nativity_scene_murillo

Natal Mendamaikan dan Memberi Harapan

Franz Magnis-Suseno – Rohaniwan *) 

SETIAP tahun di malam dan siang tanggal 25 Desember, umat  Kristen Indonesia bersama umat Kristen di seluruh dunia merayakan Natal. Namun, kini kita harus membedakan. Sudah sejak beberapa minggu mal-mal di mana saja penuh dengan atribut Natal, di antaranya ada pohon Natal dan Santa (Sinterklas) dengan topi merah. 

Namun, atribut itu semua tidak ada kaitannya dengan misteri yang dirayakan umat Kristen pada Hari Natal. Atribut-atribut tersebut sebenarnya sisa-sisa zaman kekafiran prakristiani yang merayakan 25 Desember sebagai hari matahari mulai lagi naik lebih tinggi di cakrawala. Sekarang atribut-atribut itu sudah merangsang konsumerisme masyarakat. 

Yang betul-betul dirayakan umat Kristen pada Hari Natal ialah kelahiran Yesus. Dalam Injil ditulis, Maria melahirkan di Betlehem, tetapi terpaksa meletakkan bayi itu dalam palungan ternak, di sebuah kandang. 

Rupa-rupanya, Yusuf dan Maria, orangtua Yesus, terlalu miskin untuk membayar ongkos di penginapan. Kandang seperti itulah yang di waktu Natal dibangun di banyak gereja dalam bentuk ‘gua Natal’ yang dihias bagus-bagus. 

Umat Kristen memperingati kelahiran Yesus dengan hati gembira dan terharu karena ia percaya bahwa dalam bayi itu Tuhan sendiri masuk ke dunia. Manusia tidak lagi sendirian berhadapan dengan segala masalah, malapetaka, kedosaan, kengerian. Ternyata Tuhan beserta kita (arti nama Emmanuel). 

Dengan memandang saja gua denggan Yusuf, Maria, dan jabang bayi Yesus mata hati orang beriman menjadi terbuka. Ia menangkap bahwa Tuhan tidak datang melalui kekuasaan, kekayaan, kemewahan, bahwa Tuhan tidak perlu memamerkan kekuatan. 

Tempat Tuhan justru di antara orang kecil dan miskin. Yang besar di hadapan manusia tidak besar di hadapan Allah dan yang besar di hadapan Allah ialah kecil dan ‘tak berarti’ di hadapan manusia. 

Dengan melihat jabang bayi itu, pendoa dapat kagum terharu. Bukankah bayi adalah manusia paling tidak berdaya, yang seluruhnya bergantung pada kebaikan orang lain? Tuhan, kok, berani ambil risiko itu? Demi kita! Kita bisa mulai menyadari bahwa kasih lebih kuat daripada kebencian dan pengampunan lebih kuat daripada balas dendam. 

Ada pesan sangat mendalam dalam peristiwa Natal, yatu bahwa kalau kita mau diberkati Tuhan, kita mesti melepaskan segala sikap sombong, arogan, keras, curiga, iri, dan dendam. 

Tanda kedekatan dengan Tuhan ialah kalau orang gembira karena kebaikan, kalau ada kasih, keramahan, kesediaan untuk memaafkan dan untuk mohon maaf, rasa belas kasih, dan solidaritas dengan mereka yang miskin, sakit, dan menderita. 

Natal berpesan bahwa keagamaan hanya benar kalau memancarkan kebaikan, cinta kasih, belas kasihan, dan pengampunan. Bahwa agama harus muncul dalam bentuk yang tidak menakutkan, tidak mengintimidasi, dengan bersih dari segenap kekerasan. 

Natal mendorong agama-agama untuk, di mana pun, menjadi unsur yang memperdamaikan dan memberi harapan. 

*) Diambil dari MEDIA INDONESIA – RABU, 24 DESEMBER 2014/ NO. 12290/ TAHUN XLV/ halaman 1.