ALLAH AKAN MEMENUHI SEGALA JANJI-JANJI-NYA

 (Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan II Adven – Rabu, 10 Desember 2014) 

the-prophet-isaiah-1729

Dengan siapa hendak kamu samakan Aku, seakan-akan Aku seperti dia? firman Yang Mahakudus. Arahkanlah matamu ke langit dan lihatlah: siapa yang menciptakan semua bintang itu dan menyuruh segenap tentara mereka keluar, sambil memanggil nama mereka sekaliannya? Satupun tiada yang tak hadir, oleh sebab Ia maha kuasa dan maha kuat.

Mengapa engkau berkata demikian, hai Yakub, dan berkata begini, hai Israel; “Hidupku tersembunyi dari TUHAN (YHWH), dan hakku tidak diperhatikan Allahku?” Tidakkah kautahu, dan tidakkah kaudengar? YHWH ialah Allah kekal yang menciptakan bumi dari ujung ke ujung; Ia tidak menjadi lelah dan tidak menjadi lesu, tidak terduga pengertian-Nya. Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya. Orang-orang muda menjadi lelah dan lesu dan teruna-teruna jatuh tersandung, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan YHWH mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah. (Yes 40:25-31) 

Mazmur Tanggapan: Mzm 103:1-4,8,10; Bacaan Injil: Mat 11:28-30

Seringkah Saudari dan Saudara mengharapkan sesuatu dan kemudian diakhiri dengan rasa kecewa, karena pengharapan anda tak terpenuhi? Saya juga cukup sering mengalami hal serupa. Barangkali kita mengharapkan supaya cuaca agak sedikit “kondusif” sehingga dengan demikian kita dapat melaksanakan acara kita sesuai dengan rencana-rencana kita, atau agar business deal kita berhasil hari ini. Barangkali kita mengharapkan agar “general check-up” kesehatan yang kita jalani hari ini akan menunjukkan hasil yang baik: kolesterol ok, gula darah ok, dst. Ketika mendengar bahwa seorang sahabat kita mengalami kecelakaan, kita berharap agar dia “selamat”, dst., dlsb. Dalam kasus-kasus ini kita “berharap” karena kita tidak mengetahui.

Tidak demikian halnya dengan kebajikan teologal “pengharapan”! “Katekismus Gereja Katolik” (KGK) mendefinisikan “Pengharapan” atau “Harapan” sebagai penantian dengan penuh kepercayaan akan berkat ilahi dan pandangan Allah yang membahagiakan (KGK, 2090). Pengharapan Kristiani didasarkan pada jaminan bahwa Allah akan memenuhi segala janji-janji-Nya. Ini adalah pengharapan yang didasarkan pada kepastian akan kesetiaan “seorang” Allah yang mengasihi.

Sebagai umat beriman, pengharapan kita bersumber pada penebusan kita dalam Kristus dan kedatangan-Nya kembali dalam kemuliaan seperti dijanjikan-Nya. Kitab Suci secara tetap berbicara mengenai pengharapan, mengingatkan kita akan kuat-kuasa Allah, kasih-Nya, dan kehadiran-Nya di tengah-tengah kita. Kita dapat membaca  seluruh Alkitab dalam terang janji-janji Allah dan belajar banyak mengenai pengharapan, dengan memohon Roh Kudus agar supaya menyatakan kepada kita rencana Allah yang kekal dan memberikan kepada kita suatu fondasi yang pasti untuk hidup kita. Allah tidak pernah akan meninggalkan dan membuang kita – bahkan ketika pengharapan-pengharapan kita tidak dijawab sesuai dengan yang kita ekspektasikan.

dietrich-bonhoefferAda seorang pendeta Kristen Lutheran berkebangsaan Jerman yang dihormati oleh Gereja Katolik, namanya Dietrich Bonhoeffer [1906-1945]. Sebagai seorang teolog, tulisan-tulisannya mengenai peranan umat Kristiani dalam dunia sekular dapat dikatakan memiliki pengaruh besar, dan tulisan-tulisan teologisnya berisikan sikapnya yang anti pemerintah Nazi. Salah satu bukunya yang banyak dibaca adalah tentang biaya kemuridan, yaitu “The Cost of Discipleship” (ini terjemahan Inggrisnya) yang menguraikan apa artinya mengikuti jejak Kristus dalam dunia modern di bawah pemerintahan yang lalim. Pada tahun 1943 Dr. Bonhoeffer ditangkap oleh penguasa Nazi dan dijebloskan ke dalam kamp konsentrasi dan kemudian mati pada tiang gantungan, hanya tiga minggu sebelum Adolf Hitler membunuh diri. Dalam penjara, Dr. Bonhoeffer menulis kepada seorang sahabatnya: “Bagi seorang Kristiani harus ada pengharapan yang didasarkan pada fondasi yang kokoh. Dan jika ilusi mempunyai begitu banyak kekuatan dalam kehidupan orang-orang dalam arti dapat membuat kehidupan itu bergerak, maka betapa besar pula kuat-kuasa yang ada dalam sebuah pengharapan yang didasarkan pada kepastian, dan betapa kokoh suatu kehidupan dengan suatu pengharapan sedemikian. ‘Kristus pengharapan kita’, rumusan Paulus ini adalah kekuatan kehidupan kita” (Surat-surat dan Tulisan-tulisan dari Penjara).

Bagaimana kita dapat mengalami karunia pengharapan? Kita harus menyadari bahwa hal ini dianugerahkan secara bebas oleh “seorang” Allah yang sangat menghasihi – satu dari karunia-karunia-Nya yang besar (1Kor 13:13). Selagi kita masuk ke dalam hadirat Allah melalui sabda-Nya, sakramen atau duduk di dekat kaki Yesus dalam doa pribadi, maka kita akan dipenuhi dengan pengharapan yang pasti berkenaan dengan keselamatan kita. Kemudian, selagi kasih Kristus mentransformir diri kita, maka kita dapat menanamkan pengharapan ini ke dalam diri orang-orang lain dan menemukan sebuah kebenaran yang indah: Semakin banyak pengharapan kita tunjukkan kepada orang-orang lain, semakin banyak pula karunia pengharapan yang kita terima.

DOA: Bapa surgawi, AllahYang Mahabaik, terima kasih penuh syukur kami haturkan kepada-Mu untuk karunia pengharapan yang Kauanugerahkan kepada kami masing-masing secara gratis. Biarlah Roh Kudus-Mu terus menjaga diri kami agar tetap berpengharapan, dan dapat menanamkan pengharapan tersebut kepada orang-orang lain yang kami jumpai. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 11:28-30),  bacalah  tulisan yang berjudul “YESUS MENGUNDANG KITA UNTUK MEMIKUL GANDAR-NYA DAN BELAJAR DARI DIA” (bacaan tanggal 10-12-14) dalam situs/blog  PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori 14-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2014.  

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Yes 40:25-31), bacalah tulisan yang berjudul “DIA MEMBERI KEKUATAN KEPADA YANG LELAH DAN MENAMBAH SEMANGAT KEPADA YANG TIADA BERDAYA” (bacaan tanggal 12-12-12) dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

Cilandak, 8 Desember 2014 [HARI RAYA SP MARIA DIKANDUNG TANPA NODA] 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS