SECARA BEBAS DAN GRATIS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Yosafat, Uskup & Martir – Rabu, 12 November 2014)

Cima_da_Conegliano,_God_the_FatherIngatkanlah mereka supaya mereka tunduk pada pemerintah dan orang-orang yang berkuasa, taat dan siap untuk melakukan setiap pekerjaan yang baik. Janganlah mereka memfitnah, janganlah mereka bertengkar, hendaklah mereka selalu ramah dan bersikap lemah lembut terhadap semua orang. Karena dahulu kita juga hidup dalam kebodohan: tidak taat, sesat, menjadi hamba berbagai-bagi nafsu dan keinginan, hidup dalam kejahatan dan kedengkian, keji, saling membenci. Tetapi ketika nyata kemurahan Allah, Juruselamat kita, dan kasih-Nya kepada manusia, pada waktu itu Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan benar yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya melalui permandian kelahiran kembali dan melalui pembaruan yang dikerjakan oleh Roh Kudus, yang sudah dilimpahkan-Nya kepada kita melalui Yesus Kristus, Juruselamat kita, supaya kita, sebagai orang yang dibenarkan oleh anugerah-Nya, berhak menerima hidup yang kekal, sesuai dengan pengharapan kita. (Ti 3:1-7)

Mazmur Tanggapan: Mzm 23:1-6; Bacaan Injil: Luk 17:11-19

Allah mengasihi diri kita seperti apa adanya diri kita. Kita tidak perlu melakukan sesuatu untuk menimbulkan kesan baik di mata-Nya atau untuk memperoleh balasan kasih-Nya. Allah telah menunjukkan kepada kita kasih-Nya dengan menyelamatkan kita dari dosa dan menawarkan kepada kita kehidupan kekal dalam Kerajaan Surga. Karunia yang indah seperti itu dianugerahkan kepada kita secara bebas dan gratis selagi kita menempatkan iman kita pada Putera-Nya terkasih, Yesus Kristus, pancaran cahaya dari kemuliaan Bapa.

Allah menyatakan belas kasih-Nya dengan membersihkan diri kita dari dosa dan membawa jiwa kita kepada suatu kelahiran baru melalui pembaptisan air. Karena dosa-dosa kita, pantaslah diri kita dipisahkan dari Allah untuk selama-lamanya. Pantaslah bagi-Nya untuk menghukum kita. Namun, apakah yang sesungguhnya terjadi? “Karena Allah begitu mengasihi dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal …” (Yoh 3:16). Allah mengutus Putera-Nya yang semata wayang untuk menjadi substitut/pengganti bagi kita-manusia. Melalui ketaatan Yesus kepada Bapa-Nya di surga dan melalui kurban-Nya di atas kayu salib, kita pun ditebus. Yesus menderita sengsara dan mati secara kejam untuk kita semua, kita yang sebenarnya pantas untuk dihukum dan menderita. Melalui iman dan baptisan ke dalam kematian-Nya, sekarang kita telah ditebus. Kita dibuat menjadi benar dan utuh di hadapan Allah.

St-Paul-iconAllah menciptakan manusia dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya agar menjadikan manusia itu makhluk yang hidup (lihat Kej 2:7). Demikian pula Allah membuat kita hidup dengan menempatkan Roh Kudus ke dalam diri kita. Melalui karunia-karunia Roh-Nya, kita diberdayakan agar dapat mengasihi Allah dan mengakui diri-Nya sebagai Abba, kata akrab dalam bahasa Aram untuk orangtua laki-laki. Melalui Roh Kudus kita dimampukan untuk berjalan dengan Allah tanpa ditindih oleh rasa bersalah dan bebas dari tuduhan apa pun. Kita tidak lagi menjadi musuh-musuh Allah, melainkan menjadi anak-anak-Nya dan para pewaris surga bersama Putera-Nya terkasih, Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kita yang juga adalah Saudara kita.

Dengan demikian kita dapat mengenal dan mengalami kuat-kuasa Roh Kudus. Hidup kita tidak perlu berakhir dalam kematian. Dalam Kristus, kita memiliki pengharapan akan kehidupan kekal. Pada malam sebelum kematian-Nya, Yesus sendiri telah berjanji kepada para murid-Nya (termasuk kita): “Apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada” (Yoh 14:3). Inilah warisan kita. Allah telah membuat kita para ahli waris Kerajaan Surga dengan dan melalui Putera-Nya, Yesus Kristus. Oleh karena itu marilah kita dengan penuh syukur menerima posisi kita bersama Allah. Kita telah diselamatkan oleh “seorang” Allah Yang Mahamurah, Maharahim dan Mahakasih, … dan memang “Mahalain”.

DOA: Bapa surgawi, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu untuk kasih-Mu yang tanpa batas. Tuhan Yesus, Engkau menggantikan diri kami untuk menderita sengsara dan wafat di kayu salib, suatu hukuman yang sebenarnya pantas bagi diri kami semua. Karena pengorbanan-Mu itu kami Kaubuat mengenal dan mengalami kasih Bapa surgawi. Roh Kudus, Engkau adalah sang Pemberi hidup. Segala puji dan syukur bagi Allah Tritunggal Mahakudus, Bapa, Putera dan Roh Kudus, Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 17:11-19), bacalah tulisan yang berjudul “DI MANAKAH YANG SEMBILAN ORANG ITU?” (bacaan tanggal 12-11-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2014.

Cilandak, 10 November 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS