi jikalau Aku Tuhan dan Gurumu, membasuh kakimu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu” (Yoh 13:13-15). Ini adalah indikasi tentang bagaimana komunitas Kristiani seharusnya diidentifikasikan. Sebuah komunitas yang akan melangkah maju untuk membasuh kaki-kaki yang ada di dunia …… melayani!

Jadi, ketika kita – seorang rohaniwan, religius atau awam – melakukan pembasuhan kaki orang lain, kita seharusnya melakukan pekerjaan itu dengan kerendahan hati – kedinaan – seperti yang dilakukan oleh Yesus sekitar 2.000 tahun lalu. Kita seharusnya tidak memandang wajah orang yang kita basuh kakinya, karena kiranya Yesus juga tidak melakukannya. Apakah kaki itu kaki Petrus, kaki Yohanes, atau kaki Yudas Iskariot, Ia samasekali tidak ingin mengetahui perbedaannya. Yesus hanya ingin agar semua orang mengetahui bahwa kasih-Nya mengalir kepada mereka, tidak peduli apakah orang itu seorang gembel yang tinggal di kolong jembatan di kawasan Jakarta Timur atau seorang raja yang menyandang gelar S3 dari IPB serta gelar-gelar kehormatan lainnya. Yesus tidak ingin memandang apakah wajah orang yang dibasuh kakinya itu cantik atau buruk rupa, apakah wajah orang baik atau orang jahat, dlsb. Yesus tidak ingin mengetahui apakah wajah seseorang itu hitam, putih, kuning, kuning langsat, apakah wajah seseorang itu wajah seorang laki-laki atau perempuan, wajah seorang budak atau orang bebas-merdeka, wajah seorang tuan-majikan atau wajah seorang hamba/pelayan; wajah seorang pribumi atau wajah seorang non-pribumi. Sungguh, Yesus sangat tidak mengenal diskriminasi dalam hal ini.

Komunitas Kristiani harus melakukan seperti yang dilakukan oleh Kristus sendiri yang seakan berkata, “Inilah tubuh-Ku yang diserahkan bagi kamu. Cawan ini adalah perjanjian baru oleh darah-Ku, yang ditumpahkan bagi kamu.Dan Aku membasuh kaki-kaki umat manusia guna membersihkannya dari dosa-dosa. Aku tidak mau memandang wajah masing-masing orang untuk memilih-milih.” 

Itulah pelajaran pertama yang diberikan oleh Yesus kepada para murid-Nya berkaitan dengan peristiwa pembasuhan kaki para murid. Para murid-Nya belajar dengan disertai rasa malu. Ini adalah ringkasan Injil. Bagi para murid, inilah produk-akhir dari hidup selama tiga tahun sebagai murid-murid Yesus: melayani umat manusia, dan apabila seorang murid mempunyai aspirasi untuk menjadi yang paling besar, maka dia harus berlutut dan membasuh kaki-kaki manusia, siapa pun diri mereka.

Pelajaran kedua menyangkut EKARISTI. Yesus seakan mengatakan: “Kamu ingin mengetahui apa yang kita lakukan pada Perjamuan Terakhir? Dengan Aku mengambil roti dan cawan anggur serta men-sharing-kannya dengan kamu, dengan membasuh kaki-kakimu, sebenarnya aku ingin agar kamu semua memahami makna dari Ekaristi. Ekaristi akan selamanya menjadi lambang yang hidup bahwa Aku berada di tengah-tengah kamu, mendorong kamu semua untuk melakukannya. Ketika aku mengambil roti dan berkata, ‘Inilah tubuh-Ku yang dipecah-pecah bagimu. Inilah cawan darah-Ku yang dicurahkan bagimu.’ Demikan pulalah yang harus dilakukan oleh komunitas Kristiani.” 

Barangkali lambang yang paling agung dari pembasuhan kaki adalah ketika Yesus mengambil cawan itu, yang sangat mungkin telah dipegang dan diangkatnya untuk sekian waktu lamanya, sehingga mereka yang hadir akan mendapatkan/merasakan dampaknya secara penuh. Pada dasarnya Yesus mengatakan, seperti setiap kali dirayakan Ekaristi, “Ketika cawan-darah-Ku dicurahkan bagimu” – seperti para orangtua yang mencurahkan hidup mereka sepenuhnya bagi anak-anak mereka.

Sebuah cawan dikosongkan, dan kita pun dikosongkan dari kekuatan dan kesehatan ketika menderita sakit dan para hari tua kita. Sebuah cawan diisi, demikian pula halnya dengan kita ketika memasuki surga, atau pada waktu kita menyambut suatu hari yang baru dengan bahagia, dengan awal-awal yang baru. Sebuah cawan dipegang dan diangkat, seperti kehidupan yang dipegang dan disyeringkan setiap hari. Cawan pecah, seperti juga kehidupan menjadi berantakan disebabkan oleh dosa, dan kelangsungannya dipatahkan oleh kematian. Namun kasih Allah memiliki kuasa untuk membuatnya utuh kembali. Bilamana kita men-sharing-kan cawan dalam Misa, hal ini berarti kita men-sharing-kan hidup kita dengan semua orang, dengan kesusahan dan kegembiraan yang dikuatkan oleh Yesus, yang tetap ada bersama kita. Pembasuhan kaki berarti begitu juga.

Malam Perjamuan Terakhir adalah malam yang paling kudus di sepanjang tahun, saat di mana kita – umat Kristiani – diingatkan kembali kepada sebuah peristiwa yang terjadi sekitar 2.000 tahun lalu di dalam sebuah ruangan yang berukuran relatif kecil di Yerusalem. Yesus yang ada di tengah-tengah kita sekarang juga mendesak kita, “Ambillah tubuhmu dan berikanlah kepada orang-orang lain, dan pecah-pecahkanlah bagi orang-orang lain, dalam kasih. Ambillah cawan darahmu dan curahkanlah darahmu itu dan kosongkanlah cawan itu, peganglah dan tolong restorasikanlah orang-orang lain, agar umat manusia yang retak-retak itu dapat menjadi utuh kembali. Bilamana engkau makan roti ini dan minum cawan ini, engkau sungguh melakukannya sebagai kenangan akan Daku.”

Saudari dan Saudaraku, selagi kita melanjutkan perayaan Ekaristi pada malam yang kudus ini, marilah kita mencoba untuk menempatkan diri kita masing-masing kembali ke ruang atas di Yerusalem itu. Marilah kita berpretensi bahwa kita berada di sana dan Yesus baru saja membasuh kaki-kaki kita dan kita sungguh merasa malu. Namun sekarang kita telah mendapat pesan-Nya. Dan untuk selanjutnya pada perayaan Ekaristi malam ini, selagi kita maju ke depan untuk menerima roti yang telah dipecah-pecahkan dan ikut ambil bagian dari cawan yang sama, kita membuat janji baru kepada Yesus untuk menjadi komunitas-Nya dan kehadiran-Nya yang hidup. Kita pun membuat resolusi bahwa orang-orang akan mengenal kita sebagai orang-orang Kristiani lewat kasih kita satu sama lain.

(Uraian di atas adalah saduran dari tulisan Rm. William J. Bausch, TIMELY HOMILIES – The Wit and Wisdom of an Ordinary Pastor, Mystic, Connecticut: TWENTY-THIRD PUBLICATIONS, 1990, bab 27: Holy Thursday, hal. 144-147.)

DOA: Tuhan Yesus Kristus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau telah menetapkan Ekaristi bagi kami, dengan demikian kami menjadi komunitas-Mu dan tanda kehadiran-Mu. Biarlah orang-orang mengenal kami sebagai orang-orang Kristiani karena kami senantiasa saling membasuh kaki dengan saudari-saudara kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 13:1-15), bacalah tulisan  yang berjudul “YESUS SIAP UNTUK MEMBASUH KAKI KITA” (bacaan tanggal 9-4-20) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 20-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2020. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013)

Cilandak, 7 April 2020

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BUKAN AKU, YA RABI?

BUKAN AKU, YA RABI?

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RABU DALAM PEKAN SUCI – 8 April 2020)

Kemudian pergilah seorang dari kedua belas murid itu, yang bernama Yudas Iskariot, kepada imam-imam kepala. Ia berkata, “Apa yang hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Dia kepada kamu?” Mereka membayar tiga puluh uang perak kepadanya. Mulai saat itu ia mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Yesus. 

Pada hari pertama dari hari raya Roti tidak Beragi datanglah murid-murid Yesus kepada-Nya dan berkata, “Di mana Engkau kehendaki kami mempersiapkan perjamuan Paskah bagi-Mu?” Jawab Yesus, “Pergilah ke kota kepada si Anu dan katakan kepadanya: Pesan Guru: Waktu-Ku hampir tiba; di dalam rumahmulah Aku mau merayakan Paskah bersama-sama dengan murid-murid-Ku.” Lalu murid-murid-Nya melakukan seperti yang ditugaskan Yesus kepada mereka dan mempersiapkan Paskah.

Setelah hari malam Yesus duduk makan bersama-sama dengan keduabelas murid itu. Ketika mereka sedang makan, Ia berkata, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, salah seorang dari antara kamu akan menyerahkan Aku.” Lalu dengan hati yang sangat sedih berkatalah mereka seorang demi seorang kepada-Nya, “Bukan aku, ya Tuhan?” Ia menjawab, “Dia yang  bersama-sama dengan Aku mencelupkan tangannya ke dalam mangkuk ini, dialah yang akan menyerahkan Aku. Anak Manusia memang akan pergi sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia, akan tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan. Yudas, yang hendak menyerahkan Dia itu berkata, “Bukan aku, ya Rabi?” Kata Yesus kepadanya, “Engkau telah mengatakannya.” (Mat 26:14-25) 

Bacaan Pertama: Yes 50:4-9a; Mazmur Antar-bacaan: Mzm 69:8-10, 21-22,31,33-34 

Yudas, si pengkhianat berkata kepada Yesus berkata kepada-Nya: “Bukan aku, ya Rabi?” Kata Yesus kepadanya, “Engkau telah mengatakannya.” (lihat Mat 26:25)

Kita telah baca bahwa ketika Yesus mengatakan bahwa salah seorang murid-Nya akan mengkhianati-Nya, ke sebelas bertanya, “Bukan aku, ya Tuhan?” (Mat 26:22). Kekecualian adalah Yudas Iskariot yang bertanya kepada-Nya: “Bukan aku, ya Rabi?” (Mat 26:25). Jelas bahwa sebelas orang murid-Nya telah memandang Yesus sebagai Tuhan yang jauh lebih tinggi dari sekadar seorang rabi dan seorang guru yang penuh penuh karunia dengan suatu visi baru untuk Israel. Sesuatu telah terjadi pada mereka yang membuat mereka melihat Yesus sebagai Tuhan. Namun Yudas terlihat belum dapat sampai kepada pandangan itu; ternyata dia masih berjalan di tempat!

Memang ada banyak cara untuk memandang Yesus: misalnya sebagai seorang guru yang luarbiasa, seorang nabi dan penyembuh yang menakjubkan, seorang kudus yang luarbiasa. Yesus sebenarnya mencakup semua itu, malah jauh melebihi. Yesus juga adalah Tuhan. Dengan otoritas penuh Ia memerintah atas segala sesuatu dan Ia layak dan pantas untuk menerima segala kehormatan, kemuliaan, dan kuasa (bdk. Flp 2:8-11).

Kita tentunya sudah merasa familiar dengan berbagai ungkapan ini, namun apa artinya ungkapan-ungkapan itu bagi kita pada tataran/tingkat praktis? Bagaimana kebenaran-kebenaran ini mempengaruhi gaya hidup kita dan cara kita memandang hidup kita? Satu jawaban adalah sementara kita harus memandang Yesus sebagai sahabat kita, kita juga harus melihat Dia sebagai Allah. Ia memiliki otoritas atas diri kita dan tidak ada apa dan siapa pun yang memiliki otoritas yang lebih tinggi. Ajaran-ajaran-Nya dan perintah-perintah-Nya mempunyai bobot tersendiri dan menuntut ketaatan penuh dari pihak kita. Kuasa-Nya juga bersifat mutlak. Kita dapat memandang Yesus dengan iman yang penuh harapan, karena kita mengetahui bahwa Dia dapat membuat berbagai mukjizat dan tanda heran, mencabut berbagai macam penderitaan dan memperhatikan dengan penuh kasih dan belas rasa hal-hal terkecil dalam kehidupan kita dan kehidupan orang-orang di sekeliling kita.

Akan tetapi, pentinglah bagi kita untuk memahami bahwa martabat Yesus sebagai Tuhan atas diri kita tidak berarti bahwa kehidupan ini menjadi suatu beban yang bersifat opresif. Sebaliknya, hal tersebut membawa kebebasan dan damai-sejahtera yang luar biasa. Sebagai Tuhan, Yesus mentransformasikan diri kita. Sebagai Tuhan, Yesus memberikan arahan bagi hidup kita yang jauh lebih memuaskan daripada rencana-rencana yang dapat kita capai berdasarkan kekuatan kita sendiri. Yesus bukanlah penguasa yang tidak adil atau masa-bodoh. Yesus adalah sang Kasih yang telah menjadi manusia. Pada hari ini, marilah kita meneladan kesebelas murid yang menundukkan diri mereka di hadapan Yesus sebagai Tuhan. Selagi kita melakukannya, Dia akan membuat kehadiran-Nya dan kuasa-Nya lebih termanifestasikan dalam kehidupan kita. Dia akan menciptakan hati yang baru dalam diri kita masing-masing dan suatu damai-sejahtera yang melampaui segala pemahaman kita.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, perkenankanlah aku menyerahkan diriku sepenuhnya kepada Engkau. Tolonglah aku mengakui Engkau sebagai Tuhan dan Juruselamatku, dalam hatiku dan dalam pikiranku. Tolonglah aku untuk senantiasa menjadi murid-Mu yang setia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yes 50:4-9a), bacalah tulisan yang berjudul “JALAN YESUS MENUJU SALIB” (bacaan tanggal 8-4-20) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 20-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2020. 

Cilandak, 6 April 2020 [HARI SENIN DALAM PEKAN SUCI] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENJADI TERANG BAGI BANGSA-BANGSA

MENJADI TERANG BAGI BANGSA-BANGSA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, HARI SELASA DALAM PEKAN SUCI – 7 April 2020

Dengarkanlah aku, hai pulau-pulau, perhatikanlah, hai bangsa-bangsa yang jauh! TUHAN (YHWH)  telah memanggil aku sejak dari kandungan telah menyebut namaku sejak dari perut ibuku. Ia telah membuat mulutku sebagai pedang yang tajam dan membuat aku berlindung dalam naungan tangan-Nya. Ia telah membuat aku menjadi anak panah yang runcing dan menyembunyikan aku dalam tabung panah-Nya. Ia berfirman kepadaku: “Engkau adalah hamba-Ku, Israel, dan olehmu Aku akan menyatakan keagungan-Ku.” Tetapi aku berkata: “Aku telah bersusah-susah dengan percuma, dan telah menghabiskan kekuatanku dengan sia-sia dan tak berguna; namun, hakku terjamin pada YHWH dan upahku pada Allahku.” Maka sekarang firman YHWH, yang membentuk aku sejak dari kandungan untuk menjadi hamba-Nya, untuk mengembalikan Yakub kepada-Nya, dan supaya Israel dikumpulkan kepada-Nya – maka aku dipermuliakan di mata YHWH, dan Allahku menjadi kekuatanku – , firman-Nya “Terlalu sedikit bagimu hanya untuk menjadi hamba-Ku, untuk menegakkan suku-suku Yakub dan untuk mengembalikan orang-orang Israel yang masih terpelihara. Tetapi Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi.” (Yes 49:1-6) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 71:1-6,15,17; Bacaan Injil: Yoh 13:21-33.36-38

Semakin banyak kita belajar tentang Yesus, semakin banyak pula yang dapat kita pelajari tentang siapa diri kita sebenarnya. Dari keabadian, Allah mengetahui apa yang akan dipilih secara bebas untuk dilakukan oleh kita masing-masing. Ia mengetahui bahwa dosa kita memerlukan sebatang “anak panah yang runcing” dan disembunyikan untuk keselamatan kita (Yes 49:2). Jadi, dari keabadian dan karena kasih-Nya kepada kita, Allah memanggil Putera-Nya yang tunggal untuk menebus kita, agar kita dapat memperoleh hidup yang penuh di sini dan sekarang, dan hidup kekal bersama-Nya dalam surga.

Yesus, Putera Allah, menyerahkan hidup-Nya bagi kita. Selagi Dia hidup di dunia, Yesus mewartakan Kerajaan Allah dan menyerukan pertobatan, pengampunan dosa, dan kabar baik tentang kasih Allah. Ia menyembuhkan orang-orang sakit, membebaskan orang-orang yang tertindas, dan – di atas segalanya – Dia menunjukkan kepada dunia bahwa diri-Nya secara total taat kepada Bapa-Nya di surga, bahkan sampai mati di kayu salib (Flp 2:8). “Anak panah yang runcing” yang dibawa oleh Allah pada waktu yang tepat di maksudkan untuk menjadi “terang bagi bangsa-bangsa” (Yes 49:6).

Kita semua telah dipanggil untuk ambil bagian dalam buah-buah dan misi penebusan Yesus. Kita dapat menaruh percaya penuh keyakinan bahwa kita dikasihi oleh Allah, bahwa kita pantas dikasihi, dan bahwa dalam kita Allah dapat dimuliakan (Yes 49:3). Selagi kita bertumbuh semakin kuat dalam iman kita melalui praktek harian, kita pun dapat mewartakan Injil dengan kesederhanaan dan kejelasan yang telah Yesus lakukan. Kita dapat berdoa untuk orang-orang sakit dan orang-orang yang tertindas serta melayani mereka, mulai di rumah kita sendiri. Melalui Yesus, kita dapat menjadi “terang bagi bangsa-bangsa supaya keselamatan yang dari Allah sampai ke ujung bumi” (Yes 49:6).

Sekarang, marilah kita mengikut Yesus dan menjadi “anak-anak panah yang runcing” dalam tabung anak panah milik Allah. Allah telah memanggil kita dengan nama kita masing-masing, bahkan sejak dari perut ibu kita (Yes 49:1). Yesus diutus oleh Bapa surgawi tidak hanya sebagai sang Juruselamat, melainkan juga sebagai contoh atau “model”. Ketika kita mengalami godaan-godaan atau bisikan-bisikan yang mematahkan semangat, baiklah kita mengikuti pimpinan-Nya, karena mengetahui bahwa Bapa surgawi akan memegang dan menghormati kita untuk ketekunan kita sebagai instrumen-instrumen iman dan terang-Nya yang bercahaya di muka bumi.

DOA: Bapa surgawi, Engkau telah menghormati kami dengan mencurahkan hidup-Mu sendiri ke atas diri kami. Kami memproklamasikan bahwa Engkau adalah kekuatan kami. Berdayakanlah kami untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan baik yang telah Kaupercayakan kepada kami. Kami percaya bahwa kasih-Mu tidak akan mengecewakan kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 13:21-33,36-38), bacalah tulisan yang berjudulKITA HARUS MENGAKUI DAN MENERIMA KENYATAAN BAHWA KITA MEMBUTUHKAN TUHAN” (bacaan tanggal 7-4-20) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 20-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2020. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013] 

Cilandak, 6 April 2020 [HARI SENIN DALAM PEKAN SUCI] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BAGI MARIA DARI BETANIA, TIDAK ADA BIAYA YANG TERLAMPAU MAHAL UNTUK MENGHORMATI YESUS

BAGI MARIA DARI BETANIA, TIDAK ADA BIAYA YANG TERLAMPAU MAHAL UNTUK MENGHORMATI YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI SENIN DALAM PEKAN SUCI – 6 April 2020)

Enam hari sebelum Paskah, Yesus datang ke Betania, tempat tinggal Lazarus yang dibangkitkan Yesus dari antara orang mati. Di situ diadakan perjamuan untuk Dia dan Marta melayani, sedangkan salah seorang yang turut makan dengan Yesus adalah Lazarus. Lalu Maria mengambil setengah liter minyak narwastu murni yang mahal sekali, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya; dan bau semerbak minyak itu memenuhi seluruh rumah itu. Tetapi Yudas Iskariot, seorang murid Yesus, yang akan segera menyerahkan Dia, berkata, “Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?” Hal ini dikatakannya bukan karena ia memperhatikan orang-orang miskin, melainkan karena ia seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya. Lalu kata Yesus, “Biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburan-Ku. Karena orang-orang miskin selalu ada bersama kamu, tetapi Aku tidak akan selalu bersama kamu.”

Sejumlah besar orang Yahudi mendengar bahwa Yesus ada di sana dan mereka datang bukan hanya karena Yesus, melainkan juga melihat Lazarus, yang telah dibangkitkan-Nya dari antara orang mati. Lalu imam-imam kepala berencana untuk membunuh Lazarus juga, sebab karena dia banyak orang Yahudi meninggalkan mereka dan percaya kepada Yesus. (Yoh 12:1-11) 

Bacaan Pertama: Yes 42:1-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1-3,13-14 

Contoh yang diberikan oleh Maria dari Betania dalam bacaan Injil hari ini sungguh kuat-mendalam. Dalam hasratnya untuk menghormati Yesus, tampaknya tidak ada biaya yang terlampau mahal. Tidak ada yang lebih berarti bagi dirinya selain berada bersama Yesus. Sukacita karena dikasihi oleh Yesus memenuhi dirinya dan hal ini tidak dapat diungkapkan sekadar dengan kata-kata …… Maria ingin dirinya bersama Yesus selama mungkin.

Bayangkan betapa gembira Tuhan kita apabila ada di antara kita yang datang kepada-Nya dengan cintakasih dan devosi yang sama bobotnya dengan yang telah ditunjukkan oleh Maria dari Betania! Bila kita mendekati Yesus seperti yang dilakukan oleh Maria, curahan kasih kita akan menyebarkan bau (aroma) semerbak yang memenuhi segala hal yang kita lakukan. Aroma semerbak itu menyebar secara berlimpah ke dalam segala situasi yang kita hadapi, dan yang membuat damai-sejahtera yang memenuhi hati kita memancar ke luar kepada orang-orang lain. Rekan kerja di pabrik atau kantor di mana kita bekerja akan merasa “heran” mengapa kita kelihatan begitu baik hati dan tenang dalam menghadapi banyak masalah pekerjaan. Para tetangga merasa tertarik sehingga mulai “curhat” dan mengharapkan nasihat-nasihat kita. Para anggota keluarga merasa tersentuh melihat perilaku kita yang tidak mementingkan diri sendiri, bahkan dalam hal-hal yang kecil, termasuk “tidak rakus” lagi ketika duduk bersama di meja makan.

Bagaimana Maria dari Betania dapat sampai ke tahapan ini dalam kehidupannya? Kita salah jika kita berpikir bahwa dialah yang pertama-tama mengasihi Yesus dan hal itu menggerakkan Yesus untuk memberkati dirinya sebagai ganjaran. Seperti Yohanes, Petrus dan perempuan Samaria di sumur Yakub, orang yang buta sejak lahir, dan banyak lagi pribadi-pribadi yang lain, Maria pertama-tama dan terutama adalah seorang pribadi yang menerima kasih Yesus. Yesus-lah yang menemukan dia dan kasih Yesus-lah yang menyentuh bagian terdalam dari hati Maria. Kasih Yesus bagi dirinya-lah yang membangunkan kasihnya kepada Yesus dan menggerakkan dirinya melakukan tindakan penyembahan yang luarbiasa seperti diceritakan dalam Injil hari ini.

Pada Pekan Suci ini, dapatkah kita semua duduk bersama Yesus dan memperkenankan diri-Nya mengucapkan sabda kasih-Nya kepada kita – kasih yang tidak mengenal batas? Beranikah kita membuka hati kita bagi-Nya dan memperkenankan Dia menyembuhkan segala luka kita – baik luka-luka fisik maupun batiniah – dan memancarkan cahaya terang ke dalam kegelapan kita? Lalu, setelah diubah oleh kemuliaan-Nya, setiap tindakan kita pun akan memenuhi rumah kita dengan aroma mewangi cintakasih kita kepada Yesus.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, aku tahu bahwa walaupun sekiranya aku merupakan satu-satunya orang yang membutuhkan penyelamatan dari-Mu, Engkau akan tetap datang dan mati untuk diriku. Tolonglah aku untuk menanggapi kasih-setiaMu dengan memuji-muji Engkau dan melayani Engkau dengan segenap hatiku. Tuhan, aku sungguh mengasihi Engkau! Terpujilah nama-Mu, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yes 42:1-7) bacalah tulisan yang berjudul “YANG DIMAKSUDKAN ADALAH YESUS DAN SETIAP ORANG YANG DIPERSATUKAN DENGAN DIA DALAM IMAN” (bacaan tanggal 6-4-20) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 20-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2020. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2014) 

Cilandak, 5 April 2020 [HARI MINGGU PALMA MENGENANGKAN SENGSARA TUHAN] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

IA TELAH MENGOSONGKAN DIRI-NYA SENDIRI

IA TELAH MENGOSONGKAN DIRI-NYA SENDIRI

(Bacaan kedua Misa Kudus, Hari Minggu Palma Mengenangkan Sengsara Tuhan, 5 April 2020)

Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku, “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa! (Flp 2:6-11) 

Bacaan Perarakan: Mat 21:1-11

Bacaan Pertama: Yes 50:4-7; Mazmur Antar-bacaan: Mzm 22:8-9.17-20.23-24; Bacaan Injil: Mat 26:14-27:66.

Pada hari ini Gereja mengundang kita semua untuk sujud menyembah Allah yang begitu mengasihi manusia sehingga Dia memberikan segala sesuatu yang dapat diberikan-Nya guna menyelamatkan kita. Penebusan manusia adalah tindakan tertinggi kasih ilahi di mana seluruh Pribadi ilahi dalam Trinitas turut ambil bagian. Bapa sangat mengasihi kita sehingga Dia memberikan Putera-Nya yang tunggal untuk menyelamatkan umat manusia (termasuk kita). Yesus begitu mengasihi umat menusia juga, sehingga Dia sudi menjadi seperti kita-manusia dan menanggung sendiri hukuman atas dosa-dosa manusia (termasuk dosa kita). Roh Kudus juga sangat mengasihi manusia, sehingga Dia mulai berbicara kepada manusia sejak berabad-abad lalu, melalui para nabi dan raja, untuk mempersiapkan manusia untuk penebusan yang akan datang dan untuk Gereja yang akan menjadi bejana keselamatan untuk seluruh dunia.

Penebusan kita tidak datang hanya karena Allah mengasihi kita-manusia. Secara sukarela Yesus menyerahkan hidup-Nya karena Dia mengasihi Bapa dan secara total berkomitmen untuk melaksanakan kehendak Bapa, berapapun besar biayanya. Yesus tahu dan menaruh kepercayaan-Nya pada  kasih Bapa kepada-Nya, suatu penggenapan dari kata-kata nubuatan sang nabi: “Aku tahu, bahwa aku tidak akan mendapat malu” (Yes 50:7). Yesus mampu untuk taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib (lihat Flp 2:8), karena Dia mengandalkan kuasa Roh yang menopang-Nya dan memberikan keberanian kepada-Nya. Penebusan kita menjadi kenyataan karena kasih sempurna yang terdapat di dalam Trinitas.

Bagaimana Bapa dan Roh Kudus merespons kesetiaan Yesus? “Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya  dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku, ‘Yesus Kristus adalah Tuhan’, bagi kemuliaan Allah, Bapa” (Flp 2:9-11). Allah Bapa sangat senang untuk memahkotai Yesus dengan nama “Tuhan” karena Dia melihat ketaatan Yesus dan kemauan-Nya untuk mempersembahkan diri-Nya sebagai kurban penebusan. Sekarang, disatukan dengan Kristus melalui pembaptisan, kita dapat turut ambil bagian dalam hakekat kehidupan Allah dan belajar untuk mengasihi, seperti Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus mengasihi, yaitu selalu penuh dan sempurna.

DOA: Bapa surgawi, hanya karena kasih-Mu sajalah Engkau mengutus Putera-Mu untuk menyelamatkan kami – umat manusia. Yesus, hanya melalui kasih-Mu kepada Bapalah, maka Engkau telah mengosongkan diri-Mu untuk keselamatan kami. Roh Kudus, hanya dalam kasih antara Bapa dan Puteralah, maka Engkau dapat melaksanakan keselamatan kami. Kami merasa terpesona dan takjub melihat kemuliaan-Mu, ya Allah Tritunggal Mahakudus. Kami memuliakan Engkau, memuji Engkau, meluhurkan Engkau, Bapa, Putera dan Roh Kudus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan kedua hari ini (Flp 2:6-11), bacalah tulisan yang berjudulMARILAH KITA BERTERIMA KASIH SECARA KHUSUS KEPADA TUHAN YESUS PADA HARI MINGGU PALMA INI(bacaan tanggal 5-4-20) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 20-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2020. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 4 April 2020 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS