SAULUS BERTOBAT DAN MENJADI PAULUS

(Bacaan Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Paskah, Jumat 23-4-10)

Sementara itu hati Saulus masih berkobar-kobar untuk mengancam dan membunuh murid-murid Tuhan. Ia menghadap Imam Besar, dan meminta surat kuasa untuk dibawa kepada rumah-rumah ibadat Yahudi di Damsyik, supaya, jika ia menemukan laki-laki atau perempuan yang mengikut Jalan Tuhan, ia dapat menangkap mereka dan membawa mereka ke Yerusalem.

Dalam perjalanan ke Damsyik, ketika ia sudah dekat kota itu, tiba-tiba cahaya memancar dari langit mengelilingi dia. Ia rebah ke tanah dan mendengar suara yang berkata kepadanya, “Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku?” Jawab Saulus, “Siapa Engkau, Tuan?”  Kata-Nya, “Akulah Yesus yang kauaniaya itu. Tetapi bangunlah dan pergilah  ke dalam kota, di sana akan dikatakan kepadamu, apa yang harus kauperbuat.” Teman-teman seperjalanannya pun termangu-mangu karena mereka memang mendengar suara itu, tetapi tidak melihat seorang pun. Saulus bangkit berdiri, lalu membuka matanya, tetapi ia tidak dapat melihat apa-apa; mereka harus menuntun dia masuk ke Damsyik. Selama tiga hari ia tidak dapat melihat dan selama itu juga ia tidak makan dan minum.

Di Damsyik ada seorang murid Tuhan bernama Ananias. Tuhan berfirman kepadanya dalam suatu penglihatan, “Ananias!”  Jawabnya, “Ini aku, Tuhan!”  Firman tuhan, “Bangkitlah dan pergilah ke jalan yang bernama Jalan Lurus, dan carilah di rumah Yudas seorang dari Tarsus yang bernama Saulus. Ia sedang berdoa, dan dalam suatu penglihatan ia melihat bahwa seorang yang bernama Ananias masuk ke dalam dan menumpangkan tangannya ke atasnya, supaya ia dapat melihat lagi.” Jawab Ananias, “Tuhan, dari banyak orang telah kudengar banyaknya kejahatan yang dilakukannya terhadap orang-orang kudus-Mu di Yerusalem. Lagi pula di sini dia memperoleh kuasa dari imam-imam kepala untuk menangkap semua orang yang memanggil nama-Mu.”  Tetapi firman Tuhan kepadanya, “Pergilah, sebab orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku di hadapan bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel. Aku sendiri akan menunjukkan kepadanya, betapa banyak penderitaan yang harus ia tanggung oleh karena nama-Ku.” Lalu pergilah Ananias ke situ dan masuk  ke rumah itu. Ia menumpangkan tangannya ke atas Saulus, katanya, “Saulus, saudaraku, Tuhan Yesus, yang telah menampakkan diri kepadamu di jalan yang engkau lalui, telah menyuruh aku kepadamu, supaya engkau dapat melihat lagi dan penuh dengan Roh Kudus.”  Seketika itu juga seolah-oleh selaput gugur dari matanya, sehingga ia dapat melihat lagi. Ia bangun lalu dibaptis. Setelah ia makan, pulihlah kekuatannya. Saulus tinggal beberapa hari bersama-sama dengan murid-murid di Damsyik. Ketika itu juga ia memberitakan Yesus di rumah-rumah ibadat, dan mengatakan bahwa Yesus adalah Anak Allah (Kis 9:1-20). Bacaan Injil: Yoh 6:52-59.

Efek kemartiran Stefanus (Kis 7:57-60) terus menyebar ke mana-mana dan hal itu dapat kita rasakan dalam bacaan hari ini. Kita lihat Gereja Kristus sudah tidak lagi terbatas pada kota Yerusalem, tetapi sudah merambah ke sejumlah tempat lain seperti Damsyik. Dan Gereja setelah itu tidak berhenti di Damsyik, tetapi terus bertumbuh-kembang. Yang sangat instrumental dalam pertumbuhan Gereja itu adalah pertobatan Saulus, pengejar/pembunuh umat Kristiani yang diubah menjadi seorang Rasul Kristus yang tangguh. Peranan Paulus dalam pertumbuhan Gereja Perdana begitu signifikan sehingga Lukas  menceritakan peristiwa pertobatan Saulus sampai sebanyak tiga kali (Kis 9:1-20; 22:3-21; 26:9-20). 

Saulus adalah musuh Gereja yang paling ditakuti, … namun untuk sekian puluh tahun mendatang sampai akhir hayatnya dia adalah Paulus yang agung, SANG PEWARTA KABAR BAIK TUHAN YESUS KRISTUS par excellence. Beda dengan para rasul awal yang adalah orang-orang sederhana dan tanpa pendidikan, Paulus adalah seorang Farisi anak didik Rabi Gamaliel. Paulus adalah seorang ‘jawara’ dalam hal Taurat, dan dia siap mati dibunuh atau membunuh demi Taurat itu. Kemudian dia dikenal dan terkenal sebagai Rasul untuk bangsa-bangsa bukan Yahudi (Rm 11:13). Semua ini diawali pada peristiwa dramatis yang terjadi di tengah jalan menuju Damsyik itu. Pada peristiwa termaksud Saulus berjumpa dengan Tuhan Yesus sendiri. Suatu perjumpaan yang berbobot mistis dan juga penuh kuasa, yang membuat hidupnya goncang sampai ke fondasi-fondasinya.  Para rasul yang lain dipanggil oleh Yesus yang masih hidup di dunia dan mereka dapat hidup akrab dengan sang Guru untuk sekitar tiga tahun lamanya. Tidak demikian halnya dengan Saulus: ia dipanggil oleh Kristus yang sudah bangkit, yaitu Dia yang sudah duduk dalam kemuliaan di sisi kanan Bapa di surga. Apa yang diketahui oleh Saulus tentang Yesus, diperolehnya dari para rasul lainnya maupun langsung dari Kristus yang telah bangkit. 

Pertobatan Saulus jelas merupakan suatu peristiwa yang unik. Namun demikian, setiap pertobatan – seunik-uniknya sekali pun – sedikit-banyak selalu mempunyai keserupaan/kemiripan dengan pertobatan Saulus ini. Bagi setiap orang-percaya, pertobatan menyangkut suatu perjumpaan dengan Kristus dan suatu keputusan untuk berpaling-meninggalkan dosa dan merangkul pengampunan-Nya dan sebuah hidup yang baru, suatu keputusan yang disahkan atau diantisipasi dalam sakramen baptis. Seperti halnya dengan Saulus, perjumpaan kita dengan Kristus membentuk dasar dari iman-kepercayaan kita. Melalui iman-kepercayaan itulah kita terus-menerus menerima pengampunan dan mewujud-nyatakan panggilan kita dalam Gereja. 

Sepanjang masa pelayanannya, Paulus selalu merujuk kepada pertobatannya sebagai sumber kekuatan dan fondasi dari hidup-barunya (lihat Gal 1:11-17; 1Kor 15:7-11). Bahkan selagi dia semakin bertumbuh dan mendalam dalam pertobatannya,  Paulus terus menyimpan dalam pikirannya bahwa dia telah berjumpa dengan Tuhan yang bangkit, dan Kristus yang sekarang sudah dimuliakan itu terus bekerja dalam dan melalui dirinya. Seperti halnya dengan Paulus, janji yang sama tersedia juga bagi kita. Marilah kita menerima janji itu dalam iman dan pengharapan. 

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah harapan dan hidup kami. Terpujilah nama-Mu selalu. Amin.

Cilandak, 20 April 2010

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS