RELASI YANG LEBIH MENDALAM DENGAN YESUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Sesilia, Perawan & Martir – Sabtu, 22 November 2014)

john_the_divine_on_the_isle_of_patmos_by_kjdvndv-d5l65fi

Merekalah kedua pohon zaitun dan kedua kaki pelita yang berdiri di hadapan Tuhan semesta alam. Jikalau ada orang yang hendak menyakiti mereka, keluarlah api dari mulut mereka menghanguskan semua musuh mereka. Jikalau ada orang yang hendak menyakiti mereka, maka orang itu harus mati secara demikian. Mereka mempunyai kuasa menutup langit, supaya jangan turun hujan selama mereka bernubuat; dan mereka mempunyai kuasa atas segala air untuk mengubahnya menjadi darah, dan untuk memukul bumi dengan segala jenis malapetaka, setiap kali mereka menghendakinya.
Bilamana mereka telah menyelesaikan kesaksian mereka, maka binatang yang muncul dari jurang maut, akan memerangi mereka dan mengalahkan serta membunuh mereka. Mayat mereka akan terletak di atas jalan raya kota besar, yang secara rohani disebut Sodom dan Mesir, di mana juga Tuhan mereka disalibkan. Orang-orang dari segala bangsa dan suku dan bahasa dan umat, melihat mayat mereka selama tiga setengah hari dan orang-orang itu tidak memperbolehkan mayat mereka dikuburkan. Mereka yang tinggal di bumi bergembira dan bersukacita atas mereka itu dan berpesta dan saling mengirim hadiah, karena kedua nabi itu telah merupakan siksaan bagi semua orang yang tinggal di bumi.
Tiga setengah hari kemudian masuklah roh kehidupan dari Allah ke dalam mereka, sehingga mereka bangkit dan semua orang yang melihat menjadi sangat takut. Lalu kedua nabi itu mendengar suatu suara yang nyaring dari surga berkata kepada mereka, “Naiklah ke mari!” Lalu naiklah mereka ke surga, diselubungi awan, disaksikan oleh musuh-musuh mereka. (Why 11:4-12)

Mamzur Tanggapan: Mzm 144:1,2,9-10; Bacaan Injil: Luk 20:27-40

Satu reaksi apabila seseorang membaca Kitab Wahyu dapat seperti berikut ini: “Luar biasa, Yohanes dari pulau Patmos ini sungguh-sungguh mempunyai imajinasi yang hidup!” Akan tetapi kita harus ingat bahwa Yohanes tidak membuat-buat hal ini. Dia sungguh mendengarkan Yesus yang berbicara kepadanya. Walaupun dia tidak mencoba untuk memberikan interpretasi yang bersifat literal/harfiah dari akhir zaman, Yohanes menemukan suatu cara yang kreatif untuk menuliskan apa yang telah dipelajarinya dari Tuhan Yesus agar dia dapat mendorong/menyemangati para saudari dan saudaranya dalam Kristus untuk memusatkan pandangan mereka pada Yesus pada masa-masa penuh kesulitan.

Sepanjang masa, Allah telah memanggil manusia dari setiap bidang kehidupan ke dalam suatu relasi yang lebih mendalam dengan diri-Nya. Bagaimana? Dengan membisikkan/menanamkan sabda-Nya ke dalam hati mereka. Ignatius adalah seorang perwira tentara tulen yang mengenal apa artinya medan pertempuran dan memahami keganasan dan kekejaman perang. Ketika dia sedang mengalami proses penyembuhan dari luka-luka yang dideritanya dalam pertempuran, dia mendengar Yesus memanggilnya untuk melayani tentara Allah. Bunda Teresa bukanlah seorang biarawati yang luarbiasa ketika Yesus minta kepadanya untuk melayani orang-orang termiskin dari para miskin di Kalkuta, India. Fransiskus dari Assisi dapat dikatakan seorang anak manja seorang pengusaha/pedagang tekstil di kota Assisi ketika dia mendengar panggilan untuk merangkul Tuan Puteri Kemiskinan dan membangun kembali Gereja.

Saudari dan Saudaraku yang terkasih. Yesus sangat rindu untuk berbicara dengan diri kita masing-masing. Yesus begitu rindu untuk melihat kita kembali kepada-Nya dengan ekspektasi besar, penuh kepercayaan bahwa kita dapat mendengar suara-Nya. Yesus berbicara kepada kita dalam pikiran kita, atau memberikan kita gambaran mental, atau menempatkan seorang pribadi atau situasi dalam hati kita. Bagaimana pun terjadinya, unsur penentu atau key element-nya adalah bahwa kita tahu dalam hati kita bahwa yang kita dengar bukanlah berasal dari diri dalam diri kita sendiri. Ada rasa beda bahwa kata-kata yang khusus ini atau imaji yang khusus ini “datang dari Tuhan”.

Marilah kita mencoba hal ini dalam doa kita hari ini. Kita heningkan pikiran kita dan kita memikirkan seseorang yang kita kenal yang membutuhkan bantuan doa. Kita membayangkan orang itu dalam pikiran kita dan kita kemudian memohon kepada Tuhan Yesus bagaimana kita dapat melayani orang itu dengan baik hari ini. Dalam keheningan batin, kita mendengarkan apakah ada kata-kata yang menyemangati, atau sepotong ayat Kitab Suci, atau suatu tindakan khusus yang mulai memberi kesan khusus kepada kita. Mungkin sekali Tuhan Yesus berbicara kepada kita dan mengatakan kepada kita bagaimana kita dapat mengasihi dan memperhatikan orang ini pada hari ini.

DOA: Tuhan Yesus, aku percaya bahwa Yohanes mendengarkan Engkau yang berbicara kepadanya dari surga. Aku pun ingin mendengarkan sabda-Mu pada hari ini. Berbicaralah kepadaku, ya Tuhan Yesus! Berbicaralah kepadaku bagaimana kiranya aku dapat menunjukkan kasih dan perhatianku kepada seseorang pada hari ini. Melalui Roh Kudus-Mu, tolonglah aku agar dapat bertumbuh dalam kemauan dan kemampuanku untuk mendengarkan nasihat-nasihat dan perintah-perintah-Mu dalam doa. Dan juga tolonglah aku agar dapat menanggapi apa yang telah kudengarkan itu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 20:27-40), bacalah tulisan yang berjudul “BAB TERAKHIR” (bacaan tanggal 22-11-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-11 PERMENUNGAN ALKITABIAH NOVEMBER 2014.

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Why 11:4-12), bacalah tulisan yang berjudul ‘DUKA ORANG SAKSI ALLAH” (bacaan tanggal 24-11-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 20 November 2014

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS