KETURUNAN ABRAHAM YANG IA PEDULIKAN

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Rabu,  14 Januari 2015

Keluarga Besar Fransiskan: Peringatan B. Odorikus dr Pordenone, Imam Biarawan 

images (1)Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan turut mengalami keadaan mereka supaya melalui kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis yang berkuasa atas maut. Dengan demikian, Ia membebaskan pula mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan karena takutnya kepada maut. Sebab sesungguhnya, bukan malaikat-malaikat yang Ia pedulikan, tetapi keturunan Abraham yang Ia pedulikan. Itulah sebabnya, dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya, supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa umat. Karena ia sendiri telah menderita ketika dicobai, maka Ia dapat menolong mereka yang sedang dicobai. (Ibr 2:14-18)

Mazmur Tanggapan: Mzm 105:1-4,6-9; Bacaan Injil: Mrk 1:29-39 

“Sebab sesungguhnya, bukan malaikat-malaikat yang Ia pedulikan, tetapi keturunan Abraham yang Ia pedulikan”  (Ibr 2:16).

Lewat inkarnasi-Nya, artinya dengan menjadi manusia seperti kita, Yesus memiliki kepedulian istimewa terhadap umat manusia; Dia merangkul kepenuhan kondisi kita dan membangkitkan kita untuk hidup bersama-Nya di dalam surga.

Sepanjang hidup-Nya di dunia, dengan cara yang penuh kelemah-lembutan Yesus menyatakan  bahwa Dia ingin “memiliki” kita masing-masing. Ia datang ke tengah dunia tidak sebagai seorang raja yang penuh kemuliaan, melainkan sebagai seorang bayi tak berdaya yang lahir di tengah sebuah keluarga miskin-sederhana. Daripada menguasai kita dengan kekuatan yang penuh kekerasan atau melingkupi diri kita dengan pameran kekuasaan, Dia merendahkan diri-Nya. Dengan syering kodrat-manusia kita, Yesus juga mengundang kita untuk ikut ambil bagian dalam kodrat ilahi-Nya.

JESUS PRAYINGYesus tidak memiliki kita agar supaya menghukum kita atau memurnikan kita. Dia datang untuk membebaskan kita dari dosa, untuk memberikan kepada kita hidup-Nya sendiri, dan membuat kita semua menjadi saudari dan saudara-Nya. Ingatlah bagaimana Yesus memegang Petrus yang mulai tenggelam (Mat 14:30-31), atau bagaimana Dia memerintahkan kepada orang yang mati tangannya: “Ulurkanlah tanganmu!”  (Luk 6:6-10). Ini bukanlah pegangan erat-erat dari seorang dewa/ilah yang banyak menuntut, melainkan pegangan kuat dari seorang sahabat dan saudara.

Pada waktu Yesus wafat di kayu salib,  Ia memegang kita masing-masing, dan membawa kita bersama-Nya melalui kematian kepada kebangkitan. Ketika Dia naik ke surga, Yesus masih memegang kita, dengan hasrat sepenuh hati-Nya agar kita bergabung bersama-Nya. Kemudian, dari takhta-Nya di surga, Yesus mengirim Roh Kudus agar kita dapat mengalami sentuhan tangan-Nya setiap hari sepanjang hidup kita.

Yesus tidak akan pernah membiarkan kita pergi. Kita dapat percaya bahwa tangan Yesus tetap ada di atas kita. Manakala kita membaca merenungkan sabda Allah dalam Kitab Suci, ketika kita berada di tengah Misa Kudus, ketika kita memelihara dan merawat anak-anak kita, bahkan ketika kita tidur, kita harus merasa yakin bahwa Dia ada bersama kita, tersenyum kepada kita, memegang kita erat-erat dekat hati-Nya.

DOA: Tuhan Yesus, tolonglah aku agar dapat memahami secara lebih mendalam bahwa Engkau telah menempatkan diriku dalam hati-Mu sejak awal mula. Selagi aku menjalani hidupku sehari-hari, tolonglah aku agar lebih menyadari akan kehadiran-Mu dan lebih yakin bahwa aku dapat ikut ambil bagian dalam hidup kekal-Mu. Amin.

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 1:29-39), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS DATANG UNTUK MEMBAWA KESELAMATAN” (bacaan tanggal 14-1-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2015. 

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Ibr 2:14-18), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS ADALAH IMAM BESAR AGUNG KITA” (bacaan tanggal 16-1-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM.

Cilandak, 7 Januari 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS