LEWI DIPANGGIL

LEWI DIPANGGIL

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Sabtu sesudah Rabu Abu –  13 Februari 2016) 

KEMURIDAN - YESUS MEMANGGIL MATIUSKemudian, ketika Yesus pergi ke luar, Ia melihat seorang pemungut cukai, yang  bernama Lewi, sedang duduk di tempat pemungutan cukai. Yesus berkata kepadanya, “Ikutlah Aku!” Lewi pun bangkit dan meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Dia.

Kemudian Lewi mengadakan perjamuan besar untuk Dia di rumahnya dan sejumlah besar pemungut cukai dan orang-orang lain turut makan bersama-sama dengan Dia. Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bersungut-sungut kepada murid-murid Yesus, katanya, “Mengapa kamu makan dan minum bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Lalu jawab Yesus kepada mereka, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.” (Luk 5:27-32) 

Bacaan Pertama: Yes 58:9b-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 86:1-6

Pernahkah anda berada dalam posisi membutuhkan seorang dokter, tetapi tidak mengakuinya? Meskipun didesak-desak oleh keluarga dan teman-teman, anda menolak untuk mengunjungi seorang dokter sampai penyakit yang anda derita itu akhirnya menjadi begitu serius sehingga anda pun terpaksa pergi ke dokter. Kita dapat mempunyai kesulitan yang sama, karena kita tidak mau menerima kenyataan bahwa kita menderita penyakit spiritual, yaitu dosa.

Yesus berkata kepada orang Farisi: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit” (Luk 5:31). Yesus tidak memaksudkan di sini bahwa para pemungut pajak dan orang berdosa menderita sakit secara spiritual sementara orang Farisi sehat-sehat saja. Para pemungut pajak dan orang berdosa dengan jelas dapat melihat dan menerima keadaan mereka. Orang-orang Farisi juga sakit, namun tidak mau mengakuinya, maka  mereka tidak mau pergi ke sang Dokter Agung agar dapat memperoleh kehidupan dan kesehatan yang baru.

Dunia ini tidak terdiri dari dua jenis manusia – para pendosa dan orang-orang benar. Yang benar adalah bahwa semua orang adalah pendosa. Ada orang-orang yang mengetahui dan mengakui kenyataan ini. Dengan segala kebutuhan yang ada mereka datang kepada Yesus. Ada juga orang-orang yang menolak untuk mengakui kenyataan ini, maka mereka tidak datang kepada Yesus guna menerima belaskasihan dan kesembuhan. Matius tahu kebutuhannya, dan dia berpaling kepada Yesus.

Ketika  Paulus menulis tentang keadaan orang-orang di hadapan Allah, maka dia mengambil ucapan sang pemazmur: “Tidak ada yang benar, seorang pun tidak. Tidak ada seorang pun yang berakal budi, tidak ada seorang pun yang mencari Allah. Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak” (Rm 3:10-12; bdk. Mzm 14:1-3). Paulus ingin agar kita semua menyadari bahwa kita tidak dapat mengandalkan pada kebaikan kita sendiri: “Karena semua orang telah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah” (Rm 3:23).

Selama kita masih merasa bahwa diri kita “tidak terlalu jelek”, maka hal itu berarti bahwa kita masih mencoba mengandalkan diri pada ‘kebaikan’ kita sendiri. Dengan demikian kita tidak dapat mengalami keselamatan yang terwujud hanya melalui Yesus. Marilah kita bertanya kepada diri kita masing-masing: “Apakah aku sungguh memandang diriku sebagai seorang pendosa yang membutuhkan penebusan melalui darah Yesus?” Mungkin kita masih harus membuang kecenderungan untuk berpikir bahwa selama ini kita oke-oke saja. Misalnya kita berkata: “Kita kan cuma manusia biasa, bukan malaikat?” Kita juga dapat memandang enteng arti dosa, misalnya dengan berkata: “Allah kan Mahamengerti?” Lewi datang kepada Yesus karena dia mengakui bahwa Yesus dapat menyembuhkannya. Semoga begitu juga halnya dengan kita masing-masing.

DOA: Tuhan Yesus, aku mengakui kedosaanku di hadapan-Mu sekarang ini. Engkau telah membayar harga dosa-dosaku di atas kayu salib sehingga aku dapat diperdamaikan dengan Allah Bapa. Tuhan, aku bersyukur dan berterima kasih kepada-Mu dengan segenap hatiku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 5:27-32), bacalah tulisan dengan judul “FORMULA UNTUK MENDAPATKAN KESEMBUHAN ILAHI” (bacaan tanggal 13-2-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH 2016. 

Cilandak,  10 Februari 2016 [RABU ABU] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PUASA SETURUT KEHENDAK-NYA

PUASA SETURUT KEHENDAK-NYA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Jumat sesudah Rabu Abu, 12 Februari 2016) 

Isaiah 000

Serukanlah kuat-kuat, janganlah tahan-tahan! Nyaringkanlah suaramu bagaikan sangkakala, beritahukanlah kepada umat-Ku pelanggaran mereka dan kepda kaum keturunan Yakub dosa mereka! Memang setiap hari mereka mencari Aku dan suka untuk mengenal segala jalan-Ku. Seperti bangsa yang melakukan yang benar dan yang tidak meninggalkan hukum Allah-nya mereka menanyakan Aku tentang hukum-hukum yang benar, mereka suka mendekat menghadap Allah, tanyanya: “Mengapa kami berpuasa dan Engkau tidak memperhatikannya juga? Mengapa kami merendahkan diri dan Engkau tidak mengindahkannya juga?” Sesungguhnya, pada hari puasamu engkau masih tetapi mengurus urusanmu, dan kamu mendesak-desak semua buruhmu. Sesungguhnya, kamu berpuasa sambil berbantah dan berkelahi serta memukuli dengan tinju dengan tidak semena-mena. Dengan caramu berpuasa seperti sekarang ini  suaramu tidak akan didengar di tempat tinggi. Sungguh-sungguh inikah berpuasa yang Kukehendaki, dan mengadakan hari merendahkan diri, jika engkau menundukkan kepala seperti gelagah dan membentangkan kain karung dan abu sebagai lapik tidur? Sungguh-sungguh itukah yang kausebutkan berpuasa, mengadakan hari yang berkenan pada YHWH? Bukan! Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri! Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu akan pulih dengan segera; kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan YHWH barisan belakangmu. Pada waktu itulah engkau akan memanggil dan YHWH akan menjawab, engkau akan berteriak minta tolong dan Ia akan berkata: Ini Aku! (Yes 58:1-9a) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-6,18-19; Bacaan Injil: Mat 9:14-15.

“Apa yang akan anda lakukan untuk masa Prapaskah tahun ini?” Berapa sering anda mendengar pertanyaan seperti ini dan menjawabnya dengan bercerita tentang hal-hal apa saja yang akan anda tinggalkan? Berpuasa dan pantang dari makan sesuatu yang anda suka adalah bentuk yang sangat biasa dari ‘apa yang anda lakukan’ dalam masa Prapaskah. Apakah itu “soto Betawi” favorit anda, atau ice cream tertentu, kita tolak untuk sementara waktu, barangkali dengan pengharapan agar dapat mengubah suatu kebiasaan buruk atau berkurang berat badan sebanyak 10 kg. Begitu mudahnya untuk mencari manfaat bagi diri kita sendiri, bukankah begitu? Dan apabila pengorbanan-pengorbanan Prapaskah terasa sulit, kita dapat menghibur diri dengan pemikiran bahwa pantang-puasa kita tokh hanya untuk 40 hari lamanya.

Memang selalu baik untuk mengubah kebiasaan buruk, namun visi Allah bagi kita jauh lebih luas dan menggairahkan. Ia mengundang kita berpuasa yang sungguh akan mengubah hati kita. Dia ingin terang dari kehidupan kita yang telah diubah itu “akan merekah seperti fajar” sebagai suatu kesaksian kepada seluruh dunia (lihat Yes 58:8).

Cobalah untuk membayangkan apa yang akan terjadi bila jutaan orang Kristiani memutuskan untuk pantang menonton televisi atau berinteraksi di media sosial lewat jaringan internet seperti facebook, twitter dlsb., dan mendedikasikan waktu yang tersedia itu untuk anggota keluarganya dan  teman-temannya. Apakah yang akan terjadi bila kita berhenti bersikap acuh-tak-acuh terhadap “wong cilik” dan meninggalkan isolasi-diri yang kita buat sendiri: kita mulai menyapa terlebih dulu mereka yang biasa kita “cuekin”. Kita mulai ikut mengunjungi tetangga yang sedang sakit dll. Mungkin hal-hal seperti ini terasa tidak penting, perkara kecil, namun semua itu adalah cara-cara konkret untuk mengubah hati kita – dan dunia kita – pada masa Prapaskah ini.

Pada zaman modern inipun kita semua mempunyai “keterikatan-keterikatan” yang sampai derajat tertentu membelenggu hati kita seperti halnya perbudakan (lihat Yes 58:6), tetapi pesan nabi di sini berisikan panduan bagaimana memerdekakan diri kita dari belenggu-belenggu itu. Pada masa Prapaskah ini, marilah kita lihat dalam keluarga kita sendiri, lingkungan, di antara para tetangga, dan seterusnya, orang-orang yang rindu akan suatu sentuhan kasih Allah. Dengan bermurah hati dalam penggunaan waktu kita, kita dapat membantu mematahkan kuk orang-orang yang tertindas dan memberi makan mereka yang lapar (lihat Yes 58:6-7).

Allah dapat membuat perubahan-perubahan besar dalam diri kita dan orang-orang di sekitar kita, selagi kita mempraktekkan apa yang tertulis dalam bacaan di atas. Terang-Nya yang bercahaya lewat diri kita dapat menyinari dunia, membuat perubahan-perubahan yang akan bertahan jauh lebih lama dari sekadar 40 hari.

DOA: Roh Kudus Allah, tolonglah aku mengenali orang-orang yang Kaukirim kepadaku untuk kulayani dalam nama-Mu. Semoga pantang dan puasaku dalam masa Prapaskah tahun ini dapat membentuk hati-Mu dalam diriku: sebuah hati yang mengasihi orang-orang kecil dan tertindas. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 9:14-15), bacalah tulisan yang berjudul “MENGAPA MURID-MURID-MU TIDAK BERPUASA?” (bacaan tanggal 12-2-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan tulisan saya pada tahun 2010) 

Cilandak, 9 Februari 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KITA JUGA HARUS MEMBUAT PILIHAN

KITA JUGA HARUS MEMBUAT PILIHAN

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Kamis sesudah Rabu Abu – 11 Februari 2016)

Hari Orang Sakit Sedunia 

Ten-commandments-mormon-moses

Ingatlah, aku menghadapkan kepadamu pada hari ini kehidupan dan keberuntungan, kematian dan kecelakaan, karena pada hari ini aku memerintahkan kepadamu untuk mengasihi TUHAN (YHWH), Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan berpegang pada perintah, ketetapan dan peraturan-Nya, supaya engkau hidup dan bertambah banyak dan diberkati oleh YHWH, Allahmu, di negeri ke mana engkau masuk untuk mendudukinya. Tetapi jika hatimu berpaling dan engkau tidak mau mendengar, bahkan engkau mau disesatkan untuk sujud menyembah kepada allah lain dan beribadah kepadanya, maka aku memberitahukan kepadamu pada hari ini, bahwa pastilah kamu akan binasa; tidak akan lanjut umurmu di tanah, ke mana engkau pergi, menyeberangi sungai Yordan untuk mendudukinya. Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu, dengan mengasihi YHWH, Allahmu, mendengarkan suara-Nya dan berpaut pada-Nya, sebab hal itu berarti hidupmu dan lanjut umurmu untuk tinggal di tanah yang dijanjikan YHWH dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni kepada Abraham, Ishak dan Yakub, untuk memberikannya kepada mereka.” (Ul 30:15-20) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 1:1-4,6; Bacaan Injil: Luk 9:22-25

Allah menawarkan kehidupan yang penuh berkat kepada umat Israel, oleh karena itu Dia menawarkan hidup dalam Dia setiap hari. Seperti juga umat Israel, kita juga harus membuat suatu pilihan. Apakah kita memilih kepenuhan hidup – karunia Allah bagi kita dan hasrat-Nya bagi kita – atau apakah kita akan memilih kehidupan yang terpisah dari Allah, alias maut?

Apakah yang dikatakan Kitab Suci tentang hidup yang ditawarkan Allah kepada kita? Kitab Kebijaksanaan Salomo mengatakan: “Allah telah menciptakan manusia untuk kebaikan” (Keb 2:23). Berbicara dalam nama Allah, nabi Yehezkiel berseru: “Aku tidak berkenan kepada kematian seseorang yang harus ditanggungnya, demikianlah firman Tuhan ALLAH (Yeh 18:32). Allah menciptakan kita agar hidup dari hari ke hari dalam kehadiran-Nya, penuh kepercayaan akan kasih-Nya dan perlindungan-Nya. “Hidup” dari Allah memenuhi diri kita dengan hikmat-kebijaksanaan, damai-sejahtera, pengharapan, dan kekuatan. Selagi kita menaruh kepercayaan kita pada Yesus, maka kita dapat mulai mengalami semua berkat ini, buah dari hidup Allah dalam diri kita.

Ini adalah kebenaran-kebenaran indah yang dapat kita andalkan untuk keseluruhan hidup kita. Kita dapat hidup dalam Kristus. Ia tidak menginginkan kita hidup dalam maut, terpisah dari diri-Nya. Marilah sekarang kita masing-masing bertanya kepada diri kita sendiri: “Apakah aku mengalami ‘kepenuhan hidup’ setiap hari?” Ada beberapa dari kita telah mencicipi hidup ini dan terus bertumbuh di dalamnya. Ada pula sebagian dari kita yang telah mencicipinya, namun kemudian berpaling kepada hal-hal lain yang menurut mereka dapat memenuhi diri mereka secara lebih baik. Ada juga orang-orang lain yang belum pernah mencicipi hidup Allah. Apa pun kasusnya dengan kehidupan kita, Allah terus mengundang kita semua untuk mempunyai hidup, dan mempunyainya dengan berlimpah-limpah (Yoh 10:10).

Dalam Yesus Kristus, jalan ke kehidupan telah ditunjukkan kepada kita, dan tergantung pada kitalah untuk memilihnya. Yesus menjamin bahwa bahwa kita tidak pernah akan merasa kecewa jika kita memilih hidup-Nya. Mencari suatu kehidupan yang terpisah dari Allah tidak akan dapat menyamai sukacita dan kelegaan yang ditawarkan oleh Yesus. Pada kenyataannya, hidup terpisah dari Allah hanya akan menggiring kita kepada maut. Oleh karena itu, marilah kita semua memilih kehidupan dan masuk secara lebih penuh lagi ke dalam hati sang Juruselamat.

DOA: Tuhan Yesus, dengan ini aku mengakui bahwa Engkau adalah sumber kehidupan dan bahwa Engkau adalah satu-satunya pengharapan hidupku. Aku ingin memilih Engkau pada hari ini. Tolonglah aku agar mau dan mampu mengabdikan diriku setiap hari bagi-Mu dan mengkomit diriku untuk mencari Engkau melalui doa, sabda-Mu dalam Kitab Suci, dan sakramen-sakramen. Yesus aku menginginkan agar hidup-Mu memenuhi diriku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 9:22-25), bacalah tulisan yang berjudul “SALIB ADALAH JALAN KASIH YANG SEMPURNA” (bacaan tanggal 11-2-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2016. 

Cilandak,  9 Februari 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

BAPAMU YANG MELIHAT YANG TERSEMBUNYI AKAN MEMBALASNYA KEPADAMU

BAPAMU YANG MELIHAT YANG TERSEMBUNYI AKAN MEMBALASNYA KEPADAMU

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RABU ABU – 10 Februari 2016) 

Renungan_RABUABU

“Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di surga. Jadi, apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau menggembar-gemborkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”

“Apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti seorang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan  berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Dengan demikian, Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”

“Apabila kamu berpuasa, janganlah muram mukamu seperti orang munafik. Mereka mengubah air mukanya, supaya orang melihat bahwa mereka sedang berpuasa. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu, supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.” (Mat 6:1-6,16-18) 

Bacaan Pertama: Yl 2:12-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-6,12-14,17; Bacaan Kedua 1 Kor 5:20-6:2 

Hari “Rabu Abu” ini adalah awal dari Masa Prapaskah. Bacaan Injil hari ini diambil dari “Khotbah di Bukit” yang terdapat dalam Injil Matius.

Pada saat Yesus dibaptis di Sungai Yordan, Bapa surgawi mengatakan bahwa Yesus adalah Putera-Nya yang terkasih: “Inilah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan” (Mat 3:17). Kemudian Yesus dibimbing oleh Roh Kudus pergi ke padang gurun di mana Iblis mencobai-Nya untuk membuat diri-Nya ragu-ragu apakah Dia memang Putera Allah yang terkasih atau bukan (Mat 4:1,3). Dengan berpuasa selama 40 hari dan 40 malam, Yesus mengalahkan godaan si Iblis dan meninggalkan padang gurun dalam kuasa Roh (Luk 4:14) dan Ia pun diteguhkan sebagai Putera Bapa yang terkasih.

Selama Masa Prapaskah, kita mencontoh/meneladan Yesus di padang gurun. Dalam 40 hari ini, Bapa surgawi meneguhkan kita sebagai anak-anak-Nya yang terkasih. Segala sesuatu dalam Masa Prapaska ini hendaknya memperdalam keyakinan kita bahwa Bapa surgawi sungguh mengasihi kita – secara sempurna, tak terhingga, tanpa syarat dan untuk selama-lamanya.

Misalnya, ketika kita memberikan sedekah atau donasi untuk Aksi Puasa selama Masa Prapaska, Bapa surgawi senantiasa membimbing kita untuk memberikan sebanyak mungkin sehingga kita perlu uang ekstra atau sumber penghasilan lain guna keperluan hidup kita sendiri. Tidak seorang pun mengetahui kebutuhan kita, tetapi Bapa surgawi yang melihat yang tersembunyi akan memberikan balasan kepada kita (lihat Mat 6:4).

Bapa surgawi juga membalas doa-doa pribadi kita  (Mat 6:6). Hal ini membantu kita menjadi semakin yakin akan  kasih-Nya kepada kita. Akhirnya, Bapa surgawi berkenan memanggil kita untuk berpuass sedemikian keras sampai kita tidak memiliki makanan yang cukup untuk tetap bertenaga. Walaupun demikian, kita akan memiliki semua kekuatan yang kita butuhkan, karena Bapa surgawi akan membalas kita (Mat 6:18).

Saudari dan Saudaraku, Masa Prapaska adalah masa yang sungguh istimewa untuk membiarkan Allah Bapa menjadi ayah kita. Menjelang Paska, kita dapat menjadi begitu aman dalam kasih Bapa yang membuat kita melakukan segala sesuatu bagi Dia, memiliki damai-sejahtera yang mendalam, penuh sukacita dan menjadi bebas dari rasa takut.

DOA: Bapa surgawi, pada hari Rabu Abu ini, buatlah diri kami agar menyadari bahwa kami hanyalah debu tetapi sekaligus adalah anak-anak-Mu yang terkasih. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 6:1-6,16-18), bacalah tulisan yang berjudul “PEMBERIAN SEDEKAH, BERDOA DAN BERPUASA” (bacaan tanggal 10-2-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 20156 

Cilandak, 8 Februari 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

JANGAN OMDO

JANGAN OMDO

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa V – Selasa, 9 Februari 2016)

KONFLIK DGN ORANG FARISI DLL. - YESUS MENGECAM - MAT 23Orang-orang Farisi dan beberapa ahli Taurat dari Yerusalem datang menemui Yesus. Mereka melihat bahwa beberapa orang murid-Nya makan dengan tangan yang najis, yaitu dengan tangan yang tidak dibasuh. Sebab orang-orang Farisi seperti orang-orang Yahudi lainnya tidak makan kalau tidak membasuh tangan dengan cara tertentu, karena mereka berpegang pada adat istiadat nenek moyang mereka; dan kalau pulang dari pasar mereka juga tidak makan kalau tidak lebih dahulu membasuh dirinya. Banyak warisan lain lagi yang mereka pegang, umpamanya hal mencuci cawan, kendi dan perkakas-perkakas tembaga serta tempat pembaringan. Karena itu orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu bertanya kepada-Nya, “Mengapa murid-murid-Mu tidak hidup menurut adat istiadat nenek moyang kita, tetapi makan dengan tangan najis?” Jawab-Nya kepada mereka, “Tepatlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik, seperti ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya tetap jauh dari Aku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, karena ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan dan adat istiadat manusia kamu pegang.” Lalu Yesus berkata kepada mereka, “Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat istiadat sendiri. Karena Musa telah berkata: Hormatilah ayahmu dan ibumu! dan: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya harus mati. Tetapi kamu berkata: Kalau seseorang berkata kepada ayahnya atau ibunya: Segala bantuan yang seharusnya engkau terima dariku adalah Kurban, – yaitu persembahan kepada Allah – , maka kamu tidak membiarkannya lagi berbuat sesuatu pun untuk ayahnya atau ibunya. Jadi, dengan adat istiadat yang kamu teruskan itu, firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku. Banyak lagi hal lain seperti itu yang kamu lakukan.” (Mrk 7:1-13)

Bacaan Pertama: 1 Raj 8:22-23,27-30; Mazmur Tanggapan: Mzm 84:3-5,10-11

Orang yang suka berbicara besar tanpa dukungan perbuatan yang sepadan seringkali harus menghadapi kritik-kritik pedas. Apabila “adegan” antara Yesus dan orang-orang Farisi akan dimainkan kembali pada hari ini, maka Yesus dapat saja membuat komentar pedas kepada orang-orang Farisi yang “nyebelin” tersebut.

Orang-orang Farisi yang sedang dihadapi Yesus itu mengetahui semua peraturan untuk menjadi orang-orang Yahudi yang baik, namun mereka “tidaklah baik-baik amat” dalam mempraktekkan sendiri segala peraturan itu sehari-harinya sehingga menyenangkan Allah. Orang-orang Farisi tersebut begitu prihatin dalam menjaga cangkir dan mangkok mereka agar tetap bersih, akibatnya mereka kehilangan jejak dari hasrat lebih mendalam dari Allah bahwa mereka juga harus menjaga hati mereka agar tetap bersih.

CELAKALAH ENGKAU KATA YESUSSatu contoh yang digunakan Yesus dalam membuat pembedaan ini adalah cara sejumlah orang Yahudi menggunakan aspek-aspek teknis dari hukum guna menghindari kewajiban mereka untuk memelihara atau menjaga para orangtua mereka. Seringkah kita juga terjebak dalam perangkap serupa? Barangkali dalam pikiran dan hati, kita pun telah membuat penilaian-penilaian negatif terhadap para orangtua kita karena beberapa kebiasaan mereka yang tidak kita senangi atau tidak dapat kita terima. Barangkali penilaian-penilaian negatif ini telah menyebabkan kita menahan kasih dan rasa hormat yang  seharusnya diberikan kepada mereka. Dalam bentuknya yang paling murni, kasih mengabaikan kelemahan-kelemahan dan membuat rumah kita menjadi tempat di mana Roh Kudus (Roh Kristus) berdiam dan setiap penghuni rumah itu diangkat ke dalam kehidupan yang lebih baik.

Pada hari ini marilah kita (anda dan saya) membuat pilihan untuk mendukung iman-kepercayaan kita dengan cara/gaya hidup kita. Apakah kita mengatakan bahwa kita mengasihi Yesus? Kalau begitu, kita harus memastikan bahwa kita senantiasa menyediakan quality time untuk berdoa: menyembah dan memuji serta menghormati Dia sesuai dengan apa yang pantas diterima-Nya. Apakah kita mengaku diri kita sebagai seorang eksekutif Kristiani? Kalau begitu bagaimanakah kita memperlakukan para pekerja yang berada di bawah otoritas kita? Dengan penuh respek dan menghormati martabat mereka masing-masing sebagai pribadi-pribadi? Apakah kita mengasihi keluarga kita masing-masing? Kalau begitu, pikirkanlah cara istimewa yang dapat kita tunjukkan kepada mereka bahwa kita mengasihi mereka – teristimewa jika kita baru saja berada dalam situasi konflik dengan salah satu atau beberapa anggota keluarga kita.

Saudari dan Saudaraku, janganlah kita membiarkan diri kita menjadi seperti orang-orang Farisi, yang menghormati Yesus di bibir mereka namun pada saat yang sama hati mereka jauh dari Dia! Janganlah kita menjadi orang-orang yang suka nato (no action, talk only) atau “omdo” (omong doang).

DOA: Yesus, aku sungguh ingin agar kata-kataku sungguh didukung dengan tindakan-tindakanku. Aku ingin mendukung iman-kepercayaanku dengan hal-hal yang kukatakan, kupikirkan, dan kulakukan. Tolonglah aku agar dapat menghormati para orangtuaku dan semua anggota keluargaku, dengan demikian orang-orang akan mengetahui bahwa aku adalah murid-Mu – yaitu oleh kasihku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1 Raj 8:22-23,27-30), bacalah tulisan yang berjudul “TIDAK ADA ALLAH SEPERTI ENGKAU” (bacaan tanggal 9-2-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2016.

Cilandak, 7 Februari 2016 [HARI MINGGU BIASA V – TAHUN C]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SEMUA ORANG YANG MENYENTUH-NYA MENJADI SEMBUH

SEMUA ORANG YANG MENYENTUH-NYA MENJADI SEMBUH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa V – Senin, 8 Februari 2016) 

YESUS MENYEMBUHKAN - ORANG LUMPUH DAN BUTASetibanya di seberang Yesus dan murid-murid-Nya mendarat di Genesaret dan berlabuh di situ. Ketika mereka keluar dari perahu, orang segera mengenal Yesus. Lalu berlari-larilah mereka ke seluruh daerah itu dan mulai mengusung orang-orang sakit di atas tikarnya kemana saja mereka dengar Yesus berada. Kemana pun Ia pergi, ke desa-desa, ke kota-kota, atau ke kampung-kampung, orang meletakkan orang-orang sakit di pasar dan memohon kepada-Nya, supaya mereka diperkenankan menyentuh walaupun jumbai jubah-Nya saja. Semua orang yang menyentuh-Nya menjadi sembuh. (Mrk 6:53-56) 

Bacaan Pertama: 1 Raj 8:1-7,9-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 132:6-10 

Mukjizat penggandaan roti dan ikan (lihat Mrk 6:30-44) telah berhasil meningkatkan antusiasme orang banyak. Dari bacaan Injil kelihatan seakan-akan Yesus dan para murid-Nya bermain “petak-umpet” dengan orang banyak. Setelah peristiwa penggandaan roti, mereka mencoba “melarikan diri” (menyingkir) dari orang banyak, dengan menyeberangi danau, dari tepi yang satu ke tepi yang lain. Akan tetapi, seperti biasanya setiap kali Yesus dan para murid keluar dari perahu orang banyak mengenali mereka dan harus dilayani. Istirahat soal belakangan, menjadi nomor dua!

Kemana pun Yesus pergi, Dia dihadapkan dengan orang-orang sakit yang memerlukan penyembuhan. Yesus melayani mereka dan mereka pun disembuhkan. Pada zaman modern ini, perawatan dan penyembuhan orang sakit (fisik dan psikis) tergantung pada profesi medis. Namun semua peradaban kuno memberikan suatu arti religius pada sakit-penyakit dan penyembuhan.

Pada zaman modern ini, terutama di kota-kota besar, reaksi pertama orang yang terkena penyakit adalah pergi menemui dokter atau tabib. Tidak demikian halnya pada zaman Yesus. Untuk dapat disembuhkan dari penyakit yang dideritanya, seseorang harus mohon pertolongan Allah. Dengan demikian apakah “Yang Ilahi” tidak terlibat dalam proses penyembuhan modern? Tentu saja tetap terlibat, karena perawatan dan penyembuhan penyakit tetap merupakan “karunia dari Allah”, akan tetapi yang disalurkan melalui tangan-tangan, intelek dan hati manusia. Dengan demikian pelayanan para dokter, perawat dan petugas medis lainnya adalah profesi mulia dan indah ……… guna melayani umat manusia.

Sakit-penyakit dan penderitaan yang menyertainya membuat orang-orang tidak merasa aman. Hal ini melambangkan kerentanan kondisi manusiawi kita, yang begitu terbuka terhadap bahaya yang dapat datang secara tiba-tiba tanpa disangka-sangka. Sakit-penyakit mengkontradiksikan hasrat kita untuk memiliki kekuatan fisik yang kita semua nikmati. Maka sakit-penyakit tetap mempunyai arti religius – bahkan bagi orang-orang modern sekali pun.

Rasa tidak aman yang bersifat radikal tidak dapat disembuhkan oleh para dokter. Hanya Yesus sendirilah yang dapat menyembuhkan “penyakit” seperti itu ……… melalui iman, selagi kita menantikan penyembuhan terakhir di luar dunia yang kita tempati sekarang.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah dokter agung umat manusia. Berkatilah mereka yang melayani sesama di bidang medis, seperti para dokter, perawat, para-medik, dan lain-lainnya. Murnikanlah motif mereka dalam melaksanakan tugas pelayanan mereka itu, sehingga pelayanan mereka demi kesejahteraan masyarakat menjadi optimal. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 6:53-56), bacalah tulisan yang berjudul “BERLARI-LARI KEPADA YESUS” (bacaan tanggal 8-2-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-02 PERMENUNGAN ALKITBIAH FEBRUARI 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2010) 

Cilandak, 5 Februari 2016 [Peringatan S. Agata, Perawan-Martir] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KITA PUN DIPANGGIL OLEH-NYA UNTUK MENJADI PENJALA MANUSIA

KITA PUN DIPANGGIL OLEH-NYA UNTUK MENJADI PENJALA MANUSIA

(Bacaan Injil Misa Kudus – HARI MINGGU BIASA V [TAHUN C], 7 Februari 2016) 

BANYAK IKAN YANG DITANGKAPPada suatu kali Yesus berdiri di pantai Danau Genesaret, sementara orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan firman Allah. Ia melihat dua perahu di tepi pantai. Nelayan-nelayannya telah turun dan sedang membasuh jalanya. Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia mendorong perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu. Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon, “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.”  Simon menjawab, “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena perkataan-Mu itu, aku akan menebarkan jala juga.”  Setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak. Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain supaya mereka datang membantunya. Mereka pun datang, lalu bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam. Ketika Simon Petrus melihat hal itu ia pun sujud di depan Yesus dan berkata, “Tuhan, pergilah dari hadapanku, karena aku ini seorang berdosa.”  Sebab ia dan semua orang yang bersama-sama dengan dia takjub oleh karena banyaknya ikan yang mereka tangkap; demikian juga Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, yang menjadi teman Simon. Kata Yesus kepada Simon, “Jangan takut, mulai sekarang engkau akan menjala manusia.”  Sesudah menarik perahu-perahunya ke darat, mereka pun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus. (Luk 5:1-11)

Bacaan Pertama: Yes 6:1-2a,3-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 138:1-5,7-8; Bacaan Kedua: 1Kor 15:1-11 (1Kor 15:3-8,11)

Atas dasar perintah Yesus, Simon menebarkan jalanya ke dalam air dan hasil tangkapannya sungguh luar biasa. Hal ini benar-benar mengejutkan Simon, yang malam sebelumnya tidak berhasil menangkap ikan seekor pun. Berhadap-hadapan dengan mujizat sedemikian, Simon menyadari bahwa dia berada di hadapan hadirat Tuhan. Simon pun tahu benar bahwa Tuhan dapat melihat dosa-dosanya. Kesadaran ini membuat Simon merasa rendah dan takut. Dia pun bersembah-sujud di depan Yesus dalam pertobatan. Akan tetapi Yesus berkata, “Jangan takut; mulai sekarang engkau akan menjala manusia”  (Luk 5:10).

Seperti Simon Petrus, nabi Yesaya juga memperoleh wahyu mengenai Tuhan yang membuatnya merasa rendah dan takut: “Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni YHWH semesta alam”  (Yes 6:5). Namun sentuhan bara panas yang diambil dari atas mezbah menghapuskan dosa-dosanya dan membebaskannya dari segala kesalahan. Sekali dimurnikan, Yesaya pun mampu mendengar seruan dari hati Tuhan: “Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?”  Tanpa ragu Yesaya menjawab: “Ini aku, utuslah aku!” (Yes 6:8).

Allah sungguh merindukan untuk memberi tugas kepada kita masing-masing, seperti yang telah dilakukan-Nya kepada Simon Petrus dan Yesaya. Selagi kita memperkenankan Allah memenuhi diri kita dengan kasih-Nya, kita pun akan mendengar panggilan-Nya agar kita menjadi murid-murid-Nya. Kita akan dibuat sadar bahwa kita sebenarnya tak layak untuk mendapat kehormatan seperti itu, namun kita akan tahu bahwa lewat pertobatan kita pun dapat diberdayakan oleh Roh Kudus untuk berdoa syafaat bagi orang-orang lain, untuk mengampuni dan untuk memproklamasikan Injil ke mana-mana dan kepada siapa saja.

Seiring dengan semakin mendalamnya relasi kita dengan Yesus, cinta kasih kita kepada-Nya juga semakin mendalam. Seperti Simon Petrus dan Yesaya, kita pun ingin melepaskan segalanya demi Allah. Oleh karena itu marilah kita tidak takut untuk merendahkan diri kita di hadapan Tuhan dan menerima tugas perutusan-Nya bagi kita masing-masing. Tidak ada yang lebih mulia daripada menjadi seorang pelayan Tuhan, yang disiapkan untuk “menangkap” jiwa-jiwa untuk kerajaan-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, bersihkan dosa-dosa kami dan berdayakanlah kami dengan kehadiran-Mu. Ini kami, ya Tuhan! Utuslah kami! Berdayakanlah kami agar dapat berperan serta dalam membangun kerajaan-Mu. Ajarlah kami untuk berkata-kata dengan sabda-sabda-Mu dan melayani setiap orang yang kami temui dengan kasih-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 5:1-11), bacalah tulisan yang berjudul “CARA ALLAH BERBICARA DENGAN UMAT-NYA” (bacaan tanggal 7-2-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2016.

Cilandak, 4 Februari 2016 [Peringatan S. Yosef dr Leonisa, Imam-biarawan Kapusin]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 153 other followers