SELALU ADA OPSI LAIN KETIMBANG JALAN KEKERASAN

SELALU ADA OPSI LAIN KETIMBANG JALAN KEKERASAN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Vinsensius a Paulo – Selasa, 27 September 2016) 

YESUS DAN KEDUABELAS MURID-NYAKetika hampir tiba waktunya Yesus diangkat ke surga, Ia mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem, dan Ia mengirim beberapa utusan mendahului Dia. Mereka itu pergi, lalu masuk ke suatu desa orang Samaria untuk mempersiapkan segala sesuatu bagi-Nya. Tetapi orang-orang Samaria itu tidak mau menerima Dia, karena perjalanan-Nya menuju Yerusalem. Ketika dua murid-Nya, yaitu Yakobus dan Yohanes, melihat hal itu, mereka berkata, “Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?” Akan tetapi, Ia berpaling dan menegur mereka. Lalu mereka pergi ke desa yang lain. (Luk 9:51-56) 

Bacaan Pertama: Ayb 3:1-3,11-17,20-23; Mazmur Tanggapan: Mzm 88:2-8 

Pelangi dari zamrud, tua-tua yang mengenakan mahkota emas, para kudus yang mengenakan pakaian putih, sebuah kota yang terbuat dari emas murni, sungai yang memberikan air kehidupan begitu jernih seperti kristal (bdk. Why 4). Dengan bayangan akan rumah surgawi-Nya yang sedemikian, tidak mengherankanlah apabila Yesus “mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem” (Luk 9:51)! Dia tahu jalan ke sana akan menyakiti, namun Dia juga tahu bahwa Dia akan pulang dan akan membuka rumah-Nya bagi kita semua.

Kalau kita coba membaca keteguhan hati Yesus, kita dapat membayangkan bahwa Dia cuma menggertakkan gigi-Nya dan kemudian mengundurkan diri ke tujuan-Nya. Namun ketika Yesus mengarahkan pandangan-Nya ke Yerusalem, Ia tidak hanya melihat kematian dan kebangkitan. Ia juga melihat kenaikan-Nya ke surga dan kita yang bergabung dengan-Nya di sana.

Dalam jalan-Nya, Yesus tidak menunjukkan toleransi samasekali terhadap sikap dan perilaku yang menyangkut kekerasan. Kakak beradik putera-putera Zebedeus, yang keduanya diberi-Nya nama Boanerges atau “anak-anak guruh” (lihat Mrk 3:17) menanggapi penolakan orang-orang Samaria, lalu minta izin kepada Yesus untuk membinasakan desa Samaria itu dengan menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka. Yesus dengan tegas menolak “usulan” kedua murid-Nya itu dan malah menegur mereka. Selalu ada alternatif lain dari “jalan kekerasan”! ……… dalam kasus ini: pergi ke desa yang lain (lihat Luk 9:53-56).

Yakobus dan Yohanes bersama Petrus adalah tiga orang murid Yesus yang tergolong “lingkaran dalam”. Jika yang termasuk “lingkaran dalam” saja masih belum juga memahami serta menghayati segala pengajaran-Nya, bagaimana dengan para murid yang lain? Yerusalem sudah di depan mata! Itulah sebabnya mengapa pada waktu melanjutkan perjalanan mereka, Yesus melanjutkan pengajaran-Nya kepada mereka tentang pemuridan/kemuridan dalam hal mengikut Dia (lihat Luk 9:57-62). Yesus menyerukan kepada para murid-Nya itu untuk meninggalkan segala sesuatu di belakang dan mengikut Dia. Dia ingin membakar hati kita dengan hasrat akan “hadiah panggilan surgawi dari Allah dalam Kristus Yesus” (Flp 3:14). Kita bukanlah sekadar warga dunia ini. “… kewargaan kita terdapat di dalam surga dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat, yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia”  (Flp 3:20-21). Dengan surga dalam hati kita, kita pun dapat mengarahkan pandangan kita kepada Allah dengan penuh pengharapan.

Dalam perjalanan keliling-Nya untuk melayani orang-orang (bukan untuk tebar pesona), Yesus menghadapi begitu banyak tentangan, perlawanan, sengsara dan bahkan kematian di kayu salib layaknya seorang penjahat kelas berat, namun Dia tidak pernah mundur. Ia tahu bahwa sebagai murid-murid-Nya kita pun menghadapi banyak tentangan dan halangan dalam kehidupan kita. Oleh karena itu Dia ingin membuka mata hati kita terhadap pancaran warisan kekal kita dan membuatnya menjadi kekuatan pendorong di belakang ketetapan hati kita. Allah selalu siap untuk menunjukkan kepada kita bahwa kita sangat berharga di mata-Nya, sudah ditentukan (“ditakdirkan”) untuk mengambil bagian dalam kemuliaan kerajaan-Nya. Melalui doa-doa harian, perhatian serius atas sabda Allah dalam Kitab Suci, rahmat sakramen-sakramen, kita semua dapat diperkuat dalam perjalanan kita. Marilah kita menghadap Yesus hari ini dan membuka hati kita bagi-Nya.

DOA: Bapa surgawi, bukalah hati kami terhadap kemuliaan rumah surgawi kami. Semoga visi ini mendorong kami melangkah ke depan selagi kami mencari Yesus, Putera-Mu terkasih, mutiara yang begitu berharga. Yesus, kami ingin bersama-Mu selama-selamanya. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 9:51-56), bacalah tulisan berjudul “TINDAKAN BALAS DENDAM TIDAK ADA DALAM HATI YESUS” (bacaan untuk tanggal 27-9-16) dalam situs PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010) 

Cilandak, 22 September 2016 [Peringatan S. Ignatius dr Santhi, Imam Biarawan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

YANG TERKECIL, DIALAH YANG TERBESAR

YANG TERKECIL, DIALAH YANG TERBESAR

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVI – Senin, 26 September 2016)

OFS: Peringatan S. Elzear dan Delfina, Ordo III S. Fransiskus Sekular 

c3606b07eb3e0f92bb5bfe8287005989Kemudian timbullah pertengkaran di antara murid-murid Yesus tentang siapakah yang terbesar di antara mereka. Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka. Karena itu Ia mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di samping-Nya , dan berkata kepada mereka, “Siapa saja yang menyambut anak ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku, ia menyambut Dia, yang mengutus Aku. Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar.”

Yohanes berkata, “Guru, kami lihat seseorang mengusir setan demi nama-Mu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita.” Yesus berkata kepadanya, “Jangan kamu cegah, sebab barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu.” (Luk 9:46-50) 

Bacaan Pertama: Ayb 1:6-22; Mazmur Tanggapan: Mzm 17:1-3,6-7 

Para murid Yesus telah melihat Ia berkhotbah tentang Kerajaan Allah dan menyerukan pertobatan, menyembuhkan orang-orang sakit, mengusir roh-roh jahat yang merasuki orang-orang, membuat berbagai mukjizat dan tanda heran lainnya. Setelah memberikan kepada mereka otoritas di atas roh-roh jahat dan kuasa untuk menyembuhkan berbagai penyakit, Yesus juga telah mengutus para murid untuk memberitakan Kerajaan Allah dan menyembuhkan orang-orang sakit (Luk 9:1-2). Kecenderungan manusia adalah memperkenankan kuasa masuk ke dalam kepala kita. Dengan demikian, herankah anda kalau membaca bahwa belum apa-apa para murid Yesus sudah saling bertengkar tentang siapa yang paling besar di antara mereka?

Kenyataan bahwa para murid yang sudah begitu dekat dengan Sang Guru, sekarang jatuh ke dalam situasi “persaingan tidak sehat” satu dengan lainnya dapat menyebabkan kita bertanya-tanya apakah mungkin bagi kita bersikap dan berperilaku rendah hati seorang anak dan sepenuhnya tergantung kepada Allah sebagaimana diajarkan oleh Yesus? “Yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar” (Luk 9:48). Namun pengalaman para murid Yesus pertama itu sebenarnya dapat mengajarkan kepada kita pelajaran sebaliknya. Mereka belajar dari kegagalan-kegagalan mereka. Oleh kuasa Roh Kudus, mereka bertumbuh dalam kerendahan hati yang mereka butuhkan untuk peranan pelayanan bagi Kerajaan Allah.

yesus-dan-anak-anak-yesus-sedang-mengajar-seorang-anak-kecilSejak terkandung-Nya dalam rahim Perawan Maria, Yesus menjalani suatu kehidupan yang rendah hati secara lengkap. Santo Paulus menulis, bahwa Kristus Yesus, “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa  seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia” (Flp 2:6-7). Dengan rendah hati Yesus memperkenankan Bapa menjadi segalanya dalam apa yang dilakukan-nya (lihat Yoh 5:19). Dalam kerendahan hati penuh ketaatan sebagai manusia, Yesus sampai mati di kayu salib (lihat Flp 2:8).

Rahasia untuk menjadi rendah hati terletak pada Yesus sendiri. Kepada siapa di antara kita yang merasa dibebani dengan kesombongan dan sikap serta perilaku mementingkan diri sendiri, Yesus bersabda, “Pikullah gandar yang Kupasang dan belajarlah kepada-Ku” (Mat 11:29). Dengan demikian, kita berada di jalan menuju kerendahan hati sementara kita memeditasikan Yesus dan semakin dekat dengan kasih-Nya kepada kita. Kunci terhadap kerendahan hati terletak pada kehadiran Yesus yang rendah hati untuk diam dalam hati kita. Baiklah kita seringkali berpaling kepada-Nya, terutama pada hari ini dan berkata, “Buatlah diriku menjadi seperti Engkau, ya Yesus.”

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah kami berdiam  dalam persekutuan dengan Bapa surgawi, hal mana telah hilang melalui dosa kami namun diperbaharui bagi kami melalui kematian-Mu yang penuh kedinaan dan juga kebangkitan-Mu. Melalui persekutuan ini, semoga kami memperoleh kerendahan hati yang Engkau hasrati untuk kami miliki. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 9:46-50), bacalah tulisan yang berjudul “YANG TERKECIL DI ANTARA KAMU SEKALIAN, DIALAH YANG TERBESAR” (bacaan tanggal 26-9-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010) 

Cilandak, 21 September 2016 [Pesta S. Matius, Rasul Penulis Injil] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PERUMPAMAAN TENTANG ORANG KAYA DAN LAZARUS YANG MISKIN

PERUMPAMAAN TENTANG ORANG KAYA DAN LAZARUS YANG MISKIN

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXVI [Tahun C] – 25 September 2016)

 painting1

“Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan. Ada pula seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu, dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya. Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham. Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya. Lalu ia berseru, Bapak Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyjukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini. Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang di sini ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita. Selain itu, di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang. Kata orang itu: Kalau demikian, aku minta kepadamu, Bapak, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku, sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar maereka jangan masuk ke dalam tempat penderitaan ini. Tetapi kata Abraham: Mereka memiliki kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkannya. Jawab orang itu: Tidak, Bapak Abraham, tetapi jika seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat. Kata Abraham kepada-Nya Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati.” (Luk 16:19-31) 

Bacaan Pertama: Am 6:1a,4-7; Mazmur Tanggapan: Mzm 146:7-10; Bacaan Kedua 1Tim 6:11-16 

Yesus rindu untuk membebas-merdekakan hati kita dari perbudakan dosa dan memulihkan persatuan kita dengan Bapa surgawi. Dalam “Perumpamaan tentang Orang kaya dan Lazarus yang miskin” yang ditulis hanya oleh Lukas ini, Yesus tidak saja mengilustrasikan kasih Allah bagi orang miskin, melainkan juga Dia mengungkapkan hasrat Bapa surgawi untuk membebaskan kita dari tipu muslihat dan perbudakan dosa.

Dosa orang kaya itu tidak hanya cintanya akan uang, melainkan juga cinta-diri. Dari kedalaman alam maut, si kaya masih saja dikuasai oleh dorongan hatinya untuk memuaskan kebutuhan diri sendiri: “Bapak Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini” (Luk 16:24). Dia tidak menunjukkan sedikit pun tanda-tanda bahwa dirinya menyesali dosa ketamakannya; dia masih menginginkan agar orang-orang lain melayani dirinya.

Di sisi lain, si kaya mencari suatu kesempatan untuk melayani saudara-saudaranya yang masih hidup di dunia, dengan meminta agar Lazarus memperingatkan mereka tentang “tempat penderitaan” di mana dia sekarang berada (lihat Luk 16:28). Apakah hal ini mencerminkan suatu perubahan hati? Tidak sampai begitu! Hal ini hanya menunjukkan bahwa selama hidupnya di dunia, si kaya sadar akan kehendak Allah, namun telah memilih untuk mengabaikannya. Sadar bahwa saudara-saudaranya juga mengabaikan sabda Allah, dia menginginkan terjadinya suatu peristiwa yang bersifat supernatural agar dapat menggoncangkan hati mereka sehingga akhirnya menjadi percaya. Jawaban Abraham mematahkan harapan hampanya itu: “Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati” (Mat 16:31).

Perumpamaan sederhana Yesus ini menunjukkan wawasan sesungguhnya betapa hati manusia dapat mendua atau “salah arah”. Dalam “perjuangan” kita untuk mencapai “kebahagiaan”, kita bekerja dan berjuang; kita akan melakukan hampir segalanya untuk meraih kekayaan, popularitas, atau sukses. Akan tetapi, ketika menyangkut pelaksanaan hal-hal yang berurusan dengan Allah kita dapat berpikir bahwa hampir tidak mungkinlah untuk mentaati-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, biarkanlah Roh-Mu menyelidiki hati kami dan mencabut segala kecintaan kami akan segala hal yang bertentangan dengan kehendak-Mu. Tolonglah kami agar dapat berbuah dan hidup dalam Engkau dan menempatkan hal-hal Kerajaan-Mu di atas segala hal yang lain. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 16:19-31), bacalah tulisan yang berjudul “TIDAK HANYA KESAKSIAN MUSA DAN PARA NABI” (bacaan tanggal 25-9-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2011) 

Cilandak, 21 September 2016 [Pesta S. Matius, Rasul Penulis Injil] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

UNTUK KEDUA KALINYA YESUS MENGUNGKAPKAN REALITAS SENTRAL DARI MISI-NYA

UNTUK KEDUA KALINYA YESUS MENGUNGKAPKAN REALITAS SENTRAL DARI MISI-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXV – Sabtu, 24 September 2016) 

jesus-pictures-crucifixion

Ketika semua orang itu masih heran karena segala sesuatu yang diperbuat-Nya itu, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Dengarlah dan perhatikanlah semua perkataan-Ku ini: Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia. Mereka tidak mengerti perkataan itu, sebab artinya tersembunyi bagi mereka, sehingga mereka tidak dapat memahaminya. Namun mereka segan menanyakan arti perkataan itu kepada-Nya. (Luk 9:43b-45)

 Bacaan Pertama: Pkh 11:9-12:8; Mazmur Tanggapan: Mzm 90:3-6,12-14,17 

Apa jadinya kalau ilmu kedokteran dan pengobatan berhasil mencapai puncaknya dan berhasil menghentikan semua sakit-penyakit? Tentunya hal seperti ini akan mendatangkan kegembiraan dan sukacita yang luarbiasa, namun tentunya – oleh iman – kita tahu bahwa hal itu tidak akan menjawab kebutuhan-kebutuhan spiritual kita. Sesungguhnya, hanya SALIB KRISTUS-lah yang dapat menjawab hasrat hati kita akan Allah. Lukas mengungkapkan pokok kebenaran ini dengan melakukan pensejajaran antara “cerita tentang mukjizat Yesus” dengan “pemberitahuan kedua tentang penderitaan Yesus” (bacaan hari ini). Ketika Yesus mengusir roh jahat dan menyembuhkannya (lihat Luk 9:38-42), maka “takjublah semua orang itu pada kebesaran Allah” (Luk 9:43a). Namun sementara orang banyak itu terpesona dan terkagum-kagum pada segala kebaikan yang diperbuat-Nya, Yesus berkata kepada para murid-Nya, “Dengarlah dan perhatikanlah semua perkataan-Ku ini: Anak Manusia akan diserahkan ke tangan manusia” (Luk 9:43b-44).

Sekali lagi, Yesus mengungkapkan realitas sentral dari misi-Nya kepada semua orang yang akan menjadi murid-murid-Nya. Salib Kristus adalah jalan penyelamatan dan kehidupan kekal. Kemuridan/pemuridan berarti kebersatuan dengan sang Guru, Yesus …… artinya kebersatuan dengan Allah, yang berarti kepenuhan hidup. Hal ini bukanlah sebuah hasil mukjizat-mukjizat atau pengajaran-pengajaran, melainkan didapat melalui ketaatan kepada panggilan Yesus: “Setiap orang yang mau mengikut Aku harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku” (Luk 9:23).

Karena iman-kepercayaan mereka, para murid mampu untuk keluar “memberitakan Injil dan menyembuhkan orang sakit di segala tempat” (Luk 9:6). Itu adalah buah dari panggilan mereka sebagai murid-murid Yesus, namun bukan hakekatnya. Kemuridan-penuh berarti memperkenankan salib Kristus untuk memisahkan kita dari kedosaan dan membuat kita lebih serupa lagi dengan gambar (imaji) sang Putera Allah.

Ini adalah untuk kedua kalinya Yesus membuat prediksi (kalau tidak mau dikatakan “nubuat”) kepada para murid-Nya tentang sengsara dan wafat-Nya, namun Injil mencatat: “Mereka tidak mengerti perkataan itu, sebab artinya tersembunyi bagi mereka sehingga mereka tidak dapat memahaminya” (Luk 9:45). Pada akhirnya, mereka harus mengalami kebangkitan Kristus dulu untuk dapat memahami benar apa arti sesungguhnya dari salib-Nya. Demikian pula kiranya dengan kita semua. Hanya oleh kuasa Roh Kudus-lah kita dapat mengalami arti kebebas-merdekaan dan pengharapan yang tersedia bagi kita semua, yaitu apabila kita memperkenankan salib Kristus untuk membinasakan segala jalan kedosaan di dalam diri kita. Dengan demikian, marilah kita mohon kepada Roh Kudus untuk membuka pikiran dan hati kita bagi kuasa yang dapat mengalir dari kebersatuan kita dengan kematian dan kebangkitan Yesus Kristus.

DOA: Bapa kami yang ada di surga, Allah yang Mahabaik dan sumber segala kebaikan. Hanya Engkaulah yang baik. Bapa, tulislah pesan salib dalam hati kami masing-masing, agar kami dapat menjadi semakin matang dalam hidup kami dalam Roh, melalui kemenangan Putera-Mu terkasih atas dosa dan maut. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 9:43b-45), bacalah tulisan yang berjudul “KITA PUN DIPANGGIL UNTUK MENGHAYATI KEHIDUPAN TERSALIB” (bacaan tanggal 24-9-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010) 

Cilandak, 21 September 2016 [Pesta S. Matius, Rasul Penulis Injil] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS  

MESIAS DARI ALLAH

MESIAS DARI ALLAH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXV – Jumat, 23 September 2016)

OFM Cap./OSCCap. (Klaris Kapusin): Pesta S. Pius dr Pietralcina (Padre Pio) 

PETERS CONFESSIONPada suatu kali ketika Yesus berdoa seorang diri, datanglah  murid-murid-Nya kepada-Nya. Lalu Ia bertanya kepada mereka, “Kata orang banyak, siapakah Aku ini? Jawab mereka, “Yohanes Pembaptis, yang lain mengatakan: Elia, yang lain lagi mengatakan bahwa seorang dari nabi-nabi dahulu telah bangkit.” Yesus bertanya kepada mereka, “Menurut kamu, siapakah Aku ini?” Jawab Petrus, “Mesias dari Allah.” Lalu Yesus melarang mereka dengan keras, supaya mereka jangan memberitahukan hal itu kepada siapa pun.

Kemudian Yesus berkata, “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.” (Luk 9:18-22) 

Bacaan Pertama: Pkh 3:1-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 144:1-4

Dalam salah satu percakapan yang sangat terkenal dalam Kitab Suci, Yesus bertanya kepada para murid-Nya: “Menurut kamu, siapakah Aku ini?” Petrus menjawab: “Mesias dari Allah” (Luk 9:20). Dengan pengakuan yang diucapkan Petrus itu, tidak ada satu pun yang akan tetap sama. Setelah menyaksikan sendiri Yesus membuat banyak mukjizat selama karya pelayanan-Nya di Galilea, para rasul sekarang akan memulai perjalanan mereka ke Yerusalem di mana “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga” (Luk 9:22).

Lukas mengatakan kepada kita bahwa beberapa saat sebelum percakapan ini, Yesus berdoa sendiri (Luk 9:18). Pada kenyataannya, sepanjang Injilnya Lukas melukiskan Yesus sebagai seorang Pribadi yang selalu larut dalam doa, sebelum terjadinya peristiwa-peristiwa penting. Pada waktu dibaptis, Yesus sedang berdoa pada saat mana turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atas-Nya (Luk 3:21-22). Yesus berdoa semalam-malaman kepada Allah sebelum Ia memilih dua belas orang rasul (Luk 6:12-13). Ketika Yesus sedang berdoa di atas gunung, rupa wajah-Nya berubah dan pakaian-Nya menjadi putih berkilau-kilauan (dikenal sebagai peristiwa transfigurasi; Luk 9:28-30). Akhirnya, selagi sengsara-Nya akan segera dimulai, Yesus mengungkapkan isi hati-Nya kepada Bapa di surga dalam doa: “Ya Bapa-Ku, jikalau Engkau berkenan, ambillah cawan ini dari hadapan-Ku; tetapi jangan kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang jadi” (lihat Luk 22:39-46).  Sepanjang Injil Lukas, kita melihat bagaimana Yesus mengandalkan diri-Nya secara total kepada hikmat Allah dan kuat-kuasa-Nya.

Ketika Yesus bertanya kepada para murid-Nya tentang siapa diri-Nya menurut mereka, maka sebenarnya Dia tidak hanya menantang mereka, melainkan juga mengundang mereka untuk masuk ke dalam suatu relasi yang lebih mendalam dengan diri-Nya. Yesus menginginkan para murid agar supaya belajar membuka hati mereka kepada Allah dalam doa dan menerima hidup-Nya sendiri serta kasih-Nya. Dalam “Kisah para Rasul”, Lukas menceritakan kepada kita bahwa selagi para rasul belajar bagaimana berdoa, mereka menjadi pelayan-pelayan Injil yang sungguh efektif. Mereka memahami tujuan Allah dan dengan sukarela menyerahkan hidup mereka demi/untuk Kerajaan-Nya (lihat Kis 4:23-31; 10:9-48; 27:21-26).

Yesus mengundang kita semua untuk mengenal dan mengalami-Nya dalam doa. Dia telah membuat berbagai mukjizat dan tanda heran lainnya dalam hidup kita, namun dalam kemurahan-hati-Nya Dia sungguh ingin memberikan lebih banyak lagi berkat dan kebaikan lainnya kepada kita. Selagi kita melihat kemuliaan-Nya dalam doa, Dia akan memenuhi hati kita dengan rasa kagum dan penuh syukur. Roh Kudus akan menyatakan Yesus kepada kita. Ia akan mengubah hati kita dan mengajar kita bagaimana mengenal dan mengalami kehadiran Allah dalam hari-hari kehidupan kita.

DOA: Datanglah, ya Tuhan, dan penuhilah diri kami dengan kerinduan untuk mengenal dan mengalami kehadiran-Mu. Oleh kuat-kuasa Roh Kudus-Mu, nyalakanlah dalam hati kami suatu hasrat yang membakar akan pernyataan diri-Mu. Selagi kami berdoa, bukalah mata kami agar dapat melihat kemuliaan-Mu dan kesempurnaan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 9:18-22), bacalah tulisan yang berjudul “SIAPAKAH AKU INI?” (bacaan tanggal 23-9-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2016. 

(Tulisan ini adalah revisi dari tulisan dengan judul sama untuk bacaan tanggal 25-9-15 dalam situs/blog PAX ET BONUM) 

Cilandak, 21 September 2016 [Pesta S. Matius, Rasul Penulis Injil] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

ORANG TIDAK PERNAH DAPAT MEMBENDUNG PEWARTAAN KABAR BAIK

ORANG TIDAK PERNAH DAPAT MEMBENDUNG PEWARTAAN KABAR BAIK

(Bacaan Injil Misa, Hari Biasa Pekan Biasa XXV – Kamis, 22 September 2016)

Keluarga Kapusin (OFMCap.): Peringatan S. Ignatius dr Santhi, Imam Biarawan 

51918-_john_the_baptist_rebukes_king_herod_

Herodes, raja wilayah, mendengar segala yang terjadi itu dan ia pun merasa cemas, sebab ada orang yang mengatakan bahwa Yohanes telah dibangkitkan dari antara orang mati. Ada lagi yang mengatakan bahwa Elia telah muncul kembali, dan ada pula mengatakan bahwa seorang dari nabi-nabi dahulu telah bangkit. Tetapi Herodes berkata, “Yohanes telah kupenggal kepalanya. Siapa sebenarnya Dia ini, yang kabarnya melakukan hal-hal demikian?” Lalu ia berusaha supaya dapat bertemu dengan Yesus. (Luk 9:7-9) 

Bacaan Pertama: Pkh 1:2-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 90:3-6,12-14,17 

Yohanes Pembaptis telah dipenggal kepalanya atas perintah raja Herodes Antipas, antara lain untuk “membebaskan” diri Herodes dari pesan “pertobatan dan rekonsiliasi dengan Allah” yang disampaikan oleh Yohanes. Yohanes berbicara mengenai sabda Allah dengan begitu jelasnya sehingga Herodes merasakan dirinya begitu bersalah, begitu berdosa, teristimewa hubungan “perkawinan haramnya” (baca: perselingkuhannya) dengan ipar perempuannya sendiri (lihat Luk 3:19-20). Bukannya melakukan pertobatan dan kembali ke jalan Allah setelah mendengar pemberitaan Yohanes, Herodes malah menyuruh para algojo membunuh Yohanes, dengan harapan pesannya terkubur bersama sang bentara pesan pertobatan itu.

Karena rasa bersalahnya yang tak kunjung hilang dan rasa takut yang melanda dirinya, kemudian datang lagi berita bertubi-tubi tentang para murid Yesus yang berkarya memberitakan Kerajaan Allah sambil melakukan penyembuhan orang-orang sakit, maka  Herodes semakin dikuasai oleh “rasa takut yang melumpuhkan” terhadap Yesus dan para murid-Nya. Apabila membunuh sang bentara tidak berhasil menghapus pesan yang disampaikan, bagaimana dia dapat melarikan diri? Herodes merasa bingung karena tidak ada satu pun di dunia ini yang dapat mencegah pesan keselamatan Allah itu diwartakan. Di bagian belakang Injil Lukas ini kita membaca bahwa Herodus sekali lagi menghadapi dua alternatif pilihan, yaitu (1) mendengarkan sang bentara yang membawa pesan, ataukah (2) menghukumnya sampai mati agar pesannya juga dibuat bungkam (lihat Luk 23:7-12). Bukannya belajar dari pengalamannya dalam kasus Yohanes Pembaptis, Herodes malah memilih untuk menjadi bagian dalam penyaliban Yesus.

antipas-1Dalam kedua kasus itu Herodes melihat apa yang terjadi apabila kuasa Allah mengubah secara dahsyat kematian menjadi kehidupan. Kuasa Allah-lah yang memampukan Yohanes Pembaptis untuk tetap setia kepada panggilannya, bahkan sampai kematiannya. Kuasa ilahi yang sama pulalah yang memampukan Yesus untuk mengampuni orang-orang yang menghukumnya dan membangkitkan Dia dari antara orang mati dan mendudukkan-Nya di sebelah kanan Bapa surgawi. Ini adalah kuasa ilahi yang dicurahkan ke atas para murid pada hari Pentakosta Kristiani yang pertama. Kuasa ini memampukan para murid untuk mewartakan Injil dengan berani dan penuh keyakinan. Abad berganti abad, Allah telah bertindak dengan penuh kuasa, membangun kerajaan-Nya melalui para pelayan-Nya. Dari zaman ke zaman juga ada kekuatan-kekuatan yang ingin membungkam penyebaran pemberitaan pesan penyelamatan Allah ini dengan membungkam para bentara-Nya (para pelayan sabda-Nya), tetapi selalu saja tidak berhasil.

Kedua belas murid berkeliling (bukan untuk tebar pesona) untuk melakukan pekerjaan yang sama seperti pekerjaan yang telah dibuat Yesus. Nah, kita pun dapat menjadi seperti Guru kita, Yesus.  Tidak peduli betapa besarnya pun oposisi yang kita hadapi, apabila kita sudah berketetapan hati, seperti Yesus, untuk mengasihi setiap orang dan mengampuni setiap orang yang mendzolomi kita, maka kita akan mampu ikut memajukan kerajaan-Nya di muka bumi ini. Baiklah kita mohon kepada Roh Kudus agar membuat kita lebih serupa lagi dengan Yesus Kristus, mewartakan Kabar Baik keselamatan kemana saja kita pergi.

DOA: Tuhan Yesus, kami ingin memuliakan Engkau dalam segala yang kami ucapkan dan kami buat. Oleh Roh Kudus-Mu, berdayakanlah kami agar sungguh dapat menjauhkan diri dari dosa dan merangkul kehidupan-Mu sepenuhnya, sehingga dengan demikian kami dapat menjadi lebih serupa lagi dengan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 9:7-9), bacalah tulisan yang berjudul “SIAPA SEBENARNYA YESUS ITU ???” (bacaan tanggal 22-9-16) dalam situs/blog PAX ET BONUM http:/catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 16-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010) 

Cilandak, 20 September 2016 [Peringatan S. Andreas Kim Tae-gon, Imam dan Paulus Chong Ha-san dkk. – para martir Korea] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MATIUS SI PEMUNGUT CUKAI

MATIUS SI PEMUNGUT CUKAI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta S. Matius, Rasul Penginjil – Rabu, 21 September 2016) 

KEMURIDAN - YESUS MEMANGGIL MATIUSSetelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di tempat pemungutan cukai, lalu Ia berkata kepadanya, “Ikutlah Aku.”  Matius pun bangkit dan mengikut Dia. Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya. Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus, “Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Yesus mendengarnya dan berkata, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi, pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” (Mat 9:9-13) 

Bacaan Pertama:  Ef 4:1-7,11-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 19: 2-5 

Pajak/cukai dan dan para pemungut/pertugasnya tidak pernah populer di  mata publik. Hal seperti itu terjadi di mana saja, termasuk di negara kita tercinta seperti ini. Bukan sekali dua kali saya pribadi mempunyai pengalaman buruk dalam hal penyelesaian pajak tahunan saya. Laporan yang sudah benar dikatakan salah, pembayaran sudah benar dikatakan kurang-bayar, kelebihan pembayaran pajak dan disumbangkan kepada negara malah dimarahi-marahi oleh petugas pajak, dlsb. Ujung-ujungnya ……? Anda sudah tahu jawabnya, kan? Kalau tidak begitu, apa kata dunia …?

Nah, petugas cukai/pajak pada zaman Romawi juga sama jeleknya, malah dapat dikatakan lebih keterlaluan lagi. Mereka lebih menyerupai para pengusaha kaya daripada PNS. Dalam hal pemungutan pajak/cukai pemerintahan Romawi menerapkan sistem kontrak yang di-‘tender’-kan. Penawar tertinggi akan memenangkan tender dan mendapat kontrak itu (misalnya orang seperti Zakheus; Luk 19:1-10). Pemerintah (penjajah) memperoleh penghasilan dari pihak yang berkontrak, dan dia dapat bebas menetapkan jumlah pajak di mana telah diperhitungkan keuntungan yang diinginkannya. Ini adalah praktek ekonomi bebas dalam artinya yang paling buruk, karena melibatkan pemaksaan, korupsi, penipuan dlsb., dan semuanya itu didukung dengan pembenaran dan perlindungan secara hukum.

Ada tarif pajak pada waktu itu yang sampai mencapai 25%. Pemungutan uang tol dan bea-cukai yang relatif tinggi menyebabkan tidak dimungkinkannya para petani untuk menjual hasil panen mereka di luar daerah pajak mereka. Sebagian terbesar petani itu miskin atau berhutang kepada para pemungut pajak atau rentenir. Ketidakpopuleran pajak/cukai pemerintahan Romawi dibuat menjadi lebih buruk lagi oleh kenyataan bahwa penghasilan pajak/cukai hanya menguntungkan pihak penjajah dan tidak membantu pemenuhan berbagai kebutuhan lokal. Para pemungut pajak/cukai tidak hanya dibenci karena membuat keuntungan dengan merugikan banyak orang lain, melainkan juga karena mereka dipandang sebagai para pengkhianat terhadap identitas dan kebaikan bangsa Yahudi.

Inilah konteks dari segala “kehebohan” yang terjadi di kalangan orang Farisi ketika Yesus memanggil seorang pemungkut cukai yang bernama Lewi (Matius) dan kemudian menghadiri acara makan-minum di rumahnya. Kita dapat menduga bahwa dia adalah seorang “sukses” yang sibuk, tanpa banyak pertimbangan atas implikasi moral dari pekerjaannya. Kita juga dapat menduga bahwa Matius bukanlah seorang Yahudi saleh, karena tidak mungkinlah seorang Yahudi saleh bekerja sebagai seorang pemungkut cukai. Barangkali dia adalah seorang yang bersikap acuh-tak-acuh terhadap Allah dan keberadaan-Nya. Akan tetapi Yesus, sang rabi-keliling dari Nazaret, telah menyentuh hatinya dan mengubah-Nya. Dan, perjumpaannya dengan Yesus yang telah mengubah hidupnya itu mempengaruh Gereja sampai hari ini.

Allah dapat memanggil siapa saja, dapat menggunakan siapa saja, untuk mencapai tujuan-Nya. Para pemungut pajak/cukai dan para pelacur datang kepada Yesus dengan tulus hati sehinga Dia membandingkan mereka dengan para pemuka agama Yahudi: “Sesungguhnya Aku berkata, pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan pelacur akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah” (Mat 21:31). Allah juga dapat melakukan keajaiban-keajaiban dalam kehidupan kita, asal saja kita memperkenankan Dia melakukan hal-hal itu, artinya …… asal saja kita “memberi izin” kepada-Nya. Matius maju terus dan sungguh menjadi seorang Rasul dan ia adalah salah seorang penyusun kitab Injil. Percayalah bahwa hal-hal besar dapat terjadi dengan kita masing-masing, asal saja kita memperkenankan-Nya menyentuh hati kita.

DOA: Bapa surgawi, hari ini kami mendoakan teman-teman kami yang begitu sibuk bekerja sehari-hari sehingga bersikap acuh-tak-acuh terhadap Engkau dan keberadaan-Mu. Kami berdoa agar oleh  kuasa Roh Kudus-Mu hidup mereka disentuh sehingga dengan demikian mereka akan datang melayani Engkau dengan sepenuh hati, pikiran dan tenaga mereka.  Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Ef 4:1-7,11-13), bacalah tulisan yang berjudul “SEORANG SAMPAH MASYARAKAT YANG DIPILIH OLEH YESUS GUNA MENJADI PEWARTA DAN PENULIS INJIL YANG HEBAT” dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs..wordpress.com; kategori: 16-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2016. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya di tahun 2010) 

Cilandak, 20 September 2016 [Peringatan S. Andreas Kim Tae-gon, Imam dan Paulus Chong Ha-sang dkk., para martir Korea]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS