KITA TERUS DIPERSIAPKAN OLEH-NYA UNTUK AKHIR ZAMAN

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa XXXIV – Selasa, 25 November 2014)

OSF Sibolga: Peringatan B. Elisabet dr Reute, Biarawati

pppas0594Lalu aku melihat: Sesungguhnya, ada suatu awan putih, dan di atas awan itu duduk seorang seperti Anak Manusia dengan sebuah mahkota emas di atas kepala-Nya dan sebilah sabit tajam di tangan-Nya. Seorang malaikat lain keluar dari Bait Suci; dan ia berseru dengan suara nyaring kepada dia yang duduk di atas awan itu, “Ayunkanlah sabit-Mu itu dan tuailah, karena sudah tiba saatnya untuk menuai; sebab tuaian di bumi sudah masak.” Lalu Ia, yang duduk di atas awan itu, mengayunkan sabit-Nya ke atas bumi, dan bumi pun dituailah.
Kemudian seorang malaikat lain keluar dari Bait Suci yang di surga; juga padanya ada sebilah sabit tajam. Seorang malaikat yang lain lagi datang dari mezbah; ia berkuasa atas api dan ia berseru dengan suara nyaring kepada malaikat yang memegang sabit tajam itu, katanya, “Ayunkanlah sabitmu yang tajam itu dan potonglah buah-buah pohon anggur di bumi, karena buahnya sudah masak.” Lalu malaikat itu mengayunkan sabitnya ke atas bumi, dan memotong buah pohon anggur di bumi dan melemparkannya ke dalam gilingan besar, yaitu murka Allah. (Why 14:14-19)

Mazmur Tanggapan: Mzm 96:10-13; Bacaan Injil: Luk 21:5-11

Walaupun segala imaji apokaliptis yang disajikan dalam Kitab Wahyu terasa agak aneh bin ajaib, semua itu sebenarnya terkait erat dengan tradisi kenabian Perjanjian Lama dan juga perumpamaan-perumpamaan Yesus. Misalnya, nabi Yoel memproklamirkan bahwa YHWH akan menghakimi bangsa- bangsa seperti menyabit tuaian yang sudah masak (Yl 3:13). Yesaya juga berbicara mengenai seorang tokoh mesianis gagah yang akan melakukan penghakiman, yang berpakaian merah, yang berkata: “Akulah yang menjanjikan keadilan dan yang berkuasa untuk menyelamatkan!” (lihat Yes 63:1-3).

Dua buah nubuatan di atas sejajar dengan visi Yohanes dari pulau Patmos dalam Kitab Wahyu: “Lalu malaikat itu mengayunkan sabitnya ke atas bumi, dan memotong buah pohon anggur di bumi dan melemparkannya ke dalam gilingan besar, yaitu murka Allah” (Why 14:19). Yesus juga membanding-bandingkan akhir zaman dengan waktu panenan, dan menerapkan imaji ini, malah dengan tingkat kedaruratan yang lebih. Jangkauan pandangan Yesus jauh melampaui sejarah umat manusia, dan pandangan-Nya itu langsung sampai kepada saat di mana Bapa surgawi akan mencapai kemenangan akhir: “Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai” (Yoh 4:35).

pppas0250Saat “menuai” mengacu kepada kulminasi dari suatu langkah maju yang teratur namun panjang. Pertama-tama, tanah harus dicangkul atau dibajak, kemudian ditanamlah benih-benih. Lahan itu pun kemudian diairi dan diberi pupuk serta dirawat dengan baik. Hanya apabila tanaman sudah berbuah dan buah-buah itu sudah masak, maka tibalah saatnya untuk mengambil buah-buah itu. Dalam urut-urutan seperti ini para penulis Kitab Suci yang diinspirasikan oleh Roh Kudus menemukan lambang tangan-tangan Allah yang membimbing sejarah manusia. Seorang petani mempersiapkan segala sesuatu untuk masa menuai yang mau tidak mau akan tiba, walaupun hal ini menyangkut masa depan yang cukup jauh. Demikian pula secara tetap Allah mempersiapkan umat-Nya untuk akhir zaman.

Hanya dengan/oleh iman kita dapat percaya bahwa dunia ini akan berakhir, tidak melalui perubahan besar tanpa makna, melainkan melalui pendirian Kerajaan Allah secara penuh. Prosesnya sendiri sudah dimulai. Walaupun hari demi hari kita berjuang melawan si Jahat dan para roh jahatnya yang tidak pernah merasa jemu menggoda kita, adalah kenyataan bahwa kita bergerak semakin dekat dengan saat kedatangan kembali Kristus yang penuh kemenangan pada akhir zaman. Kitab Wahyu mengingatkan bahwa kita harus yakin seyakin-yakinnya akan kemenangan akhir Allah seperti si petani merasa yakin akan kedatangan saat untuk menuai.

Yesus mengundang kita untuk berpartisipasi secara aktif dalam menuai panenan: “Mintalah kepada tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu” (Mat 9:48). Oleh karena itu, marilah kita memohon kepada Allah untuk memberikan kepada kita rahmat untuk bekerja dengan-Nya selagi Dia “mengumpulkan buah untuk hidup yang kekal” (Yoh 4:36).

DOA: Bapa surgawi, kami berdoa untuk semua orang yang Engkau ingin kumpulkan dalam Gereja-Mu. Oleh Roh Kudus-Mu tolonglah kami untuk menjadi hamba-hamba-Mu yang setia, yang menyiapkan jalan bagi kedatangan kembali Putera-Mu terkasih, Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 21:5-11), bacalah tulisan yang berjudul “JANGANLAH KITA SAMPAI DIKUASAI OLEH RASA TAKUT” (bacaan tanggal 25-11-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-11 NOVEMBER 2014.

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Why 14:14-19), bacalah tulisan yang berjudul “TUAIAN DI BUMI” (bacaan tanggal 27-11-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 24 November 2014 [Peringatan S. Andreas Dung La, Imam dkk & Martir]

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS