DENGAN KASIH-NYA YANG SEMPURNA ALLAH INGIN MEMBUANG RASA TAKUT KITA 

(Bacaan Injil Misa Kudus, HARI MINGGU ADVEN IV [Tahun B], 21 Desember 2014) 

ANNUNCIATION - MARIA DIBERI KABAR OLEH MALAIKAT TUHAN -1000Dalam bulan yang keenam malaikat Gabriel disuruh Allah pergi ke sebuah kota yang bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. Ketika malaikat itu datang kepada Maria, ia berkata, “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.”  Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya, “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh anugerah di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapak leluhur-Nya, dan Ia akan memerintah atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.”  Kata Maria kepada malaikat itu, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” Jawab malaikat itu kepadanya, “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. Sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.”  Kata Maria, “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia. (Luk 1:26-38) 

Bacaan Pertama: 2Sam 7:1-5,8b-12,14a,16; Mazmur Tanggapan: Mzm 89:2-5,27,29; Bacaan Kedua Rm 16:25-27 

Banyak pelajaran yang dapat kita peroleh dari bacaan Injil hari ini. Salah satunya adalah bahwa pertemuan antara Maria dan malaikat Gabriel juga menunjukkan bahwa oke-lah untuk sekali-sekali merasa takut atau khawatir atau cemas. Lukas mencatat bahwa Maria terkejut mendengar perkataan sapaan salam sang malaikat, lalu bertanya dalam hatinya, apakah arti salam itu (Luk 1:29). Bahkan Yesus pun kadang-kadang mengalami rasa takut. Berbicara mengenai penyaliban atas diri-Nya yang segera terjadi, Yesus mengatakan: “Sekarang jiwa-Ku terharu dan apakah yang akan Kukatakan? Bapa selamatkanlah Aku dari saat ini? Tidak, sebab untuk itulah Aku datang ke dalam saat ini” (Yoh 12:27). Walaupun begitu, Yesus berketetapan hati untuk melakukan kehendak Bapa-Nya dan bukan kehendak-Nya sendiri. Dalam bacaan Injil hari ini kita melihat bahwa Maria pun begitu kaget mendengar pemberitahuan malaikat Gabriel. (Terjemahan Inggris dari bahasa Yunani-nya mungkin lebih akurat: … she was greatly troubled at the saying [RSV]; … she was greatly troubled at what was said [NAB]).

ANNUNCIATION - 1Maria mengalami emosi-emosi yang sama seperti kita. Namun ia juga memperkenankan iman dan rasa percaya pada Allah berada di tempat yang paling atas. Dalam menghadapi kabar yang tidak biasanya dan juga mengejutkan serta terdengar tidak masuk akal sehatnya – termasuk utusan yang tidak biasa ini – dalam iman, Maria menarik kesimpulan bahwa kelahiran ajaib yang dikatakan sang malaikat tetap mungkin karena datang dari Allah sendiri. Maria berpikir bahwa Allah tidak akan meninggalkan dirinya, walaupun panggilan kepada dirinya dari Allah adalah sesuatu yang jauh melampaui ekspektasi manusia rata-rata.

Dari perspektif iman, Maria mampu untuk menjawab Gabriel dalam bahasa iman yang rendah hati: “Jadilah padaku menurut perkataanmu ini” (Luk 1:38). Tanpa sedikit pun meminta suatu tanda konfirmasi, Maria mengambil risiko berkaitan dengan nasib perkawinannya dengan Yusuf dan dia menerima kemungkinan besar dihukum rajam karena alasan perzinahan. Maria telah menyerahkan seluruh kehendaknya kepada kehendak Allah, dengan demikian rasa takut tidak pernah menguasai dirinya.  Bagi Maria, Allah adalah baik, satu-satunya yang baik, sumber segala kebaikan.

Nah, sekarang bagaimana kita (anda dan saya) menangani rasa takut kita? Apakah kita menangani rasa takut kita seperti yang dilakukan oleh Maria? Atau, apakah rasa takut itu terasa menindih atau menciutkan iman kita? Apakah rasa cemas atau kekhawatiran kita mengerosi rasa percaya kita pada kebaikan hati Allah? Dalam hal ini baiklah kita merenungkan apa yang ditulis oleh Yohanes dalam salah satu suratnya: “Di dalam kasih tidak ada ketakutan: Kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan siapa yang takut, ia tidak sempurna di dalam kasih” (1Yoh 4:18).

Akan tetapi, Allah ingin membuang rasa takut kita dengan kasih-Nya yang sempurna. Dia ingin menyempurnakan kita dan mengajar kita untuk bertindak seperti yang  dilakukan Maria. Allah ingin memberikan kepada kita segala karunia dan berkat yang telah diberikan-Nya kepada Maria. Allah ingin menyakinkan kita bahwa apa pun yang diinginkan untuk dilakukan-Nya dalam diri kita akan menghasilkan yang terbaik, sepanjang kita bekerja sama dengan Dia. Jadi, oke-lah untuk merasa takut atau gugup. Namun, janganlah pernah kita lupakan bahwa Allah adalah baik, satu-satunya yang baik, sumber segala kebaikan, walaupun kita tidak memiliki kepastian apa yang diinginkan-Nya dari diri kita.

DOA: Ya Allahku, jagalah agar imanku tidak berdiri atas pasir perasaan yang terus bergerak. Buatlah agar aku mau dan mampu menaruh kepercayaan pada kekokohan kebaikan dan kasih-Mu kepadaku. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Luk 1:26-38), bacalah bacaan dengan judul “ANAK ALLAH YANG MAHATINGGI” dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2014. 

Cilandak, 17 Desember 2014 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS