IMAM UNTUK SELAMA-LAMANYA, MENURUT ATURAN MELKISEDEK

 (Bacaan Pertama Misa Kudus, Peringatan S. Agnes, Perawan & Martir – Rabu, 21 Januari 2015)

HARI KEEMPAT PEKAN DOA SEDUNIA 

Melchizedek_Abraham

Melkisedek adalah raja Salem dan imam Allah Yang Mahatinggi; ia pergi menyongsong dan memberkati Abraham ketika Abraham kembali dari peperangan mengalahkan raja-raja. Kepada dia pun Abraham memberikan sepersepuluh dari semuanya. Nama Melkisedek pertama-tama berarti raja kebenaran, dan juga raja Salem, yaitu raja damai sejahtera. Ia tidak berbapak, tidak beribu, tidak bersilsilah, harinya tidak berawal dan hidupnya tidak berkesudahan, dan karena ia dijadikan sama dengan Anak Allah, ia tetap menjadi imam sampai selama-lamanya.

Hal itu jauh lebih nyata lagi, jikalau ditetapkan seorang imam lain seperti Melkisedek, yang mengjadi imam bukan berdasarkan peraturan-peraturan manusiawi, tetapi berdasarkan kuasa hidup yang tidak dapat binasa. Sebab tentang Dia diberi kesaksian, “Engkaulah Imam untuk selama-lamanya, menurut aturan Melkisedek. (Ibr 7:1-3,15-17)

Mazmur Tanggapan: Mzm 110:1-4; Bacaan Injil: Mrk 3:1-6

Melkisedek adalah Raja Salem dan sekaligus imam Allah Yang Mahatinggi, yang memberkati Abraham (Abram; Kej 14:17-18) ketika dia kembali dari pertempuran mengalahkan Raja Kedorlaomer dkk. Dalam hukum Yahudi, jabatan imam disediakan bagi mereka yang memiliki garis keturunan  Lewi, dimulai dengan keluarga Harun (lihat Im 8:1-13). Sekali ditahbiskan, seorang imam Yahudi tetap dalam jabatannya sampai akhir hayatnya. Akan tetapi, imamat Melkisedek berbeda dengan imamat Yahudi dalam dua hal: Ia bukan dari garis keturunan Lewi (yang malah belum dilahirkan), dan dikatakan dia tidak pernah mati.

Bagaimana jadinya kalau begitu? Seturut tradisi para rabi (Inggris: rabbinic tradition), apa saja yang tidak disebutkan dalam Taurat (lima kitab pertama dalam Kitab Suci Perjanjian Lama) berarti tidak pernah ada. Dalam Taurat itu memang tidak disebutkan tentang nenek moyang, kelahiran, atau kematian Melkisedek. Berdasarkan tradisi ini, kita mau tidak mau harus mengambil kesimpulan bahwa imamat Melkisedek bersifat kekal dan telah diberikan langsung oleh Allah sendiri. Dengan demikian imamatnya itu lebih baik atau lebih tinggi martabatnya ketimbang imamat Lewi dalam hukum Taurat. “Ia tidak berbapak, tidak beribu, tidak bersilsilah, harinya tidak berawal dan hidupnya tidak berkesudahan, dan karena ia dijadikan sama dengan Anak Allah, ia tetap menjadi imam sampai selama-lamanya” (Ibr 7:3).

IMAM BESAR AGUNG -1Orang Yahudi pada umumnya akrab/familiar dengan tradisi sehubungan dengan Melkisedek ini, dan penulis “Surat kepada Orang Ibrani” menggunakan ini untuk menggambarkan besar dan agungnya imamat Yesus. Seperti Melkisedek, Yesus menjadi seorang imam “bukan berdasarkan peraturan-peraturan manusiawi, tetapi berdasarkan kuasa hidup yang tidak dapat binasa” (Ibr 7:16). Yesus bukan berasal dari garis keturunan Harun bahkan didalam garis keturunan di atas bumi ini; Dia turun ke tengah dunia dari takhta-Nya di surga. Setelah Yesus melakukan penebusan atas dosa-dosa kita secara sempurna dengan mencurahkan darah-Nya dari atas kayu salib, maka Dia kembali ke takhta-Nya untuk memerintah sebagai Raja dan Imam Besar Agung untuk selama-lamanya.

Para Imam Besar Yahudi dari keturunan Lewi ikut ambil bagian dalam dosa-dosa umat (lihat Ibr 5:2-3), dengan demikian mereka tidak dapat berdamai dengan Allah sekali dan selama-lamanya. Mereka tidak dapat mempersembahkan suatu kurban yang sempurna kepada Allah sekali dan untuk selama-lamanya. Yesus adalah Imam Besar Agung yang jauh lebih besar dan agung daripada imam besar Yahudi, karena Dia mencurahkan darah-Nya sendiri yang tidak dinodai dosa. Yesus sendiri adalah kurban sempurna bagi Allah untuk menebus semua dosa manusia sepanjang masa!

DOA: Tuhan Yesus, Engkau adalah Imam Besar Agung kekal yang telah menebus dosa kami. Imamat-Mu melakukan apa yang tidak pernah dapat dilakukan oleh imam Yahudi: imamat-Mu memberikan kepada kami kesempatan untuk hidup kekal. Kami memberikan hidup kami dalam kasih untuk melayani Engkau dan Gereja-Mu. Amin. 

Catatan: Untuk mendalami Bacaan Injil hari ini (Mrk 3:1-6), bacalah tulisan yang berjudul “JANGANLAH KITA MEMATUHI PERATURAN AGAMA TANPA KASIH” (bacaan tanggal 21-1-15) dalam situs/blog PAX ET BONUM http://catatanseorangofs.wordpress.com; kategori: 15-01 PERMENUNGAN ALKITABIAH JANUARI 2015. 

Untuk mendalami Bacaan Pertama hari ini (Ibr 7:1-3,15-17), bacalah tulisan yang berjudul “YESUS ADALAH IMAM UNTUK SELAMA-LAMANYA, MENURUT ATURAN MELKISEDEK” (bacaan tanggal 23-1-13) dalam situs/blog PAX ET BONUM. 

Cilandak, 15 Januari 2015 

Sdr. F.X. Indrapradja, OFS