Archive for September 6th, 2010

BERKAT ALLAH YANG SUNGGUH LUAR BIASA: PENGAMPUNAN !!!

BERKAT ALLAH YANG SUNGGUH LUAR BIASA: PENGAMPUNAN !!!

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIII, Selasa 7-9-10) 

Apakah ada seorang di antara kamu, yang jika berselisih dengan orang lain, berani mencari keadilan pada orang-orang yang tidak benar, dan bukan pada orang-orang kudus? Atau tidak tahukah kamu bahwa orang-orang kudus akan menghakimi dunia? Jika penghakiman dunia berada dalam tangan kamu, tidakkah kamu sanggup untuk mengurus perkara-perkara yang tidak berarti? Tidak tahukah kamu bahwa kita akan menghakimi malaikat-malaikat? Jadi, apalagi perkara-perkara biasa dalam hidup kita sehari-hari. Sekalipun demikian, jika kamu harus mengurus perkara-perkara biasa, apakah kamu menyerahkan urusan itu kepada mereka yang tidak terhitung dalam jemaat? Hal ini kukatakan untuk mempermalukan kamu. Tidak adakah seorang di antara kamu yang berhikmat, yang dapat mengurus perkara-perkara dari saudara-saudara seimannya? Apakah saudara yang satu mencari keadilan terhadap saudara yang lain, dan justru pada orang-orang yang tidak percaya? Adanya saja perkara di antara kamu yang seorang terhadap yang lain telah merupakan kekalahan bagi kamu. Mengapa kamu tidak lebih suka menderita ketidakadilan? Mengapa kamu tidak lebih suka dirugikan? Tetapi kamu sendiri melakukan ketidakadilan dan merugikan orang dengan menipu, dan hal itu bahkan kamu lakukan terhadap saudara-saudara seimanmu. Atau tidak tahukah kamu bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mandapat bagian dalam Kerajaan Allah?

Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, pezina, laki-laki yang bersetubuh dengan sesama jenisnya, pasangan orang yang berbuat demikian, pencuri, orang tamak, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. Beberapa orang di antara kamu memang demikian dahulu. Tetapi kamu telah memberi dirimu disucikan, kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita (1Kor 6:1-11).

Mazmur Tanggapan: Mzm 149:1-6; Bacaan Injil: Luk 6:6-11 

Santo Paulus merasa kaget mendengar bahwa anggota jemaat di Korintus saling membuat tuntutan- hukum satu sama lain. Bukannya menyelesaikan perbedaan-perbedaan yang ada di antara mereka sendiri, mereka malah menggunakan pengadilan Romawi yang dijalankan oleh orang-orang kafir, untuk memecahkan masalah-masalah umat Kristiani. Hal ini menandakan begitu minim-nya keberadaan cintakasih dan rasa saling percaya di antara para anggota jemaat di Korintus itu. Seakan mereka sulit diperdamaikan – direkonsiliasikan – satu sama lain demi kesejahteraan tubuh Kristus (gereja) di sana. Dengan demikian, begitu rendah dan ceteklah Kekristenan di mata orang-orang yang bukan Kristiani! 

Paulus menyebutkan banyak dosa yang menyebabkan skandal: percabulan, penyembahan berhala, perzinahan, homoseksualitas, pencurian, ketamakan, mabuk-mabuk, fitnah, penipuan (1Kor 6:9-10). Apabila dosa-dosa ini masih berlanjut dan orang-orang yang bersangkutan tidak bertobat, maka menurut Paulus, mereka tidak akan mewariskan Kerajaaan Allah. Kita semua ketahui bahwa dosa-dosa seperti ini masih ada sampai hari ini, bahkan di kalangan orang-orang yang mengakui diri mereka sebagai orang Kristiani. Praktek-praktek tak bermoral dalam urusan bisnis, seperti melibatkan urusan seks dalam memelihara relasi yang baik dengan segala pihak, termasuk urusan perpajakan dan pelanggaran etika bisnis lain-lainnya, sudah sangat meluas di mana-mana, apalagi di negara kita tercinta Indonesia ini. Pesta pora, pesta miras dan narkoba dan promiskuitas seksual seolah menjadi tanda yang menyertai kesuksesan seseorang, a.l. kesuksesan di bidang bisnis. Materialisme, hedonisme, konsumerisme, uang dan sukses dunia, kiranya adalah berhala-berhala populer pada zaman kita ini. 

Allah ingin agar kita melakukan pemeriksaan atas kehidupan kita; kita lihat apakah dosa-dosa ini (masih) merupakan bagian dari pikiran dan kebiasaan kita. Kalau jawabnya “ya”, maka bagaimana kita dapat melepaskan diri dari hal-hal tersebut? Jawabnya: Dengan memberikan kita dicuci bersih, disucikan (dikuduskan) dan dibenarkan dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus (lihat 1Kor 6:11). Dengan demikian dalam nama Yesus, betapa menumpuknya pun dosa kita, kita tetap dapat melakukan pertobatan, kita dapat dibebas-merdekakan dan kita dapat diubah. 

Ini adalah sebuah berkat Allah yang sungguh luarbiasa besarnya!  Kita tetap dapat dibersihkan oleh-Nya, tanpa mempertimbangkan betapa telah “rusaknya” diri kita. Firman TUHAN (YHWH) lewat nabi Yesaya: “Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba” (Yes 1:18). Dengan mengklaim pengampunan Tuhan melalui kuasa yang membersihkan dari darah-Nya yang mahakudus, kita dapat dibuat menjadi suci. Kristus menempatkan kita di hadapan Allah dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau serupa dengan itu, tetapi supaya kita kudus dan tidak bercela (lihat Ef 5:27). Tidak hanya kita dibersihkan dan disucikan, akan tetapi penghakiman Allah pun disingkirkan dari diri kita “melalui penebusan dalam Kristus Yesus” (Rm 3:24). Sekarang marilah kita semua menaruh kepercayaan kita pada janji-janji besar ini dan menerima kehidupan yang dianugerahkan Allah lewat Putera-Nya, Yesus Kristus. 

DOA: Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami. Terima kasih penuh syukur kami panjatkan kepada-Mu karena lewat kuasa darah-Mu kami dikuduskan dan menjadi tidak bercela.  Selain daripada itu kami pun dijauhkan dari penghakiman Bapa surgawi, sehingga dengan demikian kami dapat menaruh kepercayaan sepenuhnya pada janji-janji Bapa dan menerima kehidupan kekal bersama-Nya di surga. Amin.

Cilandak, 3 September 2010 [Peringatan S. Gregorius Agung (590-604), Paus dan Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

PERANAN KITAB SUCI DALAM KEHIDUPAN GEREJA (1)

PERANAN  KITAB SUCI DALAM KEHIDUPAN GEREJA (1) *)

 Salah satu prestasi besar Konsili Vatikan II adalah pembaharuan minat dalam Kitab Suci atau Alkitab di antara orang-orang Katolik. Pembaharuan ini cukup dramatis apabila kita membandingkan praktek kekatolikan umat pada tahun 1950’an dan situasi masa kini, di dunia pada umumnya dan di Indonesia khususnya. 

Pada pertengahan abad ke-20 Kitab Suci  berbahasa Latin-lah yang dibacakan dalam Misa Kudus. Pada masa itu terdapat sedikit bacaan yang dipilih dari Perjanjian Lama, dan ada sejumlah kecil bacaan yang diambil dari Perjanjian Baru yang mendominir lingkaran satu tahun. Dalam menanggapi Konsili Vatikan II, kita sekarang mempunyai sebuah lingkaran tiga tahunan perihal pembacaan pada Misa hari Minggu dan sebuah lingkaran dua tahunan perihal pembacaan pada Misa harian. Bacaan-bacaan Perjanjian Lama menjadi menonjol dan hampir keseluruhan Perjanjian Baru (Injil dan surat-surat/epistola serta Kitab Wahyu) mendapat kesempatan untuk dibacakan. Teks yang dibacakan juga dalam bahasa setempat yang dominan. 

Di banyak tempat, perkembangan mencolok tampak dalam kurikulum sekolah-sekolah Katolik dan juga seminari-seminari, yaitu tempat menggodok para calon imam. Memang sejak Konsili Vatikan II secara bertahap Alkitab tidak hanya mengemuka dalam liturgi Katolik, pendidikan Katolik, tetapi juga dalam devosi dan praktek kesalehan populer Katolik. Kelompok-kelompok doa Karismatik dan komunitas-komunitas basis menemukan sumber kekuatan spiritual mereka dalam refleksi serta doa alkitabiah. Timbullah kesadaran dalam diri banyak umat, bahwa misalnya doa rosario yang tradisional dan kuno itu sesungguhnya sangat alkitabiah, demikian pula dengan bahasa yang digunakan dalam doa-doa Katolik. 

Sejak Konsili Vatikan II, Kitab Suci juga memainkan peranan yang penting dalam gerakan ekumene, kendati perbedaan-perbedaan historis dan teologis antara gereja-gereja Kristiani masih tetap ada. Kemajuan utama adalah bahwa pelbagai gereja yang berbeda-beda itu telah memusatkan perhatian mereka pada Alkitab sebagai warisan bersama dan mereka pun telah mengkaji-ulang perbedaan-perbedaan yang ada di antara mereka dalam ‘terang bahasa dan pola-pola pemikiran Alkitab’. Apabila ini telah terjadi, maka biasanya hasilnya adalah pengakuan bahwa yang menyatukan gereja-gereja Kristiani itu lebih penting dan lebih fundamental daripada  hal-hal yang memisahkan mereka. Berbagai bentuk pendalaman Kitab Suci juga sangat membantu pemahaman bersama dan tumbuhnya semangat saling menghormati. 

Teologi Katolik sejak Konsili Vatikan II jauh lebih memberi perhatian pada sumber-sumber alkitabiah; bahasa yang digunakannya pun lebih alkitabiah ketimbang bahasa filsafat. Dokumen-dokumen resmi Gereja yang berkaitan dengan masalah teologis atau persoalan-persoalan aktual pun hampir selalu berangkat dari Kitab Suci dan mendasarkan argumen-argumen mereka atas teks-teks alkitabiah. Misalnya, seorang pakar Kitab Suci terkenal – Joseph A. Fitzmyer SJ – menulis sebuah buku dengan judul yang menekankan pentingnya Kitab Suci dalam teologi: Scripture, the Soul of Theology (Kitab Suci, jiwa Teologi). Malah  salah satu bab buku itu diberi judul: Scripture, the Source of Theology (Kitab Suci,  sumber Teologi).[1] Judul-judul seperti ini rasanya tidak mungkin ada sebelum diselenggarakannya Konsili Vatikan II, misalnya di tahun 1950’an. Sesungguhnya, dapatlah dikatakan bahwa Gereja Katolik sekarang jauh lebih ‘alkitabiah’ daripada di tahun 1950’an. 

Studi Alkitab dalam Sejarah[2] 

Agar dapat lebih memahami tempat Alkitab dalam pemikiran Katolik dewasa ini, maka perlulah kita melihat bagaimana orang-orang Kristiani di berbagai tempat pada masa lalu berpikir mengenai Alkitab. Dengan adanya penelitian Alkitab secara ilmiah, bukan berarti pendekatan-pendekatan sebelumnya menjadi tak berguna. Prinsip penafsiran ilmiah-modern tidak menggantikan pendekatan-pendekatan terdahulu. Sebuah sejarah singkat perihal tafsir alkitabiah akan mengungkapkan wawasan-wawasan penting yang masih berlaku sampai kini. 

Perjanjian Lama adalah Alkitab bagi Yesus dan orang-orang Kristiani perdana. Menurut kitab-kitab Injil, Yesus seringkali mengutip atau merujuk pada teks-teks Perjanjian Lama untuk membuat suatu pengertian teologis, atau untuk menyarankan suatu cara bertindak. Dengan jelas kita dapat membaca bahwa Yesus menghargai teks-teks Perjanjian Lama ini sebagai sesuatu yang sampai derajat tertentu mempunyai kewenangan. Dalam Perjanjian Baru Yesus tampil sebagai seseorang yang menunjukkan sikap yang fleksibel terhadap Perjanjian Lama, bahkan memiliki kewenangan di atasnya. Yesus membedakan apa yang berasal dari Allah dan apa yang berasal dari Musa (lihat Mrk 10:1-12), Dia malah mengkritisi beberapa ajaran Perjanjian Lama dan kemudian mengajarkan pokok-pokok yang melampaui ajaran-ajaran Perjanjian Lama itu (lihat Mat 5:21-48) dan Dia pun menempatkan ‘kasih kepada Allah dan sesama’ (Mrk 12:28-31) pada peringkat yang lebih tinggi daripada ketaatan-ketat pelaksanaan hari Sabat. 

Penulis-penulis Perjanjian Baru seperti Paulus dan Matius melihat Perjanjian Lama ‘digenapi’ dalam Yesus Kristus. Mereka mendasarkan diri pada pemahaman luas orang-orang Kristiani perdana. Dengan demikian mereka menafsirkan Kitab Suci dalam terang kehidupan, kematian dan kebangkitan Yesus. Seperti juga orang-orang Yahudi sezaman, mereka memahami Kitab Suci sebagai suatu ‘misteri’, artinya sesuatu yang tak dapat dipahami tanpa bimbingan dan penjelasan.[3] Orang-orang Kristiani perdana menemukan Yesus sebagai ‘Kunci’ yang membuka misteri Kitab Suci Ibrani. 

Pada zaman para Bapak Gereja (periode patristik) Alkitab sudah memuat baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Para Bapak Gereja atau para teolog awal, pada umumnya menggunakan salah satu dari dua pendekatan terhadap Kitab Suci, yaitu metode ‘alegoris’  dan metode ‘literal’. 

Metode alegoris (salah satu metode untuk mencari makna/arti spiritual) secara khusus disenangi oleh para teolog yang tinggal di Alexandria, Mesir (Sekolah/Mazhab Kateketik – Didascaleion). Cara pendekatan ini menekankan usaha ‘membongkar’ kebenaran-kebenaran spiritual yang berada di bawah permukaan cerita-cerita alkitabiah. Metode ini telah dikembangkan oleh para pemikir Yunani yang menafsirkan cerita-cerita dalam Iliad dan Odysey dari Homer sebagai simbolisasi pergumulan-pergumulan emosional dan spiritual dalam diri individu-individu. Metode ini juga telah digunakan oleh para juru tafsir Yahudi seperti Philo dari Alexandria (+ c.50), yang menggunakan metode ini atas Kitab Suci Ibrani agar supaya menarik bagi orang-orang Yunani dan orang-orang Yahudi yang telah dipengaruhi dan hidup dalam budaya Yunani. Para teolog Kristiani yang menggunakan metode ini termasuk Origenes (+ c.254) dan Klemen dari Alexandria (+ c.215). 

Metode yang satunya lagi adalah membaca Alkitab dengan memperhatikan segi literalnya. Metode ini disenangi oleh para pemikir Kristiani yang tinggal di Antiokia, ibukota Siria pada zaman kekaisaran Roma. Pendekatan literer atau ‘literal’ lebih memusatkan perhatian pada realitas-realitas sejarah yang dipaparkan dalam Kitab Suci. Metode ini mengajarkan bahwa pengertian yang lebih tinggi atau lebih dalam harus secara kokoh didasarkan pada pengertian ‘literal’  teks bersangkutan. Yohanes Krisostomos (+ 407) dan Theodorus dari Mopsuestia (+ 428) adalah contoh-contoh dari mereka yang menggunakan pendekatan ini. 

Pentinglah untuk diakui bahwa penekanan-penekanan yang berbeda bukanlah berarti sepenuhnya bertentangan satu sama lain. Dengan demikian, metode alegoris tidak selalu menyangkal kebenaran historis dari peristiwa-peristiwa dalam Kitab Suci, dan metode ‘literal’ tidak menyangkal makna spiritual dari peristiwa-peristiwa itu. Para teolog yang kemudian, cenderung untuk mencampur kedua pendekatan tersebut, meskipun lebih menyenangi salah satu kecondongan ketimbang yang lain. Augustinus (+ 430) misalnya cenderung untuk menggunakan metode alegoris, sedangkan Hieronimus (+ 420) cenderung menggunakan metode ‘literal’. 

Menurut Katekismus Gereja Katolik (KGK), sesuai dengan tradisi tua, arti Kitab Suci itu bersifat ganda; yaitu arti harfiah (arti ‘literal; Latin: sensus literalis; Inggris:literal sense) dan arti rohani (arti spiritual; Latin: sensus spiritualis; Inggris: spiritual sense).[4] Arti rohani ini dapat bersifat alegoris, moralis atau anagogis. Kesamaan yang mendalam dari keempat arti ini menjamin kekayaan besar bagi pembacaan Kitab Suci yang hidup di dalam Gereja (lihat KGK 115). Keempat arti tersebut adalah sebagai berikut: 

  1. Arti hurufiah atau harfiah (literal sense – what took place): arti yang dicantumkan oleh kata-kata Kitab Suci dan ditemukan oleh eksegese, yang berpegang pada peraturan penafsiran teks secara tepat. Dalam Summa theologiae, Thomas Aquinas (+ 1274) mengatakan: “Tiap arti [Kitab Suci] berakar di dalam arti hurufiah” (“All other senses of Sacred Scripture are based on the literal”). [lihat KGK 116] 
  2. Arti alegoris (allegorical sense – the hidden theological meaning): Kita dapat memperoleh satu pengertian yang lebih dalam mengenai kejadian-kejadian, apabila kita mengetahui arti yang diperoleh peristiwa itu dalam Kristus. Umpamanya penyeberangan Laut Merah adalah tanda kemenangan Kristus dan dengan demikian tanda Pembaptisan (bdk. 1Kor 10:2). [lihat KGK 117.1] 
  3. Arti moral (moral or tropological sense the significance for the individual’s behavior): Kejadian-kejadian yang dibicarakan dalam Kitab Suci harus mengajak kita untuk melakukan yang baik. Hal-hal itu ditulis sebagai “contoh bagi kita ….. sebagai peringatan” (1Kor 10:11; bdk. Ibr 3:1 – 4:11). [lihat KGK 117.2] 
  4. Arti anagogis (anagogical sense the heavenly sense): Kita dapat melihat kenyataan dan kejadian dalam artinya yang  abadi, yang menghantar kita ke atas, ke tanah air abadi (Yunani: anagoge). Misalnya, Gereja di bumi ini adalah lambang Yerusalem surgawi (bdk. Why 21:1 – 22:5). [lihat KGK 117.3]

Para teolog Abad Pertengahan menyimpulkan keempat arti itu sebagai berikut:

“Littera gesta docet, quid credas allegoria

Moralis quid agas, quo tendas anagogia.”

 “The Letter speaks of deeds; Allegory to faith;

The Moral how to act; Anagogy our destiny.” 

“Huruf mengajarkan kejadian; apa yang harus kau percaya, alegori;

moral, apa yang harus kau lakukan; ke mana kau harus berjalan, anagogi.” (lihat KGK 118) 

Sebagai contoh, baiklah kita melihat Gal 4:22-31. Dalam perikop ini, Yerusalem dapat diartikan sebagai sebuah kota di Palestina (arti hurufiah/literal), Gereja (arti alegoris), rumah surgawi kita semua (arti anagogis), dan jiwa manusia (arti moral). Dengan demikian cara pendekatan terhadap Kitab Suci yang beranega-ragam dapat dengan mudah merosot menjadi subjektivitas. Oleh karenanya Thomas Aquinas bersikukuh bahwa arti spiritual tidak perlu bagi iman kalau arti literalnya tidak dikemukakan di bagian lain dalam Kitab Suci. Thomas Aquinas juga menggunakan akal-budi manusiawi sebagai sebuah alat dalam menjelaskan Kitab Suci. Dia mencoba untuk mengawinkan kebenaran filsafat dengan kebenaran alkitabiah. 

Dengan datangnya Renaissance dan munculnya humanisme, maka muncul pulalah sebuah minat baru untuk mempelajari Kitab Suci dalam bahasa-bahasa aslinya dan setting sejarahnya. Erasmus mengeluarkan sebuah edisi baru Perjanjian Baru dalam bahasa Yunani, untuk digunakan bersama dengan Vulgata (dalam bahasa Latin). Dia juga menggunakan tulisan-tulisan klasik non-Kristiani, baik Yunani maupun Romawi, bersama-sama dengan tulisan-tulisan para Bapak Gereja guna menafsirkan teks-teks alkitabiah. Akan tetapi kemudian  kegairahan usaha pendalaman Kitab Suci orang Katolik menurun, sebagai reaksi terhadap klaim atas Alkitab yang dibuat oleh Martin Luther dan para reformator Protestan lainnya, teristiwa pernyataan-pernyataan mereka tentang kejelasan (clarity) Kitab Suci (sehingga tak diperlukan lagi Gereja sebagai penafsir akhir) dan kecukupannya (sufficiency) sehingga tak diperlukan lagi tradisi Gereja. Klaim para rasionalis masa Aufklärung membuat masalahnya menjadi lebih rumit bagi para penafsir Alkitab Katolik. Misalnya Baruch Spinoza dapat mengatakan bahwa apabila Kitab Suci berkonflik dengan filsafat (misalnya dalam hal mujizat), maka Kitab Suci harus ditolak. Beginilah ‘nasib’ Gereja Katolik yang harus memainkan perannya sebagai pembela ‘kebenaran’ alkitabiah. 

Namun demikian, sepanjang masa ada prinsip-prinsip Katolik perihal penafsiran Kitab Suci yang tak kunjung hilang:

  1. Arti sentral dari Kristus.
  2. Perjuangan untuk tetap setia pada arti literal, sementara pada saat yang sama mencari arti spiritual.
  3. Keyakinan bahwa iman dan akal budi tidak bertentangan satu sama lain.
  4. Pandangan teguh bahwa Alkitab harus ditafsirkan di dalam Gereja.
  5. Penekanan atas kebenaran alkitabiah dalam menghadapi serangan-serangan dari rasionalisme.[5] 

Perkembangan di zaman modern 

Dapat dikatakan bahwa kurun waktu 1890 – 1914 merupakan suatu periode penting kalau dilihat dari ‘reformasi’ yang terjadi dalam sikap resmi Gereja terhadap Alkitab pada umumnya dan hak-hidup berbagai metode kritik alkitabiah pada khususnya. Pendirian Ecole Biblique  di Yerusalem pada tanggal 5 November 1892 oleh para Dominikan, yang disetujui dan direstui secara resmi oleh Tahta Suci menandakan sebuah era baru dalam usaha studi alkitabiah Katolik, di mana kesetiaan kepada Tradisi digabung dengan pendekatan terbuka dan penerimaan jujur terhadap penemuan-penemuan yang dapat dipertanggungjawabikan dari berbagai metode penafsiran alkitabiah. Artinya Gereja Katolik secara perlahan-lahan menerima pelbagai metode penafsiran alkitabiah yang ilmiah, sementara pada saat yang sama memegang teguh warisan Gereja. Hal ini dapat terlihat kalau kita mau menelusuri dokumen-dokumen resmi Gereja yang diterbitkan sekitar seratus tahun belakangan ini. 

Awal mulanya adalah ensiklik dari Paus Leo XIII yang berjudul Providentissimus Deus yang diterbitkan pada tahun 1893. Ensiklik Providentissimus Deus  ini adalah pernyataan penuh wibawa yang pertama perihal studi-studi alkitabiah dan tempat Alkitab dalam Gereja. Ensiklik ini sebenarnya merupakan reaksi terhadap pandangan-pandangan Loisy yang tidak orthodox. Ensiklik ini membahas topik ‘inspirasi’ dan ‘ketidaksesatan’ (inerrancy) serta juga banyak membahas mengenai pengajaran Kitab Suci di seminari-seminari. Di satu sisi para profesor Katolik harus diperlengkapi dengan penguasaan berbagai bahasa Alkitab dan metode tafsir alkitabiah, dan pada sisi yang lain mereka harus mendekati Alkitab dalam semangat yang berbeda dengan Loisy dan teman-temannya. Paus Leo XIII menginginkan agar Kitab Suci menjadi bagian  yang begitu terpadu dengan teologi sehingga menjiwainya, diterangi oleh ajaran-ajaran para Bapak Gereja serta juga memperhitungkan arti spiritual (alegoris dll.). 

Pada tahun 1902 Paus ini mendirikan Komisi Kitab Suci Kepausan (Pontifical Biblical Commision), yaitu sebuah badan gerejawi di Vatikan yang para anggotanya terdiri dari para ekseget Katolik guna membantu perkembangan dan membimbing studi-studi alkitabiah pada umumnya dan kemudian untuk menguji dan memberikan gelar-gelar dalam bidang perkitabsucian. Sayangnya kegiatan-kegiatan awal dari Komisi ini berbarengan dengan usaha perlawanan terhadap Modernisme, sehingga mengalami ‘kemacetan’ yang tidak diharapkan. 

Pesan ensiklik Providentissimus Deus dari Paus Leo XIII  ‘dipertumpul’ pada zaman Paus Pius X karena rasa takut akan ‘Modernisme’ yang sedang melanda. Modernisme ini ditolak oleh Paus Pius X dalam ensikliknya yang berjudul Pascendi Dominici Gregis (8 September 1907) menyusul dekrit yang berjudul  Lamentabili (3 Juli 1907).[6] Rasa takut akan Modernisme ini hampir melumpuhkan usaha studi alkitabiah secara profesional untuk selama dua dasawarsa: para ekseget cenderung untuk menghindari isu-isu yang dapat menimbulkan polemik dan mereka mengkonsentrasikan perhatian pada bahasa-bahasa kuno, arkeologi dan spesialisasi-spesialisasi keilmuan lainnya. Ensiklik Paus Benediktus XV, Spiritus Paraclitus, yang diterbitkan pada 15 September 1920 dalam rangka memperingati 15 abad kematian Santo Hieronimus juga tidak banyak membawa dampak positif atas situasi lesu-darah kegiatan alkitabiah. 

Pada tahun 1930’an kegiatan alkitabiah hidup kembali secara cepat dan lebih meningkat lagi setelah Perang Dunia II, dengan diterbitkannya ensiklik  Paus Pius XII yang berjudul Divino Afflante Spiritu di tahun 1943. Dalam bidang studi alkitabiah, Divino Afflante Spiritu merupakan sebuah tonggak sejarah. Ensiklik ini kadang-kadang dinilai sebagai suatu pembalikan total (banting stir) dari kebijakan Gereja, namun apabila ditelaah dengan lebih mendalam sebenarnya mengungkapkan kesinambungan yang mendasar dengan Providentissimus Deus. Dalam ensiklik Divino Afflanto Spiritu ini, secara resmi studi historis atas Alkitab diterima dengan baik. Pendekatan yang diberikan kerangkanya oleh Paus Pius XII ini kemudian dipraktekkan oleh Komisi Kitab Suci Kepausan dalam ‘Instruksi perihal Kebenaran Historis kitab-kitab Injil’ (Instruction of Pontifical Biblical Commission Concerning the Historical Truth of the Gospels dengan judul ‘Holy Mother the Church’ / ‘Sancta Mater Ecclesia’) yang dikeluarkan pada 21 April 1964.[7] 

Pernyataan resmi Gereja Katolik perihal studi-studi alkitabiah memuncak dalam dokumen Konsili Vatikan II, yaitu ‘Konstitusi Dogmatis  Dei Verbum tentang Wahyu Ilahi’ (18 November 1965). Berbagai dokumen Gereja bersifat kumulatif, dalam arti dokumen yang dikeluarkan belakangan menyatakan kembali ajaran-ajaran yang terdapat dalam dokumen-dokumen sebelumnya dan menjelaskan hal-hal yang belum didiskusikan secara terinci dalam dokumen-dokumen terdahulu itu. Dokumen yang dihasilkan oleh sebuah konsili ekumenis seperti Konsili Vatikan II jelas memiliki bobot resmi apabila dibandingkan dengan sebuah ensiklik seorang Paus atau sebuah instruksi yang dikeluarkan oleh Komisi Alkitabiah Kepausan. Apalagi Dei Verbum merupakan sebuah konstitusi dogmatis (bdk. Lumen Gentium), artinya dokumen dengan wibawa paling tinggi, yang dikeluarkan oleh Konsili Vatikan II. Itulah mengapa Dei Verbum harus dipandang sebagai klimaks penuh wibawa dari sebuah rangkaian panjang perkembangan dalam sikap Gereja terhadap Alkitab

Dalam rangka memperingati 100 tahun Ensiklik Providentissimus Deus dan 50 tahun Ensiklik Divino Afflante Spiritu, maka pada tahun 1993 Komisi Kitab Suci Kepausan[8] menerbitkan sebuah dokumen yang berjudul ‘Penafsiran Kitab Suci dalam Gereja’ (The Interpretation of the Bible in the Church).[9] Dokumen terbaru yang sangat penting dan berbobot ini membantu bukan hanya para penafsir Kitab Suci yang dapat bingung di tengah aneka macam metode dan pendekatan yang kini dipakai untuk menafsirkan Kitab Suci (Bab I), atau para teolog yang menghadapi pelbagai masalah hermeneutika dan bertanya tentang ciri-ciri khas penafsiran Katolik (Bab II & III), tetapi mau membantu juga para gembala dan guru agama serta seluruh umat yang berurusan langsung dengan pemaknaan Kitab Suci dalam kehidupan Gereja. Pokok terakhir ini dibahas dalam Bab IV dokumen tersebut. 

Kepustakaan: 

  1. Augustine Cardinal Bea, The Bible in the Life of the Church – Part I dalam Reginald C. Fuller (General Editor), A New Catholic Commentary on Holy Scripture, Revised and updated edition, London: Catholic Biblical Association/ Nelson, 1975 (hal. 3-13).
  2. Raymond E. Brown SS & Sandra M. Schneiders IHM, HERMENEUTICS, dalam Raymond E. Brown SS, Joseph A. Fitzmyer SJ & Roland E. Murphy O.Carm. (Editors), The New Jerome Biblical Commentary, Englewood Cliffs, New Jersey: Prentice Hall, 1990 (hal. 1146-1165).
  3. Catechism of the Catholic Church (Edisi Inggris: 1994)/Katekismus Gereja Katolik (Edisi Indonesia: 1995). Edisi asli: 1992.
  4. Joseph A. Fitzmyer SJ, Scripture, the Soul of Theology, Makati, Philippines: ST PAULS, 1995.
  5. Daniel J. Harrington SJ, The Bible in Catholic Life, dalam Donald Senior CP (General Editor), The Catholic Study Bible – New American Bible, Oxford: Oxford University Press, 1990.
  6. James J. Megivern (Editor), Official Catholic Teachings – Bible Interpretation, Wilmington: McGrath Publishing Company, 1978.
  7. The Pontifical Biblical Commision, The Interpretation of the Bible in the Church, Vatican City: Libreria Editrice Vaticana, 1993.
  8. Dom D. Rees OSB, The Bible in the Life of the Church – Part II, dalam Reginald C. Fuller (General Editor), A New Catholic Commentary on Holy Scripture, Revised and updated edition, London: Catholic Biblical Association/ Nelson, 1975 (hal. 14-20).
  9. Meningkatkan Peranan Kitab Suci dalam Kehidupan Umat – Rangkuman PNKKS 1996.

10.  Dan lain-lainnya. 

Cilandak, 23 September 2009 [Peringatan Santo Padre Pio dari Pietrelcina] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS


*)  Disusun oleh Sdr. F.X. Indrapradja OFS untuk diigunakan sebagai bahan kuliah di KPKS Santo Paulus, mata kuliah “Dasar-dasar Kerasulan Kitab Suci [Dasar-dasar Kerasulan Alkitabiah]”. Jakarta, 6 Februari 2001. Perbaikan terakhir kali: Rabu, 23 September 2009, hari peringatan Santo Padre Pio dari Pietrelcina.

[1] Joseph A. Fitzmyer SJ, Scripture, the Soul of Theology, Makati, Philippines: ST PAULS, 1995.

[2] Uraian tentang studi Alkitab dalam sejarah ini mengandalkan tulisan Daniel J. Harrington SJ, The Bible in Catholic Life, dalam THE CATHOLIC STUDY BIBLE, hal. RG 17-18. Juga tulisan Dom D. Rees OSB, The Bible in the Life of the Church- Part II: An Historical Survey, dalam Reginald C. Fuller (General Editor), A New Catholic Commentary on Holy Scripture.

[3] Bacalah tulisan saya yang berjudul Memahami Firman Allah dalam Kitab Suci (1), tanggal 2 September 2009.

[4] Lihat juga Raymond E. Brown SS & Sandra M. Schneiders IHM, HERMENEUTICS, dalam Raymond E. Brown SS, Joseph A. Fitzmyer SJ & Roland E. Murphy O.Carm. (Editors), The New Jerome Biblical Commentary, Englewood Cliffs, New Jersey: Prentice Hall, 1990, hal. 1148.

[5] Daniel J. Harrington, hal. RG 18.

[6] Bagi yang mau memperdalam, dekrit Lamentabili ini dapat ditemukan dalam James J. Megivern (Editor), Official Catholic Teachings – Bible Interpretation, Wilmington: McGrath Publishing Company, 1978, hal. 257-264. Dalam dokumen ini dapat kita temui 65 butir kegiatan/pandangan/tafsir berkaitan dengan Alkitab yang dikutuk oleh Gereja.

[7] Lihat catatan kaki No. 34 dalam Dei Verbum. Teks lengkap dalam bahasa Inggris terdapat juga dalam  James J. Megivern (editor),  hal. 391-397.

[8] Komisi Kitab Suci Kepausan dalam bentuknya yang baru (setelah Konsili Vatikan II) terdiri dari 20 orang ekseget Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Salah satu tugas Komisi ini adalah memberikan nasihat kepada Magisterium perihal pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut perkitabsucian.

[9] Bagian/Bab IV dokumen ini diterjemahkan oleh A.S. Hadiwiyata (dan M. Harun) dengan judul Penafsiran Kitab Suci dalam Kehidupan Gereja, Jakarta: Lembaga Biblika Indonesia/Penerbit Obor,  1997.  Seluruh dokumen ini kemudian diterjemahkan oleh  V. Indra Sanjaya Pr., dengan judul Penafsiran Alkitab dalam Gereja, Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2003.