DOMBA YANG HILANG

DOMBA YANG HILANG

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari biasa Pekan II Adven – Selasa, 6 Desember 2016) 

domba-yang-hilang-luk-15“Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Jika ia berhasil menemukannya, lebih besar kegembiraannya atas yang seekor itu daripada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat. Demikian juga Bapamu yang di surga tidak menghendaki salah seorang dari anak-anak yang hilang.” (Mat 18:12-14) 

Bacaan Pertama: Yes 40:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 96:1-3,10-13 

Marilah kita berempati dengan sang gembala dalam perumpamaan ini dengan menempatkan diri sebagai dirinya. Apabila anda adalah gembala yang bertanggung jawab atas seratus ekor domba, apakah anda akan meninggalkan sembilan puluh sembilan ekor domba untuk mencari seekor domba yang hilang? Tidak seorang pun yang masih atau pernah berkecimpung di dunia bisnis akan melakukannya! Yang jelas seorang pelaku bisnis yang berorientasi pada keuntungan (istilah kerennya: profit making) dan memahami manajemen risiko (risk management) tidak akan melakukannya. Orang itu mempertimbangkan lebih baik kehilangan seekor dombanya dan bekerja lebih keras untuk melindungi domba-dombanya yang masih ada.

Namun demikian, justru pesan Yesus kepada kita adalah yang terasa tak masuk akal itu. Ajaran-Nya terasa radikal, bukan? Nah, Yesus kita ini memang tidak berminat untuk terlibat dalam penghitungan bottom line, untung atau rugi, dan Ia juga tidak tertarik dengan cost analysis seperti saya, atau kita-kita ini yang sekolahnya di bidang ekonomi/bisnis. Yesus telah menginvestasikan dalam diri kita masing-masing gairah dan komitmen yang sama dalam jumlah dan substansinya, tidak peduli siapa kita ini dan jalan apa yang ditempuh oleh kita masing-masing.

Yesus adalah sang Gembala Baik. Ia mempunyai komitmen untuk mencari domba asuhan-Nya yang hilang, apa dan berapa pun biayanya! Dia akan pergi ke mana saja di atas muka bumi ini untuk menemukan kembali siapa saja yang hilang. Kepada kita – satu per satu – Yesus memberi kesempatan untuk memeluk-Nya, merangkul diri-Nya. Bukankah ini adalah prinsip dasar cintakasih dan bela rasa yang kita sedang persiapkan guna merayakan Hari Natal?

Sebenarnya kita masing-masing adalah seekor domba yang hilang. Bayangkanlah di mana kita pada saat ini seandainya cara berpikir Yesus itu tidak berbeda dengan cara berpikir para pelaku bisnis yang menekankan perhitungan rugi-laba belaka: “Ah, biarlah kita menerima sedikit kerugian agar supaya dapat menyelamatkan margin keuntungan kita.” Lalu, pertimbangkanlah cintakasih begitu mengagumkan yang menggerakkan Yesus untuk mengorbankan segalanya untuk membawa kita kembali kepada hati-Nya. Kita berterima kasih penuh syukur kepada Tuhan Allah, karena rancangan-Nya bukanlah rancangan kita (Yes 55:8)! Dalam hal kebaikan, Allah kita memang Mahalain!

Dalam doa-doa kita hari ini, pertimbangkanlah bagaimana cara berpikir kita apabila dibandingkan dengan cara berpikir Yesus. Berapa lama waktu yang kita butuhkan untuk melihat keluarga kita, sahabat-sahabat kita dan sesama kita dibawa ke dalam Kerajaan Allah, dan negeri kita tercinta mengalami kelimpahan berkat karena mengenal Kristus? Marilah kita bertanya kepada Roh Kudus, langkah-langkah apa yang harus kita ambil hari ini agar cara berpikir kita semakin dekat dengan cara berpikir Yesus. Memang hal ini tidak selalu mudah, akan tetapi percayalah bahwa Yesus – sang Gembala Baik – tidak akan meninggalkan kita. Dan …… Roh Kudus-Nya akan mengajar kita agar cara-cara-Nya dapat menjadi cara-cara kita, dan pikiran-pikiran-Nya menjadi pikiran-pikiran kita. Marilah kita menjalani masa Adven ini dengan memuji-muji Yesus yang akan datang menyelamatkan kita.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau mengasihiku dengan kasih yang menakjubkan. Terima kasih karena Engkau datang ke tengah dunia untuk mencari dan menyelamatkan mereka yang hilang. Aku mencintai Engkau, Yesus, dan akan selalu mengikuti jejak-Mu. Amin.

Catatan: Bagi anda yang ingin mendalami lagi Bacaan Pertama hari ini (Yes 40:1-11),  bacalah  tulisan yang berjudul “ALLAH YANG PENUH KOMITMEN KEPADA ANAK-ANAK-NYA” (bacaan tanggal 6-12-16) dalam situs/blog  PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori 16-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2016.

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011)

Cilandak, 3 Desember 2016 [Pesta S. Fransiskus Xaverius, Imam] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

WAJAH SEJATI ALLAH ADALAH KASIH YANG MENGAMPUNI

WAJAH SEJATI ALLAH ADALAH KASIH YANG MENGAMPUNI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Adven – Senin, 5 Desember 2016)

YESUS MENYEMBUHKAN ORANG LUMPUH YANG DIBAWA DARI LOTENG - 650Pada suatu hari ketika Yesus mengajar, ada beberapa orang Farisi dan ahli Taurat duduk mendengarkan-Nya. Mereka datang dari semua desa di Galilea dan Yudea dan Yerusalem. Kuasa Tuhan menyertai Dia, sehingga Ia dapat menyembuhkan orang sakit. Lalu datanglah beberapa orang mengusung seorang lumpuh di atas tempat tidur; mereka berusaha membawa dia masuk dan meletakkannya di hadapan Yesus. Karena mereka tidak dapat membawanya masuk berhubung dengan banyaknya orang di situ, naiklah mereka ke atas atap rumah, lalu membongkar atap itu, dan menurunkan orang itu dengan tempat tidurnya ke tengah-tengah orang banyak tepat di depan Yesus. Ketika Yesus melihat melihat iman mereka, berkatalah Ia, “Hai saudara, dosa-dosamu sudah diampuni.” Tetapi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi berpikir dalam hatinya, “Siapakah orang yang menghujat Allah ini? Siapa yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah sendiri?” Akan tetapi, Yesus mengetahui pikiran mereka, lalu berkata kepada mereka, “Apakah yang kamu pikirkan dalam hatimu? Manakah yang lebih mudah, mengatakan: Dosa-dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, dan berjalanlah? Tetapi supaya kamu tahu bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa” – berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu – “Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!” Seketika itu juga bangunlah ia, di depan mereka, lalu mengangkat tempat tidurnya dan pulang ke rumahnya sambil memuliakan Allah. Semua orang itu takjub, lalu memuliakan Allah, dan mereka sangat takut, katanya, “Hari ini kami telah menyaksikan hal-hal yang sangat mengherankan.” (Luk 5:17-26) 

Bacaan Pertama: Yes 35:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 85:9-14

Ini adalah sebuah “adegan” yang sungguh konkret. Cerita ini mengungkapkan great expectations dari orang kebanyakan, suatu hasrat kuat dan sangat manusiawi untuk memperoleh kesembuhan fisik. Datang saja ke acara kebangunan rohani atau “Misa Penyembuhan” untuk menyaksikan dengan mata-kepala  sendiri, malah kita mungkin mengalami  sendiri kesembuhan itu. Kesembuhan-kesembuhan terjadi, meskipun yang disembuhkan belum tentu datang karena didorong motif yang sepenuhnya spiritual. Cerita ini juga menggambarkan, bahwa sepanjang sejarah manusia Allah menghendaki, bahkan memiliki hasrat besar, untuk mengampuni pendosa yang bertobat. Kita tentu percaya bahwa hal ini benar karena iman kita akan kerahiman atau belaskasih Allah. Namun dengan kedatangan Yesus ke tengah-tengah umat manusia, pengampunan dosa itu mengambil sebuah bentuk pengungkapan manusia yang baru, yang membawa kita kepada suatu kepastian.

Berkat-berkat serta karunia-karunia Allah tidak selalu menyangkut hal-ikhwal yang bersifat badani. Pekerjaan-pekerjaan menakjubkan dari Allah ada dalam hati manusia. Karunia agung dari Allah adalah pemerdekaan/pembebasan dari dosa-dosa. Bisa saja orang lumpuh ini, yang membutuhkan pertolongan dan sepenuhnya menggantungkan diri pada orang-orang lain yang boleh dikatakan “nekat”, merupakan seorang pribadi yang lebih siap untuk menerima pengampunan. Kita maklumi ada cukup banyak orang menolak pengampunan Allah karena sebuah alasan tunggal, yaitu bahwa mereka tidak mau “menerima” pengampunan itu lewat orang lain. “Mohon pengampunan Allah” mensyaratkan bahwa orang bersangkutan mengakui keterbatasan-keterbatasan dirinya dan menghaturkan permohonan dengan sangat akan turunnya Kerahiman Ilahi ke atas dirinya, namun kesombongan tersembunyi dapat menghalangi dia untuk mengambil langkah seperti itu. Banyak orang berpikir bahwa dirinya “mandiri”, self- sufficient, mereka mau keluar dari kesusahan hanya berdasarkan kekuatan mereka sendiri. Yesus mengampuni dosa-dosa orang lumpuh dengan mengucapkan kata-kata manusia: “Hai Saudara, dosa-dosamu sudah diampuni” (Luk 5:20). Ketika para pemuka agama menolak cara pemberian pengampunan seperti ini, Yesus menanggapi dengan suatu tanda yang mudah dilihat oleh mata manusia: Dia menyembuhkan orang lumpuh itu melalui firman yang keluar dari mulut-Nya, untuk menunjukkan bahwa Dia memiliki kuasa mengampuni dosa melalui firman-Nya. Apa yang diucapkan Yesus ini sama kuatnya dengan kata-kata: “Angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!” (Luk 5:24).

stdas0592-jesus-heals-the-palsied-manReaksi negatif para pemuka agama juga menunjukkan bahwa mereka sebetulnya belum siap untuk menerima keselamatan. Mereka telah membangun bagi diri mereka sendiri sebuah “agama yang penuh dengan kebenaran moral”, dan berpikir bahwa hanya mereka sendirilah yang akan berjaya merebut keselamatan dengan mengikuti kehendak mereka sendiri. Kita sering mengalami keraguan untuk menerima sakramen tobat dari seorang imam yang mewakili Kristus (lihat Yoh 20:21-23). Mungkin kita memiliki sikap yang agak mirip dengan para pemuka agama pada zaman Yesus itu. Di batin kita yang paling dalam, kita merasa takut, karena kita selalu kembali dan kembali lagi ke dalam dosa-dosa yang sama. Di kedalaman hati kita mungkin saja ada suatu hasrat ambisius untuk menjadi seorang yang “benar”, sehingga tidak perlu lagi mohon pengampunan dari Allah – artinya “kita bisa dan mampu melakukan apa saja tanpa Allah!”  Ada juga yang mengatakan, “Tetapi, apakah Allah tidak dapat mengampuni dosa-dosaku, bahkan dosa yang paling jelek sekali pun, apabila aku mohon pengampunan dari Dia secara langsung?” Tanggapan saya: “Iman saya mengatakan, bahwa Allah dapat melakukan apa saja seturut kehendak-Nya, namun biasanya dalam kehidupan Gereja di mana saya adalah anggotanya, pengampunan atas dosa-dosa yang sungguh serius diperoleh melalui Sakramen Rekonsiliasi.”

Wajah sejati Allah adalah “Kasih yang mengampuni” dan bukanlah “Hakim yang senang menghukum”. Inilah mukjizat besar yang tak henti-hentinya dibuat oleh Allah. Namun untuk menunjukkan bahwa mukjizat yang tak kelihatan ini sungguh riil adanya, maka Yesus menggaris-bawahinya dengan sebuah mukjizat yang berwujud. Inilah inti bacaan Injil hari ini!

DOA: Tuhan Yesus, aku berterima kasih penuh syukur atas pengampunan dan kesembuhan yang begitu sering Kauberikan kepadaku. Berikanlah kepadaku, ya Tuhan, roh sukacita dan puji-pujian, sehingga segala karunia Roh yang diberikan kepadaku dapat kupersembahkan kembali kepada-Mu lewat pengabdianku kepada sesamaku, semua seturut kehendak-Mu saja. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yes 35:1-10), bacalah tulisan berjudul “MENJADI WAHA/OASIS DI TENGAH PADANG GURUN” (bacaan untuk tanggal 5-12-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2016. 

(Tulisan ini  bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2009) 

Cilandak, 2 Desember 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

KEDATANGAN SANG MESIAS-HAKIM

KEDATANGAN SANG MESIAS-HAKIM

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU ADVEN II (Th. A), 4 Desember 2016)

ST. YOHANES PEMBAPTIS

ST. YOHANES PEMBAPTIS

Pada waktu itu tampillah Yohanes Pembaptis di padang gurun Yudea dan memberitakan, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!” Sesungguhnya dialah yang dimaksudkan Nabi Yesaya ketika ia berkata, “Ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya.”

Yohanes memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit, dan makannya belalang dan madu hutan. Lalu datanglah kepadanya penduduk dari Yerusalem, dari seluruh Yudea dan seluruh daerah sekitar Yordan. Sambil mengaku dosanya mereka dibaptis oleh Yohanes di sungai Yordan.

Tetapi waktu ia melihat banyak orang Farisi dan orang Saduki datang untuk dibaptis, berkatalah ia kepada mereka, “Hai kamu keturunan ular berbisa. Siapakah yang mengatakan kepada kamu bahwa kamu dapat melarikan diri dari murka yang akan datang? Jadi, hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan. Janganlah mengira bahwa kamu dapat berkata dalam hatimu: Abraham adalah bapak leluhur kami! Karena aku berkata kepadamu: Allah dapat menjadikan anak-anak bagi Abraham dari batu-batu ini! Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia yang datang kemudian setelah aku lebih berkuasa daripada aku dan aku tidak layak membawa kasut-Nya. Ia akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan api. Alat penampi sudah di tangan-Nya. Ia akan membersihkan tempat pengirikan-Nya dan mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung, tetapi sekam itu akan dibakar-Nya dalam api yang tidak terpadamkan.” (Mat 3:1-12)

Bacaan Pertama: Yes 11:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 72:1-2,7-8,12-13,17; Bacaan Kedua: Rm 15:4-9 

“Pada waktu itu”  adalah kata-kata yang tidak jelas secara kronologis, namun Matius menggunakan ungkapan ini sebagai suatu tanda bahwa dia sedang menarasikan sejarah suci. Yohanes Pembaptis bukanlah seorang  guru (rabi) dan juga bukan seorang guru hikmat. Ia dalah seorang nabi. Yohanes berpakaian seperti Elias (2Raj 1:8) dengan mana Yesus kemudian mengidentifikasikan Yohanes (Luk 11:13), ia mencintai padang gurun sebagai sebuah tempat perjumpaan dengan Tuhan (1Raj 19:1-18). Namun demikian, tidak seperti Elias, Yohanes menjauhi kota-kota dan ia hanya berkhotbah di padang gurun.

Seperti dikatakan oleh Yesus sendiri, Yohanes itu lebih daripada sekadar seorang nabi (Mat 11:9). Yohanes adalah seorang bentara, seseorang yang mengumumkan suatu peristiwa, yaitu masuknya Kerajaan Allah atau Kerajaan Surga. Tidak seperti Injil Markus dan Lukas, Matius menaruh pada bibir Yohanes kata-kata sama yang diucapkan Yesus ketika memulai pelayanan-Nya: “Bertobatlah, sebab Kerajaan surga sudah dekat!” (Mat 4:17). Jadi Kabar Baik sudah dimulai dengan Yohanes Pembaptis.

Dengan demikian segalanya dimulai dengan pertobatan. Tidak ada pengalaman akan Kerajaan Surga tanpa pertobatan. Jikalau bagi banyak orang pada zaman modern ini “Kerajaan Surga” terdengar sebagai suatu konsep yang asing, apakah barangkali karena semua itu sekarang begitu jarang dan sedikit sekali kita dengar tentang penghakiman, dosa dan pertobatan? Jalan kepada kebebasan, sukacita dan hidup baru adalah pertobatan dan menerima pengampunan dari Allah.

Namun, pertobatan termaksud harus tulus (lihat Mat 3:7-10).  Dari semua orang yang datang untuk baptisan Yohanes terdapat dua kelompok yang diragukan ketulusan hatinya oleh Yohanes, yaitu orang-orang Farisi dan orang-orang Saduki. Mereka dijuluki “keturunan ular berbisa” oleh Yohanes.  Mereka mengandalkan garis keturunan mereka dari Bapak Abraham (lihat Yes 51-2), mereka tidak memperhatikan pentingnya melakukan pekerjaan-pekerjaan baik yang akan membuat mereka dapat diterima di mata Allah dan dapat menghadapi penghakiman terakhir dengan baik. Jadi, kita harus menghasilkan buah-buah sesuai dengan pertobatan kita.

Pelayanan Yohanes tidak hanya mempersiapkan masuknya pemerintahan Allah melainkan juga kedatangan “Dia yang lebih berkuasa daripada Yohanes sendiri”, untuk siapa Yohanes tidak layak membawa kasut-Nya sekali pun (lihat Mat 3:11) …… sang Mesias-Hakim.

DOA: Bapa surgawi, belas kasih-Mu adalah tanpa batas. Kami menyembah dan memuji Engkau, karena Engkau mengutus Putera-Mu yang tunggal, Tuhan Yesus Kristus, untuk menebus kami dari semua dosa kami dan juga kematian. Ia-lah juga sang Mesias-Hakim pada pengadilan terakhir kelak. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil  hari ini (Mat 3:1-12), bacalah tulisan yang berjudul “MEMPERSIAPKAN HATI UMAT ALLAH AKAN KEDATANGAN SANG MESIAS” (bacaan tanggal 4-12-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2016. 

Cilandak, 2 Desember 2016  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

JIKA KITA MEMBERITAKAN INJIL, TIDAK ADA ALASAN BAGI KITA UNTUK MEMEGAHKAN DIRI

JIKA KITA MEMBERITAKAN INJIL, TIDAK ADA ALASAN BAGI KITA UNTUK MEMEGAHKAN DIRI

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Pesta S. Fransiskus Xaverius, Imam – Sabtu, 3 Desember 2016)

St Paul Icon 4Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil! Andaikata aku melakukannya menurut kehendakku sendiri, memang aku berhak menerima upah. Tetapi karena aku melakukannya bukan menurut kehendakku sendiri, pemberitaan itu adalah tugas penyelenggaraan yang dipercayakan kepadaku. Jika demikian, apakah upahku? Upahku ialah ini: Bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak menggunakan hakku sebagai pemberita Injil. Sungguh pun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang.

Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat memenangkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin menyelamatkan beberapa orang dari antara mereka. Semuanya ini aku lakukan karena Injil, supaya aku mendapat bagian di dalamnya. (1Kor 9:16-19,22-23) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 117:1-2; Bacaan Injil: Mrk 16:15-20

Cinta S. Paulus kepada Yesus Kristus diawali pada waktu dia dalam perjalanan ke Damsyik di mana dia mengalami perjumpaan pribadi dengan Kristus yang bangkit (Kis 9:1-9). Pada waktu itu dia masih bernama Saulus. Selama tiga hari setelah peristiwa tersebut, Paulus mengalami kebutaan. Dia tidak makan atau pun minum selagi dia – lewat doa-doanya dalam keheningan – berupaya untuk memahami apa yang telah dan sedang dikerjakan Tuhan atas dirinya. Bayangkanlah betapa berat beban dosa yang dirasakan menindih dirinya, teristimewa ketika dia mengingat dosa yang menyangkut pengejaran dan penganiayaan atas umat Kristiani yang diperintahkan olehnya dan di mana dia sendiri turut ambil bagian di dalamnya. Akan tetapi, begitu dia dibaptis, kesadaran Paulus akan kasih Allah dan kuasa Yesus yang bangkit langsung saja menggerakkan dia untuk mulai mewartakan Kabar Baik bahwa Yesus adalah Putera Allah (Kis 9:17-20).

Pengabdian Paulus yang penuh gairah kepada Yesus memampukan dirinya menanggung kesusahan dan oposisi terhadap dirinya karena dia mewartakan Injil. Paulus akan menanggung apa saja asal dia dapat memenangkan orang-orang kepada cintakasih Kristus – cintakasih yang telah mentransformir hidupnya sendiri. Paulus dapat melihat bahwa umat di Korintus cenderung untuk melakukan segala hal dengan semangat berapi-api – meski terkadang terasa berlebihan. Mereka merasa tertarik pada pengkhotbah-pengkhotbah (pewarta-pewarta) tertentu, lalu membentuk kelompok-kelompok yang sayangnya menjadi saling bersaing satu sama lain, agar memperoleh reputasi tertinggi. Dalam entusiasme itu, mereka kehilangan “kerendahan-hati” dan “cintakasih persaudaraan”. Paulus berupaya menyatukan mereka itu kembali.

Inilah sebabnya mengapa Paulus mengatakan kepada umat di Korintus: “Aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang. …… Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin menyelamatkan beberapa orang dari antara mereka” (1Kor 9:19.22). Kemauan Paulus untuk berbagi Kabar Baik Yesus Kristus dengan siapa saja yang mau mendengarkan, sungguh mengena di jantung kesombongan dan sikap serta perilaku orang-orang Korintus yang suka terpecah-pecah dan saling bersaing secara tidak sehat.

Cintakasihnya kepada Kristus begitu berdampak pada dirinya, sehingga memungkinkan Paulus mengatasi masalah pemisahan antara orang Yahudi dan bukan-Yahudi (Yunani; kafir), hamba dan orang merdeka, perempuan dan laki-laki, karena dia sudah mempunyai keyakinan teguh bahwa semua adalah satu dalam Kristus Yesus (lihat Gal 3:28). Bagi Paulus, satu-satunya garis pemisah adalah antara mereka yang mengenal serta mengalami kasih Allah yang dicurahkan dalam Kristus, dan mereka yang belum mendengar mengenai Sang Juruselamat atau mengalami sentuhan-Nya. Bagi Paulus, hal-hal lainnya tidak perlu dipikirkan, demikian pula seharusnya dengan sikap yang harus diambil oleh umat di Korintus dan kita yang telah membaca suratnya ini.

st-francis-xavier-with-cross-thumb-250x337-7849Fransiskus Xaverius. Pada hari ini Gereja (anda dan saya) merayakan pesta S. Fransiskus Xaverius [1506-1552], yang bersama-sama dengan S. Teresa dari Lisieux [1873-1897] adalah orang-orang kudus pelindung Misi. S. Fransiskus Xaverius adalah misionaris terbesar yang dikenal Gereja sejak rasul Paulus. Tidak lama setelah Ignatius dari Loyola mendirikan Serikat Yesus, Fransiskus Xaverius mengikuti jejak kawan sekamarnya, Petrus Faber, bergabung dengan Serikat Yesus. Hatinya digerakkan oleh Roh Kudus untuk bergabung karena pertanyaan penuh tantangan yang diajukan oleh S. Ignatius dari Loyola: “Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya?” (Mat 16:26).

Kegiatan misioner S. Fransiskus Xaverius di Asia sudah diketahui dengan baik oleh banyak orang, termasuk kepulauan Maluku di Indonesiia. Oleh karena itu tidak mengherankanlah apabila nama baptis Fransiskus Xaverius juga sudah menjadi nama “pasaran” (sangat populer) di kalangan umat Katolik di Indonesia.

Sebelum sempat melakukan tugas misionernya di daratan Tiongkok, pada tanggal 21 November 1552 Fransiskus Xaverius jatuh sakit demam serta terkurung di pondok rindangnya di pantai pulau kecil San Jian. Dia dirawat oleh Antonio, seorang pelayan Cina yang beragama Katolik. Beberapa tahun kemudian, Antonio menulis sebuah laporan tentang hari-hari terakhir hidup orang kudus itu di dunia. Fransiskus meninggal dunia pada tanggal 3 Desember dan jenazahnya dikuburkan di pulau itu. Pada musim semi tahun berikutnya jenazahnya dibawa ke Malaka untuk dimakamkan di sebuah gereja Portugis di sana. Beberapa tahun kemudian sisa-sisa tubuhnya dibawa lagi ke Goa di India untuk dimakamkan di Gereja Bom Jesus.

DOA: Bapa surgawi, tunjukkanlah kasih-Mu kepada kami sehingga hidup kami dapat ditransformasikan. Kami ingin menjadi seperti Paulus dan Fransiskus Xaverius, para pewarta Kabar Baik sejati yang menjadi segala-galanya bagi semua orang, sehingga kami juga dapat menunjukkan apa artinya menjadi anak-anak Allah dan pewaris Kerajaan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 16:15-20), bacalah tulisan berjudul “AMANAT YANG DIBERIKAN YESUS KEPADA PARA MURID-NYA” (bacaan  tanggal 3-12-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak, 1 Desember 2016 [Peringatan B. Dionisius dan Redemptus, Martir Indonesia]  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS [nama penguatan: Paulus]

ANAK DAUD ADALAH SEBUAH GELAR MESIANIS

ANAK DAUD ADALAH SEBUAH GELAR MESIANIS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Adven – Jumat, 2 Desember 2016) 

OSCCap: Peringatan B. Maria Angela Astorch, Biarawati Klaris-Kapucines

11dosciegos
Ketika Yesus meneruskan perjalanan-Nya dari sana, dua orang buta mengikuti-Nya sambil berseru-seru dan berkata, “Kasihanilah kami, hai Anak Daud.”  Setelah Yesus masuk ke dalam sebuah rumah, datanglah kedua orang buta itu kepada-Nya dan Yesus berkata kepada mereka, “Percayakah kamu bahwa Aku dapat melakukannya?”  Mereka menjawab, “Ya Tuhan, kami percaya.” Yesus pun menyentuh mata mereka sambil berkata, “Jadilah kepadamu menurut imanmu.”  Lalu meleklah mata mereka. Kemudian Yesus dengan tegas berpesan kepada mereka, “Jagalah supaya jangan seorang pun mengetahui hal ini.”  Tetapi mereka keluar dan memasyhurkan Dia ke seluruh daerah itu. (Mat 9:27-31)
 

Bacaan Pertama: Yes 29:17-24; Mazmur Tanggapan: Mzm 27:1,4,13-14 

Di bagian lain dari Injil Matius dikisahkan bagaimana beberapa orang murid Yohanes Pembaptis datang menemui Yesus dan bertanya kepada-Nya, “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?” (Mat 11:3). Yesus menjawab mereka, “Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta sembuh, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik” (Mat11:5). Itulah jawaban Yesus mengenai identitas-Nya. Mukjizat pencelikan mata  dua orang buta yang diceritakan dalam bacaan Injil kali ini merupakan satu dari serangkaian tanda yang mengarah kepada identitas Yesus sebagai Mesias.

Dua orang buta mendekat kepada Yesus dengan sebuah permintaan sederhana, “Kasihanilah kami, hai Anak Daud” (Mat 9:27). Dengan mata iman mereka mengenali Yesus sebagai bukan sekadar seorang rabi biasa, namun sebagai Mesias – seorang pewaris takhta Daud – Dia Yang Diurapi –  yang telah datang untuk menggenapi janji Allah kepada umat-Nya. Memang “Anak Daud” adalah sebuah gelar mesianis! “Anak Daud” sama artinya dengan “Dia yang akan datang, Dia yang dijanjikan para nabi”. Kebutaan fisik kedua orang itu tidak memampukan mereka untuk melihat Yesus, namun mereka percaya kepada-Nya. Mereka berseru-seru kepada Yesus karena mereka tahu Yesus dapat menganugerahkan kepada mereka sesuatu yang tak dapat ditolak – kesembuhan dan suatu hidup baru.

c3606b07eb3e0f92bb5bfe8287005989Sebelum melakukan mukjizat-Nya, Yesus masih bertanya, “Percayakah kamu bahwa Aku dapat melakukannya?” (Mat 9:28). Yesus menanyakan apakah kedua orang buta itu memiliki iman, karena Dia ingin memurnikan iman mereka. Dia membimbing mereka bergerak dari posisi “memikirkan diri sendiri” ke posisi “memusatkan pikiran pada pribadi Yesus”. Mukjizat yang akan dilakukan-Nya bukanlah sesuatu yang bersifat otomatis dan magic, melainkan membutuhkan iman. “Ya Tuhan, kami percaya” (Mat 9:28),  itulah jawaban mereka. Sebagai tanggapan terhadap iman mereka, Yesus menunjukkan kepada mereka  kedalaman cinta kasih Allah. Tidak saja Yesus menyembuhkan kebutaan fisik kedua orang itu, Dia juga memulihkan kebutaan spiritual mereka.  Dua orang buta itu menghargai apa yang telah dilakukan Yesus atas diri mereka. Dari bacaan Injil ini pun kita percaya bahwa dua orang buta yang disembuhkan itu, dengan dua mata yang terbuka lebar mengenali siapa Yesus sebenarnya, kemudian merangkul Dia sebagai Juruselamat mereka. Meskipun dengan tegas dilarang oleh Yesus, mereka keluar dan memasyhurkan Dia ke seluruh daerah itu ( Mat 9:31).

Nah, Yesus ingin sekali agar kita semua mendekat kepada-Nya dengan penuh kepercayaan seperti ditunjukkan oleh kedua orang buta yang disembuhkan-Nya itu, yaitu mohon belas kasihan dan rahmat-Nya. Apa yang dapat menahan atau menghalangi kita? Mungkin rasa masa bodoh, atau mungkin ketidak-percayaan kita, atau mungkin juga rasa tidak berarti. Ingatlah pesan Santo Paulus, bahwa tidak ada apa pun atau siapa pun yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus, bahkan maut sekali pun (Rm 8:31-39). Memang terkadang kita merasa tidak mempunyai cukup iman kepada Yesus yang mau menjawab seruan kita kepada-Nya.

Kita sering  kali merasa hampir putus-asa ketika berdoa kepada-Nya. Seakan-akan Dia tidak pernah mendengarkan doa-doa kita! Dalam situasi seperti ini, ingatlah akan sebuah kenyataan: Allah mengetahui dan mengenal kelemahan-kelemahan kita lebih daripada kita sendiri. Dia pun selalu siap memberikan rahmat yang kita perlukan untuk menanggapi firman-Nya dengan penuh rasa percaya dan ketaatan. Dia mau memberikan kepada kita jauh lebih banyak daripada yang kita mohonkan atau bayangkan.

Mata kita dibuka pada waktu kita dibaptis. Pada waktu itulah kepada kita diberikan “penglihatan” khusus yang dinamakan iman. Dengan mata iman, kita perlu mengamati dengan seksama segala hal yang dilakukan Yesus bagi diri kita. Melalui baptisan kita pun dibersihkan dari kekustaan dosa. Kita tidak lagi tuli terhadap Kabar Baik yang diberitakan kepada kita, artinya kita mampu mendengar sabda Allah. Kita telah dibangkitkan dari kematian dosa dan diberikan hidup baru dalam Kristus. Kita berjalan dengan gagah dalam terang Kristus. Apakah kita harus mencari pribadi lain selain Yesus? Tentu saja tidak! Dia adalah Tuhan dan Juruselamat kita! Semoga dalam masa Adven ini kita dapat semakin dekat lagi dengan Yesus, berpengharapan teguh bahwa Dia akan memenuhi semua janji-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, kami sangat bersyukur bahwa Engkau mendengarkan doa sederhana yang dipanjatkan dari hati yang tulus. Kami juga sangat terkesan atas kenyataan bahwa Engkau menghargai kebebasan pribadi kedua orang buta itu sebagai anak manusia: Engkau membangkitkan dan meningkatkan pengharapan, hasrat dan iman mereka, namun Engkau tidak memaksa… ; dan mukjizat pun terjadi menurut iman mereka. Tuhan, tingkatkanlah iman dalam diri kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini [Mat 9:27-31],  bacalah  tulisan yang berjudul “PERCAYA DAN MELIHAT” (bacaan tanggal 2-12-16) dalam situs/blog  PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori 16-12  PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2009) 

Cilandak, 30 November 2016

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

ORANG BIJAKSANA MENDIRIKAN RUMAH DI ATAS BATU

ORANG BIJAKSANA MENDIRIKAN RUMAH DI ATAS BATU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan B. Dionisius dan Redemptus, Biarawan Martir IndonesiaKamis, 1 Desember 2016) 

jesus_christ_picture_013Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan orang yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga.

Jadi, setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu bertiuplah angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu bertiuplah angin melanda rumah itu itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya. (Mat 7:21,24-27)

Bacaan Pertama: Yes 26:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 118:1,8-9,19-21,25-27 

Ke mana saja Dia pergi, Yesus membuat banyak mukjizat yang membuat takjub orang-orang yang menyaksikannya. Namun demikian, di tengah-tengah publik yang banyak terperana dan terpesona karena “kehebatan”-Nya, Yesus tetap jelas-jernih mengenai tujuan utamanya. Dia tidak ingin sekadar membuang penderitaan orang-orang. Dia ingin memberikan kepada mereka sebuah dasar yang kokoh bagi kehidupan mereka, sesuatu yang dapat bertahan dalam berbagai badai dan pencobaan yang merupakan bagian kehidupan di dunia ini. Dalam setiap perumpamaan yang diajarkan-Nya dan setiap khotbah yang diberikan-Nya, pesan Yesus tetap sama: “Dengarkanlah Aku. Ikutilah perintah-perintah-Ku, maka kamu akan aman-selamat.”

Kitab Suci barangkali merupakan alat yang paling memiliki kekuatan untuk membangun sebuah fondasi yang kokoh untuk kehidupan kita sehari-hari. Dengan kisah-kisahnya, doa-doanya, nubuat-nubuatnya dan doktrin-doktrinnya – semuanya diinspirasikan oleh Roh Kudus – Kitab Suci sungguh berisikan database yang berkelimpahan, daripadanya kita dapat menimba kekuatan, hikmat, dan penghiburan, kesulitan apa pun yang sedang kita hadapi.

Bacaan Pertama pada hari ini, misalnya, adalah sebuah contoh yang baik: “Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya” (Yes 26:3). Sementara kita sudah mendekati akhir dari Pekan I Adven, mudahlah bagi kita untuk mulai sibuk memikirkan rencana liburan, jadual kita yang ketat, atau seorang anggota keluarga yang agak sulit perangainya berencana untuk mengunjungi rumah kita. Manakala berbagai tekanan terasa semakin berat, janganlah kita lupa berdoa kepada Yesus: “Tuhan Yesus Kristus, aku memusatkan segenap perhatianku kepada-Mu saja. Engkaulah andalanku, ya Tuhan. Perkenankanlah aku untuk mengenal dan mengalami damai sejahtera-Mu yang sempurna”. Kita harus terus-menerus percaya bahwa Yesus telah mendengar doa kita itu. Kita mengulang-ulang doa itu  sampai kita merasakan damai-sejahtera dalam hati. Kita dapat membayangkan Yesus merangkul kita dan mengatakan kepada kita bahwa Dia beserta kita.

Santo Paulus pernah mengatakan, bahwa sabda Allah adalah “pedang Roh” (lihat Ef 6:17). Apabila kita sedang berada di tengah sebuah pertempuran spiritual, kita harus mengangkat senjata ampuh ini untuk menjaga diri kita. Kita juga dapat menyiapkan diri untuk pertempuran seperti ini dengan membaca Kitab Suci secara teratur, setiap hari. Dengan demikian pikiran kita diisi dengan janji-janji dan kebenaran-kebenaran yang dapat bertahan melawan serangan-serangan si Jahat. Tidak ada apa atau siapa pun yang dapat mengalahkan seorang pribadi manusia yang berdiri kokoh di atas sabda Allah.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, isilah diriku dengan cintakasih yang lebih besar akan sabda-Mu dalam Kitab Suci. Aku mau mendirikan kehidupanku di atas kebenaran-Mu dan janji-janji-Mu. Berikanlah kepadaku telinga yang dapat mendengar suara-Mu di masa Adven ini agar dengan demikian Engkau dapat menjadi batu fondasiku yang kokoh. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini [Mat 7:21,24-27],  bacalah  tulisan yang berjudul “MENDENGAR PERKATAAN YESUS” (bacaan tanggal 1-12-16) dalam situs/blog  PAX ET BONUM https://sangsabda.wordpress.com;  kategori: 16-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan pada sebuah tulisan saya di tahun 2010) 

Cilandak, 29 November 2016

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

ANDREAS DIPANGGIL OLEH YESUS MENJADI SALAH SEORANG MURID-NYA YANG PERTAMA

ANDREAS DIPANGGIL OLEH YESUS MENJADI SALAH SEORANG MURID-NYA YANG PERTAMA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta S. Andreas, Rasul – Rabu, 30 November 2016) 

kemuridan-yesus-memanggil-murid-muridnya-yang-pertamaKetika Yesus sedang berjalan menyusur Danau Galilea, Ia melihat dua orang bersaudara, yaitu Simon yang disebut Petrus, dan Andreas, saudaranya. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. Yesus berkata kepada mereka, “Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Mereka pun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. Setelah Yesus pergi dari sana, dilihat-Nya dua orang bersaudara yang lain lagi, yaitu Yakobus anak Zebedeus dan Yohanes saudaranya, bersama ayah mereka, Zebedeus, sedang membereskan jala di dalam perahu. Yesus memanggil mereka dan mereka segera meninggalkan perahu ayahnya, lalu mengikuti Dia. (Mat 4:18-22) 

Bacaan Pertama: Rm 10:9-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:2-5 

Mengapa Andreas bersedia meninggalkan segalanya demi mengikuti Yesus? Bukankah hal tersebut sangat drastis? Apakah Andreas memang seorang “luntang-lantung” yang mempunyai banyak waktu? Bukan, tentunya! Barangkali bisnis-ikannya bersama saudaranya, Simon, cukup baik. Namun ada sesuatu dalam diri Yesus yang mendorong timbulnya hasrat kuat dalam hatinya, dan dia memperkenankan hasrat kuat itu untuk sungguh membakar hatinya.

Bahkan sebelum Andreas bertemu dengan Yesus, Allah telah menyiapkan dirinya. Andreas telah mengikuti Yohanes Pembaptis dan mengikuti panggilan Sang Nabi untuk melakukan pertobatan. Bersama Yohanes Pembaptis, Andreas menantikan kedatangan Dia yang akan membaptis tidak dengan air, melainkan dengan Roh Kudus (Yoh 1:33). Andreas mendengar pewartaan Yesus: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!” (Mat 4:17) dan dia juga menyaksikan sendiri Kerajaan ini dalam mukjizat penangkapan ikan dengan jala (Luk 5:4-7). Andreas mengamati relasi pribadi Yesus dengan Allah dan dia juga menyadari bahwa Yesus menyerahkan hidup-Nya bagi siapa saja yang mengikuti jejak-Nya. Yesus menyatakan Kerajaan Surga dengan demikian jelasnya, sehingga ketika dia menceritakan kepada saudaranya Simon tentang Yesus, yang keluar dari mulutnya hanyalah beberapa patah kata penuh makna: “Kami telah menemukan Mesias (artinya Kristus)” (Yoh 1:41). Maka tak mengherankanlah kalau ketika Yesus memanggilnya, Andreas sudah siap untuk meninggalkan segalanya. Tidak hanya hidupnya saja yang berubah, Andreas menjadi seorang penjala manusia dalam arti sesungguhnya. Andreas menanggapi panggilan Yesus secara sangat langsung, dan dia pun menjadi seorang manusia yang baru.

Seperti Andreas, kita juga telah diundang untuk mengikuti Yesus. Kita telah mendengar Injil dan mengalami sentuhan Tuhan. Pertanyaan yang patut kita tanyakan kepada diri kita sendiri adalah, apakah iman kita kepada Yesus menghasilkan suatu perubahan dalam kehidupan kita. Apakah kita menanggapi panggilan Yesus untuk mengikuti Dia dengan melakukan hal-hal praktis, misalnya dengan syering Injil Yesus Kristus dengan orang-orang lain, memperbaiki hubungan yang retak, atau memberikan pelayanan kepada orang-orang yang membutuhkan? Apakah hati kita berkobar-kobar dengan cintakasih kepada Yesus? Siapkah kita mengorbankan diri kita sendiri bagi Kristus dan orang-orang lain?

Dalam masa Adven ini kita memiliki banyak peluang atau kesempatan penuh kuasa bagi iman kita untuk menjadi hidup. Selagi kita memberikan diri kita kepada Yesus sepenuh-penuhnya, memakai waktu kita bersama dengan-Nya dalam masa Adven yang suci ini, Dia pun dapat mentransformsikan kita dan membuat kita menjadi suatu ciptaan baru, yang berguna bagi sesama kita.

DOA: Tuhan Yesus, aku mendengar Engkau memanggilku. Aku ingin menanggapi panggilan-Mu itu, namun aku seorang pribadi yang lemah dan tak pantas. Di sini aku Tuhan! Lakukan apa saja yang Kaukehendaki atas diriku. Utuslah aku ke mana saja sesuai dengan kehendak-Mu. Aku hanya memiliki hasrat untuk mengikuti-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini [Mat 4:18-22],  bacalah  tulisan yang berjudul “ANDREAS: SEORANG PENJALA MANUSIA” (bacaan tanggal 30-11-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16:11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2016.

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2009)

Cilandak, 29 November 2016

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS