PESTA SALIB SUCI (4)

(Bacaan kedua Misa Kudus, Pesta Salib Suci, Selasa 14 September 2010) 

Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku, “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa! (Flp 2:6-11). 

Bacaan Pertama: Bil 21:4-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 78:1-2,34-38; Bacaan Injil: Yoh 3:13-17 

Beberapa waktu yang lalu saya sempat menonton beberapa episode dari sebuah serie film dokumenter di televisi yang berjudul WORLD WAR II IN COLOR. Dalam serie film itu beberapa kali ditayangkan bagaimana pasukan tentara sekutu yang baru saja mengalahkan pasukan lawannya dan membebaskan sebuah kota yang tadinya dikuasai pihak musuh, kemudian berparade dengan gagah, disaksikan oleh para petinggi kota tersebut dan orang-orang penting lainnya. Kita dapat melihat betapa rakyat meluap-luap dengan sukacita karena kota mereka baru saja dibebaskan. Mereka menari-nari dan menyanyi-nyanyi. Tidak lupa ada adegan peluk-pelukan, rangkul-rangkul mesra  antara mereka sendiri dan juga dengan pasukan pembebas, atau sekadar cipiki-cipika a la Yasser Arafat. Yang jelas mereka merayakan sebuah kemenangan besar, sering dengan botol champagne di tangan dan ditawarkan kepada orang lain untuk ikut minum juga. Sebuah pemandangan yang sungguh mengharukan. Dari situ terlihat apa artinya “kebebasan”/”kemerdekaan” bagi umat manusia. 

Pada hari ini, tanggal 14 September, Gereja (artinya anda dan saya juga) merayakan Pesta Salib Suci, sebuah pesta kemenangan yang jauh, jauh lebih besar daripada perayaan besar yang saya gambarkan di atas. Feast of the Triumph of the Cross, kata orang-orang Kristiani Katolik yang bermukim di negara-negara sekeliling kita, yaitu di Singapura, Malaysia, Brunei, Filipina dan  Australia. Ketika kita masih mati dalam kedosaan dan Iblis ‘memimpin’ dunia sehingga menjadi porak poranda dalam segala dimensinya (moralitas dlsb.), Yesus Kristus mengalahkan semua musuh kita: Iblis (serta begundal-begundalnya), dosa dan maut. Yesus Kristus merendahkan diri-Nya, menerima kematian di kayu salib, namun pada hari ketiga Dia bangkit penuh kemuliaan dan membebas-merdekakan kita dari kuasa dosa serta Iblis dan membuat kita hidup dalam Dia. Oleh salib Yesus Kristus berjaya dan surga pun bersukacita: “Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku, ‘Yesus Kristus adalah Tuhan’, bagi kemuliaan Allah, Bapa!” (Flp 2:9-11). Marilah kita juga bergembira dan merayakan kemenangan ini dengan penuh syukur dan puji-pujian bagi kemuliaan, keagungan, keluhuran Allah, Khalik langit dan bumi! 

Dalam Yesus, melalui iman dalam salib-Nya, kita memperoleh kemenangan! Dosa-dosa kita diampuni dan sekarang kita dapat sungguh mengenal serta mengalami damai-sejahtera dan sukacita sebagai pribadi-pribadi manusia yang telah diperdamaikan dengan Allah. Hati kita masing-masing dapat dipenuhi dengan kasih ilahi kepada para saudari dan saudara kita. Inilah makna kemuliaan dan kemenangan salib Kristus, yaitu bahwa anak-anak Allah dipenuhi dengan hidup-Nya dan kasih-Nya sendiri. 

Namun demikian, setiap hari kita masih saja menghadapi berbagai tekanan dan godaan yang mengancam pengalaman indah akan kemenangan Yesus Kristus. Timbul keragu-raguan dalam hati dan pikiran kita apakah kita sungguh turut mengambil bagian dalam kemenangan-Nya atas dosa. Menjawab keraguan-raguan ini Santo Petrus menulis begini: “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah membuat kita lahir kembali melalui kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada hidup yang penuh pengharapan, untuk menerima warisan yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan tidak dapat layu, yang tersimpan di surga bagi kamu. Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah melalui imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah siap untuk dinyatakan pada zaman akhir. Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagi pencobaan. Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu – yang jauh lebih tinggi nilainya daripada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api – sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya kelak (1Ptr 1:3-7). Kita mengalami pencobaan dan ujian sehingga dengan demikian iman kita dapat bertumbuh dan membawa kita lebih dekat lagi kepada Yesus. “Pencobaan-pencobaan’ sebenarnya dapat memberikan kesempatan kepada kita untuk menunjukkan iman kita selagi kita menemukan kenyataan bahwa kita sungguh dapat mengatasi dosa dan ikut ambil bagian dalam kemenangan salib Yesus. 

DOA: Tuhan Yesus, Engkau membebaskan kami semua dari kuasa musuh-musuh kami dan Engkau menjamin tempat kami di surga selama kami tetap berada di jalan-Mu. Kami mengasihi-Mu, ya Tuhan dan Allah kami. Bersama seluruh isi surga dan bumi, kami memuji-muji kemenangan salib-Mu yang menyelamatkan. Amin.

Catatan: Bagi Saudara/Saudari yang mau lebih mendalami lagi bacaan tentang Pesta Salib Suci ini, saya menganjurkan untuk membaca tulisan-tulisan yang berjudul PESTA SALIB SUCI (1), PESTA SALIB SUCI (2) dan PESTA SALIB SUCI (3) yang terdapat dalam situs/blog SANG SABDA ini; Kategori: 09-09 BACAAN HARIAN BULAN SEPTEMBER 2009. Boleh juga untuk dilihat tulisan dengan judul SALIB KRISTUS SEBAGAI TANDA KEMENANGAN UMAT KRISTIANI; Kategori: SPIRITUALITAS KRISTIANI.

Cilandak, 12 September 2010 [HARI MINGGU BIASA XXIV (Tahun C)] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS