INJIL ADALAH KEKUATAN ALLAH YANG MENYELAMATKAN SETIAP ORANG YANG PERCAYA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVIII, Selasa 11-10-11) 


Sebab aku tidak malu terhadap Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani. Sebab di dalamnya dinyatakan pembenaran oleh Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: “Orang benar akan hidup oleh iman.”

Sebab murka Allah dinyatakan dari surga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia, yang menindas kebenaran dengan kelaliman. Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah nyata bagi mereka, sebab Allah  telah menyatakannya kepada mereka. Sebab sifat-sifat-Nya yang tidak tampak, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat tampak dan dipahami dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih. Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap. Mereka berbuat seolah-oleh mereka penuh hikmat, tetapi mereka telah menjadi bodoh. Mereka menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang fana, burung-burung, binatang-binatang yang berkaki empat atau binatang-binatang melata.

Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada keinginan hati mereka akan kecemaran, sehingga mereka saling mencemarkan tubuh mereka. Sebab mereka menggantikan kebenaran Allah dengan dusta dan memuja dan menyembah  makhluk dengan melupakan Penciptanya yang harus dipuji selama-lamanya. Amin. (Rm 1:16-25) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 19:2-5; Bacaan Injil: Luk 11:37-41 

“Allah Yang Mahakuasa, Mahakudus, Mahatinggi dan Mahaluhur, Engkaulah segala kebaikan, paling baik, seluruhnya baik, hanya Engkau sendiri yang baik; kepada-Mu kami kembalikan segala pujian, segala kemuliaan, segala rahmat, segala kehormatan, segala berkat serta segalanya yang baik, semoga, semoga, ya amin”  (Sebuah doa Santo Fransiskus dari Assisi).

“Allah yang Mahabaik, yang sangat mengasihi umat-Nya.” Ini adalah pernyataan yang mutlak tidak dapat disangkal, namun justru sering dipakai untuk membenarkan pemikiran salah bahwa Allah sungguh tidak peduli apakah kita berdosa, atau bahwa tidak ada ruangan dalam kodrat-Nya untuk menghukum. Tentu saja Allah itu sangat mengasihi, namun pada saat sama Dia juga kudus sehingga dengan demikian Ia membenci apa yang dilakukan dosa atas diri kita. Ketika Santo Paulus mengatakan, bahwa dia tidak malu terhadap Injil, yang dimaksudkan olehnya adalah keseluruhan Injil – baik fakta bahwa Allah mengasihi kita maupun fakta bahwa dosa-dosa kita mempunyai konsekuensi-konsekuensi ilahi.

Ketika Allah menciptakan alam semesta, Dia memberikan kepada ciptaan-Nya itu suatu tatanan dan keselarasan alami yang jelas bagi kehidupan dan hubungan manusia seorang dengan yang lainnya. Bagian dari tatanan itu adalah, bahwa seorang laki-laki harus meninggalkan ayah-ibunya dan dipersatukan dengan istrinya, dan keduanya menjadi satu (lihat Kej 2:24). Allah juga menciptakan kita untuk mengasihi dan memperhatikan kesejahteraan orang-orang disekeliling kita sama seperti kita sendiri ingin agar diri kita dikasihi.

Dosa terjadi manakala kita mengambil jalan menyimpang dari tatanan alami yang telah dibentuk oleh Allah bagi kita …… artinya kita memilih jalan kita sendiri, apakah itu imoralitas seksual, kebencian, perpecahan dalam komunitas, atau penolakan untuk mengakui otoritas Allah atas kehidupan kita.

Sekarang, marilah kita mengambil waktu sejenak untuk memikirkan serta merenungkan “Injil” yang kita hayati dalam kehidupan kita selama ini. Kita bertanya kepada diri kita masing-masing: Apakah Injil kita termasuk kepercayaan bahwa kita harus mengakui dosa-dosa kita dan memohon rahmat Allah agar mampu keluar dari kehidupan yang dipenuhi dosa? Injil yang diberitakan oleh Yesus – dan yang diajarkan oleh Paulus – adalah kuat-kuasa Allah bagi semua orang yang percaya (Rm 1:16).

Anda dapat saja tergoda untuk percaya bahwa situasi yang anda hadapi sudah “nggak ketolongan”, tidak ada harapan lagi karena anda sudah sedemikian dalam terperangkap dalam kedosaan. Jangan pernah percaya “suara-suara” tidak benar itu, betapa pun kuatnya anda rasakan suara-suara sedemikian, karena jelas sekali bahwa suara-suara itu datang dari si Jahat. Berbaliklah anda kepada Yesus dan sepenuhnya menaruh kepercayaan pada kuat-kuasa-Nya untuk membebaskan anda! Ini adalah Injil yang diwartakan agar kita semua percaya! Seperti juga Paulus, semoga kita pun tidak pernah malu terhadap Injil Tuhan Yesus Kristus.

DOA: Tuhan Yesus, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu untuk keselamatan yang Kauberikan kepada kami – kebebasan dari dosa dan kehidupan kekal bersama-Mu. Tolonglah kami untuk mau dan mampu merangkul keseluruhan Injil-Mu – baik kebenaran mengejutkan dari kasih-Mu bagi kami dan kenyataan bahwa Engkau menginginkan kami untuk sungguh meninggalkan kehidupan dosa kami, sehingga kami pun dapat menjadi lebih serupa lagi dengan Engkau. Amin.

Catatan: Untuk melihat uraian tentang bacaan Injil hari ini (Luk 11:37-41), bacalah tulisan yang berjudul “BERSIH DI LUAR, TETAPI KOTOR DI DALAM” (bacaan untuk tanggal 11-10-11) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 11-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2011. 

Cilandak, 11 September 2011 [HARI MINGGU BIASA XXIV] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

About these ads