BERIKANLAH KEPADA KAISAR APA YANG WAJIB KAMU BERIKAN KEPADA KAISAR [2]

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI RAYA KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA – Jumat, 17 Agustus 2012)

Kemudian pergilah orang-orang Farisi dan membuat rencana bagaimana mereka dapat menjerat Yesus dengan suatu pertanyaan. Mereka menyuruh murid-murid mereka bersama-sama para pendukung Herodes bertanya kepada-Nya, “Guru, kami tahu, Engkau seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka. Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?” Tetapi Yesus mengetahui kejahatan hati mereka itu lalu berkata, “Mengapa kamu mencobai Aku, hai orang-orang munafik? Tunjukkanlah kepada-Ku mata uang untuk pajak itu.” Mereka membawa satu dinar kepada-Nya. Lalu Ia bertanya kepada mereka, “Gambar dan tulisan siapakah ini?” Jawab mereka, “Gambar dan tulisan Kaisar.” Lalu kata Yesus kepada mereka, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah” (Mat 22:15-21).

Bacaan Pertama: Sir 10:1-8; Mazmur Tanggapan: Mzm 101:1-3,6-7; Bacaan Kedua: 1Ptr 2:13-17

Seperti seringkali dilakukan mereka sebelumnya, orang-orang Farisi bermaksud untuk menjebak Yesus. Mereka mulai menyapa Yesus dengan kata penuh hormat – namun terasa “lebai” atau overloaded – dengan harapan Yesus akan berbicara secara bebas dan terbuka: “Guru, kami tahu, Engkau seorang yang jujur dan dengan jujur mengajar jalan Allah dan Engkau tidak takut kepada siapa pun juga, sebab Engkau tidak mencari muka” (Mat 22:16). Kalimat ini langsung dilanjutkan dengan sebuah pertanyaan dilematis: “Katakanlah kepada kami pendapat-Mu: Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?” (Mat 22:17). Dalam Theokrasi suci bangsa Yahudi, YHWH adalah Raja bangsa Yahudi dan sebagai tanda akan hal tersebut mereka harus membayar pajak untuk Bait Allah. Akan tetapi sejak diturunkannya Arkhelaus (putera Herodes Agung) dari takhtanya pada tahun 6 M, ada satu pajak lagi, yaitu bagi perbendaharaan kekaisaran. Pajak yang disebutkan belakangan ini mengingatkan orang-orang Yahudi dari masa ke masa akan ketergantungan mereka pada Roma.

Orang-orang Saduki membayar pajak Roma ini tanpa banyak “cing-cong”, orang-orang Farisi membayar pajak itu dengan setengah hati, orang-orang Zeloti (militan) samasekali tidak membayar pajak tersebut, karena membayar pajak untuk kepentingan Roma tersebut mereka pandang sebagai suatu penyangkalan terhadap theokrasi Allah. Walaupun pajak termaksud relatif tidak besar, pembayaran tersebut dapat dipandang sebagai suatu pengakuan terhadap penguasaan Roma atas umat Allah, sehingga dengan demikian menjadi suatu pertanyaan keagamaan. Kekaisaran Roma cukup cerdik untuk memperkenankan para penguasa bonekanya membuat mata uang logam dari tembaga/perunggu, sedangkan Roma sendiri membuat uang logam perak (seberat 3,85 gram) yang dinamakan dinar (Latin: denarius; Yunani: dènarion) dan di atasnya tertera tulisan dan gambar Kaisar Tiberius.

Para lawan Yesus bertanya apakah (1) diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar, dan apabila diperbolehkan, (2) apakah seseorang harus membayarnya. Mereka berpikir pertanyaan itu akan menjadi sebuah dilema bagi Yesus: Apabila Yesus mengatakan “tidak”, maka Dia melawan para pendukung Herodes dan terlebih lagi melawan penguasa Roma; maka dengan senang hati orang-orang Farisi yang hadir (tentunya juga orang-orang Saduki – kalau ada di tempat itu) dan para pendukung Herodes itu akan menggiring Yesus kepada penguasa Romawi. Namun apabila Yesus mengatakan “ya”, maka Dia adalah seorang pengkhianat bangsa Yahudi. Seperti buah simalakama, bukan?

Yesus bukanlah Yesus kalau tidak mampu mengatasi dilema semacam itu. Yesus membuat para lawannya menjawab sendiri pertanyaan mereka. Yesus minta diperlihatkan mata uang logam yang digunakan untuk membayar pajak. Ia sendiri tidak mempunyainya, namun para lawannya mempunyai uang logam tersebut dengan gambar Kaisar Tiberius. Yang mau menjebak Yesus sekarang menjadi pihak yang terjebak, karena ada sebuah hukum tak tertulis yang mengatakan bahwa uang siapa yang kugunakan berarti pemerintahannya kuakui dengan sukarela maupun tidak.

Bagian pertama pertanyaan para lawan Yesus tentang kebaikan moral membayar pajak kepada Kaisar dijawab oleh Yesus dengan mengatakan: “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar” (Mat 22:21). Hal ini tidak bertentangan dengan kewajiban kita terhadap Allah: “… dan (berikan) kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah” (Mat 22:21). Jawaban penuh hikmat ilahi tersebut membuat mereka heran – merasa bodoh sendiri – lalu “nyelonong” pergi meninggalkan Yesus (lihat Mat 22:22). Ingat lagu lama dari the Bee Gees? “I started a joke” ……… dan akhirnya: “and the joke was on me!”

“Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar” berarti bahwa setiap orang harus mempunyai keprihatinan tertentu terhadap kesejahteraan sosial-politik negaranya dan harus taat sebagai seorang warganegara. Namun hal ini tidak berlaku atas setiap klaim dari otoritas politik (pemerintah) yang bersifat ilahi. Pemerintah harus melaksanakan suatu tanggung-jawab yang berasal dari Allah. “Berikanlah kepada Kaisar apa yang kamu berikan kepada Kaisar” juga berarti kesetiaan kepada Allah karena Allah berkehendak agar kita menaruh perhatian pada masyarakat kita. Pada gilirannya hal ini merupakan suatu pemenuhan sebagian dari tugas mendasar kita, yaitu untuk memberikan kepada Allah apa yang menjadi hak-Nya. Memberikan kepada Allah apa yang menjadi hak-Nya merupakan suatu hal yang senantiasa lebih penting daripada memberikan kepada Kaisar apa yang menjadi miliknya. Mengapa? Karena “di dalam tangan Tuhan terletak kuasa atas bumi …” (Sir 10:4).

Bacaan Pertama yang diambil dari Kitab Yesus bin Sirakh (Sir 10:1-8) dan Bacaan Kedua (1Ptr 2:13-17) sarat dengan nasihat-nasihat bagi para penguasa pemerintahan. Nasihat-nasihat tersebut sangat relevan untuk situasi negara dan bangsa kita yang pada hari ini merayakan ulang tahun kemerdekaan yang ke-67, dan semuanya dapat dibaca dan direnungkan oleh anda masing-masing. Semuanya sudah self-explanatory sehingga tidak memerlukan tafsir yang sulit-sulit.

DOA: Bapa surgawi, Engkau memanggil setiap orang kepada kemerdekaan dalam Yesus Kristus, Putera-Mu. Maka pada hari Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia ini kami mohon kepada-Mu: lindungilah tanah air kami, agar tetap dapat menikmati kemerdekaan sejati dan aman sentosa, agar di seluruh wilayahnya berkuasalah keadilan dan damai sejahtera, perikemanusiaan, kerukunan dan cintakasih yang sejati. Ingatkanlah kepada para penguasa negara dan bangsa kami, baik di bidang eksekutif, legislatif dan eksekutif maupun para pemimpin masyarakat lainnya misalnya para pemimpin keagamaan, agar mereka senantiasa mengingat bahwa di tangan-Mulah sebenarnya terletak segala kuasa atas bumi. Berikanlah hikmat kepada para penguasa yang rendah hati, tidak lupa daratan, memiliki cinta-tulus kepada “wong cilik”dan mengakui bahwa Engkau sajalah Tuhan alam semesta. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 22:15-21), bacalah tulisan yang berjudul “SIKAP YANG TEPAT TERHADAP ALLAH ADALAH JAWABANNYA” (bacaan tanggal 17-8-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 12-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2012. Bacalah juga tulisan yang berjudul “BERIKANLAH KEPADA KAISAR APA YANG WAJIB KAMU BERIKAN KEPADA KAISAR” (bacaan untuk tanggal 17-8-11), dalam situs/blog PAX ET BONUM; kategori: 11-08 PERMENUNGAN ALKITABIAH AGUSTUS 2012.

Sebagai tambahan, bacalah tulisan yang berjudul “KEMERDEKAAN ANAK-ANAK ALLAH” dalam situs/blog SANG SABDA https://sangsabda.wordpress.com; kategori: PERCIKAN-PERCIKAN TEOLOGI ALKITABIAH; tanggal posting: 16 Agustus 2010.

Cilandak, 12 Agustus 2012 [HARI RAYA SP MARIA DIANGKAT KE SURGA]]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements