MEMBUTUHKAN TANGGAPAN SEORANG DEWASA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXIV – Rabu, 17 September 2014)

Keluarga Fransiskan: Pesta Stigmata Bapa Kita Fransiskus

YESUS DI GEREJA ORTODOX SIRIAKata Yesus, “Dengan apakah akan Kuumpamakan orang-orang zaman ini dan dengan apakah mereka dapat disamakan? Mereka itu seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan yang saling menyerukan: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak menangis. Karena Yohanes Pembaptis datang, ia tidak makan roti dan tidak minum anggur, dan kamu berkata: Ia kerasukan setan. Kemudian Anak Manusia datang, Ia makan dan minum, dan kamu berkata: Lihatlah, Ia seorang pelahap dan peminum, sahabat pemungut cukai dan orang berdosa. Tetapi hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya.” (Luk 7:31-35)

Bacaan Pertama: 1Kor 12:31-13:13; Mazmur Tanggapan: Mzm 33:2-512,22

Orang-orang Farisi dan para ahli Taurat menolak baptisan-tobat dari Yohanes Pembaptis, dan penolakan mereka terhadap Yohanes Pembaptis itu merupakan antisipasi akan penolakan mereka terhadap Yesus. Baik Yohanes Pembaptis maupun Yesus mengundang para pendengar pewartaan mereka untuk mengubah sikap-sikap dan cara hidup mereka supaya sejalan dengan zaman mesianis yang akan datang. Keduanya ditolak oleh para otoritas keagamaan pada masa itu, namun keduanya justru diterima oleh orang-orang yang tersisihkan dalam masyarakat pada masa itu.

Dalam bacaan Injil hari ini, kita hampir dapat mendengar keluhan Yesus atas sikap dan perilaku tidak memadai dari para pendengar-Nya. Mereka dibandingkan-Nya dengan anak-anak yang bermain-main di pasar (Luk 7:32). Baik Yohanes Pembaptis maupun Yesus tidak bermain-main. Mereka berdua membawa suatu pesan sangat penting yang membutuhkan tanggapan seorang dewasa, dan bukan teriakan ketidakpuasan yang bersifat kekanak-kanakan.

Sebagaimana dikatakan oleh Yesus, Yohanes Pembaptis berasal dari suatu tradisi asketisisme; dia hidup secara keras di padang gurun, namun orang-orang mengatakan bahwa dia kerasukan setan. Kemudian datanglah Yesus; dia bergaul dengan segala macam orang, dia menghadiri pesta perkawinan dan kematian mereka, berbicara mengenai Kerajaan Allah sebagai sebuah perjamuan ilahi dimana makanan dan air anggur mengalir dengan bebas, dan tokh orang-orang menuduh-Nya sebagai seorang pelahap dan peminum (pemabuk). Hidup Yohanes Pembaptis yang menyendiri dinilai sebagai sesuatu yang dipengaruhi Iblis, sedangkan hidup Yesus yang terbuka dikatakan “tidak keruan”. Kelihatannya baik Yohanes Pembaptis maupun Yesus harus kalah.

Sebenarnya pelayanan Yesus sendiri dan pelayanan Yohanes Pembaptis itu bersifat komplementer, saling mengisi satu sama lain, namun masing-masing dikritik karena tidak melakukan hal yang dilakukan oleh yang lain. Jadi pendekatan apa pun yang diambil oleh mereka, pasti salah. Yesus menjawab bahwa hikmat dibenarkan oleh semua orang yang menerimanya (Luk 7:35). Putusan terakhir tidaklah terletak pada kritik-kritik yang kekanak-kanakan, melainkan dalam kebaikan yang dilahirkan melalui pelayanan Yohanes Pembaptis dan Yesus. Orang-orang dapat saja mengkritisi Yohanes Pembaptis untuk “isolasi”-nya, namun dia berhasil menggerakkan hati banyak orang dan memimpin mereka ke dalam hadirat Allah dengan cara yang belum pernah dilakukan oleh para nabi sebelumnya. Orang-orang dapat mengkritisi Yesus yang begitu mudah bergaul dengan berbagai macam orang (termasuk orang-orang yang dipandang “berdosa”), namun tidak pernah dalam sejarah mereka ada seorang pun yang telah memanifestasikan wajah Allah seperti yang telah dilakukan oleh Yesus.

Buah-buah dari karya Yesus dan Yohanes Pembaptis berbicara sendiri dalam diri mereka yang memberikan tanggapan terhadap pesan mereka. Yesus dan Yohanes Pembaptis mengetahui sekali bahwa mereka mereka tidak pernah dapat diterima oleh orang-orang yang menginginkan suatu pesan berbeda daripada yang mereka dengar sekarang. Namun baik Yesus maupun Yohanes Pembaptis tidak terpengaruh untuk melayani keinginan mereka. Kiranya Yohanes Pembaptis dan Yesus bukanlah petugas penjualan yang akan menjual barang dan/atau jasa yang sesuai dengan keinginan dan kebutuhan pelanggan. Drama yang dihadirkan oleh Yesus dan Yohanes Pembaptis adalah drama yang riil, sebuah drama Allah sendiri.

DOA: Yesus, bukalah mata (-hati)ku agar dengan demikian sebagai seorang dewasa aku dapat melihat siapa sesungguhnya Engkau sebagai Tuhan dan Mesias (Kristus). Singkirkanlah setiap rintangan dalam hatiku supaya aku dapat menerima hidup-Mu dalam diriku. Amin.

Catatan: Tulisan ini diinspirasikan oleh tulisan P. Denis McBride, THE GOSPEL OF LUKE – A REFLECTIVE COMMENTARY 3rd Edition, Dublin, Ireland: Dominican Publications, 1991, hal. 99-100.

Cilandak, 15 September 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS