GEREJA KRISTUS DIBANGUN DI ATAS BATU KARANG PENGAKUAN IMAN PETRUS

GEREJA KRISTUS DIBANGUN DI ATAS BATU KARANG PENGAKUAN IMAN PETRUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, PESTA TAKHTA SANTO PETRUS, RASUL – Kamis, 22 Februari 2018)

Setelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya, “Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?” Jawab mereka, “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, yang lain mengatakan: Elia dan yang lain lagi mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi.” Lalu Yesus bertanya kepada mereka, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Jawab Simon Petrus, “Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Kata Yesus kepadanya, “Berbahagialah engkau Simon anak Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di surga. Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya, kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di surga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di surga.” (Mat 16:13-19) 

Bacaan Pertama: 1Ptr 5:1-4; Mazmur Tanggapan: Mzm 23:1-6 

Pada “Pesta Takhta Santo Petrus, Rasul” yang kita rayakan pada hari ini, tema IMAN  jelas terasa dalam liturgi Gereja. Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa iman kepada Yesus sebagai “Mesias” (Kristus) dan “Putera (Anak) Allah yang hidup” (Mat 16:16) terletak pada jantung pelayanan Petrus sebagai kepala Gereja di atas bumi dan uskup pertama Roma. Pesta hari ini merayakan iman itu dan menunjuk pada pelayanan Petrus.

Gereja Kristus dibangun di atas batu karang pengakuan iman Petrus. Iman Petrus bahwa Yesus adalah Mesias dan Putera Allah merupakan pemberian Allah sendiri. Tidak ada seorang pun manusia menyatakan ini kepadanya; hal ini diberikan oleh Bapa surgawi sendiri! (Mat 16:17). Iman yang teguh-kokoh kepada Kristus ini merupakan fondasi di atas mana Gereja dibangun, bahkan sampai pada hari ini. Kemampuan Petrus (dan semua penggantinya) untuk menggembalakan kawanan domba seturut cara Kristus tergantung pada iman sedemikian – baik iman sang gembala maupun iman kawanan dombanya.

Iman Petrus kepada Yesus adalah iman yang diajarkan Petrus kepada Gereja; iman yang membawa kita kepada Kerajaan kekal abadi. Tidak ada sesuatu pun di atas bumi yang berkaitan dengan Takhta Petrus – kebesarannya, otoritasnya, bahkan pelayanannya – dapat membawa kita kepada Kerajaan ini kalau tidak bertumpu dan memancar dari batu karang iman.

Gereja dalam pesta ini merenungkan pentingnya jabatan-mengajar Petrus dan juga bagaimana sentralnya iman kepada Yesus dalam jabatan ini. Ini adalah dasar pelayanan Petrus dan para penggantinya, dan untuk kesejahteraan kawanan domba yang digembalakan mereka. Pesta ini harus mendorong kita memeriksa diri kita sendiri apakah kita menghargai karunia pelayanan Petrus kepada Gereja yang diberikan oleh Kristus. Selagi para gembala membawa kawanannya kepada Kristus, apakah kita memiliki hasrat untuk mengikuti jalan Kristus? Selagi Petrus dan para penggantinya memproklamasikan kebenaran Kristus dan bagaimana Dia ingin kita menjalani kehidupan kita seturut kehendak-Nya, apakah kita mendengarkan apa yang mereka ajarkan?

DOA: Bapa surgawi, Allah yang Mahapengasih, kami berdoa untuk Paus Fransiskus yang sekarang duduk di takhta Petrus dan para penggantinya nanti. Berkatilah pelayanan setiap Paus  dan topanglah dia dalam kebenaran selagi dia menggembalakan umat – kawanan dombanya – menuju Kerajaan kekal abadi. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 16:13-19), bacalah tulisan yang berjudul “PETRUS YANG DIPILIH OLEH YESUS” (bacaan tanggal 22-2-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak, 18 Februari  2018 [HARI MINGGU PRAPASKAH I – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements

TANDA NABI YUNUS ???

TANDA NABI YUNUS ???

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Prapaskah – Rabu, 21 Februari  2018)

Ketika orang banyak mengerumuni-Nya, berkatalah Yesus, “Orang-orang zaman ini adalah orang jahat. Mereka meminta suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda Nabi Yunus. Sebab seperti Yunus menjadi tanda untuk orang-orang Niniwe, demikian pulalah Anak Manusia akan menjadi tanda untuk orang-orang zaman ini. Pada waktu penghakiman, ratu dari Selatan itu akan bangkit bersama orang-orang zaman ini dan ia akan menghukum mereka. Sebab ratu ini datang dari ujung bumi untuk mendengarkan hikmat Salomo, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Salomo! Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama orang-orang zaman ini dan mereka akan menghukumnya. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat waktu mereka mendengarkan pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Yunus!”  (Luk 11:29-32) 

Bacaan Pertama: Yun 3:1-10; Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-4,12-13,18-19 

Apakah yang dimaksudkan oleh Yesus dengan “tanda Nabi Yunus”? Injil Lukas memahami tanda ini sebagai pewartaan atau pemberitaan tentang pertobatan (Luk 11:29,32). Tidak seperti penulis Injil Matius, dia tidak membuat allusi kepada Yunus yang tiga hari tiga malam lamanya berada dalam perut ikan paus (lihat Mat 12:40).

Yesus mengatakan kepada orang banyak yang mengikuti-Nya, bahwa tanda satu-satunya yang akan diberikan oleh-Nya adalah tanda Nabi Yunus. Ia sendiri sebenarnya cukup sebagai tanda bagi mereka, seperti Yunus adalah sebuah tanda bagi orang-orang Niniwe. Pada waktu Yunus datang membawakan berita pertobatan yang sederhana kepada penduduk kota kafir ini, maka mereka menanggapi pemberitaannya dengan melakukan pertobatan secara mendalam dan iman yang mendalam kepada Allah. Yesus mewartakan pesan pertobatan yang sama kepada orang banyak yang mengikuti-Nya. Dengan menyebut mereka “generasi jahat” (lihat Luk 11:29) Yesus mengingatkan mereka, bahwa mereka akan dihakimi untuk kekerasan-kepala dan ketidak-percayaan mereka. Siapa yang menghakimi? Orang-orang Niniwe yang telah bertobat karena pemberitaan Yunus, karena “sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Yunus” (Luk 11:32).

Kata “tanda” mengacu pada sebuah peringatan atau petuah, juga dapat berarti suatu tanda atau indikasi tentang “alam surgawi”. Yesus adalah “tanda” untuk generasi-Nya karena Dia membawa Kerajaan Allah, “alam surgawi”, ke tengah-tengah orang banyak. Dalam ajaran-ajaran dan tindakan-tindakan-Nya, Yesus adalah contoh paling sempurna, dia menantang ketidak-kudusan dengan hidup-nya yang murni dan kudus sebagai Putera Allah. Setiap hal yang dilakukan dan dikatakan Yesus menunjuk pada Bapa-Nya. Jauh lebih daripada Yunus, Yesus adalah suatu “tanda” yang mewujudkan Kerajaan Allah dan menyerukan agar orang-orang untuk melakukan pertobatan. Kehadiran-Nya membuat setiap orang berada dalam situasi krisis, karena sebagai Terang Dunia Yesus mengungkap kondisi hatinya yang terdalam. “Tanda” ini dimaksudkan untuk memanggil orang-orang kembali kepada Allah.

Yesus adalah suatu “tanda” bagi kita pada zaman ini juga. Kata-kata-Nya (sabda-Nya; firman-Nya) masih dapat dibaca dalam Kitab Suci. Firman-Nya itu memiliki kuat-kuasa yang sama bagi kita seperti dua ribu tahun lalu, karena diberdayakan oleh Roh Allah yang kekal-abadi. Marilah kita renungkan apa yang ditulis dalam “Surat kepada Orang Ibrani” : “… firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam daripada pedang bermata dua mana pun; ia menusuk sangat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup menilai pikiran dan niat hati kita” (Ibr 4:12). Marilah kita memperkenankan firman Yesus menjadi pedang ini, yang memotong sampai ke hati-terdalam kita dan mengungkapkan tanggapan terhadap Allah yang seharusnya kita buat.

DOA: Tuhan Yesus, perkenankanlah Roh Kudus-Mu membuat hatiku tidak keras-alot terhadap-Mu. Tembuslah hatiku dengan firman-Mu agar aku dapat menanggapi pesan pertobatan yang Kauberitakan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 11:29-32), bacalah tulisan yang berjudul “MEREKA MEMINTA SUATU TANDA” (bacaan tanggal 21-2-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2009) 

Cilandak, 18 Februari 2018 [HARI MINGGU PRAPASKAH I – TAHUN B] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

DOA BAPA KAMI YANG DIWARISKAN OLEH YESUS SENDIRI

DOA BAPA KAMI YANG DIWARISKAN OLEH YESUS SENDIRI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan I Prapaskah – Selasa, 20 Februari 2018)

Lagi pula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa dengan banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi, janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya. Karena itu, berdoalah demikian: Bapa kami yang di surga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga. Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami daripada yang jahat. [Karena Engkaulah yang punya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.]

Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di surga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.” (Mat 6:7-15) 

Bacaan Pertama: Yes 55:10-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 34:4-7,16-19

Kadang-kadang kita dibuat sadar bahwa kata-kata Yesus yang paling sederhana juga berisikan jawaban terhadap keadaan-keadaan kehidupan kita yang paling menantang. Demikian pula dengan doa “Bapa Kami” ini. Karena sedemikian seringnya kita mendoakan doa yang diajarkan oleh Yesus sendiri ini, maka kita dapat saja luput menangkap maknanya yang begitu kaya.

Mendoakan doa “Bapa Kami” dapat membawa pengharapan kepada kita dan juga kesembuhan  Doa ini juga dapat membuka pintu bagi suatu relasi yang lebih mendalam dengan Allah, suatu relasi yang dapat menjadi begitu mendalam sehingga mencerminkan kasih dan keintiman antara Yesus dan Bapa-Nya. Melalui doa ini, kita semua dapat mengalami berkat yang indah: Allah menawarkan kepada kita kasih-Nya, yaitu kasih sama dengan yang diberikan-Nya kepada Yesus, Putera-Nya yang terkasih (lihat Yoh 17:26).

Kata-kata pertama dari doa ini, “Bapa kami”, memperkenalkan kita kepada kasih Allah bagi kita. Dapatkah kita membayangkan seorang pribadi yang begitu berkuasa di dunia ini menawarkan diri untuk memelihara serta memperhatikan segala kebutuhan kita, sebagai anak-anaknya? Namun TUHAN semesta alam, yang kilat-kilat-Nya menerangi dunia dan yang keadilan-Nya diberitakan oleh surga/ langit (Mzm 97:4-6), …… Ia mengundang kita semua untuk memanggil diri-Nya “Bapa”. Betapa kecil pun kita merasakan diri kita di hadapan-Nya, betapa tidak berartinya kita, betapa tidak berharganya, faktanya adalah bahwa kita adalah anak-anak-Nya yang sungguh sangat berharga di mata Dia, sangat dikasihi-Nya, sejak permulaan waktu.

Manakala kita mengatakan “jadilah kehendak-Mu”, kita tidak sekadar menyerahkan diri kita kepada “seorang” Allah yang suka mengambil keputusan dengan sewenang-wenang. Sebaliknyalah, dengan mengatakan “jadilah kehendak-Mu” kita secara aktif merangkul segalanya yang telah disediakan oleh Bapa untuk kita. Kita menaruh kepercayaan kita dalam diri seorang pribadi yang rencana-Nya bagi kita jauh melampaui harapan kita yang seringkali terbatas. Selagi kita mengalami iman seperti ini, kita pun belajar tentang kebenaran janji-janji Allah. Ia menunjukkan kepada kita, hari lepas hari, bahwa rencana-rencana-Nya bagi kita adalah untuk/demi kebaikan kita, “yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepada kita hari depan yang penuh harapan” (lihat Yer 29:11).

Allah, Bapa surgawi, tidak pernah meninggalkan kita dan tidak pernah Dia merencanakan sesuatu yang jahat atas diri kita, sesuatu yang akan mencelakakan diri kita. Kasih-Nya sempurna. Oleh karena itu, hari ini selagi kita berdoa “Bapa kami”, baiklah kita mohon kepada Roh Kudus untuk membawa kita kepada suatu relasi yang lebih mendalam lagi dengan Allah. Kita adalah anak-anak-Nya yang sangat dikasihi-Nya, dan hanya Dialah yang dapat memenuhi semua kebutuhan dan harapan kita. Daripada percaya kepada segala sumber daya  kita sendiri yang serba terbatas, marilah kita mencari pertolongan-Nya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita hari ini. Pada waktu kita berdoa, baiklah kita mohon agar diberikan hati seperti Hati Yesus, selagi kita mengatakan “jadilah kehendak-Mu”.

DOA: Roh Kudus Allah, ajarlah kami untuk berdoa seperti yang diajarkan Yesus kepada kami. Bukalah diri kami agar dapat sampai pada suatu relasi yang lebih mendalam dengan Bapa surgawi. Penuhilah diri kami dengan pengetahuan akan martabat kami sebagai anak-anak-Nya yang sangat dikasihi-Nya. Oleh kuasa-Mu, mampukanlah kami untuk menyerahkan hidup kami ke dalam pemeliharaan-Nya yang penuh kasih. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 6:7-15), bacalah tulisan yang berjudul “SEBUAH DOA YANG DIAJARKAN OLEH YESUS SENDIRI KEPADA PARA MURID-NYA” (bacaan tanggal 20-2-18) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2018.

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2010)

Cilandak, 18 Juni 2018 [HARI MINGGU PRAPASKAH I – TAHUN B]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

MELIHAT YESUS DALAM DIRI ORANG-ORANG KECIL DAN MENDERITA

MELIHAT YESUS DALAM DIRI ORANG-ORANG KECIL DAN MENDERITA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari biasa Pekan I Prapaskah – Senin, 19 Februari 2018)

 

“Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya. Lalu semua bangsa akan dikumpulkan di hadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seorang dari yang lain, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing, dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya. Lalu Raja itu akan berkata kepada mereka yang di sebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu menjenguk aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku. Lalu orang-orang benar itu akan menjawab Dia, Tuhan, kapan kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum? Kapan kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian? Kapan kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau? Raja itu akan menjawab mereka: Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah disediakan untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya. Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum; ketika Aku seorang seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak menjenguk Aku. Lalu mereka pun akan menjawab Dia, Tuhan, kapan kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau? Ia akan menjawab mereka: Sesungguhnya Aku berkata, segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku. Orang-orang ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal.” (Mat 25:31-46) 

Bacaan Pertama: Im 19:1-2,11-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 19:8-10,15

Adalah seorang eksekutif muda di Jakarta – katakanlah namanya Budiono yang sering dipanggil Budi – yang sudah  cukup lama merasa gelisah karena kehidupan spiritualnya. Budi merasa bahwa dirinya selama beberapa bulan belakangan ini sering diingatkan bahwa dia hanya “baik” pada hari Minggu saja, yaitu ketika menghadiri Misa Kudus, padahal di hari-hari lainnya dirinya tidaklah demikian. Kemudian Budi memutuskan bahwa sudah tibalah saat baginya untuk membuat perubahan. Pada suatu pagi hari dia berdoa yang intinya adalah sebagai berikut: “Tuhan Yesus, nyatakanlah kehadiran-Mu kepadaku secara ajaib pada hari ini.” Doanya sangat intens dan dipenuhi pengharapan, dan dia juga merasakan bahwa sesuatu yang penting akan terjadi dengan berjalannya waktu pada hari itu. Dengan demikian, Budi pun menyiapkan hari itu dengan ekspektasi yang besar.

Benar saja, sesuatu pun terjadi! Pada waktu Budi ke luar dari mobilnya di tempat parkir dekat kantornya, seorang laki-laki tua mendekatinya dan berkata, “Pak, saya orang baru di kota Jakarta. Dapatkah Bapak menunjukkan kepada saya di manakah apotik yang terdekat?” Tugas itu tidak susah, sehingga permintaan orang itu pun dikabulkan oleh Budi dengan baik. Ia menghantarkan orang tua itu sampai ke pinggir jalan besar dan menunjukkan apotik yang memang terletak tidak jauh dari tempat itu. Kemudian, pada jam makan siang, seorang rekan kerjanya (perempuan) mengatakan kepada Budi bahwa dia “merasa tidak enak badan” dan berencana untuk pergi ke dokter setelah makan siang. Rekan kerjanya itu berkata kepada Budi: “Mas Bud, doakan aku, ya!” Budi pun meyakinkan rekan-kerjanya itu bahwa dia akan mendoakannya. Dan ia memang kemudian berdoa untuk pemulihan kesehatan teman perempuannya itu. Pada sore harinya ketika menuju tempat parkir, Budi bertemu dengan seorang teman sekolahnya di SMA Kanisius dulu yang sudah kehilangan pekerjaannya sejak tiga bulan sebelumnya. Budi mengajak temannya itu ke ATM yang tidak jauh dari situ dan “meminjamkan sejumlah uang” sesuai permintaan temannya itu. Pada malam harinya Budi merenungkan apa saja yang telah terjadi dengan dirinya. Kelihatan seakan doanya belum dikabulkan, namun kegalauan spiritualnya sudah terasa terobati.

Yesus mengatakan kepada kita, bahwa Dia hadir manakala kita menyambut orang-orang asing, manakala kita membantu serta merawat orang-orang sakit, manakala kita membantu mereka yang membutuhkan pertolongan. Akan tetapi Budi percaya bahwa doanya untuk mengalami kehadiran Yesus pada hari itu tidak memperoleh jawaban. Barangkali doanya dijawab, namun dengan cara-cara yang begitu biasa sehingga luput dari persepsi si Budi yang memegang ijazah S2 bidang administrasi bisnis dari NYU ini. Maklum kehidupan spiritualnya belumlah seperti kehidupan spiritual orang kudus seperti Santa Teresa dari Lisieux [1873-1897] yang dianugerahi kemampuan untuk melihat karya kasih Allah dalam hal-hal yang kecil sekali pun.

Nah, Saudari dan Saudaraku! Kita mungkin tergoda untuk memandang diri kita sebagai seorang kudus yang super, padahal yang diminta Allah adalah, bahwa kita menjadi orang Kristiani yang lebih baik dari hari ke hari. Hal ini justru terjadi melalui/pada peristiwa-peristiwa yang terasa sepele dalam kehidupan kita. Justru dalam hal-hal yang kelihatan/terasa sepele itulah – dengan bantuan rahmat Allah – kita diberi kesempatan untuk menikmati betapa baik Allah itu…… sungguh menakjubkan! Tindakan kasih Allah lewat para saksi-Nya di tengah-tengah umat-Nya seringkali luput dari pandangan mata hati kita karena kita cenderung mengagumi hal-hal yang bersifat spektakuler, bukan hal-hal yang sepele tanpa arti. Kita tidak jarang berkata, “Wah hebat sekali Romo A atau Pendeta B itu, begitu banyak orang sakit yang disembuhkannya”. Tak sengaja kita pun cukup sering mengagung-agungkan Romo atau Pak Pendeta, bukan Yesus! Di lain pihak kita memandang remeh atau biasa-biasa saja seorang imam cukup tua-usia yang  khotbah-khotbahnya tidak “jos”, namun begitu setia setiap hari melayani umat, bepergian dengan mengendara sepeda ontelnya, dan dia melayani umat yang menderita sakit-penyakit tanpa banyak mengeluh. Dia  bukan doktor teologi lulusan Jerman atau Roma, namun sangat menghayati tugasnya sebagai pelayan Kristus – sang Gembala Baik. Tanpa banyak kesempatan untuk membaca buku-buku, Romo ini memahami betul arti sejati dari SERVANTHOOD. Boro-boro memiliki smart-phone android atau akrab dengan istilah-istilah jejaring sosial seperti WA, Instagram face-book atau twitter; selain “gaptek”,  yang ada dalam hati dan pikirannya hanyalah melayani Kristus dalam diri orang-orang kecil dan menderita dalam masyarakat yang semrawut  dan penuh penderitaan ini. Dari wajahnya terpancarlah kasih Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita! Dengan demikian, ia adalah seorang alter Christus, seperti yang diinginkan Yesus sendiri.

Memang Yesus seringkali adalah tamu yang terkamuflase. Santo Fransiskus dari Assisi, misalnya, berjumpa dengan Kristus dalam diri seorang kusta di tengan jalan. Kita seringkali berdoa agar terjadi mukjizat-mukjizat, namun sebenarnya yang perlu kita minta dalam doa kita adalah agar diberikan KASIH itu sendiri – suatu mukjizat tanpa tandingan!

DOA: Tuhan Yesus yang baik, Engkau yang tersembunyi dalam diri orang-orang kecil dan menderita dalam masyarakat. Engkau senantiasa membuat diri-Mu miskin sehingga kami menjadi kaya. Tolonglah kami agar pada hari ini, kami dapat mengenali-Mu. Terima kasih Tuhan. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 25:31-46), bacalah tulisan yang berjudul “TERIMALAH KERAJAAN YANG TELAH DISEDIAKAN BAGIMU SEJAK DUNIA DICIPTAKAN” (bacaan tanggal 19-2-18), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2018.

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak,  17 Februari 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

SUATU PERJANJIAN YANG BARU

SUATU PERJANJIAN YANG BARU

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU PRAPASKAH I [Tahun B] 18 Februari 2018)

Segera sesudah itu Roh memimpin Dia ke padang gurun. Di padang gurun itu selama empat puluh hari Ia dicobai oleh Iblis. Ia tinggal bersama dengan binatang-binatang liar dan malaikat-malaikat melayani Dia.

Sesudah Yohanes ditangkap datanglah Yesus ke Galilea memberitakan Injil Allah, kata-Nya, “Saatnya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” (Mrk 1:12-15)

Bacaan Pertama: Kej 9:8-15; Mazmur Tanggapan: Mzm 25:4-9; Bacaan Kedua: 1Ptr 3:18-22

Sebelum dunia dijadikan, Allah mengenal kita, mengasihi kita dan Dia memanggil kita untuk mengenal dan mengasihi-Nya. Perjanjian Lama menggambarkan sejumlah perjanjian yang dibuat Allah dengan umat-Nya untuk menyiapkan mereka agar dapat menerima kehidupan-Nya secara lebih penuh. Akan tetapi, lagi-lagi umat Allah gagal memelihara perjanjian Allah dengan mereka. Sebagai konsekuensinya, mereka memisahkan diri dari kasih Allah dan perlindungan-Nya.

Namun demikian Allah sedemikian mengasihi dunia sehingga ketika saat-Nya tiba Dia mengutus Anak-Nya yang tunggal, untuk mengajar, untuk menyembuhkan mereka yang sakit dan akhirnya untuk mati; dengan demikian mengadakan perjanjian yang baru dan kekal dalam darah-Nya. Ini adalah perjanjian baru yang dijanjikan oleh Allah melalui nabi Yehezkiel: “Kamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat. Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya”  (Yeh 36:26-27).

Kita masuk ke dalam perjanjian yang baru ini pada waktu dibaptis; dan lewat hidup iman kita memperkenankan Roh Kudus untuk mempersatukan kita dengan Yesus lebih penuh lagi setiap hari. Kita menjadi ciptaan baru dalam Kristus. Dengan mati bersama Dia, bukan kita lagi yang hidup, tetapi Kristus yang hidup dalam diri kita (lihat Gal 2:20).

Mukjizat baptisan ke dalam suatu perjanjian yang baru ini telah digambarkan jauh hari sebelumnya oleh Perjanjian  Lama dengan banyak cara. Akan tetapi tidak ada yang lebih berwarna-warni daripada kisah Nuh (lihat bacaan pertama: Kej 9:8-15; baca juga keseluruhan Kej 6-9). Dari hari-hari awalnya, Gereja telah melihat dalam banjir yang dikisahkan itu suatu jenis air baptis, yang menyingkirkan dosa-dosa daging dan memberikan umat manusia suatu awal yang baru.

Yang dimaksudkan dengan awal baru kita dalam baptisan adalah keikutsertaan dalam hidup Yesus sendiri. Seperti ketika Yesus dicobai di padang gurun selama 40 hari, kita juga akan mengalami saat pencobaan dan pertumbuhan. Allah memberikan kepada kita saat-saat seperti itu untuk mengajarkan kita melakukan penyerahan diri kita kepada-Nya secara lebih penuh, dan menunjukkan betapa setia Dia pada janji-janji-Nya. Dia begitu mengasihi kita sehingga tak akan pernah membuang kita. Yang diminta oleh-Nya hanyalah bahwa kita menaruh kepercayaan kepada-Nya – seperti telah ditunjukkan oleh Nuh dan keluarganya – untuk menjaga kita di tengah-tengah hujan badai.

DOA: Bapa surgawi, ucapkanlah kata-kata perjanjian cinta kasih-Mu kepada kami pada saat teduh ini. Oleh Roh-Mu tolonglah kami untuk menaruh kepercayaan secara lebih penuh kepada-Mu, sehingga – seperti Putera-Mu Yesus, kami dapat menjadi bentara-bentara kerajaan-Mu di muka bumi ini. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 1:12-15), bacalah tulisan yang berjudul “SAATNYA TELAH GENAP; KERAJAAN ALLAH SUDAH DEKAT” (bacaan tanggal 18-2-18), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2018. 

Cilandak,  15 Februari 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

YESUS DATANG UNTUK MENGUBAH HATI PARA PENDOSA

YESUS DATANG UNTUK MENGUBAH HATI PARA PENDOSA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Sabtu sesudah Rabu Abu – 17 Februari 2018)

Kemudian, ketika Yesus pergi ke luar, Ia melihat seorang pemungut cukai, yang  bernama Lewi, sedang duduk di tempat pemungutan cukai. Yesus berkata kepadanya, “Ikutlah Aku!” Lewi pun bangkit dan meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Dia.

Kemudian Lewi mengadakan perjamuan besar untuk Dia di rumahnya dan sejumlah besar pemungut cukai dan orang-orang lain turut makan bersama-sama dengan Dia. Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bersungut-sungut kepada murid-murid Yesus, katanya, “Mengapa kamu makan dan minum bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Lalu jawab Yesus kepada mereka, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.” (Luk 5:27-32) 

Bacaan Pertama: Yes 58:9b-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 86:1-6

“Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.” (Luk 5:31-32)

Lewi memang seorang pendosa. Dia adalah seorang pemungut cukai dan di Israel pada waktu itu dia akan dipandang sebagai yang paling rendah dari orang-orang rendah dalam masyarakat. Hampir semua pemungut cukai pada masa itu dikenal sebagai bajingan karena mengambil keuntungan untuk diri sendiri dalam menjalankan tugasnya. Kalau begitu, mengapa Yesus bisa-bisanya minta kepada orang sedemikian untuk mengikuti-Nya. Alasan Yesus sama seperti yang diberikan-Nya kepada para lawannya: Dia datang untuk mengubah hati para pendosa.

Memang perubahan inilah yang terjadi! Perubahan dalam diri Lewi merupakan suatu keputusan yang berakar dalam pertobatan. Bagaimana bisa seseorang seperti ini tiba-tiba mengubah cara-cara hidupnya dan kemudian mengikuti sang Putera Allah? Jawabnya adalah rahmat pertobatan yang diberikan Roh Kudus kepada siapa saja yang membuka hatinya. Ini adalah rahmat untuk melakukan yang tak terpikirkan karena cara Yesus telah “menangkap” hati anda. Dan, kabar baiknya adalah bahwa rahmat yang sama yang telah membantu Lewi mengubah hidupnya secara begitu drastis tersedia juga bagi kita dalam Sakramen Rekonsiliasi.

Pada masa Prapaskah ini, mengapa kita (anda dan saya) tidak berupaya untuk mengubah kebiasaan-kebiasaan dosa menjadi kebiasaan-kebiasaan kebenaran? Allah sedang menunggu. Dia sedang memanggil kita semua kepada pertobatan sehingga Dia dapat memberikan kepada kita masing-masing sebuah hati yang baru dan memberikan suatu jalan yang baru untuk kehidupan kita. Barangkali hal ini kedengaran tidak mungkin bagi sebagian dari kita, namun ini masih merupakan apa yang dijanjikan Allah kepada kita: “Pada waktu itulah engkau akan memanggil dan TUHAN (YHWH) akan menjawab, engkau akan berteriak minta tolong dan Ia akan berkata: Ini Aku! (Yes 58:9). Jadi, kita boleh yakin seyakin-yakinnya bahwa Allah tidak hanya akan mengampuni kita apabila kita bertobat, melainkan juga Dia akan datang ke dalam hati kita dan mengubah diri kita.

Allah sesungguhnya senantiasa mengincar hati kita. Dalam bacaan pertama hari ini kita mendengar bagaimana Allah akan memberkati orang-orang Israel apabila mereka sungguh berbalik kepada-Nya. Allah tidak ingin lip service, artinya sekadar ucapan kita yang tidak diiringi dengan tindakan nyata. Allah ingin melihat tindakan-tindakan kita mencerminkan buah-buah pertobatan. Oleh karena itu, marilah kita berupaya untuk merangkul pertobatan sejati dan mengalami kuasa Allah dalam kita yang dapat mengubah-hidup kita.

DOA: Bapa surgawi, Allah yang Mahapengasih dan Mahapengampun. Aku berterima kasih penuh syukur kepada-Mu untuk karunia Sakramen Rekonsiliasi. Tolonglah aku untuk cepat bertobat dan untuk menjalani kehidupan yang diubah bagi Engkau. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 5:27-32), bacalah tulisan yang berjudul “HANYA MELALUI KASIH DAN KESETIAAN ALLAH” (bacaan tanggal 17-2-18), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2013) 

Cilandak,  13 Februari 2018

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PUASA YANG DIKEHENDAKI ALLAH

PUASA YANG DIKEHENDAKI ALLAH

(Bacaan Pertama Misa Kudus, hari Jumat sesudah Rabu Abu – Jumat, 16 Februari 2018)

Serukanlah kuat-kuat, janganlah tahan-tahan! Nyaringkanlah suaramu bagaikan sangkakala, beritahukanlah kepada umat-Ku pelanggaran mereka dan kepada kaum keturunan Yakub dosa mereka! Memang setiap hari mereka mencari Aku dan suka untuk mengenal segala jalan-Ku. Seperti bangsa yang melakukan yang benar dan yang tidak meninggalkan hukum Allah-nya mereka menanyakan Aku tentang hukum-hukum yang benar, mereka suka mendekat menghadap Allah, tanyanya: “Mengapa kami berpuasa dan Engkau tidak memperhatikannya juga? Mengapa kami merendahkan diri dan Engkau tidak mengindahkannya juga?” Sesungguhnya, pada hari puasamu engkau masih tetapi mengurus urusanmu, dan kamu mendesak-desak semua buruhmu. Sesungguhnya, kamu berpuasa sambil berbantah dan berkelahi serta memukuli dengan tinju dengan tidak semena-mena. Dengan caramu berpuasa seperti sekarang ini  suaramu tidak akan didengar di tempat tinggi. Sungguh-sungguh inikah berpuasa yang Kukehendaki, dan mengadakan hari merendahkan diri, jika engkau menundukkan kepala seperti gelagah dan membentangkan kain karung dan abu sebagai lapik tidur? Sungguh-sungguh itukah yang kausebutkan berpuasa, mengadakan hari yang berkenan pada YHWH? Bukan! Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri! Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu akan pulih dengan segera; kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan YHWH barisan belakangmu. Pada waktu itulah engkau akan memanggil dan YHWH akan menjawab, engkau akan berteriak minta tolong dan Ia akan berkata: Ini Aku! (Yes 58:1-9a) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 51:3-6,18-19; Bacaan Injil: Mat 9:14-15 

Seringkah kita mengalami yang berikut ini? Kita menepati segala praktek keagamaan – misalnya berpuasa dan/atau berpantang – namun kemudian menyadari bahwa hati kita tidak ada dalam tindakan kita itu! Barangkali kita diganggu oleh distraksi-distraksi, oleh rasa susah, barangkali karena kita sedang sakit sehingga tidak merasa nyaman secara fisik, barangkali karena kita sedang lelah. Apapun alasannya, kita dibebani dengan perasaan bahwa kita telah gagal membangun relasi yang berarti dengan Allah. Sebagaimana halnya dengan semua upaya menepati aturan-aturan keagamaan, tujuan puasa adalah untuk menjadi bejana-bejana yang lebih terang, lebih murni bagi kehidupan di dalam jalan Allah, bukannya untuk memastikan bahwa kita melakukan “semua hal-hal yang benar”.

Berpuasa yang ditentang Allah dalam Kitab Yesaya termasuk kategori yang diuraikan di atas. Orang-orang Israel memenuhi yang tersurat dalam hukum, namun itu hanyalah tindakan menepati aturan secara eksternal, hal mana tidak menyenangkan Allah. “Dengan caramu berpuasa seperti sekarang ini suaramu tidak akan didengar di tempat tinggi” (Yes 58:4). TUHAN (YHWH) menginginkan puasa yang menghasilkan perubahan-perubahan yang konkret dalam kehidupan orang-orang. Ia ingin agar mereka  “menjinakkan” nafsu mereka yang berpusat pada  pemuasan diri sendiri, sehingga mereka dapat menjadi terbuka untuk menerima belarasa-Nya terhadap orang-orang lapar, para tuna wisma, dan mereka yang tertindas. Ia menginginkan agar puasa mereka membuka mata mereka terhadap kebutuhan-kebutuhan anak-anak-Nya.

Selagi kita mengosongkan diri kita dari hasrat-hasrat untuk mementingkan diri sendiri  dan pada saat bersamaan memberikan ruangan bagi Roh Kudus dalam kehidupan kita, maka kita pun akan diubah. Kita akan menjadi bejana-bejana belas kasihan Allah selagi kita memusatkan perhatian kita pada kebutuhan-kebutuhan orang lain lebih daripada kebutuhan-kebutuhan dan hasrat-hasrat kita sendiri.

Sekarang, langkah-langkah apa saja yang dapat kita ambil selama masa Prapaskah ini untuk menyangkal atau menolak kecenderungan-kecenderungan egosentris yang selama ini telah menghalangi kita untuk keluar bertemu dengan para saudari dan saudara kita yang lain? Kita dapat menyediakan ruangan dalam hati kita bagi Yesus lewat puasa. Kita juga dapat menyediakan waktu yang sedikit lebih panjang daripada biasanya untuk membaca dan merenungkan sabda Allah yang terdapat dalam Kitab Suci ketimbang waktu untuk menonton televisi. Barangkali kita dapat menyumbangkan sebagian dari “waktu bebas” kita untuk berperan serta dalam kegiatan sosial di tingkat paroki, wilayah atau lingkungan dlsb. Barangkali kita juga dapat pantang marah dan ngomel-ngomel. Apapun kegiatan yang kita pilih, apabila kita memalingkan hati kita kepada Allah, maka sebagaimana diproklamasikan oleh sang nabi, terang kita akan merekah seperti fajar (lihat Yes 58:8).

DOA: Tuhan Yesus, kami sungguh berkeinginan untuk menyenangkan-Mu. Anugerahilah kami dengan rahmat-Mu pada masa Prapaskah ini untuk menjinakkan nafsu kami akan hal-hal yang dimaksudkan untuk pemuasan diri kami sendiri, sehingga kami hanya merasa lapar dan haus akan kasih-Mu saja. Transformasikanlah hati kami sehingga yang ada di dalamnya hanyalah kerinduan untuk melakukan kehendak Bapa surgawi dan memuliakan nama-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 9:14-15), bacalah tulisan yang berjudul “BERPUASA DENGAN PENUH SUKACITA” (bacaan tanggal 16-2-18), dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 18-02 PERMENUNGAN ALKITABIAH FEBRUARI 2018. 

(Tulisan ini bersumberkan sebuah tulisan saya pada tahun 2012) 

Cilandak,  13 Februari 2018 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS