HAI ANAK MUDA, AKU BERKATA KEPADAMU, BANGKITLAH!

HAI ANAK MUDA, AKU BERKATA KEPADAMU, BANGKITLAH!

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIV – Selasa, 17 September 2019)

Peringatan Fakultatif: S. Robertus Bellarminus, Uskup Pujangga Gerejaa

Keluarga Besar Fransiskan: Pesta Stigmata Bapa Kita Fransiskus

Serikat Yesus (SJ): Peringatan Wajib: S. Robertus Bellarminus, Imam Pujangga Gereja

Segera setelah itu Yesus pergi ke suatu kota yang bernama Nain. Murid-murid-Nya pergi bersama-sama dengan Dia, dan juga orang banyak menyertai-Nya berbondong-bondong. Setelah Ia dekat pintu gerbang kota, ada orang mati diusung ke luar, anak laki-laki, anak tunggal ibunya yang sudah janda, dan banyak orang dari kota itu menyertai janda itu. Ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya, “Jangan menangis!” Sambil menghampiri usungan itu Ia menyentuhnya, dan sedang para pengusung berhenti, Ia berkata, “Hai anak muda, aku berkata kepadamu, bangkitlah!” Orang itu pun bangun dan duduk serta mulai berkata-kata, lalu Yesus menyerahkannya kepada ibunya. Semua orang itu ketakutan dan mereka memuliakan Allah, sambil berkata, “Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita,” dan “Allah telah datang untuk menyelamatkan umat-Nya.” Lalu tersebarlah kabar tentang Yesus di seluruh Yudea dan di seluruh daerah sekitarnya. (Luk 7:11-17) 

Bacaan Pertama: 1Tim 3:1-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 101:1-3.5-6

Dua rombongan bertemu di dekat pintu gerbang kota Nain. Rombongan yang pertama adalah Yesus bersama orang banyak yang menyertai-Nya dengan berbondong-bondong menuju Nain. Rombongan yang kedua adalah orang-orang yang mengusung jenazah anak laki-laki tunggal ibunya yang sudah janda dan diiringi banyak orang dari kota. Rombongan pertama mengikuti “kehidupan” (lihat Yoh 14:6), sedangkan rombongan kedua mengikuti “kematian”. Ada dua pribadi yang menjadi pusat perhatian dalam cerita ini: Yesus dari Nazaret, sang rabi-keliling yang sedang naik-daun dan seorang janda yang baru kehilangan anak tunggalnya. Dalam cerita ini tidak terdengar seruan mohon pertolongan, tidak terdengar seruan agar Yesus membuat sebuah mukjizat, tidak ada permohonan agar terjadi tanda-tanda heran.

Cerita ini secara sederhana menggambarkan bahwa hati Yesus tergerak oleh bela rasa penuh belas kasih terhadap sang janda. Yesus merasakan betapa pedihnya penderitaan yang menimpa sang janda. Yesus ikut menderita bersama perempuan malang itu. Yesus berkata kepadanya untuk jangan menangis (Luk 7:13) dan segera membuktikan kepada sang janda alasan dari kata-katanya dengan perbuatan nyata. Yesus menyentuh usungan jenazah, dan lagi-lagi bela-rasa-Nya mengalahkan rituale keagamaan yang berlaku, yang tidak memperbolehkan orang berkontak (bersentuhan) dengan orang mati. Dengan kata-kata-Nya yang penuh dengan kuat-kuasa, Yesus memerintahkan orang mati itu untuk bangkit: “Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah!” (Luk 7:14). Anak muda itu pun bangun dan duduk serta mulai berkata-kata. Yesus mengklaim kembali anak muda itu ke dalam alam orang hidup dan Ia mengembalikannya kepada sang ibu. Sang ibu dengan demikian tidak perlu menangis lagi.

Lukas memberikan kepada kita sebuah cerita sederhana yang berbicara mengenai bela rasa Yesus yang tidak mengenal batas. Di sini Yesus tidak digambarkan sebagai seorang penggerak yang tidak bergerak. Bila ada orang yang menderita, hati-Nya tergerak – tidak secara tanpa kuat-kuasa, di mana Dia tak berdaya untuk melakukan apa pun, melainkan dengan cara di mana Dia mampu untuk mentransformasikan penderitaan menjadi sukacita dan kematian menjadi kehidupan. Mukjizat yang dibuat oleh Yesus ini tidak tergantung pada iman siapa pun. Isu dalam cerita mukjizat ini adalah bela rasa Yesus. Yesus sama sekali tidak menuntut iman sebagai prasyarat; Ia tidak menunggu sampai sang janda mengucapkan permohonan kepada-Nya. Yesus-lah yang bergerak untuk pertama kalinya, karena Dialah yang tergerak untuk pertama kalinya. Yesus tidak membuat mukjizat guna menunjukkan otoritas-Nya yang berada di atas segala otoritas lainnya; Dia juga tidak membuat mukjizat sebagai alat pendidikan untuk membuktikan suatu butir pemahaman; Yesus digerakkan oleh penderitaan yang ada di depan mata-Nya, dan itu sudah cukup bagi-Nya untuk bertindak … melakukan pekerjaan baik bagi manusia!

Inilah pertama kalinya Lukas menggunakan gelar Kyrios, artinya Tuhan, untuk menggambarkan Yesus. Waktunya memang layak dan pantas. Ketika Yesus menunjukkan diri-Nya sebagai Tuhan atas  kehidupan dan kematian, maka kepada-Nya diberikanlah gelar Kyrios.

Dalam bacaan Injil ini, Lukas menyajikan kepada kita imaji Yesus yang sangat menyentuh hati. Yesus-lah yang mengambil inisiatif, yang pertama berbicara, yang melihat adanya penderitaan dan desolasi yang menindih orang-orang, dan yang tidak melewati orang-orang yang menderita tersebut secara begitu saja. Dalam bela rasa-Nya Yesus tidak takut tangan-Nya menjadi kotor, atau diperlakukan sebagai orang yang najis sehingga harus ditahirkan oleh para imam Yahudi. Yesus sama sekali bukanlah seperti imam dan orang Lewi yang  digambarkan dalam “perumpamaan orang Samaria yang murah hati” (Luk 10:25-37). Manakala Yesus berjumpa dengan penderitaan di persimpangan jalan, Ia tidak “menghindar”. Yesus mentransformasikan penderitaan tersebut dengan sentuhan-Nya dan dengan sabda-Nya. Yesus mendatangkan kebahagiaan bagi kehidupan. Yesus meminta kepada orang-orang untuk hidup dalam pengetahuan bahwa Dia mampu untuk melakukan semua tindakan kebaikan, di sini dan sekarang juga. “Yesus Kristus tetap sama,  baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya” (Ibr 13:8).

Catatan: Tulisan ini diinspirasikan oleh tulisan P. Denis McBride, THE GOSPEL OF LUKE – A REFLECTIVE COMMENTARY 3rd Edition, Dublin, Ireland: Dominican Publications, 1991, hal. 95-96.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku agar senantiasa terbuka bagi karya-Mu di dunia pada masa kini juga. Berikanlah kepadaku mata iman agar mampu melihat mukjizat-mukjizat yang Engkau perbuat. Tolonglah aku agar mampu memberikan tanggapan dengan penuh ketakjuban yang murni datang dari hatiku. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 7:11-17), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MEMBANGKITKAN SEORANG MUDA DI DEKAT GERBANG KOTA NAIN” (bacaan tanggal 17-9-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2019. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2014] 

Cilandak,  16 September 2019 [Peringatan Wajib S. Kornelius & S. Siprianus] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

KATAKAN SAJA SEPATAH KATA, MAKA HAMBAKU ITU AKAN SEMBUH

KATAKAN SAJA SEPATAH KATA, MAKA HAMBAKU ITU AKAN SEMBUH

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan Wajib S. Kornelius, Paus dan S. Siprianus, Uskup Martir – Senin, 16 September 2019)

Setelah Yesus selesai berbicara di depan orang banyak, masuklah Ia ke Kapernaum. Di situ ada seorang perwira yang mempunyai seorang hamba, yang sangat dihargainya. Hamba itu sedang sakit keras dan hampir mati. Ketika perwira itu mendengar tentang Yesus, ia menyuruh beberapa orang tua-tua Yahudi kepada-Nya untuk meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan hambanya. Mereka datang kepada Yesus dan dengan sangat mereka meminta pertolongan-Nya, katanya, “Ia layak Engkau tolong, sebab ia mengasihi bangsa kita dan dialah yang membangun rumah ibadat untuk kami.” Lalu Yesus pergi bersama-sama dengan mereka. Ketika Ia tidak jauh lagi dari rumah perwira itu, perwira itu menyuruh sahabat-sahabatnya untuk mengatakan kepada-Nya, “Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku; sebab itu aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-Mu. Tetapi katakanlah saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya.” Mendengar perkataan itu, Yesus heran akan dia, dan sambil berpaling kepada orang banyak yang mengikuti Dia, Ia berkata, “Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel!” Setelah orang-orang yang disuruh itu kembali ke rumah, mereka dapati hamba itu telah sehat kembali. (Luk 7:1-10) 

Bacaan Pertama: 1Tim 2:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 28:2,7-9 

“Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku; sebab itu aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-Mu. Tetapi katakanlah saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.” (Luk 7: 6-7)

Beberapa orang tua-tua Yahudi mendatangi Yesus. Mereka datang untuk menyampaikan pesan seorang perwira Romawi yang mohon pertolongan Yesus untuk menyembuhkan seorang hambanya yang sedang sakit. Orang tua-tua Yahudi tersebut berkata kepada Yesus: “Ia layak Engkau tolong, sebab ia mengasihi bangsa kita dan dialah yang membangun rumah ibadat untuk kami” (Luk 7:4-5).

Marilah kita perhatikan pribadi seperti apa perwira (centurion) Romawi tersebut. Pokok pertama yang harus kita catat adalah bahwa sang perwira – seorang kafir di mata orang Yahudi dan seorang serdadu – menunjukkan penghargaan dan kekagumannya terhadap orang Yahudi dengan membangun sebuah sinagoga untuk mereka beribadat. Walaupun dia bukanlah seorang Yahudi, perwira ini menghargai umat Yahudi sebagai kelompok orang yang istimewa di mata Allah. Bukannya tidak mungkin bahwa dia pun mendambakan suatu relasi yang lebih mendalam dengan Allah Israel.

Kedua, setelah mempelajari tentang Yesus, perwira ini langsung memberi tanggapan dengan mengirimkan pesan memohon kepada Yesus untuk datang dan menyembuhkan seorang hambanya yang dikasihinya. Sekali lagi, sang perwira memiliki keterbukaan yang besar – dan hasrat – untuk mengalami kuat-kuasa Allah yang senantiasa terbukti setiap kali Yesus berjumpa dengan orang-orang yang sakit atau menderita kesusahan hidup.

Ketiga, barangkali yang paling penting adalah bahwa kita dapat melihat hati sang perwira ketika dia mengatakan kepada Yesus lewat perantaraan sahabat-sahabatnya: “…aku tidak layak menerima tuan di dalam rumahku” (Luk 7:6). Pernyataan ini menunjukkan bahwa sang perwira adalah seorang pribadi yang sangat rendah hati, juga imannya dan rasa percayanya kepada Dia yang memang pantas: Yesus! Kerendahan hati sang perwira dan  rasa percayanya kepada Tuhan Yesus juga diungkapkan oleh tindakan-tindakannya. Ia tidak pernah muncul sendiri di depan Yesus, melainkan dua kali mengirim utusan-utusannya untuk bertemu dengan Dia. Perwira itu sepenuhnya percaya akan kemampuan dan kemauan Yesus untuk menyembuhkan hambanya. Dengan sebuah hati sedemikian, maka kuat-kuasa penyembuhan dari Yesus akan mengalir dengan mudah.

jesus_the_christ_detail_bloch__93932_zoomSebagai manusia biasa  dan setelah membaca tiga butir catatan diatas, maka kita dapat mengambil kesimpulan bahwa sang perwira Romawi di Kapernaum tersebut pantas ditolong agar hambanya disembuhkan dan diselamatkan dari kematian. Itulah permintaan orang tua-tua Yahudi kepada Yesus, karena perwira itu telah banyak berjasa bagi masyarakat setempat. Sekarang pertanyaannya adalah apakah ada orang yang pantas dan layak disembuhkan atau diberkati? Perwira itu sendiri merasa tidak layak kalau Yesus datang ke rumahnya – apalagi untuk hambanya (lihat Luk 7:6).

Jika kita mau mengenal benar realitas kehidupan, kita harus jujur mengakui bahwa diri kita sama sekali tidak layak dan pantas untuk diciptakan, diperbaharui, diampuni, disembuhkan, diselamatkan dsb.  Hidup ini bukanlah masalah apakah pantas atau tidak pantas untuk memperoleh sesuatu. Hidup kita-manusia adalah rahmat atau kasih karunia dari Allah Yang Mahakuasa, Maharahim, …… Mahalain. Hanya satu yang pantas, yaitu Yesus: “Anak Domba yang disembelih itu layak untuk menerima kuasa dan kekayaan, dan hikmat dan kemuliaan, dan puji-pujian!” (Why 5:12).

Kita-manusia sendiri tidak pantas dan layak untuk menerima Yesus masuk ke dalam hidup kita atau memberi kita hidup. Dengan demikian Gereja menggunakan kata-kata perwira Romawi tersebut untuk ungkapan hati dan jiwa kita sebelum menyambut hosti kudus pada waktu komuni pada perayaan Ekaristi: Kita berdoa: “Ya Tuhan, saya tidak pantas Tuhan datang pada saya, tetapi bersabdalah saja, maka saya akan sembuh”. Dalam ketidak-layakan dan ketidak-pastian ini, baiklah setiap hari kita menyambut Yesus – hidup-Nya, kasih dan pengampunan-Nya, serta penyembuhan dalam Komuni kudus.

DOA: Bapa surgawi, oleh kuasa Roh Kudus-Mu, perkenankanlah diriku untuk menyadari bahwa hidupku ini hanyalah berkat kerahiman-Mu. Aku berdoa demikian dalam nama Putera-Mu terkasih, Yesus, Tuhan dan Juruselamat kami, yang  hidup dan berkuasa bersama Dikau dalam persekutuan Roh Kudus, Allah, sepanjang segala masaa. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 7:1-10), bacalah tulisan yang berjudul “TUAN, JANGANLAH BERSUSAH-SUSAH, ……” (bacaan tanggal 16-9-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2019. 

Cilandak, 13 September 2018 [Peringatan S. Yohanes Krisostomus, Uskup & Pujangga Gereja]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

KITA SEMUA MEMANG MILIK-NYA

KITA SEMUA MEMANG MILIK-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXIV [TAHUN C] – 15 September 2019)

Image result for IMAGES OF THE PARABLE OF THE PRODIGAL SON

Perumpamaan tentang domba yang hilang (Luk 15:1-7);

Perumpamaan tentang dirham yang hilang (Luk 15:8-10);

Perumpamaan tentang anak yang hilang (Luk 15:11-32). 

Bacaan Pertama: Kel 32:7-11,13-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-4,12-13,17,19; Bacaan Kedua: 1Tim 1:12-17; Bacaan Injil (Versi Singkat): Luk 15:1-10

Karena Bacaan hari ini sungguh panjang, maka marilah kita menyoroti “Perumpamaan tentang anak yang hilang” saja. Seperti kita lihat, inilah bacaan yang terpanjang dari ketiga bacaan Injil di atas. Ketiga perumpamaan yang diajarkan Yesus dalam bacaan Injil hari ini jelas merupakan pelajaran tentang pengharapan dan keyakinan akan belas kasih Allah yang besar. Bukankah kita semua adalah para pendosa? Bukankah kita semua pernah “hilang” seperti si anak yang hilang dalam perumpamaan yang akan kita renungkan hari ini?

Sebagai bahan perbandingan dalam awal permenungan kita, baiklah kita menengok bacaan pertama. Dikatakan dalam bacaan dari Kitab Keluaran bahwa setelah umat Israel berdosa terhadap Allah dengan menyembah berhala “anak lembu emas”, TUHAN (YHWH) menyatakan kepada Musa bahwa orang-orang Israel itu adalah umat Musa, bukan lagi umat YHWH (Kel 32:7). Kemudian Musa memohon dengan sangat agar umat Israel tidak dicampakkan oleh YHWH, melainkan tetap milik-Nya sendiri (Kel 32:11-13).  YHWH pun menyesal karena malapetaka yang dirancangkan-Nya atas umat-Nya (lihat Kel 32:14).

Di lain pihak kita melihat dalam “Perumpamaan tentang anak yang hilang” bahwa di sini si anak hilang yang nakal itu merasa dirinya bukan lagi anak sang ayah setelah dia pergi meninggalkan rumah orangtuanya, meminta/menuntut warisannya dan setelah ia berbuat “semau gue” (lihat Luk 15:18,21). Kiranya kakaknya setuju akan hal itu (lihat Luk 15:30). Namun sang ayah tidak mendengarkan kedua anaknya. Sang ayah tetap mengatakan/mengakui bahwa si anak nakal itu sebagai “anakku” (Luk 15:24).

Itulah gambaran Kitab Suci tentang Allah yang sungguh berbelas kasih. Dia memang Mahalain.Dalam suratnya yang pertama, Petrus menulis: “Kamu, yang dahulu bukan umat Allah, tetapi sekarang telah menjadi umat-Nya, yang dahulu tidak dikasihani tetapi sekarang telah beroleh belas kasihan” ( 1Ptr 2:10). Paulus mengatakan bahwa “kita adalah milik Tuhan” (Rm 14:8). Dalam suratnya yang lain, Paulus menulis: “…… kamu bukan milik kamu sendiri. Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar” (1Kor 6:19-20). Dapat dikatakan bahwa kita memang dua kali dimiliki Allah, yaitu sebagai manusia yang diciptakan dan manusia yang ditebus.

Dengan demikian kita (anda dan saya) harus menyadari dan mengakui bahwa kita masing-masing dimiliki oleh sang Pencipta yang penuh kuat-kuasa dan Penebus yang penuh kasih. Maka sebaiknya kita bersama Paulus setiap hari berseru dan berdoa:” …… Aku telah disalibkan denggan Kristus, namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal 2:19-20).

Ayat terakhir dalam “Perumpamaan anak yang hilang” adalah kata-kata yang diucapkan oleh sang ayah kepada anak yang sulung sebagai tanggapan terhadap “protes”-nya: “Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali” (Luk 15:32). Sungguh menyentuh hati siapa saja yang masih memiliki nurani. Kalau mau jujur, kita (anda dan saya) juga pernah “hilang”, bukan? Dan ,,,,,, kita semua memang milik Dia saja. Tidakkah kita merasa rindu untuk sungguh menjadi umat-Nya, …… menjadi milik-Nya?

DOA: Tuhan Yesus, Engkau mengatakan kepada kami bahwa ada sukacita di dalam surga karena seorang pendosa bertobat. Kami berterima kasih penuh syukur kepada-Mu karena Engkau mengatakan hal itu kepada kami. Kami berterima kasih pula dengan penuh syukur untuk belas-kasih-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk membuat lengkap Bacaan Injil hari ini (Luk 15:1-32), bacalah tulisan yang berjudul “DOMBA YANG HILANG DAN DIRHAM YANG HILANG” (Luk 15:1-10; bacaan tanggal 15-9-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordress.com; kategori: 19-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2019. 

Cilandak, 12 September 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MARILAH KITA MEMANDANG SALIB KRISTUS!

MARILAH KITA MEMANDANG SALIB KRISTUS!

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Pesta Salib Suci – Sabtu, 14 September 2019)

Setelah mereka berangkat dari gunung Hor, berjalan ke arah Laut Teberau untuk mengelilingi tanah Edom, maka bangsa itu tidak dapat lagi menahan hati di tengah jalan. Lalu mereka berkata-kata melawan Allah dan Musa: “Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir? Supaya kami mati di padang gurun ini? Sebab di sini tidak ada roti dan tidak ada air, dan akan makanan hambar ini kami telah muak. Lalu TUHAN menyuruh ular-ular tedung ke antara bangsa itu, yang memagut mereka, sehingga banyak dari orang Israel yang mati. Kemudian datanglah bangsa itu mendapatkan Musa dan berkata: “Kami telah berdosa, sebab kami berkata-kata melawan TUHAN dan engkau; berdoalah kepada TUHAN, supaya dijauhkan-Nya ular-ular ini dari pada kami. Lalu Musa berdoa untuk bangsa itu. Maka berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Buatlah ular tedung dan taruhlah itu pada sebuah tiang; maka setiap orang yang terpagut, jika ia melihatnya, akan tetap hidup.”  Lalu Musa membuat ular tembaga dan menaruhnya pada sebuah tiang; maka jika seseorang dipagut ular, dan ia memandang kepada ular tembaga itu, tetaplah ia hidup. (Bil 21:4-9) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 78:1-2,34-38; Bacaan Kedua: Flp 2:6-11; Bacaan Injil: Yoh 3:13-17 

“Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.”  (Yoh 3:14-15)

Petikan di atas ini adalah kata-kata Yesus sendiri yang diucapkan-Nya dalam pengajaran khusus kepada seorang tokoh Farisi – Nikodemus – yang datang kepada-Nya pada waktu malam. Apa hubungannya antara peninggian ular tembaga oleh Musa dengan peninggian Kristus? Beginilah ceritanya:

Selagi mereka mendekati akhir dari perjalanan panjang mereka menuju “tanah terjanji”, orang-orang Israel – anak-anak dari generasi yang meninggalkan tanah perbudakan Mesir – tergoda untuk mengeluh kepada Musa: Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir? Supaya kami mati di padang gurun ini? …… tidak ada roti dan tidak ada air, dan akan makanan hambar ini kami telah muak” (Bil 21:5). Seperti orangtua mereka, generasi baru ini menjadi tidak sabar sehubungan dengan waktu yang ditetapkan Allah. Mereka merasa dikhianati, walaupun Allah dengan setia telah menyediakan segala sesuatu yang mereka butuhkan, seperti manna dll. Sebagai akibat dari gerutu dan omelan mereka, Allah mengirim ular-ular tedung yang beracun itu ke tengah-tengah mereka. Hanya setelah banyak yang mati dipagut ular-ular tedung itu, mereka datang ke Musa mengakui kesalahan/dosa mereka dan memohon kepada Musa untuk berdoa syafaat kepada Allah untuk mereka.

Kita lihat di sini bahwa walaupun umat-Nya tidak menaruh kepercayaan pada-Nya, Allah tetap berkomitmen pada niat-Nya untuk memimpin mereka ke tanah terjanji. Orang-orang Israel itu pantas untuk dihukum dengan berat, namun Allah menolak untuk menyerah …… Dia tidak mau membuang orang-orang Israel! Allah malah mentransformasikan lambang penghukuman mereka (ular tedung) menjadi lambang pelepasan. Jika mereka memandang ular tembaga yang ditaruh pada sebuah tiang, maka orang-orang Israel akan bertumbuh dalam rasa percaya mereka pada TUHAN (YHWH). Lihatlah, betapa sabar Allah bekerja dengan mereka.

Memang ketika kita berada dalam masa-masa sulit, mudahlah bagi kita untuk melupakan karya Allah dalam kehidupan kita. Seperti juga orang-orang Israel, kita telah berdosa terhadap Allah, dan dengan demikian pantaslah apabila kita dipisahkan dari Allah untuk selama-lamanya. Namun begitu, bahkan ketika kita berada di bawah hukuman maut, Allah mengenal kita dan Dia tetap mengingat janji-janji-Nya kepada kita. Karena kerahiman-Nya, Dia senantiasa “mendengarkan doa orang-orang yang bulus, dan tidak memandang hina doa mereka” (Mzm 102:18).

Sesungguhnya Allah mengasihi kita dengan mendalam – pribadi lepas pribadi. Ia telah menyediakan bagi kita suatu masa depan yang dipenuhi dengan pengharapan! Ular-ular tedung yang pada awalnya berfungsi sebagai penghukuman atas orang-orang Israel menjadi tanda keselamatan mereka. Demikian pula dengan salib Kristus – sebuah instrumen penghukuman – telah menjadi tanda keselamatan bagi kita. Bila kita memandang salib Kristus, maka Allah memberikan kesembuhan dan kerahiman-Nya. Jika kita membuka hati kita dan menyerahkan diri kita kepada kasih-Nya dan berbagai karunia yang disediakan-Nya bagi kita, maka kita pun akan mengalami damai sejahtera-Nya dan dorongan-Nya dalam segala situasi yang kita hadapi.

Marilah kita memandang Salib Kristus! Pada kayu salib itu tergantung Putera Allah sendiri: Sang Tersalib yang menderita dan wafat di kayu salib karena kasih-Nya yang begitu besar kepada kita, pribadi lepas pribadi. Lewat kematian-Nya pada kayu salib Ia telah menebus dosa-dosa umat manusia yang mematikan dan merekonsiliasikan umat manusia dengan Sang Pencipta. Santo Paulus telah mengajar kita bahwa Yesus Kristus telah mengosongkan diri-Nya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia. Sebagai seorang manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib (bacalah Flp 2:6-11). Semoga kita masing-masing disadarkan oleh Roh Kudus bahwa jalan Tuhan adalah “jalan perendahan” dan motif-Nya senantiasa adalah kasih. Sebagai umat Kristiani (murid/pengikut Kristus), kita pun  harus mengikuti jejak-Nya seturut perintah-Nya (lihat Luk 9:23,14:27; bdk. Mat10:38). Dengan demikian, bersama Santo Paulus barulah kita (anda dan saya) dapat berkata: “… aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia” (Gal 6:14).

DOA: Bapa surgawi, salib Putera-Mu adalah sumber kehidupan kami. Tolonglah kami untuk percaya kepada kuat-kuasa salib-Nya agar dengan demikian kami akan menerima berkat melimpah dalam kehidupan kami. Dengan kata lain, semoga hidup kami dapat digambarkan sebagai kemenangan salib. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Kedua hari ini (Flp 2:6-11), bacalah tulisan yang berjudul “PESTA SALIB SUCI YANG KITA RAYAKAN PADA HARI INI” (bacaan tanggal 14-9-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2019. 

Cilandak, 12 September 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DAPATKAH ORANG BUTA MENUNTUN ORANG BUTA?

DAPATKAH ORANG BUTA MENUNTUN ORANG BUTA?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan Wajib S. Yohanes Krisostomos, Uskup-Pujangga Gereja – Jumat, 13 September 2019)

Yesus menyampaikan lagi suatu perumpamaan kepada mereka, “Dapatkah orang buta menuntun orang buta? Bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lubang? Seorang murid tidak lebih daripada gurunya, tetapi siapa saja yang telah tamat pelajarannya akan sama dengan gurunya. Mengapa engkau melihat serpihan kayu di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Saudara, biarlah aku mengeluarkan serpihan kayu yang ada di dalam matamu, padahal balok yang di dalam matamu tidak engkau lihat? Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan serpihan kayu itu dari mata saudaramu.” (Luk 6:39-42) 

Bacaan Pertama: 1Tim 1:1-2,12-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 16:1,2,5,7-8,11

Terutama dalam masa yang diwarnai dengan ketidakpastian seperti sekarang ini, tidak mengherankanlah apabila jumlah “guru-guru kebijaksanaan”, “guru-guru spiritual” dan teristimewa para “motivator” menjadi semakin banyak saja yang beroperasi dalam masyarakat kita untuk menawarkan jasa-jasa “baik” dan mengajarkan “kiat-kiat” menuju “sukses” kehidupan, menurut versi mereka masing-masing tentunya.

Di lain pihak, ada juga iklan-iklan di TV dan media massa lainnya dan tulisan-tulisan dalam berbagai surat-kabar, majalah dan sosmed yang mencoba mempengaruhi kita, tidak hanya berkaitan dengan barang/jasa apa yang harus kita beli melainkan juga bagaimana seharusnya kita berpikir, memilih dan berelasi satu sama lain. Dalam keadaan hiruk-pikuk seperti ini siapakah yang dapat kita percayai? Di manakah kita dapat menemukan  bimbingan spiritual yang sejati? Guru manakah yang sungguh qualified? Yesus melontarkan sebuah pertanyaan sangat relevan yang harus membuat kita berpikir dan menanggapinya: “Dapatkah orang buta menuntun orang buta? Bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lubang?” (Luk 6:39).

Dalam hal ini Santo Paulus memberikan sebuah petunjuk penting. Ia menyebut dirinya sendiri sebagai seorang “rasul Kristus Yesus menurut perintah Allah” (1Tim 1:1), namun kualifikasi dirinya yang ditulisnya untuk pelayanannya sebagai rasul mengejutkan juga. Bukannya suatu “litani” dari berbagai gelar akademis yang berhasil diraihnya dan juga berbagai capaian lainnya selama hidupnya, Paulus memberi gelar kepada dirinya sebagai seorang penghujat, penganiaya dan ganas yang telah menerima belas kasih dan rahmat dari Tuhan (1Tim 1:13-14). Sebagaimana Paulus melihatnya, satu-satunya orang yang qualified sebagai seorang pengurus (steward) dari belas kasih Allah adalah orang yang telah mengalami belas kasih itu. Pengalaman akan Allah/Yesus (experience of God/Jesus) memang merupakan suatu hal yang bersifat hakiki dalam hidup Kekristenan yang sejati. Lihatlah riwayat hidup para kudus seperti S. Augustinus dari Hippo [354-430], S. Fransiskus dari Assisi [1181-1226], S. Bonaventura [1221-1274], S. Thomas More [1478-1535], S. Ignatius dari Loyola [1491-1556], S. Teresa dari Lisieux [1873-1897] dan begitu banyak lagi para kudus lainnya.

Hal-hal yang membuat orang banyak merasa tertarik kepada Paulus adalah dedikasinya, kejujurannya, integritasnya, dan kemampuannya untuk menjadi segalanya bagi semua orang. Bukankah pembimbing spiritual seperti ini yang menarik dan sungguh kita butuhkan? Bukannya mereka yang pergi ke sana ke mari hanya untuk tebar pesona dan membingungkan kita dengan rupa-rupa gelar akademis serta janji-janji yang tidak realistis, atau menyerang orang-orang lain dengan kata-kata tajam yang tidak membangun. Kita ditarik untuk mendekat kepada mereka yang berjalan bersama-sama dalam perjalanan kita, mereka yang menyemangati dan mendorong kita untuk bertekun, dan mengatakan kepada kita bagaimana sang Gembala Baik telah mendampingi mereka melalui “lembah-lembah kekelaman” (lihat Mzm 23). Pemberian semangat dan dorongan positif ini lebih meyakinkan lagi, teristimewa jika Allah juga belum selesai dengan perkara mereka sendiri, namun mereka sangat menyadari bahwa Allah belum menyerah dalam perkara mereka dan terus menyembuhkan, mengampuni dan mentransformasikan mereka dalam Kristus. Inilah orang-orang yang dinamakan oleh P. Henri Nouwen sebagai wounded healer, “penyembuh yang terluka”.

Orang-orang seperti ini tidak akan banyak berbicara mengenai kelemahan-kelemahan kita (“serpihan kayu”; Luk 6:41-42). Sebaliknya, mereka akan banyak melakukan sharing tentang bagaimana Allah sedang bekerja mengampuni dan mengatasi “balok-balok” dalam hidup mereka. Mereka tidak menunjuk-nunjuk dosa kita, melainkan dengan lemah lembut berbicara berkaitan dengan hal-hal yang berada di bawah permukaan, yaitu rasa haus dan lapar kita akan Allah, kerinduan kita akan kasih-Nya yang tanpa syarat, pengampunan-Nya, serta suatu awal yang baru dan menyegarkan. Orang-orang itu adalah pemimpin-pemimpin sejati dalam Tubuh Kristus, dan pemimpin-pemimpin seperti itulah yang menjadi murid-murid Kristus “yang sama dengan Gurunya” (lihat Luk 6:40).

DOA: Bapa surgawi, Engkau adalah Allah yang berbelas kasih. Kami telah menerima bela-rasa dan pengampunan dari-Mu. Buatlah kami kembali menjadi seturut citra-Mu. Apabila kami tergoda untuk mengkritisi atau menghakimi orang-orang lain, bukalah mata kami agar mampu melihat kedalaman cintakasih-Mu – bagi mereka dan bagi kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 5:39-42), bacalah tulisan yang berjudul “AJARAN AGUNG YESUS TENTANG KASIH” (bacaan tanggal 13-9-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpdress.com; kategori: 19-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2019. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 11 September 2019  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

AMPUNILAH DAN KAMU AKAN DIAMPUNI

AMPUNILAH DAN KAMU AKAN DIAMPUNI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIII – Kamis, 12 September 2019)

“Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; berkatilah orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang berbuat jahat terhadap kamu. Siapa saja yang menampar pipimu yang satu, berikanlah juga kepadanya pipimu yang lain, dan siapa saja yang mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu. Berilah kepada setiap orang yang meminta kepadamu; dan janganlah meminta kembali kepada yang mengambil kepunyaanmu. Sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka. Jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosa pun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka. Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosa pun berbuat demikian. Jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang, karena kamu berharap akan menerima sesuatu dari dia, apakah jasamu? Orang-orang berdosa pun meminjamkan kepada orang-orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama banyak. Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan tanpa mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat. Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu murah hati.”

“Janganlah kamu menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi. Janganlah kamu menghukum, maka kamu pun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni. Berilah dan kamu akan diberi: Suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang diguncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam pangkuanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.”  (Luk 6:27-38) 

Bacaan Pertama: Kol 3:12-17; Mazmur Tanggapan: Mzm 150:1-6 

“… ampunilah dan kamu akan diampuni.”  (Luk 6:37)

Petikan bacaan Injil ini adalah sabda Yesus sendiri. Ia juga memerintahkan kepada kita – para murid-Nya di jaman NOW ini – untuk mengampuni sesama kita yang bersalah kepada kita sebanyak 70 kali 7 kali (lihat Mat 18:22) atau jika tidak, maka kita akan diserahkan kepada para algojo (lihat “Perumpamaan tentang Pengampunan” [Mat 18:21-35], teristimewa dua ayat terakhir). Kita harus mengampuni kesalahan sesama kita dari lubuk hati kita (Mat 18:35).

Dalam sebuah perumpamaan terkenal yang hanya terdapat dalam Injil Lukas – “Perumpamaan tentang Anak yang hilang” (Luk 15:11-32), Yesus menggambarkan Allah sebagai seorang ayah yang penuh pengampunan dan belas kasih terhadap seorang anak laki-lakinya yang mbalelo (“nakal”). Pada waktu anak itu kembali ke rumah keluarga, sang ayah menyambut dia dengan hangat dan penuh rasa kasih sayang seorang bapa sejati.

Yesus juga memerintahkan kita untuk mengasihi dan mengampuni musuh-musuh kita (Lihat Luk 6:27), karena tidak mungkinlah bagi kita untuk mampu mengasihi mereka, jika kita tidak terlebih dahulu memaafkan dan mengampuni mereka. Yesus sendiri pada saat-saat menjelang kematian-Nya di kayu salib mengampuni mereka yang mendzolomi diri-Nya dengan sebuah doa permohonan: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23:34). Dengan demikian, sebagai para murid-Nya, sudah sepatutnya kita juga mengampuni orang-orang yang telah mendzolomi kita. Santo Stefanus, sang diakon Gereja Perdana dan martir-Nya telah membuktikan bahwa diri-Nya adalah murid Kristus yang sejati. Ketika dihukum rajam, orang kudus ini berseru: “Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku” (Kis 7:59; bdk. Luk 23:46). Santo Stefanus juga berseru dengan suara nyaring: “Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!” (Kis 7:60).

Jelaslah tidak mungkin bagi manusia (anda dan saya, juga S. Stefanus) untuk mampu mengampuni orang lain dengan ukuran ilahi. Ada pepatah dalam bahasa Inggris yang berbunyi: “To err is human.” Pepatah ini berasal dari Alexander Pope, seorang penyair (sastrawan)/penulis satire berkebangsaan Inggris [1688-1744]: “To err is human; to forgive, divine”). Pada tahun 1711, dalam syairnya yang berjudul “An Essay on Criticism, Part II, Alexander Pope menjelaskan bahwa walaupun setiap orang dapat membuat suatu kesalahan, kita harus beraspirasi untuk melakukan sesuatu seperti yang dilakukan oleh Allah, yaitu menunjukkan tindakan belas kasih dan pengampunan atas para pendosa.

Dengan demikian hanya dengan kuasa Allah dan dengan kasih karunia-Nya kita dapat mencapai ukuran ilahi itu untuk memaafkan dan mengampuni sesama yang bersalah. Kerja keras dan upaya macam apapun untuk mengampuni orang yang bersalah kepada kita tidak akan berhasil jika kita mengandalkan kekuatan kita sendiri.

Marilah kita mendalami terus apa saja yang diajarkan oleh Tuhan Yesus dalam “Doa Bapa Kami”. Dengan rendah hati, marilah kita mohon kepada Allah hikmat yang diperlukan untuk memahami “Doa Bapa Kami” ini, teristimewa yang ada dalam Mat 6:12,14-15).

Sebagai penutup permenungan hari ini, baiklah kita baca Bacaan Pertama hari ini. Kepada jemaat di Kolose, Santo Paulus menulis: “Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain; sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, perbuatlah juga demikian” (Kol 3:13).

DOA: Bapa surgawi, oleh kuasa Roh Kudus, berkatilah diriku agar mau dan mampu meneladan Yesus Kristus, Putera-Mu, yang memaafkan dan mengampuni orang-orang yang bersikap dan berperilaku jahat terhadap diri-Nya, yang menyebabkan kematian-Nya di kayu salib. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 6:27-38), bacalah tulisan yang berjudul “SIKAP DAN PERILAKU YANG BENAR DALAM MENGHADAPI MUSUH” (bacaan tanggal 12-9-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 19-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2019. 

Cilandak, 9 September 2019 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

HIDUPMU TERSEMBUNYI BERSAMA DENGAN KRISTUS DI DALAM ALLAH

HIDUPMU TERSEMBUNYI BERSAMA DENGAN KRISTUS DI DALAM ALLAH

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIII – Rabu, 11 September 2019)

Image result for IMAGES OF COLOSSIANS 3:1-11

Karena itu, apabila kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah hal-hal yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah hal-hal yang di atas, bukan yang di bumi. Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah. Apabila Kristus, yang adalah hidup kita tampak kelak, kamu pun akan tampak bersama dengan Dia dalam kemuliaan.

Karena itu, matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, semuanya itu mendatangkan murka Allah [atas orang-orang yang tidak taat]. Dahulu kamu juga melakukan hal-hal itu ketika kamu hidup di dalamnya. Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu. Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru yang terus menerus diperbarui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Penciptanya; dalam hal ini tidak ada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu. (Kol 3:1-11) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 145:2-3,10-13; Bacaan Injil: Luk 6:20-26 

Sekian tahun lalu, setelah selesai ibadat hari Jumat Agung di gereja S. Stefanus yang berlangsung berjam-jam lamanya, di dekat halaman parkir Kantor Kecamatan Cilandak, dua orang laki-laki yang baru keluar dari gereja terlibat dalam pertengkaran (adu mulut) keras disebabkan oleh terdapatnya “luka kecil” pada sebuah mobil yang “terserempet” oleh sebuah mobil lain, tentunya kedua mobil itu milik pihak-pihak yang sedang bertikai. Saya yang kebetulan ada di dekat TKP mencoba melerai pertikaian mereka, dengan menekankan a.l. betapa buruknya citra kita sebagai umat Kristiani di mata saudari-saudara kita  yang beriman lain. Kita baru saja memperingati kematian sang Juruselamat di kayu salib; ramai-ramai kita menghormati Sang Tersalib dlsb. dan hanya beberapa belas meter dari gedung gereja kita sudah bertikai lagi dst. Pada akhirnya resolusi konflik tercapai juga, namun saya pun – sadar tidak sadar – telah berkata-kata dengan cukup keras.

Memang susahlah untuk menjalani hidup Kristiani yang sejati. Kita pergi ke gereja secara teratur, namun di sana sini dibumbui dengan perasaan iri, perseteruan, perselisihan, amarah tak terkendalikan, dlsb. Dalam bacaan surat Paulus di atas, kita dipanggil untuk memikirkan hal-hal yang di atas (Kol 3:2) dan membuang hal-hal seperti marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulut kita (Kol 3:8). Namun, kadang-kadang panggilan kita sebagai umat Kristiani sungguh terasa sebagai suatu ketidakmungkinan.

Ketika kita memutuskan untuk mengikut Yesus, kita sebenarnya mengkomit diri kita untuk “tersembunyi” bersama dengan Dia. Dalam hal ini Paulus menulis, “Kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah” (Kol 3:3). Semakin banyak kita memusatkan pandangan kita pada Kristus di surga, semakin banyak pula kita dikelilingi dalam dunia ini dengan perlindungan-Nya, hikmat-Nya, kasih-Nya, dan kemuliaan-Nya. Akan tetapi relasi kita dengan Yesus bukan hanya untuk kepentingan kita, melainkan demi orang-orang lain juga. Memusatkan pandangan kita ke surga dimaksudkan untuk menjadikan kita peniru-peniru Yesus yang memperlakukan orang-orang lain dengan kasih yang sama seperti yang telah ditunjukkan oleh Yesus sendiri – dan masih terus ditunjukkan-Nya – kepada kita (lihat Ef 5:1-2). Karena kita telah mengenakan Kristus, maka kita mempunyai kemampuan untuk menghadapi kemarahan dengan kebaikan hati, keserakahan dengan kemurahan-hati, ketidaksabaran dengan kesabaran, dan kebencian dengan cintakasih. Sekarang, hari demi hari, panggilan kita adalah untuk berdiri teguh dalam iman bahwa Kristus dalam diri kita sungguh dapat membuat diri kita seperti diri-Nya.

Yesus minta kepada kita untuk men-sharing-kan cintakasih-Nya kepada orang-orang yang kita temui pada hari ini. Yesus tidak menjanjikan bahwa setiap orang akan berbaik hati dan mudah untuk bergaul. Yesus juga tidak menjanjikan bahwa mengasihi orang-orang lain akan mudah. Kadang-kadang mengasihi sesama kita menyangkut kematian terhadap diri kita sendiri secara sungguh dan serius (lihat Kol 3:5). Akan tetapi Yesus telah bangkit dari antara orang mati, dan Ia telah membangkitkan kita bersama-Nya (Kol 3:1). Yesus sendiri yang hidup dalam diri kita adalah sumber segala kasih yang Ia inginkan kita ungkapkan kepada orang-orang lain di sekeliling kita.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku untuk memusatkan pandanganku pada surga selagi aku berjuang untuk membawa kasih-Mu ke tengah dunia. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 6:20-26), bacalah tulisan yang berjudul “BERBAHAGIALAH, HAI KAMU YANG ……” (bacaan tanggal 11-9-19) dalam situs/blog PAX ET BONUM https://sangsabda.wordpress.com; kategori: 19-09 BACAAN HARIAN SEPTEMBER 2019. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 9 September 2019  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS