TUHAN MENGETAHUI PIKIRAN-PIKIRAN ORANG BERHIKMAT; SESUNGGUHNYA SEMUANYA SIA-SIA BELAKA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXII, Kamis 2-9-10) 

Janganlah ada orang yang menipu dirinya sendiri. Jika ada di antara kamu yang menyangka dirinya berhikmat menurut dunia ini, biarlah ia menjadi bodoh, supaya ia berhikmat. Karena hikmat dunia ini adalah kebodohan bagi Allah. Sebab ada tertulis: “Ia yang menangkap orang berhikmat dalam kecerdikannya.” Dan lagi: “Tuhan mengetahui pikiran-pikiran orang berhikmat; sesungguhnya semuanya sia-sia belaka.” Karena itu janganlah ada orang yang memegahkan dirinya atas manusia, sebab segala sesuatu adalah milikmu: baik Paulus, Apolos, maupun Kefas, baik dunia, hidup, maupun mati, baik waktu sekarang, maupun waktu yang akan datang. Semuanya milikmu, tetapi kamu adalah milik Kristus dan Kristus adalah milik Allah (1Kor 3:18-23).

Mazmur Tanggapan: Mzm 24:1-6; Bacaan Injil: Luk 5:1-11 

Jemaat di Korintus adalah orang-orang Kristiani baru yang hidup dalam sebuah kota yang besar pada masa itu, sebuah kota kosmopolitan. Pemikiran orang-orang di sana dipengaruhi secara mendalam oleh berbagai falsafah hidup atau filsafat non-Kristiani, dan mereka membawa banyak filsafat ini pada waktu mereka menjadi pengikut Kristus. Budaya mereka telah memberikan kepada mereka fokus yang terdistorsi atas pemimpin-pemimpin manusia, dengan demikian tidak mengherankanlah apabila mereka dengan cepat masuk dalam situasi saling-bersaing satu sama lain. Santo Paulus dapat melihat bahwa jemaat di Korintus sungguh membutuhkan hikmat spiritual dalam kehidupan baru yang telah diberikan Allah kepada mereka melalui pembaptisan. 

Situasi yang kita hadapi atau alami pada zaman modern ini juga serupa, katakanlah ‘tidak banyak bedanya’. Melalui media, sekolah, tempat-kerja, filsafat-filsafat dunia secara terus-menerus mempengaruhi pikiran, sikap dan perilaku kita. Tak terasa sebenarnya bahwa penolakan terhadap ajaran-ajaran untuk hidup seturut sabda dan perbuatan Yesus sedikit demi sedikit mengendap dalam hati dan pikiran kita. Hikmat salib, yang merupakan kebodohan bagi dunia (lihat 1Kor 1:18) tidak selalu memberi kesan kuat kepada kita sebagai sesuatu yang bijaksana. Akan tetapi kabar baiknya adalah, bahwa kita mempunyai akses kepada hikmat Allah. Dibimbing oleh Roh Kudus serta sabda Allah dalam Kitab Suci, kita dapat menaruh pikiran Kristus pada pikiran kita, dan dengan demikian pada saatnya dapat mengatasi/mengalahkanhikmat dunia. 

Roh Kudus ingin memimpin kita meninggalkan “hikmat” yang ujung-ujungnya adalah guna kepentingan diri kita sendiri. Dia ingin mengajar kita untuk mengasihi orang-orang lain sepenuhnya, seperti Allah sendiri mengasihi kita. Roh Kudus ingin menolong  kita agar meninggalkan “pembalasan dendam”, kemudian datang ke salib Yesus, di mana kita sendiri telah menerima pengampunan untuk segala dosa-dosa kita. Dalam keluarga kita masing-masing dan/atau di antara teman-teman, di mana saja kita mengalami konflik dan perpecahan, Roh Kudus ingin membimbing kita dalam jalan kerendahan hati/kedinaan yang akan membawa kita kepada damai-sejahtera. 

Hikmat sejati mengalir dari takhta Allah. Sumbernya adalah Allah semata, Dia yang mahasempurna dalam kesetiaan-Nya. Dia adalah Khalik langit dan bumi! Dia mampu melihat waktu dari titik awal sampai titik akhir dengan sekilas pandang saja. Kita manusia suka memandang segala sesuatu secara sempit, yaitu dari perspektif kita sendiri yang terbatas. Dengan menaruh kepercayaan kepada Allah sepenuhnya bahwa Dia akan memberikan kepada kita “pikiran”-Nya tentang diri kita dan tentang orang-orang dengan siapa kita hidup dan bekerja sehari-hari, maka kita pun akan bertumbuh dalam hikmat sejati. Kalau saya kita memperkenankan atau memberi “izin” kepada-Nya, maka Dia akan memimpin kita ke luar dari kungkungan pikiran kita yang terbatas (dan kadang-kadang sikap serta perilaku mementingkan diri sendiri dan praduga/prasangka), dan ke dalam nafas hikmat-Nya sendiri.  

DOA: Yesus Kristus, Engkau adalah Tuhan dan Juruselamat kami semua. Dalam hikmat Allah Engkau menyerahkan diri-Mu untuk mati di kayu salib guna menebus dosa-dosa kami. Pada hari ini kami menyerahkan semua “hikmat manusia” kami ke hadapan salib-Mu dan menempatkan diri kami sendiri di kaki-Mu. Berikanlah kepada kami hikmat-Mu dan rahmat untuk hidup seturut sabda-Mu. Amin. 

Cilandak, 29 Agustus 2010 [HARI MINGGU BIASA XXII] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS