SANG PENULIS INJIL KEDUA

SANG PENULIS INJIL KEDUA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, PESTA SANTO MARKUS – Selasa, 25 April 2017)

 

Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab: “Allah menentang orang yang congkak, tetapi memberi anugerah kepada orang yang rendah hati.” Karena itu, rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya. Serahkanlah segala kekhawatiranmu kepada-Nya, sebab Ia memelihara kamu. Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu bahwa semua saudara seimanmu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama. Dan Allah, sumber segala anugerah, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaan-Nya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya. Dialah yang punya kuasa sampai selama-lamanya! Amin.

Dengan perantaraan Silwanus yang kuanggap sebagai seorang saudara seiman yang dapat dipercayai, aku menulis dengan singkat kepada kamu untuk menasihati dan meyakinkan kamu bahwa ini adalah anugerah yang benar-benar dari Allah. Berdirilah dengan teguh di dalamnya!

Salam kepada kamu sekalian dari kawanmu yang terpilih yang di Babilon dan juga dari Markus, anakku. Berilah salam seorang kepada yang lain dengan ciuman kudus. Damai sejahtera menyertai kamu sekalian yang berada dalam Kristus. Amin. (1Ptr 5:5b-14) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 89:2-3,6-7,16-17; Bacaan Injil: Mrk 16:15-20 

Pada hari istimewa yang didedikasikan kepada Santo Markus, kita dapat tergoda untuk bertanya apa yang kiranya dapat kita pelajari dari seorang “tokoh” zaman kuno. Apabila kita melihat “Kisah para Rasul”, khususnya bab 13 dan 15, kita dapat merasa sedikit terhibur karena mengetahui bahwa ternyata Santo Markus adalah seorang manusia seperti kita juga; bahwa dia juga rentan terhadap kelemahan dan kesalahan-kesalahan. Dan semua itu bukanlah sekadar kesalahan-kesalahan kecil: Di Pamfilia dia melakukan “desersi”, melarikan diri dari tugasnya membantu Paulus dan Barnabas, dan kembali ke Yerusalem, …… semua ini terjadi di tengah sebuah perjalanan misioner untuk mewartakan Kabar Baik Yesus Kristus (Kis 13:13).

“Desersi” Markus begitu serius sehingga menyebabkan timbulnya selisih pendapat apakah masih mau mengambilnya kembali seturut usulan Barnabas atau tidak (Kis 15:35-41). Walaupun Paulus merasa ragu, Markus sungguh pergi melakukan hal-hal besar untuk Kerajaan-Nya, diantaranya menulis sebuah kitab Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah.

Sekarang, apakah yang kita pelajari dari seorang Santo Markus? Bahwa Allah tidak pernah menyerah, lalu membuang kita. Dalam Mazmur secara tetap kita mendengar bagaimana Allah menegakkan orang benar, dan dalam “Surat kepada jemaat di Roma”, Paulus menulis bahwa “tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus” (Rm 8:1). Markus mengalami kebenaran-kebenaran tangan pertama selagi dia bergumul dengan rasa takut yang menimpa dirinya dan juga dosa-dosanya. Dengan rasa percaya yang semakin bertumbuh berkaitan dengan belas kasih Allah dan kuat-kuasa-Nya untuk mentransformir diri setiap pribadi, maka Markus belajar untuk tidak memperkenankan masa lalunya mendikte masa depannya. Sebagai akibatnya, Markus mampu menjadi salah seorang tokoh Kristiani awal yang paling penting.

Cerita tentang Markus seharusnya memacu kita untuk terus mengasihi Allah dan sesama serta melakukan pekerjaan-pekerjaan baik. Ketika kita menyadari bahwa Allah telah mengampuni kita dan bahwa Dia akan terus menunjukkan belas kasih-Nya kepada kita, kita pun harus melakukan yang sama. Ketika kita mulai memahami bahwa Allah telah melimpahkan ke atas diri kita rahmat-Nya yang sebenarnya tak pantas kita terima, pandangan kita tentang orang lain akan menjadi seperti pandangan Barnabas tentang Markus:  sangat ingin memberikan kesempatan kedua dan mengisinya dengan harapan akan masa depan. Kita semua – dengan cara kita masing-masing – sebenarnya telah melakukan “desersi” – kita meninggalkan Allah, namun Ia tidak akan meninggalkan kita. Dia akan selalu memberikan kepada kita kesempatan lagi, karena rencana-rencana-Nya dan pengharapan-pengharapan-Nya kepada kita sangatlah besar. Semoga kita tidak berputus-asa pada saat kita jatuh atau dengan cepat menyalahkan orang lain. Rahmat Allah cukup bagi kita semua!

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku agar mampu melihat seperti Engkau melihat, agar aku tidak menghakimi orang-orang lain atau diriku sendiri. Semoga hatiku dapat menjadi hati-Mu, ya Yesus, hati yang mau mengampuni sampai tujuh puluh kali tujuh kali. Amin.

(Tulisan ini bersumberkan tulisan saya di tahun 2013) 

Cilandak, 22 April 2017 [HARI SABTU DALAM OKTAF PASKAH] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SEBUAH DOA JEMAAT PERDANA

SEBUAH DOA JEMAAT PERDANA

(Bacaan Pertama Misa Kudus,  Hari Biasa Pekan II Paskah – Senin, 24 April 2017)

Keluarga Besar Fransiskan: Hari Raya/ Pesta S. Fidelis dr Sigmaringen, Imam Martir  

Sesudah dilepaskan pergilah Petrus dan Yohanes kepada teman-teman mereka, lalu mereka menceritakan segala sesuatu yang dikatakan imam-imam kepala dan tua-tua kepada mereka. Ketika teman-teman mereka mendengar hal itu, berserulah mereka bersama-sama kepada Allah, “Ya Tuhan, Engkaulah yang menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya. Oleh Roh Kudus dengan perantaraan hamba-Mu Daud, bapak kami, Engkau telah berfirman: Mengapa gusar bangsa-bangsa, mengapa suku-suku bangsa mereka-reka hal yang sia-sia? Raja-raja dunia bersiap-siap dan para pembesar berkumpul untuk melawan Tuhan dan Yang Diurapi-Nya [1]. Sebab sesungguhnya telah berkumpul di dalam kota ini Herodes dan Pontius Pilatus beserta bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa Israel melawan Yesus, Hamba-Mu yang kudus, yang Engkau urapi, untuk melaksanakan segala sesuatu yang telah Engkau tentukan sejak semula oleh kuasa dan kehendak-Mu. Sekarang, ya Tuhan, lihatlah ancaman-ancaman mereka dan berikanlah kepada hamba-hamba-Mu keberanian sepenuhnya untuk memberitakan firman-Mu. Ulurkanlah tangan-Mu untuk menyembuhkan orang, dan adakanlah tanda-tanda dan mukjizat-mukjizat oleh nama Yesus, Hamba-Mu yang kudus.” Dan ketika mereka sedang berdoa, goyangkanlah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua dipenuhi oleh Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani. (Kis 4:23-31)

[1] Kis 4:25-26; lihat Mzm 2:1-2 

Mazmur Tanggapan: Mzm 2:1-9; Bacaan Injil: Yoh 3:1-8 

“Sekarang, ya Tuhan, …… berikanlah kepada hamba-hamba-Mu keberanian sepenuhnya untuk memberitakan firman-Mu.” (Kis 4:29)

Beginilah doa dari para murid setelah mereka ditahan dan diancam secara fisik, kalau mereka berani berbicara dalam nama Yesus lagi. Bukannya menjadi ciut-takut, mereka malah berdoa agar diberikan keberanian untuk mewartakan sabda-Nya. Allah menjawab doa mereka dengan memenuhi diri mereka dengan Roh Kudus dan memberikan kepada mereka suatu keberanian untuk memproklamasikan sabda-Nya yang  belum diketahui sebelumnya oleh orang banyak. Coba pikirkan: Apabila mereka menyerah-kalah terhadap ketakutan, maka Injil tidak pernah akan diwartakan. Namun karena ketaatan mereka, maka banyak orang dapat mulai mengalami kehidupan baru.

Para murid mengetahui bahwa Allah ingin mencurahkan Roh-Nya sehingga kerajaan-Nya dapat didirikan di atas bumi ini. Allah tidak hanya ingin mengampuni dosa. Dia ingin membebas-merdekakan orang dari perhambaan dosa dan rasa takut akan kematian. Ia ingin menyembuhkan tubuh dan jiwa manusia. Dia ingin agar keadilan-Nya mengalahkan segala penindasan dan damai-sejahtera-Nya menghancurkan segala bentuk tirani. Respons para murid terhadap penganiayaan atas diri mereka adalah “kasih”, tidak hanya kasih kepada Yesus, melainkan juga kasih kepada semua orang yang masih perlu mendengar tentang segala hal yang Yesus ingin siapkan untuk mereka.

Ini adalah keindahan dari masa Paskah. Yesus telah mengalahkan dosa dan maut sehingga kita dapat ikut ambil bagian dalam kehidupan-Nya. Peranan kita sebagai umat yang telah ditebus-Nya bukanlah sekadar untuk menjadi semakin dekat dengan Yesus, melainkan juga melalui syafaat kita, karya belas kasihan, dan evangelisasi, untuk mendirikan pemerintahan Allah di atas bumi ini.

Lebih dari lima puluh tahun lalu, para Bapak Konsili Vatikan II menulis, “Iman itu harus menampakkan kesuburannya dengan merasuki seluruh hidup kaum beriman, juga hidup mereka yang profan, dan dengan menggerakkan mereka untuk menegakkan keadilan dan mengamalkan cintakasih, terutama terhadap kaum miskin” (Konstitusi Pastoral Gaudium et Spes tentang Gereja di Dunia Dewasa Ini, 21). Marilah kita berupaya mencapai tujuan atau meraih cita-cita ini dan berdoa dalam semangat para murid-Nya yang pertama.

DOA: Tuhan Yesus, bebaskanlah kami dan orang-orang di sekeliling kami dari segala penindasan. Biarlah kerajaan-Mu datang ke atas bumi ini. Berikanlah kepada kami keberanian untuk memberi kesaksian bahwa Engkau adalah Dia yang membalut luka-luka mereka yang patah hati, menyembuhkan yang sakit dan membawa damai-sejahtera bagi yang tertindas. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 3:1-8), bacalah tulisan yang berjudul “ORANG-ORANG YANG DISELAMATKAN” (bacaan tanggal 24-4-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak, 20 April 2017 [HARI KAMIS DALAM OKTAF PASKAH] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

TOMAS BERKATA: YA TUHANKU DAN ALLAHKU

TOMAS BERKATA: YA TUHANKU DAN ALLAHKU

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PASKAH II23 APRIL 2017)

MINGGU KERAHIMAN ILAHI 

Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada para penguasa Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata, “Damai sejahtera bagi kamu!” Sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan. Lalu kata Yesus sekali lagi, “Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.” Sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata, “Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.”

Tetapi Tomas, salah seorang dari kedua belas murid itu, yang disebut Didimus, tidak ada bersama-sama mereka, ketika Yesus datang ke situ. Jadi, kata murid-murid yang lain itu kepadanya, “Kami telah melihat Tuhan!”  Tetapi Tomas berkata kepada mereka, “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku menaruh jariku ke dalam bekas paku itu dan menaruh tanganku ke lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya.” Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka. Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata, “Damai sejahtera bagi kamu!” Kemudian Ia berkata kepada Tomas, “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan taruhlah ke lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.” Tomas menjawab Dia, “Ya Tuhanku dan Allahku!” Kata Yesus kepadanya, “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.”

Memang masih banyak tanda mujizat lain yang diperbuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini, tetapi hal-hal ini telah dicatat, supaya kamu percaya bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya karena percaya, kamu memperoleh hidup dalam nama-Nya. (Yoh 20:19-31) 

Bacaan Pertama: Kis 2:42-47; Mazmur Tanggapan: Mzm 118:2-4,13-15,22-24; Bacaan Kedua 1Ptr 1:3-9 

“Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya” (Yoh 20:29). Di sini Yesus berbicara langsung kepada Tomas, namun kata-kata Yesus ini juga ditujukan kepada setiap orang beriman, termasuk kita. Yesus menegur Tomas yang terkesan “kepala-batu” ini karena dia menolak untuk mempercayai kesaksian para murid lain tentang kebangkitan Kristus. Tomas bersikukuh bahwa iman-kepercayaannya haruslah didasarkan pada bukti-bukti yang kuat. Yesus menegurnya karena tidak mau percaya akan kabar baik yang telah diproklamasikan kepadanya.

Pada saat yang sama, pesan Kristus dimaksudkan untuk membangkitkan kehidupan iman kita. Betapa terberkatinya kita apabila kita percaya kepada Yesus, bahkan ketika kita tidak dapat melihat atau mendengar atau menyentuh-Nya seperti para murid-Nya yang pertama. Sabda Yesus yang ditujukan kepada Tomas ini penting bagi semua orang – umat beriman ataupun bukan – karena kata-kata yang diucapkan-Nya ini dengan indah menggambarkan pentingnya iman-kepercayaan.

Injil Yohanes menekankan pentingnya perkembangan iman-kepercayaan ini: “Memang masih banyak tanda mukjizat lain yang diperbuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini, tetapi hal-hal ini telah dicatat, supaya kamu percaya bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya karena percaya, kamu memperoleh hidup dalam nama-Nya” (Yoh 20:30-31). Catatan-catatan Yohanes dalam Injilnya memberikan sejumlah data historis tentang Yesus. Bagaimana pun kita percaya kepada seorang pribadi yang riil-nyata, bukan seseorang yang fiktif. Kita tidak hidup bersama Tomas dan para rasul, dengan demikian tidak dapat mengetahui pengalaman mereka secara langsung, namun testimoni mereka di lembaran-lembaran Perjanjian Baru menjadi riil-nyata bagi kita melalui Roh Kudus.

Kita juga mempunyai kesaksian Gereja – yang didirikan dalam Yesus dan dimulai oleh para rasul. Pada hari-hari setelah kenaikan Yesus ke surga,  para rasul yang telah dipenuhi Roh Kudus dengan penuh semangat memproklamasikan Injil dan hidup mereka pun diubah. Lukas dalam ‘Kisah para Rasul’ mencatat: “Banyak tanda dan mukjizat dibuat oleh rasul-rasul di antara orang banyak. Semua orang percaya selalu berkumpul di Serambi Salomo dalam persekutuan yang erat. … mereka sangat dihormati irabg banyak. Makin lama makin bertambahlah jumlah orang yang percaya kepada Tuhanm baik laki-laki maupun perempuan” (Kis 5:12-14). Orang-orang ini sebenarnya tidak mendapatkan privilese seperti para rasul atau murid pertama. Mereka tidak melihat Yesus dari dekat, namun mereka percaya dalam Kristus yang bangkit. Iman-kepercayaan mereka itu disampaikan dari generasi ke generasi dalam tradisi-tradisi hidup yang membentuk dasar dari kehidupan liturgis kita.

Kesaksian para rasul dan testimoni yang hidup dari Gereja menyediakan titik awal bagi kita untuk menempatkan kepercayaan kita pada Yesus. Warisan harta pusaka mereka menyediakan fondasi bagi iman-kepercayaan kita. Diperhadapkan dengan kabar baik bahwa Yesus itu hidup, kita pun harus mengambil suatu keputusan. Apabila kita merespons dengan iman, maka kita dapat mengenal dan mengalami bahwa Roh Allah telah mulai bekerja dalam diri kita. Kristus yang bangkit akan selalu memimpin kita agar dapat mengalami Dia secara lebih mendalam, sehingga seperti Tomas kita pun dapat berseru kepada Yesus: “Ya Tuhanku dan Allahku” (Yoh 20:28).

DOA: Tuhan Yesus, kami percaya bahwa Engkau selalu memimpin kami agar dapat mengalami-Mu secara lebih mendalam, sehingga kami masing-masingpun dapat berseru kepada-Mu dengan penuh sukacita: “Ya Tuhanku dan Allahku”. Amin.                  

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 20:19-31), bacalah tulisan yang berjudul “KITA TAHU BAHWA KITA TIDAK SENDIRI” (bacaan tanggal 23-4-17) situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak, 19 April 2017 [HARI RABU DALAM OKTAF PASKAH] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

KETIDAKPERCAYAAN DAN KEKERASAN HATI PARA MURID DICELA OLEH YESUS

KETIDAKPERCAYAAN DAN KEKERASAN HATI PARA MURID DICELA OLEH YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI SABTU DALAM OKTAF PASKAH, 22 April 2017) 

Setelah Yesus bangkit pagi-pagi pada hari pertama minggu itu, Ia mula-mula menampakkan diri-Nya kepada Maria Magdalena. Yesus pernah mengusir tujuh setan dari dia. Lalu perempuan itu pergi memberitahukannya kepada mereka yang mengiringi Yesus sebelumnya dan yang pada waktu itu sedang berkabung dan menangis. Tetapi ketika mereka mendengar bahwa Yesus hidup dan telah dilihat olehnya, mereka tidak percaya.

Sesudah itu Ia menampakkan diri dalam rupa yang lain kepada dua orang dari mereka, ketika keduanya dalam perjalanan ke luar kota. Lalu kembalilah mereka dan memberitahukannya kepada teman-teman yang lain, tetapi kepada mereka pun teman-teman itu tidak percaya.

Akhirnya Ia menampakkan diri kepada kesebelas orang itu ketika mereka sedang makan, dan Ia mencela ketidakpercayaan dan kekerasan hati mereka, oleh karena mereka tidak percaya kepada orang-orang yang telah melihat Dia sesudah kebangkitan-Nya. Lalu Ia berkata kepada mereka, “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.” (Mrk 16:9-15) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 118:1,14-21; Bacaan Pertama: Kis 4:13-21  

Mengapa begitu sulit bagi kita untuk percaya kepada janji-janji Allah? Mengapa kita begitu rentan terhadap keragu-raguan akan hal-hal yang bersifat supernatural dan hanya percaya kepada hal-hal yang dapat kita lihat dengan mata kita? Berulang-kali dan tanpa bosan Yesus telah berbicara kepada para murid-Nya tentang kematian dan kebangkitan-Nya yang akan datang. Namun, ketika Maria Magdalena pergi memberitahukan kepada para murid bahwa Yesus sungguh telah bangkit, “mereka tidak percaya” (lihat Mrk 16:11). Bahkan ketika Yesus kemudian menampakkan diri-Nya kepada dua orang murid yang lain, tetap saja mereka “tidak percaya” (lihat Mrk 16:13). Mengapa anak-anak Allah begitu lambat untuk percaya kepada sabda-Nya … kepada firman-Nya?

Tentu saja para rasul mempunyai alasan untuk merasa takut. Mereka telah melihat Guru mereka dikhianati, ditahan dengan paksa, dan disalibkan. Apakah mereka akan menjadi korban-korban berikutnya? Rasa takut dapat memiliki suatu kekuatan yang sungguh ampuh dalam ketidakpercayaan. Apakah rasa takut akan kondisi kesehatan kita, harta-kekayaan kita, atau kehormatan kita mengurangi efek dari sabda Allah atas diri kita? Apakah kita mengabaikan suara Roh Kudus dan menolak bimbingan-Nya sambil berkata, “Terlalu sukar untuk dijalankan, Tuhan, terlalu berisiko”? Apakah sekali-kali hati kita praktis menjadi beku, tak mampu berharap atau percaya karena kehidupan kita berlangsung tidak seperti kita harap-harapkan? Apakah akal budi kita yang penuh dengan rasionalitas dan “kemasuk-akalan” menutup kemungkinan terjadinya intervensi ilah? Apakah kita melindungi diri kita dari kekecewaan dengan menentukan bahwa yang lebih aman adalah untuk mempercayai apa yang dapat kita sentuh, dapat kita ukur, atau dapat kita prediksikan? Mengapa sampai begini?

Kita harus ingat, bahwa kita adalah anak-anak dari “seorang” Allah yang tidak dapat diprediksi! Siapakah kiranya yang bisa-bisanya menulis suatu cerita seperti dalam Alkitab: penciptaan yang fantastis, ketidaktaatan yang tolol, janji-janji penebusan, nabi-nabi, raja-raja, suatu kelahiran dari seorang perempuan yang tetap perawan, dlsb. Sesungguhnya Kitab Suci menunjukkan kepada kita mosaik yang indah tentang bagaimana yang “biasa-biasa” saja menjadi “luarbiasa” melalui intervensi Allah. Mengapa begitu sulit bagi kita untuk percaya?

Pada hari ini, kita pun dapat ikut ambil bagian dalam harapan untuk menghayati suatu kehidupan “biasa-biasa” saja yang dipenuhi dengan misteri dan keajaiban. Selagi kita mendengarkan suara Roh Kudus, hati kita akan terbuka secara alamiah dan mengenali gerakan-Nya.

Kesempatan-kesempatan untuk memberi kesaksian, menghibur dan melakukan syafaat – semua ini akan dirancang bagi kita apabila kita mau percaya dan mendengarkan. Allah akan “menguatkan tangan yang lemah lesu dan meneguhkan lutut yang goyah” (lihat Yes 35:3)!

DOA: Roh Kudus Allah, bukalah mataku pada hari ini. Aku percaya bahwa Engkau adalah di dalam diriku dan siap untuk bergerak secara tidak disangka-sangka. Aku datang untuk melakukan kehendak Bapaku yang ada di surga. Bagaimana hari ini aku dapat ikut ambil bagian dalam upaya  memajukan Kerajaan Allah? Terima kasih, ya Roh Kudus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Kedua hari ini (Kis 4:13-21), bacalah tulisan yang berjudul “BERANI BERDIRI UNTUK BERSAKSI” (bacaan tanggal 22-4-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak, 19 April 2017 [HARI RABU DALAM OKTAF PASKAH] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

YESUS MENGUNDANG MEREKA UNTUK SARAPAN BERSAMA-NYA

YESUS MENGUNDANG MEREKA UNTUK SARAPAN BERSAMA-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI JUMAT DALAM OKTAF PASKAH, 21 April 2017) 

Kemudian Yesus menampakkan diri lagi kepada murid-murid-Nya di pantai Danau Tiberias dan Ia menampakkan diri sebagai berikut. Di pantai itu berkumpul Simon Petrus, Tomas yang disebut Didimus, Natanael dari Kana yang di Galilea, anak-anak Zebedeus dan dua orang murid-Nya yang lain. Kata Simon Petrus kepada mereka, “Aku mau pergi menangkap ikan.” Kata mereka kepadanya, “Kami pergi juga dengan engkau.” Mereka berangkat lalu naik ke perahu, tetapi malam itu mereka tidak menangkap apa-apa. Ketika hari mulai siang, Yesus berdiri di pantai; akan tetapi murid-murid itu tidak tahu bahwa itu adalah Yesus. Kata Yesus kepada mereka, “Hai anak-anak, apakah kamu punya ikan?” Jawab mereka, “Tidak.” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Tebarkanlah jalamu di sebelah kanan perahu, maka kamu akan mendapatnya.” Mereka pun menebarkannya dan mereka tidak dapat menariknya lagi karena banyaknya ikan. Lalu murid yang dikasihi Yesus itu berkata kepada Petrus, “Itu Tuhan.”  Ketika Petrus mendengar bahwa itu adalah Tuhan, maka ia mengenakan pakaiannya, sebab ia tidak berpakaian, lalu terjun ke dalam danau. Kemudian murid-murid yang lain datang dengan perahu karena mereka tidak jauh dari darat, hanya kira-kira seratus meter saja dan mereka menarik jala yang penuh ikan itu. Ketika mereka tiba di darat, mereka melihat api arang dan di atasnya ikan dan roti. Kata Yesus kepada mereka, “Bawalah beberapa ikan, yang baru kamu tangkap itu.” Simon Petrus naik ke perahu lalu menarik jala itu ke darat, penuh ikan-ikan besar: Seratus limapuluh tiga ekor banyaknya, dan sungguh pun sebanyak itu, jala itu tidak koyak. Kata Yesus kepada mereka, “Marilah dan sarapanlah.” Tidak ada di antara murid-murid itu yang berani bertanya kepada-Nya, “Siapakah Engkau?” Sebab mereka tahu bahwa Ia adalah Tuhan. Yesus maju ke depan, mengambil roti dan memberikannya kepada mereka, demikian juga ikan itu. Itulah ketiga kalinya Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya sesudah Ia dibangkitkan dari antara orang mati. (Yoh 21:1-14)  

Mazmur Antar-bacaan: Mzm 118:1-2,4,22-27; Bacaan Kedua: Kis 4:1-12

“Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru” (Mzm 118: 22). Biasanya orang-orang melihat bahwa titik rendah dalam kehidupan Petrus terjadi pada malam hari ketika dia menyangkal mengenal Yesus sebanyak tiga kali (lihat Yoh 18:17, 25-27). Namun demikian ada alasan bagi kita untuk mempertimbangkan apakah setelah kejadian pada malam itu segala hal yang menyangkut Petrus tetap semakin memburuk sebelum sungguh-sungguh menjadi baik.

Ketika Petrus untuk pertama kalinya dipanggil oleh Yesus, dia meninggalkan jala penangkap ikannya untuk kemudian menjadi “penjala manusia” (Mat 4:19). Setelah Yesus bangkit dari dunia orang mati dan menampakkan diri-Nya kepada para murid-Nya, kita mungkin sekali mengharapkan bahwa Petrus akan memulai kembali tugas panggilannya ini dengan penuh semangat. Namun, apakah yang terjadi? Kelihatannya Petrus kembali ke jalan hidupnya yang lama: “Aku mau pergi menangkap ikan” (Yoh 21:3). Karena tidak mempunyai alternatif yang lebih baik, enam orang murid yang lain bergabung dengan dirinya (lihat Yoh 21:3). Mereka pun berangkat lalu naik ke perahu di danau Tiberias, tetapi malam itu mereka tidak menangkap apa-apa (lihat Yoh 21:3). Hal ini tentu menambah rasa kegagalan yang selama ini telah mencekam mereka.

Petrus memang kemudian diubah, yaitu lewat perjumpaannya dengan Yesus yang sudah bangkit. Dari pantai danau Yesus memberi pengarahan kepada para murid-Nya untuk menangkap ikan yang dipenuhi keajaiban, mengingatkan kita akan begitu banyak mukjizat dan tanda heran yang dibuat oleh-Nya ketika melakukan karya pelayanan di tengah-tengah publik (lihat Luk 5:1-11). Akan tetapi, kali ini Petrus secara formal “diangkat kembali” sebagai “Gembala” yang bertugas untuk memelihara domba-domba Yesus (lihat Yoh 21:15-19); dengan demikian dia sungguh-sungguh menjadi “penjala manusia” yang sejati. Inilah kuasa dari kebangkitan Yesus.

Kuasa yang mampu mentransformir dari kebangkitan Yesus diungkapkan bahkan dalam kisah “penangkapan ikan” ini. Jumlah ikan yang berhasil ditangkap jala, 153 ekor, melambangkan bagaimana Yesus merangkul semua orang yang ada di muka bumi ini. Ilmu hewan atau zoology pada zaman itu mengenal adanya sebanyak 153 species ikan yang berbeda. Meskipun ikan yang berhasil ditangkap itu besar dan memenuhi jala, jala itu sendiri tidak koyak. Hal ini mau menunjukkan bahwa Gereja Allah mampu untuk menampung banyak orang yang berbeda-beda suku, bangsa, ras, budaya dlsb. namun tetap kokoh. Hal itu saja merupakan sebuah mukjizat besar!

Akhirnya, kebangkitan Yesus memampukan para pengikut-Nya untuk mengenal dan mengalami kuasa dan rasa aman-tenteram dari kasih-Nya. Sarapan di pantai berupa ikan panggang dan roti yang disiapkan Yesus untuk para murid-Nya mengingatkan kita bahwa Dia akan memelihara dan memperhatikan segala kebutuhan kita – baik kebutuhan fisik maupun kebutuhan spiritual. Kita dapat merasakan di sini adanya nada tambahan Ekaristi (kata orang: “nuansa” Ekaristinya). Allah yang kita percayai untuk keselamatan kita adalah Allah yang sama, yang memberikan kepada kita makanan sehari-hari kita.

DOA: Yesus Kristus, Engkau telah menunjukkan kepada kami bahwa tidak ada siapa atau apapun yang dapat mengalahkan kuasa kehidupan-Mu, tidak juga maut. Ajarlah kami untuk tidak takut pada kuasa-transformasi-Mu, karena hidup kebangkitan-Mu mengubah segala hal di sekeliling kami dan di dalam diri kami masing-masing. Engkau adalah satu-satunya fondasi sejati dalam kehidupan. “Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru” (Mzm 118: 22). Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Kedua hari ini (Kis 4:1-12), bacalah tulisan yang berjudul “KITA IKUT AMBIL BAGIAN DALAM PENYALIBAN YESUS” (bacaan tanggal 21-4-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011)

Cilandak,  19 April 2017 [HARI RABU DALAM OKTAF PASKAH] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

YESUS MASIH TERUS BERKARYA

YESUS MASIH TERUS BERKARYA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, HARI KAMIS DALAM OKTAF PASKAH – 20 April 2017) 

Karena orang itu tetap mengikuti Petrus dan Yohanes, maka seluruh orang banyak yang sangat keheranan itu datang mengerumuni mereka di serambi yang disebut Serambi Salomo. Ketika Petrus melihat hal itu, ia berkata kepada orang banyak itu, “Hai orang Israel, mengapa kamu heran tentang kejadian itu dan mengapa kamu menatap kami seolah-oleh kami membuat orang itu berjalan karena kuasa atau kesalehan kami sendiri? Allah Abraham, Ishak dan Yakub, Allah nenek moyang kita telah memuliakan Hamba-Nya, yaitu Yesus yang kamu serahkan dan tolak di depan Pilatus, walaupun Pilatus memutuskan untuk melepaskan Dia. Tetapi kamu telah menolak Yang Kudus dan Benar, serta menghendaki seorang pembunuh untuk diberikan kepada kamu. Kamu telah membunuh Perintis Kehidupan, tetapi Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati; dan tentang hal itu kami adalah saksi. Karena kepercayaan kepada Nama Yesus, maka Nama itu telah menguatkan orang yang kamu lihat dan kenal ini; dan kepercayaan itu telah memberi kesembuhan kepada orang ini di hadapan kamu semua. Nah, Saudara-saudara, aku tahu bahwa kamu telah berbuat demikian karena tidak tahu apa yang kamu lakukan, sama seperti semua pemimpin kamu. Tetapi dengan jalan demikian Allah telah menggenapi apa yang telah difirmankan-Nya dahulu dengan perantaraan nabi-nabi-Nya, yaitu bahwa Mesias yang diutus-Nya harus menderita. Karena itu sadarlah dan bertobatlah, supaya dosamu dihapuskan, agar Tuhan mendatangkan waktu kelegaan, dan mengutus Yesus, yang sejak semula ditetapkan bagimu sebagai Kristus. Kristus itu harus tinggal di surga sampai waktu pemulihan segala sesuatu, seperti yang difirmankan Allah dengan perantaraan nabi-nabi-Nya yang kudus di zaman dahulu. Bukankah telah dikatakan Musa: Tuhan Allah akan membangkitkan bagimu seorang nabi dari antara saudara-saudaramu, sama seperti aku: Dengarkanlah dia dalam segala sesuatu yang akan dikatakannya kepadamu. Dan akan terjadi bahwa setiap orang yang tidak mendengarkan nabi itu, akan dibinasakan dari tengah-tengah umat. Lagi pula, semua nabi yang pernah berbicara, mulai dari Samuel, dan yang datang sesudah dia, telah bernubuat tentang zaman ini. Kamulah yang mewarisi nubuat-nubuat itu dan mendapat bagian dalam perjanjian yang telah diadakan Allah dengan nenek moyang kita, ketika Ia berfirman kepada Abraham: Melalui keturunanmu semua bangsa di muka bumi akan diberkati. Bagi kamulah pertama-tama Allah membangkitkan Hamba-Nya dan mengutus-Nya kepada kamu, supaya Ia memberkati kamu dengan membuat kamu masing-masing berbalik dari segala kejahatanmu.” (Kis 3:11-26) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 8:2,5-9; Bacaan Injil: Luk 24:35-48

Setelah baru saja menyembuhkan seorang lumpuh “dalam nama Yesus”, kepada orang banyak yang sedang mendengarkan khotbahnya Petrus melontarkan sebuah pertanyaan yang sederhana namun membingungkan: “Hai orang Israel, mengapa kamu heran tentang kejadian itu dan mengapa kamu menatap kami seolah-olah kami membuat orang itu berjalan karena kuasa atau kesalehan kami sendiri?” (Kis 3:12). Jelas, bahwa bagi Petrus bukanlah hal yang luarbiasa bagi Yesus untuk membuat mukjizat, bahkan setelah Ia naik ke surga. Biar bagaimanapun juga, sebelum itu Petrus telah seringkali menyaksikan kuasa penyembuhan Yesus diwujudkan di depan matanya sendiri. Dia juga tahu sekali bahwa Yesus masih hidup sebagai Tuhan yang bangkit. Bukankah dengan demikian logika menuntut bahwa Yesus akan terus menyembuhkan? Jawaban Petrus terhadap pertanyaan ini adalah sebuah “YA” yang pasti!

Pertanyaan Petrus kepada orang Israel di atas juga dapat ditujukan kepada kita yang hidup pada abad ke-21 ini. Mengherankankah apabila Yesus menyembuhkan sakit-penyakit pada hari ini melalui doa dan pelayanan orang-orang Kristiani (pengikut-pengikut Kristus)? Samasekali tidak mengherankan! Yesus memang masih terus menyembuhkan dan melakukan banyak mukjizat dan “tanda heran” lainnya. Sebaliknya, sebagai umat Kristiani, pantaslah kita merasa heran apabila mendengar bahwa Yesus telah berhenti menyembuhkan dan membuat mukjizat dan “tanda heran” lainnya.

Pada masa Paskah ini, ketika anda membaca “Kisah para Rasul”, catatlah berapa sering para murid-Nya mengalami kuasa dan kehadiran Tuhan Yesus. Ia mengasihi para murid-Nya, dan Ia telah berjanji untuk senantiasa ada bersama mereka. Hal ini benar, bahkan pada hari ini juga. Yesus adalah Imanuel (Allah yang menyertai kita; lihat Mat 28:20), dan Ia mengasihi kita. Kita dapat memohon kepada-Nya untuk menyembuhkan dan melakukan intervensi pada hari ini dengan penuh keajaiban. Yesus memiliki kuasa dan otoritas – juga hasrat – untuk melakukan hal-hal yang baik ini. Seperti apa yang dilakukan Yesus pada masa Gereja awal (perdana) lewat iman-kepercayaan para murid-Nya, maka melalui doa-doa dan pelayanan para murid-Nya, Yesus tetap dapat melakukan karya-Nya. Pernyataan ini berlaku bagi kita semua: anda dan saya!

Dalam pekan-pekan mendatang ini, kita dapat memohon kepada Yesus untuk menunjukkan kepada kita bagaimana Dia bekerja dalam kehidupan orang-orang di sekeliling kita. Kita mohon kepada-Nya agar memberikan suatu visi yang lebih luas berkenan dengan jalan yang ingin Ia gunakan terhadap kita masing-masing sebagai seorang pelayan-Nya di bidang penyembuhan berbagai sakit-penyakit. Marilah kita mencoba untuk melakukan doa-doa syafaat (doa-doa untuk orang-orang lain) bagi mereka yang sedang berada dalam situasi-situasi sulit, dengan rasa percaya mendalam akan janji-janji-Nya. Janganlah kita cepat menyerah. Kita harus menaruh kepercayaan pada kebaikan dan belas kasihan-Nya. Ingatlah bahwa Yesus mengasihi setiap orang dan Ia sungguh ingin menolong. Yesus juga mengasihi kita dan ingin bekerja melalui kita masing-masing untuk menolong orang-orang lain.  Janganlah kita menjadi kaget dan terkejut ketika berhadapan dengan kenyataan bahwa Yesus sungguh-sungguh hadir dan melakukan penyembuhan dan/atau membuat mukjizat serta tanda heran lainnya, bahkan pada hari ini juga. Yesus itu Tuhan dan Juruselamat kita, dan Ia adalah Mahasetia.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah orang-orang yang sudah hampir kehilangan pengharapan. Bukalah mata mereka agar dapat melihat realitas kebangkitan-Mu dari dunia orang mati, dan kuasa-Mu yang dapat mengalir ke dalam kehidupan mereka dari kebangkitan-Mu itu. Tunjukkanlah kepada mereka betapa Engkau ingin bekerja dalam kehidupan mereka setiap saat. Terima kasih, ya Tuhan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 24:35-48), bacalah tulisan yang berjudul “MULAI DARI YERUSALEM” (bacaan tanggal 20-4-17), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH  APRIL 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011)

Cilandak, 18 April 2017 [HARI SELASA DALAM OKTAF PASKAH] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

YESUS SIAP UNTUK MENYEMBUHKAN KITA

YESUS SIAP UNTUK MENYEMBUHKAN KITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Rabu dalam Oktaf Paskah, 19 April 2017)

Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah desa bernama Emaus, yang terletak kira-kira sebelas kilometer dari Yerusalem, dan mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi. Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka. Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia. Yesus berkata kepada mereka, “Apakah yang kamu percakapkan sementara kamu berjalan?”  Lalu berhentilah mereka dengan muka muram. Seorang dari mereka, namanya Kleopas, menjawab-Nya, “Apakah Engkau satu-satunya orang asing di Yerusalem, yang tidak tahu apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dialah adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan dan perkataan di hadapan Allah dan seluruh bangsa kami. Tetapi imam-imam kepala dan pemimpin-pemimpin kami telah menyerahkan Dia untuk dihukum mati dan mereka telah menyalibkan-Nya. Padahal kami dahulu mengharapkan bahwa Dialah yang akan membebaskan bangsa Israel. Sementara itu telah lewat tiga hari, sejak semuanya itu terjadi. Tetapi beberapa perempuan dari kalangan kami telah mengejutkan kami: Pagi-pagi buta mereka telah pergi ke kubur, dan tidak menemukan mayat-Nya. Lalu mereka datang dengan berita bahwa telah kelihatan kepada mereka malaikat-malaikat yang mengatakan bahwa Ia hidup. Beberapa teman kami telah pergi ke kubur itu dan mendapati persis seperti yang dikatakan perempuan-perempuan itu, tetapi Dia tidak mereka lihat.”  Lalu Ia berkata kepada mereka, “Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu untuk mempercayai segala sesuatu, yang telah para nabi! Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya”  Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitab-kitab Musa dan segala kitab nabi-nabi. Mereka mendekati desa yang mereka tuju, lalu Ia  berbuat seolah-olah hendak meneruskan perjalanan-nya. Tetapi mereka sangat mendesak-Nya, katanya, “Tinggallah bersama-sama dengan kami, sebab hari telah menjelang malam dan matahari hampir terbenam.”  Lalu masuklah Ia untuk tinggal bersama-sama dengan mereka. Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap syukur, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka. Ketika itu terbukalah mata mereka dan mereka pun mengenal Dia, tetapi Ia lenyap dari tengah-tengah mereka. Kata mereka seorang kepada yang lain, “Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?”  Lalu bangkitlah mereka dan terus kembali ke Yerusalem. Di situ mereka mendapati kesebelas murid itu dan orang-orang yang ada bersama mereka, sedang berkumpul. Kata mereka itu, “Sesungguhnya Tuhan telah bangkit dan telah menampakkan diri kepada Simon.”  Lalu kedua orang itu pun menceritakan apa yang terjadi di tengah jalan dan bagaimana mereka mengenali Dia pada waktu Ia memecah-mecahkan roti. (Luk 24:13-35) 

Bacaan Pertama: Kis 3:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 105:1-4,6-9 

Kita hampir dapat mendengar kejengkelan dalam suara dua orang murid Yesus ini. Meskipun sudah ramai juga “gosip” atau “kabar angin” bahwa pahlawan mereka masih hidup, mereka sendiri belum melihat Yesus. Sekarang adalah hari ketiga sejak kematian Yesus di kayu salib yang penuh kehinaan itu. Oleh karena itu mereka berkesimpulan bahwa sang “nabi” tidak akan kembali untuk membebaskan bangsa Yahudi dari penjajahan bangsa asing. Janji-janji Yesus kedengarannya kosong belaka bagi mereka.

Kita pun terkadang dapat mengalami kekecewaan seperti kedua orang murid ini. Manakala posisi keuangan sedang payah dan tingkat stres tinggi, misalnya, atau ketika kita sedang sakit dan tidak melihat tanda-tanda yang mengarah kepada kesembuhan, harapan dapat menyusut dan godaan untuk tidak menaruh kepercayaan pada Allah pun semakin dekat. Dalam keadaan penuh frustrasi kita dapat merasa seakan-akan Yesus telah meninggalkan kita atau Dia memang tidak mau memenuhi janji-Nya.

Namun kabar baiknya adalah bahwa Allah akan memenuhi semua janji-Nya – seperti yang telah dijanjikan-Nya bahwa Dia akan bangkit lagi pada hari ketiga (Luk 9:22; 18:33). Sementara kedua orang murid itu merasa sedih dan meratapi harapan-harapan mereka yang tak terpenuhi, Yesus berdiri di hadapan mereka! Coba pikirkan saja: Apabila tidak bertemu dengan Yesus yang sudah bangkit dalam perjalanan menuju Emaus, kemungkinan besar kedua murid itu tidak akan mengalami hari Pentakosta yang bersejarah itu.

Yesus sedang menantikan kita yang gelisah, sedih, kecewa karena harapan-harapan kita yang tak terpenuhi. Dia siap untuk menyembuhkan kita, anda dan saya. Dia ingin agar kita melepaskan beban-beban kita dan percaya bahwa Dia ingin menolong kita dalam pencobaan dan kekecewaan kita. Dia selalu berada dengan kita, seperti yang telah dijanjikan-Nya (Mat 28:20). Kita dapat selalu memanggil-Nya, karena Dia sungguh memperhatikan kita, Dia mengasihi kita! Bahkan begitu mengasihi kita, sehingga Dia masuk kubur dan bangkit kembali untuk kita semua. Semoga Roh-Nya membuka hati kita agar dapat mengenali Yesus yang bangkit, Tuhan segala mukjizat!

DOA: Roh Kudus Allah, tolonglah aku. Aku mau melihat Yesus! Tolonglah agar supaya aku menaruh harapan dan kepercayaanku hanya pada-Nya. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 24:13-35), bacalah tulisan yang berjudul “HADIAH PASKAH” (bacaan tanggal 19-4-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-04 PERMENUNGAN ALKITABIAH APRIL 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010) 

Cilandak,  17 April 2017 [HARI SENIN DALAM OKTAF PASKAH] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS