PENGHARAPAN KITA

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIII – Kamis, 20 November 2014)

FMM: Peringatan S. Agnes dr Assisi, Pelindung Pra-Novis FMM

John's_vision_14-607

Lalu aku melihat di tangan kanan Dia yang duduk di atas takhta itu, sebuah gulungan kitab yang ditulisi sebelah dalam dan sebelah luarnya dan dimeterai dengan tujuh meterai. Aku melihat pula seorang malaikat yang gagah, yang berseru dengan suara nyaring, “Siapa yang layak membuka gulungan kitab itu dan membuka meterai-meterainya?” Tetapi tidak ada seorang pun yang di surga atau di bumi atau di bawah bumi, yang dapat membuka gulungan kitab itu atau melihat sebelah dalamnya. Aku pun menangis dengan sangat sedih, karena tidak ada seorang pun yang dianggap layak untuk membuka gulungan kitab itu atau melihat sebelah dalamnya. Lalu berkatalah seorang dari tua-tua itu kepadaku, “Jangan menangis! Lihatlah, singa dari suku Yehuda, yaitu tunas Daud, telah menang, sehingga Ia dapat membuka gulungan kitab itu dan membuka ketujuh meterainya.”
Lalu aku melihat di tengah-tengah takhta dan keempat mahkluk itu dan di tengah –tengah tua-tua itu berdiri seekor Anak Domba seperti telah disembelih, bertanduk tujuh dan bermata tujuh: Itulah ketujuh Roh Allah yang diutus ke seluruh bumi. Lalu datanglah Anak Domba itu dan menerima gulungan kitab itu dari tangan kanan Dia yang duduk di atas takhta itu. Ketika Ia mengambil gulungan kitab itu, sujudlah keempat makhluk dan kedua puluh empat tua-tua itu di hadapan anak Domba itu, masing-masing memegang satu kecapi dan satu cawan emas, penuh dengan dupa: Itulah doa orang-orang kudus. Mereka menyanyikan suatu nyanyian baru katanya, “Engkau layak menerima gulungan kitab itu dan membuka meterai-meterainya; karena Engkau telah disembelih dan dengan darah-Mu Engkau telah membeli mereka bagi Allah dari tiap-tiap suku dan bahasa dan umat dan bangsa. Engkau telah membuat mereka menjadi suatu kerajaan, dan menjadi imam-imam bagi Allah kita, dan mereka akan memerintah sebagai raja di bumi.” (Why 5:1-10)

Mazmur Tanggapan: Mzm 149:1-6,9; Bacaan Injil: Luk 19:41-44

Ketika memusatkan pandangannya pada takhta surgawi, Yohanes melihat Allah sedang memegang gulungan kitab yang dimeterai, yang berisikan kata-kata penghakiman dan penebusan bagi umat manusia. Setelah melihat bahwa tidak ada seorang pun layak untuk membuka gulungan kitab tersebut, menangislah Yohanes. Tidakkah ada seorang pun yang dapat membuka gulungan kitab, dan juga pintu gerbang arus rahmat Allah dan kuat-kuasa-Nya?

Yohanes tidak hanya menangisi kenyataan bahwa penebusan Allah belum dinyatakan. Ia juga menangisi keadaan umat manusia. Pada waktu itu – seperti juga pada masa kini – Yohanes menyaksikan umat yang dirobek-robek oleh sakit-penyakit dan penderitaan lainnya, kekerasan dan perpecahan. Memang ada orang-orang yang masih menggantungkan pengharapan mereka pada kemampuan kemanusiaan untuk membereskan diri sendiri, namun Yohanes hanya dapat melihat spiral menurun yang tidak menunjukkan adanya pengharapan.

Lalu kesedihan Yohanes berubah menjadi rasa takjub ketika seekor “Anak Domba” muncul, Anak Domba yang tanpa salah, yang memiliki keberanian dan integritas yang diperlukan untuk membuka gulungan kitab di atas. Yesus Kristus, Tuhan atas langit dan bumi, Tuhan dari segenap sejarah manusia, memegang “nasib” kita di tangan-tangan-Nya. Jadi, memang ada pengharapan! Walaupun kita berdosa dan mempunyai banyak kelemahan, Allah tidak akan meninggalkan dan membuang rencana-Nya untuk menawarkan kepada kita-manusia keselamatan dan hidup baru.

Pengharapan adalah iman yang diarahkan ke masa depan. Pengharapan adalah iman yang dipraktekkan atas dasar janji-janji yang telah dibuat Allah. Pengharapanlah yang menggerakkan kita untuk mengatakan “ya” kepada Allah, dan pengharapan jugalah yang memberikan makna dari pencobaan-pencobaan yang kita alami. Pengharapan mengatakan kepada kita bahwa kita “ditakdirkan” untuk hidup bersama Kristus dan pengharapan pula yang memberikan kepada kita kemampuan untuk melanjutkan langkah-langkah kita di jalan pemuridan dalam kebebasan dan penuh kepercayaan.

FatherDamien.jpegKita semua akan mengalami berbagai kesulitan pada titik-titik yang berbeda dalam hidup kita. Namun tidak ada rasa sakit atau penderitaan yang pernah dapat me-negasi janji-janji Allah untuk senantiasa berada bersama kita dan memimpin kita ke dalam Kerajaan-Nya yang kekal. Satu contoh dari kebenaran ini adalah Santo Damien de Vesteur, seorang imam berkebangsaan Belgia pada tahun 1800-an. Romo Damien secara sukarela mengasingkan dirinya ke Pulau Molokai di Hawaii, agar dia dapat merawat para penderita penyakit kusta. Di tengah-tengah tantangan-tantangan dan kemunduran-kemunduran yang dialaminya sehari-hari dalam keadaan yang serba miskin dan berkekurangan, Romo Damien tidak pernah kehilangan sukacitanya. Walaupun ketika dia sendiri terkenan penyakit kusta, Romo Damien tetap berada bersama para penderita kusta di tempat itu. Hal ini merupakan pengingat tetap bahwa apa pun yang kita hadapi, kita dapat berharap akan kebaikan Tuhan dan mengenal serta mengalami penghiburan-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, datanglah dan penuhilah diri kami dengan pengharapan yang berasal dari Engkau saja. Yakinkanlah diri kami akan kesetiaan-Mu, agar dengan demikian kami dapat berdiri teguh dan penuh damai sejahtera. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 19:41-44), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MENANGISI KEHANCURAN KOTA YERUSALEM” (bacaan tanggal 20-11-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2014.

Cilandak, 17 November 2014 [Peringatan S. Elisabet dr Hungaria, Ratu & OFS]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS