Archive for September 25th, 2010

ORANG KAYA DAN LAZARUS YANG MISKIN

ORANG KAYA DAN LAZARUS YANG MISKIN

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XXVI, 26-9-10) 

“Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan. Ada pula seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan  borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu, dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya. Kemudian matilah orng miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham. Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya. Lalu ia berseru, Bapak Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini. Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus  segala yang buruk. Sekarang di sini ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita. Selain itu, di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang. Kata orang itu: Kalau demikian, aku minta kepadamu, Bapak, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku, sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka jangan masuk kelak ke dalam tempat penderitaan ini. Tetapi kata Abraham: Mereka memiliki kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkannya. Jawab orang itu: Tidak Bapak Abraham, tetapi jika ada seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat. Kata Abraham kepadanya: Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan meu diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati” (Luk 16:19-31). 

Allah, Bapa kita, ingin agar kita masing-masing bersama-Nya dalam hidup kekal, dalam suatu hubungan kasih ilahi. Karena kasih hanya dapat diberikan secara bebas, maka Allah memberikan kepada kita kebebasan untuk diam dekat bersama-Nya atau menjauhkan diri daripada-Nya. Hari demi hari, Allah memberikan kepada kita peluang-peluang atau kesempatan-kesempatan bagi kita untuk menggunakan kebebasan kita. 

Inilah kasus yang ada dalam perumpamaan Yesus tentang si orang kaya dan pengemis yang bernama Lazarus. Kehidupan mereka sangat berbeda satu sama lain, namun Allah mengasihi mereka secara sama dan menawarkan kepada mereka berdua kesempatan-kesempatan untuk mengasihi-Nya. Menurut pengamatan Santo Yohanes Krisostomos [344-407], Lazarus mempunyai pilihan untuk menanggung penderitaannya dengan sabar dan penuh kepercayaan kepada Allah. Di lain pihak si orang kaya itu mempunyai pilihan untuk meringankan penderitaan Lazarus. 

Lazarus bekerja sama dengan tujuan-tujuan Allah, akan tetapi si orang kaya tidak begitu: dia memilih jalannya sendiri. Orang kaya ini mempunyai “Musa dan para nabi”, artinya Kitab Suci. Yang lebih penting lagi, dia mempunyai Lazarus yang berbaring di dekat pintu rumahnya. Dari hari ke hari, kehadiran Lazarus merupakan undangan yang dikaruniakan Allah kepada orang kaya itu supaya menyingkirkan segala hasratnya untuk memuaskan diri sendiri saja, dan bermurah hati terhadap sesama manusia yang perlu ditolong. Karena orang kaya itu menolak kasih Allah, ujung-ujungnya dia sangat menderita dalam api. Akhirnya dialah yang menjadi pengemis, sementara masuk ke dalam kehidupan kekal dengan Tuhan. 

Ada sedikita cerita mengenai Santa Teresa dari Lisieux [1873-1897]. Sebagai seorang biarawati muda Suster Teresa diminta untuk merawat seorang suster yang sudah tua. Suster tua ini terus saja mengeluh mengenai apa saja yang dilakukan oleh Suster Teresa. Meskipun begitu Suster Teresa percaya bahwa Bapa surgawi sedang memakai situasi ini untuk menempa cintakasih dalam hatinya, yang tidak dapat dihasilkan dengan kekuatannya sendiri. Allah menawarkan hati-Nya sendiri kepada biarawati muda usia ini! Sebenarnya setiap hari Tuhan Allah menyediakan bagi kita situasi-situasi serupa di mana kita dapat menyingkirkan hasrat-hasrat kita yang penuh keserakahan, kemudian merangkul Yesus melalui perbuatan-perbuatan baik penuh belas-kasihan terhadap saudari dan saudara kita. Allah Bapa ingin memberikan kepada kita masing-masing hati  baru yang sangat senang dalam mengikuti jalan-Nya. 

DOA: Bapa surgawi, Allah yang Mahapengasih dan Mahapenyayang. Terima kasih untuk kasih-Mu yang sempurna bagi kami. Kami memberikan hati kami sehingga Engkau dapat bekerja lewat diri kami seturut kehendak-Mu. Kami rindu untuk bersama-Mu selama-lamanya. Amin. 

Cilandak, 22 September 2010 [Peringatan S. Ignatius dari Santhia, Imam Kapusin] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

INJIL – SEBUAH PERKENALAN AWAL

INJIL – SEBUAH PERKENALAN AWAL 

CATATAN: Tulisan ini semula ditulis pada tahun 2000 dan digunakan untuk sebuah pertemuan STUDI ALKITAB. Ketika menemukan tulisan ini pada suatu pagi pekan lalu, saya berkeputusan untuk menyalinnya kembali (dengan beberapa perbaikan kecil) atas dasar pemikiran bahwa tentu isi dalam tulisan ini masih diperlukan bagi para saudari-saudara yang baru saja secara serius mulai mengakrabkan diri dengan sabda Allah dalam Kitab Suci; apalagi saatnya sekarang memang cocok sekali karena bulan September ini adalah bulan Kitab Suci, bukan? 

TUJUAN 

Tulisan perkenalan kepada ke empat kitab Injil mau menjawab beberapa pertanyaan mendasar berikut ini:

  1. Apakah yang dimaksudkan dengan kitab-kitab Injil?
  2. Siapakah Yesus yang ditulis dalam kitab-kitab Injil itu?
  3. Hal-hal sama apa saja yang terdapat dalam kitab-kitab Injil itu dan hal-hal apa saja yang membedakan kitab Injil yang satu dengan kitab Injil yang lain?
  4. Bagaimana seharusnya kita membaca teks Injil sebagai karya sastra, sejarah dan teologi?
  5. Masalah-masalah istimewa apa saja yang timbul manakala kita membaca Injil?
  6. Bagaimana sebaiknya masalah-masalah itu didekati (approached)?
  7. Bagaimana kita dapat menggunakan kitab-kitab Injil dalam doa, kelompok studi kitab suci (bible study group) dan syering kelompok (communal sharing), dalam khotbah dan dalam pengajaran? 

Tulisan yang beberapa halaman saja panjangnya ini tentu saja tidak dapat menjawab semua pertanyaan di atas, namun dari tulisan ini diharapkanlah adanya dorongan Roh Kudus dalam hati kita masing-masing untuk lebih lebih mengakrabkan diri lagi dengan sabda ilahi yang terdapat dalam Injil. 

YESUS DAN KITAB-KITAB INJIL 

Konsili Vatikan II menyatakan: 

Semua orang tahu, bahwa di antara semua kitab, juga yang termasuk Perjanjian Baru, Injillah yang sewajarnya menduduki tempat istimewa. Sebab Injil merupakan kesaksian utama tentang hidup dan ajaran Sabda yang menjadi daging, Penyelamat kita. 

Selalu dan di mana-mana Gereja mempertahankan dan tetap berpandangan, bahwa keempat Injil berasal dari para Rasul. Sebab apa yang atas perintah Kristus diwartakan oleh para Rasul, kemudian dengan ilham Roh ilahi diteruskan secara tertulis kepada kita oleh mereka dan orang-orang kerasulan, sebagai dasar iman, yakni Injil dalam keempat bentuknya menurut Matius, Markus, Lukas dan Yohanes. (‘Konstitusi Dogmatis Dei Verbum tentang Wahyu Ilahi’, 18) 

Kitab-kitab Injil bercerita kepada kita tentang Yesus Kristus. Kitab-kitab itu menggambarkan karakter-Nya dan menarasikan kehidupan-Nya dan mukjizat-mukjizat-Nya. Kitab-kitab Injil juga memelihara sabda-sabda Yesus Kristus yang indah serta perumpamaan-perumpamaan-Nya. Kitab-kitab Injil ini mengetengahkan bagian yang paling penting dari sejarah umat manusia, yaitu bagaimana karena kasih-Nya yang tak terhingga Allah menjadi manusia dan menebus umat manusia. Apabila kita sungguh ingin menjadi orang-orang Kristiani yang matang, kalau kita ingin lebih lagi mengasihi Yesus Kristus dan melayani-Nya dengan lebih baik lagi, apabila kita ingin membawa Dia kepada orang-orang lain melalui pengajaran katekese, berbagai bentuk kerasulan lainnya seperti ‘evangelisasi pribadi’, maka kita harus mempelajari keempat Injil dengan serius dan mantap. Kita tidak dapat memberikan kepada orang lain sesuatu yang kita sendiri tidak miliki. Injil adalah Yesus Kristus sendiri! 

Untuk mengetahui dan mengenal kitab-kitab Injil dengan baik, kita harus mengakrabkan diri secara sungguh-sungguh dengan teks Injil itu sendiri. Kita harus membaca kitab-kitab Injil itu sesering mungkin, membaca dan membacanya lagi.[1] Sounds too demanding?  Tidak ada sesuatu pun yang dapat menggantikan usaha membaca ini. Seandainya kita menggunakan buku pengantar atau buku tafsir dalam mempelajari kitab-kitab Injil, maka betapa bagus pun buku-buku itu, tetap teks Injil harus dibaca. Artinya kalau membaca buku tentang Injil, maka jangan lupa untuk membaca sabda Allah pada setiap kesempatan yang tersedia

Pembacaan kitab-kitab Injil secara asal-asalan (superficial/tidak mendalam) tentunya tidak cukup. Kita tidak dapat membaca kitab-kitab Injil seperti membaca buku-buku lain, karena di sini Allah sendirilah yang berbicara kepada kita. Hanya pembacaan Injil yang dilakukan dalam suasana doa saja yang dapat membuka telinga (hati) kita akan apa yang ingin disampaikan Yesus Kristus kepada kita. Oleh karena itu tidak baik untuk membaca Injil banyak-banyak sekaligus atau secara tergesa-gesa. Sebelum membuka Kitab Suci, kita harus menempatkan diri kita di hadapan hadirat Allah. Selagi kita membaca, kita harus tetap sepenuhnya sadar akan kesucian teks (sacredness of the text) yang sedang dibaca itu. Dan apabila ada sesuatu yang menyentuh pikiran dan perasaan kita, maka kita dapat merefleksikan kata-kata yang menyentuh tadi dan membawakannya dalam doa. Seperti telah saya tulis dalam kesempatan lain, limabelas menit membaca Injil atau Kitab Suci pada umumnya bukanlah sesuatu hal yang mewah dalam kehidupan setiap orang Kristiani

Akan tetapi meskipun kita mempunyai niat yang paling baik dan kita membaca Injil dengan seringkali dan diiringi doa-doa, kita tetap membutuhkan sejumlah background knowledge guna memahami Injil itu secara penuh. Sebuah kelompok studi Alkitab (bible study group) yang baik dapat membantu dalam soal ini. 

INJIL DAN KITAB-KITAB INJIL 

Kata “Injil” berasal dari kata Yunani euangelion (‘eu = baik, dan angelion = pesan/kabar). Dalam bahasa Latin kata ini menjadi evangelium. Dalam bahasa Inggris disebut gospel atau good news atau good tidings. Keempat kitab pertama dalam Perjanjian Baru dinamakan Injil justru karena keprihatinan utamanya adalah untuk memberitakan/mewartakan ‘Kabar Baik’ tentang Yesus Kristus. Mengapa ‘Kabar Baik’? Para penulis kitab-kitab dalam Perjanjian Baru menggunakan kata ini (lihat Rm 1:1-4), untuk mengungkapkan apa yang telah dilakukan Allah bagi umat manusia melalui kehidupan, kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. Kabar baiknya adalah bahwa melalui Kristus-lah terbuka kemungkinan bagi semua orang untuk mengalami pemerdekaan/pembebasan dan relasi yang benar dengan Allah, dalam terang salib Kristus. Pewartaan mengenai penyelamatan yang disajikan dalam Injil Yesus Kristus sebenarnya berakar pada Perjanjian Lama. 

Dalam perjanjian Lama, kita dapat menemukan istilah ini murni digunakan dalam arti non-religius. Misalnya ketika Yoab, jenderal pasukan perang Daud mengalahkan pemberontak yang bernama Absalom, dia menginginkan seseorang menyampaikan berita kemenangan ini kepada raja Daud. 

Kemudian berkatalah Ahimaas bin Zadok: “Biarlah aku berlari menyampaikan kabar yang baik itu kepada raja, bahwa TUHAN telah memberi keadilan kepadanya dengan melepaskan dia dari tangan musuhnya” (2Sam 18:19). 

Akan tetapi dalam bahasa para nabi, istilah kabar baik mulai memiliki arti yang lebih khusus. Para nabi menunjuk kepada masa depan Mesianis. Ketika Allah mulai menebus umat-Nya, mereka mendengar kabar baik keselamatan Mesianis itu. Misalnya, nabi Yesaya merayakan pulangnya umat Israel dari pembuangan pada 537SM (lihat Yes 40-55), yang dipahami sebagai suatu ‘ciptaan baru’ dan ‘keluaran baru’ (a new exodus). 

Hai Sion, pembawa kabar baik,

Naiklah ke atas gunung yang tinggi!

Hai Yerusalem, pembawa kabar baik,

Nyaringkanlah suaramu kuat-kuat,

Nyaringkanlah suaramu, jangan takut!

Katakanlah kepada kota-kota Yehuda:

“Lihat, itu Allahmu!”

Lihat, itu Tuhan ALLAH,

Ia datang dengan kekuatan

Dan dengan tangan-Nya Ia berkuasa.

(Yes 40:9-10a) 

Dengan demikian Injil Yesus Kristus memiliki keterkaitan dengan peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah penyelamatan. Dengan penuh rasa cemas orang-orang Yahudi menanti-nantikan ‘kabar baik’ penyelamatan oleh Mesias. Itulah sebabnya mengapa Yesus, ketika memulai pewartaan-Nya, mengumumkan bahwa pesan yang disampaikan-Nya adalah ‘kabar gembira penyelamatan’. 

  1. Pada suatu hari orang berusaha menahan Yesus supaya jangan meninggalkan mereka, tetapi Yesus berkata kepada mereka, “Di kota-kota lain juga Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah, sebab untuk itulah Aku diutus.” Lalu Ia memberitakan Injil dalam rumah-rumah ibadat di Yudea (Luk 4:43-44). 
  2. Sesudah Yohanes Pembaptis ditangkap datanglah Yesus ke Galilea memberitakan Injil Allah, katanya: “Saatnya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” (Mrk 1:14-15). 
  3. ‘Doktrin’ Yesus dengan cepat dikenal sebagai ‘Kabar Baik’! ‘Injil’ atau ‘Kabar Baik’ di sini berarti pengumuman penuh kegembiraan bahwa Allah akhirnya memulai karya penebusan-Nya, seperti dijanjikan-Nya kepada para nabi (lihat Mat 11:5; Luk 4:18; 7:22). Mewartakan tentang Yesus dan semua yang dilakukan-Nya dan dikatakan-Nya disebut ‘pewartaan Kabar Baik’ atau ‘penginjilan’ atau ‘evangelisasi’. Yesus berkata kepada para rasul: “Tetapi kamu ini, hati-hatilah! Kamu akan diserahkan kepada majelis agama; kamu akan dipukul di rumah Ibadat dan akan dihadapkan kepada para gubernur dan para raja karena Aku, sebagai kesaksian bagi mereka. Tetapi Injil harus diberitakan dahulu kepada semua bangsa” (Mrk 13:9-10). 
  4. Apakah yang dilakukan oleh para rasul setelah kebangkitan Yesus Kristus? “Setiap hari mereka mengajar di Bait Allah dan di rumah-rumah dan memberitakan Injil tentang Yesus yang adalah Mesias” (Kis 5:42). 

Dalam Perjanjian Baru kata ‘Injil’ atau ‘Kabar Baik’ selalu mengacu kepada pengumuman yang penuh kegembiraan mengenai segala sesuatu yang dikatakan dan dilakukan oleh Yesus (lihat misalnya Kis 8:35; 11:20; Rm 1:1 dsj.). Dalam arti ini sebenarnya hanya ada satu Injil saja. Oleh karena hanya ada satu Injil, maka Santo Paulus menulis begini: 

“Aku heran bahwa kamu begitu lekas berbalik dari Dia yang dalam anugerah Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil lain, yang sebenarnya bukan Injil. Hanya ada orang yang mengacaukan kamu dan yang bermaksud untuk memutar-balikkan Injil Kristus. Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari surga yang memberitakan kepadamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia” (Gal 1:6-8). 

Dengan cara yang sama pula kita harus memahami kalimat pertama dalam Injil Markus: “Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah” (Mrk 1:1). Penulis Injil Markus mau menunjukkan di sini bahwa isi dari karyanya adalah suatu penyajian yang penuh setia dari ‘Kabar Baik’.

Jadi kita sudah sepakat bahwa hanya ada satu Injil. Akan tetapi pada kenyataannya ‘Kabar Baik tentang Yesus Kristus’ yang cuma satu ini, yang diwartakan/dikhotbahkan oleh para rasul, telah sampai ke tangan kita dalam 4 (empat) kitab, empat versi, yang seringkali memberikan kesan ‘serupa tapi tak sama’. 

Pada abad-abad awal Gereja, para penulis Kristiani menekankan kesatuan dari Injil yang mendasari keempat ‘versi’ yang ada. Mereka tidak suka menyebut ‘Injil-Injil’ (dalam arti majemuk), karena dapat mengundang kesalah-pahaman seakan-akan kitab-kitab Injil itu berisikan pesan-pesan yang berlainan satu sama lain. Dalam kanon Muratori misalnya disebutkan “keempat kitab dari Injil yang satu”. Dan untuk membuat jelas bahwa keempat ‘edisi’ memuat ‘Kabar Baik’ yang sama, mereka menyebut: “Injil menurut Santo Matius”, “Injil menurut Santo Markus”, “Injil menurut Santo Lukas” dan “Injil menurut Santo Yohanes”. Artinya “Kabar Baik tentang Yesus Kristus seperti disampaikan kepada kita oleh editor Santo Matius”, dst. 

Belakangan, masing-masing kitab dinamakan Injil. Penggunaan kata Injil seperti ini sekarang sudah menjadi universal, sehingga bukan sesuatu yang aneh kalau berbicara mengenai ‘keempat Injil’, yaitu Injil Matius, Injil Markus, Injil Lukas dan Injil Yohanes. Penyebutan seperti itu sah-sah saja, akan tetapi kita harus selalu ingat bahwa kalau berbicara secara strict, empat Injil berarti empat edisi dari ‘Kabar Baik’ yang tak terbagi-bagi, yaitu Injil Yesus Kristus. Tiga kitab yang pertama disebut ‘Injil-Injil Sinoptik’ karena menceritakan tentang Yesus dari suatu perspektif pandangan yang sama. Injil Yohanes berbeda, baik dalam bahasa yang digunakan, struktur maupun teologinya. 

Keempat Injil kelihatan seperti riwayat hidup. Namun pada kenyataannya – di luar narasi kelahiran yang terdapat dalam dua bab pertama Injil Matius dan Injil Lukas – keempat Injil hanya menceritakan mengenai kegiatan Yesus di muka umum, sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya. Kegiatan itu hanya untuk kurun waktu satu tahun (dalam Injil-Injil Sinoptik) atau paling lama tiga tahun (dalam Injil Yohanes). Semua peristiwa yang diceritakan dalam kitab-kitab Injil terjadi di tanah Israel dan teritori-teritori yang bertetangga dengan tanah Israel. 

Keempat Injil ditulis dalam bahasa Yunani, pada waktu itu bahasa internasional di kekaisaran Romawi dan dunia helenis (Yunani). Sangat mungkin keempat Injil ditulis di luar tanah Israel. Bahasa Yunani yang digunakan adalah bahasa Yunani Koine, yaitu bahasa Yunani rakyat biasa. Bahasa Yunani dari Injil juga sangat dipengaruhi oleh bahasa Perjanjian Lama dalam bahasa Ibrani dan versi Yunani (Septuaginta = LXX). 

Peristiwa-peristiwa yang dinarasikan dalam keempat Injil terjadi sekitar tahun 30. Kitab-kitab Injil yang kita miliki sekarang ini disusun pada akhir abad pertama tahun Masehi (A.D.). Injil Markus biasanya ditempatkan di sekitar tahun 70, Injil Matius dan Injil Lukas di sekitar tahun 85-90 dan Injil Yohanes di sekitar tahun 90. Antara peristiwa-peristiwa yang dinarasikan dan narasi-narasi yang kita miliki sekarang terdapat ‘kesenjangan waktu’ selama 40-60 tahun. Selama masa ini tradisi-tradisi tentang kegiatan dan pengajaran Yesus dipelihara dan digunakan untuk menanggapi pelbagai masalah dan pertanyaan yang dihadapi oleh Gereja perdana. 

Injil dan Kitab Suci pada umumnya sering disebut sebagai sabda Allah, Wahyu, ungkapan iman Gereja para Rasul. Masih ada banyak sebutan lain yang dapat diberikan kepada Injil. Bahkan ada yang berani mengatakan bahwa Injil adalah surat cinta dari Allah kepada umat manusia. Sebutan-sebutan itu mencerminkan macam pemahaman tertentu tentang Injil. Pemahaman yang kita miliki tentang Injil pada gilirannya menentukan cara kita membaca, menafsirkan dan memberi arti kepada Injil.[2] Di bawah ini akan diberikan gambaran sederhana mengenai bagaimana kitab-kitab Injil terbentuk. 

TAHAPAN-TAHAPAN PEMBENTUKAN KITAB-KITAB INJIL 

Mengenai pembentukan kitab-kitab Injil ini Konsili Vatikan II mengatakan: 

Adapun para penulis suci mengarang keempat Injil dengan memilih berbagai dari sekian banyak hal yang telah diturunkan secara lisan atau tertulis; beberapa hal mereka susun secara agak sintetis, atau mereka uraikan dengan memperhatikan keadaan gereja-gereja; akhirnya dengan tetap mempertahankan bentuk pewartaan, namun sedemikian rupa, sehingga mereka selalu menyampaikan kepada kita kebenaran yang murni tentang Yesus. (‘Konstitusi Dogmatis Dei Verbum tentang Wahyu Ilahi, 19)

Ini adalah sebuah kalimat yang panjang dan padat. Akan tetapi pokok dasarnya jelas: Kitab-kitab Injil harus dibaca dari tiga perspektif, yaitu para pengarang Injil, Gereja perdana dan Yesus.[3] Teks dokumen Gereja di atas menunjukkan bahwa para pengarang Injil melakukan pekerjaan mereka dengan pelbagai cara: memilih tradisi lisan atau tertulis, kemudian membentuknya sedemikian rupa guna menanggapi situasi-situasi yang dihadapi komunitas masing-masing, dan mempermaklumkan Injil Yesus Kristus dengan cara-cara yang berbeda. 

Namun demikian, dari sejak awal kita harus sadar bahwa teks Injil melampaui karya para pengarang manusia, karena melalui kitab-kitab Injil itu Allah sendiri berbicara kepada kita. Kita mengatakan di sini bahwa kitab-kitab Injil telah diinspirasikan oleh Roh Allah. Allah adalah ‘sang pengarang’ karena Dia menggerakkan para pengarang/penulis – yang nota bene adalah mnanusia itu – untuk menulis apa yang mereka tulis. Bagaimana Allah melakukan ini? Dalam hal pembentukan kitab-kitab Injil, kita dapat membedakan adanya tahapan-tahapan sebagai berikut[4]

  1. Dalam tahapan pertama ini para rasul mengikuti Yesus Kristus dalam kehidupan-Nya di depan umum (publik). Yesus Kristus mewahyukan kebenaran ilahi kepada para rasul. Dia mengajar kepada mereka dengan menggunakan perumpamaan-perumpamaan dan pengajaran-pengajaran perihal apa yang harus mereka percayai dan praktekkan. Lewat perbuatan-perbuatan-Nya, Yesus menunjukkan kepada mereka apa makna dari penyelamatan Allah. Akhirnya Yesus mengutus mereka untuk mewartakan kabar baik penyelamatan ini ke mana-mana. Tentu saja pada tahapan ini para rasul belum memahami sepenuhnya makna dari perbuatan-perbuatan / karya-karaya Yesus dan sabda-sabda-Nya. 
  2. Dalam tahapan kedua ini para rasul mewartakan kabar baik Yesus Kristus. Setelah kebangkitan Yesus Kristus dan Roh kudus turun atas para rasul di hari Pentakosta, para rasul mampu melihat dengan lebih jelas makna dan pentingnya perbuatan-perbuatan dan sabda-sabda Yesus, kematian serta kebangkitan-Nya. Sebagai para rasul mereka mewartakan kabar baik ini lewat khotbah-khotbah dan contoh-contoh perikehidupan mereka sendiri dan lewat nasihat-nasihat mereka juga meneruskan tradisi-tradisi rasuli. Dalam semangat penuh cintakasih mereka berdebat dengan orang-orang yang tidak percaya. Mereka membina iman umat yang baru dibaptis agar dapat menjalani hidup iman dalam Yesus yang lebih mendalam lagi, agar perilaku umat itu sesuai dengan iman-kepercayaan Kristiani. Pewartaan mereka juga guna memperkuat komunitas Kristiani ketika berkumpul dalam kebaktian bersama. Sebagian besar tradisi itu telah mereka terima secara langsung dari Yesus sendiri. Dalam hal yang memerlukan upaya untuk menafsir, maka mereka ditolong oleh Roh Kudus sehingga mereka dapat menyampaikan Injil Yesus Kristus dengan penuh kesetiaan. Selama kurun  waktu pembentukan Injil (lebih dari 30 tahun) ini pewartaan Injil mengkristal dan juga mengasah cerita-cerita para rasul mengenai karya-karya dan sabda-sabda Yesus, sehingga banyak detil-detil yang berlebihan dibuang dan cerita serta sabda-sabda dapat dimengerti secara lebih langsung. Patut dicatat bahwa dalam memberitakan Injil itu para rasul dan murid lainnya yang ditugaskan untuk mewartakan Injil tidak berminat untuk menceritakan riwayat hidup atau sejarah Yesus Kristus. 
  3. Dalam tahapan ketiga ini pewartaan rasuli ditulis oleh para murid yang sangat bersemangat. Apa yang dikatakan dan diperbuat Yesus ditulislah. Pertama-tama dibuatlah koleksi-koleksi dari bagian-bagian yang saling terkait. Lalu dibuatlah ungkapan tertulis yang lengkap perihal pesan Yesus. Sementara itu Roh Kudus mendorong para penulis Injil itu untuk menulis kitab Injil masing-masing. Para penulis Injil masuk dalam tahapan ketiga ini. Tujuan para penulis Injil adalah untuk mewartakan ‘Kabar Baik’ kepada komunitas Kristiani masing-masing. Mereka mengetahui kebutuhan iman dan komunitas Kristiani yang dituju. Dari banyak ‘cerita’ perihal perbuatan-perbuatan dan sabda-sabda Yesus yang selama ini sudah digunakan oleh para rasul dalam kegiatan pewartaan, para penulis Injil hanya memilih ‘cerita-cerita’ yang mereka perlukan dan mengaturnya sedemikian rupa sehingga dapat mencapai tujuan pewartaan mereka kepada komunitas Kristiani yang dituju. Karena tujuahn penulisan kitab-kitab Injil adalah ‘teologis’, maka janganlah kita menjadi kaget apabila mendapati adanya pelbagai ketidak-konsistenan historis antara kitab Injil yang satu dengan kitab Injil yang lain. 

Roh Kudus berkarya pada ketiga tahapan yang disebutkan di atas. Roh Kudus menolong para rasul untuk memahami ajaran-ajaran Yesus. Roh Kudus membimbing Gereja perdana dalam pengungkapan penuh setia dari tradisi rasuli. Roh Kudus menggerakkan dan membantu para penulis Injil selagi mereka melakukan pekerjaan menulis kitab Injil mereka masing-masing. Dengan perkataan lain, karya inspirasi meliputi pembentukan kitab-kitab Injil pada semua tahapan. Mengapa? Karena kalau kita renungkan baik-baik, maka kitab-kitab Injil sesungguhnya bukanlah melulu produk dari para penulis masing-masing. Kitab-kitab Injil adalah produk dari pewartaan Gereja. Para penulis Injil memang adalah orang-orang yang memainkan peranan sangat penting dalam pemberian bentuk akhir masing-masing kitab Injil, namun apa yang mereka tuliskan bukanlah pendapat pribadi mereka sendiri. Mereka menulis sebagai wakil-wakil Gereja dan memperoleh pelbagai informasi dari Gereja. 

BEBERAPA CONTOH 

Guna lebih menjelaskan uraian di atas, maka berikut ini kita akan memperhatikan ‘Perumpamaan tentang domba yang hilang’ yang terdapat dalam Injil Matius (18:12-14) dan Injil Lukas (15:3-7). Dalam Injil Matius, perumpamaan ini muncul dalam bab 18, sebuah bab yang didedikasikan oleh penulis Injil Matius untuk pengajaran mengenai kehidupan komunitas. Matius menggunakan perumpamaan ini untuk mengajarkan komunitasnya  tentang bagaimana komunitas itu harus memperlakukan seorang dari anggota-anggota komunitas yang ‘kecil-kecil’ (wong cilik), yang karena sesuatu sebab menjadi terpisah/ tersisihkan dari komunitasnya. Di lain pihak, dalam Injil Lukas perumpamaan ini adalah salah satu dari tiga perumpamaan yang menggambarkan pengampunan Allah. Injil Lukas menceritakan: “Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa, semuanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. Lalu bersungut-sungutlah orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya, ‘Orang ini menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka.’” (Luk 15:1-2). Kemudian Lukas menggunakan ‘Perumpamaan tentang domba yang hilang’ (15:3-7), ‘Perumpamaan tentang dirham yang hilang’ (15:8-10) dan ‘Perumpamaan tentang anak yang hilang’ (15:11-32) guna menyoroti belas kasihan Allah yang dinyatakan dalam sikap dan perilaku Yesus terhadap orang-orang berdosa. Ketiga perumpamaan itu sekaligus menjadi bacaan Injil pada hari Minggu Biasa XXIV tahun C. Baik dalam Matius maupun Lukas kita membaca perumpamaan yang sama, yang sungguh-sungguh diwartakan/diajarkan Yesus, tetapi masing-masing penulis Injil menggunakan perumpamaan itu untuk menerangkan pokok teologis[5] yang berbeda satu sama lain. 

Hanya Injil Lukas yang memuat cerita tentang Zakheus (19:1-10) yang terakhirnya berbunyi: “Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang” (ayat 10). Menurut Markus, kedua orang yang disalibkan bersama-sama dengan Yesus itu mencela Dia juga (15:32); sedangkan menurut Lukas hanya seorang saja yang menghujat Dia, yang lain malah minta kepada-Nya: “Yesus, ingatlah aku, apabila Engkau datang sebagai Raja.” Kata Yesus kepadanya: “Aku berkata kepadamuj, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan aku di dalam Firdaus” (23:39-42). 

CATATAN PENUTUP  

Tahapan-tahapan pembentukan kitab Injil seperti diuraikan di atas tadi bersifat kompleks. Akan tetapi betapa pun kompleksnya, bagi kita umat Kristiani, kitab-kitab Injil menceritakan kepada kita ‘kebenaran jujur mengenai Yesus Kristus’. Dengan perkataan lain kita mau menyatakan bahwa tradisi tentang Yesus pada dasarnya dapat dipercaya dan tradisi ini menceritakan kepada kita apa yang kita perlukan untuk mengetahui ‘tentang’ Yesus. Kita dapat mengatakan juga bahwa kita dapat mendengar ‘suara’ Yesus dan mengenal Dia sebagai seorang pribadi. Akhirnya kita juga dapat mengatakan bahwa Yesus Kristus yang menjadi tokoh utama dalam kitab-kitab Injil adalah seorang pribadi yang riil, seorang pribadi yang berkarakter kuat dan jelas sama sekali bukan sebuah ‘mitos’ yang diciptakan oleh sekelompok orang atau bukan juga ‘tokoh fiksi’ dalam sebuah novel. 

Sebuah kitab Injil adalah sesuatu yang kompleks dengan latar belakang sejarah. Akan tetapi di dalam kompleksitas itu ada kesederhanaan, yaitu bahwa Injil adalah KABAR BAIK mengenai apa yang telah dilakukan Allah bagi manusia dalam kehidupan, kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. Keempat kitab Injil membuat kita berkontak dengan KABAR BAIK itu, yang didasarkan atas perbuatan-perbuatan dan sabda-sabda Yesus dari Nazaret, dan yang disampaikan kepada kita melalui iman Gereja perdana. 

Cilandak, 24 September 2010 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS


[1] Kekecualiaan adalah apabila karena sesuatu sebab seseorang tidak mampu membaca dengan matanya (buta huruf atau buta). Dalam hal ini diperlukan bantuan orang orang lain dan/atau Kitab Suci dengan huruf braille..

[2] Gerhard Lohfink, SEKARANG SAYA MEMAHAMI KITAB SUCI, Yogyakarta: Kanisius, 1974.

[3] Daniel Harrington SJ, HOW TO READ THE GOSPELS – ANSWERS TO COMMON QUESTIONS’, Hyde Park, N.Y.: New City Press, 1996, hal. 10.

[4] Dalam hal ini saya praktis mengambil alih jalan pemikiran dan uraian dari John Wijngaards, MHM, HANDBOOK TO THE GOSPELS – A GUIDE TO THE GOSPEL WRITINGS AND TO THE LIFE AND TIMES OF JESUS, Ann Arbor, Michigan: Servant Books, 1979, hal. 11-12 dan John Wijngaards, MHM, BACKGROUND TO THE GOSPELS, Bangalore, India: Theological Publication in India, 1993, hal. 6-8. Kita dapat menemukan penjelasan serupa dalam Robert J. Karris OFM, FOLLOWING JESUS: A GUIDE TO THE GOSPELS, Chicago, Illinois: Franciscan Herald Press, 1973, hal. 9-12. Penjelasan tentang taharpan-tahapan pembentukan kitab Injil dengan lebih rinci dapat dibaca dalam Herman Hendrickx CICM, FROM ONE JESUS TO FOUR GOSPELS, Quezon City, Phillipines: Claretian Publications, 1991, hal. 5-52 (Terjemahan bahasa Indonesia berjudul: SATU YESUS EMPAT INJIL, Jakarta: Obor, 1989, hal. 1994), dan I. Suharyo Pr., PENGANTAR INJIL SINOPTIK, Yogyakarta: LBI/Kanisius, 1989, hal. 19-32. Seluruh buku karangan Gerhard Lohfink, THE GOSPELS – GOD’S WORD IN HUMAN WORDS, Chicago, Illinois: Franciscan Herald Press, 1972, juga baik untuk dibaca bagi yang ingin mendalami lagi soal ini, terutama hal. 9-14.

[5] Dalam bahasa sederhana, Teologi = Ilmu tentang Tuhan Allah.