KITA HARUS MEMPERHATIKAN CARA KITA MENDENGAR

KITA HARUS MEMPERHATIKAN CARA KITA MENDENGAR

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXV – Senin, 25 September 2017) 

“Tidak ada orang yang menyalakan pelita lalu menutupinya dengan tempayan atau menempatkannya di bawah tempat tidur, tetapi ia menempatkannya di atas kaki pelita, supaya semua orang yang masuk ke dalam rumah dapat melihat cahayanya. Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan diketahui dan diumumkan. Karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, bahkan apa yang dianggapnya ada padanya, akan diambil juga.” (Luk 8:16-18) 

Bacaan Pertama: Ezr 1:1-6; Mazmur Tanggapan: Mzm 126:1-6 

“Karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar.(Luk 8:18)

Kata-kata dalam Kitab Suci adalah seperti benih-benih. Apabila lingkungannya – teristimewa tanahnya –  cocok, benih-benih tersebut dapat bertumbuh dan membuahkan hasil yang berlimpah. Menghubungkan hal ini dengan apa yang dijanjikan Yesus bahwa Allah akan memberi kepada yang sudah mempunyai (Luk 8:18), kita dapat membayangkan apa yang akan terjadi apabila kita membaca kata-kata dalam potongan bacaan Kitab Suci: Selagi kita merenungkannya dan mewujudkannya dalam tindakan, maka “benih firman” itu dapat bertumbuh dan bertumbuh.

Pada suatu hari dalam Misa hari Minggu, seorang pemuda kaya yang baru berumur 20 tahun tersentuh oleh sebuah ayat Injil Matius yang dibacakan pada hari itu: “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” (Mat 19:21). Hati pemuda itu tergerak untuk mematuhi perintah itu secara harafiah. Dengan cepat ia membagi-bagikan harta-kekayaan dan uangnya, menahan sedikit saja guna menopang hidupnya dan saudara perempuannya.

Dalam Misa kemudian setelah itu, pemuda itu mendengar satu ayat lagi yang menyentuh hatinya lagi: “Janganlah kamu khawatir tentang hari esok” (Mat 6:34). Sejak saat itu, dia “lompatan iman”. Setelah menyisihkan segala sesuatu yang diperlukan untuk saudara perempuannya, dia memberikan segala sesuatu yang tersisa dari harta-kekayaannya kepada orang-orang miskin, lalu pindah sebuah pondok kecil yang letaknya terisolasi di mana dia dapat mengabdikan dirinya untuk berdoa dan menopang kehidupannya dengan membuat alat-alat rumah tangga yang sederhana. Di mana? Di padang gurun Libia. Sepanjang hari berdoa, belajar dan bekerja kasar, sekadar cukup untuk hidup pada hari itu. Siapa nama orang yang “aneh” itu? Namanya Antonius (Yunani: Antonios) Pertapa atau Antonius dari padang gurun [251-356], kelahiran dekat Memphis (Mesir), bapa monastisisme.

Antonius tidak jarang mendapat godaan, baik rohani maupun jasmani. Namun berkat rahmat Tuhan yang dilimpah-limpahkan atas dirinya, dia sanggup mengatasi godaan-godaan tersebut. Ada catatan, bahwa pada waktu umat Kristiani dikejar-kejar dan dianiaya oleh Kaisar Maximinus, ia mengunjungi orang-orang yang disekap dalam penjara dan menguatkan iman dan pengharapan mereka. Untuk bertahun-tahun lamanya, Antonius hidup sendiri dalam kemiskinan. Akan tetapi, hari lepas hari dia menerima semakin banyak kehidupan Allah sendiri. Pada suatu saat, reputasinya menarik orang-orang lain, dan mereka datang mohon didoakan dan nasihat-nasihatnya yang penuh hikmat. Bahkan banyak yang lalu bergabung dengan dirinya dalam gaya-hidup seperti itu. Kemudian mereka membentuk kelompok pertapa dengan aturan hidup yang sedikit lebih longgar, sedangkan Antonius sendiri hampir selalu menyendiri.

Pada usia 60-an tahun, Antonius pergi ke Alexandria memberikan nasihat dan semangat kepada S. Atanasius (Atanasios) temannya dan para penentang bid’ah Arianisme. Antonius adalah pertapa yang bijaksana dan bukan seorang “bonek”. Kehidupan rohaninya sangat mendalam dan seluruh hidupnya diarahkan demi mengabdi Tuhan secara radikal. Sementara itu para pengikutnya semakin banyak: ribuan orang mengundurkan diri dari kehidupan kota-kota besar yang penuh dengan godaan nafsu duniawi. Mereka menyepi di gurun pasir mengejar panggilan kesempurnaan sebagai orang Kristiani.

Pada saat wafatnya, 85 tahun setelah untuk pertama kalinya dia menanggapi secara positif sabda yang hidup dalam Kitab Suci, pekerjaan Antonius telah memperbaharui seluruh Gereja. Pada kenyataannya, dampaknya atas kehidupan Gereja tak dapat diukur sampai hari ini. Santo Antonius Pertapa mengambil sedikit saja kata-kata yang ada dalam Kitab Suci lalu dihayatinya dengan sungguh-sungguh, dan lebih banyak lagi yang diberikan kepadanya. Sekitar sembilan abad kemudian, di Italia terjadi peristiwa yang serupa (tapi tak sama), yaitu panggilan pertobatan Santo Fransiskus dari Assisi yang juga berdampak sangat luas dan dalam dalam kehidupan Gereja untuk masa-masa selanjutnya. Sekitar 2000 tahun yang lalu, Yesus sudah bersabda, “Karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar” (Luk 8:18).

Saudari dan Saudaraku yang dikasihi Kristus, marilah kita menjadi “pendengar yang baik” dan “pelaku firman” (Yak 1:22 dsj.). Santo Antonius Pertapa, Santa Fransiskus dari Assisi mengambil hanya sedikit saja nas-nas Kitab Suci ke dalam hati mereka masing-masing dan mereka menerima lebih banyak lagi dari Dia yang begitu baik, sumber segala kebaikan. Semoga ada sedikit ayat Kitab Suci yang berakar dalam diri kita masing-masing, sehingga kita pun dapat menerima lebih banyak lagi dari Sang Pemberi.

DOA: Roh Kudus Allah, terima kasih kuhaturkan kepada-Mu karena Engkau berbicara kepadaku melalui kata-kata yang ada dalam Kitab Suci. Semoga berkat kuasa-Mu, semakin banyak lagi kata-kata dalam Kitab Suci menjadi sabda yang hidup bagi diriku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 8:16-18), bacalah juga tulisan yang berjudul “PERUMPAMAAN YESUS TENTANG PELITA YANG MENYALA” (bacaan untuk tanggal 25-9-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011) 

Cilandak, 24 September 2017 [HARI MINGGU BIASA XXV – TAHUN A] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Advertisements

YANG TERAKHIR AKAN MENJADI YANG PERTAMA DAN YANG PERTAMA AKAN MENJADI YANG TERAKHIR

YANG TERAKHIR AKAN MENJADI YANG PERTAMA DAN YANG PERTAMA AKAN MENJADI YANG TERAKHIR

 (Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXV – TAHUN A, 24 September 2017) 

“Adapun hal Kerajaan Allah sama seperti seorang pemilik kebun anggur yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya. Setelah ia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya. Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar lagi dan dilihatnya ada lagi orang-orang lain menganggur di pasar. Katanya kepada mereka: Pergilah juga kamu ke kebun anggurku dan apa yang pantas akan kuberikan kepadamu. Lalu mereka pun pergi. Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga petang ia keluar dan melakukan sama seperti tadi. Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan melakukan sama seperti tadi. Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan mendapati orang-orang lain pula, lalu katanya kepada mereka: Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari? Kata mereka kepadanya: Karena tidak ada orang mengupah kami. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku. Ketika hari malam pemilik kebun itu berkata kepada mandornya: Panggillah pekerja-pekerja itu dan bayarkan upah mereka, mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk pertama. Lalu datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul kira-kira pukul lima dan mereka menerima masing-masing satu dinar. Kemudian datanglah mereka yang masuk pertama, sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi mereka pun menerima masing-masing satu dinar juga. Ketika mereka menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada pemilik kebun itu, katanya: Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari. Tetapi pemilik kebun itu menjawab seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari? Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk gterakhir ini sama seperti kepadamu. Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati?

Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang pertama dan yang pertama akan menjadi yang terakhir. (Mat 20:1-16) 

Bacaan Pertama: Yes 55:6-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 145:2-3,8-9,17-18; Bacaan Kedua: Flp 1:20c-24,27a

Bayangkanlah seseorang bekerja sepanjang hari untuk upah yang berjumlah sama dengan seorang lainnya yang bekerja hanya untuk satu jam lamanya. Rasa keadilan kita akan sungguh terusik. Dilihat dari kacamata dunia – keprihatinan-keprihatinan dan peraturan-peraturannya berkaitan dengan keadilan – tidak sulitlah bagi orang untuk berpihak pada para pekerja yang berpikir bahwa karena mereka bekerja untuk waktu yang lebih lama, maka mereka harus menerima upah yang lebih banyak daripada para pekerja yang bekerja untuk waktu yang lebih sedikit. Hal inilah yang dinilai adil dan benar! Kelompok pekerja yang pertama mulai bekerja pada jam 6 pagi. Mereka bekerja di kebun anggur sekitar 12 jam lamanya dan menjelang tengah hari dan di siang hari mereka sungguh bekerja di bawah terik matahari yang panasnya sungguh menyengat tubuh. Mereka semua bekerja untuk upah sebesar 1 denarius, sebuah uang logam Romawi yang bernilai satu hari kerja. Kelompok pekerja yang terakhir datang ke kebun anggur – yang bekerja untuk satu jam saja – juga menerima upah dalam jumlah yang sama.

Sungguh alamiah bagi kita untuk berpikir seperti itu, namun yang kita luput pertimbangkan adalah bahwa Yesus sedang menceritakan sebuah perumpamaan tentang Kerajaan Allah. Keadilan bukan merupakan isu di sini. Tidak seorang pun dari kita pantas menerima sesuatu dari Allah karena perbuatan baik atau jasa kita. Tidak ada seorang pun dari kita yang berhak membuat Allah berhutang kepada kita. Segala sesuatu yang kita miliki – bahkan hidup kita sendiri – adalah karunia atau anugerah dari Allah, pemberian “gratis” dari Dia. Kita tidak pernah dapat memperoleh hak untuk berelasi secara pribadi dengan Allah disebabkan oleh pekerjaan baik kita. Dalam melayani Allah, kita menerima jauh lebih banyak daripada apa yang pernah kita berikan kepada-Nya. Bekerja di kebun anggur, di dalam Kerajaan Allah, bukanlah sebuah beban, melainkan sebuah privilese! Jika kita menanggapi panggilan Allah sejak dini, hal itu tidaklah berarti kita disalah-gunakan melainkan dikaruniai. Apabila kita menanggapi panggilan Allah di kala hari sudah sore menjelang senja, kita pun dikaruniai!

Santa Teresa dari Avila [1515-1582] mengungkapkannya seperti berikut ini: “Kita harus melupakan jumlah tahun kita telah melayani Dia, karena jumlah dari semua yang dapat kita lakukan tidaklah bernilai apabila dibandingkan dengan setetes darah yang telah ditumpahkan oleh Tuhan bagi kita. … Semakin banyak kita melayani Dia, semakin dalam pula kita jatuh ke dalam hutang (kepada)-Nya.”

Yesus menceritakan perumpamaan tentang para pekerja di kebun anggur selagi Dia melakukan perjalanan ke Yerusalem. Kematian dan kebangkitan-Nya telah mentransformasikan dunia, memenuhinya dengan kasih-Nya. Pada waktu kita mengenal dan mengikut Yesus, kita juga akan mengenal privilese melayani tanpa reserve dalam kebun anggur-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, nyalakanlah dalam hatiku api cintakasih-Mu yang mendorong Engkau memikul salib sampai ke bukit Golgota dan wafat di atas kayu salib di tempat itu. Bakarlah hatiku dengan hasrat guna melayani di kebun anggur-Mu untuk waktu yang lama dan dengan penuh pengabdian. Bebaskan diriku dari kesalahan membanding-bandingkan pelayananku dengan orang-orang lain yang Engkau telah panggil juga untuk bekerja di kebun anggur-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 20:1-16), bacalah tulisan yag berjudul “KITA MASING-MASING SAMA BERHARGANYA DI MATA ALLAH” (bacaan tanggal 24-9-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2017. 

Cilandak, 22 September 2017 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERUMPAMAAN TENTANG SEORANG PETANI YANG MENABURKAN BENIHNYA

PERUMPAMAAN TENTANG SEORANG PETANI YANG MENABURKAN BENIHNYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Pius dr Pietrelcina [Padre Pio] – Sabtu, 23 September 2017)

Keluarga Fransiskan Kapusin: Pesta S. Pius dr Pietrelcina [Padre Pio]

 

Ketika orang banyak berbondong-bondong datang, yaitu orang-orang yang dari kota ke kota menggabungkan diri dengan Yesus, berkatalah Ia dalam suatu perumpamaan, “Adalah seorang penabur keluar untuk menaburkan benihnya. Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu diinjak orang dan burung-burung di udara memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, dan setelah tumbuh ia menjadi kering karena tidak mendapat air. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, dan semak itu tumbuh bersama-sama dan menghimpitnya sampai mati. Sebagian jatuh di tanah yang baik, dan setelah tumbuh berbuah seratus kali lipat.” Setelah berkata demikian Yesus berseru, “Siapa yang mempunyai telinga untuk mendengar, hendaklah ia mendengar!”

Murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya tentang maksud perumpamaan itu. Lalu Ia menjawab, “Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang lain hal itu diberitakan dalam perumpamaan, supaya sekalipun memandang, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti. Inilah arti perumpamaan itu: Benih itu ialah firman Allah. Yang jatuh di pinggir jalan itu ialah orang-orang yang telah mendengarnya; kemudian datanglah Iblis lalu mengambil firman itu dari dalam hati mereka, supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan. Yang jatuh di tanah yang berbatu-batu itu ialah orang-orang yang setelah mendengar firman itu, menerimanya dengan gembira, tetapi mereka itu tidak berakar, mereka percaya sebentar saja dan dalam masa pencobaan mereka murtad. Yang jatuh dalam semak duri ialah orang-orang yang telah mendengar firman itu, dan dalam pertumbuhan selanjutnya mereka terhimpit oleh kekhawatiran dan kekayaan dan kenikmatan hidup, sehingga mereka tidak menghasilkan buah yang matang. Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang-orang yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan.” (Luk 8:4-15) 

Bacaan Pertama: 1Tim 6:2c-12; Mazmur Tanggapan: Mzm 144:1-4 

Perumpamaan ini sungguh merupakan sebuah tantangan besar. Sekali firman Allah ditanam dalam hati kita, kita mempunyai pilihan bagaimana kita akan menanggapi firman tersebut. Yesus mengajar dengan jelas: Apabila benih gagal berakar dalam diri kita, maka kita tidak akan mampu bertahan ketika menghadapi kesulitan. Tanah yang baik adalah “hati yang baik dan jujur serta taat” (lihat Luk 8:15). Kalau firman Allah bertemu dengan hati yang demikian, maka firman itu akan tumbuh dan berbuah. Perumpamaan ini menunjukkan bahwa kita dapat memupuk hati kita sehingga, ketika sang penabur menaburkan benihnya ke dalam diri kita, maka kita akan siap untuk menerima benih itu dan memberi makan kepada benih itu agar dapat hidup dan tumbuh dalam diri kita.

Bagaimana kita dapat menjadi tanah yang baik dan subur? Kita dapat mulai dengan memohon kepada Roh Kudus untuk mengisi diri kita dengan suatu hasrat yang tulus akan firman Allah dan suatu keterbukaan terhadap kuasa firman Allah itu untuk mentransformasikan kita. Kita juga dapat membuat diri kita tersedia bagi Allah sehingga ‘benih’ di dalam diri kita dapat menghasilkan akar yang dalam serta kuat, dan dapat menghasilkan buah secara berlimpah-limpah. Melalui doa-doa harian, bacaan dan studi Kitab Suci serta partisipasi aktif dalam Misa Kudus, kita dapat membawa makanan bagi diri kita secara konstan, menciptakan suatu keadaan di mana benih firman Allah dapat bertumbuh dan menjadi produktif.

Disamping hati yang baik, jujur dan taat, kita juga membutuhkan kesabaran kalau mau melihat tanaman itu tumbuh dan berbuah seratus kali lipat. Selagi kita berjalan melalui kehidupan kita ini, pastilah kita mengalami berbagai godaan, masalah dan kesulitan. Barangkali kita tertarik pada kekayaan dan kenikmatan hidup (Luk 8:14). Namun Allah memerintah dalam hati yang kuat berakar pada firman-Nya. Allah akan melihat kita melalui waktu-waktu di mana kita tergoda untuk mengambil jalan-mudah, atau ketika kita  mengalami distraksi (pelanturan) yang disebabkan oleh berbagai tuntutan atas waktu dan perhatian kita. Yesus, sang Firman Allah, akan menjaga hati kita tetap lembut dan lunak. Kalau kita menantikan-Nya dengan sabar, maka Dia tidak akan mengecewakan kita.

Marilah kita menerima firman Allah dengan kesabaran dan penuh kepercayaan. Marilah kita minta kepada Roh Kudus untuk menanam firman-Nya dalam-dalam pada diri kita, sehingga tidak ada yang dapat mencabutnya, apakah Iblis, atau godaan-godaan, atau kekayaan, atau kenikmatan-kenikmatan yang ditawarkan dunia. Baiklah kita memusatkan pikiran dan hati kita pada firman-Nya, mohon kepada Roh Kudus untuk membawa firman-Nya ke dalam diri kita. Baiklah kita membuat Kitab Suci sebagai fondasi kita yang kokoh-kuat.

DOA: Bapa surgawi, kuduslah nama-Mu ya Allah-ku. Bapa, berkat rahmat-Mu buatlah agar hidupku berbuah demi kemuliaan-Mu. Tumbuhkanlah dalam hati kami suatu hasrat untuk menerima firman-Mu. Ubahlah hati kami supaya menjadi tanah yang baik dan subur bagi firman-Mu untuk tumbuh dan berbuah. Jagalah terus hati kami agar firman-Mu jangan sampai terhimpit mati di dalamnya seakan terhimpit di tengah semak duri, jangan sampai menjadi kering di dalamnya seakan jatuh ke atas tanah yang berbatu-batu, jangan sampai sia-sia seperti benih yang jatuh di pinggir jalan kemudian diambil oleh Iblis. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 8:4-15), bacalah tulisan yang  berjudul “MENJADI TANAH YANG BAIK BAGI BENIH SABDA-NYA” (bacaan tanggal 23-9-17) dalam situs PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2009)

Cilandak, 22 September 2017 [Peringatan S. Ignasius dr Santhi, Imam Biarawan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PEREMPUAN-PEREMPUAN YANG SETIA MENGIKUTI-NYA

PEREMPUAN-PEREMPUAN YANG SETIA MENGIKUTI-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIV – Jumat, 22 September 2017) 

Tidak lama sesudah itu Yesus berjalan berkeliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa memberitakan Injil Kerajaan Allah. Kedua belas murid-Nya bersama-sama dengan Dia, dan juga beberapa orang perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat dan berbagai penyakit, yaitu Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat, Yohana istri Khuza bendahara Herodes, Susana dan banyak perempuan lain. Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan harta milik mereka. (Luk 8:1-3) 

Bacaan Pertama:  1Tim 6:2c-12; Mazmur Tanggapan: 49:6-10,17-20 

Sebagian besar dari karya pelayanan Yesus digunakan oleh-Nya untuk berkhotbah di kota-kota dan kampung-kampung di Galilea, untuk mewartakan Kerajaan Allah dan menyerukan pertobatan sambil diiringi oleh para rasul-Nya dan murid-Nya yang lain. Bayangkanlah seorang rabi dan rombongannya berjalan kaki melalui jalan-jalan berdebu (yang tak beraspal) di bawah panas teriknya matahari, dan rabi ini juga ditemani oleh beberapa orang perempuan yang melayani keperluan Yesus dan seluruh rombongan-Nya. Bayangkanlah pula betapa radikal hal ini di mata orang-orang Yahudi pada abad pertama – teristimewa mereka yang tergolong para pemuka agama yang melihat penampilan luar sebagai hal yang paling penting. Pada zaman Yesus, kaum perempuan – secara sosial maupun spiritual – dipandang lebih rendah daripada kaum laki-laki. Nah, kenyataan ada beberapa orang perempuan mengikuti seorang rabi dalam perjalanan misi dari satu tempat ke tempat lainnya dipandang sebagai suatu skandal, bahkan dosa!

Di sepanjang sejarah umat manusia, Allah telah memilih orang-orang yang dipandang tidak berharga dari sudut pandang dunia menerima dan menjadi saksi-saksi Injil. Sebelumnya, pada awal Injil Lukas, kita melihat bagaimana Maria menanggapi panggilan Allah untuk menjadi bunda Yesus dengan “ya”-nya yang penuh sukacita dan kerendahan hati di hadapan keagungan Allah (Luk 1:46-55). Kemudian Injil Lukas menceritakan sebuah cerita tentang seorang perempuan pendosa yang tergerak oleh belas kasih Yesus dan kasih-Nya, mematahkan segala adat-istiadat sosial Yahudi yang berlaku dengan mengurapi kaki-kaki Yesus dengan minyak narwastu yang mahal (Luk 7:36-50). Injil Lukas juga menceritakan tentang seorang Samaria yang biasa dipandang hina oleh orang-orang Yahudi menunjukkan kemurahan hati yang luarbiasa, yang tidak dapat ditunjukkan oleh seorang imam dan seorang Lewi sebelum dia (Luk 10:30-37). Ada pula sebuah perumpamaan Yesus dalam Injil Lukas tentang seorang anak yang mbalelo, yang sudah “rusak” dan penuh dosa, menemukan kasih dan penerimaan dalam pelukan ayahnya (Luk 15:11-32).

Yesus memilih orang-orang yang dina – yang rendah hati – karena mereka seringkali adalah orang-orang yang paling mudah untuk diajar dan paling setia. Perempuan-perempuan yang mengikuti Yesus juga tidak lebih buruk dalam hal dosa ketimbang para pengikut-Nya yang laki-laki, akan tetapi kelihatannya mereka lebih siap untuk menerima belas kasih-Nya dan tetap setia kepada-Nya. Para perempuan itu mengikuti-Nya sampai masuk ke Yerusalem dan  beberapa dari perempuan-perempuan ini berdiri di kaki salib Yesus di bukit Kalvari, pada saat-saat Yesus meregang nyawa, padahal para rasul yang laki-laki sudah lari ketakutan entah ke mana (Luk 23:49), kecuali Yohanes – murid yang dikasihi-Nya (lihat Yoh 19:24-27).

Kesetiaan para pengikut Yesus yang perempuan pada akhirnya memperoleh ganjaran. Beberapa dari perempuan-perempuan ini diberi privilese sebagai rasul-rasul pertama yang memberi kesaksian akan kebangkitan Yesus (Luk 24:10). Barangkali sejarah tidak mempunyai banyak cerita tentang perempuan-perempuan ini, namun di mata Bapa surgawi mereka bersinar terang seperti bintang-bintang di langit yang bercahaya gemerlapan, memberi kesaksian atas kuat-kuasa kasih Allah yang memiliki daya untuk membuat transformasi.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku agar dapat melihat kemiskinanku dan kebutuhanku akan pengampunan dari-Mu seperti yang dilakukan para perempuan yang mengikuti Engkau dengan setia. Aku mengaku bahwa diriku miskin dan kecil dalam dunia ini. Namun aku percaya, bahwa melalui imanku kepada-Mu, Engkau akan membuat diriku besar dalam Kerajaan surga. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 8:1-3), bacalah tulisan yang berjudul “TIDAK ADA YANG BERADA DI LUAR JANGKAUAN KASIH-NYA (bacaan tanggal 22-9-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013)

Cilandak,  21 September 2017 [Pesta S. Matius, Rasul & Penulis Injil] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

YESUS DATANG UNTUK MEMANGGIL ORANG BERDOSA

YESUS DATANG UNTUK MEMANGGIL ORANG BERDOSA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta S. Matius, Rasul Penginjil – Kamis, 21 September 2017) 

Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di tempat pemungutan cukai, lalu Ia berkata kepadanya, “Ikutlah Aku.”  Matius pun bangkit dan mengikut Dia. Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya. Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus, “Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Yesus mendengarnya dan berkata, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi, pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.” (Mat 9:9-13) 

Bacaan Pertama: Ef 4:1-7,11-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:2-5 

Andaikan anda sedang memulai sesuatu yang baru, barangkali suatu bisnis yang baru (apabila anda seorang pengusaha atau pemimpin di bidang bisnis), atau sedang menyusun organisasi pemerintahan yang baru (apabila anda seorang presiden sebuah republik), bukankah anda ingin memperoleh orang-orang terbaik untuk mengisi posisi-posisi puncak yang ada, misalnya untuk anggota direksi perusahaan anda atau sebagai anggota kabinet dan berbagai posisi kunci lainnya dalam pemerintahan anda? Bukankah anda sebagai seorang pribadi pemimpin yang waras akan mencari orang-orang yang berlatar pendidikan terbaik dan para go-getters yang akan get the job done, bukannya para “yes men” atau para penjilat “ABS” yang oportunis?

Walaupun “waras” dalam artian sesungguhnya, Yesus lain sekali dengan para pemimpin sekular atau keagamaan yang hidup di dunia. Yesus menemukan para rasul-Nya di perahu-perahu nelayan, bahkan di “kantor pajak/cukai”, seperti halnya dengan Lewi atau Matius ini (Mat 9:9). Kelihatannya Yesus suka memilih calon-calon yang dapat dijadikan sahabat-sahabat intim bagi diri-Nya dan kepada mereka Dia akan mempercayakan Gereja-Nya.

Pilihan Yesus atas diri Matius barangkali membingungkan orang-orang. Sebuah teka-teki pada zamanya. Pada abad pertama di Israel, para pemungut cukai tidak memiliki status dalam masyarakat Yahudi. Mereka dihina karena mereka bekerja untuk kekaisaran Roma dan biasanya mereka memperagakan kekayaan pribadi yang mencolok, tentunya lewat “pemerasan” atas diri anggota masyarakat. Di sisi lain pilihan Matius atas diri Yesus juga sama penuh teka-tekinya. Perubahan dirinya yang secara mendadak, dari seorang pemungut cukai yang tidak patut dipercaya menjadi seorang murid yang penuh gairah tentunya mengejutkan setiap orang yang mengenalnya. Mengapa dia mau melepaskan pekerjaannya yang “basah” itu demi mengikuti seorang tukang kayu dari Nazaret yang menjadi seorang rabi? Tentunya, dalam hal ini “uang” bukanlah motifnya!

Keputusan Matius untuk meninggalkan segalanya memberikan petunjuk kepada kita mengapa Yesus memanggil dirinya. Yesus memandang ke dalam hati Matius dan melihat di hati itu adanya rasa haus dan lapar akan Allah dan potensi untuk mengenali harta surgawi. Matius membuktikan Yesus benar ketika Dia menerima undangannya untuk merayakan kehidupan barunya dalam sebuah perjamuan di rumahnya, di mana para pemungut cukai yang lainpun dan orang-orang berdosa dapat bertemu dengan Tuhan (Mat 9:10).

Sejak saat itu, Matius tak henti-hentinya menawarkan harta-kekayaan Injil yang tak ternilai harganya itu secara bebas-biaya, semua free-of-charge. Tradisi mengatakan bahwa Matius mewartakan Kabar Baik Yesus Kristus di tengah-tengah orang-orang Yahudi selama 15 tahun setelah kebangkitan Yesus, kemudian dia pergi ke Makedonia, Siria dan Persia. Di Persia inilah dikatakan  bahwa Matius mengalami kematian sebagai martir Kristus.

Iman dan devosi yang terbukti nyata dalam diri Matius adalah kualitas-kualitas pribadi yang diinginkan oleh Yesus dari kita juga yang hidup pada zaman modern ini. Jangan ragu-ragu! Apabila Allah dapat mengubah Matius, Petrus dan yang lainnya menjadi rasul-rasul, bayangkanlah apa yang dapat dilakukan-Nya atas diri kita. Yesus dapat mengangkat segala halangan yang merintangi diri kita untuk dipakai oleh-Nya. Yang diminta-Nya hanyalah bahwa kita percaya pada kasih-Nya yang penuh kerahiman dan kita menaruh kepercayaan pada kuat-kuasa dan rahmat-Nya.

DOA:  Tuhan Yesus, di atas segalanya, kuingin mengenal dan mengalami kasih-Mu, yang melampaui segala sesuatu yang ada. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Mat 9:9-13), bacalah tulisan yang berjudul “MATIUS SI PEMUNGUT CUKAI” (bacaan tanggal 21-9-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2011. 

Cilandak, 20 September 2017 [Peringatan S. Andreas Kim Taegon, Imam dan Paulus Chong Hasang, dkk. Martir Korea] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

KITA PUN SERINGKALI SEPERTI ANAK-ANAK ITU

KITA PUN SERINGKALI SEPERTI ANAK-ANAK ITU

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Andreas Kim Taegon, Imam dan Paulus Chong Hasang dkk., Martir Korea – Rabu, 20 September 2017)

 

Kata Yesus, “Dengan apakah akan Kuumpamakan orang-orang zaman ini dan dengan apakah mereka dapat disamakan? Mereka itu seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan yang saling menyerukan: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak menangis. Karena Yohanes Pembaptis datang, ia tidak makan roti dan tidak minum anggur, dan kamu berkata: Ia kerasukan setan. Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan kamu berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Tetapi hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya.” (Luk 7:31-35) 

Bacaan Pertama: 1Tim 3:14-16; Mazmur Tanggapan: Mzm 111:1-6 

Banyak orang pada zaman Yesus menolak ajaran-Nya maupun ajaran Yohanes Pembaptis. Nampaknya tidak ada yang cocok dengan “selera” mereka. Ini adalah orang-orang yang diibaratkan Yesus sebagai anak-anak yang susah dibuat senang, tidak berbahagia dengan apa pun juga. Ketika Yohanes Pembaptis hidup dalam kesederhanaan dan mewartakan sebuah pesan pertobatan, mereka memandang dia sebagai orang yang terlalu keras dan terlalu menuntut. Namun, ketika Yesus makan bersama orang-orang berdosa dan menunjukkan belas kasihan-Nya kepada mereka, mereka menilai diri-Nya terlalu mudah/gampangan dalam bergaul dengan orang-orang. O, betapa seringkali “ngaco” hati mereka itu. Apa pun yang tidak sesuai dengan “selera” mereka berarti salah!

Orang-orang yang tergolong generasi Yesus mempunyai preconceived ideas mereka sendiri perihal ide-ide pribadi macam apa Mesias itu, dan Yesus tidak cocok …, tidak pas dengan pengharapan mereka. Orang-orang itu terbelenggu oleh pandangan mereka sendiri tentang segala sesuatu. Sebagai orang-orang yang sebenarnya mempunyai kesempatan untuk mengenal Yesus, mereka malah tidak ingin mengakui Yesus atau menyambut tindakan Allah melalui diri Yesus. Mereka tetap terikat pada penilaian mereka sendiri dan pandangan mereka sendiri, seperti anak-anak yang keras kepala dalam bacaan Injil hari ini. Sebagai akibatnya, mereka luput menerima sentuhan kasih-Nya.

Sekarang, baiklah kita bertanya kepada diri kita sendiri, berapa sering kita bertindak seperti anak-anak tersebut. Barangkali kita sudah mengambil keputusan sampai berapa banyak Allah dapat meminta sesuatu dari diri kita; dengan demikian kita pun telah menutup pintu kita terhadap apa saja lagi yang diminta-Nya. Barangkali kita telah memperkenankan sebuah relasi yang baik dirusak karena kita tidak mau mengalah atas perkara yang sebenarnya tidak penting. Barangkali kita tidak memberikan kesempatan kepada pasangan hidup kita untuk membuktikan bahwa dia telah berubah karena kita tidak mau menerima permintaan maafnya. Barangkali kita telah menghakimi pastor paroki kita dengan keras karena pernyataan yang dibuatnya dalam sebuah homili Misa hari Minggu. Berapa banyak dan sering kita kehilangan kesempatan untuk mempunyai seorang teman baru karena kita tidak menyukai caranya berpakaian? Dlsb., dsj.

Bilamana kita menutup diri kita terhadap orang-orang lain berdasarkan prakonsepsi- prakonsepsi kita, penilaian-penilaian yang keliru, dan prasangka-prasangka, maka kita tidak saja membuat mereka menderita, kita pun menderita karenanya. Walaupun Yesus mengakui kekerasan hati dari mereka yang menentang diri-Nya, Dia tahu bahwa hikmat Allah pada akhirnya akan membuktikan keabsahan dalam kehidupan orang-orang yang menerima-Nya (Luk 7:35). Oleh karena itu, marilah kita mohon kepada Roh Kudus untuk melembutkan hati kita masing-masing dan membebaskan kita dari prasangka-prasangka buruk dan miskonsepsi-miskonsepsi yang selama ini membelenggu diri kita. Marilah kita mencari Tuhan setiap hari untuk mendapatkan hikmat-Nya dan mengenal serta mengalami hidup-Nya  dalam diri kita.

DOA: Yesus, bukalah mata (-hati)ku agar dengan demikian aku dapat melihat siapa sesungguhnya Dikau sebagai Tuhan dan Mesias (Kristus). Singkirkanlah setiap rintangan dalam hatiku supaya aku dapat menerima hidup-Mu dalam diriku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Tim 3:14-16), bacalah tulisan dengan judul “JEMAAT ALLAH, DASAR DAN PENOPANG KEBENARAN” (bacaan tanggal 20-9-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 17-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2017. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak, 19 September 2017 [Peringatan S. Fransiskus Maria dr Camporosso, Biarawan] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

PERWUJUDAN KASIH ALLAH DI DEKAT PINTU GERBANG KOTA NAIN

PERWUJUDAN KASIH ALLAH DI DEKAT PINTU GERBANG KOTA NAIN

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIV – Selasa, 19 September 2017)

Keluarga Fransiskan: Peringatan S. Fransiskus Maria dr Camporosso, Biarawan

Segera setelah itu Yesus pergi ke suatu kota yang bernama Nain. Murid-murid-Nya pergi bersama-sama dengan Dia, dan juga orang banyak menyertai-Nya berbondong-bondong. Setelah Ia dekat pintu gerbang kota, ada orang mati diusung ke luar, anak laki-laki, anak tunggal ibunya yang sudah janda, dan banyak orang dari kota itu menyertai janda itu. Ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya, “Jangan menangis!” Sambil menghampiri usungan itu Ia menyentuhnya, dan sedang para pengusung berhenti, Ia berkata, “Hai anak muda, aku berkata kepadamu, bangkitlah!” Orang itu pun bangun dan duduk serta mulai berkata-kata, lalu Yesus menyerahkannya kepada ibunya. Semua orang itu ketakutan dan mereka memuliakan Allah, sambil berkata, “Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita,” dan “Allah telah datang untuk menyelamatkan umat-Nya.” Lalu tersebarlah kabar tentang Yesus di seluruh Yudea dan di seluruh daerah sekitarnya. (Luk 7:11-17) 

Bacaan Pertama: 1Tim 3:1-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 101:1-3,5-6

Santo Lukas, penulis peristiwa “Yesus membangkitkan anak muda di Nain” ini, adalah seorang tabib (dokter zaman dahulu). Dalam semangat profesinya yang sejati, dia adalah seorang pribadi yang sangat sensitif terhadap penderitaan sesama manusia. Itulah sebabnya mengapa Lukas memberi lebih banyak perhatian pada keadaan menyedihkan dari sang janda yang baru kehilangan anak laki-lakinya yang adalah seorang anak tunggal, daripada mukjizat Yesus membangkitkan anak laki-laki tersebut.

Anak laki-laki tunggal dari janda itu mati dalam usia muda. Pada waktu itu tidak ada pensiun untuk para janda, tidak ada asuransi jiwa, tidak ada santunan dalam rangka kesejahteraan sosial, dan tidak ada pekerjaan yang menarik bagi pada perempuan. Kehidupan dapat menjadi sangat berat dan keras bagi seorang janda yang berumur  separuh baya.

Yesus cepat sekali menyadari tragedi situasinya. Lukas mencatat singkat: “Ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan” (Luk 7:13), lalu Dia berkata kepada janda itu untuk tidak menangis. Lalu Yesus memberikan kehidupan kepada orang muda tersebut, anak satu-satunya dari sang janda.

Apa sebenarnya pesan dari Injil hari ini? Tentunya tentang bela rasa dan penuh-pengertian Kristus terhadap seorang pribadi manusia yang sangat membutuhkan pertolongan, walaupun tidak diungkapkan dengan kata-kata. Dengan demikian, bagi sang janda, realitas dari kasih Allah tidak pernah lagi sekadar teori. Janda dari Nain itu sungguh mengalami kasih Allah itu secara riil.

Dan pada hari ini – bagaimana kasih Allah dibuat riil pada hari ini? Tidak ada cara lain kecuali lewat diri kita masing-masing yang adalah Tubuh Kristus. Bagi orang-orang sakit, orang-orang lansia, orang-orang miskin, bagi siapa saja yang membutuhkan pertolongan – kasih Kristus menjadi riil/nyata hanya melalui bela-rasa kita, kebaikan hati kita, pertolongan kita untuk memenuhi berbagai kebutuhan mereka.

Kita harus bertanya kepada diri kita sendiri sampai berapa dalam kesadaran kita akan berbagai kebutuhan orang-orang di sekeliling kita. Kebutuhan-kebutuhan mereka mungkin tidak besar – mungkin yang mereka butuhkan adalah sepatah kata penghiburan atau malah hanya sebuah senyum yang tulus – mungkin mereka butuh didengarkan dengan kesabaran dan penuh pengertian. Walaupun dalam hal-hal sederhana seperti itu, kehadiran kita bagi mereka dapat berarti pengalaman akan kasih Kristus, dan inilah yang penting.

DOA: Tuhan Yesus, tanamkanlah kesadaran dalam diriku senantiasa, bahwa tangan-tanganku dan kaki-kakiku adalah perpanjangan dari tangan-tangan-Mu dan kaki-kaki-Mu, dalam segala tindakan yang kulakukan sebagai anggota Tubuh-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 7:11-17), bacalah tulisan yang berjudul “SEMUA ORANG ITU KETAKUTAN DAN MEREKA MEMULIAKAN ALLAH” (bacaan tanggal 19-9-17) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori:  17-09 PERMENUNGAN ALKITABIAH SEPTEMBER 2017. 

Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak,  18 September 2017 [Peringatan S. Yosef dr Copertino, Imam] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS