EKARISTI MEMPERSATUKAN KITA SEMUA DALAM KRISTUS

(Bacaan Pertama Misa, Peringatan S. Yohanes Krisostomos [344-407], Senin 13-9-10) 

Dalam petunjuk-petunjuk berikut ini, aku tidak dapat memuji kamu, sebab pertemuan-pertemuanmu tidak mendatangkan kebaikan, tetapi mendatangkan keburukan. Sebab pertama-tama aku mendengar bahwa apabila kamu berkumpul sebagai jemaat, ada perpecahan di antara kamu, dan hal itu sedikit banyak aku percaya. Sebab di antara kamu harus ada perpecahan, supaya nyata nanti siapa di antara kamu yang tahan uji. Apabila kamu berkumpul, kamu bukanlah berkumpul untuk makan perjamuan Tuhan. Sebab pada perjamuan itu tiap-tiap orang memakan dahulu makanannya sendiri, sehingga yang seorang lapar dan yang lain mabuk. Apakah kamu tidak mempunyai rumah sendiri untuk makan dan minum? Atau apakah kamu hendak menghina jemaat Allah dan mempermalukan orang-orang yang tidak mempunyai apa-apa? Apakah yang kukatakan kepada kamu? Memuji kamu? Dalam hal ini aku tidak memuji.

Sebab apa yang telah kuteruskan kepadamu, telah aku terima dari Tuhan, yaitu bahwa Tuhan Yesus, pada malam waktu Ia diserahkan, mengambil roti dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: “Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!” Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata, “Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan dengan darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!” Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang. Jadi, siapa saja dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan (1Kor 11:17-26).

Bacaan Injil: Luk 7:1-10 

Paulus telah tinggal bersama umat di Korintus untuk jangka waktu yang cukup lama. Oleh karena itu dia mampu untuk tidak sungkan-sungkan berbicara secara terbuka kepada mereka tentang kesulitan-kesulitan yang mereka sedang alami. 

Melalui suratnya ini, Paulus menunjukkan bahwa keprihatinannya yang utama adalah adanya perpecahan dalam Gereja di sana, perpecahan yang termanifestasikan sendiri manakala mereka berkumpul bersama untuk makan dan merayakan Ekaristi. 

Pada zaman Paulus, Ekaristi merupakan bagian dari suatu makan bersama secara komunal, yang barangkali saja mengambil tempat di rumah salah seorang anggota jemaat. Pada perjamuan inilah perpecahan antara para anggota jemaat paling nyata terlihat. Ada faksi-faksi (faksionalisme). Orang-orang makan dalam klik-klik yang terpisah-pisah; mereka yang tergolong “the haves” tidak berbagi dengan mereka lapar (teristimewa yang miskin); bahkan ada yang mabuk-mabukan sebelum perayaan Ekaristi! Paulus menantang umat di Korintus untuk melakukan pemeriksaan/pengujian bagaimana relasi mereka satu sama lain sebelum menerima tubuh dan darah Kristus, kalau mereka sungguh-sungguh tidak mau dihukum oleh Allah karena mereka mereka menerima tubuh dan darah Kristus itu secara tidak layak (1Kor 10:27-29). 

Dalam Ekaristi kita semua syering dalam satu tubuh Yesus Kristus. Adalah hasrat terdalam Allah bahwa dari Sakramen ini mengalirlah kebersatuan, karena masing-masing pribadi dibersatukan dengan Kristus dalam satu tubuh. Ekaristi tidak hanya membuat kita menjadi satu dalam Kiristus, melainkan juga merupakan suatu sumber kuasa ilahi untuk mengatasi segala perpecahan dan ketidak-akuran antara para warga Gereja Kristus. Kita harus melakukan pemeriksaan atas nurani kita sebelum kita berjalan mendekati altar dan berdoa dengan ketulusan hati untuk persatuan dengan segenap saudari dan saudara dalam Kristus.

Pada waktu mereka merenungkan sifat Gereja dan hubungan eratnya dengan Ekaristi, maka para Bapak Konsili Vatikan II berusaha untuk mengajar  semua umat yang percaya tentang kebersatuan yang harus kita capai sesuai panggilan kita sebagai umat Kristiani: “Setiap kali di altar dirayakan korban salib, tempat ‘Anak Domba Paska kita, yakni Kristus, telah dikorbankan’ (1Kor 5:7), dilaksanakan karya penebusan kita. Dengan sakramen roti ekaristis itu sekaligus dilambangkan dan dilaksanakan kesatuan umat beriman, yang merupakan satu tubuh dalam Kristus (lihat 1Kor 10:17). Semua orang dipanggil ke arah persatuan dengan Kristus itu. Dialah terang dunia. Kita berasal dari pada-Nya, hidup karena-Nya, menuju kepada-Nya (Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium tentang Gereja, 3). 

DOA: Bapa surgawi, selagi kami berkumpul bersama untuk merayakan penebusan diri kami dalam Kristus, semoga kami dibersatukan satu sama lain. Tolonglah kami untuk menguji hati kami, untuk bertobat karena perpecahan dan konflik – di atas permukaan maupun tersembunyi rapih di bawah permukaan – yang terjadi dalam jemaat kami, yaitu antara umat awam dengan umat awam, antara klerus dan dan awam, dan antara klerus dan klerus. Tolonglah kami semua untuk sungguh mengasihi semua orang yang turut mengambil bagian dalam makan tubuh dan minum darah Kristus. Oleh Roh Kudus-Mu, buatlah Gereja-Mu sungguh satu melalui korban Kristus, Putera-Mu yang terkasih. Amin.

Cilandak, 9 September 2010 [Peringatan S. Petrus Klaver, Imam Yesuit]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS