YOHANES PEMBAPTIS DAN ELIA

(Bacaan Injil Misa Kudus, Peringatan S. Lusia, Perawan-Martir – Sabtu, 13 Desember 2014) 

john-baptist-lds-art-parson-39541-print

Lalu murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya, “Kalau demikian, mengapa ahli-ahli Taurat berkata bahwa Elia harus datang dahulu?” Jawab Yesus, “Memang Elia akan datang dan memulihkan segala sesuatu dan Aku berkata kepadamu: Elia sudah datang, tetapi orang tidak mengenal dia, dan memperlakukannya menurut kehendak mereka. Demikian juga Anak Manusia akan menderita oleh mereka.” Pada waktu itu mengertilah murid-murid Yesus bahwa Ia berbicara tentang Yohanes Pembaptis. (Mat 17:10-13) 

Bacaan pertama: Sir 48:1-4.9-11; Mazmur Tanggapan: Mzm 80:2-3,15-16,18-19 

Keadilan dan damai sejahtera; kebenaran dan kekudusan; rahmat dan pengampunan; cintakasih dan kebaikan: Bukankah hal-hal seperti ini yang sangat dibutuhkan oleh dunia? Masa Adven mengingatkan kita bahwa Allah telah berjanji untuk memulihkan segala sesuatu yang hilang disebabkan oleh dosa dan membuat semua hal menjadi baru lagi.

Para nabi diutus untuk menarik orang-orang kembali kepada Allah dan kepada jalan kekudusan-Nya dan keadilan-Nya. Elia adalah satu dari para nabi Perjanjian Lama yang paling besar. Dalam sebuah “kompetisi” dengan para nabi ilah Baal di gunung Karmel, Elia berdoa dan memohon kepada YHWH agar supaya menurunkan api guna membakar kurban bakaran yang dipersembahkannya. Permohonan yang ditujukan kepada ilah Baal dilakukan oleh para nabinya, namun tanpa hasil. Elia menunjukkan bahwa YHWH adalah Allah yang benar, Allah yang sejati. Karena itu banyak orang Israel berbalik kepada penyembahan sejati kepada-Nya. Para nabi ilah Baal yang berjumlah ratusan orang itu pun ditangkap dan dibunuh atas perintah sang nabi (1Raj 18:20-46).

Yohanes Pembaptis datang dengan “roh Elia” ini, dia menyulut hati orang-orang dengan suatu kegairahan untuk hidup kudus. Yohanes Pembaptis mewartakan pertobatan dan mempersiapkan Israel guna menyambut kedatangan sang Mesias, walaupun hal itu berarti berbicara melawan Raja Herodes Antipas dan menempatkan hidupnya sendiri dalam suatu situasi penuh risiko. Seperti juga Elia, Yohanes Pembaptis paling dikenal untuk keberanian dan kegairahannya dalam caranya mengikuti Tuhan.

Setiap orang Kristiani terbaptis dipanggil untuk ikut ambil bagian dalam misi kenabian Yesus. Melalui karunia-karunia  dan karya-karya Roh Kudus, kita masing-masing dapat menjadi orang-orang yang akan memulihkan kekudusan Alah dan keadilan-Nya di tengah dunia (lihat Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium tentang Gereja, 34; Katekismus Gereja Katolik, 901). Kita dapat saja tidak dipanggil seperti halnya dengan Elia dan Yohanes Pembaptis. Namun demikian, Allah mempunyai sebuah peran bagi masing-masing kita dalam kehidupan kita sehari-hari. Di tengah keluarga, di tempat kerja kita, atau di sekolah, kita dapat menjadi terang di tengah kegelapan, membawa orang kepada Yesus dan memberi kesaksian tentang kuat-kuasa Injil melalui kata-kata yang kita ucapkan, tindakan-tindakan kita, dan sikap-sikap kita.

Allah senantiasa siap untuk mentransformir kita dan memenuhi diri kita dengan kasih-Nya bela rasa-Nya. Pada masa Adven ini, marilah kita terus mendekatkan diri kita kepada-Nya, sambil memohon kepada-Nya untuk mengajar kita bagaimana menjadi suara-suara kenabian kepada dunia kita ini.

DOA: Datanglah Roh Kudus, dan bakarlah hatiku dengan api cintakasih Kristus, sehingga dengan demikian aku dapat turut serta menguduskan dunia bagi Allah dan mewartakan Injil kepada semua orang yang berkeinginan untuk mendengarnya. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mat 17:10-13), bacalah tulisan yang berjudul  “ELIA SUDAH DATANG” (bacaan tanggal 13-12-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2014. 

Cilandak, 10 Desember 2014 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS