SUPAYA SEMUA ORANG DAPAT MELIHAT CAHAYANYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXV – Senin, 22 September 2014)

Keluarga Fransiskan Kapusin: Peringatan S. Ignatius dr Santhi, Imam

670px-Oil_lamps_in_heraldry2.svg

“Tidak ada orang yang menyalakan pelita lalu menutupinya dengan tempayan atau menempatkannya di bawah tempat tidur, tetapi ia menempatkannya di atas kaki pelita, supaya semua orang yang masuk ke dalam rumah dapat melihat cahayanya. Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan diketahui dan diumumkan. Karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar. Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, bahkan apa yang dianggapnya ada padanya, akan diambil juga.” (Luk 8:16-18)

Bacaan Pertama: Ams 3:27-34; Mazmur Tanggapan: Mzm 15:2-5

“Perumpamaan tentang pelita” dalam bacaan Injil hari ini, menurut pandangan Bernard C. Mischke OSC dan Fritz Mischke OSC (Pray Today’s Gospel) jelas mengacu pada pelita yang dibiarkan menyala di gerbang masuk rumah-rumah orang berkebudayaan Helenistis (Yunani), sehingga dengan demikian memancarkan cahaya bagi orang-orang yang masuk di tengah kegelapan malam. Aplikasinya yang langsung cukup jelas. Pelita itu dimaksudkan untuk memberikan cahaya kepada orang-orang non-Yahudi (baca: kafir) yang juga datang guna memasuki Kerajaan Allah.

Orang-orang Yahudi yang menjadi Kristiani tidak boleh memegang terang iman hanya bagi mereka sendiri. Mereka tidak boleh menyembunyikannya sehingga tidak ada yang dapat melihatnya, melainkan menempatkannya di atas kaki pelita, artinya membuatnya diketahui, dapat dengan mudah diakses oleh semua orang.

Kepada kita pun telah diberikan terang iman. Perumpamaan hari ini juga berlaku bagi kita semua. Apakah iman kita memancar-terang dalam hidup kita sehingga dengan demikian dapat dengan mudah dilihat oleh orang-orang lain, teristimewa oleh mereka yang berada di batas-batas pinggiran masyarakat? Apakah hidup dan kasih Kristiani yang kita miliki menarik banyak orang untuk melihat pengaruh iman kita dalam hidup kita?

Kita mengetahui bahwa “actions speak louder than words.” Dengan demikian “omdo” (omong doang) dan/atau “nato” (no action, talk only) sungguh tidak laku di mata orang banyak. Kita tahu kekuatan nyata dari pemberian teladan yang baik. Perumpamaan Yesus dalam bacaan Injil hari ini mengatakan kepada kita bahwa kita berkewajiban untuk memberikan teladan yang baik, untuk memiliki terang hidup kita sebagai umat Kristiani yang terang bercahaya. Alangkah indahnya jika melalui teladan hidup kita yang baik, melalui iman kita yang hidup, orang-orang dapat mengenal Yesus dan kemudian menjadi murid-murid-Nya seperti kita juga.

“Tidak ada orang yang menyalakan pelita lalu menutupinya dengan tempayan atau menempatkannya di bawah tempat tidur, tetapi ia menempatkannya di atas kaki pelita, supaya semua orang yang masuk ke dalam rumah dapat melihat cahayanya” (Luk 8:16)

DOA: Tuhan Yesus, aku sungguh ingin agar hidupku menjadi suatu kesaksian dari Kabar Baik-Mu. Tolonglah aku agar dapat menjadi Injil yang hidup, yang dapat dilihat oleh orang banyak. Terpujilah nama-Mu, ya Tuhan Yesus, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Luk 8:16-18), bacalah tulisan yang berjudul “KESELAMATAN DARI YESUS ADALAH UNTUK SETIAP ORANG” (bacaan tanggal 22-9-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-09 PERMENUNGAN ALKLITABIAH SEPTEMBER 2014.

Cilandak, 18 September 2013 [Peringatan S. Yosef dr. Copertino, Imam]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS