PANGGILAN ALLAH UNTUK HIDUP BERSAMA-NYA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Carolus Borromeus, Uskup – Selasa, 4 November 2014)

YESUS DI GEREJA ORTODOX SIRIAMendengar itu berkatalah salah seorang yang sedang makan itu kepada Yesus, “Berbahagialah orang yang akan dijamu dalam Kerajaan Allah.” Tetapi Yesus berkata kepadanya, “Ada seseorang mengadakan perjamuan besar dan ia mengundang banyak orang. Menjelang perjamuan itu dimulai, ia menyuruh hambanya mengatakan kepada para undangan: Marilah, sebab segala sesuatu sudah siap. Tetapi mereka semua, satu demi satu, mulai meminta maaf. Yang pertama berkata kepadanya: Aku telah membeli ladang dan harus pergi melihatnya, aku minta maaf. Yang lain berkata: Aku telah membeli lima pasang lembu dan harus pergi mencobanya; aku minta maaf. Yang lain lagi berkata: Aku baru kawin dan karena itu aku tidak dapat datang. Lalu kembalilah hamba itu dan menyampaikan semuanya itu kepada tuannya. Tuan rumah itu pun murka dan berkata kepada hambanya: Pergilah dengan segera ke semua jalan dan lorong kota dan bawalah ke mari orang-orang miskin dan orang-orang buta dan orang-orang lumpuh. Kemudian hamba itu melaporkan: Tuan, apa yang tuan perintahkan itu sudah dilaksanakan, sekalipun demikian masih ada tempat. Lalu kata tuan itu kepada hambanya: Pergilah ke semua jalan dan lorong dan paksalah orang-orang yang ada di situ, masuk, supaya rumahku terisi penuh. Sebab Aku berkata kepadamu: Tidak ada seorang pun dari orang-orang yang telah diundang itu akan menikmati jamuan-Ku.” (Luk 14:15-24)

Bacaan Pertama: Flp 2:5-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 22:26-323

Dalam menarasikan perumpangan tentang perjamuan besar ini, Yesus memberikan kepada para pendengar-Nya sebuah gambaran tentang panggilan Allah untuk hidup bersama-Nya, baik sekarang maupun di surga kelak. Memang sungguh indah serta menakjubkan untuk diundang kepada peristiwa terbesar dalam sejarah. Namun demikian, sungguh menyedihkanlah kalau kita melihat kenyataan bahwa banyak orang yang tidak menghargai kehormatan besar yang diberikan kepada-Nya karena diundang oleh Allah sendiri.

Panggilan kepada kehidupan bersama Allah adalah suatu privilese yang besar. Akan tetapi kita sendirilah yang harus membuat keputusan: Apakah kita akan menerima undangan ini, atau menolaknya? Yesus menawarkan kepada kita sebuah tempat dalam Kerajaan Surga di mana kita akan dibebaskan dari segala dosa dan kematian, dengan prasyarat bahwa kita harus menanggapi panggilan-Nya secara positif dan menerima cara hidup seturut panggilan-Nya tersebut. Undangan ini sendiri tidak menjamin sebuah tempat bagi kita pada perjamuan besar itu. Kita harus memilih untuk datang dan sikap kita dalam datang menghadiri perjamuan tersebut seharusnya adalah sikap penuh syukur untuk segala karunia gratis yang ditawarkan kepada kita. Kita juga harus bersikap rendah hati, karena kita tahu bahwa kita tidak akan pernah dapat memperoleh suatu privilese sedemikian lewat upaya kita sendiri.

PERUMPAMAAN TTG PERJAMUAN BESAR - 3Siapakah yang akan mengakui kebesaran panggilan Kristus? Hanya mereka yang mengetahui kebutuhan mutlak mereka akan Allah. Orang-orang yang menyadari bahwa dosa-dosa mereka telah memisahkan mereka dari Allah, dan yang ingin agar diri mereka dibenarkan dihadapan Bapa surgawi. Inilah orang-orang yang akan menerima undangan Bapa surgawi. Yesus bersabda, “Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat” (Luk 5:32). Orang-orang yang pada awalnya diundang dalam perumpamaan di atas mungkin saja mengetahui kebesaran dari panggilan itu, namun ketika tiba saatnya untuk datang menghadiri perjamuan besar itu, mereka malah memilih untuk mengurusi hal-hal lain, dan dengan demikian mereka mengabaikan perjamuan besar yang menantikan mereka. Kepedulian/keprihatinan mereka yang salah arah itu menyebabkan diri mereka memandang rendah kebesaran dari tawaran/undangan Allah dan kebutuhan mereka akan hal itu.

Hal seperti ini dapat terjadi atas diri kita apabila kita mengandalkan segala sumber daya atau kekuatan yang kita miliki sendiri dan memperkenankan kesibukan hidup sehari-hari melanturkan kita dari tujuan mencari cara/kehendak Allah dalam segala hal. Allah sangat mengetahui segala urusan kita. Dia tahu betapa macam-macam tanggung jawab kita membuat diri kita sedemikian sibuk. Akan tetapi di tengah berbagai tuntutan dalam kehidupan kita, Allah ingin memberikan kepada kita sukacita, damai-sejahtera, dan energi. Yang diminta-Nya dari diri kita masing-masing adalah untuk belajar mengenal dan mempraktekkan karunia yang berharga, yaitu kerendahan hati. Allah tidak pernah meninggalkan sebuah hati manusia yang mengetahui kebutuhannya akan Dia dan hasrat untuk dipenuhi dengan hidup-Nya sendiri.

DOA: Bapa surgawi, kami berterima kasih penuh syukur kepada-Mu karena Engkau telah mengundang kami untuk hidup bersama-Mu setiap hari, bahkan ketika kami sedang disibukkan dengan tetek-bengek agenda kerja harian kami. Kami memohon agar Kauanugerahkan kepada kami kerendahan hati sehingga dengan demikian kami memahami hasrat-Mu untuk mencurahkan rahmat-Mu kepada kami secara berlimpah. Jagalah agar kami tidak terjebak dalam kesibukan sehari-hari sehingga kami luput melihat dan/atau mengabaikan panggilan-Mu yang penuh rahmat. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Flp 2:5-11), bacalah tulisan yang berjudul “SEBUAH DOA SYUKUR KEPADA YESUS KRISTUS” (bacaan tanggal 4-11-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2014.

Cilandak, 3 November 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS