PANGGILAN UNTUK MENJADI KUDUS

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA VII, 20-2-11) 

Kamu telah mendengar yang difirmankan, Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. Berilah kepada orang yang miminta kepadamu dan janganlah menolak orang yang mau meminjam dari kamu.

Kamu telah mendengar yang difirmankan, Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu: Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga, yang menerbitkan matahari  bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah pun berbuat demikian? Karena itu, haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga sempurna” (Mat 5:38-48).

Bacaan Pertama: Im 19:1-2,17-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-4,8,10,12-13; Bacaan Kedua: 1Kor 3:16-23 

“Kuduslah kamu, sebab Aku, TUHAN (YHWH) Allahmu, kudus” (Im 19:1). Inilah kata-kata yang disampaikan YHWH kepada Musa untuk kemudian disampaikan kepada bangsa Israel. Untuk telinga orang “normal” seperti kita, terdengar tidak realistis, bukan? Namun, inilah kenyataannya. Apabila kita mendengar pembicaraan mengenai kesucian atau kekudusan, biasanya kita berpikir tentang tempat-tempat yang sangat jauh dari tempat kediaman kita dan orang-orang di sana mempunyai suatu gaya-hidup yang tentunya aneh bagi kita. Bukankah kita – yang tinggal di kota besar dengan segala kehidupan ‘wah’-nya, dlsb. –  lebih merasa kerasan dengan gaya hidup “orang kaya dan termasyhur”? 

Kekudusan adalah salah satu topik yang cenderung melumpuhkan pikiran kita dan mengaburkan visi kita tentang kesuksesan dalam dunia ini. Bukankah begitu halnya? Kekudusan adalah untuk para imam, para biarawati, para rahib atau santo-santa, dan bukan untuk aku! Inilah kira-kira pemikiran kebanyakan umat. Aku hanyalah umat Kristiani rata-rata, yang mencoba untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan spiritualku. Pembicaraan mengenai kekudusan memang membuat kebanyakan kita menjadi frustrasi, bukannya memperoleh inspirasi. Kita ingin mengetahui bagaimana seseorang mampu mencapai kekudusan. Bagaimana kita dapat menjadi kudus juga? 

Ada satu cerita tentang Mahatma Gandhi. Seorang ibu membawa anak perempuannya kepada Gandhi dengan harapan orang bijak ini dapat menghentikan ‘kecanduan’ anak ini makan manisan (permen dll.). Gandhi mengatakan agar mereka datang lagi pekan depan. Ketika mereka kembali, Gandhi ditanya oleh si ibu mengapa dia harus menunggu satu pekan lamanya. Gandhi menjawab: “Sampai satu pekan lalu saya sendiri sangat senang dengan manisan.”  Gandhi tidak dapat menasihati orang untuk mengendalikan suatu hasrat tertentu apabila dia sendiri tidak mempunyai disiplin-diri. 

Kata-kata dan tindakan Gandhi ini memberikan kepada kita suatu wawasan yang jelas ke dalam masalah kekudusan. Kekudusan memerlukan upaya yang sungguh serius. Tidak ada apa yang dinamakan jalan pintas, short cut, atau magic quick-fix di jalan menuju surga. Tidak ada pengganti untuk ulah tapa, laku tobat, doa dan pendisiplinan diri. Kebutuhan untuk membaca dan merenungkan Sabda Allah dalam Kitab Suci, tulisan-tulisan para Bapak Gereja dan para kudus, serta tulisan-tulisan para pribadi yang menonjol dalam kehidupan iman Kristiani; semua ini adalah kebutuhan yang sungguh nyata bagi kita yang tidak buta huruf dan hidup di zaman modern ini. 

Namun demikian, kita harus jelas mengenai kekudusan ini, yaitu bahwa kekudusan ini bukanlah sesuatu yang bersifat exterior yang harus kita kejar. Sebaliknya, kekudusan adalah proses dengan mana kita membebaskan Roh yang hidup di dalam diri kita masing-masing. Santo Paulus menulis: “Tidak tahukah kamu bahwa kamu sekalian adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?” (1Kor 3:16). Kekudusan itu bukanlah sesuatu yang kita kenakan seperti jubah putih, sorban, jilbab atau topi. Kekudusan itu berarti hidup dalam imaji (gambar) Dia yang dengan penuh kasih menciptakan kita. Kita harus waspada terhadap janji apa pun mengenai kekudusan yang ditawarkan oleh siapa pun tanpa salib. Roh yang hidup di dalam diri kita masing-masing berasal dari sang Juruselamat yang mati di kayu salib demi dosa-dosa kita, kemudian bangkit. Kekudusan dan kemuridan adalah jalan kita sehari-hari menuju Kalvari. 

Kata-kata terakhir Yesus dalam bacaan Injil hari ini adalah: “Karena itu, haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga sempurna” (Mat 5:48). Kata-kata ini tentunya bukannya dimaksudkan untuk memanggil orang-orang agar mengalami frustrasi dan keputus-asaan tanpa henti, melainkan mengajak mereka untuk memanggul salib masing-masing. Kita disempurnakan oleh kasih dan melakukan yang terbaik untuk mengasihi. Kitab Imamat dengan tegas mengajar kita untuk mengampuni dan mengasihi sesama kita: “Janganlah engkau membenci saudaramu di dalam hatimu, tetapi engkau harus berterus terang menegor orang sesamamu dan janganlah engkau mendatangkan dosa kepada dirimu karena dia. Janganlah engkau menuntut balas dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN (YHWH)” (Im 19:17-18). Hal ini sangat spesifik, mengenai kenyataan hidup dan penuh tantangan juga. Pikirkanlah orang yang baru saja membuat hidup anda menjadi tidak nyaman. Pikirkanlah “musuh” anda yang selalu berbuat curang kepada anda, sehingga terdapat dorongan kuat dalam diri anda untuk membalas dendam. Sekarang, apabila anda benar ingin menjadi kudus seturut panggilan Tuhan, maka ampunilah mereka dan berdoalah untuk mereka. Lagipula janganlah membalas dendam, melainkan berilah dirimu sendiri atau sumber daya yang anda miliki apabila mereka membutuhkan. 

Dapatkah mencapai kekudusan seperti itu? Dapat! Mengapa? Santo Paulus memberi jawabannya: “Semuanya milikmu, tetapi kamu adalah milik Kristus dan Kristus adalah milik Allah” (1Kor 3:22-23). 

DOA: Bapa surgawi, ingatkanlah kami senantiasa akan panggilan-Mu bagi kami untuk menjadi kudus, seperti Engkau kudus adanya. Ingatkanlah kami juga bahwa jalan menuju kekudusan adalah jalan salib Putera-Mu terkasih. Amin. 

Catatan: Bagi anda yang berminat mendalami sebagian dari bacaan Injil hari ini (Mat 5:43-48), silahkan membaca tulisan berjudul “KASIHILAH MUSUHMU” tanggal 27 Februari 2010 dalam blog SANG SABDA ini; kategori: 10-02 BACAAN HARIAN FEBRUARI 2010. 

Cilandak, 12 Februari 2011  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements