PESAN PAULUS KEPADA JEMAAT DI GALATIA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVII – Senin, 6 Oktober 2014)

Ordo Franciscanus Saecularis: Peringatan S. Maria Fransiska dari ke-5 luka Yesus

ST. PAUL - 020Aku heran bahwa kamu begitu lekas berbalik dari dia yang dalam anugerah Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil lain, yang sebenarnya bukan Injil. Hanya ada orang yang mengacaukan kamu dan bermaksud untuk memutar-balikkan Injil Kristus. Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari surga yang memberitakan kepadamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia. Seperti yang telah kami katakan sebelumnya, sekarang kukatakan sekali lagi: Jikalau ada orang yang memberitakan kepadamu suatu injil, yang berbeda dengan apa yang telah kamu terima, terkutuklah dia. Jadi bagaimana sekarang: Apakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Ataukah kucoba menyenangkan manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba menyenangkan manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus. Sebab aku menegaskan kepadamu, Saudara-saudaraku bahwa Injil yang kuberitakan itu bukanlah injil yang berasal dari manusia. Karena aku tidak menerimanya dari manusia dan bukan manusia yang mengajarkannya kepadaku, tetapi aku menerimanya melalui pernyataan Yesus Kristus. (Gal 1:6-12)

Mazmur Tanggapan: Mzm 111:1-2,7-10; Bacaan Injil: Luk 10:25-37

Bayangkanlah diri kita (anda dan saya) sebagai anggota-anggota jemaat (gereja) Galatia. Kita adalah orang-orang non-Yahudi (baca: kafir) yang tinggal di daerah pedesaan yang terletak jauh dari kota-kota besar Kekaisaran Romawi dan juga Yerusalem. Kita dilahirkan sebagai orang-orang kafir, dan satu-satunya Injil atau Kabar Baik Yesus Kristus yang pernah kita dengar adalah Injil yang diwartakan oleh Paulus. Karena telah dibebaskan dari dosa oleh kuat-kuasa Allah, kita bersukacita dalam iman yang baru dalam Yesus ini dan kita mengalami kuat-kuasa Roh Kudus-Nya dalam hidup kita.

Tidak lama setelah kepergian Paulus, datanglah para anggota dari komunitas Kristiani yang berasal dari orang-orang beragama Yahudi di Yerusalem. Mereka datang mengunjungi gereja kita di Galatia untuk “menolong” kita semua memahami apa artinya penghayatan iman Kristiani yang benar. Sebagai orang-orang yang baru bertobat dan masuk menjadi anggota jemaat Galatia, kita tentunya menyambut baik masukan-masukan dari mereka, namun akhirnya berbagai masukan itu membuat kita terbenam dalam segala macam adat-kebiasaan dan tradisi Yahudi, misalnya pembatasan-pembatasan dalam soal makan-minum, sunat, dan aturan-aturan hari Sabat yang ketat. Bukannya kebebasan yang pernah kita kenal dari Paulus, kita malah berjumpa dengan kenyataan bahwa Injil menjadi terkubur dalam sedemikian banyak carut-marut hukum dan adat-kebiasaan. Kita tidak pernah menyadari betapa banyak tetek-bengek yang diperlukan guna membuat iman kita menjadi lengkap!

Inilah jenis kebingungan yang terjadi di tengah umat yang sangat menyusahkan hati Paulus ketika dia menulis suratnya kepada jemaat di Galatia. Setelah pembukaan surat yang sangat singkat, Paulus langsung saja berbicara mengenai pokok permasalahan yang ada. Paulus mendesak mereka agar tidak meninggalkan Allah yang telah memanggil mereka kepada hidup rahmat demi mengikuti hukum dan adat-kebiasaan serta tradisi. Sang Rasul juga mengingatkan mereka bahwa inti Injil adalah kuat-kuasa Allah untuk mengubah hidup mereka, dan ia juga menanyakan kepada mereka apakah mereka mengalami kuat-kuasa ilahi ini.

Kita yang hidup dalam zaman modern ini juga dimaksudkan untuk hidup dalam kebebasan dan kuat-kuasa. Namun, seperti juga jemaat di Galatia, kita juga dapat melenceng – salah arah – apabila kita luput melihat Yesus dan tidak memperkenankan pesan-Nya untuk masuk ke dalam diri kita. Tanpa Yesus, tidak ada satu pun adat-kebiasaan, tradisi, hukum dan ketaatan menjadi bermakna untuk keselamatan kita. Sebaliknya, semua itu tidak memiliki kuat-kuasa yang mampu mengubah kita. Sekarang marilah kita berbalik kepada Yesus, cinta kita yang pertama. Marilah kita memohon agar Roh Kudus membuat Injil menjadi begitu riil bagi kita sehingga kita menggumuli mau Kitab Suci dan memohon dengan sangat agar Dia mengajar kita lebih banyak lagi.

DOA: Terpujilah Engkau, ya Yesus Kristus, untuk keselamatan yang Kausediakan bagi kami lewat kematian-Mu di kayu salib. Terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu karena Engkau telah membebaskan kami dari kuasa dosa dan kematian. Melalui Roh Kudus-Mu, tolonglah kami agar senantiasa hidup dalam kemenangan-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 10:25-37), bacalah tulisan yang berjudul “MENJADI SESAMA DARI ORANG-ORANG YANG MENDERITA” (bacaan tanggal 6-10-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2014.
Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Gal 1:6-12), bacalah tulisan yang berjudul “HANYA ADA SATU INJIL” (bacaan tanggal 4-10-10) dalam situs/blog SANG SABDA).

Cilandak, 3 Oktober 2014

Sdr. Frans Indrapradja, OFS