UCAPAN BAHAGIA DAN PERINGATAN DARI YESUS

UCAPAN BAHAGIA DAN PERINGATAN DARI YESUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA VI [TAHUN C], 17 Februari 2019)

Lalu Ia turun dengan mereka dan berhenti pada suatu tempat yang datar: Di situ berkumpul sejumlah besar dari murid-murid-Nya dan banyak orang lain yang datang dari seluruh Yudea dan dari Yerusalem dan dari daerah pantai Tirus dan Sidon.

Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya dan berkata,

“Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang punya Kerajaan Allah.

Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan.

Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa.

Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat.

Bersukacitalah pada waktu itu dan bergembiralah, sebab sesungguhnya, upahmu besar di surga; karena demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan para nabi.

Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu.

Celakalah kamu, yang sekarang ini kenyang, karena kamu akan lapar.

Celakalah kamu, yang sekarang ini tertawa, karena kamu akan berdukacita dan menangis.

Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu; karena demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu.”  (Luk 6:20-26) 

Bacaan Pertama: Yer 17:55-8; Mazmur Tanggapan: 1:1-4,6; Bacaan Kedua: 1 Kor 15:12,16-20

“Khotbah di Tanah Datar” yang ada dalam Injil Lukas dan padanannya dalam Injil Matius yang diberi nama “Khotbah di Bukit”, memuat  sejumlah “kata-kata mutiara” (boleh dikatakan yang terbaik) dari Yesus. Masalahnya sekarang adalah, bahwa familiaritas kita dengan “Sabda-sabda Bahagia” dapat menghalangi kita dari pemahaman menyeluruh atas ajaran Yesus yang bersifat revolusioner itu. Bagaimana Yesus dapat mengatakan bahwa orang-orang miskin itu terberkati (bahagia) dan orang-orang kaya itu celaka atau terkutuk? Apakah yang dapat membuat seseorang menjadi exciting dan menambah gairahnya jika dia miskin, lapar, dan menangis/sedih? Sekilas lintas semua ini bertentangan dengan akal sehat, bukan?

Yesus mengatakan bahwa mereka yang miskin itu terberkati bukanlah karena kemiskinan itu baik, melainkan karena orang-orang miskin lebih berkemungkinan untuk merasa haus dan lapar akan Allah yang berada dalam setiap hati manusia. Orang-orang miskin mempunyai hati yang sepenuhnya tergantung pada Allah. Karena mudahnya menjadi berhala, kekayaan materiil dapat “menguasai” hati kita dan menjauhkan kita dari kerendahan hati dalam menghadap Allah guna menerima rahmat-Nya (1Tim 6:10).

Itulah sebabnya mengapa Yesus bersabda, “Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu” (Luk 6:24). Yesus tidak mengutuk orang-orang kaya, Dia hanya berduka terhadap kemiskinan spiritual dari mereka yang puas dengan kekayaan duniawi. Yesus mengetahui bahwa apabila kita mengeluarkan energi kita secara terpusat guna memperoleh kekayaan duniawi dengan cara yang mengesampingkan Allah dan kebutuhan-kebutuhan orang-orang lain, maka kita dapat merasa nyaman dalam hidup ini, tetapi dengan risiko terlempar dari kekayaan kehidupan kekal bersama Yesus.

Yesus mengundang kita semua untuk merangkul orang-orang miskin, guna membuka mata kita terhadap penderitaan di sekeliling kita, dan untuk memiliki kerinduan agar dunia dibebaskan dari dosa (Mat 6:9-10). Kerinduan kita menjadi kasih pada saat kita digerakkan oleh Roh Kudus untuk mengesampingkan kepentingan-kepentingan kita dan mulai bekerja untuk membawa terang Kristus ke dalam kegelapan di sekeliling kita. Kalau tadinya kita mengejar-ngejar kekayaan dan kenyamanan hidup dengan praktis melupakan hampir segala-galanya yang lain, maka sekarang kita menjadi rela dan ikhlas untuk mengambil jalan lebih sulit yang dapat mencakup penderitaan. Mengapa? Karena kita adalah milik Kristus! 

Kebahagiaan sejati tidak datang dari hidup senyaman mungkin dalam dunia ini, melainkan dari kenyataan bahwa kita sekarang menerima semacam down payment dari kekayaan penuh yang menantikan kita di surge sana – hidup yang dipenuhi dan dibimbing oleh Roh Kudus. Walaupun terkadang kita hanya dapat melihat sekilas saja, jika dengan penuh ketekunan kita memusatkan pandangan kita pada Yesus, maka Dia akan menguatkan kasih kita kepada-Nya dan bagi orang-orang  lain yang membutuhkan.

DOA: Tuhan Yesus, tunjukkanlah belas kasih-Mu kepada mereka yang miskin dan kesepian, dibenci dan lapar. Tolonglah diriku agar dapat menjumpai mereka dengan benda-benda materiil dan dengan kekayaan Injil-Mu. Terpujilah nama-Mu, ya Yesus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 6:17,20-26), bacalah tulisan yang berjudul “ALLAH TIDAK AKAN PERNAH MENINGGALKAN KITA” (bacaan tanggal 17-2-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2019. 

Cilandak, 14 Februari 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

YESUS MEMBERI MAKAN EMPAT RIBU ORANG NON-YAHUDI

YESUS MEMBERI MAKAN EMPAT RIBU ORANG NON-YAHUDI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa V – Sabtu, 16 Februari 2019)

 

Pada waktu itu ada lagi orang banyak jumlahnya, dan karena mereka tidak mempunyai makanan, Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata, “Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak ini, karena sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Jika mereka Kusuruh pulang ke rumahnya dengan lapar, mereka akan rebah di jalan, sebab ada yang datang dari jauh.” Murid-murid-Nya menjawab, “Bagaimana di tempat yang terpencil ini orang dapat memberi mereka roti sampai kenyang?” Yesus bertanya kepada mereka, “Kamu punya berapa roti?” Jawab mereka, “Tujuh.” Lalu Ia menyuruh orang banyak itu duduk di tanah. Sesudah itu Ia mengambil ketujuh roti itu, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada murid-murid-Nya supaya mereka menyajikannya, dan mereka pun menyajikannya kepada orang banyak. Mereka juga mempunyai beberapa ikan kecil, dan sesudah mengucap syukur atasnya, Ia menyuruh menyajikannya pula. Mereka pun makan sampai kenyang. Kemudian mereka mengumpulkan potongan-potongan roti yang lebih, sebanyak tujuh bakul. Jumlah mereka kira-kira empat ribu orang. Lalu Yesus menyuruh mereka pergi. Ia segera naik ke perahu bersama murid-murid-Nya dan bertolak ke daerah Dalmanuta. (Mrk 8:1-10) 

Bacaan Pertama: Kej 3:9-24; Mazmur Tanggapan: Mzm 90:2-6

Injil Markus dan kitab-kitab Injil lainnya (teristimewa Injil Lukas) cukup sering menyinggung soal makan dan makanan. Misalnya, kita diberitahu apa saja yang dimakan Yohanes Pembaptis (Mrk 1:6). Kita membaca adanya perdebatan-perdebatan dengan para lawan Yesus tentang soal makan: hal berpuasa (Mrk 2:18-20); membasuh tangan sebelum makan (Mrk 7:1-5); makanan yang tidak najis (Mrk 7:14-23); makan bersama dengan pemungut cukai dan orang berdosa (Mrk 2:15-17); memetik gandum pada hari Sabat (Mrk 2:23-28). Yesus menyuruh Yairus dan istrinya memberi anak perempuan mereka makan (Mrk 5:43); Yesus melarang murid-murid membawa makanan ketika mengutus ke dua belas murid-Nya (Mrk 6:8); Yesus dan para murid-Nya disibukkan oleh pelayanan bagi orang banyak sehingga tidak sempat makan (Mrk 6:31). Pertolongan Allah disamakan dengan makanan (Mrk 7:27-28).

Bacaan Injil hari ini menceritakan bahwa Yesus dan para murid-Nya sudah berada di daerah orang non-Yahudi (kafir) untuk sekian lamanya. Di sana Dia mencurahkan perhatian-Nya pada orang-orang yang dipandang sebagai pendosa dan termarjinalisasikan oleh masyarakat. Kendati demikian, Yesus memperlakukan setiap orang dengan penuh kasih dan mengundang mereka semua agar memperoleh keselamatan. Kabar yang tersebar tentang bagaimana Yesus telah mengusir roh jahat dari puteri perempuan keturunan Siro-Fenisia (Mrk 7:24-30) dan penyembuhan seorang yang menderita gagap-tuli (Mrk 7:31-37) telah berhasil menarik orang-orang dalam jumlah yang banyak, untuk mengikuti Dia sampai ke tempat yang jauh dari keramaian kota di mana mereka dapat mendengar Dia mengajar. Sekarang sudah tiga hari lamanya orang banyak itu bersama Yesus, dan mereka sudah kehabisan makanan.

Dari sedikit roti dan ikan yang tersedia, Yesus memberi makan 4.000 orang yang boleh makan sampai kenyang. Orang-orang menjadi “hepi” dan ujung-ujungnya masih ada sisa sebanyak tujuh bakul. Sebelumnya Markus menarasikan cerita penggandaan makanan untuk 5.000 orang laki-laki (jadi totalnya tentu lebih banyak) yang terjadi di daerah orang Yahudi (lihat Mrk 6:35-44). Dengan menggambarkan pemberian makan kepada 4.000 orang di daerah orang “kafir”, Markus ingin mengatakan bahwa Yesus tidak hanya datang kepada orang-orang Yahudi, melainkan juga kepada orang-orang non-Yahudi. Markus ingin mengatakan, bahwa Yesus mengasihi semua orang, semua sama pentingnya bagi diri-Nya.  Laki-laki atau perempuan, rohaniwan atau awam, kaya atau miskin, sehat atau sakit – Yesus mengasihi kita dan sangat berhasrat untuk menyelamatkan kita. Kita semua penting di mata-Nya dan dari atas kayu salib Dia menumpahkan darah-Nya bagi kita masing-masing.

Cerita mukjizat penggandaan roti dan ikan ini oleh Markus dimaksudkan sebagai suatu penggambaran awal dari Ekaristi. Seperti apa yang dilakukan-Nya pada perjamuan akhir, di sini juga Yesus mengucap syukur, memecah-mecahkan  roti dan memberikannya kepada para pengikut-Nya (lihat Mrk 8:6; 14:22). Ekaristi adalah Paskah baru yang tidak lagi merayakan pembebasan orang Yahudi dari perbudakan Mesir melainkan pembebasan seluruh umat manusia dari dosa. Ini adalah pemenuhan janji yang terdapat dalam Kitab Kejadian. Dalam Ekaristi Tuhan memberikan kepada kita satu cara untuk mengatasi efek-efek degeneratif dari dosa-dosa yang diulang-ulang, suatu cara untuk memulihkan kita sebagai anak-anak Allah. Dalam Ekaristi, Yesus memberi makan kepada kita secara spiritual, memberikan diri-Nya kepada kita dan menyegarkan kita, seperti Dia menyegarkan orang banyak dalam cerita tentang penggandaan roti dan ikan itu.

Kita semua berharga di mata Tuhan Yesus dan Ia berhasrat untuk mencurahkan rahmat-Nya kepada kita semua secara berlimpah, memberi makan dan memuaskan kebutuhan-kebutuhan kita. Kita tidak perlu merasa khawatir tentang posisi kita. Yang harus kita lakukan hanyalah dengan tulus membuka hati kita dan memperkenankan Dia masuk ke dalam hati kita. Dia pasti akan memuaskan hati yang paling haus dan lapar.

DOA: Tuhan Yesus, tariklah kami agar mendekat pada-Mu dan segarkanlah kami dengan makanan surgawi dari-Mu. Lipat-gandakanlah rahmat-Mu dalam diri kami semua sehingga kami diberdayakan untuk berbagi kasih-Mu dengan orang-orang di sekeliling kami. Tuhan Yesus, jadikanlah hati kami seperti hati-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 8:1-10), bacalah tulisan dengan judul “MEREKA PUN MAKAN SAMPAI KENYANG” (bacaan tanggal 16-2-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2019. 

Cilandak, 14 Februari 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PENGGENAPAN NUBUAT NABI YESAYA

PENGGENAPAN NUBUAT NABI YESAYA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa V –  Jumat, 15 Februari 2019)

Kemudian Yesus meninggalkan lagi daerah Tirus dan melalui Sidon pergi ke Danau Galilea, melintasi daerah Dekapolis. Di situ orang membawa kepada-Nya seorang yang tuli dan yang gagap dan memohon kepada-Nya, supaya Ia meletakkan tangan-Nya di atas orang itu. Sesudah Yesus memisahkan dia dari orang orang banyak, sehingga mereka sendirian, Ia memasukkan jari-Nya ke telinga orang itu, lalu Ia meludah dan meraba lidah orang itu. Kemudian sambil menengadah ke langit Yesus mendesah dan berkata kepadanya, “Efata!”, artinya: Terbukalah! Seketika itu terbukalah telinga orang itu dan pulihlah lidahnya, lalu ia berkata-kata dengan baik. Yesus berpesan kepada mereka supaya jangan menceritakannya kepada siapa pun juga. Tetapi makin dilarang-Nya, makin luas mereka memberitakannya. Mereka teramat takjub dan berkata, “Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata.” (Mrk 7:31-37) 

Bacaan Pertama: Kej 3:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 32:1-2,5-7 

“Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata.” (Mrk 7:37)

Yesus sedang berada di distrik orang non-Yahudi (baca: kafir) yang bernama Dekapolis (daerah sepuluh kota). Penyembuhan oleh-Nya atas seorang bisu sebenarnya adalah sebuah perumpamaan-dalam-aksi (parable in action). Yesus tidak hanya memampukan kita untuk mendengar sabda Allah, melainkan juga untuk mendengar sabda Allah sebagai ditujukan kepada kita. Allah memampukan kita untuk mendengar suara-suara orang miskin dan mereka yang sungguh membutuhkan pertolongan kita, dan menjadi peka terhadap berbagai kesulitan dari sesama.

Diceritakan dalam bacaan Injil hari ini bahwa orang-orang di TKP merasa teramat takjub atas mukjizat penyembuhan yang terjadi atas orang yang tuli-gagap itu dan berkata, “Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata” (Mrk 7:37). Dengan kata lain mereka memberitakan bahwa Yesus sungguh secara penuh sudah menggenapi nubuatan-nubuatan tentang penyembuhan orang tuli dan bisu yang dikatakan oleh nabi Yesaya (bdk. Yes 35:5).

Sekarang, marilah kita menerapkan cuplikan ayat Kitab Suci di atas kepada diri kita sendiri. Kita akan menjadi tuli secara spiritual dan bisu secara spiritual, kecuali untuk Kristus. Bayangkan apa jadinya dunia pada hari ini tanpa Kristus, tanpa iman Kristiani kita, tanpa pengaruh kekristenan dalam dunia. Bayangkan apa jadinya hidup tanpa sakramen-sakramen, tanpa perayaan Ekaristi, tanpa rahmat Kristus.

Namun demikian, syukur kepada Allah, Kristus sang Putera Allah, telah datang ke tengah umat manusia, dan Ia telah menebus kita dan membawa kita semua ke dalam sebuah persaudaraan di bawah pemeliharaan penuh kasih Bapa surgawi. Kristus telah menyediakan jalan kebenaran bagi kita di bawah bimbingan Gereja yang didirikan-Nya sendiri. Kita tidak lagi tuli dan bisu. Kita mendengar suara Allah lewat Kitab Suci dan kita dapat menanggapinya. Kepada kita diberikan karunia iman melalui sakramen-sakramen. Kita mendengarkan sabda Allah dan percaya. Kita membuka mulut kita dan menggunakan suara kita untuk memuji-muji Allah, tidak hanya dengan kata-kata, melainkan juga dengan mematuhi perintah-perintah-Nya.

Akan tetapi, sejujurnya kita suka dengan sengaja menutup telinga terhadap ajaran Gereja. Gereja adalah Tubuh Kristus dengan Yesus sendiri sebagai Kepalanya (lihat Kol 1:18). Jadi, dapat dikatakan Gereja adalah Kristus yang berbicara kepada kita di muka bumi pada hari ini. Kita juga suka tidak memanfaatkan dengan baik atau mengabaikan sakramen-sakramen, melalui sakramen-sakramen itu Kristus masih bekerja di tengah-tengah kita, berbicara kepada kita, dan menguatkan iman kita.

Kita seharusnya selalu mendengarkan dengan aktif ketika Kristus berbicara kepada kita melalui Gereja-Nya.  Kita juga seharusnya memiliki kehendak baik berbicara untuk dan tentang Kristus pada saat kesempatan datang. Manakala Allah atau Kristus diserang, kita harus berbicara. Kita mempunyai Allah di pihak kita dan tidak ada alasan bagi kita untuk merasa takut menghadapi mereka yang menentang kita terkait dengan iman Kristiani dan kehidupan sehari-hari kita sebagai pengungkapan iman Kristiani tersebut. Kita bukanlah orang tuli atau bisu.

DOA: Tuhan Yesus, bukalah telingaku agar aku dapat mendengar panggilan-Mu dengan jelas. Bukalah hatiku agar aku dapat menanggapi panggilan-Mu dalam iman, meletakkan hidupku demi mereka yang hilang-tersesat dan mereka yang dicampakkan oleh masyarakat. Dalam pelayananku kepada orang-orang lain, tolonglah aku agar dapat memproklamasikan keselamatan yang Kauberikan kepada orang-orang di sekelilingku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 7:31-37), bacalah tulisan yang berjudul “TIDAK ADA YANG MUSTAHIL BAGI ALLAH” (bacaan tanggal 15-2-19), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.ordpress.com; kategori: 19-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2019. 

Cilandak,  13 Februari 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SEORANG PEREMPUAN NON-YAHUDI DENGAN IMAN YANG MENGAGUMKAN

SEORANG PEREMPUAN NON-YAHUDI DENGAN IMAN YANG MENGAGUMKAN

(Bacaan Injil Misa Kudus,  Peringatan S. Sirilus, Pertapa dan Metodius, Uskup – Kamis, 14 Februari 2019)

Lalu Yesus berangkat dari situ dan pergi ke daerah Tirus. Ia masuk ke sebuah rumah dan tidak ingin seorang pun mengetahuinya, tetapi kedatangan-Nya tidak dapat dirahasiakan. Malah seorang ibu, yang anak perempuannya kerasukan roh jahat, segera mendengar tentang Dia, lalu datang dan sujud di depan kaki-nya. Perempuan itu seorang Yunani keturunan Siro-Fenisia. Ia memohon kepada Yesus untuk mengusir setan itu dari anak perempuannya. Lalu Yesus berkata kepadanya, “Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak itu dan melemparkannya kepada anjing.” Tetapi perempuan itu menjawab, “Benar, Tuhan. Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak.” Lalu kata Yesus kepada perempuan itu, “Karena kata-katamu itu, pergilah, setan itu sudah keluar dari anakmu.” Perempuan itu pulang ke rumahnya, lalu didapatinya anak itu berbaring di tempat tidur dan  setan itu sudah keluar. (Mrk 7:24-30) 

Bacaan Pertama: Kej 2:18-25; Mazmur Tanggapan: Mzm 128:1-5

“Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak itu dan melemparkannya kepada anjing.” (Mrk 7:27)

Apakah tanggapan anda jika mendengar sendiri kata-kata Yesus kepada perempuan ini? Apakah anda berpikir bahwa Yesus – dengan nada menghina – menolak orang yang datang kepada-Nya memohon-mohon pertolongan-Nya, bahkan bukan untuk dirinya sendiri melainkan untuk anak perempuannya? Yesus samasekali tidak menolak permohonan perempuan Siro-Fenisia itu. Yesus menguji iman-kepercayaan perempuan itu, untuk mengajar kita kuat-kuasa dari iman. Yesus meminta iman-kepercayaan setiap kali kita memohon kepada-Nya untuk disembuhkan Perempuan itu telah mengajukan permohonannya kepada Yesus agar anak perempuannya yang dirasuki roh jahat itu disembuhkan. Namun sampai detik itu perempuan itu belum mengungkapkan iman-kepercayaannya. Kita hanya dapat sampai ke hadapan Allah melalui iman.

Sebelum peristiwa ini, Yesus telah menyembuhkan hamba seorang perwira di Kapernaum, seorang “kafir” juga (Mat 8:5-13; Luk 7:1-10). Sang perwira telah mengungkapkan imannya dengan kata-kata yang dapat kita dengar setiap hari dalam perayaan Ekaristi, “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh” (Mat 8:8).

Kemudian Yesus berkata: “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel” Mat 8:10). Sekarang, Yesus ingin menunjukkan lagi kepada para pengikut-Nya betapa besarnya iman seseorang, walaupun dia adalah seorang “kafir”. Yesus menguji iman dan ketekunan perempuan ini dengan berkata: “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel” (Mat 15:24). Bukankah kepada umat Israel saja Allah telah menganugerahkan karunia iman, karunia berkenan dengan kebenaran-Nya yang diwahyukan dalam Kitab Suci. Kepada umat Yahudilah Allah telah menjanjikan sang Juruselamat.

Dengan indah sekali perempuan Siro-Fenisia mengungkapkan iman dan ketekunan yang telah direkomendasikan oleh Yesus dalam beberapa perumpamaan tentang doa. Perempuan itu berkata: “Benar, Tuhan. Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak” (Mrk 7:28). Kerendahan hatinya dan rasa percayanya kepada kebaikan Yesus sungguh indah.

Yesus menjawab, “Karena kata-katamu itu, pergilah, setan itu sudah keluar dari anakmu” (Mrk 7:29). Iman adalah kuasa dengan mana kita menyentuh Yesus, kuasa dengan mana kita dapat menanggapi tindakan Allah dalam diri kita. Selama masa hidup-Nya di muka bumi, Yesus berkontak dengan banyak umat beriman dengan kehadiran-Nya yang bersifat fisik: Kata-kata-Nya, sentuhan-Nya, tindakan penuh kuasa-Nya dalam menyembuhkan orang-orang sakit. Dan, Yesus hendak melanjutkan kehadiran-Nya di tengah-tengah kita lewat kata-kata-Nya, sentuhan-Nya dan tindakan-tindakan-Nya. Ini semua dilakukan-Nya lewat Sakramen-sakramen: di sini Dia menyentuh kita dengan sabda dan tindakan-Nya, sesering kita datang menghadap-Nya dengan iman.

DOA: Tuhan Yesus, aku percaya bahwa hanya dengan iman yang kuat, sehat dan hidup aku dapat datang menhadap hadirat-Mu dan menyentuh-Mu. Iman adalah karunia istimewa yang Kauanugerahkan kepadaku dan saudari-saudaraku seiman, namun aku harus terus memelihara iman itu, merawatnya, menumbuh-kembangkannya dan memperhatikannya dengan penuh kasih. Hanya dengan cara begitulah kuat-kuasa penyembuhan-Mu dapat bekerja dalam diriku secara efektif. Terima kasih, ya Tuhan Yesus. Terpujilah nama-Mu selalu, Engkau yang hidup berkuasa bersama Bapa surgawi dalam persekutuan Roh Kudus, Allah sepanjang segala masa. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil  hari ini (Mrk 7:24-30), bacalah tulisan dengan judul “IMAN YANG MENGAGUMKAN DARI SEORANG PEREMPUAN SIRO-FENISIA” (bacaan tanggal 14-2-19), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2019. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2014) 

Cilandak,  11 Februari 2019 [HARI ORANG SAKIT SEDUNIA] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

APA YANG KELUAR DARI SESEORANG, ITULAH YANG MENAJISKANNYA

APA YANG KELUAR DARI SESEORANG, ITULAH YANG MENAJISKANNYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa V – Rabu,  13 Februari 2019)

Lalu Yesus memanggil lagi orang banyak dan berkata kepada mereka, “Kamu semua, dengarkanlah Aku dan perhatikanlah. Tidak ada sesuatu pun dari luar, yang masuk ke dalam diri seseorang, dapat menajiskannya; tetapi hal-hal yang keluar dari dalam diri seseorang, itulah yang menajiskannya. Siapa saja yang bertelinga untuk mendengar hendaklah ia mendengar! Sesudah Ia masuk ke sebuah rumah untuk menyingkir dari orang banyak, murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya tentang arti perumpamaan itu. Lalu jawab-Nya, “Apakah kamu juga tidak dapat memahaminya? Tidak tahukah kamu bahwa segala sesuatu dari luar yang masuk ke dalam diri seseorang tidak dapat menajiskannya, karena bukan masuk ke dalam hati tetapi ke dalam perutnya, lalu keluar ke jamban?” Dengan demikian Ia menyatakan semua makanan halal. Kata-Nya lagi, “Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya, sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinaan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, perbuatan tidak senonoh, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang.”  (Mrk 7:14-23)

Bacaan Pertama: Kej 2:4b-9,15-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 104:1-2a,27-29 

Dalam menanggapi tuduhan-tuduhan dari orang-orang Farisi dan beberapa ahli Taurat, Yesus mengajarkan kepada para murid-Nya bahwa  bukan makanan yang kita makan yang  membuat kita tidak bersih di mata Allah. Yang penting adalah apa yang ada dalam hati kita – dan perilaku yang mengalir keluar dari hati kita.

Melalui tradisi-tradisi, kaum Farisi dan para pemuka agama Israel lainnya menjadi terbiasa untuk memusatkan perhatian mereka pada tanda-tanda luar dari kemurnian ritual. Kebalikannyalah dengan Yesus. Rabi dari Nazaret ini langsung menyoroti inti- pokok permasalahannya. Dosa dan kekudusan terletak di dalam hati manusia, bukan di tempat lain. Bagaimana dengan kita? Apakah kita memusatkan perhatian kita atau menekankan pada tanda-tanda luar saja dari hubungan kita dengan Allah – misalnya mendoakan doa-doa tertentu pada jam-jam tertentu pula, puasa dua kali dalam satu pekan, pantang makan daging pada hari Jumat, dlsb.? Atau, apakah kita membuka diri terhadap kebenaran perihal apa yang sesungguhnya ada dalam hati kita? Apakah kita memeriksa bagaimana sikap-sikap dari hati kita diungkapkan dalam cara-cara kita memperlakukan orang lain? Berbagai rituale dan peraturan memang membantu suatu kehidupan kekudusan, akan tetapi tidak pernah menjadi yang sentral. Yang penting adalah bagi kita untuk memeriksa hati kita, tentunya dengan pencerahan oleh terang Roh Kudus.

Kadang-kadang tidak mudahlah bagi kita untuk mengkonfrontir dosa yang ada dalam hati kita, namun kita tidak perlu merasa takut. Yesus datang untuk menyelamatkan kita, bukan menghakimi kita (lihat Yoh 3:17). Dia adalah untuk kita, tidak untuk melawan kita. Oleh karena itu, “Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?” (Rm 8:31). Ia mengetahui sekali kondisi hati kita, dan betapa buruk pun kondisi hati kita itu, Dia tidak pernah akan meninggalkan kita sambil merasa murka dan jijik. Sebaliknya, Dia menantikan kita – dengan tangan terbuka penuh belas kasih – untuk dengan penuh keberanian menghampiri takhta anugerah-Nya – sebagaimana apa adanya kita masing-masing, dengan dosa-dosa kita – untuk menerima rahmat dan kerahiman-Nya (lihat Ibr 4:16).

Yesus adalah sang Dokter Agung. Ia datang kepada kita dengan penyembuhan dan pengampunan, penghiburan dan pertolongan. Ia ingin merestorasikan kita dalam kasih-Nya. Seperti sang pemazmur, marilah kita mohon kepada-Nya: “Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!” (Mzm 139:23-24). Oleh karena itu, marilah kita membuka hati bagi sentuhan-Nya yang lemah lembut, sehingga Dia pun dapat mengidentifikasikan segala sakit-penyakit dosa dan menerapkan kuasa penyembuhan salib-Nya. Marilah kita mohon kepada-Nya untuk menciptakan di dalam diri kita sebuah hati yang bersih. Bersama sang pemazmur kita berdoa: “Bersihkanlah aku dari pada dosaku dengan hisop, maka aku menjadi tahir, basuhlah aku, maka aku menjadi lebih putih dari salju!” (lihat Mzm 51:9). Baru setelah itu, kita akan mampu membawa buah-buah yang baik dalam kekudusan dan kebenaran ke tengah-tengah dunia.

DOA: Yesus, aku mengakui bahwa aku adalah seorang pendosa yang membutuhkan belas kasih-Mu dan pengampunan-Mu. Ciptakanlah sebuah hati yang bersih dalam diriku. Aku mengasihi Engkau, ya Tuhanku dan Allahku. Pulihkanlah aku kepada kasih-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 7:14-23), bacalah tulisan yang berjudul “MANUSIA MELIHAT TINDAKAN, NAMUN ALLAH MELIHAT NIAT” (bacaan tanggal 13-2-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2019. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2015] 

Cilandak, 10 Februari 2019 [HARI MINGGU BIASA V – TAHUN C] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KEMUNAFIKAN PARA PEMUKA AGAMA YAHUDI

KEMUNAFIKAN PARA PEMUKA AGAMA YAHUDI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa V – Selasa, 12 Februari 2019)

Orang-orang Farisi dan beberapa ahli Taurat dari Yerusalem datang menemui Yesus. Mereka melihat bahwa beberapa orang murid-Nya makan dengan tangan yang najis, yaitu dengan tangan yang tidak dibasuh. Sebab orang-orang Farisi seperti orang-orang Yahudi lainnya tidak makan kalau tidak membasuh tangan dengan cara tertentu, karena mereka berpegang pada adat istiadat nenek moyang mereka; dan kalau pulang dari pasar mereka juga tidak makan kalau tidak lebih dahulu membasuh dirinya. Banyak warisan lain lagi yang mereka pegang, umpamanya hal mencuci cawan, kendi dan perkakas-perkakas tembaga serta tempat pembaringan. Karena itu orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat itu bertanya kepada-Nya, “Mengapa murid-murid-Mu tidak hidup menurut adat istiadat nenek moyang kita, tetapi makan dengan tangan najis?” Jawab-Nya kepada mereka, “Tepatlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik, seperti ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya tetap jauh dari Aku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, karena ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan dan adat istiadat manusia kamu pegang.” Lalu Yesus berkata kepada mereka, “Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat istiadat sendiri. Karena Musa telah berkata: Hormatilah ayahmu dan ibumu! dan: Siapa yang mengutuki ayahnya atau ibunya harus mati. Tetapi kamu berkata: Kalau seseorang berkata kepada ayahnya atau ibunya: Segala bantuan yang seharusnya engkau terima dariku adalah Kurban, – yaitu persembahan kepada Allah – , maka kamu tidak membiarkannya lagi berbuat sesuatu pun untuk ayahnya atau ibunya. Jadi, dengan adat istiadat yang kamu teruskan itu, firman Allah kamu nyatakan tidak berlaku. Banyak lagi hal lain seperti itu yang kamu lakukan.” (Mrk 7:1-13)

Bacaan Pertama: Kej 1:20-2:4a; Mazmur Tanggapan: Mzm 8:4-9

“Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya tetap jauh dari Aku.” (Mrk 7:6)

Para pemuka agama Yahudi dalam bacaan Injil hari ini adalah kaum legalis (penganut legalisme). Mereka menjadikan hubungan dengaan Allah hanya sebagai pelaksanaan tata cara keagamaan saja, dan tidak melakukan perbuatan cintakasih yang sesungguhnya lebih penting daripada peraturan-peraturan keagamaan.

Pada umumnya para pemuka agama tersebut begitu takut dan iri-hati melihat popularitas Yesus sehingga mereka terus saja mencoba menemukan kesalahan Yesus dalam kata-kata maupun tindakan-tindakan-Nya. Dalam bacaan Injil hari ini disoroti “upacara” cuci tangan sebelum makan. Beberapa murid Yesus mengabaikan “upacara” yang tidak kurang/penting ini. Langsung saja orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang datang dari Yerusalem itu melihat hal tersebut. Mereka mengkonfrontir Yesus seakan hal ini merupakan kelalaian yang sangat berat.

Yesus mengkritisi keprihatinan berlebihan para pemuka agama tersebut pada tradisi-tradisi manusia, yang lebih dipentingkan daripada pengabaian perintah-perintah Allah yang terdapat dalam Kitab Suci dengan mengutip dari Kitab nabi Yesaya: “Tepatlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik, seperti ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya tetap jauh dari Aku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, karena ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia. Perintah Allah kamu abaikan dan adat istiadat manusia kamu pegang.” Lalu Yesus berkata kepada mereka, “Sungguh pandai kamu mengesampingkan perintah Allah, supaya kamu dapat memelihara adat istiadat sendiri” (Mrk 7:6-9).

Inilah kata-kata keras Yesus yang ditujukan kepada orang-orang Farisi dan beberapa ahli Taurat yang datang dari Yerusalem itu. Pada dasarnya yang dikatakan oleh Yesus ini adalah bahwa mereka adalah orang-orang bodoh, munafik dan tidak jujur. Mereka memelihara tradisi-tradisi mereka bukan disebabkan oleh kasih kepada Allah dan sesama, melainkan untuk melestarikan posisi mereka sebagai para pemuka agama yang kelihatan suci di mata umat Yahudi, kaum elite …… orang-orang terhormat dalam masyarakat.

Namun, sebelum kita menjadi begitu marah dan merasa terdorong untuk menghakimi orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat tersebut, marilah kita melihat diri kita sendiri. Apakah kita selalu bersikap jujur terhadap diri kita sendiri, terhadap Allah dan sesama? Jika kita mematuhi perintah-perintah atau peraturan-peraturan, apakah kita melakukannya karena semua itu adalah kehendak Allah atau agar sekadar kelihatan baik di mata orang-orang lain? Apakah kita sebenarnya hanya ingin agar orang-orang lain memandang kita sebagai orang-orang Kristiani saleh yang mematuhi perintah-perintah agama demi kebanggaan pribadi dan juga pertimbangan dari sudut pandang sosial pada umumnya? Ataukah kita – secara jujur sesungguh-sungguhnya – hendak melaksanakan hukum kasih kepada Allah dan sesama, dan kita memandang dan menyikapi setiap perintah dan mematuhinya sedemikian rupa sehingga tindakan-tindakan kita, kata-kata yang kita ucapkan, pikiran-pikiran kita semuanya sungguh merupakan ungkapan kasih Kristiani kita?

DOA: Tuhan Yesus, jadikanlah kami murid-murid-Mu yang setia. Jauhkanlah kami dari sikap munafik dan suka membohongi diri sendiri. Terima kasih Tuhan. Terpujilah nama-Mu selalu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 7:1-13), bacalah tulisan yang berjudul “HIDUP KEAGAMAAN KITA HARUSLAH BERAKAR PADA SUATU IMAN PEMBERIAN-DIRI-SENDIRI KEPADA ALLAH” (bacaan tanggal 12-2-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2019.

Cilandak, 10 Februari 2019 [HARI MINGGU BIASA V – TAHUN C]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

YESUS ADALAH SUMBER SEGALA KESEMBUHAN TERSEBUT

YESUS ADALAH SUMBER SEGALA KESEMBUHAN TERSEBUT

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa V – Senin, 11 Februari 2019)

HARI ORANG SAKIT SEDUNIA

Peringatan SP Maria di Lourdes

Setibanya di seberang Yesus dan murid-murid-Nya mendarat di Genesaret dan berlabuh di situ. Ketika mereka keluar dari perahu, orang segera mengenal Yesus. Lalu berlari-larilah mereka ke seluruh daerah itu dan mulai mengusung orang-orang sakit di atas tikarnya kemana saja mereka dengar Yesus berada. Kemana pun Ia pergi, ke desa-desa, ke kota-kota, atau ke kampung-kampung, orang meletakkan orang-orang sakit di pasar dan memohon kepada-Nya, supaya mereka diperkenankan menyentuh walaupun jumbai jubah-Nya saja. Semua orang yang menyentuh-Nya menjadi sembuh. (Mrk 6:53-56) 

Bacaan Pertama: Kej 1:1-19; Mazmur Tanggapan: Mzm 104:1-2a,5-6,10,12,35c 

Yesus senantiasa memiliki kerinduan untuk menyentuh dan menyelamatkan umat-Nya! Kita dapat membayangkan bagaimana Yesus berjalan berkeliling dari kota kecil atau kampung yang satu ke kota kecil atau kampung yang lain di Galilea. Pada saat Ia datang ke sebuah kota kecil, maka orang-orang akan mengenali-Nya dan langsung saja orang banyak berduyun-duyun berkumpul dengan membawa orang-orang sakit, orang lumpuh dlsb. untuk disembuhkan. Mereka “memohon kepada-Nya, supaya mereka diperkenankan menyentuh walaupun jumbai jubah-Nya saja. Semua orang yang menyentuh-Nya menjadi sembuh” (Mrk 6:56). Orang-orang ini mengetahui bahwa Yesus adalah sumber segala kesembuhan tersebut.

Kata dalam bahasa Yunani esozonto (Mrk 6:56) dapat berarti “menyembuhkan” atau “menyelamatkan”. Dalam bacaan hari ini kata ini digunakan dalam artian literalnya; orang sakit yang menyentuh Yesus menjadi sembuh. Kata yang sama dipakai dalam cerita tentang perempuan yang menderita penyakit pendarahan yang menjadi sembuh ketika dia menyentuh Yesus (lihat Mrk 5:34).

Yesus datang untuk membebaskan orang-orang dari segala kejahatan. Penyembuhan-penyembuhan fisik yang dilakukan-Nya harus dilihat dalam konteks hasrat-Nya untuk membawa keselamatan kepada semua orang. Hal ini jelas kelihatan dari pesan Injil secara keseluruhan. Pelayanan Yesus dipusatkan pada sengsara dan kematian-Nya pada kayu salib, di mana Dia menyerahkan hidup-Nya sendiri – demi kasih-Nya – guna menyelamatkan kita. Keselamatan bagi semua orang yang percaya adalah karya terbesar Yesus, dan banyak penyembuhan fisik yang dilakukan-Nya dalam pelayanan-Nya adalah tanda-tanda keselamatan.

Pesan hari ini adalah bagaimana cara-Nya Yesus bekerja dalam kehidupan kita, kita harus datang kepada-Nya seperti orang banyak di Genesaret. Kita harus memohon kepada Yesus agar supaya menyembuhkan kita dan menyelamatkan kita, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang yang mencari sentuhan kesembuhan-Nya. Kita juga harus melangkah ke luar untuk menerima sentuhan-Nya. Selagi kita datang kepada Yesus dengan segala kerendahan hati, maka Dia akan bekerja dengan penuh kuat-kuasa dalam hidup kita. Sentuhan Yesus adalah sentuhan yang menyembuhkan dan menyelamatkan.

Kadang-kadang kita dapat saja berpikir bahwa kita tidak boleh “mengganggu” Yesus dengan kebutuhan-kebutuhan kita, atau bahwa Yesus sudah mengetahui apa saja yang kita butuhkan. Namun apabila kita meneliti hati kita dengan cukup serius, maka kita akan menemukan bahwa sikap-sikap kita ini menunjukkan ketiadaan iman akan Yesus dan ketiadaan rasa percaya bahwa Dia sungguh mengasihi kita dan memiliki hasrat mendalam untuk menyelamatkan kita. Bukankah Ia sudah mengingatkan kita semua akan pentingnya “ketekunan” lewat pengajaran-Nya dalam “perumpamaan tentang hakim yang tidak adil” (Luk 18:1-8)? Yesus juga mengajarkan kepada kita: “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu” (Luk 11:9).

DOA: Yesus, Engkau adalah Tuhan yang menyembuhkan dan menyelamatkan kami, umat manusia. Datanglah dan sentuhlah hidup kami. Tunjukkan kepada kami hasrat-Mu untuk menyelamatkan kami selagi kami memusatkan pandangan kami pada diri-Mu. Terpujilah nama-Mu selalu, ya Yesus, Engkau Tuhan dan Juruselamat kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 6:53-56), bacalah tulisan yang berjudul “SANG TABIB AGUNG ” (bacaan tanggal 11-2-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2019. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2014) 

Cilandak, 8 Februari 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS