ELIA SUDAH DATANG

ELIA SUDAH DATANG

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Adven – Sabtu, 10 Desember 2016) 

c3606b07eb3e0f92bb5bfe8287005989Lalu murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya, “Kalau demikian, mengapa ahli-ahli Taurat berkata bahwa Elia harus datang dahulu?” Jawab Yesus, “Memang Elia akan datang dan memulihkan segala sesuatu dan Aku berkata kepadamu: Elia sudah datang, tetapi orang tidak mengenal dia, dan memperlakukannya menurut kehendak mereka. Demikian juga Anak Manusia akan menderita oleh mereka.” Pada waktu itu mengertilah murid-murid Yesus bahwa Ia berbicara tentang Yohanes Pembaptis. (Mat 17:10-13) 

Bacaan pertama: Sir 48:1-4.9-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 80:2-3,15-16,18-19 

Ada sebuah tradisi yang berkembang di kalangan orang-orang Yahudi, yaitu bahwa Nabi Elia akan datang kembali ke dunia untuk menyiapkan kedatangan sang Mesias. Satu alasan mengapa ada orang-orang yang tidak menerima Yesus sebagai Mesias (Kristus) adalah, bahwa menurut pandangan mereka Elia belum datang kembali sebagai bentara sang Mesias itu.

Elia adalah seorang nabi besar dari kerajaan utara dalam periode pemerintahan Raja Ahab dan permaisurinya yang jahat, Izebel. Izebel menyembah berhala, yaitu Baal. Perempuan jahat ini juga menjadi penyebab sejumlah nabi Israel dibunuh (lihat 1Raj 17:1 – 2Raj 2:13). Pelayanan kenabian Elia termasuk pergandaan roti (termasuk tepung serta minyak) dan membangkitkan orang dari kematian (lihat 1Raj 17:7-24), semua itu menunjukkan kedaulatan Allah yang esa dan benar. Allah berbicara kepada Elia di gunung Horeb, seakan dia adalah seorang Musa yang baru, yang akan memimpin umat Israel untuk keluar dari kemurtadan. Pentingnya peranan Elia dicerminkan dalam peristiwa kenaikannya ke surga dengan kereta berapi dengan kuda berapi (2Raj 2:11-12). Pada masa Nabi (kecil) Maleakhi (c. 475 SM), umat Yahudi mengharapkan nabi Elia (yang mereka percaya tidak pernah mati), akan kembali menjelang datangnya hari YHWH yang besar dan dahsyat itu (Mal 4:5-6). Kepercayaan ini dicerminkan dalam Sir 48:1-11 (Harap dibaca ya karena ini tulisan yang indah) dan dalam Kitab Makabe yang pertama: “Elia telah diangkat ke surga, karena kegiatannya yang hangat untuk hukum Taurat” (1Mak 2:58).

Hari ini pun, setelah hampir 2.000 tahun orang Romawi menghancurkan Yerusalem (tahun 70), pada upacara Paskah mengenangkan keluaran dari Mesir, orang-orang Yahudi menuang air anggur ke dalam cangkir yang disediakan bagi nabi Elia. Mereka membuka pintu-pintu rumah mereka bagi sang nabi untuk masuk dalam mengantisipasi kedatangan Mesias. Dalam perjamuan Paskah, orang-orang Yahudi berkata: “Tahun depan di Yerusalem”, hal ini mengkaitkan kedatangan Elia dengan penebusan secara nasional.

john-the-baptistKomentar Yesus tentang Elia secara langsung dilakukan setelah Dia dimuliakan di atas gunung (transfigurasi-Nya), pada saat mana Yesus tampak dalam kemuliaan-Nya bersama Musa dan Elia di depan tiga orang murid-Nya, yaitu Petrus, Yakobus dan Yohanes. Kemudian Bapa surgawi berfirman kepada mereka: “Inilah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia” (Mat 17:5). Yesus mengidentifikasikan Yohanes Pembaptis sebagai Elia, namun tidak dalam arti literal, melainkan secara fungsional sebagai bentara Mesias. Maka jawaban Yesus bahwa Elia telah datang dalam diri Yohanes Pembaptis ini tidak ada hubungannya dengan ide reinkarnasi. Yang patut dicatat adalah, bahwa Elia dan Yohanes Pembaptis dipandang sebagai personifikasi dari umat dengan siapa Allah telah membuat sebuah perjanjian. Mereka “ditakdirkan” untuk menjadi “pendahulu” Mesias. Lewat jawaban-Nya itu sebenarnya Yesus meneguhkan firman Bapa, bahwa Dia adalah “sang Terurapi” (Ibrani: Meshiakh atau Mesias). Allah memegang firman-Nya dengan menggenapi nubuat-nubuat para nabi Yahudi.

Kristus adalah pusat sejarah. Segala sesuatu yang ada sebelum Dia menyiapkan kedatangan-Nya. Umat dan perjanjian mereka dengan Allah, para nabi dan ajaran-ajaran mereka tentang Allah, semua membawa kepada kehidupan, kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. Sekarang segalanya mengalir dari Kristus dan misi-Nya di dunia. Kristus tidak sekadar pusat sejarah, Ia juga fokus sejarah. Ia menajamkan visi kita tentang Allah. Ia membuat jelas makna dan tujuan eksistensi manusia. Ia membuat pembedaan jelas ide tentang apa yang benar dan apa yang salah.

Dalam masa Adven ini, marilah kita memusatkan perhatian kita pada Yesus Kristus. Biarlah Ia menjadi Pribadi yang merupakan pusat keberadaan kita yang utuh. Biarlah ajaran dan kehidupan-Nya memberikan makna dan tujuan bagi keberadaan kita.

DOA: Bapa surgawi, kami berterima kasih penuh syukur kepada-Mu karena Engkau telah mengutus nabi-nabi seperti Musa, Elia dan Yohanes Pembaptis untuk memimpin kami kepada pertobatan dan kepada  sang Mesias yang telah menebus tidak hanya Israel, melainkan juga seluruh dunia. Amin.

Catatan: Bagi anda yang ingin mendalami lagi Bacaan Injil hari ini (Mat 17:10-13),  bacalah  tulisan yang berjudul “YOHANES PEMBAPTIS SEBAGAI NABI ELIA YANG BARU” (bacaan tanggal 10-12-16) dalam situs/blog  PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori 16-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2009) 

Cilandak, 8 Desember 2016 [HARI RAYA SP MARIA DIKANDUNG TANPA NODA] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PERKENANKANLAH ALLAH BEKERJA DENGAN CARA-CARA YANG TAK TERDUGA-DUGA

PERKENANKANLAH ALLAH BEKERJA DENGAN CARA-CARA YANG TAK TERDUGA-DUGA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Adven – Jumat, 9 Desember 2016) 

560jesusDengan apakah akan Kuumpamakan orang-orang zaman ini? Mereka seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan berseru kepada teman-temannya: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak berkabung. Karena Yohanes datang, ia tidak makan, tidak minum, dan mereka berkata: Ia kerasukan setan. Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan mereka berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Tetapi hikmat Allah dibenarkan oleh perbuatannya.” (Mat 11:16-19) 

 

Bacaan Pertama: Yes 48:17-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 1:1-4,6 

Mengapa Yesus melakukan hal-hal seperti dilakukan-Nya, walaupun Ia jelas mengetahui bahwa hal-hal yang dilakukan-Nya itu akan disalahtafsirkan? Ketika beberapa orang Farisi melihat Yesus bergaul dengan para pemungut cukai dan pendosa lainnya,  dan menawarkan sentuhan kesembuhan dari Allah, mereka menamakan-Nya “seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa” (Mat 11:19) dan memperkuat perlawanan mereka terhadap Yesus. Dengan demikian, mengapa Yesus terus saja “membuang” begitu banyak waktu dengan orang-orang ini? Mengapa membuat mereka menjadi semakin membenci diri-Nya?

Kadang-kadang Allah melakukan hal-hal dengan cara-cara yang berada di luar ekspektasi kita. Siapa yang akan berpikir bahwa seorang anak yang lahir dari seorang perempuan muda yang menjadi hamil di luar perkawinan itu adalah sang Mesias yang sudah dinanti-nantikan? Siapa yang akan habis berpikir bahwa Allah akan memberikan kunci kerajaan-Nya kepada seorang nelayan Galilea yang tidak sabaran itu? Apabila seorang pemikir agama terkenal hari ini memberi kesaksian bahwa dirinya menjadi buta karena kilat yang dahsyat dari langit dan telah mendengar suara-suara yang tidak didengar orang lain, bagaimanakah kiranya reaksi orang-orang terhadap kesaksiannya itu?

Sejak awal mula, Allah memang telah melakukan hal-hal yang berada di luar ekspektasi – meninggikan orang yang lemah, menurunkan orang-orang yang berkuasa, membuka rahim yang mandul, menghujani umat-Nya dengan manna dari surga, bahkan membangkitkan orang mati untuk hidup kembali. Sebagai para pengikut-Nya, tanggapan terbaik yang dapat kita berikan adalah untuk tetap rendah hati dan terbuka, siap untuk menerima Allah berdasarkan ketentuan-ketentuan-Nya, bukan ketentuan-ketentuan kita. Pada akhirnya, kita akan menemukan Hikmat Allah yang dibenarkan oleh perbuatan-perbuatan-Nya.

Sebuah contoh yang baik ditunjukkan oleh Gamaliel (guru dari Paulus), seorang tokoh Farisi yang dihormati. Ketika mendengar berita tentang suatu gejala “aneh” yang sedang berkembang dalam masyarakat pada waktu itu – orang-orang tanpa latar pendidikan membuat mukjizat-mukjizat dan memproklamasikan bahwa Yesus adalah Putera Allah yang bangkit – Gamaliel mampu mengangkat dirinya melampaui pemikiran-pemikiran dan ekspektasi-ekspetasinya sendiri. Nasihatnya adalah agar para pemuka agama Yahudi mengambil sikap wait and see, apakah Allah sungguh bekerja dalam diri orang-orang sederhana dan tak terpelajar ini. Gamaliel berkata: “Janganlah bertindak apa-apa terhadap orang-orang ini. Biarkanlah mereka, sebab jika maksud dan perbuatan mereka berasal dari manusia, tentu akan lenyap, tetapi kalau berasal dari Allah, kamu tidak akan dapat melenyapkan orang-orang ini; bahkan mungkin ternyata kamu justru melawan Allah” (Kis 5:38-39). Gamaliel tidak membuat praandaian bahwa dia tahu segalanya tentang sikap dan perilaku Allah. Ia cukup rendah hati untuk “memperkenankan” Allah bekerja dengan cara-cara yang tak terduga-duga.

Seperti Gamaliel, marilah kita juga menjaga diri kita agar tetap rendah hati dan terbuka agar dapat mengenali Allah – walaupun ketika pesan-Nya sungguh di luar ekspektasi.

DOA: Tuhan Yesus, ketika Engkau datang ke tengah dunia, semuanya terjadi dengan cara-cara yang berada di luar ekspektasi kami. Apabila Engkau datang kembali kelak, kami percaya bahwa Engkau pun akan melakukannya dengan cara-cara yang tak terduga-duga. Oleh Roh Kudus-Mu, buatlah agar kami selalu dekat dengan Engkau dalam doa dan tolonglah kami agar terbuka bagi karya-Mu dalam kehidupan kami dan dalam dunia ini. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 11:16-19),  bacalah  tulisan yang berjudul “HIKMAT ALLAH DIBENARKAN OLEH PERBUATANNYA” (bacaan tanggal 9-12-16) dalam situs/blog  PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori 16-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2016.

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011)

Cilandak, 6 Desember 2016 [Peringatan S. Nikolaus, Uskup] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

RENCANA AGUNG DAN MAHASEMPURNA DARI ALLAH

RENCANA AGUNG DAN MAHASEMPURNA DARI ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA SP MARIA DIKANDUNG TANPA DOSA – Kamis, 8 Desember 2016)

Keluarga besar Fransiskan: HARI RAYA PELINDUNG DAN RATU TAREKAT 

annunciation-philippe-de-champaigne
Dalam bulan yang keenam malaikat Gabriel disuruh Allah pergi ke sebuah kota yang bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. Ketika malaikat itu datang kepada Maria, ia berkata, “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.”  Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya, “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh anugerah di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapak leluhur-Nya, dan Ia akan memerintah atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.”  Kata Maria kepada malaikat itu, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” Jawab malaikat itu kepadanya, “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.”  Kata Maria, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia. (Luk 1:26-38)
 

Bacaan Pertama: Kej 3:9-15,20; Mazmur Tanggapan: Mzm 98:1-4; Bacaan Kedua: Ef 1:3-6,11-12.

Sejak kekal, Allah telah mempunyai sebuah rencana bagi Putera-Nya – bahwa Dia akan membawa Putera-Nya itu ke tengah dunia melalui seorang perempuan yang akan dijaga oleh-Nya dari dosa asal. Pesta gerejawi yang kita rayakan pada hari ini, tanggal 8 Desember, sebenarnya adalah suatu perayaan tentang rencana agung dan mahasempurna dari Allah Bapa. Hari raya ini adalah sebuah pengakuan, bahwa hal seperti perkandungan Maria pun sudah direncanakan dengan kemahatelitian sehingga perempuan ini kelak menjadi sebuah bejana sempurna bagi Allah Putera. Dengan sekadar pikiran manusia, kita sungguh tidak dapat membayangkan betapa “rumit” karya Allah dalam diri Maria sehingga perempuan dari Nazaret ini dapat memainkan perannya dalam sejarah keselamatan dengan baik. Seperti dengan Maria, Allah juga telah merencanakan setiap detil kehidupan kita. Apakah kita percaya bahwa Allah menciptakan kita dengan perhatian dan kasih kepada kita, tidak bedanya seperti halnya dalam kasus Maria? Apakah kita percaya bahwa Allah bangga kepada kita dan apa yang telah diminta-Nya untuk kita kerjakan, seperti juga dalam kasus Maria?  Memang begitulah! Segala sesuatu tentang kehidupan kita adalah berdasarkan rencana Allah yang mahasempurna sehingga kita dapat menjalani hidup ini seturut “takdir” masing-masing.

Tidak ada seorang pun dari kita “ada” secara kebetulan, dan Allah sang Mahapencipta tidak membiarkan kita sendiri dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Sadar akan hal itu, kita pun dapat belajar mengenai rencana Allah dan mengikuti rencana itu, seperti yang telah dicontohkan Santa Perawan Maria sekitar 2.000 tahun lalu. Kita tahu bahwa dalam Kristus, Allah menginginkan agar kita kudus, tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Dia telah menentukan kita dari semula melalui Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, supaya terpujilah anugerah-Nya yang mulia … (lihat Ef 1:4-6).  Namun agar mampu memainkan peranan spesifik kita masing-masing, kita harus selalu waspada dan responsif terhadap panggilan Allah dalam hidup kita.  Dalam bacaan Injil di atas kita lihat, bahwa Maria telah “ditakdirkan” untuk memainkan peranan khusus dalam sejarah penyelamatan. Hal ini sebenarnya tidak berbeda bagi kita. Kita masing-masing juga diciptakan secara unik untuk memainkan suatu peranan vital dalam kerajaan-Nya. Untuk itu kita harus banyak belajar dari Bunda kita, Maria.

Baptism-of-the-Holy-SpiritDalam jawaban “ya” (fiat) Maria kepada Allah (yang diwakili oleh Malaikat Gabriel), Lukas memberikan gambaran sekilas tentang hati Maria yang tanpa noda-dosa (Inggris: Immaculate Heart of Mary). Maria menunjukkan kepada kita sebuah hati yang begitu menaruh kepercayaan pada Allah, mengasihi-Nya, dan yang berkeinginan hanya untuk menyenangkan-Nya dan taat kepada-Nya. Sebagai seorang pribadi “yang dikaruniai Allah” secara istimewa, Maria – atas dasar kehendak bebas – memilih untuk memeluk rencana penyelamatan Allah dan siap sedia untuk berkorban demi memajukan rencana tersebut.

Teristimewa pada hari ini, tidak salahlah kalau kita menghormati serta memuliakan hati Maria yang tak bernoda. Namun juga tidak salah bagi kita hari ini untuk mengingat hal yang sama, yang telah menjaga Maria dari efek-efek dosa pada saat dia dikandung, yaitu segala manfaat serta keuntungan yang disebabkan oleh kematian dan kebangkitan Yesus Kristus yang diberikan kepada kita semua pada waktu pembaptisan. Pada waktu kita dibaptis, kita dicuci bersih dari segala noda dosa, dan pintu surga pun terbuka bagi kita. Roh Kudus menaungi kita dan Yesus datang untuk hidup di dalam hati kita masing-masing. Kita menjadi mampu memiliki disposisi ‘mempercayai dan mengasihi Allah’ seperti telah ditunjukkan oleh Maria. Namun disposisi hati seperti Maria itu harus dibentuk dalam diri kita secara bertahap sementara kita melakukan pertobatan atas dosa-dosa kita dan menempatkan diri kita sepenuhnya sebagai pelayan/hamba Allah. Kita mencari Dia dalam doa,  dalam liturgi (teristimewa Ekaristi), dalam pembacaan Kitab Suci, dalam persekutuan dengan para anggota keluarga kita yang kita yakini sebagai “ecclesia domestica” (gereja domestik), persekutuan dalam komunitas-komunitas teritorial seperti lingkungan/wilayah/paroki.; ataupun persekutuan dalam komunitas-komunitas kategorial. Selagi kita mencari-Nya, Allah pun akan memberi petunjuk peranan apa kiranya yang harus kita mainkan. Kita tidak perlu takut, karena apa yang direncanakan Allah untuk dilakukan oleh kita akan dilengkapi dengan pemberdayaan diri kita oleh-Nya melalui Roh Kudus-Nya. Hanya kita sendirilah yang dapat mengisi peranan yang telah ditentukan bagi kita. Dan dia akan memberikan rahmat-Nya yang diperlukan untuk melaksanakan rencana-Nya itu.

DOA: Allah yang Mahakuasa, rencana dan jalan pikiran-Mu tak mampu ditangkap oleh pikiranku. Dengan rendah hati aku hanya mohon kepada-Mu, ya Allahku, agar Engkau memenuhi rencana-Mu bagi hidupku. Perkenankanlah Roh Kudus-Mu untuk membuat aku lebih menaruh kepercayaan pada-Mu selagi Engkau berkarya membangun kerajaan-Mu melalui diriku. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Kedua hari ini (Ef 1:3-6,11-12),  bacalah  tulisan yang berjudul “BAGAIKAN SEBUAH KATEDRAL YANG INDAH” (bacaan tanggal 8-12-16) dalam situs/blog  PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010)

Cilandak, 6 Desember 2016 [Peringatan S. Nikolaus, Uskup] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS  

LEMAH LEMBUT DAN RENDAH HATI

LEMAH LEMBUT DAN RENDAH HATI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Ambrosius, Uskup & Pujangga Gereja –  Rabu, 7 Desember 2016) 

MARILAH DATANG KEPADAKU“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah gandar yang Kupasang dan belajarlah kepada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab gandar yang Kupasang itu menyenangkan dan beban-Ku pun ringan.” (Mat 11:28-30) 

Bacaan Pertama: Yes 40:25-31; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-4,8,10 

“Aku lemah lembut dan rendah hati” (Mat11:29).  “Lemah lembut” berarti baik hati, tidak pemarah, tidak juga galak. Sifat pemarah adalah salah satu dari dosa-dosa manusia yang amat berat. Kemarahan dapat menyebabkan perselisihan dalam keluarga, ketegangan dalam lingkungan atau pun dalam paroki, juga dapat menyebabkan kekacauan di dalam masyarakat. Praktis setiap hari kita dapat menonton TV yang menayangkan adegan-adegan kekerasan: tawuran antar para mahasiswa dan/atau pelajar, perang antar desa, konser band yang berakhir dengan kekacauan, konfrontasi antara petugas dan para PKL, dan banyak lagi, termasuk “perang di lapangan sepak bola”. Wajah-wajah yang terlihat adalah wajah-wajah yang penuh kemarahan. Sifat pemarah dikecam keras dalam Kitab Suci: “Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan.” (Mzm 37:8)  Yesus sendiri juga pernah berfirman, “Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang mencaci maki saudaranya harus di hadapkan ke Mahkamah Agama …” (Mat 5:22).

Kesombongan adalah lawan dari kerendahan hati. Sombong, angkuh atau tinggi hati, bahkan termasuk yang pertama dari tujuh dosa maut. Orang yang angkuh tidak disenangi sesama, apalagi oleh Allah: “Setiap orang yang tinggi hati adalah kekejian bagi TUHAN (YHWH), sungguh, ia tidak akan luput dari hukuman” (Ams 16:5).  Memang ada bermacam-macam bentuk keangkuhan, namun yang paling berat adalah kesombongan atau keangkuhan rohani, misalnya mereka yang merasa diri lebih suci, lebih pintar dalam hal-ikhwal Alkitab, sehingga sampai-sampai memandang remeh orang lain. Contoh dalam Injil dari orang-orang seperti ini adalah “para ahli Taurat”, “orang Farisi”, juga “orang Saduki” dan para imam kepala. Dalam satu surat katolik yang terkenal ada tertulis: “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati” (Yak 4:6; bdk. Ams 3:34). Demikian pula dalam satu surat katolik lainnya tertulis sebuah petuah ampuh bagaimana caranya berelasi satu sama lain dalam hidup komunitas, apakah di rumah, di lingkungan dan lain sebagainya: “Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab: ‘Allah menentang orang yang congkak, tetapi memberi anugerah kepada orang yang rendah hati.’ Karena itu, rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya” (2 Ptr 5:5-6; bdk. Ams 3:34).  Marilah kita mohon kekuatan dari Allah untuk dapat mempraktekkan semua itu.

