28 Januari 2011 

Saudari dan Saudaraku yang dikasihi Kristus, 

Perihal: SANTO THOMAS AQUINAS, IMAM & PUJANGGA GEREJA [c. 1225-1274] 

Pada hari ini, tanggal 28 Januari, Gereja memperingati Santo Thomas Aquinas, seorang kudus besar, seorang imam Dominikan, yang pemikiran-pemikiran dan ajaran-ajarannya sangat berpengaruh dalam kehidupan Gereja untuk berabad-abad lamanya. Temannya – sama-sama pengajar terkenal di Universitas Paris adalah Santo Bonaventura [1221-1274], seorang Fransiskan, Kardinal-Uskup dan Pujangga Gereja juga, meski jalan pemikiran mereka tidaklah sama. Mereka berdua diundang untuk menghadiri Konsili Lyons II [1274], akan tetapi Thomas mengalami kecelakaan dalam perjalanan menuju Lyons, sehingga tidak dapat menghadiri konsili itu.

Thomas lahir pada sekitar tahun 1225 di tengah sebuah keluarga bangsawan di Aquino. Mula-mula dia studi di Monte Casino, kemudian di Napoli. Belakangan, sebagai anggota Ordo Dominikan, dia menyelesaikan studinya di Paris. Kemudian dia studi di Cologne (Köln) di bawah bimbingan Santo Albertus Agung atau Albertus Magnus [1206-1280]. Thomas adalah seorang penulis kondang dan guru besar filsafat dan teologi suci. Dia wafat di Fossanuova pada tanggal 7 Maret 1274. Orang kudus ini diperingati oleh Gereja pada tanggal 28 Januari, karena pada tanggal tersebut di tahun 1369, jenazahnya dikuburkan kembali di Toulouse. 

Berikut ini saya akan menerjemahkan secara bebas petikan dari sebuah tulisannya yang terdapat dalam IBADAT HARIAN (OFISI ILAHI), versi Bahasa Inggris. Petikan ini menjadi bacaan kedua dalam IBADAT BACAAN hari ini, dengan judul “SALIB MERUPAKAN SEBUAH CONTOH TENTANG SETIAP KEUTAMAAN”. 

Apakah perlu bagi Putera Allah untuk menderita bagi kita? Perlu sekali, dan atas dasar dua alasan: Pertama sebagai suatu obat-penyembuh untuk dosa-dosa kita, dan kedua sebagai suatu model bagi kita dalam perilaku kita sehari-hari. 

Dalam sengsara Kristus kita menemukan suatu obat-penyembuh untuk semua kejahatan yang menjangkiti diri kita karena dosa-dosa kita. Akan tetapi sengsara-Nya tidak kurang bergunanya bagi kita sebagai sebuah contoh. Sesungguhnya sengsara Kristus pada dirinya cukup untuk mengajar kita secara lengkap dalam seluruh hidup kita.  Karena apabila seseorang ingin menghayati suatu kehidupan yang sempurna, maka dia hanya perlu memandang hina hal-hal yang dipandang hina oleh Kristus di kayu salib, dan menghasrati apa yang dihasrati oleh Kristus. Salib memberikan sebuah contoh tentang setiap keutamaan (kebajikan). 

Apabila anda mencari sebuah contoh cintakasih seperti disabdakan oleh Yesus: “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada ini, yakni seseorang memberikan nyawanya demi sahabat-sahabatnya” (lihat Yoh 15:13), maka inilah yang dilakukan Kristus di kayu salib. Karena Dia memberikan nyawa-Nya untuk/demi kita, maka seharusnya bukan merupakan bebanlah bagi kita dalam menghadapi setiap kejahatan yang merongrong, apa pun kejahatan itu, demi Dia. 

Apabila anda mencari kesabaran, maka anda akan menemukannya dalam bentuknya yang tertinggi pada kayu salib. Keagungan dari kesabaran diukur oleh dua hal, apakah pada waktu seseorang menghadapi situasi-situasi yang menyedihkan dengan penuh kesabaran, atau ketika dia menderita sengsara karena hal-hal tertentu yang sebenarnya dapat dihindarinya, namun dia tidak menghindarinya. Kristus sangat menderita dan dengan penuh kesabaran di kayu salib: “Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya” (Yes 53:7). Begitu besar dan agung kesabaran Kristus di kayu salib:  “Marilah kita berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajiban bagi kita, dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman dan membawa iman kita kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah” (Ibr 12:1-2).

Apabila anda sedang mencari sebuah contoh kerendahan hati, maka pandanglah salib. Di sana, di salib itu, Allah sudi dihakimi oleh Pontius Pilatus dan mati. Apabila anda sedang mencari sebuah contoh ketaatan, ikutilah Dia yang taat kepada Bapa, taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib (lihat Flp 2:8), karena “sama seperti melalui ketidaktaatan satu orang banyak orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula melalui ketaatan satu orang  banyak orang menjadi orang benar” (Rm 5:19). 

Apabila anda mencari sebuah model kejijikan terhadap hal-hal duniawi, ikutilah Dia yang adalah “Raja di atas segala raja dan Tuhan di atas segala tuan” (1Tim 6:15), “di dalam-Nya tersembunyi segala harta-kekayaan hikmat dan pengetahuan” (lihat 1Kor 1:24). Di kayu salib Dia tergantung telanjang, diejek dan dicemooh, diludahi, dipukuli dan dimahkotai duri, dan akhirnya diberi minum anggur asam. Oleh karena itu janganlah sampai kita melekat pada pakaian bagus serta kekayaan, karena “mereka membagi-bagi pakaian-Ku di antara mereka” (Yoh 19:24; bdk. Mzm 22:19). Janganlah mencari-cari kehormatan, karena Dia tahu artinya dan mengalami sendiri penghinaan dan olok-olok dan juga penyiksaan. Janganlah mengejar status terhormat, karena “mereka telah membuat mahkota dari duri dan memasangnya di kepala-Ku”. Janganlah mencari makanan yang lezat, karena “untuk memuaskan rasa haus-Ku, mereka memberikan kepadaku cuka (anggur asam) untuk diminum”. 

Catatan: Acuan kepada ayat-ayat Kitab Suci saya tambahkan untuk anda yang senang mendalami Kitab Suci. 

Semoga bacaan dari tulisan Santo Thomas Aquinas membawa berkat bagi anda. 

Berkat Allah Tritunggal Mahakudus senantiasa menyertai anda sekalian. 

Salam persaudaraan, 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Catatan: Bacalah juga tulisan tentang Santo Thomas Aquinas dalam blog SANG SABDA ini; kategori: SAKSI-SAKSI KRISTUS SEPANJANG MASA.