BUNDA MARIA, BUNDA PENGANTARA KITA KEPADA YESUS *) 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS **) 

Berbahagialah engkau, Santa Maria, sebab dari padamulah datang penyelamat dunia. Maka engkau bergembira dan mulia di hadirat Tuhan. Doakanlah kami pada Putera-mu. 

[Antifon 1 Ibadat Pagi pada hari pesta atau peringatan Santa Perawan Maria] 

Per Mariam ad Jesum. Memang, melalui Maria orang bertemu dengan Yesus. Maria memang adalah seorang pribadi yang memimpin dan menggiring kita semua kepada Yesus. Kita, umat Katolik, tidak menyembah Maria karena Dia bukanlah Allah atau seorang dewi, dan memang hanya Allah-lah yang patut kita sembah. Namun di sisi lain Ia adalah Ibunda Yesus yang kita imani sebagai “sungguh Allah – sungguh manusia”, Pribadi Kedua dari Allah Tritunggal Mahakudus. Dengan demikian kita pun mengakui bahwa Maria adalah Bunda Allah. Maria juga adalah Ibunda kita semua, seturut amanat yang diberikan Yesus dari atas kayu salib kepada ibu-Nya, “Perempuan, inilah anakmu!”  (Yoh 19:26); dan kepada Yohanes, “Inilah ibumu!” (Yoh 19:27). Oleh karena itu, kita umat Katolik – mau tidak mau – harus menghormati dan mengasihi Ibu-Nya yang adalah Ibu kita juga. Yesus Kristus memberikan ibu-Nya kepada kita untuk menolong kita, para saudara dan saudari-Nya (artinya anak-anak Bunda Maria), agar berhasil dalam perjuangan guna mencapai keselamatan kekal. Yang dilakukan oleh Maria adalah syafaat/pengantaraan, terutama lewat doa-doanya, seperti terungkap dalam antifon Mazmur di atas dan tentunya dalam sebuah doa yang begitu sering kita doakan: Doa Salam Maria. 

Tulisan ini membahas beberapa aspek peran mediasi Maria. Kita akan menyoroti topik ini dengan berpegang pada beberapa bacaan Kitab Suci, terutama Yoh 2:1-11, kemudian dilanjutkan dengan melakukan rujukan kepada beberapa ajaran resmi Gereja untuk lebih memahami dan menghayati  sabda Allah dalam Kitab Suci tersebut; di samping juga untuk memberi bimbingan agar membantu kita semua menghormati Bunda Maria secara layak dan pantas dan pada saat yang sama tetap berada dalam koridor yang telah ditentukan oleh  Kuasa Mengajar Gereja. 

BUNDA MARIA MENGASIHI KITA 

Para ibu yang normal pasti mengasihi anak-anaknya. Menurut Santo Thomas Aquinas (1225-1274), inilah alasan mengapa hukum ilahi menentukan, bahwa anak-anak berkewajiban untuk mengasihi orangtua mereka; namun tidak secara eksplisit mewajibkan para orangtua untuk mengasihi anak-anak mereka, karena alam sendiri sudah begitu kuat menanamkan hal tersebut dalam diri setiap makhluk. Berabad-abad sebelumnya Santo Ambrosius (c.334-397) mengatakan, “Kita tahu bahwa seorang ibu akan membiarkan dirinya berada dalam mara bahaya demi keselamatan anak-anaknya, bahkan binatang–binatang yang paling buas sekalipun tidak dapat berbuat apa-apa selain menyayangi anak-anak mereka.” Allah sendiri berfirman, “Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya?” (Yes 49:15). 

Ibu-ibu akan berbuat apa saja semampu mereka untuk dapat menolong anak-anak mereka agar dapat berhasil. Demikian pulalah halnya dengan Bunda Maria. Ia memiliki hasrat mendalam agar kita, anak-anaknya, berhasil mencapai keselamatan kekal bersama Kristus di dalam surga. Pada waktu pemberitahuan oleh malaikat Gabriel kepadanya di Nazaret tentang rencana agung Allah, Maria mengatakan, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38). Jawaban “Ya” atau fiat (persetujuan) Maria ini memungkinkan “sang Sabda menjadi daging” atau “Firman menjadi manusia” (lihat Yoh 1:14), dengan demikian “membuka jalan” bagi Yesus Kristus untuk menyelamatkan umat manusia lewat sengsara dan kematian-Nya di kayu salib. Pada waktu pemberitahuan malaikat itu Maria memang belum “resmi” diberikan kepada kita sebagai Bunda kita, namun dia telah mengambil langkah pertama bagi penebusan kita.

MARIA DALAM INJIL YOHANES 

Keempat kitab Injil sedikit sekali mencatat kata-kata yang diucapkan Maria. Hanya tujuh kali: (1) Rasa herannya seperti layaknya seorang anak (Luk 1:34); (2) Tanggapannya sebagai seorang hamba Tuhan yang taat (Luk 1:38); (3) Tanggapannya sebagai seorang yang memahami sabda Allah (Luk 1:38); (4) Kidung pujiannya kepada Allah yang penuh sukacita – Magnificat (Luk 1:46-55); (5) Tegurannya yang penuh kasih kepada Anak-nya yang baru ditemukannya di Bait Allah (Luk 2:48);  (6) Pemberitahuannya kepada Yesus tentang kebutuhan mendesak dari komunitas (Yoh 2:3); dan (7) Pemberitahuannya kepada komunitas, teristimewa para pelayan komunitas itu, untuk taat kepada sabda Yesus (Yoh 2:5). 

Injil Yohanes mengedepankan Bunda Maria sebanyak dua kali saja: pertama, pada awal pelayanan-Nya di tengah masyarakat, yaitu pada pesta perkawinan di Kana (Yoh 2:1-11); dan kedua, ketika Bunda Maria berdiri di dekat salib Yesus (Yoh 19:25-27). Dalam kedua peristiwa itu Bunda Maria disebut sebagai “ibu Yesus”, tanpa nama. Untuk tulisan ini kita akan menyoroti bacaan tentang pesta perkawinan di Kana (butir 6 dan 7 di atas). 

Dalam Injil Yohanes pesta perkawinan merupakan tempat di mana makanan dan minuman dinikmati bersama oleh mereka yang hadir, namun tempat ini juga merupakan tempat istimewa untuk melambungkan puja-puji kepada Allah, liturgi dan pewartaan kabar baik. Di tempat itu pun terjadi syering iman-kepercayaan. Sesungguhnya pesta perkawinan merupakan pintu yang terbuka bagi kerajaan damai dan keadilan, pintu masuk yang digunakan oleh Mesias untuk datang ke dunia. Inilah tempat di mana janji-janji lama menjadi terwujud secara menakjubkan. 

PESTA PERKAWINAN DI KANA  

Tokoh utama dalam perikop Injil ini jelas adalah Yesus dari Nazaret, tetapi orang yang pertama disebutkan adalah “ibu Yesus” disusul dengan catatan, bahwa  Yesus dan murid-murid-Nya diundang juga ke perkawinan itu (lihat Yoh 2:1-2). Perikop ini juga mencatat, bahwa Ibu Yesus-lah yang mengambil inisiatif untuk terjadinya pemenuhan janji-janji lama Allah, dengan demikian membawa harapan bagi umat manusia untuk masa-masa selanjutnya. 

Dari pembacaan perikop ini kita dapat memperoleh kesan, bahwa  salah satu atau kedua mempelai mempunyai hubungan kekeluargaan dengan Maria. Ia yang telah menguduskan keperawanannya demi inkarnasi Putera Allah, sekarang hadir dalam pesta perkawinan itu secara sangat sederhana, tentunya untuk syering sukacita dengan sepasang insan muda yang berbahagia bersama banyak tamu lainnya. Tidak mustahil pesta perkawinan seperti itu berlangsung untuk beberapa hari lamanya. Dalam pesta itu Maria, seperti layaknya seorang ibu rumah tangga yang baik, sungguh penuh perhatian atas kondisi-kondisi materiil yang ada agar  suasana penuh kegembiraan dan sukacita pesta tidak sampai hilang. Ia melihat bahwa persediaan anggur semakin menipis. Ia sadar sekali, bahwa keluarga pengantin akan sangat dipermalukan kalau persediaan anggur sampai habis samasekali, terutama karena desa itu dikelilingi oleh banyak sekali kebun anggur. Apa kata dunia, seandainya para tamu terpaksa pulang sebelum acara usai, justru karena kecewa kehabisan anggur? Mungkin sambil mengejek atau mengumpat karena merasa jengkel? Tetapi, di sana hadir Maria yang memiliki iman-kepercayaan kepada Yesus, yang semakin lama semakin mendalam dan matang seiring dengan berjalannya waktu sepanjang jalan hidup Yesus yang tak tercatat dalam Injil. Maria percaya bahwa Yesus adalah Mesias yang dijanjikan kepada Daud dan sudah sekian lama dinanti-nantikan kedatangannya oleh umat Israel, Ia adalah juga nabi yang dijanjikan dalam Kitab Suci (Ul 18:15-20), bahkan seorang “Musa baru” yang tentunya mampu membuat mukjizat-mukjizat. Kalau dilihat dari perspektif ini, situasi kehabisan anggur dalam pesta perkawinan di Kana memang jelas merupakan rencana ilahi. 

Dalam konteks sosio-religius bangsa Yahudi, perkawinan tidak sekadar merupakan perjanjian, tetapi persatuan seakan-akan dalam pernikahan antara Allah dan umat-Nya: “… seperti pengantin laki-laki yang mengenakan perhiasan kepala dan seperti pengantin perempuan yang memakai perhiasannya ……seperti seorang muda belia menjadi suami seorang anak dara, demikianlah Dia yang membangun engkau akan menjadi suamimu, dan seperti girang hatinya seorang mempelai melihat pengantin perempuan, demikianlah Allahmu akan girang hati atasmu” (Yes 61:10 dan 62:5). Pesta perkawinan juga merupakan sebuah gambaran yang digunakan para nabi mengenai hidup sangat berkelimpahan dalam zaman Mesias. 

Dalam masyarakat Yahudi serta kitab para Nabi anggur merupakan simbol yang kaya: “TUHAN (YHWH) semesta alam akan menyediakan di gunung Sion ini bagi segala bangsa-bangsa suatu perjamuan dengan masakan yang bergemuk, suatu perjamuan dengan anggur yang tua benar, masakan yang bergemuk dan bersumsum, anggur yang tua yang disaring endapannya” (Yes 25:6). “Mereka akan datang bersorak-sorak di atas bukit Sion, muka mereka akan berseri-seri karena kebajikan YHWH, karena gandum, anggur dan minyak, karena anak-anak kambing domba dan lembu sapi; hidup mereka akan seperti taman yang diairi baik-baik, mereka tidak akan kembali lagi merana” (Yer 31:12). Anggur adalah kegembiraan, sukacita, harapan, hadirnya keadaan berkelimpahan, keadilan dan masa depan, janji-janji yang dipenuhi. 

Nah, dalam pesta perkawinan di Kana ini, keluarga pengantin kehabisan anggur! Maria – karena iman-kepercayaannya kepada Yesus – berani memohon mukjizat kepada-Nya dengan menggunakan kalimat sederhana: “Mereka kehabisan anggur” (Yoh 2:3). Beberapa patah kata yang diucapkan Maria ini terdengar amat mirip dengan kabar yang dikirim oleh Marta dan Maria mengenai Lazarus yang sedang sakit: “Tuhan, dia yang Engkau kasihi, sakit” (Yoh 11:3). Sebuah pesan singkat-padat yang keluar dari lubuk hati terdalam orang yang berbela rasa! Jawaban yang diberikan Yesus terdengar agak aneh dan terkesan menolak adanya intervensi atau bahkan mengungkapkan ketidaksetujuan-Nya: “Mau apakah engkau dari Aku, perempuan?” (Yoh 2:4). Jelas di sini Yesus ingin  menyampaikan pesan, bahwa kemuliaan-Nya dan misi-Nya berada dalam tatanan yang berbeda dengan suatu mukjizat efektif langsung pada saat itu. Sapaan dengan menggunakan kata “perempuan” adalah biasa, misalnya ketika berbicara dengan perempuan Samaria (lihat Yoh 4:21) dan ketika berbicara dengan perempuan yang berzina, “Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang pun yang menghukum engkau?” (Yoh 8:10). Namun sapaan Yesus kepada ibu-Nya dengan kata “perempuan” terasa ganjil karena seorang anak biasanya menyapa ibunya dengan kata imma (ibuku). Kelihatannya dalam hal ini Yesus ingin menjaga jarak dengan ibu-Nya dan mengampil posisi pada suatu tingkat yang berbeda dengan martabat-Nya sebagai putera Maria secara  badaniah sebagai seorang manusia. Kata-kata Yesus, “Saat-Ku belum tiba” (Yoh 2:4) juga terasa penuh misteri. “Saat” dapat diartikan pemuliaan-Nya dan kembali-Nya kepada Bapa, tetapi semuanya itu sepenuhnya tergantung pada kehendak Bapa surgawi. “Saat” dapat juga diartikan sebagai saat penyaliban-Nya, saat sang Anakdomba disembelih. Mukjizat yang dimohonkan Maria untuk dilakukan-Nya paling-paling hanyalah merupakan sebuah tanda yang menunjuk pada saat-Nya yang pasti di kemudian hari. 

Namun demikian kita dapat mengatakan, bahwa jawaban Yesus itu merupakan tes atas iman-kepercayaan Maria. Seperti kita akan lihat kemudian, inilah tindakan yang dilakukan Yesus secara regular sebelum membuat mukjizat karena Dia ingin adanya pertumbuhan iman agar lebih kuat dan menemukan ekspresinya. Sebagai contoh, lihatlah perikop tentang “Yesus menyembuhkan anak pegawai istana” (Yoh 4:46-54, terutama ayat 48 dan 50) dan perikop “Yesus memberi makan lima ribu orang” (Yoh 6:1-15, terutama ayat 5 dan 6). 

Tanggapan Maria, “Apa yang dikatakan-Nya kepadamu, lakukanlah itu!” (Yoh 2:5) adalah tanggapan iman. Setelah mendengar jawaban Yesus di atas, bisa saja Maria membatalkan segala upayanya untuk menolong keluarga pengantin yang mengalami kehabisan anggur itu dan kemudian mengambil sikap diam. Tidak demikian halnya dengan Maria: Dia percaya akan kuat-kuasa yang dimiliki Putera-nya dan bela-rasa yang dimiliki-Nya terhadap orang-orang yang hadir dalam pesta perkawinan itu. Oleh karena itu Maria  melakukan tindakan-iman; Dia sepenuhnya menggantungkan diri pada tindakan dan sabda Yesus. Ia berbicara kepada para pelayan dan menyampaikan apa yang diimaninya tentang sabda Mesias. Di sini Maria mengucapkan kata-kata yang mirip dengan kata-kata yang pernah diucapkan umat Allah pada waktu menanggapi tawaran sebuah perjanjian dari Allah di Gunung Sinai: “Segala firman yang telah diucapkan YHWH itu, akan kami lakukan” (Kel 24:3) dan “Segala firman YHWH akan kami lakukan dan akan kami dengarkan” (Kel 24:7). 

Kita dapat melihat, bahwa yang penting bagi Maria bukanlah “tanda” atau “mukjizat”-nya itu sendiri, melainkan iman dan ketaatan kepada sabda Putera Allah. Ini sudah menjadi sikapnya pada waktu menerima kabar dari malaikat Gabriel: “… jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38). Dalam iman dan ketaatan penuh Maria memberitahukan para pelayan untuk melakukan apa yang dikatakan oleh Yesus. Sabda Yesus adalah hukum yang baru, perintah yang baru, cara hidup yang baru, panggilan untuk bertobat dan transformasi. Ketaatan terhadap perintah-Nya membawa kerajaan, keadilan damai dan Roh masuk ke dalam dunia. Sebagai tanggapan terhadap iman ibu-Nya itu Yesus pun membuat “tanda”-nya yang pertama dengan mana Dia menyatakan kemuliaan-Nya …… air menjadi anggur dengan mutu sangat prima. Dan, murid-murid-Nya percaya kepada-Nya (Yoh 2:11). 

AJARAN GEREJA 

Apa kata Gereja tentang peran mediasi Maria? Berikut ini adalah kutipan-kutipan dari beberapa dokumen Gereja. Kita mulai dengan salah satu dokumen Konsili Vatikan II, yaitu Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium tentang Gereja (tanggal 21 November 1964). 

“Dalam hidup Yesus di muka umum tampillah Bunda-Nya dengan penuh makna, pada permulaan, ketika pada pesta pernikahan di Kana yang di Galilea ia tergerak oleh belaskasihan, dan dengan perantaraannya mendorong Yesus Almasih untuk mengerjakan tanda-Nya yang pertama (lihat Yoh 2:1-11) ” [Lumen Gentium 58]. 

“Sesudah diangkat ke surga ia tidak meninggalkan peran yang membawa keselamatan itu, melainkan dengan aneka perantaraannya ia terus-menerus memperolehkan bagi kita kurnia-kurnia yang menghantar kepada keselamatan kekal”  [Lumen Gentium  62]. 

Pada tanggal 13 Mei 1967 Paus Paulus VI menerbitkan sebuah Wejangan Apostolik dengan judul Signum Magnum  tentang Maria, Bunda Gereja. Berikut ini adalah petikan dari salah satu butirnya, di mana Maria dilihat sebagai seorang ibu rohani yang menjadi pengantara dengan Anak-nya: 

“Bagaimana Bunda Allah yang kudus bekerja sama dalam menolong para anggota Gereja untuk bertumbuh dalam hidup rahmat? Pertama-tama dan terutama dia melakukannya dengan doanya yang tanpa henti, yang diilhami oleh kasihnya yang penuh gairah. Karena meskipun sang Perawan menemukan sukacita dalam mengkontemplasikan Tritunggal yang penuh kebesaran, dia tidak melupakan anak-anak yang melakukan “ziarah iman” seperti yang pernah dilakukan olehnya. Lagipula, dia mengkontemplasikan mereka dalam Allah dan melihat kebutuhan-kebutuhan mereka, dan dalam persekutuan dengan Yesus Kristus yang “hidup senantiasa untuk menjadi Pengantara mereka” (Ibr 7:25), dia menjadi pengacara/pembela mereka, penyokong, penolong dan pengantara (mediatrix). Dari awal Gereja selalu meyakini pengantaraan Maria yang tanpa interupsi dengan Putera-nya atas nama umat Allah. Buktinya adalah antifon yang sangat kuno, yang dengan sedikit variasi, telah menjadi bagian regular doa liturgis baik di Timur maupun Barat: ‘Kami mengungsi di bawah naunganmu, hai Bunda Allah, yang suci, janganlah memandang hina doa permohonan kami, tetapi bebaskanlah kami selalu dari segala bahaya, hai Perawan yang mulia dan terberkati/terpuji.’ Pengantaraan keibuan Maria samasekali tidak mengecilkan kemanjuran yang lebih besar dan tak tergantikan dari Kristus Penyelamat kita. Sebaliknya, pengantaraannya mengambil kekuatannya dari kekuatan Kristus dan merupakan bukti yang sangat baik darinya” [Signum  Magnum  2]. 

Dalam tulisannya, Recurrens Mensis October (tanggal 17 September 1969), Paus Paulus VI menulis tentang perdamaian dan Rosario: 

“Injil mengajarkan kepada kita bahwa Maria peka terhadap kebutuhan-kebutuhan manusia. Di Kana tanpa ragu-ragu dia melakukan intervensi untuk memberikan sukacita kepada orang-orang desa yang diundang ke sebuah pesta perkawinan. Bagaimana dia gagal mengintervensi atas nama perdamaian, yang merupakan suatu berkat tak ternilai, kalau kita berdoa untuk hal itu dengan sebuah hati yang tulus? Konsili telah memberikan kepada kita peringatan tepat-waktu, bahwa Maria tetap melanjutkan pengantaraan dengan Putera-nya bagi anak-anaknya di muka bumi. Ketika dengan sederhana dia mengatakan, ‘Mereka kehabisan anggur’, Kristus menanggapinya dengan penuh kemurahan hati. Bagaimana mungkin dia gagal untuk sama murah hati-Nya dalam menanggapi satu doa lagi. ‘Apakah mereka tidak mempunyai damai?’ ” 

Dalam Wejangan Apostolik Marialis Cultus (tanggal 2 Februari 1974) yang membicarakan devosi kepada Bunda Maria dan pengembangannya, Paus Paulus VI menulis sebagai berikut: 

“Di Kana, Maria tampil sekali lagi sebagai Perawan dalam doa: ketika dengan bijaksana memberitahukan kepada Putera-nya mengenai adanya suatu kebutuhan duniawi, dia juga memperoleh suatu efek rahmat, yakni bahwa Yesus dalam membuat ‘tanda’-Nya yang pertama, meneguhkan iman-kepercayaan para murid-Nya kepada diri-Nya (lihat Yoh 2:1-12)” [Marialis Cultus 18]. 

“Devosi kepada Maria juga mengingatkan pada misinya dan posisi istimewa  yang dipegangnya dalam Umat Allah, di mana dia adalah anggotanya yang terkemuka, suatu contoh cemerlang dan Ibu yang mengasihi; devosi itu mengingatkan pengantaraannya yang tak henti-hentinya dan mujarab, yang meskipun sudah diangkat ke surga, dia tetap dekat pada mereka yang memohon pertolongan kepadanya, termasuk mereka yang tidak menyadari bahwa mereka adalah anak-anaknya” [Marialis Cultus 56].

Dalam Surat Ensiklik Redemptoris Mater (Ibunda Sang Penebus – tanggal 25 Maret 1987), Paus Yohanes Paulus II menyoroti peran Maria dalam kehidupan Gereja yang masih berziarah. Menyinggung perikop Pesta Perkawinan di Kana dan hubungannya dengan peran pengantaraan Bunda Maria, Sri Paus menulis sebagai berikut: 

“… dalam nas Yohanes, uraian kejadian di Kana menggariskan apa yang secara nyata dinyatakan sebagai suatu macam keibuan sesuai dengan jiwa dan justru bukan menurut daging, artinya keprihatinan Maria tentang manusia, minatnya kepada mereka dalam segala keinginan dan keperluan mereka. Di Kana di Galilea dilihatkan juga hanya satu segi konkrit kebutuhan manusia, satu kejadian dan tampaknya tidak begitu penting (“anggurnya habis”). Namun hal itu memiliki arti simbolik: datang untuk menolong kebutuhan manusia, artinya, pada saat yang sama, membawa kebutuhan tersebut ke dalam lingkup tugas Kristus sebagai Mesias dan kekuatan penyelamatan-Nya. Jadi dalam hal itu ada suatu kepengantaraan: Maria menempatkan diri antara Putera-Nya dan umat manusia dalam situasi kekurangan, kebutuhan dan derita mereka. Dia menempatkan diri ‘di tengah-tengah’, yaitu dia berlaku sebagai perantara tidak sebagai orang luar, melainkan dalam kedudukannya sebagai seorang ibu. Maria sadar, bahwa sebagai ibu, dia dapat menyampaikan kepada Sang Putera, kebutuhan manusia, dan bahkan, dia “berhak” untuk berbuat demikian. Bahwa Maria berdiri di tengah antara Kristus dan manusia dengan demikian mengandung sifat sebagai pengantara: Maria ‘menjadi perantara’ bagi manusia. Dan itu belum semuanya: Sebagai seorang ibu ia juga menginginkan agar kekuasaan Putera-nya sebagai Mesias dinyatakan, yaitu kuasa penyelamatan-Nya, yang dimaksudkan untuk menolong manusia dalam kemalangannya, membebaskannya dari yang jahat, yang dalam berbagai bentuk dan taraf membebani hidup manusia. ……Unsur hakiki lainnya  dalam tugas Maria sebagai ibu terungkap dalam kata-katanya kepada para pelayan: “Lakukan apa, yang dikatakan-Nya kepada kalian.” Bunda Kristus menampilkan diri di hadapan orang-orang sebagai juru bicara kehendak Putera-nya, dengan menjelaskan hal-hal yang perlu dilakukan supaya kuasa penyelamatan Mesias dapat diwahyukan. Di Kana, berkat perantaraan Maria dan ketaatan para pelayan, Yesus mulai dengan ‘saat-Nya’. Di Kana Maria menunjukkan kepercayaannya kepada Yesus: Iman Maria menyebabkan tertampilkannya “tanda” pertama Yesus dan membantu membangkitkan iman para murid” (Redemptoris Mater  21). 

Dalam rangka “Tahun Rosario” (bulan Oktober 2002 hingga bulan Oktober 2003), Paus Yohanes Paulus II menerbitkan Surat Apostolik Rosarium Virginis Mariae (tanggal 16 Oktober 2002). Dalam surat apostolik itu Sri Paus memperkenalkan lima peristiwa baru dalam doa rosario, yaitu misteri-misteri Cahaya/Terang. Peristiwa “Perkawinan di Kana” merupakan misteri cahaya yang kedua. Tentang misteri cahaya ini Sri Paus menulis antara lain sebagai berikut: 

“Tiap misteri ini merupakan suatu perwahyuan Kerajaan Allah yang saat ini hadir dalam pribadi Yesus itu sendiri. … Misteri cahaya lain adalah yang pertama dari tanda-tanda yang diberikan di Kana (bdk Yoh 2:1-12), ketika Kristus mengubah air menjadi anggur dan membuka hati murid-murid kepada iman, berterima kasih kepada campur tangan Maria, yang pertama di antara orang-orang beriman” (Rosarium Virginis Mariae 21). 

Di atas kita telah mencoba untuk memahami makna dari perikop tentang pesta perkawinan di Kana. Kita pun dengan demikian dapat merenungkan pentingnya peran Bunda Maria pada pesta perkawinan tersebut. Beberapa petikan dari dokumen Gereja di atas menunjukkan, bahwa Gereja melihat dalam peran Maria di Kana sebagai perwahyuan dari perannya yang tak pernah hilang dalam sejarah keselamatan. Apa yang dahulu kala dilakukannya pada pesta perkawinan di Kana di Galilea, terus-menerus dilakukannya dari abad ke abad selagi dia melakukan pengantaraan dengan Tuhan untuk pemenuhan pelbagai kebutuhan manusia.

PENGANTARAAN BUNDA MARIA 

Intervensi Maria atas nama umat manusia mempunyai sumbernya dalam misteri keibuan/kebundaannya. Kita ingat, bahwa dari atas kayu salib, ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya, “Perempuan, inilah anakmu!” (Yoh 19:26). Pada saat itu, ketika iman-kepercayaan dan kasih ibu-Nya mengalami tes yang paling berat dan jiwanya tertembus pedang (lihat Luk 2:35), Tuhan Yesus mempercayakan kepadanya fungsi pemeliharaan penuh kasih seorang ibu bagi murid yang dikasihi-Nya, tentunya juga bagi murid-murid yang lain dan segenap umat manusia untuk siapa Dia menyerahkan hidup-Nya. 

Maria yang lewat pengantaraannya di Kana telah menyebabkan terjadinya mukjizat (tanda) Yesus yang pertama, pada saat di dekat salib Kristus menjadi Hawa yang baru, yang adalah ibu semua yang hidup (lihat Kej 3:20). Sejak saat itu, dengan rasa tanggung jawab keibuan tanpa batas, Maria akan melakukan fungsinya sebagai pengantara atas nama semua anaknya, para saudara-saudari dan murid Yesus. 

Kembali ke pesta perkawinan di Kana, kita lihat bahwa intervensi Maria adalah  pengungkapan keprihatinnya terhadap kebutuhan duniawi: kehabisan anggur, kejadian yang akan menghabiskan dalam sekejab mata segala kegembiraan dan sukacita pesta dan  akan mempermalukan kedua mempelai dan keluarga mereka masing-masing. Namun agaknya sejak awal pandangan Maria sudah melampaui kebutuhan duniawi yang kelihatan di depan mata. Sementara menolong keluarga yang mengundangnya untuk datang ke pesta perkawinan tersebut, Maria juga berniat untuk mempercepat manifestasi dari kemuliaan Allah. Dengan demikian iman-kepercayaan Maria menjadi mata rantai antara kebutuhan manusia dan kemuliaan Allah. Jawaban Yesus yang terasa tidak enak didengar telinga malah mempertebal keyakinan Maria dan dia pun memberitahukan para pelayan: “Apa yang dikatakan-Nya kepadamu, lakukanlah itu!” 

Jadi di sini terjadi suatu urut-urutan peristiwa yang saling berhubungan satu dengan lainnya: dimulai dengan adanya suatu kebutuhan manusia yang bersifat duniawi, Maria dengan iman-kepercayaan penuh (tanpa reserve) berdoa dan memperoleh dari Tuhan suatu “tanda” yang juga adalah manisfestasi pertama dari kemuliaan-Nya. Lewat tanda ini Roh Allah meningkatkan serta menguatkan iman-kepercayaan para murid, yang sangat berguna untuk perjalanan iman mereka selanjutnya. Seperti kita akan lihat dalam Injil Yohanes, iman-kepercayaan para murid ditempa terus-menerus sampai kepada “tanda definitif” kelak, yaitu kebangkitan-Nya. Di sini dapat kita katakan, bahwa intervensi penuh keyakinan dari Maria menjadi semacam pemicu terjadinya reaksi berantai penting dalam komunitas Kristiani. Sesungguhnya lewat perikop ini Injil Yohanes secara sederhana mengisyaratkan betapa ampuhnya kekuatan pengantaraan Bunda Maria dan kemujarabannya yang meliputi banyak hal. 

Peranan Maria kelihatannya adalah untuk membangkitkan dan menguatkan iman-kepercayaan kita kepada Yesus dalam situasi-situasi di mana kita paling membutuhkan pertolongan. Ibunda Yesus menjadikan dirinya mata rantai antara kemanusiaan kita yang rapuh dan kemuliaan Kristus, satu-satunya Pribadi yang dapat menyelamatkan kita. 

Dari perikop “Pesta Perkawinan di Kana”, terlihat bahwa peran mediasi Maria bersifat dua arah: Pertama, Maria pergi ke Putera-nya dan memberitahukan tentang “perkara kehabisan anggur” ini agar Putera-nya memperhatikan kebutuhan-kebutuhan para saudara-saudari-Nya; kedua, Maria memberitahukan para pelayan agar taat pada perintah Putera-nya. Prosedur atau proses dua-arah ini berlaku sejak saat itu sampai hari ini. Meskipun kita memohon pertolongan dari Maria, meskipun kita mengabaikan dirinya, atau malah (lebih buruk lagi) membuang dia jauh-jauh (misalnya karena percaya kepada ajaran yang keliru), Bunda Maria bagaimana pun juga terus-menerus bekerja atas nama kita dan demi kita. Di sisi Tuhan Yesus, dengan tak henti-hentinya Maria bersyafaat bagi kita. Seperti juga dahulu di Nazaret, hari ini pun Maria menghadirkan dirinya sebagai “Hamba Tuhan” yang secara total menyerahkan diri kepada kehendak Allah. Dengan demikian, kehadiran Maria, kata-katanya, doa-doanya, merupakan suatu daya tarik bagi kita untuk memperhatikan dan mentaati Putera-nya. 

KEYAKINAN KITA ATAS INTERVENSI BUNDA MARIA 

Dalam terang Injil “Peristiwa Perkawinan di Kana” dan pengalaman Kristiani umat sepanjang masa, marilah kita dengan penuh keyakinan menghaturkan permohonan kepada Bunda Maria agar dia berdoa syafaat sebagai seorang ibu atas nama kita. 

Allah-lah yang memberikan kepada Bunda Maria sebuah hati yang penuh kasih bagi kita, yang adalah anak-anaknya dalam Kristus. Allah mengaruniakan terang surgawi kepada Bunda Maria, dengan demikian memampukan dia untuk mengetahui  kebutuhan-kebutuhan riil anak-anaknya. 

Kita tidak perlu takut untuk membawa kepada Bunda Maria segala kebutuhan kita, termasuk yang paling sederhana dan kelihatan remeh, juga semua kelelahan tubuh dan jiwa kita. Mengapa? Karena tidak ada permasalahan baginya untuk melihat bagaimana segala kesusahan kita itu dihubungkan dengan manifestasi kemuliaan Tuhan dan juga dengan pertumbuhan iman-kepercayaan kita. Jangan pula kita takut memohon kepada Bunda Maria agar dia mendoakan kita untuk dipenuhi Roh Kudus, sehingga kita dapat mengenal kemuliaan misteri kasih Bapa dan Putera. 

Seperti Maria, kita tidak perlu takut untuk menghaturkan permohonan-permohonan kita, namun di sisi lain kita juga harus berupaya dengan serius untuk mencontoh kerendahan hati dan ketaatannya kepada sabda Allah: “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38). Demikian pula dengan kita, kita pun harus selalu mengikuti petunjuk abadi yang diberikan olehnya: “Apa yang dikatakan-Nya kepadamu, lakukanlah itu!” (Yoh 2:5). 

Marilah kita berpaling kepada Bunda Maria – pembela dan pengantara kita – dengan  penuh keyakinan bahwa pengantaraannya sebagai seorang ibu tidak akan menjauhkan kita dari Yesus, satu-satunya Penyelamat kita dan pengantara kepada Bapa (lihat 1 Yoh 2:1), yang senantiasa menjadi Pengantara kita (lihat Ibr 7:25). Lewat penampakannya di Fatima dan di tempat-tempat lain, Bunda Maria selalu mengajar umat untuk berdoa kepada Tuhan kita, karena dia yakin bahwa doa-doa kita akan didengar dan kita akan menerima jauh lebih daripada yang kita mohonkan. Maria bukanlah seorang pengantara  di samping Kristus, tetapi ia pengantara berkat persatuan dan persekutuannya dengan Kristus dan di dalam Gereja sebagai persekutuan orang beriman yang mencakup semua, dari awal sampai akhir. 

CATATAN PENUTUP 

De Maria numquam satis – pemikiran, penulisan, pembahasan dan lain-lainnya tentang Maria tidak pernah akan cukup, tidak pernah akan memadai. Para pakar Mariologi saja sudah sekian lama membahas apa kiranya menurut mereka masing-masing penjelasan yang terbaik mengenai peran mediasi dari Maria, semua diringi atau dibarengi dengan istilah-istilah dalam bahasa Latin yang sering membingungkan umat kebanyakan. Hal tersebut memang tidak saya singgung samasekali dalam tulisan ini. Di sisi lain mayoritas umat dengan devosi populernya kepada Bunda Maria tetap menghayati, menjalani hidup kekristenannya di jalan yang lurus. 

Konsili Vatikan II mengingatkan kepada kita, bahwa devosi yang sejati tidak terdiri dari perasaan yang mandul dan bersifat sementara, tidak pula dalam sikap mudah percaya tanpa dasar. Devosi itu bersumber pada iman yang sejati, yang mengajak kita untuk mengakui keunggulan Bunda Maria, dan mendorong kita untuk mengasihinya dan meneladan keutamaan-keutamaannya (Lumen Gentium 67). Mayoritas umat kita menunjukkan sikap taat kepada pernyataan Konsili Vatikan II ini. Tidak nampak adanya  tanda-tanda penyembahan kepada Maria (mariolatry) di tengah mayoritas umat kita. Mayoritas umat kita juga tidak dapat terlalu sering kesana-kemari berziarah ke gua-gua Maria, namun mereka dengan begitu malah menjalankan devosi kepada Bunda Maria secara sederhana dan benar, yaitu berdoa “Malaikat Tuhan” secara teratur dan “Rosario” setiap hari untuk segala kebutuhan jasmani maupun rohani, tidak hanya pada bulan Mei atau Oktober. Hanya dua macam devosi Marian sederhana inilah yang disinggung oleh Paus Paulus VI dalam Wejangan Apostolik Marialis Cultus. Dapat dikatakan, bahwa devosi mayoritas umat kepada Bunda Maria masih termasuk kategori penghormatan (dulia), akan tetapi pada tingkat yang istimewa, yang secara klasik disebut hyperdulia, karena dalam persekutuan para kudus posisi Bunda Maria memang istimewa.   

Di bagian akhir tulisan ini, baiklah saya kutip himbauan para Bapa Konsili Vatikan II sehubungan dengan harapan-harapan sekitar relasi kita dengan Bunda Maria: 

“Hendaklah segenap Umat Kristiani sepenuh hati menyampaikan doa-permohonan kepada Bunda Allah dan Bunda umat manusia, supaya dia, yang dengan doa-doanya menyertai Gereja pada awal-mula, sekarang pun di surga – dalam kemuliaannya melampaui semua para suci dan para malaikat, dalam persekutuan para kudus – menjadi pengantara pada Puteranya, sampai semua keluarga bangsa-bangsa, entah yang ditandai nama Kristiani, entah yang belum mengenal Penyelamat mereka, dalam damai dan kerukunan dihimpun dalam kebahagiaan menjadi satu Umat Allah, demi kemuliaan Tritunggal yang Mahakudus dan Esa tak terbagi” (Lumen Gentium  69). 

Bulan Oktober ini adalah Bulan Maria, kegiatan doa rosario bersama di lingkungan-lingkungan tentunya sedang berlangsung dengan giatnya. Peringatan “Santa Perawan Maria, Ratu Rosario” kita rayakan pada tanggal 7 Oktober. Dalam bulan Oktober, di samping para malaikat pelindung, dua orang rasul, seorang penulis Injil dan beberapa orang kudus lainnya,  ada tiga Orang Kudus Besar yang dirayakan/diperingati oleh Gereja, yaitu Santa Teresia dari Kanak-kanak Yesus (Karmelites tak berkasut), Perawan dan Pujangga Gereja (tanggal 1 Oktober); Santo Fransiskus dari Assisi (tanggal 4 Oktober) dan Santa Teresia dari Yesus (Karmelites tak berkasut), Perawan dan Pujangga Gereja (15 Oktober). Semua orang kudus memiliki relasi yang sangat dekat dengan Yesus dan Maria dan tentunya ketiga orang kudus ini. Sebagai penutup tulisan ini marilah kita resapi doa kepada Bunda Maria yang dihaturkan oleh salah seorang dari ketiga orang kudus istimewa ini: 

Santa Perawan Maria,

di antara wanita di dunia

tidak dilahirkan seorang pun yang sama dengan dikau.

Puteri serta hamba Raja dan Bapa Surgawi

yang Mahatinggi dan Mahaluhur,

Bunda Tuhan kita Yesus Kristus yang Mahakudus,

mempelai Roh Kudus:

doakanlah kami bersama dengan Santo Mikael Malaikat Agung

dan semua balatentara surga

serta semua orang kudus,

pada Putera-mu terkasih yang Mahakudus,

Tuhan dan Guru.

Kemuliaan kepada Bapa dan Putera dan Roh Kudus,

seperti pada permulaan, sekarang, selalu dan sepanjang segala abad.

Amin.

 Santo Fransiskus dari Assisi (1181-1226) 

Cilandak, 7 Oktober 2008 (Peringatan Santa Perawan Maria, Ratu Rosario)

 


*) Seperti termuat dalam majalah MediaPASS edisi Oktober 2008, hal. 5-10, dengan sedikit perbaikan.

**) Seorang Fransiskan sekular, tinggal di Cilandak, Jakarta Selatan.

About these ads