PERGILAH, DAN PERBUATLAH DEMIKIAN!

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU BIASA XV [Tahun C] – 14 JULI 2013)

Master_of_the_Good_Samaritan_001

Kemudian berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya, “Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus kepadanya, “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di dalamnya?” Jawab orang itu, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Kata Yesus kepadanya, “Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.” Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus, “Dan siapakah sesamaku manusia?” Jawab Yesus, “Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi juga memukulnya dan sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati. Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Keesokan harinya ia mengeluarkan dua dinar dan memberikannya kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali. Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun?” Jawab orang itu, “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” Kata Yesus kepadanya, “Pergilah, dan perbuatlah demikian!” (Luk 10:25-37)

Bacaan Pertama: Ul 30:10-14; Mazmur Tanggapan: Mzm 69:14,17,30-31,33-34,36-37 atau Mzm 19:8-11; Bacaan Kedua: Kol 1:15-20

Injil hari ini mencatat bahwa maksud si ahli Taurat mengajukan pertanyaan kepada Yesus adalah untuk mencobai-Nya (Luk 10:25). Namun ketika bertanya-jawab dengan Yesus, ahli Taurat ini mengungkapkan suatu kepekaan yang jarang terjadi terhadap kata-kata yang diucapkan oleh Yesus dan terhadap panggilan Allah dalam hatinya. Tidak seperti para ahli lainnya dalam hal Hukum Musa – biasanya mereka merupakan lawan-lawan Yesus yang sangat membenci Dia dan ajaran-Nya – ahli Taurat yang satu ini – ketika ditanya balik oleh Yesus – mampu sampai kepada inti dari keseluruhan rencana Allah dengan dua perintah sederhana: “Mengasihi Allah dan mengasihi sesamamu!” (Luk 10:27). Dalam jawabannya kepada Yesus, ahli Taurat itu menunjukkan apa yang telah dikatakan oleh Musa kepada umat Israel berabad-abad sebelumnya: “… firman ini sangat dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu, untuk dilakukan” (Ul 30:14). Ahli Taurat itu menunjukkan bahwa jalan Allah ditulis hampir secara genetika, di dalam impuls-impuls kodrat manusiawi kita, dan untuk jawabannya ini dia memperoleh persetujuan dari Yesus.

Seperti ditunjukkan dalam percakapan Yesus dengan ahli Taurat itu, Injil tidaklah sulit untuk dimengerti. Injil bukanlah seperangkat rumusan teologis yang kompleks, dan kita tidak memerlukan pendidikan bertahun-tahun lamanya hanya untuk sampai kepada inti pesan Injil itu. Dengan penuh belas kasih Allah telah menulis dalam hati kita, dan dalam kedalaman nurani kita masing-masing kita semua mengetahui dan mengenal kebenaran itu. Akan tetapi ada sesuatu yang lebih dalam bacaan Injil hari ini daripada sekadar cerita seorang ahli Taurat yang menunjukkan kesalehan. Yesus tidak hanya mengatakan kepada ahli Taurat itu bahwa dia benar, melainkan juga mengatakan kepadanya: “Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup” (Luk 10:28).

HATI KUDUS YESUS - 099Dengan hati yang lega kita dapat menutup “episode” ini. Tetapi ternyata untuk membenarkan dirinya ahli Taurat itu bertanya lagi kepada Yesus: “Dan siapakah sesamaku manusia?” (Luk 10:29). Sebuah “kalimat tanya tak bertanya” … sudah tahu jawabnya namun masih bertanya juga! Ataukah memang hanya orang Yahudi sajakah yang merupakan sesamanya? Tanggapan Yesus terhadap pertanyaan ini berupa sebuah perumpaman yang sangat indah dan tidak akan mudah untuk kita lupakan, yaitu “perumpamaan tentang orang Samaria yang murah hati” (Luk 10:30-35). Untuk memahami dengan lebih tepat perumpamaan ini, kita harus mengingat bagaimana mendalamnya orang Yahudi dan Samaria itu saling membenci satu sama lain, disebabkan oleh perbedaan ras, politik dan agama. Pada zaman ini dapatkah kita membayangkan seorang Kristiani Katolik Irlandia menolong seorang Kristiani Protestan dari Ulster, Irlandia Utara; atau seorang Amerika kulit hitam membantu anggota Ku Klux Klan?

Tidak seperti orang Samaria yang murah hati itu, imam dan orang Lewi dua-duanya melihat orang yang tergeletak setengah mati itu, namun melewatinya … lanjut saja! Seandainya orang orang yang menjadi korban keganasan penyamun itu telah mati, maka jika mereka menyentuhnya, … mereka menjadi tidak murni secara rituale untuk acara penyembahan di bait Allah. Jadi, kelihatannya mereka lebih merasa prihatin tentang abc-nya liturgi daripada mengambil risiko menolong seseorang yang sungguh-sungguh membutuhkan pertolongan serius.

Marilah sekarang kita bertanya kepada diri sendiri: Apabila kita menempatkan diri kita dalam perumpamaan Yesus itu, maka kita (anda dan saya) tergolong kategori yang mana? Imam? Orang Lewi? Orang Samaria? Korban perampokan yang tergeletak setengah mati? Selagi kita melakukan perjalanan dari Yerikho kita masing-masing menuju Yerusalem, bagaimanakah kita bereaksi terhadap orang-orang yang membutuhkan pertolongan kita di sepanjang jalan? Katakanlah mereka bukan orang-orang yang jauh-jauh, mereka adalah para tetangga kita, anggota lingkungan [wilayah, paroki] kita, rekan kerja kita, anggota keluarga kita, karena jarak antara Yerikho dan Yerusalem bisa saja hanya berkisar sejauh kamar tidur dan dapur kita dalam rumah yang sama. Bilamana kita berjumpa dengan orang-orang yang menderita karena berbagai hal, hanya ada dua alternatif pilihan bagi kita: Kita melihat mereka tanpa bela rasa dan kemudian melanjutkan perjalanan kita, atau kita tergerak oleh kasih dan belas kasih-Nya dan kemudian memberikan pertolongan. Muncul kembali dalil klasik, bahwa “hidup adalah pilihan”!

Mengapa Injil ini merupakan sebuah tantangan besar? Mengapa hanya ada sedikit saja “orang Samaria yang murah hati” yang dapat ditemukan di dunia ini? Karena Injil di samping sederhana, juga banyak menuntut. Tidak cukuplah bagi kita untuk memahami kebenaran. Seperti ditunjukkan oleh tanggapan Yesus terhadap si ahli Taurat, pemahaman kita akan kebenaran harus menggiring kita kepada tindakan melakukan kebenaran itu sebaik-baiknya seturut kemampuan kita masing-masing.

Apabila kita membaca Kitab Suci – dan teristimewa pada saat kita mendengarnya dibacakan dalam Misa – maka Yesus mengatakan kepada kita: “Pergilah, dan perbuatlah demikian!” (Luk 10:37). Yesus minta kepada kita untuk merangkul kesederhanaan pesan-Nya dan untuk membungkam suara-suara penolakan dalam batin kita yang mencoba untuk membuat sabda-Nya menjadi semakin rumit dan membuat dalih-dalih pembenaran diri mengapa sabda-Nya itu terlalu keras untuk kita praktekkan Musa ternyata benar: sabda itu sama sekali tidak jauh dari kita. Roh Kudus – cintakasih dan kuat-kuasa Allah sendiri – senantiasa ada bersama kita.

Catatan tambahan untuk direnungkan: Pada akhir perumpamaan ini Yesus bertanya kepada si ahli Taurat: “Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu? (Luk 10:36). Jawab orang itu, “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” (Luk 10:37). Sebuah jawaban yang samasekali tidak salah, namun lebih elok kiranya kalau dia menambahkan jawabannya dengan kata-kata berikut: “yaitu si orang Samaria!”

DOA: Tuhan Yesus, aku berterima kasih penuh syukur kepada-Mu karena Engkau telah menuliskan sabda-Mu pada hatiku. Oleh kuat-kuasa Roh Kudus-Mu, berikanlah kepadaku keberanian dan kerendahan-hati, agar aku dapat pergi dan melakukan pekerjaan-pekerjaan Injil-Mu. Yesus, buatlah hatiku semakin serupa dengan hati-Mu. Amin.

Cilandak, 9 Juli 2013 [Peringatan martir-martir Tiongkok]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements