GANDAR YANG KUPASANG ITU MENYENANGKAN DAN BEBAN-KU PUN RINGAN

 GANDAR YANG KUPASANG ITU MENYENANGKAN DAN BEBAN-KU PUN RINGAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Adven – Rabu, 11 Desember 2019)

Peringatan Fakultatif S. Damasus I, Paus

Image result for PICTURES OF MATTHEW 11:28-30"

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah gandar yang Kupasang dan belajarlah kepada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab gandar yang Kupasang itu menyenangkan dan beban-Ku pun ringan.” (Mat 11:28-30) 

Bacaan Pertama: Yes 40:25-31; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-4,8,10 

Dalam setiap zaman dan kondisi, orang-orang tentu pernah mengalami situasi yang letih-lesu dan merasakan hidup yang berbeban berat. Sekarang pun kita mengalaminya. Kerja keras, keringat, air mata, kegagalan dan kesia-siaan dlsb. adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia, dari awal sejarah sampai hari ini dan seterusnya. Beban ini sungguh riil dan tak kunjung padam, dan kita masing-masing tentunya dari waktu ke waktu pernah mengalami berjalan sempoyongan karena harus memikul beban kehidupan yang berat. Sayangnya, seringkali bukannya menerima beban yang harus kita pikul, kita malah mencari penghiburan atau pelipur lara dalam hal-hal yang duniawi. Bahkan ketika kita mempersiapkan diri untuk hari Natal, kita dapat mencari penghiburan (dengan sadar maupun tidak sadar), dalam perayaan-perayaan atau pesta-pesta dan acara-acara yang sesungguhnya didominir oleh materialisme.

Yesus mengetahui tentang beban-beban kehidupan kita. Dia juga mengetahui tentang kerinduan kita akan kenyamanan dan pembebasan dari beban-beban kehidupan. Oleh karena itu Dia memanggil kita: “Datanglah kepadaku; Aku sendiri memberikan kelegaan yang engkau cari. Aku menawarkan kepadamu kelemah-lembutan karena engkau telah mengalami perlakuan yang kasar atas dirimu; sebuah hati yang penuh kerendahan sebagai tempat pengungsian dari kerusakan-kerusakan akibat keangkuhan; kekuatan dalam keletih-lesuanmu; jaminan kembali di hadapan semua ketakutanmu; pelepasan dari rasa bersalah karena dosa-dosamu, dan kasih-Ku yang berlimpah untuk memberi pasokan bagi setiap keinginanmu dan memenuhi setiap hasratmu.”

Yesus mengundang kita untuk memikul gandar-Nya dan belajar dari Dia, di mana berdiamlah segala hikmat Allah (lihat Kol 1:9). Hikmat-Nya menyegarkan kita kembali dan memberikan kepada kita hidup Allah sendiri. Undangan-Nya adalah sebagai berikut: untuk menyerahkan diri kepada pelatihan-Nya, untuk menundukkan diri kepada kehendak-Nya, untuk memperkenankan Dia memerintah dan mengajar serta memimpin kita. Ini bukanlah beban! Beban adalah apabila kita mencoba untuk hidup menolak kehendak-Nya dan pelatihan serta pimpinan-Nya – untuk mencoba mengasihi Allah dan orang-orang lain tanpa memenuhi undangan Yesus tadi.

Yesus mengatakan dengan cukup lugas: “Gandar yang Kupasang itu menyenangkan dan beban-ku pun ringan (Mat 11:30). Yesus hanya berbicara mengenai kebenaran. Allah memberikan kekuatan dan sukacita untuk melakukan hal itu. Kristus membawa kita dengan lemah lembut dan memenuhi setiap kebutuhkan kita. Ia yang menciptakan segala sesuatu dengan kuat-kuasa-Nya yang maha-dahsyat, yang memegang segala hal yang ada (lihat Yes 40:26), menawarkan kepada kita apa yang kita butuhkan dalam setiap situasi yang kita hadapi. Dia menjanjikan bahwa mereka yang menanti-nantikan diri-Nya akan diperbaharui dalam kekuatan dan tidak akan menjadi letih-lesu (lihat Yes 40:31). Yang diminta-Nya adalah bahwa kita datang kepada-Nya dan belajar dari diri-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, gerakkanlah hati kami agar mau datang kepada-Mu dan belajar dari-Mu mengenai kelemah-lembutan diri-Mu dan kasih-Mu. Tolonglah kami agar menyerahkan diri kepada-Mu dengan sepenuh-penuhnya dan memperkenankan Engkau untuk mengajar kami, agar dengan demikian kami dapat disegarkan kembali oleh hikmat-Mu dan dikuatkan oleh sukacita-Mu. Terpujilah nama-Mu yang kudus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 11:28-30) bacalah tulisan yang berjudul “MEMANFAATKAN MENIT-MENIT YANG MENYEGARKAN BERSAMA KRISTUS” (bacaan tanggal 11-12-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2019. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 10 Desember 2019  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ALLAH TIDAK PERNAH MEMBIARKAN KITA BERJUANG SENDIRI-SENDIRI

ALLAH TIDAK PERNAH MEMBIARKAN KITA BERJUANG SENDIRI-SENDIRI

(Bacaan Pertama Misa, Hari Biasa Pekan II Adven – Selasa, 10 Desember 2019)

Image result for IMAGES OF ISAIAH 40:1-11"

Hiburkanlah, hiburkanlah umat-Ku, demikian firman Allahmu, tenangkanlah hati Yerusalem dan serukanlah kepada-Nya, bahwa perhambaannya sudah  berakhir, bahwa kesalahannya telah diampuni, sebab  ia telah menerima hukuman dari tangan TUHAN (YHWH) dua kali lipat karena segala dosanya.

Ada suara yang berseru-seru: “Persiapkanlah di padang gurun jalan untuk YHWH, luruskanlah di padang belantara raya bagi Allah kita! Setiap lembah harus ditutup, dan  dan setiap gunung dan bukit diratakan; tanah yang berbukit-bukit harus  menjadi tanah yang rata, dan tanah yang berlekuk-lekuk menjadi dataran; maka kemuliaan YHWH akan dinyatakan dan seluruh umat manusia akan melihatnya bersama-sama; sungguh, YHWH sendiri telah mengatakannya.”

Ada suara yang berkata: “Berserulah!” Jawabku: “Apakah yang harus kuserukan? “Seluruh umat manusia adalah seperti rumput dan semua semaraknya seperti bunga di padang. Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, apabila YHWH menghembusnya dengan nafas-Nya. Sesungguhnyalah bangsa itu seperti rumput. Rumput menjadi kering, bunga menjadi layu, tetapi firman Allah kita untuk selama-lamanya.”

Hai Sion, pembawa kabar baik, naiklah ke atas gunung yang tinggi! Hai Yerusalem, pembawa kabar baik, nyaringkanlah suaramu, jangan takut! Katakanlah kepada kota-kota Yehuda: “Lihat, itu Allahmu!” Lihat, itu

Tuhan ALLAH, Ia datang dengan kekuatan dan dengan tangan-Nya Ia berkuasa. Lihat, mereka yang menjadi upah jerih payah-Nya ada bersama-sama Dia, dan mereka yang diperoleh-Nya berjalan di hadapan-Nya. Seperti seorang gembala Ia menggembalakan kawanan ternak-Nya dan menghimpunkannya dengan tangan-Nya; anak-anak domba dipangku-Nya, induk-induk domba dituntun-Nya dengan hati-hati. (Yes 40:1-11) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 96:1-4,8,10; Bacaan Injil: Mat 18:12-14  

“Lihat, itu Tuhan ALLAH, Ia datang dengan kekuatan …” (Yes 40:10)

Kata-kata seperti “kuasa” dan “kekuatan” dapat menciptakan dalam pikiran kita gambaran tentang seorang pribadi atau sekelompok orang yang mencoba untuk memaksakan niat-niat atau kehendak-kehendak mereka atas orang lain atau kelompok lain yang tidak/kurang setuju dengan niat-niat atau kehendak-kehendak tersebut. Kita biasanya tidak mengasosiasikan kata-kata ini dengan gambaran seorang gembala yang dengan lemah lembut memangku seekor anak domba dlsb. (lihat Yes 40:10-11). Namun ini adalah gambaran yang diberikan Allah tentang kuasa dan kekuatan-Nya.

Keluar dari dan didorong oleh kasih-Nya yang berlangsung terus, Allah merancang, menciptakan dan menebus kita masing-masing. Segenap ciptaan adalah objek dari kasih Allah, dan kita adalah mahkota dari ciptaan Allah. Melalui kematian dan kebangkitan Yesus Kristus (Putera Allah yang tunggal), Allah telah menjanjikan kepada kita masing-masing suatu hidup baru di atas bumi dan hidup kekal di surga.

Kita dapat saja tergoda untuk merasa takjub dan heran akan kasih Allah dan belas kasih-Nya mengingat betapa seriusnya kedosaan kita masing-masing. Terus terang saja, kita semua adalah pendosa-pendosa. Akan tetapi rencana-rencana Allah tidak pernah dapat digagalkan oleh dosa kita. Salib Kristus bukanlah suatu perubahan rancangan Allah yang dibuat pada menit-menit terakhir karena keadaan darurat, yang disebabkan oleh kejatuhan manusia disebabkan oleh godaan-godaan Iblis.

Ingatlah bahwa Allah bukanlah “seorang” Pribadi yang dapat dibuat terkaget-kaget dengan perubahan dalam peristiwa-peristiwa. Sebagaimana dengan segala hal yang dilakukan-Nya, Allah bertindak karena didorong kasih-Nya yang murni, yaitu dengan menyelamatkan kita melalui salib Putera-Nya yang terkasih.

Allah tidak pernah meninggalkan atau membuang kita supaya kita berjuang sendiri-sendiri dalam menghadapi segala perkara. Dari zaman ke zaman, dari generasi ke generasi, orang-orang telah mengalami keadilan Allah dan belas kasih-Nya selagi mereka mengambil keputusan dan bertindak berbalik dari dosa serta memperkenankan Dia untuk memulihkan mereka kepada kasih-Nya.

Allah sekali-kali tidak membuang kita, melainkan secara intim melibatkan diri-Nya – sejak awal – dalam proses realisasi rencana-rencana-Nya. Kita dapat membayangkan bagaimana mata Allah terus-menerus memandang Putera-Nya, sambil mengantisipasi momen yang sempurna untuk mengutus Putera-Nya itu ke tengah dunia guna menyelamatkan kita-manusia. Jadi, semua adalah karena kasih-Nya.

Yesus datang ke tengah-tengah umat manusia sebagai seorang bayi tak berdaya, namun Ia menebus kita sebagai seorang Pribadi yang kuat-perkasa. Sekarang Ia telah bangkit dalam kemuliaan; memiliki kuat-kuasa untuk mengampuni dosa dan mencurahkan Roh-Nya ke dalam hati kita masing-masing. Pada suatu hari kelak, Ia akan kembali untuk membawa kepada kita ke dalam suatu relasi yang komplit dan intim dengan diri-Nya. Ini bukanlah pekerjaan dari jarak jauh yang dilakukan “seorang” Allah yang kurang mau tahu urusan umat-Nya. Dia tidak pernah berkata: EGP! (Emangnya gue pikirin!). Ia adalah “seorang” Allah yang penuh komitmen, tak dapat kita bayangkan, … karena Dia adalah sang “Mahalain”.

DOA: Bapa surgawi, aku percaya bahwa Engkau adalah “seorang” Allah Yang Mahaperkasa. Biarlah kasih-Mu membasuh diriku, agar supaya sungguh bersih dari dosa-dosaku. Perkenanlah Roh Kudus-Mu senantiasa mengajar dan membentuk aku menjadi semakin serupa dengan Putera-Mu terkasih, Yesus Kristus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 18:12-14), bacalah tulisan yang berjudul GEMBALA BAGI KITA SEMUA ADALAH YESUS KRISTUS” (bacaan tanggal 10-12-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2019. 

(Tulisan ini bersumberkan tulisan saya pada tahun 2014] 

Cilandak, 9 Desember 2019 [HARI RAYA SP MARIA DIKANDUNG TANPA NODA] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEBAGAI PUJI-PUJIAN BAGI KEMULIAAN-NYA

SEBAGAI PUJI-PUJIAN BAGI KEMULIAAN-NYA

(Bacaan Kedua Misa, HARI RAYA SP MARIA DIKANDUNG TANPA DOSA – Senin, 9 Desember 2019)

Keluarga besar Fransiskan: HARI RAYA PELINDUNG DAN RATU TAREKAT

Image result for MARY IMMACULATE CONCEPTION"

Catatan: Hari Raya khusus ini dirayakan pada hari ini karena tanggal 8 Desember 2019 bertepatan dengan hari Minggu Adven II.

Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam surga. Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula melalui Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, supaya terpujilah anugerah-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya.

Aku katakan “di dalam Kristus”, karena di dalam Dialah kami diberi warisan – kita yang dari semula sudah dipilih-Nya sesuai dengan maksud Allah, yang mengerjakan segala sesuatu menurut keputusan kehendak-Nya – supaya kami, yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus, boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya. (Ef 1:3-6,11-12)

Bacaan Pertama: Kej 3:9-15,20; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1-4; Bacaan Injil: Luk 1:26-38 

Memang mudahlah untuk melihat bahwa Maria dipisahkan untuk hidup yang dipenuhi pujian bagi kemuliaan Allah: Ia dikandung oleh tanpa dosa! Biar bagaimana pun juga, bukankah hal ini yang kita rayakan pada hari ini? Juga mudahlah untuk menganggap atau mengandaikan bahwa Allah memberi izin Maria untuk dikandung dengan cara ini karena Dia berpikir bahwa Maria itu memang istimewa.  Di belakang asumi ini ini adalah pikiran kita yang tidak diungkapkan dalam kata-kata, bahwa kiranya kita kurang istimewa di mata Allah. Ini tidak benar! Kita pun telah ditentukan untuk hidup sebagai puji-pujian bagi kemuliaan Allah (Ef 1:12).

Kita masing-masing telah ditentukan, sebelum segala waktu, oleh kehendak ilahi Allah untuk menjadi anak-anak-Nya. Allah memilih kita. Ia merencanakan  bahwa kita akan menjadi milik-Nya – anak-anak-Nya – yang sangat berharga di mata-Nya: “Sebab engkaulah umat yang kudus bagi TUHAN (YHWH), Allahmu; engkaulah yang dipilih oleh YHWH, Allahmu, dari segala bangsa di atas muka bumi untuk menjadi umat kesayangan-Nya” (Ul 7:6), juga kudus dan tak bercacat di mata-Nya (Ef 1:4). Hal itu bukan sekadar kehendak-Nya, melainkan juga kesenangan-Nya (lihat Ef 1:5). Allah sejak kekal sudah berkomitmen terhadap diri kita.

Agar dapat menyelamatkan kita dari dosa yang sudah menjerat kita, Allah memerlukan sebuah bejana yang murni untuk mengandung Putera-Nya, Penebus kita. Itulah sebabnya mengapa Maria dikandung tanpa dosa. Karena telah memilih dan menciptakan dan menentukan kita untuk menjadi kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya, maka Allah menyediakan suatu jalan bagi kita untuk kembali kepada relasi yang akrab dan penuh kasih yang senantiasa ingin dinikmati-Nya dengan kita masing-masing. Dan Maria yang dikandung tanpa noda dosa merupakan bagian dari rencana Allah itu.

Apa pesannya bagi hidup kita? Kita adalah istimewa bagi Allah! Bahwa kita dapat menggantungkan diri secara penuh kepada-Nya untuk segala sesuatu. Bahwa Dia tidak akan membuang atau meninggalkan diri kita tanpa menunjukkan jalan untuk bertemu dengan-Nya. Allah mengerjakan segala seuatu seturut tujuan kehendak-Nya (Ef 1:11). Allah mengasihi kita masing-masing tanpa pandang bulu, sama-sama istimewa, dan sama-sama uniknya.

Saudari dan Saudaraku yang dikasihi Kristus, pada hari ini baiklah kita mohon kepada-Nya agar kita dikaruniai perspektif yang lebih luas berkaitan dengan kasih-Nya kepada kita dan betapa besar nilai kita masing-masing di mata-Nya.

DOA: Allah yang Mahamulia, Engkau sungguh dahsyat dalam kuat-kuasa dan kasih-Mu. Engkau Mahasetia dan tidak pernah berubah. Engkau senantiasa mencapai apa yang Kauinginkan. Rencana-rencana-Mu berdiri tegak tanpa berubah, tak terganggu sepanjang zaman. Engkau sungguh agung, ya Allahku. Kutinggikan dan kuagungkan nama-Mu, sekarang dan selama-lamanya. Amin. 

Catatan: Untuk mendalam Bacaan  Injil hari ini (Luk 1:26-38),  bacalah  tulisan yang berjudul “TANPA NODA DOSA” (bacaan tanggal 9-12-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2019. 

(Tulisan ini bersumberkan tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 5 Desember 2019   

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BERTOBATLAH, SEBAB KERAJAAN SURGA SUDAH DEKAT!

BERTOBATLAH, SEBAB KERAJAAN SURGA SUDAH DEKAT!

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU ADVEN II (Tahun A), 8 Desember 2019)

Pada waktu itu tampillah Yohanes Pembaptis di padang gurun Yudea dan memberitakan, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!” Sesungguhnya dialah yang dimaksudkan Nabi Yesaya ketika ia berkata, “Ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya.”

Yohanes memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit, dan makannya belalang dan madu hutan. Lalu datanglah kepadanya penduduk dari Yerusalem, dari seluruh Yudea dan seluruh daerah sekitar Yordan. Sambil mengaku dosanya mereka dibaptis oleh Yohanes di sungai Yordan.

Tetapi waktu ia melihat banyak orang Farisi dan orang Saduki datang untuk dibaptis, berkatalah ia kepada mereka, “Hai kamu keturunan ular berbisa. Siapakah yang mengatakan kepada kamu bahwa kamu dapat melarikan diri dari murka yang akan datang? Jadi, hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan. Janganlah mengira bahwa kamu dapat berkata dalam hatimu: Abraham adalah bapak leluhur kami! Karena aku berkata kepadamu: Allah dapat menjadikan anak-anak bagi Abraham dari batu-batu ini! Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia yang datang kemudian setelah aku lebih berkuasa daripada aku dan aku tidak layak membawa kasut-Nya. Ia akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan api. Alat penampi sudah di tangan-Nya. Ia akan membersihkan tempat pengirikan-Nya dan mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung, tetapi sekam itu akan dibakar-Nya dalam api yang tidak terpadamkan.” (Mat 3:1-12)

Bacaan Pertama Yes 11:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 72:1-2,7-8,12-13,17; Bacaan Kedua: Rm 15:4-9 

Yohanes Pembaptis selalu menonjol dalam liturgi Adven. Orang kudus ini juga selalu ditempatkan di sebuah posisi terhormat di tengah para kudus lainnya. Banyak gereja megah yang menggunakan namanya. Inilah tradisi Gereja yang sudah berumur sekitar 2.000 tahun lamanya.

Banyak orang mendengarkan pewartaannya tentang pertobatan – dari Yerusalem, seluruh Yudea dan seluruh daerah sekitar Yordan – sambil mengaku dosanya mereka dibaptis oleh Yohanes di sungai Yordan (lihat Mat 3:5-6). Yohanes memang seorang pribadi yang hebat, namun tetap saja dirinya bukanlah Yesus. Dia sendiri menyadari hal itu: “Ia yang datang kemudian setelah aku lebih berkuasa daripada aku dan aku tidak layak membawa kasut-Nya. Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan dengan api” (Mat 3:11).

Injil memberikan kesan bahwa Yohanes ini adalah seorang pribadi yang sangat serius dan kiranya tidak memiliki rasa humor, a no-nonse type of person. Seperti diungkapkan di atas, Yohanes mengakui secara terbuka bahwa Yesus lebih hebat daripada dirinya. Memang Yesus lebih hebat dalam segala hal yang baik ketimbang Yohanes Pembaptis! Yohanes mempunyai pesan vital yang harus diwartakannya. Namun kita tidak dapat mengetahui dengan pasti sampai berapa dalam Yohanes mengenal siapa Yesus itu. Kelihatannya dia tidak menyadari akan keunikan Yesus, yang mempersatukan keilahian dan kemanusiaan dalam diri-Nya. Yohanes membuka jalan bagi Yesus, namun realitas sesungguhnya adalah jauh lebih besar daripada yang mampu dipikirkan dan diharapkan oleh sang nabi padang gurun itu.

Itulah cara Allah, memberikan kejutan (surprise) kepada kita dengan sesuatu yang jauh lebih baik daripada apa yang kita dapat harapkan. Kita dapat penuh keyakinan akan masa depan, tentang hal-hal lebih baik yang akan datang, karena dengan memandang ke belakang – ke masa lalu kita – kita dapat melihat bagaimana Allah bekerja. Kisah yang diceritakan dalam bacaan pertama adalah mengenai Raja Ahaz, seorang penguasa yang sangat lemah dan tidak setia, dan telah menyebabkan negeri yang dipimpinnya mengalami keruntuhan. Negeri yang dipimpinnya itu seperti sebatang pohon subur yang berangsur-angsur mati.

Lewat nabi Yesaya, Allah berjanji bahwa suatu tunas akan keluar dari tunggul Isai dan taruk yang akan tumbuh dari pangkalnya akan berbuah, untuk mengawali suatu pertumbuhan yang baru dan megah. Dalam hal ini yang dinubuatkan sang nabi adalah seorang raja ideal dari wangsa Daud, dari dialah akan datang Roh TUHAN (YHWH), sehingga kerajaan itu dapat diperbaharui. Yesaya melihat akan kedatangan seorang raja-manusia, akan tetapi Gereja mempunyai pemahaman yang jauh lebih mendalam. Membaca ayat-ayat dari bacaan pertama hari ini dalam terang pewahyuan yang lebih penuh dan lengkap, maka Gereja melihat bahwa janji Allah itu digenapi dalam diri Kristus Raja yang  memproklamasikan Kerajaan Surga. Inilah cara Allah: Penggenapan atau pemenuhan janji-janji-Nya selalu lebih besar daripada ketika dijanjikan.

Barangkali kita kadang-kadang menjadi sedikit ragu-ragu dalam hal menanti-nantikan suatu masa depan yang lebih baik, teristimewa apabila menyangkut sesuatu yang bersifat kekal-abadi. Mengapa sampai begitu? Karena  hidup kita sebagai manusia seringkali mengalami kebalikan daripada cara atau jalan yang dipakai Allah. Orang-orang yang suka membuat janji-janji seringkali tidak memegang janji-janji mereka. Apa yang diiklankan di berbagai media massa seringkali jauh melebihi nilai kegunaan sesungguhnya dari suatu produk atau jasa yang ditawarkan lewat iklan-iklan itu. Namun demikian, janganlah pengalaman pahit kita dalam kehidupan ini membuat kita mempunyai pandangan yang negatif tentang Allah dan janji-janji-Nya. Dengan demikian, tatapan mata  kita (teristimewa mata hati kita) haruslah penuh dengan pengharapan  dan sukacita sejati. Kita harus mempunyai keyakinan kuat, bahwa Allah selalu melakukan yang lebih besar daripada apa yang  telah dijanjikan-Nya.

DOA: Bapa yang Mahakuasa dan Maharahim, janganlah Kaubiarkan suatu kesalahan pun menghalangi kami dalam menyiapkan diri untuk menyambut kedatangan Putera-Mu, Yesus Kristus – Tuhan dan Juruselamat kami. Semoga berkat bimbingan Roh Kudus-Mu, kami boleh dipersatukan dengan Yesus Kristus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil  hari ini (Mat 3:1-12), bacalah tulisan yang berjudul “KEDATANGAN SANG MESIAS-HAKIM” (bacaan tanggal 8-12-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-12 BACAAN HARIAN DESEMBER 2019. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2010) 

Cilandak, 5 Desember 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DENGAN MEMBERIKAN DIRI KITA KEPADA ORANG-ORANG LAIN

DENGAN MEMBERIKAN DIRI KITA KEPADA ORANG-ORANG LAIN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan Wajib S. Ambrosius, Uskup Pujangga Gereja – Sabtu, 7 Desember 2019)

Hari Sabtu Imam

Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat mereka dan memberitakan Injil Kerajaan Surga serta menyembuhkan orang-orang dari segala penyakit dan kelemahan. Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu kata-Nya kepada murid-murid-Nya, “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu, mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.”

Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan memberi kuasa kepada mereka untuk mengusir roh-roh jahat dan untuk menyembuhkan orang-orang dari segala penyakit dan kelemahan.

Ia bersabda: “Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Surga sudah dekat. Sembuhkanlah orang sakit; bangkitkanlah orang mati; sembuhkanlah orang kusta; usirlah setan-setan. Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu  berikanlah pula dengan cuma-Cuma. (Mat 9:35-10:1.6-8)  

Bacaan pertama: Yes 30:19-21.23-26; Mazmur Tanggapan: Mzm 147:1-6 

Adven adalah suatu istilah yang terasa kontradiktif. Ini adalah masa untuk menerima, untuk menyambut Tuhan ke dalam hati kita, namun kita menerima hanya sebatas kita memberi. Kita menyiapkan diri untuk menerima Yesus dengan memberikan diri kita kepada orang-orang lain.

Pola pertukaran ilahi inilah yang kita temukan dalam dua buah kelompok orang yang dihadapi oleh Yesus dalam Injil hari ini. Kelompok pertama menerima berbagai anugerah berkaitan dengan ajaran-ajaran dan mukjizat-mukjizat-Nya: “Yesus berkeliling …mengajar dalam rumah-rumah ibadat mereka dan memberitakan Injil Kerajaan Surga … menyembuhkan orang-orang dari segala penyakit dan kelemahan. Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka” (lihat Mat 9:35-36).

Lain halnya dengan kelompok kedua yang memang paling mengenal Yesus, Yesus sharing hasrat hati-Nya. Kepada sahabat-sahabat dekat ini, Dia memberikan perintah dari Bapa-Nya sendiri: “Pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel.” Ia juga minta kepada mereka untuk ikut ambil bagian tugas-Nya mewartakan Kabar Baik dan melakukan pekerjaan Kerajaan Surga. “Kamu telah memperolehnya degnan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma” (Mat 10:6,8).

Masa Adven adalah suatu masa untuk memberikan hal yang paling berharga yang kita miliki: testimoni tentang apa yang Allah telah lakukan bagi kita. Ingatkah kita betapa  sering  pada masa menjelang akhir tahun seperti ini kita mendengar orang mengeluh atas kesendiriannya atau merasa bersalah karena keputusan-keputusan buruk yang dibuatnya pada tahun ini? Ingatkah kita betapa sering orang mengalami penyesalan dan mempunyai suatu keinginan untuk mengubah hal-hal yang dihadapi, untuk memperbaiki relasi yang buruk dengan orang lain, atau memperbaiki sikap/tindakan salah terhadap orang lain di masa lalu?

Kadang-kadang, yang diminta oleh Allah adalah agar kita keluar dari “menara gading” kita dengan membawa-serta keramah-tamahan atau pikiran terbuka dan kemauan untuk mendengarkan orang-orang lain. Akan tetapi dalam situasi-situasi yang lain, selagi kita berupaya mengikuti bimbingan Roh Kudus, kita dapat membuka diri dan berbicara tentang relasi kita dengan Yesus, dengan suatu cara yang dapat mengubah kehidupan seseorang. Kita tidak perlu merasa takut apa yang akan dipikirkan orang-orang lain selagi kita memberikan testimoni apa arti Allah bagi kita. Bagi orang lain yang mendengarkan kita mungkin sekali apa yang kita sampaikan adalah hadiah paling berharga bagi dirinya. Sebagai pertukaran dari kasih yang kita telah terima dari Allah, marilah kita  semua pergi keluar untuk berjumpa dengan orang-orang lain dan memberikan cintakasih kita secara bebas kepada mereka.

Santo Ambrosius [c. 334-397]. Pada hari ini, tanggal 7 Desember, kita memperingati Santo Ambrosius, uskup agung Milano dan salah seorang dari empat orang Bapak Gereja di Barat (Augustinus, Hieronimus, Gregrorius Agung). Sebelum diangkat menjadi uskup, Ambrosius pernah menjadi gubernur provisi Liguria dan Emilia. Ketika dipilih menjadi uskup, Ambrosius belum dibaptis. Namun sejak dia memangku jabatan uskup, seluruh hidupnya diabdikan demi umatnya: Ia tekun mempelajari Kitab Suci; memberikan khotbah setiap hari Minggu dan hari raya gerejawi serta menjaga persatuan dan kemurnian ajaran Katolik. Dengan penuh hikmat-kebijaksanaan dia membimbing kehidupan rohani umat; mengatur ibadah hari Minggu dengan menarik, sehingga umat dapat berpartisipasi secara aktif; mengatur dan mengusahakan bantuan bagi pemeliharaan kaum miskin-papa dan mempertobatkan orang-orang berdosa.

Ambrosius adalah seorang uskup yang sangat baik dalam melayani umatnya. Ambrosius memang seorang gembala baik, yang dengan tulus-hati mencoba berusaha meniru sang Gembala Agung, Yesus Kristus. Sebagai seorang pemimpin Gereja, Ambrosius berhasil menyurutkan pengaruh kaum bid’ah Arianisme. Ketika Kaisar Theodosius menumpas pemberontakan dan melakukan pembantaian besar-besaran (genosida), Kaisar dikucilkan dari umat (diekskomunikasikan). Untuk diterima kembali ke dalam Gereja, Kaisar harus bertobat dan mengungkapkan penyesalannya di depan umat. Ambrosius tak peduli kaisar atau wong cilik, apabila berdosa harus bertobat. “Kalau Yang Mulia meneladan Raja Daud ketika berdosa, maka Yang Mulia harus mencontoh dia pula ketika bertobat!” – “Kepala Negara adalah anggota Gereja, bukan tuannya”, itulah kata-katanya kepada Kaisar.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, sentuhlah setiap orang yang mencari Engkau, semua domba yang hilang yang sedang berusaha untuk menemukan warisan mereka di dalam Engkau. Gunakanlah aku untuk menolong orang-orang lain melihat cintakasih-Mu yang berkelimpahan, dan untuk membimbing mereka ke dalam rahmat suatu kehidupan yang berdasarkan janji-janji-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 9:33-10:1.6-8), bacalah tulisan yang berjudul “TUAIAN MEMANG BANYAK, TETAPI PEKERJA SEDIKIT” (bacaan tanggal 7-12-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2019.

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2010)

Cilandak, 5 Desember 2019   

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

INJIL BUKANLAH SEPERANGKAT HUKUM DAN/ATAU RESEP, MELAINKAN SEBUAH UNDANGAN KEPADA SUATU RELASI PRIBADI DENGAN YESUS

INJIL BUKANLAH SEPERANGKAT HUKUM DAN/ATAU RESEP, MELAINKAN SEBUAH UNDANGAN KEPADA SUATU RELASI PRIBADI DENGAN YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Adven – Jumat, 6 Desember 2019)

Peringatan Fakultatif S. Nikolaus, Uskup

11dosciegos

Ketika Yesus meneruskan perjalanan-Nya dari sana, dua orang buta mengikuti-Nya sambil berseru-seru dan berkata, “Kasihanilah kami, hai Anak Daud.” Setelah Yesus masuk ke dalam sebuah rumah, datanglah kedua orang buta itu kepada-Nya dan Yesus berkata kepada mereka, “Percayakah kamu bahwa Aku dapat melakukannya?” Mereka menjawab, “Ya Tuhan, kami percaya.” Yesus pun menyentuh mata mereka sambil berkata, “Jadilah kepadamu menurut imanmu.” Lalu meleklah mata mereka. Kemudian Yesus dengan tegas berpesan kepada mereka, “Jagalah supaya jangan seorang pun mengetahui hal ini.” Tetapi mereka keluar dan memasyhurkan Dia ke seluruh daerah itu. (Mat 9:27-31) 

Bacaan Pertama: Yes 29:17-24; Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1,4,13-14 

“Kasihanilah kami, hai Anak Daud” (Mat 9:27). Dengan kata-kata inilah dua orang buta berseru kepada Yesus. Mereka sadar bahwa mereka terjebak dalam kegelapan, dan mereka mereka memohon dengan sangat kepada sang Rabi dari Nazaret ini – yang mereka rasakan bukan sekadar seorang rabi biasa – untuk mencelikkan mata mereka. Melihat hasrat mereka, Yesus bertanya: “Percayakah kamu bahwa Aku dapat melakukannya?” (Mat 9:28). Ketika mereka menjawab: “Ya Tuhan, kami percaya” (Mat 9:28), Yesus pun menyentuh mata mereka sambil berkata, “Jadilah kepadamu menurut imanmu” (Mat 9:29). Langsung saja mereka meninggalkan kegelapan dan masuk ke dalam terang, semua itu disebabkan iman-kepercayaan mereka bahwa Yesus mampu melakukan sesuatu yang jauh melampaui kemampuan-kemampuan manusiawi.

Dua orang ini adalah sebuah contoh bagi kita, bukan hanya karena iman mereka, melainkan juga karena keterbukaan hati dan fleksibilitas pikiran mereka. Dalam artian tertentu kita semua menderita kebutaan – suatu kebutaan spiritual yang disebabkan tidak mengenal Yesus dan cara-cara-Nya. Kita tidak tahu sampai berapa dalam komitmen Yesus kepada kita, atau sampai berapa kuat Ia dapat bekerja dalam kehidupan kita. Kita semua cenderung untuk mereduksi kehidupan Kristiani kita menjadi seperangkat peraturan “lakukan” dan “jangan lakukan” (do’s and don’ts) sehingga kita luput dari kemungkinan bahwa Yesus mungkin ingin mengejutkan kita dengan sesuatu yang baru dan berbeda. Akan tetapi dua orang buta ini percaya bahwa hanya dengan satu sentuhan saja, Yesus mampu untuk memulihkan penglihatan mereka.

Allah memang ingin mengejutkan kita, membuat surprise. Ia ingin menyembuhkan kita dari kebutaan kita dan kekakuan pikiran kita yang terikat pada dunia ini saja. Dia ingin terang-Nya terbit di atas kita sehingga kita dapat diubah dan mulai “melihat” kehidupan tidak seperti sebelumnya, bahkan hal-hal luarbiasa seperti penyembuhan-penyembuhan ajaib – kata kerennya: miraculous healings. Yesus ingin menunjukkan kepada kita bahwa Injil bukanlah seperangkat hukum dan/atau resep, melainkan sebuah undangan kepada suatu relasi pribadi dengan diri-Nya.

c3606b07eb3e0f92bb5bfe8287005989Oleh karena itu, marilah kita menyambut Yesus ke dalam tempat-tempat gelap dalam pikiran kita. Marilah kita mohon kepada-Nya untuk menyingkirkan cara-cara kita yang kaku dalam berpikir tentang Dia dan Injil-Nya. Sebagaimana dua orang buta dalam bacaan Injil hari ini, marilah kita berseru kepada Yesus mohon belas kasihan dan mohon kepada-Nya untuk membuka mata kita bagi kasih dan kuasa-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, aku ingin melihat. Bukalah mataku agar dapat melihat Engkau dengan lebih jelas lagi. Bukalah hatiku agar dapat mengasihi-Mu secara lebih mendalam. Berikanlah kepadaku sebuah hati yang luwes-fleksibel, sebuah hati yang selalu siap untuk mengenal Engkau secara baru. Tuhan, kejutkanlah diriku dengan kasih-Mu! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 9:27-31), bacalah tulisan yang berjudul “JADILAH KEPADAMU MENURUT IMANMU” (bacaan tanggal 6-12-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2019.

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 4 Desember 2019 [Peringatan Fakultatif S. Yohanes dr Damsyik, Imam Pujangga Gereja]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS MEMANGGIL KITA UNTUK MEWARTAKAN KABAR BAIK, KAPAN SAJA DAN DI MANA SAJA

YESUS MEMANGGIL KITA UNTUK MEWARTAKAN KABAR BAIK, KAPAN SAJA DAN DI MANA SAJA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Adven – Kamis, 5 Desember 2019)

Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan orang yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga. 

Jadi, setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu bertiuplah angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu bertiuplah angin melanda rumah itu itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya. (Mat 7:21,24-27) 

Bacaan Pertama: Yes 26:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 118:1,8-9,19-21,25-27  

Sekilas lintas masa Adven ini kelihatannya memusatkan perhatian pada sikap dan tindakan kita “menantikan” dan “berjaga-jaga”, atau menerima bayi Yesus dengan segala kerendahan hati. Semua itu sebenarnya sah-sah saja dan memang baik! Tetapi walaupun  selama masa “persiapan” ini, Injil tetap memanggil orang-orang untuk bertindak. Keberadaan kita sebagai murid-murid Yesus berarti dengan penuh kesadaran mengambil keputusan setiap bangun di pagi hari untuk turut serta membangun Kerajaan Allah di atas muka bumi ini. Jadi, tidak heranlah apabila amanat agung Yesus kepada para murid sebelum kenaikan-Nya ke surga dimulai dengan kata, “Pergilah” (Mat 28:19).

Yesus memanggil kita untuk mewartakan Kabar Baik, kapan saja dan di mana saja; apakah pada saat-saat yang menyenangkan atau tidak menyenangkan; apakah ketika menghadapi banyak tantangan dan tentangan atau ketika semuanya lancar-lancar saja; apakah selama masa Adven atau masa-masa lainnya dalam penanggalan liturgi Gereja!

YHOUSES ON THE ROCK AND SANDesus mengatakan bahwa kita adalah bijaksana bilamana kita tidak sekadar mendengar sabda-Nya, tetapi juga melaksanakannya. Inilah yang dimaksudkan dengan bagaimana kita membangun rumah di atas batu yang kokoh (lihat Mat 7:24-24). Pengalaman akan kasih Yesus bagi kitalah yang akan mendesak kita untuk bertindak. “Mendengar” sabda Yesus berarti memperkenankan ajaran-ajaran-Nya menembus hati kita dan membuat kita bertekuk lutut di hadapan hadirat-Nya dalam pertobatan dan penyembahan. Hal ini berarti memperkenankan sabda-Nya merasuki roh kita dan menyatakan Allah sebagai “seorang” Bapa yang sangat mengasihi kita dan Dia-lah Penguasa dan Hakim – suatu pernyataan yang akan memenuhi diri kita dengan suatu hasrat untuk menceritakan kepada orang-orang lain tentang Allah kita.

Tentu saja di sini ada panggilan untuk bertindak, namun kita tidak ingin memusatkan perhatian pada pekerjaan kita yang akan membuat kita kekurangan asupan makanan secara spiritual. Rahasianya adalah “keseimbangan”. Kita diciptakan untuk keseimbangan (bahasa ekonominya: equilibrium). Kodrat kita menunjuk kepada realitas ini. Diri kita terdiri dari tubuh, jiwa dan roh. Kita dipanggil kepada kekudusan dan juga tindakan/karya kerasulan. Kita masing-masing dipanggil, baik untuk menjadi seorang kontemplatif maupun pejuang lapangan.

Spiritualitas yang seimbang ini diungkapkan pertama-tama oleh  suatu hidup penuh penyerahan diri kepada Roh Yesus (=Roh Kudus). Roh Kudus inilah yang membawa kita lebih dalam lagi ke dalam misteri-misteri suci dengan menghembuskan kehidupan ke dalam meditasi dan doa kita. Roh Kudus yang sama pula yang akan mendorong kita untuk bertindak, menyemangati kita untuk berani melangkah ke luar dari “zona nyaman” (comfort zone) kita, rutinitas kita yang serba nyaman, untuk memproklamasikan Yesus Kristus ke tengah dunia. Paus Yohanes Paulus II pernah mengatakan: “Iman itu dikuatkan ketika disyeringkan!”

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah kami agar dapat menjadi tangan-tangan dan kaki-kaki-Mu bagi sebuah dunia yang sedang sakit ini. Buatlah diri kami menjadi suara-suara-Mu yang memberi dorongan, yang menyemangati orang-orang yang tersisihkan dalam masyarakat, mereka yang kesepian, dan menjadi kehadiran-Mu yang membawa sukacita bagi mereka yang sedang dirundung malang dan tertimpa kesedihan. Oleh kuat-kuasa Roh Kudus-Mu, bentuklah diri kami menjadi pribadi-pribadi seperti yang Engkau rencanakan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami lagi Bacaan Injil hari ini (Mat 7:21,24-27), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS INGIN AGAR KITA MEMBANGUN KEHIDUPAN KITA DI ATAS SABDA-NYA” (bacaan tanggal 5-12-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM  http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2019.  

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 3 Desember 2019 [Pesta S. Fransiskus Xaverius, Imam-Pelindung Misi]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS