PENGGARAP-PENGGARAP KEBUN ANGGUR

PENGGARAP-PENGGARAP KEBUN ANGGUR

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa IX – Senin, 30 Mei 2016)

Ordo Santa Clara: Peringatan B. Baptista Varani, Biarawati Klaris 

PERUMPAMAAN - WICKED HUSBANDMENLalu Yesus mulai berbicara kepada mereka dalam perumpamaan, “Ada seseorang membuka kebun anggur dan membuat pagar sekelilingnya. Ia menggali lubang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga. Kemudian Ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain. Ketika sudah tiba musimnya, ia menyuruh seorang hamba kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima sebagian dari hasil kebun itu dari mereka. Tetapi mereka menangkap hamba itu dan memukulnya, lalu menyuruhnya pergi dengan tangan hampa. Kemudian ia menyuruh lagi seorang hamba lain kepada mereka. Orang ini mereka pukul sampai luka kepalanya dan sangat mereka permalukan. Lalu ia menyuruh seorang lagi seorang hamba lain, dan orang ini mereka bunuh. Demikian juga dengan banyak lagi yang lain, ada yang mereka pukul dan ada yang mereka bunuh. Masih ada satu orang lagi padanya, yakni anaknya yang terkasih. Akhirnya ia menyuruh dia kepada mereka, katanya: Anakku akan mereka segani. Tetapi penggarap-penggarap itu berkata seorang kepada yang lain: Inilah ahli waris, mari kita bunuh dia, maka warisan ini menjadi milik kita. Mereka menangkapnya dan membunuhnya, lalu melemparkannya ke luar kebun anggur itu. Sekarang apa yang akan dilakukan oleh tuan kebun anggur itu? Ia akan datang dan membinasakan penggarap-penggarap itu, lalu mempercayakan kebun anggur itu kepada orang-orang lain. Tidak pernahkah kamu membaca nas ini: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi baru penjuru: Hal ini terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita.” Lalu mereka berusaha untuk menangkap Yesus, karena tahu bahwa merekalah yang dimaksudkan-Nya dengan perumpamaan itu. Tetapi mereka takut kepada orang banyak. Mereka membiarkan Dia, lalu mereka pergi. (Mrk 12:1-12) 

Bacaan Pertama: 2 Ptr 1:1-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 91:1-2,14-16 

Perumpamaan Yesus  tentang penggarap-penggarap kebun anggur ini ditempatkan pada awal pekan terakhir dari pelayanan-Nya di muka umum. Dalam konteks meningkatnya oposisi yang datang dari pihak pembesar-pembesar keagamaan, perumpamaan ini mengantisipasi drama yang memuncak dari keseluruhan Injil. Penolakan terhadap anak dari pemilik kebun anggur merujuk pada penolakan terhadap Yesus yang  kemudian disusul dengan  kematian-Nya di kayu salib.

Yesus mengambil contoh cerita ini dari sebuah perumpamaan serupa yang terdapat  di Yes 5:1-7, dan para pendengar-Nya pasti tahu hubungan antara keduanya. Bayangkan betapa dengan berlimpah-limpahnya Allah memperhatikan dan memelihara Israel! Apa lagi yang dapat dilakukan-Nya bagi Israel? Mengapa Israel gagal  menghasilkan buah yang dihasrati oleh-Nya? Para imam dan ahli Taurat, malah seluruh penguasa Israel adalah para penggarap yang bertanggung jawab untuk bekerja di kebun anggur. Merekalah yang menolak hamba utusan sang pemilik kebun anggur, yaitu Allah sendiri. Yang terakhir adalah Yohanes Pembaptis dan sekarang, seperti disadari sepenuhnya oleh Yesus, mereka akan menolak dan membunuh-Nya, Anak-Nya yang terkasih.

Para pembaca Injil Markus akan melihat diri mereka sendiri sebagai para penggarap yang bekerja di kebun anggur, yakni Gereja yang diperhatikan dan dipelihara oleh Allah sendiri dengan begitu berkelimpahan. Sang pemilik sedang pergi ke tempat jauh, Yesus sudah naik ke surga, namun lewat Gereja-Nya, Dia telah membuat pagar untuk melindungi dan menyegarkan kita. Ia memperhatikan kita dan hadir bagi kita dalam Sabda dan Sakramen, dan Ia minta kepada kita agar berbuah untuk Dia dan memberi kepada Dia bagian-Nya pada waktu-Nya.

Marilah kita bersyukur untuk kasih dan perhatian Allah yang tanpa habis-habisnya bagi Gereja-Nya. Kita semua mempunyai beban-beban dan persoalan-persoalan pada waktu yang berbeda-beda, namun bahkan dalam kesulitan kita dapat menemukan tanda-tanda kasih Allah bagi kita. Barangkali pintu yang tertutup bagi kita pada kenyataannya merupakan perlindungan bagi kita tidak mengambil jalan yang akan menyakitkan kita. Barangkali Allah mempunyai sesuatu yang lebih baik bagi kita, namun pada saat ini kita belum mampu melihatnya. Sementara kita belajar melihat tangan-tangan Allah yang bekerja dalam semua hal, kita akan belajar untuk menaruh kepercayaan dalam kasih dan pemeliharaan-Nya bagi kita dalam setiap situasi. Dengan membuka hati kita kepada Yesus, khususnya dalam doa dan melalui Sakramen-sakramen, kita dapat bertumbuh dalam cintakasih kepada-Nya. Setiap hari kita dapat mengatakan kepada Tuhan Yesus, bahwa kita ingin hidup bagi-Nya dan menyenangkan-Nya, dan Dia akan menolong kita. Semoga, pada saat kedatangan-Nya kembali kelak, kita akan didapati sebagai para penggarap kebun anggur yang baik!

DOA: Tuhan Yesus, aku percaya bahwa Dikau adalah Putera Allah yang terkasih, dan aku mempersembahkan hidupku kepada-Mu. Tolonglah aku untuk tetap setia kepada-Mu dan menghasilkan buah yang menyenangkan Allah. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 12:1-12), bacalah tulisan yang berjudul “CERITA TENTANG KEBUN ANGGUR YESUS” (bacaan tanggal 30-5-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH HARIAN 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak, 29 Mei 2016 [HARI RAYA TUBUH DAN DARAH KRISTUS] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KEBAIKAN YESUS DALAM MEMBERI MAKAN KEPADA KITA MELALUI EKARISTI

KEBAIKAN YESUS DALAM MEMBERI MAKAN KEPADA KITA MELALUI EKARISTI

(Bacaan Injil Misa, HARI RAYA TUBUH DAN DARAH KRISTUS – Minggu, 29 Mei 2016)

5 LOAVES & 2 FISHIa menerima mereka dan berkata-kata kepada mereka tentang Kerajaan Allah dan Ia menyembuhkan orang-orang yang memerlukan penyembuhan. Pada waktu hari mulai malam datanglah kedua belas murid-Nya kepada-Nya dan berkata, “Suruhlah orang banyak itu pergi, supaya mereka pergi ke desa-desa dan kampung-kampung sekitar ini untuk mencari tempat penginapan dan makanan, karena di sini kita berada di tempat yang terpencil. Tetapi Ia berkata kepada mereka, “Kamu harus memberi mereka makan!” Mereka menjawab, “Yang ada pada kami tidak lebih daripada lima roti dan dua ikan, kecuali kalau kami pergi membeli makanan untuk semua orang banyak ini.” Sebab di situ ada kira-kira lima ribu orang laki-laki. Lalu Ia berkata kepada murid-murid-Nya, “Suruhlah mereka duduk berkelompok-kelompok, kira-kira lima puluh orang sekelompok.” Murid-murid melakukannya dan menyuruh semua orang banyak itu duduk. Setelah Ia mengambil lima roti dan dua ikan itu, Ia menengadah ke langit, mengucap syukur, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya supaya disajikan kepada orang banyak. Mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian dikumpulkan potongan-potongan roti yang lebih sebanyak dua belas bakul. (Luk 9:11b-17) 

Bacaan Pertama: Kej 14:18-20; Mazmur Tanggapan: Mzm 110:1-4; Bacaan Kedua: 1 Kor 11:23-26

Hari ini kita merayakan kebaikan Yesus dalam memberi makan kepada kita melalui Ekaristi. Dalam mengisahkan peristiwa pemberian makan kepada orang-orang yang begitu banyak, Lukas menceritakan kepada kita bahwa, sebelumnya Yesus bermaksud pergi menyendiri dengan para rasul untuk beristirahat, namun malah menerima orang banyak yang mengikuti-Nya (lihat Luk 9:10-11a). Seperti seorang gembala yang lemah lembut, Ia mengurusi orang-orang yang sakit, mengajar mereka tentang Kerajaan Allah dan dengan mukjizat memberi makan kepada orang banyak itu. Ia melayani orang banyak itu sampai setiap orang dipuaskan (lihat Luk 9:17).

Sewaktu dia menulis kepada Jemaat (Gereja) di Korintus yang sedang mengalami kesulitan, Santo Paulus menjelaskan bahwa Yesus masih mampu untuk memelihara umat-Nya: “Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang”  (1 Kor 11:26). Setiap kali kita membaca Kitab Suci, kita dapat disegarkan kembali. Setiap kali kita berdoa, kita dapat dipenuhi dengan Roh Kudus. Pengorbanan Yesus yang kita kenang dalam setiap Misa Kudus, masih tetap memiliki kuat-kuasa untuk menghapus dosa-dosa kita dan mengisi diri kita dengan hidup ilahi.

KOMUNI KUDUS - 111Roti dan anggur yang diubah menjadi tubuh dan darah Yesus sungguh dapat menopang kita selagi kita mendekati altar-Nya dengan kerendahan hati. Pada saat yang sama, setiap kali kita makan dan minum, kita juga memandang hari pada saat mana Yesus akan datang lagi. Mulai saat itu, Yesus sendirilah yang akan memberi kita makan secara langsung, tidak lagi melalui sabda dan sakramen. “Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu”  (Why 21:4).

Pada hari ini, marilah kita makan tubuh dan minum darah Kristus dengan hati yang dipenuhi rasa syukur. Dialah yang memberi kita makan. Dialah yang memenuhi segala kebutuhan fisik dan spiritual kita. Marilah kita memandang hari di mana kita akan bersama-Nya. Segala pengharapan kita berpusat pada hal itu.

DOA: Tuhan Yesus, dalam sabda-sabda-Mu kami menemukan kebenaran. Dalam luka-luka-Mu kami menemukan kehidupan. Dalam darah-Mu yang mulia kami menemukan kekuatan untuk menjadi lebih dekat lagi pada-Mu. Dalam kematian-Mu kami menemukan kehidupan. Dalam kebangkitan-Mu kami menemukan harapan untuk hidup kekal. Datanglah, Tuhan Yesus. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 9:11b-17), bacalah tulisan yang berjudul “KITA MEMBERITAKAN KEMATIAN YESUS SAMPAI IA DATANG” (bacaan tanggal 29-5-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010)

Cilandak, 28 Mei 2016

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

MARILAH KITA JUJUR DAN TERBUKA DI HADAPAN YESUS

MARILAH KITA JUJUR DAN TERBUKA DI HADAPAN YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VIII – Sabtu, 28 Mei 2016) 

jesus_christ_picture_013Lalu Yesus dan murid-murid-Nya datang lagi ke Yerusalem. Ketika Yesus berjalan di halaman Bait Allah, datanglah kepada-Nya imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat dan tua-tua, dan bertanya kepada-Nya, “Dengan kuasa manakah Engkau melakukan hal-hal itu? Siapakah yang memberikan kuasa itu kepada-Mu, sehingga Engkau melakukan hal-hal itu? Jawab Yesus  kepada mereka, “Aku akan mengajukan satu pertanyaan kepadamu. Berikanlah Aku jawabnya, maka Aku akan mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu. Baptisan Yohanes itu, dari surga atau dari manusia? Berikanlah Aku jawabnya!” Mereka memperbincangkannya di antara mereka, dan berkata, “Jikalau kita katakan: Dari surga, Ia akan berkata: Kalau begitu, mengapa kamu tidak percaya kepadanya? Tetapi, masakan kita katakan: Dari manusia!” Mereka takut kepada orang banyak, karena semua orang menganggap bahwa Yohanes betul-betul seorang nabi. Lalu mereka menjawab Yesus, “Kami tidak tahu.” Kata Yesus kepada mereka, “Jika demikian, Aku juga tidak mengatakan kepadamu dengan kuasa manakah Aku melakukan hal-hal itu.”  (Mrk 11:27-33) 

Bacaan Pertama: Yud 17,20b-25; Mazmur Tanggapan: Mzm 63:2-6 

Apakah anda pernah mempunyai pengalaman merasa disudutkan dalam suatu interogasi atas dirimu? Anda tahu bahwa apa pun jawaban yang anda berikan, anda tetap berada dalam posisi serba salah. Biasanya hal seperti ini terjadi entah karena anda sungguh bersalah dalam hal yang dipertanyakan, atau karena sang interogator begitu jahat dalam pikirannya. Dia memutar-balikkan kebenaran karena tujuan dia satu-satunya adalah untuk mencelakakan anda.

Sekarang bayangkanlah bagaimana perasaan para imam kepala, ahli Taurat dan tua-tua yang ingin mencobai Dia, ketika Yesus balik bertanya kepada mereka apakah mereka percaya kepada khotbah-khotbah Yohanes Pembaptis. Tidak ada cara apa pun bagi mereka untuk menjawab “kick balik” dari Yesus itu, tanpa menempatkan diri mereka sendiri dalam posisi yang negatif. Jadi, mereka pun memilih cara yang paling aman, yakni “berlagak bodoh” sajalah.

Tetapi jelas di sini Yesus tidak mencoba untuk berperilaku sebagai seorang yang penuh hikmat-kebijaksanaan. Ia tidak mencoba untuk membuat para pemimpin/pemuka agama Yahudi ini agar kelihatan jelek dan bodoh. Yesus cuma ingin agar mereka mengakui bahwa mereka telah salah menilai Yohanes Pembaptis. Yesus berharap bahwa tindakan-Nya  mengingatkan para pemimpin itu akan kekeliruan dan kesalahan mereka di masa lampau, akan memacu mereka melakukan pertobatan dan mengubah penilaian salah mereka terhadap Yohanes Pembaptis.

stdas0149Kadangkala Yesus juga akan menggunakan pendekatan yang serupa ketika berhadapan dengan kita. Dia dapat membuat kita ingat akan suatu situasi di mana kita telah memperlakukan orang lain secara keliru. Atau, Dia dapat mengingatkan kita akan rasa dendam yang sudah sekian lama terpendam dalam diri kita, atau dosa tertentu di masa lampau kita yang belum kita akui – dengan harapan bahwa kita akan menghadapi semuanya itu dan berpaling kepada-Nya dalam pertobatan.

Para pemimpin/pemuka agama Yahudi yang mencobai Yesus itu sebenarnya dapat menjawab, “Engkau memang benar. Baptisan Yohanes benar dari surga dan kami tidak percaya kepadanya. Kami seharusnya mencoba untuk melindunginya dari cengkeraman Herodes. Malah yang lebih penting lagi, kami seharusnya menerima pesan yang diwartakan olehnya.”  Yang terjadi adalah sebaliknya, para pemimpin/pemuka agama Yahudi itu malah hanya lebih mengeraskan hati mereka. Sekarang, marilah kita semua berikrar untuk tidak “berlagak bodoh” seperti para pemimpin/pemuka agama Yahudi dalam bacaan Injil ini. Apabila pada suatu saat Roh Kudus mengingatkan kita akan “hal-hal tidak baik dari diri kita pada masa lampau”, marilah kita mengakuinya dan menanganinya dengan pertolongan penuh dari Dia sendiri. Bagaimana lagi kita akan menemukan kebebasan dan damai sejahtera?

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih karena Engkau memberikan kepadaku begitu banyak kesempatan untuk bertobat, mengakui segala dosaku dan berpaling kembali kepada-Mu. Berikanlah keberanian kepadaku untuk mendengarkan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Roh Kudus-Mu, agar dengan demikian aku dapat mengetahui dan mengenal dengan lebih mendalam lagi kebebasan, dan menjalin persahabatan yang lebih erat lagi dengan Engkau. Amin.

Catatan: Untuk mendalam bacaan Injil hari ini (Mrk 11:27-33), bacalah tulisan yang berjudul “BERIKAN AKU JAWABNYA!” (bacaan tanggal 28-5-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak, 26 Mei 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TEMPAT KESELAMATAN TELAH BERGESER DARI BAIT ALLAH KE YESUS

TEMPAT KESELAMATAN TELAH BERGESER DARI BAIT ALLAH KE YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VIII – Jumat, 27 Mei 2016) 

BAIT ALLAH DIBERSIHKAN - YESUS DAN PARA PENUKAR UANGSesampainya di Yerusalem Ia masuk ke Bait Allah. Di sana Ia meninjau semuanya, tetapi karena hari hampir malam, Ia keluar ke Betania bersama dengan kedua belas murid-Nya.

Keesokan harinya sesudah Yesus dan kedua belas murid-Nya meninggalkan Betania, Yesus merasa lapar. Dari jauh Ia melihat pohon ara yang sudah berdaun. Ia mendekatinya untuk melihat kalau-kalau Ia menemukan sesuatu pada pohon itu. Tetapi waktu tiba di situ, Ia tidak menemukan apa-apa selain daun-daun saja, sebab memang bukan musim buah ara. Kata-Nya kepada pohon itu, “Jangan lagi seorang pun makan buahmu selama-lamanya!”  Murid-murid-Nya pun mendengarnya.

Lalu tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Yerusalem. Sesudah Yesus masuk ke Bait Allah, mulailah Ia mengusir orang-orang yang berjual beli di halaman Bait Allah. Ia membalikkan meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati, dan Ia tidak memperbolehkan orang membawa barang-barang melintasi halaman Bait Allah. Lalu Ia mengajar mereka, kata-Nya, “Bukankah ada tertulis: Rumah-Ku akan disebut rumah doa bagi segala bangsa? Tetapi kamu ini telah menjadikannya sarang penyamun!” Imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat mendengar tentang peristiwa itu, dan mereka mencari jalan untuk membinasakan Dia, sebab mereka takut kepada-Nya, karena seluruh orang banyak takjub kepada pengajaran-Nya. Menjelang malam mereka keluar lagi dari kota.

Pagi-pagi ketika Yesus dan murid-murid-Nya lewat, mereka melihat pohon ara tadi sudah kering sampai ke akar-akarnya. Lalu teringatlah Petrus dan berkata kepada Yesus, “Rabi, lihatlah, pohon ara yang Kaukutuk itu sudah kering.” Yesus menjawab mereka, “Percayalah kepada Allah! Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Siapa pun berkata kepada gunung ini: Terangkatlah dan terbuanglah ke dalam laut! Asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya. Karena itu Aku berkata kepadamu: Apa saja yang kamu doakan dan minta, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu. Jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya seseorang bersalah terhadap kamu, supaya juga Bapamu yang di surga mengampuni kamu akan kesalahan-kesalahanmu.” [Tetapi jika kamu tidak mengampuni, maka Bapamu yang di surga juga tidak akan mengampuni kamu akan kesalahan-kesalahanmu.] (Mrk 11:11-26) 

Bacaan Pertama: 1 Ptr 4:7-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 96:10-13 

Di sini Markus menyelipkan satu tradisi (penyucian Bait Allah, Mrk 11:15-19) ke dalam tradisi yang lain (kutuk atas pohon ara, Mrk 11:12-14; 20-25), layaknya sepotong roti sandwich …. mengingatkan kita akan cara Markus menggabungkan dua cerita mujizat dalam 5:21-43. Jelas di sini Markus mau agar kita melihat bahwa ke dua bagian itu saling memberi tafsir; dan seluruhnya harus dibaca karena makna cerita yang satu tergantung dari yang lain. Ini berarti bahwa “nasib” pohon ara serupa dengan “nasib” Bait Allah. “Kutuk” Yesus berarti dua-duanya akan “mati”. Kenyataan bahwa pohon ara itu kedapatan sudah mati-kering pada keesokan harinya (Mrk 11:20) berarti bahwa penghancuran Bait Allah (lihat Mrk 13:2) juga dapat dipastikan akan terjadi, cuma masalah waktu saja. Ada ahli yang mengatakan bahwa tindakan Yesus yang “tidak biasa” ini atas pohon ara (Mrk 11:12-14 dan 30 dsj) kelihatannya melambangkan “nasib” tragis yang bakal menimpa Yerusalem dan agama Yahudi (Lihat  nubuatan dalam Yer 8:13 dan Mi 7:1-6). Dengan demikian perumpamaan simbolik ini membuat jelas makna dari penyucian Bait Allah (Mrk 11:15-17), yang “ditenun”  ke dalam cerita tentang pohon ara itu.

Alasan untuk “penghancuran”  simbolik Bait Allah  (Mrk 11:15-16) diberikan dalam Mrk 11:17: “Bait Allah, yaitu Rumah Yesus, adalah rumah doa, tetapi telah dijadikan sarang penyamun”.  Acuan kepada “sarang penyamun” tidak berarti bahwa Yesus menjadi jengkel serta kesal hati terhadap praktek-praktek bisnis tidak jujur oleh mereka yang menjual hewan korban dan menjadi penukar uang. Ingat bahwa Yesus juga mengusir para pembeli (Mrk 11:15). Yang lebih penting lagi adalah bahwa kata-kata yang digunakan oleh Yesus diambil dari nubuatan nabi Yeremia: “Sudahkah menjadi sarang penyamun di matamu rumah yang atasnya nama-Ku diserukan ini?”  (Yer 7:11). Ayat ini mengacu pada Bait Allah ke mana para penyamun mundur – retret –  demi keselamatan mereka, setelah mereka melakukan pekerjaan-pekerjaan jahat mereka. Tuduhan Yesus tidaklah diarahkan terhadap praktek bisnis yang  “lihai”, tetapi terhadap gagasan atau idee bahwa apa pun yang telah dilakukan oleh orang-orang, mereka akan selamat dari hukuman kalau telah menghadap Allah dalam Bait-Nya (lihat Yer 9:7-15). Di sini Yesus juga tidak berpikir untuk sekadar melakukan suatu reformasi atas praktek-praktek di Bait Allah itu. Hewan-hewan diperlukan untuk upacara kurban persembahan dan hanya uang logam tanpa gambar (bdk. Kel 20:4) yang dapat digunakan untuk membayar pajak Bait Allah. Dua-duanya ada untuk membantu umat yang datang ke Bait Allah guna menyembah-Nya. Namun kalau hewan-hewan tidak ada untuk kurban persembahan dan kalau tidak ada uang yang dibayar umat untuk menunjang Bait Allah, maka tempat kudus itupun tidak akan dapat berfungsi lagi. Maka dengan tindakan protes kenabian ini, Yesus menggenapi nubuat-nubuat dalam Perjanjian Lama tentang akhir dari Bait Allah yang disebabkan oleh ketiadaan iman bangsa Yahudi sebagai umat pilihan (lihat Yer 7:12-15; Hos 9:15).

FigTree_260x340Bait Allah dimaksudkan sebagai sebuah rumah doa “bagi segala bangsa” (Mrk 11:17; bdk. Yes 56:7). Selama itu Bait Allah gagal menjadi instrumen atau alat keselamatan sedemikian karena disalahgunakan untuk tujuan-tujuan yang tidak suci, sehingga dengan demikian dapat dikatakan tidak berdaya guna. Sesungguhnya dalam rencana Allah, Yesuslah –  dan samasekali bukan Bait Allah – yang menjadi “Instrumen”  keselamatan, malah Dia adalah Sang Penyelamat (Sang Juru Selamat) itu sendiri. Yesus adalah Dia, yang melalui diri-Nya keselamatan ditawarkan dan diberikan kepada orang-orang non-Yahudi. Untuk itu kita dapat melihat praktek pelayanan yang dilakukan Yesus dari Nazaret, ke mana saja Dia pergi dan siapa saja yang dilayani-Nya (lihat Mrk 7:24,31; 8:27). Jadi dalam rencana Allah, keselamatan melalui Yesus ditawarkan dan diberikan kepada semua bangsa sebelum tibanya Kerajaan Allah (Mrk 13:10; bdk. Rm 11:25-26a). Bait Allah tidak lagi menjadi bagian dari rencana itu.

Barangkali hal ini dapat menjelaskan mengenai frase yang terdengar agak aneh berikut ini: “….. sebab memang bukan musim buah ara”  (Mrk 11:13). Pohon ara melambangkan Bait Allah dalam kutukan dan kehancuran yang sama (kehancuran total; lihat kata-kata “sampai ke akar-akarnya”,  Mrk 11:20), dan di sini juga melambangkan tempat  Bait Allah dalam rencana Allah. Tidak ada buah pada pohon ara itu karena memang bukan musim buah ara. Demikian pula tidak ada buah keselamatan dalam Bait Allah –  yakni segala bangsa menyembah Allah di situ – karena memang bukan “musim” –nya juga bagi Bait Allah untuk berbuah. “Tempat” keselamatan telah bergeser dari Bait Allah ke Yesus. Jadi dalam rencana Allah, Bait Allah itu mandul. Ini adalah yang ditunjukkan kepada kita oleh  pohon ara yang tak berbuah itu secara simbolis. “Kutuk” dalam Mrk 11:14 bukanlah disebabkan oleh harapan Yesus yang di luar akal wajar mengenai pohon ara. Yang dimaksudkan di sini oleh Markus adalah untuk mengatakan kepada kita tentang “nasib” Bait Allah.

Barangkali inilah juga alasan dari kata-kata penutup tentang iman (Mrk 11:22-25). Bagi Markus, iman-kepercayaan selalu terikat dengan Yesus. Jadi, doa yang dipenuhi iman sekarang dihubungkan dengan Yesus, bukan Bait Allah. Kalau kita ingin menemukan atau berjumpa dengan Allah secara efektif, maka harus melalui Yesus, yang sekarang mengajar kita mengenai doa, tidak melalui sebuah Bait Allah yang fungsinya sudah kadaluwarsa. Ayat-ayat ini menunjukkan kepada kita bagaimana dalam rencana Allah, Dia dapat ditemukan/dijumpai, yakni dalam doa penuh iman (lihat Mrk 11:22-24) dan dalam kita mempraktekkan pengampunan Allah yang penuh kasih terhadap sesama kita (Mrk 11:25). Dengan demikian, dalam kombinasi dari beberapa tradisi, Markus memberi semacam gambaran lebih awal dari apa yang akan diutarakannya secara lebih eksplisit di bagian selanjutnya dari Injilnya, yakni “bahwa Yesus, wafat di kayu salib dan dibangkitkan, adalah satu-satunya jalan kepada Allah”.

Pada “bagian aneh” dari Injil Markus ini, mungkinkah Allah sedang mendesak kita merenungkan ketulusan hidup doa kita dan juga praktek keagamaan kita sendiri sekarang, baik sebagai individu-individu maupun sebagai Gereja?

DOA: Tuhan Yesus, bersihkan hatiku dan buatlah aku menjadi tempat yang layak untuk kediaman Roh-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 11:11-26), bacalah tulisan yang berjudul “KERAGU-RAGUAN MENANTANG IMAN KITA” (bacaan tanggal 27-5-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2003) 

Cilandak, 26 Mei 2016 [Peringatan S. Filipus Neri, Imam] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

SANTO FILIPUS NERI

SANTO FILIPUS NERI

61a85d2bdf904059cd9d5c4fe8b1a49c (1)

Pada hari ini, tanggal 26 Mei, Gereja (anda dan saya) memperingati Santo Filipus Neri, [1515-1595]. Filipus Neri adalah seorang “tanda lawan”, yang menggabungkan popularitas dengan kehidupan saleh melawan latar belakang Roma yang pada masa itu korup dan juga melawan kaum klerus yang sudah kehilangan gairah dalam melayani, sebuah masyarakat yang “sakit” pasca Renaissance. Pada masa kecilnya, Filipus dipanggil dengan nama julukan “Pippo Buono”, artinya “Pippo yang baik”. Ia lahir di Florence pada tahun 1515, sebagai salah seorang anak dari empat orang anak sebuah keluarga seorang notaris yang bernama Fransiskus Neri. Ia memperoleh pendidikan yang baik, terutama dalam “Sastra Latin”. Ibunya meninggal ketika Filipus dan ketiga saudaranya yang lain masih berusia muda sekali. Akan tetapi mereka diasuh dengan baik oleh seorang ibu tiri yang baik.

Filipus Neri dikenal sebagai rasul kota Roma, pendiri perhimpunan “Oratorium” dan tokoh pembaharuan. “Oratorium” berarti kelompok berdoa yang terdiri dari imam-imam praja. Mereka tidak berkaul dan tetap mempunyai hak milik pribadi. Jiwa Filipus Neri yang senantiasa ceria dan penuh pengabdian itu memikat para imam praja tersebut untuk berkumpul di sekeliling dirinya.

Ketika Filipus berusia 18 tahun, ia dikirim ke San Germano kepada seorang anggota keluarga yang tidak mempunyai anak. Orang ini bergerak di bidang bisnis, dan bisnisnya sedang bagus-bagusnya. Kelihatannya dia ingin mewariskan harta kekayaannya kepada Filipus. Namun ternyata Filipus tidak tahan lama tinggal bersama orang itu. Tidak lama setelah Filipus tiba di tempat kediaman pengusaha tersebut, Filipus melalui sebuah pengalaman mistis, yang bertahun-tahun setelah itu dikatakan olehnya sebagai suatu “percakapan” (Inggris: conversation). Setelah peristiwa itu, segala urusan duniawi tidak lagi menarik bagi dirinya. Atmosfir di mana dia hidup tidak lagi terasa menyenang kan, dan ia pun pamit pergi Roma, tanpa uang dan tanpa rencana. Filipus mempercayakan segalanya pada bimbingan dari penyelenggaraan ilahi.

Pada tahun 1534 Filipus tiba di Roma. Di kota itu Filipus mendapat tumpangan/tempat berteduh di rumah milik Galeotto Caccia, seorang pejabat bea-cukai yang berasal dari Florence, yaitu di ruang atas bawah atap dengan perlengkapan yang minim. Sebagai balasan untuk hospitalitas tuan rumah, Filipus mengajar dua orang anak dari tuan rumah. Kecuali untuk jam-jam yang digunakannya untuk mengajar dua orang anak tuan rumah tadi, Filipus kelihatannya menggunakan waktu sisanya di rumah itu untuk hidup sebagai seorang “pertapa”, dan hal ini berlangsung selama dua tahun. Ia berdoa siang dan malam. Hal ini membuktikan bahwa periode ini adalah masa persiapan batin bagi Filipus. Setelah itu dia muncul dari retretnya, dengan hidup spiritualnya yang sudah diperkuat dan ketetapan hatinya untuk hidup bagi Allah dikonfirmasikan. Filipus kemudian mengikuti kursus-kursus filsafat dan teologi di Sapienza dan di Sant’ Agostino. Untuk tiga tahun lamanya Filipus bekerja dengan rajin. Kemudian, secara tiba-tiba, Filipus berubah pikiran, dia melupakan ide untuk ditahbiskan menjadi seorang imam. Ia meninggalkan studinya, dia menjual sebagian besar dari buku-bukunya dan mulai melakukan karya kerasulan di tengah umum. Agama pada waktu itu tidak mempunyai pasaran di Roma, yang lambat memulihkan diri dari efek-efek keterpurukan di tahun 1527. Untuk tiga belas tahun ke depan, Filipus melakukan suatu karya yang tidak biasa pada zaman itu, yaitu seorang awam yang aktif terlibat dalam kegiatan doa dan kerasulan.

Filipus memulai kegiatan kerasulannya secara kecil-kecilan. Ia berdiri di sudut-sudut jalan dan pasar, masuk ke dalam percakapan dengan segala jenis orang – teristimewa dengan orang-orang muda dari Florence yang bekerja di bank-bank dan toko-toko di kawasan Sant’ Angelo. Ternyata mereka mau menanggapi ajakannya, jika Filipus menunjukkan jalan kepada mereka. Jadi, Filipus mengajak mereka untuk menemani orang sakit di rumah sakit dan mengunjungi Tujuh Gereja – suatu bentuk devosi favoritnya. Jadi, selagi Konsili Trente [1545-1563] sedang berupaya mereformasi Gereja pada tingkat doktrinal, kepribadian Filipus yang menarik berhasil membuat Filipus menarik teman-teman dari segala tingkat masyarakat, dari para pengemis sampai kepada para kardinal. Dengan cepat Filipus berhasil mengumpulkan di sekeliling dirinya sekelompok orang awam yang tertarik pada spiritualitasnya yang berani. Pada awalnya mereka bertemu sebagai sebuah pertemuan doa dan diskusi yang bersifat informal, dan juga untuk melayani orang-orang di kota Roma yang membutuhkan pertolongan.

Pada tahun 1548, dengan pertolongan bapak pengakuannya, P. Persiano Rossa yang tinggal di San Girolamo della Carità, Filipus mendirikan sebuah perhimpunan/persaudaraan yang para anggotanya terdiri dari orang-orang awam miskin yang bertemu di gereja San Salvatore di Campo untuk latihan-latihan rohani. Dengan bantuan mereka, Filipus mempopulerkan devosi 40 jam di Roma dan menolong para peziarah yang membutuhkan pertolongan. Karya ini sangat diberkati dan berkembang menjadi rumah sakit terkenal Santa Trinità dei Pellegrini, yang pada tahun yubileum 1575 membantu tidak kurang dari 145.000 orang peziarah, dan belakangan juga mengurus pemulihan kesehatan dari orang-orang miskin. Pada waktu dia berusia 34 tahun, Filipus telah berhasil mencatat banyak capaian; namun bapak pengakuannya yakin bahwa Filipus akan dapat berbuat lebih banyak lagi sebagai seorang imam.

Atas desakan bapak pengakuannya itu, Filipus ditahbiskan sebagai seorang imam pada tanggal 23 Mei 1551 dan tinggal dengan P. Rossa dan imam-iman lain di San Girolamo della Carità. Karya kerasulannya sekarang terlebih-lebih melalui pelayanan sakramen rekonsiliasi. Filipus dikaruniai dengan kuasa untuk membaca pikiran orang-orang yang datang kepadanya dan hal ini banyak menyebabkan terjadinya pertobatan. Untuk kepentingan para pentobat ini, Filipus akan menyelenggarakan berbagai pertemuan dan diskusi rohani, yang kemudian diikuti dengan kunjungan ke gereja-gereja atau hadir mengikuti Ibadat Sore dan Ibadat Penutup.

Sebuah ruangan yang luas dibangun di bagian atas gereja San Girolamo untuk menampung semakin banyak orang yang menghadiri pertemuan-pertemuan yang disebutkan tadi. Dalam hal ini Filipus dibantu oleh sejumlah imam lain. Para imam itu disebut “Oratorian” karena mereka membunyikan sebuah bel kecil untuk menghimpun umat beriman guna berdoa bersama di ruang doa mereka (oratori), namun kongregasi itu baru resmi menggunakan nama “oratorian” beberapa tahun kemudian, yaitu ketika Filipus mempersembahkan lima muridnya yang masih muda-muda untuk ditahbis sebagai imam dan melayani di gereja San Giovanni, yang kepemimpinannya telah dipercayakan oleh orang-orang asal Florence kepada Filipus. Untuk para imam muda ini, – salah satunya adalah Cesare Baronius yang akan menjadi sejarawan, Filipus menulis suatu “peraturan hidup” yang sederhana. Mereka makan dari meja yang sama dan ikut dalam latihan-latihan rohani di bawah bimbingan Filipus, namun pada tahapan ini ia melarang mereka  untuk mengikat diri dengan kaul atau menolak kekayaan mereka, kalau pun ada. Orang-orang lain mulai bergabung dengan mereka, dan organisasi mereka dan karya mereka juga berkembang dengan cepat. Pada tahun 1575 komunitas baru itu menerima approbatio yang formal dari Paus Gregorius XIII, dan kepada mereka pun diberikan sebuah gereja kuno Santa Maria di Vallicella. Filipus mengambil keputusan untuk menghancurkan gereja tua itu dan membangunnya kembali secara besar-besaran. Ia tidak mempunyai uang, namun banyak donasi datang dari orang-orang, baik kaya maupun miskin. Sri Paus dan Santo Carolus Borromeus sangat bermurah hati dalam memberikan sumbangan mereka, demikian pula orang-orang terkemuka di Roma.

Pada bulan April 1577, pekerjaan membangun gereja baru (Chiesa Nuova) sudah hampir selesai, sehingga Kongregasi Oratori dapat pindah ke gereja Santa Maria di Vallicella, namun Filipus tetap tinggal di San Girolamo yang sudah didiaminya selama 33 tahun. Baru pada tahun 1584 Filipus pindah ke Chiesa Nuova, demi ketaatan kepada Sri Paus yang menginginkan agar Filipus tinggal di tempat yang baru itu. Walau pun demikian Filipus tetap hidup terpisah/menyendiri (termasuk makan sendiri) dari komunitasnya, meski para anak rohaninya boleh setiap saat datang kepadanya.

Filipus bukanlah seorang pemulih ketertiban, bukan juga seorang teolog kenamaan atau seorang politikus. Ia adalah orang biasa, namun hidupnya merupakan rentetan mukjizat yang tak henti-hentinya. Tidak jarang Filipus mengalami ekstase. Tadi dikatakan ahwa dia dapat membaca suasana batin orang lain dan mengenal rahasia-rahasia pribadi orang. Ia dapat meramalkan masa depan seseorang dan apa yang akan terjadi atas dirinya. Untuk menyembuhkan seseorang dari sakitnya, cukuplah kalau dia menyentuh orang itu. Demikian juga semua orang yang gelisah dan susah hati karena berbagai masalah. Filipus seringkali diminta nasihat-nasihatnya oleh orang-orang terkenal pada zamannya. Dia juga meruakan tokoh penting dalam gerakan Kontra Reformasi, terutama dalam hal pertobahan orang-orang penting d dalam Gereja sendiri. Keutamaan dirinya yang jelas terlihat adalah kerendahan hatinya dan keceriaannya.

Pada Pesta Corpus Christi  (Tubuh Kristus), 25 Mei 1595, Filipus kelihatan sangat berbahagia, malah dokter yang biasa merawatnya mengatakan kepadanya bahwa dia belum pernah kelihatan begitu ok selama 10 tahun terakhir. Hanya Filipus (dan Allah saja) yang mengetahui bahwa hidupnya di dunia sudah hampir berakhir. Sepanjang hari Filipus mendengar pengakuan dan menerima para pengunjung seperti biasanya, namun sebelum pergi tidur Filipus terdengar berkata: “Yang terakhir dari semuanya, kita harus mati.” Sekitar tengah malam Filipus terserang pendarahan yang begitu hebat sehingga para imam dipanggil. Jelaslah bahwa Filipus sedang mengalami sakrat maut. Baronius yang memimpin doa, memohon kepada Filipus untuk mengucapkan kata-kata perpisahan, atau paling sedikit memberkati anak-anak rohaninya. Walaupun Filipus sudah tidak bisa berbicara, dia mengangkat tangannya memberi berkat. Pada saat itu dia sudah berumur 80 tahun. Jenazahnya disemayamkan di Chiesa Nuova yang sampai hari masih merupakan tempat para imam Oratorian.  Filipus Neri dikanonisasikan pada tahun 1622 oleh Paus Gregorius XV.

Bacaan:

  1. Heuken SJ, ENSIKLOPEDI ORANG KUDUS, Jakarta: Yayasan Cipta Loka Caraka, Cetakan ke-14 (2000), hal. 115-116.
  2. Leonard Foley OFM (Editor), SAINT OF THE DAY, Cincinnati, Ohio: St. Anthony Messenger Press, 1990, hal. 114-115.
  3. Matthew Bunson, OUR SUNDAY VISITOR’S ENCYCLOPEDIA OF CATHOLIC HISTORY, Huntington, Indiana: Our Sunday Visitor, Inc., 1995, hal. 658-659.
  4. Michael Walsh (Editor), BUTLER’S LIVES OF THE SAINTS – NEW CONCISE EDITION,  North Blackburn, Victoria: Burns and Oates, 1991, hal. 156-158.
  5. Nicolaas Martinus Schneiders CICM, Mgr., ORANG KUDUS SEPANJANG TAHUN, Jakarta: Penerbit Obor, 1993, hal. 259-260.

Jakarta, 26 Mei 2016

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

TUHAN YESUS KRISTUS, KASIHANILAH AKU!

TUHAN YESUS KRISTUS, KASIHANILAH AKU!

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Filipus Neri, Imam – Kamis, 26 Mei 2016) 

Jesus heals blind Bartimaeus Mark 10:46-52

Lalu tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Yerikho. Ketika Yesus keluar dari Yerikho bersama-sama murid-murid-Nya dan orang banyak yang berbondong-bondong ada seorang pengemis yang buta, bernama Bartimeus, anak Timeus, duduk di pinggir jalan. Ketika didengarnya bahwa itu adalah Yesus orang Nazaret, mulailah ia berseru, “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” Banyak orang menegurnya supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru, “Anak Daud, kasihanilah aku!” Yesus berhenti dan berkata, “Panggillah dia!” Mereka memanggil orang buta itu dan berkata kepadanya, “Teguhkanlah hatimu, berdirilah, ia memanggil engkau.” Orang buta itu menanggalkan jubahnya, lalu segera berdiri dan pergi kepada Yesus. Tanya Yesus kepadanya, “Apa yang kaukehendaki Kuperbuat bagimu?”  Jawab orang buta itu, “Rabuni, aku ingin dapat melihat!”  Lalu kata Yesus kepadanya, “Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau!” Saat itu juga ia dapat melihat, lalu ia mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya. (Mrk 10:46-52) 

Bacaan Pertama: 1 Ptr 2:2-5,9-12; Mazmur Tanggapan: Mzm 100:2-5 

Bartimeus tidak ragu-ragu berseru kepada Yesus untuk minta tolong. Akan tetapi – tidak seperti banyak pengemis lain pada zamannya – Bartimeus tidak minta makanan atau uang, melainkan sesuatu yang jauh lebih sulit: Ia ingin matanya disembuhkan agar dapat melihat (Mrk 10:47-48, 51). Akhirnya, ketika seruannya mendapatkan perhatian Yesus, dengan penuh semangat ia menanggalkan jubahnya, agar dapat berlari kepada Yesus tanpa halangan (Mrk 10:49-50). Dan mukjizat pun terjadi, Bartimeus disembuhkan. Yesus mendengar doa pengemis buta ini dan mencelikkan matanya!

Bersama dengan kesepuluh orang kusta yang berseru, “Yesus, Guru, kasihanilah kami!”  (Luk 17:13), pemungut pajak yang memohon dengan sangat, “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini” (Luk 18:13), seruan penuh kerendahan hati Bartimeus yang disampaikan beberapa kali dengan tekun, “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!”  ini membentuk inti doa kuno yang dinamakan “Doa Yesus”. Sebagai salah satu kekayaan agung dari dunia Kekristenan Timur, doa ini digambarkan dalam sebuah buku Rusia yang berjudul “Jalan seorang Peziarah”. (Terjemahan bahasa Indonesia berjudul “BERDOA TAK KUNJUNG PUTUS – KISAH SEORANG PEZIARAH”  [Kanisius, 1977] ). Buku itu bercerita mengenai seorang laki-laki yang mau belajar “berdoa tanpa henti” (lihat 1 Tes 5:17). Dalam upayanya, orang itu belajar sebuah doa sederhana yang dapat diulang-ulanginya sepanjang hari: “Tuhan Yesus Kristus, Putera Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.” Orang itu kemudian menemukan bahwa doa ini telah menjadi fondasi suatu keseluruhan spiritualitas dan pintu gerbang pertobatan serta kekudusan  bagi beribu-ribu orang banyaknya.

Mengingat kesibukan kita dengan keluarga kita, pekerjaan kita, dan tanggung jawab kita sehari-hari, “Doa Yesus” ini dapat membantu menyelamatkan hidup kita juga. Pikirkanlah doa itu: Dengan menggunakan beberapa kata sederhana saja, kita membuat suatu pernyataan iman yang sempurna, karena  ini meringkaskan unsur-unsur hakiki mengenai apa yang kita tahu dan percayai tentang Tuhan Yesus. Selagi kita mendoakan doa singkat ini dalam hati dan pikiran kita, kita sebenarnya sedang mengakui kedosaan kita, berseru memohon kerahiman Allah dan kita membuka diri terhadap campur tangan-Nya dalam kehidupan kita.

Kadang-kadang hidup ini dapat menjadi sangat ribut dan ramai sekali. Terlalu banyak noise, kata para pakar ilmu komunikasi. Ada hari-hari di mana satu malapetaka kecil saja dapat merenggut dari diri kita, damai-sejahtera yang sedang kita nikmati. Namun, apabila kita terus mempraktekkan doa pendek-sederhana ini, kita pun akan mampu menemukan – seperti juga orang-orang yang tak terhitung banyaknya – bahwa Yesus menopang kita dan memberikan kepada kita harapan-Nya dan damai sejahtera-Nya.

DOA: Tuhan Yesus Kristus, Putera Allah, kasihanilah aku yang berdosa ini! Seperti juga Engkau telah menyembuhkan penglihatan Bartimeus, bukalah mataku sehingga aku dapat melihat Engkau dengan lebih jelas lagi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mrk 10:46-52), bacalah tulisan yang berjudul “BARTIMEUS MENYERUKAN NAMA YESUS” (bacaan tanggal 26-5-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2010) 

Cilandak, 25 Mei 2016 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PEMIMPIN YANG MELAYANI

PEMIMPIN YANG MELAYANI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa VIII – Rabu, 25 Mei 2016) 

YESUS DAN KEDUABELAS MURID-NYAYesus dan murid-murid-Nya sedang dalam perjalanan ke Yerusalem dan Yesus berjalan di depan. Murid-murid merasa cemas dan juga orang-orang yang mengikuti Dia dari belakang merasa takut. Sekali lagi Yesus memanggil kedua belas murid-Nya dan Ia mulai mengatakan kepada mereka apa yang akan terjadi atas diri-Nya. “Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhkan hukuman mati kepada-Nya. Mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa lain, dan Ia akan diolok-olok, diludahi, dicambuk dan dibunuh, tetapi sesudah tiga hari Ia akan bangkit.”  

Lalu Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, mendekati Yesus dan berkata kepada-Nya, “Guru, kami harap Engkau melakukan apa pun yang kami minta dari Engkau!” Jawab-Nya kepada mereka, “Apa yang kamu kehendaki Kuperbuat bagimu?”  Lalu kata mereka, “Perkenankanlah kami duduk dalam kemuliaan-Mu kelak, yang seorang di sebelah kanan-Mu dan yang seorang lagi di sebelah kiri-Mu.”  Tetapi kata Yesus kepada mereka, “Kamu tidak tahu apa yang kamu minta. Dapatkah kamu meminum cawan yang harus Kuminum atau dibaptis dengan baptisan yang harus kuterima?”  Jawab mereka, “Kami dapat.” Yesus berkata kepada mereka, “Memang, kamu akan meminum cawan yang harus Kuminum dan akan dibaptis dengan baptisan yang harus Kuterima. Tetapi hal duduk di sebelah kanan-Ku atau di sebelah kiri-Ku, Aku tidak berhak memberikannya. Itu akan diberikan kepada orang-orang yang baginya hal itu telah disediakan.”  Mendengar itu kesepuluh murid yang lain menjadi marah kepada Yakobus dan Yohanes. Lalu Yesus memanggil mereka dan berkata, “Kamu tahu bahwa mereka yang diakui sebagai pemerintah bangsa-bangsa bertindak sewenang-wenang atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Siapa saja yang ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan siapa saja yang ingin menjadi yang pertama di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”   (Mrk 10:32-45) 

Bacaan Pertama: 1 Ptr 1:18-25; Mazmur Tanggapan: Mzm 147:12-15,19-20 

Dalam nubuatan-Nya yang ketiga perihal kematian dan kebangkitan-Nya (lihat juga Mrk 8:31 dan Mrk 9:31), Yesus menambahkan detil-detil berikut ini; bahwa “bangsa-bangsa lain [orang-orang kafir = Romawi] akan mengolok-olok, meludahi, menyiksa dan membunuh-Nya” (Mrk 10:33-34). Markus juga menambahkan satu detil yang lebih signifikan, ketika dia menggambarkan peristiwa itu: Yesus berjalan di depan, naik menuju Yerusalem penuh kesadaran akan “nasib” yang menantikan-Nya di sana. Para murid “mengikuti Yesus dengan cemas dan orang-orang lain yang mengikuti-Nya merasa takut”. Mereka menuju ke mana? Menuju kematian-Nya! Menuju salib! Salib! Salib! Untuk ketiga kalinya, salib! Pesan itulah yang disampaikan oleh Yesus kepada para murid-Nya. Namun Ia melanjutkan, “….. sesudah tiga hari Ia akan bangkit”  (Mrk 10:34).

YESUS DISALIBKANBerbagai narasi dalam Kitab Suci menunjukkan bahwa rasa cemas dan takut secara tetap menyertai peristiwa penerimaan pewahyuan ilahi, dan di sini Markus kelihatan ingin menyampaikan pesan bahwa kematian Yesus adalah seturut kehendak Allah. Masalahnya, apakah umat Kristiani perdana dan tentunya kita di zaman serba modern ini menerima apa yang dialami Yesus, serta sebagai murid-murid-Nya kita bersedia menerima “nasib” seperti itu? Bersediakah kita mati dulu, baru kemudian dibangkitkan?

Sekarang marilah kita merenungkan permintaan Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus. Apabila anda mempunyai satu keinginan, apa yang akan anda minta? Kesehatan yang baik dan umur panjang? Harta kekayaan? Kekuasaan? Pertobatan dari orang yang anda kasihi? Berbagai penghormatan dan puji-pujian dari orang-orang lain? Bagaimana dengan pekerjaan yang penuh arti, tetapi penuh penderitaan dan dengan imbalan eksternal yang boleh dikatakan sedikit?

Dalam kasus ini Yesus mengajukan pertanyaan sama seperti yang ditanyakan-Nya kepada Bartimeus: “Apa yang kamu kehendaki Kuperbuat bagimu?” (Mrk 10:36; bdk. Mrk 10:51). Nanti kita lihat Bartimeus menjawab: “Rabuni, aku ingin dapat melihat” (Mrk 10:51). Ini adalah sebuah “doa seorang miskin” yang lugu dan lugas, keluar dari hati yang tulus-penuh harap, seperti doa si penjahat yang bertobat di kayu salib (lihat Luk 23:42). Tanggapan Yesus sangat positif dan mukjizat pun terjadi. Lain halnya dengan dua murid kakak-beradik yang sudah lama mengikuti Yesus. Yakobus dan Yohanes meminta kursi kehormatan dan kewenangan dalam kerajaan Yesus (seakan satu mau jadi Menko Polkam, yang satu lagi mau jadi Menko Ekuin). Sebuah permintaan yang terasa agak “tidak tahu diri”, sehingga Yesus pun menjawab: “Kamu tidak tahu apa yang kamu minta” (Mrk 10:38). Para murid Yesus yang lain pun menjadi marah, namun bukan berdasarkan alasan yang benar juga. Jelas kelihatan bahwa mereka cemburu karena merasa dilewati. Akan tetapi, di sini kita lihat Yesus dengan lemah lembut minta kepada kedua murid kakak beradik ini, apakah mereka siap untuk mengikuti Dia pada jalan satu-satunya menuju kerajaan-Nya, yaitu JALAN SALIB.

Karena dibaptis ke dalam kematian, semua orang Kristiani akan memerintah dengan Dia. Akan tetapi bagaimana kita dalam kehidupan sehari-hari mempraktekkan realitas persatuan kita dengan-Nya itu? Yesus mengatakan kepada kita, bahwa kita tak akan menemukan model-model yang baik dalam masyarakat sekular, di mana para pemimpin seringkali bertindak sewenang-wenang atas orang-orang yang mereka harus pimpin. Untuk ini kita harus melihat Yesus, yang datang sebagai “hamba bagi semua orang”, dan juga harus melihat mereka yang sungguh-sungguh  mengikuti jejak-Nya.

Mother-TeresaSalah seorang dari mereka adalah Ibu Teresa dari Kalkuta yang beberapa tahun lalu dibeatifikasikan di Roma. Untuk kurun  waktu lebih dari 50 tahun, Ibu Teresa mengabdikan dirinya untuk pelayanan kepada orang-orang sangat miskin (the poorest of the poor) di seluruh dunia. Bersama dengan para saudari dan saudaranya yang bergabung dengan dia dalam kongregasi religiusnya, Ibu Teresa tidak sekadar menolong orang miskin, melainkan hidup di tengah-tengah mereka, memeluk suatu hidup kemiskinan dalam mengikuti jejak Yesus, yang menjadi miskin supaya kita menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya (lihat 2 Kor 8:9). Selagi Ibu Teresa menjalani gaya hidup miskin itu, dia menemukan kebenaran yang sama mengenai hal-hal yang Yesus coba ajarkan kepada Yakobus dan Yohanes mengenai prestise dan rasa hormat dunia. “Semakin banyak engkau memiliki, semakin banyak pula engkau disibukkan dengan milikmu itu. Semakin banyak engkau dibuat sibuk dengan milikmu itu, semakin sedikit pula engkau memberi. Akan tetapi semakin sedikit engkau memiliki, engkau pun semakin bebas. Kemiskinan bagi kami adalah sebuah kerajaan”, demikianlah menurut Ibu Teresa.

Karena Dia ingin agar dirinya dipenuhi hanya dengan Kristus, Ibu Teresa mampu memberi kasih dengan penuh kemurahan hati. Seringkali karya karitatif Ibu Teresa dan para susternya ini sangat melelahkan dan tanpa menerima ucapan terima kasih dari pihak mana pun, suatu unthankful job. Namun karya termaksud juga menjadi sumber kegembiraan, harapan dan pandangan sekilas tentang kemuliaan Allah. Marilah kita juga berjalan seturut teladan Ibu Teresa ini. Marilah kita memandang Yesus dengan penuh cinta kasih dan mohon Dia menolong kita agar dapat melayani sesama, seperti Dia telah lakukan dan juga seperti telah ditunjukkan oleh Ibu Teresa dari Kalkuta.

DOA: Roh Kudus Allah, Engkau menjunjung tinggi Yesus sepanjang hidup-Nya di muka bumi.  Berikanlah kepadaku mata iman agar dapat memandang Dikau. Berikanlah kepadaku hati yang penuh bela-rasa, untuk dapat mensyeringkan Yesus Kristus dengan orang-orang lain. Buatlah aku menjadi saksi hidup atas Kasih yang dapat mentransformasikan dunia. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 10:32-45), bacalah tulisan yang berjudul “JALAN YESUS ADALAH JALAN SALIB” (bacaan tanggal 25-5-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-05 PERMENUNGAN ALKITABIAH MEI 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 24 Mei 2016

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 153 other followers