“Pikullah gandar yang Kupasang … sebab gandar yang Kupasang itu menyenangkan dan beban-Ku pun ringan” (Mat11:29.30). Mengapa kuk atau gandar yang dipasang oleh Yesus itu menyenangkan dan beban-Nya pun ringan? Apakah hal ini disebabkan karena Yesus menetapkan standar yang rendah bagi kita? Samasekali tidak, karena Yesus pernah berfirman: “Karena itu, haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga sempurna” (Mat 5:48).  Apakah karena Yesus minta komitmen yang sedikit-sedikit saja dari kita semua? Tidak juga, karena Yesus pernah berfirman: “Siapa saja yang tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku” (Mat10:38).  Kalau begitu, bagaimana Yesus sampai berkata, bahwa gandar-Nya itu menyenangkan dan beban-Nya ringan? Jawabannya dapat berlainan, tergantung pada imaji (image) Yesus yang digunakan oleh orang yang memberikan jawaban.

Sebuah kuk atau gandar terbuat dari sepotong kayu yang dipasang di atas leher-leher dua ekor hewan (misalnya sapi atau kerbau) agar kedua ekor hewan itu dapat dikendalikan secara bersamaan.  Di mana Yesus dalam gambaran ini? Apakah Ia berjalan di muka kita? Di belakang kita? Apakah Ia berada dalam gerobak yang kita tarik? Samasekali tidak! Ia berada di samping kita, Ia menarik gerobak bersama kita. Dengan perkataan lain, Yesus mengundang kita untuk melepaskan kemandirian kita dan membiarkan kekuatan-Nya menjadi kekuatan kita. Yesus tahu sekali, bahwa kita tidak pernah dapat menjadi serupa dengan Dia atas dasar kekuatan kita sendiri, oleh karena itulah Dia menawarkan kepada kita kekuatan-Nya agar kita dapat melakukan segala hal melalui Dia dan bersama Dia.

Kehadiran Yesuslah yang menyebabkan mengikuti-Nya menjadi mudah-menyenangkan dan ringan. Sebagai manusia seperti kita, Yesus tahu sekali betapa sulitnya hidup ini. Ia tahu apa artinya digoda dan dicobai, dan Ia pun tahu sekali keterbatasan-keterbatasan yang disebabkan kelemahan-kelemahan manusia. Namun, karena Yesus juga mempunyai kodrat ilahi, Yesus adalah sumber segala rahmat dan kekuatan. Ia mengetahui kebutuhan-kebutuhan kita, dan Ia pun memenuhi kebutuhan-kebutuhan itu. Ia merasakan sakit kita, dan Ia berjalan bersama kita, sambil menawarkan kita penyembuhan dan kenyamanan. Sungguh adalah suatu sukacita, apabila Yesus memasang gandar-Nya pada diri kita, dengan demikian kita akan menjadi teman seperjalanan-Nya dalam perjalanan hidup kita. Apakah anda membutuhkan teman yang setia? Apakah anda membutuhkan kekuasaan untuk mengatasi dosa? Teristimewa dalam masa Adven ini, ambillah tempat di sebelah Yesus dengan gandar-Nya. Taruhlah kepercayaan anda pada Yesus dan tariklah kekuatan dari Dia. Yesus yang memiliki Hati yang begitu mencintai, pasti siap menolong anda!

DOA: Aku mengasihi Engkau, ya Tuhan Yesus. Datanglah, Tuhan Yesus. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami lagi Bacaan Injil hari ini (Mat 11:28-30),  bacalah  tulisan yang berjudul “MENYENANGKAN DAN RINGAN” (bacaan tanggal 7-12-16) dalam situs/blog  PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori 16-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2009) 

Cilandak, 3 Desember 2016 [Pesta S. Fransiskus Xaverius, Imam] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

DOMBA YANG HILANG

DOMBA YANG HILANG

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari biasa Pekan II Adven – Selasa, 6 Desember 2016) 

domba-yang-hilang-luk-15“Bagaimana pendapatmu? Jika seorang mempunyai seratus ekor domba, dan seekor di antaranya sesat, tidakkah ia akan meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di pegunungan dan pergi mencari yang sesat itu? Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Jika ia berhasil menemukannya, lebih besar kegembiraannya atas yang seekor itu daripada atas yang kesembilan puluh sembilan ekor yang tidak sesat. Demikian juga Bapamu yang di surga tidak menghendaki salah seorang dari anak-anak yang hilang.” (Mat 18:12-14) 

Bacaan Pertama: Yes 40:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 96:1-3,10-13 

Marilah kita berempati dengan sang gembala dalam perumpamaan ini dengan menempatkan diri sebagai dirinya. Apabila anda adalah gembala yang bertanggung jawab atas seratus ekor domba, apakah anda akan meninggalkan sembilan puluh sembilan ekor domba untuk mencari seekor domba yang hilang? Tidak seorang pun yang masih atau pernah berkecimpung di dunia bisnis akan melakukannya! Yang jelas seorang pelaku bisnis yang berorientasi pada keuntungan (istilah kerennya: profit making) dan memahami manajemen risiko (risk management) tidak akan melakukannya. Orang itu mempertimbangkan lebih baik kehilangan seekor dombanya dan bekerja lebih keras untuk melindungi domba-dombanya yang masih ada.

Namun demikian, justru pesan Yesus kepada kita adalah yang terasa tak masuk akal itu. Ajaran-Nya terasa radikal, bukan? Nah, Yesus kita ini memang tidak berminat untuk terlibat dalam penghitungan bottom line, untung atau rugi, dan Ia juga tidak tertarik dengan cost analysis seperti saya, atau kita-kita ini yang sekolahnya di bidang ekonomi/bisnis. Yesus telah menginvestasikan dalam diri kita masing-masing gairah dan komitmen yang sama dalam jumlah dan substansinya, tidak peduli siapa kita ini dan jalan apa yang ditempuh oleh kita masing-masing.

Yesus adalah sang Gembala Baik. Ia mempunyai komitmen untuk mencari domba asuhan-Nya yang hilang, apa dan berapa pun biayanya! Dia akan pergi ke mana saja di atas muka bumi ini untuk menemukan kembali siapa saja yang hilang. Kepada kita – satu per satu – Yesus memberi kesempatan untuk memeluk-Nya, merangkul diri-Nya. Bukankah ini adalah prinsip dasar cintakasih dan bela rasa yang kita sedang persiapkan guna merayakan Hari Natal?

Sebenarnya kita masing-masing adalah seekor domba yang hilang. Bayangkanlah di mana kita pada saat ini seandainya cara berpikir Yesus itu tidak berbeda dengan cara berpikir para pelaku bisnis yang menekankan perhitungan rugi-laba belaka: “Ah, biarlah kita menerima sedikit kerugian agar supaya dapat menyelamatkan margin keuntungan kita.” Lalu, pertimbangkanlah cintakasih begitu mengagumkan yang menggerakkan Yesus untuk mengorbankan segalanya untuk membawa kita kembali kepada hati-Nya. Kita berterima kasih penuh syukur kepada Tuhan Allah, karena rancangan-Nya bukanlah rancangan kita (Yes 55:8)! Dalam hal kebaikan, Allah kita memang Mahalain!

Dalam doa-doa kita hari ini, pertimbangkanlah bagaimana cara berpikir kita apabila dibandingkan dengan cara berpikir Yesus. Berapa lama waktu yang kita butuhkan untuk melihat keluarga kita, sahabat-sahabat kita dan sesama kita dibawa ke dalam Kerajaan Allah, dan negeri kita tercinta mengalami kelimpahan berkat karena mengenal Kristus? Marilah kita bertanya kepada Roh Kudus, langkah-langkah apa yang harus kita ambil hari ini agar cara berpikir kita semakin dekat dengan cara berpikir Yesus. Memang hal ini tidak selalu mudah, akan tetapi percayalah bahwa Yesus – sang Gembala Baik – tidak akan meninggalkan kita. Dan …… Roh Kudus-Nya akan mengajar kita agar cara-cara-Nya dapat menjadi cara-cara kita, dan pikiran-pikiran-Nya menjadi pikiran-pikiran kita. Marilah kita menjalani masa Adven ini dengan memuji-muji Yesus yang akan datang menyelamatkan kita.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau mengasihiku dengan kasih yang menakjubkan. Terima kasih karena Engkau datang ke tengah dunia untuk mencari dan menyelamatkan mereka yang hilang. Aku mencintai Engkau, Yesus, dan akan selalu mengikuti jejak-Mu. Amin.

Catatan: Bagi anda yang ingin mendalami lagi Bacaan Pertama hari ini (Yes 40:1-11),  bacalah  tulisan yang berjudul “ALLAH YANG PENUH KOMITMEN KEPADA ANAK-ANAK-NYA” (bacaan tanggal 6-12-16) dalam situs/blog  PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori 16-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2016.

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011)

Cilandak, 3 Desember 2016 [Pesta S. Fransiskus Xaverius, Imam] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

WAJAH SEJATI ALLAH ADALAH KASIH YANG MENGAMPUNI

WAJAH SEJATI ALLAH ADALAH KASIH YANG MENGAMPUNI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Adven – Senin, 5 Desember 2016)

YESUS MENYEMBUHKAN ORANG LUMPUH YANG DIBAWA DARI LOTENG - 650Pada suatu hari ketika Yesus mengajar, ada beberapa orang Farisi dan ahli Taurat duduk mendengarkan-Nya. Mereka datang dari semua desa di Galilea dan Yudea dan Yerusalem. Kuasa Tuhan menyertai Dia, sehingga Ia dapat menyembuhkan orang sakit. Lalu datanglah beberapa orang mengusung seorang lumpuh di atas tempat tidur; mereka berusaha membawa dia masuk dan meletakkannya di hadapan Yesus. Karena mereka tidak dapat membawanya masuk berhubung dengan banyaknya orang di situ, naiklah mereka ke atas atap rumah, lalu membongkar atap itu, dan menurunkan orang itu dengan tempat tidurnya ke tengah-tengah orang banyak tepat di depan Yesus. Ketika Yesus melihat melihat iman mereka, berkatalah Ia, “Hai saudara, dosa-dosamu sudah diampuni.” Tetapi ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi berpikir dalam hatinya, “Siapakah orang yang menghujat Allah ini? Siapa yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Allah sendiri?” Akan tetapi, Yesus mengetahui pikiran mereka, lalu berkata kepada mereka, “Apakah yang kamu pikirkan dalam hatimu? Manakah yang lebih mudah, mengatakan: Dosa-dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah, dan berjalanlah? Tetapi supaya kamu tahu bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa” – berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu – “Kepadamu Kukatakan, bangunlah, angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!” Seketika itu juga bangunlah ia, di depan mereka, lalu mengangkat tempat tidurnya dan pulang ke rumahnya sambil memuliakan Allah. Semua orang itu takjub, lalu memuliakan Allah, dan mereka sangat takut, katanya, “Hari ini kami telah menyaksikan hal-hal yang sangat mengherankan.” (Luk 5:17-26) 

Bacaan Pertama: Yes 35:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 85:9-14

Ini adalah sebuah “adegan” yang sungguh konkret. Cerita ini mengungkapkan great expectations dari orang kebanyakan, suatu hasrat kuat dan sangat manusiawi untuk memperoleh kesembuhan fisik. Datang saja ke acara kebangunan rohani atau “Misa Penyembuhan” untuk menyaksikan dengan mata-kepala  sendiri, malah kita mungkin mengalami  sendiri kesembuhan itu. Kesembuhan-kesembuhan terjadi, meskipun yang disembuhkan belum tentu datang karena didorong motif yang sepenuhnya spiritual. Cerita ini juga menggambarkan, bahwa sepanjang sejarah manusia Allah menghendaki, bahkan memiliki hasrat besar, untuk mengampuni pendosa yang bertobat. Kita tentu percaya bahwa hal ini benar karena iman kita akan kerahiman atau belaskasih Allah. Namun dengan kedatangan Yesus ke tengah-tengah umat manusia, pengampunan dosa itu mengambil sebuah bentuk pengungkapan manusia yang baru, yang membawa kita kepada suatu kepastian.

Berkat-berkat serta karunia-karunia Allah tidak selalu menyangkut hal-ikhwal yang bersifat badani. Pekerjaan-pekerjaan menakjubkan dari Allah ada dalam hati manusia. Karunia agung dari Allah adalah pemerdekaan/pembebasan dari dosa-dosa. Bisa saja orang lumpuh ini, yang membutuhkan pertolongan dan sepenuhnya menggantungkan diri pada orang-orang lain yang boleh dikatakan “nekat”, merupakan seorang pribadi yang lebih siap untuk menerima pengampunan. Kita maklumi ada cukup banyak orang menolak pengampunan Allah karena sebuah alasan tunggal, yaitu bahwa mereka tidak mau “menerima” pengampunan itu lewat orang lain. “Mohon pengampunan Allah” mensyaratkan bahwa orang bersangkutan mengakui keterbatasan-keterbatasan dirinya dan menghaturkan permohonan dengan sangat akan turunnya Kerahiman Ilahi ke atas dirinya, namun kesombongan tersembunyi dapat menghalangi dia untuk mengambil langkah seperti itu. Banyak orang berpikir bahwa dirinya “mandiri”, self- sufficient, mereka mau keluar dari kesusahan hanya berdasarkan kekuatan mereka sendiri. Yesus mengampuni dosa-dosa orang lumpuh dengan mengucapkan kata-kata manusia: “Hai Saudara, dosa-dosamu sudah diampuni” (Luk 5:20). Ketika para pemuka agama menolak cara pemberian pengampunan seperti ini, Yesus menanggapi dengan suatu tanda yang mudah dilihat oleh mata manusia: Dia menyembuhkan orang lumpuh itu melalui firman yang keluar dari mulut-Nya, untuk menunjukkan bahwa Dia memiliki kuasa mengampuni dosa melalui firman-Nya. Apa yang diucapkan Yesus ini sama kuatnya dengan kata-kata: “Angkatlah tempat tidurmu dan pulanglah ke rumahmu!” (Luk 5:24).

stdas0592-jesus-heals-the-palsied-manReaksi negatif para pemuka agama juga menunjukkan bahwa mereka sebetulnya belum siap untuk menerima keselamatan. Mereka telah membangun bagi diri mereka sendiri sebuah “agama yang penuh dengan kebenaran moral”, dan berpikir bahwa hanya mereka sendirilah yang akan berjaya merebut keselamatan dengan mengikuti kehendak mereka sendiri. Kita sering mengalami keraguan untuk menerima sakramen tobat dari seorang imam yang mewakili Kristus (lihat Yoh 20:21-23). Mungkin kita memiliki sikap yang agak mirip dengan para pemuka agama pada zaman Yesus itu. Di batin kita yang paling dalam, kita merasa takut, karena kita selalu kembali dan kembali lagi ke dalam dosa-dosa yang sama. Di kedalaman hati kita mungkin saja ada suatu hasrat ambisius untuk menjadi seorang yang “benar”, sehingga tidak perlu lagi mohon pengampunan dari Allah – artinya “kita bisa dan mampu melakukan apa saja tanpa Allah!”  Ada juga yang mengatakan, “Tetapi, apakah Allah tidak dapat mengampuni dosa-dosaku, bahkan dosa yang paling jelek sekali pun, apabila aku mohon pengampunan dari Dia secara langsung?” Tanggapan saya: “Iman saya mengatakan, bahwa Allah dapat melakukan apa saja seturut kehendak-Nya, namun biasanya dalam kehidupan Gereja di mana saya adalah anggotanya, pengampunan atas dosa-dosa yang sungguh serius diperoleh melalui Sakramen Rekonsiliasi.”

Wajah sejati Allah adalah “Kasih yang mengampuni” dan bukanlah “Hakim yang senang menghukum”. Inilah mukjizat besar yang tak henti-hentinya dibuat oleh Allah. Namun untuk menunjukkan bahwa mukjizat yang tak kelihatan ini sungguh riil adanya, maka Yesus menggaris-bawahinya dengan sebuah mukjizat yang berwujud. Inilah inti bacaan Injil hari ini!

DOA: Tuhan Yesus, aku berterima kasih penuh syukur atas pengampunan dan kesembuhan yang begitu sering Kauberikan kepadaku. Berikanlah kepadaku, ya Tuhan, roh sukacita dan puji-pujian, sehingga segala karunia Roh yang diberikan kepadaku dapat kupersembahkan kembali kepada-Mu lewat pengabdianku kepada sesamaku, semua seturut kehendak-Mu saja. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yes 35:1-10), bacalah tulisan berjudul “MENJADI WAHA/OASIS DI TENGAH PADANG GURUN” (bacaan untuk tanggal 5-12-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2016. 

(Tulisan ini  bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2009) 

Cilandak, 2 Desember 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

KEDATANGAN SANG MESIAS-HAKIM

KEDATANGAN SANG MESIAS-HAKIM

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU ADVEN II (Th. A), 4 Desember 2016)

ST. YOHANES PEMBAPTIS

ST. YOHANES PEMBAPTIS

Pada waktu itu tampillah Yohanes Pembaptis di padang gurun Yudea dan memberitakan, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!” Sesungguhnya dialah yang dimaksudkan Nabi Yesaya ketika ia berkata, “Ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya.”

Yohanes memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit, dan makannya belalang dan madu hutan. Lalu datanglah kepadanya penduduk dari Yerusalem, dari seluruh Yudea dan seluruh daerah sekitar Yordan. Sambil mengaku dosanya mereka dibaptis oleh Yohanes di sungai Yordan.

Tetapi waktu ia melihat banyak orang Farisi dan orang Saduki datang untuk dibaptis, berkatalah ia kepada mereka, “Hai kamu keturunan ular berbisa. Siapakah yang mengatakan kepada kamu bahwa kamu dapat melarikan diri dari murka yang akan datang? Jadi, hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan. Janganlah mengira bahwa kamu dapat berkata dalam hatimu: Abraham adalah bapak leluhur kami! Karena aku berkata kepadamu: Allah dapat menjadikan anak-anak bagi Abraham dari batu-batu ini! Kapak sudah tersedia pada akar pohon dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan, tetapi Ia yang datang kemudian setelah aku lebih berkuasa daripada aku dan aku tidak layak membawa kasut-Nya. Ia akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan dengan api. Alat penampi sudah di tangan-Nya. Ia akan membersihkan tempat pengirikan-Nya dan mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung, tetapi sekam itu akan dibakar-Nya dalam api yang tidak terpadamkan.” (Mat 3:1-12)

Bacaan Pertama: Yes 11:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 72:1-2,7-8,12-13,17; Bacaan Kedua: Rm 15:4-9 

“Pada waktu itu”  adalah kata-kata yang tidak jelas secara kronologis, namun Matius menggunakan ungkapan ini sebagai suatu tanda bahwa dia sedang menarasikan sejarah suci. Yohanes Pembaptis bukanlah seorang  guru (rabi) dan juga bukan seorang guru hikmat. Ia dalah seorang nabi. Yohanes berpakaian seperti Elias (2Raj 1:8) dengan mana Yesus kemudian mengidentifikasikan Yohanes (Luk 11:13), ia mencintai padang gurun sebagai sebuah tempat perjumpaan dengan Tuhan (1Raj 19:1-18). Namun demikian, tidak seperti Elias, Yohanes menjauhi kota-kota dan ia hanya berkhotbah di padang gurun.

Seperti dikatakan oleh Yesus sendiri, Yohanes itu lebih daripada sekadar seorang nabi (Mat 11:9). Yohanes adalah seorang bentara, seseorang yang mengumumkan suatu peristiwa, yaitu masuknya Kerajaan Allah atau Kerajaan Surga. Tidak seperti Injil Markus dan Lukas, Matius menaruh pada bibir Yohanes kata-kata sama yang diucapkan Yesus ketika memulai pelayanan-Nya: “Bertobatlah, sebab Kerajaan surga sudah dekat!” (Mat 4:17). Jadi Kabar Baik sudah dimulai dengan Yohanes Pembaptis.

Dengan demikian segalanya dimulai dengan pertobatan. Tidak ada pengalaman akan Kerajaan Surga tanpa pertobatan. Jikalau bagi banyak orang pada zaman modern ini “Kerajaan Surga” terdengar sebagai suatu konsep yang asing, apakah barangkali karena semua itu sekarang begitu jarang dan sedikit sekali kita dengar tentang penghakiman, dosa dan pertobatan? Jalan kepada kebebasan, sukacita dan hidup baru adalah pertobatan dan menerima pengampunan dari Allah.

Namun, pertobatan termaksud harus tulus (lihat Mat 3:7-10).  Dari semua orang yang datang untuk baptisan Yohanes terdapat dua kelompok yang diragukan ketulusan hatinya oleh Yohanes, yaitu orang-orang Farisi dan orang-orang Saduki. Mereka dijuluki “keturunan ular berbisa” oleh Yohanes.  Mereka mengandalkan garis keturunan mereka dari Bapak Abraham (lihat Yes 51-2), mereka tidak memperhatikan pentingnya melakukan pekerjaan-pekerjaan baik yang akan membuat mereka dapat diterima di mata Allah dan dapat menghadapi penghakiman terakhir dengan baik. Jadi, kita harus menghasilkan buah-buah sesuai dengan pertobatan kita.

Pelayanan Yohanes tidak hanya mempersiapkan masuknya pemerintahan Allah melainkan juga kedatangan “Dia yang lebih berkuasa daripada Yohanes sendiri”, untuk siapa Yohanes tidak layak membawa kasut-Nya sekali pun (lihat Mat 3:11) …… sang Mesias-Hakim.

DOA: Bapa surgawi, belas kasih-Mu adalah tanpa batas. Kami menyembah dan memuji Engkau, karena Engkau mengutus Putera-Mu yang tunggal, Tuhan Yesus Kristus, untuk menebus kami dari semua dosa kami dan juga kematian. Ia-lah juga sang Mesias-Hakim pada pengadilan terakhir kelak. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil  hari ini (Mat 3:1-12), bacalah tulisan yang berjudul “MEMPERSIAPKAN HATI UMAT ALLAH AKAN KEDATANGAN SANG MESIAS” (bacaan tanggal 4-12-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2016. 

Cilandak, 2 Desember 2016  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS