APAKAH PENDAPATMU TENTANG PERUMPAMAAN INI?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa Pekan III Adven – Selasa, 16 Desember 2014) 

YESUS SEORANG PEMIMPIN YANG TEGAS“Tetapi apakah pendapatmu tentang ini: Seorang mempunyai dua anak laki-laki. Ia pergi kepada anak yang sulung dan berkata: Anakku, pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur. Jawab anak itu: Aku tidak mau. Tetapi kemudian ia menyesal dan pergi. Lalu orang itu pergi kepada anak yang kedua dan berkata demikian juga. Anak itu menjawab: Baik, Bapa, tetapi ia tidak pergi. Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?” Jawab mereka, “Yang pertama.” Kata Yesus kepada mereka, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan pelacur akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah. Sebab Yohanes datang untuk menunjukkan jalan kebenaran kepadamu, dan kamu tidak percaya kepadanya. Tetapi pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan pelacur percaya kepadanya. Meskipun kamu melihatnya, tetapi kemudian kamu tidak menyesal dan kamu tidak juga percaya kepadanya.”      (Mat 21:28-32) 

Bacaan pertama: Zef 3:1-2,9-13; Mazmur Tanggapan: Mzm 34:2-3,6-7,17-19,23 

“Sesungguhnya aku berkata kepadamu, pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan pelacur akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah” (Mat 21:31).

Sungguh mengagetkan kiranya bagi banyak pendengar pengajaran-Nya, ketika Yesus mengucapkan kata-kata ini, yaitu bahwa para pemungut pajak dan pelacur (perempuan sundal) lebih fit bagi Kerajaan Allah daripada para pemuka agama Yahudi (lihat perikop sebelumnya, yaitu Mat 21:23-27). Namun Yesus mengindikasikan, bahwa para “pendosa” ini telah belajar sebuah pelajaran yang sungguh crucial, yaitu kedalaman kebutuhan mereka. Kehidupan dosa para pemungut pajak, pelacur dll. membuat diri mereka tidak ragu-ragu lagi tentang ketiadaan kebenaran dalam diri mereka. Ketika Yesus datang mengajar tentang pertobatan dan pengampunan, banyak dari para pendosa itu tidak mempunyai masalah untuk mengakui kebutuhan mereka akan suatu kehidupan yang baru. Akan tetapi,  bagi banyak pemuka agama Yahudi, pesan Yesus mempunyai efek yang berlawanan. Para pemuka agama Yahudi ini telah berhasil mencapai posisi-posisi berstatus dalam masyarakat, dan kesombongan mereka telah lama menyaring bisikan-bisikan suara hati. Mereka bertanya – dalam hati paling sedikit –  siapakah sebenarnya Yesus ini? Hak apa yang dimiliki Yesus sehingga dia berani mengabaikan “senioritas” dan menantang tatanan masyarakat yang sudah rapih tersusun dan mapan?

Apakah kita selalu harus jatuh dalam-dalam dahulu sebelum kita mengakui akan kebutuhan-kebutuhan kita? Apakah kita perlu melompat ke dalam kegelapan yang teramat kelam, seperti para pemungut pajak/cukai dan pelacur, sebelum kita berteriak-teriak mencari terang cahaya? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini merisaukan banyak orang, teristimewa para orangtua. Apakah anak-anak kita harus mengalami “musim dosa” terlebih dahulu sebelum mereka sadar bahwa mereka membutuhkan seorang Juruselamat?

Hanya Allah-lah yang mengetahui jalan apa yang akan dipilih secara bebas oleh anak-anak kita, dan kita harus percaya kepada-Nya. Namun demikian, kita dapat bantu membentuk mereka menjadi orang-orang Kristiani yang biasa berdoa. Kita dapat menjelaskan kepada anak-anak kita siapa sesungguhnya mereka dan martabat agung yang dianugerahi Yesus atas diri mereka masing-masing. Kita dapat merangsang imajinasi mereka dengan menceritakan kepada mereka tentang cara-cara Allah manakala berurusan dengan manusia: tentang kelahiran Samuel yang penuh keajaiban, tentang misi Musa, tentang keberhasilan-keberhasilan dan kegagalan-kegagalan Daud ketika masih muda. Kita dapat bercerita kepada mereka tentang pengabdian Rut dan keberanian Yudit. Kita bahkan dapat menunjuk pada sifat impulsif dari Petrus dan kelancangan Paulus. Walaupun tidak ada yang sempurna, masing-masing mereka hidup untuk melakukan kehendak Allah.

Lebih baik lagi tentunya, marilah kita menceritakan kepada anak-anak kita mengenai perjalanan iman kita sendiri: Bagaimana Allah telah memimpin kita, mendisiplinkan kita, dan mengampuni kita. Baiklah kita mendorong serta menyemangati mereka agar membuka hati bagi Allah dan segala kemungkinan hidup bersama Dia. Hidup Kristiani adalah sebuah petualangan, dan Yesus memanggil anak-anak kita untuk berada bersama-Nya!

DOA: Tuhan Yesus, aku mengangkat ke hadapan-Mu semua keluarga di seluruh dunia. Kunjungilah mereka oleh kuasa Roh Kudus-Mu, dan mampukanlah semua orangtua agar dapat menjadi saksi-saksi hidup dari kemulian kehidupan bersama Engkau. Amin.

Catatan: Untuk mendalami bacaan Pertama hari ini (Zef 3:1-2,9-13),  bacalah tulisan yang berjudul “MARILAH KITA BERBALIK DARI KEHIDUPAN DOSA” (bacaan tanggal 16-12-14) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2014.

Cilandak, 14 Desember 2014 [HARI MINGGU ADVEN III] 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS