SETIAP RAHASIA KERAJAAN ALLAH PADA AKHIRNYA AKAN DINYATAKAN

SETIAP RAHASIA KERAJAAN ALLAH PADA AKHIRNYA AKAN DINYATAKAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXV –  Senin, 24 September 2018)

“Tidak ada orang yang menyalakan pelita lalu menutupinya dengan tempayan atau menempatkannya di bawah tempat tidur, tetapi ia menempatkannya di atas kaki pelita, supaya semua orang yang masuk ke dalam rumah dapat melihat cahayanya. Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan diketahui dan diumumkan. Karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, bahkan apa yang dianggapnya ada padanya, akan diambil juga.” (Luk 8:16-18) 

Bacaan Pertama: Ams 3:27-34; Mazmur Tanggapan: Mzm 15:2-5 

Kadang-kadang kata-kata yang diucapkan oleh Yesus memang dapat membuat orang bingung, misalnya yang berikut ini: “Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, bahkan apa yang dianggapnya ada padanya, akan diambil juga” (Luk 8:18). Sekilas lintas kata-kata Yesus ini dapat membuat kita merasa bahwa Dia bersikap kritis terhadap mereka yang serba berkekurangan – walaupun bukan karena kesalahan mereka. Namun apabila kita merenungkannya dengan lebih mendalam, maka kita pun disadarkan bahwa dalam hal ini Yesus berbicara mengenai apa yang telah diberikan-Nya kepada para pendengar-Nya: sabda pewartaan-Nya. Pembedaan yang dibuat Yesus adalah dalam hal bagaimana sabda-Nya itu diterima oleh para pendengar-Nya. Yesus memuji orang-orang yang menerima sabda-Nya dengan penuh syukur dan iman, karena mereka secara sukarela menerapkan dalam kehidupan mereka apa yang mereka terima dari Yesus dan kemudian menghasilkan buah (lihat Luk 8:15).

Yesus mendorong para pengikut-Nya untuk menaruh perhatian pada sabda-Nya dan Ia berjanji: “Tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan diketahui dan diumumkan” (Luk 8:17). Setiap rahasia Kerajaan Allah pada akhirnya akan dinyatakan. Setiap misteri yang penuh teka-teki bagi kita – misalnya mengapa Yesus harus mati pada kayu salib, mengapa Allah memperkenankan adanya penderitaan, mengapa beberapa anggota keluarga kita lebih terbuka terhadap Allah daripada para anggota keluarga yang lain dlsb. – akan terungkap, dan kita akan melihat hal-hal tersebut dengan kejelasan yang melampaui batasan-batasan intelek manusia.

Bagaimana kita dapat menemukan jawaban-jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan ini? Melalui meditasi yang dilakukan dalam suasana doa dan studi atas sabda Allah. Semakin banyak kita melibatkan diri dalam mempelajari hikmat Allah, semakin terbentuk pula pikiran kita seturut pikiran Allah. Kita akan mulai berpikir seperti Allah berpikir, dan kita akan mengenal serta mengalami damai-sejahtera yang datang dari permenungan kita atas “dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah” (Rm 11:33). Dengan demikian, bersama Santo Paulus kita akan mampu memproklamasikan: “Kami memiliki pikiran Kristus” (1Kor 2:16).

Yesus berjanji bahwa apabila kita berpegang teguh pada apa yang telah kita terima, maka hal itu akan bertumbuh dan berbuah dalam diri kita. Selagi kita diberi makan oleh sabda Allah, terang dari hikmat-Nya akan memancar keluar dari diri kita, menembus kegelapan dunia. Kesaksian hidup kita akan menarik orang-orang lain kepada kita, dan kita akan mampu mensyeringkan hikmat yang telah kita terima dari Allah dengan mereka. Marilah kita memperkenankan sabda Allah dalam Kitab Suci untuk membentuk diri kita sehingga kita dapat menjadi duta-duta Yesus  untuk dunia.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau telah menaruh terang-Mu di dalam diri kami melalui sabda-Mu. Semoga terang-Mu dalam diri kami memancar keluar kepada semua orang yang kami temui. Datanglah, ya Tuhan, dan taklukkanlah kegelapan dengan terang kebenaran-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 8:16-18), bacalah tulisan yang berjudul “KITA HARUS MEMPERHATIKAN CARA KITA MENDENGAR” (bacaan tanggal 24-9-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 21 September 2018 [Pesta S. Matius, Rasul & Penulis Injil] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

SEORANG PEMIMPIN PERTAMA-TAMA ADALAH SEORANG PELAYAN

SEORANG PEMIMPIN PERTAMA-TAMA ADALAH SEORANG PELAYAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXV [TAHUN B] –  23 September 2018)

Yesus dan murid-murid-Nya berangkat dari situ dan melewati Galilea, dan Yesus tidak mau hal itu diketahui orang; sebab Ia sedang mengajar murid-murid-Nya. Ia berkata kepada mereka, “Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari sesudah Ia dibunuh Ia akan bangkit.” Mereka tidak mengerti perkataan itu, namun segan menanyakannya kepada-Nya.

Kemudian tibalah Yesus dan murid-murid-nya di Kapernaum. Ketika Yesus sudah di rumah, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya, “Apa yang kamu perbincangkan tadi di tengah jalan?” Tetapi mereka diam, sebab di tengah jalan tadi mereka bertengkar tentang siapa yang terbesar di antara mereka. Lalu Yesus duduk dan memanggil kedua belas murid itu. Kata-Nya kepada mereka, “Jika seseorang ingin menjadi yang pertama, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.”  Lalu Yesus mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, kemudian Ia memeluk anak itu dan berkata kepada mereka, “Siapa saja yang menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Siapa yang menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku.” (Mrk 9:30-37) 

Bacaan Pertama: Keb 2:12,17-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 54:3-6,8; Bacaan Kedua: Yak 3:16-4:3 

Yesus bersabda: “Jika seseorang ingin menjadi yang pertama, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya” (Mrk 9:35). Yesus mengungkapkan disposisi hatinya yang fundamental dengan menggambarkan diri-Nya dan hidup-Nya sendiri sebagai seorang pelayan dari semuanya (Lihat Luk 22:27; bdk. Yoh 13:4-15). Sebagai Putera Allah yang setia dan taat, Ia mau melayani Bapa-Nya dengan memenuhi semua tujuan dan rencana Bapa. Oleh karena itu, dengan penuh kemauan Ia menanggalkan kemuliaan-Nya dan merendahkan diri-Nya untuk menjadi seorang manusia (Flp 2:6-7). Dalam kondisi seperti itulah Yesus dengan sangat senang hati melayani Bapa-Nya – dengan ketaatan seorang hamba – bahkan sampai satu titik di mana Dia menyerahkan hidup-Nya demi keselamatan umat Allah (Flp 2:8). Sabda Yesus: “… Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang’” (Mrk 10:45).

Dengan mengesampingkan kehendak-Nya sendiri dan memilih hidup sebagai seorang abdi yang taat kepada Bapa-Nya, Yesus tahu benar bahwa semuanya akan membawa-Nya kepada sengsara dan kematian-Nya (lihat Mrk 9:35 di atas). Namun demikian, Yesus dengan penuh kemauan memilih ‘jalan susah’ ini demi sukacita yang disediakan bagi Dia (lihat Ibr 12:2), yaitu ketika Bapa akan membangkitkan-Nya dari alam maut dan membawa-Nya masuk ke dalam kemuliaan di surga. Sebagai seorang abdi paling sempurna (par excellence), Yesus menaruh hidup-Nya secara lengkap dan total ke dalam tangan Bapa-Nya.

Dalam khotbahnya di hari Pentakosta, Petrus mengatakan: “Dia yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya, telah kamu salibkan dan kamu bunuh melalui tangan bangsa-bangsa durhaka” (Kis 2:23). Jadi, Yesus dengan bebas setuju agar diri-Nya diserahkan Bapa-Nya ke dalam tangan orang-orang jahat, karena Dia menaruh kepercayaan penuh bahwa Bapa-Nya akan menyelamatkan Dia dari kematian (baca: KebSal 2:18-20).

Seseorang yang dipilih Yesus dan bersedia mengikuti-Nya juga membuat hatinya menjadi serupa dengan hati-seorang-abdi yang dimiliki Guru dan Tuhan-nya, meneladani kedinaan serta ketaatan-Nya, mengesampingkan kehendaknya sendiri dan membuang segala kecenderungan untuk membuat dirinya menjadi pusat segalanya (self-centeredness). Seorang murid Yesus yang sejati haruslah seseorang yang hidupnya berpusat pada Allah (God-centered). Dalam menanggapi pertengkaran di antara para murid-Nya tentang siapa yang terbesar di antara mereka, Yesus mengajarkan kepada mereka bagaimana menerapkan prinsip ini dalam kehidupan mereka (lihat Mrk 9:33-34 di atas). Yesus mengajarkan bahwa  pikiran para murid, sikap dan perilaku mereka tidak menunjukkan hati seorang abdi/pelayan. Hati mereka penuh dengan ambisi dan rasa-iri serta kedengkian, hal mana menimbulkan perpecahan dan ketidak-teraturan (bdk. Yak 3:16). Ia mengajarkan para murid-Nya begini: “Jika seseorang ingin menjadi yang pertama, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya”  (lihat Mrk 9:35). Menjadi besar berarti memperhatikan kepentingan orang lain terlebih dahulu, tanpa merasa khawatir akan keadaan diri sendiri.

Untuk menjadi abdi atau pelayan Allah yang rencah hati, para murid harus berbalik dari hidup lama mereka yang mementingkan diri sendiri (dalam bahasa Inggris ada ungkapan begini: self-glorification dan self-serving ambitions). Menjadi abdi Allah juga berarti bahwa mereka harus menjadi abdi setiap orang – menerima semua orang, apa pun status dan posisi orang-orang itu dalam masyarakat – seperti orang menyambut dan menerima seorang anak yang tidak dapat berbuat apa-apa kepada mereka sebagai balasan (lihat Mrk 9:37 di atas).

Sebagai seorang abdi yang sempurna, Yesus sangat senang-hati kalau ada kesempatan menolong orang-orang yang ada di sekelilingnya. Dipenuhi cintakasih Bapa, Dia hanya menginginkan untuk menyalurkan kasih Bapa itu kepada siapa saja yang ditemui-Nya. Dengan setiap penyembuhan yang dilakukan-Nya dan setiap kata yang disabdakan-Nya, Yesus berupaya untuk menarik orang-orang agar lebih dekat lagi dengan Bapa-Nya. Meskipun sudah mendekati jam kematian-nya sendiri, hasrat utama Yesus adalah untuk berada bersama dengan para murid-Nya (lihat Luk 22:14-15), mengasihi mereka dan menolong mereka agar mampu menaruh kepercayaan kepada Bapa surgawi. Yesus juga mengajar bahwa manakala kita melayani orang lain, kita sesungguhnya melayani Dia (lihat Mat 25:40).

Pada malam sebelum sengsara dan wafat-Nya, setelah acara pembasuhan kaki, Yesus bersabda kepada para murid: “Aku telah memberikan memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu” (Yoh 13:15). Yesus meminta kita – para murid-Nya – untuk memiliki hati seorang abdi/pelayan. Artinya kita tidak boleh berupaya menguasai atau mengendalikan orang-orang lain, atau menginginkan agar orang lain melayani kita. Kita juga tidak boleh mengejar-ngejar status, posisi, kehormatan dan lain sebagainya. Sebaliknya kita harus rendah hati dan mengambil jalan perendahan Yesus, memperhatikan kepentingan orang lain terlebih dahulu (Flp 2:4) serta melayani kebutuhan mereka sebelum kebutuhan kita sendiri. Karunia yang dianugerahkan Yesus kepada para murid-Nya adalah hati seorang abdi/pelayan. Maukah saudara-saudari mohon kepada-Nya untuk menjadikan hati anda seperti hati-Nya?

Sampai hari ini Yesus dengan rendah hati masih mengetuk-ngetuk pintu hati kita. Dia begitu ingin melayani kita dengan masuk ke dalam kehidupan kita yang penuh luka ini, agar dapat menyembuhkan luka-luka kita serta membersihkan kita, dan akhirnya memperbaharui kita. Betapa rindu hati Yesus untuk melihat kita menyambut-Nya masuk.

DOA: Tuhan Yesus, Terima kasih untuk cintakasih-Mu yang tak bersyarat sehingga aku pun dapat dicurahi dengan kebaikan dan belaskasih-Mu. Aku sungguh ingin menyambut-Mu ke dalam hatiku. Bentuklah hatiku agar aku dapat melayani sesamaku dengan penuh sukacita, seperti Dikau juga memeliharaku dengan penuh sukacita ilahi. Ya Tuhan Yesus, buatlah agar hatiku menjadi seperti hati-Mu. Buatlah daku menjadi saluran berkat-Mu bagi sesamaku di mana saja. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 9:30-37), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS INGIN MENARIK KITA AGAR LEBIH DEKAT KEPADA BAPA” (bacaan tanggal 23-9-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2009) 

Cilandak, 20 September 2018 [Peringatan S. Andreas Kim Taegon, Imam & Paulus Chong Hasang dkk – Martir-martir Korea] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MEMBERIKAN HASIL YANG MELIMPAH BAGI KERAJAAN-NYA

MEMBERIKAN HASIL YANG MELIMPAH BAGI KERAJAAN-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIV – Sabtu, 22 September 2018)

Keluarga Fransiskan Kapusin (OFMCap.: Peringatan S. Ignatius dr Santhi, Imam

SCJ: Peringatan Falkutatif B. Yohanes Maria dr Salib, Martir Pertama SCJ

Ketika orang banyak berbondong-bondong datang, yaitu orang-orang yang dari kota ke kota menggabungkan diri dengan Yesus, berkatalah Ia dalam suatu perumpamaan, “Adalah seorang penabur keluar untuk menaburkan benihnya. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu diinjak orang dan burung-burung di udara memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, dan setelah tumbuh ia menjadi kering karena tidak mendapat air. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, dan semak itu tumbuh bersama-sama dan menghimpitnya sampai mati. Sebagian jatuh di tanah yang baik, dan setelah tumbuh berbuah seratus kali lipat.” Setelah berkata demikian Yesus berseru, “Siapa yang mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!” 

Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya tentang maksud perumpamaan itu. Lalu Ia menjawab, “Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang lain hal itu diberitakan dalam perumpamaan, supaya sekalipun memandang, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti. Inilah arti perumpamaan itu: Benih itu ialah firman Allah. Yang jatuh di pinggir jalan itu ialah orang-orang yang telah mendengarnya; kemudian datanglah Iblis lalu mengambil firman itu dari dalam hati mereka, supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan. Yang jatuh di tanah yang berbatu-batu itu ialah orang-orang yang setelah mendengar firman itu, menerimanya dengan gembira, tetapi mereka itu tidak berakar, mereka percaya sebentar saja dan dalam masa pencobaan mereka murtad. Yang jatuh dalam semak duri ialah orang-orang yang telah mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekhawatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang. Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang-orang yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan.” (Luk 8:4-15) 

Bacaan Pertama: 1Kor 15:35-37,42-49; Mazmur Tanggapan: Mzm 56:10-14 

Petani macam apa yang membiarkan benih yang ditaburkan olehnya jatuh di pinggir jalan atau di tanah yang berbatu-batu, atau di tengah semak duri? Para petani mengetahui bahwa hasil tuaian dari benih yang ditaburkan di tanah yang baik memiliki kemungkinan lebih besar untuk tumbuh berbuah daripada benih yang jatuh di pinggir jalan, tanah yang berbatu-batu, atau di tengah semak duri. Sementara selalu ada saja sedikit harapan bahwa benih yang jatuh di tanah yang “tidak baik” paling sedikit dapat tumbuh berbuah (meskipun jauh kurang dari “tanah yang baik”), seorang petani yang menggarap “tanah yang tidak baik” itu harus memiliki keyakinan besar dan benih yang banyak agar mampu menuai dengan berkelimpahan.

Perumpamaan ini mengajar kita tentang bagaimana Yesus dengan penuh kemurahan hati melimpahkan rahmat dan kehidupan. Lukas menulis Injilnya untuk orang-orang Kristiani dengan latar belakang non-Yahudi (baca: budaya Yunani), jadi bukan untuk orang-orang Kristiani Yahudi. Dalam perumpamaan ini dan juga dalam perumpamaan-perumpamaan-Nya yang lain, Yesus mengajar bahwa pesan dan kuasa Injil bukanlah hanya bagi orang-orang Yahudi, melainkan juga bagi orang-orang non-Yahudi (kafir). Yesus mencurahkan rahmat dan kehidupan-Nya kepada semua orang dalam segala situasi. Yesus itu murah hati dan tidak mengenal diskriminasi.

Hasil benih yang ditabur di tanah yang baik biasanya berkisar dari tujuh sampai sepuluh kali lipat; namun dalam perumpamaan ini benih yang ditabur di tanah yang baik itu menghasilkan buah seratus kali lipat! Ini adalah hasil tuaian yang sungguh luarbiasa, berdasarkan standar apa pun yang kita gunakan. Hasil berlimpah ini datang ke tengah kehidupan kita sendiri hanya karena kematian dan kebangkitan Yesus. Karya Yesus menata kembali dunia sehingga sekarang kita dapat mengharapkan adanya panen yang berlimpah. Semua pembatasan dan rintangan yang menghalangi kita untuk menghasilkan buah telah diatasi, misalnya dosa dan kematian. Lebih lagi, kita dapat yakin bahwa Yesus sangat berhasrat untuk bekerja dengan kita agar kita dapat memberikan hasil yang melimpah bagi kerajaan-Nya.

Marilah kita berpaling kepada Yesus dan meyakini bahwa kematian dan kebangkitan-Nya telah mengubah tatanan dunia. Kita harus penuh harap bahwa selagi kita menaruh iman kita pada-Nya, maka kita akan mengalami kuat-kuasa dari kematian dan kebangkitan-Nya dalam kehidupan kita dan kehidupan orang-orang di sekeliling kita. Apabila kita menaruh rasa percaya pada kuat-kuasa ini dan mempercayainya, maka akan ada buah spiritual bahkan apabila kita tidak melihatnya secara langsung.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau menghancurkan kuasa kematian dan dosa dan memberikan kepada kami kehidupan baru melalui kemenangan-Mu di atas kayu salib. Segalanya menjadi baru sekarang. Kami berdoa agar kami juga dapat menghasilkan buah yang berlimpah bagi-Mu dan bahwa rahmat dan kehidupan-Mu akan dialami oleh semua orang. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini, bacalah tulisan yang berjudul “PERUMPAMAAN TENTANG SEORANG PETANI YANG MENABURKAN BENIHNYA” (bacaan tanggal 22-9-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011)

Cilandak, 19 September 2018 [Peringatan S. Fransiskus Maria dr Comporroso, Biarawan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

IKUTLAH AKU!

IKUTLAH AKU!

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta S. Matius, Rasul & Penulis Injil – Jumat, 21 September 2018)

Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di tempat pemungutan cukai, lalu Ia berkata kepadanya, “Ikutlah Aku.”  Matius pun bangkit dan mengikut Dia. Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya. Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus, “Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Yesus mendengarnya dan berkata, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi, pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” (Mat 9:9-13) 

Bacaan Pertama: Ef 4:1-7,11-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:2-5

Sejak pertama kali bertemu dengan Yesus selagi dia sedang bekerja di tempat pemungutan cukai, Matius memberi tanggapan penuh sukacita terhadap undangan Yesus kepadanya untuk berbalik dari cara hidupnya yang lama dan kemudian menggunakan seluruh sisa hidupnya sebagai seorang murid Kristus, misionaris dan penginjil. Ada tradisi yang mengatakan bahwa Matius mewartakan Injil di tengah-tengah orang-orang Yahudi untuk selama 15 tahun setelah kebangkitan Kristus, lalu melanjutkan pelayanan evangelisasinya di Persia, Makedonia dan Syria.

Cerita tentang panggilan Matius seharusnya memberikan kepada kita dorongan yang kuat. Yesus tidak datang untuk mencari orang-orang yang telah sempurna. Dia datang mencari yang hilang …… orang berdosa! Ingatlah bagaimana orang-orang Farisi menggerutu ketika Yesus duduk pada meja makan bersama Matius dkk. Orang-orang Farisi itu mengatakan, bahwa tidak pantaslah bagi seorang rabi berhubungan dengan para pemungut cukai dan pendosa. Namun Yesus menandaskan bahwa justru orang-orang berdosalah yang mau diundangnya ke dalam kerajaan-Nya. Dalam hal ini Yesus mengutip sebuah ayat Perjanjian Lama (Mat 9:13; bdk. Hos 6:6; Mat 12:7).

Maka, jangan pikir bahwa kita harus suci-suci dulu sebelum menyerahkan hidup kita kepada Yesus. Matius adalah contohnya. Kita dapat menyerahkan hidup kita kepada Kristus sekarang juga. Tidak ada masalah bagi Yesus Kristus untuk menerima kita (anda dan saya) sebagai milik-Nya. Juga janganlah kita merasa risau kalau merasakan diri kita tidak memiliki karunia atau talenta yang khusus. Yesus akan memberikan kepda kita segala rahmat yang kita butuhkan untuk hidup pelayanan kita bagi Dia.

Yesus mungkin saja tidak memanggil kita untuk menjadi seorang penginjil purnawaktu seperti yang dibuat-Nya atas diri Matius – atau mungkin juga memanggil kita untuk menjadi seorang full-timer sebagai seorang penginjil. Apa pun panggilan-Nya kepada kita, panggilan itu tentunya menyangkut peranan kita masing-masing sebagai seorang saksi-Nya dalam keluarga, para sahabat kita, para kerabat kerja kita, untuk menolong mereka menerima Yesus dalam hidup mereka. Marilah kita mengingat, bahwa justru dalam tindakan sehari-hari kita yang penuh ketaatan – menghadiri Misa Harian, membaca dan merenungkan sabda Allah dalam Kitab Suci untuk beberapa menit lamanya setiap hari, melakukan pemeriksaan batin dan mohon pengampunan Tuhan atas dosa-dosa kita – maka kita sebenarnya mengatakan “ya” terhadap panggilan Yesus. Oleh karena itu, marilah kita mulai dengan langkah-langkah kecil ini, dan kita pun akan menemukan kuat-kuasa Allah bekerja melalui diri kita dengan cara-cara yang tidak pernah kita harapkan atau bayangkan sebelumnya.

Selagi anda menanggapi panggilan Yesus untuk menjalani suatu kehidupan yang baru, ingatlah bahwa Yesus ada di samping anda di setiap langkah yang anda buat. Oleh karena itu, janganlah menunda-nunda untuk mengatakan “ya” kepada-Nya. Jika anda mengatakan “ya” kepada-Nya, maka “ya” anda itu akan membuat diri anda seorang pencinta yang penuh gairah kepada Tuhan dan terang yang sungguh memancarkan cahaya di tengah dunia ini.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena engkau memanggilku keluar dari kegelapan untuk masuk ke dalam terang-Mu. Aku ingin hidup bagi-Mu. Tolonglah aku menemukan seorang pribadi pada hari ini, kepada siapa aku dapat men-sharing-kan kasih-Mu. Terpujilah nama-Mu selalu! Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 9:9-13), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS DATANG UNTUK MEMANGGIL ORANG BERDOSA” (bacaan tanggal 21-9-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 19 September 2018 [Peringatan S. Fransiskus Maria dr Comporroso, Biarawan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DOSAMU TELAH DIAMPUNI

DOSAMU TELAH DIAMPUNI

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Andreas Kim Taegon, Imam dan Paulus Chong Hasang, dkk., Martir-martir Korea – Kamis, 20 September 2018)

Seorang Farisi mengundang Yesus untuk datang makan dengannya. Yesus datang ke rumah orang Farisi itu, lalu duduk makan. Di kota itu ada seorang perempuan yang terkenal sebagai seorang berdosa. Ketika perempuan itu mendengar bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia membawa sebuah botol pualam berisi minyak wangi. Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan airmatanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu. Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu, ia berkata dalam hatinya, “Jika Ia ini nabi, tentu ia tahu bahwa perempuan itu seorang berdosa.” Lalu Yesus berkata kepadanya, “Simon, ada yang hendak Kukatakan kepadamu.” Sahut Simon, “Katakanlah, Guru.”

“Ada dua orang yang berhutang kepada seorang yang membungakan uang. Yang seorang berhutang lima ratus dinar, yang lain lima puluh. Karena mereka tidak sanggup membayar, maka ia menghapuskan hutang kedua orang itu. Siapakah di antara mereka yang akan lebih mengasihi dia?” Jawab Simon, “Aku kira dia yang paling banyak dihapuskan hutangnya.” Kata Yesus kepadanya, “Betul pendapatmu itu.” Sambil berpaling kepada perempuan itu, Ia berkata kepada Simon, “Engkau lihat perempuan ini? Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kaki-Ku, tetapi dia membasuhi kaki-Ku dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya. Engkau tidak mencium Aku, tetapi sejak Aku masuk ia tidak henti-hentinya mencium kaki-Ku. Engkau tidak meminyaki kepala-Ku dengan minyak, tetapi dia meminyaki kaki-Ku dengan minyak wangi. Karena itu, Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak mengasihi. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia mengasihi.” Lalu Ia berkata kepada perempuan itu, “Dosamu telah diampuni.” Orang-orang yang duduk makan bersama Dia, berpikir dalam hati mereka, “Siapakah Ia ini, sehingga Ia dapat mengampuni dosa-dosa?” Tetapi Yesus berkata kepada perempuan itu, “Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan damai!” (Luk 7:36-50) 

Bacaan Pertama: 1Kor 15:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 118:1-2,16-17,28 

Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu, ia berkata dalam hatinya, “Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu bahwa perempuan itu seorang berdosa.” (Luk 7:39)

Pertanyaan saya sehubungan dengan pikiran Simon orang Farisi seperti diungkapkan dalam ayat di atas adalah, “Kok Simon tahu ya, bahwa perempuan itu seorang pendosa, seorang WTS, seorang PSK?” Namun demikian, marilah kita tinggalkan pertanyaan saya itu.

Kita memang tidak dapat menyangkal bahwa cerita tentang seorang perempuan berdosa ini adalah salah satu cerita yang paling populer dari cerita-cerita yang terdapat dalam keempat kitab Injil. Bayangkan sebuah botol pualam yang tidak murah dan dari dalamnya mengalirlah minyak narwastu yang sangat mahal yang digunakan untuk meminyaki kaki Yesus. Sebelum itu kaki Yesus dibasahi dengan airmata seorang perempuan yang mestinya cantik-menawan dan diseka dengan rambutnya sendiri. Sebuah pemandangan yang sungguh luar biasa, sebuah adegan yang menyentuh hati siapa saja yang telah melakukan pertobatan dan mengalami pengampunan-Nya, namun merupakan sebuah adegan yang menjijikan bagi mereka yang masih hidup dalam kemunafikan. Ide tentang seorang WTS yang berderai air mata pertobatan, sukacita, dan kasih karena telah mengalami perjumpaan dengan Yesus terasa begitu “abadi” karena masih memiliki kuat-kuasa untuk menggerakkan hati kita, bahkan pada hari ini, dua ribu tahun setelah untuk pertama kalinya cerita ini dicatat.

Tindakan-tindakan perempuan ini begitu memaksa kita untuk merenungkan pengungkapan cintakasih yang luarbiasa, berani, bahkan kelihatan tolol, sehingga kita pun mulai berpikir apakah kita dapat menemukan satu contoh lain yang serupa. Pada titik inilah kita merasa seakan tidak ada apapun yang dapat dibandingkan, ketika kita memperoleh kasih Yesus sendiri bagi kita masing-masing. Apa yang dilakukan oleh perempuan ini begitu dramatis, namun tidak dapat dibandingkan dengan kasih Yesus bagi kita yang begitu berlimpah. Yesus begitu mengasihi kita sehingga Dia bersedia secara sukarela memberikan nyawa-Nya sendiri, keseluruhan diri-Nya, tidak hanya bagi orang-orang yang banyak mengasihi – seperti perempuan berdosa dalam cerita Injil hari ini – melainkan juga bagi mereka yang memiliki hati dan pikiran sempit seperti Pak Simon orang Farisi itu.

Bagaimana kita dapat mencirikan cinta kasih sebagaimana yang diperagakan oleh perempuan berdosa tersebut? Bagaimana kita dapat menemukan kata-kata yang “pas” untuk mengungkapkan hasrat menggairahkan dari Yesus bagi kita masing-masing? Santo Alfonsus Liguori pernah menulis seperti berikut: “Allah mengasihi kita sejak kita belum eksis. Ia mengasihi kita lebih dahulu. Allah tidak menyelamatkan Putera-Nya yang tunggal justru agar dengan demikian Ia dapat menyelamatkan kita. Bagaimana Dia dapat gagal memberikan kepada kita dan Putera-Nya semua hal yang baik?”

Bukankah kita semua ingin mendengar Yesus berkata kepada kita bahwa dosa-dosa kita telah diampuni? Bukankah kita semua ingin Ia mengatakan kepada kita, “Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan damai”? Sekarang, marilah kita membayangkan Yesus sedang memandangi kita.  Bayangkan kasih dan bela-rasa yang di wajah-Nya. Siapakah Yesus ini? Dialah Pribadi satu-satunya yang mengetahui dan mengenal kita luar-dalam. Dialah satu-satunya Pribadi yang mengetahui secara menyeluruh segala perjuangan kita, dosa-dosa dan kelemahan-kelemahan kita. Dia turut ambil bagian dalam pengharapan dan sukacita kita, kerinduan kita dan mimpi kita. Dia mengampuni semua dosa kita. Kasih-Nya – personal dan intim – secara berkesinambungan mengalir ke luar dari hati-Nya ke dalam hati kita masing-masing. Seandainya kita tega meninggalkan “seorang” Allah seperti ini, …… apa kata dunia?

DOA: Tuhan Yesus, Engkau mengasihi jiwaku dan memberikan “hidup baru” kepadaku. Aku sungguh mengasihi Engkau, ya Tuhan! Oleh Roh Kudus-Mu, aku menjadi bebas untuk hidup dalam damai-sejahtera dan kasih yang dipenuhi dengan sukacita. Terima kasih, Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 7:36-50), bacalah tulisan yang berjudul “SEBAB IA TELAH BANYAK MENGASIHI” (bacaan tanggal 20-9-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012)

Cilandak, 18 September 2018 [Peringatan  S. Yosef dr Copertino, Imam] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MENDENGARKAN SUARA ALLAH DAN PERCAYA

MENDENGARKAN SUARA ALLAH DAN PERCAYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIV – Rabu, 19 September 2018)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan S. Fransiskus Maria dr Comporroso, Biarawan

Peringatan Falkutatif: Santo Yanuarius, Uskup & Martir

Kata Yesus, “Dengan apakah akan Kuumpamakan orang-orang zaman ini dan dengan apakah mereka dapat disamakan? Mereka itu seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan yang saling menyerukan: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak menangis. Karena Yohanes Pembaptis datang, ia tidak makan roti dan tidak minum anggur, dan kamu berkata: Ia kerasukan setan. Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan kamu berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Tetapi hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya.” (Luk 7:31-35) 

Bacaan Pertama: 1Kor 12:31-13:13; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:2-5,12,22 

Tidak sedikit orang yang begitu terbius dengan pembenaran diri sendiri, begitu ketatnya sehingga menutup diri mereka terhadap rahmat Allah. Yesus datang untuk menyampaikan kabar baik keselamatan bagi semua orang. Keempat Injil dipenuhi dengan berbagai narasi tentang orang-orang yang mencari Yesus dan menaruh kepercayaan mereka pada-Nya.

Namun Yesus tidak membatasi diri pada mereka yang mencari Dia. Dalam Bacaan Injil hari Selasa kemarin (Luk 7:11-17) diceritakan bahwa ketika Yesus memasuki kota Nain Ia berpapasan dengan sebuah iringan jenazah. Yang meninggal dunia adalah seorang anak muda dan ibundanya sudah hidup menjanda. Ketika Yesus melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan. Atas dasar inisiatif-Nya sendiri Yesus menghampiri usungan jenazah dan menyentuhnya. Kemudian Ia menyuruh anak muda yang sudah mati itu untuk bangkit, dan anak muda itu pun hidup lagi.

Syarat satu-satunya yang diperlukan kalau seseorang mau menerima rahmat dari Allah adalah, bahwa dia harus mendengarkan suara-Nya. Kalau kita mendengarkan dan percaya, maka Dia akan menyelesaikan selebihnya. Allah akan memperhatikan agar rahmat yang dicurahkan-Nya berbuah dalam diri orang itu. Tugas orang itu adalah menjaga agar rahmat Allah yang dicurahkan kepadanya dijaga. Siapa saja yang mendengarkan Allah dengan baik akan mencapai hasil yang melampaui kemampuan-kemampuannya sendiri, justru karena kuasa dari rahmat-Nya.

Kita bersyukur karena mengetahui bahwa Yesus mencari setiap orang – bahkan orang yang selalu diabaikan malah dihina oleh mereka yang kaya dan/atau berkuasa. Dalam Luk 7 kita melihat bahwa Yesus mau berjumpa dengan siapa saja, tidak ada diskriminasi dalam bentuk apapun yang dianut oleh-Nya. Ia menyembuhkan hamba seorang perwira Romawi yang kafir (7:1-10); seperti telah disinggung di atas, Yesus membangkitkan anak muda di Nain yang belum pernah dikenalnya (7:11-17); Yesus  menyembuhkan banyak orang dari segala penyakit dan penderitaan  dan dari roh-roh jahat serta mencelikkan mata orang buta (7:21); Ia berdialog dengan murid-murid Yohanes Pembaptis (7:18-20.22-23); Ia mengajar orang banyak, termasuk para pemungut cukai yang dihina dalam masyarakat (7:24-35); dan Yesus diurapi oleh perempuan berdosa (7:36-50). Dewasa ini pun Allah sangat berhasrat untuk menyentuh orang-orang di sekeliling kita. Harapan Kabar Baik Yesus Kristus juga diperuntukkan bagi mereka. Kalau kita peka terhadap sentuhan dan sapaan Roh Kristus, maka Dia akan menunjukkan kepada kita bagaimana berbagi Kabar Baik dengan para sahabat dan teman kita, para tetangga kita, dan para anggota keluarga besar kita. Dia akan mencurahkan rahmat-Nya kepada mereka yang mendengarkan dan percaya – karena kesetiaan-Nya tidak tergantung pada kebenaran kita, melainkan pada cintakasih-Nya yang tanpa syarat.

DOA: Bapa surgawi, Allah yang mahatinggi, Engkau adalah sumber segala kebaikan. Hanya Engkau saja yang baik, yang paling baik. Dengan penuh rasa syukur kami berterima kasih kepada-Mu, ya Bapa, karena Engkau memberikan Putera-Mu yang tunggal demi keselamatan kami. Dia setia kepada kami, dengan demikian kami pun bertekad bulat untuk memberitakan Kabar Baik-Nya kepada orang-orang yang kami jumpai. Bapa, perkenankanlah Roh Kudus-Mu menolong kami menaruh kepercayaan sepenuhnya pada kuasa rahmat-Mu agar dapat mengalir melalui diri kami dan terus mengalir kepada orang-orang lain di sekeliling kami. Kami berdoa demikian, dalam nama Yesus, Tuhan dan Juruselamat kami, yang hidup dan berkuasa bersama Dikau, Bapa, dalam persekutuan Roh Kudus, Allah sepanjang segala masa. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 7:31-35), bacalah tulisan yang  berjudul “KITA PUN SERINGKALI SEPERTI ANAK-ANAK ITU” (bacaan tanggal 19-9-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2015) 

Cilandak, 17 September 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS MEMBANGKITKAN SEORANG MUDA DI DEKAT GERBANG KOTA NAIN

YESUS MEMBANGKITKAN SEORANG MUDA DI DEKAT GERBANG KOTA NAIN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIV – Selasa, 18 September 2018)

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan/Pesta S. Yosef dr Copertino, Imam 

Segera setelah itu Yesus pergi ke suatu kota yang bernama Nain. Murid-murid-Nya pergi bersama-sama dengan Dia, dan juga orang banyak menyertai-Nya berbondong-bondong. Setelah Ia dekat pintu gerbang kota, ada orang mati diusung ke luar, anak laki-laki, anak tunggal ibunya yang sudah janda, dan banyak orang dari kota itu menyertai janda itu. Ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya, “Jangan menangis!” Sambil menghampiri usungan itu Ia menyentuhnya, dan sedang para pengusung berhenti, Ia berkata, “Hai anak muda, aku berkata kepadamu, bangkitlah!” Orang itu pun bangun dan duduk serta mulai berkata-kata, lalu Yesus menyerahkannya kepada ibunya. Semua orang itu ketakutan dan mereka memuliakan Allah, sambil berkata, “Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita,” dan “Allah telah datang untuk menyelamatkan umat-Nya.” Lalu tersebarlah kabar tentang Yesus di seluruh Yudea dan di seluruh daerah sekitarnya. (Luk 7:11-17) 

Bacaan Pertama: 1Kor 12:12-14,27-31a; Mazmur Tanggapan: Mzm 100:2-5

Masa depan sang janda dari Nain itu kelihatannya sungguh suram. Karena dalam zaman Yahudi kuno, seorang janda yang kehilangan anak laki-lakinya yang tunggal berarti bahwa dia tidak akan mempunyai sumber penghasilan. Keadaan buruk yang menimpa dirinya sungguh serius. Mengamati iringan jenazah anak muda tersebut dan ibunya, hati Yesus pun tergerak oleh belas kasihan (Luk 7:13). Ketika Tuhan melihatnya, dengan penuh bela-rasa Dia berkata kepada janda itu: “Jangan menangis” (Luk 7:13). Hati-Nya tergerak dan Ia pun melakukan intervensi ilahi.

Bela rasa Yesus terhadap janda itu bukanlah sekadar sentimentalitas yang membuat diri-Nya melangggar hukum yang mengatakan bahwa menyentuh tubuh orang mati membuat seseorang menjadi najis, …… tidak bersih secara ritual: “Orang yang kena kepada mayat, ia najis tujuh hari lamanya” (Bil 19:11). Sambil menyentuh usungan jenazah, Yesus berkata, “Hai anak muda, aku berkata kepadamu, bangkitlah!”  (Luk 7:14). Anak muda itu pun bangun  dan duduk serta mulai berkata-kata. Orang-orang dengan penuh rasa takjub mulai memuji-muji Allah, sambil berkata: “Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita,,” dan “Allah telah datang untuk menyelamatkan umat-Nya: (Luk 7:16).

Dalam membangkitkan orang muda dari kematiannya, Yesus sebenarnya melakukan tindakan yang dilakukan oleh Elia berabad-abad sebelumnya, ketika dia membangkitkan anak laki-laki yang sudah mati, anak dari seorang janda (1Raj 17:17-24). Oleh karena itu tidak mengherankanlah apabila orang-orang di dekat pintu gerbang kota Nain itu berpikir bahwa seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah mereka. Ada orang-orang yang berpikir bahwa Yesus adalah Yohanes Pembaptis; ada pula yang mengira bahwa Dia adalah Elia; ada juga yang mengira Dia adalah salah seorang dari nabi-nabi zaman kuno (Luk 9:19). Hal inilah yang menyebabkan Yesus bertanya kepada para murid-Nya: “Menurut kamu, siapakah Aku ini?” (Luk 9:20).

Sangatlah penting bagi kita (anda dan saya) untuk mengajukan pertanyaan Yesus ini kepada diri kita masing-masing, karena Allah ingin memberikan kepada kita anugerah hikmat dan perwahyuan agar supaya kita dapat mengenal Kristus secara lebih mendalam setiap hari. Allah sangat menginginkan agar pengenalan kita akan Yesus itu hidup dan mempribadi. Bagaimana hal ini dapat terjadi dalam kehidupan kita? Kita harus berdoa dan mohon kepada Allah agar menolong kita untuk dapat melihat dengan lebih mendalam ke dalam misteri Kristus dan pengharapan kita kepada-Nya.

DOA: Bapa surgawi, Allah yang Mahamulia, kami mohon Kaucurahkan kepada kami Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Kristus dengan benar. Jadikanlah mata hati kami terang, agar kami mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam penggilan-Mu: Betapa kayanya kemuliaan warisan-Mu kepada orang-orang kudus. Amin. [Adaptasi dari Ef 1:17-18]

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 7:11-17), bacalah tulisan yang berjudul “PERWUJUDAN KASIH ALLAH DI DEKAT PINTU GERBANG KOTA NAIN” (bacaan tanggal 18-9-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak,  16 September 2018 [HARI MINGGU BIASA XXIV – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS