Archive for September 20th, 2010

CERITA TENTANG MATIUS, SI PEMUNGUT CUKAI

CERITA TENTANG MATIUS, SI PEMUNGUT CUKAI

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta S. Matius, Rasul Penginjil, Selasa 21-9-10) 

Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di tempat pemungutan cukai, lalu Ia berkata kepadanya, “Ikutlah Aku.”  Matius pun bangkit dan mengikut Dia. Kemudian ketika Yesus makan di rumah Matius, datanglah banyak pemungut cukai dan orang berdosa dan makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya. Pada waktu orang Farisi melihat hal itu, berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus, “Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?” Yesus mendengarnya dan berkata, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Jadi, pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa” (Mat 9:9-13). 

Pajak/cukai dan dan para pemungut/pertugasnya tidak pernah populer di  mata publik. Hal seperti itu terjadi di mana saja, termasuk di negara kita tercinta seperti ini. Bukan sekali dua kali saya pribadi mempunyai pengalaman buruk dalam hal penyelesaian pajak tahunan saya. Laporan yang sudah benar dikatakan salah, pembayaran sudah benar dikatakan kurang-bayar, kelebihan pembayaran pajak dan disumbangkan kepada negara malah dimarahi-marahi oleh petugas pajak, dlsb. Ujung-ujungnya ……? Anda sudah tahu jawabnya, kan? Kalau tidak begitu, apa kata dunia …? Nah, petugas cukai/pajak pada zaman Romawi juga sama jeleknya, malah dapat dikatakan lebih keterlaluan lagi. Mereka lebih menyerupai para pengusaha kaya daripada PNS. Dalam hal pemungutan pajak/cukai pemerintahan Romawi menerapkan sistem kontrak yang di-‘tender’-kan. Penawar tertinggi akan memenangkan tender dan mendapat kontrak itu (misalnya orang seperti Zakheus; Luk 19:1-10). Pemerintah (penjajah) memperoleh penghasilan dari pihak yang berkontrak, dan dia dapat bebas menetapkan jumlah pajak di mana telah diperhitungkan keuntungan yang diinginkannya. Ini adalah praktek ekonomi bebas dalam artinya yang paling buruk, karena melibatkan pemaksaan, korupsi, penipuan dlsb., dan semuanya itu didukung dengan pembenaran dan perlindungan secara hukum. 

Ada tarif pajak pada waktu itu yang sampai mencapai 25%. Pemungutan uang tol dan bea-cukai yang relatif tinggi menyebabkan tidak dimungkinkannya para petani untuk menjual hasil panen mereka di luar daerah pajak mereka. Sebagian terbesar petani itu miskin atau berhutang kepada para pemungut pajak atau rentenir. Ketidakpopuleran pajak/cukai pemerintahan Romawi dibuat menjadi lebih buruk lagi oleh kenyataan bahwa penghasilan pajak/cukai hanya menguntungkan pihak penjajah dan tidak membantu pemenuhan berbagai kebutuhan lokal. Para pemungut pajak/cukai tidak hanya dibenci karena membuat keuntungan dengan merugikan banyak orang lain, melainkan juga karena mereka dipandang sebagai para pengkhianat terhadap identitas dan kebaikan bangsa Yahudi. 

Inilah konteks dari segala ‘kehebohan’ yang terjadi di kalangan orang Farisi ketika Yesus memanggil seorang pemungkut cukai yang bernama Lewi (Matius) dan kemudian menghadiri acara makan-minum di rumah Matius. Kita dapat menduga bahwa dia adalah seorang sukses yang sibuk, tanpa banyak pertimbangan atas implikasi moral dari pekerjaannya. Kita juga dapat menduga bahwa Matius bukanlah seorang Yahudi saleh, karena tidak mungkinlah seorang Yahudi saleh bekerja sebagai seorang pemungkut cukai. Barangkali dia adalah seorang yang bersikap acuh-tak-acuh terhadap Allah dan keberadaan-Nya. Akan tetapi Yesus, sang rabi-keliling dari Nazaret, telah menyentuh hatinya dan mengubah-Nya. Dan, perjumpaannya dengan Yesus yang telah mengubah hidupnya itu mempengaruh Gereja sampai hari ini. 

Allah dapat memanggil siapa saja, dapat menggunakan siapa saja, untuk mencapai tujuan-Nya. Para pemungut pajak/cukai dan para pelacur datang kepada Yesus dengan tulus hati sehinga Dia membandingkan mereka dengan para pemuka agama Yahudi: “Sesungguhnya Aku berkata, pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan pelacur akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah” (Mat 21:31). Allah juga dapat melakukan keajaiban-keajaiban dalam kehidupan kita, asal saja kita memperkenankan Dia melakukan hal-hal itu, artinya …… asal saja kita memberi izin kepada-Nya. Matius maju terus dan sungguh menjadi seorang Rasul dan ia adalah salah seorang penyusun kitab Injil. Percayalah bahwa hal-hal besar dapat terjadi dengan kita masing-masing, asal saja kita memperkenankan-Nya menyentuh hati kita. 

DOA: Bapa surgawi, hari ini kami mendoakan teman-teman kami yang begitu sibuk bekerja sehari-hari sehingga bersikap acuh-tak-acuh terhadap Engkau dan keberadaan-Mu. Kami berdoa agar oleh  kuasa Roh Kudus-Mu hidup mereka disentuh sehingga dengan demikian mereka akan datang melayani Engkau dengan sepenuh hati, pikiran dan tenaga mereka.  Amin. 

Catatan: Silahkan membaca renungan atas perikop Injil yang sama berjudul MATIUS TAHU BAHWA YESUS DAPAT MENYEMBUHKANNYA yang terdapat dalam situs/blog SANG SABDA  ini ; Kategori: 09-09 BACAAN HARIAN BULAN SEPTEMBER 2009. 

Cilandak, 18 September 2010 [Peringatan Santo Yosef dari Cupertino (1603-1663), Imam Fransiskan Conventual] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

 

JOHN HENRY CARDINAL NEWMAN & PARA MARTIR KOREA

20 September 2010 

Saudari dan Saudara yang dikasihi Kristus, 

Perihal: BEATIFIKASI KARDINAL JOHN HENRY NEWMAN [1801-1890] OLEH PAUS BENEDIKTUS XVI DAN SEDIKIT CATATAN TENTANG PARA MARTIR KOREA YANG KITA RAYAKAN HARI INI 

Terpujilah Allah karena kunjungan Sri Paus ke Inggris dapat dikatakan berjalan cukup lancar dan sambutan yang ditunjukkan masyarakat Inggris lebih banyak positifnya daripada negatifnya. Kemarin dulu beliau merayakan kebaktian bersama pimpinan Gereja Anglikan di Westminster Abbey … pertama kali dalam sejarah seorang Paus masuk ke gereja itu. Kemarin sore BBC World News memberitakan bahwa pada hari keempat dan terakhir dari kunjungan Sri Paus, beliau membeatifkasikan Kardinal John Henry Newman dalam upacara yang meriah di Birmingham. Ini adalah beatifikasi pertama oleh Paus Benediktus XVI yang mengambil tempat di Inggris. Dari Beato, tinggal satu langkah saja lagi untuk diangkat menjadi seorang Santo! 

John Henry Cardinal Newman yang kelahiran London ini adalah salah seorang tokoh abad ke-19 yang paling cemerlang (brilliant), kontroversial dan yang mampu melihat jauh ke depan. Pengaruhnya telah menyebar jauh ke luar dari perbatasan negeri kelahirannya sendiri, abad ke-19 masa hidupnya dan Gereja Katolik. Ia dicintai dan diingat oleh banyak sekali orang, baik oleh umat Katolik maupun non-Katolik, sebagai seorang yang suci hidupnya dan lemah lembut. Namun ‘perpindahannya’ dari Gereja Anglikan ke dalam Gereja Katolik membuat hangat salah satu kontroversi yang paling pahit dan paling menentukan pada zaman ratu Victoria (Victorian age), kontroversi mana menyebabkan dia kehilangan banyak teman dan penghargaan dari banyak orang. Untuk waktu yang cukup lama Newman diasingkan dari lembaga pendidikan yang sangat dicintainya, Universitas Oxford. 

Newman berperan penting dalam sejarah Gereja Katolik karena banyak dari ide-nya diabaikan pada masa pontifikat Pius IX [1846-1878], dan baru mendapat angin pada masa pontifikat Leo XIII [1878-1903], dan akhirnya dipakai pada Konsili Vatikan II [1962-1965],  hampir satu abad kemudian. 

Tulisan-tulisan Newman sangat beragam, tidak terbatas pada bidang keagamaan, khususnya teologi. Otobiografinya yang berjudul Apologia pro Vita sua dan novelnya yang berjudul Loss and Gain, merupakan contoh dari karya-karya Newman yang besar. 

Mungkin kita tidak akan mendapat kesempatan melihat orang kudus ini diangkat menjadi seorang santo dan/atau pujangga Gereja. Saya sangat bersyukur karena – meskipun tak sengaja – dapat melihat TV ketika memberitakan peristiwa tersebut. Mengapa? Karena John Henry Newman adalah salah seorang tokoh dalam Gereja yang saya kagumi. Sekarang saya mau syering kegembiraan saya dengan sebuah doa dari Newman yang setiap pagi saya doakan. Doa ini mengungkapkan hakekat dari evangelisasi. Doa ini juga dikenal sebagai doa Ibu Teresa dari Kalkuta karena begitu sering dipakai oleh orang kudus pembela ‘wong cilik’ abad ke-20 itu. Bunyinya begini (dalam bahasa Inggris yang sudah disederhanakan): “Dear Jesus, help me to spread Your fragrance everywhere I go. Flood my soul with Your spirit and life. Penetrate and possess my whole being so utterly that all my life may only be a radiance of Yours. Shine through me and be so in me that every soul I come in contact with may feel Your presence in my soul. Let them look up and see no longer me but only Jesus! Stay with me and then I shall begin to shine as You shine, so to shine as to be a light to others; the light, O Jesus, will be all from You; none of it will be mine; it will be You shining on others through me. Let me thus praise You in the way You love best; by shining on those around me. Let me preach You without preaching, not by words, but by my example, by the catching force, the sympathetic influence of what I do, the evident fullness of the love my heart bears to You. Amen.

[Sumber utama: Brian Martin, JOHN HENRY NEWMAN – HIS LIFE & WORK) 

Para martir Korea. Pada hari ini, 20 September kita juga memperingati para martir Korea, Andreas Kim Tae-gon, Paulus Chong Ha-sang, dkk. Kim Tae-gon adalah imam ‘pribumi’ Korea pertama. Ayahnya, Ignatius Kim, juga mati sebagai martir pada masa pengejaran/penganiayaan tahun 1839. Dia dibeatifikasikan pada tahun 1925. Setelah dibaptis pada waktu berusia 15 tahun, Andreas melakukan perjalanan sepanjang lebih dari 2.000 km untuk belajar di seminari Macao, Tiongkok. Setelah enam tahun, dia berhasil kembali ke negerinya lewat Manchuria. Pada tahun yang sama dia menyeberangi Laut Kuning, sampai ke Shanghai dan ditahbiskan imam.  Setelah kembali ke Korea Romo Andreas Kim ditugaskan untuk mengatur agar lebih banyak misionaris dapat memasuki negeri Korea melalui jalan air sehingga dapat menghindari patroli perbatasan. Akhirnya, imam yang berani dan pandai ini tertangkap, dianiaya dengan kejam dan kemudian dijatuhi hukuman pancung di pinggir sungai Han dekat Seoul. Paulus Chong Ha-sang adalah seorang seminarian yang berumur 45 tahun. 

Agama Kristiani masuk ke Korea pada waktu penyerbuan Jepang pada tahun 1592. Pada waktu itu sejumlah orang Korea dibaptis, barangkali oleh anggota pasukan Jepang yang beragama Kristiani. Evangelisasi sulit sekali karena Korea menolak semua kontak dengan dunia luar, kecuali perjalanan setahun sekali ke Beijing untuk membayar upeti kepada Kaisar Tiongkok.  Dalam salah satu kesempatan seperti ini, sekitar tahun 1777, berbagai bacaan Kristiani yang diperoleh dari para Yesuit di Tiongkok mendorong orang-orang Kristiani yang berpendidikan untuk mempelajarinya. Dimulai gereja yang berkumpul dalam rumah warga. Ketika seorang imam dari Tiongkok berhasil masuk ke Korea secara rahasia dua tahun kemudian, ia menemukan 4.000 orang Katolik, tidak seorangpun pernah melihat seorang imam Katolik. Tujuh tahun kemudian sudah ada 10.000 orang Katolik. Kebebasan beragama baru mulai berlaku pada tahun 1883. 

Pada waktu Paus Yohanes Paulus II mengunjungi Korea pada tahun 1984, beliau mengkanonisasikan 98 orang Korea, di samping Beato Andreas Kim dan Beato Paulus Chang. Juga dikanonisasikan tiga orang misionaris Perancis yang mengalami kemartiran antara 1839 dan 1867. Dari semua martir yang diangkat menjadi santo dan santa itu ada uskup, imam, namun sebagian besar adalah kamu wam: 47 orang perempuan dan 45 orang laki-laki. Mereka mati sebagai martir/saksi Kristus setelah mengalami penganiayaan/penyiksaan secara brutal. Jumlah orang Katolik di Korea dewasa ini melebihi 1,5 juta orang. Yang perlu kita catat adalah, bahwa Gereja Korea adalah sebuah Gereja awam selama dua belas tahun semenjak didirikannya. Bagaimana mereka dapat survive tanpa Ekaristi? Tanpa mengurangi arti  penting Ekaristi (dan sakramen-sakramen lainnya), harus ada “iman-yang-hidup” sebelum perayaan Ekaristi yang diselenggarakan sungguh membawa manfaat. Sakramen-sakramen adalah adalah tanda inisiatif Allah dan tanggapan-Nya terhadap iman umat yang sudah ada. Sakramen-sakramen meningkatkan rahmat dan iman, namun hal itu dimungkinkan hanya kalau sudah ada sesuatu yang siap untuk ditingkatkan. 

Berikut ini adalah kutipan dari sebagian khotbah Paus Yohanes Paulus II pada upacara kanonisasi Andreas Kim Taegon dan kawan-kawan di Korea Selatan: 

“Gereja Korea bersifat unik karena didirikan sepenuhnya oleh kaum awam. Gereja yang baru ini, begitu muda namun begitu kuat dalam iman, bertahan dalam menghadapi penganiayaan yang dahsyat, gelombang demi gelombang. Jadi, dalam kurun waktu kurang dari satu abad, Gereja Korea dapat berbangga dengan 10.000 orang martir. Kematian para martir ini menjadi ragi Gereja dan membawa kepada Gereja Korea yang berkembang dengan indahnya sampai pada hari ini. Bahkan hari ini roh mereka yang tak pernah mati/padam itu menopang umat Kristiani dalam Gereja-diam di Utara, di atas tanah yang secara tragis terbagi menjadi dua ini.” 

(Sumber: Leonard Foley OFM [Editor], SAINT OF THE DAY, hal. 242-244) 

Semoga apa yang ditulis di atas membantu menguatkan iman-kepercayaan kita sebagai umat Kristiani yang berusaha terus menjadi murid-murid setia Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita. 

Bersama ini saya juga menyampaikan bacaan harian untuk hari Rabu tanggal 22 September 2010 dengan judul MENYENANGKAN ALLAH. Semoga membawa berkat bagi anda yang membacanya. 

Berkat Allah Tritunggal Mahakudus senantiasa menyertai anda sekalian. 

Salam persaudaraan, 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS