TERKADANG KITA MEMERLUKAN SESUATU YANG SPEKTAKULER

(Bacaan Injil Misa, PESTA YESUS MENAMPAKKAN KEMULIAAN-NYA, Jumat 6-8-10)

TRANSFIGURASI - 20Yesus membawa Petrus, Yohanes dan Yakobus, lalu naik ke atas gunung untuk berdoa. Ketika ia sedang berdoa, rupa wajah-Nya berubah dan pakaian-Nya menjadi putih berkilau-kilauan. Lalu tampaklah dua orang berbicara dengan Dia, yaitu Musa dan Elia. Keduanya menampakkan diri dalam kemuliaan dan berbicara tentang tujuan kepergian-Nya yang akan digenapi-Nya di Yerusalem. Sementara itu Petrus dan teman-temannya telah tertidur dan ketika mereka terbangun, mereka melihat Yesus dalam kemuliaan-Nya: dan kedua orang yang berdiri di dekat-Nya itu. Ketika kedua orang itu hendak meninggalkan Yesus, Petrus berkata kepada-Nya, “Guru, alangkah baiknya kita berada di tempat ini. Biarlah kami dirikan sekarang tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.” Tetapi Petrus tidak tahu apa yang dikatakannya itu. Sementara ia berkata demikian, datanglah awan menaungi mereka. Ketika mereka masuk ke dalam awan itu, takutlah mereka. Lalu terdengarlah suara dari dalam awan itu, yang berkata, “Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia.” Ketika suara itu terdengar, tampaklah Yesus tinggal seorang diri. Murid-murid itu pun merahasiakannya, dan pada masa itu mereka tidak menceritakan kepada siapa pun apa yang telah mereka lihat itu (Luk 9:28b-36).

Kadang-kadang memang kita memerlukan sesuatu yang spektakuler untuk bangkit dari kelelahan atau ketika kita sedang berada dalam situasi tertekan dalam hidup kita. Barangkali inilah situasi yang sedang dihadapi oleh ketiga murid Yesus yang tergolong ‘lingkaran dalam’ sang Rabi-keliling yang bernama Yesus, pada waktu Dia membawa mereka ke atas gunung untuk berdoa. Kira-kira delapan hari sebelumnya, Yesus untuk pertama kalinya memberitahukan para murid-Nya tentang penderitaan, kematian dan kebangkitan yang akan dialami-Nya, juga Dia mengajarkan kepada mereka syarat-syarat dalam mengikut Dia (Luk 9:22-27). Kita semua tentu dapat membayangkan betapa mengagetkan pemberitahuan serta ajaran Yesus itu.

Namun demikian, di atas gunung itu, tiga orang murid-Nya yang tergolong “inti” ini diberi kesempatan untuk menyaksikan suatu peristiwa yang sungguh spektakuler, menyegarkan jiwa dan sangat menghibur hati yang sedang tertekan. Sementara ketiga murid itu tertidur, selagi Dia berdoa,  rupa wajah Yesus berubah dan dan pakaian-Nya menjadi putih berkilau-kilauan. Musa dan Elia juga menampakkan diri dalam kemuliaan. Mereka bertiga berbicara mengenai tujuan kepergian-Nya yang akan digenapi-Nya di Yerusalem (Luk 9:29-31). Dan ketiga mereka terbangun, maka ketiga murid dapat melihat dengan mata sendiri Yesus dalam segala kemuliaan ilahi-Nya berdiri bersama Musa serta Elia yang berdiri di dekat-Nya (Luk 9:32).

Ketika Musa dan Elia hendak meninggalkan Yesus, Petrus berkata kepada-Nya, “Guru, alangkah baiknya  kita berada di tempat ini. Biarlah kami dirikan sekarang tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.” (Luk 9:33); namun dengan cepat Matius menulis bahwa Petrus tidak tahu apa yang dikatakannya itu (Luk 9:33). Sementara Petrus masih berbicara, datanglah awan menaungi mereka. Ketika mereka masuk ke dalam awan dalam keadaan ketakutan, terdengarlah suara dari dalam awan itu: “Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia”. Kemudian tampaklah Yesus tinggal seorang diri (Luk 9:34-36).

Dalam belas kasihan-Nya, Allah tahu bahwa murid-murid ini sungguh membutuhkan peristiwa spektakuler seperti ini untuk menguatkan mereka agar lebih siap menghadapi peristiwa-peristiwa apa saja yang akan terjadi di masa depan sementara mereka melakukan perjalanan ke Yerusalem. Mereka kiranya mampu diyakinkan ketika mendengar suara Bapa surgawi: “Inilah Anak-Ku.” Pada hari “Pesta Yesus Menampakkan Kemuliaan-Nya” ini, Allah juga ingin mengingatkan kita akan peristiwa perwahyuan spektakuler yang terjadi sekitar dua ribu tahun lampau itu, agar kita juga dikuatkan sebagai murid-murid Yesus di zaman modern ini. Allah ingin meyakinkan kita akan kemuliaan dan cintakasih Yesus, sehingga dengan demikian kita pun mempunyai keberanian dan hasrat kuat untuk mengikuti-Nya ke mana saja Dia akan memimpin kita.

Yesus hidup! “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya” (Ibr 13:8). Dia menyertai kita senantiasa sampai akhir zaman (Mat 28:20). Dia adalah Imanuel, Allah yang menyertai kita (Mat 1:23). Allah Bapa mengutus Dia kepada kita agar kita dapat menikmati kehidupan kekal di surga. Pada akhirnya kita pun dapat melihat apa yang telah dilihat oleh Petrus, Yakobus dan Yohanes: Yesus yang bertakhta di sebelah kanan Allah Bapa, mengenakan pakaian yang berkilau-kilauan, memancarkan sinar dengan gemerlapan seperti matahari dan bercahaya seperti sejuta berlian. Sementara  itu, sampai kita berhasil mendapat penglihatan tentang Yesus yang seperti ini, Allah akan memberikan kepada kita berbagai mukjizat dan tanda heran yang kecil-kecil serta penghiburan guna menopang kehidupan iman kita, seperti yang telah dilakukan-Nya kepada ketiga murid utama Yesus dahulu.

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah bintang gemerlapan dengan cahaya yang  menerangi jalanku. Bukalah mata hatiku agar dapat memandang kemuliaan-Mu. Kuatkanlah iman-kepercayaanku dalam kehadiran-Mu. Jagalah agar aku selalu dekat pada-Mu, agar aku pun dapat menjadi terang pengharapan dan penghiburan bagi orang-orang lain di sekelilingku. Amin.

Catatan: Bagi yang ingin mendalami bacaan Injil hari ini, silahkan mengunjungi blog SANG SABDA ini.  Judul: INILAH ANAKKU YANG KUPILIH, DENGARKANLAH DIA, tanggal 28 Februari 2010; Kategori: BACAAN HARIAN BULAN FEBRUARI 2010. 

Cilandak, 4 Agustus 2010 [Peringatan Santo Yohanes Maria Vianney, Imam Praja anggota OFS]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements