SALAH SATU PENGAJARAN YESUS DENGAN LATAR BELAKANG PERJAMUAN TERAKHIR

SALAH SATU PENGAJARAN YESUS DENGAN LATAR BELAKANG PERJAMUAN TERAKHIR

(Bacaan Injil Misa Kudus, TRI HARI PASKAH: KAMIS PUTIH – 2 April 2015)

LastSupperVincenteJuanMasip

Sementara itu sebelum hari raya Paskah mulai, Yesus telah tahu bahwa saat-Nya sudah tiba untuk pergi dari dunia ini kepada Bapa. Ia mengasihi orang-orang milik-Nya yang di dunia ini, dan Ia mengasihi mereka sampai pada kesudahannya. Ketika mereka sedang makan bersama, Iblis telah membisikkan rencana dalam hati Yudas Iskariot, anak Simon, untuk mengkhianati Dia. Yesus  tahu bahwa Bapa telah menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya dan bahwa Ia datang dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Lalu bangunlah Yesus dan menanggalkan jubah-Nya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggang-Nya, kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah baskom dan mulai membasuh kaki murid-murid-Nya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggang-Nya itu. Lalu sampailah Ia kepada Simon Petrus. Kata Petrus kepada-Nya, “Tuhan, Engkau hendak membasuh kakiku?” Jawab Yesus kepadanya, “Apa yang Kuperbuat, engkau tidak tahu sekarang, tetapi engkau akan mengertinya kelak.” Kata Petrus kepada-Nya, “Engkau tidak akan pernah membasuh kakiku sampai selama-lamanya.” Jawab Yesus, “Jikalau Aku tidak membasuh engkau, engkau tidak mendapat bagian dalam Aku.” Kata Simon Petrus kepada-Nya, “Tuhan, jangan hanya kakiku saja, tetapi juga tangan dan kepalaku!” Kata Yesus kepadanya, “Siapa saja yang telah mandi, ia tidak usah membasuh diri lagi selain membasuh kakinya, karena ia sudah bersih seluruhnya. Juga kamu sudah bersih, hanya tidak semua.” Sebab Ia tahu, siapa yang akan menyerahkan Dia. Karena itu Ia berkata, “Tidak semua kamu bersih.”

Sesudah Ia membasuh kaki mereka, Ia mengenakan pakaian-Nya dan kembali ke tempat-Nya. Lalu Ia berkata kepada mereka, “Mengertikah kamu apa yang telah Kuperbuat kepadamu? Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi jikalau aku, Tuhan dan Gurumu, membasuh kakimu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu. (Yoh 13:1-15) 

Bacaan Pertama: Kel 12:1-8.11-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 116:12-13,15-18; Bacaan Kedua: 1Kor 11:23-26

“Aku akan mengangkat piala keselamatan, dan akan menyerukan nama TUHAN (YHWH)”  (Mzm 116:13).

Selagi kita merenungkan perjamuan terakhir Yesus dengan para murid-Nya, kita dapat bertanya tentang makna dari perjamuan kudus ini yang disyeringkan bersama para sahabat terdekat-Nya. Dinamika kasih yang bagaimana, syering macam apa, jenis makanan apa, persekutuan apa yang terjadi pada perjamuan itu? Bagaimana kita dapat memahami kedekatan intim dari Yesus, familiaritas-Nya dan rasa percaya-Nya pada para murid-Nya, yang merupakan kulminasi dari begitu seringnya mereka makan bersama selama tiga tahun hidup bersama-sama?

YESUS MEMBASUH KAKI PARA MURID - YOH 13Misalnya, Yesus makan di rumah Matius (Mat 9:10), Dia juga makan di rumah seorang pejabat cukai, Zakheus (Luk 19:5), di rumah Marta, Maria dan Lazarus (Yoh 12:2), dan pada pesta perkawinan di Kana (Yoh 2:1-11). Yesus mempergandakan roti (Yoh 6:1-15), dan mengajar perumpamaan tentang perjamuan besar di surga, di mana orang-orang miskin, orang-orang cacat, orang-orang buta dan orang-orang lumpuh akan diundang (Luk 14:15-24). Sekarang para murid-Nya turut makan bersama dan Yesus mengatakan: “Inilah tubuh-Ku” (Mat 26:26).

Di samping berbagai memori terkait hidup Yesus di atas bumi, para murid juga mengenang sejarah bangsa Yahudi sejak zaman keluaran dari perbudakan di Mesir, karena ini adalah perjamuan untuk merayakan Paskah. Setiap hal, bahkan segala hal mengingatkan mereka akan karya-karya besar Allah dan perjanjian kasih yang dibuat-Nya pada “Keluaran” tersebut: roti tak beragi untuk memperingati keberangkatan mereka yang cepat-cepat dari tanah Mesir (Kel 12:34), darah anak domba yang dibubuhkan pada kedua tiang pintu dan pada ambang atas, pada rumah-rumah di mana orang memakannya (Kel 12:7), dan madah-madah kebebasan untuk mengingat perbuatan-perbuatan besar Allah (lihat Mat 26:30), karena pada masa Yesus orang-orang Yahudi mungkin menyanyikan Mazmur Hallel pada waktu merayakan Paskah (lihat Mzn 111-118).

Bagaimana kita memahami perayaan ini dua ribu tahun kemudian? Selagi kita merayakan pesta perjamuan ini dan berupaya untuk memahami perjanjian kasih Allah dengan kita, maka kita dapat melihat  masa lampau, masa kini, dan masa depan. Kita harus mencari solidaritas dengan “para saudara tua kita dalam iman”, seperti Paus Santo Yohanes Paulus II menyapa orang Yahudi (Crossing the Threshold of Hope, hal. 99). Kita harus berupaya untuk memahami sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus yang menjelaskan arti dari perjamuan terakhir. Akan tetapi, kita tidak boleh memisahkan peristiwa-peristiwa sejarah dari tindakan-tindakan Allah pada masa kini, karena Dia datang untuk hadir bersama kita setiap kali kita merayakan Ekaristi. Pada akhirnya, kita harus memandang ke depan ke saat di mana Allah akan membawa kita semua bersama ke perjamuan-Nya yang besar dan agung, karena di sanalah kita akan mengalami kasih pendamaian-Nya yang besar dalam pesta sukacita yang tak mengenal akhir.

DOA: Bapa surgawi, kami melihat kesempurnaan kasih-Mu bagi kami dalam diri Putera-Mu terkasih, Tuhan kami Yesus Kristus, yang mengosongkan diri-Nya agar diri kami semua dapat diisi. Kami membuka hati kami agar dapat menerima segala sesuatu yang Engkau ingin berikan kepada kami. Oleh kuasa Roh Kudus-Mu, bukalah mata kami agar dapat melihat Yesus di tengah-tengah kami, dan bentuklah kami menjadi sebuah umat yang menunjukkan kasih-Mu kepada dunia di sekeliling kami. Terpujilah Allah Tritunggal Maha Kudus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 13:1-15), bacalah tulisan  yang berjudul “YESUS MELAYANI SEBAGAI SEORANG HAMBA” (bacaan tanggal 2-4-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2015. 

Bacalah juga tulisan-tulisan yang berjudul “JIKALAU AKU TIDAK MEMBASUH ENGKAU, ENGKAU TIDAK MENDAPAT BAGIAN DALAM AKU” (bacaan tanggal 28-3-13), “MENGERTIKAH KAMU APA YANG TELAH KUPERBUAT KEPADAMU?” (bacaan tanggal 5-4-12) dan “IA MENGASIHI MEREKA SAMPAI KESUDAHANNYA” (bacaan tanggal 17-4-14), ketiganya dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

Cilandak, 31 Maret 2015

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MELAKUKAN KEHENDAK BAPA

MELAKUKAN KEHENDAK BAPA

 (Bacaan Pertama Misa Kudus, HARI RABU DALAM PEKAN SUCI – 1 April 2015) 

YESUS MEMANGGUL SALIBTuhan ALLAH telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid. Tuhan ALLAH telah membuka telingaku, dan aku tidak memberontak, tidak berpaling ke belakang. Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku. Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi.

Tetapi Tuhan ALLAH menolong aku; sebab itu aku tidak mendapat noda. Sebab itu aku meneguhkan hatiku seperti keteguhan gunung batu karena aku tahu, bahwa aku tidak akan mendapat malu. Dia yang menyatakan aku benar telah dekat. Siapakah yang berani berbantah dengan aku? Marilah kita tampil bersama-sama! Siapakah lawanku berperkara? Biarlah ia mendekat kepadaku! Sesungguhnya, Tuhan ALLAH menolong aku; siapakah yang berani menyatakan aku bersalah? (Yes 50:4-9a) 

Mazmur Antar-bacaan: Mzm 69:8-10, 21-22,31,33-34; Bacaan Injil: Mat 26:14-25 

Dalam segala hal yang dikatakan-Nya dan diperbuat-Nya, hasrat mendasar dari Yesus adalah melakukan kehendak Bapa. Semua kata-kata yang diucapkan-Nya dari sebuah hati yang menerima instruksi dari Bapa di surga, sebuah hati yang dilatih dan dibentuk oleh Allah yang telah mengutus-Nya ke tengah dunia guna menyelamatkan kita dari dosa. Pernahkah anda mengalami Yesus yang berbicara kepada hati anda dan anda tetap tak merasa tersentuh, didorong atau dikuatkan? Ini adalah kuat-kuasa dari sabda-Nya, sabda yang memberikan kekuatan bagi yang letih-lesu dan pengharapan bagi yang sedang dilanda ketakutan.

Dalam kehidupan yang bertempo cepat ini, kita dapat merasa sulit untuk mengheningkan diri kita agar dapat mendengarkan suara Yesus yang berbicara dalam hati kita. Yesus ingin membimbing kita, menghibur kita dan memenuhi diri kita dengan hasrat mendalam untuk melayani Dia. Dengan memperkenankan sabda-Nya melakukan penetrasi ke dalam hati kita, maka hidup kita dapat berubah; dan di sisi lain kata-kata yang kita ucapkan dapat menghibur dan mendorong orang-orang lain untuk berpengharapan dalam Allah.

SALIB KRISTUS - 678Karena mengasihi umat manusia, Yesus harus melalui penderitaan sengsara yang sangat kejam. Marilah kita renungkan hal berikut ini: Orang-orang yang menyebabkan kematian Yesus adalah justru mereka yang hendak ditebus oleh Yesus lewat kematian-Nya. Kasihsetia Tuhan sungguh luarbiasa. Bahkan sekarang, di mana Dia sudah ditinggikan di surga, Yesus tetap saja penuh ketetapan hati untuk melakukan apa saja yang diperlukan agar kita dapat mendengar panggilan-Nya. Dia selalu memberi kesempatan kepada kita agar supaya kita menanggapi panggilan-Nya dan menaruh kepercayaan kepada-Nya dengan hidup kita.

Saudari dan Saudara yang terkasih, seringkali hal-hal dari dunia kelihatan sangat berbeda dengan hal-hal dari surga. Yesus, sang hamba Tuhan mengetahui bahwa Dia tidak akan dipermalukan (lihat Yes 50:7), namun demikian Ia diolok-olok, dipukuli, dicambuk, dibuat menjadi bahan tertawaan orang-orang yang melihat-Nya, bahkan pada saat-saat Ia menyerahkan diri-Nya untuk para penganiaya-Nya. Kelemah-lembutan Yesus dan kerendahan-hati-Nya ternyata membawa kemuliaan bagi diri-Nya dan memenangkan bagi kita mahkota kehidupan. Dalam kasih, baiklah sekarang kita membuka hati bagi Yesus dan memperkenankan sabda-Nya untuk mentranformasikan kita.

DOA: Tuhan Yesus, kami lemah, namun Engkau kuat. Kami menempatkan kelemahan-kelemahan kami di hadapan-Mu dan mohon kepada-Mu untuk menggunakan semua itu untuk kemuliaan-Mu. Roh Kudus, datanglah dan penuhilah diri kami dengan kuat-kuasa-Mu sehingga selagi kami semakin kecil, hidup-Mu dalam diri kami akan menjadi semakin besar. Allah Yang Mahakuasa, buatlah kami menjadi bejana-bejana terbuka yang membawa kasih-Mu, kemuliaan-Mu, dan Kerajaan-Mu ke tengah dunia ini. Terpujilah Allah Tritunggal Mahakudus untuk selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 26:14-25), bacalah tulisan yang berjudul “BUKAN AKU, YA TUHAN?” (bacaan tanggal 1-4-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-04  PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2015. 

Bacalah juga tulisan-tulisan yang berjudul “BUKAN AKU YA TUHAN ATAU BUKAN AKU YA RABI?” (bacaan tanggal  4-4-12) dan “PENGAJARAN PENTING PADA MALAM PERJAMUAN TERAKHIR” (bacaan tanggal 27-3-13), keduanya dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yes 50:4-9a), bacalah tulisan yang berjudul “SEBUAH NYANYIAN HAMBA YHWH” (bacaan tanggal 31-3-10) dalam situs/blog SANG SABDA dan “TIDAK ADA YANG DAPAT MENAHAN YESUS MENUJU SALIB” (bacaan tanggal 16-4-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

Cilandak, 30 Maret 2015 [HARI SENIN DALAM PEKAN SUCI] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PARA PENGEMBARA DAN ORANG ASING DI ATAS BUMI INI

PARA PENGEMBARA DAN ORANG ASING DI ATAS BUMI INI

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI SELASA DALAM PEKAN SUCI – 31 Maret 2015

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Setelah Yesus berkata demikian Ia sangat terharu, lalu bersaksi, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, salah seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku.” Murid-murid itu memandang seorang kepada yang lain, mereka ragu-ragu siapa yang dimaksudkan-Nya. Salah seorang di antara murid Yesus, yaitu murid yang dikasihi-Nya, bersandar di dekat-Nya, di sebelah kanan-Nya. Kepada murid itu Simon Petrus memberi isyarat dan berkata, “Tanyalah siapa yang dimaksudkan-Nya!” Lalu murid yang duduk dekat Yesus berpaling dan berkata kepada-Nya, “Tuhan, siapakah itu?” Jawab Yesus, “Dialah yang kepadanya aku akan memberikan roti, sesudah Aku mencelupkannya.” Sesudah berkata demikian Ia mencelupkan roti itu, lalu mengambil dan memberikannya kepada Yudas, anak Simon Iskariot. Sesudah Yudas menerima roti itu, ia kerasukan Iblis. Lalu Yesus berkata kepadanya, “Apa yang hendak kauperbuat, perbuatlah dengan segera.” Tetapi tidak ada seorang pun dari antara mereka yang duduk makan itu mengerti mengapa Yesus mengatakan itu kepada Yudas. Karena Yudas memegang kas, ada yang menyangka bahwa Yesus menyuruh dia membeli apa-apa yang perlu untuk perayaan itu, atau memberi apa-apa kepada orang miskin. Setelah menerima roti itu, Yudas segera pergi. Pada waktu itu hari sudah malam.

Sesudah Yudas pergi, berkatalah Yesus, “Sekarang Anak Manusia dimuliakan dan Allah dimuliakan di dalam Dia. Jikalau Allah dimuliakan di dalam Dia, Allah akan memuliakan Dia juga di dalam diri-Nya, dan akan memuliakan Dia dengan segera. Hai anak-anak-Ku, hanya seketika saja lagi Aku ada bersama kamu. Kamu akan mencari Aku, dan seperti yang telah Kukatakan kepada orang-orang Yahudi: Ke tempat Aku pergi, tidak mungkin kamu datang, demikian pula sekarang Aku mengatakannya kepada kamu juga.

Simon Petrus berkata kepada Yesus, “Tuhan, ke manakah Engkau pergi?” Jawab Yesus, “Ke tempat Aku pergi, engkau tidak dapat mengikuti Aku sekarang, tetapi kelak engkau akan mengikuti Aku.” Kata Petrus kepada-Nya, “Tuhan, mengapa aku tidak dapat mengikuti Engkau sekarang? Aku akan memberikan nyawaku bagi-Mu!” Jawab Yesus, “Nyawamu akan kauberikan kepada-Ku? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.” (Yoh 13:21-33,36-38) 

Bacaan Pertama: Yes 49:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 71:1-6,15,17

Menjawab pertanyaan Petrus kepada-Nya, Yesus berkata, “Ke tempat Aku pergi, engkau tidak dapat mengikuti Aku sekarang, tetapi kelak engkau akan mengikuti Aku”  (Yoh 13:36). Di sini Yesus mengacu kepada perpisahan-Nya dari dunia – di mana mereka berada sekarang. Namun demikian, pekerjaan/karya Yesus dalam dunia ini masih jauh dari selesai. Yesus – dan juga para kudus-Nya – mengajarkan kepada kita bahwa mereka yang telah mencapai kebaikan sejati dalam catatan-catatan Allah yang bersifat abadi jarang sekali melihat hasil pekerjaan mereka dalam kehidupan ini.

Namun justru kasihlah yang membuat mereka maju terus dalam hidup saleh dan melakukan karya kasih bagi sesama, walaupun harus menghadapi kegagalan dan para lawan yang kuat. Berbagai godaan yang bertujuan melemahkan dan melumpuhkan semangat juga senantiasa bermunculan. Betapa banyak mistikus besar – yang mengalami sendiri sengsara Yesus dalam diri mereka, mengungkapkan bahwa banyak kebaikan yang dialami dengan mengalirkan darah sedemikian banyak, menerima begitu banyak pukulan, begitu banyak penolakan dan begitu sering diludahi, begitu banyak cambukan cemeti, menderita sakit yang sedemikian intens! Santo Augustinus dari Hippo [354-430] menulis tentang Yesus, “Setiap hari Dia merentangkan tangan-tangan-Nya kepada orang-orang yang tidak percaya dan mereka tidak berterima kasih penuh syukur dalam hidup ini.”

“Ya Tuhan”, kita menjawab. “Bila kita ingin menjadi seperti Yesus, kita perlu mengingat bahwa kita adalah para pengembara dan orang asing di atas bumi ini. Kita tidak boleh berharap untuk melihat hasil-hasil dari kebaikan yang kita lakukan. Berapa banyak orang besar yang pernah melihatnya? Mungkin Alm. Bapak Lee Kuan Yew adalah salah satu dari orang-orang yang sempat melihat sedikit buah jerih payahnya memimpin bangsa Singapura, tetapi lebih banyak lagi yang tidak melihat hasil karya mereka yang baik. Namun kenyataan ini tidak boleh membuat kita menyerah. Terlalu banyak orang telah kehilangan semangat dan jatuh ke dalam “kebusukan” spiritual, karena mereka tidak menemukan efek-efek yang kelihatan dari upaya-upaya mereka.

Yesus sendiri tidak diam dalam dunia untuk menyaksikan buah-buah dari karya-Nya. Cukuplah bagi Yesus bahwa Dia telah melakukan kehendak Bapa-Nya. Yesus mengajar kita bahwa bukan sukses di dunia inilah yang diperhitungkan, melainkan ketekunan penuh kepercayaan kita. Hidup Yesus dan hidup para kudus mengajar kita hal berikut ini: Kasihilah sampai akhir, dan ingatlah, hasil-hasilnya akan datang pada waktu Allah, bukan waktu kita.

DOA: Bapa surgawi, hanya  dalam kehendak-Mu ada damai sejahtera, dalam kebenaran-Mu terdapat hidup dan jalan kami. Kami percaya bahwa segala sakit-penyakit dan dosa manusia tidak akan berakhir di dunia, melainkan hanya di surga. Terpujilah Allah, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 13:21-33,36-38), bacalah tulisan yang berjudul “CARA PENDEKATAN PETRUS ATAU YOHANES?” (bacaan tanggal 31-3-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2015. 

Bacalah juga tulisan-tulisan yang berjudul “APA YANG AKAN KAUPERBUAT, PERBUATLAH DENGAN SEGERA” (bacaan tanggal 3-4-12) dan “AKUILAH DAN TERIMALAH KENYATAAN BAHWA KITA MEMBUTUHKAN TUHAN” (bacaan tanggal 26-3-13), keduanya dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yes 49:1-6), bacalah tulisan yang berjudul “MENJADI TERANG BAGI BANGSA-BANGSA” (bacaan tanggal 19-4-11) dalam situs/blog SANG SABDA dan “SEBAGAI INSTRUMEN-INSTRUMEN IMAN DAN TERANG-NYA” (bacaan tanggal 15-4-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

Cilandak, 30 Maret 2015 [HARI SENIN DALAM PEKAN SUCI]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

NYANYIAN PERTAMA TENTANG HAMBA YHWH YANG MENDERITA

NYANYIAN PERTAMA TENTANG HAMBA YHWH YANG MENDERITA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, HARI SENIN DALAM PEKAN SUCI – 30 Maret 2015) 

275px-Geertgen_Man_van_smartenLihat, itu hamba-Ku yang Kupegang, orang pilihan-Ku, yang kepadanya Aku berkenan. Aku telah menaruh Roh-Ku ke atasnya, supaya ia menyatakan hukum kepada bangsa-bangsa. Ia tidak akan berteriak atau menyaringkan suara atau memperdengarkan suaranya di jalan. Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya, tetapi dengan setia ia akan menyatakan hukum. Ia sendiri tidak akan menjadi pudar dan tidak akan patah terkulai, sampai ia menegakkan hukum di bumi; segala pulau mengharapkan pengajarannya.

Beginilah firman Allah, TUHAN (YHWH), yang menciptakan langit dan membentangkannya, yang menghamparkan bumi dengan segala yang tumbuh di atasnya, yang memberikan nafas kepada umat manusia yang mendudukinya dan nyawa kepada mereka yang hidup di atasnya: “Aku ini, YHWH, telah memanggil engkau untuk maksud penyelamatan, telah memegang tanganmu; Aku telah membentuk engkau dan memberi engkau menjadi perjanjian bagi umat manusia, menjadi terang untuk bangsa-bangsa, untuk membuka mata yang buta, untuk mengeluarkan orang hukuman dari tempat tahanan dan mengeluarkan orang-orang yang duduk dalam gelap dari rumah penjara. (Yes 42:1-7) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1-3,13-14; Bacaan Injil: Yoh 12:1-11

Barangkali lebih daripada bacaan-bacaan Perjanjian Lama lainnya, bacaan-bacaan tentang nyanyian-nyanyian “Hamba TUHAN (YHWH) yang menderita” memberikan kepada kita gambaran sekilas tentang kepribadian Yesus yang jarang terjadi itu. Pada waktu bacaan-bacaan tersebut untuk pertama kali ditulis, “hamba” diidentifikasikan dengan Israel, yang tertindas dan dalam pembuangan, namun mengantisipasi suatu kepulangan yang penuh dengan kemenangan. Akan tetapi, Gereja membacanya juga sebagai nubuat-nubuat tentang Yesus, hamba Allah yang sempurna.

Dalam “nyanyian Hamba YHWH” yang pertama ini, kita melihat Mesias berkomitmen untuk menegakkan keadilan Allah dalam dunia (Yes 42:3-4). Ini bukanlah tugas yang kecil dan mudah untuk dilakukan, namun Yesus menanggapi panggilan-Nya tidak dengan kemurkaan atau balas dendam yang bersifat destruktif, melainkan dengan kesabaran, kesetiaan, dan kelemah-lembutan.

Ketika menghadapi dosa manusia, Yesus tidak pernah menjadi pudar dan tidak akan dibuat patah terkulai (Yes 42:4) oleh para lawannya – bahkan oleh ketidakpercayaan para murid-Nya. Yesus hanya terus saja mengampuni dan menyembuhkan. Yesus tidak pernah mengintervensi kehendak bebas yang telah dianugerahkan kepada setiap pribadi manusia. Yesus tidak pernah memaksa atau memanipulasi siapa pun. Sebaliknya, Yesus menggunakan masa hidup-Nya untuk mewartakan Kerajaan Allah dan menyerukan pertobatan, menyembuhkan orang-orang sakit, mengusir roh-roh jahat yang merasuki orang-orang, mengajar, dan mengampuni dosa-dosa manusia, sampai saat Ia sendiri mengorbankan diri-Nya di atas kayu salib.

MARIA DAN YOHANES DI KAKI SALIB YESUSYesus senantiasa memegang kendali. Yesus yang tidak pernah gentar dalam melaksanakan misi-Nya ketika berhadapan dengan ketidakpercayaan, kemarahan, bahkan penyangkalan oleh para sahabat-Nya yang terdekat. Yesus inilah yang terus menawarkan kepada kita kasih dan pengampunan-Nya. Rahasia-rahasia kita yang paling gelap pun tidak dapat mengejutkan Yesus, bahkan dosa-dosa kita yang paling “heboh” tidak akan membuat-Nya mundur. Yesus tidak akan menuduh-nuduh atau mengutuk. Seperti dinubuatkan oleh Yesaya, Dia akan mengampuni mereka yang berdosa: “Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba” (Yes 1:18). Sebagaimana telah dilakukan-Nya 2.000 tahun lalu, hari ini pun Yesus masih menawarkan pengampunan dan kebebasan. Dalam hal ini janganlah kita melupakan apa yang dikatakan oleh penulis “Surat kepada orang Ibrani”: “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya” (Ibr 13:8).

Saudari-Saudara yang terkasih, dalam Pekan Suci ini, marilah kita berketetapan hati untuk menyelesaikan atau katakanlah “membereskan” rekening-rekening utang kita dengan Allah Bapa. Seandainya kita (anda dan saya) sudah cukup lama tidak masuk ke dalam ruang pengakuan, marilah kita gunakan saat-saat rahmat ini guna memperoleh belas kasih Allah. Oleh karena itu marilah kita datang kepada-Nya dan menegakkan keadilan dalam hati kita masing-masing. Seperti sang ayah dalam “perumpamaan anak yang hilang”, saya yakin bahwa Dia akan berlari guna menyambut anda dan saya. Setelah itu dengan sayup-sayup kita akan mendengar suara Yesus Kristus: “… akan ada sukacita di surga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih daripada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan”  (Luk 15:7).

DOA: Tuhan Yesus, aku menyesali dosa-dosaku. Dengan penuh kepercayaan atas kasih-Mu, aku mohon pengampunan dan belas kasih-Mu. Datanglah, ya Tuhanku, dan tegakkanlah keadilan dan damai-Mu dalam diriku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 12:1-11), bacalah tulisan yang berjudul “DIA-LAH YANG MENGASIHI TERLEBIH DAHULU” (bacaan tanggal 30-3-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2015. 

Bacalah juga tulisan-tulisan yang berjudul “BAU SEMERBAK MINYAK ITU MEMENUHI SELURUH RUMAH ITU” (bacaan tanggal 2-4-12), “KAMI MENYEMBAH ENGKAU, TUHAN YESUS KRISTUS” (bacaan tanggal 25-3-13), keduanya dalam situs/ blog PAX ET BONUM. 

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yes 42:1-7), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS ADALAH HAMBA YHWH PERJANJIAN BARU” (bacaan tanggal  18-4-11) dalam situs/blog SANG SABDA, dan “HAMBA-KU, YANG KEPADANYA AKU BERKENAN” (bacaan tanggal 14-4-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

Cilandak, 26 Maret 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HARI MINGGU PALMA MENGENANGKAN SENGSARA TUHAN – Tahun B (Mrk 11:1-10) – 29 Maret 2015

800px-Assisi-frescoes-entry-into-jerusalem-pietro_lorenzetti

Lukisan Pietro Lorenzetti [1280-1348] tahun 1320.

Jakarta, 25 Maret 2015

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS INGIN MENGOYAKKAN TIRAI YANG MENGHALANGI KITA DAN BAPA-NYA DI SURGA

YESUS INGIN MENGOYAKKAN TIRAI YANG MENGHALANGI KITA DAN BAPA-NYA DI SURGA

(Bacaan Kedua Misa Kudus,  HARI MINGGU PALMA MENGENANGKAN SENGSARA TUHAN [Tahun B], 29 Maret 2015) 

Bacaan Perarakan: Mrk 11:1-10 atau Yoh 12:12-26;

Bacaan Pertama: Yes 50:4-7;

Mazmur Tanggapan: Mzm 22:8-9,17-20,23-24;

Bacaan Injil Mrk 14:1-15:47 (Mrk 15:1-39)

SENGSARA YESUS - 2 THE PASSIONLalu berserulah Yesus dengan suara nyaring dan menghembuskan napas terakhir-Nya. Ketika itu tirai Bait Suci terkoyak menjadi dua dari atas sampai ke bawah. Waktu kepala pasukan yang berdiri berhadapan dengan Dia melihat-Nya menghembuskan napas terakhir seperti itu, berkatalah ia, “Sungguh, orang ini Anak Allah!” (Mrk 15:37-39)

Bacaan Injil hari merupakan seluruh kisah sengsara Tuhan kita Yesus Kristus dalam Injil Markus: a) Yesus diurapi di Betania (Mrk 14:3-9); b) Yudas mengkhianati Yesus (Mrk 14:10-11); c) Perjamuan Malam Terakhir (Mrk 14:12-26); d) Penyangkalan diberitahukan (Mrk 14:27-31); e) Di Getsemani (Mrk 14:32-42; f) Penangkapan Yesus (Mrk 14:43-52); g) Yesus di hadapan Mahkamah Agama (Mrk 14:53-65); h) Petrus menyangkal Yesus (Mrk 14:66-72; i) Yesus di hadapan Pilatus (Mrk 15:1-15); j) Yesus diolok-olok (Mrk 15:16-20a); k) Jalan Salib ke Kalvari (Mrk 15:20b-21);  l) Yesus disalibkan (Mrk 15:22-27); m) Yesus pada kayu salib diolok-olok (Mrk 15:29-32); n) Yesus wafat (Mrk 15:33-39); o) Para saksi kematian Yesus (Mrk 15:40-41); p) Yesus dikubur (Mrk 15:42-47). Karena alasan praktis,  kali ini saya tidak mengutip teks bacaan Injil secara keseluruhan.

SENGSARA YESUS - JATUH UTK KEDUA KALIPada hari Minggu Palem kita tidak saja merayakan penebusan kita, melainkan juga merayakan kasih Yesus kepada kita semua untuk satu pekan lamanya. Selama satu pekan ini kita akan memperingati alasan-alasan mengapa Yesus mati untuk kita. Namun ini bukanlah satu pekan kesedihan, melainkan satu pekan yang dipenuhi dengan rasa terima kasih penuh syukur, sukacita dan pengharapan.

Markus menceritakan kepada kita bahwa ketika Yesus menghembuskan napas-Nya yang terakhir, tirai Bait Suci terkoyak menjadi dua dari atas sampai ke bawah (lihat petikan di atas). Tirai ini adalah semacam gorden tebal yang memisahkan umat dengan tempat/bagian terkudus dari Bait Suci (bdk. Ibr 9:7). Sesungguhnya, dengan mengoyakkan tirai Bait Suci ini, Allah membuat sebuah pernyataan yang penuh kuat-kuasa: Tidak ada lagi yang memisahkan antara Dia dan umat-Nya.

Tirai Bait Suci memisahkan umat dari kehadiran dan kekudusan Allah, demikian pula tirai tebal kedosaan memisahkan kita dan Pencipta kita. Namun ketika Yesus wafat di kayu salib, tirai ini juga terkoyak menjadi dua dari atas (surga) ke bawah (bumi). Artinya, jalan ke surga menjadi terbuka, dan hidup Allah serta kasih-Nya menjadi bebas mengalir kepada kita masing-masing.  Akhirnya, sekarang kita semua pun dapat mendengar suara-Nya dan mengalami kehadiran-Nya secara pribadi. Semua ini terdengar indah, namun siapa dari kita yang tidak pernah mengalami apa rasanya berada terpisah dari Allah? Tirai-tirai masih dapat menyelubungi hidup kita, memblokir akses kita kepada takhta Bapa di surga.

stations3-12Saudari dan Saudara terkasih, Yesus ingin kita mengoyakkan tirai-tirai ini pada Pekan Suci ini. Dia ingin membuang segala penghalang yang masih ada antara kita dan Bapa-Nya di surga. Yang perlu kita lakukan hanyalah datang kepada-Nya dan meminta. Keseluruhan alasan mengapa Yesus wafat untuk kita adalah agar kita dapat melihat kemuliaan-Nya dan dipenuhi dengan kasih-Nya. Oleh karena itu, janganlah kita bersedih pada Pekan Suci ini, melainkan membuka hati kita bagi Yesus. Janganlah menjadi sedih, tetapi penuh dengan pengharapan. Allah, sang Mahalain, dapat mengambil setiap tirai yang menghalangi kita ditransformasikan untuk menjadi semakin serupa dengan diri-Nya (2Kor 3:18).

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Setiap kali aku memandang salib-Mu, aku kehilangan kata-kata indah untuk berdoa. Apa yang dapat kulakukan hanyalah memuji-muji kasih-Mu yang tak terhingga dan memohon kepada-Mu untuk datang merobek tirai-tirai dalam hidupku, yang memisahkan aku dari Bapa di surga. Tuhan Yesus, aku ingin melihat kemuliaan-Mu dan oleh Roh Kudus-Mu dibuat menjadi semakin serupa dengan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Kedua hari ini (Flp 2:6-11), bacalah tulisan yang berjudul “MARILAH KITA MENELADAN KETAATAN DAN KERENDAHAN HATI YESUS YANG PENUH KASIH” dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2015. 

Cilandak, 25 Maret 2015 [HARI RAYA KABAR SUKACITA]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

WALAUPUN KITA TIDAK PANTAS UNTUK DITEBUS ……

WALAUPUN KITA TIDAK PANTAS UNTUK DITEBUS ……

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan V Prapaskah – Sabtu, 28 Maret 2015) 

CELAKALAH ENGKAU KATA YESUSBanyak di antara orang-orang Yahudi yang datang melawat Maria dan yang menyaksikan sendiri apa yang telah dibuat Yesus, percaya kepada-Nya. Tetapi beberapa di antara mereka pergi kepada orang-orang Farisi dan menceritakan kepada mereka, apa yang telah dibuat Yesus itu. Lalu imam-imam kepala dan orang-orang Farisi memanggil Mahkamah Agama untuk berkumpul dan mereka berkata, “Apa yang harus kita lakukan? Sebab Orang itu membuat banyak mukjizat. Apabila kita biarkan Dia, maka semua orang akan percaya kepada-Nya dan orang-orang Roma akan datang dan akan merampas tempat suci kita serta bangsa kita. Tetapi salah seorang di antara mereka, yaitu Kayafas, Imam Besar pada tahun itu, berkata kepada mereka, “Kamu tidak tahu apa-apa, dan kamu tidak insaf bahwa lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita daripada seluruh bangsa kita ini binasa.” Hal itu dikatakannya bukan dari dirinya sendiri, tetapi sebagai Imam Besar pada tahun itu ia  bernubuat bahwa Yesus akan mati untuk bangsa itu, dan bukan untuk bangsa itu saja, tetapi juga untuk mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai. Mulai hari itu mereka sepakat untuk membunuh Dia.

Karena itu Yesus tidak tampil lagi di depan umum di antara orang-orang Yahudi, tetapi Ia berangkat dari situ ke daerah dekat padang gurun, ke sebuah kota yang bernama Efraim, dan di situ Ia tinggal bersama-sama murid-murid-Nya.

Pada  waktu itu hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat dan banyak orang dari negeri itu berangkat ke Yerusalem untuk menyucikan diri sebelum Paskah itu. Mereka mencari Yesus dan sambil berdiri di dalam Bait Allah, mereka berkata seorang kepada yang lain, “Bagaimana pendapatmu? Akan datang jugakah Ia ke pesta?” (Yoh 11:45-56) 

Bacaan Pertama: Yeh 37:21-28; Mazmur Tanggapan: Yer 31:10-13

Kitab Yesaya menggambarkan seorang hamba TUHAN (YHWH) yang “dihina dan dihindari orang” (Yes 53:3) – sebuah nubuatan yang secara sempurna dipenuhi dalam diri Yesus. Dalam Injilnya, Yohanes mengidentifikasikan penolakan ini sebagai berasal dari “orang-orang Yahudi”. Salah-pengertian dari hal ini telah berkontribusi kepada sikap anti-Yahudi dan penganiayaan terhadap orang-orang Yahudi untuk berabad-abad lamanya. Bagi Yohanes, “orang-orang Yahudi” bukan berarti semua orang Yahudi, melainkan kelompok orang yang terdiri dari kaum Farisi, imam-imam kepala, dan para anggota Sanhedrin yang menolak Yesus dan mencoba untuk merekayasa kematian Yesus (lihat Yoh 7:32,45,47-48). Di antara mereka ada beberapa yang bahkan menerima Yesus (Yoh 7:50-51). Sebagaimana dapat kita baca dalam bacaan Injil hari ini, banyak orang Yahudi yang menyaksikan mukjizat-mukjizat Yesus menjadi percaya kepada-Nya (Yoh 11:45).

sanhedrin-021Betapa mudahnya kita menunjuk-nunjuk dengan jari-jari kita kepada “orang-orang jelek” yang hidup di abad pertama dan kemudian menyalahkan mereka! Memang sulit untuk menerimanya, namun bukankah suatu kenyataan bahwa kita pun pernah menolak Yesus dalam hidup kita? Bukankah ini adalah keseluruhan pesan dari salib Kristus? Bukankah kita semua adalah “musuh-musuh” Allah? (lihat Rm 5:8) ketika Yesus datang dan mencurahkan darah-Nya. Tidak ada orang-orang baik maupun orang-orang jahat; yang ada adalah umat manusia         yang terdiri dari para pendosa yang sangat dikasihi oleh Bapa mereka yang ada di surga, yang walaupun tidak pantas untuk ditebus, mereka tetap ditebus oleh Putera-Nya yang tunggal yang  sangat dikasihi-Nya.

Bukankah ini kabar baik? Tidakkah hal ini menghibur hati ketika kita mengetahui bahwa bagaimana pun hebatnya kita masih memendam sikap perlawanan terhadap Yesus dalam hati kita, Dia tetap mengasihi kita dan tidak pernah menyesali pengorbanan yang dibuat-Nya untuk kita? Bukankah hal ini sangat menyemangati kita, apalagi ketika kita menyadari bahwa Yesus Kristus terus saja melakukan pengantaraan bagi kita di hadapan Bapa surgawi (bacalah keseluruhan Ibr 9), dan juga mencurahkan rahmat demi rahmat guna memerdekakan kita dari setiap bentuk kejahatan?

Saudari dan Saudaraku yang terkasih, besok kita akan mengawali Pekan Suci. Marilah kita memeriksa lagi batin/hati kita masing-masing. Masihkah kita menuduh individu-individu tertentu, bahkan kelompok-kelompok tertentu sebagai antek-antek si Jahat, tanpa harapan, musuh-musuh Allah yang mutlak tidak dapat diampuni? Marilah kita memohon kepada Yesus untuk menunjukkan kasih dan belaskasih-Nya. Dia mati untuk setiap orang. Dia juga memberikan pengharapan untuk setiap orang sampai menit terakhir. Yesus juga mendorong kita untuk bersikap dan melakukan hal yang sama. Oleh karena itu, marilah kita melakukan doa syafaat bagi orang-orang lain, bukan menuduh-nuduh. Kita semua adalah satu keluarga dalam Kristus. Semakin kita saling mengasihi, semakin nyata pula Injil akan berkemenangan dalam setiap hati orang.

DOA: Bapa surgawi, Engkau mengutus Putera-Mu agar supaya segenap umat manusia dapat diperdamaikan dengan Bapa. Sekarang Engkau telah memberikan tugas kepada Gereja – dan  kami masing-masing – untuk syering pelayanan-Mu dalam hal rekonsiliasi ini. Berdayakanlah kami agar mau dan mampu menarik orang-orang lain kepada-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 11:45-56), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS AKAN MATI UNTUK BANGSA ITU” (bacaan tanggal 28-3-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2015. 

Untuk mendalami Bacaan Pertama (Yeh 37:21-28), bacalah tulisan yang berjudul “TEMPAT KEDIAMAN-KU PUN AKAN ADA PADA MEREKA” (bacaan tanggal 16-4-11) dalam situs/blog SANG SABDA. 

Cilandak, 24 Maret 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 141 other followers