KEHIDUPAN MANUSIA TIDAK ADA ARTINYA TANPA KASIH ALLAH

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan SP Maria Berdukacita, Rabu 15-9-10) 

Jadi, berusahalah memperoleh karunia-karunia yang lebih penting. Namun, aku menunjukkan kepadamu jalan yang lebih utama lagi.

Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing. Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.

Sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikit pun tidak ada faedahnya bagiku.

Kasih itu sabar; kasih itu baik hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menahan segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu.

Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa lidah akan berhenti; pengetahuan akan lenyap. Sebab pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna. Tetapi jika yang sempurna tiba, maka yang tidak sempurna itu akan lenyap. Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu. Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal.

Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih (1Kor 12:31-13:13).

Bacaan Pertama Alternatif: Ibr 5:7-9; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:2-5,12,22; Bacaan Injil: Luk 7:31-35 atau Luk 2:33-35

Pada masa pelayanan Paulus, Korintus adalah sebuah sebuah tempat di mana macam-macam tradisi budaya dan keagamaan (umat Yahudi, Romawi dan Yunani) bertemu dan bercampur, melting pot  adalah istilah kerennya. Budaya kuno Yunani mengagung-agungkan spiritualisme super dan mencemoohkan hal-hal yang bersifat fisik. Orang-orang Korintus adalah orang-orang yang sangat bersemangat namun tidak memiliki kedalaman, hal mana berakibat pada sebuah budaya yang berpindah-pindah dari hedonisme dan sikap tabah/tenang penuh kesabaran. Ambivalensi (dua perasaan yang bertentangan) ini membantu mereka memperoleh reputasi sebagai orang-orang yang tidak bermoral. 

Gereja di Korintus yang begitu terpecah-pecah karena penekanan unsur budaya pada spiritualitas, dengan semangat berapi-api mengejar karunia-karunia spiritual yang kelihatan lebih besar/hebat (seperti karunia bernubuat, karunia berbahasa lidah) sementara mengabaikan kasih, yang justru merupakan karunia terbesar dari segala karunia. Penekanan yang tidak seimbang ini sangat membatasi pengalaman mereka akan kasih Allah. Paulus mengetahui benar bahwa hanya kasih Allah sajalah, yang “menahan segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu” (1Kor 13:7), yang dapat mempersatukan komunitas mereka. 

Pandangan menghina orang-orang Korintus terhadap hal-hal yang bersifat fisik membuat keruh pemahaman mereka tentang kematian Kristus dan kebangkitan-Nya, yang justru merupakan landasan/dasar dari kasih Allah yang intim, tanpa syarat dan merangkul semua orang. Sebagai mempelai laki-laki kita, Kristus merindukan kita agar mengenal diri-Nya sepenuhnya seperti Dia mengenal kita (1Kor 13:12). Sejak sebelum segala waktu, Allah telah ingin masuk ke dalam suatu relasi kasih yang intim dengan kita, walaupun kita sudah terbukti tidak setia. Kasih-Nya menaklukkan kuasa dosa dan mencuci-bersih hati kita lewat kematian Putera-Nya di atas kayu salib (lihat Ibr 9:14). Sebagai ciptaan baru, kita mampu untuk masuk ke dalam relasi abadi dengan Bapa surgawi. 

Kematian Kristus di kayu salib merupakan tindakan kasih Allah yang paling puncak. Ini adalah karunia, pemberian gratis. Untuk menerima karunia ini yang perlu kita lakukan adalah percaya kepada Yesus, model sempurna dari kasih (lihat Yoh 3:16). Selagi kita mengalami kelemahlembutan Sang Mempelai dan masuk ke dalam hadirat-Nya melalui doa, kita akan memasrahkan diri kita sepenuhnya kepada-Nya dalam ketaatan kepada jalan kasih (lihat Gal 5:13-14). Semakin dalam keintiman kita dengan Sang Mempelai, kita pun akan menjadi semakin menyerupai Dia dan bertumbuh dalam kasih dan hormat terhadap anak-anak-Nya (lihat 1Yoh 4:7). Melalui Roh Kudus yang berdiam dalam diri kita, kasih Bapa selalu menjadi mekar dalam hati kita, dan mengalir kepada semua orang yang kita temui (lihat Rm 5:5). Kasus Gereja Korintus menunjukkan kepada kita bahwa kehidupan itu tidak ada artinya tanpa kasih Allah.

DOA: Tuhan Yesus, kami percaya bahwa tidak ada sesuatu pun yang dapat memisahkan kami dari kasih Allah, yang ada dalam Engkau. Terpujilah nama-Mu selalu. Amin. 

Catatan: Renungan atas bacaan Injil hari ini dapat dilihat pada tulisan saya dengan judul KAMI MENIUP SERULING BAGIMU, tulisan mana terdapat dalam situs/blog SANG SABDA ini; Kategori: BACAAN HARIAN BULAN SEPTEMBER 2009 atau  PERMENUNGAN ALKITABIAH. Bacaan Khusus berkenan dengan Peringatan S.P. Maria Berdukacita dapat dilihat dalam situs/blog ini dengan judul PERINGATAN S.P. MARIA BERDUKACITA; Kategori: BACAAN HARIAN BULAN SEPTEMBER 2009 atau MARIA.

Cilandak, 14 September 2010 [PESTA SALIB SUCI]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS