KUNTUM BUNGA YANG KECIL

(Bacaan Injil Misa Kudus, Pesta S. Teresa dari Kanak-Kanak Yesus, Perawan & Pujangga Gereja, Jumat 1 Oktober 2010) 

Bacaan Injil: Mat 18:1-5 

Catatan: Bacaan Injil hari ini kebetulan sama dengan bacaan Injil besok tanggal 2 Oktober. Oleh karena itu tidak disoroti secara keseluruhan. 

“Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga” (Mat 18:3). 

Pada hari ini kita merayakan pesta Santa Teresa dari Lisieux (1873-1897), perawan dan Pujangga Gereja. Ketika baru berumur 15 tahun, dengan izin khusus Sri Paus, Teresa masuk sebuah biara Karmel di Lisieux, Perancis. Hanya delapan tahun kemudian, suster muda usia ini meninggal dunia karena penyakit TBC yang dideritanya. Kalau hanya sampai di situ ceritanya, maka tidak ada yang istimewa dari kehidupan suster ini yang memang hidup di dalam tembok biara yang ketat. Namun apa yang diwariskannya meninggalkan rekam jejak yang sangat berpengaruh atas kehidupan Gereja, bahkan sampai hari ini. Teresa adalah contoh baik untuk ditiru kalau kita ingin mengikuti perintah Yesus di atas. Tidak percuma nama panggilannya adalah “Teresa Kecil” atau si “Kuntum Bunga yang kecil”. 

Ada dua orang perempuan kudus dari Ordo Karmelites (pada zaman yang berbeda) yang bernama Teresa, yang satunya adalah Santa Teresa dari Avila atau “Teresa Besar” yang juga adalah seorang Pujangga Gereja. 

Ketika masih berumur 12 tahun Teresa sudah berjanji kepada Kristus: “Yesus di kayu salib yang haus, aku akan memberikan air pada-Mu. Aku akan menderita sedapat mungkin, agar banyak orang berdosa bertobat.” Pendosa pertama yang bertobat berkat doa gadis kecil ini adalah seorang penjahat kelas berat yang dijatuhi hukuman mati tanpa menyesali perbuatan-perbuatan jahatnya. Orang itu bertobat di hadapan sebuah salib sesaat sebelum menjalani hukumannya. Luar biasa!!! Meskipun para suster dalam biara (termasuk dua orang kakaknya) mencintai Teresa, hal ini tak berarti dia luput dari berbagai pencobaan batin dan kekeringan. Karena kematangan jiwanya, Teresa sudah diangkat menjadi magistra novis ketika dia baru berumur 20-an tahun.  

Dalam biara dengan klausura ketat, Teresa berjuang untuk menempuh ‘jalan sederhana’ menuju kesucian, yaitu secara konsekuen percaya dan mengasihi Tuhan. Ia selalu menampilkan wajah yang jernih dalam situasi yang bagaimana pun. Orang kudus muda ini menderita sakit paru-paru yang parah dan akhirnya meninggal ketika berusia 24 tahun. Ia mewariskan catatan riwayat pribadi yang ditulis atas permintaan pemimpin biaranya. Judulnya: “Kisah satu jiwa” (Inggris: The Story of a Soul). Di situ Teresa menunjukkan, bahwa kesucian dapat dicapai oleh siapa saja, betapa pun rendah, hina dan biasa-biasa saja orang itu. Caranya adalah dengan melaksanakan pekerjaan-pekerjaan kecil dan tugas sehari-hari dengan penuh cintakasih yang murni kepada Tuhan. Lewat teladan hidupnya, Teresa telah mengajarkan, bahwa kita dapat bersatu dengan Allah dengan mempersembahkan kepada-Nya setiap saat dari kehidupan kita sehari-hari. Persembahan sederhana itu dapat menjadi sarana bagi kita guna mencapai kesucian yang kita rindukan.  

Para Karmelites di Hanoi, Indo-China (Viet Nam sekarang) memintanya untuk memperkuat biara di sana, namun penyakit yang dideritanya tak mengizinkan. Delapan belas bulan terakhir dari hidupnya adalah periode penderitaan-badani yang sangat menyakitkan bagi Teresa, pada saat yang sama juga merupakan masa pencobaan rohani. Pada bulan Juni 1897 Teresa dipindahkan ke ruangan khusus untuk para penderita sakit di biara dan tidak pernah keluar lagi dari sana sampai saat ajalnya pada tanggal 30 September. Suster muda, sederhana dan suci ini menghembuskan nafasnya yang terakhir setelah bibirnya mengucapkan sabda-sabda ilahi dari Kitab Suci. Teresa diangkat menjadi seorang beata oleh Paus Pius XI pada tahun 1923 dan Paus yang sama mendeklarasikannya sebagai seorang santa pada tahun 1925. 

Pada tahun 1927, bersama dengan Santo Fransiskus Xaverius, Teresa diangkat menjadi pelindung Misi, meskipun belum pernah pergi ke luar negeri. Dia adalah juga pelindung para penjual bunga. Santo Fransiskus Xaverius (1506-1552) yang Yesuit itu diutus Yesus Kristus ke ujung-ujung bumi, tidak jauh berbeda dengan yang dialami oleh tujuh puluh murid seperti diceritakan dalam bacaan Injil di atas, sedangkan Teresa diutus – melalui doa-doanya – juga ke mana-mana, meskipun secara fisik berkedudukan secara statis dalam selnya. Kita memang suka lupa bahwa kegiatan doa yang benar juga merupakan kegiatan kerasulan. Memang Jalan Tuhan tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata yang berdasarkan akal budi semata. Inilah Penyelenggaraan Ilahi yang penuh dengan misteri.  

Setiap hari, marilah kita menanggapi panggilan Tuhan Yesus Kristus. Memang kadang-kadang barangkali kita merasa tak pantas, namun sebenarnya kepada kita telah diberikan kuasa dan wewenang untuk menjadi ‘kaki-tangan’ Yesus membawa jiwa-jiwa ke surga. Kalau kita berdiam dalam Kristus dan taat mengikuti perintah-perintah-Nya, maka cinta kasih-Nya akan dapat dipastikan mengalir dari dalam diri kita. Baiklah kita melihat setiap hari dengan pengertian bahwa kepada kita telah diberikan suatu kesempatan untuk menjadi saksi Injil, mendoakan orang yang menderita segala sakit-penyakit, fisik maupun rohani, dan mengusir roh-roh jahat.  

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih untuk Roh Kudus-Mu. Aku percaya bahwa Engkau telah memberikan kepadaku kuasa untuk melanjutkan karya-Mu di atas muka bumi ini. Utuslah aku sebagai seorang pekerja tuaian-Mu. Terpujilah nama-Mu selalu. Amin. 

Cilandak, 28 September 2010  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS