MENARUH KEPERCAYAAN KEPADA ALLAH

(Bacaan Pertama Misa Kudus, Hari Biasa Pekan Biasa I – Kamis, 15 Januari 2015)

wandering-in-wilderness-257146

Sebab itu, seperti yang dikatakan Roh Kudus, “Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu seperti dalam pemberontakan pada waktu pencobaan di padang gurun, di mana nenek moyangmu mencobai Aku dengan menguji Aku, sekalipun mereka melihat perbuatan-perbuatan-Ku, empat puluh tahun lamanya. Itulah sebabnya Aku murka kepada orang-orang itu, dan berkata: Selalu mereka sesat hati dan mereka tidak mengenal jalan-Ku, sehingga Aku bersumpah dalam murka-Ku: Mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Ku.”

Waspadalah, Saudara-saudara, supaya di antara kamu jangan terdapat seorang pun yang hatinya jahat dan tidak percaya sehingga murtad dari Allah yang hidup. Tetapi nasihatilah seorang akan yang lain setiap hari, selama masih dapat dikatakan “hari ini”, supaya jangan ada di antara kamu yang menjadi tegar hatinya karena tipu daya dosa. Karena kita telah menjadi bagian dari Kristus, asal saja kita berpegang teguh sampai akhirnya pada keyakinan iman kita yang semula. (Ibr 3:7-14)

Mazmur Tanggapan: Mzm 95:6-11; Bacaan Injil: Mrk 1:40-45 

“Surat kepada Orang Ibrani” mengarahkan pikiran-pikiran kita ke Mzm 95:7-11 yang berbicara tentang kemarahan Allah terhadap orang-orang Israel yang memberontak melawan Dia di padang gurun (Ibr 3:7-11). “Mereka takkan masuk ke tempat perhentian-Ku” (Mzm 95:11) atau kalau seturut teks IBADAT HARIAN: “Mereka takkan beristirahat bersama Aku” (Pembukaan IBADAT HARIAN).  Di sini kita dapat cenderung untuk berpikir bahwa hukuman  atas mereka yang tidak taat (dengan tidak memperkenankan mereka masuk ke tanah terjanji, lewat kematian) adalah hukuman yang terlalu keras. Mentalitas modern kita dengan cepat membela mereka: mereka telah melakukan perjalanan jauh melalui padang gurun di bawah  berbagai kondisi sulit. Barangkali Allah dapat lebih “lunak” dalam memperlakukan mereka; bagaimana pun juga mereka kan percaya pada-Nya?

Perspektif Allah, di lain pihak, jauh lebih mencerahkan: “…… mereka melihat perbuatan-perbuatan-Ku, empat puluh tahun lamanya” (Ibr 3:9). Untuk empat puluh tahun lamanya Allah memberi segalanya yang diperlukan kepada Israel untuk ditanggapi dengan kesetiaan. YHWH mengetahui bahwa apabila mereka memusatkan mata dan hati mereka kepada-Nya, maka dengan mudah mereka dapat bertahan. Tahun-tahun orang-orang Israel berada di padang gurun sesungguhnya dapat menjadi suatu masa penuh dengan pengharapan akan pemenuhan janji-janji Allah; hari-hari mereka dimaniskan dengan pengetahuan dan pengenalan yang lebih mendalam tentang Allah. Sebaliknya, mereka memusatkan perhatian mereka pada permohonan mereka, bukannya sabda Allah kepada mereka. Sebagai akibatnya, keyakinan mereka bergeser dari janji-janji Allah kepada solusi-solusi mereka sendiri yang amat terbatas.

6355b9ffb81f3e1ba0990eb052072551c98f2b5bPengarang  “Surat kepada Orang Ibrani” mengatakan, bahwa jika menaruh kepercayaan kepada Allah itu penting di bawah Perjanjian Lama, maka hal tersebut lebih penting lagi di bawah Perjanjian Baru. Yang telah diberikan kepada kita melalui darah Yesus yang dicurahkan di bukit Kalvari bahkan jauh lebih berharga daripada perjanjian yang diberikan di gunung Sinai melalui Musa, karena apa yang terjadi di bukit Kalvari melibatkan kehidupan dan kematian Putera Allah sendiri. Dalam terang kenyataan ini, kita diminta untuk “berpegang teguh sampai akhirnya pada keyakinan iman kita yang semula” (Ibr 3:14).

Sebagai orang-orang yang beriman kepada Kristus, ada banyak hal yang membuat kita yakin. Kepada orang-orang Israel – turunan Adam – diberikan perintah-perintah guna membimbing mereka menuju persatuan dengan Allah dan kemanusiaan yang telah didirikan-Nya. Kita berada dalam persatuan dengan Bapa surgawi dan dapat taat kepada-Nya karena – melalui Roh Kudus – Kristus sendiri hidup dalam diri kita: … “kita telah menjadi bagian dari Kristus” (Ibr 3:14).

Surat yang ditujukan kepada sekelompok umat Kristiani ex Yahudi ini menandaskan bahwa tidak ada alasan bagi mereka untuk menjadi goyah. Seakan sang pengarang mengatakan begini: Pandanglah Kristus, bukan dirimu sendiri. Hati kita dapat setia kepada Dia yang mengasihi kita bilamana kita memusatkan pandangan kita pada Kristus dan melalui Dia-lah kita memelihara rasa keyakinan kita pada Allah sampai titik akhir.

DOA: Roh Kudus Allah, bangunlah rasa percaya kami akan kuasa dari janji-janji Yesus. Dalam kuasa-Mu ikatlah kami semua kepada Bapa di surga. Jangan sampai ada yang jatuh-tercecer. Ukirlah kebenaran-kebenaran-Mu pada hati kami masing-masing dan tolonglah kami untuk menggunakan iman kami agar dapat mendorong orang-orang lain datang kepada Allah Tritunggal Mahakudus, Bapa dan Putera dan Roh Kudus. Amin.  

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 1:40-45), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS MENYEMBUHKAN SEORANG KUSTA” (bacaan tanggal 15-1-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2015. 

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Ibr 3:7-14), bacalah tulisan yang berjudul “HARI INI, JIKA KAMU MENDENGAR SUARA-NYA” (bacaan tanggal 17-1-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

Cilandak, 7 Januari 2015  

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS