AKU TAHU PENEBUSKU HIDUP

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan Santo Hieronimus, Imam & Pujangga Gereja, Kamis 30-9-10) 

Kasihanilah aku, kasihanilah aku, hai sahabat-sahabatku, karena tangan Allah telah menimpa aku. Mengapa kamu mengejar aku, seakan-akan Allah, dan tidak menjadi kenyang makan dagingku? Ah, kiranya perkataanku ditulis, dicatat dalam kitab, terpahat dengan besi pengukir dan timah pada gunung batu untuk selama-lamanya! Tetapi aku tahu: Penebusku hidup, dan akhirnya Ia akan bangkit di atas debu. Juga sesudah kulit tubuhku sangat rusak, tanpa dagingku pun aku akan melihat Allah, yang aku sendiri akan melihat memihak kepadaku; mataku sendiri menyaksikan-Nya dan bukan orang lain. Hati sanubariku merana karena rindu (Ayb 19:21-27). 

Bacaan Injil:Luk 9:46-50 

Di tengah-tengah penderitaannya, Ayub terus mempertahankan posisinya bahwa dia tidak bersalah. Sahabat-sahabatnya berpikir bahwa Ayub tentu telah berdosa sehingga mengalami penderitaan hebat seperti itu, namun Ayub merasakan bahwa dia secara tidak adil ditinggalkan oleh Allah, dan sekarang dia berseru mohon keadilan. Hasrat hatinya adalah agar seseorang mengakui kebenaran dirinya, meski setelah kematiannya sekali pun. 

Dalam tradisi Yahudi, seorang penebus (Ibrani: go’el) adalah seorang pembela atau pelindung orang miskin, yang akan membela mereka yang dituduh secara tidak adil, atau seorang penyelamat dari mereka yang kalau tidak ditolong akan dijual sebagai budak belian/hamba sahaya. Misalnya, kalau seseorang akan mati tanpa pewaris/turunan, maka salah seorang sanak keluarganya berkewajiban untuk membeli tanah orang yang akan mati itu dan memperhatikan kesejahteraan janda yang ditinggalkan (lihat Im 25:47-55). Orang yang membantu itu dinamakan seorang go’el. 

Meskipun ada tradisi tentang seorang penebus seperti ini, Ayub memandang dirinya berdiri sendiri, tidak punya siapa-siapa. Oleh karena itu dia berseru agar dapat memperoleh keadilan terakhir. Dengan suatu seruan iman di tengah-tengah suatu situasi yang kelihatannya absurd, Ayub berkata: “Tetapi aku tahu: Penebusku hidup” (Ayb 19:25). Ia tahu bahwa si penebus atau go’el ini akan membela dirinya di depan para pendakwanya. Dia akan dibenarkan oleh si penebus, maka akhirnya dia akan mampu memandang Allah muka ketemu muka. 

Baik iman Ayub maupun kondisi kemanusiaan kita harus dipandang dalam terang Yesus Kristus, Penebus kita yang sejati. Oleh salib-Nya, Dia telah menyelamatkan kita dari kuasa maut. Sekarang setelah bangkit dalam kemuliaan, Ia berdiri bersama kita di hadapan pendakwa kita. Ia membela dan mendukung kita. Oleh darah-Nya sendiri, Dia telah menebus kita dari dosa dan membuat kita benar di hadapan Allah. Kita tidak dibuang atau ditinggalkan, karena Yesus senantiasa bersama kita. 

Walaupun kita tidak senantiasa memahami rencana Allah, kita selalu dapat hidup dalam pengharapan bahwa kita akan berdiri di hadapan Allah dan melihat Dia dalam kemuliaan dan keagungan-Nya. Apa yang sekarang kita lihat sebagai gambaran yang samar-samar, pada hari itu akan bersinar terang penuh kemuliaan (lihat 1Kor 13:12) Kita pun dapat mengatakan: “Aku tahu: Penebusku hidup” (Ayb 19:25), dan dengan penuh keyakinan menghadapi situasi  apa pun yang akan kita jumpai dan gumuli kelak. 

DOA: Tuhan Yesus, apapun yang terjadi padaku hari ini, aku akan tetap menaruh harapanku dalam Engkau, ya Tuhan dan Penebusku. Berdirilah membela aku, hiburlah aku dan pimpinlah aku dalam berjalan menuju rumah abadiku bersama-Mu. Aku percaya penuh akan kasih-Mu kepadaku dan aku berketetapan untuk mewujudkan segala tindak-tandukku hari ini di atas dasar kasih-Mu itu. Amin. 

Cilandak, 28 September 2010 [Peringatan B. Innocentius dari Bertio, Imam Kapusin] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS