YESUS BERSABDA: PERGILAH, ANAKMU HIDUP!

YESUS BERSABDA: PERGILAH, ANAKMU HIDUP !

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan IV Prapaskah Senin, 27 Maret 2017) 

Setelah dua hari Yesus berangkat dari sana ke Galilea, sebab Yesus sendiri telah bersaksi bahwa seorang nabi tidak dihormati di negerinya sendiri. Setelah Ia tiba di Galilea, orang-orang Galilea pun menyambut Dia, karena mereka telah melihat segala sesuatu yang dikerjakan-Nya di Yerusalem pada pesta itu, sebab mereka sendiri pun turut ke pesta itu.

Kemudian Yesus kembali lagi ke Kana di Galilea, di mana Ia membuat air menjadi anggur. Di Kapernaum ada seorang pegawai istana, anak laki-lakinya sedang sakit. Ketika ia mendengar bahwa Yesus telah datang dari Yudea ke Galilea, pergilah ia kepada-Nya lalu meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan anaknya, sebab anaknya itu hampir mati. Kata Yesus kepadanya, “Jika kamu tidak melihat tanda dan mukjizat, kamu tidak percaya.” Pegawai istana itu berkata kepada-Nya, “Tuan, datanglah sebelum anakku mati.” Kata Yesus kepadanya, “Pergilah, anakmu hidup!” Orang itu percaya kepada perkataan yanag dikatakan Yesus kepadanya, lalu pergi. Ketika ia masih di tengah jalan hamba-hambanya telah datang kepadanya dengan kabar bahwa anaknya hidup. Karena itu, bertanya kepada mereka pukul berapa anak itu mulai sembuh. Jawab mereka, “Kemarin siang pukul satu  demamnya hilang.” Ayah itupun teringat bahwa pada saat itulah Yesus berkata kepadanya, “Anakmu hidup.” Lalu ia dan seluruh keluarganya percaya.

Itulah tanda kedua yang dibuat Yesus ketika Ia pulang dari Yudea ke Galilea. (Yoh 4:43-54) 

Bacaan Pertama: Yes 65:17-21; Mazmur Tanggapan: Mzm 30:2-6, 11-13 

Tempatkanlah diri kita masing-masing sekarang sebagai sang pegawai istana dari Kapernaum itu – seorang ayah yang anak laki-lakinya sudah berada di ambang kematian. Dalam keadaan hampir berputus-asa, dia mencari pembuat mukjizat dari Nazaret yang telah begitu sering didengarnya dari cerita orang-orang. Barangkali Yesus mau menyembuhkan anaknya juga, pikirnya. Untunglah dia bukan seseorang yang suka “ja-im”. Maka, tanpa mempertimbangkan status sosialnya yang biasanya menyebabkan dia diperlakukan secara istimewa, pegawai istana itu menghampiri Yesus dengan rendah hati, seperti orang lainnya yang penuh kebingungan dan hampir berputus asa.

Untuk sesaat, Yesus kelihatannya menguji ketetapan hati sang pegawai istani (lihat Yoh 4:48), namun orang itu bersiteguh dan memohon dengan sangat agar Yesus sudi mengunjungi rumahnya. Lalu terjadilah sesuatu yang sangat penting. Yesus berjanji bahwa si anak akan disembuhkan: “Pergilah, anakmu hidup!” (Yoh 4:50). Sang pegawai istana percaya kepada perkataan Yesus, lalu pergi (lihat Yoh 45:50). Tidak lagi diperlukan kunjungan ke rumahnya, tidak diperlukan lagi jaminan lebih lanjut. Yesus telah bersabda!

Inilah iman! Seperti para pendahulu kita di zaman dahulu yang berkenan kepada Allah dan dipuji dalam “Surat kepada Orang Ibrani”, sang pegawai istana memiliki “dasar dari segala sesuatu yang diharapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak dilihat” (Ibr 11:1-2). Iman sejati seperti ini aktif dan berpengharapan, bukan berdasarkan asumsi buta bahwa bagaimana pun segalanya akan menjadi baik tanpa pertolongan Allah.

Dalam doa-doa hari ini, marilah kita masing-masing menyediakan waktu yang cukup untuk berbicara dengan Allah secara jujur tentang iman kita sendiri. Dia ingin mengajar kita bagaimana mempercayai kasih-Nya dan untuk percaya bahwa setiap hari, dalam setiap situasi, Dia selalu bersama kita. Marilah kita bertanya kepada diri kita sendiri: Di manakah imanku? Percayakah aku bahwa Yesus adalah sebaik seperti Dia secara konsisten menunjukkan diri-Nya?

Di suatu saat kelak, ketika kita perlu membuat langkah dalam iman, marilah kita percaya sungguh-sungguh kepada sabda-Nya. Marilah kita datang kepada-Nya dengan penuh keyakinan sebagaimana telah dicontohkan oleh sang pegawai istana. Marilah kita percaya 100% akan janji-janji Yesus kepada kita, lalu kita nantikan mukjizat-mukjizat yang akan terjadi atas diri kita.

DOA: Tuhan Yesus, ada area-area dalam kehidupanku yang kusembunyikan dari-Mu karena ketidakpercayaanku. Aku mengundang Engkau untuk memasuki area-area itu sekarang. Berikanlah kepadaku iman seperti yang dimiliki sang pegawai istana di Kapernaum dahulu, yang memohon dengan sangat suatu kesembuhan dan kemudian percaya kesembuhan telah terjadi pada waktu Engkau mengatkannya. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Yoh 4:43-54), bacalah tulisan yang berjudul “BUKALAH MATA, TELINGA, DAN HATI KITA” (bacaan tanggal 27-3-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak, 24 Februari 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

AKU PERCAYA, TUHAN!

AKU PERCAYA, TUHAN!

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PRAPASKAH IV [TAHUN A], 26 Maret 2017) 

Waktu Yesus sedang lewat, Ia melihat seorang yang buta sejak lahirnya. Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya, “Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang ini sendiri atau orang tuanya, sehingga ia dilahirkan buta?” Jawab Yesus, “Bukan dia dan bukan juga orang tuanya, tetapi supaya pekerjaan-pekerjaan Allah dinyatakan di dalam dia. Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam di mana tidak ada seorang pun yang dapat bekerja. Selama Aku di dalam dunia, Akulah terang dunia.” Setelah Ia mengatakan semuanya itu, Ia meludah ke tanah, dan membuat lumpur dengan ludah itu, lalu mengoleskannya pada mata orang buta tadi dan berkata kepadanya, “Pergilah, basuhlah dirimu dalam kolam Siloam.” Siloam artinya, Yang diutus.” Orang itu pun pergi membasuh dirinya lalu kembali dan dapat melihat lagi.

Tetapi tetangga-tetangganya dan mereka, yang dahulu mengenalnya sebagai pengemis, berkata, “Bukankah dia ini, yang selalu duduk dan mengemis?” Ada yang berkata, “Benar, dialah ini.” Ada pula yang berkata, “Bukan, tetapi ia serupa dengan orang itu.” Ia sendiri berkata, “Benar, akulah dia.” Lalu kata mereka kepadanya, “Bagaimana matamu menjadi melek?” Jawabnya, “Orang yang disebut Yesus itu membuat lumpur, mengoleskannya pada mataku dan berkata kepadaku: Pergilah ke Siloam dan basuhlah dirimu. Lalu aku pergi dan setelah aku membasuh diriku, aku dapat melihat.” Lalu mereka berkata kepadanya, “Di manakah Dia?” Jawabnya, “Aku tidak tahu.”

Lalu mereka membawa orang yang tadinya buta itu kepada orang-orang Farisi. Adapun hari waktu Yesus membuat lumpur dan memelekkan mata orang itu, adalah hari Sabat. Karena itu orang-orang Farisi bertanya lagi kepadanya, bagaimana matanya menjadi melek. Jawabnya, “Ia mengoleskan lumpur pada mataku, lalu aku membasuh diriku, dan sekarang aku dapat melihat.” Lalu kata sebagian orang-orang Farisi itu, “Orang ini tidak datang dari Allah, sebab Ia tidak memelihara hari Sabat.” Tetapi yang lain berkata, “Bagaimana seorang berdosa dapat membuat tanda mukjizat yang demikian?” Lalu timbullah pertentangan di antara mereka. Kata mereka lagi kepada orang buta itu, “Dan engkau, apa katamu tentang Dia, karena Ia telah memelekkan matamu?” Jawabnya, “Ia seorang nabi.” (Yoh 9:1-17; lengkap: Yoh 9:1-41) 

Bacaan Pertama: 1Sam 16:1b,6-7,10-13a; Mazmur Tanggapan: Mzm 23:1-6; Bacaan Kedua: Ef 5:8-14 

Apabila anda masih bertanya-tanya apakah yang diajarkan oleh Gereja tentang pertobatan, maka yang perlu anda lakukan adalah membaca bacaan Injil dalam Misa Hari Minggu selama masa Prapaskah tahun ini. Sepanjang masa Prapaskah, kepada kita disajikan kebenaran bahwa pertobatan berpusat atas suatu perjumpaan dengan Yesus yang menggerakkan kita untuk untuk menyerahkan hidup kita kepada-Nya.

Dua hari Minggu pertama menceritakan tentang godaan Iblis atas diri Yesus dan transfigurasi-Nya, kedua hal mana memberikan kepada kita keseluruhan pesan Injil secara miniatur. Kita melihat Yesus sebagai Dia yang mengambil semua dosa kita dan memikul semua dosa itu sendiri; juga membimbing kita ke dalam ciptaan baru oleh kebangkitan-Nya.

Kemudian, tiga hari Minggu setelah itu secara berturut-turut masing-masing menggambarkan suatu dimensi yang berbeda tentang apa yang akan terjadi bilamana kita menerima Yesus ke dalam hati kita. Fokus bacaan Injil Minggu lalu memusatkan perhatian pada keputusan seorang perempuan Samaria untuk berbalik dari kedosaan lalu menerima Yesus sebagai sang Pemberi air hidup. Berbagai upaya sebelumnya dari perempuan itu untuk menemukan kasih telah gagal, dan ia melihat bahwa hanya Yesus-lah yang dapat memberikan kepadanya apa yang didamba-dambakan olehnya selama itu.

Bacaan Injil hari Minggu ini adalah sebuah cerita tentang seorang buta sejak lahirnya. Cerita ini mengajarkan kepada kita betapa vitalnya bagi kita datang dan melihat Yesus dalam suatu terang yang baru secara menyeluruh dan mengakui Dia sebagai Tuhan. Diberikan penglihatan secara fisik dari kebutaannya hanyalah suatu awal dari perjalanan si buta. Hatinya harus dibangkitkan juga, demikian pula seharusnya dengan hati kita. Inilah pertanyaan yang kita hadapi hari ini: Apakah aku sungguh mengenal Yesus dalam hatiku? Apakah aku memperkenankan Roh Kudus menunjukkan kepadaku lebih lagi siapa Yesus itu? Dalam Misa Kudus hari ini marilah kita memohon agar diberikan perwahyuan sehubungan dengan pertanyaan di atas. Marilah kita mengatakan kepada Bapa surgawi dalam doa kita bahwa kita ingin menggemakan kata-kata orang buta dalam bacaan Injil hari ini, “Aku percaya, Tuhan!” (Yoh 9:38).

Bacaan Injil Minggu depan (Pekan IV Prapaskah) adalah tentang “Lazarus dibangkitkan”. Bacaan Injil itu akan fokus pada janji Yesus bahwa setiap orang yang hidup  dan yang percaya kepada-Nya ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang hidup dan yang percaya kepada-Nya tidak akan mati selama-lamanya (lihat Yoh 11:26); juga akan fokus pada kepercayaan Marta yang mulai mantap bahwa Yesus adalah Putera Allah: “Ya, Tuhan, aku percaya bahwa Engkaulah Mesias, Anak Allah, yang akan datang ke dalam dunia” (Yoh 11:27). Semoga kita semua menggemakan pengakuan iman Marta itu dan mengenal hidup baru yang datang melalui pertobatan!

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamatku. Tolonglah diriku agar dapat melangkah ke luar dari bayang-bayang kegelapan dan masuk ke dalam terang-Mu pada hari ini. Pancarkanlah kemuliaan-Mu ke dalam hatiku sehingga dengan demikian aku dapat menyerahkan hidupku kepada-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalam Bacaan Injil hari ini (Yoh 9:1-17 atau Yoh 9:1-41), bacalah tulisan yang berjudul “ORANG YANG BUTA SEJAK LAHIRNYA” (bacaan tanggal 26-3-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2017.

Cilandak, 24 Maret 2017  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MARIA DIBERI KABAR OLEH MALAIKAT GABRIEL

MARIA DIBERI KABAR OLEH MALAIKAT GABRIEL

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Raya Kabar Sukacita – Sabtu, 25 Maret 2017) 

Dalam bulan yang keenam malaikat Gabriel disuruh Allah pergi ke sebuah kota yang bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. Ketika malaikat itu datang kepada Maria, ia berkata, “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.”  Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya, “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh anugerah di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapak leluhur-Nya, dan Ia akan memerintah atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.”  Kata Maria kepada malaikat itu, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” Jawab malaikat itu kepadanya, “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.”  Kata Maria, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia. (Luk 1:26-38)  

Bacaan Pertama: Yes 7:10-14;8:10; Mazmur Tanggapan: Mzm 40:7-11; Bacaan Kedua: Ibr 10:4-10 

“Maria diberi kabar oleh malaikat Tuhan, bahwa ia akan mengandung dari Roh Kudus. Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu”, demikianlah bunyi sebagian dari doa Malaikat Tuhan (Angelus), yang kita doakan tiga kali setiap hari di luar masa Paskah (lihat Puji Syukur # 15).

Sekarang marilah kita membayangkan apa yang kiranya terjadi dengan seorang gadis desa berusia 14/16 tahun yang bernama Maria itu sekitar 2.000 tahun lalu: Malaikat Gabriel mengunjungi Maria dan memberi kabar kepada gadis itu bahwa dia telah dipilih untuk mengandung dan melahirkan Putera Allah. Tanggapan Maria atas pemberitahuan malaikat tersebut adalah: “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38). Ini adalah tanggapan dari seorang pribadi manusia yang senantiasa siap sedia untuk dipakai Allah. Sikap dan perilaku yang patut kita contoh.

Sejak Maria mengatakan “ECCE ANCILLA DOMINI FIAT MIHI SECUNDUM VERBUM TUUM” (ini versi Latin dalam Vulgata) ini, semua ciptaan tidak akan pernah sama lagi. Pada saat yang sangat penting dalam sejarah penyelamatan umat manusia itu, Allah yang Mahakuasa menyatakan kedalaman kasih-Nya: Putera-Nya merendahkan diri-Nya, menjadi sama dengan manusia. Putera-Nya taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib (lihat Flp 2:7-8). Santo Athanasios Agung (296-373), Uskup dan salah satu dari empat orang Pujangga Gereja Timur, pembela iman yang benar, menulis: “Daripada makhluk ciptaan-Nya hancur-hilang dan karya Bapa bagi kita menjadi sia-sia, Dia mengambil bagi diri-Nya sesosok tubuh manusia seperti kita” (diambil dari tulisannya tentang Inkarnasi).

Yesus berhasrat untuk mengambil kemanusiaan kita bagi diri-Nya agar oleh kematian dan kebangkitan tubuh-Nya, Dia dapat memberikan hidup-Nya sendiri kepada kita. Yesus turut ambil bagian sepenuhnya dalam setiap aspek kemanusiaan kita. Dengan demikian Ia dapat menunjukkan kepada kita bagaimana seharusnya menjalani hidup dalam dunia ini. Sebagai imam besar agung yang penuh belas kasih, yang ‘ditakdirkan’ untuk memikul segala dosa manusia, Yesus menjalani kehidupan manusia sepenuh-penuhnya seperti halnya kita. Ia telah dicobai, hanya saja Ia tidak berbuat dosa (Ibr 4:15). Yesus hidup dalam dunia ini yang sudah dirusak oleh dosa. Oleh karena itu Dia mampu untuk menghibur kita dan mengangkat hati kita kepada Bapa surgawi.

Apakah anda pernah mengalami kehilangan orangtua atau orang yang sangat anda kasihi karena kematian? Sebagai manusia Yesus pun telah mengalami kematian “ayah angkat-Nya” Yusuf. Apakah anda mengalami kesulitan dalam memecahkan masalah relasi tertentu? Sebagai manusia Yesus pun harus belajar bagaimana mengasihi setiap jenis pribadi manusia. Apakah anda merasa terluka pada waktu orang-orang yang dekat padamu justru tidak memahami anda? Sebagai manusia Yesus pun terus menghormati ibu-Nya, bahkan pada saat Maria sang ibu tidak dapat memahami misi-Nya (lihat Luk 2:48-51). Tuhan Yesus mendampingi kita masing-masing dalam setiap situasi, memberikan kepada kita rahmat dan memperkuat kita dengan cintakasih-Nya. Marilah kita mohon kepada-Nya untuk selalu berada di sisi kita setiap saat. Baiklah kita menerima segala berkat yang tersedia bagi kita melalui keikutsertaan-Nya yang penuh kedinaan dalam kemanusiaan kita.

DOA: Aku mengasihi-Mu, Yesus, Tuhan dan Juruselamatku! Perendahan dan kedinaan-Mu untuk  ikut-serta dalam kemanusiaan sungguh tak mampu tertangkap akal budiku. Terima kasih karena Engkau telah mengambil bagian dalam hidup kemanusiaanku. Terima kasih karena Engkau selalu bersamaku dalam setiap situasi. Amin.  

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 1:26-38), bacalah tulisan yang berjudul “KABAR SUKACITA” (bacaan tangggal 25-3-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2017.  

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010) 

Cilandak, 22 Maret 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PERINTAH UNTUK MENGASIHI ALLAH DAN SESAMA

PERINTAH UNTUK MENGASIHI ALLAH DAN SESAMA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Prapaskah – Jumat, 24 Maret 2017) 

Lalu seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan bertanya, “Perintah manakah yang paling utama?”  Jawab Yesus, “Perintah yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhanlah Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Perintah yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada perintah lain yang lebih utama daripada kedua perintah ini.”  Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus, “Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia. Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri jauh lebih utama daripada semua kurban bakaran dan kurban lainnya.”  Yesus melihat bagaimana orang itu menjawab dengan bijaksana, dan Ia berkata kepadanya, “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!”  Sesudah itu, seorang pun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus. (Mrk 12:28-34) 

Bacaan Pertama: Hos 14:2-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 81:6-11,14,17

Literatur Yahudi bercerita tentang seseorang yang pada suatu hari bertanya kepada Rabbi Hillel untuk meringkas 613 peraturan Perjanjian Lama selagi dia berdiri atas satu kakinya, artinya secara singkat saja! Hillel menjawab: “Apa yang kamu benci bagi dirimu sendiri, janganlah lakukan kepada sesamamu. Ini adalah keseluruhan hukum; selebihnya adalah tafsir/komentar” (lihat Tob 4:15a; bdk. Mat 7:12).

Rupanya ahli Taurat yang bertanya kepada Yesus dalam bacaan Injil kali ini tidak tergolong mayoritas para pemuka agama Yahudi yang ingin mempermalukan, mencelakakan, malah menghabiskan Yesus. Ia melontarkan pertanyaan yang sama (baca Luk 10:25 dsj.), namun terkesan tulus: “Perintah manakah yang paling utama?” (12:28). Kebanyakan ahli Taurat memandang Yesus sebagai sebagai seorang rabi yang merupakan saingan, … sebagai ancaman! Lain halnya dengan ahli Taurat yang satu ini: dia memandang Yesus sebagai suatu kesempatan untuk belajar. Oleh karena itu secara sopan dia mengajukan sebuah pertanyaan sederhana yang mencerminkan suatu keprihatinan yang tertanam dalam-dalam di setiap hati anak manusia.

Pertanyaan ahli Taurat ini mencerminkan sebuah hati yang mencari – kalau mungkin, untuk memahaminya – suatu prinsip tunggal sederhana yang mendasari kompleksitas hukum yang berlaku. Perintah mendasar mana yang dapat memberikan arti kepada pelbagai ketetapan dan peraturan tentang hidup keagamaan yang lebih kecil? Apakah ada kunci yang dapat membongkar teka-teki kehidupan kita dan membimbing kita melalui kompleksitas baik di sekeliling kita maupun di dalam diri kita sendiri? Kita semua merindukan jawaban-jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan di atas.

Perintah untuk mengasihi Allah dan sesama bukan sekadar suatu perintah atau tugas. Bagaimana pun juga tidak ada orang yang dapat mengasihi hanya karena dia diperintahkan untuk melakukan begitu! Akhirnya, mengasihi Allah adalah suatu privilese, suatu relasi yang dimulai oleh Allah sendiri (lihat 1Yoh 4:19) pada saat kita dibaptis dan yang bertumbuh sementara kita menerima  sabda Allah dan membuka hati kita untuk mengalami kasih-Nya. Hal ini bertumbuh sementara kita berupaya terus untuk menyelaraskan kehendak-kehendak kita dengan perintah Allah yang paling utama ini, membuat keputusan-keputusan harian untuk meminta Allah mengajarkan kepada kita bagaimana mengasihi dan taat kepada-Nya.

Allah selalu mau berada dekat dengan kita, dan setiap kali kita berpaling kepada-Nya, kita dapat menerima kasih-Nya dengan lebih mendalam lagi. Pengalaman akan kasih-Nya kemudian  kita terapkan untuk mengasihi-Nya dan untuk membagikan kasih ini dengan sesama kita. Benarlah, bahwa kita harus memutuskan mencari Allah dan menanggapi sapaan-Nya, namun keputusan-keputusan ini dimaksudkan mengalir dari relasi penuh cintakasih yang dikehendaki Allah dengan kita, suatu relasi yang bertumbuh seiring dengan cinta kasih yang disyeringkan.

DOA: Bapa surgawi, gerakkanlah aku dengan kasih-Mu untuk mengasihi-Mu dan sesamaku dengan kasih-Mu. Teristimewa pada masa Prapaskah ini, tolonglah aku agar dapat melihat hidup imanku sebagai suatu relasi, bukan sekadar suatu tugas. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 12:28-34), bacalah tulisan yang berjudul  “MENGASIHI ALLAH DAN SESAMA” (bacaan tanggal 24-3-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010) 

Cilandak, 21 Maret 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

YESUS DAN IBLIS

YESUS DAN IBLIS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Prapaskah – Kamis, 23 Maret 2017) 

Pada suatu kali Yesus mengusir dari seseorang suatu setan yang membisukan. Ketika setan itu keluar, orang bisu itu dapat berkata-kata. Lalu heranlah orang banyak. Tetapi ada di antara mereka yang berkata, “Ia mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, pemimpin setan.” Ada pula yang meminta suatu tanda dari surga kepada-Nya, untuk mencobai Dia. Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka lalu berkata, “Setiap kerajaan yang terpecah-pecah pasti binasa, dan setiap rumah tangga yang terpecah-pecah, pasti runtuh. Jikalau Iblis itu juga terbagi-bagi dan melawan dirinya sendiri, bagaimanakah kerajaannya dapat bertahan? Sebab kamu berkata bahwa Aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul. Jadi, jika aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, dengan kuasa apakah pengikut-pengikutmu mengusirnya? Karena itu, merekalah yang akan menjadi hakimmu. Tetapi jika aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu. Apabila seorang yang kuat dan bersenjata lengkap menjaga rumahnya sendiri, maka amanlah segala miliknya. Tetapi jika seorang yang lebih kuat daripadanya menyerang dan mengalahkannya, maka orang itu akan merampas perlengkapan senjata yang diandalkannya, dan akan membagi-bagikan rampasannya. Siapa yang tidak bersama Aku, ia melawan aku dan siapa yang tidak mengumpulkan bersama Aku, ia menceraiberaikan.”  (Luk 11:14-23)  

Bacaan Pertama: Yer 7:23-28; Mazmur Tanggapan: Mzm 95:1-2,6-9

Di abad ke-21 ini seringkali dianggap keterlaluanlah kalau kita memandang kejahatan sebagai akibat dari kekuatan-kekuatan Iblis dan roh-roh jahat. Berbicara mengenai Iblis, setan dan roh jahat pada zaman modern ini terasa sebagai takhyul yang jauh dari “keindahan” logika. Namun demikian, oleh iman dan perwahyuan dalam Kitab Suci kita tahu bahwa Iblis itu sungguh riil. Lihatlah “bacaan singkat”’ yang kita baca dan renungkan ketika mendoakan “Ibadat Penutup”’ setiap Selasa malam: “Waspadalah dan berjagalah! Sebab setan, musuhmu, berkeliling seperti singa yang mengaum-ngaum mencari mangsanya. Lawanlah dia, teguh dalam iman” (1Ptr 5:8-9; teks diambil dari Ofisi Ilahi). Untuk apa Santo Petrus menyinggung soal setan kalau hal itu hanyalah khayalan manusia belaka? Iblis dan para pengikutnya adalah memang musuh kita.

Tujuan Iblis dan roh-roh jahat adalah untuk menyerang Yesus dengan menyerang umat Allah – kita. Iblis tahu  benar bahwa kalau dia dapat mengganggu damai-sejahtera kita, kesatuan dan persatuan kita dan kepercayaan kita pada Allah, maka dia akan sangat melemahkan Gereja-Nya. Seperti yang telah dilakukannya ketika pertama kali memberontak melawan Allah (lihat Why 12:7 dsj.), Iblis dan para pengikutnya terus saja melakukan manuver-manuver di atas muka bumi ini, dengan mencoba merampas dari Allah sebanyak mungkin anak-anak-Nya. Kalau saya mengatakan anak-anak-Nya, hal ini berarti termasuk juga para rohaniwan, biarawan dan biarawati, karena secara jujur tidak ada yang kebal terhadap serangan dari si “pangeran kegelapan” dan pasukannya. Jubah religius warna apa pun yang dipakai sungguh tidak akan menjamin. Dengan berbagai cara, halus maupun kasar, Iblis dan roh-roh jahat pendukungnya akan mengganggu serta menggoda agar kita ragu-ragu atau berpikiran lain atas berbagai butir kebenaran yang selama ini kita telah terima dari Kitab Suci dan Gereja. Rasa percaya kita pada cintakasih Bapa surgawi serta pemeliharaan-Nya atas diri kita semua, terus saja digerogoti dengan berbagai macam cara oleh si Jahat dan kawan-kawannya itu.

Dalam Injilnya, Santo Lukas melukiskan gambaran-gambaran jelas tentang realitas dan kuasa Iblis dan roh-roh jahat pengikutnya, namun dia juga dengan cepat menunjukkan bahwa mereka bergetar ketakutan di hadapan hadirat Yesus, bermohon-mohon untuk dikasihani. Dengan kata lain, sejago-jagonya Iblis, jauh lebih hebat dan penuh kuasalah Yesus kita. Yesus datang ke dunia untuk membawa kita dengan aman ke dalam kerajaan Allah dengan membebaskan kita dari Iblis, “pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran … ia adalah pendusta dan bapak pendusta” (Yoh 8:44). Dari Injil kita dapat melihat bahwa kehidupan Yesus di depan publik hampir terus menerus merupakan perjuangan melawan Iblis dan dosa yang diinspirasikan olehnya. Sepanjang karya pelayanan publik-Nya Yesus membebaskan orang-orang yang dirasuki Iblis dan menyembuhkan orang-orang yang sakit, sambil memproklamasikan: “Sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu” (Luk 11:20).

Kebangkitan Yesus dari maut menandakan kekalahan Iblis. Dosa dan kematian – dua senjata pamungkas miliknya – telah kehilangan kuasanya. Namun demikian, apakah Iblis sudah pergi dan tak mengganggu lagi? Tentu saja dia belum pergi! Kita tidak akan melihat pembebasan sepenuhnya sampai Yesus datang kembali kelak guna mengumpulkan para murid-Nya sepanjang masa. Sementara Iblis dan para pengikutnya akan berupaya terus untuk menghancurkan kerajaan Allah, dan dia menggunakan dosa-dosa kita dan kodrat manusia yang cenderung jatuh ke dalam dosa. Misalnya, kita tahu benar bahwa kita harus berdoa dan semakin dekat kepada Allah. Maka kita membaca Kitab Suci, kita pergi ke gereja dll., kita berketetapan untuk hidup seturut firman Allah. Akan tetapi, pengalaman kita menunjukkan bahwa Iblis dan roh-roh jahat selalu menggoda kita dengan kenikmatan dunia dan lain sebagainya; pokoknya untuk menjauhkan kita dari Allah.

Yesus memahami perjuangan kita melawan godaan-godaan seperti itu. Yesus sendiri telah mengalami cobaan dan godaan Iblis agar Ia tidak percaya pada kuasa Bapa-Nya, menaruh hasrat pada kekuasaan, mengejar hal-hal duniawi dan mempunyai ambisi untuk kepentingan diri-sendiri (lihat Luk 4:1-13). Namun karena kasih-setia-Nya kepada Allah, Yesus memenangkan “pertempuran”-Nya dengan Iblis pada waktu itu. Atas dasar fakta inilah kita harus datang kepada-Nya kalau kita digoda. Jika kita rasakan ada sesuatu yang menghalangi jalan kita kepada Allah, tidak salahlah kalau kita menduga bahwa Iblis dan kawan-kawannya sedang melakukan sesuatu atas diri kita. Janganlah takut karena Yesus telah mengalahkan Iblis. Iblis memang riil, akan tetapi Yesus adalah sang Pembebas yang telah membuktikan kemenangan-Nya atas Iblis itu. Kepada Dia sajalah kita harus mohon pertolongan dalam melawan Iblis dan roh-roh jahat.

DOA: Roh Kudus Allah, Engkau datang untuk menyingkap kesalahan dunia. Ungkapkanlah di mana kami telah memperkenankan menancapkan kaki-kakinya dalam dalam kehidupan kami. Bebaskanlah kami dari yang jahat. Bawalah kami dengan aman ke dalam Kerajaan Allah. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 11:14-23), bacalah tulisan yang berjudul “YANG BERSAMA YESUS PASTI MENANG” (bacaan tanggal 23-3-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010) 

Cilandak, 21 Maret 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

UNTUK MENGGENAPI HUKUM TAURAT DAN KITAB PARA NABI

UNTUK MENGGENAPI HUKUM TAURAT DAN KITAB PARA NABI

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Prapaskah – Rabu, 22 Maret 2017) 

“Janganlah kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu huruf kecil atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat,  sebelum semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Surga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkannya, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Surga. (Mat 5:17-19)  

Bacaan Pertama Ul 4:1,5-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 147:12-13,15-16,19-20

Yesus tidak memperkenankan diri-Nya ditempatkan sebagai oposisi terhadap Hukum Taurat dan kitab para Nabi (Mat 5:17). Melalui sarana-sarana ini, Allah berbicara kepada para kekasih-Nya, umat pilihan. Yesus membuat jelas, bahwa ajaran-ajaran-Nya dan mukjizat-mukjizat-Nya sepenuhnya sejalan dengan Hukum Taurat, dan Ia adalah penggenapannya – Dia yang akan menyempurnakan Hukum Taurat sesempurna-sempurnanya.

Yesus menyempurnakan Hukum Taurat dengan memenuhi tujuan Allah dalam memberikan hukum itu pertama kalinya, yaitu bahwa kita akan mampu untuk berelasi dengan Allah secara murni dan benar, demikian pula halnya dengan relasi dengan sesama. Dengan mendamaikan kita dengan Bapa surgawi lewat kemenangan-Nya di atas kayu salib, Yesus membuat setiap orang dimungkinkan untuk berdiri di hadapan hadirat Allah, bersih dan bebas dari kesalahan. Ditebus oleh darah-Nya dan dibawa ke dalam suatu kehidupan baru dalam air baptis, kita dapat dipenuhi dengan kuasa Roh Kudus-Nya, yang membentuk hati kita serta mengajar kita jalan ketaatan.

Dibebaskan dari rasa takut akan dihukum, semakin yakin akan kasih Allah kepada kita, sekarang kita dapat menerima kehidupan ilahi. Dari kuasa kehidupan itulah, kita dapat menyenangkan Dia lewat/oleh tindakan-tindakan iman kita. Hukum tetap diperlukan karena perjuangan terus menerus berlangsung antara daging dan roh, namun tujuannya telah dinaikkan kepada suatu tingkatan yang jauh lebih tinggi. Kristus telah memberikan kepada kita hidup baru yang mentransformasikan diri kita, menarik kita semakin jauh lagi dari dosa dan semakin dekat kepada Bapa surgawi.

Jika kita ke luar sedikit dari bacaan Injil hari ini (namun masih tetap dalam kerangka “Khotbah di Bukit”), maka dapat kita katakan bahwa ketika Yesus menggemakan dan menggenapi perintah-perintah berkaitan dengan pembunuhan, perzinahan, dan perceraian (lihat Mat 5:21,27,31), Ia tidak hanya memanggil kita untuk menghayati kehidupan moral yang lebih baik, melainkan juga mengundang kita ke dalam inti kehidupan Allah sendiri, yang dimulai sekarang di dunia ini.

DOA: Yesus, Engkaulah pemenuhan segala hukum Allah. Engkau adalah Guru Agung, Tuhan dan Juruselamat kami. Oleh Roh Kudus-Mu, bentuklah diri kami agar tetap menjadi murid-murid-Mu yang setia, dan dari hari ke hari kami dapat menjadi semakin serupa dengan Engkau. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 5:17-19), bacalah tulisan yang berjudul “KRISTUS ADALAH IMAM BESAR AGUNG PERJANJIAN BARU” (bacaan tanggal 22-3-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak, 20 Maret 2017 [HARI RAYA S. YUSUF, SUAMI SP MARIA] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SAMPAI BERAPA KALI AKU HARUS MENGAMPUNI?

SAMPAI BERAPA KALI AKU HARUS MENGAMPUNI?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Prapaskah – Selasa, 21 Maret 2017) 

Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus, “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali? Yesus berkata kepadanya, “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.

Sebab hal Kerajaan Surga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta. Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak istrinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya. Lalu sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunasi. Tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.

Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu! Lalu sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunasi. Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai ia melunasi hutangnya.

Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka. Kemudian raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohon kepadaku. Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? Tuannya itu pun marah dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunasi seluruh hutangnya.

Demikian juga yang akan diperbuat oleh Bapa-Ku yang di surga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.” (Mat 18:21-35) 

Bacaan Pertama: Dan 3:25,34-43; Mazmur Tanggapan: Mzm 25:4-9

Kebanyakan kita tentunya setuju, bahwa mengampuni orang yang bersalah kepada kita bukanlah hal yang gampang untuk dilakukan. Namun demikian, dalam perumpamaan di atas Yesus menjelaskan, bahwa pengampunan adalah salah satu aspek kehidupan yang fundamental dalam kerajaan Allah. Pada kenyataannya, Yesus mengatakan bahwa apabila kita ingin mengetahui, mengenal serta mengalami damai-sejahtera dan sukacita kerajaan Allah, maka kita harus mengampuni siapa saja yang bersalah kepada kita, dan mengampuni seringkali.

Ajaran Yesus selalu saja menantang pemikiran-pemikiran “normal” manusia, misalnya “kasihilah musuh-musuhmu”, atau “siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu” dan lain-lain sebagainya. Sekarang, mengenai pengampunan. Mengapa begini? Karena hidup Kristiani itu dialaskan pada pengampunan yang dengan bebas diberikan kepada orang-orang yang sesungguhnya “tak pantas” untuk diampuni, yaitu kita semua. Belas kasih adalah konstitusi dan piagam kerajaan Allah, dan tidak ada seorang pun dari kita yang dapat mengalami berkat-berkat kerajaan itu tanpa ikut saling mengampuni satu sama lain, pengampunan yang begitu bebas diberikan oleh-Nya kepada kita masing-masing.

Kata-kata Yesus tentang pengampunan bukan sekadar teoritis. Kalau kita tidak/belum mengampuni seseorang, maka pada saat kita mengingat orang itu kita pun akan mengalami perubahan-perubahan fisik. Denyut jantung kita menjadi lebih cepat. Napas kita juga menjadi lebih cepat. Tubuh kita menjadi tegang, dan wajah kita pun tampak tambah jelek-loyo. Dalam pikiran kita pun bermunculanlah “flashbacks” peristiwa atau peristiwa-peristiwa ketika kita didzolimi, berulang-ulang. Bermunculanlah lagi alasan-alasan mengapa orang itu sesungguhnya tidak pantas untuk kita ampuni. Mulailah datang segala macam pemikiran negatif bahwa  semua anggota keluarga dan teman orang itu pun jahat semua. Bayangkanlah apa yang terjadi dengan diri kita pada tingkat spiritual. Pikirkanlah betapa sulitnya untuk menaruh kepercayaan pada kasih Allah. Juga betapa sulitnya untuk mengalami damai-sejahtera Kristus atau merasakan gerakan-gerakan Roh Kudus; semuanya karena kita tidak mau mengampuni.

Memang ini merupakan suatu gambaran yang suram, namun jangan sampai membuat kita frustrasi. Yang diminta Allah dari kita sebenarnya hanyalah untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan agar kita dapat sampai pada tindakan pengampunan, teristimewa pada masa Prapaskah ini. Sediakanlah beberapa menit setiap hari untuk memandang Salib Kristus dalam keheningan, sambil merenungkan bahwa Yesus menyerahkan nyawa-Nya sendiri untuk memperoleh pengampunan bagi kita.

Mohonlah kepada Roh Kudus untuk menolong anda menemukan jalan untuk sampai pada damai-sejahtera, restorasi relasi dan rekonsiliasi dengan Sang Mahatinggi. Katakanlah pada-Nya bahwa anda sungguh mencoba. Dia tahu bahwa dapat saja anda tidak sampai menuntaskan segalanya dalam jangka waktu yang singkat, namun dengan mengambil beberapa langkah ke arah yang benar, anda akan memberikan kesempatan kepada Allah untuk melakukan mukjizat dalam kehidupan anda.

DOA: Tuhan Yesus, aku percaya bahwa Engkau adalah perwujudan belas kasih Allah sendiri. Oleh Roh Kudus-Mu, ajarlah aku untuk berjalan di jalan belas kasih-Mu, agar akupun dapat mengalami kebebasan-Mu sendiri. Tuhan Yesus, tolonglah aku untuk mengampuni mereka yang  bersalah kepadaku. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 18:21-35), bacalah tulisan yang berjudul  “KARUNIA/ANUGERAH PENGAMPUNAN” (bacaan tanggal 21-3-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-03 PERMENUNGAN ALKITABIAH MARET 2017.

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010) 

Cilandak, 20 Maret 2017 [HARI RAYA S. YUSUF, SUAMI SP MARIA] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS