1 Juni 2010

Saudari dan saudara yang dikasihi Kristus,

PERIHAL: SANTO YUSTINUS MARTIR (+165)

Hari ini kita memperingati seorang martir, seorang saksi Kristus di abad ke-2, pada masa Gereja masih berusia muda, yaitu Santo Yustinus (+ 165). Yustinus lahir dari sebuah keluarga non-Kristiani di Nablus, Samaria, Asia Kecil pada permulaan abad ke-2, diperkirakan pada waktu sekitar wafatnya Santo Yohanes Rasul. Yustinus mendapat pendidikan yang baik sejak masa kecilnya. Dia tertarik pada pelajaran filsafat untuk memperoleh kepastian tentang makna kehidupan ini dan tentang Allah. Ia memang seorang pribadi yang mendambakan kebenaran sejati. Sekalipun berbagai macam sistem filsafat telah dikuasai olehnya, Yustinus belum puas juga. Maka dia suka merenung di tempat-tempat yang sunyi-sepi.

Pada suatu hari dia berjalan-jalan di tepi pantai sambil merenungkan berbagai soal. Di sana dia berjumpa dengan seorang yang sudah berusia lanjut. Ternyata dia seorang rahib. Kepada sang rahib tua itu Yustinus mengajukan pertanyaan-pertanyaan sehubungan dengan soal yang sedang direnungkannya. Rahib tua itu menerangkan kepadanya segala hal tentang para nabi Israel yang diutus oleh Allah, tentang Yesus Kristus yang dinubuatkan para nabi serta tentang agama Kristiani. Orang tua itu juga menasihati Yustinus untuk berdoa kepada Allah memohon terang surgawi.

Di samping filsafat, Yustinus juga akhirnya belajar Kitab Suci. Setelah menemukan terang iman, dia kemudian dibaptis (pada waktu berumur 33 tahun) dan menjadi seorang pembela iman Kristiani yang tersohor. Sesuai kebiasaan pada zaman itu, Yustinus pun mengajar di tempat-tempat umum, seperti alun-alun kota, dengan mengenakan pakaian seorang filsuf. Ia juga menulis tentang berbagai masalah, terutama yang menyangkut pembelaan ajaran iman yang benar (apologia). Di sekolahnya di Roma, banyak kali diadakan perdebatan umum guna membuka hati banyak orang bagi kebenaran iman Kristiani.

Yustinus tetap mempertahankan statusnya sebagai seorang awam. Namun dia giat menyebar-luaskan KABAR BAIK Tuhan Yesus Kristus ke Yunani, Mesir dan Italia. Dia adalah seorang evangelist dan apologist sejati yang dengan cemerlang mau dan mampu membela ajaran Kristiani terhadap serangan para filsuf non-Kristiani. Yustinus menulis beberapa buku di bidang apologia yang amat terkenal. Ia bangga bahwa dia menjadi seorang Kristiani yang saleh dan ia bertekad meluhurkan kekristenan dengan hidupnya. Dalam bukunya yang berjudul “Percakapan dengan Tryphon Yahudi”, dia menulis: “Meskipun kami orang Kristiani dibunuh dengan pedang, disalibkan, atau dibuang ke moncong-moncong binatang buas, atau pun disiksa dengan  belenggu dan api, kami tidak akan murtad dari iman-kepercayaan kami. Sebaliknya, semakin hebat penyiksaan, semakin banyak pula orang, yang demi nama Yesus, bertobat dan menjadi orang saleh.”

Ketika melakukan evangelisasi di kota Roma, kegiatan pelayanannya ini dilaporkan kepada pihak penguasa. Bersama dengan beberapa orang Kristiani lainnya, Yustinus mengalami penyiksaan berat, kemudian dipenggal kepalanya. Sebelumnya, kepada para orang-orang yang mendzaliminya (termasuk ‘hakim’) Yustinus berkata: “Buatlah apa saja yang kausuka terhadap kami. Kami orang Kristiani tidak akan menyembah berhala.” Yustinus memang seorang saksi Kristus sejati!!! Dia memang dikenal sebagai seorang pembela iman Kristiani terbesar pada zaman awal Gereja.

Kita orang Kristiani yang Katolik wajib menghormati [samasekali bukan menyembah] Orang Kudus seperti Santo Yustinus ini, untuk meneladani hidupnya sebagai seorang murid Kristus dan mohon doa-doa syafaatnya agar kita masing-masing juga dapat menjadi seorang murid Kristus yang baik, lewat hidup kita sehari-hari. Baiklah saya menutup surat ini dengan bacaan singkat yang kita baca dalam IBADAT PAGI hari ini guna memperingati martir Tuhan Yesus yang bernama Yustinus ini: “Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belaskasihan dan Allah sumber segala penghiburan. Ia menghibur kita dalam segala penderitaan, sehingga kita sanggup menghibur semua orang yang ditimpa bermacam-macam penderitaan dengan penghiburan yang kita terima sendiri dari Allah. Sebab sebagaimana penderitaan Kristus melimpah dalam diri kita, demikian pula berlimpah penghiburan kita demi Kristus” [2Kor 1.3-5; teks dari buku IBADAT HARIAN].

Berkat Allah Tritunggal Mahakudus selalu menyertai anda sekalian!

Salam persaudaraan,

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS