JIKA KITA BERADA BERSAMA YESUS, APA YANG HARUS DITAKUTI?

(Bacaan Injil Misa Kudus, Hari Biasa sesudah Penampakan Tuhan – Rabu, 7 Januari 2015) 

YESUS BERJALAN DI ATAS AIR - 600Sesudah itu Yesus segera mendesak murid-murid-Nya naik ke perahu dan berangkat lebih dahulu ke seberang, ke Betsaida, sementara itu Ia menyuruh orang banyak pulang. Setelah berpisah dari mereka, Ia pergi ke bukit untuk berdoa. Menjelang malam perahu itu sudah di tengah danau, sementara Yesus tinggal sendirian di darat. Ketika Ia melihat betapa payahnya mereka mendayung karena angin sakal, maka kira-kira jam tiga malam Ia datang kepada mereka berjalan diatas air dan hendak melewati mereka. Ketika mereka melihat Dia berjalan di atas air, mereka mengira bahwa Ia hantu, lalu mereka berteriak-teriak, sebab mereka semua melihat Dia dan mereka pun sangat terkejut. Tetapi segera Ia berkata kepada mereka, “Tenanglah! Inilah Aku, jangan takut!” Lalu Ia naik ke perahu mendapatkan mereka, dan angin pun reda. Mereka sangat tercengang, sebab mereka belum juga mengerti walaupun sudah mengalami peristiwa roti itu, dan hati mereka tetap tidak peka. (Mrk 6:45-52) 

Bacaan Pertama: 1Yoh 4:11-18; Mazmur Tanggapan: Mzm 72:2,10-13

Setelah rasa lapar orang banyak dipuaskan, Yesus langsung mendesak para murid-Nya untuk pergi sebelum Ia membubarkan orang banyak. Mengapa Yesus harus berbuat seperti itu? Markus tidak menceritakan apa alasan Yesus, namun mungkin sekali kita mendapat jawabannya justru dalam narasi di Injil Yohanes. Yohanes menceritakan kepada kita bahwa setelah orang banyak diberi makan ada gerakan untuk mengambil Yesus dan membuat-Nya menjadi raja (Yoh 6:14-15). Hal itu merupakan hal terakhir yang dihasrati oleh Yesus. Menjadi raja dengan segala kekuasaan duniawi adalah hal yang ditolak oleh-Nya mentah-mentah. Yesus menolaknya ketika Dia digoda di padang gurun oleh Iblis (lihat Mat 4:8-10; bdk. Luk 4:5-8). Yesus memang melihat masalah ini akan muncul. Ia tidak ingin para murid-Nya terkontaminasi oleh ide atau pemikiran yang terkait erat dengan gerakan nasionalistis-revolusioner di antara umat Israel. Seperti kita ketahui, Galilea adalah tempat orang-orang revolusioner melawan penjajahan Roma. Poros gerakan kaum Zeloti adalah Galilea. Dengan demikian bukan tanpa alasanlah mengapa Yesus menyuruh para murid-Nya untuk pergi sebelum orang banyak yang sedang mendengarkan khotbah-Nya dibubarkan. Kalau tidak demikian, hati para murid-Nya dapat saja dibakar oleh gerakan revolusioner ini. Yesus lalu menyuruh orang banyak untuk pulang.

JESUS PRAYINGSetelah berpisah dengan orang banyak itu, Yesus pergi ke bukit untuk berdoa, sendiri. Banyak masalah yang tentunya bermunculan dalam pikiran dan hati-Nya. Sikap keras para pemuka agama dalam menentang Dia dan ajaran-ajaran-Nya. Ada kecurigaan penuh rasa takut dari Herodus Antipas, dan ada pula orang-orang revolusioner yang ingin membuat diri-Nya menjadi seorang Mesias-nasionalistis, suatu hal yang melawan kehendak-Nya sendiri. Pada saat itu sungguh banyak masalah yang ada dalam pikiran Yesus dan hati-Nya jelas berbeban berat.

Seperti biasanya, Yesus menyediakan waktu  berada bersama Bapa untuk berjam-jam lamanya. Lalu dari atas bukit Yesus melihat betapa payahnya para murid-Nya mendayung karena angin sakal. Waktu untuk berdoa selesai, tibalah sekarang waktu untuk mengambil tindakan! Yesus adalah a man of action. Yesus melupakan keselamatan diri-Nya dan pergi untuk menolong para murid-Nya yang adalah sahabat-sahabat terdekat yang dimiliki-Nya. Inilah Yesus. Bagi-Nya, jeritan manusia yang membutuhkan pertolongan mengatasi semua klaim lainnya. Sekarang, para sahabat-Nya membutuhkan pertolongan-Nya, oleh karena itu Dia harus pergi untuk menolong mereka.Kira-kira jam tiga malam Ia datang kepada para murid-Nya dengan berjalan di atas air (Mrk 6:48).

Apa yang sesungguhnya terjadi kita tidak tahu, dan tidak akan tahu setepat-tepatnya. Cerita ini diselimuti misteri yang memang sulit untuk dijelaskan. Yang kita tahu adalah bahwa Yesus mendatangi mereka, sampai-sampai para murid-Nya menyangka Dia hantu. Yesus  segera berkata kepada mereka, “Tenanglah! Inilah Aku, jangan takut!” Lalu Ia naik ke perahu mendapatkan mereka, dan angin pun reda (Mrk 6:50-51). Jika berada bersama Dia, para murid pun merasa nyaman, tanpa takut atau khawatir sedikit pun.

ahippoSanto Augustinus dari Hippo [354-430] menulis sehubungan dengan bacaan ini: “Ia datang dengan melangkahi gelombang-gelombang ombak; dengan demikian Ia menempatkan semua huru-hara kehidupan, yang seperti gelombang besar, di bawah kaki-kaki-Nya. Umat Kristiani – mengapa harus takut?” Ini adalah kenyataan hidup sederhana, suatu kenyataan yang telah dibuktikan oleh umat Kristiani – baik perempuan maupun laki- laki – yang tak terhitung jumlahnya di setiap generasi, yaitu bahwa manakala Kristus ada di sana, maka badai pun mereda, huru-hara pun berubah menjadi damai-sejahtera, apa yang tidak dapat dilaksanakan menjadi terlaksana, beban yang tak dapat ditanggung menjadi dapat ditanggung. Untuk berjalan bersama dengan Kristus, bagi kita juga berarti membuat badai yang mengamuk menjadi tenang kembali.

DOA: Tuhan Yesus, pada saat-saat aku dibebani oleh rasa takut, perkenankanlah Roh Kudus-Mu mengingatkan aku akan sabda-Mu yang menyejukkan: “Tenanglah! Inilah Aku, jangan takut!” Terima kasih Tuhan Yesus, Engkau adalah sungguh Imanuel yang senantiasa menyertai umat-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (1Yoh 4:11-18), bacalah tulisan yang berjudul “KETERGANTUNGAN KITA PADA KASIH ALLAH” (bacaan tanggal 7-1-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2015. 

Cilandak, 2 Januari 2014 [Peringatan S. Blasius Agung dan Gregorius dr Nazianzen, Uskup & Pujangga Gereja] 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS