BELAJAR UNTUK MENGGANTUNGKAN DIRI PADA YESUS

(Bacaan Pertama Misa Kudus, PESTA YOHANES RASUL-PENULIS INJIL, Oktaf Natal – Sabtu, 27 Desember 2014) 

st john

Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup – itulah  yang kami tuliskan kepada kamu. Hidup itu telah dinyatakan, dan kami telah melihatnya dan sekarang kami bersaksi dan memberitakan kepada kamu tentang hidup kekal, yang ada bersama-sama dengan Bapa dan telah dinyatakan kepada kami. Apa yang telah kami lihat dan telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamu pun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus. Semuanya ini kami tuliskan kepada kamu supaya  sukacita kami menjadi sempurna. (1Yoh 1:1-4)

Mazmur Tanggapan: Mzm 97:1-2,5-6,11-12; Bacaan Injil: Yoh 20:2-8  

Pada hari ini kita merayakan pesta Santo Yohanes, rasul dan penulis Injil. Barangkali hidup kesalehan di kalangan umum dan kesenian Kristiani juga salah dengan membuat diri sang rasul kelihatan lemah dan sentimental.  Secara tradisional, Yohanes diidentifikasikan dengan “murid yang dikasihi Yesus” yang bersandar di dekat Yesus, di sebelah kanan-Nya pada perjamuan terakhir (lihat Yoh 13:23). Jika “murid yang dikasihi Yesus” itu sungguh adalah Yohanes, saudara dari Yakobus, maka kecil kemungkinannya bahwa dia adalah seorang anak emas sang Guru.

st-johnYohanes rasul adalah seorang yang memiliki kemauan keras dan berpendirian keras pula, dan dia juga memiliki keberanian. Ia juga memiliki sisi gelap seperti kita semua, yaitu haus akan kekuasaan. Bersama saudaranya, Yakobus, dia mencoba untuk memperoleh tempat terhormat di samping Yesus (lihat Mat 20:28; Mrk 10:35-45). Yohanes ini pula yang bersama Yakobus berniat untuk menurunkan api dari langit  untuk “menghabiskan” orang-orang yang menolak Yesus di sebuah desa Samaria (lihat Luk 9:54). Dari sebab itu bagaimana mungkin orang ini (Yohanes) menjadi seorang murid yang ideal? Jawabnya: Karena segala sesuatu yang Yohanes telah “lihat dan dengar” selagi dia hidup dengan Yesus (1Yoh 1:3).

Siapakah yang merupakan seorang murid Yesus yang ideal? Dia – seperti Yohanes – yang telah mengalami perjumpamaan susul-menyusul dengan Yesus dan memperkenankan kasih sempurna dari Yesus mengkonfrontir dan mengubah kodratnya yang cenderung berdosa. Yohanes sangat menyadari kebutuhannya akan seorang Juruselamat. Dari salah satu suratnya kita dapat membaca pengakuannya: “Jika kita berkata bahwa kita tidak pernah berbuat dosa, maka kita membuat Dia menjadi pendusta dan firman-Nya tidak ada di dalam kita” (1Yoh 1:10). Dengan mengatakan bahwa diri kita berdosa, maka sama saja artinya kita menipu diri kita sendiri.

Karena Yohanes mengetahui kebutuhannya, maka dia belajar untuk menggantungkan diri pada Yesus, bukan menggantungkan diri pada dirinya sendiri. Dia belajar untuk menaruh kepercayaan pada hikmat Yesus daripada pada hikmatnya sendiri, dan untuk memperhatikan hasrat-hasrat Yesus daripada hasrat-hasratnya sendiri. Kita tidak dapat berpikir bahwa hanya pada perjamuan terakhir Yohanes bersender pada Yesus.

stations3-12Dengan bebas Yohanes menerima segala sesuatu dari Yesus, dan dengan bebas pula dia memberi kepada orang-orang lain apa saja yang dimiliki-Nya. Perjumpaannya dengan Yesus yang berulang-ulang mengubah/mentransformasikan Yohanes menjadi seorang saksi Injil yang kokoh-kuat. Yohanes juga adalah seorang “model” bagi kita semua. Jika tidak mengenal dan mengalami kasih Yesus dengan cara yang semakin mendalam, apa yang akan membuat kita bertahan dalam mewartakan Injil dalam sebuah dunia yang semakin hiruk pikuk dengan hal-hal lain yang sekilas lintas jauh lebih menarik dilihat dari mata dunia? Bagaimana kita dapat memproklamasikan dengan penuh keyakinan bahwa Yesus adalah Tuhan dan sang Juruselamat dunia?

Kita-manusia sungguh diberkati dengan kedatangan Yesus – Putera Allah yang tunggal – di tengah-tengah kita! Kita sekarang dapat mengalami kuat-kuasa-Nya yang dapat mentransformasikan hidup masing-masing pribadi manusia secara dramatis, seperti yang telah dilakukan-Nya atas diri Yohanes rasul.

Saudari dan Saudaraku yang dikasihi Kristus, sementara kita melanjutkan perayaan Natal kita, marilah kita mengkomit diri kita kembali kepada Yesus, mempraktekkan ketergantungan kita pada-Nya, dan mendedikasikan diri kita untuk pewartaan Injil-Nya. 

DOA: Tuhan Yesus, aku sungguh ingin mengenal Engkau dan mengalami Engkau secara lebih mendalam lagi. Nyatakanlah diri-Mu kepadaku secara lebih jelas lagi. Aku sungguh membutuhkan Engkau, ya Guru dan Juruselamatku! Berdayakanlah diriku agar mau dan mampu menjadi seorang saksi-Mu yang tangguh bagi dunia di sekelilingku. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami bacaan Injil hari ini (Yoh 20:2-8), bacalah tulisan berjudul “MURID YANG DIKASIHI YESUS” (bacaan tanggal 27-12-14); dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 14-12 PERMENUNGAN ALKITABIAH DESEMBER 2014. 

Cilandak, 26 Desember 2014 [Pesta S. Stefanus, Martir Pertama] 

 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS

Advertisements