PERTOBATAN DALAM INJIL LUKAS DAN KISAH PARA RASUL 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS 

Tidak ada Paskah tanpa Prapaskah! Sepatah kata penting dalam masa Prapaskah adalah PERTOBATAN. Kita juga telah mengetahui bahwa PERTOBATAN berada dalam pusat iman Kristiani. Maka marilah dalam kesempatan ini kita mencoba untuk sedikit mendalami makna PERTOBATAN ini secara alkitabiah. 

Sebagian besar bacaan Injil untuk hari Minggu dalam tahun C ini diambil dari Injil Lukas. Dalam ‘Injil’ dan ‘Kisah para Rasul’ Lukas suka untuk menceritakan tentang bagaimana Allah memberdayakan orang-orang untuk mengalami suatu pertobatan mendalam – bertobat dari dosa-dosa mereka, mengubah hidup mereka dan percaya kepada Yesus Kristus. Bayangkan cerita-cerita indah dan orang-orang yang terlibat dalam cerita-cerita itu. Misalnya kisah tentang perempuan berdosa mengurapi Yesus (Luk 7:36-50), Zakheus (Luk 19:1-10), penjahat yang bertobat (23:39-43), sida-sida Etiopia (Kis 8:26-40), Kornelius (Kis 10:1-48) dan Santo Paulus sendiri (Kis 9.22.26). Dengan mempelajari beberapa dari cerita-cerita ini dalam suasana doa, kita dapat sampai kepada pemahaman bahwa pertobatan bukanlah sesuatu yang kita lakukan sendiri, akan tetapi sesuatu yang kita lakukan dengan pertolongan dan arahan dari Allah. 

SERUAN YOHANES PEMBAPTIS SUPAYA ORANG-ORANG BERTOBAT

Pada awal Injil Lukas, kita baca kata-kata penuh tantangan yang diucapkan oleh Yohanes Pembaptis: ”Hai kamu keturunan ular berbisa! Siapakah yang memperingatkan kamu supaya melarikan diri dari murka yang akan datang? Jadi, hasilkanlah buah-buah yang sesuai dengan pertobatan” (Luk 3:7-8). Dalam khotbahnya, Yohanes Pembaptis menunjukkan bahwa suatu motivasi besar yang mendorong orang banyak untuk melakukan pertobatan berasal dari pewartaan profetis-nya tentang murka Allah. “Murka” adalah penghakiman Allah yang adil atas para pendosa, dan Yohanes Pembaptis menyerukan agar orang-orang mengakui dosa dan mengubah hati dan tindakan mereka. 

Ketika orang banyak bertanya kepadanya apakah yang harus mereka lakukan, maka Yohanes Pembaptis menyebutkan beberapa buah-pertobatan: Siapa yang mempunyai harus berbagi dengan mereka yang tidak mempunyai (Luk 3:10-11). Para pemungut cukai harus melaksanakan tugas mereka dengan adil (Luk 3:12-13). Para prajurit tidak boleh memperkaya diri lewat perampasan dan pemerasan (Luk 3:14). Seruan Yohanes Pembaptis agar orang banyak bertobat adalah suatu panggilan untuk menghayati kehidupan bermoral dengan mendengarkan jeritan orang-orang miskin dan bersikap serta bertindak adil dalam semua urusan sehari-hari kita. 

Bagi Yohanes Pembaptis pertobatan memerlukan penilaian jujur atas dosa-dosa dalam hidup kita. Yohanes Pembaptis menunjukkan bahwa pertobatan juga menyangkut tindakan, dan bahwa kita melakukan tindakan itu secara berbeda dari apa yang biasa kita lakukan sebelumnya. Tindakan itu sendiri dapat mentransformir diri kita. Misalnya, berbagi apa yang kita miliki dengan orang-orang lain membuat kita lebih sadar akan keberadaan orang-orang lain di sekitar kita dan membantu kita untuk melihat kemurahan hati dan kebaikan di dalam hati kita sendiri. 

SERUAN YESUS UNTUK BERTOBAT

Seperti Yohanes Pembaptis, Yesus juga memanggil orang-orang untuk bertobat: “Saatnya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” (Mrk 1:15). Seperti Yohanes Pembaptis, Yesus juga mengucapkan kata-kata peringatan keras kepada para pendengar-Nya: “Celakalah engkau Khorazim! Celakalah engkau Betsaida! Karena jika di Tirus dan di Sidon terjadi mukjizat-mukijzat yang telah terjadi di tengah-tengah kamu, sudah lama mereka bertobat dan berkabung” (Luk 10:13). 

Di sisi lain kita juga mencatat suatu perbedaan jelas antara strategi Yohanes Pembaptis dan strategi Yesus. Yohanes Pembaptis menunggu orang-orang datang kepadanya untuk mengalami pembaptisannya demi pengampunan dosa-dosa mereka. Sebaliknyalah dengan Yesus! Dia tidak ‘nunggu bola’ seperti Yohanes, melainkan  ‘jemput bola’! Yesus pergi ke tengah-tengah para pendosa sehingga mereka dapat mengalami pengampunan dan kuasa penyembuhan Allah dalam lingkungan hidup mereka sendiri. Lebih dari Yohanes Pembaptis, Yesus menekankan bahwa pertobatan adalah suatu tanggapan terhadap inisiatif Allah. Apabila kita membaca kisah pertobatan berbeda-beda dalam Injil Lukas dan ‘Kisah para Rasul’, kita akan dikejutkan oleh kenyataan betapa sering yang mengambil langkah pertama  adalah justru Allah atau Yesus – bukan si pentobat. 

Injil Lukas dan ‘Kisah para Rasul’ dipenuhi dengan kisah-kisah pertobatan. Marilah kita perhatikan beberapa dari kisah-kisah itu agar kita dapat memperoleh  suatu pemahaman yang lebih mendalam mengenai pertobatan dan melihat apakah ada di antara kisah-kisah itu yang mencerminkan pengalaman-pengalaman kita sendiri. 

YESUS DIURAPI OLEH PEREMPUAN BERDOSA.  Cerita ini (Luk 7:36-50) adalah salah satu cerita yang paling menyentuh hati dari cerita-cerita yang terdapat dalam Injil Lukas. Akan tetapi cerita ini mudah disalahtafsirkan kalau kita fokus pada apa yang telah dilakukan oleh perempuan ini, dan bukannya apa yang telah dilakukan Allah atas dirinya. Perempuan itu tidak memperoleh pengampunan karena tindakan-tindakannya, tetapi tindakan-tindakannya merupakan bukti bahwa dia telah mengalami pengampunan dari Allah. Pernyataan Yesus jelas: “Dosanya yang banyak ini telah diampuni, sebab (itu)[1] ia telah banyak mengasihi. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia mengasihi” (Luk 7:47). 

Pengalaman pertobatan perempuan inilah yang memberdayakan dia untuk menunjukkan kasihnya kepada Yesus. Ia adalah orang yang berhutang besar dalam perumpamaan Yesus yang seluruh hutangnya dinyatakan lunas (lihat Luk 7:41-43), dan tindakan penuh kemurahan hati Yesus itu mendorong perempuan itu untuk banyak mengasihi. Cerita ini menunjukkan bahwa pertobatan adalah suatu tanggapan terhadap tindakan Allah. Kita tidak akan berhasil mengupayakan kasih Allah dan pengampunan-Nya hanya berdasarkan kekuatan kita sendiri, karena ini diberikan kepada kita sebagai pemberian (anugerah/karunia) Allah yang meluap-luap. Pertobatan kita sekadar suatu tanggapan terhadap karunia agung kasih Allah dan kerahiman-Nya. 

PERUMPAMAAN TENTANG ANAK YANG HILANG. Perumpamaan ini (Luk 15:11-32) adalah sebuah perumpamaan ‘kunci’ tentang pertobatan, dan hanya terdapat dalam Injil Lukas. Apabila kita membaca perumpamaan ini, seringkali kita memusatkan perhatian kita pada si ‘anak bungsu’ atau ‘kedua anak’ itu. Ada baiknya kita perhatikan sang bapak, teristimewa karena perilaku ekstrim yang telah ditunjukkannya. Seturut nilai-nilai sosial yang berlaku pada zaman Yesus, sebetulnya sang bapak ‘merusak’ kehormatannya sendiri dengan keluar sendiri menyambut anak-anaknya dalam dua kesempatan (lihat Luk 15:20.28). Namun terasa sekali bahwa pengampunan sang bapak begitu besar sehingga dia mengabaikan citra pribadinya sendiri, agar kedua anaknya dapat kembali kepadanya. 

Lewat perumpamaan-Nya ini, Yesus memproklamasikan bahwa Allah adalah seorang Bapa yang mahamurah. Pertobatan kedua anaknya adalah tanggapan mereka terhadap apa yang telah dilakukan oleh Allah Bapa. Pertobatan adalah proses mengenali dosa kita dan memperkenankan diri kita disentuh (atau malah diliputi) oleh kasih Allah dan kerahiman-Nya. 

PERTOBATAN DAN PANGGILAN SANTO PAULUS. Salah seorang tokoh sentral dalam ‘Kisah para Rasul’ adalah Paulus, pengejar dan penganiaya Gereja yang penuh semangat, kemudian berubah menjadi seorang misionaris yang penuh semangat pula. Perjumpaan Paulus dengan Tuhan yang bangkit di tengah jalan menuju Damsyik telah mengerjakan transformasi mendalam dalam hidupnya. Cerita pertobatan Paulus begitu penting bagi Lukas  sehingga sampai tiga kali dipaparkan dalam ‘Kisah para Rasul’: (1) sebuah narasi dalam Kis 9; (2) Pembelaan Paulus di depan orang-orang Yahudi dalam Kis 22; dan (3) Pembelaan Paulus di hadapan penguasa Romawi, Festus raja Yahudi, Agripa dalam Kis 26. 

Dalam ketiga kasus ini, kelihatannya seakan-akan Lukas memberikan suatu definisi yang hampir klasik: Pertobatan berarti seseorang dijatuhkan dari ‘kuda tinggi’-nya, yang akan membawanya kepada suatu perubahan dalam kehidupannya. Namun demikian, kalau kita membaca cerita pertobatan Paulus ini dengan lebih cermat kita pun dapat saja  terkejut karena tidak demikianlah halnya. Pertama-tama tidak ada catatan  bahwa Paulus dijatuhkan dari kudanya. Lukas hanya menceritakan bahwa Paulus ‘rebah ke tanah’ ketika secara tiba-tiba cahaya memancar dari langit mengelilingi dia (lihat Kis 9:3-4). 

Kedua, dan yang lebih penting adalah kenyataan, bahwa transformasi Paulus bukanlah suatu pertobatan dalam artiannya yang klasik, yaitu berbalik dari penyembahan berhala (lihat 1Tes 1:9). Sebagai seorang Yahudi saleh, Paulus (Saulus) telah menyembah Allah benar yang Esa. Pertobatan Paulus juga bukan suatu perubahan atau pembalikan dari kehidupan tak bermoral dan berdosa. Dia malah mengatakan kepada jemaat di Filipi bahwa “tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat” (Flp 3:6). Sesuatu lebih mendalam telah terjadi dalam dirinya, yang sesungguhnya telah mengubah fondasi kehidupannya sampai ke akar-akarnya. 

Paulus mengalami suatu transformasi: Allah telah ‘mentakdirkan’ Paulus, memisahkannya sejak dia dilahirkan dan memanggilnya untuk mewartakan Injil ke tengah-tengah orang-orang non-Yahudi. Ketika Paulus menggambarkan pengalamannya ini, dia tidak mengatakannya sebagai suatu pertobatan, tetapi suatu panggilan (lihat Gal 1:15-16; lihat juga Yer 1:5). Pengalaman ini sungguh mengubah Paulus, sehingga pada suatu kesempatan dia sampai berani menulis: “Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia daripada semuanya. Karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus” (Flp 3:7-8). 

Perjumpaan Paulus dengan Tuhan Yesus Kristus mengungkapkan suatu makna pertobatan yang lebih luas. Pertobatan di sini tidak hanya meninggalkan kedosaan dan berpaling kepada Allah benar yang Esa. Pertobatan juga merupakan panggilan untuk suatu misi, apakah panggilan untuk menjadi imam, eksekutif perusahaan, buruh pabrik, ibu rumah tangga dan lain sebagainya. Dalam situasi apapun kita berada sekarang, Allah telah memanggil kita dan memberdayakan kita untuk mewartakan Injil Tuhan Yesus Kristus, dalam kata dan perbuatan. Kita tidak sekadar dipanggil untuk mengubah hidup kita, tetapi juga untuk mewartakan Injil dan membawa orang-orang lain kepada terang Kristus. 

CATATAN PENUTUP. Kita dipanggil untuk melibatkan diri dalam proses pertobatan secara terus-menerus, sepanjang hidup kita. Ingatlah apa yang berulang kali dipesankan oleh Lukas, yaitu bahwa pertama-tama pertobatan adalah suatu tanggapan terhadap kegiatan ilahi dalam diri kita masing-masing. Pertobatan adalah suatu pengakuan akan kedosaan kita, juga suatu pengakuan akan kebutuhan mendalam dari kita akan Allah. Akhirnya pertobatan berarti bahwa kita menaruh kepercayaan pada Allah sepenuhnya dan pergi ke mana saja Dia akan memimpin kita. Kita sungguh bertobat apabila kita berdoa dengan segala ketulusan hati seperti Yesus sendiri berdoa: “Jangan kehendakku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi” (Luk 22:42). 

Cilandak, 8 Februari 2010


[1] Saya tambahkan kata ‘itu’ untuk diselaraskan dengan tiga teks; dua dalam bahasa Inggris. “I  tell you, then, the great love she has shown  proves that her many sins have been forgiven (Today’s English Version); “So I tell you, her many sins have been forgiven; hence, she has shown great love” (The New American Bible). “Sungguh: kasihnya yang besar itu menunjukkan bahwa dosanya yang banyak sudah diampuni!” (ALKITAB KABAR BAIK; LAI).

About these ads