HARTA TERPENDAM ATAU MUTIARA INDAH ADALAH YESUS SENDIRI

HARTA TERPENDAM ATAU MUTIARA INDAH ADALAH YESUS SENDIRI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVII – Rabu, 27 Juli 2016)

Keluarga Fransiskan: Peringatan Beata Maria Magdalena Martinengo, Ordo II

 hidden-treasure

“Hal Kerajaan Surga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamnya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu.

Demikian pula halnya Kerajaan Surga itu seumpama seorang seorang pedagang yang mencari mutiara yang indah. Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, ia pun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu.” (Mat 13:44-46) 

Bacaan Pertama: Yer 15:10,16-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 59:2-5, 1011,17-18

Dapatkah anda membayangkan menjual segalanya yang anda miliki? Pertukaran macam apa yang mungkin memotivasi  anda untuk membuat transaksi yang begitu drastis dan radikal? Yesus menggambarkan adanya harta terpendam di sebuah ladang, dan sebutir mutiara yang indah. Akan tetapi, apa sebenarnya semua ini? Bagi seorang ahli geologi tentunya nilai sepotong batu permata lain sekali dengan apa yang dilihat oleh seorang arkeolog, atau seorang isteri boss konglomerat yang senang bersolek dan berpesta-pora. Bagaimana pun juga “beauty is in the eye of the beholder, kata orang yang berbahasa Inggris, artinya “keindahan atau kecantikan itu tergantung mata siapa yang memandangnya”. Nah, ngomong-ngomong soal “eye of the beholder ini, maka di mata para rabi Yahudi, Yesus hanyalah seorang guru agama keliling Yahudi yang menyebabkan kepala para penguasa Romawi di tanah Palestina sedikit pusing.

Akan tetapi tentunya sekarang kita lebih mengetahui daripada para pemuka agama Yahudi itu. Dari abad ke abad banyak sekali orang  meninggalkan segalanya yang mereka miliki untuk dan demi mengikuti Yesus, seperti halnya dengan orang-orang yang diceritakan dalam perumpamaan-perumpamaan singkat di atas, dan mereka pun telah memperoleh ganjaran dari Yang Ilahi, jauh melampaui mimpi mereka yang paling ‘gila’ sekali pun. Kita masing-masing pun tentunya sudah sedikit banyak sempat memandang “batu permata atau mutiara yang sangat indah” yang bernama Yesus ini. Ingat-ingatlah lagi di mana saja, kapan saja, dengan cara yang bagaimana saja hati anda pernah merasa tersentuh dan mata anda pun terbuka bagi hal-hal yang sebelumnya tak terlihat, misalnya ketika menyanyikan doa BAPA KAMI dalam perayaan Ekaristi. Kalau tak bisa mengingatnya, maka renungkanlah betapa jauh langkah yang telah dibuat Yesus untuk menebus anda. Renungkanlah sengsara yang sedemikian dahsyat yang harus diderita-Nya agar supaya dosa-dosa kita dapat diampuni. Biarlah kebenaran-kebenaran ini meyakinkan anda bahwa anda dapat mendengar hikmat yang diucapkan-Nya bagi kehidupan anda. Biarlah semuanya itu membuktikan kepada anda bahwa meskipun dalam kemuliaan-Nya, Yesus ingin merendahkan diri-Nya agar dapat berbicara dengan anda. Dia bahkan ingin memberikan tubuh dan darah-Nya sendiri sebagai asupan makanan bergizi-tinggi bagi kehidupan spiritual anda!

PERUMPAMAAN TTG MUTIARA YANG HILANGBagi orang-orang tertentu, Yesus adalah sumber pembebasan/pelepasan dari pola-pola dosa yang telah mereka gumuli bertahun-tahun lamanya. Bagi orang-orang lain, Ia mungkin adalah seorang penyembuh dan penyelamat sebuah perkawinan yang sudah berada di ambang kehancuran, atau pemulih suatu relasi orangtua dan anak yang sudah genting serta berbahaya. Mungkin Ia juga telah menyembuhkan secara fisik seseorang dari penyakit tertentu, atau dari depresi dan lain-lain.

Adakah yang lain lagi, yang lebih menarik daripada Yesus, Juruselamat, Penebus, dan Pembebas kita ini? Cintakasih tanpa syarat yang dilimpah-limpahkan-Nya ke atas diri kita, kebebasan dari dosa, persekutuan dengan Roh-Nya di dalam diri kita, janji akan kehidupan kekal di surga bersama-Nya. Semua hal ini dapat menggerakkan kita setiap hari agar kita dapat memberikan sedikit lebih lagi bagian kehidupan kita, sehingga dengan demikian pada suatu hari kita sudah sepenuhnya menyerahkan diri kepada-Nya. Yesus memang harus menjadi pusat kehidupan kita!

Pengalaman pribadi akan sentuhan-Nya dalam kehidupan seseorang tidak dapat diperdebatkan. Pengalaman akan Yesus itu melampaui segala kemampuan untuk menulisnya sebagai sebuah kisah. Para penulis riwayat hidup Orang Kudus, misalnya Santo Fransiskus dari Assisi, tidak dapat menceritakan bagaimana detilnya pengalaman pribadi orang kudus ini akan Allah/Yesus. Yang jelas, setelah perjumpaan pribadi dengan-Nya, hidupnya pun diubah secara drastis, dan dia pun menghayati hidup Injili secara radikal.

DOA: Tuhan Yesus, aku cinta pada-Mu! Engkau adalah harta paling berharga yang aku dapat miliki, dan Engkau dengan bebas-merdeka telah memberikan diri-Mu sendiri bagiku. Aku menyerahkan diriku kepada-Mu sambil melepas segalanya yang lain, sehingga dengan demikian Engkau dapat hidup di dalam diriku, dan aku dalam Engkau. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:44-46), bacalah tulisan yang berjudul “HARTA YANG ADALAH ALLAH SENDIRI” (bacaan tanggal 27-7-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-07 PERMENUNGUAN ALKITABIAH JULI 2016 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 27-7-11 dalam situs PAX ET BONUM) 

Cilandak, 25 Juli 2016 [Pesta S. Yakobus, Rasul] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BEBERAPA CATATAN UNTUK PARA KAKEK-NENEK

BEBERAPA CATATAN UNTUK PARA KAKEK-NENEK

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Yoakim dan S. Anna, Orangtua SP Maria – Selasa,  26 Juli 2016)

 StsJoachim&Anne

Dan sekarang kami hendak memuji orang-orang termasyhur, para nenek moyang kita menurut urut-urutannya.

Tetapi yang berikut ini adalah orang kesayangan yang kebajikannya tidak sampai terlupa; semuanya tetap tinggal pada keturunannya sebagai warisan baik yang berasal dari mereka. Keturunannya tetap setia kepada perjanjian-perjanjian, dan anak-anak merekapun demikian pula keadaannya. Keturunan mereka akan tetap tinggal untuk selama-lamanya, dan kemuliaannya tidak akan dihapus. Dengan tenteram jenazah mereka ditanamkan, dan nama mereka hidup terus turun-temurun. Bangsa-bangsa bercerita tentang kebijaksanaannya, dan pujian mereka diwartakan jemaah. (Sir 44:1,10-15) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 132:11,13-14,17-18; Bacaan Injil: Mat 13:16-17

Oleh karena Yoakim dan Anna adalah kakek dan nenek dari Yesus, maka peringatan hari ini menjadi peringatan istimewa bagi para kakek dan nenek juga. Banyak kakek-nenek kita yang merasa prihatin melihat anak-anak dan cucu-cucu mereka tidak mengenal Allah dan tidak pergi ke Gereja. Hal ini merupakan hal serius kalau kita berbicara teristimewa mengenai negara-negara Eropa Barat dan negara-negara lain yang tergolong maju yang selama berabad-abad dikenal sebagai negara-negara Kristiani. Namun hal ini terjadi di mana-mana, bahkan juga di negeri kita.

Sesungguhnya Allah ingin mendukung para kakek-nenek yang merasa prihatin tersebut. Lewat nabi Yesaya TUHAN (YHWH) berjanji: “Adapun Aku, inilah perjanjian-Ku dengan mereka, firman TUHAN: Roh-Ku yang menghinggapi engkau dan firman-Ku yang Kutaruh dalam mulutmu tidak akan meninggalkan mulutmu dan mulut keturunanmu dan mulut keturunan mereka, dari sekarang sampai selama-lamanya, firman TUHAN” (Yes 59:21).

Allah juga tidak ingin mempermalukan para kakek-nenek mempermalukan diri mereka sendiri karena anak-anak dan cucu-cucu mereka kurang beriman. Adalah kenyataan yang tidak dapat dipungkiri, bahwa karena diciptakan dengan kehendak bebas, maka dapat saja terjadi bahwa orangtua yang baik pun mempunyai anak yang buruk. Walaupun demikian, mereka hendaknya mengakui bahwa  mereka telah membuat masalah-masalah menjadi lebih buruk karena dosa-dosa mereka sendiri. Para kakek-nenek perlu bertobat dan dengan demikian mereka mengeluarkan balok dari mata mereka sendiri (lihat Mat 7:5). Dengan begitu mereka akan mampu melihat untuk dapat mengeluarkan serpihan kayu dari mata anak-anak mereka.

Para kakek-nenek hendaknya memusatkan perhatian mereka untuk mengarahkan anak-anak mereka menuju pertobatan daripada kebanyakan lalu lebih memperhatikan cucu-cucu mereka, karena cucu-cucu itu lebih terbuka menerima kakek-nenek mereka. Hal terbaik yang dapat dilakukan para kakek-nenek bagi cucu-cucu mereka adalah bukannya dengan mengurangi tanggungjawab orangtua mereka, melainkan dengan dukungan doa memberi tantangan terhadap para orangtua cucu-cucu mereka agar mereka berbalik kepada Yesus Kristus dan memberi tanggungjawab mereka untuk mendidik anak-anak mereka (artinya cucu-cucu kakek-nenek tersebut). Yesus Kristus adalah Harapan kita.

DOA: Bapa surgawi, pada hari peringatan S. Yoakim dan S. Anna ini, kami mendoakan agar para kakek-nenek menjadi kakek-nenek yang agung dengan menerima rahmat-Mu guna menjadi para orangtua yang agung. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan hari ini (Sir 44:1,10-15), bacalah tulisan berjudul “KAKEK DAN NENEK YESUS DARI NAZARET” (bacaan tanggal 26-7-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2016. 

Cilandak, 24 Juli 2016 [HARI MINGGU BIASA XVII – TAHUN C] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MINUM CAWAN YANG DIMINUM YESUS

MINUM CAWAN YANG DIMINUM YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta Santo Yakobus, Rasul – Senin, 25 Juli 2016) 

ST. YAKOBUS BESAR, RASUL

ST. YAKOBUS BESAR, RASUL

Kemudian datanglah ibu anak-anak Zebedeus serta anak-anaknya itu kepada Yesus, lalu sujud di hadapan-Nya untuk meminta sesuatu kepada-Nya. Kata Yesus, “Apa yang kaukehendaki?” Jawabnya, “Berilah perintah, supaya kedua anakku ini boleh duduk kelak di dalam Kerajaan-Mu, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu.” Tetapi Yesus menjawab, kata-Nya, “Kamu tidak tahu apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum? Kata mereka kepada-Nya, “Kami dapat.” Yesus berkata kepada mereka, “Cawan-Ku memang akan kamu minum, tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang yang baginya Bapa-Ku telah menyediakannya.” Mendengar itu marahlah kesepuluh murid yang lain kepada kedua saudara itu. Tetapi Yesus memanggil mereka lalu berkata, “Kamu tahu bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa bertindak sebagai tuan atas rakyatnya, dan para pembesarnya bertindak sewenang-wenang atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Siapa saja yang ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan siapa saja yang ingin menjadi yang pertama di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Mat 20:20-28) 

Bacaan Pertama: 2Kor 4:7-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 126:1-6 

“Dapatkah kamu meminum cawan, yang harus Kuminum? (Mat 20:22). Yesus mengajukan pertanyaan ini kepada Yakobus dan Yohanes sesaat setelah ibunda mereka mohon kepada Yesus agar mereka berdua memperoleh posisi-posisi terbaik dalam Kerajaan-Nya. Bukannya menjamin tersedianya tempat-tempat terhormat ini bagi mereka, Yesus malah menantang mereka untuk meneladan-Nya dalam melakukan karya pelayanan – bahkan sampai mati, jikalau diperlukan. Yesus bersabda: “Siapa saja yang ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan siapa saja yang ingin menjadi yang pertama di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Mat 20:28). Inilah hakekat terdalam dari servant leadership, kepemimpinan yang melayani.

Yakobus menerima ajaran Yesus ini dengan sepenuh hati, karena beberapa tahun kemudian ia benar-benar meminum cawan seperti yang dilakukan oleh Yesus, Tuhan dan Gurunya. Di sekitar tahun 44, Raja Herodes Agripa, anak laki-laki dari Raja Herodes Agung, mulai melakukan pengejaran dan penganiayaan terhadap komunitas Kristiani di Yerusalem. Sebuah catatan singkat dari ‘Kisah para Rasul’: “Ia menyuruh membunuh Yakobus, dengan pedang” (Kis 12:2). Menurut sebuah tradisi awal Gereja yang disampaikan oleh Klemens dari Aleksandria, penuduh yang membawa Yakobus ke hadapan Herodus Agripa begitu tersentuh hatinya ketika mendengar kesaksian sang rasul sehingga dia sendiri pun menjadi seorang Kristiani di tempat itu juga; …… dan kepalanya kemudian dipenggal …… bersama dengan Yakobus.

KEMURIDAN - IBU YAKOBUS MINTA KPD YESUSYakobus kehilangan nyawanya karena dia memegang teguh komitmennya untuk melayani Gereja yang masih muda usia. Sebenarnya Yakobus bisa saja melarikan diri ke Siprus atau Antiokhia dan bersembunyi sementara dari angkara murka raja Herodes Agripa. Namun dia memilih untuk diam di Yerusalem, tempat di mana Allah telah memanggilnya dan menyerahkan dirinya di sana. Sebagai akibatnya, Gereja di Yerusalem mampu bersatu dengan kokoh dan malah bertumbuh selama masa  yang sangat berbahaya.

Dalam dunia kuno, menawarkan seseorang untuk minum dari cawan sendiri merupakan sebuah tanda besar persahabatan. Yakobus tidak menciut samasekali walaupun ia mengambil bagian dalam cawan Yesus, hal mana berarti memberikan dirinya sendiri untuk melayani orang-orang lain, bahkan ikut ambil bagian dalam penderitaan sengsara Gurunya. Yesus menyebut kita sahabat (Yoh 15:14-15), dan menawarkan cawan-Nya juga kepada kita. Dengan demikian dalam setiap relasi di mana kita terlibat – dengan anggota-anggota keluarga kita, dengan para teman/sahabat kita, dengan para kerabat kerja kita, dengan para tetangga kita – dan dalam setiap situasi di mana kita berada, pertanyaan utama kita adalah, “Apa yang diminta oleh Yesus padaku untuk melayani di sini?” Selagi kita menanggapi permintaan Yesus dengan penuh kemurahan hati, kita akan melihat rahmat Allah mengalir melalui diri kita seperti yang terjadi dengan Yakobus, dan kita pun akan menghasilkan buah berlimpah dalam Kerajaan Allah.

DOA: Tuhan Yesus, buatlah hatiku seperti hati-Mu. Anugerahilah aku cintakasih dan keberanian untuk mampu melihat melampaui diriku sendiri dan untuk melayani orang-orang lain dengan penuh kemurahan hati, seperti Engkau sendiri telah lakukan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 20:20-28), bacalah tulisan yang berjudul “YAKOBUS MEMENUHI JANJINYA KEPADA YESUS” (bacaan tanggal 25-7-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2012) 

Cilandak, 21 Juli 2016 [Pesta S. Laurensius dr Brindisi, Imam Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DOA YANG DIAJARKAN OLEH YESUS KEPADA KITA SEMUA

DOA YANG DIAJARKAN OLEH YESUS KEPADA KITA SEMUA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XVII [Tahun C] –  24 Juli 2016) 

The Lord's PrayerPada suatu kali Yesus berdoa di suatu tempat. Ketika Ia selesai berdoa, berkatalah seorang dari murid-murid-Nya kepada-Nya, “Tuhan, ajarlah kami berdoa, sama seperti yang diajarkan Yohanes kepada murid-muridnya. Jawab Yesus kepada mereka, “Apabila kamu berdoa, katakanlah: Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; datanglah Kerajaan-Mu. Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan dosa-dosa kami sebab kami pun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan.” Lalu kata-Nya kepada mereka, “Jika seorang di antara kamu mempunyai seorang sahabat dan pada tengah malam pergi kepadanya dan berkata kepadanya: Sahabat, pinjamkanlah kepadaku tiga roti, sebab seorang sahabatku yang sedang berada dalam perjalanan singgah ke rumahku dan aku tidak mempunyai apa-apa untuk dihidangkan kepadanya; masakan ia yang di dalam rumah itu akan menjawab: Jangan mengganggu aku, pintu sudah tertutup dan aku serta anak-anakku sudah tidur; aku tidak dapat bangun dan memberikannya kepadamu. Aku berkata kepadamu: Sekalipun ia tidak mau bangun dan memberikannya kepadanya karena orang itu adalah sahabatnya, namun karena sikapnya yang tidak malu itu, ia akan bangun juga dan memberikan kepadanya apa yang diperlukannya. Karena itu, Aku berkata kepadamu: Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetuk, baginya pintu dibukakan. Bapak manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan, akan memberikan ular kepada anaknya itu sebagai ganti ikan? Atau, jika ia minta telur, akan memberikan kepadanya  kalajengking? Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di surga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” (Luk 11:1-13) 

Bacaan Pertama: Kej 18:20-33; Mazmur Tanggapan: Mzm 138:1-3,6-8; Bacaan Kedua: Kol 2:12-14

Yesus berdoa kepada Bapa-Nya dengan keyakinan total bahwa Dia berada dalam kesatuan dengan Bapa. Para murid melihat kenyataan ini, sehingga seorang dari mereka minta kepada Yesus untuk mengajar para murid-Nya berdoa (Luk 11:1-4). Yesus menanggapi permintaan murid itu dengan mengajarkan sebuah doa sederhana, namun disampaikan dengan penuh keyakinan dan secara langsung kepada Allah sebagai Bapa. Doa ini mencerminkan hal-hal yang ada dalam hati Yesus, hal-hal yang dilihat oleh-Nya sebagai penting dalam sebuah doa.

“Apabila kamu berdoa, katakanlah: Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; datanglah Kerajaan-Mu” (Luk 11:2). Cukup mengagetkan bagi para murid bahwa mereka harus menyapa Allah sebagai Bapa (Bahasa Aram: Abba) secara langsung dan akrab seperti itu. Doa sedemikian didasarkan pada relasi Allah sebagai Bapa bagi semua orang yang sungguh percaya kepada Putera-Nya, karena mereka adalah anak-anak yang dilahirkan dari Allah (Yoh 1:13). Doa Yesus mulai dengan suatu sikap penyembahan yang didasarkan pada kekudusan Allah yang mutlak. Doa ini menyatakan bahwa Allah yang dipanggil dan dikenal secara akrab itu adalah kudus. Kita berdoa agar Kerajaan Allah datang, artinya Allah meraja – bahwa semua kejahatan yang merusak ciptaan itu disingkirkan, teristimewa yang ada dalam hati kita.

Dengan berdoa “Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya” (Luk 11:3), dinyatakanlah kebenaran dari pemeliharaan Allah yang menyangkut kebutuhan-kebutuhan kita dan perlindungan-Nya dari hari ke hari. Kita juga mempunyai kebutuhan yang konsisten akan pengampunan Allah, oleh karena kita berdoa: “ampunilah kami akan dosa-dosa kami” (Luk 11:4). Walaupun dosa-dosa kita diampuni melalui pertobatan, kita secara terus-menerus dipanggil untuk bertumbuh semakin dekat dengan kekudusan Allah. Selagi Roh Kudus mengungkapkan dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan kita, Dia memberikan kepada kita rahmat untuk bertobat dan mencari pengampunan dari Allah. Kata-kata Yesus: “dan ampunilah kami akan dosa-dosa kami, sebab kami pun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami” (Luk 11:4), mengingatkan kita bahwa kita berkewajiban untuk mengampuni setiap orang, sebebas Allah mengampuni diri kita.

Permohonan Yesus yang terakhir, “janganlah membawa kami ke dalam pencobaan” (Luk 11:4), adalah mengenai diri kita yang suka jatuh ke dalam pencobaan, karena “roh memang berniat baik, tetapi tabiat manusia lemah” (Mrk 14:38). Yesus Kristuslah yang  memberikan kepada kita kemenangan atas segala pencobaan dan godaan.

Marilah kita berdoa dengan pikiran Yesus, yang sepenuhnya menundukkan diri terhadap kehendak Bapa surgawi, menempatkan hati kita dalam ketenangan di hadapan hadirat Bapa.  Semoga dalam doa kita, kita menyadari dan mengalami warisan sejati yang kita terima sebagai anak-anak Allah.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih untuk “Doa Bapa Kami” yang Kauajarkan kepada kami semua. Terpujilah nama-Mu selalu! Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 11:1-13), bacalah tulisan yang berjudul “DAPATKAH DAN MAUKAH KITA BERDOA SEPERTI YESUS?” (bacaan tanggal 24-7-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2009) 

Cilandak, 21 Juli 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KEBERADAAN LALANG DI ANTARA GANDUM

KEBERADAAN LALANG DI ANTARA GANDUM

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVI – Sabtu, 23 Juli 2016)

gandum dan ilalang - mat 13 24-43Yesus menyampaikan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya, “Hal Kerajaan Surga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya. Tetapi pada waktu semua orang tidur, datanglah musuhnya menaburkan benih lalang di antara gandum itu, lalu pergi. Ketika gandum itu tumbuh dan mulai berbulir, nampak jugalah lalang itu. Lalu datanglah hamba-hamba pemilik ladang itu kepadanya dan berkata: Tuan, bukankah benih baik, yang tuan taburkan di ladang tuan? Jadi, dari manakah lalang itu? Jawab tuan itu: Seorang musuh yang melakukannya. Lalu berkatalah hamba-hamba itu kepadanya: Jadi, maukah Tuan supaya kami pergi mencabut lalang itu? Tetapi ia berkata: Jangan, sebab mungkin gandum itu ikut tercabut pada waktu kamu mencabut lalang itu. Biarkanlah keduanya tumbuh bersama sampai waktu menuai. Pada waktu itu aku akan berkata kepada para penuai: Kumpulkanlah dahulu lalang itu dan ikatlah berberkas-berkas untuk dibakar; kemudian kumpulkanlah gandum itu ke dalam lumbungku.” (Mat 13:24-30) 

Bacaan Pertama: Yer 7:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 84:3-6,8,11

Dalam “perumpamaan tentang lalang di antara gandum” ini, Yesus tidak hanya berbicara mengenai “orang baik” dan “orang jahat” di dalam dunia ini, melainkan juga mengenai unsur-unsur terang dan gelap yang ada di dalam Gereja kita. Suatu pandangan realistis tentang Kristianitas harus menunjukkan kepada kita bahwa ada orang-orang dalam Gereja yang menjadi begitu akrab dengan irama dosa, keduniawian dan si Jahat sehingga mereka sungguh merupakan ancaman atas kehidupan orang-orang Kristiani lainnya.

Contohnya, antara lain adalah kasus-kasus skandal perilaku seks yang menjijikkan serta memalukan, ulah sejumlah imam gereja Katolik di Amerika Serikat dan juga di Eropa, yang terus menerus dibongkar sejak beberapa tahun lalu. Tuntutan-tuntutan pengadilan dalam uang yang besar jumlahnya sempat membuat keuskupan-keuskupan tertentu di Amerika Serikat menjadi berada di ambang kebangkrutan keuangan. Belum lagi luka-luka batin dan akar kepahitan yang bertumbuh untuk waktu lama dalam diri para korban pelecehan seksual termaksud. Sangat terpujilah kenyataan, bahwa Sri Paus telah minta maaf atas perilaku tak senonoh para imamnya, namun kita semua juga tahu bahwa perkara hukum akan berjalan terus, apalagi kalau yang muncul di atas permukaan dan dihebohkan itu baru puncak dari sebuah gunung es. Seorang imam Indonesia, guru dan teman yang saya hormati, sekian tahun lalu pernah mengirim e-mail kepada saya dengan nada sedih. Beliau menulis a.l. begini: “Saya melihat, kecuali persoalan kelainan seksual, ada soal ketidakadilan yang dibuat oleh para imam yang sakit yang tidak peka itu. Ada suatu kecenderungan bahwa Gereja hancur dari dalam, karena ulah gembala yang memangsa dombanya. Saya yakin, kalau para gembala kehilangan sense of justice dalam pelayanan mereka dan dalam relasi-relasi mereka, risiko yang sama bisa terjadi pula di Indonesia, dalam bentuk yang lain. … Anyway, saya tetap mencintai Gereja Kristus ini dalam segala keterbatasannya.” Sebuah catatan yang mengharukan, yang perlu ditanggapi oleh kita umat awam dalam doa-doa syafaat untuk para imam kita secara konstan.

PERUMPAMAAN GANDUM DAN ILALANG MAT 13 24-43Yesus mengingatkan para murid-Nya – sampai hari ini pun Ia masih terus mengingatkan – tentang kebutuhan dalam Gereja. Para Bapak Konsili Vatikan II dengan jujur mengakui: “Gereja itu suci, dan sekaligus harus selalu dibersihkan, serta terus-menerus menjalankan pertobatan dan pembaharuan” (Lumen Gentium, 8). Akan tetapi, …… di sinilah justru kita harus berhati-hati. Peranan kita bukanlah untuk mengindentifikasikan lalang-lalang yang ada dalam paroki, atau dalam keuskupan dst. dan lalu mencoba menangani perkara ini sendiri. Menghakimi orang secara semena-mena barangkali juga merupakan suatu bentuk lalang yang sangat merusak dan satu tanda yang paling jelas dari pekerjaan si Jahat, “pendakwa saudara-saudara  seiman kita” (Why 12:10). Yesus mengetahui sekali betapa cepat kita menghakimi orang-orang lain. Oleh karena itu Yesus mengingatkan kita untuk selalu “mengeluarkan dahulu balok dari mata kita, agar kita dapat melihat dengan jelas serpihan kayu dari saudara kita” (lihat Mat 7:1-5). Dalam kenyataannya, kita sesungguhnya tidak ingin “mencabut orang-orang yang tidak baik” – karena kita sendiri pun sebenarnya tidak pantas untuk Kerajaan Surga. Kita menyimpan “benih-benih buruk” dalam hati kita masing-masing. Cara terbaik untuk menjamin adanya perlindungan atas Gereja adalah untuk mohon kepada Roh Kudus agar menolong kita memeriksa batin kita sendiri dan membebaskan diri kita dari dosa. Beginilah firman YHWH semesta alam: “Perbaikilah tingkah lakumu dan perbuatanmu, maka Aku mau diam bersama-sama kamu” (Yer 7:3).

Allah tidak menginginkan kita menghakimi diri kita sendiri dan orang-orang lain tanpa belas kasih. Ia menginginkan kita mendoakan diri kita sendiri dan juga untuk Gereja. Dengan cara ini, secara bertahap kita pun akan menjadi para peniru Yesus, yang selalu berdoa syafaat bagi kita masing-masing di hadapan takhta Allah Bapa, karena Yesus hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara kita (lihat Ibr 7:25). Kita menjadi seperti Anak Domba Allah yang rindu untuk melihat setiap orang dibebaskan dari yang jahat dan dibawa ke dalam Kerajaan Allah.

DOA: Bapa surgawi, Allah khalik langit dan bumi. Selagi Engkau mengamati hati umat-Mu, tentunya Engkau melihat lalang yang tumbuh dalam diri kami semua. Namun Engkau juga melihat bahwa Putera-Mu terkasih juga berdiam dalam diri kami masing-masing. Tolonglah kami untuk menyerahkan diri kami seratus persen kepada Yesus, sehingga Gereja-Mu dapat menjadi terang sejati bagi dunia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:24-30), bacalah tulisan yang berjudul “KITA SEMUA TENTUNYA INGIN MENJADI GANDUM” (bacaan tanggal 23-7-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2010) 

Cilandak, 20 Juli 2016  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

KEBANGKITAN YESUS MEMBUKA PINTU SURGA BAGI SEMUA ORANG YANG PERCAYA KEPADA-NYA

KEBANGKITAN YESUS MEMBUKA PINTU SURGA BAGI SEMUA ORANG YANG PERCAYA KEPADA-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Maria Magdalena – Jumat, 22 Juli 2016)

OSF Semarang: Pesta S. Maria Magdalena, nama pendiri tarekat: Sr. Magdalena Daemen 

Giotto_Mary_Resurrection

Pada hari pertama minggu itu, pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, pergilah Maria Magdalena ke kubur itu dan ia melihat bahwa batu penutupnya telah diambil dari kubur. Ia berlari-lari mendapatkan Simon Petrus dan murid yang lain yang dikasihi Yesus, dan berkata kepada mereka, “Tuhan telah diambil orang dari kuburnya dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan.”

Tetapi Maria berdiri di luar kubur itu dan menangis. Sambil menangis ia menjenguk ke dalam kubur itu, dan tampaklah olehnya dua orang malaikat berpakaian putih, yang seorang duduk di sebelah kepala dan yang lain di sebelah kaki di tempat mayat Yesus terbaring sebelumnya. Kata malaikat-malaikat itu kepadanya, “Ibu, mengapa engkau menangis?” Jawab Maria kepada mereka, “Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan.” Sesudah berkata demikian ia menoleh ke belakang dan melihat Yesus berdiri di situ, tetapi ia tidak tahu bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepadanya, “Ibu, mengapa engkau menangis? Siapa yang engkau cari?” Maria menyangka orang itu penjaga taman, lalu berkata kepada-Nya, “Tuan, jikalau Tuan yang mengambil Dia katakanlah kepadaku, di mana Tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya.” Kata Yesus kepadanya, “Maria!”  Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani, “Rabuni!”, artinya Guru. Kata Yesus kepadanya, “Janganlah engkau memegang Aku terus, sebab Aku belum naik kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku dan katakanlah kepada mereka bahwa sekarang Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu.” Maria Magdalena pergi dan berkata kepada murid-murid, “Aku telah melihat Tuhan!” dan juga bahwa Dia yang mengatakan hal-hal itu kepadanya. (Yoh 20:1-2,11-18) 

Bacaan Pertama: Kid 3:1-4a atau 2Kor 5:14-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 63:2-6,8-9

O betapa dalam cintakasih Maria Magdalena pada Yesus! Kita dapat membayangkan dia pada pagi-pagi benar ketika hari masih gelap itu, bergegas  menuju kubur – hanya mendapatkan bahwa kubur itu sudah kosong! Ketika mencari Yesus sambil menangis, dia bahkan menjawab pertanyaan malaikat-malaikat kepadanya dengan jawaban yang sangat terasa sungguh ke luar dari hati yang penuh cintakasih: “Tuhanku telah diambil orang dan aku tidak tahu di mana Ia diletakkan”  (Yoh 20:13). Kita sekarang dapat membayangkan betapa penuh sukacitanya Maria Magdalena pada saat ia akhirnya mengenali suara Yesus. “… kucari dia, jantung hatiku. Kucari, tetapi tak kutemui dia. Aku ditemui ronda-ronda kota … Baru saja aku meninggalkan mereka, kutemui jantung hatiku …” (Kid 3:2-4).

Maria Magdalena tahu sekali apa artinya menjadi seorang pendosa dan sampah masyarakat. Dia telah mengalami isolasi dan degradasi yang disebabkan dosa. Namun segalanya berubah pada waktu dia mengalami kasih dan pengampunan dari Tuhan Yesus yang “kasih-Nya sampai ke langit, setia-Nya sampai ke awan” (lihat Mzm 36:6); “kasih setia-Nya lebih baik dari pada hidup” (Mzm 63:3). Maria Magdalena belum/tidak sepenuhnya memahami apa yang akan terjadi kelak – keseluruhan tujuan kematian Yesus di kayu salib itu sendiri. Betapa menghancurkan hati bagi Maria Magdalena tentunya, ketika dia menyaksikan sendiri bagaimana Yesus diperlakukan sebelum disalibkan. Ketika dia mengenali suara-Nya di taman kuburan pada pagi hari itu, Maria Magdalena sungguh dipenuhi kegembiraan sejati.

“Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu”  (Yoh 20:17). Dengan kata-kata ini, Yesus mengungkapkan tujuan-Nya kepada Maria Magdalena dan kita semua, bahwa Dia sedang terlibat pada suatu misi surgawi. Inilah hal yang begitu sulit untuk dipahami para murid. Meski Yesus sudah mengajar mereka tentang ke mana para murid tak dapat mengikuti-Nya – tentang menyediakan tempat bagi mereka – tujuan Yesus tetap tidak jelas sampai Dia kembali (lihat Yoh 14:2-3). Tetapi sekarang, dengan kebangkitan Yesus, Injil menjadi terang.

Kebangkitan Yesus membuka pintu surga bagi semua orang yang percaya kepada-Nya. Apakah anda telah menemukan surga yang terbuka itu? Itu tersedia bagi kita semua. Kita dapat mengalami berkat ini selagi kita dengan pertobatan yang mendalam datang menghadap Tuhan Yesus, percaya bahwa darah-Nya telah  menghancur-leburkan ikatan-ikatan dosa. Yesus ingin agar kita turut serta dalam kemenangan-Nya dan menjadi pewaris-bersama dengan Dia. Marilah sekarang kita datang kepada-Nya dan mengasihi-Nya dengan segenap hati kita; dengan demikian kita pun dapat berkata bersama Maria Magdalena: “Aku telah melihat Tuhan!”  (Yoh 20:18).

DOA: Yesus yang bangkit, kami datang bergegas kepada-Mu, seperti yang dilakukan oleh Maria Magdalena. Engkau telah membuka surga bagi kami dan sekarang kami dapat memandang dan menyentuh Engkau secara pribadi. Terima kasih untuk keselamatan bagi kami!  Amin.

Catatan: Untuk Bacaan Injil hari ini (Yoh 20:1-2,11-18), bacalah tulisan yang berjudul “KASIH SEJATI SEORANG MURID SEJATI” (bacaan tanggal 22-7-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010) 

Cilandak, 18 Juli 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENGAPA YESUS MENGAJAR DENGAN PERUMPAMAAN?

MENGAPA YESUS MENGAJAR DENGAN PERUMPAMAAN?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XVI – Kamis, 21 Juli 2016)

Keluarga Fransiskan: Pesta S. Laurensius dr Brindisi, Imam Pujangga Gereja 

jesus_christ_picture_013Kemudian datanglah murid-murid-Nya dan bertanya kepada-Nya, “Mengapa Engkau berkata-kata kepada mereka dalam perumpamaan? Jawab Yesus, “kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Surga, tetapi kepada mereka tidak. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia  berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil daripadanya. Itulah sebabnya Aku berkata-kata dalam perumpamaan kepada mereka; karena sekalipun melihat, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mendengar dan tidak mengerti. Jadi, pada mereka genaplah nubuat Yesaya, yang berbunyi: Kamu akan mendengar dan mendengar, namun tidak mengerti, kamu akan melihat dan melihat, namun tidak memahami. Sebab hati bangsa ini telah menebal, dan telinganya berat mendengar dan matanya melekat tertutup; supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik sehingga Aku menyembuhkan mereka. Tetapi berbahagialah matamu karena melihat dan telingamu karena mendengar. Sebab sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Banyak nabi dan orang benar ingin melihat apa yang kamu lihat, tetapi tidak melihatnya, dan ingin mendengar apa yang kamu dengar, tetapi tidak mendengarnya. (Mat 13:10-17) 

Bacaan Pertama: Yer 2:1-3,7-8,12-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 36:6-11

Bacaan Injil hari ini – teristimewa Mat 13:13-17 – adalah salah satu bacaan yang paling sulit dicerna dalam keseluruhan narasi Injil Matius. Uraian berikut adalah saduran bebas saya atas tulisan yang terdapat dalam Richard Gutzwiller, RENUNGAN TENTANG MATEUS – I [terjemahan KARMEL P. SIANTAR], tjetakan I-1968, Pertjetakan Arnoldus Endeh, Flores, NTT, hal. 199-202.

Dalam Injil hari ini kita membaca bahwa para murid bertanya kepada Yesus: “Mengapa Engkau berkata-kata kepada mereka dalam perumpamaan?” (Mat 13:10). Jawaban Yesus menunjukkan suatu kebenaran, yaitu bahwa suatu perumpamaan dapat mewahyukan/mengungkapkan sesuatu atau justru menutupinya. Mewahyukan, karena yang kelihatan menjadi tanda untuk hal yang tidak kelihatan dan karenanya menghantar orang kepadanya. Menutupi, karena yang tidak tampak hanya dinyatakan dalam tanda-tanda saja dan tidak dalam kenyataan yang seutuhnya.

Di balik semuanya itu tampaklah suatu kebenaran, yaitu bahwa alam semesta ini adalah tanda Allah yang tak tampak. Bila dalam cerita penciptaan Kitab Kejadian dikatakan: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita” (Kej 1:26), maka yang dimaksudkan adalah bahwa manusia – karena kerohanian dan rahmat-Nya – merupakan imaji (gambar) istimewa Allah. Namun demikian, dalam makhluk-makhluk ciptaan lainnya juga terdapat jejak Allah, sehingga bagi manusia yang mau mengakuinya semua itu juga merupakan tanda-tanda Allah. Dengan jalan analogi kita dapat mengetahui sifat-sifat sama yang terdapat makhluk ciptaan dan Sang Pencipta, namun menyadari pula bahwa yang sama itupun pada hakekatnya berlainan dan berbeda juga.

Jadi, dari ciptaan kita dapat mengenal Allah, sebab segala yang agung, yang indah, yang benar dalam ciptaan dapat pula dikenakan pada Allah. Namun juga dengan jalan negasi, karena segala yang kurang sempurna, yang terbatas, yang kurang dalam ciptaan tidak dapat dikenakan pada Allah. Ada juga cara gradasi, karena segala sesuatu yang positif dalam makhluk ciptaan – namun tidak dalam tingkat tertinggi – dapat pula dikenakan pada Allah, tetapi dalam tingkat yang paling sempurna.

Siapa saja yang tidak melihat dunia ini sebagai suatu tanda Allah sebenarnya mengingkari hakekat dirinya yang terdalam. Ia – demikian kata S. Augustinus, adalah seumpama seorang yang mengagumi huruf-huruf indah suatu tulisan dalam bahasa asing, tetapi tidak mengerti makna kata-kata dan kalimat termaksud. Dengan berpaling dari Allah, tidak mungkinlah seseorang dapat memahami dunia ini. Hanya seorang pribadi yang melihat dunia dalam hubungannya dengan Allah, yang dapat melihat dunia secara sempurna dan benar. Orang beriman yang melihat dunia sebagai tanda Allah, mengetahui dan mengakui nilai religiusnya serta maknanya sebagai  penunjuk jalan kepada Allah, namun ia tidak tinggal padanya saja, melainkan mengikuti petunjuknya dan sampailah dia kepada Allah.

Yesus Kristus adalah Sang Sabda yang telah datang ke tengah ciptaan. Maka itu dengan sadar Ia memakai analogi ciptaan. Oleh karena itu sudah seharusnyalah Ia berbicara dalam perumpamaan dan melalui analogi menunjuk kepada Jati diri-Nya yang sesungguhnya. Sebagai “Sabda yang menjadi daging” atau “Firman yang menjadi manusia” (Yoh 1:14), Dia merupakan Gambar serta persamaan Allah yang tiada taranya, karena dengan gemilang memancarlah yang ilahi dari diri-Nya. Akhirnya dalam keallahan-Nya sebagai Sang Sabda, – sebagai pantulan wujud Allah dalam arti yang sepenuh-penuhnya dan sebenarnya – Dia adalah Gambar serta persamaan Bapa. Yesus adalah gambaran sempurna “Gambar-dasar” sendiri, keserupaan yang benar-benar sama. Maka pembicaraan-Nya dengan menggunakan perumpamaan-perumpamaan sudah merupakan sesuatu yang bersifat hakiki dalam pewartaan/pengajaran-Nya.

DOA: Bapa surgawi, banyak orang merasa rindu untuk melihat apa yang kulihat karena Engkau telah membuka mataku agar dapat melihat. Tidak sedikit pula orang yang rindu untuk mendengar sabda-Mu. Engkau telah memberkati diriku sehingga dapat mendengar sabda-Mu itu. Terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau telah menyatakan/mewahyukan diri-Mu kepadaku melalui Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamatku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 13:10-17), bacalah tulisan yang berjudul “TUJUAN PERUMPAMAAN YESUS” (bacaan tanggal 21-7-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-07 PERMENUNGAN ALKITABIAH JULI 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 23-7-15 dalam situs/blog PAX ET BONUM) 

Cilandak, 18 Juli 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 155 other followers