HUBUNGAN ANTARA DUA ORANG RASUL BESAR

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXVII – Rabu, 8 Oktober 2014)

Peter_Paul_El_Greco

Empat tahun kemudian, aku pergi lagi ke Yerusalem dengan Barnabas dan Titus pun kubawa juga. Aku pergi berdasarkan suatu pernyataan Allah. Kepada mereka kubentangkan Injil yang kuberitakan di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi – dalam percakapan tersendiri kepada mereka yang terpandang – supaya jangan dengan percuma aku berusaha atau telah berusaha.
Sebaliknya mereka melihat bahwa kepadaku telah dipercayakan pemberitaan Injil untuk orang-orang tak bersunat, sama seperti kepada Petrus untuk orang-orang bersunat – karena Ia yang telah memberikan kekuatan kepada Petrus untuk menjadi rasul bagi orang-orang bersunat, Ia juga yang telah memberikan kekuatan kepadaku untuk orang-orang yang tidak bersunat. Setelah melihat anugerah yang diberikan kepadaku, maka Yakobus, Kefas dan Yohanes, yang dipandang sebagai tiang utama jemaat, berjabat tangan dengan aku dan dengan Barnabas sebagai tanda persekutuan, supaya kami pergi kepada orang-orang yang tidak bersunat dan mereka kepada orang-orang yang bersunat; hanya kami harus tetap mengingat orang-orang miskin dan memang itulah yang sungguh-sungguh hendak kulakukan.
Tetapi waktu Kefas datang ke Antiokhia, aku dengan terang-terangan menentangnya, sebab ia salah. Karena sebelum beberapa orang dari kalangan Yakobus datang, ia makan sehidangan dengan saudara-saudara seiman yang tidak bersunat, tetapi setelah mereka datang, ia mengundurkan diri dan menjauhi mereka karena takut terhadap saudara-saudara yang bersunat. Orang-orang Yahudi yang lain pun turut berlaku munafik dengan dia, sehingga Barnabas sendiri turut terseret oleh kemunafikan mereka. Tetapi waktu kulihat bahwa kelakuan mereka itu tidak sesuai dengan kebenaran Injil, aku berkata kepada Kefas di hadapan mereka semua, “Jika engkau, seorang Yahudi, hidup seperti orang bukan Yahudi dan tidak seperti orang Yahudi, bagaimana engkau dapat memaksa saudara-saudara yang tidak bersunat untuk hidup seperti orang Yahudi?” (Gal 2:1-2, 7-14)

Mazmur Tanggapan: Mzm 117:1-2; Bacaan Injil: Luk 11:1-4

Bayangkanlah energi, excitement, dan komitmen Gereja Perdana. Bayangkan para anggota jemaat yang bersemangat berapi-api karena karunia Roh Kudus pada hari Pentakosta Kristiani yang pertama, membangun dan melakukan evangelisasi dengan para raksasa seperti Petrus, Yakobus dan Paulus. Hei, ‘ntar dulu! Telitilah bacaan di atas sekali lagi untuk suatu reality check. Dalam bacaan ini kita dapat melihat bahwa Santo Paulus secara terbuka melontarkan kritik-kritiknya terhadap Santo Petrus.

ic-ma100-icon-holy-apostles-peter-and-paulSungguh sulit untuk membayangkan Petrus dan Paulus di lukisan kaca sebuah gereja yang kelihatan berdiri berdampingan dengan tegak sebagai pahlawan-pahlawan Gereja Kristiani. Mereka pun dirayakan bersama dalam Hari Raya khusus bagi mereka berdua yang jatuh pada tanggal 29 Juni setiap tahun. Mereka tidak berbeda atau berselisih pendapat tentang hal-hal pribadi atau tetek bengek yang tidak signifikan. Perbedaan pendapat mereka berdua adalah terkait sebuah isu sental tentang iman Kristiani. Sebagaimana dilihat oleh Paulus, Petrus menyesatkan orang-orang non-Yahudi (baca: kafir) sehingga percaya bahwa mereka harus mengikuti hukum-hukum Perjanjian Lama tertentu sebelum mereka dapat mempertimbangkan diri mereka sendiri sepenuhnya diselamatkan oleh Allah. Hal ini berarti bahwa pengorbanan Yesus di atas kayu salib tidaklah cukup bagi mereka. Perilaku Petrus mendistorsi kebenaran Kristiani, sehingga dengan demikian Paulus mengedepankan isu ini. Iman kepada (akan; dalam) Yesus sudah cukup untuk memperoleh keselamatan.

Setelah konfrontasi di Antiokhia, Petrus dan Paulus masing-masing bergerak maju dalam pelayanan mereka yang terpisah, Petrus kepada kaum bersunat (Yahudi) dan Paulus kepada orang-orang tak bersunat. Apakah mereka pernah melakukan upaya rekonsiliasi setelah terjadinya perbedaan pendapat seperti diceritakan dalam bacaan di atas? Tidak ada catatan dalam Perjanjian Baru. Hanya satu hal yang pasti: Tulisan-tulisan mereka menunjukkan bahwa mereka melihat dengan serius relasi dekat-akrab yang harus eksis di antara umat Kristiani, yang disyeringkan satu sama lain dalam Kristus. Petrus dan Paulus bukanlah macam orang yang memperkenankan agenda-agenda pribadi atau pertentangan-pertentangan pribadi mengganggu misi untuk membuat Kristus dikenal dalam dunia.. Masuk akallah apabila kita percaya bahwa dua orang rasul ini secara tulus-ikhlas mencoba untuk memperbaiki relasi mereka satu sama lain. Secara pribadi saya percaya bahwa tentunya terjadi happy ending. [Tambahan: Ada satu acuan kepada Paulus dalam Surat Petrus yang kedua yang baik untuk kita baca dan renungkan (2Ptr 3:14-16)].

Cerita mengenai Petrus dan Paulus menggambarkan betapa penuh tantangan yang kita hadapi untuk memelihara tali persahabatan yang erat dan langgeng. Biar bagaimana pun juga dua orang kudus besar ini mengalami betapa beratnya hal ini. Namun tulisan-tulisan mereka juga menceritakan kepada kita bahwa Allah sangat menghargai kesatuan dan persatuan eksis di antara umat-Nya, dan Ia akan mencurahkan setiap rahmat yang diperlukan untuk menjaga dan memperdalam persahabatan kita sampai titik di mana tidak ada sesuatu pun yang dapat mematahkannya. Dengan tetap membuka hati kita bagi Roh Kudus apabila terjadi ketidaksetujuan, konfrontasi dapat menjadi kesempatan guna memperkuat ikatan-ikatan persahabatan, bukan untuk memecah-belah ikatan-ikatan tersebut.

DOA: Tuhan Yesus, berkatilah para sahabatku. Berikanlah kepadaku cintakasih yang lebih mendalam kepada mereka selagi mereka menunjukkan kepadaku bagaimana mengasihi-Mu dengan lebih baik. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 11:1-4), bacalah tulisan yang berjudul “DOA BAPA KAMI [4]” (bacaan tanggal 8-10-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-10 PERMENUNGAN ALKITABIAH OKTOBER 2014.

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Gal 2:1-2,7-14), bacalah tulisan yang berjudul “KESELAMATAN HANYA MELALUI IMAN KEPADA YESUS KRISTUS” (bacaan tanggal 10-10-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 6 Oktober 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS